ASKEP PERILAKU KEKERASAN Posted on Maret 27, 2008 by harnawatiaj http://harnawatiaj.wordpress.

com/2008/03/27/askep-perilaku-kekerasan/ 1.Pengertian Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Berkowitz, 1993). Berdasarkan defenisi ini maka perilaku kekerasan dapat dibagi dua menjadi perilaku kekerasan scara verbal dan fisik (Keltner et al, 1995). Sedangkan marah tidak harus memiliki tujuan khusus. Marah lebih menunjuk kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu yang biasanya disebut dengan perasaan marah (Berkowitz, 1993) Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respons terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996) Ekspresi marah yang segera karena sesuatu penyebab adalah wajar dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural ekspresi marah tidak diperbolehkan. Oleh karena itu marah sering diekspresikan secara tidak langsung. Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”. Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif marah. 2.Penyebab Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi. 2.1. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan. 2.2Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya. 3.3Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya. 3.Rentang respons marah Respons kemarahan dapat berfluktuasi dalam rentang adaptif – mal adaptif. Rentang respon kemarahan dapat digambarkan sebagai berikut : (Keliat, 1997, hal 6). 3.1.Assertif adalah mengungkapkan marah tanpa menyakiti, melukai perasaan orang lain, atau tanpa merendahkan harga diri orang lain.

refleks tendon tinggi. Pada keadaan ini individu dapat merusak dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.2Perubahan emosional : Mudah tersinggung .Agresif merupakan perilaku yang menyertai marah namun masih dapat dikontrol oleh individu. 5.3. 5.2. nada suara keras dan kasar.3Perubahan perilaku : Agresif pasif. kadang-kadang konstipasi. Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam keadaan marah diantaranya adalah . dan bila cara ini dipakai terus menerus. sinis. 3. frustasi.Pasif adalah respons dimana individu tidak mampu mengungkapkan perasaan yang dialami. Orang agresif biasanya tidak mau mengetahui hak orang lain. menarik diri. Rawlins. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan. 3. Dengan melarikan diri atau menantang akan menimbulkan rasa bermusuhan. cemas. tonus otot meningkat. dalam Keliat. bermusuhan. sekresi HCl meningkat. Berikut ini digambarkan proses kemarahan : (Beck.Frustasi adalah respons yang timbul akibat gagal mencapai tujuan atau keinginan. 5. curiga. 1986.1Perubahan fisiologik : Tekanan darah meningkat.Perilaku Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain : 6. Dia berpendapat bahwa setiap orang harus bertarung untuk mendapatkan kepentingan sendiri dan mengharapkan perlakuan yang sama dari orang lain. menekan. Akibat dari ancaman tersebut dapat menimbulkan kemarahan. dan menantang.Gejala marah Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk. pupil dilatasi. 3.1Menyerang atau menghindar (fight of flight) Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi epinephrin yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Williams. peristaltik gaster menurun. mengamuk. Dari ketiga cara ini cara yang pertama adalah konstruktif sedang dua cara yang lain adalah destruktif. 1996. ekspresi wajah nampak tegang. mual. tidak sabar. takikardi. bila mengamuk kehilangan kontrol diri.3. 6. 5.Mengamuk adalah rasa marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol diri. 4. maka kemarahan dapat diekspresikan pada diri sendiri dan lingkungan dan akan tampak sebagai depresi dan psikomatik atau agresif dan ngamuk. pengeluaran urine dan saliva .4. Frustasi dapat dialami sebagai suatu ancaman dan kecemasan.Proses Marah Stress. ada yang menimbulkan pengrusakan. tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa. hal Melihat gambar di atas bahwa respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara yaitu : Mengungkapkan secara verbal. marah merupakan bagian kehidupan sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu.5. denyut nadi dan pernapasan meningkat. wajah merah. pupil melebar. Stress dapat menyebabkan kecemasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan dan terancam. frekuensi buang air besar meningkat.

perencanaan/intervensi. 6. kewaspadaan juga meningkat diserta ketegangan otot. 7. pelaksanaan/implementasi dan evaluasi. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. 7. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan.3. meninju tembok dan sebagainya. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya. seperti rahang terkatup. tangan dikepal. 7. pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya.Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal.5. yang masing-masing berkesinambungan serta memerlukan kecakapan keterampilan . (Stuart dan Sundeen. konstipasi. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue. Konsep dasar asuhan keperawatan Asuhan keperawatan dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi 4 tahapan yaitu : Pengkajian. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain : (Maramis. orang lain maupun lingkungan 7. Di samping itu perilaku ini dapat juga untuk pengembangan diri klien.Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya. tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah. agresif dan asertif.1.Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. 1998 hal 33).2. 7.meningkat.4Perilaku kekerasan Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri.3Memberontak (acting out) Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku “acting out” untuk menarik perhatian orang lain.Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan. mencumbunya. sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya. 1998. akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. hal 83) 7. 6.2Menyatakan secara asertif (assertiveness) Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif. berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu. tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang cepat.Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. 6.Mekanisme koping Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress. dengan melebihlebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya.4.

Klien seringkali menyalurkan kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras.2.Aspek spiritual Kepercayaan.2. Hal ini disebabkan oleh energi yang dikeluarkan saat marah bertambah. tidak aman. Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga. dan perumusan masalah atau kebutuhan klien atau diagnosa keperawatan. Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa. bawel.Aspek intelektual Sebagian besar pengalaman hidup individu didapatkan melalui proses intelektual. aspek intelektual : mendominasi. napas pendek dan cepat.professional tenaga keperawatan.Aspek sosial Meliputi interaksi sosial. aspek sosial : menarik diri. Proses tersebut dapat mengasingkan individu sendiri. kekerasan. dan diintegrasikan. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data.Klasifiaksi data Data yang didapat pada pengumpulan data dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu data subyektif dan data obyektif. menolak mengikuti aturan. Data ini didapatkan melalui wawancara perawat dengan klien dan keluarga. analisa data. Ada gejala yang sama dengan kecemasan seperti meningkatnya kewaspadaan. dendam. Proses keperawatan klien marah adalah sebagai berikut : (Keliat.1. tangan dikepal. tachikardi. menjauhkan diri dari orang lain. sakit fisik. 1. Perawat perlu mengkaji cara klien marah. karakteristik sistimatis.1. nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan lingkungan. sosial dan spiritual yang secara singkat dapat dilukiskan sebagai berikut : Aspek fisik terdiri dari :muka merah. sarkasme.4.Aspek emosional Individu yang marah merasa tidak nyaman. dinamis dan ilmiah.5. bertujuan.1. 1. berkeringat. Emosi marah sering merangsang kemarahan orang lain. sosial dan spiritual. 1996) 1. 1. pupil melebar.Aspek biologis Respons fisiologis timbul karena kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin sehingga tekanan darah meningkat. dendam. emosi.Pengkajian Pengkajian merupakan langkah awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Aspek emosi : tidak adekuat. ketegangan otot seperti rahang terkatup. ide pendekatan yang dimiliki. jengkel. dan refleks cepat. diklarifikasi. interaksi. bagaimana informasi diproses. humor. merasa tidak berdaya. ingin memukul orang lain. Dari uraian tersebut di atas jelaslah bahwa perawat perlu mengkaji individu secara komprehensif meliputi aspek fisik.1. frustasi. 1.3. dkk. muka merah. klasifikasi data. tubuh kaku.1. 1. konsep rasa percaya dan ketergantungan. ejekan. Sedangkan data obyektif yang ditemukan secara nyata. pandangan tajam. tekanan darah meningkat. jengkel. 1. 1. bermusuhan dan sakit hati. penolakan. Proses keperawatan adalah cara pendekatan sistimatis yang diterapkan dalam pelaksanaan fungsi keperawatan. peran panca indra sangat penting untuk beradaptasi dengan lingkungan yang selanjutnya diolah dalam proses intelektual sebagai suatu pengalaman. berdebat. . penyalahgunaan zat. menyalahkan dan menuntut. pengeluaran urine meningkat. psikologis.1.1. mengamuk. budaya. intelektual. meremehkan.Pengumpulan data Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. mengidentifikasi penyebab kemarahan. Data ini didapatkan melalui obsevasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.

kontrak waktu yang tepat. Tindakan keperawatan : 1. lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan. 9.Klien dapat menggunakan obat yang benar. atau masyarakat terhadap masalah kesehatan sebagai proses kehidupan”. 4.Analisa data Dengan melihat data subyektif dan data objektif dapat menentukan permasalahan yang dihadapi klien dan dengan memperhatikan pohon masalah dapat diketahui penyebab sampai pada efek dari masalah tersebut.Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan Tujuan umum : klien tidak mencederai diri / orang lain / lingkungan. (Carpenito. Dari hasil analisa data inilah dapat ditentukan diagnosa keperawatan.Rencana tindakan keperawatan/intervensi Perencanaan tindakan keperawatan adalah merupakan suatu pedoman bagi perawat dalam melakukan intervensi yang tepat. 7. 3. Tujuan khusus : 1.1. perkenalan diri.Klien dapat membina hubungan saling percaya.Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan. 3. 6.Klien dapat mendemonstrasikan sikap perilaku kekerasan. 1995).1Bina hubungan saling percaya. observasi respon verbal dan non verbal. keluarga. orang lain. Pohon masalah Resiko mencederai diri sendiri. 2. 2. .Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekekerasan yang biasa dilakukan. Pada karya tulis ini akan diuraikan rencana tindakan keperawatan pada diagnosa : 3. Adapun kemungkinan diagnosa keperawatan pada klien marah dengan masalah utama perilaku kekerasan adalah sebagai berikut : 2.Klien dapat melakukan cara berespons terhadap kemarahan secara konstruktif.Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.1Beri kesempatan pada klien untuk mengugkapkan perasaannya. Rasional : Hubungan saling percaya memungkinkan terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. 5. beritahu tujuan interaksi. 2. orang lain dan lingkungan Perilaku kekerasan Gangguan konsep diri : harga diri rendah 2. bersikap empati.Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.2Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah. ciptakan lingkungan yang aman dan tenang.1Risiko mencederai diri sendiri.3.1Resiko mencederai diri sendiri. 8.Diagnosa keperawatan “Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons aktual dan potensial dari individu. Salam terapeutik.

1Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini.3Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat.2Observasi tanda perilaku kekerasan pada klien.2Bantu untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel / kesal Rasional : pengungkapan perasaan dalam suatu lingkungan yang tidak mengancam akan menolong pasien untuk sampai kepada akhir penyelesaian persoalan.2Bersama klien menyimpulkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.2Bantu klien mengidentifikasi manfaat yang telah dipilih. Rasional : memudahkan dalam pemberian tindakan kepada klien.Secara spiritual : anjurkan klien berdua. latihan manajemen perilaku kekerasan.4Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut. a. 4. 4. meningkatkan harga diri klien.Secara fisik : tarik nafas dalam / memukul botol / kasur atau olahraga atau pekerjaan yang memerlukan tenaga. 8.1Bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien. 4. Rasional : mengerti cara yang benar dalam mengalihkan perasaan marah. Rasional : mengetaui perilaku yang dilakukan oleh klien sehingga memudahkan untuk intervensi.1Tanyakan pada klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”. 7. . 3.Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara-cara marah yang sehat. Rasional : dengan cara sehat dapat dengan mudah mengontrol kemarahan klien. Rasional : mengetahui kemajuan klien selama diintervensi. sembahyang.2Berikan pujian jika klien mengetahui cara yang sehat. latihan asertif. 5.3Simpulkan bersama tanda-tanda jengkel / kesan yang dialami klien.5Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat jengkel / marah. Rasional : membantu dalam memberikan motivasi untuk menyelesaikan masalahnya.2Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Rasional : mengetahui kemampuan klien melakukan cara yang sehat.3Bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Rasional : memotivasi klien dalam mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. Rasional : menambah pengetahuan klien tentang koping yang konstruktif. 7. 7. 6.Rasional : Informasi dari klien penting bagi perawat untuk membantu kien dalam menyelesaikan masalah yang konstruktif. Rasional : mengetahui bagaimana cara klien melakukannya. 2. d. 7. 5. Rasional : mencari metode koping yang tepat dan konstruktif. b.Secara verbal : katakan bahwa anda sering jengkel / kesal. Rasional : meningkatkan harga diri klien. 7. Rasional : Pengungkapan kekesalan secara konstruktif untuk mencari penyelesaian masalah yang konstruktif pula. c. Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang positif. 6. 3. 6. 3. meminta pada Tuhan agar diberi kesabaran.1Bicarakan akibat / kerugian dan perilaku kekerasan yang dilakukan klien. Rasional : memudahkan klien dalam mengontrol perilaku kekerasan.3Bantu klien untuk menstimulasikan cara tersebut.1Anjurkan klien mengungkapkan dilema dan dirasakan saat jengkel. Rasional : mengetahui respon klien terhadap cara yang diberikan.1Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.

Tindakan keperawatan : 1.3Jelaskan cara-cara merawat klien. bicara tenang dan jelas.1Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.3Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien. Rasional : menambah pengetahuan bahwa keluarga sangat berperan dalam perubahan perilaku klien.3Berikan pujian. 6. Artame. 4.2Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter.2Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah Tujuan umum : klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain : Tujuan khusus : 1.Rasional : memotivasi keluarga dalam memberikan perawatan kepada klien. Rasional : memberikan informasi pentingnya minum obat dalam mempercepat penyembuhan.Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya. 2.1Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. 8. Sikap tenang. 4. 2.1Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan. 3.4Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien. 2. Rasional : mengetahui sejauh mana keluarga menggunakan cara yang dianjurkan.5Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi. 8.1Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik. Bantu keluarga mengenal penyebab marah. 9. Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki. 3.Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. 8. 9. 3. 8.2Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat dilanjutkan. Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya. Rasional : mengetahui respon keluarga dalam merawat klien. Rasional : meningkatkan harga diri dan merasa diperhatikan.1Jelaskan pada klien dan keluarga jenis-jenis obat yang diminum klien seperti : CPZ. . 3.Klien dapat membina hubungan saling percaya. Rasional : menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang obat dan fungsinya. Rasional : mengidentifikasi kemampuan yang masih dapat digunakan. Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien. Rasional : meningkatkan harga diri klien.Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada. Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarga dalam merawat klien secara bersama. 3.2Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien. haloperidol. Terkait dengan cara mengontrol perilaku kekerasan secara konstruktif.Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.2Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya di rumah sakit. 5. 2.

1998.Keliat Budi Anna. 1998. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Schizofrenia. S.2Bantu klien melakukannya jika perlu beri contoh. Proses Keperawatan Jiwa. Rasional : meningkatkan harga diri klien. penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran. edisi 3. Rasional : memotivasi keluarga untuk merawat klien. Jakarta.1Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.3Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah. Edisi 3. Sumber: 1. 7. 4. FIK. 1996. dkk. 10. Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan. 5. Asuhan Keperawatan Perilaku Kekerasan. 4. Rasional : meningkatkan peran serta keluarga dalam membantu klien meningkatkan harga diri rendah.3Beri pujian atas keberhasilan klien.J. 2001. Rasional : menuntun klien dalam melakukan kegiatan.Keliat Budi Anna. Jakarta.4Diskusikan jadwal kegiatan harian atas kegiatan yang telah dilatih. Jakarta. Rasional : mengidentifikasi klien agar berlatih secara teratur. Penerbit : Buku Kedokteran EGC .Depkes RI. 1998. Direktorat Jendral Pelayanan Medik Direktorat Pelayanan Keperawatan.4. 2000.2Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. Diagnosa Keperawatan Psikiatri. EGC . 6. Jakarta. Buku Saku Keperawatan Jiwa. GW dan Sundeen. 1996. Rasional : meningkatkan motivasi untuk berbuat lebih baik. Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif.2Beri pujian atas keberhasilan klien. Rasional : mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan. 4. Jakarta. 2. Jakarta. 1998. penerbit buku kedokteran EGC . 6.WF Maramis.Keliat Budi Anna.Depkes RI. 3. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. 5.1Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. 1996. jilid I. 2001. 8. CV. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Mary . . UI : Jakarta. 6.Stuart. 5. 6.Rasmun. 9.Townsend C.Dadang Hawari. Agung Seto. penerbit : Buku Kedokteran EGC . Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarg a dalam merawat klien secara bersama. Marah Akibat Penyakit yang Diderita. Pusat Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta. 5.3Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. FKUI. Edisi 1. 2002.

blogspot.Senin. hilang kepercayaan diri. Proses Terjadinya Masalah 1.com/2008/06/askep-perilakukekerasan. Penyebab perilaku kekerasan Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Pengertian perilaku kekerasan Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif.html askep perilaku kekerasan LAPORAN PENDAHULUAN 1. mungkin klien akan mengakiri kehidupannya. Tanda dan Gejala : • • • • • • Muka merah Pandangan tajam Otot tegang Nada suara tinggi Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak Memukul jika tidak senang 2. Tanda dan gejala : • • • • • Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi) Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri) Gangguan hubungan sosial (menarik diri) Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan) Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram. 1995). (Stuart dan Sundeen. Masalah Utama: Perilaku kekerasan/ amuk. 16 Juni 2008 http://keperawatan-gun. . Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri. orang lain maupun lingkungan. 2. merasa gagal mencapai keinginan.

Data objektif Klien mengamuk. orang lain dan lingkungan. Pohon Masalah Resiko mencederai diri. . orang lain dan lingkungan 1. Gangguan harga diri : harga diri rendah 1.(Budiana Keliat. 1999) 3. ingin membakar atau mengacak-acak lingkungannya. merusak dan melempar barang-barang. 1999) D. orang lain dan lingkungan. 2. Data yang perlu dikaji: 1. Resiko mencederai diri. Resiko mencederai diri. orang lain dan lingkungan 2. melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang disekitarnya. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. ingin membunuh. Masalah keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji 1. orang lain dan lingkungan Perilaku Kekerasan/amukCore Problem Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah (Budiana Keliat. Data subjektif Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain. Akibat dari Perilaku kekerasan Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai diri. Masalah keperawatan: 1. Tanda dan Gejala : • • • • • Memperlihatkan permusuhan Mendekati orang lain dengan ancaman Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan Mempunyai rencana untuk melukai C. Perilaku kekerasan / amuk 3.

Rencana Tindakan Diagnosa 1: Resiko mencederai diri. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai. wajah agak merah. pandangan tajam. 2. orang lain dan lingkungannya 2. tidak tahu apa-apa. mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. Data Subjektif :    Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk. Perilaku kekerasan / amuk 1. mengkritik diri sendiri. Diagnosa Keperawatan 1. ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup. bicara menguasai. Data Objektif     Mata merah. Nada suara tinggi dan keras. Klien dapat membina hubungan saling percaya. orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan/ amuk 1. Data subyektif: Klien mengatakan: saya tidak mampu. Gangguan harga diri : harga diri rendah 1. Tujuan Khusus: 1. Merusak dan melempar barang barang. tidak bisa. Resiko mencederai diri. Data objektif: Klien tampak lebih suka sendiri. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal atau marah. empati. Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya. . bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. 5. sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi. bodoh. Tindakan: 1.2. Tujuan Umum: Klien tidak mencederai diri sendiri. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan harga diri: harga diri rendah. Ekspresi marah saat membicarakan orang. 2. 3. 5. 2. 2.

4. Bicara dengan sikap tenang. dialami klien. 2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal. Tindakan : . 2. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan Observasi tanda perilaku kekerasan. 5. Tindakan: 1. 3. 2. Beri rasa aman dan sikap empati. 3. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan. Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan. 2. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan. Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan. 5. Lakukan kontak singkat tapi sering. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat. selesai ?" Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya 5. 6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan. biasa dilakukan. dilakukan. Tindakan: 1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan. 2. 2. Tindakan: 1. 3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang. saat jengkel/kesal. 2. 3. Tindakan : 1.3. rileks dan tidak menantang. Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat.

Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program). 7. 8. Jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien.Bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi 9. bicara tenang dan jelas. 5. 3. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat. 7. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah. berolah raga. 3. Sikap tenang. 3. Bantu memilih cara yang paling tepat. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal/ tersinggung. Jelaskan jenis – jenis obat yang diminum klien pada klien dan keluarga. sembahyang. 2. Identifikasi kemampuan keluarga merawat klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga selama ini. Tanyakan kepada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat 2. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan. 2.1. Tindakan: 1. 4. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih. Tindakan: 1. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi. 2. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan Tindakan : 1. memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran. latihan manajemen perilaku kekerasan. 8. Membantu klien mengenal penyebab ia marah. Diskusikan dengan klien cara lain yang sehat. Secara spiritual : berdo'a. Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seizin dokter. Secara sosial : lakukan dalam kelompok cara – cara marah yang sehat.4.5. • • • • Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal. memukul bantal / kasur atau pekerjaan yang memerlukan tenaga. latihan asertif. Jelaskan cara – cara merawat klien : • • • Cara mengontrol perilaku marah secara konstruktif. .Bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.

Sediakan waktu untuk mendengarkan klien. 5. Jelaskan prinsip 5 benar minum obat (nama klien. 4. 2. dosis. Beri pujian jika klien minum obat dengan benar.Tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai. Setiap bertemu klien hindarkan dari memberi penilaian negatif 3. Beri kesempatan pada klien mengungkapkan perasaannya. 3. Anjurkan klien melaporkan pada perawat / dokter jika merasakan efek yang tidak menyenangkan. Tindakan : 1. percaya dengan perawat Tindakan : 1. Bina hubungan saling percaya Salam terapeutik Perkenalan diri . 2.3. 6. tempat dan topik pembicaraan ). Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. Klien dapat membina hubungan saling . Jelaskan tujuan pertemuan Ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontrak yang jelas ( waktu. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Katakan kepada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri. Diagnosa 2: Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah Tujuan Umum : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal Tujuan khusus : 1. 4. cara dan waktu). Utamakan memberi pujian yang realistis. obat. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien. 2.

pulang ke rumah. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuannya Tindakan : 1.). 6. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. bantuan total ). St. 1999 3. Tindakan : 1. Klien dapat menetapkan/ merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki. Tindakan : 1. Keliat Budi Ana. Amino Gonohutomo. Jakarta : EGC. Edisi I. direncanakan. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. 2. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Stuart GW. 3. Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat. Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan. 4.2. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. Beri kesempatan klien untuk mencoba kegiatan yang telah Beri pujian atas keberhasilan klien. digunakan selama sakit 2. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. 3. 4. 3. 2003 . Sundeen. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga DAFTAR PUSTAKA 1. Diskusikan bersama klien kemampuan yang masih dapat Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah 4. 2. bantuan sebagian. Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.Louis Mosby Year Book. 2. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan ( mandiri. Gangguan Konsep Diri. Edisi I. dkk. 1999 4. Keliat Budi Ana. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan. Aziz R. 1995 2. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien. Tindakan : 1. Jakarta : EGC.

5. Tim Direktorat Keswa. Standar Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung. Edisi 1. 2000 . RSJP Bandung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful