BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Gerakan reformasi di Indonesia yang dipelopori oleh mahasiswa dan seluruh lapisan masyarakat akhirnya pada bulan Mei 1998 telah menghasilkan perubahan dalam sistem pemerintahan dari bentuk sentralisasi menjadi desentralisasi, yang mengutamakan prinsip otonomi, keadilan, transparansi, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya, serta dunia pendidikan pada khususnya. Dalam rangka reformasi di bidang pendidikan, Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) telah disusun berdasarkan visi pendidikan nasional. Visi tersebut adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa, untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia agar berkembang menjadi manusia yang berkualitas, sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Selanjutnya, UU Sisdiknas juga menyatakan bahwa gerakan reformasi menuntut penerapan prinsip-prinsip: a. pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa; b. c. pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna; pendidikan sepanjang hayat; d. pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik 1 diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung

dalam proses pembelajaran; e. f. pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat; pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan. Menurut UU Sisdiknas, perubahan mendasar pada manajemen sistem pendidikan adalah pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, serta otonomi perguruan tinggi pada tingkat pendidikan tinggi. Manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada kepala sekolah/ madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya. Di samping itu, UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan dalam Penjelasan Umum, menghendaki pembaharuan sistem pendidikan yang meliputi penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola masyarakat, serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum. Dengan demikian, masyarakat akan mendapat kepastian hukum dalam memperoleh pelayanan pendidikan secara tidak diskriminatif dari sekolah/madrasah atau perguruan tinggi, baik yang didirikan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Untuk mewujudkan amanat UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan di atas, maka Pasal 53 UU Sisdiknas memerintahkan agar penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Sehubungan dengan itu, Pasal 53 ayat (4) UU Sisdiknas memerintahkan agar ketentuan tentang 2

badan hukum pendidikan ditetapkan dengan undang-undang tersendiri. Atas dasar amanat Pasal 53 UU Sisdiknas telah disusun Undang-Undang Repbublik Indoensia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965). Undang-undang tersebut telah dibatalkan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009. Amar putusan MK selanjutnya berbunyi bahwa Menyatakan Pasal 53 ayat (1) UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu. Dalam rangka melaksanakan kedua amanat tersebut perlu disusun Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang BHP (RUU BHP) baru. Naskah Akademik ini disusun berdarkan Peraturan Presiden RI Nomor 68 Tahun 2005 dan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Nomor 10 Tahun 2007. Penyusunan Naskah Akademik ini senantiasa memperhatikan dengan sungguh-sungguh amanat UU Sisdiknas keputusan MK, antara lain: 1. Badan hukun pendidikan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik (Pasal 53 ayat 2 UU.Sisdiknas); 2. Badan hukum pendidikan berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan (Pasal 53 ayat 3 UU Sisdiknas); 3. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan 3

minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (Pasal 51 ayat 1 UU Sisdiknas); 4. Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan (Penjelasan Pasal 51 ayat 1 UU.Sisdiknas). 5. Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi, penelitian ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 24 ayat 2 juncto Pasal 50 ayat 6 UU.Sisdiknas); 6. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi, akuntabilitas, jaminan mutu, dan evaluasi yang transparan (Pasal 51 ayat 2 UU.Sisdiknas); 7. Yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelo-la sendiri lembaganya (Penjelasan Pasal 50 ayat 6 UU.Sisdiknas); 8. Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009: Menyatakan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu; B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan yang mendasar terkait dengan Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan adalah 4

C. Tujuan Tujuan Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU) tentang Badan Hukum Pendidikan dalam rangka Penyusunan RUU dan RPP Bidang Pendidikan adalah: Tersusunnya Draft Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Badan Hukum Pendidikan yang dapat menterjemahkan UUD 1945 dan amandemennya sebagai panduan penyusunan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan yang sesuai dengan masukan dan harapan masyarakat dan anggota Tim Penyusun dalam rangka memperbaiki draft Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan yang telh dibatalkan oleh Mahkamah Konstiusi. D. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terumuskannya draf Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang selanjutnya menjadi bahan penyusunan 5 . 1) Bagaimanakah Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan mampu menerjemahkan UUD 1945 dan amandemennya sehingga dap[at digunakan sebagai pedoman penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan. 2) Komponen-komponen apa saja yang perlu dituangkan dalam Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan.sebagai berikut. 3) Bagaimanakah mengakomodasikan berbagai pendapat dari unsurunsur dan unit terkait dalam rangka penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan.

E. BAB II 6 . Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan penyusunan naskah akademik yang dilaksanakan pada saat ini adalah mendapatkan Naskah Akademik yang dapat digunakan sebagai panduan ilmiah dalam rangka penyusunan Rancangan Undang-Undang BHP.Rancangan Undang-undang BHP yang diharapkan dapat diproses pada tahapan selanjutnya.

serta otonomi perguruan tinggi pada tingkat pendidikan tinggi. Pasal 53 ayat (4) UU Sisdiknas memerintahkan agar ketentuan tentang badan hukum pendidikan ditetapkan dengan undang-undang tersendiri. Untuk mewujudkan amanat UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan di atas. baik yang didirikan oleh Pemerintah. UU Sisdiknas sebagaimana dikemukakan dalam Penjelasan Umum. serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965). Sehubungan dengan itu. maupun masyarakat. Di samping itu. pemerintah daerah. Dengan demikian. masyarakat akan mendapat kepastian hukum dalam memperoleh pelayanan pendidikan secara tidak diskriminatif dari sekolah/madrasah atau perguruan tinggi. maka Pasal 53 UU Sisdiknas memerintahkan agar penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada kepala sekolah/ madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan.KERANGKA BERPIKIR UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas membawa perubahan mendasar di bidang manajemen sistem pendidikan yaitu pelaksanaan manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. 7 . Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya. menghendaki pembaharuan sistem pendidikan yang meliputi penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola masyarakat. Atas dasar amanat Pasal 53 UU Sisdiknas telah disusun Undang-Undang Repbublik Indoensia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10.

Badan hukun pendidikan berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik (Pasal 53 ayat 2 UU. Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. 4. Badan hukum pendidikan berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan (Pasal 53 ayat 3 UU Sisdiknas). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu. Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (Pasal 51 ayat 1 UU Sisdiknas). dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 24 ayat 8 .Sisdiknas).Sisdiknas). 5. Amar putusan MK selanjutnya berbunyi bahwa Menyatakan Pasal 53 ayat (1) UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. 2. pendidikan dasar. Oleh karena itu perubahan UU BHP yang telah diundangkanpasal 53 UU Sisdiknas dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi maka perumusan Naskah Akademik RUU BHP hendaknya memperhatikan hal – hal sebagai berikut: 1. penelitian ilmiah. 3. yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan (Penjelasan Pasal 51 ayat 1 UU.Undang-undang tersebut telah dibatalkan dengan Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini.

dan evaluasi yang transparan (Pasal 51 ayat 2 UU.1 Skema: Kerangka Berpikir 9 . Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelo-la sendiri lembaganya (Penjelasan Pasal 50 ayat 6 UU.2 juncto Pasal 50 ayat 6 UU.Sisdiknas). Dalam rangka menyusun naskah Akademik RUU BHP yang diharapkan dapat menghasilkan UU yang benar-benar dapat menjawab segala permasalahan dan dapat diterapkan. jaminan mutu. maka dapat di gambarkan skema kerangka berpikir seperti berikut: Gambar 2. 6. 7.Sisdiknas). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu. 8.Sisdiknas). Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009: Menyatakan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. akuntabilitas.

Pasal. Hasil kajian tersebut selanjutnya dituangkan dalam draf Naskah Akademik RUU tentang BHP dalam kerangka penulisan sesuai dengan kerangka berpikir. penjelasan dari amanat tersebut. Bab. serta dari stakeholders sistem pendidikan nasional di Indonesia dan seluruh rakyat Indonesia secara umum. serta masukan dari anggota tim pengembangan dan berbagai pihak.MATERI UUD 1945 dan Amandemen Penyusunan Naskah Akademik RUU BHP Draf RUU Bahasa Kajian dan masukan Masukan Penyempurnaa n Naskah Akademik RUU BHP dan Aspirasi pihak terkait Perbaikan Naskah Akademik RUU BHP Draf Akhir Naskah AkademikRUU tentang BHP Setiap Kajian Bagian. 10 . Ayat dalam UUD 1945 dan amandemennya yang terkait dengan materi tentang pendidikan dikaji untuk memahami secara mendalam tentang maksud dan tujuan amanat tersebut dan diharapkan tidak bertentangan dengan perangkat peraturan perundangan lainnya.

Skenario Skenario dalam Penyusunan Naskah Akademik RUU tentang BHP dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Depdiknas (Balitbang sebagai leading sector) bertindak sebagai pihak pemerintah membentuk tim penyusun Naskah Akademik RUU tentang BHP. serta kementerian terkait lainnya.BAB III PENDEKATAN A. (4) Tim Penyusun Naskah akademik RUU tentang BHP melakukan perbaikan pada draf Naskah Akademik RUU tentang BHP sesuai dengan struktur dan sistematika penulisan yang telah disepakati dan tidak bertentangan dengan sistematika penulisan NaskahAkademik peundangan yang berlaku di wilayah hukum Negara kesatuan Republik Indonesia. utusan dari Kementerian Hukum dan HAM. (2) Tim penyiapan Naskah Akademik RUU tentang BHP menyiapkan dokumen peraturan perundang-undangan yang berkaitan erat dengan materi yang mengatur tentang BHP. 11 . makalah-makalah dan bahanbahan lain yang relevan dengan pengaturan tentang simbol negar tersebut. anggota DPR RI dan unsur Perguruan Tinggi. wakil kementerian Pemuda dan Olah Raga. (3) Tim penyusun Naskah Akademik RUU tentang BHP menyusun kerangka dan struktur penulisan Naskah Akademik RUU tentang BHP sesuai amanat. berasal dari utusan unit kerja Depdiknas. maksud dan tujuan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan amandemennya dan kata-kata kunci penjabaran serta operasionalisasi yang diperlukan.

Dalam kegiatan ini Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas berperan sebagai leading sector. Penyusunan Naskah Akademik RUU BHP dilakukan oleh utusan Kemendiknas Pusat. serta wakil dari Kementerian terkait lainnya. anggota DPR dan beberapa pihak lainnya termasuk pakar dan pelaku pendidikan serta pemangku kepentingan/stakeholders bidang pendidikan. para Dosen utusan Perguruan Tinggi.B. Kegiatan penyusunan Naskah Akademik RUU BHP tahap ini dilaksanakan pada tanggal. utusan dari Kementerian Hukum dan HAM. 12 . 29 Desember 2010. Peserta dan Waktu Kegiatan penyusunan Naskah Akademik dilakukan secara simultan sampai dengan bulan Desember 2010. kementerian Pemuda dan Olah Raga.

yang disiapkan oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Sebagaimana Naskah Akademik Undang-Undang pada Pendidikan Nasional melalui Badan Penelitian dan Pengembangan umumnya struktur aturan perundang-undangan ini mengikuti format yang umumnya berlaku di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. NASKAH AKADEMIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN 13 . sedangkan komponen-komponen dari Naskah Akademik RUU tentang Badan Hukum Pendidikan merupakan penjabaran lebih lanjut dari UndangUndang dasar 1945 dan amandemennya. Berikut hasil capaian penyusunan naskah akademik RUU BHP pada tanggal 18 Oktober 2010.BAB IV HASIL PENYUSUNAN RUU TENTANG BHP Bab ini memaparkan Naskah Akademik RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (Balitbang).

Sisdiknas menentukan bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan (BHP). gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut penerapan prinsip demokrasi. dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. maka dipandang perlu untuk dibuat Naskah Akademik. Sisdiknas). Menurut Peraturan Presiden RI Nomor 68 Tahun 2005. maka Pasal 53 UU. BHP berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik (Pasal 53 ayat 2 UU. serta dunia pendidikan pada khususnya. ketentuan tentang BHP harus diatur lebih lanjut dengan undangundang tersendiri. antara lain: 9. jangkauan. tujuan penyusunan. Oleh sebab itu. agar prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. 14 .Sisdiknas). Dalam rangka menyusun Rancangan Undang-Undang tentang BHP (RUU BHP) tersebut. sasaran yang ingin diwujudkan dan lingkup. Penyusunan Naskah Akademik ini senantiasa memper-hatikan dengan sungguh-sungguh amanat UU.Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia 2010 PENGANTAR Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. obyek. Naskah Akademik berisi latar belakang.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU. desentralisasi. keadilan. Menurut Pasal yang sama. atau arah pengaturan Rancangan UndangUndang. Sisdiknas.

Sisdiknas). Pemerintah Kabupaten/Kota mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah.Sisdiknas). 14. penelitian ilmiah. 16. dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (Pasal 51 ayat 1 UU. Pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. Tambahan Lembaran Negara 15 . 17. serta satuan pen-didikan yang berbasis keunggulan lokal (Pasal 50 ayat 5 UU.Sisdiknas). pendidikan dasar.Sisdiknas). Yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manaje-men pendidikan pada satuan pendidikan. akuntabilitas. 12. jaminan mutu. dan evaluasi yang transparan (Pasal 51 ayat 2 UU. BHP berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan (Pasal 53 ayat 3 UU.Sisdiknas). Yang dimaksud dengan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelo-la sendiri lembaganya (Penjelasan Pasal 50 ayat 6 UU. 15.Sisdiknas). 13. Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. dan pengabdian kepada masyarakat (Pasal 24 ayat 2 juncto Pasal 50 ayat 6 UU. Perguruan tinggi memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi.Sisdiknas). yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan (Penjelasan Pasal 51 ayat 1 UU. Amar Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009: • Menyatakan Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.10. 11.

sehingga pasal tersebut selengkapnya menjadi.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301). “Setiap warga negara ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan”. sepanjang frasa.. • Menyatakan Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.Republik Indonesia Nomor 4301) sepanjang frasa. “. • Menyatakan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. sehingga Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi. • Menyatakan Penjelasan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. “. ikut bertanggung jawab”.yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”. “Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi”... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) konstitusional sepanjang frasa “badan hukum pendidikan” dimaknai sebagai sebutan fungsi penyelenggara pendidikan dan bukan sebagai bentuk badan hukum tertentu. • Menyatakan Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik 16 . bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bertanggung jawab” adalah konstitusional sepanjang dimaknai “.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) sepanjang frasa. • Menyatakan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10. “. ikut bertanggung jawab”. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.. “. • Menyatakan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10. sepanjang frasa... setelah menjadi Undang-Undang BHP akan dapat membawa pengelolaan organisasi sekolah/ madrasah 17 .. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya”. bertanggung jawab” tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat kecuali dimaknai. “. • Menyatakan Pasal 12 ayat (1) huruf c Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh hal-hal yang disebutkan di atas. • Menyatakan Penjelasan Pasal 53 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78.. diharapkan bahwa RUU BHP ini.

Jakarta. Semoga berbagai pemikiran yang terdapat di dalam Naskah Akademik dan RUU BHP ini dapat menjadi bahan referensi bagi Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden dalam menetapkan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan. Pada kesempatan ini saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada semua pihak yang telah mendukung Departemen Pendidikan Nasional. juli 2010 Departemen Pendidikan Nasional Tim Penyusun RUU BHP 18 .maupun organisasi perguruan tinggi ke arah pengelolaan organisasi yang sehat. dalam penyusunan Naskah Akademik dan RUU BHP ini.

7. 3. Sifat. 4. 8. 2. 6. dan Ruang Lingkup Pengawasan dan Akuntabilitas Ketenagaan Penggabungan dan Pembubaran Sanksi Administratif Sanksi Pidana Ketentuan Peralihan 19 .DAFTAR ISI Pengantar Daftar Isi Pendahuluan Bab I Latar Belakang RUU BHP Bab II Tujuan Penyusunan RUU BHP Bab III Sasaran RUU BHP Bab IVLingkup RUU BHP Bab V Jangkauan RUU BHP Bab VIObyek RUU BHP Bab VII Arah Pengaturan RUU BHP 1. 10. Bab VIII Penutup Daftar Pustaka Pendirian dan Pengesahan Struktur Organisasi Pendanaan dan Kekayaan 1 4 5 16 36 39 42 44 46 48 48 50 55 67 69 71 72 75 76 76 81 83 Tujuan. 5. 9.

Dalam masa transisi tersebut. telah menyebabkan kesulitan penyediaan pendidikan yang baik bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Kesulitan ini akan mengakibatkan kondisi ketidakadilan semakin besar di masa mendatang. Namun demikian. 20 .********* PENDAHULUAN Globalisasi telah menimbulkan tantangan baru bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan pendidikan. kondisi ketidakadilan yang relatif besar. serta menghilangkan kesenjangan yang diakibatkan oleh sistem ekonomi pasar. transparan dan mampu mengikuti sistem pasar. Kehidupan bernegara dalam era globalisasi pada dekade ke-21 menuntut perubahan besar dalam sistem pemerintahan dari yang sentralistik menjadi desentralistik berbasis otonomi. dimana negara berkembang mengalami masa transisi yang sulit untuk menjadi lebih kompetitif. Upaya pendidikan yang semakin intensif disadari akan semakin mengurangi ketidakadilan dalam jangka panjang. didominasi oleh perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menuntut reformasi dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan nasional untuk merespon tuntutan demokratisasi dan otonomimasasi Globalisasi telah mengasilkan tidakadilan. Hal ini diperlukan sebagai upaya untuk meningkatkan partisipasi dari semua lapisan masyarakat dalam membangun kehidupan yang lebih demokratis. Salah satu solusi yang mungkin terbaik untuk mengatasi ketidakadilan sebagai akibat terburuk dari globalisasi adalah pendidikan. harus diutamakan upaya untuk meminimalkan dan mengelola ketidakadilan serta penerapan sistem pasar yang seadil mungkin.

Perlu dikemukakan pula fakta bahwa di banyak negara berkembang.Negara berkembang seperti Indonesia harus mampu memenuhi berbagai elemen dasar agar negara tersebut dapat keluar dari kondisi sedang berkembang. lulusan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan. intensifikasi penegakan hukum. negara tersebut akan mampu menarik investor nasional maupun internasional agar menanamkan modal. Hal ini menyebabkan mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Agar kebijakan tersebut dapat ditetapkan. sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh masyarakat miskin. Dengan pemenuhan elemen dasar di atas. manajemen internal yang transparan. Dengan demikian diperlukan kebijakan bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah harus dapat dijangkau oleh masyarakat miskin. Elemen dasar yang dimaksud antara lain adalah peningkatan ketersediaan infrastruktur. peningkatan investasi sumber daya manusia. di masa mendatang akan terjadi ketidakadilan yang destruktif. yang ditunjukkan melalui efisiensi yang tinggi dalam penyelenggaraan pendidikan. kebijakan pendidikan harus ditetapkan sedemikian rupa. sehingga pendidikan memiliki kredibilitas tinggi. hanya berkesempatan memasuki sekolah yang juga rendah mutunya. Selanjutnya. maka subsidi bagi masyarakat kaya harus dikurangi atau bahkan dihilangkan. pendidikan ternyata dapat memperbesar perbedaan kemampuan keuangan keluarga. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus. Sistem pendidikan harus akuntabel terhadap publik. Oleh karena itu. diperlukan penataan dan restrukturisasi pendidikan pada tataran nasional maupun pada tataran lembaga pendidikan. Penanaman modal pada gilirannya akan meminimalkan ketidakadilan. dan memenuhi standar 21 .

maka keluarga tersebut akan 22 . dan/atau mengganti dengan yang lebih murah. sehingga pada gilirannya mampu keluar dari krisis tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan akan tenaga ahli semakin meningkat. Pada umumnya keluarga cenderung mengurangi volume konsumsi. mengurangi mutu. seharusnya pendidikan tetap mendapat porsi perhatian yang tinggi. jika suatu keluarga menganggap bahwa pendidikan sangat penting. Pendidikan harus responsif dan adaptif terhadap tantangan masa kini dan masa depan. Cara keluarga menyikapi krisis sangat tergantung pada pengaruh yang timbul akibat krisis dan kemungkinan substitusi selama krisis. yaitu penyediaan tenaga ahli yang bermutu tinggi.mutu tertentu. atau bahkan mengadakan relokasi anggaran belanja rumah tangga. Pilihannya adalah antara mengurangi jumlah. Pendidikan yang menghasilkan tenaga ahli sangat dibutuhkan. Pemutusan hubungan kerja akan mengakibatkan penurunan pendapatan keluarga. berkembang sangat cepat di kawasan Asia Timur. karena sangat mendukung kegiatan ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). sehingga diperlukan suatu paradigma baru. sehingga pendidikan juga menghadapi tantangan berat. untuk pembentukan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society) khususnya pendidikan tinggi. karena kebutuhan tenaga ahli tetap tinggi untuk memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Dampak Krisis Terhadap Pendidikan Pada saat terjadi krisis ekonomi. Tingkat persaingan dalam pasar internasional sangat ditentukan oleh kualitas tenaga ahli. sehingga menurunkan daya beli keluarga. Sebagai contoh. Pendidikan. atau mengganti dengan yang lebih murah.

mengatur kembali pembelanja-annya agar pendidikan dapat tetap diutamakan. Sedangkan pada saat krisis. Krisis menyebabkan pemerintah mengalami kendala keterba-tasan 23 . maka akan terjadi peningkatan peserta didik di satuan pendidikan swasta jika mutu dan layanannya memang lebih baik. Di negara di mana satuan pendidikan negeri dan swasta memberikan fasilitas layanan yang serupa. sedangkan pemerintah mendapatkan dana dari para pembayar pajak. Akibatnya. Pada umumnya. atau ke tempat pendidikan milik pemerintah. oleh pemerintah mengalami penurunan karena keterbatasan anggaran. Investasi dalam bidang pendidikan memerlukan waktu lama untuk memberikan hasil. kebutuhan layanan publik dalam bidang pendidikan semakin meningkat pada saat krisis. terjadi peningkatan tuntutan agar dapat mengikuti pendidikan di satuan pendidikan negeri. sedangkan keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi tidak mampu bertahan selama itu. maka satuan pendidikan negeri akan mendapat subsidi pemerintah sedangkan satuan pendidikan swasta akan dibayar penuh oleh peserta didik. terutama karena menurunnya pendapatan. Apabila terjadi peningkatan pendapatan masyarakat. Satuan pendidikan negeri. Keluarga cenderung mengurangi belanja untuk pendidikan karena kekhawatiran terhadap kemampuan bertahan hidup lebih tinggi daripada investasi dalam bidang pendidikan. termasuk pendidikan. Kondisi yang terjadi pada saat krisis adalah bahwa mutu layanan publik. karena ketidak-mampuan secara ekonomis. atau memindahkan ke tempat pendidikan swasta yang lebih murah. krisis menimbulkan dampak negatif pada kemampuan belanja keluarga untuk pendidikan. menurut ketentuan mendapat pendanaan dari pemerintah. Keluarga yang mampu akan tetap menyekolahkan anaknya di tempat pendidikan yang sama.

anggaran, sehingga alokasi anggaran untuk tiap sektor, terutama pendidikan tinggi, akan mengalami penurunan. Pengurangan anggaran bagi perguruan tinggi negeri telah dialami di Indonesia, karena terjadi penggeseran prioritas dari pendidikan tinggi ke pendidikan dasar, sebagaimana ditunjukkan oleh peningkatan alokasi anggaran sebesar 56% di sektor pendidikan dasar dan penurunan alokasi anggaran sebesar 26% di sektor pendidikan tinggi. Dampak krisis terhadap perguruan tinggi swasta dapat dilihat dari menurunnya jumlah mahasiswa yang terdaftar, bahkan sejumlah perguruan tinggi swasta menurunkan biaya pendidikan dengan harapan dapat mempertahankan jumlah mahasiswa terdaftar. Namun demikian, hal ini dapat berakibat pada penurunan mutu pendidikan yang diselengarakannya. Relevansi Pendidikan Pendidikan dasar merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat, oleh karena itu pemerintah menetapkan program wajib belajar pendidikan dasar. Pendidikan dasar memberikan berbagai kemampuan yang sangat mendasar bagi masyarakat untuk dapat bertahan hidup dan selanjutnya mampu mengembangkan diri. Pendidikan menengah dimaksudkan untuk memberikan kemampuan hidup (life-skill) bagi masyarakat, sehingga mampu mencari nafkah, baik untuk kebutuhan individual maupun keluarganya. Relevansi Pendidikan tinggi saat ini harus dilihat dalam perspektif penyediaan pengetahuan (knowledge). Kegiatan penelitian di berbagai lembaga, industri dan juga perguruan tinggi semakin terintegrasi satu sama lain. Semua berperan sebagai aktor dalam pengelolaan pengetahuan. Di era globalisasi, setiap aktor tersebut mempunyai sejumlah pengetahuan yang 24

tidak dibuatnya sendiri, melainkan diperoleh dari berbagai sumber lain. Data menunjukkan bahwa 90% pengetahuan yang tersedia secara global, ternyata tidak dibuat di tempat yang membutuhkannya. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana mempunyai akses pada pengetahuan yang tersedia, kemudian digunakan untuk penyelesaian suatu persoalan secara spesifik. Perguruan tinggi selama ini lebih cenderung memiliki kemampuan menghasilkan pengetahuan daripada memanfaatkannya, dan merekonfigurasi pengetahuan yang ada untuk menjadi pengetahuan baru. Sehingga muncul pertanyaan apakah perlu penyesuaian struktur institusional agar perguruan tinggi mampu pula memanfaatkan dan merekonfigurasi pengetahuan yang ada menjadi pengetahuan baru. Agar dapat beroperasi secara efisien, perguruan tinggi harus dirampingkan ukurannya, dan harus dapat memanfaatkan seluruh sumber daya intelektual yang tersedia meskipun tidak dalam kewenangan perguruan tinggi tersebut. Hanya dengan cara ini, perguruan tinggi dapat berinteraksi secara efektif dengan penyedia pengetahuan dan dengan beragamnya kebutuhan dan ketersediaan pengetahuan yang spesifik. Perguruan tinggi di masa depan terdiri atas sejumlah dosen inti tetap yang tidak terlalu besar jumlahnya, dan sejumlah besar tenaga ahli dari berbagai bidang ilmu yang terkait dengan perguruan tinggi tersebut melalui berbagai format hubungan kerja (tidak harus sebagai tenaga tetap). Perguruan tinggi di masa depan dapat bertindak sebagai institusi pengelola atau pengatur dalam bidang penyediaan pengetahuan. Perguruan tinggi diharapkan berperan sebagai agen pertumbuhan ekonomi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di tingkat regional; berperan dalam hal penyediaan pendidikan berkelanjutan sepanjang hayat; dan 25

berperan dalam pengembangan budaya kewarga-negaraan. Agar dapat berperan secara efektif dalam hal tersebut, perguruan tinggi harus mampu memanfaatkan seluruh akses yang tersedia, terutama fasilitas yang tidak dimiliki secara langsung oleh perguruan tinggi tersebut. Untuk ini diperlukan kemampuan membangun kemitraan yang kuat dengan berbagai unsur, termasuk kemampuan mengkombinasikan antara kompetisi dan kolaborasi. Penjaminan Mutu (dalam perspektif memenuhi kepentingan pelanggan) Perkembangan pendidikan dasar dan menengah dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan kesejah-teraan masyarakat. Dalam era keterbukaan, tuntutan akan mutu pendidikan dasar dan menengah semakin tinggi, khususnya dalam peletakan dasar kemampuan berkompetisi, kemampuan hidup bermasyarakat, dan kemampuan membentuk masyarakat madani yang demokratis. Dalam dua dekade terakhir berkembang paradigma baru pendidikan tinggi. Sementara ini, perguruan tinggi masih memainkan peran sebagai suatu komunitas ilmiah, padahal peran perguruan tinggi yang lebih pragmatis sudah semakin dituntut, antara lain perguruan tinggi tidak hanya dituntut mengembangkan pengetahuan untuk kepentingan sendiri, tetapi harus mampu pula menyediakan tenaga kerja yang bermutu bagi masyarakat dan menghasilkan pengetahuan baru. Dengan paradigma baru yang berorientasi ekonomi, perguruan tinggi dituntut memiliki akuntabilitas publik, yaitu perguruan tinggi dinyatakan berhasil apabila mutu keluarannya mampu berkontribusi pada Pembangunan Nasional. Sehubungan dengan itu, kriteria penjaminan mutu perguruan tinggi berbasis paradigma baru, berbeda dengan perguruan tinggi tradisional. Pada perguruan tinggi tradisional penilaian mutu dilakukan oleh para pakar. 26

Penjaminan mutu dilakukan dengan memilih secara cermat para pakar yang kompeten, yang disasarkan pada pengalaman akademik dan kontribusi nya. Untuk perguruan tinggi dengan paradigma baru, perlu ditambahkan penilaian lain yang berhubungan dengan berbagai aspek kepentingan intelektual maupun kepentingan sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Oleh karena itu, metode penjaminan mutu yang didasarkan kepada paradigma baru akan meliputi berbagai aspek, tidak hanya akademik. Reformasi Pendanaan Dan Manajemen Akibat perluasan pendidikan dan diversifikasi pendidikan, pemerintah melakukan reformasi pendanaan dan manajemen, yaitu penggantian dukungan pemerintah (terutama bagi peserta didik dari keluarga mampu), diferensiasi kelembagaan, pemberdayaan inisiatif peran swasta, dan melakukan berbagai deregulasi. Implementasi agenda tersebut berdampak bahwa biaya pendidikan tinggi mulai dipikul bersama dengan peserta didik dan keluarga, melalui pembayaran sumbangan pembiayaan pendidikan secara penuh. Berbagai beasiswa dan kredit pendidikan tersedia di banyak lembaga dan merupakan kebijakan untuk pendidikan tinggi yang dibiayai pemerintah. Perguruan Tinggi swasta semakin berkembang dan umumnya mereka menangani bidang yang mempunyai prospek pasar yang menjanjikan, meskipun mutunya belum semuanya baik. Dalam hal pendanaan suatu perguruan tinggi maka indikator keluaran merupakan aspek yang harus diperhatikan, dalam rangka memberikan kewenangan penggunaan dana secara bertahap diserahkan kepada perguruan tinggi. Pendanaan untuk pendidikan tinggi merupakan isu yang penting di seluruh dunia, karena berkaitan dengan berbagai faktor di luar pendidikan, baik yang 27

dan manajemen berbasis sekolah/madrasah atau otonomi perguruan tinggi. Hal ini berkenaan dengan desentralisasi atau sentralisasi. peranan pemerintah. 28 . di mana jumlah dana yang diberikan tergantung pada jumlah lulusan yang dihasilkan dengan mutu yang terjamin. yaitu aspek yang menjadi kewenangan pemerintah dan aspek yang menjadi kewenangan satuan pendidikan bersangkutan. karena hal tersebut memiliki dampak dan manfaat sosial yang luas. fleksibilitas. termasuk Indonesia. Bahkan di negara maju yang seharusnya mampu menyediakan dana cukup bahkan lebih untuk pendidikan tinggi. Dalam hal reformasi manajemen pendidikan. perlu kejelasan dan klarifikasi mengenai pendelegasian kewenangan dari pemerintah kepada satuan pendidikan. maka mekanisme pendanaan pendidikan tinggi oleh pemerintah akan mengalami perubahan. tidak hanya didasarkan pada jumlah peserta didik yang terdaftar. Untuk negara berkembang. Tantangan yang dihadapi manajemen pendidikan adalah meningkatkan efisiensi. Adanya perubahan ekonomi politik dari pendekatan negara kesejahteraan (welfare state) menjadi daya saing nasional (wealth creation). Untuk itu perlu diterapkan mekanisme pendanaan berbasis block funding. mekanisme pendanaan oleh pemerintah selalu mendapat kritik keras dari masyarakat. dana yang terbatas seyogyanya diprioritaskan untuk penuntasan wajib belajar pendidikan dasar serta mendukung pendidikan menengah. telah menyebabkan dana pendidikan tinggi untuk sejumlah kegiatan tertentu menjadi sangat terbatas.bersifat praktis maupun filosofis. Dengan adanya pergeseran peran pemerintah dari semula pengawas dan regulator menjadi lembaga pemberi dana. Anggaran tersebut diperuntukkan sebagian besar bagi gaji pegawai negeri. Selama ini subsidi pemerintah kepada perguruan tinggi negeri dialokasikan melalui DIPA. perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi swasta.

dan akuntabilitas satuan pendidikan. dan pemberi subsidi pendidikan. or one-off. SBM programs lie along a continuum in terms of the degree to which decisionmaking is devolved to the local level. dalam rangka pergeseran peran pemerintah dari semula sebagai regulator menjadi fasilitator. while at the far end of the spectrum there are those that encourage the private and community management of schools as well as allow parents to create schools. The World Bank’s World Development Report 2004 (WDR 2004) presented a conceptual framework for SBM (World Bank. While increasing resource flows and support to the education sector is one aspectof increasing the access of the poor to better 29 . The WDR argues that school autonomy and accountability can help to solve some fundamental problems in education.transparansi. school grants programs that are not meant to be permanent alterations in school management. ********* We define SBM broadly to include community-based management and parental participation schemes but do not explicitly include stand-alone. pemberdaya. perlindungan konsumen. there are both strong and weak versions of SBM based on how much decision-making power has been transferred to the school. 2003a). cakupan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan masyarakat. serta memastikan akses pendidikan bagi keluarga yang kurang mampu tetapi mempunyai kemampuan dan motivasi tinggi. whereas others go further and devolve the power to hire and fire teachers and authority over substantial resources. Thus. Some devolve only a single area of autonomy. pengarah. Peran pemerintah yang dimaksud adalah dalam rangka mengamankan standar nasional pendidikan.

In general. and by strengthening the incentives for schools to deliver effective services to the poor and by penalizing those who fail to deliver. and sometimes to students and other school community members. (1990). others encourage or mandate parental and community participation. 2005). SBM programs exist in many different forms. and parents. as a form of decentralization that identifies the individual school as the primary unit of improvement and relies on the redistribution of decision-making authority as the primary means through which improvement might be stimulated and sustained. However. both in terms of who has the power to make decisions and in terms of the degree of decision-making that is devolved to the school level. teachers. these school-level actors have to conform to or operate within a set of policies determined by the central government. responsibility for. School-Based Management Defined SBM is the decentralization of authority from the central government to the school level (Caldwell. often as members of school com mittees (or school councils or school management committees). The SBM approach aims to improve service delivery to the poor by increasing their choice and participation in service delivery. “Schoolbased management can be viewed conceptually as a formal alteration of governance structures. the hiring and fi ring of 30 .quality education. While some programs transfer authority only to principals or teachers. in SBM.” Thus. SBM programs transfer authority over one or more of the following activities: budget allocation. In the words of Malen et al. it is by no means sufficient. by giving citizens a voice in school management by making information widely available. and decision-making authority over. school operations is transferred to principals.

baik pendidikan dasar dan menengah maupun pendidikan tinggi dikelola secara otonom.teachers and other school staff. Istilah otonomi pada masa sekarang merupakan salah satu jargon yang sangat populer. dan seringkali dikaitkan dengan berbagai kegiatan di dalam kehidupan manusia. Pada pendidikan dasar dan menengah. dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. dan tidak ketinggalan adalah otonomi di bidang pendidikan.Sisdiknas mengamanatkan bahwa penyelenggaraan pendidikan. and the monitoring and evaluation of teacher performance and student learning outcomes BAB I LATAR BELAKANG RUU BHP Manajemen Berbasis Sekolah / Madrasah dan Otonomi Perguruan Tinggi UU. otonomi anggaran. 31 . curriculum development. infrastructure improvements. otonomi terletak pada tataran manajerial kepala sekolah/madrasah dan guru. Sedangkan pada pendidikan tinggi. dalam mengelola kegiatan pendidikan. baik pada tataran manajerial maupun pada tataran substansial. otonomi terletak pada kemandirian perguruan tinggi. the procurement of textbooks and other educational material. otonomi keilmuan. Sering didengungkan perihal otonomi daerah.

2000. Jan Aart Scholte menyatakan: “in the face of unprecedented globalization since the 1960s. absolute and singular rule over a country and its foreign relations”. Ultimate rule yaitu peraturan yang ditetapkan oleh negara Comprehensive rule yaitu peraturan yang ditetapkan oleh sebagai instansi terakhir di suatu wilayah. globalization has prompted five general changes. namely: (1) the end of sovereignty. negara yang mengatur tentang semua aspek kehidupan masyarakat. (3) downward pressure on public-sector welfare guarantees. 133 – 138. For both physical and ideational reasons. (2) reorientation to serve supraterritorial as well as territorial interests. b. Palgrave. and (5) increased reliance on multilateral regulatory arrangements”. 32 . Khusus mengenai berakhirnya kedaulatan negara (the end of state sovereignty).Mengapa Perlu Otonomi Masuknya ide otonomi di berbagai bidang tersebut tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang melanda semua negara. state can no longer be sovereign in the traditional sense of the word. comprehensive. hlm. (4) redefinition of the use of warfare. a state cannot in contemporary globalizing circumstances exercise ultimate. tanpa peduli apakah negara maju atau negara berkembang seperti Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan masing-masing rule (peraturan) tersebut di atas adalah: a. Mengenai pengaruh globalisasi terhadap suatu negara. 1 Jan Aart Scholte. Globalization – A Critical Introduction . Jan Aart Scholte1 mengemukakan: “In respect of state.

misalnya pasokan uang. yaitu semula dilakukan oleh Pemerintah atas nama negara ke arah pengaturan secara mandiri oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Aula Magna of University of Rome “La Sapienza”. c. dalam buku The University for A New Humanism. baik secara fisik maupun secara konseptual di dalam lingkungan global yang kontemporer. termasuk pendidikan formal. dan pemberi subsidi pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa setiap perguruan tinggi memiliki suasana 2 Absolute and singular rule yaitu peraturan yang ditetapkan oleh negara sebagai satu-satunya penguasa yang mutlak di The transmission of culture. 33 . telah mengalami perubahan dari semula sebagai regulator menuju ke arah peran negara sebagai fasilitator. yaitu: a. 8 September 2000. scientists. perilaku seksual. Konsekuensi logis dari perubahan itu. urusan militer. Dengan perkataan lain. suatu wilayah. bahasa. negara tidak lagi mengatur semua bidang kehidupan sosial termasuk di antaranya bidang pendidikan formal. pemberdaya. pengarah. dalam bidang pendidikan formal peran negara yang kekuasaannya dijalankan oleh Pemerintah. and The scientific research and the training of new Salvatore G. dan lain-lain. b. pengaturan tentang penyelenggaraan satuan pendidikan secara bertahap juga mengalami pergeseran. The teaching of professions. Ortega y Gasset2 mengemukakan bahwa perguruan tinggi mengemban 3 fungsi. Hal yang disebut terakhir ini termasuk dalam pengertian otonomi dalam perguruan tinggi. dan manajemen berbasis sekolah pada sekolah/madrasah. 56. Rotella. The Legacy of Ortega y Gasset’s The Mission of the University. c. hlm. Dengan demikian. sejak tahun 1960an.

Sampai pada tataran tertentu. yaitu tataran manajerial kepala sekolah/ madrasah dan guru. Keunikan atau kekhasan pendidikan dasar. akan mengikis kekayaan tersebut. dan tinggi ini dijamin oleh Pasal 55 ayat (1) UU. setiap perguruan tinggi akan memilikli keunikan atau kekhasan (uniqueness). namun kontekstualitas lingkungan di mana perguruan tinggi berada menyebabkan perbedaan titik tekan pada ketiga fungsi itu. Perbedaan ini banyak dipengaruhi oleh lingkungan di mana perguruan tinggi tersebut berada. Sisdiknas yang menyatakan bahwa masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama. 34 . apalagi bagi bangsa Indonesia yang memiliki tingkat keragaman lingkungan yang relatif tinggi. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Agar perguruan tinggi mampu memelihara dan mengembangkan keunikan atau kekhasannya. Akibatnya. otonomi yang dimaksud di atas juga perlu diberikan pada sekolah/ madrasah.akademik (academic atmosphere) yang berbeda satu dengan yang lainnya. dan dikembangkan sebagai suatu niche. maka pada perguruan tinggi harus diberikan otonomi yang memungkinkan perguruan tinggi mengatur diri sendiri sesuai dengan kontekstualitasnya. dibantu oleh komite sekolah/ madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. keunikan atau kekhasan perguruan tinggi perlu dipelihara keberadaannya. lingkungan sosial. Pengaturan perguruan tinggi yang bertujuan menyeragamkan tanpa mempertimbangkan keunikan dan kekhasannya. Keunikan atau kekhasan perguruan tinggi ini merupakan kekayaan bagi suatu bangsa. Oleh karena itu. Oleh karena itu. menengah. meskipun ketiga fungsi perguruan tinggi seperti dikemukakan Ortega y Gasset senantiasa melekat pada setiap perguruan tinggi.

Pengalaman banyak perguruan tinggi di Indonesia merupakan pembelajaran (lesson learned). Pasal 24 ayat (2) UU. sebaiknya juga dilakukan secara mandiri atau otonom oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. sehingga perguruan tinggi dapat dikelola secara efisien. jika sekolah/madrasah harus berkembang sesuai dengan kekhasan atau keunikannya. model pengelolaan perguruan tinggi. Karena itu. kebijakan menyeragamkan manajemen sekolah/madrasah merupakan kebijakan yang tidak dapat dipertahankan. karena tidak tertutup kemungkinan bahwa demi keseragaman. Hal ini sangat strategis. bahwa penyeragaman model pengelolaan perguruan tinggi dapat kontra produktif terhadap upaya perguruan tinggi tersebut untuk memelihara keunikan dan kekhasannya. Pada pengelolaan sekolah/madrasah. kemandirian atau otonomi dalam merencanakan. Sisdiknas menyatakan bahwa perguruan tinggi 35 . serta mengendalikan pola organisasi dan pengelolaannya justru harus sepenuhnya diserahkan pada sekolah/ madrasah yang bersangkutan. terpaksa dibentuk dan diisi dengan para pejabat. Penyeragaman dapat menimbulkan inefisiensi. budaya. juga merupakan faktor penentu keberhasilan perguruan tinggi yang bersangkutan dalam memelihara keunikan dan kekhasannya. melaksanakan.Di samping itu. suatu unit kerja yang tidak cocok dengan keunikan atau kekhasan suatu perguruan tinggi. ukuran. baik dari aspek sejarah. mengingat sangat tingginya tingkat keragaman sekolah/ madrasah di Indonesia. pengaturan model pengelolaan perguruan tinggi yang paling sesuai untuk memelihara keunikan atau kekhasan suatu perguruan tinggi. maupun aspek kemampuan pendanaannya. Oleh karena itu. baik struktur organisasi maupun hubungan serta tata kerja antar unit di dalamnya.

dan evaluasi yang transparan. Selanjutnya. Dari uraian di atas. Adapun pada tataran pendidikan dasar dan menengah. Sekalipun otonomi perguruan tinggi telah mendapatkan dasar pembenaran secara konseptual dan legal. Pasal 51 ayat (1) UU. Hal ini dinyatakan dalam Pasal 51 ayat (2) UU.memiliki otonomi untuk mengelola sendiri lembaganya sebagai pusat penyelenggaraan pendidikan tinggi. yang dalam hal ini kepala sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. Penjelasan Pasal 51 ayat (1) UU. Sisdiknas menyatakan sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan. Penjelasan pasal ini menyatakan bahwa otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya. Pasal 50 ayat (6) UU. akuntabilitas. Selanjutnya. Sisdiknas menentukan bahwa perguruan tinggi menentukan kebijakan dan memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan di lembaganya. dan pengabdian kepada masyarakat. mengenai pengelolaan pendidikan tinggi oleh perguruan tinggi. Sisdiknas mengatur bahwa pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini. Sisdiknas yang menegaskan bahwa pengelolaan satuan pendidikan tinggi dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi. maka otonomi perguruan tinggi harus diikuti dengan akuntabilitas publik. Untuk menghindari kemungkinan timbulnya kesewenang-wenangan tersebut. nampak bahwa baik secara konseptual maupun secara 36 . penelitian ilmiah. jaminan mutu. namun tidak tertutup kemungkinan timbulnya kesewenang-wenangan dalam penerapan otonomi tersebut. pendidikan dasar. dan pendidikan menengah dilaksana-kan berdasarkan standar pelayanan bahwa minimal yang dengan dimaksud prinsip dengan manajemen manajemen berbasis berbasis sekolah/madrasah.

yaitu argumentasi yang lebih bernuansa emosional. Oleh karena itu. Badan Hukum Pendidikan Sebagai Strategi Sejak UU.legal. Ada argumentasi yang didasarkan pada idealisme akademik pendidikan tinggi. serta ada pula yang didasarkan pada kepentingan finansial. banyak dibicarakan di dalam masyarakat pada umumnya dan masyarakat perguruan tinggi pada khususnya. sebagai salah satu upaya agar semua pihak dapat memberikan penilaian yang obyektif serta proporsional terhadap BHP. namun ada pula argumentasi yang tidak terkait langsung dengan BHP. berikut ini akan dipaparkan apa. bagaimana proses pendirian. Sebagian kalangan mendukung pendirian BHP. namun tidak sedikit pula yang menentang pendirian BHP. BHP merupakan salah satu bentuk khusus (species) dari badan hukum pendidikan. Dari kalangan yang menentang pendirian BHP. tentang pendirian Badan Hukum Pendidikan (BHP). muncul argumentasi mulai dari yang secara logikal memang terkait langsung dengan hakekat pendirian BHP. namun ada pula yang semata-mata didasarkan pada kepentingan pribadi atau kelompok. Sampai saat ini Indonesia belum memiliki peraturan perundang-undangan 37 . adalah kurang tepat jika terdapat pandangan pengelola pendidikan tinggi di Indonesia yang menyatakan bahwa kecenderungan (trend) pengaturan pendidikan tinggi di Indonesia bersifat monolitik dan etatik. Sedangkan badan hukum pendidikan merupakan salah satu bentuk khusus dari badan hukum. Sisdiknas diundangkan. serta mengapa dibutuhkan BHP.

b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH. yayasan. diakui oleh negara (pemerintah). Dari Pasal 1653 KUH. Mengenai badan hukum. c. badan usaha milik negara. Peraturan perundang-undangan yang ada adalah peraturan perundang-undangan tentang badan hukum yang khusus. Adapun peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang badan hukum secara umum di Indonesia sampai saat ini adalah a. Tentang Lembaran Negara (Staatsblad) Nomer 64 Tahun 1870 Perkumpulan-Perkumpulan Berbadan Hukum (Rechtspersoonlijkheid van Vereenigingen). maupun perkumpulan itu diterima karena diperbolehkan atau telah didirikan untuk suatu maksud tertentu yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau kesusilaan baik.Perdata dapat disimpulkan bahwa terdapat badan hukum yang: a. Pasal 1653 KUH. oleh undang-undang diakui pula perkumpulan orang sebagai badan hukum.yang mengatur tentang badan hukum secara umum (generic). badan hukum milik negara.diterima karena diperbolehkan (tidak bertentangan dengan peraturan 38 . dan.Perdata menyatakan: Selain perseroan yang sejati. b. baik perkumpulan itu diadakan atau diakui sebagai badan hukum oleh negara (pemerintah).diadakan/didirikan oleh negara (pemerintah). Perdata) Bab Kesembilan Tentang Perkumpulan-Perkumpulan Berkedudukan sebagai Badan Hukum (Van zedelijke lichamen) Pasal 1653 sampai dengan Pasal 1665. koperasi. misalnya tentang badan hukum perseroan terbatas.

lingkungan kerja dan ketentuan-ketentuan lain perkumpulan. Sedangkan Pasal 2 mengatur bahwa pengakuan dilakukan dengan menyetujui statuta atau reglemen (sekarang anggaran dasar. Pasal 1 Lembaran Negara 1870 Nomer 64 mengatur bahwa tiada perkumpulan orang. 2000. pen). bertindak selaku badan hukum. badan hukum adalah subyek hukum yaitu pemilik atau pengemban hak dan kewajiban. pen) perkumpulan. manusia telah terlebih dahulu merupakan subyek hukum. hlm. dasar-dasar. Tujuan Sosial Yayasan dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba.perundang-undangan dan kesusi-laan baik). di luar yang dibentuk menurut peraturan umum. Statuta atau reglemen berisi tujuan. PT. badan hukum dapat memiliki dan menjalankan hak dan kewajiban sama seperti manusia yang memiliki dan menjalankan hak dan kewajiban.Citra Aditya Bakti. Jika digambarkan subyek hukum tersebut adalah sebagai berikut: Manusia Subyek Hukum Badan Hukum Dengan demikian. Secara teoretik. 29-33. Terdapat berbagai teori hukum yang memberikan dasar pembenaran adanya badan hukum3: 3 Lihat Chatamarrasjid. Sebelum dikenal badan hukum sebagai subyek hukum yang diciptakan oleh hukum. 39 . kecuali setelah diakui oleh Gubernur Jenderal atau oleh pejabat yang ditunjuk oleh Gubernur Jenderal (sekarang Presiden.

a. d. c. Demikian pula harta kekayaan badan hukum merupakan harta kekayaan milik bersama. hak dan kewajiban badan hukum ternyata dijalankan oleh pengurusnya. Berbeda dengan manusia yang dapat bertindak sendiri dalam menjalankan hak dan kewajibannya. Teori Organ Teori ini menyatakan badan hukum bukan merupakan suatu fiksi. Dengan demikian. sehingga masing-masing anggota secara individual tidak memiliki harta kekayaan tersebut. Teori Fiksi Menurut teori ini badan hukum dianggap sebagai suatu fiksi. Manusia menjalankan hak dan kewajibannya dengan menggunakan anggota badannya sebagai organ. yaitu manusia yang bukan badan hukum itu sendiri. karena sebenarnya hanya manusia yang secara alami merupakan subyek hukum. sedangkan badan hukum menjalankan hak dan kewajibannya menggunakan para pengurusnya sebagai organ. sejauh perbuatan pengurus tersebut tidak melampaui batas wewenangnya sebagaimana diatur dalam anggaran dasar badan hukum. perbuatan pengurus badan hukum dianggap sebagai perbuatan badan hukum tersebut. Hal ini merupakan kelemahan dari teori ini. b. yaitu badan hukum tidak sama atau tidak dapat disamakan dengan manusia. tetapi kenyataan menunjukkan bahwa terdapat hak-hak 40 . melainkan suatu kenyataan yang tidak berbeda dengan kodrat manusia. Teori Kekayaan Bertujuan Teori ini menyatakan bahwa memang hanya manusia yang merupakan subyek hukum. Teori Pemilikan Bersama Menurut teori ini hak dan kewajiban badan hukum pada hakekatnya merupakan hak dan kewajiban anggota secara bersama.

e. dari beberapa peraturan perundang-undangan yang 41 . Hak-hak atas suatu kekayaan tanpa pemilik secara individual itulah yang merupakan hak-hak dari suatu badan hukum. Dari keseluruhan teori di atas. bagi badan hukum yang merupakan suatu kenyataan yuridis. Argumentasinya adalah bahwa kedudukan sebagai subyek hukum baru dapat diperoleh oleh badan hukum. Artinya. Hak dan kewajiban atas harta kekayaan badan hukum berada di tangan pengurus karena jabatannya. Yang terpenting adalah bahwa keberadaan badan hukum tersebut merupakan kenyataan yuridis yang diciptakan oleh hukum. apabila badan hukum tersebut memiliki kehendak. harta kekayaan tersebut terikat pada suatu tujuan atau dimiliki oleh tujuan tertentu. f. Teori Kenyataan Yuridis Teori ini menyatakan tidak perlu dicari dasar pembenaran untuk memberikan status sebagai subyek hukum pada badan hukum. Sehubungan dengan itu. Karena badan hukum tidak dapat berkehendak. Teori Kekayaan Jabatan Berdasarkan teori ini dapat dikemukakan bahwa terdapat pemisahan antara harta kekayaan badan hukum dan harta kekayaan para anggotanya.atas suatu kekayaan namun tidak ada satu manusiapun yang menjadi pemilik atas hak-hak tersebut. Teori Kenyataan Yuridis dipandang dapat merupakan dasar bagi pengaturan tentang badan hukum. maka yang dapat berkehendak adalah pengurusnya. Oleh karena itu. perlu ditetapkan peraturan perundang-undangan yang dapat digunakan sebagai dasar pendiriannya. menurut teori ini lebih penting mencari dasar hukum dari peraturan perundangundangan yang melandasi pendirian suatu badan hukum. Dengan demikian.

Badan Hukum Publik Badan hukum yang diadakan/didirikan oleh negara (pemerintah) dan memiliki kewenangan menetapkan kebijakan publik yang mengikat umum. o memiliki tujuan tertentu (laba atau nirlaba). misalnya didirikan dengan akta notaris dan wajib mendapatkan pengakuan/pengesahan dari negara (pemerintah). atau diadakan/didirikan oleh pemerintah. koperasi. kecamatan. b. yayasan. yaitu: a. Adapun tentang jenis badan hukum dapat dikemukakan bahwa terdapat 2 (dua) jenis badan hukum.ada tentang berbagai badan hukum yang khusus (species). kabupaten. o memiliki kepentingan yang relatif stabil dan langgeng. propinsi. sebagai berikut: a. tetapi keduanya tidak memiliki kewenangan menetapkan kebijakan publik yang mengikat umum. dapat diabstraksikan beberapa persyaratan tentang pendirian suatu badan hukum. Badan Hukum Privat/Perdata Badan hukum yang diadakan/didirikan oleh masyarakat dan diakui oleh negara (pemerintah). b. Contoh: negara. badan 42 . Persyaratan Material: o memiliki kekayaan terpisah dari kekayaan para pendirinya. kota. Contoh: perseroan terbatas. Persyaratan Formal: Memenuhi persyaratan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan atau kebiasaan. o memiliki organisasi.

Penjelasan Umum UU. badan hukum milik negara. Manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan pada kepala sekolah/madrasah dan guru. terpisah dari pendiri (dhi. yaitu perguruan tinggi swasta. Pengaturan Badan Hukum Pendidikan oleh UU Sisdiknas Sebagaimana telah dikemukakan di atas. misalnya yayasan. dll untuk menyelenggarakan pendidikan. dapat dikemukakan bahwa BHP adalah badan hukum keperdataan yang dapat didirikan oleh: a. atau sekolah/ madrasah swasta. tetapi tidak memiliki kewenangan menetapkan kebijakan publik yang mengikat umum. misalnya Badan Hukum Milik Negara.usaha milik negara. b. untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi. serta otonomi perguruan tinggi pada tingkat pendidikan tinggi. menurut UU. dibantu oleh komite sekolah/madrasah dalam mengelola kegiatan pendidikan. Sedangkan otonomi perguruan tinggi adalah kemandirian perguruan tinggi untuk mengelola sendiri lembaganya. perubahan mendasar sistem manajemen pendidikan adalah penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah/madrasah pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Di samping itu. Pemerintah. Berdasarkan uraian di atas. wakaf.badan penyelenggara). masyarakat dan diakui oleh negara (pemerintah). Sisdiknas. sehingga BHP merupakan ius constituendum). dan badan hukum pendidikan (jika RUU BHP diundangkan. Sisdiknas menghendaki pembaharuan sistem pendidikan yang meliputi penghapusan diskriminasi antara pendidikan yang dikelola pemerintah dan pendidikan yang dikelola 43 .

44 . dibandingkan dengan badan hukum lainnya. Dengan demikian. BHP dapat terhindar dari campur tangan negara (Pemerintah) sehingga kemandiriannya dapat dijaga. dan lain-lain. peraturan perundang-undangan perdata adalah peraturan perundang-undangan yang mengatur hubungan antar subyek hukum.Penerintah) telah ikut campur di dalamnya. maka BHP adalah badan hukum yang relatif lebih cocok untuk menjamin otonomi perguruan tinggi maupun sekolah/ madrasah. Sisdiknas mengamanatkan agar penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. Sisdiknas sebagaimana dikemukakan di atas. tentu saja peraturan perundang-undangan perdata yang berlaku bagi BHP. BHP merupakan badan hukum privat atau badan hukum keperdataan. serta pembedaan antara pendidikan keagamaan dan pendidikan umum. Sebagai badan hukum keperdataan. baik yang didirikan oleh Pemerintah. negara (dhi. Sisdiknas menyatakan agar ketentuan tentang badan hukum pendidikan ditetapkan dengan undang-undang tersendiri. seperti peraturan perundangundangan tentang perjanjian kerja/perburuhan yang sebenarnya merupakan peraturan perundangundangan perdata. Dengan demikian. Untuk mewujudkan amanat UU. sebagai badan hukum keperdataan. antara lain dengan menetapkan upah minimun propinsi. masyarakat akan mendapat kepastian hukum dalam memperoleh pelayanan pendidikan secara non diskriminatif dari sekolah/madrasah atau perguruan tinggi. Pasal 53 ayat (4) UU.masyarakat. Sehubungan dengan itu. Pemerintah Daerah maupun masyarakat. mengatur perihal cuti. Selanjutnya perlu dijawab pertanyaan tentang mengapa dibutuhkan BHP? Seperti telah dikemukakan di atas. namun untuk kepentingan perlindungan bagi tenaga kerja. tanpa campur tangan pemerintah4. Pada prinsipnya. Sebagai badan hukum yang kemandiriannya dapat dijaga dari campur tangan negara (Pemerintah). maka Pasal 53 UU. misalnya badan 4 Walaupun dalam beberapa peraturan perundang-undangan perdata.

pada gilirannya keunikan atau kekhasan suatu perguruan tinggi maupun sekolah/ madrasah dapat dipelihara dan dikembangkan. bukankah yayasan yang sekarang disebut sebagai badan penyelenggara merupakan badan hukum keperdataan yang mandiri pula? Jika demikian. Dapat dikemukakan bahwa di lingkungan PTS acapkali terjadi keputusan akademik yang seharusnya merupakan keputusan otonom dari perguruan tinggi. dan akuntabel. serta dapat dikelola secara lebih efisien. transparan. Dengan demikian. perguruan tinggi didirikan sebagai suatu badan hukum. di Inggris melalui akta Ratu. Dengan demikian.layanan umum sebagai badan hukum publik. jenis campur tangan di lingkungan PTS lebih beragam daripada di lingkungan perguruan tinggi negeri. Di kalangan sekolah/madrasah dan perguruan tinggi swasta (PTS) masih timbul pertanyaan. tetapi juga harus mematuhi ketentuan atau kehendak dari yayasan sebagai badan penyelenggara. Di negara lain. Dalam tataran pendidikan tinggi. keberadaan BHP di lingkungan PTS lebih dibutuhkan untuk menjaga otonomi PTS. otonomi perguruan tinggi dapat dicapai melalui perubahan status hukum perguruan tinggi. 45 . misalnya di Amerika Serikat melalui konstitusi negara bagian atau legislatif. perguruan tingginya selain harus menjalankan ketentuan dari negara (Pemerintah). Pada saat ini perguruan tinggi negeri dibentuk sebagai salah satu unit layanan Departemen Pendidikan Nasional melalui suatu Keputusan Presiden. terpaksa dicampuri oleh yayasan dengan pertimbangan non akademik. maka mengapa perguruan tinggi swasta harus diubah menjadi BHP? Kondisi saat ini menunjukkan bahwa di lingkungan PTS. Dalam hal demikian.

yang akhirnya menurunkan kredibilitas perguruan tinggi swasta tersebut. Dalam konteks reformasi pendidikan tinggi di Indonesia. Banyak urusan lain yang perlu diperhatikan. pada saat ini perguruan tinggi negeri mempunyai otonomi yang terbatas. antara lain pembinaan dan pengawasan ketenagaan yang masih terpusat. Penyelenggaraan pendidikan oleh masyarakat Sekolah/madrasah swasta pada umumnya dan perguruan tinggi swasta pada 46 . rendahnya tingkat keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. isu sentral dalam otonomi adalah pengelolaan sumber daya dan program. Otonomi perguruan tinggi seringkali hanya dipahami sebatas urusan pendanaan dan perijinan. Dengan demikian. pengelolaan pegawai (pegawai negeri sipil). perguruan tinggi hanya akuntabel pada pemerintah tetapi belum akuntabel pada masyarakat sebagai stakeholder. nampak bahwa sebagai unit layanan pemerintah. termasuk reformasi sistem pertanggungjawaban internal organisasi. reposisi organ. padahal pengertian akuntabilitas sebagai konsekuensi logis dari otonomi tidak hanya terbatas pada urusan tersebut. dan tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang sesungguhnya tidak sesuai dengan hakekat perguruan tinggi. telah menimbulkan berbagai persoalan dan perselisihan. Sedangkan untuk perguruan tinggi swasta. Berdasarkan status hukumnya. pada saat ini perguruan tinggi negeri harus tunduk kepada Peraturan perundang-undang tentang Keuangan Negara. keberadaan badan penyelenggara (al: yayasan) yang cenderung intervensi dalam kegiatan pengelolaan perguruan tinggi. dan lainnya.Sebagai unit layanan pemerintah. dan harus memenuhi semua peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk institusi pemerintah. seperti halnya pengelolaan keuangan.

karena badan penyelenggara (al. Khusus pada perguruan tinggi swasta. RUU BHP disusun untuk memenuhi pengaturan di dalam Pasal 53 UU. namun belum otonom dari badan penyelenggara (al. yayasan) beserta satuan pendidikan terintegrasi dalam satu kesatuan yang utuh sebagai badan hukum. diharapkan terjadi peningkatan kinerja perguruan tinggi swasta. yayasan).khususnya. yayasan) . Melalui penataan kembali itu. yang menyatakan bahwa: (1) Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh 47 . dan dualisme kepemimpinan di perguruan tinggi swasta yang seringkali terjadi akan dapat dieliminasi. Sisdiknas. maka sudah seharusnya dilakukan penataan kembali bentuk badan hukum penyelenggaranya untuk mewujudkan otonomi. dan transparansi. ********* BAB II TUJUAN PENYUSUNAN RUU BHP Sebagaimana dikemukakan di atas. tanpa bermaksud meniadakan eksistensi badan penyelenggara (al. akuntabilitas. pada saat ini telah mempunyai otonomi meskipun belum sepenuhnya.

Sisdiknas. yang harus didahulukan berlakunya dari ketentuan yang umum (lex generalis) sebagaimana termuat di dalam UU. Pengaturan secara fakultatif ini dilakukan dengan alasan: 48 . dan perbedaan tersebut menjadi ketentuan yang khusus (lex specialis). (3) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berprinsip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. maka di dalam RUU BHP terdapat beberapa ketentuan yang merupakan ketentuan khusus dari ketentuan yang terdapat di dalam UU. maka RUU BHP dapat mengatur secara berbeda dengan UU. Sisdiknas. Berdasarkan prinsip tersebut. khususnya Pasal 53 ayat (4). Sisdiknas. Dengan demikian. (4) Ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan undangundang tersendiri. Sisdiknas. Sisdiknas. (2) Badan hukum pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi memberikan pelayanan pendidikan kepada peserta didik. Dalam hal ini berlaku prinsip lex specialis derogat legi generalis (ketentuan yang khusus didahulukan berlakunya daripada hukum yang umum). Sisdiknas BHP bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidikan menengah swasta bersifat imperatif. ketentuan tentang sifat fakultatif BHP bagi penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan menengah yang dielenggarakan oleh masyarakat (swasta).Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan. secara yuridis formal tujuan penyu-sunan RUU BHP adalah memenuhi ketentuan Pasal 53 UU. sekalipun di dalam UU. Antara lain. Sebagai sebuah peraturan perundang-undangan yang setara dengan UU.

Sisdiknas dan RUU BHP. Menurut Pasal 53 ayat (1) UU. dan kepantasan sebagian terbesar sekolah/madrasah swasta di Indonesia. kelayakan. b. Sisdiknas. menurut Pasal 50 ayat (5) UU.a. Adapun pengaturan BHP pada jenjang pendidikan tinggi tidak terdapat perbedaan antara UU. Sisdiknas tidak harus berbentuk BHP. Menurut Pasal 1 butir 28 UU. Pembedaan ini terjadi karena redaksi Pasal 53 ayat (1) UU. sekolah/madrasah yang didirikan Pemerintah kabupaten/kota. Sisdiknas. seperti diatur oleh UU. sehingga dengan mempertimbangkan secara sungguh-sungguh kapasitas. Sisdiknas mengawali penyebutan istilah Pemerintah dengan huruf kapital. Menghapuskan pembedaan perlakuan terhadap sekolah/madrasah yang didirikan oleh Pemerintah (daerah) dengan sekolah/madrasah yang didirikan oleh masyarakat (swasta). Jumlah yang sangat besar penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan menengah swasta di Indonesia. Jadi. sehingga pemerintah daerah (kabupaten/kota) tidak termasuk dalam pengertian Pemerintah. maka nampak sukar untuk tetap mempertahankan ketentuan bahwa sekolah/ madrasah swasta wajib berbentuk BHP. sekolah/ madrasah yang didirikan oleh pemerintah daerah (kabupaten/kota) tidak wajib berbentuk BHP seperti sekolah/madrasah swasta. yang dimaksud Pemerintah adalah Pemerintah Pusat. ********* BAB III SASARAN RUU BHP 49 . Sisdiknas. yaitu penyelenggara dan/atau satuan pendidikan tinggi wajib berbentuk BHP.

yang menyatakan bahwa ketentuan tentang badan hukum pendidikan diatur dengan undang-undang tersendiri. d. c. setelah RUU BHP diberlaku-kan. b. Terdapat Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Terdapat perguruan tinggi yang didirikan oleh masyarakat (swasta). Di lingkungan penyelenggara dan/atau satuan pendidikan tinggi: a. c. 2. Terdapat kemungkinan pendirian BHP yang sama sekali baru. b. terdapat kondisi sebagai berikut: 1. 50 . Terdapat perguruan tinggi yang didirikan oleh Pemerintah. setelah RUU BHP diberlaku-kan. Terdapat sekolah/madrasah yang didirikan oleh masyarakat (swasta). namun setelah RUU BHP diberlakukan wajib mengubah bentuk menjadi BHP. namun setelah RUU BHP diberlakukan wajib menyesuaikan diri pada bentuk BHP. namun setelah RUU BHP diberlakukan dapat mengubah bentuk menjadi BHP.Ketika RUU BHP ini dirancang dalam rangka memenuhi ketentuan Pasal 53 ayat (4) UU. namun setelah RUU BHP diberlakukan wajib mengubah bentuk menjadi BHP. Di lingkungan penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan menengah: a. Sisdiknas. namun setelah RUU BHP diberlakukan dapat mengubah bentuk menjadi BHP. Terdapat kemungkinan pendirian BHP yang sama sekali baru. Terdapat sekolah/madrasah yang didirikan oleh pemerintah daerah.

Pengertian “penyelenggara” pada saat RUU BHP diberlakukan meliputi Pemerintah. atau masyarakat (swasta). dan/atau satuan pendidikan tinggi yang baru didirikan oleh Pemerintah. mengandung pengertian bahwa baik penyelenggara dan/atau satuan pendidikannya (sekolah/madrasah). perkumpulan. yayasan. yang secara sukarela akan berubah menjadi BHP. 4. oleh Satuan pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan masyarakat (sekolah/ madrasah swasta). dapat tetap berada dalam bentuk badan hukum yang digunakan pada saat Undang-Undang ini berlaku. Adapun pengertian “masyarakat” meliputi orang perseorangan. Kata “dapat” di lingkungan penyelenggara dan/atau satuan pendidikan dasar dan menengah. Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh 51 . perkumpulan. atau dapat menyesuaikan bentuknya menjadi Badan Hukum Pendidikan. dan/atau badan penyelenggara (yayasan. Pemerintah Daerah. BHP baru yang mengelola satuan pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah Daerah. Satuan pendidikan dasar dan menengah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah (dikenal sebagai sekolah/madrasah negeri). wakaf. Dari uraian di atas. wakaf. atau badan hukum lain yang sejenis). atau masyarakat yang menyelenggarakan satuan pendidikan. 3. atau badan hukum lain yang sejenis. dapat disimpulkan bahwa sasaran pengaturan dalam RUU BHP adalah: 1. 2. yang secara sukarela akan berubah menjadi BHP.

termasuk yang berbentuk undang-undang. Hal ini seringkali 52 . Keberadaan berbagai unsur dan kelengkapan obyek yang diatur oleh peraturan perundang-undangan tersebut. perkumpulan. Satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat (perguruan tinggi swasta). yang harus diubah menjadi BHP. 5. dapat meliputi pengaturan tentang: 1. ********* BAB IV LINGKUP RUU BHP Pada umumnya dapat dikemukakan bahwa lingkup suatu peraturan perundang-undangan.Pemerintah (perguruan tinggi negeri). dan/atau badan penyelenggara (yayasan. 6. yang harus diubah menjadi BHP. wakaf. atau badan hukum lain yang sejenis). Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang harus disesuaikan menjadi BHP.

tujuan. Tugas dan wewenang masing-masing organ BHP. 6. diatur Tata cara atau prosedur tentang bagaimana obyek yang oleh peraturan perundang-undangan tersebut dijalankan/dilaksanakan/diterapkan. Kekayaan BHP. Sanksi administratif dan sanksi pidana. Pengisian Organ BHP. Komposisi keanggotaan di dalam setiap organ BHP. 8. 2. Struktur Organisasi BHP. dan/atau 2. al: anggaran dasar. 2. Lingkup RUU BHP meliputi pengaturan organisasi BHP dalam keadaan statik dan dalam keadaan dinamik. Pendirian dan Pengesahan BHP. 9.disebut pengaturan obyek dalam keadaan statik (diam). 4. Yang dimaksud pengaturan organisasi BHP dalam keadaan statik adalah pengaturan organisasi BHP yang meliputi keberadaan: 1. Sedangkan yang dimaksud pengaturan organisasi BHP dalam keadaan dinamik adalah pengaturan organisasi BHP yang meliputi tata cara atau prosedur: 1. Organ BHP. dan prinsip BHP. Penyusunan dan perubahan anggaran dasar BHP. Asas. 3. 53 . Pengambilan Keputusan di dalam BHP. Ketenagaan BHP. 3. 5. fungsi. 4. 7. Hal ini seringkali disebut pengaturan obyek dalam keadaan dinamik (bergerak). Kelengkapan organisasi BHP.

Pengalihan bentuk hukum penyelenggara dan/atau satuan pendidikan ke BHP.5. Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal. dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pemisahan dan pengalihan kekayaan pendiri BHP. menurut UU. jenjang. dan di lain pihak menjangkau tentang wilayah operasi BHP. pendidikan menengah. Penggabungan dan pembubaran BHP. Jenjang pendidik-an formal terdiri atas pendidikan dasar. 10. satuan pendidikan. dan kemampuan yang dikembangkan. jenjang. 7. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Adapun yang dimaksud dengan jalur. dan jenis pendidikan. Pengadaan ketenagaan BHP. 2. 6. dan 54 . Kerjasama BHP dengan institusi lain di dalam atau di luar negeri. ********* BAB V JANGKAUAN RUU BHP Pengaturan RUU BHP di satu pihak menjangkau tentang berbagai jalur. tujuan yang akan dicapai. Sidiknas sebagai berikut: 1. jenis. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. Pengawasan demi akuntabilitas BHP. 8. nonformal. 9.

dan khusus. BHP dapat memiliki lebih dari satu Dewan Pendidik atau Senat Akademik dan lebih dari satu Pimpinan Satuan Pendidikan yang diatur dalam anggaran dasar. Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum. 4. (RUU BHP hanya mengatur tentang organisasi dan manajemen satuan pendidikan pada jalur formal). baik sekolah yang menyelenggarakan pendidikan umum dan/atau kejuruan. dan/atau satuan pendidikan. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan. profesi. vokasi. dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. RUU BHP mengatur bahwa 1 (satu) BHP dapat mengelola sekolah dan/atau perguruan tinggi yang beroperasi di berbagai kabupaten/ kota/propinsi. kejuruan. dan/atau satuan pendidikan di lebih 1 (satu) wilayah. jangkauan pengaturan RUU BHP adalah lintas jenjang. Dengan demikian. keagamaan. jenis. Satu BHP dapat mengelola lebih dari 1(satu) jenjang. maupun perguruan tinggi yang menyeleng-garakan pendidikan akademik. 3. profesi. Dalam hal BHP mengelola lebih dari satu jenjang. 1 (satu) BHP dapat mengelola suatu jenjang. vokasi. jenis. Di samping itu.pendidikan tinggi. akademik. keagamaan. jenis. dan/atau satuan pendidikan. nonformal. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal. dan/atau satuan pendidikan. jenis. dan khusus. RUU BHP mengatur bahwa 1 (satu) BHP dapat mengelola sekolah dan perguruan tinggi sekaligus. 55 . Dengan demikian jangkauan pengaturan RUU BHP adalah lintas wilayah.

2. Hal yang disebut terakhir diatur baik di dalam UU. dan mobilitasnya. mengelola sekolah/madrasah dan guru dibantu oleh komite sekolah/madrasah otonomi dalam pendidikan lingkungan sekolah/madrasah. yang berarti melalui pendirian BHP. inovasi. Manajemen perguruan tinggi dilandaskan pada prinsip Otonomi Perguruan Tinggi. RUU BHP mengatur aspek manajemen penyelenggara-an sekolah/madrasah dan perguran tinggi. sebagai berikut: 1. perguruan tinggi memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menjalankan kegiatan 56 . Sisdiknas maupun di dalam peraturan pelaksanaan lain. Hanya dengan manajemen berbasis sekolah/madrasah. pendidikan dasar dan menengah dapat menumbuhkembangkan kreativitas. fleksibilitas.********* BAB VI OBYEK RUU BHP Obyek pengaturan dalam RUU BHP adalah aspek manajemen penyelenggaraan sekolah/madrasah dan perguran tinggi. mutu. Manajemen Berbasis sekolah/madrasah dilandaskan yang pada berarti di prinsip kepala Manajemen memiliki Sekolah/Madrasah. bukan aspek substansi pendidikan di lingkungan sekolah/madrasah dan perguran tinggi. Otonomi pengelolaan pendidikan merupakan kondisi yang ingin dicapai melalui pendirian BHP.

dan mobilitas. BHP merupakan bentuk badan hukum bagi pendidikan formal saja. mutu. maka seluruh sisa lebih hasil usaha tersebut tidak boleh dibagikan dan harus ditanamkan kembali dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan mutu layanan 5 Berdasarkan Pasal 53 ayat (1) UU. Fungsi. fleksibilitas. mutu. baik secara langsung atau tidak langsung. Hanya dengan otonomi perguruan tinggi. serta otonomi pada pendidikan tinggi. Tujuan. inovasi. fleksibilitas. BHP berfungsi memberikan pelayanan pendidikan formal5 sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Prinsip BHP BHP bertujuan mewujudkan kemandirian dalam penyelengaraan pendidikan. pendidikan tinggi dapat menumbuhkembangkan kreativitas.secara mandiri tanpa campur tangan dari Pemerintah. 57 . sehingga tumbuh dan berkembang kreativitas. ********* BAB VII ARAH PENGATURAN RUU BHP 1. dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/madrasah pada pendidikan dasar dan menengah. sehingga apabila timbul sisa lebih hasil usaha dari kegiatannya. inovasi. Prinsip kegiatan yang tujuan utamanya bukan mencari sisa lebih. Sisdiknas. Nirlaba. dan mobilitas-nya. BHP dikelola dengan prinsip: a.

Memberikan layanan pendidikan kepada calon peserta didik dan peserta didik. serta meningkatkan mutu pelayanan pendidikan secara berkelanjutan. b. demi kepuasan para pihak yang berkepentingan terutama peserta didik. f. etnis. status sosial. dan standar pelaporan yang berlaku kepada para pihak yang berkepentingan. e. Transparan. Orientasi dan komitmen untuk memberikan layanan terbaik. gender. Keterbukaan dan kemampuan menyajikan informasi yang relevan secara tepat waktu sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. ras.pendidikan. Akses yang berkeadilan. Kewenangan dan kemampuan untuk menjalan-kan kegiatan secara mandiri. tanpa memandang latar belakang agama. Kegiatan sistemik dalam memberikan layanan pendidikan yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. Kemampuan dan komitmen untuk mempertang-gungjawabkan semua kegiatan yang dijalankan kepada para pihak yang berkepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. 58 . Akuntabel. Penjaminan mutu. dan kemampuan ekonomi. Layanan prima. g. Otonom.

Dalam konteks BHP. Keberagaman. yaitu pemilik/pendukung hak dan kewajiban. Partisipasi atas tanggungjawab negara. secara teoretik pendirian sebuah BHP harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. Pendirian dan Pengesahan BHP. yang sesungguhnya merupakan tanggungjawab negara 2. sehingga badan hukum tersebut mampu untuk mengemban hak dan kewajiban yang dimilikinya seperti halnya manusia sebagai subyek hukum lainnya. Keterlibatan para pihak yang berkepentingan dalam penyelenggaraan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. etnis. dan budaya masing-masing. j. b. Sebagai salah satu jenis subyek hukum.h. mempunyai kekayaan sendiri yang terpisah dari kekayaan 59 . mempunyai struktur organisasi.mempunyai tujuan di bidang pendidikan formal. Kemampuan untuk memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik secara terus menerus. ras. dengan menerapkan pola manajemen yang mampu menjamin keberlanjutan layanan tersebut. pendirian dan pengesahan badan hukum harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Kepekaan dan sikap akomodatif terhadap berbagai perbedaan para pihak berkepentingan yang bersumber dari kekhasan agama. Keberlanjutan. i. c.

harus diisi dengan komposisi keanggotaan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh pendiri. Sisdiknas. di atas) yang pertama kali ketika BHP didirikan. Khusus tentang pembentukan satuan pendidikan yang akan menjadi salah satu organ BHP. dan Dewan Audit. 60 . unsur anggota dan pimpinan MWA (Butir d. maka paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun setelah pengesahan BHP oleh Mendiknas. MWA harus membentuk Satuan Pendidikan. yang ditetapkan dalam anggaran dasar dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. maka bagi BHP yang sama sekali baru. yaitu setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan harus memperoleh izin Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Berbeda dengan BHP yang berasal dari peralihan penyelenggara dan/atau satuan pendidikan yang sudah ada. Setelah BHP berdiri dan disahkan oleh Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas). Dalam hal BHP didirikan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Dewan Pendidik atau Senat Akademik.pendiri. harus mencukupi biaya kebutuhan penyelenggaraan satuan pendidikan yang akan didirikan. pendiri telah menetapkan anggota dan pimpinan Majelis Wali Amanat (MWA). ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah atau Peraturan Daerah. pemisahan kekayaan Pemerintah atau Pemerintah Daerah untuk memenuhi syarat kekayaan awal BHP. MWA harus memperoleh izin terlebih dahulu dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan masingmasing. Hal ini merupakan keharusan sebagaimana diatur dalam Pasal 62 ayat (1) UU. dan d. Adapun jumlah kekayaan awal BHP yang didirikan.

untuk kemudian 6 Biaya pembuatan akta notaris untuk pendirian BHP. b. Upaya pencegahan kepailitan BHP dan penyela-matan BHP yang mendekati kepailitan. Anggaran dasar sekurang-kurangnya harus memuat: a. Organ BHP. serta pembatasan masa jabatan para pejabat di lingkungan BHP. dan ruang lingkup kegiatan BHP. h. g. Selanjutnya. Kekayaan awal BHP. dapat dikemukakan bahwa BHP didirikan dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia6. Peraturan 61 . c. Penggabungan dan pembubaran BHP.Mengenai aspek formal pendirian dan pengesahan BHP. tatacara pembentukan. pengesahan akta notaris tentang pendirian BHP dilakukan oleh Mendiknas. pengangkatan dan pemberhen-tian pemimpin dan pimpinan organ. Jangka waktu pendirian BHP. Akta notaris tersebut memuat anggaran dasar BHP dan keterangan lain yang dianggap perlu. Untuk pertama kali. maka perubahan tersebut dimuat dalam akta notaris. Tatacara perubahan anggaran dasar dan penyu-sunan anggaran rumah tangga. i. Perlindungan terhadap karyawan dan peserta didik di lingkungan BHP. f. Susunan. Tujuan. akan diatur lebih lanjut dengan Pemerintah. anggaran dasar disusun oleh pendiri. e. j. dan k. ciri khas. Demikian pula jika di kemudian hari akan dilakukan perubahan anggaran dasar. d. Pengelolaan sumberdaya BHP. Nama dan tempat kedudukan BHP.

RUU BHP mengatur bahwa pengesahan BHP dilakukan oleh Mendiknas. praktek ketatanegaraan di Indonesia ternyata menunjukkan bahwa pengesahan suatu badan hukum dapat pula dilakukan oleh Menteri terkait. Namun demikian. Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. telah ditunjuk Directeur van Justitie (sekarang Menteri Hukum dan HAM) untuk mengesahkan anggaran dasar suatu badan hukum.dimintakan pengesahan dari Mendikas. selain memenuhi ketentuan pendirian dan pengesahan BHP pada umumnya. tanpa dipungut biaya. Lembaga pendidikan asing yang terakreditasi atau yang diakui di negaranya dapat mendirikan BHP di Indonesia bersama dengan BHP Indonesia yang telah ada. Dapat dikemukakan bahwa berdasarkan Pasal 1 Staatsblad 1870 : 64 tentang Rechts-persoonlijkheid van Vereenigingen juncto Staatsblad 1937 : 573 yang masih berlaku berdasarkan Pasal II UUD Negara RI Tahun 1945. antara lain sebagaimana diatur dalam Pasal 9 UU. Berdasar praktek ketatanegaraan tersebut serta demi efisiensi. Keharusan untuk bersama dengan BHP Indonesia dalam mendirikan BHP di Indonesia. yang menyatakan bahwa koperasi memperoleh status badan hukum setelah akta pendiriannya disahkan oleh Pemerintah. 62 . juga diatur bahwa lembaga pendidikan asing harus menyediakan biaya penyelenggaraan satuan pendidikan paling banyak 49% (empat puluh sembilan persen). Dalam hal ini perlu dijelaskan tentang pengesahan BHP oleh Mendiknas dan bukan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidang peraturan perundang-undangan. Pendirian BHP oleh lembaga pendidikan asing bersama dengan BHP Indonesia. dari kebutuhan penyelenggaraan satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bertujuan agar kepentingan Nasional dalam bidang pendidikan dapat dilindungi.

dapat ditetapkan di dalam anggaran dasar BHP. c. anggaran dasar BHP dapat menetapkan organ lain di dalam BHP yang dipandang perlu. b. Selain dari organ sebagaimana dimaksud di atas. Dengan demikian RUU BHP hanya mengatur jenis dan susunan organ. pendidikan dasar. Kemungkinan anggaran dasar BHP menetapkan adanya organ lain di dalam BHP dimaksudkan untuk mengakomodasi kekhasan organisasi pendidikan yang telah ada. dan otonomi keilmuan. Majelis Wali Amanat (MWA). serta tugas dan wewenang minimal. BHP dapat membentuk Majelis/Dewan Guru Besar di dalam BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Sedangkan keberadaan organ lain dan/atau penambahan tugas dan wewenang yang dibutuhkan oleh BHP karena kekhasannya. Struktur Organisasi Organisasi BHP disusun dalam sebuah struktur organisasi yang terdiri atas organ-organ sebagai berikut: a. Dewan Pendidik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. d. Namun demikian. Dewan Audit.3. dengan tujuan antara lain merumuskan etika akademik dan turut serta menjaga kebebasan akademik. Misalnya. atau Senat Akademik pada pendidikan tinggi. dan pendidikan menengah. kebebasan mimbar. organ lain tersebut dapat dibentuk jika memenuhi 63 . dan Satuan Pendidikan.

Dengan demikian.ketentuan sebagai berikut: a. sehingga MWA mengikutsertakan seluruh stakeholders satuan pendidikan dalam pengambilan berbagai kebijakan. Organ tersebut memiliki kewenangan membuat keputusan yang menimbulkan akibat hukum bagi BHP. satu Dewan Audit. MWA ditempatkan sebagai organ tertinggi. BHP dapat mengelola lebih dari satu jenjang. Dalam hal BHP mengelola lebih dari satu jenjang. jenis. sehingga MWA merupakan sumber kewenangan tertinggi. tidak boleh dilakukan perangkapan jabatan antar pemimpin organ BHP sebagaimana disebut di atas. BHP dapat memiliki lebih dari satu Dewan Pendidik atau Senat Akademik. Di dalam satu BHP. jenis. dan Organ tersebut memiliki kewenangan yang tidak dimiliki oleh organ BHP lain yang telah ada. maka komposisi anggota MWA terdiri atas: 64 . dan/atau satuan pendidikan. b. dan/atau satuan pendidikan. lebih dari satu Dewan Pendidik atau Senat Akademik. organ BHP akan terdiri atas satu MWA. Sebagaimana dikemukakan di atas. dan lebih dari satu Pimpinan Satuan Pendidikan. dan puncak pertang-gungjawaban semua organ di dalam BHP. MWA dibentuk untuk menciptakan akuntabilitas dan transparansi penyelenggaraan pendidikan. Majelis Wali Amanat (MWA) Di dalam struktur organisasi BHP. dan lebih dari satu Pimpinan Satuan Pendidikan yang diatur dalam anggaran dasar BHP. Agar keterwakilan stakeholder di dalam MWA dapat terwujud.

Wakil dari Dewan Pendidik atau Senat Akademik. sebanyak-banyaknya 1/3 (satu per tiga) dari jumlah keseluruhan anggota MWA. f. Dalam hal yang terakhir. Wakil dari Dewan Audit. Wakil dari unsur masyarakat. di samping optimalisasi partisipasi stakeholders dalam penye-lenggaraan pendidikan. untuk menghindari dominasi pengelola satuan pendidikan di dalam MWA. kecuali BHP mengelola lebih dari satu satuan pendidikan. anggaran dasar BHP dapat menetapkan wakil dari unsur lain sebagai anggota MWA. wakil dari karyawan BHP yang bukan pendidik. Pendiri atau wakil dari pendiri. dan wakil alumni satuan pendidikan pada pendidikan tinggi. Selanjutnya. jumlah wakil pemimpin satuan pendidikan ditentukan di dalam anggaran dasar BHP. antara lain karyawan BHP yang bukan pendidik. wakil dari Dewan Audit. e.a. b. Pemimpin Satuan Pendidikan. wakil dari Dewan Pendidik atau Senat Akademik. Wakil dari tenaga kependidikan. antara lain wakil dari orang tua/wali peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah. Jumlah anggota MWA yang berasal dari pendiri dapat lebih dari 1 (satu) orang. Sedangkan jumlah anggota MWA yang berasal dari pemimpin satuan pendidikan adalah 1 (satu) orang. maka jumlah anggota MWA yang berasal dari satu atau lebih pemimpin satuan pendidikan. d. c. Jumlah seluruh anggota MWA serta prosedur pengangkatan dan 65 . Ketentuan ini dimaksudkan agar terwujud akuntabili-tas dan transparansi di dalam MWA. Selain dari anggota MWA seperti di atas. Yang dimaksud wakil dari unsur lain.

Apabila BHP didirikan oleh masyarakat. 66 . atau Walikota. wakil dari Dewan Audit. atau yang mewakilinya sesuai dengan kewenangan masing-masing. untuk BHP yang menyelenggarakan satuan pendidikan keagamaan. sedangkan wakil dari pendiri adalah wakil dari penyelenggara. untuk BHP yang menyelenggarakan satuan pendidikan umum. Menteri lain atau Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen. Menteri Agama atau yang mewakilinya. wakil dari pendiri dalam MWA adalah: a. Apabila BHP didirikan oleh Pemerintah Daerah. MWA dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota MWA. atau yang mewakilinya untuk BHP yang menyelenggarakan satuan pendidikan kedinasan. c. Anggota MWA yang berasal dari pemimpin Satuan Pendidikan. Bupati. Menteri atau yang mewakilinya. kedudukan dan kewenangan wakil dari pendiri dalam MWA ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. Apabila BHP didirikan oleh Pemerintah. wakil dari Dewan Pendidik atau Senat Akademik. wakil dari pendiri dalam MWA adalah Gubernur. Adapun yang dimaksud wakil dari penyelenggara adalah mewakili penyelenggara.pemberhentiannya pada masing-masing BHP ditetapkan dalam anggaran dasar BHP yang bersangkutan. b. melainkan merupakan penyesuaian bentuk dari penyelenggara. maka yang dimaksudkan sebagai pendiri adalah penyelenggara (misalnya yayasan). dan wakil dari tenaga kependidikan tidak dapat dipilih sebagai Ketua MWA. Dalam hal BHP bukan BHP yang baru didirikan.

Dewan Audit. b. d. Dewan Audit (DA) 67 . kecuali ditetapkan lain dalam anggaran dasar BHP. h. termasuk masalah keuangan. c. Mengesahkan keanggotaan dan pimpinan Dewan Pendidik atau Senat Akademik. Mengangkat dan memberhentikan Pemimpin Satuan Pendidikan dan anggota Dewan Audit. Melakukan pengawasan umum atas pengelolaan BHP. f. e.apabila penyeleng-gara tetap dalam bentuknya yang semula (misalnya tetap sebagai yayasan). Mengusahakan pemenuhan kebutuhan pembiayaan BHP sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yang tidak dapat diselesai-kan oleh organ BHP lain sesuai kewenangan masingmasing. g. Menyelesaikan persoalan BHP. j. Jenjang dan tahap penyelesaian masalah BHP. Menetapkan kebijakan umum BHP. serta Senat Akademik atau Dewan Pendidik. Melakukan evaluasi tahunan atas kinerja BHP. termasuk masalah keuangan. i. Mengevaluasi laporan pertanggungjawaban tahunan Satuan Pendidikan. Di dalam RUU BHP ini diatur tugas dan wewenang MWA. Menyusun dan mengesahkan anggaran rumah tangga beserta perubahannya. Pengambilan keputusan di dalam MWA dilakukan secara musyawarah untuk mufakat. yaitu: a. ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. Mengesahkan rencana strategis dan rencana kerja serta anggaran tahunan BHP.

Dalam rangka melaksanakan tugas dan wewenangnya. Mengevaluasi hasil audit internal dan eksternal atas BHP. pimpinan DA untuk pertama kali ditetapkan oleh MWA.DA merupakan organ BHP yang bertindak untuk dan atas nama MWA melakukan evaluasi nonakademik atas penyelenggaraan BHP. b. penyelenggara dan/atau satuan pendidikan. Bagi BHP yang baru didirikan. atau pendiri. Sedangkan untuk selanjutnya. Mengambil kesimpulan atas hasil audit internal dan eksternal atas BHP. jumlah. Semua anggota DA diangkat dan diberhentikan oleh MWA. Pengaturan hal ini di dalam anggaran dasar BHP dimaksudkan untuk mengakomodasi berbagai kekhasan atau kekhususan BHP. Menetapkan kebijakan audit internal dan eksternal atas BHP dalam bidang nonakademik. Di dalam RUU BHP diatur tugas dan wewenang DA yaitu: a. Susunan. DA dapat meminta jasa auditor independen untuk melakukan audit internal dan/atau eksternal atas biaya BHP. DA dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota DA. dan kedudukan anggota DA ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. c. d. Dewan Pendidik (DP) atau Senat Akademik (SA) DP merupakan organ BHP yang bertindak untuk dan atas nama MWA 68 . Mengajukan pertimbangan dan saran mengenai kegiatan non akademik kepada MWA.

b. penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. 69 . serta mengawasi penerapan norma dan ketentuan tersebut oleh satuan pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Pimpinan Satuan Pendidikan. Yang dimaksud dengan “unsur lain” adalah pemimpin unit kerja yang tugas dan wewenangnya mempunyai relevansi tinggi dengan perumusan norma dan ketentuan akademik. dimaksudkan agar perumusan norma dan ketentuan akademik dapat dilakukan secara obyektif.merumuskan norma dan ketentuan akademik tentang kurikulum dan proses pembelajaran. Selain dari anggota DP atau SA sebagaimana disebut di atas. tidak terpengaruh oleh kepentingan Pimpinan Satuan Pendidikan. Agar keterwakilan dari internal stakeholders dapat diwujudkan dalam DP atau SA. proses pembelajaran. serta mengawasi penerapan norma dan ketentuan tersebut oleh satuan pendidikan tinggi. maka komposisi anggota DP atau SA sebagai berikut: a. dan pendidikan menengah. Wakil dari pendidik. Ketentuan bahwa 2/3 (dua per tiga) dari jumlah anggota DP atau SA bukan berasal dari Pimpinan Satuan Pendidikan. Jumlah anggota DP atau SA yang berasal dari Pimpinan Satuan Pendidikan paling banyak 1/3 (satu per tiga) dari jumlah anggota DP atau SA. pendidikan dasar. SA merupakan organ BHP yang bertindak untuk dan atas nama MWA merumuskan norma dan ketentuan akademik tentang kurikulum. serta dimaksudkan untuk mengakomodasi kekhasan satuan pendidikan. anggaran dasar BHP dapat menetapkan wakil dari unsur lain sebagai anggota DP atau SA.

Merumuskan kebijakan kurikulum dan proses pembelajaran serta mengawasi pelaksanaannya. Merumuskan pendidikan f. c. Pimpinan dan keanggotaan DP atau SA disahkan oleh MWA. Merumuskan norma dan ketentuan akademik satuan pendidikan dan mengawasi penerapan-nya. b. g. untuk pendidikan tinggi. untuk pendidikan tinggi. Memberi rekomendasi tentang pemberian sanksi terhadap pelanggaran norma dan ketentuan akademik kepada Pemimpin Satuan Pendidikan. d. Pimpinan Satuan Pendidikan tidak dapat dipilih sebagai Ketua DP atau SA. Merumuskan peraturan pelaksanaan kebebasan akademik. Tata cara pengesahan anggota DP atau SA ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. Tugas dan wewenang DP dan SA adalah: a. tolok ukur Standar keberhasilan Nasional penyelenggaraan Pendidikan. dan berdasarkan mengawasi pencapaiannya. Merumuskan kebijakan penelitian dan pengab-dian kepada masyarakat dan mengawasi pelaksanaannya. Anggota dan pimpinan DP atau SA untuk pertama kali ditetapkan oleh MWA. DP atau SA dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota DP atau SA. 70 . e.Anggota DP atau SA yang berasal dari wakil pendidik dipilih melalui pemungutan suara di unit kerjanya. Merumuskan kode etik sivitas akademika dan mengawasi pelaksanaannya.

Nama SP ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. Memberi pertimbangan kepada MWA tentang rencana strategis. h. Satuan Pendidikan (SP) SP merupakan organ BHP yang bertindak untuk dan atas nama MWA melaksanakan pendidikan. Merumuskan kebijakan penilaian kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dan mengawasi pelaksanaannya. Merumuskan kebijakan tata tertib akademik dan mengawasi pelaksanaannya. j. kewenangan bertindak ke dalam maupun ke luar BHP sebagaimana dimaksud di atas. k. l. pemberian atau pencabutan gelar dan penghargaan akademik serta mengawasi pelaksanaannya. otonomi keilmuan.kebebasan mimbar akademik. Merumuskan kebijakan penjaminan mutu pendidikan di satuan pendidikan dan mengawasi pelaksanaannya. dan digunakan oleh Pemimpin SP dalam tindakan ke dalam maupun ke luar SP. serta rencana kerja dan anggaran tahunan yang telah disusun oleh Pemimpin Satuan Pendidikan. SP dipimpin oleh Pemimpin SP yang bertindak ke dalam maupun ke luar SP untuk dan atas nama SP dan BHP sesuai ketentuan anggaran dasar BHP. 71 . untuk pendidikan tinggi. Memberi pertimbangan kepada MWA tentang pengangkatan dan pemberhentian. i. Apabila di dalam satu BHP terdapat lebih dari 1 (satu) Pemimpin SP. ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. serta kinerja bidang akademik Pemimpin Satuan Pendidikan.

g. Pemimpin SP dibantu oleh seorang atau lebih wakil. serta peraturan perundang-undangan. kemudian diangkat oleh MWA untuk masa jabatan selama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. untuk disahkan oleh MWA. Menyusun rencana strategis SP untuk disahkan oleh MWA. Melaksanakan fungsi-fungsi manajemen SP. Tugas dan wewenang Pemimpin SP adalah: a. h. Menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. yang diangkat oleh Pemimpin SP. Mengangkat dan memberhentikan pejabat di bawah Pemimpin SP. baik secara berurutan atau bersela. e. sesuai rencana kerja dan anggaran tahunan SP. berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BHP. Menyusun rencana kerja dan anggaran tahunan SP berdasarkan rencana strategis SP sebagaimana dimaksud pada huruf a. dan rencana kerja dan anggaran . d. Membina dan mengembangkan hubungan dengan lingkungan SP dan masyarakat pada umumnya.Pemimpin SP dipilih oleh MWA atas dasar suara terbanyak. Hal ini berarti seseorang dapat dipilih menjadi pemimpin SP sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali masa jabatan. termasuk jabatan pemimpin SP yang pernah didudukinya sebelum dibentuk BHP. Menyelenggarakan pendidikan sesuai rencana kerja dan anggaran tahunan SP sebagaimana dimaksud pada huruf b. b. f. pada pendidikan tinggi. 72 secara berkala kepada MWA tentang pelaksanaan rencana strategis. c. sebagaimana dimaksud pada huruf b. Melaporkan tahunan SP. serta karyawan BHP.

2. maka yang dimaksud pendiri adalah badan penyelenggara. maka Pemimpin SP tidak berwenang bertindak untuk dan atas nama SP atau BHP apabila: 1. Dalam hal BHP merupakan penyesuaian dari bentuk badan penyelenggara yang sudah ada ketika Undang-Undang ini berlaku. bertentangan dengan kepentingan SP atau BHP.Dalam hal terjadi perkara di depan pengadilan. Pemimpin SP dan wakilnya dilarang merangkap jabatan sebagaimana tersebut di bawah ini: a. 73 . Terjadi perkara di depan pengadilan antara SP atau Pemimpin SP mempunyai kepentingan yang BHP dengan Pemimpin SP. c. Pimpinan dan jabatan lain pada SP lain. 4. Pendanaan dan Kekayaan Kekayaan awal BHP berasal dari sebagian atau seluruh kekayaan pendiri yang dipisahkan atau dialihkan kepada BHP. misalnya yayasan. Jabatan lain pada lembaga pemerintah pusat atau daerah. b. Jabatan lain yang dapat menimbulkan perten-tangan kepentingan dengan kepentingan SP. Dalam hal terjadi keadaan sebagaimana dimaksud di atas. MWA menunjuk seseorang untuk mewakili kepentingan SP atau BHP yang bersangkutan.

hibah wasiat. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan kemudahan atau insentif perpajakan kepada masyarakat yang memberikan sumbangan atau bantuan kepada BHP sebagaimana dimaksud di atas. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah atau Peraturan Daerah dan dicantumkan dalam anggaran dasar BHP. pendidik dan tenaga kependidikan.Selain kekayaan sebagaimana dimaksud di atas. Semua kekayaan yang diperoleh BHP sebagaimana dimaksud di atas harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta didik dalam menjalani proses pembelajaran. Pemerintah Daerah. Untuk kekayaan BHP yang berasal dari wakaf berlaku peraturan perundang-undangan tentang wakaf. pemisahan atau pengalihan 74 . dan perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan/atau peraturan perundang-undangan. kekayaan BHP dapat diperoleh dari Pemerintah. wakaf. biaya pendidikan dari peserta didik. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah memberikan sumber daya pendidikan yang berupa dana. sumbangan atau bantuan pihak lain yang tidak mengikat. hibah. Dalam hal BHP didirikan oleh masyarakat. Dalam hal BHP didirikan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. pemisahan kekayaan negara atau daerah sebagai kekayaan awal BHP. Hal ini dimaksudkan sebagai ketentuan khusus (lex specialis) terhadap undangundang perpajakan. serta sarana dan prasarana dalam bentuk hibah kepada BHP.

dan Pemimpin SP dari tanggungjawab. misalnya yayasan. atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang. 5. atau sistem manajemen dan prosedur administratif SP milik BHP. Laporan Pertanggungjawaban Tahunan SP mencakup laporan bidang akademik dan nonakademik. 75 . Laporan Keuangan Tahunan SP disusun mengikuti standar akuntansi yang berlaku dan merupakan bagian dari Laporan Pertanggungjawaban Tahunan SP. setelah laporan pertanggungjawaban tahunan seperti dimaksud di atas diterima dan disahkan oleh MWA. ditetapkan dalam anggaran dasar BHP dengan memperhatikan peraturan perundangundangan. Khusus untuk BHP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. Namun demikian. dilarang dialihkan kepemilikannya secara langsung atau tidak langsung kepada siapapun. dan DP atau SA menyusun dan menyam-paikan Laporan Pertanggungjawaban Tahunan kepada MWA. Yang dimaksud dengan bentuk lain antara lain adalah hak atas kekayaan intelektual yang dimiliki oleh BHP.kekayaan pendiri sebagai kekayaan awal BHP. Pengawasan dan Akuntabilitas DA. DP atau SA. SP. Kekayaan BHP berupa uang. Dalam hal BHP merupakan penyesuaian dari bentuk badan penyelenggara yang sudah ada ketika UU BHP ini berlaku. maka yang dimaksud pendiri adalah badan penyelenggara. Laporan Keuangan ini diaudit oleh akuntan publik. MWA akan membebaskan DA. kecuali untuk kepentingan BHP. barang.

Ketenagaan BHP mempunyai karyawan yang terdiri atas pendidik. Bupati. 76 . dan ditempelkan di papan pengumuman resmi setiap satuan pendidikan yang menjadi organnya. 6. SA atau DP. Tembusan Laporan Pertanggungjawaban Tahunan BHP bidang akademik disampaikan kepada Mendiknas. Laporan tersebut dievaluasi oleh MWA dalam Rapat Pleno MWA. dan tenaga penunjang. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dan akuntabilitas BHP sebagaimana dimaksud di atas diatur dalam anggaran dasar BHP. Tenaga penunjang adalah karyawan BHP dalam hal BHP memiliki unit usaha. dan Pemimpin SP. Laporan Keuangan Tahunan BHP harus dipertang-gungjawabkan kepada publik melalui pemuatan di media cetak berbahasa Indonesia bagi pendidikan tinggi. Menteri Agama. terdapat hal baru (bukti baru atau novum) yang membuktikan sebaliknya. kewenangan masing-masing. tenaga kependidikan lainnya. Gubernur. Ketua MWA menyusun Laporan Pertanggungjawab-an Tahunan BHP berdasarkan Laporan Pertang-gungjawaban Tahunan yang disusun oleh DA. menteri lain atau kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen atau penyeleng-gara Walikota sesuai pendidikan kedinasan.apabila setelah pengesahan. Laporan tersebut merupakan Laporan Keuangan Tahunan konsolidasi dalam hal BHP memiliki lebih dari satu SP. maka pengesahan tersebut dapat dibatalkan oleh MWA.

status. Penggabungan dan Pembubaran Penggabungan BHP dapat dilakukan dengan menggabungkan 1 (satu) atau lebih BHP dengan BHP lain. maka akibatnya aktiva dan pasiva BHP yang menggabungkan diri beralih karena hukum ke BHP yang menerima penggabungan. 7. Ketentuan lebih lanjut mengenai karyawan BHP diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BHP. pemberhentian. Perjanjian kerja tersebut dibuat antara Pemimpin SP yang bertindak untuk dan atas nama BHP dengan setiap karyawan. hak dan kewajiban karyawan BHP diatur dalam suatu perjanjian kerja berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BHP. Pendidik dan tenaga kependidikan berstatus karyawan BHP setelah BHP memperoleh pengesah-an dari Mendiknas.Pengangkatan. Berhubung berakhirnya BHP ini tanpa didahului likuidasi. jabatan. serta peraturan perundangundangan yang berlaku. dan akibatnya BHP yang menggabungkan diri berakhir karena hukum. 77 .

wakil dari DA. Rancangan penggabungan yang telah disetujui MWA dituangkan dalam akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia. dibukukan dan dilaporkan sesuai standar akuntansi. Penggabungan BHP hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan rapat MWA. yang diperoleh sebagai akibat penggabungan BHP. 78 . maka penggabungan sebagaimana dimaksud di atas harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari penyelenggara. pemimpin SP. bersama-sama menyusun rancangan penggabungan untuk mendapat persetujuan masing-masing MWA dari BHP yang melakukan penggabungan. dan wakil unsur lain (jika ada). dan disetujui oleh MWA masing-masing setelah memperoleh pertimbangan dari masing-masing DP atau SA. Apabila salah satu atau lebih BHP yang melakukan penggabungan merupakan penyesuaian dari bentuk badan penyelenggara (misalnya yayasan). wakil dari unsur masyarakat. di mana penyelenggara masih tetap dalam bentuk semula. dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan BHP. wakil dari tenaga kependidikan. MWA dari masing-masing BHP yang akan menggabungkan diri dan yang akan menerima penggabungan. ditetapkan dalam anggaran dasar BHP. yaitu pendiri atau wakil dari pendiri.Aktiva dan pasiva sebagaimana dimaksud di atas. dengan memperhatikan keterwakilan asal para anggota MWA dari berbagai unsur. wakil dari DP atau SA. yang jumlah kehadiran anggotanya dan jumlah suara yang menyetujui. Proses penggabungan dapat dilakukan dengan usul oleh MWA dari masing-masing BHP yang akan melakukan penggabungan.

Dalam hal terjadi pembubaran BHP sebagaimana dimaksud di atas. kecuali 79 . kesusilaan dan atau peraturan perundang-undangan. atau harta kekayaan BHP tidak cukup untuk melunasi hutangnya setelah pernyataan pailit dicabut. Wajib diikuti dengan likuidasi. dan BHP tidak dapat melakukan perbuatan hukum. maka: a. sehingga setelah jumlah tersebut terpenuhi maka BHP bubar. 1) 2) 3) Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap berdasarkan alasan: BHP melanggar ketertiban umum. c. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penggabungan BHP akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. Tujuan BHP yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP tidak tercapai atau sudah tercapai. Jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP berakhir. b. b.Penggabungan BHP harus mengutamakan kepen-tingan karyawan dan peserta didik. Adapun yang dimaksud dengan tujuan BHP sudah tercapai antara lain apabila BHP didirikan dengan tujuan khusus. BHP dapat bubar dengan alasan: a. yaitu untuk menghasilkan sejumlah lulusan SP yang diselenggarakannya. BHP tidak mampu membayar hutangnya setelah dinyatakan pailit.

anggaran rumah tangga BHP. dan penggunaannya harus sesuai dengan maksud dan tujuan BHP yang Dalam hal keputusan yang diambil oleh organ BHP melanggar anggaran dasar BHP. Apabila BHP bubar karena putusan Pengadilan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberesan kekayaan BHP yang bubar atau dibubarkan akan diatur dalam Peraturan Pemerintah. maka MWA harus menunjuk likuidator untuk membereskan kekayaan BHP. Dalam hal BHP bubar karena alasan jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP berakhir. dan/atau peraturan perundangundangan. Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan 80 . Jika sisa hasil likuidasi tidak diserahkan kepada BHP lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama. maka pada semua surat keluar dicantumkan frasa ’dalam likuidasi’ di belakang nama BHP.diperlukan untuk membereskan semua urusan BHP dalam rangka likuidasi. maka berlaku peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan. dan apabila BHP bubar karena pailit. 8. maka sisa bubar. dan tujuan BHP yang ditetapkan dalam anggaran dasar BHP tidak tercapai atau sudah tercapai. Dalam hal BHP sedang dalam proses likuidasi. atau BHP lain yang mempunyai maksud dan tujuan yang sama dengan BHP yang bubar jika pendiri tidak ada lagi. Sanksi Administratif hasil likuidasi tersebut diserahkan kepada Negara. maka Pengadilan menunjuk likuidator. Kekayaan sisa hasil likuidasi diserahkan kepada pendiri.

atau bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang. Pencabutan izin SP tersebut diumumkan di media cetak berbahasa Indonesia. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun. Sanksi ini dimaksudkan untuk menegakkan prinsip nirlaba dari BHP. Sanksi Pidana Setiap orang yang mengalihkan kekayaan BHP berupa uang.kewenangan masing-masing dapat membatalkan keputusan tersebut atau mencabut izin SP di dalam BHP. 81 . barang. 10. 9. Selain pidana penjara sebagaimana dimaksud di atas. atau dicabut sebelum masa berlakunya berakhir. dapat pula dikenakan pidana tambahan berupa kewajiban mengembalikan uang. Satuan pendidikan yang berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada saat UU BHP ini berlaku tetap diakui keberadaannya. barang. izin satuan pendidikan formal yang sudah dikeluarkan dinyatakan tetap berlaku. Ketentuan Peralihan Pada saat UU BHP ini berlaku. sampai dengan izin tersebut berakhir masa berlakunya. atau bentuk lain yang dialihkan. Penyesuaian bentuk BHMN menjadi BHP dilakukan dengan akta notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia untuk dimintakan pengesahan Mendiknas. dan harus menyesuaikan bentuknya menjadi BHP menurut undang-undang ini paling lambat 3 (tiga) tahun sejak UU BHP ini diundangkan. kecuali untuk kepenting-an BHP. secara langsung atau tidak langsung kepada siapapun.

dan pendidikan menengah yang telah didirikan oleh Pemerintah. terutama yang diselenggarakan oleh masyarakat. yaitu sosial. atau organisasi kemasyarakatan sebelum UU BHP ini berlaku. serta sesuai dengan amanat Pasal 53 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Adapun yang dimaksud dengan badan sejenis adalah badan yang memiliki tujuan yang serupa dengan tujuan yayasan. UU masyarakat. ketiga pilihan cara penyesuaian ke BHP itu merupakan penghargaan dan penghormatan pada sejarah. terutama masyarakat pendidikan. keagamaan. masyarakat. Pemerintah sebelum Daerah. maka dibuka tiga pilihan cara penyesuaian ke BHP. dapat memilih salah satu dari ketiga pilihan cara penyesuaian ke BHP tersebut. ini atau organisasi diakui kemasyarakatan BHP berlaku. pendidikan dasar. serta jasa para pelopor pendidikan formal di Indonesia. tetap diakui keberadaannya dan harus menyesuaikan bentuknya menjadi BHP paling lambat 6 (enam) tahun sejak UU BHP ini berlaku. antara lain berupa Wakif sebagai badan hukum sebagaimana ditetapkan dalam Undang Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. ciri khas. tetap keberadaannya dan dapat menyesuaikan bentuknya menjadi BHP. Secara khusus. Untuk memenuhi berbagai aspirasi yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat. 82 . Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan anak usia dini jalur formal.Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan tinggi yang telah didirikan oleh Pemerintah. kemanusiaan. Bagi penyelenggara pendidikan berbentuk yayasan atau badan sejenis.

penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis) dinyatakan bubar berdasarkan UU BHP ini setelah dilakukan likuidasi. Penyesuaian bentuk menjadi BHP sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf c. Setelah BHP disahkan oleh Mendiknas. b. dan penyelenggara tersebut tetap dalam bentuknya semula. Satuan pendidikan (sekolah/ madrasah/ perguruan tinggi) diubah bentuknya menjadi BHP oleh penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis). Penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis) mendirikan BHP terlebih dahulu sesuai persyaratan yang ditentukan. Penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis) bersama satuan pendidikan (sekolah/ madrasah/ perguruan tinggi) menjadi BHP. sedangkan satuan pendidikannya diubah menjadi BHP. dan satuan pendidikan formalnya (sekolah/ madrasah/perguruan tinggi) menjadi salah satu organ BHP. c. Penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis) mengubah bentuknya menjadi BHP.Bagi satuan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah. 2. dan satuan pendidikan formalnya (sekolah/ madrasah/perguruan tinggi) menjadi salah satu organ BHP. dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. serta memiliki wakil di dalam Majelis Wali Amanat. Penyesuaian bentuk menjadi BHP sebagaimana dimaksud di atas dapat dilakukan melalui salah satu cara sebagai berikut: a. 83 . satu-satunya pilihan penyesuaian bentuk menjadi BHP adalah bahwa Pemerintah atau Pemerintah Daerah bertindak sebagai pendiri BHP.

Pengalihan pendidik dan tenaga kependidikan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil menjadi karyawan BHP. dilaksanakan paling lambat 9 (sembilan) tahun sejak Penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang bersangkutan disahkan sebagai BHP. sementara pengesahan BHP oleh Mendiknas membutuhkan waktu untuk memeriksa pemenuhan syarat dan kelengkapan administratif permohonan pengesahan BHP. dan diatur dalam anggaran dasar BHP dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. Sedangkan penyesuaian bentuk menjadi BHP sebagaimana dimaksud pada huruf b. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengalihan status pendidik dan tenaga kependidikan tersebut akan diatur dengan Peraturan Pemerintah. diserahkan kepada BHP yang telah dibentuk sebelumnya. Prosedur ini dirancang untuk mencegah terjadinya kekosongan hukum. Sisa hasil likuidasi sebagaimana dimaksud dalam butir 2. Pengalihan sisa hasil likuidasi ini diatur dalam anggaran dasar BHP dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. ********* 84 . karena penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis) telah bubar. maka sebagian kekayaan penyelenggara (yayasan dan badan lain yang sejenis). Dalam hal penyesuaian BHP dilakukan melalui cara sebagaimana dimaksud pada huruf b di atas. dipisahkan menjadi kekayaan awal BHP. dilakukan sesuai ketentuan tentang pendirian BHP yang sama sekali baru.3.

Sebagai badan hukum keperdataan. Sebagai badan hukum yang otonom atau lepas dari campur tangan negara (Pemerintah). serta dunia pendidikan pada khususnya. ketentuan tentang BHP harus diatur dengan undang-undang tersendiri. desentralisasi. Sisdiknas menyatakan bahwa gerakan reformasi di Indonesia secara umum menuntut penerapan prinsip demokrasi. maka BHP adalah badan hukum yang cocok untuk menjamin otonomi perguruan tinggi maupun sekolah/madrasah. maka Pasal 53 UU.BAB VIII PENUTUP 1. Sisdiknas tersebut. BHP merupakan badan hukum privat atau badan hukum keperdataan. Kesimpulan UU. BHP dapat terhindar dari campur tangan negara (Pemerintah). keadilan. Sisdiknas mengatur bahwa penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk BHP. Otonomi perguruan tinggi yang dijamin dengan BHP akan mampu 85 . Agar prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. misalnya badan layanan umum sebagai badan hukum publik. Menurut Pasal yang sama.dibandingkan dengan badan hukum lainnya. sehingga BHP merupakan badan hukum yang otonom. dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Naskah akademik dan RUU BHP ini disusun untuk memenuhi amanat UU.

Citra Aditya Bakti. ********* DAFTAR PUSTAKA Buku/Artikel 1. 2. Otonomi satuan pendidikan bukan hanya dipahami sebatas urusan pendanaan dan perijinan. Palgrave. pembinaan dan pengawasan ketenagaan yang masih terpusat. Tujuan Sosial Yayasan dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba. Rekomendasi Naskah akademik tentang RUU BHP ini berisi pertanggungjawaban secara akademik tentang perlunya BHP bagi upaya mewujudkan otonomi satuan pendidikan di Indonesia. namun juga akuntabilitas sebagai konsekuensi logis dari otonomi.memelihara dan mengem-bangkan keunikan atau kekhasan suatu perguruan tinggi maupun sekolah/madrasah. Oleh karena itu. 86 . Jan Aart Scholte. PT. 2. reposisi organ. Chatamarrasjid. 2000. termasuk reformasi sistem pertanggungjawaban internal organisasi. naskah akademik ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan utama dalam pengesahan RUU BHP menjadi UU BHP. rendahnya tingkat keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Globalization – A Critical Introduction . 2000.

2. dan Rancangan Peraturan Presiden. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Aula Magna of University of Rome “La Sapienza”. 26 Februari 2005. Peraturan Perundang-undangan 1. 3. 4. Republic of Indonesia. Peraturan Presiden RI Nomor 68 Tahun 2005 Tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Ministry of National Education. 5. 1 April 2003. Higher Education Long Term Strategy 2003 – 2010. Senat Unpar. Salvatore G. ********* 1870 : 64 tentang Rechtspersoonlijkheid van 87 . Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Johannes Gunawan. Badan Hukum Pendidikan dan Otonomi Perguruan Tinggi. The Legacy of Ortega y Gasset’s The Mission of the University.3. Rotella. Staatsblad Vereenigingen. 8 September 2000. dalam buku The University for A New Humanism. Satryo Soemantri Brodjonegoro. Rancangan Peraturan Pemerintah. Directorate General of Higher Education .

yuridis formal. Selanjutnya kerangka berpikir. maupun kajian teoritis dengan mengacu pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan amandemennya yang terkait dengan pendidikan. dan sistematika 88 .BAB V TINDAK LANJUT Naskah Akademik tentang RUU BHP ini merupakan uraian secara rational tentang perlunya penyusunan RUU BHP dan penjelasan secara akademik tentang struktur. struktur. isi dan komponen RUU BHP baik secara filosofis.

89 . Naskah Akademik RUU BHP ini merupakan acuan yang digunakan dalam menyusun Rancangan Undang-Undang tentang Badan Hukum Pendidikan dengan harapan Rancangan Undang-Undang tentang BHP yang dihasilkan nanti dapat memenuhi tuntutan yuridis formal yang ada.mengacu pada ketentuan yang berlaku di wilayah Hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. teori yang berlaku saat ini dan sesuai dengan tuntutan dan aspirasi masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful