Modul 9

ANALISIS

BENEFIT-COST RATIO

Konsep Dasar Analisis Benefit Cost Ratio Keterbatasan anggaran pemerintah merupakan hal yang umum ditemui. Di sisi lain, pemerintah dihadapkan pada berbagai alternatif program yang akan dilaksanakan. Hal tersebut menyebabkan pemerintah harus jeli dalam menentukan program yang diprioritaskan. Pemilihan prioritas suatu proyek tidak mudah. Dalam memutuskan kelayakan suatu proyek yang berhubungan dengan sektor publik, pemerintah dihadapkan pada banyak pertimbangan dan permasalahan. Dalam hal ini, prioritas yang dipilih harus mempertimbangkan kepentingan publik atau masyarakat umum. Terkait dengan proses pengambilan keputusan mengenai kelayakan suatu proyek atau program, pemerintah memerlukan suatu alat analisis yang mampu digunakan dalam meminimalkan kesalahan dalam pemilihan keputusan. Salah satu analisis yang dapat digunakan sebagai alat untuk memilih program yang layak diprioritaskan adalah dengan menggunakan analisis Benefit Cost Ratio (BCR) atau disebut juga analisis manfaat dan biaya.

Pengertian Analisis Benefit Cost Ratio Analisis manfaat-biaya merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui besaran keuntungan/kerugian serta kelayakan suatu proyek. Dalam perhitungannya, analisis ini memperhitungkan biaya serta manfaat yang akan diperoleh dari pelaksanaan suatu program. Dalam analisis benefit dan cost perhitungan manfaat serta biaya ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Analisis ini mempunyai banyak bidang penerapan. Salah satu bidang penerapan yang umum menggunakan rasio ini adalah dalam bidang investasi. Sesuai dengan dengan makna tekstualnya yaitu benefit cost (manfaat-biaya) maka analisis ini mempunyai penekanan dalam perhitungan tingkat keuntungan/kerugian suatu program atau suatu rencana dengan mempertimbangkan biaya yang akan dikeluarkan serta manfaat yang akan dicapai. Penerapan analisis ini banyak digunakan oleh para investor dalam upaya mengembangkan bisnisnya. Terkait dengan hal ini maka analisis manfaat dan biaya dalam pengembangan investasi hanya didasarkan pada rasio tingkat keuntungan dan biaya yang akan dikeluarkan atau dalam kata lain penekanan yang digunakan adalah pada rasio finansial atau keuangan. Dibandingkan penerapannya dalam bidang investasi, penerapan Benefit Cost Ratio (BCR) telah banyak mengalami perkembangan. Salah satu perkembangan analisis BCR antara lain yaitu penerapannya dalam bidang pengembangan ekonomi daerah. Dalam bidang pengembangan ekonomi daerah, analisis ini umum digunakan pemerintah daerah untuk menentukan kelayakan pengembangan suatu proyek. Relatif berbeda dengan penerapan BCR di bidang investasi, penerapan BCR dalam proses pemilihan suatu proyek terkait upaya pengembangan ekonomi daerah relatif lebih sulit. Hal ini dikarenakan aplikasi BCR dalam sektor publik harus mempertimbangkan beberapa aspek terkait social benefit (social welfare function) dan lingkungan serta tak kalah penting adalah faktor efisiensi. Faktor efisiensi mutlak menjadi perhatian menimbang terbatasnya dana dan kemampuan pemerintah daerah sendiri. Secara terinci aspek-aspek tersebut juga mempertimbangkan dampak penerapan suatu program dalam masyarakat baik secara langsung (direct impact) maupun tidak langsung (indirect impact),

110

menambah alternatif atau pilihan. dan 3. melainkan juga dapat membandingkan alternatif-alternatif tersebut. analisis aspek hukum. BCR tidak hanya membantu pengambil kebijakan untuk memilih alternatif terbaik dari pilihan yang ada. yang merupakan salah satu pilar reformasi anggaran. analisis aspek sumber daya manusia. risiko (risk) serta shadow price. Efisiensi ekonomi merupakan kontribusi murni suatu program dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Manfaat Analisis Benefit Cost Ratio Terkait dengan penerapan BCR dalam perekonomian suatu daerah. Telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa landasan utama penetapan suatu proyek dalam kapasitas pengembangan daerah tidak mutlak hanya dilakukan berdasarkan variabel manfaat dan biaya. analisis aspek teknis dan operasi. analisis aspek keuangan. sehingga manfaat yang kedua dari dilakukannya analisis BCR adalah dapat mengontrol perkembangan dari proyek yang bersangkutan pada tahun-tahun ke depan. pemerintah harus menentukan target kinerja. mengurangi biaya alternatif yang tidak efektif. Dalam hal ini. 111 . Analisis ini merupakan suatu analisis yang dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh terhadap suatu kelayakan proyek yang mencakup analisis dari berbagai aspek yang harus dilakukan secara terpadu. serta analisis dampak lingkungan. Pemilihan alternatif dan penentuan prioritas ini berkontribusi pada pencapaian anggaran berbasis kinerja. hal ini dapat diatasi dengan menggunakan asuransi dan melakukan lindung nilai (hedging). Berdasarkan hasil analisis ini. Tujuan dilakukannya evaluasi ini adalah untuk mengetahui kinerja suatu proyek dan hasil analisis yang telah dilakukan dapat digunakan untuk perbaikan program yang selanjutnya. Dalam pengembangan ekonomi suatu wilayah. ketidakpastian (uncertainty). aspek ekonomi dan sosial.faktor eksternalitas. yang dalam hal ini pemilihan alternatif terbaik dilakukan berdasarkan alasan perbandingan antara life cycle’s benefit dengan biaya yang dikeluarkan. Secara umum. Terkait perhitungan risiko dan ketidakpastian. analisis utama yang harus dikedepankan oleh pemerintah daerah adalah sejauh mana kontribusi suatu proyek dalam komunitas dan ekonomi lokal suatu wilayah. 2. Hirarki untuk Penilaian Kelayakan Proyek Investasi. Metode ini umum digunakan dalam penilaian kelayakan suatu proyek. Keseluruhan aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam metode Analisis Kelayakan Proyek dapat dilihat pada Gambar 1. membantu dalam proses pengambilan keputusan. Target tersebut ditetapkan berdasarkan prioritas tertentu. maka sesuai dengan pedoman penyusunan anggaran berbasis kinerja. Analisis BCR masih dapat diterapkan ketika suatu proyek telah diputuskan untuk dilakukan. pemerintah dapat menentukan pilihan yang tepat dan anggaran dapat dialokasikan secara efektif. BCR dapat membantu penggunanya untuk: 1. Penerapan Analisis Benefit Cost Ratio Salah satu pengembangan dari model BCR di Indonesia adalah metode Analisis Kelayakan Suatu Proyek. Sehingga yang menjadi perhatian utama dalam penerapan BCR dalam suatu proyek pemerintah yang berkaitan dengan sektor publik adalah redistribusi sumber daya. Pada prinsipnya analisis ini mencakup analisis aspek pemasaran. Manfaat ketiga dari penerapan BCR adalah BCR dapat digunakan untuk evaluasi suatu proyek yang telah selesai dikerjakan.

Namun tidak cukup hanya itu.W. J. Tati S (2001). biaya langsung. Dalam Gambar 1 tersebut. Dalam analisis ini dilakukan pengukuran kelayakan suatu proyek secara finansial dimulai dari estimasi biaya dan pendapatan yang dihasilkan dari proyek tersebut. Estimasi biaya operasi Terdapat tiga macam biaya operasi. Salah satu persyaratan suatu proyek yang layak adalah keharusan dalam memiliki prospek penguasaan pangsa pasar yang baik. 2. biaya pembelian tanah dan biaya lain yang dikeluarkan pada awal investasi dilakukan. Pemahaman terhadap pasar menurut Kottler1 diawali dengan identifikasi produk yang akan dipasarkan dan seberapa besar produk ini dibutuhkan oleh konsumen. biaya pelatihan. biaya peralatan. Kedua. yaitu biaya yang tidak terkait 112 . Estimasi biaya menurut Petty. biaya instalasi.2 mencakup: 1. biaya engineering.Gambar 1 Hirarki Penilaian Kelayakan Proyek Investasi Sumber: Joesron. analisis aspek pemasaran merupakan kunci utama dalam dalam menentukan kelayakan suatu proyek. Keseluruhan biaya ini meliputi biaya perolehan ijin usaha. Hal inilah harus dipersiapkan dalam penyusunan business plan dan road map proyek. Pertama. Analisis kedua yang harus dilakukan adalah analisis finansial. yaitu segala biaya yang mempunyai keterkaitan langsung dengan proses produksi mencakup biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Estimasi biaya investasi awal Estimasi ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang pasti mengenai keseluruhan biaya yang dibutuhkan. penting juga untuk menganalisis kesinambungan performansi penguasaan pasar di masa depan. biaya tidak langsung.

3. ”Basic Financial Management”.. Untuk dapat digunakan sebagai analisis pembanding dalam keputusan investasi maka nilai IRR harus dibandingkan dengan nilai perhitungan Minimal Attractive Rate of Return (MARR). NPV bernilai positif mengindikasikan cash flow yang dihasilkan melebihi jumlah yang diinvestasikan. Terkait dengan hal ini. Ketiga. terdapat dua faktor yang perlu diperhatikan.langsung dengan proses produksi.C1) B2 = cash flow tahun 2 dikurangi investasi pada tahun 2 (b2 – C2) Bt = (bt – Ct) r = discount rate (tingkat diskonto) 3. William Petty. Perhitungan NPV dapat diketahui sebagai berikut. 2. Payback Period Payback Period adalah periode waktu yang dibutuhkan agar cash flow yang dihasilkan sama besar dengan investasi yang dikeluarkan. biaya komersial. MARR merupakan suatu tingkat pengembalian tertentu yang diperoleh relatif tanpa risiko misalnya dengan membandingkan tingkat pengembalian dari investasi yang ditanamkan melalui deposito. Internal Rate of Return (IRR) IRR (Tingkat Pengembalian Internal) didefinisikan sebagai tingkat pengembalian investasi yang dihasilkan suatu proyek yang diukur dengan membandingkan cash flow yang dihasilkan proyek dengan investasi yang dikeluarkan untuk proyek tersebut. “Marketing Management”. Dalam melakukan analisis baik dengan menggunakan IRR maupun NPV. Biaya komersial adalah biaya yang mencakup biaya pemasaran dan biaya administrasi. Indikator-indikator ini juga biasa digunakan dalam perhitungan analisis benefit cost (atau analisis benefit cost ratio). + atau (1 + r ) (1 + r ) 2 (1 + r ) n NPV = ∑ t =n Bt t = 0 (1 + r ) t Di mana. Biaya ini mencakup biaya bahan tidak langsung.... 2000 J. Hal ini dilakukan karena perhitungan dividen maupun reinvestasi yang akan dilakukan adalah menggunakan kas dan bukan menggunakan pendapatan. Dasar evaluasi adalah menggunakan cash flow dan bukan menggunakan pendapatan. B1 = cash flow tahun 1 dikurangi investasi pada tahun 1 (b1 . NPV yang dianggap layak adalah NPV yang bernilai positif. biaya tenaga kerja tak langsung dan berbagai biaya tak langsung lainnya. Perlu dicatat bahwa estimasi pendapatan ini dilakukan berdasarkan cash flow yaitu aliran kas yang akan dihasilkan oleh suatu proyek. semakin singkat payback period suatu investasi menunjukkan investasi tersebut lebih disukai oleh investor. Estimasi pendapatan Biaya pendapatan dapat diestimasi dengan menggunakan proyeksi pendapatan yang akan diperoleh per tahun. Terdapat dua indikator finansial yang umum digunakan untuk menilai sehat atau tidaknya suatu proyek secara finansial. NPV = B0 + B1 B2 Bn + + . Estimasi per tahun dilakukan untuk mempermudah perhitungan sehingga estimasi yang dilakukan cenderung lebih tepat. Net Present Value (NPV) NPV didefinisikan sebagai nilai dari proyek yang bersangkutan yang diperoleh berdasarkan selisih antara cash flow yang dihasilkan terhadap investasi yang dikeluarkan. 1996 113 . yaitu periode evaluasi dan konsep nilai uang terhadap waktu (time value 1 2 Philip Kotler. Indikator-indikator tersebut antara lain: 1..

Konsep ini mengandung implikasi bahwa nilai uang sekarang tidak sama dengan nilai uang yang sama pada masa lalu maupun masa yang akan datang. Tahapan Penetapan BCR Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum menganalisis BCR.of money). selain menekankan pada analisis aspek keuangan atau finansial. dan berlakunya konsep consumers surplus (berkaitan erat dengan konsep consumers willingness to pay yang berguna untuk menghitung harga yang relevan dengan kemampuan konsumen) dan producers surplus (berkaitan erat dengan konsep producers willingness to invest yang berguna untuk menghitung biaya yang akan diinvestasikan). Sementara itu. dan perencanaan kualitas. Terkait dengan analisis kelayakan suatu proyek dalam sektor publik. Menurut Heizer. baik terhadap lingkungan sosial. sumber daya manusia. Keenam aspek operasional tersebut antara lain adalah perencanaan produk. perencanaan kapasitas. Dalam perencanaan lokasi. 1. uang didefinisikan mempunyai nilai terhadap waktu dan besaran nilai tersebut sangat tergantung pada saat kapan uang tersebut diterima. Hal ini disebabkan penerapan BCR dalam pengembangan ekonomi wilayah (sektor publik) tidak dapat lepas dari berbagai pertimbangan dengan memasukkan berbagai variabel kualitatif selain variabel kuantitatif. distribusi penghasilan masyarakat. dalam konsep time value of money. perencanaan persediaan. dampak negatif seringkali timbul dan memberikan akibat hal-hal yang tidak diinginkan dimana kegiatan itu dilaksanakan. Aspek sosial ekonomi penting dilakukan agar pada masa depan suatu proyek investasi tidak membebani daerah tersebut. yaitu dampak eksternal yang ditimbulkan baik yang menguntungkan atau merugikan bagi perekonomian daerah sekitar proyek). pemilihan lokasi ditentukan oleh tiga faktor antara lain adalah aspek sumber faktor produksi (akses terhadap sumber faktor produksi berupa bahan baku. Aspek sosial yang berkaitan dengan penerapan BCR dalam sektor publik ini harus mempertimbangkan kriteria Social Cost and Benefit Analysis (SCBA). Suatu proyek yang dapat dikatakan layak secara teknis dan operasi harus memperhitungakan kelayakan dari beberapa aspek operasional. analisis BCR juga menekankan pada analisis ekonomi dan sosial serta lingkungan. harus dilakukan mengingat adanya ketidaksempurnaan pasar. misalnya usia kepemilikan (ownership life). modal dan infrastruktur). lamanya dampak berlangsung. menurut Suad Husnan dan Suwarsono4. Analisis ekonomi ini. tanah. luas wilayah penyebaran dampak. Jenis proyek 114 . peningkatan saving yang diharapkan untuk meningkatkan investasi. dan budaya. Pada hakikatnya kegiatan pembangunan adalah upaya peningkatan taraf hidup masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya. Analisis ini memperhatikan eksternalitas. ekonomi. terdapat enam aspek yang merupakan aspek operasional suatu proyek. perencanaan proses dan fasilitas produksi. analisis dampak lingkungan mencakup jumlah manusia yang terkena dampak. J dan Render3. Dalam periode evaluasi. Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan upaya ini harus diperhitungkan dalam evaluasi risiko proyek investasi. adanya pajak dan subsidi. Pada aspek lingkungan. Namun. maupun pertimbangan manfaat pada masyarakat. dan intensitas dampak. aspek produk dan aspek lingkungan. periode yang dipergunakan untuk melakukan evaluasi secara finansial diestimasikan berdasarkan faktor tertentu. Salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan sektor publik adalah proporsi kontribusi sektor tersebut dalam masyarakat. perencanaan lokasi. Kelayakan proyek sangat ditentukan oleh seberapa besar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan sampai dengan batas toleransinya.

Estimasi keuntungan Estimasi ini dilakukan per tahun sepanjang proyek terkait masih berlangsung. Faktor-faktor yang mempersulit perhitungan ini antara lain dapat dilihat pada Tabel 1. Sunken cost adalah biaya yang telah dikeluarkan untuk proyek yang bersangkutan sebelum dilakukannya analisis BCR. “Principles of Operations Management”. Jenis biaya yang kedua tersebut cenderung sulit untuk dilakukan karena memasukkan keseluruhan variabel yang mempengaruhi masyarakat akibat dari hadirnya (dilakukannya) proyek tersebut di wilayah yang bersangkutan. Perhitungan keuntungan ini memasukkan revenue per tahun dan serta manfaat proyek tersebut dalam masyarakat. biaya ekonomi dalam masyarakat (economic cost to the community). Variabel yang dapat digunakan sebagai proksi untuk mengetahui dampak langsung suatu proyek antara lain adalah variabel tenaga kerja. Jenis proyek sangat menentukan dalam penentuan variabel-variabel yang akan digunakan dalam perhitungan BCR. pendapatan atau gaji tenaga kerja serta pemanfaatan lahan disekitar lokasi proyek.Dalam meningkatkan pendapatan daerahnya berbagai macam proyek pengembangan usaha unggulan dicanangkan oleh pemerintah daerah. Terkait dengan perhitungan biaya proyek. peningkatan nilai properti serta biaya sosial lainnya. biaya variabel (variabel cost). 3 4 Jay Heizer and Barry Render. Sementara variabel proksi yang dapat digunakan untuk mengetahui dampak tidak langsung suatu proyek antara lain efek multiplier dapa tenaga kerja. pengembalian pinjaman (loan repayment). 3. pajak (taxes). biaya bunga (interest). Sementara variabel dampak tidak langsung cenderung lebih banyak dibanding dampak langsung. Untuk mempermudah perhitungan estimasi keuntungan maka diterapkan perhitungan shadow pricing. 1997 Suad Husnan dan Suwarsono. Variabel yang digunakan dalam proyek yang menghasilkan keuntungan atau pendapatan daerah cenderung berbeda dengan variabel yang digunakan dalam proyek untuk mendukung perekonomian masyarakat. untuk mempermudah perhitungan maka sunken cost tidak dimasukkan dalam perhitungan project cost. Estimasi biaya proyek Terdapat tiga macam biaya proyek yang dimasukkan dalam perhitungan. Estimasi keuntungan yang memasukkan biaya kesejahteraan masyarakat sulit dilakukan karena harus memperhatikan banyak faktor lain. biaya keseluruhan proyek (project cost) dalam hal ini adalah biaya keuangan atau finansial. Pertama. Dari Tabel 1 dapat dilihat beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai proksi perhitungan dampak suatu proyek dalam masyarakat. “Studi Kelayakan Proyek”. Kedua. Proyek pengembangan daerah tersebut dapat berbagai macam jenis dan bidang yang berbeda. Biaya ini meliputi biaya tetap (fixed cost). 1994 115 . 2.

Dalam perkembangannya. 116 . Benefit juga dapat diartikan sebagai cash flow (aliran kas) yang termasuk laba setelah dikurangi pajak dan penyusutan. dan ditambah dengan penjualan aktiva. A. terdapat beberapa perbedaan dalam perhitungan BCR. Dalam melakukan BCR.Tabel 1 Perhitungan Dampak suatu Proyek Dampak Langsung Tenaga Kerja • Konstruksi • Permanent Pendapatan (income) • Upah dan Gaji Tenaga Kerja • Kelompok masyarakat yang berpendapatan rendah • Laba/keuntungan Fungsi lahan • Perubahan pada Nilai Lahan Dampak Tidak Langsung Pendapatan Tenaga kerja • Adanya multiplier • Multiplier effect effect dalam Fungsi Lahan membentuk lapangan • Pembangunan baru disekitar pekerjaan proyek seperti misalnya • Terjadi pengurangan perumahan dan bisnis tenaga kerja pada • Meningkatnya nilai property sektor lain. maka tahap terakhir yang harus dilakukan adalah melakukan perhitungan BCR dan internal rate of return. Rasio keuntungan/kerugian yang ditanggung menjadi dasar dalam pengambilan keputusan mengenai pilihan yang akan diambil. • Munculnya berbagai prayarat • Adanya peningkatan perumahan dalam bidang Biaya sosial dan lingkungan pendidikan dan • Kemacetan lalu lintas dan pelatihan transportasi Pemasukan (revenue) • Keramahan sosial • Penjualan • Peningkatan polusi udara • Pajak property • Bermunculannya program• Perijinan usaha program sosial Biaya layanan • Sanitasi • Sekolah 4. Perhitungan BCR dilakukan dengan memperhatikan net present value (NPV). Konsep Time Value of Money Dalam BCR. keuntungan (benefit) dihitung dari kemauan seseorang untuk membayar sejumlah tertentu untuk mendapatkan output tertentu. seluruh alternatif diukur dengan satuan mata uang tertentu. Perhitungan benefit-cost ratio dan internal rate of return Setelah melewati berbagai tahapan awal. konsep dasar dari analisis BCR adalah memanfaatkan model perhitungan keuangan dari kegiatan yang sedang atau akan dilakukan. Rumus present value adalah Pr esent Value = A (1 + r ) n Keterangan: A: variabel n: jumlah tahun perhitungan discount rate r: discount rate Secara umum.

biaya dihitung berdasarkan jumlah yang harus dibayarkan sebagai bentuk kompensasi yang diberikan karena adanya konsekuensi negatif dari suatu program.500 saat ini. dan sebaliknya intangible cost merupakan biaya-biaya yang pada dasarnya muncul tetapi tidak bisa dihitung. pengambil keputusan dapat memanfaatkan persamaan berikut. biaya pelaksanaan. Tangible benefit adalah keuntungan yang timbul dari suatu pilihan namun dapat dinilai dan dipasarkan di pasar. Pemanfaatan BCR ini lazim menggunakan formula time value of money (nilai waktu uang). tangible dan intangible benefit serta cost. Sebaliknya. B / C = ∑ n ∑ t =1 n (1 C B t + i + i )t ) t t t =1 (1 t + K Keterangan: Kt: Kapital yang digunakan pada awal periode Bt: Penerimanan sampai tahun ke t Ct: Pengeluaran sampai tahun ke t 117 . Konsep lain yang harus dipahami dalam penggunaan analisis BCR ini antara lain. Sementara itu tangible cost menunjukkan biaya yang dapat diukur dan berwujud. biaya mencerminkan jumlah penggunaan dana kecuali pembayaran pada pemegang saham dikurangi penerimaan yang terkait dengan kewajiban dan utang. Penentuan hasil kegiatan/program 2. biaya fasilitas. Risiko yang terdapat pada setiap pilihan juga perlu untuk diintegrasikan dalam komponen biaya. aspek social opportunity cost juga perlu diperhatikan.Sementara itu. Sebagai contoh. intangible benefit merupakan keuntungan yang tidak dapat dinilai dan dipasarkan di pasar. Selain itu. Sebaliknya. maka proyek tersebut tidak layak dipilih dan dijalankan. Beberapa masalah dalam memperhitungkan besarnya keuntungan yang akan diperoleh. Formula yang dipergunakan adalah sebagai berikut. Dengan kata lain. Untuk menghitung nilai uang sekarang. Komponen yang termasuk dalam biaya antara lain biaya pengembangan. antara lain: 1. dan biaya material/bahan yang digunakan. Hasil tidak langsung akibat dilaksanakannya suatu kegiatan/program Kriteria yang digunakan dalam alat analisis ini adalah apabila rasio B/C > 1 akan berimplikasi proyek tersebut layak di pilih.000 yang nilainya sama dengan Rp1. biaya tenaga kerja. apabila rasio kotor B/C < 1. Hal ini dilakukan dengan mengonversikan biaya dan keuntungan di masa datang ke dalam nilai waktu sekarang. P0 = Pt / (1 + i)t Keterangan: P0: Nilai uang sekarang Pt: Nilai uang di masa datang i: Tingkat diskonto (suku bunga) Periode t: Konsep time value of money ini memperhitungkan nilai uang yang dikorbankan untuk dikonsumsi saat ini. prakiaran biaya yang akan dikeluarkan dalam lima tahun mendatang adalah Rp1. yaitu menyangkut biaya dan manfaat suatu program dalam penyerapan tenaga kerja dan devisa.

998 8.158 6.386 K+C (6) 65 27 15 7 8 10 11 12 15 20 25 NPV (K+C) (7) 65 24.482 9. Setelah melakukan perhitungan di atas. pengambil keputusan harus memperhitungkan biaya sosial dan eksternalitas yang muncul dari masingmasing pilihan. pengambil keputusan juga perlu mengetahui prinsip perhitungan Net Present Value (NPV) atau nilai uang sekarang. Perhitungan BCR dengan menggunakan nilai waktu sekarang akan mempermudah pengambil keputusan untuk menentukan pilihan mana yang akan diprioritaskan.209 6.i: Tingkat diskonto (suku bunga) Sebelum menggunakan BCR dalam analisis .467 0. langkah selanjutnya menghitung kebutuhan (biaya) dan keuntungan yang akan diperoleh dari masing-masing pilihan.342 kolom (8) 118 .658 23.209 6.529 19.621 0.837 25.325 19. pengambil keputusan dapat menghitung biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan masing-masing pilihan dari tahap awal sampai pilihan tersebut menghasilkan keuntungan.683 0. Dalam hal ini. pengambil keputusan akan mengurutkan pilihan tersebut dengan membuat pemeringkatan. pemerintah sebelumnya harus mengidentifikasi alternatif-alternatif yang mungkin dilakukan.342 Penjelasan: Rasio Kotor B/C ∑ Rasio kotor B/C = n B t ∑ t =1 n ( + i )t 1 C t + K t ( + i )t 1 t =1 ∑ (1 + i ) t =1 n Bt t = 182.424 0.545 12. Selain mengetahui perhitungan BCR.124 24.513 0.397 16.259 5.422 182. Pemeringkatan ini dibuat dengan menggunakan perhitungan Net Present Value (nilai waktu sekarang) dan Interest Rate of Return (tingkat pengembalian bunga). Di luar perhitungan ekonomis yang dilakukan.966 25. Tabel 2 Contoh Perhitungan Benefit Cost Ratio Tahun (1) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Modal (K) (2) 65 25 10 0 0 0 0 0 0 0 0 Biaya (C) (3) 0 2 5 7 8 10 11 12 15 20 25 Keuntungan (B) (4) 0 0 15 22 28 40 46 50 50 45 40 Tingkat Diskonto (Misal: i=10%) (5) 1 0.564 0. Untuk mempermudah pemahaman terhadap penjelasan tersebut.084 15.826 0.751 0.909 0.639 156.464 6.397 5.360 NPV (B) (8) 0 0 12. berikut disajikan contoh perhitungannya. Setelah alternatif-alternatif tersebut diidentifikasi.

Sebaliknya. Untuk menunjang hal tersebut maka aparat pemerintah 119 . Maksimalisasi Benefit – Cost Maximize Benefit – Cost kendala: a) Fungsi Produksi antara input dan output b) Anggaran c) Lainnya Asumsi yang digunakan dalam metoda maksimalisasi benefit – cost ini adalah proyek dinyatakan baik dan layak operasi bila benefit yang dihasilkan melebihi cost yang harus ditanggung. tenaga dan biaya untuk pilihan program yang kurang esensial untuk dilakukan pada waktu tertentu. Internal Rate of Return (IRR). deposito. Dalam laporan RPJMD tahun 2004 menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendekatan yang dapat diterapkan dalam rangka meningkatkan kemitraan pemerintah-swasta. Pada perhitungan baik BCR maupun NPV. B. diperlukan variabel tingkat diskonto. Apabila BCR atau alat lain tidak dimanfaatkan oleh pengambil keputusan. Tingkat diskonto harus dapat mencerminkan biaya oportunitas penggunaan dana. Pada kenyataannya. terdapat kemungkinan bahwa pengambil keputusan tersebut telah membuang waktu.t constraint of production function TB = ∑ f j ( x j ) j =1 j =s TC = ∑ f t ( hl ) l =1 l =z xj: ht : jumlah barang/jasa jumlah input Kelebihan Benefit Cost Ratio BCR merupakan alat analisis yang sederhana. Tidak ada perbedaan antara tingkat diskonto yang digunakan oleh pemerintah dan swasta. seperti Benefit Cost Ratio (BCR). atau bunga pinjaman bank. Selain itu BCR juga sangat membantu pengambil keputusan dalam mengurutkan prioritas pilihan. penggunaan BCR dapat menjadi alat untuk membandingkan pilihan-pilihan yang tidak seragam dalam kerangka waktunya. sehingga memudahkan pengambil keputusan dalam menentukan prioritas. Net Persent Value (NPV).166 156.∑ (1 + i ) t =1 n Ct + K t t = 156.342 = 1. Hal ini mengingat aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah juga harus mencerminkan biaya penggunaan dana oleh sektor swasta. Penentuan prioritas ini tentu saja akan meningkatkan efektifitas penggunaan anggaran. dan Pay Back Period. ada bagian-bagian tertentu yang memungkinkan dapat dilakukan.360 Dengan demikian. Penentuan tingkat diskonto mengacu pada tingkat bunga tabungan. namun tidak semua jenis prasarana dan sarana dapat dilakukan kerja sama. calon investor umumnya menilai kriteria financial atau ekonomi.360 kolom (7) Rasio kotor B/C > 1 Rasio kotor B/C = 182. proyek tersebut layak di pilih. Rumus umum yang dapat digunakan adalah Max TB-TC s. Penentuan tingkat diskonto ini merupakan hal yang sangat menentukan akurasi hasil analisis.

Selisih antara nilai prakiraan dan nilai riil dapat positif. Selama 20 tahun ke depan. Terdapat beberapa sektor publik yang sulit dilakukan penerapan BCR dalam studi kelayakan proyek. dan tahap pos- 120 . Terdapat dua tipe analisis. misalnya tahap persiapan. Hal ini tentu saja mempengaruhi akurasi hasil BCR. kemungkinan harganya tetap adalah 50 persen. Kekurangan Benefit Cost Ratio Mengingat BCR menggunakan pendekatan peramalan nilai waktu uang. kemungkinan biaya listrik naik menjadi Rp1. dan sebaliknya negatif.800 Dengan demikian. jalan. pendidikan dan pertahanan keamanan. Sementara itu.75)(1500) = 500 + 175 + 1125 = 1. Variasi nilai BCR yang dihasilkan dapat menjadi rambu-rambu bagi pengambil keputusan untuk memilih alternatif mana yang akan diprioritaskan. aspek ketidakpastian menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun pada bagian sebelumnya telah disebutkan biaya yang perlu dimasukkan ke dalam analisis BCR. analisis sensitifitas dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa tingkat diskonto.500 adalah 75 persen. tahap pelaksanaan. ketidaksesuaian ini terkadang disebut sebagai risiko yang harus dihadapi oleh pengambil keputusan. skenario pesimis. maka ekspektasi biaya listrik dalam 20 tahun ke depan adalah: L(Harga Ekspektasi) = (0. Analisis nilai yang diekspektasi (expected value analysis) Metode ini digunakan untuk melihat kemungkinan besarnya nilai variabel tertentu.800 per kilowat/jam. Peramalan biaya dan keuntungan tidak selamanya mendekati nilai riil pada saat yang ditentukan. pada praktiknya pengambil keputusan seringkali mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi pos biaya yang akan dianalisis. kesehatan. Meskipun demikian. Pendekatan pertama adalah dengan membagi proses pelaksanaan program ke dalam beberapa urutan/tahap. sedangkan kemungkinan biayanya akan turun menjadi Rp700 adalah 25 persen. Untuk menyiasati ketidakpastian ini. Proyek publik tersebut antara lain adalah air minum. Dalam memvariasikan perubahan variabel input ini.5)(1000) + (0.daerah harus mampu meningkatkan kapabilitasnya agar mampu menjalin kemitraan dengan berbagai pihak di bidang penyediaan pelayanan jasa bagi masyarakat. ekspektasi biaya listrik dalam 20 tahun mendatang adalah Rp1. Analisis BCR akan sangat sulit dilakukan dalam proyek-proyek tersebut dikarenakan banyaknya pertimbangan dan kepentingan di dalamnya. Pilihan lain yang dapat diambil adalah mengambil nilai tengah dari kedua skenario tersebut. Dalam penggunaan BCR. Sebagai contoh biaya listrik per kilowat/jam saat ini adalah Rp1. pengambil keputusan dapat memilih untuk menggunakan skenario optimis dan sebaliknya. Berdasarkan kemungkinankemungkinan tersebut. yaitu sequential decision analysis dan irreversible investment theory. Dalam analisis BCR. Evaluasi pilihan (evaluating “option”) Evaluasi pilihan ini pada dasarnya lebih mengarah pada langkah mencari alternatif lain selain pilihan yang telah ada. 3. 2. metode ini memiliki masalah dalam hal akurasi.25)(700) + (0. pengambil keputusan dapat menggunakan salah satu dari tiga metode di bawah ini: 1.000. Analisis sensitifitas (sensitivity analysis) Analisis sensitifitas adalah metode yang menganalisis ketidakpastian dengan mengganti variabel input dan melihat sensitifitas perubahannya.

perhitungan manfaat dan biaya dalam BCR dilakukan untuk setiap tahap program yang ditentukan. antara lain pembangunan pasar dan terminal. Selain itu analisis BCR juga membantu pemerintah dalam mengevaluasi pengeluaran pemerintah. Contoh Penggunaan Analisis BCR Sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah. Contoh Penerapan Benefit Cost Ratio Analysis Dalam kerangka keuangan daerah. Saat ini. Pemerintah Daerah Kediri berencana untuk membangun beberapa fasilitas publik. Sementara itu untuk pendekatan irreversible investment theory lebih memperhitungkan apakah suatu program benar-benar akan dilaksanakan atau tidak. dan tingkat bunga deposito mencapai 13 persen per tahun. pembangunan pasar berpotensi mendatangkan penerimaan. perhitungan BCR dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. Dalam sepuluh tahun ke depan. Dengan lokalisasi ini tidak hanya pedagang yang dipermudah. Besarnya penerimaan per tahun diasumsikan sebesar Rp50 juta. A. Pengambil keputusan dapat melihat apakah dana yang disiapkan sebaiknya diinvestasikan sekarang atau tidak. BCR dapat digunakan untuk menganalisis pilihan investasi pemerintah yang menjanjikan. melainkan juga konsumen pasar. Pembangunan pasar Tujuan: Pembangunan pasar ditujukan untuk membantu pedagang kecil dalam berusaha. Pilih tingkat diskonto yang akan digunakan (misalnya 10 persen) 121 . Bagi pemerintah. Dengan demikian. Pembangunan pasar ini diperkirakan memakan waktu tiga tahun dengan biaya sebesar Rp400 juta. Hasil BCR dengan menggunakan metode ini tentu saja menjadi lebih detil.pelaksanaan. tabungan masyarakat di Kediri sebesar 11 persen. diharapkan ketiga fasilitas publik tersebut dapat terealisasi. Sementara itu pasar diperkirakan akan dapat berfungsi dengan baik selama 15 tahun. khususnya dari pos retribusi. Penerimaan sewa dan retribusi baru akan diterima oleh pemerintah dalam empat tahun mendatang. 1. Berdasarkan ilustrasi singkat di atas. tingkat bunga tabungan masyarakat nasional sebesar 10 persen per tahun.

2. Masukkan data ke dalam excel dengan cara seperti terlihat dalam Gambar 3 berikut. Gambar 3 Memasukkan Data ke Dalam Excel 122 .

maka didapatkan perhitungan sebagaimana terdapat dalam Gambar 5. Jumlah biaya tersebut kemudian dihitung berdasarkan nilai waktu sekarang. Buatlah rumus dalam excel untuk menghitung tingkat diskonto Gambar 4 Menentukan Tingkat Diskonto Tuliskan dalam kolom tingkat diskonto: =(1+10%)^0. Total biaya yang dikeluarkan merupakan hasil penjumlahan kolom modal (K) dan biaya (C). 123 .” Pangkat ini akan berubah sesuai dengan tahun yang dihitung. Rumus yang digunakan adalah: Total C = (Kt+Ct)/(1+i)t Demikian pula dengan perhitungan manfaat dapat diperoleh dari rumus: Total B = Bt/(1+i)t Dengan memasukkan rumus tersebut dalam excel. Rumus tersebut dapat dibaca “satu ditambah sepuluh persen dipangkatkan dengan nol. Menghitung nilai sekarang untuk total biaya dan manfaat. 4.3.

B. Pemerintah baru akan mendapatkan manfaat terminal pada tahun ke lima. Dengan melakukan proses perhitungan yang sama dengan contoh sebelumnya. Sementara itu. terminal diperkirakan dapat berkontribusi sebesar Rp60 juta. Untuk menyelesaikan bangunan lengkap diperlukan waktu empat tahun. yaitu 11 persen. kendaraan umum yang berhenti di sembarang tempat juga memperburuk kualitas udara. selain memakan waktu yang tidak singkat. didapatkan hasil sebagaimana terdapat dalam Tabel 3. sedangkan jumlah biaya yang dikeluarkan sebesar 281. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kegiatan tersebut layak untuk dilakukan. diperkirakan bangunan tersebut dapat berfungsi selama 20 tahun. diketahui bahwa jumlah keuntungan yang diterima sebesar 294. Manfaat pembangunan terminal juga meliputi penerimaan retribusi bagi pemerintah. nilai BCR didapatkan dari pembagian 294 oleh 281 dan menghasilkan rasio sebesar 1. Dengan angka tersebut. Selain itu. Biaya yang diperlukan untuk membangun sebuah terminal cukup besar. Dengan biaya tersebut. biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan dan memelihara terminal tersebut sebesar Rp250 juta. Tingkat diskonto yang dipilih mengikuti bunga tabungan masyarakat Kediri. baik yang berasal dari kendaraan yang masuk maupun pedagang yang berusaha di dalamnya.Gambar 5 Perhitungan Benefit Cost Ratio Pembangunan Pasar Hasil perhitungan BCR dengan rumus yang terdapat pada bagian sebelumnya. 124 . Setiap tahunnya. Pembangunan terminal Tujuan Pembangunan terminal ditujukan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas akibat kurang teraturnya pemberhentian kendaraan umum.039.

55 3.305 2.99 1.64 14.24 NPV (B) 8 0.28 8.51 4. diketahui bahwa kedua program pemerintah ini layak untuk dilaksanakan.35 23.368 1. Sesuai dengan aturan umum BCR.31 6.785 5.558 2.Tabel 3 Perhitungan Benefit Cost Ratio Pembangunan Terminal Tahun 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Modal (K) 2 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Biaya (C) 3 5 7 8 4 8 7 9 7 5 5 10 10 15 11 15 16 12 10 13 13 10 Keuntungan (B) 4 0 0 0 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 Tingkat Diskonto ( i=11%) 5 1.53 6.232 1.17 1.92 5. terlihat bahwa program yang perlu diprioritaskan adalah program yang memiliki rasio lebih besar.43 9. pembangunan terminal dapat menimbulkan intangible benefit yaitu terserapnya tenaga kerja selama proses pembangunan dan semakin lancarnya distribusi faktor-faktor produksi.839 3.09 12.48 3.062 K+C 6 155 7 8 4 8 7 9 7 5 5 10 10 15 11 15 16 12 10 13 13 10 NPV (K+C) 7 155.81 3.11 5.29 2.870 2.70 1.123.52 3.37 2.74 21.34 2.685 1.110 1.00 29. yaitu pembangunan terminal.518 1.498 4.25 26. sedangkan total biaya yang dikeluarkan mencapai 222. Dengan membandingkan nilai BCR. Sesuai dengan hasil perhitungan BCR.895 6.95 3. jumlah keuntungan yang diperoleh sebesar 249.39 19.27 4.263 8. Berdasarkan hasil perhitungan dalam rumus BCR diperoleh ilai BCR yaitu sebesar 1.26 1.00 6.15 4.000 1.28 9.36 15.36 7.79 1.152 3.79 6. Dari keseluruhan pembahasan BCR dalam implikasinya di bidang perekonomian daerah dapat disimpulkan bahwa kajian kelayakan terhadap suatu proyek harus dilakukan secara integral terhadap setiap aspek dan merupakan suatu tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh. proyek ini pun layak untuk dilakukan.96 Dengan angka dalam tabel.310 4.27 17. 125 . Apabila dianalisis lebih lanjut.311 5.076 2.69 11.544 7. Tugas pemerintah selanjutnya adalah menentukan program mana yang akan diprioritaskan untuk dijalankan tahun depan.00 0.00 0.49 2.17 4.310 4.

www. “Analisis Manfaat dan Biaya Sosial. Portney.” National Center for Environmental Decision-Making Research (NCEDR). Joesron. 2001. “Benefit Cost Ratio. 2000. 2001. Report on Costs and Benefits of Natural Hazard Mitigation.ncedr.com 126 .” www. Jay dan Barry Render. Roland R.wikipedia. William Petty. “Cost-Benefit Analysis and ROI: Essential Tools for Serious Managers” J.org www. and Keith Davis. Paul R. Ex-post Evaluation of Kecamatan Development Program (KDP1) Infrastrusture Projects Handbook For The Economic Analysis Of Water Supply Projects.Universitas Padjadjaran Kotler.” Heizer.econlib. 2000 . Geoffrey.Marketing Management.econlib. Agus.1994. Basic Financial Management. “Economic Analysis of Natural Hazard Mitigation Projects. Dave. 2001.” Program Pascasarjana Magister Sains dan Doktor Universitas Gadjah Mada Washington County Mitigation Action Plan: Appendix C.Human Resources and Personnel Management. Philip. Sugiyono. “Chapter 5: Financial BenefitCost Analysis. Makalah disampaikan pada Seminar Sosialisasi Badan Promosi dan Penanaman Modal Daerah Jawa-Barat Fakultas Ekonomi . Principles of Operations Management Isnor. Werther. 1993.” Federal Emergency Management Agency Publication 331.org Dent.org Suad Husnan dan Suwarsono.Daftar Pustaka Bjornstad. Jr.1997. Studi Kelayakan Proyek. www. 1996. “Benefit-Cost Analysis. William B. Tati S. Investment Project Feasibility Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful