P. 1
Modul_Elektronika_analog

Modul_Elektronika_analog

|Views: 2,502|Likes:
Published by Arli Baharuddin

More info:

Published by: Arli Baharuddin on Mar 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.1 Resistor
  • I.2.1 Prinsip dasar dan spesifikasi elektriknya
  • I.2.3.1 Kapasitor Electrostatic
  • I.2.3.2 Kapasitor Electrolytic
  • I.2.3.3 Kapasitor Electrochemical
  • I.2.8 Insulation Resistance (IR)
  • I.2.9 Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z)
  • I.3.1 Induktor disebut self-induced
  • II.1 Prinsip kerja catu daya linear
  • II.2 Penyearah RECTIFIER)
  • II.3 REGULATOR
  • III.1 Arus bias
  • III.2 Arus Emiter
  • III.3 Common Emitter (CE)
  • III.4 Kurva Base
  • III.5 Kurva Kolektor
  • III.6 Daerah Aktif
  • III.7 Daerah Saturasi
  • III.8 Daerah Cut-Off
  • III.9 Daerah Breakdown
  • III.10 Datasheet transistor
  • IV.1 Fidelitas dan Efisiensi
  • IV.2 PA kelas A
  • IV.3 PA kelas B
  • IV.4 PA Kelas AB
  • IV.5 PA kelas C
  • IV.6 PA kelas D
  • IV.7 PA kelas E
  • IV.8 PA kelas T
  • IV.9 PA kelas G
  • IV.10 PA kelas H
  • V.1 Penguat diferensial
  • V.2 Diagram Op-amp
  • V.3 Penguatan Open-loop
  • V.4 Unity-gain frequency
  • V.5 Slew rate
  • V.6 Parameter CMRR
  • V.7 Penutup bagian ke-satu
  • VI.1 Histeresis umpanbalik positif
  • VI.2 Osilasi relaksasi
  • VI.3 Frekuensi osilator
  • VII.1 Bagaimana terjadi osilasi
  • VII.2 Rangkaian osilator Wien-bridge dengan satu op-amp
  • VII.3 Dimana Jembatannya
  • VII.4 Distorsi frekuensi resonansi

Bab I Komponen Pasif

I.1 Resistor Resistor adalah komponen dasar elektronika yang digunakan untuk membatasi jumlah arus yang mengalir dalam satu rangkaian. Sesuai dengan namanya resistor bersifat resistif dan umumnya terbuat dari bahan karbon . Dari hukum Ohms diketahui, resistansi berbanding terbalik dengan jumlah arus yang mengalir melaluinya. Satuan resistansi dari suatu resistor disebut Ohm atau dilambangkan dengan simbol W (Omega). Tipe resistor yang umum adalah berbentuk tabung dengan dua kaki tembaga di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran membentuk gelang kode warna untuk memudahkan pemakai mengenali besar resistansi tanpa mengukur besarnya dengan Ohmmeter. Kode warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA (Electronic Industries Association) seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut. Waktu penulis masuk pendaftaran kuliah elektro, ada satu test yang harus dipenuhi yaitu diharuskan tidak buta warna. Belakangan baru diketahui bahwa mahasiswa elektro wajib untuk bisa membaca warna gelang resistor (barangkali).

Gambar I.1 Kode Warna 1

Gambar 1.2 Contoh Resistor Resistansi dibaca dari warna gelang yang paling depan ke arah gelang toleransi berwarna coklat, merah, emas atau perak. Biasanya warna gelang toleransi ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar yang lebih menonjol, sedangkan warna gelang yang pertama agak sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut. Kalau anda telah bisa menentukan resistansinya. Jumlah gelang yang melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya. Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi 1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 gelang (tidak termasuk gelang toleransi). Gelang pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan besar nilai satuan, dan gelang terakhir adalah faktor pengalinya. Misalnya resistor dengan gelang kuning, violet, merah dan emas. Gelang berwarna emas adalah gelang toleransi. Dengan demikian urutan warna gelang resitor ini adalah, gelang pertama berwarna kuning, gelang kedua berwana violet dan gelang ke tiga berwarna merah. Gelang ke empat tentu saja yang berwarna emas dan ini adalah gelang toleransi. Dari tabel-1 diketahui jika gelang toleransi berwarna emas, berarti resitor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansisnya dihitung sesuai dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan nilai satuan dari resistor ini. Karena resitor ini resistor 5% (yang biasanya memiliki tiga gelang selain gelang toleransi), maka nilai satuannya ditentukan oleh gelang pertama dan gelang kedua. Masih dari tabel-1 diketahui gelang kuning nilainya = 4 dan gelang violet nilainya = 7. Jadi gelang pertama dan kedua atau kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Gelang ketiga adalah faktor pengali, dan jika warna gelangnya merah berarti faktor pengalinya adalah 100. Sehingga 2 mana gelang yang pertama selanjutnya adalah membaca nilai

dengan ini diketahui nilai resistansi resistor tersebut adalah nilai satuan x faktor pengali atau 47 x 100 = 4.7K Ohm dan toleransinya adalah 5%. Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih resitor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar watt-nya. Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi disipasi daya berupa panas sebesar W=I2R watt. Semakin besar ukuran fisik suatu resistor bisa menunjukkan semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor yang memiliki disipasi daya 5, 10 dan 20 watt umumnya berbentuk kubik memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada juga yang berbentuk silinder. Tetapi biasanya untuk resistor ukuran jumbo ini nilai resistansi dicetak langsung dibadannya, misalnya 100W5W. I.2 Kapasitor I.2.1 Prinsip dasar dan spesifikasi elektriknya Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatanmuatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang nonkonduktif. Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatanmuatan positif dan negatif di awan.

3

25 x 1018 elektron.85 x 10-12) (k A/t) . Dengan rumusan dapat ditulis sebagai berikut : C = (8.3 prinsip dasar kapasitor 1.2 Kapasitansi Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron. jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik. kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area plat metal (A)..Gambar I..2.(2) Berikut adalah tabel contoh konstanta (k) dari beberapa bahan dielektrik yang disederhanakan. Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. 4 . Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6. Dengan rumus dapat ditulis : Q = CV …………….(1) Q = muatan elektron dalam C (coulombs) C = nilai kapasitansi dalam F (farads) V = besar tegangan dalam V (volt) Dalam praktek pembuatan kapasitor.

metalized paper dan lainnya. MKM.2. Misalnya 0. I.Udara vakum Aluminium oksida Keramik Gelas Polyethylene k=1 k=8 k = 100 . Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian. polyprophylene. atau contoh lain 0. electrolytic dan electrochemical. Mylar. satuan farads adalah sangat besar sekali.1nF sama dengan 100pF. film dan mika. yaitu kapasitor electrostatic. 5 . I. Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non-polar. Umumnya kapasitor yang ada di pasar memiliki satuan uF (10-6 F).1 Kapasitor Electrostatic Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari keramik. polycarbonate. Termasuk kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar). nF (10-9 F) dan pF (10-12 F).2.047uF dapat juga dibaca sebagai 47nF. MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film.1 Tabel Konstanta Bahan Dielektrik Untuk rangkain elektronik praktis. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF. polystyrene. Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan membaca besaran sebuah kapasitor. yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi.3 Tipe Kapasitor Kapasitor terdiri dari beberapa tipe. tergantung dari bahan dielektriknya.3.1000 k=8 k=3 Tabel I.

I.4 Kapasitor Elco Dengan demikian berturut-turut plat metal (anoda).di badannya. Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidai permukaan plat metal.2 Kapasitor Electrolytic Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. titanium. Gambar I. lapisan-metal-oksida dan electrolyte(katoda) membentuk kapasitor. Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum. seperti pada proses penyepuhan emas. adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda dan kutup negatif katoda. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan . Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa. Dari rumus (2) diketahui besar kapasitansi berbanding terbalik dengan tebal 6 . aluminium. maka akan terbentuk lapisan Aluminium-oksida (Al2O3) pada permukaannya. Dalam hal ini lapisan-metal-oksida sebagai dielektrik.2. Mengapa kapasitor ini dapat memiliki polaritas. Elektroda metal yang dicelup kedalam larutan electrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda). zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). jika digunakan Aluminium. magnesium. niobium.3. Contohnya.

3. Karena alasan ekonomis dan praktis.dielektrik. sehingga dengan demikian dapat dibuat kapasitor yang kapasitansinya cukup besar. Sebagai contoh 100uF. Bahan yang paling banyak dan murah adalah Aluminium. I. bahan plat Aluminium ini biasanya digulung radial. Lapisan metal-oksida ini sangat tipis. Disebut electrolyte padat. misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular.2. Pada kenyataanya batere dan accu adalah kapasitor yang sangat baik. karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. Untuk mendapatkan permukaan yang luas. Sehingga dengan cara itu dapat diperoleh kapasitor yang kapasitansinya besar. Bahan electrolyte pada kapasitor Tantalum ada yang cair tetapi ada juga yang padat. maka waktu kerjanya (lifetime) menjadi lebih tahan lama. tetapi sebenarnya bukan larutan electrolit yang menjadi elektroda negatif-nya.2.3 Kapasitor Electrochemical Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Dengan demikian kapasitor jenis ini bisa memiliki kapasitansi yang besar namun menjadi lebih ramping dan mungil. 4700uF dan lain-lain. umumnya bahan metal yang banyak digunakan adalah aluminium dan tantalum. Kapasitor tipe ini juga memiliki arus bocor yang sangat kecil Jadi dapat dipahami mengapa kapasitor Tantalum menjadi relatif mahal. Tipe kapasitor jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan. 470uF. melainkan bahan lain yaitu manganese-dioksida. Termasuk kapasitor jenis ini adalah batere dan accu.4 Membaca Kapasitansi 7 . 1. Selain itu karena seluruhnya padat. yang sering juga disebut kapasitor elco.

sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali.2.000 = 100. angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya. maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Para elektro.Pada kapasitor yang berukuran besar.000. Contoh lain misalnya tertulis 222. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104. Berikut ini adalah beberapa spesifikasi penting tersebut. Sebagai contoh.2 nF.mania barangkali pernah mengalami kapasitor yang meledak karena kelebihan tegangan. maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh melebihi 25 volt dc. maka kapasitansinya adalah 10 x 10.000 dan seterusnya. Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads). 1. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat didalam datasheet.6 Temperatur Kerja 8 . nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. berturut-turut 1 = 10. 2 = 100. Misalnya kapasitor 10uF 25V. 4 = 10. Kapasitor yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja.2. artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2.5 Tegangan Kerja (working voltage) Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik. Selain dari kapasitansi ada beberapa karakteristik penting lainnya yang perlu diperhatikan.000pF atau = 100nF. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Jika ada 3 digit. Umumnya kapasitorkapasitor polar bekerja pada tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uF/25v. kapasitor yang bertuliskan dua angka 47. 1. 3 = 1.

7% 9 o maksimum Simbol C +10 2 -30 4 -55 5 6 7 +45 +65 +85 +105 D +125 E .9 1. X7R (stable) serta Z5U dan Y5V (general purpose).0 1.3% +/4.3 Kode karakteristik kapasitor kelas II dan III suhu kerja suhu minimum Simbol C Z Y X o kerja Toleransi Kapasitansi Simbol Persen A B C +/1. Tabel I. Secara lengkap kodekode tersebut disajikan pada table berikut. Pabrikan pembuat kapasitor umumnya membuat kapasitor yang mengacu pada standar popular.5% +/2.Kapasitor masih memenuhi spesifikasinya jika bekerja pada suhu yang sesuai.2% +/3.0 0.5 Faktor Pengali Koefisien Suhu Simbol Pengali Simbol 0 1 2 3 4 -1 -10 -100 -1000 -10000 G H J K L Tabel I.0% +/1.2 Kode karakteristik kapasitor kelas I Toleransi Koefisien Suhu PPM per Co +/-30 +/-60 +/-120 +/-250 +/-500 Koefisien Suhu Simbol C B A M P ppm = part per million PPM per Co 0. Ada 4 standar popular yang biasanya tertera di badan kapasitor seperti C0G (ultra stable).3 0.

maka kapasitasinya adalah 100nF dengan toleransi +/-15%.8 Insulation Resistance (IR) Walaupun bahan dielektrik merupakan bahan yang non-konduktor.2.5% +/10. namun tetap saja ada arus yang dapat melewatinya. 10 . Artinya. besar kapasitansi nominal ada toleransinya. Misalnya jika tertulis 104 X7R. Untuk menjelaskan ini. Sekaligus dikethaui juga bahwa suhu kerja yang direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125Co (lihat tabel kode karakteristik) I.0% +22% / -33% +22% / -56% +22% / -82% I2.0% +/15.0% +/22. Tabel diatas menyajikan nilai toleransi dengan kode-kode angka atau huruf tertentu.7 Toleransi Seperti komponen lainnya. walaupun nilainya sangat besar sekali.8 9 +150 F +200 P R S T U V +/7. Phenomena ini dinamakan arus bocor DCL (DC Leakage Current) dan resistansi dielektrik ini dinamakan Insulation Resistance (IR). bahan dielektrik juga memiliki resistansi. Dengan table di atas pemakai dapat dengan mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai nominal kapasitor. berikut adalah model rangkaian kapasitor.

I. karakteristik resistansi dielektrik ini biasa juga disajikan dengan besaran RC (IR x C) yang satuannya ohm-farads atau megaohm-micro farads. tuner dan lain-lain. Karena besar IR selalu berbanding terbalik dengan kapasitansi (C). Insulation resistance (IR) ini sangat besar (MOhm). Secara matematis di tulis sebagai berikut : 11 . Konsekuensinya tentu saja arus bocor (DCL) sangat kecil (uA).9 Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z) Dissipation Factor adalah besar persentasi rugi-rugi (losses) kapasitansi jika kapasitor bekerja pada aplikasi frekuensi. Namun dari model di atas. diketahui ada resitansi dielektrik IR(Insulation Resistance) yang paralel terhadap kapasitor. Dari model rangkaian kapasitor digambarkan adanya resistansi seri (ESR) dan induktansi (L). rangkaian ballast.model kapasitor : C = Capacitance ESR = Equivalent Series Resistance L = Inductance IR = Insulation Resistance Jika tidak diberi beban. Rugi-rugi (losses) itu didefenisikan sebagai ESR yang besarnya adalah persentasi dari impedansi kapasitor Xc. semestinya kapasitor dapat menyimpan muatan selamalamanya. Besaran ini menjadi faktor yang diperhitungkan misalnya pada aplikasi motor phasa. Untuk mendapatkan kapasitansi yang besar diperlukan permukaan elektroda yang luas.2. Pabrik pembuat biasanya meyertakan data DF dalam persen. tetapi ini akan menyebabkan resistansi dielektrik makin kecil.

Dari penjelasan di atas dapat dihitung besar total impedansi (Z total) kapasitor adalah : 12 .

maka di sekeliling kawat tembaga akan terbentuk medan listrik. Arah jempol adalah arah arus dan arah ke empat jari lain adalah arah medan listrik yang mengitarinya. Untuk perhitungan.perhitungan respons frekuensi dikenal juga satuan faktor qualitas Q (quality factor) yang tak lain sama dengan 1/DF. Jika seutas kawat tembaga diberi aliran listrik.3 Induktor Masih ingat aturan tangan kanan pada pelajaran fisika ? Ini cara yang efektif untuk mengetahui arah medan listrik terhadap arus listrik. Dengan aturan tangan kanan dapat diketahui arah medan listrik terhadap arah arus listrik.Karakteristik respons frekuensi sangat perlu diperhitungkan terutama jika kapasitor bekerja pada frekuensi tinggi. 13 . I. Caranya sederhana yaitu dengan mengacungkan jari jempol tangan kanan sedangkan keempat jari lain menggenggam.

Tentu masih ingat juga percobaan dua utas kawat tembaga paralel yang keduanya diberi arus listrik. Besar akumulasi medan listrik B pada suatu luas area A tertentu difenisikan sebagai besar magnetic flux. Energi ini direpresentasikan dengan adanya tegangan emf (electromotive force) jika induktor dialiri listrik. dibuktikan bahwa induktor adalah komponen yang dapat menyimpan energi magnetik. maka kelihatan ada kesamaan rumus. Hal ini terjadi karena adanya induksi medan listrik. Jika R disebut resistansi dari resistor dan V adalah besar tegangan jepit jika resistor dialiri listrik sebesar I.m2). Medan listrik yang terbentuk akan segaris dan saling menguatkan.. Tegangan emf di sini adalah respon 14 . Simbol yang biasa digunakan untuk menunjukkan besar magnetic flux ini adalah F dan satuannya Weber (Wb = T. Maka L adalah induktansi dari induktor dan E adalah tegangan yang timbul jika induktor dilairi listrik... Komponen yang seperti inilah yang dikenal dengan induktor selenoid. Dikenal medan listrik dengan simbol B dan satuannya Tesla (T).. Jika arah arusnya berlawanan. kedua kawat tembaga tersebut saling menjauh. Jika kumparan tersebut dialiri listrik maka tiap lilitan akan saling menginduksi satu dengan yang lainnya. Dari buku fisika dan teori medan yang menjelimet. Tetapi jika arah arusnya sama ternyata keduanya berdekatan saling tarikmenarik.. Secara matematis tegangan emf ditulis : tegangan emf .(1) Lalu bagaimana jika kawat tembaga itu dililitkan membentuk koil atau kumparan. (2) Jika dibandingkan dengan rumus hukum Ohm V=RI. Secara matematis besarnya adalah : medan flux.

jalur-jalur pcb dalam suatu rangkain berpotensi untuk menghasilkan medan induksi. dan satuan yang digunakan adalah (H) Henry. I. Ini yang dimaksud dengan self-induced.terhadap perubahan arus fungsi dari waktu terlihat dari rumus di/dt. (3) Gambar I. Secara matematis induktansi pada suatu induktor dengan jumlah lilitan sebanyak N adalah akumulasi flux magnet untuk tiap arus yang melewatinya : induktansi . Aplikasinya pada rangkaian dc salah satunya adalah untuk menghasilkan tegangan dc yang konstan terhadap fluktuasi beban arus.8 Induktor selenoida Fungsi utama dari induktor di dalam suatu rangkaian adalah untuk melawan fluktuasi arus yang melewatinya. Ini yang sering menjadi pertimbangan dalam mendesain pcb supaya bebas dari efek induktansi terutama jika multilayer. Pada aplikasi rangkaian ac. tuner dan sebagainya. Hubungan antara emf dan arus inilah yang disebut dengan induktansi.1 Induktor disebut self-induced Arus listrik yang melewati kabel.3. Tegangan emf akan menjadi penting saat perubahan arusnya fluktuatif. Efek emf menjadi signifikan pada sebuah induktor.... 15 .. karena perubahan arus yang melewati tiap lilitan akan saling menginduksi.. salah satu gunanya adalah bisa untuk meredam perubahan fluktuasi arus yang tidak dinginkan. Akan lebih banyak lagi fungsi dari induktor yang bisa diaplikasikan pada rangkaian filter. Sedangkan bilangan negatif sesuai dengan hukum Lenz yang mengatakan efek induksi cenderung melawan perubahan yang menyebabkannya.

... setegah lingkaran ataupun lingkaran penuh..... jika dialiri listrik akan menghasilkan medan listrik yang berbeda.. Penampang induktor biasanya berbentuk lingkaran. n adalah jumlah lilitan N relatif terhadap panjang induktor l.. (4) Jika dikembangkan. elektron yang bergerak akan menimbulkan medan elektrik di sekitarnya.(5) Lalu i adalah besar arus melewati induktor tersebut. Jika rumus-rumus di atas di subsitusikan maka rumus induktansi (rumus 3) dapat ditulis menjadi : Induktansi Induktor . Besar permeability m tergantung dari bahan inti (core) dari induktor. Untuk induktor tanpa inti (air winding) m = 1..Dari pemahaman fisika. Ada simbol m yang dinamakan permeability dan mo yang disebut permeability udara vakum. sehingga diketahui besar medan listrik di titik tengah lingkaran adalah : Medan listrik .. persegi empat. Secara matematis ditulis : Lilitan per-meter………. Berbagai bentuk kumparan. (6) 16 .

3. maka toroid berbentuk lingkaran.2 Toroid Ada satu jenis induktor yang kenal dengan nama toroid.10 Toroida 17 .Induktor selenoida dengan inti (core) : L : induktansi dalam H (Henry) m : permeability inti (core) mo : permeability udara vakum mo = 4p x 10-7 N : jumlah lilitan induktor A : luas penampang induktor (m2) l : panjang induktor (m) Inilah rumus untuk menghitung nilai induktansi dari sebuah induktor. Gambar I. 1. Biasanya selalu menggunakan inti besi (core) yang juga berbentuk lingkaran seperti kue donat. Jika biasanya induktor berbentuk silinder memanjang. Tentu saja rumus ini bisa dibolak-balik untuk menghitung jumlah lilitan induktor jika nilai induktansinya sudah ditentukan.

dapat induktor dengan induktansi yang lebih besar dan dimensi yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan induktor berbentuk silinder.3. zinc (seng) dan mangnesium. Melalui proses yang dinamakan kalsinasi yaitu dengan pemanasan tinggi dan tekanan tinggi. (7) Dengan demikian untuk toroida besar induktansi L adalah : Induktansi Toroida ………(8) Salah satu keuntungan induktor berbentuk toroid. bubuk campuran tersebut dibuat menjadi komposisi yang padat. Oleh sebab itu ferit ini sebenarnya adalah keramik.. Ada juga ferit yang dicampur dengan bahan bubuk lain seperti nickle. Dapat dipahami penggunaan ferit dimaksudkan untuk mendapatkan nilai induktansi yang lebih 18 .3 Ferit dan Permeability Besi lunak banyak digunakan sebagai inti (core) dari induktor yang disebut ferit.Jika jari-jari toroid adalah r. Bahan dasarnya adalah bubuk besi oksida yang disebut juga iron powder. Juga karena toroid umumnya menggunakan inti (core) yang melingkar. Ferit yang sering dijumpai ada yang memiliki m = 1 sampai m = 15. yaitu jari-jari lingkar luar dikurang jari-jari lingkar dalam. maka medan induksinya tertutup dan relatif tidak menginduksi komponen lain yang berdekatan di dalam satu pcb. 1. Proses pembuatannya sama seperti membuat keramik. Ada bermacam-macam bahan ferit yang disebut ferromagnetik.000.. manganase. Maka panjang induktor efektif adalah kira-kira : Keliling lingkaran toroida ….

Misalnya induktor dengan jumlah lilitan 20. Penggunaan ferit juga disesuaikan dengan frekeunsi kerjanya. Pabrik pembuat biasanya dapat memberikan data kode material.besar relatif terhadap jumlah lilitan yang lebih sedikit serta dimensi induktor yang lebih kecil. berdiameter 1 cm dengan panjang 2 cm serta mengunakan inti ferit dengan m = 3000. Dapat diketahui nilai induktansinya adalah : L » 5. Berikut ini adalah beberapa contoh bahan ferit yang dipasar dikenal dengan kode nomer materialnya. data material ferit Sampai di sini kita sudah dapat menghitung nilai induktansi suatu induktor. Tabel I. dimensi dan permeability yang lebih detail.9 mH 19 . Karena beberapa ferit akan optimum jika bekerja pada selang frekuensi tertentu.

Umumnya dipasar tersedia berbagai macam jenis dan ukuran toroida. diameter lingkar luar. Indeks ini dihitung berdasarkan dimensi dan permeability ferit. Karena perlu diketahui nilai permeability bahan ferit. Jika datanya lengkap. Dengan data ini dapat dihitung jumlah lilitan yang diperlukan untuk mendapatkan nilai induktansi tertentu.Selain ferit yang berbentuk silinder ada juga ferit yang berbentuk toroida. Seperti contoh tabel AL berikut ini yang satuannya mH/100 lilitan. maka kita dapat menghitung nilai induktansi dengan menggunakan rumusrumus yang ada. Tetapi biasanya pabrikan hanya membuat daftar indeks induktansi (inductance index) AL. diameter lingkar dalam serta luas penampang toroida. Tabel AL Rumus untuk menghitung jumlah lilitan yang diperlukan untuk mendapatkan nilai induktansi yang diinginkan adalah : 20 .

Untuk pemakaian yang profesional di pasar dapat dijumpai kawat tembaga dengan standar AWG (American Wire Gauge). Karena bahan ferit yang demikian terbuat hanya dari bubuk besi (iron power). Misalnya ferit toroida FT5077 memiliki indeks AL = 1100.3mm. Bahan ferit tipe ini terbuat dari campuran bubuk besi dengan bubuk logam lain. 21 . AWG22 berdiameter 0. tetapi berfungsi juga sebagai pelapis atau isolator.Indeks AL ………. Biasanya pabrikan menjelaskan berapa nilai tegangan kerja untuk toroida tersebut. Sebenarnya lapisan ini bukan hanya sekedar warna yang membedakan permeability. merah. 1. Paling yang diperlukan hanya puluhan sentimeter saja. Contoh bahan ferit toroida di atas umumnya memiliki premeability yang kecil. Banyak juga ferit toroid dibuat dengan nilai permeability m yang besar.3. Misalnya abu-abu. Ada banyak kawat tembaga yang bisa digunakan. Misalnya kawat tembaga AWG32 berdiameter kira-kira 0. Indeks AL umumnya sudah baku dibuat oleh pabrikan sesuai dengan dimensi dan permeability bahan feritnya. Standar ini tergantung dari diameter kawat.8mm. Permeability bahan bisa juga diketahui dengan kode warna tertentu. hitam. maka dari table diketahui nilai AL = 100. Biasanya yang digunakan adalah kawat tembaga tunggal dan memiliki isolasi.4 Kawat tembaga Untuk membuat induktor biasanya tidak diperlukan kawat tembaga yang sangat panjang. resistansi dan sebagainya. Maka untuk mendapatkan induktor sebesar 4mH diperlukan lilitan sebanyak : N » 20 lilitan Rumus ini sebenarnya diperoleh dari rumus dasar perhitungan induktansi dimana induktansi L berbanding lurus dengan kuadrat jumlah lilitan N2.7mm ataupun AWG20 yang berdiameter kira-kira 0. biru atau kuning. sehingga efek resistansi bahan kawat tembaga dapat diabaikan. (9) Misalnya digunakan ferit toroida T50-1.

Baterai atau accu adalah sumber catu daya DC yang paling baik. Sumber catu daya yang besar adalah sumber bolak-balik AC (alternating current) dari pembangkit tenaga listrik. dioda berperan untuk hanya meneruskan tegangan positif ke beban RL. Ini yang disebut dengan penyearah setengah gelombang (half wave). Untuk itu diperlukan suatu perangkat catu daya yang dapat mengubah arus AC menjadi DC. Transformator diperlukan untuk menurunkan tegangan AC dari jala-jala listrik pada kumparan primernya menjadi tegangan AC yang lebih kecil pada kumparan sekundernya. Namun untuk aplikasi yang membutuhkan catu daya lebih besar.2 Penyearah RECTIFIER) Prinsip penyearah (rectifier) yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar II. Gambar II.1 Prinsip kerja catu daya linear Perangkat elektronika mestinya dicatu oleh suplai arus searah DC (direct current) yang stabil agar dapat dengan baik. Pada tulisan kali ini disajikan prinsip rangkaian catu daya (power supply) linier mulai dari rangkaian penyearah yang paling sederhana sampai pada catu daya yang ter-regulasi. II.1 berikut ini.1 Rangkaian penyearah sederhana Pada rangkaian ini. sumber dari baterai tidak cukup.Bab II Catu Daya II. Untuk 22 .

mendapatkan penyearah gelombang penuh (full wave) diperlukan transformator dengan center tap (CT) seperti pada gambar II. bentuk tegangan seperti ini sudah cukup memadai. Walaupun terlihat di sini tegangan ripple dari kedua rangkaian di atas masih sangat besar.3 adalah rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor C yang paralel terhadap beban R.2. Untuk beberapa aplikasi seperti misalnya untuk men-catu motor dc yang kecil atau lampu pijar dc. dimana pada keadaan ini 23 ..3 Rangkaian penyearah setengah gelombang dengah filter C Gambar II.2 Rangkaian penyearah gelombang penuh Tegangan positif phasa yang pertama diteruskan oleh D1 sedangkan phasa yang berikutnya dilewatkan melalui D2 ke beban R1 dengan CT transformator sebagai common ground. Gambar II. Ternyata dengan filter ini bentuk gelombang tegangan keluarnya bisa menjadi rata. Gambar II. Garis b-c kira-kira adalah garis lurus dengan kemiringan tertentu. Gambar II. Dengan demikian beban R1 mendapat suplai tegangan gelombang penuh seperti gambar di atas.4 menunjukkan bentuk keluaran tegangan DC dari rangkaian penyearah setengah gelombang dengan filter kapasitor.

(1) dan tegangan dc ke beban adalah Vdc = VM + Vr/2 . Gambar II.. Tegangan yang keluar akan berbentuk gigi gergaji dengan tegangan ripple yang besarnya adalah : Vr = VM -VL …. Namun jika beban arus semakin besar. VL adalah tegangan discharge atau pengosongan kapasitor C.....arus untuk beban R1 dicatu oleh tegangan kapasitor... (3) Jika persamaan (3) disubsitusi ke rumus (1). dapat ditulis : e -T/RC » 1 ..... (4) Jika T << RC. Sebenarnya garis b-c bukanlah garis lurus tetapi eksponensial sesuai dengan sifat pengosongan kapasitor. (2) Rangkaian penyearah yang baik adalah rangkaian yang memiliki tegangan ripple paling kecil.........T/RC ..4 Bentuk gelombang dengan filter kapasitor Kemiringan kurva b-c tergantung dari besar arus I yang mengalir ke beban R.... (5) 24 .. kemiringan kurva b-c akan semakin tajam..e -T/RC) .. sehingga dapat ditulis : VL = VM e -T/RC . maka diperoleh : Vr = VM (1 .. Jika arus I = 0 (tidak ada beban) maka kurva b-c akan membentuk garis horizontal..

Bisa juga dengan menggunakan transformator yang tanpa CT.. Sebaliknya jika kapasitansi C semakin besar.5 A.. Perhitungan ini efektif untuk mendapatkan nilai tengangan ripple yang diinginkan. tetapi dengan merangkai 4 dioda seperti pada gambar II. sehingga dengan ini terlihat hubungan antara beban arus I dan nilai kapasitor C terhadap tegangan ripple Vr. Penyearah gelombang penuh dengan filter C dapat dibuat dengan menambahkan kapasitor pada rangkaian gambar 2. tentu saja fekuensi gelombangnya dua kali lipat.5 berikut ini. Ini berlaku untuk penyearah setengah gelombang. maka T = Tp = 1/f = 1/50 = 0.02 det. (6) VM/R tidak lain adalah beban I.. Jika frekuensi jala-jala listrik 50Hz.sehingga jika ini disubsitusi ke rumus (4) dapat diperoleh persamaan yang lebih sederhana : Vr = VM(T/RC) . Untuk penyearah gelombang penuh. Vr = I T/C . maka tegangan ripple akan semakin besar..5 Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan filter C Sebagai contoh.. Untuk penyederhanaan biasanya dianggap T=Tp. jika arus beban I semakin besar. anda mendisain rangkaian penyearah gelombang penuh dari catu jalajala listrik 220V/50Hz untuk mensuplai beban sebesar 0. Berapa nilai kapasitor yang 25 . Gambar II. yaitu periode satu gelombang sinus dari jala-jala listrik yang frekuensinya 50Hz atau 60Hz.01 det. (7) Rumus ini mengatakan. tegangan ripple akan semakin kecil. sehingga T = 1/2 Tp = 0.

Untuk kapasitor yang sebesar ini banyak tersedia tipe elco yang memiliki polaritas dan tegangan kerja maksimum tertentu. Rangkaian regulator yang paling sederhana ditunjukkan pada gambar II. apakah tegangan ripple ini cukup mengganggu. jika arus semakin besar ternyata tegangan dc keluarnya juga ikut turun.75 Vpp. Tegangan kerja kapasitor yang digunakan harus lebih besar dari tegangan keluaran catu daya. Jika rumus (7) dibolak-balik maka diperoleh.01)/0. namun ada masalah stabilitas.T/Vr = (0. sehingga diperlukan komponen aktif yang dapat meregulasi tegangan keluaran ini menjadi stabil. Anda barangkalai sekarang paham mengapa rangkaian audio yang anda buat mendengung. maka tegangan outputnya juga akan naik/turun. Untuk beberapa aplikasi perubahan tegangan ini cukup mengganggu.diperlukan sehingga rangkaian ini memiliki tegangan ripple yang tidak lebih dari 0.5) (0.3 REGULATOR Rangkaian penyearah sudah cukup bagus jika tegangan ripple-nya kecil. sehingga menghasilkan tegangan output yang sama dengan tegangan zener atau Vout = Vz. tentu bisa dengan memparalel dua atau tiga buah kapasitor. 26 . Jika dipasaran tidak tersedia kapasitor yang demikian besar. Seperti rangkaian penyearah di atas. coba periksa kembali rangkaian penyearah catu daya yang anda buat. C = I. zener bekerja pada daerah breakdown. II.75 = 6600 uF. Namun rangkaian ini hanya bermanfaat jika arus beban tidak lebih dari 50mA.6 Pada rangkaian ini. Jika tegangan PLN naik/turun.

Prinsip utama regulator seri seperti rangkaian pada gambar 7 berikut ini. salah satu ciri khasnya adalah komponen regulator yang paralel dengan beban.. Pada rangkaian ini tegangan keluarannya adalah : Vout = VZ + VBE . rentan terhadap short-circuit..Gambar II..2 . ada juga yang disebut dengan regulator seri. Perhatikan jika Vout terhubung singkat (short-circuit) maka arusnya tetap I = Vin/R1.. Besar arus ini dapat diketahui dari datasheet yang besarnya lebih kurang 20 mA....6 Regulator zener Prinsip rangkaian catu daya yang seperti ini disebut shunt regulator.. (8) VBE adalah tegangan base-emitor dari transistor Q1 yang besarnya antara 0. Ciri lain dari shunt regulator adalah. dapat dihitung besar tahanan R2 yang diperlukan adalah : R2 = (Vin ....... 27 ...0.Vz)/Iz .7 volt tergantung dari jenis transistor yang digunakan...(9) Iz adalah arus minimum yang diperlukan oleh dioda zener untuk mencapai tegangan breakdown zener tersebut. Disamping regulator shunt. Dengan mengabaikan arus IB yang mengalir pada base transistor.

Dimana seperti yang diketahui. (10) Jika tegangan keluar Vout menaik.. tentu perhitungan arus base IB pada rangkaian di atas tidak bisa diabaikan lagi... arus base yang kecil bisa menghasilkan arus IC yang lebih besar. misalnya karena suplai arus ke beban meningkat. Dengan transistor darlington. Untuk keperluan itu.7 Regulator zener follower Jika diperlukan catu arus yang lebih besar.. seperti pada rangkaian gambar II.. yaitu : Vin(-) = (R2/(R1+R2)) Vout . besar arus IC akan berbanding lurus terhadap arus IB atau dirumskan dengan IC = bIB. Dioda zener disini tidak langsung memberi umpan ke transistor Q. melainkan sebagai tegangan referensi bagi OpAmp IC1. Teknik regulasi yang lebih baik lagi adalah dengan menggunakan Op-Amp untuk men-drive transistor Q. Sehingga pada setiap saat Op-amp menjaga kestabilan : 28 . Op-amp akan menjaga kestabilan di titik referensi Vz dengan memberi arus IB ke transistor Q1. Demikian sebaliknya jika tegangan keluar Vout menurun.Gambar II. maka tegangan Vin(-) juga akan menaik sampai tegangan ini sama dengan tegangan referensi Vz. Umpan balik pada pin negatif Op-amp adalah cuplikan dari tegangan keluar regulator. transistor Q1 yang dipakai bisa diganti dengan tansistor darlington yang biasanya memiliki nilai b yang cukup besar.8..

Komponen ini hanya tiga pin dan dengan menambah beberapa komponen saja sudah dapat menjadi rangkaian catu daya yang ter-regulasi dengan baik. Sekarang mestinya tidak perlu susah payah lagi mencari op-amp. Saat ini sudah banyak dikenal komponen seri 78XX sebagai regulator tegangan tetap positif dan seri 79XX yang merupakan regulator untuk tegangan tetap negatif....... (11) Gambar II..Vin(-) = Vz .... transistor dan komponen lainnya untuk merealisasikan rangkaian regulator seperti di atas. Bahkan komponen ini biasanya sudah dilengkapi dengan pembatas arus (current limiter) dan juga pembatas suhu (thermal shutdown).. (12) Pada rangkaian ini tegangan output dapat diatur dengan mengatur besar R1 dan R2. 29 .......8 regulator dengan Op-amp Dengan mengabaikan tegangan VBE transistor Q1 dan mensubsitusi rumus (11) ke dalam rumus (10) maka diperoleh hubungan matematis : Vout = ( (R1+R2)/R2) Vz. Karena rangkaian semacam ini sudah dikemas menjadi satu IC regulator tegangan tetap..

Selain dari regulator tegangan tetap ada juga IC regulator yang tegangannya dapat diatur. Sedangkan seri 79XX misalnya adalah 7905 dan 7912 yang berturut-turut adalah regulator tegangan negatif 5 dan 12 volt. 7812 regulator tegangan 12 volt dan seterusnya. komponen seperti ini maksimum bisa dilewati arus mencapai 1 A. sehingga tegangan keluaran dapat diatur melalui resistor eksternal tersebut. Biasanya perbedaan tegangan Vin terhadap Vout yang direkomendasikan ada di dalam datasheet komponen tersebut. tengangan input harus lebih besar dari tegangan output regulatornya. Bedanya resistor R1 dan R2 ada di luar IC.Gambar II.9 regulator dengan IC 78XX / 79XX Misalnya 7805 adalah regulator untuk mendapat tegangan 5 volt. Prinsipnya sama dengan regulator OP-amp yang dikemas dalam satu IC misalnya LM317 untuk regulator variable positif dan LM337 untuk regulator variable negatif. 30 . Hanya saja perlu diketahui supaya rangkaian regulator dengan IC tersebut bisa bekerja. Pemakaian heatshink (aluminium pendingin) dianjurkan jika komponen ini dipakai untuk men-catu arus yang besar. Di dalam datasheet.

misalnya. Bagian penting berikutnya adalah bagaimana caranya memberi arus bias yang tepat sehingga transistor dapat bekerja optimal.1 Arus bias Ada tiga cara yang umum untuk memberi arus bias pada transistor. prinsip kerja transistor adalah arus bias base-emiter yang kecil mengatur besar arus kolektor-emiter. Jika teorema tersebut diaplikasikan pada transistor.. Telah disinggung juga sedikit tentang arus bias yang memungkinkan elektron dan hole berdifusi antara kolektor dan emitor menerjang lapisan base yang tipis itu. III. III.BAB III Transistor Bipolar Pada tulisan tentang semikonduktor telah dijelaskan bagaimana sambungan NPN maupun PNP menjadi sebuah transistor. CC (Common Collector) dan CB (Common Base).. Tentu untuk aplikasi pengolahan sinyal frekuensi audio semestinya tidak menggunakan transistor power. yaitu rangkaian CE (Common Emitter). Sebagai rangkuman.(1) 31 . Dengan menganalisa rangkaian CE akan dapat diketahui beberapa parameter penting dan berguna terutama untuk memilih transistor yang tepat untuk aplikasi tertentu..2 Arus Emiter Dari hukum Kirchhoff diketahui bahwa jumlah arus yang masuk kesatu titik akan sama jumlahnya dengan arus yang keluar. maka hukum itu menjelaskan hubungan : IE = IC + IB .... Namun saat ini akan lebih detail dijelaskan bias transistor rangkaian CE..

Gambar III. maka dapat di nyatakan : IE = IC .....(2) Alpha (a) Pada tabel data transistor (databook) sering dijumpai spesikikasiadc (alpha dc) yang tidak lain adalah : adc = IC/IE .... Beta (b) Beta didefenisikan sebagai besar perbandingan antara arus kolektor dengan arus base..... b = IC/IB ..... Karena arus IB sangat kecil sekali atau disebutkan IB << IC... Karena besar arus kolektor umumnya hampir sama dengan besar arus emiter maka idealnya besaradc adalah = 1 (satu).... Namun umumnya transistor yang ada memilikiadc kurang lebih antara 0.....99.....95 sampai 0...(3) Defenisinya adalah perbandingan arus kolektor terhadap arus emitor..1 arus emitor Persamanaan (1) tersebut mengatakan arus emiter IE adalah jumlah dari arus kolektor IC dengan arus base IB.... (4) 32 .

1mA = 20 mA Dari rumusan ini lebih terlihat defenisi penguatan arus transistor. Dinamakan rangkaian CE. III. Gambar III. arus base yang kecil menjadi arus kolektor yang lebih besar. Parameter ini ada tertera di databook transistor dan sangat membantu para perancang rangkaian elektronika dalam merencanakan rangkaiannya.Dengan kata lain. maka berapakah arus bias base yang diperlukan. sebab titik ground atau titik tegangan 0 volt dihubungkan pada titik emiter.1mA adalah : IC = b IB = 200 x 0. Misalnya jika suatu transistor diketahui besarb=250 dan diinginkan arus kolektor sebesar 10 mA. yaitu sekali lagi.2 rangkaian CE Sekilas Tentang Notasi 33 . Tentu jawabannya sangat mudah yaitu : IB = IC/b = 10mA/250 = 40 uA Arus yang terjadi pada kolektor transistor yang memiliki b = 200 jika diberi arus bias base sebesar 0.3 Common Emitter (CE) Rangkaian CE adalah rangkain yang paling sering digunakan untuk berbagai aplikasi yang mengunakan transistor.b adalah parameter yang menunjukkan kemampuan penguatan arus (current gain) dari suatu transistor.

Karena memang telah diketahui bahwa junction base-emitor tidak lain adalah sebuah dioda. Jika hukum Ohm diterapkan pada loop base diketahui adalah : IB = (VBB .. yang disebut juga dengan tegangan jepit. Diantaranya adalah : VCE = tegangan jepit kolektor.VBE) / RB .Ada beberapa notasi yang sering digunakan untuk mununjukkan besar tegangan pada suatu titik maupun antar titik. Sehingga arus IB mulai aktif mengalir pada saat nilai VBE tertentu..4 Kurva Base Hubungan antara IB dan VBE tentu saja akan berupa kurva dioda.. VCC... Notasi dengan 1 subscript adalah untuk menunjukkan besar tegangan pada satu titik. Ada juga notasi dengan 2 subscript yang dipakai untuk menunjukkan besar tegangan antar 2 titik. III. VEE berturut-turut adalah besar sumber tegangan yang masuk ke titik base. Arus hanya akan mengalir jika tegangan antara base-emitor lebih besar dari VBE.emitor VBE = tegangan jepit base .. VB = tegangan base dan VE = tegangan emiter. 34 ..base Notasi seperti VBB. misalnya VC = tegangan kolektor. (5) VBE adalah tegangan jepit dioda junction base-emitor.. kolektor dan emitor.emitor VCB = tegangan jepit kolektor .

3 Kurva IB -VBE Besar VBE umumnya tercantum di dalam databook.7 volt untuk transistor silikon dan VBE = 0. Sampai disini akan sangat mudah mengetahui arus IB dan arus IC dari rangkaian berikut ini.VBE) / RB = (2V . Nilai ideal VBE = 0 volt. Gambar III. Katakanlah yang digunakan adalah transistor yang dibuat dari bahan silikon.0. Tetapi untuk penyerdehanaan umumnya diketahui VBE = 0.4 rangkaian-01 &mnbsp.Gambar III.3 volt untuk transistor germanium. IB = (VBB . maka arus kolektor adalah : 35 .7V) / 100 K = 13 uA Dengan b = 200. jika diketahui besar b = 200.

Satu hal lain yang menarik adalah bagaimana hubungan antara arus base IB.5 Kurva Kolektor Sekarang sudah diketahui konsep arus base dan arus kolektor. Pada gambar berikut telah diplot beberapa kurva kolektor arus IC terhadap VCE dimana arus IB dibuat konstan.5 Kurva kolektor Dari kurva ini terlihat ada beberapa region yang menunjukkan daerah kerja transistor. 36 . dimana arus IC konstans terhadap berapapun nilai VCE. III. Daerah kerja ini biasa juga disebut daerah linear (linear region). Dari kurva ini diperlihatkan bahwa arus IC hanya tergantung dari besar arus IB. Dengan mengunakan rangkaian-01. kemudian daerah aktif dan seterusnya daerah breakdown. lalu daerah cut-off. tegangan VBB dan VCC dapat diatur untuk memperoleh plot garis-garis kurva kolektor. arus kolektor IC dan tegangan kolektor-emiter VCE. Gambar III. Pertama adalah daerah saturasi.6 mA III.IC = bIB = 200 x 13uA = 2.6 Daerah Aktif Daerah kerja transistor yang normal adalah pada daerah aktif.

.Jika hukum Kirchhoff mengenai tegangan dan arus diterapkan pada loop kolektor (rangkaian CE).7 volt (transistor silikon)..... sampai tegangan VCE tertentu tiba-tiba arus IC mulai konstan..IC ... (7) Rumus ini mengatakan jumlah dissipasi daya transistor adalah tegangan kolektoremitor dikali jumlah arus yang melewatinya.... maka dapat diperoleh hubungan : VCE = VCC . yaitu akibat dari efek dioda kolektor-base yang mana tegangan VCE belum mencukupi untuk dapat menyebabkan aliran elektron.. daerah kerja transistor berada pada daerah cut-off yaitu dari keadaan saturasi (OFF) lalu menjadi aktif (ON). Perubahan ini dipakai pada system digital yang hanya mengenal angka biner 1 dan 0 yang tidak lain dapat direpresentasikan oleh status transistor OFF dan ON.. Sebab jika transistor bekerja melebihi kapasitas daya PDmax. III..8 Daerah Cut-Off Jika kemudian tegangan VCC dinaikkan perlahan-lahan.ICRC .. Pada saat perubahan ini........7 Daerah Saturasi Daerah saturasi adalah mulai dari VCE = 0 volt sampai kira-kira 0. Dissipasi daya ini berupa panas yang menyebabkan naiknya temperatur transistor. Spesifikasi ini menunjukkan temperatur kerja maksimum yang diperbolehkan agar transistor masih bekerja normal. Umumnya untuk transistor power sangat perlu untuk mengetahui spesifikasi PDmax. III... maka transistor dapat rusak atau terbakar... 37 . (6) Dapat dihitung dissipasi daya transistor adalah : PD = VCE..

VLED .VCE) / IC = (5 . Untuk berbagai jenis transistor nilai tegangan VCEmax yang 38 . Tegangan VCE pada saat cut-off idealnya = 0.Gambar III.2. karena akan dapat merusak transistor tersebut.4 . Lalu pertanyaannya adalah. Transistor pada daerah ini disebut berada pada daerah breakdown.0)V / 20 mA = 2. RL = (VCC . arus IC menanjak naik dengan cepat.6V / 20 mA = 130 Ohm III. dan aproksimasi ini sudah cukup untuk rangkaian ini.9 Daerah Breakdown Dari kurva kolektor. IC = bIB = 50 x 400 uA = 20 mA Arus sebesar ini cukup untuk menyalakan LED pada saat transistor cut-off.4 volt. Penyalaan LED diatur oleh sebuah gerbang logika (logic gate) dengan arus output high = 400 uA dan diketahui tegangan forward LED. terlihat jika tegangan VCE lebih dari 40V. VLED = 2. transistor yang digunakan adalah transistor dengan b = 50.6 Rangkaian driver LED Misalkan pada rangkaian driver LED di atas. berapakah seharusnya resistansi RL yang dipakai. Seharusnya transistor tidak boleh bekerja pada daerah ini.

10 Datasheet transistor Sebelumnya telah disinggung beberapa spesifikasi transistor... dengan meyebutkan h FE sebagai bdc untuk mengatakan penguatan arus...... Sering juga dicantumkan di datasheet keterangan lain tentang arus ICmax VCBmax dan VEBmax.. III. bdc = hFE . b atau hFE Pada system analisa rangkaian dikenal juga parameter h. Dengan demikian jika transistor dilengkapi dengan heatshink. Sedangkan TC adalah temperature cashing transistor....diperbolehkan sebelum breakdown bervariasi. maka transistor tersebut dapat bekerja dengan kemampuan dissipasi daya yang lebih besar..5W TC = 25o TA adalah temperature ambient yaitu suhu kamar... Ada juga PDmax pada TA = 25o dan PDmax pada TC = 25o.. Misalnya pada transistor 2N3904 dicantumkan data-data seperti : VCBmax = 60V VCEOmax = 40V VEBmax = 6 V ICmax = 200 mAdc PDmax = 625 mW TA = 25o PDmax = 1.. (8) 39 . seperti tegangan VCEmax dan PD max.. VCEmax pada databook transistor selalu dicantumkan juga..

40 .Sama seperti pencantuman nilai bdc. di datasheet umumnya dicantumkan nilai hFE minimum (hFE min ) dan nilai maksimunya (hFE max).

perancang. T. efisiensi juga mesti diperhatikan.BAB IV Klasifikasi Penguat Audio Sudah menjadi suatu hal yang lumrah jika seseorang selalu mencari sesuatu yang lebih baik. sehingga bentuk sinyal keluarannya menjadi cacat. C. Efisiensi yang dimaksud adalah efisiensi dari penguat itu yang dinyatakan dengan besaran persentasi dari power output dibandingkan dengan power input. AB.1 Fidelitas dan Efisiensi Penguat audio (amplifier) secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan sinyal input. Di sisi lain. Sistem penguat dikatakan memiliki tingkat efisiensi tinggi (100 %) jika tidak ada rugi-rugi pada proses penguatannya yang terbuang menjadi panas. jika sistem tersebut mampu menghasilkan sinyal keluaran yang bentuknya persis sama dengan sinyal input. B. G. Tulisan berikut membahas secara singkat apa yang menjadi ciri dan konsep dari sistem power amplifier (PA) tersebut. IV. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah. Sistem penguat dikatakan memiliki fidelitas yang tinggi (high fidelity). Penguat tipe kelas A dibuat dengan mengatur arus bias yang sesuai di titik 41 . Tak terkecuali di bidang rancang bangun penguat amplifier. peminat atau insinyur elektronika tak pernah berhenti mencari berbagai macam konsep yang lebih baik. sinyal input di-replika (copied) dan kemudian di reka kembali (re-produced) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Ada beberapa jenis penguat audio yang dikategorikan antara lain sebagai penguat class A. Hanya level tegangan atau amplituda saja yang telah diperbesar dan dikuatkan. Ada kalanya sinyal input dalam prosesnya kemudian terdistorsi karena berbagai sebab. D. IV.2 PA kelas A Contoh dari penguat class A adalah adalah rangkaian dasar common emiter (CE) transistor. H dan beberapa tipe lainnya yang belum disebut di sini. Dari sinilah muncul istilah fidelitas (fidelity) yang berarti seberapa mirip bentuk sinyal keluaran hasil replika terhadap sinyal masukan.

tertentu yang ada pada garis bebannya. Sedangkan resistor Ra dan Rb dipasang untuk menentukan arus bias. Pembaca dapat menentukan sendiri besar resistor-resistor pada rangkaian tersebut dengan pertama menetapkan berapa besar arus Ib yang memotong titik Q.1 Rangkaian dasar kelas A Garis beban pada penguat ini ditentukan oleh resistor Rc dan Re dari rumus VCC = VCE + IcRc + IeRe. Jika Ie = Ic maka dapat disederhanakan menjadi VCC = VCE + Ic (Rc+Re). Gambar IV. Selanjutnya pembaca dapat menggambar garis beban rangkaian ini dari rumus tersebut. Sedemikian rupa sehingga titik Q ini berada tepat di tengah garis beban kurva VCE-IC dari rangkaian penguat tersebut dan sebut saja titik ini titik A. Gambar berikut adalah contoh rangkaian common emitor dengan transistor NPN Q1. 42 .

Nilai re` dapat dihitung dari rumus re` = hfe/hie yang datanya juga ada di datasheet transistor.Gambar IV. Dengan cara ini rangkaian gambar1dapat dirangkai menjadi seperti gambar-3. Resistor Ra dan Rc dihubungkan ke ground dan semua kapasitor dihubung singkat. Pembaca dapat mencari lebih lanjut literatur yang membahas penguatan transistor untuk mengetahui bagaimana perhitungan nilai penguatan transistor secara detail. RL adalah speaker 8 Ohm) dan re` adalah resistansi penguatan transitor. Gambar IV. Penguatan didefenisikan dengan Vout/Vin = rc / re`.2 Garis beban dan titik Q kelas A Besar arus Ib biasanya tercantum pada datasheet transistor yang digunakan. Analisa rangkaian AC adalah dengan menghubung singkat setiap komponen kapasitor C dan secara imajiner menyambungkan VCC ke ground. 43 .3 Rangkaian imajimer analisa ac kelas A Dengan adanya kapasitor Ce. Besar penguatan sinyal AC dapat dihitung dengan teori analisa rangkaian sinyal AC. nilai Re pada analisa sinyal AC menjadi tidak berarti. dimana rc adalah resistansi Rc paralel dengan beban RL (pada penguat akhir. Gambar-4 menunjukkan ilustrasi penguatan sinyal input serta proyeksinya menjadi sinyal output terhadap garis kurva x-y rumus penguatan vout = (rc/re) Vin.

Namun penguat kelas A ini memiliki efisiensi yang rendah kira-kira hanya 25% .4 Kurva penguatan kelas A Ciri khas dari penguat kelas A. Karena ini juga transistor penguat kelas A perlu ditambah dengan pendingin ekstra seperti heatsink yang lebih besar.Gambar IV. Ini tidak lain karena titik Q yang ada pada titik A.50%.3 PA kelas B Panas yang berlebih menjadi masalah tersendiri pada penguat kelas A. seluruh sinyal keluarannya bekerja pada daerah aktif. Asalkan sinyal masih bekerja di daerah aktif. Karena letak titik yang demikian. IV. bentuk sinyal keluarannya akan sama persis dengan sinyal input. sehingga walaupun tidak ada sinyal input (atau ketika sinyal input = 0 Vac) transistor tetap bekerja pada daerah aktif dengan arus bias konstan. maka transistor hanya bekerja aktif pada satu bagian 44 . Penguat tipe class A disebut sebagai penguat yang memiliki tingkat fidelitas yang tinggi. Maka dibuatlah penguat kelas B dengan titik Q yang digeser ke titik B (pada gambar-5). Titik B adalah satu titik pada garis beban dimana titik ini berpotongan dengan garis arus Ib = 0. Transistor selalu aktif (ON) sehingga sebagian besar dari sumber catu daya terbuang menjadi panas.

Penguat kelas B lebih efisien dibanding dengan kelas A. Rangkaian dasar PA kelas B adalah seperti pada gambar-6.5 Titik Q penguat A.phase gelombang saja. maka transistor Q1 aktif pada 50 % siklus pertama (phase positif 0o-180o) dan selanjutnya giliran transistor Q2 aktif pada siklus 50 % berikutnya (phase negatif 180o – 360o). Jika sinyalnya berupa gelombang sinus. AB dan B Karena kedua transistor ini bekerja bergantian. Oleh sebab itu penguat kelas B selalu dibuat dengan 2 buah transistor Q1 (NPN) dan Q2 (PNP). maka penguat kelas B sering dinamakan sebagai penguat Push-Pull. Gambar IV. 45 . sebab jika tidak ada sinyal input ( v in = 0 volt) maka arus bias Ib juga = 0 dan praktis membuat kedua trasistor dalam keadaan OFF.

salah satu cara mengatasi masalah cross-over adalah dengan menambah filter cross-over (filter pasif L dan C) pada masukan speaker. Namun bukan berarti masalah sudah selesai. Ini yang menyebabkan masalah cross-over pada saat transisi dari transistor Q1 menjadi transistor Q2 yang bergantian menjadi aktif. Gambar-7 menunjukkan masalah cross-over ini yang penyebabnya adalah adanya dead zone transistor Q1 dan Q2 pada saat transisi.6 Rangkaian dasar penguat kelas B Efisiensi penguat kelas B kira-kira sebesar 75%.Gambar IV. Pada penguat akhir.7 volt yang menyebabkan transistor masih dalam keadaan OFF walaupun arus Ib telah lebih besar beberapa mA dari 0. sebab transistor memiliki ke-tidak ideal-an. Pada kenyataanya ada tegangan jepit Vbe kira-kira sebesar 0. 46 .

Pada saat itu.7 Kurva penguatan kelas B IV.Gambar IV. Ini tujuannya tidak lain adalah agar pada saat transisi sinyal dari phase positif ke phase negatif dan sebaliknya. Penguat kelas AB merupakan kompromi antara efesiensi (sekitar 50% .8 Overlaping sinyal keluaran penguat kelas AB 47 .75%) dengan mempertahankan fidelitas sinyal keluaran.4 PA Kelas AB Cara lain untuk mengatasi cross-over adalah dengan menggeser sedikit titik Q pada garis beban dari titik B ke titik AB (gambar-5). terjadi overlap diantara transistor Q1 dan Q2. Gambar IV. transistor Q1 masih aktif sementara transistor Q2 mulai aktif dan demikian juga pada phase sebaliknya.

Lalu tentukan arus base dan lihat relasinya dengan arus Ic dan Ie sehingga dapat dihitung relasiny dengan tegangan jepit R2 dari rumus VR2 = 2x0. R2 dan R3 dengan rumus VR2 = (2VCC) R2/(R1+R2+R3). Maka 48 . Masalah ini disebut dengan gumming. Penguat kelas AB ternyata punya masalah dengan teknik ini.9 Rangkaian dasar penguat kelas AB Untuk menghindari masalah gumming ini. sebab akan terjadi peng-gemukan sinyal pada kedua transistornya aktif ketika saat transisi. Tegangan jepit pada R2 dihitung dari pembagi tegangan R1.7 + Ie(Re1 + Re2). Gambar IV. Caranya adalah dengan membuat salah satu transistornya bekerja pada kelas AB dan satu lainnya bekerja pada kelas B. Pembaca dapat menentukan berapa nilai R2 ini untuk memberikan arus bias tertentu bagi kedua transistor.Ada beberapa teknik yang sering dipakai untuk menggeser titik Q sedikit di atas daerah cut-off. Resistor R 2 di sini berfungsi untuk memberi tegangan jepit antara base transistor Q1 dan Q2. Maka dibuatlah teknik yang hanya mengaktifkan salah satu transistor saja pada saat transisi. ternyata sang insinyur (yang mungkin saja bukan seorang insinyur) tidak kehilangan akal. Teknik ini bisa dengan memberi bias konstan pada salah satu transistornya yang bekerja pada kelas AB (biasanya selalu yang PNP). Salah satu contohnya adalah seperti gambar-9 berikut ini. Caranya dengan menganjal base transistor tersebut menggunakan deretan dioda atau susunan satu transistor aktif.

Sisa sinyalnya bisa direplika oleh rangkaian resonansi L dan C. Transistor penguat kelas C bekerja aktif hanya pada phase positif saja. Karena penguat kelas AB terlanjur memiliki konotasi lebih baik dari kelas A dan B. rangkaian penguat tuner RF dan sebagainya. karena transistor memang sengaja dibuat bekerja pada daerah saturasi.kadang penguat seperti ini disebut juga dengan penguat kelas AB plus B atau bisa saja diklaim sebagai kelas AB saja atau kelas B karena dasarnya adalah PA kelas B. Penyebutan ini tergantung dari bagaimana produk amplifier anda mau diiklankan.5 PA kelas C Kalau penguat kelas B perlu 2 transistor untuk bekerja dengan baik. Ada beberapa aplikasi yang memang hanya memerlukan 1 phase positif saja. maka ada penguat yang disebut kelas C yang hanya perlu 1 transistor. bahkan jika perlu cukup sempit hanya pada puncak-puncaknya saja dikuatkan. Tipikal dari rangkaian penguat kelas C adalah seperti pada rangkaian berikut ini.10 Rangkaian dasar penguat kelas C Rangkaian ini juga tidak perlu dibuatkan bias. Namun yang penting adalah dengan teknik-teknik ini tujuan untuk mendapatkan efisiensi dan fidelitas yang lebih baik dapat terpenuhi IV. Contohnya adalah pendeteksi dan penguat frekuensi pilot. Rangkaian L C pada rangkaian tersebut akan berresonansi dan ikut berperan penting dalam me-replika kembali sinyal input menjadi 49 . Gambar IV.

sinyal PWM men-drive transistor switching ON dan OFF sesuai dengan lebar pulsanya.sinyal output dengan frekuensi yang sama. Pada tingkat akhir. Paling akhir diperlukan filter untuk meningkatkan fidelitas. Transistor switching yang digunakan biasanya adalah transistor jenis FET.6 PA kelas D Penguat kelas D menggunakan teknik PWM (pulse width modulation). Teknik sampling pada sistem penguat kelas D memerlukan sebuah generator gelombang segitiga dan komparator untuk menghasilkan sinyal PWM yang proporsional terhadap amplituda sinyal input. dimana lebar dari pulsa ini proporsioal terhadap amplituda sinyal input. Rangkaian ini jika diberi umpanbalik dapat menjadi rangkaian osilator RF yang sering digunakan pada pemancar. IV. namun tingkat fidelitasnya memang lebih rendah. Gambar IV. Konsep penguat kelas D ditunjukkan pada gambar-11.11 Konsep penguat kelas D 50 . Penguat kelas C memiliki efisiensi yang tinggi bahkan sampai 100%. Tetapi sebenarnya fidelitas yang tinggi bukan menjadi tujuan dari penguat jenis ini. Pola sinyal PWM hasil dari teknik sampling ini seperti digambarkan pada gambar-12.

Sebenarnya bukanlah persis demikian. IV. penguat kelas E banyak diaplikasikan pada peralatan transmisi mobile semisal telepon genggam. Secara kebetulan notasi D dapat diartikan menjadi Digital. penguat kelas E memerlukan rangkaian resonansi L/C dengan transistor yang hanya bekerja kurang dari setengah duty cycle. sebab proses digital mestinya mengandung proses manipulasi sederetan bit-bit yang pada akhirnya ada proses konversi digital ke analog (DAC) atau ke PWM. penguat ini menjadi efisien dan cocok untuk aplikasi yang memerlukan drive arus yang besar namun dengan arus input yang sangat kecil. Dengan struktur yang mirip seperti penguat kelas C. 51 . Kalaupun mau disebut digital. Bedanya. transistor bekerja sebagai switching transistor seperti pada penguat kelas D.7 PA kelas E Penguat kelas E pertama kali dipublikasikan oleh pasangan ayah dan anak Nathan D dan Alan D Sokal tahun 1972. Bahkan dengan level arus dan tegangan logik pun sudah bisa membuat transitor switching tersebut bekerja. transistor kelas C bekerja di daerah aktif (linier). Sedangkan pada penguat kelas E. Karena dikenal efisien dan dapat dibuat dalam satu chip IC serta dengan disipasi panas yang relatif kecil. penguat kelas D adalah penguat digital 1 bit (on atau off saja).12 Ilustrasi modulasi PWM penguat kelas D Beberapa produsen pembuat PA meng-klaim penguat kelas D produksinya sebagai penguat digital. Di sini antena adalah bagian dari rangkaian resonansinya. Karena menggunakan transistor jenis FET (MOSFET/CMOS). Biasanya transistor yang digunakan adalah transistor jenis FET.Gambar IV.

Tripath Technology membuat desain digital amplifier dengan metode yang mereka namakan Digital Power Processing (DPP). tegangan supply hanya ada satu pasang yang sering dinotasikan sebagai +VCC dan –VEE misalnya +12V dan –12V (atau ditulis dengan +/-12volt). Kemudian jika diperlukan untuk men-drive suara yang keras. Pada penguat kelas D. tegangan supply-nya dibuat bertingkat.8 PA kelas T Penguat kelas T bisa jadi disebut sebagai penguat digital. tegangan supply dapat di-switch ke pasangan tegangan supply maksimum +/-70 volt. proses sebelumnya adalah manipulasi bit-bit digital. yang aktif adalah pasangan tegangan supply +/-20 volt. IV. proses dibelakangnnya adalah proses analog. Mungkin terinspirasi dari PA kelas D. Sebagai contoh. Terutama untuk aplikasi yang membutuhkan power dengan tegangan yang tinggi.9 PA kelas G Kelas G tergolong penguat analog yang tujuannya untuk memperbaiki efesiensi dari penguat kelas B/AB. Sedangkan pada penguat kelas T. Pada kelas B/AB. Misalnya ada tegangan supply +/-70 volt. Pada penguat kelas G. Di dalamnya ada audio prosesor dengan proses umpanbalik yang juga digital untuk koreksi timing delay dan phase. agar efisien tegangan supplynya ada 2 atau 3 pasang yang berbeda.IV. untuk alunan suara yang lembut dan rendah. +/-50 volt dan +/-20 volt. 52 . rangkaian akhirnya menggunakan konsep modulasi PWM dengan switching transistor serta filter. Konsep ranagkaian PA kelas G seperti pada gambar-13.

13 Konsep penguat kelas G dengan tegangan supply yang bertingkat IV. Tegangan supply mengikuti tegangan output dan lebih tinggi hanya beberapa volt. 53 .Gambar IV. Penguat kelas H ini cukup kompleks. namun akan menjadi sangat efisien. Hanya saja pada penguat kelas H. tinggi rendahnya tegangan supply di-desain agar lebih linier tidak terbatas hanya ada 2 atau 3 tahap saja.10 PA kelas H Konsep penguat kelas H sama dengan penguat kelas G dengan tegangan supply yang dapat berubah sesuai kebutuhan.

Bab V Operational Amplifier
Karakteristik Op-Amp Kalau perlu mendesain sinyal level meter, histeresis pengatur suhu, osilator, pembangkit sinyal, penguat audio, penguat mic, filter aktif semisal tapis nada bass, mixer, konverter sinyal, integrator, differensiator, komparator dan sederet aplikasi lainnya, selalu pilihan yang mudah adalah dengan membolak-balik data komponen yang bernama op-amp. Komponen elektronika analog dalam kemasan IC (integrated circuits) ini memang adalah komponen serbaguna dan dipakai pada banyak aplikasi hingga sekarang. Hanya dengan menambah beberapa resitor dan potensiometer, dalam sekejap (atau dua kejap) sebuah pre-amp audio kelas B sudah dapat jadi dirangkai di atas sebuah proto-board. V.1 Penguat diferensial Op-amp dinamakan juga dengan penguat diferensial (differential amplifier). Sesuai dengan istilah ini, op-amp adalah komponen IC yang memiliki 2 input tegangan dan 1 output tegangan, dimana tegangan output-nya adalah proporsional terhadap perbedaan tegangan antara kedua inputnya itu. Penguat diferensial seperti yang ditunjukkan pada gambar-1 merupakan rangkaian dasar dari sebuah op-amp.

Gambar V.1 Penguat diferensial

54

Pada rangkaian yang demikian, persamaan pada titik Vout adalah Vout = A(v1-v2) dengan A adalah nilai penguatan dari penguat diferensial ini. Titik input v1 dikatakan sebagai input non-iverting, sebab tegangan vout satu phase dengan v1. Sedangkan sebaliknya titik v2 dikatakan input inverting sebab berlawanan phasa dengan tengangan vout. V.2 Diagram Op-amp Op-amp di dalamnya terdiri dari beberapa bagian, yang pertama adalah penguat diferensial, lalu ada tahap penguatan (gain), selanjutnya ada rangkaian penggeser level (level shifter) dan kemudian penguat akhir yang biasanya dibuat dengan penguat pushpull kelas B. Gambar-2(a) berikut menunjukkan diagram dari op-amp yang terdiri dari beberapa bagian tersebut.

Gambar V.2 (a) : Diagram blok Op-Amp

Gambar V.2 (b) : Diagram schematic simbol Op-Amp

55

Simbol op-amp adalah seperti pada gambar-2(b) dengan 2 input, non-inverting (+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc dan –Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc – ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar-2(b) adalah parameter umum dari sebuah opamp. Rin adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit (tak terhingga). R out adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol). Sedangkan AOL adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak terhingga. Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik. Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin sudah dibuat sejak tahun 1960an. Untuk tipe yang sama, tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan insial atau nama yang berbeda. Misalnya dikenal MC1741 dari motorola, LM741 buatan National Semiconductor, SN741 dari Texas Instrument dan lain sebagainya. Tergantung dari teknologi pembuatan dan desain IC-nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan op-amp lain. Tabel-1 menunjukkan beberapa parameter op-amp yang penting beserta nilai idealnya dan juga contoh real dari parameter LM714. Table V.1 Parameter op-amp yang penting

V.3 Penguatan Open-loop Op-amp idealnya memiliki penguatan open-loop (AOL) yang tak terhingga. Namun pada prakteknya op-amp semisal LM741 memiliki penguatan yang terhingga kira-kira 100.000 kali. Sebenarnya dengan penguatan yang sebesar ini, sistem penguatan op-amp

56

maka pilihlah opamp yang memiliki unity-gain frequency lebih tinggi.6 Parameter CMRR Ada satu parameter yang dinamakan CMRR (Commom Mode Rejection Ratio). Jika perlu merancang aplikasi pada frekeunsi tinggi. Op-amp ideal memiliki parameter slew-rate yang tak terhingga. maka sinyal output dapat berbentuk ekponensial. maka tegangan persamaan dari kedua input ini ikut juga dikuatkan. Parameter unity-gain frequency menjadi penting jika opamp digunakan untuk aplikasi dengan frekuensi tertentu. Parameter AOL biasanya adalah penguatan op-amp pada sinyal DC. Tetapi karena ketidak idealan op-amp. Karena ketidak-idealan op-amp. Sehingga jika input berupa sinyal kotak. Parameter CMRR diartikan sebagai kemampuan op-amp untuk menekan 57 . op-amp LM741 memiliki slew-rate sebesar 0. maka outputnya juga kotak. V.5 volt dalam waktu 1 us. Ini berarti penguatan op-amp akan menjadi 1 kali pada frekuensi 1 MHz. Op-amp dasarnya adalah penguat diferensial dan mestinya tegangan input yang dikuatkan hanyalah selisih tegangan antara input v1 (non-inverting) dengan input v2 (inverting). V. Parameter ini cukup penting untuk menunjukkan kinerja op-amp tersebut. Response penguatan op-amp menurun seiring dengan menaiknya frekuenci sinyal input.menjadi tidak stabil. Namun kapasitor ini menimbulkan kerugian yang menyebabkan response op-amp terhadap sinyal input menjadi lambat. Ini berarti perubahan output op-amp LM741 tidak bisa lebih cepat dari 0.5 Slew rate Di dalam op-amp kadang ditambahkan beberapa kapasitor untuk kompensasi dan mereduksi noise. Input diferensial yang amat kecil saja sudah dapat membuat outputnya menjadi saturasi. Op-amp LM741 misalnya memiliki unity-gain frequency sebesar 1 MHz. Pada bab berikutnya akan dibahas bagaimana umpan balik bisa membuat sistem penguatan op-amp menjadi stabil. V.4 Unity-gain frequency Op-amp ideal mestinya bisa bekerja pada frekuensi berapa saja mulai dari sinyal dc sampai frekuensi giga Herzt.5V/us. Sebagai contoh praktis.

penguatan tegangan ini (common mode) sekecil-kecilnya.7 Penutup bagian ke-satu LM714 termasuk jenis op-amp yang sering digunakan dan banyak dijumpai dipasaran. misalkan tegangan input v1 = 5.000 kali dibandingkan penguatan ACM (commom mode). Tipe lain seperti LM139/239/339 adalah opamp yang sering dipakai sebagai komparator. open colector output. Dengan kata lain. Ada juga opamp untuk aplikasi khusus seperti aplikasi frekuesi tinggi. Kalau CMRR-nya 30 dB. Contohnya op-amp dengan CMRR = 90 dB. Contoh lain misalnya TL072 dan keluarganya sering digunakan untuk penguat audio. Data karakteristik op-amp yang lengkap.05 volt dan tegangan v2 = 5 volt. current limmiter. Di pasaran ada banyak tipe op-amp. ya ada di datasheet 58 . Kalau diaplikasikan secara real. Pembaca dapat mengerti dengan CMRR yang makin besar maka op-amp diharapkan akan dapat menekan penguatan sinyal yang tidak diinginkan (common mode) sekecil-kecilnya. ini artinya penguatan ADM (differential mode) adalah kira-kira 30. maka output op-amp mestinya nol. Saat ini banyak op-amp yang dilengkapi dengan kemampuan seperti current sensing.05 volt dan tegangan persamaan-nya (common mode) adalah 5 volt. maka artinya perbandingannya kira-kira hanya 30 kali. rangkaian kompensasi temperatur dan lainnya. op-amp dengan CMRR yang semakin besar akan semakin baik. V. maka dalam hal ini tegangan diferensialnya (differential mode) = 0. Cara yang paling baik pada saat mendesain aplikasi dengan op-amp adalah dengan melihat dulu karakteristik op-amp tersebut. Jika kedua pin input dihubung singkat dan diberi tegangan. high power output dan lain sebagainya. CMRR didefenisikan dengan rumus CMRR = ADM/ACM yang dinyatakan dengan satuan dB.

59 . Pada tulisan berikut dipaparkan tipe osilator yang paling sederhana yang dinamakan osilator relaksasi (relaxation oscillator). Ini dikenal dengan histeresis. Kita sebut saja titik masukan ini titik referensi positif atau dengan notasi +vref. Tengangan umpanbalik ini diumpankan kembali pada masukan referensi positif komparator LM393. Kita sebut tegangan ini titik UTP (upper trip point). maka tegangan referensi positif pada saat ini adalah +vref = -BVsat dan kita namakan tegangan tersebut titik LTP (lower trip point). Jika tegangan keluaran op-amp ada pada titik tertinggi (+Vsat) maka tengangan referensi op-amp pada saat ini adalah +vref = +BVsat. VI. Sebaliknya jika tegangan keluaran komparator ada pada titik terendah (-Vsat). Karena tegangan output komparator op-amp bisa mecapai titik tertinggi (+Vsat) dan bisa juga ada pada titik terendah (-Vsat). B diketahui adalah porsi tegangan umpanbalik yaitu B = (R1/R2+R1).Bab VI Osilator Relaksasi Telah dimaklumi. Osilator pembangkit gelombang ini dibuat dengan op-amp komparator misalnya LM393. umpanbalik positif dapat menimbulkan osilasi pada keluaran sistem loop tertutup. Bagian pertama adalah rangkaian umpanbalik (feedback) positif yang terdiri dari resistor R1 dan R2.1 Histeresis umpanbalik positif Rangkaian VI.1 berikut adalah rangkaian osilator dengan satu komparator. Kedua resistor ini tidak lain merupakan pembagi tegangan yang meng-umpanbalik-kan sebagian porsi dari tegangan output komparator. Mari kita analisa rangkaian ini bagian perbagian. maka tegangan titik referensi ini juga akan berubah-ubah.

Tegangan -vref akan berbentuk eksponensial sesuai dengan sifat pengisian kapasitor. tegangan akan menaik secara ekponensial.2 Osilasi relaksasi Bagian lain dari rangkaian gambar-1 adalah rangkaian umpanbalik negatif yang terdiri dari resistor R dan kapasitor C. Sama halnya seperti rangkain umpanbalik positif. Demikian juga sebaliknya ketika tegangan keluaran op-amp relaks pada titik saturasi terendah -Vsat. Kita sebut saja titik referensi komparator ini -vref. sehingga ketika -vref < LTP tegangan 60 . Karena ketika tegangan -vref sudah mencapai titik UTP maka keluaran komparator op-amp akan relaks menjadi -Vsat. Bedanya. Dari keadaan kapasitor C yang kosong. kapasitor C kembali kosong secara eksponensial. Tentu saja pengosongan kapasitor C tidak akan sampai menyebabkan tegangan -vref mencapai -Vsat.Gambar VI. tegangan referensi negatif pada bagian ini juga akan berubah-ubah tergantung dari tegangan keluaran pada saat itu. tegangan referensi positif berubah menjadi titik LTP. Namun pada rangkaian ini tegangan -vref tidak akan dapat mencapai tegangan tertinggi +Vsat.1 rangkaian osilator relaksasi dengan op-amp VI. Ingat jika tegangan keluaran op-amp pada titik saturasi terendah (-Vsat). pada rangkaian umpanbalik negatif ada komponen C yang sangat berperan dalam pembentukan osilasi.

2 diagram waktu frekuensi osilator Masing-masing pada saat t2 dan t1 tengangan kapasitor adalah Vt2 = Vsat (1-e-t2/RC) dan Vt1 = Vsat (1 . Gambar VI. bisa dihitung dari kecepatan pengisian dan pengosongan kapasitor C melalui resistasi R. Berapa frekuensi osilator yang dapat dibuat. Pada contoh ini t = t2-t1.keluaran op-amp kembali relaks ke titik saturasi tertinggi (+Vsat).3 Frekuensi osilator Demikian prinsip kerja osilator ini dan dinamakan osilator relaksasi sebab tegangan keluarannya relaks pada titik saturasi tertinggi dan terendah. hendak ditentukan berapa perioda T dari osilator. 61 . Karena T = 2t maka dihitung saja berapa nilai t. Demikian seterusnya sehingga terbentuk osilasi pada keluaran komparator. Pada gambar diagram waktu gambar-2.e-t1/RC) Perhatikan bahwa Vt2 = +BVsat dan Vt1 = -BVsat. VI.

7 kHz. 62 . Sebagai contoh pada rangkaian gambar 1.Dengan mengaplikasikan persamaan matematika eksponensial dari persamaan di atas akan diperoleh : t = t2-t1 = RC ln [( 1+B)/(1-B)] dan T = 2t = 2RC ln [( 1+B)/(1-B)] Tentu frekuensi osilator dapat dihitung dengan f = 1/T. jika dihitung maka akan didapat T = 589 us atau f = 1.

bagaimana cara sinyal ini dibangkitkan dan realisasi rangkaiannya. Gambar VII. Biasanya sistem umpanbalik dibuat untuk mencapai suatu keadaan stabil pada keluarannya dengan mengatur porsi penguatan umpanbalik dengan nilai tertentu.1 Bagaimana terjadi osilasi Fenomena osilasi tercipta karena ada ketidak-stabilan pada sistem penguat dengan umpanbalik. Secara matematis sistem ini dimodelkan dengan rumus 1. Colpitts. Namun pada tulisan kali ini akan di kemukan osilator Wien-bridge yang dapat direalisasikan dengan satu op-amp dan beberapa komponen pasif. Namun ada suatu keadaan dimana sistem menjadi tidak stabil. Pada tulisan ini akan dibahas fenomena osilator. Misalnya diperlukan untuk pengujian rangkaian audio HiFi yang memerlukan sinyal sinusoidal sebagai input.1 : sistem penguat dengan umpanbalik 63 . Ada banyak tipe-tipe osilator yang dikenal sesuai dengan nama penemunya antara lain Amstrong.Bab VII Osilator satu op-amp pembangkit gelombang sinus Wien-bridge oscillator Pembangkit gelombang sinus merupakan instrumen utama yang perlu ada dalam tiap bengkel disain elektronika. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar berikut. VII. Hartley dan lain sebagainya. yaitu sistem penguat A dengan umpan balik B.

180o) Inilah syarat terjadinya osilasi. Sehingga Vout/Vin pada rumus tersebut nilainya menjadi infinite. satu tingkat (single pole) rangkaian RL atau RC dapat menggeser phasa sinyal sebesar 90o. Sehingga pada kali dihindari pemakaian induktor L tetapi menggunakan rangkaian penggeser phasa RC 2 tingkat. 64 . jika dan hanya jika penguatan sistem keseluruhan = 1 dan phasa sinyal tergeser (phase shift) sebesar 180o. namun untuk aplikasi frekuensi rendah (< 1 MHz) akan diperlukan nilai induktansi L yang relatif besar dengan ukuran fisik yang besar juga. AB = -1 dapat juga ditulis dengan : AB = 1 (F . Keadaan ini dikenal dengan sebutan kriteria Barkhausen.2 rangkaian penggeser phasa RC 2 tingkat Inilah rangkaian RC yang akan digunakan sebagai rangkaian umpanbalik pada sistem pembangkit gelombang sinus yang hendak dibuat. sistem menjadi tidak stabil jika 1+AB = 0 atau AB= -1. Gambar VII.Rumus 1 model sistem penguat Pada rumus 1. Seperti yang sudah diketahui pada rangkain filter pasif. Sebenarnya rangkaian LC adalah pengeser phase 2 tingkat. Setidak-tidaknya diperlukan rangkaian penggeser phase 2 tingkat agar phasa sinyal tergeser 180o.

Rangkain ini merupakan analogi dari sistem umpanbalik seperti model gambar-1. Rumus penguatannya adalah : Rumus 2 penguatan op-amp 65 .VII.2 Rangkaian osilator Wien-bridge dengan satu op-amp Osilator dinamakan demikian karena penemunya Max Wien lahir tahun 1866 di Kaliningrad Rusia dan tinggal di Jerman adalah orang pertama yang mencetuskan ide penggeser phasa 2 tingkat. Tentu anda sekarang dapat menunjukkan dimana penguat A dan yang mana umpanbalik dengan penguatan B.3 berikut.3 rangkaian wien-bridge oscillator Dari teori diketahui penguatan A adalah penguatan op-amp yang dibentuk oleh rangkaian resistor Rf dan Rg yang dirangkai ke input negatif op-amp. Secara utuh bentuk rangkaian tersebut ada pada gambar VI. Gambar VII.

Pembaca akan menemukan bahwa rangkaian penggeser phasa tersebut akan mencapai nilai maksimum pada satu frekuensi tertentu. VII.3 Dimana Jembatannya Mengapa rangkaian ini diberi embel-embel jembatan (bridge) ? Dimana jembatannya ? Pertanyaan ini mungkin sedikit mengganggu pikiran anda yang tidak melihat ada jembatan pada rangkaian gambar VI.3. pembaca dapat menganalisa sendiri rangkaian penggeser phasa pada gambar-2 dengan pesyaratan osilasi yaitu Vout/Vin = 1/3.Pada rangkain gambar VII. Karena keterbatasan ruang.4 berikut ini. sehingga dengan demikian besar pengguat A = 3. Bagaimana kalau gambar VI.3 diketahui Rf = 2Rg. Nilai maksimun ini akan tercapai jika wC = R dan diketahui w = 2pf. untuk memenuhi syarat terjadinya osilasi dimana AB = 1 maka B penguatannya harus 1/3. 66 .3 di buat kembali menjadi gambar VI. Dengan demikian osilator wien yang dibuat akan menghasilkan gelombang sinus dengan frekuensi resonansi tersebut. Dengan hasil ini. Selanjutnya jika diuraikan dapat diketahui besar frekuensi ini adalah : Rumus 3 frekuensi resonansi Ini yang dikenal dengan sebutab frekuensi resonansi (resonant frequency).

Untuk mengkompensasi distorsi tersebut. Besar resistansi lampu akan berubah-ubah karena pasan sesuai dengan besar arus yang melewatinya.65 kHz. Misalnya dengan mengganti resistor Rg dengan lampu dc 6volt 1 watt. rangkaian gambar VII. Pada rangkaian pembangkit sinyal sinus jembatan Wien yang lebih profesional biasanya kompensasi ini dibuat dengan menambahkan rangkaian AGC (automatic gain controller). VII.59 kHz.4) akan menghasilkan gelombang sinusoidal dengan frekuensi 1. Tetapi kalau anda berkesempatan mencoba rangkaian ini dan mengukur hasilnya dengan osiloskop atau frekuesi counter.4 Distorsi frekuensi resonansi Dengan menggunakan rumus 3. jembatan Wien.4 jembatan Wien Tentu sekarang anda sudah dapat melihat ada jembatannya bukan.Gambar VII. ternyata frekuensi resonansinya adalah 1. rangkaian yang berbentuk seperti dioda bridge itulah jembatannya. Hal ini memang diketahui karena adanya distorsi pada rangkaian penggeser phasa yang non-linier. dapat digunakan rangkaian umpanbalik nonlinear. tetapi cukup untuk memanaskan filamennya. Ini yang membuat penguatan op-amp mejadi tidak liner. Besar arus yang melewati lampu tidak akan menyalakannya. tentu besar resistor Rf juga harus disesuaikan agar tetap nilainya lebih kurang 2Rg. 67 . Ya.3 (atau gambar VII.

68 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->