P. 1
ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG

ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG

|Views: 2,610|Likes:
Published by Unyar Leresati

More info:

Published by: Unyar Leresati on Mar 15, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • BAB II
  • BAB III
  • BAB IV
  • BAB V
  • BAB VI
  • BAB VII

BAB I LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA Nama Lengkap Nama Panggilan Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Warga Negara Suku Alamat Lengkap Telepon Rumah Pekerjaan Pendidikan Tertinggi No. RM Irja : Tn. Dian Ricky : Ricky : Semarang,27 September 1984 : Laki-laki : Katolik : Indonesia : Jawa : Roro Jonggrang XIII RT2 RW 13, Kembang Arum, Semarang Barat : 08812415422 : Pegawai Administrasi Sinar Mas Finance : S1 Teknik Kimia : C255185

DAFTAR MASALAH Masalah Aktif Masalah Tidak Aktif

5/11/2010
1. Cairan encer dan jernih dari hidung

 14
2. Bersin-bersin 14 3. Hidung tersumbat 13,14 4. Hidung gatal  14 5. Terasa lendir mengalir di

tenggorokan  13,14
6. Demam 13 7. Pusing  13 8. Nyeri tekan kedua pipi (+/+)  13 9. Mukosa hiperemis (+/+)  13,14 10. Edema konka (+/+)  13,14 11. Hiperemis konka (+/+)  13,14 12. Diafanoskopi : kesuraman (+/+) 

13 13. Suspek sinusitis maksilaris kronik dekstra et sinistra 14. Suspek rhinitis alergika persisten sedang-berat

ANAMNESIS Autoanamnesis tanggal 5 November 2010, jam 09.00

Keluhan utama

: Keluar cairan dari kedua lubang hidung

Kronologis

:

± 3 bulan  keluar cairan (+) encer & jernih dari kedua lubang hidung >> udara dingin, bersin-bersin (+),hidung tersumbat (+) bergantian kanan – kiri, hidung gatal (+), timbul bau busuk (-), nyeri pangkal hidung (-),

nyeri kedua pipi (-), terasa lendir mengalir di tenggorokan (+). Demam (+), pusing (+), batuk (-) à diminumi sendiri, keluhan << , timbul lagi. Keluhan dirasakan > 4 hari dalam 1 minggu. Aktivitas terganggu  datang ke klinik THT RSDK. • Riwayat Penyakit Dahulu : - Riwayat penyakit asma disangkal - Riwayat bersin-bersin bila menghirup debu dan udara dingin (+) - Riwayat pernah operasi pengeluaran nanah dan darah di pipi sebelah kiri dekat hidung di RSDK 10 tahun yang lalu - Riwayat alergi obat disangkal • Riwayat Penyakit Keluarga : – – • Tidak ada anggota keluarga lain yang sakit seperti ini Riwayat alergi pada keluarga disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi : Pasien bekerja sebagai pegawai administrasi di Sinar Mas Finance. Pasien masih tinggal dengan orangtuanya. Ayahnya adalah pensiunan pegawai negeri. Ibunya adalah ibu rumah tangga. Pasien mempunyai 1 orang kaka yang sudah mandiri dan 1 orang adik yang masih bersekolah. Biaya pengobatan ditanggung pribadi Kesan : sosial ekonomi cukup

PEMERIKSAAN
A. PEMERIKSAAN FISIK tanggal: 5 November 2010, jam 09.00

A.1. Status Generalis – Kesadar an : Composmentis – Nafas : 20x/menit

– – – – – – –

Aktivita s Koopera tivitas Status gizi Kulit Konjung tiva Nadi Tensi

: Normoaktif : Kooperatif : Cukup : Turgor kulit cukup : Palpebra pucat -/: 80x/menit : 120/70 mmHg

– – – – – –

Suhu Jantu ng Paru Hati Limf e Angg ota gerak

: : : : : :

36,6oC BJ I-I N, bising (-) SD vesikuler Tak teraba Pembesaran nnll -/Dalam batas normal

A.2. Status Lokalis (THT) 1. Telinga – – – Mastoid Pre-aurikula Retro-aurikula ketok (-) : Nyeri tekan (-), fistel (-) Kanan ketok (-) Nyeri tekan (-), fistel (-) Kiri

: Nyeri tekan (-), nyeri Nyeri tekan (-), nyeri

: Nyeri tekan (-), nyeri Nyeri tekan (-), nyeri ketok (-) ketok (-) Nyeri tarik (-) Hiperemis (-), edema (-) (-) Serumen (-)

– – – – – – – – –

Aurikula Kanalis eksternus Discaj Lain-lain Membran timpani Warna Refleks cahaya Perforasi Lain-lain

: Nyeri tarik (-) : Hiperemis (-), edema (-) : (-) : Serumen (-) :

: Putih mengkilat, seperti Putih mengkilat, seperti mutiara : (+) arah jam 5 : (-) : Bulging (-) mutiara (+) arah jam 7 (-) Bulging (-)

2. Hidung dan Sinus Paranasal : a) Pemeriksaan luar
– –

Hidung

: simetris, deformitas (-)

Sinus : nyeri tekan/ ketok pangkal hidung dan dahi (-), nyeri tekan & ketok kedua pipi (+/+) b) Rinoskopi anterior – – – Discaj Mukosa Konka : (-) : Hiperemis (+) : Hiperemis (+), edema (+) – – Tumor Septum : (-) : Deviasi (-) : kesuraman (+/+) : : Kanan (-) Hiperemis (+) Hiperemis (+), edema (+) (-) Deviasi (-) Kiri

c) Diafanoskopi 3. Tenggorok 3.a. Faring 3.a.1. Orofaring: – – – – – – –

Palatum Arkus faring Mukosa Tonsil Ukuran Warna Permukaan

: Simetris, bombans (-) : Simetris, hiperemis (-) : Hiperemis (-), granulasi (-), sekret (-) : : T1 : Hiperemis (-) : Rata Kanan T1 Hiperemis (-) Rata Kiri

....................................3.......................... : ......1........... Laringofaring (Laringoskopi indirek) –tidak dilakukanMukosa Valekula Reses piriformis Porta esofagus Lain-lain : ........... Nasofaring (rinoskopi posterior) –tidak dilakukanDiscaj Mukosa Adenoid Ostium tuba Reses faring Forniks faring Koana Lain-lain : ......b...................... Supragoltis (rinoskopi posterior) –tidak dilakukanEpiglotis Tumor : ............................. : ..........– – – – Kripte Detritus Membran Peritonsil : Tidak melebar : (-) : (-) : Abses (-) Tidak melebar (-) (-) Abses (-) 3......... : .... 3.......................... : .................................... 3....................... : ..... : ........a.... : ..... : ......... : ......................................... : . : ....2............................................ .............. Laring (Laringoskopi indirek) 3............b............. : ..a...............

.................................................... : ............................................... : ... : ........ Kepala dan Leher – – – – – Kepala : Mesosefal : Simetris...... : ......... Glotis –tidak dilakukanKomisura anterior Komisura posterior Plika vokalis Posisi Gerak Tumor Lain-lain : .............. 3..................................b...................... : ..........................2. deformitas (-) : Pembesaran tiroid (-) : Pembesaran nnll (-) : Pembesaran tiroid (-) Pembesaran nnll (-) Wajah Leher anterior Leher lateral Lain-lain ........Lain-lain : .b...... : ............. 4....... 3.......................................... Subglotis –tidak dilakukanMukosa Tumor Lain-lain : .... : ......3.... : ....

benjolan (-) : B. deviasi (-).5. atrofi papil (-) : Bombans (-) : Simetris. Pemeriksaan Patologi Klinik: -tidak dilakukana) Darah rutin b) Urin rutin c) Lain-lain 2. Gigi dan Mulut – – – – – Gigi-geligi Lidah Palatum Pipi Lain-lain : Caries (-) : Makroglosi (-). Tes Pendengaran a) Tes bisik b) Tes garputala – : tidak dilakukan : – – – Rinne – – – Schwabac h – – Weber – Kana n Kiri Kana n Kiri Kana n Kiri : : : AC > BC : AC > BC : = pemeriksa : = pemeriksa : Tidak ada lateralisasi : : : Konvensi onal Kesan : Pendengaran kedua telinga normal . PEMERIKSAAN LABORATORIUM/PENUNJANG/KHUSUS 1.

Tes Alergi 7.. Pem. timbul terutama saat udara . Pem. Tes Keseimbangan & Vestibuler a) Tes Keseimbangan b) Tes Vestibuler 4. Mikrobiologik 9. RINGKASAN Seorang laki-laki 26 tahun datang dengan keluhan ± 3 bulan ini keluar cairan encer dan jernih dari kedua lubang hidung.. Fungsi N.. Endoskopik 6. Pem..c) Audiometri : tidak dilakukan d) Timpanometri : tidak dilakukan 3.. Fasialis : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : tidak dilakukan : mengerutkan dahi +/+ menutup mata +/+ memperlihatkan gigi +/+ bersiul (+) 10. Pem. Patologi Klinik 8. Lain-lain : . Radiologik 5.

hidung terasa gatal. hipermemis konka(+/+). Keluhan dirasakan lebih dari 4 hari dalam 1 minggu. edema konka (+/+). penderita memeriksakan diri ke polilkinik RSDK. Diafanoskopi : kesuraman (+/+) DIAGNOSIS BANDING 1. bersin-bersin bila menghirup debu dan udara dingin. hidung tersumbat bergantian kanan – kiri. terasa lendir mengalir di tenggorokan. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan : Telinga Hidung : dalam batas normal : nyeri ketok kedua pipi (+/+). mukosa hiperemis (+/+). Suspek sinusitis kronik maksilaris dekstra et sinistra 2. keluhan berkurang namun timbul lagi. Bila diminumi obat yang dibeli sendiri. Suspek rinitis alergika persisten sedang-berat DIAGNOSIS SEMENTARA 1.Karena dirasa mengganggu aktivitas. pusing. Suspek rinitis alergika persisten sedang-berat RENCANA PENGELOLAAN • Pemeriksaan Diagnostik Ip Dx : S:O: Skin Prick Test. Suspek sinusitis kronik maksilaris dekstra et sinistra 2. demam. X-foto Waters • Terapi .dingin.

Paracetamol 3 x 500 mg .Aldisa SR 2x 1tab (Loratadin 5mg & Pseudoefedrin sulfat 120 mg) • Pemantauan Perbaikan klinis dan keluhan saat penderita kontrol kembali • Penyuluhan ○ Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya ○ Menjelaskan kepada penderita tentang diagnosis sementara penyakit. Anatomi Hidung 1. dan rencana pemeriksaan penunjang selanjutnya yang perlu dilakukan.. Hidung Luar .Cefadroxil 2 x 500 mg .Ambroxol 3 x 30 mg . PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanam : ad bonam : ad bonam Quo ad fungsionam : ad bonam BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI HIDUNG DAN SINUS PARANASAL A.

Kolumela 6.2.2.3 Gambar 1. Nasalis pars transversa dan M.Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian – bagiannya dari atas ke bawah : 1.2. yang dibatasi oleh : . Kerja otot – otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M.Inferior : kartilago septi nasi. Dorsum nasi 3. antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Nasalis pars allaris. Ala nasi 5.1. Pangkal hidung (bridge) 2. kartilago nasi lateralis.3 Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares.Superior : os frontal.3 Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar). os nasal. . Bagian-bagian pembentuk hidung luar Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. Lubang hidung (nares anterior)1. os maksila . kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor 1. Puncak hidung 4.

3 3. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Angularis (cabang dari A. Nervus Olfaktorius (N I) untuk fungsinya sebagai organ penghidu1. cabang dari a. Supratroklearis. Maksilaris (ramus eksternus N.1.2. septum nasi dilapisi oleh kulit. bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap.3 2. kedudukannya hampir horisontal. lamina kribriformis etmoidale.Pendarahan : 1. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. Karotis interna). fossa kranial anterior dan fossa kranial media.Sfenopalatinum. Oftalmika. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Cabang dari N. Maksilaris interna. korpus sfenoidale dan sebagian os vomer Lantai : merupakan bagian yang lunak.2. A. Nasalis posterior (cabang A.1. sinus sfenoid. pada bagian bawah apeks nasi. cabang dari A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Etmoidalis anterior) 3. Nasalis anterior (cabang A.2. jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. cabang dari A. N. Oftalmikus (N.2. Karotis interna)1. A. Infratroklearis) 2.3 Batas – batas kavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring Atap : os nasal.3 2. Fasialis) Persarafan : 1. . A. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra). Cabang dari N. Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal. os frontal.

3 Pendarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A. Oftalmika. Septum nasi Gambar 4. os maksila. os etmoid. palatum dan os sfenoid. Kadang – kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.1.3 Gambar 2.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A. konka nasalis inferior.Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid.maksilaris dan A.2. Konka nasalis Konka nasalis suprema. 2. os lakrima. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Vena . Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A.

Vaskularisasi hidung 3. Etmoidalis anterior 2. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang – kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa.1.3 Persarafan : 1.2. Palatina mayor menjadi N.tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama – sama arteri.3 Gambar 3.1. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel – sel goblet.2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Sfenopalatinus. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada . Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Trigeminus yaitu N.

1. udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. sel basal dan sel reseptor penghidu.1. Pengatur kondisi udara (air conditioning) Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan masuk ke dalam alveolus. sekret kental dan obat – obatan.3 B. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). radang. yaitu sel penunjang.3 Fungsi ini dilakukan dengan cara : . Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah.2. sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring. palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring.3 Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung.2.3 2.2. Dengan gerakan silia yang teratur. Sebagai jalan nafas Pada inspirasi. udara masuk melalui nares anterior. Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel.3 Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Fisiologi hidung 1.1.permukaannya. lalu naik ke atas setinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Pada ekspirasi. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan.

sehingga terdengar suara sengau.3 5. udara hampir jenuh oleh uap air. disebut lysozime. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas. Indra penghidu Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat. penguapan dari lapisan ini sedikit.3 b. konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Debu dan bakteri akan melekat pada palut lendir dan partikel – partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin.a.3 4. sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Mengatur suhu. Silia c.3 3. d. Palut lendir (mucous blanket). Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. Pada musim panas. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi b. Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37oC. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Mengatur kelembaban udara. sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang.3 . Sebagai penyaring dan pelindung Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan dilakukan oleh : a. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri.

Anatomi Sinus Paranasal Sinus paranasal merupakan rongga-rongga yang terdapat di dalam maxilla os frontale. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur.3 Gambar 4. lambung dan pankreas. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. os sphenoidale.ophthalmicus dan n. Sinus pada waktu lahir kecil tapi mengalami perkembangan pada waktu pubertas atau dewasa. Sinus Paranasal .1.ng) dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka.n.3 B.3 7.maxillaris. dan os ethmoidale.6.2. Dengan adanya hubungan ini maka rhinitis atau radang pada cavitas nasi dapat menjalar ke sinus menyebabkan sinusitis. Sinus paranasal diinervasi oeleh cabang-cabang n. palatum molle turun untuk aliran udara. kardiovaskuler dan pernafasan. Dindingnya terdiri atas tulang kompakta dengan dilapisi muco-endosteum yang berhubungan dengan mucosa respiratoria pada cavitas nasi. Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna. Sinus merupakan penonjolan/evaginasi dari cavitas nasi sehinga drainage keluar dari cairannya menuju cavitas nasi secara langsung atau tidak langsung.

1.2.1.ethmoidalis anterior.2. os lacrimale. Saluran ini terdapat pada dinding medial sebelah anterosuperior. Dinding medialnhya merupakan dinding lateral cavitas nasi.maxillaris interna.1. Vaskularisasi oleh a.2. dan os palatina.3 Muara sinus maxillaris pada meatus nasi medius yaitu pada hiatus semilunaris.ethmoidalis posterior dan a.2.3 Innervasi oleh n.1.3 Bagian-bagian dari sinus ethmoidalis disebut cellulae ethmoidales. terletak di dalam labyrinthus ethmoidalis di antara orbita dan cavitas nasi. Cellulae ethmoidales anterior yang bermuara di meatus nasi medius 2.3 Inervasi oleh n. a. Atapnya merupakan lantai orbita.3 2.ethmoidalis posterior dan n.infraorbitalis Vaskularisasi oleh a.2.2.palatina mayor. Sinus Maxillaris Merupakan sinus paranasal yang terbesar. Cellulae ethmoidales posterior yang bermuara di meatus nasi superior dan suprema1.infraorbitalis. Dindingnya dibentuk oleh os frontale.ethmoidalis anterior. cellulae ethmoidales digolongkan menjadi: 1.1. Sinus Ethmoidalis Terdiri atas beberapa ruangan (4-17 pada tiap sisi).alveolaris superior dan n. Terdapat dalam corpus maxillae. maxilla. Sinus Frontalis .2.1. a.3 Berdasarkan muaranya. Berbentuk piramid berbaring dengan basis di sebelah medial sedang apex di processus zygomaticus maxillae.3 3. os sphenoidale. Sedangkan alasnya merupakan processus alveolaris.1.

Sinus ini sering meluas sampai atap orbita. Bermuara pada recessus sphenoethmoidalis.supraorbitalis cabang dari n. Rhinitis Alergika 1. Definisi Definisi menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin. .maxillaris BAB III PATOFISIOLOGI A.3 Inervasi n.Dapat dianggap sebagai akibat meluasnya cellulae ethmoidalis anterior ke os frontale. Sinus frontalis bermuara ke meatus nasi medius secara langsung atau melalui saluran yang disebut duktus frontonasalis. Dinding depannya merupakan dua keping tulang tipis disebut conchae sphenoidale.ethmoidalis posterior Vaskularisasi a.3 Inervasi: n.2.supraorbitalis 4.1. Sinus sphenoidalis terbagi menjadi belahan kanan dan kiri oleh septum tulang yang biasanya mengalami deviasi ke salah satu pihak. Sinus Sphenoidalis Terdapat di dalam corpus sphenoidale dan dapat meluas ke os occipitale.2. Kanan dan kiri tidak sama besar dan dipisahkan oleh keping tulang yang terdapat di linea mediana.ophthalmicus Vaskularisasi: a.1.

3 Pada kontak langsung pertama dengan alergen atau tahap sensitasi.3. makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/ APC akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. IL 5 dan IL13.5.rinore. IgE disirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor Ig E dipermukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper ( Th 0). Kemudian sel penyaji akan melepaskan sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th 2.6 . IL 4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B. rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai IgE. Proses ini disebut sensitasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitasi. Setelah diproses. Patogenesis Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap provokasi/reaksi alergi. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin sperti IL 3. IL 4. sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi Imunoglobulin E (IgE). Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahna dan Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8jam (fase hiper-reaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam.4.3 Rinitis alergika adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien yang atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut.4 2.

4. Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin (IL3. Selain histamine merangsang ujung saraf vidianus. maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spasifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Preformed Mediators) terutama histamin. Leukotrin D4 (LT D4). IL4. juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung .5. IL6. IL5.6 Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin.Gambar 5. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamine juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2). Patogenesis reaksi alergi pada rhinitis alergika Bila mukosa yang sudah tersensitasi terpapar dengan alergen yang sama. GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony stimulating Factor) dll. bradikinin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Leukotrin C4 (LT C4). Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).

Pada fase ini selain factor spesifik (alergen). Pengaruh mediator-mediator kimia pada jaringan Pada RAFC. iritasi oleh factor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok. tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6 – 8 jam setelah pemaparan. perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi. limfosit.4.6 Gambar 6. Major Basic Protein (MBP) dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). netrofil. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil. dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL3.6 .5. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Protein (EDP). sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. IL4.5. basofil.sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adheesion Molecule 1 (ICAM 1). IL5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM 1 pada sekret hidung. bau yang merangsang. Respon ini tidak berhenti sampai disini saja.4.

mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus menerus/persisten sepanjang tahun.3. Faktor Risiko Faktor resiko rhinitis alergika5 a) b) c) – – – – – Penderita dengan asma dan dermatitis Keluarga dengan riwayat atopi Lingkungan dan lapangan kerja Lingkungan yang lembab -> jamur. sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel. Diluar keadaan serangan.4 3. serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa.Gambar 7. sehingga tampak mukosa hidung menebal. Reaksi alergi pada rhinitis alergika Bila dilihat pada gambaran mikroskopik. debu. Terdapat juga pembesaran ruang interselular dan penebalan membrane basal. akan tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mucus. kutu Hobi yang berkaitan dengan musim penyerbukan Polusi lingkungan Kebiasaan merokok Bekerja di peternakan5 .

B. a.8 2.3. Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit. c. frontalis (dahi). Jika sistem pertahan tubuh menurun dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya maka bateri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus sehingga terjadi infeksi sinus akut. sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. Apergillus merupakan jamur yang bisa menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistim kekebalan. Sinusisitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistim kekebalan dan penderita kelainan sekresi lendir. Infeksi jamur. Penyakit tertentu. Bakteri.7 . Bagian yang paling sering mengalami peradangan adalah sinus maxilla (pipi). misalnya. Peradangan menahun pada saluran hidung e. Gangguan sistim kekebalan atau kelainan sekresi ataupun pembuangan lendir3.4. Sinusitis 1.4. Sinusitis biasa terjadi setelah infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas. etmoidalis (belakang tulang hidung). Asma g. dan bila terjadi pada beberapa sinus disebut multisinusitis. Pada orang-orang tertentu. Sinusistis bisa bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis (berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun). f. Etiologi Sinusitis dapat disebabkan oleh. Definisi Sinusitis adalah peradangan di daerah sinus paranasal yaitu suatu tempat di daerah hidung. dan sfenoidalis (pelipis). pilek. Penyakit alergi h. Infeksi virus. d. b.

Ikatan antigen IgE juga meningkatan influks Ca++ dari ruang ekstraseluler. Kadar Ca++ yang meningkat ini menyebabkan terjadinya degranulasi dan penglepasan mediator preformed seperti histamin yang melalui sistem saraf otonom menimbulkan gejala bersin. siklik adenosin monofosfat (c AMP) dan meningkatkan perbandingan siklik guanosin monofosfat terhadap siklik adenosin monofosfat serta aktivasi proesterase. vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler yang menimbulkan rinore dan edema serta kontraksi otot polos pada bronkus yang menimbulkan sesak napas. Reaksi akut yang disusul oleh reaksi lambat disebut bifasis. Kinin menyebabkan vasodilatasi. eosinofil.3. yaitu dimulai dari timbulnya aktivasi enzim fosfolipase yang memecah fosfolipid membran sel menjadi asam arakidonat.7.4. makrofag. Sel-sel yang melepas asam arakidonat adalah sel mastosit. . maka alergen akan berikatan dengan bagian Fab Ig E yang ada pada permukan sel mastosit atau basofil. Neutrophil chemotactic factor (NCF) menyebabkan pengarahan netrofil ke organ target serta eosinophil chemotactic factor (ECF) menyebabkan pengarahan eosinofil ke organ target.8 Bila penderita rinitis alergi terpapar dengan alergen spesifik akan terjadi juga realsi lambat dalam waktu 4-12 jam sesudah reaksi akut dan dapat berlangsung sampai 24 jam. Ikatan tersebut akan memberikan tanda ke dalam sel yang akan mengaktifkan sistem nukleotida. dalam tubuh penderita akan terjadi interaksi antara makrofag dan limfosit T untuk menghasilkan suatu mediator (interleukin -4/IL-4) yang memacu limfosit B memproduksi IgE spesifik. Reaksi lambat ini pada saat yang sama dengan proses degranulasi di dalam sel. sehingga menaikkan kadar Ca++ di dalam sel. siklik guanosin monofosfat (cGMP). Bagian Fc Ig E akan menempel pada reseptor khusus permukaan sel mediator yang telah terikat dengan IgE disebut sel mediator yang tersensitisasi. Reaksi itu terjadi dalam waktu 1-5 menit sampai 30 menit. sehingga menimbulkan edema. dengan puncak reaksi antara 10-20 menit dan disebut reaksi akut atau reaksi akut dini. Triptase menyebabkan proteolisis dan aktivasi C3a. Selanjutnya bila terjadi paparan ulang dengan alergen yang sejenis. Patogenesis dari Rhinitis Alergika Pada paparan primer dengan alergen.6.

Oleh karena mediator.8 Pada rinitis alergi akan terjadi inflamasi.7. leukotrin dan platelet activating factor (PAF). Pada reaksi lambat ini terjadi reaksi inflamasi yang menyebabkan sumbatan hidung akan berlangsung lama.8 Menurut Stammberger yang dikutip oleh Rifki.7.7. bula etmoid dengan konka media dan sinus lateral yang terletak di atas dan belakang bula etmoid. maka disebut newly generated. tromboksan.mediator tersebut dilepas setelah histamin. sel-sel etmoid anterior beserta ostiumnya dan ostium sinus maksila. lebih dari 90% penyebab kasus sinutis maksila dan frontal terletak di kompleks ostiomeatal yang terdiri dari infundibulum etmoid.6. Bila sumbatan terus berlanjut akan terjadi hipoksia dan retensi mukus. yang merupakan kondisi yang ideal untuk tumbuhnya kuman-kuman patogen.8 Bukti lain juga menyokong bahwa kompleks ostiomeatal adalah tempat primer terjadinya infeksi di sinus paranasal yaitu ujung depan konka media dan meatus medius disebabkan daerah tersebut adalah tempat yang paling banyak terkena udara inspirasi. Kontak mukosa dapat juga terjadi pada celah antara prosesus unsinatus dengan konka media.7. sehingga ventilasi terganggu.4. PH dalam sinus akan menurun dan akan menyebabkan gerakan silia dalam sinus berkurang serta mukus tidak dapat dialirkan. Infeksi dan toksin selanjutnya dapat mengganggu fungsi mukosa dan menyebabkan terjadinya lingkaran setan (vicious cycle).6.8 . resesus frontal. sehingga mukosa infundibulum etmoid dan resesus frontal yang berhadapan akan saling berdekatan.trombosit dan endotel vaskuler. Selanjutnya asam arakidonat dipecah menjadi prostaglandin.

septum deviasi. polip nasi) b) Tumor cavum nasi c) Periodontitis d) ISPA . Proses patogenesis sinusitis 4.Gambar 8. Faktor Risiko Faktor resiko sinusitis9 a) Kelainan anatomis ostiomeatal complex (contohnya.

hidung dan mata yang gatal. pemeriksaan fisik. diikuti ingus encer dan bening. 1. kehamilan. 10 . bahan kimia yang bersifat iritatif. kontrasepsi oral)9 BAB IV DIAGNOSIS RHINITIS ALERGIKA DAN SINUSITIS Diagnosis didapatkan berdasar anamnesis. Anamnesis Pasien umumnya datang dengan mengeluh sering bersin berulang terutama setelah terpapar alergen tertentu. jamur. polusi lingkungan f) Rhinitis alergi dan rhinitis non alergi g) Kekebalan tubuh yang menurun h) Hormonal (pubertas.e) lingkungan: debu. Rhinitis Alergika 1. dan diikuti pemeriksaan penunjang. hidung tersumbat yang hilang timbul. rokok. sampai dapat terjadi lakrimasi saat serangan.

dan gigi rahang atas maju ke depan. langit-langit mulu tumbuh cekung ke atas. Pemeriksaan Fisik Dari inspeksi dapat kita temukan beberapa tanda yang dapat mengarahkan ke adanya alergi: – – – Allergic shinner: warna kebiruan di bawah mata yang diakibatkan oleh statis vena akibat obstuksi hidung Allergic salute: aktivitas menggosok hidung dengan punggung tangan ke arah atas Allergic crease: garis melintang di dorsum nasi 1/3 bawah akibat kebiasaan menggosok hidung. sekret serous & banyak.2.11 1. untuk mengetahui IgE dan IgG) dan in vivo (material dapat dari kulit atau melalui tes provokasi) • – In vitro: Hitung eosinofil  ditemukan jumlah eosinofil yang meningkat Pemeriksaan IgE total Pemeriksaan IgE spesifik In vivo: Skin Prick test Diet eliminasi & Challenge Test – – • – – . – Sedangkan dari rhinoskopi anterior ditemukan mukosa udem-hipertrofi. Pemeriksaan Penunjang Untuk mengetahui jenis alergen sehingga pasien dapat menghindarinya. bercirikan mulut yang selalu terbuka. Tes alergi dapat dilakukan dengan 2 macam cara. livid. 10. in vitro (material diambil dari darah. dibutuhkan tes alergi. Facies adenoid: bentuk wajah yang khas.

. – – gunakan material yang belum kedaluwarsa gunakan ekstrak alergen yang terstandarisasi • Persiapan Penderita : – Hentikan obat (antihistamin/KS) 5-7 hari sebelum tes. Diet eliminasi adalah untuk mengetahui alergen makanan. yang bertujuan untuk membuktikan adanya IgE spesifik yang terikat pada sel mastosit kulit dan menentukan macam alergen sehingga pasien bisa menghindari alergen tersebut. pasien akan diberikan menu makanan tinggi protein secara satu per satu dan jika timbul gejala laeri maka dapat diduga makanan tersebut adalah penyebabnya. Kecurigaan alergi terhadap sengatan serangga Persiapan sebelum dilakukannya Skin Prict Test: • Persiapan bahan/material ekstrak alergen. Ada riwayat asma persisten pada penderita yang terpapar alergen 3.Pada klinis. pemeriksaan yang sering dan praktis untuk dilakukan adalah Skin Prick Test. Challenge Test dilakukan untuk pasien yang telah melakukan diet eliminasi namun tidak berhasil menemukan makanan penyebab alergi. dan sebagai dasar pemberian imunoterapi jika medikamentosa gagal mengatasi gejala. Dalam diet ini. Jika ada kecurigaan rhinitis alergika terutama jika gejala tidak dapat dikontrol dengan medikamentosa 2. Kecurigaan alergi terhadap makanan 4. di mana pasien akan menghentikan konsumsi makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi . 11 Skin Prick Test Indikasi: 3 1.

Untuk bentol yang ukurannya 2 kali lebih besar dari diameter bento histamin dinilai ++++ (+4). . 0 menembus lapisan epidermis tanpa menimbulkan • Tes dibaca setelah 15-20 menit dengan menilai bentol yang timbul.– Hati2 pada imunodefisien • Persiapan pemeriksa : – Teknik dan ketrampilan – Emergency kit Teknik Pemeriksaan: 12 • • • Desinfeksi area volar dengan alkohol 70% Tandai area Teteskan satu tetes larutan alergen (Kontrol positif ) dan larutan kontrol ( Buffer/ Kontrol negatif) • Cukitkan (jarum ukuran 26 ½ G atau 27 G / blood lancet). sudut kemiringan 45 perdarahan. Adapun penilaiannya sebagai berikut : – – – – Bentol histamin dinilai sebagai +++ (+3) Bentol larutan kontrol dinilai negatif (-) Derajat bentol + (+1) dan ++(+2) digunakan bila bentol yang timbul besarnya antara bentol histamin dan larutan kontrol. Interpretasi Tes Cukit ( Skin Prick Test ): 12 Untuk menilai ukuran bentol berdasarkan The Standardization Committee of Northern (Scandinavian) Society of Allergology dengan membandingkan bentol yang timbul akibat alergen dengan bentol positif histamin dan bentol negatif larutan kontrol.

Anamnesis Umumnya pasien mengeluh hidung tersumbat. sampai nyeri alih (misal nyeri kepala. pangkal hidung. Pemeriksaan ini juga dipengaruhi ketebalan tulang (di mana pada wanita. 10 3. yakni pasien merasakan ada yang mengalir dari hidung bagian belakang menuju tenggorok. Dan adanya post nasal drip. namun dapat pula massa dan kista. 10 2. dapat pada satu sisi maupun keduanya. Untuk mendapatkan gambaran anatomi sinus. dahi dan pangkal hidung. Sedangkan dari rhinoskopi anterior terlihat edema dan hiperemis mukosa. Transiluminasi ini memiliki manfaat terbatas. tulang lebih tipis sehingga menghasilkan bayangan terang. Rhinoskopi posterior dapat ditemukan post nasal discharge. Pemeriksaan Fisik Dari inspeksi dapat kita lihat daerah sinus yang merah dan bengkak akibat reaksi inflamasi yang terjadi. Sinusitis 1. Prinsip pemeriksaan ini adalah menilai terang/gelap di kedua sisi. Palpasi didapatkan nyeri tekan/ketuk daerah sinus (pipi. karena hanya mampu menilai secara kasar keadaan sinus frontalis & maksillaris. Adanya nyeri pada muka (sesuai anatomi sinus) yakni nyeri pipi. Hasil pemeriksaan transiluminasi yang suram tidak selalu berarti sinusitis. Pemeriksaan Penunjang Transiluminasi merupakan pemeriksaan penunjang sinusitis yang praktis namun tidak terlalu efektif. dan dahi). adanya sekret (mukoid. nyeri gigi. Adanya ingus kental sampai berwarna purulen jika telah terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. purulen) yang keluar dari meatus media. beberapa posisi foto yang diperlukan adalah sebagai berikut: 14 . nyeri orbita. nyeri telinga). tulangnya lebih tebal sehingga hasil lebih gelap). 13 Foto polos merupakan cara efektif untuk menilai keadaan sinus.1. Namun pada pria.

10 . sfenoid. Dari sinuskopi kita dapat melihat keadaan dalam rongga sinus maksilaris. diindikasikan jika terdapat ingus purulen yang merupakan akibat dari infeksi sekunder oleh bakteri. frontal. Sinuskopi yang dilakukan dengan irigasi sinus dapat bermanfaat sekaligus sebagai terapi. dan ethmoid – Posisi Caldwell: menilai sinus frontal – Posisi lateral: menilai sinus frontal. Namun karena biaya yang relatif lebih mahal. 10 Sinuskopi adalah pungsi menembus dinding medial sinus maksilaris melalui meatus inferior.– Posisi Waters: arah sinar adalah suboccipito-frontal yang mampu menilai sinus maksila. Hasil pengambilan sekret akan lebih baik jika dilakukan pungsi sinus. dan ethmoid CT-Scan merupakan gold standar pemeriksaan penunjang sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung & sinus paranasal. maka CT-Scan diindikasikan terutama untuk pasien dengan sinusitis kronik dan untuk diagnosis pra-operatif. Bahan diambil dari sekret terutama yang berasal dari meatus superior/medius. 10 Mikrobiologi. Tujuan pemeriksaan mikrobiologi dari sinusitis adalah untuk mengetahui jenis kuman & sebagai bahan untuk tes resistensi antibiotik.

Histamin merupakan mediator yang berperan besar pada timbulnya gejala rinitis alergi pada reaksi fase cepat. dapat ditempuh langkahlangkah berikut : 1.BAB V PENATALAKSANAAN RINITIS ALERGIKA DAN SINUSITIS A. sedangkan mediator lain yang tergolong newly formed mediator dan mediator dari sel eosinofil berperan pada reaksi fase lambat yang menyebabkan inflamasi dan hiperreaktifitas non spesifik yang dapat menetap berhari-hari. Mengurangi efek samping pengobatan. 3. Merubah jalannya penyakit/pengobatan kausal. Mengurangi gejala akibat paparan alergen.15 Untuk mencapai tujuan pengobatan rinitis alergi. Rhinitis Alergika Penyakit alergi disebabkan oleh mediator kimia yang dilepaskan oleh sel mast yang dipicu oleh adanya ikatan alergen dengan IgE spesifik yang melekat pada reseptornya di permukaan sel tersebut. Antihistamin . 4. Edukasi penderita untuk meningkatkan ketaatan berobat dan kewaspadaan terhadap penyakitnya. hiperreaktifitas nonspesifik dan inflamasi. 5.15 Tujuan pengobatan rinitis alergi adalah : 1. 2. Perbaikan kualitas hidup penderita sehingga dapat menjalankan aktifitas sehari-hari.

Sampai saat ini antihistamin merupakan pilihan pertama untuk pengobatan rinitis alergi. anti-H1 klasik juga mempunyai efek antikolinergik. Obat ini sangat efektif untuk mengurangi gejala rinitis (hidung gatal. Antihistamin bekerja dengan cara menghambat efk mediator histamin pada tingkat reseptor histamin.15 Antihistamin dimetabolisme di hati oleh enzim sitokrom P450 subtipe 3A4 yang juga dipakai untuk metabolisme obat lain seperti golongan azol (ketoconazole) dan golongan makrolida.15 Antihistamin klasik yang disebut juga antihistamin generasi I pemakaiannya terbatas karena bersifat sedatif. dapat menyebabkan gangguan pada jantung dan tidak selektif pada reseptor H1 perifer karena dapat menembus sawar darah otak sehingga bersifat sedatif. bersin dan rinore). Di antara antihistamin klasik tersebut. tidak menembus sawar darah otak dan selektif terhadap reseptor H1 perifer sehingga bersifat non sedasi bila diberikan sesuai dosis yang dianjurkan.15 Sekarang didapatkan banyak macam antihistamin. meskipun kurang efektif untuk gejala hidung tersumbat. Contoh : Diphenhydramin Prometazin Tripolidin Chlorpheniramine Insidal Polaramine Tavegyl Incitin Selain efek antihistamin. tetapi secara garis besar dibedakan atas antihistamin H1 klasik dan antihistamin H1 generasi baru.15 Antihistamin generasi baru yang disebut juga long acting antihistamine karena bekerja lama (24 jam). Oleh karena itu pemakaian antihistamin bersamaan dengan obat-obatan tersebut harus . chlorpheniramine mempunyai sifat sedatif yang paling ringan.

antihistamin baru dilaporkan mempunyai efek anti alergi yang lebih luas karena15 : – – – – Dapat mengurangi penglepasan PGD2 dan kinin (fexofenadine. cetirizine) Mengurangi ekspresi ICAM-1 (fexofenadine. sehingga tidak dianjurkan bagi penderita yang memerlukan konsntrasi . terfenadine. Karenanya ada kemungkinan bahwa suatu antihistamin mungkin kurang responsif pada seseorang. cetirizine) Menekan penglepasan berbagai macam sitokin (IL-4.15 Contoh antihistamin generasi baru : Terfenadine Astemizole Oxatomide Loratadine Cetirizine Fexofenadine Desloratadine Selain karakteristik non sedatif dan mempunyai efek anti H1 spesifik.15 Keamanan antihistamin : a. Demikian pula efek sedasi suatu antihistamin. IL-5. IL-1) dan leukotrien (fexofenadine)15 Pada dasarnya antihistamin mempunyai efektivitas yang sama. Salah satu keterbatasan antihistamin klasik adalah adanya efek sedasi. Terdapat variasi individual terhadap efek sedasi antihistamin baik dari golongan sedasi maupun non sedasi.dihindari. sementara antihistamin lain lebih responsif. loratadine. Pemakaian beberapa antihistamin ternyata dapat menyebabkan gangguan jantung akibat blokade pada potassium channel jantung sehingga memperpanjang interval QT yang dapat menimbulkan torsades de point yang dapat berakibat kematian. terfenadin) Menekan kemotaksis eosinofil (fexofenadine. loratadin. meskipun terdapat variasi individual antarpenderita.

tetapi antihistamin generasi baru harus dipertimbangkan sebagai pilihan pertama untuk pengobatan rinitis alergi. 15 Jenis Antihistamin Baru Nama Dosis Lama Kerja Metabolisme di Hati Efek ke Jantung Cetirizine . Di beberapa negara obat tersebut sudah ditarik dari peredaran. Belakangan dilaporkan adanya efek antihistamin ke jantung karena dapat menyebabkan perpanjangan interval QT yang dapat berakibat terjadinya takikardi ventrikuler. c. Oleh karena itu pemakaiannya harus diperhatikan pada penderita yang mempunyai kelemahan fungsi hati. Hampir semua antihistamin dimetabolisme di hati kecuali yang merupakan bentuk metabolit aktif (cetirizine.15 Rekomendasi : Antihistamin klasik mungkin mempunyai efektifitas klinik yang setara dibanding antihistamin yang baru. Efek ini “dose dependent” terutama jika diberikan bersamaan dengan obat makrolide dan golongan ketokonazole. kecuali jika antihistamin baru sukar/tidak dapat diperoleh atau tidak terjangkau oleh penderita. sehingga pemakaiannya harus sangat hati-hati bila ada kecurigaan kelainan jantung atau diperlukan obat makrolide dan golongan ketokonazole pada penderita tersebut pada saat yang bersamaan.tinggi dalam aktifitas sehari-harinya. Efek antikolinergik juga harus diwaspadai karena beberapa kasus pemakaian lama dapat mengganggu aktifitas saluran kencing dan dapat mengganggu penglihatan serta gangguan jantung. b. Contoh antihistamin tersebut adalah terfenadin dan astemizol. fexofenadine dan desloratadine). Bila terpaksa menggunakan antihistamin klasik maka penderita harus dijelaskan tentang efek samping obat tersebut. Perpanjangan interval QT dihubungkan dengan kejadian “torsades de pointes”.

pseudoefedrin.15 Keamanan : Pemakaian vasokonstriktor topikal dapat menimbulkan rasa hidung terbakar. Dekongestan hidung Obat-obat dekongestan hidung menyebabkan vasokonstriksi karena efeknya pada reseptor alfa adrenergik. Pemakaian lebih dari 10 hari dapat menyebabkan takifilaksis. tetapi pemakaian lama tidak menyebabkan efek rebound vasodilatasi.15 Pemakaian oral seperti : Ephedrin Phenyleprin Phenylpropanolamin Pseudoephedrin Efek dekongestan mulai terjadi dalam 30 menit. tetapi tidak efektif untuk keluhan bersin dan rinore. kering atau ulserasi mukosa dan bahkan perforasi septum. berlangsung sampai 6 jam atau 8 – 24 jam yang berbentuk sustained release. Efektivitasnya lebih lemah dibanding pemakaian topikal. Ada beberapa sediaan yang dipakai dalam klinik yang dapat dipakai secara oral maupun topikal15 : – – – Agonis alfa-1 adrenergik (phenyleprin) Agonis alfa-2 adrenergik (efedrin. phenylpropanolamin) Pemakaian topikal sangat efektif untuk menghilangkan sumbatan hidung. . amfetamin) Obat-obat mencegah reuptake noradrenalin (cocain. berlangsung kurang lebih 1 jam untuk epinefrin dan 8 – 12 jam untuk oxymetazolin.Fexofenadin Loratadin Terfenadin Astemizole 1. Efek vasokonstriksi terjadi dalam 10 menit.

15 Pemakaian sistemik (dose dependent) dapat menimbulkan efek samping : – – – – – – – Iritabel Pusing Sakit kepala Tremor dan insomnia Takikardi dapat terjadi pada wanita hamil Hipertensi Kadang-kadang halusinasi15 Pemakaian harus ekstra hati-hati pada : Penyakit kardiovaskuler (hipertensi. pemakaian topikal terbatas < 10 hari Pemakaian topikal harus untuk mengatasi obstruksi hidung yang hebat bersamaan dengan obat lain Pemakaian pada anak-anak < 1 tahun harus sangat hati-hati karena batas yang sempit antara dosis terapi dan dosis toksik Secara umum tidak dianjurkan memberikan pada penderita :  Penderita umur > 60 tahun  Wanita hamil  Hipertensi  Hipertrofi prostat  Glaukoma  Kelainan jiwa  Pemakaian beta bloker . miokard infark) Glaukoma Hipertrofi prostat Ibu hamil15 – – – – Rekomendasi : – – – – Karena resiko terjadinya rinitis medikamentosa.pembengkakan mukosa dan mengakibatkan drug induce rhinitis (rinitis medikamentosa).

15 Efektivitas dan keamanan : Glukokortikoid sistemik mempunyai kerja antiinflamasi yang luas dan efektif untuk hampir semua gejala rinitis. Tidak ada laporan keamanan untuk pemberian depo glukokortikoid ulangan. Tetapi : – – Farmakokinetik kedua obat ini tidak sama dan biasanya diberikan BID. Kombinasi antihistamin dan dekongestan oral Kombinasi kedua obat ini dimaksud untuk mengatasi obstruksi hidung yang tidak dipengaruhi oleh antihistamin. Pemberian oral lebih dipilih karena lebih murah dan dosisnya lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan.1.15 Kontraindikasi : Kontraindikasi untuk glukokortikoid sistemik adalah : – – – Glaukoma Herpes keratitis DM . karena dapat menyebabkan efek samping yang serius (kebutaan). Data ilmiah yang mendukung relatif sedikit dan tidak ada penelitian komparatif mengenai cara mana yang lebih baik dan hubungannya dengan dose response. efek sedasinya tidak berkurang karena stimulasi vasokonstriktor. Pemberian depo intranasal pada konka yang bengkak dan polip harus dihindari. Kortikosteroid Pemberian sistemik : Pemakaian sistemik kadang diberikan peroral atau suntikan sebagai depo steroid intramuskuler. Kombinasi antihistamin sedatif dengan dekongestan oral.15 1. terutama sumbatan hidung. Pemberian depo akan mengakibatkan penglepasan yang terus-menerus sepanjang hari dan menekan HPA-axis dan juga dapat berakibat atrofi jaringan lokal.

Glukokortikoid topikal : Pemakaian topikal glukokortikoid berhasil setelah ditemukan sediaan topikal yang mempunyai efek anti-inflamasi yang kuat dan mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptornya serta bila mencapai hati akan di-deaktivasi dengan cepat sehingga tidak mencapai sirkulasi sistemik. Jumlah sel-sel APC berkurang secara bermakna setelah pemberian kortikosteroid topikal.15 Beberapa sediaan glukokortikoid topikal : – – – – – – Beclometason propionat Budesonide Flunisolide Triamcinolone acetonide Fluticasone propionat Mometasone fuorate Efek anti-inflamasi intranasal glukokortikoid pada sel dapat menekan banyak fase proses inflamasi. . Eosinofil (terutama intraepitelial) dan produknya juga berkurang secara bermakna. Dengan demikian sediaan topikal ini tepat untuk pengobatan rinitis alergi karena dapat dicapai konsentrasi yang tinggi pada reseptornya di mukosa hidung dengan risiko efek sistemik yang minimal. Influk basofil dan sel mast di lapisan epitel juga berkurang. Banyak sel yang berperan pada inflamasi alergi di hidung dipengaruhi. misalnya15 : – – – – APC (sel Langhans) : sangat sensitif.– – – – Instabilitas psikologis Osteoporosis Hipertensi berat TBC atau infeksi kronik spesifik Sebaiknya dihindari pada : anak-anak dan wanita hamil. dipengaruhi up-take dan prosesnya.

yang mungkin karena berkurangnya sel dalam mukosa. leukotrien. Efek yang dilaporkan : – – – – – – – – Rasa kering Terbentuk krusta Epistaksis ringan (transien) Perforasi septum pernah dilaporkan Efek menekan HPA aksis. pemakaian glukokortikoid lebih efektif dibanding antihistamin untuk pengobatan rinitis alergi sedang dan berat. Tujuannya . Imunoterapi Imunoterapi spesifik adalah memberikan alergen yang sesuai dengan hasil tes kulit.– – Beberapa sel seperti makrofag dan neutrofil tidak terpengaruh tidak mempunyai efek samping pada respon imun dan infeksi bakteri. dosisnya secara bertahap dinaikkan sampai dosis maksimal yang tidak menimbulkan serangan/gejala alergi. Glukokortikoid mengurangi penglepasan pembentukan mediator : histamin. Meskipun demikian dalam klinik harus dipertimbangkan : – – – – Kesukaan penderita Ketaatan penderita Kemudahan mendapatkan obat Keterjangkauan obat15 1.15 Efek samping : Preparat glukokortikoid topikal dapat dipakai dalam waktu lama tanpa atrofi mukosa. dilaporkan pada Dexametason topikal Pernah dilaporkan menghambat pertumbuhan anak (beclometason) Pernah dilaporkan adanya sentral retinopati Pada wanita hamil tidak dilaporkan meningkatnya efek teratogenik pada pemakaian topikal untuk asma15 Rekomendasi : Dari metaanalisis. prostanoids.

Bila respom terhadap pengobatan lain seperti farmakoterapi kurang memuaskan penderita. Imunoterapi sublingual/peroral masih banyak diteliti dan mulai banyak dipakai. Bila jelas ada hubungan klinis antara hasil tes kulit dan timbulnya gejala 3. Pemberian imunoterapi yang ideal dengan menggunakan cara end poit titration (SET). imunoterapi pada rinitis alergi lebih kecil daripada penderita asma. Harus ada monitoring fungsi paru). Secara klinis imunoterapi pada rinitis alergi terbukti efektif. resiko terjadinya reaksi anafilaksis sistemik mengakibatkan keterbatasan pengobatan ini. penderita yang tidak dapat taat berobat. 5. Jelas disebabkan oleh adanya Ig E (tes kulit atau Ig E spesifik) 2. 6. jarak dengan fasilitas pengobatan dan pekerjaan penderita.15 Injeksi subkutan lebih banyak dipraktekkan. Pada RA yang sedang-berat dan lamanya keluhan (ukuran obyektif seperti gangguan sekolah/kerja. terdapat penyakit imunologis.15 Rekomendasi : Imunoterapi hanya boleh dilakukan : 1. 8. Tersedia vaksin/alergen yang terstandarisasi/berkualitas. Kemungkinan terjadi efek samping anafilaksi sistemik pada suntik. 7. Pemberian imunoterapi spesifik harus diberikan oleh spesialis yang berpengalaman atau terlatih dan menyadari kemungkinan terjadinya efek samping sistemik dan mampu untuk mengatasinya bila sewaktu-waktu terjadi. Kontraindikasi : menggunakan beta bloker. Faktor sosial : biaya. Meskipun demikian. perhatikan fungsi paru : bila ada asma tidak dianjurkan.15 Penatalaksanaan rinitis alergi sesuai WHO-ARIA .supaya penderita berkurang simptomnya pada paparan alergen penyebab. Oleh/atas tanggungjawab dokter karena adanya resiko reaksi anafilaksi 4.

Kelompok studi alergi-imunologi PERHATI.Gambar 9. Sinusitis Pengobatan sinusitis paranasal ditujukan kepada penyebab. Jika kumannya mengeluarkan enzim beta laktam seperti H. antibiotika golongan amoksisilin merupakan pilihan pertama. B. . Penatalaksanaan Rinitis Alergi Sesuai WHO-ARIA. Pada sinusitis akut jika penyebabnya kuman.

sefalosporin dapat diberikan. kortikosteroid. Pengobatan opeartif hanya dilakukan pada sinus yang tidak sembuh dengan pengobatan konservatif. trimetoprim-sulfametoksasol atau eritromisin dapat diberikan. B. aureus golongan amoksisilin-asam klavulanat. analgetik. berdasarkan kebutuhan sesuai dengan gejala yang timbul. Pengobatan dasar dengan antibiotika ini diberikan selama 2 minggu. jika tidak ada perbaikan antibiotioka dari golongan lain seperti klidamisisn.influenza. catarrhalis atau S. tambahan seperti pemberian mukolitik dekongestan diberikan hidung.15 Pengobatan antihistamin. Untuk itu diperlukan metronidazole.15 Gambar 10. Bagan penatalaksanaan sinusitis . Sinusitis karena kalainan gigi biasanya karena bakteri anaerob atau campuran dari keduanya. Tindakan sederhana seperti punksi dan irigasi sinus maksila dilakukan pada fase akut.

Quo ad sanam: dubia ad malam. 11 Komplikasi yang dapat terjadi melalui alur: Direk/langsung (melalui dehisensi konginetal ataupun adanya erosi pada tulang barier terutama lamina papirasea) dan retrograde tromboplebitis (melalui anyaman pembuluh darah yang berhubungan langsung antara wajah. Rhinitis alergika dan atau sinusitis tidak mengancam nyawa penderita. Kelainan orbita . Sinusitis paranasal: proses sinusitis yang mengenai seluruh lokasi sinus 1. Rhinitis alergika a. rongga hidung. Fungsi hidung pada penderita rhinitis alergika dapat terganggu apabila terus terjadi serangan.BAB VI PROGNOSIS RHINITIS ALERGIKA DAN SINUSITIS Quo ad vitam: ad bonam. Polip hidung: akibat proses inflamasi kronis dari rhinitis alergika b.11 1.10. Quo ad fungsionam: dubia ad bonam. Otitis media: akibat dekatnya anatomi hidung-telinga dan adanya infeksi sekunder yang menyertainya c. Penderita rhinitis alergika dan atau sinusitis memiliki risiko rekurensi jika alergen tidak dapat dihindari atau jika penyebab sinusitis adalah kelainan kompleks osteomeatal. Sinusitis a. sinus dan orbita).

Selulitis orbita : tampak adanya proptosis. tanpa ada gangguan neurologi. kemosis. 2. 3.Facialis. Osteomielitis : penyebaran infeksi melalui anyaman pembuluh darah ke tulang kranium mengakibatkan erosi tulang. Subdural empiema: terjadi karena retrograde tromboplebitis ataupun penyebaran langsung dari abses epidural. . Gejala nyeri kepala hebat. Abses orbita : pus tertimbun di dalam orbita. Abses subperiosteal : tertimbunnya pus diantara periorbita dan dinding tulang orbita. Epidural abses : timbunan pus diantara duramater dan ruang kranium. proptosis dan kebutaan. Selilitis periorbita : gejala yang tampak adanya odem dan hiperemis daerah periorbita. Trombosis sinus kavernosus : sama dengan gejala nomor 4 disertai tanda-tanda meningitis. peningkatan tekanan intrakranial. kejang. 4. penurunan gerak ekstra okuler.Klasifikasi komplikasi intraorbita (Chandler at al) : 1. paralisis n. demam tinggi. Kelainan intrakranial Tahap komplikasi intrakranial : 1. Gejala proptosis lebih jelas dan penurunan gerak. hemiplegi. 5. Gejala sangat ringan. lekositosis dan akhirnya kesadaran menurun. 3. 2. b. gejalnya optalmoplegi. ada tanda-tanda iskemik/infark kortek seperti hemiparesis. ada nyeri kepala yang makin lama dirasakan makin berat dan sedikit demam.

gejala-gejala neurologi jelas tampak. kejang. Gejala-gejala tampak jelas : adanya demam. Meningitis: karena infeksi sekunder dari sinus etmoid dan sfenoid. Lokasi di daerah frontal paling sering disebabkan sinusitis frontal dengan penyebaran retrograde. tekanan intrakranial akan meningkat. septik emboli dari anyaman pembuluh darah. Abses otak. sakit kepala. ancaman kematian segera terjadi bila abses ruptur. diikuti kesadaran menurun sampai koma. 5. BAB VII PENCEGAHAN DAN EDUKASI RHINITIS ALERGIKA DAN SINUSITIS . Bila odem terjadi di sekitar otak.4.

Segera memeriksakan diri ke dokter apabila sakit batuk pilek DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Edisi keenam. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. 2. Rhinitis Alergika Edukasi pasien dengan rhinitis alergika5 : 1. meningkatkan higienitas. Ellis H. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya 2. Menghindari alergen 6. Mulyani. terutama menjaga higienitas gigi dan mulut 4. Restusti RD. Bashiruddin J. Memakai obat sesuai anjuran 7. [CD-ROM] Massachusetts : Blackwell Publishing. 2006. Menyarankan kepada pasien untuk tes alergi 3. Clinical anatomy. Jakarta: EGC. editor. Sinusitis Edukasi bagi pasien sinusitis9 : 1. M. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Menjaga kebersihan lingkungan 5. . Menjelaskan pada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya 2. 11th ed. Snell S. h. 159-61. Jakarta. 2007. 1997. Soepardi EA.D. h.1998. 4. dan berobat kembali bilamana setelah pemakaian gejala belum berkurang B. 3. Ricard. Hilger. Mengontrol faktor-faktor resiko seperti 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 113-4. Penyakit Hidung. Iskandar N. Menyarankan pada pasien untuk semaksimal mungkin menghindari alergen 4.A. Peter A. Menyarankan pada pasien untuk memakai obat sesuai anjuran dokter. Anatomi klinik edisi 3 diterjemahkan oleh Adji Darmana. Edisi keenam.

Umer N. Javed S.doc. Rhinitis Allergic [Online]. Tes Cukit (Skin Prick Test) pada Diagnosis Penyakit Alergi [Online].wordpress.nih.files. Benson BE. 7. [Sitasi 14 Nov 2010]. [Online]. 11.com/2009/05/17/rinitis-alergika/ 12. . November (part II). Children Allergy Center. Riauba L. The Diagnosis and management of Chronic Rhinosinusitis. 13 Mei 2009 [Sitasi 12 Nov 2010] Diunduh dari http://childrenallergyclinic. Mark S Dykewicz. Diunduh dari: http://hennykartika. 8. 27 Sep 2010 [Sitasi 14 Nov 2010]. [Online]. Rhinitis Alergika [Online]. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Iskandar Nurbaiti. Sinusitis [Online]. Allergic Rhinitis. Puruckherr M. East Tennessee State University. 30 Okt 2006.com/article/232670-overview 10. Annals of allergy. MD. Henny Kartikawati. 13. soepardi Effiaty Arsyad. 2007. Ed. 15 April 2010 [Sitasi 13 Nov 2010]. Tersedia dalam : URL: http://www.htm. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 15 November 2009 [Sitasi 12 Nov 2010]. 2002 [Sitasi 14 Nov 2010]. 10 Feb 2009 [Sitasi 13 Nov 2010].com/article/134825-overview 6. & immunology. Tersedia dalam: URL: http://emedicine. at all.6. Asthma and Immunology.com/med/rhinitis. Diagnosis and Management of Rhinitis: Complete Guidelines of the Joint Task Force on Practice Parameters in Allergy. Medline plus .priory.Diunduh dari: http://www.wordpress. et al. 1998.gov/medlineplus/ency/article/000813. Bachruddin Jenny.hennykartika.htm 9. Cara Pemeriksaan Hidung dan Paranasal [Online].medscape.com/2007/12/29/cara-pemeriksaan-hidungdan-sinus-paranasal/. Jakarta.medscape.wordpress. Volume 81. Henny Kartikawati. asthma. Tersedia dalam: URL: http://www.com/2007/03/skin-test-tinjauanbaru. Tersedia dalam: URL: http://emedicine.nlm. Restuti Ratna Dwi.5.

4 Okt 2008 [Sitasi 15 Nov 2010].cfm?pmid=15481. Core Curriculum Syllabus: Nose and Paranasal Sinuses. Data diakses 15.pdpersi.co. Baylor College of Medicine. Pusat Data dan Informasi Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia. Sinusitis Paranasal Mendominasi Kasus THT [Online].id/? show=detailnews&kode=1385&tbl=cakrawala . 14 gt 2002 [Sitasi 13 Nov 2010].edu/oto/index. Diunduh dari http://www.bcm. Olfaction and Taste [Online]. Tersedia dalam: URL:http://www.14.

diikuti kesadaran menurun sampai koma.5. Meningitis: karena infeksi sekunder dari sinus etmoid dan sfenoid. kejang. . sakit kepala. Gejala-gejala tampak jelas : adanya demam.

Menyarankan kepada pasien untuk tes alergi 3. dan berobat kembali bilamana setelah pemakaian gejala belum berkurang B. Menjelaskan pada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya 2. terutama menjaga higienitas gigi dan mulut 4. Menyarankan pada pasien untuk memakai obat sesuai anjuran dokter. Menyarankan pada pasien untuk semaksimal mungkin menghindari alergen 4. meningkatkan higienitas. Rhinitis Alergika Edukasi pasien dengan rhinitis alergika5 : 1. Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan penatalaksanaannya 2. Mengontrol faktor-faktor resiko seperti 3.BAB VII PENCEGAHAN DAN EDUKASI RHINITIS ALERGIKA DAN SINUSITIS A. Menghindari alergen 6. Menjaga kebersihan lingkungan 5. Memakai obat sesuai anjuran 7. Segera memeriksakan diri ke dokter apabila sakit batuk pilek . Sinusitis Edukasi bagi pasien sinusitis9 : 1.

h.com/article/134825-overview 6. East Tennessee State University. 2006. Snell S.DAFTAR PUSTAKA 1.D. [CD-ROM] Massachusetts : Blackwell Publishing. Jakarta. 3. .nlm. Ed. Tersedia dalam: URL: http://emedicine. Puruckherr M. 159-61. Ricard.com/article/232670-overview 10. 2. Tersedia dalam : URL: http://www. 11th ed. BOIES Buku Ajar Penyakit THT. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. November (part II).medscape. Jakarta: EGC. h. Riauba L. Annals of allergy. 2002 [Sitasi 14 Nov 2010]. Allergic Rhinitis. 27 Sep 2010 [Sitasi 14 Nov 2010].1998. Benson BE.gov/medlineplus/ency/article/000813. Restusti RD. 5. 8. Hilger. Javed S. Penyakit Hidung.priory. 10 Feb 2009 [Sitasi 13 Nov 2010]. at all. [Online]. 2007. M. soepardi Effiaty Arsyad. Volume 81. 113-4. MD. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Anatomi klinik edisi 3 diterjemahkan oleh Adji Darmana. Tersedia dalam: URL: http://www. 30 Okt 2006.medscape. Sinusitis [Online]. Iskandar Nurbaiti. 7. Mark S Dykewicz. & immunology. Umer N. Peter A. Mulyani.nih. editor. [Sitasi 14 Nov 2010]. The Diagnosis and management of Chronic Rhinosinusitis. Diagnosis and Management of Rhinitis: Complete Guidelines of the Joint Task Force on Practice Parameters in Allergy. Edisi keenam. Tersedia dalam: URL: http://emedicine. Bachruddin Jenny. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Iskandar N.6. [Online]. Asthma and Immunology. 1998. et al. Edisi keenam.htm. Medline plus .com/med/rhinitis. 1997.htm 9. Clinical anatomy. Ellis H. 4. asthma. Soepardi EA. Rhinitis Allergic [Online]. Bashiruddin J.

Cara Pemeriksaan Hidung dan Paranasal [Online]. Diunduh dari: http://hennykartika.wordpress. Pusat Data dan Informasi Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia.doc. Diunduh dari http://www. Olfaction and Taste [Online]. Jakarta. Baylor College of Medicine.hennykartika.com/2007/03/skin-test-tinjauanbaru. 13 Mei 2009 [Sitasi 12 Nov 2010] Diunduh dari http://childrenallergyclinic. 2007. Tes Cukit (Skin Prick Test) pada Diagnosis Penyakit Alergi [Online].wordpress.Diunduh dari: http://www. Core Curriculum Syllabus: Nose and Paranasal Sinuses. Henny Kartikawati. 11. 13. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.wordpress.com/2007/12/29/cara-pemeriksaan-hidungdan-sinus-paranasal/. Tersedia dalam: URL:http://www. 14 gt 2002 [Sitasi 13 Nov 2010]. 15 April 2010 [Sitasi 13 Nov 2010].com/2009/05/17/rinitis-alergika/ 12.files. Rhinitis Alergika [Online]. Henny Kartikawati. Data diakses 15. Children Allergy Center. Sinusitis Paranasal Mendominasi Kasus THT [Online]. 15 November 2009 [Sitasi 12 Nov 2010].Restuti Ratna Dwi. 4 Okt 2008 [Sitasi 15 Nov 2010].pdpersi. 14.id/?show=detailnews&kode=1385&tbl=cakra wala .bcm.edu/oto/index.co.cfm?pmid=15481.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->