33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF & VARIATIF Sebagai berikut : 1. Lesson Study 2. Examples Non Examples 3. Picture and Picture 4.

Numbered Heads Together 5. Cooperative Script 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) 9. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) 10. Student Facilitator and Explaining 11. Course Review Horay 12. Talking Stick 13. Bertukar Pasangan 14. Snowball Throwing 15. Artikulasi 16. Mind Mapping 17. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) 18. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) 19. Scramble 20. Word Square 21. Kartu Arisan 22. Concept Sentence 23. Make – A Match (Mencari Pasangan) 24. Take and Give 25. Tebak Kata 26. Metode Diskusi 27. Metode Jigsaw 28. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) 29. Metode Inquiry 30. Metode Debat 31. Metode Role Playing 32. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) 33. Metode Team Games Tournament (TGT) Keterangan : 1. Lesson Study Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah ‘lesson study’ sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:

a. Perencanaan. b. Praktek mengajar. c. Observasi. d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran. 2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasardasar teori yang menunjang. 3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana. 4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui. 5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. 6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2). Adapun kelebihan metode ‘lesson study’ sebagai berikut: 1. Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas. 2. Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah. 2. Examples Non Examples Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contohcontoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD. Langkah-langkah: 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP. 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar. 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. 6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan. Kebaikan: 1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar. 2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar. 3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Kekurangan: 1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar. 2. Memakan waktu yang lama.

3. Picture and Picture Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar. 3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. 4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. 5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan / rangkuman. Kebaikan: 1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2. Melatih berpikir logis dan sistematis. Kekurangan: 1. Memakan banyak waktu. 2. Banyak siswa yang pasif. 4. Numbered Heads Together Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Langkah-langkah: 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya. 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain. 6. Kesimpulan. Kelebihan: 1. Setiap siswa menjadi siap semua. 2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan: 1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru. 2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. 5. Cooperative Script Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.

Langkah-langkah: 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas. 6. Kesimpulan guru. 7. Penutup. Kelebihan: 1. Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan. 2. Setiap siswa mendapat peran. 3. Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Kekurangan: 1. Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu. 2. Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Langkah-langkah: 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. 2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.) 3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Kelebihan: 1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik. 2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain. 3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.

Kekurangan: 1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. 2. Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini. 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah: 1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. 2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan. 3. Membimbing pelatihan. 4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan. Kelebihan: 1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya. 2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran. Kekurangan: 1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama. 2. Untuk mata pelajaran tertentu. 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Langkah-langkah: 1. Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar. 2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap keluar. 3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan. 4. Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam sehingga masing-masing siswa mendapat pasangan baru. 5. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya. Kelebihan: Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan. Kekurangan: 1. Membutuhkan ruang kelas yang besar. 2. Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau. 3. Rumit untuk dilakukan.

Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. Banyak siswa yang kurang aktif. 2. 3. siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masingmasing. 2. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk. 6. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak . Kekurangan: 1. dapat mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. 2. Kelebihan: Siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain. 5. 6. yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay. Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Student Facilitator and Explaining Siswa / peserta mempresentasikan ide / pendapat pada rekan peserta lainnya. 2. 4. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Pada metode ini siswa dibentuk kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil. 3. Mempresentasikan / membacakan hasil kelompok. Langkah-langkah: 1. Untuk menguji pemahaman. Memberikan siswa tanya jawab. Course Review Horay Suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya. 3. 5. Guru memberikan wacana / kliping sesuai dengan topik pembelajaran. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 11. Guru membuat kesimpulan bersama. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas. 4. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 10. Kekurangan: Pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi. Penutup. Memberikan kesempatan siswa / peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan / peta konsep maupun yang lainnya. Guru menyimpulkan ide / pendapat dari siswa. Penutup.9. Langkah-langkah: 1. Kelebihan: 1. 2. 4. 5. Langkah-langkah: 1.

Kelebihan: 1. Menguji kesiapan siswa. Penutup. 5. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya. Penutup. Evaluasi. Talking Stick Metode pembelajaran dengan bantuan tongkat. setelah itu guru memberi pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. 12. Guru memberikan kesimpulan. atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya. 2. 3. Agar lebih giat belajar (belajar dahulu). siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Guru menyiapkan sebuah tongkat. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya). 3. Adanya peluang untuk curang. Kelebihan: 1. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/ paketnya. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. Kekurangan: Membuat siswa senam jantung. 3. 8. 7. 2. Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal. Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. 4. 6. Melatih membaca dan memahami dengan cepat. Bertukar Pasangan Siswa berpasangan kemudian bergabung dengan pasangan lain dan bertukar pasangan untuk saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban masing-masing. Melatih kerjasama. 7. kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah diisi tanda silang (x) 6. 2.yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan. 2. Langkah-langkah: 1. Langkah-langkah: 1. Kekurangan: 1. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh. 2. Setelah selesai setiap siswa yang berpasangan bergabung dengan satu . 13. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari.

Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.pasangan lain. mempertahankan pendapat. Saling memberikan pengetahuan. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. Guru memberikan kesimpulan. Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama. Melatih kesiapan siswa. Memerlukan waktu yang lama. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. Langkah-langkah: 1. 2. 2. 4. 8. Penutup. Langkah-langkah: . 2. 7. Evaluasi. Artikulasi Siswa membentuk kelompok berpasangan. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. Kelebihan: 1. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 2. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. Snowball Throwing Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. Semua siswa terlibat. 9. 3. Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa. 14. masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka. 4. 5. kemudian seorang menceritakan materi yang disampaikan oleh guru dan yang lain sebagai pendengar setelah itu berganti peran. Kelebihan: 1. 6. 15. Tidak efektif. 2. 5. Kekurangan: 1. Kekurangan: 1. Guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing.

6. Semua siswa terlibat (mendapat peran). Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tiap kelompok membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru. 6. Langkah-langkah: . Waktu yang dibutuhkan banyak. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. 5. Langkah-langkah: 1. 3. Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan kecil. 16. Begitu juga kelompok lainnya. Guru mengemukakan konsep/ permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa . 17. Tiap kelompok menginventarisasi/ mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban. Mind Mapping Suatu metode pembelajaran yang sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. Hanya siswa yang aktif yang terlibat. Kelebihan: 1. 4. 3. kemudian berganti peran. Suruh siswa secara bergiliran/ diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 2. 2. Materi yang didapat sedikit. Guru mengulangi / menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 7. 2. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.1. Untuk mengetahui daya serap siswa. 2. Tidak sepenuhnya murid yang belajar. sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. Kelebihan: 1. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain. Kesimpulan/ penutup. 5. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-5 orang. Kekurangan: 1. 2. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas. 2. 3. Untuk mata pelajaran tertentu. 3. Melatih kesiapan siswa. Kekurangan: 1. 4. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya.

siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Jika perlu. 2. Guru tidak mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 5. 3. Membagikan lembar kerja dengan jawaban yang diacak susunannya. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. Kelebihan: . suku. Scramble Metode pembelajaran dengan membagikan lembar kerja yang diisi siswa. Dalam kesempatan ini. Laporan hasil kelompok dan tanggapan dari kelompok yang lain. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. Guru menyajikan materi sesuai topik. Dapat bertukar pikiran dengan siswa yang lain. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan. Guru menyajikan pelajaran. Kekurangan: 1. 2. 2. 2. Penutup. 5. Kelebihan: 1. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. Siswa dibagi dalam kelompok. Melatih kerjasama dengan baik. siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka. Langkah-langkah: 1. 4.1. 2. Memberi evaluasi.). jenis kelamin. 2. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya terhadap tugas yang berangkai. 18. 6. Seluruh siswa menjadi lebih siap. guru bisa menyuruh kerjasama antarkelompok. Waktu yang dibutuhkan banyak. Membedakan siswa. 19. 4. dll. Kelebihan: 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. Kekurangan: 1. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) Siswa dikelompokkan dengan diberi nomor dan setiap nomor mendapat tugas berbeda dan nantinya dapat bergabung dengan kelompok lain yang bernomor sama untuk bekerjasama. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. 2. Setiap siswa menjadi siap semua. 3. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. 3. Kesimpulan. Langkah-langkah: 1.

Langkah-langkah: 1. Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. 2. 2. 4. Siswa tinggal menerima bahan mentah. Kekurangan: 1. Memudahkan mencari jawab. Bentuk kelompok orang secara heterogen. Word Square Siswa diberikan lembar kegiatan kemudian menjawab soal dan mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. Kertas jawaban bagikan pada siswa masing-masing 1 lembar / kartu soal digulung dan dimasukkan ke dalam gelas. Langkah-langkah: 1. 2. Guru membagikan lembar kegiatan sesuai contoh. Kelebihan: 1. Siswa kurang berpikir kritis. 21. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut. Tidak semua terlibat dalam kegiatan pembelajaran. 2. 22. Nilai tergantung pada individu yang mempengaruhi nilai teman lain.1. 4. Kartu Arisan Siswa dibentuk kelompok dan setiap jawaban digulung dan dimasukkan ke dalam gelas kemudian siswa yang memegang kartu jawaban menjawab setelah dikocok terlebih dahulu. Kekurangan: 1. kemudian salah satu yang jatuh diberikan agar dijawab oleh siswa yang memegang kartu jawaban. 20. . Kekurangan: 1. Kelebihan: Pembelajaran yang menarik dihubungkan dengan kehidupan nyata. Gelas yang telah berisi gulungan soal dikocok. Mematikan kreatifitas siswa. Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi. Apabila jawaban benar maka siswa dipersilakan tepuk tangan atau yel-yel lainnya. 2. Melatih untuk berdisiplin. Concept Sentence Siswa dibentuk kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan. Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya. 2. 3. 3. Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Bisa saja mencontek jawaban teman lain. Berikan poin setiap jawaban dalam kotak. 2. 5.

3. Kekurangan: 1. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 5.Langkah-langkah: 1. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi/ tpk yang disajikan. 7. 2. Siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat. Siapkan kelas sebagaimana mestinya. 3. selanjutnya siswa diberi pertanyaan sesuai dengan kartunya. 2. Lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran. kecermatan dan ketepatan serta kecepatan. Take and Give Siswa diberi kartu untuk dihapal sebentar kemudian mencari pasangan untuk saling menginformasikan. Kelebihan: Melatih untuk ketelitian. kurang konsentrasi. Kekurangan: Waktu yang cepat. 6. Guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara heterogen. 23. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Demikian seterusnya. 4. . Tiap siswa memikirkan jawaban / soal dari kartu yang dipegang. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan tujuan. Kelebihan: 1. Jelaskan materi sesuai topik menit. Guru menyajikan materi secukupnya. 6. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Hasil diskusi kelompok didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru. 5. Untuk yang pasif mengambil jawaban dari temannya. 2. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Kesimpulan. Penutup. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 7. Make – A Match (Mencari Pasangan) Siswa disuruh untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban / soal sebelum batas waktunya. Kesimpulan. 24. Hanya untuk mata pelajaran tertentu. yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. 2. 8. 4. 2. Langkah-langkah: 1.

Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing. 6. Untuk mengevaluasi keberhasilan. Kelebihan: Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya. 5. Sementara siswa membawa kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10 x 10cm. 2. Seorang siswa lainnya diberi kartu berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga. 25. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru . Tebak Kata Metode ini menggunakan kartu yaitu kartu ukuran 10 x 10 cm dan diidi ciri-ciri kata lainnya yang mengarah pada jawaban. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya. Untuk memantapkan penguasaan peserta. 3. 7. Strategi ini dapat dimodifikasikan sesuai keadaan. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasikan materi sesuai kartu masing-masing. Metode Diskusi Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan itu boleh duduk. 8. Langkah-langkah: 1. Jelaskan materi menit. Kekurangan: Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju karena waktu terbatas. Kekurangan: Tidak efektif dan terlalu bertele-tele. tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) kurang lebih 5 menit.3. Kelebihan: Dilatih memahami materi dengan waktu yang cepat. Suruh siswa berdiri di depan kelas dan berpasangan. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu control. 4. Kesimpulan. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. 5. Jawab yang tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempel di dahi. yang kedua kartu ukuran 5 x 2 cm untuk menulis kata / istilah yang mau ditebak. 26. berikan siswa pertanyaan yang sesuai dengan kartunya (kartu orang lain). 4.

Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan. f. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. i. f. Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. g. e. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya. membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman f. memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya c. Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur pembicaraan. Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan. Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan. c.hendak: a. h. Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan. b. j. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat. memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa b. agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. g. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem. b. e. mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai d. mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut. membantu siswa belajar berpikir secara kritis e. c. Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. Guru menjelaskan tujuan diskusi. d. membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah g. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. . Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. d.

Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data. g. b. f. lebih rendah. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama. h. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu. Metode Jigsaw Pada dasarnya. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi. i. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri. Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. e. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan. kesimpulan. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara. d. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan. d. b. dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. 27. f. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang. c. j. Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. remeh atau lebih bodoh. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara. menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya. Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut: a. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang. . atau keputusan yang akan atau telah diambil. j. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali. e.h. i. siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis. Kelemahan metode diskusi sebagai berikut: a. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat. c. pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.

setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan. Seleksi topik Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. d. Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Analisis dan sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh . Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari. tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas. etnik maupun kemampuan akademik. Merencanakan kerjasama Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan.Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. 28. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terusmenerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. Dengan demikian. Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). b. c. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih.

e. Evaluasi Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok.pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. Di dalam kelompoknya. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. Metode Inquiry Metode ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. Metode Debat Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama. pembuat kesimpulan (summarizer). peran pencatat (recorder). intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri. siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. menumbuhkan sikap objektif. dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif. 29. jujur dan terbuka. misalnya. pengatur materi (material manager). memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. . atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar. atau keduanya. Pada dasarnya. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru. Kelebihan metode ini mendorong siswa berpikir secara ilmiah. f. Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Peran tersebut mungkin bermacammacam menurut tugas. 30. setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. kreatif. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok.

Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. Berpikir dan bertindak kreatif. 3. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut: a. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda. 5. e. 33. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis d. melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. khususnya dunia kerja.31. 4. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. g. b. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. f. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. c. Kelemahan metode problem solving sebagai berikut: a. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran . hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. b. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. 32. melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. 2. Kelebihan metode Role Playing: 1. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. Metode Role Playing Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Metode Team Games Tournament (TGT) Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan.

karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. Model Pembelajaran Klasikal Urutan Kegiatan Pembelajaran♣ Guru menjelaskan definisi♣ Membuktikan rumus♣ Memberi contoh♣ . Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih. Kelompok (team) Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik. persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Turnamen Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. 3. biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan. 2. jenis kelamin dan ras atau etnik.kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab. Model Pembelajaran Individual 3. Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1. Model Pembelajaran Klasikal 2. Team recognize (penghargaan kelompok) Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang. “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I. Model Kooperatif Keterangan : 1. 5. tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya. Penyajian kelas Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas. diskusi yang dipimpin guru. Game Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. kerjasama. 4. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru. 1.

ν Menentukan skor peningkatan.ν Keberhasilan siswa diukur berdasarkan pada sistem yang mutlak.ν Diskusi grup ahli: Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli. Adapun pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri: Siswa belajar secara tuntas.ν Siswa belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing.ν Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan model kooperatif yang digunakan. Modul adalah suatu paket pembelajaran yang memuat suatu unit konsep pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri. Model Pembelajaran Individual Model pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual.Memberi soal latihan♣ 2. Skor peningkatan dapat digunakan untuk memberikan penghargaan kelompokν Beberapa Model Pembelajaran : STAD (Student Achievement Division)ν JIGSAWν TGT (Teams-Game-Tournaments)þν Keterangan : STAD Langkah-langkah Pembelajaran Guru menyampaikan materiν Siswa membetuk kelompok untuk menyelesakan masalahν Menyerahkan/mempresentasikan hasil kerja kelompokν Memberi tes/kuisν Memberikan penghargaan kelompokν JIGSAW Langkah-langkah Pembelajaran Siswa membaca topik ahli dan menetapkan anggota ahli untuk topik tertentu. menyelesaikan tugas. Melaksanakan kegiatan pembelajaran. membagi siswa dalam kelompok berdasarkan skor awal. menentukan skor awal.ν Penghargaan kelompokν TEAM GAME TOURNAMENT . 3. atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama Kegiatan Pembelajaran ν Kegiatan pra pembelajaran meliputi menyiapkan materi.ν ν Laporan kelompok: Siswa ahli kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan topik yang didiskusikannya kepada anggota kelompoknya Tes:Siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik.ν Salah satu model pembelajaran individual yang sangat populer adalah modul. Model Pembelajaran Kooperatif ν Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah.

pengeneralisasian. ν Siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin.ν ν Tujuan membangun pemahaman. berdiskusi.ν ν Turnamen: siswa memainkan pertandingan akademik dalam regu yang berkemampuan homogen. Pendekatan Pemecahan Masalah ν Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya. Di dalam kelas konstruktifis para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya sendiri. melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan setiap masalah. ν Penghargaan kelompok: skor kelompok dihitung berdasarkan skor anggota kelompok turnamen.ν . masing-masing meja turnamen berisi 3 anggota. dan kelompok baru diakui bila dapat melampaui kriteria minimal. Melalui kegiatan ini aspek-aspekν kemampuan matematika menjadi penting seperti penerapan aturan pada masalah yang tidak rutin. Belajar menurut pandangan konstruktivis tidak menekankan untuk memperoleh pengetahuan yang banyak tanpa pemahaman.Langkah-langkah Pembelajaran Mengajar: Guru menyampaikan materiν Belajar kelompok: siswa belajar dengan menggunakan lembar kerja dalam kelompok untuk menguasai materi. komunikasi matematika. Empat Fase Penyelesaian Masalah Menurut Polya memahami masalahν merencanakan penyelesaianν menyelesaikan masalah sesuai rencanaν melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah telah dikerjakanν Ada 3 hal yang perlu dipikirkan yang berkaitan dengan pemecahan masalah Pembelajaran melalui pemecahan masalahν Pembelajaran tentang pemecahan masalahν Pembelajaran untuk pemecahan masalah. Guru bukan seseorang yang harus selalu diikutiν jawabannya. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA Pendekatan Konstruktivisν Pendekatan Pemecahan Masalah Matematikaν Pendekatan Open-Endedν Pendekatan Realistikν Pendekatan Konstruktivis Prinsip Utama: Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa. dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Mereka berbagi strategi penyelesaian. penemuan pola.ν Guru seharusnya mengetahui pengetahuan awal yang ada pada siswa dan memanfaatkannya untuk menyampaikan materi berikutnya.

dan simbol-simbol.ν ν Kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban yang benar.ν Beberapa alat peraga matematika Alat untuk kekekalan Luasν Alat untuk kekekalan panjangν Alat kekekalan volumeν Alat untuk teori kemungkinanν A lat untuk pengukuranν Macam-macam bangun geometriν Alat peraga untuk permainanν Model Pembelajaran Kooperatif PEMBELAJARAN KOOPERATIF YANG BERKESAN Apa dia pembelajaran kooperatif ? . skema.ν Intertwinning(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan. Pendidikan Realistik Matematika (RME) Menurut Streefland (1991) terdapat lima prinsip utama dalam belajar mengajar yang berdasar pada pengajaran realistik adalah: Menggunakan masalah-masalah kontektual. untuk sampai pada prosedur yang benar diperlukan pemikiran yang lebih mendalam. situasi.ν Sedangkan dalam masalah tidak rutin.ν Strategi unuk memecahkan msalah Strategi Act It Outν Membuat Gambar atau Diagramν Menemukan Polaν Membuat Tabelν Memperhatikan Semua Kemungkinan Secara Sistematikν Tebak dan Periksaν Strategi Kerja Mundurν Membuat Modelν Menyelesaikan Masalah yang Mirip atau Masalah yang lebih Mudah.ν Menggunakan model-modelν .Soal yang merupakan “masalah” Soal rutin biasanya mencakup aplikasi suatu prosedur matematika yang sama atau mirip dengan hal yang baru dipelajari. Membawa siswa dari tingkat informal ke tingkat formal.ν Pendekatan Open-Ended Pembelajaran dengan Open Ended biasanya dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada siswa.ν Adanya kegiatan interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.

Ianya boleh digunakan oleh pelbagai kumpulan umur dan dalam pelbagai mata pelajaran. Apakah kelebihan pembelajaran kooperatif ? Walaupun pembelajaran kooperatif menimbulkan keresahan kepada ibubapa yang khuatirkan kecairan pembelajaran apabila pelajar yang cerdas berada di dalam kumpulan yang kurang cerdas.Pembelajaran kooperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan refomasi pendidikan. diantaranya ialah : 1. Untuk mencapai kejayaan dalam prinsip ini. Tanggungjawab individu bermakna setiap pelajar mesti melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyumbang kepada sesuatu projek. Setiap ahli mempunyai tanggungjawab ke atas keberkesanan pembelajaran kumpulan. pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai satusatu objektif pembelajaran (Johnson & Johnson.Pembelajaran koopeatif dilaksanakan secara kumpulan kecil supaya pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kumpulan untuk mempelajari isi kandungan pelajaran dengan pelbagai kemahiran sosial.ciri pembelajaran kooperatif Pendekatan Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa ciri tertentu. Kejayaan kumpulan bergantung kepada pembelajaran individu yang ahli sesuatu kumpulan. tetapi mengikut Slavin ( 1991) ia akan memberi faedah kepada golongan yang berbeza kebolehan yang belajar dalam satu kumpulan. Interaksi yang serentak berlangsung pada masa yang sama untuk setiap kumpulan melalui perbincangan yang akan menyebabkan lebih ramai individu yang turut serta mengambil bahagian. Jika dijalankan dengan . Kajian menunjukkan pembelajaran kooperatif boleh meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif pelajar. Matlamat kumpulan Matlamat kumpulan ialah kejayaan kumpulan dalam mencapai kecemerlangan dalam menguasai sesuatu konsep yang di ajar. Prinsip ini dikenali sebagai saling bergantungan secara positif. Penyertaan pula bermaksud semua pelajar mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bahagian dan menyumbang secara bersama. Setiap ahli kumpulan perlu berhubung rapat. Selain dari itu. Pelajar perlu saling bergantungan positif untuk mencapai objektif gerak kerja. Pembelajaran kooperatif sebenarnya merangkumi banyak jenis bentuk pengajaran dan pembelajaran. Matlamat ini dicapai melalui usaha bersama semua bersama ahli di dalam kumpulan. Asasya ia menggalakkan pelajar belajar bersama-sama dengan berkesan melalui pembentukan kumpulan yang homogen seperti dalam pendidikan inklutif. tugas perlu diagihkan kepada semua ahli kumpulan untuk menyumbang jawapan atau hasil dapatan. saling memenuhi dan bantu-menbantu. 1991). ciri-ciri umumnya ialah: Ciri. 3. Setiap ahli kumpulan akan berinteraksi secara bersemuka dalam kumpulan. Secara dasarnya. 2. Interaksi sosial ditekankan. Dalam kumpulan ini setiap ahli kumpulan mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kumpulan mencapai matlamat yang ditetapkan.

Kajian juga menunjukkan pembelajaran kognitif boleh memberbaiki kemahiran sosial pelajar. Pelajar yang bersuara perlahan perlu meninggikan suara supaya didengari dan difahami oleh ahli kumpulan lain. Setelah masing-masing memahami bahagian masing-masing. Beberapa bentuk pembelajaran kooperatif 1. setiap pelajar mempunyai tanggungjawab untuk memahiri sesuatu subtopik serta berpeluang berkongsi pengetahuannya dengan ahli kumpulan yang lain. Untuk tujuan ini . pelajar perlu betul-betul memahami subtopik itu. Ini mengakibatkan pemprosesan pada aras yang lebih tinggi. Teguran sesama ahli perlu dilakukan dengan sewajarnya agar dinamik kumpulan tidak hancur dan gerak kerja berjalan lancar. Selain dari itu.yang meningkatkan daya ingatan dan seterusnya membolehkan mereka menunjukkan pencapaian yang lebih baik. .sempurna. Ahli-ahli dalam kumpulan perlu bekerjasama untuk mencapai objektif pembelajaran. Pembelajaran dalam kumpulan kecil dilakukan bagi sesuatu topik. kaedah ini juga memberi peluang kepada pelajar yang kurang cemerlang dan mengajar mereka untukmenjadi 'juru' dan mengajar mereka yang mempunyai prestasi akademik lebih baik daripadanya.Kaedah STAD STAD merupakan akronim bagi Student Teams Achievement Divisions. Mengikut Kagan (1994) . mereka perlu mempelajari atau memperbaiki kemahiran sosial mereka. secara tidak langsung meningkatkan keyakinan diri mereka. 2. Secara tidak langsung. setiap 'juru' mengajarnya pula kepada ahli kumpulan yang lain.Kaedah Jigsaw II Dalam kaedah ini. ini meningkatkan pemahaman dan ingatan. Kaedah perbincangan ini boleh menggunakan kaedah Jigsaw II atau pendekatan lain. bukan sekadar menghafal sesuatu topik. pembelajaran kooperatif bagi golongan berbakat telah membawa banyak keberkesanan atau faedah seperti berikut : Membaiki hubungan sosial Meningkatkan pencapaian Meningkatkan kemahiran kepimpinan Meningkatkan kemahiran sosial Meningkatkan tahap kemahiran aras tinggi Meningkatkan kemahiran teknologi Meningkatkan keyakinan diri. setiap ahli kumpulan menjadi 'juru' dalam sub-unit sesuatu topik. Soal-jawab atau perbincangan yang berlaku semasa proses ini membolehkan 'juru' dan ahli sama-sama memikirkan pembentangan yang diberi.

Tugasan perlu distruktur sebegitu rupa supaya ahli kumpulan saling bergantung untuk mencapai objektif yang ditentukan. peningkatan kemajuan yang ditunjukkan oleh setiap pelajar akan dikira dengan mengambil markah terbaru dan ditolak dengan purata markah pelajar itu sendiri. . Disamping itu. Guru perlu menjelaskan kepada pelajar apakah tingkahlaku yang wajar dan tidak wajar semasa pembelajaran kooperatif berlaku. Kumpulan kecil mengandungi tiga atau empat ahli didapati paling efektif. Ini boleh menyebabkanada ahli kumpulan yang 'lepas tangan' ataupun dipinggirkan oleh orang lain. Beberapa strategi meningkatkan keberkesanan pembelajaran kooperatif Pembahagian kumpulan yang membolehkan ahli-ahli dalam kumpulan bekerja dengan berkesan bersama-sama. Perbezaan markah individu akan dikumpulkan untuk menjadi markah kumpulan. Ahli kumpulan yang bekerja secara berpasangan akan bertukartukar helaian jawapan kerja yang telah dibuat. 3.Faktor yang paling utama di sini ialah bilangan ahli dalam kumpulan. TAI TAI( Team Assisted Individualization) dibentuk menggabungkan antara motivasi dan insentif kepada kumpulan. Di sebabkan markah kumpulan diperolehi berdasarkan peningkatan ahli kumpulan.Selepas itu kuiz bertulis secara individu akan diberikan untuk menguji pemahaman pelajar. Setiap pelajar akan mendapat markah individu. kumpulan yang melebihi skor yang ditetapkan akan diberikan sijil. Ahli kumpulan bertanggungjawab memastikan rakan-rakan dalam kumpulan bersedia untuk menduduki ujian akhir setiap unit. pembentukan kumpulan sebaiknya dilakukan oleh guru bagi mengelakkan pelajar berkumpul sesama 'klik' mereka sahaja. Program yang diberikan mestilah bersesuaian dengan kemahiran yang dipunyai oleh setiap pelajar. Dengan cara itu setiap pelajar mempunyai motivasi untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga kumpulan. pengalaman pembelajaran sepenuhnya tidak dapat dicapai. Kumpulan yang terlalu besar kurang efektif kerana pembabitan ahli kumpulan cenderung menjadi tidak sama rata. Satu cara ialah melalui pemberian markah. Pelajar dalam setiap kumpulan mestilah terdiri daripada pelajar yang mempunyai keupayaan yang berbeza-beza. ahli kumpulan akan saling bekerjasama supaya mendapat markah yang maksimum. dan bagi pelajar ini. Skor mingguan yang diperolehi oleh kumpulan akan dijumlahkan . Setiap pelajar mendapat markah individu dan markah kumpulan bergantung kepada markah individu. Jadikan tanggungjawab pencapaian terletak di kedua-dua tahap individu dan kumpulan. Berikan garispanduan tingkahlaku dan kemahiran berkomunikasi kepada pelajar. Guru juga perlu meberikan asas kemahiran komunikasi misalnya bagaimana menyuarakan pendapat dan bagaimana menghadapi percanggahan pendapat. Elakkan memberi tugasan yang boleh diselesaikan tanpa perlu pembabitan setiap ahli kumpulan.

pembelajaran. and individualistic learning ( 3rd Ed. Perbincangan yang berlaku seharusnya yang berkaitan dengan tugasan . NJ: Prentice Hall. Dengan konsep itu. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. pembelajaran kontekstual Pengembangan Pembelajaran Kontekstual Oleh : Depdiknas A. ed ). Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya. Slavin. Interaksi juga harus berlaku di antara setiap ahli kumpulan dan tidak meminggirkan mana-mana ahli kumpulan.Bennett.Stevann(1991) Cooperative Learing Where Heart Meets Mind. bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. R. 2008 kurikulum & pembelajaran Tags: CTL..& Johnson. Baltimore.W. NJ: Prentice-Hall. Guru perlu mengawasi interaksi yang berlaku semasa pelajar menjalankan aktiviti kumpulan di dalam kelas. L. C. Perbincangan dan keputusan juga tidak dimonopoli oleh ahli kumpulan tertentu sahaja. Sumber : http://www. Upper Saddle river. Slavin. Nota Edaran Kursus SMWB-10 (10 Jun-27 Julai 2002.Pastikan jenis dan amaun interaksi antara pelajar berpatutan. (1986) Using Student Team Learning ( 3 rd. Research ang Practice. Englewood Cliff. Competitive. Rolheiser-Bennett. Krongthong Khairiree. BIBLIOGRAFI B. d. Centre For Research On Elementary And Middle Schools.). Learrning together and alone : Cooperative. R. Johns Hopkins University. R. kurukulum.T (1991). bukan memgetahuinya. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.geocities.com/gardner02_8/ilmiah1. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Latar belakang Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Johnson. (1990) Cooperative Learning : Theory.htm Diposkan oleh Padiya di 21:13 0 komentar Model Pembelajaran Kontekstual PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Diterbitkan Januari 29. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil .

Strategi belajar itu penting. tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.Anak belajar dari mengalami. bukan dari pemberian orang lain.Siswa belajar dari mengalami sendiri. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. . . Pemikiran tentang belajar. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. .Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. Proses belajar . guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru.Proses belajar dapat mengubah struktur otak.Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) .Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). . Siswa sebagai Pembelajar . Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang . dan bergelut dengan ide-ide. .Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah. Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. . 2.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual B. Transfer Belajar . Maksudnya. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. 1.Dalam kelas kontektual. dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. .Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. masyarakat belajar (Learning Community). yang berasal dari proses penilaian yang benar. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. Dari guru akting di depan kelas. 2. Pentingnya Lingkungan Belajar . dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi.Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. yakni: konstruktivisme (Constructivism).Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna. untuk hal-hal yang sulit. pemodelan (Modeling). dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. . memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri. . Pengertian Pembelajaran Kontekstual 1.Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. .Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.baru. strategi belajar amat penting. menemukan ( Inquiri). 4. siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya. C.Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. Akan tetapi. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. . sosial. guru mengarahkan.Umpan balik amat penting bagi siswa. . Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya . bertanya (Questioning).

9. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. 6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. 11. Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. 3. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. 7. 7. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Kontekstual 1. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja. Siswa secara pasif menerima informasi. 6. 14. 5. 10. mendengar ceramah. dan mengisi latihan (kerja individual). bidang . Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. 2. 5. Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. 12. yang bersifat subyektif. 12. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan. 9. F. konteks dan setting. 13. Menyandarkan pada hapalan 2. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas. menggali. khususnya dari guru. 13. atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan. berpikir kritis. Tradisional 1. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. tidak bersandar pada realitas kehidupan. Perilaku dibangun atas kesadaran diri. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa. Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik.dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. 4. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. 4. 10. 8. Menyandarkan pada pemahaman makna. Perilaku dibangun atas kebiasaan. 8. 3. berdiskusi. 11.

.Berbagi ide 5.Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Lakukan refleksi di akhir pertemuan 6.Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah.Kegiatan guru untuk mendorong. . Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik 2.Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. Ciptakan masyarakat belajar. langkahnya sebagai berikut ini. Konstruktivisme . . 4. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. . karya seni. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.Mencatat apa yang telah dipelajari.Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Questioning (Bertanya) . Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 5. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 1. . . diskusi kelompok . Reflection ( Refleksi) .Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4. . 3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.Tukar pengalaman. Inquiry . Learning Community (Masyarakat Belajar) . Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara G. . bekerja dan belajar. Secara garis besar.Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. . Modeling (Pemodelan) .Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan 2. dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1.Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6.Membuat jurnal.studi apa saja.

Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya. Saling menunjang 3. Siswa kritis guru kreatif 10. Pembelajaran terintegrasi 6. laporan hasil pratikum.Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.Penilaian produk (kinerja). Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual. program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. 2. karangan siswa dan lain-lain I. Menggunakan berbagai sumber 7. peta-peta. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) . yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa. Sekali lagi. Dalam konteks itu. Kompetensi dasar. gambar. 1. Menyenangkan. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran. . artikel. humor dan lain-lain 11.Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. Siswa aktif 8. . Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional). Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. yang membedakannya hanya pada penekanannya. Belajar dengan bergairah 5. tidak membosankan 4. dan authentic assessmennya.7. langkah-langkah pembelajaran. . Sharing dengan teman 9. saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. materi pembelajaran. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Kerjasama 2. program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual 1. yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. media untuk mencapai tujuan tersebut. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa.

Mangkoesapoetra.com/2008/01/29/pembelajarankontekstual/ Diposkan oleh Padiya di 20:53 0 komentar Model Pembelajaran Portofolio MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:SEBUAH TINJAUAN KRITIS Oleh :Drs. kurang demokratis. Arief A. aktif dan kreatif. afektif. Sumber : http://akhmadsudrajat. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. berpendapat.3. Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terkesan sangat kaku. suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alternatif. serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki suatu kebebasan berpikir. kurang fleksibel. dan guru cenderung lebih dominan one way method.Nama & E-mail (Penulis): arief mangkoesapoetra Saya Guru di SMAN 21 BANDUN G Topik: Model Pembelajaran Tanggal: 25 Agustus 2004 I. yaitu model pembelajaran berbasis portofolio (porfolio based learning). Latar Belakang Masalah Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat. Guru PKn mengajar lebih banyak mengejar target yang berorientasi pada nilai ujian akhir. Nyatakan authentic assessmentnya. dan psikomotorik siswa. sehingga mata pelajaran PKn tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan warga negara yang menekankan pada kesadaran akan hak dan kewajiban tetapi lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh dan membosankan. dan tindakan. sikap. M. Judul: MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO: SEBUAH TINJAUAN KRITISBahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Dasar Pemikiran Model Pembelajaran Portofolio dalam PKn Menurut ERIC Digest (2000). Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di atas. akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai. yang memenuhi muatan tatanan nilai. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari-belum memenuhi harapan seperti yang diinginkan. aktivitas guru lebih dominan daripada siswa. Hal ini berkaitan dengan kritik masyarakat terhadap materi pelajaran PKn yang tidak bermuatan nilai-nilai praktis tetapi hanya bersifat politis atau alat indoktrinasi untuk kepentingan kekuasaan pemerintah.wordpress. yang diharapkan mampu melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan dapat melibatkan seluruh aspek. "Portfolios . II.Pd. yaitu kognitif. yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. di samping masih menggunakan model konvensional yang monoton.

are used in various professions together typical. sikap. Experiencing (belajar dalam konteks eksplorasi. dan negara. dengan menggunakan waktu/kekinian. masyarakat. (1) CTL. Applying (belajar dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya). penemuan dan penciptaan). Implementasi model . sosial.". Melalui model pembelajaran portofolio. juga dapat mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif. yaitu Relating (belajar dalam kehidupan nyata). agar siswa dapat mempertanggungjawabkanb ucapan. Cooperating (belajar dalam konteks interaksi kelompok). dari satu konteks ke konteks lain.. art students assamble a portfolio for an art class. bisa dilakukan di dalam kehidupan keluarga. f. kemudian pada masyarakat. lawan dari textbook centered. Adapun alasan penggunaan model pembelajaran portofolio. memiliki tingkat kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang bermoral. serta diiringi suatu sikap tanggung jawab. juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran (Stiggins.. 1994 : 20). serta dapat mengembangkan dan membekali siswa bagaimana belajar ber-PKn-dengan pengetahuan dan keterampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi dan efektifitas dalam berpartisipasi. 'Contextual Teaching Learning' CTL adalah suatu bentuk pembelajaran yang memiliki karakteristik berikut : a. membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain. dan Transfering (belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks baru/konteks lain) (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn' Model yang dipelopori oleh Fred Newman ini mencoba mengajarkan pada siswa bagaimana mempengaruhi kebijakan umum. Kedua model di atas. e. yaitu masa yang lalu. Model ini mendorong partisipasi aktif siswa dalam kehidupan politik. Model CTL disebut juga REACT. perbuatan pada dirinya sendiri.. mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. dan (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn'. pribadi. bangsa. keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan siswa dan pembelajarannya. civic life. lingkungan budaya. selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan. yang menjadi dasar acuan pendekatan sistem pada model pembelajaran portofolio membina siswa dalam rangka pemerolehan kompetensi lingkungan dan membekali siswa dengan life skill : civic skill. selain diupayakan dapat membangkitkan minat belajar siswa secara aktif. belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas. kreatif. dengan mencoba mengembangkan kompetensi lingkungan yang merupakan kemampuan siswa untuk mempengaruhi lingkungan. sekarang. dan yang akan datang. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa sebagai hasil belajarnya. d. b. Portofolio. dengan demikian pendekatan tersebut mencoba memperbaiki kehidupan siswa dalam masyarakat atau negara. dan g. dan politik. juga untuk membina suatu tatanan nilai terutama nilai kepemimpinan pada diri siswa. dan memberikan dampak pada keputusan-keputusan kebijakan. c. 'Contextual Teaching Learning'. ekonomi. bangsa dan negara. ekonomi dan sosial dalam masyarakat. yang mendasari kegiatan serta proses pembelajaran PKn mengacu pada pendekatan sistem : (1) CTL.

Peluang.. daya nalar. sehinga guru masih terikat pada keharusan sebagai pelaksanan kurikulum. dan 6. pengetahuan untuk meningkatkan daya nalar dan pengetahuan dengan rekan guru pada MGMP PKn setempat. keunggulan. 2.. masalah akan sulit dipecahkan. bila pembelajaran tersebut beserta komponennya memiliki kegunamanfaatan bagi siswa dan kehidupannya. b. Siswa dapat mengunjungi instansi/lembaga pemerintah yang terkait untuk mencari atau memperoleh informasi yang dibutuhkan. mediator. Hak otonomi mengajar pada guru dalam mengembangkan kemampuan. karena jika ide atau gagasan terlalu banyak dan tidak dapat dipertemukan. dan kelebihan model portofolio di atas. namun dimuat satu sampai 2 topik atau materi pelajaran per semester. 5. 4. 4. sedangkan guru harus dapat menjadi pengembang kurikulum praktis di dalam kelas. Belum terbiasanya pembiasaan jalinan kerjasama kelompok tim para siswa.pembelajaran portofolio akan menjadikan PBM PKn yang sangat menyenangkan bagi siswa. Belum diberikannya hak otonomi mengajar sebagai pengembang kurikulum praktis di kelas. bahkan diperlukan waktu di luar jam pembelajaran di sekolah. Kerjasama/kolaborasi antara Kepala Sekolah dan pihak Dewan Sekolah/Komite Sekolah untuk menangani masalah pendanaan. 6. Dalam kurikulum baru. diharapkan topik materi pembelajaran tidak terlalu banyak. 2. informasi. 2. seperti dipaparkan di bawah ini. a. dan Ancaman Selain hal-hal positif. Peluang Model Pembelajaran Portofolio : 1. Kelemahan Model Pembelajaran Portofolio : 1. III. c. sehingga model pembelajaran portofolio dapat dilaksanakan tanpa kekurangan waktu atau menyalahi apa yang telah digariskan dalam kurikulum. Model ini dapat dilakukan satu tahun satu kali. Belum diberikannya hak otonomi mengajar. dengan kesadaran. motivator. dan ancaman yang terdapat di dalam proses pembelajaran PKn in action. Kelemahan. 3. dan masyarakat khususnya para birokrat/instansi yang dikunjungi oleh para siswa untuk dimintai keterangannya. Kurang kesadaran guru dalam mengembangkan kemampuan dan kemauan dalam melaksanakan fungsi perannya. kemauan. . 5. serta fungsi perannya sebagai fasilitator. Diperlukan waktu yang cukup banyak. Dan rekonstruktor pembelajaran di dalam kelas. Kerjasama/kolaborasi antara pihak sekolah dengan pemerintah setempat. Ancaman Model Pembelajaran Portofolio : 1. sehingga untuk menuntaskan satu studi kasus atau suatu kebijakan publik diperlukan lebih dari 20 jam pelajaran seperti yang telah ditentukan dalam jadwal. peluang. Kurangnya jalinan komunikasi antara pihak sekolah. kita pun harus mencermati beberapa kelemahan. keluarga. 3. Diperlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. Tukar pendapat. Kurangnya pengetahuan/daya nalar guru yang bersangkutan.

guru PKn dapat menggunakan pembelajaran portofolio sebagai salah satu alternatif pemecahan pembelajaran yang inovatif.K. kreatif. Model pembelajaran portofolio-metode pemecahan masalah. Penulis adalah Guru SMAN 21 Bandung. USA : Allyn & Bacon . baik berkenaan dengan aspek kognitif.com PUSTAKA ACUAN Center for Indonesian Civic Education. agar siswa dapat hidup bermasyarakat.S. civic skill.J. dengan tujuan agar siswa menjadi A Good Young Citizenship yang berkualitas sebagai warga negara yang cerdas. Model Pembelajaran Generatif MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF (MPG) . Rancangan Perintisan Model Pembelajaran Portofolio di Delapan Propinsi. dan instansi/lembaga pemerintah serta masyarakat setempat IV. SLTP. Model ini sangat potensial dalam meningkatkan motivasi atau semangat belajar siswa. Arts-ED 3334603. rekonstruktor pembelajaran bagi siswa. yaitu membelajarkan siswa dapat belajar ber-PKn dalam laboratorium demokrasi. Bandung : UT dan CICED. Popham. Winataputra. partisipatif. dalam upaya mengembangkan dan membekali sejumlah keterampilan dan wawasan life skill kewarganegaraan siswa. Model Pembelajaran Portofolio Terpadu dan Utuh. Bandung : PPKnH UPI dan CICED. civic participation. terutama pembinaan tatanan nilai. (1998). 4. Publishing Company. mediator. Penggunaan model pembelajaran portofolio dalam pembelajaran PKn berimplikasi luas terhadap khasanah piranti professional guru sebagai seorang fasilitator.J. Dewan Sekolah. Bandung : Proyek Kewarganegaraan. dan bernegara sesuai dengan hak dan kewajibannya. (2000). R. ERIC Digest (2000). (1991). Penutup Pembelajaran PKn merupakan pendidikan nilai di tingkat persekolahan (SD. dan bertanggung jawab. Kami Bangsa Indonesia. (1999). E-mail : arief_mangkoesapoetra@yahoo. Kepala Sekolah. W. dan SLTA).3. New York : MacMillan Cottage. yaitu : civic life. A. Classroom Assessment : What Teachers Need to Know. yang wajib dimiliki oleh setiap insan. U. Dalam upaya meningkatkan kinerja profesional guru. berbangsa. Kurangnya kerjasama antara para guru.dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai potensi kebermaknaan siswa. prospektif. meraih gelar Magister Pendidikan program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dari Program Pascasarjana UPI Bandung dengan judicium "cum laude" (25 Pebruari 2004). directormotivator. Student-Centered Classroom Assessment.A Simon & Schuster Company. Stiggins. Tidak ada dukungan moril serta bantuan dana dari pihak sekolah. yaitu kepemimpinan diri pada siswa. Saya arief mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). yang secara langsung menjadi wahana pembinaan nilai kepemimpinan pada diri siswa dan secara tidak langsung menjadi wahana implementasi pendidikan budi pekerti bagi siswa. Djahiri. maupun psikomotorik siswa. (1995). afektif. "Portfolio Assessment". . Orang Tua Siswa.

d.h.a: 1-2). membaca . serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri. tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa. 1997: ) yang menunjukkan pengaruh positif pendekatan-pendekatan konstruktivis yang melandasi pembelajaran generatif terhadap variabel-variabel hasil belajar tradisional.e. dan Johnson. pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya. Dalam proses pemecahan masalah tersebut. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi. Jadi. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru. yaitu seorang mahasiswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar. maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang.2. 1992). Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal. mahasiswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih mampu. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. sulit. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up.1. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa. Menganut visi mahasiswa ideal. utuh. tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Pengertian Pembelajaran GeneratifPembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL).f. Top-down berarti mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks.c. dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri.b:1). Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran GeneratifPembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. mahasiswa sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks. Smith. diantaranya adalah : a. Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995.g. Penekanan pada prinsip Scaffolding. yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding. diantaranya adalah : dalam bidang matematika (Carpenter dan Fennema.b. bidang sains (Neale. Sejumlah penelitian (Slavin. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995. 1992). Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat. dan autentik untuk dipecahkan. maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar.

Mereka diminta mengemukakan alasan untuk mendukung dugaan mereka. Setelah itu dosen melaksanakan demonstrasi dan meminta mahasiswa untuk mengamati dengan seksama gejala yang muncul. tampilan gambar. Tahap-3 : Reorganisasi Kerangka Kerja KonsepPada tahap ini dosen membantu mahasiswa dengan mengusulkan alternatif tafsiran menurut fisikawan dan menunjukkan bahwa pandangan yang dia usulkan dapat menjelaskan secara koheren gejala yang mereka amati.c.b. Tujuan dari tahap pengingatan ini adalah untuk menarik perhatian mahasiswa terhadap pokok yang sedang dibahas. membuat pemahaman mereka menjadi eksplisit. Yang perlu dilakukan adalah membuat mereka berani mengemukakan pendapatnya tanpa takut disalahkan.d. Diharapkan mereka akan merasakan bahwa pandangan baru dari dosen tersebut mudah dimengerti. Tahap-1 : PengingatanPada tahap awal ini. atau grafik yang dapat membantu mahasiswa menemukan alternatif jawaban atas gejala yang diamati.(Duffi dan Rochler. dan sadar akan variasi pendapat di antara mereka sendiri. Dengan menggunakan cara dialog yang timbal balik dan saling melengkapi. dan berhasil dalam menjawab berbagai persoalan. Sebaiknya pertanyaan yang diajukan dosen adalah pertanyaan terbuka. 1987). Tahapan Pembelajaran GeneratifLangkahlangkah atau tahapan pembelajaran generatif menurut Katu (1995. Diharapkan mahasiswa mulai mereorganisasi kerangka berpikir mereka dengan melakukan perubahan struktur dan hubungan antar konsep-konsep. diharapkan mereka dapat menemukan jawaban atas gejala yang mereka amati.3. Mereka diajak untuk mengungkapkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan topik tersebut. masuk akal. Mereka diminta mengomentari pendapat teman sekelas dan membandingkannya dengan pendapat sendiri. Setelah itu barulah dosen menayakan apakah gejala yang mereka amati itu sesuai atau tidak dengan pikiran mereka. dosen memberikan berbagai persoalan . Penelitian Knapp (1995) menemukan suatu hubungan positif pendekatan-pendekatan konstruktivis dengan hasil belajar. dosen diharapkan tidak akan menilai mana pendapat yang “salah” dan mana yang “benar”. b:5-6). Secara sadar dosen mempertentangkan pendapat-pendapat yang berbeda itu. Proses reorganisasi ini tentu membutuhkan waktu. Mereka juga diajak untuk menanggapi pendapat teman satu kelas mereka yang berbeda dari pendapat sendiri. Dosen perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencerna apa yang mereka amati. Untuk membuat suasana menjadi kondusif. terdiri atas 5 tahap dengan penjelasan sebagai berikut :a. Dosen diharapkan untuk mencatat dan mengelompokkan dugaan dan penjelasan yang muncul di papan tulis. akan merasa terganggu dan mengalami konflik kognitif dalam pikirannya. Mahasiswa diberikan beberapa persoalan sejenis dan menyarankan mereka menjawabnya dengan pandangan alternatif yang diusulkan dosen. dosen menuliskan topik dan melibatkan mahasiswa dalam diskusi yang bertujuan untuk menggali pemahaman mereka tentang topik yang akan dibahas. dosen mengajak mereka untuk mengemukakan fenomena atau gejala-gejala yang diperkirakan muncul dari suatu peristiwa yang akan didemonstrasikan kemudian. Tahap-4 : Aplikasi KonsepPada tahap ini. 1986). Tahap-2 : Tantangan dan KonfrontasiSetelah dosen mengetahui pandangan sebagian mahasiswanya. menulis (Bereiter dan Scardamalia. Dalam hal ini dosen menyiapkan perangkat demonstrasi.

Menyajikan demonstrasi untuk menantang intuisi mahasiswa. Dengan melihat peristiwa yang berbeda dari dugaan mereka maka di dalam pikiran mereka timbul perasaan kacau (dissonance) yang secara psikologis membangkitkan perasaan tidak tenteram sehingga dapat memotivasi mereka untuk mengurangi perasaan kacau itu dengan mencari alternatif penjelasan. dosen mempersiapkan demonstrasi yang menghasilkan peristiwa yang dapat berbeda dari intuisi mahasiswa.c.c. atau simulasi. Keberhasilan mereka menerapkan pengetahuan dalam situasi baru akan membuat para mahasiswa makin yakin akan keunggulan kerangka kerja konseptual mereka yang sudah direorganisasi. Untuk lebih memperkuat pemahaman mereka maka dosen dapat memberikan soal-soal terbuka (open-ended questions). Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan .blogspot.dengan konteks yang berbeda untuk diselesaikan oleh mahasiswa dengan kerangka konsep yang telah mengalami rekonstruksi. Tahap-5 : Menilai KembaliDalam suatu diskusi.4. pelatihan menggunakan tampilan jamak (multiple representation) untuk mengaktifkan mahasiswa dalam proses belajar. Beberapa Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran GeneratifDalam melaksanakan pembeljaran generatif. soal-soal kaya konteks (context-rich problems) dan pertanyaan terbalik (reverse questions) yang dapat dikerjakan secara kelompok. Mengakomodasi keinginan mahasiswa dalam mencari alternatif penjelasan dengan menyajikan berbagai kemungkinan kegiatan mahasiswa antara lain berupa eksperimen/percobaan. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi। Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. analogi.com/2008/04/pembelajaran-generatifmpg. Sumber : http://anwarholil. dosen mengajak mahasiswanya dalam menilai kembali kerangka kerja konsep yang telah mereka dapatkan. Maksudnya adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan baru mereka pada situasi dan kondisi yang baru. Variasi kegiatan ini dapat membantu mahasiswa memperoleh penjelasan yang cukup memuaskan. diantaranya adalah sebagai berikut :a.menuru Sutrisno (1995:3).b. dosen perlu memperhatikan beberapa hal. Setelah dosen mengetahui intuisi yang dimiliki mahasiswa. yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri।A. Pelatihan ini dimaksudkan juga untuk lebih menguatkan hubungan antar konsep di dalam kerangka berpikir yang baru mengalami reprganisasi. kegiatan kelompok menggunakan diagram.html Diposkan oleh Padiya di 19:06 0 komentar Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey.

1990).5। Kolaborasi. & Wasik.Menurut Arends (1997). matematika. 1999. direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah. Sebagai contoh. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”.B. Maden. mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi. Cognition & Technology Group at Vanderbilt. ilmu-ilmu sosial). seperti “pembelajaran berdarkan proyek (project-based instruction)”. Slavin. membuat inferensi. video maupun program komputer. 2002 : 123). dan merumuskan kesimpulan. paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. model fisik. mengembangkan hipotesis. pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Ciri-ciri khusus Pembelajaran Berdasarkan MasalahMenurut Arends (2001 : 349) berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik. ekonomi. metode penyelidikan yang digunakan. masalah yang akan diselidiki telah dipilih benarbenar nyata agar dalam pemecahannya. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA. mengembangkan kemandirian dan percaya diri। Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain. Blumenfeld. 1994.pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Krajcik. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah. pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. 1994. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik. “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”.3। Penyelidikan autentik. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian. ” pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”. siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. melakukan eksperimen (jika diperlukan). masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Sudah barang tentu. dan pemerintahan. bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. mengumpul dan menganalisa informasi. & soloway. dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu.1। Pengajuan pertanyaan atau masalah. dan membuat ramalan. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas- . menghindari jawaban sederhana.pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan. pariwisata.2। Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. Dolan. Marx.4। Menghasilkan produk dan memamerkannya. Produk itu dapat juga berupa laporan. sosiologi. 1992.

serta (3) pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. melaksanakan eksperimen.डी.(Sumber: Ibrahim. belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi.C. Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan MasalahPengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa।Sintaks Pembelajaran Berdasarkan MasalahTahap-1Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. (2) proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung. serta untuk membuat anak lebih efektif dalam memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks pengalaman (experience) pada umumnya .Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prosesproses yang mereka gunakan. sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru dan pada bahan ajar. dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya।Tahap-5Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahanmasalah yang dipilih।Tahap-2Mengorganisasi siswa untuk belajarGuru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut।Tahap-3Membimbing penye lidi kan individual maupun kelompok. Tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan kecerdasan praktis. Aliran pendidikan progresivisme memandang pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered). pemecahan masalah. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : (1) berpusat pada siswa (student centered). dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran.Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah.sarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemam -puan berpikir. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. menunjukkan bahwa model pembelajaran terpadu adalah sejalan dengan beberapa aliran pendidikan modern yaitu termasuk dalam aliran pendidikan progresivisme. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku. video. Dari beberapa ciri pembelajaran terpadu di atas. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya kepada siswa। Pembelajaran berda. dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim. 2000 : 13.Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir. tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahTahap-4Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. dan keterampilan intelektual.Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah। Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas. 2000 : 7).

Kurikulum pendidikan progresif adalah kurikulum yang mengakomodasi pengalaman-pengalaman (atau kegiatan) belajar yang diminati oleh setiap siswa (experience curriculum). tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya. mencintai kerja. R (1991 : 61– 65) yaitu sebanyak sepuluh model pembelajaran terpadu. 1981). model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut : (1) masih . satu keterampilan dengan keterampilan lain. Pemanfaatan penerapan model terhubung (connected) ini sangat relevan dengan konsep Cahaya (dalam fisika) dan konsep Sistem Indera pada manusia (dalam biologi). Kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut adalah :1) the fragmented model ( Model Fragmen )2) the connected model ( Model Terhubung )3) the nested model ( Model Tersarang )4) the sequenced model ( Model Terurut )5) the shared model ( Model Terbagi )6) the webbed model ( Model Jaring Laba-Laba )7) the threaded model ( Model Pasang Benang )8) the integrated model ( Model Integrasi )9) the immersed model ( Model Terbenam ). Selain itu. Model terhubung ini juga secara nyata menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. O’neill. Hal ini terkait dengan upaya menghindari terjadinya penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran.(William F. (2) siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus. Ketiga model pembelajaran terpadu yang dimaksud adalah model terhubung (connected). Untuk mencapai tujuan tersebut. sebagai akibat dari mengejar target kurikulum. satu topik dengan topik lain. memperbaiki. pendidikan seharusnya dapat mengembangkan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. bekerja secara sistematis. serta ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan semester berikutnya.Tujuan pendidikan aliran progresivisme adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja. maka model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model terhubung (the connected model).Adapun model-model pembelajaran terpadu sebagaimana yang dikemukakan oleh Fogarty. dan bekerja dengan otak dan hati. agar dapat terwujud pemampatan/ pengurangan waktu dalam pembelajaran pada konsep-konsep tersebut (Reduce Instructional Time). model keterpaduan (integrated ). model jaring labalaba (webbed). 2000:7). dan10) the networked model ( Model Jaringan )Dari kesepuluh model pembelajaran terpadu di atas dipilih tiga model pembelajaran yang dipandang layak dan sesuai untuk dapat dikembangkan dan mudah dilaksanakan di pendidikan dasar (Prabowo. mengkonseptualisasi. (3) menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji. serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah. Sedangkan metode pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya (Mudyaharjo.Di samping mempunyai kelebihan. 2001).Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut : (1) dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu. karena model terhubung ini penekanannya terletak pada perlu adanya integrasi inter bidang studi itu sendiri. sehingga terjadilah proses internalisasi.Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing model pembelajaran tersebut.

meliputi :3. Evaluasi. diskusi secara klasikal4.2. nara sumber.4.4. menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan2. siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. dan (3) dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi. menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa. kegiatan pencatatan data3.kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.3. kegiatan proses3. berupa :. dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok3. dan hubungan antara pengetahuan awal dan konstruksi konsep IPA yang dimiliki siswa dengan kemampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran penemuan.1. menentukan tujuan pembelajaran khusus2. Siswa yang lebih dewasa. pendorong.3. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :2.2. menentukan tujuan pembelajaran umum1.4. Dilihat dari segi kadar aktivitas interaksi antara guru dan siswa.3. maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.Pembelajaran dengan penemuan. meliputi :4.Siswa hanya dapat memahami konsep-konsep sains sesuai dengan kesiapan intelektualnya. maka penemuan terbimbing merupakan kombinasi antara pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung. Tahap Pelaksanaan.1. evaluasi psikomotor :.(materi prasyarat)2. Tahap Perencanaan :1. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING Ciri Penemuan terbimbingPembelajaran penemuan terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. menyampaikan pertanyaan kunci3. Selain itu.ketepatan hasil pengamatan. dalam pembelajaran penemuan siswa juga belajar pemecahan masalah secara mandiri dan keterampilan-keterampilan berfikir.2.5. sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi. dan pembimbing. guru perlu lebih banyak menyajikan pengalaman kepada mereka untuk menggali pengetahuan awal dan membimbing mereka untuk membentuk konsep-konsep.1.kelihatan terpisahnya antar bidang studi.penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan. semakin muda siswa yang dihadapi oleh guru. menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa2. (2) tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim. karena mereka . evaluasi produk :.2. evaluasi proses . baik secara terbimbing maupun secara bebas.ketepatan dalam penyusunan alat dan bahanketepatan siswa saat menganalisis data4.Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) menurut Prabowo (2000:11 – 14) sebagai berikut :1. yaitu usia dan perkembangan mental siswa. pengelolaan kelas. menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan2. dan antara siswa dengan siswa.1. membutuhkan lebih sedikit keterlibatan aktif guru karena mereka lebih banyak berinisiatif untuk bekerja dan guru akan berfungsi sebagai fasilitator.Ada hubungan yang kuat antara kadar dominansi guru dengan kesiapan mental untuk menginternalisasi konsep-konsep.

sedangkan kegiatan belajar yang berorientasi pada keterampilan proses menekankan pada pengalaman belajar langsung.Konstruktivis adalah salah satu pilar dari Contextual Teaching and Learning. menemukan konsep dan kemudian menerapkan konsep yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 1996: 193).” Penemuan terbimbing mamadukan yang terbaik dari apa yang diketahui siswa tentang produk dan proses sains. karena mereka benar-benar diberi kesempatan berperan serta di dalam kegiatan sains sesuai dengan perkembangan intelektual mereka dengan bimbingan guru. maka penemuan terbimbing termasuk salah satu pembelajaran yang sesuai dengan Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan kata lain.harus menganalisis dan memanipulasi informasi (Slavin.Beberapa keuntungan Pembelajaran penemuan terbimbing yaitu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn). .Pembelajaran penemuan terbimbing membuat siswa melek sains dan teknologi. menemukan konsep harus melalui keterampilan proses. keterlibatan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. belajar secara konstruktivis lebih menekankan belajar berpusat pada siswa sedangkan peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta. belajar menghargai diri sendiri. dan dapat memecahkan masalah. dengan demikian bahwa penemuan terbimbing dengan keterampilan proses ada hubungan yang erat sebab kegiatan penyelidikan. Tahapan Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pembelajaran penemuan terbimbing dikembangkan berdasarkan pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis.Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai persamaan dengan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses.Namun dalam proses penemuan ini siswa mendapat bantuan atau bimbingan dari guru agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik. Hal ini didukung oleh Carin (1993b: 105). “Guided discovery incorporates the best of what is known about science processes and product. 2002). konsep atau prinsip untuk diri mereka sendiri bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan kelas. Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing menekankan pada pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan penyelidikan. Bimbingan guru yang dimaksud adalah memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan dan berupa arahan tentang prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (Ratumanan. 1995b: 107). dimana siswa diharapkan membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal dan pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna.Menurut Sund (dalam Suryosubroto. memperkecil atau menghindari menghafal dan siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri (Carin. dan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. 1993b).Pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai kesamaan dengan pembelajaran berdasarkan masalah dan inquiri yang juga penerapannya berdasarkan teori konstruktivis. Menurut prinsip ini siswa dilatih dan didorong untuk dapat belajar secara mandiri. memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer. 1994). Penemuan terbimbing yang dilakukan oleh siswa dapat mengarah pada terbentuknya kemampuan untuk melakukan penemuan bebas di kemudian hari (Carin.

Sumber: (Ibrahim dan Nur. dan siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.6.3. oleh sebab itu dalam penelitian ini menggunakan tahapan dengan mengadaptasi dari tahapan PBI. Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk modifikasi. Proses mental tersebut misalnya mengamati.5. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompokGuru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. atau inquiri merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. pembelajaran berdasarkan masalah dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna yang memberikan kesempatan kepada siswa dalam memilih dan melakukan penyelidikan yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut.2. memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan guru. melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.3 atau 4 siswa.discovery merupakan bagian dari inquiri.Berbeda dengan pembelajaran penemuan terbimbing.4. dan penyelidikan siswa berlangsung di bawah bimbingan guru terbatas pada lingkungan kelas. dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. karena masalah itu merupakan masalah kehidupan nyata. 2000: 13)Karena pembelajaran penemuan terbimbing merupakan pembelajaran penemuan dan bimbingan guru. pemecahannya memerlukan penyelidikan antara disiplin (Arends.Pembelajaran penemuan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah.4. Menentukan lembar pengamatan untuk siswa. 1997). Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara kelompok yang terdiri dari 2.Selanjutnya. Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan. Namun pembelajaran penemuan dan PBI berbeda dalam beberapa hal yang penting yaitu. untuk mencapai tujuan di atas Carin (1993a) . dan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah.Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 23). Mengorganisasikan siswa dalam belajarGuru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah serta menyediakan alat. Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau suatu prinsip. Menyajikan / mempresentasikan hasil kegiatan. Mengevaluasi kegiatanGuru membantu siswa untuk merefleksi pada penyelidikan dan proses penemuan yang digunakan. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.2.3. pada penemuan terbimbing sebagian besar didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berdasarkan disiplin. orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif.Tahap-tahap pembelajaran1.5. menggolongkan. membuat simpulan dan sebagainya. Menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa.Carin (1993a) memberikan petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing sebagai berikut:1. kedua model ini menekankan keterlibatan siswa secara aktif. video. Selain itu. Pembelajaran berdasarkan masalah (PBI) membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom melalui bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mencari penyelesaian terhadap masalah nyata. Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap.

Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya c. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi d. Sebelum kegiatan dilakukan menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman. NUMBERED HEAD TOGETHERS Langkah-langkah : a. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya f.e. Memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan. kemudian guru menunjuk nomor yang lain . Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran b. Memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar d. Menyajikan materi sebagai pengantar c. EXAMPLES NON EXAMPLES Langkah-langkah : a. Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan.c. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut f.Langkah : a.f. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis e. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai g. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP c. guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai g. hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas e. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa. Kesimpulan/rangkuman 3. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan kegiatan prosedur yang harus dilakukan.b. Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan. Tanggapan dari teman yang lain. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka e. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya d. Siswa dibagi dalam kelompok.d. MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF YANG DIREKOMENDASIKAN DI SMP NASIONAL KPS 1. PICTURE AND PICTURE Langkah . Kesimpulan 2.menyarankan hal-hal sebagai berikut:a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b.

e. Kesimpulan 4. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin. Bertukar peran. dll) b. suku. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya c. . Guru membagi siswa untuk berpasangan b. bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah : a. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan c. STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD) Langkah-langkah : a. dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap g. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR Langkah-langkah : a. semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Jika perlu. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya h. Siswa dibagi dalam kelompok. Guru menyajikan pelajaran c. guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. jenis kelamin. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. Kesimpulan 6.f. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain e. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. Penutup 5. Serta lakukan seperti diatas i. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka d. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor dan diberikan tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Sementara pendengar f. COOPERATIVE SCRIPT Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar d. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru j.

Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya e. pengumpulan data. Guru memberi evaluasi h.5 anggota tim b. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan f. b. kemudian berganti peran. Penutup 8. bentuklah kelompok berpasangan dua orang d. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa c. pemecahan masalah. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka e. tugas. dll. hipotesis. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan d. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh f. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. jadwal. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai b. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. ARTIKULASI Langkah-langkah : a. Penutup 9. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Memberi evaluasi f. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi g. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya . Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Siswa dikelompokkan ke dalam kelompok 2 . JIGSAW (MODEL TIM AHLI) Langkah-langkah : a. Kesimpulan 7. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Untuk mengetahui daya serap siswa.d. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI) Langkah-langkah : a. Begitu juga kelompok lainnya e. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu e. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda c. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.) c. d.

Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang d. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai b. Setiap siswa mendapat satu buah kartu c. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban b.dengan teman pasangannya. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi e. MIND MAPPING Langkah-langkah : a. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin f. Kesimpulan/penutup 10. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban c. Kesimpulan/penutup 12. Demikian seterusnya h. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masingmasing d. Guru memberi kesimpulan . Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru c. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya f. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru f. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang d. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban) e. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa g. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya e. Guru memimpin pleno kecil diskusi. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru 11. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa f. MAKE A MATCH Langkah-langkah : a. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya g. THINK PAIR AND SHARE Langkah-langkah : a.

Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap f. d. setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. Dari data-data di papan tersebut. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra b. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya. Guru menyiapkan sebuah tongkat b. guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman 14. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang d. Penutup 13. Setelah selesai dipentaskan. masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas h. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya i. masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan g. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. DEBATE Langkah-langkah : a. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai e. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan b. Penutup 15. GROUP INVESTIGATION Langkah-langkah : a.g. Setelah selesai membaca materi. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan f. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat . Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi e. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm c. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Guru memberikan kesimpulan secara umum j. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas c. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Evaluasi k. ROLE PLAYING Langkahlangkah : a. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya.

Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya d. Evaluasi g. BERTUKAR PASANGAN Langkah-langkah : a. SNOWBALL THROWING Langkah-langkah : a. Evaluasi g. Penutup 16. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. Guru memberikan kesimpulan f. Penutup 18. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada . Guru memberikan kesimpulan f. Guru menyiapkan sebuah tongkat b. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi c. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit f. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya b. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka e.bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e. Penutup 17. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula f. untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok e. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya c. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja. TALK STIK Langkah-langkah : a. Setelah selesai setiap pasangan bergabungdengan satu pasangan yang lain d. setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan b. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa.

Penutup 20. Untuk menguji pemahaman.siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian g. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran . STUDENT FACILITATOR AND EXPAINING Langkah-langkah : a. Penutup 19. Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh h. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik e. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. INSIDE OUTSIDE CIRCLE (LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR) Langkah-langkah : a. atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya g. kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salan diisi tanda silang (x) f. Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya d. Memberikan kesempatan siswa tanya jawab d. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan c. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Membimbing pelatihan d. COURSE REVIEW HORAY Langkah-langkah : a. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu f. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa b. Evaluasi h. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa e. siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan seler masingmasing siswa e. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b. Penutup 21. EXPLISIT INTRUCTION (PEMBELAJARAN LANGSUNG) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan Langkah-langkah : a. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan 22.

Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran c. Guru membuat kesimpulan bersama f. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e. Penutup . COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) Langkah-langkah : a. Penutup 23. Guru membuat kesimpulan bersama f. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e.c. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b.

f°¾f¯ ¯½°f°–ff°f°–  f ff¯¯ °f½¾f¾ f  ¾f½   f¾ff°¯ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– –°f f– °f  .@%¯ ½ff°°¾ ½ f©ff°– ¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff° °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f° ¯ ° °–¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f°¯f¾fff  °–f°°¾ ½ f¾ ½ ¯ f©ff° ff½f°  ¯f°f f–¾¾f 9¾ ¾½ ¯ f©ff° f°¾°–ff¯f ff¯ ° –ff°¾¾f  ©f f°¯ °–ff¯  f°¯ °f°¾€ ½ °– ff° f–  ¾¾f f –½ ¯ f©ff°  ½ °°–f° f½f ff¾ ff¯ f¾° f –f¾–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ °nf½f©f°°f .f¾ °f –   f°f ¾f° °–f°¾f – f½f f¯ ¯ °€¯f¾ @–f¾–¯ °– f f¾ ¾ f–f¾ f¯f°–  ©f ¾f¯f°¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– f f–f°––f f¾ %¾¾f%  ¾ff°– f ff°– f¯ ° ¯f°¾ °  f° ff½fff– –f½ f° –  f¾f°–  f °–f°½ ° ff°° ¾f  9 ¯f° °f°– f©f   9 ° ff°° ¾f¯ ° f¾ff° ½f f n ° °–f°½ ¯f° °f°– f©f¾ f–f     9¾ ¾ f©f  °f f©f f¯ °–ff¯ °f¯ °nff¾ ° ½f ½f ¯f°f f½ °– ff° f  f° f°   –¾f©f –  9fff¾ ½ff ff½ °– ff°f°– ¯¾ ¾f°– –f°¾f¾ f° ¯ °n ¯°f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯ °f°–¾ ¾f½ ¾ff°  9 °– ff° f f½f ½¾f ½¾ff°¯ °©f €ff €ffff½½¾¾f°– ½¾f   f½¯ °n ¯°f°  f¯½f°f°– f½f  f½f°  .

f°¾f¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f ff¯  f°–  °  f°¾ f°–f°f ¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f °–f°n ½ff f f  f – f©f½ °°– °f °–f°¯ f¯ ¯½ f©f¾ ¾ff°– f f° f½  °f ff°–¾ ¾f – f©ff¯f½ °°–  9 f°f°– f¾f%–%¯ ¯ f°¯ °– °–f°f°fff°– f f°f°–¾ f  f  @–f¾–¯ ¯€f¾f¾f–f°€¯f¾ f ¯f°f ¯ ¯  ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f °¯ ° ¯f° f°¯ ° f½f° ¯  f¾ °   f°¯ °f ff°¾¾f° ¯ ° f½f°¾f –¯  f¾ °     9 °°–°f°–°–f° f©f   f©f € € ¯f f°–°–f° f©ff°– ½¾f½f f¾¾f f–f°–  ½f° f¾ ¾¾f¯ °°° ¾¾ff°–  ©f f° ff –¯ °–fff°  9 °–f©ff°f¾ ½¾f½f f f–f¯f°fnff¾¾f¯ °––°ff°½ °– ff° f ¯  f f – f©f  ½ °°–f°  f° °–f°f¾°f  D¯½f° ff¯f½ °°– f–¾¾f f°– f¾f f½¾ ¾½ °ff°f°– °f  . °¯ f°¯°f¾ f©f ff¯ ° ©f ¯½½ °°–   . f° –  °–f°   9¾ ¾ f©f f½f¯ °– f¾f 9  ff°¾f ©ff° ¾ ¾ °– °–f°½  ¯ f°–f°–f°¾f¾½ °– ff° f°  f¯½f°¾ ¾f°–    @f°¾€  f©f  ¾f f©f f¯ °–ff¯¾ °   f° f½ ¯ f°f°–f°    f¯½f° f°½ °– ff° ½ f¾ f° ¾f°–  ff¾%¾  ¯¾ % 9 °°– f–¾¾ff°f½f f f©f f° f–f¯f°ff¯ °––°ff°½ °– ff° f°  f¯½f°   ¾f¾ f–f9 ¯ f©f  .

f f9 ¯ f©ff°° ¾f  9 ¯ f©f°° ¾f%.

° f@ fn°–f°  f°°–%f ff°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f° –¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f°¯ ° °– ¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯   ½f°¯  f¾ f f  °–f°¯  ff°©¯½° °f¯f½ ¯ f©ff° € €  f° °¾¾¯ %.

 ¾°°–% ¯ ° ¯f°%°% ¯f¾fff f©f% f°°–.°¾n¾¯%  f°f%.

¯¯°% ½ ¯ f°%. ½ff°¾f½¾ ¾½ °  f°f°–¾ f° ©f°¯ ¯f¾¾¾f° . °–%  f°½ °ff°¾ °f°f% °n ¾¾ ¾¾¯ °%   9 °– f°9 ¯ f©ff°° ¾f   .

½ff°°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff f°¯ ° °–½ f©f¯ ¯ f °–f°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f° ¯f¾fff   9  ff°9 ° ff°° ¾f °–f°9 ° ff°@f ¾°f  ° ¾f   .¯ ¯ff¯¯f°f¯f ½ f©ff°f°– ½ f©f°f °–f°¯ °–ff°¯f  ¾  °–f° ° ¾  ½f°¯  f¾ f f%° ¾½ f  ¾¾f  f°f%¾ °––f¾¾f¯ ¯ ½ °– ff°$  f¯½f°f°–¾ nff€ ¾  f½f  f½f°% f°¾€ % f¾f ½ ¯f¾fff°$° ¾ ½ ¯f¾fff°$° ¾f°°f    . °f° ff°½f f½ ¯ff¯f°¯f°f   9 ¯f°°€¯f¾  f¾ff° f°¾¾f   ¾f  f¾ nfff€ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°   9 ¯ f©ff° ff° °–f°  ½f°°ff$¯f¾fff°– ¾¯f¾f°    f¯ °–ff°°€¯f¾ °–f°½ °– ff°f°– f ¯¾¾f   .

° °–¯ °–° –f¾f° f½f  f°–   ¾f¯ °––°ff°f f©f°f°¯ ° ¯f° ¯ °––f   ¾¾  ½ ¾ ff¯ °– ©ff°½  f°½ ¯ nff°¯f¾ff%¯ f ©f ¯½%   9 f  f°–°ff¾ ¾f ff°      f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾f½ ¯ff¯f°   f f f½ f ff ff ½f¾f°  f°– ¾€f¾  €   ¾f f¯ ff°ff°– f °f¾f ff ¾ ¯ –f°   9 f f  f¾ff°¯f¾°°¾   9 ¯ f©ff° ©f    f–f ¯½f ° ¾ f°¾ °–   f¾ f©f ¯ f½ ° f½f°½ °ff°f °   @f ¾°f   . °f° ff°½f ff½ff°  9 ¯f°°€¯f¾  f°f  °f° –   ¾f¾ nff½f¾€¯ ° ¯f°€¯f¾ ¾¾°f f–   9 ¯ f©ff°¾f°–ff ¾f f° ¾  f ¾f° f½f f ff¾  ½f°   . ¯ f°¯½f°°€¯f¾ ½f f¾¾f¾f¯½f¾ff°f ½ f°   .

° °– €¾½f f¾f  f°–% ¾½°%  °   Jf f©f¾¾f¾ f–f° ¾f ½ –°ff°°¯ °– ©ff° –f¾ ¯ ° °–f n f¯f  f°¯ °–¾ff°% ©f°  f%   9 f  f°–°ff¾ f¾ff°     f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾fff°   f f f½ f ff ff½©f°ff°ff½   ¾f f¯ ff°¾ ¾ff°– f °ffff°¯f°   9 f f  f¾ff°¯f¾ °°¾  .

 9 ¯ f©ff° ©f f°f ©f   ff¯f°–f° f¾    9 ° f½f°9 ° ff°° ¾f f¾  9 ¯ f©ff°° ¾f f½f  f½f° ff¯¯f½f¾f©f   f°–¾ f½f¾f©f  f°  f¾f°– f–f¯f°f½° f ff°°f 9 ° ff°9 ¯ f©ff°° ¾f ff¯ f¾n½ ¯ f  nff–f¾ ¾f f°–f°f¾ f–f °   ¯ f°–f°½ ¯f° fff°fff° f©f  ¯f°f °–f°nff  ©f¾ °   f° ¯ °–°¾¾¾ ° ½ °– ff° f°  f¯½f° f°f  f¾f°ff°¾ ©f¯°–° –ff°°°¾ ¯f½   ¯ f°–f°¾€f°–°f¾¾f °–f° f°f   .

¯ f°–°½ ¯ff¯f°¯  f¾ °  f½ °–ff¯f° f  f¾f½f f½ °– ff° ff  9 ¯ f©ff°f¾  ¯f¾¯ °©f ½¾ ¾#¯ °–°¾¾# f°¯ ° ¯f½ °– ff°   ° 9¾ ¾½ ½° ff° f½ °–f¯ff°¯ °©f ½ ¯ff¯f°  ¾f f©f¯ °––°ff°  f¯½f° ½¾   . ¾°°–% f°f%  –ff°–°¯ ° °– ¯ ¯ ¯ °– f°¯ °f ¯f¯½f° ½¾¾f   f–¾¾ff°–¯ ½ff° f–f°½ °°– ff¯½ ¯ f©ff°f°–  f¾¾°    f°°–.½ff°¯f¾fff f©f   f f°¯ ¾ f–fn°½ ¯ f©ff°  ff° € ¾ f½  ¯f°  ff°½ °ff°f°–¾ °f°f °–f°  f–fnff   @©¯½° °9 ¯ f©ff°° ¾f   °¾¾¯  .

 °–%9 ¯ f°% 9¾ ¾½ °f¯½f°¾fn°f–ff°–f° ½   ©f f° f©f  .f¾fff f©f%   ¯½f°–f°– f ff¯ –ff° f©f    ©f¾f¯f °–f°f°–f°  f f½f f f©f¾ °   @f½ °–ff¯f°    f–    . °– ©ff°f½ff°––°–°f°f–f¾¾f¯ °– ©ff°°f    € n°% € ¾% .¯¯°%.

ff ½ °f°–f½ff°– ff½ f©f  . °nfff½ff°– f ½ f©f  . ¯ f©°f ff¾ °  ¾¾ ¯½ .

°¾° °nf°f9 ¯ f©ff°  f¾¾° ¾f  ff¯½ ¯ f©ff°° ¾f ½–f¯½ ¯ f©ff° ¯ ½ff° °nf°f –ff° f¾ f°– f°nf°–– f°– ¾¾ °fff½ ¯ff½ °f°–f½ff°–ff° ff° ¾f¯f¾¾f°f¾  °–f° °–f°½f°–ff° ½ f©f°f ff¯½–f¯ n ¯° ©f°½ ¯ f©ff° ¯ f°¯ °nf½f©f° ¾  ¯f ½ ¯ f©ff° f°–f f°–f ½ ¯ f©ff°  f°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f  ff¯° ¾ ½–f¯f°– f°nf°–– °f °f °nf°f½ f  °f°–f½ff°– ff°  ©ff°°f ¾f¯f¾¾f°f   nff¯¯ ff f½  ff°¯ ° f¾f€¯ff°ff½–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f °–f°½–f¯½ ¯ f©ff°° ¾f  ff– f°–¯ ¯ ff°°ff°f½f f ½ ° f°f°°f 9–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f ¯ ° f°f°½f f ¾½¾©f°f°– ff° nf½f%© f¾ f°½ f¾°f% ¾ f°–f°½–f¯°½ ¯ f©ff°° ¾f  ¯ ° f°f°½f f¾ °f½ ¯ f©ff°°f  f¾ f¾f ¾ff°½ ff¯½ °¾°f° °nf°f½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°%99%  f¾¾ ° ¾ff ff¾ f–f    -fff° –ff°½ f¯f½ ¯ f©ff°°f f¾ f½ °fff° –ff°¾¾ff°– ¯ ½ff°–f °–f°f°fff° f¯½  °¾ ¯½  °¾ f¾f . °––°ff°  f–f¾¯   ¾ff€  f°– °–f° ¯f°  ¾f¾– f€  ° °– f°°– °–½ ° °–f°f¾ ©f¾¾f ½ f ½ f –f¯ f f  ¯ f°f° f°  f½f° ½f ff°–f f°f°ff½ f½f¾ff¾¾f f½f°f¾ ½f¯ ff°–f°¾¾f f°f° f°   . °–½ °– ff° f°  f¯½f°¾¾f  9 °ff°½ %° ©f%  @–f¾ –f¾f°–  f° f°° ¾f   ff ¾9 ¯ f©ff°° ¾f    ©f¾f¯f  f°–¯ °°©f°–  .f 9 f° 9 °nf½ff°f¾ f©f   -fff°©f°¯¯½ ¯ f©ff°°f   °nf¯ f°¯ ° °– –ff°   ff¾ °fff½ ¯ff½ –ff°¾¾f  -fff°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f f °–f° fff½f¾¾f f½f f¯f½f¾½f¾°f . ° °f°–f°  f¯ ¯ ¾f°f°   f©f °–f° –ff  9 ¯ f©ff° ° –f¾  .   °n¾¾ ¾¾¯ °%9 °ff°f°– °f°f% .

ff¯½ ¯ f©ff°   ¯  ½ $$f¯f ¾ f©f  ½ ¾¾ n¯$$$$½ ¯ f©ff° ° ¾f$ ½¾f° 9f f  ¯ °f  . 9 ¯ f©ff°9€ . °.-  -D-@½ .f¾ff . 9     .%  ¾f° ¾f°–ff f°–€ ¾  f°– ¯f¾  f°–n ° °–  ¯°f°° f ¯  9°¯ °–f©f  f°f¯ °– ©ff– f°–  °f¾½f f°f©f°f   ¾f¯½°–¯f¾¯ °––°ff°¯ ° °¾°ff°–¯°° ff¾–  ¯°f° f½f f¾¾f f f°f–¾ °–f¯ °–f ff°½¾ ¾½ ¯ °ff°ff°f°°f ¾f½  f° ° ff° ¾ °––f¯ff½ f©ff°9° f f°––f½¾ f–f¯ff½ f©ff°½ ¯ °ff°f–f ° –fff°–¯ ° f°f°½f f ¾f ff°ff°f f° f© f° f½ n ° °–¯ °©f  ¯ff½ f©ff°f°–© ° f°¯ ¯ ¾f°f° D°¯ °–f f½¯f¾fff ¾   ff¾ ¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°– € € f° €¾ °¾ f–ff °f€ f¯  ½ ¯ f©ff°  f¾¾½€%½€ f¾  f°°–% f°– ff½f°¯f¯½¯  ff° ¾¾f ff¯ ¾ f°½¾ ¾½ ¯ f©ff° f° f½f¯  ff°¾ f¾½  f–°€  f€ €  f°½¾¯¾¾f ¾ f¾ nff€¾ f°¯ °f¯  ff°¾ ¯f½f ff¯ ½ ¯ f©ff°¾ °––f¾¾f¯ ¯¾f f¾f° ½  ½ ° f½f f€ f° f€   f¾f9 ¯f° . 9 ¯ f©ff°9€ ff¯9°. -9@  D@-D-@ ff°°nn° °€¯f¾$9 °  f°D¯¯ -f¯f  ¯f%9 °¾% f €¯f°– ¾f½ fff .9.f¾fff¯f ff¯½ ¯ f©ff°9 °  f° f–f° –fff°%9°%ff½ °––°ff°¯   ff¯ ½ ¯ f©ff° ff¯¯ °f¯½ff°¯f ½ f©ff°¾ nff ½f f°–¯ ¯ ° ¯ff°ff°f°°f f–f f½f ° °f¾f¾f°½f f ¾¾f¾ f¯ °–¯½ ¯ °f¾f° f f½ °  f°°f ff¯  ½f°¾ f f ¯¯ ¯ °ff½f°¾ ½ f°– °–°f° f° ff° °–f°¯f¾fff f f½¯f ½ f©ff°9°f°– f ¯ff°°f °f½f¾ f½f°f ¾€f½¾ffff° °f¾° ½ °°–f°  f¾ff°½ ¯ °f .9. °–f©f%9 .  ½ ¯ f©ff° ff¯9¾ ¾ f©f.f°– ¾f½ f . 9 ¯ f©ff°@f°––f –¾¾   ff ff°–. -9@  D@-D-@   ¾  € .

– ¾%%  9€¾f ¾ ° f¾½€ ¾¾°¾–  ½nf f¾ °¾f¾¾f¯  f½€€f°fnf¾¾ 9€ ¯ ½ff°¯½f°f¾ff¾¾f¾ f–ff¾ f©f°f 9€ ¾ f°¾f°–f ¯f°€ff ff¯¯ ¯ f°°€¯f¾¯ °– °f ¯f¯½f° f°½ ¯ff¯f°¾¾f¾ f¯ ¯ f° –f¯ ff°¯ °– °f¾f½ f°¯°f¾¾f f f½½ f©ff°f°–  f° ©–f f½f ¯ °°©f°½ °nf½ff°ff½ °°–ff°f°– ½  ¾¾f f½¾ ¾½ ¯ f©ff°%––°¾   % . f¯ ½ ¯ f©ff°½€ ¾ f° ½fff° f½f¯ ¯ f°–f°¯°f f©f¾¾f¾ nfff€  f€ ©–f f½f¯ °– ¯ f°–f°½ ¯ff¯f°°f °f ¯f¯½f° ½f¾½f¾¾ nff € € ¾ f °–¾f¾f½f°––°–©ff  f½°ff¾f°½ °––°ff° ¯ ½ ¯ f©ff°½€ f°–¯ ° f¾f –ff°¾ f½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°¯ °–fn .

½f f½ ° ff°¾¾ ¯ %%.

@  .

° f@ fn°– f°°–  f°%% .  –ff°¾f f° 9° %%.

@  .

° f@ fn°– f°°– .

@f ff¾f °½ ¯ f©ff°f°–¯ ¯ ff ¾  f  f ff°f°–¯ ¯½ °–ff°–¾°–  ½f°¾¾f f° ½ ¯ f©ff°°f   °–f°¯ °––°ff°f$ °f° f¯f¾ff°–f ¾ ff°–  f° f°–ff° ff°– n ff° f  n °   °–°–f°  ff ¾¾f ½ f   °¯  f°½   f©f ff°f¯ °––°ff°f°– f¾  ¾f ff°  ff¯  ½f°  f–f ¯f¾fff  f°–¾f f°° –ff € ¯ °–ff°¾½ f©ff° °–f° °f°ff f° ¯ ¯f¾¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff° °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f° ¯  f  f°– ¯ ¯ f¾¾f °–f°½ °– ff°f°–€ ¾  f½f  f½f° f¾f ½ ¯f¾fff° ½ ¯f¾fff°f°  f¾f° ¾ ° ¾f° . .

@ ¾ ©–f .

@ f f°–% f©f ff¯  ½f°°ff% ½  °n°–% f©f ff¯° ¾ ¾½f¾ ½ ° ¯f° f°½ °n½ff°% ½½°–% f©f °–f°¯ °f©f°½ °– ff°°  –°ff°°f% .

 f°– ½ ½  - ¯f°°¯ °n f¯ °–f©ff°½f f¾¾f f–f¯f°f ¯ ¯½ °–f ©ff°¯¯  °–f° ¯f°½ ° ff° ¾ ¯ °n f¯ ¯½  f   ½f°¾¾f ff¯¯f¾fffff° –ff  °–f°¯ °n f¯ °– ¯ f°–f°¯½  °¾ °–°–f°f°–¯ ½ff° ¯f¯½f°¾¾f°¯ ¯½ °–f°–°–f°  f°¯ ¯ f° f¯½f½f f ½¾f°  ½¾f° ©ff° ¯ ¯°–f¯½  °¾ f°¯¯ °¾ f–f ½ f¾f°ff°– ¯f .9°f°–¾f°–f¯ ° °f°–f° f–¾¾f  f½ ¯ f©ff° ¾  ¾ f ¯½° °°f¯ ¯ –°f¯f°€fff° f–¾¾f f°  ½f°°f     ¯ff° 9 f°–  f°°nf¯f°  f°f f½¾€  °––f°  f°  f°¯ ½€ ff¾ f½°f¾¯ °n ¯f f½f  ¯ff° ½ f°–  f°f°nf¯f°f°–  f½f  ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°° fn° ¾ ½  ½f½ff°  ff°   f   ¯ff°. °¯ ° °–½f¾½f¾f€¾¾f ff¯  ½f°½  °¯ f°¾¾f ff¯¯f¾fff  f¯  ff¾ f°–¯ °©f  f¾ffnf°½ ° ff° ¾¾ ¯½f f¯ ½ ¯ f©ff°½€¯ ¯ °f¾¾f ff¯f°–f½ ¯  f°¯½  °¾ °–°–f° f°¯ ¯ f¾¾f °–f°€ ¾ nn¾ nn€ ¾ f f½f¯ °– ¯ f°–f° f°¯ ¯ f¾¾f f–f¯f°f f©f  9° °–f°½ °– ff° f°  f¯½f°°  f f°–¯ ¯f f¾ f½ °–ff¯f°½f¾f–f¯ ¯¯½  °¾ f° € €f¾ ff¯ ½f¾½f¾ ©–f°¯ ¯ °f¾fff°f°°f f¯f°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f  f–f¾¾f f½f¯ ¯½ f°––°–©ff f° nf½f° ¾f½ ½  ff°½f f °f¾ °    ¯ f°½f f¯f¾fff  f°–¾f  f°° –ff ¯½ ¯ °f¾¯ ½ ¯ f©ff°½€ff° ¯ °©f f°9 . 9 ¯ f©ff°9€   ½ f°ff°–n½ f°f  ff° ½ f°f f©f¯½ ¯ f©ff°  ¾ f ¾ °––f°¯ °°f¾f°¾f¾ f¾¾ff¾f ©ff°½  ½ f°  f©f¯½ f©ff°¾ ½ f°– f  °f° ff¯©f f   f°–°f½ °– ff°$ ff°ff–f°– ¾f°–f°    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f¾ f–f½ °– ¯ f°–¯½f¾  f¾   ½ f° °f–f f° fff°–n½ ¾f   f°–°f©f°f°¯°f¾f°ff½f¾ f  f–f  f°¯f¾fff¾¾°f½ff f$°¾f°¾f°– °©°– ½ff¾¾f° ¯°f  f°–f°°f  f°   ¯  f¾f°f½ ¯ f¾ff°©f°f° ©f¾f¯f ¯½¯½ff¾¾f  °–f° ¾f ff°  .½ f°–% f©f ff¯° ¾° f¾ ¯½%  f°@f°¾€ °–% f©f °–f°¯ °––°ff°½ ° f½f° ff¯° ¾ f$° ¾f°%%% .  –ff°¾f f° 9° .

 °¾f°–f½ °¾f ff¯ ¯ °°–ff°¯f¾ff¾ ¯f°–f f©f¾¾f  °–f°©f°f–f¾¾f¯ °©f   °–. ½ ¯ f©ff°½€ ¯   ½ ¯ nff°¯f¾ff  f½f –°ff°°¯ °– ¯ f°–f°  f–f½ °¾ ¯f°ff° ¾¾f  f  °ff° °–f°f¾½ –°€ f€ € ¯f½°½¾¯¾¾f  f¯f ½ ¯ °ff°ff°f°°f f ½ ¯¯½°f° ½f f¾¾f .99°¾  ¯½f    ©f¾f¯f$f f¾f°ff ½ff f f°½f f° f$¯  f° ¯ °f°–f°¯f¾ff½ ° f°ff°    ©f¾f¯f$f f¾f°ff½f¾ f °–f°½ ¯ °f¾  ¯½f   ¾f f½f¯ °–°©°–°¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °ff°– f°¯ °nfff ¯ ¯½  °€¯f¾f°–  f°  n °nf¯f°.f °f©f ff–f–f¾f° f f°f f° f f½f ½  ¯f° ¯f¾ffff°¾ ½ nff°   9 f°–.. 9 ¯ f©ff°9€    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f ¾ °–f–¯f¾ f½f f f¾f°¾ f–f ½ f¾f°f°¯ ¾ f°–f°–f¾ f½f¯ °©f ½ °– ¯ f°–¯½f¾  ff¯  f¾   f°– ¾f ff°– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f° f° ¯ff° ff¯¯ f¾f°ff° €°–¾½ f°°f   @ ff f °–f°¯¾ f f°f° f°f f½f¾ f   f°–°f ©f¾f¯ff°ff½ff–  ½ff f  f° f f°–@f¾f  f° °¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °f¾ f¯f¾fff¾  ¯½f I 9 °½ 9 ¯ f©ff°9°¯ ½ff°½ °  f°°f °–f½ ¾ ff°% @9  f°@% ff¯ ½ff¯ °°–ff°° ©f½€ ¾°f– f¯ ¯ f©ff°¾¾f f½f f©f  9° ff¯f f¯ ¯f¾ –9° f½f¯ °––°ff°½ ¯ f©ff°½€¾ f–f ¾ff¾ff °f€½ ¯ nff°½ ¯ f©ff°f°–°f€ f°–¾ nfff°–¾°–¯ °©f ff°f ½ ¯ °ff°°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f f°¾ nff ff°–¾°–¯ °©f ff°f ¯½ ¯ °f¾½ °  f°  ½   f–¾¾f . ° f½f ff°¾ff°¾ff   f°¯¯ °–f©f½f f– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f°  ¯ff°  ff°ff  ¾ f€°–¾½ f°°f¾ f–f€f¾f ¯ f ¯f f° °¾½ ¯ f©ff°  ff¯ f¾   @f½ ° f½f °€¯f¾ ½ °– ff°°¯ °°–ff° ff°ff f°½ °– ff° °–f° f°–½f f. 9 ¯ f©ff°9€   ff¯¯ f  ff½f°½¯f ½ ¯ f©ff° f f f°f °f¯° ¯f ¾f¾f¯½f½ff¯f ½ f©ff°½ ¾ ¯ ¾  ¾ °––f¯ ½ ¯ f©ff°½€ f½f f¾f°ff°f°½f f°–f°fff¯ °fff½ff°– f –f¾f° ff¯ ¯ .

 °¾½f°– ff¾¾ f–ff–f° –fff°–n  f¾  f€ ½f¾½f€ ½¾½ €  f° f°––°–©ff 9 °––°ff°¯ ½ ¯ f©ff°½€ ff¯½ ¯ f©ff°9° ¯½f¾f¾ f f½f¾f°f½f°½€ ¾¾°f–¾ f–f¾ f°–€f¾f   n ¯f ¯ f  °¾½ ¯ f©ff° f–¾¾f  ff¯½ff¯ °– ¯ f°–f° f° ¯ ¯ f¾ ©¯f  f¯½f° f°ff¾f°€ ¾ f–f° –fff°¾¾f f nn€  nn¾ nn½fn½f° f°–f©  ¯ ¾ f½°¾f° f–f¾¾f f½f ½ ¯f¾fff   f°–¾f  f° ° –ff¾ ¾f °–f°f f° f© f°°f 9 °¾f ff .

f–¾ 9 °  f°½–f¯¾ 9 °  f°¯ 9 °– ff°¾f f9–f¯9f¾nf¾f©f°fD9 f° °– °–f°© n¯ n¯f % 9 f%  ¯f f €%¯f°– ¾f½ f'f n¯ 9D@..- f° °– ¯ f– f.

D- .

° €° ° ¾f°.

 9 ¯ f©ff°9€@ ½f  f°D  f° °–  99°D9 f°.n nf° %% f¯ f°–¾f° ° ¾f  f° °– 9   f–f° –fff° ©f   %% .

.

 .

– ¾%%  9€¾¾ ¾¾¯ ° ¾  9½f¯ J   %% .

f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° Jf@ fn ¾- ° D °  fn° ¯°  n¾ .

¯½f° ––°¾   %%  ° .

°  .

fn.f°.f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° -   .

f– 9 ¾°–.

  9 ¯ f©ff°9€  f½f°9½°¾  f° °– D@ f°.¯½f° J°ff½f D  %% f°nf°–f°9 °¾f°.

.

°¾ ° f°Jn ff¯f% % ½ ¯ f©ff° – ° f€¯ ½ff°¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°–¯ ° f°f°½f f½ °–° –f¾f°¾ nff f€½ °– ff° f °–f°¯ °––°ff°½ °– ff°f°–¾ f ¯¯ff¾¾f ¾ ¯°f 9 °– ff° fff° © °–f°nff¯ °––°ff°°f ff¯¯ °©ff  ½ ¾ff°ff– ©fff°– f f½ °– ff° f f¾¯ °©ff ½ ¯f¾fff°f°– f f½ ¯ff½ °– ff° fff° ¾¯½f° ff¯¯ ¯©f°–f½f°©f°–  f° f¾f° @  f°¯½9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff°– ° f€¯ ¯f° f¾f° f°– ff½f f    f©f°¾¾¯ °– °f f©f f°½ ¯ f©ff°    ½ °°– f½f° f°–f° f©f¯ ° °¾¾°¯ °-%  % f°f % f  %  f°ff°ff ff f . ° f°f° ff½  ff°–°€f°f ¾f ©f ©f °¾ ½¾ °¾ ½¾f°– f ½ff¯¾ ¯°f f¯ f¾f½¾ ¾  f¾ ¯ f°–f° ff¯½ff¯ ¯ff¯°€f¯f¾ °€¯f¾ f  ¾ f°– f©f©f f  ©f ff¯°f ½  ¯ f°–f°  f f f f½  ¯ f°–f°¾  ff¾°–f½  ¯ f°–f°°f¾ff °  ¾ f°– f©f°¾ ½½f°– ff½f f°¾ ½ f f ff¯°f ¾   ¾ f°–  ©f½f f°f½  ¯ f°–f°  f°f©f¯  f  f ff¯–f¾f°– f f½f ¯  f¾  ¾ff°¾ °   f½ f½f¯ °  ¾ff°°f©f  f°¾  f ¯f°¾ ff fff°– f¾f n 9 ° f°f°½f f½°¾½nf€€ °– f½ ¯ f° °–f°ff½ ¯ ff½° f©f f°½ ¯ nff°¯f¾ff °–f°¾€f°f  ¾½f fff½ ff  f° ¯ f°¾ nff ff½¯ °–ff°f°––°–©ff  f©f ¾  ½f f ¯ff¾¾f°  ©fff¾fff° f¯  f¾ °  f  ¯ff¾¾f¾ f°ff°¾°–¾f©f  f°–f¾¯½ ¾ ¾  f° f¾ ¯ f°  f°¯ °  ¾ff°–f¾¯½ ¾  ¾  °–f°¯ ° f½f°¾nf€€ °–  ¯ ° f°f°½f f½ °–f©ff°½ ° f½f f ¯ ½ @½ ° f¯ff¾¾ff°–¾°–¯f f¯f¾ff ¯f¾ff¯½ ¾   f° f °° ½ nff° ff¯½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¾  ¯ff¾¾f¯ ¯½ f©f   f¯½f°   f¯½f° f¾ff°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff¯½ ¾f  .9. --@%.9%   9 °– f°9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff° ° f€%9%¯ ½ff° © ¯ff° f  ° f  f°°–%% .  fff €¯f°– ¾f½ f¾ ©©f ff°f°– ¯ f½f ½f¾f°– f° –°ff°  ¯ ½f– 9 °  f°-  f°¾ff¯ °©f¯° ff ff°°f¾ff¾ff¾ °  f°¾f % ff fn½–%    . 9 ¯ f©ff° ° f€  .

°–f°f¾¯¾¾ °f ff f©f  ¯f° . °–f°––f½ ff©f¾ ¾ f°–¯ ¯¾f – f©ff°– € € f°¯f¾ ¾ f °¯ ° f½f° ¾f –¾f¯½f¾f–f¾ ¾  ¾ff° ¯ ½f¾f°¯  f¾ °  ¯ff ¯°–°f° ¾ f¯  ff ff½ f©ff°– € € f°¯ ¯¯f¾f f  ff¯ f©f   ©¯f ½ ° f°%f°  %f°–¯ °°©f°½ °–f½¾€½ ° ff° ½ ° ff°°¾¾ f°–¯ f° f¾½ ¯ f©ff°– ° f€ f f½ff  ff f¾ f©ff ¾°f  f°ff°ff ff  ff¯  f°–¯f ¯ff%. ¾½°©ff¯ °f¯½ff°°€¯f¾ ½f f¯ff¾¾f  f½ ¯  ff¾¯ ff°½ f¾¯ °fff ©ffff¾°€¯f¾ ¾ °¯ ¯ f °€¯f¾¯f¾  ff¯½ ¯ff¯f°¯  f € . °–f°¾¯ff¾¾f f f¾ f°– ¯ff¾¾ff°– f½f¯ ¯ ¯f¯½f°½ °–ff° ¾ °  ff¯ f©f – . °–f° f°f°–$ ¾ °ff ¯f°¾ fff°– ¯f¯½ .

 f ¯°f¯ °– ¯ff°ff¾f°°¯ ° °– –ff°¯  f .ff¾¾f  f° f½f½ ¾ff°¾ © °¾ f°¯ °ff°f° ¯  f¯ °©ff °f °–f°½f° f°–f°f °f€f°– ¾f° ¾ ° ff½f°¯  fff° ¯ f¾ff° ff½f° f°–f° f f ¾ ° ¾ ¯ f ¯ °–  ¯f¾ff  f° f¾ .  f ¯°f¯ °–¯ °f ½ ° f½f ¯f°¾  f¾ f°¯ ¯ f° °–f°°f °–f°½ ° f½f¾ °  @©f° fff½ ½ °–°–ff°°f ff°¯ °f½ ff°¯ff¾¾f f f½½f°–¾ f°–  ff¾  ¯ ¯ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ °©f  ¾½¾  f°¾f fff°ff¾½ ° f½f f°ff¯  f ¾ °  D°¯ ¯ f¾f¾f°f¯ °©f ° ¾€  ¾ ° ff½f° fff°¯ °f¯f°f ½ ° f½ff°–#¾ff# f°¯f°ff°–# °f# f°–½  ff°f ff¯ ¯ f¯  f f°¯ °– ¯ff°½ ° f½f°ff°½ff ¾fff°  f°f½ f°ff°f°– f©f° ¾ °f ff½ f°ff°  f @ff½  @f°f°–f° f°°€°f¾  f ¾ °¯ °– f ½f° f°–f°¾ f–f°¯ff¾¾f°f  ¾ °¯ °–f©f¯  f°¯ °– ¯ff°€ °¯ °fff – ©ff – ©fff°– ½ ff°¯°n f¾f½ ¾ff°–ff°  ¯°¾f¾f° ¯ f°  .  f©–f f©f° ¯ °f°––f½½ ° f½f ¯f°¾f f¾¯  ff°–  f f½ ° f½f¾ °  ¾ ° ff½f°°¯ °nff f°¯ °– ¯½f° –ff° f°½ °© f¾f°f°–¯°n ½f½f° ¾  nff¾f f ¾ °¯ ¯½  °f°–f°½ ° f½f ½ ° f½ff°–  f   f ¾ °¯ f¾f°ff° ¯°¾f¾ f°¯ ¯°f¯ff¾¾f°¯ °–f¯f °–f°¾ ¾f¯f – ©fff°–¯°n ¾ °½ ¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f¯  f°¯ °n °ff½f f°–¯  ff¯f ff°¯ f¾f –f°–– f°¯ °–ff¯°€–°€ ff¯½f°°f    f ff ¾ °¯ °fff°f½ff– ©fff°–¯  ff¯f¾ ¾fff f °–f° ½f°¯  f  °–f°¯ °––°ff°nff f–f°–¯ f f f°¾f°–¯  °–f½  ff½f°¯  f f½f¯ ° ¯f°©ff f°ff¾– ©fff°–¯  ff¯f ff¯f° ¾ ° ¯ °f½f°½ f°–f ¯°¾f¾ f¯½f°–f¯ f ff–f€f°– f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f ¯ ° ¯f°f °f€©ff f°ff¾– ©fff°– f¯f n @ff½   –f°¾f¾ f°–f ©f °¾ ½9f fff½° ¾ °¯ ¯ f°¯ff¾¾f °–f°¯ °–¾f°f °f€f€¾f°¯ ° €¾ff° f°¯ °°©f° ff½f° f°–f°f°– f¾f° f½f¯ °© f¾f°¾ nff  ° – ©fff°–¯  ff¯f .  f f©f°¯ °–°–f½f°½ ¯ff¯f° f°½ °–ff¯f°¯  f ff¯   ½f°¾ f ff°– ff° °–f°½ ¾  .f½ °  f° °° ¯f %   f°–¾f°¾%- f  ¯  f°°¾° % ¯ ¯ fnf%€€ f°n  % ¯ °¾%    f°nf f¯ff  % 9 ° f°°f½½%%¯ ° ¯f°¾f °–f°½¾€½ ° ff° ½ ° ff° °¾¾ °–f°f¾ f©f  @ff½f°9 ¯ f©ff° ° f€f°–f f°–fffff½f° ½ ¯ f©ff°– ° f€¯ °f%   %   ff¾ff½ °–f°½ °© f¾f°¾ f–f  f @ff½  9 °–°–ff°9f fff½ff°  ¾ °¯ °¾f°½ f°¯  ff° ¯ff¾¾f ff¯ ¾¾f°– ©f°°¯ °––f½ ¯ff¯f°¯  f °f°–½f°– ff°  ff¾ .

 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f  °f¾ ©ff¯f°°   f°–¾ ff°–°¯f f°–f¾ f  °©f¾ nff¯¯½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   f¯ °f©f°  ½f f¾¾f¾f¾¯f¾fff°– ° f° ¯f°ff°– f½f¯ ¯ f° ¯ ff°  ½f f¯  f°¯ ff°½ °  f° f°°  9 °– f°9 ¯ f©ff°  f¾ff° . ff¯¯ °©ff   f–f½ ¾ff° ff½f°¯ff¾¾f¯f¯  –f°¾f¾ f°–f ½¯  f °–f°¯ ff°½  ff°¾ f° °–f°f°f°¾ ½ °¾ ½ 9¾ ¾  –f°¾f¾° °¯ ¯ f°f @ff½  ½f¾°¾ ½9f fff½°  ¾ ° ¯ ¯ f°  f–f½ ¾ff° °–f°° ¾f°–  f° ¾  ¾ff° ¯ff¾¾f °–f° f°–f°¾ ½f°– f¯ °–ff¯ °¾¾ .f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff°½ ° ff°f°– € €°½ °–f©ff° ½¾ ¾ ½°–f°–– 9 ¯ f©ff°°¯ ¯ f°¾¾f°¯ ¯½¾ ¾°€¯f¾f°– ¾ f©f  ff¯ °f°f f°¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  °f°– °f¾¾f f° ¾ f°f 9 ¯ f©ff°°nn°¯ °– ¯ f°–f°½ °– ff° f¾f¯f½°¯½ ¾ %f¯f°f°  % .9. °–f¯ f¾ °–°f°¯ff¾¾f ff¯¯ °nff °f€½ °© f¾f° °–f°¯ °f©f°  f–f ¯°–°f° –ff°¯ff¾¾ff°fff° ½f ¾½ ¯ °$½ n ff°  –ff° ¯½¯ °––°ff° f–f¯ f°f– ff¾¯f¾ ½ ff° ¯ °––°ff°f¯½f°©f¯f%¯½  ½ ¾ °f°%°¯ °–f€f°¯ff¾¾f ff¯ ½¾ ¾ f©f Iff¾ –ff°° f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f¯ ¯½  ½ °© f¾f°f°–n½ ¯ ¯f¾f° n D° ¯ ¯½ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ff ¾ ° f½f¯ ¯ f°¾f ¾f  f%½ ° °  ¾°¾% ¾f ¾fff° ¾%n°  n½  ¯¾% f°½ f°ff°   f%  ¾  ¾°¾%f°– f½f  ©ff°¾ nff ¯½  ¯  ½ $$f°f –¾½ n¯$$$½ ¯ f©ff° – ° f€ ¯½– ¯ ½¾f° 9f f  ¯ °f  .f¾ °ff ff¯ ¯   ¾ ¯½ff° ½f f¯ff¾¾f°¯ ° f½f°½ °– ff°$  f¯½f° f¯  f½f f ¾f¾ f°° ¾f°– f  f¾f°¯  f¯ ° f½f°½ °– ff° ff¯¾f¾ f ff°¯ ¯ f½ff¯ff¾¾f¯f°f°ff° °––f° f°–f ©f°¾ ½f¯  f f°–¾ f  –f°¾f¾ 9 ff°° ¯f¾ f°©–f° ¯ °–ff° °–f°f°f °¾ ½  ff¯ f°–f ½f°– f¯ °–ff¯ ½–f°¾f¾ n @ff½  . ½ ¯ f©ff° .f¾ff . - -. ° ° ¾%% ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff° ¾f½ ° ff°½ ¯ f©ff° ¯f°f¾¾f¯ °– ©ff°½ ¯f¾fff°f°– ° °–f° ¯f¾ °¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  ¯ °– ¯ f°–f°° f° f¯½f° ½°–f °–– ¯ °– ¯ f°–f° ¯f° f° f°½ nff  . °f  ¯ fff¯¾f ¾¾  ¾ °¯ °–f©f¯ff¾¾f°f ff¯¯ °f ¯ f f°–f ©f °¾ ½f°– f¯  f f½ff°   f½f9 °©9 f¾f°ff°9 ¯ f©ff°  ° f€ff¯¯ f¾f°ff°½ ¯ ©ff°– ° f€ ¯ °¾°% %  ¾ °½  ¯ ¯½ ff° f½ff  f°ff°ff ff¾ f–f  f . 9 ¯ f©ff°  f¾ff°. °f©f° ¯°¾f¾° ¯ °f°f°–°¾¯ff¾¾f   f ¾ °¯ °– f°¾f°– ¯¯ff¾¾f  ¾ ° ¯ ¯½ ¾f½f° ¯°¾f¾f°–¯ °–f¾f°½ ¾ff°– f½f  f f°¾ ¯ff¾¾f  °–f°¯ f½ ¾ff°–  f f –ff°¯  f¯ff  ff¯½f° ¯  f¯ ½ f¾ff°fnf% ¾¾°f°n %f°–¾ nff½¾–¾¯ ¯ f°–f°½ f¾ff° f  ° f¯¾ °––f f½f¯ ¯f¾¯  f°¯ °–f°–½ f¾ff°fnf °–f°¯ °nf f °f€½ °© f¾f° .

°©–f¯ °–fn½f f¯ ½ ¯ f©ff°f°–f° ¾ ½ #½ ¯ f©ff°  ff°½  %½© n f¾ °¾n°%# #½ ¯ f©ff°  f¾ff°½ °–ff¯f°% ½  °n f¾  °¾n°%# # f©f °%f °n f°°–%# f°#½ ¯ f©ff° ¯f°f%f°n  °¾n°%# .

f  ¾f   f° . ° ° ¾% %  f–f½ °– ¯ f°–½ °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f¯ ¯ f°¯ ½ °–f©ff° ¯ ¯ff ¾¾ f–f %f©n  f©n  ¯ °€  .f¾ff. n¾¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°.f ° f°  Jf¾   .

–°° @ n°–½fIf°   %   9 °–f©f°½ f°ff°ff¯f¾ff  f°°f¯ °––f°¾f¾f° ¾ f½¾½ ½°¾½ff  f¯½f°ff ¯  ° ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °––f°¾f¾f°½ °–f©ff° ¾ f½ f°ff° f°¯f¾fff°– f f°f¾ nff¾¾f½ °°– f°¾ nff½ f  ¯f°f°¾¾f .  f¯ °–f©f°¾f¾  ½f°°fff ° ¯ °–° f©ff f° ¾ f°f  f°¯ ¯°–°f°f f°f  f–f¯fnf¯¾¾°¾f¾   €¾½f f   ff°f°f ¾½° . ¾½°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯°–° ½¾f½f f ¯ff½ f©ff°  °%9 ¯f ¯ff ¯ ¯¾¾f% ¯f¾fff°–ff° ¾   f ½ °f °f°fff–f ff¯½ ¯ nff°°f ¾¾f¯ °°©f¯f¾ff f f°f¯ff ½ f©ff°  f–fn° ¯f¾ff½¾f°– ¯°nf° ff¯½ f©ff°  .

°–f¾f° ½  f°¯ ¯f¯ f°°f ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °°¾¾f° ¯ °–f¾f°½   ° ff¯ °ff°fffff €f f°½ f–ff°f°– ¯ °© f¾f°ff¯ f °½ °  ¾ff°¯f¾fff°–¯  f ¯f° 9  ¾  f½f ½ff°¾½ f¾ ½ ½f f½ f©ff°#¾f° °–¾# 9  f½f©–f ½ff½f° ¯ €¾  ¯f½°½–f¯¯½  ff°ff f°½ f–ff°¾ ½  f°–ff° © f¾f° ¯ f°   °nf°ff° ¾¾f°¯ ° ¯°¾f¾f° ½f f ¯f°  ¯f°°ff°–f° °f°–f½ff°–¯  f½ f©f f°¯ ° ff°¾ff °f€¾ –f  f f½f½f°f ¾°fff¯fff  f f¾ 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff nf° ¾¾ff°–  ©f¾f¯f¾f °–f°f°–f°°f ½f°–¾ °–¾ nff ½f¾f°–f° ff ff¯ ¯½ n   ©f¾f¯f¯ ¯ f°¯f¾°¾ nff  f°©f°  f ff¯–f¾ –f¾¯½ ¾ f°¯ ¯½  f°f½ f°–°  f–° f° f– f°° ¯ °– ¯ f°–f°  f¯½f°¾¾f f° f¯½f° € . ¾f½ f  ¯ °nf½  f–f¾  ff ¯ f° f½f°¯ff½ f©ff°¾ ½  –  °¯  ¾¾– ½f¾ff  f°½ ¯ °ff°  9 °  f°f ° 9 ¯ f©ff°  f¾ff° ¯f¾ff¯ °–f¾f°¾¾f¯ ff°½ °  f°f °°¯ °nf½ °  ¾ff°°ff  f f½¯f¾ff°ff .  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ° €°¾f°¯f¾ff ¯ °– ¯ f°–f° ½ ¾¾  f°¯ ¯ ff¯ff° ¯ °–¯½ f°¯ °–f°f¾f°€¯f¾ ¯ ff° ¾½ ¯ ° %©f ½ f°% ¯ ¯ f°€  °¾  f°¯ ¯¾f° ¾¯½f°  f ff°– ° ¯   ½ °  f°f°– –°ff°  –f°°– ½f f¯f¾fff°–¾ f°– ½ f©f  .

f¾ff9 °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   ff°–ff¯ff°– ¯f °–f°– . ° ©f°f¯f°€ff¾¾f°– ½   f¯    f ff ¯  ½ ¯ nff°¯f¾ff @–f¾–f ff¯ ¯ f°½ff¾¾f¯ ¯¾f°–f¾ –f¾  f° f°¯ °f©f°–f¾ –f¾½ f©ff°  © ½ f©ff° f ½ f©f f   f½ f ¯f¾fff°–f f ¾ f°f f°–f f°–f9 ¯ f©ff°  f¾ff° .f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f f°nf°–°¯ ¯ f°– ¯ ¯ f°°€¯f¾¾ f°f f°f°f ½f f¾¾f 9 ¯ f©ff°  f ¾ff°¯f¾ff  ¯ f°–f°°¯ ¯ f°¾¾f¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯ ½f° ½ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  f°  f¯½f°°  f  f©f  f–f½ f°f°– f¾f¯ f½  ff° ¯  f ff¯½ °–ff¯f°°ffff¾¯f¾  f°¯ °©f ½ f©ff°–°¯ f°¯f°  % f¯  % . .f°€ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°.

 . @ %%  ¾f ¯ %. ° –f¾%% ¯¯ ¾ ¯ % .9. @ ¾ff°–%% ¾  °n ¯ %. f°–f f f f%%  f  ¯ %.f¾ff@ff½  °f¾¾¾f½f f ¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f° ¯ °–f©f° € °¯ °fff ¯°¾f¾ffn f°¯ ¯°nf°¯f¾ff ¯ ¯f¾¾¾f°   f ff¯½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½ @ff½ .  @  °–%% ° ¾ ¯ %. 9f¾f°– °f°–%% ° –f ¯ %. °–f°f¾¾ f°¯ °– ff¾½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ¯ f°¾¾f° ¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f°½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f –°ff° %¯   f¯     . f–¯ °%% n°° n ¯ %. ff© %  f½° ¯  ¯ ½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¯f°ff°–  ¯ff° –f %  % f¾ f°f¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ f ff % €f–¯ ° ¯ %. @  f–%%  ¯ %.¯ ¯½  °ff°¾¾f °–f°¾f¾f¾¯f¾ff f° f °–f°½ °f©f° f°f°f¾¾ f¾ ©f¾¾f °f¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°. °––f°¾f¾¾¾f° f©f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾  @ff½ . f°–f°%f ¾ ½¯  ½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ½–f¯ ½ ¯ f©ff°f°– ½f° f°–ff f°¾ ¾f ° f½f  ¯ f°–f° f°¯ f f¾f°ff° ½ °  f° f¾f%9f   %  –f ¯ ½ ¯ f©ff° ½f f°– ¯f¾ f ff¯   °–%n°° n % ¯ ©f°– f f f f% % ¯   ½f f°%° –f %  f¾ff°ff ¾f°– ¯  . ¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½  ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ ° ° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff@ff½ . @  °f¯%  f°% °  ¯ %. -@9D 9f % %¯ °–fff° ff½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¾f½¾ ¾¯ ¯½°f f½fnf %% ½¾f½f f¾¾f%¾ °n °  % %%½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¯ °–f¯ff°½ ¯ f°½ °–ff¯f°f°–¾°– ¾ f%%½ ¯¾ff°f°f  f°–¾  f  f© f¾ f f½fn½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ¯ °°©f° ff¯  ½ ¯ f©ff° ½f f ff¾ ©ff° °–f° f½fff°½ °  f°¯ °f ¯f¾ ff¯ff°½ °  f°½– ¾¾¯ f°½ °  f°½– ¾¾¯ ¯ ¯f° f°–½ °  f° f°–¯ °–f¯ff°½ °  °––fff°½ °  f° ¾ f ½¾f½f ff°f%n n °  %  ¾ f–f f¾ f f½½ f¾f°ff°½ °  f°f°–¯f¾ ½¾f½f f– f°½f f ff° f©f @©f°f¯f¾ ff ff°¯ °°–ff° n  f¾f°½f¾ ¾ f°¯ ¯ f f°f  € € ff¯¯ ¯ nff°  f–f½  ¯f°– ¾f©f° ff¯° ¾½ °–ff¯f° % ½  °n %½f f¯¯°f%Jf¯ #°  % @©f°½ °  f°ff°½– ¾¾¯  f ff¯ ff°ff–f f f½f  ©f   ©f¾ nff¾¾ ¯f¾ ¯ °n°f ©f  f°  ©f °–f°f f°f D°¯ °nf½f©f° ¾  ½ °  f°¾ f¾°f f½f ¯ °– ¯ f°–f°¾ ½ °°f ff f°¯°f¾ f½f°f ¯½ °  f°½– ¾€f ff ¯f°–¯ °–f¯ f¾½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f°%ff –ff°% f©ff°– ¯°f  ¾ f½¾¾f% ½  °n nn¯%  f°–f°¯  ½ °  f°½– ¾€  ½f ½ ° ff°°–°–f° f°€f¾f¾f°–¯ ¯°–°f° f°–¾°–°f½¾ ¾ f©f¾ nff f¾½f f¾ f½f°f°¯ °– ¯ f°–f° ff f°¯°f°f%. °– ¯ f°–f° f°¯ °f©f°f¾ ff ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½  f½f°    f°¯ ¾ f¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f @ff½ .

    °–°©–f¾ nff°ff¯ °– °–f°¾f°¾ ½ °–f°°¾ ½f° ¾f½ °–f° ½f° ¾f  f¯½f° °–f°  f¯½f°f° –f¾f°– ff° ff¯¾ff °–f° –f¾f°– ff°½f ff °f ¾ f  f°– ½ f©f½f f¾f¾ ¯ ¾  °–f° ¾ ¯ ¾  °f 9 ¯f°€fff°½ ° f½f°¯   °–%n°° n %°¾f°–f  f° °–f°°¾ ½.¯f¾°– ¯f¾°–¯ ½ ¯ f©ff° ¾  ¯ff¯ ½ ¯ f©ff°f°–ff° –°ff° ff¯½ ° f°°f ff¯   °–% n°° n ¯ % f °f¯   °–° ½ ° f°f°°f  f½f f½ f f°f° –f¾°   f°–¾ ¾ °   f° .

-  .D-@ . 9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °–  9.fff% ff¯€¾f% f°°¾ ½¾ ¯° f½f f¯f°¾f% ff¯ –% f–f f½f © ½ ¯f¯½ff°$½ °–f°–f°f ff¯½ ¯ f©ff°½f f°¾ ½ °¾ ½  ¾ % n °¾n°f@¯ % f° f °–f°½ff¯ °–° f ©f °f½ °© ©ff° ¯ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¾ f–ff f f¯ °– ©ff– ¯ f½f   f° f¯   °–%n°° n %f ff¾ f–f  %% f¯½f½¾€ f ¯ °–ff°   ff¯¾f  f°–¾ f ff¾¾f¯ ¯½  –f¯ ff°f°–f¾ ¾ f–f¯f°f¾f  f°–¾ f°– €¾½f f¾ff¾½   ° %%¾¾f f½f ¯ °– ¯ f°–f°°¾ ½ °¾ ½°n¾ nff ¾¯ ° ¾ ¾ °––f ©f f½¾ ¾ ° °f¾f¾ %%¯ °– °–f°   ff¯¾f  f°–¾ ¾f°–f¯ ¯°–°f° f–¾¾f °¯ °–f© ¯ °–°¾ ½f¾f¾ ¯ ¯½  f ¾ f¯ °–f¾¯f¾  ¾ nff ¾ ¯ ° ¾¾ °––f¯ ¯ ff°° ©f °f½¾ ¾f°¾€    ff¯¯ ¯ nff° ¯f¾ff ¾f¯½°–¯ ¯½°f  f° ¯   °–°©–f¯ ¯½°f f°–f° ¾ f–f  %%¯f¾ ff° ½¾f°ff°f  f°–¾  %% f¯ ° °––°  ©f¾ nff¯ ¾ °––f¾ f½ f©ff° f½¾f©f €¾f°½f¯  °f°–f°°¾ ½ °¾ ½¾ f  f°f  f°–¾   f°%% ff¯¯ ¯f f°   ff¯¾f  f°–¾   ¯ff¾ff°¯ °– ¯ f°–f°   °–f°f°f  f°–¾ ¯ °©f  f ff° °f¾ %½ff°% f¯ ½ ¯ f©ff° ½f ½ n°° n %  °–%¯ °9f  %  %¾ f–f   @ff½9  °nf°ff°   ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff° ¯¯  ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾ f°–f f°–ff°–  ¯½ –   ¯ °f¯½ff°°¾ ½½ ° °–f°–f¾ f¾f¾¾f %¯f ½f¾ff%   ¯ °f¯½ff°°¾ ½ °¾ ½f°– ° f f¾f ¾¾f  ¯ °f¯½ff°  f¯½f° ½¾ ¾f°– f½f  ¯ f°–f°  ¯ °f¯½ff°ff f° ff°f°–ff° –°ff°$  f°  ¯ °f¯½ff°½ f°ff°°n @ff½9 f¾f°ff° ¯ ½   ½ °– ff°  f¾  °–f°¯ ¯ f– f¾ ff¯ f½f ¯½   –ff°½¾ ¾   –ff° ½ °nfff° ff   ¾¾¾ nfff¾f ff¾ ¯ ½    ff¾½¾ ¾  ½f    ½ff°f¾½ °–f¯ff°   ½ff° ff¯½ °¾°f°ff f° ff°   ½ff°¾¾f¾ff ¯ °–f°f¾¾ ff   ff¾½  ½ °–f¾ff°¾¾f f f½°¾ ½ °¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾f°– f  f½f°    ff¾½¾¯  ¯f¯½f° ½ °–f¾ff°¾¾f f f½½ °––°ff°ff   . -9-.

9 ° ¯f°  ¯ °–9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¾ff¾f f–f° f ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°f°– f°f¯  ff°¾¾f ff¯ –ff° f©f¯ °–f©f f f¾ –f fff¾° f¾f°ff– f°¾¾f  f°f°ff¾¾f °–f°¾¾f ¯ff ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¯ °f¾f°ff½ ¯ f©ff°f°–¾°– f°½ ¯ f©ff° f .

f°–¾°–  f °–f°f°–ff°fff f ¯°f°¾– °–f° ¾f½f°¯ °f° ¯ °–° °f¾f¾°¾ ½ °¾ ½ f¾f f°½  ¯ f°–f°¯ °f¾¾f  f° °–f°f°ff ½ °– ff°ff f°°¾¾°¾ ½9f°– ¯¾¾f °–f° ¯f¯½f°¾¾f° ¯ °–½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  f¾ nff  ¯ °–¯f½°¾ nff f¾ ¾ff°f f½f¯ ¯ff¯°¾ ½ °¾ ½¾f°¾¾ ¾f °–f° ¾f½f°°  f°f ¾ ¯f°¯ f¾¾f f°– f f½ – –½   f°f¯ °f©f°½ °–ff¯f° ½f f¯  f° ¯ °––f½ °– ff°ff f°¯ ¯ ¯ °–¯  f°¯ ¯ °°¾ ½ °¾ ½ ¾f f°–  f¾f ¯ ¯ f° ¾    ff°f€–f °f¯  f  f°f °¾f€°  ©f f°–ff° €°–¾¾ f–f€f¾f °ff¾¯  ½ ° °–  f° ½ ¯ ¯ °– 9 ¯ f©ff° °–f°½ ° ¯f° ¾¾f  °–° f©f¾ f–f° ¾f¯ f    ff°f€¯  f¾ °  °–f°°¾ ½ °¾ ½ f°½°¾½ ½°¾½  f°  ff¯ ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°¾¾f©–f f©f½ ¯ nff°¯f¾ff¾ nff¯f°  f°  f¯½f°   f¯½f° € f °f¯  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ¯f°½f¾°€¯f¾%f°  % -f¯° ff¯½¾ ¾½ ° ¯f°°¾¾f¯ ° f½f f°f°ff ¯ °–f° f–f–f ¯  f  ff¾ °––f f½¾ ¾½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°¯f½°©f°f°– nf½f  f¾f°f °–f° f  ¯ °–f°–f°– ¯f¾ f ff¯ ¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f° –ff°f°– ff° f° ½ffff° °f°–½¾  ©ff°– ½  ff° ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°%f¯f°f° % f½f °°–f° 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–f¾¾f f©f f–f¯f°f f©f% f° f°%  f©f¯ °–f–f ¾ °  ¯ ¯f¾  f° ¯ f°¯ °f°¾€  ¯ ¯½  n ff¯ °–° f¯ °–f€f f°¾¾f f°––°–©ff ff¾½ ¯ f©ff°°f¾ ° %.

f°   % 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯ f¾¾f¯  ¾f°¾ f° °–  f° f½f¯ ¯ nff°¯f¾ff f °f¯  f °f °f   ¾ ¯½ff° ½ f°¾ f  ff¯ –ff°¾f°¾¾ ¾f °–f°½  ¯ f°–f°°  f¯  f °–f° ¯ °–f°–  9 ° ¯f°  ¯ °–f°– ff° ¾¾f f½f¯ °–ff½f f  °°f ¯f¯½f° °¯ ff°½ ° ¯f° f¾  ¯ f°f%.

f°  %  –ff°½ ¯ f©ff° ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f½ ¾f¯ff° °–f° –ff°½ ¯ f©ff°f°–  °f¾ ½f f  f¯½f°½¾ ¾  –ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ° f°f°½f f ½ °–ff¯f° f©f¾ nfff°–¾°–¯ f –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½ f°  ¯ f°¯ ° f½f°°¾ ½f°– f ½   ff¯  ½f°¾ f f ¾ f°–f°  –ff° f©ff°–  °f¾½f f  f¯½f°½¾ ¾¯ ° f°f°½f f½ °–ff¯f° f©f f°–¾°–    ff°¾¾ff€ ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°  f°½ ° f½f°°¾ ½ ff¯   ½f°¾ f f  °–f° ¯f° ff½ ° ¯f°  ¯ °– °–f°  f¯½f°½¾ ¾ f f °–f°f°– f¾ f  –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½f¾¯ f   f¯½f°½¾ ¾ f°  °– .

°½°¾½°¾¾f f f°  °–° f½f f©f¾ nff¯f°   °–f°fff°  f©f¾ nff°¾¾ ¯ ° f°f° f©f ½¾f½f f¾¾f¾ f°–f°½ f°f°–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ ° ¯f°€ff  °¾ ½ff½°¾½° ¯  f¾ °  f°¯ ¯ f°n f¯fff¯ °– ° ff° ¾  –ff° f¾ °¾¾f ff¾ff¾f½f f.f°% % #  ¾n °n½f ¾  ¾€f¾°°f ¾n °n ½n ¾¾ ¾f° ½ n #9 ° ¯f°  ¯ °–¯f¯f f° f°–  f ff½ff°–  f¾¾f °f°–½  f°½¾ ¾¾f°¾  @ff½f°9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °– 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–  ¯ f°–f°  f¾ff°½f° f°–f°–°€ °f°– ½ ¯ f©ff° f°½°¾½ ½°¾½°¾¾ .

° f@ fn°–f°  f°°–  ¯f°f¾¾f ff½f°¯ ¯ f°–°½ ¯ff¯f°  ¾ °  f½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° .

f  f¾ff°½f f½ °–ff¯f°ff f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯  ¯ f°–f°¯ f ½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° f©f ¯f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f  ¾f¯ff° °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f°°f°–©–f½ ° f½f°°f  f¾ff° °¾¾ ¯ff½ ° ¯f°  ¯ °– ¯f¾¾ff¾f½ ¯ f©ff°f°– ¾ ¾f °–f°.

° f@ fn°–f°  f°°–%.

°– ff¾ –ff°¯ ¯ f° ¾¾f°¯  € ¾½f f½ °  f° f°½¾ ¾½ ° ¯f°f°– –°ff° ¯  % f¯ f°-  %f °f½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f° ¯ °–f°–  f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff  ¾ f   ff¯½ ° f°°¯ °––°ff°ff½f° °–f°¯ °–f f½f¾ fff½f°9  . ° f¯ f°-% %  f¯ °¯ ° f°f°    ff°¾¾f¾ nfff€  °f¾° €   f°f° f½f f €  f°¾¾f ¯ °–°¾¾½ °– ff°¯  f¾ °  9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff%9 %¯ ¯ f° ¾¾f¯ °©f ½ f©ff°–¯f°  f°°¯¯ f ¯ °–f°–f°–¾ nff f°– f°–¯ ° °– f°¯ °–fff°¾¾f°¯ °nf½ °  ¾ff° f f½¯f¾ff°ff  -f¯°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f°9   f ff¯ f½fff°–½ °°–f ½f f ½ ° ¯f°  ¯ °–¾ f–f° ¾f  f¾ff°½f f½ f°ff° ½ f°ff°  f¾ff° ¾½°  f°½ °  f°¾¾f f°–¾°–  ff ¯ °–f°–  ff¾½f f°–°–f°  f¾  f °–f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff ¯f °–f°¯f¾ff  ½f°°fff°– ¯f°ff°–¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f ¾¾f ff¯¯ ¯ f°¯ ff°½ °  f°f°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff  ¾   f° f °f¯f¾ff¯ ½ff°¯f¾ff  ½f°°ff ½ ¯ nff°°f ¯ ¯ f°½ °  f°f°ff ¾½°% ° ¾ % @ff½ ff½½ ¯ f©ff°  °f¾ ¾¾f½f f¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f°  ¯ ¯f¾¾¾f  f½f fff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°–  f°–   .@% . °° % ff¯¾    %  ¾n ¯ ½ff° f–f° f° ff°¯ ½ff°½ f¾f°½¾ ¾ ¾n  f°– –°ff° ¯ ° ff¯ ¾n f ff½¾ ¾¯ °f ¯f°f¾¾f¯ °–f¾¯f¾¾f °¾ ½ff¾f½°¾½ 9¾ ¾¯ °f ¾ ¯¾f°f¯ °–f¯f ¯ °––°–f° ¯ ¯ f ¾¯½f° f°¾ f–f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff . °––f°¾f¾f°¾¾f ff¯ f©f¯ ¯ f°¾¾f¯ ° € °¾f° f° ¯ °––f°¾f¾f°–f¾ –f¾f°– ff° °–f°¯f¾ff¾ f¯ ° ff°ff   . ¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½¯ ° °–¾¾f° ¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ °°¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff  . °f©f°$¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ –ff° ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f°    f°¯ f°– ¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f  .

¯¯  f°– ¾ ¾f °–f° –ff°½ ° ¯f°  . °n f   f –ff° f°–ff°  ©ff° ¾¾f°¯ °– f ¾f°f°–¯°–°¯ ff  ¯°–°f°°¯ €f¾  f°©°f °¯ °nf½f©f° ff¾. ° °f°©f°f°–ff° ½ f©f ¾¾f  .f°%f% ¯ ¯ f°½ °© ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ¾ f–f   . °f½f° ff f° ff°¾ nff °–f½  . ° °f° ¯ f½ °–f¯ff°°¾¾f  . ° °f° °–f°n ¯ff½ff¾¾fff°  ©f¾ nff °  ff¾ nff ¯½f°–   f ff¾¾f  .

¯ ¾f ff¾ ¯f¾¾f¯ ¯ff¯©f° –ff°½¾  f°–f¾ ff° n  ¯ –ff° ff°¯ °© f¾f°½f f¾¾f °f°–nff  ©f . ¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f°  –ff°f°– ff° .f°%f% ¯ °ff°f°f f¾ f–f  f .

f°–f¯f° . --I@-.9--O.9--9   O. ff° ¾¾  °f°– ¾¯½f°°¾ f½© °¾ –ff°   .f f¯ °f$f¾ ¾¾¾¾f –¯f¯ °© f¾f°¯f ¾ ¾f©f°f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°   9.9 f°–f f°–f  f ¯ ¯½ ¾f½f°–f¯ f –f¯ f¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ ° ¯½ f°–f¯ f ½f½f°ff ff°–f°¯ f9 n ¯ ¯ ½ °© f°¯ ¯  ¾ ¯½ff°½f f¾¾f° ¯ ¯½ ff°$¯ °–f°f¾f–f¯ f .9. ¯ f°f f°–n½ ½f f¾¾f°¯ °– ¯ ff°ff f° ff°f°– –°ff° € . f ¾¾ ¯½ f°–¾¾f f¾ ¾¾ ff°f¾f–f¯ f ¾  nff½f f  f¾ @f½ ¯½   ¾ ¯½ff°¯ ¯ fnff°f¾ ¾¾°f € .--. °–f¯f¾ f½¾¾f¾ f¯f¯  f¯ ff° –ff° .

@D-9.

@D f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f . °f©f°¯f ¾ f–f½ °–f°f n ¯ °°©f°$¯ ¯½ ff°–f¯ f –f¯ f –ff° ff° °–f°¯f  ¯ °°©$¯ ¯f°––¾¾f¾ nff –f°f°¯ ¯f¾f°–$¯ °–f°–f¯ f –f¯ f ¯ °©f f°f°––¾ ¯ °f°ff°ff¾f°$ f¾f½ ¯f°f°–f¯ f ¾  € fff¾f°$f°–f¯ f ¾ –¯ ¯f¯ °f°f¯f°°¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f° ¯½  °¾f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°$f°–¯f°   -D. @@ f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ ¯ ¯ f°–f¾ f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °– ©ff°°f n  ¯½¯ ° ¾¾f°©ff f°f°– °f f°¯ ¯f¾f°f½f°––f ¯½ f½f ¯ °– ©ff°°f$¯ °– f©ff f°°f ¯ ¯f°––¾ff¾f°¯¾¾f °–f°°¯f°– ½f°––¯ f½f°f¾  ©f¾f¯f¯  f @f°––f½f° f ¯f°f°–f°  ¯ f°–¯ °°©°¯f°–f° €  ¾¯½f°   .

9@I.

9@ ½½ f€ ¯   f©f ¯f°f¾¾f  ©f ½f¾f°–f° f° –f°f°¾ nff¾f°¯ °–¾ff°  f–f° f–f° f¯f f°– ½ f©ff°–f f°–f  .

f ¯ ¯ f–¾¾f° ½f¾f°–f° ¯ ¯ f–f°fnf°f$¯f f½¾¾f°  fnf f°¯ ¯ f°–f¾f°n  f° ¾¾f¯ ° f½f°¾f½ff°–½ f¯f ½ f°¾ f–f½ ¯ nff f°¾f½ff°– ½ f° ¾ f–f½ ° °–f 9 ¯ nff¯ ¯ fnff°°–f¾f°°f¾  °–f½¯°–°  °–f°¯ ¯f¾f°  ½ ff¯°–f¾f°°f   ¯ °ff½ ° °–f € . °¯f$¯ °– ¾$¯ °°©f°  ½f°–f°– °–f½– .@D@D f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ 9 °–f¾f°  f° ½f f¾ f½¾¾f  f¾ff°°¯ f°  f°–f¾f°– f°–f ..¾f°f ¾¾f°¯¾f –f¾¯ °nff¾f ¾f°¯ f¯ °– ©ff°¾f f°¾¾f °¯–f¯ f½f°f¾½  ©ff° f°¾  ¾°f n f½  – ¾f¯ ° ©f¾f¯ff°f ¯½ ¾f ¾ f f ¯½°f f° –f °– ¾f¯f f½f¾¾f °¯¾f¯f f ¯½f° ff¯ ¾ ¯½ff°° ¾¾f °–f°–f¾f°–¾f¯f ¾f¾f°–¯ ¯ f°ff¯ °nnf°f¾ ©f¾f¯f¯  f f½f°f¾ f°f°––f½f° f ¯½f°– f°  ¾¯½f°   @D-@@. ¯ f° ¯ °–°–f$¯ °–f€f  ½ °–f°¯ °– °–f°¯f ¾ ¯°fff °–f° ¯f f°°f   f½ f° ¾ ¯f¾ f–f½ ¯ nff f¯ °©f ½ ° °–f f°¾ f°f  f ff°¾ ½  ff¾   ¾¯½f°¾f ¾f¯f ¾f¯f °–f° © 9 °½   9 -.

% f°–f f°–f  f ¾f  ¯½f°  ff¯ ¯½ f°––f¯ @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°–  f .I.@.-@I-%@% f°–f f°–f  f . ¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°–¾ nff  – °%nf¯½f°¯ °½ ¾f¾  © °¾ f¯° ¾  % ¯ °f©f°½ f©ff° n ¯ ¯ –f¾ ½f f ¯½°  ©ff° f°––f f°––f ¯½  °––f°ff¯ °© f¾f°½f ff°––ff°°f¾f¯½f¾ ¯ff°––f ff¯ ¯½ ¯ °–   ¯ ¯ ¾$½ f°ff° ½f f¾ ¾¾f 9f f¾ff¯ °©ff ¾ f  ¾f°– ¯ ¯ f° . ¯  ff¾ €  ¾¯½f°   J%.

 -@D.n @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°– –f¾f° °––f f¯f°–  ff°– f¯ ¯½ f©f f–f°$¾  f f°–¾f¯f  ¯ ff¯ ¯½ f% ¯½f%°¯ ° ¾¾f°¾  f ¯  f   f¾  ¾f ¾¾¾ f–f¯ff½f°––f ¯ f  ¯½f¾f f° –f°f° ¯ °–f©f ¯f°¾f¯¯  f °f°–¾  f f°–¯  ff¾f f°f½f°––ff°°f ¯ ° °–ff° °–f°¾°–– ¾°–– € @f½¯f¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ ¾¾ – ¯ ¯  ff¾  9 °½   9 .

¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°– @f½ ¯½¯ °–° °f¾f¾$¯ °nfff °f€©ff f°f¾ ¾¾ . °© f¾f°–¾f°–  f° .@-%9 % f°–f f°–f  f ¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° . ¯f¾¾¾f   f ff¯ff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½  ¯ ¯ f°¾¾f¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾ %¯ ° f½f°½ –f¾ ©f f   % n ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f  ¾½ ¯ °° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff ½ °–¯½f° ff ½ ¾¾ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f° f° ¯ ¯ f°¯  f  f––f¾ °–f° ¯f°°f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f° ½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f–°ff° € 9 °½   @D f°–f f°–f  f .-.99- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ °– ¯ff°°¾ ½$½ ¯f¾fff°f°–ff° f°––f½ ¾¾f$¾ f°f ½ ¯f¾fff°f°–¯ ¯½°ff °f€©ff f° n . °f¯½ff°©f°½ ¯ f©ff°f°–°–° nf½f ¯ °f©f°¯f ¾ f–f¯f°f f¾f n D°¯ °– f ff¾ f½¾¾f  °f ¯½ ½f¾f°–f° ff°– f°¾ f°– f½f¾f°–f°¯ °n ff°¯f f°– f  ¯f f– f° ½f¾f°–f°°f¯ ° °–f¾f¯ ¯ ¯ fnfff° nfff° n  ¯ f° –f°½ f°  – ©–f ¯½f°°f ¾¾f¾ nff –f°$ fnf¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f °–f° ¯f° ½f¾f°–f°°f f¯½f¾ f–f°¾¾f¾ f¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f € ¯ °–f°–$¯ °© f¾f° ¯ f¯f f°–¾ f°f ¯ ½ff¯¾¾f –  ¾¯½f°$½ °½   .

.@. @f½ ¯½%ff fnf ¯½  °%¯ ¯ fnff¾ ¾¾°f f°–¯ °nff  ½f½f° f°¯ °– ¯½f°¾ ¾f f°– € f ff ff ½f½f°¾¾f ¯°f¯ ¯ f ¾¯½f°ff–¯ ¯  f° °–f°¾ ¾f °¾ ½f°– ¾ ff°–   .

 f°–f f°–f  f ¯ °f½f° f½fff°– ¾ f½f°¾ ½ff½ f°–nn°¾ ¾   ¾ f°f¾f f–f°f¾f f° f–f°f°°ff©ff f°  f½¾¾f¯ ° f½f¾f ff n @f½¾¾f¯ ¯f°©ff f°$¾f fff°– ½ –f°–  f½¾¾f¯ °nf½f¾f°–f°f°–¯ ¯½°fff°–nn °–f°f°f%¾f ©ff f°%  f½¾¾ff°– f½f¯ °nnf°f°f¾ ¯ ff¾f  ½° €   f¾f f ff nf–f–ff½¾¾f¯ ° f½fff°–  f f ¾ ¯°f –  ¯f°¾  ¾°f   ¾¯½f°$½ °½   @-9- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°°¯f  f°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¾f ¯°f° € °f°–¯f $½ ¯f¾fff°f°– ¾f¯½ff°– n ¾f ¯°f ½f¾f°–f° °–f° ¯f° ¾ f°f% ¯½f°–% f°¯ °–fff°f¾½ ¯f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯ ¯¯½°½ ° n ¾¾ f½ ¯½¯ °– ¯ff°f¾ ¾¾°f  ff f –ff° ¾ ¯ °–fff°½ ¯ nfff°½f f½½ ¯f¾fff° f° ¯ °f¯ f¯f f°– ¯ f°–f½f°½ff¾¾f € ¯ ¯  ¾¯½f° – 9 °½    @ f°–f f°–f  f ¯ ¯ f– ¯½½ ¾ f ff°–¾f½ f°–f°°f °f ¯ ¯ f°–f¾°¯ ¯ fnf¯f f°–ff°  ff°  f ¯½ ff¾ n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf¯f  ¯ °°©¾ff¾ff°––f°f ¯½½°  nff¾ff f°––f½ff  ff¾  ¯½°f ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f¾ f–f° ¾f¾¾f ¾f ¯ °– ¯ff°½ ° f½f°f   ¯ °ff¾¾f¯ °f¯½ff°–f–f¾f°°f–¯ °¾°$   f¾ f½½ ¯ nfff°  ½f½f°¾ f¯½f¾ ©¯f f°– ff½f°– ½ ° ¯ °f¯ ff°°¾ ½$ f°– ¯ °–f½ € f ff ff ½f½f° ¾  –¯ °–f©f¾¾f¯ ¯ f ¾¯½f°$f°–¯f° .

¯f°––½ff¾¾ff°–¾ f °©°¯ f°f°¾ °ff°–¾ f ½ ¾f½f° € .  9- f°–ff°–f  f ¯ °¾°$¯ °f½f°¾ °ff°–ff° f¯½f° .f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °f¯½ff°f¾ ¾¯½f°°f  ¯ ¯ f° ¾¯½f°¾ nff¯¯ © ff¾  9 °½   D9-I@@- f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½   @@ f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½  . °°© f½f¾¾f°¯ ¯½ f©f¾ °f ff¾ ¯ ¯ n ¯ ¯ ° ¯½¾¾ff°–f°––f°ff°– .f¾°– ¯f¾°–¾¾f    ¯½°f ¯f¾°– ¯f¾°–¾f¯ ¯ ¯½ ff°¯ °–f¯f ¾ °ff°–¾ f°– ½ f–ff° –   f¾  ¾f ½ °f¾f° ¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f° f¾¾ f–f ¯ f ©f° ¯ ¯ ff¾  . ¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯½  °¾f°–°–° nf½f .

f¾°– ¯f¾°– f ¯½ ¯ f  ¯½°f¯f¾°– ¯f¾°–  ¯ f°¯ °© f¾f° ¯f f°– ¾f¯½ff° – ½f f ¯f°°f  ¯ f°¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f°¾f ¯ f f¾ ©f °¯ °¾f°¾f ½ f°ff°f½f¾f©ff°–¯ °f°–¯f f°–¾ f © f¾f°  f ¯½  ¯ f° f¾ ¾   f¾ ½  f f°  ¯½f f¾f¾¾f ¾¾ff°–f° ¾ f¯f ¯ ° €   f¾¾f f½f¾f f$¾f½ f°ff°  f° ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f° ¯ °©ff ½ f°ff°f°– ¾ ff¯ f¾  ° f ¾ ¾ nff –f°f° – ff¾  9 °½   @D-@.  @D9-- f°–f f°–f  f  f½¾¾f¯ ° f½f¾f½f¾f°–f°%– f¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°fff ¾¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°f ¯ ¯ f°–f¾ f°¾¾f¯ °– ©ff°–f¾ °–f°½f¾f°–f°°f n   f¾  ¾f¾ f½½f¾f°–f° –f °– °–f°¾f½f¾f°–f°f°–f°  f½f¾f°–f° ¾  f½f¾f°–f°¯f¾°– ¯f¾°–½f¾f°–f°f°– f°¾f°– ¯ °f°ff° f°¯ °–f°©ff f°¯  f @ ¯f° ff°–  f½f f½ ff°½f¾f°–f° ¯ f°  f–f° ½f f½f¾f°–f° ¾ ¯f € 9 °½   -J @J- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯f f°–ff° ¾f©f° ¯ ¯ ° ¯½  ¯½ f°¯ ¯f°––¯f¾°– ¯f¾°– f ¯½° ¯ ¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯f  n .

@@-O9-- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n . ¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾f$½ ¾ f°¯ °© f¾f° ½f f½ ¾ f°¯ °© f¾f°  ½f f½ ¾ ff°°f f¯ f f–f°$½ f°¾ ½¯f½°f°–f°°f ¯ °¯½f° $½ ° f½f f¾¾f ¯ ° f°–f°¾ ¯f¯f f°– ¾f©f° ¾ff € 9 °½   .

¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾ff°f©ff  D°¯ °–©½ ¯ff¯f° ¾¾f ¾¯ ¯ ff$$¾ ¾f °–f° f° f° f½f ¾f°–f¾ ¾f °–f°¾  ¯f¾°–¯f¾°– .DIJ f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n .

¾¾f ¯ ¯ fnf¾f¾ nfffnf f°¾¾f¯ °¾©ff f°  ff¯ff°–°¯°f ¾ f°– f°f°–¾°–  ¾¾f° ff °f ¾f° f °f%2% f°¾ff° ¾f° f ¾f°–%% € ¾ff°–¾ f¯ ° f½ff° f2 fff¾°f ff f–°ff¾  ff ff   f°°f – -f¾¾f °– f©ff f° °f©¯fff°– ½    9 °½   O9@-@D.

¯ ¯ °–½ ff° . °– n ½ ¯ff¯f° f°¯ ¯ f°¯½f° f . °f¯½ff°©f° f°¯ ¯½ ¾f½f°¾¾f .@-%9. ° ¯°¾f¾f°½ °– ff° f° f¯½f° n . ¯ f° ¾ ¯½ff°°ff°f°©f°   -D@. --D-% 9 ¯ f©ff°f°–¾°–¾¾ f°nf°–°¯ °– ¯ f°–f° f©f¾¾f °f°– ½ °– ff°½¾ f° f°½ °– ff° ff€f°– f½f f©ff°f°–f f°–f  f .

.

%--.

 -- % f°–f f°–f  f . ¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f ¾¯½f° ¾f¯f € 9 °½   . ¯ ° ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯  f°––f½f° f f½fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ .

9@I-@@--.

9@-%..

.

¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f  ¾¯½f° ¾f¯f€ 9 °½ .% f°–f f°–f  f . ¯ °  ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½ ½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯ f°––f½f°  f f½ fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful