LAPORAN PENDAHULUAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL

A. Tinjauan Teoritis 1. Konsep Dasar Menarik Diri a. Pengertian Gangguan hubungan sosial adalah suatu gannguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian tidak fleksibel yang menimbulkan prilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalain berhubungan sosial (Achir Yani dkk 2000; 1141). Menurut Carpenito (2000;385) Kerusakan interaksi sosial adalah keadaan dimana individu mengalami atau beresiko mengalami respon negative, ketidakdekuatan, ketidakpuasan dari interaksi. Sedangkan definisi menarik diri adalah keadaan klien mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan disekitarnya dengan wajar (Mahmui LN). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa individu yang mengalami kerusakan interaksi sosial : menarik diri mengalamii gangguan dan kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain baik secara kualitas maupun kuantitas yang berdampak pada individu lebih senang menyendiri dan mencoba menghindari berinteraksi dergan orang lain.

1

b. Rentang Respon Sosial Menurut Stuart & Sundeen (1998 ; 346) rentang respon sosial dari adaptif sampai maladaptif yakni : Respon Adaptif Respon Maladaptif

• Solitude •Otonomi •Kebersamaan •Saling ketergantungan Gambar 1: Rentang Respon Sosial

• Kesepian • Menarik diri • Ketergantungan

• Manipulasi • Impulsif • Narkisisme

Respon hubuugan sosial berada dalam rentang yang adaptif dan maladaptif 1) Respon adaptif adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum yang berlaku dimasyarakat dan individu dalam menyelesaikan masalahnya, masih dalam batas internal. Respon adaptif meliputi : a) Solitude/menyepi Respon yang dibutuhkan seseorang untuk menuangkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutcrya. b) Autonomy (otonomi) Adalah kemampuan individu untuk menentukan atau menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.

2

c) Mutuality (kerjasama) Individu mampu saling memberi dan menerima atau kerjasama. d) Interdependency Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain. 2) Respon maladaptif adalah respon yang diberikan individu dalam menyelesaikan masalahnya menyimpang dari norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat. Respon maladaptif meliputi : a) Manipulasi Individu menganggap orang lain sebagai objek untuk mencapai kebutuhannya tidak bias membina hubungan social secara mendalam. b) Impulsif Individu sangar reaktif, mudah dihasut, terangsang atau

terpengaruh, kasar dan menantang c) Narkisisme Menggunakan cara-cara yang negatif dalam menjalin hubungan dengan orang lain. c. Psikopatologi Proses terjadinya gangguan jiwa dapat digambarkan dalam fenomena model stress adaptasi sebagai berikut :(Stuart dan Sundeen, 1998 ; 40).

3

Faktor predisposisi
Bio Psiko Sosio kultural

Stressor presipitasi
Sifat Asal Waktu Jumlah

Penilaian terhadap stressor
kognitif Afektif Fisiologis Prilaku Sosial

Sumber-sumber koping Kemampuan personal Dukungan sosial Mekanisme koping
Konstruktif Destruktif

Aset materi Keyakinan (+)

Respon adaptif (sehat)

Respon maladaptif (sakit)

Gambar 2 : Psikopatologi Pada Gangguan Jiwa

Dikatakan bahwa gangguar, hubungan sosial dipengarulii oleh faktor predisnosisi dan presipitasi 1) Faktor Predisposisi (faktor pendukung)Menurut Stuart & Sundeen (1998 ; 34'7) faktor predisposisi dari gangguan hubungan sosial adalah : a) Faktor tumbuh kembang Pada masa tumbuh kembang individu, ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi akan menghambat fase perkembangan dalam membentuk rasa

4

percaya diri tidak terpenuhi dapat mengakibatkan individu tersebut tidak percaya pada dirinya dan orang lain. 2) Faktor Presipitasi (Faktor Pencetus) Adapun faktor pencetus perilaku menarik diri yaitu : 5 . b) Biologik Faktor genetik dapat menunjang terhadap respon sosial maladaptif. Ada bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransi niter dalam perkembangan gangguan ini. Hal ini disebabkan oleh norma-norma yang dianut oleh keluarga yang salah. namun tetap masih diperlukan penelitian lebih lanjut. pola asuh keluarga yang tidak menganjurkan anggota keluarga untuk berhubungan di luar lingkungannya. ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga. c) Faktor Sosial Badaya Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. d) Faktor Komunikasi Dalam Keluarga Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung untuk terjadinya gangguan dalam hubungan sosial termasuk komunikasi yang tidak jelas. dimana setiap anggota keluarga yang produktif diasingkan dari lingkungan.

(2002 . 143) tanda dan gejala yang muncul pada klien dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri. komunikasi verbal Menurun atau tidak ada. d. afek tumpul. Tanda dan Gejala menurut Hamid dkk. mengisolasi diri. tidak merawat dan memperhatikan kebersihan diri. gairah seksual menurun. tidak atau kurang sadar dengan lingkungan sekitarnya. ekpresi wajah kurang berseri. harga diri rendah membentuk posisi janin saat tidur. terlihat dari tingkah laku klien yaitu : kurang spontan.a) Faktor eksternal Contohnya stressor sosial budaya yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya antara lain menurunnya stabilitas keluarga dan berpisah dengan orang yang berarti. aktivitas menurun. 6 . kurang energi. dan ragu terhadap keyakinan yang dianut. Stress ini dapat disebabkan karena berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya akan menyebabkan gangguan hubungan sosial. pemasukan makanan dan minuman terganggu. b) Faktor internal Contohnya adalah stresor psikologis yakni adanya kecemasan yang berkepanjangan dan cukup berat dengan terbatasnya kemampuan individu dalam menyelesaikan masalahnya. menolak berhubungan dengan orang lain. apatis.

Penderita dengan delusi menonjol. tidak begitu gaduh. dimana efek sampingnya dapat menimbulkan sidroma parkinson untuk mengatasi efek samping tersebut dapat diberikan obat anti kolinergik yaitu trihexypinidile atau arthane 1-2 kah sehari. sulit tidur. Apabila gejala yang menonjol berupa gaduh. seperti chlorphromazine injeksi.e. stelazine juga diberikan. delusi. Pada penderita dengan menarik diri obat anti psikotik dengan dosis efektif. b) Terapi Kejang listrik Suatu pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal secara artificial dan melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang pada satu/dua temples. Terapi kejang listrik dapat . gelisah. halusinasi. tidak ada gangguan tidur. agresif. dapat diberikan trifluoferasine 5 mg 1-2 kali sehari atau stelazine 5 mg 1-3 kali sehari. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan l ) Penatalaksanaan Medis a) Terapi Somatik Pengobatan penderita dengan perilaku menank diri ditujukan pada gejala-gejala yang menonjol. Dosis dapat dinaikkan sesuai dengan kebutuhan. dapal diberikan antipsikotik dosis efektif besar seperti : Chlorphromazine 100 mg dalam bentuk oral/injeksi sesuai dengan keadaan klien. merupakan obat penenang dengan daya kerja anti psikotik.

yang memerlukan pemeriksaan secara sistematis serta identifikasi masalah dengan mengembangan strategi untuk memberikan hasil yang diinginkan . kekuatan dan kelemahan serta meningkatkan kemampuan klien dalam melakukan aktivitas yang positif.diberikan kepada skizofrenia yang tidak mempan terhadap terapi neuroleptika. 2. c) Terapi lingkungan yaitu termasuk menyiapkan keluarga agar memberikan lingkungan yang kondusif bagi perawatan klien. Proses keperawatan adalah suatu modalitas pemecahan masalah yang didasari oleh metode ilmiah. dan lain-lain. Dosis terapi kejang listrik 4-5 joule. oral atau injeksi. b) Pendidikan kesehatan Yaitu rnembantu klien mengenal prilaku dan aspek positif. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Kerusakan Interaksi Sosial : Menarik Diri Proses keperawatan merupakan salah satu alat bagi perawat untuk memecahkan masalah yang terjadi pada klien. 2) Penatalaksanaan Keperawatan Tindakan keperawatan yang sering dilakukan pada klien menarik diri adalah : a) Psikotherapi Yaitu membantu klien mengidentifikasi mekanisme koping yang adaptif dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan optimal. 2). 1998 . Dengan demikian diharapkan klien dapat meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang teruitegrasi (Stuart and Sundeen. 3). sosial dan spiritual (Keliat.(Hidayat. 12). 1998 . 2001. Asuhan keperawatan jiwa berpedoman pada perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya. Hal ini penting karena peran perawat dalam asuhan keperawatan jiwa adalah membantu klien untuk dapat menyelesaikan masalah sesuai dengan kemampumn yang dimiliki. psikologis. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. 14). intuisi dan tidak unik bagi individu klien (Keliat. . Dengan menggunakan proses keperawatan dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang bersifat rutin. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Proses keperawatan terdiri atas empat langkah yang sistematis Yang dijabarkan sebagai belikut : a. 1998 . Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan jiwa. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis.

Pada riwayat penyakit terdapat faktor predisposisi dan presipitasi. status perkawinan. Faktor presipitasi dikaji tentang faktor pencetus yang membuat klien mengalami kerusakan interaksi sosial : menarik diri.1) Pengumpulan data Pengumpulan data yang dilakukan pada klien dengan kerusakan interaksi social : menarik diri antara lain : a) Identitas klien dan penanggung Pada identitas mencakup nama. tinggi badan. jenis kelamin. pendidikan. Keluhan utama berisi tentang sebab klien atau keluarga datang ke rumah sakit dan keluhan klien saat pengkajian. dan hubungan klien dengan penanggung. Pada faktor predisposisi dikaji tentang faktor-faktor pendukung klien untuk mengalami kerusakan interaksi sosial : menarik diri. dan pemeriksaan fisik sesuai keluhan klien. ukuran-ukruan Seperti : berat badan. agama. . c) Pemeriksaan fisik Pada nemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan yang menyangkut tanda vital. umur. pekerjaan. b) Alasan dirawat Alasan dirawat meliputi : keluhan utama dan riwayat penyakit.

alam perasaan sedih. represi dan isolasi. f) Kebutuhan persiapan pulang Mencakup hal-hal tentang kesiapan klien untuk pulang atau untuk menjalani perawatan di rumah yaitu makan. pemeliharaan kesehatan. Selain itu juga dikaji tentang konsep diri. e) Status mental Pada status mental didapat data yang sering muncul yaitu : motorik menurun. faktor genetik dalam keluarga berhubungan dengan gangguan jiwa. pembicaraan pasif. BAB / BAK. berpakaian. dan aktivitas di luar rumah g) Mekanisme Koping Merupakan mekanisme yang diarahkan pada penatalaksanaan stress. Menurut Achir Yani dkk (2000 . aktivitas di dalam rumah. termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme yang digunakan untuk melindungi diri. istirahat dan tidur. 119) mekanisme yang sering digunakan oleh individu untuk mengatasi kecemasan yang berkaitan dengan menarik diri meliputi : regresi. Dalam konsep diri data yang umumnya didapat pada klien dengan kerusakan interaksi sosial: menanik diri yaitu gangguan pada harga diri.d) Psikososial Da1am psikososial dicantumkan genogram yang menggambarkan tentang pola interaksi. . hubungan sosial serta spiritual. mandi. adanya perubahan sensori / persepsi : halusinasi. penggunaan obat.

faktor presipitasi.menarik diri d) Koping individu takefektif e) Harga diri rendah . b) Perubahan persepsi sensori : halusinasi c) Kerusakan interaksi sosial . koping dan lain-lain. 2) Daftar masalah Beberapa masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan gangguan hubungan sosial menurut NANDA dikutip Stuart & Sundeen (1998 . sistem pendukung. (2) Represi : pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran. impuls atau ingatan yang menyakitkan. 351) adalah : a) Resiko tinggi prilaku kekerasan. h) Pengetahuan Pengetahuan meliputi kurang pengetahuan tentang penyakit jiwa.(1) Regresi : kemunduran akibat stres terhadap prilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini. i) Aspek medik Data yang dikumpulkan meliputi diagnosa medik dan terapi medik yang dijalani klien. (3) Isolasi : pemisahan unsur emosional dani suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau jangka panjang.

keluarga atau masyarakat terhadap masalah kesehatan klien / proses kehidunan (Carpenito dalam Keliat. Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon aktual atau potensial individu. 4) Diagnosa Keperawatan Perumusan diagnosa keperawatan merupakan langkah kelima dari pengkajian keperawatan setelah potion masalah.3) Pohon Masalah Resiko tinggi prilaku kekerasan Perubahan persepsi sensori : halusinasi Akibat Kerusakan interaksi sosial Masalah utama Harga diri rendah Penyebab Koping individu tak efektif Gambar 3: Pohon Masalah Pada Gangguan Hubungan Sosial : Menarik Diri. . 2). 1998 .

1998 . c) Gangguan hubungan sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. d) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif b. 6). Dan pohon masalah di atas maka diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan gangguan hubungan sosial yaitu : a) Resiko tinggi perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi b) Perubahan persensi sensori : halusinasi berhuhungan dengan menarik diri. demikian seterusnya. Perencanaan Perencanaan merupakan langkah kedua dari proses keperawatan setelah pengkajian. . Rumusan PES sama dengan PE hanya ditambah Simptom (S) atau gejala sebagai data penunjang.Rumusan diagnosa dapat PE yaitu Permasalahan (P) yang berhubungan dengan Etiologi (E) dan keduanya ada hubungan sebab akibat secara ilmiah. yaitu jika etiologi sudah diberikan tindakan dan permasalahan belum selesai maka P dijadikan etiologi pada diagnosa yang baru. Dari diagnosa keperawatan di atas diprioritaskan berdasarkan keluhan yang paling dirasakan saat ini (core problem) dan bila tidak diatasi akan mempengaruhi status fungsional klien (Carpenito. Hal ini dapat dilakukan karena permasalahan tidak selalu disebabkan oleh satu etiologi yang sama sehingga walaupun etiologi sudah diberi tindakan maka permasalahan belum selesai (Keliat. Dalam keperawatan jiwa ditemukan diagnosa anak beranak.

Tujuan Umum : klien tidak melakukan kekerasan. sapa klien dengan ramah. menyebutkan nama. afektif dan psikomotor. Kemampuan ini dapat bervariasi sesuai dengan masalah dan kebutuhan klien. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Intervensi dan Rasional: (1) Bina hubungan saling percaya dengan penggunaan prinsip komunikasi terapeutik. (1998 .xxxviii). tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan klien yang perlu dicapai atau dimiliki klien. Kriteria Evaluasi : Klien mau membalas salam. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosa tertentu. 13) yaitu kemampuan kognitif. Adapun rencana keperawatan sesuai dengan masalah diatas adalah : 1) Resiko tinggi perilaku kekerasan berhubungan dengan halusinasi.2000. Tujuan khasus : a) Klien dapat membina hubungan saling percaya untuk mengendalikan emosinya. tersenyum. berjabat tangan. Rencana tindakan keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum. fujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnosa tertentu. kontak mata ada mengetahui nama perawat. perkenalkan dan klien mau . umumnya kemampuan pada tujaan khasus dapat dibagi menjadi 3 aspek Stuart dan Sundeen dalam Keliat.

Rasioaal : Lingkungan yang hangat dan bersahabat dapat membantu meningkatkan hubungan saling percaya dan meningkatkan rasa nyaman klien. jelaskan tujuan pertemuan. (3) Ajak klien membicarakan hal-hal yang nyata dilingkungan. (4) Ciptakan lingkungan yang hangat dan bersahabat. Intervensi dan Rasional: (1) Adakan kontak sering dan Singkat secara bertahap misalnya: ajak klien membicarakan hal-hal yang nyata yang ada di lingkungannya. b) Klien dapat mengenal halusinasinya Kriteria Evaluasi : Klien dapat mengenal dan menyebutkan tanda dan gejala halusinasi. Rasional : Membicarakan hal-hal yang nyata dapat membantu klien kembali ke realita. Rasioaal : Ungkapan perasaan klien kepada perawat sebagai bukti bahwa klien mulai mempercayai perawat. Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar interaksi terapeutik perawat – klien. Rasional : Kontak yang singkat dapat menghindari rasa jemu .diri dengan sopan. (2) Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan. terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat.

(3) Terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien dan tidak nyata bagi perawat (tidak membenarkan dan menyangkal). Kriteria Evaluasi : Klien dapat mencegah dan mengendalikan timbulnya halusinasi. (4) Identifikasi bersama klien tentang waktu. Rasional : Meningkatkan orientasi realita klien dan rasa percaya diri klien. dan klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok. Rasional : Peran serta aktif klien menentukan efektifitas tindakan keperawatan. isi. Rasional : Dapat mengetahui apakah klien mengalami halusinasi atau tidak. (2) Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya misalnya : bicara dan tertawa tanpa stimulus. klien dapat memilih cara yang digunakan dalam menghadapi halusinasinya . c) Klien dapat mengendalikan halusinasinya.klien dan klien dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata. memandang ke kiri atau ke kanan seolah-o!ah ada teman bicara. Intervensi dan Rasional : . (5) Dorong dan beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanmya ketika halusinasinya muncul. Rasional : dengan mengungkapkan perasaannya klien akan lebih tenang. frekuensi dan respon klien terhadap halusinasinya.

Rasional : Halusinasi yang terkontrol dapat mencegah timbulnya perilaku kekerasan. Rasionasi : Mencegah klien terfokus pada halusinasinya dengan menyibukkan diri.(1) Identifikasi bersama klien. dan melakukan kegiatan ). Rasional : Pujian dan penguatan akan meningkatkan harga. Rasional : Memberikan kesempatan pada klien untuk mengambil keputusan dapat meningkatkan harga diri klien 6) Beri penguatan tentang cara yang digunakan dalam menghadapi halusinasi. Rasional : Dapat meningkatkan harga diri klien dan mendorong . Rasional : mengetahui kemampuan klien dan memudahkan dalam memberikan intervensi yang tepat. (4) Bersama klien merencanakan kegiatan untuk mencegah timbulnya halusinasi. (3) Diskusikar. (5) Dorong klien untuk memilih cara yang digunakan dalam menghadapi halusinasi. dan klien dan mendorong pengulangan perilaku yang diharapkan. cara yang digunakan bila halusinasinya muncul. (2) Beri pujian dan penguatan terhadap perilaku klien yang positif. menghardik halusinasi. bersama klien cara mencegah timbulnya halusinasi (bicara dengan orang lain.

pengulangan perilaku yang diharapkan. d) Mendapat dukungan dari keluarga untuk mengendalikan halusinasinya. perkenalkan diri. (2) Kaji pengetahuan keluarga tentaing halusinasi dan tindakan yang dilakukan dalam merawat klien. Rasional : pujian dan penguatan dapat meningkatkan harga diri dari mengulang perilaku yang diharapkan.keluarga klien. Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar utama dalam interaksi terapeutik perawat . (7) Dorong klien untuk melakukan cara yang dipilih dalam menghadapi halusinasi. (8) Diskusikan dengan klien hasil upaya yang telah dilakukan. Rasienal : klien dapat mengetahui efektifitas tindakan yang dilakukan. dan jelaskan tujuan. Intervensi dan Rasional: (1) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga : sapa keluarga dengan ramah. Kriteria Evaluasi : Klien dan keluarga dapat menyebutkan tindakan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya dan keluarga dapat merawat klien dengan halusinasi di rumah. . Rasional : Memotivasi klien dalam menghadapi halusinasinya. (9) Beri pujian dan penguatan positif atas upaya yang berhasil dilakukan.

jangan biarkan sendiri. cara merawat anggota keluarg yang mengalami halusinasi di rumah seperti beri kegiatan. Rasional : Keluarga merupakan sistem pendukuug aktif untuk menanggulangi masalah klien karena keluarga leibih banyak berperan dalam lingkungan klien. . (3) Diskusikan dengan keluarga tentang dan gejala. Intervensi dan Rasional: (1) Jelaskan jenis jenis obat yang diminum. (4) Beri pujian pada keluarga atas kemampuan yang positif dalam merawat klien di rumah. Kriteria Evaluasi : Klien dapat minum obat teratur sesuai program dokter secara mandiri. cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus halusinasi. Rasional : Meningkatkan motivasi keluarga dan mendorong keluarga untuk mempertahankan perilaku yang positif. klien pada klien dan keluarga. (2) Diskusikan manfaat minum obat dan kerugian berhenti minum obat tanpa seijin dokter. e) Klien dapat memanfaatkan obat untuk mengontrol halusinasinya.Rasional : Mengetahui sejauh mana pengetahuan keluarga dalam merawat klien sehingga dapat memberi intervensi yang tepat. Rasional : Dapat meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga tentang jenis-jenis obat yang diminum klien.

Rasional : Hubungan saling percaya merupakan dasar keterbukaan antara klien dan perawat.Rasional : meningkatkan pengetahuan klien tentang manfaat obat dan dapat memotivasi klien minum obat secara teratur. kontak mata. b) Klien dapat mengenal perasuan yang menyebabkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial. berjabat tangan. Tujuan khusus : a) Klien dapat meningkatkan hubungan saling percaya dengan perawat. Tujuan Umum : klien dapat mencegah timbulnya halusinasi. bersikap empati dan penuh perhatian. 2) Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan menarik diri. . (3) Anjurkan klien untuk minta sendiri obat dan meminumnya secara teratur. menyebutkan nama. tersenyum. Intervensi dan Rasional: (1) Tingkathan hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik (sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal. kontak mata ada dan klien mau mengetahui nama perawat. Rasional : dapat melatih kemandirian klien dalam minum obat secara teratur. terima klien apa adanya). Kriteria Evaluasi : Klien mau membalas salam.

Rasional : Dengan memberi kesempatan dapat mengetahui sejauh mana klien mampu mengenal perasaannya tentang . (2) Dorong klien untuk berinteraksi dan mengungkapkan perasaannya kepada teman kerabatnya. Rasional : Dengan mendorong untuk berinteraksi dan mengungkapkan perasaannya kepada teman akrabnya diharapkan klien mau berinteraksi secara wajar.Kriteria Evaluasi : Klien dapat mengenal dan mengungkapkan perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri. c) Klien dapat mengenal keuntungan dari berhubungan dengan orang lain dan kerugian menarik diri. Rasional : Dengan memberikan kesempatan pada klien. dapat mengetahui sejauh mana klien mampu mengenal perasaannya. Intervensi dan Rasional: (1) Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian menarik diri. Kriteria Evaluasi : Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian dari menarik diri. penyebab menarik diri. Intervensi dan Rasional: 1) Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab perilaku menarik diri.

klien-perawat-perawat lain-klien lain. Rasional : Untuk mengetahui sejauhmana keinginan klien untuk berinteraksi dengan orang lain. (2) Dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain melalui tahap sebagai berikut : klien-perawat. klien-kelompok kecil. (2) Diskusikan bersama klien tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian menarik diri. klien-perawat-perawat lain-klien lain. klien-keluarga / kelompok / masyarakat. klien-perawat-perawat lain. Kriteria Evaluasi : klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap antara : klien-perawat. Intervensi dan Rasional: (1) Kaji kemampuan klien dalam membina hubungan dengan orang lain. d) Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap. klienperawat-perawat lain. Rasional : pujian dan penguatan dapat meningkatkan harga diri klien dan memotifasi klien. Rasional : Meningkatkan pengetahuan dan memotivasi klien untuk berhubungan dengan orang lain. .keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian menarik diri. (3) Beri pujian dan penguatan positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.

kelompok kecil. Rasional : pujian dan penguatan positif pada klien dapat meningkatkan motivasi untuk memulai berhubungan dengan orang terdekat. Intervensi dan Rasional : (1) Diskusikan dengan anggota keluarga tentang perilaku menarik diri. Rasional : untuk mengetahui keadaan klien dan meningkatkan rasa . Rasional : Mengetahui sejauhmana keberhasilan klien berhubungan dengan orang lain (4) Beri pujian dan penguatan positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.klien . Rasional : keluarga merupakan sistem pendukung aktif dalam menaggulangi masalah klien karena klien lebih banyak berada dalam lingkungan keluarga. akibat dan cara mengatasinya.klien-keluarga / kelompok / masyarakat. e) Klien mampu memberdayakan sistem pendukung atau keluarga Kriteria Evaluasi : keluarga dapat memberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain. Rasional : Dapat memotivasi klien untuk berinteraksi sosial. (3) Dorong klien mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain. (2) Dorong anggota keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Rasional : klien bisa menceritakan masalahnya denga terbuka (3) Perhatikan kebutuhan klien Rasional : klien dengan perilaku menarik diri cenderung kurang memperhatikan perawatan dirinya. . Tujuan Khusus : a) Klien dapat mengungkapkan perasaannya. Kriteria Evaluasi : klien dapat bercerita tentang perasaannya secara terbuka dengan perawat. 3) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah kronis. (3) Anjurkan keluarga secara bergantian dan rutin menjenguk klien selama perawatan minimal 1 minggu sekali. Intervensi dan Rasional : (1) Sediakan waktu bersama klien Rasional : kehadiaran perawat sebagai orang yang dipercaya akan memberikan rasa aman dan meningkatkan rasa percaya klien.aman klien dalam berinteraksi sosial. Rasional : mengetahui perkembangan klien dan memotivasi klien untuk cepat sembuh. Tujuan Umum : Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain. (2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya.

Rasional : klien dapat menyadari kemampuan yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan percaya diri dan harga diri klien. Kriteria evaluasi : klien dapat mengikuti terapi aktivitas sesuai dengan kemampuannya. Intervensi dan Rasional : (1)Kaji dan diskusikan aktivitas yang tepat untuk klien Rasional : memberikan kesempatan klien untuk merumuskan . Rasional : dengan memberi reinforcement dapat meningkatkan harga diri klien.b) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. Rasional : dengan merencanakan aktivitas klien dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuannya. c) Klien dapat menerapkan kemampuan yang dimilikinya dalam terapi aktifitas . Kriteria Evaluasi : klien dapat menyebutkan kemampuan dan aspek positif yang dimilikinya. (2) Beri reinforcement positif bila klien telah mampu melaksanakan dan mengepresikan perasaannya. (3)Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuannya. (1)Diskusikan kemampuan dan aspek positif dan negatif yang dimiliki oleh klien.

4) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif. (2) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : klien bisa menceritakan masalahnya dengan terbuka. (3)Beri pujian/dukungan.sesuatu sehingga dapat meningkatkan harga diri klien. kenalkan kelebihan klien. Rasional : Pujian dan dukungan merupakan kunci utama untuk meningkatkan harga diri klien. . b) Klien dapat mengidentifikasi mekanisme koping yang sering digunakannya. Tujuan Umum : klien mempunyai persepsi positif tentang harga dirinya Tujuan Khusus : a) klien dapat mengungkapkan perasaan tentang dirinya. Rasional : dengan mengajarkannya pada klien maka dapat meningkatakan rasa percaya diri klien. (2)Ajarkan klien untuk menerapkan aspek positif yang dimiliki. bila klien sudah bisa berinteraksi dengan orang lain. Intervensi dan Rasional : (1) Sediakan waktu bersama klien Rasional : kehadiran perawat sebagai orang yang dipercaya akan memberikan rasa aman dan meningkatkan rasa percaya klien. Kriteria Evaluasi : klien dapat bercerita tentang perasaannya secara terbuka dengan perawat.

Rasional : dengan memberi reinforcement dapat meningkat harga diri klien. Intervensi dan Rasional : (1) Diskusikan mekanisme koping klien Rasional : klien dapat mengidentifikasi mekanisme koping yang digunakannya. Rasional : memberi kesempatan klien merumuskan sesuatu sehingga dapat memudahkan untuk memilih. Rasional : untuk memudahkan klien menggunakan koping mekanisme yang sesuai dengan kemampuannya. (2) Beri reinforcement positif bila klien mampu mengepresikan perasaannya. (2) Memfasilitaskan klien untuk memilih mekanisme kopng yang sesuai dengan kemampuannya. Intervensi dan Rasional : (1) Diskusikan bersama klien tentang mekanisme koping yang konstruktif .Kriteria Evaluasi : klien dapat menyebutkan mekanisme koping yang digunakannya. . c) Klien dapat memilih mekanisme koping yang kontruktif Kriteria Evaluasi : klien dapat memilih koping mekanisme yang konstruktif.

Kriteria Evaluasi : klien dapat menggunakan koping mekanisme yang konstruktif dalam mengatasi stres. Rasional : untuk mengetahui pengetahuan klien tentang mekanisme koping yang konstruktif. . (2) Memfasilitasi klien untuk menggunakan mekanisme koping yang sesuai dengan kemampuannya. Rasional : pujian dan dukungan memberikan rasa percaya diri pada klien.(3) Beri pujian/dukungan atas pemilihan koping yang konstruktif/adaptif. Rasional : pujian dan dukungan memberikan rasa percaya diri pada klien. Intervensi dan Rasional : (1) Diskusikan bersama klien tentang mekanisme koping yang konstruktif dalam mengatasi stres. d) Klien dapat menggunakan mekanisme koping yang konstruktif/adaptif. Rasional : untuk memberikan dukungan bagi klien menggunakan koping mekanisme yang sesuai dengan kemampuannya (3) Beri pujian/dukungan atas penggunaan koping yang knstruktif /adaptif.

Tujuan dari implementasi adalah mengatasi masalah yang terjadi pada klien. Perawat juga harus menilai diri sendiri apakah mempunyai kemampuan interpersonal intelektual. Setelah tidak ada hambatan maka tidakan keperawatan dapat dilaksanakan dengan membuat kontrak bersama klien. memberikan penjelasan apa yang akan dikerjakan. evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. 39) Sebelum melaksanakan tindakan yang merencanakan perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini (here and now). 2001 . serta tetap melakukan pengkajian evaluasi efektif terhadap perawatan (Hidayat. teknikal sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan dan dinilai kembali apakah aman bagi klien. d. Pelaksanaan Pelaksanaan /implementasi keperawatan merupakan bagian dari proses keperawatan. Implementasi keperawatan dicatat untuk mengkomunikasikan rencana perawatan mencapai tujuan dilakukan intervensi yang tepat sesuai dengan masalah. Evalusi dilakukan secara terus menerus pada respons klien terhadap . Implementasi yang dilakukan pada klien dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah disusun.c. dan peran serta klien yang diharapkan. Evaluasi Keperawatan Menurut Keliat (1998 : 15).

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP. 2) Rencana dimodifikasi jika masalah tetap semua tindakan sudah dijalankan tetapi belum memuaskan. A : analisa ulang atas data subjektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Evaluasi dapat dibagi dua. 3) Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan.tindakan keperwatan yang telah dilakukan. 4) Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang . yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan evaluasi hasil atau evaluasi sumatif dilakukan dengan membandingkan respons klien pada tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan. jika masalah tidak berubah. P : perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien Rencana tidak lanjut dapat berupa : 1) Rencana teruskan. sebagai pola pikir : S : respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. O : respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.

Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan menarik diri.diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru. Klien mampu memberdayakan sistem pendukung atau keluarga. Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap. Klien dapat mengenal keuntungan dan kerugian dari menarik diri. Pada klien dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri. . evaluasi keperawatan yang diharapkan sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) Klien dapat membina hubungan saling percaya.

Tinjauan Kasus 1. Pengkajian Pengkajian dilakukan pada tanggal 23-Oktober 2006 pukul 10. Pasaban Kaler Ds.00 wita di ruang Drupadi BPK RSJ Propinsi Bali di Bangli. Pengumpilan data dilakul:an dengan cara anamnesa.P 35 tahun Laki-laki Hindu SD Wiraswasta Menikah Bali/Indonesia Br. Dengan klien : : 108264 Paman Penanggung D. kec Rendang Karangasem 33 . kec Rendang Karangasem No CM Hub. Pasaban Kaler Ds. observasi dan catatan medik klicn dan kunjungan rumaai sehingga didapat data : a. Pesaban. Pengumpulan Data 1) Identitas Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Status perkawinan Suku/Bangsa Alamat : : : : : : : : : : Klien AR 20 tahun Laki-laki Hindu SD Belum menikah Bali/Indonesia Br.B. Pesaban.

klien hanya mau menjawab pertanyaan yang diajukan dengan singkat. Karena tidak bisa diatasi maka keluarga langsung mengajak klien ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali dan disarankan MRS. oleh karena itu sejak kecil klien diajak jualan sayur keliling kampung.2) Alasan Masuk a) Keluhan saat MRS (15 Mei 2008) Klien datang ke IRD BPK RSJ Propinsi Bali diantar oleh keluarga klien dikeluhkan suka mengurung diri di kamar. 3) Fantor Prcdisposisi dan Presipitasi Klien sebelumnya belum pernah mengalami sakit jiwa dan pertama kali dirawat di RSJ Bangli. Klien juga mengamuk dengan membanting barang disekitarnya bila didekati oleh keluarganya. Sehingga klien dan adikanya diasuh oleh neneknya. b) Keluhan saat pengkajian (10 Juni 2008) klien lebih banyak diam. Ekonomi nenek klien sangat kekurang. Klien hanya disekolahkan sampai tamat SD karena tidak punya biaya dari faktor keturunan tidak ada keluarga yang mengalami 34 . Klien selalu menundukkan kepala saat berbicara dengan perawat kontak mata kurang serta jarang berinteraksi dengan orang lain. ketawa dan bicara sendiri. sering menangis. Klien mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan yaitu semenjak umur 8 tahun ditinggal orang tuanya menjadi TKW keluar negeri dan tidak pulang-pulang. Dan mendapatkan terapi injeksi lodorner IM I ampul dan diazepam injeksi IV 1 ampul. dan pasien merasa sangat malu akan hal itu.

senang menyendiri dan bengong-bengong. Sejak saat ini klien mulai murung. . Sedangkan faktor presipitasinya yakni klien ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya (± 3 minggu sebelum MRS). 4) a) Pemeriksaan Fisik Tanda Vital : 120/80 mm Hg : 80 x/menit : 37 o C : 24 x/menit Pengukuran : 42 TB : 157 cm : Tidak ada Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan b) BB c) Keluhan fisik 35 .gangguan jiwa. Klien juga pernah mengamuk karena kecewa dengan orang tuanya yang tega menelantarkan anak-anak mereka.

Penjelasan : Klien adalah anak pertama dari tiga bersaudara. 36 . ibu dan dua orang adiknya serta neneknya. Klien berumur 20 tahun. klien tinggal serumah dengan ayah. Hubungan klien dengan keluarga kurang terjalin semenjak ditinggal ortunya TKW dan klien lebih dekat dengan neneknya.5) Status Psikososial 1) Genogram 20 Keterangan : Laki-laki : Perempuan : Meninggal 20 : Umur klien : Klien : Tinggal serumah Gambar 4 : Genogram klien AR dengan gangguan hubungan sosial : menarik diri.

namun akhirnya klien berhenti dengan alasan gajinya kecil setelah dirawat klien berperan sebagai pasien dan cukup kooperatif dalam proses pengobatan. (5) Harapan Diri Klien merasa rendah diri karena rambutnya kriting klien merasa malu dengan pendidikannya yang hanya tamat SD. klien berperan sebagai seorang anak tertua dan mencoba membantu ekonomi keluarga dengan cara bekerja sebagai pembatu. (2) Identitas Diri Klien menyadari dirinya sebagai seorang pria yang hanya berpendidikan SD dan merasa kurang puas dengan keadaannya tersebut. (4) Ideal Diri Harapan klien sebelum sakit adalah ingin seperti anak lain yakni diasuh oleh orang tua dan sekolah tinggi. Klien juga mengatakan 37 . karena klien bagitu mencintai wanita tersebut. karena klien ingin menjadi polisi saat ini yang masih belum bisa diterima oleh klien yaitu ditinggal menikah oleh orang yang dicintainya.b) Konsep Diri (1) Citra Tubuh Klien menganggap dirinya biasa saja dan menerima tubuhnya apa adanya tapi klien tidak suka dengan rambutnya yang kriting dan sudah pernah diluruskan tapi setelah itu kriting lagi. (3) Perand Diri Sebelum dirawat.

(3) Hubungan klien dengan perawat dan temannya kurang. sehingga gagal memnuhi peran yang diharapkan dalam membantu ekonomi keluarganya.tidak berhasil dalam pekerjaan. pakaian yang digunakan cukup bersih. Klien jarang melakukan kegiatan ibadah. 38 . b) Pembicaraan Klien berbicara lambat. (4) Spiritual Klien menganut agama hindu dan yakin dengan adanya Ida Sang Hyang Widhi. rambut klien tersisir rapi. c) Hubungan Sosial (1) Klien mengatakan di rumah hanya dekat dengan neneknya tapi di rumah sakit klien tidak mempunyai teman dekat. Setelah klien ditinggal menikah oleh orang lain yang dicintainya klien merasa benarbenar ditolak. klien tidak menggunakan simbul-simbul keagamaan. 6) Status Mental a) Penampilan Klien berpenampilan rapi. (2) Peran serta dalam kelompok masyarakat Klien kurang aktif dalam mengikuti kegiatan dalam masyarakat. klien tidak mampu memulai pembicaraan selama proses wawancara klien berbicara hanya ditanya oleh perawat dan seperlunya. tidak berguna dan rendah diri. klien hanya berbicara seperlunya apabila ditanya oleh perawat.

murung. Saat pengkaji klien mengatakan mendengar suara dan memiringkan telinga. h) Proses Pikir Pada saat wawancara pembicara klien lambat dan berbata-bata tapi bisa menjawab sesuai dengan pertanyaan perawat.c) Aktivitas Motorik Klien tampak lesu dan tidak bergairah pada saat diwawancarai dan banyak menunduk. e) Efek Dari hasil observasi efek yang ditunjukan adalah efek tumpul yaitu hanya mererspon saat ada stimulus yang kuat. 39 . i) Isi Pikir Saat pengkajian klien tidak mennjukan gangguan isi pikir seperti waham dan phobia. d) Alam Perasaan Saat wawancara klien tampak sedih. f) Interaksi Selama Wawancara Selama wawancara klien mau menjawab sebatas pertanyan yang diberikan. kontak mata antara klien dengan perawat kurang dan klien tampak lebih banyak menunduk. g) Persepsi Klien mengatakan kadang mendengar suara-suara kurang jelas isinya dan siapa yang berbicara.

klien menjawab mengambil pasta gigi dahulu baru menggosok gigi. b) BAB dan BAK Klien mampu menggunakan dan membersihkan WC. Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makannya. m) Kemampuan penelitian Saat diberikan pilihan seperti apakah klien mengambil pasta gigi dahulu atau menggosok gigi. tempat dan orang.j) Tingkat Kesadaran Dari hasil observasi dan wawancara klien tidak mengalami disorientasi waktu. meskipun masih perlu bantuan keluarganya. n) Daya tilik diri Klien menyadari dirinya sakit dan perlu perawatan dan pengobatan. 40 . k) Memori Klien tidak mengalami kesulitan untuk mengingat baik memori jangka pendek atau jangka panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya. saat ditanya 1 + 5 klien bisa menjawab dengan benar yaitu tetapi dalam waktu yang sangat lama. sehabis BAB dan BAK serta mampu membersihkan diri dan merapikan rambut. 7) Kebutuhan persiapan pulang a) Makan dan Minum Klien mengatakan biasa makan 3 kali sehari habis satu porsi tiap kali makan. l) Tingkat konsentrasi dan berhitung Selama wawancara klien agak sulit berkonsentrasi.

00 Wita. h) Aktivitas dalam rumah Klien mampu melaksanakan aktivitas di dalam rumah seperti menyapu halaman rumah. e) Istirahat dan tidur Klien biasa tidur siang malam mulai pukul 23.c) Mandi Klien memerlukan batuan dalam hal mandi klien mandi 1 x sehari d) Berpakaian Klien mampu mengambil dan memilih pakaian yang sesuai situasi dan kondisi. Jika klien sembuh keluarga mengatakan akan tetap mengajak klien kontrol ke RSJ Prov. Klien menggunakan alas kaki dan menyisir rambut. Nilai kemampuan klien dalam berpakaian cukup.00 sampai 06. i) Aktivitas di luar rumah Klien mengatakan belum siap jika sudah pulang untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti ke pasar atau kegiatan ada. g) Pemeliharaan kesehatan Sistem pendukung yang dimiliki adalah keluarga. 8) Mekanisme koping Klien menggunakan koping maladaptif yaitu represi dan isolasi dimana bila mempunyai masalah klien tidak pernah menceritakan masalah kepada siapapun 41 . f) Penggunaan obat Klien mau minum obat yang diberikan oleh perawat sesuai dengan waktunya dan tidak mengalami efek sampin. Bali di Bangli.

Klien mengatakan bila di rumah akan teringat dengan orang disukainya namun telah menikah dengan orang lain. Analisa Data Data yang sudah didapat dari pengkajian selanjutnya dianalisis dengan cara mengelompokkannya menjadi data objektif dan data subjektif. 11) Diagnosa Therapi Medis Aspek medis : Skizofrenia Hebefrenik : Chlorpromazine Trihezyphenidryl Stelazine b.5 mg 42 .dengan mencoba mengesampingan/melupakan permasalahannya. 2 x 50 mg 1 x 1 mg 2 x 2. Namun dengan cara-cara tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahannya 9) Masalah psikososial dan lingkungan Klien tinggal bersama ayah. 10) Pengetahuan Klien tahu bahwa dirinya sakit dan sedang mendapatkan perawatan dan pengobatan. Tapi klien tidak tahu sistem pendukung dan koping mekanisme yang diperlukan untuk mengatasi masalahnya. ibu dan adik serta neneknya. setelah ditinggal orang tuanya TKW lebih dekat dengan neneknya.

TABEL I ANALISA DATA KEPERAWATAN PASIEN AR DENGAN KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUANG DRUPADI BPK RSJ PROPINSI BALI TANGGAL 10 JUNI 2008 No 1 1 Data Subyektif 2 Klien mengatakan lebih senang menyendiri dari pada berinteraksi dengan orang lain. Klien mengatakan bila ada masalah/stres lebih senang memendamnya dengan mencoba melupakan seolah tidak masalah Data Obyektif 3 Klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau dengan petugas Kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan Kontak mata kurang/lebih sering mununduk efek tumpul. Klien tidak mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS Klien mengatakan kadangkadang mendengarkan suarasuara yang tidak jelas Klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting Klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD Klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan Klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya. klien tampak putus asa Kadang-kadang klien tampak memiringkan telinga ke arah tertentu seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu Kontak mata kurang/sering menunduk Klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya Kesimpulan 4 Kerusakan interaksi sosial menarik diri - - - 2 - - Perubahan persepsi sensori halusinasi dengar Harga diri rendah 3 - - 4 - - Klien sering Koping individu menggunakan koping tak efektif maladaptif tanpa mencoba untuk menyelesaikannya 43 .

d. Pohon Masalah Dari rumusan masalah tersebut maka dibuatlah pohon masalah sebagai berikut: Kerusakan interaksi sosial : menarik diri Efek Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi Dengar CP Gangguan konsep diri : Harga diri rendah kronis Cause Koping Individu Takefektif Gambar 4 : Pohon masalah pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri e. Diagnosa Keperawatan 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah ditandai dengan klien mengatakan tidak mempunyai teman dekat di RS.c. klien jarang berinteraksi dengan pasien lain atau petugas. klien mengatakan lebih senang menyendiri daripada berinteraksi dengan orang lain. kontak verbal pasif/tidak bisa memulai pembicaraan. kontak mata kurang/lebih 44 . Rumusan Masalah 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi dengar 3) Harga diri rendah 4) Koping individu tak efektif.

2. kontak mata kurang/sering menunduk. 2) Perubahan persepsi sensori : halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri. 2) Perubahan Persepsi Sensori : halusinasi dengan berhubungan dengan menarik diri ditandai dengan klien mengatakan kadang mendengar suara-suara yang tidak jelas. klien merasa sedih dan rendah diri karena ditinggal kawin oleh orang yang dicintainya. klien mengatakan malu dengan pendidikannya hanya tamat SD. Maka prioritas perencanaan asuhan keperawatan pada klien AR dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri adalah sebagai berikut: 1) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah. klien sering membesarkan hal negatif pada dirinya kontak mata kurang saat wawancara. klien mengatakan sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan. Perencanaan a. 2000. klien malu dengan keadaannya sekarang. 45 . 3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif ditandai dengan klien mengatakan malu/minder dengan rambutnya yang kriting.sering menunduk atek tumpul. Prioritas Diagnosa Keperawatan Dari diagnosa keperawatan di atas diprioritaskan berdasarkan keluhan yang paling dirasakan saat ini dan bila tidak diatasi akan mempengaruhi status fungsional klien (Carpenito.xxxviii). klien tampak putus asa. kadang memiringkan telinga ke arah tertentu.

46 .3) Harga diri rendah berhubungan dengan koping individu takefektif.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful