BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Manusia menurut fungsinya dapat dipandang sebagai makhluk individu ataupun makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu maksudnya menunjuk pada orang-perorang atau individu diri seseorang. Menurut Tri Chotomi manusia secara individu terdiri atas jiwa dan raga, sedang jiwa terdiri atas cipta rasa dan karsa. Individu tersebut. Sedangkan sebagai makhluk social menurut Aristoteles manusia adalah makhluk ³zoon politicon´, manusia tidak dapat memenuhi kebutuhanya sendiri, oleh karena itu dia melakukan interaksi dengan manusia lainya dari sinilah timbul suatu masyarakat, dan sejak inilah peran manusia berubah menjadi makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Setiap masyarakat senantiasa mengalami perubahan-perubahan. Perubahan ini menyangkut nilai-nilai, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi social dan lain -lain. Interaksi antar manusia ini akan menimbulkan fenomena-fenomena yang berbeda-beda sesuai kondisi manusia itu berada, fenomena ini dapat dipengaruhi oleh faktor geografis, ekonomi, politik atupun agama. Fenomena-fenomena yang berbeda inilah yang akan melahirkan realitas-realitas social budaya dalam masyarakat. Pergaulan hidup manusia diatur oleh berbagai macam kaidah atau norma, yang pada hakikatnya bertujuan untuk menghasilkan kehidupan bersama yang tertib dan tentram. Dalam pergaulan hidup tersebut, manusia mendapatkan pengalaman-pengalaman tentang bagaimana memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok atau primary needs, yang antara lain mencakup sandang, pangan dan papan, keselamatan jiwa dan harta. Pengalaman -pengalaman tersebut

menghasilkan nilai-nilai positif maupun negative, sehingga manusia memiliki konsepsi yang abstrak mengenai apa yang baik dan apa yang harus dianut, dan mana yang buruk dan harus dihindari(Sukanto, 1999:59)

[1]

Karena

keabstrakan konsepsi itulah di dalam masyarakat dibutuhkan

sebuah patokan yang bersifat universal dan menyeluruh, dan disinilah peran norma Agama sangat dibutuhkan. Sebagai ajaran yang berasal dari Tuhan, agama bersifat sempurna, elastis dan fleksibel tanpa mengurangi esensi dari ajaran agama tersebut. Sebagai norma yang bersifat teologis inilah Norma agama memiliki kesakralan tersendiri mengiggat reward and punishment yang diberikan tidak hanya di dunia yang bersifat empiris saja akan tetapi juga di akhirat yang bersifat supra empiris, hal inilah yang sangat membedakan norma agama dengan normanorma lainya. Menurut Purnadi Purbacaraka(1974:4) norma agama bertujuan untuk mencapai suatu kehidupan yang beriman, berakhlak dan mempunyai hati nurani yang bersih. Dalam keadaan normal terdapat integrasi(keterpaduan) serta keadaan yang sesuai pada hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat(agama, politik, ekonomi berjalan secara seimbang). Sedangkan dalam masyarakat yang tidak berjalan secara normal/terjadi masalah sosial unsur-unsur tersebut terjadi ketimpangan, tidak bisa saling mengendalikan sehingga sering terjadi bentrokan dan kegoyahan dalam tata kehidupan kelompok.. Agama yang merupakan

peraturan-peraturan sempurna dan berasal dari Tuhan seharusnya mampu mengendalikan unsur-unsur lain yang ada dalam suatu masyarakat, akan tetapi hal ini berkebalikan dengan realitas yang terjadi di masyarakat Gunung Kemukus yang terkenal dengan ziarah ngalap berkahnya, ketimpangan antara agama dan unsur lainya begitu jelas terlihat. Di tempat ini terdapat makam salah satu cicit Sunan Kalijaga(dalam satu versi) atau Prabu Brawijaya(dalam versi lain)yang bernama Pangeran Samudra, beliau adalah salah seorang pejuang keagamaan serta penyebar agama Islam(terlepas dari banyaknya versi tentang sejarah Pangeran Samudro). Di tempat ini setiap Kamis malam menjelang Jumat Pon dan Jumat Kliwon dalam kalender Jawa selalu digelar doa tahlil bersama. Acara itu juga digunakan untuk memperingati penemuan pusaka Kotang Ontokusumo oleh Sri Sultan Demak. Tradisi itu terus dipertahankan hingga kini. Pada hari-hari tersebut pengunjung yang berziarah dan berdoa datang membludak.

[2]

Ritual yang paling ramai dan diminati pengunjung adalah upacara di bulan Syuro bulan pertama dalam penanggalan Jawa, yang bertepatan dengan dimulainya bulan Muharram dalam kalender Islam. Tiap Kamis malam diadakan pentas wayang kulit semalam suntuk. Sedangkan pada hari Kamis di pekan pertama bulan Syuro digelar tradisi larap slambu yang merupakan ritual pencucian kain penutup makam Pangeran Samudro(http://clubbing.kapanlagi.com) Dari ritual-ritual keagamaan inilah dapat dilihat kentalnya akulturasi Islam dan budaya jawa di tempat ini, akan tetapi keunikan yang sangat aneh terjadi, ritual ziaroh yang disyariatkan oleh agama sebagai suatu ibadah ini disisipi dengan adanya mitos pesugihan yang dilengkapi dengan ritual berhubungan

badan dengan pasangan yang bukan halal(ritual sex bebas) semua hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan keberkahan, kesuksesan, naik pangkat, menjadi orang kaya, dapat jodoh dan lain sebagainya. Dari sinilah ritual keagamaan bergeser dari sebuah ibadah yang mendapatkan pahala menjadi ritual yang penuh pertentangan dengan ajaran norma hukum, asusila, dan mengandung kemusyrikan. Di tempat tersebut, bukanya banyaknya pondok serta tempat-tempat ibadah layaknya tempat-tempat ziarah yang berdiri melainkan tempat-tempat lokalisasi yang berjejer rapi disepanjang jalan menuju makam. Wisata Gunung Kemukus tidak hanya menguntungkan masyarakat kecil saja, tapi bagi Pemerintah Daerah juga sebagai sumber pendapatan yang cukup besar, dalam setiap tahunnya dari penghasilan Daerah bisa mencapai 170 juta rupiah setiap

tahunnya(sragen.go.id). karena itulah muncul pertanyaa factor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi transisi masyarakat keagamaan di Gunung Kemukus. Dan berangkat dari masalah itu kami melakukan penelitian ini dengan judul ³TRANSISI SUATU MASYARAKAT KEAGAMAAN´, (studi atas ritual seks dan ngalap berkah di gunung kemukus). Masyarakat keagamaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat Gunung Kemukus/pendem, para peziarah dan para pendatang.

[3]

1.2 Fokus Penelitian/Rumusan Masalah Terkait dengan latar belakang masalah di atas, permasalahan utama yang akan dikaji dalam penelitian ini dipertajam dalam pertanyaan sebagai berikut: 1. Faktor-faktor apa sajakah yang berpengaruh dalam suatu transisi masyarakat keagamaan? 2. Sejauh manakah faktor tersebut merubah sistem keagamaan yang telah ada? 3. Diantara faktor-faktor yang ada manakah yang paling dominan? 4. Bagaimanakah proses faktor tersebut dapat mempengaruhi sistem keagamaan? 5. Apa makna sebenarnya dari ziarah di makam Pangeran Samudro dan sudah sesuaikah dengan konteks agama?

1.3 Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai beriktu: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi transisi masyarakat keagamaan. 2. Untuk mengetahui sejauh mana faktor tersebut merubah sistem keagamaan yang ada. 3. Untuk mengetahui factor paling dominan yang menentukan transisi masyarakat keagamaan. 4. Untuk mengetahui bagaimana proses faktor tersebut dapat

mempengaruhi sistem keagamaan. 5. Untuk mengetahu makna sebenarnya dari ziarah di makam Pangeran Samudro dan kesesuaianya dengan konteks agama

1.4 Kegunaan penelitian/signifikasi penelitian

[4]

Penelitian ini berguna untuk menemukan solusi alternative dalam mengahadapi problem-problem social tanpa mengorbankan unsur-unsur lain seperti Agama yang seharusnya merupakan pedoman/kaidah ideal bagi seluruh masyarakat di dunia. Penelitian ini juga berguna untuk para peminat studi keislaman, agar mereka mengetahui seberapa besar tantangan Agama Islam dalam mengahadapi perubahan masyarakat yang terjadi secara terus menerus.

1.5 Tinjauan Pustaka Gunung Kemukus merupakan tempat wisata yang sangat unik dan kontroversial, di tempat tersebut seks bebas mendapat legitimasi dan perlindungan dari pemerintah, selain itu mitos Pangeran samudro juga menjadi daya tarik tersendiri. Oleh karena itu tidak sedikit para peneliti yang melakukan penelitian di tempat tersebut. Pada tahun 1999 tim peneliti dari UGM(MG Endang Sumiarni dkk.) bekerjasama dengan Ford Fondation mengadakan penelitian ditempat ini. Fokus penelitian mereka bertumpu pada karakteristik peziarah ngalap berkah, ritualnya, kesehatan reproduksi, dan implikasi dari adanya ziarah ngalap berkah terhadap penduduk setempat. Akan tetapi dalam pembahasan kerangka berfikirnya lebih condong ke masalah seks bebas dan potensi akan penyakit yang ditimbulkan. Dalam penelitianya mereka memberikan data-data tentang monografi serta hal-hal yang berhubungan dengan ritual ngalap berkah dengan cukup lengkap. Kelemahan dari penelitian ini adalah tidak diakhirinya penelitian dengan analisis data, sehingga penelitian tersebut lebih bersifat pemaparan data saja. Selain itu solusi dari permasalahan yang timbul juga tidak diberikan. Pada tahun 2006 seorang peneliti dari UNNES yang bernama Ali Muchsan melakukan penelitian dengan obyek penelitian berupa mitos Pangeran Samudro. Dalam penelitianya beliau berfokus pada struktur mitos dan fungsi mitos Pangeran Samudro bagi Masyarakat setempat dalam penelitiannya beliau menggunakan pendekatan melalui teori Strukturalisme dan Transformasi LeviStrauss dalam penelitianya beliau membagi mitos Pangeran Samudro menjadi lima versi dan setelah itu beliau membagi cerita-cerita tersebut menjadi beberapa

[5]

episode, lalu setelah itu beliau menganalisisnya. Cerita-cerita tersebut dituturkan dan dianalisis dengan cukup lengkap. Kelemahan dari penelitian ini adalah tidak adanya simpulan tentang mitos mana yang paling mendekati kebenaran. Selain itu mitos dari para pendatang tentunya perlu banyak dibahas, dikritisi dan dicarikan pemecahanya agar mitos dari pihak tersebut tidak berkembang subur di masyarakat. Selain itu dalam kesimpulanya semua mitos tersebut termasuk mitos dari pendatang malah dianggap sebagai salah satu kekayaan dari kebudayaan setempat yang perlu dilestarikan, tentu hal ini sangat keliru mengingat mitos dari para pendatang yang sangat bertentangan dengan rasio, moral dan Agama.

1.6 Kerangka Teoritik Ketika membahas tentang Agama maka bagi seorang peneliti harus didahului dulu dengan keyakinan dan kebenaran Agama yang dianut, artinya dalam tataran Ontologis harus disertai dengan adanya iman dan takwa, masalah nanti terdapat kontradiksi dalam tataran epistemologi itu seperti adanya kesenjangan antara teori dengan kenyataan maka yang harus didahulukan adalah teori/Agama tersebut. Hal ini dikarenakan bukan Agama yang harus

menyesuaikan dengan realitas, akan tetapi butuh penafsiran/interpretasi baru agar Agama dapat menjadi solusi bagi masalah -masalah social di masyarakat. Margaret Pologma dalam bukunya sosiologi kontemporer(2007:2) mengatakan sosiologi yang bebas nilai merupakan sesuatu yang mustahil karena didalam pendekatanya seorang peneliti dengan sedirinya akan melakukan empati, baik itu disadari ataupun tidak. Dalam memahami agama, ada yang mengatakan adanya unsur keyakinan, unsur hukum dan moral, dan unsur penghayatan rohaniah (mistisisme). Ada pula yang memandang ketiga hal tersebut sebagai aspek-aspek ajaran agama yang merupakan suatu kesatuan, terintregasi, atau terpadu. Aspek keyakinan tampil dalam kepercayaan kepada gaib, dalam upacara sakral dan dalam penghayata n ruhaniah(Bustanuddin, 2006:60).

[6]

Koentjaraningrat menyebut aspek kehidupan beragama dengan komponen religi. Menurutnya ada lima komponen religi, yaitu: (1) emosi keagamaan, (2) sistem keyakinan, (3) sistem ritus dan upacara, (4) peralatan ritus dan upacara, dan (5) umat beragama. Dalam uraian berikut, aspek kehidupan beragama diuraikan menurut urutan: (1) aspek kepercayaan kepada yang gaib, (2) aspek sakral, (3) aspek ritual, (4) umat beragama, dan (5) mistisisme. Dalam aspek yang dikemukakan ini tidak diikutkan secara khusus peralatan ibadat yang diungkap oleh Koentjaraningrat. Peralatan ibadat dalam tulisan ini dimasukkan dalam aspek sakral karena peralatan ibadat itu dipercaya mempunyai sifat sakral. Karena itu, pembicaraan tentang peralatan ibadat tertuju kepada bendanya, sedangkan pembicaraannya sebagai yang sakral tertuju kepada sifat peralatan tersebut. Emosi keagamaan dalam ungkapan koentjaraningrat sama dengan penghayatan ruhaniah (mistisisme). Dalam tulisan ini akan lebih memfokuskan pada aspek ritualnya. Tokohtokoh Agama tentu akan mengatakan bahwa setiap ritual pasti mempunyai tujuan dan dapat dimasukkan ke dalam rasio akan tetapi berbeda dengan apa yang dikatakan oleh para sosiolog yang mengatakan ritual merupakan upacara keagamaan yang biasanya tidak dapat difahami alasanya secara rasional baik ekonomi maupun pragmatisnya, dari sini dapat dilihat keinginan mereka yang terlalu memaksakan untuk menciptakan sosiologi yang bebas nilai(walaupun mereka juga pemeluk Agama). Dalam antropologi, upacara ritual dikenal dengan istilah ritus. Ritus dilakukan ada yang untuk mendapatkan berkah atau rezeki yang banyak dari suatu pekerjaan, seperti upacara sakral ketika akan turun ke sawah ; ada untuk menolak bahaya yang telah atau diperkirakan akan datang; ada upacara mengobati penyakit ( rites of healing ); ada upacara karena perubahan atau siklus dalam kehidupan manusia, seperti pernikahan, mulai kehamilan, kelahiran ( rites of passage, cyclic rites ); dan ada pula upacara berupa kebalikan dari kebiasaan kehidupan harian ( rites of revelsal ) sepertti puasa pada bulan atau hari tertentu, kebalikan dari hari lain yang mereka makan dan minum pada hari lain tersebut. Memakai pakaian tidak berjahit ketika berihram haji atau umroh adalah kebalikan dari ketika tidak

[7]

berihram, dan lain sebagainya (norbeck 1974:40-54). Tampak pula motif diadakannya suatu ritus berbeda satu sama lain. Namun, Arnold van genep berpendapat bahwa ritus dilakukan dengan motif meringankan krisis kehidupan (life crisis), seperti memesuki periode dewasa, perkawinan, mati, sakit, dan lainnya (Malefijt 1963:190-191). Van genep hanya tertarik kepada motif krisis kehidupan ini. Bagaimanapun, di samping bentuk, frekuensi dan alasan utama ritus dilakukan oleh umat beragama, berbeda antara satu agama dengan agama lain. Apakah perbedaan ini memang hanya karena pengaruh lingkungan atau karena perbedaan cara berpikir dan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan, perlu penelitian tersendiri, pandangan penganut agama yang barsangkutan (pendekatan fenomenologis) dengan pandangan pengamat dari luar (pendekatan positivistik) tentub akan berbeda pula(Bustanuddin, 2006:95) Bahkan dalam satu Agama pun memiliki cara ritual dan penafsiran yang berbeda contohnya saja dalam masyarakat Muhammadiyah yang cenderung rasionalis, mereka akan menggangap tahlilan adalah sesuatu yang tidak baik(bid¶ah) dan harus ditinggalkan. Hal ini berbeda dengan masyarakat

Nahdhlatul Ulama(NU) yang cenderung tradisionalis) mereka menggangap hal tersebut merupakan sesuatu yang positif tergantung dari penghayatan orang yang melakukanya. Pandangan-pandangan itu dapat difahami menginggat kedua golongan tersebut berasal dari kebudayaan yang berbeda serta memiliki dasar/legitimasi masing-masing. Akan tetapi walaupun terdapat perbedaan, ritual tersebut tetap tidak boleh bertentangan dengan aspek-aspek dasar agama seperti keyakinan/iman, hukum dan moral. Oleh karena itu setiap ritual harus mempunyai dasar dari Agama baik berupa teks kitab suci maupun penafsiran/ijtihad dari para pemuka agama, dan ritual yang melanggar kaedah-kaedah agama akan dianggap sebagai

penyelewengan dan mendapatkan sanksi tersendiri oleh agama.

[8]

1.7 Metode Penelitian 1.7.1 Jenis Penelitian dan pendekatan Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif dan parsitipan, dengan menggunakan pendekatan filosofis, interpretasi realitas dengan menghindari detail-detail persoalan lain yang bukan merupakan fokus pembahasan. 1.7.2 Kehadiran peneliti Penelitian ini bersifat observasi dan partisipan jadi peneliti ikut dan berbaur, melakukan interaksi dan empati dengan objek penelitian. 1.7.3 Lokasi Penelitian Penelitian ini bertempat di Obyek Wisata Gunung Kemukus yang terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. 1.7.4 Kebutuhan dan sumber data Jenis data yang digunkan dalam penelitian ini adalah: a. Data primer : data hasil observasi, dokumentasi dan wawancara

b. Data sekunder : data hasil telaah pustaka 1.7.5 Analisis data Adapun analisis atas data dilakukan setelah proses pengumpulan data selesai, diawali dengan proses reduksi/seleksi datauntuk mendapatkan informasi yang lebih terfokus pada rumusan persoalan yang ingin dijawab oleh peneliti ini, kemudian disusul oleh proses diskripsi yakni menyusun data itu menjadi sebuah teks naratif. Pada saat penyusunan teks naratif inilah dilakukan analisis data dan dibangun teori-teori yang siap untuk diuji kembali kebenaranya dengan tetap berpegang teguh pada pendekatan filosofis, setelah proses deskripsi selesai barulah dilakukan proses penyimpulan. 1.7.6 Pengecekan Keabsahan Data Sebelum dilakukan analisa tadi data-data yang sudah ada terlebih dahulu dipilah-pilah mana yang sesuai dengan focus penelitian lalu setelah itu dilakukan analisis data yang sesuai dengan teori atau tidak. Dan pada tahap penarikan kesimpulan data selalu dverifikasi agar keabsahanya teruji. Baik proses reduksi(seleksi data), proses deskripsi, dan proses penyimpulan dilakukan secara berurutan, berulang-ulang, terus-menerus dan susul menyusul agar penelitian ini

[9]

mendapatkan hasil yang akurat kemudian dibuatlah sebuah teks naratif kedua berupa laporan akhir penelitian. 1.7.7 Tahapan-Tahapan Penelitian Penelitian ini melewati tahap-tahap sebagai berikut: 1. Pengumpulan data 2. Pemilihan data yang sesuai dengan fokus pembahasan 3. Pemilihan data yang valid 4. Analisis awal 5. Penyusunan teks dan penarikan kesimpulan awal 6. Analisis kesimpulan adakah data yang kurang valid dimasukkan 7. Penyusunan teks dan laporan akhir penelitian

[10]

BAB II TRANSISI MASYARAKAT KEAGAMAAN DAN BERAKHIRNYA AGAMA

2.1 Transisi keyakinan manusia Manusia terlebih sebagai bagian suatu masyarakat merupakan sesuatu yang kompleks, terlebih pada masyarakat keagaman(pemeluknya). Para sosiolog menyamakan suatu masyarakat sosial dengan organisme kehidupan, hal ini dikarenakan setiap masyarakat social pasti mengalami pertumbuhan/perubahan bukan hanya dalam segi hukumnya tapi bahkan hal pertama yang mengalami perubahan adalah keyakinan. Menurut Tylor, kepercayaan awal adalah animisme. Animisme lama-lama berevolusi menjadi politeisme, dan politeisme berubah menjadi monoteisme. Animisme dibadakan dengan animatism. Animatisme adalah kekuatan yang dimiliki yang dimiliki oleh suatu benda atau tempat, seperti pohon beringin, kolam, sungai, dan lainnya. Benda atau tempat yang punya animatisme ini dipercayai dapat mencelakakan orang yang tidak hati-hati dan tidak terhormat masuk kesana. Di Indonesia banda atau tempat yang punya animatisime ini biasa dikenal dengan benda atau tempat keramat. Perbedaan antara animisme dengan animatisme tidak begitu jelas. Animisme merupakan kekuatan gaib yang punya wujud tersendiri, seperti: Roh nenek moyang, dan jin. Sedangkan

animatisme/dinamisme adalah kekuatan yang melekat pada suatu benda atau tempat, tidak berdiri sendiri atau tidak personal(Bustanuddin, 2006:64). Dalam Agama Islam Perubahan keyakinan seperti ini terjadi pada masyarakat yang tidak menerima seorang pembawa wahyu sehingga mereka cenderung memakai cara-cara pemaknaan dan rasionalitas. Perubahan-perubahan seperti ini menunjukkan sebenarnya dalam masalah keyakinan cenderung menuju konsep yang lebih rasional. Manusia cenderung mencari keyakinan yang lebih cocok kepada rasio/akal. Akan tetapi bagi masyarakat-masyarakat tertentu aspekaspek non rasio masih juga dipertahankan. Hal ini dapat terlihat pada masyarakatmasyarakat tradisional yang masih kental dengan budaya Animisme dan

[11]

Dinamisme, hanya yang membedakanya mereka mencoba menyesuaikan budayabudaya tersebut dengan ajaran Agama. Ada beberapa golongan kecil masyarakat yang rentan kembali ke keyakinan animisme dan dinamisme seutuhnya, mereka memakai agama hanya sebagai atribut saja dan bahkan sering melanggar batasan-batasan keimanan,

hukum dan moral demi animisme dan dinamisme yang mereka yakini. Masyarakat seperti ini biasanya masuk dalam golongan-golongan kejawen ataupun abangan.

2.2 Kuat dan Lemahnya beragama Max Webber dalam sebuah penelitianya membedakan kuat lemahnya beragama dalam suatu stratifikasi social(Hendropuspito, 1986:60), stratifikasi social tersebut diantaranya adlah sebagai berikut: 1. Golongan petani. Golongan petani dianggap memililki tingkat keagamaan yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan sikap mental golongan petani terpengaruh oleh situasi dan kondisi dimana mereka hidup. Kehidupan mereka tergantung pada perubahan musim dan hama yang tidak menentu mereka tidak dapat memastikan apakah panen musim ini baik atau tidak, ketidakmenentuan dan kerterbatasan itulah yang membuat mereka lebih banyak memasrahkan urusan pekerjaan mereka kepada Tuhan. 2. Golongan pengrajin Golongan ini dianggap di bawah dari tingkat keagamaan golongan petani dikarenakan mereka kurang bergumul dengan hokum alam(musim serta ketidak pastian). Akan tetapi mereka menaati suatu kaedah moral dan sopan santun yang ada di dalam Agama, mereka percaya bahwa pekerjaan yang baik yang dilakukan secara tekun dan teliti pasti akan membawa balas jas yang setimpal. Namun akhirnya Agama yang mereka pilih cenderung lebih rasional, dengan kata lain emosi kurang memilki peran yang penting 3. Golongan pedagang besar Golongan ini memiliki tingkat keagamaan yang lebih lemah dari pada golongan yang berada di atasnya. Hal ini dikarenakan golongan ini jauh dari

[12]

gagasan tentang imbalan moral. Sepanjang sejarah manusia mayoritas golongan ini lebih dikuasai oleh orientasi duniawi/empiris yang menutup kecenderunganya kepada agama yang profetis dan etis. Semakin besar kemewahan mereka semakin kecil hasrat mereka terhadap agama yang cenderung mengarah ke dunia yang supra empiris. Untuk contoh konkretnya adalah para golongan kapitalis yang menumpuk kekayaan dengan memeras dan menindas golongan buruh. Walaupun demikian terdapat golongan kecil dari mereka yang mau berderma dan membantu manusia demi keyakinan yang mereka anut. 4. Golongan Karyawan Dalam golongan ini dimasukkan juga golongan PNS ataupun pekerja di kantor-kantor swasta. Menurut webber golongan ini memiliki tingkat keagamaan dibawah golongan pedagang, hal ini dikarenakan dalam kehidupanya mereka cenderung mencari jabatan dan kekuasaan yang pada akhirnya akan berimbas pada aspek duniawi mereka yang akan meningkat. 5. Golongan kaum buruh Menurut Webber golongan ini memiliki tingkat keagamaan yang paling bawah dan lemah. Termasuk juga dalam kaum buruh ini adalah golongan -golongan yang memiliki tingkat ekonomi rendah. Hal ini dikarenakan mereka memakai agama hanya sebagai pelampiasan keinginan mereka. Mereka menggunakan Agama dikarenakan keinginan meraka akan materi tidak bisa terpenuhi dalam pandangan Marx hal ini disebut dengan alienasi. Pada akhirnya ketika konsep agama sudah tidak mampu memenuhi keinginan mereka akan duniawi, mereka akan mulai meninggalkanya dan mencari konsep lainya yang menurut mereka dapat memenuhi keinginan mereka. Karena itulah golongan ini rentan menerima faham-faham dari luar Agama yang terkadang bertentangan dengan ajaran-ajaran Agama yang mereka ikuti. Pembagian stratifikasi-stratifikasi social diatas bersifat umum, artinya meskipun demikian tidak selalu tingkat keagamaan seperti urutan diatas selain itu masih terdapat faktor-faktor lain seperti psikologis, lingkungan dan budaya yang berbeda-beda.

[13]

2.3 Kemerosotan dan Berakhirnya Kehidupan Beragama Agama biasa digunakan sebagai suatu tempat legitimasi artinya segala perbuatan-perbuatan manusia harus sesuai dengan kaedah-kaedah keagamaan. Hukum Agama dianggap sebagai satu-satunya hukum yang memiliki kebenaran mutlak, terutama dalam masalah keimanan dan moral. Akan tetapi pada zaman yang seraba cepat ini seakan mulai dikesampingkan terutama dalam masalahmasalah keduniawiaan. Agama hanya dianut dalam konteks pranata-pranata peribadatan saja seperti perkawinan. Hendropuspito dalam bukunya sosiologi agama(1986:142) menyatakan bahwa krisis keagamaan timbul dikarenakan dua hal yaitu: 1. Proses Psikologis, proses ini timbul dalam alam kejiwaan manusia yang sadar atau di bawah sadar merasa bahwa setiap peraturan dalam bentuk perumusan hokum bersifat membatasi, pertama membatasi nilai dan membatasi kebebasan. Nilai yang tidak dibatasi dipandang sebagai nilai yang terbaik. 2. Proses sosiologis, proses ini muncul dalam suatu masyarakat beragama. Benih-benih krisis keagamaan yang sudah muncul dalam psikologis mulai tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat dan menjadi sebuah endemu. Kaedah-kaedah susila keagamaan mulai diragukan kebenaranya dan daya lakunya karena semakin melebarnya jarak antara ordo imaginer dan ordo real. Antara apa yang diinginkan dalam agama dengan kenyataan. Antara tuntutan hokum dan sulitnya untuk melaksanakanya. Mengenai berakhirnya kehidupan beragama Max Webber

mempertengahkan pendapatnya bahwa keinginan manusia yang semakin cenderung pragmatis dan hanya percaya kepada hal-hal yang bersifat duniawi/real/empiris saja merupakan suatu ancaman besar terhadap

berlangsungnya kehidupan beragama. Semakin pragmatis suatu masyarakat maka semakin pudar pula kehidupan beragama mereka. Sehingga nanti pada suatu titik, menurutnya esensi agama akan hilang pada suatu masyarakat sehingga agama hanya dianggap simbol saja dan tidak memiliki kontrol apapun terhadap kehidupan pemeluknya.

[14]

BAB III PAPARAN DATA

3.1 Monografi daerah desa pendem 3.1.1 Luas dan batas Wilayah Gunung kemukus berada dalam wilayah administrative desa Pendem, dengan pusat pemerintahan berada di Jengkilun, desa ini mempunyai luas wilayah 347.1895 Ha, sawah tadah hujan 219.1870 Ha, tanah legal 130.1870 Ha, dan tanah pekarangan 55.000 Ha. Adapun batas-batas Desa Pendem yaitu: Sebelah utara : Desa Ngandul, Kecamatan Sumber Lawang Sebelah timur : Desa Hadiluwih, Kecamatan Sumber Lawang Sebelah selatan: Desa Soko, Kecamatan Miri Sebelah Barat : Desa Bagor, Kecamatan Miri

Gambar 1.1 Wilayah administratif Desa Pendem

3.1.2 Keadaan Demografi Jumlah penduduk Desa Pendem sebanyak 4629 orang terdiri dari 2397 orang perempuan dan 2232 laki-laki, Jumlah kepala keluarga (KK) adalah 1382,

[15]

terbagi menjadi 4 Kepala dusun atau 4 wilayah kebayanan, Desa pendem dibagi menjadi 9 RW dan 35 RT. 3.1.3 Klasifikasi menurut mata pencarian Jumlah petani di Desa Pendem sebanyak 412 orang, buruh tani sebanyak 1366 orang, buruh bagunan sebanyak 69 orang, pedagang 69 orang, jasa

angkutan(sopir/kernet) sebanyak 70 orang, pengusaha sebanyak 4 orang, pegawai PNS/ABRI/pensiunan 30 orang dan lain lain 13 orang.

3.1.4 Klasifikasi menurut pendidikan Jumlah penduduk Desa Pendem yang secara akademik berpendidikan Perguruan Tinggi adalah 25 orang, berpendidikan SMTA 262 orang, SMTP 615 orang, SD 1042, tidak tamat SD 370 orang, tamat B3B 768 orang, tidak tamat SD/usia lebih dari 50 tahun 714 orang.

3.1.5 Usaha kecil dan menengah Di Desa pendem terdapat beberapa usaha kecil dan menengah seperti roti, Tas, Sandal dan sepatu yang mendapatkan bantuan dana baik dari pemerintah maupun swasta. 3.1.6 Tingkat kemiskinan dan produktifitas penduduk penduduk desa Menurut data dari kecamatan sumberlawang Desa pendem dengan jumlah Kepala Keluarga(KK) sebanyak 1382, memiliki jumlah KK miskin sebanyak 416, jumlah KK produktif sebanyak 140, dan jumlah KK tidak produktif sebanyak 276 oleh karena itu tingkat kemiskinan di desa ini mencapai angka 66,35%. Sebagai perbandingan berikut data jumlah KK miskin di kecamatan Sumberlawang.

[16]

DATA JUMLAH KK MISKIN USIA PRODUKTIF JUMLAH KK MISKIN 416 328 334 364 303 330 411 334 342 347 392 3.902 JUMLAH KK MISKIN PRODUKTIF 140 105 134 79 100 181 182 118 168 125 153 1.513 % 33,65 32,01 70,05 21,70 33,00 54,84 44,28 35,32 49,12 36,02 39,03 38,77 TDK PRODUKTIF 276 223 200 285 203 122 229 216 174 222 239 2.389 % 66,3 5 67,9 9 29,9 5 78,3 0 67,0 0 45,1 6 55,1 6 64,6 8 50,8 8 63,9 8 60,9 7 61,2 3

NO

DESA

JUMLAH KK 1.382 1.286 1.298 1.028 1.230 1.136 1.645 1.010 936 1.051 1.660 13.662

1 PENDEM 2 HADILUWIH 3 JATI 4 CEPOKO 5 MOJOPURO 6 NGANDUL 7 NGARGOTIRTO 8 KACANGAN 9 PAGAK 10 TLOGOTIRTO 11 NGARGOSARI JUMLAH

Sumber: Sumberlawang@Sragen.co.id 3.1.7 Sarana Transportasi Untuk sarana transportasi bis dan kendaraan-kendaraan berat lainya tidak tersedia/tidak melewati Desa Pendem. Di Desa Pendem hanya terdapat sarana transportasi berupa Angkota yang hanya beroperasi sampai jam 5 sore selain itu untuk memenuhi kebutuhan penduduk dibentuklah paguyuban ojek.

[17]

3.1.8 Pelaksanaan kegiatan di Desa 3.1.8.1 Dalam bidang pemerintahan a. Penggadaan 1 unit computer dan sarana alat administrasi lain secara cukup. b. Memfungsikan lembaga RT, LP2MD, BPD, yang tiap tahun mendapat kesejahteraan lewat dana ADD dan secara pribadi Kepala Desa juga memperhatikanya. c. Sosialisasi pada masyarakat tentang program pmerintah baik di bidang pembangunan, kesehatan, keagamaan dan social budaya. d. d.telah dibentuk lembaga keuangan desa (LKD), simpan pinjam Perempuan (SPP PKK) agar masyarakt tidak terjerat rentenir, bank harian dan sebagainya. e. kelengkapan pakaian hansip, PAM Swakarsa, Pramuka Taruna Bumi yang semuanya demi keamanan masyarakat.

3.1.8.2 Dalam Bidang Ekonomi a. Telah dibentuknya GAPOKTAN per kebayanan yang dibina langsung oleh PNS desa, yang semua itu untuk meningkatkan produksi pangan. b. pemberian motivasi pada masyarakat agar tidak menggantungkan hasil pertanian padi, tapi juga harus memiliki usaha sampingan misalnya: tanaman polowijo, ternak, berdagang, mencari ikan dan sebagainya. c. Melestarikan warung hidup, lambing hidup, apotik hidup, lewat jalan PKK Desa.

3.1.8.3 Dalam bidang pendidikan dan keterampilan a. Dengan adanya 2 unit STK, 2 SD Negeri, 1 Madrasah, dan 1 SMA Negeri telah dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di masyarakat Desa. b. Dilaksanakan kejar paket B tiap kebayanan. c. Kursus keterampilan juga dilaksanakan lewat dana ADD tahun 2007.

[18]

3.1.8.4 dalam bidang kesehatan masyarakat Kesehatan masyarakat cukup terpenuhi dengan adanya bidan, perawat setempat, pembinaan PMT pada balita lewat posyandu, dan bagi keluarga miskin telah mendapatkan askes untuk berobat ke puskesmas dan juga ada yang durujuk ke Rumah Sakit Negeri. 3.1.8.5 Bidang kesenian, budaya dan olah raga a. Terbentuknya klub kesenian, wayang, grub rebana dan sebagainnya di Gunung Sari dan Bulurejo b. Klub-klub bola voli, tenis meja yang hamper ada disetiap RT di Desa Pendem. c. Pementasan wayang kulit, pencucian pusaka dan lain-lainya

3.1.8.6 Bidang Keagamaan Pengajian rutin , tahlilan dan yasinan selalu diadakan dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Selain itu terdapat pula acara-acara pada momenmomen tertentu seperti Idul Fitri, Idul Adha, suronan dan lain lainya. Mayoritas penduduk di Desa Pendem adalah masyarakat kejawen dan abangan dengan kepercayaan kepada arwah nenek moyang, benda pusaka dan roh-roh halus masih besar. Hal ini dibuktikan dengan adanya pencucian pusaka kotang ontokusumo serta kepercayaan-kepercayaan lainya.

3.2.Deskripsi Gunung Kemukus, makam Pangeran Samudro serta sendang Ontrowulan 3.2.1 Gunung Kemukus Sebenarnya daerah ini bukanlah sebuah gunung, akan tetapi hanya merupakan sebuah bukit setinggi 300 m dari permukaan laut yang dikelilingi oleh air luapan dari waduk kedung ombo. Menurut cerita dari dinas pariwisata Pangeran Samudra di makamkan ditempat ini atas kebijakan dari Sultan Demak. Tempat ini disebut dengan Gunung Kemukus dikeranakan apabila menjelang
[19]

musim hujan atau kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap/kukus karena itulah sampai saat ini penduduk menyebut bukit itu dengan sebutan Gunung Kemukus.

Gambar 2 Gunung kemukus dilihat dari kejauhan memiliki panorama yang eksotik

Menurut para pengunjung yang sudah lama berziarah ketempat tersebut dan keterangan dari dinas pariwisata mengatakan bahwa awal mulanya Gunung Kemukus hanyalah sebuah bukit yang masih lebat dengan semak-semak serta pohon-pohon. Sehingga saat itu masih sedikit pengunjung yang dating kesana, salah satu pengunjung mengatakan pada tahun 1970 beliau berziarah kesana dan Gunung Kemukus masih berupa semak yang lebat untuk sampai ke makam Pangeran samudro hanya dapat melalui jalan setapak yang memutar dan harus membawa sabit untuk memotong semak-semak yang menghalangi jalan, hal ini senada dengan keterangan yang diberikan oleh dinas pariwisata yang meneranghkan bahwa dikarenakan pengunjung yang semakin lama semakin bertambah maka pemerintah baru mengambil alih penguasaan Gunung Kemukus pada tahun 1974, dengan tujuan untuk memberi rasa aman dan kemudahan. Sejak tanggal 1974 itulah Gunung kemukus resmi menjadi salah satu sumber pendapatan daerah bahkan setelah itu sesuai perda no 11 tahun 2001 dinas

[20]

pariwisata mengambil alih tempat tersebut sehingga sampai sekarang menjadi salah satu obyek wisata andalan kecamatan Sumber lawang dan kabupaten

Sragen. Dinas pariwisata hanya berwenang mengurusi segala sesuatu tentang pariwisata dan masalah lainya merupakan kewenangan pemerintahan desa.

Gambar.3. Jalan menuju makam Pangeran Samudro

Kini keadaan Gunung Kemukus berubah pesat dari hanya sebuah bukit yang hanya memiliki jalan setapak menjadi suatu tempat yang sangat ramai dan memiliki potensi ekonomi/komersil yang tinggi. Untuk masuk ke wilayah gunung kemukus harus membayar biaya masuk di loket gerbang dengan biaya yang bervariasi sesuai hari dan peristiwa yang dianggap penting, untuk hari hari biasa dikenakan biaya masuk berkisar Rp. 4000,- dan untuk acara-acara tertentu berkisar Rp.8000,- bahkan lebih. Menuju puncak bukti/makam pangeran samudra terdapat jalan dua arak yang diplester dengan semen ataupun paving. Disepanjang jalan terdapat banyak penjual barang antik, perlengkapan

nyekar/ritual(bunga,menyan, minyak wangi, botol untuk mengisi air di sendang Ontrowulan), puluhan warung-warung dengan berbagai macam jasa yang ditawarkan mulai dari tempat parkir, kebutuhan sehari-hari, makanan/minuman, penginapan, panti pijat, bahkan rumah border lengkap dengan para penjaja seks komersial pun disediakan. Hampir tidak ada rumah yang tidak membuka warung di tempat ini, tanah di tempat ini tergolong gersang. Karena itulah sebanyak 80% penduduk di tempat ini bekerja sebagai pedagang, dan sisanya sebagai petani dan
[21]

nelayan. Dan para pemuda di desa ini mayoritas bekerja diluar kota, terutama kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Batam dan lainya. Kawasan Wisata Gunung Kemukus dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung pariwisata yang tentu saja bertujuan untuk menciptakan kenyamanan bagi para pengunjung, antara lain: mushola, ojek, kamar kecil, tempat parker(baik dikelola oleh penduduk dan pemerintah), penginapan, warung makan dan ruang informasi, petugas keamanan. 3.2.2 Deskripsi makam Pangeran Samudro dan Sendang Ontrowulan Komplek Makam Pangeran Samudro terdiri dari beberapa bangunan. Bangunan utama berbentuk rumah joglo dengan dinding batu bata dan bagian atas berdinding kayu papan. Disertai dengan teras yangb luas didepanya, pada bagian depan teras terdapat anak tangga. Didalamnya terdapat tiga makam. Satu buah makam besar yang ditutupi kain selambu adalah makam Pangeran Samudro dan R.Ay. Ontrowulan, selambu ini diganti tiap malam satu suro dan biasanya diperebutkan oleh para peziarah. Sedangkan dua makam lainnya adalah makam dua abdi setia Pangeran Samudro yang selalu mengikuti beliau kemanapun pergi. Di samping makam terdapat bangunan dengan sebuah ruang yang cukup luas yang digunakan untuk tirakatn para pengunjung. Di sekitar makam Pangeran Samudro tumbuh pohon nogosari yang sangat besar, sama halnya dengan diperjalan menuju makam banyak warung-warung dan tempat karaoke yang berjejer, tepat didepan makam didirikan tenda-tenda yang di gunakan untuk ritual seks bebas beberapa pengunjung. Hal ini dikarenakan menurut beberapa keyakinan ritual seks yang dilakukan di depan makam Pangeran Samudro akan memilki tingkat keberkahan yang lebih dibanding dengan di tempat lain. Di sekitar makam ini biasanya pada waktu-waktu ritual banyak para PSK yang berkeliaran untuk menawarkan jasa seks komersial. Ditempat ini juga terdapat beberapa pengemis yang rata-rata sudah berumur senja. Untuk masuk ke makam/tempat ritual terdapat parkir sandal yang harus dibayar sebesar Rp. 1000,- persandal.

[22]

Gambar. 6 Makam Pangeran Samudro Di sebelah kanan makam terdapat sendang (sumber air) yang bernama Sendang Ontrowulan disekitar sendang tersebut banyak dijumpai para penjual perlengkapan nyekar dan penjual jamu. Di sebelah sendang tersebut terdapat sebuah bangunan yang cukup luas, dan bercat putih, bangunan tersebut berfungsi sebagai tempat ritual. Tempat tersebut merupakan tempat ritual pertama sebelum menuju makam Pangeran Samudro. Sama halnya di makam Pangeran Samudro, untuk masuk ke tempat ritual terdapat parkir sandal yang harus dibayar sebesar Rp. 1000,- persandal, sendang tersebut berbentuk seperti sumur tua, segi empat yang berdiameter kira-kira 1 meter persegi. Untuk menjaga agar tidak tertutup tanah atau sebagainya sendang tersebut di plester dan dibangun di atasnya bangunan berbentuk segi empat seluas 5 meter persegi yang bercat putih, dengan tinggi sekitar 1,60 meter. bangunan kecil itu memiliki satu buah pintu dari seng, pintu tersebut ditutup ketika ada para pengunjung yang menginginkan mandi disitu. Sendang ini merupakan tempat bersuci R.Ay. Ontrowulan, ketika akan menemui putranya yang sudah meninggal. Air sendang tersebut dikenal tidak pernah habis, bahkan di musim kemarau sekalipun. Disis sendang tersebut terdapat beberapa pohon nagasari yang tumbuh lebat, konon pohon nagasari tersebut adalah hasil cipratan rambut Raden Ayu Ontrowulan ketika mandi.

[23]

Gambar 4. Bangunan Sendang Ontrowulan serta pohon nagasari yang ada di sampingnya. 3.3 Potensi ekonomi di Gunung Kemukus Tempat-tempat yang memiliki potensi ekonomi adalah tempat yang memiliki jumlah penduduk besar serta mobilitas yang tinggi dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh pihak dinas pariwisata, pemerintah desa ataupun para penduduk Gunung kemukus untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari Gunung Kemukus, karena itulah nilai ekonomis tanah, barang, jasa dan makanan di tempat ini lebih tinggi/mahal(terkecuali bagi pekerja seks komersil yang tidak melalui calo) dari pada di tempat lainya contohnya saja untuk minuman ringan dijual seharga Rp 5000,- padahal rata-rata diluar hanya seharga Rp. 3000,-. Diantara potensi yang ada antar lain adalah sebagai tempat berdagang yang strategis, wisata, serta penjualan jasa. 1. Potensi yang dimanfaatkan Dinas pariwisata - Retribusi setiap pedagang dikenai biaya Rp.1000,- per malam. - Biaya tiket masuk masuk yang bervariasi tergantung besarnya momen/peristiwa. Untuk tiap jumat saja mendapatkan pemasukan ratarata Rp. 4000.000,- dan setoran bulanan biasanya dapat mencapai Rp. 170. 000.000,-

[24]

2.

Potensi yang dimanfaatkan oleh Pihak Desa Potensi ini dimanfaatkan oleh pihak desa melalui berbagai macam bentuk pungutan antaranya sebagai berikut:
- Setoran tetap - Sewa tanah ataupun perkiosan - Dana mutasi tanah baik dari dalam desa ataupun luar desa(banyaknya

penduduk pendatang yang ingin menetap di Gunung Kemukus dengan membeli tanah dari penduduk setempat).
- Izin Keramaian seperti tape, wayang kulit, senin tayub, klenengan. - Paguyuban ojek - Parkir - Pungutan dari kuncen

3.

Potensi yang dimanfaatkan oleh penduduk desa ataupun masyarakat luar desa Potensi ini dmanfaatkan dalam berbagai macam bentuk penjualan baik barang ataupun jasa antara lain adalah sebagai berikut:
- Sebagai seorang Juru Kunci - Berjualan peralatan nyekar - Berjualan makanan dan minuman - Berjualan barang-barang antik/jimat dan sebagainya - Berjualan jamu - Berjualan kebutuhan sehari-hari - Menawarkan jasa karaoke - Menawarkan jasa pijat - Menawarkan jasa transportasi baik berupa ojek,angkot, dan perahu

penyeberangan
- Menawarkan jasa parkir swasta - Menawarkan jasa pekerja seks komersial - Menawarkan jasa tikar dan tenda - Menawarkan jasa penginapan
[25]

- Menawarkan jasa mencarikan PSK(mucikari)

Gambar 5. Bahkan botol bekas pun memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di sini.

[26]

BAB IV CERITA PANGERAN SAMUDRO SERTA KESALAHAN INTERPRETASI SEBUAH MITOS

4.1 Cerita pangeran Samudro Terdapat berbagai macam versi sejarah kehidupan Pangeran Samudro, baik mengenai keturunan, asal usul, dan perjalanan hidupnya sehingga kadang sulit untuk dicari mana yang memilki keotentikan paling tinggi hal ini dikarenakan masih sedikitnya para sejarawan yang meneliti tentang sejarah pangeran samudro. Cerita pangeran samudro sendiri dulunya hanya disebarkan secara oral/mulut ke mulut tanpa adanya bukti berupa prasasti ataupun tulisan-tulisan yang bernilai sejarah lainya. Oleh karena perbedaan-perbedaan yang muncul dapat difahami. Cerita Pangeran Samudra tidak hanya hidup dan berkembang di daerah

Kabupaten Sragen saja, akan tetapi juga daerah ataupun wilayah-wilayah yang dekat dengan Kabupaten Sragen. Diantaranya yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Karanganyar, dan juga pada masyarakat pendatang yang bermukim di sekitar lokasi mitos cerita Pangeran Samudra itu sendiri. Cerita Pangeran Samudra yang dimitoskan oleh masyarakat Kabupaten Sragen dan juga wilayah-wilayah di sekitar Kabupaten Sragen mempunyai dimensi positif dan juga dimensi negatif. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ali muchsin(2006:17) terdapat 6 versi cerita tentang pangeran samudro, 5 versi cerita ini dikelompokkan sesuai daerah penyebaranya. Cerita-cerita tersebut adalah sebagai berikut:

4.1.1 Cerita Pangeran Samudra Versi Sragen Pangeran Samudra merupakan putra raja majapahit terakhir bernama Brawijaya V yang terlahir dari ibu selir Ontrowulan. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudra tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya yang lain, namun justru diboyong ke Demak Bintoro oleh Sultan Demak dan belajar agama Islam kepada pada Sunan Kalijaga. Setelah dirasa cukup ilmunya, Pangeran Samudra diutus untuk berguru kepada Kyai Ageng Gugur di daerah

[27]

Gunung Lawu. Di Gunung Lawu ia menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Sampai tiba saatnya ia pulang ke Demak. Dalam perjalanan pulang, ia didampingi oleh dua orang abdinya dan selalu menyebarkan agama islam di setiap tempat yang disinggahinya. Dalam perjalanan pulang itulah Pangeran Samudra jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Mendengar kabar kematian putranya, Ontrowulan memutuskan untuk mengunjunginya. Setelah sampai di lokasi tempat Pangeran Samudro dimakamkan, Ontrowulan langsung merebahkan diri di pusara makam, kemudian terjadi dialog secara ghaib. Dalam dialog secara ghaib Pangeran berpesan pada ibunya, kalau ingin bertemu dengannya, terlebih dahulu harus menyucikan diri di sebuah sendang. Usai menyucikan diri, tubuh Ontrowulan hilang (muksa) entah kemana.

4.1.2 Cerita Pangeran Samudra Versi Boyolali Pada masa akhir kerajaan Majapahit, yaitu ketika diperintah oleh Brawijaya V mendapat serangan dari kerajaan Islam Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Dalam serangan tersebut, Majapahit terdesak dan banyak bangsawan yang menyingkir ke daerah-daerah lain untuk mencari perlindungan. Namun salah seorang putra Brawijaya yang bernama Pangeran Samudra, dengan ibu tiri ya, n yaitu Raden Ayu Ontrowulan (istri selir Brawijaya) tidak menyingkir. Mereka justru datang ke Demak dan menyatakan bergabung dengan kerajaan Demak. Kedatangan Pangeran Samudra dan Raden Ayu Ontrowulan diterima dengan senang hati oleh Raden Patah. Selanjutnya Pangeran Samudro diperintah untuk mencari saudaranya yang dahulu melarikan diri. Perintah tersebut dilaksanakan oleh Pangeran Samudra dan diikuti oleh para abdinya. Dalam pengembaraannya, Pangeran Samudra akhirnya sampai di Gunung Lawu dan bertemu dengan saudaranya yang bernama Raden Gugur yang dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Lawu. Setelah bertemu dengan Raden Gugur, ia akhirnya meneruskan perjalanannya mencari saudaranya yang lain. Akan tetapi setelah beliau sampai di desa Kemukus, beliau jatuh sakit, kemudian ia menyuruh abdinya untuk menyampaikan berita perihal sakitnya kepada ibunya. Begitu mengetahui berita tersebut, Ontrowulan segera menyusul putranya. Akan tetapi sebelum sampai pada

[28]

tujuan, Ontrowulan mendengar kabar bahwa Pangeran Samudra telah meninggal. Setelah sampai pada tempatnya, ternyata benar bahwa Pangeran Samudra telah meninggal dunia. Namun Ontrowulan tidak boleh melihat jenazah Pangeran Samudra sebelum bersuci dahulu. Akhirnya Ontrowulan melakukan sesuci disebuah sendang di kaki Gunung. Setelah sesuci, Ontrowulan membuka kain kafannya dan beliau mengetahui bahwa jenazah itu benar-benar anaknya, seketika itu juga ia pingsan. Setelah siuman beliau berpesan apabila ia meninggal dunia, maka jenazahnya agar dikuburkan satu liang lahat dengan Pangeran Samudra, kemudian ia meninggal.

4.1.3 Cerita Pangeran Samudra Versi Karanganyar Pangeran Samudra adalah seorang putra raja Majapahit terakhir, bernama Brawijaya V yang terlahir dari ibu selir Ontrowulan. Ketika kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudra tidak ikut melarikan diri, akan tetapi beliau bersama ibunya ikut diboyong ke kerajaan Demak. Selama di Demak ia mendapat bimbingan ilmu dari Sunan Kalijaga. Dirasa cukup, Pangeran Samudra diperintahkan untuk berguru kepada Kyai Gugur dengan ditemani dua abdi. Selain itu ia juga diperintahkan untuk menyatukan saudara-saudaranya yang telah hilang. Selama berguru, Pangeran Samudra tidak mengetahui bahwa Kyai Gugur adalah kakaknya. Setelah menguasai ilmu yang diajarkan, barulah Kyai Gugur menceritakan jati dirinya. Pangeran Samudra terkejut mendengar akan hal itu, dan akhirnya Kyai Gugur bersedia dipersatukan kembali dan ikut ke Demak. Setelah itu Pangeran Samudra kembali ke Demak. Mereka berjalan ke arah barat dan dan dalam perjalanan ini Pangeran Samudra terserang sakit. Perjalananpun diteruskan, akan tetapi sakitnya semakin parah. Kamudian Pangeran Samudra memerintahan salah seorang abdinya untuk mengabarkan kondisi Pangeran Samudra pada Sultan Patah. Setelah mendengar kabar itu, Sultan memerintahkan pada abdi tersebut untuk kembali ke tempat Pangeran Samudra, akan tetapi Pangeran Samudra telah meninggal. Selanjutnya atas petunjuk dari Sultan, maka jasad Pangeran Samudra dimakamkan disebuah perbukitan tak jauh dari tempat meninggalnya Pangeran Samudra.

[29]

4.1.4 Cerita Pangeran Samudra Versi Grobogan Pangeran Samudra adalah salah seorang putra raja Majapahit terakhir

bernama Brawijaya V yang terlahir dari ibu selir Ontrowulan. Ketika kerajaan Majapahit diperintah oleh Brawijaya V, mendapat serangan dari kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Pada waktu terjadi serangan tersebut, kerajaan Majapahit terdesak dan akhirnya runtuh. Kemudian, para bangsawan dan juga saudara-saudara yang lain dari Pangeran Samudra menyingkir dan melarikan diri dari kerajaan. Begitu juga dengan Pangeran Samudra, yang tetap teguh pada agama Syiwa-Budha yang diyakininya. Berrsama dengan ibunya yaitu Dewi

Ontrowulan beserta para pengikutnya akhirnya juga ikut melarikan diri. Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya Pangeran Samudra dan ibu Ontrowulan beserta para pengikutnya sampai pada suatu tempat yang agak berbukit, dan mereka beristirahat sejenak di bukit tersebut. Pada waktu istirahat di bukit tersebut, Pangeran Samudra melihat suatu keanehan pada bukit tempat ia beristirahat. Diatas bukit tersebut tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap atau kukus. Berhubung bukit tersebut belum ada namanya, maka sesuai dengan amanat Pangeran Samudra bukit itu diberi nama Kemukus. Akhirnya Kemukus dijadikan tempat persembunyian terakhir Pangeran Samudra dan ibu Ontrowulan. Selama ditempat persembunyian, yaitu Kemukus, Pangeran Samudra menderita sakit dan ibu Ontrowulan sangat sedih melihat kondisi anaknya tersebut. Lama-kelamaan sakit yang diderita Pangeran Samudra sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh dari kemungkinan untuk sembuh. Melihat kondisinya semakin parah, Pangeran Samudra akhirnya berpesan pada ibunya, bahwa jika ia meninggal, maka jasadnya agar dikuburkan di bukit Kemukus. Akhirnya ia meninggal dunia. Setelah mengetahui anaknya meninggal dunia, maka ibu Ontrowulan seketika itu juga pingsan. Kemudian setelah siuman beliau berpesan apabila ia meninggal, maka jenazahnya agar dikuburkan dalam satu liang lahat dengan Pangeran Samudra, akhirnya ia meninggal dunia di tempat itu juga.

[30]

4.1.5 Cerita Pangeran Samudra Versi Pendatang Pengeran Samudra adalah seorang Pangeran yang kasmaran dan jatuh cinta pada ibu kandungnya sendiri, yaitu Raden Ayu Ontrowulan. Hubungan cinta antara anak dan ibu ini terus berlanjut sampai beberapa waktu lamanya. Tidak disangka, akhirnya hubungan asmara gelap itu terbongkar oleh ayah Pangeran Samudro, yaitu Prabu Brawijaya V hingga membuatnya murka. Pangeran Samudra kemudian diusir dari istana. Dalam kesedihannya, Pangeran Samudra kemudian melanglang buana ke berbagai daerah dan akhirnya sampai di suatu desa yang bernama Kemukus. Tak lama kemudian, sang ibunda menyusulnya ke Gunung Kemukus untuk melepaskan kerinduan. Seteleh lama tidak bertemu, timbullah hasrat dalam benak mereka untuk melakukan hubungan intim. Namun sial, belum sempat ibu dan anak ini melakukan hubungan intim, penduduk sekitar memergoki mereka berdua, dan akhirnya penduduk merajamnya secara beramairamai. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, Pangeran Samudra sempat berpesan, barang siapa yang dapat melanjutkan hubungan suami-istrinya yang sempat tidak terlaksana itu, maka akan terkabul semua permintaannya. Adapun ucapannya ³ Baiklah aku menyerah, tapi dengarlah sumpahku. Siapa yang mau meniru perbuatanku itulah yang menebus dosaku dan aku akan membantunya dalam bentuk apapun´, hingga akhirnya keduanya meninggal dunia. Keduanya kemudian dikuburkan dalam satu liang lahat di gunung itu juga. Namun terlepas dari banyaknya mitos tersebut menurut penulis masih terdapat satu cerita lagi yang paling mendekati kebenaran yaitu cerita dari di as n pariwisata, hal ini dikarenakan adanya bukti silsilah Pangeran Samudro yang otentik. Berikut adalah cerita dari dinas pariwisata

4.1.6 Cerita versi dinas Pariwisata Pangeran Samudro merupakan putera dari Panembahan Serang seorang Adipati di kota Serang dan Raden Ayu Mursiyah atau sering disebut juga Nyai Ageng Serang(Djajadi, 2010: 9). Beliau merupakan puteri dari Sri Sultan Hamengkubuwono II. Sedangkan Panembahan Serang adalah putera dari Sunan Hadi yang merupakan anak dari Sunan Kalijaga, dengan ini dapat diketahui

[31]

bahwa Pangeran Samudro masih mempunyai hubungan darah dengan Sunan Kalijaga. Panembahan Serang dan Raden Ageng Serang adalah seseorang yang sangat gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Perjuangan mereka sangat gigih hingga pada Akhirnya Belanda mampu melemahkan kekuatan mereka dengan membumi hanguskan Kota Serang. Melihat kondisi yang semakin terdesak maka Panembahan Serang memutuskan untuk menyingkir di suatu tempat untuk menyusun kekuatan. Beliau menyingkir dibukit yang cukup tinggi agar dapat memantau keadaan Kota Serang. Anak-anak dari Panembahan Serang sendiri saling bercerai berai, seperti yang dialami oleh Pangeran Samudro, beliau menyingkir di daerah gunung lawu beserta kedua abdinya. Setelah dirasa cukup aman beliau turun bersama kedua abdinya sampai di daerah Gondang Jenalas. Sang pangeran pun akhirnya tinggal di sana. Beliau sangat mendalami Agama Islam. Hal ini dapat dimaklumi menginggat beliau adalah cucu dari seorang wali yakni Sunan Hadi dan Sunan Kalijogo(eyang buyutnya). Di gondang Jenalas beliau mendirikan pesantren sederhana dan menjadi guru ngaji pada warga sekitar. Lambat laun santri beliau semakin banyak hingga sampai pada akhirnya sudah ada santri yang mampu mengganti kedudukan beliau mengurusi pesantren. Oleh karena itu Pangeran Samudro dan kedua abdinya pergi ke arah barat ada yang mengatakan tujuan beliau adalah menuju

Demak(kadilangu). Ditengah perjalanan ketika sampai di daerah dukuh Kabar Kecamatan Gemolong beliau menderita sakit akan tetapi beliau tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalananya sehingga menyebabkan penyakit beliau semakin bertambah parah. Pada Akhirnya Pangeran Samudro tidak mampu lagi menahan sakitnya dan meninggal di daerah yang sekarang di sebut dengan Gunung Kemukus. Sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan kepada kedua abdinya agar menusul ibunya, mendengar berita sakitnya Pangeran Samudro Nyai Ageng Serang lantas menyusul ketempat dimana Pangeran jatuh sakit. Akan tetapi Nyai Ageng Serang sudah terlambat dan menemui Pangeran Samudro sudah dalam keadaan tidak bernyawa.

[32]

Seketika itu juga Nyai Ageng Serang Jatuh pingsan setelah siuman Nyai Ageng Serang segera bersuci dan membersihkan diri di suatu sendang yang sekarang sering disebut sebagai sendang Ontrowulan, Ontrowulan sendiri adalah nama lain dari Nyai Ageng Serang lengkapnya adalah Raden Ayu Ontrowulan. Sepeninggalnya Pangeran Samudro Nyai Ageng Serang meneruskan perjuangan melawan penjajah bersama pasukan ³Semut Ireng´ yang dipimpinya sampai akhirnya beliau meninggal di Desa Beku, Kulon Progo dan di makamkan di sana. 4.2 Interpretasi yang keliru tentang mitos Pangeran Samudro Ada sebuah pesan dari Pangeran Samudro yang berkembang subur dikalangan masyarakat baik penduduk asli maupun pendatang kata-kata tersebutlah yang menjadi dasar legitimasi adanya ritual seks di Gunung Kemukus. Seperti penuturan yang diberikan oleh salah seorang penduduk(anak dari juru kunci makam Pangeran samudro) kata-kata tersebut adalah sebagai berikut: ³Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang slewing, kudu mindeng marangkang katuju, cedakno dhemene kaya dene arep nekani maring panggonane dhemenane´. Yang artinya adalah sebagai berikut ³Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan mantap, dengan hati yang suci, jangan serong kanan/kiri harus konsentrasi pada apa yang dikehendaki/diinginginkan dekatkan keinginan seakan-akan seperti

menuju ketempat kesayanganya/kesenanganya´. Penuturan dari beberapa mucikari, PSK dan penjual jamu di Gunung Kemukus kata dhemenan pada pesan Pangeran Samudro diatas diartikan sebagai pacar atau selingkuhan. Jadi menurut mereka bagi orang yang ingin berziarah ke makam Pangeran Samudro dan ingin tujuanya tercapai lebih baik bahkan wajib jika membawa pacar/selingkuhan. Maksudnya, setelah ziarah ada beberapa orang
[33]

yang berpendapat untuk wajib melakukan hubungan seks ataupun yang mengatakan lebih baik melakukan hubungan seks. Tentunya interpretasi seperti sangat keliru karena mereka tidak melihat konteks ziarah itu sendiri. Kata dhemenan pada pesan pangeran samudro tersebut seharusnya ditafsirkan sebagai keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera tercapai seperti seakan-akan menemui kekasih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti dari ziarah ke Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai tujuan/cita-cita tersebut harus dilakukan dengan cara sungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yangyang akan dicapai/dituju. Dengan demikian akan terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan itu dengan mudah. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh juru kunci dan beberapa peziarah. 4.3 Nilai-nilai Keteladanan Pangeran Samudro Terlepas dari adanya cerita yang dikembangakn oleh masyarakat pendatang, dari cerita-cerita lainya tentu dapat dilihat nilai-nilai keteladanan dari Pangeran Samudro. Tujuan ziarah sendiri sebenarnya adalah mendekatkan kepada Tuhan dengan mengunjungi makam orang-orang yang memiliki jasa baik kepada Agama, Negara ataupun masyarakat. Hal-hal yang perlu diteladani oleh para peziarah dari seorang figur Pangeran Samudro adalah : 1. Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa 2. Menghargai orang tua sebagai perantara lahir manusia ke dunia. 3. Selalu taat dan setia kepada negara dan Sultan (Pemerintah) 4. Tidak takut menghadapi kesukaran,dan penderitaan dalam menunaikan tugas. 5. Seorang tokoh pendamai/pemersatu bangsa dan selalu bertanggung jawab.

[34]

BAB V RITUAL NGALAP BERKAH, PERGESERAN MAKNA SEBUAH ZIARAH

5.1 Prosesi Ritual Ngalap Berkah di Gunung Kemukus

Ngalap berkah dalam pemahaman peziarah adalah mendatangi makam Pangeran Samudro dan mengadakan ritual-ritual tertentu dengan maksud agar keinginanya terkabul. Untuk melaksanakan ritual tersebut terdapat cara-cara tersendiri yang berbeda dari ritual ziarah pada umumnya(umat Islam). Para peziarah dapat dikenali dengan cirinya yang membawa perlengkapan nyekar dua bungkus yang masing-masing berisi; bunga mawar merah, putih dan kantil, menyan, minyak wangi, dan botol air. Mereka dapat membawanya dari rumah ataupun membelinya di tempat ziarah. Menurut salah satu penjual bunga di tempat tersebut, prosesi pertama yang harus dilakukan para peziarah adalah mereka diwajibkan untuk pergi ke Sendang Ontrowulan untuk membersihkan badan, wudhu dan lebih utamanya adalah mandi hal ini bertujuan untuk membersihkan jiwa sebelum melakukan nyekar selain itu hal ini juga sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Dewi Ayu Ontrowulan ketika ingin menemui Pangeran Samudro(anaknya) yang telah meninggal. Selain itu juga di utamakan untuk mengambil air di Sendang tersebut dikarenakan air dari sendang tersebut dipercayai mempunyai kekuatan gaib untuk mengobati berbagai macam penyakit, oleh karena itu banyak pengunjung yang membawa air tersebut pulang. Setelah itu peziarah diwajibkan melakukan nyekar di tempat yang sudah disediakan disamping sendang tersebut, tempat tersebut lumayan cukup luas. Sebelum masuk ke tempat nyekar para peziarah diwajibkan melepas alas kaki serta masuk antre dua orang dua orang. Ditempat tersebut mereka akan menemui petugas dari dinas pariwisata(penjaga sandal) yang akan mengecek perlengkapan nyekar tadi. Dan setelah perlengkapan lengkap baru mereka dipersilahkan untuk masuk. Setelah itu mereka akan menemui juru kunci dan sebelum juru kunci akan melakukan prosesi nyekar mereka akan ditanya nama, pekerjaan, maksud dan tujuan yang diinginkan. Menurut salah satu juru kunci, para peziarah diharuskan

[35]

memantapkan keyakinan

dengan bersungguh-sungguh dan tidak main-main

karena jika peziarah tidak memantapkan hatinya maka ziarah tersebut akan sia-sia saja dan tidak menghasilkan apapun selain itu juga akan mendapatkan akibat yang tidak baik bagi peziarah dikarenakan murka dari Pangeran Samudro. Setelah prosesi nyekar tahap pertama selesai sebagai tanda terima kasih para peziarah menyerahkan sejumlah uang kepada Juru kunci sebesar kemampuan/seikhlasnya para peziarah. Prosesi nyekar tahap kedua bertempat di makam Pangeran Samudro, untuk sampai kesana peziarah diharuskan berjalan kaki menaiki jalan m enanjak, hampir sama dengan tata cara nyekar di Sendang Ontrowulan, maka para peziarah ditempat ini juga diwajibkan melepas alas kaki dan mengantre dua orang dua orang, setelah itu para peziarah menemui juru kunci, memeperkenalkan diri serta mengatakan maksud dan tujuanya dan setelah prosesi nyekar tahap kedua ini selesai para peziarah menabur bunga yang telah dibawa, beserta minyak wangi di makam Pangeran Samudro, disaat tersebut ada beberapa peziarah yang mencoba memilah milah bunga dengan tujuan mencari bunga kantil yang telah ditaburkan, hal ini dikarenakan dalam kepercayaan mereka semakin banyak bunga kantil yang ditemukan maka permintaan/maksud mereka akan semakin cepat terkabul. Arti dari kata kantil sendiri adalah ³ikut´ sehingga dapat ditemukan makn a filosofisnya.

t
Gambar 7. Juru Kunci dan para Peziarah

[36]

5.2 Waktu Pelaksanan Ritual Ngalap Berkah Berdasarkan penuturan Juru kunci, peziarah dan para pendatang, pelaksanaan ziarah Ngalap berkah ini ditentukan berdasarkan waktu -waktu yang dianggap lebih utama dari pada waktu lainya, waktu-waktu tersebut adalah sebagai berikut: 1. Setiap hari selalu ada pengunjung yang berziarah ke makam pangeran Samodro meskipun tidak banyak, misalnya melakukan pati geniselama beberapa hari di sana. 2. Setiap kamis malam jum¶at jumlah pengunjung lebih banyak dari hari-hari biasa. 3. Setiap kamis malam jum¶at pond an kamis malam jum¶at kliwon merupakan puncak kunjungan wisatawan/ peziarah. Tidak kurang dari 10.000 pengunjung dari berbagai daerah di Jawa dan di Luar Jawadatang untuk berziarah di tempat ini. Puncak kunjungan wisatawan/peziarah di Gunung Kemukus terjadi setiap malam Jum¶at Pon di bulan Suro/ Moharram. Pengunjung malam Jum¶at Pon di bulan Suro/ Muharram mencapai 15.000 orang dan pada malam Jum¶at Kliwon di bulan Suro/ Muharram mencapai 7.000 orang. Pada hari pertama di bulan Suro/ Muharram diadakan ritual pencucian selambu makam Pangeran Samodro, yang biasa disebut dengan ritual Larab Selambu/ Larab Langse, yang dilanjutkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara rutin tahunan di objek wisata ini.

5.3 Ritual pelengkap lainya 5.3.1 Tirakatan Tirakatan ini dilakukan oleh para peziarah setelah mereka se lesai melakukan prosesi nyekar. Pada umumnya tirakatan dilakukan di pendopo yang terletak di sekelililng makam Pangeran Samudro, namun ada pula orang yang melakukan tirakatan tersebut di teras-teras makam, tirakatan ini dilakukan pada waktu malam hari dan menurut para pengunjung yang ditemui paling baik adalah malam jumat pon ataupun kliwon. Tirakatan ini berupa tidak tidur atau melek

[37]

dalam bahasa jawanya, tidak ada cara yang pasti dalam tirakatan ini, ada peziarah yang tidur-tiduran, duduk, berdiri, bercerita, ada yang membaca ayat-ayat Al Quran, bahkan ada pula yang sambil mencari pasangan untuk diajak melakukan ritual seks. Yang paling penting dalam tirakatan ini adalah tidak tidur. Dan semakin lama peziarah mengadakan tirakatan dengan menahan ngantuknya, maka maksud dan tujuan yang ingin dicapai akan semakin cepat terwujud.

5.3.2 Slametan Slametan merupakan suatu ritual yang diadakan setelah para peziarah mendapatkan kesuksesan/hajatnyab terkabul. Slametan ini lebih identik dengan ucapan rasa syukur kepada Pangeran Samudro, oleh karena itu Slametan ini biasanya diadakan di depan makam Pangeran Samudro. Hal ini sebagai pertanda bahwa mereka tidak lupa akan jasa Pangeran Samudro yang telah membantu untuk memenuhi hajat mereka. Slametan harus diadakan di kawasan Gunung Kemukus dan slametan yang diadakan diluar kawasan gunung kemukus dianggap tidak ada artinya. Dalam slametan ini para peziarah yang sudah terpenuhi hajatnya membawa makanan berupa nasi kluban serta jajanan pasar lainya. Yang unik dalam slametan ini adalah menurut keyakinan beberapa peziarah maupun penduduk setempat nasi hasil slametan tersebut dapat menjadi obat berbagai macam obat penyakit dengan cara dikeringkan dahulu setelah itu diminumkan pada oaring sakit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Endang Sumiarni dkk.(1999:59) sebelum mengadakan prosesi slametan para peziarah diharuskan terlebih dahulu memberitahukanya kepada juru kunci. Juru kunci akan membantunya kemudian membuat jadwal kapan slametan akan dilakukan. Kepada setiap peziarah yang ingin mengadakan slametan sesuai dengan kemampuan, slametan ini dilakukan pada sekiatar pukul 17.00-19.00 malam. Kadang-kadang para peserta slametan tidak mengenal satu sama lain. Jumlah peserta slametan tidak menentu sesuai dengan kemampuan peserta memberi hidangan. Mereka duduk mengelilingi hidangan. Juru kunci dan pembantunya juga ikut hadir dalam acara itu demikian juga modin membacakan ayat-ayat Al Quran serta doa-doa dalam acara tersebut. Slametan ini dapat dilakukan baik secara perorangan

[38]

ataupun kelompok. Konsekuensinya adalah slametan yang dilakukan sendiri akan menelan biaya cukup banyak sedangkan yang dilakukan secara kelompok akan lebih ringan dikarenakan baiaya slametan ditanggung bersama. Ritual slamatan ini dimulai dengan pembukaan serta sambutan yang dilakukan oleh juru kunci setelah itu Juru Kunci dan mudin memulainya dengan bacaan-bacaan doa ujub atau doa pembukaan dalam bahasa kromo iinggil. Doa ini biasanya berisi ucapan salam kepada para peserta semoga para peserta senantiasa diberkati oleh nabi. Setelah itu Juru Kunci menerangkan bahwa dia hanya sebagai perantara yang akan meneruskan doanya kepada Pangeran Samudro. Acara selanjutnya adalah pembacaan ayat-ayat Al Quran oleh modin dan disusul dengan doa pada saat prosesi doa ini peserta duduk bersila sambil menengadahkan tanganya dan dibarengi disambut ucapan amin.

Gambar. Ritual slamatan

5.3.3 Seks Tidak terdapat perbedaan pendapat akan ritual tirakat dan slametan yang telah dituturkan diatas, akan tetapi berbeda dengan ritual seks ini beberapa pihak ada yang membenarkan dan ada yang menyalahkan untuk ritual seks ini terdap at beberapa pendapat antara lain sebagai berikut: 1. Pendapat yang tidak memperbolehkan ritual seks, pendapat ini dikeluarkan oleh beberapa Juru Kunci. Namun ketika mereka ditanya mengapa tidak melarang para peziarah untuk melakukan ritual ini mereka menjawab bahwa peziarah akan semakin berkurang jika ritual seks ini dilarang. Berkurangnya

[39]

jumlah peziarah tentu akan berakibat pada berkurangnya pemasukan dari desa, pariwisata dan Juru Kunci dengan sendirinya. 2. Pendapat yang menyatakan bahwa ritual seks ini dilakukan sesuai keyakinan. Jika seseorang itu mantap untuk melakukan ritual maka dia harus melakukanya. Dan jika dia mantap untuk tidak melakukan ritual maka dia boleh untuk tidak melakukanya. Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa peziarah dan penjual bunga. 3. Pendapat yang menyatakan lebih baik dan utama untuk melakukan ritual seks, pendapat ini berdasarkan bahwa para peziarah yang sudah terpenuhi hajatnya adalah mereka yang melakukan ritual seks. Selain itu mereka juga berpegang pada mitos negative Pangeran samudro. Pendapat ini banyak dituturkan oleh para penjual jamu serta para pemilik kamar sewaan 4. Pendapat yang mewajibkan untuk melakukan ritual seks, menurut mereka inti dari ziarah ngalap berkah ini adalah ritual seks, dan itulah yang membedakan dengan tempat-tempat pesugihan lainya karena tidak ada tumbal dan bahaya yang ditimbulkan akan tetapi malah mendapatkan kenikmatan dengan melakukan seks bebas. Pendapat ini banyak dituturkan oleh para PSK. Ritual seks ini lebih utama dilakukan di depan makam Pangeran Samudro, karena itulah di depan makam tersebut banyak tenda-tenda yang didirikan namun sesuai perkembangan lokasi yang semakin ramai, mereka mulai malu untuk melakukanya didepan makam dan beralih di kamar-kamar yang telah disediakan baik oleh penduduk maupun mucikari. Ritual seks ini juga lebih utama jika umur laki-lakinya lebih muda dari pada umur perempuanya. Sebagai patokanya adalah sekira laki-laki tersebut pantas memanggil wanita itu ibu. Mereka yang berpendapat demikian ini berdasarkan pada kisah Pangeran Samudro yang menyukai ibunya. Setelah melakukan hubungan seks lebih utamanya lagi, mereka mandi di sebuah sendang yang terletak di dekat pintu gerbang masuk, sendang tersebut bernama Sendang Taruno.

[40]

5.4 Motif Pengunjung dan Peziarah Mayoritas pengunjung di Gunung Kemukus berusia 35 tahun ke atas dengan pendidikan yang bermacam-macam. Yang paling banyak adalah berpendidikan SMP dikuti oleh SMA kemudian SD. Dari berbagai macam pengunjung ini memiliki tujuan atau motivasi yang berbeda-beda pula dalam mengunjungi Gunung Kemukus. Diantaranya sebagai berikut: 1. Pengunjung datang ke gunung Kemukus untuk berziarah. Ini merupakan mayoritas tujuan para pengunjung. 2. Pengunjung dating ke Gunung Kemukus hanya ingin menetahui hal-hal yang berhubungan dengan Gunung Kemukus. 3. Pengunjung dating ke Gunung kemukus untuk bekerja. Seperti: berjualan bunga, berjualan jamu, mengemis, PSK dan Lain sebagainya. Mereka itu biasanya dating pada hari-hari tertentu saja ketika banyak peziarah. 4. Pengunjung dating ke Gunung Kemukus untuk memanfatkan situasi dan kondisi di sana, seperti: berhubungan seks bebas, minum minuman keras dan perbuatan criminal lainnya. Sedangkan para Peziarah sendiri memiliki berbagai macam tujuan dalam melakukan ritual ³ngalap berkah´. Diantaranya adalah: 1. Motif Ekonomi. Motif ini merupakan mayoritas pendorong para peziarah untuk melakukan ritual ³ngalap berkah´. 2. Motif Kenaikan Jabatan. Motif ini biasanya berasal dari para karyawan, pejabat, pegawai dan lain sebagainya. 3. Motif untuk kelulusan ujian, seperti ujian PNS, Ujian masuk Pabrik, dan ujian-ujian lainnya. 4. Motif mendapatkan jodoh. Motif ini biasanya dimiliki oleh mereka yang berstatus janda/duda.

[41]

5.5 Keyakinan para peziarah tentang ngalap berkah Ada berbagai pandangan para peziarah tentang konsep ngalap berkah, sesuai dengan latar pendidikan dan keyakinan mereka adapun keyakinan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Ngalap berkah/berziarah ke makam Pangeran Samudro hanyalah sebuah usaha agar kita dapat ingat akan kematian dan mengambil

ketularan/ngalap, dari sifat-sifat beliau yang terpuji serta jasa-jasa beliau yang besar. Dengan ziarah ini peziarah di harapkan dapat meniru sifat-sifat terpuji dari Pangeran Samudro, pendapat ini sama halnya dengan ziarah di makam-makam tokoh lainya seperti wali, kyai dan sebagainya. Hanya sebagian kelompok kecil saja yang berpendapat demikian. 2. Ngalap berkah merupakan sebuah ritual yang melalui ritual tersebut para peziarah dapat terpenuhi keinginan/hajat serta maksudnya. Pangeran Samudro hanya dianggap sebagai perantara untuk menyampaikan maksud peziarah kepada Tuhan YME/Allah. Jadi menurut mereka yang mengabulkan maksud kita adalah Allah bukan Pangeran Samudro., Hal ini dikarenakan Pangeran Samudro sendiri adalah orang yang memiliki sifat sifat terpuji sehingga dianggap dekat dengan Allah. Pendapat ini dituturkan diantaranya oleh para juru kunci makam dan tokoh masyarakat setempat. 3. Ngalap berkah merupakan sebuah ritual yang dengan melaksanakan ritual tersebut semua hajat/keinginan kita yang berhubungan dengan hal-hal duniawi akan terkabulkan. Asalkan disertai dengan keyakinan dan kemantapan memohon kepada Pangeran Samudro. Menurut pandangan mereka Pangeran Samudro adalah seseorang yang memiliki kesaktian berlebih, mereka tidak mempersoalkan apakah Pangeran samudro itu orang yang baik/terpuji atau tidak yang mereka utamakan adalah terkabulnya hajat mereka. Menurut mereka arwah Pangeran Samudro tetap hidup diantara mereka dan melihat mana orang yang melaksanakan ritual dengan sungguh-sungguh ataupun tidak sehingga Pangeran Samudro dapat memilah-milah mana permohonan yang akan dikabulkan ataupun

[42]

tidak dikabulkan. Keyakinan ini merupakan keyakinan mayoritas dari para peziarah, pendatang dan penduduk desa. Ritual ziarah ini bagi mereka lebih tepat disebut sebagai pesugihan. Akan tetapi meski demikian ada beberapa dari mereka yang tidak lantas lalu meninggalkan keyakinan Agama secara total. Dari mereka ada yang tidak mau melaksanakan ritual seks(walaupun mayoritas dari mereka banyak yang melakukanya dengan alasan Pangeran Samudro dahulu juga melakukan hal-hal semacam itu). Beberapa peziarah menuturkan hajat mereka sedikit demi sedikit terpenuhi dengan keistiqamahan/kerajinan mereka mengikuti ritual ziarah selama tujuh kali. Cepat/tidaknya hajat terpenuhi tergantung dari kesungguhan mereka dalam melaksanakan prosesi ritual, ada yang empat kali ziarah sudah terdapat kemajuan dalam usahanya ada yang baru lima kali ziarah bahkan ada yang sudah berulang-ulang melaksanakan ziarah akan tetapi maksud dan tujuanya tidak kunjung juga terkabul. Seorang peziarah menuturkan bahwa dia telah lama melakukan usaha mencari pesugihan diberbagai makam yang dianggap memiliki kekuatan ghaib tersendiri. Akan tetapi dia merasakan kelebihan melakukan ritual di makam Pangeran Samudro dibanding dengan makam-makam lainya.

[43]

BAB VI ANALISIS, KRITIK DAN SARAN

6.1 Analisis Transisi masyarakat keagamaan merupakan hal yang tak dapat dielakkan. Meski Agama bersifat tetap namun para pemeluknya akan senantiasa mengalami proses perubahan. Oleh karena itu sejak lahirnya agama sudah membatasi sejauh mana perubahan-perubahan itu agar tetap bersesuaian dengan ajaran agama. Terutama dalam masalah keyakinan/keimanan agama secara tegas melakukan pembatasan dan mengancam dengan memberikan sanksi hukum yang besar. Namun dalam kenyatanya terkadang agama tidak mampu membendung arus perubahan dalam masyarakat, agama yang seharusnya memiliki kontrol sosial paling besar menjadi melemah hal ini tentu dikarenakan oleh beberapa faktor yang berada dari luar agama itu sendiri. Oleh karena itu melihat dari data -data yang telah dipaparkan maka dapat dianalisa hal-hal yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini. Ziarah makam Pangeran Samudro merupakan suatu bentuk penyimpangan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Gunung Kemukus khususnya dan para peziarah serta pendatang pada umumnya. Hal ini dikarenakan masyarakat tersebut telah merubah suatu sistem keyakinan agama demi kepentingan mereka sendiri. Mereka merubah konsep keimanan mereka terutama dalam hal rizki dan kesuksesan. Bahkan lebih dari itu mereka telah melanggar tatanan hokum agama dengan melakukan perbuatan seks bebas/zina yang dilarang dalam agama manapun. Ritual ziarah yang memilki aspek-aspek religiusitas tinggi dan merupakan suatu bentuk ibadah dalam agama mereka transformasikan menjadi suatu alat untuk mendapatkan kenikmatan dunia saja dan walaupun dalam ritual tersebut mereka masih menggunakan cara-cara yang ada dalam agama seperti hadrah, shalawat dan doa. Tetapi dalam keyakinan mereka sudah menyimpang jauh dari tujuan ritual itu sendiri sebenarnya. Hal ini tentunya sangat unik, mengapa agama begitu bisa ³dipermainkan´ oleh para pemeluknya. Oleh karena itu berdasarkan data-data yang telah ada

[44]

dapat diketahui bahwa factor-faktor penyebab transisi masyarakat keagamaan adalah sebagai berikut: 1. Faktor Ekonomi, factor ini merupakan penyebab paling dominan dalam perubahan masyarakat di Gunung kemukus, para peziarah dan pendatang. Hal ini terlihat dalam konsep-konsep mereka yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Juru Kunci, walaupun mereka tidak dinas pariwisata, dan pihak desa misalnya

memperbolehkan adanya ritual seks akan tetapi

mereka tidak mencegah para peziarah melakukan ritual tersebut, pencegahan hanya mereka lakukan secara setengah-setengah tanpa adanya tindakan yang konkrit. Alasanya tidak lain adalah akan berkurangnya pemasukan kas masing-masing pihak tersebut. Dengan ini pada dasarnya mereka tetap memperbolehkan ritual seks. Para penjual yang berada di kompleks gunung kemukus(penjual peralatan nyekar, jamu, makanan dan sebagainya) walaupun mereka tahu bahwa mereka berjualan di tempat yang penuh pertentangan dengan hukum agama toh mereka tetap berjualan ditempat tersebut bahkan dari mereka ada yang mencoba membujuk para peziarah dengan keyakinan-keyakinan ritual yang jelas-jelas bertentangan dengan agama seperti yang dilakukan seorang penjual jamu dan pemilik persewaan kamar yang meyakinkan para peziarah untuk melakukan hubungan seks dengan tujuan agar dagangan mereka laku. Hal ini tentu kembali kepada aspek ekonomi tadi, Gunung kemukus beserta pesona ritual pesugihan dan seks yang dimiliki tentu memilki potensi ekonomi yang lebih untuk membuat dagangan mereka laku. Para peziarah sendiri melakukan ritual ini beserta keyakinan-keyakinan pesugihan yang mereka yang mereka miliki tentunya telah bertentangan dengan ajaran agama, terlebih pada ritual seks yang mereka lakukan yang jelas-jelas bertentangan dengan kaidah hukum dan moral yang ada dalam agama. Akan tetapi uniknya, meskipun demikian mereka mengaku masih memilki dan meyakini agama yang mereka anut, Hal ini tidak lain dan tidak bukan dikarenakan alasan ekonomi yang menghimpit mereka walaupun

[45]

terkadang ada alasan-alasan lain seperti kelulusan ujian, jodoh dan lainya akan tetapi factor ekonomilah yang paling dominan. Para PSK serta para mucikari, mereka bersedia mengorbankan keyakinan agama mereka dengan menjual diri mereka demi uang yang akan mereka dapatkan, mereka tidak memperdulikan apakan nantinya akan terkena penyakit kelamin ataupun tidak, semua itu mereka lakukan demi menyambung kehidupan mereka yang sudah terlanjur seperti itu. Dari kesemua penjelasan tersebut dapat dilihat pula dalam tabel data angka kemiskinan yang ada dikecamatan Sumber lawang yang mencapai rata-rata 60%, selain itu dapat juga dilihat dari pekerjaan mereka yang mayoritas buruh dan memiliki penghasilan yang tidak tetap sehingga mereka membutuhkan penghasilan lain untuk mencukupi kebutuhan mereka, dan salah satunya dengan memanfaatkan adanya obyek wisata Gunung Kemukus. 2. Faktor budaya Kebudayaan masyarakat Gunung Kemukus memiliki sumbangan tersendiri dalam mempengaruhi transisi masyarakat keagamaannya, masyarakat gunung kemukus ini cenderung kejawen dengan kepercayaan akan animisme dan dinamisme yang cukup tinggi, hal ini tentu sangat kontras dengan ajaran agama yang cenderung menuju rasionalisasi. Keyakinan ini tidak hanya sebatas pada masyarakat Gunung Kemukus itu sendiri akan tetapi juga mereka sebarkan pada para peziarah dan pendatang yang mayoritas adalah kaum abangan. Kaum abangan dengan dasar pengetahuan yang rendah akan agama ini akan mudah terpengaruh dan terjerumus dalam keyakinan keyakinan yang bertentangan dengan hukum agama yang mereka anut. 3. Factor pendidikan Rata-rata pendidikan masyarakat di Gunung Kemukus, peziarah dan pendatang yang masih rendah merupakan salah satu factor penyebab transisi keagamaanya. Mereka cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat irasional dan mudah menerima kepercayaan-kepercayaan tertentu dengan konsekuensi kepercayaan itu memiliki dampak nyata dalam kehidupanya.

[46]

4. Factor psikologis Dari para peziarah dan pendatang terdapat beberapa golongan yang memang sengaja memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada di Gunung Kemukus demi keinginan mereka. Seperti para pengunjung yang memanfaatkan tempat tersebut untuk berhubungan seks saja tanpa melakukan ritual ziarah, selain itu juga ada yang sengaja berjualan minuman keras ditempat ini, hal ini dikarenakan menurut mereka tempat ini bebas dari dan lebih aman adanya razia. Pada prinsipnya dalam diri mereka memang sudah ada niat untuk melakukan pelanggaran dengan memanfaatkan situasi yang ada.

Factor-faktor tersebut begitu jauh mempengaruhi transisi masyarakat keagamaan baik para peziarah, pendatang maupun masyrakat desa kemukus itu sendiri. Pengaruh itu begitu besar mulai dari perubahan tatanan hukum sampai kepada perubahan tataran keimanan yang mereka miliki, kepercayaan agama mereka meski disadari ataupun tidak telah berubah kepada kemusyrikan yang sangat dikecam oleh agama. Factor tersebut mempengaruhi transisi masyarakat keagamaan melalui aspek psikologis tiap-tiap individu, keadaan dunia nyata yang terus mengimpit akan mengubah cara pandang mereka menjadi lebih pragmatis dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan keinginan mereka setelah itu hal ini juga didorong dengan adanya aspek sosial yang mendukung, suatu masyarakat yang merasa mengalami persamaan nasib akan berusaha sama -sama untuk merubah tata nilai keagamaan yang sudah tidak mampu memenuhi keinginan mereka. Mereka mencari cara lain dengan menafsirkan secara keliru kaidah-kaidah agama dan disesuaikan dengan keinginan yang mereka miliki. Jika ingin dicermati lebih dalam sebenarnya ziarah di makam Pangeran Samudro memiliki makna yang teramat dalam hal ini dapat dilihat dari perjuangan hidup Pangeran Samudro itu sendiri, dalam ziarah ngalap berkah ini sebenarnya para peziarah ditekankan agar bisa meniru sifat-sifat terpuji dan memenuhi hidupnya dengan perjuangan seperti apa yang dilakukan oleh Pangeran Samudro. Dalam menempuh kehidupan diajarkan oleh Pangeran Samudro jika para peziarah memiliki cita-cita yang luhur maka harus disertai dengan keinginan yang kuat

[47]

serta keteguhan jiwa, jangan mudah goyah diterpa ujian maka orang tersebut akan mendapatkan apa yang dicita-citakanya.

4.1 Kritik dan solusi Dalam menghadapi transisi masyarakat keagamaan di Gunung Kemukus terdapat 3 golongan yang paling bertanggung jawab yaitu pemerintah, pemuka agama dan juru kunci, selain mengecam adanya ritual pesugihan dan seks mereka juga harus melakukan tindakan konkret dengan membubarkan bisnis prostitusi serta minuman keras yang ada di tempat tersebut. Untuk juru kunci sendiri dia harus mejelaskan makna ziarah sesungguhnya seperti apa yang ada dan kesesuaianya dengan ajaran agama. Dan untuk pemuka agama harus berani dengan lantang mengecam bisnis prostitusi yang ada dengan menunjukkan adanya sanksi-sanksi yang ada dalam hukum agama.

Gambar 8 larangan ini hanya bersifat formalitas tanpa adanya tindakan yang nyata.

Untuk menghadapi bentrokan yang ada pada masyarakat, terutama dalam masalah ekonomi dapat dilakukan dengan memprogramkan adanya sosialisasi sosialisasi bidang kewirausahwan, para warga diberikan kemampuan untuk melakukan proses produksi. Dengan produksi yang meningkat dan kemampuan warga yang bertambah tentu akan menambah kesejahteraan warga dan secara tidak langsung akan menambah pemasukan pemerintah. Tidak sampai disitu saja pemerintah dalam hal ini juga dituntut untuk memberikan modal usaha dengan bunga yang rendah bahkan bebas bunga.

[48]

Selain itu genangan air luapan waduk kedung ombo sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang tinggi, tempat tersebut dapat digunakan sebagai sarana perikanan terutama ikan air tawar. Tempat ini juga dapat digunakan sebagai wisata musiman yang indah, hal ini sesuai dengan gagasan salah seorang petugas dari dinas pariwisata yang pernah mencoba merubah genangan air tersebut menjadi tempat wisata tirta, dinas menyediakan lampu-lampu yang besar, serta perahu-perahu boat untuk para pengunjung yang ingin berefreshing. Akan tetapi lagi-lagi hal ini tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah sehingga banyak sarana prasarana yang ada menjadi rusak dan genangan air tersebut hanya berfungsi seperti semula. Untuk para PSK perlu diberikan rehabilitasi dan diberikan tentang bahaya seks bebas baik dalam bidang kesehatan maupun agama. Setelah direhabilitasi para pekerja seks ini diberi keterampilan-keterampilan untuk menopang ekonomi kehidupanya. Masyarakat perlu diberikan sosialisasi agar mau menerima mereka kembali dalam anggota masyarakat. Dan yang terakhir, untuk orang-orang yang memang dengan sengaja memanfaatkan kesempatan demi tindakan kriminal yang mereka sadari perlu diberikan sanksi yang tegas sesuai hukum pidana.

[49]

DAFTAR PUSTAKA

Bustanuddin, Agus. 2006. Agama dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: PT Raja Grafindo Djajadi. 2006. Jejak Pangeran Samudro. Surabaya: CV Lancar Endang, Sumiarni dkk. 1999. Seks dan ritual di Gunung Kemukus. Yogyakarta: Pusat Penelitian dan Kependudukan Hendropuspito. 1986. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius Muchsan, Ali. 2006. Mitos dan cerita Pangeran Samudro di Gunung Kemukus. Semarang: UNNES Muhyar, Fanani. 2008. Metode Studi Islam. Yogyakarta:Pustaka Pelajar Pologma, Margareth M. 2007. Sosiologi Kontemporer. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada Purbacaraka, Purnadi. 1974. Perihal Kaidah Hukum. Jakarta:Fakultas Hukum Indonesia Soekanto, Dr. Soerjono. 1999. Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Jakarta:PT Grafindo Persada (http://clubbing.kapanlagi.com) Sumberlawang@Sragen.co.id Sragen.go.id

[50]

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful