c./-fHf ).

00\

00)--1'

RANCANGAN AWAL ALAT PENGERING ENERGI MATAHARI (SOLAR DRYER) UNTUK PENGERINGAN RUMPUT LAUT

Oleh:

IWAN SOPYAN C03495045

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada Fakultas Perikanan dan IImu Kelautan Institut Pertanian Bogar

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN FAKUL TAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGaR

2001

"Ya Tuhan kami , ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta segenap orang-orang yang beriman pada yaumul hisab nanti. " (Q.S. Ibrahim: 41)

Ya Rabbi ...

"Bentuklah putraku menjadi manusia yang eukup kuat untuk mengetahui dirinya manakala dia lemah clan cukup berani menghadapi dirinya manakala dia takut, manusia yang teguh di dalam kekalahan, jujur renclah hati dan halus bucli dalam kemenangan" (Doa seorang ayah/Douglas Me Athur)

"Dan rendahkanlah dirimu dengan penuh kesayangan kasihanilah kedua orang mendidik aku dengan penuh (Q.S. Al-Isra : 24)

terhadap mereka berdua (orang tua)

dan ucapkanlah "Oh Tuhanku

tuaku, sebagaimana mereka telah kasih sayang semenjak waktu kecil"

Saat ini ...

Ku hanya bisa berkarya lewat karya kecil ini ~ .,. ku persembahkan tuk keluargaku tercinta :

Bapak, 'M:i..h, Abah, 'Malt, Kakakku (Ence, Sedi) I Adikku(Asep,Roni,Dewi, Dede, Hari, Dian, Yuli} serta orang-orang yang menyayangi ku ...

Judul Skripsi

Nama Mahasiswa

Nomo r Pokck Program Studi

SKRIPSI

Rancangan Awal Alat Pengering Energi Matahari (Solar Dryen untuk Pengeringan Rumput Laut

Iwan Sopyan

C03495045

Teknologi Hasil Perikanan

M enyetuj ui,

I. Komisi Pembimbing

Ir. Ruddy Suwandi, MS. MPhii Ketua

Bamb

II. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB

h. Ruddy Suwandi, MS. MPhil Ketua Program Studi

In dra Java, MSc

ibantu Dekan I

Tanggal Iulus : 16 Desember 2000

RlNGKASAN

IWAN SOPYAN (C03495045). Rancangan Awal Alat Pengering Encrgi Matahari (Solar Dryer) untuk Pengeringan Rumput Laut. (Dibawah Bimbingan RUDDY SUWANDI dan BAMBANG RIYANTO).

Rumput I aut, khususnya jenis Eucheuma cottonii, merupakan salah satu kornoditi perikanan dengan tingkat ekspor yang makin meningkat sepanjang tahun. Rumput laut jenis ini sudah merupakan hasil budidaya di perairan laut dan diperjualbelikan dalam bentuk rumput laut kering. Petani rumput laut dalam proses pengeringannya menggunakan penjemuran langsung di bawah sinar matahari yang ditempatkan diatas para-para. Jenis rumput laut yang dihasilkan adalah rumput laut kering tawar dan kering asin.

Namun, pengeringan rumput laut dengan menjemur langsung di bawah terik matahari akan menyebabkan terjadinya suatu kontaminasi, yaitu adanya serangga, pasir, debu, dan juga benda-benda lainnya, sehingga kebersihannya menjadi kurang terjamin dan akhirnya menurunkan mutu dari rumput laut kering yang dihasilkan. Bahkan jika terkena air hujan, maka akan terjadinya kerusakan dan rumput laut kembali menjadi basah sehingga menjadi tidak efisien. Dengan permasalahan tersebut, maka penelitian ini menjadi perlu dilakukan untuk bisa menghasilkan suatu alat yang Iebih efisien, yang dapat menghasilkan mutu lebih baik dan waktu pengeringan yang lebih singkat tanpa biaya yang mahal.

Adapun tujuandari penelitian ini yaituuntuk mengetahuikemampuan kerja alat pengering dengan sumber energi surya untuk mengeringkan rumput laut (sistern efek rumah kaca) dan melihat tingkat efektifitas dari alat pengering tersebut dalam menurunkan kadar air rumput laut dan mutu yang dihasilkannya. Sedangkan pelaksanaan penelitian dilakukan dua tahap, yaitu tahap pertama berupa pembuatan alat pengering dan kedua berupa pengujian alat terhadap pengeringan rumput taut. Dalam penelitian ini dilakukan dua kali percobaan dengan menggunakan jumlah rumput laut yang berbeda (5 kg/rak dan 3,5 kg/rak yang tersusun 3 rak), perlakuan

tanpa pencucian (P-l) dan perlakuan pencucian (P-2) dalarn waktu yang sarna yaitu selama 5 hari.

Hasil pengujian alat dengan parameter suhu, rnenghasilkan suhu yang Iebih tinggi jika dibandingkan dengan suhu lingkungan. Suhu tertinggi terjadi pada pukul 12.00 yaitu sebesar 74°C pada pelat kolektor panas dan 34°C di Iingkungan, sedangkan pada ruang pengering suhu mampu mencapai 48,5°C (Rak-I), 41,4°C (Rak-2) dan 39°C (Rak-3).

Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan jumlah bahan sangat mempengaruhi hasil akhir dari pengeringan, dimana bahan dengan berat 5 kg/rak laju pengeringannya Iebih Iambat dibandingkan dengan yang 3,5 kg/rak, Ini terlihat dari kemampuan alat dalam menguapkan air dari bahan selama pengeringan, dimana dalam percobaan ke-l dengan berat bahan 5.000 gr/rak (kadar air 87,5116 % = 4.375,58 gr) dihasilkan kehilangan air yaitu sebesar 4.267,2548 gr (97,5243 %), 4.026,2358 gr (92,0161 %) dan 4.037,279 gr (92,2684 %) sedangkan pada percobaan kedua dengan berat bahan 3.500 gr/rak (kadar air 81,89 % = 2.866,15 gr) kehilangan airnya adalah 2.819,4895 gr (98,372 %), 2.819,3534 gr (98,3673 %), 2.820,3715 gr (98,4028 %).

Pada pengujian organoleptik, untuk percobaan pertama (tanpa pencucian) nilai penampakan dan bau berbeda nyata terhadap kontroI dan tidak berbeda nyata pada organoleptik tekstur. Sedangkan pada percobaan kedua (dengan pencucian) penilaian organoleptik penampakan menunjukan perbedaan yang nyata, kecuali pada Rak-I yangtidakberbeda nyata dengan kontrol, Uji organoleptik bau tidak berbeda nyata dan berbeda nyata pada organoleptik tekstur (tekstur lebih baik dari kontroI).

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa alat pengering solar dryer mampu memodifikasi suhu lingkungan dalam alat dengan rnenghasilkan suhu yang lebih tinggi, sehingga bennanfaat untuk mengeringkan bahan serta dapat terhindar dari kontaminasi dan meningkatkan efisiensi produksi. Juga dengan mernperhatikan jumlah bahan serta perlakuan pencucian, akan menghasiIkan laju pengeringan yang cepat dan mutu yang lebih baik.

Untuk lebih meningkatkan performansi alat, perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan memodifikasi alat agar suhu yang dihasilkan lebih tinggi lagi dan proses pengeringannya merata.

RlWAYATHIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 17 Juli 1977, anak ke tiga dari sepuluh bersaudara, dari ayah bernama Sapawi dan Ibu Nenih Supriatin,

Pada tahun 1989 penulis lulus dari Sekolah Dasar Negri 1 Cilirnus-Kuningan, tahun 1992 lulus dari Madrasah Tsanawiyah PUI Cilimus-Kuningan dan tahun 1995 lulus dari Sekolah Menengah Atas Negri 1 Beber, Cirebon.

Pada tahun 1995 penulis lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri (UMPTN) dan terdaftar sebagai mahasiswa Institut Pertanian Boger pada Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Dalam menyelesaikan pendidikan di Institut Pertanian Bogor, penulis aktif dibidang olah raga, organisasi dan kepanitiaan kegiatan.

Penulis pernah meraih prestasi yaitu diantaranya pada Kornpetisi Sepak Bola Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dengan meraih J uara ] (Tahun 1998), Juara II (Tahun 1999) dan Juara I (Tahun 2000). Penulis juga pernah mengikuti Lomba Riset Kelautan Tingkat NasionaI yang diseIenggarakan oIeh Himpunan Mahasiswa IImu dan TeknoIogi Kelautan (Himiteka-IPB) bekerjasama dengan BPPT dalam rangka Marine Techno and Fisheries 2000, dengan mengambil topik penelitian "Studi Keanekaragaman Populasidan PemanfaatanJenis.Bulubabi .di Pulau Pramuka, Pulau Karya dan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara " dan berhasil meraih predikat Juara I.

Pada tanggal 16 Desember 2000 penulis dinyatakan lulus dari Fakultas Perikanan dan IImu Kelautan setelah dala~ ujian sidang berhasil mempertahankan Skripsinya yang berjudul"Rancangan Awal Alat Pengering Energi Matahari (Solar Dryer) untuk Pengeringan Rumput Laut" .

KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dengan segala daya dan upaya, dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian ini.

Skripsi ini berjudul "Rancangan Awal Alat Pengering Energi Matahari (Solar Dryer) untuk Pengeringan Rumput Laut" yang disusun sebagai salah satu syarat untuk mempero!eh ge!ar sarjana pad a Program Studi Teknologi Hasi! Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini pula, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak atas kerjasama dan bantuannya, sehingga penelitian yang telah dilakukan dapat berjalan dengan lancar, hingga tersusunnya laporan ini.

Dengan hati yang tulus, ucapan terima kasih kami persembahkan kepada :

I. Keluarga tercinta ; Bapak, 'Mih atas jerih payah dan doa restunya, juga Abah dan 'Mak serta Kakak dan Adikku ; Ence, Sedi, Asep, Roni, Dewi, Dede, Hari, Dian, Yuli ; ketulusan kasih sayang dan dorongan semangat yang telah diberikan demi sebuah harapan keluarga, yang kini harapan itu telah menjadi kenyataan.

2. Bapak Sukanta (aIm) dan keluarga (Bi Nani, Boy Sukama, Lulu, Tanty, Ican), dan A' Rudi sekeluarga, Mamang Odih dan Bi Onih sekeluarga, Ahim Robby atas dukungan dan bantuannya.

3. Bapak Ir. Ruddy Suwandi,MS. MPhil dan Bambang Riyanto, S.Pi selaku pembimbing yang telah banyak mengarahkan dan membimbing penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

4. Ibu Desniar, S.Pi atas kesediaannya meluangkan waktu sebagai moderator dan dosen penguji.

5. Kak Uju S.Pi yang telah banyak memberikan masukan dan bantuan materilnya.

6. Rekan-rekan THP-32 (Rustono, Irharn, Mega, Saferi, Sigit, Susi, Santi, Endar dyl) tiada keindahan dan keriangan di kelas, tanpa kehadiran kalian semua. Juga spesiainya untuk Tety atas segaia bantuan dan semangatnya.

7. Kru Lab. Teknik dan Manajemen Industri HP. I (Mulyadi, Sope, Sani, Rizki, Ribut, Lukman, Asep), Keluarga besar Wisma Al-Quds generasi 1997 - 2000 atas kebersamaan serta bantuannya dan

8. Semua pihak yang turut mendukung dan membantu dalam penyusunan laporan ini yang dalam kesempatan ini tidak bisa kami sebutkan satu per satu.

Semoga segala yang telah dilakukannya mendapat balasan dan pahala dari yang maha kuasa.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk hasil yang lebih baik lagi bagi penelitian di masa mendatang. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam menambah wawasan, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), terlebih lagi dalam usaha mencari teknologi tepat guna bagi masyarakat Indonesia yang didukung akan kekayaan sumber energi terbarnkan yaitu energi matahari.

Demikian yang bisa kami sampaikan, akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Bogar, Febrnari 2001

Penulis

11

DAFTARISI

Halaman

KATAPENGANTAR .

DAFTAR.ISI HI

DAFT AR T ABEL " "................... v

DAFT AR GA1v1BAR VI

DAFT AR LA11PIRAN ".............................................................................. VII

1. PENDAHUl,UAN " " .

1.1 Latar Belakang ..

1.2 Tujuan 3

1.3 Waktu dan Tempat 3

2. TINJAUAN PUS TAKA 4

2.1 Rumput Laut 4

2.1.1 Definisi dan pemanfaatannya 4

2.l.2 Teknik pasca panen rumput laut 6

2.2 Pengeringan 7

2.2.1 Peranan air dalam bahan selama pengeringan 7

2.2.2 Prinsif pengeringan "....................................................... 9

2.2.3' Metode pengeringan " " "............... 10

2.2.4 Proses pengeringan 11

2.2.5 Laju pengeringan tetap "......................................................... 14

2.2.6 Laju pengeringan menurun 15

2.3 PotensiEnergiMatahari : ,....................... 16'

3. METODOLOGI :............................... 18

3.1 Bahan dan Alat " "............................................... 18

3.2 Metode Penelitian ".................. 18

3 .2.1 Penelitian pendahuluan "." "............ 18

3.2.2 Penelitian lanjutan 20

3.3 Pengamatan 20

3.3.1 Uji organoleptik 20

3.3.2 Uji kadar air 20

111

4. HASII..,DANPE1vIBAHASAN 21

4. 1 Performansi Alat 21

4.1.1 Suhu pada kolektor panas 21

4.1.2 Suhu ruang pengering 25

4.2 Analisis Kadar Air 27

4.3 Pengujian Mutu Organoleptik 31

4.3.1 Organoleptik penampakan 3 I

4.3.2 Organoleptik bau 32

4.3.3 Organoleptik tekstur 33

5. KESH'v1PULAN DAN SARAN 34

5.1 Kesimpulan 34

5.2 Saran 35

DAFTARPUSTAKA 36

LA.MPIR.AN 38

IV

t,

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Standar Mutu Rumput Laut Kering Pasar Dunia 2

2. Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia dalam Periode 1992-1996 . 5

3. Perubahan Suhu pada Pelat Kolektor Panas Selama Penjemuran 22

4. Perubahan Suhu pada Lingkungan Sekitar Alat 22

5. Suhu Rata-rata Ruang Pengering pada Percobaan ke-l dan 2 25

6. Laju Penurunan Berat Rumput Laut Selama Pengeringan 28

7. Laju Penguapan Air Selama Pengeringan 28

8. Total Air yang Hilang Selama Pengeringan 28

v

DAFTAR GAMBAR

No. 1. 2. 3.

Halaman

Kurva Laju Pengeringan (Canovas dan Mercado, 1996) .

Pergerakkan Air Selama Pengeringan pada Pori-pori Bahan .

Proses Masuknya Energi Matahari ke Bumi (Lakitan, 1997) .

13 15 17

4. Bagan Alir Penelitian Rancangan Awal Alat Pengering Energi Matahari

(Solar Dryers untuk Pengeringan Rumput Laut 19

5. Grafik Perubahan Suhu pada Kolektor Panas dan Lingkungan 21

6. Pola Aliran Udara pada Alat Solar Dryer 26

7. Grafik Laju Penurunan Berat Bahan pada Percobaan ke-I 29

8. Grafik Laju Penurunan Berat Bahan pada Percobaan ke-2 29

9. Grafik Perbandingan Laju Penguapan Antara Percobaan ke-I dan

Percobaan ke-2 29

VI

" "

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Perubahan Kadar Air SelamaPengeringan (P-l) _ .. __ __ ._ 38

2. Tabel Sidik Ragam Uji Statistik Perubahan Kadar Air (P-l) 38

3. Perubahan Kadar Air Selama Pengeringan (P-2) .... .. .. _ .. _ _ _ 39

4. Tabel Sidik Ragam Uji Statistik Perubahan Kadar Air (P-2)--- .. --- .. --- 39

5. Score Sheet Rumput Laut Kering (Eucheuma cottonii)..................... 40

6. Nilai-nilai Hasil Penguj ian Organoleptik Rumput Laut Kering......... 41

7. Uji Kruskal-Wallis Nilai Organoleptik Penampakan......................... 42

8. Uji Lanjut Multiple Comparison Nilai Penampakan _ __ .. _ .......... _ 42

9. Uji Kruskal-Wallis Nilai OrganoleptikBau .... _ ........ _ _............... 43

10_ Uji Lanjut Multiple Comparison Nilai Organoleptik Bau.................. 43

11. Uji Kruskal-Wallis Nilai Organoleptik Tekstur 44

12_ Uji Lanjut Multiple Comparison Nilai Organoleptik Tekstur _ .. _.. 44

13. Gambar Alat Pengering Energi Surya (Solar Dryer)......................... 45

14. Gambar Rumput Laut Basah Jenis Eucheuma cottonii...................... 45

15_ Gambar Rumput laut Kering Jenis Eucheuma cottonii .. .. _ .... 46

Vll

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini rumput laut merupakan hasil perikanan yang sedang giat digalakan di Indonesia melalui budi daya. Bahkan di beberapa daerah sudah dilakukan secara besar-besaran. Contohnya, di Teluk Jakarta bahkan di Propinsi Sulawesi Selatan, tepatnya didaerah pesisir Takala, Bulukumba dan Maros. Areal budi daya rumput laut menempati daerah seluas ± 775 hektar dengan hasil sekali panen ± 170 ton (Hidayat, 1994}

Indonesia sebagai negara kepulauan, mempunyai potensi yang cukup besar untuk menjadi negara produsen rumput laut karena hampir seluruh pantainya dapat dipakai sebagai usaha budidaya. Rumput laut mempunyai prospek yang cukup cerah, mengingat potensi rumput laut sebagai salah satu kornoditas ekspor non 111Igas

(Hidayat, 1994).

Hingga kini rumput laut yang banyak diminta oleh pasaran dunia adalah dari jenis Eucheuma sp, Gracilaria sp dan Gellidium sp yang biasanya dalam bent uk produk rumput I aut kering. Permintaan dunia terhadap rumput laut yang mengandung karagenan rata-rata mencapai 18.000-20.000 ton, dan 4.000 ton berasal dari jenis Eucheuma. Indonesia hanya mampu memasok permintaan dunia sebanyak 2.000 ton lebih dari j enis Eucheuma setiap tahunnya (Indriani dan Emi, 1999). Hal ini menunjukan bahwa prospek ekspor masih besar, sehingga Indonesia dapat meningkatkan produksinya.

Berkaitan dengan peluang ekspor ini, rumput laut yang diproduksi yaitu berupa rumput laut kering, harus memiliki mutu yang baik sebagaimana disyaratkan pihak importir. Produksi rumput laut kering yang memenuhi standar mutu akan menambah kepercayaan dan semakin mendorong impotir meningkatkan permintaan akan rumput laut kering dari Indonesia. Adapun standar mutu rumput laut kering

.

berdasarkan inforrnasi pasar rumput taut dunia dapat dilihat pada Tabel 1.

\.

2

Tabel 1. Standar Mutu Rumput Laut Kering Pasar Dunia

Karakteristik Syarat
Eucheuma Gelidium Gracilaria Hypnea
- Kadar air 32 15 25 30
maksimal (%)
- Benda asing 5*) 5**) 5**) 5**)
maksimal (%)
- Bau Spesifik Spesifik Spesifik Spesifik
rumput laut rumput laut rumput laut rumput laut Sumber: Indriani dan Emi (1999)

*) Benda (Ising (garam, pasir. karang, kayu dan jenis Iainnya) **) Benda asing (garam, pasir, karang dan kayu)

Usaha pernanfaatan rumput laut ini, akhirnya perlu disertai pengolahan hasil panen yang memadai, karena sebagian besar petani masih menerapkan pengolahan tradisional sehingga rata-rata mutu yang dihasilkan belum bisa memenuhi target. Hambatan biasanya muncul saat pernilihan jenis yang kurang murni dan teknik penjemuran yang kurang sempuma (Romirnohtarto e/ al.; 1999).

Khusus pengeringan, umumnya para petani rumput laut mengeringkan hasil

panennya dengan menjemur di bawah terik cahaya rnatahari.

Dimana saat

penjemuran ini dapat terjadi suatu kontaminasi, yaitu adanya serangga, pasir, debu dan juga benda-benda lainnya, sehingga kebersihannya menjadi kurang terjamin dan akhirnya menurunkan mutu dari rumput [aut kering yang dihasilkan. Bahkan jika rumput laut yang dijemur terkena oleh air hujan, maka akan menyebabkan terjadinya kerusakan. Pengeringan dengan penjernuran langsung di bawah terik matahari akan menghasilkan warna yang baik, karen a rurnput laut tidak langsung terkenasuhu

tinggi.

Upaya untuk melakukan pengeringan dengan baik dapat dilakukan, misalnya

melalui alat pengermgan.

Alat pengenng

tersebut nantinya harus

mempertimbangkan dan sesuai dengan kebutuhan serta tingkat pendapatan petani rumput laut, selain itu alat pengering tesebut harus memiliki biaya operasi yang relatif murah. Salah satu faktor yang mempengaruhi besarnya biaya operasi adalah jenis energi yang digunakan dalam proses pengeringan.

3

Energi surya merupakan jenis energi yang tepat untuk digunakan sebagai unit pemanas udara pada ruang pengering, karen a energi surya merupakan energi yang paling bersih dan murah. Namun energi surya mempunyai beberapa sifat khas yaitu arus energi yang rendah dan penyinarannya tidak kontinyu, sehingga suhu yang dihasilkan rendah, berfluktuasi dan menyebabkan waktu pengeringan yang terputus. Oleh karena itu berdasarkan permasalahan yang ada perlu dikembangkan cara pemanfaatan energi surya sehingga memenuhi kebutuhan dalam proses pengeringan , dan penelitian tentang pengeringan terhadap komoditi rumput laut dengan alat pengering berenergi matahari ini menjadi sangat penting untuk dilakukan.

1.2 Tnj nan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan kerja alat pengering dengan sumber energi surya untuk mengeringkan rumput laut (sistem efek rumah kaca) dan melihat tingkat efektivitasnya dari alat pengering tersebut selama pengeringan dalam menurunkan kadar air rumput laut dan mutu yang dihasilkannya.

1.3 Waktu dan Tcrnpat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 1999 sampai Agustus 2000, bertempat di Laboratorium Teknik dan Manajemen Industri Hasil Perikanan I, Jurusan Teknologi Hasil Peri kanan, Fakultas Perikanan dan I1mu Kelautan, Institut Pertanian Bogar.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumput Laut

2.1.1 Definisi dan pemanfaatannya

Seaweed dalam dunia perdagangan dikenal sebagai rumput laut, namun sebenarnya dalam dunia ilmu pengetahuan diartikan sebagai alga (ganggang) yang berasal dari bahasa latin yaitu algor yang berarti dingin. Ganggang laut adalah tanaman tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti akar, batang dan daun. Meskipun wujudnya tampak seperti ada perbedaan, tetapi sesungguhnya merupakan bentuk thallus belaka. Bentuk thallus ganggang laut bermacam-macam, ada yang bulat seperti tabung, kantung, rambut dan sebagainya (Duddington, 1971).

Famili Thallophyta dibagi dalam lima kelas berdasarkan warna yang dimiliki yaitu Mycophyceae (alga hijau-biru), Chlorophyceae (alga hijau), Phaeophyceae (alga coklat), Rhodophyceae (alga merah) dan Chrysophyceae (alga hijau-kuning) (Romimohtarto et al., 1999). Bila dilihat dari ukurannya, ganggang terdiri dari mikroskopik dan makroskopik. Ganggang makroskopik inilah yang dikenal sebagai rumput laut.

Rumput laut sudah sejak lama dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat, yang pada awalnya ha!lYa dikonsumsi sebagai sayuran dan obat-obatan. Namun seiringdengan perkembangan teknologi, kinirumput laut. menjadi barang yang mahal dan sudah menjadi kebutuhan masyarakat di dunia.

Menurut Indriani dan Emi (1999), rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah karena mengandung agar-agar, karaginan, porpiran dan furcelaran, Selain itu, juga mengandung pigmen fikobilin, yang terdiri dari .ftkoeretrin dan fikosianin, yang merupakan cadangan makanan berupa karbohidrat (floridean starch).

Ganggang coklat Juga memiliki potensi yang tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karotin, violasantin dan fukosantin, pirenoid dan

5

filakoid (lembaran fotosintesis), cadangan rnakanan berupa laminarin, dinding sel yang mengandung selulose dan algin (Indriani dan Emi, 1999).

Agar-agar banyak dikenal masyarakat sebagai bahan pembuat puding. Namun dalam perkembangannya sekarang, telah digunakan untuk kepeluan laboratorium, yaiut sebagai media kultivasi bakteri (culture media), industri farrnasi, tekstil, kosmetik dan lain-lain. Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap (stabilizer), bahan penunjang atau bahan tambahan, pembuat emulsi (enmlsifieri, pengental (thickener), pengisi (filler), dan bah an pembuat gel (Hidayat, ] 994).

Algin rnerupakan polimer murni dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linear panjang. Bentuk algin di pasaran bisa berupa tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang tidak Iarut dalam air. Kegunaan algin dalam indusrri adalah sebagai bahan pengental, pengaturan keseimbangan, pengemulsi dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak (Indriani dan Emi, 1999).

Menurut Hidayat (1994), karaginan merupakan zat yang yang paling penting dalam industri pangan. Di beberapa negara maju karagenan diperlukan untuk memenuhi industri pangan diantaranya industri minuman, roti, kembang gula (permen), makanan untuk diet, maupun untuk produksi susu yaitu sebagai penstabil protein. Adapun volume akspor yang telah dilakukan oleh Negara kita tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Volume Ekspor Rumput Laut Indonesia dalam Pericde 1992 - ] 996

Tahun Volume (ton)
1991 .... ····97.185
1992 101.762
1993 118.395
1994 110.438
1995 111.575
1996 161.543 Sumber: Biro Pusat Statistik (1997)

Karaginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4 glikosilik. Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat. Jumlah sulfat pada karaginan lebih kurang 35,1 % (Indriani dan Emi, 1999).

6

2.1.2 Teknik pasca panen rumput laut

Selama ini penanganan rumput laut dilakukan seeara tradisional, maka hasilnya kurang memuaskan. Untuk memperoleh hasil yang berkualitas tinggi dan bermutu ekspor, perlu penanganan pasea panen yang baik (Hidayat, 1994).

Menurut Hidayat (1994), dalam penanganan pasea panen rumput laut ada tujuh kegiatan yang harus dilcerjakan, yaitu :

a. Pengeringan I

Sebaiknya pengeringan ini dilakukan di atas para-para atau rak dan diberi atap yang bisa dibuka dan ditutup. Adanya atap disini adalah supaya rumput laut yangdikeringkan tidak terkena hujan dan embun malam. Karena air hujan dapat merusak dan mempengaruhi kualitas rumput laut. Para-para atau rak bertujuan agar rumput [aut tetap bersih dan tidak tereampur dengan pasir dan kotoran lainnya. Lokasi penjemurannya pun usahakan ditempat terbuka, jauh dari pemukirnan penduduk, tetapi tidak jauh dari pantai.

b. Perendaman I

Setelah rumput laut cukup kering atau lama pengeringannya sudah berkisar 3- 4 hari, baru rumput laut dicuci dan direndam. Perendaman dilakukan dengan menggunakan air laut selama kurang lebih 1-2 jam.

c. Pengeringan II

Pengeringan II dilakukan selama lebih kurang 7 jam. Jadi dari perendaman pertama, rumput Iaut dikeringkan lagi untuk yang kedua kalinya hingga cukup leering dan warnanya menjadi kekuning-kuningan.

d. Penyortiran

Proses selanjutnya adalah penyortiran atau pernisahan. Disini dilakukan pemisahan antara kotoran dan bahan kering, juga menurut jenisnya. Pada proses ini kadar air rumput laut masih tinggi, sekitar 30-35 %. Jadi kadar air tersebut masih terlampau banyak, hams diturunkan lagi hingga mencapai 25-27 %.

7

e. Perendaman II

Setelah proses penyortiran, rumput laut direndam dan dibilas lagi dengan air untuk membebaskan garam dan mengurangi kotoran yang masih melekat. Perendaman dilakukan dengan larutan kaporit 0,25 % atau bisa juga dengan larutan kapur tohor, 5 kg kapur tohor untuk 100 kg rumput laut. Perendaman ini berlangsung 3-6 jam, sambi I diaduk-aduk. Hal ini dapat mempercepat proses pemucatan. Kemudian rumput laut diangkat dari perendaman dan dibilas dengan air bersih sampai bau kaporitnya hi lang.

Menurut Muljanah e/ al. (1992), perendaman dalam alkali merupakan suatu cara yang dapat meningkatkan kualitas rumpu tlaut, tetapi cara ini belum banyak diterapkan oleh masyarakat Hal yang menyebabkan alkali dapat meningkatkan kualitas rumput [aut dikarenakan pengeringannya merniliki penampakkan yang lebih bersih, berwarna putih cemerlang dan juga kadar airnya cukup rendah, sehingga dapat mencegah degradasi kimia dan biologi. Perendaman dalam alkali akan meningkatkan rendemen karagenan yang tinggi karena pencucian dari basa alkali.

f. Pengeringan III

Rumput raut selanjutnya dijemur, dikeringkan kembali untuk yang ketiga kalinya. Pengeringan ini berlangsung selama 1-2 hari, sampai rum put laut benarbenar kering dengan kadar air 25-27 %.

g. Pengepakan

Akhir dari seluruh proses pasca panen ini adalah pengepakan. Rumput laut dikemas dengan kemasan yang cukup aman, terhindar dari hujan dan sebagainya.

2.2 Pengeringan

2.2.1 Peranan air dalam bahan selama pengeringan

Kadar air memegang peranan penting dalam proses pengenngan, karena akan mempengaruhi lama pengeringan, mekanisme pengenngan, perubahan pada bahan dan perancangan alat pengeringan.

8

Menurut Winarno et al. (1980), jumlah kandungan air pada bahan hasil pertanian akan mempengaruhi daya tahan bahan tersebut terhadap serangga dan mikroba, serta biasanya dinyatakan sebagai water activity (Aw). Water activity atau aktivitas air adalah jumiah air bebas pada bahan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya. Untuk mernperpanjang daya tahan suatu bahan, rnaka sebagian air pada bahan dihilangkan sehingga mencapai kadar air tertentu.

Dalam hal ini air digunakan untuk proses metabolisme, sarana pengangkutan nutrien dan sebagai alat ekskresi (Buckle et al., 1978). Batasan Aw pada bahan untuk tiap mikroba berbeda, untuk bakteri Aw lebih besar dari 0,91, ragi antara 0,87 - 0,91 serta kapang pada Aw antara 0,80 - 0,87 (Winarno et aI., 1980).

Mikroba hanya dapat tumbuh pada kisaran Aw tertentu, oleh karena itu untuk

mencegah pertumbuhan mikroba, maka Aw bahan harus diatur.

Menurut

Setijahartini (1980), bahan yang mempunyai Aw dibawah 0,70 biasanya sudah dianggapcukup baik dan tahan dalam penyimpanan.

Kandungan air yang terdapat pada bahan terdiri dari 3 jenis, yaitu : I) air bebas; 2) air yang terikat secara fisik; dan 3) air yang terikat secara kimia. Kekuatan ikatan diantara ketiga bagian air tersebut berbeda-beda dan untuk memutuskan ikatannya diperlukan energi penguapan. Besarnya energi penguapan untuk air bebas paling rendah dibandingkan dengan energi penguapan untuk air yang terikat secara fisiko Sedangkan energi penguapan untuk air yang terikat secara kimiawi paling besar diantara ketiga macam air tersebut (Taib et al., 1987).

Menurut Hall- (1980); kadarair terdapat dalam duarnacam yaitu kadar air keseimbangan statis dan kadar air keseimbangan dinamis. Kadar air keseimbangan statis didapatkan dari sistem dimana bahan maupun udara sekelilingnya diarn, sedangkan kadar air keseimbangan dinarnis didapatkan dimana bahan atau udara sekitarnya bergerak.

Keseimbangan tekanan uap di atas suatu bahan ditentukan tidak saja oIeh suhu akan tetapi juga oleh kandungan air bahan tersebut. Cara air tersebut terikat di dalam bahan pangan disebabkan oIeh adanya kandungan zat yang larut di dalam air. Dibawah pengaruh tekanan uap yang tertentu, bahan pangan mempunyai kandungan

9

uap air dalam keadaan keseimbangan dengan keadaan sekelilingnya dan keseimbangan ini disebut keseimbangan kadar air bahan (Earle, 1969).

Brooker et al. (1974) menyatakan bahwa konsep kadar air keseimbangan atau Equilibrium Moisture Content (EMC) merupakan hal yang penting dari proses pengeringan, karena EMC menentukan kadar air minimum dimana bahan dapat dikeringkan pada kondisi pengeringan yang diberikan.

Terjadinya EMC diawali dari proses penguapan bahan basah pada permukaannya. Sehingga penguapan ini akan terhenti karena molekul-molekul air yang diserap oleh permukaan bahan basah tersebut. Keadaan ini dikatakan keadaan di dalam keadaan keseimbangan antara penguapan dan pengembunan. Kadar air dalam keadaan seimbang ini disebut kadar air keseimbangan atau Eqnilibrinm Moisture Content (Setijahartini, 1980).

2.2.2 Prinsif pengeringan

Pengeringan (dehidrasi) merupakan proses pengeluaran air dari bahan hasil pertanian. sampai kadar air seimbang dengan keadaan udara sekeliling atau sarnpai tingkat kadar air dimana mutu hasil pertanian tersebut dapat dipertahankan dari serangan jamur, aktifitas serangga dan enzim (Henderson dan Perry, 1976).

Menurut Taib et at. (1987), dasar proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kandungan uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Dalam hal ini kandungan uap air udara Iebih sedikit atau dengan kata lain udara mernpunyai kelembaban nisbi yang rendah, sehingga terjadi penguapan. Dengan demikian proses pengeringan akan terj adi karena adanya perbedaan tekanan uap air dalam udara seleitar bahan dengan bagian permukaan bahan dan antara tekanan uap air bagian permukaan bahan dengan bagian dalam bahan yang menyebabkan adanya perpindahan uap air dari bahan lee udara sekitarnya (Hall, 1957).

Kemampuan udara membawa uap air akan bertambah besar jika perbedaan antara kelembaban nisbi udara pengering dengan udara sekitar bahan semakin besar.

10

Juga, bila udara tidak mengalir maka kandungan uap air di sekitar bahan yang dikeringkan makin jenuh sehingga pengeringan makin lambat (Taib et al., 1987).

Tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan pembusukkan terhambat atau terhenti, demikian juga perubahan-perubahan akibat kegiatan-kegiatan enzim (Meyer, 1960). Sedangkan menu rut Winarno et al. (1980), ada beberapa keuntungan dari pengeringan yaitu bahan menjadi lebih awet dengan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakkan, dengan demikian diharapkan biaya produksi menjadi lebih rnurah.

Rizvi dan Mitral (1992) menyatakan bahwa dehidrasi, merupakan fenomena kompleks yang melibatkan laju pindah panas dan pindah rnassa, sifat fisik bahan, campuran udara dan uap air. dan struktur makro dan rnikro bahan; dimana hal itu merupakan penentu mekanisme pengeringan. Namun demikian, kontrol pengeringan suatu partikel produk tergantung pada struktur dan parameter pengeringan, kondisi pengeringan, kadar air, dirnensi (luas), laju pindah ke permukaan, dan kadar

kesei mbangan.

2.2.3 Metode pcngcringan

Pengeringan merupakan kegiatan yang penting artinya dalam pengawetan bahan atau untuk tujuan industri pengolahan hasil pertanian. Metode pengeringan secara umum dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan secara alami (nature d'Jling) dan pengeril1gan buatan (artificial d/ying).

Pengeringan alami merupakan metode pengeringan yang memanfaatkan energi matahari sebagai energi pengeringnya. Pengeringan ini biasanya dilakukan dengan cara menjemur bahan di bawah terik cahaya matahari dimana umumnya penjemuran ini dilakukan di atas jemuran/lamporan yang terb~at dari berbagai bahan padat (Kumendong, 1973).

Metode pengeringan dengan penjemuran ini cukup sederhana dan murah dengan persediaan energi yang ada sepanjang tahun. Sinar infra merah matahari

11

mempunyai kemampuan dapat menembus ke dalam sel bahan yang dikeringkan (Taib et al., 1987).

Pengeringan dengan mempergunakan alat pengering (pengeringan buatan) memiliki kelebihan dimana suhu, kelembaban nisbi udara dan kecepatan pengeringan dapat diatur dan dikontrol dengan baik.

Goswami (1986) dan Stout (1979) menyatakan bahwa suatu cara lain dari pengeringan yaitu dengan memanfaatkan radiasi matahari sehingga energinya dapat terperangkap dan tidak keluar ke udara bebas. Metode pengeringan ini merupakan modifikasi dari penjemuran dengan memiliki tingkat pemanasan yang tinggi karena mampu mengumpulkan panas dan mencegah keluarnya panas menuju udara bebas.

Pada umumnya medium untuk menyerap panas matahari mempergunakan udara, hal ini dikarenakan udara jumJahnya ban yak, mudah digunakan dan panas yang berlebihan terhadap bahan dapat dikendalikan. Fungsi udara dalam proses pengeringan tersebut adalah untuk menghantarkan panas ke bahan sehingga menyebabkan air dari dalam bahan menguap dan kemudian membawa uap air ke luar dari ruang pengering (Desrosier, 1981).

2.2.4 Proses pengeringan

Pada proses pengeringan harus diperhatikan suhu udara pengering. Semakin besar perbedaan antara suhu media pemanas dengan bahan yang dikeringkan, semakin besar pula kecepatan pindah panas ke dalam bahan pangan, sehingga penguapan air.dari bahanakan Iebih banyak dan cepatCIaib et al., 1987).

Suhu udara selain akan berpengaruh terhadap waktu pengeringan, juga akan berpengaruh terhadap kualitas bahan yang akandikeringkan. Untuk menekan biaya pengeringan serendah mungkin dengankapasitas pengeringan yang tinggi, maka dapat digunakan suhu tinggi, akan tetapi suhu yang digunakan tersebut tidak sampai merusak bahan yang dikeringkan. Suhu pada keadaan ini akan mencapai suhu kritis bahan (Taib et al., 1987).

12

Didalam setiap pengeringan hams diusahakan agar suhu pengeringan tidak melewati suhu kritis dari bahan yang dikeringkan. Akan tetapi suhu tinggi dapat saja digunakan apabila kadar air bahan yang dikeringkan sangat tinggi (Taib et al., 1987).

Menurut Earle (1969), peristiwa yang terjadi selama pengeringan meliputi dua proses, yaitu : 1) proses perpindahan panas, yaitu proses menguapkan air dari dalam bahan at~u proses perubahan bentuk cair ke bentuk gas; dan 2) proses perpindahan massa, yaitu proses perpindahan massa uap air dari permukaan bahan ke udara.

Pindah panas diartikan sebagai pemancaran energi dari suatu daerah ke daerah lain karena perbedaan suhu yang terjadi antara kedua daerah tersebut. Ada tiga cara pindah panas yang dikenal yaitu konduksi, radiasi, dan konveksi (Jansen, 1995).

Konduksi adalah pindah panas di dalarn bahan atau dari suatu bahan ke dalam yang lain dengan saling menukarkan energi kinetik antara molekul tanpa ada pergerakkan dari molekul tersebut. Cara pindah panas ini menjelaskan aliran panas di dalarn bahan pangan padat selama pemanasan atau pendinginan (Jansen, 1995).

Pemindahan panas secara konveksi dilakukan dengan pergerakkan sekelompok molekul di dalarn bahan cairo Kumpulan rnolekul tersebut bergerak akibat perubahan kerapatan atau akibat pergerakkan bahan cair, misalnya memasak air pada wadah tertutup tanpa pengadukkan (Earle, 1969).

Pemancaran (radiasi) adalah pernindahan energi panas dengan gelombang elektrornagnit, yang memindahkan panas dari suatu benda ke benda lain dengan cara yang sarna dengan pemindahan cahaya (Earle, 1969).

Proses perpindahan panas terjadi karena suhu bahari Iebih reridahdari pada suhu udara yang dialirkan di sekelilingnya. Panas yang diberikan ini akan menaikkan suhu bahan dan menyebabkan tekanan uap air di dalam bahan lebih tinggi dari pada tekanan uap air di udara, sehingga terjadi perpindahan uap air dari bahan ke udara yang merupakan perpindahan massa (Taib et al., 1987).

1vl_enurut Setijahartini (1980), dalam proses pengeringan diperlukan adanya pergerakkan udara, yang berfungsi untuk: 1) rnengambil uap disekitar tempat penguapan; 2) sebagai penghantar panas ke dalam bahan yang dikeringkan;

13

3) sebagai sumber zat pernbakar; dan 4) sebagai tempat membuang uap yang telah diambil dari tempat pengeringan.

Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan bahan dan mencegah air tersebut menjadi jenuh di permukaan bahan. Volume udara yang lebih besar dapat membawa dan menampung uap air lebih banyak. Juga dengan semakin panasnya udara, makin banyak air yang bisa dikeluarkan sebelurn kejenuhan terjadi serta udara kering dapat menyerap dan menampung uap air lebih banyak dari pada udara lernbab (Taib et al.. 1987).

Proses pengeringan dapat dibagi atas dua fase, yaitu : fase laju pengeringan tetap (cons/am rate period) dan fase laju pengeringan menurun (falling rate period) (Clucas dan Ward, 1996). Antara fase laju pengeringan tetap dan fase laju pengeringan menurun dibatasi oleh kadar air kritis (titik C Gambar I) yaitu kadar air terendah bahan saat laju air bebas dari dalam bahan ke permukaan sama dengan Jaju pengambilan uap air maksimurn dari bahan.

Laju Pengeringan kg/jam m2

I ..... --------.. ...

C

A'

Xc

Kadar air (kg)

Gambar I. Kurva Laju Pengeringan (Canovas dan Mercado, 1996)

Canovas dan Mercado (1996) membuat kurva laju pengeringan dengan mernplotkan laju pengeringan terhadap kadar air basis kering (Gambar 1). Kurva laju pengeringan menunjukkan adanya peri ode pemanasan AB, periode laju pengeringan tetap BC dan periode laju pengeringan menurun CEo Laju pengeringan menurun terdiri dari dua tahap, yaitu laju pengenngan menurun pertama CD dan laju pengeringan menurun kedua DE.

14

Menurut Burgess et al. (1967), udara disekitar bahan selama pengenngan terdiri dari tiga lapisan, yaitu :

1) Stasionary layer

Ini merupakan lapisan udara yang sangat tipis yang kontak langsung dengan bahan dan dapat dikatakan tidak ada pergerakan udara sarna sekali.

2) Slowly moving layer

Lapisan udara ini berada di atas lapisan stasioner dengan pergerakannya yang lambat.

3) Turbulent air

Merupakan lapisan udara terluar yang pergerakkannya cepat berkaitan dengan aliran/arus udara yang besar.

Lapisan stasioner istasionary layer) merupakan bagian lapisan yang jenuh dengan uap air, dimana secara kontinyu uap air melalui/lewat ke dalam lapisan udara yang bergerak lambat. Ketika kecepatan udara meningkat lapisan jenuh menjadi lebih tipis dan uap air dapat dibawa oleh aliran udara secara cepat. Laju pengeringan kcnstan akan lebih lambat untuk bahan yang berlemak tinggi (Burgess et al., 1967).

Selanjutnya dikemukakan oleh Clucas dan Ward (1996), bahwa laju pengeringan tetap (constant drying rate) tergantung pada empat hal, yaitu : 1) kelembaban relatif udara (Rh); 2) kecepatan udara; 3) suhu udara; dan 4) luas permukaan bahan.

2.2.5 Laju pengeringan tetap (constant rate period)

Pada periode laju pengeringan tetap, proses pengeringan terkonsentrasi pada permukaan bahan dimana molekul air akan ditarik keluar sebagai uap air oleh udara kering hingga udara itu tidak sanggup lagi menampung uap air (Burges et al., 1967). Menurut Watson dan Harper (1988), pada fase ini diawali dengan melimpahnya air di permukaan bahan, dan bergeraknya air ke perrnukaan melalui suatu kapiler bahan (Gambar 2), hingga terjadi pengkerutan atau penurunan volume bahan.

15

Drying air

Food cells

Gambar 2. Pergerakkan Air Selama Pengeringan pada Pori-pori Bahan (Fellows, 1990)

Menurut Taib et al. (1987), jika bahan yang dikeringkan tidak berpori maka arr yang dikeluarkan selama laju pengeringan tetap adalah air yang terdapat dipermukaan bahan. Bila bahan tersebut berpori maka kebanyakan air yang dikeluarkan adalah yang berasal dari bagian dalam jaringan bahan.

Penomena perpindahan air selama pengeringan bahan dalam fase ini terjadi oleh pergerakan air dari permukaan hingga menembus udara luar yang kering dan pindah panas menembus bahan. Proses pengeringan akan menyebabkan permukaan menjadi j enuh dan pengeringan akan berlangsung secara kontinyu. Dalam proses ini . diasumsikan terjadinya pindah panas ke permukaan secara konveksi dari panas udara. Pada fase ini awalnya merupakan bergeraknya air bebas bahan dengan kondisi permukaan yang basah dengan aktifitas air (Aw) kurang lebih satu (Canovas dan Mercado, 19Q6).Mem.lfllt Brennan et at, (1990), kecepatarrpergerakkan arr ke permukaan akan sebanding dengan kecepatan penguapannya.

2.2.6 Laju pengeringan menurun (falling rate period)

Fase laju pengeringan menurun merupakan proses pengenngan dengan kondisi dimana kadar air bahan turun dibawah kadar air kritis dengan laju pengeringan semakin lambat dan aktifitas air (Aw) kurang dari satu mendekati kadar air nol (Fellows, 1990). Menurut Canovas dan mercado (1996), laju pengeringan rnenurun dibagi dalam dua tahap, yaitu laju pengeringan menurun pertama (titik C

16

Gambar 1) dan laju pengenngan menurun kedua (titik D Gambar 1). Menurut Fellows (1990), dalam bahan yang non higroskopis hanya mengalami satu kali periode pengeringan menurun dan bahan yang higroskopis mengalami dua kali periode pengeringan menurun.

Laju pengeringan menurun pertama, terjadi ketika permukaan masih basah dan seeara kontinyu berkurang selama pengeringan berlangsung (Canovas dan Mercado, ] 996). Dalam periode ini penguapan bergerak dari dalam bahan dan air berdifusi. Periode ini berakhir ketika penguapan dari dalam bahan dan tekanan air parsial menurun sehingga tekanan air jenuh (Fellows, 1990).

Pada laju pengeringan menurun kedua, berrnula ketika perrnukaan mengering dengan laju penguapan yang rendah. Panas yang ada ditransfer menuju bahan bagian dalam sehingga uap air mulai bergerak ke permukaan dan menguap ke udara sek itar. Menurut Fellows (1990), ini terjadi ketika tekanan parsial air rendah dengan tekanan uap jenuh sehingga pengeringan bersifat desorpsi. Pada kedua laju pengenngan menurun ini hampir tidak terlihat perbedaannya.

2.3 Potensi Energi Matahari

Menurut Kadir (1982), diperkirakan burni menerima energi matabari sebanyak 7x 1018 keal setahunnya dan kurang lebih 800-1000 W/m2. Untuk Indonesia dengan luas wilayab daratannya 2 juta km'', daya surya yang secara potensial tersedia adalah 2 x 1015'watt atau 2 x 109 mega watt. Pengukuran radiasi sinar matahari adalah sebesar ± 400kcal/m21 hari, yangberarti.seluruhnyaj-L? x 105 setahunnya.

Menurut Stout (1979), sinar matahari yang masuk ke bumi melalui atmosfer akan mengalami tiga proses yaitu transmisi, refleksi dan absorbsi. Energi yang direfleksikan kembali ke angkasa 30.% yang disebut albedo dan 70 % masuk ke atmosfer dan mengalir terus ke ecosfer.

Dari 70 % ini, energi yang masuk dibagi dua bagian, yaitu 50 % berupa cahaya (light) dan 20 % berupa panas (infrared] dan gelombang radio (radio wave). Dari 70 % energi yang diterima bumi (perrnukaan dan lapisan atmosfer), 47 % mengalami absorbsi oleh ruang atmosfer dan 23 % ditransmisikan ke bumi yang

17

dimanfaatkan oleh angin, sirkulasi I aut, photosintesis dan siklus air (pemanasan, penguapan dan air hujan) (Rouse dan Robert, 1975). Proses masuknya energi matahari ke bumi disaj ikan dalam Gambar 3 .

J], Radiasi 100 %

Dipantulkan 29 % ~.--\

~L..y'

~ .,[}.Sl%

Diserap gas-gas 20 %

Bumi

Gambar 3. Proses Masuknya Energi Matahari ke bumi (Lakitan, 1997)

Menu rut Stout (1979), faktor-faktor yang mernpengaruhi jumlah radiasi matahari adalah : 1) Jarak dari matahari; 2) Intensitas radiasi matahari; merupakan fungsi dari sudut sinar matahari mencapai lengkung dari permukaan bumi, dimana sinar yang miring kurang memberikan energi; 3) Lamanya penyinaran matahari dan panjang hari, dan 4) Pengaruh awan.

Energi surya merupakan energi yang dilepaskan melalui pemecahan inti dalam bentuk radiasi elektromagnetik yang dalam hal ini berupa radiasi cahaya. Spektrum cahaya yang ditimbulkan terdiri dari sinar-sinar yang dapat dilihat, sinar-x, gelombang radio dan televisi, sinar ultraviolet dan infra merah yang masing-masing

-mernpunyai panjanggelombang yangberbeda (Foley, 1976).

Energi matahari yang ditransmisikan ke bumi merupakan radiasi gelombang pendek (shorter wavelength radiation) dan dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi gelombang panjang (longer wavelength radiation) dengan panjang gelombang 7.600- 30.000 Angstrom (Goswami, 1986).

Energi gelombang elektromagnetik yang mempunyat pengaruh terhadap pemanasan suatu benda atau molekul adalah sinar infra merah. Benda yang mengabsorbsi infra merah paling baik adalah benda dengan perrnukaan hitam (Stout, 1979).

3. METODOLOGI

3.1 Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk membuat alat pengering yaitu besi siku, seng, fiberglass transfaran, kayu, styrofoam dan kawat kasa. Sedangkan bahan yang digunakan untuk penguJlan pengenngan adalah rumput laut dari jenis Eucheuma cottonii yang diarnbil dan hasiI budidaya di Kepulauan Seribu .

Peralatan yang digunakan untuk membuat alat pengering terdiri dari seperangkat alat pertukangan seperti las, gunting seng, gergaji besi. Untuk peralatan pengujian selama penelitian dan juga hasi! pengeringan adalah termometer, kipas angin atau blower, oven, timbangan, wadah dan alat bantu lain yang diperlukan untuk pengujian kadar air.

3.2 Metode Penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan suatu metode yang terdiri dari dua tahap, yaitu penelitian pendahuluan dan penelitian lanjutan. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk merancang dan membuat alat pengering, sedangkan penelitian lanjutan dilakukan untuk pengamatan terhadap parameter yang diukur selama penjemuran.

3.2.1 Penelitian pendahuluan

Penelitian pen~dah~luan dilakukan untuk membuat rancangan ~lat pengering.

Rancangan alat pengering ini terdiri dari dua bagian yaitu bagian pertama merupakan ruangan yang paling atas sebagai ruang penyerap panas (absorber) atau perangkap panas. Ruangan kedua berada dibawahnya yang dikenal sebagai ruang proses pengeringan atau plenum yang terdiri dari tiga rak. Gambar alat pengering dapat dilihat pada Lampiran 13.

Ruang penyerap panas merupakan suatu penutup transfaran yang terbuat dari polycarbon sheet, dengan bagian alas berupa lempengan seng berwarna hitam. Pada

19

Jempeng seng di ujung belakang, dibuat suatu lubang, yang berfungsi sebagai pintu aliran udara dari ruang penyerap panas ke ruang pengering (plenum).

Pada ruang kedua (ruang pengeringan) dindingnya terbuat dari fiberglass dengan bagian dalam dilapisi styrofoam. Ruang pengering ini terdiri dari tiga buah rak dengan tiap rak terdapat tiga buah wadah sampel yang terletak diujung dan tengah rak, dimana rak terbuat dari kawat kasa.

Pada ruang pengering ini terdapat lubang untuk ali ran udara yang bergerak dari ruang kolektor panas menuju ruang pengering dan dikeluarkan dari alat oleh blower atau exhaust Jan. Setelah rancangan alat pengering selesai dilakukan uji perforrnansi alat yaitu dengan mengukur suhu alat pad a bagian ruang penyerap panas. Pada penelitian pendahuluan ini juga dilakukan pengujian untuk menentukan kapasitas bahan yang akan dikeringkan dan mengetahui kadar air awal rumput laut.

3.2.2 Penelitian lanjutan

Dengan mengacu pada hasil penelitian pendahuluan, pada penelitian utama dilakukan pengamatan selama proses pengeringan dan pengujian hasil akhir bahan. Adapun desain penelitian adalah sebagairnana tercantum dalam gambar berikut :

Penelitian Pendahuluan

Penelitian Lanj utan

Pembuatan Alat

I Pengujian Alat

- Penentuan Kapasitas

- Pengukuran Suhu

Tanpa pencucian (P-I) Pencucian (P-2)
15 kg! 3 Rak 10,5 kg! 3 Rak

I Pengeringan 5 hari r-
I Gambar 4. Bagan Alir Penelitian Rancangan Awal Alat Pengering Energi Matahari (Solar Dryers untuk Pengeringan Rumput Laut.

20

3.3 Pengamatan

Pengamatan dilakukan meliputi kadar air bahan baku rumput laut, perubahan kadar air, perubahan suhu dan kelembaban udara ruang pengering serta pengujian organoleptik wama, bau, dan tekstur. Penelitian lanjutan juga dilakukan untuk rnelihat hubungan kadar air bahan terhadap waktu pengeringan.

3.3.1 Uji organoleptik

Uji organoleptik dilakukan terhadap sampeJ rumput laut setelah dikeringkan selama 5 hari. Rumput laut kering diuji penampakan (bentuk, warna, dan rupa), bau serta tekstur khas rumput laut. Pemberian nilai terhadap rumput laut sesuai dengan kriteria pada Lampiran 3 dan jumlah panelis sebanyak 15 orang.

HasiI dari uji organoleptik selanjutnya diuji secara statistik untuk mengetahui perbedaan perubahan pada rumput laut yang disimpan antara rak-I, rak-2 dan rak-3 selama pengeringan, serta dibandingkan dengan data sekunder yang ada.

3.3.2 Uji kadar air (A.O.A.C., 1970 dalam Apriyantono et al., 1989)

Penentuan kadar air dilakukan berdasarkan perbedaan sampel rumput Iaut sebelum dan sesudah pengeringan. Sampel sebanyak 2,0-3,0 gram dipanaskan dalam oven pada suhu 10Soe selama beberapa jam sampai beratnya konstan, Kemudian sampel yang sudah dikeringkan tersebut dimasukkan dalam desikator selama 15 menit, lalu ditimbang.

Kadar air dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(a- b)

Kadar air (dry basis) = x 100 %

a

Keterangan:

a = bobot awal sampeI rumput laut (gram) b = bobot akhir sampel rumput laut (gram)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Performansi Alai

Performansi alat merupakan suatu gambaran tentang kemampuan suatu alat dalam memerankan fungsinya terhadap suatu percobaan dengan melihat atau mengukur dari suatu parameter tertentu. Alat pengering dalam penelitian ini menggunakan sistem GHE (Green House EJfectlefek rumah kaca), dalam melihat kemampuan kerja alat ini ada parameter yang diukur yaitu diantaranya kemampuan meningkatkan panas dalam alat dengan mengukur suhu yang dibandingkan dengan suhu lingkungan.

4.1.1 Suhu pada kolektor panas

Penyebaran suhu dalam alat ini dapat dibagi menjadi dua bagian pengukuran, yaitu : pengukuran suhu pada pelat kolektor panas dan pengukuran suhu pada ruang pengenng.

Suhu yang diukur pada pel at kolektor menunjukan peningkatan yang drastis bila dibandingkan dengan suhu lingkungan (Gambar 5). Pada pelat kolektor panas, suhu yang tertinggi dihasilkan pada pukul 12.00 WIB sebesar 69,6°C dan terendah pada pukuI 16.00 WIB sebesar 44,8°C, sedangkan dilingkungan suhu tertinggi pada pukul 14.00 WIB sebesar 33,1 °C dan terendah pada pukul 08.00 WIB yaitu sebesar 29, 1°C.

80
70
60
" 50
s: 40
""
.(1) 30

20
10
0
08 __ Kolektor panas -Lingkungan

10

12

14 16

Gambar 5. Grafik Perubahan Suhu pada Kolektor Panas dan Lingkungan

22

Adapun suhu rata-rata harian yang diukur selama lima hari (tercantum pada Tabe13 dan 4) adalah pada kolektor panas tertinggi pada hari ke-4 sebesar 60,2°C dan terendah pada hari ke-l sebesar 53,6°C sedangkan di lingkungan, suhu tertinggi pada hari ke-4 sebesar 32,5°C dan terendah pada hari ke-3 yaitu 30, 7°C.

Tabel 3. Perubahan Suhu pada Pelat Kolektor Panas Selama Penjemuran

Waktu
Hari 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 Rata-rata
1 45 62 65 56 40 53,6
2 45 64 66 62 48 57
3 46 64,5 70 43 47 54,1
4 47 66 74 67 47 60,2
5 44 68 73 62 42 57,8
Rata-rata 45,4 64,9 69,6 58 44,8 Tabe14. Perubahan Suhu pada Lingkungan Sekitar Alat

Waktu
Hari 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00 Rata-rata
1 28 30 33 32 32 31
2 31 32 33 34 31 32,2
3. 28 31 31,5 30,5 32,5 30,7
4 31 33 33 35 32,5 32,5
5 27,5 32 33 35 32 31,9
Rata-rata 29,1 31,6 32,7 33,1 32 Proses terjadinya peningkatan suhu dalam alat adalah terjadinya penyerapan radiasi matahari yang ~asuk ke dalam ruang kolektor panas. Radiasi surya merupakan radiasi gelombang pendek yang diserap oleh pelat penyerap sebuah kolektor surya dan diubah menjadi panas. Di dalam kolektor panas ini terjadi tiga aliran panas, yaitu panas mengalir secara konduktif sepanjang pelat penyerap (pelat seng). Kemudianenergi panas dari pelat penyerap itu mengalir ke pelat penutup

23

transparan dengan cara konveksi alamiah dan dengan cara radiasi. Proses konveksi dalam ruang kolektor panas menyebabkan suhu udara di dalam ruangan itu meningkat Menurut Arismunandar (1995), panas mengalir secara konduksi dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur rendah. Laju perpindahan panas dinyatakan dengan hukum Fourier

q = - kA [~] W(watt)

dimana k adalah konduktivitas termal, W/(m.K); A adalah luas penampang tegak lurus pada aliran panas, m2; dan dT/dx adalah gradien temperatur dalam arah aliran panas, -Kim. Aliran panas secara konveksi dapat dinyatakan dengan hukum pendingin Newton, sebagai berikut:

q = hA(Tw-T) W

dimana h adalah koefisien konveksi, W/(m2.K); A adalah luas permukaan, m2; Tw adalah temperatur dinding; dan T adalah temperatur fluida, K. Umumnya koefisien konveksi h dinyatakan dengan parameter tanpa dimensi yang disebut bilangan Nusselt, Nu = hdi/k, dimana k adalah konduktivitas panas.

Sedangkan proses radiasi yang terjadi yaitu proses pindah panas dari pelat kolektor ke pelat penutup fiberglass transparan. Aliran panas radiasi ini dapat dinyatakan dalam rumus dibawah ini :

dimana (J" adalah konstanta Stefan-Boltzmann, 5,65 x 10-8 W/(m2.K4); A adalah luas bidang, m2; dan temperatur adalah derajat Kelvin pangkat empat, K4 dan 81,82 adalah emisivitas dari pelat-pelat penyerap dan penutup transparan.

Menurut Jansen (1995), untuk mengurangi kerugian radiasi sehingga sangat keeil dapat dilakukan dengan menggunakan permukaan khusus yang rnemiliki harga absorpsivitas yang tinggi (atinggi) dalam daerah panjang gelombang pendek (radiasi

24

surya) dan harga emisivitas (8 rendah) dalam daerah inframerah. Permukaan semacam ini disebut permukaan selektif. Salah satu diantaranya adalah krom hitam (black chrome) yang mempunyai harga a = 0,90 dan e = 0,12.

Sebagaimana tercantum dalam Tabel 2 dan 3, tertadapat perbedaan waktu terjadinya suhu maksimum antara pelat kolektor dan lingkungan. Pada pelat kolektor suhu tertinggi terjadi pada pukul 12.00 sedangkan pada lingkungan terjadi pada pukul 14.00.

Perbedaan ini disebabkan adanya perbedaan luasan ruang, dengan ukuran ruang kolektor yang lebih kecil dan sifat dan kolektor yang merupakan logam, pelat kolektor panas akan lebih mudah mengakumulasi panas dari radiasi surya yang masuk dimulai dari awal pengeringan yaitu sejak pagi hari, dan dengan posisi matahari yang tegak lurus dengan alat akan memancarkan radiasi yang maksimum sehingga akan lebih cepat menghasilkan energi panas yang lebih tinggi.

Berbeda dengan hasil pengukuran suhu di lingkungan, dimana suhu maksimum terukur pada pukul 14.00, padahal radiasi rnaksimum matahari terjadi pada pukul 12.00. Jika melihat kernbali pad a alat pcngering yang rnerupakan gambaran mikro dari iklim di Bumi, radiasi matahari akan diabsorpsi oleh suatu media yaitu pelat kolektor yang terbuat dari seng. Sedangkan yang terjadi di Bumi adalah permukaan Bumi itu sendiri yang menjadi absorbemya dengan menyerap radiasi gelornbang pendek matahari dan mernantulkan radiasi berupa gelombang panjang dengan memancarkan energi panas. Karena luasnya atmosfir, maka proses pemanasandalarnruang atmosfirmenjadi lebih lambat dibandingkan dengan alat pengering.

Menurut Jansen (1995), sebelum suhu lingkungan mencapai maksimurn, radiasi surya datang masih lebih besar dari pada radiasi keluar berupa pantulan gelombang pendek dan pancaran radiasi Bumi berupa gelombang panjang (radiasi neto positif). Sehingga pemanasan udara berlangsung terus meskipun radiasi surya maksimum telah terjadi sekitar pukul12.00 WIB. Dalarn hal ini keteriambatan waktu (time lag) antara radiasi surya maksimum dan suhu maksimum sekitar 2 jam. Setelah suhu maksimum tercapai, radiasi keluar akan lebih besar dari radiasi datang (radiasi

25

neto negatif) sehingga suhu akan terns turun sampai tercapainya suhu minimum pada pagi hari (sekitar pukuI 04.00 WIB).

4.1.2 Suhu ruang pengering (Rak-l, Rak-2, Rak-3)

Penyebaran fluktuasi suhu pada ruang pengering dipengaruhi oleh pol a sebaran suhu yang dihasiIkan oleh kolektor panas yang letaknya tepat diatas ruang pengering.

DaIam ruang pengenng (plenum), suhu yang tertinggi terjadi pada pukul 14.00 sebesar 48,SoC (Rak-l), 41,4°C (Rak-2) dan 39,9°C (Rak-3), sedangkan suhu terendah terjadi pada pagi hari yaitu pukul 08.00 sebesar 30,3°C (Rak-I), 28,3°C (Rak-2) dan 29,4°C (Rak-3).

Dari hasil pengukuran menunjukan bahwa suhu akan Iebih tinggi pada wadah! rak yang letaknya dekat dengan koIektor panas sebagaimana tercantum dalam Tabel 5. Hal ini ditunjukan bahwa poIa penyebaran suhu pada pengukuran dari pukul 08.00 hingga pukul 16.00 dengan selang pengukuran tiap 2 jam, dimana suhu pada rak-I lebih besar dari suhu rak-2 , rak-3 dan rak-2 Iebih besar dari rak-3.

Tabe15. Suhu Rata-rata Ruang Pengering pada Percobaan ke-I dan 2 (OC)

Waktu
Wadah 08.00 10.00 12.00 14.00 16.00
Rak-l 30,3 38,9 47,5 48,5 40,7
Rak-2 28,3 33,9 40 41,4 37,4
. Rak-3 '·29,4 34,1 39 39,9 35,7
, , Berdasarkan pengukuran tersebut, kemungkinan suhu yang tinggi pada rak-I disebabkan karen a adanya aliran panas dari ruang kolektor pada kondisi suhu yang tinggi dan tidak membawa uap air.. Sedangkan terhadap wadah rak di bawahnya, suhu menjadi lebih rendah karen a panas yang mengalir sudah berkurang akibat terpakai oleh rak-I untuk mengeringkan bahan serta membawa uap air tersebut melalui rak di bawahnya.

26

Udara yang mengalir dalam alat bersumber dari kebocoran-kebocoran dalam alat yaitu pada bagian siku-siku alat dan pintu-pintu rak yang tidak tertutup. Namun, udara yang masuk ke dalam alat lebih berpotensi disebabkan oleh seringnya membuka pintu rak pada saat pengukuran suhu dan pengambilan sampeI. Penyebaran suhu yang diukur berdasarkan waktu pengukuran mengikuti pola sebaran suhu pada kolektor panas.

Proses pemindahanfaliran panas dad atas ke bawah digerakkan oIeh sebuah kipas aksial yang menghisap udara sehingga tertarik keluar alat, yang sebelumnya aliran udara panas ini melewati bahan dalam rak (lihat Gambar 6).

2 =)

<:; 3
=)
4

6C; 5
7 Gambar 6. Pola Aliran Udara pada Alat Solar Dryer

Keterangan :

1. Kubah fibreglass transparan (tempat sinar rnatahari masuk)

2. Pelat seng hitam (menyerap energi panas sinar matahari)

3. Rak-l (temp at rumput laut)

4. Rak-2 (temp at rumput laut)

5. Rak-3 (temp at rumput laut)

6. Pola aliran udaraJenergi panas

7. Blower/exhaust fan (mengeluarkan udara dalam ruang pengering)

27

4.2 Analisis Kadar Air

Berdasarkan pengujian statistik, perubahan kadar air akibat pengaruh posisi wadah (rak) dan lama pengeringan menunjukan perbedaan yang nyata (Lampiran 1).

Rak pada solar dryer letak posisinya adalah bertingkat vertikal sejajar dengan ruang absorber panas dengan aliran udaraJenergi panas dari atas ke bawah. Mengacu pada hasil pengukuran suhu menunjukan bahwa letak posisi rak yang teratas/dekat dengan pelat kolektor panas memiliki panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan rak yang di bawahnya dan ini berkorelasi terhadap laju penguapan.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, kadar air awal dari rumput laut segar/basah sebesar 87,5116 % (P-l) dan 81,89 % (P-2). Dengan berat awal seluruh bahan sebesar 15.000 gr (P-l) dan 10.500 gr (P-2) maka kandungan air dalam bahan masing-masing adalah sebesar 13.126,74 gr (P-l) dan 8.598,45 gr (P-2).

Setelah dilakukan penjemuran selama lima hari, pada percobaan pertama berat akhir bahannya menjadi 2.110 gr (Rak-l=540 gr, Rak-2=840 gr, Rak-3=730 gr) dengan kandungan airnya sebesar 19,738 %, 41,5886 % dan 46,3462 %. Maka air yang dapat diuapkan adalah sebesar 12.330,7696 gr (93,9488 %).

Sedangkan pada percobaan kedua, berat bahan menjadi 675 gr (Rak-l=225 gr, Rak-2=225 gr, Rak-3=225 gr) dengan kandungan airnya sebesar 20,738 %, 20,7986 % dan 20,346 %. Maka air yang dapat diuapkan adalah sebesar 8.459,214 gr (93,9488 %) (lihat Tabel 6, 7 dan 8).

Dengan mengamati laju pengeringan dan hasil pengeringannya (Gambar 7, 8 dan 9), terlihat bahwa pada percobaan pertama laju pengeringannya lebih lambat dibandingkan dengan percobaan kedua. Perbedaan ini disebabkan karena berat bahan untuk tiap percobaan berbeda-beda. Rumput laut pada tiap rak didistribusikan merata dengan luasan rak sebesar ± 1 m2• Berat rumput laut pada percobaan pertama untuk masing-rnasing rak sebesar 5 kg, sedangkan pada percobaan kedua untuk masingmasing rak sebesar 3,5 kg. Perbedaan jumlah bahan yang dikeringkan menyebabkan terjadinya tumpukan yang lebih tebal pada rak dengan berat bahan yang lebih besar dan lebih tipis pada rak dengan jumlah bahan yang lebih sedikit.

28

Taber 6. Laju Penurunan Berat Rumput Laut Selama Pengeringan

Percobaan ke-I Percobaan ke-2
Hari Berat sam pel (gram) Berat sam pel (gram)
Rak-l Rak-2 Rak-3 Rak-l Rak-2 Rak-3
0 5.000 5.000 5.000 3.500 3.500 3.500
1 3.345 4.125 . 3.630 2.200 2.600 2.475
2 2.260 3.080 2.600 1.050 ] .675 l.550
3 1.460 2.260 1.925 525 1.175 1.150
4 830 1.460 1.380 250 375 425
5 540 840 730 225 225 225 Tabel7. Laju Penguapan Air Selama Pengeringan

Percobaan ke-l Percobaan ke-2
Hari Air menguap (gr) Air menguap (gr)
0 13.125 (100 %) 8.598,4500 (100 %)
1 3.95 1,7293 (30,1217 %) 2.675,9865 (31,1217 %)
2 6.873,9202 (52,3803 %) 5.859,8359 (68,1499 %)
3 8.992,8120 (68,5299 %) 6.950,3123 (80,8322 %)
4 10.705,9217 (81,5822 %) 8.291,3743 (96,4287 %)
5 12.330,7696 (93,9488 %) 8.459,2144 (98,3807 %) Tabel8. Total Air yang Hilang Selama Pengeringan

Percobaan ke-I Percobaan ke-2
Waktu Wadah Air menguap (gr) Air menguap. (gr)
Rak-l 4.267,2548 (97,5243 %) 2.819,4895 (98,3720 %)
Hari ke-5 Rak-2 4.026,2358 (92,2684 %) 2.819,3534 (98,3673 %)
Rak-3 4.037,2790 (92,2684 %) 2.820,3715 (98,4028 %)
Total 12.330,7696 (93,9488 %) 8.459,2144 (98,3807 %) I_Rak-1 DRak-2 ElRak-3 I

E 6000
~ 5000
El 4000
c
ttl 3000 j}~lln~-
s:
!'l 2000
.c
e 1000
Ql 0
cc
0 2 3 4 5
Hari 29

Gambar 7. Grafik Laju Penurunan Berat Bahan pada Percobaan ke-l

III!IRak-1 C1Rak-2 ElRak-3!

o

3

4

5

2

Hari

Gambar 8. Grafik Laju Penurunan Berat Bahan pada Percobaan ke-2

120

Gambar 9. Grafik Perbandingan Laju Penguapan Antara Percobaan ke-l dan Percobaan ke-2

-100
~
0 80
-
.....
. ~ 60 -+- Percobaan ke-t i·
..... i
~ 40 --- Percobaan ke-2
'0
~
~ 20
0
1 2 3 4 5
Hari 30

Dengan memperhatikan kurva pada Gambar 9 menunjukan bahwa percobaan pertama dan kedua, selama pengeringan menunjukan laju pengeringan yang cenderung konstan, kecuali pada percobaan kedua yang mengalami laju penurunan pada hari kelima.

Laju pengeringan konstan terjadi karena adanya pemusatan pengeringan pada permukaan bahan dimana molekul air akan ditarik keluar sebagai uap air oleh udara kering dan diikuti oleh pergerakan air dalam bahan yang menuju ke permukaan dimana kecepatan pergerakkan air dalam bahan menuju permukaan sam a dengan kecepatan penguapannya (Burgess et al., 1967).

Selain itu rumput laut merupakan bahan yang berkadar air tinggi, dimana kandungan airnya lebih banyak pada kondisi terikat secara fisik dan tidak terikat (bebas) dibandingkan yang terikat secara kimiawi. Kondisi ini yang memungkinkan pengeringan tahap awal akan lebih ban yak menguapkan air dari pada pengeringan berikutnya. Dimana air bebas akan cepat menguap dan air yang terikat secara fisik akan mengalir secara kapiler karena adanya tekanan dalam bahan akibat energi panas yang masuk.

Menurut Fellows (1990), pada laju pengenngan tetap diawali dengan melimpahnya air di permukaan bahan dan bergeralcnya air ke permukaan melalui suatu kapiler bahan, hingga terjadi pengkerutan atau penurunan volume bahan.

Pada laju pengeringan menurun, jumlah air dalam bahannya sangat sedikit sehingga terjadi penurunan laju penguapan. Artinya laju pergerakkan air ke permukaan tidaksebanding dengan laju penguapan. Menurut Fellows (1990), Ease laju pengeringan menurun merupakan proses pengeringan dengan kondisi dimana kadar air turun dibawah kadar air kritis dan aktifitas air (Aw) kurang dan satu mendekati kadar air DOl.

Selama pengeringan konstan, jumlah air yang teruapkan pada percobaan pertama dan kedua berbeda. Kapasitas penguapan pada percobaan pertama lebih kecil dibandingkan dengan percobaan kedua. Perbandingan persentase kapasitas penguapannya dapat dilihat pada Tabel 8. Perbedaan kapasitas penguapan kemungkinan disebabkan perbedaan dari jumlah bahan yang dikeringkan,

31

Kaitannya dengan jumlah bahan, pengeringan dengan energi panas yang sarna akan berjalan lamb at jika bahan yang dikeringkan lebih besar. Proses pengeringan yaitu untuk rnemanaskan bahan dan menyebabkan terjadinya penguapan air. Air akan menguap labih larnbat pada jumlah bahan yang besar dan lapisannya tebal, hal ini karena energi panas yang terpakai untuk menguapkan akan berkurang dan penguapan akan berjalan lebih larnbat.

Selain itu, proses pengeringan yang terjadi dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan udara dalarn alat. Udara berfungsi sebagai media pengering dan wadah untuk uap air. Energi panas udara yang tidak sebanding dengan kapasitas bahan akan memperlarnbat terjadinya penguapan dimana kemungkinan panas yang dibawa udara hanya mampu untuk menguapkan air yang ada pada permukaan bahan yang luas, dan sulit untuk menembus Iapisan dibawahnya dan energi itu akan berkuranglhabis sebelum mampu menggerakkan air dalarn bahan menuju ke udara yang menyebabkan udara menjadijenuh.

4.3 Pengujian Mutu Organoleptik 4.3.1 Organoleptik penampakan

Secara umum pengujian organoleptik baik penampakan, bau maupun tekstur menggunakan 15 panelis dan dilakukan perbandingan antar wadah (rak) juga dibandingkan dengan rumput laut yang dipasaran hasil pengeringan petani.

Penampakan organoleptik pada percobaan pertama dan kedua setelah dianalisis secara statistik menunjukan perbedaan yang nyata, setelahdilakukanuji lanjutan, pada percobaan pertama penampakan seluruhrak berbeda nyata dengan kontrol dan tidak berbeda nyata untuk perbandingan antar rak. Sedangkan pada percobaan kedua setelah uji lanjutan menunjukan perbedaan yang antara kontrol dengan Rak-I, Rak-2. Sedangkan antara kontrol dengan Rak-l tidak menunjukan perbedaan yang nyata begitujuga antara Rak-2 dengan Rak-3.

Perbedaan yang nyata pada percobaan pertama terhadap kontrol menunjukan penampakan yang lebih baik pada kontrol dengan rata-rata nilai 8,867 dan pada percobaan pertama adalah Rak-l (2,733), Rak-2 (3,4), Rak-3 (3,133). Sedangkan

32

pada percobaan kedua dengan rata-rata nilai Rak-I (8,867), Rak-2 (6,2) dan Rak-3 (5,667).

Penampakan hasil percobaan ini dipengaruhi oleh perlakuan sebelum pengeringan yaitu untuk rumput laut yang tidak mengalami perendaman seperti pada percobaan pertama. Setelah dikeringkan rumput laut tanpa pencucian masih menunjukan penampakan aslinya (basah) yaitu pigmen warna (coklat kemerahan) masih melekat pada rumput laut kering yang terlihat kusam, kotor dan garam-garam yang masih melekat pada rumput laut. Selain itu kondisi rumput laut yang masih basah (kadar air tinggi) mengurangi nilai mutu penampakan.

Berbeda dengan percobaan kedua, yang sebeJumnya mengalami perendaman dengan air tawar sehingga menghasilkan mutu penampakan yang lebih baik dibandingkan dengan percobaan pertama, walau pada Rak-2 dan Rak-3 penampakannya terlihat kurang baik jika dibandingkan dengan kontrol dan Rak-L Penampakan yang kurang pada Rak-2 dan Rak-3 disebabkan laju pengeringan yang lambat sehingga menyebabkan sisa-sisa pigmen warna rumput laut masih melekat.

4.3.2 Organoleptik ball

Pengaruh pencucian (perendaman) mempengaruhi kualitas mutu akhir dari rumput laut kering. Rumput laut tanpa pencucian (percobaan pertama) memiliki kualitas bau yang rendah karena masih tercium bau amis dan garam yang mendominasi bau khas dari rumput laut. Sehingga setelah analisis statistik, bau rumput laut hasil penelitian sangat berbeda nyata dengan masing-rnasing rak bernilai 2,733 (Rak-l), 3,8 (Rak-2), 3,933 (Rak-3) dan 7 (kontrol).

Pada percobaan kedua (mengalami pencucian), hasil uji statistik tidak menunjukan perbedaan yang nyata dengan nilai untuk tiap rak yaitu 8,067 (Rak-l), 7 (Rak-2), 6,733 (Rak-3) dan 7 (kontrol). Kualitas mutu organoleptik bau disebabkan pengaruh pencucian yang menyebabkan tidak menimbulkan bau yang amis dan Iebih didorninasi bau khas rumput laut.

33

4.3.3 Organoleptik tekstur

Pengukuran parameter organoleptik tekstur Iebih ditunjang oIeh laju pengeringan, kadar air dan penanganan sebelum dikeringkan.

Berdasarkan hasil pengujian statistik, untuk percobaan pertama pengaruhnya tidak berbeda nyata terhadap kontrol, sedangkan pada percobaan kedua berbeda nyata.

Hal yang menentukan hasil penujian tersebut yaitu pada percobaan pertama menunjukan kondisi rumput laut masih terlihat lembab dengan kandungan air yang relatiftinggi dengan nilai organoleptik 6,467 (Rak-l), 5,4 (Rak-Z), 5,267 (Rak-3) dan 5,8 (kontrol). Kualitas rumput laut pada percobaan kedua menunjukan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kontroI dan tidak berbeda nyata antar rak dengan nilai organoleptik 8,867 (Rak-l), 8,2 (Rak-2) dan 8,33 (Rak-3).

Dari penilaian tersebut menunjukan kulaitas rumput laut dilihat dari tekstur, rumput laut yang dikering selama penelitian mempunyai kualitas yang baik, Parameter pengukuran ini lebih ditentukan oleh kering tidaknya bahan dalam artian rumput laut yang kadar airnya rendah akan memiliki tekstur yang Iebih baik. Selain itu, kondisi rumput laut harus utuh, tidak patah-patah apalagi sampai haneur dan hal ini berkaitan juga dengan penanganan sebelum dilakukan pengeringan.

S. KESIMPULAN DAN SARAN

S.l Kesimpulan

Efisiensi alat pengenng energi matahari dapat ditentukan oleh suatu pengukuran suhu alat dan dibandingkan dengan suhu yang terdapat pada lingkungan. Dari hasil penelitian, pelat kolektor panas dari solar dryer mampu menghasilkan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu lingkungan, yaitu sebesar 74°C pada pukul 12.00 dengan suhu lingkungan sebesar 34°C, dimana hal ini terjadi pada ruang kolektor panas. Sedangkan pada ruang pengering rumput laut, sebaran suhu mampu mencapai 48,5°C (Rak-I), 41,4°C (Rak-Z) dan 39,9°C (Rak-3). Faktor yang menyebabkan peningkatan suhu pada solar dryer adalah kemampuan alat dalam menahan refleksi gelombang panjang sinar matahari yang menyebabkan pemanasan global dalam alat akibat konveksi panas dari pelat kolektor panas.

Panas yang dihasilkan alat ini menentukan Iaju pengeringan dalam menurunkan kadar air dan juga berakibat pada mutu rumput laut yang dikeringkan. Selain itu, besar kecilnya jumlah bahan yang dikeringkan juga mempengaruhi kecepatan penurunan kadar air, yang pada akhirnya berpengaruh pada mutu bahan.

Hasil pengujian organoleptik tekstur, menunjukkan bahwa percobaan pertama bertekstur lebih rendah dibandingkan dengan percobaan kedua, diduga karena pada percobaan pertama kandungan air rumput lautnya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan percobaan kedua. Juga yang menentukan laju pengeringan yaitu berat awal suatu bahan, dimana pada percobaan pertama menggunakan 5 kg rumput laut dan 3,5 kg untuk percobaan kedua dengan waktu pengeringan yang sarna, yaitu selama 5 hari.

Hasil pengujian organoleptik, rnenunjukkan bahwa rumput laut yang tidak mengalami pencucian (percobaan ke-l) rnenampakan bau yang amis dan penampakannya menunjukan mutu yang lebih rendah, yaitu telihat kotor dan kusam, Berbeda dengan yang rnengalami pencucian, baik penampakan maupun aroma/bau menghasilkan mutu yang Iebih baik, yaitu penampakan bersih cemerlang dan tidak berbau arnis.

35

5.2 Saran

Secara umum, untuk menghasilkan rumput laut yang bermutu tinggi harus mernperhatikan beberapa hal, yaitu : perlakuan pencucian, menyesuaikan jumlah bahan yang akan dikeringkan dengan kemampuan/kapasitas dari alat pengering (solar dryer) dan kecepatan pengering yang diharapkan.

Untuk lebih mengetahui kemampuan kerja alat pengering (solar dryers, diperlukan penelitian lanjutan yang dapat menghasilkan kerja alat yang lebih efisien, diantaranya memodifikasi alat tersebut dengan memasang inlet udara dibagian kolektor panas, alat dilengkapi kemampuan mengalirkan air yang keluar dari bahan agar keluar dari alat sehingga tidak turnpah ke rak di bawahnya, perakitan alat yang baik agar tidak terjadi kebocoran udara/air yang masuk dan keluar. Juga diperlukan suatu upaya penelitian untuk melihat pola sirkulasi udara yang masuk dan keluar.

Dalam kaitannya dengan mutu rumput laut kering, sebelum proses pengeringan berakhir sebaiknya dilakukan perendaman/pencucian yang berulang dengan mengganti air perendaman atau pencucian dengan memakai larutan alkali. Juga dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kombinasi antara kapasitas bahan dan lama pengeringan yang mampu menghasilkan rumput laut kering yang bermutu tinggi dan laju pengeringannya cepat.

DAFfAR PUSTAKA

Apriyantono, A., Dedy Fardiaz, Ni Luh Puspitasari, Slamet Budiyanto dan Sedarwati. 1989. Petunjuk Laboratorium Analisis Pangan. IPB Press. Bogor.

Brennan, J.G., J.R. Butters, N.D. Cowell dan A.E.V. Lilley. 1990. Food Engineering Operation. Third edition. Elsevier Applied Science. London and New York.

Brooker, D.B., F.W. B. Arkema dan C.W. Hall. 1974. Drying Cereal Grains. The A VI Publishing Company, inc. Westport. Connecticut.

Burgess, G.H.O., C.L. Cutting, J.A. Lovern, 1.1. Waterman. 1967. Fish Handling and Processing. Chemical Publishing Company, inc. New York.

Canovas, B.G.V. dan H.V. Mercado. 1996. Dehydration of Food. Chapman and Hall. International Thompson Publishing.

Clucas, 1.1. dan A.R. Ward. 1996. Post Harvest Fisheries Development; A Guide to Handling, Preservation, Processing and Quality. Natural Resource Institut. London, United Kingdom.

Desrosier, N.W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. Terjemahan Muchji

Muljohardjo. UI Press. Jakarta.

Dirjen Perikanan. 1997. Statistik Perikanan. Biro Pusat Statistik. Jakarta. Duddington, C.L. 1971. Beginners Guide to Seaweed. Pelham Book Ltd. London. Earle, RL. 1969. Satuan Operasi Dalam Pengolahan Pangan. Terjernahan Zein

Nasution. 1982. PT. Sastra Hudaya. Teknologi Hasil Pertanian. IPB. Bogor.

Fellows, P. 1990. Food Processing Technology Principles and Practice. Eilis Hardwood. Oxford.

Foley, G. 1976. The Energy Question. Cox and Wyman Ltd. London.

Goswami, n.Y. 1986; Alternative Energy in Agriculture. Vol. 1. ···CRC Press; Boca Raton. Florida.

Hall, C.W. 1957. Drying Farm Corp. Edward Brothers Co. Michigan.

____ . 1980. Drying and Storage of Agriculture Crops. AVI Publishing Company, inc. Westport. Connecticut.

Hall, D.W. 1970. Handling and Storage of Food Grains in Tropical and Subtropical Areas. Food and Agriculture Organization of The United Nation. Rome.

Handoko. 1995. Klimatologi Dasar. Dunia Pustaka Jaya. Jakarta.

Henderson, S.M. dan R.L. Perry. 1970. Agriculture Process Engineering. AVI Publishing Company, inc. Westport. Connecticut.

Hidayat. 1994. Budi Daya Rumput Laut. Usaha Nasional. Surabaya.

37

Indriani, H. dan Emi, S. 1999. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut.

Penebar Swadaya. Jakarta.

Jansen, T. J. 1995. Solar Engineering Technology. Prentice-Hall, Inc. New Yersey. Kadir, A. 1982. Energi. UI Press. Jakarta.

Lakitan, B. 1997. Dasar-dasar Klimatologi. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Meyer, L.H. 1960. Food Chemistry. Reinhold Publishing Corp. New York. 430 p. Muljanah, 1., T.D. Suryaningrum dan U. Rahayu. 1992. Pengaruh cara pencucian

rumput laut Eucheuma cottonii dalam larutan kapur tohor terhadap rendernen dan sifat-sifat karaginan yang dihasilkan. Jumal Penelitian Pasca Panen Perikanan. No. 74.

Rizvi, S.S.H. dan G.S. Mittal. 1992. Eksperimental Method in Food Engineering.

AVI Publishing Company, inc. Westport. Connecticut.

Romimohtarto, K. dan Sri Juwana. 1999. Biologi Laut-Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI. Jakarta.

Rouse, R.S. dan Robert, O.S. 1975. Energy Resource, Slave Pollutant A Physical Science Text. Macmillan Publishing Co, inc. New York.

Setijahartini, S. 1980. Pengeringan. Jurusan Teknologi Industri, Fakultas

Teknologi Pertanian. IPE. Bogar.

Stout, B.A. 1979. Energy For World Agriculture. Food and Agriculture

Organization of The United Nations. Rome.

Taib, G., E. G. Said dan S. Wiraatmadja. 1987. Operasi Pengeringan Pada Pengolahan Hasil Pertanian. PT. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta.

Watson, E.L. dan J. C. Harper. 1988. Elemen of Food Engineering. Van Nostrand Reinhold Company. New York.

Winamo, F.G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan.

Gramedia. Jakarta.

I

38

Lampiran 1. Perubahan Kadar Air Selama Pengeringan (P-l)

Waktu Kadar Air (%)
(Hari) Ulangan Rl R2 R3 Jumlah
H-l 1 76,9969 86,2942 83,6295
2 76,7164 86,4253 .83,7532
493,8155
H-2 1 64,9706 85,4527 82,4576
2 65,8679 85,3653 82,2351
465,5492
H-3 1 71,5252 79,1351 69,8648
2 71,6496 79,3249 69,5857
441,0853
H-4 1 51,8226 76,9887 62,4993
2 51,7897 77,0113 62,5945
382,7061
H-5 1 19,8751 41,6534 46,2628
2 19,6008 41,5238 46,4223
215,3382
Jumlah 570,0148 739,1747 689,3048 1.998,4943 Lampiran 2. Tabel Sidik Ragam Uji Statistik Perubahan Kadar Air (P-l)

Sumber Derajat Jumlah Kuadrat F hltuns FTabcl
.... - ... - >- .... '='
Keragaman Bebas Kuadrat Total
Perlakuan 14 10.323,1431 737,3674
R (Wadah) 2 1.511,0728 755,5364 52.070,048** 3,68
H (Waktu) 4 8.197,4422 2.049,3606 141.237,805** 3,06
RH(Interaksi) 8 614,6281 76,8285 5.294,8656** 2,64
Galat 15 0,21763 0,01451
Total 29 10.323,3607 **) Berbeda nyata

39

Lampiran 3. Perubahan Kadar Air Selama Pengeringan (P-2)

Waktu Kadar Air CYcl)
(Hari) Ulangan Rl R2 R3 Jumlah
B-1 1 76,595 84,931 81,825
2 76,895 84,861 81,955
487,062
H-2 1 53,185 68,075 67,115
2 53,436 67,735 67,265
376,811
H-3 1 37,835 53,625 52,895
2 37,875 53,845 52,655
288,728
H-4 1 21,595 30,475 32,895
2 21,315 30,402 32,655
169,337
H-5 1 20,775 20,788 20,303
2 20,701 20,809 20,389
123,765
Jumlah 420,207 515,544 509,952 1.445,703
- Larnpiran 4. Tabel Sidik Ragam Uji Statistik Perubahan Kadar Air (P-2)

.Sumber Derajat Jumlah Kundrat Fhitun<T FTabel
b
-Keragaman Bebas Kundrat Total
Perlakuan 14 15.559,1454 1.111,3675
R (Wadah) 2 572,486 286,243 14.908,4896** 3,68
H (Waktu) 4 14.760,1903 3.690,0476 192.189,979** 3,06
RH(Interaksi) 8 226,4691 28,3086 1.474,4082** 2,64
Galat 15 0,288 0,0192
Total 29 15.559,4334 **) Berbeda nyata

40

Lampiran 5. Score Sheet Rumput Laut Kering iEucheuma cotonii)

SCORE SHEET ORGANOLEPTIK RUMPUT LAUT KERING JENIS Eucheuma cotonii

Nama Tanggal

KODECONTOH
SPESIFIKASI NILAI
I. PENAMPAKAN
- Bersih, , berserat panjang 10 - 40 em, warn a putih kekuning - 9
kuninzun merata,
- Kurang bcrsih, , berserat panjang 10 - 40 em, warna putih 7
kckuning-kuningan tidak merata,
- Kurang bersih, berserat cukup, warna coklat kekuning- 5 I
kunlnznn tidak mcrata I
- Kotor, suram, agak pucat, berscrat pendek, warna coklat 3
kemerah-merahan
- Kotor, lembab, berserat pcndck dan haneur. I
II. BAU
- spesiflk rumput laut sangat jelas, 9
- spesifik rumput laut agak berkurang, 7
- bau speslfik rumput (aut be rku rang, tidak bau amis, 5
- Agak bau amis. 3
- Bau am is. I
III. KONSISTENSII TEKSTUR
- Kering, liat tidak mudah dipatahkan antara batang dan cabang 9
(thalus).
- Cukup kcring, lint tidak mudah dipatahkan antara batang dan 7
cabang (thalus).
- Lembab, Hat Olga!\. mudah dipatahkan antara batang dan cabang 5
(thalus),
- Sangat lembab, Mudah dipatahkan antara batang dan cabnng, 3
- Hancur, sangat lembab, mutlah sekali dipatah-patahkan 1 I
batangnva. OJ)
...
-
;:)
:::::
.....
-
....
~
~
.....
:=
c.
E
:=
~
~
·c
c.
<:,)
'0
....
-
~
OJ)
...
0
c
~
.-
._,
:=
OJ)
c
<:,)
Q.,
.-
1;1)
ee
~
+C2
-
.-
:::
I
·a
-
.-
Z
., 1,0
:::
~
...
.-
c.
E
ce
~ M
~ 0. 0. 0. 0. r-- 0. 0. r-- 0. r-- 0. r-- r-- 0. 0.
N N
,
~ ~ r-- 0. r- 0. 0. 0. r-- r-- 0\ 0. 0\ 0. r-- 0. r--
.....
... ~ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0. 0. r-- 0\ 0\
-
....
.....
<I) :::t::
..... r- I.(") r-- r-- V) r-- r-- V) r-- M r-- I.(") I.(") I.(") I.(")
c::l
~
M
~ VI V) r- V) V) V) r-- V) I.(") f'1 I.(") VI r-- V) I.(")
..... N
I ~
A. I.(") r- t- V) V) V) r- V) VI C'1 V) V) r-- I.(") I.(")
......
~ I.(") 0. r-- I.(") r-- t- o. l() V) V) r-- M 0. r-- r--

(")
0::: r-- 0. l() l() 0. 0. l() r-- r-- V) G\ t- V) r-- I.(")
N N
I ~
Q., r-- 0\ M l() G\ G\ M r- 0\ 0\ G\ r-- V) r-- r--
......
~ r-- 0\ 0. r-- 0. r-- r-- 0. 0. 0\ 0\ 0. V) 0\ r-
:=
~ ~
~ r- 0. r-- 0. 0. 0. V) 0. 0. V) V) r- V) V) V)
M
0::: VI V) M V) V) V) M V) V) ....... \(") C'1 C'1 C'1 c'1
..... N
, ~
A. V) on on Vl V) M .- Vl V) ....... r-- .- C'1 M C'1
.....
~ M M ....... M 0. .- M f'1 M ....... ..- .- ........ VI C'1

. M . ....•
~ - ... f-
r-- r- Vl r-- M r-- M r-- on VI Vl r-- lI') lI')
N ~
I
~ r- r- lI') V) V) r-- M r- r-- r-- t- r- r-- VI r--
::: .....
ce 0::: 0\ 0\ 0. r-- 0. 0. 0. 0\ 0\ 0\ 0\ 0. 0\ 0\ 0\
.!:I::
c::
c.
a ~ 0\ 0\ 0\ 0. 0. 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ 0\ r-- 0\
~
...
Z M
A. ~ c'1 on C'1 M ~ M C'1 lI') I.(") M ....... M lI') ,_ r'1
..... ~
I
Poi c'1 on M V) on ....... r'1 r'1 . V) r'1 ....... lI') V) ....... r'1
......
0::: C'1 M C'1 r'1 C'1 C'1 .- C'1 C'1 ....... M M r'1 r'1 r'1
0 0 ..... N M ~ t()
z ..... N ~ "<:l- t() \0 r- QO 0\ ...... ...... ..... ...... ...... ...... 42

Larnpiran 7. Uji Kruskal-Wallis Nilai Organoleptik Penampakan

Perco baan ke-I Percobaan ke-2
Faktor Rata-rata H' HTabd Fakor Rata-rata H'
Ranking Ranking
Kontrol 50,3713 20,89** Kontrol 44,93 41,35**
R1 19,667 Rl 44,93
R2 25,9 7,81 R2 17,73
R3 23,433 R3 14,4 **) Berbeda nyata

Larnpiran 8. Uji Lanjut Muliple Comparison Nilai Penampakan

Percobaan ke-I Percobaan kc-2
Faktor Selisih Rata- Nilai Tabel Faktor Selisih Rata-
rata Ranking (Z) rata Ranking
Kontrol-Rl 30,7043** Kontrol- R1 0
Kontrol- R2 24,4713** Kontrol >- R2 27,2**
J(oI1trol-:- R3 269383** Kontrol-R3 30,53**
~ --' - ......... _-
R1-R2 6,233 15,37 RI-R2 27,2
RI-R3 3,766 R1-R3 30,53
R2-R3 2,467 R2-R3 3,33 **) Berbeda Nyata

" .,

43

Larnpiran 9. Uji Kruskal-\-Vallis Nilai Organoleptik Bau

Percobaan ke-I Percobaan ke-2
Faktor Rata-rata H' HTabel Faktor Rata-rata H'
Ranking Ranking
Kontrol 48,5 25,008** Kontrol 28,5 3,189
Rl 17,433 Rl 38,4
R2 27,567 7,81 R2 29,567
R3 28,5 R3 24,967 **) Berbeda nyata

Lampiran 10. Uji Lanjut Multiple Comparison Nilai Organoleptik Bau

Percohaan ke-l
Faktor Selisih Rata-rata Nilai Tabel (Z)
Ranking
Kontrol-Rl 31,067**
Kontrol- R2 20,932**
Kontrol- R3 20**
Rl-IU ... ._ 10J34 15,37
RI-R3 11,067
R2-R3 0,933 **) Berbeda nyata

· .,

44

Lam piran 11. Uj j Kruskal- Wallis Nilai Organoleptik Tekstur

Percobaan ke-I Percobaan ke-2
Faktor Rata-rata H' HTabcl Faktor Rata-rata H'
Ranking Ranking
Kontrol 32,133 5,061 Kontrol 11,033 27,694**
Rl ·26,833 Rl 42,767
R2 7,81 R2 32,367
R3 25,067 R3 35,833 **) Berbeda nyata

Larnpiran 12. Uji Lanjut Multiple Comparison Nilai Orgauoleptik Tekstur

Percobaan ke-2
Faktor Selisih Rata-rata Nilai Tabel (Z)
Ranking
Kontrol- Rl 31,734**
Kontrol-R2 21,334**
Kontrol-R3 24,8**
Rf-R2 . .. 10~4 15,37
RI-R3 6,934
R2-R3 3,466 **) Berbeda nyata

Lampiran 13. Gambar Alat Pengering Energi Matahari (Solar Dryer)

Lampiran 14. Gambar Rumput Laut Basah (Segar) Jenis Eucheuma cottonii

45

46

Lampiran 15. Gambar Rumput Laut Kering Jenis Eucheuma cottonii

Percobaan Ke-l (Tanpa Pencucian/Rak-I, Rak-2, Rak-3)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful