You are on page 1of 48

PSIKODIAKNOSTIK II

OBSERVASI

Oleh Jamila Nurhidayati

Observasi

1

BAB I PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN Observasi barangkali menjadi metode paling dasar dan paling tua dalam sebuah penelitian, karena dalam cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Beberapa penelitian baik itu kualitatif maupun kuantitif mengandung observasi di dalamnya. Istilah observasi berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘MELIHAT’ dan ‘MEMPERHATIKAN’. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi seringkali menjadi bagian dalam penelitian dalam berbagai disiplin ilmu baik ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperiental) maupun alamiah. Observasi yang berarti mengamati bertujuan untuk mendapat data tentang suatu masalah sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat rechecking, atau pembuktian terhadap informasi/keterangan yang diperoleh sebelumnya. Justru karena observasi selalu terlibat dalam proses pengambilan data, observasi kadang dianggap dapat dilakukan oleh siapapun, tidak perlu dibahas secara khusus. Karena kedapatannya dengan suasana kehidupan sehari-hari (selama masih hidup, sadar maupun tidak, semua orang melakukan observasi), observasi terkadang diangap sebagi metode yang kurang ilmiah. Setiap individu dapat memiliki persepsi yang sangat berbeda mengenaisuatu fenomena yang sama. Apa yang dilihat seseorang sangat tergantung pada minat, bias-bias dan latar belakang mereka. Oleh karena itu, menurut Patton Bahwa persepsi selektif pada manusia menyebabkan munculnya keragu-raguan terhadap validitas dan reliabilitas observasi sebagai suatu metode pengumpulan data yang ilmiah. Menanggapi keragu-raguan tersebut Patton mengingatkan bahwa persepsi selektif yang mewarnai bias-bias dan minat pribadi tersebut sesungguhnya terjadi pada kebanyakan orang awam yang memang tidak terlatih. Agar memberikan data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan memadai, serta telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap.
Observasi 2

Latihan observasi mencakup belajar mengadakan observasi secara umum pada konteks atau subjek yang dipilih, maupun mengadakan observasi dengan fokus-fokus khusus. Peneliti juga perlu berlatih begaimana menuliskan hasil observasi secara deskriptif, dan mengembangkan kedisiplinan mencatatat kejadian lapangan secara lengkap dan menditail. Peneliti seyogyanya dapat menentukan kapan perlu dan harus menulis secara detail, dan membedakannya dari upaya mencatat semua hal yang tidak perlu secara berlebihan. Tanpa keterampilan demikian, peneliti akan mengalami kebingungan, terbebani oleh banyaknya hal yang terlibat dalam proses observasi tanpa dapat memilih secara tepat apa yang harus dilaporkan. Sebagai metode ilmiah observasi bisa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebanarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung ataupun tidak langsung. Pengamatan yang tidak langsung misalnya melalui quesionere dan tes. Menurut Jehoda, observasi dapat menjadi alat penyelidikan ilmiah, apabila: 1. Mengabdi kepada tujuan-tujuan penelitian yang telah dirumuskan. 2. Direncanakan secara sistematik, bukan terjadi secara tidak teratur. 3. Dicatat dan dihubungkan secara sistematik dengan proporsi-proporsi yang lebih umum, tidak hanya dilakukan untuk memenuhi rasa ingin tahu semata-mata. 4. Dapat di cek dan dikontrol validitas, relibilitas, dan ketelitiannya sebagaimana data ilmiah lainnya.

B. TUJUAN OBSERVASI Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan. Patton (1990) mengatakan bahwa data hasil observasi menjadi penting, karena :
Observasi 3

1. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti ada atau terjadi. 2. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. Dengan berada dalam situasi lapangan yang nyata, kecenderungan untuk dipengaruhi berbagai konseptualis (yang ada sebelumnya) tentang topic yang diamati akan berkurang.
3. Mengingat individu yang telah sepenuhnya terlibat dalam konteks hidupnya seringkali

mengalami kesulitan merefleksikan pemikiran mereka tentang pengalamannya, observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh pertisipan atau subjek peneliti sendiri kurang disadari. 4. Observasi memungkinkan penelitian memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkap oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara. 5. Jawaban terhadap pertanyaan akan diwarnai oleh persepsi selektif individu yang diwawancara. Berbeda dengan wawancara, observasi memungkinkan peneliti bergerak lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subjek penelitian atau pihak-pihak lain. Observasi memungkinkan peneliti merefleksi dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukannya. Impresi dan perasaan pengamat akan menjadi bagian dari data yang pada gilirannya dapat dimafaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti. Bagi psikolog, observasi perlu dilakukan karena bebarapa alasan: 1. Memungkinkan mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologi yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak. 2. Prosedur testing formal seringkali tidak ditangapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama. 3. Observasi dirasakan lebih tidak mengancam dibandingkan cara pengumpulan data yang lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat
Observasi 4

Sebagai dasar/titik awal dari kemajuan klien. Untuk keperluan asesmen awal. Observasi 5 . Untuk mengethui perkembangan anak pada tahap tertentu. 3. tujuan observasi seorang psikolog pada dasarnya adalah: 1. guru. Oleh karena itu. ruang bermain. 8. 4. Sebagai informasi status anak/remaja (di sekolah) untuk keperluan bimbingan dan konseling. 5. Dari beberapa kali pertemuan psikolog tahu kemajuan yang dicapai klien. Digunakan dalam memberi laporan pada orang tua. 2.dibandingkan orang dewasa sebab orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang diobservasi. Dilakukan di luar ruang konseling. dokter. 6. Bagi anak-anak. Untuk merancang rencana individual (individual plan) bagi klien berdasarkan kebutuhan. Untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan klien. halaman. 7. dll. Untuk menentukan kelebihan dan kelemahan observe dan menggunakan kelebihan tersebut untuk meningkatkan kelemahan klien. misalnya: ruang tunggu. ruang kelas.

Bila sebagian peneliti menyatakan keterlibatan aktif dalam konteks yang diamati merupakan cara paling ideal. Patton menjelaskan berbagai alternatif cakupan dalam pendekatran observasi yang perlu dipertimbangkan dengan baik. dan melakukan instrospeksi. Apakah pengamat berpartisipasi aktif dalam setting yang diamatinya ataukah ia menjadi pengamat pasif. Partisipan dan Non partisipan. Patton menganjurkan agar kita tidak perlu berpikir demikian. dan lain sebagainya. Halhal tersebut tidak dilakukan peneliti yang melakukan observasi tidak terlibat (tidak partisipatif). yaitu: 1.BAB II TEKNIK OBSERVASI A. Non partisipan-Overt-Alamniah (noa). 2. Yang paling penting adalah negosiasikan dan menyesuaikan derajat pertisipasi aktif peneliti dengan karekteristik subjek atau objek penelitian. konteks politis. Overt dan Covert. sifat interaksi peneliti-subjek penelitian. dengan berbagai kombinasi. Dalam setiap observasi yang dilakukan selalu tercakup ketiga dimensi diatas. berpatisipasi langsung sekaligus mengamati. Pengamat yang partisipatif akan menggunakan strategi pendekatan lapangan yang beragam secara stimulant mengkombinasikan analisis dokumen. Dalam kasus-kasus Observasi 6 . antara lain sifat fenonema yang diteliti. maupun pertanyaan-pertanyaan penelitian. Keputusan sejauh mana peneliti perlu terlibat dalam aktivitas yang diteliti tergantung pada banyak hal. dalam arti tidak terlibat dalam aktivitas yang diamatinya tersebut (partisipasi atau non partisipasi). maupun konteks sosial politik yang melingkupi fenomena yang diteliti. 3. DIMENSI OBSERVASI Secara umum setiap observasi yang dilakukan tercakup dalam tiga dimensi. Alamiah dan Buatan. yaitu: 1. mewawancara responden dan informan. Partisipan-Covert-Buatan (pcb). Bisa Psrtisipan-Overt-Alamiah (poa).

4. Variasi berkenaan dengan focus observasi: fenomena utuh aspek-aspek khusus? Ada observasi yang difokuskan pada fenomena utuh. apalagi bila fenomena yang diteliti adalah fenomena spesifik yang berlangsung pada saat-saat tertentu saja. Untuk studi yang lebih praktis. Karenanya sebagian peneliti berpendapat observasi yang tidak terbuka (covert) akan meyakinkan peneliti menangkap kejadian yang sesungguhnya daripada observasi terbuka. Sebaliknya. Walaupun demikian. sedangkan Banister menambahkan beberapa variasi pendekatan yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut. tinjauan etis mengungkapkan problema berbeda: apakah etis melakukan observasi sistematis tanpa memberi tahu dan meminta izin? 3. Apakah peneliti melakukan observasinya secara terbuka. Apakah observasi perlu dilakukan dalam jangka waktu lama. observasi dapat berlangsung sangat lama. keterlibatan dan partisipasi aktif pengemat justru dapat memunculkan masalah dan mengganggu langkah-langkah pengumpulan data. misalnya dengan memfokuskan pada aspek-aspek atau elemen-elemen tertentu saja dari keseluruhan yang kompleks. ataukah secara tertutup/terselubung? (overt atau covert) Diyakini bahwa manusia pada umumnya akan bertingkah laku berbeda bila tahu bahwa mereka diaamti. atau cukup dalam waktu yang terbatas? Dalam tradisi studi antropologi. Dalam situasi yang demikian. yang penting adalah keberhasilan peneliti melakukan observasi terhadap fenomena khusus yang jarang terjadi tersebut. dengan maksud agar peneliti dapat memeperoleh pemahaman holistic mengenai budaya kelompok yang ditelitinya. individu yang tidak menyadari bahwa ia sedang diamati akan bertingkah laku biasa (tidak dibuat-buat atau disesuaikan dengan harapan sosial). Ada pula observasi yang sempit. yaitu: Observasi 7 . Sementara. dalam situasi seperti ini dibutuhkan pelatihan meluas pada semua aspek yang terlibat. dilakukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. waktu observasi yang terlalu lama tidak diperlukan. 2.tertentu. dalam studi ilmu sosial pada umumnya tujuan digunakannya observasi adalah untuk mengungkap kompleksitas dan pola-pola realitas sosial.

• Variasi dalam fokus observasi Dapat bervariasi mulai dari dikonsentrasikan secara sempit pada aspek-aspek tertentu saja (missal: bentuk komunikasi nonverbal tertentu saja) atau diarahkan secara luas pada berbagai aspek yang dianggap relevan.• Variasi dalam struktur observasi Dapat bervariasi mulai dari observasi yang dilakukan secara sangat terstruktur dan mendetai sampai pada observasi yang tidak terstruktur. Untuk menyelidiki satuan-satuan sosial yang besar seperti masyarakat suku bangsa kerap kali diperlukan observasi partisipan ini. Observasi PARTISIPAN Jenis teknik observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang sifatnya eksploratif. atau alat-alat yang lebih canggih seperti perekam suara dan gambar. Observasi 8 Nonsistematik dan Observasi Eksperimental- Observasi . TEKNIK OBSERVASI Ada tida jenis pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan tertentu. dipakainya lembar pengecek. stop watch. Suatu observasi disebut observasi partisipan jika orang yang mengadakan observasi (observer) turut ambil bagian dalam kehidupan observee. penggunaan computer (note book). • Variasi dalam metode dan sarana/instrument yang dilakukan untuk melakukan dan mencatat observasi. sejauh mana informasi akan disampaikan dan mengapa? B. Observasi Sistematik-Obserbasi Noneksperimental. Apakah umpan balik (perlu) diberikan kepada orang-orang yang diamati? Bila umpan balik dismapaikan. yaitu: Observasi Partisipan-Observasi Nonpartisipan. 1. • Pemberian umpan balik. Mulai dari tulisan tangan.

Maksudnya peneliti sebenarnya bukan anggota asli kelompom yang diteliti melainkan dalam peristiwa-peristiwa tertentu bergabung dan berpartisipasi dengan subjek yang diteliti dalam kapasitas sebagai pengamat. tetapi hubungan antara peneliti dan subjek yang diteliti bersifat terbuka. akrab. melainkan juga subjek yang diteliti. Berpatisipasi secara lengkap.Pengamatan partisipatif memungkinkan peneliti dapat berkomusikasi secara akrab dan leluasa dengan observee dan memungkinkan untuk bertanya secara lebih rinci dan getail terhadap hal-hal yang tidak akan dikemukakan dalam tida jenis observasi. Berpartisipasi sebagai pengamat. b. Sungguhpun observer pertisipan mengikuti dan turut serta dalam kegiatan-kegiatan observee. Materi Observasi Persoalan tentang materi observasi sama sekali tidak dapat dilepaskan dari scope dan tujuan penelitian yang hendak diselenggarakan. c. namun masih perlu dibedakan mana persoalan yang penting dan tidak penting. Peneliti menjadi anggota penuh dari kelompok yang diamati sehingga peneliti mengetahui dan menghayati secara utuh dan mendalam sebagaimana yang dialami subjek yang diteliti lainnya. bahkan subjek yang diteliti sebagai sponsor penelitian itu sendiri. Beberapa persoalan pokok yang perlu mendapat perhatian secukupnya dari seorang partisipan observer adalah: a. Maksudnya peneliti ikut berpartisipasi dengan kelompom subjek yang diteliti. yang kepentingan penelitian tidak hanya bagi peneliti. yaitu: a. Adalah perlu sekali observer memusatkan perhatiannya pada apa yang sudah dikerangkakan dalam pedoman observasi (observation guide) dan tidak terlalu insidental dalam observasi-observasinya. tahu sama tahu. b. Waktu dan Bentuk Pencatatan Observasi 9 . Berpartisipasi secara fungsional.

Jika pencatatan on the spot tidak dilakukan. Ini dapat diketahui dengan mudah bila dua orang observer dari latar belakang yang berlainan mengkonfrontasikan pencatatan-pencatatan mereka. Oleh sebab itu ada baiknya jika pencatat memberikan kode-kode tertentu untuk dua jenis pencatatan itu. mengobservasi.Masalah kapan dan bagaimana mengadakan pencatatan adalah masalah yang pelik dan penting bagi observasi partisipan. Sedangkan kebaikan bentuk yang kedua adalah sekali jalan penyelidik sudah mempersiapkan penganalisaan data yang dicatat. menurut urut-urutan kejadiannya. akan mencegah pemalsuan ingatan karena terbatasnya ingatan. dan ketika observer kesulitan karena harus mencegah perhatiaannya untuk parisipasi. b. maka perlu dijalankan pencatatan dengan kata-kata kunci. Sungguh pun begitu ada saat dimana pencatatan on the spot tidak dapat dilakukan. Akan tetapi. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah memisahkan antara pendataan yang faktual dengan pencatatan yang interpretatif. Tidak jarang penyelidik secara tidak sadar mencatat suatu kejadian sebagai fakta. Bentuk Kronologis. Kebaikan bentuk yang pertama adalah bahwa konteks observasi masih dapat dipertahankan. yaitu memasukkan tiap-tiap kejadian dalam kategori-kategorinya masing-masing tanpa memperhatikan urutan kejadiannya. sedang kelangsungan situasi cukup lama. Tiap-tiap pencatatan dapat mengambil dua bentuk: a. Bentuk sistematik. pencatatan semacam ini pun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak menarik perhatian dan tidak menimbulkan kecurigaan. Pencatatan on the spot. misalnya ketika situasi yang normal terganggu. Sudah dapat dipastikan bahwa pencacatan dengan segera terhadap kejadian-kejadian dalam situasi interaksi adalah yang terbaik. dan mencatat secara bersama-sama. padahal sebenarnya adalah interpretasi. Pencatatan dapat dilakukan misalnya pada kertas-kertas kecil atau pada kertas apapu yang kelihatannya tidak berarti. misalnya kode (1) untuk pencatatan jenis faktual dan kode (2) untuk pencatatan jenis interpretatif. Pemisahan itu penting karena: Observasi 10 . Maisng-masing bentuk itu mempunyai kebaikan dan kelemahannya sendiri-sendiri. ketika timbul rasa curiga pada observee.

2. Jika observasi dilakukan oleh suatu team. sama derajad dan saling membantu secara harmonik antara observer dan observee. dalam penganalisaan data tidak banyak timbul kesulitan atau perselisihan paham. Observasi 11 . dan 3. dan memelihara hubungan antara observer dan observee selalu merupakan persoalan yang sangat pelik dalam observasi partisipan. memotret. a. Dalam observasi partisipan observer berperan ganda yaitu sebagai pengamat sekaligus menjadi bagian dari yang diamati. saling tenggang rasa. perlu diusahakan bukan saja dengan tokoh-tokoh kunci. saling mempercayai. yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh semangat kerjasama. sedangkan dalam observasi norpartisipan observer hanya memerankan diri sebagai pengamat. Untuk membedakan mana data yang otentik dan mana yang tidak. merekam. Dan dalam tiap-tiap kegiatan itu dia dapat turut serta sedalam-dalamnya (intensive participation) atau secara minimal (surface participation). Observasi nonpartisipan dapat bersifat tertutup dalam arti tidak diketahui oleh subyek yang diteliti ataupun terbuka yakni diketahui oleh subyek yang diteliti. Penyelidik dapat mengambil partisipasi hanya pada beberapa kagiatan sosial (partial participation). Menjaga agar situasi dalam masyarakat yang diselidiki tetap wajar. Masalah lain yang juga perlu mendapat perhatian penyelidik yang menggunakan teknik observasi partisipan adalah memberikan “alasan” tentang kehadirannya yang dapat dimengerti dan diterima oleh anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. 2. Mengadakan good rapport. Pedoman minimal yang perlu dipegang teguh oleh penyelidik dalam hal ini adalah: 1. Hal ini tergantung pada situasinya. Bagaimana mengusahakan. tetapi juga dengan seluruh lapisan masyarakat ajang observasi. mengatur. mempelajari.1. Perhatian peneliti terfokus pada bagaimana mengamati. dan mencatat tingkah laku atau fenomena yang teliti. Good rapport. dan dapat juga pada semua kegiatan (full participation). Intensi dan Ekstensi Partisipasi Dalam hal luasnya partisiapasi tidaklah sama untuk semua penyelidikan dengan observasi partisipan ini. Mencegah adanya kecurigaan.

a. Observasi jenis ini Observasi 12 . respon. Ini kadang-kadang dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dari observasi partisipan. Ciri pokok dari observasi ini adalah kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya lebih dulu. Sebagai alat untuk penyelidikan deskriptif.Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbuk dapat dihitung dan ditabulasikan. misalnya hubungan antara pengikut. dan sebagainya. dia berlandaskan pada perumusanperumusan yang lebih khusus. Hubungan antara Observer dan Observee Dalam observasi sistematik hubungan observer dan observee mengajukan suatu persoalan yang pelik. Parumusan-perumusan masalah yang hendak diselidiki pun sudah dikhususkan. bukan situasi kehidupan masyarakat seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan dalam penelitian eksploratif. Wilayah atau scope observasinya sendiri telah lebih dahulu dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan dari penelitian. atau reaksi yang dapat dicatat secara teliti pula. Materi Observasi Isi dan luas situasi yang akan diobservasi dalam observasi sistematik umumnya lebih terbatas. b. Ini akan sangat memudahkan pekerjaan analisa hasilnya nanti.2. Jika tidak dilakukan dibelakang ‘one way screen’. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki adalah sangat terbatas. Obsevasi SISTEMATIK Observasi sistematik biasa disebut juga observasi berkerangka atau structured observation. Ketelitian yang tinggi pada prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan ‘kuantifikasi’ terhadap hasil-hasil penyelidikannya. kerjasama dan persaingan prestasi belajar. c. Cara-cara Pencatatan Persoalan-persoalan yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawabanjawaban. dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori-kategori itu.

peristiwa-peristiwa. Dalam observasi alamiah observer mengamati kejadian-kejadian. yaitu kejadian. Dalam pada itu pengalaman-pengalaman menunjukkan bahwa jika sebelum penyelidikan yang sebenarnya observer sudah pernah hadir dalam situasi sekali atau beberapa kali umumnya. seorang observer tidak akan dapat menyembunyikan kenyataan-kenyataan sedang mengadakan penyelidikan. Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni menyelidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. mendapatkan kerjasama yang sebaik-baiknya dengan observee adalah syarat mutlak dalam observasi sistematik. Observasi EKSPERIMENTAL Observasi dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/natural ataupun dalam lingkup eksperimental. dan perilaku-perilaku observee dalam lingkup natural. Ciri-ciri penting bagi observasi eksperimental adalah sebagai berikut : • Observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk semua observee.menimbulkan masalah yang sama dengan observasi partisipasi untuk mengusahakan rapport yang baik. menggunakan alat-alat. Sebab faktorfaktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensidimensi tertentu terhadap tingkah laku. dan kesibukan-kesibukan lainnya. peristiwa. Dengan kesibukannya mengadakan pencatatan. Kerena itu. Pertama-tama situasinya harus disiapkan sedemikian rupa sehingga para observee tidak berkeberatan menerima observer. kehadirannya di sudut kamar tidak banyak mempengaruhi kegiatan-kegiatan grup yang sedang berjalan. • Situasi dibuat sedemikian rupa untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang akan diamati oleh observer. atau perilaku apa adanya tanpa adanya usaha untuk mengontrolnya. Observasi 13 . 3.

bukan hanya jumlah reaksi semata-mata. Observasi 14 .• Situasi sedemikian rupa sehingga observee tidak tahu maksud yang sebenarnya dari observasi. • Observer atau alat pencatat membuat catatan-catatan dengan teliti mengenai cara-cara observee mengadakan aksi reaksi.

kemudian menuliskan kesan-kesan umumnya. Setelah dia menghentikan penyelidikannya dan mengadakan penyelidikan lagi pada saat ini dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Check list dimaksudkan untuk mensistematikan catatan observasi. Observer harus mencatat secara teliti apa dan bagaimana kejadian. kerugian dari bentuk seperti ini adalah memakan waktu yang agak lama. bukan bagaimana menurut pendapatnya. ALAT OBSERVASI Ada bebarapa alat observasi yang digunakan dalam situasi-situasi yang berbeda-beda.BAB III PROSES OBSERVASI A. antara lain : 1. Apa yang dia lakukan adalah mengadakan observasi cara-cara orang bertindak dalam jangka waktu tertentu. Rating Scale Observasi 15 . Akan tetapi. melainkan hanya pada waktu-waktu tertentu. Catatan Berkala Dalam catatan berkala penyelidik yang mencacat macam-macam kejadian khusus sebagimana pada observasi anecdotal. Anekdotal Observer mencatat hal-hal yang penting. Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam check list. 2. dan observer tinggal memberi tanda check secara cepat tentang ada tidaknya aspek perbuatan yang tercantum dalam list. 3. 4. Check List Check list adalah suatu daftar yang berisi nama-nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki. Pencatatan dilakukan sesegera mungkin pada tingkah laku yang istimewa. Dengan check list ini lebih dapat dijamin bahwa penyelidik mencatat tiap-tiap kejadian yang telah ditetapkan hendak diselidiki.

gejala yang lainnya juga dicatat dalam keadaan baik. sungguhpun kenyataannya tidak begitu. Rating scale umumnya terdiri dari suatu daftar yang berisi ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat observasi diminta mencatat pada tingkat yang bagaimana suatu gejala atau ciri tingkah laku timbul. Generosity Effects Kesesatan dapat terjadi karena keinginan untuk berbuat baik. sedang observer sendiri adalah orang yang biasa berpakaian rapi. dan waktu sangat dihemat oleh karenanya. dan memberikan penilaian yang tinggi pada observe tanpa memperhatikan pada aspek yang sebenarnya hendak diamati. dan relatif menunjukkan keseragaman antara pencatat dan sangat mudah untuk dianalisis secara statistik. c. Dan sebaliknya seorang observer dapat memberi nilai yang lebih rendah daripada semestinya tentang suatu hal yang oleh karena observe berpakaian yang kurang rapi. Dengan cara ini deskripsi yang panjang lebar tidak diperlukan. demikian ada beberapa sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian dari observer. Dalam keadaan-keadaan yang meragukan seorang observer mempunyai kecenderungan seorang observer mempunyai kecenderungan untuk menilai yang menguntungkan (atau merugikan) observee. Namun. misalnya seorang observer mungkin terpikat oleh tingkah laku yang sopan dari orang yang diamati. Hallo Effects Kesesatan ‘halo’ terjadi jika observer dalam pencatatan terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada observe. Observer tinggal member tanda-tanda tertentu dan mengecek pada tingkat-tingkat tingkah laku tertantu. Carry Over Effects Carry over effects terjadi jika pencatat tidak dapat memisahkan satu gejala dari yang lain dan jika gejala yang satu kelihatan timbul dalam keadaan yang baik. Rating scale ini sangat populer karena pencatatanya sangat mudah. yaitu: a. Pencatatan gejala yang satu dan dibawa-bawa dalam pencatatan gejalan lainnya ini pasti tidak akan Observasi 16 . Jadi. sedang observer tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu.Rating scale adalah pencatatan gejala menurut tingkat-tingkatnya. Rating scale mempunyai kesamaan dengan ckeck list. b.

kehadiran dalam area penelitian hanya untuk melakukan observasi tetapi tidak diketahui oleh subyek yang diamati. Observer tidak berperan sama sekali Dalam Observasi observer tidak berperan. atau menggunakan teropong jarak jauh untuk mengamati perilaku seorang atau sekelompok orang. • Sebagai alat untuk melatih observer untuk memperbaiki kecermatan dan ketelitian observasinya. Biaya untuk ini sangat mahal tetapi pada kesempatan-kesempatan tertentu diperlukan juga. Sehingga hal ini perlu diperhatikan oleh seorang peneliti yang hendak meneliti suatu gejala.menghasilkan fakta-fakta yang sesuai dengan keadaannya. Pengamatan semacam itu juga bisa dilakukan dengan cara menggunakan rekaman video sehingga peneliti benar-benar tidak melakukan peran sama sekali. 5. Mechanical Devices Perkembangan alat-alat optika yang maju memungkinkan seorang observer menggunakan alat pencatat mesin seperti kamera video untuk menyelidiki tingkah laku orang. B. yang belum tentu dapat dilakukan dalam kegiatan normal. • Untuk seorang perancang reseach memberikan bahan-bahan yang berharga untuk mengembangkan problema-problema penelitian. misalnya dengan menggunakan kaca “one way mirror“ seperti pengamatan pada sekelompok anak-anak dengan perilaku di dalam kelas dalam suatu ruangan atau kelas. Keuntungan dari observasi yang menggunakan alat ini adalah: • • Dapat diputar kembali setiap dibutuhkan. Observasi jenis ini bisa dilakukan. Dapat diputar lambat-lambat untuk memungkinkan analisa yang diteliti tentang tingkah laku manusia. OBSERVER Spradley (1980) menyebutkan bahwa peran observer dalam metode observasi adalah: 1. Observasi 17 .

kecuali mungkin dengan menggunakan perekaman secara tersembunyi. Ketangkasan menggunakan alat-alat pencatatan. Apa yang dilakukan tidak ubahnya sebagaimana yang dilakukan subjek yang diteliti. Observer berperan aktif Dalam observasi ini peneliti dapat memainkan berbagai peran yang dimungkinkan dalam suatu situasi sesuai dengan kondisi subjek yang diamati. tetapi peneliti telah dianggap sebagai bagian dari mereka dan kehadirannya tidak mengganggu atau mempengaruhi sifat naturalistik. dan bagaimanapun hal ini membawa pengaruh. sebaiknya peneliti tidak membuat catatan selama penelitian. Cara ini dilakukan semata untuk dapat mengakses data yang diperlukan bagi penelitian. Observer berperan pasif Dalam jenis ini observer mendatangi peristiwa. Keberadaan peneliti sebenarnya diketahui oleh subjek yang diteliti. Agar kehadiran peneliti tidak mempengaruhi sifat alamiah subjek. tetapi juga bisa lebih menjadi pengarah acara sebuah peristiwa terarah dengan skenario peneliti agar kedalaman dan keutuhan datanya tercapai.2. Observer berperan penuh Pada observasi ini peneliti bisa jadi sebagai anggota resmi dari kelompok yang diamati atau sebagai orang dalam atau orang luar tetapi telah dianggap sebagai orang dalam. 4. dan ingatan manusia. Keterbatasan panca indra. bukan sekedar partisipasi aktif dalam kegiatan subjek yang diteliti. Peran peneliti dalam observasi terlibat penuh. akan tetapi kehadirannya di lapangan menunjukkan peran yang peling pasif. yaitu: • • • • Prasangka-prasangka dan keinginan-keinginan dari observer. Kehadirannya sebagai orang asing diketahui oleh orang yang diamati. 3. Keterbatasan wilayah pandang. Observasi 18 . Dalam melakukan observasi ada beberapa hal yang mempengaruhi kecermatan dalam observasi. peneliti harus segera membuat catatannya secepatnya sebelum tertumpuk oleh informasi lainnya. Tetapi setelah selesai melakukan pengamatan. kemampuan pengamatan.

karena bisa saja perilaku yang dianggap tidak penting justru merupakan perilaku yang sangat penting. Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang observer yang baik harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut : 1. Menjaga hubungan antara observer dan observee Observasi 19 .• • • Ketelitian pencatatan hasil-hasil observasi Ketepatan alat dalam observasi. Seorang observer harus bisa memahami dengan cepat perilaku yang ditunjukkan oleh observee dan bagaimana respon yang harus diberikan. 6. Kemampuan menangkap hubungan sebab akibat tergantung pada keadaan mental. Dapat mereaksi dengan cepat dan menerangkan contoh-contoh tingkah laku secara verbal/non verbal. Seorang observer hendaknya mempunyai kemampuan untuk membedakan tandatanda tingkah laku agar dapat membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lainnya. Juga perlu mengetahui perbedaan mengekspresikan emosi ke dalam perilaku bagi masing-masing kelompok masyarakat. indra pada suatu waktu. 4. Pengertian observer tentang gejala yang diobservasi. Mampu memahami kode-kode / tanda-tanda tingkah laku untuk membedakan tingkah laku yang satu dengan yang lain. 2. 3. 5. Mengerti latar belakang tentang materi yang akan diobservasi Untuk mengobservasi tentang perkembangan anak maka seorang observer harus mengusai teori tentang perkembangan yang harus dilalui oleh setiap anak. Membagi perhatian Seorang observer harus mampu membagi perhatiannya antara mengamati tindakan yang dilakukan oleh observee dan mencatat perilaku tersebut. Dapat melihat hal-hal yang detail Seorang observer harus mampu mengamati perilaku observee sampai pada perilaku yang sekecil-kecilnya.

5. Hal ini sesuai dengan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan. Dalam melakukan observasi ada beberapa point yang biasanya perlu diperhatikan. HAL-HAL YANG DIOBSERVASI Banyak hal-hal. 4. Aktivitas yang dilakukan : Misalnya jenisnya. dimana dan sebagainya. bagian tubuh mana yang sering digunakan dan bagian mana yang kurang banyak gerakan (misalnya observe selalu menggerak-gerakkan tengan ketika berbicara. peristiwa-peristiwa. dengan siapa. masalah-masalah. LANGKAH-LANGKAH DALAM OBSERVASI Rummel telah merumuskan petunjuk-petunjuk penting bagi mereka yang menggunakan metode observasi untuk mengumpulkan fakta-fakta seperti berikut: Observasi 20 . lamanya.Kemampuan menjalin hubungan baik dengan observe merupakan faktor yang sangat penting dalam observasi. 7. Penampilan fisik : yang meliputi kondisi fisik observe. D. Pembicaraan : yaitu bagaimana isi pembicaraan yang dilakukan. Rekasi emosi : yaitu bagaimana reaksi emosi observe. berat badan. dan lain-lain. C. dsb). 6. Dalam penelitian seorang observer perlu memperhatikan bagaimana reaksi emosi observe terhadap suatu masalah yang ingin diteliti. Ekspresi wajah : Bagaimana ekspresi wajah observe ketika sedang berbicara. 2. 3. dan gejala-gejala yang dapat diobservasi. warna kulit. Gerakan tubuh / penggunaan anggota tubuh. yaitu: 1. Misalnya: bagaimana postur tubuh observe. Dan beberapa hal yang perlu diobservasi. misalnya tinggi badan.

Observasi 21 . 2. Banyak orang merasa perlu mencatat-catat hasil observasi. kerapkali perlu sekali penyelidik mengetahui besar kecilnya jenis tingkah laku yang muncul. 3. Cara ini akan menghemat waktu dan menyeragamkan tata kerja observasi yang dilakukan terhadap banyak peristiwa. Perumusan masalah dan aspek-aspek khusus dari penyelidikan akan menentukan apa yang harus diobservasi. kecuali mencatat jumlah frekuensi dari suatu jenis tingkah laku. 5. 4. 7. Selidiki tujuan-tujuan yang umum maupun khusus dari masalah-masalah reseach untuk menentukan apa yang harus diobservasi. Ketahuilah beik-baik alat-alat pencatatan dan data caranya mencatat sebelum melakukan observasi. Check list akan menghemat pencatatan sampai minimal dan jika dibuat secara cermat akan memungkinkan penyelidik mencatat secara teliti unsur-unsur khusus dari gejala yang akan diselidiki. tetapi tidak berhasil untuk melakukan itu karena ketiadaan cara pencatatn yang efisien. Adalah penting sekali untuk menetapkan lebih dahulu simbol-simbol statistik atau rumusan-rumusan deskriptif yang akan digunakan untuk mencatat hasil-hasil observasi. Peroleh dahulu pengetahuan apa yang akan diobservasi. Secara singkat berikut langkah-langkah yang harus dilakukan dalam observasi : 1. Untuk melaksanakan itu umumnya digunakan check list. Penyelidik dapat mengobservasi dan mengingat-ingat lebih banyak sifat-sifat khusus dari sesuatu jika dia telah mempunyai pengetahuan lebih dahulu tentang apa yang akan diobservasi dan jenis fenomena-fenomena apa yang perlu dicatat.1. Sebab itu ketahui dan tentukan lebih dahulu apa-apa yang perlu diobservasi. Adakan observasi secermat-cermatnya. 6. Catatlah tiap-tiap gejala secara terpisah. Mengetahui/memperoleh pengetahuan yang akan diobservasi. Buatlah suatu cara untuk mencatat hasil-hasil observasi. Adakan dan batasai dengan tegas macam-macam tingkat kategori yang akan digunakan. Selidiki secara mendalam dan gunakan penyelidikan-peyelidikan yang terdahulu yang mempunyai hubungan dengan problematik reseach yang akan dilakukan untuk memperoleh petunjuk-petunjuk tentang apa yang diobservasi dan dicatat.

melainkan data kongrit berkenaan dengan fenomena yang diamati. Membatasi dengan tegas hal-hal yang akan diobservasi. 6. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Yang penting untuk diingat adalah catatan lapangan mutlak dibuat secara lengkap. Untuk mampu menulis catatan lapangan yang lengkap dan informatif. Peneliti harus menyadari ia tidak dapat mengandalkan ingatanya saja. 3. Membuat hasil catatan-catatan/observasi. interaksi sosial dan aktifitas apa yang berlangsung dan sebagainya. 4. bagaimana setting fisik lingkungan. apapun yang oleh peneliti dianggap penting. Bila pencatatan tidak mungkin dilakukan langsung di lapangan. Penulisan catatan lapangan dapat dilakukan dalam cara yang berbeda-beda. Catatan lapangan harus deskriptif. sangat mungkin akan kehilangan nuansa yang diamati. alatnya apa). Memahami pencatatan dan penggunaan alat. dan ditulis sedemikian rupa untuk memungkinkan pembaca menvisualisasikan setting yang diamati. Deskripsi yang memadai dalam detil. peneliti perlu melatih kedisiplinan untuk melakukan pencatatan secara kontinyu. dan dicatat dengan menyertakan informasi-informasi dasar seperti dimana observasi dilakukan. Membuat tata cara observasi (metode apa. Deskripsi interpretasi Observasi 22 . Pengamat tidak mencatat kesimpulan atau interpretasi. Yang sangat penting untuk selalu diingat adalah peneliti yang baik akan melaporkan hasil observasinya secara deskriptif. 7. diberi tanggal dan waktu. PENCATATAN LAPANGAN Catatan lapangan berisi tentang hal-hal yang diamati. dengan keterangan tanggal dan waktu yang lengkap. 5. siapa yang hadir di sana. hal tersebut wajib dilakukan sesegera mungkin setelah peneliti meninggalkan lapangan. E. Melakukan observasi dengan secermat-cermatnya.2. dan bila ia tidak segera mencatat apa yang ia amati. dan menuliskannya langsung saat melakukan observasi di lapangan. tidak interpratatif.

dan tembok yang berwarna biru muda digantungi beberapa lukisan pemandangan…… Kedua tersebut saling memuku. Observasi 23 . yang dibuat dalam bentuk yang teratur dan ditulis setiap hari. Pembuatan catatan lapangan. Dalam hal ini pengamat bebas membuat catatan. 3. sehingga dengan sendirinya dengan sendirinya juga dapat mengembangkan analisis yang lebih akurat saat menginterpretasi seluruh data yang ada. Hal itu akan membantu peneliti dalam mengungkap prespektif orang yang diamati mengenai realitas yang alami. yaitu gambaran umum peristiwa-peristiwa yang telah diamati oleh peneliti. 2.dengan menggunakan penyimpulan-penyimpulan dari peneliti harus dihadari interpretasi dengan memberikan lebel atau penjelasan sifat-sifat tidak ditunjukkan. Yang perlu dilakukan adalah menjabarkan situasi yang diamati segera mengambil kesimpulan tentang hal tersebut. Catatan tentang satuan-satuan sistematis. yaitu catatan rinci tentang tema yang muncul. yang isinya diambil dari catatan lapangan. Kongrit. Bila relevan yang memungkinkan. Guba dan Lincoln telah memberikan pedoman dalam pembuatan catatan : 1. Dengan uraian deskriptif sekaligus informatif demikian. Mereka sangat membenci satu sama lain. pengamat meminimalkan biasnya. Hasil interpretasi : Contoh : Ruangan sangat nyaman dan indah. Yang satu terjatuh dan lelaki yang lain kemudian menginjak sampai yang terjatuh tersebut berteriak-teriak……. apa adanya dan mendatai : Contoh : Ruangan berukuran…. catatan lapangan perlu juga diisi kutipan-kutipan langsung apa yang dikatakan obyek yang diamati selama proses observasi. Buku harian. dan biasanya dilakukan pada malam hari setelah melakukan observasi. terdengar suara musik dari alat perekam.

Kuesioner yang diisi oleh pengamat untuk memberikan balikan kepada pengamat sehingga dapat lebih mengarahkan dan memperbaiki teknik pengamatannya. apa yang diamati. Interpretasi sementara peneliti terhadap kejadian yang diamati. Banister (1994) mengemukakan hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu membuat catatan observasi. yang dapat berbentuk peta. Deskripsi konteks. 4. 2. Dengan peta konteks ini dapat diperoleh gambaran umum tentang posisi subjek serta perkembangannya. Deskripsi tentang siapa yang melakukan observasi. Deskripsi mengenai karakteristik orang-orang yang diamati. yang merupakan catatan rinci tentang urutan peristiwa dari waktu ke waktu. Taksonomi dan ketegori yang dikembangkan selama analisa di lapangan. dimana. Deskripsi mengenai perilaku yang ditampilkan orang-orang yang diamati. dibuat untuk mengecek apakah semua aspek informasi yang diperlukan telah direkam. Observasi 24 . Catatan kronologis. 8. Jadwal observasi berisi dekripsi waktu secara rinci tentang apa yang dikerjakan. misalnya kamera atau video yang disembunyikan. “Topeng Steno“ yaitu alat perekam suara yang diletakkan secara tersembunyi di tubuh peneliti. yaitu: 1. Panel yaitu pengamatan terhadap seseorang atau sekelompok orang secara periodik.4. Balikan dari pengamat lainnya. 11. 3. sketsa atau diagram. Piranti elektronik. 12. juga dapat memperbaiki teknik pengamatan yang dipergunakannya. 7. 14. kapan dan lain-lain. Siometik merupakan diagram hubungan antara subjek yang sedang diamati. Daftar cek. 9. 6. 5. 10. 13. 5. Peta konteks.

Pertimbangan mengenai alternatif interpretasi lain. 3.6. E. Kesalahan yang berhubungan dengan setting. Dapat memahami situasi yang rumit. Hal ini berkaitan dengan penelitia. hello effect. 3. 2. yaitu: 1. usia. Seorang peneliti harus mengetahui kelebihan dan kekurangan metode yang digunkan sebagai alat untuk mengumpulkan data penelitian yang akan dilakukannya sehingga dapat membuat perencanaan yang matang tentang metode yang akan dipilih untuk kepentingan penelitiannya. 4. Kelebihan dan Kekurangan Metode Observasi Setiap metode pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. atau alat-alat yang digunakan. Ada beberapa sumber kesalahan yang sering ditemukan dalam observasi. antara lain: 1. Eksplorasi perasaan dan penghayatan peneliti terhadap kejadian yang diamati. Kesalahan yangbersumber pada subjek penelitian. SUMBER-SUMBER KESALAHAN DALAM OBSERVASI Dalam melakukan observasi. terutama bagi observer pemula yang belum mahir melakukan observasi kerap terjadi kesalahan dalam melakukannya oleh karena itu perlu diketahui masalah-masalah yang sering menjadi sumber kesalahan dalam melakukan observasi. latar belakang pendidikan/budaya. 7. 2. Kesalahan yang bersumber pada kualitas personel observer. personal value. Pengamatan langsung atas perilaku memungkinkan peneliti untuk merekam perilaku sebagaimana adanya. Peneliti memperoleh data dari tangan pertama. Kelebihan Metode Observasi. Observasi 25 . Mungkin dikarenakan kesalahan atau manipulasi diri. skala. Dapat melengkapi dan memferifikasi hasil wawancara. termasuk metode observasi.

Lebih sedikit tuntutan bagi subjek yang diteliti. Indra tidak bekerja bebas dari pengalaman masa lalu. 8. Informasi yang didapatkan lebih mendalam bila dibandingkan dengan metode penelitian lain. Timulnya kejadian tidak selalu dapar diramalkan sehingga observer dapat hadir untuk mengamati kejadian tersebut. 6. Orang cenderung memilih satu hal sebagai pusat pengamatan sehingga hal lain luput dari pengamatan. 3. 6. 7. Dapat diterapkan secara luas dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial. Memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala. Dibutuhkan pengetahuan yang lebih tentang persoalan pokok yang diamati dan pengalaman yang memadai. Selain kelebihan-kelebihan diatas. 10.5. misalnya kehidupan pribadi yang sangat rahasia. Subjek memanupulasi diri dihadapan pengamat. 7. Tidak tergantung pada self report. 4. 9. metode observasi juga memiliki beberapa kekurangan. 8. Tidak sempurnanya organ-organ penginderaan manusia. Proses pengamatan dapat berpengaruh terhadap gejala-gejala yang diamati. Dapat menghasilkan data yang tidak mungkin diperoleh dengan metode lainnya. Kekurangan Metode Observasi 1. Observasi 26 . 2. Banyak kejadian yang tidak dapat diungkap dengan observasi langsung. Persepsi selektif. Indra kurang bisa membuat perbandingan karena indra cenderung menyesuaikan dengan kondisi-kondisi tertentu. 5.

ketepatan data dapat diperoleh dengan metode ganda. 2. 3. 10. Tugas observasi dapat terganggu pada waktu ada peristiwa yang tidak terduga. Dapat menangkap world view masyarakat yang diamati. Dengan prosedur tersebut. Dapat menangkap makna dari tindakan penuh arti yang dialami para subjek. Selain cara-cara tersebut. data pengamatan dilengakapi dengan data yang diperoleh dengan cara lain seperti kuesioner dan sumber data sekunder lain. Selain salah satu upaya untuk menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut adalah dengan menggunkan metode triangulasi. Untuk memaksimalkan metode observasi dan memaksimalkan kelebihan dan memimalkan kelemahan metode observasi perlu dipenuhi hal-hal seperti : 1. Terbatasi oleh berlangsungnya kejadian yang diamati. Observasi 27 .9. Dapat menangkap perilaku yang berpola dari subjek yang dimati. 4. Peneliti harus memahami konteks dimana perilaku itu terjadi. cara yang juga sering dilakukan oleh seorang peneliti yang menggunakan metode observasi dalam pengumpulan data adalah dengan cara memperbanyak jumlah orang yang melakukan observasi (observer). misalnya cuaca.

BAB IV VALIDITAS DAN RELIABILITAS A. seorang observee harus disuruh mengendarai mobil. Jenis-Jenis Validitas Validitas alat pengumpul data dapat digolongkan beberapa jenis. Tetapi. maka alat ukut tersebut tidak memiliki validitas isi. maka ia harus menggunakan timbangan. Timbangan adalah alat ukur yang valid bila dipakai untuk mengukur berat. Contohnya bila seorang peneliti ingin mengukur keikutsertaan dalam program KB dengan menyatakan metode kontrasepsi yang dipakai. VALIDITAS Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. maka harus menggunakan meteran. c. Bila aspek yang diamati tidak mencakup semua metode kontrasepsi. data yang mencerminkan ciri-ciri yang telah ditentukan yaitu apa saja yang diungkap / diukur. Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda. a. Meteran adalah alat pengukur valid bila digunakan untuk mengukur panjang. Bila panjang benda yang ingin diukur. 1. tibangan bukanlah alat pengukur yang valid jika digunakan untuk mengukur panjang. maka lat pengukur tersebut kurang memiliki face validity. di bawah ini ada beberapa jenis validitas yang perlu diperhatikan. Misalnya mengukur kemampuan sebagai seorang sopir. b. Tetapi bila pengukuran kemampuan mengendarai mobil dilakukan dengan ujian tertulis tentang teknik mengendarai mobil. Predicty Validity Observasi 28 . Face Validity Bagaimana kelihatannya suatu alat pengukur benar-benar mengukur apa yang akan diukur. Content Validity Content validity atau bisa disebut sebagai validitas isi adalah sejauh mana isi alat ukur tersebut memiliki semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep.

4. maka soal ujian selaksi tersebut memiliki validitas prediktif. yakni 1. seorang peneliti dapat menyusun tolak ukur operational konsep tersebut. 2. d. Pengeluaran per bulan. Apabila ada konsosistensi antara komponen-komponen konstruk yang satu dengan yang lain. Penghasilan per bulan. Pertama-tama yang harus dilakukan oleh peneliti ialah mencari apa saja yang merupakan kerangka dari konsep tersebut. Ujian tersebut adalah upaya untuk memperedisi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Peserta yang lulus ujian dengan nilai baik diprediksikan akan dapat mengikuti pelajaran di perguruan tinggi dengan sukses. sangat tergantung pada apakah ada korelasi yang tinggi antara nilai ujian masuk dengan prestasi belajar setelah menjadi mahasiswa. Pemilikan barang. Concurent validity Mengobservasi perilaku dengan membandingkan perilaku lain. e. Untuk mendapatkan validitas yang tinggi maka harus menyiapkan dengan sungguhsungguh materi yang akan diukur. 3. Observasi 29 . Contoh : perilaku di sekolah = perilaku di luar kelas (menunjukkan agresivitas). Dengan diketahuinya kerangka tersebut. maka konstruk tersebut memiliki validitas. dan 5. Misalkan seorang peneliti ingin mengukur konsep religiusitas. Apakah soal ujian masuk tersebut memiliki validitas prediktif.Alat pengukur yang dibuat oleh peneliti seringkali dimaksudkan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kualitas rumah. Construct validity Konstruk adalah kerangka dari suatu konsep. Bila ternyata ada korelasi yang tinggi antara nilai ujian seleksi dengan indeks prestasi belajar mahasiswa. Misalnya ingin mengukur status ekonomi responden dengan menggunakan lima komponen status ekonomi. Porsi penghasilan yang digunakan untuk rekreasi. Contohnya adalah ujian seleksi masuk perguruan tinggi.

Maka untuk menguji apakah sekelompok item benar-benar mengukur daya analisa. daya kritik dsb. Antara nilai total harus terdapat korelasi yang positif tinggi dan cukup meyakinkan. daya pemahaman. Jadi misalnya suatu alat pengukur handak menyelidiki faktor ketelitian kerja. Yaitu suatu kriterium yang diambil dari luar alat pengukur itu sendiri. TEKNIK MENGUJI VALIDITAS Pekerjaan untuk mencari validitas suatu alat ukur disebut validation. Suatu hasil observasi bila diuji kembali oleh orang lain baik di lain waktu maupun sekarang maka hasilnya relatif sama. jawaban-jawaban terhadap item daya analisa dicocokkan dengan hasil tes karena secara keseluruhan atau total score. B. Observasi 30 . Prinsip dari validation adalah membandingkan hasil-hasil dari pengukuran faktor dengan suatu kriterium. Ada dua jenis kriterium yang digunakan untuk menguji kejituan alat pengukur. daya ingatan. Biasanya diambil hasil keseluruhan pengukuran atau total score sebagai kriteriumnya. Jika hasil pengukuran menunjukkan besar ketelitian kerja yang sesuai dengan hasil pengukuran itu. daya klasifikasi. Misalnya : suatu tes tentang ketelitian kerja. RELIBILITAS Reliabilitas observasi adalah keajegan apa yang diobservasi. Kriterium luar atau eksternal criterion. maka harus diambil lebih dahulu suatu kriterium yang dapat dipandang mencerminkan ketelitian kerja. Kriterium dalam alat atau internal criterion Yaitu suatu kriterium yang diambil dari dalam alat itu sendiri. misalnya. b. Besar kecilnya validitas faktor tergantung kepada besar kecilnya kecocokan itu. Dari kriterium itulah kemudian hasil dari pengukuran faktor ketelitian kerja disoroti. Misalnya : ingin mengukur intelegensi yang terdiri dari faktor-faktor daya analisa. Kecocokan antara hasil-hasil dari item yang disangka mengukur suatu faktor dengan suatu kriterium yang dipandang telah valid disebut factorial validity atau validitas faktor. maka alat pengukur itu dipandang valid. yaitu: a.2. suatu ukuran yang telah dipandang valid untuk menunjukkan faktor yang dimaksud. diuji validitasnya dengan prestasi kerja yang sesungguhnya sebagaimana ditunjukkan oleh catatan-catatan hasil kerja atau penilaian pimpinan unit.

Pada suatu saat orang hanya mampu menangkap sebagian kecil saja dari objek yang kompleks itu. segi-segi yang berliku-liku atau dimensidimensi yang majemuk. sungguhpun dalam banyak hal mata memegang peranan yang lebih dominan.1. Karena itu ada cara-cara yang perlu diperhatikan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. kelemahan atau keterbatasan itu perlu diatasi dengan cara-cara tertentu. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologik dan pspsikologik. Menyediakan waktu yang lebih banyak agar dapat melihat objek yang kompleks dari berbagai segi. Dua diantaranya yang terpenting adalah prosesproses pengamatan dan ingatan. Ingatan. Karena itu jika objek yang kompleks tidak hanya akan dilihat salah satu seginya atau unsurnya. Terbatasnya penglihatan ditimbulkan terutama dari keadaan objek yang dihadapi. Mengambil lebih banyak objek yang sejenis agar dalam jangka waktu yang terbatas dapat disoroti objek-objek itu dari segi-segi yang berbeda-beda oleh penyelidik yang terbatas jumlahnya. Pengamatan Dua indra yang sangat vital dalam pengamatan adalah mata dan telinga. Dalam masing-masing. 3. mempunyai unsur-unsur yang banyak. Kedua dimensi ingatan ini membuat batasan-batasan dalam reliabilitas pengamatan. a. Ada tiga cara mengatasi sifat itu. dari berbagai jurusan secara berulang-ulang. proses ini tergantung sumber-sumber kesesatan yang perlu mendapat perhatian yang sekasama. Sumber-Sumber Kesesatan Observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak semua orang memiliki ingatan yang setia dan luas. b. yaitu: 1. 2. yaitu antara lain : Observasi 31 . Baik dalam penyelidikan di laboratorium maupun dalam penyelidikan lapangan dua-duanya selalu terpakai. Menggunkan observer yang lebih banyak untuk melihat objeknya dan menginterpretasikan hasil-hasil penyelidikan itu. Kebanyakan objek-objek penyelidikan adalah objek-objek yang kompleks.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Memusatkan perhatian pada data yang relevan. Mengklarifikasi gejala dalam golongan-golongan yang tepat. karema foto dll). Bahwa pengukuran berikutnya adalah ekuivalen dalam pengukuran yang mendahuluinya. 4. Pada dasarnya ada dua pokok pikiran yang tersembunyi di balik penghitungan koefisien korelasi itu : a. 2. Menambahkan bahan pengetahuan tentang objek yang akan diamati. Teknik Ulangan Dalam teknik ulangan alat pengukur yang sama diberikan kepada sejumlah subjek yang sama pada saat-saat yang berbeda. Indeks hubungan itu disebut koefisien korelasi. Menggunakan lebih banyak observer. Kenakan alat pengukur kepada sejumlah subjek. dalam kondisi-kondisi pengukuran yang relatif sama. 3.1. Teknik Untuk Menetapkan Reliabilitas Prosedur yang lazim digunakan untuk menilai reliabilitas pengukuran adalah mencari petunjuk atau indeks hubungan antara hasil-hasil pengukuran yang pertama dengan hasilhasil pengukuran ulangan. 6. 5. Bahwa gejala atau ciri gejala tetap bertahan dan tidak berubah dari pengukuran yang satu ke pengukuran yang lain. Ada tida jenis teknik reliabilitas. b. 2. yaitu: a. Observasi 32 . Menggunakan alat-alat mekanik (tape recorder. Mengadakan pencatatan biasa dan atau dengan check list.

Kelompok item ini disebut bentuk I. Selidiki korelasi antar hasil pengukuran yang pertama dengan pengukuran yang kedua. Berikan baterei kepada sejumlah subjek. Kelompok item yang kedua ini disebut bentuk II. Hasil dari kedua bentuk itu kemudian dikorelasikan untuk memperoleh koefisien korelasi. dengan atau tanpa tenggang waktu. Observasi 33 . dan score dari separuh baterei dikorelasikan dengan score dari separuh item sisanya. 3. Bagi dua item dalam baterei . 2. Teknik Belah Dua Dalam teknik belah dua suatu baterai alat pengukur diberikan kepada sejumlah subjek. b. subjeknya juga sama. Jika jarak pengukurannya cukup lama asumsi itu menjadi sangat kabur tanpa suatu pengetahuan bahwa memang dalam tenggang waktu sekian lama itu gejalanya sama sekali tidak berubah. Teknik Bentuk Pararel Dalam teknik bentuk parerel ini sekelompok item disajikan kepada sejumlah subjek. Jadi langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : 1. Memberikan bentuk I kepada sejumlah subjek. Setelah beberapa waktu berselang. prosedur pengukurannya juga sama dan kondisi-kondisi pengukuran harus relatif sama.2. ulangi langkah yang pertama. Kepada subjek-subjek itu juga dengan atau tanpa tenggang waktu diberikan sekelompok item lainnya yang dipandang seimbang dengan kelompok item yang pertama. 2. Mencari korelasi antara hasil bantuk I dan hasil bentuk II. kemudian item dari baterei dibagi dua. Jadi langkah-langkah pokok dalam reliabilitas dengan teknik bentuk pararel adalah sebagai berikut : 1. c. 3. Dalam teknik ulangan ini diambil asumsi bahwa gejala yang diukur tidak berubah dalam tenggang waktu pengukuran pertama dan kedua. Memberikan bentuk II kepada subjek-subjek itu juga. alatnya sama.

Cari korelasi antar score dari separuh item yang pertama dengan score dari separuh item yang kedua. Kecuali bisa dengan jalan random. Prosedur yang lazim untuk membelah baterei menjadi dua kelompok item adalah mengumpulkan item yang bernomor ganjil menjadi satu kelompok. dan item yang genap menjadi satu kelompok yang lain (ganjil-genap).3. Observasi 34 .

Kebiasaan Dalam Perkuliahan Observasi 35 .Contoh Check List Kebiasaan Dalam Perkuliahan Faktor Terlambat Mencatat Bertanya Menjawab Pertanyaan Partisipasi dalam Diskusi Berbicara dengan Teman di Dalam Kelas Ahmad    Husin   Hani    - Contoh Rating Scale 1.

Reaksi Terhadap Gangguan Kerja Mudah Sekali Terganggu. Contoh Observasi Observasi Yang Dilakukan Pada Anak Di Sekolah Observasi 36 . Tetap Bekerja Walaupun Ada Gangguan.Ahmad Terlambat Mencatat Bertanya Menjawab Pertanyaan Partisipasi dalam Diskusi Berbicara dengan Teman di Dalam Kelas Sangat Sering Sering KadangKadang Tidak Pernah       2.  Agak Mudah.

buang air besar pada saat yang relatif sama setiap harinya. Tersenyum. Tidak suka bunyi-bunyi keras. Fisik No 1.A. Pandangan mata. duduk. Di dalam kelas dibandingkan anak lain Observasi 37 . Menolak bila ada orang asing. jarang diam. sulit dihibur bila sedih/marah. B. Intensitas Reaksi Memadai Tegang 6. makan. 4. mudah sedih. Cengeng. lari. Pendekatan / Penarikan Diri Adaptasi Positif Negetif Adaptif Tidak Adaptif 5. Temperamen No 1. Impresi observer tentang posisi tubuh anak bila berdiri. tertawa. sulit makan makanan baru. Waktu tidur. Mudah cemberut/marah. Keterangan Lebih besar/sama/lebih kecil. Ritmik Reguler Tidak Reguler 3. mau mendekati orang lain. mudah menolak pemberian. kecewa dsb. sulit diberi baju. Temperamen Aktivitas Rating Rendah Tinggi 2. Kualitas Dibandingkan dengan anak / remaja lain seusianya • • 3. Mula-mula kaku/pasif/takut tapi lama-lama merasa enak. berjalan. Lebih banyak bicara. Tidak pernah menangis bila ngompol/pipis/dingin/takut. 2. bekerja sama dengan orang lain. makan dan buang air besar tidak pasti. Kualitas “MOOD” Positif Negatif Karakter Perilaku Gerakan tubuh amat sedikit Sangat aktif bergerak. Waktu tidur. bila keinginannya tidak terkabul. Mudah tersenyum.

Bisa menerima pendapat orang lain. Diam di kelas. Sendirian. Berjalan-jalan. Keinginan Memulai Kegiatan Hampir selalu berinisiatif melakukan sesuatu. Observasi 38 . Menolak ide orang lain. kadang memerlukan bantuan dalam mengerjakan sesuatu. Lebih banyak berjalan di kelas. Tidak mengikuti sama sekali. 5.Lebih diam. Hampir tidak punya inisiatif melakukan kegiatan. Kecepatan melakukan tugas Lebih cepat dari temannya. C. Sama cepatnya. Bergerombol. Aktif mengikuti Tidak seaktif temannya. 4. Di luar kelas (Misalnya: saat istirahat/olahraga). Lebih banyak mengganggu orang lain. Lebih banyak bertanya. Sosial-Emosional Keterangan 1. Kalah cepat. Butuh waktu lama sebelum melakukan kegiatan.

Pemusatan Perhatian Bisa bertahan dalam waktu lama pada aktivitas pilihannya. Bila gagal diterima dengan perilaku yang masak. Aktif mengeksplorasi barang-barang yang baru dalam ruang. menangis atau agresif bila frustasi. Mudah tertarik hal-hal baru. tapi kemudian surut. Berusaha keras untuk berhasil dan menerima kegagalan dengan baik. mudah pindah dari aktivitas satu ke yang lain. Toleransi terhadap frustasi Mau mencari pemecahan masalah-masalah praktis. Tidak dapat toleransi sama sekali terhadap frustasi. tapi bila sangat frustasi perilaku kekanak-kanakan muncul. Keingintahuan Tertarik dengan ide-ide baru. bahkan bisa membantu tugas guru. kadang memerlukan banyak bantuan dan kontak fisik. Hubungan dengan guru Mandiri. kadang agresif atau tidak mengindahkan guru sama sekali. Hangat. atau perhatian dengan cara-cara tidak umum. Butuh banyak dorongan untuk menyelesaikan tugas. 3. Selalu minta perhatian dan bantuan. Jarang dapat menyelesaikan tugas.2. 5. Betah mengerjakan sesuatu untuk kegiatan yang sesuai dengan umurnya sampai selesai. 4. hanya minta perhatian dan bantuan dari guru bila perlu. Tidak tertarik dengan hal-hal baru. Mudah putus asa. Observasi 39 .

Contoh Pedoman Observasi Pedoman Observasi Tentang Persepsi Karyawan Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Aspek Sangat Observasi Kriteria Baik Cukup Kurang Sangat 40 . Tidak memulai menyapa / berbicara tapi akan merespon dengan baik bila didahului. Tidak merespon orang lain sama sekali. Sering mencoba melanggar aturan atau disiplin. Hubungan dengan anak / remaja lain. menolak terhadap kegiatan-kegiatan rutin kelas/sekolah. Sering menolak ajakan anak lain. Sering sekali melanggar aturan. Kadang-kadang memulai permainan atau menerima permainan yang dimulai anak lain. menolak kehadiran orang lain di kelas / sekolah. Reaksi terhadap orang dewasa Tertarik mau menyapa dan berbicara tapi tidak memonopoli pembicaraan. 7. Kepatuhan terhadap aturan Faham dan patuh terhadap aturan kelas / sekolah meski guru tidak ada.6. Marah / menangis / cemberut / bersembunyi bila ada orang lain. Selalu memulai permainan. 8. Biasanya patuh terhadap aturan tapi mudah melanggar peraturan bila dalam keadaan terpaksa. Menghindari anak lain hampir setiap waktu. bermain sendiri / tinggal di kelas.

Kurang Di luar gedung • • • • • Suhu udara Penerangan Kebersihan Polusi udara Kebisingan 2.Baik 1. Penyediaan peralatan penanggulangan bahaya ditempattempat strategis. 3. Pengecekan berkala terhadap peralatan kerja. Pemeliharaan dan perawatan mesin di perusahaan. Kebisingan. Polusi udara. Keadaan dan kondisi kerja Kenyamanan pekerja ketika Observasi 41 . Keadaan mesin dan peralatan Pemasangan tanda-tanda bahaya pada peralatan dengan resiko kerja tinggi. Kondisi mesin-mesin yang digunakan. Lingkungan Kerja Di dalam gedung • • • • • Suhu udara Penerangan. Kebersihan.

Konsentrasi pekerja dalam bekerja. Penyediaan peralatan P3K di perusahaan. Kesehatan pekerja. Ketaatan pekerja dalam mengikuti prosedur baku bagi kegiatan rutin. 5. Cara kerja Pemakaian penutup telinga oleh pekerja ketika bekerja.bekerja di lingkungan kerja. Pelayanan kesehatan Pelayanan dokter disediakan oleh perusahaan terhadap kesehatan pekerja. Observasi 42 Telinga Hidung Tenggorokan Jantung Hati Dan lain-lain . Tanggapan pihak menejamen terhadap keluhan pusing. Pelayanan dokter yang disediakan oleh perusahaan dalam mengatasi kecelakaan yang terjadi. Pengawasan terhadap pemakaian alat pelindung kerja oleh pekerja. mual. • • • • • • 4. Pemakaian penutup kepala bagi pekerja katika bekerja.

Pemasangan nomor-nomor telepon untuk keadaan darurat. 6. Dukungan fasilitas yang diberikan pihak menajemen dalam pelaksanaan K3 Observasi 43 . Peran menajemen perusahaan dalam memberikan latihan peran kebakaran dan keadaan darurat. Peran menajemen dalam kampanye keselamatan dan kesehatan kerja. 7. Komunikasi pelatihan K3 Pmasangan tanda-tanda peringatan bahaya. Publikasi tentang keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan. Sikap menajemen dalam menerima keluhan yang berkenaan dengan K3. Pelaksanaan kursus-kursus keselamatan dan keselamatan kerja untuk pekerja. Peran pihak menajemen dalam mencari sumbernya bila terjadi kecelakaan kerja. Manajemen Keterlibatan menajemen dalam pemasangan tanda-tanda peringatan di tempat berbahaya. Pelayanan oleh dokter ketika terjadi kecelakaan akibat kerja di perusahaan.dari pekerja.

Contoh : Pedoman Observasi Tentang Stress di Tempat Kerja Aspek Sangat Sering Kriteria Sering Jarang Tidak Pernah Observasi 44 .

Pekerja berkeringat dingin saat bekerja. Pekerja memperhatikan bagian-bagian penting dari pekerjaan. Fisiologis Pekerja sering tegang saat menghadapi pekerjaan. 3. Pekerja sulit menerima petunjuk-petunjuk penting dari atasan. Pekerja tenang pada saat menyelesaikan tugas. Pekerja marah-marah ketika bekerja.1. Kognitif Pekerja tidak berkonsentrasi saat menghadapi pekerjaan. Pekerja melewatkan langkah-langkah penting dalam menyelesaikan pekerjaan. Pekerja tidak dapat menangkap informasi penting yang berkaitan dengan pekerjaan dari atasan. Pekerja tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan konsentrasi penuh. Perilaku Pekerja bekerja kurang semangat. Pekerja kelelahan saat menghadapi pekerjaan yang menuntut seluruh tenaga secara optimal 2. Pekerja dapat bernafas dengan nyaman di lingkungan tempat bekerja. Observasi 45 . Pekerja tidak dapat memutuskan untuk bertindak sesuatu dalam menyelesaikan masalah pekerjaan.

Pekerja mengalami cedera saat melakukan pekerjaan. Pekerja melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas.Pekerja gelisah bila sedang bekerja. Pekerja berselisih dengan teman sekerja. Pekerja memperhatikan hasil kerja teman sekerja. Alun-Alun Kota Malang Pemulung Adi CL (Catatan Lapangan) No.9 Pengamatan Tgl 9-5-2009 Jam 10-12 WIB Disususn jam 16.00 (judul) Aktivitas Pemulung ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… Contoh Format Observasi 1 ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… Tanggapa Observer ……………………………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………………………… Observasi 46 ……………………………………………………………………………………………… .

Contoh Format Observasi 2 Tema Observasi Lokasi Observasi Observasi :…………………………………………………………………………...Tgl/jam :………………………….. :…………………………………. 47 .

:…………………………………………………………………………. Koding Data/Hasil Observasi Observasi 48 .Jenis Observasi Observer Catatan :…………………………………………………………………………. :………………………………………………………………………….