P. 1
MODUL USHUL FIQIH

MODUL USHUL FIQIH

|Views: 36,877|Likes:
Published by Faiz Al Fakhri

More info:

Published by: Faiz Al Fakhri on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2014

pdf

text

original

Sections

  • TUJUAN
  • BAHASAN
  • A. Pengertian Ushul Fiqih
  • B. Objek Pembahasan Ushul Fiqih
  • C. Al-Ahkam
  • 1. Hukum taklifi
  • 2. Hukum wadh'i
  • D. Al-Hakim
  • E. Mahkum Bih
  • F. Mahkum 'Alaih
  • G. Rukhshah dan 'Azimah
  • Rangkuman
  • Tugas Terstruktur
  • A. Al-Amr dan Kaidah-kaidahnya
  • B. Al-Nahyu dan Kaidah-kaidahnya
  • AL-'AM DAN AL-KHASH
  • A. Al-'Âm dan kaidah-kaidahnya
  • Macam-macam 'am
  • Hukum lafaz khash
  • Macam-macam Khash
  • Soal Terstruktur
  • MUJMAL DAN MUBAYYAN
  • ZHAHIR DAN MUAWWAL
  • A. Mujmal dan Mubayyan
  • Macam-macam Bayan
  • B. Zhahir dan Muawal
  • Hukum Lafaz Zhahir
  • Syarat-syarat Ta'wil
  • MANTHUQ DAN MAFHUM
  • MUSYTARAK DAN MACAM-MACAMNYA
  • A. Manthuq dan Mafhum
  • Macam-macam Mafhum
  • Macam-macam Mafhum Mukhalafah
  • B. Musytarak
  • Sebab-sebab Lafaz Menjadi Musytarak
  • Hukum Lafaz Musytarak
  • NASAKH DAN TARJIH
  • A. Nasakh dan Macam-macamnya
  • Macam-macam Nasakh
  • B. Tarjih dan Macam-macamnya
  • Syarat-syarat Tarjih
  • Macam-macam Tarjih
  • ALQURAN DAN AL-SUNNAH
  • A. Alquran Sumber Hukum Islam Pertama
  • 2. Hukum dalam Alquran
  • 3. Alquran dalam menetapkan hukum
  • 5. Alquran Dalil Qath'i dan Zhanni
  • 6. Alquran Dalil Kully dan Juz'i
  • B. Al-Sunnah Sumber Hukum Islam Kedua
  • 1. Tinjauan Bahasa
  • 2. Kehujjahan Sunnah
  • 3. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alquran
  • 4. Macam-macam Sunnah
  • 5. Dilalah Al-Hadits
  • 6. Perbedaan antara hadits dan sunnah
  • IJTIHAD
  • IJTIDAH SUMBER HUKUM KETIGA
  • 1. Pengertian Bahasa
  • 2. Lingkup Ijtihad
  • 3. Ijtihad pada masa Rasul saw. dan Khulafa Rasyidin
  • 4. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i
  • 5. Syarat-syarat Ijtihad
  • 6. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad
  • 7. Macam-macam mujtahid
  • 8. Alasan Ijtihad menjadi hujjah
  • c. Logika
  • IJMA' DAN QIYAS
  • A. Ijma', Kehujahan dan Macam-macamnya
  • 2. Ijma sebagai hujjah
  • 3. Unsur-unsur Ijma
  • 4. Kemungkinan Ijma
  • 5. Macam-macam Ijma
  • 2. Kehujjahan Qiyas
  • 3. Rukun Qiyas
  • 4. Syarat Qiyas
  • 5. Macam-macam Qiyas
  • MASHLAHAH AL-MURSALAH, DAN ISTIHSAN
  • A. ISTIDLAL
  • B. ISTISHHAB
  • C. MASHLAHAH MURSALAH
  • 2. Syarat-syarat
  • 3. Macam-macam Mashlahah
  • b. Dilihat dari kepentingannya
  • 5. Kehujahan mashlahah mursalah
  • D. ISTIHSAN
  • 1. Pengertian bahasa
  • 2. Macam-macam Istihsan
  • 3. Kehujahan Istihsan
  • QAUL SHAHABI, SADD AL-ZARA'I
  • SYAR'U MAN QABLANA
  • A. QAUL SHAHABI
  • 1. Pengertian
  • 2. Kehujahan Qaul Shahaby
  • 2. Macam-macam Dzariah
  • a. Ayat-ayat Alquran
  • c. Pandangan Para Imam
  • 3. Macam-macam dan kehujjahan Syar’un man qablana
  • 4. Sandaran syariat Nabi saw. sebelum diutus
  • 'URF DAN 'ADAT
  • ISTIDLAL DENGAN ILHAM
  • A. 'URF DAN 'ADAT
  • 3. Syarat-syarat Urf
  • 4. Kehujahan Urf
  • 5. Qaidah Fiqhiyah dari Urf
  • 2. Macam-macam dan Kehujahan Ilham
  • QAWAID FIQHIYYAH
  • A. Qaidah pertama :
  • B. Qaidah kedua :
  • Landasan Qaidah
  • QAIDAH FIQHIYYAH
  • A. Qaidah ketiga :
  • Sebab-sebab timbulnya keringanan
  • B. Qaidah keempat :
  • C. Qaidah kelima :
  • DAFTAR PUSTAKA

1

PENGERTIAN USHUL FIQIH DAN AL-AHKAM
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui: Pengertian Ushul
Fiqih, Objek pembahasan Ushul Fiqih, Al-Ahkam, Al-Hakim, Mahkum Bih, Mahkum
'Alaih, Rukhshah dan 'Azimah.
BAHASAN
A. Pengertian Ushul Fiqih
Ushul Fiqih terdiri atas dua kata, yaitu dan . merupakan bentuk
jama' (plural) dari , yang secara etimologi artinya adalah , dan
secara terminologi adalah:

Adapun , secara etimologi ialah , dan secara terminologi ialah:

Maka, ushul fiqih adalah: "Ilmu pengetahuan dari hal kaidah-kaidah dan pembahasan-
pembahasan yang dapat membawa kepada pengambilan hukum-hukum tentang amal
perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci".
B. Objek Pembahasan Ushul Fiqih
Yang menjadi objek pembahasan (maudlu') Ushul Fiqih ialah: dalil-dalil syara' itu
sendiri dari segi bagaimana penunjukannya kepada suatu hukum secara ijmâli (menurut
garis besarnya).
C. Al-Ahkam
Menurut para ahli Ushul Fiqih (Ushuliyyun), yang dimaksud dengan hukum syar'i ialah:
"Khithab pencipta syari'at yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan orang mukallaf,
yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab,
syarat atau pengahalang bagi adanya sesuatu yang lain". Hukum syar'i dibagi kepada dua
macam, yaitu (1) Hukum taklifi, dan (2) Hukum Wad'i.

2
1. Hukum taklifi.
Hukum taklifi adalah khithab syar'i yang mengandung tuntutan untuk dikerjakan oleh
para mukallaf atau untuk ditinggalkannya atau yang mengandung pilihan antara dikerjakan
dan ditinggalkannya.
Hukum taklifi ada lima macam, yaitu :
a. Wajib. Yaitu suatu perbuatan apabila perbuatan itu dikerjakan oleh seseorang maka
akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu ditinggalkan akan mendapat siksa.
b. Mandub atau sunnat. Yaitu perbuatan yang apabilan perbuatan itu dikerjakan, maka
orang yang mengerjakannya mendapat pahala dan apabila ditinggalkan, maka orang
yang meninggalkannya tidak mendapat siksa.
c. Haram. Yaitu perbuatan yang apabila ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya
akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu dikerjakan mendapat siksa.
d. Makruh. Yaitu perbuatan yang apabila perbuatan itu ditinggalkan, maka orang yang
meninggalkannya akan mendapat pahala dan apabila dikerjakan, maka orang yang
mengerjakannya tidak mendapat siksa.
e. Mubah. Yaitu suatu perbuatan yang bila dikerjakan, orang yang mengerjakan tidak
mendapat pahala, dan bila ditinggalkan tidak mendapat siksa.
2. Hukum wadh'i.
Hukum wadh'i ialah khithab syara' yang mengandung pengertian bahwa terjadinya
sesuatu itu adalah sebagai sebab, syarat atau penghalang sesuatu.
a. Sebab. yaitu sesuatu yang dijadikan pokok pangkal bagi adanya musabbab (hukum).
Artinya dengan adanya sebab terwujudlah musabbab (hukum) dan dengan tiadanya
sebab, tidak terwujudlah suatu musabbab (hukum). Oleh karena itu, sebabnya haruslah
jelas lagi tertentu dan dialah yang dijadikan oleh Syari' sebagai 'illat atas suatu hukum.
b. Syarat. Yaitu sesuatu yang tergantung kepada adanya masyrut dan dengan tidak
adanya, maka tidak ada masyrut. Dengan arti bahwa syarat itu tidak masuk hakikat
masyrut. Oleh karena itu, tidak mesti dengan adanya syarat itu ada masyrut.
c. Mani' (Penghalang). Yaitu sesuatu yang karena adanya tidak ada hukum atau
membatalkan sebab hukum.

3
D. Al-Hakim
Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan. Tidak ada perselisihan
di antara para ulama bahwa hakikat hukum syar'i itu ialah khithab Allah yang berhubungan
dengan amal perbuatan mukallaf yang berisi tuntutan, pilihan atau menjadikan sesuatu
sebagai sebab, syarat atau mani' bagi sesuatu. Demikian juga tidak ada perselisihan di
antara mereka bahwa satu-satunya Hakim adalah Allah.
÷¹T³ Nª'¯÷C^¯- ·ºT³ *. W O÷¬³4C E-E·^¯-
W 4Q¬-4Ò +O¯OE= 4×-T-´E¼^¯-
E. Mahkum Bih
Mahkum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf yang dibebani suatu hukum
(perbuatan hukum). Tidak ada pembebanan selain pada perbuatan. Artinya beban itu erat
hubungannya dengan perbuatan orang mukallaf. Oleh karena itu apabila Syari' mewajibkan
atau mensunnahkan suatu perbuatan kepada seorang mukallaf, maka beban itu tak lain
adalah perbuatan yang harus atau seyogianya dikerjakan.
F. Mahkum 'Alaih
Mahkum 'alaih ialah mukallaf, orang balig yang berakal yang dibebani hukum.
G. Rukhshah dan 'Azimah
Rukhshah ialah ketentuan yang disyari'atkan oleh Allah sebagai peringan terhadap
mukallaf dalam hal-hal yang khusus. Sedangkan 'azimah ialah peraturan syara' yang asli
yang berlaku umum. Artinya ia disyari'atkan agar menjadi peraturan yang umum bagi
seluruh mukallaf dalam keadaan yang biasa.
Rangkuman
Ushul Fiqih adalah ilmu pengetahuan dari hal kaidah-kaidah dan pembahasan-
pembahasan yang dapat membawa kepada pengambilan hukum-hukum tentang amal
perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci. Objek pembahasan Ushul Fiqih ialah:
dalil-dalil syara'.
Hukum syar'i ialah Khithab pencipta syari'at yang berkaitan dengan perbuatan-
perbuatan orang mukallaf, yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan yang menjadikan
sesuatu sebagai sebab, syarat atau pengahalang bagi adanya sesuatu yang lain. Hukum
syar'i dibagi kepada dua macam, yaitu (1) Hukum taklifi, dan (2) Hukum Wad'i.
4
Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan, yaitu Allah Swt.
Mahkum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf. Mahkum 'alaih adalah mukallaf.
Rukhshah ialah keringan hukum. Dan 'azimah ialah peraturan syara' yang asli yang berlaku
umum.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Ushul Fiqih secara bahasa dan istilah!
2. Bedakan hukum taklifi dan hukum wadhi'y.
3. Jelaskan pengertian Hukum, Hakim, Mahkum bih, dan Mahkum 'alaih!






















5
AL-AMR DAN AL-NAHYU
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-Amr dan kaidah-
kaidahnya, dan al-Nahyu dan kaidah-kaidahnya.
BAHASAN
A. Al-Amr dan Kaidah-kaidahnya
Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi
kedudukannya untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan
suatu perbuatan.
Shigat (bentuk-bentuk) lafaz amr itu ialah: (1) Fi'il amr, (2) Fi'il mudhari' yang
dimasuki lam al-amr, (3) Sesuatu yang diperlakukan sebagai fi'il amr, seperti isim fi'il,
(4) Jumlah khabariyah (kalimat berita) yang diartikan selaku jumlah insaniyah (kalimat
yang mengandung tuntutan).
Kaidah-kaidah al-Amr.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

B. Al-Nahyu dan Kaidah-kaidahnya
6
Al-Nahyu ialah suatu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar meninggalkan suatu
perbuatan.
Bentuk-bentuk lafaz al-Nahyu adalah: (1) Fi'il Mudhari' yang disertai la-nahiyah,
(2) Jumlah khabariyah yang diartikan selaku jumlah insaniyah.
Kaidah-kaidah al-Nahyu
1.
2.
3.
4.
5.
Rangkuman
Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya
untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu
perbuatan. Dan al-Nahyu ialah suatu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar
meninggalkan suatu perbuatan.
Al-Amr dan al-Nahyu mempunyai kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk
pengambilan hukum-hukum dari dalil-dalil tafshili (terperinci
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian al-Amr dan al-Nahyu!
2. Cari contoh dalam Alquran dan Hadis tentang al-Amr dan al-Nahyu, masing-masing
dua buah!





AL-'AM DAN AL-KHASH
TUJUAN
7
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-'Am dan kaidah-
kaidahnya, serta Khash Takhshish dan macam-macamnya.
BAHASAN
A. Al-'Âm dan kaidah-kaidahnya
Lafaz 'am ialah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna
yang dapat mencakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.
Lafaz-lafaz yang digunakan untuk memberi faedah 'am antara lain: (1) Lafaz kullun dan
jamî'un. (2) Lafaz jama' yang di-ta'rif-kan dengan idhafat atau dengan alif-lam ( )
jinsiyah. (3) Isim mufrad yang di-ta'rif-kan dengan alif-lam jinsiyah. (4) Isim-isim
maushul, seperti al-ladzi, al-ladzina, al-lati, al-la'i, maa dan lain sebagainya. (5) Isim-isim
isyarat, seperti man, ma, dan ayyuma. (6) Isim-isim istifham (untuk bertanya), seperti man
(siapakah), ma dza (apakah), dan mata (kapan). (7) Isim nakirah dalam susunan kalimat
nafi (negatif).
Macam-macam 'am
1. 'Âm yurâdu bihi al-'âm. Yaitu 'am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan
kemungkinan untuk dikhususkannya.
2. 'Âm yurâdu bihi al-khusus. Yaitu 'am yang disertai qarinah yang menghilangkan arti
umumnya dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan 'am itu adalah sebagian dari
satunya.
3. 'Âm makhshush. Yaitu 'am mutlak. Am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan
kemungkinan dikhususkan dan menghilangkan keumumannya. Pada kebanyakan nash-
nash yang didatangkan dengan shigat umum tidak disertai qarinah, sekalipun qarinah
lafzhiyah (tertulis), 'aqliyah (dalam pemikiran) atau 'urfiyah (adat kebiasaan) yang
menyatakan keumumannya atau kekhususannya. Lafaz-lafaz 'am semacam ini adalah
jelas menunjukkan keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.


Kaidah-kaidah ‘Am
1.
8
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

B. Khash Takhshish dan Macamnya
Lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian satu satuan yang
tertentu. Baik menunjuk pribadi seseorang, seperti lafaz Muhammad, atau menunjuk
macam sesuatu, seperti lafaz insan (manusia) dan rajulun (orang laki-laki), atau menunjuk
jenis sesuatu, seperti lafaz hayawan (hewan), atau menunjuk benda konkrit atau abstrak,
seperti lafaz 'ilm (ilmu) dan jahl (kebodohan), atau penunjukkan arti kepada satu satuan itu
secara hakiki atau i'tibari (anggapan) seperti lafaz-lafaz yang diciptakan untuk memberi
peringatan banyak yang terbatas, seperti lafaz tsalasah (tiga), mi'atun (seratus), jam'un
(seluruhnya) dan fariq (kelompok).
Hukum lafaz khash
Lafaz khash dalam nash syara' adalah menunjuk kepada dalalah qath'iyyah terhadap
makna khusus yang dimaksud dan hukum yang ditunjukkannya adalah qath'iy, bukan
zhanniy, selama tidak ada dalil yang memalingkannya kepada makna yang lain.
Macam-macam Khash
1. Muttashil (yang bersambung). Yakni mukhashshish-nya ada dalam susunan yang
menjadi satu dengan yang umumnya. Khash muttashil terdapat berbagai macam:

a. Istitsna', yaitu kata 'illa' ( ).
b. Syarath (syarat).
c. Shifat (kata sifat).
d. Gayah, yaitu kata 'hatta' ( ) dan 'ila' ( ).
9
e. Badlul ba'dhi (pengganti).
f. Hal (keadaan).
2. Munfashil (yang terpisah). Yakni mukhashshish-nya terdapat pada tempat lain, tidak
bersama dengan lafaz yang umum. Khash munfashil juga terdapat berbagai macam:
a. Takhshish al-kitab bi al-kitab.
b. Takhshish al-kitab bi al-sunnah.
c. Takhshish al-sunnah bi al-kitab.
d. Takhshish al-sunnah bi al-sunnah.
e. Takhshish bi al-qiyas.
f. Takhshish bi al-'aql.
g. Takhshish bi al-hiss.
h. Takhshish bi al-siyaq
Rangkuman
Lafaz 'am ialah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna
yang dapat mencakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. 'Am
terbagi kepada tiga macam, yaitu 'Âm yurâdu bihi al-'âm, 'Âm yurâdu bihi al-khusus, dan
'Âm makhshush.
Dan lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian satu satuan yang
tertentu. Khash terbagi pada dua macam, yaitu Muttashil dan Munfashil.
Soal Terstruktur
1. Jelaskan pengertian al-'Am dan al-Khash!
2. Sebutkan macam-macam al-'Am dan al-Khash!
3. Buatkan contoh al-'Am dan al-Khash dari Alquran!



MUJMAL DAN MUBAYYAN
ZHAHIR DAN MUAWWAL
TUJUAN
10
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Mujmal dan
Mubayyan, serta Zhahir dan Muawwal
BAHASAN
A. Mujmal dan Mubayyan
Mujmal ialah lafaz yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makna yang dikehendaki
dan tidak pula didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau haliyah (keadaan) yang
menjelaskannya. Jadi, setiap lafaz yang tidak dapat dipahami maksudnya dengan
sendirinya, bula tidak disertai qarinah yang dapat menyampaikan maksud tersebut dinamai
mujmal. Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas maksudnya
tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya.
Kekaburan makna lafaz mujmal lantaran lafaz sendiri, bukan dari luar, disebabkan:
1. Lafaz itu musytarak yang sulit ditentukan artinya.
2. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna lugawi (bahasa) itu dipindah oleh Syari' kepada
makna yang pantas untuk istilah syari'at. Misalnya lafaz shalat, zakat, shiyam dan lain
sebagainya adalah lafaz-lafaz yang dipindahkan oleh Syari' dari makna menurut bahasa
kepada makna yang khash dalam istilah syari'at.
3. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna yang umum itu dipergunakan oleh Syari'
sendiri untuk suatu makna yang khusus.
Kemujmalan suatu lafaz dengan sebab yang mana pun juga dari tiga macam sebab
tersebut di atas tidak ada jalan lain untuk memberikan penjelasan atau menghilangkan
kemujmalannya ataupun mentafsirkan apa yang dikehendakinya, selain kembali kepada
Syari' yang memujmalkannya sendiri. Apabila Syari' mendatangkan penjelasan (bayan)
untuk lafaz mujmal dengan bayan yang sempurna lagi qath'iy, maka lafaz mujmal tersebut
tergolong lafaz mujmal mufassar, seperti bayan yang datang secara terperinci terhadap
perintah shalat, zakat, haji dan lain sebagainya.
Apabila Syari' mendatangkan suatu bayan untuk lafaz mujmal, sedang bayan itu tidak
cukup untuk menghilangkan kemujmalannya, maka lafaz mujmal tersebut tergolong lafaz
musykil dan terbukalah jalan untuk membahas dan berijtihad guna menghilangkan
kemusykilannya. Oleh karena itu, bayan-nya tidak tergantung kepada Syari', melainkan
sudah memadailah suatu ijtihad dari seorang mujtahid.
11
Macam-macam Bayan
1. Dengan perkataan.
2. Dengan perbuatan.
3. Dengan tulisan.
4. Dengan isyarat.
5. Dengan meninggalkan perbuatan.
6. Dengan diam.
7. Dengan macam-macam takhshish.
B. Zhahir dan Muawal
Zhahir ialah lafaz yang menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh shigat
lafaz itu sendiri, tetapi bukanlah makna itu yang dimaksud oleh siyaq al-kalam dan lafaz itu
sendiri masih dapat di-ta'wil-kan, ditafsirkan dan dapat pula di-nasakh-kan pada masa
Rasulullah Saw.
Hukum Lafaz Zhahir
Lafaz zhahir itu wajib diamalkan sesuai dengan makna yang dikehendakinya, selama
tidak ada dalil yang menafsirkan, men-ta'wil-kan atau me-nasakh-kannya. Oleh karena itu
apabila lafaz zhahir itu :
1. Dalam keadaan mutlaq, maka tetap dalam kemutlakannya, selama tidak ada dalil yang
meng-taqyid-kannya (membatasi kemutlakannya). Bila ada dalil yang meng-taqyid-
kannya, diamalkan dalil yang meng-taqyid-kannya.
2. Dalam keadaan umum ('am) maka ia tetap dalam keumumannya, selama tidak ada dalil
yang men-takhshish-kannya. Jika ada dalil yang men-takhshish-kannya, hendaklah
diamalkan sesuai dengan mukhashish-nya.
3. Mempunyai arti hakikat, hendaklah diartikan menurut arti yang haqiqi itu, selama tidak
ada qarinah yang memaksa untuk dialihkan kepada arti yang majazi.
4. Pada masa pembinaan hukum syari'at, yaitu pada zaman Rasulullah Saw., lafaz zhahir
itu dapat di-nasakh dalalahnya. Artinya hukum yang dipetik dari lafaz zhahir dapat
diganti dengan hukum yang berlainan, apabila hukum tersebut berkairan dengan hukum
furu' (cabang) yang dapat berubah menurut kemaslahatannya.
12
Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang (zhahir) kepada
makna yang kepada arti atau makna lain. Perkataan yang ditakwilkan disebut mu'awwal.
Syarat-syarat Ta'wil
1. Sesuai dengan penggunaan bahasa (Arab), istilah-istilah yang terpakai dalam syariat,
dan dengan kebiasaan yang dipakainya.
2. Harus mempunyai keterangan atau jalan yang menunjukkan bahwa ia boleh diartikan
demikian.
Rangkuman
Mujmal ialah lafaz yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makna yang dikehendaki
dan tidak pula didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau haliyah (keadaan) yang
menjelaskannya. Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas
maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya.
Zhahir ialah lafaz yang menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh shigat
lafaz itu sendiri. Dan Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang
(zhahir) kepada makna yang kepada arti atau makna lain. Perkataan yang ditakwilkan
disebut mu'awwal.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Mujmal dan Mubayyan!
2. Jelaskan pengertian Zhahir dan Ta'wil!
3. Sebutkan macam-macam Bayan, dan syarat-syarat Ta'wil !





MANTHUQ DAN MAFHUM
MUSYTARAK DAN MACAM-MACAMNYA
TUJUAN
13
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Manthuq dan
Mafhum, serta Musytarak dan macam-macamnya.
BAHASAN
A. Manthuq dan Mafhum
Manthuq artinya yang diucapkan. Dalam Ushul, yang dimaksud dengan manthuq ialah
suatu lafaz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan seseorang. Sedangkan
Mafhum artinya yang dipahami, yaitu sesuatu ketentuan yang dipahami dari manthuq itu.
Maka, suatu hukum yang diperoleh bukan dari lafaz yang disebutkan, baik hukum itu
sesuai dengan hukum dari lafaz yang disebutkan maupun berbeda, inilah yang disebut
mafhum.
Macam-macam Mafhum
1. Mafhum Muwafaqah.
Mafhum muwafaqah ialah mafhum kesesuaikan. Yaitu jika hukum yang diperoleh
sesuai dengan hukum dari lafaz yang disebutkan (manthuq). Mafhum muwafaqah dibagi
kepada dua bagian, yaitu Fahwal Khithab dan Lahnul Khithab.
Mafhum muwafaqah yang tergolong dalam Fahwal khithab ialah apabila „illat hukum
yang dijadikan dasar untuk mempersamakan hukum perbuatan yang tidak disebutkan oleh
nash kepada perbuatan yang telah ditetapkan hukumnya oleh nash itu lebih tinggi tarafnya.
Sedangkan Lahnal khithab tarafnya sama.
2. Mafhum Mukhalafah
Mafhum mukhalafah ialah penetapan lawan hukum yang diambil dari dalil yang
disebutkan dalam nash (manthuq bih) kepada suatu yang tidak disebutkan dalam nash
(maskut „anhu). Dengan kata lain bahwa hukum yang ditetapkan oleh maskut „anhu adalah
berlawanan dengan hukum yang ditetapkan oleh manthuq bih.


Macam-macam Mafhum Mukhalafah
a. Mafhum Washfi. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dengan melalui
suatu sifat yang terdapat dari manthuq bih.
14
b. Mafhum gayah. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dengan melalui
suatu gayah (batasan) yang terdapat dalam manthuq bih. Artinya hukum yang
ditetapkan setelah adanya suatu gayah (hatta, ila dan lain-lain) adalah berlawanan
dengan hukum dari nash sebelum adanya gayah.
c. Mafhum syarat. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari hukum
manthuq bih yang dibatasi dengan suatu syarat.
d. Mafhum „adad. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari manthuq bih
yang dibatasi dengan bilangan yang sudah tertentu.
e. Mafhum laqab. Yaitu menetapkan lawan hukum maskut „anhu dari hukum manthuq bih
yang dikaitkan dengan isim „alam (nama orang), isim washf (menunjukkan kualitas,
aktivitas, pernyataan) dan isim jins (nama-nama untuk material).
f. Mafhum hashr. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari hukum
manthuq bih yang di-hashr-kan (khususkan hanya untuknya).
B. Musytarak
Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau lebih yang berbeda-beda.
Misalnya: lafaz “quru'” mempunyai arti “suci” dan “haid”. Lafaz tersebut memerlukan
penjelasan yang seksama apa yang dimaksud dengannya. Lafaz Musytarak diciptakan
untuk beberapa makna yang penunjukannya kepada makna itu dengan jalan bergantian,
tidak sekaligus.
Sebab-sebab Lafaz Menjadi Musytarak
1. Lafaz itu digunakan oleh suatu suku bangsa (qabilah) untuk makna tertentu dan oleh
suku bangsa yang lain digunakan untuk makna yang lain lagi, kemudian sampai kepada
kita dengan kedua makna tersebut tanpa ada keterangan dari hal perbedaan yang
dimaksud oleh penciptanya.
2. Lafaz yang diciptakan menurut hakikatnya untuk satu makna, kemudian dipakai pula
kepada makna lain tetapi secara majazi (kiasan). Pemakaian secara majazi ini masyhur
pula, sehingga orang-orang menyangka bahwa pemakaiannya dalam arti yang kedua itu
adalah hakiki, bukan majazi. Dengan demikian para ahli bahasa memasukannya ke
dalam gologan lafaz musytarak.
15
3. Lafaz itu semula diciptakan untuk satu makna, kemudian dipindahkan kepada istilah
syari'at untuk arti yang lain. Misalnya lafaz “shalat”, menurut arti bahasa semula
artinya adalah berdoa, kemudian menurut arti istilah syar'i ialah shalat sebagaimana
yang kita kenal sekarang.
Hukum Lafaz Musytarak
Apabila persekutuan arti lafaz musytarak pada suatu nash syar'i itu terjadi antara makna
lugawi dengan makna istilah syar'i, maka hendaklah diambil makna menurut istlah syar'i.
Rangkuman
Manthuq ialah suatu lafaz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan
seseorang. Sedangkan Mafhum artinya yang dipahami, yaitu sesuatu ketentuan yang
dipahami dari manthuq itu. Mafhum dibagi pada dua macam, yaitu Mafhum muwafaqah dan
Mafhum mukhalafah.
Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau lebih yang berbeda-beda.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Manthuq dan Mafhum !
2. Sebutkan macam-macam Mafhum !
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Musytarak !











NASAKH DAN TARJIH
16
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Nasakh dan macam-
macamnya, serta Tarjih dan macam-macamnya.
BAHASAN
A. Nasakh dan Macam-macamnya
Perkataan nasakh yang menurut bahasa berarti (membatalkan dan
menghilangkan), oleh para ahli Ushul Fiqih diartikan dengan:

“Penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang kemudian”.
Pengertian hukum syari'at hendaklah diartikan secara luas, sehingga mencakup tidak
saja syari'at Islam tetapi juga syari'at sebelum Islam. Dengan demikian pengertian
penghapusan hukum syari'at oleh Syar'i meliputi menghapus hukum syari'at sebelum Islam
oleh syari'at Islam dan menghapuskan sebagian hukum syari'at Islam oleh sebagian hukum
syari'at Islam yang lain.
Nasakh bisa berlaku setelah hukum syari'at yang ditunjuk oleh dalil yang datang lebih
dahulu diberlakukan. Berlainan dengan Takhsish al-'am, yang mukhashshish-nya, baik
berupa kalimat atau bukan, selalu bersama-sama datangnya dengan lafaz 'am itu. Karena
maksud takhshish itu sejak semula memberlakukan sebagaia satuan artinya.
Macam-macam Nasakh
1. Naskhul kitab bil kitab.
2. Naskhul kitab bis-sunnah. Dalam menasakh Kitab dengan Sunah ini terdapat dua
macam pendapat di antara para ahli Ushul tentang boleh tidaknya. Pendapat pertama
menyatakan, menasakh Alquran dengan Sunah diperkenankan, asalkan dengan Sunah
Mutawatir atau Sunah Masyhur, bukan sunah Ahad. Sedang pendapat kedua
menyatakan, menasakh Alquran dengan Sunah tidak dibolehkan, karena derajat
Alquran lebih tinggi dari pada Sunah. Padahal syarat nasikh itu adalah yang lebih tinggi
derajatnya atau sepadan.
3. Naskhul sunnah bis-sunnah.
4. Naskhul sunnah bil-kitab.
17
5. Naskhul ijma' bil-ijma'.
6. Naskhul Ijma' bin-nash.
7. Naskhun nas bil-ijma'.
8. Naskhul qiyas.
B. Tarjih dan Macam-macamnya
Tarjih diartikan dengan: menjadikan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari
pada yang lain. Sebagian ulama membuat batasan tarjih ialah menyatakan keistimewaan
salah satu dari dua dalil yang sama dengan suatu sifat yang menjadikan lebih utama dilihat
dari yang lain. Tarjih ini tidak akan dapat dipakai selain kepada dalil-dalil zhanniy al-tsubut
(status ketetapan dalilnya zhanni), seperti Hadis ahad atau kepada dalil-dalil zhanniy al-
dalalah (dalil yang petunjuk isinya zhanni), seperti Alquran dan Hadis mutawatir yang
berdalalah zhanni atau Hadir ahad yang dalalahnya zhanni itu. Dengan demikian tarjih itu
hanya terjadi pada nash-nash Alquran dan Hadis mutawatir yang dalalahnya zhanniyah atau
Hadis-hadis ahad yang dalalahnya zhanniyah atau qath'iyyah.
Syarat-syarat Tarjih
1. Adanya persamaan antara dua dalil tersebut tentang ke-tsubut-annya (status ketetapan
dalilnya). Oleh karena itu tidak terjadi ta'arudh antara Alquran (yang qath'iy al-tsubut)
dengan Hadis ahad (yang zhanniy al-tsubut).
2. Adanya persamaan dalam kekuatannya. Jadi, jika yang satu dalil itu Hadis mutawatir
dan yang lain Hadis ahad, maka tidak ada ta'arudh. Karena dalam hal semacam ini
Hadis mutawatirlah yang harus didahulukan.
Macam-macam Tarjih
1. Tarjih bi i'tibar al-isnad.
2. Tarjih bi i'tibar al-matan.
3. Tarjih bi i'tibar al-madlul.
4. Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah.

Rangkuman
18
Nasakh ialah penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang
kemudian. Nasakh terbagi pada beberapa macam, yaitu: Naskhul kitab bil kitab, Naskhul
kitab bis-sunnah, Naskhul sunnah bis-sunnah, Naskhul sunnah bil-kitab, Naskhul ijma' bil-
ijma', Naskhul Ijma' bin-nash, Naskhun nas bil-ijma', dan Naskhul qiyas.
Tarjih ialah menjadikan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari pada yang
lain. Tarjih terbagi kepada beberapa macam, yaitu: Tarjih bi i'tibar al-isnad, Tarjih bi
i'tibar al-matan, Tarjih bi i'tibar al-madlul, dan Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Nasakh !
2. Jelaskan pengertian Tarjih !
3. Sebutkan macam-macam Nasakh dan Tarjih !


















ALQURAN DAN AL-SUNNAH
19
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Alquran,
hukum dalam Alquran, Alquran dalam menetapkan hukum, kehujjahan Alquran, Alquran
dalil qath'i dan zhanni, Alquran dalil kulli dan juz'i, pengertian al-Sunnah, kehujjahan al-
Sunnah, kedudukan al-Sunnah terhadap Alquran, macam-macam al-Sunnah, dilalah al-
hadits, serta perbedaan hadits dan sunnah.
BAHASAN
A. Alquran Sumber Hukum Islam Pertama
1. Tinjauan Bahasa
Kata Alquran berasal dari kata / Qara'a artinya 'membaca'. Bentuk mashdar-
nya artinya 'bacaan' dan 'apa yang tertulis padanya'.
Secara istilah Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad,
tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir,
bila membacanya mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri
dengan surat An-Nas.
2. Hukum dalam Alquran
a. Hukum-hukum I'tiqadiyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan.
b. Hukum-hukum Khuluqiyyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak.
c. Hukum-hukum Amaliyah, hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. Hukum
amaliyah ini ada dua: Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas.
3. Alquran dalam menetapkan hukum
Kebijaksanaan Alquran dalam menetapkan hukum menggunakan prinsip:
a. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan.
b. Menyedikitkan tuntutan.
c. Bertahan dalam menterapkan hukum
d. Alquran memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia.

4. Kehujjahan Alquran
20
a. Alquran itu diturunkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir, dan ini
memberi keyakinan bahwa Alquran itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat
Jibril kepada Muhammad saw. yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya.
b. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, antaranya.
4L^¯EO4^4Ò ¬C^OÞU4N =U4-´¯^¯-
4L4O¯±R> ÷"7¯Rm¯ ¡7¯ØE* O4³¬-4Ò
LOE©^O4O4Ò ¯O4O^¯+´4Ò 4×-R©TU¯O÷©·UR¯

c. Mukzijat Alquran juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alquran datang
dari Allah swt. Mukzijat Alquran bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw.
yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat manusia.
Mukzijat Alquran menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada
tantangan dari berbagai pihak untuk menandingi Alquran itu sendiri sehingga para ahli
sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya.
5. Alquran Dalil Qath'i dan Zhanni
Alquran yang diturunkan secara mutawatir, dari segi turunnya berkualitas qath'i (pasti
benar). Akan tetapi, hukum-hukum yang dikandung Alquran ada kalanya bersifat qath'i dan
ada kalanya bersifat zhanni (relatif benar).
Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan
tidak bisa dipamahi makna lain darinya. Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum
zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alquran mengandung pengertian lebih dari satu dan
memungkinkan untuk dita'wilkan.
6. Alquran Dalil Kully dan Juz'i
Alquran sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang
terkandung di dalamnya dengan cara :
a. Penjelasan rinci (zuj'i) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya. Hukum-
hukum yang rinci ini, menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi, yang tidak
bisa dimasuki oleh logika.
b. Penjelasan Alquran terhadap sebagian besar hukum-hukum itu, bersifat global / kully,
umum, dan muthlaq. Untuk hukum-hukum yang bersifat global, umum, dan muthlaq
21
ini, Rasulullah saw. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan, mengkhususkan, dan
membatasinya. Hal inilah yang diungkapkan Alquran dalan surat al-Nahl : 44
.4L^¯4O^Ò¡4Ò El^O·¯T³ 4O-±R"~.-
4×T)-4l+R¯ +EELUR¯ 4` 4·Q´O+^
¯ªØ&¯O·¯T³
B. Al-Sunnah Sumber Hukum Islam Kedua
1. Tinjauan Bahasa
Sunnah secara bahasa berarti 'cara yang dibiasakan' atau 'cara yang terpuji'. Sunnah
lebih umum disebut hadis, yang berarti: = dekat, = baru, = berita.
Secara istilah menurut ulama ushul fiqh:

“Semua yang bersumber dari Nabi saw. selain Alquran baik berupa perkataan,
perbuatan atau persetujuan.”
2. Kehujjahan Sunnah
Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum:
a. Dalil Alquran, misalnya dalam Ali Imran: 32:
¯¬~ W-QN¬ORCÒ¡ -.- ¬°Q÷c·O¯-4Ò W
¹T¯·· W-¯Q-¯4Q·> E¹T¯·· -.- ºº OUR47©
4ׯØOR¼·¯^¯-
b. Dalil Al-Sunnah, di antaranya :


c. Ijma Shahabat. Setelah wafatnya Rasulullah saw, para sahabat jika mendapatkan satu
permasalahan, mereka mencarinya dari Alquran, dan jika tidak mendapatkan dari
Alquran, mereka bertanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal
dan ingat. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan
sahabat kepadanya. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar, juga Umar bin Khatab dan para
sahabat lain serta para Tabi'in. Tidak ada seorang pun dari antara mereka yang menolak
dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti.
22
d. Logika. Alquran memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban, pada umumnya
bersipat global, tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. Hal ini perlu
pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya, maka kehadiran sunnah
merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alquran.
3. Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alquran
a. Sebagai Muaqqid. Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan
Alquran, dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah.
b. Sebagai Bayan. Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur,an yang belum
jelas, dalam hal ini ada tiga hal :
1) Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alquran yang masih mujmal, misalnya
perintah shalat dalam Alquran yang mujmal, diperjelas dengan Sunnah.
2) Membatasi kemutlakan (taqyid al-muthlaq). Misalnya, Alquran memerintahkan
berwasiat, dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya. Lalu Al-Sunnah membatasinya.
3) Mentakhshishkan keumuman. Misalnya, Alquran mengharamkan tentang bangkai,
darah dan daging babi, kemudian al-Sunnah mengkhususkan dengan memberikan
pengecualian kepada bangkai ikan laut, belalang, hati dan limpa.
4) Menciptakan hukum baru. Misalnya, Rasulullah melarang untuk binatang buas dan
yang bertaring kuat, dan burung yang berkuku kuat, dimana hal ini tidak disebutkan
dalam Alquran.
4. Macam-macam Sunnah
a. Sunnah Qauliyah.
Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar, atau berita berupa perkataan Nabi
saw. yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada
yang lain.
Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada tiga hal :
1) Diyakini benarnya, seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah
diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir.
2) Diyaniki dustanya, seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi
ketentuan-ketentuan syara.

23
3) Yang tidak diyakini benarnya, dan juga tidak diyakini dustanya, hal ini ada tiga:
a) Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya.
b) Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya.
c) Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya.
b. Sunnah Fi'liyah
Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. yang diketahui dan disampaikan oleh
sahabat kepada orang lain. Sunnah fi'liyah terbagi kepada beberapa bentuk, ada yang harus
diikuti oleh umatnya, dan ada yang tidak harus diikuti, yaitu:
1) Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan.
Sunnah fi'liyah ini menunjukkan tidak ada kewajiban untuk diikuti (bersifat mubah).
2) Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah, yang oleh sebagian ahli ushul
disebut al-Jibilah. Ini lebih pada urusan keduniaan, budaya dan kebiasaan Pada
bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. Jumhur ulama
memandangnya kepada jenis Mubah.
3) Perangai yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu.
Ini lebih dari sekedar urusan jibilah, tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah.
4) Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya.
Adapun urusan al-Qurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw,
itu harus diikuti oleh orang muslim.
5) Apa yang dilakukan Nabi saw. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat
mujmal/samar tidak jelas. Maka hukumnya sama dengan hukum mujmal tersebut.
6) Apa yang dilakukan Nabi saw. menjelaskan akan kebolehan / jawaz.
c. Sunnah Taqririyah
Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. atau
sepengetahuan Nabi, namun Nabi diam dan tidak mencegahnya, maka sikap diam dan tidak
mencegahnya, menunjukan persetujuan Nabi. Hal ini karena kalau Nabi tidak setuju, tentu
Nabi tidak akan membiarkan sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah, karena Nabi
itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran, karena
membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran.
24
5. Dilalah Al-Hadits
Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadis:
Mutawatir, Masyhur dan Ahad. Sedangkan menurut jumhur, hadis dibagi kepada; Hadits
Mutawatir dan Ahad; sedangkan hadits Masyhur masuk pada pembagian hadits ahad.
a. Hadits Mutawatir
Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil
mereka bersepakat untuk berdusta. Kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh
para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang
meriwayatkan pertama kali. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah
(yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat, shaum, haji
dan lain-lain, perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. Pada sunnah qauliyah tidak
sebanyak sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir. Hadis Mutawatir itu ada dua:
1) Mutawatir lafzhi. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan
banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan maknanya.
2) Mutawatir Ma'nawi. Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain, tapi
susunan masing-masing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama.
b. Hadits Ahad
Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. oleh sejumlah orang yang
tidak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. Hadits ini disebut juga dengan khabar
Ahad. Hadits Ahad ini terbagi kepada: Masyhur, Shahih, Hasan dan Dhaif.
1) Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh para shahabat
atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir, kemudian
diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabi'ut tabi'in oleh sejumlah orang yang
sampai pada batas mutawatir. Dalam definisi lain, masyhur adalah yang mempunyai
jalan yang terbatas lebih dari dua jalan.
2) Hadits Shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, dan sempurna
ketelitiannya, sanadnya bersambung, sampai kepada Rasulullah, tidak mempunyai
cacat, illat, dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya.
25
3) Hadits Hasan, ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang
ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, tidak mepunyai
cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya.
4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan
hadits hasan. Hadits Dhaif ini banyak macamnya, antara lain Hadits Maudhu, inilah
sejelek-jeleknya hadits dhaif, mursal, mu'allaq, munqathi, mudallas, mudtharib,
mudraj, munkar dan mubham. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam
menetapkan hukum. Menurut Imam An-Nawawi, para ulama bersepakat hadits
dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal, bukan dalam Asal / pokok amal.
6. Perbedaan antara hadits dan sunnah
Hadits, segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. walaupun hanya sekali
saja dalam hidup, dan walaupun diriwayatkan hanya seorang.
Sunnah adalah nama amaliyah yang mutawatir, yakni cara Rasul melaksanakan ibadah,
yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Jadi hadits / khabar
berorientasi kepada ucapan, sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan.
Rangkuman
Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tertulis dalam
mushhaf berbahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir, bila
membacanya mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri
dengan surat An-Nas. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah disampaikan secara
mutawawir, penjelasan dari ayat-ayat Alquran, dan mukjizatnya.
Sunnah adalah semua yang bersumber dari Nabi saw. selain Alquran baik berupa
perkataan, perbuatan atau persetujuan. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah dalil ayat
Alquran, dalil sunnah, ijma shahabat, dan logika. Sunnah terbagi kepada tiga macam, yaitu
sunnah fi'liyah, sunnah qauliyah, dan sunnah taqririyah
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Alquran dan Al-Sunnah secara bahasa dan istilah !
2. Bagaimana kehujjahan Alquran dan al-Sunnah?
3. Sebutkan dengan rinci macam-macam al-Sunnah !

26
IJTIHAD
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Ijtihad,
lingkup Ijtihad, Ijtihad pada masa Rasul Saw. dan Khulafa Rasyidin, Ijtihad fardi dan
jama'i, syarat-syarat ijtihad, yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad, macam-
macam mujtahid, dan alasan ijtihad menjadi hujjah.
BAHASAN
IJTIDAH SUMBER HUKUM KETIGA
1. Pengertian Bahasa
Secara bahasa ijtihad diambil dari kata artinya yaitu kesulitan, berupaya
keras, seperti kata artinya, ia berupaya keras mengangkat batu
penggilingan. Dan juga bermakna:

“Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa
urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan.”
Dan menurut Istilah Ulama Ushul berarti :

“Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan
hukum-hukum syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaplikasiannya.”
Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu ada Ijtihad dalam mengeluarkan
hukum (ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam menerapkan hukum (Ijtihad fi tathbiq
ahkam).
2. Lingkup Ijtihad
Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil
yang qath'i, maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad. Dalam hal seperti ini melakukan
apa yang ditunjukkan oleh Nash Qath'i. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu:
27
a. Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniy al-wurud (hadits-hadits ahad), dan
zhanniyu al-dalalah (nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan
dita'wilkan).
b. Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Ini dapat dilakukan dengan; Qiyas,
Istihsan, Istishab, Urf, dll.
3. Ijtihad pada masa Rasul saw. dan Khulafa Rasyidin
Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. adalah tentang tawanan perang Badar.
Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. Sementara
Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan. Dari
dua pendapat itu, Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar, yakni menerima tebusan.
Di antara ijtihad para Shahabat ialah: Ijtihad Abu Bakar dalam hal memerangi orang
yang membangkang membayar zakat dan memushhafkan Alquran, dan Ijtihad Umar, yaitu
tidak menghukum orang yang mencuri dengan potong tangan, karena ada bencana
kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal.
4. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i
Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad, maka ijtihad terbagi pada :
a. Ijtihad Fardi, yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. Alasannya antara lain:
1) Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat
ditanya Rasul saw jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan, dan tidak
ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. Muadz menjawab
(aku akan berijtihad dengan pikiranku, dan aku tidak akan meninggalkannya).
2) Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar
menggunakan Ijtihad dengan Qiyas, dan pesannya kepada Qadhi Suraih agar
berijtihad apabila tidak jelas dalam al-Sunnah
3) Mengenai ahli waris yang ditinggalkan oleh yang mati, terdiri dari Kakek bersama
saudara. Abu Bakar, Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa saudara terhijab
oleh kakek. Sedangkan menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah
(membagi sama) dengan Saudara. Di sini kakek tidak menghijab saudara.
28
b. Ijtihad Jama'i. Yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. Dalam Ijtihad ini
tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir, tapi juga orang yang ahli dibidang
yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. Di sini adanya persetujuan dari para
mujtahid terhadap masalah.
Alasannya ialah, jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya, Apa
yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran
dan Al-Sunnah? Maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya.
5. Syarat-syarat Ijtihad.
a. Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya, ayat-ayat
hukum dan cara mengistinbath daripadanya. Juga mengetahui asbab al-nuzul, ta'wil,
dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath.
b. Mengetahui nash-nash hadis, yakni mengetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu
mengeluarkan hukum/istinbath daripadanya, disamping harus mengetahui nilai dan
derajat hadits.
c. Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya; ilmu nahwu, sharaf, balaghah
dan lainnya, juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa (natsar)
maupun syair (nadham), dan tahu antara 'aam-khash, haqiqat-majaz, mutasyabih-
muhkam, dan lainnya.
d. Mengetahui maqashid al-syar'iyyah, tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang
mengandung mashlahat dan madharat, sanggup mengetahui illat hukum, dapat
mengqiyaskan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum
sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat.
e. Mengetahui ilmu Ushul Fiqih, sebagai ilmu metoda istinbath, metode menemukan dan
menerapkan hukum, agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran.
f. Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad.
6. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad
Seorang mujtahid dalam berijtihad, hendaklah pertama kali ia memperhatikan nash-
nash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum manthuq dan mafhum dari keduanya,
lalu memperhatikan pada perbuatan Nabi (hadits fi'li), jika ia tidak menemukan dari
perbuatan Nabi saw., lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya, lalu
29
selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shahabat, jika semuanya mendapat kesulitan
maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar.
Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan, hendaknya:
a. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. Jika usaha ini berhasil,
maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya.
b. Mentarjihkan salah satunya, dengan menggunakan ilmu tarjih, mencari mana yang kuat
dan mana yang kurang kuat. Jika usaha tidak berhasil lakukan.
c. Meneliti sejarah datangnya kedua nash untuk ditentukan yang datang kemudian/
belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal.
d. Membekukan (tawaqquf), untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah
beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai.
7. Macam-macam mujtahid
Menurut Abu Zahrah, mujtahid itu ada beberpa tingkatan, sesuai dengan luasnya dan
sempitnya cakupan bidang ilmu, yaitu:
a. Mujtahid fi syar'i. Yaitu yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at
yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup
berijtihad. Merekalah yang membangun mazhab, dan berijtihad dengan hasil sendiri.
b. Mujtahid al-Muntasib. Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam
terdahulu dalam hal asal / pokok, dan berbeda dalam hal cabang.
c. Mujtahid fi Madzhab. Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk mazhab
tersendiri, akan tetapi mereka hanya mengikuti imam mazhab yang telah ada. Mereka
mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu,
mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidah-qaidah lama,
mengembangkan dasar-dasar mazhab, meletakkan dasar-dasar tarjih, dan perbandingan
di antara pendapat.
d. Mujtahid al-Murajjih. Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang
yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu, tapi hanya melakukan tarjih, dengan
membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu, lalu
menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan lemah dengan argumen qaidah tarjih.
30
Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini, yaitu
mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat, mereka menetapkan bahwa
pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain. Ini dilakukan agar
bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya.
e. Tingkatan Muhafidh. Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari
yang kuat dan yang lemah, riwayat yang zhahir, mazhab yang zhahir, riwayat yang
jarang. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih, tapi mengetahui mana yang
kuat, dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih.
f. Tingkatan Muqallid. Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu, yaitu
mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab, tapi tidak mampu
melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat, riwayat, dan tidak
mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatan-
tingkatan tarjih. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri, tapi hanya
mengumpulkan apa yang mereka temukan. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini
atau juga sekarang banyak yang seperti ini, mereka beribadah mengikuti apa yang
terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu, mereka tidak dapat membedakan antara
dalil-dalil, antara pendapat dan riwayat-riwayat.
8. Alasan Ijtihad menjadi hujjah
Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada:
a. Alquran
O&¬³Ò^4C 4ׯR~-.- W-EQN44`-47
W-QN¬ORCÒ¡ -.- W-QN¬ORCÒ¡4Ò
4·Q÷c·O¯- OدÒ+¡4Ò ØO¯··- ¯¦7¯LR` W
¹T¯·· u®7+^N4O4L·> OT× ¡7¯ØE* +ÞÒ·1NO··
OÞ¯T³ *.- ´·Q÷c·O¯-4Ò
b. Al-Hadits



31

c. Logika.
Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya,
sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. Oleh karena
itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu mencukupi untuk menghadapai
peristiwa-peristiwa yang terus terjadi, selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum
peristiwa baru tanpa melalui ijtihad.
Rangkuman
Ijtihad ialah mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam
mengeluarkan hukum-hukum syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam
pengaplikasiannya. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu nash zhanniy al-wurud dan zhanniy
al-dalalah.
Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad, maka ijtihad terbagi pada: ijtihad fardi
dan ijtihad jama'i. Ijtihad mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi, dan seorang
mujtahid harus mengetahui apa yang harus ia lakukan.
Alasan ijtihad dapat dijadikan hujjah berdasarkan pada dalil Alquran, hadis Nabi, dan
logika.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Ijtihad menurut bahasa dan istilah !
2. Ditinjau dari subjek yang melakukan Ijtihad, terbagi kepada berapakan Ijtihad itu?
Jelaskan!
3. Apa saja syarat Ijtihad itu? Dan apa yang harus dilakukan seorang mujtahid?








32

IJMA' DAN QIYAS
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Ijma',
Ijma' sebagai hujjah, unsur-unsur Ijma', kemungkinan Ijma', macam-macam Ijma', serta
mengetahui pengertian Qiyas, kehujjahan Qiyas, rukun Qiyas, syarat Qiyas, dan macam-
macam Qiyas.
BAHASAN
A. Ijma', Kehujahan dan Macam-macamnya
1. Tinjauan Bahasa
Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus. Juga berarti tekad atau
niat ( ).
Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ijma ' adalah:

“Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah
saw. akan suatu hukum syariat yang amali.”
2. Ijma sebagai hujjah
Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan:
a. Alasan Alquran
O&¬³Ò^4C 4ׯR~-.- W-EQN44`-47
W-QN¬ORCÒ¡ -.- W-QN¬ORCÒ¡4Ò
4·Q÷c·O¯- OدÒ+¡4Ò ØO¯··- ¯¦7¯LR` W

Lafadz ulil amri, pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi, seperti kepala
negara, menteri dan lainnya, dan mencakup pemegang urusan agama, seperti para mujtahid,
para mufti dan para ulama. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk
menetapkan suatu hukum agama, maka wajib diikuti.
b. Alasan Hadits
33
.

Abdul Hamid Hakim menyebutkan, bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya,
akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah, karena itu ahli
Ushul Fiqih menyebutkan, ijma itu bukanlah dalil yang
menyendiri. Firman Allah Al-Nisa: 59 .
3. Unsur-unsur Ijma
a. Terdapat beberapa orang mujtahid, karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada
beberapa mujtahid.
b. Harus ada kesepakatan di antara mereka.
c. Kebulatan pendapat harus tampak nyata, baik dengan perbuatannya, misalnya Qadhi
dengan keputusannya, atau dengan perkataannya, misalnya dengan fatwa.
d. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma.
4. Kemungkinan Ijma
Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan.
Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah
mengingkari hal yang nyata terjadi.
Salah seorang ulama bernama Al-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan
bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan
adat. Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsur-unsur yang ada. Dalam hal
ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. Juga tidak
adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid, karena sukar
menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan. Karena itu sebagian ulama telah
mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para
ulama jumlahnya masih sedikit. Imam Daud berkata:

5. Macam-macam Ijma
Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma', maka terdiri dari :
a.
34
Ijma Ummat. Ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan.
b.
Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan.
c.
Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. Ijma ini
bagi Imam Malik adalah hujjah.
d.
Yaitu persesuaian ahli Kufah, terhadap sesuatu masalah, Ijma ini dianggap hujjah bagi
Imam Hanifah.
e.
Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat.
Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadis:
–-
f.
Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum, Ijma ini oleh
sebagian ulama dianggap hujjah, atas dasar

Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya, ijma terbagi kepada dua:
a.
Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun
dengan perbuatan (menfatwakan atau mempraktekkan). Disebut juga ijma Haqiqi.
b.
Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid, sedang
sebagian lainnya diam, tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. Disebut
juga ijma I'tibari.
Dilihat dari sisi prosesnya, Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid, karena itu termasuk
pada salah satu bentuk Ijtihad. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan
konsensus para ulama yang harus ditaati, maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber
hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah.
B. Qiyas, Kehujahan dan Macam-macamnya
35
1. Pengertian Bahasa
Kata Qiyas berasal dari kata : Ia telah mengukur, : Ia sedang mengukur,
; ukuran. Jadi kata qiyas itu artinya: ukuran, sukatan, timbang/an.
Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah:

“Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu
yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya.”
2. Kehujjahan Qiyas
Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan :
a. Alquran.
W-Ò+O´¯4^N·· OدÒ+^4C
QO=¯·-
E¹T³ -.- NON`·4C ´·^³E¬^¯T
^T=O^Oe"-4Ò
¹T¯·· u®7+^N4O4L·> OT× ¡7¯ØE* +ÞÒ·1NO··
OÞ¯T³ *.- ´·Q÷c·O¯-4Ò
b. Al-Sunnah.


c. Perkataan dan perbuatan shahabat.
1) Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari :

2) Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r.a. untuk menjadi khalifah, diqiyaskan
kepada Nabi Muhamad saw.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat, sebagai
ganti pada waktu Beliau sakit.
d. Alasan Logika
36
1) Allah swt. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan
bagi hamba. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat. Karena itu jika
ada suatu masalah yang tidak ada nashnya, tapi illatnya sama dengan yang ada
nashnya, maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan bagi hamba.
2) Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas, sedangkan kejadian pada
manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. Maka Qiyas merupakan sumber
perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan
kemaslahatan.
3) Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. Oleh
karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash, maka logislah setiap
minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut.
3. Rukun Qiyas
a. Asal. Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat
mengqiyaskan, dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu, atau al-maqis 'alaih / musyabah bih.
b. Cabang. Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya, ia yang diqiaskan, dalam ilmu
ushul fiqih disebut al-far'u, / al-maqis / al musyabbah.
c. Hukum Asal. Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan
menjadi hukum pada cabang.
d. Illat. Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada
dan tidak adanya hukum. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada, dan jika illat itu
tidak ada maka hukum itu juga tidak ada.
4. Syarat Qiyas
a. Syarat-syarat Pokok:
1) Hukum pokok itu masih ada atau berlaku / tsabit, kalau tidak ada, hukum tersebut
harus dimansukh, maka tidak boleh ada pemindahan hukum.
2) Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa.
3) Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian.


b. Syarat-syarat Cabang:
37
1) Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok. Jika Qiyas itu
dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya.
2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri, yang menurut ulama Ushul 'apabila
datang nash, qiyas menjadi batal'.
3) Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok.
4) Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok
c. Syarat-syarat Illat:
1) Illat Harus tetap berlaku, manakala ada illat, tentu ada hukum, dan tidak ada hukum
bila tidak ada illat.
2) Illat berpengaruh pada hukum, artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat.
Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia.
3) Illat tidak berlawanan dengan nash, jika berlawanan maka nash yang didahulukan.
Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat
1 Dengan nash
Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih), dan adakalanya dengan
isyarat. Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata, seperti
- - .
2 Dengan Ijma
Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i, dan adanya illat itu dalam
cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya, maka hukumnya qath'i.
3 Dengan istinbath / penelitian
Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk:
a. Al-Munasabah. Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau
larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia.
b. Al-Sabru wa al-Taqsim. Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat, melalui
menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok, diambil illat hukumnya
dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman
yang mendalam.
38
c. Takhrij al-Manath. Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui, apabila
illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma.
d. Tanqih al-Manath. Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain
yang samar, misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan
sifat-sifat yang berbeda.
e. Tahqiq Al-manath. Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok, tapi
diperselisihkan pada cabang.
5. Macam-macam Qiyas
a. Qiyas Aula. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum, dan yang disamakan
atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang
dibandingi (mulhaq bih).
b. Qiyas Musawy. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum, dan illat hukum
yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq, sama dengan illat hukum yang ada pada
mulhaq bih.
c. Qiyas al-Adwani. Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan /
mulhaq, lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih.
d. Qiyas Dilalah. Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan,
menunjukan hukum, tetapi tidak mewajibkan hukum padanya.
e. Qiyas Syibhi. Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih
(pokok). Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya
dengan mulhaq.
Rangkuman
Ijma' adalah kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat
Rasulullah saw. akan suatu hukum syariat yang amali. Kehujjahan Ijma didasarkan atas
alasan ayat Alquran dan hadis.
Ijma memiliki beberapa unsur yang mesti ada. Ditinjau dari ruang lingkup para
mujtahid yang berijma', ijma' terbagi kepada enam macam. Sedangkan jika dilihat dari cara
terjadinya dan martabatnya, ijma' terbagi kepada dua.
39
Qiyas adalah menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan
sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara
keduanya.
Kehujjahan Qiyas dapat berdasarkan pada Alquran, al-sunnah, perkataan dan perbuatan
shahabat, dan logika. Rukun Qiyas terdiri dari: (1) Asal. (2) Cabang. (3) Hukum asal. Dan
(4) 'Illat. Syarat Qiyas terdiri dari: (1) Syarat-syarat pokok. (2) Syarat-syarat cabang.
(3) Syarat-syarat 'Illat. Dan Qiyas terbagi kepada: (1) Qiyas Aula. (2) Qiyas Musawy. (3)
Qiyas al-Adwani. (4) Qiyas Dilalah. Dan (5) Qiyas Syibhi.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Ijma' dan Qiyas secara bahasa dan istilah !
2. Bagaimana kehujjahan Ijma dan Qiyas?
3. Sebutkan macam-macam Ijma' dan Qiyas!
















40
ISTIDLAL, ISTISHAB,
MASHLAHAH AL-MURSALAH, DAN ISTIHSAN
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian istidlal,
istishab, mashlahah al-mursalah, dan istihsan, serta mengetahui macam-macamnya.
BAHASAN
A. ISTIDLAL
Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya: minta
petunjuk, memperoleh dalil, menarik kesimpulan.
Menurut Imam Abdul Hamid Hakim, istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada
nash Alquran dan al-Sunnah, tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas.

Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu
keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran, kemudian al-Sunnah, lalu al-Ijma
selanjutnya Alqiyas. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran, al-Sunnah, Al-Ijma dan
Qiyas, maka hendaklah mencari dalil lain (Istidlal).
Para ulama ushul fiqih, menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam, antara lain:
1. / al-Istishabu
2. / al-Mashlahah al-Mursalah
3. / al-Istihsanu
4. / Qaul al-Shahabi
5. / Saddu al-Dzara'i
6. / Syar'un man Qablana
7. / Dilalah al-Ilham.
8. / al-Urf



B. ISTISHHAB
1. Pengertian Bahasa
41
Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya 'menemani' atau 'menyertai', atau al-
mushahabah: menemani, juga istimrar al-suhbah; terus menemani. Kata lain dalam Bahasa
Arab:

Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim:

Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlaku
sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah.
2. Macam-macam Istishab
a. Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah. Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau
terlepas dari suatu hukum, sehingga ada dalil yang menunjukan.
b. Istishab yang ditunjukkan oleh al-syar'u atau al-Aqlu. Yaitu sifat yang melekat pada
suatu hukum, sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu.
c. Istishab al-Hukmi / Dalil umum. Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum
mubah atau haram, maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang
mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. Dengan
kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya.
Dan asal dalam sesuatu (mu'amalah) adalah kebolehan.

Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah
-
-
d. Istishab Washfi. Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang
hilang.
e. Istishab hukum yang ditetapkan ijma' lalu terjadi perselisihan. Istishab seperti ini
diperselisihkan ulama tentang kehujahannya.
4. Kehujahan Istishab
Mayoritas pengikut Maliki, Syafi'i, Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan
bahwa istishab dapat jadi hujah, selama tidak ada dalil yang merubah. Dan sebagian besar
dari ulama muta'akhirin juga demikian. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin,
42
seperti 'Hasan al-Basri', menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah, karena untuk
menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil.
C. MASHLAHAH MURSALAH
1. Tinjauan Bahasa
Kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan al-Mursalah.
Kata al-Mashlahah dari kata = beres. Bentuk mashdarnya atau =
keberesan, kemaslahatan. Yaitu sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Dan Kata mursalah,
dari kata = mengutus. Bentuk isim maf'ulnya = diutus, dikirim, dipakai,
dipergunakan.
Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah, berarti prinsip kemaslahatan,
kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. Juga dapat berarti, suatu
perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat.
Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih, bermakna :


Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kepada
hambanya tentang pemeliharaan agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya dan hartanya.
2. Syarat-syarat
a. Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah, dalil-dalil kulli, dan juz‟I yang
qath‟I wurud dan dalalahnya, dari nash Alqur‟an dan Al-Sunnah
b. Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional, artinya harus ada penelitian dan
pembahasan, hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak
kemadaratan, bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam
c. Kemaslahatan tersebut bersifat umum.
d. Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar.
3. Macam-macam Mashlahah
a. Dilihat dari sumbernya
43
1) Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur‟an dan Al-Sunnah, yang disebut juga
dengan mashlahah mu‟tabarah, kemashlahatan ini diakui oleh para ulama, misalnya
hifdulmal, hifdun nafsi, hifdu nasal, hifdul aqli dll.
2) Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath‟i. Kebanyakan ulama
menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath‟I ini.
3) Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang
menolaknya. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah.
b. Dilihat dari kepentingannya
1) Mashlahah Dharuriyah, yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan
menimbulkan kemadharatan dan kerusakan, karena itu mashlahah ini mesti ada
terwujud. Ini kembali kepada yang lima; memelihara agama, jiwa, akal, keturunan
dan harta.
2) Maslahah Hajiyah, yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait
dengan dasar (mashlahah dharuriyah), yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap
terwujud, dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan.
3) Mashlahah Tahsiniyah, yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang
dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul
akhlak.
5. Kehujahan mashlahah mursalah.
Abdul Hamid Hakim menyebutkan bahwa syara' memperhatikan kemashlahatan secara
umum, dengan berdasar pada firman Allah swt.

Ayat di atas memberi isyarat dari lafaz yang ditunjukannya, yaitu lafaz: (1) .
(2) . (3) . (4) . (4) .
(5) .


44
Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata:

D. ISTIHSAN
1. Pengertian bahasa
Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata artinya
mencari kebaikan. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan
artinya mencari yang lebih baik.
Secara istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah :
––
Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan, kepada hukum
lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat.
2. Macam-macam Istihsan
a. Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas )
berdasarkan dalil.
b. Mengecualikan hukum juz‟i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum).
3. Kehujahan Istihsan
Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah dan sebagian ulama Hambaliah, istihsan
merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. Golongan Hanafiyah sangat
mengagungkan Istihsan, Hambali dan Maliki juga memakainya, tetapi masih
membatasinya, sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri. Sedangkan Imam Syafi‟i
menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan
kehendaknya. Beliau berkata: “man istahsana faqad syarra'a”.
Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian
pendapat dalam mengartikan istihsan. Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang
nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk
kemaslahatan, bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu.
45
Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat, barangsiapa beristihsan tidaklah berarti
bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya, tetapi ia
memulangkannya kepada maksud syar‟i yang umum dalam peristiwa-peristiwa yang
dikemukakan.
Rangkuman
Istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah, tidak ada
pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas.
Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu
sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah.
Mashlahah al-mursalah ialah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh
Allah swt. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya, jiwanya, akalnya,
keturunannya dan hartanya.
Istihsan adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan, kepada hukum lain
yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Istidlal secara bahasa dan istilah, dan sebutkan macam-macamnya.
2. Jelaskan pengertian Istishhab, Mashlahah al-mursalah, dan Istihsan secara bahasa dan
istilah !
3. Bagaimana kehujjahan Istishhab, Mashlahah al-mursalah, dan Istihsan secara bahasa
dan istilah?










46
QAUL SHAHABI, SADD AL-ZARA'I.
SYAR'U MAN QABLANA
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Qaul
Shahabi, Sadd al-Zara'i, dan Syar'u man Qablana.
BAHASAN
A. QAUL SHAHABI
1. Pengertian
Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahabi, yaitu:

Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapat-
pendapat para shahabat dalam masalah ijtihad.
Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang
dinukil para ulama, baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum, yang tidak dijelaskan
dalam ayat atau hadis.
Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang
bertemu dengan Rasulullah saw. beriman kepadanya, mengikuti serta hidup bersamanya,
dalam waktu yang panjang, serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan
mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw.
2. Kehujahan Qaul Shahaby
Pendapat shahabat tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya, hal ini telah disepakati
para ulama ushul. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa
menjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah datang setelah tabi‟in. Ulama ushul
memiliki tiga pendapat:
a. Ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah.
b. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah.
c. Pendapat lain menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah, dan apabila
pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas, maka pendapat shahabat didahulukan.

47
Ibnu Qayyim berkata, bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari enam bentuk:
1) Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw.
2) Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw.
3) Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur‟an yang agak kabur dari
ayat tersebut pemahamannya bagi kita
4) Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui
salah seorang shahabat.
5) Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah
lakunya, kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. dan maksud-
maksudnya. Kelima ini adalah hujah yang diikuti.
6) Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah
pemahamannya. Maka ini tidak bisa jadi hujah.
Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas, bahwa seorang mujtahid
tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat, bila ia
menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu, akan tetapi bila
tidak menemukannya, maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat
yang berdasarkan hawa nafsu.
B. SADDU DZARA’I
1. Pengertian bahasa
Kata artinya yaitu media, atau jalan. Dalam bahasa syariat Dzariah
berarti : “apa yang menjadi media / jalan kepada yang
diharamkan atau yang dihalalkan”. Dan kata artinya mencegah atau menyumbat
jalan.
Dengan kata lain, dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan, atau
jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. Jalan yang
menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula, dan jalan yang menyampaikan
kepada haram hukumnya haram pula, jalan kepada wajib, wajib pula.

Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan.
48

Definisi lain menyebutkan:

“Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan, atau menyumbat jalan yang dapat
menyampaikan seseorang pada kerusakan.”
2. Macam-macam Dzariah
Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi
akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam:
a. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti.

b. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya.

c. Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya; tidak diyakini dan tidak
pula dianggap jarang. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena
menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya
kerusakan.

d. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan, tetapi belum mencapai tujuan kuat
timbulnya kerusakan itu.

3. Kehujahan Saddu Dzara’i
a. Ayat-ayat Alquran


b. Sunah Rasulullah
49

c. Pandangan Para Imam
Pada dasarnya para fuqaha memakai dasar ini, jika merupakan satu-satunya washilah
kepada ghayah/tujuan. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari‟ah,
sedang Imam Syafi‟i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka, walaupun mereka tidak
menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri
sendiri. Menurut Syafi‟i, dzariah masuk ke dalam qiyas, dan menurut Abu Hanifah dzariah
masuk kedalam Istihsan.
Ada ulama ushul yang menyebutkan:
1) Saddu Dzara‟i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat
yang telah dinashkan dan tertentu.
2) Fathhu dzara‟i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada
maslahat yang dinashkan. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath‟i,
maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash.
3) Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan )
telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat, lebih besar daripada
pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah.
C. SYAR’UN MAN QABLANA
1. Pengertian
Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar‟un man qablana, yaitu:

“Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syara‟ yang telah disyaratkan
Allah swt. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu
seperti Nabi Ibrahiem, Nabi Musa, dan Nabi Isya as.”
2. Kedudukan syar’un man qablana
Sesungguhnya syari‟at samawi pada asalnya adalah satu, sesuai firman Allah :
50


Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang
sebelum kita (umat Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukum-
hukum umat yang terdahulu tetap berlaku, seperti qishash.
3. Macam-macam dan kehujjahan Syar’un man qablana
Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt
kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. sering pula diceritakan dalam Alqur‟an
dan al Sunnah kepada umat Islam. Cerita tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang
masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam:
a. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam.
b. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam
c. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. Untuk ini ada dua pendapat:
Pendapat pertama, bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat
terdahulu, tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai
mana diwajibkan juga bagi mereka, atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan.
Pendapat kedua menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi
Rasulullah saw. dan umatnya.
Dengan perbedaan pendapat di atas, maka ada hal yang disepakati ulama :
1) Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita, tidaklah dianggap ada
tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam, karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu
hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam.
2) Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam, otomatis hukum tersebut
tidak bisa berlaku lagi bagi kita. Demikian juga hukum-hukum yang dikhususkan bagi
umat tertentu, tidak berlaku bagi umat Islam, seperti keharaman beberapa makanan,
misalnya daging bagi Bani Israil.
51
3) Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan
oleh agama samawi yang telah lalu, tetap berlaku bagi umat Islam, karena ketetapan
nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu.
Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan, apabila syariat sebelum Islam itu
dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka, maka tidak
wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. Namun apabila hukum-hukum itu bersipat
umum, maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat, seperti hukum qishash dan
puasa yang ada dalam Alquran.
4. Sandaran syariat Nabi saw. sebelum diutus
Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani, yang
menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat :
1) Bahwa Rasulullah saw. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. karena syariat itu
merupakan syariat yang pertama.
2) Bahwa Rasulullah saw. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as.
3) Bahwa Rasulullah saw. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahim as.
4) Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as.
5) Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. karena Nabi yang
paling dekat dengan Rasulullah saw.
6) Bahkan ada yang berpendapat, bahwa Rasulullah saw. sebelum diutus tidak beribadah
atas syariat, menurutnya, karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi
menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. Ibnu Qusyairi berkata, bahwa semua
perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath‟i.
Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa
Rasulullah saw. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. Menurutnya, karena Rasulullah
sering mencari dari syariat Ibrahiem as., beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari
syariat Ibrahiem, dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur‟an setelah beliau diutus
untuk mengikuti Millah Ibrahiem as.
Rangkuman
Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para
ulama, baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum, yang tidak dijelaskan dalam ayat atau
52
hadis. Pendapat shahabat tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya, hal ini telah disepakati
para ulama ushul. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa
menjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah datang setelah tabi‟in.
Sadd al-Dzari'ah adalah mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan, atau
menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. Kehujjahan Sadd
al-Dzara'i berdasarkan pada ayat Alquran, Sunnah, dan pandangan para imam/ulama.
Syar'u man Qablana adalah segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum
syara‟ yang telah disyaratkan Allah swt. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang
diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem, Nabi Musa, dan Nabi Isya as.
Terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang sebelum kita (umat
Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukum-hukum umat yang
terdahulu tetap berlaku.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian Qaul Shahabi, Sadd al-Dzara'i, dan Syar'u man Qablana !
2. Bagaimana kehujjahan Qaul Shahabi, Sadd al-Dzara'i, dan Syar'u man Qablana?
3. Sebutkan macam-macam Dzari'ah dan Syar'u man Qablana !














53



'URF DAN 'ADAT
ISTIDLAL DENGAN ILHAM
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian 'Urf dan
'Adat, serta beristidlal dengan Ilham.
BAHASAN
A. 'URF DAN 'ADAT
1. Pengertian
Secara etimologi „Urf‟ berarti sesuatu yang dipandang baik, yang dapat diterima akal
sehat. Menurut kebanyakan ulama „Urf‟ dinamakan juga „Adat„, sebab perkara yang telah
dikenal itu berulang kali dilakukan manusia.
Para ulama ushul Fiqih membedakan antara „Adat„ dengan „Urf„ dalam kedudukannya
sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara. Adat didefinisikan dengan:

Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan
rasional.

Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta
telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan
nash syara.
Dengan demikian „Urf‟ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam
kebanyakan adat, tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. Yang dibahas ulama
Ushul Fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah „Urf‟,
bukan „Adat‟.

54



2. Macam-macam ‘Urf’
Urf itu dapat dilihat dari obyeknya, dari cakupannya, dan dari keabsahannya.
a. Dari sisi obyeknya, Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu:
1) Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafaz atau
ungkapan tertentu. Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti
lain, maka itu bukanlah 'urf.
2) Al-Urf al-Amali, adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan.
b. Dari sisi cakupannya, Urf terbagi kepada dua bagian, yaitu:
1) Al-Urf al-„Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh
masyarakat dan di seluruh daerah.
2) Urf al-Khash, yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu.
c. Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara‟. dapat dibagi pada dua bagian yaitu:
1) Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak
bertentangan dengan dalil syara‟, tiada menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal, juga tidak membatalkan yang wajib.
2) Al-Urf al-Fasid, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang, berlawanan
dengan ketentuan syari‟at, karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau
membatalkan yang wajib.
3. Syarat-syarat Urf
Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa, dan
hakim dalam memutuskan perkara, disyaratkan sebagai berikut :
a. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath‟i. Oleh karena itu tidak dibenarkan
sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath‟i.
b. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku.
55
c. Urf harus berlaku selamanya. Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. Oleh
karena itu, orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf pada waktu mewakafkan,
meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian.
d. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur‟an atau hadits.
e. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari‟ah dan tidak
mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan
4. Kehujahan Urf
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan 'urf.
a. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa 'urf adalah hujah untuk
menetapkan hukum. Mereka beralasan firman Allah
-
-
b. Golongan Syafi‟iyyah dan Hanbaliyah, keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah
atau dalil hukum syar‟i. Mereka beralasan, ketika ayat ayat Alqur‟an turun, banyak
sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat.

Apabila kita perhatikan penggunaan 'Urf ini, bukanlah dalil yang berdiri sendiri, tetapi
erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah, bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah
berlaku sejak lama sampai sekarang, sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah
kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula
pada hal-hal yang belum biasa berlaku, bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan.
5. Qaidah Fiqhiyah dari Urf
Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf, di
antaranya:
a.
Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum
b.
Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat
56
c.
Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat
d.
Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash.


B. ISTIDLAL ‘AL-ILHAM ‘
1. Pengertian
Secara bahasa Ilham artinya = memberitahukan dan menempatkan.
Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain:

Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong
untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah.
2. Macam-macam dan Kehujahan Ilham
Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam
menentukan hukum, karena itu boleh beramal dengannya. Mereka beralasan dengan firman
Allah Swt dalam QS. Al-Syamsu: 8. Akan tetapi, Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa
ilham tidak bisa dijadikan hujah dalam menentukan hukum syara‟ dan tidak boleh beramal
dengan berdasar kepada Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah
seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu: 8, dan juga ada dari syaitan seperti pada QS.
Al-An'am: 121. Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman
Allah dalam QS. Qaf: 16.
Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah,
sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Kehujahan Ilham
itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Dan hakekatnya tidak
mungkin seseorang dapat membedakan di antara macam-macam Ilham tersebut kecuali
setelah melalui penelitian, pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur‟an dan Al-
Sunnah. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur‟an dan Al-Sunnah,
itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham.
57
Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama
ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut
Ilham dan ada yang disebut i‟lam. Perbedaan antara Ilham dan I‟lam sesungguhnya Ilham
itu lebih khusus daripada I‟lam. I‟lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan
kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih/gugahan.
Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu
tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham.
Rangkuman
'Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan
rasional. Sedangkan 'Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh
tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak
bertentangan dengan nash syara.
Dilihat dari obyeknya, dari cakupannya, dan dari keabsahannya, 'Urf terbagi pada
beberapa macam. 'Urf mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi. Selain itu, 'urf juga
mempunyai beberapa qaidah.
Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong
untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. Dengan
memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa
dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham.
Tugas Terstruktur
1. Jelaskan pengertian 'adat, 'urf dan ilham secara bahasa dan istilah!
2. Sebutkan qaidah-qaidah fiqhiyyah dari 'urf !
3. Bagaimana kehujjahan 'urf dan ilham?






58







QAWAID FIQHIYYAH
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan memahami qaidah
dan qaidah , landasan kaidah dan kaidah-kaidah yang
masuk padanya.
BAHASAN
A. Qaidah pertama :

Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya.
Landasan Qaidah







-
-
59

Qaidah-qaidah:
1.
Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan
menentukannya secara rinci, jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi
madharat.
2.
Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan
untuk merincinya, jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat.
3.
Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan.

B. Qaidah kedua :

Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan
Landasan Qaidah




Qaidah-qaidah
1.
Menurut pokok, memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang
2.
Pokok itu bebas tanggung jawab
3.
Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian
60




Rangkuman
Arti kaidah adalah: “urusan itu tergantung kepada maksudnya”, dan
arti kaidah adalah: “keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-
raguan”.
Landasan kaidah antara lain QS. Ali Imran: 144, dan landasan kaidah
antara lain hadis shahih riwayat Muslim.
Kaidah yang termasuk dalam kaidah antara lain
dan yang termasuk kaidah antara lain
.

Soal Terstruktur
1. Jelaskan pengertian kaidah dan !
2. Sebutkan landasan kaidah dan !
3. Sebutkan kaidah yang masuk dalam kaidah dan
!









61








QAIDAH FIQHIYYAH
, ,
TUJUAN
Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui kaidah ,
dan , landasan kaidah, dan kaidah yang masuk ke
dalamya.
BAHASAN
A. Qaidah ketiga :

Kesukaran itu menarik kemudahan
Landasan Qaidah

.

Sebab-sebab timbulnya keringanan
1). bepergian, 2) sakit , 3) terpaksa, 4) lupa, 5)
kebodohan, 6). kurang mampu, 7). kesukaran.
Macam-macam keringanan
62
1). keringanan pengguguran, 2). keringanan
pengurangan, 3). keringanan pengganti, 4). keringanan
mendahulukan, 5). keringanan mengakhirkan, 6).
keringanan kemurahan, 7). keringanan dengan perubahan.


Qaidah-qaidah
1.
Sesuatu itu bila sempit menjadi luas
2.
Sesuatu itu bila luas menjadi sempit

B. Qaidah keempat :

Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan

Landasan Qaidah
-
-
-
Qaidah-qaidah
1.
Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan
2.
Kemadharatan membolehkan yang terlarang
3.
Tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu.
63
4.
Apa yang diperbolehkan karena darurat, hendaklah diukur denganUkurannnya.
5.
Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat
6.
Apabila dua kerusakan saling berlawanan, maka harus dipelihaha yang lebih berat
madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya.
7.
Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan, maka harus
diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya.
8.
Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat.

C. Qaidah kelima :

Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum

Landasan Qaidah

Perintahlah dengan ma‟ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh
Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik, diterima akal sehat. Adat sesuatu yang
berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. Di sini =

Qaidah-qaidah
1.

setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan
dalam syara dan dalam ketentuan bahasa, dikembalikan kepada Urf.
64
2.
Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat
Rangkuman
Arti kaidah adalah: “kesukaran itu menarik kemudahan”, arti
kaidah , adalah: “kemadharatan itu harus dilenyapkan, dan arti kaidah
, adalah: “adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum”.
Landasan kaidah di antaranya adalah QS. Al-Baqarah: 185,
landasan kaidah di antaranya adalah QS. Al-Qashash: 77, dan di antara
landasan kaidah adalah QS. Al-A'raf: 199.
Kaidah yang termasuk ke dalam kaidah di antaranya adalah
, yang termasuk kaidah di antaranya adalah
dan yang termasuk kaidah di antaranya adalah
.

Soal Terstruktur
1. Jelaskan pengertian kaidah , kaidah dan kaidah
!
2. Sebutkan landasan kaidah , kaidah dan kaidah
!
3. Sebutkan kaidah yang masuk dalam kaidah , kaidah
, dan kaidah !






65




DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahab Khalaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam, DDII, Jakarta, 1972.
Muhammad Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, Dar Fikr al-Arabi, 1958.
H.A.Djazuli, Ilmu Fiqh, Orba Sakti, Bandung 1993.
Al-Khudari, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr, Baerut, 1981.
Abdul Hamid Hakim, As-Sulam dan Al-Bayan, Sa'adiyah Putra, Jakarta.
Syafi'i Karim, Fiqih Ushul Fiqh, Departemen Agama RI. 1995.
Mukhtar Yahya, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami, Al-Ma'arif, 1986.
Al-Jurjani, Al-Ta‟rifat, Dar Al Kitab Al Arabi, Baerut 1992.
Qamarudin Saleh, Asbabun Nuzul, Diponegoro, Bandung, 1993.
Munawar Khalil, Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah, Bulan Bintang, 1977.
Muhammad al-Thahan, Taisir Mushthalah al-Hadits, al-Harmain, Surabaya, 1985.
Syekh Muhammad Ali As-Sayis, Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam,
Jakarta: Akademika Pressindo, 1996.
Chaerul Uman, Dkk, Ushul Fiqih 1, Bandung: Pustaka Setia, 1998.
Abdul Qadir Hassan, Ushul Fiqih, Bangil: Yayasan Al-Muslimun, 1992.





66


1. Hukum taklifi. Hukum taklifi adalah khithab syar'i yang mengandung tuntutan untuk dikerjakan oleh para mukallaf atau untuk ditinggalkannya atau yang mengandung pilihan antara dikerjakan dan ditinggalkannya. Hukum taklifi ada lima macam, yaitu : a. Wajib. Yaitu suatu perbuatan apabila perbuatan itu dikerjakan oleh seseorang maka akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu ditinggalkan akan mendapat siksa. b. Mandub atau sunnat. Yaitu perbuatan yang apabilan perbuatan itu dikerjakan, maka orang yang mengerjakannya mendapat pahala dan apabila ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya tidak mendapat siksa. c. Haram. Yaitu perbuatan yang apabila ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala, dan apabila perbuatan itu dikerjakan mendapat siksa. d. Makruh. Yaitu perbuatan yang apabila perbuatan itu ditinggalkan, maka orang yang meninggalkannya akan mendapat pahala dan apabila dikerjakan, maka orang yang mengerjakannya tidak mendapat siksa. e. Mubah. Yaitu suatu perbuatan yang bila dikerjakan, orang yang mengerjakan tidak mendapat pahala, dan bila ditinggalkan tidak mendapat siksa. 2. Hukum wadh'i. Hukum wadh'i ialah khithab syara' yang mengandung pengertian bahwa terjadinya sesuatu itu adalah sebagai sebab, syarat atau penghalang sesuatu. a. Sebab. yaitu sesuatu yang dijadikan pokok pangkal bagi adanya musabbab (hukum). Artinya dengan adanya sebab terwujudlah musabbab (hukum) dan dengan tiadanya sebab, tidak terwujudlah suatu musabbab (hukum). Oleh karena itu, sebabnya haruslah jelas lagi tertentu dan dialah yang dijadikan oleh Syari' sebagai 'illat atas suatu hukum. b. Syarat. Yaitu sesuatu yang tergantung kepada adanya masyrut dan dengan tidak adanya, maka tidak ada masyrut. Dengan arti bahwa syarat itu tidak masuk hakikat masyrut. Oleh karena itu, tidak mesti dengan adanya syarat itu ada masyrut. c. Mani' (Penghalang). Yaitu sesuatu yang karena adanya tidak ada hukum atau membatalkan sebab hukum.

2

D. Al-Hakim Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan. Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa hakikat hukum syar'i itu ialah khithab Allah yang berhubungan dengan amal perbuatan mukallaf yang berisi tuntutan, pilihan atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau mani' bagi sesuatu. Demikian juga tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa satu-satunya Hakim adalah Allah.

          
E. Mahkum Bih Mahkum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf yang dibebani suatu hukum (perbuatan hukum). Tidak ada pembebanan selain pada perbuatan. Artinya beban itu erat hubungannya dengan perbuatan orang mukallaf. Oleh karena itu apabila Syari' mewajibkan atau mensunnahkan suatu perbuatan kepada seorang mukallaf, maka beban itu tak lain adalah perbuatan yang harus atau seyogianya dikerjakan. F. Mahkum 'Alaih Mahkum 'alaih ialah mukallaf, orang balig yang berakal yang dibebani hukum. G. Rukhshah dan 'Azimah Rukhshah ialah ketentuan yang disyari'atkan oleh Allah sebagai peringan terhadap mukallaf dalam hal-hal yang khusus. Sedangkan 'azimah ialah peraturan syara' yang asli yang berlaku umum. Artinya ia disyari'atkan agar menjadi peraturan yang umum bagi seluruh mukallaf dalam keadaan yang biasa. Rangkuman Ushul Fiqih adalah ilmu pengetahuan dari hal kaidah-kaidah dan pembahasanpembahasan yang dapat membawa kepada pengambilan hukum-hukum tentang amal perbuatan manusia dari dalil-dalil yang terperinci. Objek pembahasan Ushul Fiqih ialah: dalil-dalil syara'. Hukum syar'i ialah Khithab pencipta syari'at yang berkaitan dengan perbuatanperbuatan orang mukallaf, yang mengandung suatu tuntutan, atau pilihan yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau pengahalang bagi adanya sesuatu yang lain. Hukum syar'i dibagi kepada dua macam, yaitu (1) Hukum taklifi, dan (2) Hukum Wad'i.

3

3. Bedakan hukum taklifi dan hukum wadhi'y. Mahkum bih adalah perbuatan-perbuatan mukallaf. Jelaskan pengertian Hukum. Tugas Terstruktur 1. Mahkum 'alaih adalah mukallaf.Al-Hakim ialah pihak yang menjatuhkan hukum atau ketetapan. yaitu Allah Swt. dan Mahkum 'alaih! 4 . Mahkum bih. Jelaskan pengertian Ushul Fiqih secara bahasa dan istilah! 2. Dan 'azimah ialah peraturan syara' yang asli yang berlaku umum. Rukhshah ialah keringan hukum. Hakim.

4. 5. BAHASAN A. 9. 2. Al-Nahyu dan Kaidah-kaidahnya 5 . (4) Jumlah khabariyah (kalimat berita) yang diartikan selaku jumlah insaniyah (kalimat yang mengandung tuntutan). (2) Fi'il mudhari' yang dimasuki lam al-amr. 1. Al-Amr dan Kaidah-kaidahnya Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu perbuatan.AL-AMR DAN AL-NAHYU TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-Amr dan kaidahkaidahnya. Shigat (bentuk-bentuk) lafaz amr itu ialah: (1) Fi'il amr. seperti isim fi'il. (3) Sesuatu yang diperlakukan sebagai fi'il amr. Kaidah-kaidah al-Amr. B. 6. 7. dan al-Nahyu dan kaidah-kaidahnya. 3. 8.

5. Kaidah-kaidah al-Nahyu 1. (2) Jumlah khabariyah yang diartikan selaku jumlah insaniyah. Dan al-Nahyu ialah suatu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar meninggalkan suatu perbuatan. Al-Amr dan al-Nahyu mempunyai kaidah-kaidah yang dapat digunakan untuk pengambilan hukum-hukum dari dalil-dalil tafshili (terperinci Tugas Terstruktur 1. Bentuk-bentuk lafaz al-Nahyu adalah: (1) Fi'il Mudhari' yang disertai la-nahiyah. 3. 4. masing-masing dua buah! AL-'AM DAN AL-KHASH TUJUAN 6 .Al-Nahyu ialah suatu lafaz yang digunakan untuk menuntut agar meninggalkan suatu perbuatan. Cari contoh dalam Alquran dan Hadis tentang al-Amr dan al-Nahyu. Rangkuman Al-Amr ialah suatu lafaz yang dipergunakan oleh orang yang lebih tinggi kedudukannya untuk menuntut kepada orang yang lebih rendah derajatnya agar melakukan suatu perbuatan. 2. Jelaskan pengertian al-Amr dan al-Nahyu! 2.

dan mata (kapan). (5) Isim-isim isyarat. al-la'i. Pada kebanyakan nashnash yang didatangkan dengan shigat umum tidak disertai qarinah. 3. Kaidah-kaidah ‘Am 1. ma dza (apakah). Yaitu 'am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan kemungkinan untuk dikhususkannya. (7) Isim nakirah dalam susunan kalimat nafi (negatif). Lafaz-lafaz yang digunakan untuk memberi faedah 'am antara lain: (1) Lafaz kullun dan jamî'un. 'Âm makhshush. seperti man. 'aqliyah (dalam pemikiran) atau 'urfiyah (adat kebiasaan) yang menyatakan keumumannya atau kekhususannya. (2) Lafaz jama' yang di-ta'rif-kan dengan idhafat atau dengan alif-lam ( ) jinsiyah. 'Âm yurâdu bihi al-khusus. 'Âm yurâdu bihi al-'âm. Am yang tidak disertai qarinah yang menghilangkan kemungkinan dikhususkan dan menghilangkan keumumannya. (4) Isim-isim maushul. BAHASAN A. 7 . 2. al-lati. dan ayyuma. serta Khash Takhshish dan macam-macamnya. sekalipun qarinah lafzhiyah (tertulis). seperti man (siapakah). seperti al-ladzi. (6) Isim-isim istifham (untuk bertanya). Al-'Âm dan kaidah-kaidahnya Lafaz 'am ialah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna yang dapat mencakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Yaitu 'am yang disertai qarinah yang menghilangkan arti umumnya dan menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan 'am itu adalah sebagian dari satunya. (3) Isim mufrad yang di-ta'rif-kan dengan alif-lam jinsiyah. Macam-macam 'am 1. al-ladzina. Lafaz-lafaz 'am semacam ini adalah jelas menunjukkan keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. maa dan lain sebagainya.Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui al-'Am dan kaidahkaidahnya. Yaitu 'am mutlak. ma.

bukan zhanniy. seperti lafaz Muhammad. 7. 8 . atau penunjukkan arti kepada satu satuan itu secara hakiki atau i'tibari (anggapan) seperti lafaz-lafaz yang diciptakan untuk memberi peringatan banyak yang terbatas. 9. Muttashil (yang bersambung). ) dan 'ila' ( ). c. Macam-macam Khash 1. d. Hukum lafaz khash Lafaz khash dalam nash syara' adalah menunjuk kepada dalalah qath'iyyah terhadap makna khusus yang dimaksud dan hukum yang ditunjukkannya adalah qath'iy. selama tidak ada dalil yang memalingkannya kepada makna yang lain. Baik menunjuk pribadi seseorang. yaitu kata 'hatta' ( ). Shifat (kata sifat). Syarath (syarat). Yakni mukhashshish-nya ada dalam susunan yang menjadi satu dengan yang umumnya. mi'atun (seratus). seperti lafaz hayawan (hewan). 8. Gayah. atau menunjuk macam sesuatu. 5. atau menunjuk jenis sesuatu. Khash muttashil terdapat berbagai macam: a. seperti lafaz tsalasah (tiga). Khash Takhshish dan Macamnya Lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian satu satuan yang tertentu. 3. seperti lafaz insan (manusia) dan rajulun (orang laki-laki). seperti lafaz 'ilm (ilmu) dan jahl (kebodohan). yaitu kata 'illa' ( b. 4. Istitsna'. 6. atau menunjuk benda konkrit atau abstrak.2. B. jam'un (seluruhnya) dan fariq (kelompok).

Takhshish bi al-siyaq Rangkuman Lafaz 'am ialah yang sengaja diciptakan oleh bahasa untuk menunjukkan satu makna yang dapat mencakup seluruh satuan-satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.e. yaitu 'Âm yurâdu bihi al-'âm. Takhshish al-sunnah bi al-kitab. Takhshish al-sunnah bi al-sunnah. Takhshish bi al-'aql. b. Khash terbagi pada dua macam. yaitu Muttashil dan Munfashil. Takhshish al-kitab bi al-kitab. tidak bersama dengan lafaz yang umum. Yakni mukhashshish-nya terdapat pada tempat lain. Khash munfashil juga terdapat berbagai macam: a. Badlul ba'dhi (pengganti). Takhshish bi al-hiss. Takhshish al-kitab bi al-sunnah. Dan lafaz khash ialah lafaz yang diciptakan untuk memberi pengertian satu satuan yang tertentu. Buatkan contoh al-'Am dan al-Khash dari Alquran! MUJMAL DAN MUBAYYAN ZHAHIR DAN MUAWWAL TUJUAN 9 . Takhshish bi al-qiyas. 'Am terbagi kepada tiga macam. f. 2. Sebutkan macam-macam al-'Am dan al-Khash! 3. g. Jelaskan pengertian al-'Am dan al-Khash! 2. h. f. Munfashil (yang terpisah). c. dan 'Âm makhshush. Hal (keadaan). Soal Terstruktur 1. e. d. 'Âm yurâdu bihi al-khusus.

Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya.Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Mujmal dan Mubayyan. zakat. sedang bayan itu tidak cukup untuk menghilangkan kemujmalannya. maka lafaz mujmal tersebut tergolong lafaz mujmal mufassar. Oleh karena itu. Jadi. Apabila Syari' mendatangkan suatu bayan untuk lafaz mujmal. selain kembali kepada Syari' yang memujmalkannya sendiri. setiap lafaz yang tidak dapat dipahami maksudnya dengan sendirinya. Mujmal dan Mubayyan Mujmal ialah lafaz yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makna yang dikehendaki dan tidak pula didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau haliyah (keadaan) yang menjelaskannya. disebabkan: 1. serta Zhahir dan Muawwal BAHASAN A. 3. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna lugawi (bahasa) itu dipindah oleh Syari' kepada makna yang pantas untuk istilah syari'at. zakat. Lafaz itu musytarak yang sulit ditentukan artinya. Kemujmalan suatu lafaz dengan sebab yang mana pun juga dari tiga macam sebab tersebut di atas tidak ada jalan lain untuk memberikan penjelasan atau menghilangkan kemujmalannya ataupun mentafsirkan apa yang dikehendakinya. seperti bayan yang datang secara terperinci terhadap perintah shalat. Kekaburan makna lafaz mujmal lantaran lafaz sendiri. bula tidak disertai qarinah yang dapat menyampaikan maksud tersebut dinamai mujmal. shiyam dan lain sebagainya adalah lafaz-lafaz yang dipindahkan oleh Syari' dari makna menurut bahasa kepada makna yang khash dalam istilah syari'at. Makna lafaz-lafaz yang menurut makna yang umum itu dipergunakan oleh Syari' sendiri untuk suatu makna yang khusus. maka lafaz mujmal tersebut tergolong lafaz musykil dan terbukalah jalan untuk membahas dan berijtihad guna menghilangkan kemusykilannya. haji dan lain sebagainya. 10 . bayan-nya tidak tergantung kepada Syari'. Misalnya lafaz shalat. 2. bukan dari luar. Apabila Syari' mendatangkan penjelasan (bayan) untuk lafaz mujmal dengan bayan yang sempurna lagi qath'iy. melainkan sudah memadailah suatu ijtihad dari seorang mujtahid.

6. selama tidak ada qarinah yang memaksa untuk dialihkan kepada arti yang majazi. 2. lafaz zhahir itu dapat di-nasakh dalalahnya. Dengan meninggalkan perbuatan. 4. Bila ada dalil yang meng-taqyidkannya. Dengan perbuatan.Macam-macam Bayan 1. Dengan isyarat. hendaklah diartikan menurut arti yang haqiqi itu. Dengan diam. diamalkan dalil yang meng-taqyid-kannya. 11 .. Hukum Lafaz Zhahir Lafaz zhahir itu wajib diamalkan sesuai dengan makna yang dikehendakinya. Pada masa pembinaan hukum syari'at. tetapi bukanlah makna itu yang dimaksud oleh siyaq al-kalam dan lafaz itu sendiri masih dapat di-ta'wil-kan. ditafsirkan dan dapat pula di-nasakh-kan pada masa Rasulullah Saw. Dengan tulisan. 3. apabila hukum tersebut berkairan dengan hukum furu' (cabang) yang dapat berubah menurut kemaslahatannya. 7. selama tidak ada dalil yang meng-taqyid-kannya (membatasi kemutlakannya). selama tidak ada dalil yang menafsirkan. Oleh karena itu apabila lafaz zhahir itu : 1. 4. Dengan perkataan. Dalam keadaan umum ('am) maka ia tetap dalam keumumannya. 3. selama tidak ada dalil yang men-takhshish-kannya. 5. maka tetap dalam kemutlakannya. yaitu pada zaman Rasulullah Saw. hendaklah diamalkan sesuai dengan mukhashish-nya. Dalam keadaan mutlaq. men-ta'wil-kan atau me-nasakh-kannya. Artinya hukum yang dipetik dari lafaz zhahir dapat diganti dengan hukum yang berlainan. Zhahir dan Muawal Zhahir ialah lafaz yang menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh shigat lafaz itu sendiri. B. Dengan macam-macam takhshish. Jika ada dalil yang men-takhshish-kannya. Mempunyai arti hakikat. 2.

Perkataan yang ditakwilkan disebut mu'awwal. Zhahir ialah lafaz yang menunjuk kepada suatu makna yang dikehendaki oleh shigat lafaz itu sendiri. Sebutkan macam-macam Bayan. Jelaskan pengertian Zhahir dan Ta'wil! 3. istilah-istilah yang terpakai dalam syariat. Harus mempunyai keterangan atau jalan yang menunjukkan bahwa ia boleh diartikan demikian. Syarat-syarat Ta'wil 1. dan dengan kebiasaan yang dipakainya. Jelaskan pengertian Mujmal dan Mubayyan! 2. Sedangkan mubayyan ialah suatu perkataan yang terang dan jelas maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya. Sesuai dengan penggunaan bahasa (Arab). dan syarat-syarat Ta'wil ! MANTHUQ DAN MAFHUM MUSYTARAK DAN MACAM-MACAMNYA TUJUAN 12 . Dan Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang (zhahir) kepada makna yang kepada arti atau makna lain. Perkataan yang ditakwilkan disebut mu'awwal.Ta'wil ialah memindahkan suatu perkataan dari makna yang terang (zhahir) kepada makna yang kepada arti atau makna lain. 2. Rangkuman Mujmal ialah lafaz yang shigat-nya sendiri tidak menunjukkan makna yang dikehendaki dan tidak pula didapati qarinah lafzhiyah (tulisan) atau haliyah (keadaan) yang menjelaskannya. Tugas Terstruktur 1.

Macam-macam Mafhum 1.Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Manthuq dan Mafhum. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dengan melalui suatu sifat yang terdapat dari manthuq bih. BAHASAN A. Dalam Ushul. Mafhum muwafaqah yang tergolong dalam Fahwal khithab ialah apabila „illat hukum yang dijadikan dasar untuk mempersamakan hukum perbuatan yang tidak disebutkan oleh nash kepada perbuatan yang telah ditetapkan hukumnya oleh nash itu lebih tinggi tarafnya. yaitu Fahwal Khithab dan Lahnul Khithab. Mafhum muwafaqah ialah mafhum kesesuaikan. Mafhum Washfi. serta Musytarak dan macam-macamnya. yaitu sesuatu ketentuan yang dipahami dari manthuq itu. Mafhum Muwafaqah. Mafhum muwafaqah dibagi kepada dua bagian. yang dimaksud dengan manthuq ialah suatu lafaz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan seseorang. Maka. Manthuq dan Mafhum Manthuq artinya yang diucapkan. Macam-macam Mafhum Mukhalafah a. Sedangkan Mafhum artinya yang dipahami. inilah yang disebut mafhum. Dengan kata lain bahwa hukum yang ditetapkan oleh maskut „anhu adalah berlawanan dengan hukum yang ditetapkan oleh manthuq bih. baik hukum itu sesuai dengan hukum dari lafaz yang disebutkan maupun berbeda. 13 . suatu hukum yang diperoleh bukan dari lafaz yang disebutkan. Yaitu jika hukum yang diperoleh sesuai dengan hukum dari lafaz yang disebutkan (manthuq). Sedangkan Lahnal khithab tarafnya sama. Mafhum Mukhalafah Mafhum mukhalafah ialah penetapan lawan hukum yang diambil dari dalil yang disebutkan dalam nash (manthuq bih) kepada suatu yang tidak disebutkan dalam nash (maskut „anhu). 2.

Musytarak Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau lebih yang berbeda-beda. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang dibatasi dengan suatu syarat. Lafaz tersebut memerlukan penjelasan yang seksama apa yang dimaksud dengannya. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang di-hashr-kan (khususkan hanya untuknya). d. sehingga orang-orang menyangka bahwa pemakaiannya dalam arti yang kedua itu adalah hakiki. aktivitas. kemudian dipakai pula kepada makna lain tetapi secara majazi (kiasan). Mafhum laqab. Lafaz itu digunakan oleh suatu suku bangsa (qabilah) untuk makna tertentu dan oleh suku bangsa yang lain digunakan untuk makna yang lain lagi. tidak sekaligus. f. c. Yaitu menetapkan lawan hukum maskut „anhu dari hukum manthuq bih yang dikaitkan dengan isim „alam (nama orang). 14 . Misalnya: lafaz “quru'” mempunyai arti “suci” dan “haid”. ila dan lain-lain) adalah berlawanan dengan hukum dari nash sebelum adanya gayah. Artinya hukum yang ditetapkan setelah adanya suatu gayah (hatta. bukan majazi. Dengan demikian para ahli bahasa memasukannya ke dalam gologan lafaz musytarak. Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dengan melalui suatu gayah (batasan) yang terdapat dalam manthuq bih. Lafaz yang diciptakan menurut hakikatnya untuk satu makna. B. pernyataan) dan isim jins (nama-nama untuk material). Yaitu menetapkan lawan hukum bagi maskut „anhu dari manthuq bih yang dibatasi dengan bilangan yang sudah tertentu. Sebab-sebab Lafaz Menjadi Musytarak 1. Pemakaian secara majazi ini masyhur pula. Mafhum gayah.b. Mafhum syarat. Mafhum hashr. kemudian sampai kepada kita dengan kedua makna tersebut tanpa ada keterangan dari hal perbedaan yang dimaksud oleh penciptanya. e. 2. isim washf (menunjukkan kualitas. Lafaz Musytarak diciptakan untuk beberapa makna yang penunjukannya kepada makna itu dengan jalan bergantian. Mafhum „adad.

kemudian menurut arti istilah syar'i ialah shalat sebagaimana yang kita kenal sekarang. Misalnya lafaz “shalat”. maka hendaklah diambil makna menurut istlah syar'i. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Manthuq dan Mafhum ! 2. Sedangkan Mafhum artinya yang dipahami. yaitu sesuatu ketentuan yang dipahami dari manthuq itu. yaitu Mafhum muwafaqah dan Mafhum mukhalafah. Mafhum dibagi pada dua macam. Lafaz itu semula diciptakan untuk satu makna. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Musytarak ! NASAKH DAN TARJIH 15 . Hukum Lafaz Musytarak Apabila persekutuan arti lafaz musytarak pada suatu nash syar'i itu terjadi antara makna lugawi dengan makna istilah syar'i. menurut arti bahasa semula artinya adalah berdoa. kemudian dipindahkan kepada istilah syari'at untuk arti yang lain. Tugas Terstruktur 1. Rangkuman Manthuq ialah suatu lafaz atau susunan menurut sebagaimana yang diucapkan seseorang. Sebutkan macam-macam Mafhum ! 3.3. Lafaz Musytarak ialah lafaz yang mempunyai dua arti atau lebih yang berbeda-beda.

sehingga mencakup tidak saja syari'at Islam tetapi juga syari'at sebelum Islam. Naskhul sunnah bis-sunnah. Nasakh bisa berlaku setelah hukum syari'at yang ditunjuk oleh dalil yang datang lebih dahulu diberlakukan. Dalam menasakh Kitab dengan Sunah ini terdapat dua macam pendapat di antara para ahli Ushul tentang boleh tidaknya. serta Tarjih dan macam-macamnya. oleh para ahli Ushul Fiqih diartikan dengan: (membatalkan dan “Penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang kemudian”. 2. Berlainan dengan Takhsish al-'am. asalkan dengan Sunah Mutawatir atau Sunah Masyhur. baik berupa kalimat atau bukan. Naskhul sunnah bil-kitab. selalu bersama-sama datangnya dengan lafaz 'am itu. Nasakh dan Macam-macamnya Perkataan nasakh yang menurut bahasa berarti menghilangkan). yang mukhashshish-nya. karena derajat Alquran lebih tinggi dari pada Sunah. Dengan demikian pengertian penghapusan hukum syari'at oleh Syar'i meliputi menghapus hukum syari'at sebelum Islam oleh syari'at Islam dan menghapuskan sebagian hukum syari'at Islam oleh sebagian hukum syari'at Islam yang lain. 16 . 3. BAHASAN A. Macam-macam Nasakh 1. menasakh Alquran dengan Sunah tidak dibolehkan. Sedang pendapat kedua menyatakan. Naskhul kitab bil kitab. 4. bukan sunah Ahad. Naskhul kitab bis-sunnah.TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui Nasakh dan macammacamnya. Padahal syarat nasikh itu adalah yang lebih tinggi derajatnya atau sepadan. menasakh Alquran dengan Sunah diperkenankan. Pengertian hukum syari'at hendaklah diartikan secara luas. Karena maksud takhshish itu sejak semula memberlakukan sebagaia satuan artinya. Pendapat pertama menyatakan.

Karena dalam hal semacam ini Hadis mutawatirlah yang harus didahulukan. Tarjih bi i'tibar al-madlul. Rangkuman 17 . 6. Sebagian ulama membuat batasan tarjih ialah menyatakan keistimewaan salah satu dari dua dalil yang sama dengan suatu sifat yang menjadikan lebih utama dilihat dari yang lain. Adanya persamaan antara dua dalil tersebut tentang ke-tsubut-annya (status ketetapan dalilnya). 2. Tarjih dan Macam-macamnya Tarjih diartikan dengan: menjadikan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari pada yang lain. seperti Hadis ahad atau kepada dalil-dalil zhanniy aldalalah (dalil yang petunjuk isinya zhanni). Tarjih ini tidak akan dapat dipakai selain kepada dalil-dalil zhanniy al-tsubut (status ketetapan dalilnya zhanni). 8. Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah. 2. maka tidak ada ta'arudh. Oleh karena itu tidak terjadi ta'arudh antara Alquran (yang qath'iy al-tsubut) dengan Hadis ahad (yang zhanniy al-tsubut). Syarat-syarat Tarjih 1. Naskhul Ijma' bin-nash. Dengan demikian tarjih itu hanya terjadi pada nash-nash Alquran dan Hadis mutawatir yang dalalahnya zhanniyah atau Hadis-hadis ahad yang dalalahnya zhanniyah atau qath'iyyah. seperti Alquran dan Hadis mutawatir yang berdalalah zhanni atau Hadir ahad yang dalalahnya zhanni itu. Naskhun nas bil-ijma'. Macam-macam Tarjih 1.5. Tarjih bi i'tibar al-matan. 4. Tarjih bi i'tibar al-isnad. 7. Jadi. Naskhul qiyas. B. Naskhul ijma' bil-ijma'. Adanya persamaan dalam kekuatannya. jika yang satu dalil itu Hadis mutawatir dan yang lain Hadis ahad. 3.

Naskhul sunnah bis-sunnah. Tugas Terstruktur 1. Naskhun nas bil-ijma'. Jelaskan pengertian Tarjih ! 3.Nasakh ialah penghapusan hukum Syar'i dengan suatu dalil syar'i yang datang kemudian. Tarjih ialah menjadikan sesuatu lebih kuat atau mempunyai kelebihan dari pada yang lain. Jelaskan pengertian Nasakh ! 2. dan Naskhul qiyas. Tarjih terbagi kepada beberapa macam. dan Tarjih bi hasb al-umur al-kharijah. Naskhul Ijma' bin-nash. yaitu: Naskhul kitab bil kitab. Nasakh terbagi pada beberapa macam. yaitu: Tarjih bi i'tibar al-isnad. Tarjih bi i'tibar al-madlul. Sebutkan macam-macam Nasakh dan Tarjih ! ALQURAN DAN AL-SUNNAH 18 . Naskhul sunnah bil-kitab. Tarjih bi i'tibar al-matan. Naskhul kitab bis-sunnah. Naskhul ijma' bilijma'.

yaitu hukum yang berhubungan dengan keimanan. pengertian al-Sunnah. macam-macam al-Sunnah.TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Alquran. 4. Bentuk mashdar- artinya 'bacaan' dan 'apa yang tertulis padanya'. Hukum amaliyah ini ada dua: Mengenai Ibadah dan Mengenai muamalah dalam arti yang luas. 2. Alquran dalil qath'i dan zhanni. b. hukum yang berhubungan dengan perbuatan manusia. 3. serta perbedaan hadits dan sunnah. b. Hukum-hukum I'tiqadiyyah. Tinjauan Bahasa Kata Alquran berasal dari kata nya / Qara'a artinya 'membaca'. Bertahan dalam menterapkan hukum d. Alquran dalil kulli dan juz'i. kehujjahan Alquran. Menyedikitkan tuntutan. Hukum-hukum Khuluqiyyah. bila membacanya mengandung nilai ibadah. Alquran dalam menetapkan hukum. Kehujjahan Alquran 19 . c. Hukum-hukum Amaliyah. hukum dalam Alquran. Secara istilah Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Alquran Sumber Hukum Islam Pertama 1. BAHASAN A. tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab. dilalah alhadits. kehujjahan alSunnah. yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. kedudukan al-Sunnah terhadap Alquran. c. dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Hukum dalam Alquran a. Alquran dalam menetapkan hukum Kebijaksanaan Alquran dalam menetapkan hukum menggunakan prinsip: a. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan. Alquran memberikan hukum sejalan dengan kemaslahatan manusia. yaitu hukum yang berhubungan dengan akhlak.

6. Alquran Dalil Kully dan Juz'i Alquran sebagai sumber utama hukum Islam menjelaskan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya dengan cara : a. Untuk hukum-hukum yang bersifat global. dan muthlaq 20 . Penjelasan Alquran terhadap sebagian besar hukum-hukum itu. b. bersifat global / kully. Penjelasan rinci (zuj'i) terhadap sebagian hukum-hukum yang dikandungnya.a. Mukzijat Alquran menurut para ahli ushul fiqh dan ahli tafsir terlihat ketika ada tantangan dari berbagai pihak untuk menandingi Alquran itu sendiri sehingga para ahli sastra Arab di mana dan kapan pun tidak bisa menandinginya. hukum-hukum yang dikandung Alquran ada kalanya bersifat qath'i dan ada kalanya bersifat zhanni (relatif benar). Alquran itu diturunkan kepada Rasulullah saw diketahui secara mutawatir. Banyak ayat yang menyatakan bahwa Alquran itu datangnya dari Allah. Alquran Dalil Qath'i dan Zhanni Alquran yang diturunkan secara mutawatir. Ayat yang bersifat qath'i adalah lafal-lafal yang mengandung pengertian tunggal dan tidak bisa dipamahi makna lain darinya. Mukzijat Alquran juga merupakan dalil yang pasti tentang kebenaran Alquran datang dari Allah swt. dari segi turunnya berkualitas qath'i (pasti benar). dan muthlaq. umum. umum. Akan tetapi. antaranya. menurut para ahli ushul fiqh sebagai hukum taabbudi. Hukumhukum yang rinci ini.           c. b. Adapun ayat-ayat yang mengandung hukum zhanni adalah lafal-lafal yang dalam Alquran mengandung pengertian lebih dari satu dan memungkinkan untuk dita'wilkan. yang tidak bisa dimasuki oleh logika. yang membawa risalah ilahi dengan satu perbuatan di luar kebiasaan umat manusia. dan ini memberi keyakinan bahwa Alquran itu benar-benar datang dari Allah melalui Malaikat Jibril kepada Muhammad saw. 5. yang dikenal sebagai orang yang paling dipercaya. Mukzijat Alquran bertujuan untuk menjelaskan kebenaran Nabi saw.

dan membatasinya. dan jika tidak mendapatkan dari Alquran. misalnya dalam Ali Imran: 32:              b. = berita. Tinjauan Bahasa Sunnah secara bahasa berarti 'cara yang dibiasakan' atau 'cara yang terpuji'. mengkhususkan. = baru. para sahabat jika mendapatkan satu permasalahan. Dalil Al-Sunnah. Ijma Shahabat. Dalil Alquran. mereka mencarinya dari Alquran. Kehujjahan Sunnah Dalil-dalil yang menetapkan Sunnah dapat jadi hujjah sebagai sumber hukum: a.ini. Sunnah lebih umum disebut hadis. perbuatan atau persetujuan. Hal inilah yang diungkapkan Alquran dalan surat al-Nahl : 44         B. mereka bertanya kepada sahabat lain mungkin di antara mereka ada yang hafal dan ingat. Kemudian hal tersebut dijadikan ketetapan hukum sesuai yang disampaikan sahabat kepadanya. 21 .” 2. melalui sunnahnya bertugas menjelaskan. selain Alquran baik berupa perkataan. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar. Setelah wafatnya Rasulullah saw. Al-Sunnah Sumber Hukum Islam Kedua 1. di antaranya : c. Tidak ada seorang pun dari antara mereka yang menolak dan mengingkari bahwa sunnah Rasulullah wajib diikuti. yang berarti: Secara istilah menurut ulama ushul fiqh: = dekat. “Semua yang bersumber dari Nabi saw. juga Umar bin Khatab dan para sahabat lain serta para Tabi'in. Rasulullah saw.

Kedudukan Al-Sunnah terhadap Alquran a. atau berita berupa perkataan Nabi saw. darah dan daging babi. Yaitu menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan Alquran. dan burung yang berkuku kuat. 22 . yang didengar atau disampaikan oleh seorang atau beberapa orang sahabat kepada yang lain. diperjelas dengan Sunnah. hati dan limpa. 4. b. Rasulullah melarang untuk binatang buas dan yang bertaring kuat. maka kehadiran sunnah merupakan penjelas terhadap kemujmalan Alquran. Misalnya. misalnya perintah shalat dalam Alquran yang mujmal. dikuatkan dan dipertegas lagi oleh Al-Sunnah. belalang. tidak terperinci baik caranya maupun syarat-syaratnya. 2) Membatasi kemutlakan (taqyid al-muthlaq). dalam hal ini ada tiga hal : 1) Memberikan perincian terhadap ayat-ayat Alquran yang masih mujmal. Sunnah Qauliyah dapat dibedakan kepada tiga hal : 1) Diyakini benarnya. Misalnya. 3. 2) Diyaniki dustanya. Sunnah Qauliyah. Sebagai Bayan. Yaitu al-Sunnah menjelaskan terhadap ayat-ayat Alqur.d. Lalu Al-Sunnah membatasinya. Macam-macam Sunnah a. seperti dua berita yang berlawanan dan berita yang menyalahi ketentuan-ketentuan syara. Alquran memerintahkan berwasiat. 3) Mentakhshishkan keumuman. Alquran mengharamkan tentang bangkai. kemudian al-Sunnah mengkhususkan dengan memberikan pengecualian kepada bangkai ikan laut. Misalnya.an yang belum jelas. Sebagai Muaqqid. pada umumnya bersipat global. 4) Menciptakan hukum baru. Hal ini perlu pada penjelasan sehingga tidak salah dalam melaksanakannya. seperti khabar yang datang dari Allah dan dari Rasulullah diriwayatkan oleh orang yang dipercaya dan khabar mutawatir. Sunnah Qauliyah ini sering juga dinamakan khabar. dengan tidak dibatasi berapa jumlahnya. Logika. dimana hal ini tidak disebutkan dalam Alquran. Alquran memerintahkan kepada manusia beberapa kewajiban.

b. c) Khabar yang lebih dikuatkan dustanya daripada benarnya. 4) Sesuatu yang bersifat khusus bagi Nabi saw. Maka hukumnya sama dengan hukum mujmal tersebut. 23 . maka sikap diam dan tidak mencegahnya. Jumhur ulama memandangnya kepada jenis Mubah. hal ini ada tiga: a) Tidak kuat benarnya dan tidak kuat pula dustanya. Hal ini karena kalau Nabi tidak setuju. karena membiarkan dan menyetujuan atas kemunkaran sama dengan berbuat kemunkaran. Ini lebih pada urusan keduniaan. namun Nabi diam dan tidak mencegahnya. Ini lebih dari sekedar urusan jibilah. 5) Apa yang dilakukan Nabi saw. tapi sebawah dari urusan al-qurbah / ibadah. menjelaskan akan kebolehan / jawaz. Sunnah fi'liyah ini menunjukkan tidak ada kewajiban untuk diikuti (bersifat mubah). Sunnah fi'liyah terbagi kepada beberapa bentuk. yang diketahui dan disampaikan oleh sahabat kepada orang lain. 3) Perangai yang membawa kepada syara' menurut kebiasaan yang baik dan tertentu. dan tidak boleh diikuti oleh umatnya. ada yang harus diikuti oleh umatnya. karena Nabi itu Ma'sum (terjaga dari berbuan dan menyetujuan sahabat berbuat kemunkaran. tentu Nabi tidak akan membiarkan sahabatnya berbuat atau mengatakan yang salah.3) Yang tidak diyakini benarnya. itu harus diikuti oleh orang muslim. berupa penjelasan terhadap sesuatu yang bersifat mujmal/samar tidak jelas. dan ada yang tidak harus diikuti. b) Khabar yang lebih dikuatkan benarnya daripada dustanya. 6) Apa yang dilakukan Nabi saw. yaitu: 1) Gharizah atau Nafsu yang terkendalikan oleh keinginan dan gerakan kemanusiaan. menunjukan persetujuan Nabi. Sunnah Fi'liyah Yaitu setiap perbuatan yang dilakukan Nabi saw. yang oleh sebagian ahli ushul disebut al-Jibilah. budaya dan kebiasaan Pada bagian ini tidak ada perintah untuk diikuti dan diperhatikan. Adapun urusan al-Qurbah ibadah yang bersifat umum tidak hanya bagi Nabi saw. c. dan juga tidak diyakini dustanya. 2) Sesuatu yang tidak berhubungan dengan Ibadah. Sunnah Taqririyah Yaitu perbuatan atau ucapan sahabat yang dilakukan di hadapan Nabi saw. atau sepengetahuan Nabi.

5. Dilalah Al-Hadits Para Ulama Hanafiyah membagi hadits ditinjau dari sisi periwayatannya kepada hadis: Mutawatir, Masyhur dan Ahad. Sedangkan menurut jumhur, hadis dibagi kepada; Hadits Mutawatir dan Ahad; sedangkan hadits Masyhur masuk pada pembagian hadits ahad. a. Hadits Mutawatir Hadits yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat yang menurut kebiasaan mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. Kemudian dari para sahabat itu diriwayatkan pula oleh para tabi'in dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang seperti para sahabat yang meriwayatkan pertama kali. Hadits mutawatir itu banyak kita jumpai pada sunnah amaliyah (yang langsung dikerjakan oleh Rasulullah) seperti cara mengerjakan shalat, shaum, haji dan lain-lain, perbuatan itu disaksikan oleh banyak orang. Pada sunnah qauliyah tidak sebanyak sunnah amaliyah yang mencapai derajat mutawatir. Hadis Mutawatir itu ada dua: 1) Mutawatir lafzhi. Yaitu jika redaksi dan kandungan sunnah yang disampaikan banyak perawi itu adalah sama benar dalam lafazh dan maknanya. 2) Mutawatir Ma'nawi. Yaitu yang berbeda susunan redaksinya satu sama lain, tapi susunan masing-masing redaksi yang berbeda itu mempunyai hal-hal yang sama. b. Hadits Ahad Hadits Ahad adalah yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. oleh sejumlah orang yang tidak sampai pada batas Mutawatir dalam tiga masa. Hadits ini disebut juga dengan khabar Ahad. Hadits Ahad ini terbagi kepada: Masyhur, Shahih, Hasan dan Dhaif. 1) Hadits masyhur adalah hadits yang diriwayatkan dari Nabi saw. oleh para shahabat atau kelompok orang banyak yang tidak sampai pada batas mutawatir, kemudian diriwayatkan pada masa tabi'in dan masa tabi'ut tabi'in oleh sejumlah orang yang sampai pada batas mutawatir. Dalam definisi lain, masyhur adalah yang mempunyai jalan yang terbatas lebih dari dua jalan. 2) Hadits Shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, dan sempurna ketelitiannya, sanadnya bersambung, sampai kepada Rasulullah, tidak mempunyai cacat, illat, dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya.

24

3) Hadits Hasan, ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, tetapi kurang ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah, tidak mepunyai cacat dan tidak berlawanan dengan periwayatan orang yang lebih terpercaya. 4) Hadits Dhaif ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih dan hadits hasan. Hadits Dhaif ini banyak macamnya, antara lain Hadits Maudhu, inilah sejelek-jeleknya hadits dhaif, mursal, mu'allaq, munqathi, mudallas, mudtharib, mudraj, munkar dan mubham. Hadits Dhaif tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan hukum. Menurut Imam An-Nawawi, para ulama bersepakat hadits dhaif dapat digunakan dalam hal fadhilah Amal, bukan dalam Asal / pokok amal. 6. Perbedaan antara hadits dan sunnah Hadits, segala peristiwa yang disandarkan kepada Nabi saw. walaupun hanya sekali saja dalam hidup, dan walaupun diriwayatkan hanya seorang. Sunnah adalah nama amaliyah yang mutawatir, yakni cara Rasul melaksanakan ibadah, yang dinukil kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula. Jadi hadits / khabar berorientasi kepada ucapan, sedang sunnah berorientasi kepada perbuatan. Rangkuman Alquran adalah Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tertulis dalam mushhaf berbahasa Arab, yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir, bila membacanya mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah disampaikan secara mutawawir, penjelasan dari ayat-ayat Alquran, dan mukjizatnya. Sunnah adalah semua yang bersumber dari Nabi saw. selain Alquran baik berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan. Yang menjadi kehujjahan Alquran adalah dalil ayat Alquran, dalil sunnah, ijma shahabat, dan logika. Sunnah terbagi kepada tiga macam, yaitu sunnah fi'liyah, sunnah qauliyah, dan sunnah taqririyah Tugas Terstruktur 1. Jelaskan pengertian Alquran dan Al-Sunnah secara bahasa dan istilah ! 2. Bagaimana kehujjahan Alquran dan al-Sunnah? 3. Sebutkan dengan rinci macam-macam al-Sunnah !

25

IJTIHAD TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Ijtihad, lingkup Ijtihad, Ijtihad pada masa Rasul Saw. dan Khulafa Rasyidin, Ijtihad fardi dan jama'i, syarat-syarat ijtihad, yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad, macammacam mujtahid, dan alasan ijtihad menjadi hujjah. BAHASAN IJTIDAH SUMBER HUKUM KETIGA 1. Pengertian Bahasa Secara bahasa ijtihad diambil dari kata keras, seperti kata penggilingan. Dan juga bermakna: artinya yaitu kesulitan, berupaya

artinya, ia berupaya keras mengangkat batu

“Mencurahkan segala kemampuan untuk sampai pada satu urusan dari beberapa urusan atau satu pekerjaan dari beberapa pekerjaan.” Dan menurut Istilah Ulama Ushul berarti :

“Mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum-hukum syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaplikasiannya.” Dari definisi di atas dapat dikatakan bahwa Ijtihad itu ada Ijtihad dalam mengeluarkan hukum (ijtihad fi akhrij ahkam) dan Ijtihad dalam menerapkan hukum (Ijtihad fi tathbiq ahkam). 2. Lingkup Ijtihad Apabila peristiwa yang hendak ditetapkan hukumnya itu telah ditunjukan oleh dalil yang qath'i, maka tidak ada jalan untuk melakukan ijtihad. Dalam hal seperti ini melakukan apa yang ditunjukkan oleh Nash Qath'i. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu:

26

Sedangkan menurut Zaid dan Ibnu Mas'ud Kakek bermuqasamah (membagi sama) dengan Saudara. Dalam sidang Umar mengusulkan agar tawanan perang Badar itu dibunuh saja. 4. Istishab. dan Khulafa Rasyidin Di antara ijtihad yang dilakukan Rasulullah saw. Di sini kakek tidak menghijab saudara. dan pesannya kepada Qadhi Suraih agar berijtihad apabila tidak jelas dalam al-Sunnah 3) Mengenai ahli waris yang ditinggalkan oleh yang mati. Muadz menjawab (aku akan berijtihad dengan pikiranku. Peristiwa yang ditunjukan oleh nash yang zhanniy al-wurud (hadits-hadits ahad). Umar dan Ibnu Abbas menetapkan bahwa saudara terhijab oleh kakek. Urf. Dari dua pendapat itu. dan Ijtihad Umar. 27 . Istihsan. yaitu tidak menghukum orang yang mencuri dengan potong tangan. Qiyas. Ijtihad Fardi dan ijtihad jama'i Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. Di antara ijtihad para Shahabat ialah: Ijtihad Abu Bakar dalam hal memerangi orang yang membangkang membayar zakat dan memushhafkan Alquran. maka ijtihad terbagi pada : a. Ini dapat dilakukan dengan. dll. b. dan zhanniyu al-dalalah (nash Alquran dan al-Hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita'wilkan). 3. 2) Intruksi Umar bin Khatab kepada Abu Musa Al-Asy'ari yang memerintahkan agar menggunakan Ijtihad dengan Qiyas. Ijtihad pada masa Rasul saw. yaitu ijtihad yang dilakukan secara perorangan. yakni menerima tebusan. terdiri dari Kakek bersama saudara. Alasannya antara lain: 1) Rasulullah dapat membenarkan dan dapat menerima jawaban Muadz bin Jabal saat ditanya Rasul saw jika dihadapkan kepadanya suatu permasalahan.a. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar mereka menebus diri dan Rasul menerima uang tebusan. Abu Bakar. dan tidak ditemukan dalam Alquran dan al-Sunnah. adalah tentang tawanan perang Badar. karena ada bencana kelaparan yang menyeret manusia kepada makan secara tidak halal. Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. dan aku tidak akan meninggalkannya). Rasulullah menetapkan pendapat Abu Bakar. Ijtihad Fardi.

Menguasai ilmu bahasa Arab dengan segala cabangnya. ayat-ayat hukum dan cara mengistinbath daripadanya. Juga mengetahui asbab al-nuzul. tingkah laku dan adat kebiasaan manusia yang mengandung mashlahat dan madharat. e. 6. jika ia tidak menemukan dari perbuatan Nabi saw. ilmu nahwu. lalu 28 . Mengetahui nash-nash hadis. mutasyabihmuhkam. dan lainnya. disamping harus mengetahui nilai dan derajat hadits. Alasannya ialah. agar hukum hasil ijtihad lebih mendekati kepada kebenaran. Ijtihad Jama'i. jawaban Rasulullah terhadap Ali bin Abi Thalib yang bertanya. balaghah dan lainnya. 5. ta'wil. f. yakni mengetahui hukum syar'i dari hadits dan mampu mengeluarkan hukum/istinbath daripadanya. sharaf. hendaklah pertama kali ia memperhatikan nashnash Alquran dan Al-sunnah dan mengetahui hukum manthuq dan mafhum dari keduanya. Memiliki akhlak terpuji dan niat yang ikhlas dalam berijtihad. Di sini adanya persetujuan dari para mujtahid terhadap masalah. Mengetahui maqashid al-syar'iyyah. c. b.b. haqiqat-majaz. sebagai ilmu metoda istinbath. Apa yang harus dilakukan dan dijadikan dasar jika perkara tidak ditemukan dalam Alquran dan Al-Sunnah? Maka Rasulullah menyuruh agar dimusyawarahkan dengan ahlinya. dapat mengqiyaskan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya hingga menetapkan hukum sesuai dengan maksud syariat dan kemaslahatan umat. lalu memperhatikan pada perbuatan Nabi (hadits fi'li). a. lalu memperhatikan taqrir Nabi terhadap shahabatnya. Yaitu Ijtihad yang dilakukan oleh sekelompok orang. Mengetahui nash-nash Alquran perihal hukum syara yang dikandungnya. d. sanggup mengetahui illat hukum. Yang harus dilakukan mujtahid dalam berijtihad Seorang mujtahid dalam berijtihad.. tapi juga orang yang ahli dibidang yang terkait dengan hukum yang akan diijtihadkan. dan tafsir dari ayat-ayat yang akan diistinbath. Mengetahui ilmu Ushul Fiqih. Syarat-syarat Ijtihad. juga ditunjang dengan seluk-beluk kesusastraan Arab baik prosa (natsar) maupun syair (nadham). metode menemukan dan menerapkan hukum. Dalam Ijtihad ini tentu tidak hanya ahli hukum Islam yang harus hadir. dan tahu antara 'aam-khash.

sesuai dengan luasnya dan sempitnya cakupan bidang ilmu. 7. Mujtahid fi Madzhab. Meneliti sejarah datangnya kedua nash untuk ditentukan yang datang kemudian/ belakangan sebagai nasikh atau penghapus terhadap yang datang lebih awal. tapi hanya melakukan tarjih. hendaknya: a. d. dan berijtihad dengan hasil sendiri. Mujtahid fi syar'i.selanjutnya memperhatikan Qiyas juga ijma shahabat. Macam-macam mujtahid Menurut Abu Zahrah. Yaitu yang berkemampuan mengijtihadkan seluruh masalah syari'at yang hasilnya diikuti dan dijadikan pedoman oleh orang-orang yang tidak sanggup berijtihad. Merekalah yang membangun mazhab. dengan menggunakan ilmu tarjih. dan perbandingan di antara pendapat. Dan jika mujtahid mendapatkan dua dalil yang berlawanan. Yaitu mujtahid yang hasil ijtihadnya mengikuti pendapat Imam terdahulu dalam hal asal / pokok. Membekukan (tawaqquf). lalu menetapkan sebagian pendapat yang kuat dan lemah dengan argumen qaidah tarjih. d. mengistinbath hukum yang tidak dinashkan dalam qaidah-qaidah lama. meletakkan dasar-dasar tarjih. maka tidak terjadi ta'arudh / berlawanan pada hakikatnya. jika semuanya mendapat kesulitan maka berpegang sesuai aslinya atau tidak berkomentar. b. Yaitu mujtahid yang tidak mengistinbath hukum-hukum cabang yang tidak diijtihadkan oleh yang terdahulu. mencari mana yang kuat dan mana yang kurang kuat. untuk beristidlal dengan kedua nash tersebut dan berpindah beristidlal dengan dalil lain bila usaha yang berturut-turut tidak tercapai. Mujtahid al-Murajjih. dengan membandingkan antara satu pendapat dengan pendapat lain dari yang terdahulu. mengembangkan dasar-dasar mazhab. Mentarjihkan salah satunya. yaitu: a. c. Mujtahid al-Muntasib. Jika usaha tidak berhasil lakukan. dan berbeda dalam hal cabang. mujtahid itu ada beberpa tingkatan. akan tetapi mereka hanya mengikuti imam mazhab yang telah ada. 29 . Mujtahid yang hasil ijtihadnya tidak membentuk mazhab tersendiri. c. b. Menjama'kan kedua nash yang menurut lahirnya berlawanan. Mereka mengkhususkan kepada qaidah-qaidah yang telah ditetapkan imam-imam terdahulu. Jika usaha ini berhasil.

dan menyususn derajat-derajat tarjih sesuai yang telah dilakukan oleh pentarjih. mereka tidak dapat membedakan antara dalil-dalil. Yaitu mereka yang dapat membedakan antara yang lebih kuat dari yang kuat dan yang lemah. tapi mengetahui mana yang kuat. tapi hanya mengumpulkan apa yang mereka temukan. Alasan Ijtihad menjadi hujjah Alasan ijtihad dapat jadi hujjah berdasar kepada: a. Ini dilakukan agar bagian-bagian tersebut tidak tertukar antara yang satu dengan lainnya. riwayat yang jarang. Tingkatan Muhafidh. Tingkatan Muqallid. riwayat yang zhahir. dan tidak mendatangkan ilmu karena tidak mampu menentukan dan membedakan tingkatantingkatan tarjih. Menurut Ibnu 'Abidin pada masa terakhir ini atau juga sekarang banyak yang seperti ini. Alquran                    b. Mereka tidak bisa membedakan antara kanan dan kiri. mereka beribadah mengikuti apa yang terdapat dari kitab-kitab tidak lebih dari itu. Maka pekerjaan mereka itu bukan melakukan tarjih. e. Tingkat ini yang paling rendah dari tingkatan yang telah lalu. mazhab yang zhahir. Al-Hadits 30 . yaitu mereka membandingkan antara pendapat dan riwayat. riwayat. tapi tidak mampu melakukan tarjih atau menentukan mana yang kuat antara pendapat. antara pendapat dan riwayat-riwayat. yaitu mereka yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab. 8. mereka menetapkan bahwa pendapat ini lebih jelas dan lebih kuat dalilnya dari yang lain.Disampimg itu ada mujtahid yang tidak jauh berbeda dengan tingkatan ini. f.

selagi tidak ada jalan untuk menegnal hukum peristiwa baru tanpa melalui ijtihad. dan seorang mujtahid harus mengetahui apa yang harus ia lakukan. Ditinjau dari subyek yang melakukan ijtihad. Alasan ijtihad dapat dijadikan hujjah berdasarkan pada dalil Alquran. Logika. sedang peristiwa yang dihadapi manusia selalu timbul dengan tidak terbatas. Ijtihad mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi. hadis Nabi. Apa saja syarat Ijtihad itu? Dan apa yang harus dilakukan seorang mujtahid? 31 . Sebagaimana kita ketahui bahwa nash-nash Alquran dan hadits terbatas jumlahnya. Oleh karena itu tidak mungkin nash-nash yang terbatas jumlahnya itu mencukupi untuk menghadapai peristiwa-peristiwa yang terus terjadi. Jelaskan pengertian Ijtihad menurut bahasa dan istilah ! 2. Lingkup yang dilakukan ijtihad itu nash zhanniy al-wurud dan zhanniy al-dalalah. maka ijtihad terbagi pada: ijtihad fardi dan ijtihad jama'i. dan logika. Tugas Terstruktur 1.c. Ditinjau dari subjek yang melakukan Ijtihad. Rangkuman Ijtihad ialah mencurahkan segala kesungguhan dan segala upaya baik dalam mengeluarkan hukum-hukum syara (dengan jalan penelitian) maupun dalam pengaplikasiannya. terbagi kepada berapakan Ijtihad itu? Jelaskan! 3.

Juga berarti tekad atau niat ( ). seperti para mujtahid. serta mengetahui pengertian Qiyas. akan suatu hukum syariat yang amali. Kehujahan dan Macam-macamnya 1. macam-macam Ijma'. dan macammacam Qiyas. Tinjauan Bahasa Kata Ijma secara bahasa berarti: kesepakatan atau konsensus. Ijma'. unsur-unsur Ijma'. para mufti dan para ulama. Alasan Hadits 32 . Ijma sebagai hujjah Kehujjahan Ijma didasarkan atas beberapa alasan: a. kemungkinan Ijma'.IJMA' DAN QIYAS TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Ijma'. kehujjahan Qiyas. pemegang urusan mencakup pada urusan duniawi. syarat Qiyas. maka wajib diikuti. Alasan Alquran            Lafadz ulil amri. b. menteri dan lainnya.” 2. rukun Qiyas. Ijma' sebagai hujjah. BAHASAN A. dan mencakup pemegang urusan agama. Karena itu jika masing-masing dari mereka telah sepakat untuk menetapkan suatu hukum agama. seperti kepala negara. Jumhur ulama ushul Fiqih mengemukakan bahwa ijma ' adalah: “Kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw.

Kemungkinan Ijma Jumhur ulama mengatakan bahwa Ijma' itu mungkin terjadi menurut adat kebiasaan. Unsur-unsur Ijma a. Dalam hal ini tidak disebutkan sejauhmana seseorang telah mencapai tingkatan ijtihad. Terdapat beberapa orang mujtahid. karena itu ahli Ushul Fiqih menyebutkan. misalnya dengan fatwa. menyendiri. karena sukar menentukan seorang apakah mujtahid atau bukan. Harus ada kesepakatan di antara mereka. Karena itu sebagian ulama telah mengecualikan yaitu Ijma shahabat karena mereka para shahabat yang berijma yaitu para ulama jumlahnya masih sedikit. Mereka mengatakan bahwa yang mengingkari kemungkinan terjadinya Ijma adalah mengingkari hal yang nyata terjadi. b. Abdul Hamid Hakim menyebutkan. atau dengan perkataannya. 33 . Salah seorang ulama bernama Al-Nazham dan sebagian ulama syi'ah mengatakan bahwa Ijma yang unsur-unsurnya seperti tersebut di atas tak mungkin terjadi berdasarkan adat. Juga tidak adanya ukuran umum yang menetapkan kriteria seorang mujtahid. c. akan tetapi hujjah itu karena sandarannya kepada Alquran dan Al-Sunnah. Kebulatan pendapat orang-orang yang bukan mujtahid tidaklah disebut ijma. bahwa ijma itu bukanlah hujjah karena dirinya. maka terdiri dari : a. karena kesepakatan baru bisa terjadi apabila ada beberapa mujtahid. Imam Daud berkata: 5.. Macam-macam Ijma Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma'. Firman Allah Al-Nisa: 59 3. ijma itu bukanlah dalil yang . Hal ini lantaran sukarnya melakukan ijtihad dengan unsur-unsur yang ada. d. misalnya Qadhi dengan keputusannya. 4. baik dengan perbuatannya. Kebulatan pendapat harus tampak nyata.

c. Disebut juga ijma Haqiqi. sedang sebagian lainnya diam. Kehujahan dan Macam-macamnya 34 . Yaitu Ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan oleh sebagian mujtahid. Dilihat dari sisi prosesnya. e. Ijma ini dianggap hujjah bagi Imam Hanifah. b. b. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah. Jika dilihat dari sisi hukum yang dihasilkan dengan konsensus para ulama yang harus ditaati. tidak jelas apakah mereka menyetujui atau menentang. terhadap sesuatu masalah. Disebut juga ijma I'tibari. d. atas dasar Jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Yaitu persesuaian faham Abu Bakar dan Umar dalam suatu hukum. Ijma ini bagi Imam Malik adalah hujjah. maka Ijma ini ditempatkan sebagai sumber hukum yang ketiga sesudah Alquran dan Al-Sunnah. B. Ijma ini oleh sebagian ulama dianggap hujjah atas dasar hadis: –f. Yaitu persesuaian ahli Kufah. Yaitu persesuaian faham segala ulama shahabat terhadap sesuatu urusan. Qiyas. Yaitu kesepakatan atau persesuaian faham terhadap sesuatu pada khalifah yang empat.Ijma Ummat. Yaitu ijma yang dengan tegas persetujuan dinyatakan baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan (menfatwakan atau mempraktekkan). Yaitu persesuaian faham ulama-ulama Ahli Madinah terhadap sesuatu kasus. karena itu termasuk pada salah satu bentuk Ijtihad. ijma terbagi kepada dua: a. Ijma itu dihasilkan oleh para mujtahid. Ijma ini yang dimaksud dengan definisi pada permulaan.

Kehujjahan Qiyas Kehujjahan Qiyas dapat ditunjukan dengan beberapa alasan : a.” 2.a. Alasan Logika 35 . timbang/an.                  b. 1) Perkataan Umar bin Khatab kepada Abu Musa al-Asy'ari : 2) Dalam peristiwa pembai'atan Abu Bakar r. Jadi kata qiyas itu artinya: ukuran. ukuran. Al-Sunnah. diqiyaskan kepada Nabi Muhamad saw.1. d. Para ahli ushul fiqih memberi definisi Qiyas secara istilah: “Menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya. sebagai ganti pada waktu Beliau sakit. Pengertian Bahasa Kata Qiyas berasal dari kata : Ia telah mengukur. Perkataan dan perbuatan shahabat. sukatan. : Ia sedang mengukur.yang menyuruh Abu Bakar mengimami shalat. c. . untuk menjadi khalifah. Alquran.

Syarat-syarat Pokok: 1) Hukum pokok itu masih ada atau berlaku / tsabit. Karena adanya illat itu maka hukum itu ada. Oleh karena itu jika dilarang minum yang memabukan dengan nash. dan jika illat itu tidak ada maka hukum itu juga tidak ada. b. Yaitu hukum syara yang dinashkan pada pokok yang kemudian akan menjadi hukum pada cabang. Maka Qiyas merupakan sumber perundangan yang dapat mengikuti kejadian baru dan dapat menyesuaikan dengan kemaslahatan. Syarat Qiyas a. sedangkan kejadian pada manusia itu tidak terbatas dan tidak berakhir. 3) Hukum Pokok tidak merupakan hukum pengecualian. 2) Nash yang ada dalam Alquran dan al-Sunnah itu terbatas. maka diduga keras dapat memberikan kemaslahatan bagi hamba. atau al-maqis 'alaih / musyabah bih. tidak menetapkan hukum buat hamba kalau bukan untuk kemaslahatan bagi hamba. Cabang. Rukun Qiyas a. d. Karena itu jika ada suatu masalah yang tidak ada nashnya. tapi illatnya sama dengan yang ada nashnya. maka logislah setiap minuman yang memabukan diqiaskan kepada minuman tersebut. 3) Qiyas adalah dalil yang sesuai dengan naluri manusia dan logika yang sehat. b. kalau tidak ada. 4. Yaitu sesuatu yang tidak dinashkan hukumnya. / al-maqis / al musyabbah. Karena kemaslahatan yang menjadi tujuan dari syariat. 2) Hukum yang ada pada pokok harus hukum syara' bukan hukum akal atau bahasa. ia yang diqiaskan. 3. c. dalam ilmu ushul fiqih disebut al-far'u. Asal. Syarat-syarat Cabang: 36 . Yaitu sesuatu yang sudah dinashkan hukumnya yang menjadi tempat mengqiyaskan. Illat. hukum tersebut harus dimansukh.1) Allah swt. Suatu sifat yang nyata dan tertentu yang berkaitan atau munasabah dengan ada dan tidak adanya hukum. maka tidak boleh ada pemindahan hukum. dalam ushul fiqih disebut al-Ashlu. Hukum Asal.

4) Hukum cabang harus sama dengan hukum pokok c. 3) Illat yang terdapat pada cabang harus sama dengan illat yang terdapat pada pokok. maka hukumnya qath'i. b. artinya hukum harus terwujud ketika terdapat illat. qiyas menjadi batal'. Al-Sabru wa al-Taqsim. Sebab adanya illat tersebut adalah demi kebaikan manusia. dan tidak ada hukum bila tidak ada illat. dan adanya illat itu dalam cabang juga demikian serta tidak ada dalil yang menentangnya. Cara mengetahui Illat / masalik al-'illat 1 Dengan nash Illat yang ditunjukan oleh nash adakalanya jelas (sharih). manakala ada illat. jika berlawanan maka nash yang didahulukan. diambil illat hukumnya dan dipisahkan yang bukan illat hukumnya. dan adakalanya dengan isyarat. 37 . Yaitu dengan cara meneliti dan mencari illat. seperti 2 . Illat yang ditunjukan oleh nash itu sendiri dengan memperhatikan kata-kata. melalui menghitung-hitung dan memisah-misahkan sifat pada pokok. Yaitu mencari persesuaian antara suatu sifat dengan perintah atau larangan yang membawa kemanfaatan atau menolak kemadharatan bagi manusia. Untuk ini tentu diperlukan pemahaman yang mendalam. Al-Munasabah. Jika Qiyas itu dibenarkan berarti menetapkan hukum sebelum adanya Illatnya. Syarat-syarat Illat: 1) Illat Harus tetap berlaku. 2) Cabang tidak mempunyai ketentuan tersendiri. 2) Illat berpengaruh pada hukum. 3 Dengan istinbath / penelitian Dengan cara ini dapat ditempuh melalui beberapa bentuk: a. 3) Illat tidak berlawanan dengan nash. tentu ada hukum. Dengan Ijma Apabila Ijma itu qath'i dan datangnya kepada kita juga qath'i. yang menurut ulama Ushul 'apabila datang nash.1) Hukum cabang tidak lebih dulu ada daripada hukum pokok.

Macam-macam Qiyas a. Kehujjahan Ijma didasarkan atas alasan ayat Alquran dan hadis. Qiyas Musawy. Yaitu mencari dan mengeluarkan illat sampai diketahui. 38 . e. Yaitu sifat tersebut telah ada dan disepakati pada pokok. Tahqiq Al-manath. Yaitu qiyas dimana mulhaq-nya dapat diqiaskan kepada dua mulhaq bih (pokok). Ditinjau dari ruang lingkup para mujtahid yang berijma'. 5. apabila illatnya tidak diketahui baik dengan nash maupun dengan Ijma. Maka diqiaskan kepada mulhaq bih yang mengandung banyak persamaannya dengan mulhaq. Qiyas al-Adwani. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum. dan illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. Rangkuman Ijma' adalah kesepakatan seluruh mujtahid Islam dalam suatu masa sesudah wafat Rasulullah saw. c. b. e. ijma' terbagi kepada enam macam. Qiyas Aula. Qiyas Dilalah. tetapi tidak mewajibkan hukum padanya. ijma' terbagi kepada dua. sama dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. Yaitu qiyas yang illat hukum yang ada pada yang dibandingkan / mulhaq. Sedangkan jika dilihat dari cara terjadinya dan martabatnya. Qiyas Syibhi. Yaitu membersihkan dan menetapkan satu illat dari illat-illat lain yang samar. menunjukan hukum. dan yang disamakan atau yang dibandingkan (mulhaq) mempunyai hukum yang lebih utama daripada yang dibandingi (mulhaq bih). misalnya dengan mengqiaskan cabang kepada pokok dan meninggalkan sifat-sifat yang berbeda. Ijma memiliki beberapa unsur yang mesti ada. d. Takhrij al-Manath.c. Yaitu qiyas di mana illat yang ada pada mulhaq / yang disamakan. akan suatu hukum syariat yang amali. d. lebih rendah dibandingkan dengan illat hukum yang ada pada mulhaq bih. tapi diperselisihkan pada cabang. Tanqih al-Manath. Yaitu qiyas yang illatnya mewajibkan adanya hukum.

Dan (5) Qiyas Syibhi. al-sunnah. (2) Qiyas Musawy. Bagaimana kehujjahan Ijma dan Qiyas? 3. perkataan dan perbuatan shahabat. dan logika. Syarat Qiyas terdiri dari: (1) Syarat-syarat pokok.Qiyas adalah menyatukan sesuatu yang tidak disebutkan hukumnya dalam nash dengan sesuatu yang disebutkan hukumnya oleh nash dikarenakan kesatuan illat hukum antara keduanya. (4) Qiyas Dilalah. Sebutkan macam-macam Ijma' dan Qiyas! 39 . Tugas Terstruktur 1. Jelaskan pengertian Ijma' dan Qiyas secara bahasa dan istilah ! 2. Rukun Qiyas terdiri dari: (1) Asal. (3) Syarat-syarat 'Illat. (2) Cabang. (2) Syarat-syarat cabang. (3) Hukum asal. Kehujjahan Qiyas dapat berdasarkan pada Alquran. (3) Qiyas al-Adwani. Dan (4) 'Illat. Dan Qiyas terbagi kepada: (1) Qiyas Aula.

mashlahah al-mursalah. MASHLAHAH AL-MURSALAH. antara lain: 1. serta mengetahui macam-macamnya. 6. 2. Pengertian Bahasa 40 . ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata / Istadalla artinya: minta petunjuk. / al-Istishabu / al-Mashlahah al-Mursalah / al-Istihsanu / Qaul al-Shahabi / Saddu al-Dzara'i / Syar'un man Qablana / Dilalah al-Ilham. Menurut Imam Abdul Hamid Hakim. ISTISHAB. memperoleh dalil. istishab. 3. DAN ISTIHSAN TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian istidlal. istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah. 8. al-Sunnah. Para ulama ushul fiqih. maka hendaklah mencari dalil lain (Istidlal).ISTIDLAL. ISTISHHAB 1. lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. dan istihsan. Al-Ijma dan Qiyas. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. menjelaskan istidlal itu ada beberapa macam. kemudian al-Sunnah. 7. BAHASAN A. 5. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran. / al-Urf B. menarik kesimpulan. 4.

Istishab ini adalah terlepas dari tanggung jawab atau terlepas dari suatu hukum. Sementara segolongan dari ulama Mutakallimin. Yaitu sifat yang melekat pada suatu hukum. Macam-macam Istishab a. Dengan kata lain sampai adanya dalil yang mengkhususkan atau yang membatalkannya. Kebolehan tersebut didasarkan kepada firman Allah d. juga istimrar al-suhbah. Istishab Washfi. Istishab yang ditunjukkan oleh al-syar'u atau al-Aqlu. b. Istishab al-Hukmi / Dalil umum. sehingga ada dalil yang menunjukan. Istishab hukum yang ditetapkan ijma' lalu terjadi perselisihan.Kata Istishab berasal dari kata suhbah artinya 'menemani' atau 'menyertai'. 41 . Kata lain dalam Bahasa Arab: Menurut Istilah ilmu Ushul Qiqih yang dikemukakan Abdul Hamid Hakim: Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlaku sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah. Dan sebagian besar dari ulama muta'akhirin juga demikian. 4. sampai ditetapkannya hukum yang berbeda dengan hukum itu. atau almushahabah: menemani. Istishab Al-Bara'ah al-Ashliyah. terus menemani. Syafi'i. Kehujahan Istishab Mayoritas pengikut Maliki. maka hukum itu terus berlangsung sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. Istishab seperti ini diperselisihkan ulama tentang kehujahannya. Dan asal dalam sesuatu (mu'amalah) adalah kebolehan. Ahmad dan sebagian ulama Hanafi menyatakan bahwa istishab dapat jadi hujah. selama tidak ada dalil yang merubah. e. Yaitu sesuatu yang telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram. Seperti keadaan hidupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. c. 2.

kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. C.seperti 'Hasan al-Basri'. MASHLAHAH MURSALAH 1. Sedangkan menurut istilah ulama ushul fiqih. karena untuk menetapkan hukum yang lama dan sekarang harus berdasarkan dalil. dipakai. Kemaslahatan tersebut harus bersifat rasional. dan juz‟I yang qath‟I wurud dan dalalahnya. Ia adalah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Pelaksanaannya tidak menimbulkan kesulitan yang tidak wajar. 3. = beres. Syarat-syarat a. jiwanya. akalnya. 2. Yaitu sesuatu yang mendatangkan kebaikan. hingga yakin hal tersebut memberikan manfaat atau menolak kemadaratan. d. suatu perbuatan yang mengandung nilai baik atau bermanfaat. Kemaslahatan tersebut bersifat umum. Bentuk mashdarnya atau = keberesan. artinya harus ada penelitian dan pembahasan. Bentuk isim maf'ulnya = diutus. Dan Kata mursalah. kebaikan yang dipergunakan menetapkan suatu hukum Islam. Dilihat dari sumbernya 42 . Macam-macam Mashlahah a. dari kata dipergunakan. dikirim. keturunannya dan hartanya. Juga dapat berarti. menyatakan bahwa istishab tidak bisa jadi hujah. bukan kemaslahatan yang dikira-kirakam c. Tinjauan Bahasa Kata Kata al-Mashlahah dari kata tersusun dari dua kata yaitu al-mashlahah dan al-Mursalah. Tidak boleh bertentangan dengan Maqasid syariah. kemaslahatan. dari nash Alqur‟an dan Al-Sunnah b. bermakna : = mengutus. berarti prinsip kemaslahatan. Perpaduan dari dua kata menjadi mashlahah mursalah. dalil-dalil kulli.

3) Mashlahah Tahsiniyah. Kebanyakan ulama menolak kemaslahatan yang bertentangan dengan nash yang qath‟I ini. . (4) . Kehujahan mashlahah mursalah. yaitu lafaz: (1) (2) (5) . 43 . Abdul Hamid Hakim menyebutkan bahwa syara' memperhatikan kemashlahatan secara umum. yang disebut juga dengan mashlahah mu‟tabarah. jiwa. dapat menghindarkan kesulitan dan menghilangkan kesempitan. (4) . Dilihat dari kepentingannya 1) Mashlahah Dharuriyah. hifdu nasal. 2) Maslahah Hajiyah. 2) Kemashlahatan yang bertentangan dengan nash yang qath‟i. yaitu mempergunakan semua yang layak dan pantas yang dibenarkan oleh adat kebiasaan yang baik dan tercakup pada bagian mahasinul akhlak. b. 3) Kemaslahatan yang tidal dinyatakan oleh syara dan tidak ada dalil yang menolaknya. hifdun nafsi. yang dibutuhkan juga oleh masyarakat tetap terwujud. Ini kembali kepada yang lima. – Ayat di atas memberi isyarat dari lafaz yang ditunjukannya. 5. misalnya hifdulmal. dengan berdasar pada firman Allah swt. akal. Maka inilah yang dimaksud dengan mashlahah mursalah. yaitu semua bentuk perbuatan dan tindakan yang tidak terkait dengan dasar (mashlahah dharuriyah). keturunan dan harta. hifdul aqli dll. .1) Kemashlahatan yang ditegaskan oleh Alqur‟an dan Al-Sunnah. (3) . karena itu mashlahah ini mesti ada terwujud. yaitu kemashlahatan yang apabila ditinggalkan akan menimbulkan kemadharatan dan kerusakan. memelihara agama. kemashlahatan ini diakui oleh para ulama.

ISTIHSAN 1.Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata: D. Kehujahan Istihsan Menurut ulama Hanafiyah. bukan mengalihkannya kepada sesuatu menurut kemauan hawa nafsu. Hambali dan Maliki juga memakainya. b. Beliau berkata: “man istahsana faqad syarra'a”. Secara istilah Istihsan menurut ahli Ushul Fiqih adalah : Istihsan itu adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. Mengecualikan hukum juz‟i ( bagian atau khusus ) dari pada hukum kulli ( umum). kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. tetapi masih membatasinya. Malikiyah dan sebagian ulama Hambaliah. 44 . istihsan merupakan dalil yang kuat dalam menetapkan hukum. Sedangkan Imam Syafi‟i menentang Istihsan karena akan membuka pintu untuk menetapkan hukum sesuai dengan kehendaknya. 3. Mengutamakan qiyas khafi ( yang samar-samar) dari pada qiyas jalli ( yang jelas ) berdasarkan dalil. Macam-macam Istihsan a. Golongan Hanafiyah sangat mengagungkan Istihsan. sebab bukanlah sumber yang berdiri sendiri. Pengertian bahasa Dilihat dari asal bahasa Istihsan dari kata –– artinya mencari kebaikan. Sebenarnya istihsan itu mengalihkan suatu dalil yang nyata atau mengalihkan hukum kulli kepada suatu dalil yang lebih sesuai dengan untuk kemaslahatan. Al-Hasan menyebutakn makna istihsan secara bahasa dengan ungkapan artinya mencari yang lebih baik. 2. Adanya perbedaan pendapat ulama tentang istihsan karena tidak adanya persesuaian pendapat dalam mengartikan istihsan.

Istihsan adalah berpindah dari suatu hukum yang sudah diberikan. kepada hambanya tentang pemeliharaan agamanya. Bagaimana kehujjahan Istishhab.Untuk itu Imam Asy-Syatibi berpendapat. Mashlahah al-mursalah ialah perbuatan yang bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. kepada hukum lain yang sebandingnya karena ada suatu sebab yang dipandang lebih kuat. Jelaskan pengertian Istishhab. dan Istihsan secara bahasa dan istilah? 45 . barangsiapa beristihsan tidaklah berarti bahwa ia memulangkannya kepada perasaan dan kemauan hawa nafsunya. keturunannya dan hartanya. Mashlahah al-mursalah. tetapi ia memulangkannya kepada maksud syar‟i yang umum dalam peristiwa-peristiwa yang dikemukakan. tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. jiwanya. dan Istihsan secara bahasa dan istilah ! 3. dan sebutkan macam-macamnya. Rangkuman Istidlal adalah mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah. Mashlahah al-mursalah. 2. akalnya. Tugas Terstruktur 1. Istishab yaitu menetapkan hukum yang telah ada pada sejak semula tetap berlalu sampai sekarang karena tidak ada dalil yang merubah. Jelaskan pengertian Istidlal secara bahasa dan istilah.

Dengan kata lain Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. Ada yang mengatakan bahwa qaul shahaby secara muthlaq tidak bisa dijadikan hujah. Pendapat lain menyatakan bahwa pendapat shahabat itu jadi hujah. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah datang setelah tabi‟in. 46 . maka pendapat shahabat didahulukan. Kehujahan Qaul Shahaby Pendapat shahabat tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya. dan apabila pendapat shahabat bertentangan dengan qiyas. Satu pendapat mengatakan bahwa madzhab shahabat bisa jadi hujah. beriman kepadanya.QAUL SHAHABI. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang Qaul Shahabi. 2. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. QAUL SHAHABI 1. b. Ulama ushul memiliki tiga pendapat: a. mengikuti serta hidup bersamanya. BAHASAN A. serta dijadikan rujukan oleh generasi sesudahnya dan mempunyai hubungan khusus dengan Rasulullah saw. Yang dimaksud dengan shahabat menurut ulama ushul fiqih adalah seseorang yang bertemu dengan Rasulullah saw. SADD AL-ZARA'I. dalam waktu yang panjang. yaitu: Yang dimaksud dengan Qaul al-Shahaby (Mazdhab Shahaby) adalah pendapatpendapat para shahabat dalam masalah ijtihad. hal ini telah disepakati para ulama ushul. dan Syar'u man Qablana. SYAR'U MAN QABLANA TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian Qaul Shahabi. Sadd al-Zara'i. c. yang tidak dijelaskan dalam ayat atau hadis.

3) Fatwa yang didasarkan atas pemahamannya terhadap Alqur‟an yang agak kabur dari ayat tersebut pemahamannya bagi kita 4) Fatwa yang disepakati oleh tokoh-tokoh shahabat yang sampai kepada kita melalui salah seorang shahabat. maka mengikutinya adalah lebih baik ketimbang mengikuti pendapat yang berdasarkan hawa nafsu.Ibnu Qayyim berkata. SADDU DZARA’I 1. Hukum washilah (jalan yang menyampaikan kepada tujuan) sama dengan hukum tujuan. 47 . 5) Fatwa yang didasarkan kepada kesempurnaan ilmunya baik bahasa maupun tingkah lakunya. jalan kepada wajib. dzariah adalah washilah yang menyampaikan kepada tujuan. Dengan kata lain. 2) Fatwa yang didengar dari orang yang mendengar dari Nabi saw. wajib pula. kesempurnaan ilmunya tentang keadaan Nabi saw. akan tetapi bila tidak menemukannya. Kelima ini adalah hujah yang diikuti. Pengertian bahasa Kata berarti artinya yaitu media. Dalam bahasa syariat Dzariah : “apa yang menjadi media / jalan kepada yang artinya mencegah atau menyumbat diharamkan atau yang dihalalkan”. B. dan jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. Maka ini tidak bisa jadi hujah. dan maksudmaksudnya. 6) Fatwa yang berdasarkan pemahaman yang tidak datang dari Nabi dan salah pemahamannya. bahwa seorang mujtahid tidak dibebaskan untuk mencari dalil dari pendapat seorang shahabat. Jalan yang menyampaikan kepada haram hukumnya haram pula. atau jalan. bila ia menemukannya tidak dibenarkan menyandarkannya pada shahabat itu. Ustadz Ali Hasaballah merangkum pendapat-pendapat di atas. atau jalan untuk sampai kepada yang diharamkam atau yang dihalalkan. bahwa fatwa shahabat tidak keluar dari enam bentuk: 1) Fatwa yang didengar shahabat dari Nabi saw. Dan kata jalan.

Sunah Rasulullah 48 . Dzariah yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya. tidak diyakini dan tidak pula dianggap jarang. Dzariah yang jarang berakibat kerusakan atau bahaya. Dalam keadaan ini dugaan kuat disamakan dengan yakin karena menutup jalan adalah wajib sebagai ikhtiar untuk berhati-hati terhadap terjadinya kerusakan.Definisi lain menyebutkan: “Mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. 3. Dzariah yang lebih banyak menimbulkan kerusakan. d. c. Ayat-ayat Alquran b.” 2. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. b. Kehujahan Saddu Dzara’i a. Macam-macam Dzariah Pada dasarnya yang menjadi dzariah adalah semua perbuatan ditinjau dari segi akibatnya yang dapat dibagi pada empat macam: a. Dzariah yang akibatnya menimbulkan kerusakan atau bahaya secara pasti. tetapi belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu.

sedang Imam Syafi‟i dan Abu Hanifah tidak seperti mereka.” 2. Nabi Musa. 2) Fathhu dzara‟i digunakan apabila menjadi cara atau jalan untuk sampai kepada maslahat yang dinashkan. C. SYAR’UN MAN QABLANA 1. Ada ulama ushul yang menyebutkan: 1) Saddu Dzara‟i digunakan apabila menjadi cara untuk menghindarkan dari mafsadat yang telah dinashkan dan tertentu. Menurut Syafi‟i. dan menurut Abu Hanifah dzariah masuk kedalam Istihsan. Pandangan Para Imam Pada dasarnya para fuqaha memakai dasar ini. Imam Malik dan Imam Ahmad banyak berpegang pada dzari‟ah. dan Nabi Isya as. walaupun mereka tidak menolak dzariah secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai dalil yang berdiri sendiri. maka dzariah dalam hal ini berfungsi sebagai pelayan terhadap nash. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. Karena maslahat dan mafsadat yang dinashkan adalah qath‟i. yaitu: “Segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syara‟ yang telah disyaratkan Allah swt. dzariah masuk ke dalam qiyas. jika merupakan satu-satunya washilah kepada ghayah/tujuan.c. Pengertian Ada pengertian yang menjelaskan tentang syar‟un man qablana. sesuai firman Allah : 49 . Kedudukan syar’un man qablana Sesungguhnya syari‟at samawi pada asalnya adalah satu. 3) Tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan amanat ( tugas-tugas keagamaan ) telah jelas bahwa kemadharatan meninggalkan amanat. lebih besar daripada pelaksanaan sesuatu perbuatan atas dasar saddu dzariah.

b. Dengan perbedaan pendapat di atas. seperti qishash. atau tidak ada nash bahwa hukum itu telah dihapuskan. Macam-macam dan kehujjahan Syar’un man qablana Syariat atau hukum yang berlaku dalam agama samawi yang diturunkan Allah swt kepada para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. 2) Segala sesuatu hukum yang dihapuskan dengan syariat Islam. Disertai petunjuk tentang sudah dinasakhkannnya / dihapus dalam syariat Islam c. Demikian juga hukum-hukum yang dikhususkan bagi umat tertentu. Untuk ini ada dua pendapat: Pendapat pertama. otomatis hukum tersebut tidak bisa berlaku lagi bagi kita. dan umatnya. tidak berlaku bagi umat Islam. sering pula diceritakan dalam Alqur‟an dan al Sunnah kepada umat Islam.Oleh karena itu terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang sebelum kita (umat Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukumhukum umat yang terdahulu tetap berlaku. Pendapat kedua menyatakan bahwa syariat sebelum Islam tidak menjadi syariat bagi Rasulullah saw. Disertai petunjuk tetap diakuinya dan lestarinya dalam syariat Islam. Cerita tersebut dibedakan dalam tiga bentuk yang masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda bagi umat Islam: a. tidaklah dianggap ada tanpa melalui sumber-sumber hukum Islam. 50 . 3. tidak ada nash yang menunjukan bahwa hal itu diwajibkan bagi kita sebagai mana diwajibkan juga bagi mereka. misalnya daging bagi Bani Israil. Tidak disertai petunjuk tentang nasakh atau lestarinya. bila hukum yang diterangkan Allah dan Rasulnya bagi umat terdahulu. karena dikalangan umat Islam nilai sesuatu hukum didasarkan kepada sumber-sumber hukum Islam. maka ada hal yang disepakati ulama : 1) Hukum-hukum syara yang ditetapkan bagi umat sebelum kita. seperti keharaman beberapa makanan.

Sandaran syariat Nabi saw. Rangkuman Qaul shahabi adalah pendapat para shahabat tentang suatu kasus yang dinukil para ulama. yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa pendapat : 1) Bahwa Rasulullah saw. Menurutnya. karena Rasulullah sering mencari dari syariat Ibrahiem as. karena Nabi yang paling dekat dengan Rasulullah saw. tetap berlaku bagi umat Islam. bahwa Rasulullah saw.. yang tidak dijelaskan dalam ayat atau 51 . Namun apabila hukum-hukum itu bersipat umum. karena syariat itu merupakan syariat yang pertama. beramal dengan apa yang sampai kepadanya dari syariat Ibrahiem. 4. 6) Bahkan ada yang berpendapat. seperti hukum qishash dan puasa yang ada dalam Alquran. beribadah dengan syariat Nabi Adam as. Ibnu Qusyairi berkata. karena kalaulah berada pada satu agama tentu Nabi menjelaskannya dan tidak menyembunyikannya. baik berupa fatwa maupun ketetapan hukum. apabila syariat sebelum Islam itu dinyatakan dengan dalil khusus bahwa hukum-hukum itu khusus bagi mereka. karena ketetapan nash Islam itu tadi bukan karena ditetapkannya bagi umat yang telah lalu. menurutnya. 3) Bahwa Rasulullah saw. bersyariat kepada syariat Nabi Nuh as. bersyariat kepada syariatnya nabi Ibrahim as. dan juga seperti yang diketahui dari ayat Alqur‟an setelah beliau diutus untuk mengikuti Millah Ibrahiem as. 2) Bahwa Rasulullah saw.3) Segala yang ditetapkan dengan nash yang dihargai oleh Islam seperti juga ditetapkan oleh agama samawi yang telah lalu. 4) Ada pula yang menyatakan Rasulullah beribadah dengan syariat Nabi Musa as. sebelum diutus tidak beribadah atas syariat. bahwa semua perkataan itu berlawanan dan tidak ada dalil yang qath‟i. 5) Dan yang menyatakan Rasulullah bersyariat kepada syariat Isa as. Sedangkan Muhammad Abu Zahrah menyatakan. Imam Al-Syaukani mengembalikan kepada perkataan yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. maka tidak wajib bagi umat Islam untuk mengikutinya. beribadah dengan syariat Nabi Ibrahiem as. sebelum diutus Untuk ini Abdul Hamid Hakim mengutip perkataan Imam Al-Syaukani. maka hukumnya juga berlaku umum bagi seluruh umat.

dan Syar'u man Qablana? 3. Tugas Terstruktur 1.hadis. Sadd al-Dzari'ah adalah mencegah sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. Sadd al-Dzara'i. Jelaskan pengertian Qaul Shahabi. atau menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan. dan Nabi Isya as. dan Syar'u man Qablana ! 2. Namun yang masih diperselisihkan adalah apakah pendapat shahabat bisa menjadi hujjah atas Tabi'in dan orang-orang yang telah datang setelah tabi‟in. Sunnah. Bagaimana kehujjahan Qaul Shahabi. Pendapat shahabat tidak menjadi hujjah atas shahabat lainnya. bagi umat-umat dahulu melalui nabi-nabinya yang diutus kepada umat itu seperti Nabi Ibrahiem. hal ini telah disepakati para ulama ushul. Sadd al-Dzara'i. dan pandangan para imam/ulama. Sebutkan macam-macam Dzari'ah dan Syar'u man Qablana ! 52 . Terdapat penghapusan terhadap sebagian hukum umat-umat yang sebelum kita (umat Islam) dengan datangnya syari‟at Islamiyah dan sebagian lagi hukum-hukum umat yang terdahulu tetap berlaku. Syar'u man Qablana adalah segala apa yang dinukilkan kepada kita dari hukum-hukum syara‟ yang telah disyaratkan Allah swt. Nabi Musa. Kehujjahan Sadd al-Dzara'i berdasarkan pada ayat Alquran.

53 . serta beristidlal dengan Ilham. 'URF DAN 'ADAT 1. sebab perkara yang telah dikenal itu berulang kali dilakukan manusia. bukan „Adat‟. tetapi muncul dari pemikiran dan pengalaman. Dengan demikian „Urf‟ bukanlah kebiasaan alami sebagaimana berlaku dalam kebanyakan adat. Pengertian Secara etimologi „Urf‟ berarti sesuatu yang dipandang baik. yang dapat diterima akal sehat. Yang dibahas ulama Ushul Fiqih dalam kaitannya dengan dalil dalam menetapkan hukum syara adalah „Urf‟. Menurut kebanyakan ulama „Urf‟ dinamakan juga „Adat„. Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara.'URF DAN 'ADAT ISTIDLAL DENGAN ILHAM TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui pengertian 'Urf dan 'Adat. BAHASAN A. Adat didefinisikan dengan: Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional. Para ulama ushul Fiqih membedakan antara „Adat„ dengan „Urf„ dalam kedudukannya sebagai dalil untuk menetapkan hukum syara.

dapat dibagi pada dua bagian yaitu: 1) Al-Urf al-Shahih adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertentangan dengan dalil syara‟. b. yaitu: 1) Al-Urf al-„Aam yaitu kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas di seluruh masyarakat dan di seluruh daerah. dari cakupannya. disyaratkan sebagai berikut : a. Urf dapat dibagi pada dua macam yaitu: 1) Al-Urf al-Lafdhi adalah kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafaz atau ungkapan tertentu. 54 . Urf terbagi kepada dua bagian. adalah kebiasaan masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan. tiada menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. berlawanan dengan ketentuan syari‟at. b. 2) Al-Urf al-Amali. Macam-macam ‘Urf’ Urf itu dapat dilihat dari obyeknya. Apabila dalam memahami ungkapan perkataan diperlukan arti lain. Dari sisi keabsahannya dalam pandangan syara‟. 3. dan dari keabsahannya. Dari sisi obyeknya. a. 2) Urf al-Khash. Urf harus umum berlaku pada semua peristiwa atau sudah umum berlaku. dan hakim dalam memutuskan perkara. Urf tidak bertentangan dengan nash yang qath‟i. yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang. maka itu bukanlah 'urf. juga tidak membatalkan yang wajib. 2) Al-Urf al-Fasid.2. c. Dari sisi cakupannya. yaitu kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu. karena membawa kepada menghalalkan yang haram atau membatalkan yang wajib. Oleh karena itu tidak dibenarkan sesuatu yang telah menjadi biasa yang bertentangan dengan nash yang qath‟i. Syarat-syarat Urf Urf yang menjadi tempat kembalinya para mujtahid dalam berijtihad dan berfatwa.

Adat kebiasaan itu bisa menjadi hukum b. Kehujahan Urf Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama ushul fiqh tentang kehujahan 'urf. Tidak diingkari perubahan hukum disebabkan perubahan zaman dan tempat 55 . Urf harus berlaku selamanya. Golongan Syafi‟iyyah dan Hanbaliyah. Qaidah Fiqhiyah dari Urf Para ulama ushul fiqih merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang berkaitan dengan urf. meskipun bertentangan dengan urf yang datang kemudian. Tidak ada dalil yang khusus untuk kasus tersebut dalam Alqur‟an atau hadits. Mereka beralasan. Oleh karena itu. Apabila kita perhatikan penggunaan 'Urf ini. bahkan pada hal-hal yang akan diberlakukan. ketika ayat ayat Alqur‟an turun. di antaranya: a. sedangkan dalam al-mashlahah al-mursalah kemashlahatan itu bisa terjadi pada hal-hal yang sudah biasa berlaku dan mungkin pula pada hal-hal yang belum biasa berlaku. Mereka beralasan firman Allah b. Pemakaiannya tidak mengakibatkan dikesampingkannyanash syari‟ah dan tidak mengakibatkan kemadaratan juga kesempitan 4. keduanya tidak menganggap urf sebagai hujah atau dalil hukum syar‟i. bedanya kemaslahatan dalam urf ini telah berlaku sejak lama sampai sekarang. 5. orang yang berwakaf harus dibawakan kepada urf pada waktu mewakafkan. Maka tidak dibenarkan urf yang datang kemudian. tetapi erat kaitannya dengan al-mashlahah al-mursalah. banyak sekali ayat yang mengukuhkan kebiasaan yang terdapat di tengah-tengah masyarakat. Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa 'urf adalah hujah untuk menetapkan hukum. a. bukanlah dalil yang berdiri sendiri.c. e. d.

2. Mereka beralasan dengan firman Allah Swt dalam QS. sedangkan yang datang dari Syaitan dan jiwa tidak bisa dijadikan hujah. Para ahli ushul fiqih berpendapat ilham yang datang dari Allah dapat menjadi hujah. Jumhur ulama ushul fiqih berkata bahwa ilham tidak bisa dijadikan hujah dalam menentukan hukum syara‟ dan tidak boleh beramal dengan berdasar kepada Ilham karena yang ada di dalam hati itu adakalanya dari Allah seperti yang tertuang pada ayat Al-Syamsu: 8. Kehujahan Ilham itu menurut mereka hanyalah kemungkinan atau dugaan semata. Yang ditetapkan dengan urf sama dengan yang ditetapkan dengan nash. Akan tetapi. Dan pula kadang yang ada dalam hati itu dari Al-Nafs/jiwa seperti firman Allah dalam QS. ISTIDLAL ‘AL-ILHAM ‘ 1. Yang baik itu menjadi urf sebagaimana yang disyaratkan itu menjadi syarat d. dan juga ada dari syaitan seperti pada QS. Qaf: 16. Pengertian Secara bahasa Ilham artinya = memberitahukan dan menempatkan. karena itu boleh beramal dengannya. Dan hakekatnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan di antara macam-macam Ilham tersebut kecuali setelah melalui penelitian. Al-An'am: 121. Secara istilah menurut ulama Ushul Fiqih antara lain: Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah. itu disebut Ijtihad bukan disebut Ilham.c. pengkajian dan mencari petunjuk dalil dari Al-Qur‟an dan AlSunnah. 56 . Al-Syamsu: 8. B. Macam-macam dan Kehujahan Ilham Sebagian kalangan Sufi berpendapat bahwa Ilham dapat di jadikan hujah dalam menentukan hukum. Sedangkan jika beristidlal / mencari petunjuk dalil dari Al-Qur‟an dan Al-Sunnah.

Perbedaan antara Ilham dan I‟lam sesungguhnya Ilham itu lebih khusus daripada I‟lam. Selain itu. Dilihat dari obyeknya. 'Urf mempunyai beberapa syarat yang harus dipenuhi. Bagaimana kehujjahan 'urf dan ilham? 57 . Tugas Terstruktur 1. 'urf dan ilham secara bahasa dan istilah! 2. I‟lam itu bisa terjadi karena ada usaha sebelumnya dan kadang tidak melalui usaha sebelumnya yaitu dengan jalan tanbih/gugahan. Sebutkan qaidah-qaidah fiqhiyyah dari 'urf ! 3. 'urf juga mempunyai beberapa qaidah. 'Urf terbagi pada beberapa macam. Sedangkan 'Urf adalah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan diterima oleh tabiat yang baik serta telah dilakukan oleh penduduk sekitar Islam dengan ketentuan tidak bertentangan dengan nash syara. Al-Jurjani menyebutkan ada yang disebut Ilham dan ada yang disebut i‟lam.Imam Al-Jurjani berpendapat bahwa Ilham tidak bisa jadi hujah menurut para ulama ushul fiqih kecuali menurut kalangan orang sufi. Jelaskan pengertian 'adat. dan dari keabsahannya. Rangkuman 'Adat adalah sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya hubungan rasional. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. Dengan memperhatikan apa yang diungkapkan oleh para ulama di atas maka Ilham itu tidak bisa dijadikan hujah dan tidak boleh beramal dengan bersandar kepada Ilham. dari cakupannya. Ilham adalah sesuatu yang di tuangkan ke dalam hati berupa ilmu yang mendorong untuk beramal tanpa petunjuk ayat dan tanpa memperhatikqan hujah.

BAHASAN A. Qaidah pertama : .QAWAID FIQHIYYAH TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan memahami qaidah dan qaidah masuk padanya. Landasan Qaidah 58 . landasan kaidah dan kaidah-kaidah yang Artinya : Urusan itu tergantung kepada maksudnya.

2. Apa yang tidak disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan untuk merincinya. jika ia menentukannya dan menyalahi maka tidak menjadi madharat. 3. memberlakukan keadaan semula atas keadaan yang sekarang 2. Menurut pokok. Apa yang disyaratkan menghadapkan niat secara jumlah dan tidak disyaratkan menentukannya secara rinci. Maksud –maksud lafadh tergantung kepada niat orang yang melafadhkan.Qaidah-qaidah: 1. Qaidah kedua : Keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu-raguan Landasan Qaidah Qaidah-qaidah 1. B. Pokok itu bebas tanggung jawab 3. Pokok setiap peristiwa penetapannya menurut masa yang terdekat dengan kejadian 59 . jika ia menentukannya kemudia menyalahi maka menjadi madharat.

Sebutkan landasan kaidah 3. Landasan kaidah antara lain QS. Ali Imran: 144. dan landasan kaidah antara lain hadis shahih riwayat Muslim. dan adalah: “keyakinan tidak dapat dihapus dengan keragu- Soal Terstruktur 1. antara lain antara lain adalah: “urusan itu tergantung kepada maksudnya”. Kaidah yang termasuk dalam kaidah dan yang termasuk kaidah .Rangkuman Arti kaidah arti kaidah raguan”. Sebutkan kaidah yang masuk dalam kaidah ! dan dan dan ! ! 60 . Jelaskan pengertian kaidah 2.

dan kaidah yang masuk ke Kesukaran itu menarik kemudahan Landasan Qaidah . bepergian. BAHASAN A.QAIDAH FIQHIYYAH . . 2) kebodohan. lupa. TUJUAN Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mengetahui kaidah dan dalamya. landasan kaidah. 6). 7). Macam-macam keringanan sakit . . terpaksa. 5) 61 . Sebab-sebab timbulnya keringanan 1). Qaidah ketiga : . 3) kurang mampu. 4) kesukaran.

4). 2). Qaidah keempat : Artinya: Kemadharatan itu harus dilenyapkan Landasan Qaidah Qaidah-qaidah 1. 7). Qaidah-qaidah 1. 62 . keringanan keringanan keringanan kemurahan. Sesuatu itu bila luas menjadi sempit B. 3). Tidak ada haram karena darurat dan tidak ada makruh karena hajat / perlu. Kemadharatan tidak dapat hilang dengan kemadharatan 2. keringanan pengguguran. mendahulukan. 6). pengurangan. keringanan pengganti. 5). Sesuatu itu bila sempit menjadi luas 2.1). keringanan dengan perubahan. Kemadharatan membolehkan yang terlarang 3. keringanan mengakhirkan.

Menolak mafsadat didahulukan dari pada mengambil manfaat. diperhatikan mana yang lebih kuat / rajih di antara keduanya. Adat sesuatu yang berulang-ulang tidak ada hubungan dengan akal. Apabila dua kerusakan saling berlawanan. Hajat (keperluan) kadang menempati tempat darurat 6. C. 5. 63 . 7. diterima akal sehat. dikembalikan kepada Urf. Qaidah kelima : maka harus Adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum Landasan Qaidah Perintahlah dengan ma‟ruf dan berpalinglah dari orang-orang bodoh Uruf itu ialah sesuatu yang dipandang baik. Apa yang diperbolehkan karena darurat. Apabila berlawanan antara kemashlahatan dan kemafsadatan. 8. Di sini Qaidah-qaidah 1. maka harus dipelihaha yang lebih berat madharatnya dengan melaksanakan yang lebih ringan dari padanya. hendaklah diukur denganUkurannnya. = setiap ketentuan yang dikeluarjan syara secara mutlak dan tidak ada pembatasan dalam syara dan dalam ketentuan bahasa.4.

Sebutkan landasan kaidah ! 3. kaidah dan kaidah 64 . arti . kaidah . Al-Baqarah: 185. di antaranya adalah QS. Sebutkan kaidah yang masuk dalam kaidah . Jelaskan pengertian kaidah ! 2. Landasan kaidah landasan kaidah landasan kaidah di antaranya adalah QS. Adat kebiasaan yang titerapkan dalam satu segi tidak dapat menempati tempat syarat Rangkuman Arti kaidah kaidah adalah: “kesukaran itu menarik kemudahan”. adalah: “adat kebiasaan itu ditetapkan sebagai hukum”. Al-A'raf: 199. dan kaidah ! . kaidah dan kaidah . adalah: “kemadharatan itu harus dilenyapkan.2. Al-Qashash: 77. di antaranya adalah di antaranya adalah di antaranya adalah Kaidah yang termasuk ke dalam kaidah . Soal Terstruktur 1. dan di antara adalah QS. dan arti kaidah . yang termasuk kaidah dan yang termasuk kaidah .

Kembali Kepada Alqur'an dan Al-Sunnah. 1992. Abdul Hamid Hakim. Jakarta. Muhammad al-Thahan. Mukhtar Yahya. Asbabun Nuzul. Jakarta. Dar Fikr al-Arabi.A. Bulan Bintang. Surabaya. 1981. Orba Sakti. 1958. Muhammad Abu Zahrah. Ushul al-Fiqh. Al-Khudari. Bandung 1993. 1998. Taisir Mushthalah al-Hadits. Ushul al-Fiqh. Baerut 1992. 1977. Dar Al Kitab Al Arabi.DAFTAR PUSTAKA Abdul Wahab Khalaf. Chaerul Uman. Qamarudin Saleh. H. 1985. Departemen Agama RI. Dasar-dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami. Bandung. As-Sulam dan Al-Bayan. 65 . Syekh Muhammad Ali As-Sayis. Ilmu Fiqh.Djazuli. 1993. Kaidah-kaidah Hukum Islam. 1995. Al-Ta‟rifat. Sa'adiyah Putra. Munawar Khalil. Bandung: Pustaka Setia. al-Harmain. 1996. Al-Jurjani. Dkk. Ushul Fiqih. DDII. Ushul Fiqih 1. Bangil: Yayasan Al-Muslimun. Jakarta: Akademika Pressindo. Baerut. Diponegoro. 1972. Dar al-Fikr. Fiqih Ushul Fiqh. Syafi'i Karim. Abdul Qadir Hassan. Al-Ma'arif. 1986. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam.

66 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->