P. 1
Masterplan BUMN 2010-2014

Masterplan BUMN 2010-2014

4.0

|Views: 7,515|Likes:
Published by Ruhul Dahrial

More info:

Published by: Ruhul Dahrial on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • I.1. Maksud Dan Ruang Lingkup
  • BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009
  • II. 1. Perkembangan Kinerja BUMN
  • II. 1.1.Perkembangan Jumlah BUMN
  • II. 1.2.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN
  • II. 1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN
  • II. 2.1. Sektor Usaha Perbankan
  • II. 2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan
  • II. 2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi
  • II. 2.6. Sektor Usaha Aneka Industri
  • II. 2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan
  • II. 2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata
  • II. 2.9. Sektor Usaha Prasarana Angkutan
  • II. 2.10. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi
  • II. 2.11. Sektor Usaha Perkebunan
  • II. 2.12. Sektor Usaha Kehutanan
  • II. 2.13. Sektor Usaha Perikanan
  • II. 2.14. BUMN Sektor Usaha Kertas, Percetakan dan Penerbitan
  • II. 2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian
  • II. 2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen
  • II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis
  • II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam
  • II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG)
  • II. 3.1. Assessment GCG
  • II. 3.2. Re-Assessment GCG
  • II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri)
  • II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG
  • II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner
  • II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System
  • II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management
  • II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG
  • II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan
  • II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan
  • II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009
  • II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009
  • III.1 Rencana Program Tahun 2005 - 2009
  • III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009
  • III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009
  • III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009
  • III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009
  • III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009
  • III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009
  • III.2.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 - 2009
  • III.2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009
  • III.2.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009
  • BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014
  • IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014
  • IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi
  • IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi
  • IV. 1.3. Program Restrukturisasi
  • IV. 2. Program Privatisasi 2010 - 2014
  • IV. 2.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Privatisasi
  • IV. 2.2. Arah Kebijakan Privatisasi
  • IV. 2.3. Kriteria Privatisasi
  • IV. 2.4. Metode Privatisasi
  • IV. 2.5. Prosedur Privatisasi
  • IV. 3. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 - 2014
  • IV. 4. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 - 2014
  • IV. 5. Program Pengembangan Data, Informasi & Teknologi (TI) 2010 - 2014

KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA

Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara Jl. Medan Merdeka Selatan 13 Jakarat Pusat

DAFTAR ISI
Hal DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I : PENDAHULUAN i iv 1 1 2 5 7 9 10 17 17 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 27 28 29 30 31

I.1. Maksud dan Ruang Lingkup I.2. Visi dan Misi Presiden Dalam RPJMN 2010-2014 I.3. Visi, Misi, Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 I.4. Prioritas RPJMN 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN I.5. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Renstra Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 dan master Plan BUMN Tahun 2010-2014 I.6. Perkembangan BUMN Dan Kontribusinya Dalam Perekonomian Nasional serta Potensi-potensi Yang Dimiliki BUMN

BAB II : PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 II.1. Perkembangan Kinerja BUMN II.1.1 Perkembangan Jumlah BUMN II.1.2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN II.1.3. Perkembangan Kontribusi BUMN II.2. Perkembangan Sektoral BUMN II.2.1. Sektor Usaha Perbankan II.2.2. Sektor Usaha Asuransi II.2.3. Sektor Usaha Jasa Keuangan II.2.4. Sektor Usaha Jasa Konstruksi II.2.5. Sektor Usaha Farmasi II.2.6. Sektor Usaha Aneka Industri II.2.7. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan II.2.8. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata II.2.9. Sektor Usaha Prasaran Angkutan II.2.10. Sektor Usaha Logistik dan Sertifikasi II.2.11. Sektor Usaha Perkebunan

i

II.2.12. Sektor Usaha Kehutanan II.2.13. Sektor Usaha Perikanan II.2.14. Sektor Usaha Kertas, Percetakan, dan Penerbitan II.2.15. Sektor Usaha Penunjang Pertanian II.2.16. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen II.2.17. Sektor Usaha Industri Strategis II.2.18. Sektor Usaha Energi & Sumber Daya Alam II.2.19. Sektor Usaha Telekomunikasi, Media dan Industri Penunjang Telekomunikasi II.3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik II. 3.1. Assessment GCG II. 3.2. Re-Assessment GCG II. 3.3. Self Assessment GCG (Mandiri) II. 3.4. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG II. 3.5. Monitoring GCG melalui Kuesioner II. 3.6. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System II. 3.7. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management II. 3.8. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan II.4 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 II.4.2. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 - 2009 BAB III : RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 III.1. Rencana Program Tahun 2005-2009 III.1.1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 III.1.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 - 2009 III.1.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 - 2009 III.1.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 III.1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 III.2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 - 2009 III.2.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 - 2009

31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 39 40 40 41 41 41 41 43 43 43 47 51 52 52 55 55 57 58 59 59

ii

2.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 III.5 Pelaksanaan Penyediaan Data.2. 5.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 III.3. 2. 2. 1.2.2014 IV.III.4. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) BAB V : KESIMPULAN LAMPIRAN 67 70 71 73 75 78 78 78 78 79 104 104 104 105 106 107 111 112 113 115 121 iii . Ruang Lingkup Restrukturisasi IV.2014 IV. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . 2.5.2. Program Pengembangan Data. 3. Program Restrukturisasi 2010 . 6. Definisi.2009 III. 4. 1.2. Prosedur Privatisasi IV.2014 IV.2009 III. Informasi & Teknologi (TI) 2010 . Program Privatisasi 2010 . Maksud dan Tujuan Privatisasi IV. Program Restrukturisasi IV. Definisi.2.2014 IV. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . 2. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 . 2.1.2009 BAB IV : PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 .2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 . Kriteria Privatisasi IV.2014 IV. Arah Kebijakan Privatisasi IV.2. Maksud dan Tujuan Restrukturisasi IV.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 .1. Metode Privatisasi IV. 1.3. 1.2014 IV. 2.

koperasi. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. perbaikan tata kelola perusahaan (good corporate governance) juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memenangkan persaingan. pengembangan kemampuan berusaha dan penciptaan peluang-peluang baru melalui manajemen yang dinamis dan profesional untuk dapat memasuki dan berkompetisi dalam era persaingan global. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. anggaran negara dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Disamping itu. maksud dan tujuan didirikannya BUMN adalah untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. Perubahan yang sangat cepat dalam dua dekade terakhir serta diperkirakan akan semakin cepat pada masa-masa mendatang menyebabkan semakin perlunya pembentukan BUMN-BUMN yang unggul dan berdaya saing tinggi. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN. Hal ini diutamakan agar BUMN dapat mencapai tujuan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap ekonomi nasional. perbaikan sinergi antar BUMN. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi dan turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. Restrukturisasi BUMN merupakan proses yang berkelanjutan dan satu kesatuan yang terintegrasi dengan strategi penyelamatan ekonomi nasional. Upaya ini dapat dilakukan melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. dan masyarakat.KATA PENGANTAR Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN memiliki peran strategis dan penting dalam upaya memacu perekonomian Indonesia. strategi pengelolaan BUMN ke depan perlu diarahkan pada peningkatan daya saing BUMN. mengejar keuntungan. Master Plan BUMN 2010-2014 ini menggambarkan kebijakan utama penataan BUMN ke depan dan di dalamnya dijelaskan berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selaras dengan kebijakan .

kerangka analisis program pembinaan BUMN serta tindakan spesifik Kementerian BUMN yang telah diambil saat ini atau yang akan direncanakan dalam jangka pendek dan jangka panjang (tahun 2010-2014). yang meliputi program restrukturisasi BUMN. Undangundang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Disamping program-program tersebut juga dijelaskan mengenai program Kemitraan dan Bina Lingkungan serta perkembangan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya. serta peraturan lainnya yang terkait. pembuat kebijakan. serta data. 1 . yaitu pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014.BAB I PENDAHULUAN I. yang merupakan penyempurnaan terhadap dokumen serupa yang diterbitkan pada tahun 2005 oleh Kementerian Negara BUMN. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Berbagai kebijakan dalam pembinaan BUMN yang dilaksanakan oleh Kementerian BUMN pada dasarnya dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja dan nilai perusahaan. Maksud Dan Ruang Lingkup Master Plan BUMN 2010-2014 memuat berbagai kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan pembinaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selaras dengan kebijakan sektoral. public service obligation. informasi dan teknologi informasi. manajemen/ karyawan BUMN dan para pelaku ekonomi. Program pembinaan BUMN tersebut dilandasi oleh peraturan perundangan yang berlaku. Dokumen ini menjelaskan kebijakan pemerintah dalam pembinaan BUMN. Kementerian BUMN bermaksud memberikan penjelasan mengenai kebijakan dan program pembinaan BUMN kepada publik. optimalisasi aset BUMN. privatisasi BUMN. Melalui penerbitan Master Plan ini.1.

2. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. Keadilan. Demokrasi. - - 2 . RPJMN tahun 2010-2014 tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2010. dan Berkeadilan”. Visi Dan Misi Presiden Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 Dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Presiden telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Presiden telah menetapkan VISI1 untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. Misi pemerintah dalam periode 2010-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. kekayaan sumber daya alam. namun tidak dapat terlepas dari kondisi dan tantangan lingkungan global dan domestik pada kurun waktu 2010-2014 yang mempengaruhinya. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat. Terwujudnya masyarakat. yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.I. (3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang. dengan penjelasan sebagai berikut: Kesejahteraan Rakyat. (2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. sumber daya manusia dan budaya bangsa. berbudaya. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada keunggulan daya saing. bangsa dan negara yang demokratis. Sedangkan Misi2 yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai visi tersebut adalah (1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera. aman dan damai. Demokratis. serta meletakkan pondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis.

terdepan. (3) Politik. (4) penanggulangan kemiskinan. (2) meningkatkan kualitas SDM. dan (4) memperkuat daya saing perekonomian. yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. (2) Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. Visi dan Misi pemerintah 2010-2014 tersebut dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program prioritas4 sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. (6) infrastruktur. dan kelanjutan penataan sistem hukum nasional. kuatnya peran masyarakat sipil dan partai politik dalam kehidupan bangsa. yang ditandai dengan: membaiknya pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. (10) daerah tertinggal. terluar.Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. (5): Pembangunan Yang Inklusif Dan Berkeadilan. (5) ketahanan pangan. (7) iklim investasi dan usaha. tercapainya konsolidasi penegakan supremasi hukum. penegakan hak asasi manusia. (4) Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. kreativitas. posisi penting Indonesia sebagai negara demokrasi yang besar makin meningkat dengan keberhasilan diplomasi di forum internasional. (3) membangun kemampuan IPTEK. (8) energi. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025. (3) kesehatan. ditetapkan lima agenda utama pembangunan nasional3 tahun 2010-2014. yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. dan inovasi teknologi. dan paskakonflik. yang ditandai dengan: peningkatan kemampuan struktur pertahanan Negara dan lembaga keamanan Negara. serta (11) kebudayaan. (9) lingkungan hidup dan bencana. tema dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-20145 adalah (1) memantapkan penataan kembali NKRI. UU Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 3 . Bidang-Bidang yang menjadi perhatian utama RPJMN Tahun 2010-2014 adalah: (1) Pertahanan dan Keamanan. (2) pendidikan. (2) Hukum : meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum. (3) Penegakan Pilar Demokrasi.

penataan kelembagaan ekonomi yang mendorong prakarsa masyarakat. industri kelautan yang meliputi perhubungan laut. perikanan. terpeliharanya keanekaragaman hayati dan kekhasan sumber daya alam tropis lainnya yang dimanfaatkan untuk mewujudkan nilai tambah. (5) Kesejahteraan Rakyat yang terus meningkat ditunjukkan oleh membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia : meningkatnya pendapatan per kapita. dan perlindungan anak. pengembangan jaringan infrastruktur transportasi. serta pos dan telematika. industri maritim. serta modal 4 . antarkelompok masyarakat. dan antardaerah. peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan. terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. menurunnya angka kemiskinan dan tingkat pengangguran disertai dengan berkembangnya lembaga jaminan sosial. meningkatnya tingkat pendidikan masyarakat. (6) Daya Saing Perekonomian yang meningkat melalui : penguatan industri manufaktur sejalan dengan penguatan pembangunan pertanian dan kelautan serta sumber daya alam lainnya sesuai dengan potensi daerah secara terpadu. transparan dan akuntabel makin meningkat yang ditandai dengan terpenuhinya standar pelayanan minimum di semua tingkatan pemerintah. tenaga air. tenaga angin. khususnya bioenergi. meningkatnya tumbuh kembang optimal. menurunnya kesenjangan kesejahteraan antarindividu. meningkatnya kesetaraan gender. panas bumi. energi dan sumber daya mineral dikembangkan secara sinergi. dan berkelanjutan.(4) Pelayanan Publik. meningkatnya derajat kesehatan dan status gizi masyarakat. dipercepatnya pengembangan pusat-pusat pertumbuhan potensial di luar Jawa. percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerja sama antara pemerintah dan dunia usaha. wisata bahari. optimal. daya saing bangsa. kesejahteraan. pengembangan sumber daya air dan pengembangan perumahan dan permukiman. (7) Pengelolaan SDA dan LH yang makin berkembang melalui : penguatan kelembagaan dan peningkatan kesadaran masyarakat yang ditandai dengan berkembangnya proses rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup yang disertai dengan menguatnya partisipasi aktif masyarakat. cepat. Kualitas pelayanan publik yang lebih murah. peningkatan pemanfaatan energi terbarukan. meningkatnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. makin mantapnya nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa. dan tenaga surya untuk kelistrikan.

I. (2) Meningkatkan peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pendapatan negara. meningkatnya kualitas perencanaan tata ruang serta konsistensi pemanfaatan ruang dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan terkait dan penegakan peraturan dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang. terlaksananya pembangunan kelautan sebagai gerakan yang didukung oleh semua sektor. Tujuan Dan Sasaran Kementerian BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Upaya Pemerintah dalam memperkuat daya saing perekonomian nasional guna peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat dalam mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia pada umumnya dan misi Pembangunan Jangka Panjang (tahun 2005-2025) dan Pembangunan Jangka Menengah (tahun 2010-2014) pada khususnya. Visi. Kementerian BUMN sebagai instansi pemerintah yang memiliki tugas merumuskan kebijakan di bidang pembinaan dan pengawasan BUMN. (2) memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional. mantapnya kelembagaan dan kapasitas antisipatif serta penanggulangan bencana di setiap tingkatan pemerintahan. (3) Meningkatkan kualitas 5 . Misi. Kementerian BUMN menetapkan Misi7 sebagai berikut (1) Meningkatkan kualitas pengelolaan BUMN yang semakin transparan dan akuntabel. Untuk mewujudkan visi tersebut. sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014.pembangunan nasional pada masa yang akan datang. Berdasarkan hal-hal tersebut.3. memerlukan adanya koordinasi dan peran serta dari seluruh lembaga/institusi Pemerintah. diharuskan mengambil peran dalam upaya perbaikan kondisi perekonomian Indonesia melalui: (1) perumusan kebijakan yang mengarahkan BUMN agar mampu menyediakan barang/jasa berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. telah ditetapkan Visi6 Kementerian BUMN yaitu “Mewujudkan BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. serta (3) menjadi agen pemerintah dalam menyelenggarakan kemaslahatan hidup masyarakat luas sebagaimana diamanatkan dalam UU BUMN.

2 Sasaran 2. (5) Meningkatkan peran BUMN dalam rangka pengembangan UMKM. : Meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional : Terwujudnya kebijakan untuk meningkatkan porsi SDA strategis yang dikelola oleh BUMN : Terlaksananya penerapan peraturan perundang-undangan yang berpihak pada BUMN untuk mengelola SDA strategis : Terlaksananya penerapan peraturan perundangan yang berpihak pada BUMN dalam pengembangan industri pertahanan : Terwujudnya kemampuan BUMN industri pertahanan untuk penyediaan alutsista : Meningkatnya Kinerja BUMN : Meningkatnya keuntungan BUMN : Meningkatnya sinergi antar BUMN Tujuan 2 Sasaran 2. (4) Meningkatkan peran BUMN dalam usaha keperintisan.3 Sasaran 3. Kementerian Negara BUMN di dalam Rencana Strategisnya menetapkan 9 (sembilan) tujuan dan 30 sasaran strategis yang ingin dicapai dalam periode pemerintahan tahun 2010-2014.2 Sasaran 1.2 6 . Berdasarkan visi dan misi di atas. sebagai berikut: Tujuan 1 Sasaran 1.4 Tujuan 3 Sasaran 3.1 Sasaran 3.1 Sasaran 4.2 Sasaran 3.pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum(PSO).1 Sasaran 1. (6) Peningkatan peran BUMN untuk percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional.3 Sasaran 1.4 : Meningkatnya Kapasitas dan Kemampuan Pembinaan BUMN : Terlaksananya reformasi birokrasi : Meningkatnya kapasitas dan kemampuan SDM : Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai : Terlaksananya penyusunan dan harmonisasi peraturan perundang-undangan : Terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja : Tersusunnya best practice GCG : Terlaksananya penerapan best practice GCG : Terlaksananya sistem remunerasi berbasis kinerja di BUMN : Terlaksananya sistem penilaian kinerja di BUMN yang mangacu pada standar internasional.3 Sasaran 2.1 Sasaran 2.4 Tujuan 4 Sasaran 4.

2 Tujuan 7 Sasaran 7.2 : Meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional : Meningkatnya belanja modal (Capital Expenditure) BUMN : Meningkatnya belanja operasional (Operating Expenditure) BUMN : Meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum : Terlaksananya pemisahan tanggungjawab antara pemberi tugas (Pemerintah) dan pelaksana tugas (BUMN) secara konsisten : Terwujudnya pelaksanaan tugas pelayanan umum secara transparan.4 Sasaran 9.5 Sasaran 9.1 Sasaran 5.6 7 .2 Sasaran 7.3 Sasaran 9.1 Sasaran 7.2 Sasaran 8.1 Sasaran 8.3 Tujuan 9 Sasaran 9.2 Sasaran 9.3 Tujuan 8 Sasaran 8. : Meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM : Meningkatnya peran BUMN dalam program Public Private Partnership (P3) : Meningkat dan meluasnya jangkauan penyaluran dana PKBL : Meningkatnya efektivitas penyaluran dana pemerintah (KUR) untuk pengembangan UMKM : Terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif : Terwujudnya harmonisasi peraturan perundang-undangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi : Terwujudnya jumlah BUMN yang ideal : Berkurangnya BUMN yang rugi dan bermasalah : Meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan energi : Meningkatnya peran BUMN untuk ketahanan pangan : Meningkatnya peran BUMN untuk pembangunan infrastruktur Meningkatnya peran BUMN untuk peningkatan pertahanan Meningkatnya peran BUMN dalam pengembangan UMKM Meningkatnya peran BUMN untuk lingkungan hidup Tujuan 6 Sasaran 6.1 Sasaran 9.1 Sasaran 6.Tujuan 5 Sasaran 5.

regional. dan pembinaan BUMN. (2) terwujudnya penerapan best practices GCG dan sistem penilaian kinerja. serta (5) pelaksanaan tata kelola yang baik (good governance). (3) meningkatnya peran BUMN dalam pengelolaan SDA strategis dan pertahanan nasional. (2) kondisi ekonomi baik nasional. (8) terwujudnya sistem pengelolaan BUMN yang semakin sehat dan kompetitif. Terkait dengan hal tersebut. (4) pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak kondusif bagi pengembangan usaha. yaitu : a. (6) meningkatnya kualitas pelaksanaan penugasan pemerintah untuk pelayanan umum. 8 . (3) persaingan usaha yang makin ketat. Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. (5) meningkatnya peran BUMN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.4. pengawasan. dalam RPJMN tahun 2010-2014. (9) meningkatnya peran BUMN dalam percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. sebagai berikut: (1) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang energi (Prioritas Nasional).I. (7) meningkatnya peran BUMN dalam keperintisan usaha dan pengembangan UMKM. sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN8 adalah sebagai berikut: (1) meningkatnya kapasitas dan kemampuan pembinaan BUMN. kegiatan prioritas yang terkait dengan Kementerian BUMN dalam RPJMN 2010-2014 adalah program di bidang Pembinaan dan Pengawasan BUMN9. Selanjutnya. maupun global yang sedang dalam tahap pemulihan. (4) meningkatnya keuntungan BUMN. Prioritas RPJMN Tahun 2010-2014 Di Bidang Pembinaan BUMN Permasalahan dan tantangan dalam pembinaan dan pengawasan BUMN yang dicantumkan dalam RPJM 2010-2014 adalah sebagai berikut: (1) masih terdapatnya ketidakharmonisan peraturan perundang-undangan yang menyebabkan penafsiran yang berpengaruh terhadap kepastian hukum di bidang pengurusan.

microhydro.000 MW pada 2012 dan 5. Surabaya. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. dan Denpasar. c. penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang. Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. d. evaluasi dan monitoring pendayagunaan asset BUMN (7) Penetapan target. Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. e.000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014. monitoring dan evaluasi kinerja BUMN (8) Penetapan peraturan pelaksanaan pemisahan administrasi keuangan PSO dan Perpres tentang SOP pelaksanaan PSO (9) Penyusunan peraturan perundangan yang mengarah pada perwujudan pengelolaan BUMN berbasis mekanisme korporasi murni (10) Kajian BUMN rugi dan bermasalah (11) Penyusunan dan pelaksanaan Program Tahunan Privatisasi (12) Kajian rightsizing BUMN (13) Uji kepatutan dan kelayakan calon Direksi dan Dewan Komisaris (14) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang ketahanan pangan (15) Dukungan pelaksanaan program prioritas Pemerintah bidang infrastruktur 9 . pupuk dan industri hilir lainnya.2 juta barrel per hari mulai 2014. Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010. dan nuklir secara bertahap.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya.b. (2) Restrukturisasi BUMN besar/ penting/ strategis (Prioritas Nasional) (3) Penyusunan best practice GCG (4) Penetapan system remunerasi berbasis kinerja di BUMN (5) Penyusunan peraturan mengenai penerapan system penilaian yang mengacu pada standar internasional (6) Kajian. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3.

Dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal. transparan dan obyektif. Restrukturisasi dilakukan baik secara sektoral maupun korporasi. (5) peningkatan kualitas pelaksanaan pelayanan umum. Privatisasi dilakukan dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan. Arah Kebijakan Pembinaan BUMN Sesuai Rencana Strategis Kementerian BUMN Tahun 2010-2014 Dan Master Plan BUMN Tahun 2010-2014 Arah kebijakan utama terkait dengan pembinaan BUMN adalah restrukturisasi. 10 . perbaikan struktur keuangan dan manajemen. manajemen dan keuangan. Hal ini dilakukan dalam upaya meningkatkan kinerja dan nilai (value) perusahaan.5. organisasi. maka dalam Master Plan BUMN Tahun 2010-2014. Sedangkan restrukturisasi korporasi meliputi penataan kembali bentuk badan usaha. (2) penetapan peraturan pelaksanaan UU BUMN dan harmonisasi peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan UU Perseroan Terbatas dan/atau Capital Market Protocol. Selain itu. Peningkatan kinerja dan nilai BUMN tersebut dilakukan melalui langkahlangkah restrukturisasi dan privatisasi. BUMN yang ada akan dikelompokkan ulang berdasarkan sektor industrinya. kegiatan usaha. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. (4) peningkatan kinerja dan daya saing dan keberlanjutan usaha BUMN.I. penyebaran kepemilikan oleh publik serta pengembangan pasar modal domestik. (3) penerapan Good Governance dan Good Corporate Governance. penciptaan struktur industri yang sehat dan kompetitif. Melalui penerapan kebijakan ini. pemberdayaan BUMN yang mampu bersaing dan berorientasi global. Restrukturisasi sektoral dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga tercapai efisiensi dan pelayanan yang optimal. serta (6) peningkatan peran BUMN dalam mendorong pelaksanaan prioritas pembangunan nasional. Kementerian BUMN menyusun program rightsizing untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh. dalam konteks pembinaan BUMN juga akan diambil kebijakan berupa: (1) pemantapan proses seleksi pengurus BUMN secara profesional.

Pada perekonomian masa awal kemerdekaan. dan 15 BUMN yang merupakan Persero Terbuka. Perkembangan. Seperti yang telah disebutkan dalam Rencana Strategis Kementerian Negara Tahun 2010-2014.I. I. Kontribusi Dalam Perekonomian Nasional Serta Potensi-Potensi Yang Dimiliki BUMN Sampai dengan akhir tahun 2009 terdapat 141 BUMN yang terdiri dari 14 BUMN berbentuk Perum. (3) brand image BUMN. swasta dan koperasi melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. Sektor 11 . potensi-potensi tersebut antara lain: (1) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. (4) pengalaman usaha BUMN. antara lain pajak dan dividen. Dalam menjalankan kegiatan usahanya.6. Perkembangan Jumlah BUMN Tahun 2005-2009 Uraian Perum Persero Persero Tbk Jumlah BUMN Kepemilikan Negara Minoritas 2005 13 114 12 139 21 2006 13 114 12 139 21 2007 14 111 14 139 21 2008 14 113 14 141 20 2009 14 112 15 141 19 BUMN memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang yang sampai dengan saat ini belum termanfaatkan secara optimal. BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. (2) kepemilikan aset yang besar. tidak diminati swasta dan bersifat pioneering. Disamping itu data. (5) profesionalisme SDM.6. BUMN. informasi dan teknologi informasi pada BUMN telah tersedia dan terbangun dengan baik. penyeimbang kekuatankekuatan swasta besar dan turut membantu pengembangan usaha kecil/koperasi. Adapun perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan Negara minoritas tahun 2005-2009 sebagaimana tersebut pada Tabel 1. peran Di BUMN/pemerintah awal era dalam nasional pembangunan. 112 BUMN berbentuk Persero. BUMN berperan strategis sebagai pelaksana pelayanan publik. Tabel 1. cukup penting. BUMN/pemerintah masuk antara lain ke dalam sektor-sektor yang memerlukan pembiayaan cukup besar. di samping usaha swasta dan koperasi.1. Keberadaan BUMN Sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan Negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis penerimaan Negara.

tetapi juga memiliki potensi yang besar untuk menjalin sinergi yang saling menguntungkan diantara sesama BUMN sehingga akan memberikan percepatan dalam pencapaian kinerja perusahaan. Rata-rata dividen yang diberikan BUMN kepada Negara selama periode 2005–2009 sebesar Rp. demikian juga kontribusi BUMN dalam bentuk pajak cenderung meningkat dimana rata-rata pajak yang diberikan selama periode 2005–2009 sebesar Rp. terdapat BUMN yang menjalankan usahanya. Jumlah BUMN yang mencapai 141 dan tersebar hampir di semua sektor usaha tidak hanya membuat BUMN sangat berpotensi untuk berkontribusi yang signifikan kepada masyarakat dan negara secara umum.40 triliun. Pada awal tahun 2004. 12 . Belanja modal (capital expenditures/Capex) dan belanja operasional (operational expenditures/Opex) BUMN juga mengalami peningkatan. penerimaan Negara dari Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. Capex BUMN adalah Rp. Hampir di semua lini bisnis dan sektor usaha yang ada di Indonesia. Peningkatan Capex dan Opex tersebut menunjukkan kontribusi BUMN bagi pergerakan sektor riil. BUMN adalah penguasa pasar (market leader) sehingga memiliki peran yang sangat signifikan baik bagi stabilitas sektor bisnis maupun ekonomi secara umum.028.1.14 Triliun per tahun.37 triliun.korporasi yang andal dalam membangun perekonomian nasional diperlukan untuk menciptakan lapangan kerja. Jika melihat pada BUMN yang ada saat ini. menghasilkan barang dan jasa untuk dalam negeri maupun ekspor. Bahkan di beberapa sektor usaha. baik berupa dividen. dan memberi layanan yang optimal bagi konsumen.32.73.26 triliun dan Opex sebesar Rp. kita akan mengetahui bahwa BUMN adalah sebuah entitas yang memiliki potensi untuk dapat berkembang menjadi sebuah entitas bisnis yang besar dan kuat.128.32 triliun dan Opex sebesar Rp.27 Triliun per tahun.23.453. Keberadaan BUMN selama ini telah memberikan kontribusi yang besar kepada Negara. sedangkan posisi pada akhir tahun 2008 Capex sebesar Rp.

72. PLN. Dengan usahausaha yang dijalankan di sektor perintisan membuat nama BUMN dikenal luas di seluruh nusantara.6.6. responsibilitas dan fairness (GCG) serta profesionalisme pengelolaan perusahaan. Pegadaian. dengan return on equity (ROE) sebesar 12. independensi. dan Pertamina adala BUMN-BUMN yang sudah sangat melekat di benak seluruh rakyat Indonesia. Brand image BUMN Tidak dapat dipungkiri bahwa perjalanan sejarah telah membuat BUMN memiliki brand image yang sangat kuat khususnya di dalam negeri. yaitu sebesar 3.150 trilliun tersebut. 13 . akuntabilitas. mereka adalah bagian dari sejarah perkembangan bangsa Indonesia. laba BUMN pada akhir tahun 2009 hanya mencapai Rp. dari total aset BUMN tersebut. Pos Indonesia. dan berdaya saing tinggi.39%. I. aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi salah satu kunci dalam upaya untuk mewujudkan BUMN yang sehat.3.84 triliun. Dorongan untuk meningkatkan praktek good corporate governance perlu mendapatkan perhatian.BUMN sebagai badan usaha juga dapat berperan dalam mendorong penerapan praktek-praktek bisnis dengan standar etika dan transparansi. sehingga upaya-upaya restrukturisasi/revitalisasi/ profitisasi yang berkelanjutan perlu terus dilaksanakan. total aset BUMN tercatat mencapai ± Rp2. Hal ini dapat dilihat dari rasio return on asset (ROA) BUMN yang masih relatif kecil. I. Bukan hanya karena mereka menguasai hajat hidup orang banyak tetapi lebih dari itu. Aset yang belum didayagunakan tersebut menjadi potensi tersendiri bagi BUMN dalam upayanya untuk terus memperbaiki kinerja agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat.2. Dari total aset yang mencapai + 2. Bank BRI. Melalui kerja sama usaha dengan swasta maupun BUMN. Kepemilikan Aset Sampai dengan akhir tahun 2009. belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal dengan baik guna menghasilkan pendapatan bagi perusahaan. berkinerja baik. Sebuah nilai yang sangat besar yang apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal tentu akan memicu pertumbuhan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (sustainability growth). Namun.150 Triliun yang sebagian besar masih menggunakan nilai buku.89%.

Dengan usia yang sudah sedemikian lama. I. berkinerja baik dan berdaya saing tinggi sehingga mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. I. Pemahaman yang mendalam tentang nature of business menjadi salah satu kunci agar suatu perusahaan mampu berkembang dan bisa menjawab setiap tantangan zaman. Perbaikan sistem remunerasi yang semakin berkeadilan dan berbasis kinerja semakin mendorong peningkatan profesionalisme SDM BUMN.6. BUMN seharusnya memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada perusahaan-perusahaan swasta lain yang belum begitu lama berdiri. Brand image BUMN semakin membaik yang tergambar dari semakin meningkatnya jumlah BUMN yang mendapatkan penghargaan ditingkat nasional. Competitive advantage ini harus dapat dioptimalkan sehingga bisa mendukung upaya penciptaan BUMN yang sehat. Profesionalisme SDM Dengan eksistensi di dalam perekonomian dan pengalaman yang cukup lama di dunia bisnis serta besarnya jumlah aset yang dikelola. Ketatnya pengawasan dalam pengelolaan BUMN juga semakin mendorong peningkatan integritas SDM BUMN. Pengalaman usaha BUMN Jika dilihat secara seksama. Mekanisme penetapan pengurus BUMN yang semakin transparan dan mengutamakan nilai-nilai profesionalisme dan integritas 14 . maka sumber daya manusia dan profesionalisme yang dimiliki oleh BUMN kiranya tidak perlu diragukan lagi.4. pengalaman usaha BUMN tersebut harus selalu diiringi dengan inovasi dan kreativitas usaha sehingga BUMN akan tetap mendapat kepercayaan dari masyarakat. Namun patut diperhatikan juga bahwa. regional.Brand image yang sangat kuat ini merupakan salah satu competitive advantage yang dimiliki oleh BUMN untuk bersaing dengan perusahaan swasta lain.5. dan internasional. Pengalaman adalah salah satu nilai tambah yang sangat penting bagi perusahaan terutama untuk menghadapi persaingan usaha yang semakin kompetitif. hampir seluruh BUMN lahir pada awal kemerdekaan Indonesia bahkan ada beberapa BUMN yang merupakan hasil nasionalisasi perusahaan-perusahaan belanda.6.

Data. dengan demikian pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan efisiensi dan menciptakan nilai tambah perusahaan. 15 . maka BUMN perlu mempunyai kebijakan tata kelola teknologi informasi yang menjadi bagian dari tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Tanpa penguasaan data dan informasi. Informasi dan Teknologi Informasi Disamping hal-hal tersebut diatas. tepat. I. Penguasaan data dan informasi menjadi faktor yang penting karena data dan informasi yang dapat disajikan dengan cepat. informasi. Kini. dan teknologi informasi menjadikan BUMN memiliki sarana yang relatif lebih lengkap dalam menghadapi persaingan di pasar lokal maupun pasar global serta memberikan kemampuan bagi BUMN untuk menciptakan nilai tambah dan mengembangkan usaha. implementasi teknologi informasi akan sangat berperan dalam pengendalian internal perusahaan. Dalam situasi turbulensi ekonomi. dan lengkap akan membantu manajemen melakukan analisis dan mengambil keputusan dengan cepat dan akurat.6.semakin mendorong persaingan SDM BUMN untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan. BUMN akan kehilangan kesempatan dan kecepatan mengantisipasi perubahan. BUMN membutuhkan kecepatan dalam seluruh aspek pengambilan keputusan korporasi. implementasi teknologi informasi lebih mengarah pada sinergi pemanfaatan informasi dan teknologi informasi yang digunakan pada rantai bisnis baik di lingkungan internal maupun eksternal. Agar teknologi informasi yang diimplementasikan di BUMN dapat dipastikan memberikan outcome sesuai dengan kebutuhan bisnis. Bagi perusahaan. penguasaan terhadap data.6.

baik Visi dan Misi Pemerintah untuk mensejahterakan rakyat. maupun dalam mewujudkan Visi dan Misi Kementerian BUMN. seyogianya dapat menjadi lokomotif ataupun pelaku ekonomi yang handal yang dapat mendukung. Segala upaya yang telah dilakukan selama ini. dalam kerangka untuk terus meningkatkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). dalam mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi maupun dalam mencapai sasaran-sasaran pembangunan dalam pembinaan BUMN seperti yang tercantum dalam RPJM 2010-2014. pada dasarnya adalah untuk meningkatkan efisiensi/efektifitas perusahaan sehingga kinerja dan nilai perusahaan meningkat.Keberadaan BUMN sebagai salah satu pelaku ekonomi Indonesia dengan segala peran. baik yang telah berhasil. bidang-bidang/program-program yang tertuang dalam RPJM 2010-2014. yakni mewujudkan BUMN menjadi instrumen negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi. Yang pada gilirannya akan memberikan kontribusi yang optimal bagi perekonomian nasional. 16 . tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk mendukung peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengelolaan BUMN dalam rangka meningkatkan kinerja/nilai dan kontribusi perusahaan dalam perekonomian nasional. fungsi. sedang dalam penyelesaian. maka transformasi/konsolidasi/ restrukturisasi/revitalisasi secara bertahap dan berkesinambungan. Peningkatan peran dan kualitas pembinaan dan pengawasan BUMN dalam melaksanakan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran strategis yang dicantumkan dalam Renstra Kementerian BUMN 2010-2014. belum berhasil maupun yang masih akan dilakukan. Seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) diharapkan memahami ketentuan/peraturan perundang-undangan yang berlaku terkait dengan BUMN dan menjalankan peran. bentuk kontribusinya terhadap perekonomian serta potensi-potensi yang dimilikinya. mewujudkan demokrasi dan memeratakan keadilan. menjadi sangat penting artinya.

Likuidasi PT ISI dan terbentuknya Perum LKBN Antara. Di bawah ini disajikan perkembangan kinerja BUMN masing-masing sektor. penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) dan perkembangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. 1. PT TVRI menjadi BLU dan Likuidasi PT AAF). Tahun 2007. 17 . II. dan pada tahun 2009 terjadi penambahan BUMN Tbk yaitu PT Bank BTN.BAB II PERKEMBANGAN BUMN TAHUN 2005-2009 Kinerja BUMN dalam lima tahun terakhir (2005-2009) sebagian besar menunjukkan kecenderungan perbaikan. Tabel 1 : Perkembangan Jumlah BUMN di Indonesia Periode tahun 2005 . 1. khususnya industri hulu.Perkembangan Jumlah BUMN Jumlah BUMN di Indonesia pada tahun 2009 sebanyak 141 perusahaan dan beroperasi pada hampir seluruh sektor usaha. Pada tahun 2008 terjadi penambahan jumlah BUMN yaitu PTDI dan PT Askrindo. terdapat 2 (dua) Persero menjadi Tbk. Perkembangan Kinerja BUMN II.2009 Jumlah BUMN ( Saham Negara ? 51%) Persero Tbk Persero Perum Perjan Jumlah BUMN Jumlah 51 % Perusahaan Dengan Saham Negara ? 2005 12 114 13 0 139 21 2006 12 114 13 0 139 21 2007 14 111 14 0 139 21 2008 14 113 14 0 141 19 2009 15 112 14 0 141 19 Pada Tahun 2005 terjadi pengurangan jumlah Perjan (Perjan Rumah Sakit dan RRI berubah menjadi Badan Layanan Umum/BLU) dan pengurangan jumlah Persero (Merger 4 Persero Perikanan. negara juga memiliki saham dengan kepemilikan minritas pada 19 badan usaha.1. meskipun terdapat sebagian kecil BUMN masih menghadapi kendala-kendala untuk berkembang. Perkembangan jumlah BUMN dan kepemilikan negara minoritas dapat dilihat pada Tabel 1. Di samping itu.

2009 Rp Miliar Total Aset Total Hutang Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1. ekuitas dan kontribusi BUMN dapat dilihat pada grafik-grafik dan tabel-tabel sebagai berikut : a.307 2008 1.630 1.060 655.034 931.840 Dari tabel 2 tersebut di atas.193 370.717. total pendapatan. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) Return on Asset (ROA) periode 2005 – 2009 berkisar antara 2.626 499. Gambaran perkembangan ROA dan ROE dapat dilihat dalam grafik berikut: Grafik 1: Perkembangan ROA dan ROE 18 .451.150. 1.185 Prog 2009 2.00% .481 445.371 1. sedangkan Return on Equity (ROE) berfluktuasi dari tahun ke tahun dengan kisaran antara 6.171 2007 1.005.254 921.720 49.496 64.322 1.161.770 2006 1. dan total laba bersih.349 63.032 1. Tabel 2 : Perkembangan Kinerja BUMN Periode tahun 2005 .2.II.454.696 865.998 565.Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Data kinerja BUMN periode tahun 2005-2009 secara umum dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut.3.117 1.12.000 72. ROE.96% . total ekuitas. Selanjutnya.584. terlihat bahwa kinerja BUMN mengalami peningkatan/pertumbuhan yang terlihat dari total asset.291.152 25.487 514.15% per tahun. perkembangan ROA.69% atau ratarata 3. aset.89% atau rata-rata 11.20% per tahun.217. laba.969.890 754.

b. Ekuitas dan Hutang Dilihat dari sisi jumlah aset. Gambaran kontribusi dividen BUMN sebagaimana terlihat pada Grafik 5 sebagai berikut. Kontribusi Dividen Pada periode tahun 2004-2009 terjadi pertumbuhan kontribusi deviden rata-rata 25. bahkan beberapa BUMN dikenakan lebih dari 50%. Grafik 2: Perkembangan Total Aktiva. Ekuitas dan Hutang (dalam Rp Triliun) c. menjadi sekitar 40% setelah krisis moneter. II. 1. jumlah laba bersih yang diperoleh BUMN pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yaitu tumbuh ratarata 20. tampak terjadi pertumbuhan yang cukup signifikan dalam periode tahun 2005-2009.3. Perkembangan Total Aktiva. juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk meningkatkan devidend pay out ratio dari rata-rata 20% sebelum krisis moneter 1997. Namun pertumbuhan jumlah aset tersebut dirasakan belum proporsional dengan pertumbuhan modal perusahaan yang pertumbuhannya relatif lambat.28%/tahun. Perkembangan Jumlah Laba Bersih Sama halnya dengan jumlah aset. 19 .09% per tahun. Perkembangan Kontribusi BUMN Kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara pada dasarnya bersumber dari dividen BUMN dan pajak yang disetorkan BUMN. a. Hal ini disebabkan sebagian besar aset dibiayai dari dana eksternal/hutang. Pertumbuhan tersebut disamping karena meningkatnya keuntungan BUMN.

Grafik 5: Kontribusi Dividen BUMN Catatan : Pembagian laba tahun 2009 belum ditetapkan oleh RUPS b. pada periode tahun 2005-2009 juga mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 18.13% per tahun. 20 . maka sebelum 5 tahun terakhir terdapat hasil divestasi/privatisasi BUMN yang disetorkan ke kas Negara karena situasi keuangan Pemerintah maupun kebijakan pada saat itu. Peningkatan kontribusi pajak BUMN antara lain disebabkan oleh adanya peningkatan keuntungan BUMN. Adapun gambaran hasil privatisasi 2004-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 7 sebagai berikut. Grafik 6: Kontribusi Pajak Selain kontribusi dalam bentuk deviden dan pajak. telah diambil kebijakan yang pada intinya hasil privatisasi BUMN terutama adalah untuk keperluan mendukung pengembangan BUMN itu sendiri. Gambaran kontribusi pajak sebagaimana terlihat pada Grafik 6 sebagai berikut. Sampai dengan tahun 2009 telah dilakukan privatisasi terhadap 15 BUMN melalui metode IPO dan SPO (13 BUMN) dan metode EMBO (2 BUMN). Namun demikian. kurang lebih dalam waktu 5 tahun terakhir. Kontribusi Pajak Kontribusi BUMN lainnya yaitu pajak.

perkebunan.00% 20. jasa keuangan. kawasan industri dan perumahan.00% 35.00% II. Perkembangan BUMN Secara Sektoral Dalam Rencana Strategis Kementerian BUMN tahun 2010-2014 terdapat 19 sektor usaha BUMN yang meliputi : sektor usaha perbankan.00% 589 40.00% 355 260 100 0 2005 2006 Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2007 2008 % Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk 2009 5. 2.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) . asuransi.00% 25.00% 0. prasarana angkutan. Grafik 8 : Kapitalisasi Pasar BUMN Terbuka 700 637 45. hal ini dapat dilihat dari penguasaan kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. perikanan. aneka industri.64% 32. kertas percetakan dan penerbitan. Adapun gambaran kapitalisasi pasar BUMN Terbuka 2005-2009 sebagaimana terlihat pada Grafik 8 sebagai berikut. 21 .00% 500 400 300 200 29.23% 493 32.00% 10. kehutanan. penunjang pertanian. industri farmasi. media dan penunjang telekomunikasi.57% 30.57% atau senilai Rp 637. pertambangan dan semen. logistik dan jasa sertifikasi. sarana angkutan dan pariwisata. jasa konstruksi.00% 15. energi dan sumber daya mineral serta sektor telekomunikasi.Grafik 7: Kontribusi Privatisasi Peran 15 BUMN Tbk dalam Pasar Modal cukup besar.40% 600 40. industri strategis.97% 31.

2009 pada umumnya meningkat yang antara lain disebabkan Bank BUMN telah berhasil dalam melakukan restrukturisasi.565.93% 2.03% 14. serta Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun.520.432 583. tingkat penyaluran pinjaman. Dalam kurun waktu 5 tahun. 22 . Sektor Usaha Perbankan Terdapat 4 Bank BUMN (Mandiri.162.745 564. yaitu 15.91% 3.07% 6.618. Tabel 3 menunjukkan rata-rata CAR dan NPL. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi. Isu utama BUMN perbankan adalah adanya PBI No. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 26.330.499.317.583 Adapun kinerja Bank BUMN tahun 2005 .1. 2.89% 19.599 478. Peningkatan kinerja tersebut antara lain tercermin dalam peningkatan pencapaian pendapatan dan laba bersih perseroan. Gambaran mengenai data keuangan pokok BUMN Perbankan tersaji dalam Tabel 4 sebagai berikut. Masing-masing bank BUMN ini memiliki fokus bisnis yang berbeda yaitu Corporate Banking. Kinerja operasional Bank BUMN tahun 2005-2009 tercermin dari tingkat Capital Adequency Ratio (CAR). baik yang bersifat operasional maupun finansial. Sedangkan Bank Ekspor Indonesia (BEI) sesuai dengan Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 2009 telah berubah menjadi Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang pembinaan dan pengawasanya berada di bawah Menteri Keuangan.593 804. BNI. micro banking (BRI) dan pembiayaan perumahan (BTN).224. Kinerja Operasional BUMN Perbankan Periode Tahun 2005-2009 CAR NPL Net Loan/Kredit (Rp Juta) DPK (Rp Juta) 2005 2006 2007 2008 2009 17.717 438.640 685.989 363.4%.24% 19.25% 260. serta total penyaluran pinjaman dan dana pihak ketiga yang dihimpun oleh 4 BUMN selama periode tahun 2005-2009.540 292.82% 16. Net Non Performing Loan (NPL). Tabel 3.28% 1. BRI dan BTN) yang semuanya merupakan BUMN Terbuka.II. Commercial Banking dan Consumer Banking (Mandiri dan BNI).172.9%.56% 1.8/16/2006 Tentang Kepemilikan Tunggal (Single Presence Policy) Pada Perbankan Indonesia yang mengharuskan keempat Bank BUMN untuk masuk dalam satu kepemilikan (misalnya holding atau merger).262.120 487.

362 60. PT Jasa Raharja. PT Taspen dan PT Asabri.877 10.774 68.566 45. dan Cadangan Teknis BUMN Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Premi Investasi Cadangan Teknis 2005 11. Keempat BUMN asuransi yang direncanakan akan dijadikan/ditunjuk sebagai badan penyelenggara jaminan sosial.7%. PT Jiwasraya.576 Prognosa 2009 938. Secara agregat.186 8.039 13. dana investasi.234 59.969 2007 742.427 86. 1 Sumber: Data publikasi diolah 23 . BUMN Asuransi mampu meningkatkan kinerja operasional yang tercermin dari peningkatan premi/iuran yang dihimpun.855 68.144 2009 18.426 31. PT Asabri.943 61.688 75.989 92.116 2008 19.650 2007 15. dan cadangan teknis.712 27. Gambaran mengenai kinerja operasional tersebut dapat dilihat pada tabel 5 berikut.484 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. PT Askrindo dan PT RUI.Sektor Usaha Asuransi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di sektor usaha asuransi.118 63. PT Jamsostek. pertumbuhan aset tersebut diikuti dengan peningkatan pertumbuhan laba bersih rata-rata 27. terjadi pertumbuhan aset yang cukup tinggi.516 2006 12. Tabel 5.602 6. PT Jasindo. PT Taspen.380 88.667 17.088 104.248 71. yaitu 20. data keuangan pokok BUMN Sektor Asuransi dapat dijelaskan dalam Tabel 6 di bawah ini. PT Askes. PT ASEI. PT Jamsostek.054 49.965 79. dengan kemungkinan perubahan bentuk/status hukum BUMN tersebut. Selama periode tahun 2005-2009.557 109. Adapun isu utama BUMN Sektor Asuransi adalah adanya Undang-undang Nomor 40/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Sistem Jaminan Nasional (SJSN) yang menetapkan perlu adanya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional.588 Dalam kurun waktu 5 tahun.038 97. Perkembangan Premi.Tabel 4.2. 2. adalah PT Askes.484 38. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perbankan Tahun 2005 – 20091 Rp Miliar 2005 563. Investasi.484 2008 851.263 2006 624.8%.

Perum Pegadaian.815 1.3.219 9.728 2006 86.291 Prognosa 2009 147.719 21. saat ini sesuai PP 61 tahun 2008 mendapat tambahan tugas untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. dan PT Kliring Berjangka Indonesia (kliring berjangka dan resi gudang). Sebagai contoh.548 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.026 25. Perum Jamkrindo dan PT PNM terlibat intensif dalam penjaminan dan penyaluran kredit kecil/KUR yang memerlukan perhatian Pemerintah untuk menjaga kelayakan tingkat modal minimal apabila menghadapi kredit bermasalah. PT PNM (jasa pembiayaan). Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Asuransi Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar 2005 69.561 6. perlu dilakukan mengingat PT Danareksa masih memiliki akumulasi kerugian yang cukup besar.5 Triliun pada tahun 2008 dan sebesar Rp 1 Triliun pada tahun 2009. PT PPA yang semula hanya mengelola aset eks BPPN.622 3. Untuk Perum Pegadaian saat ini dalam proses pemerseroan. maka PT PPA telah memperoleh PMN sebesar Rp 1. Terkait fungsi untuk melakukan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN. Saat ini BUMN yang telah dan sedang dalam program restrukturisasi oleh PT PPA per 31 Desember 2009 adalah 17 BUMN. Sektor Usaha Jasa Keuangan Terdapat 7 (tujuh) BUMN yang bergerak di sektor usaha jasa keuangan dan 1 (satu) perusahaan minoritas.793 36. Sementara itu. Selanjutnya PT Kliring Berjangka Indonesia memerlukan dukungan dari instansi terkait untuk kegiatan usaha resi gudang. 5 BUMN lain di sektor ini meliputi PT Danareksa (sekuritas. Masing-masing BUMN Usaha Jasa Keuangan memiliki karakteristik berbeda sehingga isu yang dihadapi juga berbeda-beda. Perum Jamkrindo (penjaminan kredit kecil). PT PANN Multi Finance saat ini dalam kondisi ekuitas negatif terkait beban bunga hutang SLA untuk proyek pesawat terbang dan kapal ikan yang merupakan penugasan pemerintah. restrukturisasi lanjutan untuk penguatan likuiditas dan permodalan.341 2. pengelolaan aset BUMN dan kegiatan investasi.606 2008 133. 2.327 33.828 12.212 2. 24 .318 2007 105.455 4.076 18.Tabel 6.450 12. Sedangkan untuk PT Danareksa.690 15. investasi dan manajemen investasi).

PT Indah Karya. Disamping itu terdapat perusahaan konsruksi dimana kepemilikan negara adalah minoritas. PT Amarta Karya.107 767 2007 16. kinerja BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi mengalami trend yang positif.198 973 Prognosa 2009 30.133 5.943 3. Isu strategis yang dihadapi BUMN konstruksi antara lain meningkatnya kebutuhan modal kerja yang disebabkan oleh meningkatnya proyek yang diterima dan meningkatnya harga bahan baku yang menimbulkan tingkat hutang tinggi (leverage) sehingga mempengaruhi kinerja perusahaan.553 7.8% per tahun. persaingan yang ketat dalam mendapatkan proyek baik proyek pemerintah maupun proyek swasta.543 754 2008 22.4.7% per tahun dan laba bersih 19.423 2. serta keterbatasan dalam tenaga ahli.218 4. 25 .010 II. PT Waskita Karya.Dalam 5 tahun terakhir terlihat adanya pertumbuhan laba. Tabel 7.661 520 2006 13. PT Bina Karya. yaitu PT Rekayasa Industri. PT Indra Karya.6% per tahun. Secara agregat. Periode 2005 – 2009.711 1. dengan rata-rata pertumbuhan aset 26. PT Nindya Karya. PT Virama Karya dan PT Yodya Karya. PT Istaka Karya.974 1. Keempat belas BUMN tersebut adalah PT Adhi Karya. sebagaimana terlihat pada Tabel 7 dibawah ini. PT PP. terjadi pertumbuhan aset BUMN Jasa Konstruksi rata-rata 21. 2. ekuitas dan aset BUMN Jasa Keuangan.963 3.380 1. sedangkan total ekuiti per tahun tumbuh 27. dari tahun 2005-2009. ditandai dengan kenaikan beberapa indikator kinerja keuangan utama sebagaimana terlihat dalam Tabel 8 sebagai berikut. Sektor Usaha Jasa Konstruksi BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi terdiri dari 14 BUMN yang 2 (dua) diantaranya adalah BUMN Terbuka.6% per tahun dengan kenaikan laba yang meningkat rata-rata 25. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Keuangan Tahun 2005 – 2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 11.1%.076 5. PT Brantas Abipraya.025 3. PT Hutama Karya. PT Wijaya Karya.

Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN farmasi meliputi antara lain : a.499 1.116 3.763 29.148 1.com dan Laporan Tahunan PT Kalbe Farma 26 . Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Jasa Konstruksi Tahun 2005-2009 Rp Miliar 2005 10.324 512 Prognosa 2009 23.557 2. Sektor Usaha Industri Farmasi BUMN Sektor Usaha Farmasi meliputi 3 (tiga) BUMN yang 2 (dua) diantaranya berbentuk Persero Terbuka yang bergerak di bidang farmasi dan obat-obatan (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) serta 1 (satu) BUMN yang bergerak di bidang produk vaksin yang sahamnya dimiliki 100% oleh Negara RI (PT Bio Farma).2 b.pfizer. Dalam kaitannya Obat Generik BUMN Farmasi menghadapi masalah impor bahan baku dan harga beli Pemerintah terhadap Obat Generik.737 19.321 5.274 2. c. Persaingan obat-obat kimia dengan obat-obat herbal dengan penitrasi pasar yang cukup tajam dan harga yang relatif lebih kompetitif.5.843 657 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.768 3.607 16.159 25.018 4.342 2.672 1.240 1. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Farmasi Tahun 2005 .163 295 2007 16.627 2.666 3.478 254 2006 12.Tabel 8.482 13.828 4. Kecenderungan upaya merger/akuisisi perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia maupun global untuk langkah efisiensi dan pengembangan pasar.2009 Rp Miliar Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.0% dan laba bersih rata-rata 23. 2. sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 9 di bawah ini.083 267 2 Sumber: www.934 118 2006 2. Total aset BUMN Farmasi meningkat rata-rata 13.0% per tahun dalam kurun waktu 2005-2009.361 417 2008 20.384 180 2008 3.548 1. Tabel 9.832 145 2007 3.989 198 Prognosa 2009 3.

namun demikian dalam kurun waktu tersebut BUMN Sektor Aneka Industri belum mampu membukukan laba.168 441.014) 2008 874.3%. dan perlunya sinkronisasi kebijakan/regulasi antara Pusat dengan Daerah (pembebasan lahan/lokasi.432) 2006 804. Gambaran umum kinerja BUMN Aneka Industri 2004-2009 terlihat pada Tabel 10 sebagai berikut. PT PDIP Batam dan PT KI Medan. PT KI Makasar.221 (158.0% per tahun.101 (97. dll). PT IGLAS bergerak dalam industri gelas dan PT Garam bergerak dalam industri garam. yaitu 4. Perum Perumnas.661 (72. b. PT KBN. 1(satu) BUMN Perumahan. BUMN sektor Kawasan Industri dan Perumahan mengalami pertumbuhan aset yang cukup signifikan.543 (65. 2.648 (53. Disamping itu terdapat 3 perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas.261 557. Beberapa isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Aneka Industri antara lain : a. Tabel 10. 2.302 554.741 214.468 119. Alat-alat produksi relatif tua sehingga produktivitas rendah dan biaya perawatan tinggi sehingga mengurangi daya saing. PT KI Wijayakusuma.308 47.2009 2005 876. yaitu hanya 3.944 658. Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan BUMN Kawasan Industri dan Perumahan terdiri dari 5 (lima) BUMN Kawasan Industri.226 45.II.948) Keterangan Total Aktiva Ekuitas Pendapatan/sales Laba/(Rugi) Bersih II. perijinan. Sektor Usaha Aneka Industri BUMN Sektor Aneka Industri meliputi 4 (empat) BUMN yang terdiri dari 2 (dua) BUMN yang bergerak di bidang usaha TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) yaitu PT Industri Sandang Nusantara (ISN) dan PT Primissima.6. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Aneka Industri Tahun 2005 . Selama 5 tahun terakhir.117) 2007 778.513 (94. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Kawasan Industri dan Perumahan antara lain adalah persaingan pembangunan perumahan oleh BUMN dengan swasta. dengan pertumbuhan 27 .832) 473. Beban hutang cukup besar dan mengalami kesulitan likuiditas/modal kerja.7.210) Rp Juta Prognosa 2009 971. Kenaikan total aset BUMN sektor Aneka Industri selama periode 2005 – 2009 sangat kecil.

8.377 569. Pemberlakuan UU No.469 (44.035 79.862. yang intinya memisahkan antara regulator dan operator sehingga akan berdampak negatif pada kinerja perusahaan pelayaran.394 541.543 547.194. Gambaran umum kinerja BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan tahun 2005–2009. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata tahun 2004-2009 dapat dilihat dalam Tabel 12 sebagai berikut. sedangkan pendapatan usaha tumbuh lebih baik yaitu 11. d.827 977. PT ASDP.844. Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata BUMN yang bergerak di sektor usaha sarana angkutan dan pariwisata terdiri dari 9 (sembilan) BUMN Sarana Angkutan dan 3 (tiga) BUMN Pariwisata.1%. Isu Strategis BUMN Sarana Angkutan dan Pariwisata meliputi antara lain : a.817 795.730 784. Tabel 11. 28 . PT Merpati Nusantara.479 2007 1.642 69. Sekalipun demikian sampai dengan tahun 2008 BUMN sarana angkutan dan pariwisata masih merugi sekalipun dari tahun ke tahun kerugiannya menurun dan pada tahun 2009 telah memperoleh laba. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kawasan Industri dan Perumahan Tahun 2005 – 2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 1. Penyelesaian restrukturisasi perusahaan meliputi restrukturisasi hutang. Kondisi armada angkutan yang sudah tua yang menggangu tingkat kenyamanan dan keselamatan penumpang. PT Hotel Indonesia Natour.794 59. PT PELNI.882. c. yakni PT Garuda Indonesia.317 1. Perum PPD.9%.965 Prognosa 2009 2. organisasi dan SDM. PT Djakarta Lloyd. terlihat pada Tabel 11 sebagai berikut. BUMN Sektor Perhotelan mengalami kesulitan untuk melakukan pengembangan usaha karena kekurangan modal kerja dan pada umumnya bangunan hotel sudah tua serta mengalami kelebihan jumlah pegawai Aset BUMN sarana angkutan dan pariwisata tumbuh relatif kecil yakni rata-rata 9. PT Pelayaran Bahtera Adhiguna. 2.319 2006 1.335 66.975.540) 2008 1.744 992.9% per tahun. PT TWCBPB.286 614.056 II. 17 Th 2008 tentang pelayaran. b. Perum Damri.laba bersih 35.286 1.035. PT Kereta Api Indonesia.033. PT BTDC.

558.750 2.534.458 6. Tabel 13.189) 2006 22.838.167. PT Angkasa Pura I & II.955 3.136 18.510 20.546 9. Investasi difokuskan kepada segmen usaha jasa layanan penumpang. PT Rukindo.591 29.928) 2007 26.976.905.430.706 3. jasa pendaratan dan segmen usaha non aeronautika. maka investasi untuk segmen usaha ATS dibatasi untuk investasi yang sangat prioritas. 2.421.220 2.200 (641.236. maka akan ada pemisahan antara operator dan regulator yang akan diatur oleh Badan Otoritas Pelabuhan b.581.883 27.Tabel 12.061 33. PT Pelindo I – IV dan 2 (dua) BUMN Kebandarudaraan.403 8.330 14.773. Pemberlakuan Undang-undang No.367 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 29 .381 Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II.285.078. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 29.342 (259.1% per tahun.771. PT Jasa Marga.544. Total aset BUMN sektor Usaha Prasarana Angkutan tumbuh 13.818.2% dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 14. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Sarana Angkutan dan Pariwisata Tahun 2005-2009 Rp Juta 2005 20.756.218 23.156.345 11.357 31.508 2006 31.094.224.797 1.672 30. dan 1 (satu) BUMN Operator Jalan Tol. 1 (satu) BUMN Pengerukan.119.857 8.700) 2008 29.669.900.117.157 13.885.157.916 2.946 19.915.168. Perkembangan kinerja BUMN Sektor Prasarana Angkutan dapat dilihat dalam Tabel 13 sebagai berikut.957.845 20.595 10.524.455.930 8.156.9.1 th 2009 tentang penerbangan serta antisipasi pemisahan Air Traffic Services (ATS).881 Prognosa 2009 48. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN Sektor Usaha Prasarana Angkutan antara lain : a. Sektor Usaha Prasarana Angkutan BUMN Sektor Prasarana Angkutan terdiri dari 4 (empat) BUMN Kepelabuhanan. Pemberlakuan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran.925.881 (67.170.745.565 (1.756.259 11.269) Prognosa 2009 30.984 2007 39.753 2008 44.220.

061.020. dan Jasa Sertifikasi. PT Pos Indonesia. distribusi dan jasa sertifikasi 2005–2009 mengalami pertumbuhan yang baik sebagaimana terlihat pada Tabel 14 sebagai berikut. Distribusi. dalam 5 tahun terakhir relatif berfluktuasi dengan kecenderungan tumbuh.019 2008 24.766. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perdagangan.II.631 28. Distribusi.051.687 13. d.622 7. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Tahun 2005–2009 Rp Juta 2005 19. khususnya jasa pengiriman kalah bersaing dengan perusahaan swasta. PT Surveyor Indonesia. PT PP Berdikari. Perusahaan ini tidak dapat bersaing dan memiliki alat produksi yang sudah tua.687 2007 22. Kinerja BUMN Perdagangan kurang optimal.292 7.702.397. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata pertumbuhan pendapatan mencapai 20.245 (493.581. PT Biro Klarifikasi Indonesia dan PT Survey Udara Penas. e.966.184 7. Di samping tingkat kompetisi di sektor perdagangan dan masalah internal antara lain keuangan dan operasional.672) 2006 17. maka masalah cross ownership diantara keduanya perlu diseleisaikan.243.791 23. Beban PSO yang ditanggung PT Pos tidak seimbang dengan dana kompensasi PSO dari Pemerintah. Saat ini pemisahan biaya antara PSO dan non PSO belum dapat dilaksanakan. Pergudangan. PT Varuna Tirta Prakasya.619 201.864 Prognosa 2009 24. Bisnis utama PT Pos Indonesia. namun BUMN Perdagangan memiliki beberapa kelebihan berupa jaringan pemasaran yang cukup luas. distribusi dan jasa sertifikasi.10. Khusus PT Survey Udara.243 5.730.967 153. Kinerja BUMN sektor perdagangan.1%.421.124 14.164. PT Banda Ghara Reksa. PT Sucofindo.082 16.438. kinerja keuangannya sangat buruk dan mengalami kesulitan likuiditas. 2. meliputi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia. Pergudangan.692 4.885 63. pergudangan. BUMN sektor pergudangan terkendala dengan keterbatasan pendanaan untuk ekspansi usaha dan terkait erat dengan regulasi Pemda dan laju pengembangan daerah setempat c.6% dan aset tumbuh rata-rata 7. Tabel 14. klien yang cukup banyak dan SDM yang kompeten b.569.055.168) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 30 . Perkembangan kinerja BUMN sektor perdagangan. Sektor Usaha Logistik dan Jasa Sertifikasi Terdapat 10 (sepuluh) BUMN yang bergerak di Sektor Perdagangan. PT Sarinah.575 (28. dan Jasa Sertifikasi antara lain : a. pergudangan. Untuk sektor Jasa Penilai di samping PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia perlu bersaing dengan swasta.

684 1.915.708.263 7.803.838 13. Tabel 15.774 2008 34.817.532 2.283 12. Kemampuan dan kualifikasi SDM belum memenuhi standardisasi.212.d.544 20.II.074 2.420 1. Adapun perkembangan kinerja BUMN Sektor Perkebunan dari tahun 2005.236.328.d.400 II. V dan Perum Perhutani. e. c.547 2007 29.148.230 7. b.003.288. Sektor Usaha Kehutanan BUMN Sektor Kehutanan terdiri atas 6 (enam) BUMN yaitu PT Inhutani I s.474.947. akibat adanya pencabutan areal kerja yang dikelola oleh Departemen Kehutanan pada awal tahun 2000-an.221.12. Sebagian usia fasilitas pabrik sudah tua.335 Prognosa 2009 37.024. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 ratarata sebesar 14. terjadi pula peningkatan laba bersih rata-rata 26. Sektor Usaha Perkebunan BUMN Sektor Perkebunan terdiri dari 14 PT Perkebunan Nusantara (PTPN I s.9%.338. 2. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Perkebunan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 21. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perkebunan antara lain: a.783 21.507 2006 24.789 33.686.392.2009 dapat dilihat pada Tabel 15. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kehutanan antara lain: a. b. untuk itu perlu dilakukan holding. Keterbatasan areal lahan yang dikuasai PT Inhutani I-V. sedangkan ekuitas meningkat rata-rata 16.929. Oleh 31 .7%.11. 2. XIV) & PT RNI. Kemampuan leverage secara umum rendah sehingga perlu dilakukan holding.193 27. Hal tersebut timbul karena keterlambatan replanting. investasi pada usaha kehutanan memerlukan time period yang cukup lama yaitu sampai dengan 7-8 tahun untuk dapat menikmati hasilnya. Kemampuan untuk membiayai investasi rendah karena kemampuan leverage secara sendiri-sendiri sangat rendah. Keterbatasan modal kerja. Produk dan produktivitas perkebunan pada umumnya rendah karena umur tanaman yang sudah tua dan komposisi tanaman tidak ideal.790 9. d.934 33.688.124.560 1.6% per tahun.

031 45.904. Kondisi sosial lingkungan wilayah hutan yang belum mendukung sepenuhnya keamanan dan kelestarian hutan. Jumlah dan umur armada serta modal kerja masih menjadi hambatan untuk kelancaran operasi.sebab itu dunia perbankan sampai dengan saat ini belum ada yang mau menyalurkan modalnya di usaha kehutanan. PT Usaha Mina. Sektor Usaha Perikanan Terdapat 2 (dua) BUMN yang bergerak di sektor usaha perikanan yaitu Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) dan PT Perikanan Nusantara.1% sedangkan ekuitas mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1. Tabel 16.9%. Paska penggabungan perusahaan perikanan belum beroperasi dengan baik b.490 41.671 2.104 2006 2. Peralatan industri milik PT Inhutani yang sudah tidak sesuai lagi dengan produksi hasil hutan saat ini.814. e.894. c.597 37. Kondisi keuangan perusahaan sangat buruk dengan ekuitas negatif.660.681.760 103. pendapatan tumbuh 12.404 2.603. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan laba bersih rata-rata 48.055. 32 . karena desain awal industri ditujukan untuk produk kayu alam. c.187 2.712. Pasar kayu HTI terbatas pada industri kertas dalam negeri.451 1.352. 2. Kondisi perusahaan secara keseluruhan kurang baik. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan tahun 20052009 terlihat dalam Tabel 16 sebagai berikut.652. aset belum tumbuh secara optimal karena hanya tumbuh 0. sehingga diperlukan penanganan khusus dari BUMN pengelola hutan.736 II. Banyak aktiva perusahaan yang tidak produktif. d.487 2008 2. Kinerja keuangan BUMN kehutanan cenderung membaik dalam 5 tahun terakhir.9%.587.839 118.530.810 2.054.379 1.131 Prognosa 2009 2. Perusahaan beroperasi belum normal sebagai dampak peleburan BUMN PT Tirta Raya Mina. Sekalipun demikian.13.934.510 1.746. dan PT Perikani.601 1. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Perikanan antara lain : a.087 1.9%. Tabel Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Kehutanan Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 2.732 2.043 2007 2.

224) 156. 2.5%.8% sedangkan laba bersih cenderung berfluktuasi. Perum PNRI. Tabel 17.592 72.1% meskipun masih menderita ekuitas negatif. PT Pradya Paramita. BUMN Sektor Usaha Kertas. Skala usaha yang relatif sangat kecil dan eksistensi BUMN Percetakan dan penerbitan Kinerja BUMN Kertas.232 (11. PT Kertas Leces dan 4 (empat) BUMN Percetakan dan Penerbitan. Percetakan dan Penerbitandalam 5 tahun terakhir berfluktuasi. dan kesulitan memperoleh pasokan gas b.463) 98.459 (15. Percetakan dan Penerbitan terdiri dari 2 (dua) BUMN Kertas.907) 2008 198. Sektor kompetitif dan daya saing sangat rendah karena .116 (22. 33 .613 (77.Kinerja BUMN perikanan masih memprihatinkan meskipun terdapat perkembangan positif dalam beberapa aspek.037) 103. Perkembangan Kinerja Tahun 2005-2009 2005 102. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Kertas. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan aset mencapai 20. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan terlihat sebagaimana dalam Tabel 17 sebagai berikut. Aset mengalami pertumbuhan rata-rata 6. d. Percetakan dan Penerbitan antara lain : a.457) 123.563 2. mesin sudah cukup tua sehingga beban pemeliharaan tinggi . sedangkan BUMN kertas memiliki mesin yang sudah tua dan kesulitan bahan baku serta permodalan c.472 (1.304 82. struktur permodalan kurang sehat.955) 2007 197. Percetakan dan Penerbitan BUMN Sektor Usaha Kertas. PT Kertas Kraft Aceh. PT Balai Pustaka. Perum Peruri. ekuitas negatif karena mengalami rugi terus-menerus. Pemerintah telah mencabut hak ekslusif pada BUMN untuk mencetak dan mengedarkan buku pelajaran sehingga saat ini sektor percetakan dan penerbitan bersifat kompetitif.112 (21. pendapatan mengalami pertumbuhan 10.223 II.294 (253) Prognosa 2009 202. Industri kertas sudah sangat kompetitif.204 (16.14.263) Keuangan BUMN Sektor Usaha Perikanan Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2006 147.

c.565) 2006 3. Isu strategis yang dihadapi BUMN Sektor Penunjang Pertanian antara lain: a. Sedangkan apabila HPB lebeih rendah.518 (145. Sektor Usaha Penunjang Pertanian BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terdiri dari 1 (satu) BUMN Pupuk. tarif jasa air yang ditetapkan Pemerintah (Menteri PU) masih dibawah tingkat keekonomiannya (tidak ekonomis) sehingga perusahaan tidak memperoleh dana yang cukup (dari pendapatan jasa air) untuk membiayai pemeliharaan prasarana/sarana yang dikelola sehingga seperti pengerukan sedimentasi bendungan.964.045 294.862. Akibatnya umur ekonomis dari sarana/prasarana tersebut semakin pendek dan sering terjadi banjir. 2 (dua) BUMN Pengairan.871 492.568 47. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Percetakan dan Penerbitan Rp Juta 2005 2.694 616. Apabila subsidi benih dihilangkan maka BUMN bisa merugi. pemeliharaan saluran irigasi dan daerah aliran sungai (DAS).222 (16. Terdapat kekurang”fair”an SK penetapan HPB oleh Menkeu. dan Perum Bulog. PT PUSRI. 2 (dua) BUMN Perbenihan.717. Untuk Perum Bulog.581. 34 .482.628 (110.15. maka kelebihannya harus disetor ke kas Negara. sehingga Bulog mengalami kerugian.130. Untuk Perum Jasa Tirta I & II.367 347.863. 2. Percetakan dan Penerbitan dapat dilihat dalam Tabel 18 sebagai berikut.163 2. yakni apabila HPB lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan.319) Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih II. Seyogianya kekurangan tersebut selayaknya diganti Pemerintah selaku pemberi tugas.653) 2007 3. usia pabrik sudah tua serta kurangnya pasokan gas. sangat tergantung pada adanya subsidi benih.927 241.771 1.071 2.929 2. Untuk BUMN Pupuk.578. penetapan harga pembelian beras (HPB) oleh Pemerintah untuk kebutuhan raskin ditetapkan berdasarkan besarnya dana subsidi raskin yang ditetapkan dalam APBN dan bukan atas dasar kalkulasi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan dan penyaluran raskin.743. Untuk BUMN Perbenihan.Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Kertas. kekurangannya menjadi kerugian Bulog. PT SHS dan PT Pertani.818. HPB yang ditetapkan Pemerintah lebih rendah dari total biaya yang dikeluarkan oleh Bulog. PT Jasa Tirta I & II.344) Prognosa 2009 3.289 2008 3.406 (123. Tabel 18. b. d.728 1.

942 8.806 2008 33.732 39.049. yaitu 38. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Penunjang Pertanian terlihat sebagaimana dalam Tabel 19 sebagai berikut.934 15.586.646. PT Timah.16. 35 .Selama periode 2005 – 2009 BUMN sektor Usaha Penunjang Pertanian mengalami pertumbuhan aset sebesar 13. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 22.296.9% per tahun. PT BB Bukit Asam. leverage dan nilai perusahaan yang sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan.568.529. BUMN sektor Pertambangan dan Semen dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 13.730 39. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Penunjang Pertanian Tahun 2005-2009 Rp Juta Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih 2005 20.956 II.581 2.399 11.136 2006 21. Diantara isu strategis BUMN Pertambangan adalah rencana pembentukan BUMN Pertambangan yang terintegrasi (IRC) melalui pembentukan Holding Company guna meningkatkan skala ekonomis. Sektor Usaha Pertambangan dan Semen BUMN Sektor Usaha Pertambangan dan Semen terdiri dari 7 BUMN yaitu 4 (empat) BUMN Sektor Pertambangan.935 2007 24.224. 2.553.148. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang.073.837 2.701 12.184.255 17. Pada periode 2005 – 2009.835 Prognosa 2009 32.9% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi.126. Tabel 19. dan 3 (tiga) BUMN Semen. PT Aneka Tambang. PT Sarana Karya.299 17.601.379 1.337 868.473.719.962 897. Sedangkan isu strategis yang dihadapi BUMN Semen adalah optimalisasasi holding BUMN Semen (PT Semen Gresik Group Tbk) dengan melakukan pemisahan aset (spin off) PT Semen Gresik Tbk dan pengembangan usaha PT Semen Baturaja guna meningkatkan kapasitas produksi.297.994.3% yang diikuti dengan pertumbuhan laba bersih 28. PT Semen Gresik. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen dapat dilihat pada Tabel 20 sebagai berikut.9% per tahun.074 9.6% per tahun.098.122 24.

Tabel 20.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Pertambangan dan Semen Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 197.834.182 81.918.469 329.958.353 9.069.349 2006 225.610.789 134.420.344 371.854.949 22.081.547 2007 279.771.590 161.505.091 420.952.937 33.186.800 2008 321.841.157 169.361.679 585.867.650 35.566.054 Prognosa 2009 329.413.225 171.453.926 374.807.089 19.496.734

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.17. Sektor Usaha Industri Strategis BUMN sektor usaha Industri Strategis terdiri dari 2 (dua) BUMN Industri Pertahanan, PT Dahana dan PT Pindad, 3 (tiga) BUMN Baja dan Konstruksi Baja, PT Krakatau Steel, PT Boma Bisma Indra, PT Barata Indonesia, 1 (satu) BUMN Industri Kereta Api, PT INKA, 1 (satu) BUMN Kedirgantaraan, PT Dirgantara Indonesia dan 4 (empat) BUMN Dok Perkapalan, PT Dok Kodja Bahari, PT Dok & Perkapalan Surabaya, PT PAL Indonesia, PT Indusri Kapal Indonesia. Isu-isu strategis yang dihadpi oleh BUMN Sektor Usaha Industri Strategis adalah : a. b. c. d. e. Keterbatasan pendanaan, sehingga pengembangan usaha berjalan sangat lambat. Tingginya ketergantungan kepada bahan baku impor. Skala usaha dan kapasitas produksi yang masih rendah, sehingga belum efisiensi yang berdampak pada lemahnya daya saing. Prasarana dan saran produksi yang relatif telah berusia tua dan ketinggalan teknologi yang memerlukan dana cukup besar untuk revitalisasi dan alih teknologi. Kondisi keuangan perusahaan yang sudah mengkhawatirkan, sehingga menyulitkan untuk akses ke sumber pendanaan dan untuk mendapatkan order pekerjaan (PT Barata Indonesia, PT Boma Bisma Indra, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Industri Kapal Indonesia). Perkembangan kinerja BUMN Sektor Industri Strategis dari tahun 2005-2009 terlihat dalam Tabel 21. Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 9,3% per tahun, yang juga diikuti dengan pertumbuhan ekuitas rata-rata 15,8% per tahun. Pada tahun 2006 dan 2007 BUMN Sektor Industri Strategis masih mengalami kerugian, namun pada 2 tahun terakhir sudah mampu membukukan laba.

36

Tabel 21.

Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Industri Strategis Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 15.982.193 3.566.036 15.062.416 228.707 2006 18.305.011 4.404.781 15.780.303 (237.971) 2007 19.790.843 4.364.670 18.638.017 (181.194) 2008 24.724.658 4.646.064 25.398.892 373.554 Prognosa 2009 22.169.961 4.823.251 21.274.755 400.863

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. 2.18. Sektor Usaha Energi dan Sumber Daya Alam BUMN Sektor Usaha Energi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT PLN, PT Pertamina, PT PGN, PT Batan Teknologi dan PT EMI. Dengan pertumbuhan aset selama periode 2005 – 2009 rata-rata mencapai sebesar 12,4% per tahun, sedangkan ekuitas meningkat rata-rata sebesar 1,0 %. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha energi antara lain : a. Produk yang dihasilkan berhubungan dengan hayat hidup orang banyak (mengemban tugas Public Service Obligation/PSO), sehingga penetapan harga/tarif masih diatur oleh Pemerintah. b. Perlunya dilakukan restrukturisasi secara menyeluruh (PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara), baik organisasi maupun usaha, termasuk anak-anak perusahaan agar operasional perusahaan lebih efisien dan efektif. c. Investasi untuk pembangunan pembangkit listrik baru (PT Perusahaan Listrik Negara) membutuhkan waktu dan dana yang sangat besar, sehingga kebutuhan masyarakat terhadap listrik belum terpenuhi sebagaimana harapan. Adapun perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Energi adalah sebagaimana Tabel 22 sebagai berikut.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Energi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 236.310.016 146.049.529 85.011.144 (3.588.986) 2006 266.199.786 147.756.069 114.944.477 452.330 2007 297.965.615 145.186.024 127.013.989 (3.758.415) 2008 322.428.217 138.119.760 184,268,485 (9.962.804) Prognosa 2009 376.484.955 151.239.966 166.361.897 13.040.486

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

37

II.

2.19.

Sektor

Usaha

Telekomunikasi,

Media

dan

Industri

Penunjang

Telekomunikasi BUMN yang bergerak di sektor usaha telekomunikasi terdiri dari 5 (lima) BUMN, PT Telkom, PT INTI, PT LEN Industri, Perum LKBN Antara, Perum Perusahaan Film Negara. Perkembangan kinerja keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi adalah sebagaimana Tabel 22. Isu strategis yang dihadapi oleh BUMN sektor usaha telekomunikasi antara lain : a. b. Saat ini terdapat 10 perusahaan operator telepon seluler di Indonesia yang berdampak pada perang tarif dan tingkat persaingan yang sangat ketat. Untuk pengembangan infrastruktur dan layanan telekomunikasi dibutuhkan dana yang sangat besar, sementara dengan ketatnya persaingan menuntut setiap operatoe untuk melakukan efisiensi secara ketat. Kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi terkait dengan masalah naionalisme dan karena telekomunikasi termasuk industry yang menguasai hayat hidup orang banyak. Ketatnya persaingan dan banyaknya alat-alat komunikasi yang masuk ke Indonesia dari luar negeri, mengancam keberadaan perusahaan industri peralatan telekomunikasi Indonesia (PT Industri Telekomunikasi Indonesia). Pada periode 2005 – 2009, BUMN sektor Usaha Industri Strategis dapat meningkatkan total aset dengan rata-rata pertumbuhan 11,3% per tahun dengan pertumbuhan laba bersih yang cukup tinggi, yaitu 6,2% per tahun. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan peningkatan ekuitas rata-rata 12,6% per tahun.
Tabel 22. Perkembangan Kinerja Keuangan BUMN Sektor Usaha Telekomunikasi Tahun 2005-2009 Rp Juta
2005 63.176.678 23.871.848 42.528.270 8.012.347 2006 76.301.596 28.651.835 52.220.931 11.017.141 2007 83.230.795 34.276.989 60.496.862 12.854.898 2008 92.500.325 34.847.399 62.020.947 10.623.901 Prognosa 2009 96.378.922 38.092.656 48.617.237 9.324.478

c.

d.

Keterangan Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih

II. .3. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (GCG) Dalam melaksanakan tugas dan fungsi perencanaan dan evaluasi penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG) di BUMN, Kementerian BUMN telah melakukan halhal sebagai berikut :

38

95%. Re-assessment GCG ditujukan kepada BUMN yang memenuhi kriteria. yaitu telah melaksanakan Program Assessment 39 . Re-Assessment GCG Re-assessment perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan GCG pada BUMN yang masih dianggap perlu peningkatan. 31 Des 2008 30 46 9 9 94 sd 31 Des 2009 59 35 6 9 109 0 % 1 2 3 4 5 Jumlah 54. sedangkan yang berkategori kurang secara kumulatif sebanyak 19.14%. Dari jumlah 32 BUMN yang tersisa tersebut diharapkan dapat diselesaikan pada tahun 2010. Hal ini berarti. Kualitas penerapan GCG dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori/tingkatan capaian aktual penerapan GCG.3. b. secara umum penerapan GCG pada BUMN masih perlu peningkatan dalam kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. II.50 8. dari “sangat baik” sampai dengan “sangat kurang” sebagaimana terlihat pada Tabel 23 sebagai berikut.26 100.11 5. sehingga masih tersisa 32 BUMN yang belum dilakukan assessment. baik 31.3.1 s.13 32.8). 3.1. maka telah dilakukan upaya-upaya yang lebih intensif terhadap implementasi GCG di BUMN (dengan hasil kegiatan sebagaimana dikemukan di butir II. 3. II.91%. Hasil Asessment GCG pada BUMN Sampai Tahun 2009 Jumlah BUMN Grade / Tingkat Predikat Range Score sd 31 Des 2007 Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang 90 < X < 100 75 < X < 90 60 < X < 75 50 < X < 60 X < 50 0 < X < 100 29 44 9 9 91 s. Untuk terus mendorong penerapan prinsip-prinsip GCG di BUMN serta untuk menyesuaikan dengan best practice penerapan GCG dalam dunia usaha. yakni 48. II. Assessment GCG Pelaksanaan assessment GCG sampai akhir tahun 2009 mencapai 109 BUMN dari 141 BUMN. Kegiatan monitoring GCG dalam rangka fungsi pembinaan dan pengawasan kepada BUMN .a.d.d. Tabel 23.00 Tabel di atas menunjukkan skor hasil assessment GCG murni sebagian besar dalam kategori cukup.2.

40 . dan perolehan skor di atas 70. Sedangkan sebanyak 7 BUMN lainnya masih dalam proses pelaksanaan oleh assessor. Hal tersebut ditunjukkan dengan peningkatan skor GCG hasil self assessment dibandingkan dengan skor hasil assessment GCG murni sebelumnya. Self Assessment GCG (Mandiri) Sampai dengan tahun 2009. namun penurunan skor tersebut tidak menurunkan kategori penilaian sebelumnya (kategorinya tetap “Baik”). 3. sedangkan terjadi penurunan skor GCG pada 1 BUMN. 3. sebanyak 5 BUMN telah menyelesaikan reassessment GCG. Hasil-hasil program assessment GCG kualitas diharapkan dapat ditindaklanjuti secara konsekuen oleh BUMN. dan Perum Bulog dan PT Asuransi Jasa Indonesia. Program assessment GCG yang dicanangkan oleh Kementerian BUMN telah meningkatkan perbaikan kualitas penerapan prinsip-prinsip GCG pada BUMN. terdapat 27 BUMN yang melakukan self assessment GCG dan hasilnya telah dilaporkan kepada Kementerian BUMN. Upaya perbaikan terutama pada aspek kebijakan GCG dan pelaksanaan GCG di Direksi dan Dewan Komisaris.GCG. Dari 25 BUMN yang melaksanakan self assessment secara mandiri. Review Tindak Lanjut Hasil Assesment GCG Review dilakukan terhadap BUMN yang memenuhi kriteria. Sampai dengan tahun 2009 jumlah BUMN yang telah direview berjumlah 47 BUMN.4. Karena penerapan GCG dijadikan indikator kinerja utama dalam penilaian kinerja BUMN (Key Performance Indicator). 5 BUMN yang telah melakukan reassessment tersebut berhasil melaksanakan langkah-langkah perbaikan yang signifikan sehingga kualitas penerapan GCG mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil assessment sebelumnya. PT Bhanda Ghara Reksa. yaitu PT Sarinah. II. perolehan skor GCG-nya rendah (70<). II. sebanyak 24 BUMN mengalami peningkatan kualitas dalam penerapan prinsip-prinsip GCG-nya. Pelaksanaan self assessment oleh BUMN telah memicu perbaikan signifikan dalam penerapan GCG di BUMN. dan Assessment-nya dilakukan dalam 2 tahun terakhir (2007-2008). Sampai dengan tahun 2008.3. PT Asuransi Jasa Raharja. yaitu BUMN tersebut telah melaksanakan assessment GCG tahun 2005 dan sebelumnya.

8. sesuai dengan 5 (lima) komponen internal control dan contoh pengisian dalam evaluation tools tersebut.5. Evaluasi atas internal control terdiri dari “point of focus” dan penjelasan/komentar. Monitoring GCG melalui Kuesioner Tim Koordinasi dan Monitoring GCG telah menyebarkan kuesioner untuk pengumpulan data penerapan GCG pada 50 BUMN. dan mencatat komentar-komentar yang relevan. dan (4) pembelajaran melalui studi kasus. Penjelasan/komentar disediakan untuk mencatat suatu penjelasan bagaimana masalah-masalah yang ditekankan dalam point of focus diterapkan pada entitas yang dinilai. Pengkajian Penyempurnaan Evaluation Tools Penerapan GCG Sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2008 ini. 3. 3. (3) key risk indicators sebagai early warning system bagi korporasi. prinsip dan nilai ekonomis manajemen risiko korporasi dan keterkaitan dengan GCG dan internal audit. Materi pelatihan meliputi : (1) konsep. serta hal-hal yang dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi BUMN lainnya.II. II. 3. II. Perkembangan kriteria penilaian GCG dilakukan sejalan dengan Program Assessment GCG Kementerian Negara BUMN.7. Sampai dengan saat ini. Tidak seluruh Point of Focus ini relevan dengan setiap entitas. kriteria assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN telah mengalami perkembangan dan perubahan sebagai konsekuensi perkembangan praktik GCG yang dinamis. BUMN yang telah menyerahkan jawaban kuesioner sebanyak 21 BUMN. Evaluation Tools atas Internal Control dan Risk Management Tim Koordinasi dan Monitoring GCG melakukan kajian atas evaluation tools atas internal control (COSO Framework) yang terdiri dari 5 (lima) alat evaluasi. (2) kerangka kerja internal manajemen risiko korporasi dari sudut pandang COSO. Pelatihan Risk Management dan Internal Control System Tujuan pelatihan risk management dan internal control system adalah untuk memberikan pemahaman atas penerapan program risk management dan internal control system sebagai satu kesatuan program yang terintegrasi dengan pelaksanaan GCG di BUMN. II. Point of Focus merepresentasikan isu-isu yang relevan dengan masing-masing komponen pengendalian internal yang dievaluasi. Hasil monitoring penerapan GCG melalui kuesioner tersebut akan diolah untuk memberikan informasi mengenai penerapan GCG pada BUMN tersebut.6. 3. sebagai berikut: 41 .

a. Scorecard Penilaian GCG 224 parameter merupakan kriteria assessment yang pertama kali dan digunakan sebagai kriteria assessment GCG pada 16 BUMN pada tahun 2001. b. Sejalan dengan terbitnya Keputusan Menteri BUMN Nomor :KEP-117/MBU/2002 tentang Penerapan GCG pada BUMN, Scorecard Penilaian 224 parameter mengalami pengembangan kriteria menjadi 256 parameter (Scorecard Penilaian 256 parameter). Pengembangan kriteria tersebut pada tahun 2002 khususnya terkait dengan materi mengenai Komite di tingkat Dewan Komisaris. c. Selanjutnya pada tahun 2004, Kementerian Negara BUMN menerbitkan kriteria assessment penerapan GCG sebagai hasil ADB Project. Kriteria assessment GCG ADB Project terdiri atas 81 parameter dengan menggunakan kuesioner. d. Penyempurnaan Scorecard Penilaian GCG 256 parameter. Pada tahun 2006, Kementerian Negara BUMN dan BPKP menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Nomor: MOU-03/MBU/2006 –MOUKerjasama Percepatan

199/K/D5/2006 tanggal 14 Februari 2006 tentang

Pemberantasan Korupsi Dan Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik Di Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Kerjasama tersebut merupakan upaya kedua belah pihak agar peningkatan kualitas penerapan GCG melalui program assessment GCG dan revieu tindak lanjut hasil asessment GCG dilakukan secara

berkesinambungan. Tekad Kementerian BUMN untuk memiliki standar penilaian GCG disambut oleh BPKP dengan memberikan masukan penyempurnaan scorecard Penilaian GCG 256 parameter melalui: Re-klasifikasi parameter sesuai tanggung jawab dan wewenang Organ BUMN dan aspek penilaian berdasarkan TOR Kementerian BUMN, dan mengeliminasi duplikasi/pengulangan parameter yang secara subtantif menjadi tanggung jawab dominan pada salah satu Organ BUMN. Perbaikan teknik pembobotan aspek penilaian GCG, indikator dan parameter penilaian GCG yang dilakukan dengan menilai tingkat pengaruh parameter terhadap indikator dan tingkat pengaruh indikator terhadap aspek-aspek penilaian GCG. Langkah-langkah penyempurnaan tersebut menghasilkan Scorecard Penailaian GCG 160 parameter yang dicakup dalam 50 indikator dan 5 aspek penilaian GCG. Reklasifikasi, eliminasi dan perbaikan teknik pembobotan membawa dampak positif terhadap penilaian yang tidak lagi redundency. Scorecard Penilaian GCG 160 42

parameter tersebut disepakati oleh Kementerian BUMN cq Staf Ahli Bidang Tata Kelola Perusahaan dan BPKP sesuai Kesepakatan Bersama tanggal 19 Oktober 2006, sebagai metodologi assessment penerapan GCG di lingkungan BUMN yang dilakukan oleh BPKP. Scorecard Penilaian GCG 160 parameter ditetapkan sebagai standar penilaian GCG di lingkungan BUMN sesuai surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-168/MBU/2008 tanggal 27 Juni 2008 tentang Assessment Program GCG di BUMN, dan dengan disampaikannya surat tersebut kepada BUMN maka surat Sekretaris Kementerian Negara BUMN Nomor :S-612/S.MBU/2005 tanggal 19 Oktober 2005 dinyatakan tidak berlaku. II. 3.9. Penyusunan Kriteria Penilaian GCG Tingkat Lanjutan Kriteria penilaian GCG di lingkungan BUMN dengan Scorecard Penilaian GCG 160 parameter disadari merupakan penilaian pada tahap pembentukan infrastruktur GCG dan pelaksanaan internalisasi, sehingga lebih menitikberatkan pada aspek kelengkapan infrastruktur GCG dan aspek kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Selama pelaksanaan monitoring pelaksanaan assesssment GCG tahun-tahun sebelumnya (sejak tahun 2006), tanggapan dan masukan mengenai parameter penilaian GCG telah diperoleh baik dari Konsultan maupun dari pihak BUMN. Tanggapan dan masukan tersebut selanjutnya akan dibahas Tim Koordinasi dan Monitoring dan jika diperlukan diteruskan kepada BPKP sebagai bahan kajian perbaikan parameter penilaian GCG. Selanjutnya perlu tahapan yang lebih tinggi yakni tahap lanjutan dalam penilaian penerapan GCG dengan fokus pada bagaimana infrastruktur GCG yang telah dibangun bekerja dan memberikan hasil pada peningkatan nilai perusahaan secara optimal. Pada tahap ini perlu dibuat parameter penilaian yang berorientasi hasil (results).

II. 4. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan II.4.1. Program Kemitraan Tahun 2005 - 2009 a. Realisasi Penyaluran Dana Program Kemitraan Program Kemitraan adalah program program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Adapun sumber Dana Kemitraan yaitu:

43

1) 2)

Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). Jasa administrasi pinjaman/marjin/bagi hasil, bunga deposito dan/atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi beban operasional.

3)

Pelimpahan dana Program Kemitraan dari BUMN lain, jika ada.

Program Kemitraan selain dilaksanakan melalui penyaluran dana bergulir juga pemberian dukungan non material kepada para mitra binaannya diantaranya yaitu: 1) 2) 3) Pembentukan cluster mitra binaan Pemberian dukungan pelatihan dan keterampilan Pemberian kesempatan untuk melakukan promosi pada event-event nasional maupun internasional. Program kemitraan ditujukan bagi usaha kecil yaitu memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) serta masih berstatus non bankable.

Realisasi penyaluran pinjaman dan hibah selama tahun 2004-2006 sebagai berikut:
(Rp Juta)
No. 1 2 Uraian Penyaluran Pinjaman Hibah Total 2004 478,201.00 60,961.00 539,162.00 2005 554,016.00 66,596.00 620,612.00 Tahun 2006 2007 536,855.00 584,363.00 40,911.00 72,731.00 577,766.00 657,094.00 2008 1,194,230.00 105,664.00 1,299,894.00 Prognosa 2009 1,312,577.00 197,095.00 1,509,672.00

Grafik penyaluran dana Program Kemitraan tahun 2004 - 2009:

Prognosa 2009

44

Realisasi Penyaluran Pinjaman menurut Sektor Usaha Rata-rata Penyaluran dana Program kemitraan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 jika ditinjau dari kelompok sektor usaha mitra binaan.885 775.240 Sd 2008 7. sektor Jasa (19%).194 121.417 b. sector Peternakan dan Perikanan (10%).143.012 146. 45 .961. sektor Perkebunan dan Pertanian (9%).534 39.101 640.332 872.364.292 596.344 9.087 47.713 55.691 493.249 7.854 5.949.456.655 669.676 Realisasi mitra binaan dalam 5 tahun terakhir disajikan sebagai berikut: No Uraian 2005 2006 2007 2008 Prognosa 2009 1 2 3 Unit UKM Outstanding Akumulasi 446.146 Sd 2007 5. 2009 8. sebagian besar diserap oleh sektor perdagangan (38%) kemudian oleh sektor Industri (22%).619.367 35.328.907 55.346 113.585 6.134 Sd.Sedangkan total akumulasi dana Program Kemitraan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 sebagai berikut: (Rp Juta) No Pinjaman Hibah Total Sd 2006 5.984 560.919. dan sektor lainnya (2%).

2 %). penerima distribusi pinjaman PKBL yang terbesar adalah Kalimantan Timur (7.3% Jambi 1. 3) Keterbatasan kemampuan pengelola PKBL dalam melakukan pembinaan sektor tersebut.1%).Beberapa penyebab rendahnya penyerapan sektor perkebunan.5%). Sulawesi tengah (0.4% Jatim 13. Untuk Kalimantan.1% Bali 2. 2) Resiko usaha di sektor tersebut relatif cukup tinggi mengingat usaha sangat tergantung pada kondisi alam.3% DISTRIBUSI DANA PROGRAM KEMITRAAN Sumut 7. Lampung (2%).4%) .6% Sulbar & Sulsel 3. Alokasi dana penyaluran ditetapkan sesuai dengan rencana kegiatan anggaran BUMN. NAD 3.3% Riau & Kepri 3.2% Maluku 0.9% Bengkulu 0. Realisasi Distribusi Pinjaman Dana Program Kemitraan Dalam mendistribusikan dana Program Kemitraan Bina Lingkungan.3%).8%).5% Kaltim 7.5%).2% Jateng 9.1%).2% ).4%). Sumatra Selatan dan Babel ( 5.3%).9 %) dan di Irian Jaya & Papua ( 1. NTT (2. c. Jawa Tengah ( 9. Jawa Timur (13%). Bengkulu (0.3% Kalbar 1. Sumatra Barat (2.5% 46 .3% Sultra 0.0% Banten 2. NTB (1. Bali (2.4% NTT 2. Di Sulawesi Barat dan Selatan ( 3.8% Jabar 13.3%) Kalimantan Selatan ( 2. Kementerian BUMN menunjuk BUMN Koordinator wilayah pada tiap propinsi untuk tugas kooordinasi pelaksanaan penyaluran dana PKBL di tiap propinsi . Sumatra utara ( 7.8% Lampung 2.2% Kalteng 0. Sulawesi Utara 2 %.3% Sulut 2.8% Sumsel & Babel 5.5% DIY 2.0% NTB 1.8%).2% Gorontalo 0.9% Sulteng 0.7%).9%).7 % Irjabar & Papua 1. Kalimantan Barat (1.1% Sumbar 2. perikanan dan peternakan antara lain : 1) Kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha di sektor tersebut relatif cukup besar. Dalam distribusi penyaluran dana PKBL pada 33 propinsi di Indonesia daerah Jawa Barat yang terbesar menerima pinjaman yaitu (13. Maluku ( 1.6%).4% Maluku Utara 0. DKI Jakarta ( 8.5%) Kalimantan Tengah (0.6% DKI Jakarta 8.1% Kalsel 2.

2) Bantuan pendidikan dan pelatihan.76 Triliun dari total penyaluran nasional Rp.MBU/2007 ruang lingkup program Bina lingkungan berupa : 1) Bantuan korban bencana alam. termasuk tingkat efektivitas penyaluran dana kemitraan. II.19 Triliun atau sebesar 12% dari jumlah dana yang tersedia secara nasional. PT Jasa Raharja.9. 6) Bantuan pelestarian alam. PT Bank BRI. 3) Bantuan peningkatan kesehatan. Bantuan diberikan oleh BUMN berdasarkan proposal/permohonan yang disampaikan masyarakat maupun atas inisiatif/program kerja BUMN itu sendiri. dan sebagainya. 2) Hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL. adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. BUMN dengan Tingkat Jumlah Penyaluran Dana Kemitraan Terbesar Kinerja pelaksanaan Program Kemitraan. efisiensi biaya. misalnya keterbatasan SDM. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05. dan PT. secara keseluruhan sangat dipengaruhi oleh kinerja penyaluran dari lima BUMN yaitu PT Pertamina.693 triliun. Program Bina Lingkungan Tahun 2005 . 47 . Adapaun sumber dana Program Bina Lingkungan yaitu: 1) Penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen). keahlian/pengetahuan. BUMN wajib melaksanakan survey untuk memastikan kebenaran. Jumlah penyaluran dari 5 BUMN Dari jumlah dana tersedia Pertamina mempunyai kontribusi terbesar yaitu 1. 5) Bantuan sarana ibadah. Realisasi Penyaluran Dana Program Bina Lingkungan Program Bina Lingkungan. Pelaksanaan penyaluran dilakukan secara langsung kepada objek penerima bantuan. Telkom. PT.2009 a.d. namun tidak menutup kemungkinan bekerja sama dengan pihak lain berdasarkan kondisi/pertimbangan tertentu. Bank Mandiri. 4) Bantuan pengembangan prasarana dan atau sarana umum. Total penyaluran dari lima BUMN tersebut mencapai 2.4.2. Terhadap objek bantuan.

Realisasi Program Bina Lingkungan BUMN Peduli Kementerian BUMN bersama BUMN melaksanakan program Bina Lingkungan BUMN Peduli yang merupakan program bina lingkungan yang dilakukan secara bersamasama antar BUMN dan pelaksanaannya ditetapkan dan dikoordinir oleh Menteri BUMN. Fokus Program Bina Lingkungan BUMN peduli pada tahap rehabiitasi adalah pembangunan sarana umum dan pemulihan ekonomi masyarakat antara lain pembangunan pasar. gempa bumi di Padang dan Bengkulu. Bina Lingkungan BUMN Peduli telah berpartisapasi aktif dalam berbagai penanggulangan bencana alam antara lain bencana Tsunami Aceh. banjir besar Jakarta. Selama kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2009. pusat kesehatan masyarakat desa dan penyediaan air bersih. BUMN wajib pula memperhatiakn azas pemerataan dalam penyaluran. obat-obatan dan perawatan selama periode darurat dan tahap rehabilitasi yang merupakan bantuan pasca bencana.kebutuhan dan kewajaran permintaan bantuan. gempa bumi Jogjakarta. Mengingat dana yang terbatas. jembatan. sekolah dan sarana ibadah. Program bantuan untuk bencana dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap tanggap darurat berupa bantuan sembako. 48 . Penyaluran dana Bina Lingkungan per tahun serta akumulasi dana Bina Lingkungan sampai dengan tahun 2009 disajikan sebagai berikut: (Rp Juta) Prognosa 2009 b. bencana Situ Gintung dan bencana gempa di Jawa Barat.

49 . Program Bina Lingkungan BUMN Peduli tahun 2009 berupa bantuan pendidikan beasiswa pendidikan dan pelatihan yaitu pemberian beasiswa untuk S1. bantuan untuk pelatihan tetap dilaksanakan. otomotive. Buku-buku yang disumbangkan kepada sekolah didaerah lokasi Gempa berupa buku-buku referensi penunjang pelajaran dan majalah-majalah sains agar dapat membantu meningkatkan pengetahuan umum siswa. Dalam rangka membantu mengurangi tingkat penganguran. Bentuk pelatihan lain diberikan pula kepada guru guru SMP. S2 dan S3 yang direncanakan akan dikerjasamakan dengan pihak Universitas Negeri. tujuannya terutama untuk siswa putus sekolah agar mendapat pelatihan guna mendapat pekerjaan. bantuan diberikan dalam bentuk bea siswa dan bantuan buku kepada siswa sekolah. garment dan keterampilan lainnya. Disamping itu program ini juga untuk mahasiswa kurang mampu yang akan menyelesaikan program pendidikannya. MTs dan SMA berupa pelatihan mengajar Fisika secara gampang. asik dan menyenangkan. mulai SD sampai dengan SMA.Pada tahun 2008 Disamping membangun fasilitas umum. dengan demikian diharapkan fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan. Selain program bea siswa pendidikan untuk pendidikan formal. Program ini sangat membantu guru-guru dalam memberikan metode lain pengajaran Fisika pada siswa. BUMN Peduli telah membuat program BUMN peduli pendidikan dan pelatihan dalam bentuk memberikan pelatihan keterampilan praktis seperti Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) dibidang las. bengkel.

06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.78 Triliun dan Rp 72. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3.98 Triliun.15% dan 11.04 Triliun per tahun atau mengalami peningkatan rata-rata sekitar 25% per tahun. Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.03 Triliun pada tahun 2009.03 Triliun dan Rp 566.150. maka dalam kurun waktu tahun 20052009 BUMN telah menyalurkan dana Program Kemitraan sebesar Rp 8. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110. BUMN juga menyumbangkan kontribusi pajak.25 Triliun dan Rp 370.65 Triliun per tahun.57 Triliun dan Rp 25.417 orang/unit kerja. yaitu berupa dividen rata-rata dividen sebesar Rp 23. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara. Disamping kontribusi Dividen.20%. 50 . Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan oleh BUMN selama kurun waktu 2005-2009 seluruhnya mencapai sebesar Rp 1.84 Triliun pada tahun 2009.Kinerja seluruh BUMN selama periode waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1.291. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang yang ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik. yang dalam periode 20042008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61.

tindakan/kegiatan penataan jumlah dan skala BUMN menuju jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing) sebagaimana telah dikemukakan dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 yaitu tahun 2007 menjadi 102 BUMN. 25 BUMN Besar per Desember 2008. Kegiatan restrukturisasi yang salah satu pokok utamanya adalah regrouping/konsolidasi BUMN secara sektoral untuk memetakan kembali jumlah dan skala usaha masing-masing BUMN/sektor tersebut. dalam rangka sosialisasi Master Plan BUMN Tahun 2005-2009.BAB III RENCANA DAN PELAKSANAAN PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2005-2009 Selama kurun waktu tahun 2005-2009 Kementerian BUMN telah melakukan berbagai upaya pembinaan BUMN untuk meningkatkan kinerja dan nilai BUMN. Sektor Industri Strategis. mengharuskan adanya kajian bersama antara Menteri BUMN dan Menteri Keuangan (Menteri Teknis jika diperlukan). dan modal perusahaan tumbuh lebih lambat serta return relatif masih rendah karena selama ini sebagian besar kegiatan BUMN dibiayai dari dana eksternal/hutang. Kajian-kajian yang telah dilakukan terhadap beberapa sektor menggunakan DIPA Kementerian BUMN dan biaya perusahaan selama tahun 2005-2009 adalah Sektor Perkebunan. menunjukkan lebih dari 97% dari total aset dan laba bersih serta 92% ekuitas dan 87% penjualan seluruh BUMN. Kementerian Keuangan. untuk mendapatkan jumlah dan skala yang lebih ideal (rightsizing). Secara umum dari data-data yang disajikan terlihat bahwa pertumbuhan aset BUMN tidak/kurang agresif. Sektor Farmasi. Sebenarnya jumlah BUMN sebanyak 141 BUMN seperti sekarang ini. Berdasarkan ketentuan yang ada. Holding PT RNI. tahun 2008 menjadi 87 BUMN. DPR (Komisi VI dan Komisi XI) dan dalam berbagai kesempatan dan seminar juga telah disampaikan rencana jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). mungkin bukan merupakan 51 . telah disampaikan Master Plan tersebut kepada pihak-pihak terkait yaitu antara lain Kantor Kementerian Perekonomian. Di samping itu. Sektor Pertambangan serta Sektor Dok dan Perkapalan. sampai dengan akhir 2009 memang belum dapat dilakukan sepenuhnya. tahun 2009 menjadi 69 BUMN. karena berdasarkan data yang ada. Sektor Konstruksi. disadari bahwa perlu dilakukan upaya-upaya pembinaan lebih lanjut untuk lebih meningkatkan kinerja dan nilai BUMN tersebut. Namun demikian.

1 Rencana Rightsizing Tahun 2005-2009 Pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing) merupakan inti dari program restrukturisasi sektoral tahun 2005-2009. 52 . Holding. program rightsizing tersebut tetap berpegang pada asas-asas yang telah disepakati dalam konstitusi yaitu Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945. Strategi rightsizing tersebut telah digariskan oleh Kementerian BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN secara menyeluruh dalam rangka mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal. 4) Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market.2009 III. dan Likuidasi Rencana program rightsizing tahun 2005-2009 atas masing-masing opsi dapat disampaikan sebagai berikut : a. 3) Belum memiliki potensi untuk dimerger ataupun holding. Secara garis besar. III. 2) Single player atau masuk sebagai pemain utama. Merger/Konsolidasi. Stand Alone Kebijakan stand alone (BUMN tetap seperti sediakala) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN-BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu kriteria sebagai berikut: 1) Market share cukup signifikan dan mengandung unsur keamanan. Divestasi. tata cara dan model penataan perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional.1. Selanjutnya. terutama mengenai keberadaan BUMN.1 Rencana Program Tahun 2005 . Beberapa opsi untuk rightsizing tersebut secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut Stand Alone.masalah sepanjang memiliki kinerja yang baik yang memberikan konstribusi yang terus tumbuh dalam perekonomian nasional.

Holding Pembentukan holding menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda.1. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan.a) b. 3) Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. terdapat 35 BUMN yang masuk kriteria stand alone (Lampiran 7. Merger/Konsolidasi Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger atau konsolidasi adalah sebagai berikut: 1) Jenis usaha dan segmen pasar sama. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan di-holding adalah sebagai berikut: 1) Sektor usaha sama. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 11 Sektor BUMN (27 BUMN) yang dilakukan merger/konsolidasi (Lampiran 7.b). 53 . c. 5) Pemerintah merupakan pemilik mayoritas.1. tingkat kompetisi yang tinggi. 2) Kompetisi tinggi. 3) Kompetisi tinggi.Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. 4) Kinerja tergolong kurang baik. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 8 Sektor BUMN (48 BUMN) yang dilakukan holding (Lampiran 7. 5) Going Concern diragukan.1. 2) Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. 4) Masih ada prospek/ bisnis prospektif.c).

2) Berada pada sektor usaha atau industri yang kompetitif atau unsur teknologinya cepat berubah. 7) Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila privatisasi dilakukan melalui pasar modal. Beberapa BUMN yang termasuk dalam kategori ini antara lain BUMN Sektor Angkutan Darat dan Aneka Industri. 54 . Disamping itu terdapat kriteria tambahan yaitu: 1) Berbentuk Persero. 4) Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. Dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 terdapat 27 BUMN yang masuk kriteria divestasi (Lampiran 7. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerugian BUMN lebih lanjut. berada dalam sektor yang kompetitif.d).d. Alternatif ini dilakukan sesuai dengan kriteria dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005. 3) Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Divestasi Kebijakan ini diutamakan bagi investor dalam negeri atau melalui proses akuisisi dan/atau merger/konsolidasi oleh BUMN lain. mengalami kerugian selama beberapa tahun dan mempunyai ekuitas yang negatif.1. skala usaha kecil. 6) Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. e. Likuidasi Kebijakan likuidasi dilakukan untuk BUMN-BUMN yang tidak memiliki kewajiban PSO. 5) Tidak mengelola sumber daya alam yang menurut ketentuan peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi.

III. Sepanjang tahun 2007 – 2011 telah dimasukkan program privatisasi. Sosialisasi PTP serta Pelaksanaan PTP. Penyediaan fasilitas pelayanan umum oleh Pemerintah adalah merupakan amanat dari pasal 34 ayat (3) UndangUndang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Pemerintah bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pemilihan-pemilihan BUMN tersebut untuk diprivatisasi sesuai dengan ketentuan/peraturan yang ada meliputi antara lain. tahun 2008 sebanyak 15 BUMN.2). Sesuai dengan pasal 66 UU nomor 19/2003 tentang BUMN. maka hasil privatisasi diutamakan untuk kepentingan dan pengembangan BUMN. Untuk tahun 2007 sebanyak 24 BUMN.2 Rencana Privatisasi Tahun 2005 . maka prosedur privatisasi meliputi : Penyusunan Program Tahunan Privatisasi (PTP).1. 55 .1. sesuai kebijakan yang dilakukan dalam 5 tahun terakhir. dan 2009-2011 sebanyak 11 BUMN (Lampiran 7. jo Peraturan Pemerintah 59 Tahun 2010.PSO) adalah kewajiban dunia usaha termasuk BUMN untuk melaksanakan penyediaan fasilitas pelayanan umum berdasarkan penugasan dari Pemerintah (Kementerian/Lembaga). industri kompetitif atau kepemilikan negara minoritas. Pembahasan PTP untuk mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. Pemerintah dapat menugaskan penyediaan fasilitas pelayanan umum tersebut kepada BUMN dengan tetap memperhatikan maksud dan tujuan kegiatan BUMN yaitu sebagai unit usaha yang ditugaskan untuk memupuk keuntungan dan menyetor bagian keuntungan (deviden) kepada Negara.2009 Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi.3 Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation PSO) Tahun 2005 . III. Konsultasi dengan DPR untuk mendapatkan persetujuan.2009 Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Di samping itu.

PSO). legislatif. Mewujudkan sistem dan prosedur baku yang bersifat teknis operasional dalam pelaksanaan PSO. Evaluasi atas Laporan pelaksanaan PSO-BUMN tahun lalu. Mengupayakan penurunan peran PSO secara selektif dalam pengaturan ekonomi berdasarkan perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kebijakan Pemerintah. substansi dan peran strategis program PSO. yang dilaksanakan setiap tahun. prinsip. yang dilaksanakan setiap tahun. yaitu: - Mewujudkan kesamaan persepsi stakeholder (Eksekutif. Menerapkan analisa ” risk management ” dalam pelaksanaan PSO. - - Penjabaran atas arah kebijakan tersebut diatas dituangkan dalam bentuk Program Kerja Utama sebagai berikut: - Pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya PSO-BUMN tahun yang akan datang. Dalam rangka mewujudkan amanat UUD 1945 dan UU No. maka Pemerintah harus memberikan kompensasi atas semua biaya yang telah dikeluarkan oleh BUMN termasuk margin yang diharapkan. Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure/SOP) Pelaksanaan Kewajiban Pelayanan Umum oleh BUMN. yudikatif dan BUMN) terkait dengan pengertian. Kementerian BUMN telah menetapkan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . 19/2003 tersebut diatas. Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri Negara BUMN tentang Model Pemisahan Administrasi Pembukuan Kegiatan Kewajiban Pelayanan Umum dari Kegiatan Komersial di BUMN. yang dilaksanakan setiap tahun. Monitoring (on the spot) Pelaksanaan PSO-BUMN tahun yang lalu.dalam arti apabila penugasan (yang wujudnya berupa penyediaan barang dan jasa tertentu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat) tersebut menurut kajian tidak fisibel. - 56 .

pada tahun 2006 Kementerian BUMN membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset.1. Dalam rangka mengantisipasi berbagai persoalan yang kemungkinan timbul dalam pengelolaan asset. dan optimalisasi aset-aset tidak produktif melalui “pola kerjasama” dengan pihak ketiga terhadap aset-aset yang idle/underutilized untuk menciptakan nilai tambah dan “pola penghapusbukuan” terhadap asetaset yang secara ekonomis tidak menguntungkan untuk tetap dipertahankan. sebagai kelengkapan unit yang menangani penghapusbukuan/pelepasan asset BUMN.4 Program Optimalisasi Aset BUMN Tahun 2005-2009 Aset BUMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang sudah dipisahkan dan disertakan pada BUMN untuk dikelola dan dimanfaatkan secara optimal oleh Direksi BUMN dalam rangka menghasilkan barang dan/atau jasa sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian masing-masing BUMN.III. Namun demikian. Terdapat beberapa peraturan dan kebijakan sektoral yang diterbitkan oleh instansi/lembaga/pemerintah daerah yang cenderung menyebabkan upaya optimalisasi aset oleh BUMN menjadi tidak mudah untuk dilakukan. Sampai dengan saat ini. Hal ini terkait keterbatasan informasi dan koordinasi antar masing-masing BUMN. kegiatan pengelolaan aset dimaksud telah dilakukan oleh Direksi BUMN yang meliputi : penggunaan aset-aset produktif sebagai prasarana/sarana produksi. Beberapa permasalahan yang menjadi kendala optimalisasi aset BUMN tersebut antara lain : Belum adanya ketentuan dan prosedur baku mengenai optimalisasi aset BUMN (baik pendayagunaan maupun pemindahtanganan) yang dapat digunakan sebagai dasar konsep bagi Direksi BUMN dan dasar penetapan kebijakan oleh Kementerian BUMN (selaku Pemegang Saham) yang dapat diaplikasikan dan sesuai ketentuan/peraturan umum terkait yang berlaku saat ini. dalam kenyataannya masih terdapat aset-aset BUMN yang idle/belum termanfaatkan secara optimal. Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung - - kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi 57 . Sinergi BUMN dalam rangka optimalisasi aset-aset BUMN masih belum banyak dilakukan.

Penelitian Manfaat PA 6. dan pengembangan SDM teknologi informasi. dan e-reporting (rincian program terlampir pada Lampiran 10). tata laksana/proses. dan penyajian. Dalam pelaksanaan pengelolaan asset BUMN. telah disusun rencana pelaksanaan pengelolaan aset sebagai berikut : Rencana Kegiatan / Tahun 1.5 Program Pengembangan Teknologi Informasi Tahun 2005-2009 Sebagai acuan arah pengembangan teknologi informasi. Menyusun Kajiaan SOP 2. Menyusun Ketentuan Baku 3. serta pendokumentasian laporan BUMN. pengoperasian.1. pengembangan.BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. Pemetaan Aset Idle 5. cepat. digital dokumen. dan relevan dilakukan pengumpulan. pengolahan. kebijakan teknologi informasi. Tata kelola teknologi informasi mencakup SDM/organisasi. dan teknologi. aplikasi. Laporan BUMN dikumpulkan dalam bentuk hardcopy. telah disusun master plan teknologi informasi Kementerian BUMN tahun 20062009 yang berisi road map dan action plan per tahun berkaitan dengan tata kelola teknologi informasi yaitu perencanaan. Monitoring Berkala 2007 konsultan 2008 2009 Keterangan selesai 2007 belum realisasi selesai 2009 belum realisasi belum realisasi terealisasi internal internal internal internal internal internal internal internal III. Sedangkan untuk untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi yang lengkap. 58 . setelah dibentuknya unit organisasi yang menangani Pendayagunaan Aset pada tahun 2006. sehingga dalam master plan dimuat rencana tiga tahun ke depan untuk infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi. pemeliharaan. Menyusun Surat Edaran 4. dan evaluasi/pengedalian.

2). Adapun PT Bank Ekspor Indonesia yang semula berada dalam BUMN dengan kriteris Stand Alone. Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008 dengan rekomendasi : Holding BUMN Dok dan Perkapalan dengan terlebih dahulu dilakukan restrukturisasi internal 2). Sektor BUMN Farmasi Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis. rekomendasi : Konsolidasi usaha melalui peleburan KAEF dan INAF adalah lebih baik dibandingkan dengan struktur konsolidasi usaha lainnya. BUMN Dok dan Perkapalan 59 . sesuai dengan Inpres Nomor 5 Tahun 2008 tentang fokus program ekonomi tahun 2008-2009 karena beberapa hal antara lain.2009 III. Rencana Rightsizing 139 BUMN menjadi 102 BUMN pada tahun 2007. 87 BUMN pada tahun 2008 dan 69 BUMN tahun 2009 (sebagaimana lampiran) secara umum belum dapat dilaksanakan termasuk pergeseran jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (righsizing). Stand Alone Terhadap 35 BUMN besar dalam Master Plan BUMN Tahun 2005-2009 dalam pelaksanaannya menjadi 34 BUMN.2009 a. sesuai dengan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2009 telah menjadi Lembaga Ekspor Indonesia yang pembinaan dan pengawasan di bawah Menteri Keuangan.2. Merger/Konsolidasi Terhadap 11 sektor BUMN yang direncanakan akan dimerger/ konsolidasi dalam Master Plan Tahun 2005-2009.1 Pelaksanaan Restrukturisasi Tahun 2005 . Restrukturisasi Sektoral dalam rangka perampingan BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). belum seluruh BUMN dilakukan kajian dan masih diperlukan koordinasi beberapa instansi terkait.III. 1). telah dilakukan kajian beberapa sektor BUMN sebagai berikut: No 1).2 Pelaksanaan Program Tahun 2005 .

kehutanan telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. Sektor Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani Kegiatan Sudah dilakukan kajian oleh E&Y pada th 2003. Untuk sektor perdagangan. Brantas.No 3). Rapat forum BUMN karya. Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 3). Telah dilakukan kajian oleh Citigroup. namun masih diperlukan kajian lebih lanjut. Kontruksi: Adhi. PP. ANTAM TIMAH : & 60 . 3). Sedangkan 5 sektor lainnya belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkannya dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi kriteria dan adanya keterbatasan waktu untuk diulang kembali. WIKA. 5 BUMN konsultan masuk ke BUMN konstruksi. 5 BUMN konsultan divestasi. HK. Waskita. 9 BUMN konstruksi jadi 6 BUMN. Nindya. Konsultan Hukum & Perpajakan yang ditunjuk oleh BUMN Pertambangan dan dikoordinir oleh Deputi PISET. Sektor BUMN Perbankan dan Jasa Keuangan Kegiatan Telah dilakukan kajian awal pembentukan holding Perbankan dan Jasa Keuangan bersama deputi Teknis. Pertambangan PT BA. Amarta 4). Holding Untuk BUMN-BUMN/ sektor yang direncanakan akan dilakukan/dimasukkan dalam kegiatan holding telah dilakukan kajian sebagai berikut : No 1). pertanian. 2). Istaka. namun konsultan independen mengundurkan diri. dimana hal tersebut juga dalam rangka menindaklanjuti PBI Nomor 8/16/2006 tentang Kepemilikan Tunggal pada Perbankan Indonesia Telah dilakukan kajian restrukturisasi BUMN Perkebunan oleh Konsultan Independen PT Danareksa Sekuritas & PT Bahana Securities tahun 2005 dengan rekomendasi pembentukan satu holding (satu perusahaan induk) Konsultan PT Primus Sarana Artha Consultan Hasil kajian : 9 BUMN konstruksi menjadi 4-5.

pendekatan yang digunakan dalam pendekatan holding pada akhirnya bukanlah pembentukan super holding melainkan pembentukan holding secara sektoral. sektor kebandarudaraan dan sektor pelabuhan belum dilakukan kajian antara lain disebabkan karena belum dapat dimasukkan dalam rencana anggaran DIPA Kementerian BUMN dan sebagian sektor BUMN yang telah dimasukkan dalam anggaran DIPA tidak berhasil dilakukan kajian karena dalam proses pelelangan yang dilaksanakan oleh Tim lelang Kementerian BUMN tidak ada konsultan yang memenuhi. Selanjutnya manajemen PT BUMN Holding melakukan langkahlangkah konsolidasi internal (merger.No 5). Sedangkan untuk PT BBI direkomendasikan untuk likuidasi atau alternatif lain adalah pembentukan Strategic Holding Company (SHC). maka telah pula dilakukan kajian mengenai pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan seperti dikemukakan dibawah ini. Namun demikian. namun konsultan independen mengundurkan diri karena tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai waktu yang ditentukan. rekomendasi : revitalisasi bagi PT KS (revitalisasi. Sebagai gambaran tentang rencana pembentukan super holding dapat disampaikan sebagai berikut: Alternatif I : Top Down/ Secara Sekaligus Super Holding dibentuk melalui pendirian Satu Perusahaan Induk (PT BUMN Holding) yang penyertaannya berasal dari inbreng penyertaan Negara RI pada 141 BUMN. akuisisi. Untuk sektor kawasan. PT INKA dan PT Barata Indonesia. likuidasi dll) - 61 . Sektor BUMN Industri Strategis Kegiatan Telah dilakukan kajian yang berkoordinasi dengan KAP Aryanto Amir Jusuf & Mawar tahun 2005 bersama-sama dengan Deputi Teknis. Khusus mengenai holding. PT PAL. divestasi perusahaan anak & privatisasi). Sedangkan untuk sektor pelayaran telah dilakukan kajian awal oleh konsultan independen. holding sektoral.

 Mengevaluasi pelaksanaan sistem perencanaan pengelolaan keuangan pada sub2 holding. Holding Farmasi. Holding Karya dll. Investasi dan Pengembangan  Merencanakan. Holding Pertambangan. pertambangan. - Alternatif III : Fokus BUMN2 Besar dan Sektoral Yang Sudah Selesai Kombinasi holding sektoral yang relatif sudah selesai (perkebunan.  Mengkoordinasikan penyusunan sistem perencanaan dan pengelolaan keuangan serta sistem akuntansi keuangan. dan 62 . mengkaji dan menyusun kebijakan-kebijakan yang menyangkut masalah2 keuangan dan pendanaan untuk investasi/pengembangan dan strategic procurement. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis tentang investasi/pengembangan serta strategic procurement pada sub2 Holding. maka dilanjutkan dengan pembentukan Super Holding BUMN(PT BUMN Holding).  Mengevaluasi pelaksanaan investasi dan pengembangan dan strategic procurement pada sub2 Holding.Alternatif II: Bottom Up/ Secara Sektoral (Approach yang dijalankan bertahap selama ini) Pembentukan Super Holding dilakukan secara bertahap melalui pembentukan Holding-Holding sektoral misal Holding Perkebunan.  Mengkoordinasikan program investasi dan pengembangan serta strategic procurement sub2 Holding. farmasi. Setelah Holding Sektoral terbentuk. Keuangan  Merencanakan. fungsi-fungsi yang ditangani “Super Holding” antara lain: Perencanaan Korporasi. dll) dan BUMN2 besar Dalam kajian tersebut.

 Mengkoordinasikan sitem administrasi dan analisa seluruh informasi serta sistem perencanan dan pengembangan SDM pad sub2 holding  Mengevaluasi kebijakan-kebijakan sistem dan teknologi informasi pad sub2 holding. Rencana divestasi terhadap 27 BUMN tersebut tidak terlaksana karena beberapa hal sebagai berikut: No 1). PT Semen Baturaja.31% saham PT PGN pada tahun 2006 yang merupakan divestasi lanjutan IPO tahun 2003 yang telah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintahnya. PT Virama Karya. PT Pengerukan Indonesia. belum dapat dilaksanakan seluruhnya. Khusus untuk PT Pengerukan Indonesia berubah dari rencana semula privatisasi menjadi pengalihan saham secara inbreng kepada PT Pelindo I-IV 2).3% saham PT BNI pada tahun 2007 yang masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2007. 4). PT Sarana Karya. PT Merpati Airlines (MNA) Nusantara 3). PT Suveyor Indonesia. serta 11. Divestasi Dari rencana divestasi sebanyak 27 BUMN sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. PT Asuransi Jasa Indonesia. PT Sucofindo. PT Indah Karya. PT 63 . BUMN PT Garuda Indonesia Keterangan semula direncanakan divestasi melalui strategic sale. PT Asuransi Jiwasraya. PT Yodya Karya. PT Industri Sandang Nusantara.  Merencanakan. PT Indra Karya.- Teknologi Informasi dan Komunikasi  Merencanakan. mengkaji dan menyusun kebijakan sistem informasi dan komunikasi Super holding. mengkaji dan menyusun kebijakan2 strategis terkait SDM. namun dalam perjalanannya berubah menjadi privatisasi melalui IPO melalui penerbitan saham baru dan telah mendapat persetujuan DPR tahun 2009 Dilakukan restrukturisasi / penyehatan oleh PT PPA pada tahun 2007 karena kondisi keuangan yang buruk Telah masuk dalam Program Tahunan Privatisasi Tahun 2008. Namun pelaksanaan divestasi hanya dapat dilakukan terhadap 2 BUMN yaitu divestasi 5. namun belum mendapatkan persetujuan DPR.

PT Asuransi Ekspor Indonesia. Restrukturisasi Korporasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. namun tidak mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan. Perum Damri. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Cambrics Primissima PT Danareksa. 6). Belum diusulkan masuk dalam PTP 5). Direncanakan akan masuk dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2012 Direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. Keterangan 4). restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk 64 . Dan saat ini sedang dilakukan penjualan aset melalui lelang. PT Boma Bisma Indra.No BUMN Bina Karya. PT Konversi Energi Abadi (PT EMI) PT Garam Telah diusulkan dalam Program Tahunan Privatisasi tahun 2007. telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk dan tidak ada prospek usaha. PT PANN Multi Finance. Likuidasi PT Industri Soda Indonesia (ISI) yang semula direncanakan untuk didivestasi sesuai Master Plan BUMN Tahun 2005-2009. PT Industri Gelas 5). b. telah dilakukan likuidasi (dibubarkan) berdasarkan RUPS Luar Biasa pada tanggal 9 Oktober 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2008 karena kondisi keuangan perusahaan yang sangat buruk Diputuskan direstrukturisasi untuk kelangsungan usaha mengingat kondisi keuangan yang memprihatinkan. PT Reasuransi Umum Indonesia. Restrukturisasi oleh PT PPA 7). PT Industri Soda Indonesia 8).

PT Bahtera Adhiguna (Persero) Menyiapkan PT Bahtera Adhiguna (BAG) dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) 2008. relokasi operasi dan penambahan modal kerja. Serta tahun 2008 kwartal IV. Sejalan dengan program restrukturisasi tersebut pada tahun 2007 dan 2008 PT Garuda Indonesia direncanakan akan diprivatisasi. organisasi dan SDM serta armada. sesuai 65 . Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Garuda Indonesia telah mendapatkan suntikan dana PMN pada tahun 2006 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 500 miliar (total Rp 1 triliun). dan modal kerja. Dalam melakukan restrukturisasi tersebut PT Merpati Nusantara Airlines telah mendapatkan suntikan dana PMN. yaitu Tahun 2006 sebesar Rp 75 miliar dan 2007 sebesar Rp 450 miliar untuk restrukturisasi hutang. Restrukturisasi yang telah dilakukan selama tahun 2005-2009 sebagai berikut: 1). PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) Restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim. revitalisasi armada. Karena Kondisi BAG yang memprihatinkan. 2). mendapatkan Arahan Komite Privatisasi dan Rekomendasi Menteri Keuangan serta telah mendapatkan persetujuan DPR RI. armada. restrukturisasi pegawai/lay off. 3). menerima dana restrukturisasi sebesar RP 300 miliar melalui PT PPA yang digunakan untuk restrukturisasi SDM. PT Garuda Indonesia (Persero) Restrukturisasi PT Garuda Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian dalam bentuk tim.memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. namun belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR. Restrukturisasi yang telah dan sedang dilakukan adalah restrukturisasi hutang. Sudah dibahas dalam Panja Komisi VI dan Komisi XI DPR RI.

maka Rukindo juga sedang disiapkan untuk diinbrengkan kepada Pelindo I – IV. Perum Pegadaian Saat ini sudah dilakukan kajian untuk proses pemerseroan Perum Pegadaian. sedangkan unit Deputi Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi hanya mengikuti perkembangan pelaksanaan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut dalam pembahasan-pembahasan dengan PT PPA dan Unit Teknis bersama Menteri BUMN. maka bersama Kedeputian Teknis dan Sekretaris Kementerian sedang disiapkan usulan inbreng BAG kepada PLN (semula direncanakan BAG diakuisisi PTBA). 4). karena PT Pengerukan Indonesia belum memperoleh persetujuan Pimpinan DPR untuk diakuisisi oleh Pelindo I – IV yang selama ini membiayai restrukturisasi Rukindo. Restrukturisasi Korporasi yang Ditangani oleh PT PPA Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset . 5). yaitu restrukturisasi BUMN sebagai berikut : PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuna Tirta Prakarsya (Persero) 66 . maka tugas restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN menjadi tugas PT PPA (matriks penanganan restrukturisasi oleh PT PPA sesuai Lampiran 8).pembahasan dengan Meneg BUMN. PT Pengerukan Indonesia (Persero) Menyiapkan Rukindo dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2008. 6). Seperti halnya dengan BAG.

2009 telah dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a.2 Pelaksanaan Privatisasi 2005 . PTPN IV (ditunda pelaksanaannya). PTPN VII (ditunda pelaksanaannya) dan PT Rekayasa Industri/minoritas (ditunda pelaksanaannya). Melakukan pembahasan dengan Tim Pelaksana Komite Privatisasi. PTPN III (ditunda pelaksanaannya).- Perum Pengangkutan Djakarta Perum Produksi Film Negara PT Balai Pustaka (Persero) PT PAL Indonesia (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) PT Industri Gelas (Persero) PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT PLN (Persero) PT Industri Kapal Indonesia (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) PT Semen Kupang (Persero) III.2009 Selama kurun waktu 2005 . Persiapan Privatisasi Melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). PT BNI Tbk. Mendampingi Menteri BUMN melakukan pembahasan PTP dalam rapat Komite Privatisasi. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008) Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. PT Jasa Marga Tbk. PT Pembangunan Perumahan.2. Seleksi lembaga/profesi penunjang untuk privatisasi PT Wijaya Karya Tbk. 6 BUMN minoritas. PT BTN. - 67 . Berkoordinasi dengan BUMN dalam rangka melakukan konsultasi dengan DPR RI (Komisi VI dan Komisi XI). Menyampaikan Usulan PTP kepada Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi. PT Krakatau Steel (pelaksanaannya direncanakan tahun 2010).

Dan pada tahun 2006 juga tidak ada PTP. 759.174 miliar Rp 1. 3. 2.36 Total Tahun 2007 TAHUN 2008 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 0. sizing atas saham yang akan dilepas oleh Menteri BUMN.362 miliar Rp.7 IPO IPO Rp 4.863.7 T SPO Rp 3.58 miliar Rp 7.63 miliar 72.05 miliar Rp 9.086 mliar Rp. namun pelaksanaan privatisasi PT PGN 68 . 3.2009 Tahun 2005 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena tidak ada PTP (Komite Privatisasi baru terbentuk tanggal 13 Oktober 2006).854 miliar Rp.088 miliar 55. Pelaksanaan penjualan saham Laporan Penyetoran hasil penjualan saham Penetapan biaya dan hasil privatisasi c. 3. Hasil Privatisasi Hasil privatisasi selama pelaksanaan Master Plan Tahun 2005 – 2009 adalah sebagai berikut: PERUSAHAAN PERSEROAN/ BUMN % SAHAM DIJUAL METODE TARGET APBN/ APBN-P HASIL PRIVATISASI APBN PERUSAHAAN % SISA SAHAM NEGARA RI TAHUN 2005 TIDAK ADA PRIVATISASI (Target APBN Rp 1 T) TAHUN 2006 PT PGN Tbk 5.b.3 PT BNI Tbk.086 miliar 76.3 Rp.31 Placement Rp 3.58 miliar 70 68.195 T Rp.08 IPO Rp 5.975.5 T) TAHUN 2009 PT BTN 27.92% TOTAL HASIL PRIVATISASI 2005 .33 TAHUN 2007 11.888. 15 PT Jasa Marga PT Wijaya Karya 30 31. Pelaksanaan privatisasi Koordinasi dengan underwriter/Penasehat Keuangan melakukan due diligence Pembahasan dan penandatanganan dengan lembaga/profesi penunjang perjanjian-perjanjian/kontrak Usulan dan Pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) dengan instansi terkait Pembahasan atas hasil due diligence dan hasil valuasi saham Pembahasan prospektus Usulan penetapan pricing.

Tahun 2009 dilaksanakan privatisasi terhadap PT Bank Tabungan Negara (Persero).Tbk merupakan privatisasi lanjutan yang sudah mendapat persetujuan DPR dan telah ada Peraturan Pemerintah. Pada tahun 2008 tidak ada pelaksanaan privatisasi karena kondisi perekonomian dan pasar modal tidak mendukung. Mengusulkan kembali rencana privatisasi beberapa BUMN kepada Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi. Melakukan persiapan pelaksanaan privatisasi PT Garuda Indonesia dan PT Krakatau Steel yang telah mendapatkan persetujuan DPR dan rencananya akan dilaksanakan pada tahun 2009. Melakukan langkah-langkah persiapan privatisasi terhadap BUMNBUMN yang disulkan tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan privatisasi Beberapa hal yang perlu diperhatikan yang dapat menjadi kendala/tantangan dalam pelaksanaa privatisasi adalah : 1). 4). 2). 3). 69 . rekomendasi Menteri Keuangan dan persetujuan DPR memerlukan waktu yang relatif lama sehingga terkadang sering kehilangan momentum. Pelaksanaan privatisasi dalam rangka restrukturisasi terhadap BUMN yang kondisinya sudah mengkhawatirkan (penyelamatan) sulit dilakukan karena tidak ada/terbatasnya investor yang berminat. Perlunya sosialisasi program privatisasi secara menyeluruh kepada seluruh stakeholders untuk menyamakan persepsi sehingga pelaksanaan privatisasi tidak terhambat. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan Komite Privatisasi. sedangkan pelaksanaan privatisasi terhadap 6 BUMN Minoritas sampai saat ini masih dalam proses karena PP tentang privatisasi 6 BUMN minoritas tersebut baru terbit pada tanggal 31 Desember 2008. 3). d. pelaksanaan privatisasi Yang Hal-hal yang sedang ditindaklanjuti terkait dengan rencana pelaksanaan e. Menindaklanjuti proses pelaksanaan privatisasi 5 BUMN minoritas yang telah mendapatkan ada Peraturan Pemerintahnya. 2). Perkembangan dan Penyelesaian Masih Berlanjut privatisasi adalah : 1).

d.3 Pelaksanaan Public Servive Obligation (PSO) Tahun 2005-2009 Terkait dengan arah Kebijakan Program Kewajiban Pelayanan Umum (Public Service Obligation . Sosialisasi Pelaksanaan PSO.4).PSO). Pembentukan Tim Kecil guna menyelesaikan proses finalisasi Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure . yang dihadiri oleh para pimpinan Komisi IV. dengan menampilkan para pakar dan pejabat K/L sebagai pembicara. 70 . V dan VI DPR-RI. Beberapa ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan privatisasi masih perlu disinkronisasikan kembali. III. para pejabat Departemen Keuangan. Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan PSO. Kementerian BUMN telah melakukan berbagai kegiatan sebagai berikut: a. antara lain melalui: Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) tentang PSO pada tanggal 3-4 Agustus 2006 di Bali. penerima tugas (operator). dimana dari Rakor tersebut telah diperoleh berbagai masukan dan kesamaan pandangan mengenai prinsip pelaksanaan PSO. Finalisasi draft Peraturan Presiden (Perpres) tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure SOP) Pelaksanaan PSO e. para pejabat dari (Kementerian/Lembaga) K/L pemberi tugas PSO. Departemen Keuangan.SOP) Pelaksanaan PSO dengan melibatkan wakil dari Kementerian Keuangan. dan Kementerian BUMN serta para Direktur Keuangan BUMN pelaksana PSO. yang dihadiri oleh para pejabat eselon II K/L pemberi tugas.SOP) Pelaksanaan PSO. dimana dari kajian tersebut telah diperoleh model pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. Kesamaan pandangan tersebut merupakan bahan masukan yang sangat berharga dalam penyusunan konsep Peraturan Presiden tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure .2. Pengkajian pemisahan pembukuan kegiatan PSO dari kegiatan komersial BUMN. Penyusunan draft Peraturan Menteri BUMN tentang Pemisahan Pembukuan Kegiatan PSO dari Kegiatan Komersial BUMN. dan Kementerian BUMN. pada tanggal 12 Mei 2009 di Bogor. c. para Direksi BUMN pelaksana PSO. maupun pemeriksa (auditor). - b. BPK. Keberadaan ketentuan tersebut sangat diperlukan untuk menghindari timbulnya multi tafsir terhadap pelaksanaan PSO baik dari sisi K/L pemberi tugas (regulator).

f. Pendayagunaan Aset BUMN Pendayagunaan aset BUMN dimaksudkan untuk menciptakan nilai tambah atas idle/underutilized sehingga dapat memberikan tambahan kontribusi kepada BUMN. Tabel : Perkembangan Pendayagunaan Aset BUMN Periode tahun 2005 .SOP) Pelaksanaan PSO dan pembahasannya dengan Sekretariat Kabinet. Pendapatan ikutan kegiatan utama BUMN akibat bertambahnya volume dengan adanya kerja sama pemanfaatan aktiva. BUMN akan menikmati pula hal-hal sebagai berikut : Penghematan beban atas aktiva yang semula idle (beban PBB dan biaya perawatan).2009 Keterangan/Tahun Persetujuan Pendayagunaan Aset BUMN Memperoleh Persetujuan Kajian (NDB) Pendayagunaan 2006 0 0 0 2007 45 Surat 17 BUMN 48 Nota 2008 15 Surat 12 BUMN 25 Nota 2009 18 Surat 12 BUMN 32 Nota Catatan : Unit Pelaksana Pendayagunaan Aset baru dibentuk akhir tahun 2006 dan secara efektif melakukan kegiatan pada tahun 2007. Terbebasnya BUMN dari resiko okupasi aset akibat terlantarkan. 71 . Penghapusbukuan dan pelepasan asset yang dimiliki BUMN hanya dilakukan jika berdasarkan pertimbangan teknis dan ekonomis tidak menguntungkan bagi BUMN. Penghapusbukuan dan/atau Pemindahtanganan Aset (Aktiva Tetap) BUMN Kebijakan Kementerian BUMN dalam pengelolaan kekayaan BUMN lebih diarahkan pada optimalisasi/pemanfaatan aktiva tetap yang dimiliki BUMN terutama untuk aktiva tetap berupa tanah dan bangunan. BUMN dapat pula memperoleh akses dana/modal serta akses pasar melalui mitra kerjasama dalam pendayagunaan aset. Manfaat dari pelaksanaan pendayagunaan aset selain dapat menghasilkan tambahan pendapatan. Adapun Data Perkembangan Dana PSO selama 4 tahun terakhir dapat dijelaskan pada Lampiran 9 III. b.4 Pelaksanaan Optimalisasi Aset BUMN 2005-2009 a. Penyampaian draft Perpres tentang Kerangka Dasar (Grand Design) dan Prosedur Operasional Baku (Standard Operating Procedure .2.

Lelang/Hapus Administrasi 2004 144 95 49 8 17 119 2005 52 36 16 5 6 41 2006 23 13 10 1 3 19 2007 69 35 34 3 5 61 2008 2009 66 39 27 10 6 50 58 35 23 8 13 37 c.Penetapan persetujuan Menteri BUMN atas usulan penghapusbukuan dan pemindahtanganan aktiva tetap BUMN dilakukan secara prudent dengan mempertimbangkan aspek legal.Tanah dan Bangunan . Tabel : Perkembangan Penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Periode tahun 2005 . 72 . operasional dan dampak keputusan terhadap kebijakan umum Kementerian BUMN dalam penghapusbukuan aktiva tetap BUMN. telah dilakukan langkah awal sejak tahun 2007 dengan memerintahkan kepada Direksi BUMN untuk melakukan inventarisasi dan pemetaan aktiva tetap yang dimiliki masing-masing perusahaan. Permohonan ijin atas penghapusbukuan harus disertai dengan menyampaikan Pakta Integritas dari Direksi yang bersangkutan.Lainnya Pola Pemindahtanganan : . Untuk mendukung persiapan implementasi Portal Aset Kementerian BUMN tersebut. Penyediaan Sistem Informasi Aset BUMN Dalam rangka mewujudkan wadah inventarisasi data dan informasi asset BUMN berbasis Teknologi Informasi. Kementerian BUMN pada tahun 2008 telah membangun aplikasi portal asset Kementerian BUMN dan telah mulai melakukan sosialisasi kepada 15 BUMN pada tahun 2009.Kepada Pemda/Instansi (jual beli) .Kepada Pemda utk proyek pembangunan .2009 Uraian Surat penghapusbukuan Aktiva Tetap BUMN Jenis Aktiva Tetap : .

(c) tersedianya 300 akun email bagi pegawai. penyimpanan laporan secara fisik di perpustakaan juga sudah dilakukan scaning laporan untuk menuju sistem pendokumentasian secara elektronik. Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam rangka pengumpulan. (c) tersedianya satu PC untuk satu pegawai. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai.196 Kbps. (d) tersedianya draft panduan penyusunan masterplan TI BUMN. dan penyajian.go. Informasi serta Teknologi Informasi 2005 . Penyediaan data dividen baik mencakup kegiatan perencanaan/penetapan target hingga monitoring penyetoran. (b) tersedianya portal publik Kementerian Negara BUMN yang telah diredesain. Jl. portal PKBL. penyediaan 31 server untuk mendukung aplikasi yang dimiliki oleh Kementerian Negara BUMN yang berada di colocation Telkom Slipi dan penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN.id untuk seluruh aplikasi Kementerian Negara BUMN. Pengembangan sistem informasi. portal aset.III. (b) tersedianya layanan internet bagi seluruh pegawai selama 24/7. yaitu (a) layanan pengaduan melalui SMS dengan short code 2866 (SMS Center). - - 73 . pengolahan. disamping telah dilakukan penambahan bandwith layanan internet yang semula 256 Kbps menjadi 4. tata kelola TI BUMN dan sinergi TI BUMN yang dihasilkan oleh kelompok kerja TI BUMN yang dibentuk pada rapat koordinasi bidang TI antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN mulai tahun 2006. Executive Information System (EIS) dan Office Automation (OA).2. Medan Merdeka Selatan 13. serta pendokumentasian laporan BUMN untuk memenuhi kebutuhan data dan informasi adalah: pengumpulan buku laporan BUMN yang kemudian dilanjutkan dengan inputing/pemasukan data ke dalam database.5 Pelaksanaan Penyediaan Data.2009 a. yaitu dengan penggantian dan penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009. Pengembangan Sistem Informasi dan Teknologi Informasi Dalam kurun waktu tahun 2004-2009 pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi yang telah dicapai adalah : Tersedianya draft masterplan teknologi informasi tahun 2006-2009 yang menjadi acuan pengelolaan sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN Pengelolaan infrastruktur sistem informasi/teknologi informasi Kementerian Negara BUMN yaitu (a) tersedianya domain bumn. portal SDM.

 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006. SDM.- Penyiapan dan penyampaian data untuk Laporan Kinerja Pemerintah Pusat yang dilakukan secara periodik yaitu Semester. Namun demikian pengisian/input data ke dalam database existing (sistem lama) tetap dilakukan secara paralel untuk memenuhi kebutuhan informasi di Kementerian BUMN. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. b. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006. instansi pemerintah. Saat ini sedang dilakukan implementasi penyampaian data/laporan secara elektronik berbasis web melalui Executive Information System. Pembangunan dan Pengelolaan Perpustakaan. dan Audited. Pelatihan Portal EIS. 74 . Dengan aplikasi ini maka akan dapat dilakukan electronic reporting.  SDM Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN mulai dari Oktober 2008 . hingga electronic documentation. Implementasi.2009. 1 orang tahun 2004 menjadi 10 orang pada tahun 2009. dan wartawan. Unaudited. Hal ini mengingat dibutuhkan payung hukum dan SDM yang memadai untuk implementasi sistem baru dimana terdapat perubahan cara penyampaian laporan periodik BUMN yang semula disampaikan kepada Menteri BUMN dalam bentuk hardcopy sekarang dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting.  Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN. Sosialisasi dan Pelatihan Aplikasi Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6– 21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. electronic analyzing. Peluncuran dan sosialisasi portal publik diselenggarakan pada 22 Agustus 2007 yang dihadiri oleh 228 undangan yang terdiri dari Direksi BUMN. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN.  Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.

umumnya BPYBDS berasal dari asset eks proyek berupa tanah dan bangunan. dan kelanjutan implementasi sebelumnya.2009 Bantuan pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan investasi Pemerintah pada infrastruktur. efisiensi. meskipun ada beberapa BPYBDS berasal dari eks dana 75 . panduan penyusunan master plan. Berdasarkan data yang tersedia.2. Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi Pengembangan sistem informasi dan teknologi informasi 2010 – 2014 mengacu pada Rencana Strategis Kementerian BUMN 2010 – 2014 dengan memperhatikan perubahan teknologi.Kursus dan Pelatihan  CCNA 1 orang  CISA Reviw Course 2 orang  Linux 15 orang  Zend Framework 3 orang c. Panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN Konsep panduan pengelolaan teknologi informasi di BUMN yang meliputi panduan tata kelola. maka dibutuhkan jumlah SDM yang memadai dan kompeten. kebutuhan. Penyediaan Data dan Informasi Agar perubahan cara penyampaian laporan BUMN kepada Menteri BUMN dalam bentuk dokumen digital dan e-reporting. Melalui Kementerian Teknis Pemerintah melakukan pembangunan fasilitas serta infrastruktur yang dicatat sebagai asset Negara hasil proyek. Hal-hal yang perlu ditindaklanjuti Implementasi Portal Kementerian BUMN Berdasarkan catatan BPK bahwa pemanfaatan aplikasi belum optimal maka perlu diperlukan langkah-langkah untuk mengimplementasikan seluruh modul-modul secara bertahap yang membutuhkan dukungan (sponsorship) dari Menteri BUMN dalam bentuk kebijakan formal dan peraturan. dan panduan sinergi teknolgi informasi dapat ditetapkan Menteri BUMN sehingga dapat diimplementasikan sebagai pedoman bagi BUMN untuk menngkatkan peran teknologi informasi di perusahaan untuk menciptakan nilai tambah dan daya saing. Penambahan jumlah SDM yang memiliki kompetensi Agar organisasi pengelola teknologi informasi dapat optimal mendukung pencapaian strategi dan tujuan Kementerian BUMN dengan memanfaatkan teknologi informasi. maka dibutuhkan kebijakan Kementerian BUMN yang secara terintegrasi mengaitkan dengan kepatuhan BUMN menyampaikan laporan dan dipertimbangkan dalam penilaian kinerja BUMN dan penilaian GCG BUMN. III.6 Pelaksanaan Penanganan Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) 2005 .

6 99.98 milyar 76 . Aset Negara eks proyek Pemerintah diserahkelolakan kepada BUMN dengan ditandatanganinya Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) atau Berita Acara Serah Terima (BAST). Tahun 2009 PMN pada PT PGN dan PJT II sebesar Rp 59.0 Catatan : 1.592.586.566.000.0 12.692. Sebelum ditettapkannya BPYBDS. yang selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Keuangan. Kelayakan penetapan status BPYBDS untuk dijadikan penyertaan atau lainnya seperti disewakan atau dijual putus. Tahun 2007 PMN pada PT Inka sebesar Rp.929.263.4 46.272.talangan/pinjaman dari Pemerintah seperti pada PT Sarana Karya maupun PT Dirgantara Indonesia.041.0 59. Perkembangan Rekapitulasi BPYBDS dan PMN Dalam Rp Juta Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Menjadi PMN Saldo BPYBDS 2007 (Audit) 12.362.100 milyar 2.272 milyar 3. Menteri Keuangan meminta BPKP melakukan reviu/audit guna menetapkan nilai actual BPYBDS yang akan dijadikan PMB.931. Penanganan penetapan status BPYBDS menjadi PMN selama ini belum sebagaimana yang diharapkan. Gambaran penanganan BPYBDS dapat dilihat pada Tabel berikut. mengingat eksisting BPYBDS berasal dari akumulasi tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1990. Rekapitulasi dan penanganan BPYBDS dimulai dari tahun 2007 sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 tentang Tim Penertiban Barang Milik Negara. Kondisi asset BPYBDS sangat bervariatif.0 100. karena beberapa pertimbangan : Pada dasarnya anggaran eks proyek tidak menyebutkan peruntukkan BPYBDS menjadi PMN. Tahun 2008 PMN pada PT PGN sebesar Rp 99. karena kondisi sudah cukup lama.0 50.0 2008 (Audit) 46.929. Tabel.303.2 2009 (un-Audit) 50.991.980. Dalam penetapan BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) diawali dengan usulan dari BUMN kepada Kementerian Teknis pemilik proyek.

Secara umum rencana rightsizing BUMN untuk mencapai jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal serta rencana privatisasi pada tahun 2005–2009 belum dapat terlaksana sepenuhnya karena beberapa hal antara lain masih diperlukannya

kajian independen untuk beberapa sektor serta updating data untuk sektor-sektor yang waktu kajiannya dirasakan memerlukan pembaharuan datanya, kesamaan persepsi, serta sinkronisasi ketentuan dan peraturan perundang-undangan terkait. Dengan adanya kajian yang lebih mendalam serta sosialisasi dan koordinasi dengan instansi terkait, diharapkan program righsizing dan privatisasi dapat terlaksana sesuai rencana. Dari sisi peraturan perundangan, setiap BUMN dapat ditugaskan untuk melaksanakan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). PSO mempunyai peran penting dan strategis dalam pelaksanaan kebijakan Pemerintah khususnya dibidang subsidi. Oleh karena itu kondisi BUMN yang ditugaskan oleh Pemerintah (Kementerian/Lembaga – K/L) untuk melaksanakan tugas PSO harus senantiasa terpelihara dengan baik agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Penugasan Pemerintah (K/L) kepada BUMN harus benar-benar memperhatikan peran dan fungsi BUMN sebagai unit usaha, di sisi lain penugasan Pemerintah tidak dapat dijadikan alasan oleh BUMN untuk mengalami kerugian. Pemisahan pembukuan antara kegiatan usaha komersiil dan kegiatan usaha atas dasar penugasan Pemerintah harus dilakukan secara jelas. Dalam rangka pelaksanaan pendayagunaan aset BUMN, dengan adanya ketentuan baku berupa peraturan Menteri diharapkan pemanfaatan aset BUMN akan semakin optimal. Sedangkan percepatan penyelesaian BPYBDS menjadi PMN akan membantu BUMN dalam melakukan restrukturisasi permodalan sehingga akan meningkatkan leverage perusahaan. Pembangunan dan pengembangan sistem informasi sangat diperlukan dalam proses pengolahan data pada Kementerian BUMN. Pengolahan data dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi sangat mendukung proses analisis secara lebih cepat dan akurat. Hal ini sangat dibutuhkan para pengambil keputusan dalam rangka pembinaan BUMN. Dengan mengikuti kemajuan perkembangan teknologi informasi, Kementerian BUMN akan lebih efektif melakukan pembinaan terhadap BUMN.

77

BAB IV PROGRAM PEMBINAAN BUMN TAHUN 2010 - 2014

IV. 1. Program Restrukturisasi 2010 - 2014 IV. 1.1. Definisi, Maksud dan Tujuan Restrukturisasi Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik negara, restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien dan efektif/produktif dan menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Restrukturisasi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. Pelaksanaan program restrukturisasi harus tetap memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh. IV. 1.2. Ruang Lingkup Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan; b. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi yang meliputi : 1). Peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2). Penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik. 3). Restrukturisasi Internal yang mencakup keuangan, organisasi/ manajemen, operasional, sistem dan prosedur.

78

IV. 1.3. Program Restrukturisasi a. Restrukturisasi Sektoral 1). Rightsizing BUMN Program restrukturisasi sektoral pada intinya adalah untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal yang merupakan kelanjutan dan penajaman dari program rightsizing BUMN yang terdapat di dalam Master Plan BUMN 2005 – 2009. Sebagaimana telah dipaparkan pada bab sebelumnya bahwa dengan memperhatikan perkembangan BUMN yang ada saat ini (tahun 2009) sebanyak 141 BUMN, sebagian besar merupakan perusahaan dengan kinerja dan skala usaha yang relatif kecil dengan kinerja yang belum optimal. Jika diperhatikan, dari 141 BUMN yang ada pada akhir tahun 2009, berdasarkan data per 31 Desember 2008, sebanyak 25 BUMN (25 BUMN besar) telah mempresentasikan 97,16% dari total aset, 91,73% dari total ekuitas, 86,69% dari total penjualan dan 98,11% dari total laba bersih seluruh BUMN. Menyadari bahwa sebagian besar BUMN yang ada saat ini kinerjanya belum optimal dan belum memiliki daya saing yang kuat terutama dalam menghadapi perubahan iklim usaha yang sedemikian cepat dalam era globalisasi dimana kegiatan perusahaan tidak lagi dibatasi oleh batas-batas antar negara dan adanya saling ketergantungan antar bangsa, pasar dan perusahaan-perusahaan. Kenyataan tersebut mengharuskan Pemerintah untuk mengambil langkah-langkah strategis dan nyata guna terwujudnya BUMN yang handal dan mampu menjadi pemain utama (champion) baik di tingkat nasional, regional maupun global, sehingga reformasi BUMN melalui restrukturisasi (revitalisasi), profitisasi dan privatisasi menjadi perioritas utama Kementerian BUMN dalam kebijakan pembinaan BUMN ke depan. Reformasi BUMN yang menjadi perioritas utama kebijakan Kementerian BUMN dalam pembinaan BUMN tersebut dituangkan dalam Program Rightsizing BUMN untuk memperbaiki struktur bisnis BUMN 79

BUMN-BUMN yang secara nyata mengemban fungsi Public Service Obligation (PSO) akan tetap dipertahankan keberadaannya tanpa mengurangi tuntutan efisiensi dan transparansi manajemen. maka kepemilikan Negara pada BUMN tersebut dapat dipertimbangkan untuk tidak mayoritas atau bahkan dilepas (divestasi). BUMN-BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkannya termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak” sebagaimana digariskan pada Pasal 33 UUD 1945 tetap harus dipertahankan kepemilikan mayoritas Negara pada BUMN tersebut. 2). kinerja. Ini berdasarkan pada konsep dasar penataan BUMN bahwa apapun bentuknya kebijakan penataan BUMN tidak boleh mengurangi fungsi pelayanan kepada masyarakat. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam.secara menyeluruh. profil sektoral. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. namun beberapa kriteria di bawah ini setidaknya dapat menerjemahkan berbagai pendapat tersebut yaitu: 80 . Pedoman Rightsizing BUMN “Kesepakatan” yang melibatkan berbagai elemen stakeholders BUMN mengenai bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” perlu diterjemahkan secara lebih riil. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. tertutama untuk sektor-sektor atau BUMN yang dirasakan Negara tidak perlu lagi ikut serta dalam sektor usaha tersebut. Sedangkan terhadap BUMN yang bidang usahanya atau produk/jasa yang dihasilkan tidak termasuk dalam kategori “menyangkut hajat hidup orang banyak”. Kriteria BUMN yang “menyangkut hajat hidup orang banyak” selama ini menjadi perdebatan berbagai kalangan. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. dan dilakukan regrouping/konsolidasi.

BUMN tersebut mayoritas sahamnya harus dimiliki oleh Negara. Mengemban PSO. Mengandung unsur keamanan. Merger/Konsolidasi 81 . Single player atau masuk sebagai pemain utama. Namun hal ini masih menyisakan pertanyaan berapa minimal saham yang harus dimiliki oleh Negara pada kategori ini. mungkin perlu dipertimbangkan untuk mempertahankan kepemilikan Negara sedikitnya 55%. ataukah harus lebih dari 51%. Penataan BUMN melalui penerapan program rightsizing BUMN perlu dikaji secara obyektif dengan mengedepankan kepentingan jangka panjang BUMN dan perekonomian nasional. Apabila suatu BUMN yang bidang usaha atau produk/jasa yang dihasilkan memiliki satu atau lebih kriteria-kriteria tersebut. maka dapat dikategorikan sebagai BUMN yang ”menyangkut hajat hidup orang banyak”. Secara umum cara atau model rightsizing BUMN tersebut dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action dengan gambaran sebagai berikut: Stand Alone Kebijakan stand alone (tetap berdiri sendiri) diterapkan untuk mempertahankan keberadaan BUMN tertentu utamanya yang memiliki salah satu dari kriteria sebagai berikut: Market share cukup signifikan. Berbasis Sumber Daya Alam yang menurut Undang-undang harus dimiliki mayoritas oleh Negara. Keberadaannya berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan umumnya captive market.Amanat Pendirian oleh Peraturan Perundangan untuk tetap dimiliki oleh Negara. Penting bagi stabilitas ekonomi/Keuangan Negara. Konsekuensinya. Belum memiliki potensi untuk dimerger/konsolidasi ataupun holding. Apakah kepemilikan 51% sudah mencukupi. Bila memperhitungkan kemungkinan terjadi dilusi pada momen-momen tertentu. Melakukan Konservasi Alam/Budaya. Terkait erat dengan Keamanan Negara.

Pemerintah merupakan pemilik mayoritas. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal. Kompetisi tinggi. Holding Pembentukan holding ini menjadi pilihan yang rasional untuk BUMN yang berada dalam sektor yang sama namun memiliki produk maupun sasaran pasar yang berbeda. Secara garis besar kriteria untuk BUMN-BUMN yang akan di-merger/konsolidasi adalah sebagai berikut: Jenis usaha dan segmen pasar sama. tingkat kompetisi yang tinggi. Masih ada prospek/ bisnis prospektif. Kompetisi tinggi. Going Concern diragukan. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik. namun masih memiliki potensi untuk digabung dengan BUMN lain. Kinerja tergolong kurang baik. prospek bisnis yang cerah dan kepemilikan Pemerintah yang masih dominan. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan.Kebijakan ini dilakukan untuk mencapai struktur yang prospektif bagi BUMN yang berada dalam sektor bisnis yang sama dengan pasar yang identik dan kepemilikan Pemerintah 100%. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. 82 . sedangkan pemasaran. Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui merger/konsolidasi secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan akan lebih fokus pada kegiatan operasional. seperti penciptaan industri hilir baru. Jenis usaha dan segmen pasar berlainan. Mayoritas saham dimiliki Pemerintah. Beberapa kriteria utama BUMN-BUMN yang akan diholding adalah sebagai berikut: Sektor usaha sama.

terdapat kriteria tambahan lainnya. 83 . Kriteria BUMN yang dapat didivestasi sesuai dengan kriteria BUMN yang boleh diprivatisasi sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). terkait dengan Program Rightsizing. seperti penciptaan industri hilir baru. yaitu: Berbentuk Persero. Divestasi Terkait dengan Program Rightsizing BUMN. kebijakan divestasi dilakukan dengan melepas saham milik Negara pada suatu BUMN dalam jumlah mayoritas. Dalam rangka penyelamatan dan mempertahankan kelangsungan hidup suatu BUMN. sementara kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. Guna meningkatkan kinerja dan pengembangan usaha dibutuhkan modal yang cukup besar. Memperbaiki struktur permodalan dan membuka peluang pendanaan untuk ekspansi bisnis. pendanaan dan kebijakan strategis lainnya ditarik ke perusahaan induk. Menciptakan value creation melalui perbaikan struktur permodalan dan peningkatan kapasitas pendanaan. Memenuhi ketentuan/peraturan pasar modal apabila divestasi saham Negara RI pada suatu BUMN dilakukan melalui pasar modal. Bergerak di bidang usaha yang kompetitif atau pihak swasta juga telah banyak ikut berperan serta dalam menghasilkan produk/jasa yang sama dengan suatu BUMN yang akan didivestasi. sedangkan pemasaran. Meningkatkan skala ekonomis perusahaan dengan daya saing yang lebih baik.Nilai manfaat secara kualitatif yang dapat dicapai melalui pembentukan holding secara umum adalah : Meningkatkan efisiensi karena masing-masing perusahaan asal lebih fokus pada kegiatan operasional. Selain kriteria-kriteria tersebut. dimana kemampuan negara tidak memungkinkan melakukan tambahan modal. Terciptanya sinergi diantara perusahaan asal.

Secara garis besar kriteria BUMN yang akan dilikuidasi adalah sebagai berikut: Tidak ada PSO – ”non strategis” (tidak harus dipertahankan status BUMN). restrukturisasi PT Pertamina dan pelaksanaan rightsizing 33 BUMN. Ekuitas negatif.Likuidasi Kebijakan likuidasi merupakan langkah terakhir yang diambil untuk suatu BUMN guna mencegah kerugian yang lebih besar yang dapat menimbulkan permasalahan yang lebih berat.2014 Sejalan dengan dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Perioritas Pebangunan Nasional Tahun 2010. Melalui penerapanan Program Rightsizing BUMN. Kompetisi usaha tinggi. Eksternalitas rendah. diharapkan Negara akan memiliki beberapa BUMN dengan jumlah dan skala usaha BUMN yang ideal dengan skenario rightsizing sebagai berikut: Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 ± 117 ± 102 ± 91 ± 85 ± 78 BUMN BUMN BUMN BUMN BUMN 84 . Skenario Program Rightsizing BUMN 2010 . terdapat 3 (tiga) program utama yang menjadi tanggung jawab Kementerian BUMN yang meliputi restrukturisasi PT PLN. Dalam beberapa tahun mengalami kerugian terus-menerus. Usahanya tidak prospektif. 3).

WIKA. Amarta Jmlh Sblm 9 SA Adhi. Indah. PT Indah Karya. Waskita.Program Rightsizing BUMN Tahun 2010 No 1 Sektor BUMN Kontruksi: Adhi. PT Nindya Karya. Istaka. Rencana restrukturisasi BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi telah dilakukan kajian oleh Konsultan PT Primus Sarana Artha pada tahun 2005. Amarta. Yodya & Bina 0 2 Pengerukan PT Rukindo 3 Pelayaran : BAG 4 Perkebunan : PT PN I-XIV & RNI 15 - - - 1 5 Aneka Industri : PT Cambric Primissima 6 Pertambangan: PT Sarana Karya Jumlah 1 - - - 0 1 33 - - - - 0 9 BUMN Konstruksi dan Konsultan Konstruksi BUMN Konstruksi terdiri dari PT Adhi Karya Tbk. PT Waskita Karya. PT Amarta Karya. Nindya. PT Virama Karya. PT PP Tbk. PP. Brantas. PT Bina Karya dan PT Yodya karya. PT Istaka Karya. PP. PT Wijaya Karya Tbk. PT Brantas Adipraya. HK. Istaka 5 5 BUMN Konsultan Konstruksi dialihkan ke BUMN Konstruksi SA 1 Diinbrengkan ke Pelindo 1 Diinbrengkan ke PLN PTPN I-XIV & RNI 0 0 Jenis Restrukturisasi L D H MK Waskita diambil alih oleh PPA Jmlh Stlh 8 Konsultan Konstruksi : Indra. Brantas. Nindya. Virama. PT Hutama Karya. HK. 85 . BUMN Konsultan Konstruksi terdiri dari PT Indra Karya. WIKA.

PT Waskita Karya. mengingat hasil kajian sudah cukup lama (tahun 2005). 86 . PT Virama Karya. PT Wijaya Karya Tbk. yaitu PTPN I – XIV dan PT RNI. PT Bina Karya dan PT Yodya karya) akan dilakukan program Merger/Konsolidasi dengan mengalihkan saham milik Negara kepada 5 BUMN Konstruksi. sedangkan 5 BUMN Konsultan Konstruksi akan diakuisisi/inbreng ke 6 BUMN tersebut. PT Rukindo Saham Negara RI pada PT Rukindo direncanakan akan diinbrengkan kepada BUMN Kepelabuhan (PT Pelindo I . maka sebelum rencana restrukturisasi dilaksanakan. telah dilakukan penilaian kembali terhadap saham Negara RI pada PT BAG oleh konsultan independen untuk menentukan nilai wajar (nilai pasar) atas saham Negara RI pada PT BAG tersebut yang akan dialihkan kepada PT PLN untuk dituangkan di dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang pengalihan saham tersebut. Hasil kajian merekomendasikan pembentukan satu holding. 5 BUMN Konsultan Konstruksi direncanakan akan diinbrengkan pada BUMN Konstruksi SA. BUMN Perkebunan BUMN Perkebunan terdiri dari 15 BUMN. Memperhatikan kondisi masing-masing BUMN sampai dengan akhir tahun 2009. rencana restrukturisasi 9 BUMN Konstruksi akan dipertahankan SA sebanyak 8 BUMN. PT Indah Karya. PT PP Tbk. Sedangkan 4 BUMN Konstruksi lainnya dan 5 BUMN Konsultan Konstruksi (PT Indra Karya. Rencana Restrukturisasi BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) telah dilakukan kajian PT Danareksa Sekuritas dan PT Bahana Securities pada tahun 2005 dan dilanjutkan oleh Tim Holding BUMN Perkebunan (terdiri dari wakil Kementerian BUMN. Kementerian Keuangan dan BUMN Perkebunan) pada tahun 2006-2007. sedangkan PT Waskita Karya karena memerlukan restrukturisasi permodalan akan dikonsolidasikan dengan PT PPA yang mengakibatkan kepemilikan Negara minoritas. yaitu PT Adhi Karya Tbk. perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. Namun demikian. Sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.IV). PT Hutama Karya. PT BAG Terhadap PT BAG akan dilakukan pengalihan Saham Negara RI pada PT BAG kepada PT PLN dalam rangka penyelamatan PT BAG. Dalam forum BUMN Karya telah disepakati bahwa 9 BUMN Konstruksi akan diregrouping menjadi 6 BUMN.Hasil kajian merekomendasikan dari 9 BUMN Konstruksi akan tetap dipertahankan 5 BUMN Konstruksi Stand Alon (SA).

Telah dilakukan pembahasan di Rakortas pada tanggal 8 November 2007. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. Beberapa tahun terakhir mengalami kerugian dan nilai ekuitas terus menurun. Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008. Dalam seminar tersebut dapat disimpulkan bahwa restrukturisasi BUMN Perkebunan dilakukan melalui pembentukan Holding BUMN Perkebunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2010. Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan. Telah dilaksanakan Seminar tentang Holding BUMN Perkebunan yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Hukum dan Pembangunan pada tanggal 18 Maret 2010 yang dibuka oleh Menteri BUMN dan dihadiri oleh Ketua Komisi VI DPR RI dan beberapa anggota Komisi VI dan Komisi XI DPR RI. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Deputi Menteri BUMN yang membidangi BUMN Perkebunan dan Deputi Menteri BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi. PT Cambrics Primissima PT Cambrics Primissima akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (52. Menteri Pertanian melalui surat Nomor 45/TU. maka rencana restrukturisasi BUMN Perkebunan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. baik internal maupun eksternal telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Nomor S867/MBU/2008 tanggal 11 November 2008 & Nomor S-67/MBU/2009 tanggal 29 Januari 2009. Menanggapi surat Menteri BUMN Nomor S-10/MBU/2008 tanggal 4 Januari 2008 kepada Menteri Keuangan yang juga ditembuskan kepada Menteri. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN. Mengingat kondisi BUMN Perkebunan. terutama akibat krisis keuangan pada akhir tahun 2008.79%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. 87 .210/M/2/2008 tanggal 28 Februari 2008 telah menyatakan sependapat dengan rencana pembentukan holding BUMN Perkebunan.

Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. Pada tahun 2010. Guna memperbaiki kinerja. sejak tahun 2008 telah dilakukan KSO dengan PT Timah Tbk. juga diperlukan adanya alih teknologi. Terbatasnya akses pendanaan karena performance neraca yang terus memburuk. pengembalian KP dan modal kerja. juga diperlukan adanya alih teknologi. sehingga pada akhir tahun 2010 diharapkan jumlah BUMN menjadi ± 117 BUMN. menurut ketentuan Tidak bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Tidak mengelola sumber daya alam yang peraturan perundangan tidak boleh diprivatisasi. PT Sarana Karya PT Sarana Karya akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara (100%) melalui metode penjualan langsung kepada investor (strategic Sale/SS) dengan mengutamakan akuisisi oleh BUMN lain (akusisi) dengan pertimbangan : Berada pada industri/sektor usaha yang kompetitif dan unsur teknologinya cepat berubah. akan terjadi rightsizing terhadap 33 BUMN. Bidang usahanya menurut Undang-undang tidak secara khusus harus dikelola oleh BUMN.Operasional perusahaan mulai terganggu karena peralatan sudah tua dan kesulitan likuiditas. dimana PT Timah Tbk telah memberikan dana sebesar Rp 17. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. 88 . Peralatan dan fasilitas produksi sangat terbatas dan tua dan kesulitan likuiditas. sedangkan kemungkinan untuk mendapatkan tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) sangat kecil. jaringan pemasaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik.86 milyar untuk investasi. Untuk kelangsungan hidup dan pengembangan usaha selain membutuhkan dana. Kesulitan akses pendanaan untuk investasi dan modal kerja karena performance neraca yang jelek. Pangsa pasar masih terbatas (PU). Tidak bergerak di sektor pertahanan dan keamanan.

ASEI. Asabri. RUI. Taspen. Jasa Raharja. Jamsostek. Askrindo - MK - 2 Pelabuhan : Pelindo I-IV 3 Kebandarudaraan : AP I – II 4 Perdagangan : PT PPI. PT PP Berdikari 5 Pelayaran : Pelni. Jiwasraya. KF & Biofarma Jumlah 4 2 - - - 2 1 3 - - - - 1 3 - - - - 1 6 Perhutani 2 - - Inhutani I-V - - 2 - - 1 3 - - - - 1 3 Biofarma 36 - - INAF & KF 2 21 89 . Jasa Raharja. Askrindo Jmlh Sblm 10 Jenis Restrukturisasi L D H Jmlh Stlh 10 SA Askes. Jamsostek. Asabri. ASEI. RUI.Program Rightsizing BUMN Tahun 2011 No 1 Sektor BUMN Asuransi : Askes. PT Pertani 8 Pertambangan : PT BA. Jasindo. ANTAM & TIMAH 9 Farmasi : INAF. Jiwasraya. Jasindo. PT Sarinah. Taspen. Djakarta Lloid. ASDP 6 Kehutanan : Inhutani I-V & Perhutani 7 Pertanian : PT SHS.

Dari 4 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 2 holding BUMN Pelabuhan berdasarkan wilayah. Dengan demikian. BUMN Kebandar-udaraan BUMN Kebandar-udaraan terdiri dari 2 BUMN. PT Jiwasraya dan PT Jasa Raharja dan PT Askrindo. yaitu PT ASABRI. yaitu PT Pelni. PT Jamsostek. PT ASEI. BUMN Pelabuhan BUMN Pelabuhan terdiri dari 4 BUMN. yaitu Wilayah Barat dan Wilayah Timur. yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI. Terhadap 3 BUMN Pelayaran tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN Pelayaran. PT Djakarta Lloyd. 4 BUMN Asuransi (PT ASABRI. yaitu PT Angkasa Pura I & II. PT Taspen. yaitu PT Pelindo I – IV. 10 BUMN Asuransi tersebut tetap SA. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT RUI. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Sarinah dan PT Berdikari. 90 . BUMN Pelayaran BUMN Perlayaran terdiri dari 3 BUMN.BUMN Asuransi BUMN Asuransi terdiri dari 10 BUMN. PT Jasindo. dan PT ASDP. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Askes. PT Jamsostek) akan menjadi Badan Penyelenggara SJSN dengan kemungkinan perubahan bentuk hukum menjadi Perusahaan Umum (Perum). BUMN Perdagangan BUMN Perdagangan terdiri dari 3 BUMN. PT Askes. Dari 2 BUMN tersebut akan dilakukan pembentukan 1 holding BUMN kebandar-udaraan. Terhadap BUMN perdagangan tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Taspen. sehingga tetap menjadi BUMN (SA). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

Telah disampaikan surat Menteri Negara BUMN kepada Menteri Keuangan yaitu Nomor : S-10/MBU/2008 taggal 4 Januari 2008. Nomor S867/MBU/2008 taggal 11 Nopember 2008 & Nomor S-67/MBU/ 2009 taggal 29 Januari 2009 Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2006 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. Perum Perhutani tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) BUMN Pertanian BUMN Pertanian terdiri dari 2 BUMN. PT Timah Tbk dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PT BA Tbk). yaitu PT Bio Farma. maka rencana restrukturisasi BUMN Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. yaitu PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani.BUMN Kehutanan BUMN Kehutanan terdiri dari 6 BUMN. Rencana restrukturisasi terhadap 3 BUMN Pertambangan tersebut telah dilakukan kajian oleh Citigroup sebagai Financial Advisor (FA) dan Soemadipradja & Taher (Konsultan Hukum) pada tahun 2006 yang merekomendasikan pembentukan perusahaan induk (holding) yang mengintegrasikan seluruh BUMN Pertambangan (Integrated Resouces Comapny/IRC). PT Bio Farma tetap dipertahankan SA karena adanya penugasan khusus dari pemerintah untuk memperoduksi vaksin. Terhadap PT Inhutani I – V akan dilakukan pembentukan 1 holding. yaitu PT Inhutani I – V dan Perum Perhutani. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk. BUMN Pertambangan BUMN Pertambangan terdiri dari 4 BUMN. 91 . BUMN Farmasi BUMN Farmasi terdiri dari 3 BUMN. yaitu PT Antam Tbk. Terhadap 2 BUMN Farmasi lainnya (PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk) telah dilakukan kajian oleh PT Mandiri Sekuritas pada tahun 2005. Terhadap BUMN Pertanian tersebut akan dilakukan Merger/Konsolidasi menjadi 1 BUMN. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu.

PERURI. & Pradya Paramita Jmlh Stlh 2 6 Peruri & PNRI 2 - - - - 1 4 - - - - 1 2 - - - - 0 18 7 92 . BKI. Kertas Leces 3 Penunjang Pertanian : Perum Jasa Tirta I/II 4 Dok & Perkapalan : PT DKB. Program Rightsizing BUMN Tahun 2012 No Sektor BUMN 1 Sertifikasi Sucofindo. Sucofindo 3 Balai Pustaka. PNRI. SI. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. Pada tahun 2011. PAL 5 Aneka Industri : PT Garam PT Insan Jumlah Jmlh Sblm 4 SA BKI Jenis Restrukturisasi L D H Survai Udara Penas KKA & Kertas Leces MK SI. DPS. sehingga pada akhir tahun 2011 jumlah BUMN akan menjadi ± 102 BUMN. akan terjadi rightsizing terhadap 35 BUMN. Survai Udara Penas 2 Kertas & Percetakan/ Penerbitan : PT Balai Pustaka.KKA. PT Pradya Paramita.Hasil Kajian merekomendasikan untuk dilakukan merjer/konsolidasi melalui peleburan PT Kimia Farma Tbk dengan PT Indofarma Tbk. maka rencana restrukturisasi BUMN Farmasi perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. IKI. Alternatif lain yang direkomendasikan adalah pembentukan holding BUMN Farmasi.

Percetakan dan Penerbitan BUMN Kertas. yaitu PT PAL Indonesia. percetakan dan penerbitan terdiri dari 6 BUMN. PT Kertas Kraft Aceh (PT KKA). yaitu Perum Percetakan Uang RI (PERURI). PT KKA dan PT Kertas Leces akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan saham Negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan saham Negara kepada BUMN lain. 93 . Perum Percetakan Regara RI (Perum PNRI). yaitu PT Biro Klasifikasi Indonesia (PT BKI). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Kertas Leces. PT Survei Udara Penas akan dilakukan tindakan likuidasi karena kondisi perusahaan baik keuangan. PT Dok & Perkapalan Surabaya (PT DPS) dan PT Industri Kapal Indonesia (PT IKI). PT Sucofindo. PT BKI akan tetap dipertahankan SA. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Surveyor Indonesia dan PT Survai Udara Penas. PT Balai Pustaka (PT BP) dan PT Pratnya Paramita. PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (PT DKB). namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT BP dan PT Pradnya Paramita akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. BUMN Penunjang Pertanian BUMN Penunjang Pertanian terdiri dari 2 BUMN. PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan dilakukan Merger/Kosolidasi. PERURI dan Perum PNRI akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). BUMN Kertas. yaitu Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II.BUMN Sertifikasi BUMN Sertifikasi terdiri dari 4 BUMN. Rencana restrukturisasi BUMN Dok & Perkapalan telah dilakukan kajian terhadap PT DKB dan PT PAL Indonesia oleh PT Sucofindo Appraisal Utama pada tahun 2008. BUMN Dok dan Perkapalan BUMN Dok & Perkapalan terdiri dari 4 BUMN. operasional dan prospek usaha yang tidak memungkinan lagi untuk dipertahankan. Perum Jasa Tirta I dan Perum Jasa Tirta II akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN.

Posindo 5 Aneka Industri PT Iglas Jumlah Jmlh Stlh 4 Jenis Restrukturisasi L D H BTDC. PT Insan dan PT Garam. Mengingat kajian dilakukan pada tahun 2005 dan beberapa tahun terakhir telah terjadi banyak perubahan kondisi baik internal maupun eksternal. sehingga pada akhir tahun 2012 jumlah BUMN akan menjadi ± 91 BUMN. yaitu PT DPS dan PT IKI. maka rencana restrukturisasi BUMN Dok & Pertambangan perlu dilakukan kajian ulang dengan memperhatikan kondisi terkini. VTP PT Iglas - - 2 - - 0 15 9 94 . EMI 3 Perikanan : Perikanan Nusantara & PPPS 4 Logistik Perum Bulog. Pertamina. PT TWC. akan terjadi rightsizing terhadap 18 BUMN. PT BGR. juga membutuhkan teknologi yang lebih baik. yaitu PT Iglas. jaringan pemsaran yang lebih luas dan sistem manajerial yang lebih baik. PT HIN. selanjutnya dibentuk holding BUMN Dok dan Perkapalan bersama-sama dengan BUMN Dok dan Perkapalan lainnya. Pertamina. PGN. Program Rightsizing BUMN Tahun 2013 No Sektor BUMN 1 Hotel & Pariwisata : PT BTDC. PT VTP.Hasil kajian merekomendasi untuk dilakukan restrukturisasi internal terlebih dahulu. Pada tahun 2012. Posindo 1 - BGR. HIN Jmlh Stlh 3 SA PT TWC PPFN MK - 4 PLN. BUMN Aneka Industri BUMN Aneka Industri terdiri dari 4 BUMN. PGN - PT EMI - - 3 2 - - - 1 4 Bulog. Terhadap PT Garam dan PT Insan akan dilakukan divestasi seluruh saham milik Negara melalui metode penjualan langsung saham Negara RI kepada investor (strategic sale/SS) dengan pertimbangan selain membutuhkan dana untuk memperbaiki kinerja dan pengembangan usaha. PPFN 2 Energi : PLN.

PT BGR dan PT VTP akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara pada BUMN lain. 95 . dan PT Energi Manajemen Indonesia (PT EMI) PT PLN. PT PGN Tbk tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT EMI akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui penjualan langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham Negara kepada BUMN lain. BUMN Logistik BUMN Logistik terdiri dari 4 BUMN. Perum Bulog dan PT Pos Indonesia akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PT PGN Tbk). yaitu PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN). PT TWC Borobudur tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA) karena terkait dengan pelestarian budaya. PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudra akan dilakukan merger/konsolidasi. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Banda Ghara Reksa (PT BGR). PT BTDC dan PT HIN akan dijadikan holding. PT Pertamina. yaitu PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN). yaitu Perum Bulog. PT BTDC. PT TWC Borobudur. yaitu PT Perikanan Nusantara dan Perum Prasarana Perikanan Samudera (Perum PPS). BUMN Energi BUMN Energi terdiri dari 4 BUMN.BUMN Hotel & Pariwisata BUMN Hotel dan Pariwisata terdiri dari 3 BUMN. PT Pertamina. PT Varuna Tirta Prasada (PT VTP) dan PT Pos Indonesia. BUMN Perikanan BUMN Perikanan teridi dari 2 BUMN. namun sebelumnya harus dilakukan kajian terlebih dahulu.

PT Jasa Marga akan tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). sehingga pada akhir tahun 2013 jumlah BUMN akan menjadi ± 85 BUMN. PT Semen Kupang Jumlah 8 PT KS. PT INKA. PT Semen Baturaja 14 PT Semen Kupang - - 2 7 BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan BUMN Angkutan dan Prasarana Angkutan terdiri dari 3 BUMN. Barata. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Dahana. PT Pindad. PT Barata. PT BBI 3 Semen PT Semen Gresik Tbk. 96 . akan terjadi rightsizing terhadap 15 BUMN. & PPD Jmlh Stlh 2 Angkutan & Prasarana Angkutan Darat : DAMRI & PPD.BUMN Aneka Industri PT Iglas akan dilakukan divestasi seluruh saham negara melalui metode penjualan saham negara langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau metode lain yang sesuai. Perum PPD dan Perum Damri akan dilakukan merger/konsolidasi menjadi 1 BUMN. PT Jasa Marga 2 Industri Strategis : PT Inti. PT Semen Baturaja. Program Rightsizing BUMN Tahun 2014 No 1 Sektor BUMN Jmlh Stlh 3 SA PT JM Jenis Restrukturisasi L D H MK Damri. PT INTI LEN. PTKS. Pada tahun 2013. PT LEN. BBI PT Pindad & PTDahana INKA diakuisisi oleh PT KAI 3 3 PT Semen Gresik Tbk. yaitu Perum PPD dan Perum Damri (BUMN Angkutan) serta PT Jasa Marga (BUMN Prasarana Angkutan).

PT Semen Gresik Tbk dan PT Semen Baturaja tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA). PT Pindad dan PT Dahana yang merupakan BUMN dengan bidang usaha yang terkait pada keamanan dan pertahanan akan dilakukan merger/ konsolidasi. yaitu PT Krakatau Steel (PT KS). PT KS dan PT INTI tetap dipertahankan berdiri sendiri (SA PT LEN Industri. PT INKA akan dialihkan kepada PT KAI. sehingga pada akhir tahun 2014 jumlah BUMN akan menjadi ± 78 BUMN. BUMN Semen BUMN Semen terdiri dari 3 BUMN. yaitu PT Semen Gresik Tbk. PT LEN Industri. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Boma Bisma Indra (PT BBI). PT Semen Kupang akan dilakukan divestasi seluruh saham Negara RI melalui metode penjualan seluruh saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI pada PT Semen Kupang kepada BUMN sejenis lainnya.BUMN Industri Strategis BUMN Industri Strategis terdiri dari 8 BUMN. PT Dahana. 97 . PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI). PT Pindad dan PT Industri Kereta Api (PT INKA). PT Barata Indonesia. namun sebelumnya perlu dilakukan kajian terlebih dahulu. PT Semen Baturaja dan PT Semen Kupang. PT Barata Indonesia dan PT BBI akan dilakukan divestasi seluruh saham negara RI melalui metode penjualan saham Negara RI langsung kepada investor (strategic sale/SS) atau pengalihan seluruh saham negara RI kepada BUMN lain. sehingga PT INKA menjadi anak perusahaan PT KAI. akan terjadi rightsizing 14 BUMN. Pada tahun 2014.

PT Askes.Jumlah BUMN Hasil Rightsizing No. 1 BUMN Konstruksi 23 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (PT Waskita Karya) diambil 24 PT Hutama Karya (Persero) alih oleh PT PPA dalam 25 PT Nindya Karya (Persero) rangka 26 PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk restrukturisasi/revitalisasi dan 27 PT Amarta Karya (Persero) 5 BUMN Konsultan 28 PT Istaka Karya (Persero) Konstruksi dialihkan ke 29 PT Brantas Adipraya (Persero) BUMN Konstruksi SA (2010) BUMN PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI 30 Perum Pembangunan Perumahan Nasional SA 31 PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) SA 32 PT Kawasan Industri Makasar (Persero) SA 33 PT Kawasan Industri Medan (Persero) SA 34 PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (Persero) SA 35 PT PDI Pulau Batam (Persero) SA BUMAN FARMASI 36 PT Bio Farma (Persero) SA 37 Hasil Merger/Konsolidasi PT Kimia Farma dan 2011 PT Indofarma BUMN LOGISTIK 38 Perum Bulog PT VTP dan PT BGR dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain 39 PT Pos Indonesia (Persero) (2013) 98 . 6 PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) PT Jamsostek) 7 PT Asuransi Jasa Raharja (Persero) Asuransi menjadi 8 PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) Badan penyelenggaran 9 PT Asuransi Jiwasraya (Persero) SJSN sengan 10 PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) kemungkinan berubah 11 PT Asuransi ABRI (Persero) badan hukum menjadi 12 PT Asuransi Kesehatan (Persero) Perum (2011) 13 PT Asuransi Tabungan Pensiunan (Persero) 14 PT Asuransi Jaminan Sosial Tenaga kerja (Persero) BUMN JASA PEMBIAYAAN 15 Perum Pegadaian SA 16 Perum Jamkrindo SA 17 PT Danareksa SA 18 PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) SA 19 PT PANN Multi Finance (Persero) SA 20 PT Permodalan Nasional Madani (Persero) SA 21 PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) SA BUMN JASA KONSTRUKSI & KONSULTAN KONSTRUKSI 22 PT Adhi Karya (Persero) Tbk 8 BUMN Konstruksi SA. BUMN Keterangan BUMN PERBANKAN 1 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk SA 2 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk SA 3 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk SA 4 PT Bank Tabungan negara (Persero) Tbk SA BUMN ASURANSI 5 PT Reasuransi Umum Indonesia (Persero) 4 BUMN (PT Asabri. PT Taspen.

PT Sarinah dan 2011 PT Berdikari BUMN JALAN TOL 54 PT Jasa Marga (Persero) Tbk SA BUMN BAJA & KONSTRUKSI BAJA 55 PT Krakatau Steel (Persero) PT Barata Indonesia dan PT BBI dilakukan divestasi atau dialihkan ke BUMN lain (2014) BUMN DOK & PERKAPALAN 56 Holding BUMN Dok & Perkapalan (PT PAL. PT Timah. PT Djakarta PT BAG diinbrengkan Lloyd. PT IKI) BUMN ENERGI 57 PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) PT EMI didivestasi 58 PT Pertamina (Persero) 100% (2013) 59 PT Perusahaan Gas Negara (Persero) BUMN INDUSTRI BERBASIS TEKNOLOGI 60 PT Batan Teknologi (Persero) PT LEN Industri didivestasi atau 61 PT Dirgantara Indonesia (Persero) dialihkan kepada BUMN lain. 2012 PT DPS. Prambanan dan Ratu Boko (Persero) SA 41 Holding (PT HIN dan PT BTDC) 2013 42 Perum Produksi Film Negara SA BUMN JASA PENILAI 43 PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) PT Survai Udara Penas dilikuidasi dan PT SI & PT 44 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sucofindo Sucofindo Merger/Konsolidasi dan PT Surveyor Indonesia (2012) BUMN PELABUHAN 45 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Barat 4 BUMN Pelabuhan menjadi 2 (Pelindi I – II) Holding berdasarkan wilayah (2011) 46 Holding BUMN Pelabuhan Wilayah Timur (Pelindo III – IV) BUMN PELAYARAN 47 Holding BUMN Pelayaran (PT Pelni.BUMN PARIWISATA 40 PT TWC Borobudur. 2011 PT BA) BUMN TELEKOMUNIKASI 65 PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) SA 66 Perum LKBN Antara SA 99 . PT Pindad 62 PT Industri Telekomunikasi dan PT Dahana Merger/Konsolidasi dan PT INKA dialihkan ke PT KAI (2014) Indonesia (Persero) BUMN INDUSTRI PERTAHANAN 63 Hasil Merger/Konsolidasi PT Pindad dan PT Dahana 2014 BUMN PERTAMBANGAN 64 Holding BUMN Pertambangan (PT Antam. PT DKB. PT ASDP) kepada PT PLN (2010) BUMN KEBANDARUDARAAN 48 Holding BUMN Kebandarudaraan (PT AP I – II) 2011 BUMN ANGKUTAN DARAT & KERETA API 49 PT Kereta Api Indonesia (Persero) SA 50 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Damri dan PPD 2014 BUMN PENERBANGAN 51 PT Garuda Indonesia (Persero) SA 52 PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) SA BUMN PERDAGANGAN 53 Hasil Merger/Konsolidasi PT PPI.

operasional. restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan yang dilaksanakan dari tahun-ketahun. PT Kertas Leces dilakukan divestasi atau 76 Perum Percetakan Uang Republik Indonesia dialihkan kepada BUMN 77 Hasil Merger/Konsolidasi PT Balai Pustaka dan lain (2012) PT Pratnya Paramita BUMN PUPUK 78 PT Pupuk Sriwijaya (Persero) SA b. 100 . organisasi/manajemen. sistem dan prosedur. Restrukturisiasi perusahaan/korporasi ini dilakukan terhadap segala aspek kegiatan perusahaan yang meliputi keuangan.BUMN SEMEN 67 PT Semen Gresik (Persero) Tbk PT Semen Kupang dilakukan divestasi atau dialihkan kepada BUMN lain (2014) 68 PT Semen Baturaja (Persero) BUMN KEHUTANAN 69 Perum Perhutani SA 70 Holding BUMN Pertaniann (PT Inhutani I – V) 2011 BUMN PERIKANAN 71 Hasil Merger/Konsolidasi PT Perikanan Nusantara dan 2013 Perum PPS BUMN PERKEBUNAN 72 Holding BUMN Perkebunan (PTPN I – XIV dan PT RNI) 2010 BUMN PERTANIAN 73 Hasil Merger/Konsolidasi PT Sang Hyang Seri dan 2011 PT Pertani BUMN PENUNJANG PERTANIAN 74 Hasil Merger/Konsolidasi Perum Jasa Tirta I .II 2012 BUMN PERCETAKAN & PENERBITAN 75 Perum Percetakan Negara Republik Indonesia PT KKA. Program restrukturisasi ini harus dituangkan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) masing-masing BUMN setiap tahunnya. tetapi dilakukan pula pada setiap BUMN guna terus mengupayakan terwujudnya kinerja dan nilai tambah perusahaan yang lebih baik. Melalui pembenahan dalam segala aspek kegiatan perusahaan yang berkesinambungan tersebut BUMN akan memiliki daya saing yang semakin baik yang selanjutnya akan berdampak kepada peningkatan kinerja dan nilai tambah perusahaan. Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi Dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Restrukturisasi perusahaan/korporasi ini tidak hanya dilakukan terhadap BUMN yang mengalami kerugian atau kesulitan dalam kegiatan usahanya.

Selain itu. Berdasarkan data per 31 Desember 2008 (audited). 2). PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT Industri Sandang (Persero) 101 . pada tahun 2009 telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA untuk dilakukan kajian tuntas (due deligence) sebanyak 11 BUMN. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) PT Perusahaan Pengelola Aset. Restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN tersebut. Menteri Keuangan dan Menteri Teknis tempat dimana sektor usaha BUMN bergerak (apabila diperlukan). Dari 22 BUMN tersebut. Tugas Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN antara lain menetapkan BUMN yang akan direstrukturisasi dan/atau direvitalisasi oleh PT PPA serta skema restrukturisasi dan/atau revitalisasi yang akan diterapkan. melalui pembenahan sistem dan prosedur yang tidak dapat terpisahkan dari kegiatan restrukturisasi perusahaan/korporasi akan memperbaiki tata kelola BUMN mengarah kepada tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsipprinsip Good Corporate Governance (GCG). yaitu : 1). BUMN mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir berjumlah 22 BUMN. Khusus untuk penanganan BUMN-BUMN yang mengalami kerugian dan mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional. pelaksanaanya berpedoman kepada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN oleh PT PPA dan dalam pelaksanaannya dibentuk Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi BUMN yang keanggotaannya terdiri dari Menteri BUMN. restrukturisasi dilakukan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. 3). dimana tugas PT PPA ditambah untuk melakukan restrukturisasi dan/atau revitalisasi BUMN.

pada tahun 2009 juga telah diserahkan kepada PT PPA untuk menangani 6 BUMN lainnya yang mengalami kesulitan baik keuangan maupun operasional (tidak termasuk dalam 24 BUMN rugi tersebut di atas). 3). PT Indah Karya (Persero) PT Pelayaran nasional Indonesia (Persero) PT Pengerukan Indonesia (Persero) PT Perkebunan Nusantara XIV (Persero) PT Kertas Leces (Persero) PT Pradnya Paramita (Persero) PT Perikanan Nusantara (Persero) Perum Prasarana Perikanan Samudera PT Boma Bisma Indra (Persero) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero) 102 . PT PAL Indonesia (Persero) PT Waskita Karya (Persero) PT Djakarta Lloyd (Persero) PT PP Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia Natour (Persero) PT Varuta Tirta Persada (Persero) Dari 17 BUMN yang telah diserahkan penanganannya kepada PT PPA. 3). 2). 11). 3 BUMN diantaranya. 5). 7). yaitu PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). 7). 2). 9). yaitu : 1). 6). 6). 9). PT Industri Gelas (Persero) PT Balai Pustaka (Persero) PT Cambrics Primissima (Persero) Perum PPD PT Industri Kapal Indonesia (Persero) Perum PFN PT Survey Udara Penas (Persero) PT Semen Kupang (Persero) Selain 11 BUMN tersebut. 8). Sisanya sebanyak 11 BUMN yang mengalami kerugian 3 tahun dalam 5 tahun terakhir akan dilanjutkan penyerahan penangannya kepada PT PPA pada tahun 2010 adalah : 1). PT PAL Indonesia (Persero) dan PT Waskita Karya (Persero) saat ini sedang dilaksanakan program restrukturisasi dan revitalisasi. 10). 4).4). 5). 6). 5). Sedangkan 13 BUMN lainnya masih dalam proses kajian tuntas (due deligence) dengan progres yang bebeda-beda untuk selanjutnya akan dimintakan keputusan skema restrukturisasi dan revitalisasinya kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi dan persetujuan dari Menteri Keuangan. 8). 10). 4).

maka akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu berdasarkan kinerja per 31 Desember 2009 guna menentukan apakah akan diserahkan kepada PT PPA atau langsung dilakukan restrukturisasi sektoral melalui shareholder action tertentu dalam rangka rightsizing BUMN. Sekretaris Negara dan Presiden yang akan membutuhkan waktu yang relatif cukup lama. penyerahan penanganan restrukturisasi dan revitalisasi BUMN yang memiliki permasalahan kepada PT PPA akan dievaluasi setiap tahunnya guna menentukan BUMN mana yang akan diserahkan. Kementerian Teknis. restrukturisasi BUMN yang memerlukan pendanaan sulit diharapkan mendapatkan suntikan dana dari APBN. Selanjutnya. perlu mendapatkan kejelasan untuk penanganan dampak pajak tersebut. 103 . PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Terhadap 11 BUMN tersebut. Terhadap BUMN yang sulit atau tidak mungkin lagi dipertahankan kelangsungan hidupnya karena kondisi perusahaan yang sudah sangat mengkhawatirkan dan tidak memiliki prospek. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak. Kementerian Hukum dan HAM. dalam penanganannya tetap harus mempertimbangkan berbagai aspek sebelum keputusan likuidasi diambil. tetapi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku juga melibatkan instansi terkait lainnya antara lain seperti Kementerian Keuangan.11). Dengan kondisi keterbatasan APBN saat ini. Hal-hal yang Perlu Mendapatkan Perhatian dalam Program Restrukturisasi Pelaksanaan program restrukturisasi baik restrukturisasi sektoral maupun restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA yang telah dilakukan kajian yang melibatkan tidak hanya Kementerian BUMN. sebelum penanganannya diserahkan kepada PT PPA. DPR RI. sehingga permasalahan yang dihadapi oleh BUMN tidak serta merta dapat diatasi dan kajian yang telah dilakukan memerlukan pemutakhiran data dan kajian kembali. diperlukan peningkatan upaya-upaya koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut. Perlu ditingkatkan sosialisasi program restrukturisasi untuk menyamakan persepsi mengenai tujuan pelaksanaan program restrukturisasi BUMN. Untuk itu.

akuntabilitas. Program Privatisasi 2010 . kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Sedangkan Tujuan privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero.2. Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta 104 . Arah Kebijakan Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. ekonomi makro. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat. dan kewajaran. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif. IV. baik sebagian maupun seluruhnya. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. 2.2014 IV. dan menumbuhkan iklim usaha. Maksud dan Tujuan Privatisasi Sesuai Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi. 2. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Maksud privatisasi adalah memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero. dan kapasitas pasar”. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global. Definisi. 2.1. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati. menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat.IV. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. pertanggung-jawaban. kemandirian.

ada alokasi PMN tapi perlu pendanaan tambahan. IV. Sedangkan kriteria khusus yang harus dimiliki oleh BUMN yang akan diprivatisasi adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) Tidak ada PSO. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. dalam 2 tahun berturut-turut menghasilkan laba. Perbaikan struktur modal/leverage. Rugi terus menerus. Telah dan sedang dalam restrukturisasi.memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. 6) Perubahan regulasi yang berpengaruh pada sektor usaha.3. Kriteria umum tersebut adalah sebagai berikut: a. 2. atau 2) Industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah. manajemen dan pemasaran. Kriteria Privatisasi Kriteria Umum bagi BUMN-BUMN yang akan diprivatisasi telah ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero). 7) Kepemilikan minoritas sehingga tidak ada kontrol negara dan lambat laun kepemilikan akan terdilusi dan tidak strategis. masih potensial profitisasi. Selain itu. Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: 1) Industri/sektor usahanya kompetitif. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN. dapat dipisahkan untuk dijadikan penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat diprivatisasi. profitisasi sulit dilaksanakan. Ada kebutuhan dana untuk pengembangan. b. 105 . 8) Untuk yang IPO.

3) Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh Pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. dan kemampuan pendanaan. IV. 2) Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara. 2). seperti operasi/teknis. Membutuhkan dana yang besar namun menghadapi keterbatasan dana dari Pemerintah (selaku shareholder) dan/atau kesulitan menarik dana dari pasar modal. Penjualan Saham Berdasarkan Ketentuan Pasar Modal Selain kriteria sebagaimana diatur sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2003. manajemen. Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) Penjualan Saham Langsung kepada Investor (Strategic Sale/SS) dapat dilakukan terhadap BUMN-BUMN yang memenuhi kriteria di bawah ini: 1). Kriteria BUMN yang akan diprivatisasi dengan metode Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal selain harus memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan pasar modal. “know-how”. 106 . inovasi/pengembangan produk.4. b. juga harus sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku lainnya yang terkait dengan BUMN yang akan diprivatisasi. Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) a. pemasaran teknologi. Metode Privatisasi Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode di bawah ini yaitu: 1) 2) 3) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. Memerlukan bantuan dan keahlian. expertise dari mitra strategis. masing-masing metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda. 4) Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang dilarang untuk diprivatisasi.Sedangkan Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: 1) Persero yang bidang usahanya berdasarkan peraturan perundangan hanya boleh dikelola oleh BUMN. 2.

2.5. Memiliki bidang usaha yang core business-nya jasa profesional (brainware). 107 . sehingga karyawan dan manajemen mampu untuk berpartisipasi dalam kepemilikannya. IV. Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO) Adapun metode penjualan saham kepada Manajemen dan/atau karyawan (Employee and Management Buy Out / EMBO) digunakan untuk BUMNBUMN yang masuk dalam kriteria: 1). 4). Merupakan sektor yang bukan strategis bagi Pemerintah.3). c. Nature of business–nya dianggap dapat dijalankan dan dimiliki oleh karyawan/manajemen. Perusahaan harus menjaga kelangsungan (kesinambungan) program yang telah terjadwal sehingga diharapkan program privatisasi tidak akan mengubah dinamika manajemen yang ada dan tidak mempengaruhi kegiatan usaha. Mengurangi kepemilikan Negara menjadi minoritas sepanjang tidak bertentangan dengan regulasi. atau core business-nya bukan jasa profesional tetapi bidang usahanya sangat kompetitif dan memerlukan kompetensi tehnis khusus. 3). Nilai aset relatif kecil dan hasil penjualan saham relatif tidak terlalu besar. 5). 2). Modal perusahaan tidak terlalu besar. Prosedur Privatisasi Prosedur privatisasi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) secara garis besar adalah sebagaimana flowchart berikut ini. Mendorong lebih lanjut pengelolaan dan pengembangan sebagian aset/kegiatan operasionalnya yang dapat dipisahkan untuk dikerjasamakan dengan mitra strategis. 4). 5).

2. 15 SPO (right issue) Maks.54 SS (divestasi) Maks 100 SS/akuisisi (divestasi) Krakatau Steel telah mendapatkan dan privatisasi akan dilaksanakan Program Tahunan Privatisasi (PTP) Tahun 2010 telah disampaikan kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Komite Privatisasi untuk mendapatkan arahan dan kepada Menteri Keuangan untuk mendapatkan rekomendasi masing-masing melalui surat Nomor S-885/MBU/2009 dan Nomor : S-884/MBU/2009 tanggal 28 Desember 2009. 6. 30 IPO (saham baru) Maks. 30 IPO (saham baru) Maks. 52.79 SS (divestasi) Maks 48.Seleksi BUMN (dituangkan dalam Program T ahunan Privatisasi) Arahan Komite Privatisasi & Rekomendasi Menkeu Sosialisasi Konsultasi/ Persetujuan DPR Penerbitan Peraturan Pemerintah Pelaksanaan a. % Saham Metode Dilepas Maks. Perusahaan PT PN III PT PN IV PT PN VII PT BNI Tbk PT Primissima PT Kertas Padalarang PT Sarana Karya % Saham Negara RI 100 100 100 76. 5. 7. 4.79 48. 30 IPO (saham baru) Maks. 108 . Program Privatisasi Tahun 2010 No 1. 3.54 100 Catatan : PT Garuda Indonesia dan PT persetujuan DPR RI pada tahun 2009 tahun 2010.36 52.

35 (saham baru) Maks.65 100 100 % Saham Dilepas Maks.b. Perusahaan PT PANN PT Garam PT INTI PT Industri Sandang PT Kertas Kraft Aceh PT Pegadaian PT Danareksa % Saham Negara RI 93. 30 (saham baru) Metode IPO/SS SS SS SS SS IPO IPO 109 . 35 (saham baru) Maks.97 100 100 88. 49 (saham baru) Maks.97 (divestasi) Maks. 6.10 100 100 100 96. 100 (divestasi) Maks. 3. 2. 3. 7. 49 (divestasi) Maks. 4. 5.65 (divestasi) Maks. 6. Program Privatisasi Tahun 2012 No 1. 4. 4. 30 (saham baru) Maks. 2.74 100 % Saham Dilepas Maks. 30 (saham baru) Maks. 100 (divestasi) Maks 96. 35 (saham baru) Maks. Perusahaan PT Hutama Karya PT Jasindo PT Rekayasa Industri PT Semen Baturaja PT PNM PT KBN PT KBI % Saham Negara RI 100 100 4. 7. 30 (saham baru) Maks. 5. Program Privatisasi Tahun 2011 No 1. 40 (divestasi) Metode IPO IPO IPO IPO IPO/SS IPO SS c.

61. 100 (divestasi) Maks.48 SS (divestasi) 3. Program Privatisasi Tahun 2013 No 1. Perusahaan PT SIER PT Industri Gelas PT Bhanda Gara Reksa PT Bahana PUI PT EMI PT Asuransi Jiwasraya % Saham Negara RI 50 63.48 Maks. 17. PT Barata Indonesia 100 Maks 100 SS (divestasi) 4. 10 SS (divestasi) 6. 63. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : % Saham Negara RI 100 110 . PT Merpati Nusantara 93. 40 IPO (saham baru) Catatan : PT Waskita Karya telah mendapatkan persetujuan DPR RI pada tahun 2008 dan privatisasi akan dilaksanakan tahun 2014 setelah program restrukturisasi diselesaikan. 5.82 (divestasi) Maks.78 100 100 % Saham Dilepas Maks. 6. 100 (divestasi) Maks.d.82 100 17. No Perusahaan Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 tersebut di atas (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). PT Semen Kupang 61.20 Maks. 50 (divestasi) Maks. 2.30 IPO Farmasi (saham baru) 2. PT BBI 100 Maks 100 SS (divestasi) 5. PT SOCFINDO 10 Maks. 4.78 (divestasi) Maks. Program Privatisasi Tahun 2014 % Saham Metode Dilepas 1. Holding/Merger Maks. 3. 30 (saham baru) Metode SS SS SS/akuisisi SS/akuisisi SS IPO e.

149 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 11. 19 tahun 2003 tentang BUMN. Sekretaris Negara dan Presiden. Dengan ketaatan semua pihak terhadap ketentuan perundang-undangan yang berlaku dan penyempurnaan ketentuan-ketentuan pelaksanaan PSO.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. 111 . khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. Program Penyelenggaran Public Service Obligation (PSO) 2010 . DPR RI. Kementerian Hukum dan HAM. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. diharapkan pelaksanaan PSO oleh BUMN akan dapat berjalan secara transparan. Untuk itu. pelaksanaan PSO.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. Kementerian Keuangan. 3.1) 2) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. IV. Hal-hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Pelaksanaan Privatisasi BUMN 1). 2). dan bertanggung jawab.39 kali). tetapi juga instansi dan lembaga lainnya seperti Komite Privatisasi. Proses pelaksanaan privatisasi. fair.28 kali). diperlukan upaya-upaya peningkatan koordinasi dan komunikasi dengan instansi dan lembaga terkait tersebut.2014 Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. sehingga membutuhkan waktu yang relatif cukup lama yang kadang sering mengakibatkan hilangnya momentum yang tepat dari pelaksanaan privatisasi tersebut. Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. Perlu dilakukan peningkatan upaya-upaya sosialisasi yang lebih intensif dalam rangka menyamakan persepsi mengenai privatisasi. dan pertanggungjawaban pelaksanaan PSO.

dan di lain sisi BUMN yang ditugaskan untuk melaksanakan PSO akan dapat berkembang secara sehat. IV. dan tidak ada alasan bagi BUMN untuk rugi karena adanya penugasan dari Pemerintah (K/L). Terpisahnya pembukuan kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. maka penugasan pelaksanaan PSO oleh K/L akan dapat berjalan dengan baik di satu sisi. fair dan bertanggungjawab. sebagai berikut : Pembangunan Portal Aset telah dilakukan tahun 2009 dan akan segera dilanjutkan dengan sosialisasi serta trial pengisian Bank Data Aset tahun 2010 (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. Kedepan diharapkan dana PSO/subsidi akan menurun seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. Program Optimalisasi Aset BUMN 2010 . BUMN diwajibkan mengisi Bank Data Aset melalui Portal Aset setelah selesai dilakukannya sosialisasi dan trial pengisian. Dalam rangka mempercepat pengumpulan data. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. Kementerian BUMN secara langsung akan mengumpulkan data aset untuk menyusun Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI) untuk tahun buku 2011 dari BUMN.Apabila pelaksanaan PSO dapat dilakukan secara transparan. Namun naik-turunnya jumlah dana PSO/subsidi sangat tergantung kepada kebijakan Pemerintah. 4.2014 Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. beberapa kegiatan dan kebijakan yang akan dilaksanakan dalam rangka optimalisasi aset BUMN adalah sebagai berikut : Sistem Bank Data Aset tersebut dilakukan secara bertahap 112 . telah dilakukan permintaan data aset kepada para Deputi Teknis sebagai bahan masukan penyusunan Bank Data Aset (Sistem Informasi Aset BUMN berbasis TI). Dalam kurun waktu 2010 – 2014.

Swakelola c. Ketentuan dan prosedur . Untuk mencapai hal tersebut. Informasi & Teknologi (TI) 2010 . Pembangunan Pemeliharaan Sosialisasi Implementasi Monitoring. Informasi dan akses data kepada stakeholders IV. tajam dan terpercaya serta menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN. Disamping itu. Kajian optimalisasi aset BUMN . 5. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan. melaksanakan kajiankajian tentang isu-isu strategis BUMN yang menjadi salah satu referensi dalam pengambilan keputusan Kementerian serta menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. b. Data Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap. maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. 5. pengolahan. akurat. dan pendokumentasiannya. 2. Kebijakan-kebijakan strategis yang akan diambil terkait pengembangan data adalah : 113 .Kajian aktiva tetap BUMN oleh konsultan . Monitoring Pengelolaan Aset BUMN 3. d.No 1. Kegiatan Sistem Informasi Aset BUMN Berbasis TI 2010 2011 2012 2013 2014 a. Program Pengembangan Data.Standard Operating Procedure b.1. dan integrasi data BUMN Optimalisasi Aset BUMN a. c. akurat.Peraturan Pemindahtanganan Aktiva Tetap BUMN .Peraturan Pendayagunaan Aktiva Tetap BUMN .2014 IV. evaluasi. e.

lengkap. akurat. konsisten. dan kewajaran. Melibatkan secara aktif BUMN-BUMN dalam pengumpulan dan penyediaan data dan infromasi dengan mengkaitkannya pada pengukuran kinerja BUMN dan Direksi BUMN Merekrut. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. 5. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. dan mudah diperoleh. Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk pengembangan pusat data dan informasi yang lengkap. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. cerdas dan berpengalaman dalam melakukan analisa korporat Tajam dan sensitive dalam melihat permasalahan BUMN dan berusaha memberikan kajian untuk memberikan referensi solusi atas masalah yang dihadapi tersebut. 114 . dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. melatih dan memberdayakan SDM yang trampil. akuntabilitas. tajam dan terpercaya dalam kurun waktu 2010 – 2014 adalah sebagai berikut : NO 1 2 3 4 KEGIATAN Penyiapan infrastruktur dan suprastruktur data dan informasi Positioning Pusat data dan Mapping isuisu strategis BUMN Pelaksanaan kajian atas isu-isu strategis BUMN Diseminasi hasil kajian kepada stakeholders 2010 2011 2012 2013 2014 IV. Selain itu. Terkait dengan tujuan tersebut. terkini. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah.Mendorong pengumpulan dan pengolahan data yang efektif dan efisien dengan memberdayakan system teknologi informasi. Informasi Dan Teknologi Informasi Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. cepat.2. tepat.

peningkatan efisiensi dan efektivitas belanja teknologi informasi dan komunikasi dan pendekatan yang meningkatkan pencapaian nilai (value) dari implementasi teknologi informasi dan komunikasi nasional. Monitoring Penyelesaian Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditetapkan Statusnya (BPYBDS) pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN. untuk memastikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi tersebut benar-benar mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. IV. maka harus memperhatikan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan risiko. Hasil proyek tersebut biasanya diserahkankelolakan kepada BUMN. karena belum ada penetapan secara legal. efisiensi belanja teknologi informasi dan komunikasi. Dengan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi 115 . Kementerian BUMN akan menetapkan Master Plan khusus yang terkait dengan teknologi informasi. pengelolaan yang lebih baik. bahwa mengingat pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi oleh institusi pemerintahan telah semakin meningkat. 41 tentang Panduan Tata Kelola Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Versi 1 Tahun 2007. 6. realisasi solusi teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai kebutuhan secara efisien. serta dapat mengoptimalkan ketercapaian value dari penyelenggaraan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan kerja kementerian BUMN untuk internal manajemen dan pelayanan public. operasi sistem teknologi informasi dan komunikasi yang memberikan nilai tambah secara signifikan kepada public dan internal manajemen pemerintahan.Sebagaimana disebutkan dalam PerMenKominfo No. diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN. Untuk mendukung tujuan penyelenggaraan pemerintahan. Secara terperinci. diperlukan rencana teknologi informasi dan komunikasi yang lebih harmonis. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas.

Pada sat ini jumlah BPYBDS diperkirakan mencapai Rp 47.permodalan BUMN. Bangka dan Bandara Sultan Toha. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. Menteri BUMN melalui Keputusan No. yang tersebar pada 23 BUMN. 2) BPYBDS yang baru saja diserahterimakan kepada BUMN melalui Berita Acara Serah Terima (BAST) / Berita Acara Serah Terima Operasi (BASTO) maupun yang akan diserahterimakan pada waktu mendatang.29 juta. diharapkan secara langsung dimohonkan untuk diproses menjadi penambahan Penyertaan Modal Negara dengan tetap dilakukan reviu/audit dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta instansi terkait lainnya untuk preoses penyelesaian penetapan statusnya (seperti proses PMN pada Bandara Dipati Amir.: Kep. 3) BPYBDS yang telah ditetapkan statusnya menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN) melalui Peraturan Pemerintah (PP) pada tahun-tahun sebelumnya.3 trilyun dan US$ 18. Untuk dapat segera menyelesaikan perubahan status BPYBDS yang saat ini tercatat pada BUMN tersebut. 116 . baik jumlah BPYBDS maupun perkembangan terakhir. agar data hasil rekapitulasi Tim BPYBDS akurat. perlu ditempuh kebijakan sebagai berikut. Penetapan RUPS tentang Perubahan Modal Disetor tersebut dapat dimohonkan secara tertulis kepada Menteri BUMN dengan melampirkan dokumen pendukung. agar ditindaklanjuti dengan tindakan korporasi melalui pengesahan RUPS tentang Perubahan/Penambahan Modal Disetor serta perubahan Anggaran Dasar Perusahaan. updated sehingga valid untuk melakukan monitoring. Jambi). sebagaimana terlampir.15/MBU/2010 tertanggal 25 Januari 2010 telah membentuk suatu Tim yang bertugas melakukan koordinasi dengan BUMN Pemilik BPYBDS dalam rangka monitoring perkembangan penyelesaian BPYBDS menjadi Penyertaan Modal Negara (PMN). 1) BUMN Pemilik BPYBDS diminta memberikan konfirmasi maupun penyempuranaan atas hasil rekapitulasi Tim BPYBDS.

Dengan dapat diprosesnya secara langsung BAST/BASTO sebagaimana dimaksud pada angka 2) di atas.96 triliun 7.17 triliun 0.13 triliun 7.35 triliun 28.00 triliun 11.00 triliun 19.79 triliun 0.17 triliun 0.22 triliun 0.13 triliun 2011 19.96 triliun 2012 11. eksisting BPYBDS saat ini secara bertahap dapat diselesaikan penetapan statusnya sebagai PMN yang diharapkan dapat selesai hingga tahun 2013 dengan perkiraan jadwal penyelesaian sebagai berikut : Keterangan/Tahun Jumlah BPYBDS Penyelesaian (PMN) Penambahan Baru Saldo BPYBDS 2010 47.00 triliun 4.79 triliun 2013 4.00 triliun 117 .79 triliun 4.00 triliun 0.

Merger/Konsolidasi. Program rightsizing BUMN adalah program utama dari program restrukturisasi/penataan kembali BUMN dengan cara pemetaan secara lebih tajam.Restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. yaitu Stand Alone. untuk mencapai jumlah dan skala usaha BUMN yang lebih ideal. dan dilakukan regrouping/konsolidasi. pada tahun 2011 menjadi ± 102 BUMN. Holding. terhadap perusahaan yang mengalami kerugian dan kesulitan keuangan serta operasional. tahun 2013 menjadi ± 85 BUMN dan tahun 2014 menjadi ± 78 BUMN. penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN tanpa mengabaikan azas-azas yang terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945. restrukturisasi dilakukan oleh PT PPA sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pendirian Perusahaan Perseroan (Persero) di Bidang Pengelolaan Aset. Cara atau model dalam rangka rightsizing BUMN dapat dilakukan melalui berbagai shareholder action. diharapkan jumlah BUMN pada tahun 2010 menjadi ± 117 BUMN. kinerja. Pelaksanaan restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA mulai dilaksanakan sejak bulan April 2009 dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-01/MBU/2009 tanggal 8 April 2009 tentang Pedoman Restrukturisasi dan Revitalisasi Badan Usaha Milik Negara oleh Perusahaan perseroan (Persero) 118 . Restrukturisasi perusahaan/korporasi merupakan program rutin yang berkesinambungan dari tahun ke tahun dalam rangka terus memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan dan dituangkan dalam RKAP setiap BUMN setiap tahunnya. Restrukturisasi meliputi restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau peraturan peundang-undangan dan restrukturisasi perusahaan/korporasi. Skenario hasil rightsizing BUMN dalam kurun waktu 2010 – 2014. menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen dan memudahkan pelaksanaan privatisasi. profil sektoral. tahun 2012 menjadi ± 91 BUMN. sehingga dapat memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. Program ini tetap dilakukan berdasarkan pertimbangan urgensi kepemilikan mayoritas Negara pada suatu BUMN. Divestasi dan Likuidasi. Selain itu.

Dalam kaitan dengan kewajiban pelayanan umum/ public service obligation (PSO). diharapkan sampai dengan akhir tahun 2014 seluruh BUMN yang mengalami kerugian dan memiliki permasalahan keuangan dan operasional telah menunjukkan perbaikan kinerja dan tidak ada lagi BUMN yang mengalami kerugian. Dengan dilakukannya restrukturisasi perusahaan/korporasi oleh PT PPA. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. baik sebagian maupun seluruhnya. pelaksanaan PSO.28 kali).149 Triliun Rp 11. privatisasi juga dilakukan dalam rangka program restrukturisasi dan rightsizing BUMN. Disamping juga untuk lebih mendorong penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.39 kali). Metode ini terutama digunakan untuk BUMN-BUMN yang memerlukan pendanaan yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari pasar modal dan/atau Pemerintah serta memerlukan peningkatan kompetensi tehnis. tetapi diperioritaskan dalam rangka mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO. Arah kebijakan privatisasi ke depan bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. Privatisasi adalah penjualan saham Persero. Dalam kurun waktu 5 tahun ke depan terdapat 36 BUMN yang akan diprivatisasi. dan pertanggungjawaban pada tahun 2009 menjadi 119 .PT Perusahaan Pengelola Aset. manajemen dan pemasaran. Selain itu. Pemerintah akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. diharapkan akan terjadi peningkatan kinerja dan nilai BUMN sebagai berikut : 1) Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp 566 Triliun pada tahun 2009 menjadi Rp 2. Privatisasi yang dilakukan tidak melalui metode penawaran umum lewat di pasar modal akan dilakukan dengan sangat selektif dan hati-hati.583 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. 2) Aset BUMN akan meningkat dari Rp 2. khususnya yang menyangkut Standard Operating Procedure (SOP) tentang pengusulan/penugasan PSO. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Setelah penerapan program restrukturisasi dan privatisasi dalam kurun waktu 2010 – 2014 (dengan asumsi umum bahwa divestasi 100% kepemilikan Negara pada BUMN hanya terhadap BUMN dengan nilai aset realif kecil). 19 tahun 2003 tentang BUMN.986 Triliun pada tahun 2014 (meningkat 5. serta memperluas kepemilikan saham oleh masyarakat.

akuntabilitas. akurat. BPYBDS pada umumnya merupakan hasil proyek dari Kementerian Teknis yang sumber pembiayaannya dipenuhi dari DIPA/APBN yang diserahkankelolakan kepada BUMN. Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk pendayagunaan aset. dan meningkatkan implementasi prinsip-prinsip penyelenggaran kepemerintahan yang baik (good government governance) yang lain seperti transparansi. perlu dilakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan pelaksanaan PSO dari kegiatan komersial BUMN secara keseluruhan. status BPYBDS perlu ditetapkan secara definitif menjadi Penyertaan Modal Negara yang pembukuannya masuk kedalam ekuitas perusahaan. pengolahan. meningkatkan efisiensi dan efektivitas. dan pendokumentasiannya. akurat. Selain itu. Untuk mencapai hal tersebut. aturan mengenai besaran dan perhitungan margin pelaksanaan PSO. Dalam rangka pelaksanaan restrukturisasi permodalan BUMN. implementasi teknologi informasi dan Komunikasi dapat digunakan untuk meningkatkan fungsi pengendalian. dan mudah diperoleh. Data dan informasi yang lengkap. dan aturan mengenai penuangan PSO dalam suatu kontrak yang jelas. sehingga dalam pencatatan pembukuan BUMN sebagai barang yang diserahkelolakan tersebut BPYBDS tidak secara tegas masuk kategori hutang atau ekuitas.pelaksanaan PSO. terkini. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. karena belum ada penetapan secara legal. Selain itu. konsisten. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program pemerintah untuk melakukan reinventing government melalui reformasi birokrasi penyelenggaraan kepemerintahan di lingkungan Kementerian BUMN. tajam dan terpercaya akan menjadi pendukung think tank pengambilan keputusan di Kementerian BUMN. 120 . maka diperlukan penyediaan data dan informasi tentang BUMN secara lengkap. dan kewajaran. lengkap. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset. cepat. dengan implementasi teknologi informasi dan komunikasi diharapkan juga dapat menyediakan data/informasi dengan murah. tepat. sehingga dapat membantu pimpinan mengambil keputusan dengan tepat. sehingga memudahkan monitoring dan evaluasi pelaksanaan PSO. Terkait dengan tujuan tersebut. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. dan mutakhir dengan mendasarkan pada prinsip efisiensi dan efektivitas dalam pengumpulan.

c) menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. dan (f) penguasaan data. koperasi. (b) kepemilikan aset yang besar. 121 .03 Triliun pada tahun 2009.57 Triliun dan Rp 25. informasi dan teknologi informasi. (e) profesionalisme SDM. d) menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi.20%. (c) brand image BUMN. Kinerja seluruh BUMN selama waktu 2005-2009 terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan terlihat dari pertumbuhan asset dan Ekuitas masing-masing dari Rp 1. Selanjutnya pertumbuhan Laba Usaha dan Laba Bersih masing-masing dari Rp 82. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Perkembangan Kinerja BUMN 2005-2009 Jumlah BUMN sampai dengan saat iniadalah sebanyak 141 BUMN terdiri dari 15 BUMN Tbk.291. 112 BUMN Persero dan 14 BUMN Perum.06 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 2.84 Triliun pada tahun 2009.150. (d) pengalaman usaha BUMN. Sedangkan dalam kurun waktu 2005-2009 capaian Return on Assets (RoA) dan Return on Equity (RoE) rata-rata mencapai 3.77 Triliun pada tahun 2005 menjadi Rp 110.03 Triliun dan Rp 566.25 Triliun dan Rp 370. antara lain: (a) keberadaan BUMN di hampir semua sektor usaha. dan masyarakat.15% dan 11. BUMN pada dasarnya memiliki potensi yang sangat besar namun belum termanfaatkan secara optimal. BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan: a) memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian Nasional pada umumnya dan penerimaan Negara pada khususnya. b) mengejar keuntungan. Keberadaan serta Maksud dan Tujuan Pendirian BUMN Sesuai dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar Tahun 1945 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional disamping Koperasi dan Swasta. dan e) turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah. 2.78 Triliun dan Rp 72.BAB V KESIMPULAN 1.

Selain itu. BUMN telah memberikan kontribusi yang relatif besar kepada Negara. Kontribusi/peran dari 15 BUMN yang sudah masuk Pasar Modal (BUMN Tbk) pada dasarnya juga relatif besar jika dilihat dari penguasaan/kapitalisasi pasar per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. dalam artian bahwa rencana rightsizing BUMN menjadi 69 pada tahun 2009 belum dapat dilaksanakan.56 Triliun dengan akumulasi jumlah mitra binaan sampai dengan tahun 2009 mencapai 640.98 Triliun. 4.04 Triliun per tahun dengan peningkatan ratarata sekitar 25% per tahun. terutama terhadap BUMN yang ditangani/diserahkan kepada PT Perusahaan Pengelola Asset (PT PPA) juga belum berjalan secara baik. laba. Kontribusi BUMN 2005-2009 Dalam kurun waktu 2005-2009. aset dan ekuitas terbesar selama kurun waktu 2005-2009.57% atau senilai Rp 637. Pelaksanaan Master Plan 2005-2009 Dalam pelaksanaan Master Plan 2005-2009 banyak upaya-upaya yang telah dilakukan Kementerian BUMN meskipun belum memberikan hasil yang optimal.417 orang/unit kerja. dalam kurun waktu 2005-2009 penyaluran dana Program Kemitraan sebesar Rp 8. Kementerian BUMN juga telah melakukan kajian terhadap 25 BUMN besar dengan pendapatan. Restrukturisasi korporasi.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Rata-rata dividen BUMN sebesar Rp 23. Sedangkan kontribusi pajak dalam periode 2004-2008 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata sekitar 18% per tahun dengan sumbangan rata rata sebesar Rp 61.65 Triliun per tahun. Sedangkan dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan BUMN seluruhnya mencapai sebesar Rp 1. Pajak dan kontribusinya bagi pergerakan sektor riil. baik berupa dividen. Dari 17 BUMN yang diserahkan kepada PT PPA. dan kajian tentang kemungkinan pembentukan Super Holding dengan 3 alternatif pendekatan. Kegiatan restrukturisasi melalui regrouping/konsolidasi sektoral untuk mendapatkan jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sampai dengan akhir 2009 belum berhasil. pelaksanaannya 122 . Selanjutnya kontribusi BUMN terhadap pengembangan usaha kecil melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan. Meskipun demikian Kementerian BUMN dibantu oleh konsultan independen telah banyak menghasilkan kajian-kajian dan alternatif model terkait dengan rencana rightsizing dimaksud.3.

sehingga banyak BUMN yang tidak bisa segera pulih dari kesulitan yang dihadapinya. Demokratis. hingga akhir tahun 2009 baru terdapat 15 BUMN yang Go Public (menjual sahamnya melalui Pasar Modal) atau baru sekitar 11% dari jumlah BUMN yang ada. Arah kebijakan tersebut sejalan Visi dan Misi Presiden untuk masa pemerintahan periode 2010-2014 yaitu “Indonesia yang Sejahtera. Meskipun demikian Kementerian BUMN telah melakukan kajian dan seleksi terhadap BUMN untuk dimasukkan dalam Program Tahunan Privatisasi (PTP) tahun 2007 (15 BUMN). Unit organisasi tersebut diharapkan dapat mendukung kebijakan Kementerian BUMN dalam melakukan langkah-langkah pembinaan dan pengawasan atas kegiatan pengelolaan aset oleh Direksi BUMN yang mengarah pada konsep efisiensi dalam penggunaan sumber daya dan pengelolaan resiko. Arah kebijakan pembinaan BUMN kedepan juga diselaraskan dengan bidangbidang yang menjadi perhatian utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014.tidak dapat berjalan secara cepat sebagaimana yang diharapkan. revitalisasi dan profitisasi BUMN secara bertahap dan berkesinambungan. dan Berkeadilan” dan sejalan dengan Visi Kementerian BUMN yaitu “Meningkatnya peran BUMN sebagai instrumen Negara untuk peningkatan kesejahteraan rakyat berdasarkan mekanisme korporasi”. guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) sehingga dapat meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. 5. Tahun 2005 dan 2006 tidak ada PTP karena Komite Privatisasi baru terbentuk pada tanggal 13 Oktober 2006 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 18 Tahun 2006. PTP tahun 2008 (44 BUMN termasuk carry over PTP tahun 2007) dan 2009 (20 BUMN yang merupakan carry over PTPN tahun 2008). Arah Kebijakan Pembinaan BUMN 2010-2014 Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 pada dasarnya masih melanjutkan atau memantapkan program restrukturisasi. Adapun arah kebijakan pembinaan BUMN tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : 123 . Kemudian terkait dengan program Optimalisasi Aset BUMN Kementerian BUMN telah membentuk unit organisasi yang khusus menangani pendayagunaan asset pada tahun 2006. memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara. Selanjutnya untuk pelaksanaan program Privatisasi.

c. yang pelaksanaannya dilakukan melalui kriteria-kriteria tertentu sebagaimana telah diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah 33 tahun 2005 jo Peraturan Pemerintah Nomor 59 tahun 2009. c) tahun 2012 sebanyak +91 BUMN. Dalam kurun waktu 2010-2014 Kementerian BUMN diharapkan dapat melakukan privatisasi terhadap sekitar 36 BUMN. b) Penjualan Saham Langsung kepada Investor/Strategic Sale (SS). dan c) Penjualan Saham kepada Manajemen dan/atau Karyawan (Employee and Management Buy Out /EMBO). tetapi diprioritaskan guna mendukung pengembangan perusahaan dengan metode utama melalui penawaran umum di pasar modal (Initial Public Offering/IPO). 19 tahun 2003 tentang BUMN. operasional. organisasi/ manajemen. Terkait Program PSO Kementerian BUMN akan terus mendorong ketaatan semua pihak terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang PSO khususnya Pasal 66 UU No. dan e) tahun 2014 sebanyak +78 BUMN. b. Restrukturisasi sektoral dimaksudkan untuk memperoleh jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) dengan skenario hasil rightsizing diharapkan menghasilan jumlah BUMN sebagai berikut : a) tahun 2010 sebanyak +117 BUMN. b) tahun 2011 sebanyak +102 BUMN. d) tahun 2013 sebanyak +85 BUMN. sistem dan prosedur. dan Restrukturisasi Perusahaan/Korporasi diarahkan untuk meningkatkan intensitas persaingan usaha. dan menciptakan aturan-aturan pelaksanaan (Perpres atau Peraturan Pemerintah) PSO sehingga diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan secara transparan. Privatisasi dilakukan dalam rangka mendukung program restrukturisasi dan rightsizing BUMN.a. menata hubungan antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha. Privatisasi dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 metode yaitu: a) Penjualan Saham berdasarkan Ketentuan Pasar Modal. dan restrukturisasi secara internal yang mencakup keuangan. Terkait Program Restrukturisasi Restrukturisasi Sektoral pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sektor dan/atau Peraturan Perundang-undangan yang ada. fair. dan bertanggung jawab dengan melakukan pemisahan pembukuan antara kegiatan PSO dan kegiatan komersial. Terkait Program Privatisasi Arah kebijakan privatisasi ke depan adalah bahwa privatisasi bukan semata-mata untuk pemenuhan APBN. 124 .

16% dari total asset. baik melalui optimalisasi pemanfaatan ataupun penghapusbukuan. revitalisasi dan profitisasi BUMN guna mencapai jumlah dan skala BUMN yang ideal (rightsizing) pada dasarnya sudah sangat tepat. sehingga diharapkan Kementerian BUMN mendapatkan manfaat sinkronisasi dan integrasi rencana teknologi informasi dan komunikasi dengan rencana strategis Kementerian BUMN 6.583 Triliun 125 . Selanjutnya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Kementerian BUMN diharapkan dapat mempercepat terwujudnya program tata kelola teknologi informasi dan komunikasi yang baik. tajam dan terpercaya serta menjadi think tank pengambilan keputusan Kementerian BUMN.14% dari total asset. 25 BUMN Terbesar. 86. Terkait Program Pengembangan Data. akurat. 25. Kementerian BUMN telah membangun sistem Bank Data Aset.986 Triliun dan dari sisi asset mencapai Rp 11. Dalam pelaksanaan tugas optimalisasi pengelolaan aset tersebut. Kementerian BUMN diharapkan dapat menjadi pusat penelitian yang kredibel dan terpercaya yang siap menawarkan solusi atas permasalahan BUMN baik bagi pihak internal maupun eksternal. serta peningkatan kontribusi berupa dividen dan pajak kepada Negara. 91.11% dari total laba bersih seluruh BUMN. ternyata 25 BUMN terbesar menguasai 97.48 Triliun dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Informasi dan Teknologi Unit data dan informasi akan dikembangkan menjadi pusat data dan informasi yang lengkap. Diharapkan pada tahun 2014 nanti nilai perusahaan (value creation) dari BUMN dari sisi ekuitas mencapai Rp 2. Terkait Program Optimalisasi Asset Optimalisasi pengelolaan aset merupakan salah satu bentuk restrukturisasi aset. Dari kenyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa Arah kebijakan pembinaan BUMN dalam kurun waktu 2010-2014 untuk tetap melanjutkan/memantapkan program restrukturisasi. e. Ditambahkan pula bahwa penguasaan/kapitalisasi pasar BUMN Tbk per 30 Desember 2009 yang mencapai 31. 12.71% dari total laba bersih seluruh BUMN.73% dari total Ekuitas.d.99% dari total Ekuitas.57% atau senilai Rp 637. Penguasaan Pasar BUMN Terbuka dan Value Creation Dari 141 BUMN yang dimiliki Negara.82% dari total penjualan dan 36. Selanjutnya untuk 15 BUMN yang sudah go public (Tbk) menguasai 46. guna mendukung peningkatan kinerja dan peningkatan nilai perusahaan.69% dari total penjualan dan 98.

Pelaksanaan program restrukturisasi baik sektoral maupun korporasi tidak hanya melibatkan Kementerian BUMN. sehingga permasalahan yang dihadapi BUMN tidak serta merta segera dapat diatasi. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pelaksanaan Master Plan BUMN 2010-2014 a. perlunya sosialisasi yang intensif guna menyamakan persepsi mengenai tujuan dari pelaksanaan rightsizing BUMN.291. Perlunya sinkronisasi peraturan-peraturan yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan BUMN sehingga tidak saling bertentangan antara peraturan yang satu dengan yang lainnya. namun juga melibatkan Kementerian Keuangan dan Kementerian Teknis serta DPR-RI. b. Pelaksanaan restrukturisasi BUMN yang menimbulkan implikasi pajak sangat memberatkan keuangan BUMN sehingga memerlukan adanya ketegasan penanganan dari dampak perpajakan tersebut. c. Dengan demikian penyelesaian proses restrukturisasi harus melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan dan relatif membutuhkan waktu yang lebih lama/panjang. Pelaksanaan program privatisasi yang telah mendapat arahan dari Komite Privatisasi dan rekomendasi dari Menteri Keuangan memerlukan waktu yang relatif lama. Master Plan BUMN 2005-2009 walaupun telah mendapatkan legitimasi dari pimpinan pemerintahan tertinggi (Inpres Nomor 5 Tahun 2008).dari posisi awal tahun 2010 masing-masing sebesar Rp 370. d. Untuk itu Master Plan BUMN 2010-2014 perlu mendapatkan legitimasi lebih dini dari pimpinan tertinggi pemerintahan sehingga akan menjadikan perhatian semua pihak yang terkait untuk melaksanakannya. f.06 Triliun dan Rp 1. Di samping itu. 7. e.25 Triliun atau meningkat sekitar 5. namun tetap perlu menjadi perhatian pihak-pihak yang terkait untuk mengimplementasikannya. BUMN juga terus mengalami perbaikan dalam menerapkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) yang 126 . sehingga sering kehilangan momentum pelaksanaannya di samping dapat muncul resistensi dari stakeholder yang menghambat pelaksanaan privatisasi.39 kali.

h. g. Pelaksanaan PSO sangat tergantung dari kebijakan Kementerian Teknis mengingat DIPA PSO melekat pada Kementerian Teknis dimana BUMN beroperasi. 127 . i. Implementasi Portal Kementerian BUMN belum optimal dan penyediaan Data dan Informasi dari laporan BUMN yang terintegrasi perlu terus peningkatan. Perlunya dukungan internal Kementerian BUMN dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) untuk pelaksanaan Master Plan 2010-2014.ditunjukkan dengan peningkatan pencapaian skor hasil assessment dengan kategori Baik.

LAMPIRAN 1. Program Berkesinambungan Teknologi Informasi Tahun 2006 . Program Kemitraan & Bina Lingkungan 7. Rencana Rightsizing dan Privatisasi Tahun 2005-2009 8.2014 . Master Plan Teknologi Informasi 2010 . Data BUMN yang telah Listing di Bursa Efek 5. Matriks Penanganan Restrukturisasi Korporasi oleh PT PPA 9. Peraturan yang terkait dengan Pembinaan BUMN 6. Data BUMN Penyelenggara PSO 10. Pokok-pokok Data Keuangan BUMN Berdasarkan Sektor 2.2009 11. Data BUMN 25 Besar 4. Value Creation 3.

LAMPIRAN 1 POKOK-POKOK DATA KEUANGAN BUMN BERDASARKAN SEKTOR .

14 3.592 18.969.082 2.943.570 512.21% 5.855.274.638 767.117 19.11% 12.933 2.318.09% 24.56% 0.546 1.482.47% 16.44% 15.972 1.86% 7.450.66 Prognosa 2009 938.54% 10.968 2.248.116.055 1.360 3.793.59% 39.18% 6.556.943.40% 18.341.501 1.219.35% 36.602.452 2.810 5.672.231 2.68% 7.98 12.83% 9.023 68.627.282 49.20 2.240.86 22.774.77 16.72% 9.455.173 1.46% 26.78 2.025.966 3.033 12.563 5.45% 24.198.622.908 29.427.391.548.359 16.97 147.74% 9.72% 0.644 91.828.300 1.95% 4.576.503 25.737.814 71.763.57 3.711.030 5.553.343 9.503 61.413 3.815.41% 15.24 20.607 7.823 754.828.267 1.147.69% 23.Rp.050 145.665.107.31% 14.36% 18.238 180.228 4.312 1.87 13.026.27% 3.257 2.960 2.573 16.406 8.56% 15.386 68.690.291.749 4.843.01% 9.567 10.327.606 25.548.573 5.509.95 3.41 10.208 5.133.719.310 85.048 59.076.543.697 973.71% 18.163.083.07% 5.484.878 3.877.768.422 2.51% 0.298 21.70% 8.974.48% 5.022 12.47% 21.361.499.27 69.728.963.178 13.457 417.44 86. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 563.022 2.009 3.263.054.85% 0.342.95% 9.257 4.342 520.965 4.184 88.53 2007 742.766 657.039.766 5.85% 0.481 1.985 2.677 1.379 3.739 2.014 2.393 1.288 1.253 3.440 33.047 3.186.245 5.184 2.279 7.321.430 13.26% 9.37% 6.40 11.02% 10.324.934.607.59% 7.500 36.027 267.017.561.292 15.65% 3.832.81 105.72 2008 851.59% 19.173 117.103 198.158 295.159.44 2006 624.218.32 23.076.478.265 2.513 254.025.734 2.384.676 4.015 2.56 I PERBANKAN II ASURANSI III JASA KEUANGAN IV JASA KONSTRUKSI V INDUSTRI FARMASI .364 75.989.24% 4.034 5.48% 25.60 16.380.380.709 6.070 1.403 4.212.70% 9.20% 6.83 30.186 1.234.26% 7.423.840 4.960 6.37% 11.39% 17.85% 17.93 133.606.010.612 3.661.688.

916 2.80 30.035.883 27.42% 0.168) -2.17% -12.243 5.513 (69.75% 2.15% -0.08% 1.377 569.242.117) -11.581.86% 3.67% 1.014) -9.292 7.648 (30.310.692 4.753 6.25% 0.756.669.88 20.944 658.60% 10.565 (1.228 4.82% -7.66 31.89% 2.432) -6.881 8.540) -2.403 8.750 2.07% 10.672) -0.862.397.057 29.56% 6.544.23% 5.928) -2.220.885.082 16.771.550.224.245 (493.232.905.730 784.269) -0.317 1.430.56% 0.93% 3.194.23% -0.78% (15.30% 10.71 Prognosa 2009 971.827 977.09% -24.706 3.794 59.75% 0.741 214.687 13.44 22.055.10% -350.43 24.818.61% 0.508 7.033.421.08 1.957.302 554.221 (97.966.342 (259.438.095) (158.020.078.976.881 (67.32 44.061 33.35 1.121) (72.09 VI ANEKA INDUSTRI VII PERUMAHAN & KAWASAN INDUSTRI VIII Sarana Angkutan dan Pariwisata IX Prasarana Angkutan X LOGISTIK DAN JASA SERTIFIKASI .99% -4.700) -0.791 23.094.946 19.056 3.156.89% 5.558.967 153.27% 18.164.745.236.595 10.156.101 (97.05% -10.167.37% 0.468 119.66% 1.91 29.455.832) 473.25% -152.622 7.119.26% 3.261 557.42 24.965 3.131 11.766.335 66.70% -78.69% 9.66% 12.773.672 30.93 26.581.226 45.220 2.534.46 29.975.661 (51.58 2006 804.367 7.75% 1.421.687 0.930 8.756.76) 2.184 7.25% 0.74 1.62 48.37% -4.543 (65.702.47 1.575 (28.569.900.50% 1.925.200 (641.286 1.864 0.08% 148.319 3.984 6.54% 6.458 6.98 2008 874.885 63.394 541.218 23.Rp.243.882.631 28.948) -10.76% 0.697) (53.189) -5.844.124 14.43 2007 778. Juta No SEKTOR Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Usaha Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 876.87% 10.802 1.39% 1.31 39.286 614.57 17.546 9.035 79.469 (44.62% 2.915.730.90% 1.468) (94.38% 15.78 22.76% 0.642 69.838.357 31.330 14.051.308 47.857 8.543 547.42% 4.210) -18.019 0.157 13.510 20.136 18.744 992.817 795.68% 0.479 3.168 441.170.845 20.64 19.619 201.345 11.955 3.168.061.48% 12.

837 2.34 147.163 2.054.728 1.40 202.472 (1.05% 2.474.41% 6.956 6.79 2.53% 0. Juta No SEKTOR PERKEBUNAN Akun 2005 21.70% 16.222 (16.73% -31.789 33.95% -51.18% 13.79% 7.603.289 1.743.907) -6.871 492.652.09) 3.52% 1.97% 1.532 2.994.818.124.338.296.98 2.934 33.653) -3.92) 3.87% 1.328.708.592 72.839 118.586.581.929.52 20.760 103.344) -0.122 24.116 (22.38% 1.37 2007 29.955) -10.10% -10.400 4.736 3.049.255 17. PERCETAKAN Ekuitas & PENERBITAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas PENUNJANG PERTANIAN Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) XI XII XIII XIV XV .00% (10.934 15.045 294.41 2006 24.71% (2.294 (253) -0.34% 1.98) 3.15% 11.915.518 (145.087 1.184.88% -49.601.404 2.367 347.337 868.18% (10.230 7.003.224) 156.379 1.99% 15.04% 72.392.482.283 12.927 241.399 11.929 2.224.20% 1.24 2.601 1.42% -3.20% 10.560 1.613 (77.43% 1.263 7.597 37.85% 13.81% 20.563 2.074 2.098.863.037) 103.043 1.87 2.463) 98.131 4.26 24.935 4.41% 24.547 4.904.814.148.297.379 1.457) 123.681.187 2.64% 2.193 27.55% 2.732 2.073.48% 0.732 39.055.730 39.335 8.688.49% 24.838 13.031 45.565) -3.544 20.646.628 (110.406 (123.810 2.490 41.221.319) -3.136 4.112 (21.803.20% 0.071 2.21 2008 34.17% 9.712.23% -1.783 21.578.Rp.212.85 33.64 Prognosa 2009 37.568.684 1.41 198.00% 0.72 32.56% 17.771 1.701 12.13% 1.420 1.236.862.947.024.719.660.223 1.95 21.352.21% 13.40% 11.817.29 102.90% 5.835 6.806 6.568 47.67% 5.934.746.473.12 2.96% 1.22% 7.12 Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KEHUTANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset PERIKANAN Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset KERTAS.204 (16.894.33% (12.942 8.94 2.587.686.510 1.694 616.148.94% 0.13% 1.962 897.40 197.964.16% 1.074 9.529.459 (15.717.104 1.130.288.232 (11.553.32% 6.304 82.530.451 1.507 5.126.790 9.671 2.263) -1.23) 3.774 8.19% 0.299 17.581 2.487 1.

034.478 9.42 15.770.484.795 34.724.67% 24.58% 11.44% 37.713 72.39% 6.428.186.161.931 11.39% 3.091 420.031 499.918.986) -1.790.05% 21.958.617.Rp.65 Prognosa 2009 329.547 9.301.66 2007 279.679 585.854.804) -3.081.364.185.00% 0.840.330 0.528.45% 1.000.944.588.169.016 146.254.92% -4.848 42.274.989 (3.769 1.024 127.020 931.344 371.017.25 2.008 514.069.961 4.37% 0.141 14.092.40% 3.420.33 92.771.979 63.92% 11.378.48 236.60 376.07% 1.926 374.90 24.67% 12.823.696.56% 1.194) -0.922 38.65 2006 225.032.399 62.590 161.171.786 147.404.496.416 228.225 171.79% 16.47% 12.44 2.199.81% 8.060.150.646.43 2008 321.73 19.03% 12.00% 3.17% 0.707 1.49% 1.89% 2.664 655.615 145.947 10.982.62% 1.505.756.650 35.496.268.176.969.144 (3.496.32 322.835 52.013.291.651.716 445.371.230.30% -5.152.789 134.897 13.48% 1.966 166.05 83.303 (237.236 64.307.46% 0.305.239.46% 8.596 28.157 169.16 266.270 8.962.871.347 12.217 138.349.310.193 3.781 15.52% -2.50% 1.630.49 96.398.036 15.49 2.566.843 4.212 1.062.017 (181.59% 1.500.717.83 2.760 184.454 49.04% 4.890.054 11.53 XVII INDUSTRI STRATEGIS XVIII ENERGI XIX TELEKOMUNIKASI TOTAL 1.734 5.049.44% 38.41% 3.237 9.477 452.361.68% 33.735 370.755 400.420 754.536 1.49% 30.834.989 60.780. Juta No XVI SEKTOR PERTAMBANGAN DAN SEMEN Akun Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) Total Aset Ekuitas Pendapatan Laba Bersih ROA (%) ROE (%) DER (X) 2005 197.069 114.68 18.62 63.952.485 (9.012.117.040.276.898 15.554 1.529 85.867.26% -2.451.011.55% 0.305 565.841.937 33.349 4.486 3.31% 3.322.758.31% 0.638.80 76.220.86% 20.324.43% 0.09% -7.415) -1.854.361.453.847.020.069 25.182 81.720.863 1.089 19.656 48.800 11.119.69% 3.956 2.678 23.064 25.15% 3.21% 1.96% 11.81 .892 373.807.670 18.353 9.92 22.862 12.658 4.971) -1.949 22.53 297.251 21.26% 3.566.011 4.51% 8.43% 6.469 329.965.955 151.896 865.623.901 11.714 2.325 34.413.186.098 1.610.

LAMPIRAN 2 VALUE CREATION SEKTOR BUMN .

04 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =32.267 37.569 3.Value Creation NILAI PERUSAHAAN (Rp.559 12.509 11.410 13.235 5.056 31.82 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =12. Miliar) No Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 KETERANGAN PER 2010 =20.617 689.430 71.316 85.204 18.99 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.520 45.713 26.083 3.894 4 1.924 9.98 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =47.525 59.318 7 Perkebunan Logistik dan Sertifikasi 21.603 7.533 399.529 4.271 49.699 5 Perikanan 107 128 154 184 221 6 Kehutanan 3.02 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 1 Perbankan 332.75 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.141 2.245 21.098 7.082 6.540 2 Asuransi 41.847 574.039 478.07 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =9.45 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 8 6.784 2.693 KEDEPUTIAN RESTRUKTURISASI DAN PRIVATISASI 3 8 .670 15.024 PER 2010 =12.580 3 Jasa Pembiayaan Percetakan & Penerbitan 10.

9 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =20.562 83.437 KETERANGAN PER 2010 =16.23 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =25.957 19.702 1.812 257.969 149.033 11 Aneka industri Sarana Angkutan & Pariwisata 8.439.531 2014 23.680 57.247 236.574 17 Energi 502.474 100.556 2.76 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =16.025 9.036 340.978 27.867 16.774 2.267 2.985.563 2012 16.488.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =17.276 2013 19.169 120.149 22.33 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun 10 Kawasan Industri 3.070 4.243 18 Telekomunikasi 124.734 47.175 1.392 4.920 .66 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =13.67 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =48.963 179.286 102.556 13.727.630 11.571 723.217 68.111 39.Value Creation … Lanjutan NILAI PERUSAHAAN (Rp.010 214.97 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =34.812 147.640 12 33.2 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =59.843 409.085 867.298 15.143 602.375 15 Pertambangan 197.041.203 14 Penunjang Pertanian 71.012 16 Industri Strategis 13.313 1.884 5.303 2011 13.344 122. Miliar) No Sektor 9 Konstruksi 2010 11.03 dan asumsi pertumbuhan laba 20% per tahun PER 2010 =18.660 13 Prasarana Angkutan 57.072 85.073.968 69.861 7.697 284.

54 2.03 1.61 2.582.985.39x) (Dengan asumsi DER sama dengan posisi 2009 yaitu 2.88x 2010 2011 2012 2013 2014 11.150.2.583 T pada tahun 2014 (meningkat 5.28x) Aset BUMN akan meningkat dari Rp.629.88 x) .986 T pada tahun 2014 (meningkat 5.92 8.11.566T pada tahun 2009 menjadi Rp.60 2.00 566.596.88x Ekuitas BUMN akan meningkat dari Rp.150T pada tahun 2009 menjadi Rp.2.Kesimpulan Value Creation BUMN 2009 Aset BUMN Ekuitas Hutang DER 2.

LAMPIRAN 3 DATA BUMN 25 BESAR .

Coverage 25 BUMN Besar
Dari 141 BUMN, sebagian besar adalah perusahaan dengan Kinerja dan skala usaha yang relatif kecil. Lebih dari 97% dari Total ASET dan LABA BERSIH serta 92% EKUITAS dan 87% PENJUALAN seluruh BUMN berasal dari hanya dari 25 BUMN terbesar (data Audited 2008).

BUMN Terbesar dan Proporsinya Terhadap Total
(Rp. Trilliun)
Aset Total 2008 14 Tbk 25 BUMN Σ % Σ % 1,977.80 46.14 912.56 Ekuitas 526.13 25.99 136.74 Penjualan 1,161.71 12.82 148.93 Laba bersih 78.47 36.71 28.81

97.16
1,921.63
14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. PT Jamsostek PT TB Bukit Asam Tbk PT Taspen Perum Bulog * PT Jasa Marga Tbk PT Pelabuhan Indonesia II PT Bank Ekspor Indonesia PT Angkasa Pura II PT Angkasa Pura I PT Garuda Indonesia PT Kereta Api Indonesia * PT PLN *

91.73
482.62

86.69
1,007.09

98.11
76.99

25 BUMN Terbesar
1. PT Pertamina * 2. PT Bank Mandiri Tbk 3. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk 4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 5. PT Pupuk Sriwidjaja * 6. PT Bank Negara Indonesia Tbk 7. PT PGN Tbk 8. PT Aneka Tambang Tbk 9. PT Semen Gresik Tbk 10. PT Krakatau Steel 11. PT Askes 12. PT Timah Tbk 13. PT Bank Tabungan Negara

14 BUMN Tbk
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. PT Bank Mandiri Tbk PT Telkom Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk PT Jasa Marga Tbk
11. 12. 13. 14. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk

Catatan: * BUMN Pelaksana PSO (5 yang lainnya yaitu PELNI, Sang Hyang Seri, Pertani, POS dan Antara)

Breakdown Figur Keuangan Pokok
Breakdown Berdasarkan Aset
72 BUMN 28 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Aset <1 T Aset 1 T -- <2,5 T

DI, PNM, Waskita, Askrindo, PTPN II, Hutama, Jasindo, PTPN XIII, Peruri, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN X, KF, Perhutani, Pelindo I, ASDP, PANN, PTPN XI, PTPN IX, Jamkrindo, Kertas Leces, Perumnas, Pelindo IV, PPI, Djakarta Lloyd, Nindya, MNA, PTPN XII

23 BUMN

SGG, AP I, AP II, KAI, Pelindo II, Askes, Timah, Pelni, Wika, PTBA, PTPN III, PTPN IV, Adhi Karya, Asabri, Posindo, Pelindo III, RNI, Danareksa, PAL, PTPN VII, PTPN V, PT PP, Jasa Raharja

Aset 2,5 T -- <10 T Aset 10 T -- <100 T

14 BUMN

Telkom, Jamsostek, BTN, Pusri, Taspen, PGN, Bulog, KS, Jasa Marga, GIA, BEI, Jiwasraya, Pegadaian, Antam,

5 BUMN

Bank Mandiri, Pertamina, PLN, BRI, BNI

Aset > 100 T

Breakdown Berdasarkan Pendapatan
84 BUMN 23 BUMN
BUMN Kecil Lainnya
Posindo, Jiwasraya, Pelindo II, Pelindo III, Perhutani, MNA, AP II, Pelni, I, Jasa Raharja, PTPN VI, PTPN VIII, PTPN II, PTPN XI, Peruri, PTPN X, Indo Farma, PTPN IX, PPI, SHS, Nindya Karya, Sucofindo, BEI

Pendapatan <1 T

Pendapatan 1 T -- <2,5 T

23 BUMN

Antam, Timah, Jamsostek, PTBA, Adhi Karya, Taspen, Askes, Wika, KAI, PTPN III, BTN, PTPN IV, PP, PTPN V, PTPN VII, RNI, Jasindo, Waskita, Pegadaian, Jasa Marga, Hutama, PTPN XIII, KF

Pendapatan 2,5 T -- <10 T

10 BUMN

Telkom, Pusri, BRI, Mandiri, KS, Bulog, GIA, BNI, SGG, PGN

Pendapatan 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN

Pendapatan>100T

NO COPY ALLOWED

Breakdown Figur Keuangan Pokok (Lanjutan)
Breakdown Berdasarkan Ekuitas
53 BUMN

BUMN
PTPN XIII, KF, Peruri, PANN, Jiwasraya, PPA, Taspen, Jasindo,

Ekuitas <100 M

Kecil Lainnya

51 BUMN

Bio farma, PAL, PTPN X, Asabri, PTPN VIII, Danareksa, RNI, Adhi Karya, ASEI, PTPN XII, PTPN VI, Perumnas, PNM, INTI, Sucofindo, PP, PTPN XI, Waskita, GIA, KBN, Inhutani III, Posindo, Inhutani I, PTPN IX, Hutama, INAF, Kertas Leces, Semen Baturaja, SI, Inka, Jasa Tirta II, Rukindo, Garam, BTDC, Pindad, Inhutani II, Dahana, SHS, Berdikari, PTPN II, Damri, KBI, TWC Borobudur

Ekuitas 100 M -- < 1 T

31 BUMN

PGN, Antam, SGG, AP I, Jasa Marga, AP II, KS, PELNI, Pelindo II, BEI, Bulog, PTBA, Timah, KAI, BTN, Pelindo III, PTPN IV, Askes, PTPN III, Jamsostek, Pegadaian, Askrindo, Jasa Raharja, Wika, ASDP, PTPN VII, Pelindo I, PTPN V, Perhutani, Jamkrindo, Pelindo IV

Ekuitas 1 T -- <10 T

5 BUMN

Telkom, Bank Mandiri, BRI, BNI, Pusri

Ekuitas 10 T -- <100 T

2 BUMN

Pertamina, PLN
53 BUMN
BUMN Kecil Lainnya

Ekuitas > 100 T

Breakdown Berdasarkan Laba Bersih
Laba Bersih<10 M

43 BUMN

PPI, Bulog, PTPN X, PTPN XII, ASDP, PPA, PTPN IX, Waskita, PANN, Askrindo, Hutama, Sucofindo, ASEI, PTPN II, INKA, Jasa Tirta II, BTDC, BKI, Dahana, Inhutani V, Jiwasraya, KBN, Danareksa, Damri, KAI, Posindo, PTPN XI, Pindad, SI, KBI, BGR, Brantas, Istaka, KIM, Perumnas, Kertas Leces, Jasa Tirta I, Djakarta Lloyd, PNM, SHS, DPS, PTPN I, LEN

Laba Bersih 10 M -- < 100 M Laba Bersih 100M -- <1T

35 BUMN

Jamsostek, Pelindo II, PTPN III, PTPN IV, Pegadaian, Jasa Marga, KS, Askes, AP II, Pelindo III, BTN, KF, PTPN V, AP I, Taspen, PTPN VII, BEI, Jasa Raharja, Peruri, RNI, PTPN XIII, Pelindo I, Asabri, PTPN VIII, Perhutani, Wika, ADHI, GAI, Pelindo IV, PP, PTPN VI, Semen Baturaja, Jasindo, Bio Farma, Jamkrindo

9 BUMN

BRI, Bank Mandiri, PGN, SGG, PTBA, Antam, Timah, Pusri, BNI

Laba Bersih 1T -- <10T

2 BUMN

Pertamina, Telkom

Laba Bersih>10T

NO COPY ALLOWED

LAMPIRAN 4 DATA BUMN YANG TELAH LISTING DI BURSA EFEK .

15. 12. 7. PT PGN Tbk PT Aneka Tambang Tbk PT Semen Gresik Tbk PT Timah Tbk PT TB Bukit Asam Tbk 11. 4. 14. 8. PT Kimia Farma Tbk PT Indo Farma Tbk PT Adhi Karya Tbk PT Wijaya Karya Tbk PT Jasa Marga Tbk PT Pembangunan Perumahan Tbk . 2. 8. 13. PT Telkom Tbk PT Bank Mandiri Tbk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk PT Bank Negara Indonesia Tbk PT Bank Tabungan Negara Tbk. 3.BUMN Yang Telah Listing 1. 16. 6. 9. 5.

77 35.RAHASIA & TERBATAS Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Kapitalisasi pasar BUMN Terbuka (Rp triliun) % terhadap total kapitalisasi pasar 700.60% 36.bapepam.00% 25.00 40.87% 493.00% 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Catatan : Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk tahun 2005 dan 2006 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Jakarta.00 29.14 200.80% 32.40% 636.00% 630. 2008 & 2009 adalah kapitalisasi terhadap Bursa Efek Indonesia Sumber : diolah dari www.00 300.00% 35.00% 15.26 32.00% 10.00 386.00 0.00% 20.00% 30.00% 5.id Kementerian Negara BUMN 17 .00 31.go.00 260.98% 250.00 45.00 100.23% 600. sedangkan Kapitalisasi Pasar BUMN Tbk Tahun 2007.00% 40.00 400.00 153.00 500.00% 0.

LAMPIRAN 5 PERATURAN YANG TERKAIT DENGAN PEMBINAAN BUMN .

Pus selaku Pemegang Saham/ Pemilik Modal BUMN (pasal 1 ayat 5) Pengalihan tugas dan kewenangan Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham dalam Perusahaan Perseroan (Persero) kepada Menteri Negara Pendayagunaan BUMN .Pembinaan dan Pengelolaan BUMN Pembinaan BUMN oleh Departemen/ Menteri Teknis Menteri Keuangan sebagai Pemegang Saham Negara RI / Pemilik Modal pada BUMN dan memegang Kewenangan Pembinaan BUMN UU No. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. 12 th 1998 tentang Perusahaan Perseroan. Inpres No. 19 PRP th1960 tentang Perusahaan Negara PP No. 3 th 1983 tentang Tata Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawatan. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. 50 th 1998. 64 th. 38/1999. 15 Th 1998. 41 th. tugas dan kewenangan Menteri Keuangan pada Persero. Keppres No. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN PP No. 11 tahun 1973. 2001 Pelimpahan kedudukan. 13 th 1998 tentang Perusahaan Umum Pengalihan/ Pelimpahan kedudukan. 39/1999 tentang BUMN Menteri BUMN adalah pihak yang mendapatkan Kuasa dari Negara/ Pem. PP No. Keppres No. Perusahaan Umum dan Perusahaan Perseroan • Menteri Keuangan sebagai Pembina Keuangan • Menteri Teknis sebagai Pembina Teknis NO COPY ALLOWED PP No. PP No. 12 th 1969 tentang Perusahaan Perseroan. Inpres No. 2003 (1960-1969) (1969-1998) (1998) (1998-2001) (2001-2003) (2003-Sekarang) (2003-Sekarang) UU 19/2003 PP No.

• Persero ditiadakan untuk mengejar keuntungan sedangkan Perum dibentuk untuk melaksanakan kemanfaatan umum dalam kerangka korporasi. kewenangan sebagai wakil Pemerintah selaku pemegang saham atau pemilik modal pada BUMN dilakukan oleh Menteri yang ditunjuk atau dikuasakan untuk itu. • Penatausahaan penyertaan saham/modal pada BUMN. Pembinaan BUMN secara ringkas: • Bentuk BUMN disederhanakan menjadi dua bentuk yaitu Persero dan Perum. • Pembinaan terhadap Persero dan perum dilakukan oleh Menteri BUMN dalam kedudukan sebagai pemegang saham/ pemilik modal BUMN. sedangkan bentuk hukum Perjan ditiadakan. pendirian BUMN dan pengalihan bentuk Perjan dilakukan oleh Menteri Keuangan. Perum dan Perjan kepada Menteri BUMN. • Dalam UU 19/2003. serta pembinaan dan pengawasan kepada perusahaan Negara (BUMN) dilakukan oleh Menteri Keuangan. 1 Keterangan • Dalam UU 17/2003.19 Tahun 2003 tentang BUMN Peraturan Pemerintah No.PEMBINAAN BUMN No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Undang-Undang No. • PP 41/2003 tentang pelimpahan kewenangan Menteri Keuangan pada persero. termasuk kepemilikan kekayaan Negara yang dipisahkan.19 Tahun 2003 tentang BUMN 20 . pengusulan penyertaan modal Negara. Dasar Hukum Undang-Undang No. • Penegasan kembali praktek-praktek corporate Governance yang mengatur pelaksanaan pengelolaan BUMN secara baik • Penetapan prosedur privatisasi untuk menjammin transparansi dan persaingan yang adil serta menjamin terdapatnya manfaat bagi publik daru program privatisasi tersebut.41 tahun 2003 2 Undang-Undang No. kewenangan pengelolaan keuangan Negara.

SE-03/MBU.S/2009 Undang-Undang No: 19/2003 Peraturan Pemerintah No: 33/2005 Jo. 3 4 Keterangan Ketentuan mengenai Good Corporate Governance Pengangkatan dan Pemberhentian Direksi dan Komisaris BUMN Dasar Hukum Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-8/4/PBI/2006 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-03/MBU/2009 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-09A/MBU/2005 KEP-59/MBU/2004 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-5/MBU/2007 Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-236/MBU/2003 Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-05/MBU/2008 Surat Menteri BUMN No: S298/S.PEMBINAAN BUMN No.013/1991 5 Program Kemitraan dan Bina Lingkungan 6 Pengadaan Barang dan Jasa di Lingkuingan BUMN 7 8 Sinergi BUMN Privatisasi BUMN 9 Pedoman Pemindahtanganan Aktiva Tetap 21 .MBU/2007 Surat Edaran Menteri BUMN Nomor. PP No: 59/2009 Peraturan Menteri BUMN No: 1/2010 Instruksi Menteri No: 1&2 Tahun 2002 Keputusan Menteri Keuangan No: 89/KMK.

Pengambilalihan dan Perubahan Bentuk Hukum BUMN 3 4 5 Tata cara peleburan BUMN dengan BUMN dilakukan sesuai dengan Peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas PP 43/2005 Pasal 11 ayat (1) 22 . 19/2003 ttg BUMN Ps 4 .PENGGABUNGAN. 1/2004 ttg Perbendaharaan Negara UU No.46 UU No. Peleburan. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 19/2003 ttg BUMN Ps 10 PP No. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT 2 Pembahasan dengan DPR RI dalam rangka mendapatkan persetujuan (Terkait dengan pengalihan kekayaan negara berupa selain tanah dan bangunan yang nialainya lebih dari Rp 100 milyar kedalam perusahaan milik Negara – UU Perbendaharaan Negara) Menteri Negara BUMN menyampaikan RPP tentang peleburan kepada Menteri Keuangan untuk diteruskan ke Presiden guna mendapatkan persetujuan. 1 Keterangan Kajian bersama rencana peleburan BUMN oleh Menteri Negara BUMN dan Menteri Keuangan. Pengawasan dan Pembubaran BUMN Ps 10 PP No. Menteri Negara BUMN melaksanakan peleburan BUMN setelah diterbitkannya PP mengenai peleburan BUMN Ps 45 . 17/2003 ttg Keuangan Negara Ps 11 PP No. Pengurusan. 44/2005 ttg Tata cara penatausahaan dan PMN pada BUMN dan PT Ps 10 UU No.8 PP No. Kajian Bersama tersebut dapat mengikutsertakan Menteri Teknis dan/atau Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dianggap perlu dan/atau dapat menggunakan konsultan independen. 43/2005 ttg Penggabungan. Dasar Hukum Ps 4 UU No. 45/2005 ttg Pendirian.

maka keberatan tersebut harus disampaikan dalam RUPS guna mendapat penyelesaian. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No.PENGGABUNGAN. Apabila dalam jangka waktu tersebut kreditur tidak mengajukan keberatan dianggap menyetujui peleburan UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (4) & (5) 10 Dalam hal keberatan kreditur tidak dapat diselesaikan oleh Direksi sampai dengan penyelenggaraan RUPS. peleburan tidak dapat dilaksanakan. 6 7 Keterangan Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan menyusun Rancangan Peleburan Rancangan peleburan tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Komisaris dan RUPS masing-masing BUMN Direksi BUMN yang akan melakukan peleburan wajib mengumumkan ringkasan rancangan paling sedikit dal 1 Surat Kabar dan mengumumkan secara tertulis kepada karyawan BUMN yang akan melakukan peleburan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sebelum pemanggilan RUPS yang di dalamnya juga memuat bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh rancangan peleburan di Kantor BUMN sejak tanggal pengumuman sampai penyelenggaraan RUPS Dasar Hukum UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (1) & (2) UU 40/2007 tt g PT Pasal 123 ayat (3) 8 UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (2) & (3) 9 Kreditur dapat mengajukan keberatan dalam jangka waktu paling lambat 14 dari setelah pengumuman. UU 40/2007 tt g PT Pasal 127 ayat (6) & (7) 23 . Selama penyelesaian belum tercapai.

28 juga diancam pidana denda min.PENGGABUNGAN. 48:1). 5 tahun (ps. 2 tahun dan max. 25 milyar dan max. • Selain itu dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha atau larangan untuk menjadi direktur atau komisaris min. 47:2. • Komisi Pengawas Persaingan Usaha dapat membatalkan M&A yang mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. 28).e). Pasal 28 dan Pasal 29 UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak bisa dilaksanakan karena belum adanya PP (Peraturan Pemerintah). Rp. • Pelanggaran terhadap ps. 11 Keterangan Rancangan peleburan yang telah disetujui RUPS dituangkan dalam akta peleburan yang dibuat di hadapan notaris dalam bahasa indonesia dan akta peleburan tersebut akan menjadi dasar pembuatan akta pendirian BUMN hasil peleburan Salinan akta peleburan dilampirkan pada pengajuan permohonan untuk mendapatkan keputusan Menteri Hukum dan Ham mengenai pengesahan badan hukum hasil peleburan dan penyampaian pemberitahuan kepada Menteri Hukum dan Ham tentang perubahan anggaran dasar Direksi BUMN hasil peleburan wajib mengumumkan hasil peleburan dalam 1 surat kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 hari sejak tanggal berlakunya peleburan Peleburan Persero terbuka dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal • Merger & Akuisisi tidak boleh mengakibatkan monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat (ps. Rp. Dasar Hukum UU 40/2007 tt PT Pasal 128 ayat (1) & (3) 12 UU 40/2007 tt PT Pasal 129 & 130 13 UU 40/2007 tt PT Pasal 133 ayat (1) 14 15 PP 43/2005 Pasal 46 Undang-undang No. 49). PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Tidak Sehat tanggal 5 Maret 1999 24 . 6 bulan (ps. 100 milyar atau pidana kurungan pengganti denda max.

wajib dipenuhi persyaratan sebagai berikut : Pada saat terjadinya Merger atau Konsolidasi. PELEBURAN DAN PENGAMBILALIHAN BUMN No. Dasar Hukum Pasal 8 (ayat 2) PP NO.PENGGABUNGAN. 16 Keterangan Perbankan : Untuk dapat memperoleh izin Merger atau Konsolidasi. 28 TAHUN 1999 Tentang Merger. masyarakat dan persaingan sehat serta ada jaminan tetap terpenuhinya hak-hak pemegang saham publik dan karyawan. • Merger/Konsolidasi dilakukan dengan memperhatikan kepentingan Perseroan.E. 25 . jumlah aktiva Bank hasil Merger atau Konsolidasi tidak melebihi 20% (dua puluh per seratus) dari jumlah aktiva seluruh Bank di Indonesia.IX.G. Peraturan Bapepam IX. Konsolidasi dan Akuisisi Bank 17 Penggabungan Usaha Atau Peleburan Usaha Perusahaan Publik Atau Emiten.1 tentang Benturan Kepentingan.1 & No. • Quorum dan Voting dalam RUPS hanya memperhitungkan kehadiran/suara Pemegang Saham Independen.

LAMPIRAN 6 PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN .

Program Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Kementerian BUMN Dari UMKM non-bankable Menjadi UMKM bankable Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Program Corporate Social Responsibility (CSR) Penyaluran Kredit Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) oleh BUMN Sektor Perbankan .

Program Corporate Social Responsibility (CSR) Dasar Hukum : UU Nomor 40 tahun 2007 Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (2 % dari net profit yang diperkirakan): Komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat. komunitas setempat. baik bagi Perseroan sendiri.Program PKBL dan CSR Program Kemitraan & Bina Lingkungan (PKBL) Dasar Hukum : UU Nomor 19 tahun 2003 Program Kemitraan (2% dari laba bersih) : Program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN Program Bina Lingkungan (2% dari laba bersih) : Program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN BUMN wajib menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN. maupun masyarakat pada umumnya .

baik dalam kluster lokasi. Bentuk Program Contoh Pelaksaan Program:  Pada bulan Januari 2010.  Program Wirausaha Mandiri yang telah dilaksanakan oleh Bank Mandiri sejak tahun 2007 s. dengan tujuan untuk menumbuhkan kewirausahaan di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. melalui mekanisme channeling atau executing untuk sektor-sektor usaha di atas  Pemberian bantuan kesehatan dan bantuan dana pendidikan. . yaitu BUMN yang mempunyai dana bantuan besar bersinergi dengan BUMN yang tidak memiliki dana namun mempunyai program yang bagus.d sekarang.Pelaksanaan Program PKBL dan CSR  Pemberian bantuan pelatihan dan penyediaan prasarana  Penyalurkan pinjaman modal langsung dengan bunga rendah  Penyaluran bantuan dengan metode kluster. jenis usaha dan kluster dari hulu hilir. dengan tujuan untuk memudahkan pelaksanaan penyaluran pinjaman dan pembinaan usaha  Pelaksanaan sinergi antara BUMN. sektor. Salah satu BUMN Karya telah menyalurkan dana kemitraan sebesar Rp 540 juta kepada 48 pengusaha mikro dan kecil yang memiliki keterkaitan bidang usaha dengan perusahaan tersebut.

000 20. 86 % antara tahun 2007 s.687 1.000.000 40.000 80.510 77.000 - Jumlah Mitra Binaan 79.Gambaran Umum Penyaluran PKBL Secara Nasional ..837 70.000 30.971..000 1. terdapat peningkatan realisasi penyaluran PKBL BUMN sebesar 138.000 60..346 39. 86 %. Orang Realisasi Penyaluran Program PKBL 2.000 2006 2007 2008 2009 1.026.000 825.000 2.000 1. peningkatan tersebut tercermin pula pada jumlah mitra binaan PKBL BUMN yang mengalami peningkatan sebesar 138.d 2009..194 47.000.000 50.087 2006 2007 2008 2009 Realisasi Penyaluran Program PKBL Jumlah Mitra Binaan Catatan: Data penyaluran PKBL untuk tahun 2009 masih berdasarkan pada hasil prognosa .000 1.473 500.500. Rp juta .000 10.500.717.929 90.

Penyaluran Kredit UMKM oleb BUMN Sektor Perbankan … nilai kredit MKM yang disalurkan Bank BUMN mengalami trend pertumbuhan yang positif ….33% 250.000 285.740 150.000 50.000 2007 2008 2009 Source : Bank Indonesia .000 230..152 200.000 100.000 176.134 Key Findings Penyaluran kredit MKM oleh BUMN sektor perbankan selama periode 2007 s.d 2009 mengalami pertumbuhan sebesar 61. Rp. Triliun 300.

20.Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha KEY POINTS • Belanja Pemerintah untuk infrastruktur pada tahun 2009 meningkat 3 kali dibandingkan tahun 2005 dari Rp. Infrastruktur Ketahanan Pangan . Melalui upaya-upaya tersebut diharapkan PTPN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan produk-produk turunan dari hasil perkebunan. pembangunan pabrik biodiesel.9 Triliun menjadi Rp. sebagai BUMN Perkebunan untuk melakukan perluasan lahan tanaman. Kementerian BUMN telah mendorong BUMN Konstruksi untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur.000 km yang dilakukan oleh kontraktor BUMN dan operator jalan tol Jasa Marga.8 Triliun. 61. khususnya yang bergerak di bidang jasa konstruksi. baik secara sendirisendiri dan bersinergi. Diharapkan dengan kegiatan tersebut BUMN Konstruksi dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha. • Sebagai salah satu upaya untuk mendukung program pengembangan infrastruktur yang dicanangkan oleh Pemerintah. pabrik pupuk NPK dan kerjasama pembuatan pabrik ban sepeda motor. Untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pemerintah. powerplant berbahan baku biomassa sawit dan tebu. Kementerian BUMN telah mendorong PTPN. diantaranya melalui pembangunan ruas tol Trans Jawa sepanjang 1.

Pertamina Di sektor hulu. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha antara lain dalam keperluan distribusi BBM dan LPG. Sedangkan di sektor hilir.000 MW Tahap II dengan fokus pada pengembangan energi terbarukan yaitu panas bumi dan tenaga air. Energi .Beberapa bentuk sinergi BUMN Non Perbankan dengan Para Pengusaha (lanjutan………) KEY POINTS PLN Untuk mendukung program ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pemerintah. • Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap industri listrik nasional baik dari sisi ketersediaan energi primer. penetapan Tarif Dasar Listrik. Diharapkan melalui upaya-upaya tersebut PLN dapat membangun kerjasama dengan para pengusaha yang memiliki keterkaitan dengan bidang energi. penyempurnaan pelaksanaan independent power producer (IPP) dan kebijakan terkait dengan subsidi.000 MW Tahap I yang dilanjutkan dengan pembangkit listrik 10. Pertamina dapat menjalin kerjasama dengan para pengusaha untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi dalam bentuk KSO (Kerjasama Operasi). Kementerian BUMN telah mendorong PLN melakukan upaya-upaya sebagai berikut: • Penuntasan proyek pembangkit listrik 10.

LAMPIRAN 7 RENCANA RIGHTSIZING DAN PRIVATISASI TAHUN 2005-2009 .

Tbk N0. Tbk (TELKOM) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja PT Bank Tabungan Negara (BTN) PT Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) PT Perusahaan Gas Negara.Rencana Rightsizing Tahun 2005 . Tbk (BNI) PT Bank Rakyat Indonesia. Tbk 19 20 21 22 23 24 25 26 27 PT Asuransi Jasa Raharja PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) PT Asuransi ABRI (ASABRI) PT Pos Indonesia (POSINDO) Perum Pembangunan Perumahan Nasional (PERUMNAS) Perum Percetakan Uang RI (PERURI) Perum Perhutani PT Biofarma Perum Sarana Pengembangan Usaha (SPU) 11 12 13 14 15 16 17 PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) PT Taspen Perum Bulog PT Jasa Marga PT Bank Ekspor Indonesia (BEI) PT Kereta Api Indonesia (KAI) Perum Pegadaian 28 29 30 31 32 33 34 35 Perum Percetakan Negara Indonesia (PNRI) Perum Prasarana Perikanan Samudra (PPS) PT TWC Borobudur. 18 BUMN PT Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) 2 3 4 5 6 7 8 9 10 PT Pertamina PT Bank Negara Indonesia.2009 Stand Alone No 1 BUMN PT Bank Mandiri. Tbk (PGN) PT Semen Gresik. Tbk (BRI) PT Telekomunikasi Indonesia. Prambanan dan Ratu Boko PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) PT Batan Teknologi Perum Produksi Film Negara (PFN) PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) PT Perikanan Nusantara .

8). Sektor Kehutanan 7).Lanjutan Merger/Konsolidasi No SEKTOR BUMN PT Dok dan Perkapalan Surabaya (DPS) 1). Tbk PT Indo Farma. Sektor Pertahanan 11). Sektor Dok & Perkapalan PT Industri Kapal Indonesia (IKI) PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari PT Perusahaan Perdagangan Indonesia 2). Tbk 3). 9). Sektor Perdagangan PT PP Berdikari PT Sarinah PT Bhanda Ghara Reksa (BGR) PT Varuna Tirta Prakasya PT Bali Tourism & Development Corporation PT Hotel Indonesia Natour (HIN) Perum Jasa Tirta I Perum Jasa Tirta II PT Inhutani I PT Inhutani II PT Inhutani III PT Inhutani IV PT Inhutani V PT Sang Hyang Seri (SHS) PT Pertani PT Kertas Leces PT Kertas Kraft Aceh PT Balai Pustaka (BP) PT Pradnya Paramita PT Pindad PT Dahana PT Kimia Farma. Sektor Farmasi . Sektor Pergudangan Sektor Pariwisata Sektor Penunjang Pertanian 6). 4). 5). Sektor Pertanian Sektor Kertas Sektor Percetakan 10).Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….

Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Perkebunan I (PTPN I) PT Perkebunan II (PTPN II) PT Perkebunan III (PTPN III) PT Perkebunan IV (PTPN IV) PT Perkebunan V (PTPN V) PT Perkebunan VI (PTPN VI) PT Perkebunan VII (PTPN VII) PT Perkebunan VIII (PTPN VIII) PT Perkebunan IX (PTPN IX) PT Perkebunan X (PTPN X) PT Perkebunan XI (PTPN XI) PT Perkebunan XII (PTPN XII) PT Perkebunan XIII (PTPN XIII) PT Perkebunan XIV (PTPN XIV) PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) PT Aneka Tambang. Tbk (PT BA) PT Timah.Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 …. Tbk PT Adhi Karya PT Wijaya Karya (WIKA) PT Waskita Karya PT Pembangunan Perumahan (PP) PT Hutama Karya PT Nindya Karya PT Istaka Karya PT Brantas Abipraya PT Amarta Karya PT Krakatau Steel (KS) PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) PT Barata Indonesia PT LEN Industri PT Industri Kereta Api (INKA) PT PAL Indonesia 1) Sektor Perkebunan 2) Sektor Pertambangan 3) Sektor Konstruksi 4) Sektor Industri Strategis . Tbk (ANTAM) PT Tambang Batubara Bukit Asam.

Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….Lanjutan Holding No Sektor BUMN PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) PT Kawasan Industri Medan (KIM) 5) Sektor Kawasan PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) PT Pengembangan Daerah Industri (PDI) Pulau Batam PT Kawasan Industri Wijaya Kusuma (KIW) PT Angkasa Pura I (AP I) 6) Sektor Kebandarudaraan PT Angkasa Pura II (AP II) PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) PT Djakarta Lloyd 7) Sektor Pelayaran PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG) PT Pelabuhan Indonesia I (PELINDO I PT Pelabuhan Indonesia II (PELINDO II) 8) Sektor Pelabuhan PT Pelabuhan Indonesia III (PELINDO III) PT Pelabuhan Indonesia IV (PELINDO IV) .

Lanjutan Divestasi No 1 2 3 BUMN PT Garuda Indonesia (GIA) PT Merpati Nusantara (MNA) PT Asuransi Jiwasraya PT Permodalan (PNM) PT Dana Reksa PT PANN Multi Finance PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) PT Semen Baturaja Nasional Madani No. 15 16 17 BUMN PT Industri Soda Indonesia (ISI) PT Industri Gelas (IGLAS) PT Industri Sandang Indonesia (INSAN) 4 5 6 7 8 18 19 20 21 22 Perum Damri PT Boma Bisma Indra (BBI) PT Primissima PT Indra Karya PT Yodya karya 9 10 11 12 13 14 PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) PT Sucofindo PT Reansuransi Umum Indonesia (RUI) PT Pengerukan Indonesia PT Garam PT Surveyor Indonesia (SI) 23 24 25 26 27 PT Virama Karya PT Indah Karya PT Konservasi Energi Abadi (Koneba) PT Bina Karya PT Sarana Karya .Rencana Rightsizing Tahun 2005 – 2009 ….

33 40.12 100 100 100 100 100 100 100 100 100 52. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BUMN PT Jasa Marga PT BNI PT BTN PT Wijaya Karya PT Permodalan Nasional Madani PT Garuda PT Merpati PT Krakatau Steel PT Dirgantara PT Industri Soda Indonesia PT IGLAS PT Cambrics Primissima PT Indah Karya PT Indra Karya PT Virama Karya PT Yodya Karya PT Bina Karya PT JIHD PT Kertas Padalarang PT Atmindo PT Intirub PT PPLI PT Kertas Blabak PT Kertas Basuki Rahmat % Saham Negara 100 99.76 36.Rencana Privatisasi Tahun 2007 No.00 0.9 5.84 0.4 Rencana Metode IPO IPO/SPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO IPO SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS SS Dasar Pertimbangan Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kompetitif Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas Kepemilikan negara minoritas .56 9.79 100 100 100 100 100 1.

97 85. BUMN % Saham Negara Rencana Metode Dasar Pertimbangan 1 2 3 4 5 6 7 PT Asuransi Jasa Indonesia PT Asuransi Jiwasraya PT Sarana Karya PT Rukindo PT Semen Baturaja PT Industri Sandang PT Krakatau Steel 100 100 100 100 100 100 100 IPO/Dilusi IPO/SO IPO IPO IPO IPO IPO Kompetitif Kompetitif Pengembangan usaha Cut loss Butuh dana Pengembangan teknologi dan pasar Pengembangan usaha . kepemilikan negara minoritas (akan ditinjau kembali) Pengembangan perusahaan 8 9 10 11 12 13 PT INTI PT Koneba PT JIEP PT SIER PT Bank Bukopin PT Dirgantara 100 100 50 50 18 17 IPO IPO SS/Divestasi SS/Divestasi Placement SS/Dilusi/ Divestasi EMBO/ Divestasi SS/Divestasi dan Dilusi 14 15 PT Rekayasa industri PT Surveyor 4. perlu permodalan tinggi untuk pengembangan (akan dikaji lebih mendalam) Kepemilikan Negara Minoritas Kompetitif Kompetitif Kepemilikan Negara Minoritas .Untuk meningkatkan daya saing perusahaan (competitiveness) Sektor kompetitif.Akses keteknologi dan pemasaran Sektor kompetitif.Sektor terbuka dan kompetitif .12 .Rencana Privatisasi Tahun 2008 No.Perseroan membutuhkan tambahan modal .

5 100 17.78 10 100 Rencana Metode SS/Dilusi SS/ Divestasi IPO IPO SS SO/Dilusi SO/Dilusi SO SS/ Divestasi SS IPO/SS No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 BUMN PT Kliring Berjangka PT ASEI PT Reasuransi PT Danareksa PT Sucofindo PT Bank Mandiri Tbk PT BRI Tbk PT Bank BTN PT Bahana PUI PT Sucofindo BUMN Pupuk Dasar Pertimbangan Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif Pengembangan usaha Pengembangan usaha Kompetitif/ Kebutuhan dana/ pengembangan usaha Butuh dana pengembangan bisnis Kebutuhan pengembangan dana Kebutuhan pengembangan dana Kompetitif pengembangan usaha pengembangan usaha .Rencana Privatisasi Tahun 2009-2011 % Saham Negara 100 100 100 100 95.00 70 59.

LAMPIRAN 8 MATRIKS PENANGANAN RESTRUKTURISASI KORPORASI OLEH PT PPA .

19 M Biaya talangan selama masa persiapan perampingan (3 bulan) Rp38.24 M Biaya pengeluaran barang dari pelabuhan Rp 11 M Pembayaran sebagian hutang pihak ketiga (closed project) Rp16. Permasalahan pembayaran pesangon karyawan telah diselesaikan dengan melakukan penjualan aset property milik PPD.94 M Pelaksanaan setoran modal oleh PT PPA akan dilakukan setelah terbitnya Peraturan Pemerintah terkait Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PT WK. Dengan adanya KSO tersebut maka diharapkan di PT Semen Kupang (Persero) dapat segera beroperasi kembali.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI/REVITALISASI BUMN OLEH PPA 2009 NO 1 BUMN PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) STATUS Menteri Keuangan telah menyetujui pemberian pinjaman untuk pembelian 15 unit pesawat MA 60 yang akan direalisasikan tahun 2010-2011 Perjanjian pemberian pinjaman telah ditandatangani pada tanggal 16 Desember 2009 yang digunakan untuk: Penyelesaian pembangunan 10 kapal dengan jumlah plafond sebesar USD 25.6 juta Restrukturisasi korporasi sebesar maksimal Rp 193.50 M Tambahan Modal kerja divisi pemeliharaan / perbaikan kapal dan rekayasa umum Rp 27.37 M: Perampingan karyawan Rp 90. PT Semen Kupang telah menandatangani Perjanjian KSO dengan PT Sarana Agro Gemilang (SAG) pada tanggal 1 Sep 2009. PT PPA belum dapat memberikan bantuan pinjaman sebagaimana yang diperlukan oleh PPFN 2 PT PAL (Persero) 3 PT Waskita Karya 4 PT Semen Kupang (Persero) 5 6 Perum Pengangkutan Perum PPFN .50 M Biaya talangan selama transisi fast cash business (3 bulan) Rp9.

Arahan Menteri Negara BUMN dalam rapat tanggal 18 Januari 2010. disepakati bahwa PT Balai Pustaka akan di restrukturisasi didasarkan sejarah Balai Pustaka. Sesuai informasi terakhir Dirkeu. Proses finalisasi kajian kelayakan restrukturisasi dan/atau revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi Finalisasi kajian kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi PPA telah memberikan dana talangan sebesar Rp 125.77 milyar Opsi penyelesaian lainnya yaitu kajian likuidasi dan divestasi telah disampaikan kepada Ketuan Tim Pelaksana Komite RR Kajian Restrukturisasi PT Djakarta Lloyd masih membutuhkan kajian lanjutan yang harus dilengkapi dengan business plan dari Manajemen Djakarta Lloyd. 2 PT Djakarta LLyod (Persero) 3 PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PPA telah memberikan talangan sebesar Rp 25 M di luar konteks restrukturisasi dan/atau revitalisasi untuk membiayai kebutuhan operasional perusahaan dan saat ini sedang dilaksanakan finalisasi Kajian Kelayakan Restrukturisasi dan/atau Revitalisasi (FDD dan Kajian Bisnis). PPA telah menawarkan untuk membantu melakukan pembahasan kemungkinan penyelesaian kewajiban tsb.PROGRESS PENANGANAN RESTRUKTURISASI BUMN OLEH PT PPA … Lanjutan 2010 NO BUMN 1 PT Iglas (Persero) STATUS Telah disampaikan kepada Komite Restrukturisasi dan Revitalisasi pada tanggal 2 Oktober 2009 Mengusulkan pemberian pinjaman sebesar Rp 106. saat ini VTP sedang mempertimbangkan penyelesaian kewajiban kepada Bank Mandiri. Laporan kajian awal upaya pengoperasian kembali PT KKA telah disampaikan kepada Menteri Negara BUMN 4 5 6 7 PT Balai Pustaka (Persero) PT Berdikari (Persero) PT Hotel Indonesia (Persero) PT Primisima (Persero) 8 PT Kertas Kraft Aceh (Persero) - - 9 PT Varuna Tirta Prakasya (Persero) Pengumpulan informasi dan identifikasi awal permasalahan. Sedang dilakukan Financial Due Diligence (FDD) dan Legal Due Diligence (LDD).72 milyar untuk Rasionalisasi karyawan Dilakukan Kajian menyeluruh atas opsi-opsi penyelesaian permasalahan KKA. Saat ini PT BP dalam proses penyelesaian Rencana Bisnis. termasuk kajian pengoperasian kembali KKA. Proses pengumpulan data dan penyusunan laporan kajian 10 11 PT Industri Kapal (Persero) PT Survai Udara Penas (Persero) .

LAMPIRAN 9 DATA BUMN PENYELENGGARA PSO .

309. PT PLN Menteri ESDM UU Nomor 30/2009 33.201.00 425.12 11. Perum Antara Menkominfo -Kontrak (tahunan) B. PT Pusri Mentan 8. PT SHS Mentan Surat Nomor…(tahunan) 176. dan Asdep Kewajiban Pelayanan Umum yang bertugas memonitor dan menginventarisir data PSO baru dibentuk pada tahun 2006 47 .29 933. PT Pertamina BPH Migas 6.23 34.500.22 37.00 125. 13/2007 Ttg Perkeretaapian -Kontrak (tahunan) PRODUK/JASA YANG DITUGASKAN Penyediaan KA kelas ekonomi 2006 2007 2008 2009 Menhub 450.00 16. C..00 - - 38.84 68.269.172.00 408.75 175.95 12.93 127.78 JUMLAH 100.79 237.00 2. BUMN Bidang Sarana Perhubungan 1.448.776.809.NO A.12 Bidang Pangan Surat/Keputusan.00 118. PT Posindo Menkominfo Penyediaan Kapal Laut kelas Ekonomi Penyediaan pelayanan KPCLK Penyediaan dan/atau distribusi berita (cetak.64 118.89 6.00 76.458.283. Perum Bulog Menko Kesra Surat/Keputusan (tahunan) 5.60 677.93 Catatan: Data tahun 2005 tidak dapat disajikan karena datanya tersebar. Foto) tertentu kepada kelompok/ daerah tertentu 679.00 115.96 42.471.00 7.00 5.05 4.272.11 319.289.480.830.(tahunan ) Penyediaan dan distribusi pupuk bersubsidi Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan distribusi benih dan pupuk Penyediaan dan penyaluran Raskin dan CBP 3.959.318.00 600.169.60 790.54 10.17 50.50 505.66 82. PT Pertani Mentan Surat Nomor…(tahunan) 31.44 1.81 5.64 1.904. Bidang Energi Keputusan BPH Migas (tahunan) Penyediaan dan distribusi BBM tertentu Penyediaan tenaga listrik 59. PT KAI PEMBERI TUGAS DASAR HUKUM PENUGASAN -UU No.00 6.282.31 732. PT PELNI Menhub -Keputusan Dirjen Perla -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo -Kontrak (tahunan) -Keputusan Menkominfo 3.999.797. vidio/TV.63 9.81 134.

2009 .LAMPIRAN 10 PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 .

anti virus dan anti spyware untuk mendukung aplikasi yang berjalan di atasnya Menambah jumlah SDM melalui outsorcing dan meningkatkan kualitas SDM Teknologi informasi melalui pendidikan. Agar website tersebut lebih dapat memenuhi kebutuhan Kementerian Negara BUMN dalam mendukung transparansi dan tanggung jawab Kementerian Negara BUMN kepada publik.bumn.bumn. PC/notebook.bumnri.id.go. maka dilakukan perubahan rancangan dan konten informasi website. Pembangunan Aplikasi Privatisasi BUMN .PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No 1 Program Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Infrastruktur Keterangan Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi untuk diusulkan dapat disahkan oleh Menteri dalam rangka melaksanakan IT Governance Menambah jumlah server.id atau www.go. a.com Website Kementerian Negara BUMN mulai diluncurkan pada tahun 2002. security. perangkat jaringan. software. kursus dan sertifikasi 2 3 Pengembangan SDM 4 Pengembangan Aplikasi a. Membangun aplikasi yang digunakan untuk membantu menangani proses privatisasi BUMN dan membangun sub portal yang menyajikan informasi ahsil privatisasi kepada publik melalui www. Website Kementerian Negara BUMN dengan alamat www.

Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik c. PDA Mobile access Operasional dan pemeliharaan Sosialisasi Open source Penambahan Server Reliabilitas email Sosialisasi pemakaian open sourse (Linux. keuangan. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi Anak Perusahaan BUMN e. Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi BUMN UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN Direksi dan Komisaris BUMN (CV Direksi. SDM. Uji Kepatutan dan Kelayakan Direksi dan Komisaris Anak Perusahaan BUMN Keterangan b. 2 3 4 5 6 Pembangunan PKBL Online Knowledge Management Melakukan pembangunan aplikasi untuk menyimpan dan menyajikan informasi Anggaran Dasar BUMN Portal publik dan eksekutif dapat diakses melalui HP. dan unit tata usaha. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan informasi terkait BUMN bagi pimpinan di lingkungan Kementerian Negara BUMN dan membantu pimpinan dalam mengambil kebijakan dan keputusan terhadap pengelolaan BUMN. perlengkapan.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No 1 Program Pengembangan Aplikasi a. Open Office di KNBUMN) Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi . mekanisme UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN) Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi SDM BUMN dan membantu proses Fit and Proper Test calon Direksi Anak Perusahaan BUMN. f. arsip dan dokumentasi. Melakukan pembangunan aplikasi yang ditujukan untuk menyediakan otomasi alur kerja yang melibatkan seluruh unit di Kementerian Negara BUMN seperti perencanaan. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN d. Implementasi Office Automation tersebut dimulai dengan pembuatan dokumen elektronik yang akan disimpan dalam sistem. Komisaris dan 1 tingkat di bawah Direksi.

data.PROGRAM BERKESINAMBUNGAN TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 & 2009 No Program 2008 1 Pembangunan Portal Aset BUMN Melakukan pembangunan aplikasi yang dapat menyajikan informasi aset BUMN dan membantu Kementerian Negara BUMN dalam rangka mengoptimalkan aset BUMN. video. Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi 2009 1 2 3 Upgrade Server Upgrade Storage Unified Communication (Integrasi voice. email ke dalam perangkat komunikasi) Data Center standar Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan infrastruktur datacenter bagi server dan aplikasi dalam rangka mendukung ketersediaan dan reliabilitas layanan TI Menyediakan keamanan data dan informasi yang diproses melalui jaringan Kementerian BUMN Keterangan 2 3 Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone 4 5 Reliabilitas jaringan dan keamanan .

pendidikan.024 Kbps) Langganan domain bumn.go.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2006 No. Tata Kelola TI BUMN dan Sinergi BUMN pada tahun 2006 Rapat Koordinasi Bidang Sistem Informasi antara Kementerian Negara BUMN dengan BUMN pada bulan Desember 2006 2 3 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Koordinasi pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi 5 .bumn.id dan http://priv. kursus dan sertifikasi Pembentukan Kelompok Kerja TI BUMN yang bertugas menyusun panduan masterplan TI BUMN. dan perangkat jaringan Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Pengadaan anti virus (200 lisensi) Langganan layanan dedicated internet (1.id dan bumn-ri. seminar.com Langganan layanan informasi saham real time (4 client) Menambah jumlah SDM melalui outsorcing Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.bumn. storage. 1 Program/Rencana Kerja Menyusun Kebijakan Teknologi Informasi Kementerian Negara BUMN Pengembangan Aplikasi Realisasi Draft Master Plan Teknologi Informasi Kementerian BUMN tahun 2006-2010 Pembangunan dan launching SMS Center 2866 untuk keluhan dan pengaduan melalui SMS Redesain Portal Publik dan Pembangunan Sub Portal Privatisasi www.go.id Pengadaan Server (18 unit).go.

pengelolaan agenda/ jadwal.go.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2007 No. penyediaan ATK.id dengan modul-modul perencanaan. dan pengumuman Pembangunan Portal SDM http://sdm.go. persuratan.id Migrasi colocation dari Telkom Slipi ke Telkom Karet untuk penambahan kapasitas server karena kebutuhan aplikasi. produk dan bantuan hukum. Pengadaan outsourcing tenaga bidang TI b. pengelolaan aset. Pembangunan Office Automation dan pembuatan dokumen elektronik Realisasi Pembangunan Executive Information System http://eis.go.bumn. sertifikasi seminar.id/internal dan http://sdm.048 Kbps) Langganan layanan informasi saham real time (6 client) Penyediaan layanan internet menggunakan Jaringan lokal yang menghubungkan Lapangan Banteng-Merdeka Selatan melalui DINAccess Penyediaan jaringan di Gedung Kementerian Negara BUMN Jalan Merdeka Selatan 13. Pelatihan portal publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 6–21 Agustus 2007 diikuti oleh 337 peserta dari 134 BUMN. pengelolaan keuangan. pengadaan. dokumentasi dan arsip.bumn.bumn. Pembangunan Sistem Informasi Fit and Proper Direksi BUMN a. pengelolaan aset TI. Pelatihan seluruh portal kepada 50 BUMN yang mengajukan permintaan pelatihan tambahan kepada masing-masing BUMN 5 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM a. Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Langganan layanan dedicated internet (2. pendidikan. kursus dan . pengelolaan SDM.go. Jakarta Pusat berjumlah 500 titik untuk 14 lantai (Pindah Kantor dari Gedung 16 Lantai Jalan Dr Wahidin Raya 1 Jakarta) a.id/internal dan http://pkbl. c. perpustakaan. Pembangunan Sistem Informasi BUMN (Executive Information System) a.id Pembangunan Office Automation http://oa. 1 Program/Rencana Kerja Pengembangan Aplikasi a.bumn.bumn. Mengirim pegawai untuk mengikuti workshop.id Pembangunan portal PKBL http://pkbl. kehumasan.go.bumn.go. b. Pembangunan PKBL Online 2 3 Operasional dan pemeliharaan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 4 Sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan sistem informasi/teknologi informasi a. Pelatihan Office Automation pada bulan Desember 2007 diikuti oleh pegawai Kementerian Negara BUMN.

bumn.id/internal dan http://aset.bumn.go.go. 2 3 4 5 Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) 6 Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Kursus dan Pelatihan 1) CCNA 1 orang 2) CISA Reviw Course 2 orang 3) Zend Framework 3 orang 4) Java Standard Edition Course 1 orang 5) Project Management Course 1 orang .id) Menyediakan perangkat jaringan yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan prototype komunikasi voice dan video yang tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN Sosialisasi pemakaian Open source di Kementerian Negara BUMN (Linux) pada tahun 2008 (15 orang) 1) 2) Pengadaan PC/notebook/printer/scanner Penggantian dan Penambahan PC untuk mendukung operasional Kementerian Negara BUMN dari 204 unit pada tahun 2004 menjadi 456 unit pada tahun 2009.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2008 No 1 Program/Rencana Kerja Pembangunan Portal Aset BUMN Penambahan dan Upgrade Perangkat Jaringan Pengadaan Infrastruktur untuk menyiapkan IP Phone Sosialisasi Open source Realisasi Pembangunan portal Aset (http://aset.

video. PKBL dan Publik kepada admin BUMN yang dilaksanakan pada 14 April – 8 Mei 2008 dan 27 Agustus – 8 September 2009.REALISASI PROGRAM TEKNOLOGI INFORMASI TAHUN 2009 Program/Rencana Kerja Upgrade Server Upgrade Storage Realisasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Menyediakan perangkat yang memadai untuk menjalankan aplikasi Unified Communication (Integrasi voice. SDM. diikuti oleh 672 peserta dari 142 BUMN. Menyediakan implementasi penuh komunikasi voice dan video yang data.096 Kbps pada tahun 2009. mobile messaging dan web mail yang nyaman bagi pengguna Berdasarkan prioritas realisasi ditunda ke anggaran tahun 2010 Menyediakan server yang berfungsi sebagai Single Sign On server melalui Active Directory Pelatihan Portal EIS. Penambahan 80 komputer bagi pegawai kementerian BUMN Kursus dan Pelatihan 1) Diklat Pimpinan III 1 orang 2) Diklat Pimpinan IV 1 orang . email ke dalam perangkat tersedia untuk komunikasi di Kementerian BUMN komunikasi) Reliabilitas email Data Center standar Reliabilitas jaringan dan keamanan Sosialisasi dan Implementasi Portal Berkelanjutan Pengembangan Infrastruktur (hardware/software) Pengembangan dan peningkatan kualitas SDM Menyediakan email yang dapat memenuhi kebutuhan email yang aman. Upgrade jaringan internet menjadi 4.

2014 .LAMPIRAN 11 MASTER PLAN TEKNOLOGI INFORMASI KEMENTERIAN BUMN 2010 .

ROADMAP 2010-2014 2010 Persiapan Fondasi Implementasi Sistem Terintegrasi Monitoring BUMN dengan static Dashboard & Ekspansi Layanan Peletakan Basis Knowledge Management 2012 Business Intelligent 2013 Pengambilan Keputusan Secara Dinamis dengan BUMN Dashboard Dinamis 2014 57 .

Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Pembentukan Tim Steering Committee untuk proyek TI 5. Rakor TI 9. Server dan Storage 5. Pemeliharaan Portal Publik 3. Pembangunan Business Intelligence 6. Tim Implementasi BUMN 10. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. penyempurnaan fitur dan optimalisasi pemanfaatan portal 2. Audit Tata Kelola TI 7. Rakor TI . Pemeliharaan hardware dan software 5. Pemeliharaan portal internal dan eksternal. Rakor TI 2014 1. Unified Wireless LAN 6. Rakor TI 2013 1. Pemanfaatan Mailing Room 6. Pemeliharaan Portal Internal 4. Control Room 4. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management 4. Redesain database dan aplikasi 2. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Pelatihan/kursus kompetensi TI 5. IT Steering Commitee 8. Pelatihan 7.ROADMAP 2010-2014 2010 1. Pelatihan Pegawai Sistem Informasi 2011 1. Sistem Keamanan Terintegrasi 5. Optimalisasi pemanfaatan portal sebagai Knowledge Management dan DSS 4. Pelatihan/kursus kompetensi TI 3. Tim Implementasi Kementerian BUMN 2012 1. Implementasi Mailing Room (Tahap I) 6. Pembangunan dashboard dengan Query Dinamik 3. Revitalisasi Infrastruktur Datacenter 2. Mailing Room 3. ETL otomatis dari system BUMN 6. Implementasi Control Room (Tahap I) 7. Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Porta Pemeliharaan dan Penambahan Fitur Portal 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->