P. 1
Pengaruh Efek Bias Trophosfer Pada Pengukuran GPS G.Guntur

Pengaruh Efek Bias Trophosfer Pada Pengukuran GPS G.Guntur

|Views: 295|Likes:
Published by palaut

More info:

Published by: palaut on Mar 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2015

pdf

text

original

LEMBAGA PENELITIAN Institut Teknologi Bandung Efek bias troposfer pada pemantauan deformasi G.

Guntur dengan metode survei GPS
Hasanuddin Z. Abidin 1), O. Yolanda 1), I. Meilano 1), O. K. Suganda 2), M. A. Kusuma 1), D. Muhardi 1), B. Setyadji 1),R. Sukhyar 2), J. Kahar 1), T. Tanaka 3)
1) Jurusan Teknik Geodesi, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10, Bandung, E-mail : hzabidin@indo.net.id 2) Direktorat Vulkanologi, Deptamben, Jl. Diponegoro 57, Bandung 3) Disaster Prevention Research Institute, Kyoto University, Uji, Kyoto, Japan Masuk: Januari 1998; revisi masuk: Februari 1998; diterima: Maret 1998

1 Pendahuluan
Letusan gunung api umumnya bersifat sangat merusak, baik untuk lingkungan alam maupun manusia, dan kerugian material maupun non-material yang ditimbulkan umumnya sangat besar dan sulit untuk dikuantifikasi. Karena dampak letusan gunung api yang besar tersebut, para vulkanolog telah banyak berusaha mempelajari dan meneliti sebab dan mekanisme aktivitas gunung api dalam rangka meningkatkan pemahaman terhadap fenomena gunung api dan juga dalam rangka membangun metode prediksi letusan gunung api yang dapat diandalkan. Banyak sensor dan metode yang telah digunakan untuk memantau aktivitas gunung api, seperti metode visual, metode seismik, metode termal, metode kimia gas, metode penginderaan jauh, dan metode deformasi. Salah satu metode yang cukup efektif, di samping metode seismik yang umum digunakan, adalah metode pengukuran geodetik terhadap deformasi horizontal dan vertikal dari zone gunung api tersebut. Dalam hal ini pola dan kecepatan deformasi permukaan tersebut dapat digunakan untuk mengungkapkan karakteristik aktivitas magmatik gunung api yang bersangkutan (lokasi dan pusat tekanan), dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk memprediksi letusan gunung api serta perkiraaan volume muntahannya. Dalam konteks pemantauan deformasi gunung api, salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode survei GPS yang dilakukan secara periodik. Pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS pada prinsipnya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada metode ini beberapa monumen yang membentuk suatu kerangka (jaringan) yang tersebar pada tubuh gunung api yang bersangkutan serta daerah sekitarnya, ditentukan koordinatnya secara teliti dengan menggunakan metode survei GPS, relatif terhadap stasion referensi yang ditempatkan pada lokasi yang stabil di luar zone deformasi gunung api yang bersangkutan. Koordinat yang teliti dari titik-titik kerangka GPS tersebut ditentukan secara episodik (berkala) dengan interval waktu tertentu. Dengan mempelajari pola dan kecepatan perubahan vektor koordinat dari titik-titik tersebut dari waktu ke waktu, maka karakteristik deformasi dari gunung api dapat dipelajari, seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1. Karakteristik deformasi dari gunung api, baik dalam arah horizontal maupun vertikal, selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu data masukan untuk mempelajari karakteristik aktivitas gunung api tersebut.

maka kesalahan dan bias yang dapat mengurangi ketelitian dalam penentuan posisi dengan satelit GPS harus dieliminasi atau direduksi. terutama dalam pemantauan gunung api yang sedang ‘bangun kembali dari tidurnya’. maka bias ionosfer umumnya tidak terlalu menjadi masalah karena dapat dieliminasi secara efektif dengan mekanisme pengurangan data. Dalam hal ini efek bias troposfer pada besarnya pergeseran titik.baseline umumnya relatif pendek. untuk mendapatkan informasi deformasi yang andal. karena jarak antar. Jawa Barat. karena adanya perbedaan tinggi yang relatif besar dan variatif antara titik-titik dalam jaringan. yang tingkat deformasinya umumnya relatif kecil. kondisi meteorologis yang berbeda-beda di setiap titik juga akan menyebabkan adanya residu (sisa) bias troposfer yang cukup berarti pada data GPS dan dapat diharapkan besarnya akan bervariasi dari titik ke titik. Pada kasus pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS. Apalagi kalau receiver GPS tipe geodetik dua-frekuensi digunakan. yaitu bias ionosfer dan troposfer. Residu (sisa) bias troposfer yang variatif ini harus dikoreksi agar tingkat ketelitian yang dituntut oleh sistem pemantauan deformasi gunung api dapat tetap tercapai. sinyal GPS harus melalui medium ionosfer dan troposfer. Pada makalah ini akan dibahas efek bias troposfer pada pemantauan deformasi gunung api seperti yang dijelaskan di atas. akan ditunjukkan dan dibahas. Untuk bias troposfer. Ilustrasi kedua fenomena di atas diberikan pada Gambar 2. maka efek kesalahan bias troposfer tidak sepenuhnya dapat direduksi dengan proses pengurangan data (differencing). Bias-bias ini tidak mungkin dihindari karena dalam perjalanannya dari satelit ke pengamat di bumi. termasuk efeknya terhadap ketelitian nilai pergeseran. Salah satu kesalahan dan bias yang mempengaruhi data pengamatan satelit GPS adalah yang berkaitan dengan medium propagasinya [Abidin. ketelitian posisi titik sampai level mm sangat diharapkan. 1995]. yang merupakan salah satu parameter penting dalam analisis deformasi. pemantauan deformasi G. . Untuk mencapai tingkat ketelitian yang tinggi. Pembahasan akan didasarkan pada hasil pengolahan data dari tiga kali survei GPS untuk Gambar 1 Pemantauan deformasi gunung api secara episodik dengan menggunakan metode survei GPS. Guntur di daerah Garut. Di samping sinyal GPS ke setiap titik melalui tebal lapisan troposfer yang berbeda-beda.Pada pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS. maka efek bias ionosfer ini akan dapat diminimalkan lebih lanjut. beberapa kesimpulan dan saran juga akan diberikan. Di samping itu.

dan besarnya magnitude bias troposfer pada kedua data pengamatan tersebut adalah sama. yaitu pseudorange dan fase. tergantung pada temperatur. Patut dicatat di sini bahwa kedua jenis data ukuran jarak dengan GPS. Marini) serta data ukuran meteorologi (temperatur. seperti yang diilustrasikan pada Gambar 2 Efek Bias Troposfer pada Survei GPS di Kawasan Gunung Api. Dengan menggunakan model troposfer (seperti model Hopfield. tergantung pada tempat dan waktu. magnitude komponen basah ini biasanya hanya bisa diprediksi sampai dengan ketelitian ≈ 3 − 4 cm [Wells et al. magnitude komponen kering bias troposfer biasanya dapat diestimasi sampai ketelitian ≈ 1%. Lapisan troposfer ini mempunyai ketebalan sekitar 9 sampai 16 km. Gambar 3. dan kelembaban) di permukaan bumi. 2 Bias troposfer Sinyal dari satelit GPS untuk sampai ke antena harus melalui lapisan troposfer. Perubahan kecepatan dan arah sinyal ini selanjutnya akan mempengaruhi ketelitian hasil ukuran jarak ke satelit GPS. Sastamoinen. yang terutama tergantung pada kandungan uap air sepanjang lintasan sinyal. Dengan kata lain kedua jarak tersebut akan diperpanjang oleh lapisan troposfer. yang menyebabkan perubahan pada kecepatan dan arah sinyal GPS. biasanya lebih sulit diestimasi secara teliti daripada data pengamatan meteorologi di permukaan bumi. tekanan. yaitu lapisan atmosfer netral yang berbatasan dengan permukaan bumi di mana temperatur menurun dengan membesarnya ketinggian.3 m di arah zenith sampai ≈ 20 m pada 10 di atas horizon. dan kelembaban udara di sepanjang lintasan sinyal dalam lapisan troposfer. Bias troposfer biasanya dipisahkan menjadi komponen kering (≈ 90% dari bias total) dan komponen basah.. sehingga terdapat apa yang umum dinamakan bias troposfer. kedua-duanya diperlambat oleh troposfer. Untuk mendapatkan ketelitian yang lebih baik dapat digunakan peralatan WVR [Water Vapour Radiometer] yang dapat .Sebagai latar belakang pembahasan berikut ini akan dijelaskan secara singkat efek bias troposfer pada data pengamatan GPS serta karakteristik gunung api Guntur di kawasan Garut yang merupakan obyek penelitian ini. Dengan menggunakan data meteorologi di permukaan bumi. 1986]. Magnitude komponen basah. Besarnya bias troposfer ini berkisar sekitar ≈ 2. dan oleh sebab itu besarnya tidak dapat diestimasi dengan pengamatan pada dua frekuensi. Pada frekuensi sinyal GPS (di bawah 30 GHz). magnitude bias troposfer tidak tergantung pada frekuensi. Ketika melalui troposfer sinyal GPS akan mengalami refraksi. tekanan.

biasanya dalam bentuk zenith scale factor untuk setiap titik dalam jaringan. Seperti . Guntur adalah gunung api strato andesitik yang terletak beberapa km dari kota Garut dan sekitar 40 km dari Bandung ke arah tenggara (lihat Gambar 4). Sastamoinen. 1993]. besarnya bias troposfer dihitung dengan menggunakan data temperatur. yaitu di titik-titik pengamatan GPS. dan kelembaban udara yang diukur di permukaan bumi. • • • • • • Usahakan kedua stasion pengamat berada pada ketinggian serta kondisi meteorologis yang relatif sama. 3 Gunung Guntur. Guntur adalah nama sebuah puncak dari sekelompok gunung yang muncul di atas tiga daerah dataran tinggi. Penjelasan yang lebih lengkap mengenai model troposfer yang digunakan dalam studi ini dapat dilihat di [Seeber. ukurannya cukup besar. beberapa teknik pereduksian bias troposfer di atas dapat diterapkan sekaligus secara simultan. Marini. Akan tetapi. Guntur di daerah Garut. Gambar 3 Efek troposfir terhadap sinyal GPS. Dalam operasionalisasinya. Dalam konteks penentuan posisi atau survei dengan GPS. Garut. ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mereduksi besarnya efek troposfer. Gunung ini mempunyai ketinggian 2249 m di atas permukaan laut. Gunakan pengamatan Water Vapour Radiometer (WVR) untuk mengestimasi besarnya komponen basah. Secara geografis Gunung Guntur berlokasi pada lintang : 07o 09’ 08" S dan bujur : 107o 50’ 57" T. Hopfield. antara lain model Essen-Froome. Gunakan parameter koreksi yang dikirimkan oleh sistem Wide Area Differential GPS (WADGPS). Perlu dicatat di sini bahwa untuk model koreksi standar troposfer. instrumen ini cukup mahal harganya. Dalam hal ini dikenal beberapa model standar troposfer. tekanan. Jawa Barat Obyek penelitian pemantauan deformasi gunung api dengan GPS ini adalah G. 1550 m di atas dataran sungai Cimanuk. G. Gunakan model koreksi lokal troposfer. terletak sebelah barat dataran aliran Cimanuk. Gunakan model koreksi standar troposfer seperti model Hopfield dan Sastamoinen. dan juga cukup berat.mengukur kandungan uap air sepanjang lintasan sinyal. G. Black. Estimasi besarnya parameter bias troposfer. yaitu: • • Lakukan differencing hasil pengamatan. Perpendek panjang baseline.

Bentuk fisik Gunung Guntur sendiri ditunjukkan pada Gambar 5. berlangsung paling lama 5 sampai 12 hari. Pada letusan 1840 terjadi aliran lava yang berbentuk sepatu ‘boot’ di atas Cipanas. hingga abu. dan lokasinya yang relatif dekat dengan permukiman penduduk (kota Garut dan sekitarnya). Gunung ini merupakan sebuah puncak aktif dari kompleks gunung Guntur – Gandapura yang terdiri atas beberapa kerucut erupsi tua. lapili dan eflata lainnya kemudian disusul dengan aliran lava pijar.terlihat pada Gambar 4. 1979]. Ada kalanya terjadi berselang-selang antara 1. bom vulkanik. pasir. waktu ‘istirahatnya’ relatif sudah lama (sekitar 150 tahun). G. Letusan itu berulang-ulang dalam tempo pendek. dan Galunggung. 1984) . Letusan gunung Guntur pada umumnya dibarengi dengan semburan lava pijar. awan panas dan leleran lava. G. Gunung Guntur dibangun oleh hasil erupsi eksplosif maupun efusif yang berupa bom vulkanik. Bahaya kedua atau bahaya sekunder dari letusan Gunung Guntur Gambar 4 Lokasi Gunung Guntur (dari Katili and Sudradjat. Guntur kerap meletus. Guntur dipilih sebagai obyek penelitian karena termasuk gunung api aktif kelas-A. di sekitar Gunung Guntur juga terdapat gunung api lainnya seperti Papandayan. lapili. antara tahun 1800 sampai 1847 tercatat tidak kurang dari 21 letusan [Direktorat Vulkanologi. Cikuray. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. 2. Pada zaman penjajahan Belanda. dan 3 tahun dan ada kalanya letusan terjadi setelah masa berhenti 6 dan 7 tahun. Berdasarkan laporan.

Gambar 5 Gunung Guntur. Mengingat banyaknya penduduk yang bermukim di sekitar G. Karena sudah cukup lama ‘beristirahat’. dan sekitar 118. saat ini G. Samarang. Jawa Barat adalah lahar hujan dan bisa terjadi selama beberapa bulan atau beberapa tahun setelah letusan terakhir. ada sekitar 274. banyak orang menjadi korban. Lahar jenis ini terbentuk oleh air hujan lebat yang menggerakkan endapan bahan lepas di bagian atas lereng gunung. bila endapan bahan lepasnya (piroklastik) belum padat. 1995]. Tabel 1 Kronologis aktivitas Gunung Guntur [Direktorat Vulkanologi. letusan tersebut dapat berupa letusan yang dahsyat.15 April 9 Mei Keterangan lebih lanjut tidak 15 Agustus 21 September 21-24 Oktober 1770 . yaitu di Kecamatan Leles and Kadungora.1780 1777 1780 1803 1807 1809 1815 1815/1816 1816 . 1979]. karena kalau terjadi letusan. Guntur maka pemantauan aktivitasnya harus dilakukan secara baik dan berkelanjutan. Garut. Tahun 1690 Keterangan Letusan besar. and Banyuresmi). daerah rusak Keterangan lanjut tidak ada Letusan Terjadi aliran lava Letusan pada 3 . Menurut [Widaningsih. Guntur mendapatkan perhatian yang cukup besar dari Direktorat Vulkanologi.578 penduduk yang hidup di daerah waspada.657 penduduk yang hidup di daerah bahaya Gunung Guntur (yaitu Kecamatan Tarogong. Sejak 1847 hingga kini tidak dilaporkan kegiatan letusan lagi.

Dari gambar ini terlihat bahwa terdapat perbedaan ketinggian sebesar kira-kira 1200 m antara titik di puncak G. Dalam hal ini. Guntur dengan GPS ditunjukkan pada Gambar 7. Tidak ada keterangan lebih lanjut. 8-13 Agustus 1 September Desember Terjadinya aliran lava ke Cipanas 14 November. lokasi dan distribusi dari titik-titik jaringan pemantau deformasi G. Titik-titik dalam jaringan mempunyai ketinggian yang cukup variatif. Tidak ditemukan keterangan lebih lanjut. Letusan sangat besar. jatuh beberapa korban 16 Januari. hasil. 4 Studi kasus. hutan di sekitar gunung terbakar Keterangan lebih lanjut tidak ditemukan Beberapa kampung hancur.000 batang kopi hancur. Tanah rusak. 1832 1833 1834/1835/1836 1840 1841 1843 1847 1885 1887 Patut juga dicatat di sini bahwa meskipun Gunung Guntur ini nampaknya sedang ‘beristirahat’. Depdikbud. .1825 1827/1828 1829 14 Juni. dan dibiayai oleh dana penelitian Hibah Bersaing V dari Direktorat Pendidikan Tinggi. seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Deptamben. Garut. Guntur dengan titik-titik yang berada di kakinya. Ini ditunjukkan dengan tetap adanya gempa tektonik maupun vulkanik yang tercatat di kawasan gunung ini. Studi penelitian ini merupakan kerjasama antara Jurusan Teknik Geodesi ITB dengan Direktorat Vulkanologi. Perbedaan ketinggian yang relatif besar ini akan menyebabkan efek bias troposfer tidak bisa dieliminasi hanya dengan pengurangan data (data differencing) seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. beberapa kampung terlanda. dan pembahasan Studi kasus pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS dilaksanakan di gunung Guntur. 4 Januari dan 25 November. Gambar 6 menunjukkan jumlah gempa tektonik dan vulkanik yang tercatat selama ini di Pos Pengamatan Gunung Guntur. Sekitar 400. Tidak ada keterangan lebih lanjut. sebenarnya dia tetap aktif. Jawa Barat.

dan lama pengamatan untuk setiap sesi adalah 4 sampai 5 jam. Pada pengamatan satelit GPS. interval data pengamatan untuk perekaman adalah 30 detik.Gambar 6 Jumlah Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik G. Analisis deformasi yang diperoleh dari data keempat survei GPS tersebut dapat dilihat di [Abidin et al. . Guntur telah dilaksanakan selama empat kali dengan selang waktu antarsurvei berkisar antara 3 sampai 4 bulan. 1997]. Guntur. Setiap kali survei umumnya memerlukan waktu pengamatan sekitar 4 hari. Dalam makalah ini hanya akan dibahas efek bias troposfer dengan menggunakan data dari tiga survei GPS yang pertama. Gambar 7 Jaringan Pemantau GPS di G. Guntur. Survei GPS untuk pemantauan deformasi G.. besarnya mask angle yang digunakan adalah 15o. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.

1997 02 . Penentuan koreksi terhadap model apriori: dilakukan atau tidak. Dalam studi terhadap efek bias troposfer ini. Hopfield. penentuan koreksi terhadap model apriori selalu dilakukan.3 Survei . ada beberapa pilihan yang dapat digunakan. 1993]. dan kelembaban udara (e) yang digunakan : data dari pengukuran lapangan atau data yang dihitung dari model atmosfer standar [Seeber.GPS Survei . atau Saastamoinen.1 Studi terhadap efek bias troposfer Dengan menggunakan data dari tiga survei GPS di G.4 Periode Pengamatan 23 .0 Bernesse 4. Guntur di atas. Guntur Survei . dan panjang baseline yang diperoleh. Dalam kasus pengestimasian besarnya bias troposfer. 1993]. yaitu: • • • Model apriori yang digunakan untuk penentuan nilai awal bias troposfer: Essen-Froome.0 Bernesse 4. efek bias troposfer dapat diestimasi besarnya atau diabaikan sama sekali (tidak diestimasi). . akan dilihat efek bias troposfer terhadap nilai beda koordinat.05 Juni 1997 30 Okt. kecuali jika kasus bias troposfer tidak diestimasi. 1997 Receiver GPS 4 Ashtech Z-XII3 4 Ashtech Z-XII3 4 Ashtech Z-XII3 3 Ashtech Z-XII3 + 2 Leica System 300 Software Bernesse 4. Dalam hal ini digunakan perangkat lunak Bernesse 4.0 ini.22 Feb. Dengan perangkat lunak Bernesse 4. .2 Survei . 1996 19 .1 Survei .1 Nov. Efek bias troposfer ini dipelajari dengan membandingkan hasil yang diperoleh dari hitung perataan jaring GPS dengan dan tanpa melakukan estimasi dan koreksi terhadap bias troposfer. Guntur.28 Nov.0 Bernesse 4. nilai rms komponen koordinat. 1996] untuk mempelajari efek bias troposfer tersebut. Tabel 2 Pelaksanaan Survei GPS di G. tekanan (p).0 [Rothacher and Mervart. Konfigurasi pilihan yang dilakukan dalam penelitian efek bias troposfer ini diberikan pada Gambar 9. Penjelasan dan formulasi matematis ketiga model tersebut dapat dilihat di [Seeber. Data temperatur (T).0 4.Gambar 8 Variasi ketinggian titik-titik jaringan pemantau G.

untuk survei-2 yang dilaksanakan pada saat kondisi cuaca yang relatif lebih buruk dibandingkan dengan kondisi cuaca dari survei-1 dan survei-3 (lihat Tabel 3). Pengolahan data di sini mencakup pengolahan baseline dan perataan jaringan. Guntur. dan bahkan beberapa cm untuk survei-2. tapi komponen horizontal dari koordinat akan dipengaruhi. bias relatif troposfer mempunyai efek terbesar untuk titik Puncak yang ketinggiannya relatif lebih tinggi dibandingkan dengan titik-titik lainnya. Dalam penelitian ini. maka dapat diperkirakan bahwa tidak hanya komponen vertikal yang dipengaruhi. Dan besarnya efek relatif ini akan sangat tergantung pada perbedaan kondisi meteorologis serta perbedaan ketinggian antara sesama titik. Tabel 4 menunjukkan efek pengabaian bias relatif troposfer pada komponen vertikal dari koordinat. Dari hasil yang diberikan pada Tabel 4 juga menarik untuk dicatat bahwa untuk model troposfir apriori yang berbeda dan juga untuk cara mendapatkan data temperatur. dengan .2 Efek pada koordinat titik Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Akibatnya.Seperti yang telah disebutkan sebelumnya. selama koreksi terhadap hasil perhitungan dari model apriori juga diestimasi dalam proses pengolahan data. Mengingat efek bias relatif troposfer yang tidak sama untuk setiap baseline dalam jaringan. Dalam hal ini data baseline yang digunakan dari masing-masing survei tersebut ditabulasikan pada Tabel 3. Perlu ditekankan di sini bahwa dalam survei GPS. koordinat titik pengamat pun akan dipengaruhi oleh bias troposfer ini. dan kelembaban yang berbeda (pengamatan ataupun perhitungan). dalam penelitian efek bias troposfer ini digunakan data dari tiga survei GPS dari jaring pemantau deformasi G. Seperti yang diperkirakan. Gambar 9 Konfigurasi pilihan dalam pengestimasian bias troposfir yang dilakukan dalam penelitian ini. 4. Hasil ini diturunkan dengan menggunakan Leles sebagai titik acuan (referensi). Dengan kata lain. berikut keadaan cuaca pada saat pengamatan. yaitu perbedaan nilai bias troposfer antara sesama titik dalam jaring GPS. maka efek bias troposfer yang paling berpengaruh adalah efek relatifnya. karena penentuan posisi titik dalam jaringan dilakukan secara relatif. efek bias troposfer ini juga terlihat lebih besar dibandingkan dengan efeknya pada survei-1 dan survei-3. Dari tabel ini terlihat bahwa efek bias relatif troposfer pada komponen vertikal koordinat dapat mencapai level beberapa mm untuk survei-1 dan survei-3. efek bias troposfer dilakukan dengan membandingkan hasil pengolahan data yang diperoleh tanpa mengestimasi bias troposfer dengan hasil yang diperoleh dengan mengestimasi bias troposfer. tekanan. bias troposfer akan memperpanjang jarak ukuran ke satelit GPS. hasil yang diberikan selalu sama. Di samping itu.

dan akibatnya karakteristik deformasi yang selanjutnya diturunkan pun menjadi tidak benar pula. efek bias relatif troposfer pada komponen horizontal dapat lebih besar dibandingkan dengan efeknya pada komponen vertikal. . Menarik juga untuk dicatat dari Tabel 4 ini bahwa untuk beberapa titik dalam jaringan. Ini ditunjukkan pada Tabel 6. seperti halnya dalam kasus komponen vertikal (dV).0 yang dapat mengestimasi parameter troposfer. Efek bias troposfer juga mempengaruhi komponen horizontal dari koordinat. nilai rms dari komponen vertikal koordinat dapat ditekan dari level beberapa mm (dan bahkan dalam kasus tertentu dari level beberapa cm) ke level lebih baik dari satu mm. maka untuk kasus jaringan GPS di G. Grafik pada Gambar 10 diturunkan berdasarkan data yang diberikan pada Tabel 5.3 Efek pada pergeseran titik Pada pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS yang dilakukan secara berulang. Dari gambar ini terlihat bahwa pengabaian efek bias relatif troposfer mengakibatkan terjadinya kesalahan pada informasi perubahan koordinat. 4. perubahan koordinat titik-titik dari suatu survei ke survei selanjutnya adalah informasi yang sangat penting untuk mempelajari karakteristik deformasi gunung api tersebut. Untuk mendapatkan karakteristik deformasi yang benar dan andal. yaitu untuk komponen vertikal. Guntur ini jenis model troposfer apriori yang akan digunakan maupun perlu tidaknya pengukuran data meteorologi di lapangan.4 Efek pada nilai RMS Efek bias relatif troposfer tidak hanya mempengaruhi ketelitian komponen koordinat. sebagai pembanding untuk menunjukkan efek bias relatif troposfer pada komponen horizontal koordinat titik. Pada tabel ini. maka hanya digunakan nilai dari satu model. Gambar 10 menunjukkan besarnya efek bias relatif troposfer terhadap nilai perubahan komponen koordinat dari survei ke survei. seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5. bukanlah isu yang krusial. Dalam hal ini pengabaian efek bias relatif troposfer dapat mengakibatkan informasi perubahan koordinat yang diperoleh menjadi tidak benar. tapi juga tingkat presisi komponen koordinat itu sendiri. Gambar 10 Perbedaan nilai perubahan koordinat antara dua survei (dalam mm) antara nilai tanpa estimasi troposfer dengan nilai dengan estimasi : Saatamoínen (P). maka informasi tentang perubahan koordinat yang benar dan andal pun haruslah digunakan. di mana tingkat presisi ditandai dengan variabel rms (root mean squares). baik dalam arah utara (dU) maupun arah timur (dT). yang besarnya secara umum pada level beberapa mm dan bahkan untuk stasion Puncak mencapai level 1-2 cm. 4. di samping mempunyai variasi spasial dari titik ke titik. Dari Tabel ini juga terlihat bahwa besarnya efek bias relatif troposfer terhadap koordinat titik.menggunakan perangkat lunak Bernesse 4. Dari tabel ini terlihat bahwa dengan mengestimasi bias troposfer. juga mempunyai variasi temporal dari survei ke survei. yaitu Saastamoinen (P). mengingat hasil yang diberikan oleh setiap model relatif sama.

40-18.30 17.00-16.1 Tanggal Pengamatan 23 Nov 1996 Sesi Baseline Waktu (WIB) 14.30 12.00 10.Dari Gambar 11 juga terlihat bahwa efek bias relatif troposfer terhadap nilai rms dari komponen vertikal koordinat mempunyai variasi spasial dan variasi temporal yang berkisar antara beberapa mm sampai beberapa cm . 1997 B BLK-Cikatel BLK-Pos Cikatel-Leles Dano-Cikatel Leles-Dano Pos-Cikatel Cikatel-Lereng Cikatel-Puncak Pos-Puncak Puncak-Lereng 07. Tabel 3 Baseline yang digunakan SURVEI GPS .30-16.00-15.00 B 09.00 25 Nov 1996 26 Nov 1996 A A 10.30 20 Feb.15 Keadaan cuaca di kedua titik ujung baseline hujan-hujan hujan-hujan hujan-hujan hujan-hujan gerimis-gerimis cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah A Dano-Leles Pos-Leles Cikatel-Leles BLK-Cikatel BLK-Cikatel BLK-Pos Cikatel-Pos Pos-Lereng Dano-Lereng Dano-Puncak Lereng-Puncak Pos-Puncak 24 Nov 1996 A 10.00-16.00-11.30-17.30 28 Nov 1996 A 07.30-17.00-16.30 mendung-hujan(badai) mendung-hujan(badai) berkabut-mendung mendung-mendung mendung-gerimis(berkabut) mendung-hujan(badai) 22 Feb. 1997 B1 C BLK-Puncak Pos-Lereng Lereng-Leles Dano-Leles Dano-Lereng Dano-Puncak 13.00 SURVEI GPS .2 Tanggal Pengamatan Sesi Baseline Waktu (WIB) Keadaan cuaca di kedua titik ujung baseline mendung-mendung mendung-mendung mendung-mendung mendung-mendung mendung-mendung mendung-mendung mendung-mendung (berkabut) mendung-hujan(badai) mendung-hujan(badai) hujan(badai)-berkabut A 19 Feb.00-21.00 21 Feb. 1997 A .00-13.30-12. 1997 A 07.30 27 Nov 1996 A 11.

4 -5.2 Pos 12.1 Lereng -0.4 -23.1 0.1 Puncak -5.4 .7 12.00 Keadaan cuaca di kedua titik ujung baseline cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah cerah-cerah A 2 Juni 1997 B BLK-Cikatel Cikatel-Leles Dano-Cikatel Lereng-Pos Pos Puncak Cikatel-Lereng Cikatel-Pos BLK-Pos Lereng-BLK Lereng-Puncak Leles-Lereng Leles-Pos Dano-Leles Dano-Puncak Dano-Lereng A 3 Juni 1997 B 09.30-10.1 -2.1 Lereng 0.2 Essen-Froome (P) Hopfield (P) Saastamoinen (P) Leles 0 0 0 Leles 0 0 0 Cikatel 0.7 BLK -0.2 5.4 0.00 13.00-16.07.30 18.4 0.2 4.1 0.4 BLK 4.2 Dano 0.1 0.00 4 Juni 1997 B C 14.1 0.1 Essen-Froome (P) Hopfield (P) Saastamoinen (P) Survei .2 4.30 SURVEI GPS .2 4.30 11.00 A 5 Juni 1997 B 07.30-15.00-13. Perbedaan komponen vertikal (dalam mm) Survei .4 -0.00 Tabel 4 Perbedaan nilai komponen vertikal koordinat toposentrik (dalam mm) antara nilai tanpa estimasi troposfer dengan nilai dengan estimasi.00-13.7 12.2 4.4 Dano -2.1 -2.2 Pos 5.30 13.1 -0.00 A 7.3 Tanggal Pengamatan Sesi Baseline Waktu (WIB) 07.4 -23.1 Cikatel 4.1 -0.00-17.4 Puncak -23.2 5.30-11.30-16.4 -0.30-11.30-21.4 -5.

6 5.7 -0.0 -23.2 BLK -0.0 2.2 Pos -1.4 -2.7 2.8 -0.9 -0.9 -0.4 1.4 -2.8 12.4 Puncak -1.4 -0.7 Pos -1.4 1.8 -0.0 Puncak 2.1 -2.7 1.0 -2.4 Tabel 5 Perbedaan nilai komponen koordinat dari koordinat toposentrik (dalam mm) antara nilai tanpa estimasi troposfir dengan nilai dengan estimasi : Saatamoínen (P).4 Pos -2.7 -0.1 0.1 -2.8 Pos -0.1 Lereng 2.1 Dano -8.1 -0.4 -2.4 1.0 -2.3 1.4 12.1 3.9 Dano -4.4 Dano 1.9 -0.4 BLK -0.4 -2.2 7.3 1.2 Cikatel 3.7 4.1 Lereng 4.4 -2.1 Dano 1.9 -5.5 2.3 1.7 4.6 -12.4 -0.3 1.3 0.3 1.0 2.7 -0.3 Lereng -0. antara solusi tanpa estimasi troposfer dan solusi dengan estimasi troposfer.4 Puncak -2.8 1.2 -3.0 -0.2 4.2 BLK -1.1 Cikatel -1.0 2.5 0.4 -2.4 -23.2 4.7 BLK -2.3 1.3 -0.3 Essen-Froome (P) Hopfield (P) Saastamoinen (P) Essen-Froome (O) Hopfield (O) Saastamoinen (O) 0 0 0 Leles 0 0 0 0 0 0 4.9 2.9 -0.7 -23.1 -23.4 4.3 dU (mm) dT (mm) dV (mm) Leles 0 0 0 Leles 0 0 0 Leles 0 0 0 Cikatel -0.4 1.4 1.1 dU (mm) dT (mm) dV (mm) Survei .7 -0.0 -3. Nilai rms komponen vertikal (dalam mm) .Essen-Froome (O) Hopfield (O) Saastamoinen (O) Survei .9 -0.6 3.7 4.4 Tabel 6 Perbandingan nilai rms komponen vertikal koordinat toposentrik (dalam mm).2 4.3 -0.3 -0.2 4.6 12.6 0.1 4.2 dU (mm) dT (mm) dV (mm) Survei .4 Puncak 0.2 Cikatel 1.7 12.1 1.7 -0.2 Lereng 2.9 3.3 -3.9 -2.8 -2.9 2. Perbedaan komponen koordinat (dalam mm) Survei .

7 0.3 0.3 0.2 0.3 Pos 3.2 0.2 0.4 0.0 0.2 0.0 1.1 Cikatel 6.2 0.9 Pos 9.3 0.4 0.2 0.2 0.1 BLK 10.2 0.3 0.3 Puncak 39.5 Puncak 3. maka penyebab anomali tersebut kemungkinan bukan terkait dengan pengestimasian bias troposfer.2 0.Survei .5 0.1 Dano 6.2 0.3 0.9 0.2 0.1 Lereng 3.4 Dano 1. .2 0.1 0.4 0.7 0. misalnya multipath.2 0. yang merupakan selisih antara nilai rms tanpa koreksi troposfer dan nilai rms yang diperoleh dari pengolahan data dengan pengestimasian bias troposfer menggunakan model Saastamoinen (P).5 0.2 0.3 0.1 0.1 0.5 0.4 0.2 0.9 1.2 Dano 0.7 0.3 0.2 0.2 0.1 Tanpa Estimasi Essen-Froome (E) Hopfield (E) Saastamoinen (E) Survei .3 Tanpa Estimasi Essen-Froome (E) Hopfield (E) Saastamoinen (E) Essen-Froome (O) Hopfield (O) Saastamoinen (O) Leles 0 0 0 0 Leles 0 0 0 0 0 0 0 Leles 0 0 0 0 0 0 0 Cikatel 0.6 0.7 0.7 0.1 0. tapi pada sumber kesalahan lainnya yang bersifat lokal.3 0.4 0.5 0. pengestimasian bias troposfer juga secara umum akan memperbaiki nilai rms dari komponen horizontal yang diperoleh.2 Tanpa Estimasi Essen-Froome (E) Hopfield (E) Saastamoinen (E) Essen-Froome (O) Hopfield (O) Saastamoinen (O) Survei . Ini ditunjukkan dengan hasil yang diberikan pada Tabel 7.5 Lereng 4.4 0.4 0.7 0.1 0.2 0.4 0.4 0. Perlu dicatat pada tabel ini bahwa dalam beberapa kasus.4 0.1 0.1 0.2 0.3 BLK 0.3 0. pengestimasian bias troposfer malah memperburuk nilai rms dari komponen horizontal.5 1.0 0. Mengingat ini tidak terjadi sama sekali dalam kasus komponen vertikalnya.4 Cikatel 3.2 0.1 0.0 1.0 0.1 0.8 0.3 0.9 0.5 0.2 BLK 2.1 0.1 0.1 Berkaitan dengan komponen horisontal.2 Puncak 7.4 0.1 Pos 23.1 0.5 0.2 0.0 0.2 0.1 0.1 0.1 0.4 0.3 0.7 0.9 0.2 0.1 0.0 1.7 Lereng 2.2 0.

4 8.6 19.3 Cikatel -1. 5 Kesimpulan dan saran .8 BLK 1. panjang baseline dapat berubah sampai sekitar 1 cm dibandingkan dengan kalau koreksi troposfer diaplikasikan.2 Dano 2.1 5. maka hasil analisis deformasi yang diperoleh akan menjadi tidak benar. seandainya bias relatif troposfer tidak diestimasi dalam pengolahan data.9 Lereng 3.1 Komponen Utara Komponen Timur Survei . baik dalam arah horizontal maupun vertikal.2 Lereng -1. Di sini terlihat bahwa tanpa koreksi troposfer.0 Cikatel 3.2 Komponen Utara Komponen Timur Survei .2 7.7 Dano 4.9 Puncak 3.8 0.7 1.3 Lereng -1.1 BLK 5. antara solusi tanpa estimasi troposfer dan solusi dengan estimasi troposfer menggunakan model Saastamoinen (P) Selisih nilai rms (dalam mm) Survei .3 Komponen Utara Komponen Timur Leles 0 0 Leles 0 0 Leles 0 0 Cikatel 0.9 4.1 Puncak 0.8 3.3 4.2 -2. Tabel 7 Selisih nilai rms komponen horizontal. Tabel 8 memberikan contoh efek pengabaian bias relatif troposfer terhadap panjang baseline dari titik Pos ke titik Puncak yang mempunyai perbedaan tinggi sekitar 1300 meter. maka panjang baseline antartitik pun akan dipengaruhi.6 BLK -2.4 Dano 6.6 5.4 8.Gambar 11 Nilai rms komponen vertikal dari koordinat (tanpa estimasi troposfir).7 Pos 1. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa seandainya analisis deformasi dilakukan berdasarkan perubahan panjang baseline dalam jaringan.5 Efek pada panjang baseline Karena efek bias relatif troposfer mempengaruhi komponen koordinat.9 Pos 5.8 4.7 Puncak 3.6 1.1 -1.2 2.2 -7.5 -6.5 Pos 2.3 0.

4 m) Survei .1 .0. yaitu pada level beberapa mm sampai 1-2 cm.1 + 11. GPSurvey. Seandainya perangkat lunak ilmiah digunakan.0. Meskipun hal ini valid untuk kasus G. 2. maka bias relatif troposfer harus diestimasi.3 . dan kelembaban tidak perlu diukur di lapangan.5 + 0. tekanan.4. hipotesis ini sebaiknya diverifikasi dengan kasus pemantauan di gunung api lainnya dengan kondisi cuaca yang berbeda-beda. GAMIT.11. dan GIPSY.0.4 + 0.6 + 0.3 . pengolahan datanya harus dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak ilmiah seperti Bernesse.1 + 2. 4.2 L = 7416732 + dL .1 .4 .5 . 3. maka untuk pemantauan deformasi gunung api yang menuntut ketelitian tinggi seperti di atas. maka dalam pengestimasian bias troposfer. Karena perangkat lunak pengolah data survei GPS yang bersifat komersial (seperti GEOLAB. besarnya efek ini bahkan dapat mencapai beberapa cm. Guntur.0.1 Survei . model apriori troposfer apa pun dapat digunakan. Dalam jaring GPS untuk pemantauan deformasi gunung api yang titik-titiknya mempunyai variasi ketinggian yang relatif besar (dalam orde ratusan sampai seribuan meter). ada beberapa kesimpulan yang dapat diambil serta saran yang dapat diberikan.0.9 .Dari studi terhadap efek bias troposfer dalam pemantauan deformasi G. Tabel 8 Variasi panjang baseline (dL) antara Leles dan Puncak (L= Panjang Baseline dalam mm) Leles .5 1.Puncak (dh = 1336.5 + 0. dan GPPS) tidak dapat mengestimasi parameter koreksi terhadap model apriori troposfer yang digunakan.0. Daftar pustaka . besarnya efek ini berkisar pada level beberapa mm.3 L = 7416727 + dL + 0. Di samping itu.0. dan koreksi terhadap model apriori troposfer yang digunakan dapat diestimasi.3 . sedangkan untuk survei yang dilaksanakan pada kondisi yang relatif buruk. Guntur dengan metode survei GPS. dan cukup dihitung dengan menggunakan model standar troposfer. efek bias relatif troposfer mempengaruhi komponen koordinat dan ketelitiannya. Untuk pemantauan deformasi gunung api dengan metode survei GPS yang menuntut ketelitian tinggi.0. dan titik-titik dalam jaringan pemantau mempunyai variasi ketinggian yang relatif besar. serta panjang baseline dalam jaringan. Secara umum. dL (mm) Survei .1 L = 7416729 + dL Essen-Froome (E) Hopfield (E) Saastamoinen (E) Tanpa Estimasi Essen-Froome (O) Hopfield (O) Saastamoinen (O) .4 - Variasi Panjang Baseline. untuk survei yang dilaksanakan pada kondisi cuaca yang relatif baik. tampaknya temperatur. yang dijabarkan dalam butir-butir berikut ini.5 + 0.

Sukhyar. G.11." Proceedings of the 22nd Scientific Annual Meeting of Association of Indonesian Geophysicists. Scarpa. Tilling).H. S. and Sudarman (1993). R.) (1996). 560 pp. and L..W. 418 pp.I. and J.Z. Murray (Eds) (1995) Monitoring Active Volcanoes. Suparka. 421 pp.K.R. Bandung. Tanaka (1997).C. Bandung. Indonesia. Kusuma. Muhardi. Mervart (Eds. Methods. C. Astronomical Institute. (1995). Departemen Pertambangan dan Energi. December 1-5. Catalogue of References on Indonesian Volcanoes with Eruptions in Historical Time. K. (1995). 8. Kamtono. 209 . ISBN 0-471-30626-6. John Wiley & Sons. H. Murata. Iguchi. and J. Mentosumitro. . P. Indonesia (19921993). P. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Suganda. Ewert (1989). and Applications.46.A.Z. Penentuan Posisi Dengan GPS dan Aplikasinya. 9. Tahun Anggaran 1994/1995. Prijatna. Nakamura. McGuire B. ISBN 979-408-377-1. S. Banks. Tilling. 841 pp.. 6. Abidin.1.212. R. Suantika. pp. J. 100 hal. and S. (1993). Okubo. Walter de Gruyter.T. GPS Satellite Surveying. UCL Press Limited. 11. 13. Data Dasar Gunung Api Indonesia. Guntur. 2. Tanaka. J. K. Leick. Galunggung: The 1982-1983 Eruption. pp. Katili. Siswowidjojo (1994). Tilling (Eds. 10. and R. 4. (1995). Harlow. "Monitoring the Deformation of Guntur Volcano (West Java. 3. and A. University of Berne. Villanueva. Berlin. Miura. M. 321 h + xii. West Java. 14. Seeber." Proceedings of International Symposium on Natural Disaster Prediction and Mitigation. Pradnya Paramita. 102 pp. Volcanological Survey of Indonesia. D. Sudradjat (1984). A. Kilburn. M. "Hypocentral distribution and focal mechanism of volcanic earthquakes around Guntur volcano. Suwandito. Abidin. Kimata. Springer Verlag. Kahar. T. B. 820 halaman. Setyadji. 7. O. K. Meilano. "Laporan Kegiatan Pengamatan Bahan Informasi G. Direktorat Vulkanologi (1979).S. 5.A. Kyoto.A. J. J. Indonesia) Using GPS Survey Method: Status and Future Plan. Satellite Geodesy : Foundations.I."GPS Campaign for Crustal Deformation Monitoring in West Java. I." Proceedings of The Eight International Symposium on Recent Crustal Movement Symposium. S.G." Laporan Kegiatan Proyek Pengamatan/Pengawasan dan Pemetaan Gunungapi. Widaningsih. F. Berlin. Direktorat Vulkanologi. 531 pp. Jakarta. B.. New York. 16 17 October. R. T. Kahar. September. R. Monitoring and Mitigation of Volcano Hazards. pp. D. ISBN: 979-8126-05-6. K.. O. April.) (1996). Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Pemantauan Gunung api di Filipina dan Indonesia.I.. Suganda. ISBN 3-11-012753-9.H. Setyadji. 81 – 88. London. Washington." In Volcanic Hazards (ed. Kobe. G. Rothacher. 43 .0. N. K.J. American Geophysical Union. 12. D. Second edition. December 6 . USA. Ishihara (1997). I. N.. Bernesse GPS Software version 4. A. M. "Volcano monitoring and short term forecast. Katili.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->