Modul

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN
PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH
DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF DASAR PAJAK II

PENYUSUN : UNTUNG SUKARDJI, S.H., M.Sc

PUSDIKLAT PAJAK

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Jl. Sakti Raya No. 1, Kemanggisan, Jakarta 11480 Telepon (021) 5481145 Fax (021) 5481394 http://www.bppk.depkeu.go.id/webpajak

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Kata Pengantar

Dalam rangka proses belajar mengajar mata kuliah “Pajak Pertambahan Nilai” dalam Diklat Teknis Substantif Dasar Pajak II untuk calon karyawan yang ditempatkan di Direktorat Jenderal Pajak, kiranya dipandang perlu untuk disusun sebuah modul yang dapat digunakan sebagai panduan bagi para peserta. Karena dimaksudkan hanya sebagai panduan, maka modul ini disusun dalam bentuk yang sederhana dan diusahakan tanpa mengurangi fungsinya. Bagi para Peserta DTSD Pajak II dengan sendirinya tidak cukup hanya membaca modul ini melainkan harus ditunjang dengan buku referensi yang sudah disediakan supaya dapat memperoleh manfaat secara optimal. Bagi para pengajar PPN DTSD Pajak II ini hendaknya menggunakan modul ini sebagai pedoman supaya lebih terarah dan porsi materi yang disampaikan kepada para peserta diklat tidak terlalu berlebihan sehingga setelah mengikuti diklat, peserta mampu memahami dan melaksanakan kebijakan (policy) Direktur Jenderal Pajak dengan benar.

Sesuai dengan pengetahuan penyusun yang masih serba terbatas, modul ini jelas banyak mengandung kekurangan. Sehubungan dengan itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis dambakan, untuk menyempurnakannya dikemudian hari.

Jakarta, Januari 2009 Penyusun

Untung Sukardji Widyaiswara Utama

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

i

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………….. Daftar Isi ……………………………………………………………….. 1. PENDAHULUAN ………………………………………………………… …………………………………………………………… 1.2. Tujuan Instruksional Umum ………………………………………………… 1.3. Tujuan Instruksional Khusus ………………………………………………..

i ii

1 1 2 2

1.1. Pengantar

2.

KEGIATAN BELAJAR 1 PENGERTIAN DASAR PAJAK PERTAMBAHAN NILAI……………… 3 3 13

2.1. Uraian, contoh dan non contoh ……………………………………………… 2.2. Latihan 1 ……………………………………………………………………… 3. KEGIATAN BELAJAR 2 OBJEK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ………………………………… 3.1. Uraian, contoh dan non contoh ……………………………………………… 3.2. Latihan 2 ……………………………………………………………………… 4. KEGIATAN BELAJAR 3 SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG ……………………………… 4.1. Uraian, contoh dan non contoh ……………………………………………… 4.2. Latihan 3 ……………………………………………………………………… 5. KEGIATAN BELAJAR 4 SUBJEK PAJAK …………………………. ………………………………… 5.1. Uraian, contoh dan non contoh ……………………………………………… 5.2. Latihan 4 ……………………………………………………………………… 6. KEGIATAN BELAJAR 5 FAKTUR PAJAK …………………………. ………………………………… 6.1. Uraian, contoh dan non contoh ……………………………………………… 6.2. Latihan 5 ………………………………………………………………………

14 14 28

30 30 37

38 38 40

42 42 56

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

ii

. Latihan 9 ……………………………………………………………………… 11. contoh dan non contoh ……………………………………………… 7. Latihan 8 ……………………………………………………………………… 10.2. 8. contoh dan non contoh ……………………………………………… 9.1. 11. Uraian. KEGIATAN BELAJAR 11 FASILITAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ………………………. Uraian. Latihan 12 ……………………………………………………………………… 14..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7.1. Uraian. 12. 13.1. contoh dan non contoh ……………………………………………… 8.. KEGIATAN BELAJAR 12 RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ………………………. contoh dan non contoh ……………………………………………… 13.1. contoh dan non contoh ……………………………………………… 12. 9. KEGIATAN BELAJAR 13 KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN SPT MASA PPN ………………….2.2..1. Latihan 6 ……………………………………………………………………… 8. Uraian. Uraian.1. Latihan 7 ……………………………………………………………………… 9. KEGIATAN BELAJAR 7 PENGREDITAN PAJAK MASUKAN ……………………………………. contoh dan non contoh ……………………………………………… 10. contoh dan non contoh ……………………………………………… 12. Latihan 11 ……………………………………………………………………… 13.. KEGIATAN BELAJAR 9 PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH……………………….. KEGIATAN BELAJAR 6 DASAR PENGENAAN PAJAK …………. Uraian.1.. Uraian.2. 62 62 69 71 71 77 78 78 81 83 83 87 87 93 95 95 97 98 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iii .2. ………………………………… 58 58 60 7.2. KEGIATAN BELAJAR 8 OBJEK PPN YANG BERSIFAT SPESIFIK ………………………………. KEGIATAN BELAJAR 10 PEMUNGUT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI …………………………. 10.

2. Uraian. contoh dan non contoh ………………………………………………… 14. Latihan 13 ……………………………………………………………………… Daftar Pustaka …………………………………………………………………… 98 99 103 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN iv .1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 14.

. dengan UU Nomor 18 Tahun 2000. yaitu : a. dengan UU Nomor 11 Tahun 1994.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1. Demikian pula legal karakter PPN sebagai pajak atas konsumsi yang membedakan dari Pajak Penghasilan sebagai pajak atas kegiatan bisnis. Salah satu karakter positive PPN adalah tidak menimbulkan dampak kumulatif meskipun bersifat multi stage levy. Sebagaimana diketahui. b. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 1 . unsur objek pajak menempati posisi strategis di PPN sehingga penentuan objek pajak sangat relevan. PENDAHULUAN 1. Sejak 1 April 1985 mulai berlaku UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa Dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang kemudian sejak 1 Januari 1995 Pasal 1 sampai dengan Pasal 17 Undang-undang ini diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994. UU Nomor 8 Tahun 1983 diundangkan untuk menggantikan UU Darurat Nomor 19 Tahun 1951 jo UU Nomor 35 Tahun 1953 tentang Pajak Penjualan yang dinamakan UU Pajak Penjualan (PPn) 1951. Pasal 1 sampai dengan Pasal 16C diubah. Karakter PPN sebagai pajak tidak langsung acapkali kurang mendapat perhatian dalam penyusunan kebijakan di kalangan pengambil keputusan di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Pengantar Sejak 1 April 1985 mulai berlaku UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang Dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah . UU Nomor 8 Tahun 1983 ini telah mengalami perubahan dua kali. Perubahan kedua mulai berlaku 1 Januari 2001. Namun demikian nama Undang-undang ini tidak mengalami perubahan melainkan tetap disebut UU Pajak Pertambahan Nilai 1984 sebagaimana diatur dalam Pasal 20 UU Nomor 8 Tahun 1983. Perubahan kedua dilakukan lagi dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2001.1. Pasal 1 sampai dengan Pasal 17 UU Nomor 8 Tahun 1983 ini diubah. Di samping itu baik Pajak Penjualan maupun Pajak Pertambahan Nilai memiliki karakter sebagai Pajak Tidak Langsung. perubahan pertama mulai berlaku sejak 1 Januari 1995. Motivasi penggantian Pajak Penjualan (PPn) dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disebabkan PPN memiliki beberapa legal karakter positive yang tidak dimiliki oleh Pajak Penjualan. Sebagai pajak objektif.

j. b. menghitungan dan menetapkan besarnya utang pajak. memahami dan menjelaskan permasalahan Pajak Pertambahan Nilai. Faktur Pajak serta pengelolaannya e. Perlakuan PPN terhadap objek pajak yang bersifat spesifik i. UU Nomor 8 Tahun 1983 diundangkan untuk menggantikan UU Darurat Nomor 19 Tahun 1951 jo UU Nomor 35 Tahun 1953 tentang Pajak Penjualan yang dinamakan UU Pajak Penjualan (PPn) 1951. Motivasi penggantian Pajak Penjualan dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) disebabkan PPN memiliki beberapa legal karakter positive yang tidak dimiliki oleh Pajak Penjualan. tata cara pengisisn SPT Masa PPN MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 2 . timbulnya utang pajak yang merupakan basis bagi Pengusaha Kena melaksanakan kewajibannya di bidang PPN d. objek dan subjek Pajak Pertambahan Nilai dengan benar c.3. para peserta diharapkan mampu dan menjelasakn : a. PPnBM dan karakteristiknya h. seluk beluk Pemungut PPN meliputi pelaksanaan kewajiban dan pengawasannya fasilitas PPN k. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti TSD Pajak II. setelah mengikuti diklat para peserta DTSD Pajak II sudah seharusnya memiliki kemampuan: a.. Salah satu karakter positive PPN adalah tidak menimbulkan dampak kumulatif meskipun bersifat multi stage levy. Tujuan Instruksional Umum Peserta Diklat Teknis Substantif Dasar Pajak II (DTSD Pajak II) adalah calon pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang pada masa yang akan datang akan ikut berperan sebagai bagian dari pejabat pengambil keputusan dan pembuat kebijakan di Direktorat Jenderal Pajak. filosofi Pajak Pertambahan Nilai b.2. Dasar Pengenaan Pajak dengan benar yang merupakan basis penentuan jumlah pajak yang terutang dengan benar dan akurat f. mekanisme pengreditan Pajak Masukan Pajak untuk g. c. Melakukan pengawasan di bidang Pajak Pertambahan Nilai. 1. Oleh karena itu. 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Sebagaimana diketahui.

perusahaan garmen meleburkan diri menjadi satu perusahaan garmen terpadu. pabrik tekstil. Menghindar dari pengenaan pajak (tax avoidance) masih tergolong sebagai tindakan legal misalnya beberapa perusahaan dalam satu rangkaian beberapa mata rantai jalur produksi atau distribusi yang sejenis melakukan peleburan usaha. maka penyerahan bahan baku antar divisi tersebut tidak dapat dikenakan PPn karena berada dalam satu perusahaan terpadu. dalam “Reformasi Sistem Perpajakan Nasional 1983” yang lebih dikenal dengan sebutan “Tax Reform 1983”. 2) dalam pelaksanaannya UU PPn 1951 menimbulkan pengenaan pajak berganda sehingga PPn menjadi tidak netral baik dalam perdagangan di dalam negeri maupun internasional. Misalnya perkebunan kapas. adalah : 1) UU PPn 1951 telah berulang kali diubah sehingga sulit dipahami sehingga sulit dilaksanakan. KEGIATAN BELAJAR 1 PENGERTIAN DASAR PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Uraian. b. pabrik benang. Latar Belakang penggantian Pajak Penjualan dengan Pajak Pertambahan Nilai Dengan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1951. Kemudian dengan UU Nomor 35 Tahun 1953. Adapun latar belakang penggantian ini. yaitu bagi wajib pajak yang mampu menyelenggarakan pembukuan menggunakan “self assessment system” sedangkan bagi yang tidak mampu menyelenggarakan pembukuan menggunakan “official assessment system”. Pajak Penjualan berlaku di Indonesia sejak 1 Oktober 1951.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2. 3) mengandung dualisme sistem pemungutan. Dengan demikian. UU PPn 1951 yang sudah memberikan dedikasinya selama lebih dari 30 tahun. lebih memilih menyelundupkan/menggelapkan pajak dengan cara melaporkan jumlah peredaran bruto lebih rendah dari pada yang sebenarnya. Bagi pengusaha yang lain yang lebih suka mengambil jalan pintas. UU Darurat tersebut ditetapkan menjadi Undang-undang. terutama pengenaan pajak berganda mendorong wajib pajak untuk menghindar dari pengenaan PPn bahkan kalau perlu mereka melakukan penggelapan pajak. contoh dan non contoh a. sehingga beberapa mata rantai produksi atau distribusi lolos dari pengenaan PPn. Legal Karakter Pajak Pertambahan Nilai Untuk memahami Pajak Pertambahan Nilai khususnya PPN Indonesia. diganti dengan Pajak Pertambahan Nilai. menyulitkan tindakan pengawasan terhadap kepatuhan wajib pajak. sampai 9 macam tarif. 4) variasi tarif yang cukup banyak. Sisi negatif PPn ini. Undang-undang ini dinamakan UU PPn 1951. maka perlu dipahami legal karakter PPN Indonesia yang dapat dirinci dan diuraikan sebagai berikut : MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 3 .

walaupun pembeli kemungkinan juga berstatus sebagai PKP. bukan kepada pembeli. Sedangkan penanggung jawab atas pelaporan/penyetoran pajak ke kas negara adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang bertindak selaku penjual BKP atau pengusaha JKP selaku pengusaha yang menyerahkan JKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PAJAK TI DAK LANG SUNG MULTI STAG LEVY E INDIRECT SUBTRACTIO N/ CREDIT/ INVO ICE METHO D PAJAK ATAS KO NSUMSI DALAM NEG ERI LEGAL KARAKTER PPN (Indonesia) CO NSUMPTIO TYPE VAT N TARIF TUNG AL G NO C N UMULATIVE PAJAK O BJEKTI F Gambar 1 1) Pajak Pertambahan Nilai sebagai Pajak Tidak Langsung dan Pajak Objektif Karakter PPN sebagai pajak tidak langsung ini menimbulkan konsekuensi yuridis bahwa antara pemikul beban pajak (destinataris pajak) dengan penanggung jawab atas penyetoran pajak ke kas negara berada pada pihak-pihak yang berbeda. NEGARA PPN BKP/JK PEMBELI/ PENERIMA PENJUAL/ PENGUSAH PPN JASA PENANGGUNG JAWAB PEMIKUL BEBAN PAJAK Gambar 2 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 4 . fiskus akan meminta pertanggungjawaban kepada Penjual BKP atau Pengusaha JKP tersebut. Oleh karena itu apabila terjadi penyimpangan pemungutan PPN. Pemikul beban pajak ini berada pada pembeli Barang Kena Pajak (BKP) atau penerima Jasa Kena Pajak (JKP).

tanggung jawab pembayaran pajak kepada kas negara tidak berada ditangan pihak yang memikul beban pajak.000.00 memiliki nilai yang relatif cukup berarti apabila dibandingkan dengan nilai uang tersebut bagi direktur. PKP Penjual/Pengusaha Jasa tidak dapat menghindar dari pertanggungjawaban ini dengan berargumentasi bahwa pembeli tidak mau membayar PPN sehingga ia tidak berhasil memungut PPN yang terutang.00.00. Sepanjang mereka mengonsumsi barang atau jasa dari jenis yang sama.000.00 = Rp10. semakin berat beban pajak yang dipikul. (2) dalam hal (PKP) penjual tidak memungut pajak dari pembeli dengan alasan apapun. Sudut pandang ilmu hukum ini membawa konsekuensi filosofis bahwa : (1) apabila pembeli atau penerima jasa telah membayar pajak yang terutang kepada penjual atau pengusaha jasa. b) Sudut pandang ilmu hukum. Kondisi subjektif subjek pajak tidak ikut menentukan.000. membeli sepatu yang jenisnya sama di toko sepatu yang sama.000. sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjual. Sebagai contoh dapat dikemukakan andaikata ada seorang SATPAM membeli sepatu kanvas warna hitam di sebuah toko sepatu. demikian pula direktur dari perusa-haan tempat SATPAM bekerja. Oleh karena itu. terhadap konsumen yang mengonsumsi BKP yang tergolong mewah dikenakan PPnBM di samping PPN. Kelalaian PKP Penjual/Pengusaha Jasa tidak dapat dialihkan menjadi tanggung jawab Pembeli atau Penerima Jasa.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Sebagai Pajak Tidak Langsung. maka baik SATPAM mau-pun direktur tersebut dikenakan PPN dalam jumlah yang sama yaitu 10% x Rp100. pada hakekatnya sama dengan telah membayar pajak tersebut ke kas negara. yaitu pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yang menjadi obyek pajak. antara konsumen yang berpenghasilan tinggi dengan yang berpenghasilan rendah. sepenuhnya menjadi tanggung jawab penjual. PPN tidak membedakan antara konsu-men orang pribadi dengan konsumen berbentuk badan. Berhasil atau tidak berhasil memungut PPN yang terutang. semakin rendah kemampuan konsumen. pengertian Pajak Pertambahan Nilai dapat dirumuskan berdasar dua sudut pandang sebagai berikut: a) Sudut pandang ilmu ekonomi. PPN juga memiliki legal karakter sebagai pajak objektif yang bermakna bahwa timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh tatbestand yaitu peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak yang juga disebut objek pajak. Bagi SATPAM uang sejumlah Rp 10. Untuk mengurangi dampak regresif ini. Sebaliknya bagi direktur yang tingkat kemampuannya jauh lebih tinggi dari pada SAT- MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 5 . Harga sepatu tersebut misalnya Rp 100. memikul beban pajak yang lebih berat. Dari contoh ini dapat diketahui bahwa bagi satpam yang tingkat kemampuannya jauh lebih rendah dari pada direktur. bukan tanggung jawab pembeli. Sebagai pajak objektif PPN menimbulkan dampak regresive yaitu semakin tinggi kemampuan konsumen semakin ringan beban pajak yang dipikul. beban pajak dialihkan kepada pihak lain. Selain sebagai pajak tidak langsung. mereka diperlakukan sama.

000 Beban pajak yang dipikul oleh konsumen = 410/1700 x 100% =24. Apabila kemudian oleh PKP yang semula sebagai pembeli. demikian pula penyerahan tekstil ke pengusaha garmen. Metode ini acapkali disebut “invoice method” atau “credit method”. PPN yang dibayar oleh PKP Pembeli ini disebut Pajak Masukan (input tax). 2) Multi Stage Levy namun Non Kumulatif.000 + 140.500.700.000 Beban pajak yang dipikul oleh konsumen = 150/1.500 x 100% = 10% dalam mekanisme PPn yang menggunakan pola konvensional.000 + 170.000 Harga Jual yang dibayar oleh konsumen = 1.11% MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 6 . maka PKP ini wajib memungut PPN dari pembeli yang dinamakan Pajak Keluaran (output tax). apabila pada suatu ketika direktur tersebut membeli “play station” untuk anaknya. Dari perbandingan antara Pajak Penjualan yang kumulatif dengan PPN yang non kumulatif dalam gambar tersebut. PKP Pembeli membayar PPN kepada PKP Penjual. Berdasarkan indirect subtraction method. PPN yang disetor ke kas negara merupakan hasil pengurangan Pajak Keluaran yang dipungut dengan Pajak Masukan yang dibayar. memikul beban pajak yang lebih ringan. Meskipun memiliki karakter multi stage levy. Penyerahan benang ke pabrik tekstil adalah objek PPN. dapat dihitung beban pajak yang dipikul oleh konsumen sebagai berikut: dalam mekanisme PPN yang menggunakan indirect subtraction method. Korelasi antara indirect subtraction method dengan penghindaran dampak kumulasi dapat disimak dalam Gambar 3 dan Gambar 4. Setiap penyerahan barang yang menjadi obyek PPN mulai dari tingkat pabrikan (manufacturer) kemudian ditingkat pedagang besar (wholesaler) dalam berbagai bentuk atau nama sampai dengan tingkat pedagang pengecer (retailer) dikenakan PPN. Ketika PKP membeli BKP dari PKP lain selaku Penjual. Multi stage tax adalah karakteristik PPN yang mempunyai makna PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi. BKP tersebut dijual. Jumlah PPN yang disetor ke kas negara = 150. PPN tidak menimbulkan dampak kumulasi.000 = 410. Demikian seterusnya sampai dengan penyerahan garmen oleh pedagang eceran kepada konsumen yang merupakan sasaran PPN yang sebenarnya. PPN menerapkan indirect subtraction method (metode pengurangan tidak langsung).000 Harga Jual yang dibayar oleh konsumen = 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PAM. Selanjutnya PPN juga dikenakan atas penyerahan garmen kepada pedagang besar oleh pengusaha garmen. Untuk mengurangi dampak regresive. Dampak kumulasi ini dapat dihindari karena dalam penghitungan pajak terutang yang wajib disetor ke kas negara. Jumlah PPN yang disetor ke kas negara = 100. maka di samping dikenakan PPN 10% juga dikenakan PPnBM sebagai pungutan tambahan sebesar 20%.

000 KN BKP HARGA BELI =1.000 HARGA JUAL=1. 700.000 PM = 100.000 KONSUMEN NON KUMULATIF KUMULATIF Gambar 4 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 7 .000 PPN 10% 130.000.000 HARGA JUAL = 1.000 NILAI TAMBAH = 300.000 PPN = 30.000 NILAI TAMBAH = 200.000 HARGA JUAL= 1.000 PPN 150.000 HARGA BELI = 1.000 NILAI TAMBAH = 160.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Karena menimbulkan dampak kumulatif (cascade effect).000 PEDAGANG ECERAN PK = 150.100.000 HARGA JUAL 1.300.000 PEDAGANG BESAR PK = 130.000 PPN 100.000 HARGA JUAL= 1.000 HARGA BELI = 1.000 PPN 10% 150.000 NILAI TAMBAH = 200.000 HARGA JUAL =1.500. 500.000 KN PABRIKAN BKP PPN 10% 100.000 HARGA BELI = 1.540.000 PEDAGANG BESAR PPn 140.000.000 PPN 30.000.000.000 HARGA JUAL =1.000 PPN = 100. maka beban pajak yang dipikul oleh konsumen lebih tinggi dari pada tarif PPn.000 PM = 130.300.000 PEDAGANG ECERAN PPN 20.300.000 PPn 170.000 PPN 130. MULTI STAGE LEVY namun NON KUMULATIF PK = 100.000.400.300.000 NILAI TAMBAH = 300.000 HARGA JUAL 1.000 HARGA BELI = 1.000 KN BKP HARGA BELI = 1.000 KONSUMEN BEBAN PAJAK Gambar 3 PERBANDINGAN PPn KUMULATIF& PPN NON KUMULATIF Perbandingan antara PPn kumulatif dg PPN non kumulatif KAS NEGARA KAS NEGARA PABRIKAN PPn 100.000 HARGA JUAL =1.000 NILAI TAMBAH= 300.000 PPN = 20.

Angka 700 itulah yang dinamakan “nilai tambah”. PPN yang dipungut dari Pembeli atau Penerima jasa tidak selalu harus disetor ke kas negara. Dalam dunia perdagangan. PPN SISTIM PEMUNGUTAN PPn atas Nilai Tambah HARGA BELI BH BAKU = 500 BH PEMBANTU= 300 SUKU CADANG DLL. Nilai tambah (added value) adalah penjumlahan unsur-unsur biaya MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 8 .000. supaya tidak mengalami kerugian maka produknya akan dijual dengan harga jual 1. sedangkan biaya yang dikeluarkan dan laba yang diper-hitungkan sebesar 700. UU PPN 1984 menganut mekanisme yang berbeda ketika menentukan jumlah PPN yang wajib disetor ke kas negara. bahan pembantu. suku cadang dan lain-lain yang terkait seba-nyak 1. harga jual barang dagangan 1.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3) Penghitungan PPN terutang untuk dibayar ke kas negara menggunakan indi-rect subtraction method UU PPn 1951 mewajibkan Penjual atau Pengusaha Jasa untuk menyetorkan ke kas negara seluruh PPn yang dipungut dari Pembeli atau Penerima Jasa. = 200 ----------JUMLAH = 1000 BIAYA PENYUSUTAN BUNGA GAJI/UPAH MANAJEMEN LABA USAHA JUMLAH = 50 = 100 = 300 = 150 = 100 ---------= 700 HARGA JUAL 1700 Nilai Tambah 700 SUBTRACTION INDIRECT SUBTRACTION/ CREDIT/INVOICE ADDITION Gambar 5 Dalam Gambar 5 dilukiskan pengusaha di bidang industri. Untuk menghasilkan pro-duknya. biaya dan laba yang diharapkan 700. membeli bahan baku.000.700. diucapkan dalam bahasa yang agak berbeda yaitu pembelian barang dagangan 1. Indirect Subtraction Method adalah metode penghitungan PPN yang akan disetor ke kas negara dengan cara mengurangkan pajak atas perolehan dengan pajak atas penyerahan barang atau jasa.700. Ketika PKP menyerahkan JKP Penjual atau PKP Pengusaha Jasa memungut PPN yang terutang.

oleh MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 9 . Nilai tambah sebesar 700 inilah yang menjadi sasaran pengenaan PPN. Tentang hal ini akan lebih jeas apabbila disimak Gambar 6. yaitu dengan cara mengurangkan PPN yang dipungut oleh penjual atau pengusaha jasa atas penyerahan barang atau jasa. Jadi nilai tambah tidak semata-mata dihasilkan dari perubahan bentuk atau sifat suatu barang dalam kegiatan produksi. c) Addition method (metode penghitungan nilai tambah). UU PPN Indonesia menganut “indirect subtraction method” (metode pengurangan tidak langsung). yaitu mengalikan tarif PPN dengan hasil penjumlahan unsur-unsur nilai tambah. dengan PPN yang dibayar kepada penjual atau pengusaha jasa lain atas perolehan barang atau jasa. bukan harga jual sebesar 1700.000 A PPN = 10% x 1.000 A DPP = PPN 10% = 700 70 ADDITIO METHO N D PENYUSUTAN = 50 BUNG A = 20 SEWA = 80 G AJ I/ UPAH = 300 MANAJEMEN = 150 LABA USAHA = 100 J u ml a h = 700 PPN 10% = 70 Gambar 6 Diantara tiga metode tersebut. Untuk menghitung PPN atas nilai tambah dapat dilakukan melalui tiga metode yaitu : a) Subtraction method (metode pengurangan secara langsung). METO DE PENG HITUNG AN (Calculation Method) SUBTRACTIO METHO N D INDIRECT SUBTRACTIO N/ INVO ICE/ CREDIT METHO D HARG J UAL = 1. yaitu dengan cara mengalikan tarif PPN dengan selisih antara harga jual dengan harga beli.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dan laba dalam rangka proses produksi atau distribusi barang atau jasa.700 = 170 HARG BELI = 1.700 A HARG BELI = 1.700 A PPN = 10% x 1. Untuk mendeteksi atau menguji kebenaran jumlah pajak yang terutang atas perolehan dan jumlah pajak yang terutang atas penyerahan tersebut diperlukan suatu dokumen pendukung. b) Indirect subtraction method (metode pengurangan secara tidak langsung). Dokumen ini dinamakan “tax invoice” (Faktur Pajak).000 = 100 PPN TERUTANG UNTUK DISETOR KE KAS NEGARA = 70 HARG J UAL = 1.

Oleh karena itu. pola produksi maupun pola distribusi. Prinsip tempat asal mengandung pengertian bahwa PPN dipungut ditempat asal barang atau jasa yang akan dikonsumsi. Karakteristik PPN yang seperti ini menempatkan PPN pada posisi netral yaitu netral baik atas pola konsumsi. (2) Prinsip tempat tujuan (destination principle). 4) Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak atas Konsumsi Umum Dalam Negeri sehingga memiliki kedudukan netral. Sebagai pajak atas konsumsi umum dalam negeri. PPN mengenal dua prinsip pemungutan. Dalam kalimat yang lebih sederhana dan populer adalah mengreditkan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran. oleh karena itu metode ini juga dinamakan “credit method” yaitu mengkreditkan pajak yang dibayar kepada penjual atau pengusaha jasa yang dinamakan “Pajak Masukan” (input tax) dengan pajak yang dipungut dari pembeli atau penerima jasa yang dinamakan “Pajak Keluaran” (output tax). PPN hanya dikenakan atas konsumsi BKP dan/atau JKP yang dilakukan di dalam negeri. Dalam kaitan dengan arus barang atau jasa yang melintas batas wilayah negara (cross border area). Netralitas PPN dibentuk oleh dua faktor yaitu : (1) PPN dikenakan baik atas konsumsi barang maupun jasa. Karakteristik PPN sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri mengandung dua makna. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 10 . maka PPN selain dikenakan atas konsumsi barang juga dikenakan atas konsumsi jasa. komoditi impor dikenakan PPN dengan persentase yang sama dengan produk domestik. PPN menganut prinsip tempat tujuan (destination principle). Karena konsumen tidak semata-mata mengonsumsi barang tetapi juga mengonsumsi jasa. Sebagai pajak atas konsumsi sebenarnya tujuan akhir PPN adalah mengenakan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi (a tax on consumption expenditure) baik yang dilakukan oleh perseorangan maupun oleh badan baik badan swasta maupun badan Pemerintah dalam bentuk belanja barang atau jasa yang dibebankan pada APBN/APBD. (2) Pemikul beban pajak adalah konsumen. kegiatan mengurangkan pajak dengan pajak dinamakan “tax credit”. yaitu: a) “Pajak atas konsumsi” mengandung makna bahwa : (1) PPN bukan pajak atas kegiatan bisnis. (2) Dalam pemungutannya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN karena itu metode ini dinamakan juga “Invoice Method”. Oleh karena itu Faktur Pajak merupakan persyaratan mutlak dalam indirect subtraction method. yaitu : (1) Prinsip tempat asal (origin principle). merupakan refleksi dari prinsip destinasi (destination principle) yang diadopsi dalam UU PPN 1984. Dalam hukum pajak. Dalam UU PPN diatur dengan lugas kriteria Pajak Masukan yang dapat dikreditkan. b) Spesifikasi “dalam negeri”.

Pengusaha bebas memilih apakah mau menggunakan sistem produksi padat modal atau padat karya. komoditi impor akan menanggung beban pajak yang sama dengan barang produksi dalam negeri. maka seluruh Pajak Masukan yang dibayar atas pembelian Barang Modal dan bahan boleh dikreditkan. Apabila dikehendaki ada sifat netral PPN dibidang perdagangan internasional. Tidak terjadi pengenaan pajak lebih dari satu kali terhadap barang modal. PPN tidak akan ikut menentukan. Dalam prinsip ini. Hal ini memberi sifat netral PPN terhadap pola produksi. masih diperlukan sarana lain berupa pengenaan PPN atas komoditi ekspor dengan tarip 0%. Jadi dasar pengenaan pajaknya terbatas pada pembelian untuk keperluan konsumsi. maka prinsip yang dianut adalah prinsip tempat tujuan (destination principle). maka akan dikenakan pajak dengan beban yang sama. Dengan demikian maka kompetisi antara komoditi impor dengan produk domestik tidak dipengaruhi oleh PPN melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor spesifik bisnis.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Sedangkan berdasarkan prinsip tempat tujuan. tarif tersebut pada ayat (1) dapat dinaikkan setinggi-tingginya 15% atau diturunkan serendahrendahnya 5%. 5) PPN Indonesia menerapkan tarif tunggal (single rate) Pasal 7 ayat (1) UU PPN 1984 mengatur bahwa atas penyerahan BKP dikenakan PPN dengan tarif 10%. Karena kedua jenis komoditi tersebut sama-sama dikonsumsi di dalam negeri. supaya daya saing komoditi ekspor Indonesia dengan produk domestik negara pengimpor tidak dipengaruhi oleh PPN Indonesia. Dalam hal penghitungan pajak terutang menggunakan credit method. PPN tipe konsumsi ini memiliki beberapa nilai positif. Sebaliknya barang produksi dalam negeri yang akan diekspor tidak dikenakan PPN di negara asal melainkan dikenakan PPN dinegara tujuan barang yaitu negara tempat komoditi ekspor tersebut akan dikonsumsi. Kedua prinsip ini sangat besar pengaruhnya terhadap kedudukan PPN dalam perdagangan internasional. Sedangkan tarif ekspor BKP yang ditentukan pada ayat (2) sebesar 0% bukan tarif riil melainkan tarif teknis yang dibuat dengan maksud memenuhi aspek filosofis yaitu menjaga netralitas PPN tanpa mengorbankan aspek ekonomi yaitu PPN tetap menjaga daya saing komoditi ekspor di luar negeri (negara tujuan). yaitu: MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 11 . 6) PPN Indonesia termasuk tipe konsumsi (Consumption Type VAT) Dalam conpsumtion type value added tax semua pembelian yang digunakan untuk produksi termasuk pembelian barang modal dikurangkan dari penghitungan nilai tambah. Meskipun demikian. karena pembelian barang modal dikeluarkan dari dasar pengenaan pajak. Kemudian dalam ayat (3) ditentukan bahwa dengan Peraturan Pemerintah. PPN dipungut ditempat barang atau jasa dikonsumsi.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 12 . 3) Mendorong pengusaha secara berkala melakukan regenesari alat produksi barang modal karena dikenakan pajak tidak lebih dari satu kali. 1 .17 UU No. dan lima tahun kemudian diubah lagi untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 yang berlaku sejak 1 Januari 2001.16C UU No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1) Membantu likuiditas perusahaan. karena seluruh Pajak Masukan atas pembelian BKP yang digunakan dalam proses produksi (dalam arti luas) segera dapat dikre-ditkan. 20 UU ini disebut UU PPN 1984 Nama Tetap Ps. b. 18 Tahun 2000 Mulai berlaku 1 – 1 . berlaku sejak 1 Januari 1995. Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai Indonesia DASAR HUKUM DASAR HUKUM PPN INDONESIA UU No. yang mulai berlaku sejak 1 April 1985. Perkembangan peraturan pelaksanaan sebelum 1 Januari 2001 dengan yang berlaku sejak 1 Januari 2001 dapat digambarkan sebagai berikut : 1) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2002 sejak 1 Juni 2002. 2) Menunjang iklim investasi yang sehat. 8 Tahun 1983 Mulai berlaku 1 April 1985 Perub II Ps. II UU ini disebut UU Perubahan Kedua UU PPN 1984 Gambar 7 Dasar hukum Pajak Pertambahan Nilai Indonesia adalah UU Nomor 8 Tahun 1983.2001 Ps. Satu dasa warsa kemudian UU ini diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994. 4) Tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda (bersifat non kumulasi). 1 . 3) Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 tentang Kelompok BKP Yang Tergolong Mewah. 11 Tahun 1994 Mulai berlaku 1 – 1 .1995 Perub I Ps. yang telah beberapa kali diubah. tentang Pelaksanaan UU Nomor 8 belum Tahun 1983 sebagaimana telah diubah yang terakhir dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 2) Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000 tentang Jenis Barang dan Jasa yang tidak dikenakan PPN. III UU ini disebut UU Perubahan UU PPN 1984 Ps.

(4) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 tanggal 31 Mei 2007. (2) Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2003 mulai 13 Agustus 2003 . Latihan 1 Untuk memudahkan memahami materi yang telah diuraikan dalam bagian ini. coba dikerjakan dengan saksama beberapa latihan dibawah ini : Sebutkan legal karakter PPN ! Jelaskan makna legal karakter PPN sebagai pajak tidak langsung ! Mengapa meskipun multi stage levy merupakan salah satu legal karakter PPN. (3) dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 8 Januari 2007. namun tidak menimbulkan dampak kumulasi ? Apa yang dimaksud dengan dampak regresif PPN ? Jelaskan pula bagaimana kaitan antara tarif tunggal dengan regresivitas PPN dan bagaimana UU PPN 1984 mencoba mengatasi hal ini ? Jelaskan makna dari kedudukan netral PPN ! MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 13 . Peraturan Pemerintah ini telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003. 5) Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Yang Bersifat Strategis Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai. Peraturan Pemerintah ini telah empat kali diubah dengan: (1) Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2002 mulai 1 Juli 2002 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4) Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 tentang Impor Dan Atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu Dan Atau Penyerahan Jasa Kena Pajak Tertentu Yang Dibebaskan Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

yang materi selengkapnya adalah sebagai berikut: 1) penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha . Perumusan objek PPN dalam Pasal 4 huruf a. 5) pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean . KEGIATAN BELAJAR 2 OBJEK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI Uraian. ditambah dengan objek pajak yang bersifat spesifik yang diatur dalam Pasal 16C dan Pasal 16D UU PPN 1984. dan c . 6) ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak . Untuk memahami perbedaan ini harus diteliti lebih dahulu pengertian “pengusaha”. melakukan usaha jasa. mengekspor barang. Kriteria “kegiatan usaha atau pekerjaan” yang ditegaskan dalam memori penjelasan Pasal 4 ternyata diambil dari Pasal 1 angka 14. Istilah “pengusaha” yang digunakan dalam Pasal 4 huruf a dan huruf c terasa berbeda dengan istilah “Pengusaha Kena Pajak” yang digunakan dalam Pasal 4 huruf f. c dan f UU PPN 1984 menimbulkan dua permasalahan yang relevan. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 14 . objek pajak yang semula diatur hanya dalam Pasal 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. 2) impor Barang Kena Pajak . melakukan usaha perdagangan. 7) kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak di dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan baik yang hasilnya akan digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain .Untuk keperluan itu kita mengacu pada Pasal 1 angka 14 yang merumuskan bahwa pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar daerah pabean. 3) penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha. 8) penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan. sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya menurut ketentuan dapat dikreditkan. yaitu : a) Pengertian yang terkandung dalam terminologi “Pengusaha” dalam Pasal 4 huruf a. mengimpor barang. 4) pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean . Objek PPN sesuai dengan perubahan kedua UU PPN 1984 Sejak UU Nomor 8 Tahun 1983 diubah dengan UU Nomor 11 Tahun 1994 yang kemudian diubah untuk yang kedua kalinya dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 mulai 1 Januari 2001. atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. contoh dan non contoh a.

apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut : (1) barang berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak . JKP DI DLM. Kemudian berdasarkan Pasal 1 angka 15 dirumuskan bahwa Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha sebagaimana dimaksud dalam angka 14 yang melakukan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang ini. 4 huruf b IMPOR BKP Ps. 4 huruf d PEMANFAATAN. 4 huruf e PEMANFAATAN JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DLM DAERAH PABEAN Ps. 4 huruf c PENYER. 4 huruf f EKSPOR BKP OLEH PKP Ps. sampai pada kesimpulan bahwa istilah “Pengusaha” yang dimaksud dalam Pasal 4 huruf a dan c . BKP TDK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN di DALAM DAERAH PABEAN Ps. PRIBADI/BADAN Ps. Dari rangkaian Pasal 1 angka 14 dengan angka 15 UU PN 1984 ini. (2) barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak tidak ber.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN OBJEK PAJAK PPN DIKENAKAN ATAS Ps. BKP DI DLM DAERAH PABEAN YG DILAKUKAN OLEH PENGUSAHA Ps. (3) penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean . (4) penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan Pengusaha yang bersangkutan. PPN YANG DIBAYAR PD SAAT PEROLEHANNYA DAPAT DIKREDITKAN Gambar 8 b) Pengertian yang terkandung dalam terminologi “Pengusaha Kena Pajak”. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 15 . 4 huruf a PENYER. Dalam memori penjelasan Pasal 4 ditetapkan bahwa suatu penyerahan barang dapat dikenakan pajak. TDK UTK DIPERJUALBELIKAN SEPANJ.wujud . adalah PKP. tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 16C MEMBANGUN SENDIRI YG DILAKUKAN TDK DLM KEGIATAN USAHA/ PEKERJAAN OLEH OR. kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak. DAERAH PABEAN YG. DILAKUKAN OLEH PENGUSAHA Ps. 16D PENYERAHAN AKTIVA OLEH PKP YG MENRT TUJUAN SEMULA AKTIVA TSB.

Gambar 9 Ps. 3) penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan Pengusaha yang bersangkutan. 4 huruf c PPN dikenakan atas penyer. maka penyerahan jasa ini terutang pajak apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1) jasa yang diserahkan adalah Jasa Kena Pajak . 1 angka 15 MELAKUKAN USAHA JASA MENYERAHKAN BKP/JKP BADAN MEMANFAATKAN JASA DARI LUAR DAERAH PABEAN PENGUSAHA PENGUSAHA KENA PAJAK TDK TERMASUK PENGUSAHA KECIL YG BATASANNYA DITETAPKAN DG KEP. MELAKUKAN USAHA PERDAGANGAN MEMANFAATKAN BR. BKP di dalam Daerah Pabean BKP di dalam Daerah Pabean oleh Pengusaha oleh Pengusaha Pengusaha yang melakukan Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP/JKP penyerahan BKP/JKP pada dasarnya adalah PKP pada dasarnya adalah PKP Pengusaha menyer. BKP Pengusaha menyer.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PENGUSAHA DLM Ps 4 HURUF a & c adalah PENGUSAHA KENA PAJAK MENGHASILKAN BARANG ORANG PRIBADI MENGIMPOR BARANG MENGEKSPOR BARANG Ps. 4 huruf c :: Ps. BKP Ps. 1 angka 15 Ps. 4 huruf a :: Ps. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 16 . BKP Pengusaha menyer. 4 huruf a PPN dikenakan atas penyer. TDK BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN Ps. 1 angka 15 Pengusaha Kena Pajak Pengusaha Kena Pajak Kesimpulan Kesimpulan Pengusaha menyer. PPN dikenakan atas penyer. 1 angka 14 Dalam kegiatan usaha/pekerj. MENKEU. JKP di dalam Daerah Pabean JKP di dalam Daerah Pabean oleh Pengusaha oleh Pengusaha Gambar 10 Dalam hal yang diserahkan adalah jasa. PPN dikenakan atas penyer. BKP Suatu penyerahan BKP/JKP Suatu penyerahan BKP/JKP dapat dikenakan PPN apadapat dikenakan PPN apabila yang menyerahkan PKP bila yang menyerahkan PKP Ps. 2) penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean .

d. 1 angka 3 UU PPN 1984 Sejak 1 April 1985 s. Barang Kena Pajak Setelah perubahan UU PPN 1984 dengan UU Nomor 11 Tahun 1994 mulai 1 Januari 1995 terjadi pergeseran pengertian Barang Kena Pajak sebagai berikut : Pasal 1 huruf c UU PPN 1984 Sebelum 1 Januari 1995 Barang Kena Pajak adalah barang ber-wujud yang menurut sifat atau hukum-nya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak hasil pengolahan barang (pabrikasi) yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini. maka PPN menghendaki perlakuan yang sama terhadap konsumsi barang. barang bergerak dan barang tak gerak Sejak 1 Januari 1995 b. Secara filosofi. Pasal 1 huruf c UU PPN 1984 Sejak 1 Januari 1995 Barang Kena Pajak adalah barang ber-wujud yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak maupun barang tidak ber-wujud yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini. apabila dibandingkan dengan rumusan sebelum 1 Januari 1995 dapat disimpulkan telah terjadi perkembangan ruang lingkup BKP sebagaimana terlihat pada tabel berikut: Ruang lingkup BKP yang dirumuskan dalam Ps. 31 Desember 1994 a. tidak dipersyaratkan hasil pabrikasi sehingga BKP meliputi barang baru dan barang bekas Karena tidak ada jenis barang selain yang unsur-unsurnya disebut dalam Pasal 1 angka 3 UU PPN 1984 sejak 1 Januari 1995. barang bergerak hanya meliputi barang b. hasil kegiatan pabrikasi sehingga BKP hanya barang baru dan barang tidak berwujud c. dikhawatirkan UU PPN Indonesia menjadi tidak realistis. barang bergerak meliputi barang berwujud berwujud c. Dari rumusan pasal 1 huruf c yang sejak 1 Januari 2001 menjadi Pasal 1 angka 3 UU PPN 1984. barang bergerak dan barang tak berak a. supaya netralitas PPN dapat direalisasi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c. Oleh karena itu pengertian yang luas tentang BKP tersebut kemudian dibatasi oleh Pasal 4A UU PPN 1984 yang menentukan bahwa MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 17 . tidak perlu pengecualian. Dalam kehidupan nyata di dunia ini tidak mungkin tanpa pengecualian. maka dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya semua barang dapat dikenakan pajak. Apabila filosifi ini benar-benar dilaksanakan.

MINYAK MENTAH (CRUDE OIL) GAS BUMI. PANAS BUMI BR HASIL PERTAMB. Perlakuan PPN atas barang hasil pertanian Sejak 1 Januari 2001 perlakuan PPN atas barang hasil pertanian dapat dikelompokkan dalam dua tahap sebagai berikut: 1) Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tanggal 22 Maret 2001 yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2001 terdapat dua perlakuan yang berbeda atas barang hasil pertanian yang kedua-duanya dibebaskan dari pengenaan PPN.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan jenis-jenis barang dan jasa yang tidak dikenakan pajak. yang dipetik langsung. BIJIH PERAK & BIJIH BAUKSIT BERAS. RUMAH MAKAN. RESTORAN. 1 s. DIPROSES MENJADI BRIKET BIJIH BESI. dan kehutanan . BIJIH TIMAH. b) atas penyerahan barang hasil pertanian yang dilakukan oleh petani atau kelompok petani. Nonbkp-02 UNTUNG SUKARDJI-02 Gambar 11 d. BIJIH EMAS. perburuan atau penangkapan. 4A UU PPN 1984 jo Ps 1-4 PP No. kehutanan. BIJIH TEMBAGA. 144/2000) BR KEBUTUH.d. perkebunan. Kriteria barang tidak kena pajak ditentukan dalam Pasal 4A ayat (2) UU PPN 1984 yang penjabarannya dilakukan dalam Pasa. penangkaran. GABAH BARANG TIDAK KENA PAJAK (Ps. atau perikanan dilakukan tidak harus oleh petani. YG DIAMBIL LANGSUNG DARI SUMBERNYA PASIR & KERIKIL BATUBARA SEB. diambil langsung atau disadap langsung dari sumbernya termasuk hasil MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 18 . peternakan. b) peternakan. EMAS BATANGAN. SURAT BERHARGA . Adapun barang hasil pertanian adalah barang yang dihasilkan dari kegiatan usaha di bidang: a) pertanian. POKOK YG DIBUTUHKAN RAKYAT BANYAK JAGUNG SAGU KEDELAI GARAM MAKANAN & MINUMAN YG DISEDIAKAN DI HOTEL. WARUNG & SEJENISNYA BUKAN KATERING DIKONSUMSI DITEMPAT/TIDAK UANG. maupun penangkaran ./ PENGEBOR. atau c) perikanan baik dari penangkapan maupun budidaya. Pasal 4 PP Nomor 144 Tahun 2000. perkebunan. sebagai berikut: a) atas impor dan penyerahan bibit dan atau benih dari barang hasil pertanian. BIJIH NIKEL .

yaitu : 1) setiap kegiatan pelayanan berdasarkan satu perikatan atau perbuatan hukum sehingga hak. dipisahkan dari kulit atau biji atau pelepah. pertanian. diperam. peternakan. atau perikanan. dipecah/ digiling. Adapun yang dimaksud dengan pemrosesan yang dilakukan dengan cara tertentu adalah: a) direndam. direbus. disisir. Contoh : (a) Pasar swalayan “Sarwimirah” membeli sayur mayur kepada Kamidi. bayam. c) dengan cara apapun sebelum dipotong atau disembelih. dibebaskan dari pengenaan PPN meskipun PT Perhutani bukan petani menurut PP Nomor 12 Tahun 2001. kemudahan. Jasa Kena Pajak Pasal 1 angka 5 UU PPN 1984 merumuskan ada dua macam pengertian jasa. dibekukan. dibelah. perkebunan. untuk hasil usaha di bidang perikanan. wajib membayar PPN karena perusahaan ini bukan petani. digaruk. Bakri selaku petani sayur-mayur. perburuan atau penangkapan. tidak dibebaskan dari pengenaan PPN. Dengan demikian apabila ada pengusaha berbentuk badan menyerahkan hasil pertanian. e. d) dengan cara apapun sebelum dikuliti. dikupas. untuk hasil usaha di bidang kehutanan. dan atau dikemas dengan cara sangat sederhana untuk tujuan melindungi barang yang bersangkutan. Berarti tidak dimungkinkan petani berbentuk badan. dibebaskan dari pengenaan PPN. penangkaran. 2) Sejak 1 Januari 2007. dibebaskan dari pengenaan PPN atas impor atau penyerahan: a) bibit dan atau benih dari barang hasil pertanian. perkebunan. dan atau dikemas dengan cara yang sangat sederhana untuk tujuan melindungi barang yang bersangkutan. untuk hasil usaha di bidang perburuan atau penangkapan. e) didinginkan/dibekukan. disucihamakan. sawi. Sebaliknya ketika Ny. b) ditebang. di pasar swalayan tersebut. atau budidaya perikanan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN pemrosesannya yang dilakukan dengan cara tertentu. direbus. dikeringkan. dipangkas cabang dan rantingnya. dikupas kulit dari batangnya dan dipotong menjadi kayu bulat atau gelondongan. dengan PP Nomor 7 Tahun 2007 tanggal 8 Januari 2007 yang mengubah PP Nomor 12 Tahun 2001. (a) Departemen Pertanian membeli sejumlah bibit jati dari PT Perhutani. dirajang. Subekti. dikeringkan/diasap. barang atau fasilitas tersedia untuk dipakai. untuk hasil usaha di bidang peternakan atau penangkaran. Contoh: Jasa akuntan publik MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 19 . dicuci. kentang. untuk hasil usaha di bidang pertanian atau perkebunan. Zainal. disayat. Petani adalah orang yang melakukan kegiatan usaha di bidang pertanian. digarami. kehutanan. penangkaran. Sulastri membeli kangkung. b) barang hasil pertanian yang disebut dalam lampiran PP Nomor 7 Tahun 2007. kehutanan.

namun jasa broker asuransi merupakan jasa penunjang jasa asuransi sehingga merupakan JKP. merupakan jasa perbankan yang dikenakan PPN. tabungan. panti wreda. membawa. Jasa di bidang perbankan dapat dikelompokkan menjadi dua. Jasa asuransi bukan JKP. 2) jasa menghasilkan barang karena pesanan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan. Sedangkan jasa sewa guna usaha dengan hak opsi termasuk kelompok jasa pembiayaan non bank. seperti perusahaan perbankan menyewakan safe deposit box. Dalam hal jasa tersebut dikenakan PPN berdasarkan UU PPN 1984. dokter super spesialis. 3) Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN menyebabkan sebuah laporan keuangan siap untuk dibacakan di depan rapat umum pemegang saham. jasa pemberian khotbah atau dakwah. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 4A ayat (1). yayasan krematorium. bukan JKP. antara lain adalah jasa produksi (jasa maklon).03/2002 tanggal 27 April 2002 antara lain ditetapkan bahwa jasa pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia yang tidak dikenakan PPN adalah yang merupakan tugas PT Pos Indonesia (persero) dalam rangka melaksanakan penyelenggaraan pos oleh negara yang terdiri dari kegiatan menerima. maka dalam Pasal 4A ayat (3) UU PPN 1984 ditentukan kriteria jasa tidak dikenakan pajak yang dirinci dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 16 PP Nomor 144 Tahun 2000. dinamakan Jasa Kena Pajak. memberikan jasa manajemen kepada nasabah. rekening koran. Jasa di bidang keagamaan meliputi jasa pelayanan rumah-rumah ibadah. jasa pemadam kebakaran . rawat inap di puskesmas sampai dengan rawat inap di rumah sakit swasta. jasa cleaning service mengakibatkan suatu ruangan siap untuk digunakan. yaitu : a) jasa khas perbankan merupakan jasa yang tidak dikenakan PPN yaitu yang tidak dapat dilakukan oleh perusahaan lain selain bank seperti jasa deposito. b) jasa lainnya yang dilakukan oleh perusahaan perbankan. transfer. penukaran valuta asing dan sebagainya. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 20 . yayasan pemakaman. namun dapat dilakukan oleh perusahaan lain selain bank. menjalankan kegiatan usaha anjak piutang. yang atas penyerahan jasanya dikenakan tarif jasa pos yang cara pelunasan tarif jasa posnya dengan perangko atau pengganti perangko. asuransi. dan sewa guna usaha dengan hak opsi . 4) Jasa di bidang perbankan. sebagai berikut : 1) Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik. dan jasa lainnya di bidang keagamaan. 5) Jasa di bidang keagamaan . giro. maka berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU PPN 1984. menyewakan ruangan. 2) Jasa di bidang pelayanan sosial seperti jasa pelayanan panti asuhan. dan atau menyampaikan surat yang merupakan satu kesatuan kegiatan yang tidak terpisahkan. Dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 168/KMK. mulai dari pengobatan alternatif.

9) Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air baik yang diselenggarakan oleh pe-merintah maupun swasta. Berdasarkan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000. termasuk dalam pelayanan jasa di bidang tenaga kerja dalam hal pihak yang menyediakan tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja tenaga kerja dimaksud. KESEHATAN MEDIK PELAYANAN SOSIAL PENGIR. sehingga terutang PPN. Hal ini sesuai dengan prinsip yang tersurat dalam penjelasan bagian umum UU Nomor 18 Tahun 2000. jasa angkutan udara luar negeri tetap tidak dikenakan PPN. AIR TENAGA KERJA PERHOTELAN PEMERINTAHAN UMUM Non JKP-02 UNTUNG SUKARDJI-02 Gambar 12 10) Jasa di bidang tenaga kerja.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6) Jasa di bidang pendidikan baik pendidikan sekolah maupun penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. tidak dikenakan PPN. 5 – 16 PP No. SRT DG PERANGKO PERBANKAN ASURANSI SGU DG HO KEAGAMAAN PENDIDIKAN JASA TIDAK KENA PAJAK Ps. 4A UU PPN 1984 jo Ps. seperti kursus-kursus. 8) Jasa di bidang penyiaran (baik radio maupun televisi) yang bukan bersifat iklan . Dalam penjelasan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 144 Tahun 2000. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 21 . 7) Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang sudah dikenakan Pajak Tontonan. artinya gaji atau honorarium tenaga kerja dimaksud dibayar oleh perusahaan yang menerima penempatan. objek pajak yang sudah dikenakan pajak daerah.144 Tahun 2000 KESEN & HI BURAN YG SDH KENA PAJAK TONTONAN PENYIARAN BUKAN IKLAN ANGKUTAN UMUM DARAT. namun apabila jasa pendidikan ini dikaitkan dengan penyerahan BKP maka jasa pendidikan dimaksud merupakan bagian integral dengan penyerahan BKP.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

11) Jasa di bidang perhotelan, meliputi : a) jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan hotel untuk tamu yang menginap; b) jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. 12) Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum seperti instansi pemerintah memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pemberian Izin Usaha Perdagangan. Untuk keperluan ini, pengusaha yang membutuhkan membayar sejumlah uang ke kas daerah atau kas negara. Atas pembayaran ini tidak dikenakan PPN.

f.

Daerah Pabean

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU PPN 1984, Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Dari rumusan ini dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya seluruh wilayah Republik Indonesia adalah Daerah Pabean kecuali ada bagian wilayah tertentu yang ditetapkan berada di luar Daerah Pabean seperti Daerah Perdagangan Bebas (Free Trade Zones) Sabang..

g. Kegiatan usaha atau pekerjaan Kriteria “kegiatan usaha atau pekerjaan” yang digunakan dalam Pasal 1 angka 14 dan memori penjelasan Pasal 4 huruf a dan huruf c UU PPN 1984 mengandung pengertian penyerahan yang dilakukan dalam rangka kegiatannya sehari-hari, sebagaimana ditegaskan dalam memori penjelasan Pasal 4 UU PPN 1984 sebelum 1 Januari 1995.

h. Penyerahan Barang Kena Pajak Penentuan suatu penyerahan barang merupakan "penyerahan Barang Kena Pajak" sangat relevan untuk menentukan saat timbulnya objek pajak. Dalam UU PPN 1984, pengertian penyerahan BKP diatur dalam Pasal 1A ayat (1), sebagai berikut : 1) Penyerahan Hak Atas BKP Karena Suatu Perjanjian Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf a UU PPN 1984 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian dalam ketentuan ini meliputi jual beli, tukar menukar, jual beli dengan angsuran, atau perjanjian lain yang mengakibatkan penyerahan hak atas barang.

2) Pengalihan BKP oleh Karena Suatu Perjanjian Sewa Beli Dan Perjanjian Leasing.
Untuk penyerahan BKP berdasar perjanjian sewa-beli, saat timbulnya objek pajak bukan ditentukan oleh saat penyerahan hak melainkan saat pengalihan BKP. Adapun yang dimaksud dengan saat pengalihan BKP adalah saat berpindahnya penguasaan BKP dari penjual kepada

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

22

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

pembeli. Dengan demikian objek pajak terjadi pada saat pembeli membayar harga sewa dan pada saat yang bersamaan barang diserahkan oleh penjual kepada pembeli. Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf b ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan penyerahan karena perjanjian sewa guna usaha (leasing) adalah penyerahan yang disebabkan oleh perjanjian sewa guna usaha (leasing) dengan hak opsi.
TUKAR MENUKAR TUNAI
PENYERAHAN HAK ATAS BARANG KENA PAJAK KRN SUATU PERJANJIAN

JUAL BELI

ANGSURAN
LAIN YG MENIMBULKAN PENYER. HAK

PENGALIHAN BKP KARENA PERJANJIAN SEWA BELI ATAU PERJANJIAN LEASING

PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK
{ Ps. 1A ay. (1) UU PPN 1984 }

PENYERAHAN BKP KEPADA PEDAGANG PERANTARA ATAU MELALUI JURU LELANG

PEMAKAIAN SENDIRI ATAU PEMBERIAN DENGAN CUMA-CUMA ATAS BKP

PERSEDIAAN BKP DAN AKTIVA YG MENURUT TUJUAN SEMULA TDK UTK DIPERJUALBELIKAN, YG MASIH TERSISA PD SAT PEMBUBARAN PERUSAHAAN, SEPANJANG PPN ATAS PEROLEHANNYA MENURUT KETENTUAN DPT DIKREDITKAN

PENYERAHAN BKP DARI PUSAT KE CABANG ATAU SEBALIKNYA DAN PENYERAHAN BKP ANTAR CABANG

PENYERAHAN BKP SECARA KONSINYASI
PENYER. BKP UNTUNG SUKARDJI - 01

Gambar 13

3) Penyerahan BKP Kepada Pedagang Perantara atau Melalui Juru Lelang.
Ketentuan ini mengandung dua unsur yaitu : a) Penyerahan BKP kepada pedagang perantara, dan b) Penyerahan BKP melalui Juru Lelang (kepada pemenang lelang). Adapun yang dimaksud dengan pedagang perantara adalah orang pribadi atau badan yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya dengan nama sendiri melakukan perjanjian atau perikatan atas dan untuk tanggungan orang lain dengan mendapat upah atau balas jasa tertentu, misalnya komisioner. Sedangkan yang dimaksud dengan juru lelang adalah juru lelang Pemerintah atau yang ditunjuk oleh Pemerintah. Kata penghubung yang digunakan bagi juru lelang adalah "melalui". Hal ini mengandung pengertian bahwa pada saat PKP menyerahkan BKP melalui juru lelang bukan

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

23

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

merupakan objek pajak, tetapi objek pajak timbul ketika juru lelang menyerahkan BKP yang dilelang kepada pemenang lelang untuk dan atas nama PKP yang bersangkutan.

4) Pemakaian Sendiri dan Pemberian Cuma-cuma.
Pemakaian sendiri mengandung pengertian BKP yang merupakan barang dagangan atau hasil produksi digunakan untuk kepentingan PKP sendiri yang dapat meliputi Direksi, Dewan Komisaris, Karyawan. Pemakaian sendiri dapat dibedakan kedalam dua kelompok yaitu pemakaian sendiri yang bersifat konsumtif dikenakan PPN dan pemakaian sendiri yang bersifat produktif tidak dikenakan PPN. Pemberian cuma-cuma yang merupakan objek pajak adalah pemberian cuma-cuma baik BKP produksi sendiri maupun produksi perusahaan lain Misalnya perusahaan farmasi memberi secara cuma-cuma obat contoh kepada dokter praktek.

5) Persediaan BKP dan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan Yang Masih Tersisa Pada Saat Pembubaran Perusahaan.
Rumusan ini mengandung dua unsur yaitu : a) persediaan BKP yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan merupakan ketentuan lama, dan b) aktiva perusahaan yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan diperlakukan sebagai penyerahan BKP. Contoh : a) pada saat perusahaan dibubarkan masih tersisa persediaan barang dagangan yang belum terjual, maka sisa persediaan ini merupakan penyerahan BKP ; b) pada saat pembubaran perusahaan masih ada barang modal seperti gedung, mesin, mobil box, dan sejenisnya, maka barang modal yang masih ada ini merupakan penyerahan BKP.

6) Penyerahan BKP Dari Pusat ke Cabang atau Sebaliknya dan Penyerahan BKP antar Cabang.
Ketentuan ini merupakan konsekuensi yuridis UU PPN 1984 menganut asas desentralisasi. Dengan asas desentralisasi, maka baik kantor pusat maupun cabang dengan nama dan dalam bentuk apapun, masing-masing dikukuhkan sebagai PKP oleh KPP setempat. Karena masingmasing berstatus sebagai PKP, maka penyerahan BKP antar mereka dikenakan pajak. Dalam memori penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf f UU PPN 1984 ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan cabang termasuk antara lain lokasi usaha, perwakilan, unit pemasaran, dan sejenisnya.

7) Penyerahan BKP Secara Konsinyasi.
Dalam penjelasan Pasal 1A ayat (1) huruf g UU PPN 1984 menegaskan bahwa dalam hal penyerahan secara konsinyasi, PPN yang sudah dibayar pada waktu BKP yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan BKP yang dititipkan tersebut. Sebaliknya, jika BKP titipan tersebut tidak laku

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

24

yaitu : 1) penyerahan BKP kepada makelar sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang. c) pemberian cuma-cuma Jasa Kena Pajak. Contoh : Salon kecantikan merawat kecantikan pelanggan merupakan penyerahan JKP Sebuah perusahaan jasa telekomunikasi menggunakan jasa telekomunikasi untuk rumah direksi atas beban perusahaan . b) pemakaian sendiri Jasa Kena Pajak . termasuk dalam pengertian penyerahan Jasa Kena Pajak adalah : a) setiap pemberian Jasa Kena Pajak . 2) penyerahan BKP untuk jaminan utang-piutang .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dijual dan diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik BKP. dalam Pasal 1A ayat (1) UU PPN 1984 diberikan suatu rincian dari penyerahan barang yang tidak termasuk kategori sebagai Penyerahan Barang Kena Pajak. 3) penyerahan BKP dari pusat ke cabang dan antar cabang bagi PKP yang memperoleh ijin pemusatan tempat pajak terutang dari Direktur Jenderal Pajak. Sebagai imbangan dari pengertian penyerahan BKP. pengusaha yang menerima barang titipan tersebut membuat nota retur. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 25 . i. Penyerahan Jasa Kena Pajak Berdasarkan Pasal 1 angka 7 dan memori penjelasan Pasal 4 huruf c UU PPN 1984.

BKP tidak berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean. PPN dikenakan atas impor BKP. l. Ekspor Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak Ekspor BKP yang dilakukan oleh PKP dikenakan PPN berdasarkan Pasal 4 huruf f UU PPN 1984. Impor Barang Kena Pajak Berdasarkan Pasal 4 huruf b UU PPN 1984. Berdasarkan ketentuan ini. JKP UNTUNG SUKARDJI.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PENYERAHAN JASA KENA PAJAK Ps 1 angka 7 jo Ps 4 huruf c UU PPN 1984 SETIAP KEGIATAN PEMBERIAN JASA KENA PAJAK PEMBERIAN JASA KENA PAJAK DENGAN CUMA-CUMA PEMAKAIAN SENDIRI JASA KENA PAJAK PENY. Dalam memori MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 26 . di dalam Daerah Pabean. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean. secara yuridis formal sejak 1 Januari 1995. tidak dikenakan PPN. dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean dikenakan PPN. Kemudian dalam Pasal 1 angka 9 UU PPN 1984 dirumuskan bahwa impor adalah setiap kegiatan me-masukkan barang dari luar Daerah Pabean ke dalam Daerah Pabean.01 Gambar 14 j. Perlakuan PPN ini selaras dengan destination principle yang diadaptasi oleh UU PPN 1984. Berbeda dengan impor yang dikenakan PPN meskipun dilakukan oleh orang pribadi yang tidak ber-status sebagai pengusaha di bidang impor. Kemudian dalam Pasal 1 angka 11 dirumuskan bahwa ekspor adalah setiap kegiatan mengeluarkan barang dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean. ekspor BKP dikenakan PPN hanya apabila dila-kukan oleh PKP sehingga apabila ekspor dilakukan oleh non PKP. k.

maka secara lebih mendalam akan dibahas dalam “Kegiatan Belajar 8”. PT Pelangi sebuah perusahaan tekstil di Bandung memanfaatkan jasa marketing dari sebuah perusahaan di Malaysia.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN penjelasan yang lama Pasal 1 huruf b UU PPN 1984 sebelum revisi 1 Januari 2001. mengandung pengertian terjadi pemanfaatan BKPP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean sehingga dikenakan PPN. m. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Contoh : Pengusaha restoran di Jakarta menggunakan merek dagang “Kentucky Fried Chicken” dari Amerika. Sama halnya dengan pemanfaatan BKP tidak berwujud. Berdasarkan pertimbangan bahwa objek PPN yang diatur dalam Pasal 4 huruf d dan huruf e memiliki sifat spesifik. JKP yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean berdasarkan Pasal 4 huruf e UU PPN 1984 dikenakan PPN. dan Pasal 16D (PPN atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan) pembahasannya akan dilakukan dalam bab yang sama dengan pembahasan objek pajak dalam Pasal 4 huruf d dan huruf e tersebut. dan hak oktroi. dikenakan PPN. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 27 . hak paten. Demikian pula halnya dengan objek pajak dalam Pasal 16C (PPN atas kegiatan membangun sendiri tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya). Contoh : Untuk memasarkan produknya di negara-negara Timur Tengah. ditegaskan bahwa barang tidak berwujud antara lain hak atas merek dagang.

UU PPN 1984 d. tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda….2. UU Nomor 8 Tahun 1983 b. PPN adalah pajak atas konsumsi dalam negeri. PPN yang disetor ke kas negara dihitung menggunakan “addition method” 6) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak membeli 50 unit komputer dari PT Metrodata dikenakan PPN. berubah menjadi UU PPN 2001 c. ada beberapa pengecualian objek b. karena ……………. UU Nomor 8 Tahun 1985 d. yaitu …………. PPN yang terutang dihitung hanya dari nilai tambahnya c. dasar hukum PPN Indonesia namanya …………. UU Nomor 18 Tahun 2000. UU PPN b. 5) Meskipun PPN bersifat “multi stage levy”. PPN tidak dikenakan atas penyerahan Jasa Kena Pajak ke luar negei. a. UU Nomor 8 Tahun 1984 c. Latihan 2 Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan dalam setiap nomor kasus singkat dibawah ini.. a. 1) Dasar hukum PPN di Indonesia. berubah menjadi UU PPN 2000 b. tetap UU PPN 1984 4) Sebagai pajak atas konsumsi. PPN yang disetor ke kas negara dihitung menggunakan “indirect subtraction method” d. tidak berubah. UU PPN 1985 3) Setelah perubahan yang kedua dengan UU Nomor 18 Tahun 2000. PPN bersifat netral yang memiliki makna antara lain ………. tetap UU PPN 1985 d. tidak berubah.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3. dinamakan ……… a. PPN hanya dikenakan terhadap pengeluaran untuk konsumsi di dalam negeri b. PPN tidak mempengaruhi pola produksi dan pola konsumsi c. 2) Dasar hukum PPN yang diundangkan pada tanggal 31Desember 1983. UU PPN 1983 c. a. maka terhitung sejak 1 Januari 2001. a. ekspor BKP dikecualikan dari pengenaan PPN d. a. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 28 ..

PPN adalah Pajak Tidak Langsung 7) Sebagai pajak objektif. b. karena PPnBM merupakan pungutan tambahan (tax supplement). c. memperhatikan asas keadilan karena setiap orang atau badan yang mengkonsumsi barang atau jasa yang sama dikenakan PPN dengan jumlah yang sama. memperhatikan asas keadilan karena antara masyarakat kaya dengan masyarakat kurang mampu diperlakukan sama c. sangat memperhatikan asas keadilan karena tidak bersikap diskriminatif.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. PPN adalah pajak atas produk Nasional . untuk mengurangi kesenjangan beban pajak antara yang dipikul oleh anggota masyarakat berpenghasilan tinggi dengan yang berenghasilan rendah c. sesuai dengan karakteristik PPN sebagai pajak atas konsumsi b. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 29 . PPN adalah salah satu sumber penerimaan negara yang handal d. untuk mencegah anggota masyarakat tertentu mengonsumsi BKP Yang Tergolong Mewah d. tidak memperhatikan asas keadilan karena antara masyarakat kaya dengan masyarakat kurang mampu diperlakukan sama d. a. 8) Salah satu pertimbangan pengenaan PPnBM disamping PPN terhadap anggota masyarakat yang mengonsumsi BKP yang Tergolong Mewah adalah : a. PPN tidak memperhatikan kondisi subjektif subjek pajaknya sehingga dalam pengenaannya …………….

dan 2) tempat kegiatan usaha dilakukan. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 30 . Sebagai pajak objektif. Tempat Pajak Terutang Berdasarkan Pasal 12 UU PPN 1984 ditetapkan bahwa pajak terutang di : 1) tempat tinggal atau tempat kedudukan . tidak mungkin ditentukan bilamana PKP wajib memenuhi kewajiban melunasi utang pajaknya. Dari ketentuan Pasal 11 UU PPN 1984 dapat disimpulkan bahwa pajak terutang: 1) pada saat penyerahan BKP atau JKP 2) pada saat impor BKP 3) pada saat dimulai pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean 4) pada saat pembayaran dalam hal : a) pembayaran diterima sebelum penyerahan BKP atau JKP b) pembayaran dilakukan sebelum dimulai pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Untuk menentukan saat pajak terutang sangat erat kaitannya dengan penentuan saat tim-bulnya utang pajak. Mekanisme pemungutan PPN menggunakan sistem ini. b. 5) pada saat lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. Tanpa diketahui saat pajak terutang. dalam hal impor . dapat ditentukan bahwa utang PPN mulai timbul sejak adanya objek pajak. penentuan saat pajak terutang menjadi sangat relevan. Untuk menentukan saat PKP melaksanakan kewajiban membayar pajak. Uraian. Ajaran materiil timbulnya utang pajak dianut oleh suatu jenis pajak yang mekanisme pemungutan pajaknya menggunakan self assessment system. peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak. yaitu sejak adanya suatu keadaan. atau 3) tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak . contoh dan non contoh a. Dengan rumusan yang lebih sederhana. KEGIATAN BELAJAR 3 SAAT DAN TEMPAT PAJAK TERUTANG 4. 4) tempat BKP dimasukkan. sehingga timbulnya utang pajak ditentukan berdasarkan ajaran materiil. Saat Pajak Terutang. Dengan kata lain dapat di-rumuskan bahwa utang pajak timbul karena adanya tatbestand yang diatur dalam undang-undang.1. PPN menganut ajaran materiil timbulnya utang pajak yaitu utang pajak timbul karena undang-undang.

berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ. terutang pajak hanya ditempat kegiatan usahanya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5) tempat orang pribadi atau badan terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam hal pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean . atau 6) satu tempat atau lebih yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai tempat pemusatan pajak terutang atas permohonan tertulis dari Pengusaha Kena Pajak. b) Dalam hal PKP memiliki lebih dari satu tempat kegiatan usaha dalam wilayah satu KPP. 6) Tempat pajak terutang ditentukan lain oleh Direktur Jenderal Pajak atas permintaan tertulis dari wajib pajak atau secara jabatan. berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-335/PJ/2002 tanggal 1 Juli 2002 dipusatkan di KPP Wajib Pajak Besar yang menerbitkan surat pengukuhan. 2) Tempat pajak terutang untuk impor BKP adalah ditempat BKP dimasukkan ke dalam Daerah Pabean. sepanjang PKP tersebut tidak melakukan kegiatan usaha apapun di tempat tinggalnya. a) Berdasarkan ketentuan ini maka dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP525/PJ.9/1998 tanggal 4 Mei 1998 ditegaskan pengukuhannya disatukan di kantor pusatnya. Pajak terutang di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan. terdaftar sebagai Wajib Pajak. yaitu di tempat pengusaha dikukuhkan atau seharusnya dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Ketentuan Pasal 12 UU PPN 1984 tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000./2000 tanggal 6 Desember 2000 ditetapkan bahwa PKP orang pribadi yang mempunyai tempat tinggal yang tidak sama dengan tempat kegiatan usahanya. c) Beberapa PKP tertentu ditetapkan bahwa pada dasarnya terutang di tempat kantor pusatnya dikukuhkan sebagai PKP dengan beberapa pengecualian : (1) Wajib Pajak Badan Usaha Milik Negara Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-394/PJ. tentang Tempat Terutangnya Pajak Bagi PKP Yang Dikukuhkan di KPP Wajib Pajak BUMN ditetapkan sebagai berikut : MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 31 . 5) Tempat pajak terutang bagi PKP yang dikukuhkan di KPP Wajib Pajak Besar. 3) Tempat pajak terutang untuk pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam daerah Pabean adalah di tempat orang pribadi atau badan yang memanfaatkan. yang menetapkan bahwa : 1) Tempat pajak terutang untuk Penyerahan di dalam Daerah Pabean. 4) Tempat pajak terutang untuk kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak di dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaan adalah di tempat bangunan didirikan./2003 tanggal 31 Desember 2003 yang telah diubah dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-73/PJ/2004 tanggal 14 April 2004.

maka PKP tempat pemusatan wajib melakukan pembetulan SPT Masa PPN tersebut dengan menggabungkan kegiatan seluruh ccabang yang pengukuh-annya telah dicabut. (d) PKP yang melakukan pemusatan tempat PPN terutang tetapi pengukuhan-nya di KPP selain KPP BUMN belum dicabut. melaksanakan proyek atau tender dari Pemerintah daerah atau panitia pemberi proyek atau tender di daerah tertentu yang mengharuskan PKP peserta proyek atau tender dikukuhkan sebagai PKP di KPP lokasi tempat kegiatan usaha . wajib dikukuhkan sebagai PKP di KPP dimaksud dan pajak terutang di tempat PKP dikukuhkan. perwakilan. maka KPP ini wajib melakukan pencabutan Pengukuhan PKP tersebut paling lambat tanggal 31 Januari 2004. Bagi BUMN yang tidak melakukan pemusatan tempat pajak terutang dimaksud. atau ii. tetapi PKP yang bersangkutan belum melaporkan seluruh kegiatan usahanya secara terpusat untuk Masa Pajak Januari 2004 sampai dengan Agustus 2004 di KPP BUMN. Dikecualikan dari ketentuan ini bagi PKP BUMN yang : i. tidak wajib melaporkan ke-giatan usaha ke KPP BUMN dengan syarat : i. Keputusan Direktur Jenderal tersebut diatas secara tidak langsung meng-anulir salah satu diktum Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-515/ KEP/2000 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 32 . (b) Bagi BUMN yang sudah terlanjur dikukuhkan sebagai PKP oleh KPP selain yang mengelola Wajib Pajak BUMN. mempunyai lebih dari 200 (dua ratus) tempat kegiatan usaha termasuk antara lain cabang. menyampaikman pemberitahuan tertulis kepada Kepala KPP BUMN bahwa telah menyampaikan SPT Masa PPN di KPP selain KPP BUMN. dan tidak memiliki Sistem Informasi Akuntasi yang terhubung antara pusat dengan cabang maupun antar cabang (on line). dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (e) PKP BUMN yang dibebani kewajiban untuk melakukan pemusatan PPN terutang di KPP BUMN. wajib melaksanakannya paling lambat tanggal 31 Agustus 2004. lokasi usaha. masih menyampaikan SPT Masa PPN di KPP selain KPP BUMN . unit pemasaran dan sejenisnya termasuk distrik. (c) Dalam hal telah dilakukan pencabutan Pengukuhan PKP yang dilakukan oleh KPP selain yang mengelola Wajib Pajak BUMN. wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Kepala KPP BUMN.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (a) Wajib Pajak yang terdaftar pada KPP yang mengelola Wajib Pajak BUMN yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP dan atau melakukan ekspor BKP. ii. (f) Bagi PKP BUMN yang tidak melaksanakan kewajiban pemusatan tempat PPN terutang yang dibebankan kepadanya.

. yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP di KPP Penamaman Modal Asing sebagai tempat pajak terutang . (b) Khusus bagi Wajib Pajak PMA yang berkedudukan di Kawasan Berikat Pulau Batam. kecuali Wajib Pajak yang telah dikukuhkan sebagai PKP di KPP tempat Wajib Pajak ini berkedudukan . (2) Badan Usaha Milik Daerah bagi Wajib Pajak BUMD yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP ter-utang pajak dan wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP di KPP di wilayah kerjanya. pajak terutang dan wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP di KPP Wajib Pajak Besar. dan kawasan Pulau Karimun.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN sebagaimana telah diubah dengan Nomor KEP-337/PJ. atas permohonan Wajib Pajak diberi kemudahan untuk mendaftarkan diri dan melaporkan usahanya pada KPP setempat sebagai tempat pajak terutang. Dalam keputusan ini diatur tentang tata cara : 1) Pemusatan Tempat PPN terutang. 3) Pemusatan sehubungan dengan penambahan tempat kegiatan usaha. Mekanisme ketiga masalah berkaitan dengan pemusatan pajak terutang tersebut dapat dirinci sebagai berikut : MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 33 . (4) Wajib Pajak Badan dan Orang Asing (BADORA) untuk seluruh Wajib Pajak Badan (BUT) dan Orang Asing yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP di KPP BADORA sebagai tempat pajak terutang . (5) seluruh wajib pajak yang telah mendapat ijin emisi saham dari Badan Pengawas Pasar Modal yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP di KPP Masuk Bursa. khusus bagian yang mengatur tentang tempat pajak terutang bagi BUMN. (6) Wajib Pajak besar sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-263/PJ/2002 tanggal 8 Mei 2002 yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. yang mulai berlaku pada tanggal 1 Mei 2003. Kawasan Pulau Bintan. (3) Wajib Pajak Penanaman Modal Asing Wajib Pajak Penanaman Modal Asing dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : (a) Wajib Pajak Penanaman Modal Asing yang tidak “masuk bursa”. c./2002 tanggal 2 Juli 2002. Pemusatan tempat pajak terutang Pada tanggal 22 April 2003 ditetapkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP128/PJ/2003 tentang Penetapan Satu Tempat atau Lebih Sebagai Tempat Terutang PPN Bagi Wajib Pajak Selain Yang Terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar. 2) Perpanjangan masa pemusatan tempat PPN Terutang .

Keputusan Persetujuan Pemusatan Tempat PPN Terutang berlaku selama 5 (lima) tahun sejak tanggal berlakunya pemusatan. dan berlaku sejak tanggal pemberitahuan. (2) Rincian nama. Kepala Kantor Wilayah atas nama Direktur Jenderal Pajak harus membe-rikan keputusan penetapan tempat pemusatan PPN terutang paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya pemberitahuan dimaksud. Dalam hal jangka waktu ini dilampaui tanpa ada keputusan penetapan. b) Melampirkan fotokopi serta memperlihatkan yang asli. dan dapat diperpanjang. a) Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi PKP kelompok ini yang memiliki lebih dari satu tempat untuk melakukan kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP dapat mengajukan pemberitahuan untuk penetapan satu tempat atau lebih sebagai tempat pemusatan PPN terutang. berita acara penyam-paian SPT Masa PPN dan PPnBM melalui Media Elektronik (e-filing) untuk masa pajak dari tempat yang akan dilakukan pemusatan PPN terutang. Dalam hal jangka waktu ini telah dilampaui. ternyata belum ada keputusan yang diterbitkan. b) Perpanjangan masa berlaku Pemusatan Tempat PPN terutang. maka pemberitahuan PKP dianggap telah berlaku dan surat keputusan penetapan harus diterbitkan paling lambat 14 (empat belas) hari berikutnya. alamat. dan NPWP tempat PPN terutang yang akan dipusatkan . Saat dimulainya pemusatan PPN terutang adalah pada saat pemasukan SPT Masa PPN dan PPnBM dengan media elektronik (e-filing).PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1) PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM melalui Media Elektronik (e-filing). alamat. Atas pemberitahuan tempat pemusatan PPN terutang yang dilakukan oleh PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM dengan media elektronik (e-filing). MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 34 . tanpa melalui Pemeriksaan Sederhana Lapangan. dan Keputus-an Direktur Jenderal Pajak tentang Persetujuan Perpanjangan Ijin Pemusatan Tem-pat Terutang PPN harus diterbitkan paling lambat 14 (empat belas hari) setelah jangka waktu tersebut. pemberitahuan perpanjangan dianggap mulai ber-laku pada tanggal berikutnya setelah habis masa berlaku pemusatan. a) Tanggal dimulainya pemusatan . dan NPWP tempat pemusatan PPN terutang . Bagi PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM melalui media elektronik (efiling) dapat mengajukan pemberitahuan perpanjangan Keputusan Persetujuan Pemusatan Tempat PPN Terutang. Dalam pemberitahuan ini paling sedikit memuat : (1) Nama. Berkaitan dengan pemberitahuan ini. Kepala Kantor Wilayah terkait wajib menerbitkan keputusannya paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya pemberitahuan.

alamat. Kewajiban dan wewenang Direktorat Jenderal Pajak : a) Atas permohonan pemusatan PPN terutang. 1) Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi PKP kelompok ini yang memiliki lebih dari satu tempat untuk melakukan kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP dapat mengajukan permohonan tertulis untuk penetapan satu tempat atau lebih sebagai tempat pemusatan PPN terutang. kecuali Faktur Pajak dan atau Faktur Penjualan yang dicetak berdasarkan data yang diinput secara on line dari Kantor Pusat atau tempat pemusatannya . c) Tanggal yang diinginkan untuk dimulainya pemusatan . yang menyampaikan permohonan tertulis untuk penetapan PPN terutang dapat dikabulkan sepanjang telah memenuhi syarat sebagai berikut : a) Tempat PPN terutang yang dipusatkan tidak menyelenggarakan administrasi penjualan dan pembelian. b) Fungsi tempat PPN terutang yang dipusatkan hanya melakukan penyerahan BKP atau JKP kepada pembeli barang atau penerima jasa atas perintah tempat pemusatan PPN terutang .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b. Permohonan diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak c. dan e) Kantor Cabang Unit yang dipusatkan hanya mengadministrasi persediaan dan administrasi kegiatan perolehan BKP atau JKP untuk keperluan operasional kantor atau unit bersangkutan yang dananya berasal dari kas kecil (petty cash). PKP selain yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM melalui Media Elektronik (e-filing).q. semua administrasi dilakukan di tempat pemusatan PPN terutang . d) Tempat kegiatan usaha yang dipusatkan tidak membuat Faktur Pajak dan atau Faktur Penjualan. akan dilakukan Pemeriksaan Sederhana Lapangan terhadap seluruh tempat kegiatan usaha yang dimintakan pemusatan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang bersangkutan atas permin-taan Kepala Kantor MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 35 . c) Semua Faktur Pajak dan atau Faktur Penjualan diterbitkan oleh tempat pemusatan PPN terutang . Bagi PKP selain Pedagang Eceran dan selain PKP yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM secara manual. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang membawahi Kantor Pelayanan Pajak dari PKP yang akan dijadikan tempat pemusatan PPN terutang paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum dimulai pemusatan. dan NPWP tempat kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP yang dipusatkan . alamat. dan d) Pernyataan PKP bahwa sistem administrasinya telah sesuai dengan persyaratan pemusatan tempat PPN terutang. dan NPWP tempat kegiatan penyerahan BKP dan atau JKP yang dipusatkan . Permohonan tersebut paling sedikit memuat keterangan tentang : a) Nama. b) Rincian nama.

Keputusan atas permo-honan ini harus diterbitkan paling lambat 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima. Keputusan persetujuan yang dibe-rikan sebelum 1 Mei 2003. Apabila setelah lewat jangka waktu ini tidak ada keputusan. mengajukan permohonan perpanjangan yang diajukan paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum habis masa berlakunya. maka permohonan dianggap dikabulkan dan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Persetujuan Pemusatan Tempat Pajak Terutang PPN harus diterbitkan paling lambat 1 (satu) bulan kemudian. dilakukan Pemeriksaan Sederhana Lapangan. 3) Permohonan pemusatan PPN terutang tidak dapat dilakukan untuk tempat kegiatan usaha dimana pabrik terletak kecuali PKP tersebut menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM melalui Media Elektronik (e-filing). Atas permohonan per-panjangan ini. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 36 . Dalam hal jangka waktu ini dilampaui tanpa ada Laporan Hasil Pemeriksaan. Laporan Hasil Pemerik-saan disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah paling lambat 2 (dua) bulan sejak tanggal permintaan pemeriksaan diterima. tetap berlaku sampai dengan habis masa berlakunya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Apabila jangka waktu ini telah dilampaui. b) Keputusan tentang Ijin Pemusatan PPN Terutang diberikan oleh Kepala Kantor Wilayah terkait atas nama Direktur Jenderal Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sejak permohonan diterima lengkap. berarti permohonan perpanjangan dikabulkan dan paling lambat 1 (satu) bulan setelah berakhirnya jangka waktu dimaksud. c) Keputusan Kepala Kantor Wilayah tersebut dapat menyetujui seluruh atau seba-gian tempat kegiatan usaha untuk dipusatkan tempat PPN terutang berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan. maka Kepala KPP terkait dianggap menyetujui dan Kepala Kantor Wilayah dapat memberikan keputusan tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan. harus diterbitkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang Persetujuan Perpanjangan Ijin Pemusatan PPN Terutang yang mulai berlaku sejak tanggal berikutnya setelah berakhirnya masa pemusatan yang lama. 2) Perpanjangan masa berlaku pemusatan tempat PPN Bagi PKP selain yang menyampaikan SPT Masa PPN dan PPnBM melalui Media Elektronik (e-filing).

UU PPN 1984 menggunakan cash basis. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 37 . (7) B S Supaya penyerahan BKP dari kantor pusat ke cabang tidak dikenakan PPN. kantor cabang tersebar di beberapa kota di Indonesia. (9) B S Ijin pemusatan tempat pajak terutang berlaku untuk masa tidak terbatas sampai dengan perusahaan dibubarkan. (3) B S Saat terutangnya pajak atas penyerahan BKP selalu pada saat BKP diterima langsung oleh pembeli. tidak dikenakan PPN karena masih dalam satu perusahaan. sebaliknya lingkarilah huruf “S” dalam hal pernyataan ini salah. PPN terutang di kantor pusat maupun di kantor cabang. (10)B S Permohonan ijin pemusatan tempat pajak terutang diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak c. (1) B S Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 11 UU PPN 1984. maka yang berlaku adalah desentralisasi. pajak terutang pada saat pembuatan invoice. untuk menentukan saat timbulnya utang pajak pada dasarnya menggunakan accrual basis. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak di tempat akan dilakukan pemusatan pajak terutang.q. Lingkarilah huruf “B” dalam hal pernyataan ini benar. (4) B S Dalam hal pembayaran diterima sebelum dilakukan penyerahan BKP. maka kantor cabang tidak perlu minta dikukuhkan sebagai PKP. (8) B S Sebelum ijin pemusatan tempat pajak terutang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak. (2) B S Penyerahan BKP dan atau JKP kepada Pemungut PPN. (6) B S Kantor Pusat di Jakarta menyerahkan bahan baku yang baru diimpor kepa-da pabrik yang berlokasi di Tangerang.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. (5) B S Kantor pusat berkedudukan di Jakarta.2. Latihan 3.

maka pengusaha tersebut dinamakan Pengusaha Kena Pajak. melakukan usaha perdagangan. Pengusaha Kecil Pengusaha Kecil pada hakekatnya tidak dibebani kewajiban di bidang PPN.000. melakukan usaha perdagangan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5. (Ps. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean. 4 huruf b UU PPN 1984) b) orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar Daerah pabean di dalam daerah Pabean. Berdasarkan Pasal 1 angka 15 UU PPN 1984 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 552/KMK. yaitu : a) Pengusaha yang menyerahkan BKP dan atau JKP di dalam Daerah Pabean (Pasal 4 huruf a dan huruf c UU PPN 1984). Pengusaha dan Pengusaha Kena Pajak Dalam Pasal 1 angka 14 UU PPN 1984 dirumuskan bahwa pengusaha adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang. Termasuk dalam kelompok ini adalah bentuk kerja sama operasi (KSO) berdasarkan Pasal 2 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000. yaitu : 1) Pengusaha Kena Pajak. mengekspor barang. contoh dan non contoh a. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean.00 (enam ratus juta rupiah). atau memanfaatkan jasa dari luar daerah pabean. melakukan usaha jasa. dalam pengusaha tersebut melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. yaitu : a) orang pribadi atau badan yang mengimpor BKP (Ps. KEGIATAN BELAJAR 4 SUBJEK PAJAK 5.04/ 2000 tanggal 22 Desember 2000 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK . mengimpor barang. 4 huruf d dan e UU PPN 1984) c) orang pribadi atau badan yang membangun sendiri tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya (Pasal 16C UU PPN 1984).000. 4 huruf f UU PPN 1984). b. Berdasarkan Pasal 1 angka 15 UU PPN 1984. Berdasarkan kedua rumusan dalam Pasal 1angka 14 dan angka 15 UU PPN 1984 tersebut.1. maka subjek PPN dapat dikelompokkan menjadi dua. 2) Bukan Pengusaha Kena Pajak. Uraian. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 38 .03/2003 tanggal 29 Desember 2003 ditetapkan sebagai berikut: 1) Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang menyerahan BKP dan atau JKP dalam satu tahun buku memperoleh jumlah peredaran bruto atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp600. b) Pengusaha yang mengekspor BKP yang telah dikukuhkan menjadi PKP (Ps.

03. maka secara yuridis formal dan material sejak 1 Januari 2001 tidak ada lagi NPPKP. Hal ini berarti Kristanti adalah Pengusaha Kena Pajak. Bagi Pengusaha Kecil yang dalam suatu Masa Pajak dalam satu tahun buku jumlah peredaran bruto sudah melebihi atau memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 552/KMK.03/2003 tanggal 29 Desember 2003. atau ekspor BKP (Pasal 4 huruf f).000.000. Oleh karena wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat tanggal 31 Agustus 2004.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 2) Apabila sampai dengan suatu Masa Pajak dalam satu tahun buku jumlah peredaran bruto lebih dari Rp 600. dari bulan Januari sampai dengan Juli 2004 peredaran brutonya mencapai jumlah yang cukup mengejutkan yaitu Rp605. kemudian sejak 1 Januari 2001 dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 diubah menjadi melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP. Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP (Pasal 4 huruf a). Dengan digantinya kewajiban dalam Pasal 3A ayat (1) yang sebelum 1 Januari 2001 adalah memiliki Nomor Pengukuhan PKP (NPPKP). Contoh : Salon kecantikan “Rahayu” milik Kristanti. jumlah peredaran bruto PKP tidak melebihi atau tidak memenuhi batas minimal jumlah peredaran bruto yang ditetapkan./2008 ditetapkan bahwa Pengusaha yang bersangkutan wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat pada akhir bulan berikutnya. Sebaliknya apabila dalam satu tahun buku. Sebagai hasil promosi yang dengan gencar dilakukan dalam triwulan IV tahun 2003. c. maka pengusaha ini memenuhi syarat sebagai Pengusaha Kena Pajak sehingga wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak selambat-lambat pada akhir bulan berikutnya. penyerahan JKP (Pasal 4 huruf c).03/2008 tanggal 6 Februari 2008 jo Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-44/PJ/2008 tanggal 20 Oktober 2008 yang antara lain menentukan bahwa wajib pajak yang memenuhi ketentuan sebagai PKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sebelum melakukan penyerahan BKP dan atau JKP.000.04/2000 tanggal 22 Desember 1994 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.00. selama tahun 2003 jumlah peredaran bruto atas penyerahan BKP dan JKP seperti merawat kecantikan pelanggan dan alat-alat kecantikan mencapai Rp 170.000. wajib: 1) melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak 2) memungut PPN dan PPnBM yang terutang 3) menyetor PPN dan PPnBM yang terutang 4) melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang Peraturan pelaksanaan tentang kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. Kewajiban Pengusaha Kena Pajak Berdasarkan Pasal 3A ayat (1) UU PPN 1984.00. dalam Pasal 2 ayat (6) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.000.00 sehingga masih tergolong sebagai Pengusaha Kecil.000. maka PKP tersebut dapat MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 39 .

maka Halimah wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP paling lambat pada : a. Dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2005. sudah mencapai Rp 602.700.. tidak boleh melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP karena masih tergolong sebagai Pengusaha Kecil b.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN mengajukan permohonan pencabutan pengukuhan sebagai PKP paling lambat satu bulan setelah akhir tahun buku. 5. jumlah peredaran brutonya berjumlah Rp 600 juta. tanggal 30 September 2007 c. Berkat keuletan dan kegigihannya. terdaftar di KPP sebagai PKP 2) Sejak 15 Februari 2004. tanggal 31 Desember 2007 d. Keputusan Pencabutan pengukuhan PKP wajib diberikan dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak berakhirnya jangka waktu penyelesaian permohonan. Setelah melakukan pemeriksaan. Latihan 4 Lingkarilah salah satu pernyataan dibawah ini yang menurut ketentuan adalah yang paling benar. tanggal 31 Januari 2007 3) Simantik memulai usaha kerajinan mebel rotan. dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak surat permohonan pencabutan diterima. wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP karena sudah memenuhi syarat sebagai PKP c. Apabila tidak.2. sejak 15 Januari 2004 pengukuhan PKP-nya dicabut oleh KPP karena ternyata masih tergolong sebagai Pengusaha Kecil. Sehubungan dengan itu. permohonan PKP tersebut dianggap dikabulkan.00.000. Direktur Jenderal Pajak (dalam hal ini Kepala KPP) harus memberikan keputusannya. melakukan penyerahan BKP/JKP d. pengukuhan PKP Halimah selaku pengusaha katering dicabut oleh Kepala KPP karena selama tahun 2006 jumlah peredaran brutonya hanya mencapai Rp 340.000. boleh melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP karena masih tergolong sebagai Pengusaha Kecil MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 40 . a. melaporkan usahanya untuk dikukuhan sebagai PKP c.000. Simantik ……………. berdasarkan catatannya diketahui jumlah peredaran bruto dari tanggal 1 Januari 2007 sampai dengan 22 Agustus 2007. tanggal 31 Agustus 2007 b. telah dikukuhkan sebagai PKP b. Sehubungan dengan itu dalam bulan Januari 2006. 1) Pada dasarnya Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang : a.00.

wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP b. Pada awal usaha dimulai. dapat melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP 5) PT Mohmodar berkedudukan di Karawang dan memiliki cabang di Bogor dan Bandung………. d. b. tidak perlu melaporkan cabang-cabangnya untuk dikukuhkan sebagai PKP karena antara kantor pusat dengan cabang masih dalam satu perusahaan. a. tidak perlu melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai KPK apabila tergolong sebagai Pengusaha Kecil c. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 41 . melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP apabila permohonan sentralisasinya ditolak oleh Direktur Jenderal Pajak. perusahaan ini ………….PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN d. c. wajib segera melaporkan cabang-cabangnya ke KPP setempat untuk dikukuhkan sebagai PKP. a. Kepala KPP Bogor dan KPP Bandung akan segera mengeluarkan pengukuhan secara jabatan terhadap kantor cabang. boleh melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP d.. tidak dapat melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP kasrena tergolong sebagai Pengusaha Kecil 4) PT Sriwanti melakukan kegiatan usaha di bidang salon kecantikan.

contoh dan non contoh a. 1 angka 23 UU PPN 1984 FAKTUR PAJAK adalah BUKTI PUNGUTAN PAJAK Ps.1. 2) Ditinjau dari sisi pembeli atau penerima JKP. (1) UU PPN 1984 Accrual basis WAJIB DIPUNGUT Bagaimana ? Ps. 3) Dalam memori penjelasan Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984 antara lain ditegaskan bahwa Faktur Pajak adalah sarana untuk mengreditkan Pajak Masukan. yaitu : 1) Dalam pasal 1 angka 23 UU PPN 1984 dirumuskan bahwa Faktur Pajak adalah bukti pungut-an pajak yang dibuat oleh PKP Penjual atau Pengusaha Jasa. Faktur Pajak mengandung tiga macam pengertian. (1) UU PPN 1984 UTANG PAJAK Ps. ditegaskan 3 (tiga) macam Faktur Pajak yaitu: MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 42 . Faktur Pajak adalah bukti pembayaran pajak kepada PKP yang menyerahkan BKP atau JKP. Uraian. c. (1) UU PPN 1984 Pengusaha Kena Pajak wajib membuat FAKTUR PAJAK utk setiap penyer. 11 ay. Berdasarkan fungsinya. Jenis Faktur Pajak Dalam penjelasan Pasal 13 ayat (1) UU PPN 1984. Pengertian Faktur Pajak. 3A ay.” KEWAJIBAN MEMBUAT FP PENYERAHAN BKP/JKP Ps. Kewajiban membuat Faktur Pajak Pasal 13 ayat (1) UU PPN 1984 menentukan : “Pengusaha Kena Pajak wajib membuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a atau huruf f dan untuk setiap penyerahan Jasa Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf c. 13 ay. BKP/JKP b. KEGIATAN BELAJAR 5 FAKTUR PAJAK 6.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 43 . 2) Dokumen tertentu yang dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak di perlakukan sebagai Faktur Pajak Standar. c) Jumlah satuan apabila ada . Bentuk. Alamat dan NPWP penerima dokumen sebagai wajib pajak dalam negeri. jabatan. yaitu : a) PIB dan SSP untuk impor BKP b) PEB yang telah difiat muat Pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dilampiri invoice c) SPPB (Surat Perintah Pengiriman Barang) dari BULOG/DOOLOG d) Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP) yang dibuat oleh Pertamina atas penyerahan BBM dan non BBM e) Kuitansi atas penyerahan jasa telekomunikasi f) Tiket. d) Dasar Pengenaan Pajak . delivery bill yang dibuat perusahaan jasa angkutan udara dalam negeri g) SSP PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud/JKP dari luar Daerah Pabean h) Nota Penjualan Jasa atas penyerahan jasa kepelabuhanan i) Tanda pembayaran atau kuitansi langganan listrik. alamat. Berdasarkan Pasal 13 ayat (6) UU PPN 1984 jo Keputusan Direktur Jenderal Nomor 522/PJ/ 2000 tanggal 6 Desember 2000 dan Nomor KEP-312/PJ/2001 tanggal 23 April 2001 ditetapkan dokumen-dokumen tertentu sebagai Faktur Pajak Standar. dan potongan harga . e) Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut . c) Jenis barang atau jasa. dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima JKP . Dan Tata Cara Pembetukan Faktur Pajak Standar menetapkan bahwa Faktur Pajak Standar adalah Faktur Pajak yang paling sedikit memuat keterangan tentang: a) Nama.. Dokumen-dokumen tersebut harus memuat sekurang-kurangnya : a) Identitas yang berwenang menerbitkan dokumen . airway bil). jumlah Harga Jual atau Penggantian. dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. dan g) Nama. f) Kode. Ukuran. Pengadaan. b) Nama. Faktur Pajak Gabungan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat (2) UU PPN 1984 sebenar-nya adalah Faktur Pajak Standar yang memuat semua penyerahan BKP atau JKP dalam satu Masa Pajak kepada pembeli BKP atau penerima JKP yang sama.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1) Faktur Pajak Standar Dalam pasal 1 angka 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ/2006 tanggal 31 Oktober 2006 yang mengatur tentang Saat Pembuatan. Tata Cara Penyampaian. nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak . Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan BKP atau JKP b) Nama. alamat. d) Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut . e) Jumlah pajak yang terutang.

. . Rp.. Rp.. . .. ... PPn BM Rp..…………………………… Nama ..... ...... Rp./2006 Lembar ke-2 : Untuk Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak Keluaran FAKTUR PAJAK STANDAR Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak : Pengusaha Kena Pajak Nama Alamat NPWP : Tanggal Pengukuhan PKP : : : Pembeli Barang Kena Pajak /Penerima Jasa Kena Pajak Nama Alamat NPWP No.... Rp... ........ ……….... .......... Rp........tanggal.... % .. Urut : : : Nama Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak NPPKP : Harga Jual/Penggantian/ Uang Muka/Termijn ( Rp ) Jumlah Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termijn *) Dikurangi potongan harga Dikurangi uang muka yang telah diterima Dasar Pengenaan Pajak PPN = 10 % x Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penjualan Atas Barang Mewah TARIF ....................PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh formulir Faktur Pajak Standar yang pembayarannya menggunakan valuta asing dan mata uang rupiah..... .... Rp. Lampiran IA Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ....... Jabatan *) Coret yang tidak perlu MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 44 ..... ........ .. .. % .......... . % Jumlah DPP Rp.. % ........ Rp.......

..... .. . Jumlah Catatan : Kurs : Rp…………/………... % ....... % DPP Rp. Jabatan *) Diisi apabila penyerahan menggunakan mata uang asing **) Coret yang tidak perlu MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 45 . % ... . . Rp..... % ...... ......................... Rp../2006 Lembar ke-2 : Untuk Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak Keluaran FAKTUR PAJAK STANDAR Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak : Pengusaha Kena Pajak Nama Alamat NPWP Tanggal Pengukuhan PKP : : : : : Pembeli Barang Kena Pajak /Penerima Jasa Kena Pajak Nama Alamat NPWP No........ . ..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Lampiran IB Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ... Rp.... ........ Rp...... . PPn BM Rp.............. ..... Urut : : : Nama Barang Kena Pajak/ Jasa Kena Pajak NPPKP: HargaJual/Penggantian/ Uang Muka/Termijn Valas *) Rp Jumlah Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termijn **) Dikurangi potongan harga Dikurangi uang muka yang telah diterima Dasar Pengenaan Pajak PPN = 10 % x Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penjualan Atas Barang Mewah TARIF .. ………. Rp... Rp.......... Rp.tanggal..........………………………… … Nama . ...... ..

250...00 Jumlah Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termijn **) Dikurangi potongan harga Dikurangi uang muka yang telah diterima Dasar Pengenaan Pajak PPN = 10 % x Dasar Pengenaan Pajak Pajak Penjualan Atas Barang Mewah TARIF .025........ Rp.... Rp. . USD 1. . % Jumlah DPP Rp... 2 NPWP : 01.... ... 16 Oktober 2008 dtd AMIR DIREKTUR Catatan : Kurs : Rp 10.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh pengisian Faktur Pajak Standar atas penyerahan 100 BKP “G” yang pembayarannya dalam valuta asing Harga BKP : USD 10............00 Pelunasan : USD 8.. 378-295..00 / USD 1 *) Diisi apabila penyerahan menggunakan mata uang asing **) Coret yang tidak perlu MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 46 . % .00 (pada saat penyerahan BKP) Lembar ke-2 : Untuk Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak Keluaran FAKTUR PAJAK STANDAR Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak : Pengusaha Kena Pajak Nama Alamat NPWP Tanggal Pengukuhan PKP : 1 April 2001 : PT ABC : Jalan D No.. 000 010.00 1..00 USD 1....00 USD 100...000. Rp...000-08-000000189 Pembeli Barang Kena Pajak /Penerima Jasa Kena Pajak Nama : PT XYZ Alamat : Jalan W No.. Urut Nama Barang Kena Pajak/ Jasa Kena Pajak HargaJual/Penggantian/ Uang Muka/Termijn Valas *) Rp Uang muka atas pembelian 100 unit BKP “G” 1 USD 1. % . Rp.. .. . Rp.250.. .. 1 : 01.5-052-000 No.. 5-052......00 10...00 Jakarta. % .00 Uang Muka : USD 1.... 275.000...389.000.000.... PPn BM Rp.. .000..... Rp.000..500... .00 Potongan harga : USD 500.. Rp.000.......

. .... 2 : 01.. 000 : 1 April 2001 010..000...250...000. % ... % Jumlah Rp. % .5-052-000 HargaJual/Penggantian/ Nama Barang Kena Pajak/ Jasa Kena Pajak Uang Muka/Termijn Valas *) Rp 1 100 unit BKP “G” USD 10..00 101. . 5-052.. DPP PPn BM Rp.250. ...000.. .....389.00 10.000-08-00000203 Pembeli Barang Kena Pajak /Penerima Jasa Kena Pajak Nama Alamat NPWP No. Rp.... 275....... Urut : PT XYZ : Jalan W No....00 USD 1. Rp.. 1 : 01..... Rp......125.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Lembar ke-2 : Untuk Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak Standar sebagai bukti Pajak Keluaran FAKTUR PAJAK STANDAR Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak : Pengusaha Kena Pajak Nama Alamat NPWP Tanggal Pengukuhan PKP : PT ABC : Jalan D No.......00 USD 9... % .00 / USD 1 *) Diisi apabila penyerahan menggunakan mata uang asing **) Coret yang tidak perlu MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 47 .... 26 November 2008 dtd AMIR DIREKTUR Catatan : Kurs : Rp 11. ... 378-295.... .00 Jumlah Harga Jual/Penggantian/Uang Muka/Termijn **) Dikurangi potongan harga Dikurangi uang muka yang telah diterima Dasar Pengenaan Pajak PPN = 10 % x Dasar Pengenaan Pajak USD 10. Jakarta.... ..000.. ..00 USD 900..... Rp..000.. Rp.00 Pajak Penjualan Atas Barang Mewah TARIF .. Rp.000...... Rp.

kuitansi. alamat atau NPWP-nya tidak diketahui. 7) Dibuat paling lambat pada saat penyerahan BKP/JKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c. : sebagai arsip PKP yang bersangkutan. seperti pada umumnya yang terjadi pada karcis. 2) Bentuk formulir Faktur Pajak Standar disesuaikan dengan kebutuhan administrasi PKP yang bersangkutan. atau b) pembeli BKP/penerima JKP yang nama. Faktur Pajak Sederhana.penyerahan termasuk PPN atau ditulis terpisah. 4) dalam Faktur Pajak Sederhana minimal mencantumkan nama. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 48 . Dalam hal dibuat lembar ke-3. peruntukannya supaya disebutkan dengan jelas. 3) Faktur Pajak Sederhana dapat berupa bon kontan. dan sejenisnya. Pengadaan Formulir Faktur Pajak Standar Tata cara pengadaan formulir Faktur Pajak Standar dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1) Setiap Faktur Pajak Standar wajib menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak. Jenis dan kuantum BKP/JKP. karcis. 5) Faktur Pajak Standar dapat dibuat dengan menggunakan komputer sepanjang memenuhi sya-rat yang telah ditentukan. 3) Formulir Faktur Pajak dapat dicetak dalam warna putih untuk seluruh lembar atau antara lembar kesatu. Dalam Pasal 13 ayat (7) UU PPN 1984 jo Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP524/KMK. d. segi kas register. kedua dan ketiga dapat dicetak dalam warna yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan atau keperluan PKP. faktur penjualan. 6) Kelemahan Faktur Pajak Sederhana adalah Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan . harga. atau paling lambat pada saat pembayaran dalam hal pembayaran diterima sebelum dilakukan penyerahan. 2) Membuat Faktur Pajak Sederhana tidak memerlukan ijin dari siapapun. alamat dan NPWP di Pembuat. 4) Faktur Pajak Standar dibuat minimal dalam rangkap 2 (dua) dengan peruntukan: Lembar ke-1 Lembar ke-2 : untuk diberikan kepada Pembeli BKP atau penerima JKP. atau satu lembar dengan pertinggal berupa potongan/bagian dari Faktur Pajak Sederhana yang diserahkan kepada pembeli/ penerima jasa. tanggal pembuatan Faktur Pajak 5) Faktur Pajak Sederhana harus dibuat dalam rangkap dua.04/2000 tanggal 6 Desember 2000 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-128/PJ/2004 tanggal 25 Agustus 2004 ditetapkan bahwa PKP dapat membuat Faktur Pajak Sederhana atas penyerahan BKP atau JKP sepanjang memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Faktur Pajak Sederhana boleh dibuat dalam hal : a) penyerahan BKP atau JKP dilakukan kepada konsumen akhir .

dan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ. terdiri atas: 2 (dua) digit Kode Transaksi. b) Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ. Namun. sehingga tidak tergolong sebagai Faktur Pajak Standar cacat. kiranya perlu disadari bahwa tidak mencantumkan keterangan NPPKP Pembeli dalam Faktur Pajak Standar tidak mengakibatkan Faktur Pajak Standar menjadi cacat. sehingga PPN yang ada di dalamnya tidak dapat dikreditkan. Pasal 1 angka 3 ini merupakan duplikasi dari materi Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984 yang menentukan syarat minimal keterangan yang wajib dicantumkan dalam Faktur Pajak Standar. 2) Sejak 1 Januari 2007. yang meliputi: Kode Status Digunakan untuk 0 1 - Normal Penggantian 3 (tiga) digit Kode Cabang. Dalam rincian kete-rangan tersebut tidak tercantum keterangan tentang NPPKP Pembeli BKP atau Penerima JKP. berarti Faktur Pajak Standar ini sudah diisi sesuai dengan Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984. benar dan jelas oleh PKP. 1 (satu) digit Kode Status. ditentukan sebagai berikut: 1) Penjelasan Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984. Faktur Pajak yang diisi tidak sesuai ketentuan ini menjadi Faktur Pajak cacat. Hal ini disebabkan oleh : a) berdasarkan Pasal 3A ayat (1) UU PPN 1984. 8 (delapan) digit Nomor Urut. UU PPN 1984 tidak mengakui eksistensi NPPKP. tanpa mencantumkan keterangan tentang NPPKP dimaksud. berdasarkan Pasal 6 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER159/PJ. (2) Nomor Seri Faktur Pajak. sejak 1 Januari 2001. Tata Cara Mengisi Faktur Pajak Standar Adapun tata cara mengisi Faktur Pajak Standar./2006 menetapkan bahwa Faktur Pajak harus diisi dengan lengkap. Oleh karena itu. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 49 . terdiri atas: 2 (dua) digit tahun penerbitan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN e. benar dan jelas baik secara formal maupun materiel dan ditandatangani oleh pejabat perusahaan yang ditunjuk oleh PKP./2006 ditetapkan bahwa PKP yang membuat Faktur Pajak Standar wajib menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak Standar sebagai berikut : (1) Kode Faktur Pajak./2006 pada dasarnya menetapkan bahwa keterangan yang ditentukan dalam Pasal 1 angka 3 wajib diisi dengan lengkap.

16D selain kepada Pemungut PPN TATA CARA PENGGUNAAN NOMOR SERI FAKTUR PAJAK 1. Pada awal tahun takwim berikutnya kembali ke nomor 1 (satu). Th. Nomor Seri Faktur Pajak dimulai dg nomor urut 1 (satu) pada setiap awal tahun takwim. dan wajib memberitahu Kepala KPP yang terkait. Nomor Urut pada Nomor Seri.999 maka Nomor Seri dimulai lagi dari nomor 1 (satu). Dlm hal sebelum awal th takwim berikutnya Nomor Seri yang digunakan sdh mencapai 99.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KODE DAN NOMOR SERI FAKTUR PAJAK STANDAR (Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-159/PJ/2006. Kode Status dan jenis mata uang yang digunakan. 3. 2. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 50 . 31 Oktober 2006) 1 2 3 4 5 6 7 8 Kode Transaksi Kode Cab. Penerbitan Nomor Urut Kode Status Kode FP Standar Nomor Seri FP Standar 01 : Penyerahan kepada selain Pemungut PPN 02 : Penyerahan kepada Pemungut PPN Bendaharawan Pemerintah 03 : Penyerahan kepada Pemungut PPN lainnya 04 : Penyerahan dg DPP Nilai Lain selain kepada Pemungut PPN 05 : Penyerahan yang PM-nya di deemed selain kepada Pemungut PPN 06 : Penyerahan dengan tarif khusus selain kepada Pemungut PPN 07 : Penyerahan dg PPN Tidak Dipungut selain kepada Pemungut PPN 08 : Penyerahan dengan PPN Dibebaskan selain kepada Pemungut PPN 09 : Penyerahan Aktiva Ps.999. dan tanggal FP Standar dibuat secara berurutan tanpa dibedakan antara Kode Transaksi.

FP Standar status adalah Normal.00000002 Penyerahan kpd Pemungut Bendaharawan Pemerintah. diterkan tahun 2007 dengan nomor urut 3 011. diterbitkan tahun 2007 dengan nomor urut 1 010. tidak perlu mencantumkan kalimat “termasuk PPN”*) *) Apabila dlm invoice yang mencantumkan NPWP PKP Pembuat FP menyatakan sdh termasuk PPN. Kode Status.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN CONTOH PENGGUNAAN KODE DAN NOMOR SERI Nomor urut pada Nomor Seri dan tanggal FP Standar dibuat secara berurutan tanpa perlu dibedakan antara Kode Transaksi. Angka dlm Faktur Pajak tidak selalu sama dg angka dlm invoice MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 51 .000-07. melainkan utk menagih Harga Jual/Peng – gantian.00000003 N0MOR URUT PD NOMOR SERI FP STANDAR.00000001 020.000-07. maka invoice = FP Sederhana. Invoice bukan utk menagih PPN. FP Standar statusnya Pengganti. DAN TANGGAL FP STANDAR DIBUAT BERURUTAN Tanggal pembuatan Faktur Pajak tidak boleh dibuat mundur Faktur Pajak dibuat tidak harus bersamaan dg pembuatan invoice Invoice yg didampingi FP Standar. FP Standar Normal. diterbitkan th 2007 dengan nomor urut 2 Penyerahan kpd Selain Pemungut PPN. atau jenis mata uang yang digunakan Penyerahan kpd Selain Pemungut PPN.000-07.

Dalam kalkulasi Harga Jual sandal ini sudah termasuk laba 15%. 4) Dalam hal nama BKP/JKP yang diserahkan tidak dapat ditampung dalam satu Faktur Pajak Standar. dan khusus untuk pengisian baris/kolom “Jumlah. atau MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 52 . Uang Muka yang telah diterima. Pajak Pertambahan Nilai”.000 Rp 50.00 Pembeli memperoleh bonus 1 ps sandal dengan Harga Jual Rp 57. cukup diisi pada formulir terakhir.500.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ANGKA RUPIAH DALAM FAKTUR PAJAK TIDAK SELALU SAMA DENGAN ANGKA RUPIAH DALAM INVOICE/FAKTUR PENJUALAN Setiap pembelian 2 ps sepatu dg Harga Jual a Rp 100. a) PKP wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis nama pejabat yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar disertai dengan contoh tandatangannya kepada Kepala KPP paling lambat pada saat pejabat dimaksud mulai menandatangani Faktur Pajak Standar.500 *)= Jumlah tagihan = Rp 250. Potongan Harga. maka PKP dapat : a) membuat lebih dari 1 (satu) formulir Faktur Pajak Standar yang masing-masing formulir menggunakan kode. b) Pejabat yang ditunjuk untuk menandatangani Faktur Pajak dapat lebih dari 1 (satu) orang. nomor seri. maka PKP wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada KPP paling lambat pada saat pejabat atau kuasa pengganti mulai menandatangani Faktur Pajak. Dasar Pengenaan Pajak.00. Invoice Penyerahan sepatu : 2 X Rp 100. dan tanggal Faktur Pajak Standar yang sama.000 Faktur Pajak Rp 200.000 = *) DPP utk pemberian cuma-cuma = Harga Jual – laba kotor 3) Penandatanganan Faktur Pajak Standar.000 Bonus sandal = 100/115 x Rp57.000 Rp 25. d) Apabila terjadi perubahan pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani Faktur Pajak Standar.000.000 = Rp 200. maka dengan formulir khusus PKP wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Kepala KPP paling lambat pada saat pihak yang diberi kuasa mulai menandatangani Faktur Pajak Standar dan menyertakan Surat Kuasa Khusus. serta ditandatangani dan diberi keterangan nomor halaman pada setiap lembarnya.000 Rp 200.000 PPN terutang yang wajib dipungut = 10% x Rp 250. c) Dalam hal PKP Orang Pribadi yang tidak memiliki struktur organisasi memberi kuasa kepada pihak lain untuk menandatangani Faktur Pajak Standar. menggunakan formulir yang telah ditetapkan.

8) Pengisian yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku akan berakibat Faktur Pajak tersebut tergolong sebagai Faktur Pajak Standar cacat. 5) Faktur Pajak yang terdapat kesalahan dalam pengisian supaya dibetulkan dengan cara dibuat Faktur Pajak Standar Pengganti. Saat Pembuatan FakturPajak Berdasarkan Pasal 1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-159/PJ/2006. Contoh cap : Faktur Pajak Standar yang diganti : Kode dan Nomor Seri : ………………………… Tanggal secara manual. Faktur Pajak dapat wajib dibuat paling lambat : 1) pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP dan/atau JKP dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. Kode dan tanggal Faktur Pajak Standar yang diganti. 6) Membetulkan Faktur Pajak tidak boleh dilakukan dengan cara lain misalnya dengan coretan atau dihapus dengan cara apapun. Coretan tidak diperkenankan kecuali pada kolom dengan tanda asterix (*) dengan catatan “coret yang tidak perlu”. satu lembar disimpan oleh pejabat KPP dan lembar lainnya dikembalikan kepada PKP yang bersangkutan untuk diserahkan kepada PKP Pembeli/Penerima JKP. PKP yang berkepentingan dapat minta Faktur Pajak sebagai pengganti kepada PKP Penjual/Pengusaha jasa dengan tembusan kepada Kepala KPP tempat PKP Penjual/Pengusaha Jasa dan PKP Pembeli dikukuhkan dengan cara: 1) Atas dasar permintaan tersebut. 7) Dalam hal Faktur Pajak Standar hilang. wajib dicoret. : ………………………… Pengisian Kode dan Nomor Seri serta tanggal Faktur Pajak Standar yang diganti dapat ditulis f. 2) Fotokopi tersebut kemudian dilegalisasi oleh KPP tempat PKP Penjual/Pengusaha Jasa dikukuhkan sebagai PKP. dan pada Faktur Pajak Standar Pengganti dibubuhi cap yang mencantumkan Nomor Seri.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b) membuat 1 (satu) Faktur Pajak Standar dengan menunjuk nomor dan tanggal Faktur Penjualan yang merupakan lampiran dari Faktur Pajak Standar tersebut. 3) pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP. sebanyak 2 (dua) lembar. Faktur Pajak yang salah tersebut dilampirkan. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 53 . Setelah dilegalisasi. 2) pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP. PKP Penjual atau Pengusaha Jasa membuat fotokopi Faktur Pajak Standar yang disimpan.

Faktur Pajak Gabungan dibuat paling lambat : 1) pada akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. Pasal 13 Peraturan Direktur Jenderal Pajak dimaksud menetapkan bahwa Faktur Pajak Stan-dar yang dibuat telah melampaui jangka waktu 3 bulan sejak batas waktu pembuatannya. 31 Oktober 2006) Perjanjian jual beli BKP. dalam hal pembayaran baik sebagian maupun seluruhnya terjadi setelah berakhirnya bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. harga jual Rp 100 juta. dalam hal pembayaran baik sebagian atau seluruhnya terjadi sebelum berakhirnya bulan penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP. 3 bln 1/9/05 Pembayaran Rp 90 juta 29/9/05 FP 5/3/05 PPN Rp 1 juta FP 31/5/05 PPN Rp 9 juta FP 31/8/05 PPN Rp 9 juta FP 1/9/05 PPN Rp 9 juta Dalam hal FP dibuat PM DPT DIKREDITKAN OLEH PKP PEMBELI PM TDK DPT DIKREDITKAN OLEH PKP PEMBELI DENDA = 2% x DPP g. maka besarnya Pajak yang terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 54 .13 Perat. maka penghitungan besarnya Pajak yang terutang harus dikonversi ke dalam mata uang rupiah dengan mempergunakan kurs yang berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat pembuatan Faktur Pajak. Penyerahan BKP/JKP yang pembayarannya menggunakan valuta asing Dalam hal terjadi penyerahan BKP/JKP yang pembayarannya menggunakan valuta asing. PEMBUATAN FAKTUR PAJAK STANDAR TERLAMBAT (Ps. diper-lakukan tidak sebagai Faktur Pajak sehingga PKP dianggap belum membuat Faktur Pajak. Uang Muka Rp 10 juta diterima tgl 5 Maret 2005 Penyerahan BKP tgl 22 April 2005 Pembayaran Rp 90 juta diterima tgl 29 Sept. 2) pada akhir bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. Dirjen Pajak No. 5) pada saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut PPN. (2) Dalam hal pembayaran atau Harga Jual atau Penggantian yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan Pasal 16A Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai mem-pergunakan mata uang asing./2006.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4) pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan. berdasarkan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 diatur sebagai berikut : (1) Apabila pembayaran atau Harga Jual atau Penggantian dilakukan dengan mempergunakan mata uang asing. 2005 Uang muka Penyerahan Batas waktu Rp 10 juta BKP Pembuatan FP 5/3/05 22/4/05 31/5/05 31/8/05 (atau) Maks. PER-159/PJ.

d) Nama. alamat dan NPWP pembeli . tetapi keterangan yang tercantum di dalamnya harus memenuhi ketentuan dalam Keputusan Menteri Keuangan ini. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun atau paling lama 6 (enam) tahun serta denda paling sedikit dua kali jumlah pajak dalam Faktur Pajak. jenis kuantum. Sanksi 1) Berdasarkan Pasal 14 ayat (4) UU KUP ditetapkan bahwa Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak membuat Faktur Pajak atau tidak mengisi selengkapnya.04/1994 tanggal 29 Desember 1994 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1995 sebagai peraturan pelaksanaan Pasal 5A UU PPN 1984. atau b) belum dikukuhkan sebagai PKP dengan sengaja membuat Faktur Pajak. yaitu : a) Nomor Urut . kecuali BKP tersebut diganti BKP dari jenis yang sama. Nota Retur Keputusan Menteri Keuangan Nomor 596/KMK. bagi setiap orang yang: a) membuat atau menggunakan Faktur Pajak tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN dengan mempergunakan kurs yang berlaku menurut Ke-putusan Menteri Keuangan pada saat dilakukan pembayaran oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai. c) Nama. mengurangi Pajak Keluaran PKP Penjual dalam SPT Masa PPN dalam Masa Pajak diterima Nota Retur. 2) Nota retur berfungsi mengurangi Pajak Masukan PKP Pembeli dalam SPT Masa PPN dalam Masa Pajak dibuat Nota Retur. mengatur Nota Retur sebagai berikut : 1) Nota Retur dibuat apabila terjadi pengembalian BKP. 3) Bentuk Nota Retur dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan administrasi PKP. maka PKP Rekanan wajib melakukan dua macam kegiatan yaitu : 1) Menyesuaikan nilai kurs dalam Faktur Pajak dengan nilai kurs pada saat pembayaran dengan cara membuat Faktur Pajak Standar Pengganti. dikenakan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% (dua persen) dari Dasar Pengenaan Pajak. apabila terjadi perubahan nilai kurs pada saat pembayaran sehingga berbeda dengan nilai kurs yang digunakan dalam Faktur Pajak atas penyerahan BKP atau JKP kepada Pemungut PPN. Sejak 1 Januari 2007. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 55 . 2) Melakukan pembetulan SPT Masa PPN yang terkait h. b) Nomor dan Tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan . 2) Berdasaran Pasal 39A UU KUP. jumlah dan harganya sama oleh PKP Pen-jual. dan Harga Jual Barang Kena Pajak yang dikembalikan . tipenya sama. NPWP dan tanggal pengukuhan PKP yang menerbitkan Faktur Pajak . e) Macam. i. alamat.

PKP yang berwenang dapat menunjuk pejabat lain dengan surat penunjukkan d. dan untuk itu secara berkala ditransfer royalti ke Perancis.n. 1) PT Tasmini memproduksi tas menggunakan merek dagang dari Perancis. dilakukan oleh pejabat pengganti a. tidak diperlakukan sebagai Faktur Pajak b. Atas kegiatan menyerahkan jamu menggunakan mobil keliling ini ………….2. 4) Yang membuat Nota Retur adalah Pembeli. 4) Mobil keliling jamu cap “Pastenan” menyerahkan sejumlah jamu kepada konsumen. Penyerahan dilakukan secara kanvasing. tidak boleh membuat Faktur Pajak Sederhana b. menggunakan scaning tanda tangan PKP yang berwenang. wajib membuat Faktur Pajak MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 56 . a. membuat Faktur Pajak khusus. maka menanda tangani Faktur Pajak diperbolehkan …………. menggunakan cap tanda tangan apabila PKP yang berwenang sedang berhalangan b. wajib membuat Faktur Pajak Standar d. a. 6. PKP yang sedang berhalangan 3) Pabrik Jamu cap "Manjur" memasarkan jamu hasil produksinya melalui pedagang eceran yang banyak tersebar di desa-desa. diperlakukan sebagai Faktur Pajak Sederhana c. diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar d. Latihan 5 Lingkarilah pernyataan yang paling benar menurut ketentuan yang berlaku diantara empat pernyataan pada setiap kasus singkat dibawah ini.. wajib membuat Faktur Pajak Sederhana c. sehingga pada dasarnya Pabrik Jamu cap "Manjur" ……………… a. SSP yang digunakan untuk menyetor PPN yang terutang atas royalty dimaksud. g) PPnBM atas Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah yang dikembalikan . dapat membuat Faktur Pajak Sederhana b. bagi Faktur Pajak yang dibuat menggunakan printer komputer c. 2) Karena penandatangan Faktur Pajak tidak harus sama dengan pihak yang menanda-tangani SPT.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN f) PPN atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan . h) Tanggal pembuatan Nota Retur . bagi PT Tasmini ……… a. i) Tanda tangan pembeli. semata-mata sebagai bukti setoran pajak.

00 untuk pembelian 10 buah komputer”. Pembayaran diterima pada tanggal 21 Juli 2007. palinga lambat 30 Juni 2007 7) Dalam sebuah kuitansi tertulis “telah diterima uang sejumlah Rp 110.. PT Medikom membuat Faktur Pajak Standar …………. Faktur Pajak Bias MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 57 . Penagihan disampaikan pada tanggal 28 Juni 2007. Faktur Pajak Standar b. paling lambat 21 Juli 2007 d. paling lambat 28 Juni 2007 c. paling lambat 12 Mei 2007 b. tidak dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar d. tidak dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak.000. Kuitansi ini merupakan …… a. Kuitansi ini ……………. boleh membuat Faktur Pajak Sederhana d. a. Faktur Pajak Sederhana c. dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak Sederhana c. a.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c. Faktur Pajak Gabungan d. PPN yang ter-cantum dalam tiket tersebut bagi PT Ribut merupakan Pajak Masukan yang ……… tidak dapat dikreditkan karena tiket merupakan Faktur Pajak Sederhana tidak dapat dikreditkan karena dalam tiket tidak tercantum nama PT Ribut tidak dapat dikreditkan karena pada tiket tidak tercantum NPWP PT Ribut dapat dikreditkan karena tiket ini diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar 6) PT Medikom yang sudah dikukuhkan sebagai PKP menyerahkan komputer kepada PEMDA pada tanggal 12 Mei 2007.000. 8) PT TELKOM menyerahkan kuitansi sebagai tanda penerimaan pembayaran atas penyerahan jasa telekomunikasi kepada PT Kecubung. tidak boleh membuat Faktur Pajak Sederhana 5) Direksi PT Ribut pada tanggal 12 Juli 2007 melakukan perjalanan dinas ke kantor cabang di Makassar menggunakan angkutan udara milik “Garuda”. dapat diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar b.

maka harga jual dihitung dengan cara mengeluaran lebih dahulu unsur PPN dimaksud. biaya asuransi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 7. contoh dan non contoh a. Penggantian. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 58 . HARGA JUAL NILAI BERUPA UANG + SEMUA BIAYA - POTONGAN HARGA DALAM FP = PENGGANTIAN DALAM HARGA JUAL TIDAK PERNAH TERMASUK PPN DAN PPnBM DALAM PENGGANTIAN TIDAK PERNAH TERMASUK PPN (Yang termasuk dalam pengertian biaya yang merupakan unsur Harga Jual atau Penggantian sehubungan dengan penyerahan BKP atau JKP.” 1) Pengertian Dasar Pengenaan Pajak (Pasal 1 angka 17 UU PPN 1984) Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual. tidak termasuk pajak yang dipungut menurut UU PPN 1984 dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. biaya bantuan teknik. Nilai Ekspor. Nilai Impor. Pengertian dan klarifikasi Dasar Pengenaan Pajak Pasal 1 angka 17 UU PPN 1984 merumuskan : “ Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual. dalam harga jual tidak pernah termasuk PPN. biaya pengiriman. tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut UU PPN 1984 dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak. Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. KEGIATAN BELAJAR 6 DASAR PENGENAAN PAJAK 7. biaya pemeliharaan. Dari rumusan ini dapat dipahami bahwa apabila dalam harga penyerahan sudah termasuk PPN. antara lain adalah biaya pengangkutan. Uraian. 2) Pengertian Harga Jual (Pasal 1 angka 18 UU PPN 1984) Harga Jual adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Barang Kena Pajak. Penggantian.1. Dengan kata lain. Nilai Impor. termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan JKP. atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. 3) Pengertian Penggantian (Pasal 1 angka 19 UU PPN 1984) Penggantian adalah nilai berupa uang.

1 angka 17 . & SEBALIKNYA & ANTAR CAB. BKP KPD PEDAG. Apabila biaya-biaya itu tidak dibayar sesuai dengan perjanjian. Nilai Impor adalah nilai berupa uang. BKP DARI PUSAT KE CAB. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 59 . PAKET 10% X INVOICE REKAMAN SUARA & GAMBAR HARGA JUAL RATA-RATA FILM CERITA HASIL RATA-RATA PER JUDUL FILM ANJAK PIUTANG 5% X PROVISI. 26 UU PPN 1984 jo Kepmenkeu No. yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundangundangan Pabean untuk impor BKP.SERVICE CHARGE. BKP YG MASIH TERSISA PD SAAT PEMBUBARAN PERUSAHAAN HARGA PASAR WAJAR AKTIVA YG MNRT TUJ.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN biaya garansi. SEMULA TDK UTK DIPERJUALBELIKAN YG MASIH TERSISA PD SAAT PEMBUB. HARGA JUAL – LABA KOTOR KENDARAAN BERMOTOR BEKAS 10% X HARGA JUAL PENY. insurance and freight (CIF).03/2002.04/2000. PERUS. sehingga dari rumusan dalam Pasal 1 angka 20 ini dapat diformula-kan bahwa Nilai Impor = CIF + Bea Masuk.2000 jo No. PERANTARA atau MELALUI JURU LELANG HARGA LELANG 5) Pengertian Nilai Ekspor (Pasal 1 angka 26 UU PPN 1984) Nilai Ekspor sebagai Dasar Pengenaan Pajak dirumuskan sebagai nilai berupa uang. 251/KMK. DPP atas ekspor BKP adalah Nilai Ekspor yang tercantum dalam PEB yang telah difiat muat oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.) 4) Pengertian Nilai Impor (Pasal 1 angka 20 UU PPN 1984). 19. termasuk semua biaya yang diminta atau yang seharusnya diminta oleh eksportir. 20. 31-5-2002) DPP HARGA JUAL PENGGAN TIAN NILAI IMPOR NILAI EKSPOR NILAI LAIN PEMAKAIAN SENDIRI / PEMBERIAN CUMA-CUMA HARGA JUAL/PENGGANTIANLABA KOTOR PERSED. DISKON PENY. 18. 567/KMK. 26-12. akan menghambat kelancaran penyerahan BKP atau JKP. Nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk adalah cost. HARGA PASAR WAJAR BIRO PERJALANAN & PENGIR. Faktor yang menentukan adalah ada kaitan antara biaya tersebut dengan penyerahan BKP atau JKP. tidak termasuk PPN yang dipungut menurut UU PPN 1984. DASAR PENGENAAN PAJAK (Ps.

Faktur Pajak dibuat tanggal 30 Juni 2007 dihitung dengan nilai kurs USD 1 = Rp 9. harus membetulkan Faktur Pajak tertanggal 30 Juni 2007 d.000. 7. 2) Dasar Pengenaan Pajak untuk menghitung PPN yang terutang atas penyerahan sejumlah tekstil oleh PT Tekstilindo adalah …………. penyerahan jasa biro perjalanan atau biro pariwisata.03/ 2002 tanggal 31 Mei 2002.000.04/2000 tanggal 26 Desember 2000 yang menetapkan Nilai Lain sebagai DPP untuk beberapa penyerahan BKP dan JKP yang telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 251/KMK.. membuat Faktur Pajak baru dengan DPP berdasar nilai kurs yang baru. membuat Faktur Pajak untuk memungut PPN atas selisih nilai kurs c. PT SUKARTA mengeluarkan sejumlah biaya yang meliputi: a) Harga Patokan Impor b) Bea Masuk c) Sewa gudang d) Bongkar muat Rp 80.00 Rp 16. Pailul menyerahkan BKP kepada perusahaan PMA pada tanggal 21 Mei 2007 yang pembayarannya mengggunakan valuta asing.00 Rp 150. penyerahan jasa pengiriman paket.200.00 HALAMAN MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II 60 . tidak perlu membetulkan Faktur Pajak tertanggal 30 Juni 2007 b. karena dalam Nilai Lain telah diperhitungkan Pajak Masukan atas perolehan BKP atau JKP dalam rangka usaha tersebut.000.00 sehingga PPN yang terutang Rp 940. Pembayaran baru diterima pada tanggal 28 Agustus 2007.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 6) Nilai Lain Sebagai peraturan pelaksanaan Pasal 1 angka 17 UU PPN 1984 telah ditetapkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 567/KMK.000.00. Harga Penyerahan b.000. Atas perubahan nilai kurs ini Pailul …….000.000. 1) Selaku PKP.00. a. Harga Jual c. Harga Pokok d.00 Rp 2. a.00. Harga Jual BKP tersebut adalah USD 1.000.400. Harga Perolehan 3) Atas impor sejumlah BKP.04/2000.2 Latihan 6 Lingkarilah pernyataan yang paling benar menurut ketentuan yang berlaku diantara empat pernyataan pada setiap kasus singkat dibawah ini. dan jasa anjak piutang tidak dapat dikreditkan. Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan kendaraan bermotor bekas. yang pada waktu itu Nilai Kurs telah berubah USD 1 = Rp 9. Berdasarkan Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 567/KMK.000.

000.00 d. Rp. Rp 9. Rp 9.00 c.000.400. a.00.000.00 b.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Oleh karena itu.00 d. Harga jual yang disepakati kedua belah pihak adalah Rp 70.000.250.000. a. Sehubungan dengan itu. PT SUKAHARTA terutang PPN atas impor sebesar ……….000. Joni ………….815. Dasar Pengenaan Pajak untuk menghitung PPN yang terutang adalah…………. Rp 8.00 d.000. Selain itu PT Elekinfo memberikan pelatihan calon operator PT Wartelindah dengan biaya Rp 5.00 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 61 . Rp.000.000.600.00 4) PT Elekinfo menjual beberapa unit komputer kepada PT Wartelindah dengan harga jual Rp50.000.000.45.40.000. a.40.00.00 b. Rp.000.000.000. PT Wartelindah dipungut biaya pemasangan sebesar Rp200. Untuk itu diberi potongan harga 20%.40.00.00 c. tidak dikenakan PPN karena barang bekas bukan objek PPN c.200. dikenakan PPN Rp 1.000.00 5) Joni membeli “Toyota Starlet” bekas di dealer mobil bekas yang sudah dikukuhkan sebagai PKP.000.00.000.000.000.000.250. Rp.. dikenakan PPN Rp 700.00 b. Untuk pemasangan peralatan elektronik tersebut. dikenakan PPN Rp 7.215. Rp 8.00 dan transportasi sebesar Rp 50.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 62 . Berdasarkan prinsip ini. contoh dan non contoh a. dalam Pasal 9 ayat (9) UU PPN 1984 dibuka kemungkinan dilakukan pengreditan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak yang tidak sama paling lambat 3 (tiga) bulan setelah akhir Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan. KEGIATAN BELAJAR 7 PENGREDITAN PAJAK MASUKAN 8.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 8. BKP/JKP 2/10/06 30/11/06 22/2/07 3 bulan FP 30/11/06 PKP Pembeli FP menerima Dikreditkan dlm SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2007 sepanjang belum dibebankan sbg biaya Pajak Masukan dalam Faktur Pajak tertanggal 30 November 2006 belum dikreditkan dalam (SPT Masa PPN) Masa Pajak November 2006. karena UU PPN 1984 menganut akrual basis sehingga Faktur Pajak Masukan tidak selalu diterima tepat waktu oleh PKP Pembeli atau Pene-rima Jasa. Oleh karena itu. Periksa ilustrasi pada Gambar PENYER. Pengreditan Pajak Masukan Dalam Masa Pajak Tidak Sama. Pajak Masukan dalam Faktur Pajak tanggal 12 Januari 2008 hanya dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut dalam bulan Januari.1. Pajak Masukan dalam Faktur Pajak tertanggal 31 Januari 2008 tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut dalam bulan Fabruari 2008. atau yang terakhir Februari 2007. Prinsip dasar tersebut ternyata sulit dilakukan. pada prinsipnya UU PPN 1984 menganut peng-reditan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak yang sama. Prinsip Dasar Pengreditan Pajak Masukan Berdasarkan Pasal 9 ayat (2) UU PPN 1984. Uraian. dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam (SPT Masa PPN) Masa Pajak Desember 2006 atau Januari 2007. b.

maka pengreditan tetap dapat dilakukan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN November 2006. 5 UU PPN 1984) SYARAT MATERIIL (Ps. 9 ay. 8 UU PPN 1984) BELUM DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA (Ps.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Dalam memori penjelasannya ditegaskan bahwa apabila telah melampaui jangka waktu yang ditentukan. LANGSUNG DG KEGIATAN USAHA MELAKUKAN PENYER. FP KRITERIA PM DPT DIKREDITKAN Tdk mencoret yg seharusnya dicoret Tdk/terlambat lapor Penggunaan Kode & Nomor Seri. 8 huruf b UU PPN 1984) Dibuat > 3 bl sejak batas wkt pemb. 9 ay. 9 ay. KEGIATAN USAHA PRODUKSI MANAJEMEN PEMASARAN DISTRIBUSI Tdk/terlambat lapor Nama & contoh tanda tangan pejabat yg ditunjuk MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 63 . Kriteria Pajak Masukan yang dapat dikreditkan PAJAK MASUKAN DAPAT DIKREDITKAN SYARAT FORMAL (Ps. 5 & ay. PENYERAHAN BKP/JKP 2/10/06 30/11/06 Nov. c. 13 ay. 23/5/07 > 3 bulan FP 30/11/06 PKP Pembeli menerima FP 30/11/06 Dikreditkan dg cara “Pembetulan SPT Masa PPN” Masa Pajak November 2006 sepanjang belum dibebankan sbg biaya dan belum Apabila PKP Pembeli atau Penerima Jasa baru menerima Faktur Pajak ini setelah tanggal 22 Februari 2007. Pajak Masukan dapat dikreditkan dengan cara melakukan pembetulan SPT Masa PPN yang bersangkutan. berarti sudah melampaui 3 bulan setelah akhir Masa Pajak November 2006. 9 UU PPN 1984) DALAM FAKTUR PAJAK STANDAR YG TDK CACAT (Ps. 9 UU PPN 1984) FP Standar cacat Ada coretan yg tdk diperbolehkan Nama PKP/NPWP Nomor seri salah Menggunakan cap tanda tangan UNTUK PEROLEHAN BKP DAN/ JKP YG BERHUB. 9 ay. KENA PAJAK (Ps.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 64 . 3) perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kriteria “berhubungan langsung dengan kegiatan usaha” mengandung pengertian BKP/ JKP yang terkait digunakan untuk kegiatan yang bersifat produktif. atau pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar daerah pabean di dalam daerah pabean. dalam hal PKP belum berproduksi. Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan bagi pengeluaran untuk : 1) perolehan BKP atau JKP sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP Contoh : Pengusaha A melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP pada tanggal 3 Januari 2007. atau impor BKP tetap dapat dikreditkan sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) yaitu dikreditkan dalam Masa Pajak yang sama. jeep. Contoh : PKP dengan bidang usaha industri roti membeli tepung terigu. Contoh : PPN yang dibayar kepada pemborong atas pembangunan rumah dinas untuk direksi. Pajak Masukan sehubungan dengan perolehan BKP atau JKP sebelum 3 Januari 2007 tidak dapat dikreditkan. berarti tidak langsung berhubungan dengan kegiatan usaha.” Memori penjelasan pasal ini menegaskan. atau penerimaan JKP. maka Pajak Masukan tetap dapat dikreditkan. dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan . Pengukuhan sebagai PKP diberikan pada tanggal 5 Januari 2007 dan berlaku surut sejak 3 Januari 2007. station wagon. Tetapi PPN yang dibayar atas perolehan bus untuk antar jempur anak sekolah tidak boleh dikreditkan karena dimaksudkan untuk tujuan yang bersifat tidak produktif (non produktif) me-lainkan bersifat konsumtif. Mengreditkan Pajak Masukan sebelum ada Pajak Keluaran Pasal 9 ayat (2a) UU PPN 1984 mengatur sebagai berikut : “Dalam hal belum ada Pajak Keluaran dalam suatu Masa Pajak. maka Pajak Masukan yang telah dibayar oleh PKP pada waktu perolehan BKP. atau ekspor BKP sehingga Pajak Keluarannya belum ada (nihil). PPN yang diba-yar atas perolehan tepung terigu ini merupakan Pajak Masukan yang dapat dikre-ditkan karena berhubungan langsung dengan kegiatan produksi. Contoh : PPN yang dibayar kepada bengkel atas perbaikan sedan yang digunakan sebagai mobil dinas direksi. Dalam hal digunakan untuk kegiatan yang tidak produktif atau dengan kata lain untuk tujuan konsumtif. d. van. Kriteria Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan Berdasarkan Pasal 9 ayat (8) dan Pasal 16B ayat (3) UU PPN 1984. 2) perolehan BKP atau JKP yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha . atau belum melakukan penyerahan BKP atau JKP. e.

maka Pajak Masukan yang dibayar oleh Fa Gurih tidak dapat dikreditkan. dina-makan Faktur Pajak Standar cacat. Fa Gurih membeli 5 zaak tepung terigu dari toko bahan makanan. Faktur Pajak Standar yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984 sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 5 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-159/PJ. Secara tidak langsung ketentuan dalam Pasal 9 ayat (8) huruf i ini dikoreksi dengan Pasal 12 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 65 . Contoh : Dalam contoh sub 7) tersebut. 6) perolehan BKP atau JKP yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagai-mana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) . tidak dapat dikreditkan oleh PT Armando. maka Faktur Pajak ini tergolong sebagai Faktur Pajak Standar yang cacat sehingga Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan. 9) perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam SPT Masa PPN. pengreditan tetap dapat dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sepanjang perolehannya telah dicatat dalam pembukuan PKP yang bersangkutan . dalam hal PT Armando tidak membayar ke kas negara PPN yang terutang. Dalam SSP ini PT Armando lupa mencantumkan NPWP-nya. dan untuk keperluan itu dibuatkan Faktur Pajak Sederhana.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4) pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai PKP .04/2000 tanggal 26 Desember 2000. Contoh : Karena ada coretan untuk membetulkan kesalahan tulis dalam Faktur Pajak Standar yang diterima oleh PT Perbawa. 8) perolehan BKP atau JKP yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak . maka PPN yang dibayar tersebut merupakan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Contoh : PT Ardi mentrasfer royalti kepada perusahaan di Perancis atas pemanfaatan hak menggunakan merek dagang yang dilakukan oleh PT Ardi. Contoh : PT Armando yang sudah dikukuhkan sebagai PKP mentransfer fee atas jasa pemasaran yang diterima dari pengusaha di Taiwan. PPN yang terutang dibayar ke bank persepsi menggunakan SSP. 5) perolehan BKP atau JKP yang bukti pungutan pajaknya berupa Faktur Pajak Sederhana . PPN yang ditagih dengan surat ketetapan pajak ini. Apabila ketika mentransfer royalti tersebut dilakukan sebelum PT Ardi dikukuhkan sebagai PKP. sehingga PPN yang tercantum dalam SSP ini tidak dapat dikreditkan karena tidak mememenuhi ketentuan Pasal 13 ayat (6) UU PPN 1984 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 568/ KMK. Contoh : Selaku sebuah perusahaan industri roti./2006 tanggal 31 Oktober 2006. maka PPN tersebut akan ditagih menggunakan surat ketetapan pajak. 7) pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) . yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan. Dengan Pasal 12 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 24 Tahun 2002 yang perubahannya berlaku mulai 1 Juni 2002.

PM ini tetap dapat dikreditkan sesuai ketentuan yang berlaku yaitu dalam SPT Masa PPN Februari 2008 (Masa Pajak tidak sama). Keputusan Menteri Keuangan Nomor 553/KMK.03/2002 tanggal 31 Mei 2002 sebagai pelaksanaan Pasal 9 ayat (7) UU PPN 1984. maka Pajak Masukan yang Faktur Pajaknya belum atau terlambat diterima tersebut dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan”.143 tahun 2000 jo PP No.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN ayat (3) PP No. MASA PAJAK DESEMBER 2007 FP 23/2/08 27/2/08 PEMBELI MENERIMA FP 27/5/02 Dalam pemeriksaan SPT Masa PPN Desember 2007 yang dilakukan pada 27/2/08. PM-nya belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN. sepanjang perolehannya sudah dicatat dalam pembukuan. ditemukan FP 27/12/07. 10) perolehan BKP dan atau perolehan JKP yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN. f. menetapkan pedoman penghitungan pengreditan Pajak Masukan bagi PKP yang penghitungan PPh-nya menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto. Pedoman Penghitungan Pengreditan Pajak Masukan. 24 Tahun 2002 : “Apabila dalam suatu pemeriksaan diketahui ada perolehan Barang Kena Paja atau Jasa Kena Pajak yang telah dibukukan atau dicatat.04/2000 tanggal 22 Desember 2000 yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 252/KMK. namun Faktur Pajaknya belum atau terlambat diterima sehingga belum dilaporkan dalam SPT Masa PPN untuk Masa Pajak yang bersangkutan. 2) penyerahan BKP oleh PKP selain Pedagang Eceran : Pajak Masukan = 70% x Pajak Keluaran 3) penyerahan JKP = Pajak Masukan = 40% x Pajak Keluaran MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 66 . sebagai berikut: 1) penyerahan BKP oleh PKP Pedagang Eceran: Pajak Masukan = 80% x Pajak Keluaran. maka Pajak Masukan yang terkait tidak dapat dikreditkan. (Pasal 16B ayat (3) UU PPN 1984) Contoh : Ketika PT Sastra selaku PKP penerbit menyerahkan buku pelajaran kepada pembeli dibebaskan dari pengenaan PPN.

untuk barang modal lainnya adalah 5 tahun Contoh: Generator listrik dibeli dalam bulan Januari 2007 Harga perolehan Rp 1. dapat dikreditkan dengan cara : (1) dalam Masa Pajak yang sama secara proporsional dengan persentase peng-gunaan barang modal untuk kegiatan usaha menghasilkan BKP/JKP yang atas penyerahnnya terutang PPN (namun tidak dibebaskan) . Dalam hal Pajak Masukan sehubungan dengan perolehan BKP yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyerahan kena pajak dan penyerahan tidak kena pajak atau penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan pajak sedangkan jumlah penyerahan kena pajak tidak dapat diketahui dengan pasti dalam pembukuan PKP. kemudian setelah akhir tahun buku dihitung kembali bagian dari Pajak Masukan yang telah dikreditan padahal seharusnya tidak dapat dikreditkkan menggunakan rumus: p’ x PM/T dengan keterangan : p’ : persentase rata-rata penggunaan barang modal untuk kegiatan lain dalam satu tahun buku PM : jumlah Pajak Masukan atas perolehan dan pemeliharaan barang modal yang telah dikreditkan T : masa manfaat barang modal : . dan b) kegiatan lain yang tidak terutang PPN dan atau dibebaskan dari pengenaan PPN. Pengreditan Pajak Masukannya dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP berupa barang modal yang : a) nyata-nyata digunakan untuk kegiatan usaha ang menghasilkan BKP dan/atau JKP yang atas penyerahannya terutang PPN. atau (2) seluruh Pajak Masukan dikreditkan dalam Masa Pajak yang sama berkenaan dengan penggu-naan barang modal.000.00 sudah dikreditkan seluruhnya dalam bulan Januari 2007.000.000.untuk bangunan adalah 10 tahun .000. (Pasal 9 ayat (6) UU PPN 1984 jo Keputusan Menteri Keuangan Nomor 575/KMK. Penghitungan Kembali Pajak Masukan yang telah dikreditkan. 70% untuk kegiatan pabrik MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 67 .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN g. maka Pajak Masukan yang telah dikreditkan harus dihitung kembali untuk disetor ke kas negara menggunakan pedoman penghitungan yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan. Ternyata selama tahun 2007 generator tersebut digunakan : 30% untuk perumahan karyawan dan direksi .00 PPN yang dibayar sebesar Rp 100.000.04/2000).

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Maka bagian dari Pajak Masukkan yang sudah dikreditkan.000. tidak terutang PPN. . maka bagian dari Pajak Masukan yang wajib disetor kembali ke kas negara = Rp 6 milyar/Rp 60 milyar x Rp 50 juta = Rp 500. atau dibebaskan dari pengenaan PPN.00 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 68 .000. dan dibebaskan dari pengenaan PPN. Pajak Masukannya tidak dapat diikreditkan.Y : .000. dan atau dibebaskan dari pengenaan PPN. tidak terutang PPN. dengan keterangan sama dengan butir (1).000.00 : 5) = Rp 6.000.000. yang wajib disetor kembali ke kas negara = 30% x (Rp 100. .000. (2) untuk bukan barang modal : X/Y x PM .barang modal lainnya adalah 5 tahun . .PajakMasukan atas perolehan truck yang wajib disetor kembali ke kas negara = Rp 6 milyar/Rp 60 milyar x Rp 200 juta/5 = Rp 4.000.000. kemudian setelah akhir tahun buku dihitung kembali bagian Pajak Masukan yang wajib disetor kembali ke kas negara karena seharusnya tidak dapat dikreditkan menggunakan rumus sebagai berikut: (1) untuk barang modal : X/Y x PM/T .T : jumlah seluruh peredaran selama satu tahun buku masa manfaat barang modal : . b) nyata-nyata digunakan untuk kegiatan penyerahan yang tidak terutang PPN.000.berupa bangunan adalah 10 tahun.000.000. c) digunakan baik untuk kegiatan penyerahan yang terutang PPN. maka pengreditannya dilakukan sebagai berikut: a) nyata-nyata digunakan untuk kegiatan penyerahan yang terutang PPN.Total omzet 2007 (Y) Rp 60. Contoh : (a) untuk barang modal . atau dibebaskan dari pengenaan PPN dalam satu tahun buku.00 sudah dikreditkan seluruhnya dalam bulan Januari 2007. Pajak Masukannya dapat dikreditkan seluruhnya dalam Masa Pajak yang sama.000.X : jumlah penyerahan yang tidak terutang .00.000.Pajak Masukan atas perolehasn truck yang digunakan untuk perkebbunan jagung maupun untuk pebrik minyak jagung pada bulan Januari 2007 Rp 200.000.000.00.00 (b) untuk bukan barang modal Dalam hal Pajak Masukan untuk pembelian BBM truck tersebut Rp 50.00 diperoleh dari penjualan jagung (X). dengan keterangan : .PM : jumlah Pajak Masukan yang telah dikreditkan.00 2) bagi PKP yang melakukan kegiatan usaha terpadu sehingga menghasilkan suatu penyerahan yang terutang PPN. .000. diantaranya Rp 6. Pajak Masukannya dapat dikreditkan.

Sawit Murni sebuah B. Pajak Masukan dalam Faktur Pajak Standar ini ………. dapat dikreditkan dalam SPT Masa PPN Maret 2003 meskipun tahun pajaknya berbeda b. 8. 3) B S Pajak Masukan atas pembelian AC yang dipasang di ruang manajemen pa-brik sepatu tidak dapat dikreditkan karena tidak langsung berhubungan de-ngan kegiatan usaha menghasilkan BKP berupa sepatu. tidak perlu dilakukan penghitungan kembali Pajak Masukan yang telah dikreditkan. menerima Faktur Pajak tertanggal 23 November 2006 atas pembelian kertas pada 3 Oktober 2006 dari PT Iba.. 2) B S Pajak Masukan yang tercantum dalam Faktur Pajak tertanggal 17 Desem-ber 2006 tidak dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak Februari 2007 karena tahun bukunya berbeda. tidak dapat dikreditkan karena pada ticket tidak tercantum NPWP PT Gurita. dapat dikreditkan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN November 2002 karena tahun pajaknya berbeda MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 69 . Gunawan. Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan dalam setiap kasus kecil di bawah ini. tidak dapat dikreditkan karena nama yang tercantum pada ticket berbeda dengan nama PKP d. 4) Apabila masa manfaat telah dilampaui.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 3) Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan dari hasil penghitungan kembali tersebut diperhitungkan kembali dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada suatu Masa Pajak paling lambat pada bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku. dapat dikreditkan karena ticket tersebut diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar b. Direktur Keuangan PT Gurita (PKP) yang berkedudukan di Jakarta pergi ke Jayapura untuk urusan bisnis perusahaan ………… a. Latihan 7 A. tidak dapat dikreditkan karena ticket merupakan Faktur Pajak Sederhana c. a.2. 2. 1) B S Pada dasarnya Pajak Masukan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam Masa Pajak yang sama. 5) B S Penghapusan piutang mengakibatkan penyesuaian PPN (Pajak Keluaran) yang dilaporkan oleh PKP Penjual dan penyesuaian terhadap Pajak Ma-sukan yang telah dikreditkan oleh PKP Pembeli. dapat dikreditkan. PT Aksara sebuah percetakan sudah PKP. Pada 17 Maret 2007. Tentukan “Benar” atau “Salah” pernyataan dibawah ini. PPN dalam ticket pesawat udara atas nama Tn. 1. 4) B S Pajak Masukan atas renovasi ruang rapat direksi PT perusahaan industri minyak kelapa sawit.

Pajak Masukannya ………………… a. belum dibebankan sebagai biaya 5. dapat dikreditkan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN April 2007. tercantum dalam Faktur Pajak Standar yang ditandatangani oleh PKP. sudah dibayar kepada PKP Penjual BKP atau Pengusaha JKP. 4.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 70 . tidak dapat dikreditkan karena tahun pajaknya berbeda d. dapat dikreditkan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2007 c. Pajak Masukan dapat dikreditkan antara lain memenuhi persyaratan formal …………. pada tanggal 13 September 2007 menerima Faktur Pajak Standar tertanggal 2 September 2007 dari PT Sedayu atas penyerahan BKP yang dilakukan pada tanggal 30 April 2007. sehingga. dapat dikreditkan dalam SPT Masa PPN September 2007 sepanjang Faktur Pajaknya tidak cacat c. dapat dikreditkan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN Masa Pajak November 2006. tidak dapat dikreditkan karena telah melampaui 3 bulan setelah akhir Masa Pajak b. Faktur Pajak Standar tertanggal 23 November 2006 yang diterima pada tanggal 23 Juli 2007. PT Tribuwana adalah PKP pedagang besar. tidak dapat dikreditkan meskipun Faktur Pajaknya diisi lengkap dan benar d. dapat dikreditkan dengan cara pembetulan SPT Masa PPN Oktober 2002 3. a. tercantum dalam Faktur Pajak Standar yang tidak cacat c. Pajak Masukannya ………………. d. a. b. tidak dapat dikreditkan karena sudah melampaui 3 bulan setelah akhir Masa Pajak d. dapat dikreditkan dalam SPT Masa PPN September 2007 b.

Karena kedua jenis obyek ini bersifat abstrak. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 568/KMK. Ketentuan ini mulai berlaku sejak 1 Januari 1995 sejalan dengan berlakunya UU Nomor 11 Tahun 1994.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9. seperti paten. sama dengan tempat kedudukan pihak yang menerima penyerahan. Berdasarkan prinsip ini. maka istilah konsumsi diganti dengan pemanfaatan.04/2000 tanggal 26 Desember 2000 yang petunjuk pelaksanaannya masih menggunakan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-08/PJ. Untuk peman-faatan BKP Tidak Berwujud baik dari dalam maupun dari luar Daerah Pabean. Untuk menghindari kerancuan tersebut akan lebih mudah dipahami apabila pemanfaatan ini diasumsikan merupakan istilah lain dari "mengonsumsi". maka yang menentukan adalah tempat pemanfaatan BKP Tidak Berwujud atau JKP yang menjadi obyek penyerahan. merek dagang dan sejenisnya. Sebenarnya pengenaan PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP dari luar Dae-rah Pabean di dalam Daerah Pabean ini sudah dikenakan PPN sejak 1 April 1989. Dilakukan di Dalam Daerah Pabean. Uraian. mekanisme pengenaan PPN-nya adalah sebagai berikut: MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 71 . pajak dikenakan di tempat tujuan BKP atau JKP dikonsumsi. Penggunaan istilah pemanfaatan sering rancu. tidak menimbulkan perma-salahan yang serius karena masih berada dalam yurisdiksi UU PPN 1984.1.5/1995 tanggal 17 Maret 1995 (Seri PPN 7 . Tetapi akan berbeda halnya apabila Pengusaha yang menyerahkan tersebut berada di luar Daerah Pabean. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak Dari Luar Daerah Pabean. Dalam hal Pengusaha ini berkedudukan di dalam daerah Pabean. KEGIATAN BELAJAR 8 OBJEK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI YANG BERSIFAT SPESIFIK 9. contoh dan non contoh Objek PPN disebut spesifik yang diatur dalam Pasal 4 huruf d dan e serta Pasal 16C dan 16D UU PPN 1984 yang ditambahkan oleh UU Nomor 11 Tahun 1994. memiliki mekanisme yang berbeda dibandingkan dengan objek pajak lainnya. pada waktu itu menggunakan terminologi Jasa Pelimpahan barang tidak berwujud berupa hak-hak dengan nama dan dalam bentuk apapun. Pengusaha yang menyerahkan JKP atau menyerahkan BKP Tidak Berwujud dapat berkedudukan di dalam atau di luar Daerah Pabean. Dalam kondisi seperti ini.95). Titik tolak pemikiran yang mendasari pengenaan pajak atas pemanfaatan BKP atau JKP yang berasal dari luar Daerah Pabean dilakukan di dalam Daerah Pabean adalah prinsip destinasi (destination principle) yang dianut oleh UU PPN 1984. a.

dibuat di Singapura. Kantor Akuntan Publik. Misalnya jasa konsultan. 5) Orang pribadi atau badan yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud atau JKP dari Luar Daerah Pabean.. wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP. c) saat harga jual atau penggantian ditagih oleh pihak yang menyerahkan . dapat berupa : a) Jasa berasal dari luar Daerah Pabean yang melekat atau ditujukan pada Barang Tidak Bergerak yang terletak di Dalam Daerah Pabean.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1) Saat mulai pemanfaatan adalah ditentukan oleh perbuatan/peristiwa hukum yang lebih da-hulu dilakukan atau diketahui ada diantara 5 perbuatan hukum yang dilakukan pada : a) saat secara nyata BKP Tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak tersebut digunakan. pengacara. c) Jasa yang dilakukan secara fisik di dalam Daerah Pabean (pen. 6) Penyetoran dan pelaporan pajak terutang : a) PPN yang terutang wajib disetor ke kas negara melalui Bank persepsi atau Kantor Pos Dan Giro selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikutnya. 3) Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean. hak oktroi. b) Penyetoran dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) setoran dilakukan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) (2) Kolom identitas diisi dengan identitas Pengusaha yang berkedudukan di luar Dae-rah Pabean (3) Kolom NPWP diisi dengan : angka 0 pada delapan digit yang pertama. (2) tidak diketemukan surat perjanjian untuk pembayaran dimaksud . Misalnya maket gedung hotel yang terletak di Jakarta.: oleh Pengusaha dari luar Daerah Pabean). b) 10/110 dari jumlah pembayaran yang dinyatakan sudah termasuk PPN. d) saat harga perolehan dibayar sebagian atau seluruhnya e) saat ditandatangani surat perjanjian 2) BKP Tidak Berwujud dapat berupa hak patent. b) saat harga perolehannya dinyatakan sebagai utang . Misalnya rig disewa dari Pengusaha di Hong Kong untuk kegiatan pencarian sumber-sumber minyak di lepas pantai Laut Jawa. (3) ada surat perjanjian tetapi tidak ada penegasan. b) Jasa yang berasal dari luar Daerah Pabean. hak cipta dan merek dagang. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 72 . 4) Cara penghitungan pajak terutang a) 10% dari jumlah yang dibayarkan atau seharusnya dibayarkan dalam hal : (1) jumlah yang dibayarkan belum termasuk PPN . (4) Pada kolom tandatangan diisi oleh pihak yang memanfaatkan BKP Tidak Berwu-jud dan JKP dari luar Daerah Pabean beserta NPWP-nya. disusul dengan Kode KPP pada tiga digit yang berikutnya.. yang melekat pada atau ditujukan untuk Barang bergerak yang berada atau dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean.

sejak tanggal 1 Januari 1995.234.03/2002 tanggal 28 Juni 2002 jo Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-387/PJ./2002 tanggal 19 Agustus 2002. Pajak yang disetor ke bank persepsi tersebut merupakan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.000 PPN : Rp 30. atau untuk tempat usaha MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 73 . Sedangkan bagi PKP. dilaporkan dalam SPT Masa PPN Lampiran 1107B sebagai Pa-jak Masukan Dalam Negeri. Sebagai peratutran pelaksanaannya adalah Keputusan Menteri Keuangan Nomor 554/KMK.567. dikenakan pajak. laporan dilakukan dengan cara mengirimkan lembar ke-3 SSP kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat selambat-lambatnya tanggal 20 pada bulan yang sama dengan bulan dilakukan setoran. Membangun Sendiri Dilakukan Tidak Dalam Kegiatan Usaha atau Pekerjaan Berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984. Alamat : JERMAN NPWP : 000000000.3.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c) Bagi PKP.000 Tanda Tangan PPN 10% PT FARMASI SSP = FP Standar PPN = PM dpt dikreditkan b.00 Jakarta. terhadap kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.04/ 2000 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 320/KMK. TEKNOLOGI & MARKETING ROYALTY & FEE Rp300 juta KN SSP Nama : FOREIGN PLc.000. Adapun petunjuk pelaksanaannya masih menggunakan SE Dirjen Pajak Nomor SE07/PJ. ditegaskan mekanisme pengenaan PPN atas kegiatan membangun sendiri tersebut adalah sebagai berikut : 1) Suatu kegiatan membangun sendiri dikenakan PPN apabila memenuhi syarat : a) dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan b) yang dibangun adalah bangunan untuk tempat tinggal. 15 Januari 2005 PT FARMASI NPWP : 01. DI DALAM DAERAH PABEAN FOREIGN PLc. d) Bagi non PKP.237. PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD/JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN.237.53/1995 tanggal 17 Maret 1995 (dengan beberapa penyesuaian).

19-8-2002) MEMBANGUN SENDIRI Membangun sendiri adalah kegiatan mendirikan sebuah MEMBANGUN SENDIRI bangunan menggunakan jasa pemborong/tukang yang tidak/belum dikukuhkan sebagai/menjadi PKP Syarat : 1. 6) DPP adalah 40% dari seluruh pengeluaran (termasuk PPN) pada bulan yang bersangkutan. 3 SAAT PEMBAYARAN : Paling lambat tg 15 bln berikutnya dari bulan pengeluaran Bagi Non NPWP. 3 digit terakhir diisi 0 (nol) *) Sebelum 1-7-2002. 9 digit pertama diisi 0 (nol) 2. dan atau bahan lain dengan kekuatan 20 tahun atau lebih 8) Bagi PKP Laporan dilakukan dengan jalan mengisi kolom yang tersedia dalam SPT Masa PPN 1195 Kode I. 4) Saat pajak terutang adalah pada saat kegiatan mulai dilakukan. b) 3 digit yang terakhir diisi kode KPP yang bersangkutan. diperlakukan sebagai satu kesatuan kegiatan. sepanjang tidak lebih dari 2 tahun. 3 digit berikutnya diisi kode KPP Lokasi bangunan 3. kolom NPWP pd. PKP : SPT Masa PPN 2. diperlakukan sebagai satu paket bangunan SAAT TERUTANG : PD SAAT PEMBANGUNAN DIMULAI SAAT PELAPORAN : Paling lambat tgl 20 bln berikut nya dari bulan pengeluaran 1. SSP : 1. luas 400 m2 / lebih **) tembok dan atau kayu tahan lama. Luas 200m2/lebih*) 3. maka SSP-nya harus diserahkan kepada pihak yang berkepentingan. 7) PPN dibayar ke Bank persepsi selambat-lambatnya tanggal 15 bulan berikut-nya (Ps. laporan dilakukan dengan cara mengirimkan lembar ke-3 SSP kepada KPP di tempat bangunan. Sedangkan bagi Non PKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c) luas bangunan 200 m2 atau lebih d) bangunan bersifat permanen artinya konstruksi utama bangunan tahan sampai dengan 20 tahun atau lebih 2) Kegiatan pembangunan yang dilakukan secara bertahap.KEP-387/PJ. dilampiri SSP lembar ke-3. 5) Tempat pajak terutang adalah di tempat bangunan didirikan./2002. kolom NPWP dalam SSP diisi dengan cara sebagai berikut : a) 8 digit pertama diisi dengan angka 0 .03/2002. Non PKP : SSP lb. Dalam hal pihak yang membangun sendiri tersebut tidak memiliki NPWP. 16C UU PPN 1984 jo KepMenKeu Nomor 553/KMK. Tempat tinggal/tempat usaha 2. 28-6-2002 jo KepDirjenpa No.320/ KMK. 3) Dalam hal kegiatan pembangunan dilakukan untuk kepentingan pihak lain. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 74 .04/2000 jo No. Permanen**) DPP : 40% X BIAYA YG DIKELUARKAN TERMASUK PPN (Tdk termasuk harga tanah) Apabila dilakukan secara bertahap sepanjang tenggang waktu antar tahapan tidak lebih dari 2 th.

diketahui bahwa apabila pengusaha melakukan penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan dapat dikenakan PPN sepanjang : 1) yang melakukan penyerahan atau pemindah tanganan adalah Pengusaha Kena Pajak. atas penyerahan aktiva ini PKP yang bersangkutan wajib membuat Faktur Pajak. 2) pada saat memperoleh aktiva. jadi berbeda dengan cara mempertanggungjawabkan Pajak Keluaran lainnya. butir 8 (Kode I. Persyaratan yang ketiga ini bersifat normatif.2). dengan menggunakan SSP tersendiri. b) Pengusaha realestat wajib melaporkan transaksi penjualan tanah kaveling kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tanah kaveling berada dengan mengirimkan tembusan formulir sebagaimana dimaksud pada butir a) paling lambat satu bulan sejak tanggal penandatanganan formulir. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-18/PJ. apabila kewajiban ini tidak dilaksanakan maka pendirian bangunan di atas tanah kaveling tersebut dianggap dilakukan oleh pengusaha realestat. (4) Pelaporan pada SPT Masa PPN dilakukan pada bulan terjadinya pengalihan aktiva dimaksud. menegaskan sebagai berikut : (1) PPN yang terutang atas pengalihan aktiva eks Pasal 16D UU PPN 1984 harus disetor seluruhnya atau sebesar Pajak Keluaran. PKP ini memang membayar PPN. bukan faktor yang relevan. namun tidak perlu dicantumkan pada Formulir 1195A1 (Lampiran Pajak Keluaran) SPT Masa PPN 1195.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 9) Perlakuan terhadap kegiatan membangun sendiri yang dilakukan di dalam kawasan realestat oleh pemilik kaveling : a) Pada saat ditandatanganinya Surat Pemesanan Tanah/Surat Perjanjian Pra Jual Beli/Perjanjian Pra Jual Beli/Akte Jual Beli atas transaksi penjualan tanah kaveling. Sedangkan SSP-nya harus dilampirkan pada ST Masa PPN yang bersangkutan dan mengisi Kode J. Penyerahan Aktiva oleh PKP yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan Berdasarkan Pasal 16D UU PPN 1984. pembeli tanah kaveling wajib mengisi dan menandatangani formulir “Surat Pernyataan Kesanggupan Membayar Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri” yang diberikan oleh pihak realestat dengan bentuk formulir yang tekah ditentukan. Apakah PPN tersebut benar-benar sudah dikreditkan atau belum. (3) Atas pengallihan tersebut dapat dibuatkan Faktur Paak Standar. Sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) UU PPN 1984. c. (2) Penyetoran tersebut harus dilakukan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah bulan dilakukan pengalihan. 3) PPN yang dibayar tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 75 .52/1996 tanggal 4 Juni 1996 (SERI PPN 3395).

jasa technical assisstance dan lain-lain. maka atas pengalihan aktiva tersebut tidak terutang PPN. maka pada waktu pengalihannya memenuhi syarat untuk dikenakan PPN. perusahaan di Perancis dimaksud juga menyerahkan sejumlah jasa misalnya jasa management assistance. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 76 . Atas kegiatan membangun sendiri rumah tinggal dengan luas seluruhnya 260 m2 termasuk kolam renang ini dikenakan PPN. Tetapi karena jasa di bidang perhotelan tidak dikenakan PPN. Di samping itu di halaman samping dibangun juga sebuah lapangan parkir seluas 100 m2. jasa pemasaran. karena Penangguhan Pembayaran PPN diartikan sama dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan. Contoh 1 : Pada bulan Juni 2001.. melainkan menggunakan tukang harian yang tinggal di sekitar pabrik. Karena luas bangunan beserta lapangan parkir sebesar 260 m2 berarti memenuhi ketentuan luas 200m2 atau lebih. Menyangkut masalah mekanisme penyetoran dan pelaporan PPN yang dikenakan atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan berdasarkan Pasal 16D. Selain menyerahkan hak menggunakan merek dagang. Faktur Pajak yang dibuat sehubungan dengan penyerahan aktiva perusahaan yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan. dilaporkan dalam SPT Masa PPN formulir 1107A Nomor II. Secara berkala Hotel Le Meridien di Jakarta mentrasfer royalty dan fee ke Perancis. maka atas kegiatan ini PT ECHO Bakery dikenakan PPN berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (5) Apabila aktiva tersebut diperoleh sebelum berlakunya UU PPN 1984 (sebelum 1 April 1985). sejak Januari 2007 mengalami perubahan sejalan dengan mulai berlaku Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ. dan di halaman belakang dibangun sebuah kolam renang mini seluas 70 m2. Atas transfer fee ini terutang PPN. maka PPN ini bukan merupakan Pajak Masukan melainkan menjadi biaya bagi hotel Le Meridien. pelaksanaannya tidak menggunakan jasa pemborong. Contoh 2 : Gunawan seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Luas bangunan 190 m2. Contoh 3 : Hotel Le Meridien adalah hotel yang dikelola sebuah perusahaan Indonesia menggunakan merek dagang “le Meridien” dari Perancis berdasarkan perjanjian waralaba (franchise). Semua jasa ini merupakan Jasa Kena Pajak menurut UU PPN 1984. aktiva tersebut memperoleh fasilitas Penangguhan Pembayaran PPN./2006 tanggal 29 September 2006. membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal yang telah lama diidam-idamkan. Kegiatan ini dilakukan tanpa melibatkan pemborong. Untuk menghemat biaya. PT ECHO Bakery sebuah perusahaan roti membangun sendiri sebuah gedung untuk toko roti dengan luas 160 m2. (6) Dalam hal pada saat perolehannya.

maka atas penjualan barang modal ini tidak dikenakan PPN karena Pajak Masukan yang dibayar atas perolehannya beberapa tahun sebelumnya. Dalam hal yang dijual adalah jeep yang digunakan untuk kegiatan manajemen atau pemasaran.2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Contoh 4 PT Karental adalah sebuah perusahaan persewaan kendaraan bermotor beroda empat. Latihan 8 Untuk memudahkan memahami materi yang sudah dibahas pada bagian ini. dapat dikreditkan. 9. jawablah beberapa pertanyaan dibawah ini. Jenis kendaraan bermotor yang disewakan berupa jeep dan station wagon. 1) Uraikan mengapa pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar di dalam daerah pabean dikenakan PPN! 2) Adakah Faktur Pajak atas pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean. di dalam Daerah Pabean dan apabila ada apa bentuk Faktur Pajaknya? 3) Apa syarat yang harus dipenuhi agar kegiatan membangun sendiri dapat dkenakan PPN berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984? 4) Jelaskan apakah setiap kegiatan menjual barang modal dapat dikenakan PPN ? 5) Bagaimana cara menyetor dan melaporkan pajak yang terutang atas kegiatan membangun sendiri berdasarkan Pasal 16C UU PPN 1984? MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 77 . Pada suatu ketika beberapa unit jeep dijual karena akan diremajakan. Maka atas penjualan jeep dikenakan PPN berdasarkan Pasal 16D karena Pajak Masukan yang dibayar atas perolehannya beberapa tahun sebelumnya. tidak dapat dikreditkan.

Berdasarkan ketentuan tersebut. 2) penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah yang dilakukan oleh pabrikan dari BKP yang menghasilkannya di dalam Daerah Pabean. Tarif PPnBM dan pengelompokan BKP Yang Tergolong Mewah Dalam Pasal 8 UU PPN 1984 diatur : 1) Tarif PPnBM paling rendah 10%. yang MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 78 . b. Namun dalam ayat (4) dari pasal ini ditentukan. dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) terhadap : 1) impor BKP Yang Tergolong Mewah . paling tinggi 75% 2) Atas ekspor BKP yang Tergolong Mewah dikenakan PPnBM dengan tarif 0% 3) Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan kelompok BKP Yang Tergolong Mewah dikenakan PPnBM. 4) untuk mengamankan penerimaan negara. 3) melindungi produsen kecil atau tradisional . contoh dan non contoh a. pada dasarnya PPnBM hanya dikenakan satu kali yaitu pada mata rantai jalur distribusi yang disebut dalam Pasal 5 UU PPN 1984. Uraian.1. 3) berdasarkan Pasal 10 ayat (2) UU PPN 1984. Pengusaha Kena Pajak yang mengekspor BKP Yang Tergo-long Mewah dapat meminta kembali PPnBM yang telah dibayar pada waktu perolehan BKP Yang Tergolong Mewah yang diekspor tersebut. PPnBM tidak dapat dikreditkan dengan PPN atau PPnBM yang dipungut berdasarkan UU PPN 1984. Dalam memori penjelasan Pasal 5 UU PPN 1984 ditegaskan bahwa tujuan mengena-kan PPnBM disamping PPN adalah : 1) untuk memperoleh keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang berpeng-hasilan rendah dengan konsumen yang berpenghasilan tinggi .PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. KEGIATAN BELAJAR 9 PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG MEWAH (PPnBM) 10. 2) untuk mengendalikan pola konsumsi BKP Yang Tergolong Mewah . Karakteristik PPnBM Dalam Pasal 5 UU PPN 1984 diatur bahwa di samping dikenakan PPN. 4) Macam dan jenis BKP Yang Tergolong Mewah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Kendaraan bermotor yang tidak dikenakan atau dibebaskan dari pengenaan PPnBM. 2) kendaraan dalam bentuk sasis . 60%. 5) kendaraan bermotor untuk pengangkutan 16 (enam belas) orang termasuk pengemudi. yang terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Pengelompokan ini dilakukan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 yang sudah tiga kali diubah. Kemudian penjabaran lebih lanjut dilakukan dengan Keputusan Menteri Keuangan. BESAR PPN PPN & PPnBM PED. dan 75%. 50%. 50%.03/2003 ditetapkan bahwa PPnBM tidak dikenakan atas impor atau penyerahan : 1) kendaraan dalam bentuk CKD . 30%. dan 75%. 20%. 40%. 30%. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 145 Tahun 2000 jo Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2004. 40%. ECERAN PPN PPN PPN KONSUMEN / BENDAHARAWAN c. Kemudian dalam Pasal 3 Keputusan Menteri Keuangan Nomor 355/KMK. PPnBM DIKENAKAN HANYA SATU KALI PPN & PPnBM PABRIKAN IMPORTIR PPN & PPnBM PPN PED. 3) Kelompok selain kendaraan bermotor yang dikenakan tarif 10%. Sedangkan yang dibebaskan dari pengenaan PPnBM ditetapkan baik dalam Pasal 4 Keputusan MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 79 . 3) kendaraan pengangkutan barang . BKP Yang Tergolong Mewah yang dikenakan PPnBM dikelompokkan menjadi 2 (dua) kelompok besar yaitu : 2) Kelompok kendaraan bermotor yang dikenakan PPnBM dengan tarif 10%. 20%. 4) kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas isi silinder sampai dengan 250 CC .

00 Harga yang dibayar oleh konsumen = Rp 500.00 PPnBM terutang = 20% x Rp 4.600.000. Contoh : PT Perkusi adalah pabrikan perlengkapan elektronik.00 yang kemudian oleh PT Ambara sebagian dari AC tersebut diserahkan kepada toko elektronik “Kencana”. kendaraan pengangkutan umum . kendaraan pemadam kebaran.00 Rp 300.03/2003 adalah impor atau penyerahan kendaraan bermotor yang dibebaskan dari pengenaan PPnBM : 1) kendaraan bermotor berupa kendaraan ambulan. Penghitungan pajak yang terutang dapat diuraikan sebagai berikut : Harga Jual PPN terutang 10% = Rp 400. 2) kendaraan protokoler kenegaraan .00 Rp 4.000.00 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 80 .000.100. antara lain produknya adalah AC yang atas penyerahannya terutang PPN 10% dan PPnBM 20%.00 Harga yang dibayar oleh PT Ambara PT Ambara memperhitungkan nilai tambah = = = Rp 800.000. PT Perkusi menyerahkan sejumlah AC-2PK kepada PT Ambara dengan Harga Jual per-unit Rp 4.00 = Rp 5. 3) kendaraan bermotor untuk pengangkutan 10 (sepuluh) orang sampai dengan 15 (lima belas) orang termasuk pengemudi yang digunakan untuk kendaraan dinas TNI/POLRI .600.000.00 = Rp 560. Cara menghitung PPN atas penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah Apabila dalam harga penyerahan terdapat unsur PPN dan PPnBM yang berubah menjadi biaya.000.000. kendaraan jenazah. d.000. 4) kendaraan patroli TNI/POLRI.100.000.000.00 = Rp 4. Harga yang dibayar oleh konsumen ketika membeli AC tersebut dari toko elektronik ini dapat dihitung sebagai berikut : Harga perolehan AC yang dibayar oleh toko “Kencana” = Rp 5.00 Toko “Kencana” memperhitungan nilai tambah Harga jual AC yang ditetapkan oleh toko “Kencana” PPN yang terutang = 10% x Rp 5.160. kendaraan tahanan.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Menteri Keuangan Nomor 355/KMK.000.00 = Rp 6.00 Harga jual dari PT Ambara ini merupakan harga perolehan yang dibayar oleh toko elektronik “Kencana”. yang dikeluarkan dari harga jual hanya unsur PPN.00 Harga Jual yang ditentukan oleh PT Ambara = Rp 5.000.000.000.000.000.800.

pajak yang dikenakan untuk mengurangi beban PPN d. 3) Hotel Indonesia yang sedang merenovasi tempat ibadah karyawan. boleh mengenakan PPN dan PPnBM karena stick golf merupakan BKP Yang Tergolong Mewah c.tidak mengenakan PPN dan PPnBM karena toko elektronik merupakan pedagang eceran d. wajib mengenakan PPN dan PPnBM karena merupakan penyerahan Barang Kena Pajak Yang Tergolong Mewah di dalam Daerah Pabean. Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan dalam kasus singkat dibawah ini. Pedagang Besar perlengkapan elektronik. tidak mengenakan PPnBM meskipun stick golf merupakan BKP Yang Tergolong Mewah d. ketika menerima secara konsinyasi 200 unit AC dari PT Barata selaku produsen AC …………. a. a. belum dikenakan PPN dan PPnBM karena penyerahan AC secara konsinyasi masih merupakan barang titipan. dikenakan PPN dan PPnBM karena AC merupakan BKP Yang Tergolong Mewah b. 1) PPnBM dikenakan atas penyerahan BKP Yang Tergolong Mewah merupakan ……… a.wajib mengenakan PPN dan PPnBM karena AC merupakan BKP Yang Tergolong Mewah. a. pungutan tambahan disamping PPN c. dikenakan PPN dan PPnBM oleh PT Barata selaku pabrikan yang menyerahkan AC yang merupakan BKP Yang Tergolong Mewah d. 5) Penyerahan kendaraan bermotor oleh PT Astra kepada Sekretariat Negara untuk digunakan kegiatan protokoler kenegaraan berdasarkan kontrak yang pembayarannya dilakukan melalui kas negara ……………… MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 81 . pungutan pengganti PPN b. pajak yang dikenakan untuk memberikan perlindungan terhadap produsen lokal 2) Importir menyerahkan stick golf yang diimpor kepada pedagang besar ………. karena AC merupakan BKP Yang Tergolong Mewah b.. Selaku Pengusaha Kena Pajak. mengenakan PPN dan PPnBM karena stick golf merupakan BKP Yang Tergolong Me-wah b. bukan konsumen c. toko elektronik ini :…. 4) PT Gelanggang.2. hanya dikenakan PPN karena PT Gelanggang adalah pedagang. Latihan 9. dikenakan PPN oleh PT Barata. hanya dikenakan PPN tanpa PPnBM meskipun AC merupakan BKP Yang Tergolong Mewah c..PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 10. membeli beberapa unit AC dari toko elektronik.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a. a. penyerahan lampu kristal oleh importir kepada pedagang besar c. penyerahan lampu kristal yang dilakukan oleh pedagang besar kepada toko meubel b. a. 8) PPnBM dikenakan atas …………. dikenakan PPN namun dibebaskan dari PPnBM 7) Ketika PT Radial membeli mobil niaga dari PT Perkasa (Pabrikan kendaraan bermotor) untuk diekspor. dikenakan PPN dan PPnBM c. dikenakan PPN dan PPnBM. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 82 . Atas sumbangan ini ……………. Sehubungan dengan ekspor tersebut ……………. dibebaskan dari PPN dan PPnBM d. pabrikan kendaraan bermotor menyumbang 5 (lima) unit mobil pickup kepada POLDA untuk digunakan patroli jalan raya. PT Radial tidak dapat mengajukan permohonan pengembalian PPnBM yang telah dibayar b. penyerahan lampu kristal oleh toko meubel kepada pembelinya. a. dikenakan PPN namun dibebaskan dari PPnBM c. PT Radial dapat mengajukan permohonan pengembalian PPN dan PPnBM yang telah dibayar c. 6) PT Perkasa. impor lampu kristal oleh Tuti seorang ibu rumah tangga d. PT Radial tidak dikenakan PPN dan PPnBM. tidak dikenakan PPN dan PPnBM. dikenakan PPN namun dikecualikan dari PPnBM b. dibebaskan dari pengenaan PPN dan PPnBM d. PT Radial membebankan PPN dan PPnBM sebagai biaya d. dikenakan PPN namun dikecualikan dari PPnBM b.

Pem. contoh dan non contoh a. ba dan atau instansi Pem. (2) Tata cara pemungutan. Penyetoran. atas penyer BKP dan atau penyerah. disetor dan dilaporkan oleh Pemungut PPN.03/2003 24 DESEMBER 2003 PERMENKEU No. Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut PPN Sebagai peraturan pelaksanaan yang mengatur tentang mekanisme pemungutan PPN atau dan PPnBM (selanjutnya disebut : pajak ) ini mulai 1 Januari 2004 diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 563/KMK. KEGIATAN BELAJAR 10 PEMUNGUT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 11.04/2003 tanggal 24 Desember 2003 sebagai berikut : MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 83 . KEPMENKEU No. dan Pelaporan Pemungut PPN Menunjuk Kontr. dan dilaporkan oleh Pemungut PPN. Uraian.16A (1) Pjk yg terut.” b. Dasar hukum dan penunjukan Pemungut PPN Sebagai dasar hukum yang sekaligus menggambarkan lembaga atau badan yang ditunjuk sebagai Pemungut PPN dapat disimak dalam Gambar Pemungut PPN adalah bend.dan pelaporan oleh Pemungut PPN sebgmana dimaksud dlm ayat (1) diatur dg Keput.. Menteri Keuangan. JKP kpd Pemungut PPN dipungut. Penyetoran. diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan. penyetoran. badan. UU PPN 1984 Ps. 11/PMK. Perjanjian Kerja Sama Pengusahaan Pertambangan MIGAS selaku Pemungut PPN Kewajiban Pemungut PPN secara umum diatur dalam Pasal 16A UU PPN 1984 sebagai berikut: “(1) Pajak yang terutang atas penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP kepada Pemu-ngut PPN. Pemerintah dan KPKN selaku Pemungut PPN Pedoman Pemungutan.03/2005 31 JANUARI 2005 Menunjuk Bendah. menyetor.1.1 Angka 27 Ps. dan pelaporan pajak oleh Pemungut PPN. Pem. disetor.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. (2) Tata cara pemungutan. yg ditunjuk oleh Menkeu utk me mungut. dipungut. dan melaporkan pajak yang terutang oleh PKP atas penyerah. 563/KMK. BKP dan atau JKP kpd bend. atau instansi Pem.

atau PPN yang terutang disetor ke bank persepsi atau kantor pos. 2) pada saat PKP Rekanan mengajukan tagihan. 6) Pelaporan pajak yang telah dipungut dan disetor. pada SSP lembar ke-1 dan lembar ke-2 dibubuhi cap “TELAH DIBUKUKAN” oleh KPKN.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 1) Dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh Bendaharawan Pemerintah termasuk jumlah pajak yang terutang. pada setiap lembar Faktur Pajak wajib dibubuhi cap “Disetor tanggal ……. Oleh KPKN yang melakukan pemungutan untuk kepentingan Bendaharawan Pemerintah. dengan ketentuan Faktur Pajak diisi dengan lengkap rangkap 3 (tiga) dengan peruntukan : lembar ke-1 untuk Bendaharawan pemerintah sebagai Pemungut PPN lembar ke-2 untuk arsip PKP Rekanan lembar ke-3 untuk KPP melalui Bendaharawan Pemerintah. Pajak yang dipungut oleh Bendaharawan selaku Pemungut PPN wajib disetor ke kas negara pajak yang dipungut paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah bulan dilakukan pembayaran atas tagihan. Pada setiap lembar SSP ini oleh KPKN yang melakukan pemungutan pajak untuk kepentingan Bendaharawan Pemerintah dibubuhi “nomor dan tanggal advis SPM”. lembar ke-5 untuk pertinggal Bendaharawan Pemerintah. akan dilampirkan pada SPT Masa PPN lembar ke-4 untuk bank persepsi atau kantor pos. b) SSP yang diisi adalah kolom identitas dan jumlah pajak terutang. Dalam hal tanggal penyetoran jatuh pada hari libur. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 84 . sedangkan kolom lainnya tidak perlu diisi. pada setiap lembar Faktur Pajak dicantumkan “nomor dan tanggal advis SPM”. 4) Pemungut PPN wajib memungut pajak yang terutang pada saat pembayaran.. 5) Penyetoran Pajak yang dipungut. maka penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya.” dan ditandatangani oleh Bendaharawan Pemerintah yang bersangkutan. Adapun jumlah lembar SSP dibuat rangkap 5 (lima). SSP tersebut didistribusikan : lembar ke-1 untuk PKP Rekanan lembar ke-2 untuk Kantor Pelayanan Pajak lembar ke-3 untuk PKP Rekanan. wajib membuat: a) Faktur Pajak dan SSP. 3) Faktur Pajak dan SSP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran PPN dan PPnBM. Setelah PPN dan PPnBM. Oleh Bendaharawan Pemerintah yang melakukan pemungutan.

3) PKP Rekanan wajib membuat Faktur Pajak dan SSP atas setiap penyerahan BKP dan/ atau JKP kepada Kontraktor. dan dilaporkan oleh Kontraktor baik kantor pusat. g) Pembayaran lainnya untuk penyerahan barang atau jasa yang tidak terutang PPN. b) Pembayaran untuk pembebasan tanah.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Bendaharawan Pemerintah yang melakukan pemungutan dan penyetoran PPN dan PPnBM atau PPN wajib menyampaikan laporan kepada KPP tempat Bendaharawan Pemerintah terdaftar dengan menggunakan formulir “Surat Pemberitahuan Masa Bagi Pemungut PPN Formulir 1107PUT” yang dibuat dalam rangkap 2 (dua) paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah bulan dilakukan pembayaran atas tagihan.000. 7) Tidak perlu dipungut pajak oleh Pemungut PPN atas : a) Pembayaran yang jumlahnya tidak lebih dari Rp1. yang masing-masing diperuntukkan sebagai berikut : lembar ke-1. dipungut.00 (satu juta rupiah) termasuk PPN dan PPnBM. dilampiri Faktur Pajak lembar ke-3 untuk KPP . lembar ke-2. untuk arsip Bendaharawan Pemerintah. e) Pembayaran atas rekening telepon. cabang-cabang. c) Pembayaran atas penyerahan BKP dan atau JKP yang mendapat fasilitas PPN tidak dipungut atau dibebaskan dari pengenaan PPN.000. c. 4) Faktur Pajak dimaksud dalam butir 3) dibuat paling lambat : a) pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP dan/atau JKP dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan dilaku-kan penyerahan. disetor. disetor dan dilaporkan oleh Kontraktor. f) Pembayaran untuk jasa angkutan udara yang diserahkan oleh perusahaan penerbang-an. penyetoran dan pelaporan pajak yang dilakukan oleh kontraktor perjanjian kerjasama pengusahaan pertambang-an minyak dan gas bumi diklarifikasi sebagai berikut : 1) Pajak yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP oleh Rekanan kepada Kontrak-tor. Kewajiban pemungutan. dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah. yang dikukuhkan sebagai PKP. maupun unit-unitnya. d) Pembayaran untuk penyerahan BBM dan bukan BBM oleh PT (Persero) PERTAMINA.03/2005 tanggal 31 Januari 2005 Kontraktor Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi ditunjuk sebagai Pemungut PPN mulai 1 Februari 2005. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 85 . Kontraktor Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi selaku Pemungut PPN Dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK. 2) Pajak yang terutang dipungut.

maka penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya. Kewajiban Pelaporan PKP Rekanan Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ. lembar ke-2./2006 tanggal 29 September 2007 yang mengatur tentang SPT Masa PPN Formulir 1107 yang mulai berlaku untuk SPT Masa PPN Masa Pajak Januari 2007. penyerahan BKP/JKP kepada Pemungut PPN wajib dilaporkan oleh PKP Rekanan dalam SPT Masa PPN 1107 pada Masa Pajak dilakukan penagihan. 6) Pemungut PPN wajib memungut pajak yang terutang pada saat pembayaran. (2) penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP dan/atau JKP .000.000.000.00 (sepuluh juta rupiah) bagi Kontraktor selaku Pemungut PPN.00 (satu juta rupiah) diubah menjadi tidak lebih dari Rp10. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 86 . dilampiri Faktur Pajak lembar ke-3 untuk KPP tempat Kontraktor terdaftar. arsip Kontraktor.000. Pajak yang dipungut oleh Pemungut PPN wajib disetor ke kas Negara paling lambat pada hari ke-15 (lima belas) bulan berikutnya setelah bulan dilakukan pemungutan. Kontraktor yang melakukan pemungutan dan penyetoran PPN dan PPnBM atau PPN wajib menyampaikan laporan KPP tempat Kontraktor terdaftar dengan menggunakan formulir “Surat Pemberitahuan Masa Bagi Pemungut PPN Formulir 1107PUT” yang dibuat dalam rangkap 2 (dua) paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah bulan dilakukan pemungutan. d. atau (3) penerimaan pembayaran terjadi pada saat yang sama dengan saat penyerahan BKP dan/atau JKP.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN b) pada saat penerimaan pembayaran dalam hal : (1) penerimaan pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP. Dalam hal tanggal penyetoran jatuh pada hari libur. 8) Pelaporan pajak yang telah dipungut dan disetor. 9) Kriteria pembayaran yang tidak perlu dipungut pajak oleh Pemungut PPN relatif sama dengan yang berlaku bagi Bendaharawan Pemerintah. 5) Faktur Pajak dan SSP merupakan bukti pemungutan dan penyetoran pajak. yang masing-masing diperuntukkan sebagai berikut : lembar ke-1. 7) Penyetoran Pajak yang dipungut. kecuali batasan pembayaran tidak lebih dari Rp 1.

atau b) dibebaskan dari pengenaan pajak. (3) impor BKP. ditambahkan beberapa pasal baru yang satu diantaranya adalah Pasal 16B. b) Dibebaskan dari pengenaan PPN. sebagai berikut: 1) Sebelum 1 Januari 1995. c) PPN dan PPnBM Ditanggung oleh Pemerintah. yang pada dasarnya mengatur dua hal. Uraian. f) PPN Dibebaskan 2) Seiring dengan perubahan pertama terhadap UU PPN 1984 dengan UU Nomor 11 Tahun 1994. 3) Ketika dengan UU Nomor 18 Tahun 2000 dilakukan perubahan kedua terhadap UU PPN 1984.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. Tujuan dan maksud diberikan kemudahan ini adalah memberikan fasilitas perpajakan yang benar-benar diperlukan terutama untuk berhasilnya sektor-sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional. yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1995. yaitu: a) Penangguhan Pembayaran PPN dan PPnBM. kedua jenis fasilitas ini diberikan untuk: (1) kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean. Jenis Fasilitas di bidang Pajak Pertambahan Nilai Jenis fasilitas di bidang PPN dapat dibagi dalam tiga tahap. Selain itu. d) PPN dan PPnBM dibayar oleh Pemerintah. yaitu dengan Peraturan Pemerintah diberikan fasilitas : a) pajak yang terutang tidak dipungut. mendukung pertahanan nasional. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 87 . mendorong perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing. Pemerintah sudah bertekad melaksanakan Pasal 16B UU PPN 1984 dengan konsekuen.1. dikenal ada 6 (enam) macam fasilitas di bidang PPN yang pada waktu itu tidak ada dasar hukumnya dalam UU PPN 1984. (2) penyerahan BKP tertentu atau penyerahan JKP tertentu. serta memperlancar pembangunan nasional. sehingga sejak 1 Januari 2001 hanya dikenal dua macam fasilitas yaitu : a) PPN Tidak Dipungut. Namun dalam praktek masih diberikan fasilitas seperti tersebut pada butir 1) minus fasilitas “PPN dan PPnBM dibayar oleh Pemerintah”. KEGIATAN BELAJAR 11 FASILITAS PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 12. b) Penundaan Pembayaran PPN dan PPnBM. e) PPN Tidak Dipungut. contoh dan non contoh a.

PPN tidak dipungut atas: a) impor barang modal atau peralatan pembangunan/konstruksi/perluasan Kawasan Berikat yang berkedudukan di dalam KAPET.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN (4) pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dan/atau JKP tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000. fasilitas ini dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Penyerahan BKP di/ke Kawasan Berikat. dan garis besar. 2) sehubungan dengan proyek milik Pemerintah yang sumber dananya berasal dari bantuan luar negeri berupa pinjaman (loan) atau hibah (grant).04/2005 tanggal 19 Oktober 2005. e) impor BKP untuk diolah di PDKB. dalam Keputus-an Menteri Keuangan Nomor 291/KMK. b) impor barang modal atau peralatan lain yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB yang semata-mata dipakai di PDKB. b) penyerahan BKP untuk diolah lebih lanjut dan peminjaman mesin atau peralatan pabrik dalam rangka pekerjaan subkontraktor dari PDKB kepada subkontraktor di DPIL. cukai. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 88 . b. dan pajak dalam rangka impor. h) impor peralatan perkantoran yang dilakukan oleh penyelenggara Kawasan Berikat (PKB) 2) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET). g) penyerahan BKP kepada orang yang memperoleh fasilitas pembebasan atau penangguhan Bea Masuk. Sebagai peraturan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 1996. Pajak yang terutang Tidak Dipungut Fasilitas ini diberikan atas penyerahan BKP atau JKP atau impor BKP atau pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar di dalam Daerah Pabean yang dilakukan : 1) di/ke Kawasan Berikat. d) impor barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik yang berhubungan langsung dengan kegiatan produksi PDKB dan semata-mata digunakan oleh PDKB. f) penyerahan BKP untuk diolah dari PDKB kepada PDKB lain. PPN yang terutang tidak dipungut atas : a) penyerahan BKP untuk diolah lebih lanjut dan/atau alat pengemas (packing material) atau alat bantu pengemas oleh PKP dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya (DPIL) kepada Pengusaha di Kawasan Berikat (PDKB). 3) Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) 4) dalam rangka Kemudahan Impor Untuk Tujuan Ekspor (KITE) Secara singkat. atau kepada kawasan berikat.05/1997 sebagaimana telah tujuh kali diubah yang terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK. c) penyerahan BKP hasil pekerjaan subkontraktor di DPIL kepada PDKB selaku pemesan.

diatur dalam Peraturan Pemerintah dimaksud pada butir 2). PPN tidak dipungut : a) atas penyerahan BKP/JKP dari kontraktor utama kepada pemilik proyek. barang hasil pertanian. serta rumah susun sederhana milik (RUSUNAMI). Mulai 1 Januari 2001 telah diundangkan 2 Peraturan Pemerintah tentang hal ini. wajib mengajukan permohonan Surat Kete- MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 89 . b) atas impor BKP c) atas pemanfaatan BKP tidak berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean 4) Kemudahan Impor untuk Tujuan Ekspor (KITE) Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 580/KMK. yaitu: 1) Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 tentang impor dan atau penyerahan BKP tertentu dan atau penyerahan JKP tertentu yang dibebaskan dari pengenaan PPN yang kemudian diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2003 tanggal 14 Juli 2003. berdasartkan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1995. 2) Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 tentang impor dan atau penyerahan BKP tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan PPN. jasa pemborongan pembangunan gedung yang semata-mata untuk tempat ibadah. dibebaskan dari pengenaan PPN diatur dalam Peraturan Pemerintah dimaksud pada butir 1). Dibebaskan dari Pengenaan pajak . atau dipasang pada BKP lain dengan tujuan untuk diekspor. dan seterusnya mengikuti ketentuan pemberian fasilitas di Kawasan Berikat 3) Penyerahan BKP/JKP sehubungan dengan proyek milik Pemerintah yang sumber dananya berasal dari bantuan luar negeri berupa pinjaman atau hibah. c. rumah susun sederhana. bibit/benih dari barang hasil pertanian.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN c) impor BKP untuk diolah di PDKB. Sebagai contoh atas impor dan penyerahan buku pelajaran umum atau agama. Bagi PKP yang mengimpor atau membeli barang modal atau BKP tertentu sebagaimana dimaksud dalam kedua Peraturan Pemerintah tersebut. b) penyerahan barang hasil olahan yang bahan bakunya berasal dari impor yang diserahkan ke Kawasan Berikat untuk diolah lebih lanjut.04/2003 tanggal 31 De-sember 2003. demikian pula penyerahan air bersih yang dialirkan melalui pipa oleh perusahaan air minum. penyerahan rumah sederhana. dirakit. PPN tidak dipungut atas: a) impor BKP dan/atau bahan asal impor untuk diolah. penyerahan listrik kecuali untuk tempat tinggal dengan daya lebih dari 6600 watt. yang telah mengalami empat kali perubahan yang terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007. sangat sederhana. makanan/bahan makanan ternak. Pembebasan PPN atas impor/penyerahan barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik.

Berdasarkan Pasal 4 dan Pasal 5 PP Nomor 146 Tahun 2000 jo PP Nomor 38 Tahun 2003 ditentukan apabila BKP tertentu seperti kapal laut. Kepala KPP dimaksud wajib memutuskan-nya paling lambat 5 hari setelah surat permohonan diterima dalam keadaan lengkap. maka Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPKB ditambah sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan PPN tersebut tidak dibayar. 2) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 231/PMK. memperoleh fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah.011/2008 tanggal 23 Desember 2008. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 90 . maka PPN yang dibebaskan wajib dibayar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak terjadi penyimpangan. maka PPN yang telah dibebaskan wajib dibayar dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak barang modal tersebut dialihkan penggunaannya atau dipindahtangankan. ternyata digunakan tidak sesuai dengan tujuan semula dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak impor dan atau perolehannya. kereta api. PPN Ditanggung oleh Pemerintah (PPN DTP) 1) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK. dan Cukai. Pasal 1 UU Nomor 36 Tahun 2000 merumuskan bahwa Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehinga bebas dari pengenaan Bea Masuk. dalam Pasal 4 PP Nomor 12 Tahun 2001 setelah diubah dengan PP Nomor 31 Tahun 2007 diatur sebagai berikut : a) Dalam hal BKP tertentu yang bersifat strategis berupa barang modal.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN rangan Bebas PPN kepada Kepala KPP yang terkait. memperoleh fasilitas PPN Ditanggung Pemerintah. e. pesawat terbang. PPN. d. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ditambah dengan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. b) Apabila dalam jangka waktu 1 (satu) bulan.011/2007 tanggal 28 Desember 2007.36 Tahun 2000 peraturan pemerintah ini ditetapkan sebagai Undang-undang. PPN dimaksud tidak dibayar. suku cadang untuk perawatan atau perbaikannya yang dibebaskan dari pengenaan pajak ternyata digunakan tidak sesuai dengan tujuan semula dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak saat impor atau perolehannya. atas penyerahan minyak goreng sawit curah dan minyak goreng sawit kemasan sederhana dengan merek “MINYAKITA”. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Ketentuan mengenai Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone) diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2000 yang kemudian dengan UU No. PPn BM. Adapun pelabuhan meliputi baik pelabuhan laut maupun bandar udara. atas impor barang untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu minyak dan gas bumi serta panas bumi. Apabila terjadi penyimpangan penggunaan barang modal yang atas impor atau perolehannya mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 91 . kegiatan yang dilakukan di dalam Kawasan Perdagangan Besa dan Pelabuhan Bebas meliputi: 1) kegiatan manufaktur. terhitung sejak 4 Juni 2007 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Tugas dan wewenang Kepala Badan Pengusahaan adalah melaksanakan pengelolaan. perbankan. Dalam menjalankan fungsinya. dilakukan perubahan terhadap UU Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Men-jadi Undang-Undang. serta prasarana dan sarana lainnya. industri. b) pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. 2) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang disebut Badan Pengusahaan dibentuk oleh Dewan Kawasan yang juga menetapkan Kepala dan Anggotanya untuk masa kerja selama 5 (lima) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan. rancang bangun. Dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang dengan UU Nomor 44 Tahun 2007. Adapun lembaga dan struktur organisasinya. pemeriksaan akhir. pengepakan. jasa. yang semula ditetapkan dengan Undang-undang. asuransi. Badan Pengusahaan mempunyai wewenang membuat ketentuan-ketentuan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelayanan perbaikan atau rekondisi permesinan. pariwisata dan bidang-bidang lainnya. dan peningkatan mutu. pos dan telekomunikasi. c) sektor kegiatan di bidang ekonomi di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. dan pengepakan ulang atas barang dan bahan baku dari dalam dan luar negeri.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas berfungsi sebagai tempat untuk mengembangkan usaha di bidang perdagangan. bangunan dan jaringan listrik. penyortiran. ketentuan tentang penetapan : a) batas-batas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. 2) penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana air dan sumber air. maritim dan perikanan. perekayasaan. Untuk keperluan itu. prasarana dan sarana perhubungan termasuk pelabuhan laut dan bandar udara. pos dan telekomunikasi. transportasi. Jangka waktu suatu Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ditetapkan selama 70 (tujuh puluh) tahun terhitung sejak penetapan. pengembangan dan pembangunan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas sesuai dengan fungsi-fungsi Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. pemeriksaan awal. pertambangan dan energi. yang mengelola Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ditetapkan sebagai berikut: 1) Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang disebut Dewan Kawasan yang ditetapkan oleh Presiden. Badan Pengusahaan bertanggung jawab kepada Dewan Kawasan.

2) Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas hanya dapat dilakukan oleh pengusaha yang mendapat izin usaha dari Badan Pengusahaan. Selain Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang ada tambahan tiga kawasan baru. dan Cukai. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 92 . dilarang dimasukkan ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. d) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2007 yang diundangkan dan mulai berlaku pada tanggal 20 Agustus 2007. PPnBM. PPnBM.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Lalu lintas barang dari dan ke Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. dan hanya yang berhubungan dengan kegiatan usahanya. dan pembebasan Cukai. pembebasan PPN. yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Badan Pengusahaan. PPN. ditetapkan dalam 1 tahun sejak Peraturan Pemerintah tersebut diundangkan. dan Bintan. dari luar Daerah Pabean untuk kebutuhan penduduk di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas diberikan pembebasan Bea Masuk. maka pada awal tahun 2009 seluruhnya ada empat Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yaitu : a) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2000 yang telah ditetapkan menjadi undang-undang dengan UU Nomor 37 Tahun 2000 b) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam ditetapkan Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2007 yang diundangkan dan mulai berlaku tanggal 20 Agustus 2007. c) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2007 diundangkan dan mulai berlaku tanggal 20 Agustus 2000. 3) Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas melalui pelabuhan dan bandara yang ditunjuk dan berada di bawah pengawasan pabean diberikan pembebasan Bea Masuk. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun. 5) Pemasukan barang konsumsi yang jenis dan jumlahnya ditetapkan oleh Badan Pengusahaan. dalam Pasal 11 UU Nomor 36 Tahun 2000 ditetapkan sebagai berikut: 1) Barang-barang yang terkena ketentuan larangan. 4) Pemasukan dan pengeluaran barang ke dan dari Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ke Daerah Pabean diberlakukan tata laksana kepabeanan di bidang impor dan ekspor dan ketentuan di bidang Cukai. sedangkan untuk Batam ditetapkan paling lambat 31 Desember 2008.

tidak terutang PPN. menyerahkan sejumlah komputer kepada perusahaan farmasi di Kawasan Berikat Pulau Batam……………. wajib membuat Faktur Pajak untuk memungut PPN yang terutang b. kolom PPN pada Faktur Pajak diisi Rp 700. karena penyerahan ke kawasan berikat tidak dikenakan PPN c. wajib membuat Faktur Pajak meskipun PPN yang terutang tidak dipungut d. tidak perlu membuat Faktur Pajak karena tidak terutang PPN c.04/1997”. 1) PT Printa Utama yang sudah dikukuhkan sebagai PKP menyerahkan dua unit mesin fotokopi kepada PT Permadi yang berkedudukan di kawasan berikat ………….000. tidak terutang PPN.00 dan dibubuhi cap “PPN Ditanggung oleh Pemerintah” d.00 dan dibubuhi cap “PPN tarif 0% eks Keputusan Menteri Keuangan Nomor 548/KMK. terutang PPN dan wajib dipungut oleh PT Printa Utama. karena PPN-nya Tidak Dipungut c.00. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 93 .. kolom PPN pada Faktur Pajak diisi Rp 700. kolom PPN pada Faktur Pajak diisi Rp 700.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 12. karena PPN-nya Tidak Dipungut b. tidak perlu membuat Faktur Pajak karena PPN-nya dibebaskan 3) PT Komukindo menyerahkan sejumlah mesin fotokopi kepada PT Kumarta selaku kawasan berikat yang berkedudukan di sebuah kawasan industri ………….000.000. melakukan service dan perbaikan mesin pabrik tekstil PT Persada yang berkedudukan di Kawasan Berikat Nusantara Cakung. dikenakan PPN 0% d. Atas kegiatan ini PT Bima menerima fee sebesar Rp 7. tidak terutang PPN.000. Pilihan Ganda Sederhana Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan pada tiap-tiap kasus kecil dibawah ini. kolom PPN pada Faktur Pajak diisi Rp 700. a. Atas penyerahan ini PT Bima wajib membuat Faktur Pajak yang diisi sebagai berikut ………………… a. a. terutang PPN tetapi tidak dipungut d. terutang PPN tetapi Tidak Dipungut 2) PT Mariman yang berkedudukan di Pekanbaru.00 dan dibubuhi cap “PPN Tidak Dipungut eks KEPPRES No.000. terutang PPN dan wajib dipungut oleh PT Komukindo. Latihan 11 A. 4) PT Bima yang berkedudukan di Jakarta. a.00 b.2. b. 96/1993” c.000.

Menerima pembayaran atas : 1) penyerahan sejumlah sepatu kepada Husin pemilik toko sepatu “Serasi” di Bogor dengan Harga Jual Rp10. h. Membayar PPN atas impor kulit bison dari Meksiko dengan Nilai Impor Rp 200. Mentransfer royalty Rp 75.000. Dari catatan dalam bulan Mei 2004 dapat dikutip beberapa transaksi sebagai berikut : a.00. g.000.000.000. Oleh karena itu PT Markoni ……………… a.000.000.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 5) PT Markoni menyerahkan sejumlah OHP kepada Depdiknas yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Mengimpor sejumlah mesin pabrik dengan Nilai Impor Rp 1.000. Hitungan PT Mukti Sentosa adalah sebuah perusahaan industri sepatu yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Berikat berkedudukan di Cikarang dan telah dikukuhkan sebagai PKP sejak 1 Juni 1997. Membeli mesin pabrik produksi dalam negeri Rp 800. Membayar penggantian termijn I Rp 150.00 c. membuat Faktur Pajak untuk memungut PPN yang terutang b.00. tidak perlu membuat Faktur Pajak karena dibebaskan dari PPN B.000.00 kepada perusahaan sepatu pemilik merek di Swedia dan fee atas jasa marketing Rp 90.000.000.00.00 yang dilakukan pada tanggal 1 April 2004.00 pembangunan gedung pabrik kepada PT Rasamala selaku pemborong yang berkedudukan di Karawang. d.000.00. membuat Faktur Pajak meskipun PPN-nya tidak dipungut d.000.000.000. tidak membuat Faktur Pajak karena PPN-nya tidak dipungut c. Menerima pembayaran atas penyerahan sepatu kepada PT Granada sebuah pabrik tekstil di Kawasan Berikat dengan Harga Jual Rp 40. e.000.00 b.00 yang terutang Bea Masuk 20%.000.000. Harga jual bahan ini adalah Rp 20.000.000.000. pada tanggal 8 April 2004.000. Hitung berapa PPN yang terutang dan yang wajib dibayar atas transaksi tersebut ! MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 94 . 2) penyerahan sejumlah sepatu kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang pada tanggal 2 Maret 2002 yang penagihan dilakukan dengan invoice dan Faktur Pajak tertanggal 29 April 2004 sebesar Rp50. f. Menyerahkan sejumlah kulit kepada PT Karya Mulia sebuah perusahaan industri sepatu di Bekasi selaku sub kontraktor untuk dibuatkan sepatu sesuai design.

4) Dalam hal ekspor BKP Yang Tergolong Mewah. juga dapat diminta kembali PPnBM yang telah dibayar atas perolehan BKP Yang Tergolong Mewah yang diekspor ( Pasal 10 ayat (3) UU PPN 1984) . Sebab-sebab terjadi pengembalian pembayaran pajak Pengembalian pembayaran pajak yang bagi fiskus merupakan kewajiban. 4) PKP sedang dalam masa investasi yang akan menghasilkan BKP atau JKP Pajak Masukan yang dapat dikreditkan sehingga menimbulkan lebih bayar yang dapat diminta kembali oleh PKP adalah : 1) Pajak Masukan yang berasal dari perolehan BKP dan/atau JKP dari BKP yang diekspor. sebagai berikut: MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 95 .1. mekanisme penyelesaian permohonan restitusi PPN atau PPN dan PPnBM dilakukan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-48/PJ/2008 tanggal 16 Desember 2008. selain kelebihan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam butir 1). Uraian. c. Sebab-sebab jumlah Pajak Masukan lebih besar dari pada jumlah Pajak Keluaran Jumlah Pajak Masukan lebih besar dari pada jumlah Pajak Keluaran dalam suatu Masa Pajak disebabkan oleh : 1)kegiatan usaha PKP adalah ekspor BKP. dan bagi PKP merupakan hak disebabkan jumlah Pajak Masukan yang dibayar oleh PKP lebih besar dari pada jumlah Pajak Keluaran yang dipungut dalam suatu Masa Pajak. b. 2) PKP banyak melakukan penyerahan BKP atau JKP kepada Pemungut PPN. maka kelebihannya dapat diminta kembali atau dikompensasi ke Masa Pajak berikutnya. Dal ini tersurat dalam Pasal 9 ayat (4) UU PPN 1984 ditentukan bahwa apabila jumlah Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak lebih besar dari pada Pajak Keluaran. 3) Seluruh Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan BKP dan/atau JKP yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha melakukan penyerahan kena pajak. 3) PKP banyak melakukan penyerahan BKP atau JKP dengan fasilitas PPN tidak dipungut. 2) Pajak Masukan yang berasal dari perolehan BKP dan/atau JKP dari BKP dan/atau JKP yang diserahkan kepada Pemungut PPN tersebut.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 13. KEGIATAN BELAJAR 12 RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 13. Mekanisme penyelesaian permohonan restitusi PPN atau PPN dan PPnBM Mulai 1 Januari 2009. contoh dan non contoh a.

4. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 96 . Dalam hal disusulkan. (2) Kelengkapan surat permohonan restitusi : 1. dan PKP Tertentu ini wajib melengkapi Faktur Pajak yang terkait. Apabila setelah lewat jangka waktu dimaksud. Apabila sampai batas waktu yang ditentukan tersebut ternyata PKP belum meleng-kapi surat permohonan. Kepala KPP dapat menerbitkan surat permintaan kelengkapan permohonan pengembalian kepada PKP yang bersangkutan dengan memperhatikan jangka waktu melengkapi kelengkapan permohonan tersebut. Direktur Jenderal Pajak wajib menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar. maka surat permohonan restitusi diproses sebatas kelengkap-an dokumen yang sudah diterima di KPP. maka dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak jangka waktu terlampaui.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN a) Permohonan restitusi dapat diajukan kepada Kepala KPP pada setiap akhir Masa Paajak dengan cara mengisi kolom yang tersedia pada formulir SPT Masa PPN atau dengan surat tersendiri dengan ketentuan sebagai berikut : (1) Satu surat permohonan untuk satu Masa Pajak. PKP Tertentu yang mengajukan permohonan restitusi tidak diwajibkan melengkapi surat permohonannya dengan kelengkapan surat permohonan pengembalian berupa Faktur Pajak dan dokumen yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak. Setelah melakukan pemeriksaan. 3. berarti permohonan PKP dikabulkan. 2. Dalam hal permohonan restitusi diajukan oleh PKP Tertentu meliputi Masa Pajak sebe-lum PKP menjadi PKP Tertentu. Kelengkapan dokumen dapat diajukan bersamaan dengan surat permohonan atau disusulkan paling lambat satu bulan sejak surat permohonan diterima oleh Kepala KPP. berarti permohonan PKP Tertentu ini dikabulkan. 2. pemeriksaan wajib dilakukan terhadap SPT Masa PPN yang menyatakan kelebihan pembayarannya dikompensasi. Direktur Jenderal Pajak belum menerbitkan SKPPKP. kecuali bagi PKP Tertentu. Faktur Pajak dan/atau dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak. 3. Setelah melakukan penelitian atas permohonan restitusi yang diajukan oleh PKP Tertentu. Dalam hal jangka waktu ini telah terlampaui ternyata tidak ada surat ketetapan pajak yang diterbitkan. b) Dalam hal yang mengajukan permohonan adalah PKP Tertentu. harus menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP). Direktur Jenderal Pajak (dalam hal ini Kepala KPP) wajib menerbitkan surat ketetapan pajak dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diterima. maka berlaku mekanisme sebagai berikut: 1. satu bulan sejak surat permohonan diterima. wajib menerbitkan SKPPKP. maka dalam waktu 1 (satu) bulan setelah jangka waktu ini terlampaui.

PKP Tertentu wajib membayar jumlah kekurangan pajak ditambah sanksi beru-pa kenaikan sebesar 100% dari pajak yang kurang dibayar. Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan yang meliputi semua jenis pajak. Latihan 12 1) Jelaskan apa yang menyebabkan terjadi restitusi PPN ! 2) Bagaimana cara mengajukan permohonan restitusi ? 3) Dokumen apa saja yang wajib dilampirkan pada surat permohonan restitusi dan bagaimana cara melengkapinya? 4) Apa konsekuensinya apabila PKP yang mengajukan permohonan restitusi tidak memenuhi kelengkapan dokumen penunjang setelah melampaui jangka waktu yang ditetapkan ? 5) Bilamana Direktur Jenderal Pajak wajib menerbitkan surat ketetapan pajak atas surat permohonan restitusi yang diterima ? Apa konsekuensinya apabila kewajiban tersebut tidak dipenuhi ? MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 97 . Apabila dari hasil pemeriksaan ini menghasilkan SKPKB.2.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 4. 13. Setelah menerbitkan SKPPKP.

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

14. KEGIATAN BELAJAR 13

KEWAJIBAN MENYAMPAIKAN SPT MASA PPN

14.1. Uraian, contoh dan non contoh a. Kewajiban menyampaikan SPT Masa PPN
Tentang kewajiban pelaporan atas pemungutan dan penyetoran pajak terutang diatur dalam Pasal 3A UU PPN 1984 dan Pasal 3 UU KUP. Dalam penjelasan Pasal 3 UU KUP digariskan bahwa bagi PKP fungsi Surat Pembe-ritahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang terutang dan untuk melaporkan tentang : a. pengreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran ; b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku ; c. bagi Pemotong atau Pemungut Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya. Berdasarkan Pasal 4 UU KUP ditentukan bahwa pengisian SPT harus dilakukan dengan lengkap, benar dan ditanda tangani oleh pengurus atau direksi untuk wajib pajak Badan. Dalam hal SPT ditanda tangani oleh orang lain selain yang disebut diatas, harus dilampiri Surat Kuasa Khusus. Surat kuasa khusus untuk SPT Masa PPN dibuat per Masa Pajak dengan menyebut bulan yang bersangkutan, jadi tidak dapat dibuat untuk satu tahun buku. SPT harus disampaikan dengan lengkap, artinya disertai lampiran yang telah ditetapkan. SPT yang disampaikan tidak lengkap, dianggap SPT tersebut tidak pernah disampaikan.

b. SPT Masa PPN
Mulai Masa Pajak januari 2007, SPT Masa PPN yang semula menggunakan formulir 1195, diganti dengan formulir 1107 berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-146/PJ/2006 tanggal 29 September 2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-142/PJ./2007. SPT Masa PPN Formulir 1107 terdiri atas : 1. Induk SPT - Formulir 1107

2. Lampiran 1 Daftar Lampiran Pajak Keluaran dan PPnBM – Formulir 1107A 3. Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan dan PPnBM – Formulir 1107B.
MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN

98

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

Kemudian dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-29/PJ/2008 tanggal 23 Juni 2008 ditetapkan bahwa bagi PKP yang menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas (hard copy) wajib menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1108 yang terdiri atas : 1. Induk SPT - Formulir 1108

2. Lampiran 1 Daftar Lampiran Pajak Keluaran dan PPnBM – Formulir 1108A 3. Lampiran 2 Daftar Pajak Masukan dan PPnBM – Formulir 1108B. Bagi PKP yang semula menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas kemudian menyampaikan SPT dalam bentuk data elektronik, tidak diperbolehkan lagi untuk menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas, kecuali atas SPT Pembetulan yang SPT sebelumnya disampaikan dalam bentuk formulir kertas. Adapun PKP yang diperbolehkan menyampaikan SPT Masa PPN dalam bentuk formulir kertas berdasarkan Pasal 1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-29/PJ./2008 adalah PKP yang membuat Faktur Pajak Standar dan membuat Nota Retur serta membuat dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar atau mengreditkan Faktur Pajak Standar dan menerima Nota Retur serta menggunakan dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai Faktur Pajak Standar, yang jumlahnya baik sebagai Pajak Keluaran maupun sebagai Pajak Masukan masing-masing tidak lebih dari 30 (tiga puluh) dalam satu Masa Pajak. Berdasarkan Pasal 6 peratturan ini disampaikan oleh PKP secara manual, yaitu : 1) langsung ke KPP; atau 2) melalui Kantor Pos secara tercatat atau melalui perusahaan ekspedisi atau melalui perusahaan jasa kurir, ke KPP. Bagi PKP yang membuat Faktur Pajak Keluaran, membuat Nota Retur atau menggunakan Faktur Pajak Masukan atau menerima Nota Retur dalam satu Masa Pajak lebih dari 30 (tiga puluh), wajib menyampaikan SPT Masa PPN dalam bentuk data elektronik dengan menggunakan SPT Masa PPN Formulir 1107. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, PKP dianggap tidak menyampaikan SPT. Dalam SPT Masa PPN dilaporkan NIHIL, karena PKP tidak melakukan penyerahan dan per-olehan BKP dan/atau JKP, maka PKP hanya menyampaikan Induk SPT, dan SPT yang seperti ini dianggap sudah disampaikan. SPT

14.2. Latihan 13 PT SERUNI adalah sebuah perusahaan industri perlengkapan kosmetika yang berkedudukan di Jl. Flamboyan No.99-G, Nomor telepon 8765432, Jakarta. Perusahaan ini memproduksi minyak rambut, obat perawatan kulit, shampo, preparat rias lainnya dan alat KB. Perusahaan ini memiliki NPWP: 01.215.430.4.132.000. Dikukuhkan sebagai PKP sejak tanggal 10 April 1992. Merek yang digunakan untuk produknya adalah "SARI". Dalam bulan Januari 2008, dapat dipetik transaksi yang tercatat dalam pembukuan sebagai berikut :

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN

99

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PENYERAHAN BKP/PENERIMAAN PEMBAYARAN : 1. 4 Januari 2008 diterima pembayaran dari PT KEMUNING atas penyerahan sejumlah

peralatan kecantikan pada tanggal 5 Desember 2007 dengan Harga Jual Rp38.000.000,00. Faktur Pajak Standar dengan Nomor Seri : 010.000-0800000001. 2. 7 Januari 2008 ekspor sejumlah preparat kosmetika kepada Snow White PLc. di Toronto, Kanada de-ngan Nilai Ekspor Rp 3.000.000.000,00. PEB No.00028-I-08 tanggal 7 Januari 2008. 3. 10 Januari 2008 diserahkan BKP bahan baku alat KB seharga Rp 700.000.000,00 kepada PT DUBIKSA pabrik alat KB di KBN Cakung. Mendapat fasilitas PPN Tidak Dipungut dan Faktur Pa-jak dibuat pada saat penyerahan dengan Nomor Seri: 070.000-08-00000002 tanggal 10 Januari 2008. 4. 15 Januari 2008 ekspor produk kosmetika kepada Khang Sie Man PLc di Hong Kong dengan Nilai Ek-spor sebesar Rp3.500.000.000,00. PEB No.00310-I-08 tanggal 15 Januari 2008. menerima pembayaran atas penyerahan assets perusahaan berupa sebuah mesin pengolah obat kepada perusahaan obat tradisional PT BENSARAS, yang dilakukan pada 2 Desember 2007, dengan Harga Jual sebesar Rp200.000.000,00. Dibuatkan Faktur Pajak Standar dengan Nomor Seri: 090.000-08-00000003 tanggal 15 Januari 2008. 6. 18 Januari 2008 menyampaikan tagihan kepada KPPN, sesuai dengan harga kontrak Rp165.000.000,00 termasuk PPN. Surat tagihan dilampiri Faktur Pajak

5. 15 Januari 2008

Standar Nomor Seri : 020.000-08.00000004 tanggal 18 Januari 2008. 7. 22 Januari 2008 disumbangkan kepada panti wreda “Selasih”, sejumlah obat perawatan kulit untuk lanjut usia yang Harga Jual sebenarnya Rp 36.000.000,00 ter-masuk laba kotor 20%. Dibuatkan Faktur Pajak Sederhana tanggal 22 Janu-ari 2008. 8. 24 Januari 2008 ekspor sejumlah produk kosmetika kepada Sunflower PLc di London dengan Nilai Ekspor sebesar Rp 4.700.000.000,00. PEB No. 00109-I-08 tanggal 24 Januari 2008. 9. 26 Januari 2008 diterima pembayaran dari PT PERMATA,atas penyerahan peralatan kecantikan pada 2 Desember 2007 dengan Harga Jual Rp 170.000.000,00. Fak-tur Pajak Standar Nomor Seri : 010.000-08.00000005 tanggal 26 Januari 2008. 10. 28 Januari 2008 menyampaikan surat penagihan kepada Bendaharawan Dinas Pariwisata, penyerahan sejumlah perlengkapan perawatan kecantikan pada 12 Desember 2007 dengan Harga Jual Rp 20.000.000,00. Faktur Pajak Standar Nomor Seri : 020.000-08-00000006 tanggal 28 Januari 2008.

MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II

HALAMAN 100

dengan Harga Jual seluruhnya Rp 280.000. sejum-lah botol kepada PT GLASINDO. Faktur Pajak Standar dengan nomor seri : 010. 2.00 dengan PIB Nomor 016-I-08 tanggal 15 Januari 2008.000. dikeluarkan dari pelabuhan Tanjung Priok suku cadang mesin pabrik yang diimpor dengan Nilai Impor Rp 800. Faktur Pajak Standar Nomor Seri: 010. PEMBELIAN BKP/PEROLEHAN JKP/PEMBAYARAN : 1.00 telah dibayar ke Bank BNI. 3.000-07-00000127 tertanggal 30 November 2007 dengan PPN Rp 8. 31 Januari 2008 diterima kembali dari PT PANDAN ARUM. preparat kecantikan dengan Harga Jual Rp30 juta.00 kepada PT REKAYASA.00 ke Bank BNI atas impor bahan obat dari Jerman . NR06/I/08 tanggal 30 Januari 2008.00 dari pabrik accu PT Elektro.820.000. 6.000.000. dengan Harga Jual Rp30. atas renovasi ruang manaje-men yang telah selesai dikerjakan pada 29 Desember 2007. di Tokyo. Fee telah ditransfer pada tanggal 18 Desember 2007. 8.000. 12.00 termasuk PPN kepada PT TELKOM. peralatan pabrik yang diimpor.000.000. Pada waktu itu Pajak Masukannya tidak dikreditkan.00 ke Bank BNI. 00000028 tanggal 22 Januari 2008.000-07. 12 Januari 2008 menyetor PPN Rp 8.000. atas penyerahan sejumlah accu untuk armada mobil box pada tanggal 5 Oktober 2007.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN 11. 22 Januari 2008 membayar tunai pembelian 2 unit mobil box kepada PT Jenggala. 27 Januari 2008 diterima Faktur Pajak Nomor Seri : 010. 9 Januari 2008 dibayar PPN sebesar Rp 43.00 yang merupakan bagian dari penyerahan pada 18 Oktober 2007. 15 Januari 2008 MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 101 .000.000.000. yang merupakan bagian dari penyerahan dengan Faktur Pajak tanggal 30 September 2007.000. yang terutang atas jasa pemasaran dari Tokogawa PLc.000.000. 5.000.000. SSP dan PIB PIB Nomor : 123-I-08 tanggal 18 Januari 2008 dengan PPN Rp 75. PIB Nomor : 009-I-08 tanggal 8 Januari 2008.00.000.00000015 tanggal 29 Januari 2008. 29 Januari 2008 membayar Rp 120. 30 Januari 2008 mengirim kembali dengan Nota Retur Nomor R-12/I/08 tanggal 29 Januari 2008. 30 Januari 2008 diserahkan satu unit villa milik perusahaan dengan Harga Jual Rp600 juta yang dibeli pada bulan Juli 1997. 9. 19 Januari 2008 dikeluarkan dari pelabuhan Tanjung Priok. 4. 7.07. 6 Januari 2008 dibayar uang langganan telepon Rp 6. Kuitansi nomor 017-PLg-I-07 tanggal 6 Januari 2008. dengan Nota Retur No.

Dalam SPT Masa PPN Masa Pajak Desember 2007. Untuk mempercepat pengisian. kelebihannya supaya dikompensasikan dengan utang pajak pada Masa Pajak berikutnya.000. diminta kolom NPWP selain pada bagian identitas. Faktur Pajak dibuat sesuai dengan Peraturan Dirjen Pajak Nomor: KEP-159/PJ/2006 tanggal 31 Oktober 2006.000. c. e. d. Dalam hal PM > PK. Selama bulan Januari 2008 telah dibelanjakan sebanyak Rp75. tidak perku diisi.PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN PERMASALAHAN : Masukkan seluruh transaksi tersebut ke dalam SPT Masa PPN 1108 untuk Masa Pajak Januari 2008 atas nama PT SERUNI dengan keterangan tambahan sebagai berikut : a. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 102 .00 untuk biaya membangun sendiri satu unit gudang ukuran 470 m2. yang diminta untuk dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya. Faktur Pajak dibuat pada tanggal jatuh tempo saat pembuatan Faktur Pajak. dibuat pada saat pembayaran b. terdapat kelebihan pembayaran PPN sebesar Rp38 juta. kecuali sebelumnya ada pembayaran.

ke-1. Direktorat Jenderal Pajak. Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak. cet. Jakarta. ke-4. ke-2.-ke-8 PT Raja Grafindo Persada. cet. MODUL PAJAK PERTAMBAHAN NILAI@DTS DASAR PAJAK II HALAMAN 103 . Muhammad Rusjdi : “PPN & PPnBM”. PT Raja Grafindo Persada. Kelompok Kerja Pajak Penghasilan. ------------------: "HIMPUNAN PERATURAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI". 2005. 1984. PT Raja Grafindo Persada. cet. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada . Jakarta. 2008. Kelompok Kerja PPN. 2007. 1984. Direktorat Jenderal Pajak. ------------------: “PEMUNGUT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI” Sebuah Pemahaman dan Tinjauan Yuridis. ------------------------------------: "UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1983". 2006. ------------------: “POKOK-POKOK PAJAK PERTAMBAHAN NILAI INDONE-SIA” cet. 1984. Jakarta. Direktorat Jenderal Pajak : "BUKU PENUNTUN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984".PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN Daftar Pustaka Untung Sukardji : “PAJAK PERTAMBAHAN NILAI”. ------------------: “ANALISIS KONSTRUKTIF PERUBAHAN UU PPN 1984 DENGAN UU NOMOR 18 TAHUN 2000”. 2003. : "UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983". Direktorat Jenderal Pajak. PT Indeks.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful