You are on page 1of 29

LAPORAN SEMENTARA

PRAKTIKUM KLIMATOLOGI
ACARA I
PENGENALAN ALAT-ALAT METEOROLOGI

Disusun Oleh :
1. Mariana Susilowati (PN/11571)
2. Eni Kaeni (PN/11573)
3. Nuria Pratiwi (PN/11579)
4. Adik Pipit Aprilianto (PN/11589)
5. Happy Dian Lestari (PN/11593)
6. Surya Atma Jaya (PN/11600)
Gol/ Kel : A2/ 1
Asisten : Tiara Wulan

LABORATORIUM AGROKLIMATOLOGI
JURUSAN ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
ACARA I
PENGENALAN ALAT-ALAT METEOROLOGI

I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Stasiun meteorologi pertanian adalah suatu tempat yang mengadakan
pengamatan secara terus menerus mengenai keadaan fisik dan lingkungan
(atmosfer) serta pengamatan tentang biologi dari tanaman dan obyek pertanian
lainnya. Koordinasi secara luas mengenai pengumpulan dan pengelolaan data
meteorologi dilakukan oleh World Meteorology Organization (WMO). Data
anasir cuaca dan tempat-tempat berlainan baru dapat diperbandingkan apabila
melalui cara pengukuran dan tingkat ketelitian serta ketepatan yang sama.
Kaseragaman yang dibutuhkan untuk pertukaran data secara internasional
meliputi: waktu pengamatan, satuan anasir cuaca, ketelitian dan ketepatan alat
serta penentuan letak stasiun.
b. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengenal stasiun meteorologi
pertanian dan alat-alat pengukur anasir cuaca yang biasa digunakan dalam
bidang meteorologi pertanian serta mempelajari prinsip kerja, cara penggunaan
alat, serta macam dan kualitas data yang dihasilkan dari sesuatu alat pengukur
anasir cuaca.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Secara luas meteorologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari atmosfer
yang menyangkut keadaan fisis dan dinamisnya serta interaksinya dengan permukaan
bumi di bawahnya. Dalam pelaksanaan pengamatannya menggunakan hukum dan
teknik matematik. Pengamatan cuaca atau pengukuran unsur cuaca dilakukan pada
lokasi yang dinamakan stasiun cuaca atau yang lebih dikenal dengan stasiun
meteorologi. Maksud dari stasiun meteorologi ini ialah menghasilkan serempak data
meteorologis dan data biologis dan atau data-data yang lain yang dapat
menyumbangkan hubungan antara cuaca dan pertumbuhan atau hidup tanaman dan
hewan. Lokasi stasiun ini harus dapat mewakili keadaan pertanian dan keadaan alami
daerah tempat stasiun itu berada. Informasi meteorogis yang secara rutin diamati antara
lain ialah keadaan lapisan atmosfer yang paling bawah, suhu dan kelengasan tanah pada
berbagai kedalaman, curah hujan, dan curahan lainnya, durasi penyinaran dan reaksi
matahari (Prawirowardoyo, 1996).
Dalam bidang pertanian, menurut Wisnubroto (1999) ilmu prakiraan penentuan
kondisi iklim atmosfer ini adalah untuk menentukan wilayah pengembangan tanaman.
Iklim mempengaruhi dunia pertanian. Presipitasi, evaporasi, suhu, angin, dan
kelembaban nisbi udara adalah unsur iklim yang penting. Dalam dunia pertanian, air,
udara, dan temperatur menjadi faktor yang penting. Kemampuan menyimpan air oleh
tanah itu terbatas. Sebagian air meninggalkan tanah dengan cara transpirasi, evaporasi,
dan drainase.
Prakiraan cuaca baik harian maupun prakiraan musim, mempunyai arti penting
dan banyak dimanfaatkan dalam bidang pertanian. Prakiraan cuaca 24 jam yang
dilakukan oleh BMG, mempunyai arti dalam kegiatan harian misalnya untuk
pelaksanaan pemupukan dan pemberantasan hama. Misalnya pemupukan dan
penyemprotan hama perlu dilakukan pada pagi hari atau ditunda jika menurut prakiraan
sore hari akan hujan lebat. Prakiraan permulaan musim hujan mempunyai arti penting
dalam menentukan saat tanam di suatu wilayah. Jadi, bidang pertanian ini
memanfaatkan informasi tentang cuaca dan iklim mulai dari perencanaan sampai
dengan pelaksanaannya (Setiawan, 2003).
Pada proses pengamatan keadaan amosfer kita ini, digunakan beberapa alat.
Sebelum ditemukan satelit meteorologi, satu-satunya cara untuk mendapatkan gambaran
menyeluruh mengenai keadaan atmosfer adalah dengan memasukkan keadaan yang
diamati pada stasiun cuaca di seluruh dunia ke dalam peta cuaca (Neiburger, 1982).
Pada pengamatan keadaan atmosfer kita di stasiun cuaca atau stasiun meteorologi
digunakan beberapa alat yang mempunyai sifat-sifat yang hampir sama dengan alat-alat
ilmiah lainnya yang digunakan untuk penelitian di dalam laboratorium, misalnya
bersifat peka dan teliti. Perbedaannya terletak pada penempatannya dan
para pemakainya. Alat-alat laboratorium umumnya dipakai pada ruang tertutup,
terlindung dari hujan dan debu-debu, angin dan lain sebagainya serta digunakan oleh
observer. Dengan demikian sifat alat-alat meteorologi disesuaikan dengan tempat
pemasangannya dan para petugas yang menggunakan (Anonim, 2008).
Adapun alat-alat meteorologi yang ada di Stasiun Meteorologi Pertanian
diantaranya alat pengukur curah hujan (Ombrometer tipe Observatorium dan
Ombrograf), Alat pengukur kelembaban relatif udara (Psikometer Assman, Psikometer
Sangkar, Higrograf, Higrometer, Sling Psikometer), alat pengukur suhu udara
(Termometer Biasa, Termometer Maksimum, Termometer Minimum, dan Termometer
Maximum-Minimum Six Bellani), alat pengukur suhu air (Termometer Maksimum-
Minimum Permukaan Air), alat pengukur panjang penyinaran matahari (Solarimeter
tipe Jordan, Solarimeter tipe Combell Stokes), alat pengukur suhu tanah (Termometer
Permukaan Tanah, Termometer Selubung Kayu, Termometer Bengkok, Termometer
Maksimum-Minimum tanah, Termometer Simons, Stick Termometer), alat pengukur
intensitas penyinaran matahari (Aktinograf), alat pengukur evaporasi (Panci Evaporasi
Kelas A, Piche Evaporimeter) dan alat pengukur kecepatan angin (Cup Anemometer,
Hand Anemometer, Biram Anemometer) (Prawirowardoyo, 1996).
Stasiun meteorologi mengadakan contoh penginderaan setiap 30 detik dan
mengirimkan kutipan statistik (sebagai contoh, rata-rata dan maksimum). Untuk yang
keras menyimpan modul-modul setiap 15 menit. Hal ini dapat menghasilkan kira-kira
20 nilai dari hasil rekaman untuk penyimpanan akhir disetiap interval keluaran. Ukuran
utama dibuat di stasiun meteorologi danau vida, pemakaian alat untuk temperatur udara,
kelembaban relatif, temperatur tanah (Fontain, 2002).
Hasil yang didapat setelah dilakukannya suatu pengamatan di stasiun cuaca atau
stasiun meteorologi yakni data-data mengenai iklim. Di indonesia, berdasarkan
ketersediaan data iklim yang ada di sistem database Balitklimat, hanya ada 166 dari
2.679 stasiun yang menangani data iklim. Umumnya hanya data curah hujan dan suhu
udara, sehingga walaupun metode Penman merupakan yang terbaik, metode Blaney
Criddle akan lebih banyak dipilih karena hanya memerlukan data suhu udara yang
relatif mudah didapatkan (Runtunuwu et.al., 2008).
Model-model peramalan deret waktu umumnya cenderung tidak tajam dalam
membahas aspek keterkaitan ruang. Sebaliknya pada model-model prediksi yang
menggunakan analisis keterkaitan ruang antar stasiun atau analisis hubungan antar
parameter umumnya diterapkan pada satu periode waktu tertentu dan mengabaikan
keterkaitan deret waktu ( Pramudia et.al., 2008).

III. METODOLOGI
Praktikum acara 1 yang berjudul “Pengenalan Alat-Alat Meteorologi” ini
dilaksanakan pada hari Selasa, 21 September 2010 di Laboratorium Agroklimatologi,
Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Adapun alat
dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain: alat pengukur curah hujan
(ombrometer tipe observarium dan ombograf), alat pengukur kelembaban nisbi udara
(psikometer sangkar, sling psikometer, psikometer tipe assman dan higrograf), alat
pengukur suhu udara (termometer biasa, termometer maksimum, termometer minimum,
dan termometer maksimum-minimum Six Bellani), alat pengukur suhu dan kelembaban
nisbi udara (termohigrometer dan termohigrograf), alat pengukur suhu tanah
(termometer permukaan tanah, termometer tanah selubung kayu, termometer tanah tipe
bengkok, termometer tanah tipe symons, stick termometer dan termometer maksimum-
minimum tanah) alat pengukur suhu air (termometer maksimum-minimum permukaan
air), alat pengukur panjang penyinaran matahari (solarimeter tipe Jordan dan solarimeter
tipe Combell Stocker), alat pengukur intensitas penyinaran matahari (aktinograf), alat
pengukur kecepatan angin (cup anemometer, hand anemometer, dan bisam
anemometer), dan alat pengukur evaporasi (piche evaporimeter dan panci evaporasi
kelas-A).
Alat-alat meteorologi pertanian diperkenalkan oleh asisten. Lalu alat-alat
pengukur anasir cuaca tersebut diamati dengan dibimbing oleh Asisten. Kemudian
nama, kegunaan, satuan, ketelitian, keterangan singkat, prinsip kerja, cara kerja, cara
pengamatan dan cara pemasangan alat-alat pengukur anasir cuaca dicatat.Setelah itu,
Praktikan diperkenalkan pada stasiun meteorologi khusus bidang pertanian serta
dijelaskan oleh Asisten tentang hal-hal yang berhubungan dengan stasiun pengamatan.
Dari hasil pengamatan, dibuat uraian singkat mengenai alat pengukur anasir cuaca yang
diamati serta dibandingkan kelebihan dan kekurangan antar alat yang diamati, baik dari
segi ketelitian pengamatan dan kepraktisan.
IV. HASIL PENGAMATAN

1. Alat Pengukuran Curah Hujan


I.1Ombrometer tipe observatorium
Keterangan Gambar :
a. Mulut penakar seluas 100 cm²
b. Corong sempit
c. Tabung penampung dengan kapasitas
setara 300-500 mmCH
d. Kran

I.2 Ombrograf

Keterangan Gambar :
a. Mulut penakar
b. Corong sempit
c. Tabung penampung I
d. Tabung penampung utama dengan kapasitas
setara dengan
60 mm CH
e. Saluran pembuangan air dengan sistem
bejana berhubungan
f. Silinder kertas grafik
g. Pelampung
2. Alat Pengukur Kelembaban Nisbi Udara
2.1 Psikrometer Sangkar
Keterangan Gambar :
a. Statif
b. Termometer Bola Basah
c. Termometer Bola Kering
d. Kain Kasa yang di Basahi
e. Bejana Tempat Air

2.2 Sling Psikrometer

Keterangan Gambar :
a. Termometer bola
basah
b. Termometer bola
kering
c. Pegangan

2.3 Psikrometer Tipe Assman


Keterangan Gambar :
a. Termometer bola basah
b. Termometer bola kering

c. Kipas
d. Sekrup pemutar pegas
e. Saluran angin
2.4 Higrograf

Keterangan Gambar :
a. Rambut
b. Sistem tuas
c. Pena / penera grafik
d. Silinder kertas grafik

3. Alat Pengukur Suhu Udara


3.1 Termometer Biasa

Keterangan Gambar :
a. Reservoir
b.
b.
b.
Pipa kapiler berisi raksa atau alkohol

3.2 Termometer Maksimum Udara

Keterangan Gambar :
a. Reservoir
b. Celah Sempit
c. Pipa kapiler berisi raksa
3.3 Termometer Minimum Udara
Keterangan Gambar :
a. Reservoir
b. Indeks penunjuk suhu minimum
c. Pipa kapiler berisi alkohol

3.4 Termometer Maksimum Minimum Six Bellani

Keterangan Gambar :
a.Reservoir
b.Pipa kapiler berisi raksa (suhu
max).
c.Pipa kapiler berisi alkohol (suhu
min)
d.Indeks penunjuk suhu maksimum
e.Indeks penunjuk suhu minimum
f. Tombol pengembali indeks

4. Alat Pengukur Suhu Udara Sekaligus Kelembaban Nisbi Udara


4.1 Termohigrometer
Keterangan Gambar :
a. Spiral Dwi Logam / Bimetal
b. Spiral benda higrokopis
c. Jarum penunjuk skala suhu (biru)
d. Jarum penunjuk skala kelembaban (merah)
e. Ventilasi

4.2 Termohigrograf
Keterangan Gambar :
a. Lempeng dwi
logam/bimetal
b. Rambut
c. Sistem tuas higrograf
d. Sistem tuas termohigrograf
e. Pena
f. Silinder kertas grafik

5. Alat Pengukur Suhu Air


5.1 Termometer Maksimum-Minimum Permukaan Air

Keterangan Gambar :
a. Reservoir
b. Pipa kapiler berisi raksa
(suhu max).
c. Pipa kapiler berisi
alkohol (suhu min)
d. Indeks penunjuk suhu maksimum
e. Indeks penunjuk suhu minimum
f. Pelindung reservoir
g. Pelampung
6. Alat Pengukur Suhu Tanah
6.1. Termometer Permukaan Tanah
Keterangan Gambar :
a.Termometer zat cair
b. Rerservoir
c.Statif kaki tiga
d. Tabung pelindung reservoir
ventilasi

6.2. Termometer Tanah Selubung Kayu

Keterangan Gambar :
a. Ujung sensor sampai jeluk 5 cm
b. Termometer zat cair
c. Pegangan tangan
d. Selubung kayu pelindung termometer

6.3. Termometer Tanah Tipe Bengkok

Keterangan Gambar :
a.
a.
a.
a.
Reservoir untuk jeluk tanah 20 cm
b. Pipa kapiler berisi raksa
6.4. Termometer Tanah Tipe Symons

Keterangan Gambar :
a. Pipa pelindung thermometer
b. Bagian sensor
c. Termometer zat cair
d. Reservoir
e. Rantai

6.5. Stick termometer (jeluk 100 cm)

Keterangan Gambar :
a. Tangkai pemutar
b. Jarum penunjuk suhu
c. Tabung bejana berisi spiral logam sebagai
penghantar
d. Ujung peka

6.6. Termometer maksimum dan minimum tanah

Keterangan Gambar :
a. Bagian sensor
b. Pipa berisi zat cair (air raksa)
c. Jarum hitam penunjuk suhu sesaat
d. Jarum hijau penunjuk suhu maksimum
e. Jarum merah penunjuk suhu minimum
7. Alat Pengukur Panjang Penyinaran
7.1. Solarimeter tipe Jordan
Keterangan Gambar :
a. Silinder setengah lingkaran dengan

sudut 60º
b. Celah sempit tempat masuknya sinar
c. Pelindung celah sempit
d. Sekrup pengatur kemiringan

7.2. Solarimeter tipe Combell-Stokes

Keterangan Gambar :
a. Lensa bola kaca
pejal dengan r = 7,3 cm
b. Busur pemegang
bola kaca pejal
c. Sekrup pengunci
kedudukan lensa
d. Sekrup pengatur
kemiringan
e. Mangkuk tempat
kertas pias
8. Alat Pengukur Intensitas Penyinaran
8.1 Aktinograf Dwi Logam
Keterangan Gambar :
a. Lempeng logam warna putih
b. Lempeng logam warna hitam
c. Lembar kaca pyrex
d. Pena / penera grafik
e. Silinder kertas grafik

9. Alat Pengukuran Kecepatan Angin


9.1. Cup anemometer
Keterangan Gambar :
a. Mangkok anemo
b. Pencatat jarak
c. Tiang penyangga

9.2 Hand anemometer


Keterangan Gambar :
a. Mangkok anemometer
b. Speed meter
c. Skala beauford
d. Tangkai pegangan tangan

9.3. Biram anemometer


Keterangan Gambar :
a. Kipas anemo
b. Jarum pencatat jarak per 100 m
c. Jarum pencatat jarak per 1000 m
d. Pengunci

10. Alat Pengukur Evaporasi


10.1. Piche evaporimeter
Keterangan Gambar :
a. Tabung kaca tempat air yang berskala
dalam satuan mm.
b. Kawat penjepit tempat meletakkan
kertas berpori.
c. Penggantung

10.2. Panci evaporasi kelas –A

Keterangan Gambar :
a. Panci evaporasi (diameter 120,7 cm,

tinggi 25 cm, tebal 0,8 cm)


b. Rangka kayu / besi
c. Tabung peredam riak atau
gelombang (diameter 10 cm)
d. Hook (batang kait) dan skala pengukur (nonius)
e. Sekrup pemutar batang pengukur
AUTOMATIC WEATHER STATION (AWS)

a
b Keterangan Gambar:
c a. Wind Speed
d&e b. Wind Direction
c. Solar Radiation
g d. Relative Humidity
e. Air Temperature
f. Soil Temperature
h g. Raingauge
f h. Barometric Pressure

V. PEMBAHASAN
Stasiun meteorologi pertanian merupakan suatu tempat yang mengadakan
pengamatan secara terus menerus mengenai keadaan fisik. Berbagai macam alat-alat
meterologi pertanian yaitu alat pengukur curah hujan, alat pengukur kelembaban nisbi
udara, alat pengukur suhu udara, alat pengukur suhu dan kelembaban nisbi udara, alat
pengukur suhu tanah, alat pengukur suhu air, alat pengukur panjang penyinaran
matahari, alat pengukur intensitas penyinaran matahari, alat pengukur kecepatan angin,
dan alat pengukur evaporasi.
Alat pengukur curah hujan adalah ombrometer tipe observatorium dan
ombrograf. Ombrometer tipe observatorium menggunakan prinsip kerja penampungan
curah hujan. Satuan alat ini adalah mm dengan ketelitian 0.5 mm. Cara pemasangannya
dengan ditempatkannya di lapangan terbuka dengan jarak terhadap pohon atau
bangunan terdekat sekurag-kurangnya sama dengan tinggi pohon atau bangunan
tersebut. Kemudian permukaan mulut corong horizontal dan dipasang pada ketinggian
120 cm dari permukaan tanah. Pengamatannya dilakukan setiap pukul 07.00. Data curah
hujan harian didapat dengan membuka keran dan airnya ditampung dalam gelas
penakar. Ketelitian pengamatan sampai dengan 0.2 mm, sehingga jika hujan kurang dari
0.5 mm dianggap tidak ada curah hujan. Kelebihan dari alat ini yaitu mampu
menampung curah hujan dengan kapasitas setara 300 – 500 mm, memiliki penakar
seluas 100 cm2, pengukuran tidak harus dilakukan tiap hari karena periode
pencatatannya lebih dari sehari. Untuk kelemahan dari alat ini yaitu posisinya harus
benar-benar horizontal, karena angin dari arah berbeda akan menimbulkan turbulensi
berbeda. Sedangkan alat ombrograf menggunakan prinsip kerja sistem pelampung.
Satuan alat ini adalah mm dengan ketelitian 2 mm. Penempatannya sama dengan
penempatan ombrometer tipe observatorium, hanya saja alat ini dipasang di atas
permukaan tanah dengan tinggi permukaan mulut corong 40 cm dari permukaan tanah.
Pengamatannya dengan cara kertas grafik dipasang pada silinder yang berputar
otomatis, dengan penggantian kertas grafik seminggu sekali. Untuk pencatatannya
bersifat kumulatif dengan kapasitas maksimum penampung 60 mm. hasil curah hujan
yang didapat tersebut bias dilihat dari kertas grafik. Kelebihan ombrograf yaitu mampu
menampung curah hujan sebanyak 60 mm, bersifat sebagai perekam data. Sedangkan
kelemahannya yaitu kapasitas maksimum penampung ombrograf ini hanya 60 mm.
Alat pengukur kelembaban nisbi udara adalah psikrometer sangkar, sling
psikrometer, dan Psikrometer tipe Assman. Satuan alat dari psikrometer sangkar yaitu
o
C dan ketelitiannya 0.5oC. Prinsip kerja alat ini berdasarkan hukum termodinamika.
Alat ini dipasang di dalam sangkar meteo. Kemudian kain kassa pada thermometer bola
basah (TBB) dijaga agar selalu basah. Untuk pengamatannya dilakukan selama 3x
sehari yaitu pukul 07.00, 13.00 atau 14.00, dan 18.00. Cara kerjanya dengan adanya
pembacaan suhu TBB dan dilanjutkan TBK. Pembacaan dilakukan sampai ketelitian
0.1oC. kelembabannya dicari dalam table sesuai dengan selisih suhu TBB dan TBK.
Kelebihan alat ini yaitu dapat mengetahui titik uap dan titik embun. Sedangkan
kelemahannya yaitu adanya kemampuan kecepatan angin terbatas (3-5 m/s), kecepatan
pembacaan TBB dan TBK tergantung pada gerakan udara yang melewatinya. Alat
selanjutnya yaitu sling psikrometer. Satuan alat ini yaitu oC dengan ketelitian 0.2oC.
Prinsip kerja alat ini juga berdasarkan hokum termodinamika. Alat ini pemasangannya
jinjing (portable). Untuk pengamatannya yaitu dengan dibasahinya kain kassa pada
TBB, lalu sling psikrometer diputar 33x dengan kecepatan 4 putaran/detik. Pengamatan
yang dilakukan ini dilakukan sebanyak 3x sehari sama seperti pengamatan psikrometer
sangkar. Kelebihan dari sling psikrometer yaitu penggunaannya mudah. Namun
kelemahannya yaitu kecepatan putaran sling psikrometer akan menentukan derajat
penurunan temperatur dan alat ini mudah pecah. Alat selanjutnya yaitu Psikometer
Assman. Satuan alat ini yaitu oC dengan ketelitian 0.2oC. Prinsip kerjanya berdasarkan
hukum termodinamika. Cara pemasangannya yaitu jinjing (portable). Untuk
pengamatannya kain kassa pada TBB dibasahi. Kemudian pegas kipas diputar sehingga
kipas akan mengalirkan udara dengan kecepatan 5 m/s di bagian reservoirnya.
Pengamatan dilakukan setelah suhu termometer konstan. Kelebihan alat ini yaitu bisa
dipasang di dalam sangkar atau digantung pada tiang/dipegang, biasanya alat ini
dipasang pada balon berawak. Kekurangannya yaitu kemampuan kecepatan angin
terbatas sekitar 5m/detik. Alat selanjutnya yaitu Higrograf. Satuan alat ini yaitu %
dengan ketelitian 1%. Alat ini prinsip kerjanya dengan sifat kembang kerut benda
higroskopis. Cara pemasangannya yaitu dipasang di dalam sangkar meteo.
Pengamatannya dengan dipasangnya kertas grafik pada bagian silinder yang akan
berputar otomatis. Untuk penggantian kertas ini seminggu sekali. Higroskopis ini bisa
mengetahui ayunan kelembaban nisbi udara selama seminggu. Kelebihan dari
higroskopis ini dapat mengukur kelembaban relatif secara langsung, serta terdapat tabel
untuk mengubah pembacaan temperatur ke data kelembaban udara. Kelemahannya yaitu
hubungan kelembaban dan pemasangan tidak linear.
Alat pengukur suhu udara antara lain terdiri dari termometer biasa, termometer
maksimum, termometer minimum, dan termometer maksimum-minimum Six Bellani.
Termometer biasa memiliki satuan alat oC dengan ketelitian 0.5oC. prinsip kerjanya
yaitu muai ruang zat cair. Untuk pemasangannya yaitu dipasang sekaligus sebagai TBK
pada psikrometer sangkar. Sedangkan pengamatannya yaitu dengan dibacanya suhu
udara pada skala termometer. saat diamati, mata pengamat harus tegak lurus terhadap
kolom air raksa. Pengamatannya dilakukan 3x sehari seperti pada pengamatan dengan
psikrometer. Kemudian Suhu tertinggi dan terendah diamati dan dicatat. Kelebihannya
yaitu mudah dalam pemakaian dan pengamatannya karena air raksa yang digunakan
tampak mengkilap. Sedangkan kekurangannya yaitu air raksa yang digunakan sebagai
isisan hanya memiliki tingkat pemuaian kecil. Alat selanjutnya adalah termometer
maksimum. Satuan alat ini yaitu oC dengan ketelitian 0.25oC. Prinsip kerjanya yaitu
muai ruang zat cair yang dimodifikasi dengan celah sempit. Pemasangannya yaitu
dengan dipasangnya alat ini di dalam sangkar meteo. Dengan posisi miring 2 terhadap
horizontal dan reservoir lebih rendah. Pengamatannya yaitu suhu maksimum bisa dibaca
tepat pada permukaan kolom air raksa. Setelah pengamatan, alat tadi dipasang di bagian
reservoir luar dan dikibaskan sampai tidak terdapat pemutusan kolam air raksa pada
celah sempit. Pengamatannya dilakukan pada pukul 16.00. Kelebihan alat ini yaitu
adanya penyempitan pipa kapiler di dekat reservoir. Kekurangannya yaitu air raksa
memiliki tingkat pemuaian kecil. Kemudian untuk alat selanjutnya yaitu termometer
minimum. Satuan alat ini yaitu yaitu oC dengan ketelitian 0.25oC. Prinsip kerja alat ini
yaitu muai ruang alcohol yang dimodifikasi dengan indeks. Pemasangannya yaitu
dengan meletakkan termometer dengan kemiringan sekitar 20-30 derajat, dengan posisi
tabung yang berisi alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk
mempertahankan agar indeks tidak dapat naik kembali bila sudah diposisi bawah
(suhu minimum). Pengamatannya dengan dibacanya suhu minimum yang telah terlihat
dan tepat berada di skala yang ditunjuk oleh indeks yang berdekatan dengan ujung
kolom alkohol. Ujung kolom alkohol tersebut menunjukkan udara sesaat. Setelah
pengamatan selesai, indeks dikembalikan tepat pada ujung kolom alkohol untuk
pengamatan berikutnya. Pengamatan dengan thermometer minimum ini biasanya
dilakukan pada pukul 16.00. Kelebihan alat ini yaitu digunakannya alkohol yang
pemuaiannya sejalan kenaikan suhu. Kekurangannya alkohol tidak semengkilap air
raksa. Termometer maximum-minimum six bellani ini digunakan untuk mengukur
anasir iklim khususnya anasir suhu udara. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip muai
ruang zat cair (alkohol dan air raksa). Termometer maximum-minimum six bellani ini
merupakan modifikasi dari termometer zat cair, Sebagai pengisi sensor digunakan air
raksa dan alkohol. Dua buah reservoir berada pada ujung-ujung pipa kapiler yang
berbentuk U. reservoir yang berisi alcohol diperoleh suhu minimum, sedangkan
recervoir yang berisi air raksa diperoleh suhu maksimum. Adanya ruang hampa di
dalam reservoir memungkinkan gerak pemuaian dan penyusutan cairan akibat
peubahan suhu. Terdapat batang indeks di dalam kapiler yang mengandung logam.
Keduanya hanya dapat bergeser apabila ada dorongan air raksa atau bila ditarik dengan
besi magnit. Pada saat suhu naik sehingga membuat alkohol memuai dan mendorong air
raksa ke kanan sehingga indeks pertama terdorong naik. Suhu maksimum dibaca pada
skala yang bertepatan dengan indeks kedua. Setelah dilakukan pembacaan kedua indeks
tersebut, maka indeks keduanya harus diturunkan dengan jalan menekan tombol yang
ada di tengah alat tersebut, sehingga magnit yang ada di dalamnya turun dan menarik
indeks pertama hingga menempel ke media air raksa. Termometer maximum-minimum
six bellani ini dipasang secara vertikal. Pada pengukuran fluktuasi suhu udara yang
terjadi pada permukaan tanah dengan memasang termometer maximum-minimum six
bellani di berbagai ketinggian, yaitu: 5 cm, 10 cm, 20 cm, 30 cm, 50 cm, 75 cm, 100
cm, 150 cm, 175 cm, dan 200 cm. Pengamatan untuk alat ini dapat dilakukan pada
pukul 16.00. Suhu maksimum dan suhu minimum dapat dibaca pada ujung bawah
indeks. Suhu maksimum dituntunjukan oleh reservoir yang berisi air raksa. Suhu
minimum ditunjukkan oleh reservoir yang berisi alcohol. Setelah dilakukan pembacaan
kedua indeks tersebut, maka indeks keduanya harus diturunkan dengan jalan menekan
tombol yang ada di tengah alat tersebut,hasil pengukuran. Alat ini mempunyai satuan
derajat celcius (oC). alat ini mempunyai ketelitian sebesar 0,1oC. Pada dasarnya alati ini
memiliki kelebihan, yaitu dapat menunjukkan suhu maksimum dan minimum secara
bersamaan. Sedangkan kelemahan dari alat ini adalah kurang teliti karena adanya beda
muai air raksa dan alhokol, suhu harian harus dihitung terlebih dahulu dengan rumus: ½
(Tmaks-Tmin.), sering terjadi pemutusan kolom zat cair saat transportasi atau karena
adanya adhesi yang kuat antara cairan dan dinding kaca, Seringkali terjadi pula bahwa
alkohol menguap kemudian berkondensasi dan menempel di dinding kapiler sebelah
atas.
Alat pengukur suhu dan kelembaban nisbi udara yaitu termohigrometer dan
termohigrograf. Termohigrometer merupakan alat untuk mengukur anasir cuaca
khususnya adalah untuk mengukur suhu dan kelembaban nisbi udara. prinsip kerja alat
ini adalah beda muai dwilogam (pada termometer) dan sifat higroskopis rambut (pada
higrometer). Alat ini menggunakan sensor rambut untuk mengukur kelembaban udara
dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Pada udara lembab, rambut akan
bertambah panjang dan menyusut ketika udara kering. Rambut yang digunakan dalam
alat ini adalah rambut ekor kuda karena lebih sensitif oleh fluktuasi suhu dan juga
lebbih kuat dari rambut manusia. Sementara itu, suhu tinggi menyebabkan bimetal
melengkung. Kedua sensor dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk. Perubahan
panjang rambut menyebabkan jarum penunjuk pada higrometer menunjuk ke angka
kelembaban udara tertentu dan lengkungan bimetal akan mempengaruhi termometer
untuk menunjuk skala suhu tertentu. Pada saat pengamatan , alat ini harus terlindungi
dari pengaruh sinar matahari secara langsung dan tidak terkena tetesan air hujan. Suhu
dan kelembaban dapat langsung diketahui dengan membaca langsung pada
termohigrometer. Satuan dari alat ini adalah oC untuk suhu dan % untuk kelembaban
nisbi udara. Alat ini memiliki ketelitian sebesar 0.5oC, 1%. Termohigrometer memiliki
kelebihan yang diantaranya adalah suhu udara dan kelembaban udara dapat dibaca
langsung pada alat, pemasangan alat lebih fleksibel; dapat dijinjing atau dipasang pada
sangkar meteo, tidak perlu melakukan penggantian kertas pias. Sedangkan kelemahan
dari alat ini adalah data yang diperoleh bersifat harian, pemasangan alat harus benar-
benar terlindungi dari pengaruh sinar matahari secara langsung dan tidak terkena tetesan
air hujan. Alat selanjutnya yaitu termohigrograf. Satuan alat ini yaitu oC, % dengan
ketelitian 0.5%. Prinsip kerjanya yaitu muai dwi logam, benda higroskopis.
Pemasangannya dengan jinjing (portable) atau dipasang pada sangkar meteo. Untuk
pengamatannya kertas grafik dipasang pada bagian silinder yang dapat berputar secara
otomatis. Kertas grafik tersebut diganti seminggu sekali. Dalam hal ini, suhu udara dan
kelembaban udara dapat dibaca pada kertas grafik tersebut. Alat ini menggunakan
seberkas rambut yang peka sebagai sensor. Rambut akan memanjang bila sel –selnya
terisi dengan air , begitu pula sebaliknya jika jumlah uap air berkurang rambut akan
menyusut. Pengamatan dilakukam pada pukul 07.00, 13.00, dan 18.00 waktu setempat.
Pembacaan nilai suhu dan kelembaban dapat dibaca pada pias dengan skala yang
berbeda antara suhu dan kelembaban. Kelebihan dari alat ini yaitu menggunakan rambut
ekor kuda sehingga lebih sensitif dan lebih kuat daripada menggunakan rambut
manusia. Kekurangannya yaitu menggunakan rambut yang harus bersih dari lemak,
minyak dan debu sehingga diperluakan pembersihan, selain itu rambut manusia berubah
panjang 2,5% akibat perubahan kelembaban nisbi udara 0-100%.
Alat pengukur suhu air yaitu termometer maksimum-minimum permukaan air
adalah alat untuk mengukur anasir cuaca, khususnya untuk mengukur suhu air. Prinsip
kerja alat ini adalah menggunakan prinsip muai zat cair (alkohol dan air raksa). Alat ini
mepunyai 2 pipa kapiler yang masing-masing berisi air raksa dan alkohol. Pada
reservoir yang menggunakan air raksa akan menunjukkan suhu maksimum sementara
reservoir yang memanfaatkan menyusutnya alkohol menunjukkan suhu minimum.
Sehingga suhu maksimum dan suhu minimum dapat langsung dibaca pada termometer
maksimum-minimum. Fluktuasi suhu pada air akan terukur pada reservoir yang berisi
air raksa dan reservoir alkohol. Pengamatan alat ini dilakukan dengan membaca suhu
maksimum dan minimum yang berada di ujung bawah indeks. Pengamamatan
dilakukan pada pukul 16.00. Setelah pengamtan dilakukan, maka kedua isi reservoir
dihimpitkan dengan menekan tombol kemudi yang ada pada alat ini. Alat ini memiliki
ketelitian sebesar 0,1oC. Hasil pengukuran alat ini mempunyai satuan oC. Termometer
maksimum-minimum permukaan air dipasang dengan meletakkan terapung pada
permukaan air dengan kedudukan horizontal. Alat ini memiliki kelebihan yaitu alat ini
dapat mengukur suhu maksimun sekaligus suhu minimum permukaan air secara
bersamaan. Sedangkan kekurangan alat ini adalah kurang teliti karena adanya beda muai
air raksa dan alkohol, sering terjadi pemutusan kolom zat cair saat transportasi atau
karena adanya adhesi yang kuat antara cairan dan dinding kaca, Seringkali terjadi pula
bahwa alkohol menguap kemudian berkondensasi dan menempel di dinding kapiler
sebelah atas.
Alat pengukur suhu tanah yaitu termometer permukaan tanah, termometer tanah
selubung kayu, termometer tanah tipe baengkok, stick termometer, termometer
maksimum minimum tanah, termometer tanah tipe simons. Termometer permukaan
tanah memiliki satuan alat yaitu oC dengan ketelitian 0.5oC. Prinsip Kerja alat ini adalah
sama dengan termometer udara biasa yaitu prinsip muai zat cair (air raksa). Termometer
permukaan tanah ini sama dengan termometer udara biasa namun bentuknya
disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan yaitu dilengkapi kaki statif agar dapat berdiri
di permukaan tanah. Suhu tanah dapat dibaca pada reservoir air raksa yang ada pada alat
ini Setelah suhu yang terbaca stabil. Termometer permukaan tanah dipasang dengan
meletakkannya di permukaan yang horizontal. Hal itu dikarenakan alat ini bersifat
portable. Pengamatan pada alat ini dapat dilakukan dengan membaca skala suhu yang
ditunjukkan saat pencatatan pada suhu udara harian. Pengamatan dilakukan setelah
suhu tanah stabil. Alat ini memiliki kelebihan, diantaranya termometer permukaan tanah
mudah dibawa karena bersifat portable, penunjukan indeks angka lebih mudah dilihat
mengingat air raksa adalah cairan berwarna, alat memiliki pelindung reservoir agar
terlindung dari percikan air dan tanah, sehingga tidak mempengaruhi hasil pengamatan.
Sedangkan kelemahan dari termometer permukaan tanah adalah kemampuan terbatas
hanya untuk mengukur suhu diatas permukaan tanah, harus dilakukan pengamatan terus
menerus dalam satu hari untuk mengetahui suhu tertinggi dan terendah pada hari itu.
Alat selanjutnya yaitu termometer tanah selubung kayu. Prinsip kerja dari termometer
tanah selubung kayu adalah muai zat cair (air raksa). Termometer tanah selubung kayu
dipasang dengan ditancapkan di jeluk pada kedalaman 0-10 cm. Termometer tanah
selubung kayu bersifat portable. Satuan alat ini yaitu oF dengan ketelitian 1oF.
Pengamatan pada alat ini dapat dilakukan dengan membaca sekala suhu yang
ditunjukkan saat pencatatan pada suhu udara harian, Pengamatan dilakukan setelah
suhu tanah stabil. Alat ini memiliki kelebihan, yang diantaranya adalah mengukur suhu
tanah dengan kedalaman jeluk 5-10 cm, mudah dibawa dan dipindahtempatkan sesuai
tempat yang akan diukur. Sedangkan kelemahan alat ini adalah pengukuran suhu
terbatas pada tanah jeluk 0-10 m, ujung sensor jangan sampi dicelup semua ke dalam
tanah karena dapat merusak sensor, pembacaan agak sulit dilakukan karena letaknya
yang terlalu rendah, Selubung kayu mudah rusak. Termometer Tanah Tipe Bengkok
adalah alat yang digunakan untuk mengukur anasir cuaca, khususnya suhu tanah.
Prinsip kerja dari Termometer Tanah Tipe Bengkok sama dengan termometer pada
umumnya yaitu berdasarkan prinsip pemuaian zat cair (air raksa). Termometer Tanah
Tipe Bengkok ditancapkan ke jeluk pada kedalaman 20 cm. Untuk mempermudah
pembacaan, skala dibuat bengkok dengan sudut antara 60°, 45°, 15°, atau 0° dari
permukaan tanah. Suhu tanah akan diterima sensor, kemudian reservoir menerima
sensor sehingga mengubah kedudukan air raksa naik atau turun sesuai dengan suhu
tanah yang sedang diamati pada suatu wilayah. Pada saat menggunakan termometer ini,
sebelumnya dibuat dahulu jeluk pada kedalaman 20 cm. Selanjutnya yaitu Termometer
Tanah Tipe Bengkok. Alat ini bersifat portable. Satuan alat ini yaitu oC dengan
ketelitian sebesar 0.1oC. Setelah suhu stabil, pengamatan dilakukan secara cepat untuk
menghindari pengaruh suhu permukaan, yaitu dengan membaca skala yang ditunjukan
reservoir zat cair saat pencatatan pada suhu udara harian. Alat ini memiliki kelebihan,
yang diantaranya adalah termometer tanah tipe bengkok berfungsi untuk mengukur juhu
jeluk tanah pada kedalaman ±20 cm, mudah dipindah sesuai daerah yang akan diukur
suhu tanahnya. Sedangkan kekurangan alat ini adalah tanah harus dibor sedalam 20 cm
terlebih dulu agar termometer tanah tipe bengkok yang terbuat dari kaca tidak
rusak/pecah. Alat selanjutnya yaitu Stick termometer. Prinsip kerja Stick termometer
adalah berdasarkan sifat pemuaian zat cair bertekanan pada tabung bejana. Termometer
ini digunakan untuk mengetahui suhu tanah pada kedalaman ± 100 cm. Stick
thermometer ditancapkan dalam jeluk tanah pada kedalam 100 cm, kemudian panas
tanah akan ditangkap oleh ujung sensor dari alat ini, sehingga menaikkan air raksa
dalam reservoir. Pergerakan muai air raksa diubah dari yang pertamanya bergerak arah
vertikal menjadi gerak horizontal pada jarum penunjuk yang bergerak. Penggunaannya
dengan memasukkan kedalam tanah dengan ditekan menurut jeluk yang diamati dengan
memutar pegangannya. Suhu yang terukur dapat dibaca dan dicatat setelah jarum
penunjuk konstan. Stick termometer bersifat portable. Satuan alat ini yaitu oC dengan
ketelitian sebesar 1oC. Pengamatan pada alat ini dilakukan setelah jarum penunjuk suhu
konstan shingga suhu dapat dibaca pada skala yang ditunjuk jarum penunjuk. Alat ini
memiliki kelebihan, diantaranya adalah berfungsi untuk mengukur juhu jeluk tanah
pada kedalaman ±100 cm, skala suhu dapat dilihat dengan mudah setelah suhu konstan,
tanah tidak perlu dibor terlebih dahulu sebelum reservoir dimasukkan, termometer stick
merupakan termometer biasa yang yang dimodifikasi untuk pengamatan suhu tanah.
Sedangkan kekurangan Stick termometer adalah alat tidak praktis untuk
dibawa/dijinjing, mudah terjadi adhesi air raksa dengan dinding kaca karena radiasi
intensif dari sinar matahari, sehingga bagian skala perlu dilindungi kain putih atau
selubung putih yang mengkilat. Selanjutnya adalah Termometer Maksimum-Minimum
Tanah. Alat ini bersifat portabel. Sensor termometer Maksimum-Minimum Tanah
ditancapkan pada jeluk dengan kedalaman 20 cm dan dibiarkan selama periode
pengamatan. kemudian panas tanah akan ditangkap oleh ujung sensor dari alat ini,
sehingga menaikkan air raksa dalam pipa. Peningkatan suhu akan diukur dan
ditunjukkan pada jarum penunjuk yang bergerak. Pengamatan pada alat ini dilakukan
dengan menghimpitkan jarum penunjuk sebelum pengamatan dimulai dengan cara
memutar sekrup. Suhu dapat di baca pada jarum penunjuk. Jarum penunjuk warna
merah menunjukkan suhu maksimum, jarum penunjuk warna hijau menunjukkan suhu
minimum dan jarum penunjuk warna hitam menunjukkan suhu sesaat. Termometer
Maksimum-Minimum Tanah bersifat portable. Satuan alat ini yaitu oC dengan ketelitian
sebesar 0.5oC. Pengamatan pada alat ini dilakukan setelah jarum penunjuk suhu konstan
shingga suhu dapat dibaca pada skala yang ditunjuk jarum penunjuk. Alat ini memiliki
kelebihann yaitu alatnya dapat dijinjing, dapat mengukur hingga kedalaman 20 cm.
Sedangkan kekurangan dari alat ini adalah pemasangan termometer harus hati-hati dan
tepat karena kesalahan yang sedikit saja akan berakibat fatal. Alat selanjutnya adalah
Termometer Tanah tipe Simons. Prinsip kerja Termometer Tanah Tipe Simons adalah
berdasarkan pemuaian zat cair akibat kenaikan suhu lingkungan. Sebelum penggunaan
Termometer Tanah Tipe Simons dibuat jeluk tanah pada kedalaman ±50 cm dahulu
dengan bor. Pipa pelindung termometer dan reservoir dimasukan dalam jeluk ditutup
kemudian ditimbun. Setelah suhu stabil termometer diangkat dari selubungnya dan
dicatat skala suhu yang terbaca. Cara kerja termometer ini adalah panas tanah akan
ditangkap oleh ujung sensor dari alat ini, sehingga menaikkan air raksa dalam reservoir.
Peningkatan suhu akan diukur dan ditunjukkan oleh skala pada reservoir. Pipa
termometer berfungsi sebagai pelindung termometer dan juga untuk mencegah agar
penyerapan panas seminimum mungkin sehingga tidak berpengaruh terhadap pemuaian
air raksa. Suhu tanah dapat dibaca pada reservoir air raksa yang ada pada alat ini
Setelah suhu yang terbaca stabil. Alat ini memiliki ketelitian sebesar 0.5oC. Hasil
pengukuran alat ini memiliki satuan oC. Pengamatan pada alat ini dilakukan setelah
skala suhu konstan sehingga suhu dapat dibaca pada skala yang ditunjukkan. Alat ini
memiliki kelebihan, diantaranya berfungsi untuk mengukur suhu jeluk tanah pada
kedalaman ±50 cm. Sedangkan kekurangan alat ini adalah alat tidak praktis untuk
dibawa/dijinjing tanah dibuat lubang dengan bor sedalam 50 cm sebelum reservoir
dimasukkan, pembacaan termometer harus dilakukan secara cepat saat skala terlihat,
sementara termometer tidak bisa dibaca lagsung tetapi harus diangkat dari selubung.
Alat yang digunakan untuk mengukur lama penyinaran adalah Solarimeter tipe
Campbell Stokes dan Solarimeter tipe Jordan. Solarimeter tipe Compbell Stokes ini
bekerja atas dasar efek pemanasan yang mengakibatkan terbakarnya kertas pias yang
dipasang di dalam alat tersebut. Kertas pias ini dilengkapi dengan skala dalam jam,
mulai pukul 06.00 hingga 18.00. Terdapat tiga macam bentuk kertas pias dan
pemakaiannya, yaitu : bentuk lengkung panjang, lurus dan lengkung pendek. Maksud
penggunaan kertas pias yang berbeda-beda bentuknya tersebut untuk menyesuaikan
letak kedudukan matahari pada suatu saat dengan kedudukan alat yang dipasang,
sehingga lintasan sinar matahari dapat direkam dengan sempurna oleh kertas pias
tersebut. Oleh karena itu alat perekam harus dipasang pada jalur-jalur yang telah ada
dimana posisi 12 yang menunjukkan jam tepat pada alur yang melintang di tengah-
tengah jalur. Alat selanjutnya adalah Solarimeter tipe Jordan. Satuan alat ini yaitu jam
dengan ketelitian 0.5 jam. Prinsip kerja dari alat ini adalah reaksi fotokhemis. Alat ini
dipasang pada tempat terbuka dan diletakkan diatas beton yang agak tinggi, sedemikian
rupa sehingga sensor dapat menangkap sinar matahari dalam keadaan normal pada
ketinggian 3 m diatas horison. Cara pengamatan yaitu kertas pias dicelupkan atau
dilapisi dengan larutan Kalium Ferrosianida/Feriamonium sitrat dengan kepekatan baku,
disesuaikan dengan kepekaan kertas pias terhadap intensitas matahari. Sebelum
digunakan, kertas pias harus disimpan rapat dan tidak boleh bereaksi dengan sinar. Dua
buah kertas piaas dipasang pada masing-masing tabung dan diganti setiap sore hari pada
pukul 18:00. Noda yang terdapat pada kertas pias dicelupkan terlebih dahulu dalam
aquadest segera setelah digunakan, kemudian di ukur panjangnya dalam satuan jam.
Nilai pengukuran ini merupakan nilai PP aktual.

Sementara PP potensial merupakan panjang penyinaran yang seharusnya dapat terjadi


bila udara cerah selama 1 periode.

Alat pengukur intensitas penyinaran matahari Aktinograf. Prinsip kerja alat ini
yaitu beda muai logam hitam dan putih. Cara pemasangannya yaitu alat ini dipasang
pada tempat terbuka diatas tiang beton yang kuat dan bagian atas dibuat sedemikian
rupa, sehingga selain sinar berada 15 diatas horison bumi, sinar harus bebas mencapai
sensor. Cara pengamatannya dengan adanya kertas grafik dipasang dan diganti setiap
sore hari pada pukul 18.00. grafik akan tergambar pada kertas grafik kemudian diukur
luasan dibawah grafik tersebut dengan alaat planimeter. Luasan yang terukur
disesuaikan atau disetarakan terhadap satuan kalori/cm2/hari. Kelemahan dari alat ini
adalah hasilnya tidak seakurat seperti yang dihasilkan oleh alat digital.

Alat pengukur kecepatan angin yaitu cup anemometer, hand anemometer, dan
biram anemometer. Satuan alat ini yaitu km dengan ketelitian 1km. Prinsip kerjanya
yaitu sistem mekanik gear. Alat ini terdiri dari baling-baling yang berbentuk mangkok
dengan jari-jari yang sama dan berpusat pada sumbu vertikal. Mangkok menghadap satu
arah melingkar sehingga bila angin bertiup dari satu arah, baling-baling akan berputar.
Semakin kuat angin bertiup, perputaran mangkok akan semakin cepat. Anemometer
harus dipasang di tempat yang bebas dari halangan dan harus mewakili suatu ketinggian
tertentu dari permukan tanah. Pengamatan kecepatan angin dapat dilakukan setiap saat
seperti: pagi pukul 07.00, pukul 13.00 dan pukul 18.00. Cup anemometer memiliki
kelebihan yaitu ketelitian alat ini mencapai 1km, alat ini dipasang pada ketinggian 0.5m,
2m, 10m dan pemasangannya pada tempat terbuka. Kelemahannya yaitu
pemasangannya harus pada tempat terbuka. Alat selanjutnya yaitu hand anemometer.
Satuan alat ini yaitu m/s dengan ketelitian 0.5 m/s. Prinsip kerja alat ini yaitu sistem
GGL induksi. Pemasangannya dengan jinjing (portable). Cara pengamatannya adalah
dengan mencatat kecepatan tiupan angin sesaat yang terbaca pada pencatat. Sistem
skala beaufort merupakan hasil pengamatan empiris yang secara kuantitatif nilainya
masih kasar. Meskipun demikian sistem ini dapat menolong dalam penaksiran
kecepatan angin pada tempat-tempat yang tidak mempunyai alat pengukur kecepatan
angin. Kelebihan alat ini yaitu hand anemometer memiliki kelebihan yaitu ketelitian 0,5
m/s dan digunakan untuk periode pendek. Kelemahan dari alat ini adalah sulitnya
mencari keadaan angin yang stabil, karena hembusan angin disetiap tempat itu
bervariasi. Alat selanjutnya adalah biram anemometer. Satuan alat ini yaitu m dengan
ketelitian 0.5 m. Prinsip kerjanya yaitu sistem mekanik. Bentuknya seperti kincir yang
akan berputar bila dilewati oleh angin. Cara pemasangannya dijinjing (portable)
sehingga memudahkan dibawa kemana-mana. Cara pengamatan yaitu rerata kecepatan
angin dapat di hitung dari besarnya selisih pembacaan hari ke-2 dengan pembacaan hari
ke-1 (jarak tempuh angin), dibagi dengan waktu antara beda pengamatan tersebut
(periode 1 hari = 24 jam). Kelebihan alat ini yaitu mempunyai ketelitian 0.5 m,
umumnya alat ini digunakan untuk pengukuran rerata kecepatan angin pada periode
pendek. Kelemahannya adalah tidak bisa digunakan untuk periode lama.

VI. KESIMPULAN

1. Stasiun meteorologi pertanian merupakan tempat yang mengadakan pengamatan


secara terus nmenerus mengenai keadaan fisik dan lingkungan (atmosfer) serta
pengamatan tentang keadaan biologi dari tanaman dan obyek pertanian lainnya.
2. Alat-alat yang digunakan oleh stasiun meteorologi adalah alat pengukur curah
hujan, kelembaban nisbi udara, pengukur suhu udara, pengukur suhu dan
kelembaban nisbi udara, pengukur suhu tanah, pengukur suhu air, pengukur
panjang penyinaran matahari, pengukur kecpatan angin, dan juga pengukur
evaporasi.
3. Setiap alat-alat tersebut memiliki prinsip kerja, fungsi, ketelitian, yang berbeda-
beda.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Pengenalan Alat-Alat.


(http://www.klimatologibanjarbaru.com/artikel/2008/12/pengenalan-alat-alat/). Diakses
tanggal 23 September 2010.

Fontain, A. 2002. Meteorology. (http://www.kompas.com). Diakses pada 23


September 2010.

Neiburger, M. 1982. Understanding our Atmospheric Environment. Freeman


Company, New York and Oxford.

Pramudia, A., Y. Koesmaryono, I. Las, T. June, I W. Astika, dan E. Runtunuwu. 2008.


Penyusunan model prediksi curah hujan dengan teknik analisis jaringan syaraf
(neural network analysis) di sentra produksi padi di Jawa Barat dan Banten.
Jurnal Tanah dan Iklim 27: 11-12.

Prawiroardoyo, S. 1996. Meteorologi. Institut Teknologi Bandung, Bandung.

Runtunuwu, E., Syahbuddin, H., dan A. Pramudia. 2008. Validasi model pendugaan
evapotranspirasi : upaya melengkapi sistem database iklim nasional. Jurnal
Tanah dan Iklim 27: 8 – 9.

Setiawan, A. C. 2003. Otomatisasi stasiun cuaca untuk menunjang kegiatan pertanian.


(http : // www.bmg.ac.id). Diakses tanggal 23 September 2010.

Wisnubroto, S. 1999. Meteorologi Pertanian Indonesia. Mitra Gama Widya,


Yogyakarta.