P. 1
ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA MODEREN-DIANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN TEORI EVOLUSI

ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM PERKEMBANGAN SOSIAL BUDAYA MODEREN-DIANALISIS DENGAN MENGGUNAKAN TEORI EVOLUSI

|Views: 1,313|Likes:
Published by Hamah Sagrim

More info:

Published by: Hamah Sagrim on Mar 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

Sections

Kepunahan arsitektur merupakan kejadian hilangnya keseluruhan bentuk aliran arsitektur
tertentu. Kepunahan bukanlah peristiwa yang tidak umum, karena bentuk aliran suatu arsitektur secara
reguler muncul melalui aliran arsitekturalnya dan menghilang melalui kepunahan. Sebenamya,
hampir seluruh bentuk aliran arsitektur yang pemah ada di bumi telah dan akan punah, seiring
perjalanan manusia itu sendiri, dan kepunahan tampaknya merupakan nasib akhir suatu bentuk aliran
arsitektur. Sebenamya Kepunahan arsitektur telah terjadi secara terus menerus sepanjang sejarah
perkembangan manusia. Kita akan berkesimpulan bahwa, laju kepunahan arsitektural akan semakin
meningkat tajam pada peristiwa kepunahan missal spesies manusia pada suatu etnik atau suku bangsa
tertentu.

Peranan kepunahan pada evolusi arsitektur tergantung pada jenis kepunahan tersebut. Penyebab
persitiwa kepunahan "tingkat rendah" secara terus menerus (yang merupakan mayoritas kasus
kepunahan) tidaklah jelas dan kemungkinan merupakan akibat kompetisi antar aliran arsitektur
tertentu terhadap bentuk aliran arsitektur yang terbatas (prinsip hindar-saing). Jika kompetisi dari
etnik tertentu lain mengubah probabilitas suatu bentuk arsitektur menjadi punah, hal ini dapat
menghasilkan seleksi aliran arsitektur sebagai salah satu tingkat seleksi manusia. Peristiwa kepunahan

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

mas sal secara alami masih dapat diterima, daripada berperan sebagai gaya selektif, karena suatu
kebudayaan termasuk arsitektural yang beraneka ragam akan secara drastis dan mendorong terjadinya
evolusi arsitektur secara cepat dan secara tiba-tiba serta pensubtitusian pada kebudayaan suku bangsa
yang lain semakin tajam. lni merupakan pangkal penjajahan kebudayaan melalui penjajahan dan
peperangan.

B. Hubungan Iklim Dengan Teori Evolusi dan Ekologi Arsitektur
1) Proses Terjadinya Bentuk

- Form Determinants
- Function
- Context
- Structure
- Form Resolution
- Material dan cara penggunaan
- Metoda dan konstruksi
- Pertimbangan ekonomi dan sumber daya
- Estetika

2) Teori Bentuk Secara Ekologi

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari temp at tinggal makhluk hidup atau organisme. Antara
Ekologi dan Arsitektur dan antara evolusi dan perancangan (desain) terdapat hubungan yang
sangat erat. Berdasarkan hubungan yang konseptual ini maka timbullah prinsip perancangan
secara pre skriptis dengan dasar-dasar teori bentuk secara deskriptif dalam alam ini.
Arsitektur dapat digambarkan sebagai bentuk dari strategi adaptasi manusia dengan alam,
termasuk didalamnya arsitektur tradisional Jawa. Gambaran tersebut bersifat suatu kesatuan yang
menyeluruh, keseimbangan yang dinamis dan penyempurnaan hal-hal yang relatif dan tidakjelas.
Dari prinsip-prinsip di atas maka terjadilah tiga prinsip utama dari penurunan bentuk, yaitu:
Kesatuan yang utuh antara manusia (orang Jawa) dan temp at atau lingkungan
Keseimbangan yang dinamis dari yang teratur dan tak teratur
Penyempurnaan energi dan informasi
Hubungan antara ekologi dan arsitektur jelas terlihat pada arti asli (secara linguistik) dari
ekologi, yaitu 'oikos', kata asli dari ekologi dalam bahasa Greek yang berarti rumah dan rumah
tangga (house dan household). Apabila ekologi diartikan sebagai sains dan organisme beserta
tempat hidupnya (habitatnya), maka arsitektur dapat dipandang sebagai art dan sa ins dari
organisme manusia dalam merealisir habitasinya pada lingkungan alam natural.
Bentuk dari organisme adalah hasil dari atau proses Interaksi antara bentuk genetik dengan
lingkungannya. Dalam teori arsitektur secara ekologi, bentuk arsitektur adalah produk dari
interaksi antara perubahan kebutuhan manusia atau fungsi dengan kontek ekologi rnanusia,
(termasuk arsitektur tradisional Jawa dan orang Jawa).
Forms follow both function and environment
Form, function and environment are interdependent
Dalam hubungan dengan teori ini, arsitektur modem mempunyai kegagalan, yaitu:

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

Arsitektur modem menolak tradisi sebagai kemungkinan sumber-sumber kontiunitas
untuk variasi di kemudian hari yang lebih kreatif.
Arsitektur modem mengenyampingkan batas-batas kontek cultural
Arsitektur modem terlalu memberikan nilai lebih hanya pada strategi adaptasi
arsitektural yang spesifik saja.

3) Bentuk dan Lingkungannya

Alam memberikan tekanan secara lang sung kepada proses terjadinya bentuk semua yang
berada di alam ini. Misalnya: bentuk arsitektur di Wamena Papua berbentuk Honai, atau di Jawa
tengah berbentuk Joglo. Di daerah lain, bentuk arsitekturnya monumental di Eropa terutama
kepulauan krete Italia, ada yang diatas pohon seperti di Maybrat, Imian, Sawiat, Papua, atau suku
Dayak, atau berbentuk shelter di daerah Indian, Amerika, dll. karena dengan bentuk ini dapat
menyimpan panas lebih lama. lni semua terjadi karena factor lingkungan yang mempengaruhi
bentuk -bentuk arsitekturalnya.
Dengan demikian maka, dapat kita simpulkan bahwa perubahan yang konstan sesuai dengan
teori evolusi, yaitu apabila "bentuk" atau spesies yang sarna dengan lingkungan yang berbeda
akan memberikan pengaruh proporsi yang berbeda pula.
Demikian pula proses terjadinya "shape" bangunan, shape yang optimum adalah bentuk yang
dapat menerima panas sesedikit mungkin di waktu musim panas, dan mampu menahan panas
sebanyak mungkin pada waktu musim dingin.

4) Bentuk Tata Lingkungan

Iklim mempengaruhi bentuk tata lingkungan, hal ini dapat dilihat dari karakteristik tata
lingkungan pada beberapa daerah (termasuk didalamnya arsitektur Jawa) sesuai dengan iklim yang
berlakn di tempat tersebut:

- Untuk daerah beriklim tropis lembab atau panas lembab, jarak antara bangunan mempunyai
pengaruh yang sangat besar. Luasan dinding bangunan dengan pembukaan untuk ventilasi
sebanyak mungkin berhubungan dengan luar sangat menguntungkan. Hal ini disebabkan
karena kenyamanan di daerah tropis lembab hanya dapat dicapai dengan bantuan aliran angin
yang cukup pada tubuh manusia. Perancangan landscape harus memperhatikan prinsip
kelancaran angin yang mengalir.
- Sebaiknya untuk di daerah panas kering, luasan dinding bangunan dikurangi sebanyak
mungkin untuk tidak berhubungan langsung dengan ruang luar. Antara bangunan dihindari
adanya ruang luar, satu sarna lain kompak, sehingga sinar matahari sangat sedikit yang
menimpa langsung bangunan. Bila harus ada ruang di antara bangunan pun diusahakan agar
antara dinding bangunan yang satu dengan yang lain saling membayangi terhadap sinar
matahari. Oleh sebab itu kecenderungannya bangunan lebih efisien kalau rendah dan masif.
Oleh sebab itu kepadatan bangunan di daerah tropis lembab kecenderungannya rendah.
Kepadatan bangunan tinggi untuk daerah tropis kering. Untuk di daerah dingin, bentuk susunan
bangunannya cenderung kompak, padat dan mempunyai luasan jendela yang luas agar dapat
menerima panas matahari yang lebih banyak.

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

C. Definisi Evolusi Arsitektur

Evolusi arsitektur secara sederhana didefinisikan sebagai perubahan pada bentuk atau aliran suatu
arsitektur dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Walaupun demikian, definisi "evolusi arsitektur"
juga sering kali ditambahkan dengan klaim-klaim berikut ini:
1. Perbedaan pada komposisi bentuk antara aliran arsitektur yang terisolasi oleh nuansa
arsitektur lain mengakibatkan munculnya aliran arsitektur baru.
2. Semua aliran arsitektur yang sekarang dikembangkan merupakan suatu sistem nilai dan
karya dari nenek moyang yang berbeda.

F. Evolusi Arsitektur Dalam Perubahan Sosial Budaya Global

Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam
suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa
dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang
selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan
bahwa kebosanan manusia sebenamya merupakan penyebab
dari perubahan.

Ada tiga faktor yang dapat memengaruhi perubahan sosial

budaya:

1. tekanan kerj a dalam masyarakat
2. keefektifan komunikasi
3. perubahan lingkungan alam.
Perubahan sosial budaya juga dapat timbul akibat
timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru,
dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh,
berakhimya zaman es berujung pada ditemukannya sistem
pertanian, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru
lainnya dalam kebudayaan.

Gambar. 7. Perubahan sosial
budaya akibat kon tak budaya satu
dengan kebudayaan asing. Sumber
Google Terjemahan Bebas,
dikomposisikan oleh Peneliti 2011

a. Penetrasi Kebudayaan

Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan
ke kebudayaan lainnya, termasuk didalamnya arsitektural. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi
dengan dua cara:

1) Penetrasi Damai (Penetration Pasifique)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh
kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia' Penerimaan kedua mac am kebudayaan tersebut tidak
mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh
kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis.
Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa
menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang
merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah
bercampumya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru
yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.

2) Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante)

Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya
kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga
menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat: Wujud
budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun
lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem
pemerintahan Indonesia.
b. Cara Pandang Terhadap Sosial Budaya Global

1) Kebudayaan Sebagai Peradaban Moderen

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan sosial
"budaya" yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan
awal abad ke-19. Gagasan tentang sosial "budaya" ini
merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa
dan keknatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka
menganggap 'kebudayaan' sebagai "peradaban" sebagai lawan
kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu
dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu
kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Artefak tentang "kebudayaan tingkat tinggi" (High Culture)
oleh Edgar Degas. Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk
pada benda-benda dan aktivitas yang "elit" seperti misalnya
memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik
klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk
menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil
bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika
seseorang berpendapat bahwa musik klasik adalah musik yang "berkelas", elit, dan bercita rasa
seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan
zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah "berkebudayaan".
Orang yang menggunakan kata "kebudayaan" dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan
lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma
dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang
berbeda dengan mereka yang "berkebudayaan" disebut sebagai orang yang "tidak
berkebudayaan"; bukan sebagai orang "dari kebudayaan yang lain." Orang yang "tidak
berkebudayaan" dikatakan lebih "alam," dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen
dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran "manusia alami" (human
nature).

Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara
berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak
berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai
perkembangan yang merusak dan "tidak alami" yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat

Foto. 68. Bentuk sosial
budaya Eropa
Sumber- www.
Moderenstyle. com

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja)
dianggap mengekspresikan "jalan hidup yang alami" (natural way of life), dan musik klasik
sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan
alam dan konsep monadik yang pemah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang
sebelumnya dianggap "tidak elit" dan "kebudayaan elit" adalah sama - masing-masing
masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial
membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur,
yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

2) Kebudayaan Sebagai "Sudut Pan dang Umum "

Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap
gerakan nasionalisme - seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan
perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria
mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam "sudut pandang umum". Pemikiran ini
menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-
masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih
mengakui adanya pemisahan antara "berkebudayaan" dengan "tidak berkebudayaan" atau
kebudayaan "primitif."

Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi
yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia
tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
Pada tahun 50-an, subkebudayaan - kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari
kebudayaan induknya - mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini
pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan - perbedaan dan bakat dalam konteks
pekerja organisasi atau tempat bekerja.

3) Kebudayaan Sebagai Mekanisme Stabilisasi
Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk
dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama
dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.

4) Kebudayaan Diantara Masyarakat
Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan (atau biasa disebut sub-kultur),
yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan
dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya
karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik, agama, pekerjaan, pandangan politik dan
gender,

Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan
kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada
seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak
imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar
budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

• Monokulturalisme: Pemerintah mengusahakan terjadinya asimilasi kebudayaan sehingga
masyarakat yang berbeda kebudayaan menjadi satu dan saling bekerja sarna.
• Leitkultur (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh Bassam Tibi di
Jerman. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga dan mengembangkan
kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan kebudayaan induk yang ada dalam
masyarakat asli.
• Melting Pot: Kebudayaan imigranlasing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli
tanpa campur tang an pemerintah.
• Multikulturalisme: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan kelompok minoritas
untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan berinteraksi secara damai dengan
kebudayaan induk.
c. Sosial Budaya Menurut Wilayah Geografis
1. Global

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-
kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, migrasi, dan agama. Inilah tiga unsur utama yang mempengaruhi
dunia secara global.
a. Afrika

Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui p
enjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu,
wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan
Arab dan Islam.

Kebanyakan pengaruh eropa masuk ke Afrika melalui
Misionarys gereja-gereja. Disamping itu, teknologi sebagai
penunjang penyebaran injil. Dan pengaruh utama eropa terhadap
afrika terlihat pada teknologi baru yang diperlihatkan oleh
misionaris eropa kepada orang afrika.

b. Amerika

Kebudayaan di benua Amerika dipengaruhi oleh suku-suku Asli
benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika
Serikat), dan para imigran Eropa terutama Spanyol, Inggris,
Perancis, Portugis, Jerman, dan Belanda.
Kebudayaan tertua di benua Amerika adalah kebudayaa dari
bangsa Indian, mereka sebagai penduduk asili yang mendiami benua
itu, sebelum pada akhirnya colombus menemukan benua Amerika
dan kemudian para penjelajah dari Spanyol, Inggris, Prancis,
Portugis, Jerman dan Belanda berdatangan.
c. Asia

Asia memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sarna
lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan terse but memiliki

Foto.69. Pengaruh
Eropa di Afrika

Foto.70. Orang Hopi
yang sedang
menenun dengan alat
tradisional di
Amerika

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan
Tiongkok kepada kebudayaan Jepang, Korea, dan Vietnam. Dalam bidang agama, agama Budha
dan Taoisme banyak memengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut,
norma dan nilai Agama Islam juga turut memengaruhi kebudayaan terutama di wilayah Asia
Selatan dan tenggara.

a. Perubahan Kebudayaan Jepang

Kebudayaan Jepang Kebudayaan Jepang telah banyak
berubah dari tahun ke tahun, dari kebudayaan asli negara
rni, Jomon, sampai kebudayaan kini, yang
mengkombinasikan pengaruh Asia, Eropa dan Amerika
Utara. Setelah beberapa gelombang imigrasi dari benua
lainnya dan sekitar kepulauan Pasifik, diikuti dengan
masuknya kebudayaan Tiongkok, penduduk Jepang
mengalami periode panjang isolasi dari dunia luar
dibawah shogunat Tokugawa sampai datangnya "The
Black Ships" dan era Meiji. Sebagai hasil, kebudayaan
Jepang berbeda dari kebudayaan Asia lainnya.

d. Australia

Kebanyakan budaya di Australia
mas a kini berakar dari kebudayaan Eropa
dan Amerika. Kebudayaan Eropa dan Am
erika tersebut kemudian dikembangkan
dan disesuaikan dengan lingkungan
benua Australia, serta diintegrasikan
dengan kebudayaan penduduk asli benua
Australia, Aborigin.
e. Eropa

Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan
negara-negara yang pemah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal
jug a dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah
diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan
banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya
di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara
yang pemah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh
kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen,
meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami
kemunduran beberapa tahun ini.

Foto. 71. Lukisan Jepang
dipengaruhi oleh budaya
Asia dan Eropa
Sumber - peneli ti, 2003

Foto. 72. Kebudayaan Aborigin Australia

Foto. 73. Puing arsitektur
klasik Eropa.

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

f. Timur Tengah dan Afrika Utara
Kebudayaan didaerah Timur Tengah dan Afrika Utara saat
ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama
Islam, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di
daerah ini.

Mulai dari cara berpakaian hingga pada music tradisional
dipengaruhi oleh kebudayaan timur tengah. Selain daripada itu,
di daerah Afrika Utara merupakan daerah dengan populasi Islam
terbanyak, yang mana dipengaruhi oleh kebudayaan dan religi
dari Timur Tengah.

Foto.74. Kebudayaan di
Afrika Utara

2. Sosial Budaya Nusantara
Sosial budaya Nusantara juga mengalami pengaruh luar sebagaimana budaya lain di dunia.

a. Sosial Budaya Bali
Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali dilandasi
filsafah Tri Hita karana, artinya Tiga Penyebab Kesejahteraan
yang perlu diseimbangkan dan diharmosniskan yaitu
hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan ), hubungan
manusia dengan manusia (Pawongan) dan manusia dengan
lingkungan (Palemahan). Perilaku kehidupan masyarakatnya
dilandasi oleh falsafah "Karmaphala", yaitu keyakinan akan
adanya hukum sebab sebab-akibat antara perbuatan dengan
hasil perbuatan. Sebagian besar kehidupan masyarakatnya
diwamai dengan berbagai upacara agama/adat, sehingga
kehidupan spiritual mereka tidak dapat dilepaskan dari Foto 75: Masyarakat Adat Bali
berbagai upacara ritual. Karena itu setiap saat di beberapa
tempat di Bali terlihat sajian-sajian upacara. Upacara tersebut ada yang berkala, insidentil dan setiap
hari, dan dikelompokan menjadi lima jenis yang disebut Panca Yadnya, meliputi Dewa Yadnya yaitu
upacara yang berhubungan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widi
Wasa, Rsi Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan para pemuka agama (Pendeta, Pemangku dan
lain-Iainnya), Pitra Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan roh leluhur (Upacara Ngaben,
Memukur), Manusa Yadnya yaitu upacara yang berkaitan dengan manusia (Upacara Penyambutan
Kelahiran, Tiga Bulanan, Otonan, Potong Gigi dan Perkawinan) dan Buta Yadnya yaitu upacara yang
berkaitan dengan upaya menjaga keseimbangan alam (Upacara Mecaru, Mulang Pekelem).
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia.
Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat
pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya orang-orang Hindu dari India pada 100
SM. Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin
cepat setelah abad ke-l Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti,
diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan
menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar mas a inilah sistem irigasi subak untuk penanaman
padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada
mas a itu. Kerajaan Majapahit (1293-1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa,

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

pemah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara
beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang
antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat
Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
b. Sosial Budaya Maluku
Dengan kondisi daerah kepulauan yang menyebar,
masyarakat Maluku Utara tumbuh dan berkembang dengan
segala keragaman budayanya. Berdasarkan catatan di daerah
Maluku Utara terdapat 28 sub etnis dengan 29 bahasa lokal.
Corak kehidupan sosial budaya masyarakat di provinsi
Maluku Utara secara umum sangat tipikal yaitu perkawinan
antara ciri budaya lokal Maluku Utara dan budaya Islam yang
dianut empat kesultanan Islam di Maluku Utara pad masa lalu.
Asimilasi dari dua kebudayaan ini melahirkan budaya Moloku
Kie Raha. Sedangkan corak kehidupan masyarakatnya
dipengaruhi oleh kondisi wilayah Maluku Utara yang terdiri dari
laut dan kepulauan, perbukitan dan hutan-hutan tropis. Desa-
desa di Maluku Utara umumnya (kurang lebih 85 %) terletak di
pesisir pantai dan sebagian besar lainnya berada di pulau-pulau
kecil. Oleh sebab itu, pola kehidupan seperti menangkap ikan,
berburu, bercocok tanaman dan berdagang masih sangat
mewamai dinamika kehidupan sosial-ekonomi masyarakat
Maluku Utara (sekitar 79 %).

Foto 76. Tari Cakalele-
Ambon

Foto 77. Tari Orlapei-
Maluku

Sementara itu, ikatan kekerabatan dan integrasi sosial
masyarakat secara umum sangat kuat sebelum terjadi konflik horizontal bernuansa SARA. Ikatan
pertalian darah dan keturunan sesama anggota keluarga didalam satu komunitas di daerah tertentu
sangat erat dan familiar, walaupun keyakinan keagamaan berbeda seperti masyarakat di kawasan
Halmahera bagian utara dan timur. Hubungan ini telah menumbuhkan harmonisasi dan integrasi sosial
yang sangat kuat. Dalam konteks hubungan Islam dan Kristen, nuansa interaksi sosial terse but lebih
didasarkan bukan pada pertimbangan kultural dan hubungan kekeluargaan.
c. Sosial Budaya Jakarta - Betawi
Provinsi DKI Jakarta memiliki penduduk lebih dari 300 suku
bangsa dengan 200 bahasa. Sebagai Ibukota Negara Republik
Indonesia, Jakarta merupakan titik pertemuan budaya nasional
dan intemasional. Jakarta menjadi barometer perkembangan
budaya bangsa Indonesia. Berbagai atraksi budaya, kuliner, dan
seni ditampilkan secara rutin dalam berbagai event kebudayaan di
Pusat Kota Jakarta.

Provinsi DKI Jakarta secara rutin mengadakan pemilihan
abang dan none Jakarta. Dalam berbagai kegiatan tersebut, selalu
ditampilkan "Ondel-ondel Boneka Khas Betawi (Penduduk Asli
Jakarta).

Foto 78. Budaya
Perkawinan Betawi

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

d. Sosial Budaya Banten

Kondisi sosial budaya masyarakat Banten diwamai oleh
potensi dan kekhasan budaya masyarakatnya yang sangat variatif,
mulai dari seni bela diri pencak silat, debus, rudat, umbruk, tari
saman, tari topeng, tari cokek, dog-dog, palingtung, dan lojor.
Hampir semua seni tradisionalnya sangat kental diwamai dengan
etika Islam. Ada juga seni tradisional yang datang dari luar kota
Banten, tapi semua itu telah mengalami proses akulturasi budaya
sehingga terkesan sebagai seni tradisional Banten, misalnya seni
kuda lumping, tayuban, gambang kromong dan tari cokek. Bahasa
yang digunakan masyarakat Banten khususnya yang berada di
wilayah utara menggunakan bahasa Jawa Serang, sedangkan di
wilayah selatan menggunakan Bahasa Sunda. Namun demikian, masyarakat setempat umumnya lebih
sering menggunakan Bahasa Indonesia.

e. Sosial Budaya Jawa Barat

Foto 79. Budaya Beladiri
Banten. Sumber Peneliti 2010

Budaya Jawa Barat didominasi Sunda. Adat tradisionalnya yang penuh khasanah Bumi Pasundan
menjadi cermin kebudayaan di sana. Perda Kebudayaan Jawa Barat bahkan mencantumkan
pemeliharaan bahasa, sastra, dan aksara daerah, kesenian, kepurbakalaan dan sejarahnya, nilai -nilai
tradisional dan juga museum sebagai bagian dari pengelolaan kebudayaan. Pariwisata berbasis
kebudayaan yang menampilkan seni budaya Jawa Barat, siap ditampilkan dan bernilai ekonomi.
Untuk melestarikan budaya Jawa Barat, pemerintah daerah menetapkan 12 desa budaya, yakni desa
khas yang di tata untuk kepentingan melestarikan budaya dalam bentuk adat atau rumah adat. Desa
budaya tersebut adalah sebagai beikut:
1. Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan
Pangalengan, Kabupaten Bandung;
2. Kampung Mahmud, Desa Mekar Rahayu, Kecamatan
Margaasih, Kabupaten Bandung;
3. Kampung Kuta, Desa Karangpaninggal, Kecamatan
Tambaksari, Kabupaten Ciamis;
4. Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, Desa
Simaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi;
5. Kampung Dukuh, Desa Cijambe, Kecamatan Cikelet,
Kabupaten Garut;
6. Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles,
Kabupaten Garut;

Foto 80. Tari Tradosional
Sunda. Sumber peneliti 2010

7. Kampung Adat Ciburuy, Desa Palamayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut;
8. Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya;
9. Kampung Urug, Desa Kiarapandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor;
10. Rumah Adat Citalang, Desa Citalang, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta;
11. Rumah Adat Lengkong, Desa Lengkong, Kecamatan Garangwangi, Kabupaten Kuningan;
Rumah Adat Panjalin, Desa Panjalin, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Majalengka

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

f. Sosial Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Bahasa pengantar umumnya menggunakan bahasa Jawa yang
sekaligus juga menunjukkan etnis yang ada di provinsi DIY adalah
sakuletnis Jawa.)

Kehidupan social budaya Yogyakarta dipengaruhi oleh budaya
Kejawen, Hindu, dan Islam. Kebudayaan asli Yogyakarta dibentuk
oleh budaya kejawen. Setelah itu budaya kejawen dipengaruhi oleh
budaya Hindu, yang datang dari India. Setelah itu, pengaruh islam
mulai masuk sehingga terbentukklah kesultanan Yogyakarta
Hadiningrat dan Kesultanan Surakarta Solo. Dimana keduanya
dipengaruhi oleh budaya Islam dari Arab.

7. Sosial Budaya Jawa Timur

Foto 81. Tarian Rhama
dan Shinta

Kebudayaan dan adat istiadat Suku Jawa di Jawa Timur bagian barat menerima banyak pengaruh
dari Jawa Tengahan, sehingga kawasan ini dikenal sebagai
Mataraman; menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulunya
merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Mataram. Daerah tersebut
meliputi eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi, Magetan,
Ponorogo, Pacitan), eks- Karesidenan Kediri (Kediri, Tulungagung,
Blitar, Trenggalek) dan sebagian Bojonegoro. Seperti halnya di
Jawa Tengah, wayang kulit dan ketoprak cukup populer di kawasan

mi.

Kawasan pesisir barat Jawa Timur banyak dipengaruhi oleh
kebudayaan Islam. Kawasan ini mencakup wilayah Tub an,
Lamongan, dan Gresik. Dahulu pesisir utara Jawa Timur merupakan
daerah masuknya dan pusat perkembangan agama Islam. Lima dari Foto 82. Tarian Reog
sembilan anggota walisongo dimakamkan di kawasan ini.
Di kawasan eks-Karesidenan Surabaya (termasuk Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang) dan
Malang, memiliki sedikit pengaruh budaya Mataraman, mengingat kawasan ini cukup jauh dari pusat
kebudayaan Jawa: Surakarta dan Yogyakarta.
Adat istiadat di kawasan Tapal Kuda banyak dipengaruhi oleh budaya Madura, mengingat
besamya populasi Suku Madura di kawasan ini. Adat istiadat masyarakat Osing merupakan perpaduan
budaya Jawa, Madura, dan Bali. Sementara adat istiadat Suku Tengger banyak dipengaruhi oleh
budaya Hindu.

Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang
berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain:
tingkepan (upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama), babaran (upacara menjelang
lahimya bayi), sepasaran (upacara setelah bayi berusia lima hari), pitonan (upacara setelah bayi
berusia tujuh bulan), sunatan, pacangan.
Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran,
pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami),
setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau
kepanggih. Masyarakat di pesisir barat: Tub an, Lamongan, Gresik, bahkan Bojonegoro memiliki

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

kebiasaan lumrah keluarga wanita melamar pria, berbeda dengan lazimnya kebiasaan daerah lain di
Indonesia, dimana pihak pria melamar wanita. Dan umumnya pria selanjutnya akan masuk ke dalam
keluarga wanita.
8. Sosial Budaya Nangroe Aceh Darusalem
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdiri atas sembilan suku, yaitu Aceh (mayoritas), Tamiang
(Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh
Selatan), Naeuk Laot, Semeulu dan Sinabang (Kabupaten Semeulue). Masing-masing suku
mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir

Bahasa umum digunakan adalah

Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek

'

lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh
Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek
Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.
Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur
segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat
bersendikan hukum syariat Islam. Penerapan syariat
Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh
sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa
kesultanan, syariat Islam sudah mere sap ke dalam diri
masyarakat Aceh.

Foto 83. Rumah Atap Ijuk Tamiang

Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri.
Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa
Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan
hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Perang Sabi (Perang Sabil).
9. Sosial Budaya Sumatera Utara
Sumatera Utara juga dikenal sebagai provinsi
multikultural, di dalamnya terdapat etnis dan agama. Selain
Batak dan Melayu yang menjadi penduduk asli provinsi
ini, ada banyak kelompok etnis lainnya juga yang juga
hidup berdampingan. Setidaknya ada 13 suku berkembang
di provinsi ini 13 bahasa daerah. Dari semua suku yang
ada, sembilan diantaranya adalah suku asli dan empat suku
pendatang. Keragaman suku -suku ini belum termasuk
Jawa, Cina, dan India yang juga hidup berdampingan
bersama mereka. Keberagaman suku tentu diikuti pula oleh Foto 84. Rumah Adat Batak Karo
mosaik adat istiadat dan nilai-nilai budaya. Keragaman adat
istiadat di Sumatera Utara diwamai oleh adat Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Nias, Pesisir,
Angkola, Pakpak, dan Simalungun. Perkembangan sosial budaya relatif baik mengingat tingkat
kesadaran dan kedewasaan masyarakatnya dalam memahami pluralisme, keragaman budaya, mosaik
adat istiadat serta kerukunan antar umat beragama cukup tinggi.
Sumatera Utara merupakan provinsi multietnis dengan Batak, Nias, dan Melayu sebagai
penduduk asli wilayah ini. Daerah pesisir timur Sumatera Utara, pada umumnya dihuni oleh orang-
orang Melayu. Pantai barat dari Barus hingga Natal, banyak bermukim orang Minangkabau. Wilayah

Craatod wlth

nit!roPDF

'professi anal

download the free trial online at nitrcpdf.ecmzprofeesiona I

rsitektur Tradisional Jawa Dalam Perkembangan Sosial Budaya Moderen

tengah sekitar Danau Toba, banyak dihuni oleh Suku Batak yang sebagian besamya beragama
Kristen. Suku Nias berada di kepulauan sebelah barat. Sejak dibukanya perkebunan tembakau di
Sumatera Timur, pemerintah kolonial Hindia Belanda banyak mendatangkan kuli kontrak yang
dipekerjakan di perkebunan. Pendatang tersebut kebanyakan berasal dari etnis Jawa dan Tionghoa.
Pusat penyebaran suku-suku di Sumatra Utara, sebagai berikut :
1. Suku Melayu Deli: Pesisir Timur, terutama di kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai,
dan Langkat
2. Suku Batak Karo : Kabupaten Karo
3. Suku Batak Toba: Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir
4. Suku Batak Pesisir : Tapanuli Tengah, Kota Sibolga
5. Suku Batak MandailinglAngkola: Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Lawas, dan
Mandailing Natal
6. Suku Batak Simalungun : Kabupaten Simalungun
7. Suku Batak Pakpak : Kabupaten Dairi dan Pakpak Barat
8. Suku Nias : Pulau Nias
9. Suku Minangkabau : Kota Medan, Pesisir barat
10. Suku Aeeh: Kota Medan
11. Suku Jawa : Pesisir Timur &Barat
12. Suku Tionghoa : Perkotaan pesisir Timur &Barat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->