BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resistor Resistor merupakan komponen pasif sehingga dalam kerjanya tidak memrlukan catu daya. Bentuk, ukuran bahan dan resistensinya beragam tapi mudah dikenali. Besarnya resistensi dinyatakan dalam satuan Ohm, kila Ohm dan mega Ohm, yang dicantumkan pada setiap resistor dalam bentuk lambang bilangan atau cincin kode warna. Untuk menyatakan resistensi dan kemampuan dayanya, berbagai resistor dibuat dari bahan yang berbeda dengan sifat-sifat yang berbeda juga. Untuk menyatakan resistensi dalam teori dan praktek ditulis dengan huruf R. Resistor dikelompokkan menjadi :
y y

Resistor tetap (metal film resistor, metal oxide resistor, Carbon film Resistor, dll) Resistor Variabel (potensiometer, Trimer potensiometer, Hemoistor PTC/NTC, dll)

Untuk resistor tetap, harga resistansi dapat dilihat berdasarkan gelang warna, dengan kode sebagai berikut : Tabel 1: Harga resistansi berdasarkan warna Warna Nilai Pengali 100 101 102 103 104 105 106 107 10-2 Toleransi komposisi Hitam Coklat Merah Jingga Kuning Hijau Biru Ungu Abu-abu 0 1 2 3 4 5 6 7 8 20% 1% 2% 3% 4% 6% 12,5% 30% Toleransi Film 0 1% 2% 0,5% 0,25% -

Putih Perak Emas Tidak berwarna

9 -

10-1 10-2 10-1 -

10% 10% 5% 20%

-

2.1.1 Kode Warna Banyaknya kode warna pada setiap resistor berjumlah 4 cincin atau berjumlah 5 cincin (lihat gambar 1).

1

2 3

4

Gambar 1: Resistor dengan 4 cincin Resistansi yang terdiri dari 4 cincin meliputi :
y y y

cincin 1,2 digit (nilai) cincin 3 pengali cincin 4 toleransi

Resistansi yang terdiri dari 5 cincin meliputi :
y y y

Cincin 1,2,3, digit (nilai) Cincin 4 pengali Cincin 5 toleransi

Gambar 2: Resistor dengan 5 cincin

Dalam praktek resistansi dapat dihitung berdasarkan kode warna diatas memakai alat multimetar atau dengan hukum Ohm

£

¢

¡

 

5

V = I. R Hal yang paling penting selain besar tahanan (resistansi) adalah daya atau watt resistor, agar dapat diketahui harga arus masimum yang diperbolehkan pada resistor tersebut. Contoh : Resitor dengan 100 ;/ 0,25 watt, artinya arus yang diperbolehkan bekerja pada resistor tersebut adalah I = 50 mA. (ingat P = V.I = I2. R = V2/R).

2.2 Kapasitor Kondensator (Capasitor) adalah suatu alat yang dapat menyimpanenergi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad. Ditemukan oleh Michael Faraday (17911867). Kondensator kini juga dikenal sebagai "kapasitor", namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia "condensatore", seperti bahasa Peranciscondensateur, Indonesia dan

JermanKondensator atau SpanyolCondensador.
y

Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positif dan negatif serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung. Lambang kondensator (mempunyai kutub positif dan negatif) pada skema elektronika.

y

Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya, kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju yang sering disebut kapasitor. elektronika. Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema

Namun kebiasaan dan kondisi serta artikulasibahasa setiap negara tergantung pada masyarakat yang lebih sering menyebutkannya. Kini kebiasaan orang tersebut hanya menyebutkan salah satu nama yang paling dominan digunakan atau leb sering didengar. ih Pada masa kini, kondensator sering disebut kapasitor (capacitor) ataupun sebaliknya yang pada ilmu elektronika disingkat dengan huruf (C).Satuan dalam kondensator disebut Farad. Satu Farad = 9 x 1011 cm² yang artinya luas permukaan kepingan tersebut menjadi 1 Farad sama dengan 106 mikroFarad (µF), jadi 1 µF = 9 x 105 cm².

Satuan-satuan sentimeter persegi (cm²) jarang sekali digunakan karena kurang praktis, satuan yang banyak digunakan adalah:
y y y y y

1 Farad = 1.000.000 µF (mikro Farad) 1 µF = 1.000.000 pF (piko Farad) 1 µF = 1.000 nF (nano Farad) 1 nF = 1.000 pF (piko Farad) 1 pF = 1.000 µµF (mikro-mikro Farad)

Adapun cara memperluas kapasitor atau kondensator dengan jalan: 1. Menyusunnya berlapis-lapis. 2. Memperluas permukaan variabel. 3. Memakai bahan dengan daya tembus besar.

2.2.1 Prinsip dasar dan spesifikasi elektriknya Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi tegangan listrik, maka muatanmuatan positif akan mengumpul pada salah satu kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang nonkonduktif. Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatanmuatan positif dan negatif di awan.

Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah) Kondensator (Capasitor) adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik. Lambang kondensator (mempunyai kutub positi dan negati ) pada skema elek tronika. Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih rendah. Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah) 2. hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju yan g sering disebut kapasitor (capacitor). tidak mempunyai kutub positi atau negati pada kakinya. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore). Kondensator elektrolit (Electrolite Condenser = Elco) 3. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia "condensatore". merah. Ditemukan oleh Michael Faraday (1791-1867). Kini kebiasaan orang tesebut hanya r menyebutkan salah satu nama yang paling dominan digunakan atau lebih sering didengar.2 Wujud dan Macam kondensator B rdasarkan kegunaannya kondensator kita bagi dalam: 1. Kondensator kini juga dikenal sebagai "kapasitor". Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema elektronika. namun kata "kondensator" masih dipakai hingga saat ini.Gambar 3: Pri i dasar kapasit r 2. berkenaan dengan kemampuan alat untuk men yimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Namun kebiasaan dan kondisi serta artikulasi bahasa setiap negara tergantung pada masyarakat yang lebih sering menyebutkannya. kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat.2. dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad. seperti bahasa Perancis condensateur. . Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positi dan negati serta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung. Indonesia dan Jerman Kon densator atau Spanyol Condensador.

000 µF (mikro Farad) 1 µF = 1. Satu Farad = 9 x 1011 cm² yang artinya luas permukaan kepingan tersebut menjadi 1 Farad sama dengan 106 mikroFarad (µF). satuan yang banyak digunakan adalah: 1 Farad = 1.3 Kapasitansi Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron.(1) Dimana : Q = muatan elektron dalam C (coulombs) C = nilai kapasitansi dalam F (farads) V = besar tegangan dalam V (volt) .000.000 pF (piko Farad) 1 µF = 1. Satuan dalam kondensator disebut Farad.000 µµF (mikro-mikro Farad) Adapun cara memperluas kapasitor atau kondensator dengan jalan : y y y Menyusunnya berlapis-lapis Memperluas permukaan variabel Memakai bahan dengan daya tembus besar Wujud dan Macam kondensator Berdasarkan kegunaannya kondensator kita bagi dalam : y y y Kondensator tetap (nilai kapasitasnya tetap tidak dapat diubah) Kondensator elektrolit (Electrolite Condenser = Elco) Kondensator variabel (nilai kapasitasnya dapat diubah-ubah) 2.000 pF (piko Farad) 1 pF = 1. kondensator sering disebut kapasitor (capacitor) ataupun sebaliknya yang pada ilmu elektronika disingkat dengan huruf (C). Satuan-satuan sentimeter persegi (cm²) jarang sekali digunakan karena kurang praktis. jadi 1 µF = 9 x 105 cm². Kemudian Michael Faraday membuat postulat bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs.25 x 1018 elektron.000 nF (nano Farad) 1 nF = 1. Dengan rumus dapat ditulis : Q = CV ««««««««««««««««. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.2.Pada masa kini.000.

polystyrene. yang biasanya untuk aplikasi rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi.4 Tipe Kapasitor Kapasitor terdiri dari beberapa tipe. Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF. Dengan rumusan dapat ditulis sebagai berikut : C = (8.1 nF sama dengan 100 pF. kapasitansi dihitung dengan mengetahui luas area plat metal (A). Keramik dan mika adalah bahan yang popular serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil. 1. polycarbonate. elektrolytik dan elektrochemical. Misalnya 0.1000 k=8 k=3 Untuk rangkain elektronik praktis.2.047 uF dapat juga dibaca sebagai 47 nF. Kapasitor Elektrostatik Kapasitor elektrostatik adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan bahan dielektrik dari keramik. yaitu kapasitor elektrostatik. Tabel 2:Contoh konstanta (k) Udara vakum Aluminium oksida Keramik Gelas Polyethylene k=1 k=8 k = 100 . jarak (t) antara kedua plat metal (tebal dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik. film dan mika. Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan membaca besaran sebuah kapasitor. Umumnya kapasitor yang ada di pasar memiliki satuanuF (10 -6 F). 2. Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian. . satuan farads adalah sangat besar sekali. tergantung dari bahan dielektriknya. nF (10-9 F)danpF (1012 F).Dalam praktek pembuatan kapasitor. atau contoh lain 0.85 x 10-12) (k A/t) ««««««««««««. Termasuk kelompok bahan dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar).(2) Berikut adalah tabel contoh konstanta (k) dari beberapa bahan dielek trik yang disederhanakan. polyprophylene. metalized paper dan lainnya.

maka akan terbentuk lapisan Aluminium -oksida (Al2O3) pada permukaannya. Gambar 4: Kapasitor Elco Dengan demikian berturut-turut plat metal (anoda). Contohnya. Dalam hal ini lapisan -metal-oksida sebagai dielektrik. Bahan yang paling ban yak dan murah adalah . Kapasitor Elektrol tik Kelompok kapasitor elektrolytik terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan . 2. MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film. jika digunakan Aluminium. Lapisan metal-oksida ini sangat tipis. aluminium. sehingga dengan demikian dapat dibuat kapasitor yang kapasitansinya cukup besar. Karena alasan ekonomis dan praktis. Mengapa kapasitor ini dapat memiliki polaritas. Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidai permukaan plat metal. MKM.di badannya. seperti pada proses penyepuhan emas. umumnya bahan metal yang banyak digunakan adalah aluminium dan tantalum. Lapisan oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa. zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). adalah karena proses pembuatannya menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda dan kutup negatif katoda. Elektroda metal yang dicelup kedalam larutan electrolit (sodium borate) lalu diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif (katoda). magnesium. lapisan-metal-oksida dan electrolyte(katoda) membentuk kapasitor. Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum. Umumnya kapasitor kelompok ini adalah non -polar. Dari rumus (2) diketahui besar kapasitansi berbanding terbalik dengan tebal dielektrik. titanium.Mylar. niobium.

Bahan electrolyte pada kapasitor Tantalum ada yang cair tetapi ada juga yang padat. Tipe kapasitor jenis ini juga masih dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil dan ringan. . maka kapasitansinya adalah 10 x 10. Kapasitor Electrochemical Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104.000. Pada kenyataanya batere dan accu adalah kapasitor yang sangat baik. yang sering juga disebut kapasitor elco. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uF/25v. karena memiliki kapasitansi yang besar dan arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Kapasitor tipe ini juga memiliki arus bocor yang sangat kecil Jadi dapat dipahami mengapa kapasitor Tantalum menjadi relatif mahal. misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular. Sebagai contoh.2. kapasitor yang bertuliskan dua angka 47. maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya.2 nF. Contoh lain misalnya tertulis 222. Kapasitor yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Termasuk kapasitor jenis ini adalah batere dan accu.5 Membaca Kapasitansi Pada kapasitor yang berukuran besar. Selain itu karena seluruhnya padat. 2. Disebut electrolyte padat.000 pF atau = 100 nF. Sehingga dengan cara itu dapat diperoleh kapasitor yang kapasitansinya besar. Jika ada 3 digit. bahan plat Aluminium ini biasanya digulung radial. berturut-turut 1 = 10.000 = 100. 4700 uF dan lain-lain. Untuk mendapatkan permukaan yang luas. 3. nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. 3 = 1. 470 uF. 2 = 100. melainkan bahan lain yaitu manganese-dioksida. Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads). Dengan demikian kapasitor jenis ini bisa memiliki kapasitansi yang besar namun menjadi lebih ramping dan mungil. 4 = 10.Aluminium. artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2. tetapi sebenarnya bukan larutan electrolit yang menjadi elektroda negatif-nya. maka waktu kerjanya (lifetime) menjadi lebih tahan lama.000 dan seterusnya. Sebagai contoh 100 uF. angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal.

0 3 -1000 K . Para elektro-mania barangkali pernah mengalami kapasitor yang meledak karena kelebihan tegangan. Misalnya kapasitor 10 uF 25 V.0 0.2.Selain dari kapasitansi ada beberapa karakteristik penting lainnya yang perlu diperhatikan. Secara lengkap kodekode tersebut disajikan pada table berikut. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat didalam datasheet. Umumnya kapasitorkapasitor polar bekerja pada tegangan DC dan kapasitor non-polar bekerja pada tegangan AC.2.6 Tegangan Kerja (working voltage) Tegangan kerja adalah tegangan maksimum yang diijinkan sehingga kapasitor masih dapat bekerja dengan baik.9 2 -100 J 1. Tabel 3: Kode karakteristik kapasitor kelas I Koefisien Suhu PPM Co C B 0.7 Temperatur Kerja Kapasitor masih memenuhi spesifikasinya jika bekerja pada suhu yang sesuai. Pabrikan pembuat kapasitor umumnya membuat kapasitor yang mengacu pada standar popular. Berikut ini adalah beberapa spesifikasi penting tersebut. 2. Ada 4 standar popular yang biasanya tertera di badan kapasitor seperti C0G (ultra stable). X7R (stable) serta Z5U dan Y5V (general purpose).3 0 1 -1 -10 G H Faktor Pengali Koefisien Suhu Toleransi Koefisien Suhu PPM Co +/-30 +/-60 +/120 +/- Simbol per Simbol Pengali Simbol per A M 0. maka tegangan yang bisa diberikan tidak boleh melebihi 25 volt dc. 2.

7% +/7.5% +/10.0% +/1.0% Z +10 2 +45 A Y -30 4 +65 B X -55 5 +85 C 6 +105 D 7 +125 E 8 +150 F 9 +200 P R .5% +/2.3% +/4.0% +/15.250 10000 +/500 P 1.2% +/3.5 4 L ppm = part per million Tabel 4:Kode karakteristik kapasitor kelas II dan III suhu kerja minimum Simbol Co suhu kerja maksimum Simbol Co Toleransi Kapasitansi Simbol Persen +/1.

namun tetap saja ada arus yang dapat melewatinya. Artinya. Tabel diatas menyajikan nilai toleransi dengan kode-kode angka atau huruf tertentu. walaupun nilainya sangat besar sekali. Sekaligus dikethaui juga bahwa suhu kerja yang direkomendasikan adalah antara -55Co sampai +125C o (lihat tabel kode karakteristik) 2. Phenomena ini dinamakan arus bocor DCL (DC Leakage Current) dan resistansi dielektrik ini dinamakan Insulation Resistance (IR). Dengan table di atas pemakai dapat dengan mudah mengetahui toleransi kapasitor yang biasanya tertera menyertai nilai nominal kapasitor. maka kapasitasinya adalah 100 nF dengan toleransi +/-15%. besar kapasitansi nominal ada toleransinya.0% +22% / -33% +22% / -56% +22% / -82% T U V 2.S +/22. Misalnya jika tertulis 104 X7R. Untuk menjelaskan ini. Gambar 5: Model kapasitor Dimana : C = Capacitance .2. berikut adalah model rangkaian kapasitor. bahan dielektrik juga memiliki resistansi.2.9 Insulation Resistance (IR) Walaupun bahan dielektrik merupakan bahan yang non -konduktor.8 Toleransi Seperti komponen lainnya.

Konsekuensinya tentu saja arus bocor (DCL) sangat kecil (uA). Besaran ini menjadi faktor yang diperhitungkan misalnya pada aplikasi motor phasa. Insulation resistance (IR) ini sangat besar (MOhm). Pabrik pembuat biasanya meyertakan data DF dalam persen. Dari model rangkaian kapasitor digambarkan adanya resistansi seri (ESR) dan induktansi (L). 2.2.10 Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z) Dissipation Factor adalah besar persentasi rugi-rugi (losses) kapasitansi jika kapasitor bekerja pada aplikasi frekuensi. tuner dan lain-lain. karakteristik resistansi dielektrik ini biasa juga disajikan dengan besaran RC (IR x C) yang satuannya ohm-farads atau megaohm-micro farads. diketahui ada resitansi dielektrik IR(Insulation Resistance) yang paralel terhadap kapasitor. rangkaian ballast. Secara matematis di tulis sebagai berikut : . Rugi-rugi (losses) itu didefenisikan sebagai ESR yang besarnya adalah persentasi dari impedansi kapasitor Xc. tetapi ini akan menyebabkan resistansi dielektrik makin kecil. Untuk mendapatkan kapasitansi yang besar diperlukan permukaan elektroda yang luas.ESR = Equivalent Series Resistance L = Inductance IR = Insulation Resistance Jika tidak diberi beban. semestinya kapasitor dapat menyimpan muatan selamalamanya. Namun dari model di atas. Karena besar IR selalu berbanding terbalik dengan kapasitansi (C).

Untuk perhitungan. . Pengukuran digital menunjukkan angkaangka melalui layarnya. layar tersebut biasanya terbuat dari kristal cair. Bahkan kadang-kadang tipe yang paling mudah digunakan dan paling murah. memiliki feature yang tidak kita butuhkan untuk digunakan.Gambar 6: Grafik Dissipation Factor (DF) dan Impedansi (Z) Dari penjelasan di atas dapat dihitung besar total impedansi (Z total) kapasitor adalah: Gambar 7: Grafik Impedansi (Z) Karakteristik respons frekuensi sangat perlu diperhitungkan terutama jika kapasitor bekerja pada frekuensi tinggi. 2.3 Multimeter Multimeter dirancang dan diproduksi secara massal untuk para ahli teknok.perhitungan respons frekuensi dikenal juga satuan faktor qualitas Q (quality factor) yang tak lain sama dengan 1/DF.

sedangkan tanda ´V~´ menyatakan pengukuran untuk arus bolak -balik (AC). Multimeter non elektronis Multimeter jenis bukan elektronik kadang -kadang disebut juga AVO-meter. VOM (Volt-Ohm-Meter). Untuk mengetahui fungsi dan sifat multimeter yang dipergunakan pelajarilah baik-baik spesifikasi teknik (technical specification) alat tersebut. atau circuit Tester.1 Jenis-jenis multimeter 1. Pada dasarnya alat ini merupakan gabungan dari alat ukur searah. Multitester. tanda ´V=´ yang menyatakan pengukuran untuk arus searah (DC). tegangan bolak-balik. tegangan searah. . sakelar harus diputar ke posisi yang sesuai. maka 20 V adalah maksimum tegangan yang dapat diukur. dibagian tengahnya terdapa sakelar putar untuk memilih fungsi yang kita inginkan. Spesifikasi yang harus diperhatikan terutama adalah: y Batas ukur dan skala pada setiap besaran yang diukur: tegangan searah (DC volt). Jika sakelar diputar kearah 20 VDC. (switched range multimeter) (autoranging multimeter) Gambar 8: Multimeter 2. resistansi.Gambar dibawah ini menunjukkan sebuah digital multimeter ( ambar switched range g multimeter). Untuk pengukuran lain.2.

kemudian turunkanlah batas ukur sedikit demi sedikit. mA. y Baterai yang diperlukan Sebelum menggunakan alat tersebut.y Tegangan bolak-balik (AC volt). arus searah (DC ampere. Mulailah dari skala yang cukup besar untuk keamanan alat. dan bahwa harga efektif (rms = root mean square) tegangan bolak-balik umumnya dikalibrasi (ditera) dengan gelombang . kilo ohm). perlu diperhatikan sensitivitas meter yang dinyatakan dalam ohm per volt. y y Ketelitian yang dinyatakan dalam % Daerah frekuensi yang mampu diukur pada pengukuran tegangan bolak-balik (misalnya antara 20 Hz sampai dengan 30 KHz). Pada pengukuran tegangan searah maupun bolak-balik. yaitu mempergunakan polaritas (tanda + dan -) pada pengukuran tegangan dan arus searah Dalam memilih batas ukur tegangan atau arus perlu diperhatikan faktor keamanan dan ketelitian. Sensitivitas meter sebagai pengukur tegangan bolak-balik lebih rendah daripada sensitivitas sebagai pengukur tegangan searah. bolak-balik (AC amp) resistansi (ohm. Resistensi dalam voltmeter (dalam ohm)=batas ukur x sensitivitas Pada pengukuran tegangan bolak-balik perlu diperhatikan pula spesifikasi daerah frekuensi (frequency converege/range). arus y Sensitivitas yang dinyatakan dalam ohm-per-volt pada pengukuran tegangan searah dan bolak-balik. Perlu diketahui bahwa multimeter mempunyai kemampuan yang terbatas. A). perlu dipelajari y y y y cara membaca skala cara melakukan ³zero adjustment´ (membuat jarum pada kedudukan nol) cara memilih batas ukur cara memilih terminal. Ketelitian akan paling baik bila jarum menunjuk pada daerah dekat dengan skala maksimum.

2 Multimeter sebagai Alat Ukur Besaran lain Dengan menggunakan prinsip pengukuran yang telah diterangkan di atas (yaitu pengukuran arus searah. 2. Kapasitor ini akan mencegah mengalirnya arus searah.1 mikrofarad. Bacalah spesifikasi alat tersebut.sinusoidal murni. Solid State Multimeter = Transistorized Multimeter. Alat ini mempunyai fungsi seperti multimeter non elektronis. Perhatikan "resistasi dalam" (input resistance. VTM + Vacuum Tube Volt Meter. kadang-kadang kapasitor ini telah terpasang didalamnya. Multimeter elektronis Multimeter ini dapat mempunyai nama: Viltohymst. Pada multimeter tertentu. multimeter tersebut dapat berfungsi sebagai : Transistor tester Wattmeter Pengukur suhu . suatu penguat transistor. tegangan bolak-balik dan resistansi) multimeter dapat juga dipergunakan untuk mengukur besaran-besaran (atau sifat-sifat komponen) secara tidaklangsung) Beberapa contoh diantaranya adalah:      mengukur polaritas dan baik buruknya dioda secara sederhana mengetahui baik buruknya transistor secara sederhana mengukur kapasitansi mengukur induktansi bila pada multimeter ditambahkan rangkaian tertentu.2. tetapi tetap dapat mengalirkan arus bolak-balik. 2. Adanya rangkaian elektronis menyebabkan alat ini mempunyai beberapa kelebihan. Bila kita ingin mengukur tegangan tegangan bolak -balik yang mengandung tegangan searah. maka terminal kita hubungkan seri dengan sebuah kapasitor dengan kapasitas 0. input impedance) pada pengukuran tegangan DC dan AC. misalnya pada anoda suatu penguat tabung trioda atau pada kolektor suatu penguat.

kemudian pilihlah kedudukan selector dan skala manakah yang akan dipergunakan. maka mulailah dari batas ukur yang paling besar.2. pembacaan meter akan paling teliti bila penunjukan jarum terletak di daerah dekat skala penuh. selector sebaiknya pada kedudukan AC volt pada harga skala cukup besar (misalnya 250 volt).2. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pakai yang membahayakan multimeter. sedangkan pada pengukuran resistansi bila penunjukan jarum terletak di daerah pertengahan skala. y Sebelum mulai mengukur suatu besaran listrik perhatikanlah lebih dahulu besaran apakah yang hendak diukur dan kira-kira berapakah besaranya. . Perhatikan pula polaritas (tanda + dan -) bila perlu. y Pada pengukuran tegangan dan arus. Setelah itu selector dapat dipindahkan ke batas ukur yang lebih rendah untuk memperoleh ketelitian yang lebih baik.3 Beberapa catatan tentang Penggunaan Multimeter  Dalam keadaan tidak dipakai. bila tidak dapat dipastikan besarnya arus/ tegangan tersebut. Harus diperhatikan: pengukuran resistansi hanya boleh dilakukan pada komponen atau rangkaian tidak mengandung sumber tegangan. y Pada waktu mulai melakukan pengukuran arus dan tegangan.

3. C dan RC diukur dengan alat multimeter tegangan AC. Induktor dilepas dari rangkaian kemudian hambatan dalam induktor diukur dengan menggunakan multimeter pada pengukuran hambatan.5 mH dipasang secara seri menjadi rangkaian RL seri.1 Alat dan Bahan : 1. Breadboard 2. Kapasitor 5. 5. Prosedur diatas diulangi dengan memakai komponen R = 47 ohm dan C = 1 µF. Tegangan pada R. Komponen R = 47 ohm dan C = 5. 4. 4.5 mH dan 1 mH 3. Induktor 0.6 µF dan 1 µF 7. Rangkain RL seri 1. Hambatan 47 ohm 6. Signal generator dengan keluaran sekitar 2 volt dan frekuensi 500 Hz disiapkan kemudian dihubungkan dengan rangkaian RC seri. Tegangan pada R. Kabel penghubung 3. Prosedur diatas diulangi dengan memakai komponen R = 47 ohm dan C = 1 µF. Multimeter 5. Komponen R = 47 ohm dan L = 0. Frekuensi diubah menjadi 1000 Hz dan langkah 1 sampai dengan langkah 3 diulangi. 6. Signal generator dengan keluaran sekitar 2 volt dan frekuensi 500 Hz disiapkan kemudian dihubungkan dengan rangkaian RL seri.6 µF dipasang secara seri menjadi rangkaian RC seri. Signal generator 4. Rangkaian RC seri 1. 2. 3. . C dan RC diukur dengan alat multimeter tegangan AC.2 Prosedur : A. B.BAB III METODOLOGI 3. 2.

436 321.296 0.141 o (° ) Peff (watt) 0.1872 (Ÿ) (µF) 47 47 4.7 1 y Perhitungan a.015 VRC (Volt) 2.7 µF   = = –ƒ     ° .32 2.33 6.BAB IV HASIL A.22 7.615 VC (Volt) 6. Frekuensi 500 Hz VS = R C VR (Volt) 6.32 Z (Ÿ) 82.085 0. Rangkaian RC seri 1.76 I (Ampere) 0.057 49.869 o 64. R 47 ohm dan C 4.

. R 47 ohm dan C 1 µF        = I –ƒ   .      Diagram Fasor VR = 49.869o VC VS b.

31 2.11 0 VC 2.41 7. Frekuensi 1000 Hz VS VS = R (Ÿ) 47 47 C (µF) 4.          Diagram Fasor VR = 64.45 VC (Volt) 6.615 VRC (Volt) 2. R 47 ohm dan C 4.225 6.7 µF    .7 1 VR (Volt) 6.31 Z (Ÿ) I (Ampere) (° ) Peff (watt) y Perhitungan a.

          Diagram Fasor VR = 39.960 VS VC b.    = = 0.1201 –ƒ   . R 47 ohm dan C 1 µF   .

575 o VS VC . .       . –ƒ             Diagram Fasor VR = 57.

R 47 ohm dan L 9.26 VRL (Volt) 2.32 2.54 8. =  . I –ƒ  Dimana Vr adalah .41 7.B.4 mF        .935 VL (Volt) 6. Rangkaian RL Seri 3. Frekuensi 500 Hz VS = R (Ÿ) 47 47 y L (mF) 9 23 VR (Volt) 7.32 Z (Ÿ) I (Ampere) (° ) Peff (watt) Perhitungan a.

925o Vs b. R 47 ohm dan L 15 mF         . I –ƒ   Dimana Vr adalah . .Sehingga tan adalah –ƒ       ° Diagram Fasor Vr VR = 46.

Frekuensi 1000 HZ VS = R (Ÿ) 47 47 L (mF) 9 23 VR (Volt) 8.r VL VR 4. Sehingga tan adalah –ƒ        ° Diagram fasor VS = 49.78 VL (Volt) 6.4 mF  .187o Vr VL.31 Z (Ÿ) I (Ampere) (° ) Peff (watt) y Perhitungan a. R 47 ohm dan L = 9.78 6.725 VRL (Volt) 2.87 7.31 2.

I –ƒ   Dimana Vr adalah Sehingga tan adalah –ƒ       ° Diagram fasor ° VS VL VL . .       .

.r VL  . –ƒ   Dimana Vr adalah Sehingga tan adalah –ƒ       ° Diagram Fasor Vr VS VR VL. R 47 ohm dan L = 15 mF         .b.

90 12.4 Vc (V) 10.46 Vs = Vrc (V) 7.88 2. Rangkaian RL seri 1.57 Vs = Vrc (V) 10.066 0. Frekuensi 1000Hz Tabel 2: R (Ÿ) 47 47 C (µ F) 4. Frekuensi 1000Hz .86 Vs = Vrc (V) 4.077 Vc (V) 10. Frekuensi 500Hz Tabel 1: R (Ÿ) 47 47 C (µ F) 4.80 B.34 8.5 1 Vr (V) 0.80 4.7 1 Vr (V) 10.7 1 Vr (V) 0. Data Hasil Pengamatan Rangkaian RC seri 1. Frekuensi 500Hz Tabel 3: R (Ÿ) 47 47 C (µ F) 0.12 10.0666 0.44 9.BAB IV HASIL PENGAMATAN 4.96 7.8 Vc (V) 8.48 2.1 A.69 10.

80 4.Tabel 4: R (Ÿ) 47 47 L 9 µF 15 mH Vr (V) 11.80 .35 10.80 Vc (V) 5.30 Vs = Vrc (V) 4.3 11.

Frekuensi 500Hz Tabel 1: Data percobaan dengan frekuensi 500 Hz R (Ÿ) 47 47 4.74 4.015 45.74/82.86 10.25 10.057 A Tan = Vc/Vr = 10.057= 0.7x10 -6 1 x10 -6 10.72 = 6795.26/10.42 C (F) Vr (V) Vc (V) Vs = Vrc (V) 4.057 0.7 ohm Z2 = R2 + Xc2 = 472 + 67.03 40.7x10 -6F Xc = 1/ C = 1/2 fC = 1/(2 )x (500) x (4.292 0. R = 47 ohm dan C = 4.94 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0.25 x 0.7x10-6) = 67.2 A.5 x Vr x I Z= 82.25 = 1.74 82.7 F = 4.4.744 I = Vs/Z = 4.030 P max = Vr x I = 10.001 = 45.584 watt Peff = 0.26 9.436 ohm .436 = 0.761 0.436 321. Data Hasil Perhitungan Rangkaian RC seri 1.082 a.

86 = 0.584 = 0.163 = 0.163 watt Peff = 0. R = 47 ohm dan C = 1 F = 1x10 -6F Xc = 1/ C = 1/2 fC = 1/(2 ) x (500) x (1 x10-6) = 318 ohm Z2 = R2 + Xc2 = 472 + 3182 = 103530.015 A Tan = Vc/Vr = 9.082 watt Z= 321.761 = 0.5 x Vr x I = 0.940 P max = Vr x I = 10.5 x 0.015 = 0.761ohm 2.74/321.2 I = Vs/Z = 4.86 x 0.292 watt b.42/10.5 x 0.867 = 40. Frekuensi 1000 Hz Tabel 2: Data percobaan dengan frekuensi 1000 Hz R (Ÿ) C (F) Vr (V) Vc (V) Vs = Vrc (V) Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) .= 0.

80 4.083 0.90 x 0.44 41.981 = 44.92 = 3355.86 4.69/10.7 x10-6 1 x10-6 10.7 F = 4.928 =0.083 A Tan = Vc/Vr = 10.47 47 4. R = 47 ohm dan C = 4.083= 0.905 = 0.21 0.686 I = Vs/Z = 4.905 watt Peff = 0.1798 a.5 x 0.95 0.452 watt Z= 57.80 57.90 12.029 44.7x10-6) = 33.4 10. R = 47 ohm dan C = 1 F = 1x10 -6F Xc = 1/ C = 1/2 fC .9 ohm Z2 = R2 + Xc2 = 472 + 33.452 0.440 P max = Vr x I = 10.5 x Vr x I = 0.928 ohm b.69 10.90 = 0.928 165.80/57.7x10 -6F Xc = 1/ C = 1/2 fC = 1/(2 ) x (1000) x (4.

Rangkaian RL seri 1.1 0.3596 watt Peff = 0.80/165.99 9.74 47 66.5 x Vr x I = 0.1798 watt Z= 165.5 x 0. Frekuensi 500 Hz Tabel 3: Data percobaan dengan frekuensi 500 Hz R (Ÿ) 47 47 L (mF) 9.34 10.4 x 0.95 =0.4 = 0. R = 47 ohm dan L = 9.72 9.56 0.95ohm B.= 1/(2 ) x (1000) x (1 x10-6) = 159 ohm Z2 = R2 + Xc2 = 472 + 1592 = 27539.327 a.210 P max = Vr x I = 12.029 A Tan = Vc/Vr = 10.74 4.876 = 41.3 I = Vs/Z = 4.4 15 10.07 44.86/12.029= 0.4 x10-3 F .28 45 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0.4mF = 9.549 0.34 Vr (V) VL (V) Vs = VrL (V) 4.3596 =0.

099 watt Peff = 0.280 P max = (Vr+VR) x I = 10.975 = 44. R = 47 ohm dan L = 155mF = 15x10-3 F XL = 1/ L = 1/2 fL = 1/(2 ) x (500) x (15 x10-3) = 47.74/47 =0.124 ohm Z2 = (R+r)2 + XL2 .1 A Tan = VL/(Vr+VR) = 10.034 ohm Z2 = (R+r)2 + XL2 = 472 + 0.5 x 1.XL = 1/ L = 1/2 fL = 1/(2 ) x (500) x (9.4x10-3) = 0.99 x 0.549 watt b.99 = 0.0342 = 2209 Z= 47 ohm I = Vs/Z = 4.099 = 0.5 x (Vr+VR) x I = 0.1= 1.72/10.

3 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0.07 = 0.55 Z= 66.34/9.56 ohm a.80 73.5 x (Vr+VR)x I = 0.549 ohm Z2 =( R+r)2 + XL2 .654 watt Peff = 0.03 46.327 watt 2. R = 47 ohm dan L = 9 mF = 9 x10-3 F XL = 1/ L = 1/2 fL = 1/(2 ) x (1000) x (9x10-3) = 56.34 x 0.07 A Tan = VL/(Vr+VR) = 9.102 25.065 0.30 Vr (V) VL (V) Vs = VrL (V) 4.5 x 0.3 11.661 I = Vs/Z = 4.53 47 0.80 5.35 10.654 =0.34 =1 = 450 P max = (Vr+VR)x I = 9.74/66.= 472 + 47.56 = 0.80 4. Frekuensi 1000 Hz Tabel 4: Data percobaan dengan frekuensi 1000 Hz R (Ÿ) 47 47 L (mF) 9 15 11.369 0.1242 = 4429.

5 x 0.3/(11. R = 47 ohm dan L = 15 mF = 15 x10-3 F Xc = 1/ L = 1/2 fL = 1/(2 ) x (1000) x (15x10-3) = 0.030 P max = (Vr+VR) x I = 11.35+0) = 0.5492 = 5406.53 = 0.01062 = 2209 I = Vs/Z = 4.80/47 Z= 47 ohm .= (47+0)2 + 56.369 watt Z= 73.467 = 25.738 watt Peff = 0.065 =0.80/73.752 I = Vs/Z = 4.738 = 0.0106 ohm Z2 = ( R+r)2 + XL2 = 472 + 0.35 x 0.5 x (Vr+VR) x I = 0.53 ohm b.065 A Tan = VL/(VR+Vr) = 5.

102 = 0.=0.80 = 1.55 watt .30/10.80 x 0.102 watt Peff = 0.30 P max = (Vr+VR) x I = 10.102= 1.5 x (Vr+VR) x I = 0.102 A Tan = VL/(Vr+VR) = 11.046 = 46.5 x 1.

LAMPIRAN .

94 0.80 57. c) Perbedaan nilai Z yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Z mengalami penurunan ± 2 kali lipat dari Z di awal praktikum. d) Perbedaan nilai I yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai I mengalami kenaikan dari I di awal praktikum .015 45.083 0. Dengan kenaikakan frekuensi perbedaan meliputi: a) Perbedaan nilai Vr dan Vc yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Vr dan Vc juga naik.42 4.7 x10-6 1 x10-6 C (F) Vr (V) 10.21 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0.80 4.69 10.86 Vc (V) Vs = Vrc (V) 4.082 1 x10 -6 Tabel 2: Data percobaan dengan frekuensi 1000 Hz R (Ÿ) 47 47 4. b) Perbedaan nilai Vs yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Vs mengalami penurunan 0.25 10.057 0.74 4.1798 Jika dilihat dari perbedaan kedua tabel di atas.029 44.03 40.26 9.761 0.90 12.452 0.95 0.292 0.7x10 -6 C (F) Vr (V) Vc (V) Vs = Vrc (V) Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 10. Hal ini disebabkan oleh penambahan nilai frekuensi.74 82.BAB V PEMBAHASAN Masita Sahara (240110080026) Perbandingan Hasil Pengukuran A.436 321. Rangkaian RC Seri Tabel 1: Data percobaan dengan frekuensi 500 Hz R (Ÿ) 47 47 4.06 volt.86 10. maka dapat dilihat perbedaan yang signifikan pada masing-masing hasil pengukuran.44 41.928 165.4 10.

mengalami kenaikan dari f) Perbedaan nilai Peffektif yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Peffektif mengalami kenaikan pula.e) Perbedaan nilai yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai di awal praktikum dan penurunan diakhir praktikum. .

maka dapat dilihat perbedaan yang signifikan pula pada masing-masing hasil pengukuran hal ini disebabkan oleh penambahan nilai frekuensi.80 5.3 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0.4 15 10.53 47 0.56 0. Z. Rangkaian RL Seri Tabel 3: Data percobaan dengan frekuensi 500 Hz R (Ÿ) 47 47 L (mF) 9. VL .74 47 66.327 Tabel 4: Data percobaan dengan frekuensi 1000 Hz R (Ÿ) 47 47 L (mF) 9 15 11.03 46. I. I. .07 44.1 0.369 0.B. Z.55 Jika dilihat dari perbedaan kedua tabel di atas. dan Peffektif yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Vr.34 Vr (V) VL (V) Vs = VrL (V) 4.35 10.80 73. b) Perbedaan nilai Vs yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai Vs mengalami kenaikan sebesar 0.34 10.99 9.30 Vr (V) VL (V) Vs = VrL (V) 4.06 volt. c) Perbedaan nilai yang ketika frekuensi dinaikkan menjadi 1000 Hz maka nilai mengalami penurunan diawal praktikum dan kenaikan diakhir praktimum.3 11.065 0.102 25.74 4. dan Peffektif menjadi tidak konstan.72 9.80 4. VL .549 0.28 45 Z ( Ÿ) I (A) (0) Peff (watt) 0. Dengan kenaikakan frekuensi perbedaan meliputi: a) Perbedaan nilai Vr.

2 Saran Saran pada praktikum kali ini ialah materi praktikum sebaiknya diketahui terlebih dahulu oleh praktikan agar tidak bingung ketika praktikum dan pengerjaan tugas pendahuluan. 6. Tetapi semua tergantung apa kebutuhan kita. Pada pecobaan dengan menaikkan nilai frekuensi maka dihasilkan kenaikan dan penurunan yang signifikan pada variable yang ada.BAB VI PENUTUP 6. Pada pecobaan dengan mengganti nilai kapasitor maka dihasilkan kenaikan dan penurunan yang signifikan pada variable yang ada. Tetapi semua tergantung apa kebutuhan kita. Jika F naik maka P juga naik. Salah satunya jika kita membutuhkan daya yang besar maka naikkan nilai frekuensinya. Karena p dan F dari praktikum diatas berbanding lurus. Karena daya dari praktikum diatas berbanding lurus dengan nilai kapasitor. . 2. Salah satunya jika kita membutuhkan daya yang besar maka ganti kapasitornya dengan yang lebih besar.1 Kesimpulan Masita Sahara (240110080026) Adapun dari praktikum diatas dapat ditarik kesimpulan: 1. Jika C besar maka P juga besar.

dengan satuan ohm. ‡ Reaktansi umumnya terjadi pada induktor dan kapasitor. mengakibatkan kekeliruan dalam pengukuran. Impedansi. Yang besarnya sebanding dengan besarnya tegangan dan arus AC yang mengalir. tegangan yang dihambat berbeda fasa 900 dengan arusnya. 3. karena hasil yang didapat jauh sangat kecil mendekati nol. Kesalahan yang terjadi adalah pada saat peletakan lead multimeter pada kedua kaki-kaki resistor.900 dengan arusnya. termasuk paralaks ketika melakukan pembacaan skala pada multimeter. hal tersebut mungkin terjadi. kemudian mengukur tegangan pada resistor. ‡ ‡ Reaktansi secara matematis diberi simbol X. dengan satuan ohm. sehingga kurang teralirkan dengan baik. terjadi pada setiap medan listrik atau magnit. sehingga praktikum harus diulang. pada dasarnya adalah inertia melawan pergerakan elektron. dan pada kapasitor dengan menggunakan multimeter. bisa jadi alat yang mulai kurang optimal kemampuannya. Karena pada awal praktikum. Adanya sedikit penjelasan teori tentang praktikum yang akan dilakukan. 2. Kemudian kesalahan bisa terjadi pada saat membuat rangkaian listrik. termasuk resistansi dan reaktansi ‡ Impedansi umumnya terjadi pada semua jaringan dan semua komponen. 4. ‡ Saran 1. Berdoa sebelum memulai praktikum. terjadi sedikit kesalahan. Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan praktikum. pada reaktansi murni. Human error yang dilakukan oleh praktikan yang kurang hati-hati mengakibatkan hasil kurang akurat. bisa jadi kaki-kaki dari resistor maupun kapasitor kurang menancap. Kesimpulan ‡ Reaktansi. . Terdapat perbedaan. Impedansi secara matematis diberi simbol Z. Alat yang terbatas juga bisa mempengaruhi hasil pengukuran. tegangan yang dihambat berbeda fasa antara 00 . pada dasarnya adalah semua bentuk perlawanan terhadap aliran elektron.Pembahasan Praktikum pertama adalah dengan membuat rangkaian RC dan rangkaian RL seri. Seharusnya salah satu lead dari multimeter didekatkan pada sumber tegangan. Kemudian hasil dari pengukuran dengan alat di penghitungan manual. Pengujian terhadap alat-alat yang digunakan untuk praktikum. maka hasil yang terbaca pun nilainya cukup rasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful