Memoar 87 Tahun Runtuhnya Khilafah

Ditulis oleh: Iqbal Santosa al-Bandungi

87 tahun lalu, tepatnya tanggal 3 maret 1924 sejarah khilafah berakhir. Mustafa Kemal Pasha, politikus keturunan Yahudi dengan dukungan pemerintah Inggris, secara resmi menghapuskan kekhilafahan, yang waktu itu berpusat di Turki. Penyebab keruntuhan Khilafah Dalam bagian lain dari sejarah keruntuhan kekhilafahan Turki Utsmani, disebutkan bahwa setidaknya ada dua hal yang menjadi penyebab keruntuhannya sebagai berikut. 1. Gerakan Misionaris Gerakan misionaris dapat terlihat ketika ahlu dzimmah ±khususnya orang Kristen± yang mendapat hak istimewa pada masa kepemimpinan Sulaiman II, akhirnya menuntut persamaan hak dengan muslimin. Dengan hak istimewa ini, jumlah orang Kristen dan Yahudi meningkat di dalam negeri. Hal ini dimanfaatkan misionaris yang mulai menjalankan gerakannya sejak abad ke-16. Malta kemudian dipilih sebagai pusat gerakan. Dari sana mereka menyusup ke Suriah (1620) dan tinggal di sana sampai 1773. Di tengah mundurnya intelektualitas Dunia Islam, mereka mendirikan pusat kajian sebagai kedok gerakannya. Sebenarnya serangan macam ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para orientalis Barat, dengan mendirikan Pusat Kajian Ketimuran sejak abad ke-14. Gerakan misionaris dan orientalis itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari imperialisme Barat di dunia Islam. Untuk menguasainya ±meminjam istilah Imam al Ghazali± al-Islam sebagai asas dan asSulthon (Khilafah) sebagai penjaganya harus dihancurkan. Untuk meraih tujuan pertama, serangan misionaris dan orientalis diarahkan untuk menyerang pemikiran Islam; sedangkan untuk meraih tujuan kedua, mereka hembuskan nasionalisme dan memberi stigma pada khilafah sebagai Orang Sakit (The Sick Man). Agar kekuatan khilafah lumpuh, dan ±dengan kondisi itu± sekali pukul langsung jatuh maka dilakukanlah upaya intensif untuk memisahkan Arab dan wilayah lainnya dari khilafah. Dari sinilah, lahir gerakan patriotisme dan nasionalisme di dunia Islam. Di Eropa misalnya, wilayah yang dikuasai khilafah diprovokasi agar memberontak (abad 19-20), seperti pada kasus Serbia, Yunani, Bulgaria, Armenia dan terakhir Krisis Balkan, sehingga khilafah Turki Utsmani kehilangan banyak wilayahnya, dan yang tersisa hanya Turki. Para misionaris itu bekerja dengan berkedok lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Awalnya akibat dari tindakan itu hanya kecil saja. Tapi selama abad ke 18 dan 19 ketika kemunduran Khilafah mulai muncul, mereka mampu mengeksplotasi kelemahan negara dan menyebarkan konsep konsep yang jahat kepada masyarakat. Di abad 19, Beirut menjadi pusat aktivitas misionaris. Selama masa itu, para misionaris mengeksploitasi perselisihan dalam negeri diantara orang Kristen dan Druze dan kemudian antara Kristen dan Muslim, dengan Inggris berpihak pada Druze sementara Perancis berpihak pada Kristen Maronit. Selama masa itu para misionaris itu memiliki dua agenda utama: (1) Memisahkan Orang Arab dari Khilafah Usmani; (2) Membuat kaum muslimin merasa terasing dari ikatan Islam. 2. Gerakan Separatisme dan Nasionalisme Gerakan separatisme dan nasionalisme makin terlihat jelas dengan propaganda yang dilakukan oleh negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Semua gerakan ini bertujuan untuk menghancurkan Khilafah Islam. Untuk menyukseskan misinya, dibangunlah dua markas. Pertama, Markas Beirut, yang bertugas memainkan peranan jangka panjang, yakni mengubah putra -putri umat Islam menjadi kafir dan mengubah sistem Islam jadi sistem kufur.

Kedua, Markas Istambul, yang bertugas memainkan peranan jangka pendek, yaitu memukul telak khilafah. Di Markas Beirut, Komite Reformasi dan Forum harfiah dibentuk. Inggris dan Prancis mulai menyusup ke tengah orang Arab yang memperjuangkan nasionalisme. Pada 8 Juni 1913, para pemuda Arab berkongres di Paris dan mengumumkan nasionalisme Arab. Di Markas Istambul, negara-negara Eropa tak hanya puas merusak putra-putri umat Islam di sekolah dan universitas lewat propagandanya. Mereka ingin memukul khilafah dari dekat secara telak. Caranya ialah mengubah sistem pemerintahan dan hukum Islam dengan sistem pemerintahan Barat dan hukum kufur. Kampanye mulai dilakukan Rasyid Pasha, Menlu zaman Sultan Abdul Majid II (1839). Tahun itu juga, Naskah Kholkhonah ±yang dijiplak dari UU di Eropa± diperkenalkan. Tahun 1855, negara-negara Eropa ± khususnya Inggris± memaksa khilafah Utsmani mengamandemen UUD, sehingga dikeluarkanlah Naskah Hemayun (11 Februari 1855). Midhat Pasha ±yang ternyata adalah salahsatu anggota Free Mason± diangkat jadi perdana menteri pada 1 September 1876. Ia membentuk panitia Ad Hoc untuk menyusun UUD menurut Konstitusi Belgia. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Konstitusi 1876. Namun, konstitusi ini ditolak oleh Sultan Abdul Hamid II karena dinilai bertentangan dengan syari¶at. Midhat Pasha-pun dipecat dari kedudukannya sebagai perdana menteri. Pada tahun 1908, Gerakan Turki Muda memberontak. Khalifah dipaksa mengumumkan UUD yang diumumkan Turki Muda di Salonika, lalu dibukukanlah parlemen yang pertama dalam Khilafah Turki Utsmani (17 November 1908). Bekerja sama dengan syaikhul Islam, Sultan Abdul Hamid II dipecat dari jabatannya, dan dibuang ke Salonika. Sejak itu sistem pemerintahan Islam berakhir. Tampaknya Inggris belum puas menghancurkan Khilafah Turki Utsmani secara total. Momen Perang Dunia I (1914) dimanfaatkannya untuk menyerang Turki hingga berhasil menduduki Istambul. Pendudukan Inggris di kawasan ini juga dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas Mustafa Kemal Pasha yang sengaja dimunculkan sebagai pahlawan pada Perang Ana Forta (1915). Ia ditugaskan untuk menjalankan agenda Inggris menghancurkan khilafah Islam. Kemudian pada tahun 1919 ia menyelenggarakan Kongres Nasional di Sivas dan menghasilkan Deklarasi Sivas, dimana dicetuskan bahwa Turki dan negeri Islam lainnya merdeka dari penjajah, sekaligus melepaskannya dari wilayah Turki Utsmani. Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan beberapa wilayah lainnya mendeklarasikan konsensus kebangsaan sehingga merdeka. Saat itu sentimen kebangsaan (nasionalisme) tambah kental dengan lahirnya Pan-Turkisme dan Pan Arabisme; masing-masing menuntut kemerdekaan dan hak menentukan nasib sendiri atas nama bangsan bukan ya, atas nama umat Islam. Peran Mustafa Kemal Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan khalifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan khalifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal Pasha untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional ±dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya± sehingga ada 2 pemerintahan; pemerintahan Khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Pasha belum berani membubarkan Khilafah. Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak. Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar mengangkat Mustafa Kemal Pasha sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis ini. Setelah resmi dipilih menjadi ketua parlemen, Mustafa Kemal mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dip lewat Pemilu. ilih Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Majid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kamal Attaturk. Malahan, ia menyerang balik dengan taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk memp ertahankan sistem pemerintahannya. Khalifah digambarkan sebagai kekuatan asing yang harus dihancurkan.

Setelah suasana negara kondusif, Mustafa Kamal Attaturk mengadakan sidang Dewan Perwakilan Nasional. Tepat 3 Maret 1924, ia memecat khilafah, membubarkan sistem khilafah, dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Setelah khilafah Islam dibubarkan dan pasukan Inggris ditarik dari wilayah Turki. Menteri luar negeri Inggris, Curzon dipanggil Senat Inggris untuk mempertanggungjawabkan perihal penarikan pasuka Inggris n dari wilayah Turki, dihadapan anggota Senat Curzon berkata, ´Persoalan utamanya adalah bahwa Turki telah dihancurkan dan tidak akan pernah bangkit kembali, karena kita telah berhasil menghancurkan dua kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam´ Setelah berhasil menduduki singgasana kekuasaan Turki, Musthafa Kemal makin arogan. Ia melarang penggunaan peci dan sorban yang digantinya dengan topi ala Barat. Ia melarang penulisan dengan huruf Arab dan memerintahkan penulisan dengan huruf latin. I juga mengganti kalender hijriah (Islam) ke a gregorian. Ia melarang kaum wanita mengenakan busana muslimah. Malah memerintahkan untuk mengumbar aurat dan bergaul bebas dengan lawan jenis. Ia membubarkan sekolah -sekolah agama dan menghapuskan pelajaran agama di sekolah. Bahkan ia mewajibkan para muazin mengumandangkan Azan dalam bahasa Turki. Hari libur pun ditukar dari hari jum¶at menjadi ahad. Lucunya, banyak kaum Muslim yang tertipu dengan sosok yang satu ini. Dalam pelajaran Sejarah yang diajarkan di sekolah, julukan tokoh Pembaharu Turki yang bergelar Ataturk (Bapak Turki) membawanya sejajar dengan para pahlawan mulia pejuang kemerdekaan. Padahal jelas banget dia yang memusuhi dan menghancurkan kekhilafahan Islam serta memaksa umat Islam hidup dengan atu ran sekuler Barat. Makanya kita kudu hati-hati dengan manipulasi sejarah. Betul? Umat Islam Tanpa Khilafah Dengan hancurnya payung dunia Islam itu, umat Islam kini hidup bagaikan anak ayam kehilangan induk, tak punya rumah pula. Maka tak berlebihan kiranya bila para ulama menyebut hancurnya khilafah sebagai ummul jaraaim (induk dari segala kejahatan), karena memang semenjak itu dunia Islam terus didera berbagai krisis. Umat Islam mengalami kemunduran luar biasa di segala bidang kehidupan, baik di bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, politik maupun sains dan teknologi. Yang tampak kini hanyalah sisa sisa kejayaan Islam di masa lalu. Secara fisik, setelah runtuhnya kekhilafahan, wilayah Islam yang dulu terbentang sangat luas, mencakup seluruh Jazirah Arab, Afrika bagian utara, sebagian Eropa, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Selatan, terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil. Secara intelektual, umat Islam mengalami peracunan Barat. Aneka paham yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti sekularisme, liberalisme, dan pluralisme agama, menyebar bagai virus yang mematikan, yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak umat. Setelah itu, bertubitubi umat Islam didera berbagai persoalan. Di pentas dunia, umat Islam di Palestina masih harus terus hidup d alam penderitaan akibat penjajahan Israel. Begitu juga di Irak, Afganistan, dan di tempat lain. Sementara itu, di dalam negeri, kondisi umat Islam Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan. Akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan, lebih dari 100 juta penduduk jatuh ke jurang kemiskinan, puluhan juta menganggur, jutaan anak-anak harus putus sekolah, dan jutaan lainnya mengalami malnutrisi. Adapun kriminalitas meningkat di mana-mana. Ditambah dengan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat, membua hidup terasa t sangat menyesakkan. Tentu, bagian terbesar dari mereka yang saat ini tengah menderita adalah juga umat Islam. Kenyataan di atas makin menegaskan bahwa umat Islam memang amat mundur. Keadaannya kuranglebih sama dengan sinyalemen Rasulullah 14 abad yang lalu dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad; umat yang jumlahnya lebih dari 1,5 miliar jiwa dicabik-cabik bagai makanan oleh orang-orang rakus tanpa rasa takut dari berbagai arah. "Nyaris saja umat-umat itu mengerumuni kalian sebagaimana mereka mengerumuni makanan di atas nampan. Ada yang bertanya, 'Apakah karena jumlah kita yang saat itu memang sedikit?' Baginda Nabi menjawab, 'Tidak. Justru kalian ketika itu jumlahnya banyak, tetapi kalian ibaratnya seperti buih yang diombang-ambingkan gelombang. Allah benar-benar akan mencabut dari dada-dada musuh kalian perasaan segan terhadap diri kalian. Sementara Allah benar benar akan tanamkan ke dalam benak kalian penyakit wahn.' Ada yang bertanya, 'Apakah penyakit wahn itu, wahai Rasululla Baginda h?' menjawab, 'Mencintai dunia, dan takut akan kematian.'" (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Barisan Muhammad Takkan Pernah Mati Ketidakpercayaan akan tegaknya Khilafah dengan sengaja terus menerus dihembuskan kedalam benak kaum muslim hingga Khilafah dianggap sebagai sebuah omong kosong yang mustahil diwujudkan. Akan tetapi janji Allah SWT dan Rasul-Nya Saw. adalah benar. Meskipun kaum penjajah telah berusaha keras mengubur jejak-jejak syariah dan khilafah, namun akan selalu ada sekelompok orang dari umm at Rasulullah yang akan tetap memegang teguh urusan agama -Nya. Meski banyak yang menelantarkan dan mengacuhkan perjuangan mereka, meski banyak orang-orang yang menentang perjuangan mereka, namun mereka akan tetap kokoh dengan sikap itu, hingga kemenangan y ang dijanjikan-Nya tiba di depan mata. ³Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang selalu menegakkan urusan agama Allah. Tidak akan memadaratkan mereka orang -orang yang menelantarkan atau yang menentang mereka hingga datangnya keputusan Allah (Hari Kiamat), sementara mereka meraih kemenangan atas seluruh umat manusia.´ (HR. al-Bukhari dan Muslim). Khilafah Pasti Tegak Kembali Cepat atau lambat Khilafah akan kembali menaungi kehidupan di muka bumi. ³Masa kenabian akan hadir di tengah-tengah kalian selama Allah menghendakinya. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian yang akan tetap ada selama Allah menghendakinya. Allah lalu mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Muncullah kemudian kekuasan yang lalim selama Allah menghendakinya. Allah kemudian mencabutnya apabila Dia berkehendak untuk mencabutnya. Selanjutnya, muncullah kembali Khilafah yang tegak di atas manhaj kenabian. ´ Setelah itu, Rasulullah saw. terdiam. (HR. Ahmad) Kini tiba Saatnya bagi kita untuk bersama-sama memperjuangkan kembali tegaknya khilafah yang akan menyelesaikan semua permasalahan hidup umat manusia di seluruh dunia. Bukan karena fanatisme , kelompok dakwah, tapi semata-mata untuk memuliakan dan melaksanakan aturan Allah SWT secara menyeluruh. Oleh karena itu, dukung dan bergabunglah bersama para pejuang Khilafah agar janji Allah dan RasulNya ini dapat segera terwujud. Wallahua¶lam bi as-shawab

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful