MULTIPEL TRAUMA I.

Pendahuluan

Trauma yang terjadi pada kecelakaan lalu-lintas memiliki banyak bentuk, tergantung dari organ apa yang dikenai. Trauma semacam ini, secara lazim, disebut sebagai trauma benda tumpul ( trauma multiple). Ada tiga trauma yang paling sering terjadi dalam peristiwa ini, yaitu cedera kepala, trauma thorax ( dada) dan fraktur ( patah tulang).1 Trauma pertama yaitu trauma kepala, terutama jenis berat, merupakan trauma yang memiliki prognosis (harapan hidup) yang buruk. Hal ini disebabkan oleh karena kepala merupakan pusat kehidupan seseorang. Di dalam kepala terdapat otak yang mengatur seluruh aktivitas manusia, mulai dari kesadaran, bernapas, bergerak, melihat, mendengar, mencium bau, dan banyak lagi fungsinya. Jika otak terganggu, maka sebagian atau seluruh fungsi tersebut akan terganggu. Gangguan utama yang paling sering terlihat adalah fungsi kesadaran. Itulah sebabnya, trauma kepala sering diklasifikasikan berdasarkan derajat kesadaran, yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat. Makin rendah kesadaran seseorang makin berat derajat trauma kepala.1 Trauma kedua yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah fraktur (patah tulang). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar, dan fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar. 1 Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat adanya tulang yang menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai perdarahan. Adapun fraktur tertutup, bisa diketahui dengan melihat bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan, terdapat kelainan bentuk berupa sudut yang bisa mengarah ke samping, depan, atau belakang. Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan dan perpendekan tulang. 1 Dalam kenyataan sehari-hari, fraktur yang sering terjadi adalah fraktur ekstremitas dan fraktur vertebra. Fraktur ekstremitas mencakup fraktur pada tulang lengan atas, lengan bawah, tangan, tungkai atas, tungkai bawah, dan kaki. Dari semua jenis fraktur, fraktur tungkai atas atau lazimnya disebut fraktur femur (tulang paha) memiliki insiden yang cukup tinggi. 1 1

1 Gangguan yang biasa terjadi pada paru-paru pasca kecelakaan adalah fraktur iga. 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS). Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat pemompa darah. 10% meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Fraktur iga merupakan cedera toraks yang terbanyak. Fraktur iga tidak termasuk ke dalam fraktur yang dijelaskan sebelumnya karena efek dari fraktur ini lebih kompleks daripada fraktur di daerah lain yaitu bisa mengganggu paru-paru dan jantung. Kecelekaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala.2 Menurut Brain Injury Assosiation of America cedera kepala adalah suatu kerusakan pada kepala. seperempat kematian akibat trauma disebabkan oleh trauma toraks. tulang tempurung kepala. Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia. dan jaringan otak itu sendiri. dan 10% sisanya adalah cedera kepala berat (CKB). kontusio (memar) paru. Jika terjadi benturan alias trauma pada dada. tetapi disebabkan oleh serangan/benturan fisik dari luar.3. kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500. Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15-44 tahun. selaput otak.Trauma yang ketiga. dan hematotoraks. bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif. Dari jumlah tersebut. 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan. Jika sampai di rumah sakit. 1 1. Tercatat. 80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan (CKR). kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.4 2 . yang sering terjadi pada kecelakaan adalah trauma dada atau toraks. sedangkan hematotoraks adalah terdapatnya darah di dalam selaput paru.2 Di Amerika Serikat. yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran yang mana menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik.1 Cedera Kepala Definisi dan Epidemiologi Cedera kepala adalah kekerasan pada kepala yang dapat menyebabkan kerusakan yang kompleks di kulit kepala. kegiatan olahraga dan rekreasi. yaitu paru paru dan jantung.000 kasus. Kontusio paru adalah memar atau peradangan pada paru.

pemulihan peresis nervus facialis lebih baik daripada paresis nervus VIII. paresis nervus facialis dan kehilangan pendengaran. ii. berat dan morfologi. Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan mekanisme. Fraktur dapat berupa garis/linear. Lesi intrakranial4 a. Berdasarkan mekanismenya cedera kepala dibagi atas:4 1. Tanda-tanda klinik yang dapat membantu mendiagnosa adalah Battle sign (warna biru/ekhimosis dibelakang telinga di atas os mastoid). Perdarahan epidural 0. karena terjadi sangat dasar. ekimosis daerah kedua periorbital (racoon eyes). Fraktur tengkorak Fraktur tengkorak dapat terjadi pada atap dan dasar tengkorak. Fraktur tengkorak dapat berupa fraktur tertutup yang secara normal tidak memerlukan perlakuan spesifik dan fraktur tertutup yang memerlukan perlakuan untuk memperbaiki tulang tengkorak. multipel dan menyebar dari satu titik (stelata) dan membentuk fragmen-fragmen tulang (kominutif). Pada cedera tumpul terjadi akselerasi dan deselerasi yang cepat menyebabkan otak bergerak di dalam rongga cranial dan melakukan kontak pada protuberans tulang tengkorak.5% dari cedera otak. Perdarahan epidural Disebabkan oleh robeknya arteri meningea media akibat fraktur tengkorak.I.4 2. Fraktur basis tengkorak tidak selalu dapat dideteksi oleh foto rontgen. Dapat berbentuk lesi fokal i. Dari CT scan didapatkan gambaran bikonveks atau menyerupai lensa cembung. Cedera kepala tumpul Biasanya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas. 3 . Prognosis perdarahan subdural lebih buruk daripada perdarahan epidural. Otorrhoe ( liquor keluar dari telinga) . Cedera tembus Biasanya disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan. Perdarahan subdural Disebabkan robeknya vena-vena kecil di permukaan korteks cerebri. jatuh atau pukulan benda tumpul. Rhinorrhoe (liquor keluar dari hidung). 2. Perdarahan ini biasanyanya menutup seluruh permukaan hemisfer otak. Berdasarkan morfologinya cedera kepala dikelompokkan menjadi:4 1.I.2 Klasifikasi Cedera kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Fraktur dasar tengkorak yang menyilang kanalis karotikus dapat merusak arteri carotis.

respon verbal (1-5) dan buka mata (1-4). Dalam penilaian GCS jika terdapat asimetri ekstremitas. Secara umum untuk mendeskripsikan beratnya penderita cedera kepala digunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Pada beberapa kasus yang jarang ditemukan bercak bercak perdarahan diseluruh hemisfer otak yang dikenal dengan cedera akson difus yang memberikan prognosis yang buruk. edema otak dengan dengan batas area putih dan abu abu yang kabur. Dalam beberapa jam atau hari kontusio dapat berubah menjadi perdarahan intraserebral yang membutuhkan operasi. Area tersering adalah frontal dan temporal. maka yang digunakan adalah respon motorik yang terbaik. lesi difus cedera otak difus yang erat biasanya diakibatkan hipoksia. b. dengan interval GCS 3-15.4 4 . Penilaian ini dilakukan terhadap respon motorik (1-6). Sedangkan pada anak yang tidak dapat bicara deskripsi beratnya penderita cedera kepala digunakan Children Coma Scale (CCS). iskemia dari otak akibat syok yang berkepanjangan atau periode apneu yang terjadi segera setelah trauma. Kontusio dan peradarahan intraserebral Kontusio serebri sering terjadi (20-30% dari cedera kepala berat).iii. Hasil CT scan dapat menunjukkan hasil yang normal.

dan banyak diantara kematian ini dapat dicegah. Kematian sering disebabkan oleh obstruksi jalan nafas. Banyak penderita meninggal setelah sampai di rumah sakit. sedangkan sisanya sebanyak 3. pneumotoraks terbuka.3% dari seluruh trauma toraks. akibat masuknya udara atmosfer luar kedalam rongga paru. mungkin lebih mencapai jaringan otot ataupun lebih dalam lagi hingga melukai pleura parietalis atau perikardium parietalis.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks. terdapat luka pada jaringan kutis dan subkutis.2 Trauma Toraks Trauma adalah penyebab kematian terbanyak diseluruh kota besar didunia dan diperkirakan 16. flail chest.6 PATOFISIOLOGI Trauma thoraks terdiri atas trauma tajam dan trauma tumpul.5 Trauma toraks harus ditangani secepatnya karena dapat menyebabkan hipoksia otak dan jantung yang berakibat fatal.6 Hanya 10-15% penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi. Eksanguinasi akibat tembusnya dinding jantung atau pembuluh 5 . jadi sebagian besar han memerlukan tindakan ya sederhana untuk menolong korban dari ancaman kematian. Dapat juga menembus lebih dalam lagi. sehingga merusak jaringan paru. kemungkinan trauma tajam terhadap jaringan paru sangat besar. tension pnemothorax dan tamponade jantung. yang akan mampu meredam aktivitas Diastolik jantung. Insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dan menyebabkan kematian sebesar 20-25% . Canadian Study dalam laporan penelitiannya selama 5 tahun pada "Urban Trauma Unit" menyatakan bahwa insiden trauma tumpul toraks sebanyak 96.8 Trauma tajam yang melukai perikardium parietalis dapat menimbulkan tamponade jantung dengan tertimbunya darah dalam rongga pericardium. Penyebab terbanyak dari trauma tumpul toraks masih didominasi oleh korban kecelakaan lalu lintas (70%). sehingga selain terjadi penurunan ventilasi akibat hubungan pendek bronkho ± udara luar melalui luka tajam.8 Trauma tajam yang menembus pleura parietalis akan menyebabkan kolaps paru. Pada trauma tajam. menembus dinding jantung atau pembuluh darah besar di mediastinum. mungkin terjadi pula Hemoptoe massif dengan akibat ± akibatnya.7% adalah trauma tajam.1. hemotoraks massif. Bila pleura viseralis pun tertembus.

akibat perdarahan rongga pericardium ataupun hematoma dinding jantung yang akan meredam gerakan sistolik dan diastolik. Tension pneumotoraks selanjutnya akan mendesak paru unilateral. dapat hanya satu lokasi fraktur pada setiap iga. yang kadang kala cukup luas. namun mampu menimbulkan kontusi terhadap otot kerangka dada. mampu menimbulkan patah tulang iga. bila kekuatan trauma tajam lainnya.darah besar di mediasternum. sehingga berakibat nyeri pada respirasi dan pasien tampak seperti mengalami dispnea. secara tampak dari luar mungkin tidak memberi gambaran kelainan fisik. mampu menimbulkan henti jantung dalam waktu 2 ± 5 menit. misalnya : akibat dorongan kemudi atau setir mobil yang mendesak dada akibat penghentian mendadak mobil berkecepatan sangat tinggi yang menabrak kendaraan atau bangunan didepannya. 8 Trauma tumpul toraks. karena faktor kerusakan jaringan yang lebih besar akibat rotasi berkecepatan tinggi tidak cukup besar. sehingga terjadi penurunan ventilasi antara 15 ± 20 %. dapat pula beberapa iga sekaligus.8 Satu jenis lain dari trauma tajam.8 Meskipun secara morfologis hanya di dapat fraktur sederhana dan tertutup dari iga dalam kedudukan baik. berakibat luka tembus keluar yang relatif lebih besar dari luka tembus masuk. mungkin hanya satu iga. pleura viseralis dengan luka yang berfungsi ³Pentil´ dan luka pleura parietalis yang menutup akibat desakan udara yang makin meningkat di rongga pleura. Trauma tumpul demikian. terjadi penggeseran 6 . namun mampu menimbulkan hematotoraks atau pneumotoraks. Bila desakan berlanjut. yang karena kelenturannya akan mengambil bentuk semula bila desakan hilang. kecuali bila terjadi trauma dengan kekuatan cukup besar dari arah depan. yang dapat menyebabkan perdarahan in situ dan pembentukan hematoma inter atau intra otot. Fatalitas akibat trauma peluru ini lebih besar dari jenis trauma dari pleura. tergantung derajat perdarahannya. 8 Trauma tumpul dengan kekuatan cukup besar. dapat pula terjadi patahan multiple. 8 Trauma tumpul jarang menimbulkan kerusakan jaringan jantung. bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi ³Tension Pneumotorax´. karena terjadi keadaan dimana alveoli terbuka. mungkin pula berakibat bilateral. Desakan setir mobil tersebut mampu menimbulkan tamponade jantung. yaitu trauma tertembus peluru. mungkin hanya melibatkan iga sisi unilateral. hanya akan menimbulkan desakan terhadap kerangka dada.

4 Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks.2 Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah interkostal atau arteri mamaria internal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul. torakotomi harus dipertimbangkan. Hematotoraks8 1.7. atau bila darah yang keluar lebih dari 200 ml tiap jam untuk 2 sampai 4 jam. dan dapat dipakai dalam memonitor kehilangan darah selanjutnya.3 Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.8 Gambar 1.10 7 .500 ml. Sebagai patokan bila darah yang dikeluarkan secara cepat dari selang dada sebanyak 1. pada lebih dari 80% penderita dengan trauma toraks didapati adanya darah pada rongga pleura. mengurangi resiko terbentuknya bekuan darah di dalam rongga pleura.7 Hemotoraks akut yang cukup banyak sehingga terlihat pada foto toraks.mediastinum kearah kontralateral dan selanjutnya bahkan akan mendesak paru kontralateral yang berakibat sangat menurunnya kapasitas ventilasi. Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang kekuatannya melebihi kekuatan tulang. Selang dada tersebut akan mengeluarkan darah dari rongga pleura.8 Hemotoraks maupun hemopneumotoraks adalah merupakan keadaan yang paling sering dijumpai pada penderita trauma toraks.2.9. atau jika membutuhkan transfusi darah terus menerus. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi operasi. sebaiknya diterapi dengan selang dada kaliber besar.

A. kita harus mengetahui keadaan fisik tulang dan keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Etiologi Terjadinya Fraktur Untuk mengetahui mengapa dan bagaimana tulang mengalami kepatahan.11. Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan terutama tekanan membengkok. memutar dan tarikan. Tulang kortikal mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir.12 Trauma dapat bersifat: y Trauma langsung Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. 8 . y Trauma tidak langsung Disebut trauma tidak langsung bila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula.

rujukan dari Rumah Sakit Mesra. pasien respon terhadap Pain GCS 8 (eyes 2. Circulation with bleeding control y y y y y y Nadi 120x/ menit. Disabilitiy y y y Pupil isokor ka/ki. Pasien dibawah pengaruh alkohol. pasien post kecelakaan lalu lintas. verbal 2) 9 . dan endotrakeal tube Airway clear 2. dan pemasangan kateter. SURVEY PRIMER 1. Nafas spontan. takikardi Akral dingin. Dicurigai adanya hematothorak Dilakukan pemeriksaan rontgen thorak Dilakukan tindakan NGT dan WSD. Airway y y y y y Dilakukan head tilt. diberi O2 6 liter 3. reflex cahaya +/+ Penilaian AVPU. dangkal dan cepat. motorik 4.KASUS Pasien B. Laki-laki. datang ke IRD RSUD Arifin Achmad hari Selasa. Cervical control (+) Pemasangan oropharingeal tube. 1. dan chin lift dilihat jalan nafas bersih Tidak ada benda asing. Breathing y Frekuensi nafas 32x/menit. sesak nafas. 4. Dorsalis pedis teraba Refilling kapiler > 2 detik Diberikan IVFD RL diguyur. tidak ada suara nafas tambahan Pasien masih dapat berbicara. y y y y Gerakan dinding dada tidak sama. tekanan darah 70/40 mmHg Nadi halus dan cepat. A. bagian kanan tertinggal. tanggal 8 Maret 2011. tidak adekuat. HESS diguyur Transfusi darah.

SURVEY SEKUNDER Identitas y y y y y y y y Nama :B Umur : 22 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Pasir Putih Agama : Kristen Pekerjaan : Wirausaha Status Perkawinan : Belum menikah Pendidikan : SMU Anamnesis Alloanamnesis dengan orang tua pasien Keluhan Utama Penurunan kesadaran dan luka robek kaki kanan sejak 3 jam SMRS setelah mengalami kecelakaan. vulnus ekskoriasi pada dahi. dagu dan dada 2. 10 . Exposure y y Membuka baju pasien dan tetap menjaga agar pasien tidak hipotermi.5. TATALAKSANA AWAL Pemberian : y y y y y Injeksi anti tetanus 1500 unit Injeksi cefotaxim 1 gr ditambah 4 cc adequadest diberikan IV Injeksi kalnex 1 ampul pemberian bolus Injeksi aminophilin Injeksi sulfas atropin 3. Terdapat vulnus laserasi pada kaki kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang: 3 jam SMRS pasien mengalami kecelakaan antara sepeda motor dengan sepeda motor. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada penyakit yang ada hubungannya dengan keadaan yang dialami pasien. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan kepala dan leher : y Kepala : Terdapat vulnus ekskoriasi pada dahi ukuran 4cm x 1cm Terdapat vulnus ekskoriasi pada dagu ukuran 3cm x 1cm Tidak ditemukan tanda-tanda raccon eye. injeksi piracetam 1 gr. bengkak dan terlihat tulang pada luka. kemudian dirujuk ke RSUD AA. sklera tidak ikterik Pembesaran KGB Leher (-) Pemeriksaan toraks : Status lokalis Pemeriksaan ekstremitas : Status Lokalis 11 . Pasien tidak menggunakan helm dan mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang tinggi. tidak ada keluar darah dari telinga dan tidak muntah. keluar darah dari hdung. dalam keadaan mabuk. Pasien ditabrak oleh sepeda motor lain dari arah depan dengan kecepatan tinggi. Riwayat pekerjaan. Pasien langsung dibawa ke Rumah Sakit Mesra diberikan IVFD RL guyur. otore dan rhinore y y Mata `: konjunctiva anemis (+). kejiwaan dan kebiasaan Kebiasaaan mengkonsumsi alkohol. kemudian pasien tidak sadar lebih kurang 30 menit. injeksi ketorolak 1 ampul. Kaki kanan pasien banyak mengeluarkan darah. ekonomi. terjatuh ke sebelah kanan. battle sign. sosial. Riwayat Penyakit Dahulu Tidak ada penyakit yang ada hubungannya dengan keadaan yang dialami pasien.

tidak tampak sianosis pada bagian distal. A. Radialis teraba Move : ROM aktif pasif terbatas Regio cruris dextra Look : bengkak. Palpasi : teraba crepitus pada clavicula dextra bagian tengah Perkusi : sonor pada lapangan paru sebelah kiri. A. Rencana Pemeriksaan 1. Feel : suhu rabaan hangat. Foto rontgen thoraks 3.Status Lokalis Regio Thoraks Inspeksi : Tampak vulnus ekskoriasi pada thorak bagian kanan dan gerakan thorak kanan tidak sama dengan tohrak kiri. tidak tampak sianosis pada bagian distal. Foto rontgen cruris dextra AP 12 . Feel : suhu rabaan hangat. thorak kanan tertinggal. Foto rontgen antebrachii dextra 4. Dorsalis Pedis teraba Move : ROM aktif pasif terbatas Diagnosis Kerja Hemothorak + Fraktur ½ tengah clavikula+ Fraktur tertutup radius dextra ½ distal + Fraktur terbuka tibia fibula dextra 1/3 distal. Darah rutin 2. Auskultasi : tidak terdengar suara nafas pada thorak dextra. Regio antebrachii dextra Look : bengkak.

000/mm3 Hematokrit : 37% Darah rutin (08 Maret 2011 jam 05.9 gr/dl WBC : 25.30) Hb : 12.2 gr/dl WBC : 23.100/mm3 Trombosit : 277.Pemeriksaan Penunjang Laboraturium Darah rutin (08 Maret 2011 jam 03.000/mm3 Hematokrit : 30% 13 .400/mm3 Trombosit :178.30) Hb : 10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful