i

KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
DALAM PENULISAN CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3
KECAMATAN BENDO KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2006/2007



SKRIPSI



Diajukan kepada IKIP PGRI Madiun untuk Memenuhi Salah Satu
Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata 1
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia














OLEH
PARNO
NPM. 05.311.246/P



ii

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI MADIUN
April 2007

iii
Skripsi oleh Parno ini telah diperiksa dan disetujui untuk diuji.




Madiun, 20 April 2007
Pembimbing I,


Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd.
NIP. 131 846 601


Madiun, 20 April 2007
Pembimbing II,


Panji Kuncoro Hadi, S.S.
NIY. 130.152



iv
Skripsi oleh Parno ini telah dipertahankan di depan panitia penguji pada hari Selasa,
tanggal 26 Juni 2007

Panitia Penguji




Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd. Ketua
NIDY. 070680301299




Hj. Yuentie Sova Puspidalia, S.Pd., M.Pd. Sekretaris
NIY. 130.140




Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd. Anggota
NIP. 131 846 601



Panji Kuncoro Hadi, S.S. Anggota
NIY. 130.152



v

Mengetahui, Mengesahkan,
Kaprodi PBSI Dekan FPBS


Hj. Yuentie Sova Puspidalia, S.Pd., M.Pd. Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd.
NIY. 130.140 NIDY. 070680301299

vi
ABSTRAK


Parno. 2007. Kemampuan Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan Dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3, Kecamatan
Bendo, Kabupaten Magetan, Tahun 2006/2007. Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP PGRI Madiun. Pembimbing (I)
Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd., (II) Panji Kundoro, S.S.

Kata Kunci : Kemampuan, Ejaan yang Disempurnakan, Penulisan Cerita


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan menggunakan ejaan
yang disempurnakan dalam penulisan cerita siswa kelas 6 SDN Kinandang 3,
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Tahun 2006/2007.
Penelitian ini meneliti seluruh populasi. Oleh karena itu, penelitian ini
disebut penelitian total sampling. Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas 6
SDN Kinandang 3, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, tahun pelajaran
2006/2007 yang berjumlah 16 siswa.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Selanjutnya,
pengumpulan data yang digunakan adalah teknis tes. Setelah data terkumpul,
kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dengan rumus
prosentase.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kemampuan menggunakan huruf
kapital memperoleh hasil baik dengan nilai rata-rata sebesar 8,0. 2) Kemampuan
menggunakan kata depan memperoleh hasil cukup dengan nilai rata-rata sebesar 6,8.
3) Kemampuan menggunakan partikel memperoleh hasil baik dengan nilai rata-rata
sebesar 7,1. 4) Kemampuan menggunakan tanda baca memperoleh hasil baik dengan
nilai rata-rata sebesar 7,3.

vii
MOTTO


Wahai manusia,
Ketika kamu lahir, orang-orang di
sekelilingmu tertawa riang, sedangkan
kamu menangis keras
Berusahalah untuk dirimu,
Ketika orang-orang di sekelilingmu
menangisi kematianmu, kamu tersenyum
gembira melihat syurga di depanmu













Skripsi ini kupersembahkan kepada :
Istriku tercinta, Halimah, serta anak-anakku
tersayang, 1) Norma Puspita Dewi,
2) Silvia Novitasari

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena
atas rahmat dan petunjuk-Nya, penelitian yang berjudul "Kemampuan Menggunakan
Ejaan Yang Disempurnakan Dalam Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang
3, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Tahun 2006/2007" dapat penulis
laksanakan dan penulis laporkan hasilnya dalam bentuk skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini dapat
diselesaikan karena adanya bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Parji, M.Pd., Rektor IKIP PGRI Madiun.
2. Bapak Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd., Dekan Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Seni IKIP PGRI Madiun.
3. Ibu Yuentie Sova Puspidalia, S.Pd., M.Pd., Kaprodi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia FPBS IKIP PGRI Madiun.
4. Bapak Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd., Pembimbing I.
5. Bapak Panji Kuncoro, S.S., Pembimbing II.
6. Bapak Muljono, A.Ma.Pd., Kepala SDN Kinandang 3, Kecamatan Bendo,
Kabupaten Magetan yang telah mengizinkan penulis untuk melaksanakan
penelitian di sekolah yang dipimpinnya.
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

ix
Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Karena
itulah, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan skripsi ini.
Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pengajaran sastra
Indonesia, terutama dalam pengajaran ejaan yang disempurnakan dalam penulisan
cerita.


Madiun, 4 April 2007
Penulis,

x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ........................... iii
ABSTRAK ....................................................................................................... iv
MOTTO DAN KATA PERSEMBAHAN ...................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................ 4
C. Batasan Masalah ....................................................................... 5
D. Rumusan Masalah ................................................................... 5
E. Tujuan Penelitian ...................................................................... 6
F. Kegunaan Penelitian ................................................................. 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA ...................................................................... 8
A. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ........................ 8
B. Penulisan Cerita ....................................................................... 21
C. Cerita ....................................................................................... 25

xi
D. Kemampuan Penggunaan Ejaan .............................................. 28
BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. 31
A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................. 31
B. Metode dan Desain Penelitian ................................................. 31
C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel .............. 32
D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ......................... 33
E. Teknik Analisis Data ............................................................... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................... 38
A. Deskripsi Data ......................................................................... 38
B. Interpretasi Data Penelitian ...................................................... 43
C. Diskusi Hasil Penelitian .......................................................... 44
BAB V PENUTUP ..................................................................................... 46
A. Simpulan .................................................................................. 46
B. Saran ........................................................................................ 46
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 48
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ....................................................... 49
LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................... 50
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... 58

xii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Huruf
Kapital Dalam Penulisan Cerita ................................................ 38
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Kata Depan
Dalam Penulisan Cerita ............................................................ 40
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Partikel
Dalam Penulisan Cerita ............................................................ 41
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Tabda Baca
Dalam Penulisan Cerita ............................................................. 42
Tabel 5 Perbandingan Rata-rata (Mean) Kemampuan Menggunakan
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan ......................... 43

xiii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1 Histogram Kemampuan Menggunakan Huruf Kapital
Dalam Penulisan Cerita ......................................................... 39
Gambar 2 Histogram Kemampuan Menggunakan Kata Depan Dalam
Penulisan Cerita .................................................................... 40
Gambar 3 Histogram Kemampuan Menggunakan Partikel Dalam
Penulisan Cerita .................................................................... 41
Gambar 4 Histogram Kemampuan Menggunakan Tanda Baca Dalam
Penulisan Cerita .................................................................... 43

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Daftar Nama Respondensiswa Kelas 6 SDN Kinandang
03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Tahun
Pelajaran 2006/2007 .......................................................... 50
Lampiran 2 Soal Kemampuan Menggunakan Ejaan yang
Disempurnakan dalam Penulisan Cerita Siswa Kelas 6
SDN Kinandang 3, Kecamatan Bendo Kabupaten
Magetan Tahun 2006/2007 ............................................... 51
Lampiran 3 Nomor Responden, Skor Tingkat Kesalahan dan Nilai
Kemampuan Siswa Menggunakan Huruf Kapital dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3,
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran
2006/2007 .......................................................................... 52
Lampiran 4 Nomor Responden, Skor Tingkat Kesalahan dan Nilai
Kemampuan Siswa Menggunakan Kata Depan dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3,
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran
2006/2007 .......................................................................... 53
Lampiran 5 Nomor Responden, Skor Tingkat Kesalahan dan Nilai
Kemampuan Siswa Menggunakan Partikel dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3,

xv
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran
2006/2007 .......................................................................... 54
Lampiran 5 Nomor Responden, Skor Tingkat Kesalahan dan Nilai
Kemampuan Siswa Menggunakan Tanda Baca dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3,
Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran
2006/2007 .......................................................................... 55
Lampiran 6 Surat Permohonan Penelitian dari IKIP PGRI Madiun ... 56
Lampiran 7 Surat Ijin Penelitian dari Sekolah ..................................... 57
Lampiran 8 Daftar Riwayat Hidup ...................................................... 58
48
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Melalui pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, siswa diharapkan dapat
memiliki pengetahuan tentang bahasa Indonesia, mampu mengapresiasi, bersikap
positif terhadap nilai bahasa Indonesia dan dapat mencintai bahasa Indonesia
sebagai salah satu bagian dari budaya bangsa.
Guna mewujudkan hal di atas, telah ditempuh atau dilakukan beberapa
hal. Misalnya, usaha-usaha pembinaan dan pengembangan dalam bidang
kurikulum, seminar-seminar, penataran-penataran, sarasehan-sarasehan mengenai
pengajaran bahasa Indonesia. Dalam pengembangan kurikulum, telah diupayakan
penyempurnaan dan pembaharuan. Misalnya, dalam kurikulum 1975 materi
pengajaran bahasa Indonesia yang masih menekankan pada segi pengetahuan,
dalam kurikulum 1984/1994 dan kurikulum yang berlaku setelah itu, materi
pengajaran bahasa Indonesia sudah menekankan pada bidang keterampilan atau
apresiasi bahasa Indonesia secara langsung. Kemudian pada kurikulum berbasis
kompetensi, materi pengajaran bahasa Indonesia menekankan pada penerapan
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM).
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sampai dengan sekarang
belum diketahui secara pasti apakah harapan di atas telah tercapai atau belum.
Demikian pula dengan masalah pelaksanaan kurikulum, apakah pengajaran
bahasa Indonesia di sekolah dasar telah dilaksanakan secara efektif atau belum.
49
Pengajaran bahasa Indonesia yang hanya menekankan pada segi
pengetahuan belum memberikan harapan tercapainya tujuan pengajaran bahasa
Indonesia. Pengajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya lebih menekankan pada
segi apresiasi, yaitu agar siswa mampu memahami dan menghayati bahasa
Indonesia yang dibacanya. Pembinaan apresiasi bahasa Indonesia dapat dilakukan
melalui beberapa kegiatan, antara lain membaca karya sastra, mempelajari teori
yang berkenaan dengan bahasa, mempelajari esai dan kritik bahasa Indonesia,
serta mempelajari sejarah bahasa Indonesia. Berdasarkan pendapat tersebut,
siswa tidak cukup hanya diberi pengetahuan tentang membaca dan menulis yang
benar, tetapi siswa langsung dihadapkan pada karya cipta bahasa Indonesia dalam
penulisan cerita, penggunaan ejaan yang tepat dalam menulis, dan lain
sebagainya.
Banyak pihak yang menyatakan bahwa pengajaran yang menekankan
pada bahasa Indonesia khususnya menulis bahasa Indonesia saat ini kurang
memuaskan. Hal itu disebabkan siswa belum dibiasakan akrab dengan aktivitas
menulis. Siswa belum dilatih secara maksimal untuk menggunakan/menerapkan
ejaan yang disempurnakan dalam menulis cerita. Didorong oleh keadaan anak
yang beraneka macam, anak belum mampu menerapkan ejaan yang
disempurnakan dan menulis cerita secara benar. Akrab atau tidaknya siswa
terhadap aktivitas menulis tidak dapat terlepas dari peran guru. Guru memegang
peran yang sangat penting dalam pengajaran apresiasi bahasa Indonesia. Hal-hal
yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah bagaimana ia memilih bahan
atau materi yang cocok, bagaimana mengembangkan bahan atau materi, dan
50
bagaimana pula menjelaskan materi itu kepada siswa secara efektif dan objektif.
Dengan demikian, pengajaran bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan
pengetahuan semata-mata. Faktor guru sangat besar perannya dalam mencapai
tujuan pengajaran yang diharapkan.
Menurut pengamatan penulis, ada beberapa hambatan yang muncul dalam
pelaksanaan pengajaran menulis di sekolah dasar. Beberapa hambatan tersebut
antara lain kurang tersedianya buku-buku panduan mengenai membaca dan
menulis yang benar dan sistem evaluasi yang masih menitikberatkan pada segi
pengetahuan atau teori membaca dan menulis yang benar.
Dalam mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia diperlukan buku-buku
panduan yang relevan sehingga buku-buku tersebut akan dapat menunjang proses
belajar mengajar. Untuk mewujudkan hal tersebut tidak mudah, sebab di samping
memerlukan dana yang tidak kecil juga diperlukan adanya kebijakan yang
mendukung dan mendorong tercapainya tujuan itu.
Pengajaran menulis merupakan bagian dari pengajaran bahasa Indonesia
di sekolah dasar. Dalam pengajaran bahasa, guru hendaknya mengadakan
penulisan dengan saksama lebih dahulu tentang amanat apa yang tersurat dan
tersirat dalam pengajaran bahasa Indonesia. Sudah sesuaikah hal itu diajarkan
kepada para siswa, serta bagaimanakah gaya dan cara mengajarkannya, dengan
demikian, kunci keberhasilan proses belajar mengajar membaca itu terletak pada
kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk memiliki pengalaman dalam hal
menulis secara benar. Memiliki pengalaman menulis dapat diperoleh melalui
51
analisis dan kesediaan guru dalam memberikan peluang yang leluasa untuk
menemukan masalah beserta pemecahannya.
Sekalipun sudah ada upaya demi tercapainya tujuan pengajaran bahasa
Indonesia di sekolah, sampai dengan sekarang belum diketahui apakah
pengajaran bahasa Indonesia di sekolah benar-benar sudah memenuhi harapan
sebagaimana yang telah ditentukan dalam kurikulum.
Pada kesempatan ini peneliti ingin melakukan penelitian mengenai
“Kemampuan Menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan dalam Penulisan Cerita
Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan,
Tahun Pelajaran 2006/2007”. Hal itu dilakukan penulis karena selama ini belum
ada pihak yang melakukan penelitian di lembaga tersebut dengan topik yang
sama.
B. Identifikasi Masalah
Masalah-masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut
1. Ada beberapa kelemahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah
dasar, antara lain :
a. Terbatasnya kemampuan siswa dalam menulis dengan ejaan yang
disempurnakan.
b. Kurangnya keterampilan siswa dalam menulis terutama penulisan cerita.
c. Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
d. Kurangnya guru memberikan dorongan kepada siswa untuk aktif menulis
kepada siswa selama dalam proses belajar mengajar di sekolah.
52
e. Terbatasnya buku dan bacaan di sekolah yang berkaitan dengan
keterampilan menulis cerita.
2. Siswa sekolah dasar terutama di daerah pedesaan memiliki kemampuan pikir,
kondisi ekonomi, lingkungan belajar yang berbeda-beda. Hal ini
menyebabkan kemampuan belajar bahasa mereka beragam.
C. Batasan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah dalam penelitian ini, penulis
membatasi masalah yang muncul sebagai berikut
1. Kemampuan menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam menulis siswa
kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Tahun
Pelajaran 2006/2007.
2. Ketrampilan menulis dibatasi pada menulis cerita.
D. Rumusan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah dan batasan masalah, dirumuskan
masalah penelitian, sebagai berikut
1. Bagaimanakah kemampuan menggunakan huruf kapital pada karangan cerita
siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan?
2. Bagaimanakah kemampuan menggunakan kata depan pada karangan cerita
siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan?
3. Bagaimanakah kemampuan menggunakan partikel pada karangan cerita
siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan?
4. Bagaimanakah kemampuan menggunakan tanda baca pada karangan cerita
siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan?
53
E. Tujuan Penelitian
Setelah permasalahan dirumuskan, langkah berikutnya adalah
menentukan tujuan yang akan dicapai. Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Untuk mengetahui kemampuan menggunakan huruf kapital pada karangan
cerita siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten
Magetan?
2. Untuk mengetahui kemampuan menggunakan kata depan pada karangan
cerita siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten
Magetan?
3. Untuk mengetahui kemampuan menggunakan partikel pada karangan cerita
siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan?
4. Untuk mengetahui kemampuan menggunakan tanda baca pada karangan
cerita siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten
Magetan?
F. Kegunaan Penelitian
1. Diperolehnya paparan secara objektif tentang kemampuan menggunakan
ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita siswa kelas 6 SDN
Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru
yang bersangkutan bahwa dalam mengajarkan bahasa Indonesia hendaknya
berpedoman pada hakikat tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang benar.
54
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada kepala
sekolah di tempat penelitian ini dilaksanakan guna menentukan
kebijaksanaan dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran bahasa Indonesia
di sekolah.
4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi motivasi kepada siswa untuk
aktif dalam kegiatan belajar mengajar serta memiliki kemampuan menulis
sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.

55
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

G. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Perjalanan sejarah ejaan dalam bahasa Indonesia berawal sejak tahun
1901, yaitu dengan penerapan Ejaan Melayu dengan huruf Latin yang dirancang
Ch. A. van Ophusyen dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan
Moehammad Taib Soetan Ibrahim, dan penyempurnaannya telah berkali-kali
diusahakan. Pada tahun 1938, pada saat Kongres Bahasa Indonesia yang pertama
di Solo, disarankan agar ejaan Indonesia lebih banyak diinternasionalisasikan.
(Depdikbud, 1996:ix).
Pada tahun 1947, dengan Keputusan Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan
Kebudayaan ejaan bahasa Indonesia yang berlaku lebih disederhanakan dengan
nama Ejaan Republik. Dalam perkembangannya, pada tahun 1959, bekerjasama
dengan pemerintahan Malaysia mempersamakan ejaan bahasa kedua negara itu.
Hasil dari konsep ejaan bersama itu kemudian dikenal dengan nama Ejaan
Melindo (Melayu-Indonesia), tetapi perkembangan politik selama tahun-tahun
berikutnya mengurungkan peresmian ejaan tersebut.

Setelah melalui berbagai perubahan-perubahan, disusunlah konsep yang
merangkum segala usaha penyempurnaan yang terdahulu. Konsep itu
diperkenalkan secara luas pada tahun 1972 dengan Keputusan Presiden No. 57
tahun 1972 dengan nama Ejaan bahasa Indonesia yang Disempurnakan sebagai
patokan pemakaian ejaan yang baku.
56
Adapun beberapa unsur yang ditetapkan oleh ejaan bahasa Indonesia yang
disempurnakan, yaitu : huruf, pemenggalan kata, pemakaian huruf kapital/miring,
dan lain-lain. Berikut akan disajikan kajian dari masing-masing.
1. Pemakaian Huruf
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri dari huruf
berikut. Nama tiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf Nama Huruf Nama Huruf Nama
A a a J j je S s es
B b be K k ka T t te
C c ce L l el U u u
D d de M m em V v ve
E e e N n en W w we
F f ef O o o X x eks
G g ge P p pe Y y ye
H h ha Q q qi Z z zet
I i i R r er

2. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri dari
huruf a, e, i, o, dan u.
Huruf Vokal
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
A api padi lusa
e* enak petak sore
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
57
u ulang bumi ibu

* Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata
menimbulkan keraguan.
Misalnya
Anak-anak bermain di teras (teras)
Kami menonton film seri (seri)
58
3. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri
atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
b bahasa sebut adab
c cakap kaca -
d dua ada abad
f fakir kafan maaf
g guna tiga gudeg
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa politik
l lekas alas kesal
m maka kami diam
n nama anak daun
p pasang apa siap
q quran furqan -
r raih bara putar
s sampai asli lemas
t tali mata rapat
v varia lava -
w wanita hawa -
x xenon - -
y yakin payung -
Z zeni lazim juz

4. Huruf Diftong
59
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan
dengan ai, au, dan oi.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
ai ain syaitan pandai
au aula saudara harimau
oi - boikot amboi

60
5. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang
melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing
melambangkan satu bunyi konsonan.
Huruf Diftong
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal Di Tengah Di Akhir
kh khusus akhir tarikh
ng ngilu bangun senang
ny nyata hanyut -
sy syarat isyarat -

6. Pemenggalan Kata
a. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
1) Jika di tengah kata ada vokal yang berurutan, pemenggalan itu
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya
ma-in, sa-at, bu-ah
Huruf diftong ai, au, dan oi tidak pernah diceraikan sehingga
pemenggalan kata tidak dilakukan di antara kedua huruf itu.
Misalnya
au-la bukan a-u-la
2) Jika di tengah kata ada huruf konsonan, termasuk gabungan huruf
konsonan, di antara dua buah huruf vokal, pemenggalan dilakukan
sebelum huruf konsonan.
Misalnya
61
ba-pak, ba-rang, su-lit, la-wan, de-ngan, ke-nyang
3) Jika di tengah kata ada dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Gabungan huruf konsonan tidak pernah diceraikan.
Misalnya
man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, ap-ril, bang-sa
4) Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih,
pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan yang pertama dan
huruf konsonan yang kedua.
Misalnya
in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok, ikh-las
b. Imbuhan akhiran dan imbuhan awalan, termasuk awalan yang mengalami
perubahan bentuk serta partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan
kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian baris.
Misalnya
makan-an, me-rasa-kan, mem-bantu, pergi-lah
Perlu diperhatikan bahwa
1) Bentuk dasar pada kata turunan sedapat-dapatnya tidak dipenggal.
2) Akhiran –i tidak dipenggal.
3) Pada kata yang berimbuhan sisipan, pemenggalan kata dilakukan
sebagai berikut.
Misalnya, te-lun-juk, si-nam-bung, ge-li-gi
62
c. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu
dapat bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di
antara unsur-unsur itu, atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan
kaidah di atas.
Misalnya
bio-grafi, bi-o-gra-fi
foto-grafi, fo-to-gra-fi
7. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
a. Huruf Kapital atau Huruf Besar
1) Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata
pada awal kalimat.
Misalnya
Dia mengantuk.
Apa maksudnya?
2) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya
Adik bertanya,”Kapan kita pulang?”
“Besok pagi,” kata Ibu, “dia akan berangkat”.
3) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang
berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti
untuk Tuhan.
Misalnya
Allah, Yang Mahakuasa, Alkitab, Quran, Weda, Islam
63
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-
Nya.
4) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,
keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya
Mahaputra, Yamin, Sultan Hasanuddin, Imam Syafii
5) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai
pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya
Wakil Presiden Adam Malik, Perdana Menteri Nehru,
Profesor Supomo, Laksamana Muda Udara Husein
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan
pangkat yang tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama
tempat.
Misalnya
Siapakah gubernur yang baru dilantik itu?
6) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama
orang.
Misalnya
Amir Hamzah, Dewi Sartika, Wage Rudolf Supratman
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
64
Misalnya
mesin diesel, 10 volt, 5 ampere
7) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa.
Misalnya
bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa,
suku, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya
mengindonesiakan kata asing
8) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari,
hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya
bangsa Hijriah, tarikh Masehi, bulan Agustus
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah
yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan
bangsanya.
9) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya
Asia Tenggara, Banyuwangi, Bukit Barisan, Cirebon
65
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi
yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya
berlayar ke teluk, mandi di kali, menyeberangi selat
10) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama
negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama
dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya
Republik Indonesia, Majelis Permusyawaratan Rakyat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata bukan nama
resmi negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan, serta
nama dokumen resmi.
Misalnya
Menjadi sebuah republik, menurut undang-undang
11) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk
ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah
dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi.
Misalnya
Perserikatan Bangsa-Bangsa, Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia
12) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk
unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat
66
kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang,
untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke
Roma.
13) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, dan sapaan.
Misalnya
Dr. doktor
M.A. master of arts
S.E. sarjana ekonomi
S.Pd. sarjana pendidikan
Tn. Tuan
Sdr. saudara
14) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman
yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya
“Kapan Bapak berangkat?” tanya Harto.
Silakan duduk, Dik!” kata Ucok.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau
penyapaan.
67
Misalnya
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
15) Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
b. Huruf Miring
1) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku,
majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya
Majalah Bahasa dan Kesusastraan, buku Negarakertagama
karangan Prapanca
2) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau
mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata.
Misalnya
Huruf pertama kata abad ialah a.
Dia bukan menipu, tetapi ditipu.
3) Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama
ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya
Nama ilmiah buah manggis ialah Carcinia mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini.
68
Tetapi
Negara itu telah mengalami empat kali kudeta.
Catatan: selengkapnya dapat dilihat pada buku Pedoman Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan.
8. Pemakaian Tanda Baca
a. Tanda titik (.)
1) Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau
seruan.
Misalnya
Ayahku tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
2) Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
ikhtisar, atau daftar.
Misalnya
a. III. Departemen Dalam Negeri
1.1 Isi Karangan
Catatan tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam
suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang
terakhir dalam deretan angka atau huruf.
3) Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak
berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam
daftar pustaka.
Misalnya
69
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltervreden Balai
Pustaka.
4) Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal
surat atau (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya
Jalan Diponegoro 82 (tanpa titik)
Yth. Sdr. Moh. Hasan (tanpa titik)
b. Tanda koma (,)
1) Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
pembilangan.
Misalnya
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
2) Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain dalam kalimat.
Misalnya
Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
3) Tanda koma dipakai di antara nama orang tua dan gelar akademik
yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri,
keluarga, dan marga.
Misalnya
B. Ratulangi, S.E.
70
4) Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung
itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru.
Misalnya
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim.
Catatan: selengkapnya dapat dilihat pada buku Pedoman Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan.
H. Penulisan Cerita
1. Pengertian Menulis
Menurut Henry Guntur Tarigan (1991:21) menulis ialah menurunkan
atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa
yang dipahami oleh seseorang sehingga orang-orang lain dapat membaca
lambang-lambang grafik tersebut. Menulis merupakan keterampilan
berbahasa (writing skills) yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara
tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.
Kemudian menurut Morsey (dalam Henry Guntur Tarigan, 1991:4)
menulis dipergunakan orang terpelajar untuk mencatat/merekam,
meyakinkan, melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi; dan maksud
serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang
yang dapat menyusun pikirannya dan mengutarakannya dengan jelas.
Kejelasan tersebut tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata,
dan struktur kalimat. Penulis harus menguasai prinsip-prinsip menulis dan
71
berpikir, yang akan menolongnya mencapai maksud dan tujuannya. Yang
terpenting di antara prinsip-prinsip itu adalah penemuan, susunan, dan gaya.
72
2. Fungsi Tulisan
Pada prinsipnya, fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat
komunikasi yang tidak langsung (Henry Guntur Tarigan, 1991:22).
Mengingat fungsi di atas maka seorang penulis dituntut mampu berpikir
secara kritis, merasakan dan menikmati hubungan-hubungan kalimat,
memperdalam persepsi, membuat susunan dan gaya bahasa yang menarik
sesuai dengan alur yang dikehendaki.
Penulis yang baik adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi
yang tepat dalam merangkai tulisannya, meliputi
a. maksud dan tujuan penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi
pada diri pembaca),
b. pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orang tua, kenalan, atau
teman penulis),
c. waktu dan kesempatan (keadaan-keadaan yang melibatkan
berlangsungnya suatu kejadian tertentu, waktu, tempat, dan situasi yang
menuntut perhatian langsung, masalah yang memerlukan pemecahan,
pertanyaan yang menuntut jawaban, dan sebagainya) (D’angelo dalam
Henry Guntur Tarigan, 1991:22).
Dengan demikian, penulis akan mendapatkan respons atau jawaban
yang diharapkan penulis dari pembaca. Respon atau umpan balik dari
pembaca, baik negatif maupun positif, menunjukkan keberhasilan penulis
dalam menuangkan tulisannya.
73
3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan sesuatu tulisan menurut Hugo Hartig (dalam Henry
Guntur Tarigan, 1991:24) sebagai berikut.
a. Tujuan penugasan (assignment purpose)
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali.
Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri.
Misalnya, para siswa yang diberi tugas merangkumkan buku, sekretaris
yang ditugaskan membuat laporan, notulen rapat).
b. Tujuan altruistik (altruistic purpose)
Penulis bertujuan untuk menyengkan para pembaca, menghindarkan
kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami,
menghargai perasaan dan penalarannya, ingin membuat hidup para
pembaca lebih mudah dan lebih menyenangkan dengan karyanya itu.
Seseorang tidak akan dapat menulis secara tepat guna kalau dia percaya,
baik secara sadar maupun secara tidak sadar bahwa pembaca atau
penikmat karyanya itu adalah lawan atau musuh. Tujuan altruistik adalah
kunci keterbacaan sesuatu tulisan.
c. Tujuan persuasif (persuasive purpose)
Tulisan yang bertujuan meyakinkan para pembaca akan kebenaran
gagasan yang diutarakan.
d. Tujuan informasional, tujuan penerangan (informational purpose)
Tulisan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan/ penerangan
kepada para pembaca.
74
e. Tujuan pernyataan diri (self expressive purpose)
Tulisan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri penulis
kepada para pembaca.
f. Tujuan kreatif (creative purpose)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tujuan yang
bertujuan mencapai nilai-nilai artistik, nilai-nilai kesenian.
g. Tujuan pemecahan masalah (problem-sovling purpose)
Dalam tulisan seperti ini penulis ingin memecahkan masalah yang
dihadapi.
4. Klasifikasi Tulisan
Menurut Weaver (dalam Henry Guntur Tarigan, 1991:27) membagi
tulisan berdasarkan bentuknya sebagai berikut.
a. Eksposisi, yang mencakup
1) Definisi
2) Analisis
b. Deskripsi, yang mencakup
1) Deskripsi ekspositori
2) Deskripsi literer
c. Narrasi, yang mencakup
1) Urutan waktu
2) Motif
3) Konflik
4) Titik pandangan
75
5) Pusat minat
d. Argumentasi, yang mencakup
1) Induksi
2) Deduksi
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis
membutuhkan keterampilan yang selalu di asah untuk memperoleh kemampuan
yang optimal. Semakin sering seorang penulis berlatih maka semakin terasah
keterampilan menulisnya.
I. Cerita
Cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu
hal (peristiwa, kejadian dan sebagainya).
Narasi adalah penceritaan suatu cerita atau kejadian, cerita atau deskripsi
dari suatu kejadian atau peristiwa; kisahan; tema suatukarya seni; menyajikan
sebuah kejadian yang disusun berdasarkan urutan waktu.
Persamaan cerita dan narasi terletak sama-sama mendeskripsikan suatu
kejadian atau peristiwa.
Beberapa unsur yang harus dipenuhi dalam menulis cerita adalah sebagai
berikut.
1. Alur
Istilah lain yang sama maknanya dengan alur atau plot ini adalah trap
atau dramatic conflict. Keempat istilah ini bermakna struktur gerak atau laku
dalam suatu fiksi atau drama (Brooks and Warren, dalam Henry Guntur
Tarigan, 1991:150).
76
Menurut Lubis (dalam Henry Guntur Tarigan, 1991:150) setiap cerita
biasanya dpat dibagi atas lima bagian, meliputi hal-hal sebagai berikut.
a. Situation (pengarang mulai melukiskan suatu keadaan atau situasi).
b. Generating circumstance (peristiwa yang bersangkut-paut, yang berkait-
kaitan mulai bergerak).
c. Rising action (keadaan mulai memuncak).
d. Climax (peristiwa-peristiwa mencapai klimaks).
e. Denouement (pengarang memberikan pemecahan soal dari semua
peristiwa).
Kemudian pola yang digunakan dalam penyusunan alur dengan pola
tradisional dengan unsur-unsur terlihat sebagai berikut.
a. Exposition pengenalan tokoh, pembukaan hubungan-hubungan, menata
adegan, menciptakan suasana, penyajian sudut pandang.
b. Complication mempertinggi/meningkatkan perhatian kegembiraan,
kehebohan, atau keterlibatan pada saat bertambahnya kesukaran-
kesukaran atau kendala-kendala.
c. Turning point krisis atau klimaks, titik emosi, dan perhatian yang paling
besar serta mendebarkan, apabila kesukaran atau masalah dihadapi dan
diselesaikan.
d. Ending penjelasan peristiwa-peristiwa, bagaimana caranya para tokoh
itu dipengaruhi, dan apa yang terjadi atas diri mereka masing-masing
(Adelstein & Pival, dalam Henry Guntur Tarigan, 1991:151)
77
Dari uraian di atas maka alur cerita mempengaruhi hidup tidaknya
suatu cerita.
2. Tokoh
Penokohan atau karakterisasi adalah proses yang dipergunakan oleh
seseorang pengarah untuk menciptakan tokoh-tokoh fiksinya. Tokoh fiksi
harus dilihat sebagai yang berada pada suatu masa dan tempat tertentu dan
haruslah pula diberi motif-motif yang masuk akal bagi segala sesuatu yang
dilakukannya. Tugas pengarang ialah membuat tokoh itu sebaik mungkin,
seperti yang benar-benar ada. Cara untuk mencapai tujuan ini tentu beraneka
ragam, termasuk pemerian atau analisis, apa yang dikatakan atau yang
dilakukan oleh para tokoh. Cara mereka mereaksi dalam situasi-situasi
tertentu, apa yang dikatakan oleh tokoh lain terhadap mereka atau bagaimana
mereka bereaksi terhadapnya.
Perlu dipahami, bahwa pengarang adalah pencipta, tetapi dunia sastra
yang mereka ciptakan haruslah kira-kira sama dengan dunia nyata. Untuk
mencapai sasaran di atas, perlu memunculkan tokoh dalam penulisan cerita,
meliputi
a. tokoh utama, tokoh pusat (central character),
b. tokoh penunjang (supporting character),
c. tokoh latar belakang (background character).
Kesusastraan memang mengesankan bagi para tokoh yang telah
menjelajahi halaman demi halaman sampai masuk ke dalam kesadaran
budaya pembacanya.
78
Karakter tokoh dalam cerita, biasanya memiliki ciri-ciri yang mudah
diserap pembaca, sebagaimana tokoh Brutus dalam Juleus Caesar (Adelstein
& Pival, dalam Henry Guntur Tarigan, 1991:145) dengan ciri-ciri
a. tolol, kekanakan-kanakan, atau naif (dikelabui oleh Cassius, ditipu oleh
Antony);
b. dihormati (semua komplotan pada dasarnya menaruh kepercayaan dan
memberi penghormatan kepadanya, menjadi pemimpin);
c. lekas marah (bertengkar dengan Cassius, jengkel dan marah kepada
penyair);
d. sabar, lembut, baik hati (mencintai Portia, penuh perhatian pada Lucius);
e. idealistis (taat pada Republik, tidak ada rencana menggantikannya).
J. Kemampuan Penggunaan Ejaan
1. Pengertian Kemampuan
a. Pengertian
Kemampuan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:553)
adalah kesanggupan; kecakapan; kekuatan; kita berusaha dengan diri
sendiri. Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kemampuan
berkaitan dengan potensi yang dapat diusahakan dan ditingkatkan oleh
seseorang.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa setiap orang
memiliki kemampuan yang berbeda-beda
b. Ciri orang yang mampu
1) Sanggup
79
2) Cakap
3) Kuat
4) Berusaha dengan diri sendiri
2. Pengukuran/Penilaian Kemampuan
a. Pengertian Pengukuran/Penilaian Kemampuan
Tuckman (dalam Burhan Nurgiyantoro, 1987:5) mengartikan
penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu
kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan
tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Kemudian Cronbach (dalam
Burhan Nurgiyantoro, 1987:6) memberikan definisi bahwa penilaian
adalah proses pengumpulan dan penggunan informasi yang dipergunakan
sebagai dasar pembuatan keputusan tentang program pendidikan.
Untuk memberikan penilaian secara tepat, diperlukan data-data
yang akurat. Untuk mendapatkan data-data yang akurat, diperlukan alat
berupa pengukuran. Melalui kegiatan pengukuran dapat diketahui
informasi yang dibutuhkan dalam penilaian. Sedang pengukuran
(measurement) hanyalah bagian atau alat penilaian saja misalnya, berupa
skor-skor siswa (Tuckman, dalam Burhan Nurgiyantoro (1987:5).
b. Cara-cara mengukur kemampuan
1) Pemberian tes lisan
2) Pemberian tes tulis (paper and pencil test)
3) Pemberian tes perbuatan (performance test) (Depdiknas, 2003:17-21)
80
Dengan pemberian tes akan diketahui kemampuan masing-
masing siswa pada kompetensi yang dikehendaki.

81
BAB III
METODE PENELITIAN

K. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Peneliti memilih tempat penelitian di SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo,
Kabupaten Magetan. Tempat tersebut dipilih sebagai tempat penelitian karena
pertimbangan di tempat tersebut belum pernah ada penelitian dengan masalah
yang sama seperti yang dilakukan peneliti.
2. Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti membutuhkan waktu selama 4 bulan, yakni mulai
bulan Januari 2007 sampai dengan bulan April 2007.
L. Metode dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hal ini sesuai dengan tujuan
penelitian yaitu memperoleh paparan yang objektif mengenai kemampuan menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam
penulisan cerita siswa kelas VI SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.
Sehubungan dengan penelitian deskriptif ini, ada dua jenis penelitian menurut proses sifat dan analisis datanya, yaitu
1. riset deskriptif yang bersifat eksploratif, yakni bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena;
2. riset deskriptif yang bersifat developmental, yakni riset deskriptif yang digunakan untuk menemukan suatu model
atau prototype, dan bisa digunakan untuk segala jenis bidang (Arikunto, 2002:194-196).
Atas dasar uraian tersebut, jelaslah bahwa penelitian ini termasuk desain penelitian deskriptif. Desain penelitian deskriptif
mempunyai ciri-ciri tertentu. Surahmad (2003:132) menyatakan bahwa desain penelitian deskriptif memiliki ciri-ciri : (1)
memusatkan pada pemecahan masalah yang ada sekarang, (2) data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan,
kemudian dianalisis, (3) menjelaskan dengan teliti dan terinci, baik mengenai dasar-dasar metodologinya maupun
mengenai detail teknis secara khusus, (4) menjelaskan prosedur pengumpulan data, pengawasan dan penilaian terhadap
data, serta (5) memberikan alasan yang kuat tentang penggunaan teknik tertentu dan teknik lainnya.
Berdasarkan teori di atas, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian ini berupaya memperoleh
data secara sahih, cermat, akurat, dan lengkap. Dari data yang terkumpul kemudian diperiksa, diklasifikasikan, dianalisis,
dan dideskripsikan. Hasil analisisnya merupakan deskripsi mengenai kemampuan menggunakan ejaan yang disempurnakan
82
dalam penulisan cerita siswa kelas 6 SDN Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan tahun pelajaran
2006/2007.
M. Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:102).
Sesuai dengan pengertian ini maka populasi dalam penelitian ini adalah
siswa-siswi kelas 6 SDN
Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan tahun pelajaran
2006/2007. Adapun siswa-siswi kelas VI SDN Kinandang 03, Kecamatan
Bendo, Kabupaten Magetan berjumlah 16 orang.
3. Sampel
Oleh karena keterbatasan jumlah subjek, penelitian ini merupakan penelitian
populasi, yaitu menggunakan seluruh dari populasi sebagai subjek penelitian. Hal
ini mengingat jumlah populasinya tidak melebihi 100, seluruh populasi, peneliti
jadikan sampel atau total sampling yaitu 16 siswa.
B. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data diperoleh dengan jalan memberikan tes kepada
responden. Tes adalah yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran
yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau oleh dosen
kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu (Ngalim Purwanto,
1990:33). Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan peneliti setelah
mendapat izin dari Kepala Sekolah.
83
Adapun prosedur pelaksanaan pengumpulan data adalah sebagai
berikut : (1) mengatur persiapan dan menertibkan teste, (2) memberikan
petunjuk cara pengerjaan soal dan mengadakan pembetulan jika ada
kesalahan pengetikan, (3) membagikan lembar soal berupa perintah untuk
membuat cerita.
84
2. Instrumen Penelitian
Dalam instrumen penelitian ini, untuk mengukur kemampuan siswa dengan
menggunakan soal tes dalam bentuk cerita dengan tema “Liburan Ke Rumah
Nenek”. Dengan memberi waktu penulisan cerita selama 40 menit, kemudian
hasil pekerjaan siswa dikumpulkan untuk dianalisa tingkat kemampuan
penggunaan ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita siswa kelas 6 SDN
Kinandang 03, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan tahun pelajaran
2006/2007.
Skala penilaian digunakan untuk mengukur penampilan atau
perilaku orang/individu lain oleh seseorang, melalui pernyataan perilaku
individu pada suatu titik kontinue atau suatu kategori yang bermakna nilai
(Nana Sudjana, 2001:112). Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai
dari yang tertinggi sampai terendah. Rentangan ini bisa dalam bentuk huruf
(a, b, c d) atau angka (4, 3, 2, 1). Sedangkan menurut Yatim Riyanto
(2001:101) bahwa score yang diberikan pengamat/peneliti merupakan
judment (kebijakan) pengamat/peneliti itu sendiri.
Pemberian skor atau penilaian diukur dengan ketentuan sebagai berikut.
85
a. Nilai 10, bila tidak ada kesalahan
b. Nilai 9, bila tingkat kesalahan antara 1 sampai dengan 3
c. Nilai 8, bila tingkat kesalahan antara 4 sampai dengan 5
d. Nilai 7, bila tingkat kesalahan antara 6 sampai dengan 7
e. Nilai 6, bila tingkat kesalahan antara 8 sampai dengan 9
f. Nilai 5, bila tingkat kesalahan diatas 10
C. Analisis Data
Setelah data terkumpul kemudian ditabulasi sesuai dengan tingkat
kesalahan dalam penggunaan ejaan yang disempurnakan. Kemudian dari data
tersebut, peneliti membuat tingkat kemampuannya dengan indikator tingkat
kesalahan sebagai ketentuan pada instrumen penelitian di atas dengan
menggunakan rumus prosentase.
P = % 100 x
N
F
¯

Keterangan :
P = Prosentase
F = Tingkat kesalahan
N = Jumlah responden
Kecuali itu, peneliti mencari nilai mean, median, modus, SD,
kemencengan poligon, histogram, dan poligon. Adapun rumus yang
dipergunakan ialah:
1. Menentukan Nilai Rata-rata (Mean)
Dalam menentukan nilai rata-rata (Mean) digunakan rumus :
86
Mean =
¯
¯
fi
xi . fi
(Sudjana, 1996:67)
Keterangan :
¯
fi = jumlah frekuensi
xi = titik tengah interval
2. Median
Rumus yang dipakai untuk menentukan median ialah :
Me = b + p |
.
|

\
| ÷
f
F n
2
1
(Sudjana, 1996:79)
Keterangan :
b = batas bawah kelas median
p = panjang kelas interval
n = banyak sampel
F = jumlah semua frekuensi sebelum kelas median
f = frekuensi kelas median
3. Menentukan Modus (Mo)
Dalam menentukan modus (Mo) dipakai rumus :
Mo = b + p
|
.
|

\
|
+ 2 b 1 b
1 b
(Sudjana, 1996:79)
Keterangan :
b = batas bawah kelas median
p = panjang kelas interval
b1 = frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas modal terdekat
sebelumnya.
87
b2 = frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas terdekat berikutnya.
4. Menentukan Standar Deviasi (SD)
Rumus yang digunakan untuk menentukan standar deviasi atau simpangan
baku (SD) ialah :
SD =
( )
1 n
x xi fi
2
÷
÷
¯
(Sudjana, 1996:94)
Keterangan :
¯
fi
= jumlah frekuensi
xi = titik tengah interval
x
= nilai rata-rata
n = banyaknya data
5. Menentukan Kecondongan Poligon
Rumus untuk menentukan kecondongan poligon ialah :
Rumus =
S
Mo x ÷
(Sudjana, 1996:94)
Keterangan :
x
= nilai rata-rata atau Mean
Mo = modus/harga tengah
S = simpangan baku

88
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian ini akan dilaporkan secara deskriptif yang dilengkapi dengan
tabel frekuensi, poligon, dan histogram. Berdasarkan variabel-variabelnya, maka hasil
penelitian ini dilaporkan sebagai berikut :
A. Deskripsi Data
1. Kemampuan menggunakan huruf kapital.
Dengan bantuan komputer menggunakan program Microsoft Excel 2003,
nilai-nilai yang didapatkan yaitu: n sebanyak 16; nilai minimum sebesar 6,0; nilai
maksimum sebesar 9,0; mean (Mn) sebesar 8,0; median (Me) sebesar 8; modus
(Mo) sebesar 9,0, simpangan baku (SD) sebesar 1,1.
Berdasarkan data tersebut dibuat tabel distribusi frekuensi kemampuan
menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita.
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Huruf Kapital
Dalam Penulisan Cerita
Nilai
Frekuensi
6 2
7 3
8 4
9 7

Berdasarkan tabel 1 tersebut, dibuat grafik histogram sebagai berikut.
89

Keterangan : SD: 1,1; Mo:9,0; Me:8,0; Mn:8,0; Min:6,0; Max:9,0; n:nilai;
f:frekuensi; Poligon condong kiri (-0,9)

Gambar 1 Histogram Kemampuan Menggunakan Huruf Kapital Dalam
Penulisan Cerita

2. Kemampuan menggunakan kata depan.
Dengan bantuan komputer menggunakan program Microsoft Excel 2003,
nilai-nilai yang didapatkan yaitu: n sebanyak 16; nilai minimum sebesar 5,0; nilai
maksimum sebesar 9,0; mean (Mn) sebesar 6,8; median (Me) sebesar 7,0; modus
(Mo) sebesar 7,0, simpangan baku (SD) sebesar 1,2.
Berdasarkan data tersebut dibuat tabel distribusi frekuensi kemampuan
menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita.
2
3
4
7
0
1
2
3
4
5
6
7
8
6 7 8 9
90
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Kata Depan Dalam
Penulisan Cerita
Nilai
Frekuensi
5 4
6 1
7 7
8 3
9 1

Berdasarkan tabel 2 tersebut, dibuat grafik histogram sebagai berikut.

Keterangan : SD: 1,2; Mo:7,0; Me:7,0; Mn:6,8; Min:5,0; Max:9,0; n:nilai;
f:frekuensi; Poligon condong kiri (-0,2)

Gambar 2 Histogram Kemampuan Menggunakan Kata Depan Dalam
Penulisan Cerita

3. Kemampuan menggunakan partikel.
4
1
7
3
1
0
1
2
3
4
5
6
7
8
5 6 7 8 9
91
Dengan bantuan komputer menggunakan program Microsoft Excel 2003,
nilai-nilai yang didapatkan yaitu: n sebanyak 16; nilai minimum sebesar 5,0; nilai
maksimum sebesar 9,0; mean (Mn) sebesar 7,1; median (Me) sebesar 7,0; modus
(Mo) sebesar 7,0, simpangan baku (SD) sebesar 1,4.
Berdasarkan data tersebut dibuat tabel distribusi frekuensi kemampuan
menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita.
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Partikel Dalam
Penulisan Cerita
Nilai
Frekuensi
5 2
6 3
7 6
8 1
9 4

Berdasarkan tabel 3 tersebut, dibuat grafik histogram sebagai berikut.

2
3
6
1
4
0
1
2
3
4
5
6
7
5 6 7 8 9
92
Keterangan : SD: 1,4; Mo:7,0; Me:7,0; Mn:7,1; Min:5,0; Max:9,0; n:nilai;
f:frekuensi; Poligon condong kanan (0,1)

Gambar 3 Histogram Kemampuan Menggunakan Partikel Dalam
Penulisan Cerita

4. Kemampuan menggunakan tanda baca.
Dengan bantuan komputer menggunakan program Microsoft Excel 2003,
nilai-nilai yang didapatkan yaitu: n sebanyak 16; nilai minimum sebesar 5,0; nilai
maksimum sebesar 9,0; mean (Mn) sebesar 7,3; median (Me) sebesar 7,0; modus
(Mo) sebesar 7,0, simpangan baku (SD) sebesar 1,4.
Berdasarkan data tersebut dibuat tabel distribusi frekuensi kemampuan
menggunakan ejaan yang disempurnakan dalam penulisan cerita.
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kemampuan Menggunakan Tabda Baca Dalam
Penulisan Cerita
Nilai
Frekuensi
5 2
6 2
7 5
8 3
9 4

Berdasarkan tabel 4 tersebut, dibuat grafik histogram sebagai berikut.
93

Keterangan : SD: 1,4; Mo:7,0; Me:7,0; Mn:7,3; Min:5,0; Max:9,0; n:nilai;
f:frekuensi; Poligon condong kanan (0,2)
Gambar 4 Histogram Kemampuan Menggunakan Tanda Baca Dalam
Penulisan Cerita
5. Perbandingan Rata-rata Kemampuan Menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan
Setelah dikelompok-kelompokkan sesuai dengan rancangan penelitian,
maka rata-rata (mean) Kemampuan Menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan sebagai berikut.
Tabel 5 Perbandingan Rata-rata (Mean) Kemampuan Menggunakan Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Aspek Ejaan
Huruf Kapital Kata Depan Partikel Tanda Baca
Kemampuan 8,0 6,8 7,1 7,3


2 2
5
3
4
0
1
2
3
4
5
6
5 6 7 8 9
94
B. Interpretasi Data Penelitian
Setelah dilakukan perhitungan secara deskriptif, diperoleh kenyataan
bahwa rata-rata kemampuan penggunaan ejaan jika ditinjau dari empat aspek
yang diteliti, kemampuan menggunakan huruf kapital menduduk prestasi yang
paling tinggi (rata-rata 8,0), kemudian menggunakan tanda baca (7,3), kemudian
penggunaan partikel (7,1), dan yang paling rendah yaitu kemampuan
menggunakan kata depan (6,8).
Berdasarkan pada hasil kemampuan di atas, dapat diinterpretasikan bahwa
kemampuan menggunakan huruf kapital menduduki prestasi yang paling tinggi
disebabkan bahwa pemahaman siswa terhadap huruf kapital seperti dipakai
sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat, huruf pertama petikan langsung,
huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab
suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan, huruf pertama nama gelar kehormatan,
keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang, huruf pertama unsur nama
jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat sudah banyak dipahami
oleh siswa. Hal ini disebabkan pemakaian huruf kapital sudah lazim dibaca di
tempat-tempat umum seperti papan nama, reklame, surat-surat dinas, majalah,
koran dan sebagainya.
Sedangkan untuk kemampuan menggunakan kata depan menduduki
kemampuan paling rendah disebabkan kerancuan pemahaman bahwa kata depan
harus dipisah dengan kata berikutnya, seperti penulisan di atas, di bawah, di
samping, dan sebagainya.
95

C. Diskusi Hasil Penelitian
Dari hasil komputasi diperoleh kenyataan bahwa dari empat kemampuan
dalam menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan diperoleh
ketuntasan belajar yang memuaskan dengan rata-rata nilai di atas 7 untuk empat
aspek, yaitu kemampuan menggunakan huruf kapital, partikel, dan tanda baca.
Sedangkan satu aspek, yaitu kemampuan menggunakan kata depan memperoleh
nilai rata-rata cukup yaitu 6,8.
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia di
SDN Kinandang 3, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan tergolong baik. Hal
ini ditunjukkan dari keluaran (output) berupa kemampuan siswa dalam
mengapresiasi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mendapatkan nilai
rata-rata yang memuaskan yaitu di atas nilai 7.
Walaupun dalam penelitian tidak dimunculkan kemampuan siswa dalam
menulis cerita, seperti alur, plot, setting, karakter tokoh dalam cerita tersebut,
menurut pengamatan penulis, dari waktu yang disediakan yaitu selama 40 menit,
siswa dapat menyelesaikan tugas yang diberikan. Bahkan, beberapa siswa telah
menyelesaikan sebelum waktu yang disediakan berakhir.

96
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab IV, kemampuan menggunakan ejaan
yang disempurnakan pada penulisan cerita dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Kemampuan menggunakan huruf kapital memperoleh hasil baik dengan nilai
rata-rata sebesar 8,0.
2. Kemampuan menggunakan kata depan memperoleh hasil cukup dengan nilai
rata-rata sebesar 6,8.
3. Kemampuan menggunakan partikel memperoleh hasil baik dengan nilai rata-
rata sebesar 7,1.
4. Kemampuan menggunakan tanda baca memperoleh hasil baik dengan nilai
rata-rata sebesar 7,3.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan pada bab empat, kemampuan menggunakan
ejaan yang disempurnakan pada penulisan cerita dapat disimpulkan sebagai
berikut.
1. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia hendaknya lebih sering lagi melatih
anak didiknya dalam penggunaan ejaan Bahasa Indonesia yang
disempurnakan dalam penulisan cerita.
2. Guru mata pelajaran bahasa Indonesia hendaknya pandai-pandai memilih
bahan pengajaran, maksudnya cerita-cerita yang menarik, cocok dan disukai
97
anak didiklah yang dipilih sebagai bahan pengajaran.
3. Dalam pelaksanaan pengajaran, guru hendaknya dapat menyajikan
pembelajaran dengan menarik. Dengan teknik penyajian yang menarik,
diharapkan anak didik termotivasi dan tertarik dengan bahan pengajaran
tersebut, sehingga hasil pembelajaran diharapkan sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki.
4. Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang cukup
terutama buku cerita, sehingga mendorong siswa untuk lebih banyak
membaca dan mengapresiasi cerita tersebut.

98
DAFTAR PUSTAKA



Burhan Nurgiyantoro. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: BPFE IKIP Yogyakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Jakarta: Depdiknas.
Direktorat Pembinaan TK/SD. 2006. Program Pembinaan TK dan SD Tahun 2006:
Kebijakan tentang KTSP dan Silabus di SD. Jakarta: Dinas Pendidikan
Nasional.
Henry Guntur Tarigan. 1991. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Penerbit Angkasa.
Nana Sudjana. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Jakarta: Sinar Baru
Algensindo.
Ngalim Purwanto. 1990. Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja
Rosda Karya.
Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT. Balai Pustaka.
_______. 1996. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjana, MS. 1996. Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
99
Winarno Surachmad. 2003. Pengantar Interaksi Mengajar-Belajar, Dasar dan Teknik
Metodologi Pengajaran. Bandung: Tarsito.
Yatim Riyanto. 2001. Metode Penelitian Pendidikan. Surabaya : Penerbit SIC.






100
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Parno
NPM : 05.311.246/P
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Pendidikan Bahasa Indonesia.
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar
merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau
pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini plagiat, saya
bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.


Madiun, 20 April 2007
Yang membuat pernyataan,


Parno


101
LAMPIRAN 1

DAFTAR NAMA RESPONDEN
SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG KECAMATAN BENDO
KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No No Induk Nama Siswa / Responden Jenis Kelamin
1 2345 Agung Puji L
2 2346 Tri Wahyuni P
3 2347 Tri Tobat Budi S L
4 2349 Amirudin Mahmud L
5 2351 Aji Ryan Pranata L
6 2352 Eriska Devi DC P
7 2353 Lely Rusiana P
8 2355 Miftahul Hadi L
9 2361 Nampi Sri Wahyuni P
10 2363 Rifki Siti Mutmainah P
11 2364 Ririn Pramita S P
12 2366 Sigit Budi Santoso L
13 2369 Umul Mahmudah P
14 2370 Yuliani Dwi Astuti P
102
15 2371 Frudita Nur P
16 2373 Burhanudin S L

Sumber: Buku Leger Kelas VI SDN Kinandang, Kecamatan Bendo, Kabupaten
Magetan
103
LAMPIRAN 2

SOAL
KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN DALAM
PENULISAN CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3 KECAMATAN
BENDO KABUPATEN MAGETAN TAHUN 2006/2007


Perintah:
Buatlah karangan dengan tema “Liburan Ke Rumah Nenek” dengan ketentuan
sebagai berikut.
1. Karangan terdiri dari 3 paragraf.
2. Lama menulis karangan 40 menit.
3. Tulislah nama dan nomor absen di pojok kanan atas.
Agar dalam penulisan karangan tidak mengalami kesulitan, buatlah kerangka
karangan terlebih dahulu.

Selamat mengerjakan !
104
LAMPIRAN 3

NOMOR RESPONDEN, SKOR TINGKAT KESALAHAN DAN NILAI
KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN HURUF KAPITAL DALAM
PENULISAN CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3,
KECAMATAN BENDO, KABUPATEN MAGETAN
TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No Resp
Tingkat Kesalahan
Nilai Keterangan
Alinea 1 Alinea 2 Alinea 3 Jml
1 0 1 3 4 8 Baik
2 2 1 3 6 7 Cukup
3 2 1 0 3 9 Baik
4 3 2 3 8 6 Cukup
5 2 1 2 5 8 Baik
6 0 2 0 2 9 Baik
7 2 1 3 6 7 Cukup
8 0 2 0 2 9 Baik
9 2 1 3 6 7 Cukup
10 0 2 0 2 9 Baik
11 2 1 0 3 9 Baik
12 0 2 3 5 8 Baik
13 2 1 2 5 8 Baik
14 3 3 2 8 6 Cukup
15 2 1 0 3 9 Baik
16 0 2 1 3 9 Baik
Jml 22 24 25 71 128
Rata-rata 8.0 Baik
Max 9.0
Min 6.0
105
SD 1.1
Mo 9.0
Median 8.0
Mean 8.0
Kecondongan grafik -0,9 (Negatif)
Penghitungan dengan menggunakan bantuan komputer program Ms. Excel 2003

Keterangan:
Tidak ada kesalahan : nilai 10
Tingkat kesalahan 1 – 3 : nilai 9
Tingkat kesalahan 4 – 5 : nilai 8
Tingkat kesalahan 6 – 7 : nilai 7
Tingkat kesalahan 8 – 9 : nilai 6
Tingkat kesalahan > 9 : nilai 5


LAMPIRAN 4

NOMOR RESPONDEN, SKOR TINGKAT KESALAHAN DAN NILAI
KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN KATA DEPAN DALAM
PENULISAN CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3,
KECAMATAN BENDO, KABUPATEN MAGETAN
TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No Resp
Tingkat Kesalahan
Nilai Keterangan
Alinea 1 Alinea 2 Alinea 3 Jml
1 2 5 3 10 5 Cukup
2 6 3 4 13 5 Kurang
3 1 3 3 7 7 Cukup
4 2 2 3 7 7 Cukup
106
5 2 2 2 6 7 Cukup
6 1 1 2 4 8 Baik
7 0 3 6 9 6 Cukup
8 3 2 2 7 7 Cukup
9 5 3 5 13 5 Kurang
10 2 3 2 7 7 Cukup
11 1 0 1 2 9 Baik
12 2 2 3 7 7 Cukup
13 2 1 2 5 8 Baik
14 1 3 1 5 8 Baik
15 3 4 3 10 5 Cukup
16 2 1 4 7 7 Cukup
Jml 35 38 46 119 108
Rata-rata 6.8 Cukup
Max 9.0
Min 5.0
SD 1.2
Mo 7.0
Median 7.0
Mean 6.8
Kecondongan grafik -0,2 Negatif
Penghitungan dengan menggunakan bantuan komputer program Ms. Excel 2003

Keterangan:
Tidak ada kesalahan : nilai 10
Tingkat kesalahan 1 – 3 : nilai 9
Tingkat kesalahan 4 – 5 : nilai 8
Tingkat kesalahan 6 – 7 : nilai 7
Tingkat kesalahan 8 – 9 : nilai 6
Tingkat kesalahan > 9 : nilai 5
107
LAMPIRAN 5

NOMOR RESPONDEN, SKOR TINGKAT KESALAHAN DAN NILAI
KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN PARTIKEL DALAM PENULISAN
CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3, KECAMATAN BENDO,
KABUPATEN MAGETAN TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No
Tingkat Kesalahan
Nilai Keterangan
Alinea 1 Alinea 2 Alinea 3 Jml
1 2 1 3 6 7 Cukup
2 2 1 3 6 7 Cukup
3 2 1 3 6 7 Cukup
4 3 2 3 8 6 Cukup
5 2 1 2 5 8 Baik
6 0 2 0 2 9 Baik
7 2 1 3 6 7 Cukup
8 0 2 0 2 9 Baik
9 2 5 3 10 5 Cukup
10 0 2 0 2 9 Baik
11 2 5 3 10 5 Cukup
12 2 5 2 9 6 Cukup
13 2 3 2 7 7 Cukup
14 3 3 2 8 6 Cukup
15 2 1 0 3 9 Baik
16 3 2 2 7 7 Cukup
Jml 29 37 31 97 114
Rata-rata 7.1 Baik
Max 9.0
Min 5.0
SD 1.4
108
Mo 7.0
Median 7.0
Mean 7.1
Kecondongan grafik 0,1 Positif
Penghitungan dengan menggunakan bantuan komputer program Ms. Excel 2003

Keterangan:
Tidak ada kesalahan : nilai 10
Tingkat kesalahan 1 – 3 : nilai 9
Tingkat kesalahan 4 – 5 : nilai 8
Tingkat kesalahan 6 – 7 : nilai 7
Tingkat kesalahan 8 – 9 : nilai 6
Tingkat kesalahan > 9 : nilai 5
109
LAMPIRAN 6

NOMOR RESPONDEN, SKOR TINGKAT KESALAHAN DAN NILAI
KEMAMPUAN SISWA MENGGUNAKAN TANDA BACA DALAM
PENULISAN CERITA SISWA KELAS 6 SDN KINANDANG 3,
KECAMATAN BENDO, KABUPATEN MAGETAN
TAHUN PELAJARAN 2006/2007

No
Tingkat Kesalahan
Nilai Keterangan
Alinea 1 Alinea 2 Alinea 3 Jml
1 3 1 3 7 7 Cukup
2 1 1 3 5 8 Baik
3 2 1 3 6 7 Cukup
4 3 2 3 8 6 Cukup
5 2 1 2 5 8 Baik
6 1 2 0 3 9 Baik
7 3 1 3 7 7 Cukup
8 0 2 0 2 9 Baik
9 2 5 3 10 5 Cukup
10 0 2 0 2 9 Baik
11 2 5 3 10 5 Cukup
12 2 1 2 5 8 Baik
13 2 3 2 7 7 Cukup
14 3 3 2 8 6 Cukup
15 2 1 0 3 9 Baik
16 3 2 2 7 7 Cukup
Jml 31 33 31 95 117
Rata-rata 7.3 Baik
Max 9.0
Min 5.0
110
SD 1.4
Mo 7.0
Median 7.0
Mean 7.3
Kecondongan grafik 0,2 Positif
Penghitungan dengan menggunakan bantuan komputer program Ms. Excel 2003

Keterangan:
Tidak ada kesalahan : nilai 10
Tingkat kesalahan 1 – 3 : nilai 9
Tingkat kesalahan 4 – 5 : nilai 8
Tingkat kesalahan 6 – 7 : nilai 7
Tingkat kesalahan 8 – 9 : nilai 6
Tingkat kesalahan > 9 : nilai 5

56
PEMERINTAH KABUPATEN MAGETAN
DINAS PENDIDIKAN
SEKOLAH DASAR NEGERI KINANDANG 3
Alamat : Desa Kinandang Nomor : ___ Telp. : ________
KECAMATAN BENDO



SURAT KETERANGAN
Nomor : 02/400/416/105.16/07


Yang bertanda tangan di bawah ini, Kepala SDN Kinandang 3, Kecamatan
Maospati, Kabupaten Magetan menerangkan bahwa :
nama : Parno
NPM : 05.311.246/P
program studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
fakultas : Pendidikan Bahasa dan Seni
semester / jenjang : VII / Sarjana Strata 1
benar-benar telah melaksanakan penelitian di sekolah kami guna keperluan penyusunan
skripsi dengan judul: Kemampuan Menggunakan Ejaan yang Disempurnakan dalam
Penulisan Cerita Siswa Kelas 6 SDN Kinandang 3, Kecamatan Bendo, Kabupaten
Magetan Tahun 2006/2007.
Demikian surat keterangan ini dibuat, agar dapat dipergunakan sebagaimana
mestinya.


Kinandang, 14 April 2007

Kepala Sekolah


57

MULJONO, A.Ma.Pd.
NIP. 130405798
58
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Parno, dilahirkan di Desa Carikan, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan
pada tanggal 16 Juni 1963. Pendidikan Dasar di Kecamatan Bendo, tamat SDN
Carikan tahun 1976, SMP Bendo tahun 1980, SPGN Madiun tahun 1983.
Pendidikan berikutnya ditempuh di Universitas Terbuka lulus tahun 1998,
kemudian ia melanjutkan ke Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP PGRI Madiun sampai sekarang.
Mengajar di SDN Kinandang 3 tahun 2001 sebagai guru sampai sekarang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful