You are on page 1of 37

Peluang memiliki merek sendiri bagi industri lokal

Fri, 02/12/2010 - 03:26

Secara sadar ataupun tidak, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menciptakan merk dagang yang bisa membantu
meningkatkan penjualan baik barang maupun jasa, dari artikel Jawa pos yang saya baca, jika pengusaha lokal bisa
memiliki merk dagang untuk produknya, mereka akan memiliki peluang bertahan dipasar dalam jangka waktu yang
lama.

Menurut ketua Aprindo Jatim Abraham Ibnu mengatakan, untuk mendongkrak pertumbuhan penjualan produk UKM
yang masuk ke ritel modern memang membutuhkan waktu. Akan tetapi jika dalam waktu 1-2 tahun mendatang
diupayakan dan diberikan kemudahan bukan tidak mungkin presentasinya bisa mencapai 30 persen dari total produk
yang ada sekarang ini.

Memiliki own brand sendiri memang salah satu kendala investasi bagi pengusaha kecil, namun dengan cara itulah justru
produk UKM bisa bertahan dari serbuan produk import.jadi ada beberapa benefitnya jika memiliki brand name sendiri,
dari pengalaman saya tinggal diluar negri, banyak pengusaha yang sudah memiliki brand name sembari mereka
melakukan marketing, mereka memang usdah menyisihkan dana investasi untuk pengembangan brand atau produk .

Jika hal ini yang menjadi salah satu kendala bagi para pemiliki UKM, sebaiknya mereka membentuk kelompok-
kelompok usaha yang memiliki baranag sejenis untuk bekerja sama dalam mengembangkan usaha mereka secara
bersama, karena akan menekan biaya serta meningkatkan efektifitas dan tidak mengganggu produktivitas.

Ditulis: Yusuf Ariansyah ( Co- founder PT. Republik Patent )


2011, UKM Bisa Gratis Daftar Hak Cipta

Wednesday, 29 December 2010 00:58 Nasional

VIVAnews- Terobosan lain yang dilakukan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
(Kemenkumham) di 2011 nanti berkaitan dengan hak kekayaan intelektual. Kementerian
berencana akan memberikan paket pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) secara
gratis tahun 2011 khusus untuk perguruan tinggi dan pengusaha kecil."Dalam bidang HKI, pada tahun 2011 dalam
rangka menjaring dan memberikan semangat kepada masyarakat khususnya perguruan tinggi dan usaha kecil menengah
yang memiiki paten, cipta, merk, desain industri, akan kami berikan pendaftaran secara gratis tidak bayar sebanyak 600
paket," kata Menteri

Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, di Jakarta, Selasa 28 Desember 2010 malam.Patrialis mengatakan, selama ini
dirinya merasa prihatin karena banyak karya penelitian dan produk dari masyarakat yang tidak dipatenkan. Sehingga,
pemberian paket pendaftaran secara gratis itu bisa mematenkan karya-karya tersebut. "Karena selama ini masyarakat
tidak mendaftarkan hanya karena uang," kata dia.Patrialis mengaku memahami kendala tersebut, terutama bagi
kalangan pengusaha kecil. "Karena selama ini mereka mikir-mikir kalau mau mendaftar. Jangankan untuk mendaftar,
barang yang mereka ciptakan saja belum menghasilkan uang," kata dia.Dia menambahkan, program ini termasuk dalam
program unggulan Kemenkumham tahun 2011. Sementara itu, Kemenkumham dari Januari 2010 hingga Desember
2010 telah berhasil memberikan 69.300 sertifikat merek, 5.182 paten, dan desain Industri yang diberikan berjumlah
3.657.
Hak paten produk UKM sering diabaikan

12 May 2010

BISNIS INDONESIA

SURABAYA Minat pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Jawa Timur untuk mengurus sertifikat hak cipta ataupun
hak desain industri masih rendah yakni sekitar 10% dari 4.2 juta UKM yang ada, karena terkendala ketiadaan biaya.

Sementara itu, fasilitasi dari pemerintah untuk membiayai pengurusan hak atas kekayaan intelektual (HaKI) masih
sangat kurang, sehingga merek dan desain logo yang dibangun UKM rawan pembajakan/penjiplak-an. Sugiarto
Saliman, Direktur PT Dream ID -perusahaan jasa pengurusan HaKI di Surabaya-, mengatakan pertumbuhan UKM yang
cepat di Jatim ini,ik diimbangi dengan meningkatnya kesadaran para pelaku usaha sektor tersebut guna mengurus
sertifikat HaKI.

UKM yang bermunculan itu terutama bergerak di bidang industri dan menghasilkan produk bermerek. Menurut dia,
banyak pelaku UKM yang belum menyadari pentingnya melindungi produk dengan hak cipta dan hak desain industri,
dengan alasan tidak memiliki biaya.

"Para pelaku UKM baru me-nyadari pentingnya mengurus hak cipta maupun hak desain industri sesudah dibajak atau
dijiplak pelaku usaha lainnya," ujarnya seusai memberikan ceramah tentang HaKI di Jurusan Desain Komunikasi
Visual Universitas Ciputra Surabaya, kemarin.

Dia berharap pemberlakuan Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) dapat meningkatkan kesadaran mengenai
pengurusan hak paten tersebut. Sugiarto menambahkan pemerintah perlu memberikan insentif terhadap UKM untuk
mengurus sertifikasi HaKI, mengingat aspek legalitas bidang desain industricukup penting, terlebih produk yang
berorientasi pasar skala nasional maupun ekspor. Berdasarkan data di Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil
Menengah Jawa Timur, di provinsi tersebut terdapat 4,2 juta unit UKM. "Kami memperkirakan UKM di Jatim yang
mengurus sertifikat HaKI baru 10%," tutur Sugiarto.

Sosialisasi HaKI

Di Surabaya diketahui terdapat sejumlah perusahaan jasa pengurusan HaKI yang melayani pengajuan hak paten, hak
merek, hak cipta, hak desain industri. Perusahaan jasa tersebut me-netapkan tanp Rp2 juta per sertifikat, di mana
pengajuannya harus dilakukan di kantor Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta.

Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual UC Surabaya Stevanus Christian mengatakan pentingnya meningkatkan
sosialisasi tentang HaKI kepada mahasiswa, mengingat target perguruan tinggi swasta itu adalah menghasilkan lulusan
yang kelak memiliki perusahaan sendiri. "Selain aspek legalitas usaha, para pemilik perusahaan juga harus memahami
aspek legalitas desain industri," paparnya kemarin.
HKI DAN HALAL BERPOTENSI TINGKATKAN DAYA SAING IKM
26 Nov 2010

Surabaya, 25 November 2010 (Business News)

Salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia, terutama yang diproduksi
oleh usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) adalah melalui peningkatan sumber daya manusia, yang didukung juga
oleh penegakan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) mulai dari merek, hak cipta, dan paten. Karena meningkatkan
daya saing kita di dalam pemberlakuan era AFTA saat ini, selain perlu didukung anggaran, juga bagaimana harus
meningkatkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai pelatihan.

Johno Supriyanto , Deputi Direktur Bidang Aplikasi dan Database, Hak Cipta, Paten, Merek dan Desain Industri
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), menyatakan hal tersebut kepada Business News Rabu, (24/11)
usai pembukaan "Sosialisasi HKI dan Halal bagi UKM," yang diselenggarakan oleh Direktorat Dagang Kecil
Menengah dan Produk Dalam Negeri (DKM dan PDN) Kementerian Perdagangan di Surabaya.

"Negara yang penegakan HaKI-nya maju, maka perekonomiannya juga akan meningkat secara otomatis. Kalau tidak
ada itu, tidak akan bisa membantu meningkatkan kemajuannya. Demikian juga untuk berbagai ekspor, ada beberapa
negara yang mempersyaratkan harus adanya jaminan HaKI dari negara eksportirnya.

Jadi biasanya kalau kita mengikuti pameran, maka untuk produk yang diekspor itu harus ada sertifikat merek, karena
image Indonesia di luar negeri, bahwa Indonesia dikenal banyak memalsu merek. Sementara mereka sangat melindungi
IPR (Intellectual Property Right) nya. Jadi mereka membatasi diri tidak boleh menerima masuknya yang produknya
tidak dilindungi dengan HaKI.

Apalagi perlindungan mereka sangat kuat di AS dengan adanya perwakilan dagang AS (United States Trade
Representative/USTR), mereka selalu menegakkan hukum. Sebaliknya dengan USTR juga kita selalu dicek bagaimana
penegakan HaKI di Indonesia dan juga negara-negara mitra dagang AS.

Selain HaKI, Kementerian Perindag seharusnya memberi juga satu pelatihan bagaimana caranya packaging

(pengemasan produk) dan pelatihan lain sejenisnya, untuk meningkatkan daya saing. Selama ini kebanyakan
pemerintah hanya memfasilitasi saja, khususnya bagi UKM yang akan mendapatkan HaKI harus melalui Kementerian
Perindustrian dan Perdagangan, tetapi untuk mengarah ke desain dan packaging masih kurang sekali.

Di sisi lain dirasa juga perlu sekali, adannya pelatihan HaKI, karena saat ini dirasa juga masih kurang banyak konsultan
HaKI di Indonesia, karena di seluruh Indonesia hanya ada 250an tenaga konsultan HaKI, sementara di Jepang jumlah
konsultannya sudah di atas 1000. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 230 juta jiwa, sebenarnya
idealnya jumlah konsultan HaKI di atas 2000.

Kadisperindag Baru Sedikit yang Terapkan HaKI dan Halal

Fattah Jasin, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Pemprov Jatim menyatakan kepada
Business News, sosialisasi ini manfaatnya cukup besar bagi UKM di wilayah Jatim, karena dari 4,2 juta UKM di Jatim
yang tersebar mulai dari wilayah Lamongan, Bojonegoro, Mojokerto, dan Gresik, yang tersebar di 39 kabupaten-kota,
diperkirakan baru antara 20 s/d 30 persen yang sudah punya sertifikat HaKI.

Sementara yang sudah memiliki sertifikat halal juga masih belum terlalu banyak. Itu sebabnya diharapkan Pemda akan
lebih mengkonsentrasikan diri pada UKM, terutama yang bergerak di bidang produk makanan dan minuman. Potensi
Jatim yang terbesar adalah pada industri agro.

Karena sebenarnya bahan baku alam di Jatim cukup tersedia, maka sampai saat ini baru struktur pertumbuhan di sektor
ekonomi, maka di sektor pertanian dirasa masih kecil karena hanya dikonsumsi, sehingga belum disentuh dengan
investasi, sehingga menjadi industri yang menghasilkan nilai tambah. Dengan demikian upayanya dirasa belum
maksimal.

Data yang disajikan menggambarkan selama tahun 2008 di Jatim, telah dihasilkan dua hak paten, 60 merek, dua puluh
hak cipta, dan dua indikasi geografis atau indikasi asal. Sedang tahun 2009 telah difasilitasi 50 merek, 25 hak cipta, dan
tahun ini dihasilkan 25 desain produk, 50 merek, dan 50 hak cipta. (Mi)
Ribuan UKM belum daftarkan merk usahanya

Selasa, 22 Juni 2010 | 21:03 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ribuan Usaha Kecil Menengah (UKM) hingga kini, masih banyak yang belum
mendaftarkan merk dagang usahanya. Hal ini bukan lantaran rendahnya kesadaran UKM dalam menegakkan Hak
Kekayaan Intelektual (HAKI), namun UKM merasa keberatan dengan porses pengurusannya yang susah, ditambah
birokrasi yang rumit

Juga, biaya pendaftaran untuk merk dinilai terlalu mahal. Biaya pendaftaran merk bagi industri besar sebesar
Rp600.000, dan UKM hanya Rp300.000. Namun uang pendaftaran sebesar itu, masih dirasakan sangat memberatkan,
ungkap Tjut Sjahnaz Zahirsjah, Biro Humas Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual Indonesia (AKHKI) di
Jakarta, Selasa (22/6/2010).

Selain itu, sambung Sjahnaz, masih banyak UKM yang tidak paham betul tentang HAKI terkait merk dan patent. Ini
berarti sosialisasi serta pemahaman tentang HAKI bagi UKM masih sangat kurang dan belum merata.

Dikatakan, saat ini perusahaan besar hingga kecil di Indonesia, yang sudah mendaftarkan merk di Dirjen HAKI
Kementerian Hukum dan HAM mencapai 40% perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN), sisanya 60%
adalah perusahaan luar negeri (PMA) yang menanamkan modalnya di Indonesia. Di Bali, perusahaan besar maupun
UKM yang sudah mendaftarkan merk usahanya 80% adalah perusahaan asing dan sisanya perusahaan lokal.

Sedangkan yang mendaftarkan patent hingga kini 90% merupakan perusahaan asing, dan hanya 10% perusahaan
nasional yang sudah memiliki patent. Untuk perusahan dan UKM di Bali, yang mendaftarkan baru hanya 2 perusahaan.
Satu perusahaan diantaranya perusahaan industri kecil kipas Bali.

"Kondisi ini memang sangat memprihatinkan. Apalagi Bali dikenal sebagai sentra industri kerajinan, jangan sampai
nanti yang mematentkan orang asing sehingga pengrajin lokal semakin berkutik. Karenanya, kami bersama Sekar Saji
Nusantara menggelar talk show dengan para pengrajin, UKM di Gianyar Bali untuk menyadarkan agar mendaftarkan
merk usahanya," paparnya.

Marayuna A Nasution, pengurus Sekar Saji Nusantara - lembaga nirlaba yang aktif dan konsisten dalam menggali
potensi sosial budaya di Bali menggelar event Gempita Gianyar 2010, di Ubud Bali, pada 30 Juni - 4 Juli mendatang.
Gempita Gianyar yang ke3 kalinya ini, merupakan festival budaya sebagai ajang apresiasi, serta pelestarian seni dan
budaya Bali.

"Diantara festival itu, kami mengelar talk show bagi pengrajin di Gianyar tentang Hak Kekayaan Intelektual untuk
menyadarkan perlunya memiliki merk dan patent," ucap Marayuna, juga Ketua Panitia Gempita Gianyar. Kbc10
Hak Paten dan Hak Merek

Dec 26, 2010 by miswan

“Saya sedang mengembangkan usaha resto lunak. Saya ingin tahu bagaimana caranya mengurus hak paten dan merek,
kisaran harganya dan ke mana saya mengurusnya?”

Pendaftaran merek untuk UKM, sebenarnya ada dua macam. Satu merek dagang punya UKM itu sendiri, dan satu lagi
merek dagang milik komunitas. Kalau merek dagang dari usaha milik UKM sendiri memang harus mau nggak mau
didaftarkan. Tetapi ada juga merek dagang milik komunitas seperti tahu kediri, bakpia pathuk, batik laweyan. Yang
seperti itu tidak perlu didaftarkan, jadi bukan keharusan dan pemeritah bisa membantu dalam pendaftaran merek
komunitas ini. Tapi merek untuk perusahaannya sendiri harus didaftarkan.

Sejauh ini banyak pelaku bisnis UKM yang tahu kalau mendaftarkan merek pasti pakai ongkos, tapi sebetulnya yang
mahal bukan biaya pendaftarannya melainkan pengembangan merek itu sendiri, seperti lewat promosi dan itu kendala
bagi UKM.

Kalau produk yang sudah pakai merek yang didaftarkan kemudian ditiru, saya artikan ditiru itu ada dua macam.
Pertama ada hak yang dipakai orang lain, tapi selama tidak mengganggu tidak apa-apa dan kedua artinya produk itu
dianggap baik, sehingga orang meniru berarti ikut membantu mempromosikan merek tersebut. Pendaftaran ke
Departemen Kehakiman dan biayanya sebenarnya tidak mahal, yang jauh lebih mahal adalah pengembangan merek
seperti promosi. Itu kendala UKM, dan bagi UKM bisa memakai merek komunitas untuk mengatasi kendala itu.
Sedangkan untuk pendaftaran hak paten produk terhadap penemuan atau inventory itu berlaku pada perorangan yang
menemukan penemuan khusus. Pendaftarannya juga ke Departemen Kehakiman.

Pengurusan hak paten dan pendaftaran merek bagi UKM diperlukan untuk melindungi hasil produksi sektor usaha kelas
menengah ke bawah dari pemalsuan. Bagi pengusaha UKM umumnya enggan mengurus hak paten produksinya/HaKI
karena birokrasi panjang dan biaya mahal. Keengganan UKM mengurus HaKI juga tak terlepas dari budaya dan
kurangnya pemahaman tentang HaKI. Prosedurnya sebenarnya mudah, apalagi sekarang Dinas Perindustrian dan
Perdagangan di daerah bisa membantu UKM mendaftarkan HaKI ke Ditjen HaKI Depkeh dan HAM di Tangerang telp.
021-5524992, 021-55796586. Klinik konsultasi HaKI Industri dan Dagang Kecil Menengah (IDKM) Depperindag.
Klinik Konsultasi HaKI Industri Departemen Perindustrian sudah ada di propinsi seluruh Indonesia. Kehadiran Klinik
ini adalah untuk menjembatani dan memfasilitasi UKM supaya mereka tidak mengalami kesulitan mendaftar design
industri, merek atau paten.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 50/2001 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) menyebutkan proses
pendaftaran merek dagang hanya Rp. 450.000,-, ditambah biaya penelusuran apakah merek produk tersebut sudah
terdaftar atau belum Rp. 125.000,-, serta biaya administrasi dan transportasi. Jadi, total biaya pengurusan merek dagang
hanya sekitar Rp. 800.000,-, sedangkan untuk design industri biayanya Rp. 600.000,- dan biaya HaKI maksimal adalah
hak paten yang mencapai Rp 5 juta. Kementrian Koperasi dan UKM juga ikut memfasilitasi beberapa UKM untuk
mendapatkan merek. Sehingga produk mereka tidak mudah ditiru oleh pemodal besar lainnya. Fasilitas pengurusan hak
paten dan merek itu dimaksudkan untuk mempercepat proses borokrasi yang sebelumnya menjadi kendala UKM untuk
mengurus keperluan tersebut.

Sumber:

Arsip Bisnis

Handito Hadijuwono,

Managing Partner Arrbey Indonesia


Kemenegkop dan UKM Perkuat KUMKM Kerjasama Saling Menguntungkan
dengan Industri
Written by Artikel
Wednesday, 02 June 2010 14:41
Kantor Kementerian Negara Koperasi dan UKM masih terus memperkuat dan memperluas pelaku usaha KUMKM
(Koperasi,Usaha Mikro. Kecil dan Menengah) yang wajar memiliki HAKI (Hak Kekayaan In-telektual) dan Merek dan
Dephuk dan HAM bagi produknya untuk menghindari klaim dari luar Termasuk memfasilitasi KUMKM masuk ke
dalam sentra-sentra yang potensial bahkan lebih jauh setelah dibekali melalui pembinaan mendorong KUMKM yang
berusaha di sektor spare-part otomotif masuk ke dalam kawasan industri otomotif

Demikian Asdep Urusan Pemberdayaan Lembaga Pengembangan Bisnis, Bonar Hutauruk,MM dan Asdep Urusan
Fasilitasi Investasi KUMKM, Maleawan Basuki Suraryo pada Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi
KUMKM Kantor Kemenegkop dan UKM dalam wawancara khusus dengan SENTANA di kantornya, Kamis (3/9)

Bonar Hutauruk mengatakan, program utama Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi KUMKM itu meliputi
Program Pemberdayaan/Fasilitasi KUMKM agar produknya yang potensial dan layak mendapatkan sertifikat desain,
merek dan paten "Kita kumpulkan KUMKM itu di ibukota provinsi, sosialisasi tentang pentingnya hak paten dan merek
bagi perlindungan produknya secara hukum hingga pendampingan mereka agar cepat keluar sertifikatdesain, merek dan
paten," ujarnya.

Mereka juga dibekali ilmu penggunaan teknologi tepat guna melalui training of trainer (ToT) sehingga produknya layak
dipasarkan dan mendapat tempat di hati konsumen karena mutu serta desainnya yang up to date "Bahkan setelah kita
lakukan pula lomba desain, memperkaya desain dari para desainer andal," ujarnya.

Selain itu kata mereka, Kemenegkop dan UKM juga memberda-yaan dalam pengenalan teknologi tepat guna sekalis
transfer-of tecnology setelah dilatih masuk ke dalam sentra-sentra yang ada di kabupaten dan kota Bahkan hingga kini
sudah ada 30 KUMKM yang difasilitasi masuk ke dalam 3 Kawasan Industri yakni Kawasan Industri Furniture, Jawa
Tengah, satu koperasi di Kawasan di Kalteng, Kawasan Industri Konsumtif di Jababeka,Cikarang Bekasi dan Kawasan
Industri Otomotif dibawah Yayasan Dana Bhakti Astra.

"Ada hal-hal atau perlengkapan/ spare-parts yang telah dikontrak-kan ke KUMKM, karena tidak semua komponen itu
diproduksi oleh perusahaan industri otomotif besar di tanah air Inilah arti atau tujuan sesungguhnya kemitraan antara
pengusaha kecil dengan besar di sektor bisnis di tanah air ini, sehingga semua bisa hidup artinya berlaku hukum saling
menghidupi," ujar Bonar.

Dikatakan, pada program yang sama tahun 2010 akan diperluas artinya akan diupayakan lebihbanyak KUMKM masuk
ke dalam sentra dan kawasan industri besar "Jika di dalam kawasan atau sentra selain dapat menghemat biaya juga pihak
besar dapat pula cepat memberi "ilmu dan desain" yang berkembang untuk dibuat oleh KUMKM sesuai dengan
pesanannya," ujarnya

Ada pula katanya penguatan BDS (Bussiness Development Service) atau Lembaga Pengembangan Bisnis yang tercatat
sudah 900 BDS memfasiltiasi KUMKM berakses ke bank,atau mendapatkan kredit. Bahkan memperkuat Perusahaan
Modal Ventura (PMV) sebagai mitra dengan LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) dalam menggulirkan Dana
Bergulir. "Tahun ini kita tingkatkan kapasitas BDS itu, sehingga orang-orang di dalam BDS semakin terampil
mendampingi dan atau membuat proposal mendapatkan kredit bagi KUMKM," ujarnya

Menjawab pertanyaan lainnya, Maleawan Basuki Suraryo mengatakan, tidak ada kendala dalam penyerapan anggaran
program Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha KUMKM tahun 2009 ini "Dari total alokasi anggaran
tahun 2009 sebesar Rp 27 miliar itu sekitar 52 % sudah terserap Jadi sudah berjalan sesuai dengan mekanisme,"
tambahnya Kalau tahun lalu (2008) pihaknya mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp 35 miliar. "Memang tahun ini,
turun," katanya

Sumber : Sentana
Lindungi Produk Anda dengan Hak Cipta, Hak Paten dan Merek Dagang

Posted 22 May 2010 by ummu harunmusa in bisnis. 4 Comments

Anda masih ingat artikel saya tentang diferensiasi produk? Pada artikel tersebut saya kutipkan pernyataan dari om
Hermawan bahwa untuk mendapatkan tempat di hati konsumen, anda harus didukung dengan diferensiasi yang kuat.

Khususnya jika produk atau jasa anda bersaing di pasar yang ketat. Masalahnya adalah, sering-seringnya diferensiasi
produk anda ini dicuri orang. Anda susah-susah buat produk yang berbeda, tiba-tiba kompetitor anda main jiplak sana
sini.

Biar “hasil karya” anda aman, anda harus segera urus perlindungannya. Caranya dengan mengurus perlindungan Hak
Atas Kekayaan Intelektual, atau biasa dikenal dengan HAKI. Kelihatannya nggak penting-penting amat ya. Apalagi
harus keluar duit banyak.

Tapi percayalah, jangan pernah anda sepelekan masalah HAKI ini. Walaupun usaha anda “hanya” termasuk jenis
UKM. Ada seorang pengusaha besar hancur gara-gara ia tidak mengindahkan nasehat pengacara bisnisnya untuk segera
mematenkan produknya.

Kesuksesannya hancur dalam sekejap. Produknya dijiplak habis-habisan oleh perusahaan besar dari negara lain. Karena
kalah modal, akhirnya si pengusaha ini gulung tikar.

Back to the topic, jika anda ingin melindungi kekayaan intelektual anda, perlindungan HAKI ini bisa dikategorikan ke

dalam 3 bentuk utama. Anda tinggal memilih mau menggunakan yang mana. Tiga-tiganya juga bisa…

1. Hak Paten

Kalau menurut UU Paten No. 13 Tahun 1997, hak paten adalah hak khusus yang diberikan negara kepada
penemu atas hasil penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanankan sendiri
penemuannya tersebut atau memberikan persetujuan kepada orang lain untuk memberikan. Jadi hak paten
adalah sebuah hak eksklusif jika anda menjadi seorang penemu untuk membuat, menggunakan atau menjual
temuan anda selama jangka waktu tertentu. Jika anda mempunyai desain suatu produk baru, dalam pengertian
teknik hal itu mungkin bukan temuan. Tetapi ide desain produk baru anda itulah yang merupakan kekayaan
intelektual.

2. Merek Dagang

Merek dagang adalah tanda yang digunakan untuk barang atau jasa yang diperdagangkan. Bisa berupa huruf,
kata, angka, gambar atau kombinasi dari unsur tersebut. Merek dagang bisa menunjukkan keaslian atau
kepemilikan atas sebuah barang dagangan. Secara hukum, penggunaannya merek dagang eksklusif bagi
pemiliknya sebagai pembuat atau penjual. Termasuk diantaranya adalah jika anda mempunyai logo, lencana
atau nama domain yang khusus.Semuanya dapat dilindungi dengan merek dagang.

3. Hak Cipta

Menurut UU Hak Cipta Pasal 1 Ayat (1), yang dimaksud dengan hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta
atau penerima hak untuk menggunakan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan ijin untuk itu
dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mumet ya? Gampangnya bisa anda lihat pada penjelasan berikut ini. Jenis perlindungan hak cipta ini adalah
untuk karya berupa karangan asli ang tetap dalam suatu media ekspresi seperti gambar, grafis, karya seni ukir,
rekaman atau karya arsitektur. Tapi yang harus anda ketahui, perlindungan hak cipta tidak dapat digunakan
pada ide, prosedur, proses ataupun konsep. Tapi kalau bahan situs web umumnya mempunyai hak cipta.

Jadi mulai sekarang jika anda mempunyai ide bisnis yang berkaitan dengan produk yang benar-benar unik dan menjual,
segera lindungi produk anda tersebut. Entah dengan hak paten, merek dagang atau dengan perlindungan hak cipta.
Apapun jenis bisnis anda, lindungilah kekayaan intelektual anda. Tinggal anda sesuaikan saja, mana yang harus anda
urus HAKI-nya. Walaupun anda merasa produk anda belum sempurna. Jangan tunggu produk anda sempurna.
Tidak ada produk yang benar-benar sempurna.

Yang penting produk anda tidak berada di luar harapan pasar. Daripada anda menyesal di kemudian hari, lebih baik
mulai dari sekarang sisihkan anggaran buat mengurus hak atas kekayaan intelektual tersebut. Anda tidak ingin
mengalami nasib seperti pengusaha besar yang saya sebutkan di atas tadi kan?

sumber : http://www.dokterbisnis.net/2010/05/18
Paten, Hak Cipta, Merek Dagang
Wed Mar 9, 2011

Paten

Kata paten, berasal dari bahasa inggris patent, yang awalnya berasal dari kata patere yang berarti membuka diri (untuk
pemeriksaan publik), dan juga berasal dari istilah letters patent, yaitu surat keputusan yang dikeluarkan kerajaan yang
memberikan hak eksklusif kepada individu dan pelaku bisnis tertentu.

Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2001 pasal 1 ayat 1 tentang Paten, Paten adalah hak eksklusif yang diberikan
oleh Negara kepada Inventor (penemu) atas hasil Invensinya (penemuannya) di bidang teknologi, yang untuk selama
waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk
melaksanakannya.

Pemberian hak paten bersifat teritorial, yaitu, mengikat hanya dalam lokasi tertentu. Dengan demikian, untuk
mendapatkan perlindungan paten di beberapa negara atau wilayah, seseorang harus mengajukan aplikasi paten di
masing-masing negara atau wilayah tersebut.

Subjek yang dapat dipatenkan:

1. ProsesProses mencakup algoritma, metode bisnis, sebagian besar perangkat lunak (software), teknik medis,
teknik olahraga dan semacamnya.
2. MesinMesin mencakup alat dan aparatus.
3. Barang yang diproduksi dan digunakanBarang yang diproduksi mencakup perangkat mekanik, perangkat
elektronik dan komposisi materi seperti kimia, obat-obatan, DNA, RNA, dan sebagainya.

Hak Cipta

Hak cipta (lambang internasional: ©) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur
penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin
suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah
atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan
sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio
dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.

Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang
Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau
penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).

Merek Dagang

Merek atau merek dagang (Trade Mark) adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan produk/ jasa dan
menimbulkan arti psikologis/ asosiasi.

Secara konvensional, merek dapat berupa nama, kata, frasa, logo, lambang, desain, gambar, atau kombinasi dua atau
lebih unsur tersebut.

Di Indonesia, hak merek dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Jangka waktu perlindungan untuk
merek/indikasi geografis adalah sepuluh tahun dan dapat diperpanjang, selama merek tetap digunakan dalam
perdagangan.
Sabtu, 07 Agustus 2010

Produk UMKM Harus Miliki Hak Paten

DEMANG HARDJAKUSUMA,(GM)-

Pemkot Cimahi menekankan tentang pentingnya hak paten bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM). Dengan demikian mereka akan berupaya melindungi produk-produk asli Cimahi. Pasalnya hingga
kini baru 30% UMKM di Cimahi yang baru mematenkan produknya

"Beberapa hak paten ini kalau ada yang sudah diproduksi di Cimahi harus kita sikapi, jangan sampai produk-
produk tersebut diakui oleh orang lain. Ke depannya semua produk harus memiliki hak paten," tegas Wali
Kota Cimahi, Itoc Tochija saat ditemui gedung pemkot, Jumat (6/8).

Terkait hal itu, pemerintah telah menyiapkan anggaran tahun 2011 dalam memaksimalkan hak atas kekayaan
intelektual UMKM di Kota Cimahi. Diakuinya produk Cimahi yang sudah memiliki hak paten sebesar 30%
yaitu batik.

"Kota Cimahi sedang digodok menuju kota industri kreatif. Jadi sudah selayaknya pemerintah memberikan
dukungan. Salah satunya dengan memberikan hak paten terhadap karya industrinya," ungkapnya.

Itoc mengaku bangga, karena sejauh ini tidak sedikit masyarakat yang mengajukan Izin Peruntukan
Penggunaan Tanah (IPPT) untuk usaha di Kota Cimahi. Bahkan untuk tahun ini yang mengajukan IPPT naik
hingga 3 sampai 4 kali lipat.

"Kebanyakan usaha mereka bergerak di bidang otomotif, industri rumah tangga, hingga handicraft. Untuk
industri rumah tangga dan handicraft, bahkan sudah banyak yang memiliki pesanan rutin, yakni dari hotel-
hotel di wilayah Bandung Raya," katanya.

Selain diberikan hak paten, lanjut Itoc, para pelaku UMKM di Kota Cimahi juga akan diberikan modal. Dia
menyampaikan, jumlah modal memang tidak banyak. Namun yang terpenting, pemerintah juga memberikan
penyuluhan peningkatan SDM terhadap pelaku UMKM tadi

Sementara itu, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Cimahi, Atty Suharti Tochija
mengatakan, dengan pertumbuhan pelaku UMKM yang pesat di Kota Cimahi, pihaknya tidak akan berhenti
menjembatani para pelaku UMKM dengan pemerintah.

"Kami mencoba memberikan fasilitas yang diharapkan, akan mengembangkan UMKM di Kota Cimahi.
Salah satunya lewat beberapa pelatihan keterampilan. Kendati demikian, para usahawan jangan lantas
menggantungkan bantuan kepada pemerintah. Kalau bisa kemandirian para pelaku UMKM ini dapat lebih
ditingkatkan," tuturnya seraya menambahkan, sampai sekarang pihaknya mencatat sekitar 400 pelaku
UMKM di Kota Cimahi dan 80% di antaranya masih aktif.
Pelatihan HKI bagi UKM
Oleh BL

Jumat, 04 Maret 2011 09:05

Dalam ekonomi berbasis pengetahuan saat ini, strategi paten dari perusahaan inovatif harus menjadi faktor kunci dalam
menjalankan bisnisnsnya,.Usaha kecil dan menengah juga didorong untuk mengetahui mengenai HKI ini dengan
tujuan mengintegrasikan teknologi dan kepemilikan hak paten kedalam keseluruhan bisnisnya, Manfaat HaKI bagi
UKM diantaranya sebagai asset berharga untuk memberikan daya dukung bagi pengembangan usaha UKM sebagai
tameng pencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat dan menjadi pemicu peningkatan daya saing.Merek pula
menjadi motor untuk peningkatan inovasi dan kreativitas. Merek sebagai alat untuk pencitraan image dari suatu
produk.

Sebagian Kelompok Usaha Kecil menganggap bahwa merek hanya perlu untuk produk-produk yang dimiliki oleh
perusahaan besar saja, sedang untuk kelompok Usaha Kecil tidaklah penting sebuah merek. Selain itu ada
kekhawatiran dengan menggunakan merek tertentu akan menyebabkan pengeluaran untuk pajak membengkak.
Pemikiran-pemikiran semacam ini semestinya perlu ditinjau ulang, karena dengan menciptakan sebuah merek untuk
produknya akan menjadi kunci sukses bisnis usaha kecil dalam memasark hasil-hasil produksinya.

Sehubungan dengan hal tersebut Kadin Jabar telah mengadakan pelatihan HKI pada tanggal 24 Februari 2011
bertempat Di Sekretariat Kadin Jawa Barat di Komp.Surapati core. Adapun narasumber terdiri

Pamelia Yulianto,SH .,M.Law dari konsultan HKI membahas mengenai Jenis-jenis HKI, dan pentingnya HKI untuk
Pengembangan UKM

Sudjana dari akademisi membahas mengenai HKI merek dalam rangkat meningkatkan kreatifitas

C.Wawan Riawan,SH,MH dari Kementrian Hukum dan HAM Kanwil Jawa Barat
Pendaftaran Hak Paten UKM Masih Rendah
KAMIS, 24 JUNI 2010, 14:45 WIB

Arinto Tri Wibowo, Ferial

VIVAnews - Pemerintah menargetkan peningkatan pendaftaran hak paten dari usaha kecil dan menengah (UKM)
sebesar 15 persen pada 2015. Saat ini, UKM yang sudah mendaftarkan hak patennya sebagai hak atas kekayaan
intelektual (HAKI) mencapai 63 ribu.

"Dari 63 ribu yang sudah mendaftar saat ini paling tertinggi dari Jepang," kata Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Kementerian Hukum dan HAM, Andy Noorsaman Sommeng, usai seminar Pekan Produk Kreatif di Jakarta Convention
Centre (JCC), Kamis 24 Juni 2010.

Sementara itu, menurut dia, dari dalam negeri sejak penerapan perdagangan bebas ASEAN dan China (ACFTA), baru
lima persen UKM yang mendaftar. "Dengan demikian, diharapkan target 15 persen tersebut bisa dicapai," tuturnya.

Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Badan Pengembangan Ekspor
Nasional (BPEN) Kementerian Perdagangan dengan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HKI)
Kementerian Hukum dan HAM.

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Kepala BPEN, Hesti Indah Kresnarini, dan Direktur Jenderal HKI,
Andy Noorsaman Sommeng.

Penandatanganan kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan koordinasi dan kerja sama yang sinergis dan produktif
antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan HAM serta meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
dan pemanfaatan sistem HKI di kalangan pelaku UKM.

Terkait dengan itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menuturkan, dengan ditandatanganinya MoU dengan
Ditjen HKI, pihaknya optimistis Indonesia dapat keluar dariPriority Watch List.

"Harus optimis, karena kita komitmen dan bekerja keras untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada semua pihak
agar bisa keluar dari daftar ini," kata dia.

Sementara itu, Andy menjelaskan, kendala bagi industri kreatif untuk mendaftarkan HAKI adalah kurangnya sosialisasi,
sehingga diharapkan ke depan upaya tersebut lebih gencar dilakukan.
Kemenegkop dan UKM Perkuat KUMKM Kerjasama Saling Menguntungkan dengan
Industri
Written by Artikel

Wednesday, 02 June 2010 14:41

Kantor Kementerian Negara Koperasi dan UKM masih terus memperkuat dan memperluas pelaku usaha KUMKM
(Koperasi,Usaha Mikro. Kecil dan Menengah) yang wajar memiliki HAKI (Hak Kekayaan In-telektual) dan Merek dan
Dephuk dan HAM bagi produknya untuk menghindari klaim dari luar Termasuk memfasilitasi KUMKM masuk ke dalam
sentra-sentra yang potensial bahkan lebih jauh setelah dibekali melalui pembinaan mendorong KUMKM yang berusaha di
sektor spare-part otomotif masuk ke dalam kawasan industri otomotif

Demikian Asdep Urusan Pemberdayaan Lembaga Pengembangan Bisnis, Bonar Hutauruk,MM dan Asdep Urusan Fasilitasi
Investasi KUMKM, Maleawan Basuki Suraryo pada Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi KUMKM Kantor
Kemenegkop dan UKM dalam wawancara khusus dengan SENTANA di kantornya, Kamis (3/9)

Bonar Hutauruk mengatakan, program utama Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi KUMKM itu meliputi
Program Pemberdayaan/Fasilitasi KUMKM agar produknya yang potensial dan layak mendapatkan sertifikat desain, merek
dan paten "Kita kumpulkan KUMKM itu di ibukota provinsi, sosialisasi tentang pentingnya hak paten dan merek bagi
perlindungan produknya secara hukum hingga pendampingan mereka agar cepat keluar sertifikatdesain, merek dan paten,"
ujarnya.

Mereka juga dibekali ilmu penggunaan teknologi tepat guna melalui training of trainer (ToT) sehingga produknya layak
dipasarkan dan mendapat tempat di hati konsumen karena mutu serta desainnya yang up to date "Bahkan setelah kita lakukan
pula lomba desain, memperkaya desain dari para desainer andal," ujarnya.

Selain itu kata mereka, Kemenegkop dan UKM juga memberda-yaan dalam pengenalan teknologi tepat guna sekalis transfer-of
tecnology setelah dilatih masuk ke dalam sentra-sentra yang ada di kabupaten dan kota Bahkan hingga kini sudah ada 30
KUMKM yang difasilitasi masuk ke dalam 3 Kawasan Industri yakni Kawasan Industri Furniture, Jawa Tengah, satu koperasi
di Kawasan di Kalteng, Kawasan Industri Konsumtif di Jababeka,Cikarang Bekasi dan Kawasan Industri Otomotif dibawah
Yayasan Dana Bhakti Astra.

"Ada hal-hal atau perlengkapan/ spare-parts yang telah dikontrak-kan ke KUMKM, karena tidak semua komponen itu
diproduksi oleh perusahaan industri otomotif besar di tanah air Inilah arti atau tujuan sesungguhnya kemitraan antara
pengusaha kecil dengan besar di sektor bisnis di tanah air ini, sehingga semua bisa hidup artinya berlaku hukum saling
menghidupi," ujar Bonar.

Dikatakan, pada program yang sama tahun 2010 akan diperluas artinya akan diupayakan lebihbanyak KUMKM masuk ke
dalam sentra dan kawasan industri besar "Jika di dalam kawasan atau sentra selain dapat menghemat biaya juga pihak besar
dapat pula cepat memberi "ilmu dan desain" yang berkembang untuk dibuat oleh KUMKM sesuai dengan pesanannya,"
ujarnya

Ada pula katanya penguatan BDS (Bussiness Development Service) atau Lembaga Pengembangan Bisnis yang tercatat sudah
900 BDS memfasiltiasi KUMKM berakses ke bank,atau mendapatkan kredit. Bahkan memperkuat Perusahaan Modal Ventura
(PMV) sebagai mitra dengan LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) dalam menggulirkan Dana Bergulir. "Tahun ini kita
tingkatkan kapasitas BDS itu, sehingga orang-orang di dalam BDS semakin terampil mendampingi dan atau membuat proposal
mendapatkan kredit bagi KUMKM," ujarnya

Menjawab pertanyaan lainnya, Maleawan Basuki Suraryo mengatakan, tidak ada kendala dalam penyerapan anggaran program
Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha KUMKM tahun 2009 ini "Dari total alokasi anggaran tahun 2009
sebesar Rp 27 miliar itu sekitar 52 % sudah terserap Jadi sudah berjalan sesuai dengan mekanisme," tambahnya Kalau tahun
lalu (2008) pihaknya mendapatkan alokasi anggaran sekitar Rp 35 miliar. "Memang tahun ini, turun," katanya

Sumber : Sentana
Jumat, 16 April 2010
Hak Merek : Jateng baru memiliki 400 UMKM yang memiliki Hak Merek Dagang
Dari total 3,6 juta unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Provinsi Jawa Tengah baru 400 yang mempunyai
hak merek dagang. Rendahnya kesadaran mendaftarkan hak merek dagang disebabkan beberapa faktor, antara lain
lamanya waktu pengurusan dan biaya.

Sebab, paling cepat 1,5 tahun sebuah UKM baru bisa mendapat merek dagang yang didaftarkan dengan biaya minimal
Rp 900.000.

Ini diungkapkan Kepala Seksi Pemasaran dan Jaringan Usaha Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Sri
Murti Eni di sela-sela sosialisasi hak merek dagang di Solo, Kamis (16/4).

Menurut Sri Murti, memiliki hak merek dagang memberi keuntungan, baik dari segi ekonomi maupun perlindungan
produk. Ia memberi contoh, sebuah UKM yang memproduksi bokor kuningan di Juwana, Pati, pernah kalah dalam
klaim terhadap produsen serupa di Sumatera yang berproduksi belakangan namun lebih cepat dalam mendaftarkan
merek dagang yang sama dengan merek yang dipakai produsen di Juwana.

"Kalau suatu saat ada produk tiruan, kita bisa mengklaim si peniru karena kita sudah punya merek dagangnya lebih
dulu. Biasanya pengusaha baru mau mendaftarkan mereknya kalau sudah kena masalah," kata Sri Murti.

Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah tahun ini menganggarkan bantuan Rp 450.000 per UMKM untuk 20 UMKM
yang ingin mendaftarkan merek dagangnya. Dinas akan melakukan seleksi ketat terhadap UMKM yang ingin
difasilitasi pendaftaran merek dagangnya. Sebagian besar UMKM yang telah dibantu bergerak di bidang makanan dan
minuman.

"Agar jangan sampai ketika sertifikat merek dagangnya sudah keluar, usahanya malah baru gulung tikar kena krisis,
misalnya. Kami melihat daya tahan usaha yang akan kami bantu," katanya.

Dinas Koperasi dan UMKM Kota Solo pada tahun 2008 juga menganggarkan bantuan serupa, namun hanya tiga
UMKM yang mendaftar. Itu pun rontok di tengah jalan saat harus merevisi namanya karena sudah digunakan pihak
lain.

"Karena itu, tahun ini kami tidak menganggarkan lagi. Kami alihkan untuk sosialisasi meningkatkan kesadaran merek
dagang," kata Kepala Dinkop dan UMKM Kota Solo Febria Roekmi Evy.

Salah satu pengusaha, Dedy Rustiono, yang telah mempunyai tiga merek dagang mengatakan, memiliki merek dagang
sangat diperlukan terutama menghadapi pasar bebas. Terakhir, ia mendapatkan merek dagang untuk perusahaannya
yang memproduksi alat-alat pertanian yang baru. Merek itu baru diperoleh setelah empat tahun didaftarkan.

Merek dagang bisa diwariskan dan bisa menjadi kebanggaan nasional. Ini tidak persis analogi, tetapi jangan sampai
kasus nama tempe dan batik yang diklaim negara lain terulang lagi," kata Dedy.

sumber : www.kompas.com
Hak Merek : Rocket perkarakan merek Element

Rocket Trademarks Pty Ltd. perusahaan berbasis di Australia, diketahui melayangkan gugatan pembatalan merek
Element yang terdaftar atas nama salah satu pengusaha lokal. Gugatan itu terdaftar di KepanJteraan Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat No. 12/MEREK/2010/PN.N1A GA.JKT.PST.

Pihak Rocket menuding Kenny Wirya, salah seorang pengusaha lokal, telah beriktikad tidak baik dalam mendaftarkan
merek Element Daftar No. IDM000128368, pada 29 Juli 2004, untuk melindungi barang yang ada dalam kelas 25.
Barang-barang yang ada dalam kelas 25 a.l. segala macam pakaian jadi seperti kemeja, jaket, jas, mantel, kaus oblong,
celana pendek, celana panjang, pakaian renang, pakaian dalam, kaus kaki, sepatu.

Pendaftaran itu dinilai penggugat (Rocket) dengan iktikad tidak baik karena mempunyai persamaan pada pokoknya
dengan merek Element dan lukisan milik perusahaan asal Australia itu, yang diklaim sebagai merek terkenal.
Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemarin kembali menggelar sidang antara kedua pihak dengan agenda replik dari
penggugat.

Sidang yang dipimpin oleh majelis hakim Nirwana akhirnya ditunda hingga 24 Maret dengan agenda penyampaian
duplik dari tergugat. Berdasarkan dokumen resmi yang diperoleh di pengadilan, penggugat melalui kuasa hukumnya
dari Suryomurcito Co, menyebutkan pihaknya telah mengajukan permohonan pendaftaran merek Element dan lukisan
No. Agenda D00.2009.040165 pada 8 Desember 2009 untuk melindungi tating dalam kelas 25.

Akan tetapi, menurut penggugat, temyata tergugat telah mendaftarkan merek Element Daftar No. IDM000128368,
tertanggal 29 Juli 2004. untuk melindungi barang yang ada dalam kelas 25. Pemilik sah Di lain pihak, kuasa hukum
tergugat Happy SP Sihombing, menolak dalil yang diajukan penggugat dengan mengklaim bahwa pihaknya merupakan
pemilik, pendaftar per-. tama, dan pemilik tunggal dari merek Element di Indonesia.

"Tergugat adalah pemilik sah dari merek Element di negara kesatuan RI berdasarkan pendaftaran merek
IDM000128368 tertanggal 29 Juli 2004 dan berhak mendapatkan perlindungan hak merek sejak tanggal penerimaan
permohonan." katanya. UU No. 15/2001 tentang Merek, menurutnya, menganut sistem konstitutif (first to file), bukan
pemakai pertama (first to ose) atau sistem deklaratif.

Sistem konstitutif, menurutnya, mengandung arti hanya merek yang didaftar yang dapat melahirkan hak khusus atau
hak eksklusif dan pemakaian pertama saja tidak menimbulkan hak khusus dan tidak mendapatkan perlindungan hukum.

Oleh : ELVANI HARIFANINGSIH Bisnis Indonesia

Sumber : http://bataviase.co.id/node/135060
Kamis,17 Maret 111
Aturan Pembuatan Merek Beratkan UKM
dibaca 359 kali
JAKARTA (KR) - Ketentuan pemerintah mengenai pembuatan merek suatu produk dinilai
masih memberatkan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Sebab, biaya
pendaftarannya masih terlalu mahal. Selain itu, data base merek juga belum memadai,
sehingga merepotkan pelaku usaha yang ingin mendaftarkan merek produknya.

Penilaian itu disampaikan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto di


Jakarta kemarin. Menurut Djimanto, aturan pembuatan merek produk tidak berpihak pada
UKM karena biayanya yang mahal. "Biayanya mahal. Apalagi masih harus mendaftarkan
hak patennya, itu masih mahal," kata Djimanto.

Dijelaskan, rata-rata biaya yang dikeluarkan pengusaha untuk mengajukan merek produk
sekitar Rp 4,8 juta permerek. Karena itu, bagi UKM cukup memberatkan.Untuk
mendapatkan merek produk, kata Djimanto, sebelumnya pengusaha harus mengajukan
merek yang akan digunakan kepada Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual
Departemen Hukum dan HAM.

Ia pun menyayangkan tidak adanya data base merek yang telah diakui yang bisa diakses
dengan mudah melalui internet. Padahal, data base itu dapat menghindarkan pemohon merek
mengajukan merek yang telah dipatenkan.

"Kalau saya mengajukan merek, saya pilih 10 nama, saya mesti bayar dulu setiap nama Rp
100 ribu, jadi totalnya Rp 1 juta. Kalau nanti namanya sudah dipakai orang, kita tidak bisa
pakai dan uangnya hilang. Untuk kami (pengusaha) yang besar tidak apa-apa, tapi untuk
pengusaha kecil bagaimana?" jelasnya.

Karena itu, Djimanto meminta pemerintah untuk menyediakan database paten merek yang
mudah diakses, sehingga pemohon merek bisa memastikan pendaftaran mereknya disetujui.
Terkait maraknya pembajakan merek, Djimanto mengaku telah memiliki kiat khusus untuk
menghindari kerugian akibat praktik seperti itu. "Kami tiap bulan pasti buat paten baru
untuk menghindari pembajakan. Kalau dibajak, kami buat merek baru lagi," ujarnya.

Menurut Djimanto, biaya pembuatan merek baru lebih murah dan cepat dibanding harus
menggugat pembajak. Di sisi lain, ia juga berharap agar pemerintah mendorong ekspor
produk bermerek oleh UKM, agar produk Indonesia semakin dikenal di mancanegara. Ketua
Bidang Wanita Pengusaha, Wanita Pekerja, Gender dan Urusan Sosial Apindo Nina
Tursinah seperti dikutip Antara mengatakan, Apindo telah bekerja sama dengan Konfederasi
Bisnis Norwegia (HSH) untuk mendorong ekspor produk UKM bermerek ke negara-negara
Skandinavia seperti Swedia, Denmark dan Norwegia.

Saat ini, kata Nina Tursinah, ekspor produk UKM Indonesia banyak dilakukan tanpa merek
dan negara pengimporlah yang memberi merek. Padahal, ekspor produk bermerek tidak
hanya menguntungkan pengusaha namun juga memromosikan Indonesia di dunia
internasional. Selain itu, dengan adanya merek, UKM akan lebih bertanggung jawab
terhadap kualitas produknya.(San/Imd)-c
Sepuluh Motif Batik Pekalongan Berhak Paten
Saturday, 17 July 2010 12:48 Redaksi Berita Batik & Tenun - Batik & Tenun

griyawisata.com, Pekalongan - Sepuluh dari 96 motif batik Pekalongan, Jawa Tengah, memperoleh hak paten dari
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kota Pekalongan, Slamet Prihantono, di Pekalongan,
Selasa mengatakan pengajuan hak paten ke Kementerian Hukum dan HAM sejak 3 November 2004, tetapi hanya
sepuluh motif batik yang disetujui.

"Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Ditjen Hak Kekayaan
Atas Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM hanya meloloskan 10 motif batik," katanya.

Ia mengatakan, sebanyak 86 motif batik yang belum mendapatkan hak paten itu, karena barang kerajinan yang telah
diajukan ke Kementerian Hukum dan HAM tidak ditemukan penciptanya.

"Motif-motif batik tersebut sudah ada sejak dahulu. Namun, siapa yang mengawali membuat motif itu, tidak terdeteksi,
sehingga tidak bisa dipatenkan," katanya.

Sejumlah motif batik yang belum mendapatkan hak paten itu, kata dia antara lain ragam hias "senokelir", "bambu
runcing", "tanaman cengkehan", "jlamprang cinde wilis", "pagi sore demakan" dan "jlamprang limaran".

Ia mengatakan Disperindagkop dan UMKM Kota Pekalongan mendorong para perajin batik untuk menciptakan motif
dan membuat narasi tentang makna yang terkandung dalam motif itu, karena selama ini mereka hanya berorientasi ke
industri.

"Selama ini para perajin sekedar menciptakan motif hanya untuk memenuhi selera konsumen, dan tidak menggali nilai
budayanya," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini jumlah perajin batik di Kota Pekalongan sekitar 700 orang, dan sebagian dari mereka menciptakan
motif batik hanya untuk memenuhi selera konsumen.

"Sebenarnya ada bagian sejarah dan nilai kearifan lokal yang dapat dituangkan ke dalam motif batik, tetapi mereka
cenderung berorientasi untuk memenuhi selera konsumen," katanya.[an/ms]
LINDUNGI DAN KEMBANGKAN PRODUK KARYA CIPTA DAN SENI KHAS BUDAYA
LOKAL UKM MELALUI HKI

Laporan : Syahjoni R., S.Sos

Untuk meningkatkan kapasitas usaha dan pengembangan produk-produk UKM sentra khas budaya lokal, kami
mengikuti acara pembekalan tentang pengembangan usaha dan produk UKM sentra yang berorientasi pada kreativitas
khas budaya lokal pada tanggal 23 Oktober 2010 yang bertempat di Hotel Bintang Senggigi, Lombok Nusa Tenggara
Barat.
Acara ini sangat menarik selain pesertanya adalah para UKM sentra yang memiliki produk khas budaya lokal di
wilayah Nusa Tenggara Barat seperti UKM sentra kerajinan Ketak, Gerabah, kerajinan Bambu, pengrajin Tenun Ikat,
menghadirkan dua orang Nara Sumber Ngatirah Kepala Bidang Pelayanan Hukum Kanwil Hukum dan HAM Provinsi
Nusa Tenggara Barat dan Bing Gianto dari PT. Ngurah Desain Mataram keduanya berkompeten di bidang
pengembangan produk UKM khas budaya lokal dan satu orang Nara Sumber yang tidak kalah menariknya Ir. Dewi
Trimurni dari Deputi Kementerian Koperasi dan UKM Bidang Pembiayaan UKM.

Peranan Sistem HKI Bagi Pengembangan Usaha

Ngatirah memaparkan ”Peranan Sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi pengembangan usaha.” Materi ini
menjelaskan kepada UKM tentang memilih merek produk dan desain industri yang memiliki daya tarik bagi konsumen
dan menjelaskan tentang fungsi dan manfaat HKI bagi UKM.
Paparan awal yang dikemukan Ngatirah bahwa orang terkaya di dunia seperti Bill Gate, Sultan Hasanal Bolkiah, Raja
Khalid Saudi Arabia merupakan inspirasi dari Nara Sumber dalam menyampaikan materi kepada UKM, mengapa bisa
kaya, jawabannya adalah karena adanya perlindungan dan pemanfaatan HKI, merek dan paten, desain industri, desain
tata letak sirkuit terpadu untuk karyanya, antara lain perangkat lunak komputer (Windows). Contoh produk di Indonesia
yang memperoleh pengakuan HKI seperti Sari Ayu, Mustika Ratu, Es Teler 77, Marta Tilaar, Bintang Toedjoe. Contoh
produk tersebut disampaikan guna memberikan dukungan kepada UKM bahwa peranan HKI sangat penting bagi
pengembangan produk.

Lebih lanjut disebutkan dalam memilih HKI harus sesuai dengan produk barang/jasa yang akan dikembangkan,
sehingga UKM perlu menyusun rencana bisnisnya dengan menentukan market/sasaran konsumen, perhitungan/estimasi
pendapatan, strategi pemasaran sehingga barang/jasa yang diproduksi memiliki daya saing dan nilai tambah. Merek dari
produk barang yang akan dihasilkan harus memiliki arti dengan cara memberikan gambaran barang yang dihasilkan,
persepsi konsumen terhadap merek.

Kiat yang diberikan Nara Sumber untuk membangun merek adalah dengan cara memilih merek yang mudah diingat
konsumen dan mudah diucapkan, gunakan merek yang yang mendekati fungsi kegunaan suatu produk dan
promosikan/iklankan secara terus menerus agar konsumen lebih mengenal.
Desain Industri dan merek saling mempengaruhi, menciptakan desain industri yang dapat memberikan daya tarik bagi
konsumen, tampilan bentuk dari suatu produk, UKM harus memperhatikan bahwa desain industri didalamnya
mempunyai kekuatan nilai komersial sehingga dapat meningkatkan pemasaran. Disini bahwa Peranan sistem HKI bagi
pengembangan produk bermanfaat bagi UKM, karena HKI merupakan asset, untuk meningkatkan keuntungan, produk
UKM mudah dikenal oleh pelanggan baik dalam negeri maupun luar negeri, selanjutnya HKI juga sebagai alat
monopoli serta HKI merupakan sumber pemasukan/devisa negara atau sebagai aset penting dalam ekonomi moderen
yang mengandalkan pengetahuan (knowledge based economy).

Pengembangan Produk Khas Budaya Lokal UMK Sentra Melalui Komunikasi dan Inovasi Karya Cipta dan
Seni
Bing Gianto dari PT. Ngurah Desain Mataram menyampaikan materi “Pengembangan Produk Khas Budaya Lokal
UMK Senta Melalui Komunikasi dan Inovasi Karya Cipta dan Seni.” Materi ini sangat menarik bagi UKM tentang
bagaimana cara mengembangkan produk khas budaya lokal melalui komunikasi, inovasi dan kreativitas. Selain
menjelaskan secara teoritis, Nara Sumber banyak memberi contoh langsung produk inovasi dan kreativitas. Motivasi
yang diberikan kepada UKM untuk mendorong meningkatkan kreativitas dengan sebuah kalimat arif “Siapa menutup
pintu hati dan pikirannya, akan tertinggal”; oleh karena itu UKM harus membuat sesuatu yang baru dan merombak
pandangan lama serta meninggalkan kebiasaan lama yaitu dengan membuat produk-produk yang inovatif dan kreatif
dengan cara memodifikasi produk yang ada dan atau membuat produk baru yang bersumber dari produk khas budaya
lokal jangan desai produknya yang itu-itu saja.

Pandangan tersebut merupakan penekanan bahwa saat ini kondisi persaingan pasar yang bertambah ketat, sehingga
UKM/produsen harus meningkatkan kualitas produksi untuk bisa meningkatkan kemampuan bersaing (daya
komparatif); baik di pasar domestik, ekspor, maupun pasar global. Untuk meningkatkan kemampuan bersaing, SDM
yang inovatif dan kreatif merupakan unsur terpenting dalam pengembangan produk.

Banyak sumber inspirasi dalam melakukan pengembangan desain yang kreatif dan inovatif pada produk khas budaya
lokal agar diperoleh produk yang unik dan spesifik. Inspirasi untuk mengembangkan suatu produk dapat diperoleh
melalui kekayaan budaya, kebhinekaan suku bangsa: seperti berkreasi melalui produk pakaian, rumah adat dan lain-
lainnya, peralatan tradisional, teknik-teknik tradisional pembuatan anyaman bambu, teknik batik/tenun, pembuatan
gerabah, anyaman topi dan lain-lainnya, artefak-artefak muatan spiritual: keris, rencong dan lain-lain, produk kriya
tradisional yang dapat dikembangkan seperti topeng, alat-alat makan, pernik¬-pernik perhiasan, songket dan lain-
lainnya.

Warisan tradisi seni dan budaya Indonesia, banyak masyarakat yang belum mengenalnya, sehingga menjadi tantangan
bagi UKM untuk berkreativitas dan berinovasi dari produk khas leluhur menjadi produk yang bernilai seni dan bernilai
ekonomis tinggi dengan mengkomunikasikan secara rinci dan luas dari produk yang dihasilkan UKM.

Komunikasi dan inovasi karya cipta dan seni dapat dihasilkan, apabila UKM memahami produk khas budaya lokal yang
diciptakannya. Karena dengan kemampuan daya cipta dan seni UKM akan memberikan gambaran secara langsung
kepada konsumen tentang produk yang dihasilkan. Gambaran tersebut dapat berupa pencerminan sejarah, manfaat yang
tercermin dari produk yang dihasilkan.

Kemampuan UKM mengkomunikasi dari sebuah produk yang dihasilkan, katakanlah sebuah meja jati yang berukiran
menggambarkan sebuah sejarah kerajaan Ngurahrai, Kerajaan Majapahit yang menggambarkan sedang bertempur
dengan ornamen-ornamen menarik. Jika ini dapat dihasilkan maka nilai jual akan menjadi tinggi karena menjadi produk
bernilai seni. Konsumen dalam negeri maupun manca negara akan berani membeli dengan harga tinggi.

Kebijakan Pola-Pola Pembiayaan UMKM Deputi Bidang Pembiayaan

Ir. Dewi Trimurni dari Deputi Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM. Materi yang disampaikan mengenai
“Kebijakan Pola-Pola Pembiayaan UMKM Deputi Bidang Pembiayaan” Mewujudkan Koperasi Simpan Pinjam dan
Koperasi Jasa Keuangan Syariah Sebagai Lembaga Keuangan Mikro Yang Sehat, Kuat dan Dipercaya.” materi ini
sangat bermanfaat bagi UKM sentra karena dapat memberikan wawasan, informasi dan pengetahuan luas tentang pola-
pola pembiayaan yang dapat diakses UKM.

Potensi peluang dan permasalahan UMKM merupakan materi yang disampaikan oleh nara sumber memberikan
informasi untuk cara mewujudkan Koperasi Simpan Pinjam dan Koperasi Jasa Keuangan Syariah Sebagai Lembaga
Keuangan Mikro yang sehat, kuat dan dipercaya. Potensi dan peluang tersebut diketahui bahwa UMKM adalah lentur
terhadap krisis ekonomi global dan yang cukup menggembirakan bahwa NPL kredit perbankan UMKM masih di bawah
5%. Sedangkan yang permasalahan terbatasnya fasilitasi kredit mikro bagi UMKM dari perbankan, prosedur dan
persyaratan kredit perbankan relatif rumit dan birokratis serta ketidakmampuan UMKM dalam menyediakan jaminan
tambahan.

Kebijakan pembiayaan adalah meningkatkan Iklim usaha yang kondusif bagi Koperasi dan UMKM, pengembangan
berbagai kebijakan tentang LKM dan KSP/KJKS, peningkatan akses terhadap sumber daya produktif, penyediaan skim
pembiayaan alternatif, pengembangan produk dan pemasaran bagi Koperasi dan UMKM, peningkatan Daya Saing
SDM Koperasi dan UMKM serta penguatan kelembagaan koperasi.

Disebutkan lebih lanjut oleh Nara Sumber kondisi eksisting UMKM yang berjumlah + 51 ribu yang terbagi dalam
empat pengelompokan UMKM yaitu:
Pertama , belum layak usaha dan belum bankable, pola pembiayaan yang tepat adalah program pemeberdayaan
masyarakat dan bantuan langsung.

Kedua , layak usaha dan belum bankable, pola pembiayaannya adalah program KUR, linkage program Bank dan
Koperasi, sertifikasi tanah UMK dan program LPDB-KUMKM
Ketiga , layak usaha dan bankable, dapat melalui program Surat Utang Pemerintah-005 dan program dari Lembga
Pengelola Dana Bergulir-Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) Keempat, layak go public,
pola pembiayaanya dapat melalui pasar modal, perbankan dan sumber lainnya.

Pola pembiayaan lainnya untuk penumbuhan wirausaha baru produktif melalui dana ZIS untuk masyarakat miskin
dengan pembiayaan mudarabah dan murabahah kepada calon anggota wirausaha baru produktif, calon anggota
wirausaha baru produktif dan produktif pemula.
Selain pola pembiayaan yang disampaikan bahwa T.A 2010 penyediaan dana bantuan sosial bagi kelompok pelaku
usaha mikro/koperasi bagi kelompok perempuan pelaku usaha mikro/koperasi dengan sasaran 1500 kelompok/koperasi
dan dana bagi kelompok pemuda pelaku usaha mikro/koperasi dengan sasaran 1100 kelompok/koperasi dengan
ketentuan dan persyaratan yang ditetapkan.

Dari materi yang disampaikan untuk meingkatkan daya saing produk khas budaya lokal bagi UKM sentra, disarankan
perlu diberikan pendampingan dalam menentukan produk yang yang prospek dan strategis dikembangkan dengan
pemberian HKI terhadap suatu jenis produk.Pemda agar mendorong UKM melestarikan budaya lokal terhadap produk
yang dihasilkan menjadi nilai seni tinggi. Skim pembiayaan agar dapat lebih intensif lagi melalui sosialisasi kepada
UKM. (sjn-imr).

Sun, 5 Dec 2010 @00:59


http://mediakriminalitas.com/article/54400/lindungi-dan-kembangkan-produk-karya-cipta-dan-seni---khas-budaya-
lokal-ukm-melalui-hki.html
Pemerintah Siap Fasilitasi Haki Bagi UKM
25-06-2010
Jakarta - Pemerintah siap memfasilitasi pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HaKI) bagi usaha kecil dan
menengah (UKM) penghasil produk kreatif, guna melindungi hasil olah pikir dan kreativitas pelaku industri kreatif dan
peningkatan nilai tambah terhadap suatu produk.

Komitmen itu tertuang dalam nota kesepakatan kerja sama (MoU) mengenai peningkatan pemahaman dan pemanfaatan
sistem hak atas kekayaan intelektual bagi usaha kecil dan menengah yang ditandatangani Badan Pengembangan Ekspor
Nasional (BPEN) Kementerian Perdagangan dan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI).

Adapun tujuan kerja sama tersebut adalah meningkatkan koordinasi dan kerja sama yang sinergis dan produktif antara
Kementerian Perdagangan dan Kementerian Hukum dan HAM dalam pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual produk
UKM.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan Kementerian Perdagangan selalu mendorong UKM Indonesia
agar 'naik tingkat' dalam perkembangannya baik dalam segi usaha, akses pasar dan kinerjanya sehingga dapat berdaya
saing di dalam negeri maupun dalam upaya ekspor.

"Salah satu isu yang selalu mengemuka dari berbagai kesempatan pertemuan dengan UKM adalah isu HaKI. Oleh
karena itu, kami memandang perlu memfasilitasi pendaftaran HaKI bagi para UKM potensial," kata Mari seusai
penandatangan kesepakatan bersama tersebut, kemarin.

Mendag berharap hal ini juga dapat mendorong peningkatan kesadaran dan pemahaman kepada para pelaku usaha di
bidang ekonomi kreatif untuk melindungi hak atas ciptaan atau hasil olah pikir dan intelektualitasnya.

Dia menjelaskan pihaknya akan berupaya proaktif memberikan pemahaman terkait dengan proses dan biaya dalam
mendaftarkan produknya mengingat selama ini belum banyak pelaku UKM ekonomi kreatif yang memiliki HaKI karena
belum mengetahui manfaatnya.

Pendampingan

"Oleh karena itu, pemerintah juga akan memberikan pendampingan kepada pelaku usaha kecil dan menengah yang
mengajukan permohonan pendaftaran HaKI dan meningkatkan anggaran untuk pengurusan HaKI agar lebih cepat,"
jelasnya.

Dirjen HaKI Kemenhukham Andi Noorsaman Sommeng mengatakan sampai saat ini baru sekitar 1.000 produk usaha
kecil menengah yang mendaftarkan HaKI.

Dia mengatakan jumlah HaKI yang diterbitkan pihaknya sebenarnya sudah mencapai 63.000 HaKI. Sekitar 7% dari
angka itu, merupakan HaKI untuk produk dalam negeri sementara angka terbesar didominasi dari luar negeri.

Pihaknya menargetkan dapat meningkatkan persentase itu menjadi 15% di masa yang akan datang. "Namun, untuk
UKM baru sekitar 1.000," katanya.

Mari menambahkan penandatanganan kesepakatan tersebut juga menjadi salah satu upaya perbaikan rencana aksi (action
plan) agar bisa keluar dari daftar negara dengan tingkat pelanggaran HaKI sangat berat (priority watch list/PWL).
http://www.kemenperin.go.id/ind/publikasi/berita_psb/2010/20103392.HTM
February 21st, 2011

Merek Dagang dan Daya Saing Produk Dalam Negeri

Menurut Quinn Gene, Presiden & Pendiri IPWatchdog, Inc dikatakan bahwa Merek Dagang dalam sistem ekonomi
pasar bebas secara hukum diakui dan dilindungi sebagai fitur yang melekat pada pasar dan perlindungan konsumen.
Pendaftaran sebuah merek dagang pada intinya adalah solusi bagi perlindungan konsumen, agar konsumen bisa
terlindungi dari barang-barang bajakan. Merek Dagang pun bagi konsumen adalah jaminan kualitas.

Dalam era ekonomi pasar bebas, produk-produk UMKM Indonesia harus bisa bersaing dengan produk-produk dari luar
negeri. Salah satu strategi yang dilakukan adalah para pelaku UMKM di Indonesia harus melek Hak Kekayaan
Intelektual (HKI), mereka harus bisa mendaftarkan merek-merek dagang produk-produk mereka, sehingga produk
mereka bisa diterima di pasar ekspor.

(BBO/ACS).

http://bandungbaratonline.com/?p=558
IKM Harus Daftarkan Hak Paten
26 Jun 2010

JAKARTA - Para pelaku industri kecil dan menengah (KM), khususnya yang bergerak di sektor industri kreatif,
disarankan untuk segera mendaftarkan hak paten untuk produk-produk yang dihasilkannya.

"Hak paten bagi inventor atau penemu dalam menjalankan industri berskala kecil dan menengah memiliki manfaat yang
besar. Sebab, setiap hak paten yang diberikan oleh negara bagi inventor ada perlindungan hukumnya. Perlindungan
hukum yang dimiliki oleh pemilik hak paten tertuang dalam undang-undang No 14 Tahun 2001 tentang Paten," kata
Poltak Sitinjak, Inventor Sistem dan Rangkaian penyaring Sampah Otomatis pada Saluran Sungai, saat menjadi
Pembicara dalam Lokakarya Penyelenggaraan Pekan Produksi Kreatif, Jumat (25/6).

Menurut Poltak, setiap pemegang paten memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan paten yang dimilikinya dan
melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat, menggunakan, menjual, mengimpor, menyewakan,
menyerahkan, menyediakan untuk dijual, disewakan, atau diserahkan produk yang diberi paten. Selain itu, dalam hal
paten, proses melarang pihak lain untuk menggunakan proses produksi yang diberi paten untuk membuat barang dan
tindakan lainya, (rid)

http://bataviase.co.id/node/271247
Jumat, 11 Maret 2011

Pelaku UMKM Masih Minim Kesadaran akan Hak Paten


Permasalahan:

Banyak produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Batu belum memiliki hak paten atau
merek. Padahal hasil produksi UMKM di kota ini tidak sedikit, misalnya hasil olahan kerajinan kayu hingga produk
makanan dari apel seperti minuman sari apel, jenang apel dan kripik apel.

Kepala Dinas Perindustiran Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kota Batu,
Koeswardiyoko, mengatakan, pelaku UMKM di Batu masih minim kesadaran akan pentingnya hak paten. “Padahal
berbagai produksi para pengusaha ini tersebar ke luar Jatim, ujarnya, Senin (10/8).”

Menurutnya, hak paten suatu produk itu sangat penting menyangkut originalitas karya para pelaku usaha yang
sangat besar kemungkinan ditiru oleh masyarakat luar. Bila ini terjadi, maka beberapa makanan atau minuman (mamin)
hingga hasil kerajinan khas Batu bisa diklaim sebagai karya orang lain.

Pelaku usaha makanan dan minuman (mamin) serta pengrajin di Kota Batu mencapai 90 kelompok UMKM,
namun yang sudah mematenkan produknya baru 50 persennya. Mereka terkendala beberapa persoalan, antara lain biaya
yang mahal dan minimnya akses. “Kita akan mencoba membantu dengan menggandeng beberapa pihak yang
mempunyai kapasitas soal ini,” jelas Koeswardiyoko.

Solusi:

Banyaknya pelaku usaha makanan dan minuman (mamin) serta pengerajin di Kota Batu mencapai 90
kelompok UMKM, namun yang sudah mematenkan produknya baru 50 persennya saja. Seharusnya para pelaku
UMKM di Kota Batu, Malang tersebut mematenkan terhadap setiap hasil produk yang dihasilkannya. Besar, kecil atau
berapa banyak hasil produk usaha yang dibuat harus tetap dipatenkan. Karena, hak paten suatu produk itu sangat
penting yang menyangkut originalitas karya para pelaku usaha yang sangat besar kemungkinan dapat ditiru oleh
masyarakat luar. Bila ini terjadi, maka beberapa makanan atau minuman hingga hasil kerajinan bisa saja diklaim
sebagai karya orang lain. Sesuai dengan undang-undang nomor 14 tahun 2001 tentang Paten.

Sumber:

http://malangraya.web.id/2009/08/11/pelaku-umkm-masih-minim-kesadaran-akan-hak-paten/
Nilai Tambah Produk Lewat Merek
Written by Administrator
Friday, 30 April 2010 14:16
Ada orang bilang “Apalah arti sebuah Nama?” Seolah-olah nama
merupakan sesuatu yang bersifat simbol semata. Begitu pula dengan
sebuah produk, Merek merupakan nama untuk sebuah produk.
Dari segi pengertian merek merupakan identifikasi dari sebuah
barang atau jasa yang dijual atau diproduksi oleh orang atau
kelompok tertentu. Dengan merek dapat dibedakan kualitas, jenis
dan identitas lain masing-masing produk.

Sebagian Kelompok Usaha Kecil menganggap bahwa merek hanya perlu untuk produk-produk yang dimiliki oleh
perusahaan besar saja, sedang untuk kelompok Usaha Kecil tidaklah penting sebuah merek. Selain itu ada kekhawatiran
dengan menggunakan merek tertentu akan menyebabkan pengeluaran untuk pajak membengkak. Pemikiran-pemikiran
semacam ini semestinya perlu ditinjau ulang, karena dengan menciptakan sebuah merek untuk produknya akan menjadi
kunci sukses bisnis usaha kecil dalam memasarkan hasil-hasil produksinya.

Kondisi selama ini konsen pemerintah maupun pihak usaha kecil dan menengah sendiri masih berkutat pada masalah
permodalan. Pendampingan dan pengembangan Usaha Kecil dan Menengah dalam hal upaya pembuatan merek sebuah
produk masih dirasa kurang. Pengusaha Usaha Kecil dari luar negeri yang masuk ke Indonesia umumnya sudah
memiliki merek yang cukup kuat, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Pada saat ini kalangan Usaha Kecil dan menengah sudah banyak dikelola oleh kelompok masyarakat terdidik dengan
kesadaran membangun merek dan image produk yang baik. Kelompok terdidik ini umumnya yang tidak terserap bekerja
pada industri besar yang kemudian berwiraswasta atau memang memiliki jiwa enterpreneur. Dengan demikian
persaingan usaha kecil dan menengah tidak lagi berada pada lingkup sempit dan produk yang terbatas, tetapi sudah
bersaing pada level kualitas dan image produk. Disinilah sesungguhnya merek memegang peran yang sangat strategis
untuk mendiferensiasikan produk dengan pesaing.
Untuk itu, Dinas KUMKM Jawa Barat pada tahun 2010 memfasilitasi UMKM untuk mendapatkan merek. Menurut
Kepala Dinas KUMKM Jawa Barat, Wawan Hernawan, anggapan merek itu mahal menjadi alasan sebagian besar
UMKM untuk tidak menggunakan merek sendiri.

”Kebanyakan dari mereka justru lebih senang bila menggunakan merek yang sudah ngetop. Alasannya, peminatnya
sudah banyak. Padahal dari sisi hukum jelas-jelas itu pelanggaran HAKI. Hal ini tentu saja ada konsekuensinya. Untuk
itu saya berharap, para UMKM punya merek sendiri, yang bisa menjadi kebanggaan buat produknya,”ungkap Wawan
pada Sosialisasi Hak Merek, di Aula Bung Hatta Jalan Soekarno Hatta Bandung, Rabu (17/3)

Merek memiliki peran penting sehingga produk yang dihasilkan diminati dan dikenl konsumen. Fungsi merek
diantaranya merek membedakan produk dengan produk pesaing. Merek akan memberikan identifikasi bahwa sebuah
berbeda dengan produk lainnya . Identifikasi produk juga bermanfaat dalam hal iklan dan promosi.
Selain itu, menambah nilai produk , Konsumen melihat merek sebagai sebuah tolok ukur dan menambah nilai sebuah
produk. Merek bisa menambah image sebuah produk. Konsumen juga cenderung memilih produk yang bermerek karena
lebih bisa dipercaya, asal-usul produk bisa diusut. Kebutuhan untuk mengelola merek akan lebih dirasakan oleh
pengusaha Usaha Kecil yang akan membuka cabang.
Menimbang beberapa manfaat tersebut, salah satu kiat sukses membangun bisnis adalah dengan mengelola merek untuk
produk-produk yang kita miliki. Produk yang baik akan lebih mudah dikenal jika memiliki merek tertentu.

Ada beberapa kiat bagi UMKM yang patut diperhatikan oleh UMKM dalam membuat merek diantaranya pilih merek
yang mudah diingat, sederhana dan tidak terlalu panjang sehingga memudahkan konsumen menghafalnya dan
mengucapkannya. Penggunaan merek yang menyerupai atau mendekati fungsi/ kegunaannya suatu produk akan
memudahkan konsumen mengingatnya. Berpromosi dan beriklan secara terus menerus agar merek produk diingat terus.

Para UMKM juga harus diingat dalam mengajukan permohonan HKI khususnya, ada merek yang tidak dapat
didaftarkan. Hal ini apabila merek tersebut mengandung unsur-unsur diantaranya permohonan yang diajukan beritikad
tidak baik, bertentangan dengan moralitas agama, kesusilaan atau ketertiban umum, tidak memiliki daya pembeda, tidak
menjadi milik umum, merupakan keterangan atau berkaitan dengan barang atau jasa yang dimohonkan pendaftar.

Merek yang diajukan UMKM juga bisa ditolak Dirjen HKI bila memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhan
dengan merek pihak lain yang sudah terdaftar untuk barang/jasa sejenis. Disamping memiliki persamaan pada pokonya
atau keseluruhan dengan merek pihak lain yang sudah terkenal milik pihak lain untuk barang/jasa sejenis.
Merek ditolak apabila menyerupai
nama orang terkenal, foto dan
nama badan hokum yang dimiliki
orang lain, kecuali atas persetujuan
tertulis dari yang berhak. Merek
tersebut merupakan tiruan atau
menyerupai nama, singkatan nama,
bendera, lambing atau symbol,
emblem Negara, lembaga nasional,
tanda atau cap atau stempel resmi
yang digunakan oleh Negara atau
lembaga pemerintah kecuali atas
persetujuan tertulis dari pihak yang
berwenang.

Penghapusan dan pembatalan


merek dapat dilakukan atas
prakarsa Dirjen HKI, atas
permohonan dari pemilik merek
bersangkutan, atas putusan
pengadilan berdasarkan gugatan penghapusan, tidak diperpanjang jangka wakttu pendaftaran mereknya oleh yang
bersangkutan.

Manfaat HKI-Merek bagi KUMKM diantaranya sebagai asset berharga untuk memberikan daya dukung bagi
pengembangan usaha KUMKM. Merek sebagai tameng pencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat dan menjadi
pemicu peningkatan daya saing. Merek pula menjadi motor untuk peningkatan inovasi dan kreativitas. Merek sebagai
alat untuk pencitraan image dari suatu produk.

http://diskumkm.jabarprov.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&catid=1%3Abewara&id=120%3Anilai-tambah-produk-lewat-merek&Itemid=26
Memberdayakan dan Meningkatkan Mutu Produk UKM

Monday, 13 December 2010 02:14

Usaha mikro, kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kelompok usaha ekonomi yang penting dalam
pertumbuhan perekonomian nasional. Untuk itu, Kementerian Perdagangan selalu berperan aktif dalam
membina dan meningkatkan daya saing produk UMKM Indonesia di pasaran dalam negeri maupun ekspor.

Oleh: Drs.Suhanto,MM. (Direktur Dagang Kecil dan Menengah (DKM) dan Produk Dalam Negeri Ditjen
Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan)

Perdagangan di sektor usaha ini secara kasat mata dapat terlihat di sekeliling kita. Hingga kini, mereka masih tetap
eksis, kendati sempat dihadapi krisis. Pada saat krisis, mereka masih tetap berdagang. Ini menunjukan pelaku UMKM
kita memiliki daya tahan yang kuat terhadap krisis apapun. Jumlah pelaku UMKM di tanah air dari tahun ke tahun
semakin bertambah besar. UMKM merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan daya serap angkatan
kerja yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah wirausaha di tanah air pada tahun
2008 yang mencapai 51,2 juta orang, sekitar 70,2 persen merupakan pengusaha mikro dengan informal.

Namun, kita menyadari bahwa hingga saat ini belum sepenuhnya pertumbuhan UMKM diimbangi dengan peningkatan
kualitas yang memadai. Kualitas sumber daya manusia di sektor UMKM ini masih relatif rendah. Secara otomatis, hal
ini juga berdampak pada kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkannya. Pada umumnya, tenaga kerja di sektor
UMKM ini masih didominasi oleh tenaga kerja yang berpendidikan rendah. Sehingga, cukup rendah pula dalam
pemanfaatan teknologi. Umumnya UMKM masih menggunakan peralatan manual ataupun teknologi yang masih
sederhana. Tak bisa dipungkiri, jika pada akhirnya produk yang dihasilkan UMKM juga agak kurang berkualitas.

Kendati demikian, tidak semua produk yang dihasilkan UMKM tidak berkualitas. Hingga kini ada sejumlah produk
UMKM yang berkinerja ekspor. Meski jumlahnya masih relative kecil, yakni baru sekitar 15 persen dari total UMKM
yang siap melakukan ekspor. Karena, pemasaran produk UMKM sejauh ini masih cenderung berorientasi di dalam
negeri. Dengan melihat potensi UMKM yang cukup besar tersebut, maka Pemerintah dalam hal ini Kementerian
Perdagangan memiliki tantangan tersendiri untuk memberdayakan UMKM agar mampu bersaing di era perdagangan
bebas, baik dipasar domestik maupun pasar ekspor.

Untuk itu, Kemendag berupaya membantu UMKM dalam melakukan pembenahan internal maupun eksternal.
Dilingkungan internal, melakukan perbaikan kualitas SDM, terutama jiwa kewirausahaan (entrepreneurship),
penguasaan pemanfaatan teknologi dan informasi, pelatihan manajemen, permodalan dan jaringan bisnis dengan pihak
luar. Sementara di lingkungan eksternal, Kemendag berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif, persaingan pasar
yang sehat, promosi ditingkat lokal, nasional maupun internasional.

Pemberdayaan UMKM ini telah menjadi sebuah komitmen Kemendag, dan akan terus dilaksanakan. Diharapkan,
dengan adanya pembinaan bagi UMKM, maka sektor ini dapat tumbuh dengan baik, berdaya saing, dan mampu
berkinerja ekspor. UMKM yang berpotensi ekspor diharapkan nantinya dapat naik hingga 10 persen setiap tahunnya.
Pemerintah dalam hal ini Kemendag bekerjasama dengan instansi terkait cukup konsen terhadap berbagai kegiatan
terkait dengan UMKM. Selain membantu promosi lewat pameran, Kemendag juga melakukan pembinaan lewat
program penguatan brand UKM.
Dengan brand yang bagus, diharapkan produk produk UKM bisa lebih mudah masuk pasar Internasional. Pada tahun
2010 ini Kemendag mentargetkan sekitar 26 merek UKM dapat dibina. Dan, hingga kini sudah 10 merek produk
UMKM yang selesai dibina. Soal fasilitas, Pemerintah senantiasa juga memberikan kemudahan. Kemendag sendiri juga
telah memberikan sejumlah fasilitas guna kemudahan bagi UMKM dalam mengembangkan usahanya. Fasilitas tersebut
diantaranya pembebasan listing fee, SIUP tanpa biaya, dan pembayaran kepada UKM pemasok ritel maksimal dua
minggu secara tunai.

Namun, satu hal yang mesti menjadi catatan penting buat masyarakat kita adalah cinta produk dalam negeri. Cinta
produk dalam negeri adalah benteng untuk mengatasi serbuan produk-produk Impor. Dengan menggunakan produk
lokal berarti kita menciptakan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan kita sendiri sekaligus menciptakan lapangan
kerja lebih banyak. Jadi, dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan usaha mikro, kecil dan
menengah yang berdaya saing, dan menggunakan produk sendiri, maka kemajuan dan kemakmuran yang berkeadilan
bagi seluruh masyarakat Indonesia pada akhirnya dapat terwujud.

Permodalan
Mengembangkan sebuah usaha tanpa modal bisa jadi sangat tidak mungkin. Permodalan berperan penting dalam
memacu pertumbuhan produk-produk
UMKM, terutama yang berkinerja ekspor. Sejauh ini, permodalan kerap menjadi kendala buat kalangan pelaku UMKM.
Menyadari hal tersebut, Pemerintah berupaya memberikan jalan keluar. Dengan memberikan dukungan permodalan
dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pemasaran produk, diharapkan kinerja UMKM dapat lebih optimal.
Produk yang dihasilkannya pun secara kualitas maupun kuantitas menjadi lebih baik dan berdaya saing. Kredit KUR ini
diberikan kepada pelaku UMKM tanpa jaminan, dan tingkat suku bunga bank cukup rendah.

Pemerintah kini telah menyediakan anggaran KUR sebesar Rp.100 triliun. Besarnya dana ini akan disalurkan hingga
tahun 2014. Setiap tahunnya anggaran akan disalurkan sebesar Rp20 triliun melalui melalui sejumlah bank pemerintah
seperti Bank Mandiri, Mandiri Syariah, BNI, BRI, BTN, Bukopin dan bank-bank Pemda. Pelaku UMKM dapat
memperoleh KUR ini dengan batas atas KUR tanpa jaminan mulai dari Rp.5 juta hingga Rp.20 juta. Hingga Agustus
2010, realisasi penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sudah mencapai Rp 13 triliun.

Promosi Lewat Pameran

Dalam menyikapi perkembangan ekonomi dunia yang semakin kompetitif dan berdampak luas terhadap perdagangan
Indonesia, maka pameran dagang menjadi sarana yang tepat untuk mempromosikan dan memperdagangkan produk-
produk UKM baik ditingkat nasional, regional maupun internasional. Sebuah produk sebaik apapun jika tidak
dipromosikan maka tak akan ada yang mengenal produk tersebut. Untuk, Kemendag senantiasa melakukan promosi
produk-produk UMKM melalui pameran. Melalui pameran ini juga dapat menciptakan nation branding serta
meningkatkan kinerja perdagangan ekspor produk UKM yang bernilai tambah dan berdaya saing tinggi. Pameran juga
dapat meningkatkan kerjasama ekonomi baik secara domestik maupun internasional. Karena, banyak produk UKM
Indonesia yang sebetulnya bisa lebih ditingkatkan lagi baik kuantitas maupun kualitas perdagangannya. Kita harus
percaya diri, kalau produk UKM dalam negeri memiliki kekhasan yang tinggi, dan dibutuhkan di luar negeri.

Karena itu, Kemendag kerap bekerjasama dengan instansi kementerian lain, pihak swasta dan pelaku usaha
menyelenggarakan berbagai ajang pameran produk UKM baik di tingkat daerah, nasional maupun internasional, seperti
Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI), Trade Expo Indonesia (TEI), pameran Produk Indonesia (PPI), Pameran
Pangan Nusa dan banyak lagi lainnya. Dalam waktu dekat ini, Kemendag akan kembali menyelenggarakan Pameran
Pangan Nusa ke-5 di Jakarta Expo Kemayoran (PRJ). Tema pameran Pangan Nusa kali ini adalah Bahari. Di sini kami
akan menampilkan produk pangan olahan hasil laut. Pameran Pangan Nusa ini bertujuan untuk memotivasi para pelaku
UKM pangan agar mampu mengembangkan kreativitas produk pangannya yang bersumber dari nilai tradisi dan budaya
bangsa Indonesia. Diharapkan nantinya mereka juga dapat meningkatkan kualitas produknya, sehingga produk tersebut
dapat diekspor.
(Dirangkum dari berbagai release dan pernyataan Drs.Suhanto,MM. dalam berbagai kesempatan)

(sumber :Majalah Info PDN edisi September 2010)


Pengembangan Industri daerah melalui penciptaan merk lokal di Sulawesi Selatan
Wednesday, 18 August 2010 08:17

Salah satu kegiatan JICA (Japan International Cooperation Agency) di Propinsi Sulawesi Selatan adalah
mengembangkan industri melalui penguatan klaster industri dan kolaborasi dengan memanfaatkan sumber daya lokal
yang tujuannya untuk menciptakan merek Sulsel untuk generasi masa depan. Proyek yang telah dimulai pada Maret
2009 dan akan berakhir pada Februari 2012 mem fokuskan kepada pengembangan empat komoditas unggulan yaitu
sutra, kakao, markisa, dan limbah marmer di sejumlah kabupaten sedangkan kota Makassar akan dijadikan sentra
industri pengolahan, pemasaran dan distribusi barang dan jasa.

Program pengembangan ini dilakukan sebagai usaha mengoptimalkan sumber daya lokal yang melibatkan pemerintah,
dunia usaha, masyarakat local dan organisasi masyarakat madani untuk mengembangkan ekonomi nya. Oleh karenanya
JICA dalam pelaksanaan kegiatannya melakukan perkuatan klaster pada ke empat komoditas tersebut sebagai
percontohan pengembangan produk lokal unggulan diantaranya kabupate Gowa, Luwu, Palopo, Pangkep, Soppeng dan
Wajo.

Membangun Merk sebuah daerah

Inisiatif Jica untuk menciptakan merek lokal yang dalam hal ini dilakukan di Sulawesi Selatan patut dihargai
bahkan selayaknya didukung oleh seluruh stakeholder daerah. Kita sama-sama setuju bahwa banyak sekali daerah di
Indonesia ini yang mempunyai produk unggulan yang tidak kalah dengan produk-produk sejenisnya. Apa yang
membedakan antara satu daerah dengan daerah lain walaupun sama-sama memiliki produk yang menarik? ..... Yang
membedakan adalah faktor merek.

Merek mempunyai makna psikologis dan simbolis bagi konsumen dan menjadi faktor pembeda yang sangat penting
dalam ribuan produk/ jasa yang sejenis. Dengan kata lain ketika merk sudah terbentuk maka ia menjadi milik daerah
yang sangat berharga yang jauh lebih berharga dari asset daerah lainnya. Sebuah merek bisa menjadi sumber
pendapatan sebuah daerah.

Upaya membangun merek sebuah produk daerah tidak bisa dilepaskan dari besarnya budget promosi dari daerah
tersebut. Semakin sering dipromosikan akan semakin dikenal dan diingat oleh konsumen. Karena itu mengeluarkan
biaya promosi untuk sebuah merek merupakan bagian dari investasi daerah yang bersifat intangible.

Di Jepang, dalam membangun sebuah merk daerah Pemerintah Daerah bersama-sama dengan stakeholder lainnya
seringkali melakukan akreditasi terhadap produk-produk unggulannya untuk dijadikan bahan prioritas dukungan
promosi.

Adapun garis Besar Sistem Akreditasi yang dilakukan di jepang adalah sebagai berikut :

Definisi produk khas Merupakan produk berkualitas di daerah yang bisa mewakili daerah dan menggunakan
daerah sumber daya lokal yang unik

Kriteria akreditasi • Diproduksi di daerah mengandalkan sebagian besar bahan lokal, atau diproduksi
(contoh) dengan praktek lokal yang unik atau tradisional
• Dapat memberikan konsumen citra daerah, menanamkan arti budaya, sejarah, desain,
citarasa daerah
• Saat ini telah terkenal dan diterima secara luas oleh komunitas tertentu dan pasar

• Memenuhi hukum & peraturan terkait dengan standar/ keamanan produk dengan
informasi produk yang memadai

Langkah-langkah untuk 1. Penyusunan kriteria & juri untuk akreditasi


sistem akreditasi 2. Publikasi sistem akreditasi kepada publik
3. Proposal untuk permohonan produk kandidat dari produsen melalui pemerintah
daerah

4. Seleksi dengan kriteria & juri pada pemerintah daerah

Peningkatan nilai tambah yang akan dimanfaatkan di daerah, melalui "merek Sulsel", Jica sudah menyusun empat
agenda, yakni pendekatan dasar, rencana kegiatan jangka pendek, fasilitas promosi produk, dan informasi lainnya.

Dalam rencana kegiatan jangka pendeknya, JICA akan membuat produksi produk coklat yang khas daerah dengan
mencampurkan atau mengkombinasikannya dengan bahan baku lokal seperti kopi, susu, buah, kacang, sagu dan
sebagainya, sementara berjalan upaya meningkatkan teknologi pengolahan kakao. Untuk markisa, difokuskan pada
produksi produk premium berupa jus yang menggunakan sedikit bahan pengawet dan zat tambahan lainnya. Sedangkan
untuk sutera, akan diproduksi produk sutera berwarna alam dengan memanfaatkan bahan pewarna yang ada di daerah
seperti buah, kacang, daun pohon dan sebagainya dan meningkatkan kualitas benang sutera lokal dalam kehomogenan
dan kekuatan. Untuk kerajinan marmer disesuaikan dengan permintaan dan tren yang pada saat ini ada di pasar
cinderamata maupun pasar mebel dan peralatan,

Setelah peningkatan nilai tambah dilakukan, maka selanjutnya akan diberikan fasilitas promosi produk untuk
memasarkan produk khas daerah.

Demikian sedikit cerita saat Tim Redaksi berkesempatan berkunjung ke kantor Jica di Makassar , salah satu model yang
barangkali dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lainnya untuk membangun merek lokal...........(RP/ PI-
UMKM)

http://portal.pi-umkm.net/en/umum/pengembangan-industri-daerah-melalui-penciptaan-merk-lokal-di-sulawesi-
selatan.html
Ini Adalah Dunia Merek yang Baru

9 Oktober 2010

IT’S a new brand world.Kita sedang hidup di sebuah masa yang mengganggap merek sangat penting. Merek selalu
berada di sekitar kita dan sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia

Sayangnya usaha kecil dan menengah (UKM) kehilangan kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya merek karena
hal-hal yang berkaitan dengan merek merupakan sesuatu yang rumit bagi mereka. Banyak UKM merasa sangat sulit
untuk membangun citra merek dari produk mereka masing-masing.Mereka beralasan, sebagian besar pasar dunia dan
jenis produk di pasar otomatis sudah dikuasai oleh merek-merek ternama di dunia.

Pemikiran ini sering membuat mereka ragu untuk melakukan terobosan dalam membangun citra mereknya.UKM
melihat hal tersebut sebagai upaya dengan biaya yang sangat besar. Merujuk pada aspek fungsional, upaya membangun
citra merek berarti membuat produk Anda diinginkan secara konsisten oleh sebanyak mungkin pelanggan potensial
dengan cara mengerahkan segala energi, waktu, dan uang dengan efektif.

Sementara itu, merujuk pada aspek emosional, upaya membangun citra merek berarti membangun hubungan
antarperusahaan, atau antarproduk dan jasa keduanya dengan para pelangan. Perusahaan-perusahaan besar memahami
pentingnya memadukan dan menciptakan merek andal dari aspek fungsional ke aspek emosional. Kita semua tentu
sudah mendengar istilah 4P dalam pemasaran, yaitu product (produk), price (harga), promotion (promosi) dan place
(tempat).

Ini masih sedikit mudah.Namun, apa saja yang termasuk dalam 4P? Banyak para pebisnis yang lupa bahwa manusia
tidak membeli sebuah produk dalam harga tertentu atau dipengaruhi oleh iklan, promosi, dan toko retail. Upaya
membangun citra merek dalam jangka panjang memerlukan identifikasi dan manajemen yang efisien dari segi promise
(janji), positioning (penempatan) dan personality (kepribadian).Ketiga istilah ini merupakan pilar untuk semua produk,
pengemasan dan strategi komunikasinya. Seringkali ketiganya justru datang dari P yang keempat, yaitu people
(orang).Lantas apa yang dimaksud dengan empat P yang baru ini?

P1, Brand Promise

Brand promiseadalah nilai janji yang terletak di antara keinginan para pelanggan, pemenuhannya oleh perusahaan dan
perbedaan dalam sebuah pasar yang bersaing. Sederhananya, merek adalah sebuah janji terhadap suatu harapan yang
menunggu untuk dipenuhi. ”Ponds Age Miracle”menjanjikan penggunanya dapat melihat hasil pemakaiannya hanya
dalam tujuh hari.

Jika itu adalah janji yang ditawarkan merek mereka, lebih baik segera dibuktikan dengan didukung teknologi yang
memang dapat dibuktikan kebenarannya. Terdengar mudah,namun tidaklah mudah untuk menciptakan sebuah janji
dalam merek Anda yang bisa dijaga konsistensinya. Lalu, apa janji dari merek Anda?

P2, Brand Positioning

Brand positioning adalah keseluruhan gagasan Anda dan pelanggan Anda mengenai suatu produk atau jasa yang
dipelajari melalui interaksi, pengalaman, dan komunikasi. Singkatnya, di mana Anda menempatkan merek Anda
dengan strategi yang terbaik untuk menentukan apa saja yang perlu diketahui oleh sebuah perusahaan? Emosi seperti
apa yang diperlukan untuk membangkitkan citra sebuah merek? Posisi merek Anda merupakan pertaruhan reputasi
perusahaan Anda.

Dan percayalah, setiap perusahaan memiliki reputasinya sendiri,baik, atau buruk, yang menunjukkan sejauh mana
kesadaran Anda dalam mengelola brand position. Sama seperti ketika saya belajar bahwa Anda memiliki persepsi
negatif terhadap saya, maka saya harus mengubah tingkah laku saya untuk mengubah persepsi Anda menjadi
positif.Saya tidak dapat hanya mengatakan bahwa saya sudah berubah dan percayalah pada saya. Saya harus
membuktikannya dan itulah cara mengelola kesan tentang saya.

P3, Brand Personality


Brand personality adalah kumpulan karakteristik manusia yang terkait dengan sebuah merek.Dari sudut pandang
konsumen, brand personality adalah cara untuk mengekspresikan kepribadian dan menentukan gaya hidup melalui
sesuatu yang mereka miliki.Dengan kata lain, brand personality memiliki dua elemen, yaitu keinginan perusahaan Anda
mengenai apa yang akan dirasakan dan dipikirkan oleh pelanggan mengenai merek Anda, dan apa yang pelanggan
rasakan dan pikirkan terhadap merek Anda. Semakin dekat brand personality Anda dengan kepribadian konsumen Anda
atau dengan sesuatu yang mereka kagumi dan cita-citakan, maka makin besar keinginan mereka untuk membeli produk
Anda dan semakin dalam pula loyalitasnya.

P4, People Engagement

Sebuah merek yang kuat bergantung pada keterlibatan jangka panjang dengan mereka yang terlibat dengannya setiap
hari. Kita tahu merek tidak dapat hidup dalam ruang hampa sehingga merek harus hidup dalam hati dan pikiran orang-
orang yang terlibat di dalamnya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya,merek hanyalah sebuah hubungan yang
sederhana jika tidak memotivasi para pekerjanya, bahkan menghancurkan mereka tanpa adanya pengertian dan tidak
mau mendengar mereka.

Para karyawan perusahaan merupakan representasi merek secara riil. Jika mereka dilibatkan dan disemangati, mereka
akan menciptakan suatu merek yang hidup dan mampu menciptakan interaksi yang berbeda terhadap para pelanggan
dengan kreatif serta mampu menciptakan siklus yang tepat antara karyawan,konsumen, dan kinerja bisnis. (*)

DANIEL SURYA
Chairman South East Asia
DM-IDHOLLAND &
MARIO KHOE
Consultant DM-IDHOLLAND

Sumber :

http://economy.okezone.com/read/2010/10/09/23/380756/ini-adalah-dunia-merek-yang-baru
Rendah Animo Pengusaha UKM Untuk HaKI

23 November 2010

Jakarta (Citra Indonesia): Animo pelaku usaha UKM untuk mengurus HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)
ternyata sangat rendah.

Padahal HaKI identitas sekalius alat proteksi, sehingga produk tertentu terhidar dari modus- modus sindikat pembajak
di dalam dan luar negeri. Di luar negeri, seperti China, Inggris, AS, jepang dan negara maju lainnya, mereka sangat
responshif terhadap HaKI.

Itu lah yang bikin kita terenyuh. Bahwa animo masyarakat khususnya pelaku usaha mikro dan UKM untuk
mendapatkan HaKI itu sangat rendah. Ini di luar dugaan.

Data resmi Direktorat Dagang Kecil Menengah Perdagangan Dalam Negeri (DDKMPDN), Kementerian Perdagangan
RI yang diperoleh Citra Indonesia.com, Selasa (23/11/2010), permohonan di tahun 2010 ternyata tidak ada sama
sekali. Meskipun biaya pengurusan ke Ditjen HaKI, Kemenhuk HAM, ditanggung DDKMPDN.

Tahun 2009 terdapat sebanyak 33 merek dagang diajukan dalam proposal UKM ke DDKMPDN. Proposan yang
dianggap memenuhi syarat sebanyak 24, yang ditolak 3 merek dagang. Rata- rata kelompok UKM yang mengajukan
permohonan adalah dari batik, pakaian, dompet, tas, mukenah, selendang, batik tulis, sosis bandeng, bandeng presto,
gula aren, jus belimbing, wornas dan lain sebagainya.

Sebenarnya sosialisasi pentingnya penggunaan HaKI itu sering dilakukan baik di Kementerian Perdagangan,
Perinduastrian, Koperasi, Ditjen HaKI kemenhuk HAM dan instansi lainnya. Namun, entah di mana hambatannya.
Kalangan pengusaha UKM tetap saja enggan untuk mengurusnya.

Kalau boleh jujur, pelaku UKM itu sudah diposisikan seperti “Raja” oleh pemerintah. Pelayanan cukup, biaya
mengurus HaKI ditanggung pemerintah. Namun tetap saja mereka tidak mau berproses. Inilah PR besar pemerintah ke
depan untuk mengungkap tabir di balik keengganan pelaku usaha tersebut.

Dalam DKMPDN, Suhanto, dalam sebuah work shof, baru baru ini di Jakarta dan diikuti sejumlah pelaku UKM dari
berbagai daerah Indonesia, telah membeberkan secara gamblang betapa mulianya hakikat HaKI terhadap sebuah
produk.

Nah belajar dari kasus pembajakan asing terhadap produk kita, kita sontak semua berteriak. Seperti kasus pembajakan
Batik oleh Malaysia dan China baru- baru ini. Semua orang mau jadi sok pahlawan. Bilang inilah – itulah.

Nah yang menjadi pertanyaan dan belum terhawab sekarang adalah “Kenapa pengusaha enggan mengurus HaKI ketika
pemerintah bersedia membayar biaya pengusannya?”.

“Sudah mengimbau kepada pelaku UKM. Saya katakan, yang berniat silahkan mengajukan proposal. Kami segera
proses. Dan saya katakan, semua biaya kami tanggung. Dananya sudah tersedia,” terang Suhanto.

Kendati demikian, Suhanto mengatakan pihaknya akan terus mengadakan sosialisasi dengan para pelaku UKM
sehingga di kemudian hari, hati dan naluri mereka tergerak untuk mengurus HaKI demi keamanan produknya. (oloan
siregar)
Keberadaan Klinik HaKI suatu kebutuhan

Oleh Adam A Chevny Nov 29, 2010

SURABAYA: Kantor Departemen Hukum & HAM Wilayah Jawa Timur dinilai perlu mendirikan klinik hak atas
kekayaan intelektual (HaKI) bagi pelaku usaha skala kecil menengah (UKM), agar sektor usaha tersebut dalam
mengembangkan bisnis memiliki pemahaman tentang hak cipta, merek, maupun paten.

R. Bobby Wijanarko, konsultan hukum pada Bobby Wijanarko & Partners, mengatakan aspek-aspek tentang HaKI
sangat diperlukan kalangan UKM guna melindungi produk yang dikembangkannya, termasuk kemungkinan
pendaftaran hak merek atau paten oleh pihak lain.

Tetapi, lanjut dia, tingkat pemahaman pelaku UKM tentang HaKI masih rendah disebabkan prosedur pengurusannya
masih harus ke Kantor Ditjen Hak Kekayaan Intelektual di Tangerang, kendati permohonan pendaftaran HaKI dapat
dilakukan di Kanwil Depkum & HAM tingkat provinsi sesuai Keputusan Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian
Hukum & HAM No. H-01.PR.07.06 Tahun 2004.

“Kanwil Departemen Hukum & HAM Jawa Timur perlu mendirikan klinik HaKI untuk melayani berbagai
permasalahan tentang hak cipta, merek maupun paten yang dialami kalangan UKM. Hal ini disebabkan sumber daya
UKM cukup terbatas dibandingkan pengusaha skala menengah atas,” ujar Bobby yang juga pengajar Universitas
Surabaya, akhir pekan lalu.

Dia menambahkan selain meningkatkan sosialisasi serta memandu proses pendaftaran HaKI bagi UKM, pihak Kanwil
Depkum & HAM Jatim juga perlu membenahi sistem administratif pendaftaran HaKI guna menghindarkan kelalaian
yang dapat merugikan UKM.

Menurut Bobby, kasus HaKI yang menimpa pelaku UKM kerapkali terjadi di Jatim seperti dialami Ong Bambang
Hartono pemilik UD Busana Tunggal Makmur –UKM bidang produksi garmen di Surabaya—. Perusahaan tersebut
telah mendaftarkan merek dagang Michael Laurens melalui Kanwil Depkum & HAM Jatim pada 6 Mei 2008, tetapi
pihak lain mendaftarkan merek yang sama pada 26 Mei 2008 dan selanjutnya mendapatkan sertifikat merek Michael
Laurens.

Perkara merek dagang Michael Laurens itu telah diadili di Pengadilan Niaga Surabaya pada 2 November 2010 dengan
putusan a.l. mengabulkan gugatan penggugat (pemilik UD Busana Tunggal Makmur) berupa pembatalan merek
Michael Laurens.

Ong Bambang Hartono mengaku telah melakukan permohonan pendaftaran hak merek Michael Laurens pada 6 Mei
2008 di Kanwil Depkum & HAM Jatim, kemudian pada 21 April 2010 ada orang datang mendesak agar tidak
memroduksi barang dengan merek tersebut sebab telah terdaftar sertifikat atas nama Lie Wei Bing.

“Kami telah merintis merek dagang Michael Laurens untuk produk kemeja lelaki dengan pemasaran di Pulau Jawa dan
luar Jawa, kemudian didaftarkan pihak lain yang juga memroduksi kemeja. Ini merupakan pelajaran bagi UKM lain
agar berhati-hati dalam mengurus hak merek,” tuturnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu. (maj)
Mayoritas Pelaku UMKM di Gunungkidul Tak Gunakan Kontrak Dagang
Rabu, 25 Agustus 2010 09:13

Mayoritas pelaku UMKM di Kabupaten Gunungkidul tidak pernah atau jarang


menggunakan media kontrak untuk menjalankan kerja sama dengan pihak luar. Apabila
mereka menyelenggarakan kerja sama selama ini, hanya mengandalkan kepercayaan
semata.

Demikian hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa KKN PPM UGM yang disampaikan
oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Enny Nurbaningsih SH MHum dalam
workshop ''Pelatihan Kontrak Dagang'' yang dilaksanakan di kantor Bupati Gunungkidul.
Workshop itu diikuti 20 pelaku UMKM, 3 LSM, 4 koperasi se-Kabupaten Gunungkidul.

Sebagaimana diketahui bahwa di beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul terdapat


beberapa sentra kerajinan tradisional yang cukup terkenal, antara lain sentra kerajinan
batik kayu di Bubung, sentra produk makanan olahan gula kelapa di Banyusoco, sentra
kerajinan bambu di Semanu, dan lain sebagainya.

Melalui pelatihan teknik penyusunan kontrak dengan para pelaku usaha, katanya, diharapkan pelaku UMKM memiliki
''skill'' dalam menyusun kontrak demi menjamin kepastian hukum dan kelangsungan kegiatan usaha mereka. Karena
kontrak itu mengatur mengenai segala sesuatu berkaitan dengan pelaksanaan kerja sama bisnis termasuk penyelesaian
segala perselisihan yang timbul dari dan/atau akibat yang timbul dari pelaksanaan kontrak tersebut.

"Setiap pelaku usaha memiliki pengetahuan yang semakin baik terhadap kontrak dagang dan perjanjian bisnis, serta
memiliki kecermatan dan kebijaksanaan dalam menyusun proses kerja sama yang tertuang dalam kontrak dagang.
Apabila terjadi hal-hal diluar perencanaan, tentu sudah dapat diantisipasi dengan solusi terbaik yang dituangkan dalam
kontrak, sehingga tidak memberikan efek negatif di antara para pihak," kata Kepala Bidang Hukum dan Tata Laksana
(HKTL) UGM itu.

Workshop yang dibuka langsung oleh Wakil Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos dengan di dampingi oleh Kepala
Dinas Disperindagkoptam Drs Budi Susanto, menghadirkan pemateri praktisi hukum R Sumendro SH.

Hj Badingah mengatakan bahwa peranan kontrak dagang dalam dunia usaha sangat berpengaruh terhadap seluruh
perjalanan usaha, karena semua hal yang berkaitan dengan proses usaha menyangkut para pihak akan terikat dengan isi
kontrak tersebut.

"Setiap pelaku usaha harus memiliki pengertian akan hal-hal prinsip yang harus terakomodasi dalam kontrak dagang
dan mereka harus mampu memformulasikan kontrak dagang yang benar-benar akomodatif terhadap keseluruhan
aktivitas usaha," jelasnya.

Sementara Sumendro, lebih menyoroti tinjauan umum hukum perjanjian seperti syarat sahnya suatu perjanjian, asas-
asas perjanjian, jenis-jenis perjanjian, hak dan kewajiban para pihak dalam perjanjian, hingga struktur dan teknik
penyusunan kontrak.

Dikatakan, bahwasanya untuk dapat menyusun kontrak dengan baik haruslah terlebih dahulu mengetahui syarat sahnya
suatu perjanjian, agar kontrak tersebut tidak menimbulkan konflik dalam pelaksanaannya di kemudian hari. ''Suatu
perjanjian yang baik tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan dan ketertiban umum,'' ujarnya.
(suaramerdeka.com)
Kemdiknas Patenkan 65 Hasil Penelitian
Rabu, 06 Oktober 2010, 21:42 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA--Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) telah mematenkan 65 hasil


penelitian pada tahun 2009, sedangkan tahun 2010 juga ada puluhan hasil penelitian.Hal itu dikemukakan Direktur
Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M) Ditjen Dikti Kemdiknas Prof Suryo Hapsoro setelah membuka
Pergelaran Mahasiswa Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi (GemasTIK) III di Surabaya, Rabu. "Paten untuk
65 penelitian tahun 2009 itu hingga kini belum keluar, namun sudah masuk dalam 'list patent' sehingga tinggal
menunggu saja," katanya didampingi staf khusus Mendiknas, Sukemi.

Ia mengakui ke-65 hasil penelitian tahun 2009 dan puluhan hasil penelitian tahun 2010 yang dipatenkan itu umumnya
merupakan hasil penelitian dosen. "Tahun 2009 ada tiga karya penelitian mahasiswa yang diajukan untuk mendapatkan
paten, tapi tahun 2010 justru nihil untuk karya penelitian mahasiswa yang dipatenkan," katanya.

Untuk tahun 2011, katanya, pihaknya sudah tidak menunggu keluarnya hasil pengajuan paten ke KemkumHAM, namun
pihaknya sudah akan mulai mempromosikan kepada kalangan industri. "Itu karena potensi 'promosi' ke kalangan
industri itu ada, misalnya karya penelitian mahasiswa tentang teknologi informasi sudah banyak dilirik industri,"
katanya.

Contoh lain adalah warna alami dari tanaman untuk tenun di Sulsel juga sudah menjadi 'produksi' UKM di daerah
setempat. "Semua itu sudah berjalan tanpa dilaporkan kepada kami, karena itu kami akan menangkap peluang itu
dengan konvensi nasional tentang hasil penelitian bersama Kadin pada 20 Oktober mendatang," katanya.

Selain itu, pihaknya juga sudah menyiapkan 260 pakar dari berbagai keahlian untuk mengevaluasi hasil penelitian yang
dilakukan dosen dan mahasiswa dari berbagai universitas. "Yang jelas, kami akan membantu dari dana APBN mulai
dari skema penelitian bernilai Rp10 juta hingga Rp1 miliar," katanya.

Namun, pihaknya menyadari dana yang ada tidak mampu menangani semua hasil penelitian, karena itu pihaknya
meminta perguruan tinggi juga menggunakan dana PNBP untuk riset. "Untuk mendukung pemanfaatan dana PNBP
bagi kepentingan riset itu, kami akan memetakan pusat-pusat keunggulan universitas dan membuat sistem penjaminan
mutu penelitian perguruan tinggi (SPMPPT) dengan dukungan BAN," katanya.

Ia menambahkan pihaknya juga memberikan "Anugerah Penemu" yang telah diberikan kepada 21 penemu pada tahun
2009 berupa bantuan dana Rp250 juta kepada setiap penemu. "Ada seorang ibu rumah tangga yang menemukan cara
menghilangkan kolesterol pada telur, ada juga penemu dari Sukabumi yang mampu mengupayakan kedelai setinggi 3
meter, dan banyak lagi," katanya.

Red: Krisman Purwoko

Sumber: ant