ANALISIS STRATEGI PENGHIMPUNAN

WAKAF UANG TUNAI
(Studi Kasus Badan Wakaf Uang Tunai Majelis Ulama Indonesia Yogyakarta)
Tesis
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Mencapai Derajat Sarjana S-2
Program Studi Agama dan Lintas Budaya
Minat Ekonomi Islam
Diajukan oleh:
Jauhar Faradis
08/278039/PMU/05741
Kepada
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
iii
iv
Hal aman Persembahan
K upersembahkan t esi s ini unt uk:
v U mmi Hj . Durrat ul Yat i mah (di Pekal ongan) yang t el ah sabar
mendidi k dan membesarkan ananda. Sembah Sungkem dar i
Ananda.
v Ayahanda K .H. M asykur Thoha yang t el ah sabar mendi di k
dan membesarkan ananda. Sembah Sungkem dari Ananda.
v K akak-kakakku M . U l wan , Qurrat ul Aeni , K hai rul Anam
dan M askur.
v K eponakanku yang lucu-l ucu: AA Dymasy, Neng Qori ’ dan
dedek Al mer.
v Para Guru yang t el ah memberi kan i l munya kepada ananda
v Al mamat er t erci nt a U GM dan STI A Al Husai n M agelang
Semoga I l mu yang ananda perol eh dapat bermanf aat bagi Agama, Nusa
dan Bangsa Ami n....
v
PRAKATA
»-- -' .-=·'' »-=''
--='' - .-'' '--·-' ª-·-- `' .'-- »`-`'· . -+-' .' ª''` `' -' -+-'· .' '-´-=- .·-·
-' . -`-''· »`-''· '= -·-' -'---`' ''· - .-'-· '--´-- -´ -=- '=· ª'' ª-=-·
.-·-=' . '´ -' -·- .
Puji syukur kehadirat Ilahi Rabbi yang senantiasa melimpahkan nikmat,
rahmat, serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan tesis ini.
S}alawat serta salam selalu tersanjungkan kepada junjungan kita Nabi
Agung Muhammad SAW. Yang dengan kegigihan dan kesabaranya membimbing
dan menuntun manusia kepada hidayah-Nya.
Meskipun penyusun tesis ini baru merupakan tahap awal dari sebuah
perjalanan panjang cita-cita akademis, namun penyusun berharap semoga karya
ilmiah ini mempunyai nilai kemanfaatan yang luas bagi perkembangan ilmu
pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang Wakaf Uang-Tunai.
Keseluruhan proses penyusunan karya ilmiah ini telah melibatkan
berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penyusun menghaturkan
terima kasih kepada:
1. Direktur dan jajaran civitas akademika Sekolah Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada.
2. Bapak Prof. Dr. Lincolin Arsyad, M.Sc. Selaku Ketua Program Ekonomi
Islam sekaligus sebagai pembimbing yang dengan sabar telah membaca,
mengoreksi, dan memberikan bimbingan kepada penyusun demi
terselesainya penyusunan tesis ini.
vi
3. Bapak Drs. Dumairy, M.A. sekretaris Program Ekonomi Islam.
4. Bapak Duddy Roesmara Donna, SE., M.Si. Selaku pembimbing yang
dengan sabar telah membaca, mengoreksi, dan memberikan bimbingan
kepada penyusun demi terselesainya penyusunan tesis ini.
5. Bapak Drs. H.Harsoyo, M.Si., Drs. H.M. Halimi Djazim Hamidi, MM.,
mas Zaki serta staff Badan Wakaf Uang-Tunai Majelis Ulama Indonesia
Yogyakarta yang telah memberikan ijin penelitian kepada penyusun demi
terselesainya penyusunan tesis ini.
6. KH. M. Yusuf Chudlori, M. Ali Wafa, S.Si., M.Kom., mbak Nafir, serta
dosen dan staf STIA Al Husain Magelang yang telah memberikan
kesempatan penyusun untuk menempuh Strata 2.
7. Prof. Yudian Wahyudi, Ph.D., Dr.Phil. Sahiron, H. Agus Muh. Najib, Hj.
Fatma Amelia, serta pengurus dan santri NAWESEA English Pesantren
yang senantiasa memberikan dorongan baik moral maupun spiritual.
8. Bapak K.H. Masykur Thoha (Alm), Ibu Hj. Durratul Yatimah dan kakak-
kakak tercinta (M. Ulwan, S. H.I., Teteh., Qurratul Aeni, S. Kep., N.S.,
Khairul Anam, S. H.I. dan Maskur) yang senantiasa memberikan
dorongan baik moral, spiritual maupun materi.
9. Para Guru M. Salamuddin (Alm), Ust. Hisyam Ima, dan masih banyak
lagi yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
10. Para pengurus IAEI Komisariat UGM yang senantiasa saling
memberikan dorongan agar terselesainya tesis ini.
vii
11. Teman-teman, Timbul, Aya’, Mahrus, Hasbul, dan masih banyak lagi
yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Mudah-mudahan jasa-jasa mereka mendapat balasan yang setimpal dari
Allah SWT. Amin. Terakhir kali, penyusun menyadari bahwa tesis ini masih
banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang
membangun sangat penyusun harapkan.
Yogyakarta, 01 Juni 2010 H
18 Jumadil Akhir 1431 H
Penyusun
(Jauhar Faradis)
v i i i
ABSTRACT
This research is based on the lackness of societie’s understanding toward cash
wakf and its big chance. The purpose of this research is to analyze the recent
condition of Money-Cash Wakf Board at Indonesion Religious Affair (MUI)
Yogyakarta, to know the preference of Wakif (the giver of wakf) toward the product
of money-cash wakf accumulation and to understand the factors causing wakf
preference toward the product of money-cash wakf,.
The method of this research is SWOT analysis, frequency distribution and
factors analysis, and is applied in the Province of Yogyakarta include: Yogyakarta
City, Sleman, Kulonprogo, Bantul and Gunung Kidul Regency.
The results of this research are firstly, the strategy which is used to accumulate
cash-money wakf which applied at Money-Cash Wakf Board at Indonesion Religious
Affair (MUI) Yogyakarta is “waiting” the ball and “Calling For” the ball, secondly,
the societies’ preference toward product of money-cash wakf is an eternal product
cash-money wakf, Thirdly, the determinants of Wakif preferencies toward Money-
Cash Wakf are: wakif’s attitude factor, complain factor, productive action factor,
equity factor, product characteristic factor, and religiousity factor as well as
generosity factor.
Key word: Money Cash, Factor Analysis, Preference.
i x
INTISARI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman masyarakat
terhadap wakaf tunai dan besarnya potensi wakaf tunai. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis kondisi BWU-T MUI DIY, mengetahui preferensi wakif terhadap
produk penghimpunan wakaf tunai dan mengenalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
preferensi wakif terhadap produk wakaf uang-tunai
Metode yang digunakan untuk menganalisis permasalahan ini, adalah model
analisis SWOT, distribusi frekuensi dan analisis faktor. Penelitian ini dilakukan di
wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi: Kota Yogyakarta, Kab.
Sleman, Kab. Kulonprogo, Kab. Bantul dan Kab. Gunung Kidul.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Strategi penghimpunan wkaf
uang-tunai yang dilakukan di BWU-T MUI DIY adalah metode “menunggu bola”
dan metode “menjemput bola”. Kedua, preferensi masyarakat akan produk wakaf
uang-tunai adalah produk wakaf uang-tunai yang tetap (abadi). Ketiga faktor-faktor
yang mempengaruhi preferensi wakif terhadap produk wakaf uang-tunai adalah:
faktor perilaku wakif, faktor komplain, faktor kegiatan produktif, faktor kekayaan,
faktor karakteristik produk, faktor religiusitas dan faktor kedermawanan.
Kata Kunci:
Wakaf Uang, Analisis Faktor, Preferensi
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………….. i
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………...…….. ii
LEMBAR PERNYATAAN ………………………………………………………... iii
PERSEMBAHAN ………………………………………………………………….. iv
PRAKATA …………………………………………………………………..……… v
ABSTRACT ………………………………………………………………………... viii
INTISARI …………………………………………………………………………... ix
DAFTAR ISI …………………………………………………………………...….... x
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ……………………………………………… xiii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………. 1
1.1. Latar Belakang………………………………………………………. 1
1.2. Perumusan Masalah……………………….……………………….... 5
1.3. Tujuan Penulisan …………………………………………………… 5
1.4. Manfaat Penulisan …………………………………………….......... 5
1.5. Sistematika Penulisan …………………………………………...….. 5
BAB II TINJAUAN LITERATUR …………………………………………….. 7
2.1. Tinjauan Pustaka …………………………………………...…….…. 7
2.2. Landasan Teori ………………………………….……………........ 13
2.2.1. Wakaf Uang ………………………………………………... 13
x i
2.2.1.1. Pengertian Wakaf ………………………………... 13
2.2.1.2. Landasan Hukum Wakaf ……………………….… 15
2.2.1.3. Syarat dan Rukun Wakaf ………………………… 17
2.2.1.4. Perbedaan Wakaf dengan Shodaqah dan Hibah...... 23
2.2.1.5. Konsep Wakaf Tunai …………………………….. 24
2.2.1.6. Sertifikasi Wakaf Tunai ………………………..… 29
2.2.1.7. Pengelolaan Wakaf Tunai ………………………... 32
2.2.1.8. Fundraising Wakaf Tunai ………………………... 36
2.2.2. Strategi Pemasaran ……………………………………….… 46
2.2.3. Kepuasan Konsumen (Wakif) …………………………….... 53
2.3. Deskriptif BWU-T MUI DIY………………………….………….. 55
2.3.1. Pedoman BWU-T MUI DIY ………………………………... 55
2.3.2. Deskripsi Produk BWU-T MUI DIY ………………………. 58
2.3.3. Hasil Rapat Program Kerja ………………………………….. 60
2.3.4. Pengurus BWU-T MUI DIY ………………………………… 64
2.3.5. Mekanisme Kerja ……………………………………………. 66
BAB III METODE PENELITIAN …………………………………………..… 69
3.1. Pendekatan…………………………………………………………. 70
3.2. Objek dan Subjek ………………………………………………….. 70
3.3. Jenis Penulisan …………………………………………………….. 71
3.4. Definisi Operasional dan Pengukuran …………………………….. 71
3.5. Populasi dan Sampel ………………………………………………. 73
3.6. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data………………………………. 75
x i i
3.7. Teknik dan Metode Analisis Data ……………………………….... 77
3.7.1. Analisis SWOT ……………………………………………… 77
3.7.2. Distribusi Frekuensi …………………………………………. 78
3.7.3. Analisis Faktor ………………………………………………. 79
3.7.3.1. Jenis analisis faktor ………………………………... 80
3.7.3.2. Metode analisis faktor ……………………………... 82
3.7.3.3. Penentuan jumlah faktor …………………………… 82
3.7.3.4. Rotasi faktor ……………………………………….. 83
3.7.3.5. Penentuan faktor yang baik ………………………... 84
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ..........................…………. 85
4.1. Analisis SWOT ………………………………………………...….. 85
4.2. Distribusi Frekuensi ……………………………………….………. 92
4.3. Analisis Faktor …………………………………………………… 107
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................……... 112
5.1. Kesimpulan ..................................................................................... 112
5.2. Saran .................................................................................……….. 113
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 115
LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................................................... 120
x i i i
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
I. Daftar Gambar
2.1. Bank Sebagai Penerima dan Penyalur……………………………….. 35
2.2. Lembaga Sebaga Penerima dan Penyalur…………………………… 36
2.3. Mekanisme Kerja BWU-T MUI DIY ………………………………. 66
3.1. Skema Penelitian ……………………………………………………. 69
3.2. Pengelompokan Peubah Dalam Analisis Faktor…………………….. 80
4.1. Karakteristik Jenis Kelamin ………………………………………… 95
4.2. Berwakaf ………………………………..…………………………... 96
4.3. Kesediaan Wakaf Uang ……………..………………………………. 97
4.4. Wakaf Uang Tetap …………………………………………………... 98
4.5. Wakaf Uang Sementara ……………………………………………... 99
4.6. Besaran Wakaf ……………………………………………………… 99
I. Daftar Tabel
2.1. Keaslian ……………………………………………………………… 9
2.2. Perbedaan Wakaf Dengan Shodakah/Hibah ……………………….. 23
3.1. Matriks Analisis Swot ……………………………………………… 77
4.1. Penerapan Analisis SWOT ……………………..…………………... 92
4.2. Karakteristik Demografi ……………………………………………. 94
4.3. Potensi Wakaf …………………………………………………….. 100
4.4. Statistik ………………………………………………………..…... 100
4.5. Religiusitas ……………………………………..…………………. 101
4.6. Karakteristik Produk ………………………………………..…….. 103
x i v
4.7. Persepsi Wakif ……………………………………..…………...… 104
4.8. Perilaku Wakif ……...……………………………………..……… 106
4.9. Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 1 ………………...……. 108
4.10. Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 2 ……………….……. 110
4.11. Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 3 ……………….……. 112
4.12. Rotated Component Matrix 1 ……………………………………. 116
4.13. Rotated Component Matrix 2 ……………………………………. 117
4.14. Rotated Component Matrix 3 ……………………………………. 118
4.15. Rotated Component Matrix 4 ……………………………………. 119
4.16. Rotated Component Matrix 5…………………………….………. 120
4.17. Total Variance Explained …………………………………….…. 122
4.18. Faktor Terbentuk ………………………………………………… 123
4.19. Penamaan Faktor yang Terbentuk ……………………………….. 125
4.20. Total Variance Explained …………………………………….…. 125
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Wakaf merupakan salah satu lembaga sosial Islam yang sangat
dianjurkan dalam ajaran Islam untuk dipergunakan oleh seseorang sebagai sarana
penyaluran rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya (Nasution dan Hasanah,
2005). Wakaf juga salah satu instrument untuk menciptakan keadilan dan
kesejahteraan dalam bidang ekonomi. Ciri utama wakaf adalah ketika wakaf
telah ditunaikan terjadi pergeseran kepemilikan dari pemiliknya pibadi menuju
kepemilikan masyarakat muslim yang diharapkan abadi dan memberikan
manfaat yang berkelanjutan. Melalui wakaf diharapkan terjadi proses distribusi
manfaat bagi masyarakat secara luas, dari manfaat pribadi menuju masyarakat
manfaat (Esposito, 2001).
Wakaf tunai (cash waqf atau waqf al-awqud) adalah wakaf yang
dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk
uang tunai, termasuk dalam pengertian uang adalah surat berharga (Sudarsono,
2008). Wakaf tunai merupakan salah satu lembaga sosial ekonomi Islam yang
potensinya belum sepenuhnya digali dan dikembangkan (Donna, 2008).
Menurut Antonio (2004) menyatakan bahwa setidaknya ada empat
manfaat utama dari wakaf uang dewasa ini. Pertama, wakaf uang jumlahnya bisa
bervariasi sehingga seseorang yang memiliki dana terbatas sudah bisa mulai
2
memberikan dana wakafnya tanpa harus menjadi tuan tanah terlebih dahulu.
Kedua, melalui wakaf uang, aset-aset yang berupa tanah kosong bisa segera
mulai dimanfaatkan dengan pembangunan gedung atau diolah untuk menjadi
lahan pertanian. Ketiga, dana wakaf tunai juga bisa membantu sebagian lembaga-
lembaga pendidikan Islam yang cash-flownya terkadang kembang-kempis dan
menggaji civitas akademikanya secara ala kadarnya. Keempat, pada gilirannya
Insya Allah umat Islam dapat lebih mandiri dalam mengembangkan dunia
pendidikan tanpa harus terlalu bergantung pada pemerintah.
Di Indonesia, wakaf tunai bukan lagi merupakan masalah. Hal ini karena
sudah adanya dasar hukum yaitu:
1. Nabi SAW bersabda “Apabila manusia meninggal dunia, maka terhentilah
kesempatannya untuk mendapatkan nilai pahala dari amalannya, kecuali tiga
hal, yaitu; sedekah yang mengalirkan pahala terus menerus (wakaf), ilmu
yang diajarkan dan bermanfaat bagi orang lain dan anak yang shaleh yang
mendoakan kedua orang tuanya” (H.R. Muslim).
2. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum
kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang
kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Q.S. Ali
Imran: 92).
3. Undang-undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf.
4. Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2004 tentang Pelaksanaan Wakaf.
3
5. Fatwa MUI tanggal 28 Safar 1423 H/11 Mei 2002 tentang Wakaf yang berisi
memperbolehkan wakaf uang tunai.
Pada saat ini, berdasarkan data yang ada di Departemen Agama Republik
Indonesia, jumlah tanah wakaf di Indonesia mencapai sebanyak 403.845 lokasi
dengan luas 1.566.672.406 m

. Pengelolaan terhadap wakaf yang sudah berjalan
selama ini biasanya ditangani oleh para nadzir wakaf. Pada umumnya wakaf
diserahkan untuk tempat ibadah, pendidikan dan pemakaman.
Oleh karena itu, kondisi wakaf di Indonesia saat ini perlu mendapatkan
perhatian ekstra, terutama adanya wacana wakaf tunai yang dipelopori oleh Prof.
Dr. M.A. Manan, merupakan momen yang sangat tepat untuk mengembangkan
instrument wakaf untuk membangun kesejahteraan umat (Wadjdy dan Mursyid,
2007).
Di Indonesia, wacana wakaf tunai (cash waqf) masih relatif baru, wakaf
yang populer mengenai tanah dan bangunan yang diperuntukkan tempat ibadah,
rumah sakit dan pendidikan. Potensi wakaf tunai di Indonesia diperkirakan cukup
besar. Nasution (2009) mengatakan, bila ada 15 juta umat muslim dan setiap
bulannya mereka menyisihkan Rp. 25.000 tiap bulannya, maka potensi wakaf
tunai mencapai Rp. 3 triliun dalam setahunnya. Apabila potensi wakaf tunai
dapat digali, maka akan menggerakkan roda perekonomian umat Islam. Untuk
itu, diperlukan adanya mekanisme khusus yang mampu menciptakan kucuran
aset pada kelompok miskin.
4
Dalam rangka pengembangan wakaf secara maksimal, sebagaimana
amanat Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf, diperlukan
lembaga profesional pengelola wakaf. Salah satu lembaga yang kini menangani
pengelolaan wakaf, khususnya wakaf uang tunai adalah Badan Wakaf Uang
Tunai Majlis Ulama Indonesia Yogyakarta (BWU-T MUI DIY) yang
bekerjasama dengan Bank BPD Syariah DIY sebagai pengelolanya.
BWU-T MUI DIY mempunyai dua produk dalam pengumpulan wakaf
tunai yaitu; wakaf tetap dan wakaf sementara. Dalam pelaksanaannya sehari-hari
BWU-T MUI DIY bekerjasama dengan Bank BPD Syariah penyimpan dan
sirkulasi dana. Dana yang terkumpul di BWU-T MUI DIY sebesar Rp.
200.000.000,- dana tersebut disimpan di Bank BPD Syariah dalam bentuk
deposito. Seiring berjalannya waktu, BWU-T MUI DIY mendapatkan kendala
terutama dalam hal penghimpunan wakaf tunai. Hal ini dikarekan belum
tersosialisasinya konsep wakaf tunai dengan baik di masyarakat.
Dana wakaf tunai dapat digunakan untuk dana produktif dan dana sosial.
Dana produktif meliputi bisnis riil dan investasi produk keuangan syariah.
Sedangkan dana sosial meliputi pendidikan dan kesehatan. Selain zakat, wakaf
tunai juga menjadi salah satu alternatif untuk mengentaskan kemiskinan. Wakaf
tunai merupakan alat yang menjamin terjadinya aliran kekayaan dari kelompok
the have kepada kelompok the have not (Donna, 2008).
5
Berdasarkan penjelasan di atas menimbulkan adanya pertanyaan
bagaimanakah Strategi Pengumpulan Wakaf Tunai di Badan Wakaf MUI DIY
dengan adanya perkembangan wacana wakaf.
1.2.Perumusan Masalah
Setelah memahami dan mengkaji latar belakang masalah di atas, maka
penyusun diidentifikasi ke dalam pokok masalah yang menjadi motivasi dalam
penyusunan tesis ini, yakni:
1. Bagaimana preferensi Wakif terhadap produk dari Badan Wakaf Uang
Tunai MUI DIY?
2. Bagaimana strategi penghimpunan wakaf tunai di Badan Wakaf Uang
Tunai MUI DIY?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis kondisi BWU-T MUI DIY
2. Mengetahui preferensi wakif terhadap produk penghimpunan wakaf tunai.
3. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi wakif terhadap
produk wakaf uang-tunai
1.4.Kegunaan Penelitian
1. Memberikan kontribusi ilmiah dalam kajian stategi pungumpulan wakaf
tunai bagi Badan Wakaf Uang Tunai.
2. Memberikan kontribusi ilmiah dalam kajian pengetahuan dan preferensi
serta respon masyarakat terhadap konsep wakaf uang tunai.
6
1.5. Sistematika Pembahasan
Tesis ini terdiri dari lima bab dan disusun berdasarkan sistematika sebagai
berikut: Bab I Pendahuluan, yang berisi latar belakang, tujuan dan manfaat
penelitian, serta sistematika penulisan. Bab II Tinjauan Literatur, berisi tentang
tinjauan pustaka, landasan teori dan gambaran umum Badan Wakaf Uang Tunai
MUI Yogyakarta. Bab III Metode Penelitian, yang menguraikan pendekatan
penelitian, obyek dan subjek penelitian, jenis penelitian, jenis dan teknik
pengumpulan data, serta teknik dan metode analisis data. Bab IV Analisa Data
dan Pembahasan, yang menguraikan tentang pengujian hasil analisis serta
pembahasan analisis data. Bab V Kesimpulan dan Saran, yang menguraikan
tentang kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis bab sebelumnya.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Pustaka
Banyak gagasan mengenai wakaf yang dikemukakan untuk
mengantisipasi perkembangan zaman. Sebagian ulama membolehkan wakaf uang
(dinar dan dirham) seperti ulama mazhab Maliki dan ulama mazhab Hanafi.
Sedangkan di Indonesia, sebagai suatu pranata dalam Islam, wakaf telah
dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam sejak agama Islam masuk di
Indonesia. Berdasarkan data yang ada di Departemen Agama RI jumlah tanah
wakaf di Indonesia sebanyak 403.845 lokasi, dengan luas 1.566.672.406 .
Menurut Ali (2006) menyebutkan ada tiga sumber pengetahuan yang
patut dikaji untuk memahami lembaga wakaf di Indonesia, yaitu (1) Ajaran Islam
yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadis atau Al-Sunnah serta Ijtihad para
Mujtahid, (2) Peraturan Perundang-undangan, baik yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Belanda dahulu maupun yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Indonesia, dan (3) Wakaf yang tumbuh dalam mayarakat Indonesia (Ali, 1988).
Selanjutnya salah satu penelitian tentang wakaf di Indonsia yang patut
dicermati adalah penelitian yang dilakukan oleh Imam Suhadi dalam disertasinya
yang berjudul “Pengembangan Wakaf dalam Rangka Pelaksanaan Undang-
undang Pokok Agraria di Kabupaten Bantul”. Dari penelitian ini ditemukan
8
bahwa: 1) Sebagian besar tanah wakaf yang menjadi obyek penelitian belum
mempunyai kepastian hukum karena tidak mempunyai sertifikat tanah. Di
Kabupaten Bantul tanah wakaf yang bersertifikat baru 61,18%, di seluruh
Indonesia yang bersertifikat baru 31,2%, sebagian besar disebabkan tidak adanya
dokumen tertulis yang lengkap tentang wakaf tanah tersebut. 2) Sebagian besar
tanah wakaf digunakan untuk tempat ibadah seperti masjid, langgar atau
musholla. 3) Tanah wakaf di Bantul dikelola oleh Nadzir yang tidak jelas
eksistensi dan tugas serta kewajibannya. Banyak tugas Nadzir yang dirangkap
oleh takmir masjid sehingga tidak ada pengembangan tanah wakaf dalam
peningkatan hasil guna dan daya guna (Suhadi, 2002).
Hasanah (2005) menjelaskan bahwa salah satu kendala yang mendasar
dalam pengelolaan wakaf di Indonesia adalah kemampuan nadzir wakaf yang
sangat minim sekali dan masih bersifat tradisional, baik yang bertkaitan dengan
aspek pemahaman terhadap wakaf itu sendiri maupun aspek keterampilan dalam
menjalankan roda kenazdiran. Ditinjau dari aspek pemahaman, pada umumnya
umat Islam di Indonesia termasuk para nazdir masih banyak yang memahami
bahwa wakaf itu hanya berupa harta benda yang tidak bergerak saja, seperti tanah
atau berupa suatu bangunan. Padahal untuk mengelola harta benda tidak bergerak
diperlukan wakaf benda bergerak seperti misalnya uang, saham dan lain-lain.
Sedangkan Nasution (2009) menyatakan dan memperkirakan bahwa
potensi wakaf tunai di Indonesia yang bisa dihimpun dari 10 juta penduduk
muslim Indonesia saja sekitar 3 triliun rupiah per tahun. Hal ini senada juga
9
disampaikan oleh Telaga yang menjelaskan bahwa potensi wakaf tunai di
Indonesia mencapai 7,2 triliun rupiah per tahun. Dengan asumsi bahwa penduduk
muslim yang melakukan wakaf tunai mencapai 20 juta saja dari total keseluruhan
penduduk muslim Indonesia. Hal itu terwujud dengan cara 20 juta penduduk
muslim menyisihkan dana Rp. 1000,00 per hari atau berarti Rp. 30.000,00 per
bulan, yang berarti dalam setahun akan terkumpul sebanyak 7,2 triliun rupiah.
Sedemikian besarnya potensi yang dikandung, maka pengelola secara tekun,
amanah, professional dan penuh komitmen akan mampu melepaskan bangsa
Indonesia dari ketergantungan terhadap hutang luar negeri sehingga menjadi
lebih mandiri dan bermartabat (Nasution, 2009. dalam www.tazkiaonline.com).
Tabel 2.1
Keaslian
Nama Tahun Judul Metode Temuan/Hasil
M.A.
Mannan
1999 Sertifikasi
Wakaf Tunai-
Sebuah
Inovasi
Instrumen
Keuangan
Islam
a. Menghidupkan kembali
“ruh” wakaf yang telah
hilang.
b. Mengubah paradigma
(kebiasaan) bahwa wakaf
diperuntukkan hanya untuk
orang kaya saja.
Neneng
Hasanah
2004 Efektifitas
Pengelolaan
dan
Pemanfaatan
Harta Wakaf
(Studi Kasus
di PP
Attaqwa
Bekasi)
Penelitian ini
merupakan
penelitian
kualitatif dengan
pendekatan
manajemen,
historis serta
pendekatan
sosiologis
a. Sistem pengelolaan harta
wakaf di PP Attaqwa masih
menggunakan sistem
tradisional, dengan kata lain
belum menggunakan sistem
modern yang dapat
mengefektifan dan
memberdayakan harta wakaf
yang ada saat ini agar lebih
produktif.
b. Pengelolaan yang dilakukan
10
oleh PP Attaqwa saat ini,
sudah selesai dengan
ketentuan syariat Islam.
c. Manfaat harta wakaf yang
dikelola oleh PP Attaqwa
saat ini belum dapat
diefektifan seluruhnya,
disebabkan karena adanya
beberapa kendala dari
berbagai pihak, baik pihak
pengelola (SDM) maupun
dari pihak tanah (SDA)
d. Peran harta wakaf yang
dikelola oleh PP Attaqwa
belum bisa meningkatkan
taraf hidup baik santri, guru
maupun pengelola.
Alida
Palilati
tt Pengaruh
Nilai
Pelanggan,
Kepuasan
Terhadap
Loyalitas
Nasabah
Tabungan
Perbankan di
Sulawesi
Selatan
Penelitian ini
merupakan tipe
penelitian
pengujian
hipotesis
menegnai Nilai
Pelanggan,
Kepuasan
Pelanggan,
Loyalitas
Pelanggan pada
nasabah Bank
Umum di wilayah
Propinsi Sulawesi
Selatan
a. Tingkat kepuasan adequate
maupun desired untuk
nasabah berada di bawah
harapan yang diinginkan
bank.
b. Ada dua bentuk (pola)
hubungan antara variable
Nilai dengan variable Loyal,
yaitu pertama hubungan
tidak langsung yang
signifikan negatif antara
variabel nilai pelanggan
dengan loyalitas melalui
variabel kepuasan sebagai
variabel moderator; kedua
hubungan langsung yang
signifikan positif antara nilai
dengan loyalitas
c. Faktor yang mempengaruhi
terbesar (dominan) terhadap
tingkat kepuasan adequate
maupun kepuasan desired
adalah variabel
profesionalitas staff dalam
melaksanakan tugasnya.
11
Bernasek
Alexandr
a
2003 Banking on
Social
Change:
Grameen
Bank
Lending to
Women
Bank Grameen di
Bangladesh
menjadi model
internasional
sebagai strategi
anti kemiskinan.
Adapun strategi
yang digunakan
adalah pemberian
pinjaman kepada
kaum perempuan
untuk
meningkatkan
kesejahteraan
keluarga mereka
Bank Grameen berhasil
meningkatkan kesejahteraan
nasabah perempuan dan
keluarganya. Disamping itu,
bank Grameen juga telah
meningkatkan status sosial
perempuan. Ha ini terbukti
dengan menurunnya jumlah
perkawinan dini (anak) serta
mereka memiliki akses yang
lebih besar untuk pendidikan
anaknya.
Parasura
man,
dkk.
1996 The
Behavioral
Consequence
s of Service
Quality
Penelitian ini
menggunakan
penelitian
kuantitatif untuk
melihat hubungan
perilaku
pelanggan
terhadap kualitas
layanan dengan
menggunakan
model variabel
loyalitas,
membayar lebih,
pindah, respon
eksternal dan
respon internal
Perilaku pelanggan berhubungan
secara agregat terhadap kualitas
layanan. Misalnya dengan
kualitas layanan yang bagus
memungkinkan seseorang untuk
berani membayar lebih. Namun
ada beberapa komponen yang
menjadi kekuatan dalam menilai
perilaku pelanggan yaitu beralih
ke perusahaan lain (pindah),
membayar lebih dan repon
eksternal.
Ruth N.
Bolton
dan
James H.
Drew
1991 A
Longitudinal
Analysis of
the Impact of
Service
Changes on
Customer
Attitudes
Penelitian ini
menggunakan
model kepuasan
pelanggan dan
perubahan sikap
dengan alat
analisis
longitudinal
Perubahan penilaian terhadap
kualitas pelayanan yang cepat
akan berakibat juga terhadap
pelayanan itu sendiri. Sikap
dipengaruhi kuat oleh
performance ratings.
William
A.
Mindak
1971 Marketing's
Application
to Fund
Penelitian ini
menggunakan
analisis faktor
Teknik dan filosofi dapat
diterapkan untuk ide-ide sosial.
Suatu produk akan melalui tiga
12
dan H.
Malcolm
Bybee
Raising dengan variabel
kekhususan,
bungan dan
believability
tahapan yaitu; pertumbuhan,
kematangan dan penurunan.
Claes
Fornell
1992 A National
Customer
Satisfaction
Barometer:
The Swedish
Experience
Penelitian ini
menggunakan
penelitian
kuantitatif dengan
variabel kepuasan
pelanggan dan
loyalitas
Negara industri banyak yang
tidak mengharapkan perbaikan
besar dalam produktivitas
melainkan berkonsentrasi pada
kualitas produksi. Hal ini
dikarenakan jika kualitas diakui
oleh pembeli, maka kepuasan
pelangganpun tercapai. Adapun
pelanggan di Swedia tidak
terlalu puas dengan banyak
produk dan layanan. Sebelum
kualitas ditingkatkan, maka yang
terlebih dahulu adalah
produktivitasnya.
Dodik
Agung
Indra dan
Tri
Gunarsih
tt Pengaruh
Kualitas
Pelayanan
Terhadap
Kepuasan
Nasabah
Kredit
Perorangan
dan
Kelompok
pada PD PBR
Bank Pasar
Kabupaten
Karanganyar
Penelitian ini
merupakan tipe
penelitian
pengujian
hipotesis
menegnai
pengaruh
kepuasan nasabah
terhadap
Reability,
Respoansiveness,
Empaty,
Assurance dan
Tangibe pada
nasabah PD PBR
Bank Pasar
Kabupaten
Karanganyar
a. Variabel bebas Reability,
Respoansivenes, Empaty,
Assurance dan Tangibe
secara individu berpengaruh
secara signifikan terhadap
kepuasan nasabah.
b. Variabel bebas Reability,
Respoansiveness, Empaty,
Assurance dan Tangibe
secara bersama-sama
berpengaruh secara
signifikan terhadap kepuasan
debitur
Monzer
Kahf
Financing the
Development
of Awqaf
Property
Pengembangan
harta wakaf
dilakukan dengan
cara tradisional
dan modern
a. Cara tradisional dengan cara
menciptakan produk wakaf
baru, mengganti sebuah
wakaf, dan cara Ijaratain
(Dual Lease Payment)
b. Cara modern dengan cara
13
Murabahah Pembiayaan,
Istisna, Mudharabah oleh
nadzir dengan pemodal, dan
cara Long lease
Jauhar
Faradis
2010 Analisis
Strategi
Penghimpuna
n Wakaf
Tunai
Studi Kasus
Pada Badan
Wakaf Uang
Tunai MUI
DIY
Penelitian ini
menggunakan
dua pendekatan
sekaligus, yaitu
kualitatif yang
mana
menggunakan
alat analisis
swot serta
pendekatan
kuantitaif, disini
penyusun
menggunakan
alat analisis
distribusi
frekuensi dan
analisis faktor.
a. Mengetahui preferensi wakif
terhadap produk
penghimpunan wakaf tunai.
b. Menyusun produk
penghimpunan wakaf tunai
yang sesuai dengan
preferensi masyarakat.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Wakaf Uang
2.2.1.1. Pengertian Wakaf Uang
Wakaf berasal dari kata kerja yaitu waqafa, yaqifu, waqfan
yang berarti berhenti, berdiam ditempat atau menahan (Warson,
1989). Adapun pengertian wakaf menurut istilah adalah sebagai
berikut;
1. Wakaf berarti atau menahan harta yang dapat diambil
manfaatnya tanpa musnah seketika dan untuk penggunaan yang
14
mubah, serta dimaksudkan untuk mendapatkan keridaan Allah
swt (Basyir, 1987 dalam Usman, 2009).
2. Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan
dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk
dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu
sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau
kesejahteraan umum menurut syariah (Pasal 1 butir 1 UU No.
41 Tahun 2004 tentang Wakaf)
3. Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok
orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda
miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna
kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai
dengan ajaran Islam (Fatma MUI tentang Wakaf Uang)
4. Abu Hanifah berpendapat bahwa wakaf merupakan
penghentian secara hukum harta benda tidak bergerak dari
pemiliknya (wakif) dan menyedekahkan manfaatnya untuk
kepentingan umum (Wahbah Az-Zuhaily, tt)
5. Jumhur ulama (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan,
golongan Syafi’iyyah dan golongan Hanabilah) berpendapat
bahwa wakaf adalah menahan harta yang memungkinkan
diambil manfaatnya, tetapi tetap ‘ainnya, dibelanjakan wakif
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan diwakafkannya
15
harta tersebut, maka secara hukum wakif tidak mempunyai hak
kepemilikan sedangkan kepemilikannya diserahkan (milik)
Allah swt. (Muhammad Abu Zahra, dalam Wakaf Tunai
Inovasi Finansial Islam, 2005).
6. Golongan Malikiyyah berpendapat bahwa wakaf yaitu
mentasarrufkan manfaat harta wakif kepada orang yang berhak
secara berjangka waktu sesuai dengan kehendak wakif.
7. Golongan Hanafi berpendapat bahwa wakaf adalah menahan
benda wakif serta menyedekahkan manfaatnya untuk kebaikan
(Lubis dkk., 2010).
Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas, maka
yang dimaksud wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau
kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian
dari benda miliknya dan melembagakannya untuk dapat diambil
manfaatnya sesuai dengan kehendak wakif, serta dimaksudkan
untuk mendapatkan rida dari Allah swt.
2.2.1.2. Landasan Hukum Wakaf Uang
Di dalam al-Qur’an, wakaf tidak dijelaskan secara jelas
dan tegas, namun ada beberapa ayat yang digunakan oleh para ahli
sebagai landasan disyari’atkannya wakaf. Sebagaimana dalam
ayat-ayat berikut:
16
“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah
kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya
kamu mendapat kemenangan” (Q.S. al-Hajj, 77)
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan
Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian
dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan
dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya
melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan
ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (Q.S. al-
Baqarah, 267)
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang
sempurna), sebelu kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya
Allah mengetahuinya” (Q.S. Ali ‘Imran, 92)
Sedangkan hadis yang dipakai sebagai dasar hukum wakaf
uang, yaitu:
1. Hadis Riwayat Muslim
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw,
bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amal
perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariyah, ilmu
17
yang bermanfaat dan anak soleh yang mendo’akan
orangtuanya”.
2. Hadis Riwayat Bukhari, Muslim
Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra., berkata, bahwa sahabat Umar
ra., memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian
menghadap Rasulullah untuk memohon petunjuk. Umar
berkata: “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di
Khaibar, dan saya belum pernah mendapatkan tanah sebaik itu,
maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku (Ya
Rasulullah)?” Kemudian Rasulullah menjawab, “Bila kamu
suka, kamu tahan (pokoknya) tanah itu dan kamu sedekahkan
(hasilnya)”. Kemudian Umar melakukan sedekah, tidak dijual,
tidak juga dihibahkan dan juga tidak diwariskan. Berkata Ibnu
Umar: Umar menyedekahkannya untuk orang-orang fakir,
kaum kerabat, budak belia, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Dan
tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah
wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan secara
baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud
menumpuk harta.
2.2.1.3. Rukun dan Syarat Wakaf uang
18
Pada dasarnya rukun dan syarat wakaf uang adalah sama
dengan rukun dan syarat wakaf tanah. Adapun rukun wakaf uang
adalah:
1. Ada orang yang berwakaf (wakif)
Wakif adalah orang (pihak) yang mewakafkan harta
miliknya. Menurut Pasal 7 UU No. 41 tahun 2004 tentang
Wakaf, wakif terdiri dari tiga yaitu perseorangan, organisasi
dan badan hukum.
Wakif perseorangan haruslah memenuhi syarat untuk
mewakafkan hartanya, diantaranya; mempunyai kecakapan
untuk melakukan “tabarru’” yaitu melepaskan hak milik tanpa
mengharapkan imbalan materi. Orang dapat dikatakan
mempunyai tabarru’ adalah merdeka, tidak terhalang
melakukan perbuatan hukum, benar-benar pemilik harta yang
diwakafkan, berakal sehat, baligh dan rasyid (Nasution dan
Hasanah, 2005)
1
. Oleh karena itu syarat yang paling terpenting
dari wakif adalah kecakapan bertindak, telah dapat
mempertimbangkan baik buruknya perbuatan yang dilakukan
serta pemilik harta yang diwakafkan.
1
Orang dikatan baligh apabila sudah berumur 15 tahun. Sedangkan yang dimaksud rasyid
adalah cerdas atau kematangan dalam bertindak. Baca juga Muhammad Daud Ali “Sistem Ekonomi
Islam Zakat dan Wakaf” UI Press Jakarta, 2006.
19
Wakif yang berupa organisasi dapat melakukan wakaf
apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan
harta benda milik organisasi sesuai dengan anggaran dasar
organisasi yang bersangkutan (Pasal 8 butir 2 UU. No. 41 th
2004 tentang Wakaf).
Wakif yang berupa badan hukum dapat melakukan wakaf
apabila memenuhi ketentuan organisasi untuk mewakafkan
harta benda milik badan hukum sesuai dengan anggaran dasar
badan hukum yang bersangkutan (Pasal 8 butir 3 UU. No. 41 th
2004 tentang Wakaf).
2. Ada harta yang diwakafkan (mauquf)
Harta yang diwakafkan merupakan hal yang terpenting
dalam perwakafan. Namun harta yang diwakafkan baru sah
apabila terpenuhi syarat berikut (Ali, 2006): pertama, benda
yang diwakafkan harus bersifat ekonomis, tetap zatnya dan
boleh dimanfaatkan menurut ajaran Islam. Kedua, harta yang
diwakafkan harus jelas wujudnya dan pasti batas-batasnya.
Ketiga, harta tersebut harus benar-benar kepunyaan wakif dan
bebas dari segala beban. Keempat, harta yang diwakafkan harus
kekal (tidak bergerak). Akan tetapi menurut Ulama Hanafiyyah
benda bergerak dapat diwakafkan dalam beberapa hal: pertama,
keadaan harta bergerak mengikuti benda bergerak (benda
20
tersebut mempunyai hubungan dengan sifat diam ditempat dan
tetap). Kedua, benda bergerak tersebut berdasarkan atsar yang
memperbolehkan wakaf senjata dan binatang untuk berperang.
Ketiga, benda tersebut mendatangkan pengetahuan (Nasution
dan Hasanah ed., 2005).
Sedangkan menurut Pasal 16 UU No. 41 tahun 2004
tentang Wakaf menyebutkan bahwa harta benda wakaf terdiri
dari dua yaitu:
a. Benda tidak bergerak meliputi:
1) Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku baik yang sudah
maupun yang belum terdaftar
2) Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas
tanah sebagaimana dimaksud pada angka 1
3) Tanaman dan benda lain yang berkaitan dengan tanah
4) Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
5) Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan
syariah dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku
b. Benda bergerak meliputi:
1) Uang
21
2) Logam mulia
3) Surat berharga
4) Kendaraan
5) Hak atas kekayaan intelektual
6) Hak sewa
7) Benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku
3. Ada tempat ke mana diwakafkan harta itu/tujuan wakaf
(mauquf ‘alaih) atau peruntukan harta benda wakaf.
Syarat mauquf ‘alaih adalah qurbat atau pendekatan diri
kepada Allah. Peruntukan wakaf dapat dibagi menjadi dua
macam; wakaf khairy dan wakaf dzurry. Wakaf khairy adalah
wakaf dimana yang wakifnya tidak membatasi sasaran
wakafnya untuk pihak tertentu tetapi untuk kepentingan umum.
Sedangkan wakaf dzurry adalah wakaf dimana wakifnya
membatasi sasaran wakafnya untuk pihak tertentu yaitu
misalnya untuk keluarga keturunannya (Sudarsono, 2008).
4. Ada akad/pernyataan wakaf (sighat) atau ikrar wakaf (Usman,
2009).
Sighat merupakan peryataan wakif yang merupakan tanda
penyerahan barang atau benda yang diwakafkan. Wakif dalam
melakukan ikrarnya harus jelas yakni (1) melepaskan haknya
22
atas pemilikan benda yang diwakafkan, dan (2) menentukan
peruntukan benda itu apakah khusus kepentingan orang-orang
tertentu ataukah untuk kepentingan masyarakat umum (Ali,
2006).
Di samping empat rukun di atas, ada hal penting untuk
dibahas yakni nadzir wakaf. Walaupun ulama klasik tidak
memasukkan nadzir sebagai rukun wakaf, namun nadzir
merupakan unsur yang sangat penting dalam perwakafan, karena
berkembang tidaknya harta wakaf sangat bergantung pada nadzir
wakaf (Hasanah, dalam Wakaf Tunai Inovasi Finansial Islam,
2005). Sedangkan dalam Pasal 6 UU No. 41 tahun 2004 tentang
Wakaf menambahkan satu nusur lagi yaitu mengenai jangka
waktu wakaf.
Adapun syarat sahnya perwakafan adalah sebagai berikut:
a. Perwakafan benda itu tidak dibatasi untuk jangka waktu
tertentu saja, tetapi untuk selama-lamanya (Ali, 2006). Namun
demikian menurut Imam Malik berpendapat bahwa wakaf
boleh dibatasi waktunya (Zahra dalam Nasution dan Hasanah
ed. 2005).
b. Tujuan harus jelas. Jika tidak menyebutkan tujuan secara jelas,
maka perwakafan tidak sah.
23
c. Wakaf harus segera dilaksanakan setelah ikrar wakaf
dinyatakan oleh wakif tanpa menggantungkan pelaksanaannya
pada suatu peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan
datang.
d. Wakaf yang sah wajib dilaksanakan, karena ikrar wakaf yang
dinyatakan oleh wakif berlaku seketika dan untuk selama-
lamanya (Ali, 2006).
2.2.1.4. Perbedaan Wakaf dengan Shadaqah dan Hibah
Kadangkala pengertian wakaf dirancukan dengan
pengertian shadakah dan hibah. Padahal antara wakaf, sedekah
dan hibah tersebut terdapat perbedaan-perbedaan penting, yaitu;
24
Tabel 2.2
Perbedaan Wakaf dengan Shadakah/Hibah
Wakaf Shadaqah/Hibah
Menyerahkan kepemilikan suatu
barang kepada orang lain
Menyerahkan kepemilikan suatu
barang kepada pihak lain
Hak milik atas barang
dikembalikan kepada Allah
Hak milik atas barang diberikan
kepada penerima shadaqah/hibah
Objek wakaf tidak boleh
diberikan atau dijual kepada
pihak lain
Objek shadaqah/hibah boleh
diberikan atau dijual kepada pihak
lain
Manfaat barang biasanya
dinikmati untuk kepentingan
sosial
Manfaat barang dinikmati oleh
penerima shadaqah/hibah
Objek wakaf biasanya kekal
zatnya
Objek shadaqah/hibah tidak harus
kekal zatnya
Pengelolaan objek wakaf
diserahkan kepada administrator
yang disebut nadzir/mutawalli
Pengelolaan objek shadaqah/hibah
diserahkan kepada si penerima
Sumber: Karim Business Consulting, 2003
2.2.1.5. Konsep Wakaf Uang
Umumnya wakaf dikenal sebagai wakaf benda tidak
bergerak yang berupa properti seperti tanah dan bangunan, namun
sesuai dengan berkembangan zaman, wacana wakaf mulai
berkembang yaitu adanya wacana wakaf uang tunai. Secara umum
definisi wakaf tunai adalah penyerahan hak milik berupa uang
tunai kepada seseorang atau nadzir dengan ketentuan bahwa hasil
25
atau manfaatnya digunakan untuk hal-hal yang sesuai dengan
ajaran syariat Islam dengan tidak mengurangi ataupun
menghilangkan jumlah pokoknya.
Hukum mewakafkan uang tunai merupakan permasalahan
yang diperdebatkan di kalangan ulama fikih. Hal ini disebabkan
karena cara yang lazim dipakai oleh masyarakat dalam
mengembangkan harta wakaf berkisar pada penyewaan harta
wakaf, seperti tanah, gedung, rumah dan semacamnya. Oleh
karenanya, sebagian ulama kurang menerima ketika ada di antara
ulama yang berpendapat bahwa hukumnya mewakafkan uang
dirham dan dinar adalah boleh. Dengan uang sebagai aset wakaf,
maka penggunaannya akan berhubungan dengan praktek riba.
Adapun alasan ulama yang tidak membolehkan berwakaf
dengan uang antara lain (Nasution dan Hasanah ed., 2005):
1) Bahwa uang bisa habis zatnya sekali pakai. Uang hanya bisa
dimanfaatkan dengan membelanjakannya sehingga bendanya
lenyap. Sedangkan inti ajaran wakaf adalah pada
kesinambungan hasil dari modal dasar yang tetap lagi kekal,
tidak habis dipakai. Oleh karena itu ada persyaratan agar benda
yang akan diwakafkan itu adalah benda yang tahan lama, tidak
habis pakai.
26
2) Uang seperti dirham dan dinar diciptakan sebagai alat tukar
yang memudahkan orang melakukan transaksi jual beli, bukan
untuk ditarik manfaatnya dengan mempersewakan zatnya.
Dalam al-Is’af fi Ahkam al-Awqaf, al-Tharablis
mengungkapkan bahwa sebagian ulama klasik merasa aneh ketika
mendengar fatwa yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Abdullah
al-Anshari, murid dari zufar, sahabat Abu Hanifah, tentang
bolehnya berwakaf dalam bentuk uang kontan dirham atau dinar,
dan dalam bentuk komoditas yang dapat ditimbang dan ditakar,
seperti makanan gandum. Mereka merasa aneh karena tidak
mungkin untuk mempersewakan benda-benda seperti itu, oleh
karena itu mereka segera mempermasalahkan dengan
mempertannyakan apa yang dapat dilakukan dengan dana tunai
dirham? Atas pertanyaan ini Muhammad bin Abdullah al-Anshari
menjelaskan dengan mengatakan, “Kita investasikan dana
tersebut dengan cara mudharabah dan labanya kita sedekahkan.
Kita jual benda makanan itu, harta kita putar dengan usaha
mudharabah kemudian hasilnya disedekahkan” (Nasution dan
Hasanah ed., 2005).
Di kalangan Malikiyyah popular pendapat yang
membolehkan, berwakaf dalam bentuk uang tunai seperti dilihat
dalam kitab Al-Majmu’ oleh Imam Nawawi yang mengatakan,
27
“dan para sahabat kita berbeda pendapat tentang berwakaf
dengan dana dirham dan dinar. Orang yang membolehkan
mempersewakan dirham dan dinar membolehkan berwakaf
dengannya dan yang tidak memperbolehkan mempersewakan
tidak mewakafkan.” Ibnu Taimiyah dalam al-Fatwa,
meriwayatkan satu pendapat dari kalangan Hanafi yang
membolehkan berwakaf dalam bentuk uang dan hal yang sama
dikatakan pula oleh Ibnu Qudamah dalam bukunya al-Mughni
(Nasution dan Hasanah, 2005).
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam memfatkan
wakaf uang merujuk pada pendapat ulama berikut, yaitu;
1) Pendapat Imam al-Zuhri (w. 124 H.) bahwa mewakafkan dinar
hukumnya boleh, dengan cara menjadikan dinar tersebut
sebagai modal usaha, kemudian keuntungannya disalurkan
pada mauquf’alaih.
2) Mutaqaddimin dari ulama madzhab Hanafi membolehkan
wakaf uang dinar dan dirham sebagai pengecualian, atas dasar
istihsan bi al-‘urfi, berdasarkan atsar Abdullah bin Mas’ud ra.,
bahwa “apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, maka
dalam pandangan Allah adalah baik, dan apa yang dipandang
buruk oleh kaum muslimin, maka dalam pandangan Allah pun
buruk”.
28
3) Pendapat sebagian ulama madzhab al-Syafi’i: “Abu Tsyar
meriwayatkan dari Imam al-Syafi’i tentang kebolehan wakaf
dinar dan dirham (uang)”.
Sebelum memfatwakan wakaf uang, Majelis Ulama
Indonesia juga mempertimbangkan hal-hal berikut:
a) Bahwa bagi mayoritas umat Islam Indonesia, pengertian wakaf
yang umum diketahui, antara lain, adalah: yakni “menahan
harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan
cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut,
disalurkan pada sesuatu yang mubah (tidak diharamkan) yang
ada” (al-Ramli dalam Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj)
atau “wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok
orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda
miliknya guna kepentingan ibadat atau keperluan umum
lainnya sesuai dengan ajaran Islam” dan “Benda wakaf adalah
segala benda, baik bergerak atau tidak bergerak, yang memiliki
daya tahan yang tidak hanya sekali pakai dan bernilai menurut
ajaran Islam” (Pasal 215 angka 1 dan 4 Bab I Buku III
Kompilasi Hukum Islam); sehingga atas dasar pengertian
tersebut, bagi mereka hukum wakaf uang (waqfal-nuqud, cash
wakaf) adalah tidak sah.
29
b) Bahwa wakaf uang memiliki fleksibilitas (keluwesan) dan
kemaslahatan besar yang tidak dimiliki oleh benda lain.
c) Bahwa oleh karena itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
memandang perlu menetapkan fatwa tentang hukum wakaf
uang untuk dijadikan pedoman oleh masyarakat.
2.2.1.6. Sertifikasi Wakaf Uang
Wakaf tunai merupakan salah satu usaha yang tengah
dikembangkan dalam rangka meningkatkan peran wakaf dalam
bidang ekonomi. Salah satu model mobilisasi wakaf tunai adalah
sertifikasi wakaf tunai. Adapun tujuan dari produk sertifikasi
wakaf tunai adalah sebagai berikut (Strategi Pengembangan
Wakaf Tunai di Indonesi, 2006):
1. Penggalangan tabungan sosial dan men-transformasikan
tabungan sosial menjadi modal sosial serta membantu
mengembangkan pasar modal sosial.
2. Meningkat investasi sosial.
3. Menyisihkan sebagian keuntungan dari sumber daya orang
kaya (berkecukupan) mengenai tanggung jawab sosial mereka
terhadap masyarakat sekitarnya.
4. Menciptakan integritas antara keamanan sosial serta
meningkatkan kesejahteraan umat.
30
Operasional kerja dari sertifikasi wakaf tunai adalah
dengan menerbitkan sertifikat dengan nilai nominal yang berbeda-
beda untuk kelompok sasaran yang berbeda-beda (Wadjdy dan
Mursyid, 2007). Beberapa pedoman operasional Sertifikasi Wakaf
Tunai yang dipraktekkan Social Investment Bank Ltd (SIBL)
antara lain (Mannan, 1998):
1. Wakaf Tunai harus dipandang sebagai sumbangan
(endowment) yang sesuai dengan syariah, bank akan mengelola
wakaf atas nama wakif.
2. Wakaf dapat diberikan berulang kali dan rekening yang dibuka
sesuai dengan nama yang diberikan wakif.
3. Wakif diberi kebebasan untuk memilih sasaran wakaf baik
sasaran yang sudah teridentifikasi oleh SIBL atau sasaran
lainnya yang sesuai dengan syariah. Adapun sasaran wakaf
yang sudah berhasil diidentifikasi oleh SIBL secara umum
antara lain: Rehabilitasi Keluarga (Family Rehabilitation),
Pendidikan dan Kebudayaan (Education and Culture),
Kesehatan dan Sanitasi (Health and Sanitation), dan Pelayanan
Sosial (Social Utility Service).
4. Dana Wakaf Tunai akan mendapat keuntungan pada tingkat
yang paling tinggi yang ditawarkan oleh bank dari waktu ke
waktu.
31
5. Dana wakaf akan tetap dan hanya dana yang berasal dari
keuntungan yang akan dibagikan kepada sasaran yang telah
dipilih wakif. Keuntungan yang belum sempat dibagikan
otomatis akan digabungkan, dengan dana wakaf yang sudah
ada yang akan mendapatkan keuntungan yang lebih
berkembang sepanjang waktu.
6. Wakif juga dapat menerima bank untuk menyalurkan seluruh
keuntungan yang diperoleh kepada sasaran yang telah
ditentukan oleh wakif.
7. Wakif mempunyai kesempatan memberi wakaf tunai sepanjang
waktu. Walaupun tidak, wakif akan memberikan wakaf sebesar
yang dia inginkan dan akan mulai dengan nilai minimum wakaf
sebesar Rp. 1000. Wakaf berikutnya akan sebesar Rp. 1000
pula atau kelipatannya.
8. Wakif mempunyai hak untuk memberikan perintah pada bank
untuk mengambil dana wakaf dari rekening lainnya di SIBL
secara rutin.
9. Wakaf tunai harus diterima dalam bentuk endowment recipth
voucher tertentu dan satu sertifikat untuk seluruh nilai harus
diterbitkan ketika wakaf tersebut diberikan.
32
10. Prinsip dan ketentuan mengenai Rekening Wakaf Tunai
berdasarkan amandemen dan akan dievaluasi dari waktu ke
waktu.
2.2.1.7. Pengelolaan Wakaf Uang
Pada kejayaan Islam, wakaf juga pernah mencapai
kejayaan walaupun pengelolaannya masih sangat sederhana.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, maka berkembang
pula pemikiran mengenai objek wakaf yang dulunya masyarakat
hanya mengenal wakaf berupa harta tidak bergerak sekarang
masyarakat dikenalkan dengan wakaf tidak bergerak seperti wakaf
uang. Salah satu pengelolaan wakaf uang dengan cara investasi.
Pengelolaan dana wakaf sebagai instrumen investasi menjadi
menarik, karena benefit dari investasi tersebut dapat dinikmati
oleh masyarakat dimana saja baik lokal, regional maupun
internasional (Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf,
2006).
Inti ajaran yang terkandung dalam amalan wakaf itu sendiri
mengehendaki agar harta wakaf itu tidak boleh hanya dipendam
tanpa hasil yang akan dinikmati oleh al-mauquf’alaih. Semakin
banyak hasil harta wakaf yang dapat dinikmati orang, akan
semakin besar pula pahala yang akan mengalir kepada pihak
wakif. Berdasarkan hal tersebut, maka pengembangan harta wakaf
33
merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh pengelola
(nadzir) (Nasution dan Hasanah ed., 2005).
Terdapat dua macam praktik wakaf yaitu wakaf mutlaq dan
wakaf muqayyad. Wakaf mutlaq adalah praktik wakaf dimana
wakif menyerahkan sepenuhnya kepada si nadzir untuk
mengelolanya tanpa batas. Sedangkan wakaf muqayyad adalah
wakaf dimana wakif mensyaratkan agar harta yang diwakafkan itu
hanya boleh dikelola dengan cara tertentu dan diberikan kepada
pihak tertentu.
Pengelolaan wakaf tunai dapat dilakukan melalui
perbankkan syari’ah maupun lembaga swasta.
1. Wakaf uang di kelola bank syariah
Bank syariah hanya menjadi nadzir penerima dan
penyalur. Sedangkan fungsi pengelola dana akan dilakukan
oleh lembaga lain, misalnya Badan Wakaf Nasional (BWN),
yang sendirinya tanggung jawab pengelolaan dan termasuk
hubungan kerjasama dengan lembaga penjamin berada pada
BWN. Beberapa peran yang bisa di unggulkan bila wakaf tunai
dikelola oleh bank (Sudarsono, 2007):
a. Jaringan kantor.
b. Kemampuan sebagai Fund Manager.
c. Pengalaman, jaringan informasi dan peta distribusi.
34
d. Citra positif.
Adapun tujuan bank syariah sebagai pengelola dana
wakaf tunai, yaitu (Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di
Indonesia, 2006):
i. Menyediakan jasa layanan perbankan dengan menerbitkan
sertifikat wakaf tunai dan melakukan manajemen terhadap
dana wakaf tersebut.
ii. Membangun melakukan mobilisasi tabungan sosial dan
melakukan transformasi dari tabungan sosial ke modal.
iii. Memberikan benefit kepada masyarakat khususnya,
masyarakat miskin melalui optimalisasi sumber daya
masyarakat kaya.
iv. Membantu perkembangan pasar modal sosial (social capital
market).
Skema alternatife bila bank syariah sebagai nadzir
penerima dan penyalur dana wakaf
35
Gambar 2.1
Bank sebagai penerima dan penyalur
2. Wakaf uang di kelola lembaga swasta
Lembaga swasta mengelola sendiri dana yang diterima
muwakif dengan system musyarakah atau mudharabah tanpa
mengurangi nilai aset wakaf. Adapun keunggulan dari wakaf
tunai yang dikelola oleh swasta adalah (Sudarsono, 2007):
a. Sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
b. Ada control langsung oleh masyarakat.
c. Menumbuhkan solidaritas masyarakat.
Wakif
Lembaga
Penj amin
Rugi
Laba
Pengelolaan Dana
Badan Wakaf Nasional
Bank Syariah Al-Mauquf ’ alaih
36
Gambar 2.2
Lembaga sebagai Penerima dan Penyalur
2.2.1.8. Fundraising Wakaf Uang
1. Pengertian Fundraising
Fundraising merupakan pengumpulan dana. Fundraising
Campain berarti kampanye pengumpulan dana (Echols dan
Shadily, 2005). Fundraising juga dapat diartikan sebagai
kegiatan dalam rangka menghimpun dana dari masyarakat dan
sumber daya lainnya dari masyarakat (baik individu, kelompok,
organisasi, perusahaan ataupun pemerintah) yang akan
digunakan untuk membiayai program dan kegiatan operasional
organisasi/lembaga sehingga mencapai tujuannya.
2. Tujuan Fundraising
Wakif
Lembaga
Penj amin
Rugi
Laba
Pengelolaan Dana
Badan Usaha Lembaga Swast a
M isalnya Pendidikan
Lembaga Swast a
M isal nya Pendi di kan
Al-M auquf ’ alai h
37
Ada beberapa hal yang menjadi tujuan dari fundraising bagi
sebuah organisasi pengelolaan wakaf adalah sebagai berikut
(Purwanto, 2009):
a. Pengumpulan dana. Dana yang dimaksudnya disini bukanlah
uang saja, tetapi dana dalam arti luas. Termasuk di dalamnya
barang dan atau jasa yang memiliki nilai materi.
b. Menghimpun para wakif. Badan wakaf yang baik adalah
badan wakaf yang setiap hari memiliki data pertambahan
wakif. Dengan bertambahnya wakif secara otomatis akan
bertambah pula jumlah dana yang terhimpun.
c. Meningkatkan citra lembaga badan wakaf. Aktivitas
fundraising yang dilakukan oleh sebuah organisasi
pengelola badan wakaf, baik langsung maupun tidak
langsung akan membentuk citra organisasi itu sendiri.
d. Ketika sebuah badan wakaf melakukan penghimpunan dana
wakaf, maka ada tujuan jangka panjang untuk menjaga
loyalitas wakif agar tetap memberikan sumbangan dana
wakafnya kepada badan wakaf.
e. Unsur-unsur fundraising
Ada beberapa unsur penting dalam fundraising
adalah:
a) Kebutuhan wakif
38
Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta
benda miliknya (Pasal 1 butir 2 UU No. 41 tahun 2004
tentang Wakaf). Wakif yang memahami Islam dengan
baik akan banyak bertanya tentang bagaimana
pelaksanaan pengelolaan serta pendistribusian wakaf
yang dikelola oleh badan wakaf. Mereka menginginkan
pengelolaan dan pendistribusiannya sesuai dengan
tuntunan syariah dan diterima oleh Allah swt. Sehingga
apabila pengelolaan dan pendistribusian sesuai dengan
syariah, mereka akan senantiasa berwakaf.
Adapun sesuatu yang dibutuhkan wakif adalah
sebagai berikut (Purwanto, 2009):
i. Laporan dan pertangungjawaban
Sesuatu yang dibutuhkan wakif adalah laporan dan
pertanggungjawaban. Kredibilitas badan wakaf bisa
runyam apabila para wakif sudah tidak ada
kepercayaan lagi kepada badan wakaf. Salah satu
menjaga kepercayaan wakif adalah dengan cara
menyampaikan laporan dan pertanggungjawaban.
Karena dari laporan dan pertanggungjawaban
tersebut, wakif dapat memberikan penilaian
39
sejauhmana kiprah lembaga wakaf melakukan
pendistribusiannya.
ii. Manfaat bagi kaum umat
Kebutuhan wakif yang lain adalah manfaat dana
wakaf yang diberikan wakif bagi kaum dhuafa.
Apakah dana yang diberikan hanya sekedar untuk
mencukupi kebutuhan sesaat atau malah sudah
dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan jangka
panjang.
iii. Pelayanan yang berkualitas
Salah satu kekuatan yang mendorong wakif untuk
mengeluarkan dana wakaf adalah pelayanan yang
baik yang diberikan oleh badan wakaf kepada para
wakif. Kemudahan yang diberikan dalam melakukan
transaksi pembayar, pembayaran wakaf melalui kartu
kredit atau transfer melalui ATM, layanan jemput
wakaf bagi yang sibuk untuk keluar melakukan
pembayaran wakaf, membuka konsultasi wakaf bagi
para wakif dan calon wakif merupakan salah satu
upaya bagi badan wakaf untuk memberikan
pelayanan yang baik kepada para wakif.
iv. Silaturahmi dan komunikasi
40
Silaturahmi dan komunikasi merupakan hal penting
bagi peningkatan pendapatan dana wakaf. Dengan
silaturahmi dan komunikasi badan wakaf dapat
memberikan penjelasan panjang lebar terhadap wakif
dan calon wakif tentang program dan kegiatan yang
akan dan sudah dilakukan oleh badan wakaf.
b) Segmentasi
Segmentasi pasar merupakan suatu proses
mengelompokkan pasar keseluruhan yang heterogen
menjadi kelompok-kelompok atau segmen-segmen yang
memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan, keinginan,
perilaku dan/atau respon terhadap program pemasaran
spesifik (Tjiptono, dkk., 2008).
c) Identitas calon wakif
Wakif merupakan kekuatan yang besar bagi
badan wakaf dalam melanjutkan untuk tercapainya
tujuan jangka panjang suatu badan wakaf. Oleh karena
itu dibutuhkan wakif yang loyal terhadap badan wakaf.
Dalam menentukan calon wakif badan wakaf harus
memahami calon wakif.
Adanya pemilihan database calon wakif akan
sangat membantu para petugas fundraising dalam
41
menentukan target dan sasaran. Ada beberapa cara yang
dapat mengetahui profil calon wakif yaitu; pertama,
melihat database yang ada misalnya; nama, alamat,
nomor telpon dan lain-lain., kedua, perantara pihak
ketiga., ketiga, bertanya kepada orang-orang terdekat
dari calon wakif.
Selain itu identifikasi calon wakif juga sebagai
sarana memperkuat ukhuwah islamiyah. Dimana
ukhuwah islamiyah memiliki tingkatan yaitu (Purwanto,
2009):
i. Ittishal (hubungan antar manusia)
ii. Taaruf (saling berkenalan antara pengelola badan
wakaf dengan calon wakif)
iii. Tafahun (saling memahami)
iv. Taawun (saling tolong-menolong antar manusia baik
sebagai, pengelola badan wakaf, wakif maupun
maukuf alaih)
v. Takaful (senasib dan penaggungan)
vi. Tauhidush shufuf (kesatuan barisan)
d) Positioning
Positioning atau posisi pasar adalah bagaimana
sebuah perusahaan memposisikan dirinya dengan para
42
pesaing untuk memenuhi kebutuhan para pembeli dalam
target pasar.
e) Produk
Produk adalah hal yang dapat ditawarkan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan wakif. Produk-
produk pengelolaan wakaf merupakan produk
pelayanan yang memudahkan wakif dalam menyalurkan
harta wakafnya. Adapun unsur produk dalam
pengelolaan wakaf antara lain (Purwanto, 2009):
i. Produk harus menjadi wahana pengelolaan dan
penyalur wakaf.
ii. Produk badan wakaf harus menjadi wahana
kepedulian sosial.
iii. Produk badan wakaf harus berbentuk dan dalam
kemasan modern.
iv. Produk yang digulirkan menjadi program yang
memiliki keunggulan.
v. Produk harus memberikan pertanggungjawaban yang
jelas.
vi. Produk menjadi pencitraan bagi badan wakaf.
f) Harga dan biaya transaksi
43
Harga bagi wakif adalah besaran nilai yang
harus dikurbankan oleh seorang wakif untuk menikmati
jasa penyaluran wakaf melaui badan wakaf. Penetapan
harga merupakan strategi kunci di dalam sebuah badan
wakaf sebagai konsekuensi dari regulasi, persaingan,
rendahnya minat orang untuk berwakaf, serta peluang
bagi badan wakaf untuk menetapkan positiongnya.
Badan wakaf dalam melakukan pengumpulan dana
seyogyanya meminimalisir biaya yang harus
dikeluarkan oleh wakif. Untuk meminimalisir biaya
yang dikeluarkan wakif, dapat dilakukan strategi subsidi
dalam mengatasi biaya transaksi. Maksudnya dalam
membiayai suatu program dan kegiatan, badan wakaf
harus mempertimbangkan kemampuan biaya, kebutuhan
dan keinginan wakif.
g) Promosi
Promosi merupakan salah satu variabel dalam
manajemen pemasaran yang sangat penting
dilaksanakan oleh perusahaan (badan wakaf) dalam
memasarkan produk jasa kepada konsumen (wakif).
Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat
komunikasi antar pengelola wakaf dengan wakif,
44
melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi wakif
dalam kegiatan pembeliaan atau penggunaan jasa sesuai
dengan keinginan dan kebutuhannya (Lupitoadi dan
Hamdani, 2008). Promosi yang dianggap paling bagus
bagi badan wakaf adalah silaturahmi, hal ini
dikarenakan silaturahmi merupakan perintah agama,
komunikasi lisan secara langsung antar badan wakaf
dengan wakif. Mempengaruhi wakif dengan tatap muka
akan memungkinkan terjadinya umpan balik yang akan
membantu petugas untuk menyesuaikan, menganalisis
kebutuhan, keinginan para wakif (Purwanto, 2009).
Sedikitnya ada empat macam sarana promosi yang
dapat digunakan oleh badan wakaf yaitu (Arif, 2010):
i. Periklanan (advertising), digunakan untuk
menanamkan citra jangka panjang serta suatu cara
yang efisien untuk mencapai sejumlah calon wakif
baik yang berada di pusat kota, pinggiran kota
sampai wilayah pedesaan.
ii. Promosi penjualan (sales promotion), sebagai sarana
yang lebih komunikatif dan intensif.
iii. Penjualan pribadi (personal selling), merupakan cara
yang paling efektif untuk memberikan informasi
45
kepada konsumen, menanamkan pilihan pembeli,
keyakinan pembeli, dan tindakan pembeli pada
tingkat tertentu dalam proses pembelian.
iv. Publisitas (publicity), mempunyai nilai kepercayaan
yang tinggi bisa menjangkau banyak pihak, dan
mempunyai banyak potensi untuk mendramatisasi
suatu perusahaan atau produk.
h) Maintance
Maintance merupakan upaya badan wakaf untuk
senantiasa menjalin hubungan baik dengan wakif, agar
supara wakif tetap loyal terhadap badan wakaf. Jika
wakif loyal, maka seiring dengan tingkat pertumbuhan
dan perkembangan badan wakaf, penghimpunan dana
wakafpun akan meningkat. Menurut Purwanto
keloyalan OPZ (zakat infaq, shadaqah dan wakaf)
disebabkan karena beberapa hal, diantaranya (Purwanto,
2009):
i. Amanah dan jujur
ii. Penampilan dan petugasnya yang menarik
iii. Petugasnya ramah-ramah
iv. Laporan diberikan tepat waktu
v. Mudah dalam pembayarannya
46
2.2.2. Strategi Pemasaran
Strategi berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata strategeia
(stratus artinya ‘militer’ dan ag artinya ‘memimpin’), yang secara lengkap
bermakna seni atau ilmu untuk menjadi seorang pemimpin atau jendral
(dalam militer) (Tjiptono, 1995). Kemudian lambat laun pengertian dari
bahasa Yunani tersebut diintrodusir ke dalam bahasa Indonesia dan
mengalami pengertian ulang menjadi strategi dalam arti sebuah taktik atau
cara untuk mencapai tujuan.
Kata pemasaran (marketing) dapat dijelaskan melalui dua
terminology, yaitu dalam term sosial dan manajerial. Dalam terminology
sosial, pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan
kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
penciptaan, penawaran atau mempertukarkan secara bebas produk yang
bernilai dengan pihak lain (Khotler, 2002). Sedangkan pengertian secara
manajerial, Asosiasi Pemasaran Amerika mendefinisikan pemasaran
sebagai proses pelaksanaan dan perencanaan pemikiran, penetapan harga,
promosi serta penyaluran barang atau barang dan jasa untuk menciptakan
pertukaran yang memenuhi sasaran individu maupun organisasi (Bennet,
dalam Khotler, 2002).
Strategi pemasaran sendiri didefinisikan secara beragam oleh para
ahli, di antaranya adalah menurut Sumarni strategi pemasaran mengandung
tiga unsur penting yaitu strategi pasar sasaran, strategi posisi bersaing dan
47
strategi marketing mix. Hal ini terlihat dari pengertian yang diberikannya
yaitu: “strategi pemasaran adalah seleksi atas pasar sasaran, penentuan
posisi bersaing dan pengembangan suatu marketing mix yang efektif untuk
mencapai dan melayani nasabah-nasabah yang dipilih” (Sumarni, 2002)
Sedangkan menurut Kuncoro dan Suhardjono, pengertian strategi
pemasaran adalah (Kuncoro dan Suhardjono, 2002):
“Strategi pemasaran merupakan cara-cara yang harus dilakukan untuk
mencapai tujuan pemasaran bank yaitu dengan melakukan langkah-
langkah seperti segmentasi pasar, menetapkan pasar sasaran, menetapkan
posisi pasar, menetapkan strategi memasuki pasar dan mengembangkan
bauran pemasaran ”
Pembahasan mengenai strategi pemasaran meliputi 3 hal yaitu
sebagai berikut:
a. Pembuatan sasaran pemasaran
Sasaran pemasaran dalam setiap pasar dinyatakan dari segi
penjualan, kontribusi laba serta tujuan kualitatif serta membangun citra
sebuah produk. Sasaran yang dimaksud dalam pembuatan sasaran
pemasaran ini meliputi dua kelompok yaitu sasaran prestasi pasar dan
sasaran penunjang pasar. Sasaran prestasi pasar ini dimaksudkan untuk
memperoleh hasil yang lebih spesifik seperti hasil penjualan dan adanya
laba. Sedangkan sasaran penunjang pemasaran dimaksudkan untuk hasil
prestasi akhir membangun kesadaran pelanggan dan ikut sertanya
48
pelanggan dalam kaitannya dengan perusahaan (Culliga, alih bahasa
Hermoyo, 1996).
b. Langkah-langkah strategi pemasaran
Langkah-langkah strategi pemasaran meliputi tiga hal penting,
yaitu: segmentasi, targeting dan positioning.
1) Segmentasi
Segmentasi pasar merupakan suatu proses mengelompokkan
pasar keseluruhan yang heterogen menjadi kelompok-kelompok atau
segmen-segmen yang memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan,
keinginan, perilaku dan/atau respon terhadap program pemasaran
spesifik (Tjiptono, dkk., 2008). Adapun manfaat dari segmentasi
pasar antara lain (Lupioadi dan Hamdani, 2009):
i. Mendesain jasa yang lebih resposif terhadap kebutuhan pasar.
ii. Menganalisa pasar.
iii. Menemukan peluang.
iv. Menguasai posisi yang superior (unggul) dan kompetitif.
v. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien.
Dalam melakukan segmentasi pasar dapat didasarkan pada
(Kuncoro dan Suhardjono, 2002):
a) Segmentasi geografis, maksudnya membagi pasar berdasarkan
geografisnya misalnya desa-kota.
49
b) Segmentasi demografis, maksudnya membagi pasar berdasarkan
variabel-variabel kependudukan, misalnya; usia, jenis kelamin,
pendidikan, pendapatan dan lain-lain.
c) Segmentasi psikologi, maksudnya menbagi pasar berdasarkan
faktor-faktor psikologi, misalnya; gaya hidup, kelas sosial dan
sebagainya.
d) Segmentasi manfaat, maksudnya bahwa manfaat yang dicari
konsumen dari produk ataupun jasa adalah alasan utama yang
mendasari mereka untuk membeli produk (Lupioadi dan
Hamdani, 2009)
e) Segmen pengguna. Segmen ini berfokus pada jenis dan batasan
penggunaan seperti pengguna berat, pengguna menengah,
pengguna ringan atau bukan pengguna bagi jasa tersebut.
Adapun faktor dominan yang sering digunakan dalam
melakukan segmentasi adalah tingkat pendapatan masyarakat, tingkat
kepentingan, tingkat status sosialnya serta tingkat brand awcreness
(Kuncoro dan Suhardjono, 2002).
2) Targeting
Targeting atau pembidikan pasar adalah merupakan
kelanjutan dari usaha segmentasi. Pada proses targeting ini seluruh
peluang-peluang yang terlihat saat melakukan segmentasi akan
dievaluasi untuk memutuskan berapa banyak dan pasar mana yang
50
akan menjadi pasar sasaran yang sesuai dengan produk-produk yang
dibutuhkan oleh pasar sasaran tersebut. Menurut Kuncoro sedikitnya
ada tiga strategi yang akan digunakan dalam penentuan pasar yaitu
(Kuncoro dan Suhardjono, 2002):
a) Pemasaran serba sama. Pemilihan ini dilakukan karena perbedaan
segmen pasar tidak menyolok. Sehingga dengan satu tawaran
produk wakaf tunai dapat menarik sebagian besar wakif.
b) Pemasaran serba aneka. Hal ini dilakukan karena segmen pasar
yang ada tidak dapat digabungkan, sehingga harus didesain
produk jasa wakaf tunai untuk masing-masing segmen pasar.
c) Pemasaran terpusat. Cara ini dilakukan karena hanya ada satu
segmen pasar yang paling menguntungkan. Sehingga produk jasa
yang ditawarkan hanya dipusatkan pada pasar tertentu.
Adapun menurut Tjiptono untuk memilih atau membidik
pasar sasaran adalah sebagai berikut (Tjiptono, dkk., 2008):
a) Pemilihan pasar dengan fokus pada satu kelompok yang
mempunyai kebutuhan hampir sama dengan tujuan untuk
mendominasi produk tersebut (Single Segment Concertration).
b) Pemilihan pasar dengan fokus pada jumlah segmen yang menarik
dan berpotensi untuk menghasilkan uang (Selective
Specialization).
51
c) Pemilihan pasar dengan fokus menjual produk tertentu yang
ditujukan pada beberapa segmen (Product specialization).
d) Pemilihan pasar dengan fokus melayani banyak kebutuhan dari
suatu segmen tertentu (Maket Specialization).
e) Pemilihan pasar dengan melayani seluruh kelompok pelanggan
dengan semua produk yang mereka butuhkan (Full Market
Coverage).
3) Positioning
Positioning atau posisi pasar adalah bagaimana sebuah
perusahaan memposisikan dirinya dengan para pesaing untuk
memenuhi kebutuhan para pembeli dalam target pasar. Positioning
tidak dilakukan pada produk perusahaan tersebut tetapi dilakukan
untuk membuat opini pada pikiran konsumen. Hal ini penting
dilakukan untuk membentuk image tentang produk atau bisnis di
dalam pikiran konsumen, sehingga nantinya perusahaan dapat
menentukan strategi pemasaran yang tepat berdasarkan persepsi
konsumen mengenai produk atau bisnis tersebut.
Ada tiga langkah dalam melaksanakan positioning, yaitu
(Kotler, 2002):
a) Mengenali keunggulan-keunggulan yang mungkin dapat
ditampilkan dalam hubungan dengan pesaing. Mengenali
keunggulan kompetitif yang mungkin memberikan nilai yang
52
terbesar dengan cara mengadakan perbedaan, yaitu; diferensiasi
produk, jasa, personal serta diferensiasi citra.
b) Memilih keunggulan-keunggulan yang paling kuat menonjol.
Pertimbangan memilih keunggulan kompetitif yang paling
menonjol adalah berapa banyak perbedaan yang dipromosikan
dan perbedaan mana yang dipromosikan.
c) Menyampaikan keunggulan itu secara efektif kepada target
pasar.
c. Formulasi strategi pemasaran
Formulasi dalam strategi pemasran adalah kumpulan petunjuk
dan kebijakan yang digunakan secara efektif untuk mencocokkan
program pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) dengan
peluang pasar sasaran guna mencapai sasaran usaha. Dalam bahasa yang
lebih sederhana, suatu strategi pemasaran pada dasarnya menunjukkan
bagaimana sasaran pemasaran dapat dicapai.
Adapun untuk membangun sebuah strategi pemasaran yang efektif,
suatu perusahaan menggunakan variable-variabel bauran pemasaran
(marketing mix) yang terdiri atas (Bygrave, dalam Menggagas Bisnis
Islami, 1995):
1) Produk (product): barang/jasa yang ditawarkan
2) Harga (price) yang ditawarkan
53
3) Saluran distribusi (placement) yang digunakan dan tersedia bagi para
pelanggan
4) Promosi (promotion): iklan, personal selling, promosi penjualan dan
promosi.
2.2.3. Kepuasan Konsumen (Wakif)
Kepuasan merupakan tingkat perasaan di mana seseorang
menyatakan hasil perbandingan atas kinerja produk (jasa) yang diterima
dan yang diharapkan (Kotler, 1997). Tingkat kepuasan pelanggan yang
tinggi dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan mencegah perputaran
pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga,
mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi yang
diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan, meningkatnya
efektivitas iklan, dan meningkatkan reputasi bisnis (Fornell, 1992).
Salah satu faktor yang menentukan kepuasan pelanggan adalah
persepsi pelanggan mengenai kualitas (Triton, 2008). Menurut Kotler ada
beberapa cara untuk mencapai kepuasan pelanggan melalui peningkatan
kualitas pelayanan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut:
1. Memperkecil kesenjangan-kesenjangan yang terjadi antara pihak
manajemen dan pelanggan.
2. Perusahaan harus mampu membangun komitmen bersama untuk
menciptakan visi di dalam perbaikan proses pelayanan. Yang
dimaksud di dalamnya adalah memperbaiki cara berpikir, perilaku,
54
kemampuan dan pengetahuan dari semua sumber daya manusia
yang ada.
3. Memberi kesempatan kepada pelanggan untuk menyampaikan
keluhan. Dengan cara membentuk sistem saran dan kritik.
4. Mengembangkan dan menerapkan accountable, proactive, dan
partnership marketing sesuai dengan situasi pemasaran. Perusahaan
menghubungi pelanggan setelah proses pelayanan terjadi untuk
mengetahui kepuasan dan harapan pelanggan (accountable).
Perusahaan menghubungi pelanggan dari waktu ke waktu untuk
mengetahui perkembangan pelayanannya (proactive). Sedangkan
partnership marketing adalah pendekatan dimana perusahaan
membangun kedekatan dengan pelanggan yang bermanfaat untuk
meningkatkan citra dan posisi perusahaan di pasar.
Kepuasan dan ketidak puasan pelanggan akan suatu produk jasa
akan memberikan dampak tersendiri kepada prilaku pelanggan terhadap
produk tersebut, misalnya bagaimana pelanggan melakukan pembelian
kembali. Untuk menguji besarnya dimensionalitas pendorong prilaku
pelanggan Parasuraman, dkk. membuat analisis faktor pendorong prilaku
pelanggan. Hal ini dikarenakan pendorong tersebut didesain untuk
mewakili lima kategori dimensi prolaku pelanggan (loyalitas terdiri lima
item, beralih produk terdiri dua item, kemauan untuk membayar lebih
terdiri dua item, respon eksternal untuk penyelesaian masalah terdiri dari
55
tiga item dan respon internal untuk penyelesaian masalah terdiri dari satu
item) yang merupakan rekonfigurasi 13 item.
Ketiga belas faktor pendorong dibentuk dengan maksud untuk
menstandari jangkauan atau lebarnya prilaku pelanggan dan
dikelompokkan dalam empat kategori yaitu; komunikasi dari mulut ke
mulut (word-of-mouth communication), keinginan membeli (purchase
intentions), sensitivitas terhadap harga (price sensitivity), dan prilaku
pengaduan (complaning behavior).
2.3. Deskriptif BWU-T MUI DIY
2.3.1. Pedoman BWU-T MUI DIY
Sesuai Pedoman BWU-T MUI DIY yang berisi tentang
pedoman pengelolaan wakaf uang tunai menyebutkan bahwa salah satu
bentuk wakaf yang praktis dan diperbolehkan dalam islam adalah
wakaf uang tunai. Wakaf uang disamping memberikan dampak dan
hasil bagi orang yang berwakaf (wakif), maka apabila dapat dikelola
dengan baik akan dapat memberikan dampak dan hasil untuk
kesejahteraan umat.
Untuk dapat mengoptimalkan pengelolaan wakaf uang ini,
maka diperlukan pengelolaan yang professional. Untuk itu, Majelis
Ulama Indonesia membentuk lembaga sosial dan ekonomi keagamaan
yang bernama Badan Wakaf Uang-Tunai (BWU-T) yang diatur dalam
pedoman sebagai berikut:
56
2.3.1.1. Nama, status dan tempat kedudukan
a. Lembaga ini bernama Badan Wakaf Uang-tunai disingkat
BWU-T MUI DIY.
b. Status BWU-T MUI adalah Nadhir Wakaf dan sifat BWU-T
adalah lembaga otonom yang independent di bawah MUI
Propinsi DIY.
c. BWU-T MUI berkedudukan di Yogyakarta.
2.3.1.2. Asas, tujuan, sifat dan usaha
a. BWU-T berasaskan Islam
b. Tujuan BWU-T adalah meningkatnya kesejahteraan
masyarakat melalui pengelolaan wakaf uang-tunai
c. Usaha BWU-T
1. Melakukan penyuluhan tentang wakaf uang-tunai
2. Mendorong dan memberikan bimbingan kepada orang
untuk melaksanakan wakaf uang-tunai
3. Melaksanakan pengelolaan wakaf uang-tunai secara
profesional:
a) Menerima wakaf uang-tunai
b) Memelihara dan memberdayakan wakaf uang-tunai
menjadi wakaf yang produktif
c) Mentasarufan hasil wakaf produktif untuk
kemaslahatan umat dan pengembangan Agama.
57
2.3.1.3. Organisasi
a. BWU-T dibentuk oleh Dewan Pimpinan MUI Propinsi
DIY
b. BWU-T dapat dibentuk di Kabupaten dan Kota sebagai
Cabang oleh MUI Kabupaten/Kota, setelah mendapat izin
dari BWU-T dan MUI Propinsi DIY.
2.3.1.4. Manfaat
1. Bagi wakif memberikan amalan yang tidak terputus
pahalanya ('amal jariyah)
2. Bagi UMKM dapat menggerakkan bisnis riil yang sesuai
dengan syari’ah sehingga menciptakan lapangan pekerjaan
dan dampak positif lainnya
3. Bagi mauquf’alaih (penerima manfaat dari keuntungan
dana wakaf yang diinvestasikan ke bisnis riil) dapat
memberikan bantuan sosial yang bersifat langsung.
2.3.1.5. Sasaran wakaf
1. Orang (individu)
2. Sekelompok individu
2.3.1.6. Peruntukan manfaat sasaran wakaf
1. Bantuan beasiswa pendidikan
2. Pelayanan kesehatan gratis
3. Dan lainnya yang berorientasi pada kesejahteraan umat
58
4. Bantuan kesejahteraan bagi kaum dhuafa
2.3.2. Deskripsi produk BWU-T MUI DIY
Wakaf tunai produktif, merupakan wakaf uang yang dikelola
secar produktif pada bisnis yang sesuai denga syari’ah islam, baik
secara langsung maupun melalui produk keuangan syari’ah yang
keuntungannya ditujukan kepada kaum dhuafa yang membutuhkan.
Pengelolaan dilakukan nadzir (pengelola dana wakaf) secara
profesional dengan sirkulasi dana melaui Bank BPD DIY Syari’ah.
Laporan keuangan dipublikasikan secara berkala melalui media cetak.
2.3.2.1. Prosedur mewakafkan uang
1. Wakif dapat mewakafkan uangnya melalui:
Wakif datang sendiri atau mewakilkan kepada orang lain
yang diberi surat kuasa ke outlet Bank BPD DIY Syari’ah,
Jl. Cik Ditiro No. 34 Yogyakarta atau seluruh Kantor
Cabang atau Cabang Pembantu Bank BPD DIY.
2. Wakif akan mengisi lembaran Akad Ikrar Wakaf (AIW)
dan mendapatkan sertifikat wakaf uang-tunai. Bagi yang
menyetor dikantor cabang akan mendendapatkan sertifikat
wakaf uang-tunai paling lambat satu minggu setelah
penyetoran.
3. Menyerakan fotocopy indentitas (KTP/SIM/Paspor).
59
4. Mengisi slip setoran ke rekening 500-262-777-1 atas nama
BWUT-MUI DIY kemudian menyetorkan ke teller.
2.3.2.2. Keunggulan
1. Lebih akuntabel karena bekerjasama dengan Bank.
2. Transparan, pertanggungjawaban dilaporkan satu tahun
sekali melaui media massa.
3. Dana dikelola secara professional oleh nadzir yang dalam
sirkulasi dananya bekerjasama dengan Bank BPD DIY
Syari’ah.
4. Pentasarufannya kepada kaum dhuafa, bisa untuk
pengembangan pemberdayaan ekonomi ummat maupun
untuk konsumtif.
5. Dana wakaf tidak berkurang, karena menggunakan prinsip
“menahan pokoknya dan menyalurkan hasilnya”
2.3.2.3. Contoh penggalangan dana
Penggalangan dana dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Untuk sekolah (siswa maupun mahasiswa) dengan
mengumpulkan infaq sebulan sekali sebesar @ Rp. 1.000,-.
2. Infaq diambil dari kegiatan-kegiatan tertentu.
3. Untuk Pegawai Negeri/Karyawan/Karyawati dengan
mengumpulkan infaq sebulan sekali sebesar @ Rp. 10.000.
atau seikhlasnya.
60
2.3.3. Hasil rapat program kerja
Berdasarkan hasil keputusan rapat mengenai Program Kerja
BWU-T MUI DIY yang dilaksanakan di Sekretariat Masjid
P.Diponegoro Kompleks Balaikota, Jalan Kenari No. 56 bahwa:
BWU-T MUI DIY bertujuan meninggkatkan kesejahteraan
masyarakat dan mengembangkan agama Islam melalui wakaf
uang/tunai. Yang memiliki tujuan penetapan Garis-garis Besar
Program Kerja BWU-T MUI DIY adalah terbinanya umat Islam yang
berkualitas tinggi, terciptanya sumber daya muslim yang berakhlah
mulia dan terwujudnya kemampuan kesejahteraan ekonomi umat
dalam bentuk:
“Meningkatnya kualitas pemahaman dan pengalaman ajaran
Islam dalam setiap pribadi muslim di Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta yang tercermin dalam tindakan dan perilaku dalam
kehidupan sehari-hari”.
Ruang lingkup Program BWU-T MUI DIY adalah sebagai
berikut:
A. Kesekretariatan
1. Mengefektifan pemanfaatan dan kegiatan kantor BWU-T
2. Melakukan pembinaan persidangan BWU-T
3. Melakukan pembinaan administrasi BWU-T
4. Mengefektifan penggunaan anggaran BWU-T
B. Seksi Penyuluhan
61
1. Menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah, swasta,
BUMN/BUMD dan lembaga keagamaan Islam untuk
mensosialisasikan tentang pentingnya wakaf uang tunai bagi
umat Islam.
2. Mendorong umat Islam untuk melaksanakan wakaf uang tunai
sesuai dengan kemampuan setiap pribadi umat Islam.
C. Seksi Usaha
1. Mengusahakan agar umat Islam di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta melaksanakan wakaf uang tunai.
2. Mengusahakan bantuan dari pemerintah Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta.
D. Seksi Pengelolaan
Melakukan pengelolaan secara efektif, transparan, akuntabel baik
penerimaan, pembukuan maupun pelaporan.
E. Seksi Penelitian dan Pengembangan
1. Mengadakan sarasehan wakaf tunai, bekerjasama dengan
lembaga keagamaan Islam.
2. Melakukan penelitian terhadap calon penerima wakaf uang
tunai baik untuk usaha produktif maupun konsumtif.
F. Seksi Pentasarufan
Melakukan pentasarufan tepat sasaran baik untuk usaha produktif
(pengembangan modal) maupun untuk penerima konsumtif.
62
Adapun Rencana Kegiatan BWU-T MUI DIY Tahun 2008
M/1429 H dari setiap bagian BWU-T MUI DIY tercermin sebagai
berikut:
A. Sekretariat
1. Melalui Ketua MUI Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
meminta kepada Gubernur Propinsi DIY untuk mengeluarkan
himbauan/instruksi kepada umat Islam, khususnya kepada PNS
beragama Islam, diwilayah Propinsi DIY untuk melaksanakan
wakaf uang tunai.
2. Menetapkan Kantor Sekretariat Pusat BWU-T MUI di Jalan
Kapas No. 3 Yogyakarta, Umbulharjo HP 08122974328 dan
Kantor cabang di Masjid P.Diponegoro Komplek Balaikota No.
56 Yogyakarta, HP 081578834255.
3. Melengkapi alat kantor seperti kop surat, amplop, cap stempel
dan lain-lain.
4. Apabila wakaf uang tunai telah berjalan dengan baik, maka akan
mengangkat seorang manajer untuk menjalankan mekanisme
wakaf uang tunai secara efektif.
5. Mencetak lieflet BWU-T dan spanduk untuk disebarkan kepada
umat Islam di DIY.
6. Membuka rekening BWU-T di Bank BPD Syari’ah DIY Jalan
Cik Ditiro atas nama Drs. H. Harsoyo, M.Si.
63
B. Seksi Penyuluhan
1. Mengadakan penyuluhan wakaf uang tunai kepada pegawai
pemerintah melalui pengajian pejabat/karyawan dan karyawan
PLN, BI dan Telkom melalui kegiatan pengajian di masing-
masing instansi.
2. Menyebarkan lieflet kepada umat Islam di wilayah Propinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta.
3. Mencari sponsorsip dan melakukan pendekatan kepada para
pejabat untuk ikut berpartisipasi terhadap BWU-T.
C. Seksi Usaha
Secara aktif melakukan pendekatan kepada pimpinan sekolah,
instansi pemerintah/swasta dan panitia hari raya qurban dan lain
sebagainya untuk melakukan wakaf tunai.
D. Seksi Pengelolaan
Melakukan pencatatan/pembukuan secara tepat sesuai dengan
ketentuan pembukuan yang benar dan melaporkan keadaan
penerimaan wakaf uang tunai secara berkala kepada masyarakat.
E. Seksi Penelitian dan Pengembangan
1. Mengadakan penelitian terhadap hal-hal yang bermanfaat bagi
organisasi BWU-T.
2. Menyediakan data dan informasi untuk kepentingan organisasi.
3. Menyiapkan Blueprint/ Profil BWU-T.
64
F. Seksi Pentasarufan
1. Melakukan pentasarufan kepada lembaga ekonomi produktif
untuk mengembangkan usaha (bagi hasil)
2. Memberikan bantuan konsumtif kepada lembaga pendidikan dan
dakwah Islam untuk meningkatkan dakwah amar ma’ruf nahi
mungkat.
2.3.4. Pengurus BWU-T MUI DIY
Kepengurusan BWU-T MUI DIY terdiri atas: Dewan
Penasehat (Ketua, Sekertaris dan anggota Dewan), Dewan
Pelaksana (Ketua/Wakil Ketua, Sekretasi/Wakil Sekretaris,
Bendahara/Wakil Bendahara serta seksi-seksi antara lain Seksi
Penyuluhan, Usaha, Pengelolaan, Penelitian dan Pengembangan
serta Seksi Pentasarufan).
I. Dewan Pertimbangan Syari’ah
1. Ketua : Drs. H.M. Thoha Abdurrahman
2. Sekretaris Dewan : KRT. Drs. H. Ahmad Muhsin K.
3. Anggota Dewan : a. Prof. Drs. H. Sa’ad Abdul Wahid
b. H. Herry Zudianto, SE., Akt., MM
c. Drs. H. Syafaruddin Alwi, M.Si.
d. Drs. H. Barmawi Mukri, SH.,M.Ag.
e. GBPH. H. Joyokusumo
f. Dr. H. Agung Danarto
65
g. Prof. Dr. Ainun Naim, MBA
II. Dewan Pelaksana
1. Ketua : Drs. H. Harsoyo, M.Si.
Wakil ketua : Drs. H.M. Halimi Djazim Hamidi, MM
2. Sekretaris : Drs. Rifa’I Abu Bakar, MA
Wakil sekretaris : Muh. Yusuf Wibisono, SE
3. Bendahara : Kompol. Dra. Hj. Saryanti Yuhana
Wakil bendahara : Drs. H.M. Wijdan Al Arifin
4. Seksi-seksi:
a. Seksi Penyuluhan
1) Drs. H. Sunardi Syahuri
2) Dr. H. Muhammad, M.Ag.
3) Drs. H.A. Zuhdi Muhdlor, SH., M.Hum.
b. Seksi Usaha
1) Drs. Ali Mahsun
2) Mujiarto, S.Sos
3) Drs. H. Harun Ghozali, MM
c. Seksi Pengelola
1) Drs. H. Kharis Kaharuddin, MM
2) Ir. Herma Parwaji
3) Drs. Ahmad Nur Umam, MM
d. Seksi Litbang
66
1) H.E. Zaenal Abidin, SH., SU., MPA
2) Duddy Roesmara Donna, SE., M.Si.
3) M. Bekti Hendriyanto, SE., M.Sc.
e. Seksi Pentasarufan
1) Drs. H. Tarmudji, MA
2) Drs. H. Sugito, M.Si.
3) Drs. H. Djufri Arsyad
2.3.5. Mekanisme Kerja
Gambar 2.3
Mekanisme Kerja BWU-T MUI DIY
B A D A N WA K A F U A N G / T U N A I M U I P R O V I N S I D I Y
M E K A N I S M E K E R J A
5
Waqif/ Yang
Mewakafkan Al Mawquf
Alaih/Yang
Menerima
Manfaat
NADZIR
BANKSYARIAH
LembagaPenjamin/Takaful
Bi sn i s & I n v est asi
LABA
RUGI
DEWAN
PENGAWAS
AKUNTAN
PUBLIK
AliranDana
Fungsi Pengawasan
MUI DIY DAN
BPD DIY SYARIAH
Keterangan:
A. Mekanisme aliran dana wakaf uang-tunai dimulai dari:
1. Wakif menyalurkan dana wakaf uang-tunai tersebut kepada
nadzir (BWU-T MUI DIY) dan oleh nadzir diinvestasikan ke
67
dalam rekening tabungan investasi di Bank BPD DIY Syariah
atas nama BWU-T MUI DIY.
2. Setelah dana terkumpul, pihak Bank BPD DIY syariah akan
mengelola lagi dana tersebut ke produk bisnis dan investasi,
salah satunya ke dalam produk Tabungan Mudharabah dan
Deposito Mudharabah.
3. Pembagian keuntungan antara BWU-T MUI DIY dengan Bank
BPD DIY syariah berdasarkan akad bagi hasil yang besarnya
ditentukan oleh Equivalent Rate perbulan. Dari laba bagi hasil
tersebut akan disalurkan sesuai dengan peruntukan wakaf baik
berupa bantuan untuk pengembangan perekonemian umat,
konsumtif maupun untuk bantuan lainnya.
4. Selain diinvestasikan di produk keuangan syariah, dana wakaf
juga dapat dikelola dengan cara menginvestasikan ke bisnis riil.
Namun sampai saat ini untuk penginvestasian dalam bentuk
bisnis riil belum terlaksana, hal ini dikarenakan tidak
mencukupinya dana wakaf uang-tunai. Jika bisnis tersebut
mempunyai laba maka laba tersebut akan disalurkan sesuai
dengan peruntukan wakaf.
5. Dalam pengelolaan dana, nilai pokok dari wakaf uang-tunai
tersebut tidak boleh berkurang nominalnya, yang disalurkan
hanya keuntungan dari bisnis dan investasi tersebut.
68
B. Mekanisme fungsi pengawasan BWU-T MUI DIY
Dewan Pengawas dan Akuntan Publik akan memerikasa
laporan keuangan, dan kemajuan usaha yang dijalankan oleh BWU-
T MUI DIY setiap periode tertentu (minimal setahun sekali).
(wawancara denga Bapak Harsoyo pada tanggal 17 Februari 2010
di Bank BPD DIY Syariah).
69
BAB III
METODE PENELITIAN
Berdasarkan kepada tinjauan kepustakaan serta penelitian terdahulu yang telah
dilakukan oleh peneliti lain maka dapat digambarkan kerangka pemikiran penelitian
ini seperti gambar di bawah ini
Gambar 3.1
Skema Penelitian
Rumusan masalah
Tujuan
Metode
Strategi penghimpunan
wakaf tunai
Kualitatif
Kuantitatif
Preferensi wakif terhadap
produk penghimpunan
wakaf tunai
Data primer Data
Angket (kuesioner) Pengumpulan data
Observasi, wawancara,
dokumentasi
Data primer dan sekunder
Alat analisis
Distribusi frekuensi
Analisis faktor
Analisis SWOT
Kesimpulan / Implikasi
70
3.1. Pendekatan Penulisan
Secara umum metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Terdapat empat kata
kunci yang perlu diperhatikan, yaitu cara ilmiah, data, tujuan, dan kegunaan.
Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan,
yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan
itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan
mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang digunakan
dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis
(Sugiyono, 2008).
Dalam penelitian dikenal adanya dua metode, yaitu metode kuantitatif
dan metode kualitatif. Dalam metode kuantitatif data disusun, diubah, dan
dianalisis dalam bentuk angka. Sedangkan dalam metode kualitatif data
dikumpulkan, disusun dan dianalisis dalam bentuk kata-kata atau gambar.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan sekaligus. Pendekatan
kuantitatif digunakan sebagai bahan telaah diskriptif, untuk mengukur preferensi
para wakif terhadap produk dari BWU-T MUI DIY. Sedangkan pendekatan
kualitatif digunakan sebagai bahan analisi strategi pengumpulan wakaf uang
tunai di BWU-T MUI DIY.
3.2. Objek dan Subjek Penulisan
Objek penelitian dalam penelitan ini adalah Badan Wakaf Uang Tunai
MUI DIY sebagai Nadzir. Sedangkan subjek dari penelitian ini adalah para
71
pemberi wakaf (wakif), serta pengurus BWU-T MUI DIY terdiri dari ketua,
sekretaris dan anggota.
3.3. Jenis Penulisan
Penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research), yaitu
sumber datanya didapat langsung dari lapangan. Dalam hal ini BWU-T MUI
DIY menjadi sumber datanya.
3.4. Definisi Operasional dan Pengukuran
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah probabilitas
peningkatan dana wakaf uang, maksudnya seberapa besar peluang peningkatan
dana wakaf uang yang berhasil dikumpulkan. Sedangkan variabel bebas yang
digunakan pada penelitian ini adalah variabel perspektif wakif, yang meliputi;
1. Variabel Religiusitas
2. Variabel Brand Association
a) Karekteristik Produk Wakaf Uang
b) Persepsi Wakif terhadap Wakaf Uang
3. Variabel Perilaku Wakif
a) Loyalitas
b) Membayar Lebih
c) Pindah
d) Respon Eksternal
e) Respon Internal
72
Untuk memahami dari masing-masing variabel bebas tersebut, akan
dijelaskan definisi operasional dari masing-masing variabel bebas, sebagai
berikut:
3.4.1. Operasional Konsep
a. Religiusitas, adalah untuk mengetahui religiusitas responden dalam
menunaikan ajaran agama Islam dan pemahaman umum mengenai
wakaf. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala likert dengan
jenjang 1 s/d 5.
b. Brand Association, adalah segala hal yang berkaitan dengan ingatan
mengenal merek (Aaker, 1991). Variabel ini berkaitan dengan persepsi
yang terbentuk dalam benak responden mengenai karakteristik atau
atribut-atribut yang dimiliki oleh merek dalam hal ini produk wakaf
uang tunai. Karekterisrik dapat berupa julukan, ciri khas, karekteristik
pemakaiannya dsb. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan skala
likert dengan jenjang 1 s/d 5.
Penelitian brand association Wakaf Uang ini akan mengukur beberapa
hal sebagai berikut:
i. Karakteristik Produk Wakaf Uang
ii. Persepsi Wakif Terhadap Wakaf Uang
c. Perilaku Wakif. Parasuraman dkk., membuat analisis faktor pendorong
perilaku wakif untuk menguji besarnya dimensionalitas dari masing-
masing bagian faktor pendorong. Hal ini disebabkan karena pendorong
73
tersebut didesain untuk mewakili lima kategori dimensi perilaku wakif.
Kelima kategori tersebut adalah loyalitas (dengan lima item), membayar
lebih (dengan dua item), pindah (dengan dua item), respon eksternal
(dengan tiga item) dan respon internal hanya terdiri satu item yang
berpengaruh (Lupiyoadi dan Hamdani, 2008).
3.4.2. Pengukuran
Dalam penelitian ini menggunakan pengukuran skala likert yaitu skala
yang berisi lima tingkat preferensi jawaban dengan pilihan sebagai berikut
(Sugiyono, 2008). Tingkat pengukuran data dalam skala liktert adalah
ordinal sehingga apabila akan dianalisis dengan statistik parametik, harus
dinaikkan terlebih dahulu menjadi skala interval (Suliyanto, 2005). Adapun
penilaian dalam skala liktert adalah sebagai beriktu:
a. Sangat setuju skor 5
b. Setuju skor 4
c. Ragu-ragu skor 3
d. Tidak setuju skor 2
e. Sangat tidak setuju skor 1
3.5. Populasi dan Sampel
3.5.1. Populasi
Populasi adalah himpunan seluruh atau semua individu yang sesuai dengan
karakteristik penelitian yang dapat memberikan informasi atau data untuk
74
diteliti (Soeratno dan Arsyad, 2008). Dalam penelitian ini yang menjadi
populasinya adalah pengurus wakaf dan wakif.
3.5.2. Sampel
Sampel merupakan cuplikan dari populasi yang jumlahnya terbatas yang
terpilih atau dipilih dari populasi individu tertentu (Soeratno dan Arsyad,
2008). Untuk sampel yang digunakan sesuai dengan jumlah variabel,
dimana jumlah sampel minimal adalah empat sampai lima kali jumlah
variabel (Suliyanto, 2005). Dalam hal ini penyusun menggunakan sampel
200 yang responden yang disebar ke berbagai daerah Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta yaitu;
a. Kota Yogyakarta sebanyak 40 responden
b. Kabupaten Sleman sebanyak 40 responden
c. Kabupaten Kulumprogo (Wates) sebanyak 40 responden
d. Kabupaten Bantul sebanyak 40 responden
e. Kabupaten Gunung Kidul (Wonosari) sebanyak 40 responden
3.5.3. Metode Penentuan Sampel
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode pengambilan
sampling Non Probabilitas Sampling dengan teknik convenience sampling,
yaitu berkaitan dengan kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan
(Soeratno dan Arsyad, 2008).
3.6. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
3.6.1.Jenis Pengumpulan
75
Jenis pengumpulan data yang digunakan adalah:
1) Data primer, data yang diambil langsung dari sumber/responden melalui
kuesioner, wawancara maupun dokumentasi yang berkaitan dengan
BWU-T MUI DIY. Kuesioner dibuat dalam dua model, pertanyaan
dalam bentuk terbuka (open ended questions) dan pertanyaan tertutup
(closed ended questions). Pertanyaan terbuka berisi item identitas
responden, sedangkan pertanyaan tertutup meminta responden memilih
salah satu jawaban dari 4 (empat) alternatif jawaban sehubungan dengan
pandangan mereka mengenai wakaf uang tunai.
Dalam penyusunan kuesioner skala yang dipakai adalah skala likert,
yaitu skala yang berisi lima tingkat preferensi jawaban dengan pilihan
sebagai berikut (Sugiyono, 2008):
1 = Sangat setuju
2 = setuju
3 = ragu-ragu
4 = tidak setuju
5 = Sangat tidak setuju
2) Data sekunder, data yang diambil dari analisa dokumen dan studi
pustaka. Dalam memperoleh data sekunder penyusun melakukan
penelusuran terhadap buku-buku, tesis, makalah, jurnal, website ataupun
data-data cetak lainnya yang berhubungan dengan BWU-T.
3.6.2. Tehnik Pengumpulan Data
76
Teknik pengumpulan data merupakan salah satu bagian terpenting
dalam suatu penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
terdiri dari kuesioner, wawancara, dan kepustakaan. Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut.
1) Kuesioner (angket). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data
yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada nara sumber untuk dijawabnya (Sugiyono
2008). Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien
bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa
yang bisa diharapkan dari narasumber. Kuesioner disebarkan sebanyak
200 responden.
2) Wawancara. Wawancara (interview) adalah komunikasi dua arah untuk
mendapatkan data dari responden. Wawancara dilakukan dengan cara
bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasi-informasi
dan keterangan.
Dalam penulisan tesis ini penyusun akan melakukan wawancara
kepada pihak BWUTMUIY sebagai sumber objek penelitian yang
dalam hal ini sebagai pengelola.
3) Kepustakaan. Kepustakaan yaitu pengumpulan data berupa peraturan
perundang-undangan dan bahan-bahan yang terkait serta teori-teori
yang mendukung penelitian tersebut. Penelitian kepustakaan dilakukan
dengan tujuan untuk memperoleh data skunder, yaitu data yang berupa
77
bahan-bahan kepustakaan umum yang diperoleh melalui studi
kepustakaan (library research). Data skunder merupakan data primer
yang diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak pengumpul data
primer atau oleh pihak lain.
3.7. Teknik dan Metode Analisis Data
Teknik dan metode analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
3.7.1. Analisis SWOT
Analisis ini menggunakan instrument analisis SWOT (Rangkuti,
1999). Dari data yang terkumpul, kemudian penyusun menganalisisnya
dengan memperhatikan Strengths (kekuatan), Weaknesses (kelemahan),
Opportunities (peluang) dan Threats (ancaman) BWUTMUIY. Sehingga
melalui analisis swot ini dapat dengan mudah diketahui peta
BWUTMUIY dalam strateginya menghimpun wakaf uang tunai.
Tabel 3.1
Matriks Analisis SWOT
Strengths (S)
Daftar semua kekuatan
yang dimiliki BWU-T
MUI DIY
Weakness (W)
Daftar semua kelemahan
yang dimiliki BWU-T
MUI DIY
Opportunities (O)
Daftar semua peluang
yang dapat
diidentifikasi
Strategi SO
Gunakan semua kekuatan
yang dimiliki untuk
memanfaatkan peluang
yang ada
Strategi WO
Atasi semua kelemahan
dengan memanfaatkan
semua peluang yang ada
Threats (T)
Daftar semua
ancaman yang dapat
didentifikasi
Strategi ST
Gunakan semua kekuatan
untuk menghindar dari
semua ancaman
Strategi WT
Tekan semua kelemahan
dan cegah semua
ancaman
Sumber: Kuncoro dan Suhardjono, 2002
78
3.7.2. Distribusi Frekuensi
Distribusi frekuensi bertujuan untuk mengorganisasikan data
secara sistematik ke dalam berbagai macam klasifikasi tanpa mengurangi
informasi yang ada dari data tersebut (Saleh, 2004).
Adapun cara menentukan distribusi frekuensi adalah sebagai
berikut:
1. Tentukan Range atau jangkauan rata-rata (r)
2. Tentukan banyak kelas (k)
Rumus Strugess:
K = 1 + 3,3log n
3. Tentukan lebar kelas (c)
c = r/k
4. Tentukan limit bawah kelas pertama dan kemudian batas bawah
kelasnya
5. Tambah batas bawah kelas pertama dengan lebar kelas untuk
memperoleh batas kelas atas
6. Tentukan limit atas kelas
7. Tentukan nilai tengah kelas
8. Tentukan frekuensi
3.7.3. Analisis Faktor
79
Menurut Kastaman, dkk., (2003), analisis faktor adalah suatu
metode umum statistik multivariat yang bertujuan untuk menganalisis
variansi maksimum dan mereproduksi korelasi dari serangkaian peubah
pengamatan. Pada prinsipnya analisis faktor digunakan untuk
mengelompokkan beberapa variabel yang memiliki kemiripan untuk
dijadikan satu faktor, sehingga dimungkinkan dari beberapa atribut yang
mempengaruhi suatu komponen variabel yang diringkas menjadi
beberapa faktor utama yang jumlahnya lebih sedikit. Menurut Suliyanto
untuk melakukan penelitian dengan mengunakan analisis faktor, maka
jumlah sampel minimal 4 sampai 5 kali jumlah variabel (Sulianto, 2005).
Reduksi peubah yang diperoleh dengan menggunakan model
analisis faktor tersebut dapat dijelaskan melalui contoh berikut:
Sumber: Suliyanto, 2005
Gambar 3.2
Pengelompokan Peubah Dalam Analisis Faktor
80
3.7.3.1. Jenis analisis faktor. Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis
analisis faktor yaitu analisis faktor eksploratif (Exploratory
Faktor Analysis-EFA) dan analisis faktor konfirmatif
(Confirmatory Faktor Analysis-CFA). Menurut Kerlinger dalam
Amirudin (2009), analisis faktor eksploratif diartikan sebagai
penggunaan analisis faktor untuk mengetahui faktor-faktor apa
yang melandasi sehimpunan variabel atau sehimpunan ukuran,
sedangkan analisis faktor konfirmatif adalah pengunaan analisis
faktor untuk menguji hipotesis mengenai struktur faktor dalam
sehimpunan data. Analisis faktor yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Exploratory Faktor Analysis (EFA).
Menurut Supranto dalam Amirudin (2009), bahwa di dalam
analisis faktor eksploratori, secara a priori tidak ada hipotesis
yang berkenaan dengan komposisi atau struktur, sebaliknya
dalam analisis konfirmatori memerlukan secara eksplisit formula
atau perumusan hipotesis yang berkenaan dengan struktur yang
mendasari. Jadi, analisis faktor konfirmatori memerlukan
spesifikasi mengenai banyaknya faktor terlebih dahulu serta
komposisinya, sedangkan analisis faktor eksploratori tidak
mengunakan. Oleh karena itu, ada lima langkah dalam analisis
faktor eksploratori yaitu:
81
a. Memilih variabel, dengan cara melihat determinansinya
mendekati nol, nilai kaiser-meyer-olkin measure of sampling
adequacy (KMO). KMO merupakan sebuah indeks
perbandingan jarak antara koefisien korelasi dengan koefisien
parsialnya secara keseluruhan. Untuk dapat dilakukan analisis
faktor, KMO dianggap cukup apabila nilai KMO 0,5. Serta
measure of adequacy (MSA). MSA merupakan sebuah
indeks perbandingan jarak antara koefisien korelasi dengan
korelasi parsialnya secara parsial setiap item/variabel, nilai
MSA dianggap cukup apabila nilai MSA 0,5, jika variabel
tersebut kurang dari 0,5 maka harus dikeluarkan (Suliyanto,
2005).
b. Mengekstraksi faktor
c. Mempertahankan faktor yang penting
d. Merotasi faktor
e. Memberi arti hasil penemuan.
3.7.3.2. Metode analisis faktor. Metode yang digunakan dalam analisis
faktor ini adalah Principal Component Analysis (PCA). Metode
ini bertujuan untuk melakukan prediksi terhadap sejumlah faktor
yang akan dihasilkan. Menurut Cooper dan Emory (1998),
metode PCA mentransformasi sebuah himpunan variabel
kedalam sebuah himpunan baru yang berisi variabel majemuk
82
atau komponen utama yang tidak saling berkorelasi dengan yang
lainnya. Semua variabel kombinasi linier tersebut yang disebut
faktor, menerangkan varians dalam keseluruhan data.
Semakin besar bobot suatu variabel terhadap faktor, maka
menunjukkan semakin erat variabel tersebut terhadap faktor yang
terbentuk, demikian juga sebaliknya.
3.7.3.3. Penentuan jumlah faktor. Untuk menentukan berapa faktor yang
akan diidentifikasikan sebagai faktor yang mendominasi,
ditentukan dengan nilai karakteristik (eigenvalue). Salah satu
kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah faktor
yang akan mendominasi adalah dengan menetapkan nilai
eigenvalue 1 (Sulianto, 2005). Bila dari hasil analisis faktor
diperoleh jumlah faktor cukup banyak dan faktor tersebut perlu
dibatasi lagi hingga jumlah tertentu, maka penentuan jumlah
faktor dapat dilakukan dengan menetapkan persentase variansi
tertentu secara subjektif (Dillon dan Goldstein dalam Kastaman
dkk., 2003). Untuk dapat menentukan berapa jumlah faktor yang
diambil berdasarkan percentage of variance, maka faktor
tersebut harus memiliki nilai persentase varian 0,5 dan apabila
mengunakan kriteria kumulatif persentase varian besarnya nilai
kumulatif varian 60 persen (Suliyanto, 2005).
83
3.7.3.4. Rotasi faktor. Analisis faktor menghasilkan faktor matriks yang
berisi faktor loading atau koefisien bobot kontribusi suatu
variabel terhadap faktor. Agar mudah dipahami, dilakukan rotasi
faktor, sehingga faktor matriks yang sebelumnya kompleks
menjadi lebih simpel. Menurut Suliyanto (2005), untuk
mempermudah pembuatan (asumsi) interpretasi mengenai faktor
rotasi orthogonal menghasilkan faktor-faktor yang tidak
berkorelasi satu sama lain, maka metode rotasi yang dipakai
dalam analisis faktor adalah metode orthogonal rotation
varimax. Asumsi ini sebenarnya kurang realistis, namun
demikian metode ini lebih stabil. Sedangkan menurut Ghozali
(2009), karena penelitian bertujuan untuk mengurangi jumlah
variabel asli (awal), maka pilihan rotasi yang cocok adalah
orthogenal. Prosedur ini merupakan metode orthogonal dengan
cara memutar sumbu ke kanan sampai 90
0
yang berusaha
meminimumkan banyaknya variabel dengan muatan tinggi (high
loading) pada suatu faktor (Sulianto, 2005).
3.7.3.5. Penentuan faktor yang terbaik. Menurut Suliyanto, untuk
menamai faktor yang telah terbentuk dapat dilakukan dua cara
yaitu: cara pertama, memberi nama faktor yang dapat mewakili
nama-nama variabel yang membentuk faktor tersebut. Cara
kedua, melihat variabel yang memiliki nilai faktor loading
84
tertinggi. Hal ini dilakukan apabila tidak dimungkinkan untuk
memberi nama faktor yang dapat mewakili semua variabel yang
membentuk faktor tersebut.
85
BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
BWU-T MUI DIY sebagai pengelola wakaf uang, mempunyai peranan yang
penting bagi peningkatan penghimpunan maupun pengelolaan wakaf uang yang
maksimal. Dalam kegiatan sehari-hari BWU-T MUI DIY berkerjasama dengan
Bank BPD DIY Syariah baik dalam penghimpunan maupun dalam pengelolaan.
Untuk semetara ini yang digunakan oleh BWU-T MUI DIY adalah Tabungan
Mudharabah dan Deposito Mudharabah.
Pada bab ini akan memaparkan analisis hasil penelitian yang diperoleh dari
data kuisioner, yang dianalisis dengan meode penelitian yang dipilih untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada penelitian ini. Pertama,
mengenai strategi penghimpunan wakaf uang-tunai. Kedua, Preferensi wakif
terhadap produk wakaf uang-tunai.
Untuk keperluan tersebut akan dilakukan analisis secara ilmiah dengan
menggunakan analisi distribusi frekuensi, analisis SWOT dan analisis faktor.
4.1. Analisis SWOT
Melihat potensi dana wakaf yang sangat besar, maka perlu ada
profesionalisasi dalam penghimpunan maupun pengelolaannya. Efektifitas dan
efisiensi penghimpunan dan pengelolaan dana wakaf sangat perpengaruh
kepada kinerja dari pengurus badan wakaf uang-tunai. Jika dana yang terhimpun
sedikit, maka dapat dipastikan bahwa perkembangan wakaf uang-tunai akan
terhambat, khususnya dalam pemberdayaan umat maupun dalam pembiayaan
86
operasional pelaksanaan wakaf uang-tunai. Dalam pelaksanaannya baik dari
segi penghimpunan maupun segi pengelolaan BWU-T MUI DIY bekerjasama
dengan Bank BPD DIY Syariah.
Pengurus BWU-T MUI DIY untuk sementara menggunakan beberapa
cara dalam menghimpun dana wakaf dari masyarakat yaitu:
Pertama, metode ”menunggu bola”, artinya pengurus BWU-T MUI DIY
menunggu wakif yang dengan sukarela menyerahkan sebagian hartanya untuk
diwakafkan. Metode ini diawali dengan membuka rekening di Bank BPD DIY
Syariah atas nama BWU-T MUI DIY. Sehingga menjadi alternatif yang mudah
bagi masyarakat yang ingin mewakafkan uangnya, para calon wakif bisa
langsung datang ke Bank BPD DIY Syariah atau ke kantor cabang pembantu
Bank BPD DIY yang melayani wakaf uang-tunai.
Kedua, metode ”jemput bola”, artinya pengurus BWU-T MUI DIY
bersikap proaktif untuk mendapatkan calon wakif dan menghimpun dana wakaf
uang-tunai. Metode ini dilakukan dengan cara mendatangi instansi-instansi
pemerintah maupun swasta untuk mensosialisasi wakaf uang-tunai dan
memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dengan harapan mendapatkan dana
wakaf secara rutin dengan sistem pemotongan sekian persen dari gaji sesuai
dengan keikhlasan mereka (wawancara dengan Bapak Halimi, ketua BWU-T
MUI DIY, pada tanggal 20 Februari 2010 di Bank BPD DIY Syariah).
Pada perkembangannya, kedua metode tersebut berjalan sejalan. Proses
sosialisasi terus dilakukan dengan cara sosialisasi dalam forum-forum resmi
maupun tidak resmi di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut
87
Zaki per bulan April sudah terkumpul dana wakaf uang-tunai sebesar Rp.
224.000.000. dan telah memperoleh hasil sebesar Rp. 6.000.000. serta
disalurkan kepada 20 orang usaha mikro di wilayah Kabupaten Bantul dan
Kabupaten Sleman (wawancara dengan Bapak Zaki pada tanggal 15 Mei 2010
di Bank BDP DIY Syariah).
Analisis SWOT adalah salah satu alat analisis manajerial dalam rangka
merumuskan kebijakan strategi perusahaan. Dalam perkembangannya alat ini
tidak saja dipergunakan pada perusahaan, tetapi kegunaannya telah meluas pada
berbagai jenis dan ukuran organisasi. Analisis ini berusaha memadukan
interaksi antara faktor-faktor internal kelembagaan dan faktor-faktor eksternal
untuk memahami dimensi kekuatan (strenghts), kelemahan (weaknesess),
peluang (opportunities) dan ancaman (threats) suatu organisasi untuk
selanjutnya dirumuskan strategi yang relevan dalam rangka mencapai tujuan
(Kuncoro dan Suhardjono, 2002).
Keempat aspek tersebut diatas merupakan faktor–faktor strategi suatu
perusahaan/organisasi. Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan
dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan
demikian perencanaan strategis (strategic planning) harus menganalisis faktor-
faktor strategis perusahaan/organisasi (kekuatan, kelemahan, peluang dan
tantangan) dalam kondisi saat ini.
Analisis SWOT (strengh, weakness, opportunity, dan thread)
nampaknya diperlukan untuk mengukur Strategi BWU-T MUI DIY dalam
menjalankan misinya. Analisis ini merupakan salah satu model untuk
88
menunjukkan mendeteksi kekuatan, kelemahan yang dimiliki oleh sebuah
organisiasi. Selain itu, analisis SWOT juga berfungsi untuk menunjukkan sisi-
sisi peluang dan tantangan yang dimiliki BWU-T MUI DIY.
4.1.1. Strength
Kekuatan terbesar yang dimiliki oleh metode ”jemput bola” adalah
adanya interaksi langsung dengan calon wakif dengan cara mendatangi
langsung ke instansi-intansi baik negeri maupun swasta untuk
memberikan motivasi untuk berpartisipasi dengan harapan mendapatkan
dana wakaf secara rutin dalam penghimpunan dana dengan sistem
pemotongan sekian gaji dari masyarakat sesuai dengan kesepakatan, yang
dihimpun oleh bendahara intansi dan disetor ke BWU-T MUI DIY setiap
bulannya dengan atas nama instansi terkait.
Sedangkan kekuatan terbesar yang dimiliki oleh metode
”menungu bola” adalah adanya kerjasama dengan lembaga keuangan
syariah yaitu Bank BPD DIY Syariah. Hal ini dilakukan karena LKS
(Bank BPD DIY Syariah) dalam Investasi wakaf setidaknya memiliki
beberapa keunggulan yang diharapkan dapat mengoptimalkan operasional
Investasi wakaf sebagai berikut (Sudarsono, 2008):
a. Jaringan Kantor
Jaringan kantor Bank BPD DIY Syariah luas mencapai lebih 100
kantor di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena
itu, fenomena ini merupakan faktor penting dalam mengoptimalkan
sosialisasi penggalangan dana wakaf serta penyalurannya.
89
b. Kemampuan Sebagai Fund Manager
Bank BPD DIY Syariah adalah lembaga pengelola dana masyarakat.
Dengan sendirinya, lembaga tersebut haruslah merupakan lembaga
yang memiliki kemampuan untuk mengelola dana dan dihaharapkan
dapat berperan sebagai lembaga alternatif yang mampu mengelola
dana wakaf tunai yang nantinya dapat dipertanggungjawabkan kepada
publik, khususnya kepada wakif.
c. Pengalaman, Jaringan Informasi dan Peta Distribusi
Bank BPD DIY Syariah adalah lembaga perbankan yang memiliki
pengalaman, informasi, serta peta distribusi yang cukup luas sehingga
pengelolaan wakaf tunai diharapkan tidak saja akan mengoptimalkan
pengelolaan dana saja, akan tetapi juga dapat mengefektifkan
penyalurannya sesuai dengan yang diinginkan.
d. Citra Positif
Dengan adanya ketiga hal di atas, diharapkan akan menimbulkan citra
positif pada gerakan wakaf tunai itu sendiri maupun pada perbankan
syariah pada khususnya.
4.1.2. Weakness
Kalaulah dianggap kelemahan, ada beberapa titik yang bisa
disampaikan di sini.
a. BWU-T MUI DIY belum mempunyai legalitas dari pemerintah
(legalitas masih di urus namun sampai sekarang belum keluar).
b. BWU-T MUI DIY merasa kesulitan dalam beradaptasi dengan
90
masyarakat agar masyarakat memperoleh pemahaman tentang wakaf
tunai dan termotivasi untuk menyalurkan sebagian hartanya untuk
membantu kesejahteraan kaum dhuafa.
c. Bank BPD DIY Syariah hanya menjadi nadzir penerima dan penyalur
sedangkan fungsi pengelola dana akan dilakukan oleh BWU-T MUI
DIY yang dengan sendirinya tanggung jawab pengelola termasuk
hubungan kerjasama dengan lembaga penjamin berada pada BWU-T
MUI DIY. Kondisi ini menjadi kelemahan karena perlu terjalinan
hubuangan diantara dua institusi sehingga berdampak pada lambatnya
penyaluran dana wakaf.
4.1.3. Opportunity
Dengan dikembangkannya wakaf tunai, maka akan didapat
sejumlah keunggulan, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Wakaf uang jumlahnya bisa bervariasi sehingga seseorang yang
memiliki dana terbatas sudah bisa mulai memberikan dana wakafnya
tanpa harus menunggu menjadi orang kaya atau tuan tanah terlebih
dahulu, sehingga dengan program wakaf tunai akan memudahkan si
pemberi wakaf atau wakif untuk melakukan ibadah wakaf. Misalnya
besaran nominal dari Rp. 100.000. - Rp. 100.000. tergantung tingkat
penghasilan masyarakat.
b. Dana wakaf tunai juga bisa membantu sebagian lembaga-lembaga
pendidikan Islam, perekonomian kaum dhuafa (usaha mikro).
4.1.4. Threat
91
Rumitnya pengurusan legalitas badan wakaf uang-tunai.
Prosedurnya berbelit dan tidak simpel. Birokrasi yang tidak efesien ini
membuat BWU-T MUI DIY belum mempuyai legalitas.
Hasil temuan survei ini mengkonfirmasi bahwa kerangka fikih
wakaf yang dianut masyarakat lebih dekat dengan bangunan fikih Mazhab
Syafi’i yang lebih kaku dalam memahami berbagai persoalan wakaf.
Dalam hal wakaf uang, misalnya, mazhab ini cenderung berkeberatan
karena uang dianggap tidak lestari dan cepat habis. Wakaf uang
sesungguhnya telah eksis sejak beberapa abad silam di beberapa negara
Muslim seperti Turki. Namun di Indonesia, baru tahun 2002, wakaf uang
dibolehkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Kerangka fikih wakaf ini membuat baik para wakif masih ragu-
ragu untuk mengeluarkan wakaf uang-tunai maupun para nazhir yang
masih ragu-ragu terkait dengan perlunya penukaran harta wakaf dengan
yang lebih produktif serta perubahan peruntukan wakaf untuk tujuan
kemaslahatan yang lebih besar.
Analisis SWOT di atas apabila diringkas seperti tabel di bawah ini:
92
Tabel 4.1
Penerapan Analisis SWOT
Strengths (S)
• Metode jemput bola
BWU-T MUI DIY
berinteraksi
langsung dengan
calon wakif.
• Metode menunggu
bola BWU-T MUI
DIY bekerja sama
dengan Bank BPD
DIY Syariah.
• Surat Edaran
Gubernur DIY
Weakness (W)
• BWU-T MUI DIY
belum mempunyai
legalitas.
• Pemahaman
masyarakat masih
kaku (wakaf hanya
berupa tanah dan
sejenisnya).
Opportunities (O)
• Wakaf tidak hanya
untuk orang yang
kaya dan
mempunyai tanah
luas.
• Dana wakaf uang
dapat untuk
pendidikan
maupun membantu
perekonomian
kaum dhuafa.
Strategi SO
Bekerja sama dengan
Bank BPD DIY Syariah
dalam menghimpun dan
mengelola dana wakaf
Strategi WO
Wakaf uang tidak hanya
untuk orang kaya
karena nominalnya bisa
dipecah sampai Rp.
100.000.
Threats (T)
• Belum adanya
legalitas.
• Adanya ulama
yang tidak
membolehkannya
wakaf uang tunai.
Strategi ST
Surat Edaran Gubernur
sebagai pengganti
sementara legalitas
Strategi WT
Pemahaman masyarakat
mengenai wakaf uang
ditingkatkan dengan
cara sosialisasi
4.2. Distribusi Frekuensi
Pada sub bab ini akan dibahas preferensi wakif terhadap produk wakaf
uang-tunai dari 200 responden yang berada di wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarata (Kota Yogyakarata, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo,
Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul) baik yang bekerja sebagai
93
wiraswasta maupun Pegawai Negeri Sipil, sehingga dianggap bisa mewakili
obyek penelitian ini.
Berdasarkan data kuisioner yang telah diolah, diperoleh gambaran
secara sederhana berkaitan dengan informasi jenis kelamin, persetujuan
wakaf uang, kesediaan besaran wakaf uang dan preferensi responden terhadap
wakaf uang-tunai berdasarkan pertama variabel religiusitas meliputi:
menghadiri kegiatan religius (P1), nilai religius lebih penting dari materi
(P2), orang muslim minimal sholat malam 3 kali dalam sebulan (P3), orang
muslim minimal puasa selain ramadhan 3 kali dalam sebulan (P4), zakat,
infaq, sedekah (wakaf uang) seimbang (P5), infaq, sedekah (wakaf uang)
lebih besar dibanding zakat (P6), objek wakaf berkembang yaitu wakaf uang
(P7), pengenalan wakaf uang dihimpun oleh badan wakaf dan dikelola oleh
perbankan syariah (P8)., kedua variabel karakteristik produk meliputi: wakaf
hanya tanah (P9), kegiatan agama bagi orang kaya (tanah luas) untuk amal
sholeh (P10), wakaf dilakukan oleh orang kaya (P11), baru mengenal wakaf
uang (P12), produk wakaf uang (P13), wakaf uang lebih praktis dibandingkan
dengan tanah (P14), wakaf uang mudah pembayarannya (P15), perbedaan
wakaf uang dan sedekah (P16), wakaf uang saingan dari zakat dan infaq
(P17)., ketiga variabel persepsi wakif meliputi: tertarik wakaf uang tetap
(P18), tertarik wakaf uang sementara (P19), ingin mengetahui prosedur (P20),
makna wakaf uang (P21), lembaga wakaf (P22), kelola untuk pemberdayaan
(P23), produk bank (P24), kegiatan produktif (P25), instrument investasi
(P26)., dan ketiga variabel perilaku wakif meliputi: mensosialisasikan kepada
94
orang lain (P27), merekomendasikan kepada orang lain (P28), mendorong
teman untuk berwakaf (P29), mempertimbangkan produk wakaf uang (P30),
berwakaf uang lebih banyak (P31), tetap akan berwakaf (P32), berwakaf
uang lebih banyak (P33), tetap akan berwakaf (P34), berwakaf lebih dari
harga (P35), beralih ke badan wakaf lain jika terjadi masalah (P36), mengeluh
kepada wakif lain (P37), mengeluh kepada badan wakaf Indonesia (P38) dan
mengeluh kepada BWU-T MUI DIY (P39). Semua data responden dapat
dirangkum dalam Tabel berikut, yaitu:
Tabel 4.2
Karakteristik Demografi
Karakteristik Uraian Jumlah Persen (%)
Jenis kelamin Laki-laki 120 60
Perempuan 80 40
Berwakaf Sudah 36 18
Belum 164 82
Kesediaan berwakaf uang
tunai
Setuju 132 66
Ragu-ragu 47 23,5
Tidak setuju 21 10,5
Wakaf uang tetap Setuju 91 45,5
Ragu-ragu 79 39
Tidak Setuju 31 15,5
Wakaf uang sementara Setuju 40 20
Ragu-ragu 99 49,5
Tidak setuju 61 30,5
Potensi wakaf < 500 rb 132 66
500 rb -1 jt 37 18,5
> 1 jt 10 5
Sumber: Data Primer
4.2.1. Jenis Kelamin
Dari 200 responden, ternyata karakteristik responden
berdasarkan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 120 responden
atau 60%, sedang perempuan sebanyak 80 responden atau sebesar 40%.
95
Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa karakteristik jenis kelamin laki-
laki lebih dominan. Sebagaimana tertuang dalam gambar berikut:
Gambar 4.1
Karakteristik Jenis Kelamin (dalam persen)
Sumber: Data Primer
4.2.2. Berwakaf
Dari karakteristik berwakaf seorang responden, terlihat bahwa
responden yang sudah berwakaf sebanyak 36 responden atau 18%,
sedangkan responden yang belum berwakaf sebesar 164 responden atau
82%. Berdasarkan karakterisitik berwakaf seorang responden, terlihat
bahwa mayoritas responden belum pernah berwakaf, yaitu sebesar 82%.
Gambaran sudah berwakaf atau belum seorang responden, tergambar
dalam gambar di bawah ini.
, 0
1 0 , 0
2 0 , 0
3 0 , 0
4 0 , 0
5 0 , 0
6 0 , 0
7 0 , 0
l a k i - l a k i p e r e m p u a n
96
Gambar 4.2
Berwakaf
Sumber: Data Primer
4.2.3. Kesediaan Berwakaf Uang-Tunai
Preferensi responden yang tidak setuju terhadap item kesediaan
berwakaf uang sebanyak 21 responden atau 10,5%, yang memilih ragu-
ragu sebanyak 47 responden atau 23,5% dan responden yang memilih
setuju sebanyak 132 responden atau 66%. Berdasarkan item persetujuan
wakaf uang, terlihat bahwa responden yang setuju untuk berwakaf uang
lebih banyak dibandingan responden yang ragu-ragu maupun yang
tidak setuju. Hal ini berarti bahwa perkembangan wakaf uang-tunai di
Daerah Istimewa Yogyakarta masih terbuka lebar dan mempunyai
potensi yang tinggi. Adapun gambar umumnya dapat disajikan dalam
gambar berikut:
s u d a h
1 8 %
b e l u m
8 2 %
97
Gambar 4.3
Kesediaan Berwakaf Uang
Sumber: Data Primer
4.2.4. Wakaf Uang tetap
Preferensi responden yang tidak setuju terhadap item wakaf
uang tetap sebanyak 31 responden atau 15,5%, yang memilih ragu-ragu
sebanyak 79 responden atau 39% dan responden yang memilih setuju
sebanyak 91 responden atau 45,5%. Berdasarkan item wakaf uang
tetap, terlihat bahwa responden yang tertarik terhadap wakaf uang tetap
setuju lebih banyak dibandingan responden yang ragu-ragu maupun
yang tidak tertarik. Walaupun disini persentasenya tidak dominan.
Sebagaimana tergambar di bawah ini:
t i d a k
s e t u j u
1 0 %
n e t r a l
2 4 %
s e t u j u
6 6 %
98
Gambar 4.4
Wakaf Uang Tetap (dalam persen)
Sumber: Data Primer
4.2.5. Wakaf Uang Sementara
Preferensi responden yang tidak setuju terhadap item wakaf
uang sementara sebanyak 61 responden atau 30,5%, yang memilih
ragu-ragu sebanyak 99 responden atau 49,5% dan responden yang
memilih setuju sebanyak 40 responden atau 20%. Berdasarkan item
wakaf uang sementara, terlihat bahwa responden yang ragu-ragu
terhadap ketertarikannya terhadap wakaf uang-tunai sementara. Hal ini
dipilih karena anggapan masyarakat bahwa jika masih membutuhkan
uang maka mereka akan memilih wakaf uang-tunai sementara. Namun
jika lagi tidak membutuhkan uang banyak (ada sisa uang) maka
memilih wakaf uang-tunai tetap. Adapun gambar umumnya dapat
disajikan dalam gambar berikut:
, 0
1 0 , 0
2 0 , 0
3 0 , 0
4 0 , 0
5 0 , 0
t i d a k s e t u j u n e t r a l s e t u j u
99
Gambar 4.5
Wakaf Uang Sementara
Sumber: Data Primer
4.2.6. Potensi Wakaf
Gambar karakteristik responden menurut potensi wakaf
disajikan dalam gambar di bawah ini.
Gambar 4.6
Potensi Wakaf
Sumber: Data Primer
Dilihat dari prosentase besaran wakaf para responden dimaksud
masing-masing adalah besaran wakaf kurang dari lima ratus ribu
sebesar 132 responden atau 66%, sebanyak 37 responden, antara 500 rb
t i d a k
s e t u j u
3 0 %
n e t r a l
5 0 %
s e t u j u
2 0 %
< 5 0 0 r b
7 4 %
5 0 0 r b - 1
j t
2 1 %
> 1 j t
5 %
100
– 1 jt sebesar 18,5% atau sebanyak 37 responden, di atas satu juta
rupiah sebesar 5%. Sedangkan sisanya yaitu 21 responden atau 10,5%
tidak menyebutkan besaran wakaf, karena responden tidak menyetujui
tentang adanya produk wakaf uang-tunai. Adapun untuk melihat
besaran wakaf yang lebih rinci dapat dilihat tabel berikut:
Tabel 4.3
Potensi Wakaf
S
sumber: Data Primer
Tabel 4.4
Statistik
Potensi Wakaf
Mean 635.586,59
Median 100.000,00
Mode 100.000
Std. Deviation 2.018.998,129
Range 19.995.000
Minimum 5.000
Maximum 20.000.000
Sumber: Data Primer
Jumlah (Rp) Frekuensi Persen
5.000 5 2,5
10.000 33 16,5
15.000 9 4,5
20.000 10 5,0
25.000 6 3,0
30.000 1 ,5
50.000 14 7,0
75.000 4 2,0
100.000 34 17,0
150.000 7 3,5
200.000 3 1,5
250.000 5 2,5
400.000 1 ,5
500.000 9 4,5
700.000 1 ,5
1.000.000 27 13,5
3.000.000 2 1,0
5.000.000 4 2,0
7.000.000 1 ,5
10.000.000 2 1,0
20.000.000 1 ,5
Total 179 89,5
101
Dari tabel di atas menunjukkan rata-rata hitung (mean) potensi
wakaf uang sebesar 635.586,59. Nilai tengah (median) sebesar 100.000.
Nilai data frekuensi tertinggi (mode) sebesar 100.000. Std. deviation
(nilai yangmenunjukkan tingkat variasi kelompok atau ukuran standar
penyimpangan dari reratanya) sebesar 2.018.998,129. Range sebesar
19.995.000. Minimum potensi wakaf sebesar 5.000 dan maximum
putensi wakaf sebesar 20.000.000.
Tabel 4.5
Religiusitas (dalam persen)
Sumber: Data Primer
Berdasarkan variabel religiusitas menunjukkan responden yang
setuju dengan item menghadiri kegiatan religius (P1) sebesar 51%,
ragu-ragu sebesar 16,5% dan tidak setuju sebesar 32,5%. Responden
yang setuju dengan item nilai religius lebih penting dari materi (P2)
Keterangan Tidak
setuju
Ragu-
ragu
Setuju
Menghadiri kegiatan religius (P1) 32,5 16,5 51
Nilai religius lebih penting dari
materi (P2)
8 22 70
Orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan (P3)
49 25,5 25,5
Orang muslim minimal puasa
selain ramadhan 3 kali dalam
sebulan (P4)
38 27 35
Zakat, infaq, sedekah (wakaf
uang) seimbang (P5)
8,5 15,5 76
Infaq, sedekah (wakaf uang) lebih
besar dibandingkan zakat (P6)
20,5 36 43,5
Objek wakaf berkembang yaitu
objek wakaf uang (P7)
10,5 19 70,5
Wakaf uang dihimpul oleh badan
wakaf dan dikelola oleh
perbankan syariah (P8)
12 25,5 62,5
102
sebesar 70%, ragu-ragu sebesar 22% dan tidak setuju sebesar 8%.
Responden yang setuju dengan item orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan (P3) sebesar 25,5%, ragu-ragu sebesar
25,5% dan tidak setuju sebesar 49%. Respon yang setuju dengan item
orang muslim minimal puasa selain ramadhan 3 kali dalam sebulan (P4)
sebesar 35%, ragu-ragu sebesar 27% dan tidak setuju sebesar 38%.
Responden yang tidak setuju dengan item zakat, infaq, sedekah (wakaf
uang) seimbang (P5) sebesar 8,5%, ragu-ragu sebesar 15,5% dan setuju
sebesar 76%. Responden yang tidak setuju dengan item infaq, sedekah
(wakaf uang) lebih besar dibandingkan zakat (P6) sebesar 20,5%, ragu-
ragu sebesar 36% dan setuju sebesar 43,5%. Responden yang setuju
dengan item objek wakaf berkembang yaitu objek wakaf uang (P7)
sebesar 70,5%, ragu-ragu sebesar 19% dan yang tidak setuju sebesar
10,5%. Sedangkan responden yang setuju dengan item wakaf uang
dihimpun oleh badan wakaf dan dikelola oleh perbankan syariah (P8)
sebesar 62,5%, ragu-ragu sebesar 25,5% dan yang tidak setuju sebesar
12 %.
103
Tabel 4.6
Karakteristik Produk (dalam persen)
Keterangan Tidak setuju Ragu-ragu Setuju
Wakaf hanya Tanah (P9) 25,5 15,5 59
Kegiatan agama bagi
orang kaya (tanah luas)
untuk amal sholeh (P10)
52,5 14 33,5
Wakaf dilakukan oleh
orang kaya (P11)
60,5 13 26,5
Baru mengenal wakaf
uang (P12)
16,5 20,5 63
Produk wakaf uang (P13) 11,5 23 65,5
Wakaf uang lebih praktis
dibandingkan tanah
(P14)
8 29,5 62,5
Wakaf uang mudah
pembayarannya (P15)
10 23,5 66,5
Perbedaan wakaf uang
dan sedekah (P16)
7,5 28,5 64
Wakaf uang saingan dari
zakat dan infaq (P17)
65 24.5% 10,5
Sumber: Data Primer
Berdasarkan variabel karakteristik produk menunjukkan
responden yang setuju dengan item wakaf hanya tanah (P9) sebesar
59%, ragu-ragu sebesar 15,5% dan tidak setuju sebesar 25,5%.
Responden yang setuju dengan item kegiatan agama bagi orang kaya
(tanah luas) untuk amal sholeh (P10) sebesar 35,5%, ragu-ragu sebesar
14% dan tidak setuju sebesar 52,5%. Responden yang setuju dengan
item wakaf dilakukan oleh orang kaya (P11) sebesar 26,5%, ragu-ragu
sebesar 13% dan tidak setuju sebesar 60,5%. Respon yang setuju
dengan item baru mengenal wakaf uang (P12) sebesar 63%, ragu-ragu
sebesar 20,5% dan tidak setuju sebesar 16.5%. Responden yang tidak
setuju dengan item produk wakaf uang (P13) sebesar 11,5%, ragu-ragu
104
sebesar 23% dan setuju sebesar 65,5%. Responden yang tidak setuju
dengan item wakaf uang lebih praktis dibandingkan tanah (P14) sebesar
8%, ragu-ragu sebesar 29,5% dan setuju sebesar 62,5%. Responden
yang setuju dengan item wakaf uang mudah pembayarannya (P15)
sebesar 66,5%, ragu-ragu sebesar 23,5% dan yang tidak setuju sebesar
10%. Responden yang setuju dengan item perbedaan wakaf uang dan
sedekah (P16) sebesar 64%, ragu-ragu sebesar 28.5% dan yang tidak
setuju sebesar 17,5%. Sedangkan responden yang tidak setuju dengan
item wakaf uang saingan dari zakat dan infaq (P17) sebesar 65%, ragu-
ragu sebesar 24,5% dan setuju sebesar 10,5%.
Tabel 4.7
Persepsi Wakif (dalam persen)
Keterangan Tidak
setuju
Ragu-
ragu
Setuju
Tertari wakaf uang tetap
(P18)
15,5 39 45,5
Tertarik wakaf uang
sementara (P19)
30,5 49,5 20
Ingin mengetahui prosedur
(P20)
5,5 20 74,5
Makna wakaf uang (P21) 13 44,5 42
Lembaga wakaf (P22) 13,5 34,5 52
Kelola untuk pemberdayaan
(P23)
10,5 28,5 61
Produk Bank (P24) 16 39 45
Kegiatan Produktif (P25) 6,5 19,5 74
Instrument Investasi (P26) 10 21,5 68,5
Sumber: Data Primer
Dari data di atas mengenai variabel persepsi wakif menunjukkan
responden yang setuju dengan item tertarik wakaf uang tetap (P18)
sebesar 45,5%, ragu-ragu sebesar 39% dan tidak setuju sebesar 15,5%.
105
Responden yang setuju dengan item tertarik wakaf uang sementara
(P19) sebesar 20%, ragu-ragu sebesar 49,5% dan tidak setuju sebesar
30,5%. Responden yang setuju dengan item ingin mengetahui prosedur
(P20) sebesar 74,5%, ragu-ragu sebesar 20% dan tidak setuju sebesar
5,5%. Respon yang setuju dengan item makna wakaf uang (P21)
sebesar 42%, ragu-ragu sebesar 44,5% dan tidak setuju sebesar 13%.
Responden yang tidak setuju dengan item lembaga wakaf (P22) sebesar
13,5%, ragu-ragu sebesar 34,5% dan setuju sebesar 52%. Responden
yang tidak setuju dengan item kelola untuk pemberdayaan (P23)
sebesar 10,5%, ragu-ragu sebesar 28,5% dan setuju sebesar 61%.
Responden yang setuju dengan item produk bank (P24) sebesar 45%,
ragu-ragu sebesar 39% dan yang tidak setuju sebesar 16%. Responden
yang setuju dengan item kegiatan produktif (P25) sebesar 44%, ragu-
ragu sebesar 19,5% dan yang tidak setuju sebesar 6,5%. Sedangkan
responden yang tidak setuju dengan item instrument investasi (P26)
sebesar 10%, ragu-ragu sebesar 21,5% dan setuju sebesar 68,5%.
106
Tabel 4.8
Perilaku Wakif (dalam persen)
Keterangan Tidak
setuju
Ragu-
ragu
Setuju
Mensosialisasikan kepada orang lain
(P27)
8 47 45
Merekomendasikan kepada orang lain
(P28)
10 55 35
Mendorong teman untuk berwakaf
(P29)
9,5 57,5 33
Mempertimbangkan produk wakaf
uang (P30)
10,5 53,5 36
Berwakaf uang lebih banyak (P31) 6,5 50 43.5
Tetap akan berwakaf (P32) 13,5 64,5 22
Berwakaf lebih dari harga (P33) 18,5 59 22,5
Berwakaf lebih sedikit (P34) 45,5 45 9,5
Beralih ke badan wakaf lain (P35) 21,5 67 11,5
Beralih ke badan wakaf lain jika
terjadi masalah (P36)
12.5 51.5 36
Mengeluh kepada wakif lain (P37) 13,5 51 35,5
Mengeluh kepada badan wakaf
Indonesia (P38)
12 40,5 47,5
Mengeluh kepada BWU-T MUI DIY
(P39)
7 34,5 58.5
Sumber: Data Primer
Tabel variabel perilaku wakif di atas menunjukkan responden
yang setuju dengan item mensosialisasikan kepada orang lain (P27)
sebesar 45%, ragu-ragu sebesar 47% dan tidak setuju sebesar 8%.
Responden yang setuju dengan item merekomendasikan kepada orang
lain (P28) sebesar 35%, ragu-ragu sebesar 55% dan tidak setuju sebesar
10%. Responden yang setuju dengan item mendorong teman untuk
berwakaf (P29) sebesar 33%, ragu-ragu sebesar 57,5% dan tidak setuju
sebesar 9,5%. Respon yang setuju dengan item mempertimbangkan
produk wakaf uang (P30) sebesar 36%, ragu-ragu sebesar 53,5% dan
107
tidak setuju sebesar 10,5%. Responden yang tidak setuju dengan item
berwakaf uang lebih banyak (P31) sebesar 6.5%, ragu-ragu sebesar
50% dan setuju sebesar 43,5%. Responden yang tidak setuju dengan
item tetap akan berwakaf (P32) sebesar 13,5%, ragu-ragu sebesar
64.5% dan setuju sebesar 22%. Responden yang setuju dengan item
berwakaf lebih dari harga (P33) sebesar 22,5%, ragu-ragu sebesar 59%
dan yang tidak setuju sebesar 18,5%. Responden yang setuju dengan
item berwakaf lebih sedikit (P34) sebesar 9,5%, ragu-ragu sebesar
45,5% dan yang tidak setuju sebesar 45%. Responden yang tidak setuju
dengan item beralih ke badan wakaf lain (P35) sebesar 21,5%, ragu-
ragu sebesar 67% dan setuju sebesar 11,5%. Responden yang tidak
setuju dengan item beralih ke badan wakaf lain jika terjadi masalah
(P36) sebesar 12,5%, ragu-ragu sebesar 51,5% dan yang setuju sebesar
36%. Responden yang setuju dengan item mengeluh kepada wakif lain
(P37) sebesar 35,5%, ragu-ragu sebesar 51% dan yang tidak setuju
sebesar 13,5%. responden yang tidak setuju dengan item mengeluh
kepada badan wakaf Indonesia (P38) sebesar 12%, ragu-ragu sebesar
40,5% dan yang setuju sebesar 47,5%. Sedangkan responden yang tidak
setuju dengan item mengeluh kepada BWU-T MUI DIY (P39) sebesar
7%, ragu-ragu sebesar 34,5% dan yang setuju sebesar 58,5%.
4.3. Analisis Faktor
4.3.1. Uji Korelasi Antar Variabel
108
Prinsip utama dalam analisis faktor adalah korelasi, artinya
variabel yang memiliki korelasi erat akan membentuk suatu faktor,
sedang variabel yang ada dalam suatu faktor akan memiliki korelasi
yang lemah dengan variabel yang terdapat pada faktor yang lain
(Suliyanto, 2005). Oleh karena itu, dalam penelitian ini diharapkan
bahwa variabel-variabel tersebut mempunyai korelasi tinggi antar
variabel.
Tabel 4.9
Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 1
Kode Item Anti Image Matrics Comunalitie
s
P1 Menghadiri kegiatan religius 0,417
a
0,759
P2 Nilai religious lebih penting dari
materi
0,536
a
0,651
P3 Orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan
0,689
a
0,735
P4 Orang muslim minimal puasa
selain ramadhan 3 kali dalam
sebulan
0,700
a
0,748
P5 Zakat, infaq, sedekah (wakaf
uang) seimbang
0,683
a
0,622
P6 Infaq, sedekah (wakaf uang)
lebih besar dibandingkan zakat
0,856
a
0,574
P7 Objek wakaf berkembang yaitu
objek wakaf uang
0,716
a
0,632
P8 Wakaf uang dihimpul oleh
badan wakaf dan dikelola oleh
perbankan syariah
0,813
a
0,642
P9 Wakaf hanya Tanah 0,673
a
0,669
P10 Kegiatan agama bagi orang kaya
(tanah luas) untuk amal sholeh
0,563
a
0,786
P11 Wakaf dilakukan oleh orang
kaya
0,552
a
0,770
P12 Baru mengenal wakaf uang 0,471
a
0,698
P13 Produk wakaf uang 0,594
a
0,656
P14 Wakaf uang lebih praktis 0,805
a
0,594
109
dibandingkan tanah
P15 Wakaf uang mudah
pembayarannya
0,724
a
0,681
P16 Perbedaan wakaf uang dan
sedekah
0,617
a
0,438
P17 Wakaf uang saingan dari zakat
dan infaq
0,497
a
0,663
P18 Tertari wakaf uang tetap 0,824
a
0,635
P19 Tertarik wakaf uang sementara 0,580
a
0,708
P20 Ingin mengetahui prosedur 0,777
a
0,611
P21 Makna wakaf uang 0,798
a
0,617
P22 Lembaga wakaf 0,630
a
0,680
P23 Kelola untuk pemberdayaan 0,686
a
0,542
P24 Produk Bank 0,806
a
0,644
P25 Kegiatan Produktif 0,764
a
0,662
P26 Instrument Investasi 0,845
a
0,583
P27 Mensosialisasikan kepada orang
lain
0,772
a
0,608
P28 Merekomendasikan kepada
orang lain
0,718
a
0,724
P29 Mendorong teman untuk
berwakaf
0,754
a
0,731
P30 Mempertimbangkan produk
wakaf uang
0,794
a
0,745
P31 Berwakaf uang lebih banyak 0,762
a
0,778
P32 Tetap akan berwakaf 0,736
a
0,664
P33 Berwakaf lebih dari harga 0,736
a
0,745
P34 Berwakaf lebih sedikit (P34) 0,462
a
0,738
P35 Beralih ke badan wakaf lain 0,439
a
0,751
PP36 Beralih ke badan wakaf lain jika
terjadi masalah
0,581
a
0,742
P37 Mengeluh kepada wakif lain 0,790
a
0,730
P38 Mengeluh kepada badan wakaf
Indonesia
0,732
a
0,788
P39 Mengeluh kepada BWU-T MUI
DIY
0,711
a
0,738
Sumber: Data Primer
Dari hasil anti-image correlation dan communalities terdapat
nilai korelasi dibawah 0,5 (yang berwarna buram) yaitu 0,417 (P1),
110
0,471 (P12), 0,438 (P16), 0,497 (P17), 0,463 (P34) dan 0,439 (P35).
Untuk itu variabel P1, P12,P17, P34 dan P35, kita keluarkan dari
analisis dan hanya akan melakukan analisis faktor dengan variabel P2,
P3, P4, P5, P6, P7, P8, P9, P10, P11, P13, P14, P15, P18, P19, P20,P21,
P22, P23, P24, P25, P26, P27, P28, P29, P30, P31, P32, P33, P36, P37,
P38 dan P39.
Tabel 4.10
Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 2
Kode Item Anti Image Matrics Communalities
P2 Nilai religious lebih penting dari
materi
0,678
a
0,625
P3 Orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan
0,695
a
0,718
P4 Orang muslim minimal puasa
selain ramadhan 3 kali dalam
sebulan
0,730
a
0,780
P5 Zakat, infaq, sedekah (wakaf
uang) seimbang
0,733
a
0,662
P6 Infaq, sedekah (wakaf uang)
lebih besar dibandingkan zakat
0,870
a
0,587
P7 Objek wakaf berkembang yaitu
objek wakaf uang
0,794
a
0,516
P8 Wakaf uang dihimpul oleh
badan wakaf dan dikelola oleh
perbankan syariah
0,866
a
0,581
P9 Wakaf hanya Tanah 0,652
a
0,668
P10 Kegiatan agama bagi orang
kaya (tanah luas) untuk amal
sholeh
0,558
a
0,789
P11 Wakaf dilakukan oleh orang
kaya
0,556
a
0,761
P13 Produk wakaf uang 0,703
a
0,619
P14 Wakaf uang lebih praktis
dibandingkan tanah
0,809
a
0,612
P15 Wakaf uang mudah
pembayarannya
0,773
a
0,723
P18 Tertarik wakaf uang tetap 0,872
a
0,477
P19 Tertarik wakaf uang sementara 0,594
a
0,574
111
P20 Ingin mengetahui prosedur 0,773
a
0,655
P21 Makna wakaf uang 0,839
a
0,546
P22 Lembaga wakaf 0,744
a
0,658
P23 Kelola untuk pemberdayaan 0,841
a
0,421
P24 Produk Bank 0,790
a
0,507
P25 Kegiatan Produktif 0,759
a
0,657
P26 Instrument Investasi 0,838
a
0,560
P27 Mensosialisasikan kepada orang
lain
0,819
a
0,647
P28 Merekomendasikan kepada
orang lain
0,749
a
0,686
P29 Mendorong teman untuk
berwakaf
0,804
a
0,699
P30 Mempertimbangkan produk
wakaf uang
0,805
a
0,609
P31 Berwakaf uang lebih banyak 0,795
a
0,736
P32 Tetap akan berwakaf 0,754
a
0,695
P33 Berwakaf lebih dari harga 0,790
a
0,655
PP36 Beralih ke badan wakaf lain jika
terjadi masalah
0,671
a
0,652
P37 Mengeluh kepada wakif lain 0,824
a
0,718
P38 Mengeluh kepada badan wakaf
Indonesia
0,725
a
0,758
P39 Mengeluh kepada BWU-T MUI
DIY
0,720
a
0,685
Sumber: Data Primer
Dari hasil di atas walaupun anti-image correlation sudah
memenuhi syarat yaitu di atas 0,5 namun pada communalities terdapat
nilai dibawah 0,5 (yang berwarna buram) yaitu 0,477 (P18), dan 0,421
(P23). Untuk itu variabel P18 dan P23, kita keluarkan dari analisis dan
hanya akan melakukan analisis faktor dengan variabel P2, P3, P4, P5,
P6, P7, P8, P9, P10, P11, P13, P14, P15, P19, P20,P21, P22, P24, P25,
P26, P27, P28, P29, P30, P31, P32, P33, P36, P37, P38 dan P39.
112
Tabel 4.11
Hasil Uji Anti Image Matrics Correlation 3
Kode Item Anti Image Matrics Communalities
P2 Nilai religious lebih penting dari
materi
0,644
a
0,700
P3 Orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan
0,687
a
0,715
P4 Orang muslim minimal puasa
selain ramadhan 3 kali dalam
sebulan
0,723
a
0,782
P5 Zakat, infaq, sedekah (wakaf uang)
seimbang
0,723
a
0,685
P6 Infaq, sedekah (wakaf uang) lebih
besar dibandingkan zakat
0,864
a
0,588
P7 Objek wakaf berkembang yaitu
objek wakaf uang
0,798
a
0,517
P8 Wakaf uang dihimpul oleh badan
wakaf dan dikelola oleh perbankan
syariah
0,852
a
0,569
P9 Tanah 0,638
a
0,673
P10 Kegiatan agama bagi orang kaya
(tanah luas) untuk amal sholeh
0,556
a
0,790
P11 Wakaf dilakukan oleh orang kaya 0,555
a
0,758
P13 Produk wakaf uang 0,684
a
0,626
P14 Wakaf uang lebih praktis
dibandingkan tanah
0,812
a
0,621
P15 Wakaf uang mudah
pembayarannya
0,770
a
0,745
P19 Tertarik wakaf uang sementara 0,607
a
0,564
P20 Ingin mengetahui prosedur 0,763
a
0,622
P21 Makna wakaf uang 0,848
a
0,557
P22 Lembaga wakaf 0,744
a
0,657
P24 Produk Bank 0,784
a
0,552
P25 Kegiatan Produktif 0,744
a
0,706
P26 Instrument Investasi 0,831
a
0,647
P27 Mensosialisasikan kepada orang
lain
0,803
a
0,633
P28 Merekomendasikan kepada orang
lain
0,747
a
0,670
P29 Mendorong teman untuk berwakaf 0,798
a
0,708
113
P30 Mempertimbangkan produk wakaf
uang
0,814
a
0,606
P31 Berwakaf uang lebih banyak 0,782
a
0,733
P32 Tetap akan berwakaf 0,758
a
0,701
P33 Berwakaf lebih dari harga 0,783
a
0,651
PP36 Beralih ke badan wakaf lain jika
terjadi masalah
0,663
a
0,662
P37 Mengeluh kepada wakif lain 0,824
a
0,724
P38 Mengeluh kepada badan wakaf
Indonesia
0,728
a
0,779
P39 Mengeluh kepada BWU-T MUI
DIY
0,720
a
0,683
Sumber: Data Primer
Hasil KMO MSA tersebut diatas 0,5 yaitu 0,758, tetap
signifikan (angka signifikan adalah 0,000), dan dapat dipercaya bahwa
antar variabel terdapat korelasi. Menurut Prabawati, ed. (2010),
mengatakan karena KMO MSA dan Bartletts test of sphericity sudah
memnuhi syarat yaitu lebih dari 0,5 (0,758) dan nilai signifikannya
adalah 0,000, maka analisis faktor dapat dilanjutkan.
4.3.2. Penentuan Jumlah Faktor
Langkah selanjutnya adalah menentukan banyaknya jumlah
faktor yang terbentuk. Ada beberapa pendekatan dalam penentuan
jumlah faktor yaitu penentuan berdasarkan Apriori, Eigenvalue, Scree
Plot, dan berdasarkan Persentase Varian (Suliyanto, 2005). Namun
penyusun mengunakan pendekatan berdasarkan eigenvalue (jumlah
varian yang dijelaskan oleh setiap faktor). Variabel dapat dianggap
suatu faktor apabila memiliki eigenvalue 1, sebaliknya jika nilai
eigenvaluenya < 1 maka variabel tersebut tidak dapat dimasukkan
dalam suatu faktor (Suliyanto, 2005).
114
Dari output tersebut dapat diperoleh sebelas faktor yang masing-
masing mempunyai persentase varian (jumlah variasi yang
berhubungan pada suatu faktor yang dinyatakan dalam persentase)
sebesar 21,142 persen; 7,661 persen; 7,040 persen; 6,354 persen, 4,855
persen, 4,577 persen, 3,978 persen; 3,891 persen, 3,553 persen dan
3,473 persen, sehingga total persentase varian kesebelas faktor tersebut
adalah 66,5305 persen.
Setelah diketahui bahwa ada 10 faktor adalah jumlah yang
paling optimal, maka perlu dilihat component matrix yang
menunjukkan distribusi 31 item pertanyaan pada 10 faktor yang
terbentuk. Component matrix digunakan untuk mendistribusikan
variabel-variabel yang telah diekstrak kedalam faktor yang telah
dibentuk berdasarkan loading faktornya. Loading dengan nilai terbesar
berarti mempunyai peranan utama pada faktor tersebut. Variabel yang
memiliki loading < 0,5 dianggap tidak memiliki peranan yang berarti
terhadap faktor terbentuk sehingga variabel tersebut dapat diabaikan
dalam pembentukan faktor (Suliyanto, 2005). Keketigapuluhempat item
pertanyaan tersebut dimasukkan dalam faktor yang memiliki loading
faktor terbesar.
Berdasarkan tabel component matrix menunjukan bahwa masih
ada item pertanyaan yang belum jelas akan dimasukkan kedalam faktor
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, atau 10 Yaitu P3 (0,489), P4 (0,437), P5 (0,456),
P6 (0,446), P14 (0,481), P20 (0,460), dan P24 (0,483). Item tersebut
115
tidak jelas karena sama-sama memiliki nilai dibawah 0,5. Disamping itu
masih ada nilai yang di atas 0,5 berada di dua tempat yaitu P39 dengan
nilai 0,5 berada di faktor 1 dan nilai 0,621 berada di faktor 2 Oleh
karena harus diulang lagi dengan membuang item P39.
4.3.3. Rotasi Faktor
Untuk mempermudah interpretasi dilakukan rotasi faktor,
sehingga faktor matriks yang sebelumnya kompleks menjadi lebih jelas
untuk dimasukkan dalam faktor tertentu (Ghozali, 2009). Ada dua
model rotasi yaitu; pertama, Rotasi Orthogonal yaitu memutar sumbu
90° (Quartimax, Varimax dan Equamax). Kedua, Rotasi Oblique yaitu
memutar sumbu kekanan tetapi tidak harus 90° (Oblimin, Promax dan
Orthoblique) (Ghozali, 2009). Adapun model yang digunakan dalam
analisis faktor ini adalah metode orthogonal rotation varimax
procedure. Hal ini karena penyusun ingin mencari pengelompokkan
baru variabel awal menjadi variabel yang jumlahnya semakin sedikit
(Ghozali, 2009). Prosedur ini merupakan metode orthogonal dengan
cara memutar sumbu ke kanan sampai 90º yang berusaha
meminimumkan banyaknya variabel dengan muatan tinggi (high
loading) pada suatu faktor. Tujuannya adalah untuk mempermudah
pembuatan interpretasi mengenai faktor, sehingga rotasi orthogonal
menghasilkan faktor-faktor yang tidak berkorelasi satu sama lain atau
korelasi antar faktor nol (Suliyanto, 2005).
116
Tabel 4.12
Rotated Component Matrix*1
Component
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
P2 0,735
P3 0,795
P4 0,814
P5 0,745
P6 0,579
P7 0,552
P8
P9 0,602
P10 0,862
P11 0,846
P13 -0,677
P14 0,738
P15 0,788
P19
P20 0,595
P21
P22 0,714
P24 0,540
P25 0,718
P26 0,653
P27
P28 0,719
P29 0,762
P30 0,721
P31 0,500
P32 0,746
P33 0,620
P36 0,783
P37 0,832
P38 0,684
* Rotated Component Matrix adalah komponen matrix yang telah dirotasi digunakan untuk
menentukan koefisien bobot kontribusi suatu variabel terhadap faktor yang sebelumnya kecil
semakin diperkecil, dan koefisien bobot kontribusi suatu variabel terhadap faktor yang
sebelumnya besar semakin diperbesar.
Semua kolom ada nilainya, karena kurang dari nilai mutlak yaitu 0,5 maka tidak ditampilkan.
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel rotated component matrix, menunjukan
bahwa komponen matrix hasil dari proses rotasi (rotated component
matrix) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata.
117
Namun berdasarkan tabel rotated component matrix di atas menunjukan
bahwa masih ada item pertanyaan yang memiliki loading < 0,5 yaitu P8
(0,449), P13 (-0,677), P19 (0,484), P21 (0,440) dan P27 (0,356), maka
diperlukan lagi melakukan rotated component matrix dengan
membuang item tersebut.
Tabel 4.13
Rotated Component Matrix 2
Component
1 2 3 4 5 6 7 8
P2 0,758
P3 0,785
P4 0,818
P5 0,622
P6 0,612
P7
P9 0,547 0,517
P10 0,847
P11 0,839
P14 0,705
P15 0,804
P20 0,549
P22 0,540
P24
P25 0,772
P26 0,707
P28 0,735
P29 0,766
P30 0,726
P31 0,502
P32 0,764
P33 0,624
P36 0,781
P37 0,845
P38 0,677
Semua kolom ada nilainya, karena kurang dari nilai mutlak yaitu 0,5 maka tidak
ditampilkan.
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel rotated component matrix, menunjukan
bahwa komponen matrix hasil dari proses rotasi (rotated component
118
matrix) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata.
Namun berdasarkan tabel rotated component matrix di atas menunjukan
bahwa masih ada item pertanyaan yang memiliki loading < 0,5 yaitu
P24 (0,365) dan ada dua nilai sekaligus dalam satu item yaitu P9 (0,547
dan 0,517), maka diperlukan lagi melakukan rotated component matrix
dengan membuang item di atas.
Tabel 4.14
Rotated Component Matrix 3
Component
1 2 3 4 5 6 7 8
P2 0,646
P3 0,847
P4 0,784
P5 0,766
P6 0,542
P10 0,881
P11 0,866
P14 0,744
P15 0,775
P20 0,619
P22 0,620
P25 0,778
P26 0,716
P28 0,740
P29 0,761
P30 0,740
P31
P32 0,757
P33 0,613
P36 0,747
P37 0,855
P38 0,732
Semua kolom ada nilainya, karena kurang dari nilai mutlak yaitu 0,5 maka tidak
ditampilkan.
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel rotated component matrix, menunjukan
bahwa komponen matrix hasil dari proses rotasi (rotated component
119
matrix) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata.
Namun berdasarkan tabel rotated component matrix di atas menunjukan
bahwa masih ada item pertanyaan yang memiliki loading < 0,5 yaitu
P31 (0,474), maka diperlukan lagi melakukan rotated component
matrix.
Tabel 4.15
Rotated Component Matrix 4
Semua kolom ada nilainya, karena kurang dari nilai mutlak yaitu 0,5 maka tidak
ditampilkan.
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel rotated component matrix, menunjukan
bahwa komponen matrix hasil dari proses rotasi (rotated component
matrix) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata.
Namun berdasarkan tabel rotated component matrix di atas menunjukan
bahwa masih ada item pertanyaan yang memiliki loading < 0,5 yaitu P6
Component
1 2 3 4 5 6 7
P2 0,714
P3 0,827
P4 0,802
P5 0,747
P6
P10 0,881
P11 0,868
P14 0,732
P15 0,805
P20 0,543
P22 0,557
P25 0,774
P26 0,739
P28 0,748
P29 0,776
P30 0,744
P32 0,741
P33 0,608
P36 0,752
P37 0,857
P38 0,736
120
(0,499), maka diperlukan lagi melakukan rotated component matrix
dengan membuang item P6.
Tabel 4.16
Rotated Component Matrix 5
Component
1 2 3 4 5 6 7
P2 0,762
P3 0,822
P4 0,825
P5 0,739
P10 0,882
P11 0,868
P14 0,731
P15 0,804
P20 0,531
P22 0,585
P25 0,769
P26 0,737
P28 0,751
P29 0,775
P30 0,743
P32 0,746
P33 0,617
P36 0,756
P37 0,858
P38 0,733
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel rotated component matrix, menunjukan
bahwa komponen matrix hasil dari proses rotasi (rotated component
matrix) memperlihatkan distribusi variabel yang lebih jelas dan nyata.
Menurut Ghozali (2009), matrix korelasi secara keseluruhan
digunakan untuk menentukan apakah variabel tersebut dapat dilakukan
analisis faktor atau tidak. Uji KMO Measure of sampling and Bartletts
test of sphericity digunakan untuk menguji apakah antar variabel
tersebut mempunyai korelasi. Sedangkan uji measure of sampling
121
adequacy (MSA) digunakan untuk melihat interkorelasi antar variabel
dan dapat tidaknya analisis faktor dilakukan (Suliyanto, 2005). Nilai
MSA bervariasi dari 0 sampai 1, jika nilai MSA < 0,50, maka analisis
faktor tidak dapat dilakukan.
Berdasarkan hasil uji Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dan bartletts
test menunjukan bahwa angka KMO Measure of sampling and
Bartletts test berada pada nilai 0,715 dengan tingkat signifikan 0,000,
sedangkan berdasarkan hasil yang terlihat dalam tabel Total
Variance Explained menunjukan bahwa dari 20 pertanyaan yang
dianalisis ternyata ada 7 faktor atau komponen yang eigenvalue-nya
lebih dari satu, yaitu faktor pertama yang mempunyai eigenvalue =
4,394, faktor kedua mempunyai eigenvalue = 1,888, faktor ketiga
mempunyai eigenvalue = 1,803, faktor keempat mempunyai eigenvalue
= 1,608, faktor kelima mempunyai eigenvalue = 1,394, faktor keenam
mempunyai eigenvalue = 1,175, dan faktor ketuju mempunyai
eigenvalue = 1,061.
122
Tabel 4.17
Total Variance Explained
Component Initial Eigenvalues
Total % of Variance Cumulative %
1 4,394 21,968 21,968
2 1,888 9,439 31,407
3 1,803 9,015 40,422
4 1,608 8,041 48,463
5 1,394 6,969 55,432
6 1,175 5,875 61,307
7 1,061 5,305 66,612
8 ,940 4,701 71,313
9 ,894 4,469 75,781
10 ,737 3,687 79,469
11 ,694 3,471 82,940
12 ,591 2,956 85,896
13 ,479 2,395 88,291
14 ,412 2,061 90,352
15 ,389 1,946 92,299
16 ,363 1,815 94,113
17 ,331 1,655 95,768
18 ,304 1,522 97,290
19 ,276 1,379 98,670
20 ,266 1,330 100,000
123
Tabel 4.18
Faktor Terbentuk
Komponen Eigenvalue
(jumlah varian
yang dijelaskan
oleh setiap
faktor)
Item Faktor loading
(koefisien bobot
kontribusi suatu
variabel terhadap
faktor)
Faktor 1 4,394
Merekomendasikan kepada
orang lain (P28)
0,751
Mendorong teman untuk
berwakaf (P29)
0,775
Mempertimbangkan produk
wakaf uang (P30)
0,743
Tetap akan berwakaf (P32) 0,746
Berwakaf uang lebih banyak
(P33)
0,617
Faktor 2 1,888
Beralih ke badan wakaf lain
jika terjadi masalah (P36)
0,756
Mengeluh kepada wakif lain
(P37)
0,858
Mengeluh kepada badan
wakaf Indonesia (P38)
0,733
Faktor 3 1,803
Ingin mengetahui prosedur
(P20)
0,531
Lembaga wakaf (P22) 0,585
Kegiatan Produktif (P25) 0,769
Instrument Investasi (P26) 0,737
Faktor 4 1,608
Kegiatan agama bagi orang
kaya (tanah luas) untuk amal
sholeh (P10)
0,882
Wakaf dilakukan oleh orang
kaya (P11)
0,868
Faktor 5 1,394
Wakaf uang lebih praktis
dibandingkan tanah (P14)
0,731
Wakaf uang mudah
pembayarannya (P15)
0,804
Faktor 6 1,175
Orang muslim minimal sholat
malam 3 kali dalam sebulan
(P3)
0,822
Orang muslim minimal puasa
selain ramadhan 3 kali dalam
sebulan (P4)
0,825
Faktor 7 1,061
Nilai religious lebih penting
dari materi (P2)
0,762
Zakat, infaq, sedekah (wakaf
uang) seimbang (P5)
0,739
Sumber: Data Primer
124
4.3.4. Penamaan Faktor yang Terbentuk
Untuk menamai faktor yang telah dibentuk dalam analisis
faktor, dapat dilakukan dua cara yaitu: Pertama, dengan cara memberi
nama faktor yang dapat mewakili nama-nama variabel yang membentuk
faktor-faktor tersebut; Kedua, berdasarkan variabel yang memiliki nilai
faktor loading tertinggi. Hal ini dilakukan apabila tidak dimungkinkan
untuk memberikan nama faktor yang dapat mewakili semua variabel
yang membentuk faktor tersebut (Suliyanto, 2005).
Berdasarkan faktor yang terbentuk menunjukan bahwa ada yang
dapat mewakili dan ada yang tidak dapat mewakili, sehingga
penamaannya sebagai berikut:
125
Tabel 4.19
Penamaan Faktor yang Terbentuk
Komponen Item Terdiri dari Nama Faktor
Faktor 1
Merekomendasikan kepada orang lain (P28)
Perilaku Wakif
Mendorong teman untuk berwakaf (P29)
Mempertimbangkan produk wakaf uang (P30)
Tetap akan berwakaf (P32)
Berwakaf uang lebih banyak (P33)
Faktor 2
Beralih ke badan wakaf lain jika terjadi masalah (P36)
Pengaduan Mengeluh kepada wakif lain (P37)
Mengeluh kepada badan wakaf Indonesia (P38)
Faktor 3
Ingin mengetahui prosedur (P20)
Kegiatan
produktif
Lembaga wakaf (P22)
Kegiatan Produktif (P25)
Instrument Investasi (P26)
Faktor 4
Kegiatan agama bagi orang kaya (tanah luas) untuk amal
sholeh (P10) Kekayaan
Wakaf dilakukan oleh orang kaya (P11)
Faktor 5 Wakaf uang lebih praktis dibandingkan tanah (P14) Karakteristik
Produk Wakaf uang mudah pembayarannya (P15)
Faktor 6
Orang muslim minimal sholat malam 3 kali dalam
sebulan (P3) Religiusitas
Orang muslim minimal puasa selain ramadhan 3 kali
dalam sebulan (P4)
Faktor 7 Nilai religius lebih penting dari materi (P2) Kedermawanan
Zakat, infaq, sedekah (wakaf uang) seimbang (P5)
Sumber: Data Primer
Tabel.4.20
Total Variance Explained
component Rotation Sums of Squared
Loadings
Total
% of
Variance
Cumulative
%
1 2,909 14,543 14,543
2 2,022 10,110 24,652
3 1,995 9,974 34,626
4 1,754 8,769 43,395
5 1,648 8,241 51,636
6 1,632 8,159 59,794
7 1,363 6,817 66,612
Sumber: Data Primer
Dari output di atas diperoleh tujuh faktor yang masing-masing
mempunyai persentase varian (jumlah variasi yang berhubungan pada
suatu factor yang dinyakatakan dalam persentase) sebesar 14,543
126
persen, 10,110 persen, 9,974 persen, 8,769 persen, 8,241 persen, 8,159
persen, dan 6,817 persen. Sehingga total persentase varian ketujuh
faktor tersebut adalah 66,612 persen Jadi, rotated component matrix
berhasil mereduksi 20 item pertanyaan menjadi 7 faktor yaitu:
Tabel 4.18 dan 4.19 mengambarkan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi Preferensi Wakif terhadap produk dari Badan Wakaf
Uang-Tunai MUI DIY disebabkan oleh beberapa faktor sesuai dengan
urutan persentase varian berikut:
1. Faktor Perilaku wakif dengan persentase varian sebesar 14,543%,
berdasarkan analisis faktor ada lima item pertanyaan yang
membentuk faktor perilaku wakif yaitu; merekomendasikan kepada
orang lain (P28), mendorong teman untuk berwakaf (P29),
mempertimbangkan produk wakaf uang (P30), tetap akan berwakaf
(P32), dan berwakaf uang lebih banyak (P33).
2. Faktor Pengaduan dengan persentase varian sebesar 10,110%,
berdasarkan analisis faktor ada tiga item pertanyaan yang
membentuk faktor komplain yakni; beralih ke badan wakaf lain jika
terjadi masalah (P36), mengeluh kepada wakif lain (P37) dan
mengeluh kepada badan wakaf Indonesia (P38).
3. Faktor Kegiatan Produktif dengan persentase varian sebesar 9,974%,
faktor ini dibentuk dari empat item pertanyaan yakni; ingin
mengetahui prosedur wakaf uang (P20), lembaga wakaf (P22),
kegiatan produktif (P25) dan instrumen investasi (P26).
127
4. Faktor Kekayaan dengan persentase varian sebesar 8,769%, terdiri
dari dua item pertanyaan yaitu kegiatan agama bagi orang kaya
(tanah luas) untuk amal sholeh (P10) dan wakaf dilakukan orang
kaya (P11).
5. Faktor Karakteristik Produk dengan persentase varian sebesar
8,241%, terdiri dari dua item yaitu; obyek wakaf berkembang yaitu
objek wakaf uang lebih prkatis dibandingkan tanah (P14) dan wakaf
uang mudah pembayarannya (P15).
6. Faktor Religiusitas dengan persentase varian sebesar 8,159%, terdiri
dari dua item pertanyaan yaitu orang muslim minimal sholat malam
3 kali dalam sebulan (P3) dan orang muslim minimal puasa selain
ramadhan 3 kali dalam sebulan (P4).
7. Faktor Kedermawanan dengan persentase varian sebesar 6,817%,
terdiri dari dua item pertanyaan tentang nilai religius lebih penting
dari materi (P2) dan zakat, infaq dan sedekah (wakaf uang) seimbang
(P5).
128
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka penyusun dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut.
1. Berdasarkan analisis SWOT BWU-T MUI DIY menunjukkan bahwa:
strengths (kekuatan) BWUT MUI DIY adalah bekerjasama dengan Bank
BPD DIY Syariah dan adanya surat edaran Gubernur DIY. Weaknesses
(kelemahan) yang dimiliki BWU-T MUI DIY adalah belum adanya
legalitas serta masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap porduk
wakaf tunai. Opportunities (peluang) yang dimiliki oleh BWU-T MUI
adalah Wakaf tidak hanya untuk orang yang kaya dan mempunyai tanah
luas dan dana wakaf uang dapat untuk pendidikan maupun membantu
perekonomian kaum dhuafa. Sedangkan threats (ancaman) yang dimiliki
adalah belum adanya legalitas dan adanya ulama’ yang tidak membolehkan
wakaf tunai. Adapun strategi penghimpunan wakaf uang-tunai yang
dilakukan oleh BWU-T MUI DIY adalah pertama, metode ”Jemput Bola”
dan kedua, metode ”Menunggu Bola”
2. Berdasarkan hasil dari analisis distribusi frekuensi menunjukkan bahwa
responden yang sudah berwakaf sebesar 82% sedangkan yang belum
berwakaf sebesar 18%. Kesediaan untuk berwakaf uang-tunai sebesar 66%,
ragu-ragu sebesar 3,5% dan yang tidak setuju dengan kesediaan untuk
129
berwakaf sebesar 10,5%. Adapun responden yang menyetujui produk
wakaf uang tetap sebesar 45,5%, ragu-ragu sebesar 39% dan renponden
yang menolak sebesar 15,5%. Sedangkan responden yang setuju dengan
wakaf uang sementara sebesar 20%, ragu-ragu sebesar 49,5% dan yang
menolak sebesar 30,5% responden. Hal ini berarti bahwa preferensi wakif
terhadap produk wakaf uang-tunai adalah produk wakaf uang-tunai tetap
(abadi) sebesar 45,5%.
3. Berdasarkan analisis faktor menunjukkan bahwa minat wakif untuk
berwakaf uang disebabkan oleh beberapa faktor sesuai dengan urutan
persentase varian berikut:
a. Faktor Perilaku wakif dengan persentase varian sebesar 14,543%,
berdasarkan analisis faktor ada lima item pertanyaan yang membentuk
faktor perilaku wakif yaitu; merekomendasikan kepada orang lain,
mendorong teman untuk berwakaf, mempertimbangkan produk wakaf
uang, tetap akan berwakaf, dan berwakaf uang lebih banyak.
b. Faktor Pengaduan dengan persentase varian sebesar 10,110%,
berdasarkan analisis faktor ada tiga item pertanyaan yang membentuk
faktor komplain yakni; beralih ke badan wakaf lain jika terjadi masalah,
mengeluh kepada wakif lain dan mengeluh kepada badan wakaf
Indonesia.
c. Faktor Kegiatan Produktif dengan persentase varian sebesar 9,974%,
faktor ini dibentuk dari empat item pertanyaan yakni; ingin mengetahui
130
prosedur wakaf uang, lembaga wakaf, kegiatan produktif dan instrumen
investasi.
d. Faktor Kekayaan dengan persentase varian sebesar 8,769%, terdiri dari
dua item pertanyaan yaitu kegiatan agama bagi orang kaya (tanah luas)
untuk amal sholeh dan wakaf dilakukan orang kaya.
e. Faktor Karakteristik Produk dengan persentase varian sebesar 8,241%,
terdiri dari dua item yaitu; wakaf uang lebih prkatis dibandingkan tanah
dan wakaf uang mudah pembayarannya.
f. Faktor Religiusitas dengan persentase varian sebesar 8,159%, terdiri
dari dua item pertanyaan yaitu orang muslim minimal sholat malam 3
kali dalam sebulan dan orang muslim minimal puasa selain ramadhan 3
kali dalam sebulan.
g. Faktor Kedermawanan dengan persentase varian sebesar 6,817%, terdiri
dari dua item pertanyaan tentang nilai religius lebih penting dari materi
dan zakat, infaq dan sedekah (wakaf uang) seimbang.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan yang dicapai dalam penelitian
ini, maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. BWU-T MUI DIY lebih memprioritaskan produk wakaf uang tetap
dibandingkan wakaf uang sementara.
2. BWU-T MUI DIY lebih meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat.
3. Berdasarkan analisis faktor BWU-T MUI DIY dalam mengembangkan
produk wakaf uang harus memperhatikan hal-hal berikut ini: pertama,
131
menyelami perilaku wakif. kedua, mekanisme komplain harus jelas,
ketiga, memperhatikan produktifitas dalam penyaluran.
1 3 2
DAFTAR PUSTAKA
Ali, I.B. 2009, Waqf a Sustainable Development Institution for Muslim Communities.
http.//tkaafultt.org.
Ali, Muhammad Daud, 1988, “System Ekonomi Islam: Zakat dan Wakaf”, cet.1
Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Amirudin, 2009, Identifikasi dan Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Sinkronisasi Dokumen Anggaran Pandapatan dan Belanja Daerah dengan
Dokumen Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran
Sementara (Studi Kasus Propinsi D.I Yogyakarta TA 2008). Tesis S-2
Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (tidak
dipublikasikan).
Antonio, Muhammad Syafi’I, 2004, “Cash Waqf dan Anggaran Pendidikan”,
makalah dalam Kumpulan Hasil Seminar Perwakafan, Tim Depag RI. Dirjen
Bimas Islam dan Penyelenggaran Haji, Jakarta.
Anwar, Syamsul, 2007, Studi Hukum Islam Kontemporer, RM Books, Jakarta.
Arif, M.Nur Riyanto al, 2010, Dasar-dasar Pemasaran Bank Syariah, Alfabeta,
Bandung.
Budi, Triton P, 2006, ”SPSS 13.0 Terapan,” Riset Statistik Parametrik, Andi,
Yogyakarta
Bennet, Peter D. 1995, Dictionary of Marketing, American Marketing Association,
Chicago
Bernasek Alexandra, Banking on Social Change: Grameen Bank Lending to Women,
International Journal of Politics, Culture, and Society, Vol. 16, No. 3,
diakses pada tanggal 29/03/2010
Bolton Ruth N. dan James H. Drew, A Longitudinal Analysis of the Impact of
Service Changes on Customer Attitudes, The Journal of Marketing, Vol. 55,
No. 1 (Jan., 1991), diakses pada tanggal 14/04/2010
Cizakca, Murat, 1995, “Cash Waqfs of Buras, 1555-1823” Journal of the Ekonomic
and Sosial History of the Orient.Vol. 338 bab. 3. diakses pada tanggal
14/04/2010
1 3 3
Cizakca, Murat, 2000, A History of Philantrophic Foundations: The Islamic World
from Sevent Century to the Present, Bogazici University Press, Istambul,
Turki.
Cooper, Donal R., dan Emory, C. William, 1998, Metode Penelitian Bisnis, Jilid 2,
Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
Culligan, Mattew J. 1996, Manajemen Back to Basic, alih bahasa Hermoyo, Mitra
Utama, Jakarta.
Djunaidi, Achmad dan Thobieb Al-Asyhar, 2006, Menuju Era Wakaf Produktif
(Sebuah Upaya Progresif untuk Kesejahteraan Umat), Mitra Abadi Press,
Jakarta.
Donna, D.R., 2008, “Penerapan Wakaf Tunai pada Lembaga Keuangan Publik
Islam”. Journal of Islamic Business and Economics, Vol.1, No.1.
Donna, D.R., 2008, The Dynamic Optimization of Cash Waqf Management: an
Optimal Control Theory Approach, http.//lebi.fe.ugm.ac.id.
Esposito, John L. ed., 2001, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, Mizan,
Bandung.
Fatwa Majelis Ulama’ Indonesia Tanggal 11 Mei 2002 Tentang Wakaf Uang.
Fornell Claes, A National Customer Satisfaction Barometer: The Swedish
Experience, The Journal of Marketing, Vol. 56, No. 1 (Jan., 1992), diakses
pada tanggal 14/04/2010
Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Cetakan
IV, Edisi Keempat, BP UNDIP, Semarang.
Ghozali, Imam, 2008, Struktural Equation Modeling, Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
Hasanah, Uswatun, “Strategi Pengembangan Ekonomi Dhu’afa Melalui
Pengembangan Wakaf Produktif”, makalah disampaikan pada seminar
nasional tentang zakat dan wakaf tunai produktif sebagai sistem pengelolaan
ekonomi umat, diselenggarakan oleh Yayasan Amal Ihsan Fi Sabilillah
Yogyakarta, 11 juni 2005
http://www.jstor.org/
1 3 4
Jusmaliani, ed., 2008. Investasi Syari’ah (Implementasi, Konsep pada Kenyataan
empirik), Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Kahf, Monzer, Financing the Development of Awqaf Property,
http://kahf.net/papers.html. diakses pada tanggal 02/02/2010
Kahf, Monzer, Waqf and Its Sociopolitical Aspects, http://kahf.net/papers.html.
diakses pada tanggal 02/02/2010
Kahf, Monzer, Towards the Revival of Awqaf: A Few Fiqhi Issues to Reconsider,
http://kahf.net/papers.html. diakses pada tanggal 02/02/2010
Kastaman, R., Kramadibrata, Ade M., Susanto, A., Permana, Y., dan Bambang, 2003,
Studi Percepatan Investasi Industri Akibat Asuransi Teknologi (ASTEKNO)
dan Perlindungan Pengetahuan Tradisional (LINTRAD), Laporan Akhir
Penelitian, Universitas Padjadjaran, Bandung (tidak dipublikasikan).
Khotler, Philip, 2002, Manajemen Pemasaran, PT. Prenhallindo, Jakarta.
Koentjaraningrat, 1989, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad dan Suhardjono, 2002, Manajemen Perbankan: Teori dan
Aplikasi, BPFE, Yogyakarta.
Lubis, Suhrawardi K dkk., 2010, Wakaf dan Pemberdayaan Umat, Sinar Grafika,
Jakarta.
Lupiyoadi, Rambat dan A. Hamdani, 2008, Manajemen Pemasaran Jasa, Salemba
Empat, Jakarta.
Mannan, M.A., tt, Sertifikasi Wakaf Tunai Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan
Islam, CIBER PKTTI-UI, Jakarta.
Mindak William A. dan H. Malcolm Bybee, Marketing's Application to Fund
Raising, The Journal of Marketing, Vol. 35, No. 3 (Jul., 1971) diakses pada
tanggal 14/04/2010
Mubarok, Jaih, 2008, Wakaf Produktif, Simbiosa Rekatama Media, Bandung.
Nasution, Mustafa Edwin dan Uswatun Hasanah (ed)., 2006, Wakaf Tunai Inovasi
Finansial Islam (Peluang dan Tantangan dalam Mewujudkan Kesejahteraan
Umat, Program Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Jakarta.
1 3 5
Nasution, Edwin, “Potensi Wakaf Tunai Di Indonesia”dalam www.tazkiaonline.com
diakses pada 27 Oktober 2009.
Nazir, Habib dan Muhammad Hasanuddin, 2008, Ensiklopedi Ekonomi dan
Perbankan Syari’ah, Kafa Publishing, Bandung.
Parasuraman, A. Valarie A. Zeithaml, Leonard L. Berry, The Behavioral
Consequences of Service Quality, The Journal of Marketing, Vol. 60, No. 2
(Apr., 1996) diakses pada 14/04/2010
Purwanto, April, 2009, Manajemen Fundraising bagi Organisasi Pengelolaan Zakat,
Teras, Yogyakarta.
Prabawati, Ari, 2010, Mengolah Data Statistik Hasil Penelitian Dengan SPSS17,
Andi Offset, Yogyakarta.
Qahaf, Mundzir, 2007, Manajemen Wakaf Produktif, Khalifa, Jakarta.
Rangkuti, Freddy, 1999, Analisis Swot Tehnik Membedah Kasus Bisnis, Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.
Soeratno dan Lincolin Arsyad, 2008, Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan
Bisnis, UPP STIM YKPN, Yogyakarta.
Sudarsono, Heri, 2007, Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah Deskripsi dan
Ilustrasi, Penerbit Ekonisia, Yogyakarta.
Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.
Suhadi, Imam, 2002, Wakaf Untuk Kesejahteraan Umat, PT. Dana Bhakti Prima,
Yogyakarta.
Suliyanto, 2005, Analisis Data dalam Aplikasi Pemasaran, Ghalia Indonesia, Bogor.
Sumarni, Murti, 2002, Manajemen Pemasaran Bank, Liberty, Yogyakarta.
Tim Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag RI., 2004, Kumpulan Hasil
Seminar Perwakafan, Direktorat Jenderal Pengembagan Zakat dan Wakaf
Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Jakarta.
Tim Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag RI., 2005, Pedoman
Pengelolaan Wakaf Tunai, Direktorat Jenderal Pengembagan Zakat dan
Wakaf Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji,
Jakarta.
1 3 6
Tim Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag RI., 2006, Strategi
Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia, Direktorat Jenderal Pengembagan
Zakat dan Wakaf Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan
Penyelenggaraan Haji, Jakarta.
Tim Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Depag RI, 2006, Perkembangan
Pengelolan Wakaf di Indonesia, Direktorat Jenderal Pengembagan Zakat dan
Wakaf Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji,
Jakarta.
Tim Penulis dan Peneliti Center for the Stuy of Religion and Culture (CSRC) UIN
Syarif Hidayatullah, 2006, Filantropi Islam dan Keadilan Sosial: Studi
tentang Potensi, Tradisi dan Pemanfaatan Filantropi Islam di Indonesia.
Center for the Stuy of Religion and Culture. Jakarta.
Tjiptono, Fandi, 1995, Strategi Pemasaran, Andi Offset, Yogyakarta
Tjiptono, Fandi, dkk., 2008, Pemasaran Strategik, Andi Offset, Yogyakarta
Triton PB, 2008, Marketing Strategic, Tugu, Yogyakarta.
Undang-undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.
Usman, Rachmadi, 2009, Hukum Perwakafan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta.
Wadjdy, Farid dan Mursyid, 2007, Wakaf Kesejahteraan Umat, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.
W.D.Bygrave The Poetable MBA Enterpreneurship. Dalam menggagas bisnis islami.
Jakarta gema insane press 1995
Zuhaili, Wahbah az-, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, cet. III, Damaskus: Dar al-Fikr,
t.t.
Lampiran
I
Magister Ekonomika Islam
Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Bapak/Ibu/Sdr/Sdri Yth, saya adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
saat ini sedang melakukan penelitian tentang Wakaf Uang Tunai di Badan Wakaf Uang Tunai
(BWU-T) Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, khususnya mengenai penghimpunan wakaf
uang. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon dapatkah kiranya Bpk/Ibu/Sdr/Sdri
menyisihkan waktu sekitar 10 menit untuk pengisian kuesioner berikut ini. Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Nama : Jauhar Faradis
NIM : 08/278039/PMU/05741
I. Informasi singkat mengenai wakaf
Diantara jalan kebaikan yang Allah sediakan bagi manusia adalah bersedekah dengan harta
yang dia cintai kepada orang lain. Sedekah dibagi menjadi dua jenis yaitu sedekah wajib dan
sedekah sunah. Salah satu sedekah sunnah adalah wakaf. Pengertian wakaf dalam terminology
adalah menahan/menyerahkan pokok barang dan memberikan manfaatnya. Wakaf sering
diarahkan kepada wakaf barang tidak bergerak seperti tanah, bangunan. Sekarang ini telah
berkembang pendapat bahwa wakaf dapat juga dilakukan dengan barang bergerak seperti
uang, saham dsb. Salah satu syarat wakaf adalah nilai pokok barang tidak boleh
berkurang/habis nilainya. Berbeda dengan infaq, nilai barang yang diinfaqkan akan habis
terpakai untuk konsumsi, maka dalam wakaf nilai barang tersebut tidak boleh berkurang,
sehingga manfaatnya bisa berlangsung lama (abadi).
BWU-T MUI DIY merupakan suatu lembaga pengelola wakaf uang. Dalam pelaksanaannya
sehari-hari BWU-T MUI DIY bekerjasama dengan Bank BPD Syariah sebagai penyimpan
Lampiran
I I
dan sirkulasi dana. Dana yang terkumpul di BWU-T MUI DIY sebesar Rp. 224.000.000,-
dengan jumlah wakif 215 orang, dana tersebut disimpan di Bank BPD Syariah dalam bentuk
deposito. BWU-T MUI DIY mempunyai dua produk dalam pengumpulan wakaf uang yaitu;
wakaf uang tetap (abadi) dan wakaf uang sementara (berjangka). Seiring berjalannya waktu,
BWU-T MUI DIY sudah mendapatkan hasil dari dana yang terhimpun sebesar RP.
6.000.000,- dan sudah di salurkan sebesar Rp. 2.000.000,- kepada 5 orang usaha mikro yaitu;
3 orang di daerah Banyusumurp, Imogiri, Bantul dan 2 orang di daerah Jogotirto, Berbah,
Sleman. Untuk sisa dana Insyaallah akan disalurakan pada bulan Mei kepada 15 orang.
II. Petunjuk Pengisian
Petunjuk pengisian beri tanda silang (x) pada jawaban yang dipilih untuk setiap pertanyaan
yang diajukan. Mohon di isi identitas diri anda yang diperlukan dalam penelitian ini.
Kerahasiaan identitas diri anda sebagai responden akan dijaga dengan sebaik-baiknya
III. Demografi
Pertanyaan umum:
Nama Anda :
Jenis Kelamin :
Alamat :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Penghasilan Perbulan :
1. Apakah anda sudah berwakaf uang tunai (selain di Badan Wakaf Uang Tunai MUI DIY) ?
a. Sudah b. Belum
2. Setujukah anda untuk berwakaf uang tunai?
a. setuju b. ragu-ragu c. tidak setuju
3. Produk wakaf uang apa yang anda pilih ?
a. Wakaf uang tetap (abadi) b. Wakaf uang sementara (berjangka)
4. Jika anda memilih wakaf uang tetap (abadi) berapa besar anda ingin berwakaf ?
Rp. …………..
Lampiran
I I I
5. Jika anda memilih wakaf uang sementara (berjangka), berapa besar serta berapa lama anda
ingin berwakaf ?
Rp. ……………………… dan …………………………… (th/bl)
IV. Variabel Religiusitas, Karekteristik Produk dan Variabel Persepsi Konsumen
Pertanyaan inti: Setujukah anda jika semua hal di bawah ini merupakan alas an yang
menjadikan anda untuk mau berwakaf uang di BWU-T MUI DIY.
Untuk menjawab, mohon Anda member tanda silang (x) pada salah satu jawaban yang sesuai
dengan penilaian Anda: 1 = Sangat Tidak Setuju (STS); 2 = Tidak Setuju (TS);
3 = Netral (N); 4 = Setuju (S); 5 = Sangat Setuju (SS).
Kode No Pertanyaan Jawaban
STS TS N S SS
Religiusitas
Keterlibatan
Religiusitas
1 Orang muslim adalah orang yang sering
menghadiri kegiatan-kegiatan religius
2 Nilai religious lebih penting dari pada
nilai materi
Perhatian
terhadap
Agama
1 Orang muslim adalah orang yang
melakukan shalat malam minimal 3 kali
dalam sebulan
2 Orang muslim adalah orang yang
melakukan puasa selain puasa bulan
ramadhan minimal 3 kali dalam sebulan
Kedermawanan 1 Orang muslim yang dermawan adalah
orang muslim yang mengeluarkan zakat,
infaq dan sedekah (wakaf uang) seimbang
2 Orang muslim yang dermawan adalah
orang muslim yang mengeluarkan infaq
dan sedekah (wakaf uang) lebih besar
dibandingkan mengeluarkan zakat
Pengenalan
Wakaf
1 Setujukah anda jika sesuai perkembangan
zaman maka, objek wakaf juga
Lampiran
I V
berkembang yaitu adanya objek wakaf
uang
2 Setujukah saudara jika wakaf uang
dihimpun oleh badan wakaf dan dikelola
oleh perbankan syariah
3 Setujukah anda untuk berwakaf uang
Brand Association
A. Karakteristik Produk
Tanah 1 Yang saya ketahui wakaf hanya berupa
tanah, mesjid, sekolah dan sejenisnya
Agama 2 Yang saya ketahui wakaf merupakan
kegiatan keagamaan yang diperuntukkan
bagi orang yang mempunyai tanah luas
sebagai amal sholeh
Kaya 3 Yang saya ketahui wakaf dilakukan oleh
orang tua atau orang yang mempunyai
tanah luas
Kenal 4 Saya baru mengetahui bahwa selain tanah
uang juga bisa digunakan untuk berwakaf
Produk 5 Saya baru mengetahui bahwa ada dua
produk wakaf uang, yaitu wakaf tetap dan
wakaf sementara
Praktis 6 Jika demikian wakaf uang lebih praktis
dibandingkan dengan wakaf tanah
Mudah 7 Wakaf uang lebih mudah pembayarannya,
misalnya melalui ATM
Beda 8 Saya mengetahui perbedaan antara wakaf
uang dan sedekah, yaitu dalam wakaf
nilai pokoknya tidak boleh berkurang,
sedangkan dalam sedekah, nilai pokoknya
Lampiran
V
bisa habis dikonsumsi
Saingan 9 Produk wakaf uang merupakan saingan
dari zakat, infaq (sedekah)
A. Persepsi Konsumen
Tertarik 1 1 Saya lebih tertarik wakaf uang tetap
dibandingkan wakaf uang sementara
Tertarik 2 2 Saya lebih tertarik wakaf uang sementara
dibandingkan wakaf uang tetap
Prosedur 3 Saya ingin mengetahui pembayaran dan
prosedur wakaf uang
Makna 4 Saya telah mengetahui makna wakaf uang
Lembaga 5 Saya mengetahui beberapa lembaga
wakaf yang ada, seperti Badan Wakaf
Uang Tunai Majelis Ulama Indonesia
Kelola 6 Menurut saya pengelolaan wakaf uang
masih kurang, sehingga belum menyentuh
pada aspek pemberdayaan ekonomi umat
yang melibatkan banyak pihak
Bank 7 Menurut saya wakaf uang akan lebih
dikenal jika merupakan bagian dari
produk bank
Produktif 8 Wakaf uang dapat mendorong kegiatan
ekonomi yang produktif, misalnya untuk
perdagangan, pembiayaan
Investasi 9 Wakaf uang dapat menjadi instrument
investasi yang hasil investasi dapat
diberikan kepada masyarakat
Perilaku Konsumen
A. Loyalitas
Item 1 1 Saya akan mensosialisasikan kepada
Lampiran
V I
orang lain mengenai keunggulan produk
wakaf uang
Item 2 2 Saya akan merekomendasikan kepada
orang lain untuk menyalurkan wakaf uang
ke Badan Wakaf Uang Tunai MUI
Yogyakarta
Item 3 3 Saya akan mendorong teman untuk
berwakaf di Badan Wakaf Uang Tunai
MUI Yogyakarta
Item 4 4 Saya akan mempertimbangkan produk
Badan Wakaf Uang Tunai MUI
Yogyakarta sebagai pilihan pertama
dalam melaksanakan wakaf uang
Item 5 5 Saya akan berwakaf uang tunai lebih
banyak diwaktu mendatang
B. Membayar Lebih
Item 1 6 Saya tetap akan berwakaf uang di Badan
Wakaf Uang Tunai MUI Yogyakarta
walaupun terjadi kenaikan harga (adanya
kenaikan besaran nominal untuk
mendapatkan sertifikasi wakaf uang
tunai)
Item 2 7 Saya akan membayar (berwakaf) lebih
tinggi dibandingkan dengan harga yang
ditawarkan karena manfaat lain yang
diberikan oleh Badan Wakaf Uang Tunai
Yogyakarta
C. Pindah
Item 1 8 Saya akan berwakaf uang tunai lebih
sedikit diwaktu mendatang
Item 2 9 Saya akan mengalihkan wakaf uang saya
Lampiran
V I I
kepada badan wakaf uang yang lain
D. Respon Eksternal
Item 1 10 Saya akan beralih ke Badan Wakaf Uang
Tunai yang lain jika mengalami masalah
dengan pelayanan di Badan Wakaf Uang
Tunai MUI Yogyakarta
Item 2 11 Saya akan mengeluh kepada wakif (orang
yang berwakaf) lain jika mengalami
masalah dengan pelayanan di Badan
Wakaf Uang Tunai MUI Yogyakarta
Item 3 12 Saya akan mengeluh/mengadukan kepada
lembaga eksternal, misalnya Badan
Wakaf Indonesia apabila mengalami
masalah dengan pelayanan di Badan
Wakaf Uang Tunai MUI Yogyakarta
E. Respon Internal
Item 1 13 Saya akan mengeluh/mengadukan kepada
pengelola Badan Wakaf Uang Tunai MUI
Yogyakarta apabila mengalami masalah
dengan pelayanan di Badan Wakaf Uang
Tunai MUI Yogyakarta
Deskripsikan kesan Anda terhadap BWU-T MUI DIY!
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
Apakah saran dan kritik Anda untuk perbaikan BWU-T MUI DIY?
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
Lampiran
V I I I
Tabel 1
KMO and Bartlett's Test 1
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Adequacy.
,707
Bartlett's
Test of
Sphericity
Approx. Chi-Square 2874,748
df 741
Sig. ,000
Tabel 2
Anti-image Matrices 1
P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9
Anti-image
Correlation
P1 .417
a
-,319 -,123 -,356 ,108 ,014 -,254 ,075 -,008
P2 -,319 .536
a
,110 ,122 -,222 -,092 ,124 -,079 ,047
P3 -,123 ,110 .689
a
-,428 ,161 ,008 -,044 -,103 -,015
P4 -,356 ,122 -,428 .700
a
-,281 -,128 ,046 ,020 ,068
P5 ,108 -,222 ,161 -,281 .683
a
-,119 -,134 -,155 -,145
P6 ,014 -,092 ,008 -,128 -,119 .856
a
-,046 -,027 -,154
P7 -,254 ,124 -,044 ,046 -,134 -,046 .716
a
-,168 ,153
P8 ,075 -,079 -,103 ,020 -,155 -,027 -,168 .813
a
,054
P9 -,008 ,047 -,015 ,068 -,145 -,154 ,153 ,054 .673
a
P10 -,209 ,044 ,112 ,028 -,087 ,027 ,092 -,031 -,146
P11 ,118 ,042 -,036 -,117 ,057 -,010 -,087 ,079 -,074
P12 -,085 ,126 ,096 ,007 ,067 -,066 ,076 -,173 -,253
P13 ,094 -,133 ,007 -,154 ,001 -,045 -,032 ,111 -,054
P14 -,075 ,122 -,049 ,116 -,065 ,027 -,028 -,026 ,051
P15 ,197 ,026 ,141 -,183 ,125 -,026 -,314 -,150 -,027
P16 -,096 -,001 -,193 ,132 -,130 ,096 ,176 ,093 ,051
P17 -,095 ,115 -,139 ,057 ,055 -,210 ,168 -,176 ,007
P18 -,015 -,080 ,022 ,025 -,081 ,059 -,187 -,009 -,056
P19 ,031 -,060 ,029 -,116 -,018 -,102 -,134 ,148 -,056
P20 -,079 -,007 ,037 ,110 ,109 -,023 -,127 -,165 -,142
P21 ,085 -,014 -,064 -,049 -,141 ,005 ,152 ,077 ,221
P22 ,199 -,108 -,089 -,067 ,137 -,090 -,133 -,052 ,044
P23 -,207 ,104 ,077 ,045 -,162 -,030 ,157 -,067 -,104
P24 -,021 -,133 ,024 -,039 ,153 -,096 ,086 -,173 -,118
P25 ,160 ,021 ,088 ,014 -,050 ,108 -,250 ,001 -,027
P26 -,028 -,015 -,084 -,060 -,020 -,133 ,055 -,094 ,029
P27 -,073 -,080 -,094 ,059 -,081 -,017 -,025 -,016 ,185
P28 ,141 ,031 ,083 -,061 -,061 ,004 ,049 -,049 ,045
P29 -,117 ,101 ,015 ,021 -,046 -,019 ,098 -,039 -,043
P30 -,163 -,029 -,064 ,167 ,165 -,080 -,130 -,141 -,197
P31 ,217 -,221 -,225 -,088 ,072 ,040 ,038 ,187 ,064
P32 -,002 -,012 ,036 -,028 ,062 ,112 -,175 ,063 -,047
Lampiran
I X
P33 ,023 ,040 ,007 -,070 -,097 -,147 ,093 -,006 ,077
P34 -,011 -,062 ,000 ,037 ,177 -,046 -,110 -,108 -,136
P35 ,237 -,039 -,167 ,044 -,025 -,011 ,002 ,138 ,041
P36 -,101 ,104 ,095 ,039 -,037 ,009 -,007 -,008 ,043
P37 ,009 -,020 -,079 -,008 -,010 ,049 -,022 ,046 -,032
P38 -,008 ,086 ,018 ,007 -,013 -,006 ,158 -,038 -,014
P39 ,160 -,149 -,064 -,058 ,079 -,070 -,230 -,033 -,030
P10 P11 P12 P13 P14 P15 P16 P17 P18
Anti-image
Correlation
P1 -,209 ,118 -,085 ,094 -,075 ,197 -,096 -,095 -,015
P2 ,044 ,042 ,126 -,133 ,122 ,026 -,001 ,115 -,080
P3 ,112 -,036 ,096 ,007 -,049 ,141 -,193 -,139 ,022
P4 ,028 -,117 ,007 -,154 ,116 -,183 ,132 ,057 ,025
P5 -,087 ,057 ,067 ,001 -,065 ,125 -,130 ,055 -,081
P6 ,027 -,010 -,066 -,045 ,027 -,026 ,096 -,210 ,059
P7 ,092 -,087 ,076 -,032 -,028 -,314 ,176 ,168 -,187
P8 -,031 ,079 -,173 ,111 -,026 -,150 ,093 -,176 -,009
P9 -,146 -,074 -,253 -,054 ,051 -,027 ,051 ,007 -,056
P10 .563
a
-,611 -,002 ,054 -,036 ,012 ,033 -,043 ,061
P11 -,611 .552
a
-,119 -,009 ,046 ,095 -,022 -,071 -,065
P12 -,002 -,119 .471
a
-,441 ,089 -,081 ,021 ,164 -,034
P13 ,054 -,009 -,441 .594
a
-,184 ,046 -,038 -,006 -,010
P14 -,036 ,046 ,089 -,184 .805
a
-,395 -,022 ,007 ,035
P15 ,012 ,095 -,081 ,046 -,395 .724
a
-,265 ,109 -,050
P16 ,033 -,022 ,021 -,038 -,022 -,265 .617
a
-,013 -,063
P17 -,043 -,071 ,164 -,006 ,007 ,109 -,013 .497
a
-,251
P18 ,061 -,065 -,034 -,010 ,035 -,050 -,063 -,251 .824
a
P19 -,165 ,170 -,098 ,144 -,054 ,000 -,069 -,226 ,207
P20 -,021 ,009 ,100 ,007 -,055 ,036 -,036 ,021 -,164
P21 -,021 ,056 -,135 ,203 -,024 -,133 ,021 ,089 -,138
P22 -,050 -,040 ,083 -,107 -,020 ,185 -,052 ,055 -,100
P23 ,021 -,023 ,278 -,170 ,113 -,164 ,089 ,119 -,062
P24 -,108 ,037 ,109 ,006 -,058 -,100 ,092 -,103 -,086
P25 ,070 -,079 -,125 -,016 -,137 ,131 -,116 -,129 ,018
P26 -,062 ,101 -,094 -,001 ,015 ,025 -,041 ,093 ,002
P27 -,018 -,047 -,204 ,153 -,138 -,004 ,052 -,049 -,049
P28 -,030 -,051 ,183 -,153 ,095 -,105 -,084 ,083 -,029
P29 -,016 ,030 -,121 ,116 -,058 -,079 ,135 -,196 ,047
P30 ,020 -,014 ,142 -,103 -,020 ,073 -,027 ,086 ,039
P31 -,126 -,009 -,103 ,048 ,006 -,100 ,100 ,011 -,139
P32 ,103 -,107 -,094 ,099 -,075 ,134 -,092 -,115 ,157
P33 ,099 ,026 ,145 -,139 ,053 -,063 -,060 ,141 -,185
P34 ,081 -,208 ,203 -,069 ,005 ,075 ,037 ,063 ,066
P35 -,182 ,170 -,128 ,046 -,057 -,045 ,033 -,141 ,000
P36 ,125 -,133 ,269 -,239 ,187 -,056 -,022 ,102 ,012
P37 ,050 -,030 -,192 ,054 -,004 -,058 ,045 -,181 ,070
Lampiran
X
P38 ,077 ,060 ,011 -,048 -,013 -,055 ,019 ,026 -,008
P39 -,226 ,138 -,020 -,001 -,064 ,216 -,146 ,201 ,006
P19 P20 P21 P22 P23 P24 P25 P26 P27
Anti-image
Correlation
P1 ,031 -,079 ,085 ,199 -,207 -,021 ,160 -,028 -,073
P2 -,060 -,007 -,014 -,108 ,104 -,133 ,021 -,015 -,080
P3 ,029 ,037 -,064 -,089 ,077 ,024 ,088 -,084 -,094
P4 -,116 ,110 -,049 -,067 ,045 -,039 ,014 -,060 ,059
P5 -,018 ,109 -,141 ,137 -,162 ,153 -,050 -,020 -,081
P6 -,102 -,023 ,005 -,090 -,030 -,096 ,108 -,133 -,017
P7 -,134 -,127 ,152 -,133 ,157 ,086 -,250 ,055 -,025
P8 ,148 -,165 ,077 -,052 -,067 -,173 ,001 -,094 -,016
P9 -,056 -,142 ,221 ,044 -,104 -,118 -,027 ,029 ,185
P10 -,165 -,021 -,021 -,050 ,021 -,108 ,070 -,062 -,018
P11 ,170 ,009 ,056 -,040 -,023 ,037 -,079 ,101 -,047
P12 -,098 ,100 -,135 ,083 ,278 ,109 -,125 -,094 -,204
P13 ,144 ,007 ,203 -,107 -,170 ,006 -,016 -,001 ,153
P14 -,054 -,055 -,024 -,020 ,113 -,058 -,137 ,015 -,138
P15 ,000 ,036 -,133 ,185 -,164 -,100 ,131 ,025 -,004
P16 -,069 -,036 ,021 -,052 ,089 ,092 -,116 -,041 ,052
P17 -,226 ,021 ,089 ,055 ,119 -,103 -,129 ,093 -,049
P18 ,207 -,164 -,138 -,100 -,062 -,086 ,018 ,002 -,049
P19 .580
a
-,172 -,088 -,089 -,043 -,017 -,027 ,001 ,129
P20 -,172 .777
a
-,118 -,059 -,117 ,005 ,031 -,120 ,088
P21 -,088 -,118 .798
a
-,175 ,042 -,013 -,133 ,119 -,045
P22 -,089 -,059 -,175 .630
a
-,118 ,110 -,009 -,054 -,120
P23 -,043 -,117 ,042 -,118 .686
a
,051 -,232 ,013 -,041
P24 -,017 ,005 -,013 ,110 ,051 .806
a
-,296 -,032 ,083
P25 -,027 ,031 -,133 -,009 -,232 -,296 .764
a
-,477 -,138
P26 ,001 -,120 ,119 -,054 ,013 -,032 -,477 .845
a
,038
P27 ,129 ,088 -,045 -,120 -,041 ,083 -,138 ,038 .772
a
P28 -,219 -,128 ,011 ,109 ,123 -,096 ,143 -,111 -,347
P29 ,130 ,164 -,039 -,202 -,043 ,129 -,065 -,001 ,204
P30 ,007 ,159 -,122 ,028 -,049 ,013 ,048 -,083 -,174
P31 ,037 -,305 ,019 ,201 -,047 ,073 -,107 ,077 -,128
P32 ,130 -,034 -,135 -,119 -,102 -,125 ,096 -,056 ,253
P33 -,143 ,077 -,032 ,062 ,022 -,106 ,004 -,007 -,207
P34 -,107 -,036 -,188 ,233 ,048 ,001 ,013 ,039 -,046
P35 ,021 ,066 ,131 -,052 -,154 -,009 ,085 ,065 ,070
P36 -,190 ,015 -,048 ,117 ,104 ,042 -,041 -,114 -,177
P37 ,000 -,047 -,077 -,049 -,091 -,071 ,142 -,045 ,073
P38 -,111 -,068 ,132 -,202 ,055 -,157 ,006 ,097 -,045
P39 ,146 ,013 -,153 ,174 -,091 ,031 -,006 ,025 -,067
Lampiran
X I
P28 P29 P30 P31 P32 P33 P34 P35 P36
Anti-image
Correlation
P1 ,141 -,117 -,163 ,217 -,002 ,023 -,011 ,237 -,101
P2 ,031 ,101 -,029 -,221 -,012 ,040 -,062 -,039 ,104
P3 ,083 ,015 -,064 -,225 ,036 ,007 ,000 -,167 ,095
P4 -,061 ,021 ,167 -,088 -,028 -,070 ,037 ,044 ,039
P5 -,061 -,046 ,165 ,072 ,062 -,097 ,177 -,025 -,037
P6 ,004 -,019 -,080 ,040 ,112 -,147 -,046 -,011 ,009
P7 ,049 ,098 -,130 ,038 -,175 ,093 -,110 ,002 -,007
P8 -,049 -,039 -,141 ,187 ,063 -,006 -,108 ,138 -,008
P9 ,045 -,043 -,197 ,064 -,047 ,077 -,136 ,041 ,043
P10 -,030 -,016 ,020 -,126 ,103 ,099 ,081 -,182 ,125
P11 -,051 ,030 -,014 -,009 -,107 ,026 -,208 ,170 -,133
P12 ,183 -,121 ,142 -,103 -,094 ,145 ,203 -,128 ,269
P13 -,153 ,116 -,103 ,048 ,099 -,139 -,069 ,046 -,239
P14 ,095 -,058 -,020 ,006 -,075 ,053 ,005 -,057 ,187
P15 -,105 -,079 ,073 -,100 ,134 -,063 ,075 -,045 -,056
P16 -,084 ,135 -,027 ,100 -,092 -,060 ,037 ,033 -,022
P17 ,083 -,196 ,086 ,011 -,115 ,141 ,063 -,141 ,102
P18 -,029 ,047 ,039 -,139 ,157 -,185 ,066 ,000 ,012
P19 -,219 ,130 ,007 ,037 ,130 -,143 -,107 ,021 -,190
P20 -,128 ,164 ,159 -,305 -,034 ,077 -,036 ,066 ,015
P21 ,011 -,039 -,122 ,019 -,135 -,032 -,188 ,131 -,048
P22 ,109 -,202 ,028 ,201 -,119 ,062 ,233 -,052 ,117
P23 ,123 -,043 -,049 -,047 -,102 ,022 ,048 -,154 ,104
P24 -,096 ,129 ,013 ,073 -,125 -,106 ,001 -,009 ,042
P25 ,143 -,065 ,048 -,107 ,096 ,004 ,013 ,085 -,041
P26 -,111 -,001 -,083 ,077 -,056 -,007 ,039 ,065 -,114
P27 -,347 ,204 -,174 -,128 ,253 -,207 -,046 ,070 -,177
P28 .718
a
-,482 -,134 ,015 -,287 ,254 -,021 -,044 ,221
P29 -,482 .754
a
-,232 -,176 ,035 -,214 -,105 ,154 -,102
P30 -,134 -,232 .794
a
-,075 -,129 -,025 ,114 -,182 -,096
P31 ,015 -,176 -,075 .762
a
-,192 -,120 ,351 -,058 -,220
P32 -,287 ,035 -,129 -,192 .736
a
-,467 ,084 -,010 -,059
P33 ,254 -,214 -,025 -,120 -,467 .736
a
-,218 -,120 ,290
P34 -,021 -,105 ,114 ,351 ,084 -,218 .462
a
-,363 ,032
P35 -,044 ,154 -,182 -,058 -,010 -,120 -,363 .439
a
-,293
P36 ,221 -,102 -,096 -,220 -,059 ,290 ,032 -,293 .581
a
P37 -,010 ,004 ,077 -,080 ,129 -,099 -,051 ,012 -,359
P38 ,053 -,114 -,118 ,033 ,076 ,014 -,063 ,168 -,001
P39 -,086 -,008 ,154 ,072 -,097 -,015 ,027 -,050 -,163
Lampiran
X I I
P37 P38 P39
Anti-image
Correlation
P1 ,141 -,117 -,163
P2 ,009 -,008 ,160
P3 -,020 ,086 -,149
P4 -,079 ,018 -,064
P5 -,008 ,007 -,058
P6 -,010 -,013 ,079
P7 ,049 -,006 -,070
P8 -,022 ,158 -,230
P9 ,046 -,038 -,033
P10 -,032 -,014 -,030
P11 ,050 ,077 -,226
P12 -,030 ,060 ,138
P13 -,192 ,011 -,020
P14 ,054 -,048 -,001
P15 -,004 -,013 -,064
P16 -,058 -,055 ,216
P17 ,045 ,019 -,146
P18 -,181 ,026 ,201
P19 ,070 -,008 ,006
P20 ,000 -,111 ,146
P21 -,047 -,068 ,013
P22 -,077 ,132 -,153
P23 -,049 -,202 ,174
P24 -,091 ,055 -,091
P25 -,071 -,157 ,031
P26 ,142 ,006 -,006
P27 -,045 ,097 ,025
P28 ,073 -,045 -,067
P29 -,010 ,053 -,086
P30 ,004 -,114 -,008
P31 ,077 -,118 ,154
P32 -,080 ,033 ,072
P33 ,129 ,076 -,097
P34 -,099 ,014 -,015
P35 -,051 -,063 ,027
P36 ,012 ,168 -,050
P37 -,359 -,001 -,163
P38 .790
a
-,272 -,182
P39 -,272 .732
a
-,504
Lampiran
X I I I
Tabel 3
Communalities 1
Initial Extraction
P1 1,000 ,759
P2 1,000 ,651
P3 1,000 ,735
P4 1,000 ,748
P5 1,000 ,622
P6 1,000 ,574
P7 1,000 ,632
P8 1,000 ,642
P9 1,000 ,669
P10 1,000 ,786
P11 1,000 ,770
P12 1,000 ,698
P13 1,000 ,656
P14 1,000 ,594
P15 1,000 ,681
P16 1,000 ,438
P17 1,000 ,663
P18 1,000 ,635
P19 1,000 ,708
P20 1,000 ,611
P21 1,000 ,617
P22 1,000 ,680
P23 1,000 ,542
P24 1,000 ,644
P25 1,000 ,662
P26 1,000 ,583
P27 1,000 ,608
P28 1,000 ,724
P29 1,000 ,731
P30 1,000 ,745
P31 1,000 ,778
P32 1,000 ,664
P33 1,000 ,745
P34 1,000 ,738
P35 1,000 ,751
P36 1,000 ,742
P37 1,000 ,730
P38 1,000 ,788
P39 1,000 ,738
Lampiran
X I V
Tabel 4
Anti-image Matrices 2
P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10
Anti-image
Correlation
P2 .678
a
,081 ,013 -,208 -,071 ,023 -,038 ,067 -,006
P3 ,081 .695
a
-,490 ,173 -,009 -,024 -,082 ,025 ,069
P4 ,013 -,490 .730
a
-,273 -,132 -,073 ,034 ,065 -,034
P5 -,208 ,173 -,273 .733
a
-,092 -,086 -,129 -,113 -,074
P6 -,071 -,009 -,132 -,092 .870
a
-,030 -,081 -,182 ,010
P7 ,023 -,024 -,073 -,086 -,030 .794
a
-,163 ,155 ,069
P8 -,038 -,082 ,034 -,129 -,081 -,163 .866
a
,009 -,016
P9 ,067 ,025 ,065 -,113 -,182 ,155 ,009 .652
a
-,157
P10 -,006 ,069 -,034 -,074 ,010 ,069 -,016 -,157 .558
a
P11 ,082 -,013 -,090 ,088 -,029 -,079 ,031 -,123 -,608
P13 -,077 ,075 -,159 ,017 -,067 ,014 ,053 -,192 ,078
P14 ,097 -,086 ,111 -,066 ,032 -,049 -,005 ,076 -,057
P15 ,101 ,157 -,106 ,063 ,020 -,262 -,136 -,030 ,055
P18 -,065 -,035 ,032 -,093 ,017 -,148 -,040 -,045 ,039
P19 -,037 -,019 -,095 ,004 -,160 -,101 ,111 -,080 -,184
P20 -,054 ,025 ,086 ,117 -,008 -,169 -,157 -,127 -,021
P21 ,003 -,009 -,035 -,125 ,016 ,149 ,051 ,181 ,024
P22 -,045 -,078 ,001 ,069 -,071 -,069 -,024 ,099 -,024
P23 ,013 ,046 -,020 -,167 -,012 ,083 -,001 -,053 -,027
P24 -,152 ,007 -,051 ,177 -,130 ,083 -,191 -,097 -,126
P25 ,099 ,096 ,081 -,080 ,098 -,188 -,036 -,043 ,107
P26 -,023 -,058 -,099 -,035 -,110 ,054 -,096 ,008 -,057
P27 -,090 -,076 ,016 -,054 -,037 -,043 -,062 ,139 -,033
P28 ,052 ,075 ,014 -,098 ,030 ,078 -,011 ,098 ,004
P29 ,093 ,028 -,054 ,012 -,075 ,078 -,115 -,089 -,036
P30 -,097 -,122 ,143 ,164 -,063 -,182 -,089 -,172 -,030
P31 -,133 -,184 -,050 ,005 ,047 ,149 ,208 ,080 -,130
P32 ,012 ,010 -,027 ,047 ,104 -,139 ,052 -,054 ,093
P33 ,007 -,032 -,020 -,084 -,143 ,063 ,038 ,097 ,125
P36 ,054 ,024 ,062 -,046 ,026 -,051 ,079 ,116 ,091
P37 ,016 -,091 -,004 ,021 -,001 ,005 -,013 -,084 ,037
P38 ,077 ,053 -,023 -,006 ,007 ,147 -,052 -,018 ,109
P39 -,127 -,046 ,014 ,034 -,020 -,219 ,004 -,035 -,204
Lampiran
X V
P11 P13 P14 P15 P18 P19 P20 P21 P22
Anti-image
Correlation
P2 ,082 -,077 ,097 ,101 -,065 -,037 -,054 ,003 -,045
P3 -,013 ,075 -,086 ,157 -,035 -,019 ,025 -,009 -,078
P4 -,090 -,159 ,111 -,106 ,032 -,095 ,086 -,035 ,001
P5 ,088 ,017 -,066 ,063 -,093 ,004 ,117 -,125 ,069
P6 -,029 -,067 ,032 ,020 ,017 -,160 -,008 ,016 -,071
P7 -,079 ,014 -,049 -,262 -,148 -,101 -,169 ,149 -,069
P8 ,031 ,053 -,005 -,136 -,040 ,111 -,157 ,051 -,024
P9 -,123 -,192 ,076 -,030 -,045 -,080 -,127 ,181 ,099
P10 -,608 ,078 -,057 ,055 ,039 -,184 -,021 ,024 -,024
P11 .556
a
-,070 ,067 ,100 -,069 ,144 ,012 ,003 -,010
P13 -,070 .703
a
-,159 -,022 -,010 ,133 ,064 ,157 -,108
P14 ,067 -,159 .809
a
-,412 ,034 -,054 -,069 -,005 -,012
P15 ,100 -,022 -,412 .773
a
-,044 ,007 ,061 -,165 ,130
P18 -,069 -,010 ,034 -,044 .872
a
,165 -,171 -,102 -,109
P19 ,144 ,133 -,054 ,007 ,165 .594
a
-,173 -,093 -,063
P20 ,012 ,064 -,069 ,061 -,171 -,173 .773
a
-,118 -,044
P21 ,003 ,157 -,005 -,165 -,102 -,093 -,118 .839
a
-,161
P22 -,010 -,108 -,012 ,130 -,109 -,063 -,044 -,161 .744
a
P23 ,041 -,048 ,081 -,116 -,039 ,001 -,161 ,096 -,115
P24 ,047 ,074 -,070 -,055 -,112 -,030 -,003 ,012 ,127
P25 -,118 -,087 -,122 ,087 -,021 -,069 ,050 -,152 -,040
P26 ,107 -,056 ,026 -,001 ,017 ,023 -,125 ,107 -,062
P27 -,072 ,083 -,128 ,016 -,064 ,120 ,103 -,074 -,086
P28 -,054 -,102 ,089 -,161 -,003 -,220 -,143 ,013 ,074
P29 -,001 ,106 -,054 ,005 ,008 ,098 ,168 -,053 -,147
P30 ,048 -,045 -,049 ,092 ,047 ,037 ,153 -,081 ,025
P31 ,033 -,022 ,044 -,193 -,176 ,082 -,291 ,050 ,102
P32 -,108 ,070 -,071 ,120 ,119 ,108 -,025 -,120 -,141
P33 ,012 -,102 ,034 -,085 -,146 -,154 ,072 -,067 ,100
P36 -,086 -,150 ,161 -,051 ,039 -,189 ,003 ,000 ,126
P37 -,062 -,021 ,011 -,045 ,031 -,054 -,025 -,091 -,021
P38 ,042 -,047 -,008 -,042 ,004 -,106 -,090 ,116 -,200
P39 ,148 -,046 -,057 ,133 ,058 ,194 ,028 -,198 ,133
Lampiran
X V I
P23 P24 P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31
Anti-image
Correlation
P2 ,013 -,152 ,099 -,023 -,090 ,052 ,093 -,097 -,133
P3 ,046 ,007 ,096 -,058 -,076 ,075 ,028 -,122 -,184
P4 -,020 -,051 ,081 -,099 ,016 ,014 -,054 ,143 -,050
P5 -,167 ,177 -,080 -,035 -,054 -,098 ,012 ,164 ,005
P6 -,012 -,130 ,098 -,110 -,037 ,030 -,075 -,063 ,047
P7 ,083 ,083 -,188 ,054 -,043 ,078 ,078 -,182 ,149
P8 -,001 -,191 -,036 -,096 -,062 -,011 -,115 -,089 ,208
P9 -,053 -,097 -,043 ,008 ,139 ,098 -,089 -,172 ,080
P10 -,027 -,126 ,107 -,057 -,033 ,004 -,036 -,030 -,130
P11 ,041 ,047 -,118 ,107 -,072 -,054 -,001 ,048 ,033
P13 -,048 ,074 -,087 -,056 ,083 -,102 ,106 -,045 -,022
P14 ,081 -,070 -,122 ,026 -,128 ,089 -,054 -,049 ,044
P15 -,116 -,055 ,087 -,001 ,016 -,161 ,005 ,092 -,193
P18 -,039 -,112 -,021 ,017 -,064 -,003 ,008 ,047 -,176
P19 ,001 -,030 -,069 ,023 ,120 -,220 ,098 ,037 ,082
P20 -,161 -,003 ,050 -,125 ,103 -,143 ,168 ,153 -,291
P21 ,096 ,012 -,152 ,107 -,074 ,013 -,053 -,081 ,050
P22 -,115 ,127 -,040 -,062 -,086 ,074 -,147 ,025 ,102
P23 .841
a
,020 -,168 ,043 ,003 ,106 -,022 -,138 ,017
P24 ,020 .790
a
-,297 -,003 ,103 -,109 ,116 ,006 ,102
P25 -,168 -,297 .759
a
-,511 -,161 ,159 -,077 ,096 -,176
P26 ,043 -,003 -,511 .838
a
,014 -,092 ,000 -,081 ,060
P27 ,003 ,103 -,161 ,014 .819
a
-,306 ,163 -,158 -,155
P28 ,106 -,109 ,159 -,092 -,306 .749
a
-,455 -,156 ,034
P29 -,022 ,116 -,077 ,000 ,163 -,455 .804
a
-,218 -,166
P30 -,138 ,006 ,096 -,081 -,158 -,156 -,218 .805
a
-,066
P31 ,017 ,102 -,176 ,060 -,155 ,034 -,166 -,066 .795
a
P32 -,069 -,122 ,064 -,069 ,247 -,276 ,023 -,131 -,259
P33 -,042 -,122 ,050 ,031 -,175 ,202 -,179 -,053 -,018
P36 -,011 ,018 ,024 -,076 -,122 ,178 -,038 -,197 -,201
P37 -,040 -,077 ,118 -,043 ,031 ,039 -,055 ,118 -,109
P38 ,067 -,161 ,008 ,086 -,058 ,064 -,148 -,104 ,064
P39 ,148 -,046 -,057 ,133 ,058 ,194 ,028 -,198 ,133
Lampiran
X V I I
P32 P33 P36 P37 P38 P39
Anti-image
Correlation
P2 ,012 ,007 ,054 ,016 ,077 -,127
P3 ,010 -,032 ,024 -,091 ,053 -,046
P4 -,027 -,020 ,062 -,004 -,023 ,014
P5 ,047 -,084 -,046 ,021 -,006 ,034
P6 ,104 -,143 ,026 -,001 ,007 -,020
P7 -,139 ,063 -,051 ,005 ,147 -,219
P8 ,052 ,038 ,079 -,013 -,052 ,004
P9 -,054 ,097 ,116 -,084 -,018 -,035
P10 ,093 ,125 ,091 ,037 ,109 -,204
P11 -,108 ,012 -,086 -,062 ,042 ,148
P13 ,070 -,102 -,150 -,021 -,047 -,046
P14 -,071 ,034 ,161 ,011 -,008 -,057
P15 ,120 -,085 -,051 -,045 -,042 ,133
P18 ,119 -,146 ,039 ,031 ,004 ,058
P19 ,108 -,154 -,189 -,054 -,106 ,194
P20 -,025 ,072 ,003 -,025 -,090 ,028
P21 -,120 -,067 ,000 -,091 ,116 -,198
P22 -,141 ,100 ,126 -,021 -,200 ,133
P23 -,069 -,042 -,011 -,040 ,067 -,073
P24 -,122 -,122 ,018 -,077 -,161 ,078
P25 ,064 ,050 ,024 ,118 ,008 -,024
P26 -,069 ,031 -,076 -,043 ,086 ,004
P27 ,247 -,175 -,122 ,031 -,058 -,045
P28 -,276 ,202 ,178 ,039 ,064 -,146
P29 ,023 -,179 -,038 -,055 -,148 ,085
P30 -,131 -,053 -,197 ,118 -,104 ,170
P31 -,259 -,018 -,201 -,109 ,064 ,039
P32 .754
a
-,458 -,029 ,107 ,090 -,096
P33 -,458 .790
a
,218 -,067 ,030 -,064
P36 -,029 ,218 .671
a
-,347 ,042 -,200
P37 ,107 -,067 -,347 .824
a
-,275 -,160
P38 ,090 ,030 ,042 -,275 .725
a
-,528
P39 -,096 -,064 -,200 -,160 -,528 .720
a
Lampiran
X V I I I
Tabel 5
Communalities 2
Initial Extraction
P2 1,000 ,625
P3 1,000 ,718
P4 1,000 ,780
P5 1,000 ,662
P6 1,000 ,587
P7 1,000 ,516
P8 1,000 ,581
P9 1,000 ,668
P10 1,000 ,789
P11 1,000 ,761
P13 1,000 ,619
P14 1,000 ,612
P15 1,000 ,723
P18 1,000 ,477
P19 1,000 ,574
P20 1,000 ,655
P21 1,000 ,546
P22 1,000 ,658
P23 1,000 ,421
P24 1,000 ,507
P25 1,000 ,657
P26 1,000 ,560
P27 1,000 ,647
P28 1,000 ,686
P29 1,000 ,699
P30 1,000 ,609
P31 1,000 ,736
P32 1,000 ,695
P33 1,000 ,655
P36 1,000 ,652
P37 1,000 ,718
P38 1,000 ,758
P39 1,000 ,685
Lampiran
X I X
Tabel 6
Anti-image Matrices 3
P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 P9 P10
Anti-image
Correlation
P2 .644
a
,078 ,015 -,217 -,070 ,013 -,040 ,065 -,003
P3 ,078 .687
a
-,489 ,181 -,008 -,033 -,083 ,026 ,071
P4 ,015 -,489 .723
a
-,278 -,133 -,068 ,035 ,066 -,036
P5 -,217 ,181 -,278 .723
a
-,094 -,090 -,136 -,130 -,076
P6 -,070 -,008 -,133 -,094 .864
a
-,027 -,080 -,182 ,010
P7 ,013 -,033 -,068 -,090 -,027 .798
a
-,172 ,155 ,078
P8 -,040 -,083 ,035 -,136 -,080 -,172 .852
a
,007 -,014
P9 ,065 ,026 ,066 -,130 -,182 ,155 ,007 .638
a
-,157
P10 -,003 ,071 -,036 -,076 ,010 ,078 -,014 -,157 .556
a
P11 ,078 -,018 -,088 ,091 -,028 -,094 ,028 -,125 -,607
P13 -,077 ,077 -,160 ,008 -,067 ,017 ,053 -,196 ,077
P14 ,099 -,089 ,112 -,050 ,033 -,051 -,003 ,082 -,056
P15 ,100 ,162 -,108 ,040 ,019 -,265 -,139 -,039 ,055
P19 -,027 -,014 -,102 ,021 -,165 -,079 ,119 -,073 -,193
P20 -,065 ,027 ,091 ,077 -,008 -,189 -,169 -,148 -,019
P21 -,005 -,016 -,030 -,122 ,018 ,130 ,048 ,183 ,031
P22 -,051 -,078 ,002 ,040 -,072 -,078 -,030 ,089 -,023
P24 -,161 ,002 -,047 ,174 -,128 ,067 -,196 -,102 -,122
P25 ,101 ,105 ,080 -,114 ,098 -,183 -,038 -,054 ,105
P26 -,022 -,059 -,099 -,027 -,110 ,054 -,096 ,012 -,057
P27 -,094 -,078 ,018 -,061 -,036 -,053 -,065 ,137 -,031
P28 ,051 ,071 ,016 -,083 ,031 ,071 -,011 ,104 ,007
P29 ,094 ,030 -,055 ,009 -,076 ,082 -,115 -,090 -,037
P30 -,094 -,116 ,141 ,150 -,066 -,168 -,089 -,179 -,036
P31 -,147 -,194 -,044 -,009 ,051 ,125 ,204 ,074 -,125
P32 ,021 ,018 -,033 ,048 ,102 -,119 ,057 -,053 ,088
P33 -,002 -,035 -,016 -,109 -,143 ,047 ,032 ,090 ,131
P36 ,057 ,026 ,061 -,045 ,026 -,045 ,081 ,118 ,089
P37 ,019 -,088 -,006 ,018 -,002 ,013 -,012 -,085 ,035
P38 ,077 ,051 -,022 ,006 ,008 ,145 -,052 -,014 ,111
P39 -,123 -,041 ,010 ,028 -,022 -,209 ,007 -,037 -,209
Lampiran
X X
P11 P13 P14 P15 P19 P20 P21 P22 P24
Anti-image
Correlation
P2 ,078 -,077 ,099 ,100 -,027 -,065 -,005 -,051 -,161
P3 -,018 ,077 -,089 ,162 -,014 ,027 -,016 -,078 ,002
P4 -,088 -,160 ,112 -,108 -,102 ,091 -,030 ,002 -,047
P5 ,091 ,008 -,050 ,040 ,021 ,077 -,122 ,040 ,174
P6 -,028 -,067 ,033 ,019 -,165 -,008 ,018 -,072 -,128
P7 -,094 ,017 -,051 -,265 -,079 -,189 ,130 -,078 ,067
P8 ,028 ,053 -,003 -,139 ,119 -,169 ,048 -,030 -,196
P9 -,125 -,196 ,082 -,039 -,073 -,148 ,183 ,089 -,102
P10 -,607 ,077 -,056 ,055 -,193 -,019 ,031 -,023 -,122
P11 .555
a
-,069 ,066 ,102 ,157 ,007 -,008 -,013 ,039
P13 -,069 .684
a
-,156 -,028 ,136 ,056 ,162 -,117 ,075
P14 ,066 -,156 .812
a
-,406 -,061 -,051 -,009 ,001 -,068
P15 ,102 -,028 -,406 .770
a
,015 ,035 -,162 ,113 -,059
P19 ,157 ,136 -,061 ,015 .607
a
-,150 -,078 -,046 -,012
P20 ,007 ,056 -,051 ,035 -,150 .763
a
-,125 -,087 -,020
P21 -,008 ,162 -,009 -,162 -,078 -,125 .848
a
-,165 -,001
P22 -,013 -,117 ,001 ,113 -,046 -,087 -,165 .744
a
,119
P24 ,039 ,075 -,068 -,059 -,012 -,020 -,001 ,119 .784
a
P25 -,115 -,097 -,110 ,068 -,066 ,019 -,142 -,064 -,303
P26 ,107 -,054 ,022 ,005 ,021 -,118 ,106 -,056 -,002
P27 -,077 ,083 -,126 ,013 ,133 ,095 -,082 -,095 ,097
P28 -,059 -,097 ,081 -,151 -,224 -,130 ,003 ,088 -,112
P29 ,000 ,105 -,053 ,003 ,098 ,171 -,050 -,151 ,118
P30 ,058 -,052 -,040 ,080 ,030 ,144 -,065 ,015 ,014
P31 ,021 -,023 ,050 -,204 ,115 -,334 ,032 ,086 ,084
P32 -,099 ,069 -,071 ,120 ,091 -,016 -,104 -,139 -,109
P33 ,004 -,107 ,044 -,099 -,133 ,041 -,079 ,081 -,140
P36 -,083 -,150 ,161 -,051 -,198 ,009 ,004 ,131 ,022
P37 -,058 -,022 ,013 -,049 -,059 -,027 -,085 -,022 -,074
P38 ,039 -,044 -,014 -,034 -,109 -,080 ,112 -,195 -,163
P39 ,156 -,049 -,054 ,128 ,188 ,027 -,188 ,133 ,086
Lampiran
X X I
P25 P26 P27 P28 P29 P30 P31 P32 P33
Anti-image
Correlation
P2 ,101 -,022 -,094 ,051 ,094 -,094 -,147 ,021 -,002
P3 ,105 -,059 -,078 ,071 ,030 -,116 -,194 ,018 -,035
P4 ,080 -,099 ,018 ,016 -,055 ,141 -,044 -,033 -,016
P5 -,114 -,027 -,061 -,083 ,009 ,150 -,009 ,048 -,109
P6 ,098 -,110 -,036 ,031 -,076 -,066 ,051 ,102 -,143
P7 -,183 ,054 -,053 ,071 ,082 -,168 ,125 -,119 ,047
P8 -,038 -,096 -,065 -,011 -,115 -,089 ,204 ,057 ,032
P9 -,054 ,012 ,137 ,104 -,090 -,179 ,074 -,053 ,090
P10 ,105 -,057 -,031 ,007 -,037 -,036 -,125 ,088 ,131
P11 -,115 ,107 -,077 -,059 ,000 ,058 ,021 -,099 ,004
P13 -,097 -,054 ,083 -,097 ,105 -,052 -,023 ,069 -,107
P14 -,110 ,022 -,126 ,081 -,053 -,040 ,050 -,071 ,044
P15 ,068 ,005 ,013 -,151 ,003 ,080 -,204 ,120 -,099
P19 -,066 ,021 ,133 -,224 ,098 ,030 ,115 ,091 -,133
P20 ,019 -,118 ,095 -,130 ,171 ,144 -,334 -,016 ,041
P21 -,142 ,106 -,082 ,003 -,050 -,065 ,032 -,104 -,079
P22 -,064 -,056 -,095 ,088 -,151 ,015 ,086 -,139 ,081
P24 -,303 -,002 ,097 -,112 ,118 ,014 ,084 -,109 -,140
P25 .744
a
-,511 -,164 ,181 -,081 ,076 -,184 ,057 ,040
P26 -,511 .831
a
,015 -,098 ,000 -,077 ,064 -,069 ,036
P27 -,164 ,015 .803
a
-,309 ,163 -,157 -,169 ,258 -,187
P28 ,181 -,098 -,309 .747
a
-,455 -,144 ,034 -,273 ,210
P29 -,081 ,000 ,163 -,455 .798
a
-,224 -,167 ,021 -,181
P30 ,076 -,077 -,157 -,144 -,224 .814
a
-,058 -,148 -,054
P31 -,184 ,064 -,169 ,034 -,167 -,058 .782
a
-,243 -,044
P32 ,057 -,069 ,258 -,273 ,021 -,148 -,243 .758
a
-,453
P33 ,040 ,036 -,187 ,210 -,181 -,054 -,044 -,453 .783
a
P36 ,023 -,077 -,120 ,180 -,039 -,203 -,197 -,034 ,226
P37 ,114 -,042 ,033 ,043 -,056 ,112 -,104 ,102 -,065
P38 ,020 ,083 -,058 ,057 -,147 -,096 ,065 ,095 ,034
P39 -,036 ,006 -,041 -,140 ,083 ,160 ,051 -,109 -,059
Lampiran
X X I I
P36 P37 P38 P39
Anti-image
Correlation
P2 ,057 ,019 ,077 -,123
P3 ,026 -,088 ,051 -,041
P4 ,061 -,006 -,022 ,010
P5 -,045 ,018 ,006 ,028
P6 ,026 -,002 ,008 -,022
P7 -,045 ,013 ,145 -,209
P8 ,081 -,012 -,052 ,007
P9 ,118 -,085 -,014 -,037
P10 ,089 ,035 ,111 -,209
P11 -,083 -,058 ,039 ,156
P13 -,150 -,022 -,044 -,049
P14 ,161 ,013 -,014 -,054
P15 -,051 -,049 -,034 ,128
P19 -,198 -,059 -,109 ,188
P20 ,009 -,027 -,080 ,027
P21 ,004 -,085 ,112 -,188
P22 ,131 -,022 -,195 ,133
P24 ,022 -,074 -,163 ,086
P25 ,023 ,114 ,020 -,036
P26 -,077 -,042 ,083 ,006
P27 -,120 ,033 -,058 -,041
P28 ,180 ,043 ,057 -,140
P29 -,039 -,056 -,147 ,083
P30 -,203 ,112 -,096 ,160
P31 -,197 -,104 ,065 ,051
P32 -,034 ,102 ,095 -,109
P33 ,226 -,065 ,034 -,059
P36 .663
a
-,350 ,043 -,204
P37 -,350 .824
a
-,273 -,165
P38 ,043 -,273 .728
a
-,527
P39 -,036 ,006 -,041 -,140
Lampiran
X X I I I
Tabel 7
Communalities 3
Initial Extraction
P2 1,000 ,700
P3 1,000 ,715
P4 1,000 ,782
P5 1,000 ,685
P6 1,000 ,588
P7 1,000 ,517
P8 1,000 ,569
P9 1,000 ,673
P10 1,000 ,790
P11 1,000 ,758
P13 1,000 ,626
P14 1,000 ,621
P15 1,000 ,745
P19 1,000 ,564
P20 1,000 ,622
P21 1,000 ,557
P22 1,000 ,657
P24 1,000 ,552
P25 1,000 ,706
P26 1,000 ,647
P27 1,000 ,633
P28 1,000 ,670
P29 1,000 ,708
P30 1,000 ,606
P31 1,000 ,733
P32 1,000 ,701
P33 1,000 ,651
P36 1,000 ,662
P37 1,000 ,724
P38 1,000 ,779
P39 1,000 ,683
Lampiran
X X I V
Tabel 8
Component Matrix
Component
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
P2 ,236 ,055 ,028 ,122 ,300 -,133 ,122 -,695 ,134 ,043
P3 ,375 ,002 ,088 -,331 ,489 -,068 -,039 ,396 -,087 -,218
P4 ,437 ,179 -,027 -,136 ,614 -,182 -,051 ,338 ,066 ,088
P5 ,381 ,082 -,140 ,240 ,404 -,100 -,036 -,261 ,070 ,456
P6 ,446 ,382 -,119 ,126 ,136 -,435 ,005 ,029 ,036 ,063
P7 ,531 -,202 -,092 ,303 ,112 ,244 -,027 ,130 -,057 ,042
P8 ,509 ,003 -,227 ,408 -,097 -,116 -,052 ,021 -,247 ,075
P9 ,047 ,720 -,079 ,104 -,261 -,150 -,093 ,026 ,188 -,033
P10 ,086 ,734 -,105 -,121 -,037 ,327 ,177 ,030 -,116 ,255
P11 ,036 ,670 -,158 -,266 ,029 ,412 ,004 ,083 -,124 ,135
P13 ,292 ,263 ,121 ,128 ,050 -,046 -,612 -,001 ,225 -,103
P14 ,481 -,304 -,161 ,285 -,178 ,140 -,119 ,300 ,065 ,173
P15 ,515 -,366 -,086 ,232 -,161 ,125 -,041 ,309 ,250 ,287
P19 ,306 ,214 ,065 ,136 ,001 -,170 ,554 ,227 ,114 ,040
P20 ,460 ,078 ,034 ,238 -,074 ,259 ,447 -,032 ,091 -,254
P21 ,533 -,327 ,053 -,132 ,080 ,053 ,329 -,067 -,111 ,102
P22 ,374 -,008 -,073 -,043 ,113 -,133 ,049 -,017 -,625 -,293
P24 ,483 ,201 -,166 ,300 -,216 -,167 ,147 ,005 ,162 -,193
P25 ,560 ,035 -,232 ,384 ,037 ,300 -,118 -,092 -,055 -,269
P26 ,581 ,145 -,222 ,265 ,091 ,131 -,146 -,080 -,049 -,338
P27 ,583 -,180 ,020 -,088 ,123 ,253 -,141 -,182 -,244 ,247
P28 ,605 -,005 -,195 -,306 -,318 -,048 ,050 -,061 -,074 ,238
P29 ,595 ,039 -,134 -,406 -,307 -,182 -,110 ,016 -,134 ,110
P30 ,554 ,016 -,144 -,366 -,273 -,043 -,217 -,122 -,055 -,051
P31 ,580 -,058 ,093 -,369 ,104 ,362 ,043 -,095 ,286 -,120
P32 ,551 -,125 -,238 -,447 -,121 -,048 ,087 -,089 ,210 -,218
P33 ,570 -,206 -,183 -,278 ,044 -,306 ,034 -,044 ,269 -,047
P36 ,323 ,069 ,644 -,082 ,022 ,306 -,098 -,060 ,149 -,050
P37 ,437 ,135 ,706 ,015 -,045 -,032 ,038 ,101 ,041 -,011
P38 ,442 ,066 ,610 ,142 -,248 -,280 -,027 ,026 -,213 ,018
P39 ,500 ,020 ,621 ,076 -,080 -,045 -,024 -,117 -,094 ,099
Lampiran
X X V
Tabel 9
Rotated Component Matrix 1
Component
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
P2 ,735
P3 ,795
P4 ,814
P5 ,745
P6 ,579
P7 ,552
P8
P9 ,602
P10 ,862
P11 ,846
P13 -,677
P14 ,738
P15 ,788
P19
P20 ,595
P21
P22 ,714
P24 ,540
P25 ,718
P26 ,653
P27
P28 ,719
P29 ,762
P30 ,721
P31 ,500
P32 ,746
P33 ,620
P36 ,783
P37 ,832
P38 ,684
Lampiran
X X V I
Tabel 10
Rotated Component Matrix 2
Component
1 2 3 4 5 6 7 8
P2 ,758
P3 ,785
P4 ,818
P5 ,622
P6 ,612
P7
P9 ,547 ,517
P10 ,847
P11 ,839
P14 ,705
P15 ,804
P20 ,549
P22 ,540
P24
P25 ,772
P26 ,707
P28 ,735
P29 ,766
P30 ,726
P31 ,502
P32 ,764
P33 ,624
P36 ,781
P37 ,845
P38 ,677
Lampiran
X X V I I
Tabel 11
Rotated Component Matrix 3
Component
1 2 3 4 5 6 7 8
P2 ,646
P3 ,847
P4 ,784
P5 ,766
P6 ,542
P10 ,881
P11 ,866
P14 ,744
P15 ,775
P20 ,619
P22 ,620
P25 ,778
P26 ,716
P28 ,740
P29 ,761
P30 ,740
P31
P32 ,757
P33 ,613
P36 ,747
P37 ,855
P38 ,732
Lampiran
X X V I I I
Tabel 12
Rotated Component Matrix 4
Component
1 2 3 4 5 6 7
P2 ,714
P3 ,827
P4 ,802
P5 ,747
P6
P10 ,881
P11 ,868
P14 ,732
P15 ,805
P20 ,543
P22 ,557
P25 ,774
P26 ,739
P28 ,748
P29 ,776
P30 ,744
P32 ,741
P33 ,608
P36 ,752
P37 ,857
P38 ,736
Lampiran
X X I X
Tabel 13
Rotated Component Matrix 5
Component
1 2 3 4 5 6 7
P2 ,762
P3 ,822
P4 ,825
P5 ,739
P10 ,882
P11 ,868
P14 ,731
P15 ,804
P20 ,531
P22 ,585
P25 ,769
P26 ,737
P28 ,751
P29 ,775
P30 ,743
P32 ,746
P33 ,617
P36 ,756
P37 ,858
P38 ,733
Tabel 14
KMO and Bartlett's Test akhir
Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling
Adequacy.
,715
Bartlett's
Test of
Sphericity
Approx. Chi-Square 1172,471
df 190
Sig. ,000
Lampiran
X X X
Tabel 15
Total Variance Explained
com
pon
ent
Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared
Loadings
Rotation Sums of Squared
Loadings
Total
% of
Varianc
e
Cumulati
ve % Total
% of
Varian
ce
Cumulati
ve % Total
% of
Varianc
e
Cumula
tive %
1 4,394 21,968 21,968 4,394 21,968 21,968 2,909 14,543 14,543
2 1,888 9,439 31,407 1,888 9,439 31,407 2,022 10,110 24,652
3 1,803 9,015 40,422 1,803 9,015 40,422 1,995 9,974 34,626
4 1,608 8,041 48,463 1,608 8,041 48,463 1,754 8,769 43,395
5 1,394 6,969 55,432 1,394 6,969 55,432 1,648 8,241 51,636
6 1,175 5,875 61,307 1,175 5,875 61,307 1,632 8,159 59,794
7 1,061 5,305 66,612 1,061 5,305 66,612 1,363 6,817 66,612
8 ,940 4,701 71,313
9 ,894 4,469 75,781
10 ,737 3,687 79,469
11 ,694 3,471 82,940
12 ,591 2,956 85,896
13 ,479 2,395 88,291
14 ,412 2,061 90,352
15 ,389 1,946 92,299
16 ,363 1,815 94,113
17 ,331 1,655 95,768
18 ,304 1,522 97,290
19 ,276 1,379 98,670
20 ,266 1,330 100,000

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times