1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Saat ini penelitian mengenai obat-obatan terus dilakukan sehingga diperoleh obat dengan efikasi yang maksimal. Beberapa obat memiliki indeks terapi yang sempit dan penggunaannya dibatasi karena memiliki efek samping. Oleh karena itu, formulasi obat terus dikembangkan untuk mendapatkan efektivitas terapi yang diharapkan. Beberapa teknik sedang dikembangkan agar obat dapat mencapai target di tempat yang spesifik tanpa mempengaruhi jaringan lain sehingga dapat mencegah efek toksik (Biju et al, 2006). Banyak senyawa aktif memiliki bioavaibilitas dan kelarutan dalam air yang rendah, sehingga diperlukan suatu sistem pembawa yang cocok untuk obat hidrofobik. Obat-obat yang kelarutannya kecil dalam air merupakan suatu permasalahan dalam industri farmasi karena pada umumnya obat diabsorbsi dari saluran cerna dengan mekanisme difusi pasif sehingga kecepatan absorbsi obat akan menentukan bioavaibilitas. Salah satu pendekatan untuk masalah ini adalah menggunakan vesikel yang sudah populer seperti liposom sebagai penghantar obat. Liposom multilamelar dapat digunakan untuk menghantar obat hidrofobik yang dapat memisah ke fase minyak sedangkan vesikel unilamelar dapat digunakan untuk menyerap obat larut air pada ruang dalam molekul cairan. Liposom sudah dapat dibuktikan secara klinis dapat menghantarkan berbagai jenis obat misalnya amphotericin B, doxorubicin, daunaurubicin, antrasiklin, dan cytarabin (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Berbagai formulasi liposom telah dilakukan untuk memperbaiki stabilitas fisik pada saat pembuatan, namun keadaan vakum atau gas nitrogen masih diperlukan selama proses pembuatan dan penyimpanan untuk mencegah oksidasi fosfolipid. Kesulitan pada teknik ini dapat dihindari dengan alternatif lain untuk mengganti fosfolipid, salah satunya adalah pembuatan vesikel dengan hidrasi campuran kolesterol dan surfaktan non ionik atau dikenal dengan nama niosom (Jufri dkk, 2004). Niosom adalah sistem vesikel yang mirip dengan liposom yang dapat

2

digunakan sebagai pembawa obat hidrofobik. Niosom dibentuk dari campuran surfaktan non ionik sebagai pengganti fosfolipid. Beberapa rute pemberian untuk niosom telah diteliti seperti intramuskular, intravena, subkutan, okular, oral dan transdermal. Niosom memiliki struktur surfaktan multilamelar sehingga cocok untuk obat hidrofobik (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Niosom bersifat biodegradabel, biokompatibel dan non-imunogenik selain itu niosom bekerja meningkatkan efek terapetik dengan cara menunda klirens dari sirkulasi, melindungi obat dari lingkungan biologi serta membatasi efek ke sel target (Biju et al, 2006). Berbagai metode untuk pembuatan niosom telah diteliti, tetapi metode ini memiliki beberapa kelemahan yaitu preparasi yang rumit, waktu yang lama dan alat-alat khusus. Sekarang ini sedang diteliti pembuatan niosom dari hidrasi proniosom. Metode ini lebih mudah dan tidak memerlukan alat khusus. Proniosom dibuat dengan menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik ke serbuk sorbitol kemudian menguapkan pelarutnya, tetapi untuk melapisi partikel sorbitol ini sulit karena sorbitol yang digunakan larut dalam pelarut organik sehingga partikel sorbitol dapat terdegradasi dan menjadi sangat kental. Untuk mencegah hal ini, beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba, salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin (Blazek-Welsh and Rhodes, 2001). Maltodekstrin merupakan salah satu produk turunan pati yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial oleh enzim α-amilase yang memiliki nilai Dextrose Equivalent (DE) kurang dari 20. Maltodekstrin dapat bercampur dengan air membentuk cairan koloid bila dipanaskan dan mempunyai kemampuan sebagai perekat, tidak memiliki warna dan bau yang tidak enak serta tidak toksik (Jufri dkk, 2004). Ibuprofen merupakan obat analgetik antipiretik dan anti inflamasi yang memiliki kelarutan dalam air sangat kecil bahkan dapat dikatakan praktis tidak larut dalam air walaupun ibuprofen diabsorbsi secara cepat di lambung. Sembilan puluh sembilan persen ibuprofen terikat dalam protein plasma sehingga dapat mempengaruhi munculnya efek terapetik (Anonim, 1993; Ganiswara, 1995). Pada penelitian Blazek-Welsh dan Rhodes (2001) dilaporkan bahwa niosom

3

berbasis maltodekstrin dapat digunakan sebagai pembawa obat ampifilik dengan aprenolol sebagai modelnya. Penelitian Jufri dkk (2004) juga memperlihatkan bahwa maltodekstrin yang berbasis pati singkong DE 5-10 dapat digunakan untuk pembuatan niosom. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa maltodekstrin yang berasal dari pati singkong dapat digunakan sebagai bahan dasar niosom. Oleh karena itu penelitian ini mencoba mengembangkan maltodekstrin yang berasal dari pati beras. Pati singkong dan pati beras keduanya memiliki kandungan amilosa sehingga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan maltodekstrin. Diharapkan di akhir penelitian ini dapat dihasilkan niosom dari maltodekstrin yang berasal dari pati beras.

B. Perumusan Masalah 1. Apakah maltodektrin yang berasal dari pati beras dapat digunakan untuk pembuatan niosom? 2. Bagaimana pengaruh variasi total surfaktan terhadap niosom yang dibuat ? 3. Apakah niosom dapat digunakan sebagai penghantar obat ibuprofen?

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui apakah maltodekstrin yang berasal dari pati beras dapat digunakan untuk pembuatan niosom. 2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh variasi total surfaktan terhadap niosom yang dibuat. 3. Untuk mengetahui apakah niosom dapat digunakan sebagai penghantar obat ibuprofen.

D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu mengembangkan metode pembuatan niosom yang berbasis maltodekstrin dari pati beras sehingga dapat memperbaiki formulasi sediaan dan membantu sistem penghantaran obat pada tubuh.

4

BAB II STUDI PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Liposom Liposom merupakan vesikel mikrolipid bilayer yang memiliki lapisan antara didalamnya, dengan air di bagian dalam dan lipid di bagian luar. Liposom ini berukuran 0,5-100 µm. Susunan dari liposom bilayer tergantung pada sifat hidrofobik dan hidrofilik lipid. Liposom memiliki perbedaan muatan elektrik pada bagian permukaan yang tergantung pada jenis material yang digunakan. Liposom dibentuk dari penumpukan fosfolipid yang didispersikan dalam air sehingga akan terbentuk vesikel. Vesikel adalah lapisan lipid yang tersusun konsentris yang dapat diselingi dengan air yang dapat dibedakan antara vesikel mikro (diameter 25nm), yang terdiri dari sejumlah kecil membran berlapis ganda dan vesikel yang dibangun dari sejumlah besar lapisan ganda tersusun konsentris sehingga dinamakan vesikel makro (Voigh, 1995). Liposom memiliki diameter 20nm - 10µm. Ukuran dari liposom ini tergantung pada metode yang digunakan dan jenis lipid bilayer yang digunakan. Liposom dibagi menjadi 3 berdasarkan ukurannya yaitu small unilamellar vesicles (SUV) dengan ukuran 0,02-0,05µm, large unilamellar vesicles (LUV) dengan ukuran lebih besar dari 0,06µm dan multilamellar vesicles (MLV) ukuran 0,1-0,5 µm. Sifat fisika kimia dari liposom seperti ukuran partikel, lamellarity, muatan permukaan, dan sensitifitas pH dapat diatur (Patel et al, 2006). Cara kerja liposom dapat dilihat dari gambar 1.

Gambar 1. Liposom – A = obat larut air yang terlapisi dalam ruang hidrofil; B = obat tidak larut air pada lapisan membran bilayer; C = lemak polioksietilen hidrofilik yang terikat pada liposom (Uchegbu, 1999).

Liposom yang diformulasi dengan teknik berbeda akan memiliki karakteristik fisikokimia yang berbeda.5 Menurut Lachman dan Lieberman (1994) liposom memiliki beberapa keuntungan. Parameter fisika meliputi ukuran partikel. stabilitas liposom juga dapat dijaga dengan menggunakan pelarut dan lemak murni. Selain itu. (4) Ukuran. yaitu (1) Liposom dapat menghantarkan obat ke jaringan dan sel. lamelaritas dan profil pelepasan obat in vitro. stabilitas fisik liposom harus selalu terjaga untuk memelihara kondisi saat liposom akan digunakan. topologi permukaan. . dan ketika liposom hancur obat dilepaskan dan menempati tempat yang spesifik (2) Liposom dapat digunakan untuk obat hidrofilik dan lipofilik tanpa modifikasi kimia (3) Dapat menurunkan toksisitas obat karena obat dilepas di sel target. 2006). Parameter karakteristik diklasifikasikan menjadi tiga kategori umum meliputi parameter fisika. Dengan demikian. volume. kimia dan biologi. gas nitrogen inert. Pada umumnya. menghindari suhu tinggi dan menambah anti oksidan (Patel et al. Adanya kondisi tertentu dalam penanganan liposom mengantarkan pada alternatif penggunaan surfaktan non ionik untuk mengganti fosfolipid pada sistem penghantaran obat dengan vesikel. muatan dan sifat lain dapat disesuaikan sesuai dengan penggunaanya. Masalah stabilitas liposom mulai dapat dipecahkan dengan mengembangkan beberapa teknik seperti pembekuan. 2006). sistem baru penghantaran obat yang mengandung vesikel unilamelar atau multilamelar yang disebut niosom mulai dikenal (Biju et al. Stabilitas produk farmasetika biasanya diukur dari kapasitas sistem penghantaran atau batas keamanan dari kondisi produk. 2006). efisiensi enkapsulasi. Karakteristik kimia meliputi kemurnian dan kemampuan berbagai unsur liposom. lipofilisasi dan osmifikasi. Parameter karakteristik biologi membantu mengevaluasi keamanan dan kesesuaian dengan formulasi in vivo pada penggunaan dengan tujuan terapetik (Patel et al. Belum ada protokol dari formulasi liposom yang dapat dipakai pada penggunaan jangka pendek dan jangka panjang.

Niosom tidak memerlukan kondisi yang khusus seperti suhu atmosfer yang rendah atau inert selama penyimpanan dan secara kimia lebih stabil. Dicetylphosphat (DCP) diketahui dapat meningkatkan ukuran vesikel dan menyebabkan muatan pada vesikel (Biju et al.6 2. dengan atau tanpa kolesterol. 2006). dan bagian kepala bersifat hidrofilik yang bersentuhan dengan lingkungan cair. 2006). efisiensi ikatan dan kecepatan pelepasan pada in vitro. biokompatibel dan non-imunogenik (Biju et al. cairan akan dilingkupi lapisan bilayer yang tersusun dari surfaktan non ionik. Harga material yang lebih murah juga merupakan kelebihan bagi usaha industri. Struktur vesikel bilayer tersusun dari bagian ekor bersifat hidrofobik dari monomer surfaktan. Niosom dapat dibuat dengan metode hidrasi lapisan lemak atau reverse . mikroskop korelasi foton. toksisitas. glukosil dialkil eter dan beberapa span dan tween (Biju et al. mikroskop penghitung tingkat kebekuan. dan bekerja menyerupai liposom pada in vivo. Beberapa surfaktan non ionik sudah digunakan dalam pembuatan vesikel seperti poligliserolalkileter. Niosom dapat meningkatkan efek terapetik obat dengan menghambat klirens dan melindungi obat mencapai sel target. Niosom meningkatkan bioavaibilitas obat yang diabsorbsi rendah pada pemakaian oral dan meningkatkan penetrasi obat ke dalam kulit. 2006). Niosom memiliki struktur yang stabil meskipun dalam bentuk emulsi. Niosom memiliki kelebihan bila dibandingkan dengan liposom. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik struktural niosom sangat fleksibel dan dapat dibuat berdasarkan situasi yang diinginkan. kebocoran obat pada larutan garam dan plasma saat penyimpanan. Perbedaan karakteristik niosom ditentukan dari perbedaan sifatnya seperti diameter vesikel menggunakan mikroskop cahaya. 2006). yang melindungi dari lingkungan cair. Niosom Pada niosom. Aspek lain yang harus dipelajari adalah stabilitas obat. dan lain sebagainya (Biju et al. Niosom ini bersifat biodegradabel. Kolesterol dapat membuat kaku lapisan bilayer sehingga dapat mengurangi kebocoran pada niosom. Niosom memiliki rangka dasar yang tersusun atas sifat hidrofilik dan hidrofobik sekaligus sehingga dapat mengantarkan molekul obat dengan kelarutan yang cukup luas. aspek farmakokinetik.

Jika obat disimpan dalam bentuk pasif maka metode pembuatannya sangat tergantung pada sifat hidrofob obat dan muatan elektrostatik. 60 dan 80) menunjukkan bahwa vesikel yang mengandung span 60 memiliki daya perlindungan yang paling tinggi terhadap insulin dari serangan enzim proteolitik (Biju et al. sedangkan bila obat bersifat hidrofobik akan disimpan pada wilayah lipid. . Menurut Biju et al (2006) ada 3 jenis niosom yaitu a. Obat yang bersifat hidrofilik akan disimpan pada fase air yang terdapat di bagian dalam.7 phase evaporation atau perubahan pH pada bagian permukaan hingga membentuk vesikel multilamellar. injeksi eter dan sonication. Metode yang lain termasuk penggojogan. 40. MLV mempunyai ukuran > 0.05um.5 um b. Unilamellar vesikel(SUV) SUV biasanya dihasilkan dengan metode sonication dan prosedur French Press. SUV memiliki ukuran 0. 2006). Penyimpanan secara aktif dapat dicapai dengan adanya perbedaan ion yang melewati membran niosom sehingga obat dapat disimpan setelah niosom selesai dibuat (Biju et al.025-0. Selain itu juga dapat dipakai metode ultrasonic electrocapillary emulsification atau dilusi pelarut. c. Large Unilamellar vesikel (LUV) Metode yang biasa digunakan dalam pembuatan LUV yaitu dengan melarutkan lipid dalam pelarut organik dalam suasana buffer. Penelitian yang dilakukan oleh Varshosaz dan timnya yaitu pembuatan niosom dari sorbitan monoester (span 20. Multilamellar vesikel (MLV) Vesikel jenis ini dapat meningkatkan volume penyimpanan dan distribusi cairan di dalamnya. MLV menunjukkan variasi dari komposisi lipid. Metode yang biasa digunakan dalam pembuatannya yaitu dengan metode hand shaking. Pemilihan metode ini berdasarkan aktif atau pasifnya obat terikat pada vesikel. 2006). Metode yang paling baik dalam pembuatan niosom jenis ini yaitu dengan reverse phase evaporation atau dengan detergent solubisation.

Proniosom Penemuan proniosom mampu menjawab kesulitan dari semua metode pembuatan niosom. Pembuatan niosom dari proniosom ini tergolong mudah. salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin sebagai bahan pembuatan niosom (Blazek-Welsh and Rhodes. Untuk mencegah kerusakan tersebut. maka diperlukan proses pengulangan sampai konsentrasi surfaktan yang diinginkan tercapai. dan direhidrasi dengan agitasi singkat pada air panas. Amilopektin memiliki rantai samping dengan ikatan glikosida dengan atom karbon nomor 6. Proniosom merupakan formulasi kering dari surfaktan-lapisan pembawa yang kadarnya dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. Surfaktan yang melapisi vesikel sangat tipis dan hidrasi dari lapisan ini membuat vesikel multilamelar menjadi bentuk yang terlarut. 2001). 4. Jika pembuatan larutan surfaktan terlalu cepat maka partikel sorbitol akan rusak dan larutan menjadi kental.8 3. Amilopektin memiliki ratusan molekul glukosa (Whistler et al . bahkan ukuran partikelnya lebih seragam (Blazek-Welsh and Rhodes. Pati beras praktis tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol dan bila diamati dengan mikroskopik tampak butir bersegi banyak ukuran 2µm-5µm. beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba. tetapi karena sorbitol bersifat larut dalam pelarut organik. 2001). Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza sativa L (familia Poaceae). namun cukup sulit untuk melapisi partikel sorbitol karena sorbitol bersifat larut dalam kloroform dan pelarut organik lainnya. Pati beras memiliki serbuk sangat halus dan putih.1984). Amilopektin berbeda dengan amilosa. Pati Pati merupakan turunan glukosa yang mengandung amilosa dan amilopektin. Pembuatan niosom dari metode ini menghasilkan produk yang serupa seperti metode konvensional. Proniosom biasanya dibuat dengan menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik ke serbuk sorbitol dan kemudian menguapkan pelarutnya. tunggal atau . Amilosa terdiri dari ratusan residu glukosa yang tidak bercabang diikat oleh ikatan glikosida antara atom karbon nomor 1 dan 4.

Pseudomonas saccharophila dan fermentasi gandum (Whistler et al . antara lain dari kelenjar ludah dan pankreas manusia. Temperatur optimum gelatinisasi dari pati besarnya sangat bervariasi tergantung pada varietas padinya. Aspergillus candidas. Pada pati beras hilus di tengah tidak terlihat jelas dan tidak ada lamela konsentris. memotong pada hilus (Anonim. Hasil dari pemutusan ikatan pati atau dari hidrolisis dapat berupa maltodekstrin (Chaplin. Aspergillus oryzae. Pada substrat polimer.1984). yaitu single chain. Glukosa murni mempunyai DE 100. Banyaknya hidrolisis ikatan glukosida dari pati biasanya dijelaskan dengan dextrose equivalent (DE). DE menunjukkan tingkatan pati yang diputus. 1984). Aksi α-amilase pada proses hidrolisis pati umumnya bekerja secara acak namun terorganisir hanya memecah ikatan α-δ (1-4) kecuali rantai substrat paling akhir. multichain atau single attack dan multiple attack (Whistler et al. Pada hidrolisis pati. Enzim α-amilase Enzim α-amilase adalah enzim yang mempunyai banyak fungsi dalam kehidupan. Enzim ini dapat diproduksi dari berbagai sumber. Pati beras bila diamati dibawah cahaya terpolarisasi. Baccilus amyloliquefaciens. Baccilus coagulans. tampak bentuk silang berwarna hitam. pankreas tikus. 2004). Baccilus subtilis. aksi α-amilase dapat melalui 3 mekanisme. . Pati beras rendah amilosa digunakan sebagai makanan bayi dan sebagai pemutih pakaian (Whistler et al.1995).1984).9 majemuk. Granul pati beras berbentuk polihedral atau pentagonal dodekahedron. 1984). dan pati mempunyai DE sebesar 0. 5. pankreas porcine. maltosa murni DE sekitar 50 (tergantung metode analitik yang digunakan). Pati beras biasa digunakan untuk kosmetik dan pengikat. Baccilus licheniformis. bentuk bulat telur ukuran 10µm-20µm. Pati beras mengandung amilosa 40-80% (Whistler et al.

G4 dan G5 oligosakarida Aspergillus oryzae. Aksi enzim amilase (Chaplin.6 menjadi acidopullulyticus maltodekstrin rantai tunggal Menurut Mckee dan Mckee (2003) beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerja enzim yaitu a.4Aspergillus niger oligosakarida menjadi α-dekstrin yang umumnya maltosa (G2) dan G3 oligosakarida Saccharifying Bacillus subtilis Hanya memutus ikatan α-1.4 dan α-1. G3. Aktivitas . tetapi karena enzim merupakan protein yang akan terdenaturasi pada suhu tinggi maka enzim memiliki suhu optimum dalam melakukan kerjanya. Hanya memutus ikatan α-1. Suhu Semua reaksi kimia dipengaruhi oleh suhu.10 Tabel I.4 dari ikatan rantai panjang hanya menjadi dekstrin dan β-maltosa Glukoamilase Aspergillus niger Memutus ikatan α-1. Setiap enzim memiliki temperatur optimum yang berbeda-beda sehingga diperoleh efisiensi yang maksimum.6 dari ikatan rantai panjang menjadi β-glukosa Pullulanase Bacillus Hanya memutus ikatan α-1.4oligosakarida menjadi α-dekstrin yang α-amilase umumnya maltosa (G2). b. G6 dan G7 oligosakarida Bacillus Hanya memutus ikatan α-1. Kecepatan reaksi katalis enzim juga dapat meningkat dengan meningkatnya suhu. G3.4(amylosacchariticus) oligosakarida α-amilase menjadi α-dekstrin dengan maltosa (G2). 2004) Enzim Sumber Bacillus amyloliquefaciens Aksi Hanya memutus ikatan α-1.4licheniformis oligosakarida menjadi α-dekstrin yang umumnya maltosa (G2). G3. Nilai pH Konsentrasi ion hidrogen dapat mempengaruhi kerja enzim. G4 dan 50 % glukosa Malted barley β-amilase Hanya memutus ikatan α-1. ini terjadi karena kebanyakan molekul memiliki cukup energi untuk berubah ke bentuk transition state. Semakin tinggi suhu semakin tinggi kecepatan reaksinya.

Beberapa enzim aktif hanya pada nilai pH yang sempit. sisa pemijaran < 0. Perubahan konsentrasi ion hidrogen dapat mempengaruhi ionisasi sisi aktif. perbedaan warna tersebut disebabkan oleh proses pengeringan yang dilakukan tidak sama.88. tidak manis. linearitas dan percabangan yang harus diperhitungkan (Moore et al. Perubahan pH yang tajam dapat menyebabkan enzim terdenaturasi. Maltodekstrin harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan yaitu susut pengeringan < 6%.75%. Maltodekstrin Maltodekstrin merupakan salah satu produk turunan pati yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial oleh enzim α-amylase. 2004). Perubahan sisi aktif dapat merubah struktur enzim. Maltodekstrin memiliki derajat putih yang bervariasi mulai dari 66. DE maltodekstrin saja tidak cukup untuk memperkirakan khasiat produk untuk berbagai penggunaan. Maltodekstrin dengan DE yang sama dapat memiliki khasiat dan penggunaan yang berbeda tergantung perbedaan dari komposisi molekul. DE menjelaskan persentase hidrolisis ikatan glukosida dan menunjukkan penurunan kekuatannya. Maltodekstrin memiliki dextrose equivalent (DE) kurang dari 20.11 kerja enzim biasanya dihubungkan dengan bentuk ion pada sisi aktif. .4% . Ikatan yang terdapat dalam maltodekstrin ini sangat lemah sehingga mudah terputus (Moore et al. tidak memiliki warna dan bau yang tidak enak serta tidak toksik (Jufri dkk. Enzim ini digunakan untuk memutus rantai ikatan yang terdapat pada pati (3-20 rantai terdapat pada maltodekstrin).5% dan pH antara 4-7.4 glukosida dengan DE kurang dari 20. Maltodekstrin (C6H10O5)n. Nilai pH optimum pada setiap enzim sangat bervariasi. karakteristik kimia dan biologinya harus diketahui. bergizi. 2005). 6.H2O merupakan polimer dari sakarida. tersusun atas unit primer glukosa yang terikat dengan ikatan α-1. Maltodekstrin terdiri dari beberapa molekul glukosa yang terikat dengan ikatan hidrogen. Maltodekstrin dapat bercampur dengan air membentuk cairan koloid bila dipanaskan dan mempunyai kemampuan sebagai perekat. 2005). Maltodekstrin dibuat dari hidrolisis pati oleh enzim. Berdasarkan penggunaan maltodekstrin yang cukup luas.

Kerja paling penting dari zat pembasah adalah untuk menurunkan sudut kontak antara permukaan dengan cairan pembasah dan membantu memisahkan fase udara pada permukaan dan menggantinya dengan suatu fase cair. tetapi pada kadar yang lebih tinggi surfaktan akan mengumpul membentuk agregat yang disebut misel. Surfaktan dapat merubah jumlah energi yang dibutuhkan untuk memperluas permukaan tersebut secara bermakna. surfaktan dibagi menjadi 4 yaitu : (a) Surfaktan anionik Surfaktan yang dapat dilarutkan ke dalam air dan mempunyai bagian yang .12 Pengeringan dalam oven menghasilkan warna maltodekstrin lebih gelap sedangkan yang dikeringkan dengan spray dried warnanya akan lebih putih karena proses pengeringan berlangsung sangat cepat (Anwar dkk. Surfaktan mempunyai gugus hidrofil dan lipofil yang seimbang sehingga mampu menjadi jembatan penghubung antara polar dan nonpolar yang dapat menyebabkan terjadinya interaksi antara ke 2 fase tersebut dengan baik. kelarutan. viskositas dan kohesivitas (Kuntz. Menurut Martin et al (1983) berdasarkan struktur kimianya. sifat higroskopis. Apabila surfaktan dilarutkan ke dalam air maka gugus hidrofil akan berikatan dengan molekul air tetapi gugus nonpolar ditolak oleh air dan didesak ke permukaan kemudian diadsorbsi pada antarmuka sehingga menurunkan tegangan permukaan sampai semua permukaan itu penuh ditutupi oleh surfaktan. Kadar dimulai terbentuk misel disebut Critical Micelle Concentration (CMC). Peningkatan nilai DE akan meningkatkan warna. sehingga perlu diperhatikan konsentrasi penaikan surfaktan yang cocok untuk meningkatkan kelarutan obat (Martin et al. 1983). 2004). Surfaktan Surfaktan adalah subtansi yang dalam keadaan rendah mempunyai sifat dapat terabsorbsi pada sebagian atau seluruh antar muka sistem. 7. Penurunan nilai DE akan diikuti dengan penurunan berat molekul. plastisitas. Apabila surfaktan dengan konsentrasi rendah berada dalam cairan maka surfaktan akan teradsorbsi pada permukaan dengan ukuran subkoloid. 1997). rasa manis. dan osmolaritas. Perubahan pada nilai DE akan memberikan karateristik yang berbedabeda.

Sorbitan monostearat atau span 60 adalah campuran ester dari sorbitol monoanhidrida dan dianhidridanya dengan asam stearat. Na-aril sulfat. Contohnya tween dan span. (b) Surfaktan kationik Surfaktan yang apabila dilarutkan ke dalam air akan terionisasi dan bagian yang aktif terdapat pada kationnya. Peranan surfaktan sebagai penurun tegangan antar muka berdasarkan gugus yang dikandungnya yang teradsorbsi pada antarmuka yaitu gugus hidrofil yang mempunyai afinitas besar terhadap senyawa polar. Pada umumya dengan adanya penambahan surfaktan dalam suatu formula akan menambah kecepatan pelarutan bahannya ( Martin et al. dapat bermuatan positif. tidak toksik dan tidak iritatif. (d) Surfaktan amfolitik Surfaktan yang sekurang-kurangnya mengandung satu gugus ionik. negatif atau netral tergantung pada pH larutan. Span 60 bersifat padat. bau lemah seperti minyak. warna kuning pucat. Menurut Martin et al (1983) dari ke empat golongan surfaktan tersebut. 1993). golongan non ionik paling banyak dipakai karena mempunyai keuntungan antara lain dapat bercampur dengan berbagai macam obat. Oleh karena itu obat terlarut akan terdispersi sebagai partikel dengan ukuran yang relatif kecil sehingga luas permukaan efektifnya menjadi lebih besar.13 aktif pada bagian anionnya. Contohnya acacia. non ionik dan kationik. tidak larut tapi terdispersi dalam air dan sukar larut dalam etanol 95% P. mempunyai gugus terionisasi. Disamping itu surfaktan mempunyai sifat dapat mempertahankan obat terlarut tetap dalam bentuk agregat yang tersebar merata serta berdiri sendiri di dalam medium. Span 60 biasa digunakan sebagai pengemulsi dan surfaktan (Anonim. (c) Surfaktan nonionik Surfaktan yang tidak mempunyai muatan listrik. . aktivitas molekulnya ditunjukan oleh keseluruhan molekul. Surfaktan ini merupakan kombinasi surfaktan anionik. Contohnya Na-lauril sulfat. Penggunaan surfaktan dalam formulasi obat maka kecepatan pelarut obat tergantung jumlah dan jenis surfaktan yang digunakan. Contohnya cetrimide.1983).

0% C13H18O2 dihitung terhadap zat anhidrat. berbau khas lemah. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam. Struktur Molekul Ibuprofen (Anonim. Ibuprofen CH3CHCH2 CH3 CHCOOH CH3 Gambar 2. . putih hingga hampir putih. sukar larut dalam etil asetat. Metabolit utama merupakan hasil hidroksilasi dan karboksilasi (Ganiswara. Ibuprofen bersifat analgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat. Landasan Teori Sekarang ini banyak dilakukan penelitian mengenai penghantaran obat.1995). Beberapa alternatif penghantar obat telah diteliti namun masih memiliki kekurangan diantaranya metodenya rumit. Sembilan puluh persen ibuprofen terikat pada protein plasma. Pada umumnya tujuan dari pengembangan sistem penghantaran obat ini adalah untuk meminimalkan efek samping dan mencegah obat rusak di saluran cerna sehingga dapat meningkatkan bioavaibilitas obat dalam plasma.1995). Absorbsi ibuprofen cepat melalui lambung dan kadar maksimum dalam plasma dicapai setelah 1-2 jam. mahal dan waktunya lama. Struktur molekul ibuprofen dapat dilihat pada gambar 2 (Anonim. Ekskresinya berlangsung cepat dan lengkap. Niosom yang saat ini sedang dikembangkan diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Efek anti inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-1400 mg sehari. Ibuprofen berbentuk serbuk hablur. dalam aseton dan dalam kloroform.1995) Ibuprofen mengandung tidak kurang dari 97% dan tidak lebih dari 103. dalam metanol. sangat mudah larut dalam etanol. B. Ibuprofen praktis tidak larut dalam air. Efek analgesiknya sama dengan aspirin. Kira-kira 90% dari konjugatnya.14 8.

C. salah satunya adalah mengganti sorbitol dengan maltodekstrin yang tidak larut dalam pelarut organik. Diharapkan di akhir penelitian ini dapat dihasilkan niosom dari maltodekstrin yang berasal dari pati beras dengan DE 5-10. Niosom dibuat dari hidrasi proniosom Proniosom dibuat dengan menyemprotkan surfaktan dalam pelarut organik ke serbuk sorbitol kemudian menguapkan pelarutnya. Niosom dapat digunakan sebagai penghantar obat ibuprofen. Model obat yang dipakai adalah ibuprofen yang bersifat praktis tidak larut dalam air sehingga formulasi dengan niosom akan meningkatkan bioavailabilitas obat serta efikasinya dalam tubuh. Untuk mencegah hal ini. beberapa metode pembuatan proniosom telah dicoba. Pada penelitian ini digunakan pati beras sebagai bahan dari pembuatan maltodekstrin.15 Niosom adalah sistem vesikel yang mirip dengan liposom dalam fungsinya menghantar obat. Pati singkong dan pati beras keduanya memiliki kandungan amilosa sehingga dapat dipakai sebagai dasar pembuatan maltodekstrin. Pada penelitian Blazek-Welsh dan Rhodes (2001) dilaporkan bahwa niosom berbasis maltodekstrin dapat digunakan sebagai pembawa obat ampifilik dengan aprenolol sebagai modelnya. Hipotesis Maltodekstrin dengan DE 5 – 10 dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan niosom sebagai sistem vesikel penghantaran obat dan variasi konsentrasi total surfaktan dapat mempengaruhi niosom. . Penelitian Jufri dkk (2005) juga memperlihatkan bahwa maltodekstrin yang berbasis pati singkong DE 5-10 dapat digunakan untuk pembuatan niosom. Stabilitas niosom lebih baik karena strukturnya lebih sederhana dan tidak membutuhkan penanganan khusus saat penggunaan dan penyimpanan. tetapi untuk melapisi partikel sorbitol ini sulit karena sorbitol yang digunakan larut dalam pelarut organik sehingga partikel sorbitol dapat terdegradasi dan menjadi sangat kental. Penggunaan niosom sebagai vesikel dapat dilihat dari penetapan jumlah obat yang dibawa.

kertas lakmus P. pereaksi iodium (Merck). aquadest (kualitas farmasetis). CaCl2 anhidrat (Merck). aquadest bebas ion (kualitas farmasetis). reagensia nelson (kualitas farmasetis) dan reagensia arsenomolibdat (kualitas farmasetis). oven (Memert). ayakan 60 mesh. dekstros anhidrat (Merck). Bahan dan Alat 1. mixture balance (Mettler toledo HB 43) dan alat-alat gelas . alkohol 96% (Merck). HCl (Merck). rotary evaporator (Heidolph Heizbad WB). timbangan analitik (Mettler Toledo Dragon 204). Bahan Bahan baku yang digunakan adalah : pati beras (Amylum oryzae) (kualitas farmasetis). KH2PO4 (Merck). mikroskop optik (Olympus CX41). alat sentrifugasi (Hitachi Himac CT 4D). Alat Peralatan yang digunakan adalah waterbath shaker (Memmert WBU 45). NaOH (Merck). enzim α-amilase (Fluka BioChemika). motorized tapping device (Tatonas). vortex mixer (Thermalyne type 16700 mixer).16 BAB III METODE PENELITIAN A. spektrofotometer UV-Vis (Hitachi U2810). 2. pH meter (Mettler toledo SG 2). sorbitan monostearat (Merck). kloroform (Merck). hotplate stirer.

bau dan rasa e. Suspensi yang dihasilkan diatur pH-nya sampai 6.17 B. Sejumlah suspensi pati diletakkan diatas kertas lakmus P dan diamati perubahan warna yang terjadi d. Mikroskopi Sejumlah serbuk pati beras diletakan diatas gelas objek. kemudian permukaan pati beras diratakan. Alat uji kadar air dinyalakan dan nilai kadar air akan tertera pada alat. Pembuatan maltodekstrin (Berdasarkan metode Jufri dkk.5 menggunakan pH meter dengan menambahkan NaOH 0. diberi air lalu diamati dibawah mikroskop (bentuk pati. 2. letak hilus) b. Cara Penelitian 1.1 N. waktu inkubasi dan suhu inkubasi divariasikan untuk memperoleh nilai .005 M kemudian diamati perubahan yang terjadi. 1979) a. Konsentrasi enzim αamilase. warna.05 ml iodium 0. Organoleptis Uji organoleptis meliputi bentuk. Sejumlah 40% b/b pati beras (berat kering) disuspensikan dalam air bebas ion yang mengandung 200 ppm CaCl2. 2004 yang dimodifikasi) Tahap awal pembuatan niosom adalah pembuatan maltodekstrin yang berasal dari pati beras (Amylum oryzae). Enzim α-amilase ditambahkan ke dalam campuran kemudian diinkubasi dalam waterbath shaker. Sejumlah serbuk pati beras dimasukkan ke dalam alat uji kadar air. Penetapan kadar air Pemeriksaan kadar air diuji menggunakan alat uji kadar air. Identifikasi pati beras Sebanyak 1 g pati disuspensikan dalam 50 ml air yang dipanaskan hingga mendidih selama 1 menit kemudian didinginkan sampai terbentuk larutan kanji yang encer.000 bagian air dan etanol. diaduk kemudian diamati kejernihannya c. Larutan kanji tersebut diambil 1 ml kemudian dicampur dengan 0. Kelarutan Satu bagian pati ditambahkan 10. Pemeriksaan Pati Beras (Amylum oryzae) (Anonim.

Semua yang ada larut kembali. Tabung digojog sampai semua endapan Cu2O larut. Penentuan Nilai Dextrose Equivalent (Sudarmadji dkk. . Tabung reaksi dipanaskan dalam penangas air mendidih selama 20 menit. Tabung digojog sampai semua endapan Cu2O digojog hingga homogen. Setelah dingin ditambahkan 1 ml reagensia arsenomolibdat.1 N sampai pH 7. 1995) a. Sebanyak 1 ml larutan glukosa standart tersebut dimasukan ke dalam tabung reaksi yang berbeda dan 1 tabung diisi dengan 1 ml aquadest sebagai blangko. 4 mg/ml. 10 mg/ml. untuk menghentikan aktivitas enzim ditambahkan HCl 0. Setelah 30 menit larutan yang diperoleh dinetralkan kembali dengan NaOH 0. 3. dari larutan standart tersebut dibuat seri kadar dengan konsentrasi 2 mg/ml. 8 mg/ml. Selanjutnya tabung didinginkan sampai suhu mencapai 25oC. Selanjutnya campuran didinginkan dengan merendam wadah dalam air dingin hingga suhu 30-40°C. kemudian didinginkan sampai suhu 25oC. Setelah dingin ditambahkan 1 ml reagen arsenomolibdat. Dari larutan maltodekstrin diambil 1 ml dan dimasukan ke dalam tabung reaksi.1 N sampai pH 3.0. Sebanyak 1 ml reagensia nelson ditambahkan ke dalam tabung reaksi kemudian tabung dipanaskan dalam air mendidih selama 20 menit. 6 mg/ml. kemudian dikerik dan dihaluskan dengan blender kering dan diayak dengan ayakan no 60 mesh.9. setelah larut ditambahkan 7 ml aquadest dan digojog hingga homogen. Setelah semua endapan larut ditambahkan 7 ml aquadest dan larutan tersebut kemudian dibaca absorbansinya pada panjang gelombang 540 nm sehingga diperoleh persamaan garis y = a + bx b.7-3. Penyiapan kurva standar Larutan glukosa standart dibuat dengan konsentrasi 10 mg glukosa anhidrat / 100 ml.18 Dextrose Equivalent 5-10. Penentuan gula reduksi Sebanyak 8 mg maltodekstrin dilarutkan dengan aquadest sehingga diperoleh konsentrasi 8 mg / 100 ml. Hasil yang diperoleh dikeringkan dalam bentuk lapisan tipis di oven pada suhu 50°C hingga kering. kemudian ditambahkan reagensia Nelson.

b. Jumlah gula reduksi dapat ditentukan berdasarkan absorbansi larutan contoh dan dimasukan ke dalam persamaan garis. 1993) Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk. kemudian ditentukan sudut diamnya. Penetapan pH Penetapan pH ini dilakukan dengan mencelupkan pH meter ke dalam suspensi dari maltodekstrin yang ditempatkan di atas hotplate stirer sehingga suspensi selalu homogen. Nilai pH dari suspensi akan tertera pada alat. Alat uji kadar air dinyalakan dan nilai kadar air akan tertera pada alat. kemudian permukaan maltodekstrin diratakan. Organoleptis (Reynolds. Sejumlah serbuk maltodekstrin dimasukan ke dalam alat uji kadar air. 1995) Pemeriksaan kadar air diuji menggunakan alat uji kadar air. sementara bagian bawah corong ditutup. 1995) Maltodekstrin dituang pelan-pelan lewat corong. d. Tg α Keterangan: α : Sudut diam h : tinggi kerucut r : jari-jari kerucut = h/r (2) . Dari jumlah gula reduksi tersebut. Uji Sifat Fisik Maltodekstrin Uji sifat fisik maltodekstrin meliputi a. dapat dicari nilai Dextrose Equivalent (DE) dengan rumus: DE = (% gula reduksi)(100) % susut pengeringan (1) 4. rasa dan bau. Penetapan kadar air (Lachman and Lieberman. Penetapan Sudut Diam (Lachman and Lieberman.19 Larutan yang dihasilkan dibaca absorbansinya pada gelombang 540 nm. warna. Diukur tinggi dan jari-jari kerucut yang terbentuk. Selanjutnya penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar. c.

kemudian alatnya dinyalakan.00 Konsentrasi surfaktan 1x 2x 3x 4x Span 60 (mmol) 2. Penetapan densitas (Lachman and Lieberman. Jika campuran belum membentuk slurry.00 7. Surfaktan yang digunakan adalah sorbitan monostearat.00 5. perlu ditambahkan kloroform secukupnya. 2004) Proniosom dibuat dengan menyalut maltodekstrin dengan surfaktan non ionik. Perubahan volume setelah pengetapan dicatat. 1995) Maltodekstrin dituang pelan-pelan ke dalam gelas ukur sampai volume 10 ml. kemudian ditambahkan volume larutan stok surfaktan (larutan sorbitan monostearat) yang ekivalen dengan komposisi tiap formula. Indeks kompresibilitas = Vawal .00 5. Pengetapan dilakukan sampai volume konstan. Campuran kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 50-60°C dan kecepatan 60 rpm sampai terbentuk serbuk kering. Bobot jenis dihitung dengan rumus : Densitas = massa serbuk Volume serbuk (4) 5. Pembuatan Proniosom (Jufri dkk. Penetapan indeks kompresibilitas (Lachman and Lieberman.00 5. Gelas ukur dipasang pada motorized tapping device. Tabel II .Vakhir Vawal x 100% (3) f. kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat di lemari es (pada suhu di bawah 10°C). Formula proniosom dengan variasi konsentrasi total surfaktan Formula 1 2 3 4 Berat maltodekstrin (gram) 5. 1995) Serbuk dimasukan ke dalam gelas ukur 10 ml.50 10.50 5.00 Maltodekstrin dimasukkan ke dalam labu bulat. . kemudian diukur berat dari maltodekstrin. Serbuk proniosom yang dihasilkan dibiarkan di desikator selama dua malam.20 e.

Penetapan pH Penetapan pH ini dilakukan dengan mencelupkan pH meter ke dalam suspensi dari proniosom yang ditempatkan di atas hotplate stirer sehingga suspensi selalu homogen. kemudian diukur berat dari proniosom. sementara bagian bawah ditutup. 1995) Pemeriksaan kadar air diuji menggunakan alat uji kadar air. rasa dan bau b. e.21 6. Pembuatan Niosom (Jufri dkk. Uji Sifat Fisik Proniosom a. Diukur tinggi dan jari-jari kerucut yang terbentuk. Pengetapan dilakukan sampai volume konstan. kemudian permukaan proniosom diratakan. Sudut diam dihitung dengan menggunakan persamaan (2). Niosom kosong Sejumlah serbuk proniosom yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Alat uji kadar air dinyalakan dan nilai kadar air akan tertera pada alat. Penetapan sudut diam (Lachman and Lieberman. 2004) a. Setelah ditutup rapat. 1995) Serbuk dimasukan ke dalam gelas ukur 10 ml. campuran . kemudian alatnya dinyalakan. 1995) Proniosom dituang pelan-pelan lewat corong. Sejumlah serbuk proniosom dimasukan ke dalam alat uji kadar air. Perubahan volume setelah pengetapan dicatat kemudian dihitung indeks kompresibilitas menggunakan persamaan (3). c. Nilai pH dari suspensi akan tertera pada alat. Penetapan densitas (Lachmann and Lieberman. Gelas ukur dipasang pada motorized tapping device. Penetapan kadar air (Lachman and Lieberman. Bobot jenis dihitung dengan menggunakan persamaan (4). Penetapan indeks kompresibilitas (Lachman and Lieberman. Sejumlah volume aquadest bebas ion yang bersuhu ± 80°C ditambahkan ke dalam tabung reaksi. 1995) Proniosom dituang pelan-pelan ke dalam gelas ukur sampai volume 10 ml. d. Uji Organoleptis Uji ini meliputi bentuk. kemudian ditentukan sudut diamnya. f. 7. warna. Setelah itu penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar.

0 mL dan dimasukkan ke dalam labu takar 25.4 (1:10) dibuat dengan konsentrasi 10 mmol/L.0 mL. Sediaan yang diperoleh didinginkan pada temperatur ruang.4 hingga garis batas. Niosom dengan obat Bahan aktif yang digunakan sebagai model obat adalah ibuprofen. b. Cf : jumlah ibuprofen yang larut Ep : jumlah obat yang dibawa niosom (5) . hanya volume air yang ditambahkan diganti dengan larutan ibuprofen dalam campuran alkohol 96% : buffer fosfat pH 7. kemudian ditepatkan volumenya dengan buffer fosfat pH 7.4 (1:10) yang bersuhu ± 80°C. diteteskan di atas kaca objek dan ditempatkan di bawah mikroskop optik kemudian diamati morfologinya. b. Supernatan yang diperoleh dipipet 1. Larutan kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 264 nm dan dibandingkan dengan serapan larutan standar ibuprofen yang telah diketahui kadarnya untuk menghitung berapa jumlah ibuprofen yang larut / tidak dibawa oleh niosom (Cf). Karakterisasi niosom (Jufri dkk. 8. Mikroskopi optik Suspensi niosom yang diperoleh. dipipet. Suspensi niosom dibuat dengan konsentrasi total surfaktan konstan yaitu 10 mmol/L untuk tiap formula. Jumlah obat yang dibawa oleh niosom (EP) dapat dihitung dengan rumus : EP (%) = [(Ct – Cf) / Ct] x 100 Keterangan : Ct : konsentrasi larutan stok Ibuprofen yang digunakan untuk membuat suspensi. dan difoto menggunakan kamera.0 mL suspensi niosom diencerkan dengan air (1 : 4) kemudian disentrifus pada 4000 rpm selama ± 30 menit dan didekantasi. 2004) a.22 itu divortex selama ± 30 detik (diulang 4x). Niosom dibuat dengan cara yang sama seperti diatas. Penetapan jumlah obat yang dibawa Sejumlah 1. Larutan stok ibuprofen dalam alkohol 96% : buffer fosfat pH 7.

Hasil yang diperoleh dari uji pemeriksaan pati beras (Amylum oryzae). .23 C. Sedangkan data dari penetapan jumlah obat yang dibawa akan digunakan untuk mengetahui berhasil atau tidaknya niosom yang berasal dari maltodekstrin DE 5-10 dalam membawa obat. Analisis Hasil Hasil pengujian berbagai parameter di atas dianalisis dengan menggunakan pendekatan teoritis. uji sifat fisik maltodekstrin dan uji sifat fisik proniosom dibandingkan terhadap persyaratan-persyaratan sesuai dengan kepustakaan yang ada.

1979) pati beras jika diamati dengan mikroskop . Kertas lakmus Tidak mengubah warna Organoleptis a. Pemeriksaan pati beras (Amylum oryza) Pati beras merupakan bahan dasar pembuatan maltodekstrin sehingga perlu dilakukan uji untuk mengetahui karakteristik dari pati beras. Mikroskopi Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Sesuai Jenis amilum yang berbeda akan memberikan penampakan mikroskop yang berbeda dan bersifat khas. saat dipanaskan warna biru menghilang dan muncul kembali saat didinginkan Tidak mengubah warna Serbuk halus Putih Tidak berbau Tidak berasa 10. 1979) Butir bersegi banyak. Suspensi dalam Larutan kanji yang air dengan tidak transparan pemanasan b. Rasa Tidak berasa Kadar air Kurang dari 15% a. Bentuk Serbuk sangat halus b. Hasil pemeriksaan kualitatif pati beras Uji Kualitatif Mikroskopi Standar (Anonim. Warna Putih c. Pada pati beras ditambahkan sedikit air dan diamati dibawah mikroskop optik dengan perbesaran 100x. tunggal atau majemuk bentuk bulat telur. Iodine Test Warna biru tua hilang pada saat pemanasan dan timbal kembali pada pendinginan c. Menurut Farmakope edisi III (Anonim.24 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Tabel III. hilus tidak terlihat jelas Tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol Hasil Butir-butir majemuk dan tidak terlihat adanya hilus Keterangan Sesuai Kelarutan Praktis tidak larut dalam etanol dan air dingin Larutan kental berwarna putih tidak transparan Berwarna biru tua. Bau Tidak berbau d.37% Sesuai Identifikasi a.

Pati mengandung amilosa dan amilopektin. hilus tidak terlihat jelas dan tidak ada lamela konsentris. tunggal atau majemuk. b. Semakin kecil kandungan amilosa semakin tinggi kandungan amilopektinnya (Winarno. tidak menimbulkan bau dan tidak mengubah warna kertas lakmus. Pati ketika dipanaskan hanya akan menghasilkan tenaga yang melemahkan ikatan hidrogennya sehingga air dapat diserap oleh butiran amilum dan mulai mengembang sehingga terbentuk larutan kanji yang kental.1979) pati beras tidak larut dalam air dan etanol sehingga pati beras yang digunakan sudah memenuhi standarnya. Menurut Farmakope edisi III (Anonim. Kelarutan Pati beras dimasukan ke dalam air dingin dan etanol dan dilihat kelarutannya. sehingga dapat dikatakan bahwa Amylum oryzae yang dipakai sudah memenuhi persyaratan. . 2002). Amilosa dapat larut dalam air sedangkan amilopektin tidak larut dalam air.25 terlihat butir bersegi banyak. Gambar 3. Identifikasi Identifikasi pati beras dilakukan dengan mensuspensikan pati beras dengan air yang dipanaskan hingga terbentuk larutan kental berwarna putih dan tidak transparan. Pati beras memiliki kandungan amilopektin yang lebih besar dari amilosa sehingga tidak larut dalam air. Bentuk mikroskopik Amylum oryzae dengan perbesaran 100x. Dari hasil uji kelarutan menunjukkan bahwa pati beras tidak larut dalam air dingin dan etanol. c. Dari gambar 3 terlihat butir-butir yang majemuk dan tidak terlihat adanya hilus.

diperoleh kadar air 10. Hal ini disebabkan iodin akan berikatan kembali dengan molekul pati. Hal ini disebabkan oleh struktur molekul pati yang berbentuk spiral sehingga akan mengikat molekul iodin dan terbentuklah warna biru. Reaksi ini bersifat reversible sehingga ketika didinginkan akan terbentuk kembali warna biru. molekul-molekul iodin terlepas sehingga warna biru menjadi hilang (Winarno. menunjukkan bahwa hasil identifikasi pati beras sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Farmakope edisi III (Anonim. 2002). sehingga berat total suspensi adalah 200 gram.37% sehingga dapat dikatakan bahwa kadar air dari pati beras sudah memenuhi kriteria yaitu kurang dari 15%. Penggunaan air bebas ion bertujuan untuk menghilangkan ion-ion yang dapat mengganggu aktivitas enzim. tidak berasa dan tidak berbau. Uji kadar air Menurut Farmakope edisi III (Anonim. sedangkan . Dari keseluruhan uji identifikasi pati beras. d.1979) yaitu serbuk halus.1979) disyaratkan bahwa pati beras berbentuk serbuk halus. Tabel III menunjukkan bahwa pati beras yang dipakai sudah sesuai kriteria pada Farmakope edisi III (Anonim. Pati beras yang digunakan adalah seberat 80 gram yang kemudian disuspensikan dalam larutan stok air bebas ion 200 ml yang mengandung CaCl2 sebanyak 0. Kadar air akan berpengaruh pada stabilitas saat penyimpanan. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan pati yang terbentuk kurang stabil. berwarna putih. tidak berasa dan tidak berbau. Dari tabel III.Organoleptis Dalam Farmakope edisi III (Anonim.1979) amilum mempunyai persyaratan memiliki kadar air tidak lebih dari 15%. spiral akan merenggang. berwarna putih.04 gram. 2. e. 1979) sehingga dapat digunakan dalam pembuatan maltodekstrin. Apabila pati dipanaskan. Pembuatan maltodekstrin Maltodekstrin dibuat dari pati beras sejumlah 40% b/b yang disuspensikan dalam air bebas ion yang mengandung 200 ppm CaCl2.26 Larutan kanji yang terbentuk ditambah dengan pereaksi iodium sehingga berubah warna menjadi biru.

Kondisi pembuatan maltodekstrin dari pati beras Kadar Enzim (%) 0.65 Dextrose Equivalent 270. Walaupun demikian.17 8.87 11.10 0. 1984).01 8. Apabila konsentrasi ion Ca2+ yang ditambahkan terlalu banyak (500 ppm) akan menghambat aktivitas enzim. salah satunya adalah pH.10 0.20 0.39 122.5 gram dalam 200 gram suspensi.95 0.5 untuk mengaktifkan enzim. Enzim α-amilase diketahui bekerja optimum pada pH 6-7. Suspensi tersebut dipanaskan dalam waterbath shaker selama 120 menit pada suhu 60ºC dan kecepatan 80 rpm.5-5 menjadi 6. yaitu 0. kemudian ditambahkan enzim αamilase sebanyak 0.72 8.40 0. Apabila pH terlalu tinggi atau terlalu rendah akan dapat mendegradasi enzim sehingga enzim akan rusak.83 0. Dari berbagai variasi pada pembuatan maltodekstrin dapat .53 10. Tabel IV.68 30. konsentrasi enzim dan lamanya waktu inkubasi.40 Suhu (oC) 85 70 60 60 60 60 60 Waktu (menit) 65 85 65 100 100 100 100 Kadar Gula Reduksi 23.73 Kadar Air 8.81 2. Suspensi pati diatur pH-nya dengan pH meter yaitu dengan menaikkan pH pati dari 4. Hasil optimasi dapat dilihat pada tabel IV. Kondisi tersebut berdasar optimasi yang dilakukan dan merupakan kondisi optimum untuk mencapai DE 5-10. Jumlah konsentrasi ion kalsium per molekul pada tiap enzim sangat bervariasi (Whistler et al.08 3.20 0. suhu tersebut cukup tinggi untuk dapat melepaskan amilosa dan amilopektin dari granul pati sehingga dapat dengan mudah dihidrolisis oleh enzim.27 penambahan CaCl2 berfungsi untuk menyediakan ion kalsium (Ca2+) yang akan mempertahankan stabilitas enzim pada temperatur tinggi.03 43. Suhu yang digunakan adalah 60ºC untuk menjaga agar enzim tidak rusak karena enzim yang digunakan bersifat termolabil dan mempunyai suhu maksimal 65ºC.89 8.46 Untuk memperoleh nilai DE yang tepat dilakukan optimasi menggunakan variasi suhu.05 13. Suspensi yang telah diatur pH-nya.10 0.72 9. Ion kalsium akan bereaksi dengan cara membentuk khelat dengan sisi enzim dan akan menjaga kestabilan struktur tersiernya.4% b/b. karena kerja enzim sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Suspensi pati beras yang dipanaskan pada suhu 60oC selain berfungsi menjaga agar enzim tidak rusak juga membantu proses gelatinisasi sehingga memudahkan enzim dalam melakukan kerja. pertama terjadinya gelatinisasi yaitu pembengkakan oleh granula pati.28 terlihat bahwa faktor yang mempengaruhi nilai DE adalah lamanya hidrolisis. Enzim ini mendegradasi amilosa menjadi maltosa dan maltotriosa yang terjadi secara acak dan sangat cepat yang kemudian diikuti dengan pembentukan glukosa dan maltosa.4-oligosakarida menjadi α-dekstrin yang umumnya maltosa (G2) dan oligosakarida (G3).4-glukosida secara acak sepanjang rantai. Penentuan Kadar Dextrose Equivalent (DE) Pada hidrolisis pati dengan enzim. kemudian campuran amilosa dan amilopektin akan dihidrolisis menjadi campuran dekstrin. glukosa dan oligosakarida.6. 3. Kerja α-amilase pada molekul amilopektin menghasilkan glukosa. 1997). maltosa dan berbagai α-limit dekstrin yaitu oligosakarida yang terdiri dari 4 atau lebih gula yang semuanya mengandung ikatan α-1. Enzim α-amilase bekerja memecah pati dengan beberapa tahap. Apabila pati dimasukan ke dalam air dingin maka granulanya akan menyerap air sekitar 30% dan mengalami pembengkakkan. Amilosa dihidrolisis sempurna menjadi maltosa (Deman. Kerja ini mengakibatkan viskositas menurun secara cepat tetapi pembentukan monosakarida sedikit. Enzim α-amilase yang digunakan berasal dari bakteri Aspergillus oryzae yang bekerja dengan memutus ikatan α-1. jenis dan konsentrasi enzim yang digunakan. pati diuraikan secara bertahap menjadi fragmen yang makin lama makin kecil dan akhirnya menjadi glukosa (dekstrosa) murni. Enzim ini menghidrolisis amilopektin menjadi oligosakarida yang mengandung 2-6 satuan glukosa. Peningkatan pembengkakan granula pati terjadi pada suhu antara 55-60oC (Deman. Tahap yang kedua adalah penurunan viskositas secara cepat. Enzim αamilase merupakan endoenzim yang menghidrolisis ikatan α-1. temperatur. Derajat depolimerisasi dinyatakan dengan kesetaraan dekstrosa (dextrose equivalent. DE) yang didefinisikan sebagai jumlah gula reduksi total dinyatakan sebagai dekstrosa dan dihitung sebagai persentase dari bahan kering total (Deman. maltosa. 1997). .

. Pemanasan dapat meningkatkan energi kinetik dari molekulmolekul sehingga akan meningkatkan kecepatan reaksi pula. Setelah terbentuk endapan Cu2O ditambahkan reagen arsenomolibdat yang berfungsi untuk melarutkan kembali endapan Penambahan reagensia arsenomolibdat berfungsi untuk melarutkan kembali endapan Cu2O sehingga larutan akan berubah warna dari biru muda menjadi biru kehijauan. Reaksi reduksi ini dapat dipercepat dengan pemanasan. Penyiapan kurva baku Kurva baku diperlukan untuk menentukan kadar gula yang tereduksi. 8 mg/ml dan 10 mg/ml. a. Kurva baku dekstrose anhidrat dapat dilihat pada gambar 4. 2Cu+ + 2 OH→ Cu2O↓ + merah bata H2O Sifat mereduksi ini disebabkan oleh adanya gugus aldehid atau keton bebas yang terdapat dalam karbohidrat. Reagensia nelson mengandung ion Cu yang akan bereaksi dengan gula reduksi menghasilkan endapan berwarna merah bata.29 1997). Perbedaan warna ini dapat dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm sehingga dapat dihitung kadar gula reduksi yang terkandung dalam campuran tersebut. semakin pekat warna hijaunya. 4 mg/ml. Semakin banyak gula reduksi yang terkandung dalam campuran. Kurva baku dibuat dengan menggunakan 5 titik sehingga diperoleh suatu persamaan garis lurus dengan konsentrasi 2 mg/ml. 6mg/ml. Dari kurva baku akan diperoleh persamaan kurva baku yang merupakan hubungan antara absorbansi versus kadar yang berupa garis lurus dan digunakan untuk menentukan kadar gula reduksi dari maltodekstrin. Pada setiap konsentrasi ditambahkan reagensia nelson.

kelarutan.0077x.39.9 0.39 * : Data disajikan sebagai x ± SD dengan n = 2 Dextrose equivalent didefinisikan sebagai jumlah gula reduksi total dinyatakan sebagai dekstrosa dan dihitung sebagai persentase dari bahan kering total (Deman.0031 + 0.0077x dengan nilai r = 0. Hasil penetapan kadar gula reduksi maltodekstrin Kadar gula Kadar air * Dextrose reduksi * Equivalent * 0. Peningkatan nilai DE akan meningkatkan warna. sedangkan nilai DE didapatkan dengan menggunakan rumus pada persamaan 1. Digunakan maltodekstrin dengan nilai DE 5-10 karena sudah dibuktikan oleh Jufri dkk (2004) bahwa maltodekstrin DE 5-10 menghasilkan niosom yang paling baik. Kadar gula reduksi diperoleh dengan memasukkan nilai absorbansi pada persamaan y = 0.0077x.73±0.8 0.08 8. Kurva Baku Dekstrose Anhidrat Dari hasil absorbansi diperoleh persamaan y = 0. Data pada tabel V menunjukan bahwa maltodekstrin sudah memenuhi nilai DE yang diinginkan yaitu 8. Semakin kecil kadar gula reduksi semakin kecil nilai DE.3 0. sifat higroskopis.40 8.68 dengan standar deviasi 1.0031 + 0.5 0.0031 + 0. Persamaan ini digunakan untuk menentukan kadar gula reduksi dari maltodekstrin dengan cara memasukkan nilai absorbansi pada persamaan y = 0.0031 + 0.68±1.6 0. . Penentuan kadar gula reduksi Tabel V.1 0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120 absorbansi (nm) y = 0. b.0077x Konsentrasi Dekstrose Anhidrat (ppm) Gambar 4. dan osmolaritas.2 0.1997). rasa manis. plastisitas.7 0.9990.4 0.30 0.47±0.

Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati bentuk. pH. Maltodekstrin berbentuk serbuk halus karena pada saat pembuatan diayak dengan ayakan mesh no 60 sehingga ukuran partikelnya dapat lebih homogen. rasa.47 ± 0. Uji sifat fisik maltodekstrin Maltodekstrin yang telah diperoleh diuji sifat fisiknya untuk mengetahui karakteristik dari bahan ini sebelum digunakan untuk proses lebih lanjut. Apabila dibandingkan dengan pati beras maka pati beras memiliki warna yang lebih putih. Pengeringan yang dilakukan dengan spray drying akan menghasilkan warna yang lebih putih sementara bila dilakukan dengan oven warnanya lebih gelap. Uji A. kadar air.40 C. Pengeringan yang dilakukan pada pembuatan maltodekstrin berpengaruh pada warna dari maltodekstrin. warna.65o ± 0. hal ini sama dengan pati beras yang juga tidak berbau. Hal ini terjadi karena pengeringan dengan spray drying proses pengeringannya terjadi dengan cepat. Peningkatan nilai DE akan meningkatkan gula reduksi walaupun dalan jumlah sedikit oleh karena itu maltodekstrin mempunyai rasa agak manis. Uji organoleptis Hasil dari uji organoleptis maltodekstrin dibandingkan dengan standar yang terdapat dalam Martindale (1993). Organoleptis 1. Densitas(gram/ml) * 0. Rasa Tidak berasa Agak manis Tidak sesuai 4. Maltodekstrin tidak memiliki bau.34 ± 0. pH * 4-7 6. sudut diam. Dari tabel VI diketahui bahwa maltodekstrin memiliki rasa agak manis.31 4. Kadar air (%) * 8. dan bau dari maltodekstrin. Bentuk Serbuk Serbuk halus Sesuai 2. Tabel VI.20 ± 0. Uji yang dilakukan pada bahan ini meliputi uji organoleptis.01 * : Data disajikan sebagai x ± SD dengan n = 3 a. Warna Putih Putih tulang Sesuai 3.1 Sesuai D. Hasil uji sifat fisik maltodekstrin Standar Hasil Keterangan . indeks kompresibilitas dan densitas yang dapat dilihat dari tabel VI berikut.64 kompresibilitas (%) * F. Bau Tidak berbau B. Sudut diam * 7. Indeks 22 ± 2.77 E. walaupun ini tidak sesuai dengan standarnya yaitu bahwa maltodekstrin tidak berasa.

2. dan kelembaban serbuk. Dari tabel VI diketahui bahwa sudut diam maltodekstrin 7. e. d.65º. Menurut USP edisi XXIV maltodekstrin memiliki pH antara 4-7. Jika sejumlah serbuk dituang ke dalam alat pengukur. Penetapan sudut diam Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horisontal. besar kecilnya sudut diam dipengaruhi oleh bentuk. Besar kecilnya harga indeks kompresibilitas sangat ditentukan oleh pengisian ruang antar partikel oleh . Faktor yang mempengaruhi sudut diam adalah gaya tarik dan gesek antar partikel (Wadke and Jacobson. sedang maltodekstrin yang dibuat memiliki pH 6. Penetapan kadar air Kadar air akan berpengaruh pada kelembaban maltodekstrin sehingga juga akan mempengaruhi sudut diam dan waktu alir. Penetapan pH Pengukuran nilai pH sangat penting karena akan berpengaruh pada reaksi antar bahan yang satu dengan bahan yang lain dan juga akan mempengaruhi stabilitas penyimpanan maltodekstrin. Nilai ini lebih kecil bila dibandingkan dengan kadar air pati beras karena pada proses pembuatan maltodekstrin dilakukan pengeringan dengan oven. selain itu kadar air juga berhubungan dengan stabilitas pada saat penyimpanan. Hal ini mungkin terjadi karena maltodekstrin yang dibuat memiliki ukuran yang kecil sehingga menyebabkan sudut diam yang terbentuk kecil. granul akan mengalir dengan baik apabila mempunyai sudut diam antara 25º – 45º.65o. ukuran. 1980). Pada pembuatan maltodekstrin dilakukan pengayakan dengan mesh no 60 supaya distribusi ukuran serbuk dapat terkontrol sehingga waktu alirnya juga lebih baik. Penetapan indeks kompresibilitas Pengetapan merupakan penurunan volume sejumlah serbuk akibat hentakan (tapped) dan getaran (vibration).645 %. Menurut Fassihi dan Kanfer (1994).32 b. c. Semakin rendah kadar air semakin kecil gaya tarik antar molekulnya. Dari uji diperoleh kadar air (tabel VI) sebesar 8. Kadar air dapat menyebabkan tumbuhnya bakteri sehingga dapat mengurangi stabilitas dari maltodekstrin. Sudut diam yang didapat dari 5 gram serbuk maltodekstrin adalah sebesar 7.

f. Data pada tabel VI menunjukan indeks kompresibilitas maltodekstrin yaitu 22 %. semakin ringan serbuk yang dihasilkan. Pelarut yang digunakan untuk larutan stok adalah kloroform karena dapat melarutkan sorbitan monostearat dan mudah menguap sehingga mempercepat penyalutan. Uji pengetapan dilakukan untuk menentukan indeks kompresibilitas dari maltodekstrin. Penetapan densitas Densitas merupakan perbandingan antara bobot granul dengan volume granul. Formula yang digunakan adalah maltodekstrin dan sorbitan monostearat. 5. bentuk partikel dan kecenderungan partikel untuk melekat satu dengan lainnya.34 gram/ml. membentuk serbuk yang berat atau serbuk yang mempunyai kerapatan bulk tinggi (Martin et al. Partikel bisa tersusun sedemikian rupa sehingga meninggalkan perbedaan yang besar antara permukaan-permukaannya. 1983). Proniosom yang sudah jadi disimpan dalam desikator selama 2 malam untuk menyerap kelembaban dan kemudian disimpan dalam almari es agar proniosom yang terbentuk tidak rusak dan tetap kering. Semakin kecil nilai densitas suatu serbuk . 1986). menghasilkan serbuk yang ringan atau serbuk yang mempunyai kerapatan bulk yang rendah. Campuran diuapkan dengan rotary evaporator untuk menguapkan kloroform dan membantu penyalutan maltodekstrin. Maltodekstrin berfungsi sebagai carrier yang akan disalut oleh surfaktan (Blazek-Welsh and Rhodes.33 sejumlah serbuk dan pemampatan saat terjadinya getaran volumenometer (Lachman and Lieberman. Kerapatan bulk dari suatu serbuk terutama bergantung pada distribusi ukuran partikel. 2001). Hasil uji densitas maltodekstrin pada tabel VI menunjukan nilai sebesar 0. . Proniosom dibuat dengan menambahkan larutan stok surfaktan yaitu span 60 yang dilarutkan dalam kloroform. Pembuatan proniosom Pada pembuatan proniosom digunakan slurry method karena waktu pembuatan yang lebih cepat dan tidak membutuhkan peralatan khusus. Sementara partikel-partikel yang lebih kecil bisa berada di antara partikel-partikel yang besar. Digunakan sorbitan monostearat sebagai penyalut karena mudah didapat dan sudah dibuktikan dapat membentuk niosom.

14 4.53 (%) * Densitas 0. Uji kadar air Kadar air akan berpengaruh pada stabilitas proniosom selama penyimpanan.08 pH * 6. Uji sifat fisik proniosom Uji sifat fisik proniosom dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari proniosom kemudian membandingkannya dengan sifat fisik maltodekstrin. Semakin banyak jumlah surfaktan yang menyalut maltodekstrin maka permukaannya akan semakin kasar. Proniosom keseluruhannya berwarna putih tulang dan tidak berbau.49±0.67±0.83±0.63±0.67±0.84±0.94 Indeks kompresibilitas 12. Hasil uji sifat fisik proniosom Uji Sifat Formula 1 Formula 2 Formula 3 Proniosom Organoleptis a.73±0.52±0. rasa dan bau.67±0.76±0. Dari tabel VII diketahui bahwa proniosom tidak berasa.01 6.02 (gram/ml) * Keterangan : * = Data disajikan sebagai x ± SD dengan n = 3 Formula 1 = maltodekstrin : span 60 (5g : 2. b.65±0.57 4.29 6.38 3.09 6.49 10.28 9.67±1.54±0. Tabel VII.33±1.50 mmol) Formula 2 = maltodekstrin : span 60 (5g : 5.12 3.02 . Warna Putih tulang Putih tulang Putih tulang c. Bentuk Serbuk kasar Serbuk kasar Serbuk kasar b. Hal ini disebabkan jumlah surfaktan yang menyalut maltodekstrin juga Formula 4 Serbuk kasar Putih tulang Tidak berasa Tidak berbau 3.02 Sudut diam * 8.34 6.50 mmol) Formula 4 = maltodekstrin : span 60 (5g : 10. Semakin banyak surfaktan yang ditambahkan.02 6.02 0. Bau Tidak berbau Tidak berbau Tidak berbau Kadar air (%) * 5.85±0.47±0.79±0. Warna putih tulang ini disebabkan oleh surfaktan yang menyalut maltodekstrin berwarna kuning pucat sehingga akan mempengaruhi warna dari proniosom. semakin turun kadar airnya.0 mmol) a.00 mmol) Formula 3 = maltodekstrin : span 60 (5g : 7. warna.61±0.16 0.06±0.67±0.01 11. Uji organoleptis Uji organoleptis meliputi bentuk. Rasa Tidak berasa Tidak berasa Tidak berasa d.03 0. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada tabel VII. Dari hasil uji organoleptis menunjukkan bahwa proniosom formula 1 berbentuk kasar.

Penetapan indeks kompresibilitas Pengetapan merupakan volume dimana satuan massa produk berbentuk serbuk berada dalam kondisinya yang paling mampat tempat terjadinya perubahan bentuk partikel. Menurut tabel VII semakin banyak jumlah total surfaktan yang digunakan sebagai penyalut. Uji pH Nilai pH akan berpengaruh pada stabilitas proniosom. Tabel VII menunjukkan bahwa semakin banyak surfaktan yang ditambahkan maka nilai pH juga akan meningkat. c. Besar kecilnya harga indeks kompresibilitas sangat ditentukan oleh pengisian ruang antar partikel oleh sejumlah serbuk dan pemampatan saat terjadinya getaran volumenometer (Lachman and Lieberman. e. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa sifat aliran serbuk dipengaruhi oleh penambahan surfaktan dalam jumlah tertentu karena bentuk asal partikel maltodekstrin tetap dipertahankan (Jufri dkk. Nilai pH proniosom lebih tinggi daripada maltodekstrin karena telah terjadi penambahan span 60 dan pelarut kloroform. Selain itu. Dari ke empat formula proniosom. 2004). Hal ini terjadi karena semakin banyak jumlah surfaktan maka permukaan proniosom juga akan semakin kasar sehingga menyebabkan sudut diam meningkat. walaupun sudut diam yang didapat masih belum memenuhi syarat yaitu 25o-45o. Tabel VII menunjukan terjadinya perbedaan indeks kompresibilitas pada masing-masing formula. masing-masing memiliki sudut diam yang berbeda karena jumlah total surfaktan yang ditambahkan berbeda sehingga cenderung untuk menghasilkan penyalutan yang berbeda pula. Semakin kasar gesekan antar partikel dan semakin tidak beraturan permukaan partikel juga akan menyebabkan tingginya sudut diam.35 semakin banyak. pada proses pembuatan proniosom dilakukan penguapan pelarut dengan rotary evaporator dan dilakukan penyimpanan dalam densikator sehingga dapat menyebabkan menurunnya kadar air bila dibandingkan dengan maltodekstrin. Penetapan sudut diam Bentuk partikel yang tidak beraturan akan menyebabkan sudut diam meningkat. Pada hasil uji menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah surfaktan maka indeks kompresibilitasnya juga semakin kecil. semakin tinggi sudut diamnya. d. 1994). Hal ini .

Hal ini terjadi karena ibuprofen terikat dengan kuat pada molekul span 60 yang juga bersifat hidrofob sehingga menyebabkan partikel-partikel dalam suspensi menggumpal. Untuk membuat niosom yang berisi obat maka niosom dihidrasi dengan menambahkan larutan obat.36 terjadi karena proniosom yang dihasilkan juga semakin kasar yang berarti kemampuan partikel untuk mengisi ruang antar partikel berkurang sehingga dapat dikatakan memiliki indeks kompresibilitas yang semakin baik. Ibuprofen bersifat hidrofobik sehingga akan dihasilkan suspensi niosom yang terpisah dengan jelas. . Selain itu ibuprofen murah dan mudah didapat. Densitas massa akan berpengaruh pada sifat alir. Semakin banyak surfaktan maka densitas yang diperoleh juga akan semakin besar yang juga berarti semakin berat serbuk proniosom. Formula 4 memiliki densitas yang paling tinggi karena penambahan surfaktan pada formula 4 merupakan yang paling besar. 1995). 7. Sebagai pembanding digunakan niosom kosong yang tidak berisi obat. Hal ini dapat dibandingkan pada uji mikroskopi antara niosom kosong dengan niosom yang berisi dengan obat yaitu pada suspensi yang tidak mengandung obat. Model obat yang digunakan adalah ibuprofen karena mudah larut dalam kloroform dan tahan terhadap pemanasan (Anonim. semakin besar densitas masssa maka akan semakin baik pula sifat alir serbuk tersebut. Pembuatan niosom Niosom dibuat dari hidrasi serbuk proniosom. Hasil dari hidrasi ini akan menghasilkan suspensi. Dari hasil uji menunjukan terjadinya peningkatan densitas dari formula 1 hingga formula 4. Semakin berat partikel akan membuat partikel lebih mudah jatuh dan mengalir karena mempunyai kecenderungan untuk mengalir ke bawah karena gaya beratnya. Dalam industri farmasi. ibuprofen cukup laku di pasaran karena khasiatnya sebagai analgesik serta anti-inflamasinya. agregasi partikel lebih sedikit dibandingkan suspensi yang mengandung obat. Penetapan densitas Densitas merupakan perbandingan antara bobot granul dengan volume granul. f.

E. Pada gambar 5 ditunjukkan bahwa pada suspensi yang tidak mengandung obat memiliki . H.A. C. Niosom isi Formula 3. menunjukan terjadinya aggregasi Dari hasil uji mikroskopi terlihat adanya partikel kecil berbentuk bulat yang diduga vesikel niosom yang dihasilkan dari hidrasi proniosom. Niosom kosong Formula 3. Niosom kosong Formula 2.Niosom isi Formula 4. Niosom isi Formula 2. F. A a B a C D a a E a F a G a H a Gambar 5.Niosom kosong Formula 4. B. D. Niosom kosong Formula 1. G. a. Karakterisasi niosom a. Hasil uji mikroskopi suspensi niosom dengan perbesaran 100x ket. Mikroskop optik Karakterisasi dengan mikroskop optik ini dilakukan dengan membandingkan niosom yang berisi obat dengan niosom tanpa obat. Niosom isi Formula 1. Suspensi niosom dari masing-masing formula dilihat dibawah mikroskop optik dengan perbesaran 100x kemudian diamati bentuk molekul.37 8.

b. Kombinasi surfaktan yang biasa dipakai dalam berbagai penelitian adalah span 60. Untuk mengetahui jumlah obat yang dapat dibawa oleh niosom dilakukan penetapan jumlah obat yang dibawa niosom. kolesterol dan disetilfosfat (DCP) sehingga akan menghasilkan niosom yang stabil. Walaupun demikian agregasi dalam sistem suspensi akan menyebabkan terbentuknya endapan dengan cepat.38 agregasi partikel yang lebih sedikit dibanding suspensi yang mengandung obat. Pada suspensi yang mengandung obat. Suspensi niosom yang telah diperoleh disentrifuse dengan kecepatan 4000 rpm yang berfungsi untuk mempercepat pemisahan dengan cara meningkatkan gaya gravitasi sehingga pemisahan terjadi dengan cepat. agregasi partikelnya lebih besar karena sistem yang terbentuk lebih stabil. Gambar 5 menunjukkan perbedaan pada suspensi niosom yang mengandung obat dan yang tidak mengandung obat. Tetapi kolesterol dan DCP mahal dan sulit didapat sehingga tidak digunakan dalam penelitian ini. Hal ini terjadi karena ibuprofen terikat dengan kuat pada molekul span 60 yang juga bersifat hidrofob sehingga menyebabkan partikel-partikel dalam suspensi menggumpal. Agregasi partikel pada suspensi yang tidak mengandung obat dapat terjadi karena sistem yang yang terbentuk tidak stabil. Dari hasil sentrifuse ini diperoleh supernatan yang mengandung obat yang larut atau tidak dibawa oleh niosom. Sistem tersebut dapat terstabilkan dengan memberikan muatan-muatan listrik pada permukaan partikel karena muatan yang sama menghasilkan tolak menolak yang mencegah koagulasi partikel. sedang DCP berfungsi untuk menstabilkan proniosom dengan memberi muatan listrik pada permukaan partikel. Penetapan jumlah obat yang dibawa Jumlah obat yang dibawa oleh niosom ditetapkan dengan metode sentrifugasi karena metode ini lebih cepat. Kadar obat yang larut ini kemudian ditetapkan kadarnya secara spektrofotometri. Telah dibuktikan bahwa penambahan sejumlah kecil DCP cenderung dapat menstabilkan sistem span 60-niosom dengan memberikan muatan listrik negatif yang akan mencegah agregasi niosom. Kolesterol dipakai untuk menambah kekakuan pada proniosom sehingga penyalutan yang terjadi rapat dan tidak mudah bocor. Apabila jumlah obat yang larut sama dengan jumlah obat yang ditambahkan maka diasumsikan tidak ada .

02 99.3 0. Tabel VIII menunjukkan bahwa persentase jumlah obat yang dibawa oleh niosom memiliki kemampuan .00 0.7151x y = 0.04 ± 0. 2004).00 mmol) Formula 3 = maltodekstrin : span 60 (5g : 7.50 mmol) Formula 4 = maltodekstrin : span 60 (5g : 10.7 0.6 0.0 mmol) Dari hasil percobaan diperoleh bahwa jumlah obat yang terlarut berbeda dengan jumlah obat yang ditambahkan.9 1 1.67 ± 0.03 ± 0.07 ± 0.7151x dengan nilai r = 0.0073 + 0.3 0.00 0.09 Formula 2 10.35 ± 0.1 0 0 0.11 Keterangan : * : Data disajikan sebagai x ± SD dengan n = 3 Formula 1 = maltodekstrin : span 60 (5g : 2. Tabel VIII.0073 + 0.1 Konsentrasi Ibuprofen (mmol/L) y = 0.00 0. 0.39 obat yang dibawa.00 99.05 ± 0.007151 x Gambar 6.0073 + 0.2 0. Jumlah obat yang dibawa ditentukan dengan menghitung persentase selisih jumlah obat yang ditambahkan dan jumlah obat yang larut (Jufri et al.02 Formula 4 10. Konsentrasi jumlah obat yang dibawa niosom dengan total surfaktan 10 mmol Formula Jumlah ibuprofen Kadar ibuprofen Persentase yang ditambahkan terlarut (mmol) ibuprofen yang (mmol) dibawa niosom (%) Formula 1 10.01 99.9995.51 ± 0.1 0. Persamaan linear ini digunakan untuk menentukan kadar ibuprofen yang terlarut dalam suspensi niosom kemudian dihitung jumlah obat yang dibawa oleh niosom dengan menggunakan persamaan 5.8 0.4 0. apabila berbeda diperkirakan telah terbentuk niosom yang dapat membawa obat.6 0.5 0.19 Formula 3 10.4 0.8 0.5 0.7 Absorbansi (nm) 0. Kurva Baku Larutan Ibuprofen Dari gambar 6 diperoleh persamaan y = 0.58± 0.01 99.50 mmol) Formula 2 = maltodekstrin : span 60 (5g : 5.2 0.00 0.

Tidak ditambahkannya kolesterol pada formula kemungkinan menyebabkan kurang rapatnya surfaktan yang menempel pada carrier (maltodekstrin) sehingga jumlah surfaktan yang tertempel tidak berbeda jauh. jumlah obat yang dibawa tergantung pada konsentrasi surfaktan dalam suspensi dengan jumlah maksimal obat yang terbawa. Jumlah surfaktan pada formula 1 telah mampu membawa obat dengan optimal sehingga penambahan konsentrasi surfaktan tidak menyebabkan perbedaan yang terlalu jauh yaitu dengan rata-rata keempat formula 99. . Tabel VIII menunjukan bahwa jika konsentrasi obat yang ditambahkan dibuat konstan 10 mmol/L. niosom yang dibuat dari maltodekstrin DE 5-10 yang berasal dari pati beras terbukti mampu menghantarkan obat dengan persentase yang tinggi.40 yang hampir sama dalam membawa obat. Selain itu konsentrasi surfaktan yang digunakan pada formula 1 diperkirakan sudah mencapai Critical Micelle Concentration (CMC) sehingga peningkatan konsentrasi surfaktan tidak menyebabkan perbedaan yang terlalu jauh. Jumlah obat yang dibawa tidak tergantung pada konsentrasi obat yang ditambahkan karena kapasitas niosom terbatas dalam membawa obat (Blazek-welsh and Rhodes.53%. 2001) Secara keseluruhan.

Konsentrasi surfaktan yang digunakan pada formula 1 diperkirakan sudah mencapai nilai Critical Micelle Concentration (CMC) sehingga peningkatan konsentrasi surfaktan tidak menyebabkan perbedaan yang terlalu jauh. Variasi total surfaktan yang ditambahkan tidak mempengaruhi jumlah obat yang dibawa oleh niosom. Kesimpulan 1. 3. B. . Perlu dilakukannya penelitian pembuatan niosom dengan metode yang lain. Niosom dapat digunakan sebagai penghantar obat ibuprofen dengan persentase yang tinggi dengan rata-rata 99.53%. Perlu dilakukannya penelitian tentang pembuatan niosom yang berbasis maltodekstrin dari pati jenis lain. Perlu dilakukan penelitian lanjut untuk membuat niosom dengan obat dalam bentuk sediaan. Maltodekstrin DE 5-10 yang berasal dari pati beras dapat dibuat niosom. Saran 1. 2.41 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Perlu dilakukan penelitian dengan model obat yang berbeda. 3. 4. 2.

Philadelphia.. E. Mechanism of Surfactant Effect On Drug absorbtion. Toronto. M.. Lea & Febiger. Jakarta. P.R.42 DAFTAR PUSTAKA Anonim.. Jakarta. R.. A. Maltodekstrin Based Proniosomes. The Use of Enzymes in Starch Hidrolysis. S. J. Effect of Compressibility and Powder Flow Properties and Tablet Weigh Variation in Drug Development and Industry Pharmacy. 449 Anonim.K. D.html (diakses tanggal 3 Februari) Deman. Bandung. Pharm. Biopharmaceiutic and Clinical Pharmacokinetics..R. 3368 Anwar.. Majalah Ilmu Kefarmasian. Yanuar. J.M. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. 68(2): 141-153 Blazek-Welsh.. available at http://www. 5 Gibaldi. Pemanfaatan Maltodekstrin Pati Terigu Sebagai Eksipien Dalam Formula Sediaan Tablet dan Niosom. Marccel Dekker Inc. 1984. Mishra. Farmakope Indonesia. 218 Gibaldi. I.. Talegaonkar. Farmakologi dan Terapi.. Jakarta.2001. A. 2006.. Khar. Rhodes. AAPS Pharm. Djajadisastra.. A. and Fieldman. M. Vesikular System: An Overview. 108. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. S.id/biology/enztech/starch. Bahtiar. S. Edisi IV. 1997. 1995.ac. and Kanfer... 1(1): 34-36 Biju.S. 1995. 93 Anonim. 1986. edisi XXIV. J.G. Edisi III. 2004.lsbu. Indian Journal Of Pharmaceutical Science.. 2004.. 1947-1966 Ganiswara. Kimia Makanan. 15-26 .. 2006. 3th ed. Farmakope Indonesia.I. Webcom Limited. 3(1) Chaplin.. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. A. The United Stated Pharmacopeia. 1979. Institut Teknologi Bandung. Sci. S. Sci. M. 455 Fassihi. 1970.

UI Press. Pharmaceutical Journal.10641067 McKee.. and Lieberman.. available at http://www. 3th.. Natavarial.. Liberty. Sutanthavibul. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. 2006. P. Haryono. McKee.. H. 2004. 5(2) Martin. Farmasi Fisik.A. Anwar.. Making The Most of Maltodextrin. E. New York Moore. Majalah Ilmu Kefarmasian. Gajah Mada University Press.. 1044 Sudarmadji. 34-35 Uchegbu. 111. Singapore. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. 1995. I. A. Soldi. available at http://www. Cammarata.. A. Volume 1.html (diakses tanggal 31 Januari 2007) Lachman.. 339-357 Limwong. J. Sci.R. Amante. 146-147..43 Jufri. M. 142.P. Sperical Composite Particles Of Rice Starch and Microcrystalline Cellulosa: A New Composed Excipient for Direct Compression. 890-891 .. 1983.F. 1997.com/archive/1997/0897DE. 263(7060): 309-318 Voigh. B. 1999.R. Parenteral Drug Delivery : 1. Liposome: A Versatile Platform for Targeted Delivery of Drugs. Info Acces & Distribution Pte Ltd. L. L.... Cassava and Corn Starch In Maltodextrin Production. McGraww-Hill. J. Quinica Nova 28(4) Patel.R... Suhardi.. J. Tech.. Swarbrick. 1994. Biochemistry: The Molecular Basis of Life. G. N. J. Prosedur Analisa Untuk Bahan Makanan dan Pertanian. M. Djajadisastra.. V. E. 2003. 1995. Yogyakarta. S.F. 1(1): 10-20 Kuntz..... Canto.. R. 2005. 1993. Mukesh. AAPS Pharm. Kulvanich. V.net/exclusive/reviews/liposom:_a_versatile_platfo rm_for_targeted_delivery_of_drug (diakses tanggal 23 Januari 2007) Reynolds. T.pharmainfo. Teori dan Praktek Farmasi Industri. 2004. A. Rudolf.. AL.foosproductdesign. Pembuatan Niosom Berbasis Maltodekstrin DE 5-10 Dari Pati Singkong.E. S. UI-Press. Jakarta. Martindale: The Extra Pharmacopeia.

A.G. Kimia Pangan dan Gizi. 2nd . R. New York.. 1984.. J. 1980. PT GramediaPustaka Utama. 670 Winarno. Starch: Chemistry and Technology.H. volume 1. London: 88. Academic Press Inc.N... Preformulation Testing in Pharmaceutical Dosage Form: Tablet. 516.. 30-33 Whistler. Paschall.H.. and Jacobson.44 Wadge. F. 524 . Marcell Dekker inc. E. 2002. Bemiller. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful