HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 1/28

BAB I PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Perkembangan resistensi terhadap antimikroba dan munculnya patogen multi resisten telah membangkitkan kepedulian kalangan medis di dunia. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten dikaitkan dengan angka perawatan rumah sakit yang lebih tinggi, masa perawatan rumah sakit yang lebih lama, serta tingkat kesakitan dan kematian yang lebih tinggi.1 Golongan Fluorokuinolon adalah antibiotik yang sangat aktif, memiliki spektrum luas dan banyak digunakan baik pada manusia maupun hewan.2 Fluorokuinolon memiliki kelebihan karena dapat melawan berbagai jenis patogen multiresisten disebabkan cara kerjanya yang melalui target – target yang berbeda dari golongan antimikroba lain. Mekanisme resistensi fluorokuinolon juga tidak seperti kebanyakan mekanisme resistensi dari antibiotik lain, yaitu tidak melalui plasmid atau integron.1 Saat ini, fluorokuinolon semakin banyak digunakan untuk terapi empiris disebabkan resistensi terhadap antimikroba empiris yang biasa dipakai. 1,2 Siprofloksasin, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1987 merupakan golongan fluorokuinolon yang paling banyak digunakan. Siprofloksasin memiliki spektrum lebih luas terhadap bakteri gram negatif daripada kuinolon generasi pertama, namun aktivitasnya terhadap gram positif lebih lemah, terutama terhadap Streptococcus pneumoniae.4 Faktor harga yang murah dan kenyamanan pemakaian, dimana golongan siprofloksasin cukup diminum sekali atau dua kali sehari mengakibatkan pemakaian siprofloksasin amat meningkat, bahkan mengakibatkan pemakaian yang tidak rasional. Harga Netto Apotik (HNA) siprofloksasin generik adalah Rp 864,00 per butir (SK Menkes No. 12/Menkes/SK/I/2005), sedangkan di pasaran obat ini biasa dijual hanya Rp 11.000,00 per box isi 50 tablet, yang berarti per butirnya dihargai Rp 550,00.5 Hal ini mengindikasikan persaingan harga yang tidak sehat akibat tidak adanya regulasi harga jual yang seyogianya merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah. Industri farmasi turut berperan dalam penyalahgunaan siprofloksasin melalui pemberian diskon yang sangat besar, bahkan mencapai 90% . Salah satu contoh dampak dari diskon besar-besaran ini adalah laporan dari satu puskesmas yang menggunakan seluruh anggaran belanjanya dalam satu tahun untuk pembelian siprofloksasin dengan diskon 90%. Hal ini akan semakin mendorong pemakaian siprofloksasin yang tidak pada tempatnya, sehingga pada akhirnya akan merugikan masyarakat sebagai konsumen kesehatan. 5,6 Fenomena lain, yaitu kian gencarnya peresepan siprofloksasin untuk mengobati infeksi saluran nafas atas yang didapat dari komunitas walaupun siprofloksasin memiliki aktivitas sangat lemah terhadap Streptococcus pneumoniae.4,7 Di Inggris dilaporkan dua kasus infeksi pneumokok sistemik yang mengancam nyawa, dimana infeksi tersebut berasal dari saluran nafas atas dan sebelumnya fluorokuinolon telah diresepkan sebagai terapi antibiotik empiris.7 Sebagai akibat pemakaian yang tidak rasional, resistensi terhadap siprofloksasin makin meningkat. Di Amerika, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan kasus strain Neisseria gonorrhoeae yang resisten terhadap fluorokuinolon, padahal diketahui bahwa siprofloksasin dan ofloksasin merupakan golongan fluorokuinolon yang diremendasikan untuk terapi gonore tanpa komplikasi.8 Di Amerika, terjadi ledakan salmonella yang resisten terhadap fluorokuinolon.9 Namun, data dari Laboratorium Klinik Mikrobiologi FKUI tahun 2004 menunjukkan seluruh Salmonella typhi yang diisolasi masih sensitif terhadap siprofloksasin.10 Masalah lain adalah interaksi siprofloksasin dengan obat lain yang berdampak negatif. Siprofloksasin sering menimbulkan gangguan gastrointestinal, seperti mual, kembung dan muntah sehingga siprofloksasin diberikan bersama antasid dan sukralfat, dimana hal ini dapat menurunkan bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna.11 Pemberian siprofloksasin bersama teofilin juga mengakibatkan meningkatnya kadar teofilin dalam darah, yang berbahaya karena teofilin memiliki rentang dosis aman yang sempit.

HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 2/28

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah siprofloksasin dapat menginduksi resistensi silang terhadap kuinolon lain maupun antibiotik golongan lain yang tidak berhubungan. Timbulnya resistensi ini dipengaruhi oleh dosis siprofloksasin. Maslah lain yang juga perlu disikapi adalah penggunaan fluorokuinolon pada hewan secara irasional sehingga mengakibatkan munculnya resistensi fluorokuinolon pada beberapa bakteri zoonosis seperti Salmonella typhimurium dan Campylobacter spp.2,12 FDA melaporkan pemberian fluorokuinolon pada ayam, yang merupakan reservoir dari banyak patogen yang ditularkan melalui hewan, mencakup Campylobacter dan Salmonella. Data di Amerika menunjukkan bahwa Campylobacter merupakan penyakit infeksi bakteri yang diperantarai makanan (bacterial food borne) yang paling umum.12 Angka resistensi Campylobacter terhadap fluorokuinolon semakin meningkat13, padahal fluorokuinolon merupakan antibiotik pilihan untuk terapi empiris infeksi gastrointestinal pada manusia, karena merupakan salah satu dari sedikit antibiotik yang memiliki aktivitas terhadap baik Campylobacter jejuni maupun Salmonella spp.2,12,13 Oleh karena itu, penggunaan fluorokuinolon pada hewan berpotensi menimbulkan dampak yang sangat merugikan terhadap manusia.2,12 II. Permasalahan 1. Penggunaan siprofloksasin yang tidak tepat 2. Interaksi siprofloksasin dengan obat-obat lain yang menimbulkan dampak negatif 3. Timbulnya resistensi silang yang diinduksi oleh siprofloksasin III.Tujuan Tujuan Umum : • Terwujudnya rekomendasi sebagai acuan dan masukan dalam menetapkan kebijakan penggunaan siprofloksasin di Indonesia. Tujuan Khusus 1. Melakukan pengkajian mengenai penggunaan siprofloksasin di Indonesia, yang meliputi indikasi, dosis, interaksi obat, dan resistensi obat berdasarkan bukti ilmu kedokteran yang mutakhir dan sahih. 2. Memberikan rekomendasi bagi penetapan kebijakan penggunaan siproflokasin. Rekomendasi HTA dimaksudkan untuk memberikan input bagi para pengambil kebijakan, baik di lingkungan Departemen Kesehatan, Rumah Sakit, instistusi pendidikan, badan penelitian, institusi terkait lainnya, serta kelompok profesi terkait. IV. Ruang Lingkup Pembahasan Kajian ini dibatasi pada penggunaan siprofloksasin yang tidak tepat, interaksi siprofloksasin dengan obat-obat lain, dan resistensi silang yang diinduksi oleh siprofloksasin. Disertakan pula analisis biaya berupa deskripsi.

British Medical Journal. Pengkajian Kepustakaan Kepustakaan diperoleh dari media ilmiah cetak dan elektronik (Pubmed. Konsensus dan pendapat ahli A. Evidence yang termasuk dalam level IIa dan II b. pharmacodynamics. Ovid. Pengumpulan Data Lokal Data lokal diperoleh dari data resistensi kuman di RSCM. C. serta data dari direktorat Bina Penggunaan Obat Rasional. IIb. cross resistance II. . ditentukan hierarchy of evidence dan derajat rekomendasi. IIIb dan IV. Departemen Laboratorium Mikrobiologi FKUI. Minimal satu randomised controlled trials. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. sesuai dengan definisi yang dinyatakan oleh US Agency for Health Care Policy and Research.1. Evidence yang termasuk dalam level IIIa. Ib. dan lain-lain) dalam 15 tahun terakhir (1990-2005).HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 3/28 BAB II METODOLOGI PENGKAJIAN II. Meta-analysis of randomised controlled trials. Kata kunci yang digunakan adalah fluoroquinolone. Hierarchy of Evidence dan Derajat Rekomendasi Setiap makalah ilmiah yang didapat dinilai berdasarkan evidence based medicine. Case series dan case report IV. data IARW-PAMKI. Hierarchy of evidence: Ia. Cohort dan Case control studies IIIa.2. Derajat rekomendasi : Evidence yang termasuk dalam level Ia dan Ib. Depkes RI. ciprofloxacin. Cross-sectional studies IIIb. Hierarchy of evidence dan derajat rekomendasi didasarkan pada klasifikasi dari Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN). Laporan AMRIN (Antimicobial Resistance in Indonesia) di Surabaya dan Semarang. B. Journal of Antimicrobial Chemotherapy.3. Minimal satu non-randomised controlled trials. multidrug resistance TB. IIa. II.

sekret nasal dan bronkus.pertama kali diperkenalkan sebagai siprofloksasin pada 1987 – yang memiliki spektrum lebih luas terhadap bakteri gram negatif.hr/mL) 4. Konsentrasi jaringan seringkali melebihi konsentrasi serum.2 30. Bioavailabilitas absolut adalah sekitar 70%. yaitu asam nalidiksat memiliki keterbatasan oleh karena aktivitas intrinsik yang rendah dan cepatnya terjadi resistensi.14 B. kulit.4 mg/mL. tanpa kehilangan yang bermakna dari metabolisme fase pertama.14.2. Tabel 1.2 2.13 . Konsentrasi rata-rata 12 jam setelah dosis 250. cairan peritoneal. 2-dihidro-4-oksi-7-(1-piperazinil)-3-asam kuinolinkarboksilat. namun aktivitas terhadap gram positif lemah. Farmakokinetik A. 0.3 5.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 4/28 BAB III SIPROFLOKSASIN Antibiotik fluorokuinolon (kuinolon) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960. Kuinolon yang pertama. Konsentrasi serum maksimum dan area di bawah kurva dari siprofloksasin14 Dosis (mg) 250 500 750 1000 Konsentrasi serum maksimal (ug/mL) 1. Nama kimianya adalah garam monohidroklorida monohidrat dari 1-siklopropil-6-fluoro-1. dengan berat molekul 385. merupakan antimikroba sintetik berspektrum luas. Siprofloksasin juga ditemukan pada konsentrasi rendah di aqueous humor dan vitreus humor. terutama terhadap Streptococcus pneumoniae. Setelah administrasi oral. Penambahan fluor pada molekul kuinolon menghasilkan fluorokuinolon .2 dan 0.1. empedu dan jaringan prostat. jaringan lemak.0 Konsentrasi serum maksimal dicapai 1 sampai 2 jam setelah dosis oral.6 20. Obat ini berdifusi ke cairan serebro spinal.8 . Formula empirisnya adalah C17H18FN3O3●HCl●H2O. limfe. termasuk prostat. Absorpsi Siprofloksasin oral diserap dengan baik melalui saluran cerna. Berikut ini adalah konsentrasi serum maksimal dan area di bawah kurva (area under the curve. Siprofloksasin ditemukan dalam bentuk aktif di saliva.8 11. 500 dan 750 mg adalah 0. siprofloksasin didistribusikan ke seluruh tubuh. kartilago dan tulang. namun konsentrasi di CSS adalah kurang dari 10% konsentrasi serum puncak.3 III. mukosa sinus. Deskripsi Siprofloksasin hidroklorida dibuat dalam bentuk tablet dan suspensi. Distribusi Ikatan siprofloksasin terhadap protein serum adalah 20-40% sehingga tidak cukup untuk menyebabkan interaksi ikatan protein yang bermakna dengan obat lain. AUC) dari siprofloksasin yang diberikan pada dosis 250 ~ 1000 mg. terutama di jaringan genital.4 Area di bawah kurva (mg.15 Siprofloksasin juga dideteksi di paru-paru.. sputum cairan gelembung kulit.4 4. otot. Struktur kimia siprofloksasin adalah sebagai berikut :14 III.1.

terutama aktif terhadap bakteri gram negatif dan memiliki aktivitas lemah terhadap gram positif. Metabolisme Empat metabolit siprofloksasin yang memiliki aktivitas antimikrobial yang lebih rendah dari siprofloksasin bentuk asli telah diidentifikasi di urin manusia sebesar 15% dari dosis oral. tidak terjadi keterlambatan absorpsi bila diberikan bersama makanan sehingga konsentrasi puncak dicapai dalam 1 jam. Pada siprofloksasin sediaan suspensi. sehingga konsentrasi puncak baru akan dicapai 2 jam setelah pemberian.11 III. Dalam urin semua fluorokuinolon mencapai kadar yang melampaui konsentrasi hambat minimal (KHM) untuk kebanyakan kuman patogen selama minimal 12 jam. Bila diberikan bersama dengan antasid yang mengandung magnesium hidroksida atau aluminium hidroksida dapat mengurangi bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna. yaitu sekitar 300 mL/menit. sekresi tubular aktif memainkan peran penting dalam eliminasi obat ini.14 Klirens ginjal dari siprofloksasin. Spektrum Antibakteri Siprofloksasin Siprofloksasin bersifat bakterisid.3.4. Sebesar 40-50% dari dosis yang diminum akan diekskresikan melalui urin dalam bentuk awal sebagai obat yang belum diubah. Berikut ini adalah spektrum antibakteri siprofloksasin :13 Mikroorganisme gram positif aerobik Enterococcus faecalis (banyak strain hanya memiliki sensitivitas sedang) Staphylococcus aureus (hanya strain yang sensitif terhadap metisilin) Staphylococcus epidermidis (hanya strain yang sensitif terhadap metisilin) Staphylococcus saprophyticus Streptococcus pneumoniae (hanya strain yang sensitif terhadap penisilin) Streptococcus pyogenes Mikroorganisme gram negatif aerobik Campylobacter jejuni Proteus mirabilis Citrobacter diversus Proteus vulgaris Citrobacter freundii Providencia rettgeri Enterobacter cloacae Providencia stuartii Escherichia coli Pseudomonas aeruginosa Haemophilus influenzae Salmonella typhi Haemophilus parainfluenzae Serratia marcescens Klebsiella pneumoniae Shigella boydii Moraxella catarrhalis Shigella dysenteriae Morganella morganii Shigella flexneri Neisseria gonorrhoeae Shigella sonnei Lainnya : Bacillus anthracis .14 III. 14 D. Oleh karena itu. Pemberian siprofloksasin bersama probenesid berakibat pada penurunan 50% klirens renal siprofloksasin dan peningkatan 50% pada konsentrasi sistemik. Ekskresi Waktu paruh eliminasi serum pada subjek dengan fungsi ginjal normal adalah sekitar 4 jam. melebihi laju filtrasi glomerulus yang sebesar 120 mL/menit. Ekskresi siprofloksasin melalui urin akan lengkap setelah 24 jam . Interaksi Obat Siprofloksasin sediaan tablet bila diberikan bersama makanan.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 5/28 C. akan mengalami terjadi keterlambatan absorpsi.

Kesembuhan klinis didapat pada 93 (58%) dari 160 subyek kelompok amoksiklav.5. sebaiknya digunakan terlebih dahulu nitrofurantoin dan fosfomisin trimetamin. 2x/hari selama 3 hari. Namun sehubungan dengan fenomena peningkatan resistensi fluorokuinolon. sehingga siprofloksasin mulai menjadi pilihan utama untuk infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. Kelompok pertama menerima amoksisilin-asam klavulanat (amoksiklav) 500/125 mg. dan bahwa efek simpang terapi jangka pendek ditolerir lebih baik. dan nitrofurantoin (Furantadin) 100 mg dua kali sehari. 2x/hari. coli vaginal.1. Sanchez Navarro (2002) melakukan uji simulasi yang didasarkan pada farmakokinetik obat dengan tujuan membandingkan rejimen dosis lazim 250 mg/12 jam versus 500 mg/24 jam untuk infeksi saluran kemih. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya kemampuan amoksiklav dalam eradikasi E. sedangkan hasil sekunder adalah kesembuhan mikrobiologik dan kolonisasi E. sedangkan kelompok kedua menerima siprofloksasin 250 mg.19 Hooton (2005) melakukan uji klinis acak tersamar terhadap 370 wanita berusia 38-45 tahun dengan sistitis akut tanpa komplikasi.001).15 McCarty (1999) melakukan studi untuk membandingkan siproflokasin (Cipro) 100 mg dua kali sehari. coli di vagina yang dinilai pada follow-up 2 minggu. Penggunaan Siprofloksasin yang Dianjurkan Berikut ini merupakan keadaan dimana penggunaan siprofloksasin memiliki tempat. III. Infeksi Saluran Kemih Infeksi Saluran Kemih tanpa Komplikasi Kebanyakan infeksi saluran kemih (ISK) tanpa komplikasi terjadi pada wanita dengan kehidupan seksual aktif. Escerichia coli merupakan penyebab terbanyak. diikuti oleh Staphylococcus saprophyticus. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa amoksiklav tidak memiliki efektivitas setara dengan siprofloksasin untuk terapi sistitis akut tanpa komplikasi.001). Studi ini membandingkan efikasi dan keamanan siprofloksasin oral 250 mg.17 (Level of evidence 1b) Vogel (2004) melakukan uji klinis acak tersamar ganda yang bertujuan mengevaluasi durasi optimal terapi antibiotik pada pasien tua dengan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. terutama pada orang tua. Hasil utama yang dievaluasi adalah kesembuhan klinis. sedangkan pada kelompok siprofloksasin dicapai kesembuhan 124 (77%) dari 162 wanita (p<0. namun E. Follow-up setelah 4-6 minggu menunjukkan bahwa siprofloksasin menghasilkan eradikasi bakteri yang lebih baik.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 6/28 III. coli mengalami peningkatan resistensi terhadap obat ini.16 Studi lain dari Iravani (1999) membandingkan siprofloksasin 100 mg/dua kali sehari selama 3 hari dengan trimetoprim-sulfametoksazol 160/800 mg/dua kali sehari selama 7 hari. Vogel menyatakan bahwa terapi 3 hari tidak lebih buruk daripada 7 hari. baik sebagai lini pertama maupun lini kedua. (Level of evidence 1b) 20 . ofloksasin (Floxin) 200 mg dua kali sehari dan trimetoprim-sulfametoksazol (Bactrim.18 (Level of evidence 1b) Salah satu penyebab berkembangnya resistensi bakteri adalah penggunaan yang salah. Oleh karena itu. 2x/hari selama 3 hari versus 7 hari. Analisis farmakokinetik/farmakodinamik menunjukkan bahwa siprofloksasin 500 mg/24 jam menghasilkan profil urin yang lebih baik daripada 250 mg/12 jam.5. Kesembuhan mikrobiologis pada follow-up 2 minggu didapatkan pada 118 (76%) kelompok amoksiklav dan 153 (85%) kelompok siprofloksasin (p<0. dikarenakan eliminasi obat yang lebih lambat pada kelompok ini. Terapi standar yang digunakan selama ini adalah trimetoprim-sulfametoksazol. Septra) 160/800 mg dua kali sehari dan menemukan bahwa ketiganya memiliki efektivitas yang sebanding dalam tatalaksana ISK tanpa komplikasi. khususnya ketidaktepatan rejimen dosis yang mengakibatkan rendahnya Cmax pada lokasi infeksi.

Hasilnya. Demam Tifoid Wallace (1993) melakukan uji klinis acak membandingkan seftriakson (3 g. Dari ke-64 pasien ini.0005). kegagalan klinis ditemukan pada 6 pasien (27%) kelompok seftriakson. Penilaian klinis maupun bakteriologis dilakukan dalam jangka pendek (5-9 hari pasca terapi) dan jangka panjang (28-30) hari pasca terapi. Tobramisin dipilih bila patogen penyebab diduga P. Hasilnya . yaitu disuria.2.23 (Level of evidence 1b) Girgis (1999) melakukan uji klinis acak pada 123 pasien dewasa dengan demam dan gejala-gejala demam tifoid tanpa komplikasi dengan tujuan membandingkan efikasi klinis dan bakteriologis dari azitromisin dan siprofloksasin untuk demam tifoid. Siprofloksasin 500 mg diberikan setiap 12 jam selama 7-10 hari. dosis ini disesuaikan dengan disfungsi ginjal. yang dideteksi pada spesimen urin porsi tengah) dan (3) adanya bakteri sensitif in vitro terhadap antibiotik yang akan diuji. frekuensi dan urgensi. oral. diberikan sebanyak 1-1. Namun. (2) konfirmasi mikrobiologik adanya infeksi dengan piuria (≥ 8 leukosit/mm3) dan bakteriuria ( minimal 105 CFU/mL. Sebanyak 28 pasien menerima siprofloksasin 500 mg oral 2x sehari selama 7 hari. Alternatif dari gentamisin adalah tobramisin dan amikasin. didapatkan bahwa respon bakterial siprofloksasin secara signifikan lebih baik daripada aminoglikosid (p= 0.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 7/28 Infeksi Saluran Kemih dengan Komplikasi Fang (1991) melakukan uji klinis acak untuk membandingkan siprofloksasin dengan aminoglikosid parenteral untuk terapi infeksi saluran kemih dengan komplikasi. pada hari 28-30. dilanjutkan 500 mg oral 1 x sehari selama 6 hari berikutnya. aeruginosa. Pada hari ke-5-9 pasca terapi.22 (Level of evidence 1b) III. angka respon menjadi sama.7 mg/kg intramuskular atau intravena setiap 8 jam selama 7 hari. kloramfenikol dan trimetoprim-sulfametoksazol ditemukan pada 21 isolat dari 64 pasien dengan kultur positif. dua kali sehari) dengan trimetoprimsulfametoksazol (160 mg trimetoprim & 800 mg sulfametoksazol oral). Parameter yang diukur ada dua.5. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa siprofloksasin lebih efektif pada infeksi saluran kemih dengan komplikasi dibandingkan dengan obat standar yaitu aminoglikosid parenteral untuk pasien dengan bakteri yang relatif resisten. Gentamisin merupakan aminoglikosid terpilih. Kedua kelompok mengalami angka relaps dan reinfeksi yang sama pada 4-6 minggu pasca terapi.035). 36 menerima azitromisin oral 1 g 1x sehari pada hari pertama. 1 kali sehari selama 7 hari) dengan siprofloksasin (500 mg. parenteral. Kriteria inklusi meliputi (1) gejala infeksi saluran kemih. sedangkan pada kelompok siprofloksasin tidak ditemukan (p=0. didefinisikan sebagai resolusi gejala pasien dan demam serta penyembuhan bakteriologik didefinisikan sebagai urin kultur steril. nyeri suprapubik. Studi ini menyatakan siprofloksasin merupakan alternatif yang efektif terhadap trimetoprimsulfametoksazol untuk terapi infeksi saluran kemih dengan komplikasi. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa siprofloksasin merupakan pilihan terapi yang bermanfaat pada daerah dimana strain multi resisten mungkin ditemukan. Dilakukan pengambilan isolat praterapi pada 45 pasien dengan infeksi saluran kemih terkomplikasi. Eradikasi isolat setelah 5-9 hari sebesar 18 (82%) dari 22 pasien kelompok siprofloksasin dan 12 (52%) dari 23 pasien kelompok trimetoprimsulfametoksazol (p = 0. diberikan oral dua kali sehari selama 7 hari) untuk terapi demam tifoid dengan kultur darah positif. Terapi untuk keenam pasien tersebut diganti dengan siprofloksasin dan pasien menjadi afebris serta gejala menghilang dalam 48 jam. yaitu penyembuhan klinis. sedangkan amikasin dipilih bila organisme diduga resisten terhadap gentamisin.21 (Level of evidence 1b) Allais (1998) melakukan uji klinis acak tersamar ganda yang bertujuan membandingkan siprofloksasin (250 mg. dan ditemukan bahwa semuanya merupakan anggota Enterobacteriae.01). Resistensi multi obat terhadap ampisilin.

01) Studi ini menyatakan bahwa sefiksim (sefalosporin generasi ketiga) merupakan terapi oral dosis tunggal yang efektif untuk terapi gonore di Filipina.0 ug/mL. Klasifikasi yang diajukan untuk pasien dengan bronkitis kronik ekaserbasi bakterial akut Klasifikasi bronkitis kronik eksaserbasi bakterial akut Ringan sampai sedang Status Klinis Bronkitis kronik sederhana Patogen Haemophilus influenzae Moraxella catarrhalis Streptococcus pneumoniae (kemungkinan resisten beta laktam) Sedang Bronkitis kronik terkomplikasi Haemophilus influenzae Moraxella catarrhalis Streptococcus pneumoniae (sering resisten thd beta laktam) Berat Infeksi bronkial kronik Pseudomonas aeruginosa Enterobacteriaceae Haemophilus influenzae Moraxella catarrhalis Streptococcus pneumoniae Sumber : Grossman RF.3. 417 pasien diberikan sefuroksim asetil oral dosis tunggal 100 mg. gonorrhoeae pada 24 (32. 72 (63%) dari 115 isolat memilki KHM siprofloksasin ≥1. Vol.5. Suppl 7A:p.25 (Level of evidence 1b) De los Reyes (2001) melakukan uji klinis acak terhadap 105 pekerja seks komersial di Manila dan Cebu untuk menilai sensitivitas gonokok terhadap siprofloksasin dan membandingkan efikasi siprofloksasin versus sefiksim oral untuk terapi gonore yang disebabkan strain resisten atau strain dengan penurunan sensitivitas terhadap siprofloksasin. Tan JS. didapatkan angka resistensi yang lebih besar dari penelitian sebelumnya. sedangkan 415 pasien lain diberikan siprofloksasin 500 mg oral dosis tunggal. Dari kultur yang dilakukan 28 hari pasca terapi. Rotschafer JC.24 (Level of evidence 1b) III. Studi yang dilaksanakan pada kurun waktu 1996-1997 ini merupakan kelanjutan dari studi serupa yang dilakukan pada Oktober 1994.8%) dari 26 subyek yang menerima sefiksim (p<. Hasil dari studi ini menyatakan bahwa terapi sefuroksim asetil oral dosis tunggal memberikan efektivitas yang sama dengan siprofloksasin oral dosis tunggal dalam eradikasi PPNG dari laki-laki maupun wanita dengan gonore tanpa komplikasi (uretral dan endoservikal). gonorrhoeae. Penyakit Menular Seksual Thorpe (1996) melakukan uji klinis acak tersamar untuk membandingkan efikasi sefuroksim asetil dengan siprofloksasin untuk terapi gonore tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Neiserria gonorrhoeae penghasil penisilinase (Penicillinaseproducing N. Infeksi Saluran Nafas Bawah Bronkitis Kronik Ekaserbasi Akut Pemilihan antimikroba haruslah ditujukan pada patogen yang paling mungkin Berikut ini merupakan patogen yang sering dijumpai pada bronkitis kronik ekaserbasi bakterial akut : Tabel 2. Pasien diacak untuk menerima siprofloksasin 500 mg oral dosis tunggal atau sefiksim 400 mg oral dosis tunggal. The American Journal of Medicine 2005. PPNG).5. baik secara klinis maupun bakteriologis. Hasilnya.26 (Level of evidence 1b) III.4. typhi resisten multi obat. dimana ditemukan penurunan sensitivitas atau resistensi siprofloksasin pada 42 (46%) dari 92 isolat gonokok.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 8/28 menyatakan bahwa azitromisin dan siprofloksasin sama efektif.0 ug/mL. termasuk di dalamnya 49% dengan MIC ≥4. Antimicrobial treatment of lower respiratory tract infections in the hospital setting.118.9 Pemilihan antibiotika untuk bronkitis kronik eksaserbasi akut dengan FEV1 < 35% ditujukan pada kuman yang sering ditemukan yaitu Pseudomonas aeruginosa .3%) dari 72 subyek di kelompok siprofloksasin dan 1 (3. Sebanyak 832 pasien dilibatkan dalam studi ini. untuk terapi demam tifoid yang disebabkan oleh organisme yang sensitif ataupun S. diperoleh isolat N.

31 IDSA (Infectious Diseases Society of America) 2003 merekomendasikan penggunaan siprofloksasin intravena dikombinasikan dengan antipseudomonal lainnya untuk pasien CAP yang dirawat di ICU yang diduga disebabkan oleh P. piperasilin-tazobaktam) Sumber : Guidelines for the management of adult lower respiratory tract infections.30 (Level of Evidence IV) Pneumonia Komunitas (Community Acquired Pneumonia. Staphylococcus aureus 9%. Streptococcus hemolyticus 7. 3) penyakit berat (FEV1 < 30%) dan 4) Riwayat isolasi P. Pneumonia komunitas adalah pneumonia yang didapat di masyarakat. Eur Respir J 2005. yaitu keadaan yang dapat meningkatkan risiko infeksi oleh mikroorganisme patogen yang spesifik.6:1138-80 Pasien dikatakan memiliki faktor risiko untuk Pseudomonas aeruginosa apabila didapati minimal dua dari faktor-faktor berikut : 1) riwayat dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu dekat.9 % bakteri gram negatif dan 19% diantaranya adalah Pseudomonas aeruginosa. karbapenem. 2) sering (lebih dari 4 kali dalam setahun) atau baru mendapat antibiotik (dalam 3 bulan terakhir). ceftazidime 83.8%. Enterobacter 5. sefepim. aeruginosa pada pasien.29 Guidelines dari European Respiratory Society (ERS) 2005 merekomendasikan pemilihan antibiotik pada bronkiektasis sebagai berikut : Tabel 3. 28 Di RS Persahabatan periode Januari – Juni 2005 didapatkan bahwa sensitivitas Pseudomonas sp dari sampel sputum terhadap siprofloksasin sebesar 81. Faktor risiko infeksi Pseudomonas meliputi bronkiektasis dan riwayat terapi antibiotik dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu dekat.89%. amikasin 86. Malang.76%. Pasien CAP yang dirawat di ICU dan memiliki faktor risiko infeksi pseudomonas .56%. 32 (Level of evidence IV) Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Pneumonia Komuniti yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2003) menyatakan bahwa dalam mengobati pasien pneumonia perlu diperhatikan ada tidaknya faktor modifikasi. (3) Pengobatan antibiotik spektrum luas >7 hari pada bulan terakhir. dan Pseudomonas spp 0. dan (4) Gizi kurang.21%. CAP) yang Dirawat di ICU Definisi.9%. Berdasarkan laporan 5 tahun terakhir dari beberapa pusat paru di Indonesia (Medan. European Respiratory Society (ERS) Task Force in Collaboration with ESCMID. Surabaya. Jakarta. Yang termasuk dalam faktor modifikasi untuk adalah Pseudomonas aeruginosa adalah : (1) Bronkiektasis.67%. (2) Pengobatan kortikosteroid >10 mg/hari. Pseudomonas aeruginosa 8. Siprofloksasin dan levofloksasin merupakan antimikroba yang efektif terhadap P. aeruginosa. Makassar) dengan cara pengambilan bahan dan metode pemeriksaan mikrobiologi yang berbeda didapatkan hasil pemeriksaan sputum sebagai berikut: Klebsiella pneumoniae 45. cloacae. Rekomendasi antibiotik untuk ekaserbasi bronkiektasis Terapi oral Tanpa risiko Amoksisilin-klavulanat Pseudomonas Moksifloksasin Levofloksasin Terapi parenteral Amoksisilin-klavulanat Seftriakson Sefotaksim Moksiflokasin Levofloksasin Dengan risiko Siprofloksasin Siprofloksasin+β-laktam Pseudomonas antipseudomonal (seftazidim. Streptococcus pneumoniae 14. Streptococcus viridans 9.13%. aeruginosa sewaktu ekaserbasi atau ditemukan koloni P.04%.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 9/28 dan Enterobacteriaceae sp.26%. 27 Bronkiektasis Terinfeksi Ahmad Widiatmoko (2003) dalam tesisnya menyampaikan bahwa pada pemeriksaan sputum terhadap 50 penderita bronkiektasis eksaserbasi akut ditemukan 80. aeruginosa dan E.

atau tobramisin). yaitu: perubahan dalam target obat dan perubahan dalam penetrasi obat untuk mencapai target. pneumoniae. Untuk patogen MDR tanpa atau dengan patogen lain (S. Hasil evaluasi kesembuhan klinis adalah 71% pada siprofloksasin dan 79% pada imipenem. Inhibisi ini tampaknya terjadi oleh interaksi antara obat dengan kompleks yang terdiri dari DNA dan salah satu dari kedua enzim target: DNA gyrase dan topoisomerase IV. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi dengan siprofloksasin maupun imipenem memang efektif pada pasien pneumonia yang secara mikrobiologis terbukti menderita pneumonia dan secara klinis tergolong pneumonia berat yang memerlukan ventilasi mekanis. Enterobacter spp. mekanisme resistensi fluorokuinolon mencakup satu atau dua dari tiga kategori utama. mengacu pada ATS/IDSA 2004.31 (Level of evidence IV) Dalam penelitian Torres dkk (2005) terhadap 75 pasien pneumonia nosokomial berat yang membutuhkan ventilasi mekanis. Pedoman ini berlaku untuk semua derajat pasien dengan onset lanjut atau terdapat faktor risiko patogen MDR. Pada semua spesies.31 Panduan dari ATS (American Thoracic Society) / IDSA (Infectious Diseases Society of America) merekomendasikan siprofoksasin sebagai salah satu pilihan antibiotika untuk terapi empiris awal pneumonia nosokomial early onset tanpa faktor risiko patogen resisten multi obat dan onset lambat (atau terdapat faktor risiko untuk pathogen MDR). lama terapi 7 hari atau 3 hari bebas panas jika penyebabnya bukan P. gentamisin. Fluorokuinolon (dan kuinolon pertama) merupakan antimikroba yang unik karena secara langsung menghambat sintesis DNA. Proteus spp. HAP) onset lambat Definisi. H. K. Mekanisme Resistensi Siprofloksasin3 Siproflokasin merupakan generasi pertama golongan fluorokuinolon. seftazidim.34 (Level of evidence 1b) III. E. Serratia marcescens) diberikan terapi antibiotik kombinasi. pasien secara acak memperoleh siprofloksasin (800-1200 mg/hari) atau imipenem (2-4 g/hari). Enzim yang dapat mendegradasi atau memodifikasi kuinolon tidak ditemukan. Pneumonia nosokomial adalah pneumonia yang terjadi setelah 48 jam pasien dirawat di rumah sakit dan disingkirkan semua infeksi yang inkubasinya terjadi sebelum masuk rumah sakit. pneumoniae. 31 (Level of evidence IV) Pneumonia Nosokomial (Hospital Acquired Pneumonia. imipenem) atau βlaktam/penghambat β-laktamase (piperasilin-tasobaktam) ditambah fluorokuinolon antipseudomonal (siprofloksasin atau levofloksasin) atau aminoglikosida (amikasin. influenzae.33 Kelompok Kerja Pneumonia Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (2005) menyusun pedoman pengobatan empiris pneumonia nosokomial. Berikut ini akan dibahas mekanisme resistensi fluorokuinolon secara umum. aeruginosa dan Enterobacteriaceae. .HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 10/28 diberikan terapi empiris yaitu sefalosporin anti pseudomonas IV atau karbapenem IV ditambah dengan fluorokuinolon anti pseudomonas (siprofloksasin) IV atau aminoglikosid IV. yaitu: sefalosporin antipseudomonal (sefepim. Keberhasilan klinis maupun bakteriologis tidak berbeda bermakna pada penggunaan siprofloksasin dibandingkan dengan imipenem. aureus sensitif metisilin. S. Siprofloksasin diberikan intravena dengan dosis 400 mg setiap 8 jam. coli. Hasil evaluasi bakteriologis adalah 49% pada siprofloksasin dan 50% pada imipenem. sefpirom) atau karbapenem antipseudomonal (meropenem. aeruginosa dan 14-21 hari jika disebabkan oleh P. 6.

Interaksi fluorokuinolon dengan kompleks baik DNA gyrase atau topoisomerase IV dengan DNA dapat menghambat sintesis DNA dan berakibat pada kematian sel. Pola mutasi ini pada enzim target yang berubah-ubah mengimplikasikan bahwa baik potensi intrinsik yang tinggi terhadap target primer maupun kesamaan potensi melawan kedua target akan mempengaruhi kemungkinan pemilihan mutan resisten pertama. Perbedaan pada Target dan Resistensi Fluorokuinolon. Gambaran struktural dari fluorokuinolon yang menentukan apakah ia akan dipengaruhi oleh sistem efluks masih belum dapat dijelaskan. Pada bakteri gram negatif. karena . Resistensi flurokuinolon pada bakteri gram negatif dikaitkan dengan reduksi porin dan penurunan akumulasi obat pada bakteri. Langkah pertama resistensi mutasi pada target obat biasanya terjadi melalui perubahan asam amino pada enzim target primer. yaitu tirosin yang terkait pada rantai DNA yang putus sewaktu enzim bekerja. tetapi berkorelasi dengan hidrofilisitas pada pompa NorA dari S. aureus. ekspresi komponen dari sistem efluks ini telah terkendali. Perubahan pada Penetrasi Obat Untuk mencapai target pada sitoplasma sel. tetapi pengukuran angka difusi menyatakan bahwa reduksi porin sendiri secara umum tidak cukup untuk mengakibatkan resistensi. Energi untuk proses ini didapat dari gradien proton yang melalui membran. yang secara umum terletak pada domain spesifik dari setiap tipe subunit. Perubahan ini terjadi akibat mutasi spontan dari gen yang mengkode subunit enzim sehingga dapat dapat terjadi dalam jumlah kecil (1 dalam 106 sampai 1 dalam 109 sel) di populasi bakteri yang besar. Resistensi disebabkan oleh mutasi kromosom yang mengakibatkan peningkatan ekspresi komponen pompa. Pseudomonas aeruginosa.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 11/28 A. Penemuan yang lebih baru menyatakan bahwa resistensi yang diisebabkan oleh pengurangan akumulasi membutuhkan adanya suatu sistem efluks endogen yang secara aktif memompa obat dari sitoplasma. Pompa ini ditemukan pada banyak bakteri. Derajat resistensi yang lebih tinggi dapat terjadi melalui langkah mutasi kedua. dimana perubahan asam amino terjadi pada enzim target sekunder. Dengan subunit GyrA dan ParC dari bakteri resisten. didasarkan pada struktur fragmen GyrA yang telah dipecah. Potensi antibakteri dari kuinolon didefinisikan sebagai potensi dalam berikatan dengan dua target enzim. sistem ini secara khas memiliki tiga komponen: pompa efluks yang berlokasi di membran sitoplasma. Escherichia coli. B. Sistem efluks ini secara khas mampu menyebabkan resistensi terhadap gabungan dari berbagai jenis struktur sehingga dikenal dengan istilah pompa multi drug resistance (MDR pumps). Molekul fluorokuinolon cukup kecil dan memiliki karakterisitik yang memungkinkan untuk melewati membran luar melalui protein porin. Perubahan asam amino yang mengakibatkan resistensi terkelompok dalam tiga dimensi. protein membran luar dan protein fusi membran yang menyatukan keduanya. Mutasi lebih lanjut mengakibatkan tambahan perubahan asam amino di salah satu enzim. Di antara bakteri patogen. Risiko terjadinya resistensi lebih kecil pada kuinolon yang merupakan substrat lemah bagi pompa efluks. Obat ini secara aktif dikeluarkan dari sitoplasma atau membran sitoplasma melewati periplasma dan membran luar ke lingkungan luar sel. fluorokuinolon harus melewati membran sitoplasma dan juga membran luar pada bakteri gram negatif. Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae merupakan yang paling banyak dipelajari dalam hal sistem efluks yang menyebabkan resistensi fluorokuinolon. Banyak fluorokuinolon memiliki potensi berbeda dalam mengikat DNA gyrase dan topoisomerase IV. Perubahan pada enzim target Kebanyakan studi mempelajari perubahan pada enzim target. dengan peningkatan KHM pada sel yang ditentukan oleh efek mutasi atau oleh derajat sensitivitas intrinsik dari target obat sekunder. perubahan asam amino secara umum terlokalisasi pada regio amino terminal yang mengandung tempat aktif. Pada beberapa kasus.

III.p Sumber : Laporan Hasil Uji Resistensi Bakteri terhadap Berbagai Antibiotika tahun 2004. Baik mekanisme resistensi yang dapat ditransfer ini. Mekanisme Resistensi Lainnya Mekanisme dominan resistensi fluorokuinolon yang telah diidentifikasi adalah : 1) mutasi kromosom yang menyebabkan penurunan afinitas terhadap DNA gyrase dan topoisomerasi IV dan 2) ekspresi berlebih pompa MDR endogen.75 Juniastuti dkk. coli merupakan patogen penting penyebab infeksi saluran kemih.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 12/28 ekspresi berlebih dari pompa semacam itu tampaknya tidak efektif sebagai mekanisme resistensi.7.c a S . melakukan penelitian terhadap isolat dari urin porsi tengah atau urin kateter di RSU Dr. coli terhadap siprofloksasin hanya sebesar 27%.c ol i eu m in o ira er og ta rr er ug pn P . saat ini mulai berkembang resistensi bakteri gram negatif yang dahulu dapat diatasi dengan baik oleh siprofloksasin.6%.74 Studi AMRIN (Antimicrobial Resistance In Indonesia: Prevalence and Prevention) yang dilakukan di Semarang dan Surabaya pada kurun waktu September 2000 – September 2002 melaporkan data E.t ss yp h h i . maupun prevalensi dari resistensi fluorokuinolon yang diperantarai plasmid tidak diketahui. coli di laboratorium. Pernah dilaporkan resistensi fluorokuinolon yang diperantarai plasmid pada isolat klinis Klebsiella pneumoniae. coli yang dikultur dari urin menunjukkan sensitivitas E. Pola Resistensi Kuman terhadap Siprofloksasin A.a ss m on ne u K .m ia e E . coli resisten terhadap siprofloksasin sebagai berikut :35 K . coli terhadap siprofloksasin sebesar 44.p ne u m on ia e M .a P . di Laboratorium Klinik Mikrobiologi FKUI Pseudomonas aeruginosa Data dari hasil uji resistensi bakteri terhadap berbagai antibiotika tahun 2004 di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI menunujukkan sensitivitas Pseudomonas aeruginosa terhadap siprofloksasin sebesar 62%. Data RS Sanglah tahun 2004 mengenai sensitivitas E. Berikut ini merupakan pola sensitivitas bakteri gram negatif terhadap siprofloksasin di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI tahun 2004.10 Gambar 1. 10 Escherichia coli E. yang dapat ditransfer pada E. Resistensi Bakteri Gram Negatif terhadap Siprofloksasin Akibat penggunaan yang irasional. Soetomo dan mendapatkan sensitivitas E. Pola sensitivitas bakteri gram negatif terhadap siprofloksasin di Laboratorium Klinik Mikrobiologi FKUI tahun 2004 120 100 80 60 40 20 73 55 62 56 62 78 92 100 sa s oz ae bi li s al is 0 on ia e na e en e E .

Pola sensitivitas bakteri gram positif terhadap siprofloksasin di Laboratoium Klinik Mikrobiologi FKUI tahun 2004 10 0 9 0 8 0 7 0 6 0 5 0 4 0 3 0 2 0 1 0 B h te ro A id ) S E ) A ) S A (M S S E 8 7 7 6 79 63 5 7 55 3 4 26 3 6 u ia (M S S ro ro m o n (M R ip (M R G G (d e m m u u s sp s s s n e u e u re u -h a re m e ta -h a a p u u ta S . di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI C o ry n e S . gonorrhoeae terhadap siprofloksasin sebesar 42%. gonorrhoeae resisten fluorokuinolon telah dilaporkan mulai tahun 1990 di Timur Jauh. coli resisten siprofloksasin di Surabaya dan Semarang 30 25 20 15 10 5 0 grup I grup II grup III grup IV Sumber : Data AMRIN.a S . February 2003 Neisseria gonorrhoeae Gonore merupakan penyakit menular seksual dengan insidens tertinggi di Indonesia. Komplikasi gonore dapat menimbulkan kebutaan pada anak-anak dan kemandulan pada wanita. u lb lb a a lp h a -h u 0 p e m ) ) p e . E. S .HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 13/28 Tabel 4 .8 B. Sensitivitas Bakteri Gram Positif terhadap Siprofloksasin Berikut ini adalah pola sensitivitas bakteri gram positif terhadap siprofloksasin di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI tahun 2004. From First to Second Phase. Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada bulan Oktober 1997 melaporkan kasus isolat N. uretra (10) dan serviks (24) terhadap beberapa antibiotik yang sering digunakan untuk gonore. sedangkan di Amerika telah dilaporkan secara sporadis. Didapatkan bahwa resistensi N. Strain N. S . Pemakaian antibiotik secara tidak rasional telah mendukung timbulnya resistensi N. b v ir id ri a n s. Sumber : Laporan Hasil Uji Resistensi Bakteri terhadap Berbagai Antibiotika tahun 2004. gonorrhoeae yang diambil dari swab mata (13). gonorrhoeae. Budayanti melakukan uji sensitivitas pada 47 isolat N.a S . ct e e b b S . Gambar 3. gonorrhoeae dari 2 pasien yang resisten terhadap siprofloksasin dan ofloksasin.36 Siprofloksasin dan ofloksasin merupakan antimikroba yang direkomendasikan untuk terapi infeksi gonorrhoea tanpa komplikasi. a S .

0 28 2 1.2 34 0. Analisis korelasi univariat dilakukan terhadap efikasi sebagai variabel dependen dan keempat indeks tersebut sebagai variabel independen sesuai dengan model farmakokinetik-farmakodinamik model linear dan non-linear. Namun parameter efikasi spesifik yang menentukan hasil akan bergantung pada keadaan klinis dan model korelasi yang digunakan. aeruginosa.52 4.56 6 Gatifloksasin 400 4. Fluorokuinolon Dosis (mg) Vol 9.9 8 Levofloksasin 500 5. et al menyatakan bahwa AUC/MIC harus melebihi 100 untuk gram positif dan gram negatif untuk mencegah resistensi. aeruginosa. parameter tersebut mungkin tidak bermanfaat dalam memprediksi kemungkinan terjadinya resistensi.25 18 192 8 0. Pada setiap kasus dihitung Cmaxss/MIC. pneumoniae dan P.25 Sumber : Scheld WM. Hasil terbaik Cmax/MIC dan AUIC dicapai oleh siprofloksasin terhadap P.1.5 48 0.4 68 8 . No.5 14 4 0. hubungan indeks-efikasi harus ditentukan untuk setiap keadaan klinis dan menggunakan strategi korelasi yang berbeda. Tss > MIC. Parameter Farmakokinetik Prediktor Efikasi dan Farmakodinamik Fluorokuinolon sebagai Dosis dan interval pemberian dosis dari suatu antimikroba harus didesain dengan mengacu pada parameter farmakodinamik dan farmakokinetik. Thomas.36 3 Moksifloksasin 400 4. 1 Tabel 2. Untuk antibiotik beta laktam. (AUCss)/MIC dan AUICss dari kurva level plasma yang berhubungan dengan rejimen dosis yang diberikan. 37 Walaupun fluorokuinolon merupakan agen bakterisidal yang bergantung pada konsentrasi. Mantaining Fluoroquinolon Class Efficacy: Review of Influencing Factors. Namun untuk golongan kuinolon. sedangkan terhadap S. Oleh karena itu. levofloksasin dan gatifloksasin dapat dilihat pada tabel 2.5 8. Beberapa studi memperlihatkan bahwa rasio antara Cmax/MIC merupakan prediktor yang baik terhadap aktivitas antibakterial dari golongan aminoglikosid.37 Sanchez-Recio (2000) melakukan analisis retrospektif terhadap hubungan antara indeks farmakokinetik/farmakodinamik dan efikasi siprofloksasin dengan menggunakan model korelasi yang berbeda. masih belum ada persetujuan mengenai prediktor terbaik untuk efikasi. Rasio farmakokinetik/farmakodinamik merupakan prediktor yang sangat bermanfaat bagi potensi efikasi suatu antibakteri. yang berhubungan dengan S. Hasilnya menyatakan bahwa Tss > MIC dan AUICss merupakan parameter terbaik yang berkorelasi dengan persentase dari efikasi.7 48 16 0. January 2003 Walaupun AUC/MIC dan rasio Cmax/MIC berguna untuk memperkirakan efikasi antimikrobial. Perbandingan parameter farmakokinetik dan farmakodinamik terhadap Streptokokus pneumoniae dan Pseudomonas aeruginosa Streptokokus pneumoniae Pseudomonas aeruginosa Cmax AUC24 MIC Cmax:MIC AUIC MIC Cmax:MIC AUIC (mg/L (mg x ) h/L) Siprofloksasin 500 3. untuk siprofloksasin.8 16 4 0.8. lamanya konsentrasi serum melebihi MIC (T>MIC) merupakan indeks yang paling relevan yang mempengaruhi aktivitas bakterisidal. pneumoniae hasil terbaik dicapai oleh moksifloksasin. terdapat perbedaan dalam aktivitas antibakteri di antara anggota-anggota golongan ini. Parameter efikasi ini.7 48 1 5.1 . Emerging Infectious Disease.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 14/28 III.75 7 750 3.6 32 2 1. Indeks tersebut merupakan prediktor untuk hasil yang baik.

Infeksi Akut Saluran Nafas Atas Siprofloksasin merupakan fluorokuinolon pertama yang digunakan secara ekstensif untuk mengatasi infeksi respiratorik yang diperoleh dari komunitas. durasi pemberian telah mengakibatkan resistensi berbagai bakteri terhadap siprofloksasin. Pada penderita berusia lebih dari 18 tahun dapat dipilih siprofloksasin atau ofloksasin. Siprofloksasin menunjukkan potensi yang lemah melawan Streptococcus pneumoniae. eritromisin.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 15/28 BAB IV HASIL DAN DISKUSI IV.40 . memiliki efikasi klinis dan keamanan yang baik serta dosis dua kali sehari yang meningkatkan kepatuhan pasien. pneumoniae. atau kloramfenikol. dosis. terutama di saluran nafas. Keadaan dimana Siprofloksasin Bukan Merupakan Pilihan Utama Penggunaan siprofloksasin yang tidak tepat. penggunaan siprofloksasin untuk mengobati infeksi saluran nafas atas akut merupakan suatu penggunaan yang salah dan berdampak memicu resistensi siprofloksasin.38 Siprofloksasin terutama efektif terhadap bakteri gram negatif. Dilaporkan bahwa sensitivitas P. baik dalam hal indikasi. Selain dari aktivitas yang sangat baik terhadap patogen respiratorik tipikal seperti Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. sedangkan penggunaan siprofloksasin untuk bakteri gram positif amat terbatas.1%. yaitu Pseudomonas aeruginosa yang tidak sensitif terhadap antibiotik “klasik” seperti penisillin G. amoksisilin.1. meningitis dan artritis. maka pemilihan antibiotik sebaiknya melihat keadaan kasus per kasus. Berikut ini merupakan keadaan-keadaan dimana siprofloksasin tidak dianjurkan sama sekali ataupun tidak dianjurkan sebagai terapi lini pertama : IV. Pada beberapa kasus juga dilaporkan bahwa penggunaan siprofloksasin untuk mengobati infeksi gram negatif diikuti oleh superinfeksi dengan S.1. siprofloksasin juga menunjukkan penetrasi yang tinggi ke dalam jaringan paru dan cairan tubuh. dan selanjutnya terjadi komplikasi mengancam nyawa. Didapatkan bahwa kuman aerob yang terbanyak ditemukan adalah Pseudomonas aeruginosa. Telah terjadi gangguan vaskularisasi di telinga tengah sehingga antibiotik secara sistemik sukar mencapai sasaran dengan optimal.39 Mengingat bahwa patogen pada OMSK adalah terutama gram negatif.7 Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) Pada OMSK telah terjadi banyak perubahan-perubahan yang menetap sehingga resolusi spontan sangat sulit terjadi. baik pada orang dewasa atau anak. dapat dipakai campuran trimetoprim+sulfametoksazol atau amoksisilin+klavulanat. Bila diduga ada kuman anaerob dapat dipilih metronidazol. klindamisin. Bila sukar menentukan kuman penyebab. diikuti dengan Stafilokokus aureus pada OMSK benigna dan Proteus sp pada OMSK maligna. Yusra (2004) melakukan penelitian gambaran jenis kuman dan kepekaan antibiotik terhadap otitis media supuratif kronik tipe benigna dan maligna. tetrasiklin dan kloramfenikol. Obat tetes dapat dipakai sebagai obat tunggal lini pertama.1. aeruginosa terhadap siprofloksasin mencapai 93. yang merupakan patogen penting pada infeksi respiratorik komunitas Oleh karena itu. pilihan utama adalah ofloksasin.38 Pada banyak kasus telah dilaporkan terjadi kegagalan siprofloksasin yang diberikan sebagai terapi infeksi pneumokok. Komplikasi yang timbul selama terapi siprofloksasin mencakup bakteremia pneumokok.

Fluorokuinolon yang berperan penting adalah levofloksasin dan ofloksasin. Penisilin tetap merupakan obat pilihan untuk mengobati tonsilofaringitis bakterialis. pneumoniae berkisar 25-30.17. Berning (1995) melakukan studi kohort retrospektif terhadap 103 pasien yang diberikan pengobatan ofloksasin atau siprofloksasin.41 (Level of evidence IV) Penelitian yang dilakukan oleh Nash dan Wald mendapatkan bahwa S.pneumonia merupakan kuman terbanyak pada sinusitis pada semua usia. klindamisin) dapat juga digunakan untuk rinosinusitis.46.42 Siprofloksasin memiliki aktivitas yang sangat baik melawan H. dengan persentase 30-40% isolat. siprofloksasin dapat digunakan sebagai antibiotik alternatif bila tidak ada perbaikan dengan antibotik lini pertama. sedangkan insidens relaps ditemukan lebih tinggi (RR 7. khususnya bila disebabkan oleh Streptokokus grup A. MDR-TB) Dewasa ini. sedangkan alternatifnya adalah eritromisin dan klindamisin. menyatakan bahwa siprofloksasin dan ofloksasin dapat ditolerir sebaik obat anti tuberkulosis lini kedua lainnya. influenzae dan M.45 (Level of evidence IV) IV.2. TB Resisten Multi Obat (Multi Drug Resistant Tuberculosis. Untuk sinusitis kronik. terutama berkaitan dengan makin meningkatnya insidens infeksi HIV. Sedangkan untuk tonsilofaringitis bakterial.50 (Level of evidence IIb) Profilaksis.33-38. (Level of evidence IV) 49 Efek Simpang. dimana target rasio AUC-MIC fluorokuinolon terhadap S.58). Kegagalan terapi setelah 12 bulan ditemui pada 3 studi. Antibiotik tidak perlu diberikan pada anak dengan tonsilofaringitis bila kuman Streptokokus grup A tidak didapatkan atau tidak sesuai dengan kriteria klinik untuk infeksi bakterial. Joint Tuberculosis Committee of the British Toracic Society merekomendasikan kemoprofilaksis siprofloksasin / ofloksasin dan pirazinamid untuk . diikuti oleh H.47 Guidelines Penatalaksanaan MDR–TB dari WHO 2004 menyatakan bahwa siprofloksasin di samping fluorokuinolon lainnya merupakan lini kedua pada pengobatan MDR-TB yang diberikan bersama-sama dengan OAT lini pertama yang masih sensitif. interval kepercayaan 1. kuman penyebab sebagian besar gram positif.1.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 16/28 Rinosinusitis Siprofloksasin tidak diindikasikan sebagai terapi lini pertama.44 Pedoman dari Bagian THT FKUI-RSCM menyatakan bahwa lini pertama adalah penisilin.43 (Level of evidence IV) Infeksi Tenggorok Sebagian besar penyebab tonsilofaringitis adalah bukan bakteri. Tuberkulosis resisten multi obat didefinisikan sebagai resistensi terhadap rifampisin dan isoniazid dengan atau tanpa resistensi terhadap obat anti tuberkulosis (OAT) yang lain. Review ini dilakukan terhadap 5 studi yang membandingkan siprofloksasin atau ofloksasin sebagai substitusi untuk terapi lini pertama obat anti tuberkulosa dan menyatakan bahwa fluorokuinolon tidak memiliki efek terhadap penyembuhan (konversi kultur sputum pada minggu ke-8). Siprofloksasin dikombinasi dengan terapi untuk gram positif (misalnya. pneumoniae hanya 10-20. catarrhalis. namun rasio AUC-MIC untuk S.48 (Level of evidence IV) Review dari Ziganshina (2005) mengenai penggunaan fluorokuinolon untuk terapi tuberkulosis menyatakan bahwa peran fluorokuinolon untuk terapi tuberkulosis masih kontroversial. catarrhalis masing-masing 20 % kasus.34 Terapi harus dimulai dengan lima atau lebih obat yang mana organismenya sensitif atau mungkin sensitif 35 dan diteruskan sampai kultur sputum menjadi negatif. maka pemberian antibiotik secara empirik seharusnya tidak dilakukan. insidens TB resisten multi obat makin meningkat. influenza dan M.

3. namun sembuh tanpa terapi dan bukan indikator toksisitas skeletal kuinolon. 2x/hari.55 Studi kohort dari Chalumeau pada 525 pasien (276 pasien mendapat fluorokuinolon dan 249 pasien sebagai grup kontrol) yang bertujuan mengevaluasi keamanan fluorokuinolon pada pasien anak. Keberhasilan klinis pada kelompok siprofloksasin adalah 24 dari 31 (77%) dan pada kelompok intravena adalah 22 dari 28 (79%). Kuinolon oral merupakan terapi yang lebih mudah bagi pasien dibandingkan antibiotik parenteral tradiosional untuk terapi osteomielitis S. sedangkan kelompok lain menerima sefalosporin spektrum luas atau kombinasi nafsilin-aminoglikosid intravena.1. Penulis menyatakan bahwa tidak ada bukti toksisitas sendi pada kedua grup.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 17/28 pasien yang terinfeksi / dicurigai terinfeksi MDR-TB. Kelompok pertama menerima siprofloksasin 750 mg. Penggunaan Siprofloksasin pada Anak Penggunaan fluorokuinolon pada anak telah dianggap merupakan kontraindikasi selama ini dikarenakan toksisitas pada kartilago. hal ini terlihat pada sendi penahan beban pada hewan eksperimen muda. dalam kombinasi dengan pembersihan luka adekuat. Studi ini menyatakan bahwa fluorokuinolon oral merupakan terapi yang efektif dan aman bila diberikan dalam durasi panjang untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif maupun gram negatif yang sensitif. Namun.53 (Level of evidence 1b) Studi-studi yang mendukung penggunaan siprofloksasin pada infeksi jaringan lunak dan tulang di atas berskala kecil dan belum cukup banyak.1. aureus dan memberikan alternatif bagi pasien dengan osteomielitis yang disebabkan bakteri gram positif yang sensitif terhadap kuinolon. levofloksasin dan siprofloksasin) pada 27 pasien dengan osteomielitis kronik.4.58 Terlepas dari tidak adanya persetujuan resmi. sehingga tidak cukup kuat sebagai dasar untuk merekomendasikan penggunaan siprofloksasin untuk infeksi jaringan lunak dan tulang. dibandingkan dengan 5 (47%) anak dari 106 anggota kelompok seftriakson.57 Studi prospektif. terapi parenteral bermanfaat untuk osteomielitis yang disebabkan oleh mikroorganisme yang resisten terhadap siprofloksasin dan bagi pasien yang tidak dapat mentolerir terapi oral yang lama. seftriakson pada anak dengan diare invasif akut mendapatkan bahwa dari 221 pasien. menyatakan bahwa angka efek simpang pada grup fluorokuinolon lebih tinggi daripada grup kontrol. fluorokuinolon telah digunakan secara luas pada anak sebagai antibotik lini kedua. apabila pola sensitivitas obat tidak diketahui. sebanyak 8 (8%) dari 95 anak yang menerima siprofloksasin mengalami efek simpang.56 Schaad melakukan uji klinis acak terkontrol untuk menilai efikasi dan keamanaan siprofloksasin oral sebagai terapi rumatan antipseudomonas pada 44 pasien fibrosis kistik dan mendapatkan dua pasien mengeluh nyeri sendi. Studi ini menyatakan bahwa siprofloksasin oral memiliki efektivitas dan keamanan yang sama dengan antibiotik parenteral untuk osteomielitis kronis yang disebabkan oleh organisme yang sensitif. Infeksi Jaringan Lunak dan Tulang Gentry (1990) melakukan uji klinis acak tersamar untuk membandingkan siprofloksasin oral dengan terapi parenteral standar untuk osteomielitis yang disebabkan oleh organisme yang sensitif. tersamar ganda dari Leibovitz yang menilai penggunaan siprofloksasin vs. IV.54.51 (Level of evidence IIIb) IV. acak.52 (Level of evidence 1b) Greenberg (2000) melakukan uji klinis acak tidak tersamar untuk membandingkan efikasi dan keamanan tiga fluorokuinolon oral (lomefloksasin. Golongan fluorokuinolon yang .

Tidak ditemukan efek simpang. Studi ini mendukung penggunaan fluorokuinolon jangka pendek untuk tifoid anak.67 Chalumeau mendukung pernyataan dari American Academy of Pediatrics (AAP) yang membatasi penggunaan fluorokuinolon pada pasien anak sebagai terapi lini kedua.1. 59 IV. yaitu: (1) pasien fibrosis kistik yang rentan terhadap infeksi respiratorik yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa. dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan interspesies yang signifikan dalam hal insidens dan keparahan toksisitas sendi yang disebabkan oleh kuinolon.A. sedangkan grup 2 (125 pasien) menerima suspensi siprofloksasin selama 5 hari. kecepatan tumbuh sama pada ketiga kelompok.60 Bethell (1996) melakukan studi kohort prospektif pada 326 anak Vietnam berusia 1 – 14 tahun. selain dari 2 anak yang mengalami ataksia / lumpuh sementara atau bingung namun tidak mengalami gejala sisa permanen.B. (4) pasien dengan infeksi salmonella. Kelompok studi diare di Zimbabwe.59 Melihat bervariasinya data klinik. khususnya yang disebabkan oleh strain resisten antibiotik lain. yaitu sekitar 0.61 IV.4.55 (Level of evidence 3a) Studi serupa dari Dutta (1993) pada 18 anak dengan demam tifoid berat yang diterapi siprofloksasin intravena 10 mg/kg juga menyatakan bahwa siprofloksasin merupakan obat yang dapat digunakan pada anak dengan infeksi tifoid berat dan bakteri multi resisten.4.1. Setelah dua tahun.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 18/28 paling sering digunakan adalah siprofloksasin.1% pada dewasa dan 2-3% pada anak-anak. Shigella dysentriae tipe 1 (Sd1) merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang serius. dan (5) pasien dengan infeksi bakterial berat yang tidak berespons terhadap antibiotik awal. Kecepatan tumbuh (growth velocity) untuk berat dan tinggi badan dibandingkan dengan grup kontrol sesuai umur yang tidak mengalami demam tifoid ataupun menerima fluorokuinolon. paratyphi A yang diberi siprofloksasin menyatakan bahwa siprofloksasin merupakan terapi yang efektif dan dapat ditolerir pada anak. (2) pasien imunokompromis baik disebabkan oleh kemoterapi keganasan atau pencegahan penolakan allograft setelah transplantasi.10 Studi kohort retrospektif dari Thomsen dan Paerregaard (1998) terhadap 21 anak dengan kultur tinja terhadap S. diikuti plasebo selama 2 hari. dan semua kultur tinja pada akhir pengobatan menunjukkan hasil negatif. (3) pasien dengan anomali genitourinarius kompleks sehingga rentan terhadap infeksi saluran kemih berkomplikasi. Typhi masih sensitif terhadap siprofloksasin. Grup 1 (128 pasien) menerima suspensi siprofloksasin oral 15 mg/kg setiap 12 jam selam 3 hari. Data hasil uji resistensi bakteri di Laboratorium Mikrobiologi Klinik FKUI tahun 2004 menunjukkan bahwa100% S.56 Review dari Grady menyatakan bahwa beberapa kondisi pediatri tertentu merupakan salah satu indikasi antibiotik golongan kuinolon. pada situasi tertentu. Bangladesh. Afrika Selatan melakukan uji klinis acak tersamar ganda yang bertujuan membandingkan efikasi dan keamanan antara pemberikan siprofloksasin jangka pendek (3 hari ) dengan durasi pemberian standar (5 hari) terhadap 253 anak usia 1. typhi dan S. Beberapa artikel menyatakan frekuensi efek samping pada sendi bervariasi sesuai umur. Tidak ada subyek yang mengalami kekambuhan baik klinis maupun mikrobiologis. Keberhasilan terapi didefinisikan sebagai resolusi . Pemantauan dilakukan selama 2 tahun setelah menerima siprofloksasin atau ofloksasin. Demam Tifoid Siprofloksasin masih merupakan salah satu pilihan antibiotik untuk demam tifoid. Disentri shigella Shigella merupakan salah satu penyebab penting diare akut di negara berkembang dan merupakan penyebab disentri paling penting.12 tahun dengan disentri.

namun semua pasien memiliki fungsi sendi yang normal saat difollow-up. Respons klinis dinilai pada hari yang sama.1. namun penggunaannya pada anak belum disetujui secara resmi.4. Studi ini menyatakan bahwa siprofloksasin dua kali sehari selama 3 hari menghasilkan angka kesembuhan klinis setara dengan dosis sama yang diberikan selama 5 hari untuk anak dengan disentri Sd1.58 (Level of evidence 1b) Efektivitas siprofloksasin untuk Shigella spp. Semua pasien mengalami kesembuhan bakteriologis dan semua isolat Sd1 sensitif terhadap siprofloksasin. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa siprofloksasin oral memiliki keamanan dan efektivitas yang sama dengan seftriakson intramuskular untuk terapi empiris diare akut invasif pada pasien anak yang datang ke ruang gawat darurat. Sebanyak 21 pasien menerima siprofloksasin (Grup 1) sedangkan 23 menerima siprofloksasin dan amikasin inhalasi (Grup 2). diberikan suspensi siprofloksasin (10 mg/kg. pada saat obat dihentikan dan 2 minggu kemudian. 4 sampai 5 dan 21 +/. Dari kultur tinja didapatkan bahwa 100% Shigella sensitif terhadap siprofloksasin. Siprofloksasin memberi keuntungan karena tersedia dalam sediaan oral. 2 kali per hari + plasebo intramuskular) pada 95 anak serta seftriakson (50 mg/kg/hari + suspensi plasebo) pada 106 anak selama 3 hari. Hasil dari studi ini menyatakan bahwa siprofloksasin merupakan terapi antipseudomonas rumatan yang efektif. Kesembuhan bakteriologis didefinisikan sebagai kegagalan tumbuhnya Sd1 pada sampel tinja yang diambil pada hari ke-6.62 (Level of evidence 1b) Leibovitz (2000) melakukan uji klinis acak terkontrol yang bertujuan menilai efikasi dan keamanan suspensi siprofloksasin untuk terapi diare akut invasif pada bayi dan anak. aman dan dapat ditoleransi sebagai terapi antipseudomonas rumatan pada pasien fibrosis kistik. Sebanyak 28 pasien adalah anak berumur kurang dari 15 tahun. Pemeriksaan sendi dilakukan pada awal penelitian. tanpa perbedaan antara kedua kelompok.C. Campylobacter spp. Tidak didapatkan efek simpang serius. Juga didukung oleh studi dari Dwipoerwantoro yang melibatkan 50 anak usia 1-12 tahun dengan diagnosis disentri atau sindrom mirip disentri di empat rumah sakit di Jakarta. 59 (Level of evidence IIa) IV. sedangkan angka resistensi tinggi ditemukan pada ampisillin (82%). dan E. 64 (Level of evidence 1b) . maupun tanda artropati terkait kuinolon dan gangguan pertumbuhan. kotrimoksazol (84%) dan kloramfenikol (82%). Setelah dilakukan randomisasi tersamar ganda. Salmonela. Semua fluorokuinolon memiliki aktivitas in vitro yang sangat baik terhadap Shigella. Subyek adalah 210 anak berumur 6 bulan sampai 10 tahun yang datang ke ruang gawat darurat pediatrik dengan diare akut invasif. Pemeriksaan sendi sebelum dan sesudah terapi menunjukkan hasil normal pada semua pasien. Kultur tinja terhadap Shigella. Coli dilakukan pada hari ke-1. Hasilnya. Penyembuhan klinis atau perbaikan didapatkan pada 100% kelompok siprofloksasin dan 99% kelompok seftriakson. Sebanyak 8 pasien melaporkan artralgia.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 19/28 penyakit atau perbaikan bermakna pada hari ke-6. Tidak terjadi relaps bakteriologis selama studi dilakukan. Ditemukan bahwa eradikasi bakteriologik pada hari ke-4 sampai 5 adalah 99% untuk Shigella. angka keberhasilan sebesar 75% dan 69% untuk siprofloksasin jangka pendek dan durasi standar. Fibrosis Kistik Schaad (1997) melakukan uji klinis acak terhadap efikasi dan keamanan siprofloksasin oral sebagai terapi antipseudomonas rumatan pada 44 pasien dengan fibrosis kistik yang telah menyelesaikan 14 hari terapi intensif dengan seftazidim dan amikasin intravena. Studi ini mendukung penggunaan kuinolon pada anak dengan shigellosis berat.5. 77% untuk Salmonella dan 77% untuk Campylobacter. terutama bila terapi empiris non-kuinolon telah gagal dan uji sensitivitas antibiotik tidak memberikan alternatif yang jelas. 2.

68.58 Kedua enzim tersebut berperan pada metabolisme teofilin sehingga inhibisi kedua jalur metabolik tersebut akan mengakibatkan penurunan klirens teofilin dan berdampak pada peningkatan area di bawah kurva teoflilin. Oleh karena itu. Sukralfat mengakibatkan area di bawah kurva konsentrasi-waktu pada 0-12 jam menurun dari 8. dan muntah sehingga para dokter sering memberikan siprofloksasin bersama dengan antasid untuk meredakan keluhan-keluhan tersebut.2. Garrelts (1990) melakukan uji klinis untuk mengevaluasi efek sukralfat terhadap bioavailabilitas siprofloksasin pada 8 subyek sehat. klaritomisin. Bila diberikan bersama aluminium hidroksida. sehingga level maksimum serum dicapai dalam waktu yang lebih lambat dan konsentrasi serum yang dicapai pun menjadi lebih rendah secara bermakna.67 (Level of evidence IIa) Siprofloksasin menghambat enzim mikrosom hepar yaitu sitokrom P450IA2 (CYPIA2)77 dan makrolid seperti eritromisin dan klaritromisin menghambat CYPIIIA4. Sukralfat dapat menghambat aktivitas antimikrobial fluorokuinolon melalui ikatan kelasi. Interaksi Siprofloksasin dengan Sukralfat Sukralfat merupakan garam aluminium sakarosa oktasulfat.2 ug/ml (p<0. bioavailabilitas relatif sekitar 15%. (2) klaritromisin 1000 mg + teofilin 400 mg pada hari ke-6.8 menjadi 1. Penulis ini menyatakan bahwa variabilitas inter-individual dalam hal inhibisi metabolisme teofilin oleh siprofloksasin dapat disebabkan oleh perbedaan kadar ekspresi CYP1A2 dan/atau derajat inhibisi CYP1A2 dan CYP3A4 hepar.2.69 Gillum (1996) melakukan uji klinis desain menyilang empat periode pada 5 orang dewasa untuk membandingkan efek siprofloksasin. Bioavailabilitas Cipro bila diberikan bersama kalsium karbonat adalah sebesar 60% dari nilai kontrol.2.3. Pemberikan siprofloksasin bersama antasid dapat menurunkan bioavailabilitas siprofloksasin secara bermakna. yang dianggap cukup untuk menghilangkan efek residu. siprofloksasin dan sukralfat tidak boleh diberikan bersamaan. Interaksi Siprofloksasin dengan Obat Lain yang Berdampak Negatif IV. Interaksi Siprofloksasin dengan Teofilin Batty KT melakukan uji klinis untuk mengevaluasi mekanisme interaksi antara siprofloksasin dan teofilin pada sembilan subyek sehat.1.4 mg/kg pada 60 jam sebelum dan setelah pemberian siprofloksasin 500 mg 2x/hari. dan tablet aluminium hidroksida 600 mg diberikan 5 menit sebelum Cipro. Walaupun tidak ada periode washout di antara rejimen terapi. Rejimen terapi yang diberikan adalah sebagai berikut: (1) siprofloksasin 500 mg + teofilin 400 mg pada hari ke-6. Studi ini menyatakan bahwa antasid yang mengandung baik aluminium maupun kalsium tidak boleh diberikan bersama dengan Cipro. Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa pemberian sukralfat menurunkan konsentrasi serum secara bermakna. (3) siprofloksasin + klaritromisin + teofilin pada hari ke-6. yang memiliki efek protektif terhadap mukosa gastrointestinal.005). Subyek diberikan teofilin 3. empat tablet kalsium karbonat 850 mg diberikan 5 menit sebelum Cipro. Interaksi Siprofloksasin dengan Antasid Siprofloksasin sering menimbulkan gangguan gastrointestinal. siprofloksasin mengurangi klirens oral teofilin sebesar 19%. Namun. dan kombinasi dari kedua obat tersebut terhadap farmakokinetik teofilin. Siprofloksasin (Cipro) 750 mg oral diberikan kepada 12 pasien menggunakan desain cross-over acak tiga cara. Tiga terapi yang diberikan meliputi Cipro sendiri.65 (Level of evidence IIa) IV. terdapat jarak 1 minggu antara tiap dosis teofilin.0 menjadi 0.h/ml (p<0. efek ini dilaporkan kecil bila teofilin hanya diberikan bersama siprofloksasin. kembung.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 20/28 IV. menggunakan desain menyilang acak. Kadar teofilin dalam darah diperiksa pada 0 . seperti mual.2. Konsentrasi serum maksimum siprofloksasin juga menurun dari 2.2.66 IV. dan (4) teofilin dosis tunggal pada hari ke-6. Frost (1992) melakukan studi untuk membandingkan efek antasida aluminium klorida dan kalsium karbonat terhadap bioavailabilitas siprofloksasin.005). Hasilnya.1 ug.

norfloksasin. Terdapat korelasi positif pada 120 kombinasi dua obat. aerogenes tidak bermakna secara statistik dibandingkan dengan E. aeruginosa. dan A-56620). Pseudomonas aeruginosa (n = 1370). aeruginosa dengan menentukan konsentrasi hambat fraksional. sembilan betalaktam spektrum luas (seftazidim.0. imipenem dan aztreonam. Pada penelitian ini dievaluasi sensitivitas strain P. Sebanyak 90% strain sensitif terhadap siprofloksasin. Namun demikian. 4. piperasilin. tobramisin. Namun demikian. Antibiotika yang paling aktif adalah siprofloksasin. seftazidim. 0. Data-data yang didapat dari studi ini menunjukkan adanya hubungan yang bemakna secara statistik antara resistensi siprofloksasin dan resistensi terhadap obat-obat yang tidak berhubungan. area di bawah kurva konsentrasi-waktu untuk teofilin selama terapi kombinasi tidak berbeda dengan bila diberikan siprofloksasin saja. yaitu rasio KHM suatu antibiotika dalam kombinasi dibandingkan KHM antibiotika itu dalam keadaan tunggal. aztreonam. imipenem. dan amikasin). Selanjutnya pada penelitian ini disusun kombinasi dua antibiotika untuk kemudian dinilai efeknya terhadap pertumbuhan P. Terdapat perbedaan interspesies dalam hal resistensi siprofloksasin. Chow menyatakan bahwa untuk memastikan adanya suatu resistensi silang perlu diidentifikasi mekanisme timbulnya resistensi. 7% strain resisten terhadap siprofloksasin (KHM ≥2µg/mL). 0. piperasilin.50. difloksasin. 36.72 Radberg (1990) mengevaluasi 12 isolat klinis P. tetrasiklin. Resistensi Silang yang Diinduksi oleh Siprofloksasin Higgins (2002) melaporkan studi yang dilakukan untuk mengevaluasi apakah resistensi siprofloksasin pada patogen gram negatif merupakan penanda pengganti untuk resistensi silang terhadap fluorokuinolon lain. 8. aeruginosa dan P.70 (Level of evidence IIa) IV.0. Serratia marcescens (n = 207) dan Citrobacter freundii (n = 98) diisolasi dalam program surveilans antibiotik SENTRY. 71 Chow (1989) meneliti sensitivitas 270 isolat klinis P.0. tikarsilin. Hasil analisis dengan Spearman rank menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara antibiotika pada kelas yang sama (kuinolon. Siprofloksasin dapat digunakan bila pilihan terapi lain tidak memberikan hasil yang baik karena resistensi. makin besar kemungkinan resistensi silang ataupun sensitivitas silang. Hasilnya. menghasilkan data bahwa nilai KHM pada inokulat . piperasilin.0. Dipikirkan terdapat hubungan yang mengakibatkan resistensi silang antara satu antibiotika terhadap satu antibiotika yang lain dengan korelasi Spearman rank. Enterobacter cloacae (n = 495). sefuroksim dan seftazidim ditentukan dengan mikrodilusi kaldu sesuai dengan pedoman dari NCCLS.0. dan aztreonam). oleh karena itu terlihat bahwa level resistensi siprofloksasin lebih rendah pada kelompok yang sensitif terhadap siprofloksasin.4. sefsulodin. beta-laktam spektrum luas. gentamisin. Dalam penelitian tersebut mula-mula dilakukan inkubasi sejumlah inokulum dengan dan tanpa penambahan siprofloksasin atau imipenem. KHM pada setiap isolat dinilai. S-34343. karbenisilin. Proteus mirabilis (n = 379). 2.001). aeruginosa terhadap siprofloksasin.0.0 dan 46 jam. Makin tinggi nilai koefisien korelasi (r) antara KHM masing-masing antibiotika dalam suatu kombinasi. Resistensi siprofloksasin kemungkinan diikuti oleh resistensi multi obat. 12. sefoperazon. 1. siprofloksasin telah terbukti bertanggungjawab atas resistensi multi obat yang disebabkan oleh mutasi gen regulator efluks pada P. aeruginosa terhadap siprofloksasin dan tiga kuinolon lain (norfloksasin. lalu pada setiap inokulum tersebut dilakukan inkubasi dengan dan tanpa penambahan ½ KHM siprofloksasin atau imipenem.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 21/28 (dasar). Program surveilans antibiotik ini mencakup Escherichia coli (n = 3315). ofloksasin. Enterobacter aerogenes (n = 252). 6. misalnya resistensi gentamisin/siprofloksasin pada E. aeruginosa ATCC 27853. dan aminoglikosida) dan menunjukkan dugaan adanya resistensi silang. coli (p<0. 24. dan imipenem menggunakan metoda difusi lempeng.0. dan tiga aminoglikosida (gentamisin. tobramisin.25. Terhadap setiap inokulum yang telah diinkubasi ini dilakukan tes difusi lempeng yang telah mengandung setiap antibiotika yang hendak diperiksa. resistensi siprofloksasin dapat digunakan sebagai penanda pengganti yang umum untuk resistensi multi obat. KHM dan nilai ambang siprofloksasin.

Penemuan ini mengindikasikan bahwa penggunaan siprofloksasin secara luas dan tidak bijaksana merupakan risiko potensial timbulnya resistensi P. aeruginosa menunjukkan KHM imipenem meningkat 16 hingga 32 kali setelah penggunaan siprofloksasin dibandingkan nilai KHM pada awal percobaan.73 . Tiga strain P. aeruginosa tidak hanya terhadap kuinolon tetapi juga terhadap antimikroba lain yang tidak berkaitan.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 22/28 yang diinkubasi dengan ½ KHM siprofloksasin sebelumnya adalah 4 sampai 16 kali lebih besar daripada KHM pada inokulat yang diinkubasi tanpa antibiotika. yaitu imipenem.

Rinosinusitis Siprofloksasin tidak direkomendasikan sebagai terapi lini pertama. Siprofloksasin tidak efektif pada infeksi tenggorok (faringitis. Penggunaan siprofloksasin yang dianjurkan adalah untuk keadaan berikut : 1.1. Untuk sinusitis kronik. terutama yang disebabkan oleh PPNG (Penicillinase Producing-Neisseria gonorrhoeae). pilihan utama adalah ofloksasin. Otitis Media Supuratif Kronik Obat tetes dapat dipakai sebagai obat tunggal lini pertama. (Rekomendasi A) 2. (Rekomendasi A) 3. (Rekomendasi A) 4. yaitu gonore. Siprofloksasin tidak dianjurkan sebagai terapi lini pertama pada keadaan berikut : 1.1. terutama bila terapi empiris non-kuinolon telah gagal dan uji sensitivitas antibiotik tidak memberikan alternatif yang jelas. Infeksi Saluran Napas Atas A. Penyakit menular seksual. Siprofloksasin hanya dianjurkan untuk digunakan sebagai lini kedua. Disentri shigella Penggunaan kuinolon pada anak dengan shigellosis berat. 3.1. baik pada orang dewasa atau anak. Siprofloksasin sebagaimana fluorokuinolon lainnya merupakan lini kedua pada pengobatan tuberkulosis resisten multi obat. (Rekomendasi C) III.3 Pada anak dengan fibrosis kistik. yaitu : 3.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 23/28 BAB VI REKOMENDASI I. pada situasi dan penyakit tertentu dimana tidak ada obat pilihan lain yang lebih baik. (Rekomendasi A) 3. siprofloksasin dapat digunakan sebagai antibiotik alternatif bila tidak ada perbaikan dengan antibiotik lini pertama. Infeksi saluran cerna yang disebakan oleh Shigella dysentriae dan Salmonella typhi resisten multi obat. Demam tifoid resisten multiobat 3. tetapi juga dengan memperhitungkan tingkat kecepatan terjadinya resistensi pada kuman tertentu terhadap siprofloksasin. Infeksi saluran kemih dengan atau tanpa komplikasi.2.1. (Rekomendasi C) Pada pasien berusia lebih dari 18 tahun dapat dipilih siprofloksasin atau ofloksasin. Infeksi jaringan lunak dan tulang Bukti-bukti ilmiah yang mendukung efektivitas siprofloksasin pada infeksi jaringan lunak dan tulang masih belum cukup. (Rekomendasi C) B. (Rekomendasi C) 2. (Rekomendasi A) . (Rekomendasi B) 3. tonsilitis) (Rekomendasi C) II. Pemberiannya harus bersama dengan obat anti tuberkulosis lini pertama yang masih sensitif.2 Penggunaan siprofloksasin tidak hanya mempertimbangkan aspek efektivitas dan keamanannya. Anak 3. siprofloksasin merupakan pilihan pertama untuk terapi antipseudomonas rumatan yang efektif dan cukup aman.

Pneumonia nosokomial late onset (Rekomendasi C) 4. Pemberian siprofloksasin bersama dengan teofilin harus diwaspadai karena akan mengakibatkan konsentrasi teofilin dalam darah lebih tinggi. Siproflosasin jangan diberikan bersama dengan sukralfat karena akan menurunkan konsentrasi serum siprofloksasin secara bermakna.4. . (Rekomendasi A) 2.1. Terapi empiris pada infeksi saluran napas bawah yang diduga disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa : 4. Bila dengan pengobatan secara empiris tidak ada perbaikan/memburuk maka pengobatan disesuaikan dengan bakteri penyebab dan uji sensitivitas IV. Bronkitis kronik eksaserbasi akut derajat berat dengan FEV1 <50 (Rekomendasi C) 4. Bronkiektasis eksaserbasi akut (Rekomendasi C) 4.5.2. (Rekomendasi A) Saran : I. (Rekomendasi B) 3. Pneumonia komuniti yang dirawat di ICU yang penyebabnya diduga Pseudomonas aeruginosa. Partisipasi dunia peternakan untuk menggunakan siprofloksasin secara bijaksana sangat membantu untuk mencegah peningkatan resistensi bakteri zoonosis terhadap siprofloksasin. Interaksi siprofloksasin dengan obat lain yang menimbulkan dampak negatif 1. Siprofloksasin jangan diberikan bersama dengan antasid karena akan menurunkan konsentrasi serum siprofloksasin secara bermakna.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 24/28 4.3. Siprofloksasin harus diberikan pada dosis di atas Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) untuk mencegah timbulnya resistensi siprofloksasin. Faktor risiko infeksi Pseudomonas aeruginosa dapat dilihat pada halaman 13 (Rekomendasi C) 4. II.

rxlist . Soetomo General Hospital.1990 April. Balai Penerbit FKUI.2 % solution in a single-dose containers or combination of polimixin B. Jakarta. Gambaran Mikrobiologik Aerob Permukaan dan Bagian Dalam Tonsil dengan Peradangan Kronis. Tillotson GS. Sinusitis. 2005 16. 1995: 682-5 Ganiswara SG. Budayanti NS. Efficacy of ciprofloxacin and clarithromycin in acute bacterial exacerbations of complicated chronic bronchitis: interim analysis. Pola Kepekaan Isolat Neisseria gonorrhoeae di Laboratorium Mikrobiologi FK Unud. Roberts D. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of Antimicrobials in the Era of Alarming Resistance. DeBess EE. hydrocortison suspension. Morbidity and Mortality Weekly Report. (Hasil Penelitian) Program Pendidikan Dokter Spesialis Bidang Studi Ilmu Penyakit THT. Otolaryngology-Head &Neck Surgery. Eddy Mudihardi. Niederman MS. Basran GS. Yusra.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 25/28 BAB VII KEPUSTAKAAN 1. Reeves SD. 13.47. 12. Hendrick K. Nash D. BMJ 1994. Kuntaman. Bronchitis Study Group. 11.Suppl F:1924 31.20 Olsen SJ. 5. Fluoroquinolone Resistance. Esposito S. [Abstract] J Antimicrob Chemother 1990. susceptibility and treatment of acute bacterial exacerbations of complicated chronic bronchitis in the primary care setting: ciprofloxacin 750 mg BID versus clarithromycin 500 mg BID. May 29. Jakarta. Wald E. 2-3 July 2005. Vo. 1998. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of Antimicrobials in the Era of Alarming Resistance. 20(5): 885-900 33. 44: 425-427 Review terhadap SK Menkes mengenai Penurunan HNA obat generik Kepustakaan sedang dicari oleh dr. Purwanta M. 2. 6. No. Helmi.1. 1997. Karuniawati A. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2002. Tillotson GS. Disampaikan pada Kursus. 24. Jakarta.49: 807-812 22. 2004. 317: 1029-1030 Hooper DC. 45: 321-328 21. Will pneumococci put quinolones in their place? Journal of Antimicrobial Chemotherapy 1999. N Engl J Med 2001. A Nosocomial Outbreak of Fluoroquinolone-Resistant Salmonella Infection. Pediatrics in Review 2001.617-623. Vol. Zuniar. Bint AJ. D’Errico G. Abbas AM. 7. Bronchitis Study Group. Emerging Infectious Disease. Joseph J. No. [Free Papers]. McGivern TE. [Free Papers]. Farmakologi dan Terapi. Jakarta. Debora K. Miro. Emerging Infectious Disease. Comparison of Oral Ciprofloxacin and Amoxycillin in Treating Infective Exacerbations of Bronchiectasis in Hong Kong. Gambaran Jenis Kuman dan Kepekaan Antibiotik terhadap Otitis Media Supuratif Kronik tipe Benigna dan Tipe Maligna. Diagnosis dan Penatalaksanaan Otitis Media. Journal of Chemotherapy. [Abstract] Clinical Therapeutics 1997. Montanoro C.130(1) 19. Departemen Patologi Klinik. editor. Available at: www. Haverstock DC. Mantaining Fluoroquinolon Class Efficacy: Review of Influencing Factors. Niederman MS. 3. Oral Ciprofloxacin for treatment of acute bacterial pharyngotonsilitis. Dr. Hasil Uji Resistensi Bakteri terhadap Berbagai Antibiotika tahun 2004 di Laboratorium Klinik Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Multicenter comparative trial of ciprofloxacin versus cefuroxim axetil in the treatment of acute rhinosinusitis in a primary care setting. Makasar. Penatalaksanaan Baku Sinusitis. Laporan studi Antimicrobial Resistance in Indonesia (AMRIN) 25. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. No.22:111-7 28. Lesson of the Week: Dangers of Oral fluoroquinolon treatment in community acquired upper respiratory tract infections. 42(2): 150-6 . No. 4. MacGowan PA. Chan TH. 10. Hughes C. et al. 7. January 2004. Sprenger MJW. Sanchez-Recio MM. 8. 2006 R. Supplement to Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Edisi 4. 308: 191-192 Fluoroquinolone-Resistant Neisseria gonorrhoeae – San Diego. Disampaikan pada Simposium Satelit Penanganan Mutakhir Kasus Telinga Hidung Tenggorok. Etiology. January 2003 Piddock LJV. Anzueto A. Clinical Therapy. [Abstract] Clinical Therapeutics.344. Jakarta 2001 20. The Susceptibility Pattern of Urine Bacteria from the Surgery Departement at Sanglah Hospital. Treatment of acute exacerbations of chronic obstructive airways disease-a comparison of amoxycillin and ciprofloxacin. Surabaya. 21 Sudiro TM. Weis M. (Tesis). Husniah Korner JR. Emerging Mechanism of Fluoroquinolone Resistance. Antimicrobial Treatment Guidelines for Acute Bacterial Rhinosinusitis 2004. FDA Goossens H.com. Cited at July 21. et al. September-October 1998. Vol 9. 19(5): 989-1001 32. The Human Health Impact of Fluoroquinolone-Resistant Campylobacter. 317 654-657 Ciprofloxacin. Pelatihan dan Demo Bedah Sinus Endoskopik Fungsional. Bacterial Isolates causing UTI and the Resistance Patterns in Deptartement of Clinical Microbiology. Controlled multicenter study on chronic suppurative otitis media treated with topical application of ciprofloxacin 0. et al. A retrospective analysis of pharmacokinetic/pharmacodynamic indices as indicators of the clinical efficacy of ciprofloxacin. Setiabudy 15. Zhanel GG. Navarro AS. Tillotson G. Dalam: Jakarta. March-April 2001 Legg JM. Vol.20(5):921-32 29. 17. 10-12 Juni 2000 18. Chan RC. BMJ 1998. Anzueto A. 12 April 2003. BMJ 1998. 123(5). 2-3 July 2005 26. neomycin. Lai CK. Antimikroba Lain. 2-3 July 2005. Gravelle K. Cheung SW. Centers for Disease Control and Prevention. Juniastuti. California. Disampaikan pada Simposium Evidence Based Use of Antimicrobials in the Era of Alarming Resistance. Jakarta. 9. [Free Papers]. 23. 2. November 2000 27. Nurio MD. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2000. Tillotson GS. Soetjipto D. Waltky A. Colino CI. Scheld WM. Ida Sri Iswar. 14. 2(2):108-12) 30. 1998. Pharmacodynamics activity of fluoroquinolones against siprofloksasinresistant Streptococcus pneumoniae. [Abstract] Chemotherapy Mar-Arpil 1996. Community Acquired Infections and Bacterial Resistance. Ho SS.

Navarro MDS. Johnson RH.148:1547-51 40. double-blind trial comparing intravenous ciprofloxacin with imipenem-cilastatin. Fox R. for the Ciprofloxacin Urinary Tract Infection Group. Rowe B. Sequential intravenous/oral ciprofloxacin compared with parenteral ceftriaxone in the treatment of hospitalized patients with community-acquired pneumonia. Dec 1996. Am J Helath-Syst Pharm. [Abstract]. A randomized trial of short-course ciprofloxacin. Snydman DR. Hanafiah MA. Humma. Thorax 2000. Treatment of severe nosocomial pneumonia: a prospective randomised comparison of intravenous ciprofloxacin with imipenem/cilastatin. Pharmakokinetic/Pharmacodyamic modeling of ciprofloxacin 250 mg/12h versus 500 mg/24h for urinary infections. Indah Offset Citra Grafika. Arnold E. Berning. McCarty JM. Traub SL. Mahroos GA. Leroy O. Mouton Y. 1998 42. Preheim LC. Pichler H. Grenier-Gosselin L. et al. Navarr AS. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Diagnosis and Management of Uncomplicated Urinary Tract Infections. Infectious Diseases in Clinical Practice 1996. Early bactericidal and sterilizing activities of ciprofloxacin in pulmonary tuberculosis. or trimetoprim/sulfamethoxazole for the treatment of acute urinary infection in women. 5(4):265-72 46. Berger L.170(4):469-73 57. Curram J. Gordeau M. Martinez Pellús.14(5):337-45 45. Pneumonia Komuniti. Pathologie-biologie 1991. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Brennen C. 1849-1855 60. [Abstract] Am J Med 1999. Peloquin CA. Ferliga M. Gutmann J. 72: 451-6.22(5):827-33 39. ofloxacin. Use of Ciprofloxacin versus Use of Aminoglycosides for Therapy of Complicated Urinary Trict Infection: Prospective. Diridl G. CMAJ 2004. Sept 1998. [Tesis]. Leeper KV. Optimal duration of antibiotic therapy for uncomplicated urinary tract infection in older women: a double-blind randomized controlled trial. Antimicrobial Agents and Chemotherapy May 1987. Haverstock D. Briefer C. Grassi V. Chemotherapy and Management of tuberculosis in the United Kingdom: recommendations 1998. [Abstract]. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Clinical infectious diseases. May 1996. et al. Thorpe EM. Johnson RH. Stamm WE. Am Rev Respir Dis. Kowalsky SF. Double-Blind Comparison of Ciprofloxacin and Trimethoprim-Sulfamethoxazole for Complicated Urinary Tract Infections. A Randomized Trial. Fluoroquinolones for Treating Tuberculosis [Review]. Klimberg I. Squire SB. Treatment of severe pneumonia in hospitalized patients. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan di Indonesia. Clinical Drug Investigation 1997. Bittner MJ. Evaluation of ciprofloxacin versus amoxicillin + clavulanic acid or erythromycin for the empiric treatment of community-acquired pneumonia. Eur J Clin Microbiol 1986 April.Gupta K.53:22918 36. Prevention and Treatment of Drug-resistant tuberculosis. Fink MP. Levine S. 55:1033-9 49. Ciprofloxacin versus ceftriaxone in the treatment of multiresistant typhoid fever. 1996. Iravani A. Verreault. Clinical Infectious Diseases 2001. Randomized controlled trial of a drug regimen that includes ciprofloxacin for the treatment of pulmonary tuberculosis.53:536-548 35. Ciprofloxacin in the treatment of acute bacterial diarrhea: a double blind study. Swanson D. et al. Morin M. Berning. Thorax 1998. Kisyombe GM.31(5):805-807 . Amoxicillin-Clavulanate vs Ciprofloxacin for the Treatment of Uncomplicates Cystitis in Women. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Balai Penerbit FKUI. 1993. Beuscart C. A trial comparing low-dose. Girgis NI. Tosiello RL. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2002. Trible D. Fang G.43(6):1441-1444 53. Ajana F. February 23. 32: 1313-8 63. Jakarta 2005:5 48. Vizel AA. Clinical Efficacy and Levels of Ciprofloxacin in Tissue in Patients with Soft Tissue Infection. Roberts PL. June 1999. Mapes T.5(2): 241-3 51. Am J Respir Crit Care Med.1(1):9-18 38. Manalastas R. Mehnert-Kay SA. Echols RM. Dotti A. Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. result of a multicenter. Randomized.. Joint Tuberculosis Committee of the British Thoracic Society. Bauer TT. Roccaforte JS. Vol.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 26/28 34. Huck W. Rizzato G. Antimicrobial Agents and Chemotherapy 1994. Eur J Clin Microbiol Infect Dis Dec 1993. [Article] Drugs. randomized. A Randomized Trial of Ciprofloxacin versus Cefixime for Treatment of Gonorrhea aftyer Rapid Emergence of Gonococcal Ciprofloxacin Resistance in The Philippines. Jakarta 2003:19-21 44. Hilf M. Fox R. 106:292-9 55. Brown FM. The Cochrane Database of Systematic Reviews. September 2001. et al. Randomized Clinical and Pharmacokinetic Study. 41. Marcobruni N. et al. Vogel T. Efikasi Siprofloksasin dengan Kombinasi OAT Lainnya dalam Pengobatan Tuberkulosis Paru yang Resisten terhadap Rifampisin dan Isoniazid. Madsen SE. Richard G. Rompalo A. et al. Torres A. Scholes D. Castillo F. Am Fam Physician 2005. Wi T. Ziganshina LE. De los Reyes MRA. Léon-Gil C. Kennedy N. Allegra L. Pneumonia Nosokomial. Hook III EW. Management of Multidrug-Resistant Tuberculosis: Chemotherapy and Beyond. 39(1): 34-7 47. The Role of Fluoroquinolones in Tuberculosis Today. Cuevas TA. Alvarez-Lerma F. JAMA. Larisa M. 2001. short-course ciprofloxacin and standard 7 day therapy with co-trimoxazole or nitrofurantoin in the treatment of uncomplicated urinary tract infection. Yousif AA. et al. Wolf D. et al. Allais JM.8(5):265-272 37. Brooks RG. Kennedy N. 1327-1330 61. Tucker RM. Pato-Mesola V. [Abstract]. Frenck RW. 458 54. Sieger BE. Iseman L. et al. 2775-2780 62. Clinical Pulmonary Medicine.293(8):949-955 59. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Licitra CM. 43(suppl A):S67-75 56. Hooton TM. 2005. Rochette L. Wallace MR. Threlfall EJ. Stapleton AE. Schwebke JR. Niederman MS. Kowalsky SF.151(6):2006-9 43. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Efficacy and tolerability of a teicoplaninciprofloxacin combination in severe community-acquired pneumonia. Mussari KL. Cormack WM. Heard SO.50:67-72 58. Sept 1991. Yew WW. Marinero MLS. Tuazon CU. et al.3. Butler T. Mellencamp MA. Azithromycin versus Ciprofloxacin for Treatment of Uncomplicated Typhoid Fever in a Randomized Trial in Egypt That Included Patients with Multidrug Resistance. J Antimicrob Chemother 1999. 2005. Jun 1995. Klausner JD. Munera C.12(12):907-10 52. Charrel J. Wagener M. 38(3): 547-57 50. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. et al. Echols RM. Sultan Y. Shaun E.

d’Athis P. Cross-resistance of Pseudomonas aeruginosa to ciprofloxacin. Radberg G. randomized. Ruedeberg A. Lomefloxacin. 82. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Pharmakokinetic drug interactions of macrolides. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. 74. Sorgel F. Paerregaard A. Mahr G. Ciprofloxacin for treatment of severe typhoid fever in children.40(7):1715-1716 80. [Abstract]. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Gentry LO. Mazzei T. 2002 Dec. Lasseter KC. April 1992. intramuscular ceftraixone as empiric treatment of acute invasive diarrhea in children. 75.34(11):2142-7. Pectol RW. Verhoef J. Scand J Infect Dis 1998. Bangladesh. Oral Ciprofloxacin Compared with Parenteral Antibiotics in the Treatment of Osteomyelitis. 73. Saha MR. Jan 1997. Evidence of cross-resistance between ciprofloxacin and nonfluoroquinolones in European Gram-negative clinical isolates. Israel DS. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Pediatr Infect Dis J.50:433442 81. Sadikin MD. extended-spectrum β-lactams.111(6)e714-719. Wedgwood J. Susanti NI. Piglansky L. The effect of ciprofloxacin on theophylline pharmacokinetics in healthy subjects. May 1995. Bhattacharya SK. [Abstract]. [Abstract].44(1):164-66 66. Paediatr Indones 2005.23:106-131 79. Higgins PG. 71. et al. Svensson S. Gerlach EH. Ciprofloxacin. Clin Pharmacokinet 1992. Treatment with Ciprofloxacin in Children with Typhoid Fever. 72. PharmD.45:49-54 Frost RW. Dusci LJ. Ilett KF. Kraemer R. Shamblen EC. Periti P. Pediatr Infect Dis J. . Godley PJ. Firmansyah D. Hampel B. Newman MT.33(8):1368-72. et al. Jan 1990:34(10):40-43 65. Sucralfate Significantly Reduces Ciprofloxacin Concentrations in Serum. Pulungsih SP.34(5):931-933 Batty KT.39(3):305-11 77. 16(1): 106-11 69. Mitra U. Antimicrobial Agents and Chemotherapy 1990. May 1990. 21(12): 1136-41 Leibovitz E. 76. Novelli A. Climo MW. and aminoglycosides and susceptibility to antibiotic combinations.37(5):1197-1199 Zimbabwe. Effects of Aluminium Hydroxide and Calcium Carbonate Antacids on the Bioavailability of Ciprofloxacin. 3(9): 537-46 67. Multicenter.og/cgi/content/filll/111/6/e714 Dutta P. South Africa (Zimbasa) Dysentry Study Group. or Levofloxacin as Treatment for Chronic Osteomyelitis. Janco J. Tonnelier S. Jan 2000. Hafner D. A Study on the antibiotic resistance of Shigella. Shafran SD. Nov 2000.pediatrics. Stab AH. Br J Clin Pharmacol. EM Anders. Pediatr Infect Dis J. Peterie JD. Bhattacharya MK. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 1989. 2003 Sep. Fuhr U. Chalumeau 70. Thomsen LL. Development of quinolone-imipenem cross resistance in Pseudomonas aeruginosa during exposure to ciprofloxacin. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. M. Inhibitory potency of quinolone antibacterial agents against cytochrome P450IA2 activity in vivo and in vitro.HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 27/28 64. Gendrel D. Antimicrobial Agents and Chemotherapy. Lettieri JT. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2002. Langton SR. Effect of Combination Therapy with Ciprofloxacin and Clarithromycin on Theophylline Pharmaokinetics in Healthy Volunteers. Stiver HG. Yakshe CC. Treluyer J. Wong J. 30: 355-357 68. Fluorquinolones in paediatrics: a risk for the patient of for the community? [Abstract]. 9(11):1060-7 Dwipoerwantoro P. Noe AJ. Antimicrob Agents Chemother 1992. Nilsson LE.36(4):830-832 Garrelts JC. Chow AW.June 2003. Polk RE. Multicenter Comparative Cohort Stufy in France. Schaad UB.36:942-948 78. Fluit AC. Gendrel D. Rodriguez GG. Rasaily R. et al. July 1996. Ciprofloxacin as antipseudomonal treatment in patients with cystic fibrosis. Shariaty S. Greenberg RN. Davis TM. double blind clinical trial of short course versus standard course oral ciprofloxacin for Shigella dysentriae type 1 dysentery in children. Oral ciprofloxacin vs. Fluoroquinolone Safety in Pediatric Patients: A Prospective. May 1993. Bartlett KH. Pediatrics. Lancet Infect Dis. Gillum JG. Schmitz FJ. Scott RB. Mini E. Available at http://www.

HTA Indonesia_2005_Penggunaan Siprofloksasin di Indonesia_hlm 28/28 PANEL AHLI Prof. Yogyakarta TIM TEKNIS Ketua : Prof.Dr. Husniah Rubiana Th. MARS dr. Sp. Jakarta Prof.DR. Sp.Dr.THT-KL FKUI / RSCM.Dr. Mkes dr. Sp. PhD. SpA(K) Anggota : dr. Cahyani Gita Ambarsari dr.MK FKUI / RSCM.DR. Sp. Wuwuh Utami N. Sp. Dr. Sp.dr. Jakarta Prof.FK FK-UGM. Hartono Abdurrachman.Dr. Rustam S. Sp. Rita Andriyani . Jakarta Prof. Amin Soebandrio. Jakarta Dr. Darnila Fachruddin. Sp. Jakarta Dr. Klara Yuliarti dr. Djoko Widodo. MS. Jakarta Prof. Jakarta Prof. SpPD dr. Desy Dewi Saraswati dr. Dr.A dr. Jakarta Dr. Sp. Untung Suseno. Widjoseno Gardjito.P(K) FKUI / RS Persahabatan.FK dr.A(K) FKUI / RSCM.U FKUI / RSCM. SpKJ dr. Alan Roland Tumbeleka. Santoso Soeroso. Akib. DR. Sudigdo Sastroasmoro. Dr.S.Dr. Robert Utji.THT FKUI / RSCM. Ratna Mardiati. MPH dr. N. Sp. Sp. Jakarta Dr. Jakarta Dr. Wiguno prodjosudjadi FKUI / RSCM. Iwan Dwi Prahasto. MKes Drg. Sp. Pakaya.THT FKUI / RSCM. Oloan.DR. Sp. DR.B.MK FKUI / RSCM. Sp. Jakarta Prof.FK FKUI / RSCM. Rarit Gempari.PD-KPTI FKUI / RSCM.Kes. Vika Aryani. M.. Jakarta Dr. Soebijanto. Sp. Priyanti Z.An FKUI / RSCM. Rianto Setiabudi.