Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 4
Desain dan Konstruksi

Latar Belakang
Dari pertengahan tahun 1980-an hingga 1997 perekonomian Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan lebih dari 6% per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini, dibutuhkan akan adanya pengembangan sistem transportasi yang andal yang berbasis pada transportasi darat, utamanya jalan raya. Banyak daerah yang lebih mudah dijangkau yang umumnya merupakan kawasan perkebunan dan industri, terletak pada dataran rendah dimana dijumpai tanah lunak, sehingga kebutuhan akan pengembangan suatu metode kons truksi yang andal membutuhkan pengembangan suatu teknik desain dan konstruksi yang baru. Tanah lunak ini diperkirakan meliputi sekitar 20 juta hektar atau sekitar 10 persen dari luas total daratan Indonesia dan ditemukan terutama di daerah sekitar pantai. Pelapukan tanah yang terjadi pada kondisi tropis berbeda dengan yang terjadi pada daerah dengan iklim sedang, sehingga masing-masing tipe tanah dengan karakteristik yang berbeda tersebut membutuhkan penanganan yang berbeda pula dalam mengatasi permasalahan konstruksi. Penerapan berbagai metode penanggulangan yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tidak akan selalu cocok untuk diterapkan pada tanah beriklim tropis. Oleh karenanya perlu dilakukan suatu evaluasi terhadap teknologi yang telah dikembangkan untuk daerah dengan iklim sedang tersebut sebelum diterapkan di Indonesia dan untuk itu dikembangkan suatu teknologi yang lebih cocok melalui upaya-upaya penelitian setempat. Panduan Geoteknik yang dibuat pada proyek Indonesian Geotechnical Materials and Construction (IGMC) ini dirancang sebagai sebuah studi terhadap tanah lunak dan tanah lapukan tropis Indonesia yang diharapkan dapat menghasilkan panduan geoteknik dan kontruksi yang cocok untuk kondisi di Indonesia. Diharapkan pula, dengan pengembangan sumber daya manusia dan peralatan yang tepat, dapat meningkatkan kemampuan penelitian dalam bidang geoteknik di Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Proyek ini merupakan bagian dari kerangka penelitian pembangunan jalan di atas tanah lunak yang dimulai sejak permulaan tahun 1990.

Tujuan
Penerapan langsung mekanika tanah dan batuan “klasik” yang dikembangkan di daerah beriklim sedang akan tidak serta merta cocok untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di daerah tropis. Sifat-sifat alami dari m aterial bumi daerah tropis memerlukan pengujian dan analisis yang berbeda dengan material di daerah beriklim sedang. Prinsip yang sama berlaku untuk teknik desain dan konstruksi. Oleh karenanya dibutuhkan fasilitas penelitian yang khusus untuk melakukan penyelidikan, bila praktek-praktek desain dan konstruksi yang ada ingin ditingkatkan agar jalan yang dibangun di atas tanah lunak dapat memberikan tingkat paelayanan yang disyaratkan. Melanjutkan Tahap 1 dari proyek yang dilaksanakan pada tahun 1997-8, Tahap 2 mendapat tugas untuk mempersiapkan edisi pertama dari seri Panduan Geoteknik ini, yang berhubungan dengan tanah lunak. Disadari bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari dan dicapai mengenai tanah lunak Indonesia untuk dapat menghasilkan suatu des ain pembangunan jalan yang lebih ekonomis. Oleh karenanya diharapkan berdasarkan pengalaman selama penggunaan edisi pertama Panduan Geoteknik ini, akan diperoleh suatu umpan balik yang berharga untuk meningkatkan dan memperluas panduan ini di masa mendatang. Program kegiatan ini dilaksanakan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi bersama Tim Konsultan. Proyek ini seluruhnya didanai oleh pinjaman Pemerintah Indonesia dari International Bank for Reconstruction and Development, Highway Sector Investment Programme 2 , Loan Number 3712-IND.

Sampul depan menunjukkan Peta Geologi Indonesia. Areal tanah lunak ditunjukkan dengan warna hitam.

Pusat Litbang Prasarana Transportasi

Panduan Geoteknik Indonesia Timbunan Jalan pada Tanah Lunak

Panduan Geoteknik 4
Desain dan Konstruksi
Edisi Pertama Bahasa Indonesia © Nopember 2001

WSP International
Kerja sama dengan

PT Virama Karya PT Trikarla Cipta

sangat cocok untuk diterapkan dalam desain berbagai tipe kelas jalan. akan dapat memanfaatkan Panduan ini untuk mendapatkan rangkuman prosedur-prosedur yang dapat digunakan dan diterapkan pada proyek-proyek yang lebih kompleks dimana mereka terlibat secara langsung. Berbagai panduan yang dibuat. prosedur-prosedur yang harus diterapkan dalam penyelidikan. banyak proyek mengalami penundaan atau keterlambatan. Dalam Panduan ini dijelaskan mengapa pada lokasi tanah lunak diperlukan sebuah penyelidikan khusus. Para Desainer Panduan ini menjelaskan bagaimana lokasi tanah lunak harus diidentifikasi. dan prosedur desain dan pelaksanaan yang harus diikuti. lempung organik dan gambut.Pengantar Tanah lunak dalam Panduan ini meliputi lempung inorganik (lempung bukan organik). Pada masa lalu. lebih dari 10 % dari tanah daratan Indonesia. Panduan ini juga mengarahkan bilamana informasi yang didapatkan tersebut memerlukan masukan dari spesialis/ahli yang telah berpengalaman. sebagai berikut: Para Manajer Proyek Termasuk pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan. pembiayaan dan manajemen proyek. Walaupun panduan-panduan ini hanya diperuntukkan untuk jalan di atas tanah lunak. memerlukan tambahan biaya yang besar. mulai dari Jalan Nasional hingga Jalan Kabupaten. waktu untuk melakukan penyelidikan dan pertimbangan terhadap pembiayaan sevara khusus untuk melaksanakan penyelidikan yang memadai serta interpretasi yang tepat. yang diakibatkan oleh adanya tanah lunak ini. Untuk Siapa Panduan ini dibuat ? Panduan Geoteknik ini dan seri lainnya diperuntukkan bagi para praktisi di lapangan dengan maksud memberikan panduan dan petunjuk dalam desain dan pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. Para Spesialis Geoteknik Para spesialis geoteknik yang berpengalaman dalam konstruksi jalan di atas tanah lunakpun. membutuhkan biaya perawatan dan pemeliharaan yang tinggi atau mengalami kegagalan. Panduan-panduan disajikan untuk kelompok-kelompok praktisi. para perekayasa yang menangani jalan pada tipe tanah dan bangunan sipil . Tanah jenis ini terdapat pada areal lebih dari 20 juta hektar.

tipe lainnya akan mendapatkan informasi yang sangat bermanfaat dalam menghadapi permasalahan yang serupa. sehingga prosedur-prosedur yang disebutkan dalam Panduan Geoteknik 2 hingga 4 perlu diterapkan dalam proyek tersebut. Panduan Geoteknik 2: Timbunan Jalan pada Tanah Lunak: Penyelidikan Tanah Lunak: Desain dan Pekerjaan Lapangan Panduan ini menjelaskan prosedur-prosedur yang harus diterapkan dalam: Studi awal untuk mengumpulkan informasi-informasi yang ada Informasi-informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan proyek pembangunan jalan sebelum merencanakan penyelidikan lapangan Menentukan tipe-tipe penyelidikan lapangan serta pengujian laboratorium yang akan dilakukan Prosedur mendesain penyelidikan lapangan Persyaratan-persyaratan khusus untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan tertentu pada tanah lunak. sebagaimana juga telah dikemukakan pada manual-manual lainnya untuk keperluan pekerjaan penyelidikan lapangan yang sifatnya rutin Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi untuk pelaporan dari hasilhasil pekerjaan yang telah dilakukan Ceklis untuk meyakinkan bahwa prosedur-prosedur yang tercantum dalam Panduan ini telah diikuti Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika penyelidikan lapangan yang dilakukan tidak mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh Panduan ini. Tujuan dari Panduan Panduan Geoteknik 1: Timbunan Jalan pada Tanah Lunak: Proses Pembentukan dan Sifat-sifat Dasar Tanah Lunak Panduan ini memberikan informasi untuk: • Memahami perbedaan tipe-tipe tanah lunak yang ditemukan di Indonesia dan bagaimana hubungannya dengan konteks regional maupun global • • Membuat penilaian awal akan segala kemungkinan dimana tanah-tanah tersebut akan ditemukan pada lokasi-loksasi tertentu Mengidentifikasi keberadaan tanah lunak. Panduan Geoteknik 3: Timbunan Jalan pada Tanah Lunak: Penyelidikan Tanah Lunak: Pengujian Laboratorium Panduan ini merumuskan: .

Lampiran A dari Panduan Geoteknik 1 memberikan penjelasan tentang isi dari CD tersebut serta cara penggunaannya. penyiapan kesimpulan-kesimpulan dan bagaimana kesimpulan tersebut dapat dicapai Ceklis untuk meyakinkan bahwa semua prosedur dalam Panduan ini telah dilaksanakan Prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan jika rekomendasi-rekomendasi tidak dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah diberikan dalam Panduan ini. . CD Panduan Geoteknik Sebuah CD dilampirkan dalam Panduan Geoteknik 1. interpretasi data pengujian untuk mengevaluasi kualitas contoh Prosedur untuk mengidentifikasi dan menjelaskan struktur dan fabrik tanah Persyaratan-persyaratan pelaporan.Ceklis untuk mengevaluasi kemampuan laboratorium pengujian geoteknik dan kriteria pemilihan laboratorium Faktor-faktor yang berpengaruh pada perencanaan dan pengembangan program pengujian laboratorium Rangkuman prosedur pengujian standar terutama acauan pengujian lempung organik lunak dan gambut serta interpretasi hasil pengujiannya Prosedur untuk mengurangi sekecil mungkin gangguan pada contoh tanah selama penanganan dan penyiapan benda uji. Panduan Geoteknik 4: Timbunan Jalan pada Tanah Lunak: Disain dan Konstruksi Panduan ini merumuskan: Metode-metode yang harus diterapkan untuk menguji keabsahan data penyelidikan Prosedur untuk mendapatkan parameter-parameter Proses pengambilan keputusan dalam memilih teknik dan metode yang efektif dan memuaskan Metode-metode yang akan digunakan dalam menganalisis stabilitas dan prilaku penurunan jalan Persyaratan-persyaratan dalam penyusunan laporan desain.

Jika terdapat penyelidikan atau disain geoteknik yang harus dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana Pekerjaan. maka dalam kaitannya dengan pekerjaan tersebut kontraktor itu harus mematuhi semua persyaratan yang tercantum dalam Panduan ini. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memiliki pengetahuan dan pengalaman kegeoteknikan yang luas. Jika Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut suatu saat diganti. desain dan pelaksanaan konstruksi. Sedangkan untuk skala proyek yang lebih besar. Untuk Jalan Kabupaten. Bila dipandang perlu ia dapat didukung oleh seorang Spesialis. Pemimpin proyek mempunyai tanggung jawab untuk menjamin Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk ada di pos selama proyek berjalan. dimana permasalahan-permasalahan tanah lunak cukup banyak ditemui. umumnya menjadi persyaratan yang harus dipenuhi. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut tetap bertanggungjawab secara keseluruhan terhadap Skala Mutu.Skala Mutu Panduan ini mengasumsikan bahwa pada setiap pelaksanaan proyek jalan. Untuk skala Jalan Nasional. akan ditetapkan untuk bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjaan geoteknik mulai dari tahapan penyelidikan. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus memiliki kemampuan/latarbelakang keteknikan dasar yang cukup serta pengetahuan lokal yang memadai. Panduan ini menggambarkan bagaimana Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut harus mencatat dan menandatangani setiap tahapan pekerjaan. yang mana Insinyur Geoteknik yang baru harus melanjutkannya dengan tanggung jawab sebagaimana yang telah dijelaskan pada Panduan Geoteknik 4. Penunjukkan ini dilakukan oleh Ketua Tim. Ketau Tim Desain atau seseorang yang secara keseluruhan bertanggungjawab atas proyek tersebut. walaupun demikian. seorang Insinyur dengan latar belakang khusus kegeoteknikan. Latar belakang dan pengalaman dari Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk tersebut akan bervariasi berdasarkan kuantitas dan kompleksitas dari proyek yang bersangkutan. seorang Perekayasa yang selanjutnya disebut sebagai Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk. maka prosedurprosedur yang telah ditetapkan tersebut harus dimasukkan di dalam klausal serahterima. . sebagaimana dijelaskan dalam Panduan ini. Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk harus bertanggung jawab terhadap hal ini.

.

.................2.........................19 3......................5 Solusi atau Pemecahan Masalah ...............................................................6.....................................................2 Metode dan Prosedur ......................................Daftar Isi 1 Pendahuluan Panduan Geoteknik 4..1 Teknik .................................................4 Pembebanan Tambahan (Surcharging).3...........3 Pertimbangan Pelaksanaan.................................................5.........................2...........................................................................................................4 Pertimbangan Pelaksanaan.2 Drainase Vertikal (Vertical Drains)....3....5...........................15 3...15 3.....22 3..........5 Konstruksi Bertahap (Staged Construction).........................................8 2.........................27 4.....3....3 1..................................1 Ruang Lingkup.5 1............2......2 Penggantian Material..................2...................27 4..................................11 3........21 3..................................24 3..17 3..........................5 1......1 Teknik ...................24 3.........................................18 3....................................................................2 Tipe Pemecahan (Solusi) .........2............26 4 Solusi dengan Perbaikan Tanah.................................................................3 Penerapan.........................................................................................1 Teknik ..................11 3................................1 Teknik Penggantian ..2 Metode dan Prosedur ....................................................30 (i) .....................................18 3.............3 Bahu Beban Kontra (Counterweight Berms) ..............................4.............................................1 Pendahuluan.........................1 Pendahuluan.............15 3.....................27 4....23 3.............8 3 Solusi dengan Pekerjaan Tanah (Earthwork Solutions).........................................................6 2 Pertimbangan Menyeluruh dalam Disain ....................1 1.......3 Pertimbangan Konstruksi.............2 Metode dan Prosedur ....................13 3...................................1 Pendahuluan..............1 1..........3 Pertimbangan Pelaksanaan........................................11 3...................................1 1........2...................22 3...................................3 Aplikasi...........6.............4.................3 Pendekatan terhadap Desain Pekerjaan Kegeoteknikan......................................................................................................................................................................................4....24 3..................................5.2 Metode dan Prosedur .....................5.............................5........................24 3...................1 Teknik ...............................................2 Struktur Manajemen untuk Pekerjaan Kegeoteknikan........................................................................6....................................1 Teknik ..............6 Penggunaan Material Ringan................................12 3.....................2 Metode dan Prosedur ........2 Metode dan Prosedur .....................1 Umum .....................................27 4.........11 3...............................18 3..................................5 1....4 Permasalahan...........................

....................................................51 5.............................38 4............................................................2 Tipe-tipe Tiang......2 Contoh Penggunaan.....6 6.......................................5..........1 6...................................................................................................................................1 Beban Lalu Lintas..2 Zonasi (zoning) Lokasi ................3 Kriteria Deformasi........................................41 4.................................................3 6.................9 Timbunan yang Diperkuat...............................6 Contoh Penggunaan.........................3.................3 Tiang ......................................1 Teknik .................4..................3 Prosedur Instalasi .......48 5............45 5................45 5...........................61 Penggantian (Replacement)..........61 Bahu Beban Kontra (Counterweight Berms)...........................................................3 Metode Transfer Beban Timbunan ke Tiang ..........................52 5.......................................................5 6............................................42 4........................2...9....51 5..........47 5...............................55 6 Solusi Desain dan Evaluasi .........5..2 Faktor Keamanan ........................................59 Penurunan pada Timbunan .................................................48 5.....3........................................................................................5 Pemilihan Parameter Desain .3.................5 Pertimbangan Pelaksanaan..........................3 Korelasi .............1 Teknik .....4 Menyimpulkan Hasil Penilaian......................51 5........7 Pendahuluan...........34 4.....3..1 Interpretasi Geologi................47 5.67 6..........54 5.........36 4................................59 Drainase Horisontal......................32 4......2......................41 4.........................................36 4.............65 6...................5...........................1 Pendahuluan...................................................................................67 (ii) ..............................3.................................8 Konstruksi Bertahap ..............5.................63 6.........................................................................31 4.........46 5......4 6..............2.....41 4...............2 6..................................................................................................................42 5 Persiapan untuk Disain ........................................................................40 4....4 Pertimbangan Pelaksanaan........................3...5 Kriteria Desain dan Pembebanan...........................4 Parameter Untuk Material Timbunan .................37 4......................................3 Pemilihan Parameter-parameter Geoteknik ...............................................................4 Beban Gempa..................36 4........4 Matras ........................2 Kisaran Nilai yang Dapat Diterima .3.58 6.............................5 Contoh Penggunaan......................................3.............4 Selimut Pasir (Sand Blanket).........................................4..................................................................................................................4......................1 Pendahuluan..................2.............................................3..................................47 5.........58 Stabilitas Timbunan.......62 Penambahan Beban......................................3..............................................5 Metode Perbaikan Tanah Lainnya .................48 5.............

.......4 Analisis Stabilitas ...............................................................1 12..................................7 13.............................68 6.....12 Tiang Matras (Piled Mattress)........10 6.................71 7 Interaksi Tanah dan Bangunan ........................................................................................................................................78 9......................69 6....................98 Jumlah Instrumentasi .................................................................2 9........................................................................87 11 Uji Coba ..........................................................2 13...................................11 13...............................................70 6............12 Pengadaan Kontrak......................80 Mengenali Faktor-faktor yang akan Mempengaruhi Proses Pengambilan Keputusan.....................98 Pra Analisis....99 Pemasangan...........................6 Pengantar..............................71 Drainase Vertikal (vertical drains)............6 13.......................................... 104 (iii) .......................73 8 Pertimbangan-pertimbangan untuk Pelebaran Jalan.................3 Faktor Pengurang Rangkak (Creep)...........................98 Kondisi-kondisi Lapisan Bawah Permukaan....................98 Lokasi Instrumen..................78 Mengidentifikasi Problem-problem yang harus Dipecahkan ..9 13..................................................................................................................................................................5 9....................................................2 13...10 13.95 Konstruksi....3 13....93 12 Kontrak dan Konstruksi ..................76 9 Proses Pengambilan Keputusan......86 9.................6...............................................................4 9.......................3 9......................9.........................1 13................... 100 Perlindungan ......................................................84 Pelaporan dari Proses Pengambilan Keputusan dan Rekomendasi .................................................... 103 Instrumentasi Khusus ...............................................97 14 Referensi ........................................97 Desain Timbunan ...........................................................................................................9.................................................... 103 13 Pemonitoran (Site Monitoring) ...........71 Desain Tiang... 102 Catatan Timbunan .................................8 13..82 Penetapan Pilihan yang Terbaik ..................7 10 Laporan Desain ...................11 6....................80 Pemilihan dan Analisis atas Berbagai Pilihan.............95 12.......................................................................... 101 Frekuensi Pemonitoran dan Prosedur ......5 13..................................................................................1 9............................................................................. 102 Pelat Penurunan.....................81 Mengenali Biaya untuk Tiap Pilihan .....95 Merencanakan Program Pemonitoran/Instrumentasi...........................................................................4 13...............9......................2 Sifat-sifat Geotekstil ................

Lampiran Lampiran A Lampiran B Lampiran C Lampiran D Lampiran E Lampiran F Lampiran G Lampiran H Daftar-daftar simak Korelasi untuk Parameter-parameter Geoteknik Metode Hanrahan untuk Penurunan Gambut Disain Timbunan dengan Tiang yang Diperkuat dengan Geotekstil Daftar Isi Laporan Prosedur untuk Uji Timbunan Instrumentasi Formulir Pencatatan Instalasi Instrumen (iv) .

1. Pada Panduan Geoteknik ini istilah Kepala Tim (Team Leader) yang dimaksudkan adalah seseorang yang bertanggung jawab secara langsung terhadap desain dan pelaksanaan proyek dan merupakan atasan langsung Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk yang kepadanya dia harus memberikan laporan. Panduan ini mengidentifikasikan bermacam solusi yang memungkinkan untuk berbagai kondisi yang berbeda. Meskipun demikian. sebuah penilaian geoteknik awal harus dilakukan untuk mengidentifikasi apakah 1 .1 RUANG LINGKUP Panduan Geoteknik ini memberikan informasi dan advis dalam desain dan pelaksanaan konstruksi jalan di atas tanah lunak. beberapa advis yang diberikan pada Panduan ini dan seri lainnya mungkin akan dapat membantu untuk maksud tersebut. dan menjelaskan bagaimana caranya Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk (Designated Geotechnical Engineer) mengembangkan dan merekam proses pengambilan keputusannya. Panduan ini tidak berurusan dengan masalah yang menyangkut struktur.2 STRUKTUR MANAJEMEN UNTUK PEKERJAAN KEGEOTEKNIKAN Panduan ini mensyaratkan bahwa untuk setiap proyek jalan seorang Perekayasa. Pada tahapan studi kelayakan (feasibility study) dari sebuah proyek.1 Pendahuluan Panduan Geoteknik 4 1. kecuali beberapa aspek dari interaksi tanah-struktur (soil-structure interaction). atau masalah perkerasan jalan pada tanah lunak. Advis yang diberikan pada Panduan ini juga harus digunakan untuk timbunan oprit jembatan. Karenanya Panduan ini memberikan metodologi untuk memilih desain yang paling cocok. akan ditunjuk oleh Kepala Tim untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan geoteknik seperti dijelaskan dalam Pengantar. yang dalam Panduan ini disebut sebagai Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk (Designated Geotechnical Engineer). serta mengemukakan secara umum kelebihan dan kekurangannya.

pekerjaan pelaksanaan yang memerlukan adanya kegiatan pemantauan (monitoring). maka seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus ditunjuk pada setiap tahap pelaksanaan. Seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk dibutuhkan untuk tahapan pekerjaan penyelidikan. uji-coba (trials) atau desain yang memerlukan informasi lebih lanjut. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk ini tetap harus bertanggung jawab penuh terhadap Skim Mutu (Quality Scheme) seperti yang dijelaskan pada Panduan. Panduan ini juga mengemukakan bagaimana Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus menyimpan rekaman serta menandatangani semua aktivitas dari setiap tahapan pekerjaan. jika memungkinkan maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tersebut harus ditunjuk untuk tahap studi kelayakan. Untuk skala yang lebih besar umumnya akan diperlukan seorang spesialis. Untuk proyek besar Jalan Nasional dimana tanah lunak menjadi masalah. dan tidak perlu dipekerjakan penuh selama waktu pelaksanaan proyek. Seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus: merumuskan tujuan yang ingin dicapai dan disetujui bersama Kepala Proyek melakukan studi meja mendesain penyelidikan lapangan termasuk yang diperlukan memilih laboratorium yang akan melakukan pengujian memberi arahan dan mengawasi penyelidikan memeriksa dan menyetujui laporan pengujian lapangan dan laboratorium menetapkan parameter-parameter desain– membuat desain memberik rekomendasi solusi geoteknik 1 Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) telah memiliki sebuah Sistem Klasifikasi yang dapat digunakan untuk menentukan kualifikasi yang sesuai untuk proyek tertentu. Untuk Jalan Kabupaten. walaupun dibantu.pertimbangan-pertimbangan geoteknik berpengaruh terhadap rencana trase/rute dan pemilihan alinyemen jalan. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memiliki latar belakang keteknikan umum dan cukup mengenal daerah yang bersangkutan. Bila memungkinkan. desain dan pengadaan (procurement). Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memiliki latar belakang dan pengalaman yang luas dalam bidang geoteknik. 2 . Sebagai tambahan ia dapat saja dibantu oleh seorang Spesialis Geoteknik. Latar belakang dan pengalaman dari Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk akan bervariasi bergantung pada ukuran dan kompleksitas dari proyek1 . Oleh karena itu.

yaitu: Identifikasi masalah Mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan Memilih solusi-solusi yang memungkinkan Menganalisis solusi Menilai lagi biaya dan pengaruh pelaksanaan 3 . 1.3 PENDEKATAN TERHADAP DESAIN PEKERJAAN KEGEOTEKNIKAN Tanggung jawab dari Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk Panduan ini mengemukakan prosedur untuk melakukan pekerjaan geoteknik pada jalan di atas tanah lunak yang memerlukan timbunan. Jika Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tersebut diganti maka ia harus membuat rangkuman dokumen Serah Terima yang memuat hasil apa saja yang telah dicapai. dengan menggunakan Ceklis pada Lampiran A. hal ini dapat diterima. Walaupun demikian setiap penyimpangan dari Panduan harus didokumentasikan secara jelas dan alasan penyimpangannya harus dikemukakan dalam laporan Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk yang relevan. Prosedur dan solusi dikemukakan dalam bentuk yang bersifat memberikan petunjuk/ketentuan. Jika Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk berhasrat menyimpang dari prosedur yang didasarkan atas pengalamannya yang luas dan mempunyai pendekatan lain yang lebih baik dan lebih tepat untuk digunakan pada proyek yang bersangkutan. Kepala Proyek bertanggung jawab untuk menjamin bahwa proses serah terima ini dilaksanakan. Struktur dari Pendekatan Desain Pendekatan yang diadopsi dalam Panduan ini adalah sama dengan yang harus diadopsi oleh semua pekerjaan yang berhubungan dengan kegeoteknikan.menyiapkan dan membuat Laporan Desain Geoteknik melengkapi dan menandatangani semua ceklis. Seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk juga harus: melaporkan kepada Kepala Tim/ Kepala Proyek menjalin hubungan dengan perekayasa struktur dan perekayasa jalan raya bertanggung jawab terhadap kualitas informasi dan desain geoteknik.

maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memodifikasi baik waktu maupun biayanya. Bila pekerjaan geoteknik tidak dapat dilakukan menurut taraf standar yang diperlukan dalam batasan seperti ini. tetapi pada kasus ini pilihan tersebut akan menambah waktu yang dibutuhkan (seperti contoh konstruksi bertahap). Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mengidentifikasikan keterbatasan yang ada dan memberitahukan kepada Kepala Proyek terhadap konsekuensi yang harus dihadapi. 4 . Alternatifnya. ataupun kombinasi dari keduanya.Mengambil keputusan atas solusi yang optimal Melakukan uji-coba di lapangan Keterbatasan (Constraints) Desain Tiga unsur yang harus dihitung dalam setiap proses desain adalah Biaya. Sebagai contoh. Unsur-unsur ini akan saling terkait dan dapat digambarkan dalam sebuah segitiga Kualitas Waktu Biaya seperti ditunjukkan pada Gambar 1-1. Hal ini harus dikemukakan dalam laporan yang dibuat oleh Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tersebut. tetapi akan menaikkan biaya yang akan dikeluarkan. ia dapat pindah ke posisi B pada gambar. Mutu dan Waktu. Titik lain antara B dan C akan memenuhi tujuan kualitas dengan sebuah kombinasi dari menambah waktu dan menaikkan biaya. sekali lagi untuk memenuhi standar minimum kualitas. Kualitas yang disyaratkan Kualitas kat B ia i ng A ya tu S ah nd Re Wa k B C ya Wa Bia Kualitas Tinggi ktu Gambar 1-1 Segitiga Kualitas Waktu Biaya Jika proyek sebagai contoh. Kualitas telah diputuskan. telah menetapkan waktu pelaksanaan dan pembiayaannya. ia dapat pindah ke posisi C. yang akan menaikkan kualitas kepada standar minimum yang disyaratkan. maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk akan mendapatkan dirinya pada posisi A pada Gambar 1-1.

Apakah dengan demikian Pemilik Proyek telah mendapatkan keuntungan dari uang yang dikeluarkannya? 1. Sebenarnya hanya ada dua permasalahan yang harus dihadapi oleh seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk. yaitu: Timbunan tersebut harus stabil sepanjang umur rencananya Penurunan yang terjadi pada konstruksi jalan masih dapat diterima Prosedur untuk mengidentifikasi permasalahan spesifik yang dihadapi. 1. sebagai contoh: Memindahkan jalan Menurunkan alinyemen vertikal Mengganti timbunan dengan struktur. Tetapi Pemilik Proyek tidak dapat menerima biaya yang akan dikeluarkan dan memutuskan untuk mengatasi setiap permasalahan yang muncul kemudian dengan “pemeliharaan rutin (routine maintenance)”. maka ia harus memberitahukan kepada Kepala Proyek bahwa mungkin terdapat beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk menghilangkan permasalahan geoteknik tersebut daripada harus menghadapinya. Perekayasa Geoteknik telah mengidenrtifikasi perlunya suatu perbaikan tanah (ground treatment) tertentu yang harus dilakukan. dikemukakan dalam Bab 9: Proses Pengambilan Keputusan.4 PERMASALAHAN Permasalahan yang harus dipecahkan sebenarnya terbatas.Contoh Sebuah jalan tol dibuat melintasi tanah lunak sepanjang 9 km. walaupun demikian pemecahannya dapat saja lebih kompleks. 5 .5.1 Pendahuluan Seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus menyadari bahwa solusi terhadap permasalahan geoteknik dapat ditemukan di luar keahlian atau kewenangannya.5 SOLUSI ATAU PEMECAHAN MASALAH 1. Dua belas tahun kemudian level perkerasan hanya tinggal 20cm di atas muka banjir tahunan dan pekerjaan rekontruksi yang yang besar segera diperlukan. Jika permasalahan yang dihadapi cukup besar. Tidak ada analisis terhadap biaya-keuntungan yang dilakukan.

5. 6 .2 Tipe Pemecahan (Solusi) Pemecahan geoteknik dapat dibagi menjadi Solusi yang meliputi pekerjaan tanah (earthworks) saja.1. yaitu Solusi Perbaikan Tanah (Ground Improvement Solutions). Kedua kelompok ini akan dijelaskan secara terpisah pada Bab 3 dan 4. yaitu Solusi dengan Pekerjaan Tanah (Earthworks Solutions). meskipun demikian kombinasi dari kedua metode tersebut dapat saja diterapkan pada kondisi-kondisi tertentu. dan solusi-solusi yang mengharuskan adanya perbaikan pada tanah fondasi.

untuk jalan di atas lapisan gambut yang tipis solusinya relatif sederhana dan murah. Contoh: Kontur kedalaman gambut diambil dari suatu daerah di Jambi ini menunjukkan adanya kemungkinan dari rute menjauhi areal gambut yang dalam. Sebagaimana akan dibahas kemudian pada Panduan ini. Karena lalu lintas pada jalan di atas daerah ini biasanya akan relatif rendah. 7 . pembiayaan jangka panjang untuk perawatan. kedalaman gambut bervariasi dari hanya beberapa meter saja hingga duapuluh meteran. kualitas yang rendah jika tidak diambil tindakan yang semestinya dengan tambahan biaya yang dikeluarkan oleh pengguna jalan untuk melalui rute jalan yang lebih panjang. pertimbangan geoteknik cukup penting yang harus diperhitungkan pada waktu perencanaan rute jalan.Memindahkan Jalan Rute alinyemen jalan umumnya ditentukan bukan berdasarkan pertimbangan Geoteknik. dengan tambahan biaya karena adanya penambahan panjang jalan. membutuhkan solusi yang sangat mahal atau konstruksi bertahap jangka panjang yang lama. pada daerah tanah sulit seperti daerah-daerah gambut seperti Riau dan Kalimantan. Tetapi untuk suatu konstruksi timbunan yang memuaskan di atas lapisan gambut yang tebal. maka akan lebih baik mempertimbangkan untuk memilih trase yang memperkecil rute melintasi lapisan gambut yang tebal. Oleh karenanya Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk seharusnya dilibatkan dalam analisis biaya-keuntungan (cost benefit) proyek jalan tersebut. baru alternatif desain yang paling ekonomis dapat dinilai (assessed). walaupun dengan konsekuensi adanya pembiayaan untuk jalan yang lebih panjang. Hanya dengan melakukan analisis biaya-keuntungan dengan membandingkan biaya konstruksi pada gambut yang dalam. Meskipun demikian. sebelum alinyemen akhir ditetapkan. Oleh karenanya jarang seorang Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk dilibatkan dalam penentuan rute tersebut. Sebagaimana dijelaskan pada Panduan Geoteknik 1.

2

Pertimbangan Menyeluruh dalam Disain

2.1

UMUM
Dalam suatu proses desain penting untuk dipertimbangkan sejak awal bagaimana jalan baru atau jalan yang akan ditingkatkan tersebut akan dibangun dari macam material, peralatan dan keahlian seperti apa yang dibutuhkan. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dapat berpengaruh dalam mengambil keputusan untuk desain solusi tertentu. Kemungkinan pelaksanaan Pernahkah desain pemecahan yang sedang dipertimbangkan berhasil dilaksanakan di Indonesia sebelumnya? Dapatkan desain pemecahan tersebut dilaksanakan dengan keahlian dan material yang tersedia? Dapatkah mutu yang disyaratkan tercapai? Hal ini merupakan pertimbangan utama dari pilihan-pilihan yang secara teknis lebih kompleks, dimana keruntuhan sebuah elemen dari sistem dapat menghasilkan keruntuhan total dari jalan. Pemeliharaan yang dapat dipertanggungjawabkan Apakah ada persyaratan pemeliharaan tertentu, dan jika ada, dapatkah hal tersebut secara layak dipenuhi? Adalah relatif mudah untuk mendatangkan keahlian khusus untuk pelaksanaan konstruksi, tetapi jika hal tersebut dipersyaratkan juga dalam masa pemeliharaan , maka sepertinya hal tersebut tidak dapat dipenuhi dengan biaya yang layak. Pembiayaan Pembiayaan proyek di seluruh wilayah Indonesia sangat bervariasi dan dapat dikatakan bahwa suatu solusi yang cocok disuatu daerah mungkin tidak cocok diterapkan di daerah lain, karena adanya variasi tersebut. Sebuah kumpulan bank data (database) telah dikembangkan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi dan dimasukkan dalam CD Panduan Geoteknik. Jika kumpulan data tersebut tidak dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan, maka kantor Kimpraswil setempat seharusnya dapat menyediakan biaya satuan untuk seluruh material standar yang digunakan dalam konstruksi jalan. Ketersediaan material dapat diperoleh dari bank data bahan bangunan Indonesia (yang dikembangkan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi, 1997), tetapi

8

informasi dari kumpulan data ini harus diverifikasi kembali melalui evaluasi setempat dari sumber yang ada. Pilihan terhadap sebuah solusi ada hubungannya dengan biaya dan keseimbangan antara biaya konstruksi atau modal dengan biaya pemeliharaan selama umur pelayanan jalan tersebut. Ini harus dibandingkan dengan keuntungan bagi pengguna jalan yang diperoleh dengan adanya suatu peningkatan. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada Bab 9 dari Panduan ini. Kelebihan dan kekurangan dari berbagai pilihan tersebut garis besarnya dikemukakan sebagai berikut: Modal awal rendah –biaya perawatan tinggi biaya keseluruhan selama umur pelayanan (whole life cost) jalan lebih rendah biaya pengguna jalan lebih tinggi tingkat pelayanan yang cenderung lebih rendah kelambatan lalu lintas selama masa pemeliharaan yang lebih panjang anggaran pemeliharaan yang tak mencukupi dapat berakibat terjadinya pengurangan yang cepat terhadap nilai aset jalan Modal awal tinggi – biaya pemeliharaan rendah biaya keseluruhan selama umur pelayanan jalan lebih tinggi biaya pengguna jalan lebih rendah tingkat pelayanan lebih tinggi mengurangi kelambatan lalu lintas selama kegiatan pemeliharaan Isu Linkungan Setiap dampak pelaksanaan konstruksi di luar lokasi merupakan potensi munculnya isu lingkungan. Hal ini meliputi: gangguan pada air permukaan atau air tanah kerusakan pada bangunan bangunan akibat getaran atau gerakan tanah material buangan polusi udara dan suara Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memperhitungkan dampak-dampak ini dalam menilai solusi desain yang dipilih dan membantu Perekayasa Lingkungan dalam menyiapkan laporannya. Spesifikasi Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk pada tahap awal harus mengidentifikasi spesifikasi yang akan digunakan dalam Kontrak dan harus memahaminya.

9

Sebuah keputusan harus diambil dalam hal apakah spesifikasi tersebut secara layak dapat dipenuhi dan evaluasi harus dilakukan terhadap akibat dari tidak bisa dipenuhinya spesifikasi tersebut . Jika teknik khusus dibutuhkan, spesifikasi untuk pelaksanaannya harus disiapkan. Biasanya pabrik pembuat akan memberikan spesifikasi dan metoda pelaksanaan yang tepat dengan produk-produk yang mereka hasilkan. Masalah tertentu yang harus diperhitungkan ketika mempertimbangkan desain pemecahan yang disarankan dalam Bab 3 dan 4 dari Panduan ini dijelaskan dalam bab-bab tersebut . Program Pelaksanaan Pertimbangan harus diberikan terhadap jadwal pelaksanaan konstruksi. Perubahan kondisi tanah akibat musim akan berpengaruh terhadap metoda konstruksi dan peralatan yang digunakan. Banyak tanah lunak dijumpai di daerah yang sering kebanjiran. Oleh karenanya penghematan biaya dan pencapaian mutu konstruksi akan dapat tercapai jika pelaksanaan konstruksi dimulai pada musim kemarau. Meskipun demikian, Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk seharusnya hanya membuat asumsi yang optimis mengenai waktu (timing) kontrak jika hal ini dinyatakan dalam Catatan Data Proyek (Project Data Record), seperti dikemukakan dalam Panduan Geoteknik 2.

10

dan digantikan dengan material yang baik seperti ditunjukkan pada Gambar 3-1 dan 11 .3 Solusi dengan Pekerjaan Tanah (Earthwork Solutions) 3.2 PENGGANTIAN MATERIAL 3. baik sebagian atau seluruhnya.2.1 PENDAHULUAN Lima metode solusi pekerjaan tanah yang telah diterima dan diterapkan di Indonesia adalah: Penggantian Material (Replacement) Bahu Beban Kontra (Counterweight Berms) Pembebanan (Surcharging) Konstruksi Bertahap (Staged Construction) Penggunaan Material Ringan (Use of Light Material) Keunggulan dari masing-masing metode dicantumkan pada Tabel 3-1.1 Teknik Penggantian Tanah lunak yang kompresibel dibuang. 3. dan Ceklis 2 sampai 5 yang berkaitan dengan hal tersebut diberikan pada Lampiran A untuk digunakan oleh Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk. Metode Solusi Penggantian Material Bahu Beban Kontra Penambahan Beban Konstruksi Bertahap Penggunaan Material Ringan P P P Meningkatkan Stabilitas P P P Mengurangi Penurunan Pasca Konstruksi P Tabel 3-1 Keuntungan dari Solusi Pekerjaan Tanah yang Umum Deskripsi yang lebih rinci atas kelebihan dan kekurangan dari solusi-solusi ini dijelaskan berikut ini.

Bila perlu suatu penambahan beban diberikan untuk mempercepat proses penurunan. Tanah lunak Tanah teguh/kenyal Gambar 3-1 Penggantian Total Tanah lunak Tanah teguh/kenyal Gambar 3-2 Penggantian Sebagian 3.2. Sebuah excavator umumnya akan dibutuhkan tetapi penggalian yang lebih dalam dan lebih luas untuk sebuah jalan raya empat lajur akan memerlukan dragline untuk menggali material lunak tersebut. Metode penggalian juga harus memperhatikan aspek ekonomis. pendesakan dengan material timbunan dan peledakan. 12 . Metode pendesakan ini tidak disarankan karena sangat sulit dikontrol.2 Metode dan Prosedur Penggalian Penggantian dari lapisan lunak secara tradisional meliputi penggalian dengan menggunakan alat berat. Peledakan membutuhkan keahlian khusus dan umumnya secara teknik bukan merupakan suatu metode yang cocok atau praktis. sehingga sebagian besar penurunan akan selesai selama pelaksanaan. yang dapat menyebabkan terjadinya beda penurunan yang besar. Tanah lunak digali dengan peralatan termasuk excavator atau dragline sebelum ditimbun kembali dengan material pengganti.Gambar 3-2. Pada penggalian sebagian. Pembuangan lapisan tanah lunak tersebut akan dapat menyelesaikan masalah stabilitas dan penurunan. dan lapisan dari tanah lunak sering terjebak di bawah timbunan. karena timbunan akan diletakkan pada lapisan yang lebih keras dan sebagian besar penurunan akan dapat dihilangkan. lapisan tanah yang tertinggal akan mengalami konsolidasi. Oleh karena itu hanya metode penggantian dengan penggalian menggunakan peralatan biasa saja yang dapat dipertimbangkan.

Hal ini mungkin akan menjadi masalah bila proyek terletak pada daerah perkotaan. 3. Pada areal tanah lunak yang luas. Oleh karena itu metode ini akan sangat cocok diterapkan pada ruas jalan galian dan timbunan (cut and fill sections) karena material timbunan tersedia dari daerah galian. kerikil atau campuran antara pasir dan kerikil digunakan sebagai materia l timbunan bila penimbunan dilakukan di bawah permukaan air. Penimbunan Kembali Penggantian dengan metode penggalian membutuhkan jumlah material yang besar. Pada penggalian sebagian. khususnya pada dataran gambut.2. Material berbutir yang lolos air (granular free draining material) seperti pasir.3 Aplikasi Batasan praktis secara umum untuk penggantian material lunak ditunjukkan pada Tabel 3-2. Material pengganti harus tersedia dengan radius jarak angkut yang ekonomis. penimbunan dengan material berbutir akan sangat mahal. lapisan dengan material yang lolos air (free draining material) diperlukan sebagai lapis drainase (drainage blanket) pada dasar timbunan untuk mempercepat konsolidasi dari sisa lapisan lunak selama waktu pelaksanaan. sehingga memungkinkan untuk menggunakan material timbunan dengan kelas yang lebih rendah. Tanah kohesif dapat digunakan jika penggalian dilakukan dalam kondisi kering dan material timbunannya dapat dipadatkan lapis-perlapis seperti yang biasa disyaratkan. Oleh karena itu akan bermanfaat untuk menilai biaya dan keuntungan dengan melakukan pengeringan gambut yang cukup permeabel. Lempung 1 2 3 Tebal total dari tanah lunak (m) Cocok untuk penggantian seluruhnya Gambut Berserat Cocok untuk penggantian seluruhnya 13 .Tempat Pembuangan Sebuah lokasi yang dari sudut lingkungan dapat diterima untuk menimbun material buangan yang harus tersedia pada jarak yang cukup dekat dari areal proyek.

metode penggantian material akan merupakan suatu solusi terbaik.4 5 6 7 8 9 10 Cocok untuk penggantian sebagian (hingga kedalaman 3m) Cocok untuk penggantian sebagian (hingga kedalaman 3m) Tidak cocok Tidak cocok Tabel 3-2 Batasan Umum dari Penggantian Total dan Sebagian Keadalaman galian untuk tanah lunak ditetapkan berdasarkan stabilitas galian. Batasan yang disarankan umumnya cukup praktis. hingga kedalaman 8m di Malaysia (Toh dkk. yang akan mendukung stabilitas timbunan dan dapat dijadikan sebagai lantai kerja (platform) peralatan konstruksi . maka perlu uji coba skala penuh dengan pemantauan untuk membuktikan kepraktisannya. timbunan mencapai tinggi 16 m sering dijumpai. Meskipun demikian pada daerah tanah lunak ada ketentuan yang mensyaratkan badan jalan harus berada di atas level banjir. telah berhasil dilaksanakan. Bila kedalaman seperti itu yang diusulkan untuk digali. biasanya akan menyebabkan level dari perkerasan paling sedikit akan berada minimal satu meter di atas level tanah asli (original ground level). 14 . tinggi timbunan akan berkisar antara 5 hingga 10 m. bagaimanapun juga akan bergantung pada kondisi-kondisi berikut: Pada daerah timbunan tinggi dimana stabilitas merupakan masalah yang utama. Kedalaman galian untuk gambut berserat ditentukan berdasarkan kebutuhan akan pengeringan galian. Pada daerah timbunan yang rendah. solusi yang diambil harus mempertimbangkan lapisan ini untuk tidak dibuang. Galian yang lebih dalam membutuhkan bangunan penahan yang teliti. Bila bagian atas dari tanah lunak terdiri atas lapisan kerak yang kenyal. desain perkerasan membutuhkan penggalian pada tanah dasar dan diganti dengan material pilihan untuk mencapai nilai CBR yang disyaratkan untuk perkerasan. khususnya pada medan bergelombang atau berbukit dimana tanah lunak yang dangkal dijumpai. maka penggantian material akan membuang lapisan yang sangat baik ini. 1990). Pilihan terhadap metode penggantian material dengan penggalian. Pada daerah timbunan jalan. Meskipun demikian. yang umumnya menjadi tidak ekonomis. Karena itu bila terdapat lapisan kerak yang memadai. penggalian yang lebih dalam lagi. Untuk timbunan oprit jembatan.

Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mempersiapkan daftar simak (Lampiran A. Daftar Simak 2), yang mengidentifikasikan yang mana kelebihan dan kekurangan yang relevan, dan menambahkan keterangan-keterangan lain yang relevan. Ceklis ini merupakan bagian dari Laporan Disain sebagai dukungan (backup) terhadap keputusan metode yang diambil.

3.2.4

Pertimbangan Pelaksanaan
Penyiapan pernyataan metode pelaksanaan (method statement) tertulis biasanya merupakan tanggung jawab kontraktor. Meskipun demikian, pada kasus tertentu perencana harus menyiapkan pernyataan metode pelaksanaan yang jelas dan harus diikuti. Hal ini akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan pra kontrak atau pihak kontraktor akan mengusulkan alternatif lain pada penawarannya. Oleh karena itu, pertimbangan harus diberikan pada kedalaman berapa material harus diganti dan peralatan yang dibutuhkan. Resiko dari penggalian yang tak selesai/sempurna seharusnya juga diperhitungkan bila diambil keputusan penggantian material total. Perhatian khusus harus diberikan ketika melakukan penggantian material lunak, bahwa timbunan yang menghambat aliran air alami (natural drain). Hal ini sangat penting pada areal pertanian dimana sistem irigasi yang ada akan sangat terpengaruh. Suatu penilaian dampak lingkungan harus dilakukan bila mempertimbangkan metode ini. Permasalahan untuk menjamin tanah dapat dibuang seluruhnya yang dilakukan di bawah permukaan air harus terdapat di dalam pernyataan metode pelaksanaan tertulis (method statement). Jika material pengganti ditimbun di bawah permukaan air dan tidak dapat dipadatkan, penggunaan suatu beban tambahan (surcharge) untuk memadatkannya harus dipertimbangkan.

3.3

BAHU BEBAN KONTRA (COUNTERWEIGHT BERMS)

3.3.1

Teknik
Prinsip dari metode bahu beban kontra (counterweight berms), kadang juga disebut sebagai metode bahu tekan (pressure berms), adalah dengan menambahkan beban pada sisi timbunan untuk menaikkan perlawanan terhadap longsoran atau geseran lateral sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3-3. Bila digunakan di depan timbunan oprit jembatan, metode ini akan meningkatkan stabilitas yang dapat mengurangi tekanan yang terjadi pada bangunan bawah jembatan. Cara ini akan sangat efektif untuk menyelesaikan masalah stabilitas tetapi tidak akan menyelesaikan masalah penurunan yang terjadi. Oleh karena itu cara ini

15

sebaiknya dikombinasikan dengan metode lainnya, misalnya dengan metode drainase vertikal (vertical drains).
bahu bahu Tanah lunak Tanah teguh/kenyal
Gambar 3-3 Bahu Beban Kontra Tunggal (Single Counterweight Berm)

Tinggi dari bahu harus didesain dengan faktor keamanan yang cukup terhadap setiap bentuk ketidakstabilan. Bila bahu yang diperlukan lebih tinggi dari tinggi aman, maka beban kontra perlu dikombinasikan dengan metode lain seperti konstruksi bertahap (staged construction) atau drainase vertikal (vertical drains). Aternatifnya, dua atau lebih tahapan bahu (multiple berms) dapat didesain seperti diperlihatkan pada Gambar 3-4.

bahu

bahu

Tanah lunak Tanah teguh/kenyal
Gambar 3-4 Bahu Beban Kontra Ganda (Multiple Counterweight Berms)

Solusi dengan bahu beban kontra ini hanya mungkin dilaksanakan jika terdapat ruang yang cukup untuk timbunan bahu. Lebar bahu yang dibutuhkan akan bergantung pada kedalaman/ ketebalan dari lapisan lunak.

Persyaratan Lahan dari Bahu Beban Kontra
Solusi yang secara teknis menarik dalam penyediaan lahan tambahan untuk membangun bahu beban kontra, adalah dengan mendisain bahu tersebut sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagai lahan pertanian atau fungsi yang bermanfaat lainnya. Isu-isu sosial dan politik umumnya akan membuat skim ini menjadi tidak praktis, tetapi Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk harus betul-betul mempelajarinya sampai puas sebelum mengesampingkannya. Bila skim seperti ini tidak diusulkan, harus disadari bahwa lahan yang direklamasi untuk membangun bahu akan menjadi sangat menarik dan akan di manfaatkan secara tidak resmi.

16

Bahu beban kontra cocok dan praktis digunakan terutama untuk memperbaiki dan membangun kembali timbunan yang telah runtuh.

3.3.2

Metode dan Prosedur
Tujuan dari konstruksi bahu beban kontra ini adalah untuk meningkatkan stabilitas dari timbunan, tetapi bahu itu sendiri harus mempunyai faktor keamanan terhadap setiap bentuk ketidakstabilan: Pada tanah gambut akan lebih baik bila bahu dan timbunan utama dilakukan secara bertahap. Bahu pada kedua sisi dibangun terlebih dahulu, kemudian timbunan utamanya dinaikkan di antara kedua bahu tersebut. Dengan tahapan seperti ini, bahu tersebut akan memampatkan dan memperkuat gambut di luar zona timbunan utama. Jadi bahu tersebut akan berlaku secara efektif untuk mengurung dan melawan gerakan lateral yang terjadi. Dengan menggunakan metode ini akan ada resiko air menggenang pada timbunan utama sebelum timbunan tersebut mencapai tinggi yang sama dengan bahunya. Untuk mengatasi hal ini timbunan utama harus dibangun mengikuti bahu di belakangnya, dengan jarak sekitar dua kali lebar dasar dari timbunan utama. Permukaan dari timbunan utama juga harus dipertahankan agar mempunyai kemiringan ke arah depan ujung yang terbuka. Detail dari prosedur ini ditunjukkan pada Gambar 3-5.

Gambar 3-5 Metode Konstruksi untuk Bahu pada Gambut

Pada lempung lunak sisi bahu harus dibangun secara simultan dengan timbunan utama, dihampar dan dipadatkan lapis perlapis. Kriteria untuk penetapan spesifikasi material timbunan untuk bahu adalah: berat, stabilitas dan dapat dilewati (traffickability), dimana ketiganya saling berkaitan. Meskipun demikian, syarat mutu material yang digunakan untuk bahu tidak seketat seperti yang digunakan untuk timbunan utama, oleh karena itu material lokal yang tersedia dengan kualitas yang lebih rendah dari yang biasanya digunakan untuk

17

timbunan dapat digunakan untuk bahu. maka kemungkinan akan adanya pencurian material timbunan. sepanjang dapat dipadatkan dengan baik. maka hal ini akan menimbulkan kesulitan dalam kontrol mutu di lapangan. bila timbunan utama dan bahu dibangun secara simultan dan bahan yang digunakan berbeda. Efektivitas metode ini akan bergantung pada faktor-faktor berikut: ketebalan tanah lunak permeabilitas tanah lunak adanya lapisan permeabel (drainage layers) waktu pelaksanaan yang tersedia kuat geser tanah lunak Metode pembebanan ini terutama akan efektif untuk mengurangi penurunan jangka panjang gambut berserat yang tebal/ dalam. Jika penurunan yang diinginkan telah dicapai maka beban tambahan tersebut dibuang atau dipindahkan. merupakan suatu kelemahan dari metode ini. 18 .3. Beban yang diberikan harus cukup sehingga penurunan yang terjadi selama pelaksanaan akan sama dengan penurunan total yang akan atau sisa penurunan lebih kecil dari penurunan pasca konstruksi yang diijinkan.3 Pertimbangan Konstruksi Pada Panduan ini tidak disyaratkan bahwa mutu timbunan yang digunakan untuk bahu harus sama dengan kualitas material yang digunakan untuk timbunan utama.4. Meskipun demikian. 3. Pada daerah dimana material timbunan sangat mahal untuk didapat.4 PEMBEBANAN TAMBAHAN (SURCHARGING) 3. 3.1 Teknik Pembebanan tambahan (Surcharging) merupakan sebuah metode untuk menghilangkan atau mengurangi penurunan jangka panjang (long-term settlement) dengan memberikan beban tambahan temporer di atas timbunan untuk mempercepat penurunan primer (primary settlement). ia harus menetapkan material timbunan menggunakan bahan yang sama. Bila Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tidak puas dan pengendalian mutu tidak bisa dijaga.

0 100. Lempung lunak di Indonesia kebanyakan terletak di atas lempung lebih tua yang relatif tidak permeabel.3. Waktu (tahun) 0.0 10.1 0 2 4 1.0 1000. Untuk kasus ini. Oleh karena itu drainase hanya akan terjadi ke atas selama proses konsolidasi dan jarak tempuh pengaliran air akan sama dengan ketebalan dari lempung lunak tersebut. dan untuk nilai kecepatan konsolidasi tertentu. cv .4. Lapisan tanah yang relatif tipis atau dangkal dapat dikonsolidasikan lebih cepat sehingga penurunan total yang diinginkan dapat dicapai selama pelaksanaan.0 U= 50% cv = 1m2/tahun U= 50% cv = 3m2/tahun U= 50% cv = 8m2/tahun U= 90% cv = 1m2/tahun U= 90% cv = 3m2/tahun U= 90% cv = 8m2/tahun Jarak Tempuh (m) 6 8 10 12 14 16 18 20 Gambar 3-6 Kecepatan Konsolidasi Lapisan Lempung Jadi jelas bahwa hanya untuk lempung dengan jejak drainase yang kurang dari 10m dan dengan nilai cv yang lebih tinggi (lempung yang lebih permeabel) sebagian besar penurunan terjadi selama masa pelaksanaan. waktu untuk mencapai 50 dan 90% konsolidasi ditunjukkan pada Gambar 3-6. 19 . Lapisan tanah lempung lunak yang tebal akan memerlukan waktu puluhan tahun untuk mencapai konsolidasi 90%.2 Metode dan Prosedur Faktor-faktor berikut ini akan mempengaruhi keputusan untuk menggunakan metode pembebanan agar mencapai derajat penurunan yang disyaratkan: Ketebalan dari Lapisan Lunak Kompresibel Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suatu derajat konsolidasi tertentu akan proporsional dengan pangkat dua dari jarak tempuh pengaliran air.

Bagan alir untuk mengambil keputusan penggunaan gabungan metode pembebanan. seperti dengan drainase vertikal (vertical drains). Kuat Geser Kuat geser tak terdrainase dari lempung lunak dekat permukaan di Indonesia berada pada kisaran 10 hingga 20kN/m2 . Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan barangkali merupakan pembatas utama dari penggunaan metode pembebanan ini. Kuat geser tak terdrainase yang rendah sebesar 10 kN/m2 hanya dapat mendukung timbunan dengan tinggi sekitar 2 hingga 3 m. sehingga dapat memperpendek drainase dalam tanah lunak yang selanjutnya akan mempercepat proses konsolidasi. metode ini harus dikombinasikan dengan metode lain seperti: bahu beban kontra atau konstruksi bertahap untuk meningkatkan tinggi kritis timbunan. pasir atau kerikil dalam profil tanah akan berfungsi sebagai lapisan drainase horisontal. Lapisan Drainase Lapisan lanau bersih (clean silt). Jika waktu yang tersedia tidak mencukupi dan pilihan untuk memperpanjang kontrak tidak diterima. Tanah Lunak Tanah teguh/kenyal a) pembebanan tambahan 20 . nilai cv ini bergantung pada permeabilitas tanah. Untuk gambut berserat. konstruksi bertahap dan drainase vertikal ditunjukkan pada Gambar 4-1. maka supaya efektif metode ini harus dikombinasikan dengan metode lainnya untuk mempercepat konsolidasi. Beberapa contoh ditunjukkan pada Gambar 3-7. cv dari tanah lunak permukaan. Pada kondisi ini. stabilitas biasanya bukan merupakan masalah dan metode pembebanan secara teknis cocok untuk gambut berserat. Penambahan beban lebih akan menimbulkan permasalahan stabilitas jika beban lebih tersebut ketinggiannya melampaui tinggi kritis yang dapat didukung oleh tanah di bawahnya.Permeabilitas dari Tanah Waktu untuk mencapai derajat konsolidasi tertentu berbanding terbalik dengan koefisien konsolidasi.

maka metode ini paling cocok untuk areal reklamasi yang luas dimana stabilitas bagian pinggir dapat diatasi secara terpisah.Tanah Lunak Tanah teguh/kenyal b) pembebanan tambahan + bahu beban kontra Tanah Lunak Tanah teguh/kenyal c) pembebanan tambahan + drainase vertikal Gambar 3-7 Pembebanan Tambahan yang Dikombinasikan dengan Sistem Lain Penerapan Karena metode pembebanan ini akan mengurangi stabilitas pada tanah lunak. disipasi tekanan pori atau oleh hasil pengukuran dilapangan terhadap kenaikkan nilai kuat geser. 21 .4. maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mempersiapkan Panduan Teknik untuk digunakan oleh Konsultan Supervisi selama waktu pelaksanaan. Bila metode pembebanan ini yang akan diterapkan. Faktor penentu yang dipilih harus secara jelas berhubungan dengan perhitungan disain dan fasilitas untuk pembacaannya harus dimasukkan di dalam program pelaksanaan . Bila material pembebanan tersebut tidak akan digunakan untuk timbunan di tempat lain. Pelaksannan konstruksi harus cukup fleksibel untuk memberikan variasi waktu pada proses pemindahan beban lebih tersebut. Panduan ini harus memuat kriteria yang akan digunakan yang mengidentifikasikan kapan tambahan beban tersebut dapat dipotong.3 Pertimbangan Pelaksanaan Lamanya pembebanan akan ditentukan baik oleh penurunan. 3. atau untuk jalan dimana metode bahu beban kontra dapat diterima. penghematan biaya dapat dilakukan dengan menggunakan material dengan standar yang lebih rendah pada bagian atas dari tambahan beban tersebut yang nantinya akan dipindahkan.

Äp (3-1) Dimana: Äcu = kenaikkan kuat geser U á Äp = derajat konsolidasi (%) = sebuah faktor = kenaikan tegangan vertikal di dalam lapisan tanah Nilai dari Äp dapat diambil kira-kira sama dengan beban timbunan. Äcu = U . seperti ditunjukkan pada Persamaan 3. Penggunaan Kontrak di Muka (Advanced Contract) Penerapan Kontrak Pekerjaan Tanah di Muka (Advance Earthworks Contract) untuk pekerjaan penambahan beban akan menghilangkan ketidakpastian dan biaya yang akan muncul jika pekerjaan tersebut dimasukkan di dalam kontrak utama. 3.1 Teknik Berlangsungnya konsolidasi pada tanah lunak di bawah beban timbunan akan menurunkan angka pori pada tanah bawah permukaan sehingga kepadatan akan naik dan kuat geser tak terdrainase (undrained) naik.5. akan menambah kompleksitas kontrak dan memperpanjang waktu total pelaksanaan. sehingga kuat geser yang diinginkan dapat tercapai. Oleh karena itu kecepatan penimbunan harus dikontrol supaya terjadi konsolidasi yang cukup.4. Untuk lempung yang terkonsolidasi normal faktor á berkisar antara 0.Panduan tersebut harus mengidentifikasikan parameter dan metode desain yang digunakan. Metode ini harus dipertimbangkan bila tinggi desain timbunan melebihi tinggi kritis yang dapat dengan aman didukung oleh tanah di bawahnya.2 . Tetapi. Perkiraan yang ditunjukkan pada Gambar 3-8 cukup memadai untuk keperluan analisis stabilitas. Informasi dalam Panduan tersebut harus cukup sehingga prediksi penurunan dapat dihitung kembali dan direvisi setiap waktu berdasarkan data hasil pemantauan di lapangan. 22 . á.5 KONSTRUKSI BERTAHAP (STAGED CONSTRUCTION) 3. Peningkatan kuat geser pada tanah bawah permukaan merupakan fungsi dari derajat konsolidasi.1. Kenaikan kuat geser penuh hanya akan terjadi tepat di bawah area timbunan paling tinggi dan menurun ke arah kaki.0.

metode konstruksi bertahap ini harus dikombinasikan dengan metode drainase vertikal (vertical drains) untuk meningkatkan kecepatan konsolidasi.5.Gambar 3-8 Kenaikan Kuat Geser dari Konsolidasi Sama dengan metode pembebanan tambahan. 3.2 Metode dan Prosedur Kecepatan Penimbunan Pada metode konstruksi bertahap ini. adanya lapisan drainase. yaitu permeabilitas tinggi. kecepatan penimbunan harus dikontrol untuk memungkinkan terjadinya kenaikan kuat geser yang diinginkan dicapai selama periode penimbunan. metode konstruksi bertahap ini akan efektif pada kondisi tanah yang memungkinkan terjadinya disipasi cepat dari tekanan pori. lapisan tanah lunak tipis. Jika tidak. Kontrol terhadap kecepatan konsolidasi dapat ditentukan sebagai berikut: Kecepatan penimbunan konstan dalam m/hari (lihat Gambar 3-9) Waktu istirahat (rest period) dalam minggu atau bulan di antara kedua tahapan (lihat Gambar 3-10) Kombinasi dari keduanya Tin ggi timbu nan Kecepatan penimbunan yang ditentukan Waktu Gambar 3-9 Kecepatan Penimbunan yang Dikontrol 23 .

6. Dengan menggunakan material yang lebih ringan dibandingkan dengan material timbunan yang biasa digunakan.1 PENGGUNAAN MATERIAL RINGAN Time.2 Metode dan Prosedur Material-material ringan berikut dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai material timbunan bila tersedia dekat ke lokasi proyek: Busa Expanded Polystyrene (EPS) Material buangan (debu (ampas) gergaji. Karena itu mengurangi berat timbunan akan mengurangi tegangan yang terjadi pada tanah di bawah timbunan dan mengurangi penurunan yang berlebihan dan ketidakstabilan. maka berat timbunan akan dapat dikurangi. potongan-potongan kayu.3 Pertimbangan Pelaksanaan Seperti halnya dengan metode pembebanan tambahan. 3. ban bekas) Beton busa (Foamed concrete) Pelet lempung kembang (expanded clay pellet) Batu apung 24 . t Teknik Stabilitas dan besarnya penurunan pada timbunan jalan yang dibangun di atas tanah lunak akan bergantung pada berat timbunan. sekam padi.Tahapan Tinggi yang Ditentukan Tinggi timbunan Waktu istirahat yang ditentukan h2 h1 Waktu Gambar 3-10 Penimbunan Dikontrol Bertahap 3.6 3. waktu istirahat antara tahapan harus dikaitakan dengan peningkatan kuat geser yang diukur.6.5. Biaya dan waktu yang diperlukan harus dimasukkan pula dalam program pelaksanaan. 3.

4 – 0. tak jenuh Edil & Bosscher.09 1 (perkiraan) 1 (perkiraan) 0. 1989) Busa Expanded Polystyrene (EPS) Busa EPS telah digunakan di Inggris.5 Tabel 3-3 Berat Isi dari material ringan (a) (b) (c) (d) 30% rongga. Jepang . Material ini sangat ringan.8 –2.02 – 0.2 1. Material ini secara komersil telah tersedia di Indonesia tetapi harganya sangat mahal. Amerika dan Kanada untuk konstruksi timbunan jalan di atas tanah lunak.7 (a) 0.04 0. Perancis. 25 . sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 3-3. No Material Berat Isi (t/m 3) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pasir Tanah Kohesif Kayu (korduroi) Potongan Ban Bekas Batu Apung Ampas Gergaji Bal Gambut (Peat Bales) Pelet Lempung yang Dikembangkan EPS Pembentuk Ronga (Void Formers) 1.9 0.8 (c) 0. Tetapi material ini dapat dipertimbangkan untuk areal yang terbatas seperti pada timbunan oprit jembatan atau material timbunan dibelakang (backfill) dinding penahan tanah. Per meter kubik harga EPS ini sama dengan dengan harga dari satu kubik beton.6 –1.6 (b) 1.Pembentuk rongga (void formers) Material-material tersebut harus memiliki sifat-sifat sebagai berikut: Tahan lama Tahan api atau dapat dilindungi dari kebakaran Dapat dilewati lalu lintas konstruksi dan dapat dipasang dan dilindungi Stabil dan dapat dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat konvensional Tabel 3-3 menunjukkan berat isi dari material-material yang dapat digunakan untuk timbunan. Swedia. 1994 jenuh jenuh (Moretti.5 – 1. oleh karena itu pembangunan timbunan jalan dengan menggunakan EPS akan sangat mahal.

Kalimantan.Untuk disain jembatan tahan gempa. 26 . maka uji coba timbunan harus dilakukan dan Spesifikasi dan Pernyataan Metode Pelaksanaan (Method Statement) harus dibuat untuk persiapan khusus ini.6. timbunan backfill untuk tipe pangkal jembatan standar memberikan tahanan terhadap beban longitudinal jembatan yang disebabkan oleh gempa. Pada keadaan tertentu jika penggunaan dari material ini cukup atraktif.3 Penerapan Sebelum mempunyai pengalaman yang cukup untuk sistem ini. Timbunan dengan menggunakan EPS di atas gambut yang cukup dalam telah dicoba oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi dan Universitas Indonesia di Lokasi Uji Coba timbunan di Berengbengkel. Hasil dari percobaan tersebut dapat dilihat pada CD Panduan Geoteknik. 3. maka penggunaan material timbunan ringan ini tidak boleh disyaratkan untuk pembuatan jalan yang biasa. Oleh karena itu penerapan EPS untuk timbunan pada oprit jembatan harus dikonsultasikan dengan desainer jembatan.

4

Solusi dengan Perbaikan Tanah

4.1

PENDAHULUAN
Solusi dengan perbaikan tanah yang diadopsi dan telah diterima luas di Indonesia meliputi: Drainase Vertikal (Vertical Drains) Fondasi Tiang (Piled Foundations) Matras (mattress), dengan atau tanpa tiang Detail sistem ini, dan opsi untuk metode tersebut dengan keuntungan dan kelemahan dari masing-masing metode tersebut dikemukakan pada bab berikut. Ceklis 6 sampai 8 dapat dilihat pada Lampiran A. Metode lain dari perbaikan tanah (ground treatment) yang belum diadopsi dan diterima secara luas di Indonesia, secara singkat dijelaskan pada Bab 4.5. Penggunaan salah satu dari sistem tersebut memerlukan persetujuan, spesifikasi dan metode pelaksanaan khusus.

4.2

DRAINASE VERTIKAL (VERTICAL DRAINS)

4.2.1

Teknik
Drainase vertikal dipasang sampai sebagian atau seluruh kedalaman tanah lunak dengan jarak yang ditentukan, yang umumnya berjarak satu hingga dua meter dengan lapisan drainase permukaan dipasang selebar timbunan penuh. Kemudian diberikan beban timbunan. Untuk lapisan tanah lunak yang dalam, adanya drainase vertikal ini akan mengurangi jarak drainase dalam tanah. Karena kecepatan konsolidasi akan bergantung pada panjang jalur drainase seperti yang ditunjukkan pada Persamaan 4-1, maka drainase vertikal ini akan mempercepat proses konsolidasi.

27

TV .H 2 t= cV
t TV H cV = = = = waktu konsolidasi faktor waktu panjang drainase Koefisien Konsolidasi

( 4-1)

Jika diperlukan, perbaikan tanah dengan drainase vertikal ini dapat dikombinasikan dengan solusi lain seperti ditunjukkan pada grafik proses pengambilan keputusan pada Gambar 4-1.

28

Dapatkan timbunan sampai tinggi penuh dibangun dalam saru tahap?
TIDAK YA

MASUKKAN KONSTRUKSI BERTAHAP

Apakah tersedia waktu yang cukup dalam kontrak untuk memberi kesempatan dicapainya penurunan yang diinginkan ?

TIDAK

TIDAK ATAU

MASUKKAN PVD

MASUKKAN PEMBEBANAN TAMBAHAN

YA

YA

Apakah tersedia waktu yang cukup dalam kontrak untuk memberi kesempatan dicapainya penurunan yang diinginkan ?
TIDAK

TIDAK DIPERLUKAN TINDAK LANJUT

MASUKKAN PVD & PEMBEBANAN TAMBAHAN

Gambar 4-1 Bagan Alir Pengambilan Keputusan untuk Metode DrainaseVertikal

29

karakteristik mekanik seperti kuat tarik dari inti dan filternya (tensile strength of core and filter) dan kuat tekuk (buckling strength) serta ketahanannya terhadap degradasi 30 . Drainase pasir vertikal dengan pemboran mengganti (Bored replacement type sand drains) dipasang dengan pengeboran sebelumnya memakai auger melayang menerus (continuous flight augers) atau auger yang dipasang pada batang kelly teleskopik (telescopic kelly bars) dan kemudian lubang bor diisi dengan pasir. Diameter dari lubang berkisar dari 20 hingga 40 cm dan spasinya berkisar antara 1. Sumbu pasir ini biasanya dimasukkan ke dalam lubang bor yang dibuat sebelumnya di dalam tanah. dan juga menimbulkan kerusakan pada saluran drainase horisontal alami. Oleh karenanya desain drainase akan spesifik untuk setiap lokasi. Drainase pasir semprotan air tanpa desakan (Non-displacement jetted sand drains) dapat memperkecil gangguan di sekitar tanah.5 hingga 3m.4 cm. Drainase vertikal pra-fabrikasi (Prefabricated vertical drains. Gangguan yang timbul pada pengisian pasir dengan cara ini umumnya kecil tetapi pembuangan tanah sisa pemboran dengan volume yang besar sering menjadi permasalahan. Gradasi pasir harus dipilih sesuai untuk keperluan penyaringan dan diameter pengaliran harus ditentukan untuk menghasilkan kapasitas drainase yang diperlukan. Material yang digunakan untuk drainase pasir (sand drain) harus didisain sehingga a) mempunyai kemampuan penyaringan sehingga setiap lanau atau pasir halus di dalam tanah tidak akan menyumbat aliran dan b) cukup permeabel untuk memberikan kapasitas drainase yang disyaratkan.2 Metode dan Prosedur Tipe -tipe Drainase Vertikal Drainase pasir vertical dengan cara desakan penumbukan (Driven displacement sand drains) merupakan cara sederhana dan digunakan secara luas karena biayanya murah. misalnya mengenai kapasitas pengeluaran air (well discharge capacity) dan permabilitas dari filter/saringannya. Biasanya memiliki lebar sekitar 10 cm dan tebal 0.2. Tetapi.4. Jika menggunakan tipe drainase ini karakteristik hidroliknya harus diperhatikan dengan seksama. Drainase pasir pra-fabrikasi (Prefabricated sand drains) termasuk ‘sumbu pasir (sand wicks)' yang dibuat dengan mengisikan ke dalam kaus dari material filter yang biasanya berdiameter kecil. dan spesifikasi umum untuk gradasi pasir tidak dapat diberikan dalam Panduan ini. cara pemasangan ini dapat mengganggu dan merusak struktur tanah yang akibatnya dapat mengurangi kuat geser tanah. Tapi metode ini memakan waktu dalam pemasangannya dan kesulitan apabila harus menembus lempung kenyal atau lapisan berbutir kasar. PVD) umumnya berbentuk pita (band-shaped) dengan sebuah inti plastik beralur yang dibungkus dengan selubung filter yang terbuat dari kertas atau susunan plastik tak teranyam (non woven plastic fabric).

lantai kerja yang lebih kuat/luas dan penggunaan vibrator ujung (top vibrator) untuk mempermudah proses penetrasi. maka pengawasan lapangan harus dilakukan dengan tingkat teknis yang tinggi untuk menjamin bahwa prosedur yang semestinya dijalankan. 31 . Bila sistem drainase pasir akan diterapkan. Penggunaan material alami akan menghasilkan sebuah produk yang lebih murah. Perkembangan terakhir memgunakan drainase dari serat alami (natural fibre drains). Untuk proyek kecil. dapat mencapai hasil rata-rata 2300m drainase PVD per rig per 10 jam per hari 2 Dalam Proyek IGMC 2 pada uji coba timbunan di Kaliwungu. 4. dibutuhkan rig yang lebih besar.2m telah dipasang dengan satu mesin dengan kecepatan 300m2 per hari.3 Prosedur Instalasi Karena sistem drainase pasir tidak lagi digunakan di Indonesia maka belakangan ini tak ada lagi pengalaman mengenai penggunaanya dan tak ada panduan mengenai prosedur pemasangannya yang cocok yang dapat dikemukakan. dan paling tidak untuk pemasangan drainase yang dangkal sistem drainase tersebut akan menunjukkan hasil yang sama dengan jika menggunakan material drainase dari bahan sintetis. terdiri atas sebuah inti gulungan (coir core) dan bagian luar dari goni.2.fisik dan biokimia dalam berbagai kondisi cuaca dan lingkungan yang tidak ramah. Sistem drainase dengan PVD harus dipasang dengan mandrel yang ujungnya tertutup (closed-end mandrel) yang dimasukkan ke dalam tanah baik dengan penetrasi statis maupun pemancangan dengan vibrator (vibratory driving). 1983). dapat digunakan satu rig yang dapat mencapai kecepatan pemasangan hingga 300 m2 per hari2 . Drainase pra-fabrikasi biasanya dipasang sampai kedalaman hingga 24m dengan menggunakan rig penetrasi statis. pemasangan PVD sampai kedalaman 20m dengan spasi 1. Kedalaman maksimum pemasangan yang pernah dilakukan di Indonesia berdasarkan pengalaman sampai saat ini mencapai 45m (Nicholls & Barry. Untuk yang lebih dalam. Gangguan yang timbul apabila digunakan sistem drainase PVD akan lebih kecil dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh drainase pasir konvensional dengan pendesakan. Tingkat kerusakan atau gangguan pada tanah yang ditimbulkannya bergantung pada bentuk dan ukuran dari mandrel dan sepatu yang dapat dilepaskan (detachable shoe) pada dasar mandrel yang digunakan untuk mengangkut material ini ke dalam tanah. Keuntungan dengan penggunaan sistem drainase tersebut terutama adalah prosedur pemasangannya yang sederhana. Di Pelabuhan Laut Belawan dimana drainase tersebut dipasang sampai kedalaman antara 20 dan 45m pemasangan. murah dan kecepatan pemasangan yang tinggi.

Dengan menggunakan Hukum Darcy’s. Ini berarti sebelum sampai pada waktu/saat tersebut. 1985). selimut pasir perlu didisain untuk mendapatkan permeabilitas yang diinginkan yang harus dihitung sebagai berikut: Putuskan kapan selama proses konsolidasi selimut pasir harus mampu mengalirkan air (discharge). hitung aliran horisontal air pada selimut dengan menggunakan separuh lebar dan tebal selimut untuk mendapatkan permeabilitas yang diinginkan. Oleh karena itu pemberian kemiringan tidak disarankan. Tebal minimum 30cm harus dipakai. 32 .4 Selimut Pasir (Sand Blanket) Selimut pasir harus dipasang pada lapisan pertama dari timbunan untuk memberi jalan kepada air yang keluar dari sistem drainase. Walaupun demikian. 4) Gradasi (grading): untuk dapat berfungsi sebagai filter yang memadai sebagaimana dijelaskan berikut.2. Mesin yang dapat memasang drainase ini hingga kedalaman 60 m dengan kecepatan 1 m/detik sekarang telah tersedia di beberapa negara (Choa. kemiringan melintang awal ini dapat juga dinaikkan untuk konpensasi terjadinya beda penurunan yang terjadi antara tengah dan pinggir. 4. 2) Ketebalan: harus cukup untuk memberikan suatu lapisan yang memadai (reliable interface) antara selimut pasir dengan drainasenya. meninggikan selimut dibagian tengah supaya lebih miring akan menambah kerumitan pelaksanaan. 1984). Barry & Shoji. Pilih gradasi material untuk memberikan permeabilitas yang diperlukan. Waktu untuk 5% konsolidasi akan cukup memadai.(Nicholls. Hitung kecepatan pengaliran air tersebut pada waktu konsolidasi 5% atau tingkat konsolidasi lain yang dipilih. yang dalam hal ini akan bergantung pada metode pemasangan sebagaimana akan dibahas berikut ini. 3) Kemiringan melintang (crossfall): Lapisan pasir harus mempunyai kemiringan melintang awal dari tengah ke pinggir timbunan untuk memberikan drainase positif. Panduan untuk itu dapat diperoleh dari Gambar 4-2 dan Gambar 4-3. Syarat-syarat dari selimut pasir ini adalah: 1) Penempatan: harus dipasang pada elevasi yang secara praktis serendah mungkin untuk memperkecil tekanan balik (backpressure) dalam drainase. selimut akan dipenuhi air dan efisiensi pengaliran air menjadi kurang dari 100%.

Bahkan pasir untuk campuran beton sekalipun.7 x 10^-1 0.6 x 10^-4 2.00E-09 1. Terlihat bahwa permeabilitas dari gradasi yang dispesifikasikan ini hanya akan berada pada kisaran 10-6 hingga 10-7 m/detik yang sepertinya tidak akan dapat memberikan drainase yang diinginkan.6 x 10^-3 9. 1982) Contoh selimut pasir pada Gambar 4.1 1 10 0 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 0.00E-07 Lanau Kasar 1. Pasir yang tersedia secara lokal di banyak tempat di Indonesia umumnya tidak cukup kasar untuk dapat memberikan permeabilitas yang diinginkan.7 x 10^-2 2.2 x 10^-3 1.1 x 10^-3 3. Pada kasus ini ada dua pilihan yang dapat dilakukan: 33 .00E-10 1.00E-11 Lanau Lempung Gambar 4-3 Pengaruh dari Kehalusan pada Permeabilitas (GCO. k (m/sec) 5 10 15 20 25 30 1.00E-06 1.00E-05 Koefisien Permeabilitas.9 x 10^-1 3.1 x 10^-2 Contoh Selimut Pasir mm Gambar 4-2 Hubungan dari Ukuran Butir dengan Permeabilitas pada Pasir (GCO.2 adalah sebuah usulan yang diambil dari sebuah kontrak proyek jalan di Indonesia belakangan ini.00E-08 1.5 x 10^-4 6. 1982) Pengaruh dari Kehalusan pada Permeabilitas Persentase dari berat lolos saringa 75 micron 0 1.5 x 10^-4 4.1 x 10^-4 1.01 0.Permeabilitas m/detik 100 90 % 80 70 60 50 40 30 20 10 0.

8) Filter: Ini disyaratkan untuk mencegah masuknya butir tanah ke dalam selimut drainase yang dapat menyumbat dan mengurangi efisiensi pengaliran air. ataupun dengan menggunakan filter geotekstil dengan disain yang sesuai. karena hal tersebut akan mudah rusak akibat peralatan dan juga tererosi oleh curahan air hujan. Akan tetapi biasanya Kontraktor tidak bisa menerima bila selimut pasirnya digunakan sebagai lantai kerja. sehingga Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus : 1) Menyiapkan desain yang termasuk lantai kerja 2) Dikonsultasikan jika kontraktor mengusulkan perubahan Spesifikasi yang umum di Indonesia adalah dengan menghampar selimut pasir tersebut terlebih dahulu sebelum memasang drainase. Selimut pasir tersebut juga dapat terkontaminasi oleh lanau yang mengalir akibat pekerjaan tanah di sekitarnya yang dapat mengakibatkan kinerja selimut pasir menjadi jelek. sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4-3. Lantai kerja ini dapat berpengaruh terhadap efisiensi drainase selanjutnya. Saringan kering (dry sieving) dapat menhasilkan perkiraan yang terlalu rendah akan banyaknya material halus. Filter bagian atas dan bawah harus menggunakan lapisan pasir dengan gradasi maupun ketebalan yang sesuai dengan desain filter yang biasa. Kelemahan dari metode ini adalah: 1) Bila lokasi tersebut terkena banjir maka selimut pasir akan mengalami segregasi atau terkontaminasi selama proses penghamparannya 2) Jika digunakan filter geotekstil. yang dapat menyebabkan perkiraan yang terlalu tinggi terhadap nilai permeabilitas. Sistem yang lebih disukai adalah dengan menghampar selimut pasir dan filter lainnya kemudian 50cm material timbunan dihampar sebagai lantai kerja. 4. 34 .5 Pertimbangan Pelaksanaan Sebuah lantai kerja biasanya dibutuhkan untuk alat berat untuk memasang PVD. tetapi dengan memasang pipa drainase lateral dengan jarak yang sesuai untuk mengurangi jarak pengaliran air. Jika selimut pasir diletakkan langsung diatas tanah lunak maka saringan bawah tidak diperlukan lagi.2.Gunakan batu atau kerikil pecah berukuran tunggal (crushed single sized gravel) Menggunakan pasir lokal. maka geotekstil tersebut akan tertusuk sewaktu pemasangan PVD. Pengujian pada Pasir Analisis gradasi sumber pasir untuk selimut pasir harus dilakukan dengan metode penyaringan basah (wet sieving method).

Gambar 4-4 Prosedur Instalasi PVD menembus Selimut Pasir Pendekatan dengan sistem ini dapat memperlambat pemasangan PVD oleh karenanya kontraktor perlu dimintai untuk merencakan pekerjaannya dengan cermat. Lanau yang berasal dari kegiatan di sekitar areal tersebut telah mengkontaminasi material drainase tersebut. Kontraktor tersebut tidak melanjutkan tahap penimbunan berikutnya. Sebagai akibat dari sejumlah faktor luar. akibat lebih jauh adalah tertundannya kegiatan penimbunan selanjutnya. Setelah enam bulan. Kontraktor tersebut tidak menghampar selimut pasir sebelum memasang drainasenya.Pendekatan alternatif adalah dengan memasang lantai kerja dengan ketebalan yang cukup yang dapat mendukung beban peralatan. Catatan Kasus Sebuah oprit jembatan di atas lempung lunak yang dalam disyaratkan dispesifikasikan untuk ditimbun setelah drainase vertikal dipasang dengan menggunakan metode konstruksi bertahap selama masa 15 bulan. Kontraktor memasang drainase tersebut tanpa menyerahkan rencana metode pelaksanaan yang menjelaskan bagaimana cara memasang drainase. drainase yang terbuka tersebut telah mengalami dekomposisi seluruhnya akibat sinar ultra violet dari matahari. Alat pancang mundur dan lapisan selimut pasir berikutnya dihampar dan selanjutnya proses pemasangan diulangi. Kemudian satu strip selimut pasir dihampar dan PVD dapat dipasang melaluinya dan peralatan berdiri di selimut pasir tersebut. Lokasi tersebut dibiarkan terbuka begitu saja selama enam bulan. 35 . Pebaikan menyeluruh dibutuhkan untuk meyakinkan drainase tersebut akan dapat tetap berfungsi dengan baik bila penimbunan akan dimulai kembali. Prosedur ini dapat dilihat pada Gambar 4-4.

1984). 4. biasanyan areal pinggir timbunan dengan maksud untuk meningkatkan stabilitas Contoh dari ketida pendekatan tersebut ditunjukkan pada Gambar 4-5. Tiga pendekatan dasar diterapkan dalam penggunaan tiang ini: Memikul Seluruhnya (Full Support): tiang memikul seluruh beban timbunan sampai ke lapisan keras.1 Teknik Tiang berfungsi untuk memindahkan beban timbunan ke lapisan yang lebih teguh di bawah lapisan lunak (tiang tahanan ujung) atau berfungsi untuk mendistribusikan beban melalui kedalaman lapisan dengan memanfaatkan lekatan antara tanah dan permukaan tiang (tiang lekat). Jalan Lingkar Utara (JLUS) Tahap 2 Seksi 1 menggunakan drainase vertikal dengan matras bambu untuk timbunan dengan ketinggian 2 hingga 3m di atas lempung pantai yang sangat lunak. penurunan dikurangi tetapi tidak dihilangkan Memikul Setempat (Local Support): tiang didisain untuk memikul hanya sebagian dari timbunan. Drainase vertikal juga telah digunakan untuk reklamasi Pelabuhan Semarang (Rahardjo dkk. Pada tahun 1979 pengembangan dari Pelabuhan menggunakan drainase vertikal pra-fabrikasi untuk mempercepat penurunan areal yang di-reklamasi. pembangunan jalan untuk Pelabuhan Belawan di Sumatra Utara menggunakan drainase tiang pasir yang dilaporkan berhasil dengan baik. Tri Indijono (1999) melaporkan uji-coba timbunan dengan menggunakan drainase vertikal di Surabaya.2.3. 36 . Drainase dipasang pada lapisan lempung lunak Holosen bagian atas dan juga pada lapisan lempung kenyal di atas lapisan lempung pada kedalaman 45m (Nicholls. Tiang akan dapat mengurangi penurunan dan meningkatkan stabilitas timbunan. 2000).6 Contoh Penggunaan Pada tahun 1970-an. Di Semarang.3 TIANG 4. sehingga mengurangi penurunan menjadi sangat kecil Memikul Sebagian (Partial Support): tiang tidak didisain untuk memikul seluruh beban dari timbunan.4. Barry & Shoji.

4.tanah lunak tanah keras a) Memikul Keseluruhan tanah lunak tanah keras b) Memikul Sebagian tanah lunak c) Memikul Setempat Gambar 4-5 Timbunan yang Didukung oleh Tiang tanah keras Beban ditransfer dari timbunan ke tiang melalui salah satu berikut ini: Lantai struktural (structural slab): pada kasus ini tiang dan lantai membentuk suatu unit struktural. lebih populer tiang ini disebut“cerucuk” (tiang ramping). di Malaysia 37 .2 Tipe-tipe Tiang Tiang Kayu Cerucuk Tiang pendek dengan menggunakan kayu atau bambu telah digunakan di Indonesia.3. Topi tiang (pile caps): material timbunan harus menapak di antara topi-topi tiang Matras: matras menyebarkan beban ke tiang atau topi tiang.4. Matras dijelaskan pada Bab 4.

tiang pipa beton dengan diameter 300mm juga telah digunakan . Tiang pra cetak berbentuk persegi atau segitiga dengan sisi berukuran 10 hingga 40cm akan memberikan kapasitas daya dukung yang cukup besar. 4. 38 . Tiang Beton Untuk tanah lunak yang lebih dalam dan bila kapasitas daya dukung beban yang lebih besar diperlukan.disebut “tiang bakau”.3 Metode Transfer Beban Timbunan ke Tiang Lantai Bertiang (Pile Slabs) Timbunan yang dipikul oleh tiang beton dengan menggunakan lantai beton dan secara populer dinamakan timbunan bertiang (piled embankment) atau lantai bertiang (piled slabs) seperti ditunjukkan pada Gambar 4-6 a. daya dukung yang diberikan oleh tiang pendek yang tidak menembus lapisan yang lebih keras dibawahnya sangat terbatas sampai tidak ada gunanya. Penggunaan kayu dari hutan yang tidak dapat diperbaharui harus dihindari. penggunaan dari tiang beton pra cetak akan lebih cocok. Biasanya tiang yang digunakan berukuran panjang 4 hingga 6 m dan dengan diameter 10 cm.3. dan c. tiang pipa beton (spun piles) tersedia. Kepedulian akan masalah lingkungan juga harus diperhatikan bila solusi dengan menggunakan tiang kayu ini yang menjadi pilihan. Tiang juga membantu memikul lalu lintas selama pelaksanaan konstruksi. Tiang yang biasa digunakan berukuran 25 x 25 cm persegi beton pracetak. Untuk tiang dengan daya dukung yang lebih besar. baik dengan menggunakan sambungan mekanik maupun sambungan dengan pengelasan ataupun kombinasi dari keduanya. Pada gambut berserat. Penggunaan tiang kayu dengan panjang 4m di bawah timbunan pada lapisan lempung lunak yang dalam akan dapat mengurangi beda penurunan yang terjadi meskipun besarnya sangat sulit untuk dihitung. Tiang tipe ini akan memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan tiang persegi. Lantai tinggi seperti ditunjukkan pada Gambar 4-6 d di Indonesia disebut “Kaki Seribu”. Tiang-tiang ini dapat disambung untuk mencapai kedalaman yang dibutuhkan.b. Tiang kayu dengan sambungan telah berhasil digunakan sampai kedalaman 12 m. biasanya digunakan untuk jalan yang tinggi (elevated) seperti untuk timbunan jalan pendekat atau timbunan oprit jembatan.

5 x 1. Topi menahan hampir keseluruhan beban timbunan dengan gaya arking (arching action). 39 . dan kadang-kadang dibantu dengan memasang geotekstil di atasnya.5 m dan tiang yang bertindak sebagai satu kesatuan.a) Lantai bertiang standar (standard piled slab) b) Lantai bertiang dengan tiang ujung miring (raking edge piles) c) Lantai bertiang dengan lantai untuk jalan (slab forming carriageway) d) Lantai bertiang ditinggikan (elevated piled slab) Gambar 4-6 Variasi Lantai Bertiang (Piled Slabs) Topi Tiang (Pile-Caps) Topi tiang yang terdiri atas. topi beton pracetak berukuran 0.8 sampai 1. Beberapa konfigurasi yang khas untuk model ini ditunjukkan pada Gambar 4-7.8 x 0. contohnya.

tetapi sistem sambungan yang telah di fabrikasi telah digunakan secara sukses dengan tiang yang dapat mencapai kedalaman sampai 12m (Barry. 1992). Penggunaan cerucuk yang umum di Indonesia adalah dengan panjang 4m.4 Pertimbangan Pelaksanaan Cerucuk memberikan lingkup penggunaan yang terbatas.a) Topi tiang dengan arking (pile caps with arching of fill) b) Topi tiang dengan arking diperkuat dengan geogrid (pile caps with arching enhanced by use of geogrid) c) Topi tiang yang besar untuk mengurangi arking yang diperlukan Gambar 4-7 Konfigurasi Topi Tiang 4. Biaya merupakan pertimbangan utama dengan penggunaan sistem konstruksi tiang yang lain. 40 . Brady & Younger.3.

ataupun geosistetis (geotekstil. untuk timbunan jalan pada tanah lunak Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memastikan bahwa pekerjaan sementara tidak akan mempengaruhi pekerjaan permanen. bambu gelondongan atau lembaran (fascine). Matras dapat dibuat dari korduroi kayu . geosel) dengan batu pecah yang memiliki kualitas yang baik. geogrid. geogrid atau yang dibuat sebagai geosel akan memberikan dukungan untuk menstabilkan timbunan pada tanah lunak. Uji-coba telah dilakukan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi pada areal gambut yang dalam di Berengbengkel. Lantai kerja harus didesain dengan semestinya serta harus diperhitungkan dalam desain akhir.5 Contoh Penggunaan Tipe konstruksi lantai tiang telah dibangun pada Seksi III dari Jalan Lingkar Utara Semarang dan Jalan Tol Surabaya –Gresik. Matras yang diperkuat dengan geotekstil .4. dan contoh lebih lanjut diberikan dalam Bab 4. Matras juga akan mencegah tenggelamnya material timbunan ke dalam lapisan tanah sangat lunak dan dapat mengurangi beda penurunan yang terjadi pada timbunan. Kalimantan menggunakan tiang mikro dengan matras beton.Pengalaman dari uji coba timbunan dengan menggunakan tiang beton mikro dengan matras beton bersambung pada lapisan gambut yang dalam3 menunjukkan bahwa sistem ini sangat mahal dan hanya sedikit pengaruhnya terhadap pengurangan penurunan. cukup 3 menumpahkan (end 41 . Harus diperhatikan bahwa bila kontraktor menimbun lapis pertama timbunan dengan cara tip) material di atas lapisan tanah yang sangat lunak. 4.4 MATRAS 4. Meskipun demikian. Tanggungjawab untuk menyediakan jalan masuk atau jalan kerja umumnya adalah Kontraktor. karenanya jalan masuk/jalan kerja harus didesain dengan baik. cara ini akan menimbulkan Uji timbunan di Berengbenkel. 4.3. Solusi dengan tiang yang sering digunakan adalah dengan menggunakan matras.1 Teknik Jika lapisan bagian atas dari tanah lunak tersebut sangat lunak (tak ada lapisan kerak) matras dapat digunakan untuk mendukung lalu lintas peralatan selama pelaksanaan. Juga pengangkutan tiang yang beton yang besar akan memerlukan alat berat yang akan tidak praktis untuk diterapkan pada lapisan tanah dasar yang sangat lunak. lihat laporan pada CD Panduan gelombang lumpur yang serius yang akan menyebabkan beda penurunan jangka panjang yang Teknik besar. Kalimantan Tengah.4. Matras dapat juga digunakan untuk mengganti atau mengurangi ukuran topi tiang pada konstruksi.

Dengan metode ini. Proporsi dari beban yang dipikul oleh kolom bergantung pada modulus elastisitas dan luas penampang dari kolom dibanding dengan tanah. perbaikan dengan kolom batu ini telah dicoba pada daerah tanah lunak pada ruas Jalan Tol Padalarang – Cileunyi.5 METODE PERBAIKAN TANAH LAINNYA Metode-metode berikut ini belum diadopsi di Indonesia. dan Kontraktor yang terpilih untuk melaksanakan pekerjaan tersebut harus memiliki pengalaman yang diperlukan atau kemauan untuk ikut dalam proses mempelajari biaya dan waktu pelaksanaan uji coba tersebut. Kolom batu ini memiliki dua fungsi (1) berfungsi sebagai drainase vertikal dan (2) berfungsi sebagai kolom untuk memikul sebagian beban timbunan. baik karena tidak cocok maupun karena metode tersebut belum teruji dengan baik maupun karena alasan-alasan lainnya. Oleh karena itu metode-metode ini tidak boleh dipertimbangkan untuk proyek jalan baku. tetapi hasilnya tidak memuaskan.4. Kolom Batu (Stone Columns) Metode ini terdiri dari pembuatan lubang vertikal pada lapisan tanah yang kemudian diisi dengan batu pecah atau kerikil untuk membentuk kolom yang dilingkung (confined) oleh tanah di sekitarnya. Bila di pertimbangkan.4. tinggi kritis dari timbunan dapat ditingkatkan karena sebagian dari beban timbunan tersebut dipikul oleh kolom.2 Contoh Penggunaan Matras yang diperkuat dengan geogrid diatas tiang kayu telah digunakan untuk mendukung timbunan tinggi satu meter pada gambut dengan kedalaman delapan meter di Sumatra Timur seperti ditunjukkan pada Gambar 4-8. Teknik ini mungkin tidak cocok untuk diterapkan pada kondisi 42 . maka dibutuhkan persetujuan khusus dari pihak terkait. Di Indonesia. perlu dilakukakan uji coba secara detail. Lebar jalan 5m Jarak 100mm Pembatas 450 atau550mm pada puncak Lapisan 2 Tensar Ss2 Lapisan 1 Tensar Tiang kayu dia 150mm dengan jarak c/c 1m dipancang sampai 5m dibawah dasar lapisan gambut Gambar 4-8 Konstruksi Matras Tiang 4.

Swedia telah mengembangkan metode untuk pencampuran dalam ini. Konsolidasi Vakum (Vacuum Consolidation) Pemberian tekanan vakum kepada selimut pasir yang dipasang diatas drainase vertikal akan meningkatkan aliran air dan ini akan mempercepat proses konsolidasi. Seperti halnya dengan kolom batuan. Dengan metode ini kolom kapur dengan diameter 50 cm dan kedalaman 10 m dapat dibuat. selimut tersebut harus dibungkus dengan membran. Untuk mencapai kondisi vakum. Metode Pemadatan Pasir (Sand Compaction Method) Dengan metode ini. sedangkan tanah lunak mencapai kedalaman sampai 30 m. Pengembangan metode yang lebih murah saat ini sedang dicoba di Thailand yang nampaknya akan memberikan keuntungan/kelebihan yang cukup besar (Miki. diperlukan metode pencampuran dalam (deep mixing). sistem ini juga diharapkan dapat berfungsi sebagai drainase vertikal sehingga dapat mempercepat proses konsolidasi. 43 . dan belum digunakan secara luas. 1999). Osmosa Elektro (Electro Osmosis) Pemasangan anoda dan katoda pada lempung dengan kadar air yang tinggi dan pemberian arus listrik padanya akan menyebabkan air mengalir.tanah yang ada antara lain. yang kemudian dikeluarkan. Teknik ini dilakukan dengan mencampur tanah dengan kapur atau semen dengan menggunakan alat pencampur seperti alat pencampur putar (rotary mixer) atau plant pencampur (plant mixer). kolom pasir dengan diameter yang besar di buat di dalam tanah dan dipadatkan dengan getaran/vibrasi atau tumbukan untuk meningkatkan kuat geser lapisan tanah. Di Jepang. Untuk lapisan tanah lunak yang dalam. Metode ini telah dikembangkan dan digunakan di Jepang. digunakan alat yang lebih berat dengan beragam pisau pengaduk dan dengan metode ini kolom kapur dengan kedalaman hingga 60 m dan dengan diameter hingga 2m dapat terbentuk. tiang batu hanya mampu dipasang sampai kedalaman 18 m. Metode untuk mempercepat konsolidasi ini membutuhkan tenaga listrik yang besar. Peralatannya terdiri dari sebuah pisau pengaduk putar yang dimasukkan ke dalam tanah lunak dan kapur disuntikkan pada waktu pisau pengaduk diangkat. Keahlian khusus dan pengalaman menggunakan teknik ini diperlukan untuk mendapatkan manfaat dari teknik ini. Kolom Kapur atau Semen (Lime or Cement Columns) Stabilisasi tanah dengan menggunakan kapur atau semen telah digunakan untuk konstruksi jalan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan daya dukungnya.

yang pada bagian atasnya dipasang lantai beton bertulang (concrete slabs) tipis. 44 . Percobaan di Indonesia menunjukkan bahwa sistem ini cukup efektif (Hiroo. awalnya untuk menara transmisi dimana penggunaan tiang yang pendek akan memberikan tahanan terhadap gaya guling yang besar. jembatan dan gedung. 2 hingga 3m. perbaikan jangka pendek yang sama juga akan didapat dari konstruksi perkerasan lantai beton biasa tanpa tiang pendek. Walaupun demikian. 2000) tetapi tak ada perbandingan biaya untuk menunjukkan apakah ada keuntungan dari sistem ini dibanding dengan sistem-sistem yang menggunakan jenis matras lainnya. Cakar Ayam (Chicken Claw) Sistem cakar ayam ini terdiri dari tiang pipa pendek. Untuk timbunan jalan di atas lapisan tanah lunak yang dalam sistem ini tidak akan mengurangi penurunan jangka panjang yang terjadi tetapi pengurangan terhadap perbedaan penurunan awal akan dicapai sebagai akibat dari kekakuan dari sistem lantai tiang (slab-pile system). perkerasan bandar udara.Stabilisasi Dangkal dan Tiang (Shallow Stabilisation and Piles) Metode ini merupakan salah satu tipe matras tiang dimana matrasnya terdiri dari tanah yang distabilisasi dengan bahan kimia atau semen. Konsep ini dikembangkan di Indonesia. dengan tebal 10 hingga 15cm. Sistem ini selanjutnya digunakan sebagai sistem fondasi untuk timbunan jalan.

3. dan catatan dibuat untuk data yang ditolak tersebut beserta alasannya. atau bahkan kumpulan satuan-satuan geologi. atau lapisan tertentu dalam satuan geologi.1 INTERPRETASI GEOLOGI Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus telah melakukan inpeksi contoh tanah pada waktu tahapan penyelidikan lapangan dan pengujian laboratorium. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tersebut harus mengkaji kembali potongan-potongan ini dan memastikan bahwa potongan telah lengkap dan memperhitungkan semua data baik dari studi meja maupun dari pengujian lapangan dan laboratorium. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk kemudian harus mengkaji laporan faktual dan memastikan bahwa seluruh data tersebut konsisten satu dengan lainnya.5 Penyiapan Disain 5. Satuan ini dapat saja berupa satuan geologi. Bila ia tidak terlibat pada tahapan tersebut maka ia harus menjamin bahwa ia telah cukup mengenal tanah tersebut supaya dapat memulai pekerjaan desain. Dari interpretasi geologi dan data penyelidikan lapangan. Satu atau lebih potongan geologi harus telah disiapkan selama penyelidikan lapangan. Penamaan satuan-satuan Tanah dan penomorannya akan membantu dalam memahami data dan desain dan dalam penyampaian kesimpulannya. 45 .1. Data yang tidak konsisten harus ditolak. Contoh untuk menentukan Satuan Tanah di suatu lokasi ditunjukkan pada Gambar 5. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk kemudian harus mengidentifikasi Satuan Tanah (soil units) yang relevan. Satuan-satuan Tanah (Soil Units) didefinisikan sebagai lapisan-lapisan atau zona tanah yang mempunyai sifat-sifat teknik serupa yang dibuat untuk keperluan proyek. seperti dijelaskan pada Bab 5.

0 LEMPUNG Kelanauan Abuabu dan Bintik Coklat Kenyal 14.0 LEMPUNG coklat.5 – 17. 2.0 LEMPUNG Kelanauan Sangat Lunak 2 Lempung Holosen Atas 5. kenyal.0 LEMPUNG Kelanauan Sangat Kenyal 5 Lempung Tua Atas 6 Lempung Tua Bawah Gambar 5-1 Contoh Prosedur untuk Menetapkan SatuanTanah 5.3 – 14.0 – 20.0.20.50 PASIR Halus Kelanauan 4 PasirAntara (Iintermediate) 9.0 – LEMPUNG Kelanauan Lunak 3 4 Lempung Holosen Bawah 8.5 – 9. Setelah tahapan penyelidikan lapangan selesai.0 LEMPUNG Kelanauan abuabu tua kenyal kadang-kadang terdapat laminasi Lanau kepasiran halus LEMPUNG Kenyal Bervariasi dari 9. sebelum memulai desain rinci. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mengkaji kembali zona-zona yang telah ditetapkan sebelumnya: 46 .0 – 5.1 – 9.3 PASIR Kelanauan Pasir Bervariasi dari 8.5 LEMPUNG Lunak Abu-abu Tua dengan Sisa-sisa Kerang Satuan Tanah (Penilaian Awal) LEMPUNG Lunak Sifatk-sifat Teknik Satuan Tanah 1 Nama Satuan Tanah Kerak 0 – 2.2 ZONASI (ZONING) LOKASI Proyek harus sudah dibagi-bagi menjadi seri zona-zona sebelum dilakukan penyelidikan lapangan sebagaimana dijelaskan pada Panduan Geoteknik 2. Zona-zona ini mengidentifikasi variasi kondisi tanah dan bangunan yang akan dibangun di atasnya.Profil Geologi yang Disederhanakan 0 – 8. lapuk.0 LEMPUNG Kelanauan Kenyal 17.

3. ataupun alinyemen vertikal dan horisontalnya berubah.2 Kisaran Nilai yang Dapat Diterima Kisaran nilai –nilai yang dapat diterima untuk sifat-sifat umum hasil penyelidikan lapangan diberikan pada Tabel 5-1.3.3. Cek apakah Ringkasan Proyek (Project Brief) tidak berubah dengan Ringkasan yang digunakan dalam penyelidikan lapangan. atau tipe bangunanya.Jika Satuan Tanah berbeda dengan satuan yang diasumsikan pada saat desain penyelidikan lapangan. dan memakai informasi yang lebih bisa diandalkan. Kualitas dari informasi dapat dinilai dalam dua tahapan : 1) Apakah data tersebut berada pada kisaran normal untuk jenis tanah tersebut? 2) Apakah data tersebut berkorelasi dengan data lain pada lokasi tersebut. 5. 47 . maka zona tersebut perlu diubah.4. Kisaran untuk lempung meliputi kuat geser dari tanah Sangat Lunak.1 Pendahuluan Sebelum menetapkan parameter dari data lapangan dan laboratorium. kemudian hasil pengujian tersebut dapat dinilai berdasarkan tingkat keandalannya seperti dijelaskan pada Bab 5. Begitu penilaian dilakukan.3 PEMILIHAN PARAMETER-PARAMETER GEOTEKNIK 5. menolak data yang salah dan menyesatkan. Lunak dan Sedang pada sistem klasifikasi Unified sebagaimana dijelaskan pada Panduan Geoteknik 1. perlu dilakukan penilaian terhadap kualitas informasi tersebut. Jika lokasi bangunan. menggunakan data yang diragukan dengan hati-hati. harus dicatat di dalam Laporan Desain dan kemudian bila perlu Zona-zona tersebut dimodifikasi. Jika telah berubah. maka Zona-zona tersebut harus di kaji ulang dan dibuat Zona-zona baru. 5. sesuai dengan kisaran yang umumnya dapat diterima? Dua penilaian ini akan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini. Daftar Simak kegiatan Zonasi dari site dapat dilihat pada Dfartar Simak 9 dalam Lampiran A.

BH 1 Contoh 1 2 3 Kualitas dari Inspeksi A A B Regangan Konsolidasi B B C Regangan UU B C C Kualitas Akhir B C C Tabel 5-2 Penilaian Keandalan Data 5.100 1-4 100 .27 0.50 (0.5 Pemilihan Parameter Desain Parameter tanah untuk desain harus ditentukan untuk setiap Satuan Tanah yang diidentifikasi sebagaimana dijelaskan pada Bab 5.3 .35 0.0.UU Batas Cair Indeks Plastis c’ ϕ’ Cc Cc/(1+ Co) cv Cá k m /th cm/det cm/det 2 Lempung % (kN/m ) % KPa % % KPa 3 Lempung Organik 100 .3 Cek Korelasi Korelasi dari sifat-sifat tanah yang telah dikembangkan di berbagai belahan di dunia.40 1 .03 .0.12 >75 10 .0 5 .1 .20 10 .05)Cc 10 . 5. Korelasi yang dipandang dapat diaplikasikan dijelaskan pada Lampiran B.1.10-12 20 hingga 150 14 hingga 17 <25 5 .4000 10 .Parameter Tanah Kadar Air.10 -12 Gambut Berserat 100 .80 0 21 .75 5 . yang disesuaikan dengan jadwal pengujian laboratorium seperti ditunjukkan sebagai contoh pada Tabel 5-2. w Berat Isi Total.06)Cc 100 .15 25 . Ini harus dilakukan pada sebuah tabel.4 Menyimpulkan Hasil Penilaian Begitu parameter-parameter tersebut telah dikaji kembali dengan cek silang dan korelasi di atas.3.0.04 .10 -6 -9 Tabel 5-1 Nilai Kisaran Yang Realistis dari Tanah Lunak 5.1.50 0 30 .50 60 . Tidak semua korelasi ini akan sesuai dengan kondisi tanah lunak Indonesia.3.10 (0. ãb Kadar Organik Kohesi Tak Terdrainase.3 1 . 48 .3.50 0 25 .500 12 . maka keandalan dari data dapat diidentifikasi.120 40 .

Indeks cair memberikan profil rinci. Parameter Penggantian Disain Pembebanan Tambahan Konstruksi Bertahap Timbunan yang DIperkuat Tiang Matras P P Bahu Beban Kontra Penurunan Timbunan Stabilitas Timbunan Berat Isi Total Kuat Geser Tak Terdrainase Kompresibilitas Koefisien konsolidasi Sekunder Koefisien Konsolidasi: Vertikal Horisontal γb cu Cc /(1+e0) Ca kN/m3 kN/m2 P P P P P P P P P P P P P P P P P P P Cv Ch m2/th P P P Tabel 5-3 Parameter-parameter Desain yang Dibutuhkan Interpretasi Data Prosedur umum untuk interpretasi data adalah dengan membuat korelasi kumpulan data yang terbatas tersebut dengan data lainnya yang lebih komprehensif.Umumnya parameter yang dibutuhkan untuk desain seperti ditunjukkan pada Tabel 5-. dan nilai kuat geser yang sangat rendah pada kedalaman 5m di tolak. Bila terlihat perbedaan yang cukup besar dari sifat-sifat tanah. Kemudian sifat-sifat yang dibutuhkan seperti kuat geser dapat dikorelasikan dengan nilai-nilai indeks dan sebuah profil kuat geser yang lebih lengkap dapat diperoleh. Drainase Vertikal P P P P P 49 . Oleh karenanya sebagai contoh. pengujian indeks (index tests) harus dilakukan dengan interval kedalaman yang rapat untuk setiap lubang bor. Akhirnya semua parameter-parameter desain final dipilih dengan mengambil nilai konservatif yang rendah dengan tidak mengikutkan nilai-nilai yang ekstrim. yang darinya satuan tanah dianalisis setelah mencek tidak ada data yang bertentangan. Kemudian dipilih kuat geser tak terdrainase untuk desain. Sebuah contoh diberikan pada Gambar 5-. maka ini harus digunakan untuk mengidentifikasi Satuan-Satuan Tanah yang berbeda.

5 2 4 0. maka pada saat itu harus diambil sebuah keputusan apakah penyelidikan lapangan tambahan akan ada gunanya untuk menghilangkan ketidakpastian ini. maka parameter desain sementar dapat ditentukan dari Tabel 5-4 sampai data yang memadai tersedia.3 m2/thn m2/thn 2 4 0. Jika dari hasil perbandingan menghasilkan sebuah perbedaan biaya yang besar terhadap kegiatan geoteknik maka ini bisa dipakai 50 .5 Kuat Geser Tak Terdrainase RN/m2 0 20 40 Unit Tanah 1 Permukaan Kedalaman (m) 5 Nilai Desain 2 Lempung Sangat Lunak 10 3 Lempung Lunak 15 4 Lempung keras Gambar 5-2 Contoh Pemilihan Parameter Disain Apabila hasil interpretasi menunjukkan adanya beberapa ketidakpastian.0 1. cu c’ ϕ’ Cc Cc/(1+ e0) cv ch Cá Unit (kN/m3) kPa 0-5m 5-10m 10-20m Lempung 16 10 15 35 0 23 kPa Tabel 5-4 Nilai Disain Sementara untuk Tanah Lunak Untuk proyek besar lakukan analisis sensitivitas dengan menggunakan nilai parameter minimun yang didapat dari interpretasi data dan satu set data kedua di dekat nilai-nilai batas atas.5 1.04 Gambut Berserat 11 Parameter Tanah Berat isi total.Indeks Likuiditas 0 0.05 2 35 5 0. Lempung Organik 13 10 15 35 0 23 0. Jika dari hasil kajian data menunjukkan adanya kelemahan serius pada data-data yang tersedia. ãb Kohesi tak terdrainase.

Parameter Areal Geografis A Berat Isi Kuat geser tak terdrainase Parameter tegangan efektif Kohesi Friksi A B C’ φ’ Jawa bagian Utara (batuan vulkanik) Sumatra bagian Timur.1 PEMBEBANAN DAN KRITERIA DESAIN Beban Lalu Lintas Beban lalu lintas harus ditambahkan ketika melakukan analisis stabilitas.5. 3) Bila sumber material belum diidentifikasi dan data-data dari pengalaman lokal tidak ada. Lokasi sumber material tersebut harus dinyatakan di dalam Laporan Disain.5 5. Kepulauan Indonesia Timur (batuan sedimen dan metamorfik) 10 35 5 30 γ Cu kN/m3 kN/m 2 B 20 100 18 100 Tabel 5-5 Parameter Disain untuk Material Timbunan 5. 51 . dengan menggunakan angka-angka yang ditunjukkan pada Tabel 5-6.untuk melakukan penyelidikan tambahan untuk mendapatkan parameter yang lebih tepat. 5. Kalimantan. maka nilai-nilai pada Tabel 5-5 dapat digunakan.4 PARAMETER UNTUK MATERIAL TIMBUNAN Parameter material timbunan harus ditentukan sebagai berikut: 1) Jika lokasi sumber bahan (quarry) telah diidentifikasi dan pengujian telah dilakukan maka parameter desain dapat ditentukan dari data tersebut. 2) Bila pengalaman lokal mengenai sifat-sifat dari material timbunan telah tersedia maka nilai-nilai tersebut dapat digunakan dan sumbernya harus dinyatakan di dalam Laporan Disain.

Biasanya untuk menghilangkan unsur ketidakpastian ini dengan memilih nilai desain parameter yang konservatif. Untuk gambut berserat pembebanan pada Tabel 5-6 harus ditambahkan. Faktor keamanan yang dipakai harus memperhitungkan tiga unsur berikut: 1) derajat ketidakpastian berkaitan dengan kondisi tanah. dan untuk membatasi regangan pada tingkatan yang dapat diterima.5. 2) penggunaan faktor keamanan untuk membatasi tegangan yang terjadi pada tanah pada tingkatan tertentu di bawah tegangan maksimumnya. seperti ditunjukkan pada Gambar 5-3.5. Beban lalu lintas tidak perlu dimasukkan dalam analisis penurunan pada tanah lempung. Oleh karenanya diperlukan faktor keamanan kondisi jangka pendek berdasarkan parameter kuat geser tak terdrainase. karena proses konsolidasi tanah lunak dibawah timbunan menyebabkan kuat geser dari lapisan tanah lunak akan meningkat.Kelas Jalan Beban Lalu Lintas (kPa) I II III 15 12 12 Tabel 5-6 Beban Lalu Lintas untuk Analisis Stabilitas Beban lalu lintas tersebut harus diperhitungkan pada seluruh lebar permukaan timbunan. yang dimodifikasi sesuai klasifkasi kelas jalan. Tabel 5-6 diambil dari Panduan Gambut (Peat Guide) Pusat Litbang Prasarana Transportasi.2 Faktor Keamanan Faktor keamanan harus dimasukkan dalam analisis stabilitas timbunan untuk mengurangi resiko keruntuhan sampai kepada tingkatan yang dapat diterima.3. 5. dan diperhitungkan pada seluruh lebar permukaan timbunan. dan pendekatan ini disarankan seperti dijelaskan pada Bab 5. maka standar tersebut harus digunakan dan dicatat. 52 . Waktu kritis stabilitas timbunan pada tanah lunak adalah selama dan segera setelah selesai pelaksanaan. Jika Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk mendapat Standar Indonesia yang mensyaratkan pembebanan yang berbeda.

3) untuk mengurangi resiko. karena biasanya menyediakan akses sementara akan lebih sulit. gedung atau utilitas lainnya. Kerugian ekonomi akan lebih besar jika timbunan tersebut diperuntukkan sebagai oprit jembatan atau berada di dekat bangunan.3.Gambar 5-3 Penggunaan Faktor Keamanan untuk Membatasi Regangan Pada tanah lunak faktor ini berkisar 1. 53 . Persyaratan untuk timbunan di dekat struktur dibahas dalam Bab 7. Pada gambut berserat hal ini tidak relevan karena regangan yang besar akan terjadi pada semua level tegangan dan oleh karenanya perlu diperhitungkan secara terpisah. resiko terhadap nyawa manusia akibat keruntuhan biasanya sangat kecil karena itu hanya kerugian secara ekonomi yang perlu dipertimbangkan. dibandingkan keruntuhan terjadi pada jalan. gangguan terhadap lalu lintas akan lebih lama jika akses ke jembatan terganggu. pertama keruntuhan dari timbunan akan merusak struktur sebagai akibat dari gerakan tanah yang volumenya besar. Kedua. Ada dua alasan untuk hal ini. Konsekuensi ini dapat dipertimbangkan terhadap : resiko terhadap nyawa manusia. Pada timbunan jalan. karena keruntuhan akan menimbulkan akibat yang serius. dan kerugian ekonomi. Pada kasus jembatan biasanya pangkal jembatan yang bergerak. tiangnya terganggu atau patah dan suatu perbaikan menyeluruh akan diperlukan.

2. kecuali bila ada struktur.3 Kriteria Deformasi Penurunan Penurunan timbunan harus dibatasi berdasarkan Tabel 5-8. bangunan atau utilitas lain di dekatnya. faktor keamanan dari bahu dapat dikurangi menjadi 1.5. 54 .3 Tabel 5-7 Faktor Keamanan untuk Analisis Stabilitas Faktor-faktor keamanan ini telah memperhitungkan hal-hal berikut: investigasi untuk jalan Kelas I dan Kelas II harus menghasilkan data dengan kualitas lebih baik dan oleh karenanya nilai parameter data yang tidak terlalu konservatif dapat ditentukan biaya yang harus dikeluarkan akibat kerusakan yang timbul akan lebih kecil untuk kelas jalan yang lebih rendah Bila metode bahu beban kontra digunakan. Kelas Jalan Penurunan yang Disyaratkan selama Masa Konstruksi s/s tot >90% >85% >80% >75% Kecepatan Penurunan setelah Konsolidasi mm/tahun <20 <25 <30 <30 I II III IV Tabel 5-8 Batas-batas Penurunan untuk Timbunan pada Umumnya (dari Panduan Gambut Pusat Litbang Prasarana Transportasi) s s tot jumlah penurunan selama masa pelaksanaan penurunan total yang diperkirakan 4 Nilai ini berbeda dengan nilai yang terdapat pada Panduan Gambut Pusat Litbang Prasarana Transportasi.4 1.4 Kelas Jalan I II III Faktor Keamanan 1. Penurunan yang terjadi selama pelaksanaan adala h penurunan yang terjadi sebelum perkerasan jalan dilaksanakan.Untuk timbunan faktor kemanan harus diambil untuk kondisi jangka pendek selama masa pelaksanaan dari faktor keamanan yang ditunjukkan pada Tabel 5-7.4 1. 5.

Pergerakan Lateral Faktor keamanan minimum sesuai dengan Tabel 5-7. sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 5-.5.4 Beban Gempa Zona gempa terakhir yang digunakan dalam desain di Indonesia ditunjukkan pada Gambar 5-4. Batas Zona Pengaruh 2H Material Timbunan H Tanah Lunak Gambar 5-4 Zona Pengaruh untuk Pergerakan Lateral 5. pergerakan lateral masih menimbulkan masalah terhadap struktur dan utilitas di dekatnya. bila timbunan dekat jembatan atau struktur harus dipertimbangkan jaraknya kurang dari 2 kali kedalaman tanah lunak. Batas Struktur 55 .

Gambar 5-4 Zona Gempa di Indonesia Zona-zona ini ditetapkan dalam SNI-T14-1990-035 dan digunakan untuk mendesain bangunan. Percepatan maksimum untuk tiap zona diberikan pada Tabel 5-9.23 0.07 Panitia saat ini sedang mengkaji ulang Zona-zona ini dan sistem zonasi yang dimodifikasi diharapkan dapat segera disebar luaskan.18 0. Zona 1 2 3 4 5 6 Tabel 5-9 Faktor Percepatan Gempa Faktor Percepatan 0.15 0.12 0. Efek dari beban gempa terhadap timbunan pada lapisan tanah lunak adalah: adanya tanah lunak akan memperbesar percepatan permukaan beban siklis dari kejadian gempa akan mengurangi kuat geser tak terdrainase dari tanah lempung lunak 5 Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Jembatan Jalan Raya: Disain Stabilitas Tahan Gempa untuk Jembatan Jalan Utama. Percepatan diperoleh dengan menghubungkan zona tersebut dengan tipe tanah dan frekuensi dasar (fundamental frequency) bangunan.21 0. 56 .

Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mengkonfirmasikan bahwa proyek tersebut tidak mempunyai nilai strategi yang penting yang memerlukan sesuatu resiko keruntuhan yang rendah selama gempa terjadi. jembatan ataupun utilitas lainnya cukup jauh. 57 . harus dilakukan dengan pendekatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 5-5. Timbunan untuk oprit jembatan dijelaskan dalam Bab 7 dan panduan yang diberikan pada bab tersebut juga cocok untuk digunakan pada timbunan yang dibangun di dekat bangunan dan utilitas-utilitas besar lainnya. Jika proyek tersebut mempunyai nilai strategi maka beban gempa harus dimasukkan dalam analisis untuk mencapai faktor keamanan yang sama dengan yang dipersyaratkan. Kemudian beban gempa harus dia baikan untuk timbunan tersebut yang jaraknya terhadap struktur.gaya-gaya yang terjadi akibat timbunan akan bertambah. maka akan sangat tidak beralasan untuk menambahkan kondisi beban gempa secara penuh pada proses analisis desain. Karena faktor keamanan minimum dari timbunan terhadap beban statis terjadi selama pelaksanaan akan meningkat (secara skematis seperti terlihat pada Gambar 5-5). atau suatu analisis resiko mengenai kemungkinan keruntuhan yang dapat terjadi. Faktor Keamanan Masa Konstruksi a Beb mp a n ge Fmin Periode resikogempa Waktu Gambar 5-5 Skema Perubahan Faktor Keamanan sepanjang Umur Timbunan Beban gempa pada disain timbunan jalan di Indonesia umumnya diabaikan.

Granada. Pengantar Rekayasa Geoteknik (An Introduction to Geotechnical Engineering). Teknik Fondasi dan Disain (Foundation Engineering and Design). Wiley. SI Version. Prentice Hall Inc. 1981 Lambe T W & Whitman R V. Bowles J E. Wiley. McGraw Hill. dan bila menjumpai keraguan supaya mempelajari salah satu dari buku-buku tersebut. Analisis stabilitas dan penurunan pada berbagai kondisi yang umumnya terjadi. 1996 Tomlinson M J. 58 .6 Solusi Desain dan Evaluasi 6.1 PENDAHULUAN Suatu desain geoteknik harus mempertimbangkan syarat-syarat berikut: Stabilitas timbunan selama waktu pelaksanaan Stabilitas timbunan jangka panjang Besarnya dan kecepatan penurunan setelah pelaksanaan selesai Panduan Geoteknik ini membahas mengenai persyaratan khusus desain untuk tanah lunak. 1975 Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus paham dengan metode-metode disain dasar ini. 1982 Terzaghi K. 3rd ed. Panduan ini tidak dimaksudkan untuk mengganti buku-buku pelajaran (textbooks). Peck R B & Mesri G. Mekanika Tanah dalam Praktek Rekayasa (Soil Mechanics in Engineering Practice). 1979 Smith G N. Pitman. New Jersey. Mekanika Tanah (Soil Mechanics). Disain Fondasi dan Konstruksi (Foundation Design and Construction). bisa diperoleh dari buku-buku pelajaran yang umum digunakan di Indonesia. Dasar-dasar Mekanika Tanah untuk Insinyur Sipil dan Pertambangan (Elements of Soil Mechanics for Civil and Mining Engineers). 1996 Holtz R D & Kovacs W D.

(6. maka zona material timbunan di antara level muka air terendah dan tertinggi harus diasumsikan sebagai jenuh. atau metode Janbu ataupun metode lain yang lebih tepat. 59 . Jika tak ada program komputer yang tersedia untuk analisis ini.3 PENURUNAN PADA TIMBUNAN Perhitungan penurunan terdiri dari perkiraan total penurunan yang terjadi dan kecepatan atau waktu untuk mencapai berbagai tingkat penurunan. kondisi terburuk yang terjadi adalah ketika sedang surut pada level terendah. Pada areal pasang surut.1) 6. stabilitas timbunan tidak menjadi masalah. kondisi terburuk adalah ketika lokasi tersebut dikeringkan. Pada gambut berserat. Analisis harus dilakukan pada garis tengah dan dipinggir dari bagian atas timbunan. Analisis stabilitas yang dinyatakan di atas dapat dipakai untuk tanah organik. 2) Jika level muka air terendah diperhitungkan dalam disain.6. maka perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan spreadsheet. inorganik dan gambut amorphous.2 STABILITAS TIMBUNAN Sebagai penilaian awal stabilitas timbunan dapat dihitung sebagai berikut: 1) Hitung kuat geser tak terdrainase rata-rata sampai kedalaman lima meter (cu[0-5]kN/m2) atau setebal lapisan lempung lunak bila kurang dari lima meter 2) Ambil berat isi (ãb) tertinggi material timbunan (kN/m3) 3) Tinggi timbunan maksimum yang aman tanpa ground treatment dapat ditentukan dengan: Hc = 4 * cu[0-5] / ãb Analisis sederhana ini tidak memperhitungkan kontribusi kuat geser dari timbunan. Muka air di sekitar timbunan mempunyai efek yang cukup besar pada perhitungan stabilitas. 3) Untuk analisi tegangan efektif. penurunan merupakan masalah utama yang menentukan disain timbunan. oleh karenanya hal-hal berikut in harus diperhitungkan: 1) Pada areal yang lahannya sering terendam banjir atau digunakan misalnya untuk lahan perikanan atau irigasi. Bila data yang mencukupi sudah tersedia maka analisis stabitas harus dilakukan dengan menggunakan metode Bishop. kondisi turunnya muka air secara cepat harus diperhitungkan.

Meskipun demikian.log ((po+∆p)/po) Penurunan primer. seperti ditunjukkan pada Gambar 6-1. Pada saat melakukan analisis penurunan sekunder. akibat dari pemompaan akifer yang berlebihan. po+∆p>pc = (H. perhitungan dengan menggunakan teori konsolidasi dari Terzaghi sebagai berikut dapat digunakan: Penurunan primer.Cs . metode dari Hanrahan (1981) dapat memberikan sebuah estimasi awal dan diberikan pada Lampiran C. Hal ini telah berlangsung di Bandung.Untuk keperluan desain.(Cc /(1+eo)). waktu yang digunakan dalam perhitungan harus merupakan umur desain dari perkerasan.log (pc +∆p)/pc )/(1+eo) (6-3) (6-4) (6-2) Penurunan sekunder: Ss = H.Cs .log (po+∆p)/po)/(1+eo) Sp. Estimasi penurunan harus meliputi perhitungan penurunan primer dan sekunder.Cα.log(t 2/t1) (6-5) Untuk gambut. maka harus diperhitungkan karena hal tersebut akan mempengaruhi jumlah pembayaran bahan timbunan. yaitu umur disain rekonstruksi kedalaman keseluruhan. Semarang dan kemungkinan Surabaya. jika diperkirakan penurunan yang terjadi cukup besar. Jakarta. po+∆p<pc = (H. penurunan langsung tidak perlu dihitung. Penurunan Regional Beberapa kota besar di Indonesia telah mengalami penurunan regional karena menurunnya muka air tanah. Oleh karena itu prediksi jangka panjang harus mempertimbangkan hal ini pula. lempung terkonsolidasi lebih: Sp.log (po+pc )/po )+ (H. lempung terkonsolidasi normal: Sp = H. Perker asan yang dil akukan Penurunan regional Umur desain sampai rekonstruksi Leve l Perkerasan Penurunan akibat beban timbunan Level desain yang disyaratkan Waktu Gambar 6-1 Penambahan Penurunan Regional dalam Perhitungan Penurunan 60 .Cc . Untuk lempung lunak dan lempung organik.

4 7) Tentukan kecepatan penimbunan bila ada masalah stabilitas 8) Tentukan material untuk lapis drainase 9) Tentukan persyaratan kontrak lainnya. Besarnya penurunan dihitung dengan perhitungan penurunan standar menurut Bab 6.6. yaitu konsolidasi akan selesai selama pelaksanaan.5 PENGGANTIAN (REPLACEMENT) Untuk desain penggantian sebagian atau keseluruhan : 1) Hitung besar dan kecepatan penurunan lapisan tanah lunak yang tersisa menurut Bab 6.2 2) Hitung hubungan tinggi timbunan– faktor keamanan seperti yang dirumuskan pada Bab 6.2 3) Hitung besaran penurunan tanah lunak sesuai prosedur pada Bab 6. Drainase horisontal ini dapat digunakan jika tanah lunak relatif tipis dimana penurunan akibat konsolidasi tidak akan memakan waktu yang lama. Kemiringan lereng galian harus: 1 banding 1. jika galian ditimbun kembali pada hari yang sama 1 banding 3.3.2. Jika diperlukan.4 DRAINASE HORISONTAL Drainase horisontal terdiri dari lapisan penutup drainase yang dihamparkan pada seluruh permukaan tanah lunak kompresibel. 6.3 4) Hitung hubungan penurunan – waktu seperti yang dirumuskan pada Bab 6. konsolidasi dapat dipercepat dengan menambahkan beban tambahan ekstra. hitung tebal penambahan beban 6) Tentukan tebal dari lapis drainase seperti dirumuskan pada Bab 4. Untuk mendesain drainase horisontal : 1) Hitung stabilitas timbunan sesuai prosedur pada Bab 6.3 5) Jika diperlukan. jika galian dibiarkan terbuka 61 .3 2) Tentukan kedalaman tanah lunak yang akan diganti untuk mencapai persyaratan yang diberikan pada Tabel 5-8 3) Tentukan kemiringan sisi/lereng galian dan batas galian seperti yang akan dijelaskan pada bagian berikut 4) Tentukan persyaratan kontraktual lainnya.

62 . maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memastikan bahwa spesifikasi kontrak mensyaratkan penimbunan kembali dilakukan pada hari yang sama sehingga Konsultan Pengawas tahu dan setiap pemeriksaan dan persetujuan harus memenuhi persyaratan tersebut. Tebalnya tak boleh lebih dari Hc 4) Jika dari hasil perhitungan stabilitas dengan menggunakan bahu tunggal tidak memenuhi syarat. oleh karenannya kontraktor harus bertanggung jawab terhadap keamanan galian dan bila diperlukan dapat mengusulkan kemiringan lereng yang lebih landai untuk keamanan. Jika kemiringan galian 1 banding 3 tidak praktis atau tidak memungkinkan.2 2) Hitung tebal dan lebar bahu untuk mendapatkan faktor keamanan yang diinginkan dari timbunan utama 3) Cek apakah bahu beban kontra mempunyai faktor keamanan yang cukup. Dan menimbun kembali galian secepat mungkin merupakan praktek yang baik.3 kali dari tebal lapisan tanah lunak. Tahapan dari disain ini adalah sebagai berikut: 1) Hitung tinggi aman timbunan.5cm baik untuk penggantian sebagian maupun keseluruhan. Hc. Sebagai estimasi awal. Persyaratan kontraktual harus mengidentifikasikan kedalaman material yang akan dibuang/diganti dengan toleransi +/. menurut Bab 6.Dengan asumsi bahwa tidak ada pekerja yang akan masuk ke galian yang dalam.6 BAHU BEBAN KONTRA (COUNTERWEIGHT BERMS) Disain bahu beban kontra meliputi desain ketebalan dan lebarnya. Batas dasar galian harus terletak pada tumit timbunan (toe of embankment) seperti ditunjukkan pada Gambar 6-2. Kemiringan Timbunan Tanah Lunak Tanah Keras Gambar 6-2 Batas Galian untuk Penggantian Tanah Lunak 6. ulangi perhitungan dengan menggunakan bahu beban kontra ganda. lebar bahu dapat ditentukan sebesar 2.

1971) Bila data yang lengkap telah tersedia. Gambar 6-3 Grafik Desain untuk Beban Kontra (NAVFAC. 6.7 PEMBEBANAN (SURCHARGING) Prosedur untuk melakukan analisis pembebanan adalah sebagai berikut: 63 .3. maka analisis stabilitas yang lebih rinci harus dilakukan menurut Bab 6.Analisis yang lebih rinci dapat dibuat dengan menggunakan kurva desain pada Gambar 6-3.

Gambar 6-2 Analisis Disain Penambahan Beban Lebar beban tambahan harus dipertimbangkan di dalam analisis.2.3 4) Tentukan penurunan pasca konstruksi yang diijinkan sebagaimana dirumuskan pada Bab 5.1) Identifikasi metode konstruksi bertahap bila diperlukan seperti dirumuskan pada Bab 6. 64 .4. ulangi prosedur ini dengan tinggi beban tambahan yang berbeda atau dengan tahapan konstruksi yang berbeda 8) Jika telah didapatkan beban tambahan dan program pelaksanaan yang memuaskan. Contoh diberikan pada Gambar 6.5. Bila beban tambahan secara sederhana ditambahkan di atas timbunan standar maka areal di bawah timbunan tersebut tidak sepenuhnya terbebani.3 5) Tentukan waktu yang tepat untuk membuang beban tambahan tersebut 6) Tentukan sisa penurunan yang akan terjadi 7) Jika hasilnya belum memuaskan. periksa stabilitas timbunan dengan variasi tahapan pelaksanaan sebagaimana dijelaskan pada Bab 6. dimana hal ini akan memerlukan tambahan lebar timbunan utama seperti ditunjukkan pada gambar 6-5. Akan lebih baik bila beban tambahan ditambahkan selebar keseluruhan timbunan.8 2) Tentukan tinggi beban tambahan tersebut 3) Hitung hubungan penurunan– waktu sebagaimana dirumuskan dalam Bab 6.

termasuk tinggi dan masa tenggang 5) Hitung derajat konsolidasi dan kenaikan kuat geser 6) Periksa apakah kenaikkan kuat geser yang diinginkan telah tercapai 7) Ulangi dari 4) untuk tahapan coba-coba kedua dan seterusnya hingga mencapai hasil yang memuaskan. 65 .Tidak dibebani seluruhnya Pembebanan Timbunan standar a) lebar pembebanan terbatas Pembebanan hingga ke ujung timbunan permanen Timbunan diperlebar b) lebar pembebanan yang diperluas Gambar 6-5 Pelebaran Penambahan Beban 6. Gambar 6-6 berikut memperlihatkan proses ‘coba-coba’ secara grafis.8 KONSTRUKSI BERTAHAP Konstruksi bertahap diperlukan bila desain tinggi timbunan melebihi tinggi kritis yang dapat dipikul lapisan tanah lunak. Prosedur untuk analisis konstruksi bertahap adalah sebagai berikut: 1) Tentukan faktor keamanan yang diinginkan pada akhir masa konstruksi menurut Tabel 52) Hitung kuat geser yang diperlukan untuk tinggi desain timbunan 3) Hitung kenaikkan kuat geser cu yang dibutuhkan 4) Tentukan tahapan penimbunan.

yaitu: cu = k. p. ∆p 4) Selanjutnya untuk setiap derajat konsolidasi U. konversikan kedalaman menjadi tegangan vertikal efektif. tentukan ∆cu = U.Z seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6-.TAHAP 1 Tiggi Timbunan TAHAP 2 0 Konsolidasi % 100 Kuat geser yang disyaratkan bertambah pada tinggi timbunan keseluruhan Cu Waktu Gambar 6-6 Analisis Konstruksi Bertahap Hubungan antara kenaikan tegangan efektif dengan kenaikan kuat geser tak terdrainase dapat dihitung sebagai berikut: Dari parameter-parameter desain yang ada tentukan hubungan antara c u dan z (= kedalaman di bawah muka tanah dasar asli).p 3) Lalu asumsikan ∆cu = α. ∆p seperti yang ditunjukkan Gambar 6-8. α. Cu Z Garis desain Gambar 6-7 Kuat Geser vs Hubungan Kedalaman 1) Dengan menggunakan berat isi lapisan tanah lempung. 66 . 2) Kemudian hitung cu = α.

1996.9 6.9.1 TIMBUNAN DENGAN PERKUATAN Pendahuluan Pemasangan lapisan geotekstil atau geogrid pada timbunan dapat meningkatkan stabilitas. Pemilihan dari sifat-sifat geotekstil dan analisis timbunan yang menggunakan geotekstil dijelaskan pada bab-bab berikut. maka kenaikkan kuat geser pada zona ini hanya boleh diterapkan untuk kenaikkan tegangan di atas tekanan konsolidasi lebih tersebut seperti yang ditunjukkan Gambar 6-9. 67 .Cu = αp Cu Z U% 0 50 100 Gambar 6-8 Kuat Geser Meningkat terhadap Konsolidasi Bila lapisan tanah lunak terdapat zona yang tekonsolidasi lebih. Perilaku geotekstil lebih jauh diberikan oleh Jewell. Cu Z U% 0 25 95 100 Gambar 6-9 Penyesuaian Pertambahan Kuat Geser untuk Konsolidasi Lebih (Over Consolidation) 6.

Oleh karena itu sebuah faktor pembagi (partial factor) harus diberikan terhadap kekuatan untuk 68 . 1989) Pita polypropylene.2 Sifat-sifat Geotekstil Tahap pertama dalam analisis adalah memilih sifat-sifat dari geotekstil. atau pilih geotekstil yang telah dikenal luas yang tersedia di pasaran kemudian gunakan sifat-sifatnya yang telah diketahui tersebut untuk desain. oleh karenanya jenis geotextil ini cukup memadai untuk digunakan sebagai perkuatan timbunan. Informasi berikut harus diidentifikasi sebelum desain yang memuaskan dapat dilakukan: Kuat Tarik & Regangan (Tensile Strength & Elongation) Kuat tarik geotekstil dapat bervariasi dengan kisaran yang lebar seperti terlihat pada Gambar 6-30. yang telah digunakan secara luas di Indonesia. Kuat tarik ultimit dan leleh pada saat runtuh biasanya diberikan oleh produsen dan dikonfirmasi dengan pengujian yang independen. mempunyai kuat tarik relatif rendah dan regangan yang besar saat runtuh. Kerusakan Pemasangan Efek yang ditimbulkan dari pemasangan dan pemadatan material timbunan pada geotekstil adalah dapat mengurangi kekuatan ultimitnya.6.9. Serat Polyaramid Kuat Tarik (Mpa) Baja prategang Serat Polyester Pita polypropylene Grid HDPE Regangan (%) Gambar 6-30 Kuat Tarik (Tensile Strength) Beberapa Material Geotekstil (Exxon.

dan dihamparkan di atas dan di bawah geotekstil. Karenanya. lanau. Dari kurva tersebut dan dari umur geotekstil yang direncanakan. Faktor pembagi ini diturunkan dari penilaian terhadap sejumlah rekomendasi yang diberikan oleh para produsen untuk berbagai tipe geotekstil dan berdasarkan standar dan aplikasi sesuai jenis tanah yang umumnya ditemui di Indonesia. kuat tarik ultimit yang dapat dipikul selama setahun yang dinyatakan dalam persentase dari kuat ultimit yang diukur dalam uji laboratorium jangka pendek akan bervariasi dari 60% hingga nol. Hasil dari pengujian ini harus dapat menghasilkan kurva rangkak seperti yang ditunjukkan pada Gambar 6-411. faktor reduksi umum tidak dapat diberikan dan pengujian harus dilakukan untuk setiap tipe material yang dipasarkan oleh produsen.5 1.5 1. Pengujian ini harus dilakukan pada temperatur yang sesuai dengan kondisi Indonesia karena rangkak merupakan suatu faktor yang sangat bergantung pada temperatur.8 Tabel 6-1 Faktor Pembagi untuk Kerusakan Instalasi Geotekstil Bila digunakan faktor pembagi yang rendah. gunakan faktor permbagi dari Tabel 6-1. Jika tidak. Jika produsen telah memperifikasi efek tersebut dengan percobaan. Tanah Lempung. 6. Secara khas.3 1.9. 69 . maka Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mensyaratkan lapisan material yang baik dengan ketebalan minimum 30cm yang memenuhi faktor pembagi yang telah ditentukan tersebut. faktor reduksi rangkak pada kuat tarik ultimit dapat ditentukan. maka pembagi tersebut dapat digunakan.memperhitungkan akibat tersebut.1 1. pasir Tanah mengandung minimum 10% kerikil Tanah mengandung minimum 50% kerikil bersudut Tanah mengandung minimum 10% kerakal Tanah mengandung minimum 50% kerakal bersudut Faktor Pembagi 1.3 Faktor Reduksi Rangkak (Creep) Sejumlah material sebagai bahan dasar pembuat geotekstil akan mengalami rangkak yang cukup besar akibat pembebanan terus menerus terutama Polypropylene. dan besarnya rangkak yang terjadi akan sangat bergantung pada proses pembuatannya.

9. dengan memperhitungakan faktor reduksi. Kemudian perkuatan tersebut harus diperinci untuk memberikan tahanan yang diperlukan. analisis bidang gelincir akan memberikan hasil yang tidak konservatif (Jewell. dua atau tiga lapisan perkuatan sesuai kebutuhan 4) Tentukan kuat tarik dari material perkuatan tesebut 5) Tentukan kedalaman atau level dari lapisan perkuatan tersebut 6) Periksa bentuk ketidakstabilan lainnya atau faktor keamanan terhadap: Penyebaran lateral Pencototan (squeezing) Keruntuhan fondasi Untuk kasus lapisan tanah lempung lunak yang dalam. 70 .Kuat tarik Isokronos (Isochronous) Dinyatakan sebagai persentase Beban Putus pada waktu dipasang 1 jam 1 bulan 1 tahun 10 tahun 120 tahun (diekstrapolasi) Perpanjangan (%) Gambar 6-41 Contoh Kurva Rangkak Geotekstil (Exxon. 1996) dan analisis baji translasi (translational wedge analysis) harus digunakan. Untuk lapisan tanah lempung yang dangkal. sebuah analisis bidang gelincir berbentuk lingkaran dapat digunakan. maka analisis coba-coba dapat dilakukan sebagai berikut: 1) Hitung faktor keamanan timbunan yang direncanakan 2) Hitung faktor keamanan timbunan dengan perkuatan menggunakan geotekstil 3) Coba dengan satu.4 Analisis Stabilitas Bila kuat tarik ultimit disain dari geotekstil telah ditentukan. Tahanan dari perkuatan yang diperlukan harus dihitung untuk mencapai faktor keamanan yang diinginkan terhadap semua bidang runtuh yang potensial. 1989) 6.

10 TIANG MATRAS (PILED MATTRESS) Prosedur untuk mendesain timbunan yang diperkuat dengan geotekstil dijelaskan pada Lampiran D. Jika tiang didesain sebagai tiang tahanan ujung pada lapisan yang relatif keras maka gesekan kulit negatif (negative skin friction) harus dihitung seluruh panjang tiang pada lapisan yang mengalami penurunan.11 DRAINASE VERTIKAL (VERTICAL DRAINS) Prosedur desain: 1) Tentukan penurunan pasca konstruksi yang diijinkan berdasarkan Tabel 5-8. 71 .12 DESAIN TIANG Tiang didesain dengan menggunakan metode desain yang biasa. 6.6. Jika tiang dimaksudkan untuk menahan beban dengan gesekan kulit. 6. maka besarnya penurunan pada tiang harus dihitung dan gesekan kulit negatif dihitung di atas titik netral seperti yang diperlihatkan pada Gambar 6-52. 2) Pilih kedalaman yang sesuai untuk drainase vertikal 3) Coba suatu jarak spasi drainase vertikal 4) Hitung besarnya konsolidasi pada akhir masa konstruksi dan penurunan pasca konstruksi 5) Ulangi penentuan jarak dranase vertikal tersebut hingga penurunan pasca konstruksi yang terjadi dapat diterima 6) Variasikan kedalaman drainase dan ulangi perhitungan untuk mendapatkan jarak dan kedalaman drainase yang paling ekonomis.

5 d (dimana d adalah diameter tiang). 72 .C L Penurunan Tiang Tanah Titik netral Z Gambar 6-52 Perhitungan Titik Netral Tiang (Pile Neutral Point) Jarak antar as tiang (s) umumnya s = 3.

Timbulnya beban lateral pada struktur yang tertanam di dalam tanah yang gerakannya terbatas.7 Interaksi Tanah dan Bangunan Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus memahami bahwa timbunan pada tanah lunak memiliki potensi untuk menyebabkan masalah terhadap bangunan di dekatnya ataupun struktur yang dibangun di bawah timbunan. Oleh karena itu disain tiang harus memperhitungkan kondisi. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mengidentifikasi seberapa jauh pengaruhnya dan bekerja sama dengan desainer struktur dan lainnya untuk memecahkan permasalahan ini. gedung. fondasi dangkal. Besarnya gerakan lateral ini sangat sukar untuk diprediksi pada tingkat akurasi berapapun. Pengaruh ini berhubungan dengan kondisi mendekati keruntuhan sehingga hal ini dianggap konservatif untuk kondisi yang lebih stabil. Masalah potensial yang akan timbul terdiri dari : Penurunan Penurunan pada tanah lunak di bawah timbunan dapat menyebabkan tertariknya tiang ke bawah pada zona yang turun jika tiang menembus lapisan yang lebih keras.1) ∆ pergerakan lateral pada atau dekat permukaan ñu penurunan tak terdrainase ñc penurunan konsolidasi 73 . Zona efektif yang besarnya dua kali ketebalan lempung lunak. hubungan yang diberikan oleh Stewart dkk (1994) dapat memberikan sebuah estimasi awal mengenai defleksi topi tiang akibat beban timbunan seperti yang diperlihatkan di bawah ini. ∆ = ñu + ñc /6 (7. seperti yang diperlihatkan pada Gambar 5-4 harus diperhitungkan terhadap pengaruh tersebut. Pergerakan Lateral Pergerakan lateral dari tanah sebagai akibat sebuah timbunan : Terjadinya pergerakan secara fisik dari bangunan didekat di bawah timbunan. terutama terjadi pada tiang. dan utilitas lainnya dapat terpengaruh. Jika tiang dipancang di dalam lapisan tanah lunak tiang tersebut akan turun sama-sama dengan timbunan. Struktur seperti gorong-gorong. Meskipun demikian.

Jika konfigurasi seperti yang direkomendasikan oleh 74 . beban lateral (dan oleh karenanya momen tiang) akan mulai meningkat secara cepat. Untuk struktur bertiang. Stewart dkk kemudian mengembangkan grafik desain yang baru. Stewart dkk (1994) berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stewart . gerakan lateral ini umumnya berpengaruh pada daerah sampai jarak dua kali kedalaman lapisan lunak. Penggunaan faktor keamanan yang lebih tinggi akan cukup memadai untuk mengatasi beban gempa.Untuk tanah lempung lunak. rancangan seperti itu akan menimbulkan beban lateral yang lebih besar pada tiang.7. Meskipun demikian. tetapi juga cocok digunakan untuk kondsisi beban statis. menunjukkan bahwa metode ini tidak memberikan jawaban yang dapat diandalkan. metode dari de Beer & Wallays (1972) telah digunakan secara luas untuk menghitung beban lateral pada tiang akibat dari timbunan. 1992) Walaupun desain ini disyaratkan untuk kondisi gempa. Kesimpulan utama yang didapat bila dari seluruh studi pembebanan pada tiang akibat timbunan adalah bahwa faktor keamanan dari timbunan di bawah nilai ambang batas. Beban Lateral pada Tiang Abutmen Jembatan Manual Disain Jembatan (The Bridge Design Manual) (1992) mengatasi masalah ini dengan mensyaratkan fondasi tiang diletakkan di luar zona pengaruh timbunan seperti diperlihatkan pada gambar : Titik sambungan. tetapi malahan dibangun dengan menggunakan abutmen dengan pondasi tiang vertikal yang mensyaratkan tiang harus dipancang sebelum kosntruksi timbunan. memerlukan perhatian khusus Pemakaian dari faktor keamanan yang lebih tinggi akan mencukupi jika Penahan longsor untuk gerakan longitudinal dikaitkan dengan bena gempa. Patut dicatat bahwa jembatan pada zona gempa di Indonesia tidak akan dibangun dengan menggunakan penampang seperti ini.7. Dari hasil yang diberikan oleh Stewart dkk (1994) ambang batas ini akan tercapai pada angka keamanan sekitar 1. Jikauntuk gerakan konfigurasi seperti yang diusulkan sebuah Tertahan lateral Kantung penyeimbang untuk penyesuaian penurunan Pergerakan tanah Untuk kasus fondasi jelek yang umum Penampang Abutmen yang Disyaratkan untuk Membatasi Beban akibat Timbunan (DGH. Pada tanah lunak yang dalam. Faktor keamanan dari timbunan pada oprit jembatan dan lokasi lainnya dimana struktur bertiang dapat terpengaruh harus di pertahankan di atas 1.

Meskipun demikian hal ini tidak mencukupi bila termasuk beban gempa dan suatu analisis beban gempa harus dilakukan pada bagian timbunan yang akan mempengaruhi stuktur. maka faktor keamanan yang lebih rendah seperti yang direkomendasikan pada Tabel 5. 75 .dapat digunakan. yang tidak akan mengakibatkan terjadinya beban pada tiang.DGH (1992) diterapkan.

Bila terdapat lapisan tanah lunak di bawah jalan yang ada maka pelebaran timbunan baru di dekatnya akan menyebabkan penurunan lebih lanjut seperti diperlihatkan pada Gambar 8-1. apakah ada perbaikan tanah atau pembuangan tanah yang telah dilakukan. 76 .3p 0. tetapi penyelidikan lapangan harus didesain untuk memastikannya. dan faktor lainnya yang spesifik pada waktu pelaksanaannya. Penyelidikan lapangan harus mengidentifikasi konstrusi jalan yang ada. Akan sangat membantu bila gambar konstruksi bisa diperoleh.8 Pertimbangan-pertimbangan untuk Pelebaran Jalan Bila suatu jalan akan diperlebar untuk menambah lajur atau memperbaiki alinyemen. Besarnya penurunan bisa dihitung dengan melakukan analisis tegangan elastik untuk menghitung kenaikan tegangan dan konsolidasi secara teoritis seperti dijelaskan pada Bab 6.1p Gambar 8-1 Kenaikan tegangan di Bawah Jalan Lama Bola tegangan Bila direncanakan pembuangan tanah lunak sepanjang alinyemen jalan baru di jelaskan : Seberapa jauh masuk ke dalam timbunan jalan lama penggalian harus dilakukan Bagaimana dinding galian harus ditopang Konsekuensi dari tidak diperhatikannya hal-hal tersebut diperlihatkan pada Gambar 8-2. seperti dijelaskan di bawah ini. faktor lain perlu diperhatikan. meskipun begitu. pertimbangan stabilitas dan penurunan yang berlaku umum untuk jalan baru juga dapat diterapkan.5p 0. jalan lama jalan baru p 0. Pada kasus ini.3.

Gambar 8-2 Penggalian tanah lunak disekitar jalan lama 77 .

waktu dan resiko jarang dipertimbangkan secara eksplisit atau dipertimbangkan secara semestinya. maka kualitas jadi terbatas dan Perekayasa Geoteknik mungkin tidak dapat menghasilkan desain yang memenuhi standard yang diinginkan. Oleh karenanya desain-desain alternatif yang sesuai dengan peraturan bisa dipilih hanya berdasarkan biaya. Akibatnya proses pengambilan keputusan tidak bisa dimengerti orang lain. Dalam desain geoteknik hal tersebut tidak berlaku. Namun proses pengambilan keputusan harus dimengerti sebelum pengumpulan data dan analisis dilaksanakan. Model keputusan terstruktur juga memperlihatkan bahwa bagi kebanyakan desain geoteknik untuk konstruksi jalan adalah tidak mungkin untuk mencapai hasil yang memuaskan semua pihak. Setiap langkah pada proses ini dijelaskan pada bagian berikut seperti yang mengacu pada gambar tersebut.9 Proses Pengambilan Keputusan 9. Kualitas. Untuk menghasilkan suatu keputusan yang terstruktur proses pengambilan keputusan harus mengikuti prosedur yang diperlihatkan pada Gambar 9-1.1 PENGANTAR Proses pengambilan keputusan dilakukan setelah semua data yang dibutuhkan telah dikumpulkan dan dianalisis. sehingga informasi yang tepat tersedia buat para pengambil keputusan. Pembuatan keputusan geoteknik sering dibuat oleh engineer yang berpengalaman yang menyertakan secara implisit faktor-faktor tersebut. karena peraturan desain struktur umumnya menjamin kualitas yang dapat diterima dan resiko yang rendah. 78 . dan tidak ditinjau ulang jika keadaan berubah. Jika pemilik Proyek menetapkan anggaran dan waktu. Model keputusan terstruktur biasanya tidak digunakan pada desain rekaysa struktur.

4] Opsi 1 Opsi 2 Opsi 3 Opsi 4 Opsi 5 Hitung Biaya Setiap Opsi [9.Kenali Persoalan [9.3] Kenali berbagai Pilihan (opsi) [9.6] Laporan Gambar 9-1 Proses Pengambilan Keputusan 79 .2] Tujuan Penyelidikan Geoteknik [Panduan Geotenik 2] Kenali Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Proses Pengambilan Keputusan [9.5] Opsi 1 Opsi 2 Opsi 3 Opsi 4 Opsi 5 Analisis Pengambilan Keputusan Pilih Opsi Terbaik [9.

4) untuk suatu periode konstruksi maksimum 18 bulan Desain Oprit Jembatan Kali K (Zona 3) termasuk hubungan dengan insinyur struktur Desain pondasi gorong-gorong kotak pada Sta 5 + 050 (Zona 5) Persiapan Spesifikasi Khusus untuk persyaratan yang tidak ada dalam Spesifikasi Standar Identifikasi pengawasan lapangan dan persyaratan pengujian bahan Persiapan rencana monitoring Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk ___________________________ Tanggal ______________ Tabel 9-1 Contoh Lembar Tujuan Desain 9. seperti ditunjukkan pada Tabel 9-2. Jika mungkin Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mendapatkan persetujuan atas bobot-bobot yang dipilih sebelum melaksanakan desain.9. Proyek: Jalan penghubung X ke Y Tujuan-tujuan Desain Geoteknik 1 2 3 4 5 6 Desain timbunan-timbunan biasa (Zona-zona 1. jika hal ini tidak mungkin maka ini harus dinyatakan dalam Laporan Desain. Suatu contoh diberikan pada Tabel 9-1. Bobot yang diterapkan terhadap faktor-faktor tersebut akan berbeda antara satu proyek dengan proyek lainnya. Sebagai permulaan yang sederhana Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mempersiapkan suatu Tabel yang mengidentifikasi semua faktor yang dianggap 80 . 2. disaring dari tujuan lainnya dan dinyatakan secara tertulis pada permulaan proses desain.2 MENGIDENTIFIKASI PROBLEM-PROBLEM YANG HARUS DIPECAHKAN Problem-problem yang harus dipecahkan bisa dilihat pada tujuan-tujuan Perekayasa Geoteknik di Panduan Geoteknik 2.3 MENGENALI FAKTOR-FAKTOR YANG AKAN MEMPENGARUHI PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN Faktor-faktor yang akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan biasanya sangat mirip untuk semua proyek. dan Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk tidak perlu berada dalam posisi untuk mengenali semua faktor atau bobot-bobot yang diberikan. Namun dengan mengikuti prosedur-prosedur yang dipaparkan pada Panduan ini dia mampu memperhatikan semua faktor tersebut dan memastikan bahwa Ketua Tim dan Manajer Proyek mempertimbangkan semuanya dengan cara yang layak.

Faktor Biaya Biaya Modal Biaya Perawatan Waktu Periode Kontrak Konstruksi Kualitas permukaan perkerasan Resiko keterlambatan konstruksi Bobot Tinggi Rendah Tinggi Komentar Anggaran telah ditetapkan Anggaran perawatan terpisah. maka proses tersebut tidak ada artinya. dan mengenali secara subyektif perkiraannya terhadap pembobotan mereka atau kepentingan dan alasannya. Kegagalan biasanya terjadi didaerah ini Kualitas Resiko Rendah Rendah Resiko kegagalan selama konstruksi Resiko kegagalan atau perawatan yang besar setelah konstruksi Dampak Lingkungan Gunakan bahan-bahan alami Dampak lalu-lintas akibat konstruksi Aliran air permukaan dan polusi air tanah Dampak Sosial Kebutuhan lahan Menengah Rendah Rendah Sangat rendah Sangat rendah Tinggi Penggunaan kayu mungkin mendapatkan hambatan dari LSM Daerah yang padat lalu-lintas Air permukaan yang ada tidak berkualitas tinggi Pengalaman sebelumnya di daerah ini Tabel 9-2 Faktor-faktor dan Pembobotan untuk Proses pengambilan Keputusan 9. Biasanya dimungkinkan untuk menghilangkan beberapa pilihan dari 81 . Beberapa faktor pasti memiliki tingkat kepentingan yang lebih dari lainnya. Analisis rekayasa yang mendalam tidak diperlukan atas semua pilihan-pilihan yang ada. tidak ada pertimbangan biaya seumur hidup Periode pinjaman membutuhkan pekerjaan tanah selesai dalam 2 waktu tahun Untuk memenuhi standar yang ada Periode perpanjangan waktu biasanya disetujui. dan analisis bobot harus dapat mengenali ini. Sebagai panduan umum tidak boleh ada TIGA faktor yang memiliki bobot yang tinggi. Suatu contoh diberikan pada Tabel 9-2.penting terhadap proyek.4 PEMILIHAN DAN ANALISIS ATAS BERBAGAI PILIHAN Pilihan-pilihan yang tersedia dijabarkan pada Panduan Geoteknik ini. Kontraktor tidak mengklaim atas keterlambatan akibat kesalahan desain. Semua pilihan yang layak harus dikenali sebagai tahap awal dalam proses pengambilan keputusan. Perlu dicatat bahwa jika bobot atas Faktor-faktor yang dikenali semuanya Tinngi.

82 . Bahkan jika model yang sangat sederhana diterapkan. Hal ini termasuk dampak lingkungan. Sejauh ini suatu nilai moneter telah diberikan pada semua dampak tersebut sehingga didapatkan biaya moneter yang sebenarnya untuk dinilai. Perlu dicatat bahwa kekurangan-kekurangan tersebut berkaitan dengan proyek tertentu dan tidak boleh diambil langsung dari kekurangan-kekurangan umum yang dinyatakan pada daftar simak dalam Appendiks A. Perhitungan biaya membutuhkan desain awal suatu kaji ulang terhadap desain untuk mengenali biaya. biaya penundaan. pemilihan informasi yang cocok yang relevan untuk Indonesia untuk hal-hal seperti laju penurunan kualitas jalan. Proyek: Jalan Penghubung X ke Y Lokasi Zona A: Timbunan Oprit Jembatan Keputusan Penolakan Awal Pilihan Pelat bertiang Konstruksi satu tahap untuk timbunan biasa Kriteria Penolakan Sangat mahal Tidak stabil tanpa bahu beban kontra yang besar Penurunan jangka panjang akan besar Komentar -komentar Pembiayaan tidak dibenarkan untuk Jalan Kabupaten Tabel 9-3 Contoh Sebagian Keputusan Penolakan Awal 9.suatu penilaian awal mengenai kelebihan dan kekurangannya.5 MENGENALI BIAYA UNTUK TIAP PILIHAN Semua pilihan yang dikemukakan pada Panduan Geoteknik ini yang tidak ditolak pada tahap awal proses pengambilan keputusan di atas kemudian harus dianalisis untuk mengidentifikasi biaya setiap faktor. Meskipun begitu. biaya perawatan dan seterusnya akan merupakan pekerja an yang besar. sosial dan resiko. seperti diperlihatkan pada contoh sebagian di Tabel 9-2. untuk proyek pembangunan jalan pada saat ini tidak ada suatu model yang dikembangkan yang menyertakan banyak variabel. Dalam konteks ini “Biaya” tidak hanya berkaitan dengan biaya dalam arti moneter. dengan pembobotannya telah ditentukan. Suatu contoh evaluasi diperlihatkan pada Tabel 9-4 yang memperlihatkan hanya dua pilihan.

83 .Jalan Penghubung dari X ke Y Lokasi Zona A: Timbunan Oprit Jembatan Pilihan 1 Faktor Biaya Biaya kapital Biaya Perawatan Waktu Kualitas Resiko Periode Kontrak Konstruksi Kualitas permukaan perkerasan Resiko penundaan konstruksi Resiko kegagalan selama konstruksi Resiko kegagalan atau perawatan yang besar setelah konstruksi Dampak Lingkungan Penggunaan bahan-bahan alami Dampak lalu-lintas akibat konstruksi Aliran air permukaan dan polusi air tanah Dampak Sosial Kebutuhan Lahan Bobot Tinggi Rendah Tinggi Rendah Rendah Menengah Rendah Biaya Rp8.4juta/m lari 2 2 2 1 1 2 Rendah 3 4 Sangat rendah Sangat rendah Tinggi 2 1 4 2 1 1 Pilihan 1 Drainase vertikal dan konstruksi bertahap dengan beban tambahan Pilihan 2 Tiang-tiang kayu dan matras yang diperkuat dengan geogrid Tabel 9-4 Contoh Mengenali Biaya dari Pilihan Kecuali biaya kapital.5juta/ m lari 3 4 3 5 2 2 Pilihan 2 Biaya Rp10. pada contoh ini masing-masing bagian dinilai pada kolom Biaya pada skala dari 1 sampai 5: 1) Biaya/dampak/resiko sangat rendah 2) Biaya/dampak/resiko rendah 3) Biaya/dampak/resiko sedang 4) Biaya/dampak/resiko tinggi 5) Biaya/dampak/resiko sangat tinggi Skala apapun yang memudahkan dapat digunakan.

Suatu metode semi kuantitatif yang memungkinkan hasil-hasil dipresentasikan secara grafis diperlihatkan pada Gambar 9-2. Proses pengambilan keputusan bisa diselesaikan dengan menggunakan pendekatan numerik atau dengan memeriksa Analisis Biaya secara subyektif. Maka biaya dihitung dengan harga pada saat ini. Meskipun suatu estimasi bisa dibuat berkenaan dengan penurunan kualitas perkerasan dan bahkan kegagalan. Hal ini melibatkan identifikasi biaya perawatan. Kecuali jika terdapat keterbatasan anggaran yang ketat kemungkinan Pilihan 2 akan disarankan. dengan hanya melihat pada pilihan berbobot tinggi. 9. Angka-angka diperoleh dengan 84 . termasuk biaya keterlambatan akibat dari kegagalan tersebut.Menentukan Biaya Sistem evaluasi dan pembiayaan yang lebih kompleks atau penilaian masing-masing faktor bisa dipertimbangkan jika proyek membenarkan pekerjaan tambahan pekerjaan ini. biaya kegagalan yang dapat terjadi di masa yang akan datang. konsekuensi berkenaan dengan biaya tidak bisa secara mudah diestimasi. Akibatnya penaksiran resiko membutuhkan masukan subyektif yang cukup besar dari seorang Perekayasa geoteknik yang sudah terbiasa dengan tipe proyek dan prosedur-prosedur penilaian resiko.6 PENETAPAN PILIHAN YANG TERBAIK Informasi yang memadai harus sudah tersedia untuk menetapkan pilihan yang terbaik atau untuk mengenali pilihan-pilihan dengan biaya yang berbeda-beda. Seperti dalam kasus pembiayaan seumur hidup. Penaksiran Resiko Kemungkinan hasil-hasil yang beragam dari tiap tipe desain bisa diperkirakan melalui penaksiran resiko. Pilihan 1 sekitar 10% lebih murah tetapi memiliki dampak yang tinggi pada periode konstruksi dan pada kebutuhan lahan. Pada kasus seperti Tabel Keputusan pada Tabel 9-4 membandingkan dua pilihan ini. Sayangnya sangat sedikit petunjuk terhadap perbedaan biaya-biaya yang akan terjadi selama umur jalan sebagai akibat dari metode konstruksi yang berbeda. disarankan bahwa pendekatan subyektif diadopsi secara umum. Terutama: Pembiayaan seumur hidup Untuk masing-masing desain pembiayaan seumur hidup konstruksi dihitung. penaksiran resiko berkenaan dengan hal geoteknik untuk konstruksi jalan tidak begitu maju. Karena adanya kesulitan dengan menetapkan biaya moneter terhadap berbagai faktor. dibandingkan dengan bidang lain seperti industri tenaga nuklir dan industri kimia dan perminyakan. Oleh karena itu model pembiayaan seumur hidup seperti itu tidak pernah dikembangkan untuk membuat keputusan geoteknik kecuali untuk kasuskasus yang sangat terbatas.

menetapkan suatu angka dari 1 (sangat rendah) sampai 4 (tinggi) untuk uraian pembobotan dan mengalikan bobot ini dengan biaya. ks ks ks ks an ta n h n i i i i i l Opsi 2 Opsi 1 Catatan: Nilai biaya kapital telah dibagi dengan 5 untuk menghindari kesan yang menyesatkan akibat bobot yang tinggi.. Gambar 9-2 Perbandingan Pilihan Digambarkan secara Grafis Penguangan Biaya (Monetarisation) Jika biaya-biaya semuanya dinilai dalam uang (Rupiah) maka Biaya Bobot Total dari masingmasing pilihan bisa dihitung Biaya Bobot Total = Ó (Bobot * Biaya) Tetapi akan menyesatkan bila biaya hanya diidentifikasi pada suatu skala nominal seperti pada Tabel 9-4 ini akan menyesatkan. skala memiliki arti yang berbeda untuk masing-masing faktor. Skala (Sembarang) 0 5 10 15 20 Ke ga Ai Da Ri ga rP m Ri sik la pa er sik n o m at k Ke o uk M au La Te Pe Pe ga ut aa lu Pe rla u rio ng ga lin n Pe m m de gu la ta da ba el rm n s na Bi n ih Ko td se se Ke uk ay Ai ar an nt la la al aa rB a aa bu ra m m M am Pe n n Bi tu aw at a a k Pe ya m ay ha er Ko Ko Ko Ko ah el ng ial rk a n ns ns ns ns ih er Ka Ta La Al ar B. dan hasilnya tidak bisa secara bersamaan dijumlahkan karena tidak akan berarti. tru tru tru tru as am na pi ha aa . Po lu si Ri sik o 85 .

7 PELAPORAN DARI PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN REKOMENDASI Laporan Desain mengidentifikasi pilihan yang disarankan untuk setiap elemen proyek. 86 . dalam format berikut ini: Solusi yang disarankan dengan Nilai berdasarkan pada Tabel 9-4 Appendiks yang memperlihatkan semua solusi yang telah dianalisis dengan nilai yang seperti diperlihatkan pada Tabel 9-4 Appendiks yang memperlihatkan solusi yang tidak dianalisis seperti ditunjukkan pada Tabel 9-3. dan menyajikan alasan-alasannya.Jika ada daerah yang mengandung ketidakpastian dalam proses pengambilan keputusan Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mempertimbangkan melakukan penyelidikan tambahan atau uji coba seperti dijelaskan pada Bab 11 untuk menentukan perilaku tanah. 9.

tetapi diedarkan untuk dikomentari. Daftar Isi Harus berisi daftar tiap bab dari suatu laporan. dengan nomor halaman. Konsep bisa juga mengandung isi yang belum diedit. 87 . Rangkuman Eksekutif harus cukup untuk memberikan masukan geoteknik terhadap Laporan Desain Proyek. Gambar. KONSEP AKHIR Tanggal harus selalu diperlihatkan pada sampul.10 Laporan Desain Laporan Desain harus memenuhi tujuan-tujuan berikut: berisi deskripsi yang jelas mengenai logika rekomendasi yang dibuat dan data yang digunakan untuk mencapai rekomendasi memberikan suatu acuan untuk keperluan yang akan datang jika desain perlu diganti atau jika ditemukan masalah selama pelaksanaan memungkinkan acuan kemudian untuk interpretasi data oleh insinyur lain untuk proyek lain Laporan Desain harus berisi informasi seperti daftar di bawah. Harus harus berisi semua Tabel. Gambar Teknik dan Appendiks. sebagai SEMENTARA jika tidak semua isi yang diinginkan dimasukkan jika isi laporan lengkap. Rangkuman Eksekutif Kenali Satuan Tanah yang utama dan solusi yang disarankan untuk masingmasing Zona Proyek. Jika ada bagian yang tidak dimasukkan dalam Laporan maka alasan penghilangannya harus diberikan. Sampul Lihat format di Appendiks E Laporan harus secara jelas disebutkan statusnya.

bersama dengan alasan-alasan mengapa mereka belum dicapai.2 dari Panduan. maka Tujuan-tujuan yang belum dicapai harus disebutkan. Beberapa Tujuan dari proses desain belum dicapai. Rujukan harus dimasukkan jika berlaku terhadap bagian-bagian lain laporan berkenaan dengan hal-hal khusus ini. Menyebutkan aspek-aspek yang penting dari pekerjaan. Bagian akhir dari bab ini harus diberi Sub Bab : Pencapaian Tujuan Salah satu dari dua paragraf berikut ini harus dimasukkan pada Bab ini: Tujuan-tujuan proses desain telah dicapai. Menyebutkan tanggal-tanggal pekerjaan dilaksanakan: lihat Appendiks A Daftar Simak 1. 88 . seperti dirinci di bawah ini: Jika paragraf kedua diadopsi. Jika merupakan Laporan Sementara nyatakan lingkup pekerjaan yang dicakup dan apa-apa yang masih harus dilakukan. Penjelasan Tujuan Ulangi Tujuan-tujuan yang didefinisikan pada permulaan proses desain pada Bab 8. dan kenali tiap modifikasi yang dibuat pada tinjauan selama proses desain. Pendahuluan Memberikan rujukan penuh terhadap Laporan Fakta.Lihat format di Appendiks E Lembar Pemenuhan (Compliance Sheet) Lihat format di Appendiks E 3 Jika Laporan merupakan Laporan sementara atau Konsep maka hal ini harus disebutkan.

topografi dan detail drainase. Jika level permukaan (ketinggian) lokasi penyelidikan lapangan belum diukur dan belum dihubungkan dengan suatu datum permanen (titik tetap) maka hal ini dianggap sebagai suatu kegagalan pemenuhan Tujuan. Geologi Geologi regional – rangkuman berdasarkan pada data yang dipublikasi atau lainnya yang ada. Peta-peta dan sumber lainnya harus diperkenalkan. 89 . Suatu Rencana Kunci (Key Plan) yang cukup rinci sehingga seseorang bisa menemukan lokasi dengan mudah. Uraian Lokasi Titik tetap dan sistem koordinat yang digunakan untuk pengukuran dan hubungannya dengan Titik Tetap Nasional. dan informasi yang diperoleh hanya cukup untuk menyajikan interpretasi kondisi tanah bersifat pendahuluan. Rencana Umum (General Plan) yang cukup rinci untuk memperlihatkan detail proyek.2. dan lokasi untuk membuat lubang bor terbatas.Contoh: Pencapaian Tujuan Beberapa Tujuan proses desain belum dicapai. Rekomendasi untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk desain oprit jembatan dimasukkan pada Bab 19. seperti dirinci di bawah: Tanah sekitar lokasi Jembatan 23 dimanfaatkan untuk perumahan murah.3. Peta geologi dan potongan harus disertakan untuk memperjelas interpretasi. Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk harus memberikan alasan yang jelas mengapa ini bisa terjadi. Harus dijelaskan bila Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk mengidentifikasi adanya kekurangan pada data yang dipublikasi dan merubah interpretasi geologi regional untuk proyek. Geologi lokal – interpretasi geologi lokal berdasarkan hasil penyelidikan lapangan dan membandingkan dengan geologi regional. Sistem drainase – penjelasan yang cukup sehingga pembaca mengerti arti pengaruh sistem drainase terhadap desain geoteknik. Kondisi tanah sekitar jembatan cukup variatif. Level banjir desain untuk Seksi 3 Proyek (Zona 7 sampai 11) belum diselesaikan. Desain Geoteknik Zona 7 sampai 11 harus ditinjau ulang setelah level timbunan akhir sudah ditentukan. Topografi – suatu deskripsi yang cukup untuk memasukkan bab-bab berikut dalam konteks termasuk level rinci permukaan.

Sifat-sifat kimia air tanah – sifat merusak air tanah terhadap bahan bangunan. Parameter Desain Umum Kaji ulang nilai-nilai indeks dan parameter lainnya. untuk menyatakan alasan pemilihan Satuan Tanah. Pengaruh pasang surut – untuk lokasi dekat atau di daerah jangkauan pasang surut dan pengaruhnya terhadap muka air tanah. Banjir – Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk diharapkan akan diberi informasi dari ahli hidrologi mengenai level banjir desain dan kemungkinan level banjir maksimum. Persyaratan desain untuk desain geoteknik kemudian ditetapkan dan dasar kriteria desain dijelaskan. Variasi lithologi – Ini akan menjadi suatu pengantar terhadap deskripsi Satuan Tanah selanjutnya dan akan mengidentifikasi variasi-variasi yang penting dalam konteks rekayasa geoteknik atau dalam menginterpretasi Satuan Tanah yang berbeda. Gambar-gambar yang memperlihatkan distribusi Satuan Tanah dilokasi proyek. menggunakan peta dan penampang geologi. Penampang masing-masing Satuan Tanah: Analisis data untuk masing-masing nilai indeks dan parameter tanah untuk desain. Rujukan terhadap Appendiks untuk penjelasan semua data yang ditolak. dan rujukan kembali ke Geologi.Stratigrafi proyek – mengikuti penjelasan geologi lokal diskripsi ini akan mengidentifikasi interpretasi Stratigrafi dilokasi proyek. Aliran – penjelasan aliran air tanah yang mungkin dan alasan-alasannya Pengaruh musim – pertimbangan periode saat penyelidikan dilaksanakan dan pengaruhnya terhadap muka air tanah jangka panjang. Hidrogeologi Level air tanah – level yang diukur selama penyelidikan dan interpretasi variasi level air tanah. 90 . Bila tidak ada data yang ditolak maka pernyataan berikut ini harus disertakan Semua data yang diperoleh dari Penyelidikan Tanah telah dikaji dan dianggap memuaskan untuk keperluan desain geoteknik.

Untuk parameter yang digunakan dalam desain. Siapkan matriks keputusan – identifikasi solusi yang diinginkan dan solusi lainnya yang dirangking berdasarkan urutan pilihan yang lebih baik. 91 . Rangkuman Desain & Kesimpulan Desain : Pilihan-pilihan – Rekomendasi. kesimpulan mengenai parameter desain yang cocok. kenali Zona dan solusi yang disarankan dala m suatu format tabel. Identifikasi setiap batasan terhadap desain: periode kontrak. Penzonaan Lokasi Penjelasan sistem Penzonaan yang digunakan untuk proyek termasuk bangunannya. Untuk masing-masing Zona. anggaran yang tersedia. Rangkum masing-masing struktur bangunan. Prosedur Desain: Pengantar Identifikasi persyaratan-persyaratan desain – penjelasan proyek dan rujukan penuh terhadap rencana umum dan gambar-gambar lainnya yang diberikan dan digunakan untuk desain. Parameter-parameter desain umum: muka air banjir – beban gempa – persyaratan beban hidup Identifikasi masing-masing struktur bangunan yang akan didesain dengan suatu tabel rangkuman persyaratan-persyaratannya. untuk masing-masing struktur bangunan: Identifikasi masalah – merujuk ke hasil-hasil perhitungan. ketersediaan lahan. Spesifikasi dan Kontrak Sertakan spesifikasi khusus dan persyaratan lainnya yang akan dimasukkan dalam Kontrak. Tabel yang merangkum semua parameter-paremeter desain: lihat contoh pada Appendiks E.Kesimpulan mengenai kisaran nilai yang benar. Standar-standar dan Peraturan yang digunakan pada Desain Geoteknik. yang akan dimasukkan atau dirangkumkan pada Appendiks – identifikasi solusi-solusi yang tersedia.

nomor gambar teknik. metode-metode desain dan data eksternal lainnya yang digunakan dalam laporan harus dirujuk penuh. Isu Lingkungan Rangkum dampak-dampak lingkungan dan rujuk Laporan mengenai Lingkungan untuk Proyek. Untuk gambar peta perlu tambahan: Penunjuk arah utara. rujukan terhadap sumber data untuk informasi survei lapangan dan sebagainya. 92 . grid (bujur / lintang). Referensi Semua sumber informasi. Tabel-tabel Gambar-gambar Gambar-gambar Teknik Semua gambar-gambar teknik harus berisi informasi berikut: Untuk semua gambar teknik: skala.Identifikasi tingkat supervisi yang diperlukan dan pengalaman minimum dari insinyur pengawas.

11 Uji Coba Uji coba dilaksanakan untuk pelaksanaan konstruksi untuk konfirmasi perilaku yang diasumsikan. Biaya membangun timbunan atau suatu alternatif struktur menggunakan parameter-parameter dan data yang diketahui dan menghasilkan desain yang secara konservatif bisa diterima harus diestimasi sebagai biaya dasar. matras atau bahan timbunan khusus untuk meyakinkan bahwa hal tersebut bisa dilaksanakan dengan keahlian yang ada. Namun dengan adanya kontrak sebelum turunnya DIP yang biasanya dilakukan di Indonesia pendekatan ini biasanya tidak memungkinkan. Uji coba galian untuk mengetahui prosedur yang memuaskan dalam hal membuang atau memperbaiki tanah lunak Uji coba pemasangan perbaikan tanah untuk mengetahui perilaku tanah lunak Tiang uji coba untuk mengetahui daya dukung tiang dan syarat-syarat pemancangan Uji coba mungkin terdiri atas kombinasi dari aspek-aspek tersebut diatas Keuntungan uji coba sebaiknya diidentifikasi dengan suatu analisis keuntungan biaya yang sederhana. Suatu contoh pendekatan diberikan di bawah. Meskipun uji coba seperti itu akan memberikan beberapa keuntungan pelaksanaan konstruksi. Beberapa estimasi harus dibuat mengenai biaya konstruksi jika uji coba berhasil. Keuntungan yang maksimum dari uji coba dapat diperoleh bila pelaksanaan uji coba serta hasil-hasilnya dipergunakan dalam desain. Uji coba hanya dibenarkan jika asumsi-asumsi akan menghasilkan penghematan biaya yang besar. dan akan menimbulkan tambahan biaya yang besar jika asumsi-asumsi yang diambil ternyata salah. dan untuk menentukan prosedur pengendalian mutu dalam pelaksanaannya. dan uji coba tersebut dilaksanakan sebelum kontrak konstruksi ditenderkan. Kemudian tujuan dari suatu percobaan adalah untuk mencoba mengurangi biaya dasar ini. Uji coba yang mungkin diperlukan untuk desain timbunan dan pelaksanaan pada tanah lunak adalah : Uji coba timbunan percobaan untuk membebani tanah dan mengenali perilaku tanah Uji coba timbunan yang menggunakan perkuatan. dan uji coba perlu dimasukkan di dalam kontrak konstruksi. keuntungan buat pemilik proyek menjadi sangat berkurang. sehingga penghematan biaya bisa dibandingkan dengan biaya percobaan. 93 .

Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan akan terjadi jika dipaksakan membangun timbunan setinggi 4 m tanpa perlakuan khusus. tentu saja akan memberikan solusi yang memuaskan secara teknis Konstruksi bertahap menggunakan drainase vertikal untuk mempercepat konsolidasi. Jika waktu tersedia untuk melaksanakan uji coba. dengan memperhatikan petunjuk pada Bab 13 dari Panduan ini Kenali jangkauan hasil-hasil yang didapat dari uji coba. 94 . Contoh: Mengenali Keuntungan dari Suatu Percobaan Suatu jalan dekat pantai direncanakan dengan panjang sekitar 4 km akan dibangun di atas tanah lunak sedalam 20 m. Uji coba skala. dengan biaya Rp 20 Miliar per kilometer. Untuk mempertahankan jalan di atas level banjirdan mempertimbangkan penurunan regional di masa yang akan datang. Dua pilihan dipertimbangkan untuk membangun jalan tersebut: Struktur dengan fondasi tiang. Jika waktu tidak tersedia untuk melaksanakan uji coba menurut program proyek yang ada Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus bisa menunjukkan terhadap penghematan biaya dan penurunan resiko yang dapat diperoleh jika proyek dijadwal ulang untuk memungkinkan dilaksanakannya uji coba.Sebelum melaksanakan uji coba prosedur berikut harus diselesaikan Kenali tujuan khusus dari uji coba Siapkan desain terinci untuk uji coba Siapkan prediksi perilaku timbunan. dengan sistem drainase vertikal dengan instrumentasi membutuhkan biaya Rp 1 milliar. dan garis besar prosedur untuk melaksanakan timbunan percobaan disertakan pada Appendiks F. dan identifikasi konsekuensinya terhadap desain. tetapi dengan pertanyaan yang belum bisa dijawab mengenai waktu yang diperlukan untuk tiap tahap dan program pelaksanaan. Bentuk yang paling umum dari percobaan adalah uji coba Timbunan. dan kenali variasi yang mungkin dari perkiraan terbaik ini Desain rencana monitoring dan program yang sesuai dengan perilaku yang diprediksi dan variasi yang diprediksi. Jelas bahwa secara ekonomis sangat menarik untuk dilakukan uji coba: pengeluaran sebesar Rp 1 miliar akan memberikan kemungkinan 80% penghematan dari Rp 36 miliar untuk jalan sepanjang empat kilometer. dengan biaya sekitar Rp 11 Miliar per kilometer. Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk memperkirakan 80% kemungkinan bahwa solusi konstruksi bertahap bisa diselesaikan dalam waktu dua tahun yang merupakan batas waktu maksimum yang bisa diterima proyek. perkerasan jalan harus mempunyai ketinggian 4 m di atas level permukaan tanah sekarang.

1 PENGADAAN KONTRAK Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk akan diminta untuk memeriksa semua gambar-gambar tender dan spesifikasi yang berisi pekerjaan geoteknik. pihak pabrikan biasanya menyediakan bantuan keahlian khusus dalam hal supervisi pelaksanaannya. sementara berkenaan dengan spesifikasi. Jika penyerahan tender termasuk usulan alternatif pelaksanaan atau pernyataan metoda pelaksanaan yang berkaitan dengan pekerjaan geoteknik. dan menyiapkan lembaran catatan sehingga memenuhi persyaratan desain geoteknik. pihak pabrikan akan memberikan spesifikasi yang lengkap dan metodologi pelaksanaannya. hal ini harus diklarifikasi pada tahap tender agar kontraktor bisa memasukkannya ke dalam harga penawaran dan program pelaksanaannya. Oleh karenanya penting bagi desainer untuk memberikan spesifikasi yang lengkap. Jika terdapat persyaratan khusus yang akan mempengaruhi metode pelaksanaan atau memerlukan periode tenggang dalam pekerjaan. Dan ini harus dimasukkan ke dalam dokumen kontrak dan diperiksa apakah tidak ada yang bertentangan dengan spesifikasi umum. metodologi pelaksanaan dan kualitas hasil pekerjaan harus diberikan. maka Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk harus mempelajarinya dan mempersiapkan suatu laporan untuk Panitia evaluasi tender. Jika pekerjaan pelaksanaan tidak tercakup dalam spesifikasi umum. maka spesifikasi bahan yang lengkap. Sistem pengendalian mutu harus ditetapkan dan diimplemantasikan. 95 . Prakualifikasi kontraktor merupakan suatu keharusan untuk solusi yang khas.12 Kontrak dan Pelaksanan 12.2 PELAKSANAAN Kualitas adalah faktor yang terpenting dalam pelaksanaan. 12. Prakualifikasi konsultan supervisi juga diperlukan. Untuk bahan-bahan khusus. Kegagalan untuk mematuhi spesifikasi merupakan penyebab banyak kegagalan jalan di Indonesia dibandingkan penyebab lainnya.

96 . akan lebih efektif untuk tidak membersihkan dan membuang lapisan permukaan. Ini memiliki pengaruh yang sama seperti belukar yang digunakan pada masa lalu di daerah beriklim sedang. Hal ini harus diklarifikasi pada waktu penjelasan pra-kontrak. Hal ini tidak berarti bahwa usaha untuk memadatkan lapisan-lapisan bagian bawah tidak perlu dilakukan. Pembersihan lahan: pada umumnya. Perekayasa geoteknik yang ditunjuk harus menyiapkan prosedur untuk pengendalian mutu. Demikian pula. Kemungkinan bahwa spesifikasi untuk pemadatan timbunan tidak bisa dicapai pada lapisan timbunan awal yang memerlukan lapisan yang cukup tebal untuk mendukung peralatan. Jika teknik-teknik khusus diperlukan atau bahan-bahan spesifik digunakan. jika lahan tertutup tumbuh-tumbuhan. Akar-akar memberikan perkuatan sehingga lebih memudahkan pelaksanaan. Harus diyakinkan bahwa peralatan tersebut sesuai untuk pekerjaaan di atas tanah lunak. Penumpukan material pada alinyemen timbunan tidak diperbolehkan karena ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan penurunan pada lapisan gambut atau menimbulkan keruntuhan geser pada lapisan tanah inorganik. pengawasan biasanya dilaksanakan oleh Perekayasa teknik jalan dengan saran spesialis dari Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk sesuai kebutuhan.5 m harus dipadatkan mengikuti spesifikasi.Pernyataan metode yang diberikan konstraktor harus menyebutkan peralatan yang akan digunakan. Hal-hal tertentu yang harus diselesaikan pada solusi desain pada Bab 2 dan 3 telah dijelaskan pada Bab 6 dan dalam hal ini perlu diperhitungkan persyaratan pelaksanaan dalam desain. Dengan syarat lapisan timbunan bagia n atas yaitu sekitar 1. jalan sementara baik memotong ataupun menyusuri alinyemen harus dihindarkan. Lebih baik memotong atau membiarkan tumbuh-tumbuhan untuk memberikan suatu separasi antara tanah asli dan timbunan. Kecuali pada proyek-proyek yang besar.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat di Dunnicliff (1988) dan Hanna (1973). Resiko muncul karena penurunan dan stabilitas timbunan berdasarkan pengetahuan pada saat ini masih sangat sulit untuk diprediksi secara akurat. Untuk solusi-solusi lainnya. atau mengadopsi solusi yang lebih murah tetapi dengan mengambil resiko. terutama untuk penggalian parsial. oleh karenanya pemantauan dan instrumentasi selama pelaksanaan diperlukan kecuali pada metode penggantian total atau fondasi tiang. 97 . instrumentasi harus diadakan untuk mengamati kemajuan konsolidasi dan untuk menentukan apakah timbunan tersebut stabil. konstruksi bertahap dan drainase vertikal. Proses desain harus telah mengidentifikasi perilaku timbunan yang mungkin dan parameter yang harus dimonitor. beban tambahan.1 MERENCANAKAN PROGRAM PEMANTAUAN DAN INSTRUMENTASI Program pemantauan harus direncanakan di depan dan melalui serangkaian langkah-langkah untuk meyakinkan bahwa tujuan dapat dicapai. Untuk memajukan pengetahuan pada saat ini. Deskripsi singkat mengenai jenis-jenis instrumen yang ada diberikan pada Appendiks G. Jika ketidakpastian desain besar dan faktor keamanan kecil.13 Pemantauan (Site Monitoring) Masalah utama yang dihadapi seorang perekayasa dalam membangun timbunan jalan di atas tanah lunak adalah ketidakpastian dalam kaitannya baik dengan metode-metode analisis maupun parameter-parameter tanah yang dipilih. 13. Untuk uji coba timbunan percobaan. Untuk mengevaluasi apakah metode solusi yang diadopsi efektif. terutama bila menghadapi tanah gambut. Instrumentasi diperlukan untuk alasan berikut: Memberikan data untuk pengukuran volume. Mengontrol prosedur atau skedul pelaksanaan. Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk mempunyai pilihan yaitu mengadopsi suatu desain yang konservatif yang selanjutnya akan mengakibatkan biaya konstruksi yang tinggi.

13. kualitas dan kompleksitas instrumentasi dibagi dalam Panduan Geoteknik ini menjadi empat kelas seperti ditunjukkan pada Tabel 13-1.4 PRA ANALISIS Sebelum membuat suatu program instrumentasi. 13. 13. dan kondisi lingkungan. Keruntuhan rotasi. satu atau lebih hipotesis harus dibuat/dikembangkan untuk memprediksi mekanisme yang kemungkinan mengontrol perilaku. 13. Timbunan di atas tanah lunak cenderung didominasi oleh sifat-sifat tanah lunak. Profil memanjang harus digambar yang menyertakan alinyemen jalan vertikal yang direncanakan.5 BANYAKNYA INSTRUMENTASI Banyaknya dan kompleksitas instrumentasi bergantung pada kelas jalan. termasuk jenis proyek.2 DESAIN TIMBUNAN Perekayasa yang bertanggung jawab untuk merencanakan program pemantauan harus mengenal berbagai aspek proyek. Jumlah. Atau beban timbunan bisa menyebabkan penurunan atau pengangkatan (heaving) sebelum keruntuhan rotasi terjadi. Jika uji coba timbunan disarankan sebagai bagian dari desain akan diperlukan instrumentasi yang lebih ekstensif. Jika tidak ada masalah stabilitas dan hanya masalah penurunan. profil tanah memanjang dan beberapa profil melintang harus dipilih pada lokasi-lokasi kritis dan pada lokasi-lokasi penyelidikan lapangan terinci dilaksanakan. kondisi air tanah. desain timbunan. status banguna disekitarnya. dan metode pelaksanaan yang direncanakan. rancangan. sifat-sifat teknis material bawah permukaan tanah. termasuk stratigrafi bawah permukaan tanah. panjang daerah tanah lunak dan jenis masalah yang akan dihadapi.3 KONDISI LAPISAN BAWAH PERMUKAAN Untuk perencanaan instrumentasi yang baik. atau keruntuhan fondasi mungkin saja terjadi. 98 . Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk harus mengumpulkan hasil-hasil penyelidikan lapangan. instrumentasi diperlukan hanya untuk memonitor penurunan.

Sedikitnya dua potongan terinstrumentasi utama harus direncanakan untuk daerah tanah lunak yang panjangnya lebih dari 500 m. perbaikan tanah menggunakan drainase vertikal. prabeban/beban lebih. Langkah-langkah dalam menentukan lokasi instrumen sebagai berikut: Pilih potongan melintang di mana perilaku yang diprediksi dianggap mewakili keseluruhan daerah tanah lunak. tetapi tidak perlu sekali. kalau tidak penyelidikan lapangan tambahan harus dilakukan pada potongan melintang yang dipilih. Analisis elemen hingga dapat membantu dalam menentukan lokasi kritis dan orientasi instrumen. konstruksi bertahap atau penimbunan terkontrol Pelat penurunan Penanda penurunan Ekstensometer batang Pisometer Inklinometer Patok geser Alat pembaca sederhana Kelas C Instrumentasi untuk pekerjaan konstruksi normal Pelat penurunan Penanda penurunan permukaan Pisometer Patok geser Kelas D Instrumentasi untuk memonitor penurunan jangka panjang/pekerjaan rehabilitasi Penanda penurunan permukaan Tabel 13-1 Kelas-kelas Instrumentasi untuk Timbunan Jalan 13. Potongan melintang dipilih pada lokasi kritis dan pada lokasi-lokasi penyelidikan lapangan terinci telah dilaksanakan.Kelas Instrumentasi Kelas A Tujuan Kualitas tinggi dan instrumentasi terinci untuk timbunan percobaan Tipe instrumen Pelat penurunan (settlement plate) Penanda penurunan (settlement marker) Ekstensometer magnetis Inklinometer Pisometer Patok geser (offset pegs) Kelas B Instrumentasi untuk timbunan tinggi seperti timbunan oprit. 99 . Instrumen utama harus ditempatkan pada potongan melintang ini.6 LOKASI INSTRUMEN Pemilihan lokasi instrumen harus sesuai dengan perilaku yang diprediksi dan metode analisis yang akan digunakan kemudian pada saat menginterpretasi data.

Pada potongan terinstrumentasi primer yang direncanakan. zona-zona yang sangat terbebani atau zona-zona di mana tekanan pori yang tertinggi akan terjadi. Potongan terinstrumentasi sekunder bertindak sebagai penunjuk perilaku pembanding dan untuk mendapatkan informasi kuantitas timbunan.Pilih satu atau lebih potongan melintang sekunder. Teknisi yang memasang instrumen harus telah berpengalaman dan mereka harus disupervisi oleh seorang teknisi senior atau insinyur/perekayasa dari pihak penyuplai dan pabrikan. pelat penurunan. ditunjukkan pada Gambar 13-1. seperti zona-zona lemah.7 PEMASANGAN Instrumen-instrumen harus dipasang oleh suatu perusahaan/kontraktor spesialis kecuali untuk pemasangan instrumentasi yang sederhana seperti penanda penurunan permukaan. gambar-gambar dan rencana tata letak harus disiapkan dan dilaksanakan dengan tepat dan catatan harus dibuat jika ada penyimpangan deviasi dari rencana semula Semua instrumen harus diberi tanda dan nomer seri 100 . Instrumentasi pada potongan melintang sekunder harus sederhana yang bisa hanya terdiri dari pelat penurunan. indikator bidang gelincir atau patok geser. Suatu contoh diagram yang memperlihatkan lokasi instrumen berdasarkan perilaku yang diprediksi. analisis harus dilakukan untuk memprediksi perilaku timbunan dan zona-zona yang memerlukan perhatian penuh harus diidentifikasi. G Settlement gauge I Inclinometer P Piezometer S Settlement Plate SS Surface Settlement point O Offset peg S2 SS1 S1 S3 I S4 SS2 SS3 S5 O1 P1 P5 P6 S6 O2 G1 G2 Tanah Lunak G3 G4 P2 P3 G5 P4 Gambar 13-1 Contoh tata letak instrumentasi 13. Pemasangan instrumen harus mengikuti halhal berikut: Semua instrumen harus dipasang pada permukaan tanah asli sebelum pembebanan atau penimbunan dimulai Jadwal.

untuk menjamin bahwa semua instrumen tidak rusak dan bekerja dengan baik. Bila ini menjadi masalah. suatu catatan harus dibuat dan bila sudah selesai.Selama pemasangan. Semua pipa vertikal harus diberi tutup untuk mencegah masuknya kotoran (debris). semua instrumen yang dipasang harus dilindungi terhadap lalu lintas kendaraan dan alat-alat berat. Contoh catatan pemasangan diperlihatkan pada Appendiks H. Selongsong inklinometer. yang akan menjadi informasi faktual definitif mengenai instrumentasi Selama pemasangan hal-hal berikut harus dicatat: Nomer dan tipe instrumen Koordinat dari semua lokasi instrumen Level (ketinggian) dari instrumen yang terpasang Tanggal dan waktu pemasangan Log profil tanah yang dijumpai selama pemasangan jika instrumen dipasang di dalam lubang bor. catatan pemasangan harus dibuat menjadi suatu laporan. Tindakan pengamanan khusus harus dilakukan terhadap instrumen yang terpasang sampai menonjol di permukaan tanah yang bisa rusak akibat aktivitas konstruksi. Pencurian dan pengrusakan sering merupakan masalah utama.8 PERLINDUNGAN Selama pemasangan dan pelaksanan penimbunan. Jika kegiatan konstruksi mungkin merusak ujung dari pipa vertikal atau orang iseng mungkin memasukkan batu sehingga menyumbat pipa. batang pelat penurunan membutuhkan penghalang untuk melindunginya dan harus diberi tanda atau dicat dengan jelas untuk memberi peringatan kepada operator peralatan konstruksi. ekstensometer ukur. pembacaan awal harus sering dilakukan selama sekurangnyakurangnya 2 minggu atau sampai semua pembacaan telah stabil. karena kotak pelindung yang mencolok sering mengundang terjadinya suatu perusakan. semua terminal harus dikubur dan dibuat tidak menonjol. 101 . Sebelum aktivitas pelaksanaan dimulai yang mungkin akan mempengaruhi instrumen. Minimum empat rangkaian pembacaan harus diperoleh. sumbat yang bisa dilepas harus dipasang pada kedalaman yang sesuai. 13. setelah selesai pemasangan atau penimbunan instrumen harus dilindungi dengan suatu pelindung yang tidak mudah dirusak/dicuri.

Prosedur pemantauan harus dijabarkan secara tertulis. Frekuensi pembacaan harus cukup rapat sehingga pembacaan yang salah bisa diidentifikasi seperti terlihat pada Gambar 13-2. kemudian memeriksa peralatan dan mengkalibrasinya jika perlu. Setiap saat pelat penurunan diukur. Satu-satunya prosedur yang memuaskan adalah dengan menetapkan pembacaan sesering mungkin pada permulaan dan kemudian mengkaji data tersebut untuk memungkinkan frekuensi pembacaan dikurangi. Nilai meragukan diabaikan Nilai yang tidak diidentifikasikan sebagai meragukan Tegangan pori Hari a) Pembacaan yang memadai Hari b) Pembacaan yang tidak memadai Gambar 13-2 Frekuensi pembacaan instrumentasi Semua pembacaan harus diinspeksi. Setelah itu baru dicari penjelasan lainnya berkenaan dengan variasi yang terjadi.10 CATATAN PENIMBUNAN Timbunan jalan biasanya dilaksanakan lapis perlapis setebal 20 sampai 30 cm. ketinggian titik pengukuran di atas timbunan juga harus dicatat. Contoh dari suatu kontrak instrumentasi disertakan dalam CD Panduan Geoteknik. lebih baik tiap hari tetapi sekurangnya tiap minggu untuk menjamin bahwa pembacaan sudah cukup memadai dan tidak ada masalah yang timbul dengan data yang didapat. 13. Kemajuan penimbunan harus dicatat yaitu tanggal mulai penimbunan dan tanggal selesai untuk setiap lapisan.13. 102 .9 FREKUENSI DAN PROSEDUR PEMANTAUAN Frekuensi pemantauan harus ditentukan oleh Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk. pencatatan tebal lapisan amparan tidak cukup memadai untuk mengetahui tinggi timbunan yanf sudah dilaksanakan. Harus dipastikan bahwa pembacaan instrumen telah dikoordinasikan dengan jadwal pelaksanaan penimbunan. Jika pembacaan mulai melenceng dari perilaku yang diharapkan tindakan pertama yang dilakukan adalah memeriksa apakah pembacaan dilakukan menuruti prosedur yang sesuai. Karena timbunan tidak mungkin turun secara seragam.

13.11 PELAT PENURUNAN Ketinggian dasar pelat dan ujung batang harus dicatat sebagai bacaan awal. Jika nilainilai tidak konsisten dengan rangkaian pembacaan sebelumnya maka pengukuran harus diulangi.12 INSTRUMENTASI KHUSUS Petunjuk mengenai keuntungan dan kerugian berbagai jenis instrumentasi diberikan pada Appendiks G bersamaan dengan skema beberapa instrumen yang bisa dibuat lokal di bengkel yang kompeten.13. Jika nilai-nilai berubah dengan cepat maka frekuensi pembacaan harus ditingkatkan. Pembacaan pelat penurunan dilakukan pada saat selesainya setiap lapisan timbunan atau diambil tiap minggu atau setiap 3 hari jika perlu. Pelat penurunan harus dipasang sebelum penimbunan dilaksanakan dan agar pelat tidak bergerak sewaktu ditimbun maka dasar pelat harus diratakan dengan pasir. Ketinggian awal ujung batang harus direvisi saat batang diperpanjang. Yang umumnya menjadi masalah adalah di daerah-daerah banjir atau persawahan di mana lapisan lumpur yang sangat lunak menutupi permukaan tanah yang akan menyembul keluar dari bawah pelat dan memberikan kesan adanya penurunan dini. Data harus diplot dan ditinjau secepatnya begitu diperoleh. 103 .

Roads on peat in East Sumatra.4. Guide to Retaining Wall Design. Exxon (1989). 7. Hong Kong. Program for shallow stabilization techniques on soft ground. De Beer E E & Wallays M (1972). Specifications and standards for unbound aggregates and their use in Italy. Hanrahan E T & Rogers M G (1981). Barry A J. Geotechnical Control Office. Brady M A & Younger J S (1992). Preloading and vertical drains. Exxon Chemical GeoPolymers Ltd. kecuali yang disebutkan pada database sebagai tersedia di tempat lain di Bandung. Foundation Instrumentation. Designing for Soil Reinforcement. Jewell R A (1996). October. Ministry of Public Works. Semua dokumen pada Bibliografi disimpan di Perpustakaan IRE. Jakarta. Seminar on Ground Improvement. GT10. Choa V (1985). pp325-352. Moretti I & Cuttruzzula B (1991). in Unbound Aggregates in Roads. pp87-99. Singapore. Hanna T H (1973). Soil Reinforcement with Geotextiles: Special Publication 123. CIRIA. 3rd International Geotechnical Seminar on Soil Improvement Methods. Madrid. South East Asian Geotechnical Society. ASCE. Jakarta. Forces induced in piles by unsymmetrical surcharges on the soil around the piles. Transtech Publications.December. Edil T B & Bosscher P J (1994). Road on peat: observations and design. Indonesia. 104 . Butterworths. Journal of Geotechnical Engineering Division. Symposium in Print: Environmental Geotechnics. Anon (1982). Miki H (1999). Bridge Design Manual (Draft). Bangkok.2nd Seminar on Ground Improvement.14 Referensi Suatu bibliografi sekitar sembilan ratus referensi dipersiapkan sebagai bagian dari proyek IGMC2 dan dimasukkan pada yang menyertai CD Panduan Geoteknik ini. Jones R H & Dawson A R (eds). Engineering properties of tire chips and soil mixtures. Geotechnical Testing Journal. DGH (1992). pp1403-1415. Hiroo (2000). 107. Directorate General of Highways. Proceedings 5th European Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering. Cooperative research on soft ground improvement in Thailand.

Vertical drains . Ground Engineering. Barry A J & Shoji H (1984). May. USA. Soils and Foundations. Design Manual: Soil Mechanics. Performance of various types of vertical drains on consolidation behaviour of soft soils at trial embankment for Surabaya Eastern Ring Road. pp663668.NAVFAC (1971). Prosiding Pertemuan Tahunan IV. pp31-35. Deep vertical drain installation. Rahardjo P P. Foundations and Earth Structures. pp207-218. Meilinda L & Yuniati L (2000). Nicholls R A & Barry A J (1983). Yeo S C & Chock E T (1990). Toh C T. Evaluasi hasil monitoring instrumentasi geoteknik pada reklamasi terminal semen di atas tanah lunak di Semarang. Peat replacement trial at Machap. Dept of Navy. Kuala Lumpur.a case history. Helsinki. Institut Teknologi Bandung. Program Pascasarjana. Stewart D P. 105 . 8th European Conference on Soil Mechanics & Foundation Engineering. Jewell R J & Randolph M F (1994). Chua S K. Nicholls R A. Chee S K. Tri Indijono (1999). Centrifuge modelling of piled bridge abutments on soft ground. 34. ppIII-1 – III-7. Program Magister Sistem dan Teknik Jalan Raya. INDO-GEO 2000 HATTI. Seminar on Geotechnical Aspects of the North South Highway. pp41-51.

Lampiran A Daftar-daftar Periksa .

Tanggal Penunjukkan Perekayasa Geoteknik Laporan Studi Literatur Kunjungan Peninjauan Lapangan Desain Penyelidikan Lapangan Pelaksanaan Penyelidikan Lapangan Pekerjaan Lapangan Selesai Pengujian Laboratorium Selesai Laporan Penyelidikan Lapangan Disetujui Desain Dimulai Laporan Desain Konsep Diserahkan Laporan Desain Akhir Diserahkan Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A1 Kronologi Penyelidikan dan Desain Geoteknik/Daftar Periksa Serah Terima A1 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Menggunakan peralatan pekerjaan tanah standar Penggantian penuh menyelesaikan masalah-masalah stabilitas dan penurunan Penggantian penuh memungkinkan inspeksi tidak ketat dan resiko yang sangat rendah dari desain yang tidak memadai Penggantian parsial bisa digabungkan dengan beban lebih Kerugian-kerugian Memerlukan bahan timbunan pengisi berkualitas tinggi jika penggalian tidak dikeringkan Memerlukan tempat pembuangan bahan bermutu rendah yang digali Mempengaruhi drainase bawah tanah dasar alami Penggalian bisa menyebabkan kerusakan terhadap struktur-struktur di sekeliling. jalan lama Komentar -komentar Komentar-komentar Tertanda Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A2 Kelebihan & Kekurangan Penggantian Penuh & Sebagian A2 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Menggunakan peralatan pekerjaan tanah standar Bisa dikombinasikan dengan solusi lain Komentar Kekurangan-kekurangan Membutuhkan lahan tambahan Membutuhkan timbunan tambahan Tidak berpengaruh terhadap penurunan jangka panjang Memperbesar penurunan total Pencurian timbunan dapat terjadi Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A3 Kelebihan & Kekurangan Bahu Beban Kontra A3 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Menggunakan peralatan pekerjaan tanah standar Efektif tidaknya dapat dimonitor secara sederhana Komentar Kekurangan-kekurangan Tambahan timbunan beban lebih harus dibuang saat akhir periode pembebanan lebih Meningkatkan permasalahan stabilitas Waktu yang diperlukan sulit diprediksi sehingga bisa menunda konstruksi Komentar-komentar Tertanda Insinyur Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A4 Kelebihan & Kekurangan Beban Lebih A4 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Menggunakan peralatan pekerjaan tanah standar Efektifitas dapat dimonitor Komentar Kekurangan-kekurangan Waktu yang diperlukan sulit diprediksi sehingga bisa menunda konstruksi Membutuhkan monitoring terinci Pemonitoran Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A5 Kelebihan & Kekurangan Konstruksi Bertahap A5 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Berurusan baik dengan masalah stabilitas maupun penurunan Bisa dikombinasikan dengan metodemetode lain Komentar -komentar Kekurangan-kekurangan Kontraktor spesialis dibutuhkan Kesulitan untuk memprediksi laju kenaikan kuat geser secara akurat sehingga konstruksi bisa terlambat Membutuhkan pemonitorian terinci Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A6 Kelebihan & Kekurangan Drainase Vertikal A6 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Tidak diperlukan keahlian khusus untuk konstruksinya Geotekstil mudah diperoleh Komentar-komentar Kekurangan-kekurangan Tidak secara nyata mengurangi penurunan Sulit memastikan bahan yang digunakan sesuai spesifikasi Memerlukan perlindungan dari sinar matahari dan dari beberapa bahan kimia Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A7 Kelebihan & Kekurangan Fondasi Tiang A7 .

Relevan? Kelebihan-kelebihan Berkaitan dengan penurunan dan stabilitas Menghilangkan masalah-masalah pembebanan pada pangkal jembatan Komentar -komentar Kekurangan-kekurangan Pemancangan tiang mungkin mempengaruhi struktur yang telah ada Bahan matras harus berkualitas tinggi Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A8 Kelebihan & Kekurangan Matras Bertiang A8 .

Proyek Daftar periksa Zona Lokasi Penetapan Satuan Tanah Alinyemen Vertikal Struktur Jembatan Struktur Gorong-Gorong Struktur Penahan Ketinggian Tanah Asli Komentar-komentar Tertanda Perekayasa Geoteknik yang Ditunjuk Nama Tanggal Daftar periksa A9 Zona Lokasi A9 .

Lampiran B Korelasi-korelasi Parameterparameter Geoteknik .

B.1 UMUM Penentuan langsung kuat geser tanah dan parameter-parameter kompresibilitas di laboratorium adalah mahal dan memakan waktu. Dengan alasan-alasan ini. korelasi-korelasi dapat pula digunakan untuk keperluan kontrol kualitas." B1 . Perhatian diberikan oleh CUR terhadap batasanbatasan penggunaan korelasi dan ditekankan bahwa penggunaan yang tidak tepat bisa menimbulkan "asumsi-asumsi desain yang cacat. kadar air asli dan berat isi. Sejumlah korelasi diberikan dalam CUR (1996) dan beberapa dari korelasi dibahas dalam Appendiks. seperti dibahas dalam Panduan Geoteknik 3. Perekayasa Geoteknik sering menggunakan korelasi yang telah dikembangkan antara parameter-parameter ini dan lebih mudah menentukan sifat-sifat indeks seperti batas-batas Atterberg. Korelasi-korelasi bisa digunakan untuk mendapatkan parameter-parameter desain atau untuk membatasi jumlah pengujian yang lebih rumit dan mahal.

2 PENENTUAN PARAMETER-PARAMETER KUAT GESER MELALUI KORELASIKORELASI B.11+ 0. 3) Batas cair digunakan oleh Karlsson dan Viberg pada korelasi berikut ini yang berlaku untuk lempung-lempung dengan batas cair lebih besar dari 20%: c B2 .0037I p ó' i Dimana: cu = kuat geser tak terdrainase (kPa) = tegangan efektif (vertikal) awal (kPa) ói' Ip = indeks plastisitas (%) Hubungan ini telah diuji oleh berbagai peneliti selama bertahun-tahun dan nilai-nilai yang dihitung didapati tidak pernah tersebar lebih dari sekitar 20% pada tiap sisi dari rata-rata.B. 2) Parameter-parameter ini telah juga dikorelasikan oleh Bjerrum dan Simon dalam bentuk: u = 0. 1) Untuk lempung terkonsolidasi normal dengan indeks plastisitas lebih besar dari 5%. 045 I p σi' Sebaran nilai-nilai yang dihitung berkisar 25% dari rata-rata. Hasil bagi cu / σi ' (dijelaskan di bawah) sering ditemui pada korelasi-korelasi ini.2.1 PARAMETER-PAREMATER KUAT GESER DARI BATAS-BATAS ATTERBERG Kuat geser tak terdrainase dari lempung telah dikorelasi oleh banyak peneliti dengan tekanan overburden yang bersangkutan dan batas-batas Atterberg. Skempton memberikan suatu hubungan: cu = 0. Korelasi-korelasi berikut dilaporkan oleh CUR di mana acuan-acuan yang rinci bisa ditemukan.

Konsistensi tanah seperti diklasifikasikan dalam sistem yang lain (sisi sebelah kiri Gambar B1) juga dikorelasikan dengan kuat geser tak terdrainase. kuat geser sekitar 100 kali lebih tinggi. B3 . Menghubungkan Sistem DIN dengan suatu hubungan yang dikembangkan oleh Wroth dan Wood.5. I c =1 − I L = wL − w wL − w p di mana: w = kadar air wL = batas cair wp = batas plastik 5) Untuk lempung dengan indeks cair lebih besar dari 0. pada kadar air yang dekat dengan batas plastis (Ic mendekati satu). Nilai-nilai φ' nampak rendah jika nilai-nilai Ip relatif tinggi. kuat geser tanah berkisar antara 1. 005 w L σi ' di mana: wL = batas cair (%).5-2. jelas terlihat bahwa pada kadar air yang dekat dengan batas cairnya (Ic mendekati nol). 18 = σi' IL di mana: cu dan σi' seperti dijelaskan diatas. Sistem klasifikasi Jerman DIN menghubungkan deskripsi konsistensi tanah (cair.2. 6) Suatu korelasi antara kuat geser tak terdrainase dan indeks konsistensi (Ic) yang dikembangkan oleh Wroth dan Wood diperlihatkan dalam bentuk grafik semi-logaritmik pada Gambar B1. B. Sebaran nilai-nilai yang dihitung berkisar 30% pada tiap sisi dari rata-rata. lunak dan sebagainya ) dengan indeks konsistensi (Ic) seperti ditunjukka pada bagian atas Gambar B1. lumpur.2 PARAMETER-PARAMETER KUAT GESER DARI KONSISTENSI TANAH Parameter-parameter yang digunakan untuk menjelaskan konsistensi tanah adalah indeks cair (IL) dan indeks konsistensi (Ic) didefinisikan sebagai berikut: IL = w − wp wL − w p . Bjerrum dan Simons mengembangkan korelasi berikut: cu 0 . 4) Suatu korelasi antara sudut geser dalam efektif (φ') dan indeks plastisitas (Ip ) diperlihatkan CUR dalam bentuk grafik.cu = 0 .0 kPa.

B.1 PARAMETER-PARAMETER DEFORMASI MELALUI BATAS-BATAS ATTERBERG Indeks kompresi primer Cc didefinisikan dengan hubungan: Cc = ∆em σ i '+ ∆ σ ' log σi' dimana: (virgin) ∆em = reduksi angka pori pada kompresi asli σi ' = tegangan efektif awal (kPa) ∆σ' = kenaikan tegangan efektif (kPa) B4 .3 PENENTUAN PARAMETER-PARAMETER DEFORMASI DARI KORELASI-KORELASI B.3.

Gambar B1 Hubungan antara Kuat Geser Tak Terdrainse dan Indeks Konsistensi Korelasi berikut telah dikembangkan oleh berbagai peneliti untuk penentuan indeks kompresi primer untuk lempung-lempung tak terganggu (Cc) dan terganggu (C'c): 7) Untuk lempung-lempung terganggu (remasan). Skempton menyarankan hubungan berikut ini: Cc ' = 0.007 (WL − 7) Di mana: W L = batas cair (%) 8) Schofield dan Wroth mengusulkan kompresi lempungremasan ditentukan oleh hubungan: B5 .

Pada kasus material yang sepenuhnya jenuh dengan berat isi padat yang diketahui. Korelasi yang dikenal baik dan paling sering digunakan disajukan di bawah ini. Cc bisa selanjutnya dikorelasikan lebih jauh dengan kadar air. 15 ) 13) Korelasi yang diturunkan oleh Rendon-Herrero untuk 94 lempung Amerika adalah: B6 .009 (W L − 10 ) Di mana: W L = batas cair (%) B. = 1. 25 ) atau C c = 0 . 10) Nishida menurunkan secara teoritis korelasi berikut ini untuk semua lempung: C c = 0 . lanau dengan lempung.2.0102 ) (w − 9 . 4049 (e o − 0 .3.5 kN/m ) = berat isi air (=10 kN/m ) 3 3 9) Untuk lempung tak terganggu trekonsolidasi normal hubungan yang dianjurkan oleh Terzaghi dan Peck adalah: Cc = 0. korelasi-korelasi yang diajukan oleh Azzouz adalah sebagai berikut: C c = 0 . inorganik. lempung kelanauan dan lempung korelasi berikut disarankan oleh Hough: C c = 0 .35 ) 11) Untuk kurang lebih 700 lempung dari Amerika Serikat dan Yunani.1 Indeks Kompresi Primer Cc Banyak peneliti telah mendapatkan korelasi-korelasi yang kuat antara indeks kompresi primer Cc dan berat isi seperti tergambarkan pada angka pori awal e0.3216 atau C c = 0 . 01 (w − 5 ) 12) Untuk tanah kohesif.54 (eo − 0.C' c = Ip γs .325I p 2 γw Di mana: Ip γs γw = indeks plastisitas (%) = berat isi partikel tanah (=26.2 PARAMETER-PARAMETER DEFORMASI YANG DITENTUKAN DARI BERAT ISI DAN KADAR AIR B3.4 (e o − 0 .

27 ) 14) Untuk 130 lempung aluvial dan lanau dari Bangladesh korelasi berikut diusulkan oleh Serajuddin: Cc = 0 .2 Rasio Kompresi. (Compretion Ratio disingkat) CR Rasio kompresi (CR) didefinisikan dengan hubungan berikut: ∆h p CR = h σ 'i + ∆ σ ' log σ 'i Di mana ∆h p = penurunan primer akibat perubahan tegangan ∆σ' Karena tidak ada deformasi lateral. perubahan angka pori dan penurunan adalah proporsional.01 (w − 7 .3.548 ) Simbol-simbol yang digunakan pada korelasi-korelasi di atas dijelaskan sebagai berikut: Cc e0 w = indeks kompresi primer = angka pori pada permulaan kompresi = kadar air pada permulaan kompresi (%) Kurva-kurva yang diperlihatkan pada Gambar B2 diturunkan dari formula Nishida dan bisa digunakan untuk menurunkan Cc dari batas cari dan angka pori awal. Gambar B2 Hubungan antara Kompresi Primer dan Angka Pori sbagai suatu Fungsi BatasCcair B.2. artinya B7 .30 (e 0 − 0 .C c = 0 . Setiap kurva mewakili suatu hubungan untuk suatu lempung tertentu dengan suatu batas cair yang diketahui untuk angka-angka pori di bawah angka pori pada batas cair.

beban kembali diberikan. Cr. Indeks Pengembangan adalah tangen dari sudut yang dibentuk oleh garis singgung pada suatu titik yang telah ditentukan pada kurva pelepasan bebandengan absis (sumbu σ'). Nilai Cr biasanya sama dengan atau lebih kecil dari Csw . 0039 w + 0 . B8 .∆h ∆e = h 1 + eo Merujuk ke definisi Cc pada Bagian A.3. Cs atau Csw C sw = ∆e t σ 'i + ∆ σ' log σ 'i Di mana ∆et = kenaikan angka pori selama pelepasan beban. 013 Dalam korelasi-korelasi yang diberikan di atas: eo = angka pori pada permulaan kompresi w = kadar air pada permulaan kompresi (%) B. kompresi ditentukan oleh indeks kompresi primer untuk pembebanan kembali (atau indeks rekompresi). Jika.1 bisa dilihat bahwa CR dan Cc adalah berhubungan sebagai berikut :: C c 1 + eo Di mana e0 = angka pori awal CR = Rasio kompresi CR dalam prakteknya cenderung bervariasi antara 0.2.3 Indeks Pengembangan. Krizek dan Pamale e mengembangkan korelasi berikut untuk 230 lempung-lempung dari berbagai tempat: CR = 0 .3. 0107 16) Untuk nilai-nilai kadar air kurang dari 100%.4. Vidalie menyarankan korelasi berikut untuk lempung-lempung Perancis: CR = 0 . Hubungan antara indeks pengembangan dan angka pori sebagai fungsi batas cair diperlihatkan pada Gambar B3.156 e o + 0 . setelah pelepasan beban.2 dan 0. Korelasi-korelasi yang telah dikembangkan untuk parameter ini adalah sebagai berikut: 15) Untuk nilai-nilai e0 kurang dari 2.

Dept. hubungan antara Cα dan w disajikan dalam bentuk grafik untuk kompresi alami (hubungan rata-rata ditambah batas atas dan bawah) dan rekompresi (hanya batas atas). Cα dikorelasikan dengan kadar air sebagai berikut: Cα = 0 . Dalam CUR.2. Hubungan rata-rata yang diindikasikan untuk kompresi alami B9 . suatu zona untuk sampel-sampel yang sepenuhnya terganggu juga diperlihatkan.4 Indeks Kompresi Sekunder. Juga di CUR. Nilai-nilai tipikal indeks kurang dari 0.0002w Di mana w = kadar air (%) Sumber yang dikutip oleh CUR untuk korelasi di atas adalah Manual Desain yang diterbitkan oleh U. Cα Indeks kompresi sekunder mengatur kompresi sekunder atau kompresi jangka panjang atau konsolidasi yang biasanya diasumsikan mulai segera setelah konsolidasi primer selesai.001 untuk lempung tekonsolidasi lebih. Sumber untuk hubungan ini tidak diberikan. Indeks Kompresi definisikan sebagai kemiringan kurva angka pori atau regangan terhadap log waktu dari rentang kompresi sekunder pada suatupengujian konsolidasi.005 sampai 0. of the Navy pada 1971.3.Gambar B3 Hubungan antara Indeks Pengembangan dan Angka Pori sebagai Fungsi dari Batas Cair B.02 untuk lempung terkonsolidasi normal dan 0.03 atau lebih besar untuk lempung sensitif dan tanah organik.S. 0.

rasio Cα/Cc adalah konstan .03 ± 0.02 ± 0.016 (berlawanan dengan nilai 0.04 ± 0. rentang total adalah 0. di luar nilai ini hubungan rata-rata bertambah pada laju yang semakin berkurang sehingga.t) selama kompresi sekunder. baik pada tahap kompresi maupun rekompresi. titik pertengahan dari rentang tersebut adalah juga nilai yang paling umum untuk lempung inorganik dan lanau.06 ± 0.07.01 0. Bahan Tanah granular termasuk timbunan batuan Serpih dan batu lumpur (mud stone) Lempung inorganik dan lanau Lempung organik dan lanau Gambut dan muskeg Cα / Cc α 0. ditemukan bahwa pada saat apapun (σv.01 0.02 yang ditunjukkan oleh hubungan linear). pada kadar air 100%.01 0.konsisten dengan hubungan linear yang diberikan di atas sampai dengan kadar air sekitar 50%. sebagai contoh.01 0. Menurut Terzaghi dkk.01 sampai 0. Untuk semua bahan. (1996) ada hubungan antara besarnya kompresibilitas (Cc dan Cα) terhadap tegangan efektif vertikal dan waktu. Untuk tanah apapun. nilai Cα kurang lebih sebesar 0.01 B10 .05 ± 0. Nilai rasio untuk bahan-bahan geoteknik diberikan di bawah.

435 C c σi ' mv = 0 . Jika diplot dalam bentuk regangan vertikal.B. kemiringan dinyatakan sebagai koefisien kompresibilitas volume vertikal m v yaitu mv = εv ∆σ' Kedua parameter dihubungkan sebagai berikut: v mv = Di mana: av 1 + eo mv = koefisien kompresibilitas volume vertikal (m2/kN) av eo = koefisien kompresibilitas (m²/kN) = angka pori awal Parameter-parameter ini berhubungan dengan indeks kompresi primer sebagai berikut: av = 0 . kemiringan kurva e vs. 435 C c (1 + e o )σ i ' di mana σ i ' = tegangan efektif rata-rata sepanjang lintasan yang 2 dipertimbangkan (kN/m ) B11 .4 KORELASI-KORELASI YANG DIGUNAKAN UNTUK MENENTUKAN DERAJAT KONSOLIDASI DAN PERMEABILITAS Koefisien konsolidasi vertikal c v (m²/det ) didefinisikan sebagai: cv = kv mv γ w = koefisien permeabilitas vertikal (m/det) 2 Di mana: k v γ w = berat isi air (kN/m³) mv = vertical coefficient of volume compressibility (m /kN) Jika data kompresi diplot pada skala linear. ó'v disebut sebagai koefisien kompresibilitas a v yaitu a v = ∆e / ∆σ'v .

of the Navy Design Manual yang diterbitkan pada 1971. Koefisien konsolidasi cv bisa juga diestimasi langsung dari batas cair dengan menggunakan grafik yang diperlihatkan pada Gambar B5.S. Gambar B4 Hubungan Antara Permeabilitas dan Angka Pori Sebagai Fungsi Indeks Plastisitas dan Kadar Lempung.Dinyatakan dalam CUR bahwa koefisien permeabilitas k v dari lempung nampaknya tidak bergantung pada distribusi ukuran pori tetapi bergantung pada komposisi lempung yaitu jenis lempung dan distribusi ukuran partikel. Sementara itu menekankan bahwa penetapan nilai berdasarkan korelasi biasanya memberikan hasil-hasil yang agak kurang akurat karena terkait dengan koefisien permeabilitas.Dept. Hubungan antara angka pori dan koefisien permeabilitas vertikal dengan variasi parameter yang terdiri dari indeks plastisitas dan kadar lempung (keduanya dinyatakan sebagai pecahan desimal) diperlihatkan pada Gambar B4. B12 . Oleh karenanya estimasi koefisien konsolidasi c v dapat diperoleh dengan menggunakan hubungan antara mv dan Cc yang diberikan sebelumnya dan nilai k v yang ditentukan dari Gambar B4. CUR menyebutkan beberapa nilai dapat diterima sebagai pendekatan awal. Hubungan-hubungan pada Gambar B5 adalah dari U.

Gambar B5 Hubungan Antara Koefisien Konsolidasi dan Batas Cair. B13 .

Lampiran C Perhitungan Penurunan pada Gambut Berdasarkan Metode Hanrahan Appendiks Ini adalah Rangkuman dari Hanrahan & Rogers (1981) .

C1 .

C2 .

C3 .

C4 .

Lampiran D Desain Matras Geotekstil untuk Timbunan yang Diperkuat Tiang Appendiks Ini adalah Rangkuman dari Exxon(1989) .

D1 .

D2 .

D3 .

D4 .

D5 .

D6 .

D7 .

Appendiks E Isi Laporan .

Logo Pemilik Proyek + Nama Pemilik Proyek Nama Proyek Judul Laporan Tanggal Pendahuluan/Konsep/Laporan Akhir Nama Perusahaan/Pelaksana Appendiks E1 Sampul Laporan Standar E1 .

2 Bahan Timbunan---------------------------------------------------------------------------------------17 6.2 Zona 1: Timbunan Tinggi-----------------------------------------------------------------------------25 8.4 Zona 2: Oprit Jembatan-------------------------------------------------------------------------------30 Dan lain-lain… 9 Spesifikasi dan Kontrak 9.4 Pengaruh Pasang Surut --------------------------------------------------------------------------------13 5.6 Lempung Pleistosen -----------------------------------------------------------------------------------20 7 Prosedur Desain 7.4 Variasi Litologis---------------------------------------------------------------------------------------10 5 Hidrogeologi 5.1 Pencapaian Tujuan-tujuan-----------------------------------------------------------------------------.3 Stratigrafi Lokasi Penyelidikan------------------------------------------------------------------------.4 4 Geologi 4.1 Umum--------------------------------------------------------------------------------------------------24 8.1 Umum--------------------------------------------------------------------------------------------------16 6.5 4.3 Sistem Drainase----------------------------------------------------------------------------------------.3 3.3 Zonasi Lokasi Penyelidikan ---------------------------------------------------------------------------21 8 Rangkuman Desain & Kesimpulan 8.3 Zona 1: Timbunan Rendah----------------------------------------------------------------------------28 8.5 Lempung Marin Bagian Bawah -----------------------------------------------------------------------18 6.1 Sistem Penyelidikan Geoteknik -----------------------------------------------------------------------.1 Spesifikasi ---------------------------------------------------------------------------------------------45 9.3 Pengaruh Musim---------------------------------------------------------------------------------------13 5.3 Lempung Marin Bagian Atas--------------------------------------------------------------------------17 6.6 Kimia Air Tanah---------------------------------------------------------------------------------------14 6 Parameter-parameter Desain 6.1 Muka Air Tanah ---------------------------------------------------------------------------------------12 5.2 Supervisi-----------------------------------------------------------------------------------------------45 10 Masalah-masalah Lingkungan------------------------------------------------------------------------------46 11 Referensi------------------------------------------------------------------------------------------------------47 Daftar Tabel Tabel 1 Dan seterusnya Daftar Gambar Gambar 1 Dan seterusnya Daftar Gambar Teknik No Gambar Teknik … Dan seterusnya Appendiks Appendiks 1 Daftar Ketidakcocokan Dan seterusnya Appendiks E2 Daftar Isi Laporan Desain Standar .2 3 Uraian Tempat 3.7 4.2 Standar-standar dan Peraturan-peraturan yang Digunakan dalam Desain Geoteknik-----------------21 7.3 3.1 Pengantar ----------------------------------------------------------------------------------------------21 7.2 Aliran --------------------------------------------------------------------------------------------------12 5.Nama Proyek Daftar Isi Rangkuman Eksekutif Lembar Persetujuan 1 Pendahuluan -------------------------------------------------------------------------------------------------.8 4.2 Geologi Lokal------------------------------------------------------------------------------------------.1 Geologi Regional--------------------------------------------------------------------------------------.5 Banjir --------------------------------------------------------------------------------------------------14 5.4 Pasir Dibagian Tengah---------------------------------------------------------------------------------18 6.1 2 Uraian Tujuan-tujuan 2.2 Topografi ----------------------------------------------------------------------------------------------.Contoh E2 .

Nama Proyek Judul Laporan Informasi yang digunakan dalam menyusun laporan telah diperoleh sesuai dengan Panduan Geoteknik 1 sampai 4 dan desain telah dilaksanakan sesuai dengan Panduan Geoteknik 4 kecuali yang tercantum dalam Daftar Ketidakcocokan yang dinyatakan dalam Appendiks 1 dari laporan ini Tertanda Nama Perekayasa Geoteknik yang ditunjuk Tanggal Appendiks E3 Lembar Persetujuan Laporan Desain Standar E3 .

Demikian pula hasil-hasil pengijian memperlihatkan sampel mungkin telah kering sebelum benda uji diperoleh dari sampel piston. sehingga hasil tes pengujian konsolidasi. Hasil-hasil nampaknya tidak normal dan pada pemeriksaan ditemukan bahwa wadah sampel tidak dicuci sebelumnya dengan air tanah. Hasil-hasil menunjukan variasi yang sangat acak dan konus rusak saat pengujian selesai. Titik tekanan prakonsolidasi sangat tidak dapat ditentukan. Pengujian Konsolidasi . Diyakini bahwa ujung konus mengenai suatu didekat permukaan. Pemeriksaan nilai-nilai kadar air dari sampel ini menunjukkan beberapa variasi. 2 BH3/PS2 3 BH4/PS3 4 Sampel Air Tanah Appendiks E4 Data yang ditolak – Contoh E4 .Peningkatan Jalan antara Tanah Merah ke Tanah Hitam Laporan Desain Geoteknik Data-data yang Ditolak 1 P4 Pembacaan Piezocone pada oprit bagian barat dari Jembatan Kali Barat. Semua hasil telah ditolak. Sampel piston tercatat sebagai rusak pada saat kedatangannya di laboratorium dan hanya pengujian indeks yang dilaksankan.

3 35 0.04 2 4 Appendiks E5 Contoh Tabel Parameter-parameter Desain E5 .Satuan Tanah ãb kN/m 3 cu kN/m 2 ø cc/(1+e 0) cα α cv m 2/ thn ch Bahan Timbunan Lempung Marina Bagian Atas Pasir Bagian Tengah Lempung Marina Bagian Bawah Lempung Pleistosen 20 16 20 18 19 45 75 [1] 28 0.01 0.2 0 0.

Lampiran F Garis Besar Prosedur Uji –Coba Timbunan .

...................2 Prosedur........................................4 (i) ...................................1 3 Penyelidikan Lapangan..1 Penyajian Penilaian Awal..........................................3 Catatan .................................2 Pertimbangan-pertimbangan Konstruksi................................................................................2 Pemilihan Instrumentasi.4 Laporan Akhir ...........1 2..................................................................................3 5..1 8......................................................................4 Desain Timbunan .....3 7 Interpretasi .................................................................................................................................................................2 4..................................................................................................................................4 8..2 5...........................1 4 Desain ........................................................................................3 8 Pelaporan .................................1 1...................3 Dokumen .........................................................1 6..................................................2 4..........3 5 Konstruksi ..........................................................................3 Prosedur....1 Desain Penyelidikan Lapangan...................................3 Laporan Tahap 1..................3 6 Monitoring ...........................1 1...............................................................................1 Analisis Hasil Pencatatan.............3 Pengumpulan Data-data yang Ada ......................................1 2.....................................................2 2............................................3 Catatan ..................1 5....3 6....................................................................................................................................................2 4..............1 Tipe Uji-Coba .......................................................................................3 4............................................3 7............................Daftar Isi 1 Pengantar ..............................................................................................................................................................................................................1 Penggunaan Prosedur......2 2 Tujuan dari Prosedur......................1 Peninjauan Lapangan............1 Data Pendahuluan ............2 8.......................................4 Laporan Tahap 2......1 3.........................................................................................

Kenali faktor-faktor praktis untuk konstruksi uji-coba timbunan percobaan: akses kelokasi – persyaratan akses di lokasi – persyaratan drainase – pemagaran untuk keamanan – pencahayaan Kenali ruang lingkup uji-coba timbunan dan kesesuaian lokasi . Penyelidikan Lapangan Desain Penyelidikan Lapangan Merujuk ke Panduan Geoteknik 2 Penyelidikan lapangan dimaksudkan untuk: a) mengenali kondisi tanah b) mendapatkan parameter-parametet untuk analisis desain dan analisis balik.Pengantar Tujuan dari Prosedur-prosedur Garis besar ini dimaksudkan untuk memberikan petunjuk mengenai informasi yang akan dikumpulkan. Penggunan Prosedur Petunjuk ini untuk Timbunan Percobaan pada proyek Indon GMC. Meskipun begitu Petunjuk ini bisa berguna bagi Perekayasa Geoteknik yang merencanakan suatu uji-cobatimbunan percobaan untuk tujuan-tujuan yang sama. F1 . Hal ini dimaksudkan untuk memberikan informasi umum mengenai perilaku timbunan di atas tanah lunak dan gambut. Peninjauan lapangan sesuai dengan Panduan Geoteknik 2 (identifikasi medan –kenampakan yang telah ada seperti kegagalan struktur – timbunan-timbunan yang turun – drainase yang terputus). Kenali lokasi potensial untuk uji-coba timbunan Peninjauan Lapangan Kunjungi tempat. Data Pendahuluan Pengumpulan Data yang Telah Ada (Merujuk ke Panduan Geoteknik 2) Peta Topografi – Peta geologi – Peta pemanfaatan lahan – peta historis – Peta drainase – peta tanah untuk pertanian – foto udara – foto satelit Penyelidikan-penyelidikan lapangan sebelumnya Penyiapan Penilaian Awal Siapkan peta lokasi (key plan) – peta yang memperlihatkan lokasi lubang bor yang telah ada – potongan-potongan yang menggunakan data tanah atau estimasi kondisi tanah yang paling mendekati. Siapkan garis besar desain pendahuluan dan instrumentasi untuk masuk ke desain penyelidikan lapangan. prosedur-prosedur yang akan diadopsi dan format dan isi dari laporan sementara dan akhir mengenai uji-coba timbunan .

atau untuk mengenali dengan lebih tepat periode konstruksi yang diperlukan untuk suatu desain tertentu. Desain Tipe Uji-Coba Tiga tipe dasar: Dimaksudkan untuk menyebabkan keruntuhan: untuk analisis balik parameter-parameter stabilitas untuk mengoptimalkan desain timbunan untuk membatasi keruntuhan. Desain Timbunan Analisis desain timbunan harus mengikuti teknik-teknik standar (merujuk Panduan Geoteknik 4) dan sepenuhnya menprediksi perilaku timbunan.Buat daftar parameter-parameter yang diperlukan sebagai bagian dari desain penyelidikan lapangan. Kenali lokasi yang dimaksudkan untuk peralatan dan yakinkan kondisi tanah dikenali dengan baik pada daerah-daerah tersebut. untuk menilai kelanggengan dari masing-masing dan/atau keuntungan-keuntungan relatif. dapat diandalkan Peralatan dan keahlian yang tersedia untuk membaca instrumeninstrumen (Biaya adalah suatu pertimbangan: tetapi jika anda tidak mampu membiayai instrumentasi untuk mendapatkan data yang diperlukan. lalu apa gunanya melaksanakan uji-coba timbunan?). dan perilaku jangka panjang. Dimaksudkan untuk memodelkan serangkaian alternatif desain. atau untuk memperbaiki desain. Dimaksudkan untuk memodelkan desain yang diajukan: untuk meyakinkan bahwa parameter-parameter desain yang digunakan sesuai. Idealisasi profil tanah Pilih parameter-parameter tanah Stabilitas – tentukan Faktor Keamanan yang diperlukan – analisis: a) cu jangka pendek pada saat konstruksi selesai b) tegangan efektif untuk konstruksi bertahap (dengan disipasi tekanan air pori) Analisis penurunan a) Terzaghi b) empiris c) lainnya (untuk gambut) Kenali penurunan yang akan terjadi pada masing-masing instrumen Pemilihan Instrumentasi Dasar pemilihan: Memberikan data untuk dibandingkan dengan perilaku yang diprediksi Pemasangan. F2 .

Konstruksi Dokumen-dokumen Syarat-syarat kontrak – spesifikasi – pengukuran – program Prosedur-prosedur Pengawasan – komunikasi Catatan-catatan Laporan-laporan harian – survey – pengujian berat isi timbunan Monitoring Prosedur-prosedur Catatan-catatan Interpretasi Analisis Hasil Pencatatan Memplot data – metode analisis – perbandingan kumpulan-kumpulan data – umpan balik ke sistem monitoring – penambahan/pengurangan frekuensi pengecekan – pemeriksaan tambahan kalibrasi/datum/respon instrumen. dan sekitar instrumen-instrumen) – metode-metode pemadatan – persyaratan drainase – perlindungan terhadap erosi – akses – proteksi instrumen-instrumen – akomodasi tempat – penyimpanan peralatan instrumentasi –komunikasi Penyiapan spesifikasi untuk konstruksi – laju penimbunan – pengaruh gangguan.Petunjuk mengenai instrumentasi yang sesuai dalam Panduan Geoteknik 4: Pemonitoran Lokasi Lokasi instrumen-instrumen a) b) c) d) e) f) titik-titik kunci untuk pergerakan vertikal & horizontal tipe-tipe instrumen yang tersedia letakan instrumen-instrumen pada gambar teknik letakan posisi-posisi instrumen di peta dan yakinkan bahwa mereka bisa diamankan selama konstruksi siapkan spesifikasi untuk tipe dan pemasangan masingmasing tipe instrumen siapkan gambar-gambar teknik konstruksi Pertimbangan-pertimbangan Konstruksi Sumber dan tipe bahan timbunan – metode penimbunan (secara umun. F3 .

F4 . Anggaran biaya bisa dipastikan pada waktu ini. Anggaran biaya bisa dihitung pada waktu ini. Laporan Tahap 2 Setelah semua pekerjaan desain selesai – berisi desain terinci uji-coba timbunan dan prediksi perilaku yang berhubungan dengan instrumeninstrumen yang akan dipasang.Pelaporan Laporan Tahap 1 Sebelum penyelidikan lapangan setelah desain pendahuluan selesai. Laporan Akhir Setelah data diperoleh dari uji-coba timbunan dengan menyertakan semua catatan dari uji-coba timbunan dan kaji-ulang prediksi-prediksi dan kesimpulan-kesimpulan mengenai parameter-parameter tanah yang sesungguhnya.

Lampiran G Instrumentasi .

suatu saklar semacam buluh. Penanda terdiri dari patok dari kayu. diantaranya : Penanda Penurunan Permukaan Penanda penurunan adalah yang paling sederhana dan murah untuk mengukur penurunan.Batang bagian dalam dimasukkan sampai lapisan keras dan penurunan relatif ditentukan dengan pengukuran. Peralatan digunakan dengan memasukkannya ke dalam lubang bor 100 mm dan sejumlah magnet dipasang dalam lubang bor dari dasar ke atas dan di mana magnet pada dasar diletakkan pada batuan yang kuat. Teknik pengukuran biasanya digunakan untuk menentukan perubahan ketinggian. Penurunan diukur dengan mengukur ketinggian terhadap suatu patok titik tetap yang merupakan datum rujukan. Peralatan terdiri dari dua komponen utama. Pengukuran dengan teknik ini hanya mengukur penurunan total timbunan. Berikut ini adalah antara pengukur penurunan yang sering digunakan pada konstruksi timbunan. setelah selesai konstruksi. Suatu contoh diberikan pada Gambar G3. Ekstensometer magnetis tersedia secara komersial. Ekstensometer Batang Ekstensometer batang terdiri dari batang bagian dalam yang terselebung dan pelat rujukan. bergerak secara aksial ke dalam medan magnet. dan dapat digunakan sebagai titik tetap. tetapi sejumlah teknik tertentu digunakan juga. Penurunan diukur dengan mengukur ketinggian terhadap suatu patok titik tetap yang merupakan datum rujukan. Ekstensometer Magnetis Extensometer terdiri dari satu atau lebih titik-titik rujukan yang ditanam di dalam tanah dengan satu titik rujukan pada ujung atas pemasangan. Pelat Penurunan Pelat penurunan terdiri dari suatu batang yang dilas pada suatu pelat baja bujur sangkar berukuran 60 kali 60 cm yang diletakkan pada dasar timbunan seperti diperlihatkan pada Gambar G2. termasuk penurunan pada lapisan tanah bawah dan timbunan itu sendiri. dia menutup dan membangkitkan suatu lampu indikator atau bel. baja atau beton yang diletakkan pada permukaan timbunan yang telah selesai seperti terlihat pada Gambar G1.Pengukuran Penurunan Penurunan diukur dengan penentuan ketinggian dan perubahan ketinggian. suatu magnet lingkaran permanen yang diberi magnet secara aksial yang bertindak sebagai penanda dalam tanah dan suatu sensor. Batang-batang dan kawat atau peralatan elektrik digunakan untuk menentukan perubahan jarak antara titik-titik rujukan. Seraya sensor. Gambar G4 menggambarkan penggunaan ekstensometer magnetis untuk mengukur G1 .

• Pisometer pipa terbuka Pisometer pipa terbuka terdiri dari tabung atau pipa dengan elemen berongga pada ujungnya atau suatu potongan ujung yang berlubanglubang. tetapi kekurangannya adalah waktu respon yang lambat. lebih baik oleh penyuplai tersebut. (2) pisometer harus menimbulkan gangguan yang minimum terhadap tanah asli. Instrumentasi ini harus dibeli dari penyuplai spesialis dan dipasang ole h kontraktor yang berpengalaman. dapat diandalkan dan stabil untuk periode waktu yang lama dan (5) pisometer bisa dilaukan pencatatan secara menerus atau berselang-seling jika diperlukan. Pisometer pipa terbuka yang sering digunakan adalah pisometer tipe Casagrande seperti terlihat pada Gambar G5. oleh karena itu pisometer pipa terbuka tidak direkomendasikan untuk digunakan pada lempung. Meskipun begitu. Pisometer hidraulik memiliki waktu respon yang kecil dan bisa digunakan untuk mengukur perubahan tekanan akibat perubahan tegangan yang ditimbulkan oleh beban timbunan di atasnya pada strata yang berpermeabilitas tinggi. metode operasinya dan metode pencatatannya. Pisometer pipa terbuka sederhana dan murah. • Pisometer Hidraulik Pisometer hidraulik terdiri dari ujung (tip) pisometer yang kecil dengan dinding berpori dan tabung plastik lubang kecil di mana tekanan air dialirkan ke suatu titik yang jauh di mana tekanan diukur dengan manometer merkuri atau pengukur Bourdon. (4) pisometer harus kuat. Berbagai jenis pisometer tersedia secara komersial. (3) pisometer harus bereaksi dengan cepat terhadap perubahan kondisi tekanan pori. Pemilihan tipe yang digunakan bergantung pada kondisi tanah. Jenis Pisometer Semua sistem pisometer memiliki suatu elemen filter berongga yang diletakkan di dalam tanah. Elemen-elemen ini diklasifikasikan berdasarkan kegunaannya. Pengukuran Tekanan Air Pori Tekanan pori bisa memberikan indikasi tentang akan terjadinya instabilitas pada timbunan dan juga penting untuk evaluasi kemajuan konsolidasi. keberhati-hatian harus diperhatikan untuk G2 .penurunan pada berbagai kedalaman di lapisan tanah bawah. Berikut adalah jenis pisometer yang tersedia secara komersial. jenis pisometer yang dipilih harus memenuhi persyaratan berikut: (1) Dia harus mencatat secara akurat tekanan pori di dalam tanah dan kesalahan yang terjadi masih dalam batas-batas toleransi. Potongan berongga harus dikelilingi atau dibungkus dengan bahan filter dan harus dipasang di dalam suatu lubang bor.

Waktu respon yang sangat cepat bisa dicapai asalkan ujung (tip) bebas udara (deaired). Saat suplai udara lebih lanjut ditutup tekanan pada saluran udara suplai sama dengan tekanan air pori. − • Pisometer elektrik Pisometer elektrikal memiliki transduser tekanan yang diletakkan dekat dengan elemen berpori. Kekurangan utama dari pisometer elektrik adalah dibutuhkannya kalibrasi yang tidak mudah untuk diperiksa dan pembuangan udara tidak dimungkinkan setelah pemasangan. Keandalan juga bisa menjadi suatu masalah untuk kondisi jangka panjang. Dalam pemakaiannya suatu aliran udara yang terkompresi dimasukkan ke dalam salah satu saluran udara tetapi ditahan oleh tekanan air pori yang bekerja pada suatu diafragma fleksibel yang tipis. Prinsip dari pisometer elektrik adalah suatu diafragma terdefleksi oleh tekanan air yang bekerja pada satu muka. • Pisometer pneumatik Sistem pneumatik terdiri dari ujung berpori. Tekanan pada keseluruhan tabung-tabung penghubung harus di atas tekanan atmosfer. Saat tekanan udara sama dengan tekanan pori membran mengendur dan memungkinkan udara yang berlebih melewati labu penanda aliran di mana gelembung-gelembung udara tampak.melihat bahwa permeabilitas batas dari ujung (tip) berpori dipeertimbangkan. Pisometer pneumatik memiliki beberapa kelebihan: (i) (ii) (iii) (iv) Kelambanan waktu kecil Instrumen sederhana untuk dioperasikan dan dibaca Alat ini memiliki stabilitas jangka panjang Pembacaan langsung G3 . dan karena itu tabung tersebut harus dijaga agar penuh dengan air dan bebas udara. Pisometer-pisometer hidraulik memerlukan rumah pengukur yang besar dan oleh karena itu lebih cocok untuk kontrak-kontrak instrumentasi yang besar. Saat menggunakan pisometer hidraulik keberhati-hatian harus diambil berkenaan dengan berikut ini: − Udara dalam tabung akan menyebabkan pembacaan-pembacaan yang salah. yang mencakup dua tabung berisi udara yang menghubungkan titik pengukuran ke suatu katup yang sensitif terhadap tekanan yang terletak dekat dengan elemen berpori.

Selubung harus dipasang secara vertikal dan harus diikatkan dengan dasar yang kuat (lapisan yang sangat keras atau lapisan pasir yang sangat padat atau dasar batuan) sehingga dasar dari selubung bebas dari translasi (dukungan ujung tetap). G4 . Pengukuran Pergerakkan Lateral Pergerakan lateral timbunan yang berlebihan menandakan permulaan kelelehan plastik dari lapisan tanah bawah dan keruntuhan yang mengikuti dari tanah fondasi. Jika pipa tertekuk. Untuk mengontrol stabilitas timbunan selama konstruksi oleh karenanya pengukuran pergerakan lateral harus dilaksanakan. Instrumen/teknik berikut dianjurkan untuk digunakan untuk memonitor pergerakkan la teral: • Indikator bidang gelincir Indikator bidang gelincir terbuat dari pipa PVC fleksibel berdiameter 20 mm yang dipasang pada lubang bor dan dua rangkaian peraba bandul seperti digambarkan pada Gambar G7. bandul yang diikatkan ke tali akan terjepit pada lokasi permukaan bidang gelincir. • Patok geser Patok geser terdiri dari patok kayu bujur sangkar berukuran 10 sampai 15 cm dengan panjang 100 sampai 200 cm. Pergerakkan dihitung dari pengukuran kemiringan selubung pada interval-interval yang telah ditentukan dan profil selubung berbentuk vertikal didapat dengan penggabungan nilai diperoleh dari dasar. Pipa harus dipasang sampai dengan beberapa meter masuk ke dalam strata yang keras sehingga pipa memiliki dukungan ujung yang tetap pada dasar. Pipa harus cukup fleksibel untuk memungkinkan pipa melengkung pada permukaan bidang gelincir yang mungkin terjadi. Peraba terdiri dari suatu bandul yang diikatkan pada benang ikat atau tali.Kekurangan utamanya adalah udara tidak bisa dibuang seluruhnya. Oleh karena itu tidak bisa digunakan pada endapan-endapan mengandung gas. Pergerakan lateral bisa dimonitor dengan pengukuran ujung atas pipa yang muncul di permukaan atau dengan menaikkan atau menurunkan peraba bandul dari atau ke dasar pipa. • Inklinometer Inklinometer terdiri dari selubung penuntun yang dipasang di dalam tanah dan torpedo kedap air. level atau teodolit. Suatu pemasangan tipikal diperlihatkan pada Gambar G6. Pergerakkan horizontal dan vertikal diukur terhadap suatu titik tetap di luar daerah pengaruh dengan suatu tali. Patok-patok dimasukkan ke dalam tanah dalam bentuk barisan atau jaringan. Torpedo adalah suatu transduser yang digerakkan pendulum yang akan diturunkan selubung penuntun. Gambar G8.

sebagai alternatif pemonitoran harus disubkontrakkan kepada penyuplai alat. G5 .Alat baca inklinometer kompleks dan mahal. Anggaran yang cukup harus dimasukkan untuk kalibrasi-kalibrasi dan perbaikan jika inklinometerinklinometer disarankan.

Level batang baja yang diturunkan yang diukur sewaktu-waktu permukaan timbunan yang telah selesai 3 Lubang dalam berukurab 200 x 200 x 300 mm yang diisi dengan beton kelas E Batang baja dia 20 mm panjang 1 m Gambar G1 Penanda Penurunan Permukaan G6 .

A A 1" ( Pipa baja atau Besi Galvanis) & dilengkapi dengan kopling berdrat (bergalur) Pelat 60 cm persegi yang diperkuat/ditimpa dengan pasir (kira-kira 4 kantung pasir) pasir OGL PELAT PENURUNAN Catatan : Batang dan tabung diperpanjang per satu meter selama konstruksi timbunan 1" Dibaut atau dilas POTONGAN A-A Gambar G2 Pelat penurunan G7 .

EKSTENSOMETER BATANG Tabung diameter 100 mm dengan tutup yang dapat dikunci dipasang pada level akhir dengan coran beton pada sekeliling dasarnya Pipa yang akan diperpanjang selama penimbunan per 1.0 m di bawah dasar lubang bor Gambar G3 Ekstensometer batang G8 .0 m panjang level tanah asli 25 mm (nom) dia treaded galvanised steel pipe Lubang bor yang ditimbun kembali pipa PVC dia 50 mm Level pemasangan yang ditentukan 8 buah gigi baja berukuran dia 10 mm x panjang 80 mm Pipa baja yang ditekan 1.

EKSTENSOMETER MAGNETIK level muka tanah yang ada Penutup protektif Pelat Magnet Material timbunan Tabung akses PVC Tabung yand dapat ditekan/tabung yang dapat memanjang level tanah asli Gambar G4 Ekstensometer magnetik G9 .

DETIL A Ditimbun kembali dengan bentonit/air Bentonit Bungkus geotekstil yang berlubang atau bercelah Kolom pasir Untuk lapisan lempung Ditimbun kembali dengan bentonit/air Bentonit Kolom sand Untuk lapisan pasir Ujung Piezometer ( untuk lapisan lempung gunakan ujung piezometer High Air Entry ) B DETIL B Pelindung & tutup yang dapat dikunci TBM = Patok Acuan Sementara (Temporary Bench Mark) Beton lereng sisi timbunan ( Pipa Baja) ( PVC ) oil Ditimbun kembali dengan bentonit/air A Ujung piezometer ( untuk lapisan lempung gunakan ujung piezometer High Air Entry ) Gambar G5 Datum dalam & pisometer pipa G10 .

PIEZOMETER PNEUMATIK Level tanah dasar

Tabung kembar

Lubang bor diameter 100 mm

Grouting

selubung tebal 1 m thick terbuat dari tablet bentonit Ujung piezometer diselimuti oleh pasir bersih yang jenuh Ujung piezometer

Kolom pasir 1 m

Gambar G6 Pisometer pneumatik

G11

INDIKATOR BIDANG GELINCIR

tabung pengisi pasir terbuat dari PVC dia luar 26.5 mm dan dia dalam 20 mm pasir

Benang nilon

Tabung indikator bid gelincir terbuat dari PVC dia luar 19 mm dan dia dalam 13 mm A DETIL A

Kayu

Gambar G7 Indikator bidang gelincir

G12

VERTIKAL SEBENARNYA DEVIASI

Gambar G8 Inklinometer
DEVIASI= L sin
PANJ ANG ALAT BACA (L)

TABU NG A KSES

G13

Lampiran H Lembar Catatan Pemasangan Instrumentasi .

0 Ujung grout IIA/P3 +0.5 9.456m Datum berlokasi pada lokasi T1 Keramik dijenuhkan dengan perendaman di air bersih selama 16 jam Rangkaian diuji dengan alat baca sebelum pemasangan OK WSP International 6 Desember 2000 Nama Pengebor Teknisi pemasangan Tanggal Mulai H1 .0-1.0-9.0 LEMPUNG coklat abu-abu lunak sampai keras 1.Catatan Pemasangan Instrumentasi Proyek Pemilik Proyek Lokasi Uji-coba Timbunan di Semarang PPPJJ Trial IIA Instrumen Muka tanah asli Muka air tanah di bawah muka tanah asli Pemasangan Instrumen Tanggal 5 Desember 2000 Kedalaman Lgd Penjelasan 0.0-9.0 9.0 Penyambung tabung 9.0 LEMPUNG abu-abu lunak dgn beberapa kulit kerang Selubung Sampel 0.3m Tipe Pembuat Tanda & Proteksi Bahan-bahan Instrumen diberi label dengan label aluminium dengan huruf timbul IIA/P3 yang diikatkan pada sambungan Pagar bambu sementara dipasang (penutup yang bisa dikunci akan dipasang pada permukaan timbunan akhir) Grout Pasir Bentonit Komentar-komentar 10:1 air/OPC dicampur dengan tongkat pengaduk dan dipompa dari dasar lubang bor Ketinggian dari Titiktetap 2.0 9.5m Catatan Pengeboran Tanggal 5 Desember 2000 Kedalaman Penjelasan 0.8 Dasar grout Ujung atas keramik Ujung bawah keramik (tip) Perincian Instrumen Pisometer Pneumatik Geotechnical Instruments Model P359/2 Tipe Push In Rincian Ujung akhir diberi sambungan yang mudah dilepas Kelebihan pipa 5 m digulung pada ujung pemasangan untuk mengkompensasi kenaikan timbunan Bacaan awal 9.0D Komentar 3.98m -0.

Suherman.E..Peserta dan Ucapan Terima Kasih Penyiapan Panduan Geoteknik ini dilakukan oleh Pusat Litbang Prasarana Transportasi. Yayah Rokayah. Ir. Bigman Hutapea. Ir. Hedy Rahadian. Dr. Dayat. Jeremy Burto n. Mantan Kepala Pusat Prasarana Transportasi Kepala Pusat Transportasi Litbang Litbang Prasarana Kepala Bidang Tata Operasional. Rudy Febrijanto.. Richard Langford Johnson Sudaryono. Yun Yunus Kusumahbrata. M. Ahmad Rusdi. Tim Pusat Litbang Prasarana Transportasi: Dr. M. Tony Barry. Purbo Santoso. E.T. Irdam Buyung Adik. Kepala Puslitbang dukungan serta ijin penggunaan peta geologi Indonesia. Deni Hidayat. Wachjoe Poernama. Damrizal Damoerin. Ir. Sulistiadi. Dr. Jim McElvaney.. S.E. Konsultan Proyek terdiri atas WSP International bekerja sama dengan PT Virama Karya dan PT Trikarla Cipta Staf Konsultan: Michael Ellis.. Prof.M. Paulus P Rahardjo. MEngSc. Prof.. A. M. MSc. Bambang Purwadi.. GJW Fernandez. Drs. Alan Rachlan. Ir. Renny Susanty. . Lanalyawati. Suhaimi Daud. Tata Peryoga. Djoko Oetomo. Ir. Masyhur Irsyam. Pekerjaan tersebut dilaksanakan antara bulan Nopember 1999 dan Oktober 2001. Ahmad Jaenudin. Ir. Ir. Endang Suwanda. Dian Asri. Budi Satriyo. Ir. Dr. B. Frankie Tayu.T. Ir. Dr. Iyus Rusmana. Drs. Ir. Sugeng Parwoto.T. S.Sc. Slamet Prabudi. Ir. Silvester Fransisko. Haliena Armela. Benny Moestofa. Sumarno. Ir. Pengkaji eksternal Panduan Geoteknik. Ir. Ir. B. Ir. Ir. Bandung melalui Kontrak Proyek Tahap 2 Indonesian Geotechnical Materials and Construction Guides. Dr. Dr. oleh: Abdul Aziz Djajaputra.. Susilowati. Ir.S. Maman Suherman. Dr. Wagiman. B.E. Hendro Ryanto..T... (ITB – Bandung ) (HATTI-Jakarta) (UI – Jakarta) (ITB – Bandung ) (UNPAR – Bandung) (Proyek PMU SURIP) (HPJI – Jakarta ) (Puslitbang Geologi-Bandung) Para penyusun Panduan ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh: Ir.. Rakhman Taufik. Ir. Dr. Saroso B. Ir. S. M. Ir. Pusat Litbang Prasarana Transportasi Geologi atas dan Bambang Dwiyanto. Suprapto.MSc. Hikmat Iskandar.T. Hartiti Rochkyatun.

Pusat Litbang Prasarana Transportasi Jl Raya Timur 264 Bandung 40294 Indonesia Telp +62 (0)22 7802251-3 Email pusjal@melsa.id .net.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful