i

SARGA
Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik
Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG)
Semarang

Volume XVI
Edisi I
Bulan Mei
Tahun 2010


Fakultas Teknik
UNTAG
Semarang


Penerbit :
Lembaga Penerbitan
Fakultas Teknik
UNTAG SEMARANG


ISSN :
0853-4748


Foto by, Tim KKL SINGAMATA. Lokasi : Nanyang Technologycal University (NTU) - Singapore
Pengembangan Pembelajaran Program Studi Arsitektur ~
Ir. Anwar, MT.

Menggunakan E-learning Freebies Dalam Pembelajaran ~
Ir. Eko Nursanty, MT

Kota dan Penyediaan Ruang Publik (Pengantar)~
Ir. Loekman Mohammadi MSc.

Peran Ruang Terbuka Hijau Kota Pada Ruang Publik Perkotaan ~
Ir. Soemarwanto, M.T.

Klenteng Modal Utama Wisata Pecinan di Semarang ~
Ir. Djoko Dharmawan, MT

Material Lunak (tanaman) Dalam Tata Ruang Dalam ~
Ir. Budi Adi Slamet.

MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR ~
Ir. Retno Ambarwati SL, MT., Ir. Rudi Firyanto, MT., Ir. Fahmi Arifan, MT.

Perencanaan Kembali Gunung Kidul Menjadi Bangunan Lumbung Air ~
Ir. F.M. Roemiyanto, MS.

MAJALAH ILMIAH TEKNIK – VOLUME XVI - EDISI 1 - BULAN MEI 2010

SARGA merupakan Jurnal Teknik yang diterbitkan oleh Fakultas Teknik Universitas 17
Agustus 1945 (UNTAG) Semarang, sebagai media publikasi ilmiah. Sajian tulisan dalam
Jurnal Teknik ini dimaksudkan agar komunikasi antar pakar ataupun insane akademik selalu
terjadi dan terakomodasi, sehingga akan terwujud perkembangan IPTEK sesuai dengan
tuntutan pembangunan.
Ketentuan penulisan naskah;
1. Tulisan merupakan naskah asli dan belum pernah dimuat atau diterbitkan pada media
lain,
2. Naskah ditulis dengan tata bahasa ilmiah menggunakan bahasa Indonesia ataupun
bahasa Inggris,
3. Naskah diketik rapi 1,5 spasi dengan model huruf “Times New Roman 12” atau “Arial
11”,
4. Jumlah halaman naskah minimal 15 halaman termasuk INTISARI atau ABSTRAK sekitar
200 kata,
5. Naskah dilengkapi dengan biodata penulis, yang memuat nama, tempat dan tanggal
lahir, pendidikan tertinggi (S1, S2, dan S3) serta pengalaman pekerjaan,
6. Redaksi berhak untuk menolak atau tidak menebitkan naskah yang kurang memenuhi
persyaratan sebagai tulisan ilmiah,
7. Redaksi dapat menyesuaikan, mengedit penggunaan istilah atau bahasa sepanjang tidak
mengubah isi maupun pengertiannya tanpa memberitahu penulis. Redaksi akan
menghubungi penulis jika dipandang perlu mengubah isi naskah.






R e d a k s i :
Pelindung: Dekan Fakultas Teknik UNTAG Semarang; Pembina: Prof.DR. Sarsintorini, SH.
Mhum: Penanggungjawab: Pembantu Dekan I FT UNTAG Semarang; Pemimpin Umum: Ir. St.
Muryanto, MEng.Sc.Ph.D.
Dewan Redaksi: Ir. FM.Roemiyanto.MS; Ir. Darwati, MSi; Ir. Loekman Mohamadi. MSc, Eko
Nursanty. ST. MT. Distributor: Novi Hendriyanto, Supardi,SH
A l a m a t : Fakultas teknik Universitas 17 Agustus 1945 Semarang
Jl. Pawiyatan Luhur, Bendan Duwur, Telp: 024-8320920 Fax: 024-8310939 Semarang.


i


Pembangunan IPTEK diarahkan agar pemanfaatan, pengembangan dan
penguasaannya dapat mempercepat peningkatan kecerdasan dan kemampuan
bangsa, mempercepat proses pembaharuan, meningkatkan kualitas, harkat dan
martabat bangsa serta meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pengembangan dan
penerapan IPTEK harus didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas melalui
pendidikan dan pelatihan, penataan sistim kelembagaan serta penyediaan sarana dan
prasarana yang memadai.
Majalah Ilmiah “SARGA” merupakan salah satu sarana yang disediakan bagi para
sivitas akademika Fakultas Teknik UNTAG Semarang dalam upaya mengembangkan
IPTEK, sehingga Kampus sebagai wahana kehidupan masyarakat ilmiah akan selalu
tercipta.
Majalah Ilmiah ‘SARGA” terbit dengan menanmpilkan karya-karya ilmiah yang
diangkat dari berbagai fenomena, sehingga materi yang disajikan pada terbitan kali ini
cukup bermanfaat untuk dibaca dan dijadikan referensi.

1. Ir. Anwar.MT; “Pengembangan Pembelajaran Program Studi Arsitektur”
2. Ir. Eko Nursanty. .MT.; “Menggunakan E-Learning Freebies Dalam Pembelajaran”.
3. Ir. Loekman Mohamadi. MSc; ”Kota Dan Penyediaan Ruang Publik (Pengantar)”
4. Ir. Sumarwanto. MT. “Peran Ruang Terbuka Hijau Kota Pada Ruang Publik Di
Perkotaan”
5. Ir Djoko Darmawan, MT; “Kelenteng Modal Utama Wisata Pecinan Di Semarang.”
6. Ir. Budiadi Slamet, ”Material Lunak ( Tanaman ) Dalam Tata Ruang Dalam”.
7. Ir. Retno Ambarwati SL, MT., Ir. Rudi Firyanto, MT., Ir. Fahmi Arifan, MT,
Model Termodinamik Kesetimbangan Fasa Uap-Cair Dan Perpindahan Massa Pada
Distilasi Ekstraktif Pathcouli Alkohol Minyak Nilam.
8. Ir. F.M. Roemiyanto, MS., Perencanaan Kembali Gunung Kidul Menjadi Bangunan
Lumbung Air”.


ii

Daftar Isi
Dari Redaksi ............................................................................................................................................................... i
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR............................................. 1
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN ............................................ 13
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar) ....................................................................... 22
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN ...................... 41
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG .................................................... 48
MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA RUANG DALAM ......................................................... 54
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR DAN PERPINDAHAN MASSA
PADA DISTILASI EKSTRAKTIF PATHCOULI ALKOHOL MINYAK NILAM ....................................... 58
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR 72

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
1



PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM
STUDI ARSITEKTUR
Oleh : Ir. Anwar.MT


ABSTRAKSI
Arah pendidikan didasarkan kepada empat pilar pendidikan yang dicanangkan
oleh UNESCO (Education for the 21
st
century), yaitu “learning to know”,
“learning to do”, “learning to live together” dan “learning to be”. Segala wujud
gagasan atau ide yang diolah melalui proses analisis menjadi konsep atau teori
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah harus dilanjutkan dalam proses
rancang bangun (perancangan arsitektur) atau desain dan rekayasa (engineering).
Pada hakekatnya proses desain adalah menata (“order”) melalui landasan
teori/konsep dan proses yang prosedural atau metodologis.



A. Orientasi Pendidikan
Terdapat pergeseran orientasi
pendidikan yang menuju kepada sistem
pembentukan “kemampuan belajar
sepanjang hidup”. Oleh karena itu
teknologi pembelajaran perlu dirubah
sehingga memungkinkan adanya
pembekalan diri ke “mampu berpikir”
serta “mampu mempelajari dan mampu
belajar hidup bersama”, yang tujuannya
adalah pengenalan tentang keaneka
ragaman kebudayaan dan sikap
bertoleransi. Dalam hal ini dibutuhkan
“lingkungan pembelajaran” yang kondusif
sehingga tercipta suasana dan cara-cara
pembelajaran yang kolaboratif, fleksible,
dan kontekstual dalam memecahkan
permasalahan bersama.
Dalam hal ini arah pendidikan
didasarkan kepada empat pilar pendidikan
yang dicanangkan oleh UNESCO
(Education for the 21
st
century), yaitu
“learning to know”, “learning to do”,
“learning to live together” dan “learning
to be”. Pengertian prinsip dari masing-
masing pilar dijabarkan sebagai berikut;
1) Learning to know
Tujuannya adalah untuk belajar
seumur hidup sebagai upaya
membangun kemampuan untuk
melihat, memahami, dan mencerap
informasi dan pengetahuan agar
wawasan terhadap “dunia sekitar”
semakin membuka kesadaran untuk
mengembangkan kemampuan
kerjasama dan komunikasi dengan
orang lain. Sasarannya agar tercipta
tata kehidupan yang lebih
bermartabat.
Dalam hal ini sumber-sumber informasi
baru sesuai dengan perkembangan
IPTEKS perlu selalu direspons melalui
keberagaman multimedia dan modus
pembelajaran dalam masyarakat yang
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
2

berdasar pada “jejaring” (network
society).

Dengan demikian aspek penting
yang perlu dikembangkan adalah
“metoda mengajar” dengan
unsur-unsur bahasa, komunikasi,
dan meningkatkan kemampuan
berpikir pada diri mahasiswa.

2) Learning to do
Adalah belajar bagaimana kita
bekerja dan bekerjasama dengan
orang lain. Dalam hal ini proses
pendidikan ditujukan untuk
memberi bekal kepada mahasiswa
untuk melakukan jenis-jenis
pekerjaan yang diperlukan dimasa
depan.
Kemampuan yang diperlukan
adalah “kompetensi pribadi” yang
diperoleh melalui gabungan antara
ketrampilan (skill) dan
pengetahuan (knowledge) dalam
proses pembelajaran yang
berprinsip pada “learning by
doing” dan “doing by learning”
dengan memperhatikan perilaku
sosial, inisiatif pribadi dan
keberanian mengambil resiko.
Dengan demikian arah
pembelajaran bukan hanya belajar
pada ketrampilan teknis, tetapi juga
pengembangan diri dengan
menekankan materi untuk
mengembangkan;
- ketrampilan diri
- ketrampilan bersertifikat
- kerja fisik, kerja jasa
- apresiasi terhadap aspek
ekonomi
- kesiapan berkomunikasi
dalam membangun jaringan
3) Learning to live together
Sasaran pembelajarannya ditujukan
untuk mengantisipasi
meningkatnya perpecahan antar
etnis. Untuk itu yang penting
diperhatikan adalah bagaimanakah
kita dapat bekerja dan bekerjasama
dengan orang lain, serta mampu
meredakan konflik dan kekerasan
yang ada.
Dalam kaitan ini materi
pembelajaran perlu diarahkan pada
pengembangan kemampuan
bekerjasama dan menghargai orang
lain. Artinya adalah membangun
ambang kohesi masyarakat dengan
mengembangkan sistem nilai inti
untuk pembentukan identitas
kewarganegaraan sebagai wahana
pembentukan budaya perdamaian.
Hal ini dipandang penting dalam
upaya mengantisipasi arus
informasi global terutama yang
mempunyai dampak negatif
(kekerasan, konflik etnis dsb).
Melalui pendalaman materi
pembelajaran mahasiswa diajak
untuk memahami keanekaragaman
manusia, kebutuhan dan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
3

perilakunya, saling ketergantungan
antar manusia, semangat empati
dan solidaritas, serta pengakuan
atas hak-hak orang lain.

4) Learning to be
Arahnya adalah bagaimanakah
mengembangkan diri, eksistensi
dan karisma diri dalam kehidupan
kelompok. Untuk itu proses
pembelajaran diarahkan agar dalam
diri mahasiswa terbentuk idealisme
yang sarat dengan muatan aspek
spiritualitas, imajinasi dan
kreativitas yang berguna dalam
menempatkan dirinya pada
lingkungan masyarakat.
Dalam hal ini, pendidikan sebagai
alat pelatihan kepribadian harus
merupakan proses yang bersifat
pribadi sekaligus pada saat yang
sama merupakan pengalaman
interaksi sosial.
Metoda pembelajaran perlu
dikembangkan untuk membantu
mahasiswa mengembangkan cara
berpikir dan mengambil keputusan
yang bebas dan kritis sehingga
mereka dapat menentukan sendiri
aktifitas terbaiknya dalam berbagai
kondisi yang berbeda selama
hidupnya. Tujuannya adalah
pemenuhan kebutuhan manusia
secara menyeluruh meliputi
kekayaan kepribadiannya,
kompleksitas bentuk ekspresinya,
dan berbagai komitmennya sebagai
pribadi, anggota keluarga, anggota
masyarakat, serta sebagai warga
negara.

Bidang Ilmu (Domain of Knowledge)
1. Pemahaman Pengertian
Arsitektur
Memahami arsitektur dapat
dilakukan dengan cara melihatnya sebagai
suatu “produk” dan sebagai suatu
“proses”. Arsitektur adalah lingkungan
buatan yang dibuat oleh arsitek guna
mengatasi permasalahan pembangunan
pada jamannya. Rumusan tunggal
mengenai arsitektur adalah hal yang
“ahistory”, karena dari jaman-ke jaman
peran dan pengertian arsitek dan arsitektur
selalu dirumuskan ulang. Beberapa
pengertian arsitektur disampaikan oleh
para pakar di bidang arsitektur, seperti;
1) Auguste Perret (dalam Jurgen,
Joedick, 1963)
Architecture is the art of organizing
space.
2) Eugene Ruskin (dalam Jurgen
Joedick, 1963)
Architecture mirrors the various
aspects of our lifes, social economic,
spiritual. Architecture is a statement
of society’s pattern.
3) Le Corbusier (Louis Hellman,
1994)
Architecture is the masterly, correct
and magnificent play of masses
brought together in light.
4) Mies Van der Rohe (Louis
Hellman, 1994)
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
4

Architecture is the epoch translate
into space.
5) Mario G. Salvadori (Curt Siegel,
1964)
Architecture is an art, science, human
beings, material, politic and money.
Dari beberapa pengertian tersebut
di atas menunjukkan bahwa dalam
mewujudkan arsitektur dilakukan proses
aktif berupa perancangan yang di dalamnya
memuat aspek-aspek; seni dan estetika,
teknologi, serta fungsi. Senada dengan
pendapat tersebut, pakar lain menyatakan
seperti yang tersaji dalam tabel berikut;
Vitruvius
Polio
(100 AD)
Alexander
Wotton
(1642)
Walter
Gropius
(Bauhaus,
1920)
Christian
Norberg
Schultz
(1970)
Utilitas Commodity Function Building
Task
Venustas Delight Expression Form
Firmistas Firmness Technics Technics

Dalam hal ini unsur-unsur fungsi,
ekspresi bentuk dan estetika, serta teknik
dan teknologi yang menciptakan kekuatan
dalam sosok arsitektur merupakan unsur-
unsur pokok yang perlu diperhatikan
dalam proses perancangan.
Kegiatan perancangan dalam
pengembangannya merupakan kegiatan
kreativitas yang mendasarkan pada
metoda-metoda perancangan guna
menghasilkan karya arsitektur yang
memenuhi kebutuhan, memiliki nilai
manfaat, dan memperhatikan kemungkinan
perkembangan pada masa yang akan
datang, serta mengarah kepada keselarasan
nafas alam. Hal itu ditujukan untuk
memberikan kepuasan kepada para
pemakainya (owner and user), serta dalam
upaya mewujudkan tercapainya
perancangan yang berkelanjutan
(sustainable design).
Kegiatan perancangan dengan
metoda/cara berfikir telah banyak
dikembangkan, yang salah satunya
dilakukan oleh Nigel Cross (Designerly
Ways of Knowing, 1982) yang mengubah
“budaya ganda” (two cultures, oleh
CP.Snow, 1959) menjadi “budaya tiga”
(three cultures). Adapun konsep tersebut
tersaji dalam tabel berikut;

Aspek
Ways of
Knowing

Pokok
Bahasan

Cara/
Metoda

Pusat Perhatian

Scientificall
y
(pengetahua
n)
Alam Analisis Truth
(kebenaran)
Scholarly
(kepujangga
an)
Pengalam
an
Relation
al
Justice
(keadilan)
Designerly
(perancanga
n)
Benda
buatan
Sintesis - Fitness (kuat)
- Adaptation
(adaptasi)
- Appropriatten
ess
(kecocokan)

Dalam kaitannya dengan konsep
tersebut, dituntut terwujudnya sosok
arsitek sebagai pemikir dan penggagas ide
yang memiliki kemampuan dalam
mengantisipasi permasalahan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
5

pembangunan secara cerdik dan arif.
Arsitek harus arif, sehingga karya yang
dihasilkannya mempunyai muatan sosial-
kemanusiaan (ingat istilah Romo Mangun;
Vasthu-Vidya). Dalam pengertiannya
sebagai vasthu-vidya tersirat tentang unsur
kebenaran yang lengkap sebagai dasar
dalam merealisasi “dharma”-nya. Ilmu
yang dimilikinya dimanfaatkan sebagai
alat untuk menyantuni alam dan
lingkungan.

2. Arsitektur sebagai IPTEKS
Penerapan IPTEKS “Arsitektur”
ditujukan agar memiliki sifat “produktif”
dan “untuk melayani masyarakat”. Itulah
sebabnya IPTEKS Arsitektrur
dikelompokkan ke dalam “Ilmu positif
atau praktis” yang terdiri atas dua faktor
penting, yaitu;
a. Normatif, dengan tujuan untuk
menentukan kriteria yang ideal,
b. Profesional, dengan tujuan untuk
menerapkan ilmu dalam
pemenuhan kebutuhan hidup nyata.
Proses belajar-mengajar
diselenggarakan melalui dua proses yang
berjalan secara paralel. Melalui
Perkuliahan dipelajarai pengenalan,
pemahaman, dan ungkapan atau
pernyataan formal yang disebut “teori”.
Sedangkan dengan proses “studio”
dilakukan pelatihan ketrampilan
menerapkan IPTEKS ke dalam karya
arsitektural.
Walaupun tidak hanya analisis
yang menjadi tujuan suatu teori, akan
tetapi sebagai dasar kemampuan
penguasaan ilmu pengetahuan “analisis”
adalah paling dominan. Melalui proses
timbal-balik dan berdaur ulang dalam
kegiatan studio, pelatihan adalah
diutamakan untuk memperoleh
ketrampilan merancang atau desain yang
sifatnya lebih berupa “sintesis”. Tujuan
kegiatan perkuliahan dan studio adalah
agar terjadi sinergi IPTEKS khususnya
dalam bidang Arsitektur guna
menyelaraskan aspek kinerja
fungsional/teknis/ teknologis dan aspek
perwujudan spasial dan rupa fisikal.
Pada kenyataannya proses
penerapan IPTEKS adalah berdaur, karena
penerapan unsur-unsur yang normatif dan
teoritis untuk diberlakukan sebagai
standar masih harus dikaji secara arif dan
bijaksana melalui proses pikir yang
filsafati. Secara logika pengkajian
ditujukan apakah hal tersebut masuk akal
atau tidak. Bahkan dalam proses
perwujudan arsitektur, pengkajian
didasarkan pula pada aspek ekologi, sosial
budaya, dan ekonomi.
Dalam proses pemaknaan
(interpretasi) sebagai akumulasi dari
sumber teori maupun informasi kondisi
lapangan dan lain-lain sangat menentukan
hasil karena terdapat unsur-unsur obyektif
dan subyektif. Banyak proses yang
berlainan sehingga melahirkan desain yang
banyak alternatifnya. Namun demikian
masalah pokok bagi arsitek adalah
kemampuan dalam membuat pernyataan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
6

dalam interpretasinya melalui hasil
perancangan yang dapat
dipertanggungjawabkan berdasarkan
responsibilitas moral, akontabilitas
profesional.

A. Pengetahuan Dasar Pendidikan
Arsitektur
Dalam upaya mengantisipasi
kondisi global dalam semua aspek
kehidupan, maka dunia pendidikan
arsitektur perlu segera mereformasi pola
dan proses pembelajaran serta teknologi
pembelajaran agar dapat memenuhi
kriteria dan standar IPTEKS yang
diberlakukan secara internasional.
Tujuannya adalah lulusan yang dihasilkan
dapat segera terserap dalam pasar kerja
baik dalam lingkup lokal, nasional,
maupun global.
Kriteria yang diberlakukan sebagai
dasar pengembangan IPTEKS Arsitektur
adalah standar dari ”Union Internationale
des Architectes” (UIA), berupa 37 materi
pengetahuan dasar pendidikan arsitektur
sebagai berikut;
1) Ketrampilan Verbal (Verbal Skills)
Kemampuan untuk berbicara dan
menulis secara efektif mengenai
materi dalam kurikulum profesional.
2) Ketrampilan Grafis (Graphic
Skills)
Kemampuan untuk menggunakan
media presentasi yang tepat, termasuk
teknologi komputer, untuk
menyampaikan pada setiap tahapan
perancangan, unsur-unsur penting
dalam program bangunan serta
perancangan arsitektur dan urban.
3) Ketrampilan Riset (Research
Skills)
Kemampuan untuk melakukan metoda
dasar pengumpulan data dan analisis
untuk menerangkan semua aspek
pemrograman dan proses perancangan.
4) Ketrampilan Berpikir Kritis
(Critical Thinking Skills)
Kemampuan untuk membuat analisis
dan evaluasi menyeluruh dari sebuah
bangunan, kompleks bangunan atau
ruang urban.
5) Ketrampilan Dasar Merancang
(Fundamental Design Skills)
Kemampuan untuk menerapkan
prinsip-prinsip dasar pengorganisasian
ruang, struktur dan konstruksi ke
dalam konsepsi dan pengembangan
ruang interior dan eksterior, unsur-
unsur serta komponen bangunan.
6) Ketrampilan Bekerjasama
(Collaborative Skills)
Kemampuan untuk mengidentifikasi
dan mengambil peran yang
memaksimalkan bakat individual, dan
kemampuan untuk bekerjasama
dengan mahasiswa lain ketika bekerja
dalam suatu tim perancangan.
7) Perilaku Manusia (Human
Behavior)
Kepekaan terhadap teori dan metoda
perancangan yang bertujuan
memperjelas hubungan antara perilaku
manusia dan lingkungan fisik.
8) Keragaman Manusia (Human
Diversity)
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
7

Kepedulian akan keragaman
kebutuhan, nilai, etika, norma
perilaku, serta pola sosial dan spasial
yang membedakan berbagai
kebudayaan, dan implikasi dari
keragaman tersebut untuk menunjang
peran sosial dan tanggungjawab
arsitek.
9) Sejarah dan Preseden (History and
Presedent)
Kemampuan membuat rasionalisasi
preseden bentuk dan program serta
mampu menerapkannya pada konsep
dan pengembangan proyek-proyek
arsitektur dan urban.
10) Tradisi Nasional dan Lokal
(National and Local Traditions)
Pemahaman tentang tradisi nasional
dan warisan lokal regional dalam
rancangan arsitektur, lansekap dan
urban, termasuk tradisi vernakular.
11) Tradisi Timur (Eastern Traditions)
Pemahaman tentang peraturan dan
tradisi Timur dalam perancangan
arsitektur, lansekap, dan urban, serta
faktor cuaca, teknologi, sosio-ekonomi
dan faktor-faktor lainnya yang telah
membentuk dan mempertahankannya.
12) Tradisi Barat (Western Traditions)
Kepekaan terhadap keseragaman
sekaligus keragaman aturan dan tradisi
perancangan arsitektur dan urban di
dunia Barat.
13) Pelestarian Lingkungan
(Environmental Conservation)
Pemahaman tentang prinsip-prinsip
dasar ekologi dan tanggungjawab
arsitek dalam hubungannya dengan
pelestarian sumber daya dan
lingkungan dalam perancangan
arsitektur dan urban.
14) Aksesibilitas (Accessibility)
Kemampuan untuk merancang tapak
dan bangunan untuk
mengakomodasikan kebutuhan
individu dengan kemampuan fisik
yang bermacam-macam.
15) Kondisi Tapak (Site Conditions)
Kemampuan untuk menjawab karakter
alam dan lingkungan buatan pada
tapak dalam pengembangan program
dan perancangan proyek.
16) Sistem Tata Bentuk (Formal
Ordering Systems)
Pemahaman tentang dasar-dasar
persepsi visual dan prinsip-prinsip
sistem tatanan pada rancangan dua dan
tiga dimensi, komposisi arsitektur dan
perancangan urban.
17) Sistem Struktur (Structural
Systems)
Pemahaman mengenai perilaku
struktur dalam menahan gravitasi dan
gaya-gaya lateral serta evolusi rentang
dan penerapan yang tepat dari sistem
struktur kontemporer.
18) Sistem Penyelamatan Pada
Bangunan (Building Life Safety
Systems)
Pemahaman mengenai prinsip-prinsip
dasar rancangan dan pemilihan sistem
dan subsistem penyelamatan pada
bangunan.
19) Sistem Sampul Bangunan
(Building Envelope Systems)
Pemahaman tentang prinsip-prinsip
rancangan sistem penutup luar
bangunan.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
8

20) Sistem Lingkungan Ruang
Bangunan (Building Environmental
Systems)
Pemahaman tentang prinsip-prinsip
dasar rancangan sistem struktur
bangunan, sistem lingkungan,
termasuk pencahayaan, akustik dan
pengkondisian ruang serta pemakaian
enerji.
21) Sistem Pelayanan Bangunan
(Building Service Systems)
Pemahaman tentang prinsip-prinsip
dasar rancangan sistem pelayanan
bangunan, termasuk pemipaan,
transportasi vertikal, komunikasi,
keamanan dan perlindungan
kebakaran.
22) Integrasi Sistem-sistem Bangunan
(Building Systems Integration)
Kemampuan untuk menilai, memilih
dan menyatukan sistem struktur,
sistem penutup bangunan, sistem
lingkungan, pelayanan dan
penyelamatan, ke dalam suatu
rancangan bangunan.
23) Tanggungjawab Hukum (Legal
Responsibilities)
Pemahaman tentang tanggungjawab
hukum bagi arsitek dalam kaitannya
dengan kesehatan, keselamatan dan
kesejahteraan masyarakat; hak
properti, aturan dalam zoning dan
subdivisi; peraturan bangunan,
aksesibilitas dan faktor-faktor lain
yang mempengaruhi rancangan
bangunan, konstruksi dan praktek
arsitektur.
24) Kepatuhan Terhadap Peraturan
Bangunan (Building Code
Compliance)
Pemahaman tentang persyaratan dan
peraturan bangunan, standar yang
dapat diterapkan pada tapak tertentu,
termasuk klasifikasi penggunaan,
tinggi dan luasan bangunan yang
diijinkan, tipe konstruksi yang
diijinkan, persyaratan pemisahan,
persyaratan penggunaan, alat
evakuasi, perlindungan kebakaran dan
struktur.
25) Bahan Bangunan dan
Pemasangannya (Building
Materials and Assemblies)
Pemahaman tentang prinsip-prinsip
konvensi, standar-standar, aplikasi dan
batasan pembuatan, penggunaan dan
pemasangan bahan-bahan bangunan.
26) Ekonomi Bangunan dan
Pengendalian Biaya (Building
Economics and Cost Control)
Kepekaan terhadap dasar-dasar
pembiayaan bangunan, ekonomi
bangunan dan pengendalian biaya
konstruksi dalam kerangka proyek
perancangan.


27) Pengembangan Detail Rancangan
(Detailed Design Development)
Kemampuan untuk menilai, memilih,
menyusun dan merinci sebagai suatu
bagian utuh perancangan, serta
menyusun dengan tepat bahan dan
komponen bangunan untuk memenuhi
persyaratan program bangunan.
28) Dokumentasi Grafis (Graphic
Documentation)
Kemampuan untuk membuat deskripsi
teknis yang akurat dan dokumentasi
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
9

suatu proposal perancangan untuk
tujuan penilaian dan konstruksi.
29) Perancangan Menyeluruh
(Comprehensive Design)
Kemampuan untuk menghasilkan
sebuah proyek arsitektur diawali
dengan program yang menyeluruh
sejak rancangan skematik hingga
pengembangan detail termasuk
program ruang, sistem struktur dan
lingkungan, perlengkapan
penyelamatan, dinding-dinding dan
elemen bangunan, serta untuk menilai
hasil akhir proyek itu sesuai dengan
kriteria perancangan.
30) Penyiapan Program (Program
Preparation)
Kemampuan untuk menyusun
program komprehensif untuk proyek
perancangan arsitektur, termasuk
menilai kebutuhan pemberi tugas,
telaah kritis mengenai presentasi
bentuk, inventarisasi ruang dan
persyaratan peralatan, definisi kriteria
pemilihan tapak, analisis kondisi
tapak, telaah hukum dan standar-
standar yang berlaku, penilaian
implikasi unsur-unsur tersebut
terhadap proyek, serta definisi kriteria
penilaian perancangan.
31) Konteks Hukum Praktek Arsitektur
(The Legal Context of Architecture
Practice)
Kepekaan terhadap berkembangnya
konteks hukum tempat arsitek
berpraktek, dan hukum-hukum yang
berkaitan dengan registrasi
profesional, kontrak jasa profesional
serta pembentukan usaha jasa
perancangan.
32) Organisasi dan Manajemen Praktek
(Practice Organization and
Management)
Kepekaan terhadap prinsip-prinsip
dasar organisasi kantor;
kepemimpinan, rencana usaha,
pemasaran, negosiasi dan manajemen
keuangan, sebagaimana dapat
ditetapkan pada praktek arsitektur.
33) Dokumentasi dan Kontrak
(Contracts and Documentation)
Kepekaan terhadap berbagai metoda
penyelesaian proyek, format kontrak
jasa yang sesuai, dan tipe dokumentasi
yang diperlukan untuk memberikan
jasa profesional yang kompeten dan
bertanggungjawab.
34) Pemagangan (Professional
Internship)
Pemahaman mengenai peran
pemagangan dalam pengembangan
profesional, serta hak-hak dan
tanggungjawab silang antara
pemagang dan pembimbing.
35) Penghayatan Peran Arsitek
(Breadth of the Architect’s Role)
Kepekaan terhadap pentingnya peran
arsitek dalam insepsi proyek
perancangan dan pengembangan
rancangan, administrasi kontrak,
termasuk pemilihan dan koordinasi
disiplin ilmu lain, evaluasi setelah
penggunaan dan manajemen fasilitas.
36) Kondisi Masa Lalu dan Akan
Datang (Past and Present
Conditions for Architecture)
Pemahaman tentang perubahan-
perubahan yang terjadi karena
pengaruh sosial, politik, teknologi, dan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
10

ekonomi -masa lalu dan masa kini-
atas peran arsitek terhadap lingkungan
binaan.
37) Etika dan Penilaian Profesional
(Ethics and Professional
Judgement)
Kepekaan terhadap masalah etika
dalam pengambilan keputusan yang
profesional dalam praktek dan
perancangan arsitektur.

B. STUDIO PERANCANGAN
ARSITEKTUR
Segala wujud gagasan atau ide
yang diolah melalui proses analisis
menjadi konsep atau teori dan dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah
harus dilanjutkan dalam proses rancang
bangun (perancangan arsitektur) atau
desain dan rekayasa (engineering). Pada
hakekatnya proses desain adalah menata
(“order”) melalui landasan teori/konsep
dan proses yang prosedural atau
metodologis.
Sebelum hasil rancangan
dinyatakan “final” atau selesai masih perlu
dikaji terhadap validitas peraturan-
peraturan dan hukum perundangan yang
terkait dengan keberadaan arsitektur
tersebut, termasuk dalam hal ini adalah
analisis terhadap dampak lingkungan,
peraturan pembangunan dsb.
Diskusi dan praktek studio
merupakan proses berdaur ulang guna
memperoleh kristalisasi atau optimalisasi
pemikiran dalam penciptaan karya
arsitektural. Studio perancangan
diprogramkan sebagai simulasi tempat
kerja arsitek (profesional), sedangkan
kegiatannya menjadi tulangan pokok
(dalam istilah “fish bone”) yang didukung
oleh teori-teori dari kegiatan perkuliahan.
Terdapat tiga masalah pokok yang
menjadi faktor perancangan arsitektural
atau obyek studi, yaitu bentuk, teknik,
dan fungsi (lihat pengertian arsitektur),
namun secara bertahap perhatian harus
difokuskan kepada aspek “bentuk” sebagai
bahan latihan awal, berikutnya bentuk
dipadukan dengan aspek teknik, dan
selanjutnya dapat secara bersamaan
diwujudkan karya arsitektur sebagai
sinergi dari aspek-aspek bentuk, teknik,
dan fungsi.
Studio arsitektur merupakan tempat
mahasiswa menekuni dan berpikir dengan
berbagai variasi dan kombinasi IPTEKS –
filsafat – seni. Di dalam kegiatan studio
arsitektur tersebut mahasiswa dilatih dan
dibimbing oleh dosen-dosen yang
bertindak selaku fasilitator sekaligus nara
sumber guna mengasah pengetahuan,
ketrampilan dan nilai-nilai dari aspek
arsitektural secara terencana yang
dikembangkan dalam diri mahasiswa
melalui latihan, interaksi dengan sesama
mahasiswa maupun dengan dosen.
Latihan-latihan dan diskusi-diskusi
yang dilakukan dalam studio secara
bertahap akan
mengembangkan/membentuk suatu konsep
arsitektural dalam pikiran mahasiswa.
Latihan dalam studio juga ditujukan untuk
menyeimbangkan ketrampilan
tangan/grafis (aspek psikomotoris)
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
11

dengan pikiran (aspek kognitif) serta
pengembangan pengetahuan terhadap
pengertian akan arsitektur (aspek afektif).
A. TANTANGAN
1. Bidang ilmu arsitektur berpokok
pada aspek perancangan atau
desain menyangkut pada dua hal,
yaitu pendalaman teori dan praktek
studio,
2. Pendalaman teori ditujukan sebagai
wahana pembekalan agar
mahasiswa dapat mengerti,
memahami, dan menghayati
berbagai pengetahuan dan
wawasan sebagai alat untuk
memecahkan masalah
perancangan, sebagai alat untuk
menguji hasil perancangan, serta
sebagai wahana pengembangan
kemampuan berpikir spasial dan
arsitektural.
3. Praktek studio merupakan wahana
pelatihan ketrampilan perancangan
arsitektur, dengan penguasaan
berbagai jenis metoda pemecahan
permasalahan perancangan,
kemampuan menghasilkan konsep
pemecahan, dan kemampuan
mengambil keputusan dalam proses
perancangan arsitektural.
4. Di dalam studio itulah mahasiswa
dilatih berfikir, menekuni dan
mengenali masalah, menganalisis
masalah dan mensintesakan
konsep-konsep perancangan
berdasarkan sistem proses secara
metodologis dan tematis.
5. Teknologi pembelajaran diarahkan
agar dalam diri mahasiswa
terbentuk sikap dan kesadarannya
sebagai salah aktor pembangunan
yang menjunjung tinggi nilai-nilai
moral, etika profesi, dan kepatuhan
pada peraturan dan hukum yang
berlaku, serta kesadaran untuk
dapat saling bekerjasama.
6. Teknologi pembelajaran juga
ditujukan agar mahasiswa memiliki
kemampuan-kemampuan
berkomunikasi secara verbal dan
tertulis, komunikasi representasi
grafis, model, maupun dengan
komputer.
7. Peran dosen sebagai fasilitator
perlu membekali dirinya dengan
kecakapan yang memadai, sebagai
nara sumber yang memiliki
kelatifan (cerdas), sebagai
motivator yang memiliki jiwa
kepemimpinan, sebagai evaluator
yang memiliki sifat bijaksana dan
ketegasan, sebagai inovator yang
selalu mengikuti perkembangan
IPTEKS dan memiliki program
serta persiapan cukup dalam
menyampaikan materi
perkuliahannya, serta
menumbuhkan suasana belajar
yang kondusif.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
12

B. Bahan Bacaan

Budihardjo, Eko, 1997.
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
DAN PENDIDIKAN ARSITEK DI
INDONESIA. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Harold, Alexander,H, 1976. DESIGN,
CRITERIA FOR DECISIONS, Mac
Millan, New York.

Hellman, Louis, 1984. ARCHITECTURE
FOR BEGINNERS, Writes and
Readers Publishing Incorpored.

Joedick Jurgen, 1963. HISTORY OF
ARCHITECTURE, Praeger
Publisher.

Saliya, Yuswadi, 1998. KELEMBAGAAN
DAN PRANATA DALAM
ARSITEKTUR, Makalah Penataran,
Cisarua Bogor.

Snyder, JC dan Catanese AJ, 1994.
PENGANTAR ARSITEKTUR,
Erlangga Jakarta.

-----------, 2000. Makalah Lokakarya
Terbatas dan Seminar Nasional 50
tahun Pendidikan Arsitektur di
Indonesia, Bandung.



SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
13

MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM
PEMBELAJARAN
Oleh : Ir. Eko Nursanty, MT

Abstraksi
E-learning adalah semua bentuk elektronik yang mendukung proses pengajaran
dan pembelajaran. Secara umum E-learning mencakup beberapa kegiatan
pendidikan (belajar mandiri, ceramah online, diskusi dan kerja kelompok online )
dilakukan digunakan dengan menggunakan berbagai teknologi dan peralatan
(pelatihan di Internet, intranet perusahaan, CD, perangkat portable dll). Dalam
eLearning, teknologi modern dipakai pada setiap tahap proses mengajar, dari
perencanaan dan pengembangan pelatihan, melalui implementasi dan distribusi,
untuk pengadministrasian dan evaluasi hasil.


Pengertian E-learning.
E-learning adalah semua bentuk elektronik
yang mendukung proses pengajaran dan
pembelajaran, seperti yang dikatakan oleh
(Tavangarian D., Leypold M., Nölting K.,
Röser M.,2004) : E-learning comprises all
forms of electronically supported learning
and teaching. The Information and
communication systems, whether networked or
not, serve as specific media to implement
the learning process.
Pernyataan diatas mengacu pada pada
sebuah kelas baik didalam maupun diluar
kelas yang menjadi pengalaman proses
pendidikan dengan menggunakan
teknologi, bahkan secara lebih lanjut
mengacu pada perlengkapan dan
kurikulum yang menggunakan teknologi.
E-learning secara esensi berupa perangkat
komputer beserta jaringan yang mampu
melakukan proses transfer ketrampilan dan
pengetahuan. E-learning applications and
processes include Web-based learning,




computer-based learning, virtual
classroom opportunities and digital
collaboration. E-learning meliputi aplikasi
dan proses pembelajaran berbasis web,
pembelajaran berbasis komputer, peluang
kelas virtual dan kolaborasi digital. Hal
ini dapat dilakukan secara mandiri atau
dengan bantuan instruktur melalui media
dalam bentuk teks, gambar, animasi,
streaming video dan audio.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
14


Gambar 1: Ilustrasi e-learning

Secara umum E-learning mencakup
beberapa kegiatan pendidikan ( belajar
mandiri, ceramah online, diskusi dan kerja
kelompok online ) dilakukan digunakan
dengan menggunakan berbagai teknologi
dan peralatan (pelatihan di Internet,
intranet perusahaan, CD, perangkat
portable dll). Dalam eLearning, teknologi
modern dipakai pada setiap tahap proses
mengajar, dari perencanaan dan
pengembangan pelatihan, melalui
implementasi dan distribusi, untuk
pengadministrasian dan evaluasi hasil.


Gambar 2: Diagram Kegiatan didalam E-learning
E-Learning adalah pembelajaran jarak
jauh (distance Learning) yang
memanfaatkan teknologi komputer,
jaringan komputer dan/atau Internet. E-
Learning memungkinkan pembelajar
untuk belajar melalui komputer di tempat
mereka masing-masing tanpa harus secara
fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan
di kelas. E-Learning sering pula dipahami
sebagai suatu bentuk pembelajaran
berbasis web yang bisa diakses dari
intranet di jaringan lokal atau internet.
Sebenarnya materi e-Learning tidak harus
didistribusikan secara on-line baik melalui
jaringan lokal maupun internet, distribusi
secara off-line menggunakan media
CD/DVD pun termasuk pola e-Learning.
Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar
dikembangkan sesuai kebutuhan dan
didistribusikan melalui media CD/DVD,
selanjutnya pembelajar dapat
memanfatkan CD/DVD tersebut dan
belajar di tempat di mana dia berada.

Ada beberapa pengertian berkaitan dengan
e-Learning sebagai berikut :

Pembelajaran jarak jauh.
E-Learning memungkinkan pembelajar
untuk menimba ilmu tanpa harus secara
fisik menghadiri kelas. Pembelajar bisa
berada di Semarang, sementara
“instruktur” dan pelajaran yang diikuti
berada di tempat lain, di kota lain bahkan
di negara lain. Interaksi bisa dijalankan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
15

secara on-line dan real-time ataupun
secara off-line atau archieved.
Pembelajar belajar dari komputer di kantor
ataupun di rumah dengan memanfaatkan
koneksi jaringan lokal ataupun jaringan
Internet ataupun menggunakan media
CD/DVD yang telah disiapkan. Materi
belajar dikelola oleh sebuah pusat
penyedia materi di kampus/universitas,
atau perusahaan penyedia content tertentu.
Pembelajar bisa mengatur sendiri waktu
belajar, dan tempat dari mana ia
mengakses pelajaran.

Pembelajaran dengan perangkat
komputer
E-Learning disampaikan dengan
memanfaatkan perangkat komputer. Pada
umumnya perangkat dilengkapi perangkat
multimedia, dengan cd drive dan koneksi
Internet ataupun Intranet lokal. Dengan
memiliki komputer yang terkoneksi
dengan intranet ataupun Internet,
pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-
Learning. Jumlah pembelajar yang bisa
ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan
kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat
diketengahkan dengan kualitas yang lebih
standar dibandingkan kelas konvensional
yang tergantung pada kondisi dari
pengajar.

Pembelajaran formal vs. informal
E-Learning bisa mencakup pembelajaran
secara formal maupun informal. E-
Learning secara formal, misalnya adalah
pembelajaran dengan kurikulum, silabus,
mata pelajaran dan tes yang telah diatur
dan disusun berdasarkan jadwal yang telah
disepakati pihak-pihak terkait (pengelola
e-Learning dan pembelajar sendiri).
Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat
interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh
perusahaan pada karyawannya, atau
pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh
universitas dan perusahaan-perusahaan
(biasanya perusahan konsultan) yang
memang bergerak di bidang penyediaan
jasa e-Learning untuk umum. E-Learning
bisa juga dilakukan secara informal
dengan interaksi yang lebih sederhana,
misalnya melalui sarana mailing list, e-
newsletter atau website pribadi, organisasi
dan perusahaan yang ingin
mensosialisasikan jasa, program,
pengetahuan atau keterampilan tertentu
pada masyarakat luas (biasanya tanpa
memungut biaya).

Pembelajaran yang ditunjang oleh para
ahli di bidang masing-masing.
Walaupun sepertinya e-Learning diberikan
hanya melalui perangkat komputer, e-
Learning ternyata disiapkan, ditunjang,
dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli
di bidang masing-masing, yaitu:
1. Subject Matter Expert (SME) atau
nara sumber dari pelatihan yang
disampaikan
2. Instructional Designer (ID),
bertugas untuk secara sistematis
mendesain materi dari SME
menjadi materi e-Learning dengan
memasukkan unsur metode
pengajaran agar materi menjadi
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
16

lebih interaktif, lebih mudah dan
lebih menarik untuk dipelajari
3. Graphic Designer (GD), mengubah
materi text menjadi bentuk grafis
dengan gambar, warna, dan layout
yang enak dipandang, efektif dan
menarik untuk dipelajari
4. Ahli bidang Learning Management
System (LMS). Mengelola sistem
di website yang mengatur lalu
lintas interaksi antara instruktur
dengan siswa, antarsiswa dengan
siswa lainnya.
Di sini, pembelajar bisa melihat modul-
modul yang ditawarkan, bisa mengambil
tugas-tugas dan test-test yang harus
dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi
secara maya dengan instruktur, nara
sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui
LMS ini, siswa juga bisa melihat nilai
tugas dan test serta peringkatnya
berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang
diperoleh.
Infrastruktur e-Learning:
Infrastruktur e-Learning dapat berupa
personal computer (PC), jaringan
komputer, internet dan perlengkapan
multimedia. Termasuk didalamnya
peralatan teleconference apabila kita
memberikan layanan synchronous
learning melalui teleconference.

Sistem dan Aplikasi e-Learning:
Sistem perangkat lunak yang mem-
virtualisasi proses belajar mengajar
konvensional. Bagaimana manajemen
kelas, pembuatan materi atau konten,
forum diskusi, sistem penilaian (rapor),
sistem ujian online dan segala fitur
yang berhubungan dengan manajemen
proses belajar mengajar. Sistem
perangkat lunak tersebut sering disebut
dengan Learning Management System
(LMS). LMS banyak yang opensource
sehingga bisa kita manfaatkan dengan
mudah dan murah untuk dibangun.

Konten e-Learning:
Konten dan bahan ajar yang ada pada
e-Learning system (Learning
Management System). Konten dan
bahan ajar ini bisa dalam bentuk
Multimedia-based Content (konten
berbentuk multimedia interaktif) atau
Text-based Content (konten berbentuk
teks seperti pada buku pelajaran biasa).
Biasa disimpan dalam Learning
Management System (LMS) sehingga
dapat dijalankan oleh mahasiswa
kapanpun dan dimanapun. Ini langkah
menarik untuk mempersiapkan
perkembangan e-Learning dari sisi
konten.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
17


Gambar 3: Komponen E-learning


Sedangkan Aktor yang ada dalam
pelaksanakan e-Learning boleh dikatakan
sama dengan proses belajar mengajar
konvensional, yaitu perlu adanya pengajar
(dosen) yang membimbing, siswa
(mahasiswa) yang menerima bahan ajar
dan administrator yang mengelola
administrasi dan proses belajar mengajar.


Manfaat e-learning.
Ada tiga hal yang dapat dimanfaatkan dari
e-learning ini :
Fleksibilitas. Dapat diakses dari mana
saja yang memiliki akses internet.
Berbagai tempat juga sudah menyediakan
sambungan internet gratis (café, bandara),
dengan demikian dalam perjalanan pun,
kita bisa memanfaatkan waktu untuk
mengakses e-learning.
“Independent Learning.”
Pembelajar diberi kebebasan untuk
menentukan kapan pembelajaran dimulai,
selesai, dan bagian mana dalam modul
yang ingin dipelajari terlebih dahulu.
Biaya. E-learning sudah jelas dapat
menghemat jumlah biaya yang dibutuhkan
dari pada dengan pembelajaran secara
langsung di kelas. Berbagai factor
misalnya; biaya transportasi dan
akomodasi selama belajar (kos misalnya),
biaya administrasi pengelolaan,
penyediaan sarana fasilitas fisik untuk
belajar.
E-learning bisa memberikan manfaat yang
optimal jika beberapa kondisi berikut
terpenuhi.
Tujuan : Sebelum memutuskan untuk
mengikuti e-learning, Anda perlu
menentukan tujuan belajar Anda, sehingga
Anda bisa memilih topik, modul, lama
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
18

belajar, biaya dan sarana belajar secara
elektronik yang sesuai.

Pembelajaran : Cara belajar dengan e-
learning memberikan peluang untuk
menjadi pembelajar independen. Jadi,
untuk memdapatkan manfaat optimal dari
e-learning, Anda juga harus senang belajar
secara independen.
Dukungan : E-learning akan lebih
mudah jika mendapat dukungan dari
orang-orang terkait.

Konsep Freebie Marketing
Freebie Marketing seringkali disebut razor
and blades business model (Martin,
Richard 2001)., karena konsep bisnis ini
diperkenalkan oleh King C. Gillete,
penemu safety razor. Hal ini adalah
sebuah model bisnis yang memberikan
harga sangat murah pada sebagian produk
bahkan terkadang gratis dalam rangka
meningkatkan penjualan dari produk
utama mereka, seperti proses penjualan
printer dan cartidge, dimana harga catridge
hampir sama dengan membeli perangkat
printer baru lengkap dengan gratis
catridge.
Setiap bisnis online memiliki internet
sendiri strategis rencana pemasaran untuk
meningkatkan dan pemasaran pengaruh
popularitas produk, merek atau jasa
mereka. Hal ini sesuai dengan kepentingan
mereka untuk menciptakan sebuah
komunitas konsumen yang bertindak untuk
membeli merek atau jasa mereka.
Memberikan gratis merupakan salah satu
teknik termudah untuk mempromosikan
merek. Menggunakan fasilitas gratis
sebagai bagian dari rencana internet
marketing strategis yang dapat
meningkatkan pengaruh internet marketing
yang menyenangkan bagi siapapun. Orang
sangat menyukai untuk menerima item
yang diberikan kepada mereka tanpa biaya
sama sekali. Ketika mereka menggunakan
freebie, mereka juga, dengan cara, secara
sukarela mendukung merek tersebut. Hal
ini terutama sekali, jika mereka merasa
sangat bermanfaat atau terbantu dalam
beberapa hal.



Multiply


Multiply adalah layanan jaringan sosial
dengan penekanan yang memungkinkan
pengguna untuk berbagi media - seperti
foto, video dan entri blog - dengan "dunia
nyata" jaringan mereka. Situs ini
diluncurkan pada bulan Maret 2004
dengan dukungan oleh VantagePoint
Gambar 4: Contoh E Learning yang dimiliki oleh multiply
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
19

Venture Partners , Point Judith Capital ,
Transcosmos, dan investor swasta.
Multiply memiliki lebih dari 11 juta
pengguna terdaftar. Perusahaan ini
berpusat di Boca Raton, Florida .
Quantcast memperkirakan Multiply
memiliki 3,5 juta unik pengunjung unik
setiap bulannya. Di Multiply, jaringan
seorang pengguna terbentuk dari kontak
langsung mereka, serta yang lain yang
berhubungan erat kepada mereka melalui
hubungan mereka tingkat pertama. Selain
itu, pengguna didorong untuk menentukan
sifat hubungan mereka dengan satu sama
lain, sehingga memungkinkan untuk
berbagi konten dengan seluruh jaringan
mereka terkait masing-masing orang, atau
himpunan bagian daripadanya termasuk
teman, keluarga, kontak profesional, dan
sebagainya.

Cara menggunakan Multiply sebagai
fasilitas freebies e-learning, adalah sebagai
berikut :
 Menjadikan multiply sebagai
penyimpanan berkas pekerjaan
siswa, seperti buku tugas pada
proses pembelajaran online. Setiap
mahasiswa memiliki personal blog
multiply, dan didalamnya
digunakan untuk menyimpan
berkas-berkas tugas berupa data
foto, analisis, link-link sumber
pustaka, dsb.
 Menciptakan komunitas sejenis
yang berisi para peserta online
class pada subject yang sama,
saling berbagi data dan informasi
sesama group ini secara tersendiri.
 Dosen dapat langsung memberi
komentar pada data yang diupload,
dan menggunakan ini sebagai
media sistensi / bimbingan tugas
mahasiswa.


Scribd
Scribd adalah dokumen-sharing berbasis
Web 2.0. Website yang memungkinkan
pengguna untuk mengirim dokumen dari
berbagai format, dan menanamkan mereka
ke dalam halaman web menggunakan
format iPaper nya. Scribd didirikan oleh
Trip Adler tahun 2006.

Cara menggunakan Scribd sebagai fasilitas
freebies e-learning, adalah sebagai berikut
:
 Dosen dapat mengupload
dokumen-dokumen pembelajaran
dan materi perkuliahannya secara
Gambar 5: Contoh Scribd sebagai media
penyimpanan sekaligus publikasi dokumen seorang
dosen.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
20

online dan mahasiswa dapat
langsung membaca tanpa perlu
mendownload terlebih dahulu.
 Dengan cara ini, seorang dosen
dapat melakukan proses publikasi
pada karya-karyanya.
 Dosen dapat dengan mudah
membagi informasi ebook yang
telah dibacanya melalui rangkaian
aktivitas yang dilakukan oleh sang
dosen.
 Mahasiswa dapat menemukan
literatur lain sehubungan dengan
materi yang dibutuhkan milik para
ilmuwan lain yang juga diupload di
Scribd.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN
21

Youtube
YouTube adalah video-sharing website di
mana pengguna dapat meng-upload,
berbagi, dan tampilan video. Didirikan
pada Febuari 2005 (Hopkins, Jim, October
11, 2006). Sebelum peluncuran YouTube
pada tahun 2005, ada beberapa metode
yang mudah tersedia bagi pengguna
komputer biasa yang ingin memposting
video secara online. Dengan antarmuka
sederhana, YouTube memungkinkan bagi
siapa saja dengan koneksi Internet untuk
mengirim video yang pemirsa di seluruh
dunia bisa menonton dalam beberapa
menit. Berbagai macam topik yang dibahas
oleh YouTube telah berubah berbagi video
ke salah satu bagian yang paling penting
dari budaya internet .
Contoh awal dampak sosial dari YouTube
adalah keberhasilan “Paman Bus” video
pada tahun 2006. Ini menunjukkan
percakapan panas antara pemuda dan
orang tua di sebuah bus di Hong Kong,
dan telah dibahas secara luas di media
mainstream.
Cara menggunakan Youtube sebagai
fasilitas freebies e-learning, adalah sebagai
berikut :
 Sebagai media penyimpanan dan
publikasi video-video tutorial dari
proses pembelajaran yang
memerlukan langkah-langkah
detail dalam setiap sesi
pembelajaran.
 Sebagai media informasi tentang
obyek yang tidak dapat dikunjungi
secara detail menyangkut suasana
yang terekam dalam gerak dan
suara.

Daftar Pustaka :

Hopkins, Jim (October 11, 2006).
http://www.usatoday.com/tech/news/
2006-10-11-youtube-karim_x.htm.
Retrieved November 29, 2008.
Martin, Richard (2001-08-06). "The
Razor's Edge". The Industry
Standard.
Red Herring, "VCs Count on
Multiply.com".
http://www.redherring.com/Home/22
757
"Publishers, Authors Weigh Merits of
Scribd".
http://www.publishersweekly.com/article/
CA6640708.html?q=scribd/.

Gambar 6 : Youtube sebagai media e-learning berupa
video-video turorial.
Gambar 7: Contoh tampilan youtube untuk penyimpanan
video tutorial
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
22

KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
Oleh: Ir. Loekman Mohamadi. MSc.


Abstraksi
Peranan Ruang Publik dapat memberikan kharakter kotanya dan pada
umumnya memiliki fungsi interaksi sosial bagi masyarakat, kegiatan
ekonomi rakyat dan tempat apresiasi budaya. Secara langsung nilai
komersial yang ditawarkan tidak begitu menjanjikan bagi investor yang
berminat berkiprah menanamkan modalnya, karena pangsa pasar yang
sebagain besar terdiri dari masyarakat ber-penghasilan rendah, sehingga
tidak dapat diandalkan untuk pengembalian modalnya.


1. Latar Belakang
Pembangunan perkotaan hampir selalu
disertai dengan alih fungsi lahan. Hal
ini telah menimbulkan gejala
menurunnya daya dukung lingkungan
terutama lahan yang menopang
kehidupan masyarakat di kawasan
perkotaan.
Pembangunan daerah perkotaan
mempunyai kecenderungan untuk
meminimalkan ruang terbuka hijau.
Lahan-lahan hijau yang ditanami
tumbuhan banyak dialih-fungsikan
menjadi pertokoan, pemukiman,
tempat rekreasi, industri dan lain-lain.
Ternyata pembangunan perkotaan
selama ini hanya maju secara ekonomi
namun mundur secara ekologi.
Padahal kestabilan kota secara ekologi
sangat penting, sama pentingnya
dengan nilai kestabilannya secara
ekonomi.
Oleh karena terganggunya
kestabilan ekosistem perkotaan,
maka alam
menunjukkan reaksinya berupa :
meningkatnya suhu udara di
perkotaan, penurunan air tanah,
banjir/genangan, penurunan
permukaan muka tanah, pencemaran
air, pencemaran udara seperti
meningkatnya kadar CO,
karbondioksida, oksida nitrogen dan
belerang, debu, suasana yang gersang,
bising dan
kotor.
Hijaunya kota tidak hanya menjadikan
kota itu indah dan sejuk namun aspek
kelestarian, keserasian, keselarasan,
dan keseimbangan sumberdaya alam,
yang pada gilirannya akan membawa
dampak berupa kenyamanan,
kesegaran, terbebasnya kota dari
polusi dan kebisingan serta sehat dan
cerdasnya warga kota.
Peranan Ruang Publik dapat
memberikan kharakter kotanya dan
pada umumnya memiliki fungsi
interaksi sosial bagi masyarakat,
kegiatan ekonomi rakyat dan tempat
apresiasi budaya. Secara langsung
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
23

nilai komersial yang ditawarkan tidak
begitu menjanjikan bagi investor yang
berminat berkiprah menanamkan
modalnya, karena pangsa pasar yang
sebagain besar terdiri dari masyarakat
ber-penghasilan rendah, sehingga
tidak dapat diandalkan untuk
pengembalian modalnya. Padahal
fungsi Ruang publik dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Sebagai pusat interaksi,
komunikasi masyarakat baik formal,
seperti upacara upacara bendera,
sholat Ied pada Hari Idul Fitri, dan
peringatan peringatan yang lain;
informal, seperti pertemuan pertemuan
individual, kelompok masyarakat
dalam acara santai dan rekreatif atau
tempat bermain/ olahraga anak2 dan
dewasa.
b. Sebagai ruang terbuka yang
menampung koridor koridor jalan
yang menuju kearah ruang publik
tersebut dan sebagai ruang pengikat
dilihat dari struktur kota, sekaligus
sebagai pembagi ruang ruang fungsi
bangunan disekitamya serta ruang
untuk transit bagi masyarakat yang
akan pindah kearah tujuan lain.
c. Sebagai tempat kegiatan
Pedagang Kaki Lima yang menjajakan
makanan dan minuman, pakaian,
souvenir, dan jasa entertaimen seperti
tukang sulap, tarian kera dan ular, dan
sebagainya terutama dimalam hari.
Sebagai paru paru kota yang semakin
padat, sehingga masyarakat banyak
yang memanfaatkan sebagai tempat
olah raga, bermain dan santai bersama
keluarga.
Seiring dengan perkembangan
perekonomian kota yang semakin
meningkat banyak investor yang
mengincar ruang ruang publik kota
sebagai tempat bisnis. Karena secara
langsung dinilai beberapa pihak
bahwa pemanfaatan ruang ruang
publik kota tersebut tidak banyak
memberikan kontribusi yang berarti,
sehingga banyak yang bersikeras
untuk merubah ke fungsi ekonomi
yang lebih menguntungkan. Dimasa
mendatang pada setup program yang
akan merubah fungsi ruang publik
dengan fungsi lain harus melalui
proses yang melibatkan pendapat atau
aspirasi masyarakat kota. Sehingga
tidak menimbulkan kerawanan sosial
yaqg berdampak pada suasana kota.


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
24





Hijaunya kota tidak hanya menjadikan
kota itu indah dan sejuk namun aspek
kelestarian, keserasian, keselarasan,
dan keseimbangan sumberdaya alam,
yang pada gilirannya akan membawa
dampak berupa kenyamanan,
kesegaran, terbebasnya kota dari polusi
dan kebisingan serta sehat dan
cerdasnya warga kota.
Peranan Ruang Publik dapat
memberikan kharakter kotanya dan
pada umumnya memiliki fungsi
interaksi sosial bagi masyarakat,
kegiatan ekonomi rakyat dan tempat
apresiasi budaya. Secara langsung
nilai komersial yang ditawarkan
tidak begitu menjanjikan bagi
investor yang berminat berkiprah
menanamkan modalnya, karena
pangsa pasar yang sebagain besar
terdiri dari masyarakat ber-
penghasilan rendah, sehingga tidak
dapat diandalkan untuk
pengembalian modalnya. Padahal
fungsi Ruang publik dapat diuraikan
sebagai berikut :

a. Sebagai pusat interaksi,
komunikasi masyarakat baik
formal, seperti upacara upacara
bendera, sholat Ied pada Hari Idul
Fitri, dan peringatan peringatan
yang lain; informal, seperti
pertemuan pertemuan individual,
kelompok masyarakat dalam acara
santai dan rekreatif atau tempat
bermain/ olahraga anak2 dan
dewasa.
b. Sebagai ruang terbuka yang
menampung koridor koridor jalan
yang menuju kearah ruang publik
tersebut dan sebagai ruang
pengikat dilihat dari struktur kota,
sekaligus sebagai pembagi ruang
ruang fungsi bangunan disekitamya
serta ruang untuk transit bagi
masyarakat yang akan pindah
kearah tujuan lain.
c. Sebagai tempat kegiatan Pedagang
Kaki Lima yang menjajakan
makanan dan minuman, pakaian,
souvenir, dan jasa entertaimen
seperti tukang sulap, tarian kera
dan ular, dan sebagainya terutama
dimalam hari.
Sebagai paru paru kota yang
semakin padat, sehingga
masyarakat banyak yang
memanfaatkan sebagai tempat olah
raga, bermain dan santai bersama
keluarga.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
25

Seiring dengan perkembangan
perekonomian kota yang semakin
meningkat banyak investor yang
mengincar ruang ruang publik kota
sebagai tempat bisnis. Karena secara
langsung dinilai beberapa pihak bahwa
pemanfaatan ruang ruang publik kota
tersebut tidak banyak memberikan
kontribusi yang berarti, sehingga banyak
yang bersikeras untuk merubah ke fungsi
ekonomi yang lebih menguntungkan.
Dimasa mendatang pada setup program
yang akan merubah fungsi ruang publik
dengan fungsi lain harus melalui proses
yang melibatkan pendapat atau aspirasi
masyarakat kota. Sehingga tidak
menimbulkan kerawanan sosial yang
berdampak pada suasana kota.
Sebagai paru paru kota yang semakin
padat, sehingga masyarakat banyak yang
memanfaatkan sebagai tempat olah raga,
bermain dan santai bersama keluarga.
Dengan berkembangnya kawasan
perkotaan yang cenderung
mengalihfungsikan lahan dan kurang
mempertimbangkan ruang terbuka hijau,
maka dampak yang dirasakan adalah
menurunnya kualitas lingkungan hidup.



SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
26

Beberapa kota besar telah membangun
dan mengembangkan hutan kota untuk
mengantisipasi masalah tersebut di atas,
namun ada juga pembangunan hutan
kotanya masih dalam tarap
perencanaan.


1. Pengertian Kota.
HARRIS dan ULLMAN (1945)
melihat kota sebagai pusat untuk
permukiman dan pemanfaatan bumi
oleh manusia. Manusia disitu unggul
untuk mengekspolitasi bumi, hal ini
dibuktikan dengan adanya pertumbuhan
kota yang sangat pesat dan mekar
secara terus menerus. Tetapi
senyampang mekar dan tumbuh, terjadi
pula pemiskinan dan masalah bagi
manusianya, sehingga muncul berbagai
permasalahan sosial didalamnya.

Adapun dizaman modern seperti
sekarang ini, pusat pusat kota dinegara
negara kapitalis berupa Central
Business District, sedang pencakar
langit sebagai status simbol peradaban
melambangkan kekuatan dan
kemampuan teknologi manusia.
Sementara di indonesia perkembangan
kota dicerminkan dengan menjamurnya
mall-mall, super mall, dan hyper
market yang nota bene adalah kegiatan
usaha padat modal. Di negara negara
sosialis/ komunis pusat pusat kotanya
selalu diisi dengan bangunan pemimpin
partai. Jelas bahwa kota kota itu bukan
hanya sekedar kumpulan dari bangunan
bangunan gedung, tetapi dibalik itu
semua melambangkan kemajuan aneka
ragam budaya, ilmu pengetahuan, dan
teknologi, serta kekuatan
perekonomian.
Sedang dalam Sensus Penduduk
Indonesia tahun 1990, Biro Pusat
Statistik (BPS) mendefinisikan daerah
perkotaan secara fungsional. Daerah
daerah yang jumlah penduduknya
66.000 jiwa lebih dikatagorikan sebagai
daerah perkotaan, asal memenuhi
beberapa persyaratan sebagai berikut :
 Mempunyai kepadatan lebih dari
5.000 jiwa per kilometer persegi,
 Kurang dari 25 persen rumah
tangganya bekerja disektor
pertanian,
 Memiliki sekurang kurangnya
delapan fasilitas modern yang
meliputi listrik, air leideng, rumah
sakit, Sekolah Lanjutan Atas
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
27

(SMA), pasar, bank, kantor pos, dan
sebagainya.
Kesan orang orang terhadap bangunan,
utamanya lingkungan, atau kota secara
keseluruhan lebih dari sekedar dari
kesan visual semata. Tetapi dibalik itu
semua terkandung banyak sekali
berbagai kesan lainnya, kenangan,
pengalaman, harapan, bau/ aroma,
kekacauan, kemacetan, kenangan
perjuangan hidup dan mati, dan
kenangan lainnya yang masing masing
ini akan memberi pengaruh khusus
pada masing masing orang yang
mengalami/ melihatnya. Dari suasana
ini bagian bagian kota akan
memberikan kesan tersendiri bagi
warga kota dan kadang satu dan lainnya
tidak sama pengaruhnya atau
sebaliknya. Hal paling penting dalam
memberikan image/ kesan pada
warganya adalah adanya kesamaan
kesan bagi masing masing orang,
misalnya pada bangunan tertentu
didalam kota atau bagian bagian
lainnya.
Beberapa tahun yang lalu Prof. Kevin
Lynch (1960) mengadakan suatu studi
yang meneliti kesan orang orang warga
suatu kota terhadap kota mereka. Hasil
penelitiannya ini kemudian diterbitkan
dalam suatu buku berjudul ”The Image
of City”, dan ia menemukan suatu
temuan adanya kesamaan persepsi/
kesan/ image dari warga kota terhadap
bagian kota mereka yaitu berupa bentuk
bentuk kota dan karya arsitektur
sebagai bagian dari bentuk kota
tersebut. Dari penemuannya tersebut
didapatkan adanya 5 (lima ) elemen
dasar dalam pembentukan image kota
pada warganya atau orang lain/
pendatang pada suatu kota. Kelima
elemen dasar yang membentuk image
kota tersebut ialah :

saling bertemu dimasing masing batas
wilayahnya, maka akan terjadi suatu
bentuk pertemuan.


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
28


1) Districts,
Suatu kota terbentuk dari beberapa
komponen permukiman atau distrik,
wilayah pusatnya, pinggiran,
wilayah permukiman, wilayah
industri, daerah kampus/
pendidikan, terminal, dan
sebagainya. Kadang ada bagian dari
wilayah/ daerah ini lebih dikenal
dari bagian yang lain. Misalnya,
kawasan Simpang lima merupakan
daerah persimpangan yang paling
terkenal di kota Semarang, atau
kawasan Malioboro untuk kota
Yogyakarta, atau kawasan kauman
hampir semua kota kota di Jawa
mempunyai dan pasti berada di
belakang Masjid besar kota
bersangkutan.






Gb.1). Districts,

2) E d g e s,
Akhir dari suatu distrik adalah
edge/ batas. Beberapa distrik tidak
mempunyai edge sama sekali, tetapi
secara samar batas ini menyatu
dengan daerah distrik lainnya yang
bersebelahan. Ketika dua distrik
saling bertemu dimasing masing
batas wilayahnya, maka akan
terjadi suatu bentuk pertemuan.
Bentuk pertemuan ini kadang
sangat kabur dan tidak jelas, apalagi
untuk kota kota di Indonesia yang
pembagian wilayah distrik biasanya
hanya dibatasi oleh adanya jaringan
jalan.






Gb.2). E d g e s.

3) Landmarks,
Sosok visual yang paling menonjol
dari satu kota disebut dengan landmarks.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
29

Beberapa landmarks biasanya sangat besar/
luas dan tetap dapat terlihat dari kejauhan,
misalnya patung Liberty di New York,
Tugu Monumen Nasional di Jakarta, dan
sebagainya. Tetapi ada beberapa landmarks
yang tidak begitu besar dan hanya terlihat
pada jarak yang relatif dekat, seperti
misalnya sebuah taman, jam kota, atau
sebuah patung kecil disuatu taman kota.
Landmarks merupakan elemen yang
penting, karena ia bisa memberikan arahan
orientasi dan pengenalan wilayah
sekitarnya pada warga kota atau pendatang.
Landmark yang bagus adalah bila ia bisa
menyatu secara harmonis dengan
lingkungan sekitar kota bersangkutan.








Gb.3). Landmarks.


4) N o d e s,
Node adalah sebuah pusat suatu
kegiatan. Secara aktual ini bisa
berupa salah satu landmarks, tetapi
ia dikenali lebih karena peran
aktifnya. Dimana landmarks lebih
dikenal karena bentuk phisiknya
sebagai suatu obyek, nodes dikenal
karena adanya peran aktif untuk
menjalankan aktifitasnya.







Gb.4). N o d e s .

Pada skala kota, perancangan kota sangat
berkaitan dengan kelima elemen visual
utama ini (Lynch, 1960). Konsep yang
dikemukan para teoritisi dan praktisi
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
30

terkemuka tersebut telah diterapkan
dibeberapa banyak rencana tataguna lahan
kota. Apapun konsep khusus yang
digunakan, ada kesepakatan umum bahwa
perancangan kota haruslah mengenali dan
menunjang elemen visual tersebut dengan
meningkatkan kualitas esetetika, derajad
kepentingan sebagai acuan titik
pemandangan kota, dan kontribusinya
kepada kesadaran dan gengsi warga kota.

Ia (Lynch) menyimpulkan bahwa orang
sangat memperhatikan lingkungan fisik
kota, mereka sering membicarakan,
menggambarkan dan membuat peta
lingkungannya dalam subyek-subyek yang
berbeda serta menerapkan beberapa
peraturan untuk mendukung
keberadaannya. Hal ini juga sangat jelas
bahwa orang orang mempunyai kesan yang
berbeda pada masing masing kota, kesan
yang mereka dapat setiap datang kesuatu
kota akan terakumulasi dan menjadi kesan
yang sangat pribadi pada kota tersebut.

2. Ruang Publik (Ruang Terbuka
Hijau/ RTH)
a) Pengertian/Definisi:
Sebagai salah satu unsur kota yang penting
khususnya dilihat dari fungsi ekologis,
maka betapa sempit atau kecilnya ukuran
RTH Kota (Urban Green Open Space)
yang ada, termasuk halaman
rumah/bangunan pribadi, seyogyanya dapat
dimanfaatkan sebagai ruang hijau yang
ditanami tetumbuhan. Dari berbagai
referensi dan pengertian tentang eksistensi
nyata sehari-hari, maka RTH dapat
dijabarkan dalam pengertian, sebagai:
Pengertian RTH, (1) adalah suatu lapang
yang ditumbuhi berbagai tetumbuhan,
pada berbagai strata, mulai dari penutup
tanah, semak, perdu dan pohon (tanaman
tinggi berkayu); (2) “Sebentang lahan
terbuka tanpa bangunan yang mempunyai
ukuran, bentuk dan batas geografis
tertentu dengan status penguasaan apapun,
yang di dalamnya terdapat tetumbuhan
hijau berkayu dan tahunan (perennial
woody plants), dengan pepohonan sebagai
tumbuhan penciri utama dan tumbuhan
lainnya (perdu, semak, rerumputan, dan
tumbuhan penutup tanah lainnya), sebagai
tumbuhan pelengkap, serta benda-benda
lain yang juga sebagai pelengkap dan
penunjang fungsi RTH yang bersangkutan”
(Purnomohadi, 1995).
Sedang Ruang Terbuka (RT), tak harus
ditanami tetumbuhan, atau hanya sedikit
terdapat tetumbuhan, namun mampu
berfungsi sebagai unsur ventilasi kota,
seperti plaza dan alun-alun. Tanpa RT,
apalagi RTH, maka lingkungan kota akan
menjadi „Hutan Beton‟ yang gersang, kota
menjadi sebuah pulau panas (heat island)
yang tidak sehat, tidak nyaman, tidak
manusiawi, sebab tak layak huni.
Secara hukum (hak atas tanah), RTH bisa
berstatus sebagai hak milik pribadi
(halaman rumah), atau badan usaha
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
31

(lingkungan skala
permukiman/neighborhood), seperti:
sekolah, rumah sakit, perkantoran,
bangunan peribadatan, tempat rekreasi,
lahan pertanian kota, dan sebagainya),
maupun milik umum, seperti: Taman-
taman Kota, Kebun Raja, Kebun Botani,
Kebun Binatang, Taman Hutan
Kota/Urban Forest Park, Lapangan
Olahraga (umum), Jalur-jalur Hijau (green
belts dan/atau koridor hijau): lalu-lintas,
kereta api, tepian laut/pesisir pantai/sungai,
jaringan tenaga listrik: saluran utama
tegangan ekstra tinggi/SUTET, Taman
Pemakaman Umum (TPU), dan daerah
cadangan perkembangan kota (bila ada).

b) Karakter dan Kriteria ruang
publik
Ruang publik harus dapat
menciptakan karakter kota dan pada
umumnya memiliki fungsi tempat
berinteraksi sosial bagi masyarakat.

1). Sebagai ruang publik, fungsi
Ruang Terbuka Hijau (open
Space) dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Sebagai pusat interaksi dan
komunikasi masyarakat,
baik formal maupun
informal,
b. Sebagai ruang terbuka yang
menampung koridor koridor
jalan yang menuju kearah
ruang publik tersebut dan
sebagai pengikat fungsi kota
lain disekitarnya sekaligus
sebagi area transit bagi
masyarakat yang akan
berpindah kearah lain,
c. Sebagai paru paru kota yang
semakin padat, sehingga
masyarakat banyak yang
dapat memanfaatkan
sebagai tempat bermain dan
santai bersama handai
taulan.

2). Sedang kriteria sebagai ruang
publik secara esensial ada tiga
yakni:
a. Dapat memberi makna atau
arti bagi masyarakat
(meaningful),
b. Tanggap terhadap semua
keinginan pengguna dan
dapat mengakomodasi
kegiatan yang ada
(responsive),
c. Dapat menerima kehadiran
berbagai lapisan masyarakat
dengan bebas tanpa ada
diskriminasi (democratic).

3). Selanjutnya menurut Kevin
Lynch (1981), sebuah ruang
publik harus mempunyai lima
dimensi tampilan (Five
performance dimension), yaitu:
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
32

a. Vitalitas (vitality),
Menitik beratkan pada suatu
sistim keamanan, kecocokan
ukuran atau kelayakan
antara tuntutan manusia
dalam hal temperatur,
anatomi tubuh, dan fungsi
tubuh,
b. Kepekaan (sense),
Dimensi kepekaan yang
dimaksud disini meliputi
bentuk, kualitas, dan
identitas lingkungan,
c. Kelayakan (fit),
Menitik beratkan pada
kelayakan antara ruang dan
karakter bentuk yang ada,
d. Pencapaian (access),
Memperhatikan kemampuan
orang menuju ketempat satu
ke yang lain melalui ruang
publik ini,
e. Pemeriksaan (control),
Diarahkan pada ruang ruang
kegiatan, tempat rekreasi.

c) Bentuk Ruang Terbuka Hijau
(RTH):
Berdasarkan bobot
kealamiahannya:
1). RTH Alami antara lain; habitat
liar/alami, kawasan lindung
2). RTH Non Alami atau RTH
Binaan antara lain; pertanian
kota, pertamanan kota,
lapangan olah raga,
pemakaman.
3). Berdasarkan sifat dan karakter
ekologisnya
(a). RTH kawasan (areal,
non linear)
(b). RTH jalur (koridor,
linear)
4). Berdasarkan penggunaan
lahan atau kawasan
fungsionalnya:
(a). RTH kawasan
perdagangan,
(b). RTH kawasan
perindustrian,
(c). RTH kawasan
permukiman,
(d). RTH kawasan pertanian,
dan
(e). RTH kawasan-kawasan
khusus, seperti
pemakaman, hankam,
olah raga, alamiah.
5). Berdasarkan Status
kepemilikannya:
(a). RTH publik, yaitu yang
berlokasi pada lahan-
lahan publik atau lahan
yang dimiliki oleh
pemerintah (pusat,
daerah),
(b). RTH privat atau non
publik, yaitu yang
berlokasi pada lahan-
lahan milik privat.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
33














d) Fungsi dan Manfaat:
Fungsi RTH terdiri dari fungsi
utama (intrinsik) yaitu fungsi
ekologis, dan fungsi tambahan
(ekstrinsik) yaitu fungsi
arsitektural, sosial, dan fungsi
ekonomi. Dalam suatu wilayah
perkotaan empat fungsi utama ini
dapat dikombinasikan sesuai
dengan kebutuhan, kepentingan,
dan keberlanjutan kota.
Manfaat RTH dibagi atas manfaat
langsung (dalam pengertian cepat
dan bersifat tangible) seperti
mendapatkan bahan-bahan untuk
dijual (kayu, daun, bunga),
kenyamanan fisik (teduh, segar),
keinginan dan manfaat tidak
langsung (berjangka panjang dan
bersifat intangible) seperti
perlindungan tata air dan konservasi
hayati atau keanekaragaman hayati.



e) Pola dan Struktur Fungsional
Pola RTH terdiri dari:
1). RTH struktural, merupakan
pola RTH yang dibangun oleh
hubungan fungsional antar
komponen pembentuknya
yang mempunyai pola hierarki
planologis yang bersifat
antroposentris. RTH tipe ini
didominasi oleh fungsi-fungsi
non ekologis dengan struktur
RTH binaan yang
berhierarkhi.
2). RTH non struktural.
RTH non struktural
merupakan pola RTH yang
dibangun oleh hubungan
fungsional antar komponen
pembentuknya yang
umumnya tidak mengikuti
pola hierarki planologis
karena bersifat ekosentris.
RTH tipe ini memiliki fungsi






R
T
H
Fisik Struktur Kepemilikan

RTH
Alami
RTH Non-
alami
Pola
Ekologis
Pola
Planologis
RTH Publik
RTH Privat
Fungsi
Ekologis
Sosial/
Budaya
Arsitektural
Ekonomi
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
34

ekologis yang sangat dominan
dengan struktur RTH alami
yang tidak berhierarki.

f) Tipologi Ruang Terbuka Hijau
Dari perkembangan sejarah ruang
publik kota memberi pandangan
yang lebih luas tentang bentuk
variasi dan karakternya. Ruang
publik ini berkembang sejalan
dengan kebutuhan manusia dalam
melakukan kegiatan bersama,
apakah berkaitan dengan sosial,
ekonomi, dan budaya. Sikap dan
perilaku manusia yang dipengaruhi
oleh perkembangan teknologi juga
berpengaruh terhadap tipologi
ruang publik kota yang
direncanakan. Asesori ruang
publik yang harus disediakan
semakin berkembang, baik dari
segi kualitas desain, bahan dan
perawatannya. Tipologi ruang
publik ini banyak variasi yang
kadang kadang memiliki perbedaan
yang tipis sehingga seolah olah
memberi pengertian yang tumpang
tindih (overlapping) .
Menurut Stephen Carr (1992)
tipologi ruang publik dibagi
menjadi beberapa tipe dan
karakter sebagai berikut :

1). Taman Nasional (National
Park)
Skala pelayanan taman ini
adalah tingkat nasional,
lokasinya berada dipusat
kota seperti Jakarta yang
berpengaruh terhadap
kegiatan nasional.
Bentuknya berupa zona
ruang terbuka yang memiliki
peran sangat pent
i
ng dengan
luasan melebihi taman taman
kota yang lain. Contohnya
adalah Taman Monumen
Nasional ( Monas ) Jakarta.
Kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan disini berskala
nasional. Disamping
sebagai landmark kota
Jakarta juga dapat sebagai
landmark nasional,
terutama tugu monumen
yang didukung dengan
elemen asesori kota yang
lain seperti air mancur,
jalan pedestrian yang
diatur dengan pola pola
yang menarik, disamping
taman dan penghijauan
disekitar kawasan tersebut.

2). Taman Pusat kota (Downtown
parks )
Taman ini berada
dikawasan pusat kota,
berbentuk lapangan hijau
yang dikelilingi pohon
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
35

pohon peneduh atau berupa
hutan kota dengan pola
tradisional atau dapat pula
dengan desain
pengembangan baru. (
Contoh : Alun-alun kota
/Simpang 5 )
Areal hijau kota yang
digunakan untuk kegiatan
kegiatan santai dan berlokasi
dikawasan perkantoran,
perdagangan atau
perumahan kota.(Contoh :
Lapangan Hijau di
lingkungan perumahan atau
perdagangan/perkantoran ).

3). Taman Lingkungan (
Neighborhood park )
Ruang terbuka yang
Dikembangkan dilingkungan
perumahan untuk kegiatan
umum seperti bennain anak
anak, olah raga dan
bersantai bagi masyarakat
disekitarnya. (Contoh :
Taman kompleks perumahan
).

4). Taman kecil ( Mini park )
Taman kecil yang dikelilingi
oleh Bangunan bangunan,
kemungkinan termasuk air
mancur yang digunakan untuk
mendukung suasana taman
tersebut. (Contoh : taman
taman dipojok-pojok
lingkungan/setback bangunan
).

3. Ruang Publik dalam konteks Tata
Ruang Kota
Pada prinsipnya tujuan tata ruang
berdasarkan Undang undang RI No. 26
Tahun 2007 adalah Penyelenggaraan
penataan ruang bertujuan untuk
mewujudkan ruang wilayah nasional
yang aman, nyaman, produktif, dan
berkelanjutan berlandaskan Wawasan
Nusantara dan Ketahanan Nasional
dengan:
a). terwujudnya keharmonisan antara
lingkungan alam dan lingkungan
buatan;
b). terwujudnya keterpaduan dalam
penggunaan sumber daya alam dan
sumber daya buatan dengan
memperhatikan sumber daya
manusia; dan
c). terwujudnya pelindungan fungsi
ruang dan pencegahan dampak
negatif terhadap lingkungan akibat
pemanfaatan ruang.
Sedang dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia, penataan
ruang diselenggarakan berdasarkan
asas:
a). keterpaduan;
b). keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan;
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
36

c). keberlanjutan;
d). keberdayagunaan dan
keberhasilgunaan;
e). keterbukaan;
f). keterbukaan;
g). kebersamaan dan kemitraan;
h). pelindungan kepentingan umum;
i). kepastian hukum dan keadilan; dan
akuntabilitas.

Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Wilayah Perkotaan
1). Kota mempunyai luas yang
tertentu dan terbatas
Permintaan akan pemanfaatan
lahan kota untuk pembangunan
berbagai fasilitas perkotaan
banyak menyita lahan-lahan
ruang terbuka. Keberadaan RTH
sering dianggap sebagai lahan
cadangan dan tidak ekonomis.
Di lain pihak, kemajuan alat dan
pertambahan jalur transportasi
dan sistem utilitas, telah
menambah jumlah bahan
pencemar dan telah menimbulkan
berbagai ketidak nyamanan di
lingkungan perkotaan.
Untuk mengatasi kondisi
lingkungan kota seperti ini sangat
diperlukan RTH sebagai suatu
teknik bioengineering dan
bentukan biofilter yang relative
lebih murah, aman, sehat, dan
menyamankan.
2). Tata ruang kota penting dalam
usaha untuk efisiensi sumberdaya
kota dan juga efektifitas
penggunaannya, baik sumberdaya
alam maupun sumberdaya
lainnya.
Ruang-ruang kota yang ditata
terkait dan saling
berkesinambungan ini
mempunyai berbagai pendekatan
dalam perencanaan dan
pembangunannya. Tata guna
lahan, sistem transportasi, dan
sistem jaringan utilitas merupakan
tiga faktor utama dalam menata
ruang kota. Dalam perkembangan
selanjutnya, konsep ruang kota
selain dikaitkan dengan
permasalahan utama perkotaan
yang akan dicari solusinya juga
dikaitkan dengan pencapaian
tujuan akhir dari suatu penataan
ruang yaitu untuk kesejahteraan,
kenyamanan, serta kesehatan
warga dan kotanya.
3). Berbagai fungsi RTH (fungsi
ekologis, sosial, ekonomi, dan
arsitektural) dan nilai estetika
yang dimilikinya (obyek dan
lingkungan) dapat meningkatkan
kualitas lingkungan juga dapat
menjadi nilai kebanggaan dan
identitas kota.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
37

4). Keberadaan RTH penting dalam
mengendalikan dan memelihara
integritas dan kualitas
lingkungan. Pengendalian
pembangunan wilayah perkotaan
harus dilakukan secara
proporsional dan berada dalam
keseimbangan antara
pembangunan dan fungsi-fungsi
lingkungan.
5). Kelestarian RTH suatu wilayah
perkotaan harus disertai dengan
ketersediaan dan seleksi tanaman
yang sesuai dengan arah rencana
dan rancangannya.
6).





SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
38






















RENCANA TATA RUANG
Rencana
Sistem Pusat
Permukiman
Rencana Sistem
Jaringan Prasarana

Peruntukan
Kawasan
Lindung
Peruntukan
Kawasan Budidaya

Sistem Wilayah
Sistem internal
Perkotaan
Rencana Pola Ruang Rencana Struktur Ruang
Sistem Jaringan
Transportasi
Sistem Jaringan
Energi
Sistem Jaringan
Telekomunikasi
Sistem
Persampahan &
Sanitasi
Sistem Jaringan
SDA, dll.
Kegiatan
Pelestarian
Lingkungan Hidup
Kegiatan Sosial
Kegiatan Budaya
Kegiatan Ekonomi
Kegiatan
Pertahanan &
Keamanan
Ps. 17 ayat (1)
Ps. 17 ayat (2)
Ps. 17 ayat (3)
Ps. 17 ayat (4)
dalam RTRW ditetapkan kawasan hutan
paling sedikit 30 %dari luas DAS
Ps. 17 ayat (5)
UU No: 26/ 2007
CONTOH DAERAH ALIRAN SUNGAI
YANG LUAS KAWASAN HUTANNYA
KURANG DARI 30 %
KAWASAN HUTAN DI DAS
CILIWUNG KURANG LEBIH 15 %

Pasal 17 ayat (5) UUPR memuat: dalam rangka pelestarian lingkungan dalam
rencana tata ruang wilayah ditetapkan kawasan hutan paling sedikit 30 (tiga
puluh) persen dari luas daerah aliran sungai.
Penguatan Aspek Pelestarian Lingkungan Hidup
Dalam Rencana Tata Ruang
UU No: 26/ 2007
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
39




RUANG TERBUKA
RUANG TERBUKA HIJAU
(MIN 30% LUAS KOTA)
RTH PRIVAT
RUANG TERBUKA NON HIJAU
RUANG TERBUKA NON HIJAU PUBLIK
RTH PUBLIK
(20% LUAS KOTA)
RUANG TERBUKA
NON HIJAU PRIVAT
Ps. 29 ayat (1)
Ps. 29 ayat (2)
Ps. 29 ayat (3)
PENGATURAN PROPORSI RUANG TERBUKA HIJAU PADA WILAYAH
KOTA
UU No: 26/ 2007
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KOTA dan PENYEDIAAN RUANG PUBLIK (pengantar)
40

RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)
WILAYAH PERKOTAAN
FUNGSI
EKOLOGIS
FUNGSI
EKONOMI
FUNGSI
SOSIAL
FUNGSI
ARSITEKTURAL
BENTUK
EKOLOGIS
BENTUK
ARSITEKTURAL
BENTUK
SOSIAL
BENTUK
EKONOMI
DAYA DUKUNG
EKOLOGIS
KESELARASAN,
KESESUAIAN,
KEINDAHAN
Taman lingkungan &
perumahan, lapangan OR,
kebun raya, green belt
DAYA DUKUNG
SOSIAL
Pertanian kota,
perkebunan, wisata agro,
kebun pem-bibitan, green
belt
MANFAAT
EKONOMI
Taman kota, taman
rekreasi, parkway,
kawasan fungsional &
khusus
Hutan kota, koridor
sungai, sempadan badan
air pantai, bird sanctuary,
green belt
M
a
n
-
f
a
a
t


t
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t


t
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t


t
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t


t
a
k

L
a
n
g
s
u
n
g

M
a
n
-
f
a
a
t

L
a
n
g
s
u
n
g

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
41

PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG
PUBLIK DI PERKOTAAN

Ir. Sumarwanto, MT

ABSTRAK

Mengacu pada Undang-Undang Penataan Ruang serta dikeluarkannya Instruksi
Menteri Dalam Negeri nomor 14 tahun 1988 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau
Kota yang bertujuan (1) Meningkatkan mutu lingkungan hidup perkotaan yang
nyaman, segar, bersih, dan sebagai sarana pengamanan lingkungan dan (2) mencitakan
keserasian lingkungan alam dan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat.
Dalam konteks pemanfaatan, pengertian ruang terbuka hijau kota mempunyai
lingkup lebih luas dari sekedar pengisian hijau tumbuh-tumbuhan, sehingga mencakup
pula pengertian dalam bentuk pemanfaatan ruang terbuka bagi kegiatan masyarakat.
Menurut Dinas Tata Kota, ruang terbuka hijau kota meliputi : (a) Ruang
Terbuka Hijau Makro, seperti kawasan pertanian, perikanan, hutan lindung, hutan
kota, dan landasan pengaman bandar udara, (b) Ruang Terbuka Medium, sepertia
kawasan area pertamanan (city park), sarana olahraga, sarana pemakaman umum, (c)
Ruang Terbuka Hijau Makro, lahan terbuka yang ada di setiap kawasan permukiman
yang disediakan dalam bentuk fasilitas umum seperti taman bermain (play ground),
taman lingkungan (community park), dan lapangan olahraga.
Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kota kondisi ruang publik
yang ada seperti lapangan (open space) dan taman kota justru mengalami degradasi
karena adanya alih fungsi tata guna lahan.



1. Ruang Terbuka Umum Dan Khusus
Pengertian tentang Ruang Terbuka
Umum dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Bentuk dasar dari ruang terbuka selalu
terletak di luar massa bangunan.
2) Dapat dimanfaatkan dan dipergunakan
oleh setiap orang (warga)
3) Memberi kesempatan untuk
bermacam-macam kegiatan (multi
fungsi)
Contoh ruang terbuka umum
adalah jalan, pedestrian taman
lingkungan, plaza, lapangan olahraga,
taman kota, dan taman rekreasi.

Sedangkan pengertian dari Ruang Terbuka
Khusus, dapat diuraikan sebagai berikut :
Bentuk dasar ruang terbuka selalu terletak
di luar massa bangunan.
Dimanfaatkan untuk kegiatan terbatas dan
dipergunakan untuk keperluan
khusus/spesifik.

Contoh ruang terbuka khusus adalah taman
rumah tinggal, taman lapangan upacara,
daerah lapangan terbang dan daerah untuk
latihan kemiliteran.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
42


2. Ruang Terbuka Ditinjau Dari
Kegiatannya
Menurut kegiatannya, ruang terbuka terbagi atas
2 (dua) jenis ruang terbuka, yaitu ruang terbuka
aktif dan ruang terbuka pasif.
1) Ruang terbuka aktif, adalah ruang terbuka
yang mempunyai unsur-unsur kegiatan
didalamnya misalkan bermain, olahraga,
jalan-jalan. Ruang terbuka ini dapat berupa
plaza, lapangan olahraga, tempat bermain
anak dan remaja, penghijauan tepi sungai
sebagai tempat rekreasi.
2) Ruang terbuka pasif, adalah ruang terbuka
yang didalamnya tidak mengandung unsur-
unsur
kegiatan
manusia
misalkan,
penghijauan
tepian jalur
jalan,
penghijauan tepian rel kereta api,
penghijauan tepian bantaran sungai,
ataupun penghijauan daerah yang bersifat
alamiah. Ruang terbuka ini lebih berfungsi
sebagai keindahan visual dan fungsi
ekologis belaka.
3. Ruang Terbuka Ditinjau Dari Segi
Bentuk
Menurut Rob Rimer (Urban Space)
bentuk ruang terbuka secara garis besar dapat
dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu ruang
terbuka berbentuk memanjang (koridor) dan
ruang terbuka berbentuk membulat.
1) Ruang terbuka bentuk memanjang (koridor)
pada umumnya hanya mempunyai batas
pada sisi-sisinya, misalkan bentuk ruang
terbuka jalan, dan bentuk ruang terbuka
sungai.
2) Ruang terbuka bentuk membulat pada
umumnya mempunyai batas
disekelilingnya, misalkan, bentuk ruang
lapangan upacara, bentuk ruang area
rekreasi, dan bentuk ruang area lapangan
olahraga.



4. Ruang Terbuka Ditinjau Dari Sifatnya
Berdasarkan sifatnya ada 2 (dua) jenis ruang
terbuka, yakni ruang terbuka lingkungan dan
ruang terbuka antar bangunan.
1) Ruang terbuka lingkungan adalah ruang
terbuka yang terdapat pada suatu
lingkungan dan sifatnya umum.
2) Ruang terbuka antarbangunan adalah
ruang terbuka yang terbentuk oleh massa
bangunan. Ruang terbuka ini dapat bersifat
umum ataupun pribadi sesuai dengan fungsi
bangunannya.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
43


5. Fungsi Ruang Terbuka
1) Fungsi sosial
Fungsi sosial dari ruang terbuka antara
lain :
a) Tempat bermain dan olahraga;
b) Tempat bermain dan sarana olahraga;
c) Tempat komunikasi sosial;
d) Tempat peralihan dan menunggu;
e) Tempat untuk mendapatkan udara segar;
f) Sarana penghubung antara satu tempat
dengan tempat lainnya;
g) Pembatas di antara massa bangunan;
h) Sarana penelitian dan pendidikan serta
penyuluhan bagi masyarakat utnuk
membentuk kesadaran lingkungan;
i) Sarana untuk menciptakan kebersihan,
kesehatan, keserasian, dan keindahan
lingkungan.
2) Fungsi ekologis
Fungsi ekologis dari ruang terbuka
antara lain :
a) Penyegaran udara, mempengaruhi dan
memperbaiki iklim mikro;
b) Menyerap air hujan;
c) Pengendali banjir dan pengatur tata air;
d) Memelihara ekosistem tertentu dan
perlindungan plasma nuftah;
e) Pelembut arsitektur bangunan.\

6. Sistem Ruang Terbuka Hijau Kota
Secara sistem, ruang terbuka hijau kota
pada dasarnya adalah bagian dari kota yang
tidak terbangun, yang berfungsi menunjang
kenyamanan, kesejahteraan, peningkatan
kualitas lingkungan dan pelestarian alam, dan
umumnya terdiri dari ruang pergerakan linear
atau koridor dan ruang pulau atau oasis
(Spreigen, 1965). Pendapat tersebut juga
ditunjang oleh Krier (1975) yang menyatakan
bahwa ruang terbuka terdiri dari path and
room, sebagai jalur pergerakan dan yang
lainnya sebagai tempat istirahat, kegiatan, atau
tujuan. Hal senada dinyatakan Gosling (1989)
bahwa ruang terbuka di dalam kota dapat
berbentuk man made and natural yang terjadi
akibat teknologi seperti koridor jalan dan
pejalan kaki, bangunan tunggal dan majemuk,
hutan kota, aliran sungai, dan daerah alamiah
yang telah ada sebelumnya. Pada dasarnya
ruang terbuka kota merupakan totalitas
kesatuan yang memiliki keterkaitan dan dapat
digunakan sebagai suatu sistem orientasi.
Mengingat cakupan fungsinya yang
cukup luas, maka ruang terbuka memiliki arti
penting kesehatan, kesejahteraan, keamanan,
dan mampu mendatangkan spirit, kebanggan
melalui penampilannya sedangkan menurut
klasifikasinya dapat dibagi atas : utility open
space, green open space, corridor open space,
multiuse classification (De Chiara, 1982)
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
44

Ruang terbuka kota banyak menentukan
pola bentuk dan tatanan ruang kota untuk
tujuan kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
peningkatan kualitas lingkungan serta
pelestarian alam.
Secara rinci sistem ruang terbuka kota
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Ruang terbuka untuk kaitan produksi,
terdiri dari lahan untuk kehutanan,
pertanian, produksi mineral, sumber air,
komersial, dan rekreasi.
2. Ruang terbuka untuk preservasi sumber
daya alam dan manusia terdiri dari rawa
untuk habitat tertentu, hutan sebagai
kehidupan satwa, bentukan geologi, batu
karang, tempat-tempat bersejarah dan
pendidikan.
3. Ruang terbuka untuk kesehatan dan
kesejahteraan umum terdiri dari lahan untuk
melindungi kualitas air, ruang untuk
penimbunan sampah buangan, ruang untuk
memperbaiki kualitas udara, area rekreasi,
area untuk menyajikan efek visual yang
menarik (bukit, pegunungan, lembah,
danau, dan pantai).
4. Ruang terbuka untuk keamanan umum
terdiri dari waduk pencegahan banjir kanal
dan lapangan terbang.
5. Ruang terbuka sebagai koridor terdiri dari
koridor kabel tegangan tinggi, koridor
jaringan pipa, bantaran sungai, dan jaringan
transportasi kereta api.
7. Peranan RTHK Terhadap Kehidupan
Kota
Kota tidak
hanya
merupakan
kumpulan
gedung-
gedung dan
sarana fisik lainnya. Akan tetapi, sebuah kota
adalah kesatuan antara lingkungan fisik kota
dan warga kota. Dua komponen ekosistem ini
akan selalu berinteraksi selama proses
berkembangnya kota. Perubahan-perubahan
yang bersifat positif akan memberi manfaat bagi
kehidupan warga kota. Kebanyakan kota di
negara berkembang seperti Indonesia dibangun
berdarkan latar belakang agraris, demikian juga
perkembangan kota Jakarta.
Lahan-lahan pertanian di perkotaan yang
merupakan ruang terbuka hijau sudah banyak
berubah fungsi menjadi kawasan permukiman
akan memberikan pengaruh terhadap
kehidupan warga kota. Lahan-lahan pertanian
yang berasa di dalam kota merupakan ruang
terbuka hijau produktif yang memberikan
penghidupan dan sebagian kebutuhan hasil
pertanian bagi warga kota.
8. Peranan RTHK Terhadap Kualitas
Lingkungan Kota
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
45

Penataan ruang terbuka hijau secara
tepat akan mampu berperan meningkatkan
kualitas armosfer kota, penyegaran udara,
menurunkan kadar polusi udara, dan meredam
kebisingan. Penelitian Embleton (1963)
menyatakan bahwa 1 (satu) hektar ruang
terbuka hijau dapat meredam suara pada db
per 30 meter jarak dari sumber suara pada
frekuensi kurang dari 1.000 CPS atau
penelitian Carpenter (1975) dapat meredam
kebisingan 25-80%.
Pada umumnya ruang terbuka hijau
didominasi oleh tanaman dan tumbuhan, di
mana unsure ini banyak berpengaruh terhadap
kualitas udar kota. Tanaman dapat
menciptakan iklim mikro, yaitu adanya
penurunan suhu sekitar, kelembapan yang
cukup dan kadar O2 yang bertambah. Hal ini
dikarenakan adanya proses asimilasi dan
evapotranspirasi dari tanaman. Di samping itu,
tanaman juga dapat menyerap/mengurangi
CO2 di udara yang dihasilkan oleh berbagai
kegiatan industri, kendaran bermotor, dan
sebagainya. Menurut hasil penelitian Gerakls,
1(satu) hektar ruang terbuka hijau dapat
menghasilkan 0.6 ton Oksigen untuk konsumsi
1.500 orang perhari.
Beberapa penelitian juga mengukapkan
bahwa tanaman dengan criteria tertentu dapat
meredam/ mengurangi kebisingan. Kota yang
baik seyogianya dapat menyajikan kebutuhan
yang berhubungan dengan kenyamanan dan
kualitas lingkungan pada tingkat kewajaran
sesuai dengan standar hidup sehat bagi warga
kota.
9. Peranan RTHK Terhadap Kelestarian
Lingkungan

a. Menunjang Tata Guna dan Pelestarian
Air. Kondisi tata air tanah pada cekungan
artesis Jakarta yang sudah semakin buruk
telah tanpak gejalanya, yaitu merembes-
nya air laut jauh ke daratan (salt
intrusion), semakin keringnya sumber-
sumber air bawah tanah, menurunnya kua-
litas air. Keadaan ini dapat diperbaiki
dengan pengembangan system ruang
terbuka hijau yang terencana seperti
program recharging basin, recharging
sink hole, mengeliminir banjir, perbaikan
daerah aliran sungai, dan perluasan area
daerah peresapan air hujan.
b. Menunjang Tata Guna dan Pelestarian
Tanah. Suatu penetapan peruntukan yang
kurang bijaksana dapat menyebabkan
ekosistem terganggu. Oleh karenanya pola
ruang terbuka hijau dalam system tata
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
46

ruang kota dapat dipergunakan sebagai
alat pengendali tata guna tanah secara luas
dan dinamis. Di samping itu,
pengembangan ruang terbuka hijau
mempunyai kemampuan utnuk
memperbaiki kondisi tanah itu sendiri
secar alamiah. Sehingga perlu adanya
program-program perbaikan tanah kritis,
pencegahan erosi, peningkatan kualitas
lingkungan (permukiman, industry, jalur
transportasi, dan sebagainya).
c. Menunjang Pelestaraian Plasma Nuftah.
Dengan adanya pengembangan ruang
terbuka hijau maka diharapkan dapat
diterapkan program penghijauan pada
ruang-ruang terbuka kota. Hal ini
memungkinkan adanya penerapan
berbagai jenis tanaman yang dapat
memberikan keanekaragaman hayati. Di
samping itu, dengan adanya berbagai jenis
vegetasi yang terdapat pada ruang terbuka
hijau, dapat menjadi habitat kehidupan
satwa liar, terutama berbagai jenis burung.
Satwa-satwa tersebut sudah langka/jarang
ditemui di lingkungan perkotaan. Dengan
demikian, ruang terbuka hijau dapat
berfungsi sebagai tempat pelestarian
keanekaragaman jenis flora maupun fauna
dalam upaya pelestarian plasma nutfah.
Bagi pengembangan kota, ruang terbuka
hijau mempunyai peran :
1) Sebagai alat pengukur iklim amplitude
(klimatologis). Penghijauan memperkecil
amplitude variasi yang lebih besar dari
kondisi udara panas ke kondisi udara
sejuk.
2) Penyaring udara kotor (protektif).
Penghijauan dapat mencegah terjadinya
pencemaran udara yang berlebihan oleh
adanya asap kendaraan, asap buangan
industri, dan gas beracun mengambang ke
udara. Melalui proses kimiawi zat hijau
daun dapat mengubah CO2 menjadi O2
juga gas-gas lainnya seperti zat lemas (N)
dan sulfur (S).
3) Sebagai tempat hidup satwa. Pohon
peneduh tepi jalan sebagai tempat hidup
satwa burung/unggas.
4) Sebagai penunjang keindahan (estetika).
Tanaman memiliki bentuk tekstur dan
warnanya yang menarik. Kelebihan ini
menjadikan tanaman sebagai salah satu
elemen yang dapat menunjang keindahan
lingkungan.
5) Mempertinggi kualitas ruang kehidupan
lingkungan. Ditinjau dari sudut planologi,
penghijauan berfungsi sebagai pengikat
dan pemersati elemen-elemen (bangunan)
yang ada di sekelilingnya. Dengan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERAN RUANG TERBUKA HIJAU KOTA PADA RUANG PUBLIK DI PERKOTAAN
47

6) demikian, dapat tercipta lingkungan yang kompak dan serasi.
Adapun manfaat raung terbuka hijau di wilayah
perkotaan antara lain sebagai berikut.
1) Memberikan kesegaran, kenyamanan, dan
keindahan lingkungan sebagai paru-paru
kota.
2) Memberikan lingkungan yang bersih dan
sehat bagi penduduk kota.
3) Memberikan hasil produksi berupa kayu,
daun, bunga, dan buah.
4) Sebagai tempat hidup satwa dan plasma
nuftah.
5) Sebagai resapan air guna menjaga
keseimbangan tata air dalam tanah,
mengurangi aliran air permukaan.
6) menangkap dan menyimpan air, menjaga
keseimbangan tanah agar kesuburan tanah
tetap terjamin.
7) Sirkulasi udara dalam kota.
8) Sebagai tempat sarana dan prasarana
kegiatan rekreasi.

DAFTAR PUSTAKA
÷ Danisworo, M, 1998. Makalah
Pengelolaan Kualitas Lingkungan dan
Lansekap Perkotaan di Indonesia dalam
Menghadapi Dinamika Abad XXI.
÷ Garret Eckbo, 1988. Urban Landscape
Design, Element and to Tehe Concept,
Graphic. Sha Publishing Co Ltd.
÷ Rustan Hakim, 1996. Tahapan dan
Proses Perancangan dalam Arsitektur
Lansekap. Jakarta : Penerbit Bina
Aksara.
÷ Rustan Hakim, Hardi Utomo, 2003.
Komponen Perancangan Arsitektur
Lansekap. Jakarta : Penerbit Bumi
Aksara.
Biodata Penulis
Ir. Sumarwanto, MT, lahir di Semarang
tanggal 20 Februari 1952. Pendidikan yang
diselesaikannya adalah S.1 di Universitas
Diponegoro Semarang, dan S.2 di Universitas
Diponegoro Semarang bidang Studi Urban
Design. Bekerja sebagi dosen di Program
Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas
17 Agustus 1945 Semarang, dengan jabatan
akademik Lektor, mengajar pada mata kuliah
Perancangan Arsitektur, Tata Ruang Luar dan
Kota dan Permukiman.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
48

KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
Oleh : Ir Djoko Darmawan, MT

Abstrak
Kelenteng adalah bangunan untuk peribadatan dan pemujaan dewa-dewi dalam
kepercayaan atau agama Tri Dharma (Tao-Konfusius-Budha). Pecinan adalah
sebutan untuk kawasan pemukiman masyarakat Cina dengan ciri khas budaya dan
tradisi dari negara asal mereka.
Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa, pada masa awal pembentukan kawasan
Pecinan sampai saat ini, identitas/citra kawasan Pecinan adalah kelenteng-kelenteng
yang terdapat di kawasan tersebut. Demikian pula sebaliknya, lokasi tempat
kelenteng berdiri berada di sekitar pemukiman masyarakat Cina (Pecinan). Oleh
karena itu Kelenteng dan Pecinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam
kehidupan masyarakat Cina di Indonesia.


1. Pendahuluan

Seperti halnya kota-kota besar
lainnya di Indonesia, Semarang
merupakan kota niaga yang memiliki
kawasan Pecinan yang dinamis.
Kepadatan kegiatan pada kawasan
Pecinan ini ditunjukkan dalam berbagai
aktivitas masyarakatnya, baik aktivitas
budaya, agama, sosial dan ekonomi.
Kekhasan kawasan Pecinan yang lain
adalah arsitektur bangunan rumah-toko
(ruko) yang padat serta arsitektur
bangunan kelenteng yang meriah dengan
berbagai warna dan ragam hias simbolik.


Gambar 8: Peta Permukiman Tiong Hoa di Semarang.
1. Klenteng Sio Hok Bio,
2. Klenteng Tak Hay Bio,
3. Klenteng Tak Kay Sie,
4. Klenteng Tong Pek Bio,
5. Klenteng Hoo Hok Bio,
6. Klenteng Wie Wie Kiong,
7. Klenteng Tik Sio,
8. Klenteng Liong Hok Bio,
9. Klenteng Sie Hoo Kiong

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
49

2. Kronologis Berdirinya Kelenteng
Di Semarang
Berdirinya sebuah klenteng tidak lepas
dari sejarah perkembangan kawasan
pecinan. Kira-kira th 1628 komunitas
Tionghoa di Simongan yang dipimpin
Souw Pan Djiang ikut serta dalam
pemberontakan melawan Mataram yang
berpihak kepada VOC. Tetapi para
pemberontak Tionghoa ini kalah dan
akibatnya mereka dipindahkan ke daerah
di bawah pengawasan VOC .
Pada Th 1672 diterapkan desentralisasi di
kampung tionghoa oleh VOC. Untuk
mengatur permukiman tersebut VOC
menunjuk salah seorang pedagang
Tionghoa yang bernama Kwee Kiauw
Loo sebagai kapten.
Pada Th 1684 kapten Kwee Kiauw Loo
kembali ke Batavia, kedudukannya
kemudian digantikan oleh Kwee An Say .
Pada masa itu masyarakat Tionghoa
mendominasi kegiatan perekonomian
yaitu ekspor dan impor. Oleh karena itu
terjadi dua inti kota yaitu pusat
kekuasaan dipegang Belanda/VOC
sedangkan pusat perekonomian dikuasai
masyarakat Tionghoa.
Pada Th 1740 terjadi kerusuhan di
Batavia, kerusuhan ini disebabkan
adanya pembunuhan kurang lebih 10000
masyarakat Tionghoa oleh
VOC/Belanda . Akibat kekejaman VOC,
banyak masyarakat Tionghoa yang
melarikan diri dari Batavia menuju
Semarang dan kemudian bergabung
dengan kapten Kwee An Say. Kapten
Kwee An Say dan masyarakat Tionghoa
pelarian mengadakan perlawanan
terhadap VOC, tetapi dikalahkan dan
kapten Kwee An Say sendiri ditangkap.
Selain ke Semarang orang-orang
Tionghoa dari Batavia juga melarikan
diri ke Kudus dan Lasem dan menetap di
desa-desa sekitarnya.
Pada Th 1743 Kwee Gang seorang letnan
Tionghoa dari Batavia telah ditunjuk
VOC untuk menjadi kapten di pecinan
Semarang . Berbeda dengan Kwee An
Say, kapten Kwee Gang mengadakan
kerjasama yang baik dengan VOC. Tiga
tahun kemudian yaitu pada Th 1746
dibangun kelenteng Kwan Im Ting,
kelenteng ini adalah kelenteng pertama
di Semarang.
Sepuluh tahun kemudian yaitu pada Th
1753 kapten Kwee Gang digantikan oleh
Oei Tje , pada masa itu kawasan pecinan
makin tertata dan pertumbuhan ekonomi
makin membaik. Sebagai ungkapan
syukur keberhasilan dalam kehidupan di
permukiman tersebut, maka warga
Pecinan Lor dan Pecinan Wetan
bersepakat membiayai pembangunan
kelenteng Sioe Hok Bio. Kelenteng ini
mempunyai dewa utama Hok Tek Tjeng
Sien (dewa dagang), hal ini diduga
karena kebanyakan masyarakat tionghoa
saat itu berprofesi sebagai pedagang.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
50


Kelenteng Sioe Hok Bio 1753
Sumber : Data lapangan

Tiga tahun berselang yaitu pada Th 1756
di kawasan permukiman tionghoa ini
kembali membangun sebuah kelenteng.
Marga Kwee sebagai inisiator
pembangunan kelenteng Tek Hay Bio,
kelenteng ini dibangun untuk
menghormati tuan Kwee Lak Wa.

Kelenteng Tek Hay Bio 1756
Sumber : Data lapangan

Dua puluh lima tahun sejak berdirinya
kelenteng Kwan Im Ting yaitu Th 1771,
kelenteng ini dirubuhkan dan
dipindahkan. Kelenteng ini kemudian
dibangun kembali dilokasi lain dengan
nama yang berbeda yaitu Tay Kak Sie.
Dewa utama pada kelenteng ini adalah
Tri Ratna Budha. Alasan pemindahan
kelenteng ini adalah Feng Shui,
diharapkan dengan pindahnya lokasi
kelenteng keadaan masyarakatnya dapat
lebih baik lagi.

Kelenteng Tay Kak Sie 1771
Sumber : Data lapangan

Di permukiman tionghoa Semarang pada
Th 1782 letnan Khouw Ping membangun
kelenteng Tong Pek Bio yang dapat
diartikan kelenteng batas timur. Dewa
utama dari kelenteng ini adalah Hok Tek
Tjeng Sien (dewa dagang).

Kelenteng Tong Pek Bio 1782
Sumber : Data lapangan

Sepuluh tahun kemudian yaitu pada Th
1792 warga Pecinan Lor Semarang
memprakarsai mendirikan kelenteng
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
51

Hoo Hok Bio. Seperti halnya kelenteng
Sioe Hok Bio, kelenteng Hoo Hok Bio
dewa utamanya adalah Hok Tek Tjeng
Sien dan juga merupakan kelenteng kecil.

Kelenteng Hoo Hok Bio 1792
Sumber : Data lapangan

Th 1799 adalah tahun kejatuhan VOC
karena bangkrut, kemudian kekuasaan
diambil alih pemerintah Belanda. Th
1811 P Jawa dikuasai Inggris. Tiga tahun
sejak Inggris menguasai P Jawa yaitu
pada Th 1814, di kawasan permukiman
Tionghoa Semarang Marga Tan
membangun kelenteng Wie Wie Kiong.
Kelenteng ini mempunyai dewa utama
Gay Tjiang Seng Ong dan merupakan
kelenteng terbesar dengan lapisan
terbanyak di kawasan permukiman
tionghoa Semarang ini.

Kelenteng Wie Wie Kiong 1814
Sumber : Data lapangan

Th 1866 Liem Giok Sing seorang
wijkmeester di permukiman tionghoa
Semarang memprakarsai pembangunan
kelenteng Liong Hok Bio. Dewa utama
pada kelenteng ini adalah Hok Tek Tjeng
Sien, kelenteng ini termasuk kelenteng
kecil.

Kelenteng Liong Hok Bio 1866
Sumber : Data lapangan

Th 1881 Marga Liem membangun
kelenteng See Hoo Kiong atau Ma Tjouw
Kiong yang diprakarsai Liem Siong
Djian dan Liem Kiem Ling. Dewa utama
kelenteng ini adalah Thian Sian Sing
Boo.

Kelenteng See Hoo Kiong 1881
Sumber : Data lapangan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
52


Kelenteng ini diduga ada hubungan
marga dengan kelenteng Cu An Kiong
Lasem maupun kelenteng Thian Sian
Sing Boo Rembang.

\


Kelenteng Cu An Kiong Lasem dan
Kelenteng Thian Sian Sing Boo di
Rembang
Sumber : Data lapangan

Permasalahan
Menurut data penelitian,
Semarang adalah salah satu kota yang
memiliki potensi wisata pecinan selain
Lasem, Rembang, Welahan, Tegal,
Pekalongan, Cirebon dan Tuban. Potensi
wisata pecinan yang layak disuguhkan
antara lain wisata arsitektur, wisata
kuliner dan wisata budaya. Wisata
arsitektur yang dimaksud adalah
bangunan tradisional Cina yaitu
kelenteng maupun rumah tinggal.
Sedangkan wisata kuliner berupa
makanan khas Tiong Hoa seperti lumpia,
wedang ronde, wedang tahu, bakpao.
Sementara itu wisata budaya antara lain
wayang potehi, barongsai, upacara arak-
arakan kongco (dewa kelenteng) dan
mungkin masih banyak lagi jika digali.
Hingga saat ini pemda setempat
bekerja sama dengan perguruan tinggi
dan komunitas Tiong Hoa telah
mengadakan berbagai kegiatan
kepariwisataan. Pasar Semawis
merupakan salah satu upaya
menghidupkan kawasan Pecinan
Semarang pada malam hari. Walaupun
kegiatan ini tidak setiap hari diadakan
(hanya Jumat, Sabtu dan Minggu),
langkah ini bisa diacungi jempol karena
mampu menghidupkan kawasan ini saat
sang surya tenggelam. Berbagai kuliner
khas Tiong Hoa dan pernak-pernik
element Feng Shui , ramalan dan jasa
lukisan khas Tiong Hoa turut
memeriahkan pasar malam ini. Lomba
sketsa kawasan ini pun telah dilakukan
oleh kalangan perguruan tinggi dalam
upaya mengenalkan kawasan ini pada
masyarakat umum.
Di kawasan permukiman Tiong
Hoa di Semarang atau yang lebih dikenal
dengan Pecinan Semarang terdapat 8
buah kelenteng tua. Masing-masing
kelenteng mempunyai keistimewaan
sendiri baik dari sisi arsitektur maupun
dewa utamanya. Eksotika dari kedelapan
kelenteng di kawasan permukiman Tiong
Hoa ini memang tidak terbantahkan.
Yang menjadi pertanyaan, apakah
keberadaan kelenteng pada kawasan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
KELENTENG MODAL UTAMA WISATA PECINAN DI SEMARANG
53

permukiman masyarakat Tiong Hoa ini
sudah diberdayakan secara optimal
sebagai asset Wisata Pecinan?

3. Konsep Wisata Pecinan Yang
Berimbang
Untuk lebih memberdayakan
kelenteng sebagai modal utama potensi
wisata pecinan di Semarang sebaiknya
dibuat konsep perencanaan wisata
pecinan yang terpadu dan berimbang.
Artinya antara wisata kuliner, wisata
arsitektur dan wisata budaya menjadi
satu kesatuan dan mempunyai bobot
yang sama dalam mengekspose.
Dibutuhkan kerja sama masing-
masing instansi yang menangani
kepariwisataan baik swasta maupun
negeri, dimana wisatawan yang datang
pada kelenteng di kawasan pecinan
Semarang diupayakan juga mengunjungi
kelenteng Sampokong dan demikian pula
sebaliknya. Kerja sama ini juga dapat
diperluas antar pelaku wisata pecinan
dikabupaten/kota untuk membangun
jejaring wisata pecinan antar
kabupaten/kota.
Semoga upaya yang telah
dilakukan oleh Pemda dan seluruh
elemen masyarakat Semarang dalam
meningkatkan, mengenalkan wisata
pecinan ini dapat diikuti daerah-daerah
lain yang mempunyai aset wisata pecinan
di Jawa Tengah.



Daftar Pustaka
Amen Budiman 1978, Semarang
Riwayatmu Dulu, Semarang,
Tunjungsari.
Eko Budihardjo,1997, Arsitektur
Sebagai Warisan Budaya, Penerbit
Djambatan, Jakarta.
James C Snyder, Anthony J Catanese,
1985, Pengantar Arsitektur,
Penerbit Erlangga
Liem Thian joe, 1933, Riwayat
Semarang, Boekhandel Ho Kim
yoe.
Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional
Indonesia
UURI No 4 Th 1992 tentang Perumahan
dan Pemukiman.
Wiranto, 2000, Tipologi Bentuk dan
Makna Arsitektur suatu respon
perkembangan arsitektur abad 21,
Makalah Seminar Undip Semarang.


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA RUANG DALAM
54

MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA
RUANG DALAM
Oleh: Ir. Budi Adi Slamet

Abstraksi
Peran tanaman dalam penataan ruang dalam disamping sebagai “ Pelunak “
ruangan juga unsur dekoratif / penghias yang tak kalah pentingnya dengan
elemen interior lainnya yang boleh dikatakan relatif keras.
Macam tanaman untuk tujuan pengisi ruang dalam atau penunjang interior
ternyata cukup banyak ragamnya, serta mempunyai persyaratan persyaratan
tertentu agar tanaman dapat hidup, antara lain adalah syarat akan kebutuhan air,
udara, dan sinar matahari. Selain itu juga tanaman harus mampu bertahan hidup
selama beberapa waktu di dalam ruangan,



- PENDAHULUAN
Kebutuhan hidup manusia
tentang rumah dari masa ke masa
menuntut sempurna dari segi
penampilan dan persyaratan yang
cocok dengan tingkat daya cipta dan
apresiasi manusia dengan tidak
meninggalkan keserasian dan
keselarasan dengan lingkungan
sekitarnya. Juga dalam lingkup
penataan ruang dalam teras
bertambah kompleks
permasalahannya.
Tata Ruang Dalam (interior)
merupakan salah satu profesi yang
menempatkan elemen-elemen
pembentuk ruang, lantai, dinding,
dan plafond terutama kaitannya
dengan ruang ( space ) atau dimensi
ruang yang dibutuhkan, serta
elemen-elemen penunjang yang
paling dekat pemakainnya dalam
sehari-hari misalnya : meja, kursi,
lemari, partisi, lukisan dan lain-
lainnya.
Tata Ruang Dalam muncul
karena adanya kesadaran dari pemakai
ruang untuk menata tempat tinggal
maupun tempat kerja guna
meningkatkan efisiensi dan
kenyamanan kerja.

- SENYAWA TATA HIJAU
(Landscape) DAN TATA RUANG
DALAM ( interior ).
Persenyawaan antara interior
dan landscape dalam lingkup yang
detail dan nyata dapat menimbulkan
kesan akrab, harmonis dan asri serta
tak lepaas dari tujuan melestarikan
keindahan lingkungan.
Peran tanaman dalam penataan
ruang dalam disamping sebagai “
Pelunak “ ruangan juga unsur dekoratif
/ penghias yang tak kalah pentingnya
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA RUANG DALAM
55

dengan elemen interior lainnya
yang boleh dikatakan relatif keras.
Macam tanaman untuk
tujuan pengisi ruang dalam atau
penunjang interior ternyata cukup
banyak ragamnya, serta mempunyai
persyaratan persyaratan tertentu
agar tanaman dapat hidup, antara
lain adalah syarat akan kebutuhan
air, udara, dan sinar matahari.
Selain itu juga tanaman harus
mampu bertahan hidup selama
beberapa waktu di dalam ruangan,
juga tentunya tidak akan tumbuh
menjadi besar.

Gb..1 Tanaman hidup sebagai
aksesori yang dihadirkan dalam
ruang. Penempatan nya yang tepat
hingga tak mengganggu sirkulasi
maupun mudah dalam
perawatannya. Besar dan bentuk
tanaman sangat serasi dengan
besaran ruang.

- JENIS TANAMAN UNTUK
RUANGAN
Menata ruangan dengan
memasukkan kehadiran tanaman
sangatlah baik dan dianjurkan guna
mendapatkan rasa keasrian di dalam
ruangan. Ada beberapa jenis tanaman
bila dilihat dari syarat tumbuhnya.
a. Jenis tanaman yang membutuhkan
sinar matahari. Pada jenis tanaman
ini secara fisual akan cepat
diketahui perubahan atau ketidak
beresan pertumbuhannya (kondisi
tanaman) misalnya tanaman
kelihatan segar, daunnya lebat,
daun warna sangat hijau atau
kondisinya malah sebaliknya.
Jenis tanaman ini misalnya kaktus,
palem, dan tanaman yang tumbuh
merambat dengan perawatan yang
mudah dan umurnya cukup
panjang. Dengan melihat kondisi
tanaman dan batasan-batasan
seperti tersebut diatas maka
tanaman bisa diletakkan dibawah
jendela yang mana sinar matahari
dapat menembus masuk, atau pada
bukaan dinding lainnya.

b. Jenis tanaman yang membutuhkan
sinar matahari tidak langung ( semi
cahaya ).
Jenis tanaman ini masih
mampu betahan hidup walau dalam
sehari hanya mendapatkan sinar
matahari beberapa jam saja.
Sedangkan penempatannya dapat
diletakkan diantara ruang / space
furniture atau agak jauh dari
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA RUANG DALAM
56

bukaan jendela / pintu yang
terkena sinar matahari langsung.

c. Jenis tanaman yang tidak
membutuhkan sinar matahari.
Tanaman ini sangat
tumbuh subur pada daerah /
ruang yang tidak mendapatkan
sinar matahari, sehingga
perannanya dalam ruangan
sangat flexibel dan mudah untuk
dipindahkan ( sifat movable ).

Gb. 2. Salah satu sudut ruang yang
menunjukan perpaduan antara fungsi
duduk/ kursi, benda seni/ lukisan,
aksesori tanaman dalam pot, aksesori
lain/ pernik yang diletakkan diatas meja
dengan desain yang artistik
menciptakan suatu sequence dalam
ruang yang sangat artistik.


- PEMELIHARAAN
Jika dilihat dari tempat /
wadah dari tanaman jenis tersebut
diatas, diantaranya bisa dalam pot
atau vas-vas bunga dengan tujuan
dapat mudah dipindahkan atau digeser
tanpa merusak tanaman.
Secara vertikal tempat tanaman
maksimal dibentuk dengan pola /
bentuk yang diatur dengan ketinggian
lebih dari 90 cm atau sama dengan
jarak terdekat tirai terhadap lantai,
dimana apabila tanaman tersebut sudah
mencapai tirai dapat dengan mudah
digantikan ( apabila perlu ) atau
ditukar dengan tanaman yang lebih
rendah atau kecil, agar bukaan yang
dimaksud tidak terhalang oleh
rimbunan tanaman / dedaunan yang
dimiliki tanaman tersebut.
Tak terlepas dari kesemuanya
itu yang patut menjadikan perhatian
pula adalah masalah untuk dipindah-
pindahkan serta faktor kelonggaran
wadah / pot haruslah luwes terhadap
perkembangan akar serta seyogyanya
pot tersebut kedap air.

- KESIMPULAN
Tanaman bisa dipakai guna
mengidentifikasikan status
memisahkan jarak dalam pengaturan
interior dan juga bisa sebagai pengarah
/ pembatas dari lorong / koridor, serta
tanaman prinsipnya dapat membuat
semua menjadi terasa estetis, alami,
harmonis dan lembut.
Bagaimanapun juga faktor
ketelitian serta hambatan-hambatan
yang menjadikan semuanya dikatakan
sulit dalam memadukan dan
menyelaraskan interior dari perangkat
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MATERIAL LUNAK ( tanaman ) DALAM TATA RUANG DALAM
57

keras dan perangkat lunak sehingga
tanaman dapat tumbuh dan
berkembang sesuai yang kita
kehendaki, bukanlah menjadikan
faktor penghalang untuk mencobanya.


DAFTAR PUSTAKA
- Ir. Meiril Isa Arc. 1972. Pokok-
Pokok Merencana Interior.
- Ir. Sri Purwati. 1981. Tata Ruang
Rumah Tinggal.
- Membuat Rencana Taman Rumah
- Ir. Rustan Hakim. 1991. Unsur
Perancangan dalam Arsitektur
Landsekap.
- Dinas Pertanaman DKI. Jakarta.
1979. Dekorasi Taman.
- Drs. wDjaja AB





SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
58

MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
DAN PERPINDAHAN MASSA PADA DISTILASI EKSTRAKTIF
PATHCOULI ALKOHOL MINYAK NILAM

Oleh:
Retno Ambarwati SL*, Rudi Firyanto*, dan Fahmi Arifan**
* Dosen Teknik Kimia UNTAG Semarang
** Dosen Teknik Kimia Polines UNDIP Semarang

Abstrak
Minyak nilam merupakan minyak atsiri yang diperoleh dari daun nilam dengan cara
penyulingan. Minyak tersebut merupakan komoditas ekspor non migas paling besar diantara
ekspor minyak atsiri di Indonesia. Minyak nilam selain digunakan sebagai bahan pewangi,
juga dapat digunakan sebagai penahan aroma wangi-wangian bahan pewangi lain sehingga
bau wangi tidak cepat hilang dan lebih tahan lama (fiksatif) dalam pembuatan parfum,
kosmetik dan sabun. Salah satu komponen minyak nilam yang berpotensi dan memiliki nilai
jual yang sangat tinggi yaitu patchouli alkohol. Hampir seluruh komponen dari patchouli
alkohol dapat menghasilkan flavor, dan beberapa peneliti telah berupaya untuk
memisahkannya. Oleh karenanya, dalam penelitian ini diupayakan memisahkan patchouli
alkohol dari minyak nilam dengan menggabungkan proses ekstraksi dan distilasi dalam satu
kolom menggunakan pelarut minyak jarak. Proses ini dikenal dengan distilasi ekstraktif.
Kegiatan yang dilakukan adalah studi penyusunan model empirik tentang kesetimbangan fasa
sistem uap-cair. Studi kesetimbangan fasa dibagi dalam dua tahapan kerja. Tahap pertama
adalah mengukur data kesetimbangan fasa langsung di laboratorium dengan menggunakan
ebuliometer pada berbagai variabel umpan yang merupakan larutan model. Sedangkan tahap
kedua adalah memodelkan data kesetimbangan fasa uap-cair lewat perhitungan dengan
menggunakan Matlab sebagai bahasa program. Pengaruh berbagai komponen terlarut seperti
pathcouli camphor, candinene benzaldehyde, patchoulene dan senyawa-senyawa lain dalam
jumlah kecil yang biasa ditemui pada pathcouli alcohol minyak nilam terhadap kesetimbangan
fasa uap-cair dipelajari dengan melakukan pengukuran langsung di laboratorium dan prediksi
dengan menggunakan persamaan UNIFAC. Pengukuran kesetimbangan fasa secara langsung
dilaksanakan dengan ebuliometer Fowler-Norris. Data hasil percobaan untuk sistem biner
minyak nilam-minyak jarak konsisten secara termodinamika, ditinjau dari uji dengan metoda
luas area, sehingga peralatan pengukur data kesetimbangan layak digunakan untuk mengukur
kesetimbangan fasa uap-cair. Model empiris kesetimbangan fasa uap-cair sistem minyak
nilam-minyak jarak-pathcouli alcohol direkomendasikan dengan menggunakan persamaan
UNIFAC. Pelarut minyak jarak mampu menggeser kesetimbangan fasa uap cair pada kondisi
vakum.

Kata kunci: kesetimbangan fasa; minyak nilam; minyak jarak; unifac


Pendahuluan
Minyak nilam merupakan minyak
atsiri yang diperoleh dari daun nilam
(Pogostemon cablin Benth) dengan cara
penyulingan. Minyak tersebut merupakan
komoditas ekspor non migas paling besar
diantara ekspor minyak atsiri di
Indonesia. Tahun 2004 ekspor minyak
nilam sebesar 1.295 ton, sedangkan
ekspor minyak atsiri keseluruhan adalah
2.633 ton (BPS, 2006). Sehingga hampir
50% ekspor minyak atsiri, didominasi
oleh minyak nilam. Negara pengimpor
minyak nilam Indonesia yaitu Amerika
Serikat, Jepang, Malaysia, Singapura,
Austrlia, Hongkong dan India. Namun
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
59

demikian, sejak tahun 2000 hingga
sekarang volume ekspor minyak nilam
Indonesia mengalami penurunan yang
sangat drastis, yaitu dari 1.356 ton
menjadi 1.189 ton (BPS, 2005).
Minyak nilam selain digunakan
sebagai bahan pewangi, juga dapat
digunakan sebagai penahan aroma
wangi-wangian bahan pewangi lain
sehingga bau wangi tidak cepat hilang
dan lebih tahan lama (fiksatif) dalam
pembuatan parfum, kosmetik dan sabun.
Bahkan saat ini, minyak nilam banyak
dikembangkan ke arah produk obat-
obatan. Hal ini dikarenakan minyak
nilam mengandung lebih dari 24 jenis
sesquiterpene, yang berpotensi sebagai
senyawa anti kanker, anti mikroba, anti
inflamatory, antibiotik dan anti mikroba
dan anti tumor (Deqverry, dkk., 2006.,
Rafi, 2001).
Meskipun Indonesia sudah mampu
mengekspor minyak nilam keluar negeri,
namun sampai saat ini masih mengimpor
derivat-derivat minyak nilam yang
digunakan sebagai bahan baku
pembuatan obatan-obatan dan flavor. Hal
ini sangat disayangkan, sehingga perlu
diupayakan untuk mengolah minyak
nilam lebih lanjut sebelum diekspor.
Salah satu komponen minyak nilam
yang berpotensi dan memiliki nilai jual
yang sangat tinggi yaitu patchouli
alkohol. Hampir seluruh komponen dari
patchouli alkohol dapat menghasilkan
flavor dan produk kesehatan serta obat-
obatan, dan beberapa peneliti telah
berupaya untuk memisahkannya. Bakti
Jos, dkk (2004) telah mengestrak minyak
nilam dengan menggunakan n-Heksan.
Namun demikian, teknologi
konvensional ini hanya mampu
meningkatkan kadar patchouli alkohol
dari 30% menjadi 36%. Kelemahan
utama proses ini adalah biaya peralatan
lebih mahal, karena dibutuhkan alat
distilasi untuk merekoveri n-Heksan.
Metode konvensional yang lain juga
telah dilakukan oleh Silviana dkk,
(2005). Peneliti ini mencoba memisahkan
dengan menggunakan distilasi vakum,
meskipun demikian kadar patchouli
alkohol hanya meningkat 11%.
Upaya untuk meningkatakan kadar
patchouli alkohol yang telah dilakukan
oleh para peneliti relatif masih rendah.
Hal ini terjadi karena adanya impuritas
yang terikat pada minyak nilam,
disamping itu komposisi masing-masing
minyak nilam memiliki titik didih yang
berdekatan dan dimungkinkan terbentuk
azeotrop.
Untuk itu, perlu memisahkan
patchouli alkohol dari minyak nilam
dengan menggabungkan proses ekstraksi
dan distilasi dalam satu kolom
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
60

menggunakan pelarut minyak jarak.
Proses ini dikenal dengan distilasi
ekstraktif. Minyak jarak merupakan
pelarut yang dapat mengikat impuritas
dan mengubah volatilitas relatif
komponen-komponen semula pada
kondisinya. Keunggulan proses ini
adalah: biaya peralatan lebih murah,
hemat energi, dapat mengubah relatif
volatility, dapat menggeser
kesetimbangan fasa, warna produk lebih
jernih dan kadar patchouli alkohol yang
dicapai lebih tinggi. Studi pendahuluan
telah dilakukan dalam skala laboratorium
dengan kajian penentuan kondisi proses
distilasi ekstraktif minyak nilam dalam
keadaan vakum. Studi awal ini sangat
prospektif dan proses ini sangat
menjajikan untuk dikomersialkan, karena
menghasilkan pathcouli alkohol sekitar
63% (Arifan, dkk., 2007). Oleh
karenanya, perlu pengembangan proses
distilasi ekstraktif minyak nilam pada
keaadaan vakum untuk memisahkan
derifat-derifatnya.
Proses pemisahan patchouli alkohol
minyak nilam dengan menggunakan
distilasi ekstraktif ini banyak memiliki
keunggulan. Akan tetapi, keberhasilan
proses ini akan bergantung pada
kemampuan minyak jarak sebagai pelarut
dalam melepaskan impuritas yang terikat.
Selain itu, kondisi proses yang
bagaimana, sehingga akan dihasilkan
kadar pathcouli alkohol secara optimum.
Oleh karenanya, perlu menelaah
kesetimbangan fasa sistem uap-cair yang
berguna dalam menentukan kondisi
operasi. Disisi lain sangat diperlukan
data-data teknis yang berguna dalam
perancangan, scale-up, pengoperasian
proses secara optimal dan evaluasi
kinerja distilasi ekstraktif vakum. Untuk
itu, perlu pengembangan proses distilasi
ekstraktif guna mendapatkan data-data
teknis laboratorium.

Metode Penelitian
Penelitian tentang pemisahan
pathcouli alkohol minyak nilam dengan
distilasi ekstraktif menggunakan pelarut
minyak jarak akan diinvestigasi baik
secara eksperimen maupun pemodelan.
Rangkaian penelitian akan dilaksanakan
secara bertahap meliputi:
- Pengukuran data kesetimbangan fasa
uap-cair
- Pemodelan data kesetimbangan fasa
uap-cair dengan UNIFAC
- Pengukuran data perpindahan massa
uap-cair
- Meringkas data perpindahan massa
dalam bentuk model matematis

Bahan dan Alat Penelitian
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
61

Bahan-bahan yang digunakan pada
penelitian ditahun pertama maupun tahun
kedua cenderung sama. Diantaranya
minyak nilam, minyak jarak dan bahan-
bahan untuk keperluan analisa. Minyak
nilam diperoleh dari UKM Sami Galuh
Yogyakarta dan Ungaran. Minyak jarak
yang digunakan dalam penelitian dibeli
dari PT Bratachem (Yogyakarta). Bahan-
bahan kimia untuk keperluan analisa
diperoleh dari PT Bratachem
(Yogyakarta).
Peralatan utama yang digunakan
dalam pengukuran data kesetimbangan
fasa uap-air berupa ebuliometer.
Sedangkan pengukuran data perpindahan
massa menggunakan distilasi ekstraktif
vakum. Beberapa alat lain yang
digunakan sebagai pendukung dan
keperluan analisa adalah:
1. Gas Chromatografi
2. Buret, dengan volume 10 ml dan
skala 0,02
3. Piknometer, dengan volume 5 ml
4. Erlenmeyer, dengan volume 250
ml
5. Pipet tetes dan Pipet volum,
dengan volume 10 ml
6. Beaker glass , dengan volume 500
ml dan 100 ml
7. Gelas ukur, dengan volume 10
ml, skala 0,01 dan volume 25,
skala 0,1
8. Saringan
9. Oven dan waterbath

Variabel-variabel Percobaan
Variabel-variabel percobaan
pengukuran kesetimbangan fasa adalah
umpan yang merupakan suatu larutan
model yang dibuat mirip dengan
komposisi minyak nilam. Larutan-larutan
model tersebut adalah:
1. Larutan model A : minyak nilam-
minyak jarak- pathcouli camphor
(0,315 % pathcouli camphor)
2. Larutan model B : minyak nilam -
minyak jarak - candinene
benzaldehyde (1,26 % candinene
benzaldehyde)
3. Larutan model C : minyak nilam -
minyak jarak - patchoulene (1 %
patchoulene)
4. Larutan model D : minyak nilam -
minyak jarak - patchoulene (0, 5 %
patchoulene)
5. Larutan model E : minyak nilam -
minyak jarak - nortetrapatchoulol (1%
nortetrapatchoulol).

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
62

B
L V
P
E
T
C
P
W
Keterangan :
B = kolom pendidih
V = penampung fasa uap
L = penampung fasa cair
C = kondenser
P = pompa Cottrell
E = ruang kesetimbangan
T = pengukur temperatur
W = air pendingin

Gambar 1. Alat pengukur kesetimbangan ebuliometer Fowler-Norris termodifikasi

Langkah-langkah Percobaan:

Percobaan kesetimbangan fasa dilakukan
mengikuti metode percobaan yang
dijelaskan oleh Gillespie, 1946. Larutan
model dimasukkan ke dalam alat
pemasukan umpan (B) kemudian
dipanaskan sampai campuran uap-cair
naik melalui pompa kottrel (P) menuju
ruang kesetimbangan (E). Fasa uap
menuju kondensor (C). Uap yang
terkondensasi selanjutnya ditampung
dalam penampung sampel fasa uap (V)
sedangkan cairan yang tidak menguap
jatuh ketempat penampung fasa cair (L).
Setelah kesetimbangan tercapai, sampel
fasa uap dan fasa cair diambil untuk
dianalisa komposisinya dengan
kromatografi gas cair.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
63





Hasil dan pembahasan
Perancangan dan Pabrikasi Alat Ukur
Kesetimbangan
Rangkaian alat ini terdiri dari gelas
silindrik beserta kran dan pipa, pemanas
berupa waterbath untuk mengendali
temperatur. Bahan-bahan kimia yang
digunakan dalam kegiatan penelitian ini
dibeli dari PT. Bratachem Semarang.
Percobaan kesetimbangan fasa dilakukan
mengikuti metode percobaan yang
dijelaskan oleh Gillespie, 1946. Larutan
model dimasukkan ke dalam alat
pemasukan umpan (B) kemudian
dipanaskan sampai campuran uap-cair
naik melalui pompa kottrel (P) menuju
ruang kesetimbangan (E). Fasa uap
menuju kondensor (C). Uap yang
terkondensasi selanjutnya ditampung
dalam penampung sampel fasa uap (V)
sedangkan cairan yang tidak menguap
jatuh ketempat penampung fasa cair (L).
Setelah kesetimbangan tercapai, sampel
fasa uap dan fasa cair diambil untuk
dianalisa komposisinya dengan
kromatografi gas cair.


Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan dilakukan
dengan tujuan untuk menentukan tekanan
yang relatif baik untuk digunakan dalam
proses pemurnian pathcouli alkohol
minyak nilam. Tekanan ini divariasikan
pada variabel 2, 3, 4 dan 5 mmHg
dengan temperatur konstan.
Pengukuran data percobaan di
laboratorium dilakukan pada berbagai
tempuhan dengan variasi temperatur
pada tekanan konstan. Selama tempuhan
percobaan, data yang diperoleh tersaji
pada Tabel 1.

Tabel 1. Data pengukuran pada temperatur 140
o
C tekanan 2 mmHg
NO. Volume Nilam (ml) Volume minyak jarak (ml) Pathcouli Alcohol (%)
1
2
3
4
5
350
375
400
425
450
150
125
100
75
50
66
72
81
71
62

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
64

Pengukuran Data Percobaan dengan
Alat ebuliometer Fowler-Norris
Pengukuran data kesetimbangan
fasa uap-cair, dilaksanakan terhadap
larutan model sistem biner dan terner
yang merupakan komposisi minyak
nilam dengan pelarut minyak jarak. Dari
hasil analisa, diketahui bahwa minyak
nilam yang diperoleh terdiri dari
berbagai senyawa-senyawa terlarut,
seperti pathcouli camphor, candinene
benzaldehyde, patchoulene dan senyawa-
senyawa lain dalam jumlah kecil. Untuk
mengetahui pengaruh dari senyawa-
senyawa tersebut, dibuat larutan model
yang mirip minyak nilam dengan
komposisi yang disesuaikan dengan hasil
analisa.

Gambar 2. Pengukuran data percobaan
Untuk mengetahui seberapa besar
kenaikan perolehan pathcouli alcohol
pada operasi distilasi ekstraktif akibat
kehadiran impuritas terlarut, dicoba juga
mempelajari sifat kelarutan pathcouli
camphor, candinene benzaldehyde dan
patchoulene pada berbagai konsentrasi
minyak jarak. Metoda percobaan
dilaksanakan menurut metoda yang
dijelaskan oleh Ni dan Hu (1996).

Uji Konsistensi Termodinamika
Uji keabsahan alat pengukur
kesetimbangan fasa uap-cair ebuliometer
Fowler-Norris termodifikasi adalah tes
konsistensi termodinamika berdasarkan
metoda luas area [Herington, 1951 and
Wisniak, 1994]. Gambar 3 – 6
menyajikan hasil tes konsistensi
termodinamika berdasarkan pengukuran
data percobaan dengan menggunakan


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
65

alat ebuliometer Fowler-Norris termodifikasi.


Gambar 3. Grafik Hubungan antara ln ¸ terhadap x
1


Uji konsistensi data biner minyak
nilam-minyak jarak didasarkan atas
perhitungan luas bidang hasil pengaluran
[ln ¸
1

2
] terhadap x
1
. Dari hasil
perhitungan luas area A dan B,
selanjutnya dapat dihitung pula nilai I
yang menjelaskan perbedaan antara luas
A dan B yang disebabkan oleh pengaruh
panas pencampuran. Herington (1951)
mengasumsikan bahwa panas
pencampuran merupakan fungsi dari nilai
x
1
dan tergantung dari nilai rentang
temperatur sistem.

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
Fraksi Mol, x1
l
n
g
a
m
a
1

a
t
a
u

l
n
g
a
m
a
2
GRAFIK HUBUNGAN ANTARA ln(gama) VS x1
lngama1-perc
lngama1-hit
lngama2-perc
lngama2-hit
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
66


Gambar 4. Kurva Area Test (Hubungan antara ln (¸
1

2
) terhadap x
1
)

Gambar 5. Kurva Area Test (Hubungan antara ln (¸
1

2
) terhadap x
1
)
(Harga ordinat pada x1=0 dan x1=1 diperoleh melalui ekstrapolasi data)

Hasil tela‟ah terhadap data
percobaan kesetimbangan fasa uap-cair
ternyata konsisten secara termodinamika,
karena diperoleh nilai D< J. Hasil
perhitungan sesuai persamaan 24 juga
menunjukkan data percobaan konsisten
secara termodinamika. AH
a
menjelaskan
nilai panas pencampuran rata-rata pada
rentang konsentrasi total dan
0
2
0
1
T T ÷
yang menjelaskan titik didih komponen
murni pada tekanan operasi.
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
Fraksi Mol, x1
l
n
(
g
a
m
a
1
/
g
a
m
a
2
)

P
e
r
c
o
b
a
a
n
KURVA AREA TEST
AREA I
AREA II
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
-1.5
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
Fraksi Mol, x1
l
n
(
g
a
m
a
1
/
g
a
m
a
2
)

P
e
r
c
o
b
a
a
n
KURVA AREA TEST
AREA I
AREA II
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
67



i
E
m
a
T
T T
G
H
I
0
2
0
1
34
100
÷
A
A
(
E

(24)
Dimana E menjelaskan jumlah total luas bidang (A+B) dan
E
m
G A adalah kelebihan energi pencampuran.

Kesetimbangan uap-cair sistem
minyak nilam-minyak jarak-
pathcouli alcohol
Pengaruh berbagai komponen
terlarut seperti pathcouli camphor,
candinene benzaldehyde, patchoulene
dan senyawa-senyawa lain dalam jumlah
kecil yang biasa ditemui pada pathcouli
alcohol minyak nilam terhadap
kesetimbangan fasa uap-cair dipelajari
dengan melakukan pengukuran langsung
di laboratorium dan prediksi dengan
menggunakan persamaan UNIFAC.
Pengukuran kesetimbangan fasa secara
langsung dilaksanakan dengan
ebuliometer Fowler-Norris. Data hasil
percobaan untuk sistem biner minyak
nilam-minyak jarak konsisten secara
termodinamika, ditinjau dari uji dengan
metoda luas area, sehingga peralatan
pengukur data kesetimbangan layak
digunakan untuk mengukur
kesetimbangan fasa uap-cair.
Hasil tela‟ah model dengan
menggunakan persamaan UNIFAC
(terlampir) diperoleh harga koefisien
aktivitas untuk berbagai kompisisi cair
minyak nilam. Hasil kajian menunjukkan
bahwa koefisien aktivitas antara
percobaan dengan perhitungan cenderung
berimpit. Oleh karenanya, model empiris
kesetimbangan fasa uap-cair sistem
minyak nilam-minyak jarak-pathcouli
alcohol direkomendasikan dengan
menggunakan persamaan UNIFAC.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
68

0.5
0.2284
333.9
334.5
T(K)
x
A
, y
A

Gambar 6. Kurva Area Test (Hubungan antara ln (¸
1

2
) terhadap x
1
)
Meskipun demikian, kehadiran
komponen terlarut diduga menyebabkan
peristiwa azeotrop pada pemisahan
pathcouli alcohol minyak nilam. Untuk
itu, perlu menela‟ah Energi Gibbs Excess
untuk suatu sistem biner minyak nilam-
minyak jarak yang tersaji pada Gambar
12. Hasil kajian menunjukkan bahwa,
dengan penambahan minyak jarak pada
berbagai variabel proses, menyebabkan
bergesernya kesetimbangan fasa uap-
cair. Hal ini disebabkan bahwa senyawa
seperti pathcouli camphor, candinene
benzaldehyde, patchoulene dan senyawa-
senyawa lain dalam jumlah kecil larut
sempurna dalam minyak jarak pada
kondisi vakum.

Kesimpulan
Pengaruh berbagai komponen terlarut
seperti pathcouli camphor, candinene
benzaldehyde, patchoulene dan senyawa-
senyawa lain dalam jumlah kecil yang
biasa ditemui pada pathcouli alcohol
minyak nilam terhadap kesetimbangan
fasa uap-cair dipelajari dengan
melakukan pengukuran langsung di
laboratorium dan prediksi dengan
menggunakan persamaan UNIFAC.
Pengukuran kesetimbangan fasa secara
langsung dilaksanakan dengan
ebuliometer Fowler-Norris. Data hasil
percobaan untuk sistem biner minyak
nilam-minyak jarak konsisten secara
termodinamika, ditinjau dari uji dengan
metoda luas area, sehingga peralatan
pengukur data kesetimbangan layak
digunakan untuk mengukur
kesetimbangan fasa uap-cair. Model
empiris kesetimbangan fasa uap-cair
sistem minyak nilam-minyak jarak-
pathcouli alcohol direkomendasikan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
69

dengan menggunakan persamaan
UNIFAC. Pelarut minyak jarak mampu
menggeser kesetimbangan fasa uap cair
pada kondisi vakum.

Saran
Teknik separasi dengan menggunakan
distilasi ekstraktif untuk memisahkan
patcouli alcohol minyak nilam dengan
menggunakan minyak jarak sangat
prospektif dan menjanjikan. Oleh
karenanya, perlu kajian lain mengenai
peristiwa perpindahan massa untuk
melengkapi data teknis dalam merancang
alat proses secara komersial.

Ucapan Terima Kasih
Pada kesempatan ini kami
mengucapkan terima kasih kepada
Direktur DP2M DIKTI yang telah
membiayai penelitian ini hingga selesai.
Ucapan terimakasih juga kami
sampaikan kepada Ketua LEMLIT
UNTAG Semarang, Dekan Fakultas
Teknik, Ketua Prodi Teknik Kimia
UNTAG Semarang, serta Ketua Prodi
Teknik Kimia Polines UNDIP Semarang
yang telah memfasilitasi kegiatan
penelitian ini.

Daftar Pustaka

Akhila and Tewari, 1984 “ Chemistry of
Patchouli : A Review, “ Current
Res, Aromat Plants, 6 (1), hal 38-
54
Arifan, F., 2007,”Aplikasi Distilasi
Ekstraktif Pemisahan Pathcouli
Alkohol Minyak Nilam Dengan
Menggunakan Pelarut Minyak
Jarak”, Laporan Sementara
Penelitian PKM.
Baird, Malcolm, H.I., Lo, T.C., Hanson,
C., 1983, Handbook of Solvent
Extraction, John Wiley and Sons.
Brodkey, R. S., & Hershey, H. C. 1988.
Transport phenomena: A unified
approach. McGraw-Hill
International Editions. New York.
Buchi, G. And N Wakabayashi, 1961,”
Constitution of Patchouli Alcohol
and Absolute Configurartion of
Cedrene”, Journal American
Chemical Society, hal 83,927.
Buchi, G. And Nobel Wakabayashi,
1961, “The Structure of Two
Alkaloids from Patchouli Oil”,
Jouernal American Chemical
Society, hal 88:13,3109
Buckingham, J. , 1982 ,”Dictionary of
Organic Compounds” , 5
th

edition, Chapman and Hall, New
York.
Crank, J. 1975. The mathematics of
diffusion. Clarendon Press. Oxford.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
70

Deperindag, 2000 “ Data Ekspor Minyak
Nilam Indonesia tahun 1995-2000”
Jakarta.
Fredenslund, A et al., 1986, “Vapor
Liquid Equilibrium Using
UNIFAC”, Elsevier Scientific
Publishing Company.
Fredenslund, A., Jones, R.L., Prautnitz,
J.M., 1975, “Group–Contribution
Estimation of Activity
Coefficients in Nonideal Ideal
Liquid Mixtures”, Journal
AIChE,, November, p.1086-1099.
Geankoplis, C. J. 1983. Transport
processes: Momentum, heat, and
mass. Allyn and Bacon, Inc.
London.
Guenther, E. 1948, The Essential Oil.
Vol. I. D. Van Nostrand Company
Inc., New York.
Guenther E. 1948, The Essential Oils.
Volume 2. New York : D van
Nostrand Company Inc.Hassler
JW. 1945. The Nature of Active
Carbon. New York:Mc Graw
Hill.
Hanna, O. T., dan Sandal, O.C. 1995.
Computational methods in
chemical engineering. Prentice
Hall. New Jersey.
Hanson, C., 1971, Recent Advances in
Liquid-Liquid Extraction,
Pergamon Press.
http://www.indiamart.com/muezhest/
http://www.freepatentsonlinePatent67
06502.htm
ICBS, PT., 1997, “Studi Tentang
Analisis Pasar dan Prospek
Investasi Industri Oleokimia
(Oleochemical) Indonesia”.
Jos, B., 2004. Ekstraksi Pathcouli
Alkohol Minyak Nilam Dengan
Perlarut n-Heksan. Laporan
Penelitian UNDIP. Semarang.
Karmelita L. 1991, Mempelajari cara
pemucatan minyak daun cengkeh
(Sysyngium aromaticum L)
dengan asam tartarat |Skripsi|.
Bogor : Institut Pertanian Bogor,
Fakultas Teknologi Pertanian.
Ketaren, S. 1985, Pengantar Teknologi
Minyak Atsiri. PN. Balai
Pustaka, Jakarta.
Laddha, G.S., 1976, Degaleesan, T.E.,
Transport Phenomena in Liquid
Extraction, Tata Mc Graw Hill
Publishing, Tokyo.
Magnussen, T., Rasmussen, P., 1981,
“UNIFAC Parameter Table for
Prediction of Liquid-Liquid
Equilibria”, Industrial
Engineering Chemistry Process
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
MODEL TERMODINAMIK KESETIMBANGAN FASA UAP-CAIR
71

Design Development, Vol 20, p.
331-339.
McCabe, W. L., Smith, C. S., & Harriott,
P. 1993. Unit operation of
chemical engineering. Mc. Graw-
Hill. Int. Book Co.
Mukhopadhyay, M., Dongaunkar, K.R.,
1983, Prediction of Liquid-Liquid
Equilibria in Multicomponent
Aromatics Extraction Systems by
Use of the UNIFAC Group
Contribution Model”, Industrial
Engineering Process Design
Development, Vol. 22, p.521-532.
Reid, R.C., 1987, Prausnitz, J.M., Poling,
B.E., The Properties of Gases and
Liquids, 4
th
edition, McGraw Hill
Book Company.
Rusli S. 2000, Penanganan bahan baku,
penyulingan dan pemurnian
minyak atsiri. Makalah pada
Pendidikan dan Pelatihan Minyak
Atsiri; di Garut 7-16 September.
Shah, B.H., Ramkrishna, D., 1973, “A
Population Balance Model For
Mass Transfer in Lean Liquid-
Liquid Dispersions”, Chemical
Engineering Science, Vol 28, p.
389-399.
Silviana, Widayat, dan Bakti Jos, 2004,
”Aplikasi Teknologi Pengolahan
Minyak Atsiri Dalam Industri
Kecil Menengah: Pengambilan
Dan Peningkatan Mutu Minyak
Nilam”, Seminar Nasional,
Jurusan Teknik Kimia, Universita
Setia Budi Surakarta


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
72

PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG
KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR

Oleh : Ir. F.M. Roemiyanto, MS *)

Abstraksi
Sumberdaya air perlu dimanfaatkan, dikelola dan dilestarikan untuk menunjang
keberlangsungan pembangunan dan penyediaan kebutuhan air di suatu daerah. Pemanfaatan
air ini perlu dilakukan dengan cermat agar dapat mengurangi dampak negatif dari eksploitasi
sumberdaya air yang berlebihan.
Kondisi telaga yang ada di Kabupaten Gunung Kidul perlu dikembangkan dengan
berbagai rekayasa teknik yang mengacu pada upaya konservasi telaga dan daerah tangkapan
hujannya, dengan merubah sistem pengelolaannya sebagai sebuah lumbung air yang
dilaksanakan oleh dan untuk masyarakat, dengan disertai usaha pemberdayaan masyarakat
sekitar telaga. Telaga merupakan sumber air permukaan yang potensial untuk dipergunakan
sebagai lumbung air yang menjadi salah satu sumber air cadangan untuk musim kemarau,
terutama air untuk kebutuhan ternak
Untuk mengurangi jumlah sedimen yang masuk kolam telaga selain dilakukan dengan
pembuatan bak penangkap sedimen di sekitar telaga, sebaiknya secara bertahap dilakukan
perbaikan pengelolaan lahan (bukit-bukit) di sekitar telaga dengan pembuatan teras bangku,
sedangkan pada tahapan selanjutnya perlu diupayakan penggantian jenis tanaman yang
ditanam pada area tersebut

Kata kunci : telaga, Gunung Kidul, lumbung air,pengelolaan lahan

*) Dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Untag Semarang.


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sumberdaya air perlu
dimanfaatkan, dikelola dan dilestarikan
untuk menunjang keberlangsungan
pembangunan dan penyediaan
kebutuhan air di suatu daerah.
Pemanfaatan air ini perlu dilakukan
dengan cermat agar dapat mengurangi
dampak negatif dari eksploitasi
sumberdaya air yang berlebihan.
Kebutuhan air akan meningkat
sebanding dengan peningkatan jumlah
penduduk, peningkatan taraf hidup dan
perkembangan sosial budaya manusia.
Hujan merupakan salah satu sumber air
utama yang dipergunakan oleh manusia
dalam upaya pemenuhan kebutuhan air.
Keberadaan hujan tidak bisa diatur
kedatangan dan volumenya, maka dapat
dikatakan bahwa air merupakan
sumberdaya alam yang kelangkaannya
semakin meningkat.
Kabupaten Gunung Kidul,
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
sampai saat ini masih kekurangan air
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
73

baku, terutama pada saat kemarau.
Daerah tersebut di antaranya meliputi
Kecamatan Rongkop, Kecamatan
Tanjungsari, Kecamatan Saptosari dan
Kecamatan Panggang. Hal ini
disebabkan karena kondisi tanah di
daerah tersebut berupa batuan kapur,
sehingga tidak dapat menyimpan air.
Hujan yang jatuh akan terbuang melalui
lubang atau terowongan di bawah
tanah. Sarana peyimpanan air untuk
musim kemarau yang ada saat ini
berupa bak penampungan air. Bangunan
bak penampungan air yang dimiliki
oleh sebagian kecil masyarakat pada
umumnya berkapasitas kecil dan
dipergunakan hanya untuk keperluan
memasak, sehingga tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan air selama musim
kemarau.
Telaga merupakan sumber air
permukaan yang potensial untuk
dipergunakan sebagai salah satu sumber
air bersih. Jumlah telaga di Kabupaten
Gunung Kidul tercatat sekitar 289
telaga, tersebar di sembilan Kecamatan
meliputi Panggang, Paliyan, Tepus,
Rongkop, Tanjungsari, Semanu,
Ponjong, Wonosari dan Saptosari.
Luas genangan telaga cukup
beragam, berkisar antara 0,7 ha sampai
dengan 3 ha, kedalaman rata-rata antara
1,2 meter sampai dengan 4 meter dan
lama masa tampung bervariasi antara 4
bulan sampai dengan lestari. Kondisi
telaga perlu dikembangkan dengan
berbagai rekayasa teknik yang mengacu
pada upaya konservasi telaga dan
daerah tangkapan hujannya, dengan
merubah sistem pengelolaannya sebagai
sebuah lumbung air yang dilaksanakan
oleh dan untuk masyarakat, dengan
disertai usaha pemberdayaan
masyarakat sekitar telaga.

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari pekerjaan
perencanaan kembali 4 unit Telaga di
Kabupaten Gunung Kidul adalah untuk
memperbaiki kondisi telaga serta
merencanakan agar dapat berfungsi
kembali sebagai sebuah lumbung air
secara optimal, baik kapasitas maupun
kualitas bangunannya, dengan
mengambil sampel pada salah satu di
antara Telaga Ngroyo, Mencukan,
Melengan dan Saproal, yaitu pada
telaga Ngroyo di desa Karangwuni
Kecamatan Rongkop.
Sedangkan tujuan dari
perencanaan kembali Telaga Rongkop
di desa Karangwuni, Kecamatan
Rongkop, Kabupaten Gunung kidul ini
adalah untuk menyediakan cadangan air
selama musim kemarau bagi
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
74

masyarakat di sekitar telaga untuk
dimanfaatkan sebagai air minum,
mandi, cuci, mandi/minum hewan,
recharge air tanah maupun irigasi (jika
kapasitas memenuhi)

1.3 Jenis dan Lingkup Pekerjaan

Jenis dan lingkup pekerjaan yang
harus dilakukan merubah telaga
menjadisebuah lumbung air, adalah
terdiri dari kegiatan sebagai berikut :
a) Menyelidiki potensi-potensi
rembesan yang berlebihan yang
dapat mengakibatkan kolam
tampungan cepat kering.
b) Mempelajari rata-rata volume
pemanfaatan air telaga (jumlah
pemakai, jenis pemakaian selama
ini, kondisi sosial masyarakat
pemakai, dll).
c) Melakukan kajian hidrologi, yang
meliputi inflow, out flow, losses
dan debit banjir.
d) Melakukan penyelidikan tanah
untuk mengetahui parameter
tanah di lokasi rencana bangunan
dan permeabilitas lapisan didasar
telaga.
e) Mencari lokasi borrow area dan
melakukan uji batas-batas
kosistensi maupun
permeabilitasnya (test pit).
f) Melakukan pengukuran situasi
tampungan waduk dan daerah
tangkapan hujan.
g) Melakukan kajian terhadap
upaya-upaya yang perlu
dilakukan guna menanggulangi
erosi yang berlebihan.

1.4 Lokasi Pekerjaan
Lokasi telaga Ngroyo yang
merupakan lokasi studi berada di desa
Karangwuni Kecamatan Rongkop,
Kabupaten Gunung Kidul. Situasi desa
Karangwuni dapat dilihat pada peta
desa Gambar-1 di bawah ini.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
75


Gambar 1
Peta Desa Karangwuni Kecamatan Rongkop

Pada umumnya keadaan telaga
yang ada mengalami kerusakan karena
terjadinya kebocoran pada dasar dan
dinding telaga, sehingga berakibat lama
masa tampungan berkurang, kualitas air
tidak baik dan tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan air di musim
kemarau. Juga tidak terdapat fasilitas
khusus yang disediakan untuk mandi
dan cuci untuk masyarakat maupun
mandi/minum ternak. Akibatnya
banyak orang maupun hewan yang
mandi atau mencuci dengan cara masuk
ke telaga, sehingga mencemari air dan
merusak dinding telaga.

II. LANDASAN TEORI

Umum
Dalam konteks pemanfaatan
sumber air, secara umum permasalahan
yang dihadapi adalah laju peningkatan
ketersediaan air masih kurang
dibanding peningkatan kebutuhan air.
Kebutuhan air untuk berbagai keperluan
terus meningkat sejalan dengan laju
pembangunan di berbagai bidang. Di
sisi lain penyediaan prasarana dan
jumlah penyediaan air baku saat ini
sangat terbatas, sehingga belum mampu
memenuhi kebutuhan tersebut. Telaga
merupakan sumber air permukaan yang
potensial untuk dipergunakan sebagai
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
76

lumbung air yang menjadi salah satu
sumber air cadangan untuk musim
kemarau, terutama air untuk kebutuhan
ternak.

2.2 Analisis Debit Ketersediaan Air
Hitungan nilai debit aliran yang
masuk ke telaga dilakukan dengan dua
cara yaitu metode NRECA dan metode
Rasional (Puslitbang Pengairan,1994).
Metode Rasional merupakan metode yang
sederhana dan sesuai digunakan untuk
analisis hitungan perkiraan besarnya
inflow di telaga yang relatif kecil, yaitu
telaga dengan batasan kapasitas
tampungannya kurang dari 100.000 m3
dan batasan luas daerah tangkapan hujan
kurang dari 100 ha.
a. Perhitungan Debit Bulanan
dengan Cara Nreca Sederhana
Cara perhitungan ini paling sesuai
untuk daerah cekungan yang setelah
hujan berhenti, masih ada aliran air
di sungai selama beberapa hari.
Kondisi semacam ini bisa terjadi
apabila tangkapan hujan cukup luas,
sehingga sangat cocok untuk
embung besar, yaitu dimensi
embung yang lebih besar dari
batasan embung kecil.
Langkah perhitungan model Nreca
ini mencakup 18 tahap, yang
perhitungannya dapat dilakukan
kolom per kolom sebagai berikut ini.
Tahap-1
Nama bulan, yaitu bulan Januari
sampai Desember
Tahap-2
Nilai hujan rata-rata bulanan (R
b
)
yang dihitung dengan rumus di
depan.
Tahap-3
Nilai evapotranspirasi potensial
(PET).
Tahap-4
Nilai tampungan kelengasan awal
(W
o
), di mana besarnya ilai ini harus
dicoba-coba dengan percobaan
pertama diambil 600 mm/bulan di
blan Januari.
Tahap-5
Tampungan kelengasan awal (soil
moisture storage- W
i
) yang dihitung
dengan rumus :

W
o

W
i
= --------------
Nominal
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
77

Dengan :
Nominal = 100 + 0,2 R
a

R
a
= hujan tahunan (mm)

Tahap-6
Rasio Rb/PET = kolom (2) : kolom
(3)
Tahap-7
Rasio AET/PET
AET = evapotranspirasi aktual, yang
tergantung dari Tahap 6 dan 5
Tahap-8
AET
AET = --------- x PET x koefisien reduksi
PET
Tahap-9
Neraca air = Rb – AET = kolom
(2) – kolom (8)
Tahap-10
Rasio kelebihan kelengasan (excess
moisture) yang dapat diperoleh :
- Bila neraca air (kolom (9))
positif, maka rasio tersebut
dapat diperoleh dengan
memasukkan nilai tampungan
kelengasan tanah Wi di kolom
(5),
- Bila neraca air negatif, rasio =
0

Tahap-11
Kelebihan kelengasan
= rasio kelebihan kelengasan x
neraca air
= kolom (10) x kolom (9)
Tahap-12
Perubahan tampungan
= neraca air – kelebihan
tampungan
= kolom (9) – kolom (11)
Tahap-13
Tampungan air tanah = P1 x
kelebihan kelengasan
= P1 x
kolom (11)
P1 = parameter yang
menggambarkan karasteristik
tanah permukaan yaitu
kedalaman 0 sampai dengan
2 meter, nilainya 0,1–0,5
tergantung pada sifat lulus air
lahan,
P1 = 0,1 bila bersifat kedap air, dan
P1 = 0,5 bila bersifat lulus air
Tahap-14
Tampungan air tanah awal yan harus
dicoba-coba dengan nilai awal = 2


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
78

Tahap-15
Tampungan air tanah ahir
= tampungan air tanah +
tampungan ar tanah awal
= kolom (13) + kolom (14)
Tahap-16
Aliran air tanah = P2 x tampungan
air tanah akhir
= P2 x
kolom (15)
Tahap-17
Larian langsung (direct run off)
= kelebihan kelengasan –
ampungan ar tanah
= kolom (11) – kolom (13)
Tahap-18
Aliran total = larian langsung +
aliran air tanah
= kolom (17) +
kolom (16), dalam mm/bulan
Bila aliran total akan dinyatakan
dalam m3/bulan, maka :
Aliran total = kolom (18) x 10 x
luas areal tadah hujan
Untuk perhitungan bulan berikutnya,
diperlukan nilai tampungan
kelengasan (kolom (4)) untuk bulan
berikutnya dan tampungan air tanah
(kolom (14)) bulan berikutnya yang
dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
a) tampungan kelengasan
= tampungan kelengasan bulan
sebelumnya + perubahan
tampungan
= kolom (4) + kolom (12),
semuanya dari kolom
sebelumnya
b) tampungan air tanah
= tampungan air tanah bulan
sebelumnya – aliran air tanah
= kolom (15) - kolom (16),
semuanya dari bulan
sebelumnya.
Sebagai patokan, di akhir
perhitungan, nilai tampungan
kelengasan awal (Januari) harus
mendekati besarnya tampungan
kelengasan bulan Desember. Jika
perbedaan antara keduanya ckup
jauh, yaitu > 200 mm, perhitungan
harus diulang lagi mulai bulan
Januari dengan mengambil nilai
tampungan kelengasan awal
(Januari) = tampungan kelengasan
bulan Desember.
Perhitungan biasanya dapat
diselesaikan dalam 2 kali jalan.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
79

b. Perhitungan Debit Rencana dengan
Metode Rasional
Methode ini dapat menggambarkan
hubungan antara debit limpasan
dengan besarnya luasan DAS,
khususnya untuk luasan DAS < 100
km
2
Dengan menganggap bahwa
proses transformasi hujan menjadi
limpasan langsung mengikuti proses
linier dan tidak berubah oleh waktu,
maka besarnya debit limpasan
langsung yang dinyatakan dengan
intensitas curah hujan netto jam-
jaman (I
n
) dapat dinyatakan secara
empiris dengan Rumus Rasional.
Metode ini paling banyak
dikembangkan sehingga didapat
beberapa rumus di antaranya adalah
sebagai berikut :
Qr =
6 . 3
A I C · ·
= 0,278. C.I.A
Di mana : Qr = debit
maksimum
rencana (m
3
/det)
I = intensitas
curah hujan untuk
lama hujan t
(mm/jam)
A = luas daerah
aliran (km
2
)
C = koefisien run
off
Intensitas hujan adalah jumlah hujan
per satuan waktu.
Lama waktu hujan adalah lama
waktu berlangsung hujan, dalam hal
ini dapat mewakili total curah hujan
atau periode hujan yang singkat dari
curah hujan yang relatif seragam.
Waktu konsentrasi (tc) yang diperoleh
dari hasil perhitungan hidrologi
dipakai untuk menentukan intensitas
hujan pada kurva intensitas hujan,
sesuai dengan periode ulangnya.
Intensitas curah hujan dan waktu lama
hujan dapat dihitung dengan rumus
Mononobe sebagai berikut
(Triatmojo)

:Ι =
3
2
24
24
24

c
t
R


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
80


Di mana : I = intensitas curah
hujan untuk lama hujan t
(mm/jam).
R
24
= curah hujan
rerata selama periode ulang T tahun
(mm).
tc = lamanya curah
hujan (menit).
Koefisien run off dipengaruhi oleh
jenis lapis permukaan tanah, dan
setelah melalui berbagai penelitian,
didapatkan besaran seperti berikut :
.
Tabel 2.1
Angka Tetapan Pengaliran Daerah Aliran Sungai

Penutup Lahan Angka Pengaliran
Daerah Pertanian
Daerah Perairan
Daerah Konservasi
Daerah Industri
Daerah Usaha
Daerah Pemukiman
Lain-lain

0,20 – 0,60
0,45 – 0,75
0,05 – 0,25
0,50 – 0.90
0,50 – 0,70
0,25 – 0,40
0,10 – 0,30
Sumber : US Forest Service (1990)

Rumus Rasional di atas hanya
berlaku, manakala seluruh daerah
aliran sungai seluas A, ditutupi
dengan penutup lahan yang sama
sehingga angka kekasaran lahannya
pun juga sama. Pada kenyataannya,
pada sebuah daerah aliran sungai,
tidak mungkin hanya ditutupi dengan
penutup lahan yang sama. Namun
untuk penyederhanaan perhitungan,
kalau luas DAS tidak begitu luas,
jenis penutup lahan dianggap sama
berdasarkan luas yang paling
dominan.

2.3 Analisis Tampungan Lumbung Air
Lumbung air yang akan
dikembangkan diharapkan dapat
menampung penuh air di musim hujan dan
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
81

kemudian dioperasikan selama musim
kemarau untuk melayani berbagai
kebutuhan. Dengan demikian kapasitas
tampung yang dibutuhkan harus dapat
memenuhi kebutuhan pada musim
kemarau. Selain itu juga harus
mempertimbangkan kehilangan air oleh
penguapan di kolam dan resapan di dasar
dan dinding kolam, serta menyediakan
ruangan untuk sedimen.
a. Kapasitas Tampung Yang
Dibutuhkan (Vn)
Lumbung air yang berada pada
daerah semi kering, akan
menampung air sampai penuh di
musim hujan. Kemudian pada
musim kemarau masyarakat akan
menggunakan untuk berbagai
kebutuhan penduduk seperti air
baku, air minum, irigasi, dan ternak.
Dengan anggapan bahwa pada akhir
musim hujan lumbung air pada
kapasitas maksimum (penuh), maka
kapasitas tampung dapat
diperhitungkan :
s i e u n
V V V V V + + + =


dengan :
V
n
= kapasitas tampungan total
yang diperlukan. (m
3
),
V
u
= volume hidup untuk melayani
berbagai kebutuhan (m
3
),
V
e
= jumlah penguapan dari kolam
selama musim kemarau (m
3
),
V
i
= jumlah resapan melalui dasar,
dan dinding lumbung air selama
musim kemarau (m
3
),
V
s
= ruangan yang disediakan untuk
sedimen (m
3
).
b. Ketersediaan Air (Vh)
Air yang masuk kedalam telaga
terdiri dari dua kelompok, yaitu :
a) air permukaan dari seluruh
daerah tangkapan hujan,
b) air hujan effektif yang jatuh
langsung di atas permukaan
kolam.
Jika kehilangan air akibat penguapan
diperhitungkan, ketersediaan air
dapat dinyatakan :

¯ ¯ ¯
÷ + =
j kt j kt j h
E A R A V V . . 10 . . 10


dengan :
V
h
= volume air yang
dapat mengisi kolam telaga
(m
3
),
V
j
= aliran bulanan pada
bulan j (m
3
/bulan),
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
82

EV
j
= jumlah aliran total
selama musim hujan (m
3
),
R
j
= curah hujan bulanan
pada bulan j (mm/bulan),
ER
j
= curah hujan total
selama musim hujan (mm),
A
kt
= luas permukaan
kolam telaga (ha),
E
j
= jumlah penguapan
(evaporasi) pada bulan j
(mm),
10 = konversi satuan.
Dalam menentukan kapasitas total
dari telaga, volume air maksimum
yang dapat mengisi telaga (V
h
), harus
dibandingkan dengan kapasitas
tampung yang diperlukan (V
n
). Jika
kapasitas tampung yang diperlukan
(V
n
) lebih besar dari volume air yang
dapat mengisi kolam embung (V
h
),
maka akan terjadi kekurangan air
pada saat embung digunakan dan
disamping itu biaya konstruksi
menjadi mahal. Sebaliknya jika
kapasitas tampung yang diperlukan
(V
n
) lebih kecil dari volume air yang
dapat mengisi kolam telaga (V
h
),
maka air akan melimpah melewati
mercu embung, hal ini juga akan
mengakibatkan kerusakan pada
bangunan utama dan
kelengkapannya.

c. Kebutuhan Air dan Tampungan
Hidup (Vu)
Kebutuhan air yang harus dilayani
embung diperhitungkan dari macam
penggunaan air oleh penduduk.
Secara praktis rumusan umum
pernyataan kebutuhan air total untuk
tampungan hidup (V
u
) dapat
dituliskan sebagai berikut :
V
u
= J
h
x JKK x Q
u


dengan :
JKK = jumlah KK per desa,
J
h
=

jumlah hari selama musim
kemarau (hari),
Q
u
= kebutuhan air total untuk
penduduk, ternak dan kebun
l/hari/KK)

.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
83

Tabel 2.2
Kebutuhan air dan Tampungan Hidup










Sumber : Dinas Cipta Karya dan Tata Ruag

d. Sedimen (V
s
)
Berdasarkan pengamatan, terjadinya
pendangkalan telaga disebabkan oleh
terbawanya sedimen oleh aliran yang
masuk ke telaga. Dalam perhitungan
kapasitas tampung telaga ditentukan
secara praktis ruang setinggi 1,00 m
diatas dasar kolam yang akan
dipakai sebagai ruang tampungan
sedimen (V
s
). Ruang ini masih dapat
dimanfaatkan selama belum terisi
sedimen.

e. Jumlah Penguapan (V
e
)

Pada daerah semi kering penguapan
dari kolam telaga akan relatif besar.
Apalagi aliran air yang masuk pada
musim kering tidak ada. Cara
sederhana menghitung penguapan di
permukaan kolam telaga adalah
sebagai berikut :

¯
=
kj kt e
E A V . 10
di mana :
V
e
= jumlah penguapan dari telaga
selama musim kemarau (m
3
).
A
kt
= luas permukaan kolam telaga
pada setengah tinggi (ha),
E
kj
= penguapan bulanan musim
kemarau pada bulan ke-j
(mm/bulan).
10 = konversi satuan.

f. Jumlah Resapan (V
i
)
Volume tampungan hidup (Vu)
Kebutuhan air
Lt/KK/hari
Kebutuhan air penduduk 65
Kebutuhan air ternak besar 15
Kebutuhan air ternak kecil 1,5
kebutuhan air unggas 0,5
Kebutuhan air kebun 10
Total kebutuhan air 92
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
84


Air di dalam kolam telaga akan
meresap masuk kedalam pori atau
rongga di dasar dan dinding kolam.
Besarnya resapan ini tergantung
pada jenis butiran tanah atau struktur
batu pembentuk dasar dan dinding
kolam. Secara teoritik perhitungan
resapan air ini cukup rumit dan sulit
dilakukan. Tetapi berdasarkan
beberapa analisis teoritis oleh
Puslitbang Pengairan (1994) dapat
digunakan cara praktis untuk
menentukan besarnya resapan air
kolam telaga.

u i
V K V . =

dengan :
V
i
= jumlah resapan tahunan (m
3
),
V
u
= jumlah air tampungan hidup
(m
3
),
K = faktor yang nilainya
tergantung dari sifat lulus air
material telaga,
K = 10%, bila dasar dan dinding
kolam telaga praktis rapat air,
(K < 10
-5
cm/detik),
K = 25%, bila dasar dan dinding
kolam telaga bersifat semi lulus air,


(K = 10
-3
- 10
-4
cm/detik).

g. Menentukan Kapasitas Tampung
Desain (Vd)

Untuk menentukan dan memilih
kapasitas tampung desain embung
(Vd), harus diperbandingkan :
(1) volume tampungan yang
diperlukan (Vn) untuk
menyediakan :
(a) kebutuhan penduduk,
hewan dan sawah di suatu
desa (Vu),
(b) volume cadangan untuk
kehilangan air karena
penguapan (Ve) dan
resapan (Vi),
(c) ruangan untuk
menampung sedimen (Vs).
(2) volume air yang tersedia
(potensial) selama musim hujan
(Vh), yang merupakan jumlah
air maksimum yang dapat
mengisi kolam,
(3) daya tampung (potensi) topografi
untuk menampung air (Vp),
yaitu volume maksimum kolam
embung yang terbentuk
Dari ketiga besaran tersebut dipilih
yang terkecil sebagai volume /
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
85

kapasitas tampung desain lumbung
air (Vd). Bilamana Vh atau Vp yang
menentukan, maka kemampuan
embung ntuk melayani penduduk
akan berkurang, yaitu tidak sebesar
yang diperlukan (Vn). Dalam hal
seperti ini perlu ditantukan berapa
jumlah KK yang dapat dilayani oleh
lumbung air yang hendak dibangun.

III. Rancangan Desain Telaga Ngroyo

3.1 Desain telaga Ngoyo
Dari hasil perhitungan kapasitas
tampungan di Telaga Ngroyo
diketahui bahwa kebutuhan
tampungan (Vn) adalah sebesar
34.073 m
3
, sedangkan kapasitas
tampungan Telaga Ngroyo yang ada
mampu menampung air sejumlah
35.515 m
3
Jika ditinjau dari potensi
air hujan yang dapat mengisi Telaga
Ngroyo diketahui sebesar 97.466 m
3
,
sehingga mampu mengisi telaga
dalam satu musim saja.
Permasalahan yang terjadi pada
Telaga Ngroyo adalah terjadinya
penguapan yang relatif besar akibat
luas genangan. Hal ini akan
menyebabkan terjadinya kehilangan
air akibat penguapan kolam yang
akan berakibat pada berkurangnya
lama masa tampungan telaga.
Sedangkan jika ditinjau dari segi
pembiayaan perbaikan / pembuatan
dinding telaga yang mengelilingi
luasan telaga tersebut juga akan
memerlukan biaya yang relatif besar.


SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
86



Gambar 3.1
Peta Daerah Tangkapan Hujan Telaga Ngroyo

Hasil penyelidikan tanah di Telaga
Ngroyo yang menjelaskan ketebalan
sedimentasi pada dasar telaga
berkisar 2 – 6 meter dan setiap tahun
diperkirakan terjadi sedimentasi
sekitar 5 – 10 cm. Besarnya
koefisien rembesan di dasar telaga
berkisar 1 x 10
-5
- 10
-6
cm/det, ini
berarti relatif kedap air. Tanah pada
bagian bawah berpermeabilitas
cukup kecil dan relatif kedap air dan
baik untuk menahan aliran air ke
lapisan bawah.
Tanah dasar telaga sampai dengan
kedalaman 5 meter dapat digunakan
sebagai bahan timbunan, dengan
syarat tanah harus dipadatkan
terlebih dahulu. Rekomendasi hasil
penyelidikan tanah ini menguatkan
pilihan alternatif pengerukan
sedimen di dasar telaga dan
peninggian dinding telaga
PETA DAERAH TANGKAPAN HUJAN
TELAGA NGROYO
LUAS DAERAH TANGKAPAN HUJAN 15,80 HA
TELAGA NGROYO
Ngejring
Sriten
Ngerong
Tirisan
Gandu Lor
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
87

merupakan alternatif yang relatif
tepat, aman dan murah.
Dari analisa beberapa pertimbangan
alternatif diatas maka kemudian
ditentukan penentuan rencana desain
untuk Telaga Ngroyo, yaitu dengan
tinggi ruang 2,50 meter, luas area
0,85 Ha. dan volume tampungan
21.250 m
3
.

3.2 Nilai Manfaat Telaga
Pengembangan sumberdaya air perlu
mempertimbangkan beberapa hal
yang disesuaikan dengan kondisi
yang ada di lapangan. Dalam rangka
mengoptimalkan kelayakan hasil
pekerjaan, perlu dilakukan kajian
dari aspek teknis, ekonomi dan
lingkungan.
Aspek ekonomi merupakan salah
satu faktor penting dalam evaluasi
kelayakan suatu pekerjaan. Tujuan
dari analisa ekonomi proyek
sumberdaya air antara lain adalah
menentukan pilihan antara berbagai
alternatif perencanaan yang ada.
Legono (2002) menyatakan dalam
analisis ekonomi sumberdaya air
diperlukan:
a) Analisis pemanfaatan air untuk
berbagai kebutuhan.
b) Analisis biaya dari alternatif
pembangunan yang dipilih
beserta program
pembangunannya.
c) Perhitungan nilai manfaat
pekerjaan dilakukan untuk
kondisi sebelum pekerjaan dan
setelah ada pekerjaan
d) Perhitungan manfaat dilakukan
dengan berbagai anggapan untuk
memprediksi kejadian di masa
mendatang.
e) Biaya pekerjaan diperhitungkan
mulai dari gagasan, studi
kelayakan, perancangan,
pembangunan, hingga operasi
dan pemeliharaan.
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan
di atas maka terlihat jelas, bahwa
penetapan nilai manfaat suatu
pekerjaan merupakan hal yang
kompleks dan dipengaruhi oleh
variabel-variabel yang saling
berkaitan, baik variabel di bidang
ekonomi, bidang sosial, kebijakan
pemerintah dan masih banyak
variabel lainnya yang saling
mempengaruhi dalam pengambilan
keputusan pengembangan
sumberdaya air.
Perhitungan nilai manfaat dalam
pekerjaan penyediaan air baku pada
telaga Ngroyo di Kabupaten
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
88

Gunungkidul tahun 2004 dilakukan
berdasarkan perbandingan nilai
manfaat sebelum ada pembangunan
telaga dengan setelah ada telaga.
Nilai nominal (biaya) dipergunakan
sebagai salah satu ukuran dari
kelayakan pengambilan keputusan
untuk dibangunnya telaga.
Asumsi-asumsi yang dipergunakan
dalam perhitungan nilai manfaat
dalam pekerjaaan ini antara lain
adalah Biaya investasi pembuatan
Bak Penampung Air Hujan (PAH)
yang dipergunakan setiap kepala
keluarga dihitung berdasar jumlah
kepala keluarga yang memanfaatkan
telaga,
a) Volume Bak Penampung Air
Hujan (PAH) pada perhitungan
sebelum ada pekerjaan telaga
lebih besar dari volume Bak
Penampung Air Hujan (PAH)
sesudah ada telaga
b) Total biaya pengeluaran untuk
penyediaan kebutuhan air
diperhitungkan selama 15 tahun
kedepan, hal ini disesuaikan
dengan usia teknis telaga.
c) Biaya bunga dan depresiasi nilai
uang dari investasi pembuatan
telaga tidak diperhitungkan.
d) Nilai manfaat telaga selain
sebagai sumber air baku untuk
mandi, mencuci dan mandi
ternak tidak diperhitungkan.
e) Tidak dilakukan perhitungan
Benefit Cost Ratio dan Break
Event Point.
Hasil perhitungan nilai manfaat
pekerjaan penyediaan air baku pada
telaga Ngroyo di Kabupaten
Gunungkidul tahun 2004 disajikan
dalam Tabel 2.1 dan Tabel 3.2
berikut ini.

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
89

Tabel 3.1
Biaya Pengeluaran Kebutuhan Air
Sebelum Pembangunan Telaga Ngroyo
No Komponen Biaya Jumlah
Biaya Satuan
(Rp)
Biaya Total
(Rp)
1 Pembuatan PAH 266 6.000.000 1.596.000.000
2 Rehabilitasi PAH 266 2.500.000 665.000.000
3 Pembuatan talang air 266 1.200.000 319.200.000
4 Rehabilitasi talang air 266 350.000 93.100.000
5 Pembelian Air 31.920 100.000 3.192.000.000
6 Pemeliharaan PAH 3.990 45.000 179.550.000
7 Pemeliharaan talang air 3.990 45.000 179.550.000
Total Biaya 6.224.400.000
Sumber : Hasil hitungan
Tabel 3.2
Biaya Pengeluaran Kebutuhan Air
Sesudah Pembangunan Telaga Ngroyo
No Komponen Biaya Jumlah
Biaya Satuan
(Rp)
Biaya Total
(Rp)
1 Pembuatan PAH 266 3.000.000 798.000.000
2 Rehabilitasi PAH 266 1.000.000 266.000.000
3 Pembuatan talang air 266 400.000 106.400.000
4 Rehabilitasi talang air 266 125.000 33.250.000
5 Pembelian Air 9.975 100.000 997.500.000
6 Pemeliharaan PAH 10.530 45.000 473.850.000
7 Pemeliharaan talang air 3.990 45.000 179.550.000
8 Desain telaga 1 25.000.000 25.000.000
9 Konstruksi Telaga 1 1.815.357.000 1.815.357.000
10 Operasional 180 500.000 90.000.000
11 Pemeliharaan Telaga 15 1.500.000 22.500.000
Total Biaya 4.879.583.000

SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
90




Gambar 3.1
Gambar Rencana Telaga Ngroyo
IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan hasil
perhitungan yang sudah dilakukan, maka
dapat diambil beberapa kesimpulan seperti
berikut ini.
a) Volume rerata aliran bulanan
pada Telaga Ngroyo adalah
sebesar 13.380 m
3
, volume rerata
bulanan air masuk telaga (Vh)
sebesar 16.245 m
3
, volume
kehilangan air akibat penguapan
(Ve) rerata per bulan sebesar
1.583 m
3
, volume kehilangan air
akibat peresapan (Vi) rata-rata
per bulan sebesar 329 m
3
,
Kehilangan volume tampungan
akibat sedimentasi (Vs) rata-rata
per bulan sebesar 313 m
3
,
volume kebutuhan tampungan
hidup (Vu) yang diperlukan bagi
sejumlah Kepala Keluarga yang
diprediksikan tahun 2020 adalah
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
91

sebesar 12.744 m
3
, volume
tampungan total kebutuhan (Vn)
sebesar 34.073 m
3
, volume
tampungan potensi (Vp) sebesar
35.515 m
3
, maka ditetapkan
volume tampungan desain adalah
sebesar 40.000 m
3
. Peningkatan
kapasitas tampungan desain ini
dilakukan dengan melakukan
penggalian sedimen yang
mengendap pada dasar telaga
sedalam 1,5 meter, mempertinggi
dinding telaga sebesar 1,0 meter,
mempersempit luas genangan
telaga menjadi 0.998 Ha. Hal ini
dilakukan untuk mengurangi
besarnya kehilangan air akibat
penguapan pada kolam telaga.
b) Ketebalan sedimentasi pada
dasar telaga berkisar 2 – 6 meter
dan setiap tahun diperkirakan
terjadi sedimentasi sekitar 5 – 10
cm. Besarnya koefisien rembesan
di dasar telaga berkisar 1 x 10
-5
-
10
-6
cm/det, ini berarti relatif
kedap air. Material tanah yang
berada di telaga dapat dipakai
sebagai bahan timbunan untuk
tanggul yang kedap air bila
pelaksanaanya sesuai dengan
persyaratan teknis.
c) Berdasarkan hasil perhitungan
besarnya erosi yang yang terjadi
pada lahan tangkapan hujan
Telaga Ngroyo, yang rata-rata
sebesar 607 ton/ha/tahun maka
tingkat erosi yang terjadi
digolongkan dalam kelas bahaya
erosi V atau klasifikasi sangat
berat.
d) Besarnya sedimen yang masuk
pada telaga Ngroyo, ditentukan
berdasarkan Nilai Sediment
Delevary Ratio (SDR) untuk
Telaga Saproal sebesar 0,253,
Telaga Melengan sebesar 0,161,
Telaga Mencukan sebesar 0,189,
dan untuk Telaga Ngroyo sebesar
0,284

4.2 Saran-saran

a) Pada pelaksanaan penggalian
sedimen pada dasar telaga pada
kedalaman yang ditentukan, jika
diketemukan batuan kapur keras
pada bagian sisi (tebing)
sebaiknya bagian tersebut
dihindari. Kemudian dibuat
pasangan batu pada bagian dalam
kolam (bagian yang
bersinggungan langsung dengan
air). Atau jika dipandang
memungkinkan batuan tersebut
dapat dipotong kemudian
permukaan potongan yang
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
92

tertinggal dibalut dengan mortar
beton yang dicampur dengan
sekam padi atau serbuk
gergajian.
b) Setelah dilakukan penggalian
sedimen pada dasar telaga,
sebaiknya dilakukan pemadatan
tanah dasar telaga. Hal ini
dimaksudkan agar kepadatan
tanah dasar dapat diperbaiki
dipertahankan.
c) Pada tempat-tempat yang
diidentifikasi sebagai luweng,
sebaiknya dilakukan penggalian
sampai pada permukaan batuan
keras (letak luweng) selanjutnya
ditutup dengan mortar beton
dengan campuran sekam padi /
serbuk gergajian.
d) Untuk mengurangi kehilangan
air akibat penguapan pada kolam
telaga, sebaiknya penanaman
tanaman pelindung pada area
sabuk hijau segera dilakukan.
Teknis penanaman dan
pemeliharaan tanaman serta jenis
tanaman yang ditanam pada area
sabuk hijau sebaiknya
melibatkan masyarakat sekitar
telaga.
e) Untuk mengurangi jumlah
sedimen yang masuk kolam
telaga selain dilakukan dengan
pembuatan bak penangkap
sedimen di sekitar telaga,
sebaiknya secara bertahap
dilakukan perbaikan pengelolaan
lahan (bukit-bukit) di sekitar
telaga dengan pembuatan teras
bangku, sedangkan pada tahapan
selanjutnya perlu diupayakan
penggantian jenis tanaman yang
ditanam pada area tersebut.
f) Untuk lebih menjamin
ketersediaan aliran air
(memperpanjang waktu
limpasan) maka pada alur-alur
air yang masuk telaga dapat
dibuat kantong-kantong pemanen
air hujan. Hal ini disamping
dapat memperpanjang waktu
limpasan air hujan dapat juga
difungsikan sebagai kantong
perangkap sedimen.
g) Pembuangan tanah hasil
penggalian sedimen pada dasar
telaga sebaiknya dipergunakan
untuk menimbun ruang yang
akan dipergunakan sebagai area
sabuk hijau, dan jika terdapat
sisa galian sebaiknya
dimanfaatkan untuk perbaikan
lahan tegalan di sekeliling telaga,
dengan memperhitungkan
kemungkinan kembalinya tanah
timbunan ke dalam kolam telaga.
SARGA EDISI XVI – Volume 1 – Mei 2010
PERENCANAAN KEMBALI TELAGA GUNUNG KIDULMENJADI BANGUNAN LUMBUNG AIR
93



Daftar Pustaka
Dirjen Pengairan Departemen
Pekerjaan Umum, 1986, Standar
Perencanaan Irigasi, Kriteria
Perencanaan KP-01, P.T. Galang
Persada, Bandung
Dirjen Pengairan Departemen
Pekerjaan Umum, 1986, Standar
Perencanaan Irigasi, Kriteria
Perencanaan, KP-02, P.T. Galang
Persada, Bandung
Dirjen Pengairan Departemen
Pekerjaan Umum, 1986, Standar
Perencanaan Irigasi, Kriteria
Perencanaan KP-04, P.T. Galang
Persada, Bandung
Ibnu Kasiro dkk, 1977, Pedoman
Kriteria Desain Embung Kecil untuk
Daerah Semi Kering di Indonesia,
Departeman Pekerjaan Umum, Jakarta

Sosrodarsono Suyono, 1976,
Bendungan Tipe Urugan, P.T Pradnya
Paramita, Jakarta
Sosrodarsono Suyono, 1985,
Perbaikan dan Pengaturan Sungai, P.T
Pradnya Paramita, Jakarta

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.