You are on page 1of 111

LAPORAN NASIONAL

RISET KESEHATAN DASAR


(RISKESDAS)
TAHUN 2010

1
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb.
Puji syukur kepada Allah SWT selalu kami panjatkan, karena hanya dengan rahmat dan
karuniaNYA Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 telah dapat
terselesaiakan. Di dalam Laporan ini dimunculkan perkembangan status kesehatan masyarakat
Indonesia khususnya yang berkaitan indikator MDG’s untuk tingkat nasional dan tingkat
provinsi.
Hasil Riskesdas 2010 mencakup indikator MDG’s nomor 1,4,5,6 dan 7, yaitu : status gizi
balita, tingkat konsumsi energi per kapita, kesehatan reproduksi yang diwakili dengan indikator
penolong persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunanaan kotrasepsi oleh
perempuan WUS, cakupan imunisasi campak kelompok umur 12-23 bulan, prevalensi TB paru
dan malaria, pengetahuan pencegahan HIV/AID, akses berkelanjutan terhadap air minum layak
dan sanitasi dasar.
Pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan Juni-Juli 2010, di 33
provinsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) mengerahkan
sejumlah enumerator untuk setiap kabupaten/kota, seluruh peneliti Balitbangkes, dosen
Poltekkes, Jajaran Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta Perguruan Tinggi.
Untuk data kesehatan masyarakat, berhasil dihimpun data dasar kesehatan dari 33 provinsi dan
440 kabupaten/kota. Untuk biomedis, berhasil dihimpun dan diperiksa spesimen dahak dan
darah dari sampel anggota rumah tangga.
Proses manajemen data mulai dari data dikumpulkan dan dientry ke komputer dilakukan
di masing-masing daerah, kemudian data cleaning dilakukan di Badan litbangkes. Proses
manajemen data, pengolahan dan analisis ini sungguh memakan waktu, stamina dan pikiran,
sehingga tidaklah mengherankan bila diwarnai dengan dinamika kehidupan yang indah dalam
dunia ilmiah.
Perkenankanlah kami menyampaikan penghargaan yang tinggi serta terima kasih yang
tulus atas semua kerja cerdas dan penuh dedikasi dari seluruh peneliti, litkayasa dan staf
Balitbangkes, rekan sekerja dari BPS, para pakar dari Perguruan Tinggi, Para Dosen
Poltekkes, Penanggung Jawab Operasional dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kabupaten/Kota, seluruh enumerator serta semua pihak yang telah berpartisipasi
mensukseskan Riskesdas. Simpati mendalam disertai doa kami haturkan kepada mereka yang
mengalami kecelakaan sewaktu melaksanakan Riskesdas.
Secara khusus, perkenankan ucapan terima kasih kami dan para peneliti kepada Ibu
Menteri Kesehatan yang telah memberi kepercayaan kepada kita semua, anak bangsa, dalam
menunjukkan karya baktinya.
Kami telah berupaya maksimal, namun pasti masih banyak kekurangan, kelemahan dan
kesalahan. Untuk itu kami mohon kritik, masukan dan saran, demi penyempurnaan Riskesdas
dimasa yang akan datang..
Billahit taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.
Jakarta, 17 Agustus 2010
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI

Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, Msi, SpF(K)

2
SAMBUTAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan bimbinganNya, Kementerian
Kesehatan saat ini telah mempunyai indikator MDG’s berbasis komunitas, yang mencakup
seluruh Provinsi melalui Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2010.
Riskesdas telah menghasilkan serangkaian informasi situasi kesehatan berbasis
komunitas yang spesifik berkaitan indikator MDG’s 1,4,5,6 dan 7, sehingga merupakan
masukan yang amat berarti bagi perencanaan bahkan perumusan kebijakan dan intervensi
yang lebih terarah, lebih efektif dan lebih efisien.
Saya minta semua pelaksana program untuk memanfaatkan data Riskesdas 2010
dalam menghasilkan rumusan kebijakan dan program yang komprehensif. Demikian pula
penggunaan indikator sasaran keberhasilan dan tahapan/mekanisme pengukurannya menjadi
lebih jelas dalam mempercepat upaya peningkatan derajat kesehatan secara nasional dan
daerah.
Saya juga mengundang para pakar baik dari Perguruan Tinggi, pemerhati kesehatan
dan juga peneliti Balitbangkes, untuk mengkaji dengan cepat apakah melalui Riskesdas dapat
dikeluarkan berbagai asupan baru bagi Sistem Kesehatan Nasional yang lebih tepat untuk
tatanan kesehatan di Indonesia.
Saya menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada peneliti
Balitbangkes, para enumerator, para penanggung jawab teknis dari Balitbangkes dan
Poltekkes, para penanggung jawab operasional dari Dinas Kesehatan Provinsi dan
Kabupaten/Kota, Puskesmas PRM/labkesda, para pakar dari Universitas dan BPS serta semua
yang teribat dalam Riskesdas ini. Karya anda telah mengubah secara mendasar perencanaan
kesehatan di negeri ini, yang pada gilirannya akan mempercepat upaya pencapaian target
pembangunan nasional di bidang kesehatan.
Khusus untuk para peneliti Balitbangkes, teruslah berkarya, tanpa bosan mencari
terobosan riset baik dalam lingkup kesehatan masyarakat, kedokteran klinis maupun
biomolekuler yang sifatnya translating research into policy, dengan tetap menjunjung tinggi nilai
yang kita anut, integritas, kerjasama tim serta transparan dan akuntabel.

Billahit taufiq walhidayah, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Jakarta, 17 Agustus 2010

Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH.

3
RINGKASAN EKSEKUTIF
Riskesdas 2010 merupakan kegiatan riset kesehatan berbasis masyarakat yang diarahkan
untuk mengevaluasi pencapaian indikator Millenium Development Goals (MDGs) bidang
kesehatan di tingkat nasional dan provinsi.

Tujuan Riskesdas 2010 adalah mengumpulkan dan menganalisis data indikator MDG’s
kesehatan dan faktor yang mempengaruhinya. Desain Riskesdas 2010 adalah potong
lintang dan merupakan penelitian non-intervensi. Populasi sampel adalah seluruh rumah
tangga di Indonesia. Pemilihan sampel dilakukan secara random dalam dua tahap. Tahap
pertama melakukan pemilihan Blok Sensus (BS) dan tahap kedua pemilihan Rumah tangga
(ruta) sebanyak 25 ruta setiap BS. Besar sampel sebanyak 2800 BS, diantaranya 823 BS
sebagai sampel biomedis (malaria dan TB). Sampel BS tersebut tersebar di 33 dan 441
kabupaten/kota.

Data yang dikumpulkan meliputi keterangan ruta dan anggota ruta. Keterangan ruta meliputi
identitas ruta, fasilitas pelayanan kesehatan, sanitasi lingkungan dan pengeluaran ruta.
Keterangan individu meliputi identitas individu, penyakit menular, pengetahuan dan perilaku
kesehatan, kesehatan anak, kesehatan ibu, cara KB, kehamilan dan pemeriksaan sesudah
melahirkan, keguguran dan kehamilan yang tidak diinginkan, perilaku seksual, konsumsi
makan dalam 24 jam kemarin. Pengukuran tinggi badan/panjang badan dan berat badan
dilakukan pada setiap responde, dan pemeriksaan darah malaria dilakukan dengan Rapid
Diagnostic Test (RDT), sedangkan untuk TB paru dilakukan pemeriksaan dahak pagi dan
sewaktu hanya pada kelompok umur 15 tahun ke atas.

Pengumpulan data dan entri data dilakukan oleh tenaga terlatih dengan kualifikasi minimal
tamat D3 kesehatan. Pemeriksaan kelengkapan dan kebenaran data dilakukan oleh
Penanggung Jawab Tehnis Kabupaten, kemudian melakukan pengiriman data secara
elektronik kepada tim manajemen data pusat.

Pengumpulan data di beberapa daerah telah mulai dilakukan sejak bulan Juni 2010 berakhir
pada tanggal 8 Agustus 2010 untuk dilakukan pengolahan dan analisis. Pada tanggal
tersebut sejumlah 2704 BS sampel yang terkumpul datanya atau sekitar 96.5% dari 2800
BS sampel siap untuk dianalisis.

Hasil analisis dapat dilaporkan sebagai berikut: Prevalensi balita kurang gizi (balita yang
mempunyai berat badan kurang) secara nasional adalah sebesar 17,9 persen diantaranya
4,9 persen yang gizi buruk. Prevalensi balita gizi kurang menurut provinsi yang tertinggi
adalah Provinsi NTB (30,5%), dan terendah adalah Provinsi Sulut (10,6%). Sementara itu
prevalensi balita pendek (stunting) secara nasional adalah sebesar 35,6 persen, dengan
rentang 22,5 persen (DI Yogyakarta) sampai 58,4 persen (NTT). Prevalensi balita kurus
(wasting) secara nasional adalah sebesar 13,3 persen, dengan prevalensi tertinggi adalah
Provinsi Jambi (20%), dan terendah adalah Bangka Belitung (7,6%)..

4
Hasil Riskesdas 2010 menunjukan 40,6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah
kebutuhan minimal (kurang dari 70% dari Angka Kecukupan Gizi/AKG) yang dianjurkan
tahun 2004. Berdasarkan kelompok umur dijumpai 24,4 persen Balita, 41,2 persen anak
usia sekolah, 54,5 persen remaja, 40.2 persen Dewasa, serta 44,2 persen ibu hamil
mengonsumsi makanan dibawah kebutuhan minimal. Sementara itu proporsi penduduk
tertinggi dengan konsumsi <70% AKG adalah NTB (46,6%), dan terendah adalah provinsi
Bengkulu (23,7%).

Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi campak pada Riskesdas 2010 ini
adalah sebesar 74,5 persen. Proporsi anak 12-23 bulan yang memperoleh imunisasi
campak menurut provinsi yang terbaik adalah DI Yogyakarta (96,4%) dan terendah adalah
Papua (47,4%).

Untuk kesehatan ibu, secara nasional 82,3 persen kelahiran sudah dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan terlatih. Tenaga kesehatan terlatih di wilayah perdesaan perlu lebih
ditingkatkan agar kelahiran yang ditolong tenaga kesehatan tidak jauh berbeda dengan
kelompok penduduk perkotaan, demikian juga perhatian perlu dipusatkan pada penduduk
miskin. Demikian pula halnya pada provinsi seperti Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat
perlu mendapatkan perhatian agar proporsi perempuan usia reproduktif dapat lebih banyak
mendapatkan pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan.
Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat pelayanan terdekat ke masyarakat juga
perlu ditingkatkan, karena hanya 1,5 persen yang memanfaatkan untuk persalinan.
Walaupun secara nasional 59,4 persen perempuan usia reproduktif menggunakan fasilitas
kesehatan untuk persalinan, akan tetapi di beberapa provinsi penggunaan fasilitas
kesehatan untuk melahirkan masih sangat rendah, seperti 7,8 persen di Sulawesi Tenggara,
8 persen di Maluku Utara, atau 12,1 persen di Sulawesi Tengah.
Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sudah lebih baik, yaitu 84%. Akan tetapi
masih ada 2,8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, dan 3,2 persen masih
memeriksakan kehamilan ke dukun. Selain itu diketahui akses (K1) adalah 92,8% ibu hamil
mengikuti pelayanan antenatal, akan tetapi hanya 61,3 persen selama kehamilan
memeriksakan kehamilan minimal 4 kali (K4).
Penggunaan alat/cara KB diketahui hanya 53,9 persen pada perempuan pernah kawin umur
15-49 tahun. Secara nasional masih ada 19% perempuan pernah kawin usia reproduktif
yang tidak menggunakan alat/cara KB untuk mencegah/menunda kehamilan, dan 27,1
persen yang pernah ber KB akan tetapi sekarang tidak menggunakan. Disparitas menurut
provinsi dapat diketahui dari yang terendah di Papua Barat (31,9%) dan tertinggi di Bali
(64,3%).
Terpantau juga jenis penggunaan alat/cara KB yang masih dominan adalah dengan
suntikan yaitu 31,1 persen. Kelompok penduduk di perdesaan cenderung lebih banyak
menggunakan suntikan untuk pencegahan kehamilan dibanding perkotaan. Sebagian besar
pelayanan KB dilakukan oleh bidan praktek (52,5%), dan hanya 12 persen di Puskesmas,
serta 4,1 persen di Polindes/Poskesdes.

5
Pada kelompok penduduk yang tidak menggunakan alat/cara KB, terdeteksi secara
nasional 14,0 persen sebenarnya mereka membutuhkan akan tetapi tidak terpenuhi (unmet
need). Variasi antar provinsi, dijumpai cukup lebar dari yang tertinggi di Papua Barat
(32,9%) dan terendah di Bali (8,7%).
Masalah lain yang perlu mendapat perhatian untuk mempercepat penurunan kematian ibu
adalah mengupayakan penundaan perkawinan menjadi usia 20 tahun. Karena secara
nasional persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46,4%).

Secara nasional prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang
HIV/AIDS adalah 75,0 persen. Pada penduduk laki-laki meningkat 11 persen, sedangkan
pada perempuan meningkat sebanyak 12 persen dibandingkan Riskesdas 2007. Prevalensi
lebih tinggi pada penduduk belum kawin, di daerah perkotaan, pendidikan lebih tinggi,
penduduk yang masih sekolah dan dengan pekerjaan sebagai pegawai atau wiraswasta,
juga pada penduduk dengan status ekonomi lebih tinggi.Menurut provinsi rentangan
berkisar 44,3-93,7 persen. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi
DI.Yogyakarta. Masih ada 21 provinsi berada dibawah rata-rata nasional.
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang
HIV/AIDS secara nasional yaitu 18,5 persen. Menurut provinsi rentangan berkisar 8,4-35,8
persen. Paling rendah di provinsi Gorontalo dan tertinggi di provinsi Bali. Masih ada 21
provinsi berada dibawah rata-rata nasional. .

Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil
pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 24 permil. Rentang API Nasional
adalah antara 0,3 persen (Bali) dan 31,4 persen (Papua). Sebanyak 20 provinsi dan
semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional. Dari hasil wawancara,
penggunaan Artemisinin Combination based Therapy (ACT) di Indonesia hanya mencapai
49,1 persen, dan hanya 75,5 persen yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama
sakit atau menderita demam, serta 89,6 persen yang diminum dengan dosis lengkap.
Khusus pada balita, penggunaan ACT lebih rendah yaitu 34,3 persen, 80,6 persen yang
mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam, dan 83,4
persen yang diminum dengan dosis lengkap. Jadi penderita malaria semua kelompok umur
yang mendapat pengobatan efektif adalah 33,6 persen, sedangkan pada balita hanya
21,9 persen. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010, cakupan total kelambunisasi dengan
dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26,1 persen, dan cakupan kelambunisasi dengan
diproteksi insektisida adalah 12,5 persen pada responden semua kelompok umur.
Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa diproteksi
insektisida adalah 32,7 persen, dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida
adalah 16,0 persen.

Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga kesehatan


secara nasional sebesar 0.7 persen. Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden
yang diagnosis tenaga kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua
(1,5%) dan terendah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, dan Bali (0,3%).
Proporsi pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83,2%) lebih baik dibandingkan
dengan cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66,25%).

6
Proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung sebesar 16,14 persen,
tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44,79%) dan terendah di Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung (0,85%). Sedangkan sarana non perpipaan terlindung secara nasional
adalah 56,69 persen, tertinggi di Provinsi Gorontalo (66,5%) dan terendah di Provinsi
Kalimantan Timur (29,75%). Bila sarana perpipaan terlindung dan non perpipaan terlindung
dijumlahkan, maka secara nasional terdapat 72,83 persen yang akses terhadap sumber air
terlindung, tertinggi di Provinsi Jawa Tengah 84,91 persen dan terendah di Provinsi
Kepulauan Riau (45,74%). Lebih lanjut dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi
rumahtangga yang akses terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak)
adalah 45,27 persen .

Akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak sebesar 55,53 persen,
paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah di Provinsi Nusa Tenggara
Timur (25,35%).

7
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 2
Sambutan Menteri Kesehatan Kesehatan Republik Indonesia 3
Ringkasan Eksekutif 4
Daftar Isi 8
BAB 1 Pendahuluan 9
BAB 2 Metodologi 12
1. Disain 12
2. Lokasi 12
3. Populasi dan Sampel 12
4. Variabel 15
5. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpul Data 16
6. Manajemen Data 16
BAB 3 Hasil dan Pembahasan 17
1. Goal 1 MDG 17
2. Goal 4 MDG 33
3. Goal 5 MDG 40
4. Goal 6 MDG 68
5. Goal 7 MDG 96
BAB 4 Kesimpulan 108
Lampiran 109

8
BAB I. PENDAHULUAN

Visi Kementerian Kesehatan adalah “Masyarakat Sehat yang mandiri dan berkeadilan.
Sedangkan misinya adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui
pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; melindungi
kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna,
merata, bermutu, dan berkeadilan; menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya
kesehatan; dan menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Salah satu strateginya adalah “Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, terjangkau,
bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan mengutamakan pada upaya promotif dan
preventif”. Untuk itu diperlukan data kesehatan dasar yang dapat dikumpulkan secara
berkesinambungan.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala
nasional sampai tingkat kabupaten/kota. Riskesdas ini dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Kementerian Kesehatan RI. Riskesdas
direncanakan dilaksanakan secara periodik, dengan tujuan untuk melakukan evaluasi
pencapaian program kesehatan yang telah dilaksanakan, sekaligus sebagai bahan untuk
perencanaan kesehatan.

Pada tahun 2007 Badan Litbangkes telah melakukan Riskesdas pertama, meliputi semua
indikator kesehatan utama, yaitu status kesehatan (penyebab kematian, angka kesakitan,
angka kecelakaan, angka disabilitas, dan status gizi), kesehatan lingkungan (lingkungan fisik),
konsumsi rumahtangga, pengetahuan-sikap-perilaku kesehatan (Flu Burung, HIV/AIDS,
perilaku higienis, penggunaan tembakau, minum alkohol, aktivitas fisik, perilaku konsumsi
makanan) dan berbagai aspek mengenai pelayanan kesehatan (akses, cakupan, mutu
layananan, pembiayaan kesehatan). Telah dikumpulkan pula sekitar 33.000 sampel serum,
bekuan darah, dan sediaan apus, untuk test-test lanjutan di laboratorium Badan Litbangkes.

Hasil Riskesdas 2007 telah dimanfaatkan oleh penyelenggara program, terutama Kementerian
Kesehatan; oleh Bappenas, untuk evaluasi program pembangunan termasuk pengembangan
rencana kebijakan pembangunan kesehatan jangka menengah (RPJMN 2010-2014), dan oleh
beberapa kabupaten/kota dalam merencanakan, mengalokasikan anggaran, melaksanakan,
memantau dan mengevaluasi program-program kesehatan berbasis bukti (evidence-based
planning). Komposit beberapa indikator Riskesdas 2007 juga telah digunakan sebagai model
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di Indonesia untuk melihat peringkat
Kabupaten/Kota.

Riskesdas 2010 bertepatan dengan tahun akan dilaksanakannya pertemuan puncak tingkat
tinggi Majelis Umum PBB untuk mengevaluasi pencapaian deklarasi Millenium Development
Goals (MDGs) dari 189 negara termasuk Indonesia. Pada deklarasi tersebut disepakati 8 tujuan
untuk mencapai MDGs di tahun 2015 yaitu: memberantas kemiskinan dan kelaparan, mencapai

9
universal primary education, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,
menurunkan kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS, malaria dan
tuberkulosis, memastikan lingkungan yang kesinambungan, mengembangkan kemitraan global
untuk pembangunan. Dalam rangka mendukung pertemuan tersebut dan mendapatkan data
kesehatan terkini yang faktual, Riskesdas 2010 difokuskan pada indikator-indikator pencapaian
MDGs dan data pendukung lainnya. Untuk menjaga kesinambungan, Riskesdas serupa 2007
direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2013.

Pertanyaan penelitian untuk Riskesdas 2010 yaitu: 1) Bagaimanakah status pencapaian target
MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di tingkat nasional dan provinsi?; dan 2)
Bagaimana faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan
Indonesia di tingkat nasional dan provinsi?

Tujuan umum adalah memperoleh gambaran pencapaian target indikator MDG khusus
kesehatan pada tahun 2010 berdasarkan Provinsi dan Nasional. Tujuan khsuusnya adalah
untuk: a) Menilai status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia pada tahun 2010 di
tingkat nasional dan provinsi, dan b) Memperoleh gambaran faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi status pencapaian target MDGs kesehatan Indonesia di tingkat nasional dan
provinsi.

Beberapa indikator MDGs kesehatan yang dikumpulkan melalui Riskesdas 2010 adalah status
gizi balita dan konsumsi (memberantas kelaparan), status kesehatan ibu dan anak
(menurunkan kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu), prevalensi malaria dan
tuberkulosis (menurunkan angka kesakitan), akses sumber air minum yang aman dan fasilitas
sanitasi dasar. Data tersebut dikumpulkan seperti pada Riskesdas 2007 yaitu melalui
wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan laboratorium untuk kepastian penyakit malaria dan
tuberkulosis yang dilakukan di lapangan (darah malaria) dan Laboratorium Puskesmas yang
direkomendasi (dahak tuberkulosis). Beberapa indikator MDGs kesehatan lainnya yaitu
prevalensi HIV/AIDS dan angka kematian anak tidak dapat dikumpulkan melalui Riskesdas
2010 karena memerlukan penelitian khusus atau didapat dari sumber data lain.

Riskesdas 2010 adalah Riskesdas MDGs karena menghasilkan beberapa indikator MDGs
kesehatan nasional (Indonesia) yang berbasis bukti, dan komitmen kesehatan tingkat nasional
dan global sebagai bahan penilaian pencapaian MDGs di tahun 2015. Selain itu, juga sebagai
sarana untuk mengevaluasi perkembangan beberapa status kesehatan masyarakat Indonesia
di tingkat nasional dan provinsi, perubahan masalah kesehatan di tingkat nasional dan provinsi,
dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan di tingkat nasional dan provinsi dalam tiga
tahun terakhir.

Pengumpulan data Riskesdas 2010 dilakukan segera setelah selesainya Sensus Penduduk
2010. Pengorganisasian Riskesdas 2010 sama dengan Riskesdas 2007 dilaksanakan
sepenuhnya oleh seluruh jajaran Balitbangkes dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS)
untuk metodologi dan penentuan sampel nasional dan provinsi, serta melibatkan penyelenggara
program terkait, organisasi profesi, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah daerah,
dan masyarakat.

10
Proses pengumpulan data dilakukan dibawah koordinasi Balitbangkes yang terbagi menjadi
empat koordinator wilayah sebagai berikut:
a. Koordinator Wilayah 1 dengan penanggung-jawab Puslitbang Ekologi & Status
Kesehatan untuk: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara,
Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Banten, dan Papua
Barat.
b. Koordinator Wilayah 2 dengan penanggung- jawab Puslitbang Biomedis dan Farmasi
untuk: Provinsi Riau, Kep.Riau, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan
c. Koordinator Wilayah 3 dengan penanggung-jawab Puslitbang Sistem dan Kebijakan
Kesehatan untuk: Provinsi DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, dan Maluku Utara.
d. Koordinator Wilayah 4 dengan penanggung-jawab Puslitbang Gizi dan Makanan untuk:
Provinsi Bengkulu, Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua.
Pengembangan kuesioner dan pedoman dilakukan oleh tim teknis Balitbangkes dan dilakukan
pelatihan berjenjang mulai dari pelatih tingkat pusat sampai ke enumerator sebagai pengumpul
data di lapangan. Keseluruhan proses Riskesdas 2010 dimulai semenjak bulan februari 2010
sampai data selesai dikumpulan pada minggu pertama Agustus 2010.
Riskesdas 2010 memberikan manfaat untuk memantau indikator MDGsn khusus kesehatan
sehingga dapat digunakan untuk mempertajam strategi kebijakan pembangunan kesehatan
dalam mempercepat pencapaian MDG 2015.
Riskesdas 2010 telah mendapat persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (lihat
lampiran).

11
BAB II. METODOLOGI
1. Disain

Riskesdas adalah sebuah survei yang dilakukan secara cross sectional yang bersifat deskriptif.
Disain Riskesdas terutama dimaksudkan untuk menggambarkan masalah kesehatan penduduk
di seluruh pelosok Indonesia, yang mewakili penduduk di tingkat nasional dan provinsi dan
berorientasi pada kepentingan para pengambil keputusan untuk kepentingan pencapaian
MDGs.

2. Lokasi

Sampel Riskesdas 2010 mewakili nasional dan 33 provinsi yang tersebar di 441
Kabupaten/Kota dari total 497 Kabupaten/Kota di Indonesia. Sampai dengan laporan ini dibuat,
beberapa catatan berkenan dengan lokasi adalah sebagai berikut:
a) Dalam proses pengumpulan data, terjadi 43 pergantian BS dari 2800 BS yang telah
ditetapkan semula, hal ini disebabkan karena BS semula terpilih jumlah rumah tangga yang
akan menjadi sampel tidak terpenuhi dengan kriteria yang sudah ditetapkan
b) Ada 1 kabupaten di Provinsi Papua (Kabupaten Nduga) yang tidak dapat dikunjungi dalam
periode waktu pengumpulan data Riskesdas.
c) Sehubungan dengan waktu untuk analisis indikator MDG sudah harus dilaksanakan, maka
dari 2800 BS yang seharusnya menjadi sampel Riskesdas hanya dapat diolah sejumlah
2704 BS atau 96,5 persen (lihat tabel 1)

3. Populasi dan Sampel


Populasi dalam Riskesdas 2010 adalah seluruh rumah tangga biasa yang mewakili 33 provinsi
yang tersebar di 441 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Sampel rumah tangga dan anggota
rumah tangga dalam Riskesdas 2010 dipilih berdasarkan listing Sensus Penduduk (SP) 2010.
Proses pemilihan rumah tangga dilakukan BPS dengan two stage sampling yang sama dengan
Riskesdas 2007/Susenas 2007. Berikut ini adalah uraian singkat cara penghitungan dan cara
penarikan sampel dimaksud.

Penarikan Sampel Blok Sensus

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, Riskesdas memilih BS yang telah dikumpulkan SP
2010. Pemilihan BS dilakukan sepenuhnya oleh BPS dengan memperhatikan status ekonomi,
rasio perkotaan/perdesaan, dan prevalensi malaria/TB-paru hasil Riskesdas 2007. Dari setiap
provinsi diambil sejumlah blok sensus yang representative terhadap jumlah rumah
tangga/anggota rumah tangga di provinsi tersebut. Riskesdas berhasil mengumpulkan seluruh
BS kecuali di kabupaten Nduga, Papua. Akan tetapi karena analisis harus segera dilakukan
maka 94 BS yang belum sempat terkirim ke manajemen data pusat per tanggal 12 Agustus
2010, tidak bisa diikutkan untuk proses analisis.

12
Penarikan Sampel Rumah Tangga/Anggota Rumah Tangga
Dari setiap blok sensus terpilih kemudian dipilih 25 (dua puluh lima) rumah tangga secara acak
sederhana (simple random sampling), yang menjadi sampel rumah tangga dari jumlah rumah
tangga di blok sensus tersebut.
Tabel 1
Jumlah Sampel Blok Sensus (BS) menurut Provinsi, Riskesdas 2010

Jml BS
Jml BS- Jml BS-yang
Provinsi yang belum
Sampel diolah
diolah
Nanggroe Aceh Darussalam 53 51 2
Sumatera Utara 128 117 11
Sumatera Barat 54 52 2
Riau 66 64 2
Jambi 40 33 7
Sumatera Selatan 83 82 1
Bengkulu 29 29 0
Lampung 86 84 2
Bangka Belitung 23 23 0
Kepulauan Riau 28 28 0
DKI Jakarta 111 111 0
Jawa Barat 494 487 7
Jawa Tengah 343 343 0
DI Yogyakarta 54 54 0
Jawa Timur 410 410 0
Banten 117 115 2
Bali 49 49 0
Nusa Tenggara Barat 64 64 0
Nusa Tenggara Timur 50 31 19
Kalimantan Barat 53 40 13
Kalimantan Tengah 35 35 0
Kalimantan Selatan 50 50 0
Kalimantan Timur 46 46 0
Sulawesi Utara 38 32 6
Sulawesi Tengah 34 26 8
Sulawesi Selatan 85 85 0
Sulawesi Tenggara 33 33 0
Gorontalo 23 23 0
Sulawesi Barat 22 22 0
Maluku 23 23 0
Maluku Utara 19 19 0
Papua Barat 22 21 1
Papua 35 22 13
Indonesia 2800 2704 96
Secara keseluruhan, jumlah sampel rumah tangga dari 2704 BS adalah 66.906, dengan jumlah
individu 241.946. Jumlah rumah tangga yang diharapkan terkumpul adalah 70.000 dari 2800
BS. Jumlah sampel rumah tangga (66.906) yang diolah adalah mewakili 96,5% dari total

13
sampel yang diharapkan. Tidak semua 2704 BS dapat mengumpulkan masing-masing 25
rumah tangga sampel. Seharusnya dari 2704 BS akan terkumpul 67.600, artinya ada 694
rumah tangga yang tidak ditemukan pada saat pengumpulan data. Distribusi jumlah rumah
tangga dan anggota rumah tangga dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2.
Distribusi sampel rumah tangga dan anggota rumah tangga menurut Provinsi,
Riskesdas 2010

Jumlah Rumah Jumlah


tangga*) ART
PROVINSI Jml BS
Sampel Yang yang
seharusnya terkumpul terkumpul
Nanggroe Aceh Darussalam 51 1,275 1,268 4,899
Sumatera Utara 117 2,925 2,851 11,320
Sumatera Barat 52 1,300 1,300 5,123
Riau 64 1,600 1,590 6,310
Jambi 33 825 816 3,075
Sumatera Selatan 82 2,050 2,039 7,940
Bengkulu 29 725 725 2,694
Lampung 84 2,100 2,099 7,496
Bangka Belitung 23 575 575 2,050
Kepulauan Riau 28 700 678 2,320
DKI Jakarta 111 2,775 2,662 9,031
Jawa Barat 487 12,175 12,096 41,738
Jawa Tengah 343 8,575 8,529 29,517
DI Yogyakarta 54 1,350 1,350 4,325
Jawa Timur 410 10,250 10,180 35,367
Banten 115 2,875 2,800 10,703
Bali 49 1,225 1,218 4,493
Nusa Tenggara Barat 64 1,600 1,599 5,597
Nusa Tenggara Timur 31 775 774 3,506
Kalimantan Barat 40 1,000 968 3,780
Kalimantan Tengah 35 875 874 3,076
Kalimantan Selatan 50 1,250 1,235 4,227
Kalimantan Timur 46 1,150 1,140 4,201
Sulawesi Utara 32 800 771 2,652
Sulawesi Tengah 26 650 644 2,362
Sulawesi Selatan 85 2,125 2,118 8,296
Sulawesi Tenggara 33 825 825 3,400
Gorontalo 23 575 575 2,174
Sulawesi Barat 22 550 550 2,106
Maluku 23 575 571 2,385
Maluku Utara 19 475 473 1,994
Papua Barat 21 525 499 2,009
Papua 22 550 514 1,780
INDONESIA 2,704 67,600 66,906 241,946
*) Jumlah rumah tangga seharusnya adalah 25 per BS

14
Penarikan Sampel Biomedis
Sampel untuk pengukuran biomedis merupakan sub-sampel dari 2800 BS yang mewakili
nasional atau sejumlah 823 BS. Pada BS yang terpilih untuk biomedis, rumah tangganya dan
anggota rumah tangganya selain dikumpulkan variabel kesehatan masyarakat juga dialkukan
pemeriksaan biomedis. Untuk pemeriksaan malaria, seluruh anggota rumah tangga dari 823 BS
dilakukan pengambilan darah, dan anggota rumah tangga usia 15 tahun keatas yang dilakukan
pengambilan sputum/dahak pagi dan sewaktu untuk pemeriksaan TB paru.

4. Variabel

Berbagai pertanyaan terkait dengan indikator MDG bidang kesehatan dioperasionalisasikan


menjadi pertanyaan riset dan akhirnya dikembangkan menjadi variabel yang dikumpulkan
dengan menggunakan berbagai cara. Dalam Riskesdas 2010 terdapat kurang lebih 315
variabel yang tersebar dalam 2 (dua) jenis kuesioner (lihat file terlampir), dengan rincian
variabel pokok sebagai berikut:
a. Kuesioner rumah tangga (RKD10.RT) yang terdiri dari:
Blok I tentang pengenalan tempat (11 variabel);
Blok II tentang keterangan rumah tangga (4 variabel);
Blok III tentang keterangan pengumpul data (6 variabel);
Blok IV tentang anggota rumah tangga (13 variabel);
Blok V tentang dasilitas pelayanan kesehatan (18 variabel);
Blok VI tentang sanitasi lingkungan (20 variabel);
Blok VII tentang Pengeluaran Rumah Tangga (39 variabel)
b. Kuesioner individu (RKD10.IND), yang terdiri dari:
Blok VIII ini dikelompokkan menjadi
i. Blok VIII-A tentang identifikasi responden (4 variabel);
ii. Blok VIII-B tentang penyakit menular: Malaria (10 variabel), TB paru (9 variabel)
iii. Blok VIII-C tentang pengetahuan dan perilaku (22 variabel)
iv. Blok VIII-D tentang kesehatan reproduksi, yang terdiri dari 6 sub-blok:
1. Da. Masa reproduksi perempuan (6 variabel)
2. Db Fertilitas (11 variabel)
3. Dc Alat/cara KB (8 variabel)
4. Dd Kehamilan, persalinan, pemeriksaan sesudah melahirkan (41 variabel)
5. De Keguguran dan Kehamilan yang tidak diinginkan (10 variabel)
6. Perilaku seksual (6 variabel)
v. Blok VIII-E tentang kesehatan anak , yang terdiri dari 2 sub-blok:
1. Kesehatan bayi dan anak balita (22 variabel);
2. ASI dan MP-ASI (10 variabel)
vi. Blok IX- tentang konsumsi makanan individu (jumlah variabel tergantung
makanan yang dikonsumsi;
Blok X tentang pengukuran tinggi/panjang badan dan berat badan (5 variabel)
Blok XI tentang Pemeriksaan laboratorium (7 variabel).

15
5. Alat Pengumpul Data dan Cara Pengumpulan Data

Pelaksanaan Riskesdas 2010 menggunakan berbagai alat pengumpul data dan berbagai cara
pengumpulan data, dengan rincian sebagai berikut:
a. Pengumpulan data rumah tangga dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan
Kuesioner RKD10.RT
Responden untuk Kuesioner RKD10.RT adalah Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga
atau Anggota Rumah Tangga yang dapat memberikan informasi
Dalam Kuesioner RKD10.RT terdapat keterangan anggota rumah tangga termasuk
variabel yang dapat menunjukkan apakah anggota rumah tangga diwawancarai atau
tidak, diwakili atau tidak diwakili.
b. Pengumpulan data individu pada berbagai kelompok umur dilakukan dengan teknik
wawancara menggunakan Kuesioner RKD10.IND
Secara umum, responden untuk Kuesioner RKD10.IND adalah setiap anggota rumah
tangga. Khusus untuk anggota rumah tangga yang berusia kurang dari 15 tahun, dalam
kondisi sakit atau orang tua maka wawancara dilakukan terhadap anggota rumah
tangga yang menjadi pendampingnya;
Anggota rumah tangga semua umur menjadi unit analisis untuk pertanyaan mengenai
penyakit menular malaria dan TB paru, pengukuran berat badan, tinggi badan / panjang
badan; konsumsi individu, dan pada BS biomedis dilakukan pemeriksaan darah malaria
untuk deteksi antigen plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic
Test/RDT).
Anggota rumah tangga berumur = 15 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan
pengetahuan dan perilaku tentanh HIV/AIDS, pencegahan TB paru, pencegahan
malaria, pengetahuan tembakau, dan konsumsi jamu/obat tradisional, dan pada BS
biomedis dilakukan pemeriksaan TB Paru dengan mengambil sputum pagi dan sewaktu.
Anggota rumah tangga perempuan berumur 10-59 tahun menjadi unit analisis untuk
pertanyaan Kesehatan Reproduksi
Anggota rumah tangga berumur 0-59 bulan menjadi unit analisis untuk pertanyaan
kesehatan anak;
Anggota rumah tangga berumur 10-24 tahun menjadi unit analisis untuk pertanyaan
mengenai perilaku seksual;
c. Untuk biomedis, hasil pemeriksaan darah malaria dan sputum digunakan formulir tersendiri
(form M1, M2, T1, T2, Mt1, MT2).

6. Manajemen Data

Balitbangkes membentuk tim manajemen data pusat yang mengkoordinasikan seluruh proses
yaitu:
Bersama dengan BPS mengembangkan program data entry yang digunakan oleh
enumerator setelah data dikumpulkan di lapangan
Setelah data entry dilakukan di lapangan, data langsung dikirim via email ke tim
manajemen Pusat untuk dilakukan pemeriksaan kelengkapan dan data cleaning
Bersama dengan BPS melakukan proses pembobotan untuk siap di analisis.

16
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sesuai dengan tujuan dari Riskesdas 2010 yaitu memberikan informasi terkini keadaan
kesehaatan masyarakat berkaitan dengan MDG, maka hasil dan pembahasan berikut khusus
menyajikan indikator untuk menjawab goal 1, 4, 5,6, dan 7. Beberapa indikator terkait goal
dimaksud juga disajikan agar informasi yang disajikan menjadi lebih lengkap.

1. Goal 1 – MDG

Target:
Menurunkan hingga setengahnya proporsi penduduk yang menderita kelaparan dalam kurun
waktu 1990-2015.
Indikator:
1. Prevalensi balita kurang gizi (berat badan rendah, pendek, dan kurus)
2. Proporsi penduduk dengan asupan kalori dibawah tingkat konsumsi minimum

STATUS GIZI PADA BALITA


Seperti halnya pada Riskesdas 2007, status gizi balita dinilai berdasarkan parameter
antropometri yang terdiri dari berat badan dan panjang/tinggi badan. Indikator status gizi yang
digunakan adalah: Berat Badan menurut Umur (BB/U), Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan
Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Untuk menilai status gizi balita digunakan Standar
Antropometri yang dikeluarkan oleh WHO pada tahun 2005 atau yang disebut dengan “Standar
WHO 2005”. Dalam Millenium Development Goal (MDGs), indikator status gizi yang dipakai
adalah BB/U dan angka prevalensi status “underweight” (gizi kurang dan buruk atau disingkat
“Gizi Burkur”) dijadikan dasar untuk menilai pencapaian MDGs. Prevalensi balita menurut tiga
indikator status gizi (BB/U, TB/U dan BB/TB) disajikan pada Tabel 1.

1.1. Status Gizi Balita Tingkat Nasional

Secara nasional prevalensi balita “gizi burkur” menurun sebanyak 0,5 persen yaitu dari 18,4
persen pada tahun 2007 menjadi 17,9 persen pada tahun 2010. Demikian pula halnya dengan
prevalensi balita pendek yang menurun sebanyak 1,2 persen yaitu dari 36,8 persen pada tahun
2007 menjadi 35,6 persen pada tahun 2010, dan prevalensi balita kurus menurun sebanyak 0,3
persen yaitu dari 13,6 persen pada tahun 2007 menjadi 13,3 persen pada tahun 2010 (Tabel
1.1). Untuk prevalensi masing-masing indikator menurut BB/U, TB/U dan BB/TB dapat dilihat
pada tabel 1.1a, 1.1b, 1.1c.

1.2. Status Gizi Balita Di Daerah Kota dan Desa

Terdapat perbedaan perkembangan Prevalensi Balita Gizi Burkur, Balita Pendek dan Balita
Kurus dari tahun 2007 ke 2010 antara daerah Kota dan Desa. Di daerah Kota secara umum
terjadi penurunan prevalensi Balita Gizi Burkur, Balita Pendek dan Balita Kurus. Di daerah
Desa tidak terjadi penurunan prevalensi.

17
Di daerah Kota prevalensi balita Gizi Burkur menurun dari 15,9 persen tahun 2007
menjadi 15,2 persen tahun 2010 (Gambar 1.1), prevalensi balita pendek turun dari 32,7
persen tahun 2007 menjadi 31,4 persen tahun 2010 (Gambar 1.2), dan prevalensi balita kurus
turun dari 13,1 persen tahun 2007 menjadi 12,5 persen tahun 2010 (Gambar 1.3).
TABEL 1.1. STATUS GIZI BALITA PADA TAHUN 2007 DAN 2010
BB/U TB/U BB/TB
PROVINSI GIZI BURKUR PENDEK KURUS
2007 2010 2007 2010 2007 2010
11. Nanggroe Aceh Darussalam 26,5 23,7 44,6 38,9 18,3 14,2
12. Sumatera Utara 22,8 21,4 43,1 42,3 17,0 14,0
13. Sumatera Barat 20,2 17,1 36,5 32,8 15,3 8,2
14. R i a u 21,4 16,2 33,0 32,2 22,1 17,2
15. Jambi 18,9 19,6 36,4 30,2 19,2 20,0
16. Sumatera Selatan 18,3 19,9 44,7 40,4 15,8 14,6
17. Bengkulu 16,8 15,3 36,0 31,6 14,1 17,8
18. Lampung 17,5 13,4 38,7 36,3 13,7 13,9
19. Bangka Belitung 18,3 14,9 35,5 29,0 10,8 7,6
21. Kepulauan Riau 12,4 14,0 26,2 26,9 13,5 7,9
31. DKI Jakarta 12,9 11,3 26,7 26,6 16,9 11,3
32. Jawa Barat 15,0 13,0 35,5 33,6 9,0 11,0
33. Jawa Tengah 16,1 15,7 36,5 33,9 11,8 14,2
34. DI Yogyakarta 10,9 11,2 27,6 22,5 9,0 9,1
35. Jawa Timur 17,5 17,1 34,8 35,9 13,7 14,2
36. Banten 16,7 18,5 39,0 33,5 14,1 14,1
51. B a l i 11,4 11,0 31,0 29,3 10,0 13,2
52. Nusa Tenggara Barat 24,8 30,5 43,7 48,2 15,5 14,0
53. Nusa Tenggara Timur 33,6 29,4 46,8 58,4 20,0 13,2
61. Kalimantan Barat 22,5 29,1 39,3 39,7 17,3 16,7
62. Kalimantan Tengah 24,3 27,6 42,7 39,6 16,9 15,6
63. Kalimantan Selatan 26,6 22,9 41,8 35,3 16,3 15,6
64. Kalimantan Timur 19,3 17,1 35,2 29,1 15,9 12,9
71. Sulawesi Utara 15,7 10,6 31,2 27,8 10,2 9,2
72. Sulawesi Tengah 27,6 26,5 40,4 36,2 15,5 14,8
73. Sulawesi Selatan 17,6 25,0 29,1 38,9 13,7 12,0
74. Sulawesi Tenggara 22,8 22,8 40,5 37,8 14,7 15,8
75. Gorontalo 25,4 26,5 39,9 40,3 16,6 11,9
76. Sulawesi Barat 25,4 20,5 44,5 41,6 16,8 16,7
81. Maluku 27,8 26,2 45,8 37,5 17,2 13,2
82. Maluku Utara 22,8 23,6 40,2 29,4 14,8 17,8
91. Papua Barat 23,1 26,5 39,4 49,2 16,4 11,4
94. P a p u a 21,3 16,2 37,7 28,3 12,4 13,8
INDONESIA 18,4 17,9 36,8 35,6 13,6 13,3

18
Tabel 1.1a. Prevalensi Balita Gizi Kurang dan Gizi Buruk (BB/U) Menurut Provinsi
Tahun 2010

Status Gizi BB/U


Provinsi
Gizi Gizi Buruk+
Gizi buruk
kurang Gizi Kurang
11. Nanggroe Aceh Darussalam 7,1 16,6 23,7
12. Sumatera Utara 7,8 13,5 21,4
13. Sumatera Barat 2,8 14,4 17,1
14. R i a u 4,8 11,4 16,2
15. Jambi 5,4 14,3 19,6
16. Sumatera Selatan 5,5 14,4 19,9
17. Bengkulu 4,3 11,0 15,3
18. Lampung 3,5 10,0 13,4
19. Bangka Belitung 3,2 11,7 14,9
21. Kepulauan Riau 4,3 9,8 14,0
31. DKI Jakarta 2,6 8,7 11,3
32. Jawa Barat 3,1 9,9 13,0
33. Jawa Tengah 3,3 12,4 15,7
34. DI Yogyakarta 1,4 9,9 11,2
35. Jawa Timur 4,8 12,3 17,1
36. Banten 4,8 13,7 18,5
51. B a l i 1,7 9,2 11,0
52. Nusa Tenggara Barat 10,6 19,9 30,5
53. Nusa Tenggara Timur 9,0 20,4 29,4
61. Kalimantan Barat 9,5 19,7 29,1
62. Kalimantan Tengah 5,3 22,3 27,6
63. Kalimantan Selatan 6,0 16,8 22,9
64. Kalimantan Timur 4,4 12,7 17,1
71. Sulawesi Utara 3,8 6,8 10,6
72. Sulawesi Tengah 7,9 18,6 26,5
73. Sulawesi Selatan 6,4 18,6 25,0
74. Sulawesi Tenggara 6,5 16,3 22,8
75. Gorontalo 11,2 15,3 26,5
76. Sulawesi Barat 7,6 12,9 20,5
81. Maluku 8,4 17,8 26,2
82. Maluku Utara 5,7 17,9 23,6
91. Papua Barat 9,1 17,4 26,5
94. P a p u a 6,3 10,0 16,2
INDONESIA 4,9 13,0 17,9

19
TABEL 1.1b. Prevalensi Balita Pendek dan Sangat (TB/U) Menurut Provinsi
Tahun 2010

Status Gizi TB/U


Provinsi Pendek+
Sangat
Pendek Sangat
pendek
pendek
11. Nanggroe Aceh Darussalam 24,2 14,8 38,9
12. Sumatera Utara 23,4 18,9 42,3
13. Sumatera Barat 14,3 18,4 32,8
14. R i a u 19,6 12,5 32,2
15. Jambi 15,4 14,8 30,2
16. Sumatera Selatan 23,1 17,3 40,4
17. Bengkulu 18,3 13,3 31,6
18. Lampung 20,6 15,6 36,3
19. Bangka Belitung 12,5 16,6 29,0
21. Kepulauan Riau 11,4 15,5 26,9
31. DKI Jakarta 14,3 12,3 26,6
32. Jawa Barat 16,6 17,1 33,6
33. Jawa Tengah 16,9 17,0 33,9
34. DI Yogyakarta 10,2 12,3 22,5
35. Jawa Timur 20,9 14,9 35,9
36. Banten 16,5 17,0 33,5
51. B a l i 14,0 15,3 29,3
52. Nusa Tenggara Barat 27,8 20,5 48,2
53. Nusa Tenggara Timur 30,9 27,5 58,4
61. Kalimantan Barat 20,7 19,0 39,7
62. Kalimantan Tengah 18,0 21,6 39,6
63. Kalimantan Selatan 15,9 19,4 35,3
64. Kalimantan Timur 14,4 14,7 29,1
71. Sulawesi Utara 12,7 15,1 27,8
72. Sulawesi Tengah 16,0 20,1 36,2
73. Sulawesi Selatan 15,8 23,1 38,9
74. Sulawesi Tenggara 20,8 17,0 37,8
75. Gorontalo 21,6 18,7 40,3
76. Sulawesi Barat 21,6 20,0 41,6
81. Maluku 16,5 21,0 37,5
82. Maluku Utara 14,4 15,0 29,4
91. Papua Barat 28,6 20,6 49,2
94. P a p u a 13,3 15,0 28,3
INDONESIA 18,5 17,1 35,6

20
TABEL 1.1c. Prevalensi Balita Kurus dan Sangat kurus (BB/TB) Menurut Provinsi
Tahun 2010

Status Gizi BB/TB


Provinsi Kurus+
Sangat
Kurus Sangat
kurus
kurus
11. Nanggroe Aceh Darussalam 6,3 7,9 14,2
12. Sumatera Utara 5,6 8,4 14,0
13. Sumatera Barat 4,0 4,2 8,2
14. R i a u 9,2 8,0 17,2
15. Jambi 11,3 8,7 20,0
16. Sumatera Selatan 7,3 7,3 14,6
17. Bengkulu 9,7 8,1 17,8
18. Lampung 5,4 8,5 13,9
19. Bangka Belitung 1,7 5,8 7,6
21. Kepulauan Riau 2,0 6,0 7,9
31. DKI Jakarta 4,4 6,9 11,3
32. Jawa Barat 4,6 6,4 11,0
33. Jawa Tengah 6,4 7,8 14,2
34. DI Yogyakarta 2,6 6,5 9,1
35. Jawa Timur 7,3 6,8 14,2
36. Banten 6,2 7,9 14,1
51. B a l i 5,2 7,9 13,2
52. Nusa Tenggara Barat 5,9 8,0 14,0
53. Nusa Tenggara Timur 6,8 6,4 13,2
61. Kalimantan Barat 7,6 9,1 16,7
62. Kalimantan Tengah 6,0 9,6 15,6
63. Kalimantan Selatan 8,4 7,2 15,6
64. Kalimantan Timur 5,8 7,1 12,9
71. Sulawesi Utara 2,6 6,7 9,2
72. Sulawesi Tengah 8,4 6,4 14,8
73. Sulawesi Selatan 4,8 7,2 12,0
74. Sulawesi Tenggara 6,2 9,6 15,8
75. Gorontalo 4,1 7,7 11,9
76. Sulawesi Barat 6,1 10,6 16,7
81. Maluku 6,3 6,9 13,2
82. Maluku Utara 6,4 11,3 17,8
91. Papua Barat 6,0 5,5 11,4
94. P a p u a 8,2 5,7 13,8
INDONESIA 6,0 7,3 13,3

21
22
1.3. Status Gizi Balita Menurut Kuintil Pendapatan Keluarga

Kuintil pendapatan keluarga terdiri dari kuintil 1 sampai kuintil 5. Kuintil 1 adalah kelompok
pendapatan terendah dan kuintil 5 adalah kelompok pendapatan tertinggi. Dari Gambar 1.4, 1.5
dan 1.6 secara umum dapat dilihat bahwa penurunan prevalensi balita gizi burkur, balita pendek
dan balita kurus terjadi pada kuintil 3, kuintil 4 dan kuintil 5, sedangkan prevalensi untuk ketiga
jenis masalah gizi balita pada kuintil 1 dan kuintil 2 terlihat meningkat atau relative tetap.

Dengan demikian keluarga yang masuk 2 kelompok pendapatan terendah atau keluarga yang
tergolong miskin masih belum menunjukkan adanya peningkatan status gizi pada balitanya.

23
1.4. Status Gizi Balita Menurut Jenis Kelamin

Status gizi balita perempuan secara umum lebih baik dari balita laki-laki baik pada tahun 2007
maupun tahun 2010. Prevalensi balita gizi burkur, pendek dan kurus secara umum lebih rendah
pada balita perempuan dibanding dengan balita laki-laki. Demikian pula penurunan prevalensi
balita yang bermasalah gizi secara umum lebih besar terjadi pada balita perempuan disbanding
dengan balita laki-laki, terutama pada prevalensi balita gizi burkur dan balita pendek (Gambar
1.7, 1.8 dan 1.9).

24
Prevalensi balita gizi burkur pada balita perempuan menurun dari 17,7 persen tahun 2007
menjadi 16,7 persen tahun 2010 atau turun sebesar 1 persen, sedangkan pada balita laki-laki
tidak terjadi penurunan atau tetap 19,1 persen. Demikian pula halnya dengan prevalensi
pendek, pada balita perempuan turun dari 35,8 persen tahun 2007 menjadi 33,9 persen tahun
2010 atau turun sebesar 1,9 persen, sedangkan pada balita laki-laki penurunan prevalensi
terlihat kecil yaitu dari 37,7 persen tahun 2007 menjadi 37,3 persen tahun 2010 atau turun
sebesar 0,4 persen. Penurunan prevalensi kurus terlihat lebih tinggi pada balita laki-laki yaitu
sebesar 0,7 persen, sedangkan pada balita perempuan sebesar 0,2 persen.

1.5. Status Gizi Balita Tingkat Provinsi

Ditinjau dari prevalensi Balita Gizi Burkur pada tahun 2010 ada 20 provinsi yang
menurun prevalensi dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Provinsi Sulawesi Utara
memiliki prevalensi balita gizi burkur paling rendah yaitu 10,0 persen dan Provinsi NTB memiliki
prevalensi tertinggi yaitu 30,5 persen (Gambar 1.10).

Dalam hal prevalensi Balita Pendek pada tahun 2010 ada 25 provinsi yang menurun
prevalensinya dan 8 provinsi yang meningkat atau relative tetap prevalensinya. Provinsi DI
Yogyakarta memiliki prevalensi pendek terendah yaitu 22,5 persen dan Provinsi NTT memiliki
prevalensi tertinggi yaitu 58,4 persen. (Gambar 1.11)

Demikian pula dengan prevalensi Balita Kurus, terdapat 20 provinsi yang menurun
prevalensinya dan 13 provinsi meningkat atau relative tetap. Provinsi Bangka Belitung memiliki
prevalensi terendah yaitu 7,6 persen dan Provinsi Jambi memiliki prevalensi tertinggi yaitu 20,0
persen (Gambar 1.12).

1.6. Trend Prevalensi Balita Gizi Burkur dari Tahun 1989 – 2010

Pencapaian MDG berdasarkan indicator status gizi balita disajikan pada Gambar 1.13
trend prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 – 2010. Secara umum dapat dilihat
penurunan prevalensi balita gizi burkur dari tahun 1989 ke tahun 2010. Pada tahun 1989
prevalensi gizi burkur sebesar 31 persen yang diharapkan menjadi separuhnya yaitu 15,5
persen pada tahun 2015.
Pencapaian indicator MDG pada tahun 2010 berdasarkan prevalensi gizi burkur adalah
17,9 persen. Dengan demikian dalamk kurun waktu 5 tahun mendatang Indonesia harus
menurunkan prevalensi balita gizi burkur sebesar 2,4 persen yang berarti rata-rata dalam
setahun harus turun sebesar 0,5 persen.

25
26
.

27
28
KONSUMSI ENERGI DIBAWAH KEBUTUHAN MINIMAL

Tujuan MDG’s nomor satu adalah “Menanggulangi Kemiskinan dan `Kelaparan”


dan didalamnya terdapat target “menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan
menjadi setengahnya”, yang dijabarkan dalam indikator “Proporsi penduduk yang berada di
bawah konsumsi minimum”. Sesuai dengan indikator diatas, maka pada Risksdas 2010 telah
dikumpulkan data konsumsi energi individu, dimana setiap anggota rumah tangga diwawancara
konsumsi makan sehari (24 jam yang lalu), sedangkan pada Riskesdas 2007, data konsumsi
energi adalah data konsumsi rumah tangga, dimana ibu atau orang yang menyediakan makan
untuk semua anggota rumah tangga yang diwawancara dengan memperhitungkan jumlah
orang menurut umur dan jenis kelamin yang makan dirumah dan yang makan diluar rumah.
Konsumsi energi per kapita penduduk pada data Riskesdas 2007 dihitung berdasarkan
konsumsi energi rumah tangga dibagi jumlah anggota rumah tangga yang sudah distandarisasi
menurut umur dan jenis kelamin, serta dikoreksi dengan jumlah tamu yang ikut makan dirumah
tangga tersebut (menurut umur dan jenis kelamin). Proporsi penduduk yang mengkonsumsi
energi lebih rendah dari 70 % dari 2100 kkal.
Oleh sebab itu data konsumsi energi Riskesdas 2010 lebih akurat, sebab angka yang
diperoleh merupakan angka konsumsi energi individu (anggota rumah tangga). Kebutuhan
konsumsi energi setiap individu berbeda menurut umur dan jenis kelamin serta status hamil
atau menyusui (bagi individu wanita). Proporsi penduduk dengan konsumsi energi dibawah
kebutuhan minimal dihitung berdasarkan konsumsi energi penduduk dibandingkan
kebutuhannya sesuai umur, jenis kelamin dan status kehamilan (bagi ibu hamil). Acuan

29
kecukupan yang digunakan adalah “Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia”
dalam Widya Karya Pangan dan Gizi Tahun 2004.
Hasil Riskesdas 2010, konsumsi penduduk di Indonesia yang mengkonsumsi energi
dibawah kebutuhan minimal (lebih rendah dari 70 % dari angka kecukupan gizi bagi orang
Indonesia (tahun 2004) adalah sebanyak 40,6 %. Proporsi defisit energi < 70 % terbanyak
pada usia remaja (54,5%), dan terendah pada anak balita (24,4 %).

Tabel 1.2. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70
% Angka Kecukupan Gizi) - Riskesdas 2010

Kelompok Umur %
Balita 24,4
Anak Sekolah 41,2
Remaja 54,5
Dewasa 40,2
Ibu Hamil 44,2
Total 40,6

Gambar 1.14. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal
(< 70 % AKG 2004) – Riskesdas 2010

%
60 54,5
50 41,2 44,2
40,2 40,6
40
30 24,4
20
10
0

Balita Anak Sek Remaja


Dewasa Hamil Total

Proporsi penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% dari
AKG) lebih banyak pada penduduk di desa dari pada penduduk di kota. Menurut kuintil
pengeluaran rumah tangga, semakin tinggi kuintil pengeluaran rumah tangga semakin sedikit
penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (<70% AKG). Pada
penduduk dengan kuintil pengeluaran rumah tangga terendah (kuintil 1) sebanyak 46,6 %
penduduk yang mengkonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (70 %), dan sebaliknya pada

30
kuintil pengeluaran rumah tangga tertinggi (kuintil 5), sebanyak 34,3 persen penduduk yang
mengonsumsi energi dibawah kebutuhan minimal (< 70 % AKG).

Tabel 1.3. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70 %
Angka Kecukupan Gizi) Menurut Desa dan Kota – Riskesdas 2010

Kelompok Umur %

Kota 39,9
Desa 41,3

Total 40,6

Gambar 1.15. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal
(< 70 % AKG 2004) di Kota dan Di Desa

%
41,5 41,3
41
40,6
40,5
40 39,9

39,5
39

Kota Desa Total

Tabel 1.4. Proporsi Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal (< 70
% Angka Kecukupan Gizi)
Menurut Kuintil Pengeluaran Rumah Tangga - Riskesdas 2010

Tingkat pengeluaran/kapita %
Kuintil 1 46,6
Kuintil 2 43,2
Kuintil 3 40,5
Kuintil 4 37,3
Kuintil 5 34,3
Total 40,6

31
Gambar 1.16. Proporsi (%) Penduduk yang Mengkonsumsi Energi Dibawah Kebutuhan Minimal
(< 70 % AKG 2004)
Menurut Kuintil Pengeluaran RT-Riskesdas 2010

%
50 46,6 43,2 40,5 40,6
40 37,3 34,3
30
20
10
0

Kuintil 1 Kuintil 2 Kuintil 3


Kuintil 4 Kuintil 5 Total

Pada tahun 2007, proporsi konsumsi energi dibawah kebutuhan minimal 43 persen lebih
banyak dibanding pada tahun 2010 yaitu sebanyak 40,6 persen. Menurut provinsi, pada tahun
2007, provinsi dengan penduduk mengkonsumsi energi dibawah kebutuhannya tertinggi di
provinsi Bengkulu (67%), dan terendah di provinsi Jawa Timur (26,1%). Pada tahun 2010,
provinsi yang penduduknya mengkonsumsi energi lebih rendah dari kebutuhannya dengan
jumlah tertinggi adalah provinsi Nusa Tenggara Barat (46,6%) dan provinsi dengan proprosi
konsumsi energi dibawah kebutuhan terendah adalah di provinsi Bengkulu 23,8 persen.

32
2. Goal 4 – MDG

Menurunkan Kematian Anak

Target:
Menurunkan Angka kematian balita hingga dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015

1. Imunisasi campak pada anak 12-23 bulan

Kementerian Kesehatan melaksanakan Program Pengembangan Imunisasi (PPI) pada anak


dalam upaya menurunkan kejadian penyakit pada anak. Program imunisasi untuk penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada anak yang dicakup dalam PPI
adalah satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi DPT-HB, empat kali imunisasi polio, dan
satu kali imunisasi campak.

Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan; imunisasi polio pada bayi baru
lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu, imunisasi
DPT-HB pada bayi umur dua, tiga, empat bulan dengan interval minimal empat minggu, dan
imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan.
Dalam Riskesdas, informasi tentang cakupan imunisasi ditanyakan pada ibu atau anggota
rumahtangga lain yang mempunyai balita umur 0 – 59 bulan. Informasi tentang imunisasi
dikumpulkan dengan tiga cara yaitu:
Wawancara kepada ibu balita atau anggota rumah-tangga yang mengetahui,
Catatan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) atau Buku KIA, dan
Buku catatan kesehatan anak lainnya.

Bila salah satu dari ketiga sumber tersebut menyatakan bahwa anak sudah diimunisasi,
disimpulkan bahwa anak tersebut sudah diimunisasi untuk jenis tersebut.
Selain untuk tiap-tiap jenis imunisasi, anak disebut sudah mendapat imunisasi lengkap bila
sudah mendapatkan semua jenis imunisasi satu kali BCG, tiga kali DPT-HB, tiga kali polio, dan
satu kali imunisasi campak. Oleh karena jadwal tiap jenis imunisasi berbeda, cakupan imunisasi
yang dianalisis hanya pada anak usia 12 – 23 bulan.

Imunisasi campak merupakan salah satu dari indikator dalam Millenium Development Goals
(MDGs). Oleh karena Riskesdas 2010 ditujukan pada indikator yang ada dalam MDGs, dalam
laporan ini hanya analisis untuk imunisasi campak. Cakupan imunisasi campak pada anak umur
12 – 23 bulan dapat dilihat pada dua tabel (Tabel 4.1 s/d Tabel 4.2) menurut provinsi dan
karakteristik responden.

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat secara keseluruhan, cakupan imunisasi campak dalam Riskesdas
sebesar 74,5 persen, menurun 6,1 persen dibanding Riskesdas 2007 (81,6%). Cakupan
imunisasi terendah di provinsi Papua (47,4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (96,4%). Terdapat
19 provinsi cakupan imunisasi campak di bawah rata-rata nasional.

33
Bila cakupan imunisasi campak dibandingkan antara Riskesdas 2007 dan 2010 per provinsi,
hanya ada empat provinsi dengan cakupan imunisasi campak yang naik pada tahun 2010,
sedangkan provinsi lainnya relatif sama atau menurun. Kenaikan cakupan imunisasi campak
antara 2,5-6,8 persen dan penurunan antara 0,2-22,5 persen.

Tabel 4.1. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak
Menurut Provinsi, Riskesdas 2007, 2010

Persentase cakupan imunisasi campak


Provinsi
Riskesdas 2007 Riskesdas 2010
Nanggroe Aceh Darussalam 69,5 60,2
Sumatera Utara 71,2 62,5
Sumatera Barat 75,4 67,6
Riau 84,1 62,6
Jambi 78,0 71,4
Sumatera Selatan 83,5 72,3
Bengkulu 96,0 75,0
Lampung 90,3 83,7
Kep. Bangka Belitung 77,1 76,7
Kepulauan Riau 88,9 91,4
DKI Jakarta 85,4 77,1
Jawa Barat 78,9 72,1
Jawa Tengah 89,1 86,5
DI Yogyakarta 99,2 96,4
Jawa Timur 83,3 83,1
Banten 62,5 69,3
Bali 95,7 86,4
Nusa Tenggara Barat 94,1 86,5
Nusa Tenggara Timur 81,6 70,9
Kalimantan Barat 77,0 59,6
Kalimantan Tengah 77,3 83,3
Kalimantan Selatan 81,7 69,2
Kalimantan Timur 90,8 80,3
Sulawesi Utara 85,9 90,6
Sulawesi Tengah 84,3 61,8
Sulasewi Selatan 83,5 76,5
Sulawesi Tenggara 85,4 64,6
Gorontalo 87,1 68,2
Sulawesi Barat 78,5 57,7
Maluku 72,1 63,0
Maluku Utara 85,5 67,9
Papua Barat 80,8 73,9
Papua 68,7 47,4
INDONESIA 81,6 74,5

Tabel 4.2 menunjukkan cakupan imunisasi campak menurut karakteristik daerah, rumahtangga,
dan anak. Terlihat dalam tabel, cakupan imunisasi campak di perkotaan lebih tinggi (79,3%)
dibanding di perdesaan (69,3%). Dengan demikian terdapat perbedaan cakupan sebesar 9,7

34
persen antara daerah perkotaan dan perdesaan, lebih tinggi perbedaan tersebut dibanding
tahun 2007 yang hanya 7,2 persen.
Bila dibandingkan menurut jenis kelamin, tidak banyak terdapat perbedaan cakupan imunisasi
campak antara anak laki-laki dan perempuan, baik dalam tahun 2007 maupun 2010.
Pada tabel 4.2 juga dapat dilihat variasi yang lebar cakupan imunisasi campak menurut
pendidikan kepala keluarga. Terdapat tren cakupan imunisasi campak yang meningkat seiring
dengan makin tingginya pendidikan. Cakupan imunisasi campak terendah bila pendidikan
kepala keluarga tidak sekolah (59,1%) dan tertinggi pada pendidikan kepala keluarga tamat
perguruan tinggi (86,4%). Dengan demikian terdapat kesenjangan cakupan sebesar 27,3
persen, lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya sebesar 21,5 persen.
Cakupan imunisasi campak menurut pekerjaan kepala keluarga yang terendah pada petani/
nelayan/ buruh (67,5%) dan tertinggi pada PNS/ Polri/ TNI (86,9%). Keadaan tersebut serupa
dengan hasil Riskesdas 2007.

Tabel 4.2. Persentase Anak Umur 12-23 Bulan yang Mendapatkan Imunisasi Campak
Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007, 2010

Persentase cakupan imunisasi campak


Karakteristik Penduduk
Riskesdas 2007 Riskesdas 2010
Tipe daerah
Perkotaan 86,0 79,3
Perdesaan 78,8 69,6
Jenis kelamin anak
Laki-laki 82,0 74,2
Perempuan 81,2 74,7
Pendidikan kepala keluarga
Tidak sekolah 71,6 59,1
Tidak tamat SD 74,1 64,6
Tamat SD 78,2 69,8
Tamat SMP 82,3 77,1
Tamat SMA 88,6 80,9
Tamat Perg. Tinggi 93,1 86,4
Pekerjaan kepala keluarga
Tidak bekerja 80,8 74,5
Ibu rumahtangga 85,7 --
PNS/ Polri/ TNI 91,9 86,9
Wiraswasta 83,9 79,2
Petani/ Nelayan/ Buruh 77,4 67,5
Lainnya 83,6 79,2
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1 78,1 65,0
Kuintil 2 78,5 71,3
Kuintil 3 83,1 78,0
Kuintil 4 84,3 81,0
Kuintil 5 86,8 86,1

Karakteristik rumahtangga lain dalam analisis ini adalah tingkat pengeluaran per kapita yang
dibagi menjadi lima kelompok yaitu kuintil 1 yaitu kelompok terendah sampai kuintil 5 yaitu

35
kelompok tertinggi. Ada kecenderungan semakin tinggi pengeluaran per kapita semakin tinggi
pula cakupan imunisasi campak. Cakupan imunisasi campak pada kuintil 1 sebesar 65,0 persen
dibanding 86,1 persen pada kuintil 5. Dengan demikian terdapat perbedaan 21,1 persen pada
tahun 2010, lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang hanya 8,7 persen.

2. Kunjungan Neonatus

Pemeriksaan neonatus dalam Riskesdas ditanyakan pada ibu yang mempunyai bayi. Dalam
Tabel 4.3 terlihat bahwa secara keseluruhan pada tahun 2010 sebanyak 60,6 persen neonatus
umur 3-7 hari dan 37,7 persen neonatus umur 8-28 hari mendapatkan pemeriksaan dari tenaga
kesehatan. Hasil tersebut lebih baik bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2007
sebesar 57,6 persen dan 33,5 persen.

Pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari terendah pada tahun 2010 terdapat di Papua Barat
(17,4%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (84,8%). Untuk neonatus umur 8-28 hari cakupan
pemeriksaan kesehatan terendah di Sulawesi Barat (9,1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta
(66,7%).

Tabel 4.4 memberi gambaran tentang pemeriksaan neonatus menurut karakteristik bayi, tipe
daerah dan rumah tangga pada Riskesdas 2007 dan 2010. Terlihat bahwa persentase cakupan
baik pemeriksaan neonatus umur 3-7 hari dan 8-28 hari tidak berbeda menurut jenis kelamin
bayi.

Menurut tipe daerah, pemeriksaan neonatos pada tahun 2010 di perkotaan lebih tinggi
dibanding di perdesaan. Terdapat hubungan positif antara pemeriksaan neonatus dengan
tingkat pendidikan kepala keluarga maupun tingkat pengeluaran per kapita. Semakin tinggi
tingkat pendidikan kepala rumah tangga maupun pengeluaran per kapita, semakin tinggi
persentase cakupan pemeriksaan kesehatan pada neonatus.

3. Pemberian ASI Eksklusif

Pemberian ASI eksklusif ditanyakan pada Riskesdas 2010, tetapi tidak ditanyakan pada
Riskesdas 2007. Bayi di bawah 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif jika saat pengumpulan data
ibunya menyatakan bahwa bayinya masih mendapatkan ASI, belum pernah mendapatkan MP-
ASI, dan dalam 24 jam yang lalu tidak mendapatkan makanan selain ASI. Oleh karena jumlah
bayi di bawah 6 bulan hanya sedikit, tidak bisa dianalisis menurut provinsi dan hanya dapat
dianalisis menurut karakteristik responden yang terlihat dalam Tabel 4.5.

Pemberian ASI eksklusif secara keseluruan pada umur 0-1 bulan, 2-3 bulan, dan 4-5 bulan
berturut-turut adalah 45,4 persen, 38,3 persen, dan 31,0 persen. ASI eksklusif lebih tinggi di
daerah perdesaan dibanding daerah perkotaan.

Tidak ada perbedaan ASI eksklusif menurut jenis kelamin bayi. Demikian juga tidak ada pola
hubungan yang jelas antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pendidikan orangtua.
Hubungan yang jelas baru terlihat antara pemberian ASI eksklusif dan tingkat pengeluaran per

36
kapita. Semakin tinggi pengeluaran per kapita rumahtangga, semakin menurun pemberian ASI
eksklusif baik di kelompok umur bayi 0-1 bulan, 2-3 bulan, maupun 4-5 bulan.

Tabel 4.3. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus Menurut Provinsi,


Riskesdas 2007- 2010

Pemeriksaan Pemeriksaan
neonatus neonatus Umur 8-28
Provinsi
Umur 3-7 hari (KN1) hari (KN2)
2007 2010 2007 2010
Nanggroe Aceh Darussalam 56,5 66,3 36,1 26,4
Sumatera Utara 66,7 64,5 28,5 21,9
Sumatera Barat 49,7 48,4 35,0 28,6
Riau 50,0 38,3 32,6 13,8
Jambi 53,8 61,9 30,2 19,4
Sumatera Selatan 42,9 55,2 27,4 33,3
Bengkulu 70,3 54,5 28,3 21,9
Lampung 64,4 59,8 29,2 43,3
Kep. Bangka Belitung 45,1 52,0 22,7 30,8
Kepulauan Riau 64,2 58,1 44,9 34,9
DKI Jakarta 66,5 67,6 54,9 52,0
Jawa Barat 58,7 64,3 39,8 46,6
Jawa Tengah 65,6 72,5 35,2 48,1
DI Yogyakarta 81,8 84,8 66,9 66,7
Jawa Timur 63,9 75,6 41,2 50,3
Banten 43,7 56,3 28,1 32,3
Bali 49,1 63,6 39,9 57,1
Nusa Tenggara Barat 58,0 50,0 33,9 43,6
Nusa Tenggara Timur 42,2 38,9 34,1 26,4
Kalimantan Barat 50,1 53,2 19,8 19,2
Kalimantan Tengah 58,4 51,2 21,7 12,2
Kalimantan Selatan 69,0 68,4 26,6 15,4
Kalimantan Timur 62,9 57,9 37,0 42,1
Sulawesi Utara 55,2 54,5 41,1 39,4
Sulawesi Tengah 59,4 34,5 29,0 18,2
Sulasewi Selatan 54,5 44,5 25,6 29,2
Sulawesi Tenggara 63,3 39,4 31,1 24,2
Gorontalo 44,7 26,3 25,4 15,8
Sulawesi Barat 47,3 40,9 30,5 9,1
Maluku 45,6 25,0 35,2 14,8
Maluku Utara 68,8 25,0 62,0 12,5
Papua Barat 39,8 17,4 26,5 17,4
Papua 27,2 36,6 23,8 26,8
INDONESIA 57,6 60,6 33,5 37,7

37
Tabel 4.4. Persentase Cakupan Pemeriksaan Neonatus
Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007, 2010

Karakteristik responden
2007 2010 2007 2010
Tipe daerah
Perkotaan 65,7 68,2 41,2 45,2
Perdesaan 52,3 52,7 28,6 29,7
Jenis kelamin anak
Laki-laki 57,0 61,7 33,3 39,7
Perempuan 58,2 59,5 33,8 35,5
Pendidikan kepala keluarga
Tidak sekolah 46,5 50,0 24,7 33,3
Tidak tamat SD 52,3 51,4 29,0 32,8
Tamat SD 54,0 55,0 31,2 31,5
Tamat SMP 59,5 60,9 33,5 36,3
Tamat SMA 63,0 67,9 37,3 44,7
Tamat Perg. Tinggi 69,9 79,6 46,8 57,1
Pekerjaan kepala keluarga
Tidak bekerja 64,0 62,1 41,4 47,7
Ibu rumahtangga 60,4 -- 36,5 --
PNS/ Polri/ TNI 65,8 74,9 42,0 54,2
Wiraswasta 63,7 66,1 37,9 41,2
Petani/ Nelayan/ Buruh 51,5 53,1 27,9 31,3
Lainnya 62,4 67,5 37,2 41,6
Tkt pengeluaran per kapita
Kuintil 1 50,8 49,1 28,5 29,3
Kuintil 2 55,2 57,7 30,7 31,5
Kuintil 3 59,1 64,3 32,2 39,3
Kuintil 4 60,8 66,4 37,7 44,1
Kuintil 5 65,1 74,5 40,9 52,7

38
Tabel 4.5. Persentase Pemberian ASI Eksklusif Menurut Umur Anak
dan Karakteristik Responden, Riskesdas 2007, 2010

Umur anak
Karakteristik responden
0-1 bln 2-3 bln 4-5 bln
Tipe daerah
Perkotaan 41,7 34,8 26,9
Perdesaan 50,0 41,7 34,8
Jenis kelamin anak
Laki-laki 45,0 39,4 29,7
Perempuan 45,8 37,0 32,4
Pendidikan kepala keluarga
Tidak sekolah 40,0 38,1 33,3
Tidak tamat SD 44,4 43,8 36,3
Tamat SD 51,3 40,5 30,2
Tamat SMP 42,2 36,7 29,3
Tamat SMA 44,3 35,6 30,7
Tamat Perg. Tinggi 36,7 34,6 30,9
Pekerjaan kepala keluarga
Tidak bekerja 47,4 33,3 22,2
PNS/ Polri/ TNI 43,2 36,5 31,7
Wiraswasta 37,5 34,0 34,9
Petani/ Nelayan/ Buruh 51,5 42,6 29,5
Lainnya 71,4 39,1 25,0
Tkt pengeluaran per kapita
Kuintil 1 51,8 52,3 37,2
Kuintil 2 50,0 40,4 35,3
Kuintil 3 44,8 32,3 33,6
Kuintil 4 41,2 36,3 23,1
Kuintil 5 36,5 21,6 18,2
INDONESIA 45,4 38,3 31,0

39
3.Goal 5 - MDG

Meningkatkan Kesehatan Ibu

Target:
Menurunkan 75% kematian ibu dalam kurun waktu 1990-2015. Indikator untuk mencapai target
tersebut, selain Angka Kematian Ibu per 100.000 kelahiran hidup, terdapat indikator yang
dipantau untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah:

Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan

Angka pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun

Berikut ini merupakan hasil analisis Riskesdas 2010, dengan memperhatikan indikator yang
terkait dengan target menigkatkan kesehatan ibu. Beberapa indikator terkait disajikan juga
dengan membandingkan dengan hasil sebelumnya yang berasal dari Susenas maupun SDKI.
Target sampel penduduk untuk mengetahui kesehatan ibu adalah perempuan pernah kawin
usia reproduktif/WUS; 15-49 tahun.

Gambaran Sampel Riskesdas 2010


Distribusi kelompok umur untuk keseluruhan sampel Riskesdas adalah sebagai berikut:

Tabel 5.1. Distribusi Sampel menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Riskesdas 2010

Kelompok Jenis kelamin


Umur Laki-laki Perempuan Total
(tahun)
0-4 4.5 4.2 8.8
5-9 5.4 5.1 10.5
10 - 14 5.1 4.6 9.7
15 - 19 4.2 3.9 8.1
20 - 24 3.5 3.7 7.2
25 - 29 4.1 4.3 8.4
30 - 34 4.0 4.2 8.1
35 - 39 3.9 4.0 7.8
40 - 44 3.6 3.7 7.3
45 -49 3.2 3.2 6.4
50 -54 2.7 2.5 5.2
55 -59 2.1 1.8 3.8
60 -64 1.4 1.7 3.1
65 + 2.6 2.9 5.5
Total 50.3 49.7 100.0

40
Dari tabel di atas, proporsi perempuan usia reproduktif/WUS 15-49 tahun terhadap total sampel
adalah 26,9%. Distribusi status perkawinan seluruh kelompok umur penduduk adalah sebagai
berikut:

Tabel 5.2. Status Perkawinan menurut Jenis Kelamin


Riskesdas 2010

Jenis kelamin
Status
Laki-laki Perempuan Total
Perkawinan

Belum kawin 24.8 20.4 45.2


Kawin 24.6 25.8 50.4
Cerai hidup 0.3 0.7 1.0
Cerai mati 0.6 2.9 3.5
Total 50.3 49.7 100.0

Proporsi kehamilan dari sampel Riskesdas 2010 adalah 3,1 persen, dan terlihat kehamilan
terjadi pada kelompok umur 10-14 tahun (0.1%), dan kelompok umur 50-54 tahun (0,1%).
Proporsi kehamilan pada perempuan usia reproduktif 15-49 tahun adalah 2,9 persen.

Tabel 5.3. Proporsi kehamilan terhadap total penduduk


Riskesdas 2010

Apakah sedang
Kelompok hamil Total
Umur
Ya Tidak
10 - 14 0.1 13.4 13.5
15 - 19 0.3 11.2 11.5
20 - 24 0.7 10.1 10.8
25 - 29 0.8 12.0 12.7
30 - 34 0.6 11.6 12.2
35 - 39 0.4 11.3 11.7
40 - 44 0.1 10.7 10.8
45 -49 0.1 9.3 9.3
50 -54 0.1 7.4 7.4
55 -59 0.0 0.0
Total 3.1 96.9 100.0

41
1. Proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan

Analisis dilakukan berdasarkan perbandingan antara persalinan yang ditolong oleh tenaga
kesehatan terlatih (dokter, bidan, perawat, dan tenaga kesehatan lain) dengan dengan jumlah
persalinan seluruhnya dan dinyatakan dalam persen. Angka pertolongan kelahiran yang
diperoleh dibedakan menjadi dua, yaitu berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi
pada lima tahun sebelum survei, dan jumlah kelahiran/persalinan yang terjadi pada 1 tahun
sebelum survei. Untuk melihat kecenderungan, pada umumnya yang digunakan adalah angka
pertolongan kelahiran berdasarkan jumlah kelahiran/persalinan 1 tahun sebelum survei.

Grafik berikut menunjukkan proporsi pertolongan kelahiran yang terjadi pada 5 tahun sebelum
survei. Proporsi pertolongan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah 80,2 persen, dan
19,7 persen oleh bukan tenaga kesehatan, dan tercatat 0,1 persen tidak menjawab.

Grafik 5.1. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun terakhir,


Indonesia 2010

Variasi antar provinsi dapat dilihat pada tabel berikut. Provinsi terbaik dengan proporsi
pertolongan kelahiran ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih adalah DI Yogyakarta
(98,7%), diikuti Kepulauan Riau (97,1%), DKI Jakarta (96,5%), dan Bali (92,8%).
Sedangkan provinsi yang perlu mendapatkan perhatian adalah Maluku Utara (33,6%), dan
Maluku (52,4%).

42
Tabel 5.4. Proporsi Pertolongan Kelahiran yang terjadi 5 tahun sebelum survei
menurut Provinsi, Indonesia 2010

Tenaga Tenaga Non Tidak


Provinsi
Kesehatan Kesehatan menjawab
Nanggroe Aceh Darussalam 86.8 13.2 0.0
Sumatera Utara 88.0 12.0 0.0
Sumatera Barat 86.9 13.1 0.0
Riau 81.4 18.6 0.0
Jambi 75.6 24.4 0.0
Sumatera Selatan 79.5 20.3 0.2
Bengkulu 79.4 20.6 0.0
Lampung 81.1 18.9 0.0
Bangka Belitung 83.6 16.4 0.0
Kepulauan Riau 97.1 2.9 0.0
DKI Jakarta 96.5 3.5 0.0
Jawa Barat 75.4 24.6 0.0
Jawa Tengah 90.6 9.4 0.0
DI Yogyakarta 98.7 0.9 0.4
Jawa Timur 91.8 8.2 0.0
Banten 72.0 28.0 0.0
Bali 92.8 7.2 0.0
Nusa Tenggara Barat 78.5 21.5 0.0
Nusa Tenggara Timur 55.8 44.2 0.0
Kalimantan Barat 59.4 37.5 3.1
Kalimantan Tengah 57.3 42.7 0.0
Kalimantan Selatan 83.9 16.1 0.0
Kalimantan Timur 78.5 21.5 0.0
Sulawesi Utara 85.4 14.6 0.0
Sulawesi Tengah 57.5 42.5 0.0
Sulawesi Selatan 76.1 23.9 0.0
Sulawesi Tenggara 63.3 36.7 0.0
Gorontalo 55.1 44.9 0.0
Sulawesi Barat 60.0 40.0 0.0
Maluku 52.4 47.6 0.0
Maluku Utara 33.6 66.1 0.3
Papua Barat 60.1 39.9 0.0
Papua 56.4 43.6 0.0
Indonesia 80.2 19.7 0.1

Sedangkan proporsi pertolongan kelahiran yang dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk
kejadian kelahiran 1 tahun sebelum survei adalah 82,3% dengan variasi antar provinsi yang

43
terbaik dan terendah hampir sama dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga
kesehatan 5 tahun sebelum survei.

Tabel 5.5.Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Nakes yang terjadi 1 tahun sebelum
survei menurut Provinsi, Indonesia 2010

Provinsi %
Nanggroe Aceh Darussalam 92.5
Sumatera Utara 88.4
Sumatera Barat 85.5
Riau 87.8
Jambi 64.6
Sumatera Selatan 87.7
Bengkulu 80.9
Lampung 80.2
Bangka Belitung 95.8
Kepulauan Riau 97.2
DKI Jakarta 95.8
Jawa Barat 78.5
Jawa Tengah 94.1
DI Yogyakarta 98.6
Jawa Timur 94.8
Banten 70.4
Bali 95.5
Nusa Tenggara Barat 79.0
Nusa Tenggara Timur 66.6
Kalimantan Barat 66.4
Kalimantan Tengah 56.4
Kalimantan Selatan 79.0
Kalimantan Timur 79.7
Sulawesi Utara 87.0
Sulawesi Tengah 52.1
Sulawesi Selatan 76.5
Sulawesi Tenggara 63.1
Gorontalo 64.3
Sulawesi Barat 57.8
Maluku 48.7
Maluku Utara 26.2
Papua Barat 49.3
Papua 60.9
Indonesia 82.3

44
Dari tabel di atas dapat dilihat provinsi dengan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga
kesehatan di atas 95 persen adalah DI Yogyakarta (98,6%), diikuti Kepulauan Riau (97,2%),
DKI Jakarta dan Bangka Belitung (95,8%), serta Bali (95,5%). Sedangkan provinsi dengan
proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan masih di bawah 50% adalah Maluku
Utara (26,2%), Maluku (48,7%), dan Papua Barat (49,3%).

Secara nasional, kecenderungan proporsi pertolongan kelahiran oleh tenaga kesehatan


meningkat dari 40,7 persen tahun 1990 menjadi 82,3 persen pada tahun 2010.

Grafik 5.2. Kecenderungan Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan


Indonesia 1990-2010

Sumber: Susenas 1990-2007, Riskesdas 2010.

Pada kondisi saat ini, dari Riskesdas 2010 menunjukkan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan berdasarkan karakteristik penduduk, dapat dilihat kelompok penduduk
yang tinggal di perkotaan, 91,3 persen pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga
kesehatan. Terjadi disparitas yang cukup lebar untuk kelompok penduduk yang tinggal di
perdesaan (72,9%). Berdasarkan tingkat pengeluaran, dapat dilihat kelompok penduduk
20% terbawah (kuintil 1), pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
adalah 69,4%, dan berbeda sangat lebar dibanding kelompok penduduk 20% teratas (kuintil
5) yaitu sebesar 94,1 persen.

45
Tabel 5.6. Proporsi Pertolongan Kelahiran oleh Tenaga Kesehatan menurut
Karakterisitik Penduduk, Indonesia 2010
Tenaga Tenaga Non
Karakteristik Penduduk
Kesehatan Kesehatan
Tempat Tinggal
Perkotaan 91.3 9.7
Perdesaan 72.9 28.0
Tingkat Pengeluaran
Kuintil 1 69.4 30.6
Kuintil 2 79.5 20.5
Kuintil 3 86.5 13.5
Kuintil 4 91.0 9.0
Kuintil 5 94.1 5.9

Tempat melahirkan untuk persalinan 1 tahun sebelum survei, sebagian besar sudah
dilakukan di fasilitas kesehatan (59,5%), dan masih banyak yang melahirkan di rumah
(39,1%), dan hanya 1,5% di Poilindes/Poskesdes.

Grafik 5.3. Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut tempat
melahirkan, Indonesia 2010

Berdasarkan karakteristik penduduk, terjadi juga kesenjangan tempat melahirkan di


perkotaan dan di perdesaan, serta berdasarkan tingkat pengeluaran. Penduduk di
perkotaan 77,6 persen melahirkan di fasilitas kesehatan dibanding di perdesaan yang hanya
40,2 persen. Sementara kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil
1) melahirkan di fasilitas kesehatan sebesar 40,7 persen dibanding kelompok penduduk
dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil 5) yaitu sebesar 81,5%. Disparitas antar
provinsi dapat dilihat pada grafik yang menunjukkan provinsi terendah adalah Sulawesi
Tenggara (7,8%), dan tertinggi di provinsi DI Yogyakarta (95, 2%).

46
Tabel 5.7.Proporsi persalinan satu tahun sebelum survei menurut Tempat Melahirkan
dan Karakateristik Penduduk, Indonesia 2010

Polindes Rumah
Karakteristik Penduduk Faskes
/Poskesdes /lainnya
Tempat Tinggal
Perkotaan 77.6 0.8 21.6
Perdesaan 40.2 2.2 57.6
Tingkat Pengeluaran
Kuintil 1 40.7 2.4 56.9
Kuintil 2 53.9 1.1 45.0
Kuintil 3 63.2 1.8 35.0
Kuintil 4 72.1 0.8 27.1
Kuintil 5 81.5 0.8 17.6

Grafik 5.4. Proporsi Persalinan Satu Tahun Sebelum Survei yang Melahirkan di
Fasilitas Kesehatan menurut Provinsi, Indonesia 2010

47
Untuk meningkatkan kesehatan ibu, perlu juga dipantau akses pelayanan kesehatan
reproduksi, khususnya untuk perempuan usia 15-49 tahun. Indikator yang dapat diperoleh dari
Riskesdas adalah Akses (K1) yang dianalisis berdasarkan akses ibu hamil ke tenaga kesehatan
dari semua riwayat kehamilan anak terakhir dari perempuan usia 15-49 tahun. Selanjutnya
adalah K4 yang dianalisis berdasarkan jumlah pemeriksaan antenatal minimal 1 kali pada
trimester I, minimal 1 kali pada trimester II, dan minimal 2 kali pada trimester 3 dari jumlah
kehamilan perempuan usia 15-49 tahun.

Dari sampel Riskesdas 2010, diperoleh 38,6% perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun
mempunyai riwayat kehamilan anak terakhir pada periode lima tahun terakhir. Menurut riwayat
kehamilannya anak terakhir tersebut, sudah sebagian besar memeriksaan kandungannya
(pelayanan antenatal) ke tenaga kesehatan (84,0%), masih terdapat ibu memeriksakan
kehamilannya ke dukun (3,2%), dan tidak melakukan pemeriksaan (2,8%).

Grafik 5.6. Proporsi Perempuan Pernah Kawin usia 15-49 tahun dari Kehamilan Anak
Terakhir Lima Tahun Terakhir Memeriksakan Kehamilan, Indonesia 2010.

Dari analisis, diketahui akses (K1) secara keseluruhan adalah 92,8% ibu hamil mengikuti
pelayanan antenatal. Lebih lanjut hanya 61,3% yang melakukan pelayanan antenatal minimal 1
kali pada trimester 1, minimal 1 kali pada trimester 2 dan, minimal 2 kali pada trimester 3.
Berdasarkan karakteristik, K1 dan K4 dapat dilihat pada Tabel 5.8. berikut. Akses ibu hamil ke
tenaga kesehatan (K1) pada penduduk perkotaan jauh lebih baik dibanding perdesaan,
demikian juga untuk K4. Proporsi meningkat berdasarkan tingkat pendidikan, semakin membaik
pendidikan penduduk, semakin banyak yang melakukan kunjungan antenatal ke tenaga
kesehatan. Demikian halnya dengan tingkat pengeluaran, yang pada umumnya kelompok
penduduk dengan tingkat pengeluaran terendah (kuintil 1), persentase kunjungan antenatalnya
lebih kecil dibanding dengan kelompok penduduk dengan tingkat pengeluaran tertinggi (kuintil
5). Berdasakan pekerjaan, pada umumnya kelompok petani/nelayan yang cakupan pelayanan
antenatalnya lebih kecil dibanding kelompok penduduk bukan petani/nelayan.

48
Untuk kecenderungan, cakupan pelayanan antenatal ini dapat dilihat pada grafik 5.7
berdasarkan SDKI 2007 dan Riskesdas 2010. Terjadi penurunan angka K1 dari 93,3 persen
(2007) ke 92,8 persen (2010) dan K4 dari 65,2% (2007) ke 61,3 persen (2010).

Tabel 5.8.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Karakteristik Penduduk,


Indonesia 2010

Karakteristik Penduduk K1 K4
Tempat Tinggal
Perkotaan 97.0 73.3
Perdesaan 88.4 48.7
Pendidikan
Tidak sekolah/tidak tmt SD 79.1 37.9
Tamat SD/MI 89.6 50.1
Tamat SLTP/MTS 95.3 63.5
Tamat SLTA/MA 98.0 74.6
Tamat D1/D2/D3/PT 99.3 84.3
Pekerjaan
Tidak kerja 93.7 62.6
Sekolah 90.5 57.3
Petani/Nelayan 88.2 50.0
PNS/Pegawai/lainnya 97.5 75.3
Tingkat Pengeluaran
Kuintil 1 87.1 47.2
Kuintil 2 91.2 56.4
Kuintil 3 94.8 63.7
Kuintil 4 96.5 70.3
Kuintil 5 97.7 79.5

Grafik 5.7. Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4, Indonesia 2007-2010

49
Disparitas antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.9. DI Yogyakarta merupakan provinsi
terbaik, untuk cakupan K1 dan K4, sedangkan cakupan terendah untuk K1 adalah provinsi
Papua Barat (72,0%) dan terendah untuk K4 adalah provinsi Gorontalo (19,8%).

Tabel 5.9.Proporsi Pelayanan Antenatal K1 dan K4 menurut Provinsi,


Indonesia 2010

Provinsi K1 K4
Nanggroe Aceh Darussalam 93.5 61.2
Sumatera Utara 88.2 50.7
Sumatera Barat 93.7 54.6
Riau 88.8 52.4
Jambi 75.7 41.8
Sumatera Selatan 89.8 50.4
Bengkulu 92.1 56.1
Lampung 94.7 59.7
Bangka Belitung 94.6 67.4
Kepulauan Riau 98.4 77.1
DKI Jakarta 98.0 84.5
Jawa Barat 95.5 67.4
Jawa Tengah 98.1 73.7
DI Yogyakarta 100.0 89.5
Jawa Timur 96.6 74.4
Banten 89.8 54.8
Bali 96.4 77.7
Nusa Tenggara Barat 93.2 53.5
Nusa Tenggara Timur 85.5 44.1
Kalimantan Barat 76.9 46.6
Kalimantan Tengah 77.2 35.6
Kalimantan Selatan 94.9 48.4
Kalimantan Timur 91.9 58.3
Sulawesi Utara 91.7 52.8
Sulawesi Tengah 83.1 28.5
Sulawesi Selatan 93.1 44.4
Sulawesi Tenggara 82.1 21.7
Gorontalo 77.9 19.8
Sulawesi Barat 88.3 24.6
Maluku 85.1 35.1
Maluku Utara 81.3 32.6
Papua Barat 72.0 34.2
Papua 79.0 39.4
Indonesia 92.8 61.3

50
2. Pemakaian kontrasepsi pada pasangan usia subur 15-49 tahun

Pada Riskesdas 2010, pemakaian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan ditanyanya pada
perempuan pernah kawin usia 10-59 tahun dan pasangannya. Untuk kepentingan analisis,
sampel yang dipilih adalah perempuan usia 15-49 tahun yang berstatus pernah kawin, dan
yang berstatus kawin. Perempuan berstatus pernah kawin pada Riskesdas 2010 adalah yang
statusnya: “kawin’, ‘cerai hidup’ dan ‘cerai mati’. Sedangkan perempuan berstatus kawin pada
Riskesdas 2010 adalah yang statusnya: “kawin”. (Distribusi status perkawinan bisa dilihat pada
tabel 5.2) Analisis dibedakan menjadi dua, untuk mengikuti kecenderungan dari tahun 2007
yang sudah dilakukan pada SDKI 2007 ke tahun 2010

a. Analisis pada Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun

Pada Grafik 5.8 terlihat 53,9 persen perempuan pernah kawin usia 15-49 tahun yang masih
menggunakan alat kontrasepsi, dan terdapat 19 persen tidak pernah menggunakan sama
sekali.

Grafik 5.8. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin


Usia 15-49 tahun Indonesia 2010

Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.10. Proporsi penggunaan alat
kontrasepsi di perdesaan pada umumnya lebih tinggi dari perkotaan. Menurut kelompok umur,
pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. Sedangkan
menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP, menurut pekerjaan adalah
yang tidak bekerja, sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2.

Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.11. Provinsi dengan persentase
menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah bali (64,3%) dan terendah adalah provinsi Papua
barat (31,9%). Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk perempuan pernah kawin

51
yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi adalah Maluku (42%), dan
persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10,4%).

Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.9. Ada terjadi
penurunan dari 57,9 persen pada tahun 2007 menjadi 53,9 persen pada tahun 2010.

Tabel 5.10. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Usia 15-49 Tahun


yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk, Indonesia 2010

Karakteristik Penduduk %
Tempat Tinggal
Perkotaan 52.8
Perdesaan 54.9

Kelompok Umur
15 – 19 44.2
20 – 24 58.3
25 – 29 60.4
30 – 34 60.6
35 – 39 60.1
40 – 44 50.7
45 -49 32.3

Pendidikan
Tidak sekolah/tidak tmt SD 45.9
Tamat SD/MI 56.3
Tamat SLTP/MTS 58.4
Tamat SLTA/MA 54.4
Tamat D1/D2/D3/PT 47.4

Pekerjaan
Tidak kerja 56.7
Sekolah 51.7
Petani/Nelayan 52.6
PNS/Pegawai/lainnya 50.2

Tingkat Pengeluaran per Kapita


Kuintil 1 55.0
Kuintil 2 57.5
Kuintil 3 55.9
Kuintil 4 53.5
Kuintil 5 45.7

52
Tabel 5.11. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Pernah Kawin
Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi, Indonesia 2010

Sekarang Pernah/tidak Tidak pernah


Provinsi menggunakan menggunakan lagi sama sekali

Nanggroe Aceh Darussalam 41.7 27.6 30.7


Sumatera Utara 36.7 25.4 37.9
Sumatera Barat 47.9 29.1 23.0
Riau 46.4 29.2 24.4
Jambi 60.3 21.4 18.3
Sumatera Selatan 58.6 23.6 17.8
Bengkulu 58.7 27.7 13.7
Lampung 61.2 22.7 16.1
Bangka Belitung 62.0 25.8 12.2
Kepulauan Riau 51.2 27.4 21.4
DKI Jakarta 49.5 30.1 20.4
Jawa Barat 57.1 30.3 12.6
Jawa Tengah 57.6 26.3 16.0
DI Yogyakarta 54.0 27.8 18.2
Jawa Timur 56.8 24.9 18.3
Banten 54.7 30.3 15.0
Bali 64.3 18.7 17.0
Nusa Tenggara Barat 51.0 32.7 16.3
Nusa Tenggara Timur 38.9 23.5 37.6
Kalimantan Barat 56.6 24.7 18.6
Kalimantan Tengah 63.0 25.8 11.2
Kalimantan Selatan 59.1 29.6 11.3
Kalimantan Timur 55.3 29.1 15.6
Sulawesi Utara 60.9 28.7 10.4
Sulawesi Tengah 49.7 29.1 21.2
Sulawesi Selatan 43.4 29.3 27.3
Sulawesi Tenggara 38.8 30.5 30.6
Gorontalo 62.4 22.2 15.4
Sulawesi Barat 37.8 21.1 41.1
Maluku 35.2 22.8 42.0
Maluku Utara 42.8 31.6 25.6
Papua Barat 31.9 27.4 40.7
Papua 38.0 24.2 37.8
Indonesia 53.9 27.1 19.0

53
Grafik 5.9. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan Alat/Cara
KB, Indonesia: 2007-2010

Sumber: SDKI 2007, Riskesdas 2010

Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 5.12 berikut yang
juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun 2010. Terjadi penurunan
untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD, Suntikan dan amenorrhea
laktasi. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB bertambah dari 42,1 persen
tahun 2007 menjadi 46,1 persen tahun 2010.

Tabel 5.12. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis
penggunaan Alat/Cara KB, Indonesia: 2007-2010

Jenis Alat/Cara KB SDKI 2007 Riskesdas 2010


Sterilisasi wanita 3.0 2.1
Sterilisasi pria 0.2 0.1
Pil 12.5 12.3
IUD/AKDR/Spiral 4.7 5.0
Suntikan 30.0 31.1
Implant 2.6 1.4
Kondom 1.2 1.1
Amenorrhea Laktasi 0.0 0.1
Pantang Berkala/Kalender 1.4 0.3
Senggama terputus 2.0 0.3
Lainnya 0.4 0.1
Tidak menggunakan 42.1 46.1
Sumber: SDKI 2007, Riskesdas 2010

Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.13), penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih
banyak yang tinggal di perdesaan (34,5%) dibanding di perkotaan (27,8%). Demikian juga

54
penggunaan pengguna implant di perdesaan (1,9%) dibanding di perkotaan (0,9%). Sebaliknya
pengguna Pil lebih banyak di perkotaan (12,9%) dibanding di perdesaan (11,7%).

Tabel 5.13. Proporsi Perempuan Pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis
penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal, Indonesia 2010

Jenis Alat/Cara KB Perkotaan Perdesaan


Sterilisasi wanita 2.5 1.7
Sterilisasi pria 0.1 0.1
Pil 12.9 11.7
IUD/AKDR/Spiral 5.9 4.0
Suntikan 27.8 34.5
Implant 0.9 1.9
Kondom 1.7 0.4
Amenorrhea Laktasi 0.1 0.1
Pantang Berkala/Kalender 0.5 0.1
Senggama terputus 0.4 0.2
Lainnya 0.1 0.1
Tidak menggunakan 47.2 45.1

Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB seperti pada tabel 5.14 dapat dilihat sebagian
besar dilakukan oleh bidan praktek (52,5%), diikuti di Puskesmas (12,0%) Pustu (4,5%), dan di
RS pemerintah (3,3%). Sebanyak 12,5% menjawab lainnya, bervariasi, pada umumnya
membeli di Apotik, depot obat, atau mendapatkan secara gratis di kantor desa, dll.

Tabel 5.14. Proporsi Perempuan pernah Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat
pelayanan KB, Indonesia 2010

Tempat Pelayanan KB %
RS Pemerintah 3.3
RS Swasta 2.4
RS Bersalin 1.0
Puskesmas 12.0
Pustu 4.5
Klinik 2.0
TKBK/TMK 0.9
Dokter praktek 2.5
Bidan praktek 52.5
Perawat praktek 2.6
Polindes/ Poskesdes 4.1
Lainnya 12.3

55
Pada Riskesdas 2010 ditelusuri juga alasan utama tidak menggunakan KB. Bentuk
pertanyaannya dapat dilihat pada kuesioner individu terlampir (RKD10.IND) pertanyaan Dc06.
Jawaban responden dari pertanyaan ini selanjutkan dikelompokkan menjadi empat:
a) Butuh/tidak terpenuhi atau unmet need adalah dari jawaban ‘dilarang pasangan’,
‘dilarang agama’ , ‘mahal’ , ‘sulit diperoleh’, ‘takut efek samping’, dan ‘tidak
menginginkan’;
b) Belum/ingin punya anak adalah dari jawaban ‘belum punya anak’, dan ‘ingin punya
anak’
c) Tidak perlu lagi adalah dari jawaban ‘tidak perlu lagi’
d) Lainnya adalah dari jawaban ‘lainnya
Diluar klasifikasi ini adalah responden yang menggunakan KB.

Dari Grafik 5.10 dapat dilihat ada 14,0 persen yang sebenarnya membutuhkan akan tetapi tidak
bisa terpenuhi. Selanjutnya yang menjawab belum atau ingin punya anak adalah 15 persen,
tidak perlu lagi 11,3%, serta yang menjawab lainnya 5,8 persen.

Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.15. Ada empat provinsi dengan persentase
yang menjawab butuh, tapi tidak terpenuhi di atas 30 persen yaitu Maluku (32,7%), dan Papua
Barat (32,9%). Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8,7%).

Grafik 5.10.Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama
tidak menggunakan KB, Indonesia 2010

56
Tabel 5.15. Proporsi Perempuan Pernah Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan Utama
tidak menggunakan KB dan Provinsi, Indonesia 2010
Butuh/tidak Belum/ingin Tidak Menggunakan
Provinsi Lainnya
terpenuhi punya anak perlu lagi KB

Nanggroe Aceh Darussalam 23.8 18.0 9.0 7.5 41.7


Sumatera Utara 25.7 19.3 12.2 6.1 36.7
Sumatera Barat 19.3 17.6 8.9 6.3 47.9
Riau 19.0 19.2 10.9 4.5 46.4
Jambi 11.0 14.7 8.6 5.3 60.3
Sumatera Selatan 10.2 14.7 10.5 6.0 58.6
Bengkulu 9.2 12.4 14.1 5.5 58.8
Lampung 12.3 14.8 9.1 2.6 61.2
Bangka Belitung 11.5 13.3 10.2 2.9 62.0
Kepulauan Riau 13.1 17.3 6.0 12.4 51.2
DKI Jakarta 16.1 15.9 12.3 6.2 49.4
Jawa Barat 11.1 12.7 13.0 6.2 57.1
Jawa Tengah 11.7 13.5 11.6 5.5 57.6
DI Yogyakarta 13.5 16.0 9.0 7.6 54.0
Jawa Timur 12.0 14.3 11.9 5.0 56.8
Banten 12.3 16.2 10.6 6.2 54.7
Bali 8.7 17.5 5.6 3.9 64.3
Nusa Tenggara Barat 9.6 18.5 12.5 8.3 51.0
Nusa Tenggara Timur 29.3 14.8 7.8 9.3 38.9
Kalimantan Barat 15.3 12.8 10.2 3.7 57.9
Kalimantan Tengah 9.2 11.3 10.0 6.4 63.0
Kalimantan Selatan 9.5 15.0 11.5 4.9 59.1
Kalimantan Timur 10.9 16.0 9.7 8.0 55.3
Sulawesi Utara 9.6 13.2 10.8 5.5 60.9
Sulawesi Tengah 19.4 17.8 10.2 2.9 49.7
Sulawesi Selatan 20.8 16.5 11.0 8.3 43.4
Sulawesi Tenggara 20.8 16.7 16.3 7.3 38.8
Gorontalo 9.7 14.6 9.4 3.9 62.5
Sulawesi Barat 25.8 22.6 9.0 4.7 37.8
Maluku 32.7 15.9 11.4 4.7 35.2
Maluku Utara 13.9 25.8 10.3 7.1 42.8
Papua Barat 32.9 15.5 10.0 9.5 32.1
Papua 22.9 21.2 10.7 7.2 38.0
Indonesia 14.0 15.0 11.3 5.8 53.9

57
b. Analisis pada Perempuan berstatus Kawin usia 15-49 tahun

Analisis yang sama seperti di atas, dilakukan untuk perempuan berstatus kawin umur 15-49
tahun yang masih menggunakan alat kontrasepsi. Pada grafik 5.11 dapat dilihat perempuan
yang berstatus kawin dan menggunakan alat KB adalah 56,0%, dan 18,4 persen tidak pernah
menggunakan sama sekali.

Grafik 5.11. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan Berstatus Kawin


Usia 15-49 tahun Indonesia 2010

Menurut karakteristik penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.16. Penduduk di perdesaan pada
umumnya menggunakan alat kontrasepsi lebih tinggi dari perkotaan. Menurut kelompok umur,
pengguna alat kontrasepsi tertinggi adalah pada kelompok usia 25-39 tahun. Sedangkan
menurut tingkat pendidikan adalah responden yang tamat SLTP, menurut pekerjaan adalah
yang tidak bekerja, sedangan menurut tingkat pengeluaran adalah kelompok penduduk kuintil 2.

Gambaran menurut provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.17. Provinsi dengan persentase
menggunakan alat kontrasepsi terbaik adalah Kalimantan Tengah (66,0%) dan terendah adalah
provinsi Papua barat (32,8%). Sedangkan provinsi dengan persentase tertinggi untuk
perempuan berstatus kawin yang tidak pernah sama sekali menggunakan alat kontrasepsi
adalah Maluku (41,4%), dan persentase terendah adalah Sulawesi Utara (10,4%).

Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi dapat dilihat pada Grafik 5.12. Ada terjadi
penurunan dari 61,4 persen tahun 2007 menjadi 56 persen pada tahun 2010

58
Tabel 5.16. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Usia 15-49 Tahun
yang menggunakan Alat/Cara KB Menurut Karakteristik Penduduk, Indonesia 2010

Karakteristik Penduduk %
Tempat Tinggal
Perkotaan 54.9
Perdesaan 57.1

Kelompok Umur
15 – 19 45.1
20 – 24 59.4
25 – 29 61.7
30 – 34 62.1
35 – 39 62.0
40 – 44 53.5
45 -49 35.1

Pendidikan
Tidak sekolah/tidak tmt SD 48.9
Tamat SD/MI 58.5
Tamat SLTP/MTS 60.4
Tamat SLTA/MA 56.1
Tamat D1/D2/D3/PT 48.8

Pekerjaan
Tidak kerja 57.9
Sekolah 53.6
Petani/Nelayan 55.2
PNS/Pegawai/lainnya 53.3

Tingkat Pengeluaran per Kapita


Kuintil 1 57.3
Kuintil 2 59.5
Kuintil 3 58.2
Kuintil 4 55.6
Kuintil 5 47.5

59
Tabel 5.17. Proporsi Penggunaan Alat/Cara KB pada Perempuan berstatus Kawin
Umur 15-49 Tahun menurut Provinsi, Indonesia 2010

Sekarang Pernah/tidak Tidak pernah


Provinsi
menggunakan menggunakan lagi sama sekali
Nanggroe Aceh Darussalam 44.1 25.6 30.2
Sumatera Utara 38.3 24.3 37.4
Sumatera Barat 50.7 27.6 21.7
Riau 48.2 27.7 24.1
Jambi 63.8 20.1 16.1
Sumatera Selatan 60.6 22.3 17.1
Bengkulu 60.6 26.4 13.0
Lampung 62.6 21.7 15.7
Bangka Belitung 65.5 22.8 11.7
Kepulauan Riau 53.5 25.8 20.7
DKI Jakarta 51.3 28.5 20.2
Jawa Barat 59.9 28.3 11.8
Jawa Tengah 59.5 25.1 15.4
DI Yogyakarta 55.2 27.1 17.7
Jawa Timur 59.4 22.9 17.7
Banten 56.8 28.8 14.4
Bali 65.5 18.0 16.5
Nusa Tenggara Barat 53.5 31.2 15.4
Nusa Tenggara Timur 39.5 23.4 37.1
Kalimantan Barat 58.0 24.2 17.8
Kalimantan Tengah 66.0 23.5 10.5
Kalimantan Selatan 62.5 26.9 10.6
Kalimantan Timur 56.2 28.5 15.3
Sulawesi Utara 62.2 27.3 10.4
Sulawesi Tengah 51.6 27.5 21.0
Sulawesi Selatan 45.5 28.2 26.3
Sulawesi Tenggara 40.6 30.4 29.0
Gorontalo 63.1 21.7 15.1
Sulawesi Barat 39.8 20.2 40.0
Maluku 36.4 22.2 41.4
Maluku Utara 43.5 30.7 25.8
Papua Barat 32.8 27.0 40.2
Papua 38.8 23.9 37.2
Indonesia 56.0 25.6 18.4

60
Grafik 5.12. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menggunakan
Alat/Cara KB, Indonesia: 2007-2010

Sumber: SDKI 2007, Riskesdas 2010

Penggunaan jenis alat kontrasepsi yang digunakan perempuan berstatus kawin dapat dilihat
pada Tabel 5.18 berikut yang juga memperhatikan kecenderungannya dari tahun 2007 ke tahun
2010. Terjadi penurunan untuk keseluruhan metode penggunaan alat/cara KB kecuali IUD,
Suntikan dan amenorrhea laktasi. Untuk keseluruhan yang tidak menggunakan alat/cara KB
bertambah dari 38,6 persen tahun 2007 menjadi 44,0 persen tahun 2010.

Tabel 5.18. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis
penggunaan Alat/Cara KB, Indonesia: 2007-2010

Jenis Alat/Cara KB SDKI 2007 Riskesdas 2010


Sterilisasi wanita 3.0 2.2
Sterilisasi pria 0.2 0.1
Pil 13.2 12.8
IUD/AKDR/Spiral 4.9 5.1
Suntikan 31.8 32.4
Implant 2.8 1.4
Kondom 1.3 1.1
Amenorrhea Laktasi 0.0 0.1
Pantang Berkala/Kalender 1.5 0.4
Senggama terputus 2.1 0.3
Lainnya 0.4 0.1
Tidak menggunakan 38.6 44.0
Sumber: SDKI 2007, Riskesdas 2010

Berdasarkan tempat tinggal (tabel 5.19), penggunaan alat kontrasepsi untuk suntikan lebih
banyak yang tinggal di perdesaan (35,9%) dibanding di perkotaan (29,0%). Demikian juga

61
penggunaan implant di perdesaan (1,9%) dibanding di perkotaan (0,9%). Sebaliknya pengguna
Pil lebih banyak di perkotaan (13,4%) dibanding di perdesaan (12,2%).

Tabel 5.19. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut Jenis
penggunaan Alat/Cara KB dan Tempat Tinggal, Indonesia 2010

Jenis Alat/Cara KB Perkotaan Perdesaan


Sterilisasi wanita 2.5 1.8
Sterilisasi pria 0.1 0.1
Pil 13.4 12.2
IUD/AKDR/Spiral 6.1 4.2
Suntikan 29.0 35.9
Implant 0.9 1.9
Kondom 1.8 0.4
Amenorrhea Laktasi 0.1 0.1
Pantang Berkala/Kalender 0.6 0.1
Senggama terputus 0.4 0.2
Lainnya 0.1 0.0
Tidak menggunakan 45.1 42.9

Pelayanan untuk mendapatkan alat/cara KB sebagian besar dilakukan oleh bidan praktek
(52,6%), diikuti di Puskesmas (12,0%) Pustu (4,5%), dan di RS pemerintah (3,2%). Sebanyak
12,3% menjawab lainnya, bervariasi, pada umumnya membeli di Apotik, depot obat, atau
mendapatkan secara gratis di kantor desa, dll.

Tabel 5.20. Proporsi Perempuan berstatus Kawin Umur 15-49 tahun menurut tempat
pelayanan KB, Indonesia 2010

Tempat Pelayanan KB %
RS Pemerintah 3.2
RS Swasta 2.4
RS Bersalin 1.0
Puskesmas 12.0
Pustu 4.5
Klinik 2.0
TKBK/TMK 0.9
Dokter praktek 2.5
Bidan praktek 52.6
Perawat praktek 2.5
Polindes/ Poskesdes 4.1
Lainnya 12.3

62
Analisis yang sama seperti dilakukan pada perempuan pernah kawin, adalah unmet need pada
perempuan berstatus kawin. Dari Grafik 5.13 dapat dilihat ada 13,9 persen yang sebenarnya
membutuhkan KB akan tetapi tidak bisa terpenuhi

Grafik 5.13. Proporsi Perempuan berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan
Utama tidak menggunakan KB, Indonesia 2010

Variasi antar provinsi dapat dilihat pada Tabel 5.21. Ada dua provinsi dengan persentase
teertinggi yang menjawab butuh, tapi tidak terpenuhi di atas 30% yaitu Maluku (32,3%), dan
Papua Barat (33,0%). Sedangkan provinsi terendah adalah Bali (8,7%).

63
Tabel 5.21. Proporsi Perempuan Berstatus Kawin umur 15-49 tahun menurut Alasan
Utama tidak menggunakan KB dan Provinsi, Indonesia 2010

Butuh/tidak Belum/ingin Tidak Lainnya Menggunakan


Provinsi
terpenuhi punya anak perlu lagi KB
Nanggroe Aceh Darussalam 23.1 19.1 6.7 7.0 44.1
Sumatera Utara 25.7 20.0 10.5 5.5 38.3
Sumatera Barat 19.0 17.6 6.4 6.2 50.7
Riau 19.1 19.7 8.6 4.3 48.2
Jambi 9.9 15.1 6.3 4.9 63.8
Sumatera Selatan 10.0 15.0 8.7 5.7 60.6
Bengkulu 9.1 12.7 12.7 4.8 60.7
Lampung 12.3 15.1 7.8 2.3 62.6
Bangka Belitung 11.3 13.8 6.6 2.8 65.5
Kepulauan Riau 13.0 18.0 4.3 11.1 53.5
DKI Jakarta 16.2 16.3 10.2 6.0 51.2
Jawa Barat 11.0 13.0 10.3 5.7 59.9
Jawa Tengah 11.7 13.8 9.9 5.1 59.5
DI Yogyakarta 13.4 16.4 7.7 7.2 55.2
Jawa Timur 12.0 14.6 9.3 4.6 59.4
Banten 12.2 16.7 8.5 5.9 56.8
Bali 8.7 17.5 4.8 3.6 65.5
Nusa Tenggara Barat 9.7 19.2 10.0 7.6 53.5
Nusa Tenggara Timur 29.0 14.8 7.2 9.5 39.5
Kalimantan Barat 15.1 13.0 9.0 3.5 59.3
Kalimantan Tengah 9.3 11.7 7.0 6.0 66.0
Kalimantan Selatan 9.4 15.2 8.6 4.3 62.5
Kalimantan Timur 10.9 16.5 8.8 7.5 56.2
Sulawesi Utara 9.2 13.7 9.6 5.3 62.2
Sulawesi Tengah 19.0 18.2 8.2 3.0 51.6
Sulawesi Selatan 20.6 16.8 9.1 8.0 45.5
Sulawesi Tenggara 20.8 17.2 14.4 6.9 40.6
Gorontalo 9.8 14.5 8.8 3.6 63.2
Sulawesi Barat 25.0 23.6 7.7 3.9 39.8
Maluku 32.3 16.5 10.6 4.2 36.4
Maluku Utara 14.5 26.6 8.6 6.8 43.5
Papua Barat 33.0 15.9 8.9 9.4 32.8
Papua 22.4 21.7 10.0 7.0 38.8
Indonesia 13.9 15.4 9.2 5.5 56.0

64
Selain dua kelompok indikator di atas, beberapa indikator yang dapat disajikan dari hasil
Riskesdas 2010 untuk pertimbangan mempercepat peningkatan kesehatan ibu antara lain
memperhatikan:
c. Usia menikah pertama
d. Melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear
e. Imunisasi TT
f. Status gizi

Dari Riskesdas 2010 dapat diketahui usia perempuan menikah pertama, seperti terlihat pada
grafik 5.14. Perempuan Indonesia, sudah menikah pada usia yang sangat muda, 10 tahun,
selanjutnya pada usia berikutnya proporsi perempuan menikah pertama ini semakin meningkat
sampai dengan usia 19 tahun. Dari grafik 5.15 dapat dilihat sekitar 46,4 persen perempuan di
Indonesia sudah menikah sebelum menginjak usia 20 tahun

Grafik 5.15. Proporsi Perempuan Umur 10-54 tahun menurut Umur Menikah Pertama,
Indonesia 2010

Informasi lain yang juga penting untuk meningkatkan kesehatan ibu adalah rutinitas untuk
melakukan pemeriksaan alat kelamin/papsmear. Pada grafik 5.16, dapat dilihat bahwa dalam
kurun waktu 12 bulan terakhir hanya 4,6 persen perempuan yang melakukan pemeriksaan.

Dari Riskesdas 2010, ditanyakan juga pada responden perempuan pernah kawin berapa kali
diberi imunisasi TT sebelum dan sesudah menikah. Dapat dilihat pada grafik 5.17, pada
perempuan hamil diketahui sekitar 31 persen mendapat imunisasi TT kurang dari 2 kali.

65
Grafik 5.16. Proporsi Perempuan pernah Kawin umur15-49 tahun yang melakukan
pemeriksaan alat kelamin/papsmear, Indonesia, 2010

Grafik 5.17. Proporsi Perempuan Umur Reproduktif menurut Jumlah kali mendapat
imunisasai TT, Inndonesia 2010

Informasi lain yang juga sangat penting untuk kesehatan ibu adalah status gizi perempuan
reproduktif yang akan melahirkan. Dari grafik 5.18 dapat dilihat ada kecenderungan pada

66
perempuan kelompok umur 15-19 tahun, 17, 2 persen dengan Indeks Massa Tubuh (IMT)
<18,5. Perempuan dengan IMT <18,5 adalah kurus dan mempunyai risiko tinggi untuk
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Sebaliknya dari grafik 5.15 dapat
dilihat ada kecenderungan semakin bertambah umur proporsi perempuan dengan IMT 25
keatas semakin meningkat. Perempuan dengan IMT 25 + cenderung gemuk dan berisiko
tinggi untuk terkena penyakit degeneratif seperti darah tinggi, diabetes melitus, dll.

Grafik 5.18. Proporsi Perempuan pernah kawin menurut kelompok umur dan Status
Gizi, Indonesia 2010

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan ibu pada prinsipnya dapat
menjadi lebih baik jika program tetap mengupayakan peningkatan cakupan pelayanan
kesehatan terutama pada pertolongan persalinan untuk perempuan hamil, dan juga dapat
mengurangi pernikahan usia remaja serta perbaikan status gizi. Pelayanan KB diutamakan
pada penduduk miskin yang membutuhkan agar jumlah kehamilan dapat diturunkan.

67
4. Goal 6-MDG

Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular Lainnya

Target:
1. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru HIV/AIDS hingga
tahun 2015
2. Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan
penyakit utama lainnya hingga tahun 2015

Narasi berikut mengkhususkan analisis berkaitan dengan pengetahuan responden tentang


HIV/AIDS, masalah malaria dan TB paru

6.1. PENGETAHUAN TENTANG HIV/AIDS

Salah satu tujuan yang ingin dicapai MDGs dalam kurun waktu 1990-2015 adalah memerangi
HIV/AIDS, dengan target mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah
kasus baru pada tahun 2015. Salah satu indikator yang digunakan untuk memantau pencapaian
target dan dapat dikumpulkan melalui Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010 adalah prevalensi
penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Sedangkan mengenai
pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS, kepada responden ditanyakan hal-hal yang
terkait dengan pengetahuan HIV/AIDS. Hasil Riskesdas 2010 dibandingkan dengan hasil dari
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang mempunyai metode
pengumpulan data yang sama.

Riskesdas 2010 melaporkan sebesar 75 persen perempuan maupun laki-laki umur 15-24 tahun
pernah mendengar tentang HIV/AIDS, Nampak adanya peningkatan pengetahuan pada
perempuan sebesar 12 persen dan pada laki-laki sebesar 11 persen dibanding tahun 2007
(Gambar 6.1.1).

Gambar 6.1.1
Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar ttng HIV/AIDS
menurut jenis kelamin Riskesdas 2007 dan 2010

68
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS nampak lebih tinggi
pada mereka yang belum kawin, yang tinggal di perkotaan, yang berpendidikan lebih tinggi,
pada mereka yang masih sekolah, dan yang bekerja sebagai pegawai dan wiraswasta, juga
pada kuintil/ pendapatan perkapita yang lebih tinggi. (Tabel 6.1.1)

Tabel 6.1.1
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS,
menurut karakteristik penduduk, Riskesdas 2007 dan Riskesdas 2010

Karakteristik Laki-laki Perempuan


penduduk
2007 2010 2007 2010

Status kawin
Belum kawin 64,9 76,3 68,1 80,5
Kawin 56,5 67,1 51,4 63,3
Cerai 49,3 56,8 48,7 63,2

Tipe daerah
Perkotaan 79,8 84,8 79,4 84,5
Perdesaan 53,3 64,0 50,4 63,2

Pendidikan
Tidak sekolah 27,7 33,2 23,9 30,2
Tidak tamat SD 33,3 43,3 27,4 40,4
Tamat SD 44,3 55,6 38,6 51,4
Tamat SMP 67,9 79,7 66,1 79,0
Tamat SMA 84,2 91,2 84,1 91,5
Tamat D1/2/3/PT 90,2 94,4 90,8 96,7

Pekerjaan
Tidak bekerja 61,9 71,8 55,2 69,3
Sekolah 70,8 82,81 73,8 86,2
Pegawai 85,0 91,8 85,9 90,9
Wiraswasta 72,8 79,8 68,5 82,9
Petani/ 49,0 62,3 41,9 55,9
nelayan/buruh
Lainnya 63,4 77,0 65,1 70,9

Tingkat pengeluaran perkapita


Kuintil 1 53,5 59,7 50,3 58,7
Kuintil 2 58,1 72,3 56,3 69,4
Kuintil 3 64,7 78,0 62,3 78,1
Kuintil 4 68,1 83,0 67,2 83.6
Kuintil 5 75,2 89,3 73,9 88,8

Indonesia 64,0 75,4 62,4 74,8

69
Tabel 6.1.2 dan Gambar 6.1.2 menunjukkan 10 provinsi dengan prevalensi pernah mendengar
AIDS diatas rata-rata yaitu Yogyakarta, Bali, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara,
Jawa Tengah, Papua, NTB, dan Jawa Timur, Papua Barat.

Gambar 6.1.2
Prevalensi Penduduk 15-24 tahun Pernah Mendengar menurut Provinsi, Riskesdas 2010

70
Tabel 6.1.2
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar HIV/AIDS
menurut provinsi, Riskesdas 2010

Provinsi Laki-laki Perempuan Laki-Perempuan


Nanggroe Aceh Darussalam 73 ,1 74 ,6 73 ,1
Sumatera Utara 70 ,2 71 ,1 70 ,2
Sumatera Barat 72 ,0 77 ,0 72 ,0
Riau 77 ,1 72 ,8 77 ,1
Jambi 64 ,5 64 ,1 64 ,5
Sumatera Selatan 60 ,1 62 ,3 60 ,1
Bengkulu 66 ,5 66 ,6 66 ,5
Lampung 67 ,5 67 ,7 67 ,5
Bangka Belitung 73 ,6 74 ,1 73 ,6
Kepulauan Riau 89 ,7 86 ,0 89 ,7
DKI Jakarta 90 ,5 89 ,4 90 ,5
Jawa Barat 77 ,1 75 ,8 77 ,1
Jawa Tengah 82 ,1 81 ,7 82 ,1
DI Yogyakarta 94 ,3 93 ,1 94 ,3
Jawa Timur 79 ,0 77 ,7 79 ,0
Banten 68 ,7 67 ,5 68 ,7
Bali 95 ,3 90 ,0 95 ,3
Nusa Tenggara Barat 81 ,7 77 ,1 81 ,7
Nusa Tenggara Timur 58 ,8 62 ,5 58 ,8
Kalimantan Barat 57 ,3 63 ,4 57 ,3
Kalimantan Tengah 67 ,2 62 ,4 67 ,2
Kalimantan Selatan 76 ,8 76 ,4 76 ,8
Kalimantan Timur 63 ,2 69 ,3 63 ,2
Sulawesi Utara 81 ,2 83 ,4 81 ,2
Sulawesi Tengah 66 ,4 63 ,1 66 ,4
Sulawesi Selatan 71 ,8 72 ,5 71 ,8
Sulawesi Tenggara 55 ,6 61 ,1 55 ,6
Gorontalo 41 ,1 46 ,6 41 ,1
Sulawesi Barat 53 ,6 48 ,7 53 ,6
Maluku 69 ,5 71 ,6 69 ,5
Maluku Utara 66 ,6 56 ,4 66 ,6
Papua Barat 78 ,6 75 ,9 78 ,6
Papua 81 ,0 76 ,2 81 ,0
Indonesia 75 ,4 74,8 75 ,4

Pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS


Untuk melihat kecendrungan hasil tahun 2007 dan 2010 dilakukan reanalisis data SDKI dan
SKRRI 2007 dengan menggunakan empat variabel yang sama dalam Riskesdas 2010.
Pengetahuan komprehensif merupakan komposit dari 4 variabel, 2 variabel dari persepsi salah
tentang penularan HIV/AIDS yaitu melalui (1) makan sepiring dengan orang yang terkena virus
HIV/AIDS, (2) melalui gigitan nyamuk, dan 2 variabel tentang cara pencegahan HIV/AIDS yaitu

71
(3) berhubungan seksual dengan satu pasangan saja dan (4) menggunakan kondom saat
berhubungan seksual.

Riskesdas 2010
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif “baik” tentang
HIV/AIDS nampak lebih tinggi pada mereka yang belum kawin, yang tinggal di perkotaan, yang
berpendidikan lebih tinggi, pada mereka yang masih sekolah, dan yang bekerja sebagai
pegawai, wiraswasta dan sekolah, juga pada pendapatan perkapita yang lebih tinggi. (Tabel
6.1.3)
Tabel 6.1.3
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang
HIV/AIDS, menurut karakteristik penduduk, Riskesdas 2010

Karakteristik penduduk Laki-laki Perempuan Laki-perempuan

Status kawin
Belum kawin 20 ,3 19 ,8 20 ,1
Kawin 15 ,4 11 ,9 12 ,8
Cerai 12 ,6 10 ,7 11 ,2

Tipe daerah
Perkotaan 23 ,0 20 ,0 21 ,5
Perdesaan 16 ,0 13 ,8 14 ,9

Pendidikan
Tidak sekolah 18 ,4 3 ,6 4 ,9
Tidak tamat SD 23 ,0 7 ,5 8 ,9
Tamat SD 25 ,0 8 ,4 9 ,7
Tamat SMP 21 ,9 17 ,5 18 ,9
Tamat SMA 15 ,1 23 ,3 25 ,3
Tamat D1/2/3/PT 16 ,7 32 ,3 33 ,3

Pekerjaan
Tidak bekerja 6 ,3 13 ,4 15 ,3
Sekolah 10 ,1 22 ,1 22 ,5
Pegawai 10 ,9 24 ,8 24 ,9
Wiraswasta 20 ,2 22 ,8 22 ,2
Petani/ nelayan/buruh 27 ,3 11 ,4 13 ,8
Lainnya 35 ,1 15 ,2 15 ,8

Pengeluaran perkapita
Kuintil 1 14 ,6 12 ,6 13 ,6
Kuintil 2 18 ,6 14 ,6 16 ,6
Kuintil 3 19 ,6 18 ,0 18 ,8
Kuintil 4 22 ,8 19 ,8 21 ,3
Kuintil 5 25 ,6 22 ,5 24 ,0
Indonesia 19,8 17,2 18 ,5

72
Tabel 6.1.4 dan Gambar 6.1.3 menunujukkan 10 provinsi dengan pengetahuan komprehensif
tentang HIV/AIDS di atas nilai rata-rata yaitu provinsi Bali, Papua, DKI Jakarta, Papua Barat,
Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, DI Yogyakarta, Riau, Bengkulu.

Gambar 6.1.3
Prev. Penduduk 15-24 th dengan Penget. Komprehensif tentang HIV/AIDS menurut Prov.,
RKD 2010

73
Tabel 6.1.4
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang
HIV/AIDS, menurut provinsi, Riskesdas 2010

Provinsi Laki-laki Perempuan Laki-perempuan


Nanggroe Aceh Darussalam 16 ,2 16 ,0 16 ,1
Sumatera Utara 26 ,4 24 ,2 25 ,3
Sumatera Barat 13 ,5 12 ,2 12 ,9
Riau 22 ,3 17 ,2 19 ,9
Jambi 12 ,5 11 ,8 12 ,1
Sumatera Selatan 11 ,4 10 ,2 10 ,8
Bengkulu 17 ,5 21 ,1 19 ,3
Lampung 15 ,2 12 ,0 13 ,6
Bangka Belitung 9 ,0 8 ,4 8 ,7
Kepulauan Riau 15 ,5 21 ,3 18 ,5
DKI Jakarta 30 ,1 24 ,4 27 ,4
Jawa Barat 17 ,6 13 ,5 15 ,6
Jawa Tengah 24 ,3 22 ,1 23 ,2
DI Yogyakarta 19 ,8 20 ,8 20 ,3
Jawa Timur 22 ,8 19 ,1 21 ,0
Banten 13 ,3 11 ,6 12 ,5
Bali 39 ,5 31 ,8 35 ,8
Nusa Tenggara Barat 24 ,8 17 ,6 20 ,9
Nusa Tenggara Timur 18 ,5 15 ,5 16 ,9
Kalimantan Barat 7 ,9 11 ,5 9 ,7
Kalimantan Tengah 18 ,0 14 ,1 16 ,0
Kalimantan Selatan 14 ,4 13 ,2 13 ,8
Kalimantan Timur 18 ,8 17 ,6 18 ,2
Sulawesi Utara 15 ,5 15 ,1 15 ,3
Sulawesi Tengah 11 ,0 14 ,1 12 ,6
Sulawesi Selatan 16 ,5 16 ,4 16 ,4
Sulawesi Tenggara 13 ,5 11 ,6 12 ,5
Gorontalo 7 ,4 9 ,0 8 ,4
Sulawesi Barat 12 ,5 7 ,4 10 ,0
Maluku 14 ,2 7 ,8 10 ,9
Maluku Utara 10 ,9 6 ,8 8 ,7
Papua Barat 27 ,2 24 ,1 25 ,6
Papua 32 ,1 31 ,2 31 ,6
Indonesia 19 ,8 17 ,2 18 ,5

Dibandingkan dengan hasil SDKI 2007, tampak adanya peningkatan prevalensi penduduk (laki-
laki dan perempuan) umur 15-24 tahun belum kawin dengan pengetahuan komprehensif
tentang HIV/AIDS, tetapi pada laki-laki kawin tampak sedikit penurunan pada tahun 2010
(Gambar 6.1.4)

74
Gambar 6.1.4
Kecenrungan Pengetahuan Komprehensif Penduduk 15-24 tahun
tentang HIV/AIDS, SDKI 2007 dan Riskesdas 2010

Catatan:

Hasil analisis ulang pengetahuan komprehensif penduduk 15-24 tahun SDKI 2007* dengan 5
variabel, sebagai berikut:

Status kawin Laki Perempuan


Belum kawin 13,7 15,1
Kawin 14,7 9,5

*5 variabel yaitu penggunaan kondom saat hub. seksual, hubungan seksual hanya dengan satu pasangan, mengetahui orang
tampak sehat dapat terkena HIV, menolak dua persepsi salah yaitu HIV tertular melalui gigitan nyamuk dan dapat ditularkan melalui
berbagi makan dengan ODHA.

75
6.2. PENYAKIT MALARIA
Malaria merupakan masalah kesehatan dunia karena mengakibatkan dampak yang luas, dan
memungkinkan sebagai penyakit emerging dan re-emerging karena adanya kasus import dan
vektor potensial yang dapat menularkan dan menyebarkan malaria. Selain itu malaria umumnya
merupakan penyakit di daerah terpencil atau sulit dijangkau dan di negara miskin atau
berkembang, sehingga tidak mengherankan malaria juga merupakan neglected disease. Oleh
sebab itu malaria menjadi salah satu penyakit menular yang menjadi sasaran prioritas
komitmen global di Millenium Development Goals (MDGs) yang dideklarasikan oleh 189
anggota PBB pada tahun 2000.
Dampak luas dari malaria yang berhubungan dengan 5 indikator MDGs lain dapat dilihat pada
Tabel.6.2.1.

Tabel 6.2.1. Peran malaria pada indikator MDGs lain

MDG Tujuan Peran malaria


1 Menanggulangi kemiskinan Memelihara kemiskinan
2 Mencapai pendidikan dasar untuk semua Penyebab absen sekolah
4 Menurunkan angka kematian anak Penyebab kematian
5 Meningkatkan kesehatan ibu Ancaman kehidupan ibu dan
anak
6 Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit Menyebabkan kesakitan dan
menular lainnya kematian
8 Mengembangkan kemitraan global untuk Kerja sama dalam
pembagunan penanggulangan melalui Global
Fund

Pada tahun 2005, World Health Assembly (WHA) mentargetkan penurunan kasus kesakitan
dan kematian malaria sebanyak =50% di tahun 2010 dan =75% di tahun 2015 dari angka pada
tahun 2000. Berbagai upaya penanggulangan telah dilaksanakan dengan menggalang berbagai
sumber dana baik dari pemerintah dan non pemerintah (WHO dan Global Fund). Pada
pertemuan WHA 60 tahun 2007, telah dihasilkan komitmen global tentang eliminasi malaria
bagi setiap negara. Di Indonesia eliminasi malaria dimulai sejak tahun 2009. Untuk percepatan
penanggulangan malaria dilakukan berbagai intervensi: kelambu berinsektisida untuk penduduk
berisiko, pengobatan yang tepat untuk subjek terinfeksi malaria dengan artemisinin-based
combination therapy (ACT); penyemprotan rumah dengan insektisida, dan pengobatan
pencegahan pada ibu hamil1.

Di Indonesia ditemukan semua jenis human plasmodia terutama Plasmodium falciparum and
P.vivax. Kasus malaria yang dilaporkan umumnya masih merupakan malaria yang diagnosis
hanya berdasarkan gejala klinis karena keterbatasan akses dan fasilitas pemeriksaan
laboratorium. Laporan tahunan menunjukkan kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi Papua
dan Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2004, program malaria Indonesia secara bertahap telah
menggunakan ACT sesuai rekomendasi WHO4. Kelebihan derivatif artemisinin ini adalah dapat
mencegah penularan. ACT yang digunakan oleh program malaria nasional adalah kombinasi

76
artesunat-amodiakuin dan dihidroartemisinin-piperakuin, sedangkan artemeter-lumefantrin
direkomendasi oleh klinisi.
Setiap tiga tahun Badan Litbangkes melaksanakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Riskesdas pertama dilaksanakan pada tahun 2007, dan Riskesdas ke 2 tahun 2010 dirancang
khusus sebagai bahan evaluasi pencapaian MDGs, dan perkembangan hasil Riskesdas 2007.
Pada Riskesdas 2007 hanya dikumpulkan data prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir
berdasarkan hasil wawancara, dan pada Riskesdas 2010 data kesakitan malaria dilengkapi
dengan pemeriksaan darah malaria pada semua responden. Data Riskesdas selain dapat
dimanfaatkan sebagai evaluasi pencapain target MDGs, tetapi juga dapat sebagai data dasar
dan bahan evaluasi untuk pencapaian eliminasi malaria di Indonesia.

Dari data Riskesdas 2010 dapat ditentukan Angka Kesakitan Malaria (Annual Parasite
Incidence/API 2009-2010 dan Prevalensi malaria), Pengobatan efektif pada balita, Cakupan
kelambunisasi berinsektisida pada balita, faktor pendukung lainnya (promosi, prevensi, dan
pengobatan tradisional atau dengan tanaman obat).

Data Riskesdas malaria dikumpulkan dengan dua cara yaitu wawancara terstruktur
menggunakan kuesioner Kesmas, dan pemeriksaan darah malaria untuk deteksi antigen
plasmodium dengan menggunakan dipstick (Rapid Diagnostic Test/RDT). Kuesioner yang
digunakan ada yang khusus untuk responden Rumah Tangga (RT) untuk faktor pendukung
(promosi/pengetahuan tempat pelayanankesehatan dan pemeriksaan darah malaria,
pemanfaatan pelayanan kesehatan, risiko terinfeksi malaria), dan kuesioner individu atau
Anggota Rumah Tangga/ART (Annual Parasite Incidence/API, prevalensi malaria, tempat
pemeriksaan/penentuan diagnosis malaria, cakupan ACT, persentasi yang melakukan
pencegahan, penggunaan obat tradisonal/tanaman obat untuk malaria).

Total sampel Kesmas adalah 2800 Blok Sensus (BS), sedangkan sampel untuk pemeriksaan
darah malaria adalah sebanyak 823 BS yang merupakan sub sampel dari sampel Kesmas.
Satu BS terdiri dari 25 RT. Sebelum dilakukan wawancara dan pemeriksaan darah malaria,
semua responden harus menandatangani informed consent. Semua anggota Rumah Tangga
diperiksa darahnya dengan RDT (Entebe®) dan apabila disertai dengan riwayat demam dalam
48 jam terakhir juga dilakukan pemeriksaan malaria apusan darah tebal dengan pewarnaan
Giemsa. Semua kasus yang positip malaria dengan RDT dirujuk ke Puskesmas terdekat.
Demikian juga kasus dengan riwayat demam walaupun hasil RDT negatip akan dirujuk untuk
pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. Apusan darah tebal malaria diperiksa di Puslitbang
Biomedis dan Farmasi secara blinded untuk keperluan validasi hasil RDT. Data dianalisis
dengan menggunakan program SPSS 15.

1. Angka kesakitan malaria

Insiden Parasit Malaria (API) dalam satu tahun terakhir (2009-2010) berdasarkan hasil
pemeriksaan darah malaria pada saat wawancara adalah 2,4 persen. Sedangkan API di Jawa-
Bali adalah 0,8 persen (Gambar.6.2.1).

77
Gambar.6.2.1. API, Riskesdas 2010

2.5

1.5 2,4

1
0,8
0.5

0
Jawa-Bali Nasional

API pada tahun 1990 dan 2007 hanya merupakan API Jawa-Bali yang berasal dari fasilitas
pelayanan pemerintah. Hal ini disebabkan karena dimasa lalu hanya Jawa-Bali yang sudah
dapat mengkonfirmasi kasus malaria dengan pemeriksaan apusan darah malaria. Sedangkan
hasil API Riskesdas 2010 adalah API Nasional (24 permil) dan dikumpulkan dari masyarakat
yang dapat merupakan data dari fasilitas pelayanan pemerintah dan sektor swasta. Jadi tidak
mengherankan API Jawa-Bali dari Riskesdas 2010 (8 permil) lebih besar dari pada API
tahun 1990 (0,17 permil) dan 2007 (0,16 permil) (Bappenas, 2009)8.

Rentang API Nasional adalah antara 0,3% (Bali) dan 31,4% (Papua). Sebanyak 20 provinsi
dan semuanya di luar Jawa-Bali mempunyai API diatas API Nasional (Tabel.6.2.2). Pada
umumnya (50,1.%) terinfeksi malaria hanya satu kali dalam satu tahun terakhir, sedangkan
yang dua kali adalah 39,8 persen dan yang tiga atau lebih adalah 10,1 persen.

78
Tabel 6.2.2
API malaria menurut provinsi, Riskesdas 2010

NO NAMA PROVINSI API (%)


1 NAD 2,7
2 Sumatera Utara 2,2
3 Sumatera Barat 1,4
4 Riau 1,6
5 Jambi 5,3
6 Sumatera Selatan 2,8
7 Bengkulu 5,7
8 Lampung 2,6
9 Bangka Belitung 9,2
10 Kepulauan Riau 4,7
11 DKI Jakarta 0,7
12 Jawa Barat 0,8
13 Jawa Tengah 0,9
14 DI Yogyakarta 1,0
15 Jawa Timur 0,6
16 Banten 1,1
17 Bali 0,3
18 Nusa Tenggara Barat 4,6
19 Nusa Tenggara Timur 10,7
20 Kalimantan Barat 6,2
21 Kalimantan Tengah 4,0
22 Kalimantan Selatan 1,9
23 Kalimantan Timur 3,8
24 Sulawesi Utara 6,4
25 Sulawesi Tengah 3,7
26 Sulawesi Selatan 2,0
27 Sulawesi Tenggara 2,0
28 Gorontalo 2,6
29 Sulawesi Barat 5,6
30 Maluku 7,7
31 Maluku Utara 10,3
32 Papua Barat 25,5
33 Papua 31,4
Jawa-Bali 0,8
Indonesia 2,4

79
Tabel 6.2.3
API (%) Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2010

Karakteristik responden API (%)

Kelompok umur (tahun)


<1 1,2
1– 4 2,5
5 - 14 2,3
25 - 24 2,2
25 - 34 2,5
35 - 44 2,5
45 - 54 2,5
55 - 64 2,4
65 - 74 1,8
= 75 1,4
Jenis kelamin
Laki-laki 2,6
Perempuan 2,2
Tipe daerah
Perkotaan 2,0
Perdesaan 2,9
Pendidikan
Tidak sekolah 2,3
Tidak tamat SD 2,9
Tamat SD 2,3
Tamat SMP 2,2
Tamat SMA 2,3
Tamat PT 1,6
Pekerjaan
Tidak kerja 2,0
Sekolah 2,2
Pegawai/TNI/POLRI 2,2
Wiraswasta 1,9
Petani/Nelayan/Buruh 3,0
Lainnya 2,9
Tingkat pengeluaran per
kapita
Kuintil 1 2,0
Kuintil 2 2,2
Kuintil 3 2,4
Kuintil 4 2,7
Kuintil 5 2,9

Pada Riskesdas 2010, API lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan kelompok umur 25-54
tahun, responden laki-laki (2,6%), responden yang tinggal di perdesaan (2,9%), responden
dengan pendidikan tidak tamat SD (2,9%), responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh
(3,0%), dan responden dengan tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 4-5 (2,7%, 2,9%)

80
(Tabel 6.2.3). Hasil ini tidak mengherankan karena malaria menyerang semua umur, dapat
berhubungan dengan pekerjaan, dan pada umumnya di daerah terpencil atau pedesaan serta
ekonomi rendah (Tabel 6.2.3). Hal yang menarik adalah pada kelompok kuintil 4 dan 5 ternyata
API nya > dari API nasional. Keadaan ini dapat disebabkan akses dan kemampuan kelompok
dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah untuk melakukan pemeriksaan darah malaria
terbatas.

Prevalensi malaria Indonesia dalam satu bulan terakhir (Period Prevalence) pada
Riskesdas 2010 adalah 10.7 persen. Angka ini didapatkan dari kasus kesakitan yang
didiagnosis oleh tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria
(0,6%), dan gejala klinis (10,2%). Gejala klinis ini termasuk kasus asimptomatik atau tanpa
demam tetapi minum obat anti malaria (0,6%) berdasarkan hasil wawancara (Gambar 6.2.2).

Gambar 6.2.2. Period Prevalence (%), Riskesdas 2010

10

6
9.6

2
0.6 0.6
0
Konfirmasi lab Gejala klinis Asimptomatik

Bila dibandingkan dengan angka Prevalensi dalam satu bulan terakhir yang didiagnosis oleh
tenaga kesehatan melalui konfirmasi pemeriksaan apusan darah malaria, terjadi penurunan
dari 1,39 pada Riskesdas 2007 menjadi 0,6 persen pada Riskesdas 2010. Jadi Period
Prevalence Nasional 2010 (10,7%) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Period Prevalence
Riskesdas 2007 (2,85%) dipengaruhi oleh prevalensi yang berdasarkan gejala klinis. Gejala
klinis malaria sangat beragam dan tidak spesifik dari asimptomatik sampai dengan gejala klinis
berat. Oleh sebab itu penentuan kesakitan atau diagnosis malaria yang benar dan akurat
adalah harus melalui konfirmasi pemeriksaan baku emas apusan darah malaria atau deteksi
antigen antara lain dengan RDT.

81
Gambar 6.2.3. Prevalensi Malaria, Riskesdas 2007 dan 2010

12

10

8
10.7
2007
6
2010
4

2 2.85
1.39 0.6

0
D DG

Sekitar 64 persen (21 provinsi) mempunyai angka Period Prevalence lebih besar atau sama
dengan Period Prevalence Nasional. Period prevalence terendah adalah di provinsi Yoyakarta
dan Bali (4,6%) dan tertinggi di Papua Barat (33,6%). (Tabel 6.2.4.).

Pada Riskesdas 2010, periode prevalence lebih tinggi ditemukan pada anak balita dan
kelompok umur 25-64 tahun (10,9% - 12,0%), responden laki-laki (10,8%), responden yang
tinggal di perdesaan (13%), responden dengan pendidikan rendah/ tidak tamat SMP (12,0% –
12,2%), responden dengan pekerjaan petani/ nelayan/ buruh (13,7%), dan responden dengan
tingkat pengeluaran perkapita pada kuintil 1-3 (10,9% - 11,2%) (Tabel 6.2.5). Karakteristik ini
tidak berbeda dengan karakteristik pada responden API kecuali pada kelompok tingkat
pengeluaran perkapita yaitu kasus malaria lebih banyak ditemukan pada kelompok kuintil 1-3,
sedangkan yang diagnosisnya diketahui berdasarkan konfirmasi pemeriksaan darah adalah
kelompok kuintil 4-5 seperti pada API.

Angka Prevalensi malaria dalam satu bulan terakhir berdasarkan konfirmasi pemeriksaan
apusan darah malaria ternyata sama dengan angka Prevalensi malaria yang didapat dari hasil
pemeriksaan dengan RDT pada saat dilakukan Riskesdas 2010 (Point Prevalence) yaitu 0,6%
(Tabel 6.2.6). Hal ini menunjukkan konsistensi temuan antara hasil wawancara dengan
pemeriksaan RDT.

Seperti halnya temuan pada karakteristik API, Period Prevalence yang dikonfirmasi dengan
pemeriksaan darah dan Point Prevalence juga lebih tinggi pada kelompok umur 1-34 tahun
(0,7% - 0,8%), di perdesaan (0,8%), pendidikan rendah (tidak tamat SD) (0,7% - 0,8%),
pekerjaan anak sekolah dan petani/ nelayan/ buruh (0,7%) dan pada kuintil 1 dan 3 (0,7%)
(Tabel. 6.2.6)

82
Tabel 6.2.4
Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Provinsi,

Riskesdas 2007 dan 2010

2007 2010
No Nama Provinsi D (%) DG (%) D (%) DG (%)
1 NAD 1,89 3,66 0,7 12,1
2 Sumatera Utara 1,32 2,86 0,4 10,0
3 Sumatera Barat 0,55 1,65 0,3 12,3
4 Riau 0,85 2,03 0,5 6,6
5 Jambi 1,73 3,23 1,2 11,5
6 Sumatera Selatan 1,01 1,63 0,9 9,3
7 Bengkulu 4,81 7,14 1,5 12,9
8 Lampung 0,27 1,42 0,5 9,7
9 Bangka Belitung 5,07 7,09 1,4 19,0
10 Kepulauan Riau 0,79 1,41 1,4 9,5
11 DKI Jakarta 0,10 0,51 0,1 8,4
12 Jawa Barat 0,07 0,42 0,1 10,7
13 Jawa Tengah 0,08 0,41 0,1 7,7
14 DI Yogyakarta 0,07 0,30 0,0 4,6
15 Jawa Timur 0,05 0,18 0,1 7,3
16 Banten 0,09 0,32 0,1 10,7
17 Bali 0,10 0,31 0,1 4,6
18 Nusa Tenggara Barat 2,22 3,75 1,3 14,2
19 Nusa Tenggara Timur 5,73 12,04 4,0 28,2
20 Kalimantan Barat 1,82 3,26 0,9 11,3
21 Kalimantan Tengah 1,51 3,37 1,4 16,2
22 Kalimantan Selatan 0,31 1,41 0,7 14,5
23 Kalimantan Timur 1,06 1,67 0,8 9,3
24 Sulawesi Utara 0,45 2,12 2,1 22,5
25 Sulawesi Tengah 2,58 7,36 0,9 18,0
26 Sulawesi Selatan 0,32 1,37 0.6 15,6
27 Sulawesi Tenggara 0,88 2,16 0,4 7,1
28 Gorontalo 0,88 2,87 0,8 28,6
29 Sulawesi Barat 0,86 2,02 1,5 13,8
30 Maluku 2,87 6,06 1,3 12,6
31 Maluku Utara 3,31 7,23 3,4 20,9
32 Papua Barat 15,65 26,14 9,0 33,6
33 Papua 12,09 18,41 11,1 29,2
Indonesia 1,39 2,85 0,6 10,7

83
Tabel 6.2.5
Period Prevalence 1 Bulan Malaria Menurut Karakteristik Responden,
Riskesdas 2007 dan 2010

Karakteristik responden 2007 2010


D (%) DG (%) D (%) DG (%)
Kelompok umur (tahun)
<1 0,50 1,02 0,2 8,0
1– 4 1,43 2,64 0,7 10,9
5 - 14 1,37 2,69 0,5 9,9
15 - 24 1,31 2,62 0,5 10,1
25 - 34 1,59 3,20 0,7 10,8
35 - 44 1,53 3,09 0,7 11,0
45 - 54 1,48 3,12 0,6 11,6
55 - 64 1,31 2,97 0,7 12,0
65 - 74 1,19 2,70 0,4 10,4
= 75 1,08 2,83 0,4 10,4
Jenis kelamin
Laki-laki 11,55 3,05 0,7 10,8
Perempuan 1,26 2,66 0,5 10,5
Tipe daerah
Perkotaan 0,83 1,46 0,3 8,5
Pedesaan 1,75 3,69 0,9 13,0
Pendidikan
Tidak sekolah 1,57 3,75 0,5 12,0
Tidak tamat SD 1,57 3,54 0,8 12,2
Tamat SD 1,41 3,04 0,5 12,2
Tamat SMP 1,36 2,66 0,5 9,9
Tamat SMA 1,19 2,08 0,6 7,9
Tamat PT 1,10 1,83 0,4 5,7
Pekerjaan
Tidak kerja 1,14 2,49 0,4 10,6
Sekolah 1,22 2,42 0,5 9,5
Pegawai/TNI/POLRI 1,14 1,85 0,6 6,7
Wiraswasta 1,05 1,95 0,4 8,8
Petani/Nelayan/Buruh 1,88 4,13 0,8 13,7
Lainnya 1,37 2,74 0,7 11,0
Tingkat pengeluaran per
kapita
Kuintil 1 1,42 3,05 0,4 11,0
Kuintil 2 1,38 2,90 0,6 11,2
Kuintil 3 1,38 2,83 0,6 10,9
Kuintil 4 1,35 2,72 0,7 10,6
Kuintil 5 1,35 2,52 0,7 9,2

84
TABEL 6.2.6
Point Prevalence Menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2010

Karakteristik responden Point Prevalence (%)

Kelompok umur (tahun)


<1 0,3
1– 4 0,8
5 - 14 0,8
25 - 24 0,7
25 - 34 0,7
35 - 44 0,5
45 - 54 0,6
55 - 64 0,6
65 - 74 0,4
= 75 0,6
Jenis kelamin
Laki-laki 0,6
Perempuan 0,7
Tipe daerah
Perkotaan 0,4
Perdesaan 0,8
Pendidikan
Tidak sekolah 0,7
Tidak tamat SD 0,8
Tamat SD 0,6
Tamat SMP 0,5
Tamat SMA 0,6
Tamat PT 0,2
Pekerjaan
Tidak kerja 0,6
Sekolah 0,7
Pegawai/TNI/POLRI 0,3
Wiraswasta 0,5
Petani/Nelayan/Buruh 0,7
Lainnya 0,6
Tingkat pengeluaran per
kapita
Kuintil 1 0,7
Kuintil 2 0,6
Kuintil 3 0,7
Kuintil 4 0,6
Kuintil 5 0,5
NASIONAL 0,6

85
2. Pengobatan efektif
Obat antimalaria yang direkomendasikan oleh program Malaria adalah dengan menggunakan
Artemisinin Combination based Therapy (ACT). ACT yang digunakan oleh program adalah
artesunat-amodiakuin (sejak tahun 2004), dihidroartemisin-piperakuin (sejak tahun 2009 dan
dimulai di Papua), dan artemeter-lumefantrin yang direkomendasi oleh klinisi (sejak tahun
2009). ACT program diminum dengan dosis tunggal harian selama 3 hari. Pengobatan akan
lebih efektif apabila pengobatan diberikan dalam 24 jam menderita demam atau sakit. Jadi
yang dimaksud dengan pengobatan efektif menurut WHO adalah pengobatan malaria yang
diberikan dalam 24 jam pertama demam atau sakit dengan ACT dan obat diminum dengan
dosis lengkap.
Gambar. 6.2.4. Pengobatan Efektif Malaria, Riskesdas 2010

35

30

25

20 33.6
15 21.9
10

0
Semua kelompok umur Balita

Dari hasil wawancara, penggunaan ACT di Indonesia hanya mencapai 49,1%, dan hanya
75,5.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau menderita demam, serta
89,6% yang diminum dengan dosis lengkap. Khusus pada balita, penggunaan ACT lebih
rendah yaitu 34,3%, 80,6.% yang mendapat pengobatan dalam 24 jam pertama sakit atau
menderita demam, dan 83,4% yang diminum dengan dosis lengkap. Jadi penderita malaria
semua kelompok umur yang mendapat pengobatan efektif adalah 33,6%, sedangkan pada
balita hanya 21,9% (Tabel. 6.2.7). Sosialisasi dan pelatihan ACT sangat perlu digalakkan, dan
ketersediaan ACT perlu dievaluasi untuk mendapat pengobatan yang efektif. Selain ACT,
pengobatan yang efektif perlu ditunjang diagnosis yang akurat dan cepat terutama pada
kelompok berisiko yaitu balita.

86
Tabel 6.2.7
Cakupan Penderita Malaria yang Mendapat Pengobatan Efektif, Riskesdas
2010.

ACT Semua umur Balita


Cakupan (%)
ACT dosis lengkap 33,6 21,9
Proporsi (%)
Mendapat ACT 49,1 34,3
Mendapat ACT dalam 24 jam 75,5 80,6
Pengobatan 3 hari & diminum habis 89,6 83,4

3. Cakupan kelambunisasi
Penggunaan kelambu dapat mencegah infeksi malaria melalui gigitan nyamuk. Untuk
meningkatkan daya proteksi, jenis kelambu yang direkomendasikan adalah kelambu yang telah
diobati atau dipoles dengan insektisida permetrin. Dari hasil wawancara Riskesdas 2010,
cakupan total kelambunisasi dengan dan tanpa diproteksi insektisida adalah 26,1%, dan
cakupan kelambunisasi dengan diproteksi insektisida adalah 12,5% pada responden semua
kelompok umur. Sedangkan cakupan kelambunisasi khusus pada balita dengan dan tanpa
diproteksi insektisida adalah 32,7%, dan cakupan kelambunisasi dengan diproteksi
insektisida adalah 16.0%.

Gambar. 6.2.5. Cakupan Kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010

40
35
30
38.2 32.7
25
32.1 26.1
20
15 Berinsektisida
10 16.0 Semua kelambu
12.5
5 7.7 5.5
0
Balita Semua Balita Semua
umur umur

2007 2010

Dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2007, terjadi penurunan cakupan total kelambunisasi
dengan dan tanpa diproteksi insektisida (dari 32,1% menjadi 26,1%) dan khusus pada balita
(dari 38,2% menjadi 32,7%) (Tabel.6.2.8). Sedangkan cakupan total kelambunisasi yang
diproteksi insektisida dan khusus pada balita terjadi kenaikan yaitu dari 5,5% menjadi 12,5%
dan dari 7,7% menjadi 16,0%.

87
Tabel 6.2.8
Cakupan kelambunisasi, Riskesdas 2007 dan 2010

Jenis Kelambu Tahun 2007 Tahun 2010


Semua umur Balita Semua Balita
umur
Kelambu dengan dan tanpa
32,1 38,2 26,1 32.7
insektisida
Kelambu dengan insektisida 5,5 7,7 12,5 16,0

Penurunan cakupan total kelambunisasi dan khusus pada balita dapat disebabkan karena
program lebih mengutamakan kelambu yang diproteksi insektisida sehingga meningkatkan
cakupan total kelambu yang diproteksi insektisida dan khusus pada balita. Walaupun demikian
cakupan kelambunisasi protektif dengan insektisida masih perlu ditingkatkan terutama di
populasi dengan risiko malaria tinggi atau daerah endemis malaria dan khususnya pada
kelompok khusus balita dan ibu hamil.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan:

1. Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API
Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada
tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka
Period Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan
Point Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian.
2. Pengobatan efektif malaria pada balita hanya 21,9 persen.
3. Cakupan kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari
7,7 persen pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.

88
6.3. TINGKAT PREVALENSI TUBERKULOSIS

Riskesdas 2010 bertujuan untuk memberikan hasil antara lain Angka Prevalensi Nasional TB
2010 dan Proporsi pemanfaatan OAT DOTS oleh penderita TB yang merupakan salah satu
komponen untuk memperoleh gambaran pemanfaatan Program Directly Observed Treatment
of Short-course (DOTS) di Indonesia. Kedua data ini merupakan bagian dari target nomor 6
pada Millenium Development Goal’s (MDG’s) dan dapat memberikan gambaran mengenai tata
laksana TB di Indonesia.

Angka Prevalensi Nasional TB pada Riskesdas 2010 diperoleh dengan cara wawancara
terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana kepada responden ditanyakan apakah
dalam 12 bulan terakhir pernah didiagnosis menderita TB Paru melalui pemeriksaan dahak dan
atau foto paru oleh tenaga kesehatan/nakes (dokter/perawat/bidan) untuk menentukan angka
Prevalensi Nasional TB berdasarkan diagnosis (D). Kepada responden juga ditanyakan apakah
dalam 12 bulan terakhir pernah menderita batuk berdahak = 2 minggu disertai satu atau lebih
gejala: dahak bercampur darah/ batuk berdarah, berat badan menurun, berkeringat malam hari
tanpa kegiatan fisik, dan demam > 1 bulan untuk menentukan angka Prevalensi Nasional TB
berdasarkan gejala (G).
Definisi operasional untuk Prevalensi TB menurut WHO adalah Angka penderita TB Paru positif
pada 100.000 populasi berusia 15 tahun atau lebih. Sementara definisi operasional untuk TB
Paru positif menurut International Standard for TB Care (ISTC) yang telah diadopsi oleh
Indonesia mulai tahun 2006 adalah suspek TB yang telah positif diuji secara mikroskopis BTA
(Bakteri Tahan Asam) apusan dahaknya dengan minimal pembacaan terhadap apusan dahak
yang dikumpulkan dua kali atau lebih baik tiga kali (sewaktu, pagi, sewaktu) dan paling sedikit
satu kali (pagi).
Pada Riskesdas 2010 berdasarkan diagnosis nakes (D) adalah sebesar 0,7 persen sementara
berdasarkan gejala (G) adalah sebesar 2,7 persen. Angka Prevalensi Nasional TB hasil
gabungan D dan G (DG) menjadi 3,3 persen. Bila mengacu pada definisi operasional WHO dan
ISTC maka data prevalensi yang mendekati kenyataan adalah data yang berasal dari diagnosis
nakes (D), yaitu sebesar 0,7 persen.
Prevalensi Nasional TB (D) cenderung meningkat sesuai dengan bertambahnya usia dimana
angka tertinggi berada pada kelompok usia 55-64 tahun (1,3%) dan terendah pada kelompok
usia 15-24 (0,3%). Prevalensi penderita laki-laki adalah 0,8 persen dan perempuan 0,6 persen
dengan prevalensi penderita yang berada di kota sama dengan di desa sebesar 0,7 persen,
serta juga menunjukkan kecenderungan menurun dengan semakin meningkatnya tingkat
pendidikan dimana prevalensi paling rendah terdapat pada tingkat pendidikan tamat SMA
(Tabel 6.3.1).
Prevalensi TB tertinggi berdasarkan jenis pekerjaan ditemukan pada kelompok pekerjaan
Petani, Nelayan dan Buruh sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok Sekolah dan
POLRI/TNI/Pegawai sebesar 0,4 persen.
Berdasarkan tingkat pengeluaran perkapita prevalensi TB yang berdasarkan diagnosa tenaga
kesehatan didapati prevalensi terendah pada kuintil 5 (0,6%) dan tertinggi pada kuintil 3 dan 4

89
(0,8%). Sedangkan angka prevalensi TB berdasarkan diagnosa dan gejala (DG) didapati
prevalensi tertinggi pada kuintil 1(3,5%) dan terendah pada kuintil 5 (3,9%) (Tabel 6.3.1).
Tabel 6.3.1 Prevalensi TBC menurut Karakteristik Responden, Riskesdas 2007

Karakteristik Prevalensi Prevalensi 2010


Responden 2007(%) (%)
D DG D DG
Kelompok umur (tahun)
15-24 0,21 0,60 0,3 2,6
25-34 0,32 0,83 0,6 2,8
35-44 0,44 1,10 0,7 3,1
45-44 0,59 1,45 0,9 3,7
55-64 0,70 1,91 1,3 4,7
65-74 1,08 2,62 1,2 4,7
>74 1,10 2,75 1,1 5,1
Jenis kelamin
Laki-laki 0,44 1,08 0,8 3,1
Perempuan 0,35 0,90 0,6 2,4
Tipe Daerah
Perkotaan 0,36 0,77 0,7 3,1
Perdesaan 0,42 1,12 0,7 2,4
Pendidikan
Tidak pernah sekolah 0,88 2,42 1,1 4,9
Tidak tamat SD/MI 0,53 1,46 1,0 4,7
Tamat SD/MI 0,39 1,02 0,9 3,7
Tamat SLTP/MTS 0,31 0,73 0,6 2,7
Tamat SLTA/MA 0,29 0,62 0,5 2,3
Tamat PT 0,27 0,60 0,6 1,8
Pekerjaan
Tidak bekerja 0,62 1,40 0,8 3,2
Sekolah 0,18 0,49 0,4 2,5
TNI/ Polri/Pegawai 0,27 0,56 0,4 2,1
Wiraswata/ Layan Jasa/ Dagang 0,42 0,89 0,7 2,8
Petani/Nelayan/Buruh 0,55 1,60 0,9 4,2
Lainnya 0,49 1,17 0,7 3,1
Tingkat pengeluaran per kapita
Kuintil 1 0,40 1,07 0,7 3,5
Kuintil 2 0,43 1,07 0,7 3,4
Kuintil 3 0,42 1,01 0,8 3,4
Kuintil 4 0,38 0,94 0,8 3,1
Kuintil 5 0,34 0,82 0,6 2,9
Data Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2007 tidak dapat dibandingkan dengan data
Prevalensi Nasional TB hasil Riskesdas 2010. Hal ini disebabkan karena penentuan sampel BS
pada Riskesdas 2007 berbeda dengan Riskesdas 2010 serta pertanyaan mencakup data
diagnosa dan gejala pada kuisioner terstruktur juga berbeda. Menjadi catatan bahwa dengan
ruang lingkup pertanyaan yang lebih rinci pada Riskesdas 2010 angka Prevalensi Nasional TB
menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

90
Tuberkulosis Paru klinis tersebar di seluruh Indonesia dengan prevalensi 12 bulan terakhir
adalah 0,7 persen. Beberapa provinsi memiliki prevalensi di atas angka nasional, yaitu tertinggi
di Provinsi Papua (1,5%), diikuti oleh Provinsi Sulawesi Utara (1,3%) dan Banten (1,3%) serta
angka terendah terdapat di Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DIY dan Bali (0,3%), hal ini
dapat dilihat pada grafik 6.3.1 di bawah ini.
Grafik 6.3.1 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2010

Perbedaan Angka Prevalensi TB pada Riskesdas 2007 dan 2010 dapat dilihat pada tabel 6.3.2
di bawah ini.

Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit
TB dari Direktorat Jenderal P2&PL tahun 2010 menyebutkan estimasi kasus baru TB di
Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus/100.000 penduduk/tahun (0,275%) dan pada tahun
2010 turun menjadi 244 kasus/100.000 penduduk/tahun (0,244%). Data ini diperoleh
berdasarkan hasil laporan dari fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program DOTS di
seluruh Indonesia.

Data prevalensi sebelumnya yang menggunakan uji konfirmasi laboratorium adalah data
Prevalensi Nasional hasil Survey Prevalensi TB pada tahun 2004 yang memberikan angka
prevalensi Nasional TB berdasarkan pemeriksaan mikroskopis BTA terhadap suspek adalah
sebesar 104 kasus/ 100.000 penduduk (0,104%).
Kecendrungan meningkatnya angka Prevalensi Nasional TB bila dibandingkan antara hasil
Survei Prevalensi TB 2004 (0,1% terhadap suspek) dan hasil Riskesdas 2010 (0,7% pada
populasi) dapat hendaknya menjadi perhatian yang serius bagi Program TB di Indonesia.
Meskipun terjadi peningkatan Case Detection Rate dan Cure Rate yang tinggi setiap tahunnya
tetapi percepatan penyebaran penyakit di masyarakat masih lebih tinggi. Metode active case

91
finding terhadap populasi usia 15 tahun ke atas yang diterapkan pada Riskesdas 2010
memberikan kenyataan tentang hal ini dimana kasus TBC di masyarakat masih sangat tinggi.
Tabel 6.3.2 Prevalensi TB Berdasarkan Provinsi pada Riskesdas 2007 dan 2010

Prevalensi 2007(%) Prevalensi 2010 (%)


PROVINSI

D DG D DG
Nanggroe Aceh Darussalam 0,73 1,45 0,6 3,1
Sumatera Utara 0,18 0,48 0,5 3,4
Sumatera Barat 0,37 1,03 0,7 5,4
Riau 0,42 1,00 0,4 2,4
Jambi 0,34 0,75 0,6 5,2
Sumatera Selatan 0,25 0,40 0,3 2,0
Bengkulu 0,33 0,86 0,8 4,7
Lampung 0,11 0,31 0,3 2,0
Bangka Belitung 0,12 0,49 0,6 4,2
Kepulauan Riau 0,38 0,83 0,4 3,6
DKI Jakarta 0,71 1,26 1,0 3,1
Jawa Barat 0,56 0,98 0,9 3,4
Jawa Tengah 0,63 1,47 0,7 2,6
DI Yogyakarta 0,36 1,58 0,3 2,4
Jawa Timur 0,24 1,54 0,6 2,3
Banten 1,13 2,01 1,3 4,1
Bali 0,29 0,53 0,3 1,6
Nusa Tenggara Barat 0,43 1,07 0,9 3,7
Nusa Tenggara Timur 0,40 2,05 0,4 7,6
Kalimantan Barat 0,43 0,82 1,0 3,4
Kalimantan Tengah 0,38 0,69 0,4 4,6
Kalimantan Selatan 0,47 1,36 0,8 4,9
Kalimantan Timur 0,34 1,02 0,8 3,3
Sulawesi Utara 0,21 0,62 1,3 4,7
Sulawesi Tengah 0,31 1,22 0,6 5,8
Sulawesi Selatan 0,23 1,03 0,6 5,2
Sulawesi Tenggara 0,31 1,00 0,4 2,5
Gorontalo 0,24 1,11 1,2 7,8
Sulawesi Barat 0,23 0,58 0,7 2,7
Maluku 0,15 0,47 0,9 4,6
Maluku Utara 0,19 0,47 0,5 3,5
Papua Barat 1,02 2,55 0,7 7,9
Papua 1,89 1,73 1,5 5,0
Indonesia 0,4 0,99 0,7 3,3

92
Grafik 6.3.2 Data Prevalensi Nasional TB Indonesia dalam persen

0.3

0.25

0.2
0.275
0.244
0.15

0.1
0.104
0.05

0
2004 2006 2010

Indonesia telah mengadopsi program DOTS dari tahun 1994 dimana terdapat lima komponen
dan strategi utama DOTS yang direkomendasikan untuk penanggulangan TB yaitu: Komitmen
politik, Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya, Pengobatan jangka pendek
yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk
pengawasan langsung pengobatan serta Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu diikuti
Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil
pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Penurunan prevalensi TB sangat tergantung pada implementasi program DOTS di lapangan,
terutama penemuan kasus, kecepataan diagnosis (diagnosis dini) dan terapi pengobatan yang
dilakukan.

Proporsi jumlah penderita TB yang memanfaatkan OAT DOTS diperoleh dari wawancara
terstruktur menggunakan kuesioner Kesmas dimana pada responden yang telah didiagnosis
TB oleh nakes dalam 12 bulan terakhir ditanyakan “apakah jika berobat, jenis obat yang
digunakan adalah Kombipak/FDC (Fixed Doses Combination) atau non Kombipak/FDC?”.

Definisi operasional untuk obat Kombipak terdiri atas: Kombipak I dan Kombipak II untuk fase
awal; Kombipak III untuk fase lanjutan; Kombipak IV untuk fase sisipan. OAT Kombipak untuk
program TB jangka pendek selama 2 bulan adalah Isoniazid (H); Rifampisin (R); Pirazinamid
(Z); Streptomisin (S); dan Ethambutol (E). Fase lanjutan adalah INH dan Rifampicin yang
diberikan selama 4 bulan. Pemberian INH dan Etambutol selama 6 bulan merupakan paduan
alternatif untuk fase lanjutan pada kasus yang keteraturannya tidak dapat dinilai tetapi terdapat
angka kegagalan dan kekambuhan yang tinggi dihubungkan dengan pemberian alternatif
tersebut.11 Definisi operasional untuk OAT Fixed dose combination terbagi atas 2 obat yaitu INH
dan Rifampisin; 3 obat yaitu INH, Rifampisin, pirazinamid; dan 4 obat yaitu INH, Rifampisin,
Pirazinamid dan Etambutol. Pemberian OAT adalah berdasarkan Berat Badan.

Pada Riskedas 2010, Persentase Pemanfaatan Program DOTS diperoleh dari data diagnosis
oleh nakes (D) yang digabungkan dengan data pemanfaatan OAT DOTS (Kombipak atau Fixed

93
Dose Combination) pada responden TB dalam 12 bulan terakhir. Hasil Riskesdas 2010 untuk
Persentase Pemanfaatan OAT DOTS adalah sebesar 83,2 persen.

Grafik 6.3.1 Proporsi Kasus TB Yang Diobati OAT


Program DOTS pada Riskesdas 2010

26.8

83.2 OBAT DOTS


NON DOTS

Hasil ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66,25 persen (91%
keberhasilan OAT DOTS terhadap 72.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan
terjadi peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen. Data ini
ini sejalan dengan informasi yang diberikan Subdit TB P2&PL tentang meningkatnya
keterlibatan rumah sakit dalam program TB DOTS, termasuk pemberian dukungan dan
pelaksanaan Standar Internasional untuk Pelayanan TB (ISTC = International Standard for
Tuberculosis Care) yang semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun dengan memperkuat jejaring
eksternal dan internal. Keterlibatan institusi lainnya dalam penanggulangan TB sampai dengan
2009 adalah 13 persen pada Lapas/Rutan, 10 persen pada TB di tempat kerja dan pada RS
Angkatan Darat sebanyak 35 persen yang dilibatkan melaksanakan penanggulangan TB
menggunakan strategi DOTS.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, Prevalensi TB berdasarkan pengakuan


responden yang diagnosis tenaga kesehatan secara nasional sebesar 0.7 persen
dimana terjadi peningkatan Angka Prevalensi dibandingkan dengan Riskesdas 2007
(0,4%). Prevalensi TB berdasarkan pengakuan responden yang diagnosis tenaga
kesehatan menurut provinsi yang tertinggi adalah Provinsi Papua Barat (1,5%) dan
terendah Provinsi Lampung, DIY, Bali, dan Sumatera Selatan (0,3). Prevalensi tertinggi
pada kelompok umur 45-54 tahun (0,9%) sedangkan terendah pada kelompok umur
15-24 tahun (0,3%). Berdasarkan jenis kelamin prevalensi pada laki-laki sebesar 0,8
persen dan pada perempuan 0,6 persen. Berdasarkan pendidikan prevalensi tertinggi
pada kelompok yang tidak pernah sekolah sebesar 1,1 persen dan terendah pada
kelompok tamat SMA sebesar 0,5 persen. Berdasarkan pekerjaan prevalensi tertinggi
dapat ditemukan pada kelompok dengan pekerjaan pertani, nelayan, dan buruh
sebesar 0,9 persen dan terendah pada kelompok yang sedang sekolah dan kelompok

94
dengan pekerjaan TNI/Polri/Pegawai sebesar 0,4 persen. Sedangkan berdasarkan
tingkat pengeluaran per kapita prevalensi TB tertinggi ditemui pada kuintil 3 dan 4
(0,8%) dan terendah pada kuintil 5 (0,6%).

Persentase pemanfaatan OAT DOTS hasil Riskesdas 2010 adalah sebesar 83,2 persen. Angka
ini bila dibandingkan dengan laporan cakupan DOTS sebesar 66,25 persen (91% keberhasilan
OAT DOTS terhadap 72.8% deteksi kasus pada tahun tahun 2008) menunjukkan terjadi
peningkatan pemanfaatan OAT DOTS di masyarakat sebesar hampir 10 persen

95
5.Goal 7 – MDG

Air Minum dan Sanitasi layak


Target

Menurunkan hingga separuhnya penduduk tanpa akses terhadap air minum layak dan sanitasi
dasar pada 2015

Indikator yang dipantau:

1. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap air minum layak


2. Proporsi rumahtangga dengan akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar

1. AKSES AIR MINUM

Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 10 (menurunkan separuh


proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta
fasilitas sanitasi dasar pada 2015) terdapat 2 indikator pemantau pencapaian target, yaitu
proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap sumber air minum yang
terlindungi dan berkelanjutan dan proporsi penduduk atau rumahtangga dengan akses terhadap
fasilitas sanitasi yang layak.
Dalam memantau akses air minum dapat digunakan 3 pendekatan, yaitu akses terhadap air
perpipaan, akses terhadap sumber air minum terlindung, dan akses terhadap penyediaan air
minum.

a. Akses terhadap air perpipaan

Dalam laporan MDGs 2007 dan 2009, akses terhadap air perpipaan digunakan sebagai salah
satu indikator akses terhadap air minum. Indikator ini terdiri dari 3 jenis, air perpipaan
terlindung, non perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung. Air perpipaan terlindung
bersumber dari air leding, air non-perpipaan terlindung berasal dari air kemasan, sumur
pompa, sumur gali terlindung, mata air terlindung, dan air hujan. Sedangkan sumber air tidak
terlindung yaitu sumur tidak terlindung, mata air tidak terlindung, dan air sungai, air isi ulang
dan lainnya.

Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan terlindung, non-
perpipaan terlindung dan sumber air tak terlindung disajikan dalam tabel 7.1 dan tabel 7.2.

96
Tabel 7.1.
Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak
menurut provinsi, Riskesdas 2010

Provinsi Non-
Non Perpipaan Perpipaan Perpipaan
Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung**
Nanggroe Aceh Darussalam 48.89 9.30 41.81
Sumatera Utara 25.55 24.40 50.05
Sumatera Barat 40.10 21.79 38.11
Riau 40.44 2.02 57.54
Jambi 39.03 15.72 45.24
Sumatera Selatan 40.85 12.00 47.15
Bengkulu 37.48 13.87 48.65
Lampung 32.90 5.41 61.69
Bangka Belitung 47.97 0.85 51.19
Kepulauan Riau 54.27 8.09 37.65
DKI Jakarta 29.28 18.29 52.43
Jawa Barat 27.23 11.19 61.59
Jawa Tengah 15.09 21.77 63.14
DI Yogyakarta 16.47 8.93 74.60
Jawa Timur 18.43 15.41 66.16
Banten 34.95 7.39 57.66
Bali 20.21 35.15 44.64
Nusa Tenggara Barat 25.04 15.22 59.74
Nusa Tenggara Timur 18.19 44.79 37.02
Kalimantan Barat 29.64 5.01 65.35
Kalimantan Tengah 51.58 14.89 33.53
Kalimantan Selatan 37.18 29.61 33.22
Kalimantan Timur 43.00 27.25 29.75
Sulawesi Utara 42.72 18.06 39.22
Sulawesi Tengah 34.43 17.76 47.81
Sulawesi Selatan 36.50 17.51 45.99
Sulawesi Tenggara 21.75 33.96 44.28
Gorontalo 14.34 19.16 66.50
Sulawesi Barat 27.96 8.26 63.78
Maluku 38.59 17.45 43.96
Maluku Utara 27.39 21.58 51.03
Papua Barat 43.16 18.20 38.64
Papua 40.41 16.98 42.61
Indonesia 27.17 16.14 56.69
Keterangan:
* Air ledeng

** Sumur pompa, sumur gali terlindung, mata air terlindung, air hujan, air kemasan

97
Tabel 7.2.
Proporsi rumahtangga yang akses pelayanan air minum layak menurut
kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga,
Riskesdas 2010

Non Perpipaan Perpipaan Non-Perpipaan


Tdk Terlindung Terlindung* Terlindung**
Daerah
Perkotaan 26.25 20.86 52.89
Perdesaan 28.15 11.10 60.75
Pengeluaran
Quintil-1 27.63 12.38 59.99
Quintil-2 24.93 15.28 59.79
Quintil-3 25.30 16.98 57.72
Quintil-4 27.49 18.75 53.76
Quintil-5 30.55 17.47 51.99
Keterangan:
* Air ledeng
** Sumur pompa, sumur gali terlindung, mata air terlindung, air hujan, air kemasan

Dari tabel di atas menunjukkan proporsi rumahtangga yang menggunakan air perpipaan
terlindung sebesar 16,14 persen, tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara (44,79%) dan
terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (0,85%). Sedangkan sarana non perpipaan
terlindung secara nasional adalah 56,69 persen, tertinggi di Provinsi Gorontalo (66,50%)
dan terendah di Provinsi Kalimantan Timur (29,75%). Bila sarana perpipaan terlindung dan
non perpipaan terlindung dijumlahkan, maka secara nasional terdapat 72,83 persen yang
akses terhadap terhadap pelayanan air minum layak, tertinggi di Provinsi Jawa Tengah
84,91 persen dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau (45,74%).

Bila dibandingkan data tahun 2009, angka tersebut mengalami sedikit peningkatan seperti
terlihat dalam gambar berikut.

98
Gambar 7.1.
Proporsi Penduduk dengan Akses Air Minum Layak (Penduduk dengan Akses Pelayanan
Air Minum Perpipaan dan Non-Perpipaan Terlindungi), 1992-2010 (%).

72,73

56,69

16,14

b. Akses terhadap air terlindung dan berkelanjutan (layak)

Sesuai dengan Buku Saku MDGs, Tujuan Pembangunan Milenium mutlak dicapai 2015, air
minum terlindung adalah air leding, air hujan, pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung
yang jaraknya lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran/tinja. Sumber air
terlindung tidak termasuk air kemasan, yang dijual melalui tangki/air isi ulang, air sumur dan
mata air tidak terlindung.

Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air
minum terlindung dan berkelanjutan (layak) 45,27%. Proporsi rumahtangga yang akses
terhadap sumber air minum terlindung dan berkelanjutan menurut provinsi, tempat tinggal dan
kuintil pengeluaran rumahtangga disajikan pada tabel tabel 7.3 dan tabel 7.4.

99
Tabel 7.3.
Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan
menurut provinsi, Riskesdas 2010

Provinsi Tidak Layak Layak*)


Nanggroe Aceh Darussalam 68.86 31.14
Sumatera Utara 46.37 53.63
Sumatera Barat 54.31 45.69
Riau 60.25 39.75
Jambi 55.26 44.74
Sumatera Selatan 60.12 39.88
Bengkulu 65.90 34.10
Lampung 63.92 36.08
Bangka Belitung 71.70 28.30
Kepulauan Riau 69.87 30.13
DKI Jakarta 74.02 25.98
Jawa Barat 60.39 39.61
Jawa Tengah 43.95 56.05
DI Yogyakarta 51.42 48.58
Jawa Timur 53.12 46.88
Banten 71.99 28.01
Bali 43.92 56.08
Nusa Tenggara Barat 56.35 43.65
Nusa Tenggara Timur 24.53 75.47
Kalimantan Barat 37.40 62.60
Kalimantan Tengah 61.96 38.04
Kalimantan Selatan 52.95 47.05
Kalimantan Timur 51.61 48.39
Sulawesi Utara 60.17 39.83
Sulawesi Tengah 53.13 46.87
Sulawesi Selatan 51.32 48.68
Sulawesi Tenggara 32.79 67.21
Gorontalo 35.05 64.95
Sulawesi Barat 46.43 53.57
Maluku 48.10 51.90
Maluku Utara 47.76 52.24
Papua Barat 50.63 49.37
Papua 51.49 48.51
Indonesia 54.73 45.27
*) Air ledeng, air hujan, pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m
dari penampungan kotoran, tidak termasuk air kemasan dan isi ulang

100
Tabel 7.4.
Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung dan berkelanjutan
menurut karakteristik rumahtangga, Riskesdas 2010

Karakteristik Rumahtangga Tidak Layak Layak*)


Tempat tinggal
Perkotaan 58.36 41.64
Perdesaan 50.87 49.13
Tingkat Pengeluaran Per Kapita
Kuintil-1 51.86 48.14
Kuintil-2 51.02 48.98
Kuintil-3 52.16 47.84
Kuintil-4 54.68 45.32
Kuintil-5 64.20 35.80
*) Air ledeng, air hujan, pompa/sumur terlindung/mata air terlindung dengan jarak >=10 m
dari penampungan kotoran, tidak termasuk air kemasan dan isi ulang

Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung
paling tinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Timur (75.47%) dan terendah di Provinsi Nangroe
DKI Jakarta (25,98%). Menurut tempat tinggal, akses terhadap sumber air minum yang layak di
perkotaan lebih rendah (41,64%) dibandingkan dengan di perdesaan (49,13%). Sedangkan
menurut kuintil pengeluaran rumahtangga menunjukkan ada kecenderungan semakin tinggi
kuintil pengeluaran rumahtangga semakin rendah proporsi rumahtangga yang akses terhadap
sumber air minum yang layak.

c. Akses terhadap pelayanan air minum

Menurut Joint Monitoring Programm WHO-Unicef (JMP WHO/Unicef), dikatakan akses


terhadap penyediaan air bila minimal menggunakan air 20 liter per orang per hari, berasal dari
sumber air ’improved’, dan sarana air berada dalam radius 1 kilometer dari rumah. Yang
termasuk sumber air ’improved’ adalah sambungan kran air dalam rumah, kran umum, sumur
bor, sumur gali terlindung, mata air terlindung, dan penampungan air hujan. Sumber air
’improved’ tidak termasuk air yang dijual keliling, air kemasan/botol, dan air yang dijual melalui
truk.

Dari hasil Riskesdas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air
minum terlindung adalah 53,80 persen. Proporsi rumahtangga yang akses terhadap sumber air
minum terlindung menurut provinsi, kualifikasi daerah dan kuintil pengeluaran rumahtangga
disajikan pada tabel 7.5 dan tabel 7.6.

101
Tabel 7.5.
Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut provinsi,
Riskesdas 2010

Provinsi Tidak Akses Akses*)


Nanggroe Aceh Darussalam 58.06 41.94
Sumatera Utara 47.31 52.69
Sumatera Barat 50.79 49.21
Riau 53.52 46.48
Jambi 55.18 44.82
Sumatera Selatan 57.81 42.19
Bengkulu 41.98 58.02
Lampung 41.47 58.53
Bangka Belitung 69.37 30.63
Kepulauan Riau 66.45 33.55
DKI Jakarta 72.13 27.87
Jawa Barat 44.87 55.13
Jawa Tengah 29.75 70.25
DI Yogyakarta 30.17 69.83
Jawa Timur 40.99 59.01
Banten 58.78 41.22
Bali 47.30 52.70
Nusa Tenggara Barat 40.49 59.51
Nusa Tenggara Timur 55.53 44.47
Kalimantan Barat 61.93 38.07
Kalimantan Tengah 68.89 31.11
Kalimantan Selatan 52.81 47.19
Kalimantan Timur 56.22 43.78
Sulawesi Utara 57.31 42.69
Sulawesi Tengah 45.41 54.59
Sulawesi Selatan 50.60 49.40
Sulawesi Tenggara 41.39 58.61
Gorontalo 35.23 64.77
Sulawesi Barat 46.86 53.14
Maluku 51.49 48.51
Maluku Utara 39.49 60.51
Papua Barat 54.13 45.87
Papua 57.67 42.33
Indonesia 46.20 53.80
*) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari, berasal dari sumber air ‘improved’
dalam radius 1 km.

102
Tabel 7.6.
Proporsi rumahtangga yang akses terhadap air minum terlindung menurut karakteristik
rumahtangga, Riskesdas 2010

Karakteristik
Rumahtangga Akses Kurang Akses Baik
Tempat tinggal
Perkotaan 47.90 52.10
Perdesaan 44.38 55.62
Pengeluaran
Kuintil-1 47.25 52.75
Kuintil-2 40.49 59.51
Kuintil-3 40.74 59.26
Kuintil-4 44.63 55.37
Kuintil-5 58.07 41.93
*) Konsumsi air >=20 liter/orang/hari, berasal dari sumber air ‘improved’
dalam radius 1 km.

Dari tabel di atas tampak bahwa daerah dengan akses terhadap sumber air minum terlindung
menurut JMP WHO/Unicef paling tinggi adalah Provinsi Jawa Tengah (70,25%) dan terendah di
Provinsi DKI Jakarta (27,87%). Menurut kualifikasi daerah, akses terhadap sumber air
terlindung sedikit lebih tinggi di perdesaan (55,62%) dibandingkan dengan di perkotaan
(52,10%). Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga tidak menunjukkan pola yang
jelas.

Akses terhadap penyediaan air dengan memperhatikan volume pemakaian dan jarak rumah ke
sumber air ini mengalami penurunan bila dibandingkan hasil Riskesdas 2007, dari 57,70
persen pada tahun 2007 menjadi 53,80 persen pada tahun 2010.

2. AKSES TERHADAP SANITASI LAYAK

Dalam memantau akses terhadap fasilitas sanitasi layak digunakan indikator penggunaan
sarana pembuangan kotoran (jamban) yang meliputi pemilikan, jenis kloset dan sarana
pembuangan akhir tinja. Dikatakan layak apabila sarana tersebut milik sendiri atau bersama,
kloset jenis leher angsa dan pembuangan akhir tinjanya ke tangki septik atau SPAL. Dalam
Riskesdas 2010, pilihan jawaban pembuangan akhir tinja dipisah antara tangki septik dan
SPAL, sedangkan pada Susenas masih digabung (Tangki septik/SPAL).

Hasil Riskesdas 2010 proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas
sanitasi layak disajikan dalam tabel 7.7 dan tabel 7.8.

103
Tabel 7.7.
Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut
provinsi, Riskesdas 2010

Provinsi Tidak Layak Layak*)


Nanggroe Aceh Darussalam 47.51 52.49
Sumatera Utara 42.37 57.63
Sumatera Barat 59.00 41.00
Riau 46.62 53.38
Jambi 49.91 50.09
Sumatera Selatan 52.60 47.40
Bengkulu 42.47 57.53
Lampung 53.00 47.00
Bangka Belitung 45.11 54.89
Kepulauan Riau 31.12 68.88
DKI Jakarta 17.17 82.83
Jawa Barat 45.77 54.23
Jawa Tengah 41.11 58.89
DI Yogyakarta 20.82 79.18
Jawa Timur 45.70 54.30
Banten 38.79 61.21
Bali 28.11 71.89
Nusa Tenggara Barat 57.13 42.87
Nusa Tenggara Timur 74.65 25.35
Kalimantan Barat 57.49 42.51
Kalimantan Tengah 64.10 35.90
Kalimantan Selatan 49.09 50.91
Kalimantan Timur 34.28 65.72
Sulawesi Utara 33.72 66.28
Sulawesi Tengah 55.43 44.57
Sulawesi Selatan 39.18 60.82
Sulawesi Tenggara 54.37 45.63
Gorontalo 64.68 35.32
Sulawesi Barat 64.42 35.58
Maluku 49.01 50.99
Maluku Utara 49.44 50.56
Papua Barat 48.71 51.29
Papua 53.62 46.38
Indonesia 44.47 55.53
*) Penggunaan sendiri dan bersama, kloset jenis leher angsa, pembuangan
akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.

104
Tabel 7.8.
Proporsi penduduk atau rumahtangga yang akses terhadap fasilitas sanitasi layak menurut
tempat tinggal dan kuintil pengeluaran rumahtangga, Riskesdas 2010

Karakteristik Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi


Rumahtangga Tidak Layak Layak

Tempat Tinggal
Perkotaan 28.55 71.45
Perdesaan 61.45 38.55
Tingkat Pengeluaran per Kapita
Kuintil-1 67.79 32.21
Kuintil-2 53.48 46.52
Kuintil-3 44.42 55.58
Kuintil-4 33.58 64.42
Kuintil-5 22.04 77.96
*) Penggunaan sendiri dan bersama, kloset jenis leher angsa, pembuangan
akhir tinja menggunakan tangki septik atau SPAL.

Dari tabel di atas tampak bahwa akses penduduk atau rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi
layak sebesar 55,53 persen, paling tinggi adalah Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah di
Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,35%). Menurut kualifikasi daerah, akses terhadap fasilitas
sanitasi layak di perkotaan hampir dua kali lipat (71,45%) dibandingkan dengan di perdesaan
(38,55%). Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga, semakin tinggi penghasilan
semakin tinggi pula yang akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak.

3. Penggunaan bahan bakar memasak

Dalam goals 7 (Menjamin kelestarian lingkungan hidup) target 9 (memadukan prinsip-prinsip


pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional serta mengembalikan
sumber daya lingkungan yang hilang) terdapat 6 indikator untuk memantau pencapaian target,
1 diantaranya adalah proporsi penduduk atau rumahtangga menggunakan bahan bakar padat
untuk memasak. Yang dimaksud dengan bahan bakar padat adalah kayu bakar, arang, batu
bara, sekam, batang padi, tandan kelapa, batok kelapa dan lain-lain.

Indikator yang dikumpulkan dalam Riskesdas 2010 ini berkaitan dengan kesehatan, yaitu
terjadinya polusi dalam ruangan (indoors air pollution) yang dapat menyebabkan penyakit
saluran pernafasan.

Hasil Riskesdas 2010 proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat disajikan
dalam tabel 7.9 dan tabel 7.10.

105
Tabel 7.9.
Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut provinsi,
Riskesdas 2010

Listrik, gas dan Arang, kayu


Provinsi minyak tanah bakar dll
Nanggroe Aceh Darussalam 62.59 37.41
Sumatera Utara 63.25 36.75
Sumatera Barat 47.99 52.01
Riau 72.23 27.77
Jambi 52.60 47.40
Sumatera Selatan 59.85 40.15
Bengkulu 43.74 56.26
Lampung 30.59 69.41
Bangka Belitung 76.40 23.60
Kepulauan Riau 88.77 11.23
DKI Jakarta 99.40 0.60
Jawa Barat 71.14 28.86
Jawa Tengah 52.21 47.79
DI Yogyakarta 60.98 39.02
Jawa Timur 57.01 42.99
Banten 72.01 27.99
Bali 58.09 41.91
Nusa Tenggara Barat 47.37 52.63
Nusa Tenggara Timur 23.42 76.58
Kalimantan Barat 48.29 51.71
Kalimantan Tengah 48.08 51.92
Kalimantan Selatan 54.72 45.28
Kalimantan Timur 75.69 24.31
Sulawesi Utara 52.24 47.76
Sulawesi Tengah 36.26 63.74
Sulawesi Selatan 54.09 45.91
Sulawesi Tenggara 51.98 48.02
Gorontalo 30.96 69.04
Sulawesi Barat 39.52 60.48
Maluku 40.92 59.08
Maluku Utara 32.29 67.71
Papua Barat 65.17 34.83
Papua 50.58 49.42
Indonesia 59.94 40.06

106
Tabel 7.10.
Proporsi rumahtangga yang menggunakan bahan bakar padat menurut tempat tinggal dan
pengeluaran rumahtangga, Riskesdas 2010

Karakteristik Listrik, gas dan Arang, kayu


rumahtangga minyak tanah bakar dll
Tempat tinggal
Perkotaan 82.69 17.31
Perdesaan 35.67 64.33
Tingkat Pengeluaran RT
Kuintil-1 29.723 70.28
Kuintil-2 47.648 52.35
Kuintil-2 60.802 39.20
Kuintil-2 75.150 24.85
Kuintil-2 87.726 12.27

Dari tabel di atas menunjukkan terdapat 40,06% rumahtangga yang masih menggunakan
bahan bakar padat untuk memasak, tertinggi di Provinsi NTT (76,58%) dan terendah di Provinsi
DKI Jakata (0,60%). Secara nasional penggunaan bahan bakar padat ini mengalami penurunan
cukup besar dibanding data tahun 2007 sebesar 53,9%.

Menurut tempat tinggal, penggunaan bahan bakar padat di perkotaan hampir 4 kali lipat
(64,33%) dari perdesaan (17,31%). Sedangkan menurut kuintil pengeluaran rumahtangga
menunjukkan semakin tinggi penghasilan rumahtangga semakin sedikit yang menggunakan
bahan bakar padat untuk memasak.

107
BAB IV. KESIMPULAN
Dari hasil Riskesdas 2010, kesimpulan yang dapat diambil antara lain:

Prevalensi balita kurang gizi (berat badan kurang) sebesar 18,0 persen diantaranya 4,9
persen dengan gizi buruk. Prevalensi tertinggi di Provinsi NTB (30,5%) dan terendah di
Provinsi Sulut (10.6%). Sedangkan prevalensi balita pendek (stunting) sebesar 35,6 persen,
teringgi di Provinsi NTT (58,4%) dan terendah di Provinsi Yogyakarta (22,5%). Dan
prevalensi balita kurus (wasting) adalah 13,3 persen, dengan prevalensi tertinggi di Provinsi
Jambi (20%), dan terendah di Bangka Belitung (7,6%).
Sebanyak 40,6 persen penduduk mengonsumsi makanan dibawah 70% dari Angka
Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan tahun 2004. Keadaan ini banyak dijumpai pada
anak usia sekolah (41,2%), remaja (54,5%), dan ibu hamil (44,2%). Proporsi tertinggi
konsumsi <70% AKG dijumpai di NTB (46,6%), dan terendah di Bengkulu (23,7%).
Cakupan imunisasi campak pada anak umur 12-23 bulan (74,5%) menurun dibandingkan
tahun 2007 (81,6%). Cakupan imunisasi campak terbaik adalah di DI Yogyakarta (96,4%)
dan terendah di Papua (47,4%).
Proporsi penolong persalinan oleh tenaga kesehatan (82,3%) meningkat dibandingkan pada
tahun 2007 (75,4%). Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan masih rendah di provinsi
Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat. Pemanfaatan Polindes/Poskesdes sebagai tempat
persalinan hanya 1,5 persen.
Pemanfaatan fasilitas kesehatan untuk persalinan oleh perempuan usia reproduktif adalah
59,4 persen. Pemanfaatan masih rendah di Sulawesi Tenggara (7,8%), Maluku Utara (8%)
dan Sulawesi Tengah (12,1%). Pemeriksaan kehamilan dengan tenaga kesehatan sebesar
84 persen, hanya 2,8 persen tidak melakukan pemeriksaan kehamilan oleh tenaga
kesehatan, dan 3,2 persen pemeriksaan masih dilakukan oleh dukun. Akses K1 oleh ibu
hamil baik (92,8%), sedangkan K4 hanya 61,3 persen. Angka K1 dan K4 ini nampak
menurun jika dibanding tahun 2007 ( SDKI).
Proporsi pengguna KB pada perempuan pernah kawin menurun (53,9%) dibandingkan
angka SDKI 2007 (57,9%). Angka terendah di Papua Barat (31,9%) dan tertinggi di Bali
(64,3%). Jenis alat/cara KB yang dominan adalah suntikan. Masih ditemukan 19 persen
perempuan pernah kawin usia reproduktif yang tidak menggunakan alat/cara KB dan 27,1
persen yang pernah ber KB sekarang tidak menggunakan. Umumnya pelayanan KB
dilakukan oleh bidan praktek (52,5%), dan hanya 12 persen di Puskesmas, serta 4,1 persen
di Polindes/Poskesdes. Proporsi unmet need sebesar 14,0 persen, tertinggi di Papua Barat
(27,6%) dan terendah di Kalimantan Selatan (8,9%). Masalah lain yang ditemukan adalah
persentase menikah pada usia di bawah 20 tahun masih cukup tinggi (46,4%).
Prevalensi penduduk umur 15-24 tahun yang pernah mendengar tentang HIV/AIDS (75,0%)
meningkat dibandingkan Riskesdas 2007 (63,2%). Prevalensi terendah ditemukan di
Gorontalo (44,3%) dan tertinggi di provinsi DI.Yogyakarta (93,7%) Sedangkan prevalensi
dengan pengetahuan komprehensif sebesar 18,5 persen, terendah di provinsi Gorontalo
(8,5%) dan tertinggi di Bali (35,8%). .
Angka kesakitan malaria (API) nasional tahun 2010 adalah 2,4 persen, sedangkan API
Jawa-Bali cukup tinggi yaitu 0,8 persen. Demikian pula Period Prevalence malaria pada

108
tahun 2010 (10,7%) meningkat tajam dibandingkan pada tahun 2007 (2,85%). Angka Period
Prevelence yang diagnosisnya berdasarkan pemeriksaan darah sama dengan Point
Prevalence (0,6%) dengan pemeriksaan RDT yang dilakukan pada saat penelitian.
Pengobatan efektif malaria dengan ACT pada balita hanya 21,9 persen. Cakupan
kelambunisasi yang diproteksi dengan insektisida pada balita meningkat dari 7,7 persen
pada tahun 2007 menjadi 16 persen pada tahun 2010.
Prevalensi TB adalah 0.7 persen,, dan tertinggi di Provinsi Papua (1,5%) dan terendah
Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, DI Yogyakarta, dan Bali (0,3%). Sedangkan proporsi
pemanfaatan OAT DOTS pada Riskesdas 2010 (83,2%) lebih baik dibandingkan dengan
cakupan DOTS yang dilaporkan oleh P2PL tahun 2008 (66,25%)
Proporsi rumahtangga yang menggunakan air non perpipaan terlindung (56,69%) lebih
besar dibandingkan dengan perpipaan terlindung (16,14%). Sarana perpipaan dan non
perpipaan terlindung yang akses terhadap sumber air terlindung adalah 72,83 persen,
tertinggi di Provinsi Jawa Tengah (84,91%) dan terendah di Provinsi Kepulauan Riau
(45,74%). Dari analisis Riskedas 2010 diketahui proporsi rumahtangga yang akses terhadap
sumber air minum terlindung dan berkelanjutan (layak) adalah 45,27 persen..
Akses rumahtangga terhadap fasilitas sanitasi layak meningkat (55,53%) dibandingkan
tahun 2009 (42,47%). Proporsi tertinggi ada di Provinsi DKI Jakarta (82,83%) dan terendah
di Provinsi Nusa Tenggara Timur (25,35%).

109
LAMPIRAN

1. Inform Concent dan Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP)


2. Kuesioner rumah tangga (RKD10.RT)
3. Kuesioner individu (RKD10.IND)

110
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.