ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT.

BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO

Tesis untuk memenuhi sebagaian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Magister Kenotariatan

diajukan oleh : Raimond Flora Lamandasa 18884/PS/MK/06

kepada PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

Tesis ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. yang terhormat : 1. untuk itu melalui kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung penulis dalam studi selama ini.KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menganugerahkan berkat. Teristimewa. iv . selaku Dosen Pembimbing Akademik sekaligus selaku Dosen Pembimbing Tesis.H.. kesehatan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul : ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT. TBK KANTOR CABANG MANADO.. Yogyakarta. M. Bapak Taufiq El Rahman. yang telah banyak membantu. ucapan terima kasih dan penghargaan ini penulis sampaikan secara khusus kepada. BANK DANAMON INDONESIA. baik dalam substansi maupun sistematika penyajiannya. Dalam proses perkuliahan hingga pada penyusunan tesis ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaannya lebih lanjut. penulis telah banyak menerima dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak. S.H. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam tesis ini.

. Bapak Dr. S.N..H. Dr.memotivasi. v .H. selaku Pengelolah Bidang Administrasi Umum dan Keuangan.. Bagian Legal dan Bagian Collection. Hommes di Maine . 4. Bapak Prof. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. TBk Kantor Cabang Manado. 3.. C. 7. Bagian Administrasi Kredit.. 2. Management PT..H.Amerika Serikat. selaku Pengelola Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. S. beserta staffnya di Bagian Marketing. 5.H. S. Ibu Marie Claire Barth di Bassel .L. Tj.Swiss. Marsudi Triatmodjo.. MSi.. 6. yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk lebih berkarya demi kemanusiaan. Abdul Ghofur Anshori. Ibu Anne Hommes dan Bapak Prof. M. selaku Ketua Pengelola Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada. United Church of America yang telah membantu keuangan penulis dengan beasiswa yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan Magister Kenotariatan di UGM. yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk berdiskusi dalam pelaksanaan penelitian lapangan di sela-sela pekerjaannya masing-masing. serta Bapak Sularto.. Bank Danamon Indonesia.H.M. dan memberikan waktunya dalam pembimbingan hingga selesainya tesis ini. Dr. S. Dr. Sudjito.H. Bapak Prof. yang juga banyak memberikan motivasi untuk keberhasilan study penulis. M. L.

9. Sulzofyan Lamandasa. yang tercinta Ir. Seluruh staff karyawan/karyawati Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. MSi. Dengan kerendahan hari.8. Ibu bapak. Cinta Immanuella Lamandasa dan Chanto Joshua Lamandasa. 13. Cindy Daniella Lamandasa. Ir. Jetisharjo No. tekun berdoa dan selalu memotivasi penulis untuk menyelesaikan studi.. Isteri penulis.560 Jetis II Yogyakarta. penulis berharap kiranya tesis ini dapat menjadi masukan yang bermanfaat bagi PT. kakak-kakak (Ir. 11. serta ayah ibu mertua yang juga turut mendoakan dan memotivasi penulis agar sukses selalu dalam studi. Seluruh Dosen Pengasuh Mata Kuliah Program Magister Kenotariatan. TBk dan atau kepada siapa saja yang membutuhkan informasi sehubungan dengan materi tesis ini. yang tersayang : Canty Gracella Lamandasa. Sherly Lamandasa. SE. M. 12. Teman-teman MKN angkatan tahun 2006.Si. bersama anak-anak kami. bersama staff karyawan/karyawati pada Program Studi Magister Kenotariatan. Para Guru Besar Pengasuh Mata Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. yang dengan setia dan penuh pengertian atas keterpisahan selama studi. vi . yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Nopelius Lamandasa) dan adik penulis (Ir. yang dalam kesibukannya sebagai mahasiswa S3 Institut Pertanian Bogor (IPB). Lewingston Lamandasa). Bank Danamon Indonesia. 10. Teman-teman kost di Jl. Gladys Peuru. 14.

telah terbuka titik awal jalan baru untuk ditempuh dalam asa perjalanan hidup ini. amien.Akhirnya. Semoga harap dan cita yang selalu menyemangati penulis selama ini bisa terealisasi hanya dalam Pimpinan dan Anugerah dari Tuhan Yesus Kristus. satu babak dalam perjalanan hidup ini tercapai sudah. Januari 2008 Raimond Flora Lamandasa vii . Yogyakarta.

………………………………………………………… B. 2. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………… A. 1. Latar Belakang. Wanprestasi ………………………………………………………. PENDAHULUAN ………………………………………………………… A.. Kegunaan Penelitian …………………………………………………… 1 1 8 9 9 10 II. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian …………………………………… 3. HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. KATA PENGANTAR ………………………………………………………. Perumusan Masalah …………………………………………………… C.. DAFTAR ISI ………………………………………………………………… DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… INTISARI …………………………………………………………………… ABSTRACT ………………………………………………………………… i ii iii iv viii xi xii xiii I. 4.. HALAMAN PERNYATAAN ………………………………………………. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… E.DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. Keaslian Penelitian ……………………………………………………. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian …………………………………. 11 11 11 14 19 21 viii . Berakhirnya Perjanjian ……………………………………………. D. Pengertian Perjanjian dan Perikatan ………………………………..

. 5. Jenis-Jenis Kredit …………………………………………………. Penelitian Lapangan ……………………………………………….. 2. 2.. Hak dan Kewajiban Debitur / Penjamin Pemberi Gadai ………… 5... 1.. Tinjauan Tentang Jaminan ……………………………………………... Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai …………………. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit ………………………... CARA PENELITIAN …………………………………………………….. 2.. Penelitian Kepustakaan ……………………………………………. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………………….……………. 2.. Pengertian Jaminan ……………………………………………….………………… 24 24 32 33 38 42 C. B.. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjian Accesoir ...... Berakhirnya Perjanjian Gadai ……………………………………... 4. 2....... Penanganan Kredit Bermasalah .. 43 43 45 D. 1... Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………………………………… 4.. Pengertian Deposito ………………………………………………. 3..... Kredit Bermasalah ...... 3.. Jenis Penelitian ……………………………………………………….. 4..……………………………. Perjanjian Kredit …………………………………………………..... A. Klasifikasi Jaminan Kredit ……………………………………….B. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan ……. 47 47 49 50 51 53 E. 3. Sifat Penelitian ………………………………………………………... Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………… 53 53 55 56 57 III.. 1....... Pengertian Kredit ………………………………………………….. 1. 60 60 61 61 62 ix .. Pengertian Gadai …………………………………………………... 1.. Jenis-Jenis Deposito ………………………………………………...

Saran ………………………………………………………………….. Bank Danamon Indonesia ……………………. Kesimpulan …………………………………………………………. 67 67 67 71 73 B. Hasil Penelitian ……………………………………………………. Hasil Penelitian ……………………………………………………. Sejarah Singkat PT. E. Pembahasan ……………………………………………………….C. 101 101 102 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….. Pencapaian Bisnis PT. Bank Danamon Cabang Manado …………. Gambaran Umum PT. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya ……… 64 65 65 IV. A.. 74 74 88 C. 2.. PENUTUP ………………………………………………………………. Analisa Data …………………………………………………………. Pembahasan ………………………………………………………. 104 x . Jalannya Penelitian …………………………………………………… D. Pencairan Depoito Jaminan Yang Tidak Turut Ditandatangani ……… 1.. Pelaksanaan Kredit Dengan Jaminan Deposito ……………………… 1.. Bank Danamon Kantor Cabang Manado …………………………. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………. 92 92 96 V. 2. Bank Danamon Cabang Manado ……………. 3.. 1. 2. A.. B.

DAFTAR LAMPIRAN I. Surat Kuasa Mencairkan Deposito Jaminan Bank Danamon IV. Surat Kuasa Debet Rekening Bank Danamon xi . Surat Perjanjian Gadai Deposito Bank Danamon III. Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon Indonesia II.

Penyusunan tesis ini dilakukan berdasarkan penelitian lapangan untuk memperoleh data primer. TBk. dan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder. Bank Danamon Indonesia.Bank Danamon Indonesia TBk Kantor Cabang Manado mencairkan deposito jaminan untuk melunasi kredit back to back yang bermasalah. deposito jaminan tidak ditanda tangani isteri atau suami. dengan masing-masing teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi literatur. wanprestasi 1 2 Jl. 1 dan Taufiq El Rahman 2 INTISARI Tujuan penelitian ini ialah : (1) untuk mengetahui bagaimana PT. Tbk Kantor Cabang Manado tidak sepenuhnya terlindungi dengan pemberian jaminan deposito yang perjanjian jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. Yogakarta . TBk Kantor Cabang Manado melakukan pencairan deposito jaminan yang pengikatannya tidak turut ditanda tangani oleh istri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit back to back tersebut wanprestasi. Kata kunci : kredit back to back.Bank Danamon Indonesia. Jetis II. Seluruh data kemudian dianalisis dengan metode kualitatif. Hasil penelitian ini ialah : (1) PT. dalam menjamin kredit back to back. (2) PT. TBK KANTOR CABANG MANADO Raimond Flora Lamandasa. BANK DANAMON INDONESIA. Yogyakarta Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. PT. TBk Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan jaminan deposito yang perjanjiannya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin berdasarkan rekomendasi komite kredit kantor pusat atas penyimpangannya. jika kreditnya tertunggak selama 14 hari dan untuk pencairan itu debitur telah diberikan Surat Peringatan 1 sampai dengan 3 untuk melunasi tunggakannya.Bank Danamon Indonesia.Bank Danamon Indonesia. Jetisharjo No.ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT.560. (2) untuk mengetahui bagaimana PT.

All of data was analyze with qualitative method. Bank Danamon Indonesia Tbk.LEGAL ASPECT OF BACK TO BACK LOAN AT PT. if the payment is delayed during 14 days and therefore debtor has been warned by Warning Letter 1 until 3 to settle the arrears. Bank Danamon Indonesia Tbk. 560. It based upon field research to get primary data and literature research to get secondary data. Branch of Manado liquefied deposit guarantee to settled back to back loan which had problem. Bank Danamon Indonesia Tbk. Keywords: back to back loan. default. Jetis II. Yogyakarta Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Branch of Manado is not fully protected by giving the deposit guarantee that excluded spouse of owner. in guarantying back to back loan. Bank Danamon Indonesia Tbk. Yogyakarta . Branch of Manado engages deposit guarantee which is spouse of owner are excluded from this agreement. and used interview and literature study as data collecting technique. BANK DANAMON INDONESIA TBK. 1 and Taufiq El Rahman 2 ABSTRACT The aim of this research is : (1) to know how PT. deposit guarantee with no initial of spouse. 1 2 Jl. Branch of Manado engaged loan with deposit guarantee that excluded spouse of debtor/guarantor based on recommendation of head office credit committee toward the deviation. (2) to know how PT. BRANCH OF MANADO Raimond Flora Lamandasa. Branch of Manado frees a deposit guarantee in which the engagement excludes spouse of owner if back to back loan that is guaranteed default. (2) PT. The results are : (1) PT. PT. Jetisharjo No. Bank Danamon Indonesia Tbk.

Sebaliknya. kegiatan ekonomi yang tidak sehat.BAB I PENDAHULUAN A. menurut UU Perbankan didefinisikan sebagai “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya . lesu atau rapuh juga akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan dunia perbankan. Dalam konteks ini peranan perbankan menjadi sangat vital layaknya sebuah jantung dalam tubuh manusia. Keduanya saling mempengaruhi dalam arti perbankan menjadi salah satu sumber pembiayaan yang akan mengalirkan dana bagi kegiatan ekonomi. yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan (untuk selanjutnya disebut UU Perbankan). Undang-undang ini memberikan landasan yuridis yang lebih luas dan jelas serta mempertegas jangkauan pelayanan bank terhadap segala lapisan masyarakat. Peranan lembaga perbankan yang sangat strategis ini terus ditata dan diperbaiki dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan. Bank. sehingga bank yang sehat akan memperkuat kegiatan ekonomi suatu bangsa. Latar Belakang Pada umumnya semua negara yang sedang berkembang seperti halnya Indonesia mempunyai program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan.

Fungsi pemberian kredit. bank dihadapkan pada permasalahan resiko yaitu resiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka waktu antara pencairan kredit dengan pembayaran kembali. sebagai berikut : 1. Fungsi sebagai penyedia informasi. Persero Danareksa. Untuk melaksanakan visi dan misi tersebut.” Sebagai lembaga kepercayaan masyarakat. Menghadapi resiko tersebut. pemberian konsultasi dan bantuan penyelenggaraan administrasi (PT. 4. 2. 3. 1987 : 238). Ini berarti bahwa semakin panjang jangka waktu kredit semakin tinggi pula resiko kredit tersebut. . dengan menyelenggarakan fungsi-fungsi.2 kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Fungsi memperlancar lalu lintas pembayaran. pasal 2 UU Perbankan mengamanatkan suatu prinsip agar pihak perbankan dalam melakukan kegiatan usahanya harus bersasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (prudential banking principle). bank mempunyai visi dan misi yang sangat mulia yaitu sebagai sebuah lembaga yang diberi tugas untuk mengemban amanat pembangunan bangsa demi tercapainya peningkatan taraf hidup rakyat. Fungsi menghimpun dana. bank berperan sebagai agent of intermediary. Dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang penyaluran kredit.

3

Lebih lanjut pasal 8 UU Perbankan mengarahkan bahwa ”dalam memberikan kredit, bank wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.” Dan untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari calon debitur. Mengingat bahwa agunan atau jaminan merupakan salah satu unsur dalam pemberian kredit dan sebagai sarana perlindungan bagi keamanan kreditur untuk adanya kepastian atas pelunasan hutang debitur, atau untuk pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur, maka meskipun berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan hutangnya, jaminan tambahan atau agunan masih tetap diminta oleh pihak bank (Hasan, 1996 : 233). Untuk memberi landasan yuridis bagi kreditur dalam melaksanakan hak dan kekuasaan atas barang jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjamin debitur, maka atas barang jaminan tersebut lebih dahulu dilakukan pengikatan menurut

hukum yang berlaku, misalnya dengan pengikatan Hipotik, Hak Tanggungan, Fidusia, Gadai atau dengan Jaminan Perorangan (Personal Guarantee) dan Jaminan Perusahaan (Coorporate Guarantee). Menurut sifatnya, lembaga jaminan dapat dibedakan dalam bentuk jaminan perorangan (persoonlijke zekerheid) yang menimbulkan hak perseorangan; dan jaminan kebendaan (zakelijke zekerheid) yang menimbulkan hak kebendaan.

4

Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan dari si berutang (debitur) tersebut sehingga jaminan perorangan menimbulkan hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. Termasuk dalam jaminan perorangan adalah : personal guarantee, coorporate guarantee dan atau perikatan tanggung-menanggung. Sedang jaminan kebendaan ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung dengan benda tertentu dari debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Jaminan kebendaan ini selain dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya juga dapat diadakan antara

kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya. Yang termasuk dalam jaminan kebendaan adalah : hak tanggungan, hipotik, gadai dan jaminan fidusia. Ada dua pertimbangan yang setidaknya menjadi prasyarat utama untuk sesuatu benda dapat diterima sebagai jaminan, yaitu : 1. Secured, artinya benda jaminan kredit dapat diadakan pengikatan secara yuridis formal, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di

5

kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur, maka bank memiliki kekuatan yuridis untuk melakukan tindakan eksekusi. 2. Marketable, artinya benda jaminan tersebut bila hendak dieksekusi dapat segera dijual atau diuangkan untuk melunasi seluruh kewajiban debitur (Ibrahim, 2004 : 71). Sebagai salah satu bank yang terus menggulirkan kredit kepada masyarakat umum, PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. Kantor Cabang Manado (untuk selanjutnya disebut Bank Danamon), dalam setiap pemberian fasilitas kredit, mensyaratkan calon debitur untuk memberikan jaminan. Bank Danamon menggolongkan jaminan kredit ke dalam tiga kategori, yaitu Jaminan Utama, Jaminan Penunjang dan Jaminan Tambahan. Penggolongan jaminan tersebut didasarkan pada tingkat likuiditas dan marketabilitas jaminan itu sendiri. Yang paling likuid dan marketabel digolongkan sebagai Jaminan Utama, yang likuiditas dan marketabilitasnya sedang-sedang digolongkan sebagai Jaminan

Penunjang dan yang tingkat likuiditas dan marketabilitasnya rendah digolongkan sebagai Jaminan Tambahan. Jaminan Utama terdiri dari dana cash dari debitur atau pihak ketiga (penjamin) yang dikhususkan untuk itu (bisa berupa tabungan, giro atau deposito), emas, bank garansi dari bank lain, tanah dan bangunan yang aksesibilitasnya sangat lancar (terletak di daerah pusat bisnis dengan nilai marketabilitas yang tinggi). Jaminan Penunjang terdiri dari tanah dan bangunan atau tanah kosong yang aksesibilitasnya sedang-sedang, mesin-mesin yang dibiayai dan kendaraan bermotor (mobil). Sedangkan Jaminan Tambahan terdiri dari piutang

mesin-mesin serta kendaraan bermotor (mobil) maksimum nilainya hanya sampai 80 % dari market value. Namun kecukupan collateral coverage sebesar 125 % ini dapat dikecualikan jika jaminan yang diberikan adalah seluruhnya dalam bentuk dana cash dalam currency yang sama. Untuk jaminan dalam bentuk dana tunai dalam currency yang sama. Total collateral coverage suatu kredit harus mengkover minimal 125 % dari plafond kredit yang diberikan. nilai Bank Danamonnya 100 %. komposisinya bisa terdiri dari total ketiga kriteria jaminan tersebut. yang range prosentasenya berbeda-beda. tetapi dengan minimum nilai kecukupan Jaminan Utama 80 %. sesuai jenis barang jaminannya. mengklasifikasikan deposito sebagai Jaminan .6 dagang atau tagihan dagang (receivables) serta persediaan barang dagangan (stock inventory) usaha debitur yang dibiayai. sedangkan jaminan berupa tanah dan bangunan. Belakangan ini berkembang menjadi trend dalam pemberian jaminan dalam bentuk deposito. Bank Danamon termasuk bank yang cukup ketat dengan ketentuan rasio kecukupan jaminan atau total collateral coverage (TCC). Bank Danamon. yaitu sudah cukup dengan total collateral coverage-nya sebesar 100 % saja. Dari nilai Bank Danamon inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar perhitungan rasio kecukupan jaminannya. kemudian dari harga pasar tersebut dinilai lagi dengan menggunakan nilai Maximum Reliance Bank Danamon (Bank Danamon value). Benda yang akan dijaminkan terlebih dahulu dilakukan penilaian (taksasi) oleh appraiser interen Bank Danamon dengan patokan harga pasar (market value).

Situasi ini menyebabkan bank berada dalam posisi sulit. Pengecualian yang umum diminta adalah pemilik deposito keberatan dan tidak mau jika perjanjian kredit dan perjanjian jaminan gadai depositonya turut ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. umumnya adalah debitur yang secara finansial kuat. tidak berbelit-belit serta biayanya kecil. Dalam praktek. Selain faktor kepastian dan likuiditas tersebut. karena debitur yang memberikan deposito sebagai jaminan. sehingga memiliki bargaining position di mata perbankan. ataupun calon debitur. jaminan inilah yang dimintakan kepada calon debitur untuk diserahkan. Selebihnya adalah faktor psikologis penggunaan kredit juga turut menjadi pertimbangan nasabah dimana dengan menggunakan kredit bank.7 Utama. memberikan jaminan deposito atas kreditnya adalah proses persetujuan kreditnya mudah. debitur pengelolaan keuangannya. disatu sisi meminta. memilih antara pencapaian target atau pemenuhan aspek hukum kreditnya. Tetapi kemudian. alasan lain sehingga Bank Danamon. Menyadari bargaining merasa lebih bertanggung jawab dalam position-nya lebih kuat dibanding dengan debitur pada umumnya. mudah dan cepatnya proses persetujuan dan pencairan kredit dengan jaminan deposito itu. jika memungkinkan. karena memiliki tingkat kepastian nominal yang sudah pasti dan likuiditasnya pun paling likuid dibanding dengan jaminan lainnya. biasanya pertimbangan bisnis selalu mengalahkan aspek . dalam banyak kasus justru menjadi salah satu sumber permasalahan hukum tersendiri bagi bank. cepat. pemilik deposito selalu meminta pengecualian-pengecualian dalam pengikatan kredit dan atau jaminannya. disisi lainnya. Oleh karena itu.

maka terjadilah pengikatan kredit dan penjaminan deposito atas nama suami yang diikat oleh bank tanpa persetujuan isteri. terlebih bagi bank yang tidak mau kehilangan bisnisnya. Adanya tarik-menarik kepentingan. dapat menjadi dasar yuridis yang kuat bagi pihak yang tidak memberikan persetujuan untuk melakukan intervensi hukum dengan cara mengajukan keberatan (tuntutan) jika pencairan deposito jaminan tersebut akan dilakukan oleh bank. Tuntutannya adalah pencairan deposito jaminan tidak dapat dilakukan oleh bank karena pengikatan jaminannya sempurna dimata hukum. sehingga sering kali aspek hukum ini khususnya dalam hal pengikatan kredit dan jaminan gadai depositonya menjadi terabaikan. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas. Tidak ditanda tanganinya oleh salah satu dari suami atau isteri atas perjanjian gadai deposito jaminan tersebut. tidak dilakukan dengan B. Bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito ? . penulis tertarik melakukan penelitian dengan fokus kepada permasalahan-permasalahan sebagai berikut : 1. menjadi potensi masalah hukum ketika debitur kredit dengan jaminan deposito tersebut wanprestasi. atau sebaliknya. Celah hukum tersebut.8 hukum.

lebih khusus lagi penelitian yang fokusnya kepada pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jaminan. Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian yang pertama dan asli adanya. Bank Danamon Indonesia. . Untuk mengetahui bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. D. namun demikian apabila ternyata pernah dilakukan penelitian yang sama maka penelitian ini diharapkan dapat melengkapinya.9 2. Tbk Kantor Cabang Manado. Bagaimana Bank Danamon melakukan pencairan deposito jaminan yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi ? C. belum pernah ada. Untuk mengetahui bagaimana proses pencairan deposito jaminan yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi. Keaslian Penelitian Dari penelusuran bahan pustaka yang dilakukan oleh penulis. 2. diketahui bahwa penelitian tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) Di PT. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : 1.

Untuk dapat menjadi bahan masukan dan informasi bagi Bank Danamon dan para pihak tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) yang pengikatan deposito jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito.10 E. Untuk melengkapi literatur dan bahan diskusi tentang kredit dengan jaminan deposito (kredit back to back) dan sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang tertarik pada tema yang sama. 2. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa kegunaan dalam hal : 1. .

Tinjauan Umum Tentang Perjanjian 1. sekalipun dalam KUH Perdata tidak secara tegas mendefinisikannya. Sedangkan tentang perikatan. Definisi perjanjian sebagaimana pasal 1313 KUH Perdata tersebut mendapatkan tanggapan beragam dari para sarjana hukum kita. tetapi dalam pasal 1233 KUH Perdata dinyatakan bahwa perikatan. Kata “perjanjian” dan “perikatan” merupakan dua istilah yang dikenal dalam KUH Perdata. Kurang lengkap karena yang dirumuskan dalam pasal itu hanya perjanjian sepihak saja. mulai dari pasal 1233 sampai dengan pasal 1864.11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pasal 1313 KUH Perdata. sedangkan suatu perjanjian sudah pasti merupakan suatu perikatan. Bagian Kesatu sampai dengan Bagian Keempat Kitab Undangundang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUH Perdata) dibawah titel Tentang Perikatan. menyatakan bahwa definisi itu kurang lengkap lagipula terlalu luas. memberikan definisi bahwa “perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. juga karena perjanjian. . Dengan demikian suatu perikatan belum tentu merupakan perjanjian. Pengertian Perjanjian dan Perikatan Pengaturan tentang hukum perjanjian di Indonesia terdapat dalam Buku III Bab Kedua. selain lahir dari Undang-undang. Sofwan (1980 : 1).

12

dimana hanya menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi salah satu pihak saja, tetapi tidak meliputi perjanjian timbal balik dimana para pihak saling mengikatkan diri untuk timbulnya hak dan kewajiban bagi para pihak. Terlalu luas karena mencakup pula hal-hal mengenai pelangsungan perkawinan,

membuat janji kawin dan perbuatan-perbuatan semacam itu yang diatur dalam lapangan hukum keluarga, sedangkan pengertian perjanjian yang dimaksud dalam buku III ini adalah perjanjian di dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua belah pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban. Berusaha melengkapi definisi perjanjian yang terdapat pada pasal 1313 KUH Perdata, Setiawan (1999 : 49), mengemukakan pendapatnya bahwa : a. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum; b. Perlu ditambahkan dengan kata-kata “atau saling mengikatkan dirinya” dalam pasal 1313 KUH Perdata; sehingga dengan saran tersebut ia memberi definisi perjanjian adalah “suatu perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Mertokusumo (2005 : 118) memberikan perumusan bahwa “perjanjian adalah hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat hukum.” Definisi yang lebih jelas dan tidak semata menekankan pada subjeknya adalah yang dikemukakan oleh Subekti, dimana Ia memberikan perumusan bahwa,

13

“Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.” (Subekti, 1990 : 1). Senada dengan Subekti, lebih jauh beberapa sarjana memberikan penekanan pada ruang lingkupnya yang berada di dalam lapangan hukum harta benda/kekayaan. Prodjodikoro (2000 : 4) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antar dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.” Harahap (1986 : 6) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi

kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi. Pendapat yang justru menyamakan pengertian perjanjian dan perikatan adalah Muljadi. Dengan menggunakan istilah perikatan, ia memberikan penjelasan, bahwa perikatan sebagai peraturan yang mengatur mengenai hubungan hukum antara subjek hukum dengan subjek hukum yang melahirkan kewajiban pada salah satu subjek hukum dalam perikatan tersebut. Adanya kewajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut akan melahirkan hak pada pihak lainnya dalam hubungan hukum perikatan tersebut (Muljadi, 2004 : 10).

14

Sedangkan Satrio (2001 : 1) mengatakan bahwa perikatan dalam arti luas meliputi semua hubungan hukum antara dua pihak, dimana disatu pihak ada hak dan dilain pihak ada kewajiban didalamnya termasuk semua hubungan hukum yang muncul dari hubungan hukum dalam lapangan hukum keluarga dan hukum acara. Dari beberapa perumusan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hakekat perjanjian dan perikatan pada dasarnya adalah sama yaitu keduanya merupakan hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat didalamnya, namun pengertian perikatan jauh lebih luas dari perjanjian sebab hubungan hukum yang ada dalam perikatan munculnya tidak hanya dari perjanjian tetapi juga dari Undang-undang. Perbedaan lain dari keduanya adalah bahwa perjanjian pada hakekatnya

mengikat para pihak berdasar pada kesepakatan (kata sepakat) diantara mereka, sedangkan perikatan selain mengikat karena adanya kesepakatan juga mengikat karena diwajibkan oleh Undang-undang. Dengan demikian keduanya juga berbeda dari konsekuensi hukumnya. Pada perjanjian, oleh karena dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihak maka tidak dipenuhinya prestasi dalam perjanjian akan menimbulkan ingkar janji (wanprestasi), sedangkan tidak dipenuhinya suatu prestasi dalam perikatan menimbulkan konsekuensi hukum sebagai perbuatan melawan hukum. 2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian Pasal 1320 KUH Perdata merumuskan empat syarat untuk sahnya suatu perjanjian. Keempat syarat tersebut adalah :

Syarat pertama dan kedua dikualifisir sebagai syarat-syarat subjektif karena berhubungan dengan subjek perjanjian. yang mengakibatkan adanya cacat bagi perwujudan kehendak tersebut. mereka menghendaki sesuatu yang sama secara timbal-balik. b. Menurut Pasal 1321 KUH Perdata. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Artinya dalam mencapai atau menentukan kata sepakat tersebut para pihak tidak boleh mendapatkan sesuatu tekanan. Sepakat. seia-sekata atau persesuaian kehendak dari kedua subyek mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan. ada tiga hal yang menyebabkan cacat kehendak dalam suatu perjanjian. Jadi sahnya suatu perjanjian haruslah memenuhi unsur-unsur subjektif dan objektif seperti tersebut di atas.15 a. Suatu sebab yang halal. d. c. juga dikehendaki oleh pihak yang lain. Sesuatu hal tertentu. Sepakat diartikan sebagai pernyataan kehendak menyetujui. Dalam kata sepakat ini. a. para pihak harus mempunyai kebebasan kehendak. sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif karena berhubungan dengan objek perjanjiannya. Ketiga hal tersebut terlihat dalam rumusan . Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu.

ataupun keunggulan kejiwaan. 2) Suatu hal yang nyata (kenbaarheid). salah satu pihak telah melaksanakan perjanjian itu walaupun dia mengetahui atau seharusnya mengerti bahwa dia seharusnya tidak melakukannya. Selain karena kekhilafan (dwaling). sehingga dengan keunggulan ini jika disalahgunakan oleh salah satu pihak akan melahirkan penyalahgunaan keadaan (Widyadharma. paksaan (dwang) ataupun penipuan (bedrog). penyalahgunaan keadaan dapat terjadi jika memenuhi empat syarat. Dalam perkembangannya. seperti keadaan darurat. 1995 : 17). ceroboh. penyalahgunaan keadaan ini bisa berwujud dalam hal keunggulan ekonomi. atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Penyalahgunaan keadaan berlatar belakang ketidak seimbangan keadaan mengenai keunggulan pihak yang satu terhadap yang lain. sebagai berikut : 1) Keadaan-keadaan istimewa (bijzondere omstandigheden). 3) Penyalahgunaan (misbruik).16 pasalnya sebagai berikut “tiada kata sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan. belakangan ini juga berkembang faham bahwa cacat kehendak juga bisa terjadi dalam hal penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden). jiwa yang kurang waras dan tidak berpengalaman. Menurut Nieuwenhuis dalam Panggabean (2001 : 40). ketergantungan. . disyaratkan bahwa salah satu pihak mengetahui atau semestinya mengetahui bahwa pihak lain karena keadaan istimewa tergerak hatinya unuk menutup suatu perjanjian.

17

4) Hubungan

kausal

(causaal

verband),

adalah

penting

bahwa

tanpa

menyalahgunakan keadaan itu maka perjanjian itu tidak akan ditutup. Penyalahgunaan keadaan itu berhubungan dengan terjadinya perjanjian, yang menyangkut keadaan-keadaan yang berperan untuk terjadinya suatu perjanjian dimana memanfaatkan perjanjian itu disepakati. b. Cakap Orang yang membuat perjanjian itu harus cakap menurut hukum. Pada asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akil-baliq dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUH Perdata disebut sebagai orangorang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah : 1). Orang-orang yang belum dewasa; 2). Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan; 3). Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undangundang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. KUH Perdata menyatakan bahwa orang-orang yang belum dewasa adalah orang-orang yang belum berumur 21 tahun dan / atau tidak telah menikah. Secara a contrario, Satrio (1995 : 5) menyimpulkan bahwa dewasa adalah mereka yang : 1) telah berumur 21 tahun; dan 2) telah menikah, termasuk mereka yang belum berusia 21 tahun tetapi telah menikah. Orang didalam pengampuan juga termasuk tidak cakap. Tetapi tentang pengampuan atau curatele ini harus diingat bahwa curatele tidak pernah terjadi keadaan orang lain sedemikian rupa untuk membuat

18

demi hukum, tetapi selalu harus didasarkan atas permohonan (sesuai Pasal 434 sampai dengan Pasal 445 KUH Perdata) dan ia baru mulai berlaku sejak ada ketetapan pengadilan atas permohonan itu (Pasal 446 KUH Perdata). Satrio menegaskan bahwa orang yang dapat ditaruh dibawah pengampuan, disebabkan karena : 1) Gila (sakit otak), dungu (onnoozelheid), mata gelap (rezernij); 2) Lemah akal (zwakheid van vermogens); dan 3) Pemborosan (Satrio, 1995 : 5). Sedangkan ketidak-cakapan perempuan yang telah bersuami, sejak

diundangkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, harus dilihat dulu apakah ada perjanjian kawin atau tidak. Jika terdapat perjanjian kawin yang isinya tidak ada percampuran harta sama sekali, maka ketentuan bahwa isteri tidak cakap melakukan perbuatan hukum tidak berlaku lagi. Lain halnya jika tidak ada perjanjian kawin maka demi hukum telah terjadi percampuran harta bulat, sehingga dengan ini, segala perbuatan hukum apapun sepanjang berkonsekuensi terhadap harta dalam perkawinan, isteri harus mendapatkan persetujuan dari suaminya, atau demikian sebaliknya. c. Suatu hal tertentu Hal tertentu artinya adalah objek perjanjian itu sendiri, yaitu apa yang diperjanjikan. Hak-hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu harus jelas disebutkan di dalamnya. Pasal 1333 KUH Perdata menyebutkan bahwa :

19

“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”. d. Sebab yang halal Sebab yang halal bukan berarti sesuatu hal yang menyebakan perjanjian itu dibuat, tetapi menunjuk kepada pokok atau substansi dari apa yang diperjanjikan itu harus halal adanya. Hukum perjanjian tidak mempermasalahkan motivasi apa yang mencetuskan pembuatan perjanjian, tetapi kepada substansi atau isi daripada perjanjian itu. Konsekuensi dari tidak terpenuhinya salah satu atau kedua syarat subjektif maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar atau voidable). Dalam hal ini salah satu pihak dapat memohonkan pembatalan perjanjian kepada hakim di pengadilan negeri. Sepanjang perjanjian itu tidak dibatalkan oleh hakim, maka menurut Subekti, perjanjian itu tetap mengikat para pihak, sepanjang ada kesediaan para pihak (Subekti, 1990 : 20). Sedangkan jika salah satu atau kedua syarat ojektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum (nietig atau null and void). Artinya bahwa demi hukum, perjanjian itu tidak pernah lahir dan tidak pernah ada suatu perikatan apapun. 3. Berakhirnya Perjanjian Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan hapusnya perikatan, karena suatu perikatan dapat saja hapus sedangkan perjanjiannya yang merupakan salah satu sumbernya masih tetap ada.

karena kedaluwarsa (verjaring) Sedangkan menurut Setiawan (1999 : 69). Ke-sepuluh hal tersebut adalah : a. karena musnahnya barang yang terhutang h. Jadi perjanjian akan berakhir jika bermacam-macam perikatan yang terdapat dalam perjanjian itu telah dilaksanakan. karena pembaharuan hutang d. karena pembayaran b.20 Perikatan jual beli misalnya. karena kebatalan atau pembatalan i. suatu perjanjian dapat berakhir disebabkan karena hal-hal sebagai berikut : . karena penawaran pembayaran tunai disertai penitipan c. dimana didalamnya terkandung dua prestasi perikatan yaitu perikatan untuk membayar dan perikatan untuk menyerahkan barang (levering). Tetapi hal tersebut belum menghapuskan perjanjian karena masih ada satu perikatan lagi yang belum dilakukan yaitu perikatan untuk menyerahkan barang. karena percampuran hutang f. Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan sepuluh macam alasan yang menyebabkan perikatan-perikatan dalam suatu perjanjian berakhir. karena perjumpaan hutang atau konpensasi e. karena pembebasan hutang g. Dengan dibayarnya harga jual beli. karena berlakunya syarat-syarat batal j. maka perikatan untuk membayar menjadi hapus.

Para pihak atau Undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus. juga menunjuk kepada ketiadaan pelaksanaan prestasi oleh salah satu pihak dalam perjanjian. Pernyataan menghentikan perjanjian. 4.21 a. . wanprestasi dirumuskan selain sebagai pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut yang diperjanjikan. Wanprestasi Secara sederhana. Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian. Karena tujuan dari perjanjian itu telah tercapai. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh kedua belah pihak untuk perjanjian-perjanjian bersifat sementara. contoh perjanjian pemberian kuasa. d. e. akan hapus dengan meninggalnya salah satu pihak (pasal 1813 KUH Perdata). Tidak memenuhi prestasi sama sekali. f. Ditentukan dalam perjanjian yang dilakukan oleh para pihak. c. Ketiadaan prestasi ini bisa terwujud dalam beberapa bentuk. seperti perjanjian kerja dan atau perjanjian sewa-menyewa. b. Perjanjian hapus karena putusan hakim. seperti berikut : a. g. contohnya ketentuan pasal 1066 ayat 3 jo ayat 4 KUH Perdata dimana perjanjian untuk tidak mengadakan pemecahan harta oleh ahli waris hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu 5 tahun. Dengan persetujuan para pihak.

Bentuk ketiga adalah jika debitur memenuhi prestasinya tetapi tidak sebagaimana mestinya atau keliru dalam memenuhi prestasinya. Apakah debitur sudah tidak mampu memenuhi prestasinya maka hal ini termasuk pada yang pertama. apabila prestasinya masih dapat diharapkan untuk diperbaiki maka ia dianggap terlambat tetapi jika tidak dapat diperbaiki lagi maka ia sudah dianggap sama sekali tidak memenuhi prestasi. Berprestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya. ia dianggap sebagai terlambat dalam memenuhi prestasi.22 b. perlu diperhatikan apakah dalam perjanjian itu ditentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu yang tidak ditentukan maka diperlukan suatu tindakan hukum dari bank berupa teguran atau somasi kepada debitur. apakah termasuk tidak memenuhi prestasi sama sekali atau terlambat dalam memenuhi prestasi. Untuk mengetahui sejak kapan debitur itu wanprestasi. Somasi ini dimaksudkan untuk teguran bahwa debitur telah lalai memenuhi prestasi dan karenanya ia diingatkan agar dalam tenggang waktu tertentu (disebutkan dalam . tetapi apabila debitur masih mampu memenuhi prestasi. c. Dari bentuk-bentuk wanprestasi tersebut kadang-kadang menimbulkan keraguan pada waktu mana debitur tidak memenuhi prestasi. Pertanyaan yang sering kali timbul dalam praktek adalah sejak kapan debitur dianggap telah melakukan wanprestasi? Ini penting dipersoalkan karena wanprestasi mempunyai akibat hukum yang penting bagi debitur. Terlambat dalam memenuhi prestasi.

maka dalam hal ini debitur telah dinyatakan wanprestasi (Muhammad. c. walaupun umumnya masalah wanprestasi telah diatur tenggang waktunya dalam perjanjian kredit. Debitur wajib memenuhi perjanjian disertai pembayaran ganti rugi (Pasal 1267 KUH Perdata). debitur dianggap telah wanprestasi dengan lewatnya waktu yang ditentukan. Lalu apa akibat hukumnya jika debitur wanprestasi? Akibat hukum bagi debitur dalam hal ia wanprestasi adalah hukuman atau sanksi-sanksi. yang oleh hukum telah mengatur hal ini. Ketidak taatan debitur dalam memenuhi prestasinya sesuai tanggal yang ditentukan dalam somasi. maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata. 1992 : 22).23 somasi). tetapi bank tetap membuat somasi kepada debitur untuk menegaskan bahwa ia telah benarbenar wanprestasi. Praktek baik perbankan yang ada saat ini. . b. Sebaliknya jika dalam perjanjian ditentukan dengan jelas tenggang waktu pemenuhan prestasi. Debitur diharuskan membayar ganti rugi yang telah diderita oleh kreditur (Pasal 1243 KUH Perdata). Sanksi-sanksi hukumnya. Debitur diwajibkan membayar biaya perkara di pengadilan. debitur harus segera melaksanakan prestasinya. apabila karena wanprestasinya itu sampai kepada pengadilan (Pasal 181 ayat 1 HIR). antara lain adalah : a.

kepercayaan. sehingga dalam bahasa sehari-hari sudah dicampur-adukan begitu saja dengan istilah hutang. 1991 : 23). Penggunaan kedua istilah itu walaupun sebenarnya kredit itu bukan hanya sekedar . sungguhpun kata kredit sudah berkembang kemana-mana. Tetapi. akan terjadi pada waktu mendatang.” UU Perbankan menggunakan dua istilah yang berbeda yaitu “kredit” dan “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”.24 B. Dalam bahasa Belanda istilahnya “vertrouwen”. dalam tahap apapun dan kemanapun arah perkembangannya. Simorangkir (1988 : 91) merumuskan bahwa “kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang dan barang) dengan balas prestasi (kontra prestasi). Pengertian Kredit Kata kredit berasal dari bahasa Romawi “credere” yang artinya “percaya”. dalam setiap kata kredit tetap mengandung unsur “kepercayaan”. yang kesemuanya berarti percaya (Badrulzaman. Jika dihubungkan dengan bank. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit 1. istilah kredit sudah tidak asing lagi dan bahkan dapat dikatakan populer dan merakyat. dalam bahasa Inggeris “believe” atau “trust” atau “confidence”. Dalam masyarakat umum. maka terkandung pengertian bahwa bank selaku pemberi kredit percaya untuk meminjamkan sejumlah uang kepada nasabah karena debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas pinjamannya setelah jangka waktu tertentu.

” Berdasarkan rumusan pengertian kedua istilah tersebut. sedangkan bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah menggunakan istilah “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. Bank yang menjalankan usahanya secara konvensional menyebutnya sebagai “kredit”. . Pasal 1 angka (11) UU Perbankan memberikan definisi tentang kredit : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. perbedaannya terletak pada bentuk kontra prestasi yang akan diberikan oleh nasabah peminjam (debitur) kepada pihak bank selaku kreditur atas pemberian kredit atau pembiayaan dimaksud.25 disesuaikan dengan dinamika perkembangan perbankan saat ini dimana selain bank-bank yang menjalankan usaha secara konvensional berkembang juga bankbank berdasarkan prinsip syariah. dirumuskan dalam Pasal 1 angka (12) UU Perbankan. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Pada bank dengan prinsip konvensional kontra prestasi yang diberikan debitur adalah berupa “bunga”. Sedangkan tentang pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. sedangkan pada bank dengan prinsip syariah kontra prestasinya berupa imbalan atau bagi hasil sesuai dengan kesepakatan bersama. sebagai berikut : “Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.

Degree of risk. barang atau jasa akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang. imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Tentang hal ini. Namun karena kehidupan ekonomi modern . Kepercayaan. kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah merupakan perjanjian pinjam-meminjam (uang) yang dilakukan antara bank dengan pihak lain dalam hal ini nasabah peminjam dana. b. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya baik dalam bentuk uang. Perjanjian mana dibuat atas dasar kepercayaan bahwa peminjam dalam tenggang waktu tertentu akan melunasi atau mengembalikan uang atau tagihan tersebut kepada bank disertai bunga. yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterima dikemudian hari. d. Dari pengertian-pengertian di atas terlihat dengan jelas adanya beberapa unsur kredit. Semakin lama kredit diberikan berarti semakin tinggi pula tingkat resikonya. Prestasi atau objek kredit tidak saja diberikan dalam bentuk uang tetapi juga dalam bentuk barang atau jasa. yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterimanya pada masa yang akan datang. Tenggang waktu.26 Dengan demikian. c. Suyatno (2003 : 14) mengemukakan bahwa unsur-unsur kredit adalah sebagai berikut : a.

c. Tanpa mengenyampingkan unsur-unsur yang lain. Mengetahui kemampuan dan kemauan debitur untuk melunasi kreditnya. maka transaksi-transaksi kredit dalam bentuk uanglah yang lazim dalam praktek perkreditan.27 sekarang ini didasarkan kepada uang. Menentukan berbagai resiko yang akan dihadapi oleh bank dalam memberikan kredit kepada seseorang atau badan usaha. d. unsur terpenting dalam suatu pemberian kredit adalah kepercayaan. b. Untuk itu analisis kredit amat . penting. Untuk memperoleh kepercayaan tersebut haruslah sampai pada suatu keyakinan sejauh mana konsep penilaian kredit dapat terpenuhi dengan baik. baik dari sumber pelunasan primer maupun sekunder. Menurut Halle (1983 : 54). jika seorang bankir memberikan pinjaman kepada perorangan atau perusahaan. sehingga bank dapat melakukan penyesuaian dengan struktur dana yang dipersiapkan untuk digunakan. jumlah kredit dan jangka waktu kredit yang dibutuhkan oleh usaha debitur. karena berguna untuk : a. Mengantisipasi kemungkinan pelunasan kredit tersebut karena bank telah mengetahui kemampuan pelunasan melalui analisis cashflow usaha debitur. Mengetahui jenis kredit. bankir tersebut membutuhkan penilaian kredit dalam bentuk analisis kredit untuk membantu menentukan resiko yang ada atau yang mungkin terjadi dari pinjaman yang diberikan.

Condition of Economy (kondisi ekonomi). umumnya perbankan menggunakan instrument analisa kredit yang terkenal dengan nama azas “the five of credit” . watak ataupun sifat yang dapat dipercaya. Character (karakter). Oleh karena itu petugas bank mengadakan penyelidikan secara mendalam dengan jalan mencari informasi dari orang-orang yang berada dalam lingkungan pergaulannya dan hal tersebut akan sangat berpengaruh pada pelunasan kreditnya. d.28 Untuk memperoleh kepercayaan kepada calon debitur. baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianut dalam keluarga. c. b. b. Capital (modal). Character (watak). yaitu : a. Capacity (kemampuan). Oleh Henderson dan Maness (1989 : 67) menjelaskan secara singkat konsep “5 C” tersebut adalah : a. e. Capacity (kemampuan) Merupakan gambaran mengenai kemampuan calon debitur untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. hal ini tercermin dari latar belakang debitur. kemampuan debitur untuk mencari dan . Adalah adanya keyakinan dari pihak bank bahwa calon debitur mempunyai moral. Collateral (jaminan).

dimana agunan ini berupa jaminan pokok maupun jaminan tambahan yang berfungsi untuk menjamin pelunasan utang jika ternyata dikemudian hari debitur tidak . Bank harus mengetahui “debt to equity ratio”. yaitu berapa besarnya seluruh hutang debitur dibandingkan dengan seluruh modal dan cadangan perusahaan serta likuiditas perusahaan. sehingga bank dapat melihat modal debitur sendiri yang tertanam pada bisnisnya dan berapa jumlah yang berasal dari pihak lain (kreditur dan supplier). Capital (modal) Penilaian pada aspek ini diarahkan pada kondisi keuangan nasabah.29 mengkombinasikan resources yang terkait dengan bidang usaha. kemampuan memproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen/pasar. dan modal yang tertanam pada aktiva jangka panjang dan aktiva lain-lain. c. yang terdiri dari aktiva lancar (current assets) yang tertanam dalam bisnis dikurangi dengan kewajiban lancar (current liabilities) yang disebut dengan modal kerja (working capital). d. Collateral (jaminan) Collateral adalah jaminan kredit yang mempertinggi tingkat keyakinan bank bahwa debitur dengan bisnisnya mampu melunasi kredit. sehingga cashflow tersebut dapat menjadi sumber pelunasan kredit yang utama sesuai dengan jadwal yang sudah disetujui bersama. Disamping itu juga kemampuan untuk mengantisipasi variabel dari cashflow usaha. Analisis capital itu dimaksudkan untuk menggambarkan struktur modal (capital structure) debitur.

aman dan produktif serta membawa manfaat bagi pengusaha. Purpose Ini merupakan penilaian terhadap maksud permohonan kredit dari calon debitur agar penggunaan jumlah atau jenis kredit tersebut terarah. e. sebagai berikut : a. Jaminan tambahan ini dapat berupa kekayaan milik debitur atau pihak ketiga. bank dan otorita moneter. terutama terhadap permohonan kredit dalam jumlah besar. Condition of Economy (kondisi ekonomi) Kondisi yang mempersyaratkan bahwa kegiatan usaha debitur mampu mengikuti fluktuasi ekonomi. masyarakat. dan usaha masih mempunyai prospek kedepan selama kredit masih dinikmati debitur. Termasuk juga analisis terhadap kemampuan usaha debitur dalam menghadapi situasi perekonomian yang mungkin tiba-tiba berubah diluar dugaan semula. baik dalam negeri maupun luar negeri. apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utangnya. . Untuk mempertajam analisa.30 melunasi utangnya. Debitur menjanjikan akan menyerahkan sejumlah hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku. menurut Henderson dan Maness (1989 : 79) perlu ditambahkan dengan kriteria “5 P Principles”.

Perspective Posisi usaha debitur pada waktu yang akan datang apakah mampu mengikuti kondisi ekonomi.31 b. Perspektif ini dinilai dengan menggunakan kriteria : . keuangan dan fiskal. orang atau lembaga yang mem-backup debitur. sehingga peta pelunasan (roadmap repayment) dan kemungkinan penyelesaian kredit dapat dilaksanakan tanpa kesulitan. Protection Bilamana usaha debitur mengalami kegagalan. customer dan supplier. sehingga akan lebih jelas bagaimana posisi cash in dan cash out. Ini berarti merupakan proyeksi perbandingan resiko dan cashflow perusahaan. dan bank harus mempunyai alternatif penyelesaian dengan agunan yang dikuasai dan pengikatan yuridis sesuai ketentuan yang berlaku. bank sudah harus terlindungi dengan baik dari kesulitan penyelesaian kreditnya. yang kesemuanya sangat penting dalam menunjang kegiatan usaha calon debitur. yang menggambarkan apakah perusahaan mengalami likuiditas usaha yang baik atau tidak. c. Payment Penilaian juga harus dilakukan terhadap sumber-sumber pelunasan primer dan sekunder. d. Ini berkaitan dengan casflow perusahaan dan variabel yang mempengaruhinya. e. People Adalah penilaian yang dilakukan terhadap calon debitur tentang siapa mitra usahanya.

yaitu hasil usaha yang akan dicapai dari kegiatan yang mendapatkan pembiayaan tersebut. yaitu kredit dengan jangka waktu tidak lebih dari 1 tahun. umumnya bank-bank menggolongkan kredit ke dalam dua jenis kredit. 3) Risk Bearing Ability. yaitu kredit dengan jangka waktu lebih dari 3 tahun. dibedakan menjadi : a. 2) Repayment. Kredit konsumtif. yaitu berdasarkan jangka waktu (term) dan berdasarkan tujuan atau penggunaan kredit (utility of loan).32 1) Return. c. Kredit jangka menengah (middle-term loan). yaitu perhitungan besarnya kemampuan debitur dalam menghadapi resiko yang tidak terduga. 2. Jenis-Jenis Kredit Praktek perbankan yang ada. yaitu kredit kepada orang perorangan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Contohnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR). b. kredit dibagi dalam : a. yaitu kredit dengan jangka waktu 1-3 tahun. yaitu perhitungan pengembalian dana dari kegiatan yang mendapatkan pembiayaan kredit. . Kredit jangka panjang (long-term loan). Berdasarkan jangka waktu (term of loan). Sedangkan berdasarkan tujuan penggunaan kredit (utility of loan). Kredit jangka waktu pendek (short-term loan).

termasuk untuk pembiayaan biaya produksi atau penjualannya. 3) Kredit likuiditas. Beberapa sarjana hukum. dalam semuanya itu pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam sebagaimana diatur dalam Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUH Perdata.10 tahun 1998. b. 2) Kredit modal kerja. yaitu kredit untuk pengadaan barang modal atau jasa bagi usaha debitur. Perjanjian Kredit Pengertian ataupun rumusan perjanjian kredit tidak diatur secara khusus dalam Undang-undang Perbankan No. Kredit Produktif. Kredit produktif ini umumnya dibedakan lagi menjadi : 1) Kredit investasi. maupun dalam KUH Perdata.” . Kredit Pemilikan Sepeda Motor (KPSM) dan lain sebagainya. yaitu kredit untuk pembiayaan modal kerja usahausaha debitur. yaitu kredit dari Bank Indonesia yang diperuntukan bagi bank-bank pemerintah maupun swasta guna disalurkan kembali ke berbagai sektor. 3.33 Kredit Pemilikan Mobil (KPM). Oleh karena itu untuk memahami pengertian perjanjian kredit perlu dikemukakan pendapat para sarjana. yaitu kredit yang diberikan untuk pembiayaan usaha-usaha produktif. seperti Subekti (1991 : 3) berpendapat bahwa “dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan.

Perbedaannya. sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapat menggunakan uang secara bebas.34 Pendapat senada juga dikemukakan oleh Hay (1975 : 67) bahwa “perjanjian kredit adalah identik dengan perjanjian pinjam-meminjam dan tunduk kepada ketentuan Bab XIII dari Buku III KUH Perdata. bahwa “dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-undang perbankan mengenai perjanjian kredit.” Sarjana lainnya. dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam-meminjam di dalam KUH Perdata Pasal 1754. seperti Hasan berpendapat lain. bahwa perjanjian kredit tidak tepat dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUH Perdata. . adalah : “Perjanjian pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian.” Hal yang sama dikemukakan pula oleh Badrulzaman (1994 : 110). Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitan dengan program pembangunan. dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah uang yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula. biasanya dalam perjanjian kredit sudah ditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima. sebab antara perjanjian pinjam-meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapa perbedaan.” Rumusan perjanjian pinjam-meminjam menurut pasal 1754 KUH Perdata. menurut Hasan (1996 : 174) terdapat pada hal-hal : a.

Surat-Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) dan sebagaimnya. e. Pada perjanjian kredit berlaku ketentuan UUD 1945. atau pembagian hasil. sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam tunduk sematamata pada KUH Perdata Bab XIII Buku III. dan tidak dimungkinkan diberikan oleh individu. Pada perjanjian kredit. ketentuan-ketentuan umum KUH Perdata. sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam. c. Paket Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi terutama bidang perbankan. pemberi pinjaman dapat dilakukan oleh individu.35 b. d. bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuan debitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminan baik materiil maupun immateriil. Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam. sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam hanya berupa bunga saja. Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan. . imbalan. dan bunga inipun baru ada apabila diperjanjikan. UU Perbankan. ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN. Pada perjanjian kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telah ditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga. jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan hutang dan inipun baru ada apabila diperjanjikan. sedangkan pada perjanjian pinjam- meminjam. dan jaminan itu hanya merupakan jaminan secara fisik atau materiil saja.

tujuan dan jaminannya.36 Senada dengan pendapat dari Hasan diatas. karena perjanjian kredit merupakan modifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia bisnis saat ini. ada kemungkinan pinjaman yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit tidak jadi dicairkan. Menurut Halle (1983 : 53). pengaturan. Dalam praktek. Perjanjian kredit harus diikuti dengan penyerahan uang secara riil kepada debitur. Perjanjian kredit adalah suatu perjanjian pokok yang bersifat riil artinya terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitur. baik dari pengertian. terutama kepercayaan dari pihak bank sebagai pemberi kredit kepada debiturnya. terjadinya perjanjian kredit harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1) 2) 3) Terdapat kedua belah pihak serta ada persetujuan pinjam meminjam antar kreditur dan debitur. Perjanjian kredit bank dilaksanakan berdasarkan atas kesepakatan diantara kedua belah pihak yaitu pihak bank sebagai kreditur dan pihak nasabah sebagai debitur. Mempunyai jangka waktu tertentu.” Akan tetapi dengan perbedaan tersebut tidaklah berarti dapat dilepaskan sama sekali dari akarnya yaitu perjanjian pinjam-meminjam. yang dilandasi dengan kepercayaan. Hak kreditur untuk menuntut dan memperoleh pembayaran serta kewajiban debitur untuk membayar prestasi yang diterima. Ini terjadi jika bank . subjek pemberi kredit. Ibrahim (2004 : 28) berpendapat bahwa “perjanjian kredit juga berbeda dengan penjanjian pinjam- meminjam yang diatur dalam Bab XIII Buku III KUH Perdata.

tanpa adanya kemungkinan melakukan negosiasi atau tawar menawar dengan bank. Jika pinjaman dalam bentuk rekening koran. maka pencairannya dilakukan berdasarkn progress fisik proyek yang dibiayai. Untuk itu sangat perlu untuk diperhatikan bersama. jika dilihat dari sudut debitur.37 mendapat informasi baru yang tidak menguntungkan tentang debitur. perjanjian kredit perbankan pada umumnya menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract). pengelolaan ataupun penatalaksanaan kredit itu sendiri. perjanjiannya telah disediakan oleh bank dalam bentuk blanko. Dalam hal ini debitur tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi kreditur karena perjanjian baku telah ditentukan oleh bank. Ada juga kemungkinan bahwa besarnya jumlah yang diserahkan berlainan dengan jumlah yang semula disetujui di dalam perjanjian kredit. Penyerahan uang kepada penerima kredit bergantung pula pada sifat atau jenis kredit yang diperjanjikan. Artinya. sedangkan debiturnya tinggal mempelajari dan memahaminya dengan baik. Keberadaan perjanjian kredit sangat penting karena berfungsi sebagai dasar hubungan kontraktual antara para pihak. Kelemahan dari perjanjian ini. . penarikan oleh debitur tergantung kebutuhannya tetapi dalam limit plafond yang disediakan. maka pencairannya dilakukan dalam bentuk plafond ke dalam rekening koran. Jika kredit itu dalam bentuk investasi. adalah debitur tinggal memiliki salah satu pilihan dari dua pilihan yakni menerima atau menolak. Dalam perjanjian kredit dapat ditelusuri berbagai hal tentang pemberian. Dilihat dari bentuknya.

artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yang mengikutinya. mengemukakan bahwa perjanjian kredit itu memiliki tiga fungsi. Terjadinya kemacetan dalam pengembalian kredit mungkin saja disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian dari pihak bank sendiri atau dari pihak nasabah. Itulah sebabnya adalah hal yang wajar jika setiap bank memiliki kredit bermasalah. Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank. 4. tetap saja ada kemungkinan kredit tersebut bermasalah. Berfungsi sebagai perjanjian pokok. karena bank tidak mungkin menghindarkan adanya kredit bermasalah. Sepandai apapun para analis kredit dalam menganalisis permohonan kredit. Bank hanya berusaha . Suatu kedit bermasalah yang tidak dikelolah dengan baik akan mengakibatkan kemacetan kredit atau umum disebut sebagai kredit macet. tidak lepas dari pembicaraan mengenai kredit bermasalah (non performing loan). Tetapi sungguhpun demikian. Kredit Bermasalah Membahas masalah kredit. misalnya perjanjian pengikatan jaminan. tidak semua kredit bermasalah itu adalah kredit macet. yaitu : a. b. Berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di antara kreditur dan debitur. ataupun oleh karena keadaan memaksa (force majeur). c. Berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit.38 Wardoyo dalam Hermansyah (2006 : 72).

Kurang Lancar (KL) d. diragukan dan macet dinilai sebagai kredit bermasalah (non performing loan). Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. membedakan kualitas kredit ke dalam 5 (lima) kolektibilitas. Kredit digolongkan Lancar (L).39 menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan. Beberapa indikator untuk penggolongan kelima kualitas kredit tersebut. atau 3) bagian kredit yang dijamin dengan agunan tunai. b. Lancar (L) b. Dalam Perhatian Khusus (DPK) c. Diragukan (D) e. Macet (M) Kredit yang termasuk dalam golongan kolektibilitas lancar dan dalam perhatian khusus dinilai sebagai kredit yang tidak bermasalah (adalah performing loan). yaitu : a. sedangkan kredit yang termasuk dalam golongan kurang lancar. Kredit digolongkan Dalam Perhatian Khusus (DPK). yaitu jika memenuhi kriteria : . 2) memiliki mutasi rekening yang aktif. adalah sebagai berikut : a. yaitu jika memenuhi kriteria : 1) pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu.

40 1) terdapat tunggakan angsuran pembayaran pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 hari. atau 6) dokumentasi pinjaman yang lemah. atau 3) mutasi rekening relatif rendah. atau 3) frekuensi mutasi relatif rendah. yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari. c. Kredit digolongkan Kurang Lancar (KL). . atau 2) kadang-kadang terjadi cerukan. atau 4) terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari. atau 3) terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari. Kredit yang digolongkan Diragukan (D). atau 2) sering terjadi cerukan yang bersifat permanen. atau 5) dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan. atau 5) terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur. atau 5) didukung oleh pinjaman baru. atau 2) sering terjadi cerukan. yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari. atau 4) jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan. atau 4) terjadi kapitalisasi bunga. d.

karena penilaian sehat tidaknya suatu bank salah satunya ditentukan dari berapa besar non performing loan bank itu. perlu penyelesaian yang cepat. Prospek usaha b. Untuk itu setiap bank secara periodik selalu melakukan evaluasi debiturnya dengan menganalisa aspek-aspek : a. atau 3) dari segi hukum maupun kondisi pasar. Kredit bermasalah akan menjadi beban bank karena ia menjadi salah satu tolok ukur bagi Bank Indonesia untuk menilai kinerja bank itu sendiri.41 e. c. tepat dan akurat. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan untuk menilai kualitas kredit. Kredit yang digolongkan Macet (M). perlu . Kemampuan membayar. Ini penting karena penurunan kolektibilitas kredit akan mempengaruhi kinerja bank yang bersangkutan. yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari. Kondisi keungan dengan penekanan cash flow. Penting untuk diperhatikan bahwa sebelum menurunkan kolektibilitas kredit. atau 2) kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru. Untuk itu adanya kredit bermasalah. jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. dan tidak dapat dinilai terpisah satu sama lainnya. bank akan melakukan evaluasi yang mendalam terhadap debitur-debitur yang termasuk dalam kolektibilitas non performing loan.

5. Penanganan Kredit Bermasalah Dalam hal terjadinya kredit bermasalah. Recheduling adalah tindakan penyelamatan terhadap kredit bermasalah dengan jalan merubah jangka waktu kredit. misalnya dengan merekapitalisasi bunga tertunggak. penurunan suku bunga. Tindakan penyelamatan kredit ini umumnya dilaksanakan dengan tiga treatment. Apabila upaya-upaya penyelamatan kredit seperti telah dikemukakan diatas tidak berhasil. penundaan pembayaran bunga sampai pada waktu tertentu (grace period). Reconditioning adalah tindakan penyelamatan kredit dengan jalan memberikan keringanan atas persyaratan-persyaratan kredit. maka penanganan atau upaya penagihan kredit yang terakhir . misalnya dengan jalan memperpanjang jangka waktu kredit dan atau memperpanjang jangka waktu angsuran kredit. Sedangkan restructuring adalah tindakan penyelamatan kredit dengan melakukan perubahan struktur kredit setelah lebih dahulu melakukan analisa atas keadaan permodalan debitur. yaitu : Rescheduling.42 dilakukan penilaian ulang secara periodik guna penentuan langkah-langkah penyelamatan dan atau penyelesaian bagi bank. pembebasan bunga ataupun pengkonversian kredit dengan jangka waktu pendek menjadi jangka waktu panjang. bank akan melakukan tindakantindakan penyelamatan kredit. Reconditioning dan Restructuring. Tindakan-tindakannya dapat berupa penambahan jumlah kredit (injection) dan atau merubah struktur kredit misalnya dari kredit modal kerja menjadi kredit angsuran.

hanya apabila upaya-upaya penyelamatan kredit tidak berhasil. maka bank akan menempuh jalan pelunasan terakhir dari jaminan sebagai second source of repayment. Normalnya. karena didukung dengan jaminan dan berusaha menghindari terjadinya unsecured loans karena tidak didukung dengan jaminan. Tinjauan Tentang Jaminan 1. jaminan berfungsi untuk memberikan hak dan kekuasaan kepada kreditur untuk mendapatkan pelunasan dari hasil penjualan barang-barang jaminan tersebut bila debitur tidak melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini dilakuan untuk mengantisipasi resiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka waktu pengembaliannya. Dalam hal ini. Prakteknya. eksekusi atas jaminan dijadikan upaya bank yang paling akhir dilakukan. Pengertian Jaminan Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam setiap penyaluran kredit. C. Jadi jika kredit tidak dapat lagi dilunasi dari usaha sebagai first source of repayment. setiap bank berusaha agar kredit yang disalurkan merupakan secured loans. .43 adalah dengan melihat jaminan sebagai second way-out (second source of repayment). Dalam hal ini akan dilakukan upaya hukum eksekusi atas jaminan. bank selalu mensyaratkan adanya jaminan kredit. yang tindakan hukumnya tergantung daripada jenis dan macam jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjaminnya.

44 Penulis memakai kata “jaminan” dalam tesis ini sebagai pengertian daripada “agunan” sebagaimana dirumuskan oleh UU Perbankan dalam Pasal 1 ayat (23) bahwa “agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. b. . menurut Subekti dalam bukunya Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia (1991 : 19). yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan. Sutarno (2005 : 142) merumuskan pengertian jaminan kredit adalah “segala sesuatu yang mempunyai nilai mudah untuk diuangkan yang diikat dengan janji sebagai jaminan untuk pembayaran dari hutang debitur berdasarkan perjanjian kredit yang dibuat oleh kreditur dan debitur.” Bahwa jaminan yang baik atau ideal. adalah jaminan yang memenuhi syarat : a.” Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hadisoeprapto (1984 : 50) yang mengemukakan bahwa “jaminan kredit ialah segala sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban. Yang tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan (meneruskan) usahanya.” Jaminan tambahan ini dapat berupa jaminan materiil (berwujud) berupa benda-benda bergerak dan benda tetap atau jaminan immaterial (tak berwujud). Yang dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukannya.

baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari. bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit.” Dari rumusan pasal tersebut menunjuk kepada sifat jaminan yang umum. jaminan yang sering diterima oleh kreditur bank bukan hanya milik debitur itu sendiri tetapi juga milik pihak ketiga yang atas kemauannya sendiri menyerahkan secara tegas harta kekayaannya untuk menjamin kredit dari debitur. barang berwujud maupun tidak berwujud. dengan maksud untuk menjamin pembayaran kembali kreditnya berdasarkan suatu perikatan. yaitu. tidak bergerak. baik yang diserahkan secara tegas (berdasarkan perjanjian) maupun secara otomatis (berdasarkan Undang-undang) oleh debitur kepada kreditur. Sehingga jika terdapat beberapa kreditur. menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan. baik barang bergerak. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus Pasal 1131 KUH Perdata menetapkan bahwa “segala kebendaan si berutang baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Klasifikasi Jaminan Kredit a.45 c. Yang memberikan kepastian kepada si pemberi kredit dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi. maka . Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jaminan kredit adalah seluruh harta kekayaan seseorang. Dalam praktek. artinya benda jaminan tidak ditunjuk secara khusus dan juga tidak diperuntukan kepada kreditur tertentu. 2.

praktek perbankan tetap menghendaki adanya jaminan yang dikhususkan untuk penjaminan kepada kreditur tertentu. sehingga jaminan perorangan menimbulkan hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. b. bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan dari si berutang (debitur) tersebut. jaminan khusus ini harus dibuat dengan perjanjian antara kreditur disatu pihak dan debitur atau penjamin di pihak lain. Bentuk jaminan perorangan adalah personal guarantee. Walaupun Undang-undang telah menentukan bahwa semua harta debitur menjadi jaminan bagi hutangnya. Jadi jaminan umum ini lahir secara otomatis karena ditentukan oleh Undang-undang. Jaminan Perorangan dan Jaminan Kebendaan Penggolongan jaminan yang lain.46 kedudukan para kreditur itu konkuren satu sama lainnya. akan dibagi-bagi secara proporsional. Sedang jaminan kebendaan atau zakelijke zekerheid ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan . selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si berutang (debitur). coorporate guarantee dan atau perikatan tanggung-menanggung. Artinya. Jaminan perorangan atau persoonlijke zekerheid adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu. yang sangat umum dilakukan oleh para sarjana adalah jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. dan atas harta kekayaan debitur yang dijual guna pelunasan hutangnya.

Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya tetapi dapat juga diadakan antara kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya. Bentuk jaminan kebendaan adalah hak tanggungan. D. si pemberi (pembaharuan) kewajiban Dengan demikian maka jaminan. gadai dan jaminan fidusia. . Subekti mengemukakan bahwa “pemberian jaminan kebendaan ini selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari harta kekayaan seseorang. Menurut ketentuan Pasal 1150 bahwa pihak yang menggadaikan disebut “pemberi gadai” dan pihak yang menerima gadai disebut “penerima atau pemegang gadai”. Pengertian Gadai Ketentuan Gadai diatur dalam Buku II Bab XX KUH Perdata mulai pasal 1150 sampai dengan 1160. pemberian jaminan kebendaan kepada kreditur tertentu. hipotik.47 langsung dengan benda tertentu dari debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin. dan menyediakannya guna pemenuhan (hutang) seorang debitur” (Subekti. 1991 : 17). dapat dipertahankan terhadap siapapun. memberikan “privelege” atau kedudukan istimewa bagi kreditur penerima jaminan itu terhadap kreditur lainnya. selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan 1.

lebih kuat karena benda jaminan berada dalam penguasaan kreditur. dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untu menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan. sebab dalam gadai benda jaminan sama sekali tidak boleh dipegang oleh atau dibawah penguasaan pemberi gadai (inbezitstelling). tetapi hanyalah untuk memberikan kepadanya jaminan tertentu bagi pelunasan suatu hutang”. Dari perumusan di atas dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak kebendaan yang mempunyai objek berupa benda bergerak yang berwujud dan tidak berwujud yang penyerahannya dilakukan oleh debitur atau orang lain atas nama debitur/pihak ketiga dengan fungsi untuk menjamin pemenuhan piutang kreditur. dengan bahasanya sendiri. yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh seorang lain atas namanya. Volmar (1994 : 310). ia memberikan pengertian gadai adalah : “Sebuah hak atas benda bergerak milik orang lain yang dimaksud tujuannya bukan memberikan kepada orang yang berhak terhadap gadai itu (penerima gadai) nikmat benda tersebut. Dalam hal ini kreditur selaku pemegang gadai terhindar dari itikad buruk (the kwader trouw) dari pemberi gadai. Kedudukan pemegang gadai jika dibandingkan dengan fidusia. Pasal 1150 KUH Perdata mendefinisikan gadai sebagai berikut : “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak. dan yang memberikan kekuasaan kepada siberpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya. dimana pemegang gadai mempunyai hak untuk didahulukan (hak . biaya-biaya mana harus didahulukan” Selanjutnya.48 Lembaga jaminan Gadai hingga saat ini banyak ditemukan dalam praktek.

kalau ia dibuat secara sah. . Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjain Accessoir Perjanjian gadai sifatnya accesoir. tetapi perjanjian pokok itu sendiri yang biasanya perjanjian kredit. artinya ia merupakan perjanjian tambahan dari suatu perjanjian pokok pinjam-meminjam uang dimana ia dimaksudkan untuk menjaga agar jangan sampai siberhutang lalai dalam pembayaran uang pinjamannya. ada maupun hapusnya bergantung pada perjanjian pokoknya dan apabila perjanjian pokoknya dialihkan maka secara otomatis pun ia ikut teralih. dalam mana termasuk kalau ada hak gadainya. Dengan diadakan perjanjian accessoir ini akan membawa konsekuensi sebagai berikut : 1) Sekalipun perjanjian gadainya sendiri mungkin dibatalkan karena melanggar ketentuan gadai yang bersifat memaksa. 2.49 preferen) dari kreditur-kreditur lainnya. kecuali ditentukan lain dalam Undangundang. Perjanjian accesoir mempunyai ciri-ciri antara lain : tidak dapat berdiri sendiri. yang demikian sesuai dengan ketentuan pasal 1533 KUH Perdata. tetapi sebaliknya pengoperan perikatan pokok meliputi pula semua accessoir. 2) Hak gadainya sendiri tidak dapat dipindah tangankan tanpa turut berpindahnya perikatan pokoknya. Hanya saja tagihan tersebut kalau tidak ada dasar preferensinya sekarang berkedudukan sebagai tagihan konkuren. tetap berlaku.

b. d. dan untuk melaksanakan parate eksekusi ini kreditur harus telah melakukan somasi kepada pemberi gadai supaya hutangnya dibayar. setelah lewat jangka waktu yang telah diperjanjikan. c. kreditur berhak menjual atas kekuasan sendiri. Gadai lahir karena penyerahan kekuasaan atas barang gadai kepada kreditur pemegang gadai. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai a. Hak-hak kreditur pemegang gadai 1) Parate eksekusi. unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian gadai adalah : a. 2) Hak menjual barang gadai dengan perantaraan hakim. Penyerahan barang itu dapat dilakukan oleh debitur pemberi gadai atau orang lain atas nama debitur. Barang yang menjadi objek gadai atau barang atau barang gadai hanyalah benda/barang bergerak. 3. . Kreditur pemegang gadai berhak mengambil pelunasan piutang dari barang gadai lebih dahulu daripada kreditur lainnya. Parate eksekusi sendiri adalah kewenangan kreditur untuk mengambil pelunasan piutang dari kekayaan debitur dengan tanpa melalui proses pengadilan. sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. ini sesuai dengan pasal 1156 KUH Perdata.50 Menurut Hoey Tiong (1985 : 17).

b.51 3) Hak menahan benda sampai segala macam hutang debitur dibayar lunas (hak retensi). 5) Berhak meminta penggantian biaya yang telah dikeluarkannya dalam rangka menjaga agar nilai barang gadai tidak merosot. menggunakan. sesuai pasal 1155 dan 1156 KUH Perdata. 4. 2) Bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya nilai barang objek gadai jika hilang atau merosotnya barang gadai tersebut atas kelalaiannya. sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata. sesuai dengan pasal 1154 KUH Perdata. sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. mengeksploitasi barang jaminan untuk kepentingan diri sendiri kecuali ada perjanjian secara tegas yang memungkinkan untuk itu. sesuai dengan pasal 1150 KUH Perdata. sesuai pasal 1155 KUH Perdata. Hak dan Kewajiban debitur / penjamin selaku pemberi gadai a. 4) Berhak untuk didahulukan dari pembayaran-pembayaran debitur terhadap kreditur lainnya (hak preferen). yaitu digunakan untuk pelunasan jumlah piutangnya. 5) Bertanggung jawab atas hasil penjualan barang gadai. sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata 3) Kreditur tidak dapat memakai. Hak-hak debitur / penjamin sebagai pemberi gadai . 4) Kreditur wajib memberitahukan kepada pemberi gadai jika barang gadai itu dijual atas kekuasan sendiri. sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. Kewajiban kreditur pemegang gadai 1) Tidak dapat atau tidak wenang untuk memiliki benda jaminan secara otomatis.

sesuai pasal 1155 KUH Perdata. sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata. sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. 2) Berhak menuntut pemegang gadai jika atas penjualan barang gadai telah tidak digunakan oleh penerima gadai guna pelunasan hutang pemberi gadai. sesuai dengan pasal 1152 KUH Perdata. 4) Berhak menuntut penerima gadai untuk mengembalikan barang gadai jika penerima gadai menyalahgunakan barang gadai tersebut. 2) Wajib menyerahkan barang gadai ke dalam penguasaan penerima gadai. sesuai dengan pasal 1158 KUH Perdata. 3) Berhak menuntut penerima gadai sehubungan dengan hilang atau merosotnya nilai barang gadai yang disebabkan karena kelalaian penerima gadai. Kewajiban debitur / penjamin sebagai pemberi gadai 1) Wajib mengganti segala biaya yang telah dikeluarkan oleh pemegang gadai ketika pemegang gadai berupaya mempertahankan keselamatan barang gadai. sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. b. sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata.52 1) Berhak meminta agar pemegang gadai memperhitungkan hasil bunga yang didapatkan dari barang gadai (jika barang gadai berupa piutang atau tagihan yang menghasilkan bunga) dengan kewajiban bunga kredit yang harus dibayarkannya. . 3) Wajib menerima pemberitahuan atas penjualan barang gadai guna pelunasan hutang yang tidak dapat diselesaikan.

Pengertian Deposito Pengertian deposito disebut dalam pasal 1 angka (7) UU Perbankan. Pasal tersebut menyatakan bahwa “Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank” Berdasarkan pasal tersebut. Jika terjadi penyalah gunaan benda gadai oleh pemegang gadai. dimana berdasarkan . Hapusnya perikatan pokok yang dijamin dengan gadai. Berakhirnya Perjanjian Gadai Ada enam alasan yang dikemukakan oleh Satrio perjanjian gadai berakhir. Dilepasnya benda jaminan gadai dengan sukarela. Alasan-alasan itu adalah jika : a. (2002 : 132) dimana E. deposito dikategorikan sebagai bentuk simpanan dana oleh nasabah penyimpan (deposan) kepada pihak bank. 5. f. Adanya percampuran dimana pemegang gadai menjadi pemilik barang gadai. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit 1. b. Musnahnya benda jaminan gadai. c. e. sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. Terlepasnya benda jaminan dari kekuasaan pemegang gadai.53 4) Wajib menyetujui perhitungan pelunasan atas hutang yang dijamin dengan gadai. d. pelunasan mana berasal dari hasil penjualan barang gadai.

tetapi diberikan kesempatan kepada para pihak untuk menentukan syarat-syaratnya. . Kata perjanjian yang terdapat pada pasal 1 angka (7) UU Perbankan tersebut menunjukan bahwa simpanan deposito yang lahir dari perjanjian yang dibuat antara pihak bank dengan nasabah. Referensi dari sarjana lain. Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa deposito adalah simpanan uang ke bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian yang telah disepakati yang dibuat secara tertulis oleh dan antara pihak bank dengan nasabah penyimpan dana (deposan).54 perjanjian antara keduanya. seperti Karim (2004 : 411). tidak terikat bentuknya. dana itu dapat ditarik kembali oleh nasabah setelah jangka waktu tertentu. yang dapat dimintai atau dibutuhkan disebut deposito”. Asas ini sengaja demikian untuk memberikan ruang gerak kepada bank dan nasabah dalam menentukan syarat-syarat deposito yang akan dibuat diantara mereka. juga mengemukakan pendapat bahwa : “uang yang dititipkan pada bank oleh pribadi maupun lembaga usaha tertentu untuk disimpan dan kemudian ditarik kembali saat dibutuhkan atau berdasarkan syarat yang telah disepakati bersama. Anwari (1979 : 12) memberikan pengertian bahwa “deposito adalah nama yang diberikan pada simpanan deposan di bank yang lasim diletakkan pada persyaratan jangka waktu penyimpanan”.

c. Deposito berjangka (time deposit). Bila jangka waktunya telah habis maka kemungkinannya deposan dapat mencairkan atau memperpanjang jangka waktunya. d. Deposito Automatic Roll-over. Jangka waktu deposito ini biasanya bervariasi mulai dari 1. membagi deposito menjadi empat jenis. 6 ataupun 12 bulan. tergantung bank yang bersangkutan. yaitu simpanan deposan dalam jumlah tertentu artinya penempatannya ada syarat jumlah minimal tertentu. tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Deposito on call.55 2. tanpa menunggu konfirmasi lagi ke deposan. Artinya pada saat penempatannya sudah ditentukan syarat perpanjangan otomatis tersebut. 2. Dalam praktek sehari-hari jenis ini lasim disebut deposito biasa. yaitu simpanan dalam rupiah milik pihak ketiga yang penarikannya dilakukan setelah jangka waktu tertentu menurut perjanjian antara bank dan si penyimpan (deposan). b. yaitu : a. perbedaannya dengan deposito berjangka biasa ialah ketika jatuh tempo maka pihak bank harus melakukan perpanjangan jangka waktu secara otomatis. Sertifikat Deposito. Jenis-jenis Deposito Simorangkir dalam bukunya “Seluk Beluk Bank Komersial”. adalah surat berharga yang pada hakikatnya sama dengan surat tanda bukti menyimpan uang. Perbedaan dengan deposito biasa adalah . 3. dan jangka waktu penempatannya minimal 7 hari. biasanya lebih besar dari deposito berjangka biasa.

56 pembayaran bunganya adalah diawal penempatan. biaya kredit yang dikeluarkan oleh debitur dapat ditekan sedemikian rupa sehingga bisa jauh lebih murah . proses permohonan dan approval kreditnya sangat cepat dan tidak berbelit-belit. faktor pendorong deposito diserahkan sebagai jaminan kredit. 3. diterbitkan oleh bank sebagai surat berharga atas unjuk yang dapat diperjual-belikan atau dipindah tangankan. dari sudut debitur. Apalagi jika deposito tersebut keberadaannya (penempatannya) berada di bank pemberi kredit. Selain karena sifatnya yang sangat likuid tersebut. Diterimanya deposito sebagai jaminan kredit tidak terlepas dari sifat kepastian jumlahnya yang memang sangat pasti dan sangat likuid dibanding dengan jaminan-jaminan kredit lainnya. Demikian juga dengan biaya. dalam kredit dengan jaminan deposito (back to back loan). 1988 : 79-88). deposito Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian kredit dengan jaminan memberikan tingkat keamanan yang sangat tinggi dan pasti bagi kreditur. Deposito Sebagai Jaminan Kredit Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian terdahulu bahwa jaminan diperlukan sebagai salah salah satu sumber pembayaran kredit jika kredit yang diberikan bermasalah maka deposito belakangan ini juga berkembang menjadi trend yang berlaku/diterima sebagai jaminan kredit. Dibandingkan dengan kredit dengan jaminan selain deposito. sedangkan deposito biasa diterbitkan atas nama dan tidak dapat diperjual-belikan (Simorangkir. adalah pertimbangan proses permohonan dan approval kredit serta biaya.

” . Terhadap gadai atas benda bergerak tersebut maka hukum yang berlaku adalah ketentuan dalam KUH Perdata pasal 1150 sampai dengan pasal 1160. Hak gadai terjadi dengan penyerahan benda gadai secara nyata sehingga benda tersebut berada di bawah kekuasaan kreditur.57 dibandingkan dengan kredit umum dengan jaminan lainnya. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit Deposito termasuk dalam kategori benda bergerak yang tidak berwujud. sehingga atasnya. Sehingga karenanya. Hak kebendaan (jaminan) atas benda bergerak itu ada pada pemegang gadai. Hal tersebut tercantum dalam pasal 1152 ayat 1 KUH Perdata : “Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga. dapat dibebani dengan hak gadai. deposito jaminan ini juga membawa keuntungan tersendiri sebagai bagian dari pemenuhan target pengumpulan dana-dana pihak ketiga. b. seluruh pengikatan kredit dan jaminannya cukup dilakukan secara dibawah tangan. terdapat bargaining position yang relatif lebih kuat dibanding dengan jenis-jenis kredit dengan jaminan selain deposito. tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak. maka bagi kreditur. Hal ini disebabkan karena dua hal : a. karena kepentingan kreditur yang tidak mau kehilangan bisnis dari sisi pendanaan. 4. yaitu dengan penempatan depositonya di bank yang sama dengan kreditur.

b.58 Gadai merupakan perjanjian accesoir. Tahap kedua. tidak boleh hanya berdasarkan pada pernyataan dari pemberi gadai saja. selanjutnya diikuti dengan penyerahan bilyet deposito yang dijaminkan kepada pemegang gadai. Penyerahan nyata ini dilakukan bersamaan dengan penyerahan yuridis. . dibuat untuk menjamin perjanjian pokoknya yang berupa perjanjian kredit. tetapi benda itu masih berada didalam kekuasaannya. Penyerahan tersebut merupakan penyerahan yang nyata. dalam hal ini pihak bank. maksudnya adalah bahwa sebelum diadakan perjanjian gadai. sehingga penyerahan tersebut merupakan unsur sahnya gadai. Untuk membebankan hak gadai maka setelah pembuatan akta perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank. Maka untuk mengikat deposito sebagai jaminan kredit. c. Tahap pertama. artinya bilyet deposito itu harus benar-benar diserahkan dibawah kekuasaan bank. akta perjanjian gadai dapat dibuat secara sah dengan dilakukan secara notaril maupun dibawah tangan. terlebih dahulu harus ada perjanjian kredit sebagai perjanjian pokoknya. Menurut hukum. Pengikatan kredit sebagai perjanjian pokok dimana didalamnya disebutkan jaminan kredit ini adalah deposito. Tahap ketiga. Pengikatan deposito dilakukan dengan pembuatan akta perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank. akan dilakukan tahap-tahap pengikatan sebagai berikut : a.

Untuk efektifnya pengikatan jaminan deposito. apakah merupakan harta bersama dalam perkawinan atau tidak. Artinya sepanjang kredit sebagai perjanjian pokok belum dilunasi maka sepanjang itu pula deposito jaminan diblokir.59 d. Ini penting guna memenuhi ketentuan hukum dalam penjaminan harta bersama di dalam perkawinan. maka diperlukan persetujuan penjaminan dari isteri atau suami pemilik deposito. sehingga dengan terpenuhinya pengikatan yang dibuat benar-benar mengamankan pihak bank selaku penerima jaminan. pemilik deposito/penjamin harus memberikan kuasa kepada pemegang gadai/pihak bank untuk melakukan pencairan deposito dalam hal pemilik deposito/debitur wanprestasi. perlu diperhatikan bagaimana status keberadaan deposito tersebut. Tetapi jika di dalam perkawinannya tidak ada perjanjian kawin. Kuasa mencairkan deposito ini adalah juga bentuk nyata penyerahan yuridis deposito kepada bank untuk memudahkan pihak kreditur dalam melakukan pelunasan kredit yang dijamin dengan deposito tersebut. . Tahap keempat. Bersamaan dengan tahap ketiga. Kreditur selaku penerima gadai deposito akan melakukan pemblokiran atas deposito jaminan tersebut sesuai dengan jangka waktu perjanjian kreditnya. pemilik deposito dapat bertindak sendiri tanpa adanya persetujuan dari isteri atau suaminya. maka dalam hal pengikatannya. e. Tahap kelima. sehingga demi hukum harus dipandang bahwa telah terjadi persatuan harta secara bulat. Untuk itu perlu diperhatikan status perkawinan daripada debitur atau penjaminnya. Jika di dalam perkawinan tersebut ada perjanjian kawin yang menyebabkan tidak ada percampuran harta.

yang menitik beratkan pada penelitian lapangan (studi lapangan) guna mendapatkan data primer.60 BAB III CARA PENELITIAN Sebagai suatu hasil karya ilmiah yang memenuhi nilai-nilai ilmiah. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan empiris . Laporan hasil penelitian ini bersifat deskriptif analitis. artinya laporannya menggambarkan (mendeskripsikan) fakta-fakta empiris di lapangan dengan menggunakan analisa normatif sehingga fakta-fakta tersebut mempunyai makna dan kaitan dengan permasalahan yang diteliti. Bank Danamon Indonesia. Dan untuk menunjangnya dilakukan penelitian kepustakaan (studi literatur) untuk memperoleh data sekunder. Tbk Kantor Cabang Manado merupakan suatu penelitian hukum empiris (yuridis-empiris). Sifat Penelitian Penelitian mengenai Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) khususnya terhadap pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito di PT. maka penelitian ini dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sistematis dan metodologis seperti terurai berikut : A.

Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat yang diurut berdasarkan hirarki perundang-undangan yang meliputi : 1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). . 5) Memorandum-memorandum tentang jaminan kredit yang berlaku di PT. 2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Jenis Penelitian Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) jenis penelitian berupa : 1. 4) Akta Perjanjian Kredit dan Akta Gadai Deposito yang berlaku di PT. TBk. B. Bank Danamon Indonesia. yaitu data yang sudah tersedia yang berasal dari : a. 3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 2) Literatur yang membahas mengenai hukum perjanjian. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang meliputi : 1) Literatur yang membahas mengenai masalah perbankan.61 di lapangan dan akhirnya didapatkan solusi hukum berdasarkan data yang diperoleh. Penelitian Kepustakaan (studi literatur) Penelitian kepustakaan dilakukan dalam rangka memperoleh data sekunder. b. Bank Danamon Indonesia. TBk.

penulis adalah mantan karyawan PT. Jl. a. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum. Bank Danamon Indonesia.62 3) Literatur yang membahas mengenai hukum jaminan. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan ini adalah studi dokumen atas bahan-bahan hukum tersebut. Tbk Kantor Cabang Manado. b. Penelitian Lapangan (studi lapangan) Penelitian lapangan dilakukan dengan tujuan untuk primer. Toar No. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah PT. 2. c. Tbk Kantor Cabang Manado sebagai kreditur pemberi kredit dan nasabah debiturnya yang memperoleh fasilitas kredit dengan jaminan deposito (kredit back to back). ensiklopedia dan lain-lain.Bank Danamon Indonesia. memperoleh data . Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan untuk kemudahan akses penelitian karena sebelum mengambil studi notariat. Bank Danamon Indonesia. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. yaitu data yang langsung diperoleh dari sumbernya. Propinsi Sulawesi Utara.17 Manado. d. TBk selama 13 tahun dan terakhir berkantor di Kantor Cabang Manado.

Teknik Pengambilan Sampel Penentuan sampel terhadap nasabah dilakukan dengan teknik random sampling (acak) diantara nasabah debitur yang memperoleh fasilitas kredit back to back. Apraisal Officer. yang hanya memuat garis besar tentang hal yang akan ditanyakan. Bank . Dengan demikian yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah : 1) Business Manager (BM). Tbk Kantor Cabang Manado yang memiliki fasilitas pinjaman dengan jaminan deposito (kredit back to back). Tbk Kantor Cabang Manado. Account Officer atau Marketing Officer (AO atau MO). dalam hal ini pedoman wawancara tidak terstruktur. Tbk Kantor Cabang Manado adalah 10 (sepuluh) debitur. 2) Nasabah debitur PT. selanjutnya dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan teknik wawancara bebas guna PT. Dari random yang dilakukan terpilih 4 (empat) debitur back to back sebagai responden. Alat dan Cara Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam penelitian lapangan ini adalah pedoman wawancara. yang telah ditentukan secara random. Bank Danamon Indonesia. Bank Danamon Indonesia. Dari jumlah tersebut peneliti mengambil acak sejumlah 4 (empat) debitur untuk dijadikan responden. Jumlah debitur back to back yang ada di PT.63 c. Credit Support Administration (CSA). d. Legal Officer dan Remedial (Collection) Officer dari Danamon Indonesia.

Setelah mendapatkan persetujuan finalisasinya adalah pelaksanaan presentasi dihadapan komisi dosen penguji untuk dipertanggung jawabkan secara ilmiah. yaitu tahap pengolahan (analisis) data yang dilanjutkan dengan penyusunan draft tesis untuk dikonsultasikan dan mendapatkan persetujuan pembimbing. Jalannya Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti alur atau langkah-langkah sebagai berikut : 1. yaitu tahap pra penelitian dengan terlebih dahulu melakukan perumusan masalah yang akan diteliti. Tahap penyelesaian. selanjutnya dibuatkan dalam bentuk proposal penelitian untuk mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing. yaitu tahap pengerjaan penelitian itu sendiri. C. Cara pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara. Tahap pelaksanaan. Tahap ini dilaksanakan dengan dua langkah yaitu penelitian kepustakaan (studi literatur) yang ditujukan untuk menelusuri bahan-bahan pustaka yang relevan untuk diangkat dalam kerangka teoritis.64 mendapatkan data yang dibutuhkan. Tahap persiapan. 3. Setelah proposal disetujui peneliti menyusun pedoman wawancara dan penentuan / pengambilan responden. Wawancara dilakukan dengan wawancara langsung ke tempat para responden berada. 2. dari dosen pembimbing. dan pelaksanaan penelitian di lapangan untuk melakukan pengumpulan data primer dari responden maupun nara sumber. .

Analisa kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan kebenarannya kemudian dihubungan dengan teori-teori yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan. peneliti adalah karyawan PT. Vice Branch Manager di Cabang Palu.65 D. E. Branch Manager di Cabang Toli-toli. dari data primer dan data sekunder yang telah disusun dan ditetapkan sebagai sumber dalam penyusunan tesis ini kemudian dianalisa secara kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Tbk yang bekerja selama 13 tahun dalam berbagai jabatan di beberapa kota. Hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasinya Peneliti tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melaksanan penelitian ini. mulai dari Legal and Appraisal Officer di Cabang Palu. sehingga dapat dijadikan acuan dalam melakukan analisis. Analisis Data Seluruh data primer dan sekunder yang diperoleh dari penelitian lapangan dan pustaka diklasifikasikan dan disusun secara sistematis. karena sebelum mengikuti program studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada ini. Langkah selanjutnya. Account Officer di Cabang Palu . Bank Danamon Indonesia. Sedang metode deskriptif yaitu metode analisis dengan memilih data yang menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan. kemudian sewaktu Bank Danamon Change Management pada saat Bank Danamon diambil alih oleh .

. Dengan cara ini.). menjadi Business Manager di Cabang Amurang. Sehingga dengan demikian para responden (nara sumber) baik yang berasal dari pejabat bank yang berkompeten ataupun nasabahnya sudah saling kenal sebelumnya. hambatan tadi teratasi dengan baik. Hambatan ini diatasi dengan lebih dahulu menghubungi nasabah debitur dengan melakukan telepon untuk meminta kesepakatan waktu bertemu dan peneliti tinggal menyesuaikan dengan kesediaan waktu mereka. Cabang Kotamobagu. dan terakhir berkantor di Kantor Cabang Manado sebagai Senior Account Officer. Ltd. Pte. Satu-satunya hambatan yang ditemui hanyalah pada penentuan waktu untuk wawancara dengan responden debitur yang sekaligus pemilik jaminan deposito disebabkan karena kesibukan dalam usahanya masing-masing.66 Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia.

Bank Risjad Salim Internasional . Bank Danamon Indonesia. delapan bank BTO lainnya dilebur ke dalam Bank Danamon. Bank Danamon Indonesia. Bank Danamon sebagai sebuah bank BTO dilebur ke Perseroan sebagai bagian dari program pembenahan BPPN. Bank Tamara. Gambaran Umum PT. Tbk didirikan pada tahun 1956 dengan nama PT. Saat itu juga. Bank-bank tersebut adalah : Bank Rama.67 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Tbk dan Kantor Cabang Manado 1. Bank Duta. Bank Tiara. Bank Danamon Indonesia. Bank Danamon mencatatkan diri sebagai bank devisa swasta pertama di Indonesia pada tahun 1976 dan menjadi Perseroan Terbuka pada tahun 1989. Sejarah Singkat PT. Pemerintah Indonesia melalui BPPN merekapitalisasi Bank Danamon dengan obligasi pemerintah senilai Rp 32 triliun. Bank Danamon Indonesia. sebagai akibat krisis moneter di Asia. Pada tahun 1997. Pada tahun 1999. Bank Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai salah satu Bank Take Over (BTO). Pada tahun 1976 dilakukan penggantian nama menjadi PT. Bank Nusa Nasional (BNN). Pada tahun 2000. PT. nama itu terus dipertahankan hingga kini. Tbk. Bank Kopra Indonesia.

68 (Bank RSI). sumber daya manusia.. Upaya ini berhasil meletakkan fondasi maupun prasarana baru bagi Perseroan guna meraih pertumbuhan berdasarkan nilai-nilai “Transparansi”. Bank Danamon diambil alih oleh Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia.) sebagai pemegang saham pengendali. Ltd. “Integritas” dan “Profesionalisme” (TRIP). kepemilikan saham Bank Danamon adalah 68. melalui dealing dengan BPPN. Ltd. organisasi.” Visi tersebut berjalan beriringan dengan misinya . Bank Jaya. serta modal 180-hari pemetaan model bisnis dan strategi baru. Kepemilikan terbesar dari Konsorsium Asia Finance ini adalah Temasek. nilai. dan Bank Pos. Pte. Bank Danamon bangkit menjadi salah satu pilar perbankan nasional. Pte. Bank Danamon terus menjalani perubahan transformasional yang dirancang untuk dijadikannya sebagai bank nasional terkemuka dan pelaku regional unggulan. Pada tahun 2003. dan sisanya 31. Dalam menjalankan operasionalnya. Menurut data publikasi Bank Danamon per tanggal 30 September 2007. Dengan kendali manajemen baru.8 % oleh publik. “Responsibilitas”. perilaku serta identitas perusahaan. sistem.2 % oleh Asia Financial (Indonesia) Pte. Dalam kurun waktu tiga tahun berikutnya. sebagai surviving entity. Sejak saat itu.. Ltd. yaitu salah satu BUMN-nya Singapura. Bank Danamon mempunyai Visi : “Kita peduli dan membantu jutaan orang mencapai kesejahteraan (We care and Enable Millions to Prospers). Bank Danamon melakukan restrukturisasi luas mencakup manajemen.

Bank Danamon berhasil mengumpulkan Laba Bersih Sebelum Pajak sebesar Rp. Bank Danamon yang melayani semua segmen dengan menawarkan nilai yang unik untuk masing-masing segmen. dan didukung oleh teknologi kelas dunia.58. diatas . kinerja keuangan Bank Danamon dari bulan Januari hingga bulan September 2007 dinilai sangat baik. Nilai-nilai tersebut adalah “Peduli (caring). Laba Bersih Setelah Pajak Rp.153 Milyar dan berhasil membukukan dana pihak ketiga sebesar Rp. Berdasarkan data publikasi Bank Danamon per tanggal 30 September 2007. Aspirasinya adalah menjadi perusahaan pilihan untuk berkarya dan yang dihormati oleh nasabah. berdasarkan keunggulan penjualan dan pelayanan.5 %). pemegangan saham. Kerjasama (teamwork) dan Profesionalisme yang disiplin (disciplined professionalism). Mengupayakan yang terbaik (passion to excel). Sebagai suatu organisasi yang terpusat pada nasabah. regulator dan komunitas dimana Bank Danamon berada.2.600 Milyar (ROAA 2.50. karyawan.542 Milyar. Bank Danamon memiliki nilainilai yang harus dipegang teguh oleh seluruh karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya.69 “Danamon bertekad untuk menjadi Lembaga Keuangan Terkemuka di Indonesia yang keberadaannya diperhitungkan”. Rasio kecukupan modalnya (CAR) adalah 19. Guna merealisasikan Visi dan Misi tersebut. Dengan Total Aktiva Rp.987 Milyar.8 %. terjadi peningkatan yang signifikan dibanding periode yang sama pada tahun 2006.1. Jujur (honesty).2 %.853 Milyar.87. dengan cost to income ratio sebesar 46. Total kredit yang disalurkan adalah Rp.

Bank Danamon juga telah memiliki unit usaha syariah.400 cabang. tersebar di seluruh wilayah 33 Propinsi di Indonesia. yang dirintis sejak tahun 2002. Selain unit konvensional. di tahun 2007 ini Bank Danamon telah meraih beberapa penghargaan yang cukup prestisius dan membanggakan yakni. angka ini masih berada dalam angka yang terkendali dan dibawah angka rata-rata perbankan nasional. telah mendapatkan penghargaan antara lain The Best Phone Handling dan The Best Overall Service Quality dari Islamic Banking Quality Award pada tahun 2005. pemenang ketiga Best Syariah Banking pada tahun 2006 dan The Most Innovative Syariah Bank pada bulan September 2007. . dengan 3 unit Kantor Cabang Pembantu dan 12 Cabang Office Channeling.8 %. pemenang kedua Loyalty Index Syariah Banking pada tahun 2005. Worlds Best Trade Finance Awards 2007 pada bulan Januari 2007 dan Service Quality Award 2007 pada bulan Maret 2007.000 orang. 7 Kantor Wilayah. Rasio penyaluran kredit dibandingkan total dana pihak ketiga (loan to deposit ratio) termasuk salah satu yang tertingi di perbankan yang ada saat ini.70 ketentuan CAR nasional. Indonesian Bank Loyalty Award (IBLA 2007) pada Januari 2007. Demikian juga dengan unit usaha syariahnya. dengan jumlah karyawan 33. yaitu dengan ratio 85 %. tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Berkat dukungan dari berbagai stake-holder. hingga saat ini telah dibuka 7 Kantor Cabang Syariah. Bank Danamon juga berhasil menekan non performing loan-nya dengan ratio gross 2. Hingga saat ini Bank Danamon di dukung oleh 1.

Operasionalisasi ketiga KCP ini di remote oleh Kantor Cabang Induknya yaitu Kantor Cabang Manado Toar. dinilai memiliki nilai strategis. saat ini Bank Danamon Manado memiliki 3 kantor cabang pembantu. Toar No. Kota Manado. Organisasi kerja Bank Danamon Kantor Cabang Manado didukung oleh empat unit kerja.71 2. Target market unit SME adalah . masing-masing Kantor Cabang Pembantu (KCP) Manado Sutomo. karena selain sebagai kota yang sedang berkembang di Indonesia Timur. berkedudukan di Jl. yang terdiri dari Small Medium Enterpize (SME) dan Consumer atau Primagold Banking (PB). diberi tanggung jawab pada pencapaian target baik dari sisi penyaluran kredit (loan) maupun pengumpulan dana pihak ketiga (funding). Keempat unit kerja ini masing-masing dipimpin oleh seorang Manager yang kedudukan jabatannya selevel satu dengan lainnya. Untuk itulah Bank Danamon membuka kantor cabangnya di Kota Manado. Setiap unit kerja bertanggung jawab atas pencapaian kinerja di unitnya masing-masing. juga merupakan salah satu kota yang menjadi pusat perdagangan di perbatasan Indonesia dan Philipina. yakni : Unit Bisnis. Bank Danamon Kantor Cabang Manado Sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Utara.17 Manado. Unit bisnis yang terbagi dalam dua sub unit. Unit Operasional. dan Supporting Business Unit. sehingga memiliki potensi bisnis yang baik di masa yang akan datang. KCP Ranotana dan KCP Bahu Malalayang. Seiring perkembangan bisnis yang dicapai. Kantor Cabang Manado didirikan pada Bulan Mei tahun 1989.

inkaso. anggota Kepolisian Republik Indonesia dan atau anggota Tentara Nasional Indonesia beserta pensiunannya.5 milyar. kliring.5 milyar. masing-masing unit kerja ini bertanggung jawab secara vertikal ke Kantor Wilayah sesuai garis bidangnya masing-masing. Secara struktural. Dari sisi funding. dengan kriteria total asset produktif nasabah tidak boleh lebih dari Rp. Target market unit konsumer adalah pemberian kredit atas kebutuhankebutuhan konsumtif nasabah. pembelian mobil. SME ditargetkan untuk pencapaian funding yang berasal dari dana-dana hasil usaha produktif nasabah. atau indikator lainnya dari sisi kredit.72 nasabah-nasabah yang memiliki skala usaha kecil-menengah (UKM). pengikatan dan dokumentasi kredit. Unit operasional bertanggung jawab atas seluruh pelayanan transaksi- transaksi tunai maupun non-tunai di teller serta pelayanan jasa-jasa bank lainnya berupa jasa transfer. save deposit box dan sebagainya. misalnya untuk pembelian rumah. target market unit consumer adalah nasabah-nasabah perorangan yang memiliki variabel fixed income. dan pembuatan laporan-laporan perkreditan ke Bank Indonesia. pegawai negeri. pembukuan. Sedangkan unit supporting bisnis bertanggung jawab atas penata-usahaan. seterusnya . pembelian sepeda motor dan / atau kebutuhan-kebutuhan konsumtif lainnya. Dari sisi funding. yang pekerjaannya meliputi administrasi. total kredit perbankan yang dinikmatinya maksimum Rp. anjungan tunai mandiri (ATM). seperti karyawan swasta.

Peran serta ini akan terus bergulir seiring dengan tuntutan kinerja cabang yang ditentukan oleh Kantor Pusat Bank Danamon. Dari data Statistik Bank Indonesia Manado. mengindikasikan angka-angka kinerja yang cukup baik. Dengan dukungan karyawan yang berjumlah 145 orang.0 milyar. 3. Dari sisi kredit.9 % dari total penyaluran kredit perbankan yang ada di wilayah Kota Manado sebesar Rp. Dari segi profitabilitas. dengan total asset Rp.16.1. Di sisi funding juga demikian. Angka-angka ini membuktikan bahwa kinerja bisnis Kantor Cabang Manado cukup berperan dalam kerangka pembangunan ekonomi masyarakat guna peningkatan taraf hidup seluruh rakyat Indonesia.836 milyar.3. sesuai data per tanggal 30 September 2007.5 % dari total funding perbankan sebesar Rp.6. Penyaluran kredit terkontrol dengan baik. cukup diperhitungkan oleh bank-bank kompetitor yang ada di Manado.7 milyar. Pencapaian Bisnis Bank Danamon Cabang Manado Keberadaan Bank Danamon Kantor Cabang Manado.389. Bank Danamon Cabang Manado berhasil memperoleh laba sebesar Rp. Bank Danamon Cabang Manado bertekad untuk terus berkarya dan .972 milyar. per tanggal 31 Agustus 2007.73 Kantor Wilayah bertanggung jawab kepada Divisinya masing-masing di Kantor Pusat dan terakhir Divisi bertanggung jawab kepada Dewan Direksi. hal itu nampak pada angka gross kredit bermasalah yang hanya sebesar Rp.6 milyar. Bank Danamon berhasil menguasai market share sebesar 12. berhasil menguasai market share sebesar 9.

sehingga seluruh masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh fasilitas kredit di Bank Danamon. selain tentunya berusaha untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu sebagaimana ditargetkan oleh Kantor Pusat. Untuk menunjang upaya penetrasi pasar. Dalam kerangka itu.74 memberi warna dalam upaya peningkatan taraf hidup seluruh masyarakat Indonesia. akses masyarakat untuk memperoleh fasilitas kredit terus dibuka. Pelaksanaan Kredit dengan pengikatan Jaminan Deposito Yang Tidak Turut Ditanda-tangani oleh Isteri atau Suami Pemilik Deposito Jaminan 1. B. Dari tahun ke tahun. Bank Danamon terus berupaya meningkatkan angka penyaluran kredit kepada masyarakat. Hasil Penelitian a. karena harus melalui proses tahap-tahapan analisa kelayakan terlebih dahulu. sehingga hanya nasabah yang benar-benar bankable-lah nantinya yang akan menikmati fasilitas kredit. Bank Danamon menawarkan berbagai jenis kredit yang dikemas sedemikian rupa mengikuti tuntutan . tidak semua masyarakat tentunya dapat menikmati fasilitas yang ditawarkan itu. Tetapi sungguhpun demikian. Penelitian Terhadap Responden Bank Telah dikemukakan diatas bahwa Bank Danamon Manado terus menunjukan eksistensinya dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat pada umumnya.

dari waktu ke waktu terus dievaluasi dan dilakukan penyesuaian dengan tuntutan kebutuhan pasar yang semakin hari juga semakin kompetitif. Post Export Financing dan Rediscontro. Sedangkan untuk kebutuhan konsumtif terdapat fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Kredit Sepeda Motor (KPSM). terdapat Kredit Angsuran Berjangka (KAB) yang jangka waktu pengembaliannya dapat disesuaikan dengan cash flow usaha nasabah. Trust Receipt.75 kebutuhan pasar yang ada. Langkah ini mau tak mau harus dilakukan agar Bank Danamon tetap dapat bersaing di tengah semakin ketatnya persaingan pasar. Guarantee Bank. Kredit Pemilikan Mobil (KPM). Untuk kebutuhan investasi berupa pembelian atau pembiayaan barang modal usaha seperti mesin-mesin. karena disaat yang sama bank-bank kompetitor juga semakin ekspansif dalam penyaluran kredit. ataupun ekspansi usaha lainnya. pembukaan out-let baru usaha. Untuk fasilitas penunjang usaha lainnya dalam bentuk non-cash loan terdapat produk-produk trade-finance seperti L/C. Pre Export Financing. renovasi tempat usaha. Kebijakan dan prosedur penyaluran kredit. yang tergantung kepada kebutuhan konsumtif nasabah. dan Kredit Multi Guna (KMG). Salah satu perubahan mendasar yang dilakukan adalah pola marketing. Terdapat berbagai pilihan variasi produk yang masing-masing memiliki karakter dan keuntungan sendiri-sendiri. Untuk kebutuhan modal kerja. dari pola . terdapat Kredit Rekening Koran (KRK) dan Kredit Berjangka (KB).

satu perkembangan yang cukup positif dalam praktek belakangan ini adalah pemberian jaminan berupa deposito. Dari aspek pemberian jaminan. Memo analisa kredit ini berisikan analisa-analisa yang berkaitan dengan pemenuhan prinsipprinsip perkreditan yang dikenal dengan “the 5 principles of credit”. Setelah melakukan taksasi jaminan. Marketing Officer (MO) atau biasa dikenal juga Account Officer (AO) sebagai ujung tombak di lapangan di haruskan untuk aktif melakukan approach untuk mendapatkan prospek nasabah. marketing officer mengolah data yang ada untuk selanjutnya dibuatkan memo analisa kredit dalam bentuk proposal kredit dan diajukan kepada komite kredit yaitu pejabat pemegang wewenang memutus kredit. maka MO akan melakukan collecting data yang diperlukan. Dari prospek nasabah ini MO akan melakukan analisa-analisa awal.76 yang lama marketing pasif “menunggu di tempat” dirubah menjadi marketing aktif “turun ke pasar”. aspek keuangan nasabah berupa laporan keuangan. serta aspek collateral. Jika hasil penilaian awal baik. apakah memungkinkan untuk diproses lebih lanjut atau tidak. berupa bukti kepemilikan atas barang jaminan yang akan diserahkan guna menjamin kredit. untuk disetujui sesuai limitnya. mulai dari data legal aspect usaha berupa ijin-ijin usaha. Dari sini nantinya Komite Kredit akan me-review dan selanjutnya dikeluarkan Memo Keputusan Kredit (MKK atau Credit Approval). mutasi rekening bank yang dimiliki. Untuk mengakomodir demand pemberian jaminan dalam bentuk deposito .

karena kredit jenis ini benar-benar atas pertimbangan jaminan (based on collateral). Pengikatan kredit dan jaminan pada kredit back to back cukup dilakukan dengan akta dibawah tangan. Perbedaannya terletak pada proses pengajuan dan approval kreditnya. Pertimbangannya adalah karena barang jaminan tersebut ada dalam . Bank Danamon memberikan target service level yang lebih singkat dibandingkan dengan kedit umum lainnya. pengikatan kredit dan jaminannya. Dari segi pengikatan kredit dan jaminannya. terdapat beberapa perbedaan penanganan terhadap produk kredit ini.77 tersebut. Dalam proses pengajuan kredit back to back. pengikatannya harus dilakukan secara notaril. untuk kredit back to back hanya satu hari kerja. analisa mendalam tidak perlu dilakukan selayaknya kredit umum lainnya. Dibandingkan dengan jenis-jenis kredit umum yang telah disebutkan diatas. maintenance debitur dan penentuan plafond kredit yang dapat diberikan. berbeda halnya dengan kredit back to back. Dengan demikian. Service level yang diukur sejak dari pengajuan kredit oleh MO hingga pengikatan dan pencairan kreditnya. Bank Danamon menciptakan suatu produk kredit yang cukup ekslusif dengan nama Kredit dengan Jaminan Deposito atau di internal Bank Danamon lasimnya disebut Pinjaman dengan Jaminan Deposito (PJD atau kredit back to back). pada kredit umum dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan ataupun berupa jaminan lainnya.

Tetapi hal penting yang diperhatikan oleh bank dalam hal ini adalah pemenuhan aspek hukum dalam pelaksanaan pengikatannya. Baik perjanjian pokoknya yang berupa Perjanjian Kredit maupun perjanjian accesoir-nya berupa Perjanjian Gadai Deposito. perjanjian itu selain ditanda tangani oleh debitur/pemilik jaminan.78 penguasaan Bank Danamon. cabang selaku pelaksana di lapangan tinggal mengisi blanko yang sudah ada. Dalam pengikatan kredit dan jaminannya. Ketentuan standar yang berlaku dalam hal pengikatan perjanjian kredit dan jaminan. selanjutnya memintakan penanda tanganan debitur/penjamin. standar bakunya telah disiapkan. apakah terpenuhi dengan baik atau tidak. juga harus turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur atau oleh isteri atau suami pemilik jaminan deposito. digunakan format standar yang telah dibakukan oleh Kantor Pusat Bank Danamon. sehingga dipandang sudah sangat aman bagi bank. maka perjanjian gadai deposito tersebut diikuti dengan Surat Kuasa Mencairkan Deposito yang diberikan oleh debitur atau pemilik jaminan deposito. Akan tetapi karena umumnya latar belakang munculnya kredit back to back adalah atas inisiatif bank yang menawarkan faslitas itu kepada . Ketentuan ini dikecualikan jika terdapat bukti-bukti yang kuat yang menyatakan bahwa dalam perkawinan debitur/penjamin terdapat perjanjian kawin. Untuk lebih memberikan alas hak kepada bank. Semua format pengikatan ini telah distandarisir oleh kantor pusat.

Normatif ketentuan dalam pelaksanaan pengikatan tersebut memang sangat ideal. sehingga golongan ini memiliki bargaining position tersendiri di mata .79 debitur. khususnya terhadap kredit back to back. isteri atau suami debitur/pemilik jaminan deposito wajib hadir dan turut membubuhkan tanda tangan pada formulir perjanjiannya. Maka dalam pelaksanaan perjanjian jaminannya. tetapi sebagus-bagusnya aturan itu dirumuskan untuk dilaksanakan. Dalam praktek. tidak selamanya seratus persen mulus terlaksana dalam praktek seperti yang diharapkan. Untuk itu bank memberi perlakuan (jalan pintas) dengan menggeneralisir bahwa tidak ada perjanjian kawin. maka dokumen menyangkut perjanjian kawin jarang dimintakan konfirmasinya kepada debitur/penjamin. dan inisiasi kredit itu berasal dari pihak bank untuk tujuan pencapaian bisnis. Untuk itu setiap perjanjian yang dibuat harus turut ditanda tangani atau mendapatkan persetujuan daripada isteri atau suami debitur/penjamin. Ini dilatarbelakangi oleh karena pada umumnya yang memiliki deposito itu adalah nasabah yang secara ekonomi cukup kuat (kalangan berkecukupan atau the have). sehingga beranggapan bahwa seluruh harta dalam perkawinan adalah harta bersama suami-isteri dari debitur/penjamin secara bulat (terjadi persatuan harta secara bulat). terdapat berbagai macam argumentasi yang menyebabkan aturan tertulis tersebut diterobos bahkan disimpangi.

dalam urusan penempatan deposito isteri atau suami tidak pernah dilibatkan. Pelaksana dan management cabang bukannya tidak menyadari resiko hukum yang dihadapi. Maka terjadilah pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya tanpa turut ditanda tangani oleh isteri/suami pemilik deposito. debitur mensyaratkan agar perjanjian kredit dan atau jaminan depositonya tidak ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Menyadari bargaining position-nya. karena depositonya bisa dicairkan atau dipindahkan ke bank lain. deposito atas nama debitur sendiri. Diperhadapkan dengan adanya tarik menarik kepentingan ini. sibuk. jika memenuhi permintaan debitur/pemilik deposito sama artinya dengan mengabaikan aspek hukum. debitur yang sekaligus juga pemilik deposito mengajukan syarat dispensasi-dispensasi dalam hal pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya. dari sisi kredit. tetapi pertimbangan bisnis selalu menjadi pilihan . Hal ini tentu membuat bank dalam posisi sulit. pada akhirnya bank memilih mengikuti kemauan nasabah. setelah menempuh prosedur standar internal bank.80 bank. dan sebagainya. Berdasar alasan-alasan tersebut. Disisi lain. Alasan-alasan yang umum dikemukakan oleh debitur adalah tidak mau repot. jika tidak memenuhi permintaan debitur/pemilik deposito jaminan berarti kemungkinan bank akan kehilangan bisnis dari dua sisi sekaligus : dari sisi funding. sehingga membuka celah hukum yang dapat melemahkan bank. tidak ada incremental kredit karena kredit tidak jadi realisasi.

Maka dengan motivasi bisnis. pelaksana di cabang menempuh jalan dengan mengajukan permohonan one up level approval (OLA) yaitu mengajukan permohonan persetujuan atas penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat di Jakarta. Untuk itu. maka debitur diwajibkan membuat pernyataan bahwa atas .81 “terpaksa” jika diperhadapkan dengan masalah di atas. komite kredit kantor pusat akan memberikan rekomendasi (solusi) dengan syarat agar cabang memenuhi salah satu alternatif solusi. yang dilakukan secara terpisah dari pengikatan kredit dan gadai deposito oleh isteri atau suami debitur/penjamin. cabang melakukan terobosan dengan cara berupaya mengalihkan resiko kepada pemutus kredit di kantor pusat. sehingga cenderung menyetujui realisasi kredit dengan pelaksanaan pengikatan sesuai permintaan nasabah. termasuk mengajukan kredit dan menjaminkan seluruh harta bersama kepada bank. Pengalaman yang ada bahwa komite kredit kantor pusat dalam menanggapi dan merekomendasikan permohonan cabang tidak lepas dari pertimbangan business orientation. 2) jika surat persetujuan yang sifatnya umum tersebut tidak dapat diberikan. yang isinya menyetujui tindakan hukum apapun yang dilakukan oleh suaminya. Dalam menanggapi permohonan cabang. sebagai berikut : 1) disyaratkan agar dibuat persetujuan umum.

melainkan cukup dengan media telepon saja. Maka untuk mengatasi hal itu. Itupun tidak diwajibkan harus melakukan on the spot kepada nasabah. Dengan kegigihan cabang berargumentasi. cabang akan kehilangan bisnis dari dua sisi : kredit dan funding (deposito). pelaksana di cabang akan terus melakukan permohonan dengan mengajukan argumentasi dan perbandingan bisnis yang nyata (akan terjadi) bahwa jika syarat nasabah tidak diikuti maka kredit terancam batal realisasi. Perbedaan lainnya adalah dalam hal account maintenance. account maintenance setelah kredit dicairkan cukup dilakukan oleh Marketing Officer sekali sebulan. Berdasar rekomendasi komite kredit kantor pusat maka dilaksanakanlah pengikatan kredit back to back tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin (pemilik deposito).82 segala resiko yang timbul dari kredit dan deposito jaminan ini adalah dalam tanggung jawab debitur sepenuhnya seorang diri. Pada kredit umum. Untuk kredit back to back. Sebaliknya. account maintenance dilakukan . jika tanpa rekomendasi dari pemutus kredit. pada akhirnya (selalu terjadi demikian). komite kredit kantor pusat merekomendasikan deviasinya. Solusi ini sebetulnya juga merupakan bentuk upaya dari komite kredit untuk bebas dari tanggung jawab hukum atas pemberian persetujuan yang menyimpang akan tetapi pada prakteknya tidak selalu disetujui oleh debitur/penjamin. sehingga dengan batalnya realisasi. cabang tidak akan melakukan pengikatan.

komite kredit dapat menyetujui hingga maksimum sama besarnya dengan jumlah deposito jaminan yang diserahkan. minimal dalam sebulan. adalah penempatan deposito harus secara automatic roll over (ARO) dan bunga dikapitalisasi ke pokok. Sedangkan untuk suku bunga kreditnya adalah suku bunga deposito + 2 %. pertimbangan yang cukup mendasar sehingga dibuatkan produk kredit dengan jaminan deposito ini dilatar belakangi oleh karena faktor keamanan bagi bank. bahwa dengan . penentuan plafond kredit tidak semata-mata berdasarkan pada jaminan yang diberikan. plafond kredit ditentukan sematamata dari jumlah deposito yang dijaminkan. Tingkat suku bunga deposito jaminan hanya dapat diberikan counter-rate artinya deposito jaminan tidak diperkenankan menggunakan special rate. artinya suku bunga kredit dengan jaminan deposito bunganya lebih mahal 2 % dibandingkan dengan bunga depositonya sendiri. Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas. sedangkan pada kredit umum. MO harus on the spot kepada debitur. tetapi gabungan dari seluruh aspek penilaian kredit. Selisih bunga ini diharapkan oleh bank akan menutupi overhead cost atas maintenance debitur back to back. Hal lainnya yang berbeda adalah tentang penentuan plafond kredit. artinya selisih bunga ini membiayai diri sendiri. Dalam kredit dengan jaminan deposito.83 lebih intensif. Ketentuan yang berlaku jika plafond kredit back to back diberikan sama dengan jumlah deposito yang diserahkan.

Pada kredit back to back biaya . b. sedangkan kredit back to back sudah bisa cair hanya dalam waktu paling lama 2 hari kerja. waktu prosesnya paling cepat dalam 14 hari kerja. Dari lama proses.84 sifat deposito yang pasti jumlahnya dan sangat likuid dibandingkan jaminan lainnya. Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik Deposito Jaminan Dari penelitian lapangan yang dilakukan kepada para debitur kredit dengan jaminan deposito diketahui bahwa latar belakang mereka mengajukan kredit back to back umumnya disebabkan karena probalilitas persetujuan kreditnya yang sudah pasti. juga yang paling besar biayanya adalah biaya pengikatan jaminan di notaris serta biaya asuransi atas objek jaminan. Selain itu. Dari segi biaya. keamanan bank atas resiko kredit ini sudah pasti teratasi dengan penguasaan barang jaminan secara fisik oleh bank. tidak bertele-tele dan biaya murah. memang menghendaki agar depositonya dijaminkan guna mendapatkan kredit bank. proses persetujuannya cepat. setelah mengajukan permohonan peluang diterimanya hanya 50 %. aspek birokrasi dalam pengajuan dan pencairan kredit diperpendek. Berbeda dengan kredit umum dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan. Dan dengan penjaminan deposito ini. kalau kredit umum dengan jaminan bukan deposito. dari sisi debitur. pada kredit umum dengan jaminan selain deposito. selain biaya provisi dan administrasi. selain itu juga biaya dapat ditekan sedemikian rupa.

yang ada hanya dikenai biaya provisi dan administrasi. artinya bisa saja debitur menggunakannya kepada hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pembiayaan usaha. Sedangkan jika menggunakan kredit bank. Umumnya mereka berpendapat bahwa perjanjian itu hanya memenuhi formalitas saja. Jika deposito yang dicairkan dan dipakai sebagai penambah modal dalam kebutuhan usaha. Faktor lain yang juga melatar belakangi diberikannya deposito sebagai jaminan kredit adalah faktor psikologis penggunaan kredit bank. itupun masih dapat ditekan 50 – 75 % dari provisi administrasi pada kredit umum. Dalam pengikatan kredit dan jaminan deposito.85 pengikatan di notaris dan asuransi jaminan tidak ada. sehingga dari usaha itu menghasilkan uang guna pembayaran kewajiban ke bank. debitur merasa ada beban tersendiri yang harus dipikul. maka para nasabah umumnya tidak secara detail memperhatikan isi dari perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bank. yang penting sudah ditanda tangani supaya kreditnya cepat cair. dan karena itulah maka penggunaannya benar-benar difokuskan kepada pembiayaan usaha yang produktif. karena memang bawaannya adalah milik sendiri maka pemakaiannya biasanya kurang ketat perhitungannya. Debitur atau pemilik deposito jaminan tidak sampai berpikir jauh tentang konsekuensi hukum dari apa yang mereka tanda tangani dalam perjanjian kredit dan . karena pada dasarnya yang dibutuhkan oleh nasabah adalah kecepatan pencairan kreditnya.

para debitur penerima kredit back to back tidak mau tahu jika pengikatan-pengikatan yang dibuat oleh bank terlalu menyulitkannya misalnya dengan mengharuskan isteri atau suaminya turut ikut menanda tangani perjanjian. Berangkat dari latar belakang pengikatan yang hanya memenuhi formalitas saja. maka yang berhubungan dengan bank hanyalah siapa yang tertulis di dalam bilyet deposito tersebut. adalah golongan yang keras dengan pandangannya bahwa bagaimanapun isteri atau suami tidak perlu untuk turut ikut menanda tangani perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bank. Logika yang dipegang oleh debitur adalah bilyet deposito tertulis atas namanya. konsekuensinya kredit back to back yang telah disetujui tidak akan direalisasikannya. Kalau dipaksakan oleh bank. Ketika ditanyakan dengan pertanyaan bagaimana jika pihak bank memaksakan agar isteri atau suaminya turut bertanda tangan dalam perjanjian kredit dan jaminannya? Tentang hal ini ada dua pendapat yang sedikit berbeda satu dengan lainnya. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah jika kreditnya bermasalah maka deposito itulah yang dicairkan guna pelunasannya. karenanya adalah hal yang wajar juga jika mereka tak mau tahu dan tak mau mengerti jika isteri atau suaminya turut dibawa-bawa dalam perurusan tersebut. dan debitur . isteri atau suami tidak pernah dilibatkan oleh bank.86 gadai jaminan deposito. yang pertama. Bahwa selama penerbitan bilyet deposito.

Dalam pelaksanaan penandatanganan perjanjian kredit dan gadai jaminan deposito. debitur tidak membaca detail isi perjanjiannya. adalah mereka yang cukup moderat dengan sedikit mengalah. Ketika ditanyakan tentang hal ini mengapa. Penggunaan kredit back to back bagi debitur tidak ada bedanya dengan penggunaan kredit umum lainnya. maka mereka mengikuti saja. hanya membuang-buang waktu kerja saja. jika memang bank memaksa untuk itu.87 memilih depositonya yang dicairkan atau dipindahkan sebagai jaminan ke bank lain yang lebih mudah ketentuannya untuk tambahan modal usaha. tetapi . Pandangan kedua. maka persoalan selesai. tetapi intinya hanya persetujuan umum bahwa isteri atau suaminya menyetujui suami atau istrinya memperoleh pinjaman di bank dan kemudian menjaminkan barang-barang yang merupakan harta bersama dalam perkawinan. umumnya selain berargumentasi bahwa hanya melakukan formalitas bank. juga karena semuanya telah dibuat dalam bentuk format baku. ada sedikit kompromi yaitu dengan jalan membuat surat persetujuan dalam dokumen tersendiri. Jika jalan kompromi telah didapatkan. Yang inti dipegang oleh debitur adalah jika kreditnya bermasalah maka depositolah yang dicairkan. Debitur tidak secara khusus memperuntukkan dana kredit ini hanya untuk kebutuhan tertentu. maka perjanjian dapat segera direalisasikan. Membaca dan menanyakan detail isi perjanjian adalah hal yang tidak berguna.

2) Untuk dokumentasi hukum jika terjadi kredit bermasalah yang dapat merugikan bank. Inilah yang umum menjadikan deposito menjadi salah satu alternatif pengajuan kredit kepada bank. Jadi keuntungan menggunakan kredit ini adalah dalam hal waktu proses kredit cepat dan biayanya murah. perjanjianperjanjian tersebut telah distandarisir sedemikian rupa oleh Kantor Pusat. Dalam teori dalam hubungan hukum antara bank dan debitur mempunyai . artinya pelaksana bank tinggal mengisi kolom-kolom yang kosong sesuai dengan data debitur dan fasilitasnya. sehingga pelaksana di cabang tinggal menyesuaikan dengan debiturnya. Praktek umumnya bank. Pembahasan Pemberlakuan bentuk perjanjian tertulis dibidang perkreditan bank merupakan salah satu pelaksanaan asas kehati-hatian dalam hubungan hukum antara bank dengan debitur. 2. termasuk Bank Danamon.88 semuanya dipakai untuk usaha. bahkan dalam pelaksanaannya telah dibuatkan dalam bentuk formulir atau blanko perjanjian. Dengan lain perkataan bahwa dibuat tertulisnya perjanjian kredit dan atau perjanjian-perjanjian lainnya yang timbul tujuan : 1) Untuk menjamin kepercayaan secara timbal-balik antara bank dan debitur.

Untuk penyeragaman isi dari klausul-klausul perjanjian kredit di seluruh cabang Bank Danamon. Dari sisi ini diharapkan oleh managemen akan melahirkan efisiensi waktu sehingga pekerjaan dapat lebih terukur efektifitasnya. disyaratkan adanya tiga dokumen yang harus dibuat. c. Ketiga dokumen hukum tersebut adalah sebagai berikut : a. perjanjian semacam ini disebut sebagai perjanjian standar atau perjanjian baku. c.89 perjanjian. dimaksudkan untuk : a. Untuk memperoleh kesempurnaan dan daya ikat yang efektif dari suatu pengikatan kredit dan jaminan deposito bagi kredit back to back. sebagai perjanjian jaminannya. Perjanjian Kredit. Untuk kepraktisan bagi pelaksana di cabang. Surat kuasa mencairkan deposito . Perjanjian gadai deposito. b. Untuk memudahkn monitoring atau supervisi atas legal documentation. sehingga memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi dan dapat segera diidentifikasi adanya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan pengikatannya. Pemberlakuaan bentuk perjanjian kredit berikut perjanjian jaminannya yang bersifat standard dan baku dalam hubungan hukum antara bank dengan debitur/penjamin. b. sebagai perjanjian pokok. dalam hal ini bagian legal Bank Danamon di dalam melakukan pengikatan kredit.

menyetujui atau menolak. sebaliknya jika tidak maka kredit tersebut terancam tidak terealisasi. praktek perbankan yang terjadi seperti itulah adanya. secara hukum merupakan suatu kelemahan tersendiri bagi bank. Adanya penyimpangan-penyimpangan dalam praktek bahwa pengikatan kredit dan gadai jaminan tetap dilaksanakan tanpa turut ikut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin. maka hukumnya adalah seluruh harta yang diperoleh sepanjang perkawinan adalah harta bersama secara . Tetapi sungguhpun demikian. Dengan tindakan menggeneralisir seluruh debitur kredit back to back bahwa tidak ada perjanjian kawin. jika menyetujuinya maka perjanjian dilaksanakan. Disinilah letak kelemahan perjanjian standar. Ketentuan dasar Bank Danamon yang mengharuskan isteri atau suami dari debitur/pemilik jaminan ikut turut menandatangani perjanjian kredit dan perjanjian gadai deposito jaminan adalah hal yang normatif dilakukan. Hal yang pertama dilakukan menurut hukum adalah mengetahui status perkawinan daripada debitur/penjamin.90 Pada tahap ini tidak ada pilihan bagi debitur/penjamin karena formulirformulir itu telah disiapkan oleh bank. Hanya ada dua kemungkinan bagi debitur/penjamin. tidak adanya kesempatan lagi bagi debitur/penjamin untuk menegosiasi klausul-klausul yang ada di dalamnya. maka perlakuan hukumnya berbeda. apakah didalam perkawinan mereka terdapat perjanjian kawin atau tidak. Apabila terdapat perjanjian kawin dengan mana menyatakan terdapat pemisahan atas harta.

Jadi kelemahan bank disini jelas berkaitan dengan jumlah resiko yang ter-cover. karena masing-masing dari suami ataupun isteri atas deposito tersebut berhak atas separohnya. Terjadi kelemahan hukum karena dalam surat persetujuan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik perbuatan hukum yang menjadi objek perjanjian. Artinya. Dengan dermikian.91 bulat. bank telah di cover dengan separuh nominal kredit saja. Dengan demikian perlakuan hukum terhadap harta bersama satu sama lainnya harus saling memberikan persetujuan. harus dilakukan atas dasar persetujuan suami isteri secara bersama-sama. artinya bank telah tidak dicover penuh sebesar nilai kredit yang dicairkan. Jadi dalam hal ini terdapat potensi kerugian bagi bank jika kreditnya bermasalah. juga tetap mengandung unsur kelemahan bagi bank. Tentang adanya alternatif jalan keluar yang ditempuh bank dalam merealisasikan kredit ini yaitu dengan memintakan persetujuan umum kepada isteri atau suami debitur penjamin. Karena deposito merupakan harta bersama. Demikian juga terhadap perbuatan penjaminan deposito ke bank. secara hukum. dari sudut pandang hukum. dalam hal ini menyetujui suami atau isteri untuk meminjam kredit ke bank dengan jumlah. khususnya hukum perjanjian. surat persetujuan seharusnya berisi tentang perbuatan hukum yang sudah spesifik. Dengan hanya menerima persetujuan . maka nilai deposito yang diikat sebagai jaminan itu menjadi berkurang separoh. jangka waktu dan jenis kredit yang spesifik.

92 yang bersifat umum. C. menjadi dasar hukum yang kuat untuk melakukan penuntutan haknya terhadap deposito yang dijaminkan ke bank. Pelaksanaan pemberian jaminan deposito dengan tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito pada satu sisi merupakan kelemahan hukum bagi bank atas perjanjian yang dibuat. Secara administratif memang membebaskan pelaksana cabang atas penyimpangan pengikatan jaminan. karena tidak menyangkut substansi hukum dan perbuatan hukumnya. Celah hukum ini bisa saja dimanfaatkan oleh isteri atau suami yang memberi persetujuan untuk mengajukan klaim ke bank atas kekaburan persetujuan yang diberikannya. tetapi pada sisi lainnya merupakan kekuatan hukum tersendiri bagi pihak penjamin karena dengan isteri atau suaminya tidak ikut turut menanda tangani perjanjian. Pencairan Deposito Jaminan Yang Tidak Ditanda Tangani Suami atau Isteri Pemilik Deposito Jika kredit macet 1. Jalan terakhir dengan adanya persetujuan atas penyimpangan yang diajukan oleh pelaksana di cabang hanyalah persetujuan yang bersifat administratif. Hasil Penelitian 1) Penelitian Dengan Responden Pihak Bank . ini merupakan satu kelemahan tersendiri bagi bank. tetapi dari aspek hukum penyimpangan ini tetap merupakan kelemahan bagi bank.

Fungsi maintenance account dari debitur ini adalah salah satu tugas dan tanggung jawab pokok MO selain mencari debitur baru untuk pencapaian target. Bentuk-bentuk maintenance terhadap debitur ini dilakukan dengan jalan kunjungan kepada debitur secara periodik. Hasil pertemuan dengan debitur dituangkan dalam bentuk call memo (call visit atau call report). karena dari sini dapat dengan mudah diidentifikasi potensi masalah kredit yang mungkin terjadi di kemudian hari. kondisi keuangan dan atau permasalahan-permasalahan yang ada dalam pengelolaan usahanya. sejak dini MO akan mengetahui potensi masalah ini sehingga di kemudian hari akan mudah pula penanganannya. Keberhasilan dalam melaksanakan fungsi maintenance . Tanggung jawab penanganan kredit bermasalah untuk kredit back to back tetap menjadi tanggung jawab Marketing Officer (MO) sebagai yang bertanggung jawab dalam account maintenance. Informasi-informasi ini menjadi sangat perlu dalam rangka pemeliharaan debitur. Dengan cara ini. Dalam formulir call memo atau call visit atau call report tersebut dituangkan informasi-informasi terbaru debitur dalam hal kemajuan usaha. paling tidak sekali dalam setiap bulan.93 Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa prosedur/penanganan kredit back to back yang bermasalah dilakukan secara lebih simpel dibandingkan hal yang sama terhadap kredit lainnya yang dijamin dengan jaminan selain deposito.

maka resiko kredit bermasalah bisa ditekan. Jika ternyata setelah dilakukan maintain tetap saja timbul masalah dalam pemenuhan kewajiban kepada bank. setelah menunggak bunga dan atau angsuran pokok dalam 3 hari. MO wajib membuat surat Surat Peringatan (SP). sebaliknya jika tidak berhasil maka risiko kredit bermasalah menjadi semakin besar. Pencairan jaminan ini tidak saja akan melunasi terhadap total tertunggak tetapi terhadap seluruh outstanding (O/S) pinjaman yang masih tersisa. maka pola penangananya telah jelas diatur dalam Standard Operating Prosedure (SOP) perkreditan back to back. Dalam surat tersebut selain memberikan peringatan akan tunggakan debitur. ditegaskan juga bahwa jika tetap menunggak maka dalam 14 hari sejak tunggakannya. berturut-turut SP 1 – SP 3 yang mengingatkan tentang pemenuhan kewajiban debitur untuk masa tertentu diwajibkan harus melunasi tunggakannya. akan dibayar secara sekaligus dengan dana dari deposito jaminan. Surat-surat peringatan ini kemudian dilakukan filing oleh bagian administasi kredit guna melengkapi dokumendasi hukum yang ada bagi setiap debitur. jika berhasil menjaga. SOP penanganan masalah ini adalah.94 ini sangat erat hubungannya dengan terjadinya kredit bermasalah. deposito jaminan akan dicairkan guna melunasi total outstanding (O/S) kredit. . Hubungan yang terjadi bisa sebagai hubungan sebab akibat.

Sehingga dengan alasan itu bank tidak mau . Pelunasan kredit dilakukan terhadap seluruh O/S pinjaman tersisa. Dan berdasarkan adanya wanprestasi ini pencairan deposito jaminan dilakukan. Menurut debitur.95 Jika dalam jangka waktu 14 hari debitur tidak juga melakukan pembayaran maka dengan dasar SP 1-3 tersebut telah merupakan dasar hukum yang kuat bagi bank untuk menyatakan bahwa debitur wanprestasi. Dana hasil pencairan deposito tersebut dimasukkan ke rekening debitur. 2) Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik Deposito Jaminan Dari penelitian lapangan kepada debitur/penjamin (pemilik deposito jaminan) diketahui bahwa pelaksanaan maintenance account kredit back to back dirasakan tidak dilakukan sepenuhnya dengan baik oleh bank. Pencairan deposito ini dilakukan atas dasar perjanjian gadai dan surat kuasa pencairan deposito dari debitur/penjamin yang telah ditanda tangani pada tahap awal pencairan kredit. tunggakan bunga. selanjutnya dengan tersedianya dana ini maka pendebetan/ pelunasan kredit segera dilakukan. dan denda berjalan sampai dengan hari dilakukan pelunasan atas kreditnya. kemungkinan ini terjadi karena bank di satu sisi merasa sudah sangat aman dengan menguasai deposito jaminan yang diikat secara “ketat” oleh bank.

Menghadapi kenyataan ini. Pembahasan Bank Indonesia adalah pemegang otoritas dalam hal mengeluarkan regulasi. hingga pemberian surat-surat peringatan sebelumnya. maka bank akan melakukan pencairan deposito jaminan. 2. misalnya menggalang komunikasi dengan mencari tahu sumber masalah mengapa kredit tertunggak. Terinformasi dari debitur back to back bahwa ketika kewajiban tertunggak.96 membuang waktu untuk melakukan monitoring kredit dengan langkahlangkah maintain yang benar kepada debitur. Tetapi sungguhpun Bank Indonesia selalu melakukan up-dating peraturan yang . Peraturan Bank Indonesia (PBI) ataupun Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI). kebijakan dan pengawasan perbankan yang ada di Indonesia. Yang lebih memprihatinkan adalah dengan tanpa adanya langkah-langkah persuasif. tiba-tiba saja debitur mendapatkan surat peringatan 1 – 3 dengan ancaman bahwa jika terjadi tunggakan yang terus-menerus untuk jangka waktu 14 hari. Bank Indonesia berupaya selalu meng up-date peraturanperaturan perkreditan yang berlaku bagi seluruh bank dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia (SK Dir BI). Di bidang kredit. tiba-tiba debitur mendapatkan surat pemberitahuan dari bank bahwa seluruh O/S kredit dari debitur telah dilakukan pelunasan dengan pencairan deposito. debitur tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berusaha mengerti kondisi dan kenyataan yang dihadapinya.

maka dalam hal menangani kredit back to back bermasalah. bank-bank yang ada tetap diberi kewenangan khusus untuk membuat regulasinya sendiri-sendiri dengan berpedoman pada ketentuanketentuan Bank Indonesia. Satu kajian hukum yang sangat penting dalam penanganan kredit back to back bermasalah adalah penentuan kapan debitur wanprestasi. Bahwa dalam ketentuan penanganan kredit back to back. Bank Danamon mengeluarkan ketentuan Standard Operating Prosedure (SOP) tersendiri mulai dari tatacara handling sampai pada penanganan kredit bermasalahnya. Dengan demikian ketentuan perkreditan internal berlaku sebagai ketentuan yang harus ditaati oleh bank dan debitur dalam hubungannya dengan kredit yang ada. Tetapi jika tidak dirumuskan secara spesifik tentang kapan terjadinya wanprestasi dalam perjanjian. termasuk kebijakan perkreditan. ketentuan itulah yang berlaku. Menurut Pasal 1238 KUH Perdata.97 berlaku. maka lewatnya . tentang wanprestasi sebaiknya diatur secara jelas dan spesifik dalam perjanjian. Untuk efektifitas pelaksanaannya. Secara periodik harus dilakukan penilaian dan evaluasi atas kinerja pelaksana cabang (user) agar tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan yang dapat merugikan para pihak. perlu dilakukan supervisi dari para atasan (supervisor). Permasalahannya adalah apakah ketentuan tersebut benar-benar telah dilaksanakan oleh para user di lapangan atau tidak.

bonafiditas dan solvabilitas debitur mundur sedemikian rupa sehingga debitur tidak dapat melakukan kewajibannya. d) Bila menurut bank. e) Bila debitur dan atau penjamin mengajukan permohonan dinyatakan pailit. dimana dengan lewatnya waktu saja sudah merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa debitur telah wanprestasi. c) Jika suatu pernyataan. Dalam perjanjian kredit Bank Danamon. . bank dapat dengan seketika dan sekaligus memintakan pelunasan segala kewajiban debitur.98 waktu dalam melaksanakan prestasi sudah merupakan titik dimana salah satu pihak telah wanprestasi terhadap perjanjian. ketentuan tentang wanprestasi sudah secara jelas dirumuskan. b) Debitur tidak memenuhi. apabila : a) Angsuran pokok atau bunga atau jumlah yang terhutang lainnya tidak dibayar lunas pada waktunya. surat keterangan atau dokumen yang diberikan oleh debitur kepada bank tidak sesuai dengan yang sebenarnya. keadaan keuangan. terlambat memenuhi atau memenuhi namun hanya sebagian kewajiban yang diperjanjikan. Menurut Pasal 12 Formulir Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon menyatakan bahwa dengan mengenyampingkan jangka waktu kredit dalam pasal 1.

h) i) Bila barang-barang jaminan disita oleh instansi berwenang. Dengan perumusan yang terdapat pada pasal 12 perjanjian kredit Bank Danamon tersebut telah jelas saat mana seorang debitur dikategorikan telah wanprestasi. Jika salah satu dari hal-hal tersebut diatas dilanggar oleh debitur maka untuk seketika dan sekaligus tanpa perlu adanya surat teguran dari juru sita atau surat lainnya yang serupa dengan itu dan tanpa perantaraan Pengadilan. . Bila debitur dan atau penjamin lalai atau melanggar ketentuan dalam perjanjian kredit. Bila debitur masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia. g) Bila harta kekayaan debitur dan atau penjamin disita oleh instansi berwenang sehingga membahayakan pelaksanaan kewajiban ke bank. Bank dapat langsung menjual harta benda yang dijaminkan oleh debitur dan atau penjamin. j) k) l) Bila perpanjangan kredit tidak dapat lagi dilakukan. Praktek dan itikad baik yang dilakukan oleh Bank Danamon saat ini adalah tetap memberikan SP 1-3 kepada debitur dengan memberi waktu 14 hari guna menyelesaikan tunggakannya.99 f) Bila debitur dan atau penjamin mengambil keputusan bubar atau membubarkan diri (jika debitur adalah perusahaan). Dengan ditandatanganinya perjanjian kredit maka berdasarkan pasal 12 tersebut bank diberi kekuasan untuk melakukan tindakan hukum terhadap jaminan deposito guna pelunasan kewajiban debitur. Bila asset debitur dan penjamin menurut penilaian bank menurun.

Sebaliknya dengan tidak adanya persetujuan dari isteri atau suami pemilik deposito jaminan. apapun tindakan hukum yang dilakukan bank dalam rangka pelunasan kredit yang bermasalah tersebut dipandang sebagai ketentuan yang berdasar hukum dan mengikat bagi para pihak termasuk debitur atau penjaminnya. yang dilakukan berupa menanda tanagani seluruh dokumen perjanjian kredit dan jaminan.100 Pencairan deposito jaminan baru benar-benar akan dilakukan Bank Danamon setelah tenggang waktu ini tidak juga ditaati oleh debitur Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa dasar fundamental dari perjanjian kredit dan jaminan adalah persetujuan. . Dalam hal telah ditanda-tanganinya seluruh dokumen perjanjian dalam pemberian kredit back to back maka dimata hukum. pihak yang tidak turut bertanda tangan tersebut memiliki dasar hukum yang kuat guna melakukan tuntutan hukum kepada bank atas pencairan deposito yang separohnya adalah hak yang bersangkutan. Pemberian persetujuan atas pemberian jaminan deposito yang merupakan harta bersama menjadi sangat perlu diperhatikan oleh bank dalam pelaksanaan pemberian kredit back to back jika bank tidak ingin terjadi kerugian dalam pengembalian kredit. maka dengan adanya hal ini telah meletakan dasar hukum yang kuat bagi para pihak untuk mengikatkan diri dan taat pada perjanjian itu.

Pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin tidak dapat dilakukan oleh cabang jika tidak ada rekomendasi dari komite kredit kantor pusat. sebagai berikut : a) pelaksana di Cabang mengajukan permohonan persetujuan atas penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat. Pengikatan jaminan deposito dengan tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito guna menjamin kredit back to back tidak sepenuhnya melindungi Bank Danamon dari resiko kredit. b) pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin dilakukan berdasarkan rekomendasi komite kredit kantor pusat. sebagai berikut : 1.101 BAB V PENUTUP A. maka dilakukan langkah-langkah yang telah terpola. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukankan di atas maka dapatlah ditarik kesimpulan atas pokok masalah yang diteliti. Bahwa untuk melaksanakan perjanjian gadai atas deposito yang perjanjiannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. 2. Dalam hal terjadinya wanprestasi atas kredit back to back yang pengikatan jaminan gadainya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik .

bank melakukan langkah-langkah yang telah terpola (prosedur standar). yang isinya debitur telah lalai dalam memenuhi kewajibannya. dana hasil pencairan tersebut dikreditkan (dimasukkan) ke rekening debitur. B. dan untuk itu diberi waktu selama 14 hari agar debitur segera menyelesaikan/melunasi kewajiban tertunggaknya kepada bank. d) Langkah terakhir yang dilakukan bank adalah memberikan pemberitahuan tertulis kepada debitur bahwa seluruh O/S kredit berikut dengan tunggakan bunga dan denda. Saran Untuk mencegah terjadinya pengikatan jaminan kredit yang tidak sempurna yang pada akhirnya menyebabkan bank tidak sepenuhnya terlindungi dalam pemberian kredit back to back.102 deposito. b) Jika debitur tidak memenuhi prestasi yang dituangkan dalam SP 1-3 tersebut dalam jangka waktu 14 hari. berikut bunga tertunggak dan denda keterlambatan debitur dengan cara mendebet rekening debitur. c) Langkah selanjutnya adalah melakukan pelunasan atas seluruh outstanding (O/S) kredit. sebagai berikut : a) Memberikan Surat Peringatan 1 sampai 3 (SP 1-3). telah dilakukan pelunasan dengan pencairan deposito jaminan. maka bank melakukan pencairan deposito. maka bersama ini disarankan : .

Bank perlu merubah kebijakan kredit back to back-nya. Pemberian kredit dengan jaminan dengan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami dari pemilik deposito jaminan hendaknya dihindari. karena bagaimanapun bank menyiasati pengikatannya. . 2. Selanjutnya kebijakan itu agar dilakukan secara konsisten dalam pelaksanaannya. tidak semata mendasarkan diri pada orientasi bisnis gna pencapaian target tetapi juga selektif menerima debitur kredit back to back. dimata hukum tetap merupakan pengikatan yang tidak aman bagi pihak bank. Orientasi bisnis perlu dijalankan secara beriringan dengan aspek hukumnya. dengan memperhatikan pemenuhan aspek hukumnya.103 1. karena didalamnya terdapat celah hukum yang dapat digunakan oleh pihak yang tidak turut menanda tangani perjanjian jaminan untuk melakukan tuntutan hukum.

Pasar Modal Indonesia Pengalaman dan Tantangan. Danareksa. Indonesia. New York. Jakarta. Ghalia Ibrahim. T.W dan Maness. Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan. Jhon Wiley and Sons Inc. Hartono. Hermansyah. Media Group. Djuhaendah. Bandung. 1984. 2004. BUKU Anwari. Badrulzaman. Bandung. Cross Default Dan Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah. Balai Aksara. Mariam Darus. Perjanjian Kredit Bank. Bandung. Hukum Perbankan Indonesia. Kencana Prenada Hoey Tiong. Hukum Perbankan Nasional Indonesia. Oey. R. PT. Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal (Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya Lembaga Hak Tanggungan). Praktek Perbankan (Deposito Berjangka). 1989. Hadisoeprapto. PT. New York. Hasan. Marhainis Abdul. Liberty..Citra Aditya Bakti. Yogyakarta. . J.104 DAFTAR PUSTAKA A. PT. 1979. Jakarta. 1987. Jakarta. Bandung. 2006. PT.. The Financial Analisys Desk Book : A Cash Flow Approach to Liquidity. 1991. Hay. Aneka Hukum Bisnis. Credit Analisys A Complete Guide. 1975. 1996. Pradnya Paramita.S.Refika Aditama. PT. Johannes. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. Alumni. Van Nostrand Reinhold. PT. 1994. Henderson. 1983. 1985. Citra Aditya Bakti. Bandung. (Persero). -----------------------------------. Halle. H. Ahmad. Fidusia sebagai jaminan unsur-unsur perikatan. Jakarta.

2002. 2001. Hak Istimewa. Bandung. Citra Aditya Bakti. Dasar-Dasar Hukum Perikatan. ----------. Liberty. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti. Raja Grafindo Persada. Prodjodikoro. 1999. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Analisa Fiqih dan Keuangan. Sowfan. Abdulkadir. Corporate Finance. Satrio. Putra A. Mandar Maju. Hendry P. Hukum Perikatan. PT. Patrik. Hukum Jaminan Di Indonesia PokokPokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan. Purwahid. CV. Sudikno. Jakarta.. Jakarta. Gadai dan Hipotik. Azaz-azaz Hukum Perjanjian. Stephen A.. Bandung. Yogyakarta. Bandung. Liberty. Bardin. Mertokusumo. 1999. Pokok-Pokok Hukum Perikatan. Bandung. Bank Islam. Sri Soedewi Masjchoen. 1992. 2005. Kencana Prenada Media Group. R. Setiawan. Hukum Perikatan.P. Raja Grafindo Persada. Simorangkir. 2004. Jeffrey. Bandung. Liberty. Perikatan Pada Umumnya. Radolph W. Hukum Perdata Hukum Perutangan Bagian B. Kartini dan Gunawan Widjaja. 1980. 1988. Ross. Bandung. -----------------------------------------. Westerfield. 2000. 5th edition. 2004. PT. Jakarta. 1980. Citra Aditya Bakti. Yogyakarta. . Panggabean. 2005. Yogyakarta. Aksara Persada Indonesia. Jafe. J. Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan.105 Karim Adwarman. O. -----------------------------------------------. 1994. Irwin Mc Graw-Hill. PT. 2001. Seluk Beluk Bank Komersial. Muljadi.. Liberty. Mandar Maju. Muhammad. Yogyakarta.. Perikatan Yang Lahir dari Undang-Undang. Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Alasan (Baru) Untuk Pembatalan Perjanjian. PT. Wirjono.

Jakarta. Sukada. Suyatno. Kamus Hukum Edisi Baru. edisi keempat. Ananda dan D. 2005.. Ananta. H.. Bandung. Bandung. R. 2003. 2006. Pengantar Studi Hukum Perdata Jilid I. Jakarta. Thomas. edisi September 2007 Buku Kebijakan Kredit Bank Danamon Indonesia . Pradnya Paramita. 1990. Semarang.Adiwirmata).A. Volmar (diterjemahkan oleh I. C. Chalik. Ignatius Ridwan. Alfabeta. Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia. Rineka Cipta. R. Kitab Undang-undang Hukum Perdata.Y. Raja Grafindo Persada. 2005.. Hukum Perbankan. Dasar-dasar Perkreditan.S. Lembaran Negara Nomor 182 tahun 1998 C. Widyadharma.T. Sudargo. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan. Marala. Jakarta. 1995. 1994. Subekti. REFERENSI LAINNYA Buku Statistik Bank Indonesia Manado. M. Jakarta. Sutarno. Citra Aditya Bakti. --------------. Gramedia Pustaka Utama.106 Subekti. Tjitrosudibio. Jakarta. PT. Hukum Perjanjian. PT. R.T. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan pada Bank. Intermasa. B. Lembaran Negara Nomor 1 tahun 1974 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 Lembaran Negara Nomor 31 tahun 1992 Tentang Perbankan. 1991. PT.

107 Buku Legal Manual Bank Danamon Indonesia Surat-Surat Edaran Bank Danamon Indonesia tentang Perkreditan Memo-memo Intern Bank Danamon Indonesia tentang Jaminan Kredit Bank Danamon .

Yang dimaksud dengan fasilitas kredit revolving dan non revolving adalah : 1/14 DEBITUR adalah Divisi Hukum – Kantor Pusat .. Jumlah.. Perjanjian Kredit ini (selanjutnya disebut Perjanjian) dibuat dan ditandatangani pada hari …………………. .……. dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari ……………………………………… yang turut menandatangani perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut "DEBITUR"). BANK DANAMON INDONESIA Tbk. menetapkan. berkedudukan di …………………….. PT. *) b. b. yaitu : ……………………………………….. melaksanakan dan mematuhi Perjanjian ini dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : PASAL1 FASILITAS KREDIT 1. tanggal ………………………….1. dari dan oleh karenanya sah bertindak untuk dan atas nama PT. dalam hal ini bertindak : *) a. dalam hal ini melalui cabangnya di …………………………………………………………………………. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat persetujuan dari suaminya / istrinya. . Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada DEBITUR (selanjutnya disebut Fasilitas Kredit) adalah : *) (i) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………) (ii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………) (iii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………) (selanjutnya fasilitas tersebut diatas secara bersama-sama disebut “Fasilitas Kredit”).... dalam hal ini diwakili oleh ……………………………. bertempat tinggal di …………….……………………………………. berkedudukan di Jakarta.……………………………….…………. sehingga seluruh jumlah Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada ………………………………… (………………………………………………………………………………………. oleh dan antara : 1. ……. Jenis.Lampiran 1 PERJANJIAN KREDIT Nomor : ………………. yang turut menandatangani perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup tertanggal …………………………….…………………………………………………. Jangka Waktu dan Tujuan Penggunaan a. Bahwa BANK dan DEBITUR telah saling setuju untuk membuat.). ……………………………………… . 2.…………………………………………. selaku ……………………………………………………………………. dalam kedudukannya selaku ……………………………………………………………… (untuk selanjutnya disebut "BANK"). swasta...

DEBITUR wajib mengirimkan pemberitahuan tertulis atau menyerahkan bukti penarikan kepada BANK yang memberitahukan jumlah pinjaman dan tanggal penarikan yang dikehendaki. Apabila karena perubahan yang dimaksud pada ketentuan 1.3.2.Lampiran 1 ♦ ♦ c. Jangka waktu penarikan adalah sejak penandatanganan Perjanjian. (ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka.2. Jangka waktu mana dapat diperpanjang dengan persetujuan tertulis dari BANK setelah mempertimbangkan permohonan tertulis dari DEBITUR. maka pemberian Fasilitas Kredit oleh Bank kepada DEBITUR akan dilaksanakan melalui Rekening Koran dan setiap pembayaran kembali sampai lunas terhadap penarikan atas Fasilitas Kredit dan/atau menimbulkan rekening bersaldo kredit atau nihil. yang merupakan kesatuan dari Perjanjian. b. Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran. di atas. Penarikan Fasilitas Kredit a. DEBITUR setuju bahwa perubahan mata uang pinjaman dilakukan berdasarkan kurs yang berlaku dan/atau ditetapkan oleh BANK pada hari dimana perubahan tersebut dilakukan. dan apabila setelah diminta oleh BANK. tanggal mana tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari kerja setelah BANK menerima pemberitahuan tersebut. 1. 1. maka DEBITUR menyetujui dan memberi wewenang kepada BANK untuk sewaktu-waktu mengkonversikan seluruh atau sebagian Fasilitas Kredit ke dalam mata uang Rupiah dan setiap konversi tersebut mengikat DEBITUR cukup dengan pemberitahuan tertulis dari BANK kepada DEBITUR . Fluktuasi kurs mata uang pinjaman yang timbul sehubungan dengan dilakukannya perubahan berdasarkan ketentuan ini adalah menjadi resiko dan tanggung-jawab DEBITUR. Perubahan Mata Uang Pinjaman Apabila dilarang oleh ketentuan-ketentuan yang berlaku atau apabila dana dalam mata uang Dollar Amerika Serikat tidak tersedia pada BANK atau dalam hal disyaratkan oleh ketentuan dan/atau kebijaksanaan yang berlaku atau oleh karena sebab apapun juga. “Revolving”dimana DEBITUR dapat melakukan penarikan dan/atau pembayaran kembali atas Fasilitas Kredit dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini .1. (2) (Tiap) Penarikan Fasilitas Kredit hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu penarikan Fasilitas Kredit.. Fasilitas Kredit Rekening Koran dan Fasilitas Kredit Modal Kerja . DEBITUR belum juga menandatangani perubahan Perjanjian tersebut maka dengan ini DEBITUR memberi kuasa yang tidak dapat dicabut kembali kepada BANK untuk dan atas nama DEBITUR menandatangani akta atau perjanjian perubahan atas Perjanjian sehubungan dengan konversi tersebut. (3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas. tidak mengakibatkan berakhirnya/gugurnya Perjanjian ini. Cara Penarikan (1) Bila DEBITUR hendak melakukan penarikan dana atas Fasilitas Kredit. BANK tetap mempunyai hak untuk menunda atau mengatur kembali (Rescheduling) penarikan Fasilitas Kredit.. Untuk itu DEBITUR juga menyatakan setuju untuk menandatangani perubahan Perjanjian sehubungan dengan konversi tersebut apabila diminta oleh BANK. ini jumlah Fasilitas Kredit menjadi lebih besar dari jumlah yang disebut dalam ketentuan 1. maka DEBITUR wajib mengembalikan kelebihan jumlah fasilitas tersebut dalam jangka waktu dan cara yang ditentukan oleh BANK.. Jangka Waktu Penarikan (i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka . Jangka waktu penarikan adalah sejak ……………………………………. pada hari kerja dan jam kerja BANK yang disetujui bersama oleh BANK dan DEBITUR. "Non revolving" dimana DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan kembali atas pembayaran Fasilitas Kredit yang telah dibayar dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini. Penundaan atau pengaturan kembali tersebut tidak memberikan hak kepada DEBITUR untuk mengajukan tuntutan/gugatan Divisi Hukum – Kantor Pusat 2/14 . dan akan berakhir pada tanggal yang jatuhnya ……………………………………. BANK menurut pertimbangannnya sendiri tidak dapat/tidak bersedia memberikan Fasilitas Kredit dalam mata uang Dollar Amerika Serikat.

………….4. antara lain (namun tidak terbatas) tuntutan/gugatan membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin diderita DEBITUR sebagai akibat penundaan atau pengaturan kembali penarikan Fasilitas Kredit tersebut.1. dipergunakan lembar tambahan yang merupakan lampiran Perjanjian ini) 1. berlaku ketentuan bahwa penggunaan kredit yang diberikan kepada DEBITUR harus menunjukkan perputaran yang aktif dari waktu ke waktu dalam setiap bulannya. . Kewajiban BANK untuk memberikan Fasilitas Kredit adalah sebesar sebagaimana tercantum dalam pasal 1 ayat 1. 1.. (3) Tanda Terima Uang atau media lainnya yang ditentukan oleh BANK dalam bentuk dan isi yang disetujui dan diterima oleh BANK. (ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka dan Modal Kerja . b. atau jika rekening itu tidak diselesaikan sekurang-kurangnya sekali setahun. Bilyet Giro. (iii) Untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran . e. Pembayaran Kembali a. provisi. . Dalam hal tidak ditandatanganinya media-media penarikan seperti tersebut di atas maka Perjanjian ini dianggap sebagai Tanda Terima Uang untuk suatu jumlah uang berdasarkan Perjanjian ini dan Perjanjian-perjanjian lainnya yang merupakan perubahan dan/atau penambahan dari Perjanjian ini. maka DEBITUR dengan ini menyatakan menerima Fasilitas Kredit dari BANK dengan jumlah setinggi-tingginya sebagaimana disebutkan dalam ketentuan 1. DEBITUR dan BANK setuju bahwa media-media penarikan dan/atau pembukuan-pembukuan dan/atau catatan-catatan serta surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang dipegang dan dipelihara oleh BANK juga merupakan bukti yang lengkap dari semua jumlah hutang DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan mengikat terhadap DEBITUR. (iv) ……………. Khusus untuk kredit rekening koran.…………………………………………………………………………………………………………. DEBITUR wajib dan akan menyerahkan pada BANK media penarikan berupa : *) (1) Promissory Note. pada tanggal jatuh tempo Perjanjian dan/atau pada tanggal jatuh tempo Surat Promes. pada tanggal jatuh tempo Perjanjian. Pembuktian Hutang Sebagai akibat dari penarikan Fasilitas Kredit. d. maka Kredit ini dapat dihentikan. komisi dan ongkos-ongkos serta biaya-biaya lainnya yang timbul sebagai akibat penarikan Fasilitas Kredit sehubungan dengan Perjanjian ini. ………………………………………………………………………………………………………………………. (4) DEBITUR setuju bahwa BANK juga mempunyai hak untuk sewaktu-waktu membatalkan ataupun mengurangi jumlah Fasilitas Kredit (dalam hal DEBITUR tidak dapat memenuhi Syarat Penarikan Pinjaman sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 Perjanjian atau dalam hal DEBITUR melakukan salah satu Peristiwa Kelalaian dalam Pasal 12 Perjanjian) (5) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran. Pembayaran kembali akan dilakukan oleh DEBITUR kepada BANK dengan ketentuan sebagai berikut : (i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka . sesuai dengan jadwal pembayaran kembali sebagaimana terlampir dalam Perjanjian. jumlah mana belum termasuk bunga. DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan pinjaman apabila saldo di rekening DEBITUR menjadi negatif. Setiap pembayaran dari DEBITUR.……………………………………………………………………………………………………………. c. media-media penarikan mana akan menjadi bukti bagi BANK mengenai telah diterimanya uang oleh DEBITUR dari BANK. Bukti Penarikan Untuk (tiap) penarikan. (2) Cek.5.Lampiran 1 hukum berupa apapun terhadap BANK. (jika tidak mencukupi. pertama-tama akan diperuntukkan bagi pembayaran : Divisi Hukum – Kantor Pusat 3/14 . di atas.1 Perjanjian ini.

Provisi/Fee Dan Bunga Denda a. DEBITUR diperkenankan membayar kembali pinjaman yang terhutang kepada BANK berdasarkan Fasilitas Kredit (baik seluruhnya maupun sebagian) lebih cepat/awal dari tanggal pembayaran yang telah ditetapkan dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut : 1. dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut jatuh pada bukan hari kerja BANK. DEBITUR wajib membayar bunga kepada BANK sebagai berikut : Jenis Fasilitas (i) (ii) (iii) Setiap penarikan Fasilitas Kredit dikenakan bunga sebagaimana disebut diatas yang dikenakan pertahun yang dihitung berdasarkan : *) (i) saldo harian dan untuk maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada jumlah Fasilitas Kredit yang terhutang dan DEBITUR harus membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK. Bunga Atas tiap jumlah uang yang terhutang atau sisanya yang belum dibayar lunas atas pemberian Fasilitas Kredit. dan BANK akan memberitahukan perubahan suku bunga tersebut kepada DEBITUR.7. maka bunga akan dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut. DEBITUR wajib membayar uang denda/penalti kepada BANK sebesar ……… % flat dari jumlah uang yang dibayar kembali lebih cepat/awal. Suatu Surat Pemberitahuan Membayar Lebih Cepat seketika diterima oleh BANK dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam ayat (a) di atas ini mengikat kepada dan mewajibkan DEBITUR melaksanakan pembayaran lebih cepat/awal kepada BANK pada tanggal dan dalam jumlah uang yang disebutkan dalam surat pemberitahuan tersebut. DEBITUR setuju dan dengan ini memberi kuasa kepada BANK untuk sewaktu-waktu merubah ketentuan besarnya suku bunga tersebut diatas sesuai perkembangan keadaan pasar. dan uang denda/penalti tersebut wajib dibayar oleh DEBITUR pada waktu melaksanakan pembayaran kembali lebih cepat/awal tersebut. sebagaimana diatur dalam Perjanjian ini). bunga dan pembayaran lainnya selain denda dan pinjaman pokok. 2.. pemberitahuan mana akan mengikat DEBITUR. dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut bukan hari kerja BANK. Jumlah uang yang dibayar oleh DEBITUR untuk membayar kembali lebih cepat/awal tidak dapat dipinjam kembali oleh DEBITUR dari BANK berdasarkan Perjanjian ini. termasuk tetapi tidak terbatas pada pajak. maka bunga akan dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut.6. ongkos-ongkos. misal ongkos perkara (jika ada). 3. Jumlah Fasilitas Bunga Divisi Hukum – Kantor Pusat 4/14 . 5. 4. (ii) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran. b.Lampiran 1 (1) (2) (3) (4) (5) 1. Pembayaran Kembali Lebih Cepat/Awal (berlaku untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka) a. Bunga. DEBITUR wajib mengirim surat pemberitahuan mengenai keinginan membayar kembali lebih cepat/awal tersebut kepada dan diterima oleh BANK sedikitnya 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal pembayaran yang lebih cepat/awal dilakukan. Jumlah uang yang diterima oleh BANK untuk pembayaran kembali lebih cepat/awal pinjaman yang terhutang berdasarkan Fasilitas Kredit akan digunakan oleh BANK untuk membayar kembali atau mengurangi angsuran pembayaran kembali pinjaman tersebut mulai dari angsuran yang harus dibayar pada tanggal pembayaran angsuran yang paling akhir (inverse order of maturity). Pembayaran kembali yang lebih cepat/awal atas pinjaman yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini wajib dilakukan dalam jumlah pokok tidak kurang dari ……………… (………. dengan menyebutkan jumlah uang yang akan dibayar kembali lebih cepat/awal dan tanggal dimana pembayaran kembali yang lebih cepat/awal tersebut akan dilakukan (tanggal tersebut harus merupakan suatu Tanggal Pembayaran Bunga. bunga dihitung berdasarkan saldo harian dan untuk maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada rekening DEBITUR atau DEBITUR harus membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK.………… ) kali angsuran. pokok pinjaman yang terhutang. denda yang belum dibayarkan dan. Biaya terhutang kepada negara. 1.

10. % (………………. Bunga tersebut di atas terhutang oleh DEBITUR sejak tanggal penarikan pinjaman sampai dengan hari dan tanggal hutang tersebut dibayar kembali dengan lunas. perjanjian lain dan perjanjian-perjanjian jaminan. Jumlah Fasilitas Provisi/Fee Divisi Hukum – Kantor Pusat 5/14 . pada hari dimana suatu pembayaran berdasarkan Perjanjian ini wajib dilakukan. maka (dengan tidak mengurangi kewajiban DEBITUR untuk tetap membayar jumlah uang yang telah wajib dibayarnya itu berikut bunga yang berlaku pada saat itu) DEBITUR wajib membayar bunga denda atas jumlah yang tidak atau lalai dibayar tersebut kepada BANK. bunga atau lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar berdasarkan Perjanjian ini atau bukti penerimaan uang.) pertahun di atas bunga yang berlaku pada saat itu dihitung dari jumlah bunga tertunggak dan/atau jumlah uang yang tidak atau lalai dibayar tersebut. Pembukuan. kecuali ditentukan lain oleh BANK. PASAL 2 KUASA MENDEBET REKENING Tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR untuk melaksanakan sendiri pembayaran kepada BANK sebagaimana ditetapkan di atas.. denda atau lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar oleh DEBITUR pada BANK. DEBITUR setuju dan dengan ini memberi kuasa dan wewenang penuh pada BANK setiap waktu dan dari waktu ke waktu yang ditetapkan oleh BANK khusus untuk mendebet rekening DEBITUR pada BANK. bunga. rekening/account deposito (hal mana bersama ini DEBITUR memberi kuasa pula pada BANK khusus untuk mencairkan terlebih dahulu deposito atas nama DEBITUR tersebut). 1. Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini akan dibukukan oleh BANK pada kantor/cabang yang tercantum dalam Perjanjian ini. baik dalam mata uang Rupiah maupun dalam mata uang lain. b. baik rekening/account giro. Provisi Dan Fee DEBITUR setuju untuk membayar provisi dan fee sebagai berikut : Jenis Fasilitas (i) (ii) (iii) c. Perhitungan bunga denda terhutang dihitung secara harian mulai dari hari dan tanggal jatuh tempo jumlah uang yang wajib dibayar tersebut tidak atau lalai dibayar sampai dengan hari dan tanggal jumlah uang yang wajib dibayar tersebut dibayar lunas sesuai dengan jumlah hari yang lewat. Akan tetapi DEBITUR setuju dan bersama ini memberikan kuasa pada BANK untuk bilamana BANK menganggap perlu berdasarkan pertimbangan BANK sendiri. untuk mengalihkan pembukuan Fasilitas Kredit dimaksud pada kantor/cabang BANK yang lain. dan wajib dibayar lunas. penuh dan dengan sebagaimana mestinya oleh DEBITUR kepada BANK pada setiap tanggal pembebanan bunga. media-media penarikan. baik yang berada di Indonesia maupun di luar Indonesia. dihitung atas dasar bahwa 1 (satu) tahun adalah 360 (tiga ratus enampuluh) hari. dengan ketentuan jumlah hari dalam satu tahun adalah 360 (tiga ratus enam puluh) hari sebagai faktor pembagi tetap dan bunga denda tersebut wajib dibayar dengan sekaligus (lunas) oleh DEBITUR seketika ditagih secara tertulis oleh BANK. penuh dan dengan sebagaimana mestinya oleh DEBITUR kepada BANK sesuai dengan jumlah hari yang telah berlalu. Bunga Denda Bilamana DEBITUR tidak atau gagal membayar lunas suatu pinjaman. jumlah yang besarnya setiap kali akan ditetapkan oleh BANK dan menggunakan/memakai jumlah uang tersebut untuk membayar dan membayar kembali semua dan setiap jumlah uang yang sekarang telah dan/atau dikemudian hari akan terhutang dan dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini beserta segala perubahan dan tambahannya. baik untuk jumlah pokok. Besarnya bunga denda adalah ……….Lampiran 1 Tanggal Pembayaran Bunga adalah pada setiap tanggal 22 (dua puluh dua) setiap bulannya (dan/atau hari kerja berikutnya bila tanggal 22 tersebut jatuh pada hari libur).

c. 6/14 Divisi Hukum – Kantor Pusat . DEBITUR telah mengambil segala tindakan yang disyaratkan oleh anggaran dasarnya dan ketentuan hukum yang berlaku untuk sahnya Perjanjian dan untuk melaksanakan Perjanjian Jaminan. Kewenangan Bertindak. dokumen-dokumen mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. Asli surat kuasa dan/atau persetujuan yang disyaratkan oleh anggaran dasar DEBITUR yang dibuat dan diberikan oleh DEBITUR kepada orang-orang tertentu (jika ada) yang ditunjuk untuk dan atas nama DEBITUR melaksanakan Perjanjian ini dan Perjanjian (-perjanjian) Jaminan serta semua dokumen yang disyaratkan oleh atau berkaitan dengan Perjanjian ini atau Perjanjian-perjanjian jaminan. dan telah dimuat dalam Berita Negara Nomor ………. berikut contoh tandatangan orang-orang tersebut.. d. Salinan surat izin usaha perdagangan dan/atau surat-surat izin lainnya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang yang diperlukan oleh DEBITUR dalam menjalankan usahanya. Semua Perjanjian-(perjanjian) Jaminan telah ditanda tangani dan dalam bentuk dan isi yang disetujui BANK.. Asli bukti-bukti hak kepemilikan atas barang-barang yang dijadikan Jaminan dan/atau Perjanjian (perjanjian) Jaminan yang disebut dalam Pasal 9 Perjanjian ini. Kekuatan Perjanjian. menandatangani dan melaksanakan segala ketentuan dalam Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan. maka segala kuasa yang diberikan oleh DEBITUR kepada BANK dalam Perjanjian ini atau dokumen-dokumen lain sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit kepada DEBITUR merupakan bagian yang terpenting dan tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. Pihak yang menandatangani Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan adalah pihak yang mempunyai wewenang dan sah untuk mewakili DEBITUR dalam melakukan hal tersebut. berikut pula salinan Berita Acara Rapat Para Pemegang Saham dimana diangkat Direksi atau Komisaris DEBITUR yang sekarang menjabat jabatan-jabatan tersebut dan/atau persetujuan komisaris dan/atau persetujuan rapat umum para pemegang saham bila disyaratkan dalam anggaran dasar dan/atau peraturan yang berlaku.Lampiran 1 Selama hutang DEBITUR kepada BANK belum dibayar lunas. dan Tambahan Berita Negara Nomor ………………. Nomor …………………………………………. DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai berdasarkan ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Pasal 13 Perjanjian ini atau berdasarkan sebab lain sesuai pertimbangan BANK. seperti namun tidak terbatas pada. yaitu termasuk akta pendirian dan/atau anggaran dasar yang dibuat sampai dengan tanggal dan hari ini.1. dan Anggaran Dasar DEBITUR telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan tertanggal ………………………………. yang dengan tidak adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian kuasa-kuasa tersebut tidak akan berakhir karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. BANK telah menerima dokumen-dokumen (semua dengan bentuk dan isi yang disetujui BANK dan dalam hal yang diserahkan adalah salinan maka aslinya wajib ditunjukkan pada BANK saat penyerahan dokumendokumen tersebut) sebagai berikut : a. PASAL 3 SYARAT PENARIKAN PINJAMAN Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan lain dalam PERJANJIAN ini. syarat-syarat : 3.3. tertanggal ……………………………. DEBITUR mempunyai kekuasaan dan wewenang serta berhak untuk membuat.2. berikut pengesahan-pengesahan yang telah diberikan oleh instansi yang berwajib terhadap anggaran dasar tersebut dan perubahan-perubahannya. b. Dokumen yang disyaratkan dalam Perjanjian ini. PASAL 4 PERNYATAAN DAN JAMINAN DEBITUR bersama ini menyatakan dan menjamin bahwa : 4. 3. Pernyataan dan Jaminan yang diberikan DEBITUR sebagaimana tersebut dalam Pasal 4 Perjanjian adalah benar dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. 4. BANK baru wajib mencairkan pinjaman kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian ini bila DEBITUR paling tidak telah memenuhi. 3.1. 3.4.2.

Ijin-ijin. 4.3.5. dan menunjukkan secara jelas keadaan keuangan DEBITUR yang sebenarnya.8. Tidak Dalam Keadaaan Lalai/Wanprestasi DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai dan/atau melakukan pelanggaran dan/atau dinyatakan dalan keadaan wanprestasi. DEBITUR.Lampiran 1 Perjanjian ini dan segala dokumen serta instrument yang timbul sehubungan dan berkaitan dan sebagai akibatnya. Tidak ada dan tidak akan pernah ada sengketa maupun tuntutan terhadap DEBITUR maupun barang-barang yang dijadikan Jaminan. DEBITUR dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali melepaskan hak kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini 4. persetujuan dan/atau wewenang-wewenang tersebut telah habis namun seluruh pinjaman dibayar lunas oleh DEBITUR. Tidak Ada Tuntutan/Sengketa.6. berdasarkan perjanjian kredit lain dengan BANK. adalah sah dan mengikat DEBITUR serta berlaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalamnya. 4. Setiap ijin. Laporan Keuangan Laporan Keuangan yang telah di audit oleh akuntan publik atau dibuat oleh DEBITUR sendiri (yang telah dinyatakan "sah" oleh DEBITUR) adalah benar. Kepailitan.7. 4. penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini telah diperoleh DEBITUR. penyerahan dan pelaksanaan Penandatangan Perjanjian dan dokumendokumen terkait lainnya tidak melanggar atau bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan atau badan arbitrase atau anggaran dasar DEBITUR sendiri dan tidak mengakibatkan pelanggaran (atau dinyatakan sebagai pelanggaran) atas kewajiban DEBITUR berdasarkan atau memerlukan suatu persetujuan yang disyaratkan oleh setiap perjanjian atau dokumen yang telah ada. Perijinan.4. baik di luar maupun di dalam pengadilan atau peradilan manapun juga yang dapat berakibat buruk/menambah resiko terhadap usaha DEBITUR pada umumnya dan keadaan keuangan DEBITUR pada khususnya yang dapat membahayakan BANK atas pemberian Fasilitas Kredit ini. 4. 4. PENJAMIN dan/atau PEMBERI JAMINAN tidak sedang dan tidak akan mengajukan permohonan penundaan pembayaran (surseance van betaling) terhadap Fasilitas Kredit yang diberikan berdasarkan Perjanjian ini dan tidak menjadi insolvent atau dinyatakan pailit dan tidak kehilangan haknya untuk mengurus atau menguasai harta bendanya. terhadap mana DEBITUR merupakan pihak didalamnya atau harta kekayaan DEBITUR terikat atau terlibat. persetujuanpersetujuan dan wewenang mana sekarang ini masih berlaku. tepat dan tidak ada kesalahan apapun. persetujuan atau wewenang yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan untuk dan dalam rangka pembuatan. Debitur tidak akan mengajukan tuntutan/gugatan hukum berupa apapun terhadap BANK. PASAL 5 HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN Divisi Hukum – Kantor Pusat 7/14 . Pembuatan. Pajak DEBITUR tidak memiliki tunggakan atas kewajiban pada pihak ketiga atau kepada Pemerintah dalam hal perpajakan. Dalam hal debitur karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan perkaranya oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh hak kekebalan. kecuali atas hal-hal yang telah diberitahukan terlebih dahulu secara tertulis oleh DEBITUR kepada BANK sebelum penandatanganan tersebut. dan akan diperpanjang oleh DEBITUR apabila jangka waktu ijin. antara lain (namun tidak terbatas) tuntutan/gugatan membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin diderita DEBITUR sebagai akibat dari Perjanjian ini.

Laporan Keuangan Triwulanan (House Figures).7.4. Mengizinkan karyawan-karyawan BANK atau kuasanya atau perusahaan penilai sebagaimana akan ditetapkan oleh BANK dan akan diberitahukan kepada DEBITUR untuk melakukan collateral inspection minimal satu kali dalam satu tahun dan dengan biaya ditanggung oleh DEBITUR. 5. selambatlambatnya 30 (tiga puluh lima) hari kalender setelah tanggal periode laporan tersebut dan ditandatangani oleh pengurus perusahaan DEBITUR. Daftar Tagihan-tagihan (Piutang) DEBITUR dengan disertai aging schedule setiap triwulan.8. Memberikan pada BANK segala informasi/keterangan/data-data (seperti. terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini. maka DEBITUR wajib melakukan/melaksanakan hal-hal sebagai berikut : 5. bilamana terjadi perubahan dalam sifat atau luas lingkup usaha DEBITUR bilamana terjadi suatu peristiwa atau keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan usaha atau keuangan DEBITUR. c. DEBITUR wajib segera mengurusnya.6. 5. bea meterai.5. apabila dianggap perlu oleh BANK. 5. b. bangunan-bangunan lain dan kantor-kantor yang digunakan DEBITUR dan c. selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari sejak tanggal laporan.3. Mempertahankan.2. segala sesuatu sehubungan dengan keuangan dan usaha DEBITUR. b.9. 5. selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender setelah tanggal periode laporan dan ditandatangani oleh pengurus perusahaan DEBITUR. d. selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal laporan. segera setelah diminta oleh BANK. PASAL 6 HAL-HAL YANG DILARANG Divisi Hukum – Kantor Pusat 8/14 5. termasuk neraca dan perhitungan laba-rugi. Menyerahkan pada BANK : a.1. catatan-catatan dan administrasi DEBITUR serta memeriksa keadaan barang-barang jaminan. Membayar pajak-pajak dan beban-beban lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah. e. baik diminta maupun tidak diminta oleh BANK. . Melakukan pembukuan mengenai keuangan perusahaan dan membuat catatan-catatan yang mencerminkan keadaan keuangan perusahaan DEBITUR yang sesungguhnya serta hasil pengoperasian perusahaan DEBITUR yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembukuan yang diterima secara umum atau sesuai dengan prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia yang mencerminkan kewajaran dan dilaksanakan secara konsisiten. memperpanjang atau memperbaharui apabila sudah habis jangka waktunya semua izin usaha dan izin-izin lainnya yang dipunyai oleh DEBITUR dalam rangka menjalankan usahanya dan menyerahkan fotocopy dari izin-izin tersebut kepada BANK serta menyimpan sebaik-baiknya surat-surat izin dan persetujuan-persetujuan yang telah diperolehnya dari pihak yang berwenang dan apabila ternyata dikemudian hari diperlukan surat-surat izin dan persetujuan-persetujuan yang baru.Lampiran 1 Kecuali ditentukan lain oleh BANK. Menggunakan Fasilitas Kredit semata-mata untuk keperluan sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian ini. Daftar Barang Dagangan (Inventory) DEBITUR setiap triwulan. b. Senantiasa memberikan ijin kepada BANK atau petugas-petugas yang diberi kuasa oleh BANK untuk : a. 5. 5. yaitu : a. setiap waktu. yang ditandatangani oleh pengurus DEBITUR. melakukan pemeriksaan (audit) terhadap buku-buku. namun tidak terbatas pada laporan keuangan DEBITUR). 5. biaya-biaya dan semua tagihan-tagihan yang wajib dibayar oleh DEBITUR sehubungan dengan usahanya dengan sebagaimana mestinya. Laporan Keuangan Tahunan yang merupakan lampiran Surat Pemberitahuan Tahunan Atas Pajak Penghasilan (SPT-PPh) yang bertanda terima dari kantor Pelayanan Pajak setempat. mengizinkan BANK untuk menempatkan karyawan-karyawannya dan/atau kuasanya dalam perusahaan DEBITUR guna ikut mengawasi pengelolaan perusahaan tersebut. Laporan Keuangan Tahunan (Audited) segera setelah diminta oleh BANK. selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak tanggal laporan. Menjalankan usahanya secara layak dan efisien. melakukan peninjauan ke dalam proyek.

susunan Para Pemegang Saham dan nilai saham DEBITUR. baik barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik DEBITUR. Memberikan pinjaman kepada atau menerima pinjaman dari pihak lain kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari. Membayar atau membayar kembali tagihan-tagihan atau piutang-piutang berupa apapun juga yang sekarang dan/atau dikemudian hari akan diberikan oleh para Pemegang Saham DEBITUR baik berupa jumlah pokok. 6.9. termasuk komisi dan pembayaran-pembayaran lainnya kepada pihak ketiga. Merubah susunan pengurus. pungutan atau biaya lain) pada BANK sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit dalam Perjanjian ini merupakan tanggungan DEBITUR. Melakukan merger atau akuisisi. namun tidak terbatas pada pengenaan pajak. Mengadakan perubahan dari sifat dan kegiatan usaha DEBITUR seperti yang sedang dijalankan dewasa ini. 7.1. demikian pula pajak (seperti. 6. 6. kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari.7.4. 6. Menjamin langsung maupun tidak langsung pihak ketiga lainnya.10. PASAL 8 JAMINAN ATAS PEMBERIAN KREDIT Divisi Hukum – Kantor Pusat 9/14 .3. biaya-biaya yang bertalian dengan penyimpanan dan pemilikan jaminan.3. Maka sejak tanggal permintaan BANK.8. 6. terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini.2. Menjaminkan/mengagunkan dengan cara bagaimanapun kekayaan DEBITUR kepada orang/pihak lain. namun tidak terbatas pada bea materai) daripada Perjanjian ini (termasuk segala perubahan dan/atau penambahannya) menjadi tanggungan DEBITUR. kecuali menjaminkan/mengagunkan kekayaan kepada BANK sebagaimana termaktub dalam Perjanjian (perjanjian) Jaminan. peraturan perundang-undangan.1. 6. segala ongkos-ongkos yang bersangkutan dengan realisasi jaminan itu. bea. 6.2. 6. termasuk tapi tidak terbatas kepada.Lampiran 1 Kecuali ditentukan lain oleh BANK.5. Mengumumkan dan membagikan deviden saham DEBITUR. Mengadakan perjanjian yang dapat menimbulkan kewajiban DEBITUR untuk membayar kepada pihak ketiga. petunjuk pelaksanaannya atau penafsirannya atau hal-hal lain yang mengakibatkan bertambahnya biaya (seperti. Juga apabila terjadi perubahan pada Undang-undang. kecuali melakukan endorsemen atas suratsurat yang dapat diperdagangkan untuk keperluan pembayaran atau penagihan transaksi-transaksi lain yang lazim dilakukan dalam menjalankan usaha. 6. bunga dan lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar.6. upah serta beban-beban dan setiap pembayaran yang harus dibayar BANK kepada pengacara dan/atau penasehat hukum yang diberi tugas oleh BANK untuk menagih kredit tersebut. Menjual atau dengan cara lain mengalihkan hak atau menyewakan/menyerahkan pemakaian seluruh atau sebagian kekayaan/asset DEBITUR. DEBITUR wajib dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari membayar tambahan biaya-biaya tersebut kepada BANK. kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari. Semua biaya yang dapat ditagih dan harus dibayar dan yang timbul berdasarkan Perjanjian ini dan segala akibat dari pada Perjanjian ini. PASAL 7 PERLINDUNGAN TERHADAP PENGHASILAN BANK 7. maka DEBITUR dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut : 6. 7.

.………………………………………………………………………………………………………………………….………………………………………………………………………………………………………………………….. terhadap kerugian karena kebakaran dan bahaya-bahaya lain yang menurut pertimbangan BANK dapat menimpa harta benda tersebut. 8. yakni bahwa selama harta benda yang diasuransikan masih merupakan jaminan hutang kepada BANK. bunga. PASAL 9 ASURANSI BARANG JAMINAN 9.1. biaya-biaya dan lain-lain jumlah uang yang wajib.1..2. 9...2..…………………………………………………………………………………………………………………………. …….. Jika menurut pertimbangan BANK. termasuk namun tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut. menyerahkan sisa tersebut kepada DEBITUR atau PENJAMIN sebagai pemilik harta benda yang dijaminkan kepada BANK. ……. Dalam hal hasil uang pertanggungan tidak cukup untuk melunasi seluruh hutang.Lampiran 1 8. Apabila DEBITUR karena satu dan lain hal lalai atau tidak melaksanakan haknya pada saat hak tersebut timbul untuk mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini. penuh. yaitu : …….3. tetapi hal tersebut bukan merupakan kewajiban BANK. Untuk menjamin pembayaran lunas. Setiap polis asuransi harus memuat "Banker's Clause". Divisi Hukum – Kantor Pusat 10/14 . sisa hutang tersebut tetap menjadi hutang DEBITUR kepada BANK dan harus dibayar dengan seketika dan sekaligus oleh DEBITUR pada saat ditagih oleh BANK. …….. maka tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR tersebut BANK berhak dan dengan ini diberi kuasa oleh DEBITUR untuk dan atas tanggungan DEBITUR mengasuransikan harta benda yang dijaminkan dan mendebet rekening DEBITUR pada BANK sejumlah premi asuransi serta biaya-biaya lain yang harus dibayar. yang pengalihan hak kepemilikannya dibuktikan dengan dokumen atau perjanjian-perjanjian yang dibuat dalam bentuk. baik jumlah pokok pinjaman(-pinjaman). BANK berhak dan berwenang menjalankan hak dan wewenangnya atas jaminan yang disebut pada ketentuanketentuan diatas.. DEBITUR atas tanggungan sendiri harus selalu mengasuransikan harta benda yang dijaminkan oleh DEBITUR dan/atau PENJAMIN kepada BANK pada perusahaan asuransi dan sampai jumlah pertanggungan yang ditetapkan oleh BANK..…………………………………………………………………………………………………………………………. yang diuraikan dalam perjanjian(-perjanjian) terpisah antara BANK dan DEBITUR. tertib dan dengan sebagaimana mestinya semua jumlah uang yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan perubahan dan/atau perpanjangannya.. jumlah dan isi yang memuaskan BANK. maka uang pertanggungan yang dibayar oleh perusahaan asuransi akan diserahkan langsung oleh perusahaan asuransi tersebut kepada BANK dan selanjutnya untuk diperhitungkan dengan hutang DEBITUR kepada BANK dan jika masih ada sisa.………………………………………………………………………………………………………………………….. Asli kwitansi atau bukti pembayaran premi asuransi dan asli polis asuransi beserta "Banker's Clause" harus diserahkan kepada BANK.…………………………………………………………………………………………………………………………. Seluruh Perjanjian Jaminan (-Perjanjian Jaminan) tersebut (selanjutnya disebut Perjanjian (-perjanjian) Jaminan) juga terikat secara “Cross Collateralized” terhadap fasilitas(-fasilitas) kredit lainnya yang diberikan oleh BANK kepada DEBITUR. DEBITUR lalai memenuhi kewajiban sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini. …….. PASAL 10 KOMPENSASI 9. ……. maka DEBITUR menyerahkan pada BANK Jaminan(-jaminan). berikut segala tambahan dan/atau penggantinya yang diuraikan dalam perjanjian terpisah namun merupakan kesatuan dari Perjanjian ini.. …….…………………………………………………………………………………………………………………………. tetapi pengajuan klaim dimaksud di atas bukan kewajiban BANK. maka BANK atas tanggungan DEBITUR dengan ini diberi kuasa oleh DEBITUR untuk melakukan klaim kepada perusahaan asuransi untuk dan atas nama DEBITUR dan melaksanakan segala sesuatu yang diperlukan untuk itu termasuk tetapi tidak terbatas pada pengurusan surat-surat/ dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pengajuan klaim tersebut kepada perusahaan asuransi serta DEBITUR wajib menyerahkan segala dokumen yang diperlukan oleh BANK untuk melaksanakan pengajuan klaim asuransi tersebut.

komisi.2. dimana lewatnya waktu saja sudah merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa DEBITUR telah melalaikan kewajibannya. yaitu dalam hal terjadinya. apabila hasil penjualan tersebut tidak cukup untuk melunasi seluruh kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK.Lampiran 1 10. Bilamana menurut BANK. diatas. 11. fee dan biaya-biaya lainnya yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini. maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan wajib dibayar oleh DEBITUR dengan seketika dan sekaligus pada saat ditagih oleh BANK. Menyimpang dari hal dimuka. DEBITUR setuju bahwa apabila dianggap perlu oleh BANK. tanpa perlu adanya surat teguran juru sita atau surat lainnya yang serupa dengan itu. penambahan atau perpanjangannya) kepada pihak ketiga lainnya.2. Dan DEBITUR dengan ini setuju bahwa penerima pengalihan hak yang bersangkutan akan mendapat manfaat yang sama dengan yang diberikan kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini. DEBITUR setuju untuk tidak mengalihkan sebagian atau seluruh hak dan kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini pada pihak ketiga lainnya tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari BANK.1. DEBITUR menyetujui bahwa tagihan/piutang dagang DEBITUR pada BANK (bila ada) tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak membayar atau menuntut kembali BANK berdasarkan Perjanjian ini atau berdasarkan perjanjian-perjanjian lain yang disebut dalam Perjanjian ini. berdasarkan pertimbangannya sendiri BANK mempunyai hak untuk mengalihkan. Divisi Hukum – Kantor Pusat 11/14 . Dalam hal BANK mengalihkan Fasilitas Kredit ini. baik karena hutang pokok. berikut segala perubahannya. bunga. paling tidak. 11. 12. BANK dapat langsung menjual harta benda yang dijaminkan oleh DEBITUR dan/atau PENJAMIN kepada BANK baik dibawah-tangan maupun dimuka umum (secara lelang) dengan harga dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh BANK.3. maka sisa tersebut akan dikembalikan kepada DEBITUR dan/atau PENJAMIN sebagai pemilik harta benda yang dijaminkan kepada BANK. paling tidak salah satu dari syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lain dalam Perjanjian ini dan/atau terjadi kelalaian atau pelanggaran yang termaktub dalam perjanjian-perjanjian jaminan yang dibuat berkenaan dengan Perjanjian ini. surat keterangan atau dokumen yang diberikan sehubungan dengan Perjanjian ini dan/atau perubahan dan/atau penambahan dan/atau sehubungan dengan Perjanjian ini ternyata tidak benar atau tidak sesuai dengan pernyataan sebenarnya dalam atau mengenai hal-hal yang oleh BANK dianggap penting. terlambat memenuhi atau memenuhi namun hanya sebagian.1.1.3. 10. baik seluruh atau sebagian hak-hak yang timbul sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit yang diberikan kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian (berikut setiap perubahan. PASAL 12 PERISTIWA KELALAIAN Menyimpang dari jangka waktu pemberian kredit yang disebut dalam ketentuan 1. baik sebagian maupun seluruhnya. 12. DEBITUR tetap terikat dan tunduk pada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian (berikut setiap perubahan dan/atau perpanjangannya) serta perjanjian-perjanjian lainnya yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit oleh BANK kepada DEBITUR. Kewajiban DEBITUR untuk membayar kembali hutangnya pada BANK berdasarkan Perjanjian ini atau setiap perjanjian lain yang berhubungan. Jika suatu pernyataan. dengan ketentuan pendapatan bersih dari penjualan dipergunakan untuk pembayaran seluruh kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan jika ada sisa. DEBITUR dengan ini melepaskan semua haknya seperti disebut dalam pasal 1425 sampai dengan 1429 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. wajib dipenuhi oleh DEBITUR tanpa DEBITUR berhak untuk memperhitungkan (mengkompensir) dengan tagihan/piutang dagang DEBITUR terhadap BANK (bila ada) dan tanpa hak untuk menuntut terlebih dahulu suatu pembayaran lain (counter claim).2. dan tanpa perantaraan Pengadilan. DEBITUR tidak memenuhi. dapat ditagih dan wajib dibayarkan kembali dengan seketika dan sekaligus seluruhnya. Sebaliknya. seluruh jumlah pinjaman dari DEBITUR terhadap BANK. Bilamana angsuran hutang pokok dan/atau bunga dan/atau jumlah yang terhutang lain yang timbul berdasarkan Perjanjian ini tidak dibayar lunas pada waktu dan dengan cara sebagaimana yang ditentukan dalam Perjanjian ini dan/atau perubahan dan/atau perpanjangannya. PASAL 11 PENGALIHAN HAK 11. salah satu dari kejadian di bawah ini : 12.1.

baru maupun perpanjangannya.….. persetujuan atau wewenang.. 12. .….. rusak atau musnah karena sebab apapun juga.Lampiran 1 12.…………………………………………………………………………………………………………………………… ………...….…………………………………………………………………………………………………………………………….. yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan untuk dan dalam rangka pembuatan.…..8. Bilamana DEBITUR atau orang/pihak lain yang menanggung atau menjamin pembayaran hutang-hutang DEBITUR (untuk selanjutnya disebut juga PENJAMIN) berdasarkan perjanjian ini mengajukan permohonan untuk dinyatakan dalam keadaan pailit atau penundaan pembayaran hutang-hutang ("surseance van betaling") kepada instansi yang berwenang atau tidak membayar hutangnya kepada pihak ketiga yang telah dapat ditagih (jatuh waktu) atau karena sebab apapun tidak berhak lagi mengurus dan menguasai kekayaannya atau dinyatakan pailit atau suatu permohonan atau tuntutan untuk kepailitan telah diajukan terhadap DEBITUR dan/atau terhadap PENJAMIN kepada instansi yang berwenang.….….. Bilamana kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN seluruhnya atau sebagian disita oleh instansi yang berwajib.…………………………………………………………………… … ……….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………..…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....…………………………………………………….. 12... PASAL 13 KETENTUAN TAMBAHAN Atas Fasilitas Kredit ini berlaku pula ketentuan sebagai berikut : ……….6. Bilamana barang(-barang) yang dijadikan jaminan untuk pembayaran hutang DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini disita oleh instansi yang berwenang. 12.. atau bilamana barang(-barang) jaminan tersebut hilang.…………………………………………………………………………………………………………………………… ………. Jika DEBITUR masuk dalam Daftar Kredit Macet dan/atau Daftar Hitam (blacklist) yang dikeluerkan oleh Bank Indonesia. termasuk namun tidak terbatas pada perjanjian yang mengenai atau berhubungan dengan pinjaman uang atau pemberian kredit dimana DEBITUR atau PENJAMIN adalah sebagai pihak yang meminjam dan bilamana kelalaian/atau pelanggaran tersebut mengakibatkan atau memberikan hak kepada pihak lain dalam perjanjian tersebut untuk menyatakan bahwa hutang atau kredit yang diberikan dalam perjanjian tersebut menjadi harus dibayar atau dibayar kembali dengan seketika dan sekaligus pada tanggal jatuh waktu pembayaran yang telah ditentukan. bonafiditas dan solvabilitas DEBITUR mundur sedemikian rupa yang dapat mengakibatkan DEBITUR tidak dapat membayar hutangnya lagi..... 12.11.…. Apabila nilai asset/kekayaan milik DEBITUR menurut penilaian BANK menurun.…………………………………………………………………………………………………………………………… ……….7.. Apabila DEBITUR atau PENJAMIN telah lalai atau melanggar sesuatu ketentuan dalam suatu perjanjianperjanjian lain..…………………………………………………………………………………………………………………………….. 12. Bilamana DEBITUR atau PENJAMIN dibubarkan atau mengambil keputusan untuk bubar (bilamana DEBITUR atau PENJAMIN adalah suatu perusahaan) meninggal dunia atau menangguhkan untuk sementara usahanya atau dinyatakaan berada dibawah pengampuan ("Onder Curatele Gesteld")..…. .….. keadaan keuangan. atau apabila menurut penilaian BANK kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN dianggap menjadi berkurang sehingga dapat membahayakan Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini. Bilamana tidak dapat diperoleh salah satu atau beberapa atau seluruh ijin. penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini..…………………………………………………………………………………………………………………………… ………. 12.. Apabila semata-mata menurut pertimbangan BANK..…. 12.4.9.5. 12.…………………………………………………………………………………………………………………………… PASAL 14 PEMBERITAHUAN Divisi Hukum – Kantor Pusat 12/14 ..…………………………………………………………………………………………………………………………… ……….. ………. ………....….10.12..

4.3. 15. dan (iv) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan tanda telah dikirim. DEBITUR dengan ini menyatakan bahwa DEBITUR tunduk kepada semua peraturan-peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan mengenai kredit yang ada pada BANK sekarang sebagaimana terlampir dan/atau diperlihatkan kepada DEBITUR. Jika perubahan alamat tidak diberitahukan. DEBITUR Nama Alamat Telp/Fax Telex Contact Person : : : : : 14. surat tercatat. surat tercatat.1. PASAL15 KETENTUAN PENUTUP 15. Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada tanggal tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada tanggal setelah 5 (lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak mewakili BANK atau DEBITUR (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi dengan kode jawab. 15. DEBITUR wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang Divisi Hukum – Kantor Pusat 13/14 . telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat yang tersebut dibawah ini : a. hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini. Semua dan setiap kuasa yang diberikan oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini merupakan bagian-bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian ini. 1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. 15. yang tanpa adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian maka kuasa-kuasa tersebut tidak dapat ditarik kembali maupun dibatalkan oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang tercatat pada masingmasing pihak.1.2. Perjanjian ini tidak dapat diubah atau ditambah kecuali dengan suatu perjanjian perubahan atau tambahan yang ditandatangani para pihak dalam Perjanjian ini. maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam Perjanjian ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat yang dimaksud. BANK Nama : Alamat : Telp/Fax : Telex : Contact Person : b. dan ketentuanketentuan lainnya tersebut tetap berlaku dan mengikat serta dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini.3. 14. maka surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan berdasarkan Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau pemberitahuan itu dengan secara langsung. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjian ini yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau pengadilan dilarang atau tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku atau dinyatakan batal demi hukum. Semua surat menyurat atau pemberitahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada pihak lain dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan dengan secara langsung. Mengenai Perjanjian ini DEBITUR dan BANK dengan ini melepaskan ketentuan pasal 1266 dan pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. facsimile atau telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) yang ditujukan kealamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang diketahui/tercatat pada masing-masing pihak.2. facsimile. 15.5.Lampiran 1 14.

BANK DANAMON INDONESIA Tbk DEBITUR Materai _________________________________ Nama : Jabatan : _______________________________ Nama : Jabatan : Mengetahui dan Menyetujui. Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak. 15. Demikian PERJANJIAN ini dibuat dan ditandatangani di …………………………. seperti namun tidak terbatas pada perjanjian-perjanjian jaminan. pada tanggal dan tahun sebagaimana tersebut diatas. kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK untukmeneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. . BANK PT. . wewenang atau tuntutan tersebut dan juga tidak dapat diartikan bahwa BANK melepaskan hak. maka suatu tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh BANK atau kelambatan dalam melaksanakan suatu hak. 15. tunduk pada hukum negara Republik Indonesia. Dan digunakannya sebagian hak.6.7. Namun. 15.8. Terhadap Perjanjian ini dan segala dokumen yang berhubungan dan yang timbul akibat Perjanjian ini.9. tidak mengurangi hak dan wewenang BANK untuk memohon pelaksanaan (eksekusi) atau mengajukan tuntutan/gugatan hukum terhadap DEBITUR berdasarkan Perjanjian ini dimuka pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia. sebagaimana diminta oleh BANK. Hak-hak dan upaya-upaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hakhak-hak dan upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum. dan mulai berlaku sejak tanggal ……………………………. ________________________________ Nama : Jabatan : *) Coret yang tidak perlu Divisi Hukum – Kantor Pusat 14/14 . Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum yang tetap dan seumumnya di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri …………………… di ……………………………… . kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan berarti bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis. Dalam hal terjadi atau timbul suatu Kelalaian/Pelanggaran. wewenang atau tuntutan tersebut atau membenarkan terjadinya kelalaian pada atau dilakukannya pelanggaran oleh DEBITUR. wewenang atau tuntutan tidak melemahkan hak.Lampiran 1 memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut. 15.

(selanjutnya perjanjian kredit tersebut berikut seluruh perubahannya. Maka sehubungan dengan segala sesuatu yang diuraikan di atas..………………………..…... *) (ii) dan/atau telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam anggaran dasar Perseroan serta PEMBERI GADAI dan peraturan-peraturan yang berlaku. Para pihak dengan ini menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut : a...... tanggal ……………... PEMBERI GADAI menggadaikan kepada BANK.. b.... dan diwakili oleh ………………………………………………….... (selanjutnya disebut “DEBITUR”) dan BANK telah dibuat dan ditandatangani Perjanjian Kredit nomor …………. oleh dan antara : 1.. . perpanjangannya dan atau pembaharuannya yang akan dibuat dikemudian hari disebut “Perjanjian Kredit”).. dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari ……………………………………… yang turut menandatangani Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut “PEMBERI GADAI”).1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas tidaklah diperlukan. dengan memakai syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.. Bahwa untuk menggadaikan Hak atas Rekening Deposito tersebut.... swasta... .. yaitu : ………………………………………. tanggal . selaku ………………………………………………………………………... berkedudukan di Jakarta. termasuk tetapi tidak terbatas pada persetujuan pengalihan hak atas Rekening Deposito sesuai dengan ketentuan Perjanjian ini dan peraturan yang berlaku.…….. c.. (selanjutnya disebut “BANK”)... .... BANK DANAMON INDONESIA Tbk.. Bahwa untuk menjamin pembayaran kembali dengan tertib dan secara sebagaimana mestinya seluruh hutang DEBITUR kepada BANK yang telah dan akan ada berikut bunga..Lampiran 2 PERJANJIAN GADAI DEPOSITO No... bertempat tinggal di ………………………………………………………………….. Bahwa oleh dan antara ……………. dalam hal ini melalui kantornya di Jalan ……………………………………………......... *) b.. yang turut menandatangani Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup tertanggal …………………………………….... sebagaimana ternyata dari Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa tertanggal …………………………… / menyerahkan Surat Pernyataan Direksi PEMBERI GADAI tertanggal ……………………...... yang menyatakan bahwa jumlah saham yang digadaikan oleh PEMBERI GADAI kepada BANK ini tidak merupakan sebagaian besar (hanya merupakan sebagian kecil) dari seluruh kekayaan/asset yang dimiliki PEMBERI GADAI dan oleh karenanya oleh karenanya persetujuan dari Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham PEMBERI GADAI sebagaimana disyaratkan oleh Pasal 88 ayat 1 Undang-undang no.…….………………………………… .. PT....... dalam hal ini bertindak : *) a. 2............ provisi serta biaya-biaya lain yang mungkin timbul karena fasilitas kredit yang telah dan atau akan diberikan berdasarkan Perjanjian Kredit. dari dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama PT. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat persetujuan dari suaminya / istrinya.... ……………………………………...... BANK dan PEMBERI GADAI telah saling setuju dan sepakat untuk dan dengan ini membuat serta menetapkan Perjanjian untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh para pihak..... denda. ………………………………………………………………........1/5 ... dalam kedudukannya selaku ………………………………………. berkedudukan di ……………………. semua hak atas Rekening Deposito sebagaimana akan disebut dibawah ini....... PEMBERI GADAI telah : *) (i) mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.. Perjanjian Gadai Deposito ini (selanjutnya disebut “Perjanjian”) dibuat pada hari ini..

1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia untuk mencairkan Deposito tersebut dan PEMBERI GADAI menyetujui BANK dapat memperhitungkan hasil pencairan Deposito serta mengambil pelunasan atas hutang pokok. biaya dan pengeluaran yang timbul akibat pelaksanaan Perjanjian ini. Kuasa tersebut di atas dan kuasa lain yang diberikan di dalam Perjanjian ini bersifat tidak dapat ditarik kembali dan merupakan satu kesatuan serta bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. Divisi Hukum – Kantor Pusat hal. Apabila hasil pencairan Deposito tersebut kurang untuk membayar hutang DEBITUR berdasarkan Perjanjian Kredit maka DEBITUR tetap berkewajiban membayar sisa hutang DEBITUR kepada BANK. 2. demikian dengan tidak mengenyampingkan hak DEBITUR atau PENJAMIN untuk kemudian membuktikan bahwa jumlah yang terhutang. PASAL 2 EKSEKUSI DAN HASILNYA 1. 5. tanpa kuasa mana Perjanjian Kredit tidak akan dibuat dan karenanya kuasa-kuasa tersebut tidak akan berakhir karena sebab-sebab yang termaktub dalam pasal 1813. dan b. PEMBERI GADAI menyatakan dengan ini menggadaikan dan/atau memberikan kepada BANK. honor Pengacara Hutang tersebut diatas. Setiap jumlah yang diperoleh BANK dari hasil eksekusi berdasarkan Perjanjian ini. maka tanpa harus mendapatkan suatu keputusan. bunga. pasal 1814 dan pasal 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia atau sebab apapun. maka BANK akan mengembalikan sisanya kepada PEMBERI GADAI. Guna menjamin setiap dan seluruh jumlah uang yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit. dengan ketentuan bahwa BANK atas pertimbangan sendiri berhak untuk menolak permintaan tersebut.Lampiran 2 PASAL 1 PEMBERIAN GADAI 1. Dalam melaksanakan setiap hak untuk melakukan pencairan Deposito berdasarkan Perjanjian ini.2/5 . akan dipergunakan untuk membayar : a. provisi dan/atau biaya lain yang timbul berdasarkan Perjanjian Kredit termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara dimuka Pengadilan. tanpa mewajibkan BANK untuk membayar bunga atas sisa pencairan Deposito tersebut. PEMBERI GADAI dapat mengajukan permohonan kepada BANK untuk merubah jenis mata uang atas Deposito berjangka yang digadaikan tersebut diatas sesuai kurs yang berlaku sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelum tanggal perubahan mata uang yang diminta oleh PEMBERI GADAI tersebut. Dalam hal terjadi kejadian kelalaian sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kredit. perintah atau wewenang dari Pengadilan terlebih dahulu yang PEMBERI GADAI dengan ini secara tegas mengenyampingkannya dan dengan memberitahukan secara tertulis kepada PEMBERI GADAI. seluruh jumlah yang jatuh tempo dan atau dibayar berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kredit. seluruh ongkos. 4. dan untuk keperluan tersebut BANK berhak menentukan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR berdasarkan pembukuan dan catatan BANK. semua Hak atas Rekening Deposito yang dibuktikan dengan : Bilyet Deposito Berjangka : Nomor Deposito : Tanggal Deposito : Atas Nama : Jumlah : berikut setiap jumlah penambahan bunga ke dalam jumlah nominal yang setiap perubahan tersebut telah ternyata dari perubahan kontrak dan Bilyet Depositonya (Selanjutnya disebut “Deposito”). 2. BANK tidak perlu membuktikan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR berdasarkan Perjanjian Kredit. PEMBERI GADAI setuju dan dengan ini memberikan kuasanya kepada BANK yang tidak dapat ditarik kembali dan tidak akan berakhir oleh sebab apapun termasuk tapi tidak terbatas pada sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813. Demikian sebaliknya apabila dari hasil pencairan Deposito tersebut masih terdapat sisa. 3.

faksimile. 4. 3. Perjanjian ini oleh para pihak dimaksudkan sebagai jaminan terhadap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit dan tidak boleh ditafsirkan sebagai membatasi atau menghalangi dengan cara apapun juga eksekusi oleh BANK atas setiap hak yang dimiliki oleh BANK untuk memperoleh pelunasan atas setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR. perkara. Perjanjian ini bukan merupakan pembayaran atas jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit kecuali dan sampai BANK benar-benar menerima dana hasil pencairan Deposito untuk membayar setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR. Dalam hal PEMBERI GADAI karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan perkaranya oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh hak kekebalan. surat tercatat.Lampiran 2 PASAL 3 PERNYATAAN DAN JAMINAN 1. PASAL 4 KETENTUAN LAIN-LAIN 1. 4. PEMBERI GADAI akan atas biayanya sendiri dan setiap waktu atas permintaan tertulis dari BANK. kewajiban. BANK berhak untuk menyimpan asli bilyet Deposito sebaik-baiknya pada tempat yang aman. PEMBERI GADAI dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali melepaskan hak kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian Kredit dan atau Perjanjian ini. yang BANK alami atau derita dengan cara apapun juga atas atau sehubungan dengan Deposito atau Perjanjian ini. 5. tuntutan. sah atau tidak. 6. Semua surat menyurat atau pemberitahuan-pembertahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada pihak lainnya dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan secara langsung. gugatan. telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat tersebut di bawah ini : Divisi Hukum – Kantor Pusat 2. termasuk namun tidak terbatas pada biaya yang dikeluarkan oleh BANK sehubungan dengan eksekusi Perjanjian ini. PEMBERI GADAI menyatakan bahwa apa yang digadaikan tersebut diatas adalah miliknya. DEBITUR dan atau PEMBERI GADAI wajib membela. Jaminan dalam Perjanjian ini sekali-kali tidak dan tidak dapat mengurangi atau mempengaruhi hak dan wewenang BANK untuk menjalankan/melaksanakan atau mengajukan tuntutan atau gugatan berdasarkan agunan atau perjanjian lain berupa apapun yang sekarang telah dan di kemudian hari akan dipegang oleh atau diberikan kepada BANK untuk memberikan jaminan atau kepastian pembayaran hutang yang wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit. serta bebas dari sitaan dan mengenai hal ini BANK tidak akan mendapat tuntutan dari pihak lain yang menyatakan mempunyai hak terlebih dahulu atau turut mempunyai hak terlebih dahulu atau turut mempunyai hak atas apa yang dijaminkan tersebut diatas.3/5 . BANK berhak untuk menerima hak atau benda jaminan tambahan lainnya dari pihak ketiga dan/atau untuk melepaskan hak atau benda jaminan itu dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada PEMBERI GADAI dan tanpa mempengaruhi kewajiban-kewajiban PEMBERI GADAI berdasarkan Perjanjian ini. PASAL 5 PEMBERITAHUAN 1. mengganti rugi dan membebaskan BANK dari dan terhadap setiap tindakan. pungutan dan biaya dalam bentuk apapun. tepat pada waktunya dan sebagaimana seharusnya. satu dan lain hal atas biaya DEBITUR atau PEMBERI GADAI. tidak digadaikan kepada pihak lain. kerugian. menandatangani dan menyerahkan kepada BANK setiap instrumen dan dokumen sebagaimana BANK secara beralasan menganggap perlu dalam mendapatkan manfaat penuh dan atas hak dan kekuasaan yang diberikan dalam Perjanjian ini. 2. Divisi Hukum – Kantor Pusat hal. 3. Hak jaminan yang diberikan berdasarkan Perjanjian ini merupakan tambahan terhadap dan tidak bergantung kepada hak atau benda jaminan lainnya yang mungkin dipegang atau diperoleh BANK sehubungan dengan Hutang yang dijamin berdasarkan Perjanjian ini. PEMBERI GADAI memiliki hak dan kewenangan penuh untuk mengalihkan dan menyerahkan Deposito kepada BANK dan persetujuan (-persetujuan) yang diperlukan sesuai anggaran dasar PEMBERI GADAI maupun peraturan yang berlaku telah diperoleh PEMBERI GADAI secara cukup dan lengkap.

PEMBERI GADAI wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut. dan tanpa menghilangkan kemungkinan diberlakukannya kembali ketentuan yang dilarang tersebut di kemudian hari. maka surat-menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan berdasarkan Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau pemberitahuan itu dengan secara langsung. Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada tanggal tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada tanggal setelah 5 (lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak mewakili BANK atau PEMBERI GADAI (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi dengan kode jawab. sebagaimana diminta oleh BANK. selama adanya larangan tersebut tanpa mengakibatkan batalnya ketentuan hukum lain dari Perjanjian. sebagaimana diminta oleh BANK. dan (iv) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan tanda telah dikirim.Lampiran 2 a. maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam Perjanjian ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat dimaksud.4/5 . 3. perpanjangan dan/atau setiap penambahan jumlah nominal deposito tersebut. Tbk : : : : : : : : : : : 3. hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini. PASAL 6 KETENTUAN PENUTUP 1. : PT Bank Danamon Indonesia. telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) yang ditujukan ke alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang diketahui atau tercatat pada masing-masing pihak. PEMBERI GADAI Nama Alamat Telpon Fax Telex Contact Person 2. 1833. PEMBERI GADAI wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut. Divisi Hukum – Kantor Pusat hal. 5. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang tercatat pada masingmasing pihak. PEMBERI GADAI menyetujui bahwa Deposito yang digadaikan berdasarkan Perjanjian ini tunduk kepada "Ketentuan-ketentuan Operasi Bank" termasuk setiap alat bukti yang diajukan/dipergunakan oleh BANK yang berlaku untuk setiap perubahan. 2. Perjanjian ini dibuat berdasarkan dan hanya dapat ditafsirkan menurut hukum Republik Indonesia. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjan ini yang dinyatakan batal demi hukum. dan ketentuan-ketentuan lainnya tersebut tetap berlaku dan mengikat dan dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini. PEMBERI GADAI dengan ini menyatakan secara tegas melepaskan hak dan hak istimewa yang diberikan oleh Undang-undang seperti tercantum pada pasal 1831. yang berasal dari jumlah bunga yang diterima maupun valuta tersebut diatas sehingga penggadaian yang dilakukan sejak pertama kalinya akan tetap berlaku untuk seterusnya selama hutang belum dibayar lunas. facsimile. 4. surat tercatat. BANK Nama Alamat Telpon Fax Telex Contact Person b. Bila suatu ketentuan dalam Perjanjian yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau pengadilan dilarang atau tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku. 1837 dan 1848 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. Jika perubahan alamat tersebut tidak diberitahukan.

________________________ Nama : Jabatan : *) Coret yang tidak perlu Divisi Hukum – Kantor Pusat hal.……………………. kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK untuk meneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. di ………………. pada hari dan tanggal tersebut di atas dan mulai berlaku sejak tanggal ………………………………... Demikian Perjanjian ini dibuat di ……………………….. demikian dengan tidak mengurangi hak BANK untuk melakukan penuntutan atau gugatan terhadap DEBITUR dan atau PEMBERI GADAI berdasarkan Perjanjian ini di pengadilan-pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia. BANK PT BANK DANAMON INDONESIA.5/5 .Lampiran 2 6. Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak. kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan berarti bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis.. Hak-hak dan upayaupaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hak-hak dan upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum.. kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis. 7. Dan digunakannya sebagian dari hak. 8. Tbk PEMBERI GADAI Materai ________________________________ Nama : Jabatan : _________________________ Nama : Jabatan : Mengetahui dan Menyetujui... Kegagalan atau kelalaian BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI melaksanakan suatu ketentuan dalam Perjanjian ini tidak akan melepaskan hak BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI untuk melaksanakan ketentuan tersebut dikemudian hari. Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya para pihak memilih domisili hukum yang tetap dan tidak berubah di Kantor Panitera Pengadilan Negeri ……..

……………………… (………………………………………………. disebut “Perjanjian Kredit”) yang ditanda tangani oleh dan antara Pemberi Kuasa dengan Bank. Divisi Hukum – Kantor Pusat 1/2 . sehingga walaupun untuk sesuatu tindakan itu diperlukan surat kuasa khusus. kuasa tersebut supaya dianggap telah diberikan dengan kuasa ini. berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut “Bank”) kepada Pemberi Kuasa sebagaimana ternyata dalam Perjanjian Kredit No………………………………. untuk dan atas nama Pemberi Kuasa : --------------------------------------------------------. mencairkan deposito berjangka milik Pemberi Kuasa yang terdapat pada Bank baik yang ada pada saat ini maupun yang akan diserahkan dikemudian hari. 2. Bank Danamon Indonesia. (berikut dengan segenap perubahan. : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… Dengan ini menerangkan terlebih dahulu : Bahwa sehubungan dengan pemberian fasilitas kredit oleh PT. bunga. Segala kuasa yang diberikan sehubungan dengan surat kuasa ini bersifat tidak dapat ditarik kembali dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Perjanjian Kredit. perpanjangan dan pembaharuan daripadanya.. Tbk. termasuk tetapi tidak terbatas pada bilyet deposito dengan nomor ………………………. tanggal ………………………. yaitu dalam hal Pemberi Kuasa lalai (wanprestasi) berdasarkan Perjanjian Kredit. honor Pengacara yang timbul akibat hutang berdasarkan Perjanjian Kredit. dengan ini Pemberi Kuasa memberi kuasa dengan hak subtitusi kepada Bank (selanjutnya disebut juga “Penerima Kuasa”).Lampiran 3 SURAT KUASA PENCAIRAN DEPOSITO Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat KTP No. provisi dan/atau biaya lain yang timbul dan dipandang perlu oleh Bank termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara di muka Pengadilan.. penambahan.K H U S U S------------------------------------------------------1. serta dokumen-dokumen lainnya sehubungan dengan pencairan Deposito tersebut menurut syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan/prosedur yang diatur dan berlaku pada Bank tidak ada yang dikecualikan. nominal Rp.) (selanjutnya disebut “Deposito”) dan selanjutnya memperhitungkan serta mengambil pelunasan atas hutang pokok. dan tidak akan berakhir karena sebab-sebab yang termaktub dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia. dengan ketentuan bahwa Pemberi Kuasa tetap berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya sekalipun pencairan Deposito tersebut telah dilakukan. menandatangani surat-surat/tanda terima.

……………………………………… Divisi Hukum – Kantor Pusat 2/2 . …………… PENERIMA KUASA. gugatan dan klaim apapun juga serta dari pihak manapun juga. ………………………. ……………………………………. tuntutan. termasuk dari Pemberi Kuasa sendiri serta dari semua kerugian dan resiko yang timbul dikemudian hari sehubungan dengan Surat Kuasa ini. PEMBERI KUASA...Lampiran 3 Pemberi Kuasa dengan ini menyatakan menjamin dan membebaskan Bank dari segala kewajiban. Demikian Surat Kuasa ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan dengan semestinya.

asuransi dan biaya-biaya lain yang mungkin timbul sehubungan dengan pemberian kredit oleh PENERIMA KUASA kepada PEMBERI KUASA. PENERIMA KUASA. Bank Danamon dan/atau Tabungan No. Divisi Hukum – Kantor Pusat 1/1 . Selama hutang dari PEMBERI KUASA belum dibayar lunas kepada PENERIMA KUASA.. hutang pokok. denda. melalui Cabangnya di …………………………………………………………………………………………………. …………. BANK DANAMON INDONESIA. bunga. …………………….. provisi. Dengan ini memberi kuasa dengan hak Subtitusi kepada : PT. ------------------------------------------------------.. Tbk berkedudukan di Jakarta.. : ………………………………… : ………………………………… : ………………………………… Pemegang Rekening A/C : …………………………………. Demikian Surat Kuasa ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. : …………………………………. ………………………………… ……………………………. Bank Danamon Selanjutnya disebut PEMBERI KUASA. PEMBERI KUASA...Lampiran 4 SURAT KUASA Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat KTP No. kuasa ini tidak akan berakhir oleh karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang tercantum dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata... notaris. selanjutnya disebut PENERIMA KUASA.K H U S U S --------------------------------------------------------Untuk mendebet Rekening/Tabungan tersebut di atas dan/atau rekening lain atas nama PEMBERI KUASA pada PENERIMA KUASA guna membayar biaya administrasi...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful