You are on page 1of 24

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah hirabbil¶alamin puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Illahi Robbi sekalian alam yang telah memberikan segala nikmat-Nya pada penulis
sehinggga penulis dapat meraskan dalamnya arti kehidupan.
Terucaprasa syukur yang tiada hentinya kepada Ilahhi Robbi sekalian alam
yang telah memberikan kemudahan pada penulisan dalam penyusunan karya tulis ini,
sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya masih jauh dari
kesempurnaan.
Penulis merasa lega karena telah terbebas dari beban yang selalu menghantui
ayunan langkahnya. Dan karya ini penulis beri judul ³SISTEM KOLOID DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI:. Penulis hanya bias berharap, agar pada diri para
pembaca timbul rasa ingin tahu.
Tak lupa penulis haturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pad :
- Ayahanda dan bundaku tercinta yang telah mencurahkan segala perhatiannya pada
penulis baik secara materi/spirit.
- Bapak Drs. H. m. Muslim, M.Pd, selaku Kepala SMA Negeri 1 Sukahaji yang
telah memberikan izinnya.
- Bapak Drs. Entis Diat TW, selaku guru pembimbing.
- Bapak/Ibu guru Bidang Studi yang telah membantu penulis.
- Bapak Halim, S.P.d, selaku wali kelas 3 IPA yang selalu memberikan motivasi
pada penulis.
ii

- Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian karya tulis ini, dan
- Pada hati dan pikiran yang telah mempermudah penulis dalam penyusunan karya
tulis ini.
Mudah-mudahan karya tulis dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Amin.
















Sukahaji, Maret 2011
Penulis
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
PENDAHULUAN .....................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah ..................................................................................1
B. Alasan Pemilihan Masalah ..............................................................................1
C. Penjelasan Istilah Dalam Judul ........................................................................2
D. Tujuan Penelitian ............................................................................................2
E. Rumusan dan Pembatasan Masalah .................................................................3
F. Metode dan Teknik Penelitian .........................................................................3
G. Sistematika Penulisan......................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................5
A. Pengertian Sistem Koloid ................................................................................5
B. Macam-macam Koloid ....................................................................................6
C. Sifat-sifat Koloid.............................................................................................9
D. Pembuatan Koloid ......................................................................................... 12
E. Cara Pemurnian Koloid dengan Dialisis ........................................................ 15
KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ................................................. 16
A. Industri Kosmetik.......................................................................................... 16
B. Industri Makanan .......................................................................................... 16
C. Industri Tekstil .............................................................................................. 16
iv

D. Bidang Obat-obatan / Farmasi ....................................................................... 16
E. Industri Sabun dan Detergen ......................................................................... 17
F. Bidang Pertanian ........................................................................................... 17
PENUTUP ............................................................................................................... 18
A. Kesimpulan ................................................................................................... 18
B. Saran ............................................................................................................. 18
C. Kata Penutup................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 20


1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kita ketahui koloid bukanlah suatu hal yang aneh ditelinga kita, namun
masyarakat tidak menyadarinya. Dimana senyawa koloid itu digunakan dan apa
itu senyawa koloid ?. Senyawa koloid merupakan suatu system/zat yang
digunakan dalam berbagai macam biidang industri, baik industry tekstil,
kosmetik dan industri sabun dan detergen. Dimana selalu saja ada dan hadir
dalam kehidupan kita.
Walaupun demikian kita harus mengetahui apa yang timbul jika kita
selalu menggunakannya, apakah berdampak fositif atau negatif.

B. Alasan Pemilihan Masalah
Dalam karya tulis ini penulis sengaja mengambil judul ³SISTEM
KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI´. Adapun alas an yang
mendasar dan melatarbelakangi karya tulis ini, diantaranya :
1. Apasajakah yang mengandung koloid ?
2. Apasajakah sifat-sifat koloid ?
3. Apasajakah macam-macam koloid ?
4. Bagaimana cara pemmbuatan koloid ?
2

5. Bagaiman cara menstabilkan koloid agar tidak rusak ?
6. Bagaiman caranya penggunaan koloid ?
7. Bagaimana cara penurunan koloid ?
8. Dengan alasan-alasan tersebut penulis berharap agar masyarakat mengetahui
apa itu koloid ?

C. Penjelasan Istilah Dalam Judul
Penulis mengambil judul ³ Sistem Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari´.
Dimana penulis akan menjelaskan arti dari judl tersebut agar tidak terjadi
kesalahpahaman pada diri pembaca dimana sistem yaitu :
Sistem : Perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga
membentuk satu totalitas.
Koloid : Zat yang berpencar dalam zat pelarut sehingga butir yang lebih besar
daripada molekul, tapi tidak dapat dilihat dengan mata.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melakukan penelitian dan menyusun karya tulis ini yakin
agar para pembaca pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dapat
mengetahui bahwa tak ada satu hahan dalam kehidupan kita yang tidak
mengandung koloid.Selain itu agar masyarakat tahu bahwa koloid itu sangat
berpengaruh terhadap kehidupan kita sehari-hari.
3

E. Rumusan dan Pembatasan Masalah
Dengan melihat diatas penulis membatasi masalah yang di teliti pada
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana cara menggunakan dan penstabilan koloid ?
2. Bagaimana cara pembuatan koloid
3. Dampak apakah yang timbul jika koloid tidak di pergunakan lagi atau jika
koloid di gunakan secara terus menerus

F. Metode dan Teknik Penelitian
Dalam karya tulisini penulis menggunakan metode studi documenter dan
observasi terhadap lingkungan, yaitu dengan menganalisis data dan mengambil
kesimpulan berdasarkan pada pemikiran, kepustakaan dan mengamati langsung
terhadap sumber data.

G. Sistematika Penulisan
Dalam karya tulis ini penulis menggunakan sistematika penulisan yang
terdiri dari IV Bab, yang masing masing isi ringkasannya sebagai berikut :
BAB I Berisi tentang Pendahuluan, dimana pendahuluan tersebut berisi tentang
latar belakang apa saja yang membuat penulis ingin menjelaskan masalah
itu,tentang alasan pemilihan judul, penjelasan istilah-istilahnya, berisi tentang
4

tujuan, rumusan dan batasan masalah, beserta dengan teknik dan metode
penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II Berisi tentang tujuan pustaka, dimana disana di jelaskan berbagai macam
penjelasan mulai dari pengertian sampai dengan macam, sifat, pembuatan dan
cara pemurnian koloid.
BAB III Berisi tentang apa saja peran koloid dalam kehidupan sehari-hari dimana
disana dijelaskan bahwa koloid selalu di pergunakan dalam bidang industri dan
bidang kelestarian lingkungan.
BAB IV Berisi penutup berakhirlah karya tulis ini.









5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sistem Koloid
Pernah kita melihat kabut ? kabut bias terjadi di bawah dataran tinggi,
dimana kabut tersebut adalah titik titik air yang membatasi penglihatan kita.
Dan kita akan membandingkan perbedaan antara larutan, system koloid
dan sispensi. Berikut table perbedaan tersebut.
Tabel I. Perbedaan Antara Larutan, Sistem Koloid dan Suspensi

No
Larutan
(Sistem Homogen)

Sistem Koloid
Suspensi
(Sistem Heterogen)
1

Ukuran Partikel Kurang
dari 1 mm
Ukuran Partikel
antara
1 nm- 100nm
Ukuran Partikel antara
100 nm samapi> 100nm
2 Terdiri dari 1 fase Dua fase Dua fase
3 Penyebaran Permanen
Ada kecenderung
mengidap
Mengendap dengan cepat
4
Partikel tidak tampak
pada ultra mikroskop
Tampak pada ultra
mikroskop
Tampak oleh mata dan
dapat dilihat dengan
mikroskop
5
Dapat melewati saringan
dan membran
Dapat melewati
Saringan dan tidak
Dapat melewati
membran
Dapat disaring dengan
Saringan dan tidak dapat
Melewati membran

Jadi sistem koloid adalah suatu sistem yang terjadi apabila zat dilarutkan
kedalam zat lain.
6

B. Macam-macam Koloid
Pada bagian berikut akan kita bahas macam-macam koloid secara
terperinci diantaranya :
1. Sol
Sol yaitu koloid yang fase terdispersinya padat dalam medium cair sol
ada yang bersifat hidrofil dan hidrpfod.
Contoh sol hidrofil : Sol kanji, protein, sol sabun, sol glatin, dll.
Contoh sol hidrofod : Sol-sol sulfida, sol belerang, sol Fe (OH)3
Dalam sol hidrofil, butir koloidnya membungkus diri dengan selebung
air sehingga mereka terhindar dari agregasi lain halnya dengan sol hidrofob.
Sol hidrofob mendapat kestabilannya karena mereka men adsorpsi ion-
ion tertentu sehingga menjadi bermuatan sejenis. Oleh karena itu butir-butir
koloidnya saling tolak menolak sehingga tidak mengalami agregasi.
Sol hidrofil lebih stabil dibandingkan dengan sol hidrofod . Sol hidrofil
tidak akan menggumpal degan penambahan sedikit elektrolit. Zat padat yang
terdespresi dari sol hidrofil dapat dipisahkan dengan
pengendapan/penguapan.Apabila zat tersebut ditambahkan lagi medium
dispersinya maka dapat kembali membentuk sol hiudrofil. Jadi, sol hidrofil
bersifat reversible (dapat balik). Sedangkan sol hidrofob dapat mengalami
konjulasi karena penambahan sedikit elektrolit. Apabila zat padat terdespresi
dipisahkan dari sol hidrofob, misalnya dengan penguapan, akan sukar
7

mengubahnya kembali membentuk sol dengan penambahan sebagai sol
hidrofob inversibel (tidak dapat balik).
2. Gel
Gel adalah koloid yang setengah kaku (antara padat dan cair). Gel
terjadi jika medium pendispersi dari adsorpsi oleh partikel-partikel koloid
sehingga terjadi koloid yang agak padat, atau gel dapat terbentuk apabila sol
liofil dipanaskan kemudian didinginkan. Pada proses ini butir-butir sol saling
bersambungan membentuksuatu jaringan yang kemudian membungkus
medium dispersinya. Contioh selai, lem agar-agar, gel, silikas campuran
larutan kalsium asetat jenuh da alcohol 95%, dll.
3. Aerosol
Aerosol suatu sistem koloid yang partikelnya (padat/cair) dalam
medium gas. Aerosl dengan fase terdispersinya cair disebut aerosol cair jika
fase terdispersinya padat disebut aerosol padat.
Aeroslcair banyak digunakan dibidang industry yang menghasilkan
produk dengan cara disemprotkan yaitu hairsparay, parfum spray dan obat
nyamuk spray. Disamping itu ada juga aerosol cair alami yaitu : awan dan
kabut.
Aerosol dapat banyak digunakan misalnya untuk obat pembasmi
hama,asap obat nyamuk dan asap pengawet makanan.Disamping itu ada juga
aerosol padat membahayakan kesehatan manusia yaitu asap pabrik, asap
knalpt dan asap rokok.
8

4. Emulsi
Emulsi kolid dimana zat terdispersi dan medium dispersinya sama-
sama zat cair tetapi tidak dapat saling bercampur. Untuk membentuk
diperlukan zat pengemulsi atau emuglator. Emuglator ĺ zatyang dapat
terbentuk pada kedua zenis zat cair.
Ada 2 jenis emulsi, yaitu :
a. Emulsi jenis O/W atau M/A
Yaitu minyak sebagai fase terdispersi dalam air, contohnya air susu,
santan dan milk cleanser.
b. Emulsi jenis W/O atau A/M
Yaitu air sebagai fase terdispersi dalam minyak contohnya mentega
dan minyak rambut.
Ada 2 jenis emuglator yang sering digunakan yaitu :
a. Persenyawaan karbon berantai panjang dan mempunyai gugusan polar
seperti kalsium butirat, sabun dan detergen.
b. Persenyawaan berbentuk sol kofil seperti protein dan glatein PbS0

,
Fe

0

, CaC0

, dan tanah irat.
5. Buih
Buih kooid dimana gas terdispersi dalam air, seperti halnya pada
emulsi, untuk menstabilkan emulsi diperlukan zat pembuluh, misalnya sabun,
9

detergen, protein dan lain-lain. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu
gas kedalam zat cair yang mengandung pembuih.
Buih digunakan pada berbagai proses misalnya buih sabun pada
pengolahan bijih logam, pada alat pemadam kebakaran, dan lain-lain, zat yang
dapat memcah buih diantaranya eter, isomol, alcohol, dan lain-lain.

C. Sifat-sifat Koloid
1. Efek Tyndall
Penampilan system koloid sering kali sama sengan larutan sejati, akan
tetapi kedua sistem itu mempunyai berbagai perbedaan antara lain sifatnya
terhadap cahaya. Larutan sejati meneruskan cahaya (transparan) sedangkan
koloid menghamburkan cahaya ke segala arah. Peristiwa penghamburan sinar
oleh partikel-partikel ke segala arah disebut efek tyndall.
2. Gerak Brown
Gerak Brown suatu gerak zat partikel koloid yang arahnya tidak
menentu disebabkan oleh tumbuhan dari molekul-molekul medium
pendispersi dengan partikel koloid. Gerak partikel yang arahnya tidak
menentu arahnya ditemukam pertama kali oleh sarjana Biologi yang bernama
Robert Brown (1`773-1859)
3. Adsorpsi
10

Adsorpsi Peristiwa dimana suatu zat menempel padapermukaan zat
lain. Untuk berlangsungnya adsorpsi harus adadua macam zat diantaranya
yaitu zdsortat (zat yang ditarik) dan adsorban (zat yang menarik).
Contoh Adsorpsi :
a. Koloid Feሺ0Bሻ

,dalam air menyerah ion hydrogen (ion B

) sehingga
partikelnya bermuatan positif.
b. S

S

menyerapion hidroksida (ion B

) sehingga parrtikelbermuatan
negative.
4. Elektroforesis
Elektroforesis peristiwa mengalirnya partikel-partikel koloid yang
bermuatan dalam medium listrik elektroda seel elektroforesis diganakan
untuk mengetahui partikel bermuatan listrik. Dan juga elektroforesis
digunakan untuk mengetahui partikel bermuatan listrik. Dan juga
elektroforesis dapat digunakan untuk menetukan muatan koloid.
5. Koagulasi
Koagulasi Pengumpulan koloid yang disebabkan oleh penambahan
elektrolit/terjadinya perubhan fisis melalui cara mekanik.
a. Koagulasi dengan penambahan zat kimia/elektrolit
Ion yang efektif untuk menggumpal koloid adalah ion yang
muatannya berlawanan dengan muatan koloid, contohnya :
1) Koloid Feሺ0Bሻ

, bercampur dengan S

S


11

2) Sol emas yang bermuatan negatif dapat dikoagulasikan dengan
NaCl, CaCl

, atau lCl


3) Partikel-partikel karet dalam lateks diigumpalkan dengan
penambahan asam cuka
4) Partikel tanah dalam air sungai akan
b. Koagulasi Mekanik
Koagulasi dengan cara mekanik dapat dilakuka dengan pemansan,
pendinginan atau pengendapan, contoh :
1) Telur Rebus
2) Pembuata Agar-agar
6. Liofil dan Liofob
Sol liofil solyang fase terdisppersinya mempunyai kemampuan
menarik medium pendispersi, ex : gelatin dalam air dan puih telur dalam air,
sol liofob : sol yang fase terdispersinya tidak menarik medium pendispersi ex
: S

S

dalam air, garam sulfide dalam air dan elerang dalam air.
Tabel 2. Perbedaan Sol Liofil danSol Liofob
Sol Liofil Sol Liofob
Revesibel Irevesibel / Tidak Revisibel
Stabil Kurang Stabil
Kurang penampakan gerak
Brown
Gerak Brown sangat jelas
Efek Tyndall lemah Efek Tyndall kuat


12

Sol Liofil Sol Liofob
Sukar diendapkan dengan
penambahan elektrolit
Mudah diendapkan dengan
penambahan elektrolit
Kebanayakan dapat dibuat gel
Hanya beberapa yang dapat
dibuat gel
Partikel terdispersi dapat
menyerap molekul.
Partkel terdispersinya menyerap
ion
Penyusunan senyawa organik
contoh : Protein
Penyusunan senyawa anorganik
Contoh : S

0



7. Koloid Asosiasi
Zat-zat seperti sabun dan detergen yang molekulnya terdiri atas gugus
hidrofob dan gugus hidrofil sekaligus, bila dilakukan dalam air akan
membentuk koloid karena molekul-molukelmya membentuk asosiasi.
Asosiasi terjadi karena gugus hidrofob saling mengikat dan saling
menjauhkan diri dari air. Daya pembersih dari sabun dtergen juga karena aksi
yang sama, gugus hidrofob dari molekul sabun menarik partikel
minyak/lemak dari bahan cucian dan mengemulsikannya kedalam air.
8. Koloid Pelindung
Koloid pelindung koloid yang dicampurkan pada koloid lain umtuk
menstabilkan koloid tersebut sehingga contoh FEሺ0Bሻ

dapat distabilkan
dengan menambah sol gelatin. Dalam hal ini sol gelatin disebut sol
pelindung.
D. Pembuatan Koloid
1. Cr Kondensasi
13

Cr Kondensasi pembuatan koloid dengan pengelompokan
(agregasi) partikel dari larutan sehingga membentuk partikel koloid. Cara
kondensasi dapat dilakukan dengan cara :
Reaksi Redoks
Reaksi Redoks Reaksi yang disertai perubahan bilangna
oksidasi.
Ex : Pembuatan sol belerang berdasarkan reaksi sosoks antara B
ʹ
S dan
S0

. Dalam hal ini gas B
ʹ
S dilarutkan kedalam S0

.
2B
ʹ
S + S0

2B
ʹ
O + 3S
Hidrolisis
Hidrolis reaksi suatu zat dengan air.
Ex : Pembuatan FEሺ0Bሻ
͵
dari hidrolis larutan FeCl
͵
.
Apabila kedalam air mendidih ditambahkan sedikit larutan FeCl
͵

maka terjadi reaksi.
Fe Cl
͵ሺaqሻ
+ 3B
ʹ
0
ͳ
FEሺ0Bሻ
͵ሺsሻ
+ ͵BCl
ሺaqሻ
atau
Fe
ଷ൅
(aq)
+ 3H
2
O
(1)
Fe(OH)
3(S)
3H
+
Molekul FEሺ0Bሻ
͵
yang terbentuk pada reaksi itu mengalami
konndensasi membentuk partikel koloid. Apabila FeCl
3
yang
ditambahkan terlalu banyak, maka Fe(OH)
3
dapat mengendap.


14

Dekomposisi Rangkap
Dekomposisi rangkap dapat terjadi antar 2 jenis garam atau antara
suatu garam dengan asam / basa.
Ex : Pembuatan sol AgCl dari reaksi antar larutan AgNO
3
encer dengan
larutan NaCl encer. Dalam hal ini harus ada sedikit kelebihan ion
Ag
+
atau Cl
-
sehingga AgCl yang terbentuk lebih stabil.
AgNO
3(aq)
+ NaCl
(aq)
AgCl
(s) +
NaNO3
(aq)

atau Ag
+
(aq)
-
+ Cl
-
(aq)
AgCl
(s)
2. Cr Dispersi
Pembuatan koloid dengan cara dispersi dengan memecah molekul
besar menjadi menjadi molekul-molekul kecil yang sesuai denga ukuran
partikel koloid Cr sispersi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Cara Mekanik
Ialah Cr menghaluskan butir-butir kasar yang menumbuk/menggerus
dengan gilingan koloid, kemudian mengaduknya dengan medium dispersi.
Ex : Pembuatan Sol belerang
Mula-mula belerang dihaluskan kemudian didispersikan kedalam air
sehingga terbemtuk suatu system koloid.
Cara Partisipasi
Ialah pembentukan system koloid dari butir-butir besar dengan
bantuan zat pempestasi (pemecah)
15

Ex : Endapan Ag I dapat peptisasi dengan menambahkan larutan elektrolit
dari ion sejenis misalnya Kalium Laloida (KI)
Cara Busur Bredig
Cara ini digunakan untuk membuat sol logam atau mengalirkan arus
listrik melalui 2 elektroda logam yang tercelup dalam medium dispersi.

E. Cara Pemurnian Koloid dengan Dialisis
Sistem koloid dapat dimurnikan dari ion-ion elektrolit yang dapat
mengurangi kestabilan koloid dengan dialysis. Dengan cara ini koloid yang akan
dimurnirnikan simasukan kedalam sebuah kantung yang terbuat dari selaput
semipermeabel, seperti perkamen, selopan/kolodion, lalu kantung itu dimasukan
kedalam bejana yang berisi air mengalir supaya kosentrasi ion /partikel
molekuler dalam bejana tetap lebih rendah daripada dalam kantung, sehingga
tidak terjadi proses balik (ion/partikel tidadk kembali ke kantung koloid). Prosoes
dialysis dapat dipercepat dengan memasang medan listrik dalam bejana yang
akan mempercepat merembesnya ion-ion dari dalam kantung. Dialisis yang
menggunakan medan listrik ini disebut elektro dialisis.





16

BAB III
KOLOID DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Koloid sering digunkan/acap kali kita melakukan suatu kegiatan, maka disitu
pulalah kolois kita digunakan. Berikut adalah keguanaan koloid :
A. Industri Kosmetik
Dalam bidang kosmetik koloid bias berbentuk dalam produk foundation,
finishing cream, deodorant, lipstick dan lain-lain dan biasanya sebagai emulsi.
B. Industri Makanan
Tak jauh dengan bidang kosmetik, koloidd juga digunakan di industry
makanan misalnya saja susu, santan, eskrim, agar-agar, bumbu selada, mentega
dan keju.
C. Industri Tekstil
Pada proses pencelupan bahan (untuk pewarna) yang kurang baik daya
serapnya terhadap zat warna dapat menggunakan zat warna koloid karena
memiliki daya serap yang tinggi sehingga dapat melekat pada kain.
D. Bidang Obat-obatan / Farmasi
Koloid pun digunakan pada bidang kesehatan khusunya obat-obatan yang
bisa berupa krim salep, sirup, minyak iakan dan sirup obat batuk.
17

E. Industri Sabun dan Detergen
Sabun dan detergen merupakan emuglator untuk membentuk emulsi
antara kotoran (minyak) dengan air dimana kita serimg menggumakannya.
F. Bidang Pertanian
Dibidang ini tidak banyak jenisnya namun, walaupun semikian koioid
selalu digunkan yaitu dengan berupa obat semprot pertanian dan insekstisida.
Adapun dampak yang ditimbulkan, misalnya saja dalam kelestarian
lingkungan. Untuk mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh-oleh pabrik-
pabrik maka diguanakanlah suatu alat yang disebit cotrell. Alat ini befungsi
untuk menyerap partikel koloid yang terdapat dalam gas buangan koloid yang
terdapat dalam gas buangan keluar dari cerobong asappabrik.










18

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan penjelasan tadi dapat kitasimpulkan bahwa kooid itu berperan
sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan juga sering digunakan baik
dalam bidang industry, farmasi dan pertanian. Namun dismping itu berdampak
fositif, koloid juga berfampak negatif bagi kelestariaan lingkungan, misalnya saja
dengan adanya pabrik-pabrik besar, kita bisa mendapatkan pekerjaan. Namun
pabrik tersebut menyebarkan pulusi yang berakibat fatal bagi kehidupan,
B. Saran
Dalam penyelesaiian karya tulis ini saya juga ingin memberikan sedikit saran
kepada guru bidang studi dan juga masyarakat sekitar, yaitu sebagai berikut :
Guru Bidang Studi
Saya harap dalam penjelesan materi yang akan disampaikan, harus secara
detaik dan juga agar lebih afdol, jika materi selesai juga dengna ditunjang
praktek. Dengan tujuan supaya siswa lebih paham.
Masyarakat
Saya harap masyarakat tidak menggunakan bahan-bahan yang dapat
membahayakan dengan dosis melampui batas
19

C. Kata Penutup
Dengan berakhirnya materi pada BAB III diatas, berakhir pula karya tulis
ini, mudah-mudahan karya tulis ini berguna bagi masyarakat/pembaca pada
umunya dan bagi penulis khususnya.

















20

DAFTAR PUSTAKA

Purba, Michael, Drs dan Sarwono Hadi, Drs. 1989. Ilmu Kimia 3 Untuk SMA. Jakarta
Erlangga.
Farida, Dra, Rochyati, Dra,.dkk.202.Kimia 2 Untuk SMA. Bandung PT.Remaja Rosda
Karya.