You are on page 1of 4

A.

PENDAHULUAN
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia, kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa, dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuannya itu. Dia mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, serta mana yang indah dan mana yang jelek. Secara terus menerus dia selalu hidup dalam pilihan. Manusia adalah satu-satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Manusia dapat memikirkan hal-hal baru, menjelajah ufuk baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidupnya. Inilah yang membuat manusia mengembangkan pengetahuannya dan pengetahuan ini mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas. Dari pengetahuan, Semua filsuf-filsuf awal ini mencari kebenaran dan telah mencoba dan menemukan suatu metode menemukakan hakikatnya. Plato dan aritoteles menyusun dan mensistematisasikan sebagian besar masalah-masalah yang akan dikenal sebagai filsafat, suatu tindakan yang hampir mustahil diikuti. Orangorang yunani awal mulai dari pertanyaan mengenai kodrat manusia, dan kedudukannya dalam semesta, dan menyusun suatu metode penalaran yang utuh dari permasalahan itu. Plato dan aristiteles memberikan kejelasan dan ketegaran bagi gaya berpikir ini dengan memberikan dasar-dasar bagi semua filsafat.

B. PEMBAHASAN 1. Penalaran
Penalaran adalah suatu proses objek berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahun. Pada hakikanya, Manusia merupakan makhluk yang berpikir, merasa, bersikap, dan bertindak. Sikap dan tindakannya yang bersumber pada pengetahuan yang di dapatkan lewat kegiatan merasa dan berpikir. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Namun, yang disebut benar bagi setiap orang adalah tidak sama. Maka oleh sebab itu, kegiatan berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu pun juga

berbeda-beda. Dapat dikatakan juga, bahwa jalan pikiran mempunyai yang disebut sebagai kriteria kebeneran, dan kriteria kebenaran ini merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut. Dan di kriteria kebeneran tersebut penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenran dimana tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing. Sebagai suatu kegiatan berpikir penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu : Adanya suatu pola berpikir yang secara luas yang di sebut logika. Bahwa, Kegiatan penalaran berpikir merupakan suatu proses berpikir yang logis. Sifat Analitik dari proses berpikirnya. Yaitu suatu penalaran kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan secara logika ilmiah. Intuisi merupakan suatu kegiatan berpikir yang nonanalitik yang tidak memdasarkan diri kepada suatu pola berpikir tertentu. Berpikir intuitif ini memegang peranan yang penting dalam masyarakat yang berpikir nonanalitik, yang kemudian sering berpikir dengan perasaan.

2. Logika
Logika merupakan suatu proses kegiatan berpikir yang membuahkan pengetahuan, mengkaji untuk berpikir secara sohih1 ( logis ). Penalaran yang logis, mempunyai dua macam cara penarikan kesimpulan yaitu,

logika indutif dan logika deduktif. Logika induktif ( induksi ) merupakan cara
berpikir yang di tarik suatu kesimpulan yang bersifat individual menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Dan logika deduktif ( deduksi ) merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umun ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Dari Penarikan kesimpulan keduanya mempergunakan pola berpikir secara
1 William S. sahakian dan mabel lewis sahakian, realism of philosophy (cambridge, mass.:shcenkman, 1965), hlm. 3.

silogismus, silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis, yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang didapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut. Contohnya : Semua makhluk mempunyai mata ( premis mayor ) Si tebe adalah seorang makhluk Jadi, si tebe mempunyai mata ( premis minor ) ( silogismus ).

3. sumber pengetahuan
Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu !. Baik logika induktif, dalam proses penalarannya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar.