CETAK BIRU BANK PERKREDITAN RAKYAT

DIREKTORAT PENGAWASAN BANK PERKREDITAN RAKYAT

2 0 0 6

SAMBUTAN
Perekonomian Indonesia yang saat ini bertumpu pada usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu dasar penetapan strategi Pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi nasional yaitu pembangunan yang terfokus pada pemberdayaan UMKM. Sejalan dengan strategi Pemerintah tersebut, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebagai salah satu bank yang selama ini telah memberikan pelayanan perbankan terutama kepada usaha mikro dan kecil (UMK) sangat diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan peran dan kontribusinya dalam pengembangan UMK. Perkembangan industri BPR yang terus meningkat sejalan dengan perkembangan dunia perbankan dan teknologi informasi yang cukup pesat perlu didukung dengan kebijakan dan arah pengembangan BPR yang jelas dan terarah. Untuk itu penyusunan Cetak Biru (Blue Print) BPR menjadi suatu hal yang sangat penting dan dirasakan mendesak. Penyelesaian Cetak Biru BPR oleh Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat (DPBPR) merupakan suatu hal yang sangat ditunggu oleh para stakeholders. Cetak Biru ini diharapkan dapat menjadi pedoman Bank Indonesia dalam penyusunan kebijakan mengenai BPR untuk mewujudkan industri BPR yang sehat, kuat dan mampu memenuhi kebutuhan para nasabahnya khususnya UMK serta masyarakat di daerah pedesaan selama masa lima tahun ke depan. Cetak Biru ini diharapkan pula menjadi pedoman bagi para pelaku dunia usaha khususnya industri BPR serta pihak-pihak terkait lainnya agar terdapat keselarasan dalam pelaksanaan pengembangan BPR. Berbagai upaya telah dilakukan Bank Indonesia dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan BPR mencakup penyempurnaan ketentuan dan sistem pengawasan, penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas BPR, serta upaya pembentukan lembaga infrastruktur. Seluruh kebijakan tersebut selanjutnya akan berlandaskan pada Cetak Biru BPR ini. Cetak Biru BPR ini merupakan penjabaran dari Arsitektur Perbankan Indonesia yang telah disusun dan menjadi pedoman bagi Bank Indonesia dalam penentuan kebijakan terhadap industri Perbankan. BPR sebagai salah satu jenis Bank
Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat

ii

sesuai dengan Undang-undang No. 7 tahun 1992 sebagaimana diubah dengan UU No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, maka penetapan kebijakan dan strateginya tidak terlepas dari kebijakan terhadap industri perbankan secara nasional. Namun dengan karakteristiknya yang spesifik serta fokus nasabah BPR yang berbeda dengan Bank Umum maka penetapan arah serta strategi kebijakan terhadap BPR tentunya harus disesuaikan. Dalam pelaksanaannya, Cetak Biru ini akan terus dievaluasi seiring dengan perkembangan industri perbankan nasional serta perkembangan ekonomi. Dengan demikian masukan dari para pihak akan sangat berguna dalam pelaksanaan evaluasi. Demikian sambutan saya, kiranya Cetak Biru ini dapat menjadi pedoman bagi Bank Indonesia maupun seluruh stakeholders. Semoga Allah SWT selalu memberikan bimbingan kepada kita semua dalam pelaksanaan tugas kita.

Jakarta,

November 2006 Deputi Gubernur Bank Indonesia

Siti Chalimah Fadjrijah

Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat

iii

7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No.10 tahun 1998. Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat menyusun Cetak Biru BPR yang memuat visi. Namun dalam kenyataannya masih banyak UMK dan masyarakat pedesaan yang belum terlayani jasa perbankan sehingga tuntutan terhadap peran BPR juga semakin besar. Dalam upaya mencapai visi dan misi tersebut. dan strategi pengembangan yang dijabarkan dalam program kerja untuk periode 5 (lima) tahun yaitu tahun 2006 sampai dengan 2011. Untuk itu. ditetapkan strategi-strategi pengembangan yang obyektif dan realistis dengan memperhatikan perkembangan kebutuhan nasabah BPR khususnya UMK dan masyarakat pedesaan terhadap pelayanan jasa keuangan perbankan.KATA PENGANTAR Bank Perkreditan Rakyat selama ini disadari memiliki kontribusi yang cukup besar dalam pengembangan Usaha Mikro dan Kecil (UMK) karena perannya sebagai penyedia jasa perbankan kepada UMK khususnya di daerah pedesaan dan pinggiran kota. Visi dan misi yang dirumuskan tersebut didasarkan pada tujuan pendirian BPR sesuai Undang-undang No. Berkaitan dengan hal tersebut. dengan memperhatikan perkembangan industri BPR. infrastruktur industri BPR. potensi yang ada serta tantangan yang dihadapi. Bagaimana arah kebijakan BPR ke depan serta BPR seperti apa yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat UMK dan pedesaan merupakan pertanyaan yang sering dikemukakan oleh stakeholders. praktisi Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat iv . yaitu Konsultan GTZ ProFI dan Lembaga Manajemen PPM. identifikasi terhadap keunggulan komparatif BPR. Selama lima tahun terakhir. serta karakteristik BPR di masa depan. diharapkan dukungan dan partisipasi dari seluruh stakeholders guna mewujudkan visi BPR ke depan. industri BPR selalu menunjukkan kinerja dengan grafik yang positif dan peningkatan yang cukup signifikan. Cetak Biru memiliki peran penting sebagai pedoman bagi Bank Indonesia dalam menyusun kebijakan pengembangan BPR ke depan dan diharapkan juga menjadi acuan bagi stakeholders dalam mendukung kebijakan tersebut. Penyusunan Cetak Biru ini didasarkan pada hasil kajian dan telah melalui pembahasan dengan berbagai pihak. misi.

kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Atas segala kontribusi. dan perwakilan dari instansi lainnya. November 2006 Direktorat Pengawasan Bank Perkreditan Rakyat Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat v . masukan dan saran dari semua pihak sehingga tersusunnya Cetak Biru BPR ini. Jakarta. pakar ekonomi dan perbankan. akademisi.BPR yang diwakili oleh pengurus asosiasi BPR (PERBARINDO dan PERBAMIDA).

DAFTAR SINGKATAN API BKD BKK BKPD BPR DPK KURK LDKP LKM LPD LPK LPN LSP NPL LPS Arsitektur Perbankan Indonesia Badan Kredit Desa Badan Kredit Kecamatan Bank Karya Produksi Desa Bank Perkreditan Rakyat Dana Pihak Ketiga Kredit Usaha Rakyat Kecil Lembaga Dana dan Kredit Pedesaan Lembaga Keuangan Mikro Lembaga Perkreditan Desa Lembaga Perkreditan Kecamatan Lumbung Pitih Nagari Lembaga Sertifikasi Profesi Non Performing Loan atau rasio kredit non lancar terhadap total kredit Lembaga Penjamin Simpanan PAKTO 1988 Paket Ketentuan Oktober 1988 PERBAMIDA Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Milik Pemerintah Daerah se Indonesia PERBARINDO Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia ROA ROE SDM UMK Return on Aset atau Rasio laba sebelum pajak (disetahunkan) terhadap rata-rata total aset Return on Equity atau Rasio laba sebelum pajak terhadap total modal sendiri Sumber Daya Manusia Usaha Mikro dan Kecil Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat vi .

DAFTAR ISTILAH Kredit Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. sertifikat deposito. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga Dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro. deposito. tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu Kerjasama Bank Umum dan BPR dalam rangka pembiayaan kepada UMK Lembaga pengayom yang memberikan bantuan keuangan maupun bantuan teknis kepada BPR Kredit dengan plafond maksimum Rp50 juta Kredit dengan plafond lebih dari Rp50 juta sampai dengan maksimum Rp500 juta Kekurangan likuiditas yang disebabkan karena adanya perbedaan waktu jatuh tempo antara kredit dan simpanan Simpanan Linkage Program Lembaga Apex Kredit kepada Usaha Mikro Kredit kepada Usaha Kecil Mismatch Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat vii .

serta Arah Kebijakan dan Strategi BPR A. Strategi 1 : Memperkuat Kelembagaan B. Karakteristik BPR Masa Depan D. Misi. Posisi BPR dalam Sistem Keuangan di Indonesia C. Tantangan Bab IV Visi.DAFTAR ISI Sambutan Kata Pengantar Daftar Singkatan Daftar Istilah Daftar Isi Bab I Pendahuluan A. Perkembangan Jumlah dan Kinerja B. Visi B. Strategi Penguatan dan Peningkatan Peran BPR dalam rangka Pelayanan kepada UMK ii iv vi vii viii 1 1 2 4 5 6 6 9 11 13 13 15 18 18 18 18 20 Bab V Program Kerja A. Latar Belakang Penulisan Cetak Biru D. Sejarah Singkat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) B. Strategi 2 : Meningkatkan Kualitas 23 23 23 Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat viii . Karakteristik BPR. Misi C. Arah Kebijakan. Kondisi Industri BPR Saat Ini C. Tujuan Penulisan Cetak Biru Bab II Perkembangan Industri BPR A. Kondisi Infrastruktur Industri BPR Bab III Peluang dan Tantangan A. Peluang B.

Manajemen dan Operasional yang Sehat dan Profesional E.Pengaturan C. Strategi 5 : Mewujudkan Infrastruktur Pendukung Industri BPR Strategi 6 : Mewujudkan Pemberdayaan dan Perlindungan Nasabah 24 24 25 25 Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat ix . Strategi 4 : Meningkatkan Kualitas Tata Kelola (Governance). Strategi 3 : Meningkatkan Efektivitas Sistem Pengawasan D. F.

Pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober 1988 (PAKTO 1988) melalui Keputusan Presiden RI No. didirikan beberapa jenis lembaga keuangan kecil dan lembaga keuangan di pedesaan seperti Bank Pasar. dan Bank Dagang Desa. dinyatakan juga bahwa lembaga-lembaga keuangan kecil seperti Bank Desa.Bab I Pendahuluan A. pegawai. Selanjutnya PP No. Bank Karya Produksi Desa (BKPD). Sejarah Singkat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sejarah lembaga perkreditan rakyat dimulai pada masa kolonial Belanda pada abad ke-19 dengan dibentuknya Lumbung Desa. Bank Pasar. dan buruh untuk melepaskan diri dari jerat pelepas uang (rentenir) yang memberikan kredit dengan bunga tinggi. dengan tujuan membantu para petani. Bank Pegawai.38 yang menjadi momentum awal pendirian BPR-BPR baru. LPD. LPK. KURK. Lembaga Keuangan Bukan Bank yang telah memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan dapat menyesuaikan kegiatan usahanya sebagai bank. tidak seluruh lembaga keuangan tersebut dapat dikukuhkan Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 1 . Sampai dengan batas waktu yang ditetapkan. Selain itu.7/1992 tentang Perbankan.7/1992 tentang Perbankan). LPN. Kebijakan tersebut memberikan kejelasan mengenai keberadaan dan kegiatan usaha “ Bank Perkreditan Rakyat ” atau BPR. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. Sesuai UU No. BPR diberikan landasan hukum yang jelas sebagai salah satu jenis bank selain Bank Umum.7 tentang Perbankan tahun 1992 (UU No. Bank Tani. BKK. BKPD. Pada tahun 1988.71/1992 memberikan jangka waktu sampai dengan 31 Oktober 1997 bagi lembaga-lembaga keuangan tersebut untuk memenuhi persyaratan menjadi BPR. dan lembaga-lembaga lainnya yang dipersamakan dengan itu dapat diberikan status sebagai BPR dengan memenuhi persyaratan dan tata cara yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). BKD. Lembaga Dana Kredit Pedesaan (LDKP) oleh Pemerintah Daerah. Pasca kemerdekaan Indonesia. Lumbung Desa. Bank Desa. dan mulai awal 1970an.

jumlah dan sebarannya serta secara historis sebelum PAKTO 1988 pengawasan BKD dibawah kewenangan BRI maka pengawasan BKD dilakukan oleh BRI untuk dan atas nama Bank Indonesia. Sampai dengan akhir Juli 2006 terdapat 5. diberikan status sebagai BPR.sebagai BPR karena yang ditetapkan.277 (66%).345 BKD yang tersebar di pulau Jawa dan Madura. maka pengaturan dan pengawasan terhadap BKD pun tidak dapat disamakan dengan BPR. Posisi BPR dalam Sistem Keuangan di Indonesia 1. BKPD dan bank milik Pemerintah Daerah lainnya yang telah beroperasi sebelum PAKTO 1988 sebanyak 658 (34 %). Dalam pelaksanaan kegiatan usahanya BPR dapat menjalankan usahanya secara konvensional atau berdasarkan Prinsip Syariah.10/1998.7/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU No. serta operasionalnya tidak setiap hari.71/1992. tidak dapat memenuhi persyaratan BPR yang didirikan sesudah PAKTO 1988 maupun Lembaga Keuangan yang dikukuhkan menjadi BPR sesuai dengan PP No. Pada akhir bulan Juli 2006 jumlah BPR mencapai 1. tunduk pada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Perbankan dan peraturanperaturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai otoritas pengawas bank. B. namun karena organisasi dan manajemennya relatif sederhana. Dengan mempertimbangkan karakteristik yang spesifik. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 2 . meskipun lembaga tersebut sesuai UU No. Dalam UU tersebut secara tegas disebutkan bahwa BPR sebagai satu jenis bank yang kegiatan usahanya terutama ditujukan untuk melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan. Landasan Hukum dan Pengertian BPR Landasan Hukum BPR adalah UU No. namun dari jumlah tersebut sebanyak 863 diantaranya tidak melakukan kegiatan (non aktif). lingkup usahanya sangat kecil. dan Bank Pasar atau Bank Desa. Khusus Badan Kredit Desa (BKD).935 terdiri dari BPR yang didirikan setelah PAKTO 1988 sebanyak 1.7/1992 tentang Perbankan.

Untuk mencapai visi tersebut. guna menciptakan kestabilan sistem keuangan dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. memberikan kredit serta menempatkan dana dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI).2. melakukan penyertaan modal. bentuk. Selain itu. deposito berjangka. dan melakukan usaha perasuransian. kuat. sertifikat deposito dan/ atau tabungan pada bank lain. tabungan dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. dan efisien. salah satu sasaran yang ingin dicapai yaitu menciptakan struktur perbankan domestik yang sehat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat serta mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan. Lingkup Kegiatan BPR Kegiatan usaha yang diperkenankan dilakukan oleh BPR sangat terbatas dibandingkan dengan Bank Umum. API merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan di Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah. Arsitektur Perbankan Indonesia Dalam rangka memperkuat fundamental industri perbankan serta memberikan arah dan strategi perbankan ke depan telah disusun Arsitektur Perbankan Indonesia (API). BPR tidak diperkenankan menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran serta melakukan kegiatan usaha selain yang diperkenankan. Adapun wilayah kantor operasionalnya dibatasi dalam 1 (satu) propinsi. Melalui kebijakan tersebut diharapkan dapat tercapai struktur perbankan yang terdiri dari empat strata Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 3 . dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu sampai sepuluh tahun berlandaskan visi mencapai suatu sistem perbankan yang sehat. 3. yaitu hanya meliputi penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka. BPR tidak diperkenankan melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing kecuali sebagai pedagang valuta asing (dengan izin Bank Indonesia).

• Adanya penjaminan oleh LPS atas dana masyarakat yang disimpan di BPR. serta memfokuskan pelayanannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut. Adapun lembaga keuangan yang tepat dan strategis untuk melayani kebutuhan masyarakat tersebut adalah BPR dengan pertimbangan: • BPR merupakan lembaga intermediasi sesuai dengan UU Perbankan. bank dengan fokus usaha tertentu yaitu bank yang kegiatan usahanya terfokus pada segmen usaha tertentu sesuai dengan kapabilitas dan kompetensi masing-masing bank serta memiliki modal antara Rp100 miliar sampai dengan Rp10 triliun. kelembagaan dan manajemen BPR. • BPR memiliki karakteristik operasional yang spesifik yang memungkinkan BPR dapat menjangkau dan melayani UMK dan masyarakat pedesaan. Posisi Strategis BPR Disadari bahwa selama ini sebagian besar pengusaha mikro dan kecil. serta penyempurnaan pengaturan dan pengawasan BPR.bank yaitu bank internasional yang memiliki kapasitas dan kemampuan beroperasi di wilayah internasional serta memiliki modal diatas Rp50 triliun. Dalam rangka mencapai visi tersebut di atas. bank nasional yang memiliki cakupan usaha sangat luas dan beroperasi secara nasional serta memiliki modal antara Rp10 triliun sampai dengan Rp50 triliun. • BPR merupakan lembaga keuangan yang diatur dan diawasi secara ketat oleh Bank Indonesia. • BPR berlokasi di sekitar UMK dan masyarakat pedesaan. 4. serta masyarakat di daerah pedesaan belum mendapatkan pelayanan jasa keuangan perbankan baik dari aspek pembiayaan maupun penyimpanan dana. Posisi BPR yang strategis tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar keberadaan BPR Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 4 . program-program API telah memberikan perhatian pada perlunya penguatan permodalan. serta BPR dan bank dengan kegiatan usaha terbatas yang memiliki modal di bawah Rp100 miliar.

yang berbeda dengan bank umum. pertumbuhan lembagalembaga keuangan mikro baru. perkembangan perekonomian. Tujuan Penulisan Cetak Biru Dalam rangka memberikan arah yang jelas terhadap kebijakan BPR kedepan sehingga peran strategis BPR dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan maka disusun kerangka acuan kebijakan dan langkah-langkah strategis untuk mencapai visi dan misi BPR dalam bentuk Cetak Biru BPR. Cetak Biru BPR ini merupakan pedoman bagi Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan dan strategi pengembangan BPR konvensional. C. Perkembangan tersebut tidak dapat dibatasi karena berjalan sesuai dengan mekanisme pasar dan mencerminkan perannya yang meningkat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. perubahan tingkat pendapat masyarakat. namun tidak termasuk BPR Syariah dan BKD. penghimpunan dana pihak ketiga maupun kredit yang diberikan menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan BPR semakin luas dan keberadaan BPR semakin dibutuhkan oleh masyarakat. Agar perkembangan BPR tetap sejalan dengan tujuan awal pendirian BPR yaitu sebagai bank yang melayani UMK dan masyarakat pedesaan maka diperlukan pedoman yang memberikan arah strategis pengembangan BPR ke depan sehingga BPR tetap memiliki karakteristik yang spesifik. sedangkan BKD karena Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 5 . D. Latar Belakang Penulisan Cetak Biru Perkembangan industri BPR yang terus mengalami peningkatan secara pesat baik dari sisi total aset. Hal tersebut didasari pertimbangan bahwa pengembangan BPR Syariah telah mengacu kepada Cetak Biru Perbankan Syariah. dan tuntutan pelayanan perbankan yang lebih baik dari masyarakat. Pedoman tersebut sangat penting mengingat berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan BPR telah mengalami perubahan yang sangat cepat seperti perkembangan teknologi informasi.memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan mendorong perekonomian daerah.

Cetak Biru ini juga diharapkan dapat menjadi kerangka acuan bagi industri BPR dan pihak lainnya dalam mendukung pengembangan industri BPR secara sehat dan berkesinambungan di masa depan. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 6 .karakteristiknya yang berbeda dengan BPR sehingga dalam operasionalnya tidak mengikuti aturan-aturan sebagaimana yang wajib dilakukan BPR.

512 per akhir tahun 1992. Hal tersebut menunjukkan bahwa penurunan jumlah BPR tidak mengurangi jangkauan pelayanan BPR kepada masyarakat. sedangkan yang sehat namun memiliki keterbatasan permodalan didorong untuk melakukan merger guna meningkatkan efisiensi dan permodalannya.d. dan menjadi 1. dan meningkat hingga mencapai 1. BPR-BPR bermasalah yang pada akhirnya dicabut izin usahanya pada tahun 2001 s. Sejak tahun 2001 sampai dengan Juli 2006 telah dilakukan pencabutan izin usaha terhadap 249 BPR. Namun sejak akhir tahun 2002 jumlah BPR mengalami penurunan menjadi 2. baik dari sisi kelembagaan maupun kinerja. Melalui kebijakan tersebut. BPR-BPR yang mempunyai permasalahan struktural dan tidak dapat diselamatkan lagi. Dari jumlah BPR yang melakukan merger tersebut lebih dari 95% merupakan BPR milik Pemerintah Daerah. 2. Sekalipun terjadi penurunan jumlah BPR dari 2. jumlah kantor BPR pada kurun waktu yang sama mengalami peningkatan dari 2. Penurunan ini sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia untuk melakukan penyehatan industri BPR.Bab II Perkembangan Industri BPR A. Perkembangan Jumlah dan Kinerja Perkembangan BPR dari tahun ke tahun telah menunjukkan peningkatan yang signifikan. Momentum utama perkembangan jumlah BPR terjadi dengan dikeluarkannya PAKTO 1988 yang memberikan peluang pendirian BPR yang menetapkan modal disetor minimum Rp50 juta. Selain itu sejak tahun 2001 sampai dengan 2006 sebanyak 306 BPR telah melakukan merger sehingga menjadi 26 BPR.355 per akhir tahun 2001.157.432 menjadi 3.355 pada bulan Desember 2001 menjadi 1.935 pada bulan Juli 2006. Jumlah BPR sebelum PAKTO (akhir September 1988) sebanyak 423 BPR.141.262 per akhir tahun 1998. dan 2. 2003 sebagian besar karena Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 7 . Pencabutan izin usaha terbanyak dilakukan pada tahun 2001 dan 2002 masing-masing sebanyak 62 dan 151 BPR. dicabut izin usahanya.935 per akhir bulan Juli 2006.

355 2. sejak Desember 2001 sampai dengan Juli 2006.158 2.009 1. pertumbuhan total aset BPR mencapai 230.141 2.000 pihak ketiga maupun pemberian kredit. dan dana pihak ketiga 244. Meskipun mengalami dam-pak Des’01 Des’02 Des’03 Des’04 Des’05 Juli’06 krisis. kredit dan dana pihak ketiga tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Umum yang masing-masing sebesar 38.telah mengalami permasalahan struktural sejak sebelum krisis. kredit 238.299 3. meskipun dampak tersebut tidak terlalu besar.8% dan 45.419 BPR pada akhir tahun 2000.5%.000 yang tangguh menghadapi krisis yang 2.7%. Pertumbuhan total aset.000 terjadi. Perkembangan Jumlah dan Kantor BPR 2001 s. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir.747 3. Kredit Yang Diberikan BPR yang terus dan Dana Pihak Ket iga Posisi Juli 2006 menunjukkan kinerja 25.141 2. diberikan 10.000 Kredit yg total aset. Kondisi di atas menunjukkan bahwa BPR memiliki daya tahan 4. terlihat dari relatif sedikit BPR yang mengalami kejatuhan karena krisis tersebut.432 2.000 dari pertumbuhan 15.d. 126. jumlah BPR 2.106 3.000 yang positif baik Total Asset 20. Perkembangan BPR tidak terlepas dari dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1998. Juli 2006 Perkembangan usaha Perkembangan Total Asset .0%.157 BPR pada akhir tahun 1997 menjadi 2. Relatif tingginya pertumbuhan kinerja BPR Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 8 .4%. Des’01 Des’02 Des’03 Des’04 Des’05 Agt’06 didorong oleh tiga faktor utama yaitu kebijakan Pemerintah yang memberikan peluang pendirian BPR.000 penghimpunan dana Dana pihak ketiga 5. deregulasi perbankan yang memperbesar ruang gerak BPR dan besarnya kebutuhan masyarakat terutama di daerah pinggiran kota dan pedesaan terhadap jasa pelayanan perbankan.8%.935 Jumlah BPR meningkat dari 2.140 Jumlah Kantor 2.507 3.

65 7. mengingat kegagalan operasional BPR tersebut akan berdampak sangat besar terhadap kepercayaan masyarakat kepada BPR secara umum.95 59.50 9 .500 10% (209 BPR) pada 1.00 10. Meningkatnya jumlah BPR bertotal aset besar.00 60.00 20.83 8.56 9. s.78 7.000 akhir tahun 2004.50 7.9% lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Umum sebesar 47. Perkembangan Loan to Deposit Ratio (LDR) 100. 361 283 422 500 berkurang menjadi 209 147 131 6.00 BPR 2001 2002 2003 2004 2005 Juli06 80.d. perlu mendapat perhatian yang lebih besar. Rp1 m > Rp1 m .52 8. persentasenya cenderung meningkat.00 40.66 61.Rp10 m > Rp10 m Sedangkan kelom-pok BPR dengan total aset besar (di atas Rp10 miliar).52 49.8% (422 BPR) selama kurun waktu yang sama.501 1.96 6.6% (283 BPR) menjadi 21.23 7. Hal tersebut menunjukkan BPR lebih mampu menyalurkan dana yang dimilikinya.00 80. 2001 2002 2003 2004 2005 Juli06 Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat BPR 11.42 Bank Umum 12. 2.00 74.00 - Dilihat dari aspek keuangan Loan to Deposit Ratio (LDR) selama lima tahun terakhir.000 1.8% (131 BPR) pada Des-04 Des-05 Jul-06 bulan Juli 2006.01 38.00 5. yaitu dari sebanyak 13.590 yaitu dari sebanyak 1. rata-rata LDR BPR sebesar 77.87 70.00 79.382 1.59 4.7%.74 Perkembangan Non Performing Loan (NPL) 15.24 43.40 Bank Umum 33. semakin semakin Dilihat dari sisi total aset per individu BPR dalam lima tahun terakhir terdapat kecenderungan pergeseran kelompok BPR yang memiliki total aset kecil (di bawah Rp1 miliar) yang Sebaran Total Aset BPR persentasenya cenderung menurun.50 80.97 7.73 82.tersebut menunjukkan kemampuan BPR yang meningkat dalam melayani nasabahnya serta diakuinya keberadaan BPR oleh masyarakat.

745 miliar dengan jumlah rekening sebanyak 6. Kondisi Industri BPR Saat Ini Jumlah BPR pada akhir bulan Juli 2006 sebanyak 1.0 3. Rp29.8%.427 ribu terdiri dari tabungan sebesar Rp4. pada periode yang sama rata-rata NPL BPR yaitu sebesar 8. 4.2 3.3% lebih baik dibandingkan dengan Bank Umum yang mencapai 2. jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun mencapai Rp14.1%.9% lebih tinggi dibandingkan dengan Bank Umum yang Perkembangan Ret urn on Asset (ROA) sebesar 7. Dari jumlah BPR tersebut. dan Rp6.9%) berkantor di luar kotamadya. dan sisanya (21.0 2. sebagian besar (78.935 dengan jumlah kantor sebanyak 3. B.7 2.4 1.6 2004 3.6 3.5 2002 3.244 miliar (6.0 1.157.4 2. Kondisi keuangan industri BPR pada akhir bulan Juli 2006 yang terlihat dari indikator-indikator keuangan BPR menunjukkan total aset BPR mencapai Rp21.448 miliar (2.7%) tersebar di luar pulau Jawa dan Bali.0 2003 3. Sebagian besar BPR tersebut (70. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 10 .7 juta.0 2.071 ribu rekening) dan deposito berjangka Rp10.5 2005 Juli06 3. sedangkan yang berlokasi di kota-kota sebanyak 29.0 2.3%) berlokasi di pulau Jawa dan Bali.457 ribu rekening). Pelayanan BPR sampai dengan saat ini tetap fokus pada sektor UMK seperti tercermin dari rata-rata saldo tabungan. dan jumlah kredit yang diberikan mencapai Rp16.Dari sisi Non Performing Loan (NPL).4%.501 miliar (356 ribu rekening). deposito dan kredit per rekening yang relatif kecil yaitu masing-masing sebesar Rp699 ribu. rata-rata ROA BPR mencapai 3.5 Sedangkan dari sisi Return on Asset (ROA) selama lima tahun terakhir.5 juta.410 miliar.0 BPR Bank Umum 2001 3.

8%) masih memiliki > Rp5 m .d.110% > 80% .5%) memiliki modal 649 disetor antara Rp500 s.Rp50 m total aset di bawah > Rp50 m .3% BPR 114 423 73 362 403 560 s.2%) yang memiliki modal disetor di atas Rp25 miliar. Rp1 miliar.4%) memiliki total aset di atas Rp50 miliar.Rp5 m > Rp5 m . sedangkan sisanya tergolong kurang sehat dan tidak sehat. 81.2%) memiliki modal 874 363 disetor di bawah Rp500 juta dan 649 BPR (33. Sebaran Modal Diset or BPR per Juli 2006 Sebaran Rasio LDR BPR Per Juli 2006 Fungsi intermediasi BPR relatif sudah mendekati optimal terlihat dari rasio LDR secara nasional mencapai 79. Apabila dikaitkan dengan peraturan yang berlaku. tingkat kesehatan BPR cukup baik yang terlihat dari jumlah BPR dengan kondisi sehat dan cukup sehat mencapai 82. 70% > 90% . Meskipun demikian.Rp25 m juta s. jumlah BPR yang belum memenuhi persyaratan minimal 40% dari jumlah modal disetor minimum adalah sebanyak 382 BPR atau 19. 874 BPR 45 4 (45.d.Rp100 m > Rp100 m Rp1 miliar dan 65 BPR (3.d.Rp1 m > Rp1 m . 901 Sedangkan 131 BPR s.d. Rp1 m > Rp1 m .5%) memiliki total aset antara Rp1 481 s.d.9%) total aset industri BPR secara nasional.7% dari seluruh BPR. sebagian 40 25 357 131 besar BPR yaitu 1. Dilihat dari sebaran modal disetor. Secara nasional. dan apabila dilihat dari sebarannya.9%.80% > 100% .382 (71.Rp5 m (6. Rp500 juta > Rp500 jt .90% > 110% Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 11 . 10 miliar. 65 BPR tersebut menguasai lebih dari sepertiga (38. > Rp25 m serta hanya 4 BPR (0.Dilihat dari sebaran Sebaran Tot al Aset BPR per Juli 2006 total aset.4%.100% > 70% .Rp10 m > Rp10 m .

sebagian besar kredit 38. Sebaran Kredit per Jenis Penggunaan Posisi Juli 2006 Dilihat kredit Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 12 .telah memiliki rasio LDR lebih dari 70%. dari sebaran per jenis penggunaannya.7%.3% yang disalurkan BPR Kredit Modal Kerja adalah kredit modal Kredit Investasi kerja. dan sisanya kredit investasi yang hanya mencapai 5.0% dari total kredit.3%.0% 56. Posisi kedua ditempati oleh kredit konsumsi yang mencapai 38.7% 56. yang mencapai Kredit Konsumsi 5.

serta sektor jasa. Sebaran Kredit per Sekt or Ekonomi Posisi Juli 2006 Pertanian 6. sehingga sebagian besar kredit yang dibutuhkan merupakan jenis kredit modal kerja. 1. Lembaga-lembaga yang diharapkan berperan serta mendukung pengembangan dan kinerja BPR. Di wilayah tersebut. Selanjutnya kredit yang tersalur kepada sektor jasa-jasa sebesar 10. Asosiasi BPR Asosiasi BPR yaitu PERBARINDO (Perhimpunan BPR Indonesia) dan PERBAMIDA (Perhimpunan BPR Milik Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 13 . sebagian besar nasabah BPR merupakan UMK yang bergerak di sektor perdagangan. Lembaga Sertifikasi.6%).0% 41.0% dan sektor perindustrian 1. pada kenyataan-nya mencakup pula kredit kepada rumah tangga seperti untuk kebutuhan sekolah. serta sektor perdagangan. namun juga digunakan untuk kebutuhan produktif.5% Perindustrian Perdag.5%.7% 1. dan penginapan. antara lain Asosiasi BPR.. Kondisi Infrastruktur Industri BPR Perkembangan industri BPR tidak terlepas dari dukungan lembaga-lembaga terkait sebagai infrastruktur industri.6% 10.2%. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya sektor lain-lain tidak murni hanya untuk kebutuhan konsumtif. pengobatan. seperti pertokoan dan pasar. rumah makan. & penginapan Jasa-jasa Lain-lain 40. dan Lembaga Penjamin Simpanan. sektor pertanian 6. Komposisi kredit seperti itu sejalan dengan karakteristik nasabah BPR yang terkonsentrasi di kawasan pusat aktivitas ekonomi masyarakat. C. RM.Berdasarkan sektor ekonomi-nya. dan penginapan (40. rumah makan.2% Sektor lain-lain yang sering-kali diartikan sebagai kredit konsumtif. pembelian kendaraan yang sering pula digunakan untuk memperoleh tambahan penghasilan dengan memanfaatkan-nya sebagai alat transportasi (ojek).7%). serta untuk modal kerja warung yang dikelola secara sederhana. sebagian besar kredit BPR tersalur ke sektor lain-lain (41.

diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dapat tetap terpelihara. maka peran lembaga ini di masa mendatang perlu diperluas dengan program sertifikasi kepada komisaris dan karyawan BPR. Tujuan utama pendirian lembaga sertifikasi ini untuk menjamin terlaksananya sistem sertifikasi bagi direktur BPR. Fungsi utama LPS adalah menjamin simpanan nasabah bank dan melakukan penyelesaian atau penanganan bank yang tidak berhasil disehatkan atau bank gagal.24 tahun 2004 tanggal 22 September 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). dan dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat antar lembaga keuangan yang melayani UMK.Pemerintah Daerah se Indonesia) yang dibentuk dalam rangka meningkatkan kinerja dan pengembangan BPR. Melihat manfaatnya bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) BPR. termasuk menjamin kualitas dan pelaksanaan sistem sertifikasi. Lembaga Penjamin Simpanan Lembaga Penjamin Simpanan merupakan lembaga pemerintah yang didirikan berdasarkan Undang-Undang No. meningkatkan kualitas dan kemampuan profesionalisme sumber daya manusia BPR. Peran yang sama diharapkan pula dilakukan oleh PERBAMIDA terhadap BPR anggotanya. serta turut aktif memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 14 . 2. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) LKM CERTIF LSP LKM Certif merupakan lembaga yang bertugas untuk mengatur dan menetapkan sistem sertifikasi dan telah mendapatkan pengesahan dari instansi yang berwenang. Peran PERBARINDO tersebut perlu terus ditingkatkan sehingga dapat menjadi mitra strategis Bank Indonesia dalam upaya meningkatkan kinerja dan pengembangan BPR. Dengan adanya penjaminan simpanan nasabah bank oleh LPS. 3. Hal tersebut dimaksudkan agar kompetensi SDM BPR dapat ditingkatkan terutama dalam memberikan pelayanan kepada UMK. belum dapat berjalan secara efektif.

Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 15 .

hal ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan guna meningkatkan peran BPR dalam memberikan pelayanan kepada UMK dan masyarakat. Peluang 1.Bab III Peluang dan Tantangan Perkembangan industri BPR yang pesat selama ini menunjukkan bahwa BPR merupakan salah satu pilar penting dalam sistem keuangan mikro di Indonesia. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 16 . Keunggulan Komparatif Dalam sistem keuangan di keunggulan komparatif baik Umum maupun LKM non bank. Disamping peluang-peluang tersebut. Indonesia. serta adanya infrastruktur pendukung. pengawasan dan pembinaan oleh Bank Indonesia. Selain itu. maka terdapat peluang penyaluran kredit BPR sebesar Rp120 triliun atau 8 kali jumlah kredit yang disalurkan BPR per Juli 2006. Meskipun demikian. Sejalan dengan perkembangan ekonomi. serta lebih memahami ekonomi dan masyarakat setempat. terdapat tantangantantangan yang akan dihadapi BPR ke depan. proses yang cepat. dan skim kredit yang lebih fleksibel. Potensi Pasar yang Besar Saat ini diperkirakan terdapat 15 juta UMK berbadan hukum yang 12 juta di antaranya belum mendapat kredit dari perbankan. BPR juga unggul dalam hal pelayanan kepada nasabah yang mengutamakan pendekatan personal dan “ j emput bola “ . BPR memiliki dibandingkan dengan Bank Keunggulan yang dimiliki BPR terhadap Bank Umum terutama prosedur pelayanan yang sederhana. Apabila tiap UMK memperoleh kredit senilai Rp10 juta. Adapun peluang dan tantangan tersebut adalah sebagai berikut: A. BPR memiliki keunggulan berupa adanya pengaturan. lokasi kantor yang dekat dengan nasabah. Dibandingan dengan LKM non bank. masih banyak UMK dan masyarakat pedesaan yang belum dapat dilayani oleh BPR. 2.

linkage program antara BPR dengan Bank Umum perlu diteruskan dan ditingkatkan. 4. Kerjasama tersebut dapat berupa penyaluran pinjaman.3/2006) menegaskan pentingnya pemberdayaan UMK. koperasi. Kerjasama dalam rangka pembiayaan kepada UMK dapat dikembangkan dengan berbagai institusi agar pembiayaan kepada UMK tersebut mencapai sasaran dan efisien. yang antara lain berupa: Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 17 . Di samping itu. antara lain kerjasama BPR dengan Bank Umum. terutama karena BPR adalah lembaga keuangan yang beroperasi sesuai dengan ketentuan perbankan. Hal tersebut merupakan potensi bagi BPR untuk meningkatkan sebaran dan jangkauannya. Potensi Kerjasama Keuangan dengan Lembaga Lain Peluang kerjasama keuangan BPR dengan berbagai lembaga lain sangat terbuka. khususnya dalam hal peningkatan akses UMK kepada sumber daya finansial. Keberadaan program ini semakin diperkuat dengan adanya kesepakatan antara PERBARINDO dan PERBANAS untuk mendorong penyaluran kredit UMK melalui BPR.Sebagian besar masyarakat pedesaan yang populasinya mencapai sekitar 56. diawasi dan dibina oleh Bank Indonesia. Pemerintah Pusat dan Daerah juga sedang berupaya meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan melalui berbagai program.5% (data BPS 2005) dari total masyarakat Indonesia belum tersentuh pelayanan perbankan dan masih tergantung pada pelayanan keuangan informal dan program pemerintah. pembiayaan kepada UMK maupun dalam pendanaan (refinancing) kepada BPR itu sendiri. 3. LKM non bank. yang dapat dimanfaatkan oleh BPR untuk menyediakan jasa keuangan mikro. Dukungan Kebijakan Pemerintah Upaya Pemerintah secara gencar untuk meningkatkan peran UMK dan masyarakat pedesaan dalam perekonomian nasional yang direalisasikan antara lain dengan dikeluarkannya Paket Kebijakan Perbaikan Iklim Investasi (Inpres No. Terkait dengan hal tersebut. maupun lembaga lainnya.

Berdasarkan data sampai dengan akhir bulan Juli 2006.7%) yang belum memenuhi ketentuan permodalan untuk akhir tahun 2006 yaitu 40% dari ketentuan modal disetor minimum. 3. Penguatan Permodalan BPR Untuk mendukung pertumbuhan yang sehat dan memperluas pelayanan BPR. efisiensi BPR masih perlu ditingkatkan terutama dari sisi produktivitas SDM mengingat salah satu sumber inefisiensi BPR adalah rendahnya ketrampilan dan profesionalisme SDM BPR. serta menangkap peluang dalam melakukan ekspansi usaha kepada UMK. Masalah Likuiditas dan Pendanaan BPR Kepercayaan terhadap BPR masih perlu ditingkatkan mengingat masyarakat lebih memilih menyimpan dananya di Bank Umum. selain peningkatan profesionalisme perbankan (core banking skills) dan tata kelola perusahaan (corporate governance).• • • • • • Usaha pengembangan kewirausahaan untuk menciptakan wirausaha-wirausaha kecil baru Pembangunan sentra industri kecil dan koperasi Kemudahan mikro perijinan dan perlindungan bagi usaha Penguatan dan pemberdayaan UMK melalui bantuan dan akses modal usaha Penyediaan infrastruktur dan bagi UMK dan kemitraan usaha jaringan pendukung Peningkatan kemampuan petani supaya mampu menghasilkan produk yang mampu bersaing sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan petani. B. Hal ini mendorong BPR menawarkan tabungan dan deposito berjangka dengan suku bunga Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 18 . BPR perlu didukung dengan permodalan yang kuat. Peningkatan Efisiensi BPR Sekalipun kinerja BPR cukup baik berdasarkan indikator keuangan seperti ROA dan ROE. Tantangan 1. Hal ini menuntut pengkajian dan penerapan teknologi modern dan tepat guna. 2. terdapat 382 BPR (19.

persaingan di masa depan dalam pembiayaan kepada UMK akan semakin meningkat. 5. perlu diupayakan hadirnya lembaga keuangan sebagai pengayom BPR yang mampu menyediakan dana jangka pendek pada saat dibutuhkan BPR. selama ini BPR memelihara alat likuid dalam jumlah besar yang berakibat penggunaan dana BPR tidak optimal. 4. juga sebagai penyedia dana untuk ekspansi BPR.yang lebih tinggi dibandingkan Bank Umum sehingga menyebabkan tingginya cost of fund yang pada gilirannya meningkatkan suku bunga kredit BPR. Persaingan juga muncul sebagai akibat dari penyaluran dana donor. Peningkatan Penyebaran dan Jangkauan BPR Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 19 . Persaingan yang lebih ketat di masa depan Sejalan dengan bertambahnya lembaga-lembaga keuangan yang juga memberikan pembiayaan kepada UMK. Terkait dengan persaingan tersebut di atas. Untuk mengantisipasi risiko likuiditas. karena belum adanya lembaga dan sistem yang menyediakan pinjaman jangka pendek bagi BPR yang membutuhkan sebagaimana halnya pasar uang antar bank pada Bank Umum. BPR dituntut untuk mencari dan membuka pasar baru yang tidak terlayani Bank Umum dan pesaing di atas serta mengembangkan hubungan dengan nasabah yang berkesinambungan. serta BPR secara bilateral untuk mengatasi permasalahan likuiditas yang dialami. Simpanan nasabah BPR yang pada umumnya berjangka pendek dibandingkan dengan kredit yang diberikan menimbulkan risiko likuiditas (liquidity mismatch). LKM non-bank dan lembaga penyalur dana bergulir yang didukung oleh Pemerintah. Untuk membantu BPR mengatasi kesulitan likuiditas yang disebabkan mismatch maupun karena kekurangan dana untuk ekspansi kredit BPR. pemerintah dan BUMN secara langsung melalui proyek atau secara tidak langsung melalui Bank Umum dan/ atau koperasi. Selama ini BPR mengandalkan kemampuan keuangan pemegang saham dan pengurus/ relasi pengurus BPR. Persaingan tersebut dapat terjadi dengan Bank Umum yang mengembangkan unit-unit pelayanan mikro.

Meskipun di luar pulau Jawa dan Bali terdapat beberapa daerah yang memiliki daya tarik tinggi yaitu memiliki PDRB per kapita yang tinggi dan konsentrasi penduduk yang cukup. mengingat belum efektifnya implementasi transparansi informasi produk BPR dan penggunaan data nasabah. aspek perlindungan nasabah merupakan tantangan tersendiri bagi BPR. Hal tersebut terkait dengan daya tarik ekonomi dan pengaturan BPR. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana meningkatkan penyebaran BPR di luar Jawa dan Bali. namun hal tersebut belum menarik minat investor untuk mendirikan BPR di wilayah tersebut. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 20 . serta penyelesaian pengaduan nasabah. Perlindungan Nasabah BPR Dalam rangka meningkatkan peran pelayanan BPR kepada UMK dan masyarakat pedesaan. serta persyaratan modal disetor yang lebih rendah.Perkembangan industri BPR yang pesat dalam lima tahun terakhir tidak diimbangi dengan penyebaran yang lebih merata khususnya di luar Pulau Jawa dan Bali. 6.

terutama di wilayah pedesaan. Karakteristik BPR. Operasional BPR yang dikelola secara profesional dan didukung manajemen yang berkualitas akan meningkatkan kredibilitas BPR di mata masyarakat dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Karakteristik BPR Masa Depan Sesuai visi yang ingin dicapai. Misi Menciptakan kondisi yang kondusif untuk mendorong peningkatan kinerja dan pelayanan BPR kepada UMK dan masyarakat setempat. C. sertifikasi kompetensi perlu terus ditingkatkan kualitas dan cakupannya. karakteristik BPR. produktif. Untuk itu. khususnya di pedesaan guna mendukung pertumbuhan perekonomian daerah. B.Bab IV Visi. Untuk mewujudkan hal tersebut. serta Arah Kebijakan dan Strategi BPR Upaya meningkatkan peran BPR di dalam melayani UMK dan masyarakat pedesaan perlu didasari oleh visi dan misi yang diketahui oleh seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) agar upaya tersebut dapat didukung bersama. Visi. Peran BPR sebagai lembaga intermediasi masyarakat mikro dan kecil diharapkan semakin meningkat kepada sektorsektor yang produktif. serta kemampuan menghimpun sumber Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 21 . Visi Terwujudnya industri BPR yang sehat. dimasa mendatang diharapkan dapat diwujudkan industri BPR yang didukung oleh para pengelola yang mempunyai kompetensi dan integritas yang tinggi serta menerapkan prinsip-prinsip “ g ood corporate governance ” dalam pengelolaan BPR. serta arah kebijakan dan strategi penguatan dan peningkatan peran BPR tersebut selama 5 tahun ke depan (periode 2006 – 2011) adalah sebagai berikut: A. Misi. permodalan yang kuat. misi. BPR perlu didukung dengan kemampuan teknis mengenai sektor yang dibiayai. kuat. dan dipercaya untuk melayani UMK dan masyarakat.

Untuk itu. Langkah-langkah yang dilakukan dalam mencapai visi BPR tersebut akan terus diarahkan agar tetap sejalan dengan karakteristik BPR yang spesifik. sertifikat deposito. dan kegiatan usahanya tetap terbatas sebagaimana diatur dalam UU Perbankan yaitu hanya diperkenankan menghimpun dana dalam bentuk deposito berjangka. Hal ini mengingat masih besarnya potensi pasar pada segmen tersebut yang belum terlayani jasa perbankan. dan tidak diarahkan untuk menciptakan bank-bank umum kecil.pendanaan baik dari masyarakat maupun melalui kerjasama dengan lembaga keuangan lain. Menyebar secara merata di seluruh Indonesia Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 22 . Bank lokal yang berkantor di satu provinsi dengan kegiatan usaha terbatas BPR akan tetap dibatasi jaringan kantornya dalam satu provinsi. 3. serta sejalan dengan pesan UU Perbankan. Fokus pada UMK dan masyarakat pedesaan Kemampuan pelayanan jasa keuangan BPR yang terus meningkat selama 5 tahun terakhir seperti nampak dari perkembangan kinerja berupa total asset. tabungan dan/ atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. meskipun dalam API BPR dikelompokkan bersama dengan “ B ank Umum dengan Kegiatan Terbatas ” . dan/atau tabungan pada bank lain. dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan akan terus didorong agar BPR tetap fokus kepada UMK dan masyarakat pedesaan. Kegiatan usaha BPR yang terbatas tersebut masih relevan dengan pelayanan yang dibutuhkan UMK. yang merupakan nasabah utama BPR. deposito berjangka. menyalurkan dana dalam bentuk kredit yang diberikan. BPR di masa depan diarahkan supaya tetap memiliki karakteristik yang spesifik sebagai berikut: 1. serta menempatkan dananya dalam bentuk SBI. Dibatasinya jaringan kantor BPR dimaksudkan untuk menjadikan BPR sebagai salah satu pilar yang mendukung pengembangan perekonomian daerah dengan mengutamakan penghimpunan dan penyaluran dana dari dan kepada masyarakat di daerah setempat. 2.

tuntutan nasabah yang menginginkan pelayanan yang mudah. serta untuk mencapai skala ekonomis guna mendukung kesinambungan usaha BPR. namun BPR akan didorong agar memiliki modal kuat yang sangat diperlukan untuk mengatasi risiko usaha yang timbul. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 23 . Memiliki modal yang kuat Meskipun BPR tidak diarahkan untuk menjadi Bank Umum. BPR diharapkan dapat turut serta dalam sistem pembayaran secara tidak langsung/ terbatas yang akan dikelola oleh lembaga Apex sebagai lembaga pengayom/ induk BPR. tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran BPR mengikuti prinsip “ b anks follow the trade” sehingga diperlukan dukungan regulasi yang mampu merangsang pendirian BPR-BPR di luar pulau Jawa dan Bali sejalan dengan pertumbuhan ekonomi selain adanya regulasi yang memperketat pendirian BPR baru di pulau Jawa Bali. Namun demikian. Penggunaan teknologi tersebut sangat diperlukan untuk pencatatan transaksi dan pelaporan. cepat dan aman dalam bertransaksi untuk mendukung kegiatan usahanya. meningkatkan daya saing dalam melayani UMK.Bank Indonesia akan mendorong pendirian BPR diluar pulau Jawa dan Bali untuk memenuhi kebutuhan UMK dan masyarakat pedesaan di daerah tersebut yang belum terlayani jasa perbankan. nyaman. 5. nyaman. meningkatkan jangkauan pelayanan kepada UMK. pengendalian intern maupun untuk pelayanan yang lebih cepat. Diperkenankan ikut dalam sistem pembayaran secara tidak langsung. Sejalan dengan kemajuan teknologi dan tuntutan nasabah BPR yang menginginkan pelayanan yang mudah. Mendayagunakan teknologi untuk mengoptimumkan pelayanan kepada nasabah Perkembangan industri BPR tidak terlepas dari pengaruh perkembangan produk perbankan. 6. BPR didorong agar memanfaatkan teknologi dalam operasionalnya secara optimal. 4. serta tuntutan efisiensi operasi untuk mendukung daya saing BPR. apabila lembaga Apex telah terbentuk. cepat dan aman. Agar pengelolaan BPR lebih efisien.

kuat. 4. perekonomian. penyebaran BPR di seluruh Indonesia. pembukaan kantor cabang. 2. Meningkatkan efektivitas sistem pengawasan Industri BPR yang sehat. serta kerjasama dengan lembaga keuangan dan lembaga lain (linkage program). Arah Kebijakan. jaringan kantor yang lebih terintegrasi. manajemen dan operasional yang sehat dan profesional Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 24 . Strategi Penguatan dan Peningkatan Peran BPR dalam rangka Pelayanan kepada UMK Upaya mencapai visi yang ditetapkan. Memperkuat kelembagaan Dalam rangka peningkatan daya saing dan jangkauan pelayanan BPR kepada UMK dan masyarakat pedesaan. yang mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. pengaturan BPR di masa mendatang akan mempertimbangkan strata BPR atas dasar total aset dalam rangka pengawasan dan perluasan pelayanan kepada masyarakat. Mendorong kualitas tata kelola (governance). dan beroperasi secara efisien.D. 3. Terkait dengan hal tersebut. serta mengacu pada praktik-praktik terbaik internasional diharapkan dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan BPR yang berdaya saing tinggi. Meningkatkan kualitas pengaturan Peningkatan kualitas pengaturan yang sejalan dengan perkembangan perbankan. strategi penguatan dan peningkatan peran BPR dalam rangka pelayanan kepada UMK dan masyarakat pedesaan. produktif dan dipercaya tidak terlepas dari sistem pengawasan yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Sistem pengawasan yang efektif diharapkan dapat mendeteksi penyimpangan dan pelanggaran sedini mungkin serta memastikan dipenuhinya ketentuan-ketentuan yang berlaku. Upaya untuk mendorong BPR melakukan merger atau konsolidasi perlu terus dilakukan agar BPR memiliki permodalan yang kuat. dijabarkan dalam arah kebijakan. kelembagaan industri BPR perlu diperkuat melalui peningkatan permodalan BPR.

5. Mewujudkan infrastruktur pendukung industri BPR yang efektif Infrastruktur pendukung yang efektif diperlukan untuk mendorong pengembangan industri BPR. Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan nasabah Strategi pengembangan ini dimaksudkan untuk mendorong BPR agar beroperasi dengan memperhatikan kepentingan masyarakat melalui pemberian pelayanan dan informasi produk yang baik. Strategi ini mencakup upaya mewujudkan lembaga pengayom.BPR di masa mendatang diharapkan dikelola oleh SDM yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi serta menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. kualitas kompetensi SDM BPR perlu terus ditingkatkan sehingga tercapai standar kualitas yang memadai dalam pengelolaan BPR. Untuk mewujudkan hal tersebut. serta meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan berbagai instansi untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan BPR. meningkatkan efektifitas lembaga sertifikasi profesi. 6. Pengelolaan BPR yang sehat dan dijalankan secara profesional akan meningkatkan kredibilitas BPR di mata masyarakat. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 25 . sehingga nasabah BPR memahami produk yang ditawarkan BPR dan terlindungi kepentingannya.

– antara lain modal disetor minimum. evaluasi dan penyempurnaan 2006 ketentuan kehati-hatian.5 Mendorong kerjasama (linkage program) antara BPR 2006 dengan lembaga keuangan dan lembaga lain untuk – penyaluran kredit kepada UMK dan masyarakat 2011 pedesaan. 2006 – 2007 2006 – 2011 1. 2. 1. 2. 2. 1. Strategi 1: Memperkuat kelembagaan BPR melalui sesuai dengan pemenuhan 2006 ketentuan – 2010 1.1 Memperkuat permodalan modal disetor minimum Bank Indonesia.4 Melakukan penelitian tentang pengaturan yang 2006 diperlukan untuk pengembangan BPR dalam rangka – peningkatan peran dan kontribusinya sebagai 2011 lembaga pembiayaan UMK dan masyarakat pedesaan. dan sertifikasi direktur. Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 26 .2 Menetapkan exit strategy bagi BPR yang tidak 2006 dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan.Bab V Program Kerja A.2 Melakukan review. B. jumlah 2009 pengurus.1 Menyempurnakan ketentuan yang pemenuhan modal disetor minimum.3 Menyusun pedoman pengawasan berbasis risiko atau 2008 risk based supervision (RBS) dan – mengimplementasikannya berdasarkan pedoman dan 2009 pengaturan sesuai dengan RBS tersebut. Strategi 2: Meningkatkan kualitas pengaturan terkait dengan 2007 – 2011 2.4 Mendorong pendirian BPR baru di luar pulau Jawa dan Bali.3 Mempermudah pembukaan kantor cabang BPR. 1. kelembagaan dan – penilaian tingkat kesehatan BPR dengan 2011 mempertimbangkan strata total aset dan praktik terbaik internasio-nal.

5 Mendorong pemanfaatan teknologi informasi untuk 2008 operasional dan penyusunan laporan keuangan – intern BPR maupun laporan kepada Bank Indonesia.5 Menyempurnakan informasi dan publikasi tentang 2006 perkembangan dan kondisi BPR secara reguler.3 Menyempurnakan pelaporan Bank Indonesia.3 Meningkatkan profesionalisme SDM BPR melalui 2009 program sertifikasi bagi Direktur BPR dan – pelatihan bagi SDM BPR lainnya.4 Memfasilitasi peningkatan ketrampilan dan 2006 pengetahuan SDM BPR mengenai inovasi produk baik – simpanan maupun pembiayaan terutama kredit 2009 kepada sektor pertanian dan masyarakat pedesaan. manajemen dan operasional yang sehat dan profesional 4. 4.4 Menyempurnakan sistem informasi dan manajemen 2006 pengawasan BPR yang terintegrasi sebagai sarana – early warning sistem untuk meningkatkan kualitas 2011 pembinaan serta penegakan ketentuan-ketentuan yang berlaku.C.1 Meningkatkan kompetensi pengawas melalui 2006 pelatihan secara terus-menerus dan sertifikasi – pengawas. 2009 4.2 Menyempurnakan sistem identifikasi penyimpangan 2007 dan pelanggaran dengan pelaksanaan teknik – pengawasan yang terfokus. Meningkatkan peran Asosiasi BPR sebagai mitra 2006 Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 27 . 2011 4. Strategi 3: pengawasan Meningkatkan efektivitas sistem 3. 2011 3. – 2011 D. secara online kepada 2007 3. 2009 E. 3. Strategi 4: Mendorong kualitas tata kelola (governance). 2011 3.2 Mewajibkan BPR untuk melakukan penilaian sendiri 2009 (self assess-ment) atas pelaksanaan tata kelola BPR sesuai standar yang telah ditetapkan.1 Mengimplementasikan standar minimum tata kelola 2008 (governance) BPR antara lain meliputi penerapan – pengendalian intern dan manajemen risiko. Strategi 5: Mewujudkan infrastruktur pendukung industri BPR 5. 4.

5 Bank Indonesia dalam rangka pembinaan dan pengembangan BPR. 2009 Melakukan koordinasi dengan instansi terkait 2007 untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi BPR – dalam rangka pembiayaan UMK dan masyarakat 2011 pedesaan. Mendorong terbentuknya dengan kebutuhan BPR. Mendorong penyempurnaan Direktur BPR dalam profesionalisme SDM BPR Lembaga pelaksanaan – 2011 Apex sesuai 2006 – 2011 program rangka Sertifikasi 2009 meningkatkan – 2011 Mendorong kerjasama BPR dengan lembaga penjamin 2008 kredit dalam rangka penyaluran kredit kepada UMK – dan masyarakat pedesaan.2 Melakukan pemantauan dan evaluasi transparansi informasi produk. evaluasi ketentuan 2008 pedoman 2008 6. Strategi 6: Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan nasabah 6.1 Melakukan pemantauan dan tentang pengaduan nasabah. F. 2 5.3 Menjalankan dan bekerjasama terkait untuk melaksanakan masyarakat mengenai BPR. 3 5. 6. dengan lembaga 2007 edukasi bagi – 2011 Cetak Biru Bank Perkreditan Rakyat 28 . 4 5.1 5.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful