MIGRASI ORANG MISKIN KE PEKANBARU (sebuah kajian Permulaan) Oleh M.

Rawa El Amady Abstrak Studi ini membahas migrasi penduduk miskin ke Pekanbaru, berdasarkan pada faktor dorongan dan tarikat masyarat miskin yang bermigrasi ke Penkanbaru. Latar belakang yang menarik minat untuk membahas penelitian ini berdasarkan pendapat yang berkembang di media massa bahwa salah satu penyebab kemiskinan di Riau adalah masuknya orang miskin ke Riau, dalam hal ini khususnya Pekanbaru. Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa yang menyebabkan orang miskin pindah ke Pekanbaru? Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui factor-faktor yang mendorong dan menarik orang miskin pindah ke Pekanbaru. Teori yang dipakai adalah teori migrasi sosial yang memahami dua faktor seseorang bermigrasi yaitu faktor dorongan dari daerah asal dan faktor tarikan dari daerah yang menjadi tujuan serta aktivitas produksi yang dilakukannya di daerah tujuan. Metoda penelitian ini adalah kwalitatif dengan menggunakan tabulasi kuantitatif jawababn responden. Teknik pengumpulan data, pertama, pengumpulan data skunder dalam hal data hasil pendataan Balitbang Provinsi Riau tahun 2005 dan informasi lain yang akan mendukung penelitian ini di perpustakaan. Kemudian dilanjutkan dengan survey ke rumah tangga sesuai dengan sample terpilih. Jumlah responden yang akan diwawancara adalah330 rumah tangga yang ambil masin-masing secara acak di kelurahan yang penduduk miskinnya lebih dari 24 persen.

PENDAHULUAN Latar Belakang Perdebatan yang berkembang di tengah masyarakat dan media massa bahwa salah satu penyebab tingginya angka kemiskinan di Riau khususnya di perkotaan adalah masuknya orang miskin ke Riau. Adapun kota-kota yang menjadi daerah tujuan orang miskin tersebut, seperti Pekanbaru, Dumai, Pangkalan Kerinci, Perawang dan daerah lainnya. Jika dilihat data lamanya penduduk miskin tinggal pada tabel 1. maka ratarata penduduk miskin yang datang ke Pekanbaru berjumlah 2.429 orang setiap tahunnya. Data ini diperoleh dari total jumlah penduduk yang tinggal di Pekanbaru kurang dari 5 tahun 12.143 jiwa dibagi lima. Jumlah ini jauh meningkat jika dibanding 5 tahun sebelumnya yang hanya 8.654 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang tinggal diatas 10 tahun 21.567 jiwa dan dibawah 10 tahun 20.797 selisihnya sangat sedikit yaitu 770 jiwa. Data ini agak mendekati asumsi di media terutama para pejabat yang mengatakan bahwa kemiskinan di Riau khususnya Pekanbaru disebabkan oleh migrasi. Asumsi ini juga harus dibandingkan dengan jumlah pendatang yang tidak miskin atau yang menyebabkan bergeraknya motor ekonomi di Pekanbaru. Tabel 1. Lama Tinggal Penduduk Miskin di Pekanbaru berdasarkan Usia Usia (th) Lama Tinggal (th) Jumlah 15-30 30-45 45-55 >55 <=5 6.387 4.450 886 420 12.143 6 - 10 > 10 4.060 10.269 3.354 6.805 877 363 8.654 2.863 1.630 21.567

Sumber : Balitbang Provinsi Riau 2004 (sudah diolah) Jika berpedoman pada rata-rata penduduk miskin yang datang ke Pekanbaru berjumlah 2.429 jiwa pada lima tahun terakhir dan tidak termasuk yang tidak miskin maka dapat disimpulkan bahwa jumlah migrasi di Riau memang termasuk besar. Besarnya presentase penduduk miskin yang pindah ke Pekanbaru merupakan fenomena yang sangat menarik untuk dikaji. Tentu saja migrasi ini disebabkan oleh berbagai hal baik itu oleh faktor dorongan maupuna faktor tarikan. Atas dasar itulah maka penelitian ini perlu dilakukan kajian secara serius. Penduduk pedesaan yang biasanya tergantung hidup pada hutan dan tanah tepaksa mengganti sumber ekonominya karena hutan dan tanah telah beralih fungsi antara lain diambil oleh industri. Oleh karena itu, diantaranya untuk tetap bertahan hidup dan meningkatkan kesejahteraan keluarga tidak mungkin lagi mereka tinggal di desa. Selain itu, kota memang mempuyai daya tarik sendiri dan tersedianya lowongan kerja untuk berbagai lapisan sosial. Oleh sebab itu, penelitian ini akan mengajukan pertanyaan, yaitu Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan migrasinya penduduk miskin ke Pekanbaru? Oleh sebab itu tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penduduk miskin migrasi ke Pekanbaru.

Methoda Penelitian Penelitian ini tediri dari dua tahap, tahap pertama peneliti melakukan kajian terhadap data skuder terutama yang bersumber daridata dari Balitbang provinsi Riau tahun 2004. Ini sangat penting untuk memahami secara detail Kemiskinan di Pekanbaru. Setelah itu dilanjutkan dengan studi lapangan yaitu melalui menyebaran quesioner kepada responden. Untuk menentukan responden berapa langkah dilakukan, yaitu pertama, diambil kecamatan yang rata-rata rumah tangga miskinannya diatas 10 persen, maka dari 11 kecamatan yang ada di kota Pekanbaru diperoleh informasi kecamatan yang rata-rata rumah tangga miskinnya diatas 10 persen yaitu sebagai berikut: Tabel 2. Kecamatan yang Ruta Miskinnya diatas 10% No Kecamatan % Ruta Miskin 1 Tenayan Raya 11,72 2 Limapuluh 11,72 3 Pekanbaru Kota 15,76 4 Sukajadi, 15,80 5 Senapelan, 12,71 6 Rumbai 16,38 7 Rumbai Pesisir 13,11 Dari tujuh kecamatan tersebut yang mewakili daerah pertanian meliputi Kecamatan Tenayan Raya, Rumbai dan Rumbai Persisir, sedangkan yang mewakili perkotaan dan perdagangan meliputi kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru Kota, Sukajadi dan Senapelan. Kedua, pada 7 kecamatan terpilih tersebut dipilih dua kelurahan yang kemiskinannya tertinggi yaitu diatas 24 persen di dua karateristik tersebut . Untuk karateristik daerah pertanian dan pinggiran yaitu Tanayan Raya, Rumbai dan Rumbai persisir, dipilih kelurahan Sail yang rumah tangga miskinnya mencapai 24,87 persen sebagai reperesentasi Kecamatan Tanayan yang berasa di kawasan timur Pekanbaru dan Kelurahan Palas yang rumah tangga miskinnya mencapai 34,80 persen sebagai representasi dari Kecamatan Rumbai dan Rumpai Pesisir yang berada kasawasan utara Pekanbaru. Sedangkan untuk kawasan perkotaan dan perdagangan yaitu kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru Kota, Sukajadi dan Senapelan yang kelurahan yang terpilih adalah Sukaramai yang kemiskinannya mencapai 25,98 persen, dan kelurahan Kampung Tengah yang kemiskinannya mencapai 25,15 persen. Bedasarkan data Balitbang tahun 2005 jumlah rumah tangga miskin adalah 9,538 rumah tangga sedangkan jumlah rumahtangga miskin sebesar 2467 rumah tangga. Sedangkan rumah tangga miskin yang tinggal < = 5 tahun berjumlah 484 rumah tangga dari jumlah responden rumah tangga miskin yang tinggal < = 5 tahun dimabil 31 persen untuk menjadi sample yaitu 152 rumah tangga yang didistribusikan berdasarkan banyaknya rumah tangga miskin di kelurahan tersebut. Untuk sampel kontrol diambil10 rumah tangga di kelurahan yang kemiskinannnya paling kecil. Pengambilan sample sebesar semula ditetapkan 31 persen, tetapi dilapangan ternyata banyak ketidakcocokan data dari Balitbang 2004 dengan fakta lapangan maka surveyor diberi hak untuk

menambah jumlah sample sampai menurutnya mampu menmpekecil eror untuk analsis data.. Maka jumlah sample di kelurahan adalah 208 ditambah 10 di kelurahan Delima maka N sample adalah 218 kepala keluarga. Secara rinci uraian sample sebagai berikut: Tabel 3 : Sampel Penelitian Kawasan Perkotaan/Perdagangan Kawasan Pinggit/Pertanian (Pku Kota, L Puluh, Su Jadi, S Plan) (Tenayan Raya, Rumbai,Rumbai Pesisir) Kel Ruta Ruta Misk RuTa < Sampel Kel Ruta Ruta Misk Ruta < 5 Sampel 5 95 65 Kampung 1940 488 Palas 842 293 93 26 Tengah Sukaramai 993 253 Jumlah 2933 741 32 127 17 82 Sail 5763 1443 6605 1736 264 357 102 128

Sumber : Data Balitbang tahun 2004

Di luar sampel penduduk miskin tersebut diambil ambil sample 10 ruma tangga miskin yang berada di kelurahan yang paling rendah kemiskinannya, yaitu Kelurahan Delima Kecamatan Tampan yang rumah tangga miskinnya hanya 1,82 persen dari 4,837 ruta, yaitu hanya sample ini bertindak sebagai sample kontrol dalam analisis.

PENDEKATAN TEORITIS Urbanisasi dan Migrasi Urbanisasi secara sosiologis menurut J.Clyde Mitchell (Breesse, G 1966) meliputi beberapa pengertian yaitu pertama, proses menuju gaya hidup kota, yaitu perubahan dari tipe masyarakat desa menuju masyarakat kota sebagaimana konsep Durkheim dari gemeinschaft ke gessellscaft. kedua, perpindahan ke kota, berpindahnya (migrasi) masyarakat desa ke kota dengan berbagai alasannya. ketiga, peralihan pekerjaan dari pertanian ke jenis pekerjaan perkotaan yang bersifat keahlian tertentu dan terrencana, dan keempat, berprilaku kota, yaitu dari prilaku yang lamban statis dan cepat berpuas diri pada tradisi menuju ke perilaku kota yang dinamis, ambisius, bebas dan terencana. Selain itu, Nas (1979) memberi pengertian urbanisasi pada proses pembentukan kota, perluasan kota ke pedesaan yaitu pengaruh kota pada desa, pertumbuhan desa menjadi kota, peprindahan penduduk ke kota, kenaikan prosentase penduduk yang pindah ke kota. Karena pemahaman dan pengertian urbanisasi sangat luas tersebut diatas, maka penelitian ini tidak memakai istilah urbanaisasi tetapi migrasi. Mengambil salah satu dari pengertian urbanisasi. Selain itu, pemahaman masyarakat awam tentang urbanisasi lebih dominan pada pengertian perpindahan penduduk dari desa ke kota, padahal urbanisasi pengertiannya sangat luas. Oleh sebab itu, urbanisasi pada

penelitian ini hanya mengambil salah satu dari pengertian di atas, yaitu pengertian migrasi penduduk menuju kota Pekanbaru. Pilihan ini diambil karena migrasi yang dimaksud adalah imigrasi orang atau rumah tangga ke Pekanbaru. Migrasi ini sendiri sangat tidak identik dengan pengertian umum tentang migrasi merujuk perpindahan penduduk dari desa ke kota. Kedatangan orang miskin ke Pekanbaru, tidak dilihat semata-mata kedatangan orang desa ke kota Pekanbaru, tetapi juga termasuk perpindahan orang miskin dari kota lain dari luar Riau ke Pekanbaru. Bisa juga Pekanbaru bukan kota tujuan utamanya, tetapi tujuan kedua, ketiga atau tujuan antara. Pemahaman diatas dimaksudkan untuk meperjelas bahwa migrasi bisa berbentuk urbanisasi bisa juga tidak, tetapi urbanisasi dalam plihan penelitian ini adalah urbanisasi dalam pengertian migrasi. Selain itu, fokus penelitian ini bukan studi perkotaan atau kajian tentang proses menjadi kota, tetapi kajian ini mefokuskan orang-orang yang pindah dan menetap ke Pekanbaru dalam status sosial ekonominya yang miskin. Faktor-Faktor Migrasi Faktor-faktor migrasi ke kota atau dari kota ke kota lain tetap meminjam faktor-faktor perpindah penduduk dari desa ke kota. Mengambil dua alasan orang atau penduduk untuk pindah yaitu faktor penarik dan dorongan (Schoorl, 1988, Evers 2002, Nas 1979, Harun 1993, Foster-Carter 1989). Walaupun faktor penarik dan faktor pendorong ini bersifat statis tetapi setidaknya dapat menjadi acuan dasar untuk mengetahui alasan perpindahan. Nas, P.J.M, (1979) memahami hubungan kota – desa atau kota lainnya sebagai interaksi ekonomi, yaitu beralihnya sumber daya ekonomi dari desa atau kota kecil ke kota atau ke kota besar. Secara spesifik Nas meminjam konsep Santos (1971) hubungan pusat dan pinggiran. Kota sebagai pusat yang menyedot sumber ekonomi pedesaan atau pinggiran yang disebut dengan pinggiran. Penyedotan sumber ekonomi ini diikuti oleh arus pepindahan manusia. Konsep Nas ini masuk dalam faktor-faktor pendorong dari perpindahan penduduk tersebut. Kelebihan dari teori Nas ini adalah proses pembandaran (menjadi kota) tidak semata-mata sebagai hasil dari hubungan kota-desa. Tetapi lebih disebabkan oleh dominasi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Apabila satu kota menjadi pusat pertumbuhan ekonomi maka kota lainnya berubah status menjadi pinggiran bagi kota tersebut. Batam sebagai contoh yang baik untuk ini, munculnya Batam sebagai kota metropolitan dari sebuah desa kecil bukan disebabkan oleh hubungan desa-kota tetapi disebabkan pertumbuhan ekonomi yang cepat di Batam. Dalam kasus Batam Tanjung Pinang tidak lagi menjadi kota pusat tetapi sudah menjadi pinggiran, sehingga orangorang Tanjung Pinangpun banyak yang pindah ke Batam. Nas menggunakan pedekatan struktural untuk mempelajari perkembangan kota. Mengutip Galtung, Nas menjelaskan pendekatan struktural dengan menggunakan konsep imprelalisme sebagai pendekatan sebagai suatu sistem memecah kolektivitas sambil menghubungkan berbagai bagian yang mana mana hubungannya bersifat selaras dalam kepentingan. Maka pembentukan suatu kota sangat dipengaruhi keselarasan kepentingan pusat dan kepentingan pinggiran.

Ada dua mekanisme penting mengenai imprealisme menurut Galtung yaitu hubungan interkasi vertical dan struktur interkasi feudal. Hubungan interaksi vertical berarti bahwa seluruh sistem adalah simetris mengenai pertukaran nilai-nilai antara pusat dan pinggiran maupun akibatnya. Pusat memanfaat pinggiran dalam bentuk perampasan, pertukaran tidak sama, dan pertukaran sama tetapi dengan intra aktor yang berlainan. Akibat dari struktur interkasi feodal adalah adanya pemusatan sekutu perdangangan, pemusatan barang-barang perdangangan dan pemusatan modal. Pada daerah pinggiran hanya melakukan perdangangan dengan daerah pusat dan barang yang dihasilkan daerah pinggiran sangat kecil dibandingan dengan darah pusat. Teori ini secara gamblang mampu menjelaskan perkembangan Pekanbaru terkini yang berkecenderungan menjadi pusat perdagangan bagi Sumatera Tengah dalam hal ini Riau, Sumatera Barat dan sebagian Sumatera Utara, sedangkan Jambi menjadikan Jakarta sebagai pusat utama, Pekanbaru sebagai pusat alternatif. Jika merujuk kepada potensi ekonomi Pekanbaru sejak tahun 1942 dengan hadirnya Caltex Pacifik Indonesia (PT CPI) sebagai perusahaan minyak yang tentu akan memotori migrasi penduduk ke Pekanbaru. Kemudian dilanjutkan dengan berkembangnya perusahaan kertas Indah Kiat (PT IKPP) dan Riau Pulp (PT RAPP), perkebunan kelapa sawit, dan pada tahun 2000-an berkembang pesat perusahaan retail di Pekanbaru. Atas dasar tersebutlah maka faktor-faktor migrasi yang datang ke Pekanbaru merupakan gabungan antara faktor dorongan dan faktor tarikan. Secara rinci Faktor penarik terutama sekali karena daya tarik kota di bidang ekonomi, lapangan kerja, ketersediaan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas sosial lain. Begitu juga daya tarik hiburan dan pusat kesenangan, serta peningkatan status sosial. Diantara faktor tarikan tersebut faktor tarikan utama orang pindah ke Pekanbaru adalah perubahan pekerjaan. Di tempat asal tidak tersedia lowongan pekerjaan yang memadai, sehingga mereka migrasi ke Pekanbaru untuk mengantikan atau mendapatkan Pekerjaan. Hal serupa juga dilakukan oleh penduduk miskin yang pindah dari desa atau daerah daerah sulit secara ekonomi ke Pekanbaru, sementara tidak mempunyai keahlian untuk masuk ke dunia kerja. Kecenderungan mereka ini menetap di daerah pinggir dan tetap pada pekerjaan sektor pertanian dengan menggarap tanah baik yang tidak bertuan atau sewa garap atau bekerja disektor jasa yang merupakan sisa-sisa pekerjaan kota. Hasil analisis data yang dikeluarkan oleh Balitbang dijumpai bahwa pendatang lima tahun terkahir yang miskin tinggal di pinggiran Pekanbaru. Sedangkan faktor pendorong di tempat asalnya adalah terjadinya penurunan kualitas lingkungan, terutama di desa seperti pengalihan hak-hak ekonomi ke industri. Berkembangan Industrialisasi dan bencana alam di desa menyebabkan terjadi proses peminggiran dan krisis ekonomi dalam keluarga petani. Krisis tersebut timbul disebabkan hilangnya sumber produksi sebagai jaminan untuk hidup (makan) bagi petani. Aditjondro, (1994:113-123) menemukan bahwa kehadiran industri di desa menyebabkan penggusuran petani, pencemaran lingkungan dan penurunan mutu lingkungan yang dekat industri tersebut. Begitu juga studi M.Yamin Sani (1990), Adnan Abdullah (1993) dan Budhi Tjahjati S.Soegijoko (1985) menjumpai bahwa

kehadiran industri menyebabkan hilangnnya pekerjaan agraris dan perubahan fungsi ekonomi dalam keluarga. Bagi masyarakat desa, pindah ke kota merupakan langkah penyelamatan diri melalui langkah kontrukstif terhadap lingkungnnya. Di kota, mereka akan bekerja disektor informal atau sektor jasa sisa perkotaan lainnya. Perpindahan ke Pekanbaru dari kota-kota lain dapat dengan jelas dipahami dengan menggunakan teori dwi polar dari Heidi (1965) lalu dikembangkan oleh Lee (1967) yang mengemukakan bahwa ada empat faktor proses migrasi, faktor yang berhubungan dengan daerah asal, faktor yang berhubungan dengan daerah pemukiman baru, faktor rintangan antara daerah asal dengan daerah baru dan faktor manusia secara pribadi. Baik di daerah asal maun di daerah baru yang menjadi tujuan terdapat tiga kondisi yang menyebabkan seseorang bermigrasi, yaitu positif yaitu faktor yang membantu orang bermigrasi, faktor negatif yaitu faktor yang tidak membantu migrasi dan faktor ‘0’ sebagai faktor yang tidak mempengaruhi. Makin besarnya faktor positif pada daerah asal dan tujuan maka akan memperbesar migrasi di kedua derah tersrebut yaitu emigrasi dan imigrasi. Tetapi proses migrasinya akan dipengaruhi pula oleh hambatan yang dijumpai ketika menuju daerah tujuan, hambatan transfortasi, tempat sementara yang dituju, keadaan personal yang bermigrasi seperti umur, jenis kelamin, pendidikan dan lain-lainnya. Selain dari tiga faktor dan hambatan-hambatan di atas, faktor keempat adalah faktor manusia secara pribadi yang mampu melewati batas-batas di atas sesuai dengan kepentingan dan tujuan dari pribadi tersebut untuk pindah. Kapasitas pribadi meliputi pendidikan, jenis kelamin, usia, keterampilan tempat yang dituju menjadi pendorong utama bagi pribadi-pribadi tertentu untuk bermigrasi. Nas mengingatkan bahwa memahami migrasi penduduk tidak dengan mudah begitu saja, ada faktor yang sering diabaikan oleh banyak pihak seperti migrasi dimulai karena telah terjadi migrasi terlebih dahulu. Dimana setiap gelombang migrasi menimbulkan suatu gelombang migrasi lain yang kadang berlawanan dengan faktor semula. Pandangan Nas ini ternyata relevan dengan temuan Arif Nasution, M (1997) bahwa bersarnya migrasi pekerja illegal ke Malaysia tidak terlepas dari bantuan pihak lain terutama yang lebih dahulu datang ke Malaysia. Pihak-pihak yang terlibat membantu kedatangan para migran ini adalah 70,3 % adalah tekong sisanya diurus oleh keluarga taua teman. Pendapat ini membenarkan temuan Hugo (1993), (Choucri (1983) Sulivan (1992), Ling (1984) Phuphongsakorn (1992) yang mengemukan bahwa besarnya peranan organisasi pendatang yang lebih dahulu terhadap mobilisasi kedatang migrasi baru. Berdasarkan kecenderungan migrasi antara negara, bahwa pola mingrasi global telah terjadi arus balik-balik. Jutaan menusia bermigrasi ke negara-negara pusat untuk mendapatkan perobahan pekerjaan dan perbaikan derjat hidup. Sebaliknya jutaan migrasi negara pusat ke negara pinggiran yang bertindak sebagai agen pengembangan modal dengan keahlian yang dimilikinya (Abdul Samad Hadi, 1997). Dalam kasus migrasi pekerja illegal Indonesia ke Malaysia bukan semata faktor dorongan dan tarikan, tetapi lebih merupakan suatu bisnis tenaga kerja yang mengorganisir pendatang illegal ini. Bisnis illegal itu berkembang dengan pesat

karena besar dukungan dari industri-industri di Malaysia yang mendapat keuntungan besar dengan pekerja illegal ini. Walaupun berbeda temuan ini tetap relevan dengan pendapat Lee (1966) bahwa tersedianya peluang kerja di daerah tujuan akan mendorong pekerja untuk bermigrasi walau gajinya belum tentu lebih besar. Faktor dorongan lain penduduk pindah dari desa ke kota atau dari satu kota ke kota lain adalah terjadinya perubahan lingkungan dan demografis secara cepat ditempat asal. Pola perubahan adalah dari lingkungan pedesaan ke perkotaan, atau dari kota kecil ke kota besar. (Pelly 1996 ; Embong 1996). Perubahan ini meningkatkan beban prikologis untuk tetap bertahan di tempat asal. Kesadaran bermigrasi ini semakin meningkatkan dengan makin besarnya jumlah pendatang ke tempat asal yang memiliki kemampuan ekonomi dan skill. Sementara pekerjaanpekerjaan sektor pertanian berkurang dan pekerjaaan sektor informal sudah diambli alih pendatang. Apalagi sampai kepada kondisi menjadi minoritas di daerah sendiri. Perubahan lingkungan dari agraris ke industri menimbulkan satu situasi krisis ketahanan pangan atau kemiskinan. Merka yang kalah secara ekonomi di daerah asal mencari pilihan ketempat lain. Kecenderungan penduduk miskin yang bermigrasi ke Pekanbaru berada di daerah pinggiran kota dengan mengandalkan sektor pertanian. Kecenderungan ini mengambarkan bahwa penduduk miskin yang pindah ke Pekanbaru adalah penduduk yang kalah di daerah asalnya dan mencari pilihan tempat dengan sumber daya ekonomi yang sama. Walaupun sumber ekonomi yang tersedia hanya sebatas sumber ekonomi sekunder (Anderson 1924) pertanian subsisten (Pelly 1996) tanpa pertanian primer. Selain itu, penduduk ditempat asalnya ini akan menghadapi apa yang dikenal dengan involusi pertanian (Geertz 1970), dimana tanah atau rumah tidak bertambah sementara jumlah anggota keluarga bertambah. Situasi ini tentu mendesak anggota keluarganya untuk mencari piliha-pilihan strategis agar bisa bertahan hidup. Diantara strategi yang diambil adalah pengandalan dari sektor non pertanian, dalam bentuk menyerbu ekonomi uang dengan pergi ke kota mencari serpihan ke kota atau mencari tempat pertanian baru yang tidak memerlukan pengerluaran modal yang besar tetapi mampu menjamin keberlangsungan pangan. Bertahan Hidup dan Tetap Miskin Studi-studi ekonomi mikro yang dilakukan beberapa pakar mengemukakan bahwa pada masyarakat yang agraris tradisonal menganut sistem ekonomi subsisten. Chayanov (1966) Scott, Ever, Wong, Dan Claus (1984). Sebuah sistem pemikiran yang berkembang dalam masyarakat miskin yang disebut Oscar Lewis sebagai budaya kemiskinan. Pada tipe masyarakat ini sebesar apapun produksi, out putnya tetap miskin karena sudah merupakan budaya. Maka perpindahan penduduk miskin ke Pekanbaru akan menghabiskan perode yang panjang untuk merubah budaya kemiskinannya. Chayanov mengambarkan ekonomi subsisten ini dengan houseshold utility maximisation (menggunakan secara berlebihan). Assumsi kunci dari teori mikro ekonomi rumah tangga petani, yaitu pertama tidak ada pasar tenaga kerja, misalnya tenaga kerja tidak disewa oleh keluarga, dan tidak ada bantuan kerja dari anggota keluarga dari luar rumah. Kedua, produksi hanya untuk konsumsi keluarga dan kalau

dijual harga ditentukan oleh pasar. Ketiga, semua keluarga lebih mudah berhubungan dengan tanah untuk dikerjakan. Keempat, dalam komunitas ini, norma sosial membuat rendahnya pendapatan. Lebih jelas Chayanov menerangkan household utulity maximisation sebagai usaha memaksimal potensi ekonomi rumah tangga melalui tenaga kerja rumah tangga tanpa bayar, dan memaksimalkan fungsi lahan pertanian yang sempit. Setiap produksi dicoba untuk mencapai keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Semakin tinggi produksi semakin besar konsumsi. Semakin kecil produksi semakin kurang konsumsi. Hampir sama dengan Chayanov, Ellis (1988) dalam bukunya Peasant Economics, Farm Households And Agrarian Development mengemukan bahwa ekonomi subsisten meliputi tiga unit, yaitu pertama, aktivitas ekonomi adalah sebagai pekebun (farmer), Kedua, tanah sebagai basis ekonomi, ketiga, pekerja berasal dari keluarga yang tidak dibayar. Keempat, modal, jumlah produksi sama dengan konsumsi, dan kelima konsumsi adalah konsumsi subsisten. Elis juga menyebut tiga indikator penting ekonomi petani subsistens, yaitu tiada tempat secara khusus dalam ekonomi nasional; merupakan ekonomi tradisional, kecil dan subsisten yang wujud dalam ekonomi pertanian; tidak mempunyai pasar yang luas, cenderung merupakan ekonomi keluarga. Famili sebagai unit sosial yang menjalin hubungan persahabatan antara penduduk, sedangkan rumah tangga sebagai unit sosial dimaksudkan untuk kebersamaan dalam senang dan susah. Pendapat Ellis berbeda dengan pendapat Ever (1993) yang memberi dua varibel utama ekonomi subsisten, yaitu unit rumah tangga dan unit komunitas. Kedua unit tersebut mempunyai hubungan keterkaitan yang sangat kuat baik dalam proses produksi maupun konsumsi. Rumah tangga merupakan unit produksi dan konsumsi yang menjadi teras utama ekonomi, pekerja adalah anggota keluarga tanpa bayar. Selain menjadi buruh rumah tangga, anggota keluarga juga menjadi buruh tanpa bayar dalam hubungan dengan komunitas. Pada sistem ekonomi subsisten nilai produksi dan konsumsi tidak dapat dipisahkan, bergotong royong membangun rumah warga merupakan produksi jasa yang secara otomatis juga memperoleh konsumsi dan nilai saving jasa. Dari pemikiran Evers dan Chayanov, 1 dapat disimpulkan bahwa ekonomi subsisten adalah produksi yang dihasilkan oleh pekerja rumah tangga tanpa bayar yang bertujuan untuk konsumsi langsung, di mana sumber produksi adalah alam atau jasa. Produksi rumah tangga ekonomi subsisten tidak terikat dengan pasar dan juga lepas dari statistik pemerintah. Definisi ini tentu berbeda dengan definisi subsistensinya Scott (1966) sebagai usaha maksimal rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan minimal rumah tangga. Jumlah produksi bukan hanya menentukan konsumsi tetapi juga menentukan jam kerja. Jika kerja dalam 60 jam cukup untuk konsumsi sebulan maka dalam
Menurut Ever (1984) ekonomi subsisten adalah hubungan langsung antara produksi dan konsumsi (produksi sama dengan konsumsi) yang lepas dari hitungan negara, melibatkan tenaga kerja tanpa bayar dalam rumah tangga. Sedangkan menurut Chayanov (1966) suatu aktivitas ekonomi yang melakukan self exploitation dengan maksud untuk memuaskan kebutuhan rumah tangga dengan apa yang dipunyai oleh pekerja rumah tangga tanpa dibayar.
1

sebulan mereka hanya bekerja selama maksimal 65 jam. Dengan sumber produksi yang terdiri dari sektor primer tanah petanian, sektor skunder alam, kebun rakyat serta jasa dan sektor tertier dari keluarga dan kemunitas. Sebaliknya, jika produksi selama sebulan tidak mencukupi konsumsi minimum rumah tangga, maka total konsumsi akan diminimalis jam kerjapun akan semakin banyak. Termasuk misalnya dari makan dua kali sehari menjadi satu kali sehari. Sebagaimana yang dinyalir Scott bahwa apabila petani sudah sampai batas etika subsistensi mereka akan mengganti jenis konsumsi dari beras ke umbi-umbi. Pada ekonomi subsisten masyarakat tidak mempunyai standar kebutuhan dasar. Standar petani adalah produksi, makin tinggi produksi maka standar belanja dalam rumah tangga juga tinggi. Apabila produksi tahun ini bisa mencukupi sampai panen tahun berikutnya, hasil kerja bulanan dan mingguan akan digunakan untuk membelanjakan keperluan skunder lainnya, artinya hutang akan berkurang. Sayurmayur, buah-buahan, daging merupakan produksi sendiri, hanya minyak, gula, kopi, garam, korek dan pakaian dan keperluan skunder lainnya dibeli dari hasil kerja mingguan atau bulanan. Kelebihan produksi dari konsumsi akan didistribusikan kepada kerabat dekat, bahkan dialokasikan untuk dana sosial menyumbang pembangunan fasilitas desa atau bahkan membantu kerabat dalam melaksanakan perayaan. Saving dalam arti ekonomi moderen tidak berlaku pada ekonomi subsisten, yang berlaku adalah persiapan modal untuk konsumsi besar seperti perayaan lebaran, pesta perkawinan, pesta kelahiran dan pesta desa lainnya. Setelah berbagai upacara tersebut selesai kondisi ekonomi rumah tangga kembali semula bahkan cenderung makin sulit karena beban hutang dari konsumsi besar tersebut. Memahami ekonomi subsisten dapat dengan mudah karena ekonomi subsisten hanya mempunyai dua variabel yaitu variabel produksi dan variabel konsumsi. Prinsip-perinsip ekonomi pasar tetap diadopsi secara tidak tepat pada ekonomi subsisten, yaitu produksi, konsumsi, saving dan hutang. Tujuan produksi pada ekonomi subsisten adalah konsumsi. Jenis produksi sama dengan jenis konsumsi, atau jenis produksi dipengaruhi oleh jenis konsumsi. Ever membagi konsumsi pedesaan menjadi dua yaitu konsumsi rumah tangga dan konsumsi komunitas. Konsumsi rumah tangga diproduksi oleh rumah tangga dan subsidi komunitas, sedangkan konsumsi massal berasal dari subsidi dari masing-masing rumah tangga. Saving (menabung) ditujukan untuk konsumsi massal, seperti menabung untuk menikah, menabung untuk pergi haji, dan pesta adat lainnya. Bentuk produksi adalah membuka lahan kemudian menanamnya dengan tanaman keras seperti karet, ketika prosesi konsumsi massal dilakukan maka kebun dan tanah tersebut dijual sebagai sumber utama keuangan. Saving juga sama dengan produksi massal untuk konsumsi jangka panjang. Contoh berladang menanam padi dan hasil panen dijadikan persediaan konsumsi sepanjang tahun. Hutang bagi penduduk pendesaan ditujukan untuk pemenuhan kekurangan kebutuhan primer dan biaya massal. Hutang terjadi karena hubungan antara masyarakat dengan tauke, yang dibayar melalui hasil kerja harian atau bulanan serta jasa yang tidak dibayar. Tauke mempunyai inisiatif meningkatkan jumlah hutang setiap hari yang bertujuan untuk peningkatan ketergantungan. Kelas tauke ini sangat berpengaruh terhadap persepsi petani pada perubahan. Semakin tergantung petani

pada tauke semakin sulit perubahan terjadi. Karena perubahan bagi tauke adalah ancaman kestabilan ekonomi, politik dan struktur sosial. Konsumsi dalam masyarakat subsisten merupakan tujuan utama produksi. Maka produksi ditentukan beberapa besar konsumsi yang diperlukan. Jika gambaran konsumsi lebih besar sementara faktor produksi juga besar maka aktivitas produksi akan tinggi guna memenuhi asumsi konsumsi. Chayanov (1966) menyebutnya dengan labor consume balance, Ellis (1988) dan Evers (1991) menyebutnya penggunaan produksi langsung. Konsumsi secara umum dibagi menjadi dua konsumsi utama, yaitu konsumsi rumah tangga dan konsumsi sosial. Konsumsi rumah tangga merupakan sejumlah penghasilan yang dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari rumah tangga. Sedangkan konsumsi sosial merupakan sejumlah penghasilan dikeluarkan untuk keperluan sosial, seperti sumbangan mesjid, sumbangan pesta perkawinan dan hantar ketika hari besar. Tauke atau rentenir merupakan sumber over consumption, ketika produksi menurun sementara konsumsi meningkat, petani sering mengabaikan hukum household utulity maximisation. Konsumsi selalu saja dipenuhi melalui hutang, sementara produksi sangat minim. Akibatnya seluruh produksi tahunan dan bulanan diserahkan semuanya ke tauke untuk membayar hutang. Jika kondisi ini berlaku maka tingkat ketergantungan petani tersebut akan semakin besar pada tauke, bahkan tauke bisa menjadi tuan bagi keluarga tersebut.3 Kondisi over consumption terjadi pada pertama, suatu massa tertentu terjadi penurunan harga komoditas, atau terjadi persitiwa alam yang dipandang tidak lama atau kepala rumah tangga sakit keras. Kedua, hari-hari besar agama seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, muharam atau hari-hari besar adat. Pada hari itu semua masyarakat memaksimalkan konsumsi untuk merayakan hari besar tersebut sampai tiga hari. Selain biaya untuk makan juga pembelanjaan tahunan berupa pakaian dan penghiasan rumah. Ketiga, perayaan perkawinan, kelahiran anak, tujuh bulanan, kematian dan lainnya. Semua jenis perayaan ukuran jumlah konsumsi adalah kampung. Satu rumah tangga menyediakan konsumsi untuk satu kampung. Sumber konsumsi tersebut biasanya berasal dari harta kekayaan berupa tanah, kebun dan binatang ternak yang dijual dan berhutang pada tauke dan juga pemberian dari anggota komunitasnya. Keempat, ada sebagian kecil dari keluarga petani yang ingin memperbaiki hari tuanya melalui pendidikan, sekarang keadaan ini sudah menjadi kecendrungan umum. Anak bagi keluarga desa adalah saving yang berguna di hari tua. Anak yang sekolah memerlukan dana besar apalagi kalau sampai kuliah di perguruan tinggi. Sumber

Contoh yang menarik untuk disimak keberhasilan penduduk Desa Teladas, Rawas Sumsel melepaskan diri dari tauke secara diam-diam menjual sebahagian penghasilan bulanannya (karet) ke pembeli bebas dengan harga yang tinggi. Hasil penjulan diam-diam tersebut dibelikan untuk kebutuhan bulanannya di pedangang lain. Sementara hutangnya pada tauke dibayar secara berangsur ke tauke dengan sebahagian produksi karetnya. Munculnya inisiatif ini setelah masuknya pembeli-pembeli getah karet dari kota yang membeli karet lebih mahal, bahkan karena yang datang kedesa tersebut sering mencapai lima pedagang, di mana masing-masing pedangan getah karet tersebut berusaha membeli harga tertinggi

3

biayanya kekayaan berupa tanah, kebun, ternak dan perhiasan dan meminjam uang ke tauke. Pola konsumsi di atas mengambarkan pola produksi. Semakin besar konsumsi semakin meningkat dan beragam aktivitas produksi. Ever, (1988) menjelaskan produksi melalui dua variable, yaitu variabel rumah tangga dan variabel komunitas. Adapun variabel rumah tangga meliputi tenaga kerja, jenis lahan dan jenis pekerjaan dan reproduksi. Tenaga kerja dibagi berdasarkan sex dan umur. Kerja-kerja reproduksi dilakukan oleh perempuan dengan dibantu oleh anak-anak perempuan. Reproduksi meliputi reproduksi tenaga kerja rumah tangga dan reproduksi hasil kerja dari suami atau lelaki yang bekerja di luar rumah tangga terutama yang dimaksud Ever dengan sektor skunder dan tertier. Isteri selain berfungsi reproduksi juga melakukan produksi perkarangan, kraf tangan, pemeliharaan ternak dan pendidikan anak. Sistem produksi subsisten ini sangat beragam berdasarkan ekologi di mana berada. Untuk yang tinggal yang hutannya masih luas umumnya berladang berpindahpindah, mengambil hasil hutan dan sungai, sementara petani yang tinggal di tanah yang terbatas mengelola pertanian dan mengembangkan sektor jasa non formal. Perubahan-perubahan sumber daya ekonomi pedesaan mengancam ketahanan pangan dan keberlangsungan hidupnya selalu disiasati melalui beberapa strategi. pertama, pendalaman pada bentuk-bentuk setempat dari usaha swadaya dalam bentuk pertukaran jenis tanaman ke peralihan padat karya dan peralihan ketanaman komersial. Kedua, pengandalan dari sektor non pertanian, dalam bentuk menyerbu ekonomi uang dengan pergi ke kota mencari serpihan ke kota. ketiga, pengandalan pada bentuk patronase dan bantuan dukungan dari negara, berupa projek negara berupa subsidi pangan dan bantuan untuk daerah yang tertimpa kelaparan. Keempat, pengandalan pada struktur-struktur proteksi dan bantuan yang bersifat keagamaan atau oposisi. (Rawa, 2004) Perpindahan penduduk miskin dari desa dan kota lain ke Pekanbaru bisa diterjemahkan sebagai pilihan strategi bertahan dari ancaman ketahanan pangan dan ancaman keberlangsungan hidup. Mayoritas penduduk miskin yang pindah ke Pekanbaru empat tahun terkahir memilih dipinggiran kota dan konsisten dengan sektor pertanian sebagai produksi utama. Posisi ini bergeser perlahan menuju kota bersamaan dengan lamanya tinggal di Pekanbaru. Perpindahan mereka ke Pekanbaru tidak serta merta merubah pola pemikiran ekonomi keluarga. Pemikiran dan aktivitas ekonomi rumah tangga tetap melaksanakan aktivitas ekonomi subsisten yaitu berkeja untuk bertahan hidup. Walaupuin demikian setelah di Pekanbaru potensi perubahan sangat besar karena besarnya penetrasi perubahan yang tidak mampu m,ereka rkontrol sehingga akan merombak tatanan struktur sosial menuju ke arus perubahan. Perubahan struktur sosial menjadikan pengembangan pilihan-pilihan alternatif yang tidak terikat dengan struktur sosial lama. Kemerdekaan untuk memiliki bebagai alternatif tersebut menyebabkan terjadinya perubahan cara pikir, budaya dan prilaku ekonomi. (rawa 2005) Perubahan ini didorong oleh makin konperehensif berbagai aspek yang lekat pada permasalahan ekonomi rumah tangganya yang berada dilingkungan perkotaan. Apalagi Hans Dieter Ever (1993) juga menjelaskan bahwa petani di Asia Tenggara tidak tergantung pada lahan pertanian, tetapi tergantung pada sektor skunder

dan tertier. Sektor skunder adalah seperti tersedianya alam, perkebunan rakyat serta buruh harian. Sedangkan sektor tertier adalah dana keluarga dan jasa. Evers sudah secara jelas mengemukan bahwa ekonomi subsisten bukan hanya terbatas pada petani di pedesaan tetapi memberi pengertian yang lebih luas tentang ekonomi kelas bawah, buruh dan kaum miskin kota. Secara sosiologis di negara ketiga sektor ekonomi kelas bawah ini masih sangat kuat memegang perinsip ekonomi subsisten. Buruh dan masyarakat miskin perkotaan tidak mengalami perubahan bukan semata-mata disebabkan permikiran ekonomi susbsiten tetapi juga disebabkan faktor struktural modal dan peluang usaha. Situasi berkembangan pemikiran ekonomi subsisten oleh yang lebih dulu berada di kota mempengaruhi lambat perubahan sikap dari miskin ke tidak miskin. Gambaran teoritis diatas sangat jelas memaparkan bahwa semakin besar migrasi kemiskinan ke Pekanbaru akan mempengaruhi jumlah pertambahann ke miskinan dalam masa lebih dari lima tahun. Tetapi migrasi penduduk ke pusat perkotaan yang memiliki akses kerja yang mampu memanfaatkan peluang kerja yang tersedia akan mampu meningkatkan perekonomian Pekanbaru dan mempunyai dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan di Pekanbaru. DISKRIPSI KOTA PEKANBARU Sejarah Singkat Nama Pekanbaru dahulunya dikenal dengan nama "Senapelan" yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi muara Sungai Siak. Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya melainkan Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Mesjid Raya sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang. Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi "Pekan Baharu" selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan "PEKAN BAHARU", yang dalam bahasa sehari-hari disebut PEKANBARU. Perkembangan Pekanbaru baik pada zaman penjajahan Belanda maupun Jepang, merupakan pusat – pusat tertentu sehubungan dengan kepentingan bagi

masing – masing penjajah.1 Pada zaman penjajahan Belanda, Pekanbaru menjadi tempat kedudukan Distric Hofd Van Pekanbaru yang selanjutnya sebagai tempat kedudukan Controleur (PHB) Pemerintahan Belanda, berdasarkan Besluit Van Het Indlansche Zelfbestuur Van Siak, nomor 1 tahun 1919. Begitu juga pada pendudukan Jepang, Pekanbaru menjadi Daerah Gun yang dikepalai oleh Guncho dan tempat kedudukan Riau Syu Cokang. Keadaan ini berlanjut setelah Indonesia merdeka kedudukan Pekanbaru melalui beberapa tingkatan perkembangan (hirarki) ditandai dengan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No. Des.52/I/44-25, tanggal 20 Januari 1959. Arti dari perkembangan status kota dari sudut administrasi di atas menyimpulkan bahwa kota Pekanbaru semakin membenahi dirinya sebagai suatu ”kota”. Baik sebagai kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan provinsi maupun dengan status ”kotamadya”. Dengan demikian secara fungsional berarti pemerintahan kota harus menyiapkan dan mampu berperan untuk menghidupi setiap warganya melalui pranata – pranata yang ada. Jika batasan kota menggunakan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (urban), Kota Pekanbaru telah berkembang menjadi kota besar (penduduk ≥0,5 juta jiwa). Bentuk ini akan terwujud pada tahun 2003 ini yang jumlah penduduknya mencapai 653.435 jiwa. Sebagian besar penduduknya merupakan pendatang dari berbagai pulau (provinsi/suku) di Indonesia, yang terbanyak seperti Suku-suku Minang (Sumatra Barat), Batak (Sumatra Utara), Jawa (Jawa Tengah dan Timur), Sunda (Jawa Barat). Jumlah penduduk pendatang itu justru lebih banyak dari Penduduk aslinya (suku Melayu Riau). Pekanbaru dikujungi banyak pendatang tersebut dikarenakan letaknya yang strategis hanya 1 jam penerbangan dari Singapura, 1 jam 30 menit dari Kuala Lumpur, atau 30 menit penerbangan dari Medan menjadikan kota ini sebagai 'trading hub' yang sangat menjanjikan di masa datang. Oleh sebab itu sangat wajar kalau kemudian Pekanbaru menjadi kota pendatang, karena penduduknya mayoritas pendatang.

1

Bagian ini bahan diambil dari makalah Hasanudin Jalil, Pekanbaru dari Pandangan Sosilogis tahun 1993.

Tabel 4 : Komposisi Penduduk Pekanbaru tahun 2003 Umur Jenis Kelamin Lk 34,111 38,075 35,643 32,112 26,283 35,510 33,046 27,682 24,251 15,890 10,526 6,329 13,658 333,116 Pr 31,680 37,990 29,501 31,519 36,388 33,089 35,523 24,729 19,059 11,788 12,268 6,022 10,763 320,319 JLH

00 – 04 05. – 09 10. – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55 – 59 > 60 TOTAL

65,791 76,065 65,144 63,631 62,631 68,599 68,569 52,411 43,310 27,678 22,794 12,351 24,421 653,395

Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Pusat kota Pekanbaru (down town) dibelah oleh sebuah jalan protokol, yaitu Jl Sudirman yang sangat panjang. Sayang saat ini bagian tengah dari jalan ini separuhnya dipakai untuk luapan pedagang Pasar Pusat, tetapi sebetulnya jalan yang meniru konsep 'Avenue' ini sangat indah jika tertata apik dan rapi Migrasi dan Perkembangan Kota Pekanbaru Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau sama seperti ibukota propinsi lainnya di Indonesia, Pekanbaru menjadi magnet yang sangat kuat bagi seluruh penduduk Riau untuk bermigrasi ke kota ini. Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk tahun 1980 penduduk Kotamadya Daerah Tingkat II Pekanbaru berjumlah 186.199 jiwa. Dari jumlah tersebut tersebar di dalam enam wilayah kecamatan yakni kecamatan – kecamatan Pekanbaru Kota, Sukajadi, Sail, Limapuluh, Senapelan dan Rumbai. Luas daerah kota mencapai 62,96 kilometer persegi. Pada tahun 1987 (setahun sebelum reklasifikasi perkotaan) kepadatan rata – rata mencapai 5.389 jiwa per kilometer persegi. Angka ini relatif sangat padat jika dibandingkan dengan kota – kota lain diwilayah Provinsi Riau. Perubahan yang sangat drastis terjadi pada tahun 1988 yakni adanya pemekaran wilayah kota (reklasifikasi). Perluasan daerah tersebut mencapai 10 kali lebih luas dari daerah sebelumnya, yakni dari 62,96 kilometer persegi menjadi 632,07 kilometer persegi (sungguh luar biasa). Akibat dari reklasifikasi tersebut pertambahan absolut penduduk mencapai jumlah 108.424 jiwa. Pertambahan yang mampu menciptakan sebuah kota kecil dalam wilayah kota Pekanbaru.

Perkembangan selanjutnya setelah reklasifikasi perkotaan hingga sensus penduduk tahun 1990 dilaksanakan, telah mencapai jumlah sebesar 398.621 jiwa. Laju pertumbuhan rata – rata sejak adanya Pekanbaru dapat dilihat pada lampiran 1. Laju pertumbuhan penduduk mencapai point tertinggi selama periode 1980 – 1990 sebesar 7,9 % rata – rata setiap tahun. Pada tahun 2003 jumlah penduduk Pekanbaru bertambah menjadi 653.435 jiwa dengan pertumbuhan rata-sata 4,85 persen per tahun. TABEL 5 : PERKEMBANGAN PENDUDUK PEKANBARU TAHUN 1930 1961 1971 1980 1990 2000 20003 20004 JUMLAH 10.000 70.821 145.030 186.199 398.621 586.223 653.435 676.076

Sumber: Assalundin,1993, BPS Pekanbaru tahun 2003.

Bertolak dari data tersebut, maka kepadatan penduduk dan sex rasio pada masing – masing kecamatan dapat dihitung. Kepadatan tertinggi ada di wilayah Kecamatan Pekanbaru Kota dan Sukajadi. Menyusul dibelakangnya adalah Kecamatan Limapuluh dan Sail. Keempat kecamatan ini merupakan kawasan sentral pemerintahan dan dengan distribusi fasilitas umum terkonsentrasi di daerah – daerah kecamatan tersebut. Pusat – pusat perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan serta pusat – pusat perkantoran berlokasi ditiga wilayah kecamatan ini. Sebaliknya sebahagian dari wilayah kecamatan Rumbai, Senapelan, Bukit Raya dan Tampan jika dibahas dari sudut pendekatan ”pusat-pinggiran” merupakan daerah pinggiran jika dilihat dari visi geografis, fasilitas umum dan ciri ekonomi masyarakat. Tabel 6 : Kepadatan Penduduk Tahun 2003 Kecamatan Luas Wlayah (KM) Tampan 108,84 Bukit Raya 299,08 Lima Puluh 4,04 Sail 3,26 Pekanbaru Kota 2,26 Sukajadi 5,10 Senapelan 6,65 Rumbai 203,03
Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Jumlah Pddk 184.773 210.422 41.343 22,903 27,110 61,586 35,762 100,496

Kepadatan Pddk 1.400 704 10.187 6.615 13.193 12.128 5.486 491

Sampai tahun 2003, tingkat kepadatan penduduk tetap berda di Pekanbaru Kota, Sukajadi dan Lima Puluh, sementara rumbai masih yang terjarang jumlah

dilihat dari kepadatan penduduknya. Hal ini tentu tidak lepas dari visi pekerjaan dan kuantitatif aktivitas bisnis berada di tiga kecamatan tersebut. Tabel 7: Rasio Penduduk Pekanbaru Berdasarkan Seks Tahun 2003 Jenis Kelamin Kecamatan Tampan Bukit Raya Lima Puluh Sail Pekanbaru Kota Sukajadi Senapelan Rumbai Lk 97.554 109.854 21,430 11,858 13,895 31,387 19,141 52182 Pr 87.219 100.568 20.004 11,045 13.215 30.199 16.621 48.314 JLH 184.773 210.422 41.343 22,903 27,110 61,586 35,762 100,496

Sumber: BPS Pekanbaru tahun 2003.

Seks rasio di beberapa kawasan kecamatan yang termasuk dalam lingkungan ”pusat” disadari bahwa lebih dari setengah penduduk kotamadya Pekanbaru dipenuhi oleh perantau ”minang” yang memiliki konotasi khusus dalam migrasi. Perbedaan yang tajam dalam hal sex rasio akan memunculkan pula fenomena lain di dalam kehidupan masyarakat. Secara fisik kota telah berubah, perbedaan antara ”rural” dan ”urban” semakin jelas. Akibatnya timbul kepincangan distribusi penduduk dan fasilitas sosial. Hasil sensus penduduk tahun 1980 Pekanbaru secara total tergolong dalam klasifikasi ”urban”. Pada hasil sensus penduduk tahun 1990 proporsi penduduk yang tinggal di ”urban” sejumlah 85,6 persen. Berarti terdapat penduduk yang bermukim di ”rural” sebesar 14,4 persen. Tahun 2003 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan mencapai 98,66% dan hanya 1,34% tinggal di Pedesaaan. Berkurangnya jumlah penduduk yang tinggal di pedesaan ini bukan disebabkan jumlah penduduk yang beralih ke perkotaan tetapi disebabkan berkembangnya kota yang menyebabkan daerah pinggiran atau desa makin sempit dan makin berkurang. Kesimpulan sementara terjadi pergeseran ”status urbanit”. Masyarakat yang tinggal diluar kota Pekanbaru (secara administratif) setelah reklasifikasi berubah status menjadi warga kota baru (interaksi dan aktivitas masyarakat di kawasan ini lebih banyak di Kotamadya Pekanbaru). Dengan menempati daerah pinggiran yang sering disebut dengan ”sub urban”, secara perlahan – lahan daerah pinggiran tersebut telah memunculkan aktivitas ekonomi dan pasar yang berkembang dengan sendiri. Sama pula halnya dengan sarana dan prasarana lain yang menunjang kehidupan urbanit. Jaringan transportasi, sarana pendidikan, pasar, jasa, kesehatan dan fasilitas lainnya akibat kepincangan tersebut menimbulkan aktivitas tersendiri. Problema lain yang menarik diperhatikan adalah pengendalian dan mengatasi resedual (pembuangan limbah rumah tangga dan sampah) warga kota.

Dilihat dari komposisi jumlah usia produktif dengan usia tidak produktif dan usia sekolah menunjukkan range yang sangat menonjol. Terlihat pada tabel 5 berikut bahwa jumlah usia produktif mencapai 62 % dari seluruh jumlah penduduk, sementara usia sekolah mencapai 32%, usia tidak produktif di atas 55 tahun hanya 6 persen. Perbandingan persentase tersebut dihubungan dengan usia produktif dapat diinterpretasikan bahwa mayoritas usia produktif tersebut adalah pendatang yang datang 10 tahun terakhir. Jika jumlah usia di atas 55 tahun dikalikan rata jumlah anggota rumah tangga 5 maka diperoleh jumlah yang lahir dari usia di atas 55 tahun adalah 183.860 jiwa atau hanya 29 %, artinya jumlah usia produktif yang merupakan pendatang 10 tahun terakhir adalah 33 persen. Data ini seharusnya mampu memacu perkembangan ekonomi Pekanbaru dan punya dampak positif terhadap pengurangan kemiskinan di Pekanbaru. Tebel 8 : Perbandingan Usia Produktif dengan Non Pruduktif Jenis Kelamin Umur 00 - 14 15. -54 55 + Lk 107,829 194,774 19,987 Pr 99,171 192,095 16,785 JLH 207,000 409,623 36,772

Sumber: di olah dari data BPS Pekanbaru tahun 2003.

Suparlan (Jalil, 1993) menjelaskan semakin berkembang sebuah kota maka semakin berkembang pula berbagai bentuk pelayanan jasa dan pasar. Semakin kompleks pula kebutuhan – kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan warganya. Sebab setiap kebutuhan yang harus dipenuhi menuntut pula dipenuhinya kebutuhan lain yang mendukung pemenuhan kebutuhan yang pertama tersebut. Ciri kehidupan perkotaan yang lebih menekankan kepada kegiatan – kegiatan ekonomi di bidang pelayanan dan industri memunculkan berbagai bentuk spesialisasi kemampuan, teknologi, jasa dan keterampilan. Kegiatan ekonomi pasar di perkotaan menyebabkan munculnya batas – batas yang jelas antara pemilik modal dan yang tidak memiliki modal atau selalu muncul dengan sebutan dan istilah ”bos” dan ”bawahan”. Tidak dapat disangkal bahwa fasilitas pelayanan umum di kota Pekanbaru semakin tampak. Jaringan transportasi semakin meluas (walaupun masih memerlukan penataan kembali), pasar swalayan bermunculan disamping pasar tradisional yang terus berkembang, mall sudah 5 buah. Indikasi ini merujuk pada keadaan persaingan sektor formal (yang cenderung terbatas kepada pemilik modal) dan sektor informal yang semakin membengkak. Demikian tingginya keaktifan sektor informal menyebabkan pemanfaatan fasilitas yang ada seperti, jalan dan pelataran parkir, trotoar disulap menjadi lokasi kegiatan. Walaupun sebahagian besar warga kota Pekanbaru masih bercirikan in door oriented, keberadaan pusat jasa dan hiburan sebagai ciri ekonomi bisnis perkotaan diimbangi oleh ciri ekonomi bazaar (tradisional). Penonjolan kegiatan jasa dan jasa perorangan mengarah kepada ciri kehidupan kekotaan. Semarak kehidupan kota memberikan daya tarik yang khas tidak hanya bagi penduduk kota, penduduk yang

tinggal di luar kota tertarik untuk menikmati corak kehidupan tersebut. Corak dan ciri kehidupan seperti ini yang disebut dengan urban as away of life, artinya keinginan untuk tinggal dikota berupaya untuk mengikuti cara hidup kota dengan menikmati fasilitas kota yang tersedia. Oleh karena itu, keberadaan pusat – pusat pelayanan jasa hiburan merupakan suatu aktivitas yang sangat cepat berkembang. Sisi lain dari kehidupan warga kota adalah kebutuhan akan rekreasi. Kekurangan fasilitas rekreasi menyebabkan tempat – tempat tertentu dipenuhi oleh orang –orang yang ingin melepaskan keperluan tersebut. Penataan tata kota yang semestinya sudah memperkirakan fasilitas tersebut hingga saat ini belum terwujud. Walaupun ada pusat rekreasi tetapi aksessibilitas ketempat tujuan masih merupakan beban masyarakat kota. Bahkan tempat tersebut (sepertinya) hanya diperuntukkan bagi warga kota yang memiliki angkutan pribadi khususnya angkutan roda empat. Masalah yang muncul ialah apakah pemerintah kota mampu melaksanakan fungsinya sebagai suatu pranata formal. Apakah pemerintah kota sudah mengakomodir semua pranata yang terkait di dalam sistem pelayanan masyarakatnya. Dalam hubungan ini kemapuan pemerintah kota ditantang. Permasalah seperti kriminalitas, munculnya permukiman liar (squatter) dan kumuh (slums) merupakan beberapa dilema sebagai akibat kurang berfungsinya pranata yang ada. Dilain pihak perkembangan kota (baik fisik maupun penduduknya) bila tidak berjalan sebagai suatu sistem, hanya merupakan beban yang serius bagi pemerintah kota. Dilain pihak warga kota semestinya pulalah memahami akan adanya normatif dan sistem kota tersebut. Kota Pekanbaru memiliki heterogenitas dan diferensiasi pekerjaan yang semakin nyata. Perkembangan wilayah menempatkan kota ini memerlukan perencanaan tata ruang kota dan perencanaan sosial yang dinamis. Terdapat empat kutub yang menghubungkan antarwilayah di dalam kota Pekanbaru. Masing – masing kutub tersebut ditandai dengan ciri yang khas. Yakni berdiri sentra – sentra pendidikan yang secara tidak langsung mengitari kotamadya Pekanbaru. Kawasan Universitas Lancang Kuning di wilayah kecamatan Rumbai, Universitas Riau di Kecamatan Tampan dan Universitas Islam Riau di Kecamatan Bukit Raya. Dibelahan lain masih dalam kawasan Kecamatan Bukit Raya merupakan pintu gerbang masuk transportasi (dan arus manusia) dari kawasan Timur Sumatera. Bila dikaitkan dengan pendekatan analisis yang telah disebutkan dimuka, antara daerah pusat kota dengan pusat pendidikan merujuk kepada kawasan suburban. Permasalahan yang sering terangkat kepermukaan berkenaan dengan keadaan sub urban ini adalah sengketa atas tanah, penyerobotan dan spekulasi harga. Di samping itu adalah kecenderungan pola lompat katak dari spekulan pemilik modal melalui real estate, pengkaplingan tanah, dan perumahan umum. Pengaturan dan penciptaan sistem dan jaringan transportasi pada dasarnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan kota. Masalah kemacetan lalu lintas, kelebihan beban yang diangkut, terminal dan halte serta pengaturan arus masuk transportasi diatur secara dini. Termasuk didalamnya penunjukan dengan jelas logistic base dengan building yang digunakan. Hubungan seterusnya ialah keharusan aktivitas ekstra keras dari Pemerintah Kota, khususnya kelengkapan dan kesiapan aparat Pemerintah dalam usaha

pembenahan sistem pelayanan dan kebijakan memperhatikan berjalannya fungsional perkotaan. Perkembangan Ekonomi

kependudukan

untuk

tetap

Kota Pekanbaru sebagai pusat Pemerintah Provinsi Riau dan perdagangan menjadi daya tarik ekonomi tersendiri. Faktor lain yang juga menunjang sangat prospektifnya kota ini, adalah begitu banyaknya perusahaan penanaman modal asing yang berkiprah di Propinsi Riau mendirikan kantor pusatnya di kota ini. Sebut saja perusahaan seperti PT Caltex Pacific Indonesia, perusahaan minyak terbesar di Indonesia, mempunyai kantor pusat operasi di Rumbai (+/- 15 km dari Pekanbaru), atau PT Indah Kiat Pulp and Paper yang bergerak di bidang usaha Pulp dan Paper, demikian juga perusahaan sejenis yang besar seperti PT Riau Andalan Pulp and Paper, PT Raja Garuda Mas, dan perusahaan lainnya. Di bidang kehutanan ada perusahaan raksasa seperti PT Surya Dumai, atau PT Siak Raya. Tidak bisa dipungkiri perusahaan-perusahaan itulah yang menjadi denyut nadi perekonomian di Riau, atau Pekanbaru khususnya Lihatlah Produk Domestik Regional Bruto Kotamadya Pekanbaru mengalami kenaikan. Perhitungan atas dasar harga berlaku pada tahun 1999 adalah sebesar Rp.2.194.962,29 juta, tahun 2000 naik menjadi Rp.3.212.380,80 juta atau naik sebesar 46,35%. Perhitungan atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 1999 sebesar Rp. 1.135.287,66 juta dan tahun 2000 Rp.1.322.723,55 juta atau naik sebesar 16,51%. Pada tahun 2001 mengalami kenaikan lagi 16,14 % menjadi Rp. 5.717.027,61, ditahun 20002 naik 16,15 % menjadi Rp.6.168.586, 97,Pendapatan perkapita penduduk Kotamadya Pekanbaru juga mengalami kenaikan. Perhitungan atas dasar harga berlaku, tahun 1999 sebesar Rp.3.413.040,10 juta menjadi Rp.5.093.714,30 juta pada tahun 2000 atau naik sebesar 49,24%. Sedangkan atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 1999 sebesar Rp.1.873.218,19 menjadi Rp.2.097.377,71 pada tahun 2000 atau naik sebesar 11,97%. Tahun 2002 naik menjadi 2.188.882,25,Jika dilihat dari Luas Tanah menurut penggunaan lahan terlihat bahwa daerah yang masih mungkin untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian hanya berada di dua kecamatan yaitu : Kecamatan Tampan dan Bukitraya. Di Kecamatan Tampan terdapat 2.150 Ha lahan yang sementara tidak ditanami, sedangkan di Kecamatan Bukitraya ada 2.050 Ha. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa sector ekonimi semakin berkembang ditandai dengan peningkan PDRB dan pendapatan perkapita perorangan, makin berkurangnya tanah untuk sector pertanian dan meluasnya sector perdagangan dan jasa. Suatu gambaran Pekanbaru yang akan menuju ke kota metropolitan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dikawasan Sumatera Tengah. Perkembangan retail sangat cepat ditahun 2004 dan 2005 sudah beroperasi perdagangan retail Makro dan Hypermart dan retail lainnya, serta telah beroperasi lima mall besar. Tentu keadaan ini menjadi factor penarik bagi migran untuk masuk ke Pekanbaru. Walaupun pertumbuhan ekonomi ini tidak begitu sinkron dengan kondisi sumber daya manusia yang menopangnya, table berikut menjelaskan tentang tingkat pendidikan di Pekanbaru

Kecamatan (1)

Tabel 8 : Tingkat Pendidikan di Pekanbaru Tingkat Pendidikan Tamat SD SLTP SLTA Jumlah Buta Huruf ke bawah kebawah ke atas (2) (3) (4) (5) (6) 425 590 783 931 2,060 639 269 564 907 646 1,344 1,089 10,247 63.42 151 277 263 405 578 345 137 172 499 306 381 318 3,832 23.72 9 11 15 20 9 5 12 36 6 15 7 145 0.90 667 968 1,207 1,544 3,061 1,098 487 847 1,568 1,103 1,956 1,625 16,158 100.00

1 TAMPAN 82 2 PAYUNG SEKAKI 101 3 BUKIT RAYA 150 4 MARPOYAN DAMAI 193 5 TENAYAN RAYA 403 6 LIMA PULUH 105 7 SAIL 76 8 PEKANBARU KOTA 99 9 SUKAJADI 126 145 10 SENAPELAN 11 RUMBAI 216 238 12 RUMBAI PESISIR Kota Pekanbaru 1,934 Persentase (%) 11.97

Sumber: Pendataan Penduduk / Keluarga Miskin Propinsi Riau 2004

Data secara jelas memaparknan bahwa 75, 89 persen sumber daya keluarga miskin yang tersedia di Pekanbaru adalah tidak dan tamat sekolah dasar serta buta hubuf, tamat SLTP 23, 72 persen dan hanya 0,92 % yang tamat SLTA dan perguruan tinggi. Kondisi ini sungguh sangat mengkhawatirkan jika melihat kecenderungan kebutuhan tenaga kerja di perkotaan yang semakin hari semakin membutuhkan tenaga skill. Sedangkan tenaga tidak cakap (unskill) makin berkurang. Kondisi ini tentu saja akan berpengaruh terhadap meningkatnya jumlah pengangguran di Pekanbaru dan makin rawannya ketahanan sosial serta makin berkembangnya ancaman keriminalitas. Diperkirakan 75,89% tersebut akan tetap miskin bahkan akan menjadi semakin miskin karena makin berkurangnya perluang kerja tersebut. Kemiskinan di Pekanbaru Angka kemiskinan kota Pekanbaru tahun 2003 adalah 11, 74 %, jumlah ini menurut ditahun 2004 menjadi 10,91% (Balitbang 2005), jadi terjadi penurunan 0, 83 persen. Penurunan ini sangat kecil bahkan bisa disimpulkan bahwa penurunan ini bukan disengaja tertapi terjadi karena meningkatnya jumlah perdagangan retail besar ke Pekanbaru yang menyebabkan bertambah orang yang tidak miskin ke Pekanbaru sehingga mengurangi jumlah orang miskin di Pekanbaru. Sayangnya tidak tersedia data orang yang tidak miskin pindah ke Pekanbaru dalam lima tahun, sehingga tidak bisa membandingan pengaruh migrasi orang bekerja denan migrasi orang miskin ke pekanbaru..

Data pada table tersebut diketahui bahwa kemiskinan terbesar berada di yaitu Tanayan Raya yaitu 17,66% rumah tanga miskin dan 16,95% penduduk miskin, Rumbai, 16,88 rumah tangga miskin, 16, 74 pendududk miskin, Sukajadi 15,80 rumah tangga miskin dan 15, 28 persen penduduk miskin, Pekanbaru Kota 14, 70 rumah tangga miskin dan 15, 28 persen penduduk miskin. Data ini mengambarkan bahwa jumlah penduduk miskin terbesar berada di kecamatan pinggir yang berbasis pertanian yaitu Kecamatan Tanayan Raya dan Kecamatan Rumbai Besar. Bahkan desa Palas Rumbai menempati jumlah penduduk miskinnya berada dalam posisi 40%,Daerah yang paling padat penduduk yaitu Sukajadi dan Pekanbaru Kota menjadi peringkat berikutnya yang berada di daerah kota. Begitu juga Kelurahan Sukaramai, Kampung Tengah merupakan kelurahan yang kemiskinannya berada diantara 20-30%. Gambaran ini menunjukkan bahwa kemiskinan di Pekanbaru merata tidak hanya ada di kawasan pinggir saja. Tabel 10 : Penduduk dan Ruta Miskin Pekanbaru JMLH JMLH JMLH JMLH % KECAMATAN RUTA RUTA RUTA PDDK PDDK MISKI MISKIN MISKIN N 1 TAMPAN 18,412 667 3.62 89,294 3,334 2 PAYUNG SEKAKI 13,896 968 6.97 67,878 4,714 3 BUKIT RAYA 15,209 1,207 7.94 73,793 5,662 MARPOYAN 4 DAMAI 20,297 1,544 7.61 97,276 7,593 5 TENAYAN RAYA 17,336 3,061 17.66 83,210 14,100 6 LIMA PULUH 9,366 1,098 11.72 43,166 5,216 7 SAIL 5,111 487 9.53 23,835 2,211 PEKAN BARU 8 KOTA 5,761 847 14.70 28,332 4,464 9 SUKAJADI 9,924 1,568 15.80 47,468 7,255 10 SENAPELAN 8,680 1,103 12.71 39,064 5,292 11 RUMBAI 11,943 1,956 16.38 56,115 9,394 12 RUMBAI PESISIR 12,597 1,652 13.11 55,086 7,606 KOTA PEKANBARU 148,532 16,158 10.88 704,517 76,841
Sumber : Balitbang Prov. Riau 2004

% PDKK MISKI N 3.73 6.94 7.67 7.81 16.95 12.08 9.28 15.76 15.28 13.55 16.74 13.81 10.91

Selain itu, gambaran data juga mampu menjelaskan bahwa perkembangan industri di Pekanbaru khususnya mall dan perusahaan retail lainnya tidak secara langsung berpengaruh terhap tersedianya peluang kerja bagi rumah tangga miskin di Pekanbaru. Terbukti peningkatan PDBR mencapai 16, 14 ditahun 2002 tetapi kemiskinan hanya berkurang 0,83 % ditahun 2004. Tabel dibawah ini mengambarkan jumlah penduduk miskin berdasarkan lama tinggal. Pendatang selama 5 tahun terakhir (terhitung tahun 2005) mencapai 12 .143 orang, jumlah tersebut hampir berdekatan dengan yang datang dalam kurun waktu 610 tahun, tetapi yang datang di atas 10 tahun jauh lebih besar atau 100% dari yang

datang dalam kurung waktu kurang dari lima tahun. Ini artinya penduduk miskin yang sudah tinggal lama tinggal di Pekanbaru cenderung konstan jumlahnya. Tabel 11: Penduduk Miskin di Pekanbaru Berdasarkan lama tinggal Lama Tinggal (th) Usia (th) Jumlah 15-30 30-45 45-55 >55 <=5 6.387 4.450 886 420 12.143 6 - 10 > 10 4.060 10.269 3.354 6.805 877 363 8.654 2.863 1.630 21.567

Sumber : Balitbang Provinsi Riau 2005 (sudah diolah)

Tabel 12 berikut menjelaskan di penduduk yang tinggal pada periode kurang dari lima tahun. Secara jelas table ini menginformasikan bahwa penduduk miskin yang datang ke Kota Pekanbaru memilih tinggal di daerah pinggir yang berbasis pertanian. Peringkat utama Tanayan Raya, Rumbai dan Rumbai Pesisir yang masih sangat luas lahan terbuka untuk dikelola yang berbasis pertanian. Sedangkan penduduk miskin dikawasan perkotaan adalah yang mana mereka tinggal lebih dari 5 tahun di Pekanbaru bahkan yang tinggal lebih dari 10 tahun mencapai hanya berada pada posisi urutan 4 yaitu Kecamatan Sukajadi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sukaja dipenuhi oleh pendatang yang berbasis sector informal yang mayoritas berasal dari Sumatera Barat. Tabel 12. Perbandingan Lama Tinggal Penduduk Miskin Lama Tinggal di Kabupaten ini (tahun) Kecamatan (1) <1 tahun (2) 2-4 tahun 5-9 tahun >=10 tahun (3) 199 180 206 365 656 154 72 114 325 136 431 198 3,036 18.79 (4) 229 271 344 387 766 159 83 173 321 207 578 316 3,834 23.73 (5) 177 430 566 605 1,438 717 300 518 816 701 792 1,036 8,096 50.11 Jumlah (6) 667 968 1,207 1,544 3,061 1,098 487 847 1,568 1,103 1,956 1,625 16,158 100.00

1 TAMPAN 62 2 PAYUNG SEKAKI 87 3 BUKIT RAYA 91 4 MARPOYAN DAMAI 187 5 TENAYAN RAYA 201 6 LIMA PULUH 68 7 SAIL 32 8 PEKANBARU KOTA 42 9 SUKAJADI 106 59 10 SENAPELAN 11 RUMBAI 155 102 12 RUMBAI PESISIR Kota Pekanbaru 1,192 Persentase (%) 7.38

Sumber: Pendataan Penduduk / Keluarga Miskin Propinsi Riau 2004

Fenomena lain yang menarik yang dapat diketahui dari data yang dihasilkan oleh Balitbang Provinsi Riau adalah ada dua daerah asal yang merupakan mayoritas pendatang di bawah tahun. Untuk di daerah pinggiran mayoritas berasal dari Sumatera Utama yang bermarga dan dari pulau Nias, setelah itu diikuti oleh dari luar sumatera khususnya dari Jawa. Sedangkan pendatang dibawah lima tahun yang beradai di perkotaan khsusunya di Pekanbaru Kota dan Sukajadi mayoritas berasal dari Sumatera Barat. Fenomena ini menunjukkan bahwa peranan pendatang yang lebih dulu bisa diyakini cukup besar. Dampak Yang Dirasakan Menyimak uraian terdahulu dapat disimpulkan antara lain bahwa perkembangan kota Pekanbaru semakin mengarah pada kota metropolitan. Indikasi tersebut terlihat dari jumlah penduduk yang bermukim di urban semakin meningkat. Meskipun secara relatif terjadi perubahan proporsi penduduk tetapi secara absolut perubahannya sangat berarti. Perluasan wilayah perkotaan (reklasifikasi) Kotamadya Pekanbaru merujuk kepada hal – hal yang khas. Diantaranya ialah terjadi perubahan yang cukup tajam dalam hal kepadatan (density) dan distribusi penduduk. Hal lain ialah adanya kepincangan terhadap distribusi fasilitas sosial dan tenaga kerja. Sejalan dengan itu adalah penataan jaringan dan sistem transportasi kota. Penurunan proporsi dalam hal distribusi penduduk dibeberapa wilayah kecamatan mengacu pada pergeseran pola pemukiman. Kendatipun demikian masih tampak kepadatan yang tinggi jika ditinjau perwilayah kecamatan, terutama Pekanbaru Kota dan Sukajadi. Melihat arah perkembangan tersebut (termasuk perkembangan kependudukan), penataan pola permukiman dan tata ruang kota melalui Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) sangat mendesak untuk diberlakukan. Hal ini mengingat jika terlambat dilaksanakan kecendrungan pemukiman dan perluasan fisik perkotaan yang tidak terkendali akan terangkat kepermukaan. Efek dari hal itu adalah akan memunculkan pemukiman kumuh (slums) dan pemukiman liar (squatter) untuk beberapa kawasan pemukiman di daerah perkotaan, terutama daerah – daerah yang dianggap sebagai kawasan sentra. Pengaturan pola pemukiman khususnya bagi daerah pinggiran harus diatur menurut RUTRK melalui mekanisme izin bangunan (IMB). Pengaturan drainase (sanitase) sudah pula ditetapkan agar di dalam perkembangan tata kota selanjutnya tidak menimbulkan beban yang berat. Mekanisme dari salah satu wujud fungsional perkotaan tersebut adalah pengaturan izin menetap bagi warga kota. Hal ini dimaksudkan untuk pendataan (registrasi) dan menata pola pemukiman. Izin membangun yang lebih diseleksi baik bentuk (konstruksi) maupun luas lantai bangunan (beserta sistem residual rumah tangga), penentuan tempat panyiapan daerah – daerah filter sebagai kantong – kantong penyangga bila terjadi kepadatan yang dianggap sudah maksimal sudah dipersiapkan. Menyimak dari semua ulasan yang telah dikemukakan secara totalitas telah terjadi perubahan. Rentetan dari semua fenomena tersebut membawa kepada suatu pemikiran yakni perkembangan kota Pekanbaru merupakan suatu perkembangan yang spesifik sehingga memerlukan kajian – kajian yang lebih dalam dan berlanjut.

Terutama kajian yang mengarah ke kehidupan urban. Pemikiran ini diajukan atas dasar bahwa pemegang kebijaksanaan kota dihadapkan pada suatu kenyataan untuk melengkapi sarana atau fasilitas yang menunjang warga kota yang bersangkutan. Fasilitas tersebut meliputi transportasi, komunikasi, pendidikan, kesehatan, pemukiman (termasuk di dalamnya listrik, air bersih dan MCK) serta fasilitas sosial maupun ekonomi guna kelangsungan kehidupan urbanit. Penataan pasar dan pusat – pusat pasar, terminal diselaraskan dengan pola pengembangan perkotaan. Artinya jalur dan sistem transportasi sebagai salah satu bagian (komponen) dari jaringan pelayanan jasa yang terus berkembang, disesuaikan dengan pola penataan perkotaan. Penentuan daerah bumper sebagai penyangga atau filter sudah harus ditetapkan. Pengendalian sistem ini adalah melalui mekanisme izin menetap. Selanjutnya ditetapkan pula melalui suatu Peraturan Daerah (PerDa) berkenaan dengan pengaturan bagi penduduk dikawasan pusat (center) boleh pindah kedaerah pinggiran. Sebaliknya bagi penduduk yang telah bermukim di daerah pinggiran tidak dibenarkan pindah (menetap) di daerah pusat. HASIL PENELITIAN Imigrasi lima tahun terakhir Berdasarkan data Balitbang 2004 bahwa jumlah rumah tangga miskin yang masuk ke Pekanbaru sejak tahun 2001 sampai 2005 atau lima tahun terakhir berjumlah 3, 431 rumah tangga. Pendatang terbesar berada di Tenayan Raya mencapai 634 rumah tangga khususnya kelurahan Sail mencapai 264 rumah tangga. Mayoritas pendatang tersebut berasal dari Sumatera Utara. Hal ini diketahui nama yang memakai marga. Grafik 1. Rumah Tangga Miskin 5 thn Terakhir Tiba di Pekanbaru
218 450 161 214 236 258

381 139 94 188 634

458

TAMPAN MARPOYAN DAMAI SAIL SENAPELAN

PAYUNG SEKAKI TENAYAN RAYA PEKAN BARU KOTA RUMBAI

BUKIT RAYA LIMA PULUH SUKAJADI RUMBAI PESISIR

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Sedangkan daerah yang paling kecil didatangi migran adalah Kecamatan Sail hanya 94 Keluarga. Namun demikian kecilnya jumlah ini juga dipengaruhi sedikitnya jumlah kelurahan di Kecamatan Sail yang hanya 3 kelurahan, bukan pusat perdagangan atau perkantoran tetapi lebih banyak perumahan permanen yang sudah

lama. Kelurahan yang tidak didatangi migran adalah kelurahan Sago Kecamatan Senapelan. Dilihat dari kecenderungan daerah yang menjadi tujuan pendatang adalah daerah pinggir kota yang masih berbasis pertanian. Posisi terbesar ditempati Tanayan Raya, lalu diikuti Rumbai Pesisir, Rumbai, dan Bukit Raya. Hanya yang menarik dari data ini adalah Sukajadi yang bukan pinggiran menempati urutan ke empat setelah Rumbai. Kecuali Sukajadi, makin ke kota semakin kecil menjadi daerah tujuan pendatang. Daerah pinggiran yang berbasis pertanian jika dilihat dari suku bangsa mayoritas berasal dari Sumatera Utara khususnya Batak dan Jawa. Sedangkan suku Minang (dilihat dari nama) menjadikan Sukajadi sebagai kecamatan favorit daerah tujuan. Grafik 2. Jumlah KK di Kelurahan yang menjadi Responden
93 19

95

264 32

DELIMA SUKA RAMAI PALAS

SAIL KAMPUNG TENGAH

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005

Grafik ini secara jelas mengambil responden berdasarkan karateristik daerah tujuan pendatang, yaitu mewakili daerah pinggiran dalam hal ini Kelurahan Sail dan Kelurahan Palas dan yang mewakili perkotaan Kelurahan Sukaramai dan Kelurahan Kampung Tengah, sedangkan Kelurahan Delima dipandang mewakili antara keduanya dan juga merupakan kawasan semi kota atau semi pinggiran tersebut. Grafik 3 : Asal Pendatang

2% 18%

7%

1%

49%

23%

SUMATERA UTARA
Sumber : Hasil Survey 2005

SUMATERABARAT

RIAU

Sumsel

Jawa

Nias

Grafik ini secara jelas memaparkan bahwa mayoritas sample berasal dari Sumatera Utara mencapai 49% kemudian diikuti oleh Sumatera Barat 23 %, kemudian diikuti oleh warga Riau diluar Pekanbaru mencapai 18%, sisanya dari Jawa, Sumsel dan Nias. Adapun pendatang dari sumatera Utara berasal dari 16 daerah, yang mayoritasnya berasal dari Kisaran kemudian diikuti oleh Sidakalang. Jumlah ini akan mewarnai pendatang yang akan datang ke Riau pada tahun-tahun ke depan. Sedangkan dari Sumbar juga merata dari semua daerah hanya yang besar berasal dari daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau. Grafik 4 : Daerah asal dari Sumatera Utara.
3% 12% 3% 3% 3% 3% 3% 14%

7%

3% 5% 3% 24% 7%

4% 3%

SIABU DOLOG sibolga balam tarutung

BRASTAGI belawan k pinang binjai

r prapat p sidempuan kb jahe balige

sidakalang kisaran p siantar T Morawa

Sumber : Hasil Survey 2005 4.2.1. Agama yang Dianut Pendatang Berdasarkan agama yang dianut oleh migran, dilihat dari jumlah keseluruhan maka agama Islam merupakan agama terbesar yitu 2,950 kepala keluarga, diikuti agama Protestan mencapai 437 KK, Kahtolik 37 KK, 2 Budha, dan 1 Kong Hu tsu.

Mayoritas pemeluk agama Islam datang dari Sumatera Barat dan Tapanuli Selatan, sedangkan pemeluk agama Protestan datang dari Sumatera Utara. Sementara penganut agama Protestan mayoritas tinggal di kawasan pinggir Pekanbaru yang berbasis pertanian. Tabel 13 : AGAMA YANG DIANUT PENDUDUK YANG 5 TAHUN TERAKHIR KE PEKANBARU Budha Islam Protestan Katolik Kong Hu Tsu Jml %

KECAMATAN Jml % Jml % Jml % Jml % 1.TAMPAN 208 97.2% 6 2.8% 2.PAYUNG SEKAKI 175 74.2% 60 25.4% 1 0.4% 3.BUKIT RAYA 249 96.5% 7 2.7% 2 0.8% 4.MARPOYAN 436 95.2% 22 4.8% DAMAI 5.TENAYAN RAYA 2 0.3% 485 76.5% 134 21.1% 12 1.9% 1 0.2% 6.LIMA PULUH 156 84.8% 25 13.6% 3 1.6% 7.SAIL 89 94.7% 5 5.3% 8.PEKAN BARU 136 97.8% 3 2.2% KOTA 9.SUKAJADI 362 95.0% 18 4.7% 1 0.3% 10.SENAPELAN 150 93.2% 10 6.2% 1 0.6% 11.RUMBAI 306 68.0% 132 29.3% 12 2.7% 12.RUMBAI 198 90.8% 15 6.9% 5 2.3% PESISIR Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005 Secara keseluruhan pendatang yang beragama Islam masih mayoritas, hanya pada kelurahan tertentu agama protestan justeru mayoritas sebagaimana grafik bawah ini; Grafiik 5 : Penganut Agama di Kelurahan Sampel
13% 1% 0%

86%

Budha

Islam

Protestan

Katolik

Kong Hu Tsu

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005 Pada kelurahan yang menjadi populasi penelitian tergambar jelas bahwa daerah pinggiran dalam hal ini Palas mayoritas pendatangnya beragama Protestan mencapai

59,1 %, begitu juga dengan Kelurahan Sail jumlah penganut protestan mencapai 32%. Sedangkan di daerah perkotaan didominasi penganut agama Islam. Grafik 6 : Penganut agama di Kelurahan responden
180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 delima sail sukaramai kampung tengah palas 19 32 29 95 180

islam

protestan

budha

kong khu tsu

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Dilihat dari hasil survey diketahui bahwa komposisi agama yang dianut pendatang yang menjadi sample pada survey berikut dibawah ini. Grafik 7 : Agama yang dianut oleh sample

3%

44%

53%

Islam

Protestan

Khatolik

Sumber: Hasil Survey 2005 Data ini mengambarkan bahwa agama yang dianut oleh sample mayoritas beragama Islam dan diikuti oleh Kristen Protestan dan hanya sedikit yang beragama Kriten Khatolik. 4.2.2. Pendidikan Pendatang Dilihat dari profil pendidikan pendatang lima tahun terkahir yang ke Pekanbaru adalah sebagai berikut; Kecamatan Tidak Tidak Tamat Tamat Tamat Pergurua SLTA n Tinggi Pernah Tamat SD SLTP Sekolah SD Sederajat Sederajat

10.TAMPAN 13 52 188 199 127 11.PAYUNG SEKAKI 8 31 148 235 207 20.BUKIT RAYA 5 59 176 261 149 21.MARPOYAN 14 80 351 434 344 DAMAI 22.TENAYAN RAYA 23 192 450 592 389 30.LIMA PULUH 3 17 142 174 137 40.SAIL 4 16 47 84 77 50.PEKAN BARU 4 23 107 144 104 KOTA 60.SUKAJADI 7 57 287 324 313 70.SENAPELAN 39 116 142 127 80.RUMBAI 22 76 353 444 281 81.RUMBAI PESISIR 6 55 174 173 122 Total 109 697 2,539 3,206 2,377 Tabel 14: Tingkat pendidikan Pendatang Di Kecamatan Tampan terdapat 2 Kepala keluarga tamatanS2/S3 Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

7 1 12 5 13 4 1 4 23 1 10 6 87

Tabel diatas dengan jelas menunjukkan bahwa mayoritas pendatang adalah tingkat pendidikan SLTP mencapai 36% diikuti tamat SD dan tamat SMU. Data ini cukup mengejutkan juga karena ternyata terdapat dua orang yang tamatan S2/S3 dan 85 orang tamat S1. Tamat S2/S3 menimbulkan kekaburan pemahaman tentang pengaruh pendidikan terhadap Kemiskinan. Data diatas secara implisit menjelaskan bahwa tidak begitu relevan antara Kemiskinan dengan pendidikan. Secara jelas Grafik berikut ini memaparkan persentase tingkat pendidikan pendatang ke Pekanbaru. Persentase yang tidak pernah sekolah berimbang dengan jumlah yang tamatan perguruan tinggi. Grafik 8 : Pendidikan Pendatang Lima tahun terkahir
1% 1% 26% 28% 8%

36%
Tidak Pernah Sekolah Tamat SLTP Sederajat Tidak Tamat SD Tamat SLTA Sederajat Tamat SD Perguruan Tinggi

Sementara tabel tingkat pendidikan di kelurahan yang menjadi populasi survey adalah sebagai berikut;

Tabel Tingkat pendidikan Pendatang 5 tahun terakhir ke Pekanbaru Tidak Tidak Tamat Tamat Tamat Pernah Tamat SD SLTP SLTA PT Sekolah SD Sederajat Sederajat DELIMA 2 9 16 25 6 SAIL 11 104 194 227 146 3 SUKA RAMAI 1 9 18 35 20 2 KAMPUNG 2 17 55 83 80 6 TENGAH PALAS 4 17 49 99 55 3 Total 20 156 332 469 307 14 Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2005 Tabel tersebut mengambarkan bahwa ternyata komposisinya sama dengan komposisi kota madya yaitu tamatan SLTP mayoritas mencapai 469 kepala keluarga kemudian diikuti tamatan SD mencapai 332 Kk, lalu SLTA mencpaia 307 KK, tidak tamat SD 156, 14 tamatan perguruan tinggi dan 20 Kk tidak pernah sekolah. Sedangkan tingkat pendidikan sample yang disurvey sebagai berikut; Grafik 9 : Tingkat pendidikan sample Kelurahan

10%

16%

24% 50%

SD

SMP

SMU

PT

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Ternyata tingkat pendidikan sample cukup baik dimana 50% tamat SLTA/SMU, SLTP 24%, SD 16 %, tamatan perguruan tinggi 10 % tamatan dan tidak

satupun yang tidak tamat sekolah dasar apalagi tidak pernah sekolah. Hasil survey ini dapat dipahami bahwa mereka yang berani keluar dari kampung halamannya sudah tentu mempunyai bekal pendidikan. Adalah terbuka peluang asumsi bahwa tidak memungkinkan bagi mereka tidak pernah sekolah berani merantau. 4.2.3. Jenis Kelamin Pendatang Dilihat dari jenis kelamin pendatang bahwa jumlah penduduk perempuan dengan lelaki berimbang hanya selisih tiga persen saja, dimana perempuan 49% sedangkan lelaki 51 persen. Perimbangan jumlah jenis kelamin ini ada hubungan dengan perpindahan suami diikuti isteri atau menikah sesama dengan daerah asal. Grafik berikut mengambarkan komposisi seks pendatang; Grafik 10 ; Pendatang lima tahun terakhir berdasarkan seks.

49% 51%

Laki-Laki

Perempuan

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Secara detailnya di masing-masing kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut; Tabel 16 Jenis kelamin pendatang lima tahun terkahir. Jenis Kelamin Laki Prempuan 1.TAMPAN 302 284 2.PAYUNG SEKAKI 330 300 3.BUKIT RAYA 337 325 4.MARPOYAN DAMAI 625 603 5.TENAYAN RAYA 851 808 6.LIMA PULUH 242 235 7.SAIL 110 119 8.PEKAN BARU KOTA 187 199 9.SUKAJADI 513 498 10.SENAPELAN 208 217 11.RUMBAI 625 561 12.RUMBAI PESISIR 263 273 Total 4,593 4,422 Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Kecamatan

Ternyata dari tabel tersebut juga menunjukkan bahwa perimbangan jumlah lelaki dan perempuan merata di semua kecamatan. Kecamatan Sail, Pekanbaru Kota, Senapelan dan Rumbai Pesisir jumlah perempuan lebih banyak daripada lelaki, sementara di kecamatan lainnya lelaki lebih banyak. Jika dilihat dari letak kecamatan maka di daerah yang perempuannya lebih banyak adalah di kawasan perkotaan, kecuali di Rumbai Pesisir. Sementara itu di kelurahan yang menjadi populasi survey ini diketahui perbandingan perempuan dengan lelaki menunjukkan corak yang sama yaitu berimbang jumlah lelaki dan perempuan. Hanya kelurahan Sukaramai yang perempuannya lebih banyak dari lelaki dengan perbedaan 10 % . Data ini menguatkan bahwa kecenderungan perempuan menuju ke pusat kota untuk memilih pekerjaan di sektor jasa yang tidak mengandal kekuatan tenaga. Gambaran jumlah pendatang berdasarkan jenis kelamin yang dihitung berdasarkan pendduduk adalah sebagai berikut: Grafik 11: Jenis Kelamin di Kelurahan yang menjadi responden berdasarkan Jumlah penduduk

49%

51%

Laki

PR

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut; Tabel 17: Jenis Kelamin di Kelurahan Respon Kelurahan Jenis Kelamin Laki JML % DELIMA 31 53.4% SAIL 351 51.2% SUKA RAMAI 38 44.7% KAMPUNG TENGAH 127 52.3% PALAS 119 52.4% Total 666

Perempuan Jml 27 334 47 116 108 632

% 46.6% 48.8% 55.3% 47.7% 47.6%

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Data penduduk ini sangat berbeda dengan data kepala keluarga, karena populasi dari kepala keluarga yang datang 5 tahun terakhir mayoritas adalah lelaki dan hanya 6 persen yang perempuan disebabkan oleh kematian suami atau bercerai. Grafik berikut dapat dengan mudah mengambarkan bahwa mayoritas kepala keluarga adalah lelaki: Grafik 12: Kepala Keluarga yang menjadi Populasi

6%

94%
Lk PR

Sumber: Hasil Survey 2005 Data ini juga memberi gambaran bahwa jaminan keberlangsungan ekonomi keluarga pendatang lebih baik karena masih mayoritas keluarga lengkap. Suami dan isteri bisa sama-sama bekerja untuk menopang ekonomi rumah tangga sesuai dengan pekerjaan yang tersedia. 4.2.4. Pekerjaan Pendatang Dilihat dari pekerjaan pendatang lima tahun terakhir maka sektor jasa menempati urutan tertinggi yaitu 1.710 jiwa, kemudian diikuti sektor dagang 1014 jiwa, lalu diikuti oleh sektor pertanian dan perkebunan 519 jiwa. Ini menandakan bahwa pendatang memiliki kemampuan skill dan motivasi berusaha lebih tinggi, karya sektor jasa dan dagang hanya bisa dimasuki oleh tenaga kerja yang mempunyai sklill dan bermotivasi tinggi saja. Sektor lain yang juga besar adalah kontruksi alias kerja bangunan, industri pengolahan dan angkutan. Sektor-sektor yang tidak memerlukan skill yang cukup tinggi. Berikut grafik yang bisa menjelaskan tentang sektor usaha dan pekerjaan yang digeluti oleh pendatang; Grafik 13: Pekerjaan Pendatang

0.15%

11.39% 1.01% 8.97%

37.52% 1.32%

9.54%

0.15% 7.70% 22.25%

Tidak Bekerja Pertambangan, Pernggalian Listrik, Gas, Air Minum Perdagangan Lembaga Keuangan

Pertanian, Perkebunan Industri Pengolahan Kontuksi Angkutan Jasa

Grafik ini juga secara meyakinkan bahwa yang tidak berkerja ternyata sangat kecil hanya 0,15% atau tujuh orang saja. Ini menandakan bahwa kehadiran pendatang ini mempunyai pengaruh terhadap produktivitas dan GNP Pekanbaru karena umumnya mereka bekerja pada sektor yang mendorong pertumbuhan income perkapita . Tabel berikut secara detail menunjukkan angka sektor yang diminati oleh pendatang di Pekanbaru. Data sektor ini cukup juga memberi gambaran secara implisit kecenderungan pertumbuhan industri dan pertumbuhan kota di Pekanbaru. Tabel 18: Pekerjaan Pendatang Kecamatan Tidak Pertanian, tambang, Industri Listrik Bekerj Perkebuna &galian olahan , Gas, Air a n Minu m Jlmh Jml Jlmh Jlmh Jlmh 26 2 11 5 1 11 9 10 41 32 105 1 1 1 31 2 5 6 195 64 3 7 11 2 2 3 22 273 5 3 3 7 9 51 13 4 5 5 5 2 Kontuk Dagang Angkuta Lemkeu Jasa Total n si

1.TAMPAN 2. PAYUNG SEKAKI 3.BUKIT RAYA 4.MARPOYAN DAMAI 5.TENAYAN RAYA 6.LIMA PULUH 7.SAIL 8.PEKAN BARU KOTA 9.SUKAJADI 10.SENAPELAN 11.RUMBAI 12.RUMBAI

Jlmh 38 60 22 57 80 51 8 10 29 10 43 27

Jlmh 64 51 54 171 94 62 19 78 227 64 99 31

Jlmh 24 22 21 54 60 23 6 6 43 12 65 15

Jlmh

Jlmh 88 258 132 296 193 342 240 591 267 895 92 43 72 181 97 205 100 242 116 172 503 201 681 261

2

1 1

2

2 11 6

2

7 3 12 2

2

1

PESISIR Total

7

519

46

409

60

435

1,014 351

7

1,710 4,558

Jika dilihat pada kelurahan yang menjadi populasi survey maka sektor yang dominan adalah sektor industri pengolahan menempati urutan teratas yaitu 32%, diikuti oleh jasa 20,69%, perdagangan 19,67% dan pertanian perkebunan 14,94%. Gambaran ini tampak sekali bahwa terdapat hubungan antara tempat tinggal dengan jenis pekerjaan yang dipilih. Keberadaan di kawasan pinggiran kota menyebabkan pilihannya pekerjaannya adalah di sektor pertanian-perkebunan dan industri pengolahan. Selain itu, sektor pinggiran ini juga masuk ke kawasan perkotaan dengan mengambil jenis pekerjaan perdagangan dan jasa. Mengakibatkan jumlah yang bekerja disektor jasa dan perdagangan lebih besar dari sektor lainnya. Grafik 14: Pekerjaan Pendatang
20.69% 0.13% 4.98% 14.94% 1.66%

32.82% 19.67% 4.60% 0.51%

Pertanian, Perkebunan Industri Pengolahan Kontuksi Angkutan Jasa

Pertambangan, Pernggalian Listrik, Gas, Air Minum Perdagangan Lembaga Keuangan

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Hasil survey menunjukkan bahwa komposisi pekerjaan pendatang yang berbeda dengan data survey Balitbang 2004, sebagaimana terlihat pada grafik berikut berikut: Grafik 15 :Pekerjaan sample

Pekerjaan sampel
19% 2% 1% 2% 26%

2% 8% 6% 1% 4% 6% 14% 9%

Berdagang Sopir industri pengolahan penjahit Tidak Kerja

Bangunan ojek berkebun Teknisi

Bengkel juru parkir pegawai Jasa

Sumber: Hasil Survey 2005 Data ini menggambarkan bahwa sektor terbesar adalah perdagangan, yang dimaksud pedagang disini adalah pedagang kaki lima, pedangan keliling, buka warung harian, sektor terbesar ke dua adalah sektor jasa yaitu buruh harian lepas yang bertugas mengangkat barang-barang di pasaran atau mengangkat barang dari truk dan lain sebagainya. Berbeda dengan data Pekanbaru dan populasi penelitian dimana sektor jasa merupakan sektor terbesar. Hanya kecenderungannya yang masih sama yaitu sektor informal perkotaan, yaitu berdagang, dan menyedia jasa yang tidak disediakan oleh pekerja perkotaan yang berpendidikan atau menurut bahasa Ever (1991) pekerjaan yang merupakan sisa pekerjaan perkotaan.

4.2.5. Umur Pendatang Data Balitbang tahun 2004 menunjukan bahwa mayoritas pendatang pada usia produktif , dimana 58% berumur 15-55 tahun, hanya 2 % saja penduduk yang berada diusia lanjut, sisanya 40% berusia dibawah 15 tahun. Penduduk yang berusia dibawah 15 tahun dapat dipahami sebagai anak dari yang berusia produktif tadi. Lebih detil data ini menunjukkan bahwa jumlah usia tertinggi yang berda di Pekanbaru adalah umur 25 sampai 40. Pada usia tersebut merupakan puncak usia produktif dari pekerja. Grafik 16: Usia Pendatang

2% 40%

58%

<15

15- 55

>55

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Data usia ini mengambarkan bahwa kehadiran pendatang ini bisa memacu produktifitas, jika usia yang datang tersebut berusaha maksimal untuk peningkatan ekonomi mereka. Secara detail per kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut yang memaparkan distribusi usia berdasarkan kecamatan; Tabel 19 : Jumlah usia pendatang <15 Jumlah % 15- 55 Jmlh % >55 Jmlh t 26 22 22 39 Jumlah % 2.58% 2.05% 1.97% 1.89% 2.75% 1.15% 1.03% 1.92% 1.87% 1.99% 1.64% 2.66% 2.07% 1007.0 1075.0 1118.0 2068.0 2798.0 782.0 390.0 626.0 1657.0 702.0 2015.0 901.0 15139.0

Kecamatan

1.TAMPAN 421 41.81% 560.0 55.61% 2.PAYUNG SEKAKI 445 41.40% 608.0 56.56% 3.BUKIT RAYA 456 40.79% 640.0 57.25% 4.MARPOYAN 840 40.62% 1189.0 57.50% DAMAI 5.TENAYAN RAYA 1,139 40.71% 1582.0 56.54% 77 6.LIMA PULUH 305 39.00% 468.0 59.85% 9 7.SAIL 161 41.28% 225.0 57.69% 4 8.PEKAN BARU 240 38.34% 374.0 59.74% 12 KOTA 9.SUKAJADI 646 38.99% 980.0 59.14% 31 10.SENAPELAN 277 39.46% 411.0 58.55% 14 11.RUMBAI 829 41.14% 1153.0 57.22% 33 12.RUMBAI PESISIR 365 40.51% 512.0 56.83% 24 Jumlah 6,124 40.45% 8,702 57.48% 313 Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004

Jika dilihat dari kelurahan yang menjadi populasi maka usia populasi memiliki corak yang sama dengan corak kotamadya, yaitu 58% usia produktif antara 15-55 tahun, 40 % usia dibawah 15 tahun dan hanya 2 % yang berusia lanjut diperkirakan tidak produktif. Untuk usia ini cenderung homogen dan berlaku untuk semua pendatang yang di masing-masing kelurahan. Hanya apakah kecenderungan setiap tahun akan sama atau hanya pada tahun-tahun tertentu saja. Penting sekali mengetahui kecenderungan usia para migran ini untuk memudahkan menentukan arah kebijakan terutama sekali sektor pekerjaan dan sektor sosial lainnya di Pekanbaru pada masa yang akan datang. Grafik : Umur Pendatang di kelurahan Populasi.

2% 40%

58%

< 15

15 - 55

>55

Sumber: Diolah dari Buku Survey Balitbang Provinsi Riau 2004 Hasil survey menunjukkan bahwa umur usia sample 98% merupakan usia produktif, hanya 2 persen yang sudah lanjut diatas 55 tahun sedangkan dibawah 15 tahun tidak ada. Tidak adanya umur dibawah 15 tahun ini disebabkan yang sample adalah kepala rumah tangga yang sudah pasti berumur diatas 15 tahun. Usia terbanyak pendatang yang disurvey adalah usia 25-40 tahun. Grafik 17: Usia Sampel

2% 0%

98%

< 15

15-55

>55

Sumber: Hasil Survey Balitbang 2005 Grafik ini cukup rasional jika dilihat dari potensi seseorang untuk bisa pindah. Usia dibawah 15 tahun tidak memungkinkan migran untuk berpindah dengan alasan ekonomi, begitu juga yang diatas 55 tahun.

4.2.6. Jenis Bantuan yang Diterima Mayoritas sample pernah menerima bantuan yaitu mencapai 82 persen dari kepala keluarga sample. Hanya 18% saja yang belum pernah menerima bantuan apapun. Jenis bantuan terbanyak yang diterima oleh sample adalah PKBS BBM mencapai 51 persen, beras buloq mencapai 23 persen. Selain itu, 7 persen menerima rumah layak huni dan satu persen menerima asuransi kesehatan. Data ini mengambarkan bahwa akses pendatang terhadap bantuan pemerintah cukup besar dan dalam hal memberikan bantuan pemerintah tidak mempertimbangakan lama tinggal ataupun pendatang atau tempatan. Grafik 18: Jenis Bantuan Pemerintah yang diterima sampel

18% 7%

51% 23% 1%

PKPS BBM Rmh layak huni

Asuransi Kesehatan tidak pernah

Beras Bulog

Sumber: Hasil Survey 2005 4.3. Faktor dan Pengaruh Faktor-faktor migrasi dilihat dari dua aspek yaitu tarikan dan faktor dorongan. Faktor tarikan adalah daya tarik Pekanbaru yang menyebabkan migran datang ke Pekanbaru, penelitan ini hanya menempatkan dua indikator yaitu tersedia peluang pekerjaan dan peluang berusaha di Pekanbaru. Faktor dorongan adalah situasi buruk ditempat asal yang menyebabkan mereka harus pindah ke tempat lain dalam hal ini menjadikan Pekanbaru sebagai daerah tujuan. Indikator yang dipakai adalah penghasilan ditempat asal, ketersediaan lahan ditempat asal, pekerjaan di tempat asal, Selain variable dorongan dan tarikan tersebut di kemukakan juga faktor perantara, meliputi beberapa indikator yaitu informasi tentang Pekanbaru, keaktifan ditempat asal, sarana transportasi, dorongan dari keluarga, motivasi individual, tempat tinggal yang dituju. 4.3.1. Faktor Perantara Faktor perantara ini sering diabaikan para peneliti, padahal para peneliti migran menunjukkan bahwa faktor ini sering sekali memegang peranan sangat penting. Atas pertimbang tersebut faktor perantara ini ditampilkan lebih dahulu. Ada enam indikator yang dikemukakan pada penelitian ini yaitu: 4.3.1.1. Informasi Tentang Pekanbaru Pertanyaan ini diajukan untuk melihat sejauh mana pengetahuan migran tentang Pekanbaru dan dari mana informasi tersebut diperoleh. Melalui informasi ini akan diketahui skenario migran menuju ke Pekanbaru. Pertanyaan ini harus dihubungakan dengan tempat yang dituju di Pekanbaru. Karena seharusnya sinkron antara sumber informasi dengan tempat tinggal yang dituju di Pekanbaru.

Grafik 19 : Informasi tentang Pekanbaru

7%

8% 33%

52%

dr teman

Saudara

Tidak ada

Ada sedikt

Sumber : hasil Survey 2005 Hasil survey menunjukkan bahwa 85 % para migran mengetahui informasi tentang Pekanbaru berasal dari saudara dan teman di Pekanbaru. Masing-masing 52 % dari saudara, 33% dari teman, hanya 8% mengetahui sedikit saja dari berbagai sumber dan hanya 7% yang datang ke Pekanbaru dengan modal nekat tanpa ada informasi dan orang yang dikenal di Pekanbaru. Gambaran ini menunjukkan bahwa peranan orang yang datang lebih dahulu terhadap migran yang datang 5 tahun terakhir cukup besar. Data ini mengambarkan arus umum terjadinya perpindahan yang terjadi. Arus umum migran global menunjukkan besarnya peranan pendatang lebih dahulu. Dalam beberapa kasus seperti migran Indonesia ke Malaysia justeru diorganisir oleh bisnis tenaga kerja.

4.3.1.2. Tempat Tinggal yang dituju di Pekanbaru. Pertanyaan yang diajukan pada tempat yang dituju setiba di Pekanbaru. Hasil survey menunjukkan bahwa 52% menumpang ditempat teman, 38 % sewa rumah, dan 9 persen tinggal di tempat kerja. Data ini cukup relevan dengan sumber informasi tentang Pekanbaru. Angka sumber informasi dari keluarga di Pekanbaru sama dengan angka menumpang di tempat teman. Bisa dipahami teman yang dimaksudkan disini sama dengan saudara. Sementara yang mengetahui sumber informasi dari teman di Pekanbaru berimbang dengan persentase yang menyewa. Ini bisa diartikan bahwa tempat yang dituju adalah ditempat teman tetapi dengan menyewa. Grafik 20: Tempat Tinggal yang dituju di Pekanbaru.

38%

52% 1%

9%

Numpang Teman

Tpt Kerja

Penginapan

Sewa Rumah

Sumber : Hasil Survey 2005 Data ini bisa diinterpertasikan bahwa pendatang yang masuk ke Pekanbaru merupakan pendatang yang mempunyai jaminan dari keluarganya di Pekanbaru, minimal berupa tempat sementara. Ini diperkuat lagi 10% tersisa yaitu 1% di penginapan dan 9 persen di tempat kerja, jadi tidak ada yang menjadi gelandangan. 4.3.1.3. Dorongan Ke Pekanbaru. Pertanyaan yang diajukan pada bagian ini adalah dorongan siapa yang mengajaknya ke Pekanbaru. Hasilnya sangat mengejutkan bahwa dorongan ke Pekanbaru yang terbesar adalah kemauan sendiri, lalu diikuti 27% diajak saudara, 21 % diajak teman dan 8% sudah diterima kerja di Pekanbaru. Grafik 21: Dorongan Migran ke Pekanbaru

8% 21% 44%

27%

Kemauan Sendiri

Diajak Saudara

Diajak Teman

Diterima Kerja

Sumber : Hasil Survey 2005 Data diatas mengambarkan bahwa kemauan sendiri pindah ke Pekanbaru dipengaruhi oleh saudara dan teman yang sudah ada di Pekanbaru. Selain itu, cukup mengejutkan karena 8% pendatang tersebut masuk ke Pekanbaru karena sudah

diterima kerja di Pekanbaru, yang sebagaimana diketahui banyaknya proses rekrutmen pegawai dilaksanakan di luar Pekanbaru. Data ini diperkuat lagi dimana aktivitas dalam organisasi di daerah asal hanya 21% yang tidak pernah aktif dan 7% merupakan ketua remaja ditempat asalnya, 72 % merupakan anggota aktif. Gambaran tersebut bisa dilihat pada grafik berikut; Grafik 22 : Keaktifan di Organisasi Pemuda di Tempat Asal.

7% 14% 7%

72%

aktif Sbgi anggota

Ketua Remaja

Tidak tahu

Tidak Mau

Sumber : Hasil Survey 2005 Data ini jelas sekali bahwa yang masuk ke Pekanbaru adalah kelompok masyarakat yang sadar akan hak-hak dan kewajibannya dan mempunyai perhatian sosial yang cukup besar. 4.3.1.4. Transportasi yang digunakan untuk ke Pekanbaru. Pertanyaan yang diajukan pada bagian ini adalah transportasi yang digunakan untuk menuju ke Pekanbaru. Hasilnya 62% menggunakan bus umum, ini memang pilihan yang paling moderat bagi pendatang yang telah mempersiapkan diri untuk pindah ke Pekanbaru. Tumpangi teman mencapai 13% ini bukan berarti tidak tersedia modal ke Pekanbaru. Hanya 9% saja yang modalnya nekat karena hanya bisa ke Pekanbaru dengan menumpang truk. Menariknya lagi adalah ada 16% yang ke Pekanbaru dengan menggunakan travel sebuah angkutan yang menandai lebih baiknya kemampuan ekonomi yang dipunyainya. Grafik 23: Transfortasi yang digunakan untuk ke Pekanbaru.

9% 13%

62%

16%

Truk

Tumpangi Teman

Travel

Bus Umum

Sumber : Hasil Survey 2005 Data ini bisa diinterpretasikan bahwa migran yang masuk Pekanbaru mempunyai persiapan yang lebih baik terbukti dengan 62% ke Pekanbaru menggunakan bus umum dan 16% menggunakan travel. 4.3.1.5. Dukungan dari Keluarga Dukungan keluarga yang ditanyakan disini adalah tanggapan keluarga ketika mengutarakan akan bermigrasi ke Pekanbaru dan dukungan itu terlihat dari siapa yang melepas kepergiannya ke Pekanbaru. Grafik 24 : Dukungan dari Keluarga

11%

11%

40%

38%

Dilarang

Disokong Spnuh

Didorong t Plg K

Dianjurkan secepatnya

Sumber : Hasil Survey 2005 Hasil survey menunjukkan bahwa tanggapan keluarga atas keinginan sample pindah ke Pekanbaru mendapat restu dari keluarga ini terbukti hanya 11 % saja yang keluarganya melarang, 89% merestui. Data ini diperkuat lagi dengan siapa yang mengantar migran berangkat ke Pekanbaru yang mencapai 55% diantar oleh keluarga dan istrinya, 25% berangkat sendiri dan 11% diantar teman. Gambaran ini dapat dilihat pada grafik berikut;

Grafik 25 : Pengantar keberangkatan ke Pekanbaru.

25%

30%

34%

11%

Sendiri

Teman

Semua kel

Hanya Isteri

Sumber : Hasil Survey 2005 Perbedaan antara jumlah yang melarang ke Pekanbaru dengan sedikitnya yang menghantar ini memungkinkan disebabkan oleh situasi saat keberangkat tersebut, misalkan ketika malam hari atau karena jam kerja. 4.4. Faktor Migrasi ke Pekanbaru. Bagian ini fokus kepada dua faktor utama alasan migrasi, yaitu faktor tarikan kota dan faktor dorongan dari desa atau tempat asal. Faktor ini diajukan pada 11 pertanyaan yang pilihan jawabannya mengacu kepada faktor dorongan atau faktor tarikan. Untuk sampai pada kesimpulan faktor mana yang dominan maka akan dilihat dari persentase kuantitas pilihan sample terhadap empat opsi yang diberikan. Kesepuluh pertanyaan tersebut didiskritkan dalam satu tabel sebagi berikut; Grafik berikut merupakan gambaran daya tarik Pekanbaru yang menyebabkan migran masuk ke Pekanbaru. Grafik 26 :Faktor tarikan Kota Pekanbaru

7% 24%

2% 24%

Mudah Mendapat Pekerjaan Mudah Membuka usaha Untuk sekolah anakanak Cari Alternatif Pekerjaan Gak Betah di Kampung
12%

2%

5% 23%

1%

Lahan di kampung dikelola orang lain Tersedia banyak peluang Penghasilan mecukupi pekerjaan tidak cocok dng pendidikan

Sumber : Hasil Survey 2005 Grafik diatas mengambarkan bahwa tidak ada faktor dominan yang menyebabkan migran masuk ke Pekanbaru. Angka terbesar mereka pindah ke Pekanbaru karena mencari pekerjaan 24% atau mencari alternatif pekerjaan 23%, hal ini berkaitan dengan persepsi bahwa di Pekanbaru tersedia banyak peluang pekerjaan yaitu 24% sama dengan yang mencari Pekerjaan. Ada 12% yang pindah ke Pekanbaru karena mau buka usaha. Sangat kecil yang pindah ke Pekanbaru karena penghasilan tidak mencukupi atau karena tidak betah di kampung. Sekali lagi data ini mengambarkan potensi produktivitas migran yang pindah ke Pekanbaru. Jika dilihat faktor tarikan tidak ada yang dominan, maka dilihat dari faktor dorongan dari daerah asalpun juga seluruh faktor yang diajukan juga merata. Hanya keyakinan di Pekanbaru bisa perbaiki ekonomi yang mencapai 19% dari pilihan sample. Grafik 27: Faktor Dorongan Migran ke Pekanbaru.

Belum ada penghasilan Ada belum memadai bebas dari kesulitan di kampung Tidak ada Pekerjaan di Kampung Tidak ada lahan di kampung ada tapi terbatas Di Pku yakin akan perbaiki ekonomi Yakin karena di desa semakin miskin Tidak yakin Hanya Alternatif

3% 19%

5%

4%

11% 16%

2% 12% 16% 12%

Sumber : Hasil Survey 2005 Kedua grafik diatas mengambarkan bahwa para migran yang masuk ke Pekanbaru disebabkan pengaruh bayangan daya tarik kota, jadi bukan daya tarik Pekanbaru. Ini terbukti bahwa mereka ke Pekanbaru disebabkan faktor teman dan saudara yang sudah ada sebelumnya di Pekanbaru. Faktor tarikan dan dorongan diatas menjadi semakin jelas setelah melihat hasil survey tentang sikap sample setelah tiba di Pekanbaru dan keinginan bertahan di Pekanbaru, sebagai mana grafik berikut; Grafik 28: Sikap Setelah Tiba di Pekanbaru

19% 9%

56% 16%
Tidak menyesal berada di PKU Agak kecewa tiba di PKU tp tidak ada pilihan Setiba di Pku merasa kecewa setiba Pekanbaru merasa biasa aja

Sumber : Hasil Survey 2005 Terdapat 56% sample tidak menyesal pindah ke Pekanbaru, hal ini tentu saja berkaitan dengan jaminan keluarga dan temannya yang ada di Pekanbaru. Perasaan

tidak menyesal ini juga dilengkapi dengan 19% yang merasa biasa saja, artinya situasi ditempat asal sama dengan di Pekanbaru. Namun demikian cukup mengejutkan juga terdapat 9% yang kecewa dan 16% yang kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada pilihan lainnya. Namun demikian data yang merasa tidak kecewa pindah ke Pekanbaru tidak begitu tampak pada grafik keinginan menetap di Pekanbaru. Grafik tersebut dibawah ini berbicara banyak: Grafik 29 : Keinginan Menetap di Pekanbaru

20%

4%

17% 59%

Sementara di PKU

Mungkin Saja Nanti

Tidak

Betah di Pku

Sumber : Hasil Survey 2005 Ternyata hanya 20% saja yang betah di Pekanbaru di tambah 17% tidak ingin pindah tetapi tidak memilih betah di Pekanbaru. Grafik 30: Kota yang menjadi tujuan kalau pindah.
2%

10%

25% 63%

Ke kota lain sumater pulang kampung jkt sumbar

Sumber : Hasil Survey 2005 Semua sample ditanyakan kembali ke kota mana tujuan mereka jika harus ingin pindah dari Pekanbaru? Ternyata 63% responden menginginkan pindah ke kota masih di Sumatera, 25% pulang kampung dan 10% ke Jakarta dan 2% Sumatera barat. Data ini dapat mengambarkan bahwa sebenarnya Pekanbaru bukanlah tujuan utama migran. Pekanbaru merupakan tujuan perantara menjelang tersedia fasilitias yang

memadai untuk pindah ke kota lain. Jika demikian halnya maka Pekanbaru akan tetap didominasi usia produktif, karena ketika mencapai usai pensiun migran akan pindah ke tempat lain yang lebih nyaman atau pulang kampung. 4.5. Pengaruh Migran terhadap Penduduk Miskin Pengaruh dilihat dari kemampuan produksinya yaitu berapa lama dapat pekerajaan atau berusaha dan berapa besar pembelanjaannya dan ketelibatan pihak lain pada kerja dan usahanya Grafik dibawah ini sangat jelas mengambarkan bahwa kedatangan pertama sekali migran ke Pekanbaru membawa uang masuk ke Pekanbaru senilai satu bulan biaya hidup fisik minimum mencapai 50% sampel. Jika dilacak lagi bahwa hampir 80% dibawah 500.000 rupiah. 10% dari sample membawa biaya hidup untuk satu minggu. Namun demikian modal nekat juga cukup besar mencapai 17%. Sisanya 23% bantuan keluarga di Pekanbaru.

Grafik 31: Persiapan Uang di Pekanbaru.

23%

50% 17% 10%

1 Bulan

1 minggu

nekat

bantuan kel

Sumber : Hasil Survey 2005 Berkiatan dengan persiapan modal yang dimiliki, para migran merespon secara cepat langkah yang akan diambil ketika tiba di Pekanbaru. Grafik 32 :Aktivitas begitu Tiba di Pekanbaru

0%

10% 19%

71%

kerja serabutan

Buat usaha

Cari Kerja

Pasrah

Sumber : Hasil Survey 2005 Grafik tersebut sangat jelas mengambarkan aktivitas migran begitu tiba di Pekanbaru. Tidak satupun dari mereka tersebut berpaku tangan, dimana 71% mencari kerja dan 19% buat usaha kecil-kecilan dan 10 persen kerja serabutan agar bisa bertahan hidup. Data 10 persen ini tentu saja berkaitan dengan 17% yang datang ke Pekanbaru hanya bermodal nekat saja. Berapa lama migran dapat pekerjaan setelah tiba di Pekanbaru? Ternyata dari grafik dibawah ini menunjukkan terdapat 27 % migran langsung bekerja atau ke Pekanbaru karena mendapat pekerjaan di Pekanbaru. 11 persen buka usaha kecilkecilan dan 40% bekerja setelah satu bulan di Pekanbaru. 22 % lupa berapa lama baru dapat pekerjaan. Ini artinya akses migran untuk mendapatkan pekerjaan cukup baik, terbukti bahwa ada yang langsung kerja dan paling lambat 1 satu minggu mereka sudah bekerja. Grafik 33 : Lama medapatkan Pekerjaan di Pekanbaru

22%

27%

11% 40%

langsung kerja

persiapan usaha

satu bulan

lupa

Sumber : Hasil Survey 2005

Adapun jenis Pekerjaan yang diperoleh adalah kerja bangunan (konstruksi), sales , kerja kantoran, dan oplet (kenek/sopir). Menariknya lagi 51 persen dari migran ini mengisi sektor formal di dunia kerja di Pekanbaru, 49 persen dari mereka yang mengisi sector informal yang tidak memerlukan keahlian khusus. Hal ini wajar sekali karena mayoritas migran yang masuk ke Pekanbaru adalah tamatan SLTA. Grafik 34 : Pekerjaan yang diperoleh para migran

8%

1% 32%

51%

8%

bangunan

Sales

kantor

oplet

dagang

Sumber : Hasil Survey 2005 Selain memiliki pekerjaan utama diatas para migran juga berkeinginan menambah usaha sampingan bahkan 70% para migran telah memiliki usaha sampingan. Kepemilikan usaha sampingan dan keinginan memiliki usaha sampingan ini memang menjadi alternatif bagi memenuhi kebutuhan dasar yang makin besar yang tidak mampu dipenuhi oleh pekerjaan utama mereka. Gambaran usaha sampingan atau keinginan memiliki usaha sampingan dapat dilihat pada grafik berikut: Grafik 35 : Usaha sampingan dan atau rencana usaha sampingan
1% 2% 2% 1%

6% 3%

5%

21%

22% 29% 8%

warung rmh makan Jasa Cucian Mobil

kaki lima punya toko Penjahit Kebun

berdaganga keliling bengkel salon

Sumber : Hasil Survey 2005

Untuk mendukung usaha atau rencana usaha tersebut, migran biasanya mengandalkan tenaga dalam rumah tangga sebagai tenaga kerja. Jika memerlukan tambahan tenaga kerja mereka akan ambil tenaga kerjanya, ternyata grafik berikut ini mampu menjelaskan secara jelas kemana mereka mencari tenaga kerja. Tampak dari data tersebut umunya migran membawa pekerja dari kampung asal mereka yang mencapai 46%, sisanya 24 persen dari pendatang baru, 19 dan 11 persen dari Pekanbaru dan pendatang lama. Diperkirakan pilihan ini menyangkut kemampuan pembayaran gaji kepada pekerjanya. Pekerja yang dari kampung tentu akan lebih murah dan lebih mudah pula mengontrol karena masih terbatasnya mobilitas pekerja.

Grafik 36 : Sumber tenaga kerja untuk usaha

24%

19%

11%

46%

Dari Pku

Pedatang lama

bawa dari kampung

pendatang baru

Sumber : Hasil Survey 2005 Menarik lagi bahwa para migran yang telah membuka usaha sampingan menyatakan mereka yakin usahanya akan berkembang dimana mencapai 42 %, namun demikian 27% tidak, sisanya ragu atau tidak tahu. Grafik 37: keyakinan usaha mereka akan berkembang.

19% 42%

27% 12%

yakin

ragu

tidak

tidak tahu

Sumber : Hasil Survey 2005 Migran yang yakin usahanya berkembang tersebut cenderungan bergerak disektor warung harian, rumah makan dan bengkel. Keyakinan ini tidak lain disebabkan oleh masih luasnya pasar dan tentu nilai investasinya juga besar. Terpenting adalah rendahnya konflik dengan masyarakat lokal, terbukti besarnya penerimaan masyarakat terhadap pendatang. Grafik : 38 Penerimaan masyarakat lokal pada migran.

23% 1% 2%

74%

Justeru dibantu

ragu

tidak

tidak tahu

Sumber : Hasil Survey 2005 Grafik tersebut menunjukkan sikap terbuka masyarakat Pekanbaru terhadap Pendatang, yang cukup memudahkan bagi pendatang untuk pindah ke Pekanbaru. ***** BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Salah satu penyumbang angka kemiskinan di Kota Pekanbaru sangat adalah pendatang dimana jumlah pendatang miskin yang ke Pekanbaru (data Balitbang 2004) hampir 50% dari penduduk miskin lainnya. Jumlah pendatang miskin terbesar yang ke Pekanbaru berasal dari Sumatera Utara yang cenderung berada disektor informal dengan tingkat pendidikan SLTP (24%) dan SLTA (50%). berasal dari Sumatera Utara mencapai 49% kemudian diikuti oleh Sumatera Barat 23 %, kemudian diikuti oleh warga Riau diluar Pekanbaru mencapai 18%, sisanya dari Jawa, Sumsel dan Nias. Perlu perbaikan survey masyarakat miskin kerja Balitbang Provinsi Riau dengan BPS Riau agar deviasi hasilnya dapat dikurangi. Pekerjaan Pendatang sekarang adalah berdagang dan sektor jasa perdangan, dan jasa lainnya. Usia pendatang adalah usia produktif yaitu 98 % berusia 15-55 tahun sisanya diatas 55 tahun. Faktor tarikan migran datang ke Pekanbaru lebih dominan oleh keinginan usaha dan pekerjaan dan kedatang mereka ke Pekanbaru. Variabel dominan yang menyebabkan mereka pindah ke Pekanbaru lebih disebabkan oleh variabel perantara yaitu keluarga dan teman yang sudah ada di Pekanbaru. Faktor tarikan migran ke Pekanbaru lebih disebabkan oleh tarikan semua karena adanya jaminan dari teman dan keluarga di Pekanbaru. Secara tidak langsung kepindahan pendatang ke Pekanbaru telah diorganisir oleh keluarga atau teman dan perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja yang datang dari luar. Perlu diterbitkan peraturan daerah yang mengatur tentang pendatang, terutama yang meyangkut syarat-syarat yang ketat untuk masuk ke Pekanabru serata pengaturan lainnya.

BIBLIOGRAFI Arief, Nasution, M.1996. Mereka yang Kesemberang, Proses Migrasi TKI ke Malasyia. Medan: USU Pres. Budy Tjahjati S Soegijoko. 1985. ‘Dampak Pembangunan Proyek Industri Besar Kasus Zona Industri Lhok Seumawe’. Prisma no. 12 . Chayanov: A.V. 1966, The Theory Of Peasant Economy, Illonois : Homewood. Daljoen, J, 1992, Seluk Beluk Masyarakat Kota, Pusparagam Sosiologi Kota dan Ekologi Sosial, Bandung, Alumni Evers, Hans-Dieter, 1991 “Ekonomi Bayangan, Produksi Subsisten dan Sektor Informal, Ekonomi di Luar Jangkauan Pasar dan Negara” dalam Prisma nomor 5, Mei 1991. Jakarta : LP3ES, Evers, Hans-Dieter & Rudiger Korff 2002, “Urbanisme di Asia Tenggara” Jakarta yayasan Obor. Evers, Hans-Dieter, 1991, “Teori ProduksiSubsisten si dan ProduksiTak Formal” dalam Jurnal Antropologi Sosiologi No.19, Bangi : UKM. Hasanudin Jalil, Pekanbaru dari Pandangan Sosilogis tahun 1993.

Goerge Junus Aditjonro. 1994. ‘Dampak Industrialisasi Terhadap Lingkungan dan Upaya Warga Masyarakat dalam Menghadapinya’ dalam Johanes Maridin (ed.) Jangan Tangisi Tradisi; Transformasi Budaya Menuju Masyarakat Indonesia Modern. Yogyakarta: Kanisius Nas, P.JM, 1984, Pengantar Sosiologi Kota, Jakarata : Bhrtara Karya Asmira Rawa, Muhammad El Amady, 1997, ‘Dampak Kehadiran Industri di Dusun Pertiwi Riau, Indonesia’ kertas Projek Sarjana Jabatan Antropologi dan Sosiologi UKM Malaysia. Rahimah Abdul Aziz, 1989, Pengantar Sosiologi Pembangunan, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka. Scott, James C, 1981 (terjemahan) : Moral ekonomi Tani, Pergolakan dan Subtensi di Asia Tenggara, Jakarta : LP3ES. Schoorl, JW. 1988. Modernisasi: Jakarta; Gramedia. Yacob Harun, 1993, Keluarga Melayu Bandar Suatu Analisis Perubahan, Dewan Bahasa dan Pustaka : Kuala Lumpur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful