P. 1
HERPES SIMPLEKS

HERPES SIMPLEKS

|Views: 552|Likes:
Published by Alfi Wakhianto

More info:

Published by: Alfi Wakhianto on Apr 12, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

HERPES SIMPLEKS Penatalaksanaan kehamilan yang dipersulit oleh infeksi virus herpes genital pada ibu, walaupun telah

jauh lebih disederhanakan dibanding kan dengan rekomendasirekomendasi sebelumnya, masih bersifat problematik. Saat ini belum tersedia uji diagnostic cepat yang dapat dengan handal membuktikan infeksi yang sedang berlangsung. Selain itu, data untuk memperkirakan resiko pada janin yang terpajan infeksi rekuren pada ibu masih terbatas. VIROLOGI Berdasarkan perbedaan imunologis dan klinis, dapat dikenali dua jenis virus herpes simpleks (herpes simpleks virus, HSV). Tipe 1 merupakan penyebab sebagian besar infeksi herpes nongenital. Namun, pada orang dewasa, infeksi primer HSV-1 dapat mengenai saluran genitalia pada sepertiga kasus (Langenberg dkk., 1999). Virus tipe 2 ditemukan hampir secara eksklusif di saluran genitalia dan umumnya ditularkan melaui hubungn seksual. Inciden antibodi spesifik terhadap herpes tipe 2 meningkat seiring usia dan bervariasi bergantung pada populasi yang dilteliti. Diperkirakan bahwa hampir 45 juts orsng di Amerika Serikat pernah didiagnosis terjangkit infeksi HSV-2 genital (Centres for Disease Control and Prevention, 1998b). Tanpa adanya antibodi, pajanan ke mitras eksual dengan lesi herpes aktif umumnya akan menyebabkan penularan dan infeksi klinis. ANTIBODI Beberapa sistem pemeriksaan untuk mendeteksi antibodi anti-HSV dalam serum dijual bebas maupun tersedia dalam lingkup reset. Walaupun sampai saat ini Belem ada uji (yang dijual bebas) yang secara handal dapat membedakan antibodi anti-HSV-1 dari HSV-2, pada awal tahun 2000 telah dilakukan penelitian prapemasaran terhadap setidaknya satu pemeriksaan. Dalam sebuah survei seroepidemiologis nasional dari tahun 1976 sampai 1994, 25 persen wanita memiliki antibodi terhadap HSV-2 (fleming dkk., 1997). Risiko untuk antibodi tipe 2 paling tinggi di antara wanita berkulit hitam dan wanita yang pernah menikah. Kulhanjian dkk. (1992) berpandangan bahwa penapisan serologis untuk antibodi HSV-2 terhadap pasangan selama kehamilan akan mendorong dilakukannya tindakan-tindakan pengamanan seksual apabila dijumpai ketidak-sesuaian, yaitu wanita seronegatif dan pria seropositif. INFEKSI KLINIS Gejala bervariasi bergantung apakah pasien sudah pernah terinfeksi. Yang perlu diingat adalah bahwa riwayat infeksi HSV-1 dapat memodifikasi infeksi HSV-2 primer di genital karena adanya antibodi yang bereaksi silang. Menurut American Collage of Obstetricians and Gynecologist (1999)., infeksi HSV-2 ini secara klinis dapat dibagi menjadi tiga kelompok: Infeksi primer yang menunjukkan Belem adanya antibodi terhadap HSV-1 atau HSV-2. Episode pertama nonprimer (non primary first episode) hádala infeksi HSV2 yang baru berjangkit pada psien yang sudah memiliki antibodi anti-HSV-1 yang bereaksi silang. Infeksi rekuren hádala rekatifitas infeksi HSV-2 pada pasien yang sudah memiliki antibodi terhadap HSV-2.

Sebagian besar herpes genitalis rekuren disebabkan oleh virus tipe 2 (Centers for Disease Control and Prevention. Dapat dilakukan diagnosis secara serologis tetapi manfaat tindakan ini secara klinis sedikit. dan serviks. infeksi ini ditandai oleh jumlah lesi yang lebih sedikit. Vesikel di vulva dan perineum mudah terkena trauma dan akhirnya mengalami ulserasi tetapi biasanya tidak menaglami infeksi sekunder. serta durasi lesi dan penyebaran virus yang lebih singkat. Serviks sering terkena dan mungkin secara klinis tidak terlihat. Reaktivasi disebut infeksi rekuren dan menyebabkan penyebaran (shedding) virus herpes. Gejalagejala sistemik transien mirip flu sering terjadi dan mungkin disebabkan oleh viremia. semua gejala dan tanda lenyap. penyakit ini dapat menyebabkan kematian janin dan bayi. tidak . sering terjadi reaktivasi yang diperantarai melaui berbagai rangsangan yang belum sepenuhnya dipahami. Frieden dkk. INFEKSI PRIMER Hanya sepertiga dari infeksi HSV-2 digenital yang baru berjangkit yang menimbulkan gejala (Langenberg dkk. Kematian bayi dapat pula disebabkan oleh ensefalitis herpes virus. Dapat terjadi retensi urine karena nyeri yang dipicu oleh berkemih atau akibat keterlibatan saraf sakralis. Walaupun demikian. EPISODE PERTAMA NON PRIMER Pada sebagian wanita. herpes genitalis dihubungkan dengan kemungkinan adanya HIV (+). dengan lesi múltiple di vulva dan perineum yang mengkin menyatu. Kasus-kasus ini mungkin bermanifestasi sebagai infeksi klinis yang pertama tetapi dengan perjalan penyakit yang tidak seperti infeksi primer di atas. atau pneumonia. 1998b). karena adanya imunitas dari reaksi silang antibodi terhadap HSV-1 yang diperoleh pada masa anak-anak.. Pada bayi dapat dijumpai gelembung-gelembung pada kulit diseluruh badan. Sebagian pasien tenderita sakit yang cukup berat sehingga perlu dirawat-inap. Episode pertama lainnya bersifat ringan atau asimtomatik. Secara umum. yang dikenal juga dengan nama herpes simpleks. vagina. INFEKSI REKUREN Selama masa laten ketika partikel virus menetap di ganglion-ganglion saraf. tidak terlalu menimbulkan nyeri. Madang-kadang terjadi hepatitis. masa tunas biasanya hádala 3 sampai 6 hari yang diikuti oleh erupsi popular disertai gatal atau kesemutan. manifestasi sistemik yang lebih jarang. Pada sebagian kasus. atau pada konjungtivia dan selaput lendir mulut. 1999). (1990) melaporkan enam kasus encefalitis yang menjadi penyulit kehamilan. Virus tipe 2 dapat menyebabkan herpes genitalis dengan gelembung-gelembung berisi cairan di vulva. Lesi biasanya lebih sedikit. Lesi vulva biasanya Sangay nyeri sehingga menimbulkan hendaya berat. Di Negara-negara dengan preval. Pada infeksi primer. kedua jenis infeksi pertama ini tidak mungkin dibedakan secara klinis. Dapat timbal adenopati inguinal yang parah.Infeksi Herpes virus hominis pada orang dewasa biasanya ringan. Dalam 2 sampai 4 minggu. antibodi HSV-1 yang sudah ada tidak memberikan proteksi penuh. Lesi kemudian terasa nyeri dan berubah menjadi vesikel. encefalitis.ensi AIDS tinggi. hanya dua wanita yang selamat.

Wald dkk. namun serviks jarang terlibat pada infeksi rekuren (Brown dkk.terlalu nyeri.5 hari. DIAGNOSIS Diagnosis tidak sulit apabila terdapat gelembung-gelembung di daerah alat kelamin.7 persen pada pasien seropositif dengan riwayat lesi. memberi kepastian dalam diagnosis. 1985). Biasanya lesi kambuh di tempat yang sama. . lebih sering terjadi apda wanita yang sering mengalami kekambuhan simtomatik. Dewasa ini diagnosis secara serologic banyak digunakan pula di samping pembiakan. Pembebasan ini sering diikuti oleh kekambuhan simtomatik. Jelaslah pelepasan virus secara subklinis tersebut sering menyebabkan penularan seksual kepada mitra yang seronegatif (American College of Obstetricians and Gynecologists. famsiklovir. vagina. Reaksi polimerase berantai telah diteliti secara prospektif sebagai suatu metode untuk mendeteksi DNA herpes genitalis.. 1999). TERAPI Terapi antivirus dengan asiklovir. Pada kekambuhan simtomatik. Walaupun sering terkena pada infeksi primer. atau serviks setelah dipulas menurut Papanicolaou. (1995) melaporkan bahwa 55 persen pasien menyebarkan virus secara subklinis pada suatu waktu selama rerata waktu tindak lanjut 105 hari. sekitar separuh biakan akan positif dalam 48 jam. Terapi supresif dengan obatobat ini juga telah digunakan untuk mengobati infeksi rekuren. Sensitivitas biakan hampir 95 persen sebelum lesi mengalami pembentukan krusta. Hampir tidak dijumpai positif palsu. dan membebaskan virus dalam waktu yang lebih singkat (2 sampai 5 hari) dibanding infeksi primer. Dalam sebuah penelitian terhadap 110 wanita dengan infeksi herpes genitalis. dan berlangsung selama sekitar sepertiga dari jumlah hari reaktivasi infeksi. Preparat oral atau parenteral dapat meringankan gejala klinis serta mempersingkat durasi pelepasan virus. Wald dkk. dan valasiklovir telah digunakan untuk episode pertama herpes genitalis pada wanita tidak hamil. Pemeriksaan sitologis setelah fiksasi dengan alkohol dan perwarnaan PapanicolauTzanck smear-memiliki sensitivitas maksimum 70 persen. Untuk rasa tidak nyaman yang berat. Penemuan virus dengan biakan jaringan merupakan konfirmasi paling optimal untuk membuktikan infeksi klinis dan kekambuhan asimtomatik. Cone dkk. Valasiklovir menghasilkan kadar asiklovir plasma yang lebih tinggi daripada asiklovir apabila diberikan pada kehamilan tahap lanjut. (1994) menemukan bahwa frekuensi neonatus yang terpajan dengan sekresi virus herpes dari ibu seropositif hampir delapan kali lebih tinggi apabila PCR digunakan untuk mengidentifikasi DNA virus dibandingkan dengan tekhnik biakan. Pembebasan virus secara subklinis berlangsung dengan rerata 1. Apusan serviks yang positif palsu mungkin disebabkan oleh infeksi sitomegalovirus. Ditemukannya benda-benda inklusi intranuklear yang khas di dalam sel-sel epital vulva. yang sering terjadi. (2000) baru-baru ini melaporkan bahwa 3 persen pasien seropositif HSV-2 tanpa riwayat lesi yang memperlihatkan pembebasan virus subklinis dibandingkan dengan 2.

dibandingkan dengan 9 dari 25 (36 persen) pada kelompok plasebo. Brocklehurst dkk. seperti adanya ensefalitis . Selain itu pengobatan dapat ditunjang dengan obat-obat topical ataupun sitz baths air hangat. Lebih dari 700 bayi pernah terpajan ke asiklovir pada trimester pertama. dimana Acyclovir dapat diberikan secara intravena. Acyclovir dalam kehamilan tidak dianjurkan. dan retensi urin yang parah diatasi dengan pemasangan kateter tetap (indwelling catheter). Sedangkan dengan sesio sesarea risiko infeksi dapat menurun sampai 7%.pasien dapat diberi analgesik atau anastetik topikal untuk meredakan gejala. Obat-obat analgetika dipakai untuk mengurangi rasa nyeri di daerah vulva. Insiden pelepasan virus asimtomatik tidak meningkat pada kelompok asiklovir. Tidak satupun dari 21 wanita yang mendapat asiklovir mengalami herpes rekuren saat persalinan. Dengan demikian. ibu yang menderita herpes aktif harus diisolasi. untuk menghindari penularan akibat kontak langsung. yaitu antivirus yang disebut Acyclovir. Asiklovir tampaknya aman digunakan untuk ibu hamil. terapi asiklovir profilaktik dapat menguramgi frekuensi seksio sesarea pada wanita denagn herpes rekuren. (1998) melaporkan bahwa asiklovir supresif secara bermakna mengurangi jumlah kekambuhan klinis tetapi tidak menurunkan angka seksio sesarea.5249). Produsen asiklovir dan valasiklovir. dan pernah dilaporkan kegagalan pengobatan dengan dosis asiklovir sesuai anjuran. INFEKSI REKUREN Selain supresi. dan tampaknya tidak terjadi peningkatan efek merugikan pada janin atau neonatus (Scott. Terapi supresif yang diberikan peroral . Seksio sesarea dianjurkan pada wanita yang pada saat kelahiran menunjukkan gejala-gejala akut pada genitalia. Obat ini telah dievaluasi sebagai terapi supresif selama kehamilan untuk mencegah kekambuhan menjelang aterm. 50% bayi akan mengalami infeksi. Bila persalinan berlangsung pervaginam. 1990). (1996) membagi secara acak 46 wanita yang pernah mengalami infeksi episode pertama untuk mendapatkan asiklovir (400 mg peroral tiga kali sehari) atau plasebo yang dimulai pada usia gestasi 36 minggu. Herpes genitalis merupakan infeksi virus yang senantiasa bersifat kronik. Pasca persalinan. Bayinya dapat diberikan untuk menyusui bila ibu telah cuci tangan dan mengganti baju yang bersih. kecuali bila infeksi yang terjadi merupakan keadaan yang mengancam kematian ibu. Scott dan Alexander (1998) melaporkan bahwa supresi asiklovir menjelang akhir kehamilan merupakan tindakan yang bermanfaat.888. 1999). Banyak wanita dengan infeksi HIV juga menderita herpes genitalis. Untuk wanita imunoinkompeten dengan infeksi HIV dan herpes genitalis rekuren berat mungkin diperlukan dosis asiklovir yang lebih tinggi (Stone and Whitington. Dan dapat dikatakan sulit diobati. bekerja sama dengan Centers for Disease Control and Prevention. membuat suatu registrasi pajanan terhadap obat-obat ini selama kehamilan (1. asiklovir tidak banyak bermanfaat untuk herpes genitalis rekuren.825. Dalam suatu studi teracak terhadap 63 wanita hamil dengan herpes genitalis rekuren. Scott dkk. rekuren. Lebih dari. Hingga kini hanya dikenal satu cara pengobatan herpes yang cukup efektif. pneuomonitis dan atau hepatitis.

punggung. Angka prevalensi untuk isolasi virus herpes dari saluran genital yang dilaporkan sangat bervariasi bergantung pada populasi yang diteliti. Dalam sebuah studi serupa.35 persen) yang positif. Dalam studi farmakokinetik oleh Kimberlin dkk.. Harger. melaporkan bahwa virus herpes simpleks diidentifikasi pada sembilan wanita dengan menggunakan reaksi polimerase berantai. Walaupun kekambuhan klinis tampaknya sedikit lebih sering pada kehamilan tahap lanjut. Vontver.2 persen) yang positif untuk virus herpes.000 wanita pada awal proses persalinan. paha. Haddad dkk.. 1982. dan anus jarang disertai oleh pelepasan virus melalui serviks. 1989. PENYAKIT PADA JANIN DAN NEONATUS . dan 12 dari para wanita ini mengalami infeksi rekuren. Hanya 56 (0. 1993). hanya 1 dari 34 bayi terinfeksi saat lahir dari wanita dengan infeksi rekuren. 1998.. dan sepertiga dari jumlah ini memperlihatkan bukti serologis baru terjangkit infeksi pertama tetapi subklinis. pelepasan virus herpes asimtomatik tidak dipengaruhi oleh usia kehamilan. (1994). 1985. Hanya 14 (0. dan kekambuhan ini lebih sering mengenai perineum daripada serviks. 1984). Selain itu. dan hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk pelahiran pervaginam (Harger dkk. asiklovir mengalami pemekatan di cairan amnion tetapi tidak terdapat bukti bahwa obat tersebut lebih cenderung menumpuk di janin. Witter dkk. Neonatus yang lahir dari para wanita ini tidak ada yang memperluhatkan tanda-tanda infeksi herpes. Mendapatkan bahwa sekitar 10 persen kekambuhan pada kehamilan akan bersifat asimptomatik.mengurangi gejala dan tanda infeksi rekuren tetapi tidak mengeliminasi secara total pelepasan virus asimtomatik (Brocklehurst dkk. Cone dkk. tetapi yang juga sama pentingnya adalah apakah wanita disertakan (atau ditolak) karena riwayat infeksi simtomatiknya. (1998). 1989. Pelepasan Virus Saat Pelahiran. Walaupun sepertiga dari bayi-bayi ini mengalami infeksi neonatus. 1993). Brown (1985) dan Arvin (1986) dkk. Insiden biakan positif pada setiap saat selama kehamilan atau saat melahirkan untuk wanita tidak hamil yang pernah terjangkit herpes hanyalah 1 sampai 2 persen. (1991) membiakkan spesimen dari hampir 16. Pelepasan virus melalui serviks secara bersamaan dijumpai pada sekitar 15 persen wanita dengan kekambuhan klinis di vulva. Mereka menyimpulkan bahwa neonatus yang terpajan ke virus herpes saat persalinan dari ibu seropositif lebih sering daripada yang sebelum diperkirakan.. Henderson. 1994. dkk).. kekambuhan di tempat jauh yaitu di bokong. dalam suatu studi prospektif terhadap 100 wanita asimtomatik dengan biakan negatif. (1988) mengambil spesimen untuk biakan dari ibu dan bayinya pada saat yang sama dari hampir 7000 pelahiran tanpa memandang ada tidaknya riwayat herpes genitalis ibu. Prober dkk. Obat mudah menembusplasenta melalui transpor pasif (Gilstrap dkk. PERJALANAN PENYAKIT SELAMA KEHAMILAN Sekitar 80 persen wanita muda yang baru terjangkit infeksi herpes genitalis rata-rata akan mengalami kekambuhan simptomatik sebanyak 2 sampai 4 kali selama hamil (Brown.. Brown dkk.

secara luas dilakukan seksio sesarea apabila dicurigai terdapat lesi herpes. Infeksi jarang ditularkan melalui plasenta atau selaput ketuban yang utuh. paling tidak pada separuh bayi yang selamat kemudian dijumpai kerusakan susunan saraf pusat dan mata yang serius. dengan keterlibatan yang terbatas pada susunan saraf pusat. Infeksi pada neonatus memiliki tiga bentuk: 1. dengan keterlibatan organ-organ dalam mayor 2. . (1971) melaporkan risiko infeksi neonatus pada ibu dengan infeksi primer adalah 50%. Virus menginvasi uterus setelah selaput ketuban pecah atau berkontak dengan janin saat persalinan. 1991). atau mukosa 3. Fagnant dan Monif (1989) mengkaji literatur dan melaporkan 15 kasus infeksi herpes kongenital yang berjangkit pada awal kehamilan. Asimtomatik Hampir separuh dari neonatus yang terinfeksi adalah bayi preterm. infeksi diseminata pada neonatus memperlihatkan angka kematian paling sedikit 60 persen (Whitley dkk.. Lokalisata. Yang utama. Hal ini diduga disebabkan oleh jumlah virus yang lebih kecil di dalam sekret ibu dengan infeksi rekuren. Prober dkk. kulit. Wanita yang pernah mengalami lesi herpes saat hamil kelihatannya beralasan untuk diberi terapi supresif dengan asiklovir atau valasiklovir yang dimulai pada usia gestasi 36 minggu. sejumlah wanita asimtomatik akan membebaskan virus saat pelahiran. Pemantauan virologis tidak dianjurkan. bahkan dengan pemberian asiklovir atau vidarabin.Infeksi episode pertama pada awal kehamilan mungkin tidak menyebabkan peningkatan angka abortus spontan. Seperti telah dibahas. (2) akibat penjalaran ke atas dari vagina ke janin apabila ketuban pecah. Sementara sebagian besar akan mengidap infeksi rekuren yang virulensinya rendah. sebagian lain akan menderita infeksi episode pertama non primer tanpa antibodi HSV-2. Nahmias dkk. Janin hampir selalu terinfeksi oleh virus yang dikeluarkan dari serviks atau saluran genitalia bawah. (1987) melaporkan bahwa tidak satupun dari 34 neonatus yang terpajan pelepasan virus rekuren saat persalinan mengalami infeksi. atau (3) melalui kontak langsung pada waktu bayi lahir. PENATALAKSAANAAN ANTEPARTUM Karena keparahan infeksi pada neonatus. Pandangan bahwa semua infeksi pada semua neonatus dapat dihindari dengan penapisan terhadap populasi obstetrik belum terbukti benar. Infeksi lokalisata biasanya memiliki prognosis baik. Penularan kepada anak dapat terjadi (1) hematogen melalui plasenta. Sebaliknya. Brown dan Baker (1989) mendapatkan bahwa infeksi primer menjelang akhir kehamilan menyebabkan peningkatan insiden persalinan preterm. Diseminata. tetapi pada ibu dengan infeksi rekuren hanya 4 sampai 5 persen. mata. dan risiko infeksi berkaitan dengan apakah infeksi pada ibi bersifat primer atau rekuren. Antibodi yang diperoleh melaui plasenta juga mungkin mengurangi insiden dan keparahan penyakit pada neonatus.

Anggota keluarga yang memperlihatkan lesi herpes di mulut jangan mencium meonatus dan harus mencuci tangan mereka dengan seksama. seksio sesarea diindikasikan pada wanita dengan lesi genital aktif atau pada mereka dengan gejal-gejala prodormal khas yang mengisyaratkan akan munculnya lesi. PERAWATAN NEONATUS Bayi dari seorang ibu yang diketahui atau dicurigai menderita herpes genitalis harus diisolasi dan dilakukan biakan untuk virus herpes. Pada keadaan ini menyusu tetap diperbolehkan. Rekomendasinya adalah untuk tidak memperhitungkan lamanya ketuban pecah dalam membuat rencana pelahiran pada wanita dengan lesi perineum. KETUBAN PECAH Tanpa pemeriksaan atau pemasangan instrumen sebelumnya. Bayi dan ibunya tidak perlu dipisahkan jika ibu mengalami lesi herpes. KANDIDIASIS Infeksi kandida di daerah orofaring neonatus yang lahir dari ibu yang menderita kandidiasis vulvovaginal. tidak ada bukti bahwa lesi eksternal dapat menyebabkan infeksi asendens ke selaput ketuban dan janin pada kehamilan dengan selaput ketuban pecah.Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (1999). diketahui pertama kali pada tahun 1940. Roberts dkk. Kecuali apabila terdapat faktor yang berlawanan misalnya janin sangat imatur. Biasanya pemberian antifungal secara topikal sudah dapat mengatasi masalah ini. Oleh karena itu pengobatan terhdap kandidia di jalan lahir perlu dilakukan sebelum persalinan berlangsung. no cesarean). Dengan demikian. dan bayi. tidak ada seksio” (no lessions. tangannya. seksio sesarea dilkukan hanya apabila tampak lesi primer atau rekuren saat menjelang persalinan atau saat selaput ketuban pecah. Ibu tersebut diinstruksikan untuk mencuci tangan dan menghindari dari kontak apapun antara lesi. (1995) melaporkan penurunan anka seksio sesarea pada wanita dengan herpes selama kehanilan dari 59 persen menjadi 37 persen setelah diterapkannya pedoman dari American College of Obstetricians and Gynecologists tahun 1988 yang secara ringkas menyatakan bahwa ”tidak ada lesi. Ternyata penularan ini mencapai 50%. baru seksio sesarea dilakukan. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->