You are on page 1of 4

Nama : T.

Fricylia Ananda Nim : 02081001039 Fakultas Hukum

Tinjauan Historis Yuridis Pengusahaan Pertambangan di Indonesia
Pemberian Konsesi Pertama Kalinya Pada masa pra kemerdekaan, pencarian minyak bumi secara komersial dilakukan pertama kali pada tahun 1871 oleh pengusaha Belanda Jan Reerink, yang kemudian pada tahun 1883 Aeilko Jans Zijlker melakukan eksploitasi minyak dengan membentuk badan usaha komersial, dengan Konsesi Telaga Said dari Sultan Langkat.. Tumbuhnya Perusahaan Minyak di Hindia Belanda Adanya penemuan minyak mendorong tumbuhnya perusahaan minyak yaitu Royal Dutch Petroleum Company pada tanggal 16 Juni 1890 yang memproduksi, mengolah dan memasarkan minyak bumi dengan mengambil alih Konsesi Telaga Said. Adapun Perusahaan lain yang beroperasi adalah Shell Transport and Trading yang membangun kilang pengolahan di Balikpapan, Kalimantan Timur pada tahun 1894. Titik Awal Pengaturan Pengusahaan Pertambangan Migas oleh Pemerintah Hindia Belanda Menyadari akan besarnya potensi sumber daya migas Indonesia dan besarnya revenue yang mungkin didapatkan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1899 mengeluarkan ”Indische Mijn Wet (IMW)” yang mana menurut ketentuan Pasal 5a, Pemerintah Hindia Belanda berwenang untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi serta mengadakan kerjasama dengan perusahaan minyak dalam bentuk kontrak 5A atau Sistem Konsesi. Dengan Sistem Konsesi, perusahaan pertambangan tidak hanya diberikan kuasa pertambangan, tetapi diberikan pula hak menguasai hak atas tanah. Beberapa perubahan dilakukan atas IMW yaitu pada tahun 1900 dan tahun 1904 untuk memperkuat kedudukan Shell. Pada tahun 1918, IMW dirubah kembali dengan ketentuan yang memberikan kelonggaran untuk mendapatkan konsesi baru. Asas Non Diskriminasi menjadi Dasar “Legitimasi” Tekanan dari Pemerintah Amerika kepada Belanda Walaupun IMW telah dirubah dengan memberikan kelonggaran pemberian konsesi baru, namun diskriminasi yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda terhadap perusahaan minyak baru tetap terjadi. Hal tersebut menimbulkan protes dari Pemerintah

Awal Mula Kebijakan pada sektor Pengusahaan Pertambangan Migas Soemitro Djojohadikoesoemo sebagai Menteri Perdagangan dan Industri yang membawahi sektor migas mengarahkan kebijaksanaannya untuk menarik sebanyakbanyaknya investor agar tercipta pertumbuhan ekonomi. Pada September 1945 Jepang menyerahkan tambang Pangkalan Brandan. diajukan mosi kepada Pemerintah untuk membentuk Panitia Negara Urusan Pertambangan dengan tugas diantaranya adalah mempersiapkan rencana undang-undang pertambangan dan mengajukan usul mengenai pertambangan yang menguntungkan Pemerintah. bahwa ladang-ladang minyak di Sumatera Utara dapat dinasionalisasi dengan pembayaran ganti rugi sedemikian rupa 2. Berdasarkan Undang-Undang dan Asas Non Diskriminasi. dan Perusahaan Tambang Minyak Nasional (PTMN) di Jawa Tengah. dengan berbagai alasan yang kuat. yang salah satu keputusannya adalah Indonesia diwajibkan mengembalikan NIAM dan Shell untuk menjalankan pengusahaan pertambangan berdasarkan konsesi yang dimilikinya.Amerika yang diwujudkan dengan mengeluarkan ”General Leasing Act” pada tahun 1920. Kepergian Belanda telah membawa serta teknologi. disusul pembentukan Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (PTMNRI) yang di tahun 1954 berubah nama menjadi PT. Konsesi Pengusahaan Migas Tidak Menguntungkan Indonesia Pada Agustus 1951. Pemerintah Amerika dapat menolak permohonan konsesi perusahaan Belanda di Amerika jika permohonan konsesi perusahaan Amerika di daerah kekuasaan Belanda termasuk Hindia Belanda ditolak tanpa alasan yang benar dan jelas. Mohammad Hasan selaku Ketua Komisi Perdagangan dan Industri DPR telah melakukan penelitian yang menghasilkan 2 (dua) kesimpulan yaitu: 1. kemerdekaan pengelolaan sumber daya alam migas untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat telah dituangkan secara yuridis dalam Pasal 33 UUD 1945. diyakini penuh. Tambang Minyak Sumatera Utara (PT. Sementara di Sumatera Selatan dibentuk Perusahaan Minyak Republik Indonesia (PERMIRI). Salah satu cara yang ditempuh adalah meningkatkan kepercayaan masyarakat Internasional dengan mematuhi hasil Konperensi Meja Bundar.TMSU). pengetahuan dan skill yang tidak dapat digantikan oleh Jepang. Pada masa kemerdekaan. Indonesia tidak mendapatkan pembagian setimpal atas operasi minyak asing menurut perjanjian Konsesi dan peraturan perpajakan yang berlaku. Pendudukan Jepang dan Masa-Masa Kemerdekaan Penyerbuan Jepang di Hindia Belanda telah mengakibatkan adanya taktik bumi hangus beberapa instalasi migas. . Berdasarkan hasil penelitian tersebut. Mr.

3. Sementara itu. 4. Jangka waktu Konsesi untuk empat tahun. 44 Prp Tahun 1960 sebagai peraturan tersendiri mengenai migas adalah terkait dengan sifat penting migas bagi negara dan adanya aspek Internasional yang akan terkait dengan pengusahaan pertambangan migas. Pemerintah kemudian menunda pemberian konsesi eksploitasi maupun perpanjangannya sampai Panitia Negara Urusan Pertambangan memberikan rekomendasi. Upaya Indonesianisasi karyawan akan dilakukan sebesar mungkin. Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Pertambangan sebagai Undang-undang Pokok.1 Pada tahun 1960. Dengan diatur tersendiri maka terlihat adanya pengkhususan mengenai pengaturan Pertambangan Migas. Penerapan perpajakan yang akhirnya menghasilkan pembagian 50%-50%. Dasar Pertimbangan diundangkannya UU No. 2. 2. memperbolehkan pengaturan tersendiri yang sifatnya lex specialis untuk bahan galian yang diusahakan sematamata oleh negara. Rancangan Undang-Undang Minyak. tanpa ikut serta dalam pembiayaan operasi. kedua RUU ditetapkan menjadi UU No. Untuk menfasilitasi penanaman modal kepada Stanvac diberikan pembebasan bea masuk untuk semua impor barang modal. Akhirnya berdasarkan perundingan tersebut.Mohammad Hasan dan manajeman perusahaan minyak asing di Indonesia. 37 Prp. 44 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. UU No. Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Pertambangan dan Minyak dan Gas Bumi. dalam perundingan antara Mr.Atas desakan DPR. dan 2. muncul usulan dari Mr. dimana pada perpanjangan berikutnya yaitu pada tahun 1960 diharapkan dapat diatur sesuai Undang-Undang Perminyakan yang baru. Dalam Pasal 9 UU No. termasuk migas. . Rancangan Undang-Undang Pertambangan sebagai Undang-Undang Pokok. 37 Prp Tahun 1960. 2. Yang kemudian oleh Pemerintah Rancangan Undang-Undang tersebut disusun menjadi: 1. 37 Prp Tahun 1960 tentang Pertambangan sebagai pengganti “Indische Mijn Wet” dan UU No. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi merupakan Lex Specialis dari UU No. 44 Prp. Kesepakatan tersebut juga menjadi dasar perpanjangan konsesi Shell dan Caltex.Mohammad Hasan agar pembagian hasil (50%-50%) diambil dari hasil produksi. Tahun 1960 tentang Pertambangan Sebagai hasil kerja Panitia Negara Urusan Pertambangan. telah disampaikan kepada Pemerintah: 1. pada Maret 1954 dihasilkan kesepakatan antara Pemerintah dan Stanvac yang diantaranya: 1. sebagai berikut: 1.

Di DPR. tentang Ketetntuan Pokok Pertambangan. sebab hapir selutuh usaha pertambangan milik Belanda. 1899. Zaman penjajahan Belanda  Indonesia Mijn Wet Stbl. ketua Mr.Sejarah UU pertambangan di Indonesia. kerja panitia tersendat. sebanyak 2871 buah. yaitu : 1.  1950 Mosi Mr. sekeluarkan UU No. keluar UU No.  UU No.44.10.  Tahun 1960.341.Rum. tentang pembatalan hak-hak pertambangan yang ada di Indonesia. Muh. keluar UU No.  1961. cabinet Parlementer.  Tahun 1960. 25-1964.  PP No.  Belum diundangkan. 2.  1959. 11-1980.37 Prp. dirubah dengan menambah pasal 5a.  Mijn Politie Regelement (MPR) No. tentang Minyak & gas bumi. tentang Penggolongan Bahan Galian. .  PP No. Teuku Mohammad Hassan dkk. untuk menggati UU Pertambangan produk Belanda. berlaku 1907.  PP No. tentang Penggolongan Bahan Galian. Zaman Indonesia merdeka  Kekayaan alam Indonesia. telah tersusun draft. tentang Penggolongan Bahan Galian. diharapkan menjadi sumber pembiayaan tapi masih dikuasai oleh perusahaan Belanda. 1930 berlaku sampai sekarang. 39-1960. tentang Pertambangan. dibatalkan lagi 4 buah. 11-1967.  Tahun 1959.  Tahun 1910.  Dibentuk panitia. dekenal 5a contract. penggantinya masi dlam proses.