You are on page 1of 11

PENGARUH INTERVAL PENGAIRAN DAN TAKARAN PUPUK

ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF AWAL TEBU


(Saccharum officinarum L.)

EFFECT OF INTERVAL IRRIGATION AND ORGANIC FERTILIZER


DOSAGE ON EARLY VEGETATIVE GROWTH OF SUGARCANE
(Saccharum officinarum L.)

Mahardhika Enggar Distyaningrum, Dody Kastono, Toekidjo

Abstract
The aim of the research was to study the interaction effect between irrigation interval and
organic fertilizer dosage, the effect of irrigation interval, and the effect of on the early vegetative
growth of sugarcane. The experiment was conducted in Tri Dharma Banguntapan experiment field
of Agriculture Faculty, Gadjah Mada University, Yogyakarta from December 2007 to April 2008.
The experiment was arranged in Randomized Completed Design consisted of 3 x 4 factorial
with three replications. The first factor were 3 levels of irrigation interval, i.e.: every 5 (I5), 10
(I10), and 15 days (I15). The water volume given for irrigation interval was 850 ml for every 5 days,
1420 ml for every 10 days, and 2270 ml for every 15 days. The second factor were 4 levels of
organic fertilizer dosage application, i.e.: 0 ku/ha (M0), 8 ku/ha (M8), 11 ku/ha (M11), and 14
ku/ha (M14). Each of treated plant is given 8 ku/ha ZA, 2 ku/ha SP36, and 1 ku/ha KCl.
The result of experiment show that interaction of irrigation interval every 5 days and
organic fertilizer dosage 11 ku/ha was significantly different on total sum of tillers at 120 days
after planting. Interval irrigation every 5 days gave higher yield and significantly different with
every 10 and 15 days on the early vegetative growth of sugarcane. Treatment of organic fertilizer
dosage until 14 ku/ha was not give higher yield yet and not significantly different on the early
vegetative growth of sugarcane.

Keywords: sugarcane, Saccharum officinarum, irrigation, and organic fertilizer

Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi interval pengairan dan
takaran pupuk organik, mengetahui pengaruh interval pengairan, dan mengetahui pengaruh takaran
pupuk organik terhadap pertumbuhan vegetatif awal tebu. Penelitian dilakukan di Kebun Tri
Dharma Banguntapan, Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta dari bulan Desember 2007 sampai
April 2008.
Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap 3 x 4 faktorial dengan 3 ulangan
untuk masing-masing perlakuan. Faktor pertama terdiri dari 3 aras interval pengairan, yakni 5 (I5),
10 (I10), dan 15 hari sekali (I15). Volume air yang diberikan untuk pengairan 5 hari sekali sebanyak
850 ml, 10 hari sekali sebanyak 1420 ml, dan 15 hari sekali sebanyak 2270 ml. Faktor kedua
terdiri dari 4 aras takaran pupuk organik, yakni: 0 ku/ha (M0), 8 ku/ha (M8), 11 ku/ha (M11), dan
14 ku/ha (M14). Setiap tanaman yang diberi perlakuan dipupuk dengan ZA 8 ku/ha, SP36 2 ku/ha,
dan KCl 1 ku/ha.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi interval pengairan 5 hari sekali dan
takaran pupuk organik 11 ku/ha memberikan hasil yang berpengaruh secara nyata terhadap jumlah
anakan total 120 hari setelah tanam. Interval pengairan 5 hari sekali memberikan hasil terbaik
terhadap semua komponen pertumbuhan vegetatif yang diamati dan berbeda nyata dibandingkan
perlakuan interval pengairan 10 dan 15 hari sekali. Perlakuan takaran pupuk organik sampai
dengan takaran 14 ku/ha belum mampu memberikan hasil terbaik dan tidak berpengaruh secara
nyata terhadap komponen pertumbuhan vegetatif awal tebu.

Kata kunci: tebu, Saccharum officinarum, pengairan, dan pupuk organik

1
PENDAHULUAN
Gula sebagai salah satu kebutuhan pokok masyarakat memiliki peranan
penting dalam sistem perekonomian. Kebutuhan gula dalam negeri selalu
meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan adanya upaya
peningkatan gizi masyarakat serta bertambahnya industri yang menggunakan
bahan baku gula. Kondisi industri gula secara umum saat ini tengah terancam
eksistensinya karena dihadapkan pada beberapa permasalahan.
Salah satu penyebab kemerosotan produksi gula di Indonesia akibat
adanya peralihan penanaman tebu dari lahan yang subur ke lahan yang kurang
subur. Lahan sawah yang berpengairan diutamakan untuk produksi tanaman
pangan dan luasnya terbatas, sehingga untuk menghasilkan gula sesuai dengan
kebutuhan, perluasan tanaman tebu diarahkan pada lahan kering di luar Jawa.
Kenyataan ini menyebabkan rendahnya tingkat produktivitas tanaman tebu yang
diusahakan (Sapuan, 1985).
Lahan kering merupakan lahan marginal yang bermasalah dan mempunyai
fungsi pembatas yang tinggi bagi pertumbuhan tanaman (Setiawan, 1996).
Kendala utama berupa ketersediaan air, kendala lain yang dihadapi adalah tingkat
kemasaman yang tinggi dan rendahnya kandungan bahan organik tanah.
Pengorbanan biaya yang diperlukan tidak sedikit untuk menyuplai air
sehingga sesuai kebutuhan pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengelolaan pengairan yang baik sesuai dengan potensi ketersediaan sumberdaya
air untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan, waktu, biaya, dan tenaga. Salah
satunya dengan me nentukan interval pengairan yang tepat untuk menghindari
terjadinya cekaman kekeringan, sehingga tidak berakibat pada penurunan hasil.
Menurut Wambeke (1992) lengas tanah dapat membantu tanaman untuk
mengatasi periode ketika tidak ada hujan dan seringkali dapat membantu tanaman
untuk bertahan dari musim kering pada saat menjelang musim tumbuh.
Kemampuan menahan air menjadi penting dalam penentuan kualitas tanah untuk
memproduksi tanaman di daerah tropis sehingga pengairan dilakukan seiring
dengan pemberian bahan organik yang dapat berupa pupuk ke dalam tanah.

2
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di rumah kaca, Kebun Tri Dharma Banguntapan,
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada bulan Desember
2007 sampai April 2008. Bahan yang digunakan adalah bibit stek tebu klon Bulu
Lawang (BL) dan pupuk organik “Madu Rosan” (Madros) yang diperoleh dari
Pabrik Gula (PG) dan Pabrik Spiritus (PS) Madukismo PT. Madu Baru, serta
pupuk anorganik berupa ZA, SP36 dan KCl.
Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial 3 x 4 yang disusun dalam
Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Setiap ulangan dari setiap perlakuan
terdiri dari 12 unit tanaman. Ada dua faktor perlakuan yaitu faktor pertama adalah
interval pengairan yang terdiri dari tiga aras, yakni 5 hari sekali (I5), 10 hari sekali
(I10), dan 15 hari sekali (I15). Faktor kedua adalah takaran pupuk organik
diperkaya “Madu Rosan” yang terdiri dari empat aras, yakni 0 ku/ha (M0), 8 ku/ha
(M8), 11 ku/ha (M11), dan 14 ku/ha (M14).
Komponen pertumbuhan tanaman yang diamati meliputi tinggi tanaman,
jumlah daun, diameter batang, jumlah nodia batang, panjang internodia batang,
jumlah anakan total, luas daun, panjang akar total, volume akar, berat segar dan
berat kering total, berat segar dan berat kering tajuk, serta berat segar dan berat
kering akar. Analisis pertumbuhan meliputi laju asimilasi bersih, laju
pertumbuhan nisbi tajuk dan akar, indeks luas daun, dan nisbah tajuk akar. Data
hasil pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam sesuai dengan
rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan tingkat signifikansi 5 % dan
dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5 % jika
terdapat beda nyata antar perlakuan.

3
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan dan produksi tanaman merupakan fungsi dari faktor genetik
dan lingkungan. Faktor genetik dapat diperbaiki melalui program pemuliaan
tanaman. Faktor lingkungan yang penting dan besar pengaruhnya antara lain
suplai air, dan unsur hara. Seringkali tingkat produksi tanaman sangat ditentukan
oleh faktor lingkungan. Lingkungan yang mencekam merupakan suatu faktor
lingkungan yang potensial tidak menguntungkan bagi kehidupan mahluk pada
umumnya (Levitt, 1980). Pengaruh interval pengairan dan takaran pupuk organik
terhadap komponen pertumbuhan tebu disajikan dalam Tabel 1, 2, dan 3.
Tabel 1. Tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah nodia batang,
panjang internodia batang, jumlah nodia batang, dan panjang
internodia batang umur 120 hst pada berbagai interval pengairan
dan takaran pupuk organik
Jumlah Panjang
Tinggi Jumlah Diameter
nodia internodia
Perlakuan tanaman daun batang
batang batang
(cm) (lembar) (cm) (ruas) (cm)
Interval penyiraman
5 hari sekali 293,59 a 9,94 a 2,74 a 6,22 a 10,21 a
10 hari sekali 251,59 b 9,00 b 2,57 b 5,28 b 7,74 b
15 hari sekali 237,54 b 8,47 b 2,36 c 4,42 c 6,53 c
Takaran pupuk
0 ku/ha 263,09 p 9,33 p 2,63 pq 5,56 pq 8,64 p
8 ku/ha 261,08 p 9,33 p 2,47 qr 4,99 qr 3,33 p
11 ku/ha 260,45 p 9,00 p 2,73 p 6,00 p 8,00 p
14 ku/ha 259,02 p 8,89 p 2,42 r 4,67 r 7,69 p
Interaksi antar perlakuan (-) (-) (-) (-) (-)
CV 6,94 % 8,96 % 7,76 % 16,31 % 18,09 %
Keterangan: angka-angka dalam kolom yang diikuti huruf sama dalam kolom menunjukkan tidak ada beda nyata
berdasarkan Uji Duncan pada taraf 5 %; (-): tidak ada interaksi

Interaksi antara interval pengairan dan takaran pupuk organik tidak


menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter
batang, jumlah nodia batang, dan panjang internodia batang (Tabel 1). Faktor
interval pengairan dan pupuk organik masing-masing berdiri sendiri. Terdapat
perbedaan nyata bahwa interval pengairan 5 hari sekali mampu menghasilkan
tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah nodia batang, dan panjang
internodia batang yang lebih baik dibandingkan perlakuan interval pengairan 10
dan 15 hari sekali. Perlakuan pupuk organik dengan takaran 11 ku/ha mampu
menghasilkan diameter batang dan jumlah nodia batang yang lebih baik

4
dibandingkan perlakuan takaran pupuk yang lain. Air merupakan faktor yang
berperan dominan dalam hal ini, sedangkan pupuk organik pengaruhnya belum
dapat terlihat secara nyata karena sifatnya slow release sehingga unsur hara yang
dapat diserap oleh akar tanaman ketersediaannya sedikit demi sedikit. Air pada
masa vegetatif merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dalam
mendukung pertumbuhan. Air digunakan sebagai salah satu bahan dalam proses
fotosintesis sehingga apabila pemenuhan kebutuhan air tercukupi maka proses
pertumbuhan berjalan lancar.
Pertumbuhan anakan adalah perkecambahan dan tumbuhnya mata tunas
pada batang tebu yang ada di bawah tanah menjadi tanaman-tanaman baru.
Periode fase pertunasan terjadi pada umur 40-100 hst. Proses pertumbuhan anakan
merupakan fase kedua dalam pertumbuhan tebu setelah fase perkecambahan.
Adanya proses ini terbentuk jumlah batang-batang yang diperlukan untuk
mendapatkan hasil panen tebu yang baik. Pengaruh interval pengairan dan takaran
pupuk organik terhadap jumlah anakan total disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah anakan total (tunas) pada umur 120 hst


Jumlah anakan total (tunas)
Perlakuan
Takaran pupuk (ku/ha)
Interval
0 8 11 14
pengairan Rerata
5 hari sekali 1,22 de 2,67 b 3,67 a 3,45 a 2,75
10 hari sekali 0,89 e 2,45 b 2,11 bc 2,67 b 2,02
15 hari sekali 0,78 e 1,00 e 1,33 de 1,67 cd 1,20
Rerata 0,96 2,04 2,37 2,59 (+)
Keterangan: angka yang diikuti dengan huruf yang sama dalam kolom atau baris menunjukkan tidak
beda nyata berdasarkan Uji Duncan pada taraf 5 %; (+): ada interaksi; CV= 18,09 %

Interaksi antara interval pengairan dan takaran pupuk organik berpengaruh


nyata terhadap jumlah anakan total (Tabel 2). Kombinasi perlakuan interval
pengairan 5 hari sekali dengan takaran pupuk organik 11 ku/ha mampu
menghasilkan jumlah anakan total tertinggi dibandingkan dengan kombinasi
perlakuan lainnya, tetapi tidak berbeda nyata dengan kombinasi perlakuan interval
pengairan 5 hari sekali dengan takaran pupuk organik 14 ku/ha.

5
Anonim (1982) menyatakan tebu dalam kondisi lingkungan yang normal
mulai memunculkan anakan pada umur 65 hst sampai tebu berumur 100-110 hst.
Lama fase pertumbuhan anakan tergantung pada varietas tebu dan kondisi
lingkungannya. Unsur-unsur yang diperlukan untuk menunjang pertumbuhan
anakan antara lain: air, oksigen, sinar matahari, dan unsur hara. Akibat
kekurangan salah satu faktor tersebut akan menyebabkan tanaman tebu tidak
mengeluarkan anakan. Air diperlukan untuk menunjang pembelahan dan
bertambah besarnya sel sehingga berpengaruh besar terhadap pemunculan tunas-
tunas tebu. Air yang diberikan pada saat dan sesudah proses pertunasan
berpengaruh sangat besar terhadap jumlah tunas tebu. Percobaan yang dilakukan
oleh Hein (1987) cit. Kuntohartono (1999) menunjukkan bahwa pengairan yang
cukup menaikkan jumlah tunas sebesar ± 10 % daripada kebun yang tidak
memperoleh air dan pupuk. Pertunasan tebu memerlukan kecukupan hara N dan
P. Hara N yang berperan dalam pembelahan sel akan mendukung pertunasan
secara horizontal (pembentukan anakan) dan pertumbuhan vertikal (pemanjangan
batang). Hara P berperan dalam transfer energi dan memacu translokasi asimilat
dari organ penghasil ke organ pemakai. Hal yang penting untuk diperhatikan
adalah saat pemupukan, yaitu harus diberikan sebelum saat keluarnya tunas
berlangsung.
Berat kering pada mulanya merupakan pengamatan utama untuk
melakukan analisis pertumbuhan tanaman dan tolok ukur yang penting karena
mempunyai arti ekonomis. Berat segar biasanya tidak dijadikan tolok ukur kecuali
untuk tanaman hortikultura, karena nilainya yang tidak tetap tergantung pada
status air tanaman. Pengaruh interval pengairan dan takaran pupuk organik
terhadap berat kering akar dan berat segar total disajikan dalam Tabel 3.

6
Tabel 3. Berat kering akar 80 hst dan berat segar total 120 hst pada berbagai
interval pengairan dan takaran pupuk organik

Berat kering akar Berat segar total


Perlakuan
(g) (g)

Interval pengairan
5 hari sekali 6,74 a 696,59 a
10 hari sekali 4,52 b 437,93 b
15 hari sekali 3,22 b 362,37 b
Takaran pupuk
0 ku/ha 4,28 p 525,84 p
8 ku/ha 4,33 p 473,27 p
11 ku/ha 4,95 p 555,93 p
14 ku/ha 5,73 p 440,83 p
Interaksi antar perlakuan (-) (-)
CV 22,77 % * 30,91 %
Keterangan: angka-angka dalam kolom yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak ada beda nyata
berdasarkan Uji Duncan pada taraf 5 %; (-): tidak ada interaksi; (*) data ditranformasi dengan
( X + 0,5)

Hasil analisis ragam tanaman umur 80 hst dan 120 hst menunjukkan tidak
terdapat interaksi nyata kombinasi perlakuan interval pengairan dengan takaran
pupuk organik terhadap berat kering akar dan berat segar total (Tabel 3).
Perlakuan interval pengairan 5 hari sekali berbeda nyata dengan perlakuan 10 dan
15 hari sekali sehingga mampu memberikan hasil terbaik terhadap berat kering
akar umur 80 hst dan berat segar total umur 120 hst.
Perlakuan takaran pupuk organik terhadap berat kering akar pada umur 80
hst menunjukkan tidak terdapat beda nyata, tetapi cenderung memberikan hasil
tertinggi pada perlakuan 14 ku/ha. Hal ini karena pada umur 80 hst merupakan
pertumbuhan vegetatif pada fase pertumbuhan dipercepat yang memerlukan
ketersediaan hara N yang cukup banyak, sehingga adanya penambahan pupuk
organik mampu menambah suplai hara N untuk mendukung pertumbuhan
vegetatif awal tanaman tebu.
Laju asimilasi bersih merupakan laju penimbunan berat kering per satuan
luas daun per satuan waktu (Gardner et al., 1991), sedangkan nisbah tajuk akar
merupakan hubungan antara laju pertumbuhan tajuk dengan akar yang secara

7
fisiologis menggambarkan salah satu tipe toleransi terhadap kekeringan. Pengaruh
interval pengairan dan takaran pupuk organik terhadap laju asimilasi bersih dan
nisbah tajuk akar disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4. Luas daun, indeks luas daun (ILD), laju asimilasi bersih (LAB), dan
laju pertumbuhan nisbi (LPN) pada berbagai interval pengairan dan
takaran pupuk organik

LAB Nisbah tajuk


Luas daun (cm2) ILD
Perlakuan (g/cm2/minggu) akar
120 hst 120 hst
80-120 hst 120 hst

Interval pengairan
5 hari sekali 3326,40 a 2,64 a 0,019 a 13,56 a
10 hari sekali 3231,50 a 2,57 a 0,011 b 7,27 b
15 hari sekali 2485,70 b 1,98 b 0,012 b 7,00 b

Takaran pupuk
0 ku/ha 2531,40 q 2,02 q 0,018 p 9,04 p
8 ku/ha 3147,60 p 2,51 p 0,013 q 8,84 p
11 ku/ha 3146,10 p 2,50 p 0,015 pq 10,35 p
3233,00 p 2,57 p 0,011 q 8,89 p
14 ku/ha
Interaksi antar perlakuan (-) (-) (-) (-)
CV (%) 17,09 17,09 32,57 36,68
Keterangan: angka-angka dalam kolom yang diikuti huruf sama menunjukkan tidak ada beda nyata pada Uji Duncan pada
taraf 5 %; (-): tidak ada interaksi

Interaksi antara interval pengairan dan takaran pupuk organik tidak


menunjukkan pengaruh nyata terhadap luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi
bersih, dan nisbah tajuk akar (Tabel 4). Pengaruh interval pengairan 5 dan 10 hari
sekali memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap luas daun dan indeks
luas daun, sedangkan perlakuan interval pengairan 5 hari sekali pengaruhnya
berbeda nyata dengan perlakuan 10 dan 15 hari sekali terhadap laju asimilasi
bersih. Peningkatan takaran pupuk organik sampai 14 ku/ha pengaruhnya berbeda
nyata dengan perlakuan 0 ku/ha dan mampu memberikan hasil tertinggi terhadap
luas daun, dan indeks luas daun. Hasil laju asimilasi bersih yang cenderung
tertinggi dicapai pada takaran pupuk organik 0 ku/ha, tetapi tidak berbeda nyata
dengan perlakuan 11 ku/ha.
Tanaman tebu pada umur 120 hst memasuki fase pemanjangan batang
sehingga asimilat yang diproduksi lebih banyak dialokasikan pada organ batang

8
yang menyebabkan pertumbuhan organ vegetatif berupa daun sudah dihambat.
Kemampuan sumber (source) yang kuat dalam menghasilkan asimilat dipengaruhi
oleh ukuran yang dinyatakan dengan luas daun. Kondisi yang demikian
memerlukan suplai hara N dengan meningkatkan takaran pupuk organik untuk
mendukung perluasan daun. Gardner et al. (1991) menyatakan bahwa luas daun
mempunyai kaitan yang erat dengan laju asimilasi bersih. Daun yang semakin luas
akan menurunkan laju asimilasi bersih karena antara daun yang satu dengan daun
lainnya saling menaungi. Hal ini berakibat daun-daun di bagian bawah tidak bisa
melakukan fotosintesis secara maksimal.
Watson (1947) cit. Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan bahwa
indeks luas daun (ILD) merupakan parameter analisis pertumbuhan yang
menggambarkan banyak sedikitnya radiasi matahari yang mampu diserap tanaman
per satuan luas lahan. Harga ILD > 1 menggambarkan adanya efek penaungan
(mutual shading) di antara daun yang mengakibatkan daun yang ternaungi pada
lapisan bawah tajuk mendapat cahaya yang kurang sehingga laju fotosintesis
menurun. Namun harga ILD 1 tidak berarti tanpa naungan. Hal ini tergantung
pada bentuk dan posisi daun.
Laju asimilasi bersih merupakan laju penimbunan berat kering per satuan
luas daun per satuan waktu (Gardner et al., 1991). Perlakuan interval pengairan
dan takaran pupuk organik tidak berpengaruh secara nyata terhadap laju asimilasi
bersih. Seiring dengan pertumbuhan tanaman dan peningkatan ILD, semakin
banyak daun yang ternaungi sehingga menyebabkan penurunan LAB. Penaungan
dapat menyebabkan penurunan LAB. Penaungan dapat menyebabkan distribusi
cahaya dalam tajuk tidak merata, ada daun yang bersifat parasit terhadap asimilat
yang dihasilkan daun yang lain. Air yang diberikan sangat mempengaruhi
peningkatan nilai LAB karena air merupakan salah satu bahan dalam proses
fotosintesis sehingga apabila kebutuhan air tercukupi, maka proses fotosintesis
berjalan dengan baik dan mampu menghasilkan asimilat yang tinggi.
Pengaruh interval pengairan 5 hari sekali berbeda nyata dengan perlakuan
10 dan 15 hari sekali sehingga mampu memberikan hasil terbaik terhadap nisbah
tajuk akar (Tabel 4). Perlakuan pupuk organik terhadap nisbah tajuk akar tidak

9
memberikan hasil yang berbeda nyata antar perlakuan, tetapi takaran 11 ku/ha
mampu memberikan hasil tertinggi. Hal ini dikarenakan adanya penambahan
suplai hara N dari pupuk organik yang mendukung pertumbuhan vegetatif tajuk
berjalan lebih cepat daripada pertumbuhan akar. Walaupun nisbah tajuk akar
dikendalikan secara genetik, nisbah tersebut juga sangat dipengaruhi oleh
lingkungan yang kuat. Murata (1969) cit. Gardner et al. (1991) menyatakan
bahwa pemupukan N mempunyai pengaruh yang nyata terhadap nisbah tajuk akar.

KESIMPULAN
1. Interaksi nyata pada kombinasi perlakuan interval pengairan 5 hari sekali dan
takaran pupuk organik 11 ku/ha menyebabkan jumlah anakan total lebih
banyak dibandingkan kombinasi perlakuan yang lain.
2. Interval pengairan 5 hari sekali berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman,
jumlah daun, diameter batang, jumlah nodia batang, panjang internodia
batang, jumlah anakan total, berat kering akar 80 hst, berat segar total 120 hst,
laju asimilasi bersih, dan nisbah tajuk akar 120 hst.
3. Pemberian pupuk organik sampai dengan takaran 14 ku/ha belum mampu
memberikan hasil terbaik dan tidak berpengaruh secara nyata terhadap
komponen pertumbuhan vegetatif awal tebu.

10
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1982. Pedoman Budidaya Tebu di Lahan Kering. Lembaga Pendidikan


Perkebunan, Yogyakarta.
Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants
(Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa H. Susilo). Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
Kuntohartono, T. 1999. Pertunasan tanaman tebu. Gula Indonesia 24(3): 11-15.
Levitt, J. 1980. Responses of Plants to Environmental Stresses II: Water,
Radiation, Salt, and Other Stresses. Academic Press, New York.
Sapuan. 1985. Ekonomi Pergulaan Indonesia. Bulog, Jakarta.
Setiawan. 1996. Teknologi budidaya pertanian lahan pantai dan permasalahannya.
Agr UMY (2) : 42 - 47.
Sitompul, S. M., B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Wambeke, A. V. 1992. Soils of The Tropics: Properties and Appraisal. McGraw-
Hill Book Inc., New York.

11