10/27/2008

CARA PEMERIKSAAN NEUROLOGI
Tinjauan Mata Kuliah : Cara pemeriksaan Anamnesis. : Cara pemeriksaan Kesadaran. : Cara pemeriksaan Rangsang Meningeal. : Cara pemeriksaan Saraf Kranialis. : Cara pemeriksaan sistim Motorik. : Cara pemeriksaan sistim Sensorik. : Cara pemeriksaan Refleks.

CARA MELAKUKAN ANAMNESIS .
ANAMNESIS yang baik membawa kita menempuh setengah jalan kearah diagnosis yang tepat . Biasanya pengambilan anamnesis mengikuti 2 pola umum yaitu: -Pasien dibiarkan secara bebas mengemukakan semua keluhan serta kelainan yang dideritanya. -Pemeriksa ( dokter ) membimbing pasien mengemukakan keluhannya atau kelainannya dengan jalan mengajukan pertanyaan tertuju.

1

10/27/2008

CARA MELAKUKAN ANAMNESIS • “ Keluhan utamanya “ yaitu keluhan yang mendorong pasien datang berobat ke dokter. • Kemudian ditelusuri tiap keluhan dengan mencari “Riwayat penyakit yang sedang dideritanya.” • Mulai timbulnya • Krononologi timbulnya gejala gejala. • Perjalanan penyakitnya dimana perlu ditanyakan. – Lokalisasi keluhan atau kelainan. – Bagaimana sifat keluhan atau kelainan? – Seberapa kerasnya keluhan atau seberapa besarnya kelainan itu? – Kapan timbulnya dan bagaimana perjalanan selanjutnya. – Bagaimana mula timbulnya? – Faktor-faktor apakah yang meringankan atau memperberat keluhan, gejala atau kelainan? – Gejala – gejala atau tanda – tanda patologik apakah yang menyertai /mengiringinya?

CARA MELAKUKAN ANAMNESIS

• Terapi dan segala pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya. • Diagnosa penyakit penyakit sewaktu di rawat sebelumnya. • Uraian mengenai perjalanan penyakit selama masa diantara perawatan terakhir dan saat pasien diwawancarai ini. • Bagaimana dengan nafsu makan, pola tidur, pekerjaan dan kehidupan sosial keluarga selama ini. • Bagaimana efek psikologi terhadap penyakitnya yang diderita nya.

2

10/27/2008

CARA PEMERIKSAAN KESADARAN .
• PEMERIKSAAN KESADARAN dapat dinyatakan secara kwantitatif maupun kwalitatif. Cara kwantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale dipandang lebih baik karena beberapa hal.
– Dapat dipercaya. – Sangat teliti dan dapat membedakan kelainannya hingga tidak terdapat banyak perbedaan antara dua penilai ( obyektif ). – Dengan sedikit latihan dapat juga digunakan oleh perawat sehingga observasi mereka lebih cermat.

CARA PEMERIKSAAN KESADARAN .

CARA PEMERIKSAAN KWANTITATIF (GLASGOW COMA SCALE )
– MEMBUKA MATA. – RESPONS VERBAL ( BICARA ). – RESPONS MOTORIK ( GERAKAN ).

3

10/27/2008

PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS)
TAMPAKAN EYE OPENING SKALA SPONTAN DIPANGGIL RANGSANG NYERI TIDAK ADA RESPONSE (DIAM) NILAI 4 3 2 1

4

10/27/2008

PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS)
TAMPAKAN VERBAL RESPONSE SKALA ORIENTASI BAIK JAWABAN KACAU KATAKATA-KATA TIDAK PATUT (INAPPROPRIATE) BUNYI TAK BERARTI
INCOMPREHENSIBLE

NILAI 5 4 3

2 1

TIDAK BERSUARA

PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE (GCS)
MOTOR RESPONSE SESUAI PERINTAH LOKALISASI NYERI REAKSI PADA NYERI FLEKSI (DEKORTIKASI) EKSTENSI (DESEREBRASI) TIDAK ADA RESPONSE (DIAM) 6 5 4 3 2 1

5

10/27/2008 6 .

Gerakan terutama timbul sebagai respons terhadap rangsang nyeri. Refleks ( kornea. Refleks muntah atau batuk positif kedua sisi 2 negatif positif negatif positif negatif positif negatif 2 1 2 1 Interpretasi: Nilai minimum Nilai maksimum :6 : 12 ( nilai /skor makin tinggi makin baik ) • • • • • • • • • • • • CARA PEMERIKSAAN KWALITATIF. KOMA-RINGAN ( SEMI – KOMA ) . KOMA ( DALAM ATAU KOMPLIT). mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsang nyeri. Brainstem reflex 1. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya 7 . Reaksi pupil kanan terhadap cahaya 5. Cara ini dapat digunakan untuk menilai refleks brainstem pada pasien koma. Tingkat kesadaran dibagi menjadi beberapa yaitu: Normal : kompos mentis. Refleks bulu mata 2. Pasien masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat . Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang . SOPOR ( STUPOR ): Kantuk yang dalam. Pasien tidak dapat dibangunkan. Reaksi pupil kiri terhadap cahaya 6. namun kesadarannya segera menurun lagi. Ia masih dapat mengikuti suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Somnolen disebut juga sebagai: letargi. Tingkat kesadaran ini ditandai oleh mudahnya pasien dibangungkan. Koma. • • • • • • • • • • • • • • • • • PITTSBURGH BRAIN STEM SCORE. Refleks kornea positif kedua sisi negatif positif kedua sisi negatif 2 1 2 1 1 2 1 3. SOMNOLEN : Keadaan mengantuk . pupil dsb) masih baik. Tidak ada gerakan spontan.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN KESADARAN .. Dengan rangsang nyeri pasien tidak dapat dibangunkan sempurna.Gerak motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari pasien. Sopor Koma – ringan. Pada keadaan ini tidak ada respons terhadap rangsang verbal. Somnolen. Doll’s eye movement/ice water calories 4.

Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri sebelum atau kurang dari sudut 135 derajat . KAKU KUDUK. Pada pemeriksaan ini . Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. 8 . • KERNIG SIGN. pasien yang sedang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul sampai membuat sudut 90 derajat. Setelah itu tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 derajat terhadap paha. Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb: Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring. kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. maka dikatakan kernig sign positif.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. • .

10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Tanda pipi menurut Brudzinski. tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. • Tanda Leher menurut Brudzinski Pasien berbaring dalam sikap terlentang. Ini meliputi : Tanda leher menurut Brudzinski. dengan tangan yang ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring . 9 . CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL .Test ini adalah positif bila gerakan fleksi kepala disusul dengan gerakan fleksi di sendi lutut dan panggul kedua tungkai secara reflektorik. Tanda simfisis pubis menurut Brudzinski dan istilah ini sering disalahpahamkan dengan Tanda Brudzinski 1 ( Brudzinski’s neck sign). Tanda Brudzinski 2 ( Brudzinski’s contralateral leg sign) dstnya.. Tanda tungkai kontralateral menurut Brudzinski. • BRUDZINSKI SIGN.

Pasien berbaring terlentang. Penekanan pada pipi kedua sisi tepat dibawah os zygomaticus akan disusul oleh gerakan fleksi secara reflektorik dikedua siku dengan gerakan reflektorik keatas sejenak dari kedua lengan. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Tungkai yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut. Bila timbul gerakan secara reflektorik berupa fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul ini menandakan test ini postif. • Tanda tungkai kontra lateral menurut Brudzinski. kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. 10 .10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . • Tanda pipi menurut Brudzinski.

10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . • Tanda simfisis pubis menurut Brudzinski. Untuk pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang berbaring lalu kedua tungkai diluruskan ( diekstensikan ) . Namun pada pasien yang sudah lanjut usianya diambil patokan 60 derajat. kemudian satu tungkai diangkat lurus. Pada keadaan normal dapat dicapai sudut 70 derajat sebelum timbul rasa sakit dan tahanan. 11 . • Tanda Lasegue. CARA PEMERIKSAAN RANGSANG MENINGEAL . Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan ekstensi ( lurus ) . Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan sebelum mencapai 70 derajat maka disebut tanda Lasegue positif. Penekanan pada simfisis pubis akan disusul oleh timbulnya gerakan fleksi secara reflektorik pada kedua tungkai disendi lutut dan panggul. dibengkokkan ( fleksi ) persendian panggulnya.

selain itu untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal.Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan. kopi. maka digunakan istilah lain yaitu kakosmia. Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka. Sebelumnya periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat. Salah satu hidung pasien ditutup. • Tujuan pemeriksaan : untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu. • Baik dalam hal parosmia maupun kakosmia adanya perangsangan olfaktorik merupakan suatu kenyataan. • SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS ). tetapi bila tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan maka kesadaran akan suatu jenis bau ini adalah halusinasi. Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng. • Jika parosmia dicirikan oleh modalitas olfaktorik yang tidak menyenangkan atau yang memuakan seperti bacin . • • • • 12 . jeruk. • SARAF OTAK I ( NERVUS OLFAKTORIUS ).sabun. Contoh bahan yang sebaiknya dipakai adalah : teh.tembakau. yaitu halusinasi olfaktorik. CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan. misalnya ingus atau polip. pesing dsb. hanya pengenalan nya saja tidak sesuai.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. • Cara pemeriksaan. dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang .

Pasien diminta untuk melihat huruf huruf sehingga tiap huruf dilihat pada jarak tertentu. membaca huruf di buku atau koran. melakukan pemeriksaan dengan menggunakan kartu Snellen. • 1. 13 . Untuk mempelajari lapang pandang. Cara pemeriksaan. barisan paling bawah mempunyai huruf huruf paling kecil yang oleh mata normal dapat dibaca dari jarak 6 meter. • • SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). kartu snellen ialah huruf huruf yang disusun makin kebawah makin kecil .10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Tujuan pemeriksaan : Untuk mengukur ketajaman penglihatan ( visus) dan menentukan apakah kelainan pada penglihatan disebabkan oleh kelainan okuler lokal atau oleh kelainan saraf. pemeriksaan penglihatan ( visus ) Ketajaman penglihatan diperiksa dengan : • • membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan jalan pasien disuruh melihat benda yang letaknya jauh misal jam didinding.

bila dengan sinar lampu masih belum dapat melihat maka dikatakan visus pasien tersebut adalah nol. Jika kita hendak memeriksa mata kanan maka mata kiri pasien harus ditutup. Bila terdapat gangguan ketajaman penglihatan apakah gangguan ketajaman penglihatan yang disebabkan oleh kelainan oftalmologik ( bukan saraf ) misalnya kornea. Contoh Visus = 3/300 pasien hanya dapat melihat pergerakan tangan pada jarak 3 meter. contoh visus = 2/60 pasien hanya dapat melihat pergerakan jari pada jarak 2 meter Untuk gerakan tangan harus tampak pada jarak 300 meter. misalnya dengan tangannya pemeriksa harus menutup mata kanannya. Jika pasien mulai melihat gerakan jari – jari pemeriksa . Bila hendak melakukan pemeriksaan pada mata kanan maka mata kiri harus ditutup dengan telapak tangan kanan dan sebaliknya.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS. Kemudian pasien disuruh melihat terus pada mata kiri pemeriksa dan pemeriksa harus selalu melihat ke mata kanan pasien. maka visusnya ialah 1/300. • SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ).Gerakan jari tangan ini dilakukan dari semua jurusan dan masing masing mata harus diperiksa. bila dengan melihat melalui lubang kecil huruf bertambah jelas maka faktor yang berperan mungkin gangguan refraksi. ia harus memberitahu. • pemeriksaan lapang pandang. Namun jika hanya dapat membedakan antara gelap dan terang maka visus nya 1/~. Jika kemampuannya hanya sampai membedakan adanya gerakan . • • SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). uveitis. Setelah pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan pasien dan gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. apakah iapun telah melihatnya. menggunakan jari jari yang digerakkan harus dapat dilihat dalam jarak 60 meter. Bila sekiranya ada gangguan kampus penglihatan ( visual field ) maka pemeriksa akan lebih dahulu melihat gerakan tersebut. 14 . dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa.Dalam hal ini pasien duduk atau berdiri kurang lebih jarak 1 meter dengan pemeriksa. Yang paling mudah adalah dengan munggunakan metode Konfrontasi dari Donder. katarak dan kelainan refraksi maka dengan menggunakan kertas yang berlubang kecil dapat memberikan kesan adanya faktor refraksi dalam penurunan visus.

pemeriksaan lapang pandang.homonymous hemianopsia. Skotoma positif : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma. Skotoma negatif: dengan diperiksa pasien baru merasa adanya skotoma.homonymous quadrantanopsia.10/27/2008 SARAF OTAK II ( NERVUS OPTIKUS ). nasal . ini disebut dengan SKOTOMA. .total blindness dsb 15 . Macam macam gangguan ”visual field” antara lain. binasal ). .hemianopsia ( temporal. . . bitemporalis . • • • • • • • • Ada bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat melihatnya.

10/27/2008 16 .

SARAF OTAK III. 17 .ABDUSENS) Fungsi N III. Terdiri dari: – pemeriksaan gerakan bola mata. • Lihat ada/tidaknya nystagmus ( gerakan bola mata diluar kemauan pasien).IV. – pemeriksaan kelopak mata.Pemeriksaan gerakan bola mata.10/27/2008 SARAF OTAK III. Hambatan yang terjadi dapat pada satu atau dua bola mata.TROKLEARIS.TROKLEARIS.IV.ABDUSENS) 1. • Pasien diminta untuk menggerakan sendiri bola matanya. 2. Serabut otonom N III mengatur otot pupil.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS.VI saling berkaitan dan diperiksa bersama sama . Cara pemeriksaan. Ptosis adalah kelopak mata yang menutup. Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. – pemeriksaan pupil.Pemeriksaan kelopak mata: • Membandingkan celah mata/fissura palpebralis kiri dan kanan .VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. Lihat apakah ada hambatan pada pergerakan matanya. • Pasien diminta untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan kesegala jurusan.IV.

IV. • rangsangan nyeri pada kulit kuduk akan memberi midriasis ( melebar ) dari pupil homolateral.10/27/2008 SARAF OTAK III. • Normal .TROKLEARIS.IV. Pemeriksaan refleks pupil: refleks cahaya.VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. dan apakah ada pelebaran kembali yang tidak terjadi dengan segera.ABDUSENS) refleks akomodasi. pasien diminta untuk melihat telunjuk pemeriksa pada jarak yang cukup jauh. • keadaan ini disebut normal. refleks ciliospinal. normal besarnya 3 mm.TROKLEARIS. 18 . • Reflek akomodasi yang positif pada orang normal tampak dengan miosis pupil.ABDUSENS) 3. • Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. Cahaya ditujukan pada satu pupil. SARAF OTAK III.Pemeriksaan pupil • Lihat diameter pupil. kemudian dengan tiba – tiba dekatkanlah pada pasien lalu perhatikan reflek konvergensi pasien dimana dalam keadaan normal kedua bola mata akan berputar kedalam atau nasal. akibat adanya cahaya maka pupil akan mengecil ( miosis ).VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. • caranya . dan perhatikan pupil sisi yang lain. • Perhatikan juga apakah pupil segera miosis. • Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. • Lihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak. • Bandingkan kiri dengan kanan ( isokor atau anisokor ).

• pasien diminta membuka mulut dan memperhatikan apakah ada deviasi rahang bawah. • pasien diminta merapatkan gigi sekuatnya. rahang bawah tidak dapat digerakkan kesamping kiri. • refleks terhadap obat-obatan. Cara lain pasien diminta mempertahankan rahang bawahnya kesamping dan kita beri tekanan untuk mengembalikan rahang bawah keposisi tengah.10/27/2008 SARAF OTAK III. besar dan tonus nya sama .VI (NERVUS OKULOMOTORIUS. jika ada kelumpuhan maka dagu akan terdorong kesisi lesi. Sebagai pegangan diambil gigi seri atas dan bawah yang harus simetris. • Pemeriksaan motorik. kemudian meraba m . masseter dan m. Normalnya kiri dan kanan kekuatan.ABDUSENS) refleks okulosensorik. Cara pemeriksaan. • Atropine dan skopolamine akan memberikan pelebaran pupil/midriasis. • Pilocarpine dan acetylcholine akan memberikan miosis.TROKLEARIS.IV. normal akan memberikan miosis atau midriasis yang segera disusul miosis. Temporalis. SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). • rangsangan nyeri pada bola mata/daerah sekitarnya. 19 .Bila terdapat parese disebelah kanan .

Refleks supraorbital. malah kadang kadang tidak ada. a. SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). bila normal pasien akan menutup matanya atau • menanyakan apakah pasien dapat merasakan. normalnya akan menyebabkan mata • menutup homolateral ( tetapi sering diikuti dengan menutupnya mata yang lain ). pipi dan rahang bawah. • . m pterygoideus • medialis yang menyebabkan mulut menutup ini disebut refleks meninggi. kemudian lakukan pemeriksaan pada dahi.Dengan mengetuk jari pada daerah supraorbital. • Pemeriksaan sensorik. Pemeriksaan refleks. m. temporalis.10/27/2008 SARAF OTAK V ( NERVUS TRIGEMINUS ). lalu • pasien dalam keadaan mulut setengah membuka dipukul dengan ”hammer refleks” • normalnya didapatkan sedikit saja gerakan. – Dengan kapas dan jarum dapat diperiksa rasa nyeri dan suhu. Cara pemeriksaan. Refleks kornea ( berasal dari sensorik Nervus V).Kornea disentuh dengan kapas. b. Refleks masseter / Jaw reflex ( berasal dari motorik Nervus V).masseter. • c.\ • . • Dengan menempatkan satu jari pemeriksa melintang pada bagian tengah dagu. Bila • ada gerakan nya hebat yaitu kontraksi m. 20 .

• Bahannya adalah:Glukosa 5 %. Pemeriksaan fungsi sensorik. Pasien cukup menuliskan apa yang terasa diatas secarik kertas. kemudian pada sisi kanan dan kiri diletakkan gula.5 cm • Warna berubah menjadi Biru : Normal: 10 – 15 mm ( lama 5 menit ). • Sekresi air mata. • Pasien diperiksa dalam keadaan istirahat. • Dilakukan pada 2/3 bagian lidah depan. • Dengan menggunakan Schirmer test ( lakmus merah ) • Ukuran : 0. Kinine 0. Moncongkan bibir atau menyengir.5 cm x 1. 21 . tinggi alis. Perhatikan juga lipatan dahi. Suruh pasien bersiul. dalam keadaan pipi mengembung tekan kiri dan kanan apakah sama kuat .Kemudian pasien diminta untuk menggerakan wajahnya antara lain: – – – – – Mengerutkan dahi.075 %. lipatan kulit nasolabial dan sudut mulut. Nacl 2. Asam sitrat 1 %. Mengangkat alis Menutup mata dengan rapat dan coba buka dengan tangan pemeriksa. dibagian yang lumpuh lipatannya tidak dalam.5 %. Bila ada kelumpuhan maka angin akan keluar kebagian sisi yang lumpuh.garam atau sesuatu yang pahit. Pemeriksaan fungsi motorik. asam. Pasien disuruh untuk menjulurkan lidah . Perhatikan wajah pasien kiri dan kanan apakah simetris atau tidak.10/27/2008 SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ). lebarnya celah mata. SARAF OTAK VII ( NERVUS FASIALIS ).

Pemeriksaan Rinne. Bila terdapat ” nerve deafness ” disebelah kiri . maka dikatakan bahwa Schwabach lebih pendek ( untuk konduksi udara ). Pada telinga yang sehat. Garpu tala ditempatkan pada planum mastoid sampai pasien tidak dapat mendengarnya lagi. Kokhlearis. pada test weber dikanan terdengar lebih keras . garpu tala ditempatkan didekat telinga pemeriksa. Garpu tala dibunyikan dan kemudian ditempatkan didekat telinga pasien. Pada ” Conduction deafness ” test Rinne negatif. Jika pada posisi yang kedua ini masih terdengar dikatakan test positip. pada keadaan normal kiri dan kanan sama keras ( pasien tidak dapat menentukan dimana yang lebih keras ). • a. Pada orang normal test Rinne ini positif. Kokhlearis. Pada test ini pendengaran pasien dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa yang dianggap normal. c. pendengaran melalui udara didengar lebih lama dari pada melalui tulang. Fungsi N. Dirusuh ia mendengarkan bunyinya. Kokhlearis adalah untuk pendengaran. Bila sudah tidak mendengar lagi maka garpu tala diletakkan ditulang mastoid pemeriksa. misal: otitis media kiri . Fungsi N. • Pendengaran tulang mengeras bila pendengaran udara terganggu. Bila pemeriksa masih mendengarkan bunyinya maka dikatakan Schwabach ( untuk konduksi tulang ) lebih pendek. Kemudian garpu tala dipindahkan kedepan meatus eksternus. Maksudnya membandingakn pendengaran melalui tulang dan udara dari pasien. NERVUS VESTIBULARIS Pemeriksaan N. • • • • b.Garpu tala ditempatkan didahi pasien. Setelah pasien tidak mendengarkan bunyi lagi.10/27/2008 SARAF OTAK VIII ( NERVUS KOKHLEARIS. Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid pasien. SARAF OTAK VIII ( NERVUS KOKHLEARIS. NERVUS VESTIBULARIS Pemeriksaan N. Pemesiksaan Schwabach. Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa. pada test weber terdengar kiri lebih keras. • Maksud nya membandingkan transportasi melalui tulang ditelinga kanan dan kiri pasien. 22 . Kokhlearis adalah untuk pendengaran. Pemeriksaan Weber.

– Pasien diminta menyentuh ujung jari pemeriksa dengan jari telunjuknya. 23 . misalnya nystagmus kekiri berarti fase cepat kekiri. Pemeriksaan “past pointing test”. b. Nystagmus ini disebut sesuai dengan fasenya yaitu : fase cepat dan fase pelan. Vestibularis. – Bila telinga kiri didinginkan ( diberi air dingin ) timbul nystagmus kekanan. Pemeriksaan dengan test kalori. Normalnya pasien harus dapat melakukannya. a. Bila telinga kiri dipanaskan ( diberi air panas ) timbul nystagmus kekiri. – Bila ada gangguan keseimbangan maka perubahan temperatur dingin dan panas memberikan reaksi.10/27/2008 Test Pendengaran dengan garputala 512 MHz Normal Weber Ki = Ka Tuli Konduktif Tuli Sensorik Kiri ** Kiri ** >Telinga sakit >Telinga Normal Ki > Ka Rinne Udara > Tulang Tulang > Udara Ka > Ki Tulang & Udara ** (+) Scwabach Membanding kan : Pasien & Dokter (-) Hantaran tulang memendek (-) Hantaran udara memendek ** Terganggu Pemeriksaan N. kemudian dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengulangi.

• . sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti jalan biasa. • • SARAF OTAK IX & X( NERVUS GLOSOFARINGEUS & NERVUS VAGUS) • Cara pemeriksaan: – Pasien diminta untuk membuka mulut dan mengatakan huruf “ a” . lengan dilipat pada dada dan mata kemudian ditutup. – Pemeriksa menggoreskan atau meraba pada dinding pharynx kanan dan kiri dan bila ada gangguan sensibilitas maka tidak terjadi refleks muntah. Dikatakan abnormal bila kedudukan akhir pasien beranjak lebih dari 1 meter dari tempatnya semula. c. Jika ada gangguan maka otot stylopharyngeus tak dapat terangkat dan menyempit dan akibatnya rongga hidung dan rongga mulut masih berhubungan sehingga bocor. Vestibularis. 24 . dan tampak uvula tidak simetris tetapi tampak miring tertarik kesisi yang sehat. Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih. Jadi pada saat mengucapkan huruf ” a” dinding pharynx terangkat sedang yang lumpuh tertinggal. Test melangkah ditempat ( Stepping test ). Test Romberg . Pasien disuruh berjalan ditempat. atau badan terputar lebih dari 30 derajat. Tumit kaki yang satu berada didepan jari kaki yang lainnya. • Pada pemeriksaan ini pasien berdiri dengan kaki yang satu didepan kaki yang lainnya.10/27/2008 Pemeriksaan N.Selama test ini pasien diminta untuk berusaha agar tetap ditempat dan tidak beranjak dari tempatnya selama test berlangsung. d. dengan mata tertutup .

Dengan menekan pundak pasien dan pasien diminta untuk mengangkat pundaknya. • Kekuatan otot lidah dapat diperiksa dengan menekan lidah kesamping pada pipi dan dibandingkan kekuatannya pada kedua sisi pipi. Sternocleidomastoideus. • Memeriksa m. Sternocleidomastoideus. biasanya tergeser kedaerah lumpuh karena tonus disini menurun. kemudian dilihat dan diraba tonus dari m. • Memeriksa tonus dari m. • Bila lidah dijulurkan maka lidah akan membelok kesisi yang sakit. Trapezius.10/27/2008 SARAF OTAK XI ( NERVUS AKSESORIUS ). 25 . • Melihat apakah ada atrofi atau fasikulasi pada otot lidah . • Dalam keadaan diam lidah tidak simetris. SARAF OTAK XII ( NERVUS HIPOGLOSUS ). Pasien diminta untuk menoleh kekanan dan kekiri dan ditahan oleh pemeriksa . • Cara pemeriksaan. maka perkataan perkataan tidak dapat diucapkan dengan baik hal demikian disebut: dysarthri. Cara pemeriksaan. • Dengan adanya gangguan pergerakan lidah.

Mengepal dan membuka jari-jari tangan. misalnya: – – – – – – – Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.jari kaki. Gerakan Volunter. Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul. • Pemeriksaan sistim motorik sebaiknya dilakukan dengan urutan urutan tertentu untuk menjamin kelengkapan dan ketelitian pemeriksaan. 26 . Gerakan jari. • Kelumpuhan badan dan anggota gerak. 1. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. dll. Fleksi dan ekstensi artikulus genu. Pengamatan. 2. • Gaya berjalan dan tingkah laku.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti. • Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa. • Simetri tubuh dan ektremitas. Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.

– – – – Spasmus otot akibat iritasi radix saraf spinalis. Kelumpuhan jenis UMN ( spastisitas ). • Normal : otot yang diperkusi akan berkontraksi yang bersifat setempat dan berlangsung hanya 1 atau 2 detik saja. – Kelumpuhan jenis LMN akibat denervasi otot. • Nyeri tekan. • Miotonik : tempat yang diperkusi menjadi cekung untuk beberapa detik oleh karena kontraksi otot yang bersangkutan lebih lama dari pada biasa. – Kelumpuhan jenis LMN akibat lesi di ”motor end plate”. Palpasi otot. 3. pasien dengan gizi buruk ). 27 . HNP. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Kontraktur. 4. • Miodema : penimbunan sejenak tempat yang telah diperkusi ( biasanya terdapat pada pasien mixedema. • Pengukuran besar otot. • Konsistensi otot yang meningkat terdapat pada. Perkusi otot.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Kontraktur otot. • Konsistensi ( kekenyalan ). Gangguan UMN ekstrapiramidal ( rigiditas ). • Konsistensi otot yang menurun terdapat pada. misal: meningitis.

CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot. 6. • Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali ( dijumpai pada kelumpuhan LMN).10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku dan lutut . untuk memeriksa kekuatan otot ada dua cara: – Pasien disuruh menggerakkan bagian ekstremitas atau badannya dan pemeriksa menahan gerakan ini. – Pemeriksa menggerakkan bagian ekstremitas atau badan pasien dan ia disuruh menahan. ini dijumpai pada kelumpuhan UMN. Kekuatan otot. • Hipotoni : tahanan berkurang. • Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada Parkinson. Tonus otot. 28 . 5. Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar. • Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan .

lumpuh total. Dengan menggunakan angka dari 0 – minus 4 – – – – Nilai Gerakan bebas + Melawan gravitasi Melawan pemeriksa 0 + + + -1 + + + -2 + + -3 -4 - Nilai O berarti normal. – 0 : Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot. Cara menilai kekuatan otot ada dua cara. – 1 : Terdapat sedikit kontraksi otot. – 5 : Tidak ada kelumpuhan ( normal ). -3= parese hebat. -2 = parese moderat. – 3 : Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat. – 2 : Didapatkan gerakan.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Cara menilai kekuatan otot : • Dengan menggunakan angka dari 0-5. 29 . namun tidak didapatkan gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot tersebut. -1 = parese ringan. -4 paralisis.tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya berat ( gravitasi ). – 4 : Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula mengatasi sedikit tahanan yang diberikan. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.

saraf muskulokutaneus ).saraf torakalis ). • Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8.S2. S2. • Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7. saraf aksilaris ). saraf tibialis 30 .T1. • Pemeriksaan otot kelompok ” hamstring ” ( L4. saraf obturatorius ).saraf radialis ). • Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1. • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8). Anggota gerak atas. • Pemeriksaan otot biseps ( C5. saraf radialis ).C6. Anggota gerak bawah. • Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5.S1.saraf ulnaris) • Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8. • Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8. saraf ulnaris ). • Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7.T1.saraf ulnaris ).10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. S2.S1. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.8.C8.saraf siatika ).T1. saraf ulnaris ).saraf femoralis ). • Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4. • Pemeriksaan abduksi ibu jari. • Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8. • Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8). saraf subskapularis). • Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8.saraf tibialis ). • Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4.C5. • Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7. • Pemeriksaan otot deltoid ( C5.L5.T1 .

nukleus ventrolateralis thalami substansia retikularis dan serebelum. putamen. • Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal. Gerakan involunter. 31 . Susunan ekstrapiramidal ini mencakup kortex ekstrapiramidalis. • Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar. nukleus ruber. yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus pengontrolnya. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat positif. putamen.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. globus pallidus dan lintasan lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan substansia nigra pada sindroma Parkinson. substansia nigra. disebabkan lesi pada corpus striatum ( nukleus kaudatus. 7. corpus luysi. nuklues kaudatus. disebabkan gangguan mekanisme “feedback” oleh serebellum terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga timbul kekacauan gerakan volunter. globus pallidus.

corpus luysi. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. 32 . • Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa serabut otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan motor neuron. torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu. eksplosif. yang hanya terhenti pada waktu tidur. • Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas. hingga menyerupai gerakan seorang yang melemparkan cakram. substansia nigra dan corpus subthalamicus. • Athetose : gerakan involenter pada ektremitas. Gerkaan ini dihubungkan dengan lesi di corpus subthalamicus. • Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan paravertebra. Khorea disebabkan oleh lesi di corpus striataum. area prerubral dan berkas porel. cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak teratur. terutama lengan atau tangan atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan melilit lilit . Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di nukleus kaudatus. Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah kulit. siku dan pergelangan tangan. biasanya lengan atau tangan.

waktu bergerak maupun waktu istirahat. Frekwensi keduten tidak secepat fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi. Fungsi koordinasi. Serebelum adalah pusat yang paling penting untuk mengintegrasikan aktivitas motorik dari kortex. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. Lesi organ akhir sensorik dan lintasan – lintasan yang mengirimkan informasi ke serebelum serta lesi pada serebelum dapat mengakibatkan gangguan fungsi koordinasi atau sering disebut “ Cerebellar sign “ 33 . dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot skelet dan pada setiap waktu. • Myokimia: fasikulasi benigna. aritmik. basal ganglia. berlangsung sejenak. vertibular apparatus dan korda spinalis.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Tujuan pemeriksaan ini untuk menilai aktivitas serebelum. 8. • Myokloni : gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat.

10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. dan menunjukkan gejala jalan yang khas yang disebut “ celebellar gait “ • Pasien tidak dapat melakukan gerakan volunter dengan tangan. Test fenomena rebound. tapping jari tangan. Test disgrafia. Test mempertahankan sikap. Test diadokinesia berupa: pronasi – supinasi. 34 . pasien akan jatuh kesisi lesi setelah beberapa saat kehilangan kestabilan ( bergoyang – goyang ). Test nistagmus. Test jari – jari tangan. Gerakan nya kaku dan terpatah-patah. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Pasien sulit berjalan pada garis lurus pada tandem walking.lengan atau tungkai dengan halus. Test tumit – lutut. Test romberg. • Macam-macam pemeriksaan “ Cerebellar sign” – – – – – – – – – Test telunjuk hidung. • Test romberg positif: baik dengan mata terbuka maupun dengan mata tertutup .

• Waddling gait: gaya berjalan dengan pantat dan pinggang bergoyang berlebihan. pada paraparese flaccid atau paralisis n. • Jalan mundur.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. • Hopping. • Tabetic gait: gaya jalan pada pasien tabes dorsalis. keseimbangan . Peroneus. • Tandem walking. • Macam macam Gait: • Hemiplegik gait: gaya jalan dengan kaki yang lumpuh digerakkan secara sirkumduksi. CARA PEMERIKSAAN SISTIM MOTORIK. khas untuk kelemahan otot tungkai proksimal. • Steppage gait: gaya jalan seperti ayam jago. Harus diperhitungkan adanya kemungkinan kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan pada orang orang tua atau penyandang cacat non neurologis. Gait dan Station. ayunan tangan dan gerakan kaki dan mintalah pasien untuk melakukan. 35 . Langkah dilakukan setengah diseret dengan jangkauan yang pendek-pendek. • Jalan lurus lalu putar. Pada saat pasien berdiri dan berjalan perhatikan posture. kedua tungkai berfleksi sedikit pada sendi lutut dan panggul. • Parkinsonian gait: gaya berjalan dengan sikap tubuh agak membungkuk. misalnya otot gluteus. • Spastik ( scissors gait ): gaya jalan dengan sirkumduksi kedua tungkai. • Berdiri dengan satu kaki. misalnya spastik paraparese. • Jalan diatas tumit. • Pemeriksaan ini hanya dilakukan bila keadaan pasein memungkinkan untuk itu. • Jalan diatas jari kaki.

3. – Rasa suhu – Rasa raba. – Menyimpulkan jenis dan lokasi lesi yang mendasari gangguan sensorik yang akhirnya dinilai bersama sama dengan pemeriksaan motorik . – daya untuk mengenal /mengetahui berat sesuatu benda dsb.Sensibilitas proprioseptif. kesadaran dll. Sensibilitas eksteroseptif atau protopatik. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. rasa raba dalam. Terdiri dari: – Rasa nyeri. – Mengetahui modalitasnya. 1. Tujuan pemeriksaan sensorik – Menetapkan adanya gangguan sensorik.Sensibilitas diskriminatif – daya untuk mengenal bentuk/ukuran. – Menetapkan polanya. 36 . Jenis-Jenis pemeriksaan sensorik yang sering digunakan. 2.

Test untuk rasa raba halus. Cara pemeriksaan : – Botol botol tersebut harus kering betul. Alat pemeriksa : jarum bundel Cara pemeriksaan : jarum diletakkan tegak lurus dan cara sama spt diatas. Tahap Pemeriksaan. • Dibandingkan kanan dan kiri. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. genetalia. Cara pemeriksaan: • permukaan diraba dengan ujung – ujung kapas tersebut. – Pada orang tua sering dijumpai hipestesia yang fisiologik. Yang perlu diingat: • Daerah lateral kurang peka dari medial. – Botol/tabung berisi air dingin : suhu 10-15 derajat celcius. • dari atas ke bawah/ sebaliknya. 37 . Alat pemeriksa : kapas. • Ada daerah-daerah erotogenik : leher. Test untuk rasa nyeri superficial. Test untuk rasa suhu. Tahap Pemeriksaan. sekitar mammae. – Bagian tubuh yang tertutup pakaian lebih sensitif dari bagian tubuh yang terbuka. Alat pemeriksa : – Botol/tabung berisi air panas : suhu 40-45 derajat celcius.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.

Alat pemeriksa : bagian tubuh pasien sendiri. • Test untuk rasa gerak/posisi sendi. • Alat pemeriksan : sendi sendi/jari jari tangan kaki pasien • Cara pemeriksaan: pegang ujung jari jempol kaki pasien dengan jari telunjuk dan jempol jari tangan pemeriksa dan gerakkan keatas kebawah maupun kesamping kanan dan kiri. Cara pemeriksaan : • Tempatkan salah satu lengan/tungkai pasien pada suatu posisi tertentu. kemudian suruh pasien untuk menghalangi pada lengan dan tungkai. kemudian pasien diminta untuk menjawab posisi ibu jari jempol nya berada diatas atau dibawah atau disamping kanan /kiri.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Tahap Pemeriksaan. • Perintahkan untuk menyentuh dengan ujung ujung telunjuk kanan. ujung jari kelingking kiri dsb. Tahap Pemeriksaan. Test untuk rasa sikap. 38 . CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK.

CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. : 8 – 12 mm : 20-30 mm : 40 mm : 70 – 75 mm.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Test untuk rasa getar. : 3 – 8 mm. 39 . mata uang logam. kancing . jarum bundel. Alat pemeriksa : kunci. Alat pemeriksa : garpu tala Cara pemeriksaan: Garpu tala digetarkan dulu/diketuk pada meja atau benda keras lalu letakkan diatas ujung ibu jari kaki pasien dan mintalah pasien menjawab untuk merasakan ada getaran atau tidak dari garputala tersebut. Dengan mata tertutup pasien diminta untuk mengenal benda – benda yang disodorkan kepadanya. Tahap Pemeriksaan. – – – – – – – Lidah Ujung jari tangan Telapak tangan Dorsum manus Dada Paha Jari kaki : 1 mm. Cara pemeriksaan : • Rasa stereognosis. Test untuk diskriminatif. Tahap Pemeriksaan. • Rasa diskriminasi 2 titik. : 2 – 7 mm.

Tahap Pemeriksaan. Untuk mengenal angka. tindakan valsava. aksara. misalnya ditelapak tangan pasien. bentuk yang digoreskan diatas kulit pasien. Untuk mengenal berat suatu benda. Test untuk diskriminatif. • Tindakan dari Tinel: untuk mengetahui ” tanda kesemuten akibat lesi susunan saraf perifer. test menelan. CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. – – – – distraksi servikal. 40 . • Tindakan untuk mengetahui adanya kelainan di daerah tulang belakang servikal. kompresi servikal : tindakan Lhermitte.10/27/2008 CARA PEMERIKSAAN SISTIM SENSORIK. Rasa topognosia. Rasa Gramestesia. – Bila hasil nya timbul kesemuten ini berarti adanya regenerasi saraf perifer.Dengan melakukan penekanan pada saraf perifer: – Bila hasil ya: timbul rasa nyeri ini berarti terjadi lesi irritatif. Rasa Barognosia. Tahap Pemeriksaan. Test untuk mengetahui lokalisasi rasa nyeri. Untuk mengenal tempat pada tubuhnya yang disentuh pasien.

Test dari O’CONNEL = test laseque silang. Nyeri timbul pada pangkal N. abduksi.10/27/2008 Modifikasi test Laseque yaitu: – Test dari Bragard :Straight Leg Raising Test kemudian diikuti dengan dorsofleksi kaki . Ishiadikus yang sehat pada waktu dilakukan SLRS test. • – Test untuk membangkitkan rasa nyeri di sendi panggul/sakroiliaka. • Tumit / maleolus tungkai yang sakit diletakkan pada tungkai yang lain kemudian diadakan penekanan pada lutut yang difleksikan itu kemudian timbul gerakan fleksi. – Test dari contra Patrick. 41 . Test dari Patrick = F-AB-BR-E Sign. • Dilakukan tindakan kebalikan dari test Patrick lalu timbul pula rasa nyeri di sendi sakroiliaka. ekso rotasi dan ekstensi dan ini akan menimbulkan rasa nyeri di sendi panggul yang ada kelainannya. Penekanan pada fossa Poplitea diatas N. Tanda laseque test akan positif pada derajat yang lebih kecil. Bowtring Sign.ishiadikus menimbulkan rasa sakit dipunggung atau kaki.

bila tekanan intrakranial meningkat timbul rasa nyeri radikuler yang makin bertambah. tungkai diluruskan lalu lakukan palpasi pada betis dan sekitarnya kemudian timbul rasa nyeri. – Berkurangnya rasa raba : HIPESTESIA. • Rasa eksteroseptif. • Pasien berbaring terlentang. – Hilangnya rasa nyeri : ANALGESIA. Nomenklatur untuk pemeriksaan sensorik.5 menit .VIETS. 42 . Jugularis sampai pasien merasa kepalanya penuh sekitar 1. – Berkurangnya rasa nyeri : HIPALGESIA. • Rasa Nyeri. Pasien terlentang /berdiri kemudian dilakukan penekanan pada kedua v. Test dari NAFSIGER . – Berlebihnya rasa nyeri : HIPERGESIA.2.5. – Hilangnya rasa raba : ANESTESIA.10/27/2008 Test Homan • Pasien dibaringkan terlentang dan tungkai diluruskan lalu kaki didorsofleksikan pada sendi pergelangan kaki lalu timbul rasa nyeri dibetis. – Berlebihnya rasa raba : HIPERTESIA.

Berkurangnya rasa suhu : THERMOHIPESTHESIA. rasa getar : PALESTHESIA. kesemuten : PARESTHESIA. – Mengenal tempat yang diraba : TOPESTESIA. – Mengenal angka. 43 . Berlebihnya rasa suhu : THERMOHIPERESTHESIA. aksara. – Mengenal bentuk dan ukuran sesuatu dengan jalan perabaan: STEREOGNOSIS.bentuk yang digoreskan di atas kulit : GRAMESTESIA. • Rasa suhu. rasa tekan : BARESTHESIA. – Mengenal setiap titik dan daerah tubuh sendiri : AUTOTOPOGNOSIS. rasa sikap : STATESTESIA. • – – Rasa abnormal dipermukaan tubuh. • d. • c. TOPOGNOSIS. nyeri panas dingin yang tidak keruan : DISESTHESIA Rasa PROPIOSEPTIF = RASA RABA DALAM. rasa gerak : KINESTHESIA.10/27/2008 Nomenklatur untuk pemeriksaan sensorik. • a. – Mengenal dan mengetahui berat sesuatu : BAROGNOSIS. • b. – Mengenal diskriminasi 2 titik : DISKRIMINASI SPASIAL. – – – Hilangnya rasa suhu : THERMOANESTHESIA. • Rasa DISKRIMINATIF.

ilioinguinalis Efferent : idem 44 . intercostal T 11 – L 1 ( infra umbilical ) n. Respons : kontraksi dinding perut Afferent : n. intercostal T 7 – 9 ( supra umbilical ) n. supraumbilical. • Hasil pemeriksaan refleks merupakan informasi penting yang sangat menentukan. Oleh karena itu refleks kedua belah tubuh yang dapat dibandingkan harus merupakan hasil perangsangan yang berintensitas sama. intercostal T 9 – 11 ( umbilica ) n. • Refleks fisiologis yang dibangkitkan untuk pemeriksaan klinis meliputi refleks superficial dan refleks tendon atau periosteum. Penilaian refleks selalu berarti penilaian secara banding antara sisi kiri dan sisi kanan. Refleks superficial • Refleks dinding perut : Stimulus : Goresan dinding perut daerah. intercostal T 5 – 7 ( epigastrik ) n. infra Umbilical dari lateral ke medial. iliohypogastricus n. epigastrik.10/27/2008 PEMERIKSAAN REFLEKS. Respon terhadap suatu perangsangan tentu tergantung pada intensitas. Dari penilaian terhadap refleks fisiologis dan patologis ini kita dapat memperkirakan letak / jenis lesi. Pada penderita penyakit syaraf tertentu dapat dibandingkan refleks patologis atau juga refleks primitif.

ilioinguinal ( L 1-2 ) • Efferent : n. genitofemoralis Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks biseps ( B P R ) : Stimulus : ketokan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m. : fleksi lengan pada sendi siku : n. musculucutaneus ( c 5-6 ) : idem Respons Afferent Efferenst Refleks triceps ( T P R ) : Stimulus : ketukan pada tendon otot triseps brachii.10/27/2008 Refleks superficial Refleks cremaster : Stimulus : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah • Respons : elevasi testis Ipsilateral • Afferent : n. biseps brachii. posisi lengan setengah ditekuk pada sendi siku. radialis ( C 6-7-8 ) : idem 45 . posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi Respons Afferent Efferenst : extensi lengan bawah disendi siku : n.

brachioradialis Afferent : n. pronator quadratus Afferent: n. gastrocnemius Efferent : n. Efferent : n. radialis ( C 5-6 ) Efferenst : idem Refleks periosto ulnaris : Stimulus : ketukan pada periosteum procesus styloigeus ulnea.10/27/2008 Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks periosto radialis : Stimulus : ketukan pada periosteum ujung distal os radii. 5-S. 1-2 ) Afferent : idem 46 . Respons : pronasi tangan akibat kontraksi m. quadriceps Femoris. posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi Respons : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi m. tibialis ( L. ulnaris ( C B-T1 ) Efferent : idem Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) Refleks patella ( K P R ) : Stimulus : ketukan pada tendon patella Respons : ekstensi tungkai bawah karena kontraksi m. femoralis ( L 2-3-4 ) Afferent : idem Refleks achilles ( A P R ) Stimulus : ketukan pada tendon achilles Respons : plantar fleksi kaki karena kontraksi m. posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi – supinasi.

Klonus lutut : Stimulus : pegang dan dorong os patella ke arah distal Respons : kontraksi reflektorik m.Chaddock Stimulus : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral.Babinski Stimulus : penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke anterior. Respons : ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan (fanning) jari – jari kaki. Respons : seperti babinski 47 . quadriceps femoris selama stimulus berlangsung. Respons : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung. sekitar malleolus lateralis dari posterior ke anterior. posisi tungkai fleksi di sendi lutut. .Klonus kaki : Stimulus : dorsofleksikan kaki secara maksimal. Refleks patologis . .10/27/2008 Refleks fisiologis ( tendon / periosteum ) .

Schaffer Stimulus : memencet tendon achilles secara keras Respons: seperti babinski .Gonda Stimulus : penekukan ( planta fleksi) maksimal jari kaki keempat Respons: seperti babinski .Stransky Stimulus : penekukan ( lateral ) maksimal jari kaki kelima Respons: seperti babinski .Rossolimo Stimulus : pengetukan pada telapak kaki Respons: fleksi jari – jari kaki pada sendi interphalangealnya 48 .Gordon Stimulus : penekanan betis secara keras Respons : seperti babinski Refleks patologis .10/27/2008 Refleks patologis .Oppenheim Stimulus : pengurutan crista anterior tibiae dari proksimal ke distal Respons : seperti babinski .

Hoffman Stimulus : goresan pada kuku jari tengah pasien Respons : ibu jari.Leri Stimulus : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan sikap lengan diluruskan dengan bagian ventral menghadap keatas respons : tidak terjadi fleksi di sendi siku .Mendel .Bechterew Stimulus : pengetukan dorsum pedis pada daerah os cuboideum Respons : seperti rossolimo . telunjuk dan jari – jari lainnya berefleksi Refleks patologis .Mayer Stimulus Respons : fleksi maksimal jari tengah pasien kearah telapak tangan.10/27/2008 Refleks patologis .Tromner Stimulus Respons : colekan pada ujung jari tengah pasien : seperti Hoffman . : tidak terjadi oposisi ibu jari. 49 .

Sucking refleks Stimulus : sentuhan pada bibir Respons : gerakan bibir. lidah dan rahang bawah seolah – olah menyusu .Snout refleks Stimulus : ketukan pada bibir atas Respons : kontraksi otot – otot disekitar bibir / dibawah hidung (menyusu) Refleks Primitif . Respons : kontraksi otot mentalis dan orbicularis oris ipsilateral.10/27/2008 Refleks Primitif . Respons : tangan pasien mengepal . 50 .Palmo – mental refleks Stimulus : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian Thenar.Graps refleks Stimulus : penekanan / penempatan jari si pemeriksa pada telapak tangan pasien.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful