HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN KELEMBABAN RUMAH DENGAN KEJADIAN TB (TUBERCOLUSIS) PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS IRING MULYO

KECAMATAN METRO TIMUR KOTA METRO TAHUN 2011

Oleh: FITRIANA DWI FIDIAWATI NIM 08 330 018

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2011

2

HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN KELEMBABAN RUMAH DENGAN KEJADIAN TB (TUBERCOLUSIS) PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS IRING MULYO KECAMATAN METRO TIMUR KOTA METRO TAHUN 2010

Proposal karya tulis ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada Progam Diploma III Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Oleh: FITRIANA DWI FIDIAWATI NIM 08 330 018

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2011

3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus di wujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang -Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (UU RI No. 36/09, II :(3)). Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Microbacterium Tuberculosis (TBC). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Kuman TBC ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut juga sebagai basil tahan asam (BTA). Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dorman, tertidur lama selama bebrapa tahun. (Depkes RI, 2002 : 9) Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, penyakit TBC merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung

1

4

dan pembulu darah serta penyakit saluran pernapasan (Yoannes,2008:8) Berdasarkan Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2007 menyatakan jumlah penderita Tuberkulosis di Indonesia sekitar 528 ribu atau berada di posisi tiga di dunia setelah India dan Cina. Sedangkan laporan WHO pada tahun 2009, mencatat peringkat Indonesia menurun ke posisi lima dengan jumlah penderita TBC sebesar 429 ribu orang. Lima negara dengan jumlah terbesar kasus insiden pada tahun 2009 adalah India, Cina, Afrika Selatan, Nigeria, dan Indonesia (WHO Global Tuberculosis Control : 2010). Pada Global Report WHO 2010, didapat data TBC Indonesia, Total seluruh kasus TBC tahun 2009 sebanyak 294731 kasus, dimana 169213 adalah kasus TBC baru BTA positif, 108616 adalah kasus TBC BTA negatif, 11215 adalah kasus TBC Extra Paru, 3709 adalah kasus TBC Kambuh, dan 1978 adalah kasus pengobatan ulang diluar kasus kambuh (retreatment, excl relaps). Mulai tahun 1995, progam penanggulangan TBC Nasional mengadopsi strategi DOTS (Directly observed Treatment Short Couse) sesuai rekomendasi WHO yang kemudian dikembangkan di seluruh puskesmas di Indonesia pada tahun 2000. Strategi DOTS telah dibuktikan dengan uji coba di lapangan dapat memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Namun dalam kenyataannya tingkat penyembuhan penderita tuberculosis di Indonesia masih rendah. Strategi DOTS untuk penanggulan TBC sesuai dengan rekomendasi WHO meliputi 5 komponen dasar yaitu:

1. Komitmen politis dari pengambilan keptusan, termasuk dukungan dana. 2. Diagnosis TBC dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.

5

3. Pengobatan dengan obat Anti Tuberculosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh pengawas minum obat (PMO). 4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek untuk penderita. 5. Pencataan dan pelaporan secara baku memudahkan pemantauan dan evaluasi progam penanggulangan TBC (Depkes RI, 2006).

Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya (Notoatmojo, 2003). Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran kuman tuberculosis. Kuman tuberculosis dapat hidup selama 1-2 jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu rumah, dan kepadatan penghuni rumah. Penelitian Lin (2009) membuktikan hubungan signifikan antara kebiasaan merokok, perokok pasif, dan polusi udara dari kayu bakar dan batu bara terhadap risiko infektif penyakit dan menderita TB sebanyak 33 orang, perokok pasif dan menderita TB 5 orang, dan terkenan polusi udara dan menderita TB 5 orang. Penelitian Aditama (2009) menunjukan hubungan antara kebiasaan merokok dengan aktif tidaknya penyakit tuberculosis, serta faktor risiko terjadinya tuberculosis paru pada dewasa muda, dan terdapat dose-response relationship dengan jumlah rokok yang dihisap perharinya. Dalam pelaksanaan progam pelayanan kesehatan dasar, kota Metro memiliki 11 Puskesmas di 5 kecamatan dan 7 Puskesmas pambantu. Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PMR), 3 puskesmas Pelaksana Mandiri 4 unit, terdiri dari 1 RS Pemerintah dan 3 RS Swasta, Balai Pengobatan 3 unit serta Rumah Bersalin 7

6

unit. Jumlah Dokter Praktek Swasta di Kota Metro yaitu 65 orang tersebar di wilayah Kota Metro (Profil Kegiatan P2P Kota Metro :2010) Menurut hasil kegiatan progam Pengendalian Penyakit TB di kota Metro tahun 2010 yaitu estimasi tersangka TB sebesar 2.215 dari 13.8457 penduduk, terjadi peningkatan sebesar 17 tersangka TB dari tahun 2009 (2.198). Kemudian untuk estimasi TB BTA positif sebesar 222 dari 1.088 tersangka TB yang diperiksa. Hal ini terlihat peningkatan 2 pendetita TB positif dari tahun 2009 (220) dari 608 tersangka TB yang diperiksa. Sedangkan untuk penemuan penderita TB paru baru BTA Positif pada tahun 2010 sebanyak 84 penderita. Terlihat terjadi penurunan penderita TB paru dari tahun 2009 (97) yakni sebesar 13 penderita. Selain itu, cakupan penemuan kasus (CDR) sebesar 37,84% terjadi penurunan sebesar 6,25% jika dibandingkan tahun 2009 (44,09%). Angka konversi yaitu 78,31% berarti terjadi peningkatan sebesar 7,48% jika dibandingkan tahun 2009 (70,83%), sedangkan angka kesembuhan (Cure Rate) pada tahun 2010 yaitu 91,75% berarti terjadi peningkatan sebesar 10,1% jika dibandingkan tahun 2009 (81,65%). Success rate pada tahun 2010 yaitu 92,98% berarti terjadu peningkatan sebesar 4,67% jika dibandingkan tahun 2009

(88,31%). Angka CNR tahun 2010 yaitu 121,34/100.000 penduduk. Sesuai dengan laporan progam Pengendalian Penyakit TB di Kota Metro tahun 2010, penemuan kasus baru penderita TB Paru BTA positif terdapat 65 penderita selama satu tahun dilihat dari Unit Pelayanan Kesehatan yang ada di kota Metro. Dari beberapa Puskesmas yang ada di kota Metro, Puskesmas Iring Mulyo mempunyai kasus baru TB paru tertinggi atau jumlah penderita kasus baru

7

sama dengan Puskesmas Yosorejo. Dimana ditemukan kasus penderita TB Paru BTA positif sebanyak 15 penderita atau dengan persentase 23,07%. Menurut hasil laporan Puskesmas Iring Mulyo terlihat ada penurunan penderita TB Paru dari tahun ketahun. Dimana jumlah penderita TB Paru pada tahun 2008 sejumlah 71 penderita, pada tahun 2009 sejumlah 45 penderita, dan pada tahun 2010 sejumlah 34 penderita. Menurunnya angka penderita TB Paru merupakan salah satu keberhasilan Puskesmas dalam pengobatan dan

penanggulangan penyakit TB Paru. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan yakni kasus baru penderita TB Paru BTA Positif Puskesmas Iring Mulyo memiliki persentase tertinggi di antara Puskesmas yang terdapat di Kota Metro pada tahun 2010. Sementara itu, sesuai dengan laporan Puskesmas Iring Mulyo khususnya bidang Kesehatan Lingkungan tahun 2010, didapatkan persentase rumah sehat sebesar 68,40%. Dimana jumlah rumah yang ada sebanyak 2.500 rumah dan yang dilakukan pemeriksaan sebanyak 1.478 rumah. Terdapat 1.011 rumah telah memenuhi syarat kesehatan dan 467 rumah tidak memenuhi syarat kesehatan. Dengan persentase rumah sehat sebesar 68,40% menunjukan bahwa progam penyehatan lingkungan khususnya rumah sehat masih belum memenuhi target Dinas Kesehatan Kota Metro yakni sebesar 95% penduduk tinggal di rumah sehat. Kemudian sesuai dengan laporan progam lain dari Puskesmas Iring Mulyo khususnya progam Promosi Kesehatan tahun 2010, didapatkan data persentase PHBS yakni kegiatan masyarakat tidak merokok sebesar 47,38% (597) dan persentase masyarakat yang merokok sebesar 52,62% (663) . Hal ini menunjukan

8

bahwa penduduk yang berada di kelurahan Iring Mulyo masih banyak melakukan kegiatan merokok. Atas dasar itulah penulis ingin mengetahui hubungan kebiasaan merokok dan kelembaban rumah dengan penderita TB di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro tahun 2010.

B. Rumusan Masalah Upaya penanggulan TB paru telah menjadi progam nasional dengan memberikan obat gratis kepada penderita TB paru. Tetapi progam tersebut belum dapat terlaksana secara optimal dengan adanya insiden baru setiap tahunnya. Di wilayah kerja Puskemas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro penderita TB paru selalu muncul setiap tahunnya meskipun progam pemerintah telah dijalankan secara optimal. TB paru disebabkan karena adanya infeksi kuman Microbacterium Tuberculosis (TBC) yang kemudian diperparah dengan faktor lingkugan yang tidak mendukung seperti kelembaban, ventilasi, kepadatan hunian dan lain-lain. Kemudian kebiasaan merokok juga akan memperparah infeksi Microbacterium Tuberculosis (TBC). Berdasarkan kondisi tersebut maka muncul suatu permasalahan yaitu bagaimana hubungan kebiasaan merokok dan kelembaban rumah dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro.

9

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya hubungan kebiasaan merokok dan kelembaban rumah dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro tahun 2010. 2. Tujuan Khusus Berdasarkan rumusan masalah yang diangkat, maka penelitian ini bertujuan untuk: a. Mengetahui kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo tahuan 2010. b. Mengetahui kebiasaan merokok masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo. c. Mengetahui kelembaban rumah Puskesmas Iring Mulyo. d. Mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo. e. Mengetahui hubungan kelembaban dengan kejadian TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo. masyarakat di wilayah kerja

D. Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Iring Mulyo tentang faktor kebiasaan merokok dan kelembaban rumah dengan kejadian TB Paru. Disamping itu juga dapat menjadi bahan masukana dan evaluasi dalam menetapkan dan menentukan kebijakan

10

dalam upaya pencegahan, penularan, dan penurunan angka penyakit TB paru. 2. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi masyarakat tentang pentingnya PHBS yakni tidak merokok dalam rumah dan kelembaban rumah yang memenuhi syarat dengan kejadian TB Paru. 3. Hasil penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti mengenai hubungan kebiasaan merokok dan kelembaban dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro.

E. Ruang Lingkup Penelitian ini hanya dibatasi pada variable kebiasaan merokok dan kelembaban rumah dengan kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Kota Metro tahun 2010.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberculosis

1.

Definisi Tuberculosis Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang sebagian besar

disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculusis, kuman tersebut biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru. Kemudian kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lain, melalui sistem peredaran darah, system saluran limfe, melalui saluran nafas (broncus) atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 1997:10). Sedangkan menurut Ratna (2010), Tuberculosis ialah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculuosis, Mycrobacterium bovis atau Mikrobakterium africanum. 2. Etiologi Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculose, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um. Bakteri Tuberkulosis pertama kali ditemukan oleh Robert Kock pada tanggal 24 Maret 1887, sehingga untuk mengenang jasanya bekteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP). Yang tergolong dalam kuman Mycobacterium tuberculosae complex adalah M. tuberculosae, Varian Asian, Varian African I, Varian African II, dan M.

12

bovis. Kelompok kuman M. tuberculosae dan Mycobacteria Other Than Tb (MOTT, atypical) adalah M. kansasi, M. avium, M. intracellulare, M. scrofulaceum, M.malmacerse, dan M. xenopi (Slamet Suyono.2001:820-821). Menurut Heinz (1993) dikutip dari Ikue dkk (2007) penyebab terjadinya penyakit tuberkulosis adalah basil tuberkulosis yang termasuk dalam genus Mycobacterium, suatu anggota dari famili Mycobacteriaceae dan termasuk dalam ordo Actinomycetalis. Mycobacterium tuberculosa menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan penyebab terjadinya infeksi tersering. Masih terdapat Mycobacterium patogen lainnya, misalnya Mycobacterium leprae, Mycobacterium paratuberkulosis dan Mycobacterium yang dianggap sebagai Mycobacterium non tuberculosis atau tidak dapat terklasifikasikan. 3. Karakteristik Kuman Tuberculosis Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomana. Lipid inilah yang membuat kuman tahan asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini karena kuman berada dalam sifat dorman. Dari sif dorman ini kuman dapat at bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi (Slamet Suyono, 2001 : 821). Di dalam jaringan, kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni dalam sitoplasma makrofag. Makrofag yang semula memfagositasi malah kemudian disenanginya karena banyak mengandung lipid. Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi

13

kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical paruparu lebih tinggi dari bagian lain, sehingga bagian apical ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis. Penyakit TB biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Tuberkulosis Mikrobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TB batuk. Daya penularan dari seorang penderita tuberculosis ditentukan oleh banyaknya kuman yang terdapat dalam paru penderita, persebaran dari kumankuman tersebut dalam udara serta yang dikeluarkan bersama dahak berupa droplet dan berada di udara di sekitar penderita tuberculosis. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhisap oleh orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang menghirupnya, mereka mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah infeksi; ini adalah cara bagaimana infeksi tersebut menyebar dari satu orang ke orang lain. Orang yang serumah dengan penderita tuberculosis pada BTA positif adalah orang yang besar kemungkinannya terpapar dengan kuman tuberculosis. Daya penularan dari penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Semakin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan negative (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut tidak dianggap menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Selain itu, kontak jangka panjang dengan penderita TB dapat menyebabkan tertulari, seorang penderita tetap menular sepanjang ditemukan basil TB didalam sputum mereka.

14

Penderita yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna dahaknya akan tetap mengandung basil TB selama bertahun-tahun (Chin,2006). Tingkat penularan sangat tergantung pada hal-hal seperti: jumlah basil TB yang dikeluarkan, virulensi dari basil TB, terpajannya basil TB dengan sinar ultra violet, terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada saat bernyanyi, tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pada waktu otopsi, intubasi atau pada saat waktu melakukan bronkoskopi. Menurut Nur Nasri (1997) dalam Woro (1997), penularan TB dapat juga melalui makanan/minuman. Dimana penularan dalam hal ini dapat melalui susu (milk bone disease) karena susu merupakan media yang paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme penyebab, juga karena susu sering diminum dalam keadaan segar tanpa dimasak atau dipastereurisasi. Sedangkan pada susu yang mengalami kontaminasi oleh bakteri tidak memperlihatkan tantan tertentu.

4. Gejala Penyakit TB Paru Menurut dr. Yoanes tahun 2008 untuk penyakit TBC paru, gejala-gejala muncul dapat dibedakan pada orang dewasa dan anak-anak. 1. Gejala pada orang dewasa a) Batuk terus-menerus dengan dahak selama tiga minggu atau lebih b) Kadang-kadang dahak yang keluar bercampur dengan dahak c) Sesak napas dan rasa nyeri di dada d) Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun e) Berkeringat malam walau tanpa aktifitas

15

f) Demam meriang (demam ringan) labih dari sebulan

2. Gejala pada anak-anak a) Berat badan turun selama tiga bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas b) Berat badan anak tidak bertambah (anak kecil/kurus terus) c) Tidak ada nafsu makan d) Demam lama dan berulang e) Muncul benjolan di daerah leher, ketiak, dan lipat paha f) Batuk lama lebih dari dua bulan dan nyeri dada g) Diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare biasa.

Sedangkan menurut Ratna tahun 2010 gejala awal TBC paru yakni penderita merasakan tidak sehat atau batuk. Pada pagi hari, batuk disertai sedikit dahak berwarna hijau atau kuning. Jumlah dahak biasanya akan bertambah banyak, sejalan dengan perkembangan penyakit. Pada akhirnya, dahak akan berwarna kemerahan karena mengandung darah. Sesak nafas merupakan pertanda adanya udara (pneumotoraks atau cairan (efusi pleura) di dalam rongga pleura. Sekitar sepertiga infeksi ditemukan dalam bentuk efusi pleura. Pada infeksi tuberculosis yang baru, bakteri pindah dari luka di paru-paru ke dalam kelenjar getah bening yang berasal dari paru-paru. Jika system pertahanan tubuh alami bias mengendalikan infeksi, maka infeksi tidak akan berlanjut dan bakteri akan menjadi dorman.

16

Pada anak-anak, kelenjar getah bening menjadi besar dan menekan tabung bronchial dan menyebabkan batuk atau bahkan mungkin menyebabkan penciutan paru-paru. Kadang bakteri naik ke saluran getah bening dan membentuk sekelompok kelenjar getah bening di leher. Infeksi pada kelenjar getah bening ini bisa menembus kulit dan menghasilkan nanah.

5. Macam-Macam Tuberculosis a) Tuberculosis Primer Tuberculosis primer adalah infeksibakteri TB dari penderita yang belum mempunyai reaksi spesifik terhadap bakteri TB. Bila bakteri TB terhirup dari udara melalui saluran pernapasan dan mencapai alveoli atau bagian terminal saluran pernapasan, maka bakteri akan ditangkap dan dihancurkn oleh makrofag yang berada di alveoli. Jika pada proses ini, bakteri ditangkap oleh makrofag yang lemah maka bakteri akan berkembang biak dalam tubuh makrofag yang lemah itu dan menghancurkan makrofag. Dari proses ini, dihasilkan bahan kemotaksik yang menarik monosit (makrofag) dari aliran darah membentuk tuberkel. Sebelum menghancurkan bakteri, makrofag harus diaktifkan terlebih dahulu oleh limfokin yang dihasilkan limfosit T. Tidak semua makroag pada granula TB mempunyai fungsi sama. Ada makrofag yang berfungsi sebagai pembunuh, pencerna bakteri, dan perangsang bakteri. Beberapa makrofag menghasilkan protalase, elastase, kolagenase, serta colony stimulating factor untuk merangsang produksi monosit dan granulit pada sumsung tulang belakang. Bakteri TB menyebar melalui saluran pernapasan ke kelenjar gatah bening regional (hilus) membentuk epiteloid

17

granula. Grabula mengalami nekrosis sentral sebagai akibat timbulnya hipersensitivitas seluler terhadap bakteri TB. Hal ini terjadi sekitar 2-4 minggu dan akan terlihat pada ter tuberculin. Hipersensitivitas seluler terlihat sebagai akumilasi loka dari limfosit dan makrofag. Bakteri TB berada di alveoli akan membentuk focus lokal, sedankan focus iniasial bersama-sama dengan limfadenopati bertempat di hilus dan disebut juga TB primer. Focus primer paru biasanya bersifat unilateral dengan subpleura terletak di atas atau di bawah fisura interlobaris, atau di bagian basal dari lobus inferior. Bakteri menyebar lebih lanjut melalui saluran limfe atau aliran darah dan akan tersangkut pada bagian organ. TB primer merupakan infeksi yang bersifat sistematis (Arif:2007)

b) Tuberkulosis sekunder Setelah terjadi resolusi dari infeksi primer, sejumalah kecil bakteri masih hidup dalam keadaan dorman di jaringan pusat. Sebanyak 90% di antaranya tidak mengalami kekambuhan. Reaktivitasi penyakit TB (TB pasca primer/TB sekunder) terjadi bila daya tahan tubuh menurun, alkoholisme, keganasan, silikosis, diabeter mellitus, dan AIDS. Berbeda dengan TB primer, pada TB sekunder kelenjar limfe regional dan organ lainnya jarang terkena, lebih terbatas dan terolakasi. Reaksi imunologis terjadi dengan adanya pembentukan granuloma, mirip dengan yeng terjadi pada TB primer. Tetapi, nekrosis jaringan lebih menyolok dan menghasilkan lesi kaseosa yang luas dan disebut tuberkuloma. Protease yang dikeluarkan oleh makrofag aktif akan menyebabkan pelunakan bahan kaseosa. Secara

18

umum, dapat dikatakan bahwa terbentuknya kavitas dan manifestasi lainnya dari TB sekunder adalah akibat dari reaksi nekrotik yang dikenal sebagai hipersensitivitas seluler. TB paru pascaprimer dapat disebabkan oleh infeksi lanjutan dari sumber eksogen, terutama pada usia tua dengan riwayat semasa muda pernah terinfeksi TB. Biasanya, hal ini terjadi pada daerah apical atau segmen posterior lobus superior, 10-20 mm dari pleura, dan sehingga menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri TB (Arif:2007)

6. Pemeriksaan Tuberkulosis a) Pemeriksaaan Fisis Pemeriksaan fisis pertama terhdapa keadaan umum pasien mungkin ditentukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu

demam (subfebris), berat badan kurus atau berat badan menurun. Pada pemiksaan khusus fisis pasien sering tidak menunjukan suatu kelainan pun terutama pada kasus-ksus dini atau yang sudah terinfeksi secara asimtomatik. Demikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit menumakan kelainan pada pemeriksaan fisis, karena hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm ke dalam paru-paru sulit dinilai secara patesi, perkusi, dan auskultasi. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisis, TB Paru sulit dibedakan dengan pneumonia biasa. Tempat kelaimam lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apekspar. Bila dicurigai adanya infiltrate yang agak luas, maka didapatkan perkusi yang redup dan auskultasi sduara napas bronchial. Akan didapkan juga

19

suara napas tambahan berupa ronki basah, kasar dan nyaring. Tetapi bila infiltrate ini diliputi oleh penebalan pleura, suara napasnya menjadi vesicular melemah,. Bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani dan auskultasi memeberikan suara amforik. Pada tuberculosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofil dan retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi menciut dan menarik isi mediatrium atau paru lainnya. Bilsa jsringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah jumlah jaringan paru-paru, akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan selnjutnya meningkatkan tekanan arteri pulmonaris (hipertensi pulmonal) diikuti terjadinya kopulmonal dan gagal jantung kanan. Disina akan didapatkan tanda-tanda kor pulmonal dengan gagal jantung kanan seperti takipnea, takikardial, sianosis, right ventricular lift, right atrial gallop, murmur Graham-Steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena jugularis yang meningkat, hepatomagali, astesis, dan endema. Dalam pemeriksaan klinis, Tb paru sering asimtomatik dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkan kelainan radiologis dada padapermukaan rutin atau uji tuberculin yang positif.

b) Pemeriksaan Radiologis Pada saat ini pemeriksaan radiologist dada merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberculin. Pemeiksaan ini memang membutuhkan biaya alebih dibandingkan pemeriksaan sputum, tetapi dalam beberapa hal ia memberikan keuntungan seperti pada tuberculosis anak-anak dan tuberculosis

20

milier. Pada keduanya pemeriksaan radiologist dada, sedangkan pemeriksaan sputum hamper selalu negative. Lokasi lesi tuberculosis umumnya di daerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau segmen apical lobus bawah), tetapi dapat juga mengenai lobus bawah ( bagian inferior) atau di daerah hilus menyerupai tumor paru )missal pada tuberculosis endobronkial). Pada awal penyakit saat lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran radiologist berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batasbatasa yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas yang tegas. Lesi ini dikenal sebagai tuberkuloma. Pada kavis bayangan berupa cincin yang mula-mula berdinding tipis. Lama-lama dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Bila terjadi fibrosis terlihat bayangan yang bergaris-garis. Pada klasifikasi bayangan tampak sebagai bercak-bercak pada dengan densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu bagian paru. Gambaran tuberculosis milier terlihat berupa bercak-bercak halus yang umumnya tersebar pada seluruh lapangan paru. Gambaran radiology lain yang sering menyertai tuberculosis paru adalah penebalan pleura (pleuritis),massa cairan di bagian bawah paru (efusi pleura/empiema), bayangan hitam radiolesun di pinggir paru/pleura (Pneumotoraks). Pada satu foto dada sering didapatkan bermacam -macam bayangan sekaligus (pada tuberculosis yang sudah lanjut) seperti infiltrate, garis-garis

21

fibrotik, klasifikasi, kavitas (non sklerotik/sklerotik) maupun atelektasis dan emfisema. Tuberculosis sering memberikan gambaran yang aneh-aneh, terutama gambaran radiologist, sehingga dikatakan tuberculosis is the greatest imitator. Gambaran infiltasi dan tuberkuloma sering diartikan sebagai pneumonia, mikosis paru, karsinoma bronkus, atau karsinoma metastasis. Gambaran kavitas sering sering diartikanm sebagai abses paru. Di samping itu perlu diingat juga factor kesalahan dalam membaca foto. Factor kesalahan dapat mencapai 25%. Oleh sebab itu untuk diagnostic radiology sering dilakukan juga foto lateral, top lordotik, oblik, tomografi dan foto dengan proyeksi densitas keras. Pemeriksaan khusus yang kadang-kadang juga diperlukan adalah bronkografi, yakni untuk melihat kerusakan bronkus atau paru yang disebabkan oleh tuberculosis. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan bila pasien akan menjalani pembedahan paru. Pemeriksaan radiologist dada yang lebih canggih dan saat ini sudah banyak dipakai si rumah sakit rujukan adalah Computed Tomography

Scanning (CT Scan). Pemeriksaan ini lebih superior dibandingkan jaringan terlihat lebih jelas dan sayatan dapat dibuat transversal. Pemeriksaan lain yang lebih canggih lagi adalah MRI (Magnetic Resonance Imaging). Pemeriksaan MRI ini tidak sebaik CT Scan, tetapi dapat mengevakuasi proses-proses dekat apeks paru, tulang belakang, perbatasan dada perut. Sayatan bias dibuat transnersal, sagital, dan koronal.

22

c) Pemeriksaan Laboratorium 1) Darah Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang kadang meragukan, hasilnya tidak sensitive dan juga tidak spesifik. Pada saat tuberculosis baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun kea rah normal lagi. Hasil pemeriksaan darah lain didapkan juga: 1. Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer. 2. Gama globulin meningkat. 3. Kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik. Pemeriksaan seriologis yang pernah dipakai adalh reaksi Takahasil. Pemeriksaan ini dapat menunjukan proses tuberculosis masih aktif atau tidak. Criteria positif yang dipakai di Indonesia adalah titer 1/128. pemeriksaan ini juga kurang mendapat perhatian karena angka-angka poditif palsu dan negative palsunya masih besar. Belakangan ini terdapat pemeriksaan serologis yang banyak juga dipakai yakni Peroksidase Anti Peroksida (PAP-Tb) yang oleh beberapa peneliti mendapatkan nilai sensitivitas dan spesifisitasnya cukup tinggi (8595%), tetapi beberapa peneliti lain meragukannya karena mendapatkan angka-angka yang lebih rendah. Sungguhpun begitu PAP-TB ini masih

23

dapat dipakai, tetapi kurang bermanfaat bila digunakan sebagai saran tunggal untuk diagnosis Tb.

2) Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA, diagnosis tuberculosis sudah dapat dipastikan. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat dikerjakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang-kadang tidak mudah untuk mendapat sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk yang non produktif. Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien dianjurkan minum sebanyak ±2 liter dan diajarkan melakukan reflek batuk. Dapat juga memberikan tambahan obatobat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. Bila masih sulit, sputum dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi diambil dengan brusing atau bronchial washing atau BAL (bronco alveolar lavage). BTA dari sputum bias juga didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini sering dikerjakan pada anak-anak karena merka sulit mengeluarkan dahaknya. Sputum yang hendak diperiksa hendaknya sesegar mungkin. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam 1 mL sputum. Cara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah:

24

(a) Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa (b) Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop flouresens (pewarnaan khusus). (c) Pemeriksaan dengan biakan (Kultur). (d) Pemeriksaan terhadap resistensi obat.

3) Tes Tuberkulin Pemeriksaan ini dipakai untuk menegakkan diagnosis tuberculosis terutama pada anak-anak. Biasanya dipakai tes Mantoux yakni dengan menyuntikkan 0,11 cc tuberculin berkekuatan 5 T.U (intermediate strength). Tes tuberculin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. tuberculosae, M. bovis, vaksinasi BCG dan Mycrobacteriae pathogen lainnya. Dasar tes tuberculin ini adalah reaksi alergik tipe lambat. Biasanya hampir seluruh pasien tuberculosis memberikan reaksi Mantoux yang positif (99,8). Kelemahan tes ini juga terdapat positif palsu yakni pada pemberiaan BCG atau teribfeksi dengan Mycobacterium lain. Negative palsu lebih banyak ditemukan daripada positif palsu.

B. Faktor Resiko penyebab Tuberkulosis paru

1. Faktor Umur. Beberapa faktor resiko penularan penyakit tuberkulosis di Amerika yaitu umur, jenis kelamin, ras, asal negara bagian, serta infeksi AIDS. Dari hasil

25

penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun. 2. Faktor Jenis Kelamin Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru. 3. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Selain itu tingkat pedidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya.

26

4. Pekerjaan Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (kontruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan dibawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam hal jenis kontruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru. 5. Kebiasaan Merokok Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di Indonesia per orang per tahun adalah 230 batang, relatif lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra Leon, 480 batang/orang/tahun di Ghana dan 760

27

batang/orang/tahun di Pakistan (Achmadi, 2005). Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari 50% terjadi pada laki-laki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5%. Dengan adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru. 6. Kepadatan hunian kamar tidur Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Jarak antara tempat tidur minimal 90 cm untuk menjamin keluasan bergerak, bernafas dan untuk memudahkan

membersihkan lantai. Ukuran ruang tidur anak yang berumur kurang 5 tahun sebanyak 4 ½ m3, dan yang berumur lebih dari 5 tahun adalah 9 m3, artinya dalam satu ruangan anak yang berumur 5 tahun ke bawah diberi kebebasan menggunakan volume ruangan 4 ½ m3 (1 ½ x 1 x 3 m 3), dan di atas 5 tahun menggunkan ruangan 9 m3 ( 3 x 1 x 3m3 ) (Sukini dkk, 1989). 7. Pencahayaan Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Cahaya ini sangat penting karena

28

dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux., kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya..Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang. 8. Ventilasi Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah, disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman TB. Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir.

29

Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam kelembaban (humiditiy) yang optimum. Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai. Udara segar juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Umumnya temperatur kamar 22° optimum kurang lebih 60% (Sukini dkk, 1989). 9. Kondisi rumah Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC. Atap, dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman. Lantai dan dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis. 10. Kelembaban udara Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan, dimana kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22° 30°C 30°C dari kelembaban udara

(Sukini dkk, 1989). Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. 11. Status Gizi Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan

30

berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit. 12. Keadaan Sosial Ekonomi Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan, keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Penurunan pendapatan dapat menyebabkan kurangnya kemampuan daya beli dalam memenuhi konsumsi makanan sehingga akan berpengaruh terhadap status gizi. Apabila status gizi buruk maka akan menyebabkan kekebalan tubuh yang menurun sehingga memudahkan terkena infeksi TB Paru. 13. Perilaku

Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya.

C. Kelembaban

Kelembaban udara adalah prosentase jumlah kandungan air di udara. Secara umum penilaian kelembaban dalam rumah dengan menggunakan hygrometer, menurut indikator pengawasan perumahan kelembaban memenuhi syarat adalah minimal 60 % (Depkes RI, 1998). Sedangkan menurut Lubis (1985) temperature yang optimal di dalam rumah adalah 23oC-25oC, dan kelembapan di antara 20-60%. Hal ini berbeda dengan pendapat Sukini (1989) bahwa

31

temperature kamar untuk perumahan sehat 22oC-30oC sudah cukup segar dan kelembapan udara berkisar 60% optimum. Kelembaban adalah tingkat kebasahan udara yang disebabkan oleh ventilasi ruangan yang kurang memenuhi syarat kesehatan <10% dari luas lantai dan jendela <15% dari lantai. Tidak tersedianya ventilasi yang baik dapat mempengaruhi kesehatan. Jika di dalam ruangan tersebut terdapat pencemaran bakteri (misalnya ada penderita TBC Paru). Kenaikan kelembaban di dalam ruang dapat berasal dari penguapan dari uap-uap air melalui system respirasi dan evaporasi melalui kulit. Lubis 1985:57) Kelembaban di dalam rumah disebabkan oleh 2 faktor, yakni: 1) Kelembaban yang naik dari tanah (rising dump), yaitu proses kerja kapiler air naik dari bahan dinding yang kontak dari bahan dinding yang kontak dengan tanah yang lembab yang mana bisa naik ke dalam dinding sampai mencapai tinggi 3-4 meter. Oleh sebab itu, sebaiknya memplester lapisan lantai dengan semen agar kedap air sehingga dapat menahan keadaan lembab. 2) Merembes melalui dinding (porcalating damp), yaitu disebabkan oleh infaltrasi hujan yang masuk ke dalam dinding. Oleh sebab itu sebaiknya membuat plaster dinding dari adukan semen yang kedap air. Bocor melalui atap (roof leaks), yaitu dimana air disaat hujan akan merembes melalui celah-celah pori-pori genteng. Oleh karena itu celah pori-pori retak direkat dengan bahan tahan air seperti asphalt. (Lubis 1985:31). Menurut Notoatmojo (2003), lingkungan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari aktivitas kehidupan manusia. Lingkungan, baik secara fisik

32

maupun biologis, sangat berperan dalam proses terjadinya gangguan kesehatan masyarakat, termasuk gangguan kesehatan berupa penyakit tuberculosis pada anak. Menurut hasil penelitian Pengaruh Prilaku Penderita TBC Paru dan Kondisi Rumah Terhadap Pencegahan Potensi Penularan TBC Paru Pada Keluarga Di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 20 08 menunjukkan factor

predisposisi yang dianalisa secara bivariat yakni pendidikan, pengetahuan, dan sikap yang diteliti di Kabupaten Tapanuli Utara semuanya memiliki hubungan yang bermakna dengan potensi penularan TBC paru. Pendidikan mempunyai hubungan yang signifikan dengan penularan TBC Paru dimana nilai p value <0,05(0,000) dan nilai OR sebesar 2,7 artinya potensi penularan TBC paru 2,7 kali lebih besar pada yang berpendidikan rendah. pengetahuan mempunyai

hubungan yang signifikan dengan penularan TBC Paru dimana nilai p value <0,05(0,000) dan nilai OR sebesar 2,5 artinya potensi penularan TBC paru 2,5 kali lebih besar pada yang berpengetahuan kurang. Sikap mempunyai hubungan yang signifikan dengan penularan TBC Paru dimana nilai p value <0,05(0,000) dan nilai OR sebesar 3,1 artinya potensi penularan TBC paru 3,1 kali lebih besar pada yang bersikap kurang

Kemudia factor enabeling yang dianalisa secara bivariat ditemukan tiga variable yang terbukti berhugungan secara sicnifikan terhadap potensi penularan TBC paru yaitu kepadatan hunian, ventilasi, dan pencahayaan. Kepadatan hunian mempunyai hubungan yang signifikan dengan penularan TBC Paru dimana nilai p value <0,05(0,000) dan nilai OR sebesar 3,3 artinya potensi penularan TBC paru 3,3 kali lebih besar pada kepadatan hunian yang kurang. Sedangkan untuk

33

ventilasi mempunyai milai p value <0,05 (0,000) dan nilai OR sebesar 2,4 artinya potensi penularan TBC paru 2,4 kali lebih besar pada ventilasi yang kurang. Sedangkan pencahayaam matahari mempunyai hubungan yang signifikan dengan potensi penularan TBC paru dimana nilai p value <0,05 (0,000) dan nilai OR sebesar 5,9 artinya potensi penularan TBC paru 5,9 kali lebih besar pada pencahayaan yang kurang.

Berdasarkan Jurnal Kesehatan Surya MedikaYogyakarta Hubungan Kondisi Rumah dengan Penyakit TBC Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Karangmojo II Kabupaten Gunungkidul T ahun 2003-2006, menunjukan hasil analisa bivariat hubungan kondisi rumah dengan penyakit TBC menunjukkan, bahwa sebagian besar responden rumahnya tidak sehat yaitu 66 rumah (75%). Pada kelompok kasus sebanyak 40 rumah (91%) dan pada kelompok pembanding 26 rumah (59%). Dari analisa tabulasi silang diperoleh odds ratio sebesar 6,92 ( 95% CI 2,105-22,771), dengan hasil OR tersebut dapat diinterpretasikan bahwa risiko untuk menderita TBC Paru 6 -7 kali lebih tinggi pada penduduk yang tinggal pada rumah yang kondisinya tidak sehat.

Menurut penelitian Amon WI Radityo pada tahun 2003 yakni Hubungan Kondisi Rumah Dengan Kejadian TBC Paru di Kecamatan Taman dan Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang dari hasil analisi OR menunjukan bahwa ventilasi, intensitas pencahayaan alami, jenis dinding, kepadatan hunian kamar tidur, kondisi rumah kurang dan kondisi rumah sedang merupakan faktor resiko terjadinya TBC Paru.

34

Selain itu, menurut penelitian Siti Fatimah pada tahun 2008 tentang Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap menunjukan adanya hubungan antara kejadian tuberkulosis paru dengan kelembaban, dari hasil analisis bivariat diperoleh p = 0,024; OR =

2,571, 95%CI = 1,194 < OR < 5,540. Dengan demikian seseorang yang tinggal di rumah dengan kelembaban tidak memenuhi syarat mempunyai risiko 2,571 kali lebih besar untuk menderita TB paru dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat.

D. Merokok 1. Definisi Merokok adalah suatu perbuatan dimana seseorang menghisap rokok (tembakau). Bahaya merokok bagi kesehatan telah dibicarakan dan diakui secara luas. Penelitian yang dilakukan para ahli memberikan bukti nyata adanya bahaya merokok bagi kesehatan si perokok dan bahkan orang di sekitarnya.

2. Komposisi Jika kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh sentimeter itu, ternyata ibarat sebuah pabrik berjalan yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu rokok yang dibakar mengeluarkan empat ribu bahan kimia. Terdapat beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok. Diantaranya, acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti alhehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alcohol. Artinya, acrolein ini adalah alcohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan. Karbon

35

monoxide adalah sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsure ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsure zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin akan menganggu kondisi oksigen dalam darah. Nikotin adalah cairan berminyak yang tidak berwarna dan dapat membuat rasa perih yang sangat. Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Ammonia merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hydrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia sehingga kalau disuntikkan sedikitpun kepada peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan. Formic acid sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat bmembuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini menimbulakn rasa seperti digigit semut. Hydrogen cyanide adalah sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efesien untuk menghalangi pernapasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian. Nitrous oxide adalah sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terhisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan rasa sakit. Nitrous oxide merupakan jenis zat pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter.

36

Formaldehyde adalah sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembius hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organism-organisme hidup. Phenol merupakan campuran dari Kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organic seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim. Aceton adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alcohol/ hydrogen sulfide sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enzyme (zat besi yang berisi pigmen). Pyridine, sejeni cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alcohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. Metyl chloride adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hydrogen dan karbon merupakan usnsurnya yang terutama. Zat ini adalah merupakan compound organis yang dapat beracun. Methanol sejenis cairan ringan yang gampang menguap dan mudah terbakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. Dan tar, sejenis cairan kental berwarna cokelat tua atau hitam. Tar dapat terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilaman zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatkan kanker paru-paru (Aditama, 1997)

37

3. Pengaruh Merokok terhadap paru-paru Merokok merupakan masalah kesehatan pada masyarakat yang merupakan suatu ancaman besar bagi kesehatan di dunia (Emmons,1999). Konsumsi tembakau terus-menerus dapat menjadi penyebab utama kematian di dunia yang sebenarnya dapat dicegah. Saat ini, diperkirakaan terdapat 1,1 milyar penduduk dunia yang berusia 15 tahun atau lebih merupakan perokok, dan kematian akibat dari penggunaan tembakau terdapat 4,9 juta orang per tahun. Jika pola perokok ini tetap berlanjut, jumlah kematian akan meningkat menjadi sepuluh juta orang per tahun pada tahun 2020, tujuh juta (70%) di antaranya akan terjadi di Negara berkembang di berbagai belahan dunia (WHO, 2003). Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia. Sekali satu batang rokok dibakar maka ia akan mengeluarkan sekitar empat ribu bahan kimia nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hydrogen cyanide, ammonia, acrolein, acetin, benzaidehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin, 4-ethycatechol, ortocresol, perylene, dan lain lain (Aditama, 1997) (dikutip dari Muhammad, 2009). Secara umum bahan-bahan ini dapat dibagi menjadi dua golongan besar yaitu komponen gas dan komponen padat atau artikel, sedangkan komponen padat atau partikel dibagi menjadi nikotin dan tar. Tar adalah kumpulan dari ratusan atau bahkan ribuan bahan kimia dalam komponen padat asap rokok setelah dikurangi nikotin dan air. Tar ini mengandung bahan-bahan karsinogen (dapat menyebabkan kanker). Tembakau banyak dikunyah atau diisap melalui mulut atau huding, atau seperti kebiasaan menyusur di Negara kita. Sementara itu, nikotin adalah suatu bahan adiktif, bahan yang dapat orang menjadi ketagihan atau menimbulkan ketergantungan. Daun tembakau mengandung satu sampai tiga

38

persen nikotin. Setiap isapan asap rokok mengandung 1014 radikal bebas dan 1016 oksidan, yang semuanya tentu akan masuk terisap ke dalam paru-paru. Jadi bila seorang membakar kemudian menghisap rokok, maka ia akan sekaligus menghisap bahan-bahan kimia yang disebut di atas. Bila rokok dibakar, maka asap juga akan berterbangan di sekitar perokok. Asap yang berterbangan itu juga mengandung bahan yang berbahaya, dan bila asap itu diisap oleh orang yang ada disekitar perokok maka orang itu juga akan menghisap bahan kimia yang berbahaya ke dalam dirinya, walaupun ia sendiri tidak merokok. Asap rokok yang diisap perokok disebut dengan asap utama (mainstream smoke) dan asap yang keluar dari ujung rokok yang terbakar yang diisap oleh orang sekitar perokok disebit asap sampingan (Sidestream smoke). Bahan-bahan kimia itulah yang kemudian menimbulkan berbagai penyakit. Setiap golongan penyakit berhubungan dengan bahan tersebut. Kanker paru misalnya, dihubungkan dengan kadar tar dalam rokok, penyakit jantung dihubungkan dengan gas karbon monoksida, nikotin, dan lain-lain. Makin tinggi kadar bahan berbahaya dalam satu batang rokok, maka semakin besar kemungkinan seseorang menjadi sakit kalau menghisap rokok. Karena itulah di banyak Negara dibuat aturan agar pengusaha mencantumkan kadar tar, nikotin, dan bahan berbahaya lainnya pada setiap bungkus rokok yang dijual dipasaran. Yang juga jadi masalah bagi kita adalah kenyataan bahwa rokok Indonesia mempunyai kadar tar dan nikotin lebih tinggi daripada rokok-rokok produksi luar negri. Karena itu perlu dilakukan upaya terus-menerus untuk menghasilkan rokok kadar tar dan nikotin lebih rendah di Indonesia.

39

Setelah menghisap rokok bertahun-tahun, perokok mungkin menderita sakit. Makin lama ia punya kebiasaan merokok maka makin besar kemungkinan mendapat penyakit. Tentu saja ada pengaruh buruk yang segera timul dari asap rokok, misalnya keluhan perih di mata bila kita berada di ruangan tertentu yang penuh asap rokok. Penderita asma juga seringkali mengeluh sesak napas dan batuk-batuk bila di sebelahnya ada orang yang menghembus juga akibat paparan asap rokok dalam waktu lama. Ada juga penelitian yang menunjukan bahwa asap rokok merupakan faktor resiko penting untuk timbul kasus baru asma. Para perokok juga ternyata dapat lebih tersensitisasi terhadap allergen-alergen di tempat kerja yang khusus. Kebiasaan merokok juga dihubungkan dengan peningkatan kadar suatu bahan yang disebut immunoglobulin E yang spesifik. Kadar antibody terhadap bahan ini ternyata bahkan dapat sampai empat sampai lima kali lebih tinggi pada perokok bila dibandingkan dengan bukan perokok. Penelitian lain (melaporkan pula peningkatan hitung jenis set basofil dan eosinofil pada perokok. Jumlah sel Goblet yang ada di saluran napas juga terpengaruh akibat asap rokok dan mengakibatkan terkumpulnya lender di saluran napas. Ada juga penelitian yang mengemukakan bahwa ³epithelial serous cells´ di saluran napas dapat berubah menjadi sel goblet akibat paparan asap rokok dan polutan lainnya (Aditama,1997) (dikutip dari Muhammad, 2009).

4. Hubungan Merokok dan Tuberkulosis Paru Kebiasan merokok akan merusak mekanisme pertahanan paru yang disebut muccociliary clearance. Bulu-bulu getar dan bahan lain di paru tidak

40

mudah membuang infeksi yang sudah masuk karena bulu getar dan alat lain di paru rusak akibat asap rokok. Selain itu, asap rokok meningkatkan tahanan jalan napas (airway resistence) dan menyebabkan mudah bocornya pembuluh darah di paru-paru, juga akan merusak makrofag yang merupakan sel yang dapat memfagosit bakteri pathogen. Kebiasaan merokok di Indonesia dan di berbagai Negara berkembang lainnya cukup luas dan ada kecenderungan bertambah dari waktu ke waktu, sementara di negara maju kebiasaan merokok ini justru mulai ditinggalkan oleh masyaraka luas yang telah sadar akan bahaya rokok pada kesehatan (Aditama, 1997). Asap rokok juga diketahui dapat menurunkan respons terhadap antigen sehingga kalau ada benda asing masuk ke paru tidak lekas dikenali dan dilawan. Secara biokimia asap rokok juga meningkatkan sistense elastase dan menurunkan produksi antiprotase sehingga merugikan tubuh kita. Pemeriksaan gas

chromatography dan mikroskop electron lebih menjelaskan hal ini dengan menunjukan adanya berbagai kerusakan tubuh di tingkat biomokuler akibat rokok (Aditama, 2009) (dikutip dari Muhammad, 2009). Di India TB adalah salah satu penyebab utama kematian para perokok. Sekitar 20% kematian akibat tuberculosis di India berhubungan dengan kebiasaan merokok mereka. Merokok diperkirakan mampu membunuh hampir satu juta warganya di usia produktif pada tahun 2010. Penelitian ini juga menunjukan, kebiasaan tersebut menjadi penyebab utama kematian pada penderita TBC, penyakit saluran pernapasan, dan jantung. Menurut penelitian tersebut juga

41

mengungkapkan tuberculosis dan merokok merupakan dua masalah kesehatan yang signifikan, terutama di Negara berkembang (Boon, 2007). Secara umum, perokok ternyata lebih sering mendapat TB dan kebiasaan merokok memegang peran penting sebagai faktor penyebab kematian TB. Kebiasaan merokok membuat seseorang jadi lebih mudah terinfeksi tuberculosis, dan angka kematian akibat TB akan lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Di Indonesia, sejauh ini memang belum ada penelitian resmi yang mengungkapkan hubungan antara merokok dan TB paru (Aditama, 2009). Namun menurut penelitian Slamet Priyadi pada tahun 2001, tentang Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Kabupaten Banjarnegara menunjukan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kejadian TB paru dan tidak ada hubungan yang bermakna antara jumlah rokok yang dihisap, lamanya merokok serta jenis rokok yang dihisap dengan kejadian TB paru.

42

Kerangka Teori

Transmisi Faktor Rumah 1. Ventilasi 2. Palvon 3. Dinding 4. Lantai 5. Pencahayaan 6. Kelembaban Resiko menjadi TB bila dengan HIV 1. 5-10 % setiap tahun 2. >30% lifetime

1. Diagnosis tepat dan cepat 2. Pengobatan tepat dan lengkap 3. Kondisi kesehatan mendukung

HIV (+)

SEMBUH

TERPAJAN

INFEKSI

TB 10%

MATI

Konsentrasi kuman lama kontak

Malturasi (Gizi Buruk)

1. Keterlambatan diagnose dan pengobatan 2. Tatalaksana tak memadai 3. Kondisi Kesehatan

Depkes RI:2008)

43

Kerangka Konsep

Kelembaban TB Paru Kebiasaan Merokk

Devinisi operasional 1. Kelembaban kamar tidur a. Variable b. Definisi operasional : independent :persentase jumlah kandungan air dalam udara. c. Alat ukur d. Cara ukur e. Hasil ukur : hygrometer : pengamatan dengan alat ukur : 1. Memenuhi syarat, jika nilai kelembaban lebih dari sama dengan 60% dan pada suhu 22 oC -30 oC 2.Tidak memenuhi syarat, jika

kelembaban kurang dari 60% dan pada suhu 22oC-30oC. f. Skala ukur : ordinal

2. Kebiasaan Merokok a. Variable b. Definisi operasional : Independent : Kebiasaan menghisap rokok di dalam rumah responden

44

c. Alat ukur d. Cara ukur e. Hasil ukur

: quisioner : wawancara :1. Tidak merokok 2. merokok

f. Skala ukur

: ordinal

3. Kejadian TB paru a. Variable b. Definisi operasional : dependent :penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium tuberculosis yang telah ditetapkan oleh tenaga medis. c. Alat ukur d. Cara ukur e. Hasil ukur : quisioner : wawancara : 1. menderita penyakit TB Paru 2. tidak menderita penyakit Tb Paru f. Sakal ukur : ordinal

45

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai analitik. Survai analitik merupakan survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi (Soekidjo Notoatmojo, 2006). Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian case control yaitu survei analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan menggunkan pendekatan retrospective (Soekijo Notoatmojo, 2006), atau dengan membandingkan antara sekelompok orang yang menderita penyakit (kasus) dengan sekelompok lainnya yang tidak menderita penyakit (kontrol), kemudian dicari faktor penyebab timbulnya penyakit tersebut. Dalam penelitian ini kelompok kasus yakni responden yang menderita penyakit TB paru yang telah ditetapkan oleh tenaga medis di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo kecamatan metro timur. Sedangkan kelompok kontrol yakni tetangga penderita yang tidak menderita TB paru dan memiliki

karakteristik sepadan dengan kelompok kasus. Sedangkan faktor resiko yang akan dicari yakni tentang kelembapan rumah dan kebiasaan merokok responden. Adapun skema dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

46

Populasi
+

FR
+

Kasus

Kontrol FR
-

Gambar 1. Desain penelitian kasus kontrol

Keterangan: FR + _ : Faktor resiko ;Kelembaban rumah memenuhi syarat dan tidak merokok :Kelembaban rumah tidak memenuhi syarat dan merokok

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo yakni Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur dan dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2010.

47

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Arikunto (2006 )mengemukakan populasi adalah keseluruhan dari objek yang diteliti. Dimana yang menjadi populasi kasus penelitian ini ialah penderita TB paru yang berada di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo kecamatan metro timur pada tahun 2010 sebanyak 34 penderita. Sedangkan populasi control adalah tetangga penderita yang tidak menderita TB paru dan memiliki karakteristik sepadan dengan populasi kasus.

2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Sampel kasus diambil dari populasi kasus sebanyak 34 penderita TB paru sehingga seluruh populasi kasus dijadikan sebagai sampel kasus. Sedangkan sampel control diambil dari populasi control yakni tetangga penderita TB paru yang tidak menderita TB paru dan mempunyai karakteristik sepadan dengan populasi kasus dengan menggunkan perbandingan 1:1.

D. Pengumpulan data a. Data primer Data primer diperoleh dengan cara wawancara dan obsevasi/pengamatan lansung kepada responden yakni meliputi kebiasaan merokok dan kelembapan rumah responden. Sedangkan alat yang digunakan dalam wawancara ialah quisiner dan alat yang digunakan untuk mengukur kelembaban berupa hygrometer.

48

b. Data sekunder Data sekunder diperoleh dari data Puskesmas Iring Mulyo kecamatan Metro Timur tahun 2010 dan data Dinas Kesehatan kota Metro tahun 2010.

E. Pengolahan dan analisis data 1. Pengolahan data a) Editing Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau kuisioner apakah jawaban yang ada di kuesioner telah lengkap, jelas, relavan, dan konsisten b) Koding Merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. c) Proccessing Pemrosesan data dilakukan dengan cra mengentri data dari kuisioner ke paket progam computer. d) Cleaning Merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat mengentri ke computer.

49

2. Analisa data a) Analisa univariat digunakan untuk menjelaskan hubungan masing-masing variable yang diteliti dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dan proporsi b) Analisa bivariat digunakan untuk menjelaskan hubungan kelembapan rumah dan kebiasaan merokok dengan kejadiaan TB paru dengan menggunkan progam SPSS. Uji statistic yang digunakan yaitu Chi-Square (X2), dengan rumus sebagai berikut:

df = (k-1)(b-1) Keterangan: O E : nilai observasi, frekuensi yang diperoleh dari hasil pengamatan :nilai eksperimen, frekuensi yang diharapkan dalam sampel sebagai pencerminan dan frekuensi yang diharapkan dari populasi. df k b :degree of freedom (derajat kebebasan) :jumlah kolom : jumlah baris

F. Variable penelitian

Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2006:118).

50

Variable penelitian dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yakni sebagai berikut: 1. Variable independent yaitu kondisi rumah yang meliputi kelembaban rumah dan kebiasaan merokok 2. Variable dependent yaitu kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo tahun 2010

G. Hipotesis

Hipotesis ialah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul. Hipotesis dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yakni sebagai berikut: 1. Ada hubungan antara kelembaban rumah dengan kejadian Tb paru di wilayah kerja puskesmas iring mulyo 2. Ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian Tb paru di wilayah kerja puskesmas iring Mulyo.

51

DAFTAR PUSTAKA

Mahdiana,Ratna.2010.Mengenal, Mencegah, dan Mengobati Penularan Penyakit dari Infeksi.Yogyakarta:Citra Pustaka

Dep. Kes RI.1997.Pedoman Penyakit Tuberkulosis dan Penanggulangannya . Jakarta Dr.Laban,Yoannes.2008.Penyakit TBC dan Cara Pencegahannya. Yogyakarta:Kanisius

Sekretariat Negara.2009.Undang-Undang RI No. 36 tentang kesehatan. http://zulfadlianisyam.blogspot.com/2007/12/artikel-rokok-dan-tuberkulosis.html http://www.ppti.info/index.php/component/content/article/46-arsip-ppti/144rokokdantbc arif mttaqin.asuhan keperawan dengan gangguan system pernapasan.

jakarta:salemba medika

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer: Get 4 months of Scribd and The New York Times for just $1.87 per week!

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times