rista

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara. Pembangunan yang dilaksanakan harus dapat menjamin bahwa manfaatnya dapat diterima oleh semua pihak, berdampak adil bagi perempuan dan laki-laki (responsif gender). Di dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada pasal 2 dan 3 dinyatakan bahwa pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berasaskan

perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, perlindungan,penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama.

Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang

diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan.

Kesehatan ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu.Apabila ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia (Admin, 2007). Sebagai tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu maka salah satu indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstertri dan ginekologi di suatu wilayah adalah dengan melihat Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di wilayah tersebut. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia berdasarkan perhitungan oleh BPS diperoleh AKI tahun 2007 sebesar 248/100.000 Kelahiran Hidup.Sedangkan untuk Angka Kematian Bayi (AKB) tahun 2007 sebesar 26,9/ 1.000 Kelahiran Hidup.
GARUT - Dalam setahun, setidaknya 236 bayi di Kabupaten Garut meninggal pada saat persalinan. "Rata-rata terjadi di daerah terpencil dan jauh dari pelayanan kesehatan, karena hanya dibantu dukun beranak saat persalinan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Hendy Budiman kemarin. Menurut Hendy, tingginya angka kematian ibu dan bayi di daerahnya lantaran masih tingginya kepercayaan masyarakat terhadap jasa dukun beranak. Padahal pihaknya telah menempatkan bidan di setiap desa dengan jumlah 512 orang. Karena itu kami akan membuat atu ran daerah soal persalinan yang melibatkan dukun beranak," ujarnya.

Tingginya angka kematian ibu tersebut dapat terjadi pada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Penyebab tingginya kematian ibu disebabkan oleh komplikasi obstetrik yaitu perdarahan berkisar 40%-60% dari total angka kematian ibu, pre eklampsia atau eklampsia (20%-30%) dan infeksi jalan lahir (20%-30%). Komplikasi obstetrik ini tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya dan mungkin saja terjadi pada ibu hamil yang telah diidentifikasi normal (Depkes RI, 2005).

Kehamilan sebenarnya merupakan proses fisiologis, tetapi kehamilan perlu dipantau secara berkala untuk memelihara kesehatan ibu dan janin. Untuk itulah perlu dilakukan pemeriksaan kehamilan berkala (asuhan antenatal). Pada pemeriksaan kehamilan selain dipantau keadaan ibu dan janin juga dapat direncanakan persalinan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, meningkatkan produktivitas kerja, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat sehingga angka kematian dapat dihindari (Depkes RI,2005). Pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal 4 (empat) kali selama kehamilan, apabila seorang ibu hamil tidak secara rutin memeriksakan kehamilan kemungkinan dapat menjadi risiko baik terhadap ibu maupun bayi yang dikandungnya, karena ibu hamil yang pada mulanya normal dapat menjadi berisiko tinggi untuk terjadinya komplikasi kehamilan, hal ini dapat menyebabkan kematian baik kepada ibu maupun janin. Mengingat tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yang terjadi di saat sekitar persalinan dan penyebab kematian ibu adalah komplikasi obstetri yang sering tidak dapat diperkirakan sebelumnya, maka kebijakan Departemen kesehatan untuk mempercepat penurunan AKI adalah mengupayakan agar setiap persalinan di tolong atau minimal didampingi oleh bidan dan pelayanan obstetri sedekat mungkin kepada semua ibu hamil (Wiknjosastro, 2007). Menurut Saifuddin (2008), salah satu penyebab kematian ibu terjadi pada masa nifas. Hal ini disebabkan karena terjadinya sepsis puerperalis, perdarahan postpartum dan infeksi nifas. Masa nifas merupakan asa setelah plasenta lahir dan berakhirr ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Pentingnya asuhan masa nifas harus diperhatikan yaitu 4 kali kunjungan yang dilakukan pada masa nifas untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah/mendeteksi dan menangani masalah yang terjadi.

Sebagai tenaga pelaksana, bidan berwenang dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi. Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan dan melakukan tindakan atau merujuk ke tempat pelayanan kesehatan lebih tinggi. Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah pada hari ke tiga, minggu ke-2 dan minggu ke- 6 setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalu penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini komplikasi, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas (DepKes RI, 2003). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan k ebidanan komprehensif pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut Tahun 2011. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Melaksanakan asuhan kebidanan pada masa kehamilan, persalinan dan nifas padaNy. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Melaksanakan asuhan kehamilan pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut melalui pendekatan manajemen kebidanan dan di dokumentasikan dalam catatan SOAP. b. Melaksanakan asuhan persalinan pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut melalui pendekatan manajemen kebidanan dan di dokumentasikan dalam catatan SOAP.

c. Melaksanakan asuhan nifas pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut melalui pendekatan manajemen kebidanan dan didokumentasikan dalam catatan SOAP. d. Melaksanakan asuhan pada bayi baru lahir Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 di Cicadas Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut melalui pendekatan manajemen kebidanan dan di dokumentasikan dalam catatan SOAP. 1.3 Manfaat 1.3.1 Manfaat Teoritis Hasil pengkajian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu kebidanan. 1.3.2 Manfaat Praktis a. Ibu Klien Hasil laporan ini dapat menjadi bahan motivasi bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya secara mandiri sebagai upaya preventik serta dapat melakukan persalinan di tenaga kesehatan sehingga komplikasi dapat diatasi. b. Institusi Pelayanan Hasil pengkajian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi bidan praktik swasta dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya asuhan kebidanan. c. Institusi Pendidikan Menjadi bahan masukan untuk menambah pengetahuan dan informasi serta sebagai bahan yang dapat dijadikan parameter keberhasilan menciptakan sumber daya manusia. d. Penulis Untuk menambah kemampuan, wawasan, pengetahuan dan informasi dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada masa kehamilan, persalinan dan nifas. 1.4 Lokasi dan Waktu

Pengkajian laporan kasus ini dilaksanakan di Cikelet tahun 2011 dan kegiatan home visit dilakukan di kediaman Ny. N di Kp. Cicadas RT 02 RW 09 Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut.

BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Kehamilan 2.1.1 Konsep Dasar Teori 2.1.1.1 Pengertian Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir. Kehamilan diagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan ke empat sampai 6 bulan , triwulan ke tiga dari bulan ke tujuh sampai 9 bulan. (Saifuddin, 2007:89). Kehamilan adalah masa dimana seorang wanita membawa embrio atau fetus di dalam tubuhnya. Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran ( 38 minggu dari pembuahan). Jadi dapat diambil kesimpulam bahwa masa kehamilan merupakan masa dimana seorang wanita membawa embrio atau fetus didalam tubuhnya di mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu: a) triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan b) triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan c) triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang - kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sulit diketahui sebelumnya bahwa kehamilan akan terjadi masalah. System penilaian resiko tidak dapat memprediksi apakah ibu hamil akan bermasalah selama

kehamilannya. Oleh karena itu asuhan antenatal merupakan cara penting untuk memonitor dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. (Saifuddin, 2006: 89). 2.1.1.2 Pemeriksan Ibu Hamil / ANC ANC adalah pemeriksaan/ pengawasan kehamilan untuk mengoptimalisasi kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan memberikan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar. Tujuan pemeriksaan kehamilan : 1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental serta sosial ibu. 3) Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan, komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan, pembedahan. 4) Mempersiapkan kehamilan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5) Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif. 6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal.

Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal :

1) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14minggu). 2) Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 ± 28).

3) Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28-36 dan sesudah minggu ke 36).

Pemeriksaan

pertama

dilakukan

segera

setelah

diketahui

terlambat

haid

Kunjungan ANC yang ideal adalah : 1) Setiap bulan sampai umur kehamilan 28 minggu. 2) Setiap 2 minggu sampai umur kehamilan 32 minggu. 3) Setiap 1 minggu sejak umur hamil 32 minggu sampai terjadi persalinan Pelayanan/ asuhan standar minimal termasuk 7 T : 1) Timbang berat badan 2) Ukur tekanan darah 3) Ukur tinggi fundus uteri 4)Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) lengkap. a) Pengertian Imunisasi Tetanus Toksoid adalah proses untuk membangun kekebalan sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).Vaksin Tetanus yaitu toksin kuman tetanus yang telah dilemahkan dan kemudian dimurnikan (Setiawan, 2006). b) Manfaat imunisasi TT pada ibu hamil 1) Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000). Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerangsistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001). 2) Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000)

c) Jumlah dan dosis pemberian imunisasi TT untuk ibu hamil Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (BKKBN, 2005; Saifuddin dkk, 2001), dengan dosis 0,5 cc di injeksikan intramuskuler/subkutan dalam (Depkes RI, 2000). d) Umur kehamilan mendapat imunisasi TT Imunisasi TT sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap (BKKBN, 2005). TT1 dapat diberikan sejak diketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000)

e) Jarak pemberian imunisasi TT1 dan TT2

Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu (Saifuddin dkk, 2001; Depkes RI, 2000).

Antigen TT 1 TT 2 TT 3 TT 4 TT5

Interval Pada Kunjungan ANC Pertama 4 minggu setelah TT 1 6 bulan setelah TT 2 1 tahun setelah TT 3 1 tahun setelah TT 3

Lama Perlindungan 3 tahun* 5 tahun 10 tahun 30 tahun / seumur hidup

% Perlindungan 80 95 99 99

Keterangan : * artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut melahirkan, maka bayi yang dilahirkan akan terlindungi dari TN (tetanus neoantorum).

f) Efek samping imunisasi TT

Biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen yang sangat aman dan juga aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin dkk, 2001). Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, ini akan sembuh sendiri dan tidak perlukan tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000) 5) Pemberian tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan 6) Tengok /periksa ibu hamil dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki 7) Tanya (Temu wicara) dalam rangka persiapan rujukan

2.1.3 Tanda-Tanda Gejala Hamil a. Amenoria (terlambat datang bulan). b. Mual (nausea) dan muntah (emesis) c. Ngidam. d. Sinkope atau pingsan. e. Payudara Tegang. f. Sering miksi. g. Konstipasi atau Obstipasi. h. Pigmentasi Kulit. i. Epulis. j. Varises atau penampakan pembuluh darah vena.

2.1.4 Tanda tidak pasti hamil Tanda tidak pasti kehamilan dapat ditentukan dengan jalan ; 1. Rahim membesar, pada hasil pemeriksaan dalam dijumpai : tanda hegar, Tanda chadwiks, Tanda Piscaseck, Kontraksi Brakston Hicks, Teraba Ballotement. 2. Pemeriksaan tes Biologis kehamilan positif. 2.1.5 Tanda pasti hamil Tanda pasti kehamilan dapat ditentukan dengan cara: Gerakan janin dalam rahim dan denyut jantung janin. 2.1.6 Asuhan Antenatal Asuhan antenatal (Antenatal Care) adalah asuhan selama kehamilan sebelum bayi lahir yang lebih ditekankan padakesehatan ibu. (Manuaba, 2007: 187). 2.1.7 Tujuan Asuhan Antenatal Tujuan utama asuhan antenatal adalah untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi ± komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan. (DepKes, 2003). Sedangkan tujuan khusus dari asuhan antenatal secara terperinci dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu dan bayi. 3. Mangenali secara dini adanya ketitaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.

4. mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI Eksklusif. 6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam memerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Saifuddin, 2006: 90). 2.1.8Kebijakan Program Asuhan Antenatal Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan : 1. Satu kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu). 2. Satu kali pada trimester kedua (antara minggu 14 ± 28). 3. Dua kali pada trimester ketiga (antara minggu 28 ± 36 dan sesudah minggu ke 36). Asuhan standar minimal termasuk ³7T´ : 1. Timbang berat badan. 2. Ukur Tekanan darah. 3. Ukur Tinggi fundus uteri 4. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid lengkap. 5. Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan. 6. Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS). 7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan. (Saifuddin, 2006: 90). 2.1.8Kebijakan Tekhnis Asuhan Antenatal Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilan. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut : 1. Mengupayakan kehamilan yang sehat.

2. Melakukan deteksi dini untuk melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila diperlukan. 3. Persiapan persalinan yang bersih dan aman. 4. Perencanaan dan antisipatif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi. (Saifuddin, 2006: 90). 2.1.9 Komponen ± komponen Asuhan Antenatal 1. Anamnesis Anamnesis pada asuhan antenatal bertujuan untuk mengetahui keadaan kesehatan dan keluhan yang dirasakan ibu. Kunjungan pertama merupakan kesempatan untuk membuat ibu merasa nyaman berbicara tentang dirinya. Bila ia merasa malu dalam membicarakan tentang dirinya maka akan sulit di peroleh informasi yang dibutuhkan sehubungan dengan kehamilannya. Rasa nyaman pada ibu dapat ditumbuhkan bila : 1. Pemeriksaan di tempat tertutup bersifat pribadi dan kerahasian terjaga. 2. Apa yang dikatakannya diperhatikan dengan baik. 3. Pertanyaan di jawab dengan baik. 4. ibu di perlakukan dengan penuh rasa hormat. Komponen penting dalam riwayat pada kunjungan antenatal pertama : 1. Biodata a. Menyambut ibu dan seorang yang menemani ibu. b.Memperkenalkan diri pada ibu. c. Menanyakan nama ibu dan usia ibu. 2. Riwayat Kehamilan Sekarang a. HPHT dan apakah normal dan dapat menentukan TP (Taksiran Persalinan). b. Gerakan janin (kapan mulai dirasakan dan apakah ada perubahan yang terjadi). c. Tanda ± tanda bahaya atau penyulit, antara lain :

a) Perdarahan. b) Nyeri kepala yang hebat atau berulang. c) Gangguan penglihatan d) Bengkak pada tangan dan wajah. e) Nyeri hebat pada ulu hati. f) Janin tidak bergerak seperti biasanya. g) Bila ada salah satu tanda bahaya tersebut,Ibu hamil harus segera di rujuk. h) Keluhan ± keluhan lazim yang terjadi pada kehamilan. i) Penggunaan obat ± obatan (termasuk jamu). j) Khawatiran ± khawatiran lain yang dirasakan. Riwayat kehamilan yang sekarang membantu bidan untuk dapat menentukan umur kehamilan yang tepat. Setelah bidan mengetahui umur kehamilan ibu, bidan memberikan konseling tentang keluhan kehamilan yang bisa terjadi dan dapat mendeteksi adanya komplikasi dengan baik. 3. Riwayat Kehamilan yang lalu a) Jumlah kehamilan, jumlah anak lahir yang hidup, jumlah kelahiran premature, jumlah keguguran dan persalinan dengan tindakan (operasi, Caesar, forsep, vakum). b) Riwayat perdarahan pada persalinan atau pasca persalinan. c) Kehamilan dengan tekanan darah tinggi. d) Berat bayi kurang dari 2500 gram atau lebih dari 4000 gram. e) Masalah- masalah lain. Riwayat kehamilan yang lalu membantu bidan mengelola asuhan antenatal (konseling khusus, test, tindak lanjut dan rencana persalinan). 4. Riwayat kesehatan / penyakit yang diderita sekarang dan lalu seperti :

Masalah kardiovaskuler, hypertensi, diabetes, malaria, penyakit kelamin / HIV / AIDS, penyakit ginjal,penyakit asma, imunisasi TT. Riwayat kesehatan yang sekarang dan lalu membantu bidan mengidentifikasi kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi kehamilan atau bayi baru lahir. 5. Riwayat Sosial Ekonomi meliputi : a) Status perkawinan. b) Respon ibu dan keluarga. c) Dukungan keluarga. d) Pengambilan keputusan dalam keluarga. e) Gizi yang di konsumsi dan kebiasaan makan, vitamin A. f) Kebiasaan hidup sehat meliputi: kebiasaan meroko, minum-minuman keras mengkonsumsi obat terlarang. g) Beban kerja dan kegiatan sehari ± hari. h) Tempat dan petugas kesehatan yang diinginkan untuk membantu persalinan. Riwayat sosial ekonomi ibu dapat membantu beban mengetahui system dukungan terhadap ibu dan pengambilan keputusan dalam keluarga sehingga bidan dapat membantu ibu merencanakan persalinannya dengan baik. 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui keadaan kesehatan ibu dan janin, serta perubahan yang terjadi pada suatu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya. Pada pemeriksaan pertama perlu ditentukan berapa umur kehamilannya. Pada setiap pemeriksaan kehamilan dengan melihat dan meraba ditentukan apakah ibu sehat, janin hidup dengan baik, tinggi fundus sesuai dengan umur kehamilan dan letak janin. Pemeriksaan fisik meliputi : 1. Tanda ± tanda Vital

a. Mengukur tinggi dan berat badan. b. Mengukur tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu. 2. Kepala dan Leher a. Memeriksa apakah terjadi oedema pada wajah. b. Memeriksa apakah mata : pucat pada kelopak bagian bawah dan warna kuning pada skera. c. Memeriksa apakah rahang pucat dan memeriksa gigi. d. Memeriksa dan meraba leher untuk mengetahui : pembesaran kelenjar tyroid dan pembulih limfe. 3. Payudara a. Bentuk, ukuran dan simetris atau tidak. b. Putting payudara menonjol atau masuk kedalam. c. Adanya kolostrum atau cairan lain. d. Adanya benjolan abnormal atau tidak. e. Adanya nyeri tekan. f. Adanya retraksi. g. Adanya massa dan pembuluh limfe yang membesar. 4. Abdomen a. Memeriksa apakah ada bekas operasi. b. Mengukur tinggi fundus uteri menggunakan jari tangan (kalau < 20 minggu) atau pita ukur (kalau > 22 minggu). c. Melakukan palpasi pada abdomen untuk mengetahui letak, persentase posisi dan penurunan kepala. d. Mengukur denyut jantung janin (dangan fotoskop bila > 18 minggu). e. Adakah kontraksi.

f. Ring Bandle. g. Taksiran Berat Fetus (TBF). 5. Tangan dan Kaki a. Memeriksa apakah tangan dan kaki oedema dan pucat pada kuku kaki. b. Memeriksa dan meraba kaki untuk mengetahui adanya varices. c. Memeriksa refleks patella untuk melihat apakah terjadi gerakan hypo atau hyper. 6. Panggul a. Genitalia Luar a)Memeriksa labia mayora dan memeriksa labia minora, kemudian klitoris, lubang uretra dan vagina introitus untukn melihat adanya : tukak atau luka, varises, cairan (warna, konsistensi, jumlah, bau). b) Mengurut uretra dan pembuluh skene untuk mengeluarkan cairan nanah dan darah. c)Melakukan palpasi pada kelenjar Bartholin untuk mengetahui adanya : pembengkakan, massa atau kista dan cairan. b. Pemeriksaan Bimanual a)Mencari letak servik dan merasakan untuk mengetahui : ukuran bentuk dan posisi, mobilisasi, kelunakan, dan massa. b) Menggunakan kedua tangan (satu tangan diatas abdomen, dua jari didalam vagina). 7. Tes Laboratorium a. Urine : Protein, glukosa b. Darah : Hemoglobin, golongan darah. 2.1.1.3 Pemberian Pelayanan sesuai dengan Kebutuhan

Setelah ibu selesai di periksa, tanyakan apakah ia ingin menanyakan sesuatu, bila tidak ada yang ditanyakan tentukan masalah dan kebutuhan ibu akan pelayanan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dengan penilaian tersebut dapat disusun rencana bersama antara bidan dan ibu hamil tentang perawatan kehamilan dan rencana persalinannya. Pelayanan yang dapat diberikan bidan selama asuhan antenatal antara lain: 1. Pendidikan Kesehatan a. Memberitahu kepada ibu hasil temuan pada pemeriksaan. b. Menghitung usia kehamilan. c. Mengajari ibu mengenai ketidaknyamanan yang mungkin akan dialami ibu. d. Sesuai dengan usia kehamilan, mengajari ibu mengenai a) Nutrisi. b) Kalori yang dibutuhkan selama kehamilan adalah 300 kalori. c) Kenaikan BB (a) Berdasarkan BMI (Body Mask Indeks) Underweight < 19,8 kg/m2 Normoweight 19,8 kg/m2 Overweight > 26 kg/m2 (b) Kenaikan BB yang dibutuhkan selama kehamilan : Underweight : 12,54 ± 18 kg Normoweight : 11,5 ± 16 kg Overweight d) Olahraga ringan : 7-11,5 kg

Kegiatan olah raga pada ibu hamil tidak perlu di batasi, tetapi tidak terlalu barat dan beresiko untuk ibu dan janin, latihan olah raga ringan dapat meningkatkan O , heart 2 rate, stroke volume dan cardiac output. e) Istirahat Ibu hamil perlu istirahat paling sedikit satu jam pada siang hari dengan kaki lebih tinggi dari tubunya. Tidur, istirahat dan santai sangat bermanfaat bagi ibu hamil agar tetap kuat dan tidak mudah terkena penyakit. f) Kebersihan g) Pemberian ASI h) KB pasca salin i) Tanda ± tanda bahaya j) Aktifitas seksual k) Aktifitas seksual selama kehamilan tidak batasi selama tidak ada resiko abortus atau persalinan prematur l) Kegiatan sehari ± hari dan pekerjaan m) Obat ± obatan dan merokok n) Body mekanik o) Pakaian dan sepatu 2. Promosi kesehatan a. Memberikan imunisasi TT jika perlu b. Memberikan suplemen zat besi dan menjelaskan bagaimana cara menkonsumsinya dan kemungkinan efek sampingnya. c. Memberikan tambahan vitamin A jika perlu 3. Persiapan persalinan dan kesiagaan konflikasi a. Memulai membicarakan mengenai persiapan persalinan

a)Siapa yang akan membantu ibu pad waktu kelahiran tempat perslinan c)Peralatan yang di butuhkan ibu dan bayi d) Persiapan keuangan b. Mengawali mebicarakan mengenai persiapan kelahiran dan konflikasi ke gawat daruratan: a)Sarana transportasi b) Persiapan biaya c)Membuat keputusan keluarga d) Donor darah Ibu yang mendapat asuhan anrtenatal yang baik dan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mempeoleh kehamilan dan persalinan anak dan sehat. Bidan dapat membantu ibu agar dapat mendapat kehamilan yang lebih sehat dengan memberikan nasehat, konseling, dan asuhan antenatal yang teratur. 4. Pencatatan hasil asuhan antenatal Hasil pemeriksaan kehamilan perlu di catat agar bidan dapat memantau setiap ibu hamil dengan baik. Dalam program KIA sekarang ini dapat di terapkan tuga jenis pencatatan yaitu: a. Register kohort ibu: di simpan oleh bidan untuk rergistrasi dan rekapitulasihasil pemeriksaan ibu hamil di seriap wailayah kerja. b. Kartu ibu : di simpan oleh bidan untuk pencatatan lengkap hasil asuhan antenata, pertolongan persalinan perlu di lampirakan dan pelayanan masa nifas c. KMS ibu hamil: di berikan kepada setiap ibu hamil yang telah di memperiksakan diri, KMS di isi oleh bidan dan untuk di bawa setiap kali kehamilan, berisi hasil asuhan antenata yang pernah di peroleh ibu.

2.1.1.4 Ketidaknyamanan dalam Masa Kehamilan Selama kunjungan antenatal ibu mungkin menemukan bahwa ia mengalami

ketidaknyamanan. Kebanyakan dari keluhan ini adalah ketidaknyamanan yang normal yang merupakan sebagaian dari perubahan yamh terjadi pada utubuh ibu selama masa kehamilan. Dari seorang bidan penting untuk membedakan antara ketidaknyamanan yang normal dengan tanda ± tanda bahaya. Walaupun ketidaknyamanan yang umum dalam kehamilan tidak mengancam keselamatan jiwa, tapi dapat menyulitka bagi ibu. Bidan harus mendengarkan ibu membicarakan tentang berbagai macam keluhannya dan membantu mencari cara untuk mengatasi sehingga ibu dapat menikmati kehamilanya. 1. Trimester 1 Ketidaknyamanan Cara meringankan Pengobatan atau pencegahan

1. Rasa mual dan muntah

1. Hindari bau atau faktor ± faktor penyebabnya 2. Makan sedikit ± sedikit tapi sering 3. Duduk tegak setiap kali selesai makan 4. Hindari makan yang berminyak dan berbumbu ± merangsang.

1. Gunakan obat ± obatan hanya bila tindakan secara berfarmakologis gagal dan juga untuk jangka pendek. 2. Jika berat, terapi

5. Minum ± minuman bekarbinat 6. Bangun dari tempat tidur secara perlahan dan hidari melakukan gerakan tiba ± tiba. 7. Hindari gosok gigi setelah makan 8. Istirahat sesuai kebutuhan

dengan vitamin B6. 3. Anti histamin: dimenhydrinate, doxileminesucina te 4. Metoclorplamide , hidlocoride 5. Thenothiyazines.

2. Sakit kepala

1.Tekhnik relaksasi 2. Masase leher dan otot bahu 3. Pengunaan kompres pada leher. 4. Istirahat. 5. Mandi air hangat

1. Penggunaan yang bijaksana yaitu parasetamol. 2. Hindari asfirin, ibuprofen, semua obat anti peradangan yang nonsteroidalkaloid jika migren. 3. Jangan gunakan

ergosdalkaloid

3. Ngidam makanan

1. Tidak seharusnya menimbulkan kehawatiran asal cukup gizi dan makanan yang di idamkan adalah makanan yang sehat 2. Menjelaskan bahaya memakan ± makanan yang sehat

1. Mendiskusikan rencana makanan yang dapat di terima yang meliputi makanan bergizi dan memuaskan ngidam.

4. Sering buang air kecil

1. Penjelasan penyebabnya 2. Kosongkan saat terasa dorongan untuk berkemih 3. Perbanyak minum di siang hari dan kurangi minum di malam hari untuk mengurangi nokturia. 4. Batasi minuman bahan diuretic : teh, cola, cafein. 5. Jelaskan tentang tanda ± tanda infeksi saluran kemih

1. Tidak memerlukan pengobatan farmakologis

5. Keputihan

1. Hiperplasia mukosa vagina 2. Peningkatan produksi lendir dan kelenjar endoservikal

1. Tingkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari

sebagai akibat peningkatan kadar estrogen

2. Memakai pakaian dalam yang terbuat dari katun lebih kuat daya serapnya. Handari bahan yang terbuat dari nilon 3. Hindari pencucian vagina 4. Gunakan bedak tabur untuk meringankan, tapi jangan terlalu banyak.

2. Trimester II Ketidaknyamanan Cara meringankan Pengobatan / Pencegahan 1. Gusi berdarah 1. Berkumur air hangat 2. Memeriksakan 2. Kloasma / 1. Hindari sinar matahari 1. Hindari

perubahan warna aerola

berlebihan selama kehamilan 2. Gunakan bahan pelindug non alergis

penggunaan hidrokinon

3. Striae gravidarum

1. Gunakan emulsion tropical 2. Gunakan pakaian yang menompang payudara dan abdomen

3. Trimester III Ketidakyamanan Cara meringankan Pengobatan / pencagahan 1. Kontipasi 1. Tingkatan intake cairan 2. Minum cairan dingin / panas terutama ketika perut kosong 3. Istirahat cukup 2. Hindari minyak 4. Senam mineral dan 5. Biasakan buang air secara teratur 6. Buang air besar segera setelah ada dorongan perangsang 1. Gunakan pembentuk bahan padat / emulsion

2. Kram pada kaki

1. Kurangi konsumsi susu 2. Berlatih dorso fleksi pada kaki untuk merenggangkan otot yang terkena 3. Gunakan penghangat untuk otot

1. Suplementasi dengan garam kalsium yang tidak mengandung fospor 2. Gunakan antacid untuk meningkatkan pembentukan fospor yang tidak melarut.

3. Nafas sesak

1. Jelas penyebab fisiologisnya 2. Berdiri secara periodic dan

merentangkan lengan di atas kepala serta menarik nafas panjang

5. Oedema di kaki

1. Hindari posisi terlentang dan berbaring 2. Hindari posisi berdiri untuk

waktu lama, istirahat dengan berbaring miring ke kiri dengan kaki tegak di tinggikan 3. Jangan kaki menggantung saat duduk, angkat kaki jika duduk 4. Hindari kaos kaki yang ketat

2.1.1.5 Perubahan pada ibu hamil dan adaptasi psikologis dalam kehamilan. 1) Vagina dan vulva Karena pengaruh estrogen terjadi perabahan pada vagina dan vulva akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah dan kebiruan yang disebut tanda Chadwick. 2) Servik Bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak (soft) disebut tanda Goodell. Karena bertambah pembuluh darah dan melebar, warna menjadi livid yang disebut tanda Chadwick. 3) Perubahan pada sistem organ dan sistem lainnya a) Sistem sirkulasi darah 1. Volume darah Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir trimester I. Volume darah akan bertambah kira-kira 25 persen dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung (cardiac output) yang meningkat sebanyak kira- kira 35 persen. Kenaikan plasma darah dapat mencapai 40 persen mendekati kehamil n a cukup bulan.

2. Nadi dan tekanan darah

Tekanan darah arteri cenderung menurun terutama pada trimester II dan akan naik lagi seperti pra hamil. Tekanan vena dalam batas-batas normal pada ekstrimitas atas dan bawah, cenderung naik setelah trimester I, nadi biasanya naik dengan rata-rata 84 per menit.

b) Sistem pernapasan

Kadang kadang mengeluh sesak dan pendek napas, disebabkan oleh usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim. Kapasitas vital paru meningkat sedikit yang lebih menonjol adalah pernapasan dada (thorakreathing).

c) Sistem urinarius

Karena pengaruh turunnya kepala bayi pada hamil tua terjadi gangguan miksi dalam bentuk sering kencing. Desakan tersebut menyebabkan kandung kemih cepat terasa penuh. Terjadinya hemodilusi menyebabkan metabolisme air makin lancar sehingga pembentukan air senipun akan bertambah. Filtrasi pada glomelurus bertambah sekitar 60% sampai 70% .

d) Tulang dan gigi

Persendian panggul terasa lebih longgar karena ligament-ligament melemah (softening) dan terjadi sedikit pelebaran pada ruang persendian. Bila pemberian makanan tidak dapat memenuhi kebutuhan kalsium janin, kalsium maternal pada tulang-tulang panjang akan berkurang untuk memenuhi kebutuhan ini.

e) Kulit

Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh melanophore stimulating, hormone lobus hipofisis anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini terjadi pada striae gravidarum livide atau alba, areola mamae, linea nigra, pipi yang disebut chloasma gravidarum.

f) Berat badan Penambahan BB dalam kehamilan kira-kira 10-12 Kg selama kehamilan. g) Payudara Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat kehamilan yaitu estrogen dan progesteron.

2.1.1.6 Tanda bahaya pada kehamilan Tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh ibu hamil menurut Sayidun (2005) adalah sebagai berikut : 1) Perdarahan vagina Perdarahan vagina dalam kehamilan adalah jarang yang normal. Pada masa awal kehamilan, ibu mungkin akan mengalami perdarahan yang sedikit atau spotting disekitar waktu pertama terlambat haid, karena terjadinya implantasi. Pada waktu lain dalam kehamilan, perdarahan ringan mungkin pertanda dari servik yang rapuh ( erosi ), mungkin normal atau disebabkan oleh infeksi. Perdarahan vagina yang terjadi pada wanita hamil dapat dibedakan menjadi 2 bagian : a) Pada awal kehamilan : abortus, mola hidatidosa dan kehamilan ektopik terganggu b) Pada akhir kehamilan : plasenta previa dan solutio placenta

2) Sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang

Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan yang biasa disebabkan oleh pengaruh hormone dan keletihan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit kepala hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat adalah salah gejala preeklampsi. Pre eklampsi biasanya juga disertai dengan penglihatan tiba-tiba hilang/kabur, bengkak/ oedema pada kaki dan muka serta nyeri pada epigastrium.

3) Nyeri abdomen yang hebat Nyeri abdomen yang dimaksud adalah yang tidak berhubungan dengan persalinan normal. Merupakan nyeri perut yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat bisa berarti appendicitis, abortus, penyakit radang panggul, persalinan preterm, gastritis dan infeksi kandung kemih dan lain-lain. Nyeri abdomen bagian bawah dapat bersifat :

a) Nyeri kuat, terus menerus dalam 3 bulan pertama. Mungkin bisa disebabkan oleh kehamilan diluar kandungan yaitu didalam tuba fallopi (saluran sel telur) yang dikenal dengan istilah kehamila ektopik terganggu. b) 2. Nyeri kuat yang berdenyut-denyut ( seperti kram ) pada 6 bulan pertama kehamilan bisa berarti abortus/ keguguran. c) Nyeri kuat, terus menerus diakhir kehamilan. Bisa berarti terjadi robekan plasenta dari diding rahim. Ini sangat berbahaya dan mengancam jiwa ibu d) Nyeri yang berdenyut ± denyut di sekitar bulan ke 7 atau 8 bisa berarti akan mengalami persalinan yang lebih cepat. 4) Bayi kurang bergerak seperti biasa Ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama bulan ke-5 atau ke-6, beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah.Bayi harus

bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Biasanya diukur dalam waktu selama 12 jam yaitu sebayak . 10 kali. 5) Keluar air ketuban sebelum waktunya ( ketuban pecah dini ) Dapat diidentifikasi dengan keluarnya cairan mendadak disertai bau yang khas. Adanya kemungkinan infeksi dalam rahim dan persalinan prematuritas yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi.Ketuban pecah dini yang disertai kelainan letak akan mempersulit persalinan yang ilakukan ditempat dengan fasilitas belum memadai. 6) Muntah terus ± menerus (hiperemisis gravidarum ) Terdapat muntah yang terus-menerus yang menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Gejala±gejala hiperemesis lainnya : nafsu makan menurun, berat badan menurun, nyeri daerah epigastrium, tekanan darah menurun dan nadi meningkat, lidah kering, mata nampak cekung. 7) Anemia Anemia dibagi menjadi : Anemia ringan yaitu jika kadar hemoglobin 9 ± 10 gr %, Anemia sedang 7 ± 8 gr %, dan anemia berat < 7 gr %. Pengaruh anemia pada kehamilan dapat terjadi abortus, partus prematurus, IUGR,infeksi, hiperemesis gravidarum dan lain lain.Anemia ditandai dengan : bagian dalam kelopak mata, lidah dan kuku pucat, lemah dan merasa lelah, kunang- kunang, nafas pendek-pendek, nadi meningkat, pingsan. 8) Demam Demam tinggi, terutama yang diikuti dengan tubuh menggigil, rasa sakit seluruh tubuh, sangat pusing biasanya disebabkan oleh malaria. Pengaruh malaria terhadap kehamilan : Memecahkan butir darah merah sehingga menimbulkan anemia., Infeksi plasenta dapat menghalangi pertukaran dan menyalurkan nutrisi ke janin, Panas badan tinggi merangsang terjadi kontraksi rahim, Akibat gangguan tersebut dapat terjadi keguguran, persalinan

prematuritas, dismaturitas, kematian neonatus tinggi, kala II memanjang dan retensio plasenta.

2.1.1.7 Nasihat-nasihat untuk Ibu Hamil yang dapat diberikan pada ibu hamil meliputi:

1) Makanan (Diet) Ibu Hamil

Wanita hamil dan menyusui harus betul-betul mendapat perhatian susunan dietnya, terutama mengenai jumlah kalori, protein yang berguna untuk pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia, abortus, partus prematurus, inertia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerperalis, dan lain-lain. Sedangkan makan berlebihan, karena dianggap untuk 2 orang ibu dan janin, dapat mengakibatkan komplikasi seperti gemuk, preeklampsi, janin besar atau bermacam- macam garam, terutama kalsium, fosfor, dan zat besi (Fe), vitamin, dan air.Semua zat tersebut di atas kita peroleh dari makanan yang

kita makan sehari-hari dan pengobatan tambahan yang diberikan bila ada kekurangannya. Yang penting diperhatikan sebenarnya yaitu : 1) Cara mengatur menu. 2) Cara pengolahan menu makanan.

Menu disusun menurut petunjuk baku ³4 sehat 5 sempurna´ dan dapat diketahui bahwa makanan yang mahal harganya belum tentu tinggi nilai gizinya, sebaliknya banyak bahan makanan yang murah harganya, namun mempunyai nilai gizi yang tinggi. Hendaknya selalu makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang berwarna, karena nilai gizinya tinggi untuk kesehatan.

Banyak wanita berpendapat bahwa selagi hamil makan dikurangi, karena mereka takut janin menjadi besar sehingga sulit melahirkan. Pendapat ini tidak mempunyai dasar, sebenarnya ibu hamil memerlukan tambahan beberapa zat-zat untuk pertumbuhan

janinnya agar sehat, dan ini hanya bisa diperoleh dari makanan.

Makanan diperlukan antara lain untuk pertumbuhan janin, plasenta, uterus, buah dada dan kenaikan metabolisme. Anak aterm memerlukan : 400 g protein, 220 g lemak, 80 g karbohidrat, dan 40 g mineral. Uterus dan plasenta membutuhkan masing-masing 500 g dan 40 g mineral. Uterus dan plasenta membutuhkan masing-masing 500 g dan 55 g protein. Kebutuhan total protein 950 g, kalsium 30 g, Fe 0,8 g dan asam folik 300 mg per hari.

Sebagai pengawasan, kecukupan gizi ibu hamil dan pertumbuhan kandungannya dapat diukur berdasarkan kenaikan berat badannya. Kenaikan berat badan rata-rata antara 6,5 sampai 16 kg (10-12 kg). Kenaikan berat badan yang berlebihan atau berat badan ibu turun setelah kehamilan triwulan kedua, haruslah menjadi perhatian.

2) Merokok Jelas bahwa bayi dan ibu-ibu perokok mempunyai berat badan lebih kecil. Karena itu wanita hamil dilarang merokok. 3) Obat-obatan Prinsip : Jika mungkin dihindari pemakaian obat-obatan selama kehamilan terutama dalam triwulan I. Perlu dipertanyakan mana yang lebih besar manfaatnya dibandingkan bahayanya terjadap janin oleh karena itu harus dipertimbangkan pemakaian obat-obatan tersebut. 4) Lingkungan Saat sekarang, bahaya polusi udara, air dan makanan terhadap ibu dan anak sudah mulai diselidiki seperti halnya merokok.

5) Gerak Badan Kegunaannya : Sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah, pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan yang melelahkan dilarang. Dianjurkan berjalan -jalan pada pagi hari dalam udara yang masih segar. Gerak badan di tempat : a) Berdiri-jongkok. b) Terlentang-kaki diangkat. c) Terlentang-perut diangkat. d) Melatih pernafasan.

6) Kerja a) Boleh bekerja seperti biasa. b) Cukup istirahat dan makan teratur. c) Pemeriksaan hamil yang teratur. 7) Bepergian a)Jangan terlalu lama dan melelahkan. b) Duduk lama statis vena (vena stagnasi) menyebabkan tromboflebitis dan kaki bengkak. c)Bepergian dengan pesawat udara boleh, tidak ada bahaya hipoksia dan tekanan oksigen yang cukup dalam pesawat udara. 8) Pakaian a) Pakaian harus longgar, bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut. b) Pakailah bra yang menyokong payudara. c) Memakai sepatu dengan tumit yang tidak terlalu tinggi. d) Pakaian dalam yang selalu bersih. 9) Istirahat dan Rekreasi

Wanita pekerja harus sering istirahat. Tidur siang menguntungkan dan baik untuk kesehatan. Tempat hiburan yang terlalu ramai, sesak dan panas lebih baik dihindari karena dapat menyebabkan jatuh pingsan. 10) Mandi Mandi diperlukan untuk kebersihan / higiene terutama perawatan kulit, karena fungsi ekskresi dan keringat bertambah. Dianjurkan menggunakan sabun lembut / ringan. Jangan tergelincir di perigi dan jagalah kebersihannya. Douche dan mandi berendam tidak dianjurkan. 11) Koitus Koitus tidak dihalangi kecuali bila ada sejarah : a) Sering abortus / prematur. b) Perdarahan pervaginam. c) Pada minggu terakhir kehamilan, koitus harus hati-hati. d) Bila ketuban sudah pecah, koitus dilarang. e) Dikatakan orgasme pada hamil tua dapat menyebabkan kontraksi uterus-partus prematurus. 12) Kesehatan Jiwa Ketenangan jiwa penting dalam menghadapi persalinan, karena itu dianjurkan bukan saja melakukan latihan-latihan fisik namun juga latihan kejiwaan untuk menghadapi persalinan. Walaupun peristiwa kehamilan dan persalinan adalah suatu hal yang fisiologis, namun banyak ibu-ibu yang tidak tenang, merasa khawatir akan hal ini. Untuk itu, dokter harus dapat menanamkan kepercayaan kepada ibu hamil dan menerangkan apa yang harus diketahuinya karena kebodohan, rasa takut dan sebagainya dapat menyebabkan rasa sakit pada waktu persalinan, ini akan mengganggu jalannya partus, ibu akan menjadi lelah dan kekuatan hilang.

Untuk menghilangkan cemas harus ditanamkan kerjasama pasien penolong (dokter, bidan) dan diberikan penerangan selagi hamil dengan tujuan : a) Menghilangkan ketidaktahuan. b) Latihan-latihan fisik dan kejiwaan. c) Mendidik cara-cara perawatan bayi. d)Berdiskusi tentang peristiwa persalinan fisiologik. 13) Perawatan Payudara Payudara merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya harus sudah dirawat. Kutang yang dipakai harus sesuai dengan pembesaran buah dada, yang sifatnya adalah menyokong buah dada dari bawah suspension, bukan menekan dari depan.

Dua bulan terakhir dilakukan massage, kolostrum dikeluarkan untuk mencegah penyumbatan. Untuk mencegah puting susu kering dan mudah pecah, maka putting susu dan areola payudara dirawat baik- baik dengan dibersihkan menggunakan air sabun dan biocream

atau alkohol. Bila putting susu masuk ke dalam, hal ini diperbaiki dengan jalan menarik-narik keluar.

2.1.2 Konsep Dasar Asuhan

a. Wewenang bidan dalam Asuhan Kehamilan Standar Kompetensi Bidan (ICM, 1999)
Kompetensi ke 3 Asuhan Konseling Selama Kehamilan: Bidan memberi asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi : deteksi dini, pengobatan atau rujukan dan komplikasi tertentu. 1. Pengetahuan dasar a. Anatomi dan fisiologi tubuh manusia. b. Siklus menstruasi dan proses konsepsi

c. Tumbuh kembang janin dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. d. Tanda dan gejala kehamilan. e. Mendiagnosa kehamilan. f. Perkembangan normal kehamilan. g. Komponen riwayat kehamilan. h. Komponen permeriksaan fisik yang terfokus selama antenatal. i. Menentukan umur kehamilan dari riwayat menstruasi, pembesaran atau tinggi fundus uteri. j. Mengenal tanda dan gejala anemia ringan dan berat, hyperemesis gravidarum, kehamilan ektopik terganggu, abortus imminen, molla hydatidosa dan komplikainya dan kehamila ganda, kelalaian letak serta pre eklamsia. k. Nilai normal dari pemeriksaan laboratorium seperti Haemoglobin dalam darah, test gula, protein, aceton, dan bakteri urine. l. Perkembangan normal dari kehamilan : perubahan bentuk fisik, ketidaknyamanan yang lazim pertumbuhan fundus uteri yang diharapkan. m. Pertumbuhan psikologis yang normal dalam kehamilan dan dampak kehamilan terhadap keluarga. n. Penyuluhan dalam kehamilan : perubahan fisik, perawatan buah dada

ketidaknyamanan , kebersihan, seksualitas, nutrisi, pekerjaan dan aktifitas (selama hamil). o. Kebutuhan nutrisi bagi wanita hamil dan janin. p. Penatalaksanaan imunisasi pada wanita hamil. q. Pertumbuhan dan perkembangan janin. r. Persiapan persalinan, kelahiran dan menjadi orang tua. s. Persiapan keadaan dan rumah/ keluarga untuk menyambut kelahiran bayi.

t. Tanda-tanda dimulainya persalinan. u. Promosi dan dukungan pada ibu menyusui. v. Teknik relaksasi dan strategi meringankan nyeri pada persiapan persalinan dan kelahiran. w. Mendokumentasikan temuan-temuan dan asuhan yang diberikan. x. Mengurangi ketidaknyamanan selama masa kehamilan. y. Akibat yang ditimbulkan/ ditularkan oleh binatang tertentu terhadap kehamilan, misalnya toxoplasmosis. z. Tanda dan gejala dari komplikasi kehamilan yang mengancam jiwa, seperti pre eklamsia, perdarahan pervaginam, kelahiran prematur, anemia berat.

2) Pengetahuan Tambahan a) Tanda, gejala dan indikasi rujukan pada komplikasi tertentu dalam kehamilan seperti asma, infeksi, HIV, penyakit menular seksual (PMS). Diabetes, kelainan jantung, postmatur/ serotinus. b) Akibat dari penyakit akut dan kronis yang disebut diatas bagi kehamilan dan janinnya. 3) Ketrampilan Dasar a) Mengumpulkan data riwayat kesehatan dan kehamilan serta menganalisanya pada setiap kunjungan/ pemeriksaan ibu hamil. b) Melaksanakan pemeriksaan fisik umum secara sistematis dan lengkap. c) Melakukan pemeriksaan abdomen secara lengkap termasuk pengukuran tinggi fundus uteri/ posisi/ presentasi dan penurunan janin. d) Melakukan penilaian pelvic, termasuk struktur dan ukuran tulang panggul.

e) Menilai keadaan janin selama kehamilan termasuk detak jantung janin dengan menggunakan fetoscope (Pinard) dan gerakan janin dengan palpasi uterus. f) Menghitung usia kehamilan dan menentukan perkiraan persalinan.

g) Mengkaji status nutrisi ibu hamil dan hubungannya dengan pertumbuhan janin. h) Mengkaji kenaikan berat badan ibu dan hubungannya dengan komplikasi kehamilan. i) Memberikan penyuluhan pada klien/ keluarga mengenai tanda- tanda berbahaya dan serta bagaimana menghubungi bidan. j) Melakukan penatalaksanaan kehamilan dan dengan anemia ringan, hyperemesis gravidarum tingkat I, abortus imminen dan pre eklamsia ringan. k) Menjelaskan dan mendemontrasikan cara mengurangiketidaknyamanan yang lazim terjadi dalam kehamilan. l) Memberikan imunisasi pada ibu hamil. m) Mengidentifikasi penyimpangan kehamilan normal dan melakukan penanganan yang tepat termasuk merujuk ke fasilitas pelayanan yang tepat dari : 1. Kekurangan gizi 2. Pertumbuhan gizi yang tidak adekuat : SGA & LGA. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pre eklamsia dan hipertensi. Perdarahan per vaginam Kehamilan ganda pada janin kehamilan aterm. Kelainan letak pada janin kehamilan aterm. Kematian janin Adanya edema yang signifikan, sakit kepala yang hebat, gangguan pandangan, nyeri epigestrium yang disebabkan tekanan darah tinggi. 9. Ketuban pecah sebelum waktu. 10. Persangkaan polyhidramnion

11. Diabetes melitus 12. Kelainan kongenital pada janin. 13. Hasil laboratorium yang tidak normal. 14. Persangkaan polyhidramnion, kelainan janin. 15. Infeksi pada ibu hamil, seperti : PMS, vaginitis, infeksi saluran perkemihan dan saluran nafas. n) Memberikan bimbingan dan persiapan untuk persalinan, kelahiran dan menjadi orang tua. o) Memberikan bimbingan dan penyuluhan mengenai perilaku kesehatan selama hamil, seperti nutrisi, latihan (senam), keamanan dan berhenti merokok. p) Penggunaan secara aman jamu/obat-obatan tradisional yang tersedia. 4) Ketrampilan Tambahan a) Menggunakan Dopler untuk memantau DJJ. b) Memberikan pengobatan dan atau kolaborasi terhadap penyimpangan dari keadaan normal dengan menggunakan standar lokal dan sumber daya yang tersedia. c) Melaksanakan kemampuan LSS dalam manajemen pasca abortion.

b. Standar Pelayanan kebidanan (Depkes RI, 2001)
1) Standar 3 : Identifikasi ibu hamil

Pernyataan standar :

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu, suami dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini dan secara teratur.

2) Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal Pernyataan Standar :

Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan resti/kelainan khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

3) Standar 5 : Palpasi Abdominal Pernyataan Standar :

Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, serta bila umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu.

4) Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan Pernyataan Standar :

Bidan melakukan tindakan pencegahan, penerimaan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5) Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan Pernyataan standar :

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamsia lamanya, serta mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

6) Standar 8 : Persiapan persalinan Pernyataan Standar :

Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini.

c. Kepmenkes RI No. 900 / Menkes / SK / VII / 2002 tentang registrasi dan praktik bidan.
Wewenang bidan menurut Keputusan Menkes RI No. 900 / Menkes / SK / VII / 2002 tentang registrasi dan praktik bidan. Pasal 14 Bidan dalam menjalan praktiknya berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi : a. Pelayanan kebidanan. b. Pelayanan Keluarga Berencana. c. Pelayanan kesehatan masyarakat.

Pasal 15 a. Pelayanan kebidanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 14 butir a ditujukan kepada ibu dan anak. b. Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pra nikah, pra hamil, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, menyusui dan masa antara (periode interval). Pasal 16 Pelayanan kebidanan kepada ibu hamil salah satunya pelayanan Antenatal pada kehamilan normal.

2.2 Persalinan 2.2.1 Konsep Dasar Teori 2.2.1.1 Pengertian Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu, persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Affandi, 2007:37). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada ehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2002: 100). Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa disertai adanya penyulit. 2.2.1.2 Tanda-tanda persalinan Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks. 1. Tanda dan gejala inpartu termasuk : Penipisan dan pembukaan serviks 2. Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minmal 2 x dalam 10 menit) 3. Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina. 2.2.1.3 Sebab ± sebab Mulanya Persalinan Persalinan dimulai pada saat uterus berkontreksi yang menyebabkan serviks berubah (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. (Asuhan

Persalunan Normal, 2001). Sebab mulainya persalinan adalah tidak diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori yang dikemukakan yaitu : 1. Penurunan Kadar Progesteron Progesteron menimbulkan reaksi otot ± otot rahim selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesterone menurun hingga timbul his. 2. Teori Oksitosin Pada akhir kehamilan kadar oksigen bertambah, oleh karena itu timbul kontraksi otot ± otot rahim. 3. Keregangan Otot Dengan majunya kehamilan akan meregangkan oto-otot dan otot rahim makin rentan. 4. Pengaruh Janin Hypofise dan kelenjar suprarenal janin rupa ± rupanya juga memegang peran oleh karena itu pada anenchepal, kehamilan sering lebih lama dari biasa. 5. Teori Prostaglandin Prostaglandin dihasilkan oleh desidua, disangka menjadi salah satu permulaan disokong juga dengan adanya kadar prostaglandin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun dalam darah prifer pada ibu- ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan. (Manuaba, 1998: 159).

2.2.1.4 Faktor Penting Dalam Persalinan Faktor penting dalam persalinan adalah: 1. Power/ kekuatan

a. His b. Tenaga mengedan c. Kontraksi dinding perut d. Kontraksi diafragma e. Kontraksi ligamentum rotundum: 3 Passage a. Jalan lahir lunak (Otot, Ligamentum) b. Jalan lahir tulang 

PAP (promontorium, sayap sakrum. linea innominata,Arkus pubis, pinggir atas simpisis)  PBP (berbentuk segitiga, yang dibentuk oleh garis antara kedua buah tuber isciadikum dengan ujung os sakrum). 3. Passanger a) Bayi b) Plasenta c) Air Ketuban

4. Psikis 2.2.1.5 Tahap-tahap Persalinan Tahap-tahap persalinan terdiri dari 4 kala : 1. Kala I (kala pembukaan) Inpartu ditandai dengan keluarnya lendir campur darah (blood show), penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus (> 3 x 10¶ 40´) yang menyebabkan perubahan serviks. Kala I dibagi 2 fase : a) Fase laten

Berlangsung lambat, pembukaan sampai 3 cm, berlangsung 7 ±8 jam b) Fase aktif Berlangsung 6 jam. Dibagi 3 sub fase: (1) Akselerasi : berlangsung 2 jam pembukaan, jadi 4 cm (2) Dilatasi maksimal : berlangsung 2 jam, pembukaan cepat menjadi 9 cm (3) Deselarasi : berlangsung 2 jam, pembukaan lambat, 10 cm dalam dalam waktu 2 jam.

Kala I pada primi berlangsung 13-14 jam, dimana serviks mendatar dahulu baru dilatasi, sedang berlangsung 6 ± 7 jam, dan serviks mendatar serta membuka bersamaan.

2.

Kala II (Pengeluaran Janin)

His terkoordinir, kuat, cepat, lebih lama kira-kira 3 x 10¶ 40´, kepala janin sudah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan otot-otot dasar panggul dan menimbulkan rasa ingin mengedan seperti buang air besar, yang ditandai anus terbuka. Waktu ada his, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perinium merenggang. Dengan bimbingan mengedan yang baik kepala akan lahir diikuti seluruh badan janin.

3. Kala III (Pengeluaran Uri) Fisiologi persalinan kala III

Pada persalinan kala III, otot uterus (myometrium) berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba-tiba setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran rongga uterus ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat melekatnya plasenta menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan menebal kemudian lepas dari dinding uterus, setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau bagian atas vagina.

Tanda-tanda pelepasan plasenta :

a) Semburan darah b) Tali pusat memanjang c) Uterus membundar

Managemen aktif kala III terdiri dari tiga langkah utama: a) Pemberian suntik oksytosin b) Melakukan penegangan tali pusat terkendali c) Massase fundus uteri 4.Kala IV

Dimulai dari setelah plasenta lahir sampai 2 jam setelah melahirkan.

2.2.1.6 Tanda ± tanda Bahaya Pada Ibu Bersalin 1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mules. 2. Perdarahan lewat jalan lahir. 3. Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir. 4. Ibu tidak kuat mengedan atau mengalami kegang.

5. Air ketuban keruh dan berbau. 6. Setelah bayi lahir ari ± ari tidak keluar. 7. Ibu gelisah mengalami kesakitan yang hebat. (DepKes RI, 2006: 9) 2.2.1.7 Partograf Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan. Partograf memberi peringatan pada petugas kesehatan bahwa suatu persalinan berlangsung lama, adanya gawat ibu dan jan in, bahwa ibu perlu dirujuk. Untuk menggunakan partograf dengan benar, petugas harus mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut :

1. Denyut jantung janin. Catat setiap jam. 2. Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina : a) U : selaput Utuh b) J: selaput pecah, air ketuban Jernih c) M : air ketuban bercampur Mekonium d) D: air ketuban bernoda Darah 3. Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase) : a) 1: sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat/bersesuaian. b) 2: sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki. c) 3: sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki. 4. Pembukaan mulit rahim (serviks). Dinilai pada setiap pemeriksaan pervaginam dan diberi tanda silang (x). 5. Penurunan : mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba (pada pemeriksaan abdomen/luar) di atas simfisis pubis; catat dengan tanda (O) pada setiap pemeriksaan dalam. Pada posisi 0/5, sinsiput (S) atau paruh atas kepala berada di simfisis fubis. 6. Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani sesudah pasien diterima. 7. Jam. Catat jam sesungguhnya. 8. Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya masing-masing kontraksi dalam hitungan detik. a) Kurang dari 20 detik. b) Antara 20 dan 40 detik. c) Lebih dari 40 detik. 9. Oksitosin. Bila memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin per volume cairan infus dan dalam tetesan per menit.

10. Obat yang diberikan. Catat semua obat lain yang diberikan. 11. Nadi. Catatlah setiap dua jam. 12. Tekanan darah. Catatlah setiap empat jam dan tandai dengan anak panah. 13. Suhu badan. Catatlah setiap dua jam. 14. Protein, aseton dan volume urin. Catatlah setiap kali ibu berkemih. Bila temuan-temuan melintas ke arah kanan dari garis waspada, petugas kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari rujukan yang tepat. (Saifuddin, 2006: 104).

2.2.2 Konsep dasar asuhan persalinan 1. Kebijakan Program Setiap persalinan mengharapkan yang fisiologis tanpa ada komplikasi ataupun penyulit apapun terhadap persalinan, tetapi pada kenyataannya komplikasi tersebut tetap ada dan mengancam jiwa ibu dan bayi. Oleh karena itu, setiap pertolongan persalinan ha rus mempunyai kebijakan yaitu: a. Semua persalinan harus dihadiri dan di pantau oleh petugas kesehatan terlatih. b. Rumah bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitas yang memadai untuk menangani kegawatdaruratan obstetri dan nenonatal harus tersedia 24 jam c. Obat-obatan esensial bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh petugas terlatih 2. Wewenang Bidan Dalam Asuhan Persalinan Wewenang bidan menurut KepMenkes No.900/MENKES/SK/VII/2002 berbunyi sebagai berikut :

a. Pemberian kewenangan lebih luas kepada bidan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetri dan neonatal kepada setiap ibu hamil/bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0-28 hari), agar penanganan dini atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat dan tepat waktu. b. Dalam menjalankan kewenangan yang diberikan, bidan harus :  Melaksanakan tugas kewenangan sesuai dengan standar profesi; Memiliki keterampilan dan kemampuan untuk tindakan yang dilakukannya;  Mematuhi dan melaksanakan protap yang berlaku diwilayahnya; 3. Bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan dan berupaya secara optimal dengan mengutamakan keselamatan ibu dan bayi atau janin.

Pelayanan kebidanan kepada wanita oleh bidan meliputi pelayanan pada masa pranikah termasuk remaja putri, prahamil, kehamilan, persalinan, nifas, menyusui dan masa antara kehamilan (periode interval).

³Pelayanan kebidanan dalam masa kehamilan, masa persalinan dan masa nifas meliputi pelayanan yang berkaitan dengan kewenangan yang diberikan. Perhatian khusus diberikan pada masa sekitar persalinan, karena kebanyakan kematian ibu dan bayi terjadi dalam masa tersebut´

Di dalam Asuhan Persalinan Normal terdapat 5 ( lima ) aspek yang disebut juga sebagai lima benang merah yang perlu menapatkan perhatian yaitu :

a. Aspek pemecahan masalah yang dipergunakan untuk menentukan pengambilan keputusan klinik. b. Aspek sayang ibu yang juga berarti sayang bayi. c. Aspek pencegahan infeksi

d. Aspek pencatatan (dokumentasi medik ) e. Aspek rujukan.

Kelima aspek ini akan selalu ada di dalam pelaksanaan persalinan kala I hingga persalinan kala III dan kala IV ( JNPK-KR ; 2001 :1-1 ).

4. Kompetensi bidan dalam asuhan persalinan

Kompetensi ke IV : Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman, menangani suatu kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayinya yang baru lahir.

2.3 Nifas

2.3.1 Konsep Dasar Teori

2.3.1.1 Pengertian Puerperium.

Masa nifas atau puerperium dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil (Saifuddin,2002 : 23)

Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)

Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alatalat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kirakira 6 minggu (Abdul Bari. S, dkk, 2002)

Nifas dapat dibagi kedalam 3 periode : a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan ± jalan. b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat ± alat genetalia yang lamanya 6 ± 8 minggu. c. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurnah baik selama hamil atau sempurna berminggu ± minggu, berbulan ± bulan atau tahunan (Mochtar R, 1998).

2.3.1.2 Tujuan asuhan masa nifas Menurut Saifudin (2002 : 122) asuhan kebidanan dalam masa nifas mempunyai tujuan diantaranya: 1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik secara fisik maupun psikologi. 2) Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya. 3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, dan pemberian imunisasi pada bayi serta perawatan bayi sehat. 4) Memberikan pelayanan keluarga berencana. 2.3.1.3 Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas

Bidan sebagai pelaksana pelayanan kebidanan mempunyai peran dan tanggung jawab sebagai berikut (Saifuddin, 2002) : 1) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan 2) Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta memperaktekan kebersihan yang aman . 3) Memfasilitasi hubungan dan ikatan batin antara ibu dan bayi 4) Memulai dan mendorong pemberian ASI 2.3.1.4 Tahapan masa nifas Menurut Harnawatiaj (2008) masa nifas dibagi dalam 3 periode yaitu: 1. Immediate puerperium Adalah keadaan yang terjadi segera setelah persalinan sampai 24 jam postpartum. 2. Early puerperium Adalah keadaan yang terjadi pada permulaan masa nifas, waktu 1 hari sampai 7 hari setelah persalinan. 3. Later puerperium Adalah waktu 1 minggu sampai 6 minggu setelah melahirkan. 2.3.1.5 Perubahan fisiologis masa nifas Selama masa nifas terjadi perubahan fisiologis (harnawatiaj, 2008) : 1. Perubahan sistem reproduksi 1) Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. 2) Bekas implantasi uri : placental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm. Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu keenam 2,4 cm, dan akhirnya pulih.

3) Luka-luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari. 2. Endometrium Lapisan epitel endometrium kecuali tempat implantasi placenta mengalami regenerasi sempurna pada akhir minggu ke-2 postpartum. 3. Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.

a) Lochia rubra (cruenta) : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan mekonium, selama 2 hari persalinan. b) Lochia sanguilenta : berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, pada hari ke 3-7 pasca persalinan. c) Lochia serosa : berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7 pasca -14 persalinan. d) Lochia alba : cairan putih, setelah 2 minggu. e) Lochia purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk. f) Lochiostasis : lochia tidak lancar keluarnya.

4.Serviks : Setelah persalinan, agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan- perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

5. Perubahan sistem percernaan

a) Peristaltik usus kembali kenormal secara bertahap dan proses pengembalian ini bisa lambat dengan adanya pengaruh penggunaan analgesik. b) Secara psikologis, pada umumnya nafsu makan ibu nifas turun akibat rasa nyeri diperineum sehingga dapat menghambat defekasi. Akibatnya sering timbul gejala

konstipasi pada minggu pertama post partum. Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan.

6. Perubahan sistem perkemihan Trauma bisa terjadi pada kandung kemih, uretra dan saluran kencing selama proses persalinan, yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Trauma akibat kelahiran dan peningkatan kapasitas kandung kemih yang penuh menyebabkan keinginan untuk berkemih menjadi menurun. Disamping itu rasa nyeri pada panggul yang timbul akibat dorongan pada saat melahirkan, laserasi vagina atau pada episiotomi menurunkan atau menghilangkan reflek berkemih, kondisi demikian bisa menyebabkan distensi kandung kemih. Distensi kandung kemih yang muncul segera setelah bayi lahir dapat menyebabkan perdarahan karena kontraksi uterus terganggu dan jika distensi kandung kemih ini terjadi pada tahap lanjut maka dapat mnyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. Bila hal ini berlangsung lama maka dinding kandung kemih akan mengalami kerusakan. 7. Perubahan sistem musculosceletal a. Abdomen Kulit dinding abdomen teregang selama kehamilan dan kemudian kembali seperti semula beberapa minggu atau bulan kemudian. b. Pelvis Setelah janin dilahirkan, berangsur-angsur ligamentum, diafragma dan fascia mengerut kembali seperti semula. 8. Perubahan tanda-tanda vital a.Suhu tubuh Setelah anak lahir, suhu tubuh meningkat sampai 37,2OC dapat naik 0,5OC dari normal tapi tidak lebih dari 38OC bila tidak terjadi infeksi.

b.Nadi Berkisar antara 60 sampai 80 denyut per menit c.Perubahan sistem kardiovaskuler Cardiac output yang meningkat selama kehamilan dan persalinan tiba-tiba menurun setelah hari pertama postpartum dan kembali ke normal seperti sebelum hamil pada akhir minggu ketiga postpartum. 9. Perubahan sistem percernaan a.Nafsu Makan Ibu biasanya lapar setelah melahirkan sehingga ia bisa mengkonsumsi makanan ringan. Setelah itu ibu benar-benar pulih dari efek melahirkan, ibu akan merasa sangat lapar, permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasanya dikonsumsi. b. Motilitas Secara khas penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. c.Defekasi Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan oleh penurunan tonus otot usus selama proses persalinan dan pada awal pasca partum.

2.3.1.6 Tanda ± Tanda Bahaya Nifas 1. Perdarahan vagina yang luar biasa atau tiba ± tiba bertambah banyak (lebih dari perdarahan haid biasa atau bila memerlukan penggantian pembalut 2 kali dalam ½ jam). 2. Pengeluaran vagina yang baunya menusuk. 3. Rasa sakit di bagian bawah abdomen atau punggung. 4. Sakit kepala yang terus ± menerus, nyeri efigastrik atau masalah penglihatan.

5. Pembengkakan diwajah atau ditangan. 6. Demam, muntah, rasa sakit waktu BAK atau jika merasa tidak enak badan. 7. Payudara yang berubah menjadi merah, panas dan atau terasa sakit. 8. Kehilangan nafsu makan selama waktu yang lama. 9. Rasa sakit,merah, lembek dan atau pembengkakan dikaki. 10. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayi atau diri sendiri. 11. Merasa sangat letih atau nafas terengah ± engah. (Modul Post Partum, 2002: 58).

2.3.1.7 Perawatan Pasca persalinan 1.Mobilisasi Ibu harus istirahat tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan trombo emboli. Pada hari kedua ibu diperbolehkan duduk, hari ketiga jalan-jalan dan hari ke empat atau kelima sudah diperbolehkan pulang.Mobilisasi di atas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya luka-luka. 2. Diet

Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya konsumsi makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.

3. Perawatan payudara (mamma)

Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui bayinya. Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.

4. Laktasi

Untuk menghadapi masalah laktasi sejak masa kehamilan telah terjadi perubahan pada kelenjar mammae. Bila bayi mulai disusui, isapan pada puting susu merupakan rangsangan psikis yang secara reflektoris mengakibatkan oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis. Pro duksi air susu ibu (ASI) akan lebih banyak. Disamping ASI merupakan makanan utama bayi, menyusukan bayi sangat baik untuk menjelmakan rasa kasih sayang antara ibu dan anaknya.

Tabel 2.1 Frekuensi kunjungan masa nifas

Kunjungan Waktu 1 6-8 jam setelah persalinan

Tujuan
y

Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

y

Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila

perdarahan berlanjut
y

Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota mencegah keluarga perdarahan nifas

bagaimana masa

karena atonia uteri
y y

Pemberian ASI awal Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir

y

Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi

2

6 hari setelah persalinan

y

.Memastikan

involusi

berjalan

normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada

perdarahan abnormal dan tidak ada bau
y

Menilai demam, abnormal

adannya infeksi atau

tanda-tanda perdarahan

y

Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat

y

Memastikan ibu menyusui dengan baik dan memperhatikan tanda-tanda penyulit

y

Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari

3

2

minggu

setelah Sama seperti di atas (6 hari setelah persalinan) setelah
‡

persalinan 4 6 minggu

y

Menanyakan kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi

persalinan

alami
y

Memberi konselilng untuk KB secara dini

Sumber: Saifuddin (2002: N-23)

2.3.1.8.Adaptasi psikologis ibu dalam masa nifas Pada masa postpartum terjadi adaptasi psikososial menurut Rubin terbagi menjadi 3 tahap : 1. Masa Taking In

Masa ini terjadi 2-3 hari pasca salin, ibu yang baru ini bersikap pasif dan sangat tergantung, segala energinya difokuskan pada kekhawatiran tentang badanya. Dia akan bercerita tentang persalinannya secara berulang-ulang.

2. Masa Taking On (masa meniru dan rol play)

Masa ini terjadi 3-4 hari pasca salin, ibu menjadi khawatir akan kemampuannya merawat bayi dan menerima tanggungjawabnya sebagai ibu semakin besar. Ibu berupaya untuk menguasai keterampilan perawatan bayinya.

3. Masa Letting Go

Masa ini biasanya terjadi bila ibu sudah pulang dari RS dan melibatkan keluarga. Ibu mengambil langsung tanggungjawab dalam merawat bayinya, dia harus menyesuaikan diri dengan tuntutan ketergantungannya dan khususnya interaksi sosial.

2.3.2 Konsep Dasar Asuhan Asuhan yang diberikan harus sesuai dengan :

1. Kompetensi Bidan Kompetensi ke 5 : Asuhan Pada Ibu Nifas Dan Menyusui Bidan memberikan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.

2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) Menurut Standar Pelayanan Kebidanan (SPK, 2001) : a. Standar 13 Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. b. Standar 14

Standar pelayanan kebidanan pada 2 jam pertama setelah persalinan bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi paling sedikit selama 2 jam setelah persalinan, di samping itu bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya persalinan kesehatan ibu dan membantu ibu untuk mulai pemberian ASI.

c. Standar 15

Standar pelayanan bagi ibu dan bayi pada masa nifas, bidan memberikan pelayanan selama nifas di puskesmas dan rumah sakit atau melalui kunjungan ke rumah pada hari ke-3, minggu ke-2 dan minggu ke-6. Setelah persalinan untuk membantu proses pemeliharaan ibu dan bayi. Melalui penatalaksanaan tali pusat yang benar, penemuan dini, pelaksanaan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, asuhan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

3. Kepmenkes RI a. Kepmenkes RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 yaitu Bab V tentang Praktek Bidan 1). Pasal 15

Pelayanan kepada ibu diberikan pada masa pranikah, prahamil, masa kehamilan, masa persalinan, masa nifas, menyusui dan masa antara (periode interval)

2). Pasal 16 a) Penyuluhan dan konseling b) Pemeriksaan fisik c) Pelayanan ibu nifas d) Pelayanan ibu nifas normal e) Pelayanan ibu nifas abnormal

2.4Bayi Baru Lahir 2.4.1 Konsep Dasar Teori 2.4.1.1 Pengertian Bayi Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin (Ilyas, 2002 :44). Neonatus adalah bayi baru lahir dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai 4000 gram (Depkes RI, 2002:7).

Asuhan pada bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan kepada bayi selama jam pertama setelah kelahiran. (Saifuddin, 2002 : N-33). Bayi baru lahir disebut nenonatus, dengan tahapan:

1) Umur 0-7 hari disebut neonatal dini

2) Umur 8-28 hari disebut neonatal lanjut Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang disebut neonatus adalah bayi baru lahir usia 0 ± 28 hari. 2.4.1.2 Pertolongan pada waktu bayi baru lahir Menurut Madjid (2001) pertolongan pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut : 1) Membersihkan jalan nafas (mulut dan hidung) dari lendir, darah dan air ketuban dengan kasa pembersih. 2) Membersihkan dan mengeringkan tubuh bayi dengan kain lunak yang bersih dan kering, tanpa memandikannya. 3) Meletakkan bayi di atas perut atau dada ibu. 4) Memotong dan merawat tali pusat dengan bersih dan benar. 5) Membungkus bayi dengan kain yang bersih, kering dan cukup tebal agar ia tidak kedinginan. Setiap kali ia kencing/pakaiannya basah, pakaian harus segera diganti. 6) Menghangatkan bayi misalnya dengan membungkus bayi dengan kain yang bersih dan kering 7) Memberikan bayi kepada ibunya untuk disusui. Jika bayi tidak bisa mengisap, ASI diperas dan kemudian diberikan kepadanya dengan menggunakan sendok. 2.4.1.3 Penatalaksanaan awal bayi baru lahir Penatalaksanaan bayi baru lahir adalah sebagai berikut ((JNP-KR, 2002 : 4-3): 1) Pencegahan infeksi 2) Penilaian awal 3) Pencegahan kehilangan pasan 4) Rangsangan taktil 5) Asuhan tali pusat

6) Mulai pemberian ASI 7) Pemberian profilaksis terhadp gangguan pada mata b. Pemantauan Bayi baru lahir Tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak (Saifuddin, 2002 : 136). a. Dua jam pertama sesudah lahir Hal-hal yang dinilai waktu pemantauan bayi pada jam pertama Setelahlahirmeliputi : 1)Kemampuanmenghisapkuatataulemah 2)Bayitampakaktifataulunglai 3) Bayi kemerahan atau kebiruan b. Sebelum penolong persalinan meninggalkan ibu dan bayinya, harus melakukan pemeriksaan dan penilaian seperti : 1)Bayikecilatauuntukmasakehamilanataubayikuranbulan 2)Gangguan pernapasan 3) Hipotermia 4) Infeksi, cacat bawaan dan trauma lahir 2.4.1.4 Penilaian Klinik

Penilaian klinik bertujuan untuk mengetahui derajat vitalitas dan mengukur reaksi bayi terhadap tindakan resusitasi. Derajat vitalitas bayi adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat esensial dan kompleks untuk berlangsungnya kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan refleks-refleks primitif seperti menghisap dan mencari puting susu (Saifuddin, 2002;133)

Segera setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan pada perut ibu. Bila hal tersebut tidak memungkinkan maka letakkan bayi dekat ibu (diantara

kedua kaki atau disebelah ibu), tetapi harus diperhatikan bahwa area tersebut bersih dan kering. Segera pula lakukan penilaian awal dengan menjawab dua pertanyaan: 1. Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan? 2. Apakah bayi bergerak dengan aktif atau lemas? Jika bayi tidak bernapas atau bernapas megap-megap atau lemah maka segera lakukan tindakan resusitasi bayi baru lahir. (DepKes, 2007: 97) 2.4.1.5 Penilaian 1 Menit Bayi Baru Lahir Keadaan umum bayi dinilai satu menit setelah bayi lahir dengan penggunaan nilai apgar. Penilaian diperlukan untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak. Yang dinilai ialah frekwensi jantung (heart rate), usaha nafas (resfiratory effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (color) dan reaksi terhadap rangsangan (response to stimuli) yaitu, dengan memasukan kateter ke dalam lubang hidung setelah jalan nafas dibersihkan. Setiap penilaian diberi angka 0, 1 dan 2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui apakah bayi normal (vigorus baby = 7-10), asfiksia sedang ±ringan (nilai apgar 4-6) atau bayi menderita asfiksia berat (nilai apgar 0-3)

Tabel 2.4 Nilai Apgar (NA)
0 1 2 NA

Ppearance

Pucat

Badan

merah,

Seluruh

tubuh

ekstermitas biru. (warna kulit)

kemerah-merahan

Pulse rate

Tidak ada

Kurang dari 100

Lebih dari 100

(frekuensi nadi)

Grimace rangsangan)

(reaksi

Tidak ada

Sedikit

gerakan

Batuk/bersin

mimic (grimace)

Activity (tonus otot)

Tidak ada

Ekstremitas sedikit fleksi

dalam

Gerakan aktif

Respiration (pernafasan)

Tidak ada

Lemah/tidak teratur

Baik menangis

Jumlah

Catatan : NA 1 menit lebih/sama dengan 7 tidak perlu resusitasi. NA 1 menit 4-6 bag and mask ventilation. NA 1 menit 0-3 lakukan intubasi. (Wiknjosasto, 2005: 249).

2.4.1.6 Ciri-ciri Umum Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir mengalami beberapa perubahan sebagai bentuk adaptasi dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Perubahan-perubahan yang cepat dan kompleks itu dimulai dengan terpotongnya talium bilikus. Selain ada beberapa perubahan fisiologis pada bayi baru lahir kita juga harus mengetahui ciri-ciri umum bayi baru lahir normal, atau mengetahui ciri-ciri tersebut kita tentu akan melakukan suatu pemeriksaan fisik terhadap bayi baru lahir. Adapun ciri-ciri umum bayi baru lahir normal menurut Siswina (2003;3) adalah:

1. Bernapas spontan dan menangis spontan, terjadi 30 detik setelah kelahiran dengan frekuensi 40 sampai 60 kali/menit. 2. Frekuensi jantung berkisar 180 kali/menit, kemudian turun 140-120 kali/menit pada 30 menit pertama.

3. Warna kulit kemerah-merahan dan terdapat verniks caseosa atau bersih 4. Lemak sub kutan cukup tebal sebagai pelindung dalam pengaturan suhu 5. Rambut lanugo dan rambut kepala tumbuh dengan baik 6. Gerakan aktif 7. Ekstremitas dalam keadaan fleksi 8. BB 2500 ± 4000 gr 9. PB 48-52 cm 10. Lingkar kepala 33-35 cm 11. Anus ada dalam 24 jam mengeluarkan mekonium dan BAK 12. Genetalia labia mayora menutupi labia minora 13. Testis sudah turun ke dalam skrotum

2.4.1.7Tanda-tandavitaldanlingkungan 1)Suhu tubuh bayi diukur melalui dubur atau ketiak

2) Pada pernafasan normal, perut dan dada hampir bergerak bersamaan tanpa adanyaretraksi, tanpa terdengar suara pada waktu inspirasi ataupun ekspirasi. Gerak pernafasan 30 ±50 kali/menit 3) Nadi dapat dipantau di semua titik-titik nadiper ifer 4) Tekanan darah dipantau hanya bila ada indikasi 5)BeratbadanMemantauberatbadansetiaphari 6)MemandikandanperawatankulitMemandikanbayi6jamsetelahlahir 7)Pakaian Bahan halus dan menyerap keringat

8)Perawatan tali pusat

Tanpa menggunakan alkohol, betadine, atau kassa steril. 2.4.1.8 Tanda - Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir 1. Bayi tidak mau menyusu. 2. Kejang. 3. Kaki dan tangan teraba dingin atau bayi demam. 4. Badan Bayi kuning. 5. Tali pusat basah dan berbau.

6. Pergerakan kedua tangan dan kaki lemah. (DepKes RI, 2006: 23)

2.4.2 Konsep Dasar Asuhan Asuhan yang diberikan harus berdasarkan: Asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir menurut IBI (2003) adalah sebagai berikut: 1. Standar Kompetensi Inti Bidan Menurut Standar Kompetensi Inti Bidan no. 6 asuhan pada bayi baru lahir yaitu: Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru lahir sehat sampai dengan satu bulan. 1) Pengetahuan dasar a). Adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan di luar uterus. b). Kebutuhan dasar bayi baru lahir: kebersihan jalan nafas, perawatan tali pusat, kehangatan, nutrisi, bounding attachment. c). Indikator pengkajian bayi baru lahir. d). Penampilan dan perilaku bayi baru lahir. e). Tumbuh kembang yang normal pada bayi baru lahir sampai 1 bulan. f). Memberikan imunisasi pada bayi

g). Masalah yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal seperti caput, molding, Mongolian spot, hemangioma. h). Komplikasi yang lazim terjadi pada bayi baru lahir normal seperti: hypoglikemia, hypotermi, dehidrasi, diare dan infeksi, ikterus. i). Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada bayi baru lahir sampai 1 bulan. j).Keuntungandanrisikoimunisasipadabayi. k). Pertumbuhan dan perkembangan bayi prematur l). Komplikasi tertentu pada bayi baru lahir seperti, traumaintra- cranial, fraktur clavicula, kematian mendadak, hematoma. 2)PengetahuanTambahan Sunatdantindikpadabayiperempuan 3)Keterampilan Dasar a) Membersihkan jalan napas dan memelihara kelancaran pernafasan dan merawat tali pusat. b) Menjaga kehangatan dan menghindari panas yang berlebihan c) Menilai segera bayi baru lahir seperti nilai APGAR d) Membersihkan badan bayi dan memberikan identitas.

e) Melakukan pemeriksaan fisik yang terfokus pada bayi baru lahir dan screening untuk menemukan adanya tanda kelainan- kelainan pada bayi baru lahir yang tidak memungkinkan untuk hidup.

f) Mengatur posisi bayi pada waktu menyusu. g) Memberikan imunisasi pada bayi

h) Mengajarkan pada orang tua tentang tanda-tanda bahaya dan kapan harus membawa bayi untuk minta pertolongan medis.

i) Melakukan tindakan pertolongan kegawatdaruratan pada bayi baru lahir seperti: kesulitan bernafas atauasphyksia, hypotermia, hypoglikemia. j) Memindahkan secara aman bayi baru lahir ke fasilitas kegawatdaruratan apabila dimungkinkan. k) Mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan 4) Keterampilan Tambahan a) Melakukan penilaian masages tas i. b) Mengajarkan pada orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi yang normal dan asuhannya. c) Membantu orang tua dan keluarga untuk memperoleh sumber daya yang tersedia di masyarakat. d) Memberi dukungan kepada orang tua selama masa berduka cita sebagai akibat bayi dengan cacat bawaan, keguguran atau kematian bayi. e) Memberi dukungan kepada orang tua selama bayinya dalam perjalanan rujukan ke fasilitas perawatan kegawatdaruratan. f) Melakukan tindik pada bayi perempuan. 2. Standar Pelayanan Kebidanan (SPK)

Menurut Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) standar 13 (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2001:40) tentang perawatan bayi baru lahir 2 ± 6 jam dengan kenyataan standar pelayanan kebidanan adalah yang sesuai dengan poin-poin berikut :

1) Memastikan bahwa suhu ruangan hangat (ruangan harus hangat untuk mencegah hipotermi pada bayi baru lahir) 2) Segera setelah lahir, nilai keadaan bayi, letakkan di perut ibu, dan segera keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi kering selimut bayi termasuk bagian

kepalanya dengan handuk baru yang bersih dan hangat (riset menunjukkan bahwa 90% bayi baru lahir mengalami perubahan dari kehidupan intra uterin terjadi ekstra uterin dengan pengeringan dan stimulasi. Penghisapan lendir rutin tidak perlu dan mungkin membahayakan) 3) Jika bayi mengalami kesulitan memulai pernafasan walaupun sudah dilakukan pengeringan, stimulasi atau penghisapan lendir dengan hati-hati mulai lakukan resusitasi bayi baru lahir untuk menangani asfiksia 4) Meminta ibu memegang bayinya, tali pusat di klem di dua tempat menggunakan klem steril atau DTT, lalu potong di antara dua klem dengan gunting tajam steril atau DTT. 5) Bayi harus diselimuti dengan baik, anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan segera mulai menyusui. (Riset menunjukkan pemberian ASI dini penting untuk keberhasilan awal pemberian ASI. Kontak kulit ibu dan bayi juga merupakan cara yang baik untuk menjaga pengaturan suhu tubuh bayi pada saat lahir. Pastikan jika bayi tidak didekap oleh ibunya, selimuti bayi dengan handuk yang bersih dan hangat. Tutupi kepala bayi dengan baik untuk mencegah kehilangan panas) 6) Jika bayi belum diberi ASI, bantu ibu untuk mulai menyusui. Riset menunjukkan bahwa mulai pemberian ASI dalam waktu satu jam pertama setelah kelahiran adalah penting untuk

keberhasilan awal pemberian ASI. Kolostrum, ASI pertama penting karena mengandung zat kekebalan untuk pencegahan infeksi dan penyakit pada bayi baru lahir. Pemberian ASI dini akan mencegah atau menanganihipoglikem ia pada bayi baru lahir.

7) Lakukan pencatatan semua temuan dan perawatan yang diberikan dengan cermat dan lengkap dalam partograf, kartu ibu dan kartu bayi. 3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (KepmenkesRI)adalah: Pasal16 Pelayanan kebidanan pada anak meliputi : 1) Pemeriksaan bayi baru lahir 2) Perawatan tali pusat 3) Perawatan bayi 4) Resusitasi pada bayi baru lahir 5) Pemantauan tumbuh kembang anak 6) Pemberian imunisasi 7) Pemberian penyuluhan Sedangkan wewenang bidan yaitu :

1) Pemberian kewenangan lebih luas pada bidan dimaksudkan untuk mendekatkan pelayanan kegawatan obstetri danneonatal kepada setiap ibu hamil atau ibu bersalin, nifas dan bayi baru lahir (0 ± 28 hari), agar penanganan dini atau pertolongan pertama sebelum rujukan dapat dilakukan secara cepat dan tepat waktu

2) Pelayanan kesehatan kepada anak diberikan pada masa bayi (khususnya bayi baru lahir), balita dan anak pra sekolah 3) Pelayanan kesehatan pada anak meliputi : a) Pelayananneonatal esensial dan tata laksana neonatal sakit di luar Rumah Sakit yang meliputi : (1) Pertolongan persalinan yangatr aum atik, bersih dan aman. (2) Menjaga tubuh bayi tetap hangat dengan kontak dini. (3) Membersihkan jalan nafas, mempertahankan bayi bernafas spontan. (4) Pemberian ASI dini selama 30 menit setelah melahirkan

(5) Mencegah infeksi pada bayi baru lahir antara lain : melalui perawatan tali pusat secara higienis, pemberian imunisasi dan pemberian ASI eksklusif. b) Pemeriksaan dan perawatan bayi baru lahir dilaksanakan pada bayi 0 ± 28 hari. c) Penyuluhan pada bayi tentang pemberian ASI eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan dan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi di atas 6 bulan. d) Pemantauan tumbuh kembang balita untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang balita.

BAB III MANAJEMEN KEBIDANAN

3.1 MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN IBU HAMIL 3.1.1 Kunjungan Pertama Asuhan Kehamilan 38 Minggu ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.N 24 TAHUN G2P1 Ao GRAVIDA 38 MINGGU DI BPS ³P´ DESA CIKELET KEC. CIKELET KAB. GARUT TAHUN 2011 Tanggal pengkajian Oleh Tempat pengkajian A. PENGKAJIAN :15 MARET 2011 Jam : 13.30 WIB

: RISTA PUJI PERTIWI : Di BPS P

DATA SUBYEKTIF II. Identitas / Biodata Nama Umur : Ny. N : 24 tahun Nama Umur : Tn. A : 26 tahun

Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Islam : SMP : IRT

Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia Agama : Islam

Pendidikan : SMP Pekerjaan : Buruh

: Kp.Cicadas RT/RW 02/09 Desa Cigadog Kecamatan Cikelet Kab.Garut

III.

Anamnesa

A. Kunjungan saat ini merupakan kontak pertama Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun. B. Riwayat Kehamilan Sekarang Ibu mengatakan merasa hamil 9 bulan. G2P1 Ao, HPHT : 25-06-2010 TP : 02-04-2011 usia kehamilan : 38 minggu. Pergerakan anak pertama kali pada usia kehamilan 4 bulan, dalam 1 hari gerakan bayi dirasakan sering, tidak ada keluhan. Ibu dapat imunisasi TT1 pada usia kehamilan 16 minggu dan TT2 pada usia kehamilan 20 minggu.Ibu tidak pernah merasakan tanda-tanda bahaya kehamilan seperti; pusing yang sangat, prdarahan pervaginam, mual muntah yang berlebihan serta penglihatan yang kabur. Ibu tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan pada masa kehamilan. Ibu mengatakan selama kehamilan ini tidak merasa kekhawatiran.

a. Riwayat Mentruasi Ibu mengatakan menarche pada umur 12 tahun, dengan siklus 28 hari teratur, banyaknya haid 2x ganti pembalut, lamanya haid + 6 hari. Ibu tidak mengeluh sakit pada saat mentruasi. b. Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu No Anak Ke Tahun Tempat Persalinan Usia Kehamilan 1 1 2004 Rumah 9 bulan Spontan Paraji Jenis Penolong Anak Jenis Berat Nifas Lamanya Penyulit

kelamin Badan P 2500 40 hari Tidak ada

C. Riwayat Kesehatan 1. Riwayat Kesehatan Ibu Ibu mengatakan sebelum kehamilan ini dan selama kehamilan ibu tidak pernah mengalami penyakit yang dapat dan diperberat oleh kehamilannya seperti : Hypertensi , DM, Jantung, Malaria, dll. 2. Riwayat Kesehatan Keluarga Ibu mengatakan suami dan keluarga yang lain tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit berbahaya seperti : Hypertensi , DM, Jantung, dll atau penyakit keturunan. D. Riwayat Ginekologi Ibu mengatakan tidak pernah mengalami penyakit yang berhubungan reproduksinya. dengan alat

E. Riwayat Sosial Ini adalah perkawinan ibu yang pertama lama perkawinan + 7 tahun. Ibu mengatakan ini adalah kehamilan ibu yang kedua. Kehamilan ini telah di rencanakan, ibu dan keluarga sangat senang dengan kehamilan ini. F. Riwayat Kontrasepsi Ibu mengatakan sebelumnya sudah pernah menggunakan KB suntik selama 5 tahun. G. Riwayat Penggunaan Obat-obatan Ibu mengatakan tidak sedang mengalami pengobatan. Ibu tidak pernah minum jamu ± jamuan dan minum obat ± obatan dari warung, ibu hanya mengkonsumsi obat yang di beri dari bidan. H. Pola Kebiasaan sehari-hari 1. Nutrisi Makan 2-3x/ hari, tidak ada makanan yang di pantang. Ibu makan dengan menu yang bervariasi, minum tidak tentu ( jenis air : air teh/air putih ). 2. Eliminasi Ibu mengatakan BAB 1x / hari, BAK sering frekuensi 6x/ hari, tidak ada keluhan. 3. Istirahat / Tidur Ibu mengatakan tidur malam + 7 jam, tidur siang + 1 jam tanpa masalah. 4. Personal Hygiene Ibu mengatakan mandi 2x sehari, menggosok gigi setiap kali mandi,keramas 3X sehari sekali, mengganti celana dalam 3 kali sehari 5. Aktivitas sehari-hari

Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mencuci, memasak di kerjakan sendiri. 6. Pola Hubungan Seksual

membersihkan

lantai,

Ibu mengatakan tidak ada keluhan apapun saat melakukan hubungan seksual. III. PEMERIKSAAN I. Pemeriksan Fisik Keadaan umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu BB BB Sebelum hamil TB LILA J. Kepala Rambut : Bentuk simetris,rambut panjang, kulit kepala bersih dan tidak rontok, tidak terdapat benjolan. Wajah : Tidak ada edema dan tidak ada cloasma. : Baik : Compos Mentis : 120/ 80 mmHg : 76 x/ menit : 22 x/ menit : 36.7 0C : 55 kg : 50 kg : 149 cm : 24 cm

Mata

: Letak simetris, konjungtiva merah muda, sclerea putih, fungsi penglihatan baik.

Telinga

: Bentuk simetris, tidak ada sekret, tidak ada kelainan, fungsi pendengaran baik.

Hidung

: Bentuk simetris, tidak ada polip, tidak nyeri sinus, fungsi penciuman baik, tidak terdapat pengeluaran lendir.

Mulut K. Leher

: Bersih, tidak stomatitis, Gigi: tidak ada caries, lidah, merah muda.

Kelenjar tryoid

: Tidak ada pembesaran

Kelenjar getah bening : Ttidak ada peradangan L. Dada dan Payudara 1. Dada Bunyi jantung normal, pernapasan bersih. 2. Payudara Bentuk simetris, bersih, puting susu menonjol, belum ada pengeluaran colostrum, tidak ada benjolan abnormal, tidak ada retraksi, tidak ada nyeri tekan. M. Pemeriksaan Kebidanan 1. Inspeksi Abdomen Pembesaran sesuai usia kehamilan, tidak ada luka bekas operasi, ada striae gravidarum 2. Palpasi Abdomen MC DONALD TFU : 32cm Leopold I TBBA : 3255 grm

: Di bagian fundus teraba bagian kurang melenting, kurang bundar, dan agak lunak (bokong). TFU 3 jari di bawah procus xyphoideus.

Leopold II

: Di bagian kanan ibu teraba bagian besar janin (punggung) dan dibagian kiri ibu teraba bagian kecil janin (tangan dan kaki).

Leopold III : Di bagian terendah janin teraba bagian keras, agak melenting dan agak bundar (kepala). Kepala sudah masuk PAP. Leopold 1V : Divergen 4/5 bagian. DJJ : Frekuensi 132 x /menit Reguler.

N. Punggung dan Pinggang Posisi tulang belakang loordosis, tidak ada rasa nyeri pinggang. O. Ekstermitas Atas dan Bawah Atas : Kanan : Tidak oedema, kuku tidak pucat, pergerakan normal. Kiri : Tidak oedema, kuku tidak pucat, pergerakan normal.

Bawah : Kanan : Tidak oedema, tidak ada varises, refleks pattela +/+. Kiri : Tidak oedema, tidak ada varises, refleks pattela +/+. P. Genitalia Tidak dilakukan pemeriksaan Q. Anus Tidak dilakukan pemeriksaan R. Pemeriksaan Laboratorium HB : 12.4 gr % Urine : Protein urine (-) negatif , Glukosa (±) negatif IV. Pemeriksaan Laboratium

A. INTERPRESTASI DATA Analisis : G2P1 Ao Gravida 38 minggu janin hidup tunggal intra uterin. Dasar : 1) Anamnesa, ibu mengatakan ini kehamilan anak kedua dan tidak pernah keguguran. 2) HPHT 25 Juni 2010. 3) TFU 32 cm frekuensi 132 x / menit, reguler. 4) DJJ 132 x / menit. 5) Letak memanjang. 6) Presentasi kepala. 7) Pergerakan dirasakan tidak sakit oleh ibu. 8) Posisi punggung kanan. Kebutuhan : 1) Informasi hasil pemeriksaan keadaan ibu dan janinnya. 2) Informasi mengenai nutrisi. 3) Olahraga ringan 4) Pola istirahat. 5) Pola aktifitas. 6) Tanda bahaya kehamilan. 7) Aktifitas seksual. 8) Rencana persalinan. 9) Tablet Fe, manfaatnya, cara mengkonsumsi dan efek samping. 10) Kunjungan ulang.

B. DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL Tidak ada C. TINDAKAN SEGERA Tidak ada D. PERENCANAAN 1) Beritahukan hasil pemeriksaan. 2) Beri ibu tablet Fe dan ingatkan cara mengkonsumsinya. 3) Mulai membicarakan persiapan persalinan. 4) Beritahukan ibu tanda-tanda persalinan. 5) Jadwal kunjungan ulang. 6) Dokumentasikan hasil pemeriksaan E. PELAKSANAAN 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan kepada ibu, ibu dan bayi dalam keadaan normal, usia kehamilan 38 minggu, taksiran persalinan tanggal 02 April 2011 2) Memberikan ibu tablet Fe ( Ferro sulfat 200mg dan Asam folat 0,25mg) 30 tablet dan ingatkan kembali cara mengkonsumsinya 1x1 sehari dengan air putih dan hindari minuman yang mengpengaruhi penyerapan zat besi yaitu : kopi, teh, susu dan minuman yang bersoda. 3) Memberi tahu tanda-tanda persalinan meliputi : Mules-mules yang teratur timbul semakin sering semakin lama. Keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir. Keluar cairan ketuban dari jalan lahir akibat pecahnya selaput ketuban 4) Mulai membicarakan persalinan meliputi dimana, oleh siapa dll. 5) Menjadwalkan kembali kunjungan ulang 1 minggu jika tidak ada keluhan yaitu pada tanggal 22 Maret 2011. 6) Mendokumentasikan hasil pemeriksaan.

7) Memberikan motivasi pada ibu terhadap kehamilannya F. EVALUASI 1) Ibu mengetahui hasil pemeriksaan. 2) Ibu mendapatkan tablet Fe dan tau cara mengkonsumsinya. 3) Ibu mengetahui tanda-tanda persalinan. 4) Ibu mengatakan ingin melahirkan dimana saja asal selamat dan ingin di tolong oleh bidan. 5) Ibu mengatakan 1 minggu lagi akan melakukan kunjungan ulang jika tidak ada keluhan. 6) Hasil pemeriksaan di dokumentasikan

3.2 CATATAN PERKEMBANGAN Tabel. 1 Catatan perkembangan NO 1. Hari/Tanggal Selasa, 22 Maret 2011 SOAP S: Ibu tidak mengeluh apapun hanya memeriksa rutin. O: 1.Keadaan umum : baik 2.Kesadaran : compos mentis

3.Tanda-tanda vital T : 120/80 mmHg P : 82x/Menit 4.Pemeriksaan fisik R : 22x/Menit S : 36,5°C

Mata

: Conjungtiva merah muda, sklera putih.

Abdoment : TFU 32 CM. Leopold I : Di bagian fundus teraba bagian kurang melenting, kurang bundar, dan agak lunak (bokong). TFU 3 jari di bawah procxyphoideus. Leopold II : Di bagian kanan ibu teraba bagian besar janin (punggung) dan dibagian kiri ibu teraba bagian kecil janin (tangan dan kaki) Leopold III : Di bagian terendah janin teraba bagian keras, agak melenting dan agak bundar (kepala). Belum masuk PAP. L IV: Divergen 3/5 bagian. DJJ : 136X/Menit, reguler. A : G2P1 A0 gravida 39 minggu janin hidup tunggal intrauterin. P :1.Memberikan penjelasan dari hasil pemeriksaan. 2.Menganjurkan ibu untuk banyak jalan-jalan. 3.Menganjurkan ibu untuk datang 1 minggu kemudian yaitu pada tanggal 29 Maret 2011. 4.Menganjurkan ibu untuk bersalin oleh bidan.

2.

Selasa, 29 Maret 2011

S: Ibu tidak mengeluh apapun. O: 1.Keadaan umum : baik 2.Kesadaran : compos mentis

3.Tanda-tanda vital T : 110/70 mmHg P : 82x/Menit 4.Pemeriksaan fisik Mata : Conjungtiva merah muda, sklera putih. Abdomen : TFU 31 CM. Leopold I : Di bagian fundus teraba bagian kurang melenting, kurang bundar, dan agak lunak (bokong). TFU 3 jari di bawah procxyphoideus. Leopold II : Di bagian kanan ibu teraba bagian R : 20x/Menit S : 36,6°C

besar janin (punggung) dan dibagian kiri ibu teraba bagian kecil janin (tangan dan kaki) Leopold III : Di bagian terendah janin teraba bagian keras, agak melenting dan agak bundar (kepala). Belum masuk PAP. L IV: Divergen 3/5 bagian. DJJ : 136X/Menit, reguler. A : G2P1 A0 gravida 40 minggu janin hidup tunggal intrauterin.

P : 1.Memberikan penjelasan dari hasil pemeriksaan 2.Menganjurkan ibu untuk banyak jalan-jalan. 3.Memberi dukungan dan semangat pada ibu bahwa kehamilannya dalam keadaan normal. 4.Menganjurkan ibu datang kembali jika ada keluhan lain dan apabila dalam 1 minggu kedepan masih belum juga ada tanda-tanda persalinan ibu segera hubungi bidan kembali.

3.3 ASUHAN PERSALINAN Senin, 04 April 2011 Jam : 08.30 WIB S O : Ibu datang dengan mengeluh mules-mules sejak jam 02.00 WIB : 1. Keadaan umum 2. Kesadaran 3. Tanda-tanda vital T :110/70mmHg P : 80x/Menit 4. His 3 x 40 detik / 10 menit 5. Pemeriksaan dalam Vulva vagina : tidak ada kelainan. R : 23x/Menit S : S : 36,5°C : baik : compos mentis

Portio Pembukaan Ketuban Presentasi Penurunan kepala

: tipis lunak. : 6 cm : Utuh : kepala : hodge III

A : G2P1A0 inpartu kala I fase aktif fisiologis. P : 1.Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa ibu akan segera melahirkan serta memberi penjelasan bahwa saat ini, tekanan darah ibu 110/70 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi 23x/menit, suhu 36,5°C, pembukaannya sudah 6 cm, keadaan ibu serta janin baik : ibu dan keluarga mengerti dan tampak tenang. 2. Memberikan dukungan emosional kepada ibu dengan menenangkannya, mengajak berdoa dan melibatkan keluarga untuk mendampingi : ibu merasa mendapat support dan tampak lebih nyaman. 3. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum apabila ibu menginginkannya : ibu minum teh manis. 4. Menganjurkan ibu untuk miring kiri untuk mempercepat penurunan kepala dan janin tetap mendapat suplai oksigen : ibu mengerti dan mau melaksanakan. 5. Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan kecil secara hati-hati agar mempercepat penurunan kepala : ibu melakukannya 6. Menganjurkan ibu untuk menarik nafas panjang , dan mengeluarkannya perlahan melalui mulut pada saat mengikuti apa yang diajarkan. ibu merasakan mules : ibu mampu

7.

Menganjurkan ibu untuk selalu mengosongkam kandung kemih dengan tidak menahan keinginan untuk buang air kecil : ibu paham dan mengerti, ibu buang air kecil kekamar mandi.

8.

Melakukan observasi His dan DJJ setiap 30 menit : hasil observasi His 4x 10¶/ 40´, DJJ 140 x/ menit

9.

Meminta ibu untuk tidak meneran dahulu karena pembukaannya belum lengkap dan dikhawatirkan lemas pada saat nanti ibu harus meneran: ibu mau mengikutinya dan menarik nafas panjang saat mules.

10. Mempersiapkan peralatan untuk menolong persalinan: Partus set, obatobatan, air DTT, air klorin, tempat plasenta, bengkok. 11. Observasi tanda-tanda vital, dan kemajuan persalinan (his, pembukaan), BJA : sudah dilakukan 12. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan pada lembar observasi patograf

Tabel. 2 Catatan perkembangan No Hari/ tanggal SOAP

1

Senin, 04 April 2011 Pukul 10.00 WIB

KALA II S : Ibu mengatakan mulesnya semakin kuat dan ada dorongan untuk meneran. O : 1.Keadaan umum : baik 2.Kesadaran : compos mentis

3.Tanda-tanda vital T : 110/70 mmHg P : 80x/Menit R : 22x/Menit S : 36,6°C

4.Terdapat tanda-tanda kala II yaitu, dorongan untuk meneran, tekanan pada anus, perineum menonjol, dan vulva membuka. 5.Pemeriksaan dalam Vulva vagina Portio Pembukaan Ketuban Presentasi Penurunan kepala Ubun-ubun 6.HIS : tidak ada kelainan. : tipis lunak. : 10 cm : Utuh : kepala : hodge IV : ubun -ubun kecil depan : 5 x 10¶/ 55´

A : G2P1 A0 inpartu kala II fisiologis. 1. P : 1. Mempersiapkan partus set dan obat-obatan 2. Mempersiapkan peralatan resusitasi 3. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan suami bahwa ibu akan segera melahirkan, ibu

dan suami mengerti tentang penjelasan yang diberikan. 4. Mendekatkan alat partus set dan obat-obatan, mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan menempatkan spuit steril ke dalam partus set. 5. Menyiapkan diri untuk menolong persalinan dengan memakai APD, kemudian mencuci tangan dan mengeringkannya dan memakai sarung tangan DTT. 6. Menghisap oksitosin 10 unit ke dalam spuit steril dan meletakannya ke dalam partus set. 7. Melakukan vulva hygine 8. Melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan lengkap dan memecahkan ketuban. Pembukaan lengkap dan ketuban pecah dilakukan amniotomi jam 10.05 WIB dengan warna jernih. 9. Observasi his 5x 10¶/ 45¶¶ DJJ 140x /menit. 10. Jam 10.10 WIB melakukan pimpinan persalinan saat ibu merasakan dorongan kuat untuk meneran. 11. Membimbing dan mendukung ibu atas usaha ibu untuk meneran. 12. Menganjurkan ibu untuk istirahat bila tidak ada his dan memberi ibu minum di sela-sela tidak

ada his. 13. Setelah kepala bayi terlihat 5-6 cm di perineum, meletakan handuk bersih diatas perut ibu dan meletakan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu. 14. Membuka partus set dan memakai handscoon steril pada kedua tangan. 15. Melindungi perineum dengan tangan kanan dilapisi kain bersih dan kering, tangan kiri menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala. 16. Setelah kepala bayi lahir melakukan pemeriksaan lilitan tali pusat, lilitan tali pusat tidak ada, biarkan kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan. 17. Secara biparietal dan lembut menarik ke arah bawah untuk melahirkan bahu depan, kemudian menarik ke arah atas untuk melahirkan bahu belakang. 18. Kemudian lahirkan badan dan tungkai bayi dengan sangga susur secara hati-hati. 19. Jam 10.20 WIB bayi lahir spontan langsung menagis kuat, warna kulit kemerahan, tonus otot kuat, jenis kelamin perempuan. 20. Meletakan bayi di perut ibu, mengatur kepala

bayi semi ektensi, membersihkan mata, mulut, hidung. Mengganti kain basah dengan kain yang bersih dan kering, menyelimuti bayi dengan kepala tertutup dan wajah terbuka.

Jam 10.25 WIB

KALA III S : Ibu merasa lelah dan ingin minum serta merasakan sedikit mules. O : 1.Keadaan umum : baik 2.Kesadaran : compos mentis

3.TFU sepusat, uterus membulat dan keras, kontraksi uterus baik, tali pusat tampak di vulva. 4.Perdarahan normal. 5.Kandung kemih kosong.

A : P2 A0 parturien aterm kala III fisiologis. P : 1. Menilai Afgar 1 menit : usaha bernafas menangis kuat, tonus otot bergerak aktif, warna kulit kemerahan. 2. palpasi untuk memestikan tidak ada janin kedua. Tidak ditemukan adanya janin kedua. 3. Memberitahu ibu bahwa akan dilakukan penyuntikan oksitosin. Ibu menyetujuinya 4. menyuntikan oksitosin 1 ampul secara intramuskuler sepertiga paha bagian luar. 5. Jepit tali pusat 3 cm dari pusat dan 2 cm dari klem pertama. 6. Lakukan pengguntingan tali pusat dan mengikat tali pusat. 7. meletakan bayi di tengah dada ibu. 8. pindahkan klem hingga berjarak 5-10 cm dari vulva. 9. Lakukan peregangan tali pusat terkendali oleh tangan kanan pada saat uterus berkontraksi, tangan kiri mendorong uterus ke arah dorsokranial. 10. Pada saat plasenta muncul di introitus vagina lahirkan plasenta dengan kedua tangan, pegang dan putar plasenta searah jarum jam sehingga selaput ketuban terpilin kemudian lahirkan. 11. plasenta lahir spontan jam 10.30 WIB, memeriksa kelengkapan plasenta, plasenta lengkap, memasukan plasenta pada tempat yang sudah disediakan, segera

setelah placenta lahir melakukan massase 15 kali selama 15 detik.

Jam 10.45 WIB

KALA IV S : Ibu merasa lelah dan ingin minum serta merasakan sedikit mules. O : 1.Keadaan umum : baik 2.Kesadaran : compos mentis

3.Tanda-tanda vital T : 120/70 mmHg P : 78x/Menit R : 22x/Menit S : 36,8°C

4.Perdarahan normal yaitu 100 cc 5.Kandung kemih kosong 6.TFU sepusat, kontraksi uterus baik. A : P2 A0 parturien aterm kala IV fisiologis. P: 1. Memberitahukan hasil pemeriksaan, bahwa plasenta sudah lahir . Ev : Klien merasa tenang 2. Memastikan kembali kontraksi uterus dan perdarahan . Ev : Kontraksi uterus baik dan perdarahan normal. 3. Mengajarkan klien dan keluarga untuk melakukan observasi perdarahan dan kontraksi uterus. Ev : Klien melakukan masase uterus dibantu oleh

suaminya. 4. Mencelupkan kedua tangan yang menggunakan sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5% kemudian membilasnya dengan air DTT dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering. Ev : Sudah dilakukan 5. Menempatkan semua peralatan didalam larutan klorin 0,5% untuk didekontaminasi selama 10 menit kemudian dicuci dan dibilas dengan air DTT dan disterilkan . Ev : sudah dilakukan 6. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi kedalam tempat sampah yang sesuai . Ev :Sudah dilakukan 7. Membersihkan lingkungan klien dengan menggunakan air DTT , membantu klien memakai pakaian yang bersih dan kering . Ev : Klien sudah bersih dan terlihat nyaman 8. Membersihkan tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5 % . 9. Mencuci kedua tangan dengan teknik 7 langkah di air yang mengalir dan menggunakan sabun. Ev : Sudah dilakukan 10. Melakukan Pendokumentasian . Ev : tercantum didalam SOAP dan partograf

3.4 ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS 2 JAM Jam : 12.45 WIB S : Ibu mengatakan masih lelah dan merasakan sedikit mules. O : 1. Keadaan Umum 2. Kesadaran 3. Tanda-tanda Vital T : 110 /70 mmHg N : 78 x/menit 4. Konjungtiva : merah muda 5. Payudara 6. TFU : colostrum (+) putting susu menonjol : 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik S : 37 oC R : 20 x/menit : baik : Compos mentis

7. Perdarahan : 50 cc 8. Kandung kemih kosong A : P2 A0 Post partum 2 jam fisiologis P : 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga mengenai keadaan ibu bahwa ibu dan bayi dalam keadaan baik. : Ibu dan suami merasa lega 2. Menjelaskan pada ibu bahwa mules yang ibu rasa adalah hal yang wajar setelah melahirkaan: ibu mengerti

3. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi jangan ada yang di pantang dan minum 8-10 gelas perhari : ibu mengerti dan mau melaksanakannya

4. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan dirinya terutama kebersihan genitalia, rajin mengganti pembalut dan memberitahukan pada ibu cara membersihkan genitalia : Ibu mengerti dan mau melaksanakannya 5. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif sampai usia bayinya 6 bulan karena ASI sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi dan meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu juga bersih, praktis, ekonomis : ibu bersedia memberikan ASI secara Eksklusif pada bayinya. 6. Menjelaskan teknik menyusui yang baik yaitu tangan kiri menyanggah kepala bayi dan pantat bayi, perut bayi menempel diperut ibu, tangan kanan memegang payudara atau sebaliknya secara bergantian : ibu mengerti dan terlihat mempraktikannya. 7. Memberitahu ibu tanda-tanda bahaya nifas seperti perdarahan ,lochea yan berbau, g susah BAB, pembengkakan payudara dan terasa berat sehingga sulit memberikan ASI, demam ,sakit kepala yang terus-menerus : ibu mengerti 8. Meminta ibu untuk segera ke tenaga kesehatan bila ada salah satu tanda bahaya nifas pada ibu: ibu mengerti 9. Menjelaskan tentang perawatan pada bayi seperti :
y Perawatan tali pusat : dicuci dengan air bersih lalu bilas dan keringkan , jangan

ditutup dengan kassa ataupun kain tebal
y BAK, BAB : jika bayi BAB dan BAK segera bersihkan dengan kapas dan air hangat ,

jangan dibiarkan terlalu lama

y Bayi jangn diletakkan di tempat yang dekat kipas angin atau suhu ruangan yang

dingin : ibu mengerti 10. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat, misalnya pada saat bayinya tidur ibu juga istirahat: Ibu bersedia melakukannya 11. Melakukan dokumentasi hasil pemeriksaan : Sudah dillakukan.

3.4.1 ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS 6 JAM Jam 18.45 WIB S : Ibu mengatakan masih lelah dan merasakan sedikit mules. O : 1. Keadaan Umum 2. Kesadaran 3. Tanda-tanda Vital T : 120/70 mmHg N : 78 x/menit S : 36,7 oC R : 20 x/menit : baik : Compos mentis

4. Konjungtiva : merah muda 5. Payudara 6. TFU : colostrum (+) putting susu menonjol : 2 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik

7. Perdarahan : normal 8. Kandung kemih kosong

A : P2 A0 Post partum 6 jam fisiologis P : 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan. 2. Memantau kembali perdarahan dan kontraksi uterus. Kontraksi uterus baik dan perdarahan normal. 3. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat. 4. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin. 5. Menganjurkan ibu untuk banyak makan dan minum.

3.4.2 Asuhan nifas 2 Hari Tanggal pengkajian Oleh Tempat pengkajian : 06 April 2011 : Rista Puji Pertiwi : Di Rumah Pasien Jam : 09.00 WIB

1. DATA SUBJEKTIF Ibu mengatakan keadaannya sudah membaik, ibu bisa BAB, ibu makan 3x sehari, ibu tidur cukup meski sering terbangun malam hari. Aktifitas ibu belum terlalu berat. II. DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Tanda ± tanda vital : Baik : Compos Mentis :

T. 110/70 mmHg R.20 x/menit TFU Kontraksi uterus Lochea ASI III. ASSESMENT Analisis Dasar

P. 82 x/menit S.360C : Pertengahan sympisis dan pusat. : Baik : Rubra : Ada tapi masih sedikit

: P2A0 post partum 2 hari normal : - ini adalah persalinan yang kedua - Melahirkan tanggal 04 April 2011 - Ibu melahirkan spontan pervaginam

Kebutuhan : - Penkes tentang perawatan payudara IV. PLANNING - Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu baik. - Memberitahu ibu untuk tidak khawatir ASI keluar sedikit, ibu harus terus menyusukan ASI kepada bayinya, ibu harus banyak makan sayuran dan banyak minum untuk menambah ASI. - Mengingatkan kembali tanda ± tanda bahaya pada saat nifas.

- Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. - Mengajarkan ibu cara menyusui yang baik, frekuensi menyusui minimal 10 -12 kali dalam 24 jam. - Menganjurkan ibu untuk merawat payudara. - Mendokumentasikan hasil pemeriksaan.

3.4.3 Asuhan nifas 6 Hari Tanggal pengkajian Oleh Tempat pengkajian I. : 09 April 2011 : Rista Puji Pertiwi : Di Rumah Pasien Jam : 08.00 WIB

DATA SUBJEKTIF Ibu mengatakan keadaan ibu sudah sangat membaik, ibu bisa BAB, ibu makan 3x sehari, ibu tidur cukup. Aktifitas ibu belum terlalu berat.

II. DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Tanda ± tanda vital T. 120/70 mmHg R.20 x/menit TFU : Baik : Compos Mentis : P. 76 x/menit S.360C : Pertengahan sympisis dan pusat.

Kontraksi uterus Lochea ASI III. ASSESMENT Analisis Dasar

: Baik : Sanguilenta : Ada

: P2A0 post partum 6 hari normal : - ini adalah persalinan yang kedua - Melahirkan tanggal 04 April 2011 - Ibu melahirkan spontan pervaginam

Kebutuhan : - Penkes tentang KB IV PLANNING - Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu dan bayi baik. - Mengingatkan kembali tanda ± tanda bahaya pada saat nifas. - Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. - Menggali sejauh mana ibu mengetahui alat kontrasepsi dan memberi penjelasan macam ± macam alat kontrasepsi (cara kerja, keuntungan, kerugian, kontra indikasi dan lain ± lain) dan biarkan ibu untuk memilih kontrasepsi. - Mengajarkan ibu cara menyusui yang baik, frekuensi menyusui minimal 10 -12 kali dalam 24 jam. - Menganjurkan ibu untuk merawat payudara.

- Mendokumentasikan hasil pemeriksaan. 3.4.4 Asuhan nifas 2 Minggu Tanggal pengkajian Oleh Tempat pengkajian : 18 April 2011 : Rista Puji Pertiwi : Di Rumah Pasien Jam : 09.00 WIB

I.

DATA SUBJEKTIF Ibu mengatakan sudah merasa nyaman, ibu sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa.

II. DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Tanda ± tanda vital T. 110/70 mmHg R.20 x/menit TFU Kontraksi uterus Lochea ASI III. ASSESMENT : Baik : Compos Mentis : P. 80 x/menit S.36,5 0C : 3 jari di atas sympisis : Baik : Serosa : Ada

Analisis : P2 A0 post partum 2 minggu normal Dasar : - ini adalah persalinan yang kedua - Melahirkan tanggal 04 April 2011 - Ibu melahirkan spontan pervaginam Kebutuhan : - Informasi tentang imunisasi - Penkes tentang KB IV. PLANNING - Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu bayi baik. - Mengingatkan kembali tanda ± tanda bahaya pada saat nifas. - Menjelaskan kembali alat kontrasepsi yang ibu pilih dan yakinkan ibu untuk memilihnya. Ibu memilih KB suntik 3 bulan - Mebreritahu ibu bahwa bayi harus di imunisasi BCG dan polio 1 - Memberitahu ibu jadwal imunisasi yaitu pada tanggal 5 Mei 2011 - Menganjurkan ibu untuk merawat payudara - Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

3.4.5 Asuhan nifas 4 Minggu Tanggal pengkajian : 02 Mei 2011 Jam : 09.00 WIB

Oleh Tempat pengkajian I.

: Rista Puji Pertiwi : Di Rumah Pasien

DATA SUBJEKTIF Ibu mengatakan sudah merasa nyaman, ibu sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa

II. DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Tanda ± tanda vital T. 120/70 mmHg R.21 x/menit TFU ASI III. ASSESMENT Analisis: P2 A0 post partum 4 minggu normal Dasar : - ini adalah persalinan yang kedua - Melahirkan tanggal 04 April 2011 - Ibu melahirkan spontan pervaginam Kebutuhan : - Informasi tentang KB : Baik : Compos Mentis : P. 76 x/menit S.36,50C : tidak teraba : Ada

IV. PLANNING - Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu dan bayi baik. - Mengingatkan kembali KB sesuai dengan jadwal yang telah di tentukan - Memberikan pelayanan kontrasepsi dengan Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) 150 mg IM - Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

3.4.6 Asuhan nifas 6 Minggu Tanggal pengkajian Oleh Tempat pengkajian : 16 Mei 2011 : Rista Puji Pertiwi : Di Rumah Pasien Jam : 09.00 WIB

1. DATA SUBJEKTIF Ibu mengatakan sudah merasa nyaman, ibu sudah bisa melakukan aktifitas seperti biasa II. DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Tanda ± tanda vital : Baik : Compos Mentis :

T. 120/80 mmHg R.22 x/menit TFU ASI III. ASSESMENT

P. 80 x/menit S.360C : tidak teraba : Ada

Analisis: P2 A0 post partum 6 minggu normal Dasar : - ini adalah persalinan yang kedua - Melahirkan tanggal 04 April 2011 - Ibu melahirkan spontan pervaginam Kebutuhan : - Informasi tentang imunisasi IV. PLANNING - Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu bayi baik. - Menanyakan pada ibu apakah ada penyulit yang ibu dan bayi alami - Menanyakan tentang efek samping setelah menggunakan alat kontrasepsi - Menanyakan pada ibu apakah ada keluhan saat melakukan hubungan seksual - Mendokumentasikan hasil pemeriksaan

3.5 Asuhan Bayi Baru Lahir Senin, 04 April 2011 Jam 10.30 WIB 3.5.1 DATA SUBJEKTIF A. Identitas Nama Bayi : By. Ny N

Tanggal Lahir / Jam : 04 April 2011, Jam 10.30 WIB B. Riwayat Persalinan Sekarang a. Jenis persalinan b. Ditolong oleh c. Warna ketuban : Spontan : Bidan : Jernih

3.5.2 DATA OBJEKTIF Bayi Ny. N lahir tanggal 04 April 2011 jam 10.30 WIB dengan jenis kelamin perempuan, segera menangis dengan kuat, warna kulit kemerahan, tonus otot bergerak dengan aktif. 3.5.3 ASSESMENT Bayi Baru lahir normal dengan keadaan umum baik. 3.5.4 PLANNING

1. Mengeringkan dan membersihkan tubuh bayi tanpa membersihkan verniks, dimulai dari muka, kepala, sampai badan kecuali bagian tangan, dan mengganti kain yang basah dengan kain yang bersih. 2. Mengikat dan memotong tali pusat setelah menyuntikan oksitosin. 3. Melakukan IMD selama 1 jam dengan meletakan bati diatas perut ibu. Ev : bayi menyusu. 4.Memberi salep mata dan menyuntikan Vit K disebelah kiri paha bagian luar setelah 1 jam berhasil IMD. 5. Menyuntikan HB Unijek disepertiga paha kanan bagian luar setelah 1 jam penyuntikan Vit K. 6. Observasi tanda-tanda vital dan keadaan umum bayi. Ev : observasi telah dilakukan dengan hasil keadaan umum bayi baik, denyut jantung 130 x/menit, respirasi 44 x/menit, suhu 36,70C, tidak ada perdarahan tali pusat. 7. Jaga bayi agar tetap hangat.

Jam 12.30 WIB S : Ibu mengatakan bayinya menete dengan kuat. 1. Keadaan umum baik.

2. Tanda-tanda vital : N : 133 x/menit R : 44 x/menit S : 37 0C

3. Warna kulit kemerahan, tonus otot bergerak aktif. 4. Antropometri : Berat badan Panjang badan 5. Pemeriksaan Fisik Kepala : Tidak ada moulage, tidak ada cepalo Hematoma, : 3000 gram : 47 cm

y

ubun-ubun teraba lunak datar. Mata Hidung : simetris, tidak ada infeksi ,refleks berkedip (+) : simetris, tidak ada secret, tidak ada polip, tidak ada

y y

pernafasan cuping Mulut dan bibir: bibir merah muda, bibir dan langit-langit normal, refleks rooting(+), refleks sucking (+), refleks swallowing (+). Telinga : simetris, tidak ada benjolan ,tidak ada pengeluaran Cairan
y y y

y

y

Leher System saraf Dada vesikuler.

: refleks tonick neck (+), tidak ada pembengkakan. : refleks moro (+) : simetris, tidak ada tarikan dinding dada, bunyi nafas

y

Abdomen

: simetris, tidak ada penonjolan sekitar tali pusat, tidak

ada perdarahan tali pusat, tidak ada benjolan abnormal. Saat menang is perut bayi tidak lembek Genitalia : labia mayora menutupi labia minora

y y

Ekstremitas atas dan bawah : refleks gerak normal, jumlah jari-jari normal dan lengkap, refleks babinski (+), refleks walking (+). Punggung dan anus anus (+), Kulit : merah, masih ada verniks, tidak ada tanda lahir : tidak ada pembengkakan ataupun cekungan,

y

y

A : Neonatus umur 2 jam dengan keadaan umu baik. P : 1. Merawat tali pusat. Ev : tali pusat nampak basah, tidak ada perdarahan. 2. Memberikan ASI dengan ditetekan pada ibu. Ev :bayi menetek dengan kuat 3. Menjaga agar bayi agar tetap hangat. 06 April 2011 Jam 09.00 WIB S : Ibu mengatakan tali pusat kering dan bayinya menetek dengan kuat. O : 1. Keadaan umum baik. 2. Tanda-tanda vital : P : 126 x/ menit 3. Reflek isap kuat. R : 45 x/menit S : 36,70C

4. Tali pusat kering. 6. Tidak ada ikterus. A : Bayi baru lahir 2 hari dengan keadaan umum baik. P : 1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu. 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya imunisasi. 3. Mengingatkan kembali tentang perawatan tali pusat. 4. Mengingatkan kembali tentang ASI eklusif. 5. Segera periksakan bayinya jika tampak ada kelainan.

09 April 2011 Jam 09.00 WIB S : Ibu mengatakan tali pusat sudah lepas. O : 1. Keadaan umum baik. 2. Tanda-tanda vital : P : 130 x/ menit R : 43 x/menit S : 36,70C

3. Pusat tampak kering (tidak ada perdarahan). 4. Tidak ada ikterus. A : Bayi baru lahir 6 hari. P : 1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu.

2. Menganjurkan ibu agar selalu membawa bayinya ke posyandu atau pelayanan kesehatan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayinya. 3. Mengingatkan kembali pada ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin tanpa memberi makanan pendamping ASI. 4. Memberitahukan jadwal kunjungan ulang untuk imunisasi BCG tanggal 05 Mei 2011.

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada pada Ny. N penulis menemukan persamaan dan tidak menemukan kesenjangan antara konsep teori dengan kenyataan dilapangan.

4.1 Kehamilan

Penulis tidak menemukan kesulitan dalam mengumpulkan data subjektif karena sikap kooperatif dari Ny. N dan keluarga. Dari data subjektif pada Ny. N, penulis tidak menemukan adanya keluhan yang berarti. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan diperoleh melalui anamnesis ibu mengatakan ini adalah kehamilan yang kedua dan tidak pernah mengalami keguguran. Data mengenai diimunisasi TT sebanyak 2 kali yaitu pada usia kehamilan 4 bulan dan kehamilan 5 bulan. Pemberian imunisai TT sesuai dengan teori dari Pusdiknakes (2003) Pada pemeriksaan kehamilan, ibu hamil akan mendapat imunisasi TT setelah dinyatakan hamil, umumnya jarak pemberian imunisasi pertama dengan imunisasi kedua adalah 1 bulan sehingga efektivitasnya tinggi.

Selanjutnya pada pemeriksaan payudara diperoleh data bahwa kolostrum pasien sudah keluar. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Arif (2006) pada masa kehamilan payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menghitam karena deposit pigmen berlebihan. Terdapat kolostrum pada kehamilan lebih 12 minggu.

Berdasarkan data subjektif data objektif dapat diambil kesimpulan bahwa NyN usia 24 tahun G2P1A0 hamil 40 minggu fisiologis. Dalam melaksanakan pengkajian terhadap Ny. N

penulis tidak menemukan terjadinya masalah potensial sehingga dapat menentukan perencanaan asuhan sesuai dengan kebutuhan ibu hamil.

4.2 Persalinan

Data yang diperoleh berupa ibu merasa mules-mules sebagai tanda kelahiran. Hal ini sesuai dengan Handaya (2008) sebagai salah satu tanda persalinan tiba adalah adanya rasa mules-mules yang sering, teratur dan keluar lendir darah adanya his yang datang leih kuat, sering dan teratur dan juga keluar lendir yang bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.

4.3 Nifas

Menurut Depkes RI (2004:1-2) subjektif yaitu suatu informasi yang diceritakan oleh ibu tentang apa yang dirasakannya, apa yang sedang dialaminya dan apa yang telah dialaminya. Data subjektif juga meliputi informasi tambahan yang diceritakan oleh anggota keluarga tentang status klien. Data subjektif dikumpulkan dengan cara berbicara dengan ibu mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai kondisi ibu, mengamati tingkah laku ibu apakah ibu terlihat sakit, nyaman atau terganggu (kesakitan).

Hal ini telah sesuai dengan tindakan yang telah dilakukan oleh penulis dalam mengumpulkan data subjektif. Dalam kasus ini yaitu asuhan nifas normal pada Ny. N, data subjektif yang diperoleh penulis sudah lengkap dan penulis tidak mengalami hambatan dalam pengumpulan data, hal yang terjadi adalah fisiologis dan kenyataan ini telah sesuai dengan teori pada asuhan nifas normal yang dikemukakan oleh Saifuddin (2002:124) yang mengemukakan bahwa dalam pengambilan data subjektif yaitu dengan cara anamnesis yang meliputi : Riwayat Ibu, Riwayat Sosial-Ekonomi : Respon ibu dan keluarga terhadap bayi, kebiasaan minum, merokok, dan menggunakan obat. Dan Riwayat Bayi

Dalam asuhan nifas normal pengumpulan data subjektif sangatlah penting, karena dengan mengetahui keluhan-keluhan yang dirasakan klien bisa mendeteksi lebih awal hal-hal apa saja yang mungkin bisa terjadi pada klien. Apabila klien dalam keadaan normal atau fisiologis maka untuk memberikan asuhan pada masa nifas menjadi wewenang bidan untuk memberikan asuhan yang sesuai dengan standar asuhan nifas normal, dalam Standar Kompetensi Inti Bidan yang ke-5 yang dinyatakan oleh ICM (1999) yaitu bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi dan tanggap terhadap budaya setempat.

4.4 Bayi Baru Lahir

Berdasarkan hasil anamnesis penulis menemukan kenyataan bahwa data subjektif yang dikumpulkan diantaranya ibu mengatakan bahwa bayi lahir spontan, bayi langsung menangis kuat segera setelah lahir. Berdasarkan hasil anamnesis tersebut dapat dikemukakan bahwa bayi baru lahir dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Saifuddin (2002:352) penilaian awal bayi baru lahir dengan tiga hal saja yaitu apakah bayi menangis kuat, apakah warna kulit bayi kemerahan dan bagaimana pergerakan bayi tersebut. Bila bayi menangis kuat segera setelah lahir, berwarna kemerahan dan bergerak aktif maka dapat dipastikan bahwa bayi dalam kondisi stabil. Dengan data subjektif tersebut penulis menemukan bahwa baik dari riwayat persalinan maupun keadaan bayi baru lahir memiliki persamaan dengan indikator bayi baru lahir normal.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Setelah melakukan asuhan komprehensif pada Ny. N, penulis dapat mengetahui pelaksanaan Asuhan Kebidanan dengan kesimpulan bahwa dalam pelaksanakan asuhan kebidanan Komprehensif pada Ny. N tidak menemukan perbedaan. Kesimpulan dari tiap langkah asuhan dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mampu melaksanakan asuhan kehamilan pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 hamil 40 minggu di BPS. P melalui pendekatan manajemen kebidanan dan di dokumentasikan dalam catatan SOAP.

2. Mampu melaksanakan asuhan persalinan pada Ny. N usia 24 tahun G2P1A0 hamil 40 minggu di BPS. P melalui pendekatan manajemen kebidanan dan di dokumentasikan dalam catatan SOAP.

3. Mampu melaksanakan asuhan nifas pada Ny. N usia 24 tahun P2A0 di rumah pasien melalui pendekatan manajemen kebidanan dan didokumentasikan dalam catatan SOAP.

4. Penulis mampu melaksanakan asuhan pada bayi baru lahir Ny. N di rumah pasien melalui pendekatan manajemen kebidanan dan didokumentasikan dalam catatan SOAP.

5.2 Saran

Setelah melakukan asuhan komprehensif pada pada Ny. N maka pada kesempatan ini penulis merasa perlu untuk memberikan beberapa saran antara lain :

1. Klien

Disarankan bagi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan, bersalin dan melakukan pemeriksaan masa nifas serta bayi baru lahir ke tenaga kesehatan.

2. Instansi Pelayanan

Instansi pelayanan disarankan meningkatkan pelayanan kesehatan melalui evaluasi dalam meningkatkan pelayanan kebidanan yang terorganisir mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap asuhan kehamilan khususnya ibu hamil s ehingga komplikasi-komplikasi dapat dicegah sedini mungkin.

3. Institusi Pendidikan

Instansi pendidikan disarankan meningkatkan sarana kepustakaan sebagai wacana kreatifitas baca dan agar mahasiswa dapat mudah memperoleh referensi.

4. Penulis

Sebagai calon tenaga kesehatan, maka mahasiswa disarankan untuk dapat memberikan asuhan kebidanan yang sesuai dengan standar praktik kebidanan, standar kompetensi bidan dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2001. Catatan Perkembangan Dalam Praktek Kebidanan. Jakarta IBI. 2003. Bidan Menyongsong Masa Depan. PP IBI. Jakarta Ilyas, J.2002. Asuhan Keperawatan Antenatal. Cetakan I. Jakarta : Buku Kedokteran. Jakarta. Idanati, 2005. Tetanus Neonatorum pada Bayi Baru Lahir. http://www.medicastor.com diakses tahun 2008 Kepmenkes 2002. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta : PP. Ikatan Bidan Indonesia Marwan. 2008. Angka Kematian Masih Tinggi. http://www.acehrecoveryforum.org diakses tanggal tahun 2008 Pengurus Pusat IBI, 2004. Etika dan Kode Etik Kebidanan. Jakarta PPKC, 2003. Pelatihan Manajemen Asuhan Kebidanan. PPKC/Publik manajemen Asuhan Kebidanan. Jakarta Saifuddin, 1999. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Saifudin, AB.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta, YBP Sarwono Prawirohardjo bekerja sama dengan JPNPKKR ± POGI ± JHPIEGO/MNH PROGRAM.

Setiawan, 2005. Infeksi Nifas.http://www.s iaks of t.com diakses tahun 2008 Siregar, K Asuhan Antenatal (Antenatal Care). Dari http://www.geocities.com/yosemite dikases tahun 2007 SPK, 2001. Standar Pelayanan Kebidanan. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Wiknjosastro S., 2002. Ilmu Kebidanan Edisi Ke Tiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful