Sisi Gulita Hutan Indonesia

Oleh: L. Wiji Widodo* Peran Indonesia dalam konferensi internasional tentang perubahan iklim dan hutan di Norwegia, yang dihadiri oleh Presiden SBY dinilai sangat strategis . Tidak dipungkiri sektor kehutanan mempunyai peranan yang sangat vital dalam kelangsungan hidup manusia. Sumber daya yang dimiliki sector ini tak ternilai dan manfaatnya diarasakan pada berbagai aspek kehidupan. Akan tetapi kebebasan kita dalam mengelola , terutama memanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat memunculkan juga tanggungjawab berpartisipasi untuk ikut menyelamatkan bumi. Tentu tidak mudah mengawinkan lakon hutan, sebagai sumbangsih terhadap pembangunan serta turut berderma terhadap dunia sebagi paru-paru jagad agar tetap hijau dan lestari. Pada Negara dunia ketiga seperti Indonesia, dimana lakon sector kehutanan tidak saja mata air perolehan devisa non-migas, tetapi juga penyedia lapangan kerja. Bahkan devisa yang mengucur dari ekspor hasil hutan ini nilainya terus merayap naik, USD 2.603.298.513 (2003), USD 2.284.446.322 (2004), USD 2.380.573.700 (2005), USD 2.741.663.762 (2006), (2007) Tentu dibutuhkan paradigma baru untuk mengelola hutan kita agar tetap sebagai mesin devisa tetapi juga sebagai paru-paru dunia. Terlepas berharap delegasi Indonesia membawa dampak nyata dari konfrensi sehari tersebut, berupa sense belonging dari Negara-negara maju terhadap hutan kita. Tentunya upaya usang yakni mengelola hutan hanya berorientasi pada pertumbuhan dengan “semangat” eksploitatif semata harus diakhiri. Terbukti praktik ini hampir tidak menghadirkan kesejahteraan untuk rakyat, justru penyimpangan dan penyalahgunaan ijin menjadi wajah sector kehutanan.

Kejahatan SDA Munculnya eksploitasi yang berlebihan terhadap sector kehutanan bermula sejak dibukanya kran pengelolaan hutan melalui Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang dimulai sejak tahun 1960-an,inilah biang dari kejahatan SDA khususnya hutan. Luas hutan Indonesia sekitar 133.69 juta hektar yang terdiri dari kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi, hutan produksi yang dapat dikonversi, kawasan suaka alam dan pelestarian alam. Lewat HPH tersebut pemerintah memberikan ijin pengelolaan terhadap perusahaan-perusahaan swasta kepada perusahaan-perusahaan swasta yang mengajukan permohonan izin pengelolaan. Sejak tahun 1998 areal hutan yang dialokasikan untuk 651 HPH seluas 69,4 juta ha. Dari 69,4 juta ha ini 34 juta ha (49%) di antaranya dikelola oleh 291 HPH yang sedang menjalankan jangka waktu konsesi pertamanya (20 tahun yang pertama). Bila pada tahun 2000 – 2005 laju kerusakan hutan mencapai 1,871 juta hektar atau sekitar dua persen setiap tahunnya, bahkan kita lebih lahap dari Zimbabwe yang hanya 1,7 persen, Myanmar 1,4 persen, dan Brazil 0,6 persen. Ternyata angka ini-pun bertahan hingga sekarang, hinga predikat tak sedap dari Guinness Book sebagai negara dengan kerusakan hutan terbesar di dunia. Permintaan yang tinggi dari negara-negara pengimpor kayu juga salah satu sumber bencana, hingga semakin meriahnya kejahatan terhadap hutan berupa penebangan liar. Pada dasarnya, penebangan liar merupakan masalah yang sangat kompleks. Didalamnya banyak pihak yang terlibat, yang dilatar belakangi oleh berbagai kepentingan dengan jaringan yang sangat kuat. Bahkan di luar negeri, illegal logging telah melibatkan jaringan internasional yang rapi. Penyelundupan kayu ilegal ke luar negeri ini melalui negara-negara perbatasan, seperti Malaysia dan Papua Nugini yang sampai tahun 2004 sebanyak 12,5 juta meter kubik kayu diselundupkan selama tiga tahun terakhir. (suripto, 2007). Adapun modus yang digunakan para pelaku kejahatan hutan sangat terorganisisr, dan memanfaatkan penyandang dana atau cukong. Mereka menjalankan organisasinya dengan sistem sel yang melibatkan

anggota masyarakat untuk melakukan penebangan liar. Berbagai pihak turut serta dalam kemeriahan kejahatan ini. Termasuk pemerintah kabupaten setempat. Contoh yang tak sedap untuk diungkap adalah pada Pemerintah Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara. Berdasarkan catatan Walhi, Pemerintah Kabupaten Muna diduga keras melakukan praktik illegal logging di Hutan Produksi Muna atau lebih dikenal dengan Hutan Jati Muna. Praktek illegal diperkirakan telah menciptakan kerugian negara senilai Rp. 2.478.971.808. Praktik ini berlangsung aman karena Pemkab mengunakan modus kayu sitaan untuk menampung seluruh kayu yang ditebang. Fakta pilu lainnya yakni, putusan PN Medan No 2240/Pid.B/2007/PNMdn tanggal 5 November 2007 memutuskan terdakwa Adelin tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan tindak pidana kehutanan. Padahal pemilik perusahaan PT Mujur Timber ini, melakukan penyimpangan rencana kerja tahunan (RKT), baik dalam memanfaatkan hasil hutan kayu maupun pelaksanaan reboisasinya, yaitu menebang areal hutan yang tidak diizinkan menggarap lahan melebihi haknya, izin usaha pemanfaatan hasil kayu yang dikantongi hanya pada areal hutan seluas 40.610 ha di Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Dan hutan di Kecamatan Muara Batang Gadis, Madina, seluas 58.590 hektare. Tetapi dalam prakteknya merambah kawasan hutan lindung Taman Nasional Batang Gadis. Sehingga menurut Departemen Keuangan perusahaan ini merugikan Negara sekitar Rp 800 triliun. Keputusan yang diambil oleh pihak pengadilan ini menunjukkan kelemahan dari pada penegakan hukum disektor kehutanan khususnya dalam pemberantasan penebangan liar di Indonesia. Negara yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari illegal loging ini adalah Singapura dan Malaysia. Umumnya Negara ini memperoleh pasokan kayu dari Papua, Aceh, Sumut, Kalimantan, dan Irian Jaya Barat. Setelah melalui proses “pencucian” Selanjutnya, kayu ilegal itu menjadi kayu legal. Baru kemudian kayu-kayu 'legal' asli tapi palsu itu diperdagangkan kepada para pengusaha dari Jepang, Tiongkok, Eropa, dan AS.

Peran Mulia Ganda Praktek kejahatan SDA harus dapat segera diakhiri. Memang untuk menjaga sektor kehutanan pemerintah telah membidani setidaknya lewat UU No 41/1999 tentang Kehutanan dan Inpres No 4/2005 tentang Pemberantasan Illegal logging nampaknya aturan Negara ini masih rapuh. Praktek ekonomi dalam sektor kehutanan masih penuh kabut kelam. Pemerintah harus segera menyibak, dengan formulasi kebijakan yang ciamik, setidaknya dua peran akan kita pentaskan dari panggung sektor kehutanan. Amanat UUD 45 untuk mengelola demi kesejahteraan rakyat serta turut dalam “menyejukkan” dunia, sebagai paru-paru bumi.

*L. Wiji Widodo, Lembaga Pengembangan Pendidikan (LP3) Universitas Brawijaya

Dan

Pengkajian

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful