ASKEP FRAKTUR

>> Kamis, 10 Juli 2008
FRAKTUR I. PENGERTIAN Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 : 144). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347). Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138). Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam syok (FKUI, 1995:543) Fraktur olecranon adalah fraktur yang terjadi pada siku yang disebabkan oleh kekerasan langsung, biasanya kominuta dan disertai oleh fraktur lain atau dislokasi anterior dari sendi tersebut (FKUI, 1995:553).

II. ETIOLOGI Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : a. Cedera traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : 1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. 2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. 3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. b. Fraktur Patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut : 1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. 2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. 3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi

Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.fraktur sederhana.kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. avulse . KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR a. Fase hematum . obliq atau kumulatif ringan.¾ Fraktur bergeser. c. terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut di lokasi fragmen (Smeltzer. b. bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.Kontaminasi ringan. 2) Derajat II . otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. bila terdapat hubungan antara fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit. fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat. 3) Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit. .Kerusakan jaringan lunak.Fraktur komuniti sedang. c) Bergeser-tidak bergeser Fraktur tidak bergeser garis patali kompli tetapi kedua fragmen tidak bergeser.Laserasi lebih dari 1 cm . tranversal. Fraktur complete ‡ Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal). III. PATOFISIOLOGI Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu : 1. tidak luas. yaitu : 1) Derajat I . c. 2001:2357).luka kurang dari 1 cm . Fraktur tertutup (closed). Fraktur incomplete ‡ Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. e.¾ IV. d. 2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan 3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan.kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. Jenis khusus fraktur a) Bentuk garis patah 1) Garis patah melintang 2) Garis pata obliq 3) Garis patah spiral 4) Fraktur kompresi 5) Fraktur avulsi b) Jumlah garis patah 1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. . Fraktur terbuka (open/compound).

Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3. edema. mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5. VI. Rotasi pemendekan tulang b. skor C1. 1993 : 199). Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler 4. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. Fase formasi callus ‡ Terjadi 6 ± 10 harisetelah injuri ‡ Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus 4. 3. Foto Rontgen Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung Mengetahui tempat dan type fraktur Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik 2. TANDA DAN GEJALA 1. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10. Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. Skor tulang tomography. Fase ossificasi ‡ Mulai pada 2 ± 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh ‡ Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah 5. 7. Fase granulasi jaringan ‡ Terjadi 1 ± 5 hari setelah injury ‡ Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis ‡ Itematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblast. Deformitas Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. hematume disekitar fraktur ‡ Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat 2. 3. V. Krepitasi (Black. Pergerakan abnormal 9. Fase consolidasi dan remadelling ‡ Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas (Black. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( . 1993 : 19 ). Tenderness/keempukan 6. Penekanan tulang 2.‡ Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Kehilangan sensasi (mati rasa. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4.

b. 1999 : 76 ). Fraksi terbuka Pembedahan debridement dan irigrasi Imunisasi tetanus Terapi antibiotic prophylactic Immobilisasi (Smeltzer. dan larutan . 1999) meliputi : a. Defisiensi immune . apatis . kondisi yang kronis/batuk. PENGKAJIAN Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono. (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) . plester. Penurunan terbuka merupakan perbaikan tulang terusan penjajaran insisi pembedahan. Tanda : tidak dapat istirahat. edema pulmonal. Keamanan Gejala : alergi/sensitive terhadap obat. Type lokasi fraktur tergantung umur klien. seringkali memasukkan internal viksasi terhadap fraktur dengan kawat. factor-faktor stress multiple. Integritas ego Gejala : perasaan cemas. manipulasi non bedah penyusunan kembali secara manual dari fragmen-fragmen tulang terhadap posisi otonomi sebelumnya. Makanan / cairan Gejala : insufisiensi pancreas/DM. stimulasi simpatis. c. takut. misalnya financial. penyakit vascular perifer. merokok. Fraktur Immobilisasi Pembalutan (gips) Eksternal Fiksasi Internal Fiksasi Pemilihan Fraksi 3. GJK. gaya hidup. sekrup peniti plates batang intramedulasi. d. VII. Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges. 2001). 1994 : 10). malnutrisi (termasuk obesitas) . Pernapasan Gejala : infeksi. PENATALAKSANAAN 1. e. hubungan. dan paku. membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode puasa pra operasi). Peralatan traksi : o Traksi kulit biasanya untuk pengobatan jangka pendek o Traksi otot atau pembedahan biasanya untuk periode jangka panjang. Sirkulasi Gejala : riwayat masalah jantung. makanan. peningkatan ketegangan/peka rangsang . 2. marah.perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma 5. atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus). Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges. Fraktur Reduction  Manipulasi atau penurunan tertutup. MANAJEMEN KEPERAWATAN I.

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea. Kriteria Hasil : . DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono.Nyeri berkurang atau hilang . antikonvulsan atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas. III. Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. 2006) meliputi : 1. Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson. bronchodilator. Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.(peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) . digambarkan dalam istilah seperti kerusakan . Kurang pengetahuan tantang kondisi. terapi pembatasan aktivitas. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. 1994:20) Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. respons inflamasi tertekan. ansietas. antidisritmia. ketidak edekuatan oksigenasi. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial. kerusakan muskuloskletal. kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat luka / ulserasi. 6. kurang terpajan/mengingat. analgesic. steroid. atau obat-obatan rekreasional. ansietas 2. dekongestan. prosedur invasif dan jalur penusukkan. alat traksi/immobilisasi. kardiotonik glokosid. Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan . stress. 1995:40). Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan. antiinflamasi. demam. 4. dan penurunan kekuatan/tahanan. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. f. Munculnya kanker / terapi kanker terbaru . insisi pembedahan. Penyuluhan / Pembelajaran Gejala : pengguanaan antikoagulasi. salah interpretasi informasi. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. dan gangguan pola tidur. 3. II. penurunan berat badan. antibiotic. Riwayat penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) . 1994 : 17). 5. terdapat jaringan nekrotik. dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi). yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia. kelemahan/keletihan. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang. diuretic. Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal. Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi . Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur (Wilkinson. perubahan status metabolik. antihipertensi. edema dan cedera pada jaringan. kelemahan. luka/kerusakan kulit. turgor kulit buruk. 2006) meliputi : 1. gerakan fragmen tulang.

Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. Kriteria hasil : . R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan. c. c. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. Intervensi dan Implementasi : a. serta jumlah dan tipe cairan luka. R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat. . d. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas seharihari yang diinginkan. bau. warna. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri. ukuran.perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. tulang dan anggota gerak lainya baik. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. d. Kriteria Hasil : . Intervensi dan Implementasi : a. R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. Rencanakan periode istirahat yang cukup. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e.pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. Kaji lokasi. 2. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. 3. R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Pantau peningkatan suhu tubuh. Intervensi dan Implementasi : a. mobilisasi dini. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. .. dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. . b. b.Klien tampak tenang. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat. . . Observasi tanda-tanda vital.Koordinasi otot.

R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. e. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. ganti balutan sesuai kebutuhan.melakukan pergerakkan dan perpindahan. prosedur invasif dan kerusakan kulit. Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. Intervensi dan Implementasi : . R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka. gunakan plester kertas.R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. memudahkan intervensi. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. . R/ mengidentifikasi masalah. dengan karakteristik : 0 = mandiri penuh 1 = memerlukan alat Bantu. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. d. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi. g. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi. h. Kriteria hasil : . pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. k. j. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan. tidak berpartisipasi dalam aktivitas. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya. 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. Intervensi dan Implementasi : g. kadar gula darah yang tinggi.. . perubahan sirkulasi. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. . f. misalnya debridement. Setelah debridement. agar tidak terjadi infeksi. pengawasan. . Balut luka dengan kasa kering dan steril.penampilan yang seimbang. R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. Kriteria hasil : . 2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. 4. 4 = ketergantungan. dan pengajaran. 5. i.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.

R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial. Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang. R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah. b. efek prosedur dan proses pengobatan. kurang terpajan/mengingat. Kriteria Hasil : .melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan. klien dan keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker.a. Infeksi tidak terjadi / terkontrol 6. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. c. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah : 1. 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi. IV. kateter.memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen perawatan. dll. 2. 2001). Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan. d. R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan. 6. Intervensi dan Implementasi: a. Pantau tanda-tanda vital. R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai keberhasilan dari tindakan yang dilakukan. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. e. seperti Hb dan leukosit. d. 5. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai 4. . R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang. salah interpretasi informasi. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya. drainase luka. . b. efek prosedur dan proses pengobatan. c.

Edisi 3. Kamus Saku Keperawatan. edisi 7. dan Wim de Jong. EGC. Oerswari 1989. Joyce M. Medical Surgical Nursing. EGC : Jakarta. FKUI. Sjamsuhidajat. EGC : Jakarta Wilkinson. Brunner dan Suddarth.B Sainders Company : Philadelpia Boedihartono. Edisi revisi. Bedah dan Perawatannya. R. 1999. Suzanne C. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. 2001. Christine. Judith M. EGC. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta Nasrul. 2001.DAFTAR PUSTAKA Black. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth. Marilyn E. 1998. Keperawatan Medikal Bedah. Smeltzer. 1995. Effendi. Edisi 3. 1994. EGC : Jakarta. 1995. 2006. Buku Ajar Imu Bedah. Brooker. PT Gramedia. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan. E. Pengantar Proses Keperawatan. Edisi 8. EGC : Jakarta. Jakarta Doenges. EGC : Jakarta. Jakarta. 2002. W. EGC : Jakarta. Binarupa Aksara : Jakarta .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful