Pengantar Ilmu Politik Kuliah 9 Lembaga Yudikatif

Universitas Terbuka
Oleh: Ardhyana Rokhmah Pratiwi

24/04/2011

Latar Belakang Sejarah Badan Yudikatif
Nachtwakter Staat (Negara sebagai Penjaga Malam)—the least government is the best government. Individualisme yang terpenting Konsep pemisahan kekuasaan

Badan kehakiman yang tegas

Perlindungan terhadap Individu

Negara Rule of Law

Deklarasi Sedunia HAM: Pasal 10
“Everyone is entitled in full equality to a fair and public hearing by an independent and impartial tribunal, in the determination of his rights and obligations and of any criminal charge against him”. - Bahwa kebebasan dan tidak memihaknya badan-badan pengadilan adalah hal yang esensial di setiap negara.

Kebebasan Yudikatif
Di dalam menjalankan tugasnya, bebas dari campur tangan: • Badan eksekutif • Legislatif • Masyarakat umum

Perkembangan Negara Abad ke-20
Negara Penjaga Malam
Pemisahan kekuasaan

Welfare State

Pembagian kekuasaan

Badan Yudikatif (Kekuasaan Kehakiman)
• Pelaksana: badan-badan yudikatif (badan-badan pengadilan dan Mahkamah Agung sebagai badan pengadilan tertinggi). • Doktrin pembagian kekuasaan: badan yudikatif harus dipegang oleh pejabat yang tidak merangkap dengan jabatan dalam badan-badan kekuasaan lainnya untuk menjamin HAM. • Fungsi:  Mengawasi dan mengadili pelanggaran UndangUndang.  Hak Menguji (judicial review).

Sistem Hukum
Common Law
-Prinsip: di samping UU yang dibuat parlemen (statute law) masih ada aturanaturan Common Law (kumpulan keputusan yang di waktu lalu telah dirumuskan oleh hakim, bukan aturanaturan yang telah dokodifikasi atau dimasukkan dalam suatu kitab UU seperti Code Civil). - prinsip judge-made law didasarkan atas precedent (keputusan-keputusan para hakim yang terdahulu mengikat hakimhakim berikutnya dalam perkara yang serupa). - misalnya Inggris.

Civil Law (Sistem Hukum Perdata)
-Prinsip: Positivisme perundangundangan/Legalisme – ‘Undang-Undang menjadi sumber hukum satu-satunya’. -Hakim harus mengadili perkara hanya berdasarkan hukum yang termuat dalam kodifikasi saja. Bila ternyata peraturan hukum dalam kodifikasi tidak menatur perkara, baru hakim boleh memberi putusan sendiri; tetapi putusan tsb. Tidak mengikat hakim-hakim berikutnya dengan perkara serupa. -Penciptaan hukum oleh hakim secara sengaja adalah tidak mungkin. -Misalnya: Perancis.

Peran Legislatif
• Di negara-negara eks komunis USSR dan Eropa Timur: ‘Socialist Legality’- diarahkan demi mencapai tujuan masyarakat sosialis. Fungsi badan yudikatif tidak untuk melindungi kebebasan individu dari tindakan kesewenangwenangan pemerintah. HAM di USSR dilindungi sejau tidak diselenggarakan secara bertentangan dengan tujuan sosial dan ekonomi.

Judicial Review (materieel toetsingsrecht)
“Wewenang untuk menilai apakah suatu UU sesuai atau tidak dengan UUD”. Yaitu, menyatakan bahwa suatu produk UU tidaklah sesuai dengan UUD (unconstitutional) dan mendorong badan legislatif untuk membatalkannya dan menariknya dari peredaran. Di AS, Jepang, India, belakangan Indonesia – Mahkamah Agung/Mahkamah Konstitusi yang memiliki wewenang ini.

Pelaksanaan Judicial Review
• Contoh AS - Wewenang melakukan JR terletak di Supreme Court (Mahkamah Agung). - Tidak diamanatkan oleh konstitusi tetapi berdasarkan konvensi. - MA: ‘Guardian of the Constitution’ (Pengaman UUD).
Ketua MA: John Marshall

Badan Yudikatif di Indonesia

Masa Orde Baru
Masa Demokrasi Terpimpin

Masa Reformasi

Badan Yudikatif di Indonesia
• Pasal 24 UUD 1945: “(1)Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. (2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.”
Sebelum UUD 1945 diamandemen, UUDS 1950 dan UUD RIS 1949: tidak memuat ketentuan tentang hak uji materiil. Amandemen UUD 1945 (1999-2002)– Pasal 24A, 24B, 24C perubahan III UUD 1945. Badan Yudikatif: Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, dan Komisi Yudisial.

• •

Pasal 24A perubahan III UUD 1945: Mahkamah Agung
• (1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang. • (2) Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di bidang hukum. • (3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh Presiden. • (4) Ketua dan wakil ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung. • (5) Susunan, kedudukan, keanggotaan, dan hukum acara Mahkamah Agung serta badan peradilan di bawahnya diatur dengan undang-undang.

Pasal 24B perubahan III UUD 1945: Komisi Yudisial
• (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. • (2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. • (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. • (4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan undang-undang.

Pasal 24C perubahan III UUD 1945: Mahkamah Konstitusi
(1) Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap UndangUndang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. (2) Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar. (3) Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden. (4) Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh hakim konstitusi. (5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela, adil, negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat negara. (6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan undang-undang.

Judicial Review di Indonesia
• 13 Agustus 2004: Mahkamah Konstitusi resmi dibentuk. • Di awal berdiri: menerima 15 berkas permohonan uji materiil (judicial review). Hingga satu tahun keberadaannya MK menangani 15 perkara Judicial Review, mengubah 3 UU, dan menuntaskan lebih dari 400 perkara Pemilu. Baru menggunakan 2 wewenangnya hingga saat ini.

Judicial Review
• Pembatalan pasal 60 huruf g UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. • Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful