dalam Kemurnian dan Keutuhannya

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA PASAL 72 KETENTUAN PIDANA SAKSI PELANGGARAN

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu Ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara palng singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) 2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Drs. H. Rusli

dalam Kemurnian dan Keutuhannya

Penerbit Universitas Negeri Padang Press Padang , Sumatera Barat, Indonesia

Rusli,

Silat Kumango/ Rusli; editor, Arif Yusadly Penerbit UNP Press. Padang 2008 1 (satu) jilid ; 14,8 x 21 cm (A5) 133 hal. ISBN : 978-979-8587-45-0 1. Olahraga 2. Silat .3. Minangkabau 1.UNP Press

SILAT KUMANGO dalam Kemurnian dan Keutuhannya

Hak Cipta © 2008 dilidungi oleh undang-undang pada penulis Hak penerbitan pada UNP Press

Penyusun Editor Layout Desain Sampul

Drs. H.Rusli Arrif Yusadly. S. Si Tim Layout UNP Press Adobe inDesign 2, Book Antique, 11 pt Nasbahry Couto

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan buku ini. Solawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam jahiliyah ke alam peradaban sekarang ini. Buku ini merupakan manifestasi dari rasa cinta dan tanggung jawab penulis terhadap pengembangan, pelestarian dan pemurnian salah satu bentuk budaya bangsa yaitu pencak silat, khususnya silat Kumango. Adapun hal yang mendorong penulis untuk mengangkat masalah ini adalah bahwa kenyataannya silat sebagai budaya asli bangsa tidak saja berkembang di tanah air, tetapi telah berkembang pula di mancanegara. Di lain pihak kita melihat perkembangan olah raga bela diri asing yang begitu pesatnya ditanah air. Sementara itu belum ada -setidaknya untuk silat Kumango- suatu karya tulis tentang seluk beluk silat itu sendiri. Kondisi ini berpotensi menghilangkan keaslian dan kemurnian bahkan jati diri silat itu sendiri. Bahan-bahan untuk penulisan buku ini didasarkan kepada sumber-sumber baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Sumber yang bersifat langsung adalah apa yang penulis warisi secara langsung dari para pewaris/guruguru yang mengajarkan silat ini, yang secara konkritnya: 1. Paman/guru penulis Ibrahim Paduko; 2. Paman/guru/bapak mertua penulis Syamsarif Malin Marajo; 3. Paman/guru penulis Ismail Rahman Dt. Paduko Mulia; (ketiganya anak kandung/pewaris langsung Syekh Abdurrahan Al Khalidi)

4. Guru penulis Maarif; 5. Guru penulis Nurmawan Sutan Yang Sati. Secara tidak langsung bahan-bahan diperoleh dari orangorang tua dan para guru silat baik yang tertulis maupun cerita-cerita secara lisan. Bahan-bahan yang tidak langsung ini lebih banyak berhubungan dengan sejarah dan digunakan sebagai pembanding atau pelengkap bahanbahan yang bersifat langsung. Penulis menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Oleh karenanya sebagai hasil karya manusia, tentu saja buku ini belum, bahkan mungkin jauh dari kesempurnaan, mempunyai kekurangan dan kejanggalan. Atas semuanya itu penulis mohon maaf yang sedalam-dalamnya. Demikian saja, semoga ada manfaatnya.

Terima kasih Padang, April 2007 Penulis

Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang membantu sehingga buku ini dapat diselesaikan; 1. Kepada istri tercinta Yulisma yang telah setia dan selalu memberikan semangat dan dorongan kepada penulis. 2. Kepada adinda AKBP Syaherdam, SH. Ahli waris Silat Kumango yang telah memberikan bantuan dan dukungannya. 3. Kepada Bapak Eddie M. Nalapraya, Presiden Persilat Internasional yang telah memberikan sambutannya. 4. Kepada Bapak M. Shadiq Pasadigoe, Bupati Tanah Datar yang telah memberikan sambutan dan bantuannya baik moril maupun materil. 5. Kepada Bapak Prof. Dr. Phil. H. Yanuar Kiram, Guru Besar Universitas Negeri Padang yang telah memberikan sambutannya. 6. Kepada ananda Arry Yuswandi yang telah membantu penulis untuk memperagakan gerakan-gerakan silat yang ada di dalam buku ini. 7. Kepada ananda Arif Yusadli yang telah membantu mendisain dan mengedit buku ini. 8. Kepada semua pihak yang telah membantu dan penulis mohon maaf karena tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan balasan yang berlipat ganda atas segala bantuan dan dukungan semua pihak.

Sambutan Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang
Silat adalah sesuatu yang sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. Pertama, tatanan kehidupan generasi muda tempo dulu yang ketika malam menghabiskan waktu di Surau untuk sembahyang, mengaji, dan belajar agama dan adat istiadat. Setelah itu mereka belajar bersilat sebagai ilmu bela diri untuk menjaga kampung dan nagari. Kedua, sikap masyarakat Minangkabau yang suka merantau. Dalam kaitan ini, silat dipelajari sebagai bekal merantau untuk melindungi diri dari kejahatan dan perlakuan yang semena-mena. Ketiga, silat dan budaya seni gerak Minangkabau memiliki hubungan yang sangat erat sekali. Hal ini terlihat dalam gerak seni tari dan randai di Minangkabau yang banyak mengandung unsur-unsur gerak silat. Keempat, silat dan falasafah Minangkabau saling menyatu. Banyak persamaan gerak-gerak dalam silat Minangkabau menggunakan katakata falsafah hidup Minangkabau. Sejak dahulu kala, silat diajarkan secara turun temurun dari generasi ke generasi secara lisan dan latihan gerak tanpa suatu rujukan tertulis yang dapat dipedomani atau dipelajari. Oleh karenanya bukan tidak mungkin lama kelamaan silat akan menjadi berkurang baik dalam bentuk gerak, karakter gerak, cara melakukannya, maupun falsafah yang terkandung di dalmnya. Secara pribadi, sebagai generasi pewaris adat dan budaya Minangkabau, jauh di lubuk hati yang dalam, tersembunyi suatu kerisauan, kegundahan dan kekhawatiran terhadap kepunahan dan kemurnian silat Minangkabau. Sehubungan dengan kegundahan tersebut saya menyampaikan apresisasi dan penghargaan yang setinggi-

tingginya terhadap buku yang berjudul :SILAT KUMANGO DALAM KEMURNIAN DAN KEUTUHANNYA” yang ditulis oleh Bapak Drs. Rusli. Buku ini adalah karya luar biasa yang sangat bermutu, karena tidak hanya memuat tentang cara-cara mempelajari Silat Kumango, tetapi juga memuat sejarah dan falsafah adat Minangkabau yang terkandung dalam Silat Kumango itu sendiri. Bapak Drs. Rusli sendiri saya kenal sebagai dosen luar biasa yang membina mata kuliah pencak silat. Beliau sangat tekun membina dan mengajarkan pencak silat pada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang. Sekali lagi saya menyampaikan penghargaan yang tinggi pada Bapak Drs. Rusli yang dengan susah payah dan niat tulus ikhlas telah mau menuliskan ilmu pengetahuan beliau, khususnya tentang Silat Kumango. Dengan penulisan ini, Insuya Allah kelestarian dan kemurnian Silat Kumango sebagai salah satu aliran dari beberapa aliran silat yang ada di Minangkabau dan merupakan aset budaya yang sangat berharga dapat diwarisi dan dijaga kelestarian kemurniannya pada generasi penerus. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi generasi penerus dan menjadi ibadah di sisi Allah SWT.

Padang 2007 Prof. Dr. Phil. H. Yanuar Kiram Guru Besar pada Fak. Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang

Sambutan Bupati KabupatenTanah Datar Sumatera Barat
Alhamdulillah wasyukurillah, disampaikan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa, Buku ”Silat Kumango Dalam

Kemurnian dan Keutuhannya”, yang banyak ditunggu para pemerhati budaya akhirnya sampai juga ke tangan pembaca, buku yang disusun oleh Drs. H. Rusli seorang tokoh dan pewaris Aliran Silat Kumango. Kehadiran buku ini akan menjadi sebuah referensi, bahan inspirasi dan acuan bukan saja hanya oleh Keluarga Besar Kumango, tetapi juga oleh berbagai pihak yang membutuhkan iformasi tentang Silat Kumango. Kami sangan menyambut baik dan mengapresiasi ide dan gagasan penulisan buku ini, Kumango sebagai sebuah Silat Tradisi ternyata mampu menjawab perubahan yang tengah terjadi. Nilainilai yang mengalir dalam Silat Kumango seyogyanya mampu menjadi filter penetrasi seni budaya terhadap budaya leluhur, semoga ini dapat menjadi renungan kita semua, ernyata Silat Kumango dapat menjadi alternatif di saat berbagai krisis moral dan budaya yang tengah melanda manusia bahkan sampai ke kamar-kamar pribadi. Menyadari sepenuhnya bahwa pelestarian seni budaya adalah tanggung jawab bersama elemen bangsa, justru itu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 20062010 telah ditetapkan visi Kabupaten Tanah Datar ”Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Tanah Datar Yang Sejahtera Dan Berkeadilan Dilandasi Filosofi Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”, dan telah ditetapkan tujuh misi yang selanjutnya sekaligus menjadi tujuh agenda pokok pembangunan daerah tahun 2006-2010 yaitu : 1. Meningkatkan iman dan taqwa serta moral dan akhlak 2. Meningkatkan kualitas pendidikan 3. Meningkatkan mutu dan pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial

Membangun ekonomi kemasyarakatan Membangun sarana dan prasarana dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup 6. Meninkatkan Kamtibmas serta penegakan hukum 7. Melaksanakan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) Kemudian sebagai daerah yang diberikan julukan Luhak Nan Tuo, serta Batusangkar Kota Budaya, filosofi Silat Kumango ”di lahir mencari teman di batin mencari Tuhan”, mengusung pesan moral dan pendidikan yang sangat dalam, sang leluhur Syekh Abdurrahman Al-Khalidi (Syekh Kumango) jelas sekali seorang visioner, bahwa ajaran yang dikembangkannya tidak luntur ditelan zaman, bahkan amampu mengikuti perubahan yang tengah terjadi, atau sesuai dengan perkembangan zaman. Di sinilah saya lihat bahwa Ajaran Kumango, sangat tepat dipelajari oleh siapa saja, pedagang, pengusaha, ekonom, dan kalangan mana saja bagi siapa saja, serta sangat mendukung aplikasi 7 Agenda Pokok di atas, bahkan dalam segala lini kehidupan. Membicarakan Silat Kumango sangat banyak hal yang menarik untuk dibahas. Pertama, Kumango ditinjau sebagai potensi daerah (wilayah) perlu dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata religi. Mengingat di Nagari Kumango terdapat Surau Syekh Kumang, Tabek yang dahulunya adalah kolam tempat untuk menyembuhkan penyakit, dan Makam Syekh Kumango (Syekh Abdurrahman Al-Khalidi), salah seorang tokoh dan Syekh di Tanah Datar. Peninggalan budaya ini merupakan modal dasar pengembangan pariwisata sejarah maupun religi. Nagari yang berada di Kecamatan Sungai Tarab ini setiap hari besar Islam banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai tempat, termasuk dari Malaysia. Kedua, Silat Kumango samapi saat ini tetap banyak dipelajari dan dikembangkan, bahkan sampai ke mancanegara seperti di Negeri Belanda. Dengan cukup eksisnya perguruan Silat Kumango menandakan bahwa masyarakat pendukungnya masih ada, dan terus melestarikannya. Artinya benang merahnya masih menyambung antara Syekh Kumango sebagai tokoh dengan kekinian. Dasar-dasar gerakan Silat Kumango juga menjadi

4. 5.

inspirasi dalam pengembangan seni tari tradisional di Tanah Datar. Dari pembahasan potensi tentang Kumango yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebuah objek wisata harus mempunyai kesan yang mendalam, baik berupa unsur penokohan, religi, sejarah, ilmu pengetahuan, budaya, dan unsur lainnya yang secara faktual masih dapat kita saksikan dan kita rasakan, sebagai peninggalan budaya yang masih hidup dan dilestarikan. Sehinga pemahaman konsep dari hilir ke hulu dan dari hulu ke hilir masih bisa dibuktikan, dan karena itulah wisatawan mencarinya. Dengan kata lain, bila wisatawan ingin melihat bukti sejarah dan kereligian Syekh Kumango, mereka bisa dibawa ke Nagari Kumango. Begitu pula bila wisatawan ingin melihat karya Syekh Kumango mereka bisa melihat langsung dari keturunan dan penerus serta pewaris silat Kumango. Semoga terbitnya buku ini memotivasi terbitnya buku-buku lain tentang Silat ini, dari sudut pandang yang berbedahingga mampu memperkaya khasanah dn ajaran silat itu sendiri. Akhirnya kami ucapkan penghargaan dan terima kasih kepada Bapak Drs. H. Rusli (Salah seorang Pewaris Ajaran Silat Kumango) serta kepada berbagai pihak yang telah berpartisipasi atas terbitnya buku ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca, masyarakat, pemerintah dan berbagai pihak yang membutuhkannya.

SAMBUTAN PRESIDEN PERSILAT

Selaku Presiden PERSILAT saya menyambut baik terbitnya buku SILAT KUMANGO DALAM KEMURNIAN DAN KEUTUHANNYA yang disusun oleh Sdr. Drs. H. Rusli, disertai penghargaan yang tinggi atas segala upaya dan usaha yang dilakukan. Buku ini disamping dilengkapi dengan penjelasan mengenai Dasar dan Tujuan Silat Kumango juga dilengkapi dengan gambar-gambar gerak silat Kumango. Oleh karena itu, ditinjau dari aspek pengenalan dan pengembangan Silat Kumango di berbagai tempat, buku ini akan sangat menarik dan berharga serta dapat menambah kekayaan dan keragaman pustaka Silat bagi setiap yang membacanya. Semoga buku ini dapat memberikan sumbangsih dan manfaat yang sebsar-besarnya dalam upaya pelestarian dan pengembangan Pencak Silat pada umumnya dan khususnya Silat Kumango. Sebagai penutup saya tak lupa mengucapkan selamat kepada Penulis yang telah berhasil menerbitkan buku ini, semoga buku ini disukai oleh pembaca di seluruh Indonesia bahkan di manca negara.

Daftar Isi
Kata Pengantar...................................................................... i Ucapan Terima Kasih........................................................... ix Sambutan Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang .................................................xi Sambutan Bupati Tanah Datar........................................... xiii Sambutan Presiden Persilat................................................ xvi Daftar Isi ................................................................................xviii Bab 1. Pendahuluan............................................................ 1 Bab 2. Asal Usul dan Perkembangan Silat Kumango..... 5 Bab 3. Dasar dan Tujuan Silat.............................................22 Bab 4. Beberapa Istilah Teknis dalam Silat.......................44 Bab 6. Gerak Silat Kumango...............................................56 Bab 7. Penutup......................................................................22 Lampiran 1. Riwayat Hidup Penulis.................................123 Lampiran 2. Bagan................................................................126 Lampiran 3. Foto-Foto..........................................................127

Pendahuluan
uku ini diberi judul “Silat Kumango dalam Kemurnian dan Keutuhannya”. Yang dimaksud dengan kemurnian di sini adalah sesuai dengan apa adanya seperti yang diterima dari yang mewariskannya. Utuh maksudnya lengkap/ menyeluruh baik sejarah atau asal usulnya, falsafah (dasar dan tujuan silat) yang merupakan unsur kebathinan, serta gerak-gerak pisik yang merupakan unsur lahiriah silat. Kita patut bergembira dan berbangga hati melihat kenyataaan sekarang ini, bahwa silat sebagai hasil budaya bangsa telah berkembang dengan pesatnya. Silat tidak hanya dipelajari oleh generasi muda bangsa tetapi juga oleh pemuda-pemuda mancanegara. Kiranya tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa silat dewasa ini telah mendunia. Namun dibalik kegembiraan dan kebanggaan itu kita juga prihatin dan khawatir bahwa silat akan kehilangan jati dirinya. Sebagai hasil budaya yang ditentukan oleh ruang dan waktu, silat akan mengalami perobahan sesuai dengan perobahan ruang dan waktu itu sendiri. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan harus kita terima. Tetapi tentu saja kita tidak menginginkan kalau perubahan itu akan merombak atau menghilangkan sendisendi asli, kemurnian dan keutuhan unsur-unsur silat itu sendiri. Silat sebagaimana yang diwariskan dan diajarkan pendahulu kita mengandung dua unsur, yaitu unsur ke-

Bab 1

B

2

Pendahuluan

rohanian dan unsur fisik. Unsur kerohanian adalah unsur mental spiritual berupa “falsafah” yang berisi ajaran moral yang tidak lain merupakan rohnya silat. Unsur fisik adalah unsur keterampilan jasmani yang diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan serangan, pembelaan dan sebagainya, yang dapat kita umpamakan sebagai tubuh atau jasmani dari silat. Di dalam Silat Kumango penekanannya justru terletak pada unsur kerohanian. Dalam pengamatan penulis, dewasa ini di kalangan generasi muda/remaja yang belajar silat teradapat kecendrungan untuk mengutamakan unsur fisik atau jasmani dan mengabaikan bahkan meninggalkan sama sekali unsur kerohanian, atau jiwanya silat. Kecenderungan seperti ini menurut pengamatan penulis terdapat hampir pada semua aliran, tidak terkecuali dalam Silat Kumango. Hal itu dapat dibuktikan dengan kenyataan sehari-hari. Bila kepada mereka kita tanyakan sejarah ataupun falsafah dari silat yang mereka pelajari tidak ada yang dapat menjawabnya. Kalaupun ada jarang sekali yang dapat menjawabnya dengan benar atau sempurna. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa kebanyakan mereka lebih mengutamakan mempelajari kulitnya silat, tidak mendalami isi atau jiwanya. Sisi lain yang juga sangat besar pengaruhnya terhadap kemurnian silat adalah adanya pertandinganpertandingan ataupun perlombaan-perlombaan silat. Misalnya saja pertandingan silat olahraga. Dalam pertandingan silat olah raga akan berhadapan dua pesilat yang berasal dari perguruan / aliran yang berbeda. Layaknya dalam suatu pertandingan ada yang menang dan ada yang kalah. Dan setiap pesilat tentu saja mengharapkan kemenangan.Menang atau kalah ditentukan oleh nilai yang dikumpulkan berdasarkan serangan yang masuk tepat pada sasaran dan bertenaga. Apalagi ada pula ketentuan menang mutlak atau knock out (K.O). Peraturan/ketentan yang berhubungan dengan penilaian tersebut jelas akan memotivasi pesilat untuk berlaku keras bahkan mungkin saja brutal demi mencapai

Rusli

3

kemenangan. Padahal berlaku keras dan brutal akan menyakiti bahkan dapat saja mencederai lawan bertanding. Hal yang demikian itu sangat bertentangan dengan rasa kemanusiaan yang merupakan salah satu jiwa dari silat (setidaknya dalam Silat Kumango). Tidak saja pertandingan olahraga, lomba peragaan silat bela diri pun sedikit banyak berpotensi merusak keaslian atau kemurnian silat. Kaedah dan keaslian silat boleh dikatakan tidak menjadi unsur utama dalam penilaian. Kadang-kadang yang mendapat nilai baik justru pesilat yang penampilannya menarik dan mengagumkan, walaupun gerakan-gerakannya diambil dari bela diri asing, tidak asli gerak silat dan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah silat. Pada hal dalam peraturan pertandingan terutama pertandingan olah raga dalam mukadimahnya dinyatakan dengan tegas bahwa pertandingan harus menggunakan kaedah-kaedah silat. Di samping itu ada pula orang yang mengaku-ngaku silatnya adalah silat Kumango atau menisbahkan silatnya kepada Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Akan tetapi setelah diteliti apa yang dikatakan itu tidak terbukti sama sekali. Artinya di dalam silat itu tidak kelihatan sama sekali unsur Kumangonya baik unsur ruhaniah maupun unsur jasmaniahnya. Di kalangan perguruan silat Kumango sendiri terdapat pula perbedaan antara satu sama lain yang sudah sedemikian jauh menyimpang, sehingga sudah tidak sesuai lagi dengan dasar/azas-azas aslinya. Berdasarkan kenyataan-kenyataan di atas, demi kelestarian serta kemurniannya, penulis mencoba mengungkapkan dalam tulisan ini sosok Silat Kumango yang murni dan utuh sebagaimana yang diturunkan/diajarkan oleh yang mewariskannya, Syekh Abdurrahman Al Khalidi/Syekh Kumango kepada anak-anak dan khalifah / pewaris beliau. Buku bahagian pertama ini berisi uraian tentang hal-hal yang mendasar dai silat Kumango yang terdiri dari :

4
• • • • •

Pendahuluan

Asal usul dan perkembangan silat Kumango Falsafah yang mendasari dan tujuan silat Beberapa istilah teknis dalam silat Syarat-syarat mempelajari Silat Kumango Gerak-gerak silat

Bab 2 Asal Usul dan Perkembangan Silat Kumango
engawali tulisan ini penulis akan mengungkapkan terlebih dahulu asal usul silat Kumango. Hal ini perlu guna menjawab dan meluruskan pandangan atau pendapat yang berkembang dalam masyarakat tentang asal usul serta hakekat silat ini. Ada beberapa pendapat atau pandangan yang terdapat dalam masayarakat. Antara lain bahwa silat Kumango berasal dari silat Lintau yang dibawa ke Batusangkar dan di Batusangkar ditambah dengan ilmu kebatinan. Pendapat lain mengasosiasikan nama silat ini dengan istilah barang kumango, barang dagangan yang terdiri dari bermacam-macam barang. Mereka berpendapat bahwa silat ini berasal dari bermacam-macam silat yang ada di Minang Kabau yang digabungkan menjadi satu. Benarkah demikian? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa dari segi umurnya Silat Kumango dibanding dengan silat-silat lainnya seperti Silat Lintau dan Silat Tuo memang relatif lebih muda. Pertama

M

6

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

kali diajarkan oleh almarhum Syekh Abdurrahman Al Khalidi sekitar tahun 1850-an. Almarhum menurut penuturan orang tua-tua dan juga beberapa guru silat memang pernah datang ke Lintau untuk berguru silat. Akan tetapi keinginan beliau itu tidak terpenuhi karena setelah beberapa hari berada di sana beliau tidak pernah diajar oleh guru yang bersangkutan. Keberadaan beliau di sana hanya sekedar melihat atau sebagai penonton orang bersilat. Karenanya beliau pulang saja ke Kumango. Dari penuturan di atas jelas tidak mungkin Silat Kumango berasal dari Silat Lintau. Adalah hal yang musykil hanya dengan melihat orang belajar silat selama beberapa hari saja seseorang dapat menguasai silat. Apalagi dikatakan bahwa dari Lintau dibawa ke Batusangkar kemudian diberi ilmu kebatinan. Kalau demikian halnya maka namanya haruslah Silat Batusangkar, bukan Silat Kumango. Seperti kita ketahui di Minang Kabau pada masa lalu itu silat diberi nama menurut daerah asalnya seperti Silat Koto Anau, Silat Maninjau, Silat Pauh, Silat Sungai Patai dan sebagainya. Apa lagi ditambah dengan embel-embel bahwa tiba di Batusangkar diberi ilmu kebatinan. Apa yang dimaksud dengan ilmu kebatinan itu tidak pula jelas. Sepanjang yang penulis warisi dalam silat Kumango tidak pernah ada apa yang disebut ilmu kebatinan itu. Yang ada hanyalah bahwa Silat Kumango memiliki suatu falsafah yang berdasarkan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Al Quran dan Sunnah Rasul. Dan ini memang merupakan dasar pertama yang harus ditanamkan kepada pesilat. Pendapat yang mengatakan Silat Kumango merupakan gabungan dari berbagai macam silat yang ada di Minang Kabau agaknya juga tidak beralasan dan sukar untuk diterima. Bagaimana mungkin seseorang bisa menggabungkan beberapa aliran silat, sedangkan mempelajari satu macam silat saja tidak pernah dapat karena orang tidak mau mengajarkan. Silat Kumango adalah sebuah aliran di Minang Kabau

Rusli

7

dan nama itu didasarkan kepada daerah tempat lahirnya yaitu nagari Kumango kecamatan Sungai Tarab kabupaten Tanah Datar. Dan silat ini seperti telah disinggung di atas diwariskan oleh Syekh Abdurrahman Al Khalidi atau Syekh Kumango. Almarhum mewarisi silat ini sekitar tahun 1840-an dari seseorang dengan cara yang luar biasa, diluar jangkauan akal dan tidak mungkin dialami oleh semua orang. Kisahnya adalah seperti berikut. Datuk Majoindo (sebelum beliau bergelar syekh) bertoko di Pasar Gadang Padang. Pada suatu pagi ketika beliau membuka pintu toko tanpa diketahui dari mana datangnya di belakang beliau sudah berdiri saja seorang laki-laki berpakaian serba putih seperti penampilan orang peminta-minta yang di Minang Kabau biasanya dipanggil “PAKIAH”. Dengan penuh keheranan beliau bertanya tentang maksud kedatangan pakiah, asal usul darimana pakiah berasal dan apa tujuannya datang pagi–pagi betul. Oleh pakiah dijawab bahwa kedatangannya pagi itu hendak minta uang untuk membeli nasi karena pagi itu dia belum makan. Kemudian karena belas kasihan beliau beri pakiah uang dan melanjutkan pekerjaan membuka pintu toko. Si pakiah setelah menerima uang tidak beranjak dari tempat semula. Ketika ditanya oleh Datuk Majoindo mengapa pakiah belum juga pergi, oleh pakiah dijawab bahwa uang itu belum cukup, minta ditambah lagi. Walaupun merasa kesal dalam hatinya permintaan pakiah itu dipenuhi juga oleh Datuk Majoindo. Namun walaupun telah ditambah uangnya pakiah itu masih belum pergi, ia masih berdiri di tempat semula. Melihat perilaku pakiah yang demikian itu, dengan nada marah Datuk Majoindo bertanya lagi mengapa pakiah belum juga pergi. Kemudian dengan nada datar pakiah menjawab bahwa uang yang diberikan masih belum cukup juga. Jawaban pakiah ini menambah kemarahan Datuk Majoindo. Namun demikian beliau mengeluarkan uang dari kantong lalu menyerahkannya kepada pakiah dan mengusirnya sambil mengancam akan menampar pakiah kalau belum juga

8

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

pergi. Ancaman Datuk Majoindo akan menampar itu mendapat reaksi atau jawaban yang mengejutkan dari pakiah. Saya memang menunggu tamparan dari Datuk, ujarnya. Kemudian dilanjutkannya bahwa tamparan itu tidak akan diterimanya saat itu tetapi berjanji tujuh hari lagi, pada saat ia akan datang lagi ke Padang. Yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa pakiah menyuruh Datuk Majoindo dalam masa tujuh hari itu untuk pergi menemui guru-guru atau teman-teman beliau guna menambah ilmu dalam menghadapi pakiah nantinya. Selesai berucap pakiahpun pergi. Peristiwa pagi itu membuat Datuk Majoindo tidak habis pikir, lebih-lebih lagi mengingat ucapan pakiah yang menyuruh beliau menambah ilmu lagi. Betapa tidak, Datuk Majoindo bukanlah orang sembarangan. Beliau telah menuntut ilmu ke mana-mana dalam Luhak Nan Tigo ini. Di mana saja ada guru-guru yang berilmu tinggi beliau datangi, sehingga beliau juga memiliki ilmu yang tinggi pula. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau menjadi parewa (preman) malang melintang dalam dunia judi, tidak seorangpun yang berani melawan atau menantang beliau. Sekarang tiba-tiba datang seorang pakiah yang kalau dilihat dari lahiriahnya atau penampilan secara fisik tidak ada apaapanya dibandingkan dengan Datuk Majoindo, menantang untuk menguji ilmu. Hampir semalaman Datuk Majoindo tidak tidur memikirkan peristiwa itu. Dalam benaknya Datuk Majoindo bertanya-tanya siapa pakiah itu sebenarnya, dan apakah perintah pakiah untuk menemui guru-guru atau kawan-kawan guna menambah ilmu lagi akan dituruti atau tidak. Akhirnya sampailah Datuk Majoindo kepada suatu kesimpulan bahwa mungkin saja pakiah itu seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak tentu saja tidak mungkin dia mengeluarkan ucapan yang menantang itu. Karenanya perintahnya perlu pula dipertimbangkan untuk dilaksanakan.

Rusli

9

Demikanlah akhirnya Datuk Majoindo mengambil keputusan untuk mencari guru-guru atau kawankawan beliau seperti perintah pakiah. Keesokan paginya berangkatlah Datuk Majoindo dari Padang. Mula-mula beliau menuju Batusangkar, kemudian dilanjutkan ke Payakumbuh. Dari Payakumbuh terus ke Bukittinggi. Setiap guru atau kawan yang beliau temui di ketiga tempat itu tidak ada yang dapat menambah ilmu Datuk Majoindo. Jangankan menambah malahan setiap orang yang ditemui justru minta ilmu kepada beliau. Kembalilah Datuk Majoindo ke Padang tanpa tambahan ilmu sama sekali. Genap tujuh hari sebagaimana yang dijanjikan, selesai menutup tokonya Datuk Majoindo sudah bersiapsiap menunggu kedatangan pakiah. Sudah masuk waktu Isya pakiah belum juga datang. Datuk Majoindo mengira mungkin pakiah tidak jadi datang. Beliau masuk ke kamar mengunci pintunya lalu tidur-tiduran. Sambil tidur-tiduran beliau terus merenungkan soal pakiah apakah dia akan datang atau tidak. Dalam merenung-renung itu beliau tertidur. Beberapa saat kemudian Datuk Majoindo terkejut dibangunkan oleh seseorang yang tidak lain adalah pakiah. Dia telah berdiri di sisi tempat tidur Datuk Majoindo. Setelah berbincang-bincang sebentar keduanya turun ke luar toko. Keduanya sudah siap menguji ilmu masing-masing. Pakiah mempersilahkan Datuk Majoindo untuk menyerang terlebih dahulu. Setiap serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak satupun yang dapat mengenai pakiah. Serangan-serangan itu lepas begitu saja sehingga beliau membentur dinding dan tiang toko yang membuat badan beliau memar dan kepala beliau berdarah. Datuk Majoindo terus mencoba lagi menyerang pakiah dengan mengerahkan semua ilmu yang beliau miliki, akan tetapi semuanya luput , tidak ada yang mengena sasaran. Karena serangan-serangan yang dilakukan Datuk Majoindo tidak mempan dan tubuh serta kepalanya mengalami cedera, maka Datuk Majoindo mengaku kalah dan minta

10

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

kepada pakiah untuk dijadikan sebagai murid. Beliau ingin berguru kepada pakiah. Selesai pertarungan hal pertama yang dilakukan pakiah adalah mengobati luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo. Pengobatan itu dimulai oleh pakiah dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah semua luka-luka dan cedera yang diderita Datuk Majoindo sembuh sehingga kondisi fisik beliau kembali seperti semula. Setelah itu Datuk Majoindo disadarkan oleh pakiah atas kejahilan dan dosa-dosa beliau di masa lalu dan kemudian ditaubatkan. Permintaan Datuk Majoindo untuk berguru dipenuhi oleh pakiah, tetapi belum dilaksanakan pada saat itu. Pakiah berjanji akan datang lagi. Rupanya janji pakiah untuk datang lagi tidak segera terlaksana. Karena tidak sabar menunggu lama-lama maka Datuk Majoindo berusaha mencari pakiah. Selama tiga bulan lamanya Datuk Majoindo mencari pakiah ke mana-mana, sampai ke Kerinci. Akhirnya pakiah ditemukan juga, maka mulailah pakiah mengajari Datuk Majoindo. Menjadilah sekarang hubungan pakiah dengan Datuk Majoindo hubungan guru dengan murid. Pelajaran yang harus diikuti dalam dua tahapan. Tahap pertama berlangsung di daerah sekitar Minamg Kabau dan tahap kedua di Tanah Suci, khususnya di Madinah. Tahap pertama berlangsung selama empat puluh hari empat puluh malam. Yang dilakukan oleh guru pada tahap pertama ini adalah latihan fisik dan mental termasuk pelajaran silat. Selama empat puluh hari empat puluh malam Datuk Majoindo harus mengikuti guru melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Perjalanan dilakukan siang malam, menempuh medan yang sulit, semak belukar, mendaki dan menurun, menempuh jalanjalan yang tidak pernah dilalui orang tanpa istirahat, kecuali pada waktu sholat. Datuk tidak boleh mengeluh ataupun bertanya. Alhamdulillah perjalanan ini dapat diikuti dan diselesaikan oleh Datuk Majoindo dengan baik. Pada hari keempat puluh atau hari terakhir berhentilah

Rusli

11

guru dan Datuk Majoindo di bawah sebuah pohon besar, konon lokasinya menurut H. Abdul Malik bin Syekh Mudo Abdul Qodim Balubus Payakumbuh, pohon besar itu berlokasi di Tanah Bato Panyabungan Tapanuli Selatan. Setelah istirahat sebentar guru menyuruh Datuk Majoindo berdiri lalu mereka bersilat berdua. Selesai bersilat maka berkatalah guru kepada Datuk Majoindo bahwa pelajaran tahap pertama selesai sampai di situ dan akan dilanjutkan dengan tahap kedua di Tanah Suci. Untuk itu Datuk Majoindo harus datang sendiri ke Mekkah pada musim haji, sedangkan guru menunggu di sana. Datuk Majoindo disuruh pulang dulu ke kampung untuk mempersiapkan diri dan minta izin orang tua. Seperti halnya dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya selesai berucap gurupun pergi, dan Datuk Majoindo pulang ke Kumango. Setelah cukup segala persiapan dan telah mendapat izin orang tua Datuk Majoindo harus berangkat menuju Medan karena keberangkatan ke Mekkah melalui pelabuhan Belawan. Datuk Majoindo berangkat dengan berjalan kaki melalui jalan-jalan pintas. Dari Kumango ke Payakumbuh ke daerah Suliki, dari sana ke Pasaman. Di daerah Pasaman menjelang daerah Kumpulan, Datuk Majoindo dikeroyok oleh empat orang laki-laki. Tanpa disadari oleh Datuk Majoindo keempat laki-laki itu terjerembab ke dalam selokan saling berhimpitan, diantara mereka ada yang lukaluka dan ada yang patah tulang. Pada waktu itu datang bisikan halus ke telinga Datuk Majoindo agar orang-orang itu dikasihani dan diobati. Setelah mendengar bisikan itu maka diobatilah keempat orang itu seperti yang dilakukan oleh pakiah kepada beliau waktu di Padang, dimulai dengan Bismillah dan diakhiri dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah keempat orang tersebut sembuh dari cederanya. Keempat orang itu berterima kasih dan minta maaf kepada Datuk Majoindo. Oleh Datuk Majoindo ditanya apa maksud orang-orang tersebut mengeroyoknya. Oleh keempat orang itu dijawab bahwa mereka melakukan itu semua untuk mengambil

12

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

barang-barang bawaan Datuk Majoindo. Setelah minta maaf dan mengakui kesalahan orang-orang itu dinasehati dan disuruh bertaubat. Muncul persoalan akan dikemanakan orang-orang tersebut. Akan dibawa tentu saja tidak mungkin dan akan mengganggu perjalanan walaupun mereka ingin ikut dengan Datuk Majoindo. Dalam berpikir-pikir itu teringat oleh beliau Syekh/Ayah Kumpulan, seorang tokoh/guru tareqat Naqsyabandiyah. Beliau tanyakan kepada orang– orang tersebut di mana surau Ayah Kumpulan. Rupanya orang-orang tersebut mengetahuinya. Dengan petunjuk orang–orang tersebut beliau berjalan menuju surau Ayah Kumpulan. Oleh Datuk Majoindo keempat orang itu dititipkan kepada Ayah Kumpulan. Setelah itu beliau berangkat menuju Medan. Di Medan Datuk Majoindo tinggal di Deli Tua di rumah seorang Imam Masjid H. Abdul Gafar, khalifah dari Syekh Kumpulan. Keberadaan beliau di Deli Tua diketahui oleh kepala keamanan istana. Pada suatu hari , Datuk Majoindo diundang oleh kepala keamanan istana raja Deli Tua ke suatu tempat. Sesampai di tempat beliau dikeroyok oleh kepala keamanan itu bersama dua orang temannya. Sama halnya dengan kejadian di Pasaman, tanpa disadari oleh Datuk Majoindo orang tersebut jatuh berhimpitan. Ada yang cedera dan ada yang luka karena terkena senjatanya sendiri. Datang pula bisikan agar ketiganya dikasihani dan diobati. Hal itu dilakukan pula oleh Datuk Majoindo seperti yang di Pasaman. Setelah diobati ketiga orang tersebut langsung kembali ke tempatnya. Sampai di istana, karena tidak puas dengan kekalahannya mereka membuat fitnah bahwa Datuk Majoindo akan membuat kekacauan di istina. Berita itu didengar oleh raja, dan memerintahkan seorang hulubalang menjemput dan membawa Datuk Maoindo ke istana. Di istana oleh Datuk Majoindo diceritakan semua kejadian yang telah dialaminya kepada raja. Setelah mendengar keterangan dari Datuk Majoindo raja menyuruh beliau

Rusli

13

pulang. Keesokan harinya Datuk Majoindo dipanggil kembali oleh raja ke istana. Di istana diberi tahukan oleh raja bahwa semenjak hari itu beliau diangkat sebagai penasehat keamanan istana. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut kepada beliau oleh raja dihadiahkan sebidang tanah dan raja berjanji bahwa seluruh biaya naik haji Datuk Majoindo akan ditanggung oleh raja. Jabatan itu dipegang oleh Datuk Majoindo kurang lebih enam bulan, yaitu sampai waktu keberangkatan beliau ke Mekkah. Di Mekkah Datuk Majoindo hanya selama menunaikan ibadah haji. Selesai melaksanakan ibadah haji beliau pindah ke Madinah dan mukim di sana selam lebih kurang sepuluh tahun. Di Madinah beliau mendalami ilmu agama khususnya ilmu tareqat. Selesai mendalami agama pada waktu akan pulang ke tanah air oleh guru dan teman-teman beliau Datuk Majoindo diberi nama Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Nama Abdurrahman diambil dari nama Syekh Abdurrahman Batuhampar Payakumbuh, guru beliau mengaji pada waktu remaja. Dari Madinah Syekh Abdurrahman Al Khalidi tidak langsung pulang ke Kumango, beliau singgah dulu di Kedah Malaysia. Di Kedah beliau banyak menundukkan/ menaklukan para jawara, bahkan beliau sampai ke Patani, Thailand mentaubatkan dan mengislamkan orang. Oleh Sultan Kedah ditawarkan untuk tinggal disana dan diangkat sebagai penasehat. Bersamaan dengan itu kepada beliau disuguhkan sebidang tanah yang cukup luas sebagai hadiah. Tawaran tersebut beliau tolak dan memilih untuk pulang ke kampung di Kumango. Di Kumango Syekh Abdurrahman Al Khalidi tinggal/ mendiami sebuah surau di atas tanah waqaf warga suku Piliang Laweh. Lokasinya di seberang sebuah sungai kecil, sehingga masyarakat atau warga Kumango menamakanya “Surau Subarang”. Di surau inilah beliau mengajar tareqat dan silat. Silat yang beliau ajarkan adalah silat yang beliau warisi dari guru beliau, yaitu pakiah.

14

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

Gambar 1. Surau dan Makam Syekh Abdurrahman Al Khalidi Dari uraian di atas kiranya dapat kita ambil kesimpulan bahwa silat Kumango adalah silat yang tidak dapat dilepaskan dari sosok Syekh Abdurrahman Al Khalidi. Silat Kumango bukanlah silat Lintau yang diberi ilmu batin atau silat yang merupakan gabungan dari bermacam-macam silat. Syekh Abdurrahman Al Khalidi mewarisi silat itu dari seseorang laki-laki yang dikenal sebagai Pakiah. Pertanyaannya sekarang adalah siapakah pakiah, guru yang mengajar beliau itu? Tidak banyak keterangan yang dapat penulis gali sehubungan dengan pertanyaan ini. Semua khalifah, murid serta anak-anak beliau samasama mengatakan bahwa beliau Syekh Kumango belajar kepada seorang pakiah. Namun tidak semua mereka dapat menjelaskan siapa pakiah itu yang sesungguhnya. Namun ada juga satu dua orang diantara mereka yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah waliyullah. H. Abdul Malik bin Syekh Abdul Qodim menyebutkan secara kongkrit nama waliyullah itu, yakni Autad. Salah seorang anak Syekh Abdurrahman Al Khalidi, Ismail

Rusli

15

Rahman Dt. Paduko Mulia dalam tulisannya mengatakan bahwa pakiah adalah salah seorang waliyullah yang diutus oleh guru beliau di Batu Hampar dahulu, yaitu Syekh Abdurrahman Nan Tuo untuk menyadarkan beliau akan kejahilan yang beliau lakukan selama kurang lebih 15 tahun dan menasehati serta menyuruh beliau bertaubat. Ada seorang guru silat yang mengatakan bahwa pakiah itu adalah cindaku (sebangsa syaitan atau hantu), na’udzubillahi min dzalik. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para pendahulu kita itu, kita tinggalkan pendapat-pendapat tersebut tanpa memberikan penilaian benar atau salah, karena mungkin ilmu kita tidak cukup untuk itu. Tidak ada seorangpun yang tahu persis, oleh sebab itu benar atau salah kita serahkan saja kepada Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Menentukan. Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang berbunyi :

(QS. At Taghabun 11)

Dan Allah senantiasa mengetahui

atas segala sesuatu.”

Baqarah 284) Dalam surat An-Naml ayat 65 disebutkan pula

“Dan Allah atas segala sesuatu adalah berkuasa.” (QS. Al

“Katakanlah, tidak ada seorang pun di semua langit dan di bumi yang mengetahui yang gaib kecuali Allah”.

Di dalam surat Al-An’am ayat 59 disebutkan pula

16

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

“Dan di sisi Allahlah kunci-kunci yang gaib, tidak ada yang mengetahui kecuali diri-Nya sendiri”.

:

Selanjutnya dalam surat Hud ayat 107 Allah berfirman

“Sesungguhnya Tuhan engkau berbuat sekehendak-Nya”.

:

Di dalam surat Al-Hajj ayat 14 dan 18 Allah berfirman

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.

Syekh Kumango mewariskan ilmu tareqat dan ilmu silat kepada para khalifah dan anak-anak beliau, yang kemudian mewariskan lagi kepada muridnya. Diantara khalifah-khalifah beliau dapat disebutkan antara lain Syekh Baringin di Tebing Tinggi Sumatera Utara, Syekh Mudo Abdul Qodim di Balubus Payakumbuh yang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Balubuih, dan H. Idris di Sungai Puar Bukittinggi. Para khalifah beliau ini lebih menitik beratkan kepada tareqat. Syekh Balubuih ada mengembangkan silat melalui anak beliau H. Abdul Malik. (catatan : di daerah sekitar Balubus silat ini sering disebut silat Balubuih atau silat Angku Malik, akan tetapi yang bersangkutan sendiri dalam tulisannya menyebutkan silat ayah Kumango). Anak-anak Syekh Kumango semuanya mewarisi baik tareqat maupun silat, akan tetapi tidak semuanya aktif mengembangkannya. Anak-anak beliau yang aktif

Rusli

17

mengembangkan silat adalah M. Saleh di Kedah, Malaysia; M. Daya di Padang; Syamsuddin (Udin Mauji) di Kumango. Sedangkan M. Dali Angku Gadang di Kumango lebih menitik beratkan pada tareqat dan merupakan anak Syekh Kumango satu-satunya yang mengajarkan tareqat sampai akhir hayatnya. Di antara anak-anak beliau yang menonjol perannya dalam mengembangkan silat adalah Ibrahim Paduko yang mengajar silat di Kumango, Simpurut Batusangkar dan juga pernah mengajar di Padang; Syamsarif Malin Marajo yang mengajar di Simpurut, Batusangkar, Bukittinggi, Medan, dan Malaysia; dan Ismail Rahman di Tanjung Aro Sikabu-kabu Payakumbuh dan juga mengajar di Medan. Di Batusangkar dan sekitarnya pengembangan silat dilakukan oleh anak-anak sasian (murid) dari Ibrahim Paduko dan Syamsarif Malin Marajo. Mereka itu adalah Maarif di Simpurut, M. Zen di Sijangek dan Zaenal Abidin Rasyad di Kumango. Murid-murid mereka sudah berpencar pula ke seluruh pelosok tanah air dan diantaranya ada pula yang mengembangkan silat di tempat mereka tinggal. Sosok yang paling menonjol diantara anak-anak Syekh Kumango dalam pengembangan silat ini adalah Syamsarif Malin Marajo. Almarhum dengan kemampuan ilmu dan pengalaman mengajar yang beliau miliki, telah berhasil memperkaya gerakan-gerakan silat sehingga lebih lengkap dan tampil beda dengan yang dimiliki para guru/pendekar silat Kumango lainnya. Seperti telah disinggung di atas pada waktu muda almarhum pernah mengajar silat di Medan dan di Malaysia pada awal-awal than 1940 an. Pengalaman mengajar itu telah memperluas ilmu dan itulah yang digunakan almarhum dalam memeperkaya gerakan silat. Sayangnya dalam pandangan sementara guru-guru silat baik silat Kumango maupun aliran lain silat yang almarhum ajarkan yang sekarang sudah dirobah ataupun dicampur bahkan tidak jarang yang mencapnya bukan silat Kumango. Bahkan ada yang menisbahkan silat ini kepada diri almarhum

18

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

sehingga disebutnya silat ”Malin Marajo“, sesuatu yang tidak pernah terpikir dan tidak pernah diinginkan almarhum sebagaimana yang penulis dengar langsung dari almarhum. Pada hal pengayaan tersebut tidak menambah ataupun merobah dasar gerak yang diwarisi beliau dari ayah beliau Syekh Kumango, melainkan memperkaya gerak–gerak dasar tersebut. Dan semuanya itu tidak mengurangi bahkan sebaliknya justru mempertinggi mutu teknik silat itu sendiri. Pendapat-pendapat tersebut tidak perlu dipermasalah kan, karena yang berpendapat demikian hanyalah orangorang yang melihat dari luar, hanya melihat rupa, tidak mencimpunginya ke dalam. Kalau mereka mencimpunginya ke dalam maka mereka akan merasakan hal yang berbeda dengan apa yang mereka lihat sehingga pandangan mereka akan berobah. Pepatah mengatakan bahwa “tahu di rupo urang mancaliak tahu diraso urang mamakan.” (tahu di rupa orang melihat, tahu dirasa orang memakan). Keberhasilan Syamsarif Malin Marajo meraih medali emas di arena Pekan Olahraga Nasional ke-dua (PON II) berpasangan dengan M. Zen pada tahun 1952 membuat nama silat Kumang lebih terangkat lagi. Sejak itu silat Kumangao telah dikenal secara Nasional. Hal itu ditambah lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan almarhum di era sesudah PON II itu. Setelah PON II itu, Almarhum bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyusun buku pelajaran silat untuk diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Draft buku pelajaran itu sudah siap lengkap dengan gambar-gambarnya yang semuanya dibuat di Simpurut Batusangkar. Akan tetapi karena adanya pergolakan-pergolakan daerah yang terjadi pada tahun 1956, buku tersebut belum/tidak jadi diterbitkan. Bagaimana keberadaan draft buku tersebut sekarang tidak diketahui sama sekali. Pada era sesudah PON II itu juga beliau bermain dalam sebuah film cerita nasional hasil garapan dari Usmar

Rusli

19

Ismail (PERFINI) “Harimau Campa.” Almarhum berperan sebagai guru silat (Saleh), sedangkan Harimau Campa diperankan oleh Bambang Hermanto sebagai murid dari Saleh. Silat yang dipakai dalam film tersebut adalah silat Kumango. Sebagai informasi tambahan almarhum juga pernah ikut aktif dalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dibawah pimpinan Mr. Asaat. Almarhum sendiri menjabat sebagai wakil ketua untuk daerah SuamateraTengah. Masih pada masa setelah PON II, selain banyaknya berdiri sasana, silat juga pernah diajarkan pada lembaga pendidikan formal, khususnya di SMP Negeri 1 Batusangkar lembaga pendidikan tempat penulis menuntut ilmu. Pelajaran silat ini diprakarsai oleh seorang guru yang mempelajari silat kepada Ibrahim Paduko. Penulis sendiri juga terlibat di dalamnya membantu guru yang bersangkutan. Pelajaran silat di sekolah tersebut diberikan dalam 2 bentuk kegiatan pembelajaran. Pertama, pelajaran/latihan masal yang wajib diikti oleh seluruh siswa laki-laki dari kelas satu sampai kelas tiga. Dilaksanakan sekali dalam seminggu sebelum pelajaran sekolah dimulai. Kedua, pelajaran/latihan per kelas yang dilaksanakan sesuai dengan jam pelajaran yang telah ditentukan. Sangat disayangkan setelah penulis tamat belajar dari sekolah tersebut dan guru yang bersangkutan sudah pensiun pelajaran silat tidak pernah diberikan lagi. Penulis sendiri juga terlibat dalam pengembangan silat ini baik dalam dunia pendidikan formal maupun informal. Dalam dunia pendidikan formal penulis mengajar di Perguruan Tinggi di Padang seperti di IKIP (sekarang UNP) dan di Sekolah Tinggi Olahraga (STO) yang sekarang FKIK UNP. Ini berlangsung dari tahun 1966 sampai dengan tahun 1975. Hanya saja waktu yang tersedia tidak mencukupi, hanya satu kali dalam satu minggu selama 16 minggu, termasuk kegiatan ujian, dengan alokasi waktu hanya 90 menit. Dengan waktu yang sangat minim

20

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

ditambah pula dengan pesertanya kurang lebih 40 orang, pelajaran yang diberikan tidak intensif dan hasilnya tidak memuaskan. Pelajaran yang dapat diberikan hanya gerakgerak dasar dan itupun tidak pula tuntas. Tidak salah kalau dikatakan bahwa pelajaran yang diberikan hanya sekedar memperkenalkan gerak-gerak dasar silat Kumango. Dalam rangka pengembangan silat ini penulis juga mengajar silat untuk orang-orang yang berminat yang datang ke rumah. Tapi tidak membuka sasana secara resmi karena ketidaktersediaan waktu berhubung dengan tugas sebagai PNS. Pesertanya terdiri dari berbagai tingkat umur dan pendidikan, mulai dari siswa SMP, SMA, mahasiswa, sarjana muda dan sarjana. Jumlah peserta yang sedikit dan waktu belajar dua kali seminggu maka pelajaran dapat lebih intensif sehingga diantara mereka ada yang telah sampai pada tingkat penguasaan yang memadai, terutama mereka-mereka yang telah berpredikat sarjana dan sarjana muda. Perkembangan silat ini sampai sekarang masih berjalan terus. Di sekitar Batusangkar kini terdapat beberapa sasana yang aktif mengajarkan silat, seperti di Simpurut, Pagaruyung, Lima Kaum, Pasir Lawas dan di kota Batusangkar sendiri. Di luar negeri silat ini berkembang terutama di negara tetangga Malaysisa. Yang pertama kali mengajarkan silat di negara ini adalah Syamsarif Malin Marajo pada tahun 1940 an. Setelah beliau pulang ke tanah air pengembangan silat diteruskan oleh Mat Hadzir (Bang Suddin) bin Mat Zain bin Haji Ali bin Haji Ibrahim. Kini pengembangan silat di negara ini masih berlanjut dibawah pimpinan Mat Kirul Anwar bin Mat Hadzir dengan jumlah anggota perguruan lebih dari 1000 orang. Di negara-negara Eropa sekarang ini silat Kumango sudah mulai pula dikenal oleh orang-orang di sana, antara lain di Spanyol, Jerman dan Belanda. Khusus di negara Belanda sejak beberapa tahun yang lalu konon kabarnya sudah berdiri sebuah sasana silat Kumango yang dipelopori oleh Van den Boom (Muhammad Abdul Latif). Selain

Rusli

21

orang-orang Eropah yang telah disebutkan di atas, silat ini juga telah dikenal oleh orang Jepang. Pada pertengahan tahun 2005 seorang mahasiswa Jepang program Doktor datang ke Sumatera Barat melakukan penelitian bahan desertasinya. Mahasiswa bersangkutan mengambil silat Kumango sebagai obyek penelitian.Karenanya, tidaklah salah kiranya atau tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa silat Kumango kini tidak lagi merupakan milik orang Sumatera Barat, khususnya masyarakat Kumango saja, tapi telah milik masyarakat mancanegara. Dengan kata lain silat Kumango dewasa ini sudah mulai mendunia.

Bab 3

Dasar dan Tujuan Silat
alam bab ini akan disajikan dasar-dasar kerohanian dan tujuan silat Kumango. Dasar dan tujuan iu tersimpul dalam rumusan falsafah berikut ini: “Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak kahilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih, lahia silek mancari kawan batin silek mancari tuhan” (Bergantung kepada tali yang tidak akan putus berpegang kepada rasa yang tidak akan hilang, jaga tali jangan putus, awasi rasa jangan hilang, bersiang sebelum tumbuh, melantai sebelum roboh, dhohir silat mencari kawan, bathin silat mencari Tuhan).

D

A. Dasar-dasar silat.
Dalam rumusan falsafah di atas terkandung tiga hal pokok yang merupakan dasar atau sandaran fundamental dari silat.

Rusli

23

1. Penggunaan akal dan perasaan.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Hal itu dinyatakan oleh Allah SWT dengan firmanNya dalam surat At Tien ayat 4:

Artinya: “ Sungguh Kami telah ciptakan manusia sebaik-baik ciptaan”.

atas

Keutamaan manusia dari makhluk-makhluk lainnya terletak pada akal dan perasaan. Manusia dikarunia oleh Allah SWT. dua hal utama yang tidak dimiliki makhluk lainnya, yaitu akal dan perasaan. Dengan akalnya manusia dapat menimbang-nimbang dan menganalisa sesuatu dan kemudian mengambil keputusan yang terbaik baginya. Dengan persaan manusia dapat meresapkan dan menciptakan kesenian dan pada akhirnya sampai kepada suatu kebenaran dan keadilan. Demikianlah dengan akal dan perasaan manusia akan sampai kepada kebenaran yang mutlak. Penggunaan akal dan persaan itu adalah penting dan diperintahkan oleh Allah dalam Al Quran dalam berbagai rumusan, seperti:

: 50)

“Mengapa engkau tidak memikirkannya?” (QS. Al-An’am

“Tetapi mereka tidak menyadari (merasakannya)” (QS. Al-

24

Dasar dan Tujuan Silat

Baqarah : 12)

“Allah murka kepada orang yang tidak menggunakan akalnya” (QS. Yunus : 100)

Orang-orang yang menggunakan akal dan perasaannya itu disebut orang-orang yang dadanya berisi atau orang-orang yang “berakal budi “ yang dalam istilah Al Quran disebut “Ulil Albab“. Inilah kandungan yang pertama dalam rumusan falsafah silat “Bagantuang ka tali nan indak ka putuih, bapagang ka raso nan indak ka hilang, jago tali jan putuih, awasi raso jan hilang, basiang sabalun tumbuah, malantai sabalun luluih” yaitu penggunaan “AKAL” dan “PERASAAN“. Sesuatu yang bersifat logis. Silat adalah hasil akal budi manusia. Semua gerakan dalam silat harus berdasarkan dan dapat diterima akal sehat, sesuai dengan akal budi manusia. Jika tidak demikian tidak dapat dinamakan silat.

2. Ketuhanan/Iman dan Taqwa.
Manusia menurut fitrahnya adalah makhluk yang percaya kepada adanya Tuhan. Pengakuan atas eksistensi Tuhan itu diucapkan sendiri oleh manusia pada waktu akan dikeluarkan dari punggung anak Adam sebagaimana firman Allah dalam surat Al A’raf ayat 172 Allah bertanya :

Artinya; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?“ Menjawablah mereka semua:

Rusli

25

Artinya: ”Benar ya Allah, Engkaulah Tuhan kami”. Allah memproklamasikan dalam Al Quran bahwa Dia Esa adanya sebagaimana bunyi firmanNya berikut ini :

Artinya: ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah. Tidak ada Tuhan kecuali Aku, sembahlah Aku dan dirikan Sholat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha: 14)

Artinya: ”Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (QS. Muhammad : 19).

Artinya: ”Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan mesti Kami wahyukan kepadanya “Bahwasanya tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya’ ayat 25)

Maha Esa.”

Artinya:” Katakanlah hai Muhammad bahwa Allah itu

Kesaksian atas keesaan Allah itu disarikan dalam sebuah kalimat tauhid:

Artinya: ” Tidak ada Tuhan selain Allah”

26

Dasar dan Tujuan Silat

Salah satu keutamaan dari manusia yang berakal sehat (ulul albab) itu menurut Allah swt adalah memegang teguh janji atau kesaksian yang telah diucapkannya tentang keEsaan Allah itu, sebagaimana bunyi firmanNya dalam surat Ar Ra’d ayat 20, yaitu:

Artinya: ”Orang-orang yang meneguhi janjinya dengan Allah dan tidak memutus ikatan janji.” Dengan meneguhkan janji tentang keesaan Allah itu berarti telah bergantung kepada tali yang tidak akan putus, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 256:

Artinya: ”Barangsiapa ingkar (kufur) terhadap toghut dan beriman kepada Allah, maka ia telah berpegang kepada tali yang kokoh kuat yang tidak akan putus”. Demikianlah “IMAN DAN TAQWA “ merupakan kandungan kedua dalam rumusan falsafah “ bagantuang ka tali nan indak ka putuih bapagang karaso nan indak ka hilang.” Prinsip ini merupakan dasar pertama dan utama, dasar paling fundamental yang harus melandasi dan menjiwai dasar/azas lainnya. Dan ini adalah merupakan kebenaran mutlak. Allah berfirman dalam surat Al Hajj ayat 6:

Rusli

27

Artinya: “Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah Dialah Yang Hak, sesungguhnya Dialah yang menghidupkan

segala yang mati, dan sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” Selanjutnya dalam surat Al Qashash ayat 88 Allah berfirman :

Artinya: “ Segala sesuatu akan hancur, kecuali wajahNya, bagiNya hukum dan kepadaNya kalian akan dikembalikan.”

3. Kemanusiaan/Persaudaraan dan Kekeluargaan.
Manusia sebagai makhluk berakal ciptaan Allah swt ditakdirkan hidup dengan manusia lain. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa manusia lainnya. Dengan mengambil ungkapan ahli ilmu sosial manusia baru bernama manusia bila ia hidup bersama manusia lainnya dalam suatu pergaulan hidup yang dinamakan masyarakat. Suatu pergaulan hidup memerlukan kedamaian dan kerukunan. Untuk itu diperlukan adanya peraturanperaturan hidup. Islam diturunkan oleh Allah swt justru untuk membawa perdamaian, mengajak manusia hidup rukun dan damai. Islam mengajak ummat manusia untuk saling mengasihi, sayang menyayangi, tolong menolong dan saling membantu. Islam sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan serta persaudaraan antara ummat manusia dan menempatkan persatuan dan persaudaraan itu di tempat pertama dan utama. Semuanya itu hanya mungkin kalau setiap manusia memelihara tali persaudaraan atau hubungan silaturrahmi. Inilah yang dinamakan dengan “KEMANUSIAAN“, kandungan ketiga dari rumusan falsafah silat di atas. Dasar ini juga merupakan keutamaan orang-orang berakal sehat

28

Dasar dan Tujuan Silat

(ulul albab) seperti dimaksud oleh firman Allah dalam surat Ar Ra’d ayat 21, yaitu:

Artinya: ”Dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan silaturrahim).” Sehubungan dengan hal tersebut di atas Rasulullah bersabda: Artinya: ”Sesungguhnya Arrahim itu adalah suatu cabang dari Yang Maha Pengasih. Allah berfirman kepada kerabat (rahim) ”Barang siapa menyambungmu, maka Aku akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa memutuskanmu Aku akan memutus hubungan dengannya.” (H.R.Bukhari dan Muslim) Dan dalam hadis lain, Rasulullah bersabda : Artinya: ”Kekerabatan (arrahim) itu tegantung di ‘Arasy serta berkata: ”Barangsapa menyambung hubungan denganku (silaturrahim) maka Allah akan menyambung hubungan dngannya. Dan barangsiapa memutuskan hubungan denganku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya.” (H.R. Bukhari Muslim) Hal yang demikian itu dapat dipahami, karena manusia itu berasal dari satu keturunan sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisa’ ayat 1:

Rusli

29

Artinya: ” Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan yang telah menjadikan kamu dari diri yang satu, daripadanyalah Allah menciptakan istrinya, dan Allah memperkembangbiakkan dari keduanya itu laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kamu kepada Allah yang kamu meminta dengan nama-Nya, (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan selalu mengawasimu”. Segala macam perbedaan, seperti geogafis tempat lahir, suku, warna kulit bangsa dan sebagainya tidaklah menjadi ukuran atau alasan untuk membedakan ummat manusia. Miskin dan kaya, rakyat ataupun pejabat semuanya sama dalam pandangan Allah. Yang membedakan manusia itu adalah ketakwaannya. Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13:

Artinya: ”Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan memnjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesunggunya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa.” Kedua esensi falsafah yang disebut terakhir, yaitu “Ketuhanan dan Kemanusiaan” ini yang harus terus dipelihara dan dijaga, seperti diungkapkan dalam falsafah di atas “jago tali jan putuih awasi raso jan hilang” bersendikan kepada Al Quran surat Ali ‘Imron ayat 112 :

Artinya: ”Ditimpakan atas pundak mereka kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali mereka yang memelihara tali dengan Allah dan memelihara tali dengan manusia”

30

Dasar dan Tujuan Silat

B. Tujuan Silat.
Sesuai dengan rumusan dasar falsafah di atas maka tujuan dari silat ini dapat dirumuskan sebagai berikut: “Mendidik para pesilat yang selalu menggunakan akal sehatnya, berfikir logis efektif dan efisien yang dilandasi oleh iman dan taqwa kepada Allah serta kasih sayang sesama manusia” Untuk mencapai tujuan tersebut pesilat dituntut untuk memiliki sikap diri sebagai berikut: 1. Selalu memelihara ketaatan kepadaNya, menjalankan segala perintah dan menjauhi semua laranganNya. Allah berfirman dalam surat Ali ‘Imron ayat 32:

Artinya: Katakanlah! “Taatilah Allah dan RasulNya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berpaling.” Ketaatan itu direalisasikan/diwujudkan dalam bentuk sikap dan prilaku: a. Menunaikan ibadah kepada Allah, karena memang untuk itulah manusia diciptakan, sebagaimana firman Tuhan dalam surat Adz Dzariat ayat 56 :

Artinya: Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Aku”. Dalam ayat lainnya, surat Al Bayyinah ayat 5 Allah

Rusli

31

berfirman:

Artinya: ”Dan tidaklah Kami perintahkan melainkan agar kamu berbakti kepada Allah dengan tulus dan ikhlas.” Perintah menyembah kepadaNya secara tegas dinyatakan Allah dalam surat Thaha ayat 14 dan surat Al Anbiya’ ayat 25 yang telah dikutip di atas. b. Memperbanyak berzikir dan bertasbih untuk mengingat dan mensucikan Allah seperti diperintahkan dalam Al Quran dan hadis Rasulullah. Perintah berzikir ini banyak pula terdapat dalam Al Quran seperti : • Dalam surat Thaha ayat 14 yang bunyinya telah disebutkan pada uraian di atas • Dalam surat Al Ahzab ayat 41

Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman ingatlah akan Allah dengan ingatan yang banyak.” • Dalam surat Al Insan ayat 25 :

dan petang”

Artinya: “ Dan sebutlah nama Tuhan engkau diwaktu pagi • Dalam surat Al A’raf 205

32

Dasar dan Tujuan Silat

Artinya: ”Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut .”
“Barangsiapa mengingat Aku dalam dirinya, Aku ingat pula dalam diriKu dan barangsiapa mengingat Aku di antara orang ramai Aku ingat pula dia di antara orang ramai yang lebih mulia daripada mereka”.

Firman Allah dalam sebuah hadis qudsi yang Artinya:

• Dalam surat Al Ahzaab ayat 42:

dan petang.”

Artinya: ”Dan sucikanlah olehmu akan Allah diwaktu pagi

Perintah bertasbih ini dapat pula dilihat dalam surat Qaaf ayat 39 dan 40 :

Artinya” …dan bertasbihlah memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. (ayat 39). Dan bertasbihlah kamu kepadaNya di malam hari dan tiap selesai sembahyang (ayat 40). c. Mawas diri, tidak lalai dalam mengingat Allah karena mereka menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya. • Allah mengingatkan hal ini dalam ayat-ayat Al Quran Surat Al Hasyr ayat 19:

Artinya: ”Dan janganlah kalian seperti orang yang melupakan Allah, lalu Allah membuatnya lupa kepada dirinya sendiri.”

Rusli

33

Dalam ayat lainnya surat Al A’raf ayat 205 Allah berfirman:

Artinya: ”Dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai.” • Dalam surat Al Kahfi ayat 28:

Artinya: ”Dan janganlah engkau mengikuti orang yang telah Kami lalaikan hatinya dalam mengingat Kami, kemudian diperturutkannya hawa nafsunya, maka jadilah segala perbuatannya di luar batas.” Mengenai pengawasan Allah dapat dilihat dalam ayatayat berikut: • Surat Al Baqarah Ayat 284:

Artinya: ”Dan jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hati kamu atau kamu menyembunyikannya, pasti Allah akan membuat perkiraanNya tentang hal itu.” • Surat Al Hadiid Ayat 4 :

Artinya: ”Dia bersama kamu dimana saja kamu berada, dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan”. 2. Mendidik dan membina para pesilat yang berbudi mulia, rendah hati, selalu menghormati dan menjaga hubungan dengan manusia lain.

34

Dasar dan Tujuan Silat

a. Tidak merasa mulia diri, karena kemuliaan itu hanyalah milik Allah, dan rasa mulia diri membawa kepada kesombngan dan bangga diri serta takabur, sifat yang tidak disukai Allah. Allah berfirman dalam surat Fathir ayat 10:

Artinya : ”Barang siapa menghendaki kemuliaan maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya.”

Artinya: ”Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa: ”(Al Hujurat 13 )” Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi Artinya: “Takabur itu adalah selendangku dan keperkasaan adalah kainku “ Dalam surat Annisa’ ayat 36 Allah berfirman :

Artinya: ”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis : Artinya: ”Tidak masuk sorga barang siapa yang ada dalam hatinya sebesar biji zarah takabur. ”(H.R. Muslim dan Turmizi). Kesombongan dan kecongkakan tidak akan masuk kedalam hati seseorang yang telah beriman kepada Allah sebagaimana diisyaratkanNya dalam surat Al Furqon ayat 63 :

Rusli

35

Artinya: “Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan apabila orangorang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” Selain daripada itu mereka sudah menyadari bahwa segala sesuatu ada dalam tangan kuasa Allah. Orang mukmin itu melihat, berperang dan melempar dengan pertolongan Allah. Allah swt berfirman dalam surat AlAnfal ayat 17:

Artinya: ”Maka sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah Yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.” Dalam surat An Nahl ayat 96 Allah berfirman:

Artinya: ”Dan apa-apa yang di sisimu akan sirna dan apaapa yang di sisi Allah akan kekal selamanya.” b. Mampu mengendalikan nafsu, tidak zalim dan tidak mau berbuat jahat karena menyadari bahwa hal itu hanya akan menimpa dirinya sendiri. Firman Allah:

36

Dasar dan Tujuan Silat

Artinya: ”Janganlah engkau memperturutkan hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah (surat Shad ayat 26). Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis: Artinya: ”Bukanlah orang yang gagah berani itu orang yang cepat melompati musuhnya, tetapi orang yang yang dapat menahan marahnya.” Mengenai perbuatan jahat Allah SWT berfirman dalam surat fathir ayat 43:

Artinya: “ ….Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” Dalam ayat 10 surat yang sama Allah berfirman :

Artinya: ” …Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur.” Sehubungan dengan ini Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis : Artinya: ”Janganlah berbuat rencana jahat , dan janganlah bersekogkol membuat rencana jahat karena Tuhan telah menyatakan bahwa tidaklah menimpa rencana jahat itu kecuali kepada dirinya sendiri.” 3. Tidak menggunakan kependekarannya, kecuali untuk membela diri demi kebenaran dan keadilan. Dalam hal ini lebih suka mengambil sikap bijak, pemaaf yang dilandasi rasa kasih sayang dan tidak berbuat zalim. Dalam ajaran silat ini tidak dikenal apa yang

Rusli

37

dinamakan lawan atau musuh dan berlaku suatu adagium: “Musuah indak dicari, basuo paralu diilakkan “ (Musuh tidak dicari-cari, bertemu perlu dielakkan). Bila diserang tidak dibenarkan membalas langsung. Seorang pesilat tidak dibenarkan melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti orang. Biasanya seseorang yang menyerang orang lain berada dalam keadan marah. Oleh karenanya kalau disakiti akan bertambahtambah kemarahannya. Akibatnya perkelahian tidak dapat dihindarkan. Maka yang akan terjadi adalah permusuhan bukan persaudaraan. Ini bertentangan dengan falsafah zhahir silat mencari kawan. Kepada setiap pesilat ditanamkan sikap diri untuk selalu menghormati manusia lain. Sikap diri ini diwujudkan dalam perbuatan. Kalau diserang pada tahapan pertama anggaplah yang menyerang itu ibu atau bapa. Reaksi yang boleh dilakukan adalah mengelak atau menangkis serangan dengan lemah lembut dalam arti tidak menyakiti sipenyerang. Berilah dia nasehat secara baik-baik. Kalau yang bersangkutan masih menyerang anggap dia guru. Reaksi yang dilakukan sama dengan pada serangan pertama dan nasehati dengan baik. Pada serangan yang ketiga anggap sipenyerang itu kawan atau saudara. Reaksi yang dilakukan teatap sama dengan yang sebelumsebelumnya. Nasehati pula dengan baik. Allah dalam surat Al Balad ayat 17 menyuruh manusia untuk berbuat yang sedemikian itu:

Artinya: ”…dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”. Dalam surat An Nahl ayat 125 Allah berfirman:

38

Dasar dan Tujuan Silat

Artinya: “Ajaklah manusia kejalan Tuhanmu dengan kebijaksanaan dan menasehati dengan baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” Setelah tiga kali dinasehati dan yang bersangkutan masih menyerang maka anggaplah dia bukan manusia lagi, tetapi sebagai syaitan. Dalam keadaan yang demikian anggaplah dia sebagai musuh, sebagimana difirmankan Allah dalam surat Fathir ayat 6 :

Artinya: ”Bahwa sesungguhnya syaitan itu musuh bagimu, sebab itu hendaklah kamu menjadikannya musuh.” Dalam kondisi yang seperti itu berarti akal budi sudah tidak berguna lagi, tempat bertenggang sudah tidak ada lagi, serahkan diri kepada Allah.

Artinya: ”Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa Maha bijaksana.”(surat Al Anfal ayat 49). Kalaulah tawakkal sudah datang, betapapun besarnya musuh, betapapun kecilnya diri, orang tidak perduli lagi. ”Satapak bapantang suruik, salangkah bapantang mundur, aso hilang duo tabilang. Namun pesilat tidak boleh bertindak melampaui batas. Allah memerintahkan membalas kejahatan itu haruslah seimbang dengan kesalahan orang lain, bahkan yang lebih baik membalasnya dengan cara yang lebih baik seperti dinyatakan dalam ayat-ayat berikut:

Rusli

39

Surat Al Baqarah ayat 194:

Artinya: ” …maka barangsiapa menyerang kamu, seranglah mereka secara seimbang dengan serangan mereka terhadapmu.” Surat An Nahl ayat 126 :

Artinya: ”Dan bila kamu memberi balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksa yang ditimpakan kepadamu.” Surat Al Mukminun ayat 96

lebih baik.”

Artinya: ”Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang Surat Asy Syura ayat 40:

Artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya dari Allah.” Surat Fushilat ayat 34:

Artinya: ”Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang-orang yang diantara kamu dan diantara dia ada permusuhan seolah-olah teman yang sangat erat”

40

Dasar dan Tujuan Silat

Pesilat tidak dibenarkan melampaui batas. Tindakan mencelakai orang lain tetap saja tidak dibenarkan. Kebenaranlah yang harus dijadikan hakim. Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 147:

Artinya: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, dan janganlah kamu menjadi orang yang ragu-ragu.” Dalam ayat lainnya Allah berfirman:

Artinya: ”Dan barang siapa yang menghukum dengan apa yang diturunkan Allah mereka itulah orang-orang yang fasik Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsy: Artinya: ”Hai hamba-hambaku, Aku mengharam-kan berbuat zolim atas diriku, dan Aku perintahkan kepada kamu untuk tidak berbuat zolim antara sesama manusia.” Kalaupun pada diri sipenyerang terjadi sesuatu, seperti luka, patah, cedera dan sebagainya maka itu adalah sebagai akibat dari perbuatannya sendiri. I’tikad jahatnya yang menjadi hakim pada waktu itu. “Jatuah patah dek pan jeknyo, rusak binaso karano parangainyo” Dengan sikap diri yang telah diuraikan diatas sipesilat telah bertindak sesuai dengan falsafah dan tujuan silat. Memelihara hubungan dengan manusia sesuai dengan hukum-hukum Allah. Sehingga terwujudlah hablumminallah dan hablumminannaas sekaligus terwujud pula zhahir silat mencari kawan, batin silat mencari Tuhan. Semua sikap dan perilaku yang diharapkan itu dilatih dan dibinakan kepada setiap pesilat dalam latihan-latihan. Setiap akan memulai latihan pesilat harus membersihkan diri baik secara zahiriah maupun bathiniah. Selanjutnya tatkala mulai melangkah, pesilat dilatih untuk selalu

Rusli

41

menyerahkan diri kepada Allah SWT. Demikian pula pada setiap geraknya pesilat dilatih untuk selalu ingat kepadanNya serta tidak menyakiti kawan berlatih. Nilai-nilai filosifis dari dasar-dasar dan tujuan silat kumango ini digambarkan juga di dalam lambang Silat Kumango yang dirancang oleh penulis sendiri

C. Lambang Silat Kumango

Lambang Silat Kumango, yang merupakan hasil rancangan oleh penulis.

42

Dasar dan Tujuan Silat

Arti dari lambang Silat Kumango adalah sebagai berikut : 1. Lingkaran yang bertuliskan PERGURUAN SILAT KUMANGO yang bahagian bawahnya diikat pita hijau yang di dalamnya terdapat tulisan PERSIKUM. Lingkaran melambangkan bumi dan warna hijau melambangkan kebenaran dan keadilan. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango bertujuan membina dan mendidik para pesilat yang bertanggung jawab dan berani membela serta menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi. 2. Bangunan yang terdapat di dalam lingkaran terdiri dari surau dan rumah adat serta makam tempat Syekh Kumango dikuburkan, melambangkan tempat silat kumango diwariskan dan dikembangkan. Makna dari lambang ini bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang mengamalkan ajaran agama dan adat dalam kehidupan sehari-hari. 3. Tulisan Allah pada puncak surau melambangkan keyakinan bahwa Allah adalah puncak dari segalagalanya. 4. Dua tangan yang berjabatan melambangkan hubungan antar sesama. Makna lambang pada no. 3 dan no. 4 adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang selalu memelihara hubungan dengan Allah (hablum-minallah) dan memelihara hubungan dengan manusia (hablum-minannas). Sekaligus melambangkan tujuan utama silat Kumango ”zhahir silek mancari kawan, bathin silek mancari Tuhan”. 5. Warna kuning mas yang yang memenuhi ligkaran melambangkan kemuliaan. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa Perguruan Silat Kumango membina para pesilat yang berhati mulia.

Rusli

43

6. Warna coklat muda yang terdapat pada bangunan melambangkan tanah. Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Makna yang terkandung di dalamnya bahwa Perguruan Silat Kumango membina pesilat yang rendah hati tidak sombong dan tidak congkak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful