You are on page 1of 7

1

Makalah Seminar Tugas Akhir
ANALISA BERLANGGANAN LISTRIK ANTARA TEGANGAN MENENGAH (TM) DENGAN
TEGANGAN RENDAH (TR) DAN ANALISA EFISIENSI TRAFO DALAM RANGKA
KONSERVASI ENERGI KAMPUS UNDIP TEMBALANG
Ermawanto - L2F 001 595
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Abstrak - Penentuan langganan daya hendaknya disesuaikan dengan pemakaian beban. Hal ini terkait dengan biaya
rekening listrik yang dikeluarkan. Berdasarkan hasil pengukuran dan pendataan beban listrik, beberapa gedung di
kampus Undip Tembalang perlu dilakukan audit energi. Hal ini disebabkan rendahnya pemakaian beban yang tidak
sesuai dengan langganan daya yang dikontrak. Ditambah dengan adanya denda penalti akibat rendahnya faktor daya
(pf<0,85) ikut menyumbang tingginya biaya rekening listrik setiap bulannya. Pengaruh rendahnya pemakaian beban
dibanding kapasitas trafo yang tersedia, rendahnya faktor daya, serta pengaruh harmonisa (THD) menyebabkan kerja
trafo tidak optimal atau efisiensinya rendah.
Dalam penelitian ini dibahas mengenai analisa penentuan jenis langganan dan penentuan besar kapasitas
trafo sebagai upaya program konservasi energi dilihat dari sisi ekonomis dan sisi teknis. Analisa ini didasarkan atas
hasil pengukuran dan pendataan beban listrik.
Analisa berlangganan Tegangan Rendah dengan Tegangan Menengah serta penentuan kapasitas trafo
merupakan salah satu solusi dalam rangka untuk menekan pengeluaran pembayaran rekening listrik dan
mengoptimalkan penggunaan trafo.

Kata Kunci : Konservasi Energi, Biaya, Efisiensi

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konservasi energi merupakan suatu aktivitas
pemanfaatan energi secara efisien dan rasional tanpa
mengurangi penggunaan energi yang memang benar-
benar diperlukan. Langkah audit dan konservasi
energi di gedung dimaksudkan untuk meningkatkan
efisiensi penggunaan energi tanpa mengurangi tingkat
kenyamanan serta dapat menghemat biaya.
Pemakaian beban listrik yang tidak sebanding
dengan besar langganan daya dapat menyebabkan
ketidakefisienan dalam hal pembiayaan. Gedung-
gedung di kampus Undip Tembalang rata-rata
pemakaian bebannya terlalu kecil bila dibandingkan
dengan langganan daya yang dikontraknya. Hal ini
menyebabkan tingginya biaya rekening listrik yang
dibayarkan setiap bulannya. Ditambah pula dengan
diberlakukannya denda penalti akibat rendahnya
faktor daya (pf<0,85) khusus untuk langganan
Tegangan Menengah.
Rendahnya efisiensi trafo yang berarti
besarnya losses dapat menyebabkan kerugian di sisi
power provider dalam hal ini PT. PLN (Persero) dan
konsumen terutama bagi pelanggan Tegangan
Menengah. Rendahnya efisiensi trafo dapat
disebabkan oleh rendahnya faktor daya, rendahnya
pembebanan, serta adanya pengaruh harmonisa
(THD) akibat pemakaian beban non linier.
Di saat semakin tingginya biaya hidup
dengan adanya kenaikan BBM yang berdampak luas
pada kenaikan Tarif Dasar Listrik dan masih besarnya
nilai losses pada jaringan distribusi, maka efisiensi
dalam hal pembiayaan dan pengoptimalan
penggunaan peralatan menjadi perhatian serius.


1.2 Tujuan
Tujuan dalam Tugas Akhir ini adalah
membandingkan efisiensi biaya antara berlangganan
Jaringan Tegangan Rendah dengan Jaringan
Tegangan Menengah serta menganalisa efisiensi trafo
dalam rangka konservasi energi.

1.3 Batasan Masalah
Dalam pembuatan tugas akhir ini penulis
membatasi permasalahan sebagai berikut :
1. Studi dilakukan pada trafo–trafo di kampus Undip
Tembalang yang berlangganan tegangan
menengah (>200 kVA) yaitu yang letak
kWHmeter dari PLN berada di sisi tegangan 20
kV. Trafo distribusi ini terletak di kampus T.
Elektro, T.Mesin, T.Arsitektur, T.Sipil, Teknik
Kimia, Fakultas Peternakan, Laboratorium
Fakultas Peternakan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Gedung Widya Puraya, dan
Gedung Kuliah Bersama Prof. Soedharto.
Sedangkan yang berlangganan Tegangan Rendah
(<200kVA) terletak di Rektorat, Laboratorium
DIII Teknik, dan DIII Teknik.
2. Data yang dijadikan perhitungan pada hasil data
survey yang dilakukan pada bulan Juli s/d
Agustus 2005 dan pengukuran besaran listrik
pada masing – masing trafo pada bulan
September 2005. Pendataan beban dilakukan pada
bulan Februari 2006
3. Dari data survey dianalisa kapasitas beban yang
terpasang, hal-hal yang mempengaruhi losses
daya dan efisiensi trafo (pengaruh pembebanan,
faktor daya, dan harmonisa (THD arus)) serta
ditentukan sistem berlangganan antara Tegangan

2
Menengah dengan Tegangan Rendah yang sesuai
dan melakukan manajemen trafo.
4. Permasalahan dalam Tugas Akhir ini dibatasi
pada besar penghematan biaya yang dikeluarkan
antara berlangganan dengan Jaringan Tegangan
Rendah dengan Jaringan Tegangan Menengah
serta penentuan kapasitas trafo agar efisien
5. Perhitungan biaya di sini adalah biaya rekening
listrik
6. Perhitungan biaya listrik didasarkan pada Tarif
Dasar Listrik PLN tahun 2005.

II. TEORI DASAR
2.1 Transformator
[4]

Transformator terdiri dari dua gulungan
kawat yang terpisah satu sama lain yaitu bagian
primer dan bagian sekunder, yang dibelitkan pada inti
yang sama. Untuk dapat membangkitkan tegangan
listrik pada kumparan sekunder, fluks magnet yang
dibangkitkan oleh kumparan primer harus berubah-
ubah. Untuk memenuhi hal ini, aliran listrik yang
mengalir di sisi primer haruslah listrik AC.

Gambar 2.1 Teori Dasar Transformator

Saat kumparan primer dihubungkan ke
sumber listrik AC, pada kumparan primer timbul gaya
gerak magnet bersama yang bolak balik juga. Dengan
adanya gaya gerak magnet ini, di sekitar kumparan
primer timbul fluks magnet bersama yang juga bolak
balik. Adanya fluks magnet bersama ini, pada ujung-
ujung kumparan sekunder timbul gaya gerak listrik
induksi sekunder yang mungkin sama, lebih tinggi,
atau lebih rendah dari gaya gerak listrik primer. Hal
ini tergantung pada perbandingan transformator
kumparan transformator tersebut. Jika kumparan
sekunder terhubung beban maka akan timbul arus
listrik bolak balik, sehingga pada beban timbul
tegangan sekunder. Kombinasi antar gaya gerak
magnet induksi sekunder dan primer disebut induksi
bersama atau mutual induction.

2.1.1 Rugi-rugi pada Trafo
Rugi-rugi daya transformator berupa rugi inti
atau rugi besi (Pi) dan rugi tembaga (P
cu
) yang
terdapat pada kumparan primer maupun sekunder.
Rugi inti terdiri dari rugi arus eddy dan rugi histeresis
atau Pi = Ph + Pe.
watt B f Kh Ph
maks
6 , 1
= (1)
watt B f Ke Pe
maks
2 2
=
(2)
dimana Kh = konstanta
Bh = fluks maksimum (weber)
f = frekuensi (Hz)
Rugi Histeresis (Ph), yaitu rugi yang
disebabkan fluks bolak balik pada inti besi. Rugi
Eddy current (Pe), rugi yang disebabkan arus pusar
pada inti besi. Adapun arus pusar inti ditentukan oleh
tegangan induksi pada inti yang menghasilkan
perubahan-perubahan fluks magnet.
Pada kondisi beban nol, rugi-rugi yang terjadi
hanyalah rugi inti. Perlu diketahui bahwa besarnya
rugi-rugi inti ini tetap. Rugi inti tidak terpengaruh
dengan adanya perubahan beban. Besar rugi inti dari
beban nol sampai kondisi beban penuh nilainya sama,
dengan asumsi tegangan primer tidak berubah atau
konstan
[5]

Sedangkan pada kondisi berbeban rugi-rugi
yang terjadi adalah rugi inti ditambah rugi-rugi
tembaga (P
cu
),

cu
cu i Rugi
P Pe Ph
P P
+ + =
+ = E
(3)
dimana rugi tembaga dapat dicari melalui tes hubung
singkat. Persamaan matematikanya adalah :
R I P
cu
2
= (4)
Karena arus beban berubah-ubah, maka rugi tembaga
tidak konstan bergantung pada beban.

2.1.2 Perhitungan Rugi Daya Sistem 3 Fasa
Untuk beban setimbang, berlaku persamaan :
 cos ) 707 , 0 ( 3 V
P
I =
(5)
Jika setiap konduktor memiliki resistansi sebesar R,
maka :
R
V
P
R I Losses

2 2
2
2
cos 3
2
3 = =
(6)
Untuk beban tidak setimbang, berlaku persamaan :

(7)
( Special Joint Committee of the AIEE & the National Electric
Light Association,1920)
Sehingga, pada kondisi tidak setimbang maka
harga losses 3 fasa merupakan penjumlahan dari
harga losses masing-masing fasa. Atau :
R Ic Ib Ia
R Ic R Ib R Ia Losses
) (
2 2 2
2 2 2
+ + =
+ + =
(8)

2.1.3 Efisiensi Trafo
Untuk setiap mesin atau peralatan listrik,
efisiensi ditentukan oleh besarnya rugi-rugi yang
terjadi selama operasi normal. Efisiensi dari mesin-
mesin berputar/bergerak umumnya antara 50-60%
karena ada rugi gesek dan angin. Trafo tidak memiliki
bagian yang bergerak/berputar, maka rugi-rugi ini
tidak muncul, namun masih tetap memiliki rugi-rugi
walaupun tidak sebesar pada peralatan listrik seperti
mesin-mesin atau peralatan bergerak lainnya.
[3]
Trafo
daya saat ini rata-rata dirancang dengan besar
efisiensi minimal 95%.
[9]


3
KURVA EFISIENSI Vs BEBAN TRAFO
93
94
95
96
97
98
99
0 20 40 60 80 100 120
BEBAN( %)
E
F
I
S
I
E
N
S
I
(
%
)
Efisiensi transformator adalah perbandingan
antara daya output dengan daya input. Secara
matematis ditulis :

(9)

2.1.3.1 Pengaruh pembebanan terhadap efisiensi
[10]

Jika trafo kemudian dibebani terus maka
losess akan mempunyai karakteristik effisiensi
penyaluran daya vs pembebanan trafo seperti berikut :
Gambar 2.4 Karakteristik Efisiensi-Pembebanan Trafo

Dari karakteristik di atas terlihat bahwa
transformator akan mempunyai effisiensi tertinggi
pada saat terjadi pembebanan sebesar 80 % dari
pembebanan nominalnya.

2.1.3.2 Pengaruh faktor daya terhadap efisiensi
[1]
Perubahan efisiensi terhadap faktor daya
beban dapat dinyatakan sebagai :
2 2
2 2
2 2
/ cos
/
1
cos
1
I V Rugi
I V
Rugi
Rugi I V
Rugi
E +
E
÷ =
E +
E
÷ =



(10)
: tan, /
2 2
maka kons X I V Rugi bila = = E





cos / 1
cos /
1
cos
1
X
X
X
X
+
÷ =
+
÷ =
(11)
Gambar grafik berikut menggambarkan hubungan
antara efisiensi dengan beban pada faktor daya yang
berbeda-beda.

Gambar 2.2 Grafik hubungan antara pf dengan η trafo

Konsumen yang mempunyai daya besar di
atas 200 kVA, yang pemakaian listriknya dipakai
untuk beban-beban induktif seperti motor-motor
induksi, dapat mengakibatkan turunnya faktor daya di
sistem terutama pada bus dimana beban tersebut
tersambung.
Penurunan faktor daya ini menurunkan
tegangan dan kerugian daya aktif pasokan listrik dari
PLN di sisi konsumen terutama pada arus beban
besar, sehingga merupakan salah satu penyebab
timbulnya perbedaan pengukuran kWh di sisi PLN
dan konsumen, yang merugikan bagi pemasok tenaga
listrik (PLN), sementara di sisi konsumen yang
pembatasnya secara umum adalah pembatas arus,
merasa bahwa pemakaian daya semu (kVA) kurang
dari kVA kontrak.
Sesuai dengan sifat beban induktif yang
banyak digunakan oleh hampir setiap konsumen
besar, diantaranya beban-beban yang mempergunakan
motor induksi untuk keperluan AC (Air conditioning),
lift, pompa air, atau peralatan pintal untuk konsumen
yang bergerak di bidang industri tekstil dan lain
sebagainya.
Motor-motor induksi dengan kapasitas besar
pada saat asut / start dapat mengakibatkan kedip
tegangan, karena arus start dapat mencapai 5 s/d 6
kali arus nominal untuk kemudian turun dibawah
nominal (sebelum berbeban), faktor daya pada saat
start berkisar antara 0,2 s/d 0,3, sehingga pada saat ini
beban motor ini banyak menarik VAR. Kejadian start
stop motor dalam operasinya boleh dikatakan sering.

[19]

Secara kumulatif motor-motor induksi yang
beroperasi dapat menurunkan faktor daya di sistem, di
samping motor-motor induksi, untuk penerangan
konsumen mempergunakan lampu neon yang
mempunyai faktor daya yang rendah. Total beban di
konsumen yang mempunyai motor induksi dan lampu
neon dapat mengakibatkan turunnya faktor daya di
beban tersebut. Oleh sebab itu beban VAR yang
diserap perlu dilakukan pengukuran baik pada saat
start maupun pada operasi normal
Penurunan faktor daya ini dapat merugikan
kedua belah pihak (pihak pemasok dan pihak
pemakai), pihak pemasok merasakan kerugian akibat
turunnya tegangan di terminal konsumen yang
mengakibatkan pengukuran faktor daya yang lebih
buruk lagi di sisi pengirim, pemakaian arus yang
besar akibat faktor daya rendah dapat juga
menimbulkan kerugian daya aktif di jaringan
sehingga terdapat perbedaan pengukuran KWh yang
terpasang di sisi pemasok dan di sisi pemakai,
sementara pihak pemakai merasakan bahwa
pemakaian daya listriknya menjadi terbatas tidak
sesuai dengan daya yang dikontraknya
Dari vektor diagram daya pada gambar 2.3
menunjukkan bahwa semakin besar sudut φ, yang
berarti nilai cos φ menjadi kecil sehingga untuk nilai
watt yang sama akan menarik VA yang besar.


Gambar 2.3 Pengaruh sudut φ pada besarnya S (kVA)
% 100 % 100 x
Keluar Daya
Keluar Daya
x
Masuk Daya
Keluar Daya
rugi
E +
= = 

4
2.1.4 Pengaruh Harmonik pada Trafo
[6]
Pada dasarnya, harmonik adalah gejala
pembentukan gelombang-gelombang dengan
frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan
bulat dengan frekuensi dasarnya. Hal ini disebut
frekuensi harmonik yang timbul pada bentuk
gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat pengali
frekuensi dasar disebut angka urutan harmonik.
Misalnya, frekuensi dasar suatu sistem tenaga listrik
adalah 50 Hz, maka harmonik keduanya adalah
gelombang dengan frekuensi sebesar 100 Hz,
harmonik ketiga adalah gelombang dengan frekuensi
sebesar 150 Hz dan seterusnya. Gelombang-
gelombang ini kemudian menumpang pada
gelombang murni/aslinya sehingga terbentuk
gelombang cacat yang merupakan jumlah antara
gelombang murni sesaat dengan gelombang
harmoniknya.
Sumber harmonik pada sistem distribusi
adalah beban non linier. Beban non linier adalah
bentuk gelombang keluaran yang tidak sebanding
dengan tegangan dalam setiap setengah siklus
sehingga bentuk gelombang arus maupun tegangan
keluarannya tidak sama dengan gelombang
masukannya (mengalami distorsi).
Beban non linier yang umumnya merupakan
peralatan elektronik yang di dalamnya banyak
terdapat komponen semikonduktor, dalam proses
kerjanya berlaku sebagai saklar yang bekerja pada
setiap siklus gelombang dari sumber tegangan. Proses
kerja ini akan menghasilkan gangguan atau distorsi
gelombang arus yang tidak sinusoida. Bentuk
gelombang ini tidak menentu dan dapat berubah
menurut pengaturan pada parameter komponen
semikonduktor dalam peralatan elektronik. Perubahan
bentuk gelombang ini tidak terkait dengan sumber
tegangannya.
Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan
timbulnya harmonik antara lain komputer, printer,
lampu fluorescent yang menggunakan balas
elektronik, kendali kecepatan motor, motor induksi,
batere charger, proses electroplating, dll. Peralatan
ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara
hemat dan efisien karena arus listrik hanya dapat
melalui komponen semikonduktornya selama periode
pengaturan yang telah ditentukan. Peralatan ini
memiliki kekurangan yaitu akan mengalami gangguan
gelombang arus dan tegangan yang pada akhirnya
akan kembali ke bagian lain sistem tenaga listrik.
Fenomena ini akan menimbulkan gangguan beban
tidak linier satu fasa. Hal di atas banyak terjadi pada
distribusi yang memasok pada areal
perkantoran/komersial.

2.1.4.1 Pengaruh Harmonik pada Losses Daya
[21]

I
rms
(root mean squared current) merupakan
penjumlahan semua arus yang mungkin timbul pada
periode waktu tertentu. Jika dalam suatu sistem
distribusi terdapat pengaruh harmonik maka I
rms

merupakan penjumlahan dari arus fundamentalnya
dengan seluruh arus harmonisa yang terjadi. Secara
matematis dapat ditulis :
2 2
3
2
2
2
1
...
n rms
I I I I I + + + = (12)
dimana :
I
1
= arus fundamental (pada f = 50 Hz)
n = urutan harmonik
I
rms(distortion)
adalah jumlah seluruh arus harmonisa
yang terjadi tanpa arus fundamentalnya. Secara
matematis dapat ditulis :
2 2
3
2
2 ) (
...
n distortion rms
I I I I + + =
(13)
Sedangkan arus THD (Total Harmonic
Distortion) adalah merupakan pembagian antara
I
rms(distortion)
dengan I
1
. Secara matematis dapat ditulis
:
% 100
I
1
tion) rms(distor
%
x
I
THD
l fundamenta
|
|
.
|

\
|
=
(14)
Dari persamaan di atas terlihat bahwa arus
yang mengandung harmonik akan memperbesar I
rms,
I
rms(distortion),
dan THD
%fundamental
seperti yang kita
ketahui bahwa persamaan untuk losses daya adalah ;
R x I
2
rms
=
losses
P (15)
maka, dengan adanya arus harmonisa ini akan
memperbesar losses daya yang terjadi. Arus
harmonisa dikatakan rendah jika THD
I
≤20%,
medium/sedang jika 20%<THD
I
≤50%, dan tinggi jika
THD
I
>50%.
[8]

Selain itu pengaruh harmonisa pada rugi inti
juga ikut berperan. Pada persamaan (1) dan (2) rugi
hysteresis dan eddy current dipengaruhi oleh
frekuensi. Harmonik adalah gejala pembentukan
gelombang-gelombang dengan frekuensi berbeda
yang merupakan perkalian bilangan bulat dengan
frekuensi dasarnya. Semakin besar harmonisa maka
semakin besar pula rugi-rugi yang terjadi pada inti
trafo.

2.1.4.2 Pengaruh Harmonisa pada Suhu Trafo
[7]

Pada transformator, rugi-rugi yang
disebabkan harmonisa arus dan tegangan bergantung
pada frekuensi. Peningkatan frekuensi menyebabkan
peningkatan rugi-rugi. Harmonisa frekuensi tinggi
akan lebih merupakan penyebab pemanasan utama
dibandingkan harmonisa frekuensi rendah. Harmonisa
arus menyebabkan peningkatan rugi-rugi tembaga dan
rugi-rugi fluks. Sedangkan harmonisa tegangan
menyebabkan peningkatan rugi-rugi besi bocor dan
peningkatan stress pada isolasi. Efek keseluruhannya
adalah pemanasan berlebih bila dibandingkan dengan
operasi dengan gelombang sinus murni.

2.1.5 Penentuan Kapasitas Transformator
Untuk menentukan besarnya kapasitas
transformator yang dipilih hendaknya mengetahui
kebutuhan daya maksimum. Besarnya daya
maksimum dipengaruhi oleh faktor kebutuhan. Faktor
kebutuhan (Fdm) didefinisikan sebagai perbandingan

5
antara kebutuhan maksimum dalam sebuah sistem
dengan total beban yang terpasang atau terhubung
pada sistem tersebut.
[2]

terpasang beban Total
maksimum daya kebutuhan
Fdm =
(16)
Tabel berikut menunjukkan besar faktor kebutuhan
masing-masing jenis beban.

Tabel 2.1 Faktor kebutuhan
[2]

Jenis beban Faktor kebutuhan
Pemukiman/perumahan 0,5 s/d 0,7
Komersial 0,5 s/d 0,7
Industri 0,5 s/d 0,8

3.1 Perhitungan THD, Data Pengukuran dan
Rekapitulasi Beban, serta Perhitungan Efisiensi
Trafo

3.1.1 Perhitungan THD
Dari hasil pengukuran dan perhitungan
diperoleh besar THD seperti yang ditunjukkan pada
tabel berikut.

Tabel 3.1 Hasil pengukuran dan perhitungan THD
Gedung
THD
ukur
THD
hitung
Pengaruh THD
MIPA 3,7-30 5,73-35,5 Rendah-Sedang
T. Elektro 7,1-41,6 6,42-42 Rendah-Sedang
T. Mesin 3,6-37,6 3,16-38,39 Rendah-Sedang
T. Kimia &
Dekanat Teknik
3,1-24,2 2,01-23,1 Rendah-Sedang
T. Sipil 6,3-20,3 6,42-19,53 Rendah
Dekanat
Peternakan
2,2-27,6 4,47-42,87 Rendah-Sedang
Lab Peternakan 2,2-11,6 1,89-10,22 Rendah
FPIK.FKM,
Psikologi
5,9-29,1 4,75-28,54 Rendah-Sedang
T. Arsitektur,
T.I, T.PWK
5,7-28,1 5,14-27,57 Rendah-Sedang
Widya Puraya 4,9-15,5 3,66-14,39 Rendah
Gedung Prof.
Soedharto
3,6-26,2 3,37-26,07 Rendah-Sedang
Pada hasil pengukuran dan perhitungan di
atas terlihat pengaruh THD masih relatif rendah.
Meskipun rendah, THD ikut berpengaruh terhadap
terjadinya losses.

3.1.2 Data Pengukuran dan Rekapitulasi Beban
Dari hasil pengukuran sisi primer trafo (bulan
September 2006) diambil nilai daya S (kVA) tertinggi
dan dari survey rekapitulasi beban (Februari 2006)
diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan pada tabel
berikut.

Tabel 3.2 Hasil Pengukuran dan Rekapitulasi Beban
Gedung
Daya
langgan
(DL)
hasil
pengukuran
maks (hpm)
Total beban
terpasang
(tbp)
MIPA
345 60,2
234,167
T. Elektro
240 88,52
137,198
T. Mesin
240 44,72
157,032
T. Kimia &
Dekanat
240 49,13 194,027
T. Sipil
240 45 209,635
Dekanat
Peternakan
240 23,89 66,912
Laboratorium
Peternakan
240 23,22 137,585
FPIK.FKM,
Psikologi
240 68,87 106,209
T. Arsitektur, T. I,
T. PWK
240 105,02 264,816
Widya Puraya
240 83,41 246,872
Gedung Prof.
Soedharto
240 146,16 255,563
DIII Teknik 42 37,3 105,684
Laboratorium DIII
Teknik
66 - 51,039
Rektorat
53 30,45 70,424
Dari hasil pengukuran di atas terlihat
rendahnya pemakaian beban bila dibandingkan
dengan daya langganan yang dikontrak. Pada
kenyataannya tidak mungkin semua beban dipakai
dalam waktu bersamaan. Faktor kebutuhan (Fdm)
didefinisikan sebagai
Tbp
Kbm
Fdm =
atau FdmxTbp Kbm = (17)
Besarnya nilai faktor kebutuhan untuk
pelanggan perumahan/komersial/sosial adalah 0,5-
0,7. Berikut ditampilkan besar kebutuhan beban
maksimum untuk nilai Fdm = 0,5 dan 0,7.

Tabel 3.3 Kebutuhan beban maksimum
Gedung
Fdm = 0,5 Fdm = 0,7
Kbm Kbm/DL Kbm Kbm/DL
MIPA
117,08 0,34 163,92 0,48
T. Elektro
68,60 0,29 96,04 0,40
T. Mesin
78,52 0,33 109,92 0,46
T. Kimia &
Dekanat Teknik
97,01 0,40 135,82 0,57
T. Sipil
104,82 0,44 146,74 0,61
Dekanat F.
Peternakan
33,46 0,14 46,84 0,20
Laboratorium
F. Peternakan
68,79 0,28 96,31 0,39
FPIK.FKM,
Psikologi
53,10 0,22 74,35 0,31
T. Arsitektur, T.I,
T.PWK
132,41 0,55 185,37 0,77
Widya Puraya
123,44 0,51 172,81 0,72
Gedung Prof.
Soedharto
127,78 0,53 178,89 0,75
DIII Teknik
52,84 1,17 73,98 1,64
Laboratorium
DIII Teknik
25,52 0,39 35,73 0,54
Rektorat
35,21 0,65 49,30 0,91
Dari data total beban terpasang, perhitungan
kebutuhan beban maksimum dengan Fdm=0,5 dan 0,7
terlihat masih kecil bila dibandingkan dengan
langganan daya yang dikontrak. Hal ini menyebabkan
ketidakefisienan dalam hal pembiayaan. Ditambah
dengan adanya denda penalti untuk faktor daya

6
kurang dari 0,85 bagi pelanggan Tegangan
Menengah.
Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan
besar langganan daya dengan nilai yang sesuai (nilai
pendekatan). Penentuan langganan daya diambil dari
total beban terpasangnya karena untuk
memperkirakan adanya pertambahan beban di tahun-
tahun mendatang. Berikut akan dicoba menganalisa
penentuan jenis langganannya. Untuk selengkapnya
dapat dilihat dalam tabel.

Tabel 3.4 Analisa perubahan besar langganan daya
Gedung
Daya
langgan
lama
Total
beban
terpasang
Daya
langgan
baru
MIPA 345 S3TM 234,167 240 S3TM
T. Elektro 240 S3TM 137,198 147 S2TR
T. Mesin 240 S3TM 157,032 164 S2TR
T. Kimia & Dekanat 240 S3TM 194,027 197 S2TR
Dekanat Peternakan 240 S3TM 66,912 82,5 S2TR
Lab Peternakan 240 S3TM 137,585 147 S2TR
FPIK.FKM, Psikologi 240 S3TM 106,209 131 S2TR
T. Sipil 240 S3TM 209,635 Tetap
T. Arsitektur 240 S3TM 264,816 Tetap
Widya Puraya 240 S3TM 246,872 Tetap
Gedung Prof.
Soedharto
240 S3TM 255,563 Tetap
DIII Teknik 42 S2TR 105,684 Tetap
Laboratorium DIII
Teknik
66 S2TR 51,039 Tetap
Rektorat 53 S2TR 70,424 Tetap
Dari penurunan langganan daya di atas
diperoleh penghematan biaya seperti yang
ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 3.5 Besar penghematan biaya setelah perubahan
langganan daya
Gedung
Besar
penghematan
rata-rata
(perbulan)
Besar
penghematan
rata-rata
(pertahun)
MIPA
Rp3.097.500,00 Rp37.170.000,00
T. Elektro
Rp5.904.620 Rp70.855.440,00
T. Mesin
Rp3.756.037 Rp45.072.444,00
T. Kimia & Dekanat
Teknik
Rp3.983.363 Rp47.800.356,00
Dekanat Fapet
Rp4.378.188 Rp52.538.259,43
Laboratorium
Peternakan
Rp3.173.220 Rp38.078.640,00
FPIK.FKM, Psiko
Rp4.175.343 Rp50.104.116,00
Total
Rp28.468.271,29 Rp341.619.255,43

3.1.3 Efisiensi dan Kapasitas Trafo
Dari hasil pengukuran sisi primer dan
sekunder trafo diperoleh besarnya rugi-rugi serta
efisiensi trafo. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel
berikut.



Tabel 3.6 Faktor daya, rugi-rugi dan efisiensi trafo
Gedung
faktor
daya sisi
primer
Rugi
(kW)
Efisiensi
(%)
MIPA 0,484-0,836 2,47-6,73 72,24-93,94
T. Elektro 0,503-0,743 6,44-18,23 55,21-71,12
T. Mesin 0,61-0,877 1,90-5,68 75,84-88,28
T. Kimia & Dekanat
Teknik
0,534-0,882 3,16-10,96 55,36-83,52
T. Sipil 0,674-0,91 1,45-5,93 83,19-89,05
Dekanat Peternakan 0,699-0,926 1,94-4,99 66,09-84,48
Lab Peternakan 0,603-0,863 0,42-4,79 63,64-94,45
FPIK.FKM, Psikologi 0,534-0,863 0,89-3,61 84,94-93,61
T. Arsitektur 0,86-0,934 1,16-4,8 90,35-95,64
Widya Puraya 0,805-0,962 1,11-4,9 88,85-96,65
Gedung Prof.
Soedharto
0,393-0,735 0,85-9,49 76,12-93,17
Nilai rugi-rugi di atas merupakan total nilai
rugi-rugi yang terdapat di trafo. Nilai rugi-rugi ini
merupakan akumulasi dari penjumlahan rugi-rugi besi
dan rugi-rugi tembaga. Rugi-rugi tembaga merupakan
akumulasi dari rugi-rugi akibat rendahnya faktor
daya, rugi-rugi akibat rendahnya faktor pembebanan
pada trafo, rugi-rugi akibat pengaruh harmonisa, rugi-
rugi pada jaringan, dan lain-lain.
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa besar
rugi-rugi berbanding terbalik dengan efisiensi.
Dimana dengan semakin besarnya rugi-rugi, maka
efisiensi akan semakin rendah. Meningkatnya
pertambahan beban juga akan meningkatkan
efisiensinya.
Efisiensi yang terjadi pada transformator
secara umum rendah. Hal ini dapat disebabkan
pembebanan trafo yang terlalu rendah bila
dibandingkan dengan kapasitas trafo itu sendiri,
rendahnya faktor daya, dan pengaruh harmonisa
sehingga losses yang terjadi cukup besar. Jadi
penggunaan trafo masih belum efisien. Efisiensi trafo
yang baik besarnya antara 95–98,04%
[5]

Dari permasalahan rendahnya efisiensi trafo
di atas perlu dilakukan penggantian kapasitas trafo
yang sesuai. Trafo akan bekerja optimal pada
pembebanan 50-80%.
[10]
Berikut dilakukan analisa
penentuan besar kapasitas trafo berdasarkan total
beban terpasang seperti yang ditunjukkan pada tabel
berikut.

Tabel 3.7 Analisa Penggantian Kapasitas Trafo
Gedung
Total
beban
terpasang
Sebelum
perubahan
Setelah
perubahan
Kap
Trafo
(kVA)
rasio
Kap
Trafo
(kVA)
rasio
MIPA
234,167 1000 0,23 400 0,59
T. Elektro
137,198 1000 0,14 250 0,55
T. Mesin
157,032 630 0,25 250 0,63
T. Kimia &
Dekanat
194,027 630 0,31 315 0,62
T. Sipil
209,635 400 0,52 400 0,52
T. Arsi
264,816 400 0,66 400 0,66
Dekanat
Peternakan
66,912 400 0,17 100 0,67
Lab
Peternakan
137,585 400 0,34 250 0,55

7
Widya
Puraya
246,872 400 0,23 400 0,59
FPIK.FKM,
Psikologi
106,209 250 0,14 200 0,55

Analisa setelah penggantian trafo dengan
menggunakan total beban terpasang besar
perbandingannya berkisar antara 0,52 – 0,67.
Kelebihan analisa ini terletak pada perkiraan
penambahan beban di masa mendatang yang masih
dapat ditanggung oleh trafo. Kekurangan dari
pendekatan ini adalah untuk jangka pendek faktor
pembebanannya masih relatif rendah karena pada
kenyataannya tidak semua beban dipakai secara
bersamaan.

IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa
yang telah diberikan, maka dapat diambil beberapa
kesimpulan, sebagai berikut:
1. Perbandingan antara kebutuhan daya maksimum
(faktor kebutuhan = 0,7) dengan jenis langganan
daya yang dipakai di kampus Undip Tembalang
untuk masing-masing gedung juga terlalu besar,
yaitu antara 0,31 – 1,64.
2. Besarnya perbandingan tersebut dengan jenis
langganan daya menyebabkan biaya rekening
listrik yang dikeluarkan setiap bulannya menjadi
sangat mahal ditambah dengan adanya denda
penalti akibat rendahnya faktor daya.
3. Dengan penurunan besar langganan daya
diperoleh efisiensi biaya rata-rata sebesar Rp
28.468.271,29 setiap bulannya atau Rp
341.619.255,43 setiap tahunnya.
4. Pengaruh harmonisa pada trafo ikut menyumbang
rugi-rugi daya. Namun demikian pengaruhnya
masih relatif rendah (THD<20%)
5. Daya yang hilang pada trafo (terutama rugi beban
nol) juga ikut diperhitungkan dalam bentuk P
losses (Watt) yang ikut terhitung dalam
pembacaan meter sehingga menambah beban
biaya rekening listrik setiap bulannya (untuk
langganan TM).
6. Besarnya perbandingan antara kebutuhan daya
maksimum gedung dengan besarnya kapasitas
transformator berkisar antara 0,14 - 0,66. Hal ini
menyebabkan ketidakefisienan dalam
penggunaannya. Trafo akan bekerja optimal jika
pembebanannya 50-80%. Oleh karena itu perlu
dilakukan penggantian kapasitas trafo yang sesuai
dengan kebutuhan bebannya.

4.2 Saran
Ada beberapa hal yang dapat dikembangkan
dari hasil analisa dalam tugas akhir ini, yaitu :
1. Penggunaan beban non linier yang semakin
meningkat, pengaruh harmonisa perlu dilakukan
penanganan lebih lanjut agar rugi-rugi trafo dapat
ditekan.
2. Penghematan biaya tidak hanya dilakukan pada
penentuan jenis langganan daya saja tetapi dapat
juga dengan pemakaian peralatan yang hemat
energi serta membudayakan hidup hemat energi.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Zuhal, Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika
Daya, PT Gramedia, Jakarta 1995
[2] Sulasno, Teknik dan sistem Distribusi Tenaga Listrik,
Badan Penerbit UNDIP Semarang, Semarang, 2001
[3] Linsley, Trevon, Instalasi Listrik Tingkat Lanjut, edisi
ketiga, Erlangga, Jakarta, 2004
[4] Rijono, Yon, Drs., Dasar Teknik Tenaga Listrik, edisi
revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 1997
[5] Stigant, Austin, A.C Franklin, The J & Ptransformer
Book, 10
th
edition, Butterworths Group, Great Britain, 1973
[6] ---, Pengaruh Harmonik pada Transformator
Distribusi, 2004
http://www.elektroindonesia.com/elektro/en25tab.html
[7] Sutanto, Jusmin, Hernadi Buhron, Implikasi Harmonisa
dalam Sistem Tenaga Listrik dan Alternatif Solusinya, PT.
PLN (Persero) Kantor Pusat, Jakarta, 2006
[8] Grady, W, Robert J. Gilleskie, Harmonics And How
They Relate To Power Factor, San Diego, 1993
[9] ---, Transformer, Lessons In Electric Circuits --
Volume IIChapter 9
http://www.ibiblio.org/obp/electricCircuits/AC_9.html
[10] ---, Manajemen Trafo Area Pelayanan Kediri, PT.
PLN (Persero) Area Pelayanan Kediri Unit Pelayanan
Jaringan, 2002

BIODATA PENULIS

Ermawanto Lahir di Solo tanggal
12 Desember 1982, Saat ini sedang
menyelesaikan studi strata 1 di
Jurusan Teknik Elektro Universitas
Diponegoro dengan mengambil
konsentrasi Tenaga Listrik.



Mengetahui dan menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II




Ir. Agung Warsito, DHET Karnoto, ST
NIP. 131 668 485 NIP. 132 162 547

Untuk memenuhi hal ini. Adapun arus pusar inti ditentukan oleh tegangan induksi pada inti yang menghasilkan perubahan-perubahan fluks magnet. Persamaan matematikanya adalah : (4) Pcu  I 2 R Karena arus beban berubah-ubah. Permasalahan dalam Tugas Akhir ini dibatasi pada besar penghematan biaya yang dikeluarkan antara berlangganan dengan Jaringan Tegangan Rendah dengan Jaringan Tegangan Menengah serta penentuan kapasitas trafo agar efisien 5. lebih tinggi. TEORI DASAR 2. Rugi inti tidak terpengaruh dengan adanya perubahan beban. Untuk dapat membangkitkan tegangan listrik pada kumparan sekunder. Rugi Eddy current (Pe). maka rugi-rugi ini tidak muncul. Jika kumparan sekunder terhubung beban maka akan timbul arus listrik bolak balik. Perlu diketahui bahwa besarnya rugi-rugi inti ini tetap.1920) Sehingga. pada kondisi tidak setimbang maka harga losses 3 fasa merupakan penjumlahan dari harga losses masing-masing fasa.3 Efisiensi Trafo Untuk setiap mesin atau peralatan listrik. 2. atau lebih rendah dari gaya gerak listrik primer. pada ujungujung kumparan sekunder timbul gaya gerak listrik induksi sekunder yang mungkin sama.1 Teori Dasar Transformator I P 3(0. di sekitar kumparan primer timbul fluks magnet bersama yang juga bolak balik. dengan asumsi tegangan primer tidak berubah atau konstan[5] Sedangkan pada kondisi berbeban rugi-rugi yang terjadi adalah rugi inti ditambah rugi-rugi tembaga (Pcu).1. aliran listrik yang mengalir di sisi primer haruslah listrik AC.1. Besar rugi inti dari beban nol sampai kondisi beban penuh nilainya sama.1 Transformator[4] Transformator terdiri dari dua gulungan kawat yang terpisah satu sama lain yaitu bagian primer dan bagian sekunder. II.6 watt maks 2 Pe  Ke f 2 Bmaks watt Jika setiap konduktor memiliki resistansi sebesar R.1 Rugi-rugi pada Trafo Rugi-rugi daya transformator berupa rugi inti atau rugi besi (Pi) dan rugi tembaga (Pcu) yang terdapat pada kumparan primer maupun sekunder. Rugi Histeresis (Ph).1. Adanya fluks magnet bersama ini. yang dibelitkan pada inti yang sama.2 Perhitungan Rugi Daya Sistem 3 Fasa Untuk beban setimbang. pada kumparan primer timbul gaya gerak magnet bersama yang bolak balik juga. maka rugi tembaga tidak konstan bergantung pada beban. rugi-rugi yang terjadi hanyalah rugi inti. Perhitungan biaya listrik didasarkan pada Tarif Dasar Listrik PLN tahun 2005. Perhitungan biaya di sini adalah biaya rekening listrik 6. Trafo tidak memiliki bagian yang bergerak/berputar.[9] 2 . fluks magnet yang dibangkitkan oleh kumparan primer harus berubahubah.Menengah dengan Tegangan Rendah yang sesuai dan melakukan manajemen trafo. Kombinasi antar gaya gerak magnet induksi sekunder dan primer disebut induksi bersama atau mutual induction. Hal ini tergantung pada perbandingan transformator kumparan transformator tersebut. rugi yang disebabkan arus pusar pada inti besi. 4.707V ) cos  (5) Saat kumparan primer dihubungkan ke sumber listrik AC.[3] Trafo daya saat ini rata-rata dirancang dengan besar efisiensi minimal 95%. Atau : Losses  Ia2 R  Ib2 R  Ic2 R (8)  ( Ia2  Ib2  Ic2 ) R (2) dimana Kh = konstanta Bh = fluks maksimum (weber) f = frekuensi (Hz) 2.  Rugi  Pi  Pcu (3)  Ph  Pe  Pcu dimana rugi tembaga dapat dicari melalui tes hubung singkat. (1) Ph  Kh f B1. Rugi inti terdiri dari rugi arus eddy dan rugi histeresis atau Pi = Ph + Pe. sehingga pada beban timbul tegangan sekunder. berlaku persamaan : (7) ( Special Joint Committee of the AIEE & the National Electric Light Association. maka : (6) 2P 2 Losses  3 I 2 R  R 3V 2 cos 2  Untuk beban tidak setimbang. berlaku persamaan : Gambar 2. Pada kondisi beban nol. yaitu rugi yang disebabkan fluks bolak balik pada inti besi. namun masih tetap memiliki rugi-rugi walaupun tidak sebesar pada peralatan listrik seperti mesin-mesin atau peralatan bergerak lainnya. efisiensi ditentukan oleh besarnya rugi-rugi yang terjadi selama operasi normal. 2. Dengan adanya gaya gerak magnet ini. Efisiensi dari mesinmesin berputar/bergerak umumnya antara 50-60% karena ada rugi gesek dan angin.

1.1.3. sehingga pada saat ini beban motor ini banyak menarik VAR.3 menunjukkan bahwa semakin besar sudut φ. Motor-motor induksi dengan kapasitas besar pada saat asut / start dapat mengakibatkan kedip tegangan. sementara di sisi konsumen yang pembatasnya secara umum adalah pembatas arus. faktor daya pada saat start berkisar antara 0. merasa bahwa pemakaian daya semu (kVA) kurang dari kVA kontrak. Kejadian start stop motor dalam operasinya boleh dikatakan sering.2 Grafik hubungan antara pf dengan η trafo Secara kumulatif motor-motor induksi yang beroperasi dapat menurunkan faktor daya di sistem. yang merugikan bagi pemasok tenaga listrik (PLN). lift. Oleh sebab itu beban VAR yang diserap perlu dilakukan pengukuran baik pada saat start maupun pada operasi normal Penurunan faktor daya ini dapat merugikan kedua belah pihak (pihak pemasok dan pihak pemakai). pihak pemasok merasakan kerugian akibat turunnya tegangan di terminal konsumen yang mengakibatkan pengukuran faktor daya yang lebih buruk lagi di sisi pengirim.1 Pengaruh pembebanan terhadap efisiensi[10] Jika trafo kemudian dibebani terus maka losess akan mempunyai karakteristik effisiensi penyaluran daya vs pembebanan trafo seperti berikut : KURVA EFISIENSI Vs BEBAN TRAFO 99 EFISIENSI ( % ) 98 97 96 95 94 93 0 20 40 60 BEBAN ( % ) 80 100 120 Gambar 2. Sesuai dengan sifat beban induktif yang banyak digunakan oleh hampir setiap konsumen besar. pompa air. Total beban di konsumen yang mempunyai motor induksi dan lampu neon dapat mengakibatkan turunnya faktor daya di beban tersebut.2 Pengaruh faktor daya terhadap efisiensi [1] Perubahan efisiensi terhadap faktor daya beban dapat dinyatakan sebagai :   1 Rugi V 2 I 2 cos   Rugi dan konsumen. [19] (10) Rugi / V2 I 2 1 cos   Rugi / V 2 I 2 bila Rugi / V2 I 2  X  kons tan.4 Karakteristik Efisiensi-Pembebanan Trafo Dari karakteristik di atas terlihat bahwa transformator akan mempunyai effisiensi tertinggi pada saat terjadi pembebanan sebesar 80 % dari pembebanan nominalnya. 2.2 s/d 0. untuk penerangan konsumen mempergunakan lampu neon yang mempunyai faktor daya yang rendah. Konsumen yang mempunyai daya besar di atas 200 kVA.3. sementara pihak pemakai merasakan bahwa pemakaian daya listriknya menjadi terbatas tidak sesuai dengan daya yang dikontraknya Dari vektor diagram daya pada gambar 2. pemakaian arus yang besar akibat faktor daya rendah dapat juga menimbulkan kerugian daya aktif di jaringan sehingga terdapat perbedaan pengukuran KWh yang terpasang di sisi pemasok dan di sisi pemakai. Secara matematis ditulis :  Daya Keluar Daya Keluar x 100%  x 100% (9) Daya Masuk Daya Keluar rugi 2. karena arus start dapat mencapai 5 s/d 6 kali arus nominal untuk kemudian turun dibawah nominal (sebelum berbeban). dapat mengakibatkan turunnya faktor daya di sistem terutama pada bus dimana beban tersebut tersambung. yang pemakaian listriknya dipakai untuk beban-beban induktif seperti motor-motor induksi. Penurunan faktor daya ini menurunkan tegangan dan kerugian daya aktif pasokan listrik dari PLN di sisi konsumen terutama pada arus beban besar. sehingga merupakan salah satu penyebab timbulnya perbedaan pengukuran kWh di sisi PLN 3 Gambar 2.3 Pengaruh sudut φ pada besarnya S (kVA) . maka :   1 X cos   X (11) X / cos    1 1  X / cos  Gambar grafik berikut menggambarkan hubungan antara efisiensi dengan beban pada faktor daya yang berbeda-beda. diantaranya beban-beban yang mempergunakan motor induksi untuk keperluan AC (Air conditioning). yang berarti nilai cos φ menjadi kecil sehingga untuk nilai watt yang sama akan menarik VA yang besar. di samping motor-motor induksi. Gambar 2.Efisiensi transformator adalah perbandingan antara daya output dengan daya input. atau peralatan pintal untuk konsumen yang bergerak di bidang industri tekstil dan lain sebagainya.3.

1. rugi-rugi yang disebabkan harmonisa arus dan tegangan bergantung pada frekuensi. Peralatan ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara hemat dan efisien karena arus listrik hanya dapat melalui komponen semikonduktornya selama periode pengaturan yang telah ditentukan. Misalnya. dan THD%fundamental seperti yang kita ketahui bahwa persamaan untuk losses daya adalah . Proses kerja ini akan menghasilkan gangguan atau distorsi gelombang arus yang tidak sinusoida. Harmonisa arus menyebabkan peningkatan rugi-rugi tembaga dan rugi-rugi fluks. Faktor kebutuhan (Fdm) didefinisikan sebagai perbandingan . 2.I n Sedangkan arus THD (Total Harmonic Distortion) adalah merupakan pembagian antara Irms(distortion) dengan I1.1 Pengaruh Harmonik pada Losses Daya[21] Irms (root mean squared current) merupakan penjumlahan semua arus yang mungkin timbul pada periode waktu tertentu.[8] Selain itu pengaruh harmonisa pada rugi inti juga ikut berperan. dengan adanya arus harmonisa ini akan memperbesar losses daya yang terjadi. medium/sedang jika 20%<THDI≤50%. Secara matematis dapat ditulis : 2 2 2 2 (12) I rms  I1  I 2  I 3  . Arus harmonisa dikatakan rendah jika THDI≤20%.4.4 Pengaruh Harmonik pada Trafo[6] Pada dasarnya. Besarnya daya maksimum dipengaruhi oleh faktor kebutuhan. motor induksi.2 Pengaruh Harmonisa pada Suhu Trafo[7] Pada transformator. Beban non linier yang umumnya merupakan peralatan elektronik yang di dalamnya banyak terdapat komponen semikonduktor.4.1. Beban non linier adalah bentuk gelombang keluaran yang tidak sebanding dengan tegangan dalam setiap setengah siklus sehingga bentuk gelombang arus maupun tegangan keluarannya tidak sama dengan gelombang masukannya (mengalami distorsi). 2. harmonik adalah gejala pembentukan gelombang-gelombang dengan frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan bulat dengan frekuensi dasarnya. harmonik ketiga adalah gelombang dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan seterusnya. kendali kecepatan motor.. Bentuk gelombang ini tidak menentu dan dapat berubah menurut pengaturan pada parameter komponen semikonduktor dalam peralatan elektronik.1. Harmonik adalah gejala pembentukan gelombang-gelombang dengan frekuensi berbeda yang merupakan perkalian bilangan bulat dengan frekuensi dasarnya.1. frekuensi dasar suatu sistem tenaga listrik adalah 50 Hz. Secara matematis dapat ditulis : THD% fundamental   I rms(distortion)  x 100%     I  1 (14)  Dari persamaan di atas terlihat bahwa arus yang mengandung harmonik akan memperbesar Irms. Peralatan ini memiliki kekurangan yaitu akan mengalami gangguan gelombang arus dan tegangan yang pada akhirnya akan kembali ke bagian lain sistem tenaga listrik.5 Penentuan Kapasitas Transformator Untuk menentukan besarnya kapasitas transformator yang dipilih hendaknya mengetahui kebutuhan daya maksimum. Harmonisa frekuensi tinggi akan lebih merupakan penyebab pemanasan utama dibandingkan harmonisa frekuensi rendah. Fenomena ini akan menimbulkan gangguan beban tidak linier satu fasa. 2. 2 (15) Plosses  I rms x R maka.2. Pada persamaan (1) dan (2) rugi hysteresis dan eddy current dipengaruhi oleh frekuensi. dan tinggi jika THDI>50%. dll. proses electroplating. Efek keseluruhannya adalah pemanasan berlebih bila dibandingkan dengan operasi dengan gelombang sinus murni. Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonik antara lain komputer. Perubahan bentuk gelombang ini tidak terkait dengan sumber tegangannya. Hal di atas banyak terjadi pada distribusi yang memasok pada areal perkantoran/komersial. dalam proses kerjanya berlaku sebagai saklar yang bekerja pada setiap siklus gelombang dari sumber tegangan.I n dimana : I1 = arus fundamental (pada f = 50 Hz) n = urutan harmonik Irms(distortion) adalah jumlah seluruh arus harmonisa yang terjadi tanpa arus fundamentalnya. Semakin besar harmonisa maka semakin besar pula rugi-rugi yang terjadi pada inti trafo.. Secara matematis dapat ditulis : 2 2 2 (13) I rms ( distortion)  I 2  I 3  . Hal ini disebut frekuensi harmonik yang timbul pada bentuk gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat pengali frekuensi dasar disebut angka urutan harmonik.. printer. Jika dalam suatu sistem distribusi terdapat pengaruh harmonik maka Irms 4 merupakan penjumlahan dari arus fundamentalnya dengan seluruh arus harmonisa yang terjadi. Irms(distortion). Gelombanggelombang ini kemudian menumpang pada gelombang murni/aslinya sehingga terbentuk gelombang cacat yang merupakan jumlah antara gelombang murni sesaat dengan gelombang harmoniknya. lampu fluorescent yang menggunakan balas elektronik. Peningkatan frekuensi menyebabkan peningkatan rugi-rugi. maka harmonik keduanya adalah gelombang dengan frekuensi sebesar 100 Hz.. Sedangkan harmonisa tegangan menyebabkan peningkatan rugi-rugi besi bocor dan peningkatan stress pada isolasi. Sumber harmonik pada sistem distribusi adalah beban non linier. batere charger.

08 68. Mesin T.52 44.FKM.3 30.2 THD hitung 5.91 Pada hasil pengukuran dan perhitungan di atas terlihat pengaruh THD masih relatif rendah.1 5.81 178. Psikologi T.41 146. PWK Widya Puraya Gedung Prof.1 Perhitungan THD Dari hasil pengukuran dan perhitungan diperoleh besar THD seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.209 264. Peternakan FPIK.75-28.10 132. Arsitektur. Kimia & Dekanat Teknik T.01-23.7 terlihat masih kecil bila dibandingkan dengan langganan daya yang dikontrak.28 0.55 0. Arsitektur.2-27.37-26.198 157.1 6. Sipil Dekanat Peternakan Lab Peternakan FPIK.2 Hasil Pengukuran dan Rekapitulasi Beban Gedung MIPA T.14-27. [2] Fdm  kebutuhan daya maksimum Total beban terpasang T.14 0.54 5.5 Kbm 117. Sipil Dekanat Peternakan Laboratorium Peternakan FPIK.2 6.31 0.5 dan 0.04 109.48 0. Pada kenyataannya tidak mungkin semua beban dipakai dalam waktu bersamaan.3 Kebutuhan beban maksimum Gedung MIPA T.FKM. Tabel 3.6 5.41 123. T.54 0. perhitungan kebutuhan beban maksimum dengan Fdm=0.17 0.5 s/d 0. T.78 52.42-19.PWK Widya Puraya Gedung Prof.30 Kbm/DL 0.I.16-38. Soedharto DIII Teknik Laboratorium DIII Teknik Rektorat Fdm = 0.84 25.5 3.816 246.02 83.37 172.7 0.7 0.07 Pengaruh THD Rendah-Sedang Rendah-Sedang Rendah-Sedang Rendah-Sedang Rendah Rendah-Sedang Rendah Rendah-Sedang Rendah-Sedang Rendah Rendah-Sedang Dari hasil pengukuran di atas terlihat rendahnya pemakaian beban bila dibandingkan dengan daya langganan yang dikontrak.1 Perhitungan THD.424 (16) Tabel berikut menunjukkan besar faktor kebutuhan masing-masing jenis beban.7-30 7.20 0.5 s/d 0.65 Fdm = 0.027 209.39 0.1 4.52 97.52 35.635 66.60 78.57 3.7-28.73 49.167 137.3-20.1.72 Total beban terpasang (tbp) 234.1 Hasil pengukuran dan perhitungan THD Gedung MIPA T.9-15.5 dan 0.3 2.7.44 0.89-10. Mesin Daya langgan (DL) 345 240 240 hasil pengukuran maks (hpm) 60. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dalam hal pembiayaan.92 96. I. Meskipun rendah. T.53 4.74 46.1-41.7 Kbm 163.563 105.032 Dari data total beban terpasang. Soedharto DIII Teknik Laboratorium DIII Teknik Rektorat 240 240 240 240 240 240 240 240 42 66 53 49. Kimia & Dekanat Teknik T.33 0.46 0. Psikologi T.29 0.21 Kbm/DL 0. Faktor kebutuhan (Fdm) didefinisikan sebagai Kbm atau Kbm  FdmxTbp (17) Fdm  Tbp Besarnya nilai faktor kebutuhan untuk pelanggan perumahan/komersial/sosial adalah 0.40 0.73-35.89 23.2-11.57 0. Ditambah dengan adanya denda penalti untuk faktor daya 5 .1.98 35. Arsitektur.40 0.31 74.I.47-42.22 68. Peternakan Laboratorium F. Tabel 3.44 127.2 Data Pengukuran dan Rekapitulasi Beban Dari hasil pengukuran sisi primer trafo (bulan September 2006) diambil nilai daya S (kVA) tertinggi dan dari survey rekapitulasi beban (Februari 2006) diperoleh hasil seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.8 3.61 0.684 51.66-14. Sipil Dekanat F.87 1.45 194.39 3. Tabel 3.01 104. Elektro T.585 106.34 0. Kimia & Dekanat T.22 0.50.16 37.2 88. Elektro T.84 96.82 33. Data Pengukuran dan Rekapitulasi Beban.912 137.6 2.46 68. T.53 1.9-29.6 3.79 53.6-26.77 0.6 3.antara kebutuhan maksimum dalam sebuah sistem dengan total beban yang terpasang atau terhubung pada sistem tersebut. THD ikut berpengaruh terhadap terjadinya losses.92 135.5 6.72 0.039 70. Berikut ditampilkan besar kebutuhan beban maksimum untuk nilai Fdm = 0. Elektro T. serta Perhitungan Efisiensi Trafo 3.872 255.7.75 1. T.82 146. Tabel 2. Psikologi T.51 0.64 0.42-42 3.5 s/d 0. Mesin T.39 0. 3.1 Faktor kebutuhan[2] Jenis beban Pemukiman/perumahan Komersial Industri Faktor kebutuhan 0. Soedharto THD ukur 3.PWK Widya Puraya Gedung Prof.1-24. T.22 4.13 45 23.87 105.39 2.35 185.89 73.6-37.FKM.

Meningkatnya pertambahan beban juga akan meningkatkan efisiensinya.027 209. 234. Berikut akan dicoba menganalisa penentuan jenis langganannya. Tabel 3.912 137.271. Mesin T.635 264.872 255.11-4. Mesin T. rugirugi pada jaringan.45-5.84-88. Efisiensi trafo yang baik besarnya antara 95–98.3 Efisiensi dan Kapasitas Trafo Dari hasil pengukuran sisi primer dan sekunder trafo diperoleh besarnya rugi-rugi serta efisiensi trafo.363 Rp4.585 1000 1000 630 630 400 400 400 400 0.00 Rp47.65 76.198 157.64 88.027 66. maka efisiensi akan semakin rendah. Dimana dengan semakin besarnya rugi-rugi.61 90.805-0.73 6. Hal ini dapat disebabkan pembebanan trafo yang terlalu rendah bila dibandingkan dengan kapasitas trafo itu sendiri. perlu dilakukan perubahan besar langganan daya dengan nilai yang sesuai (nilai pendekatan).209 209. Elektro T. Elektro T.29 Besar penghematan rata-rata (pertahun) Rp37. Jadi penggunaan trafo masih belum efisien. Kimia & Dekanat Dekanat Peternakan Lab Peternakan FPIK.86-0.699-0.52 0.63 0.94-4.99 0.259.9 0.79 0.42-4.255.21-71.25 0. Psikologi T.5 Besar penghematan biaya setelah perubahan langganan daya Gedung MIPA T.16-4.66 0.85 bagi pelanggan Tegangan Menengah.000.52 0. Soedharto 0.61-0.64-94. Penentuan langganan daya diambil dari total beban terpasangnya karena untuk memperkirakan adanya pertambahan beban di tahuntahun mendatang.90-5.00 Rp52.904. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.23 0.00 Rp70.534-0. Mesin T.816 246.00 Rp50.00 Rp341.19-89.563 105. Nilai rugi-rugi ini merupakan akumulasi dari penjumlahan rugi-rugi besi dan rugi-rugi tembaga. Rugi-rugi tembaga merupakan akumulasi dari rugi-rugi akibat rendahnya faktor daya. Trafo akan bekerja optimal pada pembebanan 50-80%.674-0.603-0. Dari tabel di atas menunjukkan bahwa besar rugi-rugi berbanding terbalik dengan efisiensi.85-9.198 157.167 137.962 0.378.684 51.1.620 Rp3.17 0. Kimia & Dekanat T.43 Nilai rugi-rugi di atas merupakan total nilai rugi-rugi yang terdapat di trafo. dan pengaruh harmonisa sehingga losses yang terjadi cukup besar.FKM. Elektro T. rugi-rugi akibat pengaruh harmonisa.62 0.FKM.44-18.912 137. Sipil T.175.756.619.FKM.6 Faktor daya.94 55.68 3. Kimia & Dekanat Teknik T.882 0.855. Sipil Dekanat Peternakan Lab Peternakan FPIK. dan lain-lain.934 0.032 194.05 66.34 400 250 250 315 400 400 100 250 0.743 0. Sipil T. Psikologi T.45 84.61 1.173.863 0.23 1.078.585 106. Untuk selengkapnya dapat dilihat dalam tabel. Mesin T.35-95.037 Rp3.538.91 0.89-3.67 0.635 264.032 194.47-6.534-0. Psiko Besar penghematan rata-rata (perbulan) Rp3.94-93.59 0.48 63.7 Analisa Penggantian Kapasitas Trafo Sebelum perubahan Kap Trafo rasio (kVA) Setelah perubahan Kap Trafo rasio (kVA) Rp38.393-0.4 Analisa perubahan besar langganan daya Gedung MIPA T. rugi-rugi dan efisiensi trafo faktor Rugi Efisiensi Gedung daya sisi (kW) (%) primer MIPA T.167 137. Arsitektur Widya Puraya Gedung Prof.31 0. Arsi Dekanat Peternakan Lab Peternakan Gedung Total beban terpasang 3.863 0.877 0. rendahnya faktor daya.16-10.800. Elektro T.816 66.kurang dari 0.097. Efisiensi yang terjadi pada transformator secara umum rendah.55 0.343 Total Rp28.735 2.484-0.04%[5] Dari permasalahan rendahnya efisiensi trafo di atas perlu dilakukan penggantian kapasitas trafo yang sesuai. Arsitektur Widya Puraya Gedung Prof.170.220 Rp4. Oleh karena itu.96 1.17 Dari penurunan langganan daya di atas diperoleh penghematan biaya seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut. rugi-rugi akibat rendahnya faktor pembebanan pada trafo.440.00 Rp5. Soedharto DIII Teknik Laboratorium DIII Teknik Rektorat Daya langgan lama 345 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 240 S3TM 42 S2TR 66 S2TR 53 S2TR Total beban terpasang 234.36-83.85-96.5 S2TR 147 S2TR 131 S2TR Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tetap Tabel 3.444.356.500.49 72.836 0.55 6 .43 MIPA T.93 1.072.24-93. Tabel 3.039 70.640.424 Daya langgan baru 240 S3TM 147 S2TR 164 S2TR 197 S2TR 82.8 1.00 Rp45.503-0.12 75.926 0.14 0.12-93.52 83.983.468. Tabel 3.09-84. Kimia & Dekanat Teknik Dekanat Fapet Laboratorium Peternakan FPIK.28 55.188 Rp3.[10] Berikut dilakukan analisa penentuan besar kapasitas trafo berdasarkan total beban terpasang seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.116.66 0.104.

7 BIODATA PENULIS Ermawanto Lahir di Solo tanggal 12 Desember 1982. Drs.468. Butterworths Group. maka dapat diambil beberapa kesimpulan. PT. Besarnya perbandingan antara kebutuhan daya maksimum gedung dengan besarnya kapasitas transformator berkisar antara 0.271. 2001 [3] Linsley.59 0. Semarang. 2.29 setiap bulannya atau Rp 341. Trevon. Badan Penerbit UNDIP Semarang. Jakarta. 3. Gilleskie. yaitu : 1. PLN (Persero) Area Pelayanan Kediri Unit Pelayanan Jaringan.elektroindonesia.14 . Jakarta 1995 [2] Sulasno. Agung Warsito. Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya.43 setiap tahunnya.0. Penggunaan beban non linier yang semakin meningkat. 132 162 547 .org/obp/electricCircuits/AC_9. Mengetahui dan menyetujui.67. DHET NIP. Great Britain. 4. Dengan penurunan besar langganan daya diperoleh efisiensi biaya rata-rata sebesar Rp 28.66.52 – 0. 1997 [5] Stigant.7) dengan jenis langganan daya yang dipakai di kampus Undip Tembalang untuk masing-masing gedung juga terlalu besar.html [10] ---. 2006 [8] Grady.23 0. Saat ini sedang menyelesaikan studi strata 1 di Jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro dengan mengambil konsentrasi Tenaga Listrik. Kelebihan analisa ini terletak pada perkiraan penambahan beban di masa mendatang yang masih dapat ditanggung oleh trafo. edisi revisi. 10th edition. Pembimbing I Pembimbing II Ir. 2004 http://www.com/elektro/en25tab. DAFTAR PUSTAKA [1] Zuhal. Oleh karena itu perlu dilakukan penggantian kapasitas trafo yang sesuai dengan kebutuhan bebannya.2 Saran Ada beberapa hal yang dapat dikembangkan dari hasil analisa dalam tugas akhir ini. Transformer. Penghematan biaya tidak hanya dilakukan pada penentuan jenis langganan daya saja tetapi dapat juga dengan pemakaian peralatan yang hemat energi serta membudayakan hidup hemat energi.ibiblio.209 400 250 0. Implikasi Harmonisa dalam Sistem Tenaga Listrik dan Alternatif Solusinya. Pengaruh Harmonik pada Transformator Distribusi. edisi ketiga. sebagai berikut: 1. A. IV PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa yang telah diberikan. 4. Yogyakarta. San Diego. ST NIP. Yon. Trafo akan bekerja optimal jika pembebanannya 50-80%. The J & Ptransformer Book. 2002 Analisa setelah penggantian trafo dengan menggunakan total beban terpasang besar perbandingannya berkisar antara 0. W. Jakarta.31 – 1. 6. Hernadi Buhron. Manajemen Trafo Area Pelayanan Kediri. Perbandingan antara kebutuhan daya maksimum (faktor kebutuhan = 0. PT Gramedia. Pengaruh harmonisa pada trafo ikut menyumbang rugi-rugi daya. PLN (Persero) Kantor Pusat. Besarnya perbandingan tersebut dengan jenis langganan daya menyebabkan biaya rekening listrik yang dikeluarkan setiap bulannya menjadi sangat mahal ditambah dengan adanya denda penalti akibat rendahnya faktor daya.1 4.64.Widya Puraya FPIK. Erlangga.14 400 200 0. Robert J. Hal ini menyebabkan ketidakefisienan dalam penggunaannya. Lessons In Electric Circuits -Volume IIChapter 9 http://www. 131 668 485 Karnoto. 1973 [6] ---.. yaitu antara 0. Namun demikian pengaruhnya masih relatif rendah (THD<20%) 5.C Franklin. 1993 [9] ---.55 2.255. Harmonics And How They Relate To Power Factor. Jusmin.872 106. Daya yang hilang pada trafo (terutama rugi beban nol) juga ikut diperhitungkan dalam bentuk P losses (Watt) yang ikut terhitung dalam pembacaan meter sehingga menambah beban biaya rekening listrik setiap bulannya (untuk langganan TM). Instalasi Listrik Tingkat Lanjut. Austin. Kekurangan dari pendekatan ini adalah untuk jangka pendek faktor pembebanannya masih relatif rendah karena pada kenyataannya tidak semua beban dipakai secara bersamaan. Dasar Teknik Tenaga Listrik. pengaruh harmonisa perlu dilakukan penanganan lebih lanjut agar rugi-rugi trafo dapat ditekan. Teknik dan sistem Distribusi Tenaga Listrik.html [7] Sutanto. 2004 [4] Rijono. Penerbit Andi. PT.FKM. Psikologi 246.619.