You are on page 1of 16

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI

TUGAS GEOLOGI BATUBARA ³Hubungan Sifat Fisik Batubara dengan Rank´

OLEH

: G CHRISTIANTO S.B

NO. MHS : D 611 06 018

MAKASSAR 2008

Hubungan anatar sifat fisik batubara dengan peringkat batubara (coal rank) PE Peringkat batubara (coal rank) Coalification; Rank (Peringkat) berarti posisi batubara tertentu dalam garis peningkatan trasformasi dari gambut melalui batubrara muda dan batubara tua hingga grafit.Proses transformasi fisika dan kimia yang tetap disebut coalification (atau carbonification) metamorfisma. OR CM HAMORPHISM Peringkat batubara adalah equivalent dengan derajat TB T B

Methamorphism of organic matter,dimulai setelah organisma mati mengalami pembusukan dan berlangsung jutaan tahun, menghasilkan secara meningkat perbedaan unsur-unsur, yaitu perbedaan jenis petroleum, gas dan batubara. Macam proses yang kompleks terdiri dari 2 tigkatan utama yaitu : 1. Fase biokimia Tingkatan biokimia (atau biogenetik) daripada metamorfisme organik

adalah aksi orgsnisme hidup, khususnya dominan bakteri dan fungi (jamur). Dalam pembentukan batubara, material tanaman mengalami proses peatifikasi (humifikasi) terhadap humic matter. Komposisi microbiologi tidak dapat terjadi di atas temperatur tertentu (> ± 800C)

2. Fase geokimia Fase geokimia didominasi oleh pengaruh peningkatan temperatur dan tekanan, disebabkan oleh peningkatan kedalaman penimbunan unsur organik di bawah tutupan sedimen (sedimentary overburden).

Tidak jelas batas kedua fase tersebut, tetapi bisa dikatakan reaksi berakhir pada tingkat gambut dan aksi geokimia menjadi agen utama pada tingkat brown-coal dan hard-coal. Batubara ( Coal / Humic Coal) Terdiri dari dominan unsur C, H dan O. Belerang dan nitrogen dan unsur-unsur teras elemen lainnya hadir hanya dalam jumlah yang kecil. Kayu sebagai asal batubara, mengandung kurang lebih: C H O = = = 50% 6% 43%.

Grafit yang terbentuk pada tahap akhir coalifikasi terdiri dari 100% C. Coalifikasi adalah suatu proses pengayaan yang konstan terhadap karbon dengan pengurangan H dan O, pelepasan terutama H2O. CO2, CH4, dan hidrokarbon lainnya. Klassifikasi Peringkat Batubara (Coal Rank) Parameter kimia sebagai penentu coal rank : Carbon, hydrogen, dan hydrogen asal dari elementary analysis, dihitung bersama-sama dengan kandungan air dan ash-free (w.a.f basis) Kandungan volatile matter atau nilai komplementernya daripada kandungan fixed carbon berasal dari proximate analysis sebagaimana menghitung w.a.f basis, Nilai kalori daripada batubara dihitung bersama-sama dengan kelembaban (moist), mineral matter, free basis dan kandungan air (total moisture).

-

Dari unsur oxygen tidak pernah digunakan sebab untuk determinasi tidak cukup akurat dan secara eksak sulit ditentukan,

-

Hydrogen terbukti sebagai indikator peringkat (rank) hanya untuk batubara anthracite,

-

Kandungan elemen karbon digunakan sangat luas, khususnya untuk lingkungan saintifis untuk determinasi peringkat batubara,

-

Kandungan C digunakan hanya untuk low-rank coal dan meta-anthracite. Kandungan volatile matter dan fixed carbon hanya dapat pada batubara tua berperingkat tinggi, dan tidak bisa pada peringkat rendah disebabkan volatile matter diatas 33% atau dibawah 67 fixed carbon,

Di sisi lain : Nilai kalori dan kandungan air adalah parameter sangat baik untuk batubara muda dan batubara tua berperingkat derajat rendah, tetapi tidak baik untuk peringkat tinggi. Americ y em

Berdasarkan atas fixed carbon untuk batubara berperingkat tinggi, dan Nilai kalori yang diexpresikan dalam British Thermal Unit (Btu) untuk batubara berderajat rendah. Sistem Amerika terdiri dari 4 grup peringkat utama dan 13 sub-grup dengan nama masing-masing. Misalnya low-volatle bituminous Penamaan

tersebut di atas sangat umum digunakan. (lihat tabel: Tabel Peringkat Batubara) Si em Klassi i asi International Untuk batubara tua, didasarkan pada : Volatile matter untuk peringkat tinggi, Nilai kalori (diekspresikan dengan kalori) untuk batubara peringkat rendah, Batas antara batubara muda dan batubara tua terletak pada nilai kalori 5700 kCal/Kg. Tidak ada penamaan batubara berdasakan peringkat, tetapi perbedaannya hanya berdasarkan 9 klas batubara. Untuk batubara muda, meskipun nilai kalori cukup bisa dipakai sebagai parameter, komite Internasional memilih water content sebagai indikator, dan menetapkan 6 klas (10-15) untuk batubara muda Sistim Eropa keseluruhan mencakup 15 kelas batubara

Metode penentuan peringkat (Rank) didasarkan pada Kandungan fixed carbon dan nilai kalori ditentukan berdasarkan metode standard analysis sifat batubara. Seri Peringkat Batubara (The coal rank series)  Gambut, adalah bagian permulaan seri koalifikasi. Gambut, memiliki kandungan air hingga 90%, tetapi kebanyakan akan hilang dengan pengeringan, memiliki kandungan carbon antara 50 60%. Batas antara

gambut dan batubara muda yaitu kandungan air lebih dari 70% (ash-free) dan nilai kalori kuang dari 1800 kCal/kg (moist ash-free)  Batubara Muda (Brown Coal) Argumen mengenai subjek batubara muda ini sangat panjang mengenai definisi, batasan, subdivisi, Di Amerika, dibedakan batubara muda dan lignit : Batubara muda (=unconsolidated) Lignit (= consolidated lignite coal). Batubara muda berada pada semua peringkat antara gambut dan batubara tua (lihat tabel peringkat batubara) Batas bawah batubara muda adalah pada total moisture content 70% a.f., equivalen dengan nilai kalori sekitar 1800 kCal/Kg dan batas bawahnya pada nilai kalori 5700 kCal/Kg.  Hard Coal Bila batubara, berwarna hitam dan garis-garis coklat yang jarang menunjukkan batubara tua. Batubara tua (Hard Coal), pada klass 3 9 berhubungan dengan batubara bituminous dan klas 0 batubara anthracite,  Graphite, secara teoritis adalah tingkatan terahir dari batubara yang mencapai 100% konsentrasi kandungan carbon, tetapi dalam praktek graphite sangat jarang dijumpai dalam sayatan meta-anthracite, graphite di alam selalu diakibatkan metamorfisme batuan keras pada temperatur sangat tinggi. Beberapa pengaruh dalam proses coalifikasi Abnormal coalification processes; 2 dengan

Abnormal pressure, misalnya karena perlipatan secara orogenetik, apat mengakibatkan evolusi struktur yang berpengaruh luas terhadapat evolusi kimiawi. Radioactivity, memberikan efek terhadap coalification dimana uranium dan thorium yang terkonsentrasi dalam batubara dan partikel alfa bombard (membom) unsur organik, menyebabkan coalification tingkat tinggi pada lingkaran pengaruh (ceating distinct contact halos) Fenomena ini jarang terjadi, biasanya terbatas hanya psekitar butiran mineralradioaktif dalam batubara Intrusi batuan beku dapat mempengaruhi DOM daripada seam (lapisan) batubara dengan 2 cara: Pengaruh Intrusi pada batubara Effek pertama adalah metamorfisma regional oleh intrusi magma kedalam seri batuan sedimen diatas, atau biasanya dibawah coal seam. Penambahan temperatur menghasilkan peninggian DOM sekitar intrusi (contoh kasus batubara Gondwana di Afrika Selatan, dimana batubara sekitar ntrusi cendrung teraltrasi membentuk anthracite)

SIFAT BAT BARA (PROPERTIES OF COAL) Batubara memiliki substansi yang kompleks dan meskipun demikian akan dipelajari mengenai Fisika dan kimiawi penting tertentu, Pada umumnya sifat batubara, antara lain: 1. Sifat umum (general properties) 2. Sifat fisika (phisical properties) 3. Sifat kimia (chemical properties) 4. Sifat teknis (technical properties).

Metode analisa standard : Laboratorium Industri umumnya memakai 2 metode: 1. Analisis proximat, Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar Moisture (air dalam batubara) kadar moisture ini mengcakup pula nilai free moisture serta total moisture, ash (debu), volatile matters (zat terbang), dan fixed carbon (karbon tertambat). Moisture ialah kandungan air yang terdapat dalam batubara sedangkan abu (ash) merupakan kandungan residu non-combustible yang umumnya terdiri dari senyawa-senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO), karbonat, dan mineral-mineral lainnya,Volatile matters adalah kandungan batubara yang terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen (misalnya CxHy, H2, SOx, dan sebagainya), Fixed Carbon Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah volatile matters dipisahkan dari batubara. Kadar fixed carbon ini berbeda dengan kadar karbon (C) hasil analisis ultimat karena sebagian karbon berikatan membentuk senyawa hidrokarbon volatile. Nilai Kalor Batubara (Coal Calori ic Value) Salah satu parameter penentu kualitas batubara ialah nilai kalornya, yaitu seberapa banyak energi yang dihasilkan per satuan massanya. Nilai kalor batubara diukur menggunakan alat yang disebut bomb kalorimeter.

Kalorimater bom terdiri dari 2 unit yang digabungkan menjadi satu alat. Unit pertama ialah unit pembakaran di mana batubara dimasukkan ke dalam bomb lalu diinjeksikan oksigen lalu bomb tersebut dimasukkan kedalam bejana disini batubara dibakar dengan adanya pasokan udara/oksigen sebagai pembakar. Unit kedua ialah unit pendingin/kondensor (water handling)

Kadar Sulfur Salah satu cara untuk menentukan kadar sulfur yaitu melalui pembakaran pada suhu tinggi. Batubara dioksidasi dalam tube furnace dengan suhu mencapai 1350°C. Sulfur oksida (SOx) yang terbentuk sebagai hasil pembakaran kemudian ditangkap oleh oleh detektor infra merah kalau menggunakan metode infrared sedangkan kalau menggunakan metode HTM akan ditangkap oleh larutan peroksida lalu dititrasi dengan natrium borat dan kemudian dianalisis. Analisis ultimat. Analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kadar karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen, (N), dan sulfur (S) dalam batubara. Seiring dengan perkembangan teknologi, analisis ultimat batubara sekarang sudah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Analisa ultimat ini sepenuhnya dilakukan oleh alat yang sudah terhubung dengan komputer. Prosedur analisis ultimat ini cukup ringkas; cukup dengan memasukkan sampel batubara ke dalam alat dan hasil analisis akan muncul kemudian pada layar komputer. Analisa Size Analisis Data analisis dari suatu hasil tambang ialah satu data dari data-data yang diperlukan dalam perancangan coal preparation plant, pada crushing plant dan screening plant pemeriksaan size diperlukan untuk melihat apakah hasil dari proses masih sesuai dengan spesifikasi atau tidak, pada proses loading dilakukan untuk mengantisifasi masalah yang timbul karena kalau terlalu banyak yang fine coal nilai total moisturenya cenderung meningkat dan akan berdebu pada saat kering. 2. Analisis proximate Analisis proximate menunjukan persen berat dari fixed carbon, bahan mudah menguap, abu, dan kadar air dalam batubara. Jumlah fixed carbon dan bahan yang mudah menguap secara langsung turut andil terhadap nilai panas batubara. Fixed carbon bertindak sebagai pembangkit utama panas selama pembakaran. Kandungan bahan yang mudah menguap yang tinggi menunjukan

mudahnya penyalaan bahan bakar. Kadar abu merupakan hal penting dalam perancangan grate tungku, volum pembakaran, peralatan kendali polusi dan sistim handling abu pada tungku. Analisis proximate untuk berbagai jenis batubara Tabel . Analisis proximate untuk berbagai batubara (persen) Parameter Batubara India Kadar air Abu Bahan menguap (volatile matter) 5,98 38,63 mudah 20,70 Batubara Indonesia 9,43 13,99 29,79 Batubara Afrika Selatan 8,5 17 23,28

Fixed Carbon

34,69

46,79

51,22

Parameter-parameter tersebut digambarkan dibawah ini. Fixed carbon: Fixed carbon merupakan bahan bakar padat yang tertinggal dalam tungku setelah bahan yang mudah menguap didistilasi. Kandungan utamanya adalah karbon tetapi juga mengandung hidrogen, oksigen, sulfur dan nitrogen yang tidak terbawa gas. Fixed carbon memberikan perkiraan kasar terhadap nilai panas batubara. Bahan yang mudah menguap (volatile matter): Bahan yang mudah menguap dalam batubara adalah metan, hidrokarbon, hydrogen, karbon monoksida, dan gas-gas yang tidak mudah terbakar, seperti karbon dioksida dan nitrogen. Bahan yang mudah menguap merupakan indeks dari kandunagnbahan bakar bentuk gas didalam batubara. Kandunag bahan yang mudah menguap berkisar antara 20 hingga 35%. Bahan yang mudah menguap: Berbanding lurus dengan peningkatan panjang nyala api, dan membantu dalam memudahkan penyalaan batubara Mengatur batas minimum pada tinggi dan volum tungku Mempengaruhi kebutuhan udara sekunder dan aspek-aspek distribusi 

Mempengaruhi kebutuhan minyak bakar sekunder Kadar abu Abu merupakan kotoran yang tidak akan terbakar. Kandungannya berkisar antara 5% hingga 40%. Abu: Mengurangi kapasitas handling dan pembakaran Meningkatkan biaya handling Mempengaruhi efisiensi pembakaran dan efisiensi boiler Menyebabkan penggumpalan dan penyumbatan Kadar Air: Kandungan air dalam batubara harus diangkut, di-handling dan disimpan bersama-sama batubara. Kadar air akan menurunkan kandungan panas per kg batubara, dan kandungannya berkisar antara 0,5 hingga 10%. Kadar air: Meningkatkan kehilangan panas, karena penguapan dan pemanasan berlebih dari uap Membantu pengikatan partikel halus pada tingkatan tertentu Membantu radiasi transfer panas Kadar Sulfur Pada umumnya berkisar pada 0,5 hingga 0,8%. Sulfur: Mempengaruhi kecenderungan teradinya penggumpalan dan penyumbatan Mengakibatkan korosi pada cerobong dan peralatan lain seperti pemanas udara dan economizers Membatasi suhu gas buang yang keluar Analisis Ultimate Analsis ultimate menentukan berbagai macam kandungan kimia unsurunsur seperti karbon, hidrogen, oksigen, sulfur, dll. Analisis ini berguna dalam penentuan jumlah udara yang diperlukan untuk pemakaran dan volum serta komposisi gas pembakaran. Informasi ini diperlukan untuk perhitungan suhu nyala dan perancangan saluran gas buang dll. Analisis ultimate untuk berbagai jenis batubara diberikan dalam tabel dibawah. Tabel. Analisis ultimate batubara

Parameter Oksigen Kadar Air

Batubara India, % 9,89 5,98

Batubara Indonesia, % 11,88 9,43 13,99

Bahan Mineral (1,1 x 38,63 Abu) Karbon Hidrogen Nitrogen Sulfur Oksigen 41,11 2,76 1,22 0,41 9,89

58,96 4,16 1,02 0,56 11,88

Tabel . Hubungan antara analisis ultimate dengan analisis proximate %C %H = = 0,97C+ 0,7(VM - 0,1A) - M(0,6-0,01M) 0,036C + 0,086 (VM -0,1xA) - 0,0035M 2 (1-0,02M) %N2 Dimana C A VM M = = = = % fixed carbon % abu % bahan mudah menguap (volatile matter) % kadar air = 2,10 -0,020 VM

Tiga elemen-elemen pertama adalah tergantung kepada komposisi maseral dan peringkat batubara tertentu. Elemen berikut utamanya maceral-independent. Sifat fisika, kimiawi dan, teknis batubara tergantung kepada tipe batubara demikian halnya terhadap peringkat batubara. Sifat Umum (General properties) :

Warna, perbedaan warna /shades adalah catatan untuk berbagai macam litotipe (yaitu cerah untuk vitrain, gelap untuk fusain). Yang lebih penting adalah

perubahan makroskopik dari coklat cerah ke gelap dalam batubara muda dan hitam sempurna dalam batubara tua, tergantung pada peringkat. Kilap, juga adalah tergantung pada maceral-independent, tetapi peningkatan secara bertahap kilap berkaitan dengan pemantulan sinar (light reflectance) yaitu typical daripada peningkatan peringkat batubara. Nyala, berkaitan dengan peringkat, daya bakar batubara berbeda memiliki pula nyala yang berbeda pula, terutama dengan hilangnya zat terbang (yaitu, batubara zat terbang tinggi, pembakarannya panjang, dan batubara peringkat tinggi rendah zat terbang terbakar dengan nyalanya pendek). Akan tetapi komposisi maseral juga memegang peranan penting , tergantung atas jumlah exinites. Pelapukan, mengurangi kilapan dan mengurangi kontras antar litotypes. pelapukan disertai oleh oksidasi dan pengrusakan batubara. Singkapan yang melapuk pada tekstur asal dalam

tidak dapat dipakai untuk diskripsi dan

sampling (percontoan). Perpanjangan pelapukan batubara yang ditambang yang terdapat di penampungan mengurangi kwalitas teknis. Derajat pelapukan

kadang-kadang diekspresikan dengan SLACKING INDEX: gumpalan batubara akan terapung di air dan kering dan jumlah yang terpisah dapat dideterminasi dengan pengayakan. Spontaneous combustion, adalah suatu rekasi dimana tergantung kepada derajat oksidasi, yaitu pelapukan batubara. Hal ini dapat berbahaya selama penambangan jika tiba-tiba kontak dengan oksigen dari udara, dan terutama sekali kelembaban, udara basah (damp air), disebabkan pengapian. Sifat Fisika (Phisical properties): Ultrafine structure; Batubara dapat diperikan sebagai substansi colloidal yang terdiri dari partikel-partikel kecil atau micelles yang mempunyai dimeter mikron,

Peningkatan

devolatilisasi

(devolatilization), menyebabkan pertumbuhan

micelles lebih besar dan menjadi lebih teratur. Densitas (density): densitas berkurang pada batubara muda (± 1.5 gr/cm3) hingga batubara bituminous pada sekitar DOM 70 (1.25 gr/ cm3), dan kemudian bertambah lagi hingga 1.5 pada antrasit dengan DOM 95, selanjutnya akan meningkat tajam melalui meta-antrasit hingga grafit (± 2.2). Porositas (porosity). Sebenarnya ada 2 sistim pori dalam batubara, yaitu: Yang pertama dibentuk oleh pori-pori lebih besar dengan menembuskan mercury dibawah tekanan, dan pori-pori ultrafines lainnya dengan memasukkan helium , Dalam batubara peringkat rendah porositas bisa lebih dari 20% , tetapi cepat berkurang hingga minimum sekitar 2.5% pada DOM 75. bertambah kembali kearah antrasit (± 10%). Kompaksi (compaction), tergantung terutama kepada makroporositas, Kapasitas Adsorpsi (adsorption capacity), tergantung atas area permukaan

internal batubara dan secara mendasar dalam mikroporositas. Tergantung pada penyerapan gas pada low-temperature, Oleh karena itu gas methane , berasal dari proses koalifikasi pada peringkat rendah , biasanya tidak dilepas tetapi diserap oleh batubara. Bawaan ini berbahaya dengan akumulasi gas methane apabila bercampur dengan oxygen dari udara dapat memberikan munculnya fire-dump explosions (ledakan) di tambang batubara. Moisture holding capacity atau ³total moisture´ atau ³bed moisture´, dalam batubara peringkat rendah tergantung besarnya makroporositas dan kecepatan pengurangan dalam range batubara muda ( yaitu sesungghnya diklassifikasikan dengan kandungan total moisture), hingga mencapai kurang dari 5% pada DOM 60, Porositas serupa, mencapai minimum sekitar 1% sekitar DOM 75 dan secara nyata bertambah kembali hingga sekitar 2 3% dalam peringkat tertinggi. Nilai kalori (calorific value), sebenarnya takaran nilai kalori, berbeda untuk 3 grup maseral; tertinggi pada exinite, menengah pda vitrinite dan terrendah pada

inertenit. Nilai kalori daripada vitrinite adalah parameter rank-classification untuk batubara tua berderajat rendah dan ketinggiannya tergantung kepada kandungan air (moisture content). Kekuatan (strength), adalah berhubungan dengan kekerasan (hardness) dan

kerapuhan (friability), selanjutnya sifat daripada batubara muda lebih plastis, Standard perkiraan untuk batubara tua adalah Vicker¶s Hardness Test, Kekerasan batubrara maximum yaitu pada DOM ± 65, minimum pada DOM 35 90,

dengan anthrasit yang memiliki DOM lebih tinggi dari 94 bertindak sebagai material-material klastik. Mikrokekerasan (Microhardness) HV100 dalam kg/mm2 adalah Vicker microhadness untuk suatu beban 100 g. Kekuatan (the strength) HV1000 dalam kg/mm2 adalah Vickers microhardness untuk beban 1000 g. Konduktifitas kelistrikan, Konduktifitas panas, Sifat optis: Reflektifitas sinar, Anisotrophy, Diffraksi sinar-x, Resonansi elektron, Immersion swelling, Thermal expansion. Keliatan (plastisitas), pada temperature kamar batubara bersifat/bertindak sebagai kompak britel (brittle solid), Diskusi mengenai deformasi plastis dan plastisitas pada temperature tinggi, adalah faktor penting dalam pemurnian batubara (coal refining). Sifat Kimia (Chemical Properties) Sulphur (Belerang) hadir dalam jumlah sedikit sebagai campuran organic

bawaan (inherent) dalam batubara dan mungkin berasal dari protein dari tanaman asli yang diperkaya oleh bakteri sulfur. Bubuk sulfur dalam batubara adalah unsur mineral tambahan dan terdapat dalam jumlah yang bervariasi. Belerang tidak diinginkan sebab bertindak sebagai polutan dalam atmosfer dalam atmosfer, kontaminasi dalam distalasi gas, dan mengganggu dalam pembuatan kokas , sulit terhidrilisis dan memiliki sifat efek korosif yang tinggi di dalam oven Sebagian akan hilang dalam pengkokasan bercampur dengan zat terbang. Nitrogen berasal dari protein unsur tanaman asli, biasanya dibawah 1% dan pada batubara peringkat tinggi hadir hanya sebagai trace,

Pelarutan (Solubility); fraksi-fraksi terlarut dapat diekstraksi dari batubara dengan berbagai macam larutan organic, tetapi perlarutan adalah tidak pernah lengkap kecuali dibantu oleh temperatur tinggi untuk mengadakan degradasi panas dan reaksi-reaksi dalam larutan. Aromatik (Aromaticity) , batubara umumnya highly aromatic. Exinite kurang aromatic sehubungan dengan vitrinites, tetapi dengan mikrinit bertentangan. Sifat Teknis Nilai praktis daripada suatu batubara adalah ditentukan oleh 3 faktor utama; 1. Kandungan unsur terbang (volatile matter) Kandungan volatile batubara penting dalam ekstraksi coal tar dan gas. Pyrolysis, dimana batubara yang dipanasi dalam oven dengan pengeluaran oksigen. Nama alternative adalah ³dry distillation´. Produksi utama pyrolusis adalah: coal tar, coal gas, gas metan, gas coke , 2. Kokabilitas (the Cokeability), Proses pengkokasan: semua batubara berupa vitrinite adalah layak pengkokasan batubara, tetapi lebih pantas pada peringkat range terbatas hingga medium (sebagian yang rendah), Dalam proses pengkokasan, adalah peleburan batubara (the coal melt), pengembangan (swells) dan pelepasan zat terbang. Titik yang penting adalah peleburan dan devolatisasi, ‡ Hasil daripada pengkokasan adalah busa (foamy) peleburan porous residu yang kaya dengan karbon. ‡ Kokas berkwalitas tinggi diharapkan mengandung kurang dari 7% abu dan kurang dari 1.3% sulfur (dimana berdampak merugikan terhadap logam). 3. Nilai panas (the heating values). Ada 3 temperature range dalam pyrolysis : Low temperature coking (up to ± 6000C) (up to ± 8000C)

Medium temperature coking

high temperature coking

(up to ± 10000C).

dimana yang terakhir adalah sangat penting, menghasikan high kokas kwalitas metalurgi (quality metallurgical coke) dipakai sebagai agen pemisah dalam blast-furnaces (dapur) . Produk sampingnya (by product) adalah ammonia, benzene, aromatic tars, dan gas.