BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

3. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. 1. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis.3. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut. regiospesifik. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. 1. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota. dan total kemospesifik.3. Yang kedua. 1. 1.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik.3.3. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. 1.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 .4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung.

berupa usulan yang dibuat oleh mesin. Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan. 5 . Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal. serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi.

8) .  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.7) sebagai target sintesis. asam pentanoat (2.  DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.

27. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2.25. Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a.24 dan 2. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2. ada dua asumsi yang dibuat. dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis.23 menghasilkan fragmen 2.26 dan 2. 7 . Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2. untuk menyelesaikan masaalah ini.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. yaitu: 1.

Sintesis Organik.29 dan 2. Enzim ini tentu saja sangat spesifik. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim.32. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder.Sebagai contoh. Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup.30 atau 2. dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard. kedudukan C .24 dan 2. Dalam tubuh makhluk hidup. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit.25 masing ± masing menjadi 2. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 . hasil diskoneksi 2.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh.

Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material. dari penjelasan ini. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin.relatif rendah. jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1. padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. B. Sintesis : a. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. c. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. b.1994)Dengan cara ini. Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. Analisis : a. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. 9 . 2. Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat.

3. Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan .Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target. 4.Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1. Telah diketahui 3.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum. kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. 10 . Rancangan 2. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik. 2. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi.

eliminasi. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. 11 . masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. Namun demikian. Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut. reduksi. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi.3) melalui reaks adisi asil.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis. Konversi sikloheksanon (3. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa.1) menjadi bromohidrin (3. substitusi.5). Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A.4) melalui reaksi substitusi. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3.2 yang menggambarkan reaksi adisi. da adisi.

0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system. Pada umumnya.pada umumnya keasaman naik ke kanan. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA.A. kebasaan naik dari kiri ke kanan. b. Pada table periodic . meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-. HF < HC < HBr < HI. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat. Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a. dan H2O < H2S pKa : 3. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. 12 .74 7.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut.0 -7 -9 -10 15. c. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3. Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. Keasaman naik dari atas ke bawah. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA.

Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. s 13 . 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. amina.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. natrium dan kalium amida. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. metoksida. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. X merupakan ligan (atom halogen.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. dan n merupakan valensi normal dari M. atau fosfin ). Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. C. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. misalnya turunan asam. sedangkan M menyatakan logam. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. dan t-butoksida. kalium hidrida. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. t-butoksida dalam t-butanol). Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. natrium dan kalium hidroksida. logam natrium. Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida.

maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida.maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3.10). Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor.11 14 .dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel.7. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. Jika nukleofil mengikat karbonil. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR. alkoksida (3. Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi.9). dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil. yaitu anion enolat (3. Pada kondisi basa.Berdasarkan alasan ini. yaitu keton 3.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi.6 memberikan hasil adisi 3.

Dalam 15 . Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. semakin tinggi tetapan dielektrik. maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. b. sifat nukleofil. biasanya proses bimolekul bersifat dominan. maka pengika terhadap karbon kuat. maka adisi 1. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). maka pelarut semakin polar. konsentrasi.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. substrat. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi.2 pada karbon biasanya lebih disukai. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik. Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). a. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). Pada setiap kelompok. meliputi pelarut. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation.9 terhalang. dan sifat gugus pergi. namun bila gugus R pada 3. c. Untuk reaksi alkil halide primer. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat.

pelarut aprotik. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3.13. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi. Kenaikan konsentrasi nukleofil. e. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. halida. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi. Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi. Setelah lepas atau pergi.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. d. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul. E). y Reaksi mitsonobu 16 . X. y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi.harus merupakan ion yang sangat stabil. umumnya ditulis SN2.

namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3.16.kurang bermanfaat dalam sintesis. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini. paralel terhadap ikatan. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. 4) 17 Subtitusi oleh halogen . Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet.S N1 (atau reaksi ionisasi).14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3.17 dan garam alkoksifosfonium 3. dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3.15.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan.

Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi.69. Rotasi ikatan pada 3. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru.69 sebagai campuran isomer E-Z.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi. karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. sakunder. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O . Reaksi merupakan unimolekul.68 menghasilkan menghasilkan 3.(H pada 3. 3. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul). Hidrogen.68). Suatu basa yang tepat akan melepaskan H .2 Pemanasan bromida 3. Pada umumnya reaksi antara alkohol primer. 2) Eliminasi unimolekul 1. yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil. F).68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.

mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan .3. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi.87. meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips. 396. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. G).89. transfer proton menghasilkan 3.3. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana.3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1. y Eliminasi 1. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom. dan hidrolisis memberikan produk asam keton. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn. 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ).86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. dan disebut karbokation. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3.88. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1. Senyawa 3.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam.Jika basa merupakan bagian dari substrat.

intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil. Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. HNO3. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. Asam kuat HX (seperti HCl. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida. Sebagai contoh. Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. nitrat dll. telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. maka dipol akan terjadi (C=C X X. maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks. Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). H2SO4. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan.101. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. namun bila didekatkan dengan ikatan . £ £ 3) 20 . HBr. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. sehingga tidak dapat dibentuk.). melepaskan X-.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. sulfat. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen.Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat. Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi.

Kation ini (3. namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl.4dinitroklorobenzena menjadi 2. Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3. Contohnya. namun lebih umum disebut intermediet Wheland. SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-). Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3.H).125).117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2.116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena.126. ternyata tidak terjadi reaksi. 3. Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. dalam kompleks ini. Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland. tidak akan terjadi reaksi. Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik. dan transfer klor yag lain ke AlCl3.118).4-dinitrofenol. bila diniriklorobenzena (3. Namun demikian. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi. transfer satu klor ke benzen. Kation intermediet (3.116) mengalami stabilisasi resonansi.

maka deprotonasi akan menghasilkan 3.161 dan 3. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3.162.158 direakskan dengan natriu amida.karbon ipso. 3.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. dan spesies yang reaktif ini (3.160a) disebut benzuna (benzyne). dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3. Produk substitusi 3.159). Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.160a. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen. (lihat 3.159a. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik. 3.159a digambarkan kembali seperti 3. yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br.153.160a menghasilkan campuran 3. 3) 22 . sehingga menjadi gugus pergi yang baik.159b.160b. ini merupakan intermediet yang tidak stabil. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam. ini sering disebut sebagai substitusi Cine. Bila 3. bila 3.

Pemanasan 3. dalam hal ini benzenadiazonium klorida.163.165) menjadi garam diazonium (3. ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3. 23 . yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol.164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.166).167. 3. 3. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium.164 dalam asam berair menghasilkan fenol.

Dalam asam sulfat. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n .Cr2O72-. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana. 2. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya.14H HCrO4. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III). Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. dan HCrO7-. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. HCrO4-. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen. Untuk definisi yang lebih umum. H2CrO4. meliputi HOCrO3H.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. H2Cr2 O7. seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. dalam media berair. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen.

Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). dan pada reaksi. Hal ini sesuai dengan: HCrO4. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam.sedikit). maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-. 25 . seperti yang dijelaskan pada 4. Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. Cr(IV). Dalam larutan encer.4.dan CrO3.+ 2H+ + A. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO.

yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral. Alkohol primer dan alkohol sekunder. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. 26 . natrium bikromat dalam asetat. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan. masing-masing menjadi aldehid atau keton. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. keduanya dapat dioksidasi.6. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. tetapi juga Substat alkohol.

fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. maka akan mengurangi terbentuknya asam. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat.9 adalah iso-propil (iPr). maka diperoleh hasil produk 60%. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair.pada kompleks seperti 4. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida.10. pelepasan hydrogen.12. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair. Bila R pada 4. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. 27 .hidroksi-amina. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar. tetapi bila R diganti dengan t-Butil. sulfida.a. Sebagai contoh. maka produk yang dihasilkan hanya 6%. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. kemudian pelepasan hydrogen. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4..

Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. Sebagai contoh.15 dengan produk besar 77%. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair. oksidasi 4. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester. Reaksi ini berguna.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 .14 menjadi keton 4. Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. n-butanol menjadi n-butirrat. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat. Contohnya.

dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. Jarret mengoksidasi alkohol. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. ester. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena. maka produk finalnya adalah asam karboksilat. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. Corey mendapatkan. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. Contohnya. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). d. c.ketal. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol. suatu steroid dengan hasil 89%. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . akan dikatrakterisasi pereaksi.sulfide. alkohol. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol. keton dan amida. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar. Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. tersier. Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana. Piridinium kloro kromat (PCC).

Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. e. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C.menghasilkan alkena. maka digunakan pereaksi yang lebih netral. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. yaitu piridinium dikromat (PDC). akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). 30 . perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon.

Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat. udara merupakan pereaksi.17-dion. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. dengan adanya katalis asam. yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. yang bersifat gugus pergi yang jelek. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. 31 . produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. Berdasarkan mekanisme tersebut. Pada reaksi ini. Seperti halnya dengan DCC. menghasilkan garam sulfoksonium.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC). Dalam hal ini. Disikloheksil urea dilepaskan.3. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. dengan gelembung udara melalui media. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. 4. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium.

transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. dalam proses reversibel.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen. Seperti halnya 4. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. menjadi ³karbon keton´ seperti 4. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru. melalui keadaan transisi enam-pusat. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4.50. Pada tahun 1937.48.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.49. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi.49.50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih. Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi. aluminium pada kompleks alkoksida(4.50. Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan.meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 . hanya menghasilkan 35% geranal (4.48 dan 4.52a. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer. kompleks 4.49 dan 4. 4. pada reaksi oksidasi geraniol ini. Sebagai 32 . streroid dan alkohol-alkohol sederhana. Pada umunya. jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida.52b). Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam.48 dan 4.48) berfungsi sebagai asam lewis . triisopoksida atau tri-n-propoksida. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf.Verley. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen. maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi.ah yang rendah. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida.50.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam).Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO. Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium.49). yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron .

secara berturutturut. Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer.(4. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya. dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida.contoh. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping. dalam media netral. menjadi aldehida dan keton.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ). Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat .52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal.Goodwin. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer. oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4. yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ).52a) menjadi -iron (4. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. Reaksi ini di temukan oleh Ball.

reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. (KO3S)2NO). ada banyak cara pembuatan Kuinoid.2 (Orto) Kuinon (4. untuk menyempurnakan oksidasi. pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder.adsorpsi pada mangan dioksida. Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. Oksidasi membutuhkan media netral. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian. Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. relatif terhadap para34 . Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal. serta waktu reaksi lama. mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi.4 (para) Kuinon (4. pelarut yang tepat. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III). relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah.61) dan 1. Kuinoid yang paling umum adalah 1. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber.62).

Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena.). Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4. Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena.2H ¦ 2H2O 1. Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4.  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid. dan dengan cara ini.83) melalui proses. yang menghasilkan radikan bebas. Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend). meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida).81. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. akan menghasilkan alkoksida (4.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e.

bereaksi dengan alkena.87). dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida.91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena).92. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4.94. Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif.90. dan peroksida asam (4. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4. Sebagai contoh.93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi. Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. seperti 4. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida. epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 . alkil hidroperoksida (4. Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol.88). dan menghasilkan 4.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida .alcohol dari alkil hiroperoksida. O + R. dan asam karboksilat dari peroksi asam).

Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida.95. Sebagi contoh.trifluoroh.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida.98) dengan hasil 72 .97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga. reaksi yang sejenis. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan. Peroksi asam seperti 4. meliputo peroksi format.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4.96) sebagai produk utama. sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew).102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik.104. Isoforon (4. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4.4.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA.4. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.peroksi bensoat.100.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam.kenyataannya. adisi konjungsi ). Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4.yaitu kearah pembentukan 4. epoksi alcohol 4. 4. yang mula-mula melalui pembentukan 4.99. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4. pada umumnya. 4.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 .103).95 bersifat dominan.sangat selektif untuk epoksi alcohol.101. yaitu epoksinitril (4.6.

atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. Contohnya. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. Pada umumnya. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi. Selain itu.R 2C = CH2 :500. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 . dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. Jika molekul mengandung dua alkena.4 ± siklopheksanadiena. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. RCH = CH2 : 24. Penambahan garam asam (RCO2.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. Pembukaan Cincin Epoksida a.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi.RCH = CHR :500. Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. 1. Ikatan rangkap dua.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida.2 ± dimetil ± 1. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H). dan R2C = CR2 >> 6500). Sebagai contoh.R2C ± CHR :6500. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen.N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa.

dimana X dapat berupa Cl. Langkah 1. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2. Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. Br atau I yang menghasilkan halohidrin.

pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi. polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax).Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. 40 . Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris. karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. Misalnya.

Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. B. keton. meliputi aldehida. PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II.BAB V REAKSI REDUKSI A. atau II ke I). yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. IV ke II.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. dan laktam. ester. anhidrida asam. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. karbamat. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. dan gas hydrogen. dan aluminium hidrosida. LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B. klorida asam. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. Litium hidrosida. ¨ 41 . dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. imida. lakton .pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. B. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. asam karbosilat. amida.1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 .

Contohnya adalah reduksi 5. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif.56 menjadi campuran 5. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus.58 dalam sintesis driman-8-ol. B. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil.Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. Dalam bnayak hal. 42 .55 dengan hasil 95%. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil.54 menjadi alcohol 5. Pada umumnya. seperti yang di tunjukkan pada 5.57 dan 5. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol.

dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. dan klorida asam saja. Reduksi dengan Borohidrida C. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. Zn. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. dan garam iminium.2 Logam borohidrida (Li. mereduksi aldehida. imin.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. C. keton. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. LiBr LiBH4 NaBr.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida. C. NaBH4 43 . keton.

keton. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. c.metal-1. lakton. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. amida tersier dan nitril. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. asam.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. 44 . Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah. D. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. seperti pada reduksi 1.C. Boran aluminium dan turunnya d.

3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana. Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan.. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . termasuk benzene dan toluene. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. Hal yang sejenis AlH4 .S(CH3 )2). nitril dan keton. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3. ester. d. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. d.mempunyai analog sebagai elektrofil. meskipun dengan adanya halide.

hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung. maka diperoleh alcohol 5. akan menghasilkan alcohol 5.120 dengan boran seperti 9. maka akan dihasilkan enatimer R.118 dan enantiomer (5.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral. seperti fenil magnesium bromide. maka produk alcohol adalah rasemik. Reaksi alkena 5. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5.BBN (9-boran ±siklo [3. Kenyataan bahwa keton 5. yang diikuti dengan oksidasi.2. yang direduksi menjadi 2-pentanol. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E. Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S.31]-nonana). maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan. 46 . maka akan diperoleh enantiomer S. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan.E.117 dan alkena 5. Jika 5. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan.120 tidak mengandung pusat khiral.121 (dan enantiomernya 5. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik.119).117 bereaksi dengan pereaksi Grignard.122) E.

F. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas.135b). Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral.134 dan 5. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. keton 5. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil.136. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5. Terdapat dua tipe utama katalis 1. Namun demikian. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal.134 mengandung pusat stereogenik.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. muka re)akan memberikan 5. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2. 1912) F. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875.136 tetap seperti konformasi yang terlihat.E. maka reduksi menghasilkan diastereomer.138 Jika konfirmasi 5. Pada 5. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5. Namun kenyataannya. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897. dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic.137. 47 . Senyawa 5.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral. Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi. yangb merupakan rasemik.135a dan 5.136. seperti pada reaksi 5. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil.

bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan. Pada proses terlihat 48 . garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. rodium merupakan katalis yang paling aktif.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan.Gugus fungsi yang direduksi. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5.174). rodium. nikel. akhirnya. F.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam.171. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat.173). step dan kink pada permukaan katalis heterogen. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. Dalam beberapa hal. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5.170. Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien. Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5. Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. dan rutheum. tingkat reduksi dan distribusi produk. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi .172. palladium. iridium.

tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. dengan perbandingan 10 : 82. F. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis.200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5.186 dan 5. Contohnya 5. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.201). seperti pada reduksi 5.200.mula mereduksi naftalena menjadi 5. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*). tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5. Reduksi Logam Terlarut 49 . kecuali jika menggunakan katalis rodium. dan 5.205 dengan adanya hydrogen berlebih. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. Bila cincin aromatic tersubtitusi. F. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. disebut katallis adams). G.187.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5.

Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang.diol (5. dan menghasilkan produk yang tereduksi. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam. Contohnya elektrolisis aseton. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi.G. yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O. Pada keadaan yang serupa.215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton. menghasilkan anion radikal (disbut ketil). Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa. elektron ditransfer kekarbonil.214).220) dengan hasil 68%.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5.218) menjadi 1. Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn.asetilpiridin (5. H. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 . intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa.2.

Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena.) 5. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet.) 2. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6.) 3. Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´. kemudian diikuti reaksi dengan HBr.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis. yang menghasilkan alkohol pimer.) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov. Pada umumnya. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi. 6.) 4.1. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. 51 . Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov. Jika reaksi menghasilkan karbokation. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi.

dengan retensi konfigurasi secara sempurna. Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. yang dilakukan oleh Salzmann. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna.2. 52 . Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden. 6. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. antibiotik karbapenam. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda.1. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian .

1. tetapisatu yang perdominan. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain). Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. 53 .4. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. Keadaan yang berlawanan. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.1. dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. Pada contoh ini.2diol. 6.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6.3. Sekali lagi.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida.

1. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 . pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. dan retensi atau inversi konfigurasi. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan.hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom. Dalam beberapa hal. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga). Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga.pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi. 6. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi.terutama terhadap molekul siklis. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida.5. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6.

yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana. 6.2. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis. 1-bromo-1metilsiklopentena. 55 .2.2. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. 6.isomer-isomer geometri. Sebagai contoh. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1. Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. 1-bromo-1-metilsiklopentana. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat. Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14.metilsiklopentana. Namun demikian.1. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida.

tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi. hidrogen. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. 56 . Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon. Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. diikuti pelepasan hidrogen.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini. yang secara energetik lebih menguntungkan. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt.

selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .2.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis . Menghasilkan azida.6.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik. 6.2.konformasi cicin.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.89).bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .88 : 6.9 : <1 yaitu 6. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.dan stabilitas produk akhir.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.

Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis. 58 .100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer.Epoksidasi senyawa 6.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang. Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .paling tidak ada dua pilihan : 1. 6.dan 2. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan.

alkoksi. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.107 dan 6.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi.108.menghasilkan 99% (E)-alkena. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi.pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.oksigen dan belerang. 6.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.merupakan retomer kunci.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan .4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 . Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai. Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.

Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis . Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan .dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).sering dengan control regiokimia dan steriokimia.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether).dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi.homolitik. 60 .Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.mempelajari nukleofil. Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif.Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk). 6.jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.dan proses penutupan cicin kationik.Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin).5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.118.

tetapi selama reaksi.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.yang haya didasarkan pada substrat.disini sudut ikat sekitar 120°.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.

konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°. Contoh siklis endo.Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.karena molekul adalah linear.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi.organologam. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. dan beberapa zat pengoksidasi.yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3). karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena). hidrida. karbonion dan organologam . oksidasi. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. nukleofil. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. biasanya dengan katalis poladium. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7. meliputi pH 1-14. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia.24 dikonversi menjadi benzil eter (7.O-Bz). hidroborasi. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph. 66 . hidrida. hidrogenasi katalitik.t-butil sensitive terhadap asam kuat. Sebagai gugus pelindung . dn stabil terhadap nukleofilik. tetapi stabil pada Ph 1-14. dimana mula-mula alcohol 7. oksidasi dan reduksi.25. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi.26.dipecah oleh HI pekat.

O-EE). shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi.32 dengan reaksi wittig. Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7. reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7.27 sebagai turunan MOM (pada 7.Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2).33. Sebagai contoh. Sebagai contoh. sementara gugus hidroksil pada 7.MEM).27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier.28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7. Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3. Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM.31 diubah menjadi 7. 67 . O-MOM). Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi.SEM). Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3.29). Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF). proteksi OH pada 7.28.29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM. Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter). Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3.7. gugus hidroksi metil pada 7.

34) bereaksi dengan keton seperti aseton. dan zat pengoksida. 1. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). yaitu merupakan turunan 1.3-dioksolan (7.3 Proteksi Diol 1. tetapi tidak terhadap asam. Bila 1. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair. ketal seperti 7. 68 . tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis.35).2.35 yang dibentuk dari aseton.3-butanadiol (7. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol.2-diol termasuk alcohol.7. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). hidrida. hidrognasi katalitik. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr. maka akan dibentuk 1. dengan adanya katalis asam.3-dioksana.2-diol seperti 2.organologam. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida. atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam.

hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung. seperti proteksi pada 1.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7.36 yang dikonversi menjadi 7. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7. 69 .Asetonida berguna dalam sintesis.4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal).suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4). bila 7.2.2-diol pada senyawa 7. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal.38. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil. Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7. dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol. Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat. 7.40 sebagai dimetilasetal.41.39). dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta.

diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair. Deroteksi menghasilakan 7.49. Sebagai contoh.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis. dan 1. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan.7. menggunakan 2.( )-aspidosapermina.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal. Turunan 1.46 (yang membentuk 7.47).3-propanadiol untuk memproteksi keton 7. yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.meyer memproteksi senyawa keton 7.48.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1.2dimetil-1.44).2-etanadiol. 70 .43 sebagai ketal (7. seperti yang dilakukan oleh Money.2-diol dan 1.45. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1.3-propanadiol.

Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 . NBz). Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil. organologam. dan asam Lewis.hidrida. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam. Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. 7.3. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.3.7.3 Proteksi Amina 7.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina. biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph.N-Ac). Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida.

3. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7.56).3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).N-TFA). dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. dilanjutkan dengan 72 .asetil klorida dengan amina.55). Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat. Gugus ini sensitive terhadap asan kuat. Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida. 7. pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7. Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin.54 sebagai turunan BOC (7. akan menghasilkan asetamida.

terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard). Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan). terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ).57. Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). 73 .Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. N-CBz benziloksi karbonil).terhadap nukleofil. Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph. Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12).

60.59).58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium.dan amina. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester. atau ester.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7. menghasilkan 7.Fenilalanina (7. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol. atau turunan hidrazon. keton. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal. 74 . KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan. Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. asetal. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff.61. tioasetal atau tioketal.

75  .3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8.5) atau strinina (8. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8.6).2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana. Sintesis ekuilen(8.2).4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. Pada tahun 1904.BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8.metilamina. PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.Perkin mensintesis terpinol (8. dan aseton. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.

Pendekatan ini disebut Retrosintesis. 2. PEMILIHAN TARGET 2. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. penciptaan. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. Selama mengamatan tahapan tersebut. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. Akan tetapi. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. 76 . Bentuk atau model percobaan 4. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan. ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). penemuan.yang meliputi: 1.

Pengembangan reaksi dan pereaksi baru.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. Asam gibberelat (8. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Aktivitas biologis yang penting 3. Bagi ahli kimia. Persoons mengisolasi 200 µg 77 . yaitu: 1. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Tantangan struktur dan topologi. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Mitomisin C (8. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. Studi analog 4.7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. 2. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting. periplanita Americana. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. Kadang-kadang. meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik. Verifikasi atau pengubahan struktur 2.10 dan diberi nama periplanona B.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a).perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target.

10 dengan jalur multi langkah. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan. Still mensintesis 8. asam lemak terhidroksilasi. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat.senyawa tersebut dari 75. Empat stereoisomer disintesis.pertanian. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran.10 belum terelusidasi.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona. 8. Ini merupakan pendekatan umum. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan. tetapi stereokimia 8. dengan tanpa mengontrol stereokimia. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir.12. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. 2. 78 . masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus.

(3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3). Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. 1. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8. 2. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl). (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2).4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1. PGC. PGD. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis.Turunan-turunan tersebut adalah PGA. pGE.14). konversi cincin heterosiklik pada (8. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H.1-dioksida(8.13).4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. PGB.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9. Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik.2. dst.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik. 79 . Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami.

17 pertama kali di sintesis oleh paquette.ciri-ciri structural ) (8. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang. 80 . Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab).Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui.15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih. Dodekahedran 8.16 dan 8. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat.17) pada dasarnya adalah bentuk bola. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait. 2. dan topologi ( bentuk.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor. Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8.16a) adalah seaktif (8.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8.16c) menaikkan potensi dosis. Asam vlafon-8-asetat (8.

6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter. 81 . Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain.19) bila direaksi dengan ion perak.17.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8. Sekali di kembangkan. Pada sintesis yang baru ini. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain.8.17 Senyawa 8. 2. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis. Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser.

82 . dan hasil adisi siklo (8. Pada yang khas menunjukan.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain.20 menghasilkan produk adisi 8. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8.22 sebanyak 90%. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna.nitron (8.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8.

Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. ikatan dan reaktivitas 4. Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. penyederhanaan struktur. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. atau telah dibuat oleh orang lain. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci.3. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. Namun demikian. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. dan masing-masing merupakan target sintetik. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. Setelah beberapa retroreaksi. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. Retrosintesis 3. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. interaksi gugus fungsi. dan jawabannya membutuhkan: 1. didapat dengan cara kimia yang sederhana. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. 83 . Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. Pengertian dasar stereokimia. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks.

Pertama.29.30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). 84 .28. diskoneksi ikatan g menghasikan 8. dan m. epoksida 8.Untuk molekul seperti 8.2. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting.29.27 menjadi 8.27 atau -kloroketon 8. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan. menghasilkan 8. transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8.24. atau j yang memiliki prioritas tertinggi.26 menjadi 8.26. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8. 4-bromobutan-1-ol.34).32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8. I. transformasi gugus funsi 8. dan mengkonversi 8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h. I. maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti. seperti yang ditunjukan pada gambar 8.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi . dan a.3. Analisis ikatan baru 8.

Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah.Untuk menyempurnakan sintesis. setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 .29). Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh. maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi. 4. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8.Strategi sintetik 4. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia.24.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 . Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil.41. seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8. dan 19.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8.52. 18. 17.51 dan 8. Gugus metoksi pada 8. 13.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. 5.42.5).50. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A. Grieco menggunakan ikatan 15. 3.

55 dan 8. 107. 1985.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8.Soc.56. J. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal.Am.. 90 . Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8. tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi.¶diskoneksi tahap terakhir.51. 285). diskoneksi 8.

goggle. Kimia Organik Fisik. Stuart Warren. Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach. Marhan Sitorus) 91 . Hardjono dkk. Sintesis Organic.Jakarta : Erlangga. y Sastrohamidjojo.DAFTAR PUSTAKA y http://www.com/sintesis-organic/html. y Stuart Waren.2009.

J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 .NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E. TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful