NILAI-NILAI DAN BUDAYA Salah satu topik penting dalam kajian psikologi lintas adalah melakukan analisa

dan mendeskripsikan persamaan dan perbedaan budaya dalam nilai-nilai dasar. Nilai merupakan konsep abstrak sehingga memang sulit untuk memberikan batasan (definisinya) dan mengungkap atau mengukurnya. Sehingga hal ini mengundang perhatian yang bertahun tahun lamanya bagi para ahli dalam menjawab pertanyaan mengenai hal tersebut. A. DEFINISI NILAI Menurut Lonner & Malpasss (1994), nilai melibatkan keyakinan umum tentang cara bertingkah laku yang diinginkan dan yang tidak diinginkan dan tujuan atau keadaan akhir yang diinginkan atau yang tidak diinginkan. Kluckhohn (dalam Adisubroto, 1993) menyatakan bahwa nilai merupakan suatu konsepsi yang dapat terungkap secara eksplisit atau implisit, yang menjadi cirikhas individu atau karakteristik suatu kelompok mengenai hal-hal yang diinginkan dan berpengaruh terhadap proses seleksi dan sejumlah modus, cara dan hasil akhir suatu tindakan. Hofstede (dalam Dananjaya, 1986) berpendapat bahwa nilai merupakan suatu kecenderungan luas untuk lebih menyukai atau memilih keadaan-keadaan tertentu di banding dengan yang lain. Nilai merupakan suatu perasaan yang mendalam yang dimiliki oleh anggota masyarakat yang akan sering menentukan perbuatan atau tindak-tanduk perilaku anggota masyarakat. Menurut Rokeach (dalam Lonner & Malpass, 1994) nilai adalah suatu keyakinan yang relatif stabil tentang model-model perilaku spesifik yang diinginkan dan keadaan akhir eksistensi yang lebih diinginkan secara pribadi atau sosial daripada model perilaku atau keadaan akhir eksistensi yang berlawanan atau sebaliknya. Selanjutnya Rokeach berpendapat bahwa nilai menduduki posisi di tengah-tengah, diantara kebudayaan sebagai anteseden dan perilaku manusia sebagai konsekuensi. Karena posisinya yang sentral inilah, maka nilai dapat dilihat sebagai variabel bebas dan variabel terikat (dalam Dananjaya, 1986). Sebagai variabel bebas terhadap perilaku manusia, di sini nilai sama fungsi psikisnya seperti sikap, kebutuhan-kebutuhan dan sebagainya yang mempunyai dampak luas terhadap hampir semua aspek perilaku manusia dalam konteks sosialnya. Sebagai variabel terikat terhadap pengaruh-pengaruh sosial budaya dari masyarakat yang dihuni, yang merupakan hasil pembentukan dari faktor-faktor kebudayaan, pranata dan pribadi-pribadi dalam masyarakat tersebut selama hidupnya. Kaitan antara nilai, sikap dan tingkah laku dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 3.1 Hubungan Nilai, Sikap dan Tingkah laku Nilai nilai Pribadi

Nilai nilai Budaya

Sikap dan Keyakinan

Tingkah Laku

Di dalam prosesnya nilai mewakili konsep-konsep yang telah tersedia. Fungsi pengetahuan berarti pencarian arti kebutuhan untuk mengerti. (7) nilai sebagai standar dalam proses rasionalisasi. sehingga dapat mengurangi ketegangan dengan lancar dan mudah. yaitu : (1) membawa individu untuk mengambil posisi khusus dalam masalah sosial. (5) merupakan pusat pengkajian tentang proses-proses perbandingan untuk menentukan individu bermoral atau kompeten. Di dalam proses penyesuaiannya. B. yaitu sebagai nilai . (3) Nilai berfungsi motivasional. (6) Nilai berfungsi sebagai pengetahuan atau aktualisasi diri. Nilai berorientasi penyesuaian. 2000) yaitu sebagai berikut : Nilai berfungsi sebagai standar. yaitu standar yang menunjukkan tingkah laku dari berbagai cara. (3) menunjukkan gambaran-gambaran self terhadap orang lain. sebenarnya merupakan nilai semu. (2) mempengaruhi individu dalam memilih ideologi politik atau agama. dan behavioral. (2) Nilai berfungsi sebagai rencana umum (general plan) dalam penyelesaian konflik dan pengambilan keputusan. Sedang nilai-nilai pribadi dan kebutuhan saling mempengaruhi. TEORI-TEORI NILAI DAN PENGUKURAN NILAI 1. Keduanya mempengaruhi sikap dan keyakinan seseorang dan tingkah lakunya. Nilai sebagai alat atau instrumental dapat bersifat dua macam. Is' nilai tertentu diarahkan secara langsung kepada cara bertingkah laku serta tujuan akhir yang berorientasi pada penyesuaian. FUNGSI NILAI Nilai mempunyai beberapa fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia (Adisubroto. Kebutuhan-kebutuhan seseorang lebih menentukan akan "adanya" perilaku. yang dapat terjadi pada setiap tindakan yang kurang dapat diterima oleh pribadi atau masyarakat dan meningkatkan selfesteem. (4) menilai dan menentukan kebenaran dan kesalahan atas diri sendiri atau orang lain. Nilai sebagai model tingkah laku atau cara bertindak secara eksplisit maupun implisit melibatkan fungsi aktualisasi diri. Nilai memoliki komponen motivasional yang kuat seperti halnya komponen kognitif. sedangkan nilai-nilai pribadi lebih menentukan "bagaimana" perilaku yang akan terjadi. pertama-tama individu mengubah nilai secara kognitif ke dalam nilai yang dapat dipertahankan secara sosial maupun personal.Kebutuhan Dari gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa pengaruh nilai-nilai budaya pada nilainilai pribadi dan kebutuhan seseorang. (6)nilai digunakan untuk mempengaruhi orang lain atau mengubahnya. C. dan nilai yang demikian akan mudah dalam penyesuaian diri dengan nilai yang berbeda. karena nilai tersebut diperlukan oleh individu sebagai cara untuk penyesuaian diri dari tekanan kelompok. (4) Nilai berfungsi penyesuaian. afektif. kecenderungan terhadap kesatuan persepsi dan keyakinan yang lebih baik untuk melengkapi kejelasan dan konsepsi. (5) Nilai berfungsi sebagai ego defensif. Teori Rokeach Rokeach memandang nilai sebagai suatu keyakinan yang relatif stabil dalam perwujudannya dapat dibedakan menjadi dua kategori yakni nilai instrumental dan nilai terminal.

1996) masing-masing perangkat nilai terdiri atas 18 item nilai individu. (d) dunia damai. yaitu yang bersifat pribadi dan sosial. tenang). (h) membantu (bekerja untuk kesejahteraan orang-orang lain). (k) cinta dewasa (kekariban seksual dan spiritual). (i) Jujur (tutus. (b) berpikiran atau berwawasan luas. (q) tanggung jawab (dapat dihandalkan. (f) kesamaan (persaudaraan. kreatif). Responden diminta membuat ranking berdasar taraf kepentingan bagi diri mereka. Aspek yang terkandung di dalamnya adalah : (a) ambisius/giat bekerja. (I) intelektual (cerdas. maka is akan merasa bersalah bila melawan dengan cara yang melanggar norma. tergantung pada nilai mana yang diberi prioritas. seperti menjadi pedoman prinsip dalam kehidupan mereka sehar-hari. Sebagai nilai moral adalah yang berkaitan dengan cara bertingkah laku. (h) kemerdekaan (ketakbergantungan. Sementara nilai sebagai tujuan akhir atau terminal ada dua macam. (m) logic (konsisten. Aspek yang terkandung di dalamnya adalah: (a) Hidup nyaman. (c) rasa berprestasi. Selain itu. digantungi). tidak bohong). efektif). dalam prosedur analisanya disediakan dua daftar untuk mempermudah membuat ranking nilai secara terpisah untuk kategori nilai instrumental dan nilai terminal. (k) bebas (berdikari. b. rasional). Kelebihannya adalah mudah dalam administrasi penyelenggaraannya dan responden pada umumnya tertarik. atau cara mencapai nilai-nilai terminal. (e) dunia yang indah. (o) menghargai diri. (n) keselamatan (hidup abadi dan terselamatkan). (j) imaginatif (berani. Nilai instrumental merujuk ke modus perilaku yang lebih disukai. dengan alat ini kita dapat meneliti persamaan dan perbedaan nilai dan sistem nilai diantara kelompok-kelompok atau budaya-budaya. sedangkan bersifat sosial jika nilai tersebut dipusatkan pada masyarakat. (c) kapabel (mampu. (I) keamanan nasional (perlindungan). Berdasarkan survey nilai Rokeach (dalam Robbins. berkaitan dengan nilai yang berhubungan intrapersonal terhadap hati hurani. (r) kendali diri (disiplin diri. (r) kebijaksanaan (pemahaman dewasa akan kehidupan). Kenaikan pada nilai pribadi mengakibatkan nilai sosial menurun. (p) sopan santun. Nilai terminal merujuk ke keadaan akhir eksistensi yang sangat diinginkan. (q) persahabatan sejati. mencukupi diri.moral dan sebagai nilai kompetensi. Perbedaan tingkah laku atau perbedaan sikap individu. Bersifat pribadi jika nilai dipusatkan pada diri sendiri. Dengan demikian kita dapat mengidenfikasikan nilai instrumental maupun nilai terminal yang dimiliki seseorang atau kelompok masyarakat. teratur). (o) patuh terhadap kewajiban. (f) berani (tegak mempertahankan keyakinan). yaitu : a. Rokeach menyajikan tiap-tiap nilai dalam frase (serangkaian kalimat) pendek untuk mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan nilainilai tersebut dan masing-masing nilai yang telah dikelompokkan dalam dua kategori tersebut disajikan dengan urutan alfabet. (g)memaafkan. (j) harmoni batin (kebebasan dari konflik batin). reflektif). Alat ukur atau value survey yang disusun Rokeach ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Jika terjadi pelanggaran terhadap nilai kompetensi akan berakibat adanya perasaan malu karena ketidakmampuan diri. (p) pengakuan sosial. Jika ada orang lain yang menyerang. pilihan bebas). (d) Riang/ senang. adalah nilai instrumental yang fokusnya lebih bersifat pribadi dan tidak terlalu kelihatan berkaitan langsung dengan moralitas. gembira. (n) kasih sayang. . (i) kebahagiaan. Karena itu. (g) keamanan keluarga (merawat orang-orang yang dicintai). (e)Bersih (rapi. (m) kesenangan (hidup santai dan dapat dinikmati). Dalam melakukan pengukuran nilai. kesempatan yang sama untuk semua). (b) Hidup menggairahkan. Sebagai nilai kompetensi atau aktualisasi diri.

(g) penyesuaian terhadap tekanan kelompok (conformity). Akan lebih baik jika digunakan item ganda untuk tiap-tiap nilai. diantaranya prosedur ranking hanya memberikan informasi tentang kepentingan relatif dari nilai-nilai yang berbeda itu dan bukan kepentingan absolut. Meskipun demikian. Dalam teori ini diasumsikan bahwa ada 3 persyaratan bagi eksistensi manusia sehingga semua individu dan masyarakat akan responsif terhadapnya. (f) keamanan (security). Nilai-nilai itu menurut Schwartz diklasifikasikan kedalam sejumlah domain-domain motivasional atau tipe-tipe nilai yang terdiri dari: (a) menuju diri sendiri (self-direction) (b) rangsangan (stimulation). (2) untuk mencapai interaksi sosial yang terkoordinir. (j) kebajikan (benevolence). (3) untuk mempertemukan tuntutan-tuntutan institusi sosial untuk mempertahankan hidup dan kesejahteraan kelompok. Masing-masing domain itu sebenarnya mencakup beberapa aspek nilai. Dengan demikian. (i) spiritualitas. Demikian pula. Mereka mengidentifikasi 56 nilai dan menyusun kuesioner yang mana responden diminta untuk menunjukkan seberapa sering/banyak masing-masing dari caracara yang disebutkan dalam kuesioner itu menjadi pedoman prinsip dalam kehidupan mereka. Domain kebajikan mencakup membantu. kelompok atau organisasi dimana dia menjadi anggotanya. misalnya domain prestasi mencakup kesuksesan. 1990. dan disiplin diri. menghormati orang tua. 2. tiaptiap nilai hanya disajikan dalam bentuk item tunggai saja.Sistem nilai yang dilaporkan responden dapat dihubungkan dengan sistem nilai yang dipersepsinya dipunyai oleh orang-orang lain. Value survey yang disusun Rokeach ini juga dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana para imigran berasimilasi dengan suatu budaya baru (Feather. Tipetipe nilai itu disusun dalam suatu lingkaran dengan urutan tertentu. dan berpengaruh. Terlebih lagi. sopan-santun/lembut. (c) menikmati kehidupan (hedonism). Mencocokkan antara nilai-nilai prioritas yang dimiliki seseorang dan nilai-nilai prioritas yang dipersepsinya dapat diukur dan dihubungkan dengan variabelvariabel lainnya seperti penyesuaian dan kesehatan mental seseorang. ambisi. (e) kekuasaan (power). (d) prestasi (achievement). Teori Nilai Schwartz Survey nilai dalam skala luas dilakukan juga oleh suatu tim ahli yang dikoordinir oleh Schwartz di Israel (Schwartz & Bilsky. (h) mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang berlaku (tradition). prestasi dan kekuasaan) adalah bersesuaian (cocok) satu sama lain sehingga . 1992). sebenarnya alat ukur tentang nilai yang disusun Schwartz (1992) menggunakan prosedur rating dan masih dipengaruhi gaya pengukuran Rokeach dalam memisahkan antara nilai-nilai instrumental dan nilai-nilai terminal dan menyajikan tiaptiap nilai dalam satu item. Peneliti-peneliti ini membuat review secara detil dari teori-teori dan studi-studi tentang nilai dari sumber Barat dan nonbarat. Domain konformitas mencakup kepatuhan. Nilai-nilai yang diprioritaskan dapat juga dihubungkan dengan sikap dan perilaku-perilaku khusus. Beberapa tipe nilai (misalnya. memberi maaf. Schwartz. 1987. Value surveyyang disusun Rokeach ini juga memiliki kelemahankelemahan. sehingga alat ukur ini lebih valid dan reliabel. Alat ukur ini terdiri dari 56 item yang merupakan penjabaran dari teori tentang isi dan struktur nilai-nilai manusia yang universal. perubahan dalam nilai-nilai prioritas dan sistem nilai dapat diteliti sepanjang kehidupan individu sampai usia lanjut. dan (k) universalisme. jujur. mampu/ cakap. Tiga persyaratan itu adalah: (1) untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan biologic. 1992). setia dan bertanggung jawab.

Nilai-nilai yang bersesuaian satu dengan yang lain diasumsikan dapat melengkapi.2 Klasifikasi Nilai Menurut Schwartz SelfDirection Benevolence Universalism Security Stimulator Hedonism Achievement Power Security Benevolenc Tradition Conformit Dengan melihat gambar di atas. Menurut Hofstede secara universal dimensidimensi nilai budaya adalah Individualism-collectivism (IC). prestasi. dan keamanan karena tujuan dari nilai-nilai yang pertama (kebebasan berpikir dan tindakan. tradisi. Dimensi nilai individualism mendukung anggotaanggotanya untuk otonom. Jika tipe-tipe nilai yang diajukan Schwartz dianalogikan dengan dimensi individualisme versus kolektifisme. memelihara stabilitas). sementara tipe nilai yang lain (misal selfdirection dan konformitas) adalah berlawanan satu sama lain dan ditempatkan berseberangan dalam lingkaran itu. Dimensi power distance adalah derajat ketidaksetaraan dalam kekuasaan (power) antara . dan Masculinity (MA). Namun terlebih dahulu dibahas secara ringkas dimensidimensi nilai yang dikemukakan oleh Hofstede. sementara beberapa tipe nilai yang lain mewakili dimensi nilai kolektifistik (kebajikan. dan tipe nilai yang lainnya lagi dianggap mewakili minat campuran (universalisme. bahkan jika perlu mengorbankan diri demi menjaga harmoni kelompok. membatasi diri. hedonisme. mendukung perubahan-perubahan) tidak melengkapi tujuan yang ditekankan oleh nilai-nilai yang berikutnya (tunduk. Oleh karena itu dalam bab ini akan lebih difokuskan pada pembahasan tentang analisis para ahli lain dalam menyoroti penerapan dimensi-dimensi nilai yang ditemukan Hofstede tersebut. keamanan). kita akan mengetahui posisi masing-masing nilai. menekankan tanggung jawab dan hak-hak pribadinya. Dimensi nilai collectivism mendukung anggotanya untuk menyelaraskan tujuan dan kepentingannya kepada kelompok. jika letaknya berseberangan berarti nilai-nilai itu sating bertentangan. Teori Nilai Hofstede dan Kelompok Ahli Penghubung Kultur China Teori Hofstede mengenai nilai akan dibahas secara lebih detil dalam bab berikutnya tentang dunia kerja. kekuasaan dan prestasi dianggap saling melengkapi karena keduanya menekankan tujuan yang sama yang berhubungan dengan superioritas dan harga diri. Uncertainty avoidance (UA). nampak bahwa beberapa tipe nilai diasumsikan mewakili dimensi nilai individualistik (kekuasaan. Sementara self-direction dan stimulation dianggap bertentangan (konflik) dengan konformitas. sementara yang berlawanan berada dalam konflik. pemeliharaan praktek-praktek tradisional. mengukuhi tradisi. Misalnya.ditempatkan berdekatan dalam lingkaran itu. selfdirection). 3. stimulation. power distance (PD). konformitas). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambaran tentang nilai-nilai dan posisinya seperti di bawah ini : Gambar 3.

1 Empat Dimensi Nilai Budaya dari Hofstede Nilai (value) Power distance Questionnaire item Response Berapa seringkah.orang yang dapat bekerjasama dengan baik satu dengan yang lainnya ? sangat sangat sangat Feminity Masculinity Seberapa penting bagimu untuk memiliki kesempatan mendapat gaji yang tinggi ? sangat Seberapa penting bagimu untuk mendapatkan sangat pengakuan yang sudah sepantasnya kamu terima ketika kamu melaksanakan tugas/pekerjaan dengan baik ? . Masculinity adalah derajat dimana budaya mendukung perbedaan gender diantara anggota-anggotanya. bahkan ketika karyawan menganggap itu adalah kepentingan terbaik perusahaan Berapa lama kamu anggap kamu akan meneruskan bekerja untuk perusahaan ini ? Individualism sampai saya pensiun Uncertainty Avoidance Seberapa penting bagimu untuk memiliki sangat pekerjaan yang mana menyisakan waktu yang cukup bagi kehidupan pribadimu atau keluarga ? Seberapa penting bagimu untuk memiliki kebebasan dalam melaksanakan pekerjaan itu ? Seberapa penting bagimu untuk merniliki hubungan baik dengan manajermu? Seberapa penting bagimu untuk bekerja dengan orang. Matsumoto menyebut dengan istilah perbedaan status yaitu derajat dimana budaya mempertahankan perbedaan status diantara anggota-anggotanya.individu yang memiliki kekuasaan atau status tinggi dengan yang rendah. Uncertainty avoidance adalah derajat dimana budaya mengembangkan institusi-institusi dan ritual-ritual untuk menyesuaikan dengan kecemasan akibat ketidakpastian dan samar-samar. dalam pengalamanmu terjadi Seringkali masalah : karyawan takut untuk mengungkapkan ketidaksepakatan dengan manajer ? Aturan-aturan perusahaan seharusnya tak sangat setuju dilanggar. Tabel 3. Contoh itemitem yang mengungkap empat dimensi nilai budaya dari Hofstede.

2.Tabel 3. Ranking Kebudayaan Nasional Menggunakan Klasifikasi Hofstede Negara Power Distance Uncertainty Individualism Masculinity avoidance 36 34 27 12 37 24 5 21 41 12 20 12 51 5 28 31 12 29 47 1 3 49 41 45 31 47 19 23 52 7 16 46 18 35 38 40 24 12 34 40 26 22 2 18 8 26 4 38 49 46 9 42 52 17 10 15 3 30 53 37 47 21 24 12 19 7 25 22 44 36 32 4 13 6 47 51 39 30 23 20 16 2 22 27 24 46 11 48 50 40 13 47 35 9 9 18 43 18 30 20 35 7 29 4 7 1 41 25 6 51 52 17 25 34 Wilayah Afrika 22 Timur Wilayah Afrika Barat 10 Wilayah Arab 7 Argentina 35 Australia 41 Austria 53 Belgia 20 Brasil 14 Kanada 39 Chili 24 Kolombia 17 Costa Rica 43 Denmark 51 El Salvador 18 Ekuador 8 Finlandia 46 Perancis 15 Jerman barat 43 Inggris 43 Yunani 27 Guatemala 3 Hongkong 15 Indonesia 8 India 10 Iran 29 Irlandia 49 Israel 52 Italia 34 Jamaica 35 Jepang 33 Korea Selatan 27 Mal sia 1 Meksiko 6 Belanda 40 Norwegia 47 Selandia Baru 50 Pakistan 32 Panama 2 .

sementara yang rendah pada dimensi ini lebih memfokuskan pada masa kini dan lampau. Jadi ketiga dimensi nilai ini nampaknya universal. dan penguasaan (mastery). individualisme afektif. Hofstede sendiri (1991) menerima kesimpulan ini. kelompok ahli yang menamakan dirinya sebagai penghubung kebudayaan Cina tersebut menemukan kenyataan bahwa dimensi individualisme versus kolektifisme. Tetapi dimensi nilai penghindaran ketakpastian nampaknya tidak universal sebab tak ditemukan pada budaya Cina. Schwartz mengkategorikan nilainilai itu ke dalam 7 dimensi nilai yaitu pengarahan pada sosial (social concern). Tiap-tiap dimensi nilai mengandung aspek-aspek nilai tertentu. maskulinitas versus feminitas dan jarak kekuasaan (power distance) juga berlaku pada masyarakat Cina. Hofstede sendiri secara terbuka mengakui bahwa tak ada studi yang dapat diharapkan untuk secara keseluruhan bebas dari nilai. harmoni. individualisme intelektual.3 Kesamaan Faktor-Faktor Yang Diperoleh Chinese Culture Connection dan Hofstede Chinese Culture Connection Persatuan (Integration) Kemanusiaan (humanheartedness)kerja konfusianisme Dinamisme Disiplin moral ----------- Hofstede Kolektifisme Maskulinitas --Jarak kekuasaan yang lebar Penghindaran ketakpastian Analisis terakhir dari Schwart mengemukakan bahwa bahwa konsep individualisme dari Hofstede dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu: "affective individualism" dan Intelectual individualism". Sementara mereka justru menemukan satu dimensi nilai yang tidak berlaku universal tetapi menjadi karakteristik budaya Cina yaitu Confucian work dynamism. tetapi lebih menyukai suatu nama yang berbeda untuk dimensi kelima itu. Hofstede menganggap bahwa nilai-nilai konfusianisme dikelompokkan ke dalam dimensi nilai yang menekankan perspektif jangka panjang. kohesivisme. .Peru Filipina Portugal Singapura Afrika Selatan Spanyol Swedia Swiss Taiwan 22 3 24 13 35 31 47 45 29 9 44 2 53 39 12 49 33 26 45 31 34 40 16 20 10 14 43 37 11 45 28 13 37 53 4 32 Sekelompok peneliti yang menyebut dirinya sebagai Penghubung Kebudayaan Cina (the Chinese Culture Connection) (1987) meneliti kemungkinan bahwa studi Hofstede dicemari oleh nilai-nilai barat. Tabel 3. Dalam teorinya yang terakhir. Menanggapi hasil penelitian ini. Dengan menggunakan sampel orang-orang Cina. hierarki.

sehingga dapat dikategorikan: (1) Horizontal collectivism (H-C) adalah pola kebudayaan dimana individuindividu melihat dirinya sebagai suatu aspek dari kelompok. otoritas. keadilan sosial. kesamaan (equality). Masing-masing dari pola ini sesuai dengan pola-pola kebudayaan yang diidentifikasikan oleh Fiske (1992). individu dipandang setara (equal) dalam statusnya dengan orang lain. membantu. kebijaksanaan. aturan sosial. Nilai kesetaraan (equality) ditekankan. (1995) telah menambah dua dimensi dari budaya individualisme-kolektifisme yaitu vertikal dan horizontal. beriman/saleh. Social concern mencakup aspek dunia yang damai. pengaruh dan daya sosial. Sementara individualisme intelektual mencakup aspek keingintahuan (curious). mandiri. Sementara Triandis serta Singelis. wawasan yang luas. Konsep diri berhubungan erat dengan dan saling tergantung dengan orang-orang lain dalam kelompoknya (in-group). Dimensi nilai harmoni mencakup aspek-aspek dunia yang indah. jujur. (4) Vertical individualism (V-I) adalah suatu pola kebudayaan dimana individuindividu memandang diri sebagai otonom dan rnengharapkan ketaksetaraan (inequality). Pengorbanan untuk kebaikan kelompok adalah sifat yang menonjol dari pola ini. memelihara kesan di depan umum (publik) dan timbalbalik dalam memberi keuntungan/kebaikan. bertanggung jawab. dan memilih tujuan yang dimilikinya. dan kreativitas. kesetiaan. sopan. khususnya pengakuan terhadap perbedaan status sosial. Ketaksetaraan (inequality) diterima. Berdasarkan analisisnya Schwart justru menemukan hal yang berlawanan dengan hasil penelitian Hofstede. Kepercayaan diri (self reliance) terutama ditekankan dalam pola ini. disiplin diri. Konsep diri berhubungan erat dengan dan saling tergantung dengan orang-orang lain dari kelompoknya (in-group). dan menerima bagiannya. kesatuan dengan alam dan melindungi lingkungan. Dimensi nilai hierarki mencakup aspek-aspek rendah hati. kebebasan. dkk. yaitu bahwa yang memiliki nilai individualisme terkuat justru orang-orang Eropa daripada orang-orang Amerika Utara. ambisi. kesenangan (pleasure) dan menikmati kehidupan (enjoying life). Pelajar Amerika Utara yang menjadi sampelnya mendapat skor lebih tinggi pada dimensi hierarki dan penguasaan. kesuksesan. bersih. Kehidupan yang bervariasi (varied life). yang dilihatnya sama dengan dirinya. menghormati tradisi. Fiske mengembangkan suatu kerangka kerja bagi tipetipe hubungan sosial yang universal yang mempersoalkan pada bagaimana masyarakat .Individualisme afektif mencakup aspek kehidupan yang menakjubkan (exciting life). (2) Vertical collectivism (V-C) adalah suatu pola kebudayaan dimana individu-individu memandang dirinya sebagai suatu aspek dari kelompok. pertengahan (moderat). (3) Horizontal individualism (H-I) adalah suatu pola kebudayaan yang ditandai dengan konsep diri yang otonom. keamanan bangsa. tetapi anggotaanggota dari in-group berbeda satu dengan lainnya. Dimensi nilai kohesivisme mencakup aspek-aspek keamanan keluarga. kesejahteraan. Yang terakhir dimensi nilai penguasaan (mastery) mencakup aspek-aspek mampu/cakap. dan orang-orang tak melihat tiap-tiap orang lain adalah sama. berani. patuh. memberi maaf. Orientasi budaya ini adalah melakukan suatu tugas dengan balk dalam kompetisi adalah aspek penting dari pola ini. menghormati orang tua.

sementara komunitarisme mengacu pada orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai bagian Sari kelompok. la membagi 5 orientasi hubungan yang mengarahkan pada cara-cara dimana orang menyesuaikan satu sama lainnya. Argentina. Equality matching. Jerman. dimana sumber-sumber didistribusikan secara sama/setara. Ia melakukan penelitian selama lebih dari 10 tahun lamanya dengan menyebar kuesioner pada lebih dari 15. Misalnya kontrak bisnis dipegang sangat ketat dan orang meyakini "kesepakatan adalah kesepakatan". sumber-sumber didistribusikan menurut kontribusi dari tiap-tiap anggota kelompok. Uni Sovyet. Sebaliknya dalam budaya dengan dimensi partikularisme yang tinggi. Orientasi ini dapat dipertimbangkan menjadi dimensi budaya yang analog dengan dimensi Hofstede. anggota-anggota kelompok membagi sumber-sumber yang dimiliki kelompok menurut ranking. Trompenaar menemukan Amerika. Trompenaar menemukan negara-negara seperti Amerika. Teori tentang nilai budaya yang akhir-akhir ini diakui besar pengaruhnya selain Hofstede adalah teori nilai yang disusun Trompenaar yang berasal dari Belanda. vertical collectivism mencakup communal sharing dan authority ranking. Individualism versus communitarism Dimensi yang dikemukakan Trompenaar ini mirip dengan dimensi individualisme versus kolektifisme dari Hofstede. Uni Sovyet.mendistribusikan sumber-sumber yang ada (resources). Communal sharing membagi sumber-sumber menurut kebutuhan. dimana individu yang menduduki peringkat tinggi mendapatkan pembagian yang lebih banyak. (1995) menyimpulkan bahwa horizontal collectivism mencakup communal. dkk. dan China adalah tinggi pada dimensi partikularisme. Penyusunan teorinya didasarkan pada orientasi nilai dan orientasi relasi/hubungan yang telah dikenalkan oleh sosiolog Talcott Parsons. dan vertical individualism mencakup market pricing dan authority ranking.000 manajer dari 28 negara. Ia juga mempertimbangkan sikap yang mengarah pada waktu dan lingkungan. kontrak legal hampir selalu dimodifikasi menyesuaikan dengan keadaan bahkan hampir selalu merubah cara-cara dimana kesepakatan itu dilaksanakan. Sedangkan partikularisme adalah keyakinan bahwa lingkungan sekitar mendiktekan bagaimana ide-ide dan praktek-praktek seharusnya diterapkan. Universalisme adalah keyakinan bahwa ide-ide dan praktek-praktek dapat diterapkan dimana saja tanpa modifikasi. Dan Market pricing. T rompenard Cultural Dimentions (Teori Nilai dari Trompenaar). Swedia dan Inggris memiliki dimensi universalisme yang tinggi.sharing dan equality matching. Sementara negara-negara seperti Venezeula. . horizontal individualism mencakup market pricing dan equality mathing. Dalam budaya dengan dimensi universalisme yang tinggi ditandai adanya fokus pada aturan-aturan formal daripada hubungan. Mereka merasa bahwa aturanaturan diterapkan tanpa mempedulikan situasi. Indonesia. Authority ranking. Australia. Universalism versus Particularism. Sehingga mereka lebih bersedia untuk melenturkan aturan dan membantu teman-teman mereka. Selanjutnya akan dibahas secara lebih rind tentang dimensi-dimensi nilai dari Trompenaar tersebut. Cekoslowakia. fokus lebih pada hubungan dan kepercayaan daripada aturanaturan formal. Singelis. 4. Yang dimaksud dengan individualisme di sini adalah orangorang yang menganggap diri mereka sebagai individu yang otonom.

Perubahan status adalah hal yang biasa dan biasanya mereka bertingkah laku secara berbeda tergantung pada peran publik mereka. Budaya netral (neutral culture) adalah suatu budaya dimana emosi selalu dalam pengontrolan. Jerman dan Spanyol. Padahal beberapa tahun sebelumnya menunjukkan nilai yang rendah pada individualisme. sehingga perilakunya nampak kaku atau seolah-olah menjauhkan diri. Belanda. berbicara dengan keras ketika mereka keheranan. Trompenaar menekankan bahwa sifatsifat budaya itu sangat kompleks. Specific versus Diffuse. Kadang-kadang perubahan itu sedemikian sangat cepatnya lebih daripada yang apa yang disadari orangorang. Sementara budaya emosional (emotional culture) adalah budaya dimana emosiemosi diekspresikan secara terbuka dan spontan/alami. karena masuk ke dalam ruang publik akan membuka masuk ke dalam ruang pribadi juga. dinamis dan bahayanya overgeneralisasi. Orang-orang tidak dengan segera mengundang orang-orang ke dalam ruang publik yang terbuka. Neutral versus Emotional. orang-orang biasanya diundang memasuki ruang publik yang terbuka. maka akan mudah masuk ke dalam ruang pribadi juga.dan Meksiko memiliki individualisme yang tinggi. dan Swedia. Budaya khusus (specific culture) adalah budaya dimana individu-individu memiliki rang publik yang luas yang siap mereka bagi dengan orang-orang lain dan ruang pribadi yang sempit yang mereka jaga secara ketat dan dibagi hanya dengan teman-teman akrab. Cina. Orang-orang di budaya ini selalu tertawa Mbar. Dalam budaya ini. individu-individu dalam budaya ini selalu terbuka dan ekstrovert. Sementara budaya kabur (diffuse culture) adalah budaya dimana baik ruang publik dan ruang pribadi adalah sama ukurannya dan individu-individu menjaga ruang publik mereka secara hati-hati. Misalnya Jepang dan Inggris. Ini berarti bahwa telah terjadi perubahan nilai-nilai budaya di kedua negara ini. Misalnya temuan terakhir tentang orang-orang Thailand menunjukkan mereka sangat individualistis (mungkin bukti meningkatnya semangat wiraswasta). Dengan kata lain. Orang-orang di budaya ini mencoba untuk tidak memperlihatkan perasaan mereka. Amerika. sehingga negara ini mungkin telah berpindah dari nilai-nilai budaya kolektif atau komunitarisme ke nilai yang lebih individualistik. Misalnya Inggris. Misalnya Venezuela. dan memberi salam dengan antusias. Sejumlah formalitas dipertahankan. Achievement versus Ascription Budaya prestasi (achievement culture) adalah budaya dimana orang-orang memberi status berdasar pada sejauhmana kualitas (baiknya) mereka menampilkan fungsi mereka. Misalnya Meksiko sekarang menjadi bagian dari NAFTA dan ekonomi global. kehidupan kerja dan kehidupan pribadi mereka sangat berkaitan atau tak dapat dipisahkan. Temuan Trompenaar ini cukup menarik karena berbeda dengan temuan Hofstede yang justru menggolongkan Meksiko dan Argentina pada dimensi kolektif atau komunitarisme. dan ada pemisahan yang tajam antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.. mereka bertindak dengan mengendalikan emosi dan mempertahankan ketenangan. Misalnya Meksiko. karena suatu saat jika mereka ada di dalam ruang publik. dan Swedia. Dalam budaya ini. . Trompenaar juga menemukan negara-negara seperti Cekoslowakia dan Uni Sovyet sekarang menjadi sangat individualistis (bandingkan masa lalu dengan paham komunisme yang lebih kolektif orientasinya). Individu-individu dalam budaya ini biasanya tidak langsung dan introvert.

Sementara di Perancis dan Belgia. seorang yang telah bekerja di perusahaan selama 40 tahun mungkin akan didengarkan secara seksama karena penghormatan orang kepadanya dengan melihat usianya dan lamanya di perusahaan itu. Misalnya peneliti bidang kedokteran yang menemukan metode penyembuhan salah satu penyakit kanker yang jarang yaitu kanker tulang. Dalam budaya dengan pendekatan sequential adalah umum bahwa orang-orang cenderung untuk melakukan hanya satu aktifitas pada satu waktu. dan percaya bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah perbuatan mereka sendiri. Sequential time versus synchronous time. Bagi orang-orang dalam budaya synchronous time adalah hal biasa akan menghentikan apa yang mereka lakukan untuk bertemu dan menyambut individu-individu yang datang ke kantor mereka. The Environment (Lingkungan). dan Cina. Misalnya. Trompenaar juga menyelidiki cara-cara dimana orang-orang menyesuaikan dengan lingkungan mereka. masa depan adalah lebih penting daripada masa lalu atau sekarang. sehingga sikap fleksibel. dan Spanyol. Sementara ascription culture memberikan status berdasar pada usia. Di samping dari lima orientasi hubungan itu. masa sekarang adalah yang terpenting. Hal lain yang berkaitan dengan waktu yang berbeda adalah sejauhmana budaya berorientasi pada waktu kini dilawankan dengan orientasi waktu yang akan datang. Hal ini yang menyebabkan sikap dominan mengarah pada lingkungan dan tidak senang ketika mendapatkan sesuatu di luar kendali mereka. Contoh negara-negara yang termasuk dalam achievement culture adalah Austria. Amerika. Demikian pula.Sedangkan ascription culture adalah budaya dimana status diatribusikan berdasar pada siapa atau apakah orang itu. dan Inggris. Budaya prestasi memberikan status tinggi kepada mereka yang prestasinya tinggi. Di negara seperti Amerika. Sementara yang termasuk ascription cultures misalnya Venezeula. yang ditandai oleh ciri adanya kesediaan untuk kompromi dan mempertahankan harmoni dengan . Swedia. Perhatian khusus semestinya diarahkan pada bagaimaan mereka memiliki keyakinan dalam mengendalikan atau mengontrol hasil (inner directed) atau membiarkan sesuatu di luar diri mengendalikan dirinya (outer directed). tiga periode waktu itu diperkirakan setara/sama pentingnya. mempertahankan janji dengan ketat. seorang individu yang mempunyai teman yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan itu mungkin akan diberi status berdasar dengan siapa is kenal. itali. Misalnya manajer yang memiliki keyakinan dalam mengendalikan lingkungannya akan memilih pilihan pertama mereka. Sementara dalam budaya dengan pendekatan synchronous. gender. janji adalah kirakira dan kemungkinan dirubah pada saat tertentu. Namun di negara-negara seperti Venezeula. Indonesia. perbedaan budaya juga didasarkan pada perspektif tentang waktu. manajer-manajer merasa sangat yakin bahwa mereka menguasai nasib mereka sendiri. Di Amerika. dan schedule (penjadwalan) pada umumnya di bawah kepentingan hubungan dan dibolehkan untuk melakukan interupsi atas skedul itu. dan menunjukkan pilihan yang kuat untuk mengikuti rencana-rencana sebagaimana yang telah ditetapkan dan tidak menyimpang dari rencana itu. Trompenaar mengidentifikasikan dua pendekatan yang berbeda yaitu sequential dan synchronous. dan Jerman. orang cenderung untuk melakukan Iebih dari satu aktifitas pada satu waktu. Sebaliknya beberapa negara Asia memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu bergerak atau berubah secara alami dan seseorang seharusnya "menempuhnya dengan mengalir". atau koneksi sosial. Indonesia.

alam adalah penting. Hongkong (69 %). Tabel 3.Yunani (63 %). Australia (81 %). Belgia (76 %).5 Pengelompokan Budaya berdasar Penelitian Troornpenaar Kelompok Anglo Hubungan Individualism Communitarism Specifik relationship Diffuse relationship Universalism Particularism Neutral relationship Emotional relationship Achievement Ascription Kelompok Asia Hubungan Jepang Cina X X X X X X X X Indonesi Hongkon Singapura a g X X X X X X X X X X X Amerika X X Inggris X X X X Individualism Cornmunitarism X Specifik relationship Diffuse relationship X Universalism Particularism X Neutral relationship X Emotional relationship Achievement Ascription X . Contoh negara-negara yang menjadi sampel penelitian Trompenaar yang memiliki keyakinan apa yang terjadi pada mereka adalah akibat tindakan mereka sendiri : Amerika (89 %). Indonesia (73 %). dan Cina (35 %). Jepang (56 %). Swedia (84 %). Singapore (58 °/0).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful