P. 1
Pemikiran Politik Hasan al-Banna

Pemikiran Politik Hasan al-Banna

|Views: 504|Likes:
Published by Ridwan Rachid
Hasan al-Banna adalah salah satu tokoh pergerakan besar Islam. Jama’ah-nya yang bernama Ikhwanul Muslimin memberikan pengaruh yang banyak di berbagai penjuru dunia muslim. Zabir Rizq menyebutkan bahwa al-Banna “Sangat pantas didaulat sebagai pembaru abad ke-14 Hijriyah.” Tokoh Islam ini, lanjut Rizq dalam bukunya al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna, adalah pemimpin rakyat yang sampai saat ini belum seorang pun mampu menandinginya.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pemikiran politik Hasan al-Banna. Bagaimana ia menuangkan ide dan gagasannya, sehingga bisa mewujudkan organisasi Islam yang berpolitik dengan semangat pembaruan pada zamannya dan menjadi cermin dan rujukan pada masa setelahnya.
Hasan al-Banna adalah salah satu tokoh pergerakan besar Islam. Jama’ah-nya yang bernama Ikhwanul Muslimin memberikan pengaruh yang banyak di berbagai penjuru dunia muslim. Zabir Rizq menyebutkan bahwa al-Banna “Sangat pantas didaulat sebagai pembaru abad ke-14 Hijriyah.” Tokoh Islam ini, lanjut Rizq dalam bukunya al-Imam as-Syahid Hasan al-Banna, adalah pemimpin rakyat yang sampai saat ini belum seorang pun mampu menandinginya.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pemikiran politik Hasan al-Banna. Bagaimana ia menuangkan ide dan gagasannya, sehingga bisa mewujudkan organisasi Islam yang berpolitik dengan semangat pembaruan pada zamannya dan menjadi cermin dan rujukan pada masa setelahnya.

More info:

Published by: Ridwan Rachid on Apr 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2014

pdf

text

original

Tugas Mata Kuliah Pemikiran Politik Islam

"Pemikiran Politik Hasan al-Banna"

Oleh: Riduwan NPM: 2009130011

Fakultas Ilmu So sial Ilmu Politik Universitas Mubammadiyab Jakarta 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya, sehingga makalah berjudul "Pemikiran Politik Hasan al-Banna" ini dapat selesai pada waktu yang telah ditentukan.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Tengah Semester yang diberikan oleh dosen mata kuliah "Pemikiran Politik Islam" di Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Di samping itu juga sebagai referensi akademik dalam menambah khazanah keilmuan politik.

Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bimbingan, pengarahan, nasehat maupun dukungan moral.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dan solutif dari semua pembaca sangat diharpakan untuk kebaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membutuhkan.

Jakarta, 2011

Penyusun

DAFTAR 151

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II BIOGRAFI SING KAT HASSAN AL-BANNA 3

2.1. Riwayat Hidup 3

2.2. Karya- Karya Tulis 6

BAB III PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA 7

3.1. Kerangka Pemikiran Politik 7

3.2. Pandangan Tentang Penerapan Syariat Islam 15

3.3. Pemikiran Tentang Relasi Agama dan Negara 17

3.4. Konsep Bernegara dalam Risalah Nizhamul Hukm 20

3.5. Lima Babak Kebangkitan Umat 29

BAB IV KESIMPULAN 32

DAFTAR PUSTAKA 33

ii

BABI PENDAHULUAN

Islam sebagai agama universal memiliki kandungan ajaran dan konsep yang integral. Islam sebagai way of life merupakan peradaban yang tidak mendikotomikan dunia dan akhirat, jasad dan ruh, profan dan sakral, wadah dan isi, materi dan nilai. Islam menyentuh seluruh lapisan dan bidang

kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, politik, dengan konsepsi umum yang kemudian melahirkan banyak interpretasi. Tafsiran antar para pemikir beragam macamnya, termasuk dalam hal pemikiran

politik.

Politik merupakan istilah yang dipergunakan untuk konsep pengaturan dalam masyarakat, membahas soal-soal yang berkenaan dengan masalah, bagaimana sebuah pemerintah dijalankan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, agar terwujud masyarakat atau negara yang baik. Dengan

demikian, politik mengandung unsur-unsur aktivitas pemerintah, masyarakat, dan hukum-hukum yang menjadi sarana pengaturan dalam negara.'

Islam mendudukan politik sebagai sarana penjagaan urusan umat (ri'ayah syu-iin al-ummah).

Islam dan politik tidak bisa dipisahkan, karena Islam tanpa politik akan melahirkan terbelenggunya kaum muslimin yang tidak memiliki kebebasan dan kemerdekaan melaksanakan syari'at Islam. Begitu pula politik tanpa Islam, hanya akan melahirkan masyarakat yang mengagungkan kekuasaan, jabatan, materi, dan duniawi saja, kosong dari aspek moral dan spiritual. Oleh karena itu kedudukan politik dalam Islam sangat urgen, mengingat kemerdekaan dan kebebasan melaksanakan syari'at Islam dapat diwadahi oleh politik.

Secara teori, politik Islam merupakan suatu kegiatan politik yang sangat terkait dengan

landasan, dimensi-dimensi dan nilai-nilai yang berdasarkan pada ajaran dan syari'at Islam. Artinya

hubungan dengan kekuasaan atau berbagai kepentingan manusia yang diilhami dengan petunjukpetunjuk Islam yang bersumber pada Al-Our'an." Karena pada prinsipnya Islam adalah agama yang tujuan utamanya menegakkan dan membangkitkan kembali faham tauhid dengan segala kemurnian yang bersumber pada AI-Qur'an dan As-sunnah.'

Pemikiran Politik dalam Islam berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Beberapa nama pemikir muslim yang menjadi rujukan dalam pemikiran politik diantaranya AI-Mawardi (w.l0S8

M), Ibn Taimiyyah (w.1328 M) Ibn Khaldun (w.1406 M), Ibn Abd al-Wahhab (w.1793 M), Jamaluddin ai-Afghani (w.1897 M), dan Muhammad Abduh (w.190S M). Selain beberapa nama itu, tokoh

pergerakan Islam yang tidak kalah penting adalah Hasan al-Banna. Beliau berasal dari tanah Mesir dan memiliki pemikiran yang menarik dalam bidang politik.

1 Abdul Muin Salim, Konsepsi Kekuasaan Politik Dalam AI-Qu'ran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), 34 2 Abdul Aziz, Politik Islam Politik (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), 17.

3 Zainuddin, Pemikiran Politik Islam (Jakarta: Pensil, 2004), 56.

1

Menurut Muhammad Abdul Qadir Abu Faris dalam bukunya "Fikih Politik Menurut Imam Hasan al-Banna", orang yang membaca apa yang ditulis oleh Hasan al-Banna apa yang disampaikan dalam berbagai kesempatan ceramah umum maupun khusus, penguasaannya terhadap berbagai disiplin ilmu dan bahkan menghafalnya, maka akan memahaminya dengan mudah, bahwa Hasan alBanna adalah seorang ulama yang mumpuni dalam memahami nash-nash syar'i. Beliau juga

mendalami berbagai persoalan zamannya di dunia Arab dan Islam, mengikuti peristiwa-peristiwa

dunia, dan memahami hakikat peradaban barat yang merupakan peradaban yang terfokus pada kenikmatan dan nafsu svahwat."

Hasan al-Banna adalah salah satu tokoh pergerakan besar Islam. Jama'ah-nya yang bernama Ikhwanul Muslimin memberikan pengaruh yang banyak di berbagai penjuru dunia muslim. Zabir Rizq menyebutkan bahwa al-Banna "5angat pantas didaulat sebagai pembaru abad ke-14 Hijrivah." Tokoh Islam ini, lanjut Rizq dalam bukunya ai-Imam as-5yahid Hasan al-Banna, adalah pemimpin rakyat yang sampai sa at ini belum seorang pun mampu rnenandinginva."

Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas mengenai pemikiran politik Hasan al-Banna.

Bagaimana ia menuangkan ide dan gagasannya, sehingga bisa mewujudkan organisasi Islam yang

berpolitik dengan semangat pembaruan pada zamannya dan menjadi cermin dan rujukan pada masa setelahnya.

4 Lihat http://www.eramuslim.com/ma n haj -da kwa h/fiki h-siyasi/fiki h-siya si-da n-kred ibi 1 itas-hasa n-a 1- banna.htm

5 Zabir Rizq. Hasan al-Banna, hal.viii.

2

BAB II

BIOGRAFI SINGKAT HASAN AL-BANNA

2.1. RIWAYAT HIDUP

Hasan al-Banna adalah pendiri dan pimpinan organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, lahir di distrik Mahmudiyah, Mesir pada 17 Oktober 1906 bertepatan dengan 1323 H. la dibesarkan oleh keluarga yang terkenal dengan keilmuannya, pendidikannya, keagamaannya, kava dan dihormati. Ayahnya Syekh Ahmad bin Abd. AI-Rahman bin Muhammad al-Banna al-Sa'ati. la adalah seorang muslim yang taat. Pada masa kanak-kanak ia dididik langsung oleh sang ayah yang selalu mendidik dan mengajarkan d AI-Qur'an, had its, fiqih, bahasa dan ajaran tasawuf."

Ketika usia dua belas tahun, Hasan al-Banna masuk Sekolah Oasar Negeri. Waktu itulah Hasan al-Banna sebuah kelompok Islam "Himpunan Perilaku Moral". Himpunan ini mewajibkan kepada setiap anggotanya untuk mengikuti moralitas Islam dengan seksama dan menjatuhkan hukuman pada yang melanggar.

Bagi Hasan al-Banna yang paling berpengaruh dalam kehidupannya adalah tarekat sufi Hasafiah. la tertarik, karena tarekat ini berpegang teguh pada kitab suci dalam segala ritual dan upacaranya. Ikatan Banna dengan tarekat ini, membuatnya merasakan betapa penting hubungan antara pemimpin dengan pengikutnya. Oalam memoar (catatan harlan), ia menguraikan bagaimana

cara seorang guru pertamanya mengajarkan padanya cara menilai ikatan spiritual dan emosi yang

dapat tumbuh antara guru dengan murid. Berkat hubungan dengan sufi, ia senantiasa menghargai tasawuf, selama tidak mengandung bid'ah yang menurut sebagian orang mengotori praktek dan keyakinan sufi. Tarekat Hasafiyah ini, paling banyak mempengaruhi kehidupan al-Banna.'

Pada usia empat belas tahun, ia dimasukkan ayahnya ke Sekolah Guru di Oamanhur.

Kegeniusannya mulai tampak di bangku sekolah ini. la selalu melampaui teman sekelasnya, karena disaat lulus ujian terakhir ia memegang rangking pertama. Pengetahuannya sangat luas, kemampuannya untuk menyelesaikan masalah sangat tajam dan mempunyai kecakapan khusus dalam memimpin teman-temannya di kelas.

Oengan motivasi ayahnya dalam menghafal al-Qur'an, sehingga di usia 14 tahun juga ia berhasil menghafal al-Qur'an. Oi usia ke 16 tahun, ia melanjutkan studinya di sekolah tinggi Oarul Ulum Kairo, Mesir. Oi sini ia dikenal rajin, cerdas, tajam ingatan, dan mempunyai bakat jadi

. . 8

perrurnpm.

6 Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam, 35l.

7 Ali Rahmena, Para Perin tis Zaman Baru Islam (Bandung: Mizan, 1998), 129-130.

8 Herry Mohammad, dkk, Tokoh-Tokoh Yang Berpengaruh Pada Abad 20 (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), 202.

3

Oi kota besar itulah ia dikenalkan dengan Rasyid Ridha beserta gerakan Salafiyahnya. la sangat rajin membaca majalah AI-Manar. Melalui pembacaan itulah ia menyerap semangat pembaharuan Afghani dan Abduh. Masa itu, adalah masa kebangkitan Wahabi di Hijaz. Akan tetapi yang paling berpengaruh pada pembentukan pandangan Banna adalah karya-karya tulis Ridha tentang aspek-aspek politik, sosial, pembaharuan Islam, serta perlunya didirikan negara atau pemerintahan Islam dan diberlakukannya hukum Islam. Karena Islam dipandang sebagai agama yang sempurna dengan segala sistem yang dibutuhkan bagi kehidupan umat lslam."

Ketika usia 25 tahun ia menamatkan studinya di Oarul Ulum. Pada tahun 1927, diangkat kementrian pendidikan menjadi pengajar atau guru bahasa Arab untuk Sekolah Oasar di Isma'iliyah yang berlokasi dekat Terusan Suez, dan tempatnya tak jauh dari markas besar Suez canal company.

Oi sinilah Banna melihat adanya dominasi asing secara jelas. Manajer perusahaan, tentu orang Inggris

tinggal di rumah dan kawasan mewah. Sementara orang-orang Mesir banyak yang tinggal di gubukgubuk rnenvedihkan."

Tahun 1928 al-Banna mendirikan organisasi Ikhwanul Muslimin di Isma'iliyah (Mesir). Yang bertujuan untuk menyebarkan moral, amal baik, dan mempromosikan Islam sebagai respon terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam, khususnya Timur Tengah, yang berkaitan dengan

makin luasnya dominasi imperialisme Barat. Ikhwanul Muslimin meluncurkan perjuangannya untuk melawan dominasi asing." Ketika Menteri Pendidikan memindahkan Banna untuk mengajar di Kairo

tahun 1932, organisasi ini pun juga ikut pindah ke Kairo. Oari sinilah Ikhwanul Muslimin menyebar ke

seluruh Mesir dan menjadi organisasi nasional.

Pengaruh Ikhwanul Muslimun maupun misi publik, membawa Banna terlibat dalam politik

nasional. Oi tahun 1936 ini, ia menulis surat untuk raja, perdana menteri, dan penguasa Arab lainnya untuk mendorong mereka mempromosikan tatanan Islam. Oua tahun kemudian, Banna menyeru raja

untuk membubarkan partai-partai politik di Mesir. Karena partai-partai itu dianggap melakukan korupsi dan berdampak memecah belah negara." Ikhwanul Muslimin memfokuskan kegiatan pada

pembaharuan moral, sosial, dan condong menjadi organisasi politik melalui permusuhannya

terhadap pendudukan Inggris. Oi sam ping itu juga dukungannya kepada bangsa Palestina melawan zionisme. Ikhwanul Muslimun menganggap Palestina sebagai jantung dunia Arab pengikat orangorang Islam. Sejak terjadi pemogokan umum dan pemberontakan Palestina tahun 1936-1937, Ikhwanul Muslimun memberikan dukungan moral dan keuangan kepada bangsa Palestine."

Pada tahun 1948, Ikhwanul Muslimin ikut serta dalam peperangan Palestina melawan Israel dengan semangat yang tinggi dan cita-cita untuk syahid. Oleh karena itu, pemerintah semakin

9 Sjadzali, Islam dan Tata Negara, hal 147. 10 Rahmena, Para Perin tis Zaman, hal 133.

11 Afadlal, dkk, Islam dan Radikalisme Dilndonesia (Jakarta: LlPI Press, 2005), hal 56. 12 Rahmena, Para Perin tis Zaman, hal 133.

13 Mortimer, Islam dan Kekuasaan (Bandung: Mizan, 1984), hal 237.

4

khawatir dengan keterlibatan Ikhwanul Muslimin. Pada akhir tahun ini Perdana Menteri Mesir Fahmi Nuqrashi Pasha, mengeluarkan keputusan tentang pembubaran organisasi Ikhwanul Muslimin.

Kemudian pemerintah menyita kekayaan organisasi itu dan menangkap sebagian besar anggotanya, kecuali al-Banna." Dengan peristiwa yang dilakukan pemerintah terhadap Ikhwanul Muslimin itu, tiga minggu kemudian anggota Ikhwan muda membunuh perdana menteri Nuqrashi Pasha. IS

Dengan terbunuhnya Nuqrashi di tangan anggota Ikhwan, pemerintah ingin membalas dendam terhadap Ikhwanul Muslimin, sehingga pemerintah mengutus lima orang dari staf intelejen rahasia untuk membunuh Banna. Mereka berhasil membunuhnya di Kairo, depan kantor pusat pemuda Ikhwanul Muslimin (Dar Asy-Syubban al-Muslimin) pada tanggal 12 Februari 1949 M/1368 H.

Banna terluka parah, kemudian dibawa ke rumah sa kit untuk mendapatkan perawatan. Akan tetapi pihak pemerintah mengeluarkan perintah yang sangat keras agar pihak rumah sa kit membiarkan mengucurkan darah sampai mati. Akhirnya Banna menyerahkan ruhnya keharibaan sang penciptanya dalam keadaan SUci.16

14 Fathi Yakan, Revolusi Hasan AI-Banna (Jakarta: Harakah, 2002), hal 15. IS Mortimer, Islam dan Kekuasaan, hal 239.

16 Fathi Yakan, Revolusi Hasan AI-Bann, hal 7.

5

2.2. KARY A-KARY A ruus

Meskipun Hassan al-Banna meninggal dunia, akan tetapi ia banyak meninggalkan karya-karya

yang dihasilkan sewaktu hidupnya. Karya-karyanya terkenal di dunia Islam sampai sekarang.

Diantara karya-karya tulis yang ditinggalkan adalah:

1) Ahaditsul jum'ah (Pesan Setiap Jum'at)

2) Mudzakkiratud Dakwah wad-Da'iah (Memoar atau Catatan Harian Buat Dakwah dan Da'i)

3) AI-Ma'tsurat (Do'a-Do'a)

Karya-karyanya dalam bentuk kumpulan pesan (Majmu'atur Rasail) adalah:

1) Da'watuna (Dakwah Kita)

2) Nahwa Nur (Menuju Kecerahan)

3) lIa Asy-Syabab (Kepada Para Pemuda)

4) Bainal Amsi wal Yaum (Antara Kemarin Dan Hari ini)

5) Risalatul jihad (Pesan Jihad)

6) Risalatut Ta'alim (Pesan-Pesan Pendidikan)

7) AI-Mu'tamar al-Khamis (Konferensi Kelima)

8) Nizhamul Usar (Sistem Kelompok-Kelompok Keluarga)

9) AI-'Aqaid (Akidah)

10) Nizhamul Hukm (Sistem Pemerintahan)

11) AI-Ikhwan Tahta rayatil Qur'an (Ikhwan Di bawah Bendera AI-Qur'an)

12) Da'watuna fi Thaurin Jadid (Dakwah Kita Dalam Masa Baru)

13) lIa ayyi Syai'in Nad'un Nas (Ke arah Mana Kita Menyeru Manusia)

14) An-Nizham al-Iqtishadi (Sistem Perekonornian]."

17 Ibid, hal 13.

6

BAB III

PEMIKIRAN POLITIK HASAN AL-BANNA

3.1. KERANGKA PEMIKIRAN POUllK

Hassan al-Banna (1906-1949) adalah seorang tokoh yang fenomenal. Karena banyak pakarpakar dalam studi Islam kontemporer menilai dirinya sebagai pelopor dari gerakan-gerakan Islam modern. Hal ini dilihat dari pergerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikannya, pemikiran-pemikiran dan sistem pengkaderan dari gerakan ini banyak diadopsi oleh berbagai organisasi dan gerakangerakan dan organisasi Islam kontemporer misalnya parta FIS di Aljazair, Partai Keadilan di Indonesia, lilT di Amerika, MSA ( Muslim Student Association) di berbagai perguruan tinggi di Amerika, PAS di Malaysia, Partai Refah di Turki, demikian pula dengan cabang-cabang Ikhwanul Muslimin di negara lain, seperti di Yordania, dan di Sudan. Kebanyakan dari gerakan-gerakan terse but menunjukkan eksistensi pada wilayah politik kenegaraan, hal ini tidak bisa dilepaskan dari konsep pemikiran gerakan terse but (Ikhwan) dimana konsep ini sebagian besarnya dicanangkan oleh pendiri gerakan terse but (Hassan al-Banna), meskipun dalam perkembangannya terjadi beberapa perubahan dalam pemikiran gerakan ini. Gerakan Ikhwanul Muslimin ini sendiri diakui telah berhasil membendung arus sekularisme di Mesir, meskipun pada akhirnya gerakan ini dihancurkan pemerintah Mesir pada tahun 1960-an namun ketika gerakan ini dihancurkan, justru memberi kesempatan bagi para tokohnya yang

keluar dari negara Mesir untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran ini di negara tempat mereka

bernaung, dan hasilnya dapat dilihat dari kesamaan-kesamaan pemikiran yang tercermin pada gerakan-gerakan politik yang telah disebut sebelumnya, pemikiran yang menyatukan antara konsep Islam dan negara (din wa daulah).

Mesir dan dunia Islam, pada masa kecil Hassan al-Banna tengah mengalami pergolakan yang luar biasa, hal terse but secara tidak langsung telah mempengaruhi pola pikir dan pandangan beliau mengenai politik kenegaraan. Adapun beberapa kejadian terse but adalah :

a. Revolusi Nasional Mesir pad a Tahun 1919.

Dimana pada masa terse but beliau termasuk pelajar yang paling dikenal di kalangan

demonstran. Beliau mengatakan:

"Meski sibuk bergelut dengan dunia tasawuf dan ibadah, aku berkeyakinan bahwa berbakti kepada negara merupakan jihad yang tidak bisa ditawar lagi. Maka sesuai dengan akidah dan kapasitasku sebagai pelajar - dia adalah tokoh pelajar terkemuka- aku bertekad akan melaksanakan peranan yang nyata dalam pergerakan-pergerakan ini"lS.

18 Jumah Amin Abdul Aziz, Tarikh AI-Ikhwan AI-Muslim un 1: Masa Pertumbuhan dan Profit sang Pendiri, Era Intermedia, hal 34

7

b. Runtuhnya Khilafah Islamiyah Tahun 1924.

Dimana dalam usaha-usaha untuk membangun khilafah Islamiyah al-Banna ikut serta di dalamnya. Dalam Tarikh AI-Ikhwan AI-Muslimun Dr Muhammad Immarah mengatakan it Setelah usaha dan harapan untuk membangun kembali khilafah Islamiyah pupus .. para ulama dan pemikir ternama pada 1345 H / 1927 M. berinisiatif untuk menggelar konferensi di Kairo yang menghasilkan berdirinya jam'iyah Asy-Syubban AI-Muslimiin (Organisasi Pemuda Muslim) dan pada tahun berikutnya tahun 1346 H. / 1928 M., Imam Syahid Hassan al-Banna mendirikan Jamaah AI-Ikhwan AI-Muslimun sebagai sebuah organisasi massa pertama bagi tren penghidupan dan pembaharuan Islam masa modern. Imam al-Banna lah yang turut serta dalam konferensi pendirian Asy-Syubbanul Al-Muslirnun."

Mengenai khilafah ini al-Banna menyatakan: it AI- Ikhwan AI-Muslimun berkeyakinan bahwa khilafah adalah simbol persatuan Islam sekaligus lam bang persaudaraan antar berbagai negara Islam. Khilafah adalah sebuah syiar Islam yang harus dipikirkan keberadaannya serta diperhatikan oleh kaum Muslimin. Khilafah banyak sekali berhubungan dengan hukum-hukum dalam ajaran agama Allah. Oleh karenanya para sahabat Nabi SAW lebih mendahulukan urusan khilafah daripada mengurus jenazah Nabi SAW dan menguburkannya sehingga mereka menyelesaikan masalah dalam kekhilafahan ini. Berbagai hadits yang menceritakan tentang wajibnya mengengkat seorang imam dan menjelaskan hukum tentang kepemimpinan dan segala hal yang berhubungan dengan hal ini tidak menimbulkan ruang sedikitpun untuk keraguan bahwa tugas kaum Muslimin adalah memperhatikan urusan khilafah mereka setelah khilafah terse but dialihkan jalannya dan ditumbangkan untuk selamanva":"

Dalam pemikiran politik Hassan al-Banna, setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian dalam mengawal gerak perjuangannya. Keempat point pemikiran ini menjadi sisi penting untuk memahami bagaimana ia menggerakan Ikhwanul Muslimin hingga menjadi organisasi Islam yang

menjadi panutan dan rujukan pergerakan ormas Islam lain di beberapa penjuru dunia. Pertama,

mengenai konsep Arabisme ('Urubah). Kedua, konsep patriotisme (Wathaniyyah). Ketiga, konsep nasionalisme (Qaumiyyah). Keempat, konsep internasionalisme (Alamivvah).

a. 'Urubah (Arabisme)

Arabisme memiliki tempat tersendiri dan peran yang berarti dalam dakwah Hasan al-Banna.

Bangsa Arab adalah bangsa yang pertama kali menerima kedatangan Islam. Dia juga merupakan bahwa yang terpilih. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, "Jika bangsa Arab hina, maka hina pulalah lslarn." Arabisme menu rut al-Banna adalah kesatuan bahasa. la

19 Ibid, hal 48-49 20 Ibid, hal 51

8

berkata dalam Muktamar Kelima Ikhwan," ... Bahwa Ikhwanul Muslimin memaknai kata al-'Urubah (Arabisme) sebagaimana yang diperkenalkan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Mu'adz bin Jabal ra, Ingatlah, sesungguhnya Arab itu bahasa. Ingatlah, bahwa Arab itu

bahasa."

Menurut al-Banna, Arab adalah umat Islam yang pertama, yang merupakan bangsa pilihan.

Islam, menurutnya, tidak pernah bangkit tanpa bersatunya bangsa Arab. Batas-batas geografis dan pemetaan politis tidak pernah mengoyak makna kesatuan Arab dan Islam. Islam juga tumbuh pertama kali di tanah Arab, kemudian berkembang ke berbagai bangsa melalui orang-orang Arab. Kitabnya datang dengan bahasa Arab yang jelas, dan berbagai bangsa pun bersatu dengan

namanya.

Dalam riwayat Ibnu Asakir, dengan sanad dari Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda: "Wahai

sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah

Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab."

Dalam hadits ini, tulis Hasan al-Banna, kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa Arab yang membentang dari Teluk Persi sampai Maroko dan Mauritania di Lautan Atlantik, semuanya adalah bangsa Arab. Mereka dihimpun oleh akidah serta dipersatukan oleh bahasa dan teritorial yang satu. Tidak ada yang memisahkan dan membatasinya. Menurut al-Banna, ketika kita beramal untuk Arab, berarti kita juga beramal untuk Islam dan untuk kebaikan dunia seisinva."

Atas dasar ini, menurut Abdul Hamid al-Ghazali, dalam bukunya Meretas Jalan Kebangkitan Islam, kita dapat menyimpulkan beberapa unsur dari pemikiran al-Banna bahwa berbangga dengan Arabisme tidak termasuk fanatisme dan tidak berarti merendahkan pihak lain." Arabisme dengan tujuan untuk membangkitkan Islam demi tersebarnya Islam adalah dibolehkan.

b. Wathaniyah (Patriotisme)

Banyak definisi tentang patriotisme. Ada yang menyebut sebagai kecintaan yang mendalam terhadap bangsa, negara dan tanah air. "Man who have offered their life for their country, know that patriotism is not the fear of something, it is the love of something," demikian salah satu definisinva."

Dalam memaknai Wathaniyah (patriotisme), ada tiga arti yang dikemukakan oleh Hasan alBanna, yaitu: Pertama, Patriotisme Kerinduan (Cinta Tanah Air). al-Banna berkata: "Jika yang dimaksud dengan patriotisme oleh para penyerunya adalah cinta negeri ini, keterikatan padanya,

21 Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I, hal. 167-168 22 Abdul Hamid al-Ghazali, Meretas Jalan Kebangkitan Islam, hal. 195

23 Diringkas dari pidato sambutan Presiden RI pada sa at menerima peserta rapat Dewan Paripurna Pusat LVRI di Istana Negara Jakarta, 11/01/2005. Lihat:

http://www.presidensby.info/index.php/pidato/2005/01/11/276.htm I

9

kerinduan padanya, dan ikatan emosional dengannya, maka hal itu sudah tertanam secara alami dalam fitrah manusia di satu sisi, dan dianjurkan Islam di sisi lainnya." Kedua, Patriotisme Kemerdekaan dan Kehormatan (Kemerdekaan Negeri). al-Banna berkata: "Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah keharusan berjuang untuk membebaskan tanah air dari cengkeraman perampok imperialis, menyempurnakan kemerdekaannya, dan menanamkan kehormatan diri dan kebebasan dalam jiwa putra-putra bangsa, maka kami sepakat dengan mereka tentang itu." Ketiga, Patriotisme Kebangsaan (Kesatuan Bangsa). al-Banna berkata: "Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah mempererat ikatan antara anggota masyarakat suatu Negara dan membimbingnya ke arah memberdayakan ikatan itu untuk kepentingan bersama, maka kami pun sepakat dengan mereka."

Patriotisme juga memiliki prinsip di mata Hasan al-Banna. la mengatakan: "Suatu kekeliruan bagi orang-orang yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin berputus asa terhadap kondisi negeri dan tanah airnya. Sesungguhnya kaum Muslimin adalah orang-orang yang paling ikhlas berkorban bagi negara, habis-habisan berkhidmat untuknya, dan menghormati siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas dalam membelanya. Dan anda tahu sampai batas mana mereka menegakkan prinsip patriotisme mereka, serta kemuliaan macam apa yang mereka inginkan bagi umatnya. Hanya saja, perbedaan prinsip antara kaum muslimin dengan kaum yang lainnya dari para penyeru patriotisme murni adalah bahwa asas patriotisme Islam adalah akidah Islamiyah. Adapun tentang patriotisme Ikhwanul Muslimin, cukuplah bahwa mereka menyakini dengan kukuh bahwa sikap acuh terhadap sejengkal tanah yang ditinggali seorang muslim yang terampas merupakan tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga dapat mengembalikannya atau hancur dalam mempertahankannya. Tidak ada keselamatan bagi mereka dari siksa Allah kecuali dengan itu."

AI-Banna juga mengkiritik pandangan tentang patriotisme yang hanya berpikir untuk membebaskan regionalnya saja. Seperti dalam kasus masyarakat Barat yang lebih cenderung pada pembangunan unsur fisik dalam tatanan kehidupannya, ini tidak dikehendaki oleh Islam. Adapun kami, kata beliau, "kami percaya bahwa di pundak setiap muslim terpikul amanah besar untuk mengorbankan seluruh jiwa, darah, dan hartanya demi membimbing umat manusia menuju cahaya Islam." Dari sini, kita mendapatkan gambaran bahwa tujuan hidup seorang muslim tidaklah hanya dibatasi oleh region-region tertentu, akan tetapi dalam skala yang lebih luas adalah untuk seluruh umat manusia.

c. Qaumiyah (Nasionalisme)

Menurut Ensiklopedia Wikipedia, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan

10

mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia." Menurut Hasan alBanna ada tiga unsur nasionalisme, yaitu: nasionalisme kejayaan, nasionalisme umat, dan berkata

tidak pada nasionalisme jahiliyah.

Tentang nasionalisme kejayaan, al-Banna mendukung nasionalisme yang berarti bahwa

generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dalam mencapai kejayaannya. Ini adalah maksud yang baik, menurutnya dan mendukung. Hal ini sejal dengan sabda Rasuluiliah Saw yang berbunyi, "Manusia seperti tam bang. Yang terbaik di antara mereka di masa jahiliahnya adalah juga yang terbaik di masa Islam, jika mereka memahami."

Menurutnya, jika yang dimaksud dengan nasionalisme adalah anggapan bahwa suatu kelompok etnis atau sebuah komunitas masyarakat adalah pihak yang paling berhak memperoleh kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil perjuangannya, maka ia benar adanya. Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah bahwa setiap kita dituntut untuk bekerja dan berjuang, bahwa setiap kelompok harus mewujudkan tujuannya hingga kita bertemu-dengan izin Allah-di

medan kemenangan, maka inilah pengelompokan terbaik. Semua makna nasionalisme ini adalah indah dan mengagumkan, tidak diingkari oleh Islam. Itulah tolak ukur terbaik menurut al-Banna.

Nasionalisme Islam bersumber dari hadits Nabi: "Orang muslim itu saudara muslim yang lain." Sedangkan sabdanya yang lain mengatakan: "Orang-orang muslim itu satu darah, orangorang yang berada di atas bekerja untuk menyantuni yang lain, dan mereka bersatu untuk melawan rnusuhnva.":" Ini berarti bahwa nasionalisme Islam tidak terbatas pada negara saja.

Islam datang untuk menghapus budaya jahiliyah. Nasionalisme yang jahiliyah haruslah ditinggalkan oleh umat Islam. la berkata bahwa jika yang dimaksudkan dengan nasionalisme adalah menghidupkan tradisi jahiliyah yang sudah lapuk, menegakkan kembali peradaban yang telah terkubur dan digantikan oleh peradaban baru yang telah eksis dan bermanfaat, atau melepaskan dirinya dari ikatan Islam dengan klaim demi nasionalisme dan harga diri kebangsaan, maka pengertian nasionalisme seperti ini adalah buruk, hina akibatnya, dan jelek kesudahannya.

d. 'Alamiyah (Internasionalisme)

Allah Swt berfirman dalam al-Qur'an surat al-Anbiya ayat 107: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Ayat ini berarti bahwa diutusnya nabi Muhammad Saw adalah ditujukan untuk seluruh umat manusia dari seluruh suku bangsa. "Rahmatan Lil' Alamin" adalah konsep yang menjelaskan tentang internasionalisme Islam yang tidak mengenal sekat-sekat teritori.

Jika internasionalisme diterjemahkan dengan "Pemerintahan Dunia", maka pengertiannya

yang bisa diberikan adalah "Sebuah kesatuan pemerintahan dengan otoritas mencakup planet

24 http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme

25 Ali Abdul Halim Mahmud, Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, hal.44

11

Burni." Tidak pernah ada satu Pemerintahan Dunia yang pernah terjadi sebelumnya, meskipun kerajaan besar dan superpower telah mendapatkan tingkatan kekuasaan yang mirip. Contoh sejarah telah dihambat oleh kenyataan bahwa komunikasi dan perjalanan yang tak memungkinkan membuat organisasi dunia ini tidak terjadi. Beberapa internasionalis mencari pembentukan pemerintahan dunia sebagai cara mendapatkan kebebasan dan sebuah peraturan hukum di seluruh dunia. Beberapa orang khawatir bahwa pemerintah dunia harus dapat menghormati keragaman negara atau manusia yang tercakup di dalamnya. Dan di sisi lain memandang ide ini sebagai sebuah kemungkinan mimpi buruk, dalam dunia yang kacau pemerintah berusaha menciptakan negara totalitarian yang tak berakhir tanpa ada kemungkinan untuk kabur atau revolusi.

Internasionalisme menurut Hasan al-Banna inheren dalam Islam, oleh karena Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. "Adapun dakwah kita disebut internasional, karena ia ditujukan kepada seluruh umat manusia. Manusia pada dasarnya bersaudara; asal mereka satu, bapak mereka satu, dan nasab mereka pun satu. Tidak ada keutamaan selain karena takwa dan karena amal yang dipersembahkannya, meliputi kebaikan dan keutamaan yang dapat dirasakan semuanya," demikian tulisnya.

Konsep internasionalisme merupakan lingkaran terakhir dari proyek politik al-Banna dalam program ishlahul ummah (perbaikan umat). Dunia, tidak bisa tidak, bergerak mengarah ke sana. Persatuan antar bangsa, perhimpunan antar suku dan ras, bersatunya sesama pihak yang lemah untuk memperoleh kekuatan, dan bergabungnya mereka yang terpisah untuk mendapatkan hangatnya persatuan, semua itu merupakan pengantar menuju terwujudnya kepemimpinan prinsip internasionalisme untuk menggantikan pemikiran rasialisme dan kesukuan yang diyakini umat manusia sebelum ini. Dahulu memang harus meyakini ini untuk menghimpun unsur-unsur dasar, lalu harus dilepaskan kemudian untuk menggabungkan berbagai kelompok besar, setelah itu terwujudlah kesatuan total di akhirnya. Langkah ini, menurutnya memang lambat, namun itu harus terjadi.

Untuk mewujudkan konsep ini juga Islam telah menyodorkan sebuah penyelesaian yang jelas bagi masyarakat untuk keluar dari lingkaran masalah seperti ini. Langkah pertama kali yang dilakukan adalah dengan mengajak kepada kesatuan akidah, kemudian mewujudkan kesatuan amal. Hal ini sejalan dengan ayat dalam al-Qur'an surat Asyura 13: "Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nabi Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Nabi Ibrahim, Musa dan Isa yaitu 'Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya."

26 Ringkasan dari definisi Wikipedia. Lihat: http://id.wikipedia.org/wiki/Pemerintahan_dunia

12

Dalam Risalah Pergerakan, Hasan al-Banna berharap pada negerinya yaitu Mesir yang mendukung upaya dakwah Islamiyah, menyatukan seluruh bangsa Arab untuk kemudian melindungi seluruh kaum muslimin di penjuru burni." Namun, harapan ini tetaplah belum

membuahkan hasil maksimal karena sejak Hasan al-Banna wafat sampai sekarang Mesir belum

menjadi sentrum dari kesatuan umat Islam sedunia. Malah, pada beberapa kasus, seperti masalah invasi Israel ke Gaza Palestina (2009), Mesir banyak mendapat kecaman karena tidak kooperatif dengan aktivis pergerakan Islam namun dekat dan bahkan pada titik tertentu, mendapatkan intervensi dari Barat."

Teori Maslahat

Dalam empat pemikiran politik Hasan al-Banna diatas, kita menemukan bahwa kemaslahatan sangat ditekankan oleh al-Banna. Ini didasarkan oleh tafsirannya terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang menghendaki umat Islam untuk tampil ke muka bumi sebagai khalifah untuk menciptakan masyarakat yang ber-Tauhid lslarn." Dengan demikian, segala hal yang bisa mendatangkan kebaikan, itu dibolehkan dalam agama.

Hasan al-Banna meyakini bahwa Islam adalah ajaran yang universal. Menurutnya, "Islam adalah agama dan sistem kehidupan yang utuh sekaligus memuat di dalamnya aspek politik." Islam,

menurutnya, adalah akidah dan ibadah, negara dan kewarganegaraan, moral dan material, peradaban dan perundang-undangan." Tokoh Islam dari Mesir itu berkata, "Sebagai hasil pemahaman yang komprehensif dan utuh terhadap Islam dalam diri Ikhwanul Muslimin ini, fikrah mereka melingkupi seluruh perbaikan masyarakat dan tercermin di dalamnya setiap unsur dari berbagai pemikiran dalam rangka perbaikan (maslahat)."

Dari kutipan di atas kita melihat bahwa faktor kemaslahatan menjadi perhatian penting dalam pemikiran Hasan al-Banna. Konsep 'Urubah (Arabisme) yang dikemukakannya adalah karena dalam sebagai muslim, ia berpatokan pada ketentuan dalam al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi Muhammad Saw. Konsep ini dilontarkan olehnya karena melihat secara faktual bahwa orang Arab adalah bangsa pilihan tempat diturunkannya para nabi dan al-Qur'an dalam bahasa Arab.

Dengan demikian, siapapun kaum muslim yang ingin mempertahankan Islam patut memberikan penghargaan kepada bangsa Arab, dalam batas-batas yang tidak keluar dari ajaran Islam. Lebih jauh dalam masalah Arab ini, ke-Araban juga tidak dimaknai semata sebagai sebuah suku di daerah Arab, akan tetapi secara umum umat Islam yang juga mempelajari bahasa Arab. Hadits

27 Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin II, hal. 170

28 Salah satu intervensi asing bisa dilihat dari keputusan Dubes Inggris, Amerika dan Prancis pada 10 November 1948 di Fayd yang diberikan kepada Perdana Menteri Mahmud Fahmi Naqrasyi untuk membubarkan Ikhwan. Lihat, Zabir Rizq, hal.xxxvi.

29 Tijani Abd. Qadir Hamid, Pemikiran Politik dalam al-Our'an, hal. 22 30 Hasan al-Banna, Risalah Pergerakan .... , hal. 66

13

Nabi tentang "Ingatlah, sesungguhnya Arab itu bahasa. Ingatlah, bahwa Arab itu bahasa", bermakna bahwa siapapun umat Islam yang mempelajari al-Qur'an yang nota bene berbahasa Arab, termasuk dalam Islam yang perlu membela Arab. "Jika bangsa Arab hina, hina pulalah Islam, " yang dikemukakan oleh al-Banna semata karena penghargaannya kepada bangsa Arab yang telah menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia.

Dalam hal Wathaniyah (Patriotisme), kerinduan akan tanah air tempat manusia dibesarkan adalah sesuatu yang alamiah dalam fitrah man usia. Artinya, kecintaan pada negeri sendiri adalah bagian dari kepedulian umat Islam terhadap lingkungannya. Tujuan utama dari patriotisme ini,

menurut al-Banna adalah untuk membimbing umat manusia menuju cahaya Islam, lain dari itu

(seperti hanya mementingkan aspek-aspek fisik di Eropa), bertentangan dengan Islam. Dilihat dari

kacamata Ibnu Qayyim, cinta pada negeri demi kemaslahatan negeri itu sendiri, termasuk dalam

agama.

Dalam membahas Qaumiyah (Nasionalisme), al-Banna menfokuskan pada sikap loyal (wala'}" pada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Dalil yang dikemukakannya, salah satunya adalah, "Sesungguhnya Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman." (QS. AI-Baqarah: 257. Dengan demikian, jika ada orang-orang beriman yang berjuang untuk kemajuan negerinya agar dakwah Islamiyah berkembang, maka itu termasuk dalam perlindungan Allah. Nasionalisme ala alBanna juga memposisikan diri secara diametral dengan nasionalisme ala Jahiliyah yang sarat dengan muatan pengagungan nenek moyang tanpa dalil yang pasti atau untuk menanamkan rasa bangga pada jiwa anak-anaknya.

Nasionalisme Islam menurut al-Banna mengandung kemaslahatan karena membawa

manusia agar meninggalkan fanatisme buta pada nenek moyang menuju penghambaan kepada Allah. Paganisme yang ada pada peradaban sebelum Islam yang kemudian berkembang dalam banyak bentuk juga ditentang oleh al-Banna. Menjadikan patung-patung, bahkan ideologi hasil pemikiran manusia sebagai sesuatu yang harus diikuti ketimbang dalil dari al-Qur'an dan Sunnah nabi juga ditentang. al-Banna berkehendak menciptakan umat Islam yang menjalankan seluruh kehidupannya secara kaaffah (menyeluruh) dalam bingkai Islam. Dan, ini termasuk dalam

kemaslahatan umat manusia.

Pandangan 'Alamiyah (Internasionalisme) adalah berdasarkan pada dalil bahwa umat Islam dikeluarkan untuk menjadi "khairu ummah" (umat terbaik) yang Allah utus kepada manusia agar menjalankan kaidah menyeru kepada kebenaran dan mencegah pada yang mungkar. Rasulullah Saw juga diutus Allah untuk seluruh umat manusia (rahmatan Iii 'alamin). Dari perspektif ini, dakwah alBanna berpatokan pada persaudaraan seluruh umat manusia. Dalil yang diambil oleh al-Banna

31 Wala' kepada Allah, akan meruntuhkan wala'-wala' kepada selain-Nya. Manusia akan menjadi bebas dan menjadi hamba bagi Tuhannya. Di sini dipahami bahwa kebebasan seorang manusia tidak akan dikekang lagi oleh seorang tuan atau pendeta. Ibid, hal. 116

14

berladaskan pada ayat, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-Iaki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa: 1)

Kemaslahatan internasionalisme ini sekilas memiliki kesamaan dengan konsepsi kaum Zionis

yang berupaya menciptakan pemerintahan satu dunia. Akan tetapi, Zionisme lebih menitikberatkan pada penguasaan kaum Yahudi atas kalangan goyyim (non-Yahudi) dengan memperlakukannya sebagai budak. Persaudaraan umat sedunia yang diinginkan oleh al-Banna, adalah karena umat manusia berasal dari satu nenek moyang yaitu Adam as. Selanjutnya, dalam dakwah menuju persaudaraan internasional, harus dijalankan berdasarkan fondasi nilai yang adil dan tidak diskrirninatif." Dari sinilah kelak ada mekanisme take and give antar peradaban umat man usia. Unsur

kerjasama demi kemaslahatan bersama sangat ditekankan oleh Hasan al-Banna.

3.2. PANDANGAN TENTANG PENERAPAN SYARIAT ISLAM

Ketika masa hidup Banna, negara Mesir dalam situasi yang menganut sistem kerajaan, kepala negara ditentukan melalui garis keturunan. Menurut Islam, sistem ini tidak berdasarkan Islam. Karena Islam yang ideal itu, sistem pemerintahannya harus berdasarkan dengan bay' ah dan svura."

Menurut Banna, bahwa sistem ini menyimpang dari cita-cita Islam yang sebenarnya. Ketika itu juga,

Banna melihat bentuk pengaruh modernisasi sekuler Barat terhadap kehidupan Islam serta kelemahan pemerintahan yang kurang tanggap dalam menghadapi kesenjangan sosio-ekonomi

masyarakat Mesir.

Dengan melihat kondisi ini, Banna menegaskan tentang sifat politik Islam, guna menegakkan dan melaksanakan syari'at lslarn." Dengan keinginannya untuk menerapkan syari'at Islam di tengahtengah kehidupan masyarakat, Banna tidak mempunyai niat melakukan kudeta atau tidak ingin mengubah bentuk pemerintahan yang ada, ia hanya ingin menjadikan syari' Islam menjadi hukum

negara. Untuk mencapai tujuan, Banna ikut mencalonkan diri menjadi anggota parlemen.

Keikutsertaan Banna dalam pemilu tahun 1942 ini, merupakan jawaban atas kebutuhan praktis pergerakan, dan peru bahan, demi kepentingan dakwah."

Pemikiran tentang penerapan syari'at Islam ini, menjadi tujuan agenda gerakannya. Dalam

pandangan Banna, apapun bentuk negara baik republik atau kerajaan, harus didirikan atas dasardasar Islam yang kuat dan benar. Ada beberapa tuntutan yang harus dipenuhi oleh pemerintahan

32 Abdul Hamid al-Ghazali, Meretas .. , hal. 202

33 Hasan Hanafi, Fundamentalisme Islam (Yogyakarta: Islamika, 2008), hal.134.

34 John L. Esposito, Dinamika Kebangunan Islam (Jakarta: Rajawali, 1987), hal. 1l. 35 Fathi Yakan, Revolusi Hasan AI-Banna (Jakarta: UI-Press, 1990), hal. 42.

15

negara, yaitu tanggung jawab penguasa terhadap kekuasaannya, persatuan masyarakat, dan sikap tanggap terhadap keinginan rnasvarakat."

Islam mewajibkan pemerintah untuk bekerja demi kemaslahatan rakyat dengan membenarkan kebenaran dan menggugurkan kebatilan, dan diharuskan semua rakyat untuk mentaati pemerintah, selama pemerintah menjalankan kewajibannya. Apabila pemerintah itu

menyimpang dari kebenaran, maka rakyat mempunyai kewajiban untuk meluruskannya, agar

kembali pada kebenaran dan berkomitmen pada undang-undang Islam yang bersumber pada hukum AI-Qur'an dan As-sunnah."

Negara merupakan instrumen kekuasaan untuk menegakkan syariat Allah dan menegakkan etika Islam yang universal. Karena hubungan antara negara dan umat bersifat teodernokratik." Berdasarkan pemikiran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam adalah agama dan sekaligus negara (din wa dawlah) yang memiliki konsep sosial dan politik. Pada dasarnya pemikiran dan gerakan Banna dalam penerapan syari'at Islam banyak mengacu pada aliran moderat, dengan

menekankan tentang urgensitas peran agama di dalam proses perubahan. Dari sinilah, Banna menemukan dan menawarkan berbagai metode pembaharuan atau model gerak sosial menuju

perubahan. Meskipun pad a intinya Banna ingin menegakkan politik Islam dengan menjalankan syari'at dengan cara merujuk pada AI-Qur'an dan As- Sunnah, ia menggagas tahapan-tahapan yang harus ditempuh untuk dijadikan landasan, menuju sistem ideal demi terwujudnya suatu perubahan.

1) Melakukan Reformasi Diri (Ishlah).

Langkah ini menjadi syarat pertama yang harus dilakukan seseorang ketika melakukan perubahan. Dengan memperbaiki diri pribadi, dirinya dapat mempunyai fisik yang kuat, berakhlak mulia, berintelektual, mampu berusaha dan beraqidah lurus dan benar dalam beribadah. Banna meyakini, bahwa sesungguhnya perubahan dan perbaikan itu harus dimulai dari diri, dan agama Islam dijadikan sebagai faktor yang efektif." Dalam QS. Ar-Ra'd: 9 Allah

berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. Ar-Rad: 11).40

2) Perubahan atau Ishlah dalam Membentuk Keluarga Islami.

Langkah ini merupakan lanjutan langkah pertama. Ketika seseorang dapat memperbaiki diri pribadinya, maka seharusnya dapat membentuk keluarga yang Islami. Tahap kedua ini bertujuan

36 Fathi Osman, Ikhwan dan Demokrasi (Yogyakarta: Titian Wacana, 2005), hal. 15.

37 Hasan AI-Banna, Kumpulan Risalah Dakwah (Jakarta: AI-I'tishom, 2008), hal. 257-258.

38 Abdurrahman Mas'ud, Negara Bangsa Versus Negara Syariah (Yogyakarta: Gema Media, 2006), hal. 19. 39 Yakan, Revolusi Hasan AI-Banna, hal. 29-30.

40 AI-Qur'an dan Terjemah, 13 (AI-Ra'd): hal. 11.

16

membentuk dan membawa keluarga untuk tetap berpegang pada pemikiran dan etika Islam di dalam setiap prilaku kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu, dalam rumah tangga harus benar-benar dikembangkan kehidupan yang Islami, mulai dari pemikiran hingga tindakan yang dilakukan sehari-hari." Adanya perbaikan pada individu, akan memberi pengaruh pada keluarga. Maka terbentuklah keluarga yang ideal sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh lslarn."

3) Perubahan (ishlah) pada Masyarakat.

Perbaikan masyarakat ini harus mencakup pada tingkatan masyarakat secara keseluruhan.

Tahap ini merupakan suatu pengembangan misi kebaikan dan memerangi kemungkaran. Banna

menegaskan, bahwa tidaklah sempurna ke Islaman seseorang yang mengabaikan kondisi umat yang rusak dengan menyibukkan diri dengan ibadah. Karena hakikat Islam adalah jihad, kerja keras, agama dan negara. Jihad dalam hal ini adalah jihad untuk merubah masyarakat yang rusak menuju masyarakat yang lebih baik.43 Baik buruknya masyarakat akan membawa pengaruh besar pada perkembangan negara.

Menurut Banna, ketika seseorang dapat melakukan perubahan pada dirinya, keluarganya, hingga masyarakat, maka seseorang itu akan dapat menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pergerakan yang dilakukan Banna merupakan suatu pergerakan atas dasar dakwah, yang mempunyai tujuan-tujuan yang tidak terikat, mulai dari pembinaan (tarbiyah), penyadaran pada individu, hingga tegaknya syari'at Islam. Dalam menyebarkan dakwahnya, Banna bersifat membangun dan menghimpun, tidak menghancurkan, tidak memecah belah, dan tidak menyukai kekerasan."

Jadi, ketika seseorang dapat melakukan perubahan pada dirinya, keluarganya, hingga masyarakat, maka seseorang itu akan dapat menegakkan syari'at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3.3. PEMIKIRAN TENTANG RELASI AGAMA DAN NEGARA

Menurut Hasan al-Banna, Islam sebagai agama mempunyai arti yang sangat luas. la meyakini

bahwa Islam adalah agama yang universal yang mencakup sendi-sendi kehidupan umat manusia

seluruhnya. Dengan begitu, Islam telah merumuskan nilai-nilai konkret atas keberagamaan manusia dalam menghadapi realitas kehidupan untuk mencapai sebuah kernaslahatan."

41 M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal (Jakarta: ERLANGGA,2005), hal. 37.

42 Yusuf Qordhawi, 70 tahun Ikhwanul Muslimin (Jakarta: Pustaka AI-Kautsar, 1999), hal. 175. 43 Rahmat, Arus Baru Islam, hal. 36.

44 Yakan, Revolusi Hasan AI-Banna, hal. 138.

45 Hasan al-Banna, Majmuatu Rasa'il ai-Imam Hasan al-Banna, (Kairo: 1991), 18.

17

Sebuah persepsi yang salah kalau mengatakan bahwa agama hanya meliputi urusan ritual ibadah atau nilai-nilai ruhaniyah semata, karena, bagi Hasan al-Banna, agama juga mencakup segala urusan dunia dan akhirat seperti yang ia pahami melalui al-Qur'an.

Secara eksplisit Hasan al-Banna tidak membicarakan definisi tentang negara, namun ia memberikan karakteristik terhadap sebuah negara. la menyebutkan bahwa jika yang dikehendaki negara adalah mengentaskan diri dari penjajah, menanamkan kemuliaan dan kebebasan, kesatuan antar umat walaupun berbeda partai maka ia dan anggota Ikhwan akan menyutujui dan melazimkannya.

Baginya, negara adalah nilai kesuciannya, rasa ikhlas dalam membangunnya, dan upaya jihad dalam mencapai kebaikannya. Perasaan ini harus selalu dirasakan bersama-sama. Membangun negara untuk bisa menjadi maju adalah tanggung jawab semua penduduk negeri tak terkecuali, dan kuncinya adalah nilai persatuan yang harus terus dijunjung tinggi.

Oalam menjawab isu-isu menganai hubungan agama dan negara, ada beberapa hal yang diwacanakan oleh Hasan al-Banna antara lain:

a) Khilafah Islamiyah

Bagi Hasan al-Banna, pend irian negara Islam adalah sesuatu yang amatlah penting, karena menurutnya, Islam telah meletakkan pemerintahan sebagai salah satu rukun-Nya. Seperti apa yang coba dikembangkan oleh Nabi ketika membentuk pemerintahan yang bernafaskan Islam. Menurut Hasan, Islam sudah sedemikian komplit dalam menjelaskan prinsip-prinsip kehidupan baik dalam sistem perundang-undangan perdagangan, hukum pidana dan hubungan kenegaraan.

Namun, ketika Hasan al-Banna mencoba menguraikan pendapatnya mengenai sistem perundang-undangan negara Mesir yang tidak berlandaskan atas khilafah Islam, ia mengatakan, walaupun pada kenyataannya secara formal Mesir sebagai negara yang tidak memakai label negara Islam namun sumber inspirasi dari negara terse but sudah memakai karakteristik ideologi negara Islam. Oi mana kebebasan terhadap penduduknya, prinsip-prinsip syura, memberikan kekuasaan terhadap penduduk dan rasa tanggung jawab pemerintahan terhadap seluruh masyarakat ini juga terinspirasi dari nilai-nilai Islam sekaligus merupakan ciri dari negara Islam itu sendiri.

Selama negara terse but mengedepankan sistem-sitem yang bermoral seperti melarang perjudian, perzinaan, minuman keras maka Hasan al-Banna dan gerakan Ikhwan al-Muslimin pimpinannya akan selalu mentaati bentuk pemerintahan tersebut. Sebaliknya, jika hal terse but sudah dilanggar maka ia dan gerakannya tidak segan-segan menentang hal itu.

Oalam berbagai argumentasi mengenai hal ini, Hasan juga menjelaskan sebab-sebab kemunduran atau kehancuran negara-negara Islam dalam rangkaian sejarah Islam klasik. la menyebut bahwa hal itu terjadi karena pola pikir pemerintahan sa at itu tidak mengindahkan moralitas yang bersumber dari nilai-nilai Islam. Kecenderungan dalam pertikaian antara

18

kepentingan atau politik, prinsip-prinsip materialisme, fanatisme mazhab dan agama, hidup bermewah-mewah dan bersikap boros, perpindahan pemerintahan dari tangan Arab ke nonArab, kurang peka terhadap pentingnya ilmu-ilmu non-Agama, kebohongan para penguasa terhadap publik adalah faktor-faktor yang menunjang terjadinya kehancuran negara-negara Islam di masa lalu.

Oleh karena itu, sembari Hasan dan gerakan Ikhwan menyusun strategi ideologis untuk mendirikan negara Islam di Mesir di masa mendatang maka walaupun sistem pemeritahan saat itu bukan merupakan bentuk dari khilafah Islam namun jika masih memegang nilai-nilai Islam, mereka senantiasa mendukungnya.

b) Nasionalisme, Pluralisme dan Sekularisme

Ketika berbicara mengenai nasionalisme, Hasan merasa hal itu sangat penting diaplikasikan.

Akan tetapi nasionalisme yang coba ia kembangkan adalah sebentuk gerakan yang tetap menjunjung tinggi nilai Islam. Bahwa seyogyanya masa depan masyarakat terletak kepada kesatuannya, namun bukan kesatuan atau nasionalisme Jahiliyah di mana terdapat maksiat di mana-mana.

Penyebutan nasionalisme yang dipakai Hasan adalah bukan dengan nasionalisme Firaun atau nasionalisme Arab. Karena bagi Hasan, tidak ada keutamaan dalam diri setiap muslim kecuali dengan ketakawaannya. Maka dari itu setiap muslim selalu dituntut untuk selalu berbuat baik demi agama dan negaranya.

Mengenai pluralisme, secara eksplisit Hasan al-Banna tidak menyebut kata pluralisme yang dalam bahasa Arab berarti at-ta'addudiyah. Namun, ketika melihat keterangan Hasan al-Banna mengenai pentingnya memahami dan mengakui adanya perbedaan yang ada, ia secara tegas menjunjung tinggi hal tersebut. Bagi kesatuan menjadi begitu penting dan perbedaan adalah sesuatu hal yang lazim karena menurutnya tidak hanya dalam level antar agama namun pada wilayah pemikiran ke Islam an, hal-hal furu'iyah (cabang-cabang pembahasan agama contoh fikih dll) banyak mewarnai pemikiran umat Islam. Dan itu harus diakui.

Di sam ping itu, kapasitas berpikir tiap individu adalah berbeda-beda oleh karenanya penyerapan terhadap dalil-dalil agama tentunya berbeda-beda pula. Maka dari itu, Hasan menekankan pentingnya memahami bentuk-bentuk perbedaan itu sebagai rahmat bagi semua.

Hasan al-Banna juga menolak dengan ideologi sekularisme Barat. Baginya, apa yang dicitacitakan oleh Barat melalui sekularisme hanya akan memasung prinsip moralitas yang dibangun atas kesadaran keberagamaan inidividu.

19

3.4. KONSEP BERNEGARA DALAM RISALAH NIZHAMUL HUKM

Dalam risalah Nizhamul Hukm, al-Banna membagi tiang-tiang penyangga pemerintahan Islam ke dalam tiga pilar yaitu :

1) Tanggung Jawab Pemerintah

Yang dimaksud dengan tanggung jawab pemerintah adalah bahwasannya dalam menjalankan tugasnya pemerintah bertanggung jawab kepada Allah dan rakyatnya. la adalah pelayan dan pekerja bari rakyat yang menjadi tuannya. Rasulullah SAW bersabda "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas yang dipimpinnya".

AI Banna Mengutip pernyataan Abu Bakar ra " Wahai sekalian manusia, aku dulu bekerja untuk keluargaku. Akulah yang menghasilkan makan buat mereka. Namun, kini aku bekerja untuk kalian, maka bayarlah aku dari Baitul Maal kalian". Selanjutnya ia menerangkan bahwasannya ungkapan terse but memberikan penafsiran paling baik dan paling adil terhadap teori kontrak sosial antara pemerintah dan rakyatnya. Bahkan Abu Bakar ra telah meletakkan dasar-dasarnya bahwa kontrak antara rakyat dengan pemerintah adalah sama-sama terikat untuk memelihara kepentingan bersama. Jika ditunaikan dengan sebaik mungkin ia berhak mendapat pahala. Sebaliknya jika tidak, sanksi hukuman telah siap rnenanti."

Pengertian ini bersesuaian dengan teori perjanjian dalam ilmu negara, yang membahas tentang mengapa manusia bersepakat untuk membuat suatu perjanjian bersama untuk mem bentuk suatu masyarakat untuk mem bentuk suatu negara, ada beberapa teori terkait

. .. . ·47

perjanjian rru :

• dimulai dari teori yang berasal dari Cicero yang lingkupnya sangat perdata sekali, bahwasannya negara itu dibentuk untuk melakukan hak milik oleh karena itu diadakan perjanjian yang sifatnya timbal balik.

• teori Hobbes, bahwasanya perjanjian terse but dilakukan karena kekhawatiran pada tiap manusia/individu yang mendorong mereka untuk melakukan suatu perjanjian penyerahan kekuasaan (pactum subjectionis) kepada yang lebih dari mereka sehingga rasa takut mereka akan hilang.

• Teori dari John Locke dimana perjanjian di lakukan untuk melindungi hak-hak azasi setiap orang dan diperlukan adanya suatu perjanjian penyerahan kekuasaan. Dan badan yang diserahkan kekuasaan terse but haruslah netral untuk menjamin kepentingan semua orang. Teori John Locke ini membenarkan sistem monarki/ kerajaan.

• Teori dari Rosseau yang dengan perjanjian masyarakat terse but hendak mencegah atau menghapuskan sama sekali kekuasaan yang mutlak dari raja.

46 Hassan AI-Banna, Kumpulan Risalah Dakwah Hassan AI-Banna jilid 2, I'tishom Cahaya Ummat, cet 1, Bab Risalah Nizhmul Hukam, hal. 71-72

47 Ilmu Negara, kuliah-kuliah Padmo Wahjono, SH, Ind Hill Co, hal. 82-88

20

Semua teori di atas adalah teori yang dibuat untuk membenarkan penguasa pada zaman

mereka, kecuali Rosseau yang justru ingin membatasi. Dalam konsep Islam yang murni, tanpa terkontaminasi pemikiran-pemikiran barat di atas. Penyerahan kekuasaan melalui perjanjian

(yaitu dengan bai'at) justru telah terjadi dengan nyata / konkrit. Dan terdapat kaidah-kaidah langsung dari syariat yang mengatur bagaimana ketaatan yang seharusnya dilakukan. Hal inilah yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir AI-Quranul Azhim ketika menafsirkan ayat 59 Surat An-Nisaa tentang keharusan menaati Allah, menaati rasulNya dan Ulil Amri. Bahwasannya tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khaliq, taat dalam hal yang ma'ruf.

Dalam tafsir terse but Ibnu Katsir menjelaskan asbabun nuzul dari ayat ini terkait dengan Abdullah bin Hudzaifah bin Qais bin Adi tatkala ia diutus oleh Rasulullah SAW dalam suatu

pasukan. Dimana pemimpin pasukan terse but memerintahkan pasukannya untuk mentaati

perintahnya untuk masuk ke dalam api yang dibakar di atas kayu bakar. Kemudian pemuda yang berada di pasukan terse but enggan mentaatinya kecuali setelah menanyakan kepada Rasulullah, maka Rasulullah mengatakan "apabila kalian memasukinya niscaya kalian tidak pernah keluar lagi untuk selama-Iamanya, sesungguhnya ketaatan itu hanya mencakup kema'rufan", had its terse but terdapat dalam shahihain."

Pemaparan di atas menjelaskan bahwa terjadinya penyerahan kekuasaan melalui perjanjian (bai'at) dari rakyat kepada penguasa / pemerintah, tidaklah membenarkan kesewenangannya, justru ia terikat oleh tanggung jawab, terhadap pihak yang memberikan bai'at untuk melayani mereka, dan bagi yang telah memberikan urusan dirinya (yang berbai'at) maka ia hanya terikat ketaatan selama hal terse but tidak melanggar hal-hal yang ma'ruf. Apabila diperintahkan untuk melakukan kerusakan maka boleh untuk tidak taat dan berlepas diri dari hal terse but. Inilah yang dimaksud oleh al-Banna sebagai penafsiran yang paling baik terhadap teori kontrak sosial.

2) Kesatuan Ummat

Kemudian yang dimaksud al-Banna dengan kesatuan ummat adalah bahwasannya pemerintah dalam bertindak dan mengambil kebijakan haruslah menjaga kesatuan ummat. Bukan justru diartikan sebagai semuanya harus mengikuti apapun kata penguasa / elit tanpa

reserve. Karena dalam Islam justru terdapat praktek memberi nasi hat amar ma'ruf nahi munkar. al-Banna mengutip hadits Rasulullah'":

48 Muhammad Nasib Ar-Rifai', Kemudahan dari Allah Ringkasan Tajsir Ibnu Katsir, jilid 1, Gema Insani Press, hal. 739

49 Hassan AI-Banna, Kumpulan Risalah Dakwah Hassan AI-Banna jilid 2, I'tishom Cahaya Ummat, cet 1, Bab Risalah Nizhmul Hukam, hal. 74

21

• Rasulullah bersabda "Agama itu nasihat" mereka bertanya bagi siapa wahai Rasulullah ?"

Beliau menjawab, "Bagi Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum mereka"

• "Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib dan orang yang berdiri di hadapan pemimpin durjana dengan memerintahnya (berbuat ma'ruf) dan melarangnya (dari perbuatan mungkar), kemudian ia dibunuh"

Dalam penjelasan mengenai kesatuan ummat ini al-Banna juga menjelaskan mengenai perbedaan, bahwasannya tidak ada perbedaan prinsip / hal yang pokok dalam Islam, tetapi dalam hal-hal yang sifatnya cabang (furu') perbedaan itu diperbolehkan dengan tetap menjaga bingkai persatuan. al-Banna mengatakan " Yang ada adalah keharusan risat, kajian, musyawarah, dan saling menasihati. Jika termasuk pada hal yang telah dinashkan maka pintu ijtihad tertutup. Sedangkan bila tidak dinashkan, maka keputusan pemerintah harus menyatukan umat. Namun ketentuan kedua terlaksana setelah ketentuan pertarna.r "

3) Sikap Menghargai Aspirasi Rakyat

Mengenai menghargai aspirasi rakyat, al-Banna menjelaskan, "Di antara hak umat Islam adalah mengawasi roda pemerintahan sedetail mungkin dan aktif bermusyawarah berkenaan sesuatu yang dipandang baik. Sedangkan kewajiban pemerintah adalah bermusyawarah dengan rakyat, menghargai aspirasinya, dan mengambil masukan-masukan yang baik. Allah swt. telah memerintahkan kepada pemerintah agar melakukan hal itu "Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu." (Ali Imran : 159). Bahkan, Allah memuji kaum muslimin yang mau bermusyawarah sebagai muslimin yang baik. "sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka" (Asy-Syura : 38)

Masalah ini juga ditegaskan Sunnah Rasulullah SAW dan Khaulafur Rasyidin. Di mana ketika muncul suatu masalah, mereka mengumpulkan para ahli dari kaum muslim in, bermusyawarah, dan mengambil pendapat yang benar dari mereka. Lebih dari itu, para khalifah mengajak dan menganjurkan kaum muslimin untuk (berpegang) pada pendapat yang benar tadi. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, "Jika kalian melihat aku di atas kebenaran, maka dukunglah (untuk melaksanakannya), dan jika kalian melihatku dalam kebatilan, maka betulkan dan luruskanlah." Umar bin Khatthab berkata " Siapa saja yang melihatku menyimpang, maka luruskanlah."

Prinsip di atas sejalan dengan nilai-nilai yang terdapat demokrasi, atau lebih tepat dikatakan bahwa konsep demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang dikatakan oleh Abraham Lincoln, adalah bersesuaian dengan nilai-nilai Islam yang mengatur tentang masalah ini. Dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, dilaksanakan secara

50 Ibid, hal. 74

22

langsung oleh mereka, atau oleh wakil mereka yang terpilih dalam sistem pemilu yang bebas.

Karenanya sistem ini, meniadakan kekuasaan yang bersifat autokrasi, otoritarian, zalim, diktator, tirani, totalitarian, monarki, oligarki, plutokrasi, aristokrasi, dan kesultanan." Hanya saja terjadi

perbedaan pendapat ketika menafsirkan kekuasan tertinggi berada di tangan Allah, padahal Islam hanya memberikan hak tasyri' hanya di tangan Allah semata, bukan di tangan rakyat.

Terhadap masalah itu maka kita harus memandang bahwasannya demokrasi haruslah dipandang bukan sebagai konsep yang ideal, bahwasannya memang haram bagi rakyat untuk melakukan perbuatan mengganti syariat. Namun justru konsep bahwasannya pemerintah harus memperhatikan aspirasi dari rakyat adalah suatu hal yang memang diatur dalam Islam. Oleh karena itu demokrasi sebenarnya dapat saja berjalan dalam suatu masyarakat Islam yang benar dalam artian demokrasi terse but dijalankan oleh masyarakat yang berhukum dengan hukum Allah, sehingga ketika mereka menyelenggarakan kekuasaan di tangan mereka yang menjadi pijakan adalah hukum Allah/syariat Islam. Inilah juga yang menjadi pijakan dalam fatwa Dr.Yusuf AI-Qaradhawi tentang Islam dan demokrasi:

"Perlu diingat bahwa kita sedang membicarakan demokrasi dalam masyarakat muslim, yang mayoritas adalah orang-orang yang mengerti dan mengetahui, beriman dan bersyukur. Kita tidak sedang membicarakan masyarakat ateis atau masyarakat yang telah tersesat dari jalan Allah,,52 Atau dapat juga dikatakan bahwa demokrasi disini adalah demokrasi secara prosedural saja.

Yang diutamakan dari prinsip yang terakhir ini adalah bagaimana penguasa wajib memperhatikan aspirasi rakyat, dan rakyat pun berhak untuk meluruskan penguasa. Karena sesungguhnya

pemerintahan tirani tidak hanya lahir dari kemauan mereka sendiri melainkan dari kondisi

rakyatnya juga yang tunduk kepada mereka dan tidak melakukan fungsi kontrol atas

pemerintahan mereka.

Sesungguhnya ketentuan-ketentuan di atas tidak akan terpenuhi juga apabila ummat Islam tidak memiliki pemahaman dan penghayatan yang baik mengenai nilai-nilai Islam, hal ini terkait dengan keimanan. Oleh karena itu al-Banna sendiri mengingatkan bahwasannya hal terse but (ketiga kaidah d atas) tidak dapat terpelihara tanpa kehadiran nurani yang selalu terjada dan perasaan yang tulus akan kesucian akan ajaran ini. Dalam bagian awal risalah Nizhamul Hukam al-Banna telah menegaskan

"Daulah Islamiyah tidak akan tegak kecuali berdiri di atas pondasi dakwah, sehingga ia menjadi negara risalah bukan hanya sekedar bagan struktur dan bukan pula pemerintahan yang

51 Nashir Fahmi, Menegakkan Syariat Islam Ala PKS, Era Intermedia, hal 29

52 Dr. Yusuf Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer lilid 2, Gema Insani Press, hal 934

23

materialistis, yang jumud, pasif, tanpa ruh di dalamnya. Demikian Pula dakwah tidak mungkin tegak kecuali jika ada jaminan perlindungan yang akan menjaga, dan mengokohkannva."

Maksud dari perkataan ini adalah bahwasanya ketiga kaidah yang disebutkan di atas haruslah disokong oleh pemahaman dan penghayatan Islam yang benar dari tiap individu, sebagaimana sistem yang benar juga akan mendukung setiap individu untuk memahami dan menghayati Islam

secara benar.

Kaidah-kaidah yang disebutkan oleh al-Banna sebenarnya makin menegaskan bahwasannya konsep bernegara dalam Islam sangat jauh dari kediktatoran. sebaliknya ia justru merupakan sistem yang sangat terbuka yang menghargai aspirasi rakyat, dan pemerintah memiliki tanggung

jawabnya sendiri, di dunia maupun di akhirat, atas amanah kepemimpinan terse but. Hal ini juga menegaskan bahwa Islam tidak sejalan dengan sistem Teokrasi dimana rajajpenguasa dianggap

sebagai wakil Tuhan di muka bumi, namun justru mengedepankan prinsip supremasi hukum,

dengan hukum Allah sebagai hukum satu-satunya dan yang tertinggi. Sedangkan hukum Allah (yang terdapat dalam al-Quran dan sunnah) itu sendiri melarang penguasa bertindak sewenangwenang, dan memberikan ruang yang luas bagi partisipasi rakyat mengontrol dan memberi

masukan kepada pemerintahan, disamping mewajibkan mereka untuk mendukung hal-hal yang

ma'ruf.

Mengutamakan Prinsip Dibandingkan Bentuk

AI-Banna mengatakan dalam Nizhamul Hukam, "Sistem Islam dalam makna ini tidak mementingkan bentuk atau nama. Selama kaidah-kaidah pokok tadi terealisasikan, di mana tidak mungkin suatu hukum akan tegak tanpanya dan selama diterapkan secara tepat hingga dapat menjaga keseimbangan yang masing-masing bagian tidak mendominasi bagian yang lain .... ,,54

Pendapat al-Banna ini menegaskan bahwasannya yang harus menjadi patokan adalah kaidahkaidah dalam menjalankan negara j aktivitas pemerintahan, bukanlah bentuk formal dari praktek kenegaraan Islam yang pernah dijalankan di masa terdahulu seperti kesultanan, kerajaan, ataupun kekhalifahan. Walaupun sebenarnya al-Banna menetapkan standar yang berbeda untuk masalah kekhalifahan, bahkan ia menjadikan khilafah adalah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh seluruh ummat Islam.

Pandangan Terhadap Sistem Pemerintahan Modern

Setelah memberikan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam ke tatanegaraan Islam, maka al-Banna lalu mengalihkan pembahasannya kepada sistem pemerintahan modern yang

53 Hassan AI-Banna, Kumpulan Risalah Dakwah Hassan AI-Banna jilid 2, I'tishom Cahaya Ummat, cet 1, Bab Risalah Nizhmul Hukam, hal 70

54 Ibid, hal. 70

24

diterapkan di Mesir. Hal ini merupakan suatu langkah untuk membuat suatu formulasi yang mudah diterima agar konsep-konsep Islam terse but dapat berhadapan dengan realita yang terjadi, sambil memberikan solusi tentang apa yang seharusnya dilakukan. Pendekatan seperti ini adalah pendekatan yang telah diklasifikasikan oleh John L. Esposito sebagai pendekatan revivalis / modernisasi Islam sebagaimana telah dibahas di awal tulisan ini. Adapun dalam risalah nizhamul hukam al-Banna memberikan pandangan terhadap Sistem Pemerintahan Parlementer, Konstitusi / Undang-Undang Dasar (khususnya Undang-Undang Dasar Mesir), Sistem Kepartaian, dan Pemilu. Pandangan al-Banna adalaha sebagai berikut :

1) Sistem Pemerintahan Pari em enter

Dalam pandangannya yang tersebar di beberapa risalah yang ditulisnya al-Banna memberikan kompromi terhadap berbagai sistem pemerintahan modern asalkan sistem terse but bersesuaian dengan kaidah-kaidah Islam. Terhadap sistem pemerintahan parlementer ini (yang ketika itu diterapkan di Mesir), dalam risalah nizhamul hukam al-Banna mengatakan:

"Seorang pakar hukum perundang-undangan mengatakan bahwa sistem parlementer tegak di atas pondasi tanggung jawab pemerintahan, kedaulatan rakyat dan penghargaan terhadap aspirasi mereka. Dalam sistem parlementer, tidak ada yang menghalangi persatuan dan kesatuan umat. Perpecahan dan konflik bukan termasuk prasyarat di dalamnya, kendati sebagian orang mengatakan bahwa salah satu tiang penyangga sistem parlementer adalah sistem kepartaian. Namun walaupun kepartaian telah menjadi tradisi, akan tetapi ia bukan merupakan pondasi bagi tegaknya sistem ini. Sebab sangat mungkin sistem parlemen dipraktikkan tanpa adanya parta, dan tanpa keluar dari kaidah-kaidah aslinya.

Atas dasar ini, tidak ada kaidah-kaidah sistem parlementer yang bertentangan dengan kaidah-kaidah yang digariskan dalam Islam dalam menata pemerinthahan. Itu berarti sistem parlemen tidak begitu jauh melenceng dan tidak asing bagi sistem Islam .... ,,55

Dari pemaparan di atas al-Banna tampak memberikan komprominya terhadap sistem pemerintahan parlementer yang berjalan di Mesir pada sa at itu. Namun ia juga memberikan prasyarat yang bersumber dari tiga kaidah yang diberikannya di awal risalahnya, dan mengkritisi sistem kepartaian yang dilaksanakan dalam sistem pemerintahan parlementer / modern, yang mengakibatkan perpecahan.

Mengenai kekuasaan eksekutif, al-Banna mengatakan kaidah-kaidah kekuasaan eksekutif (kabinet) dalam sistem pemerintahan parlementer juga tidak bertentangan dengan Islam. Bahwasannya Kepala Negara dalam Islam berhak mendelegasikan tugas dan wewenangnya kepada organ / lembaga apapun. Dalam sistem parlementer, Kepala pemerintahan dijalankan

55 Ibid Ibid, hal. 82

25

oleh perdana menter yang diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada parlemen, di sisi lain parlemen bertanggung jawab kepada Presiden / kepala Negara.

Dalam konsep Islam di masa lalu pendelegasian ini disebut dengan wizaratut tafwidh, ia juga mengutip penjelasan dari al-Mawardi dalam al-Ahkam al-Sulthaniyyah, mengenai sistem pemerintahan parlementer ini yang mendasarkan bolehnye pendelegasian pad a firman Allah mengenai permohonan nabi Musa as, "dan jadikanlah untukku seorang pembantu (menteri) dari keluargaku (yaitu) Harun saudaraku. Teguhkanlah dia dengan kekuatanku, dan jadikanlah ia sekutu dalam urusanku"(Thaha : 29-32)56

2) Konstitusi / Undang-Undang Dasar

Demikian pula ketika menanggapi konstitusi / UUD Mesir, maka sikap al-Banna menjadikan tiga pilar yang telah ia tentukan sebagai patokan untuk menilai baik buruknya. Setelah menilai

sistem parlementer ia memberikan penilaian tentang UUD ini:

"Atas premis ini (setelah membahas sistem parlementer) dapat kita katakan dengan mantap bahwa kaidah-kaidah dasar yang menjadi tupuan UUD Mesir tidak bertentangan (dengan Islam). Bahkan para tokoh yang menggodok UUD Mesir, walaupun bersandar pad a prinsip-prinsip kontemporer dan teori perundang-undangan mutakhir, mereka sangat begitu hati-hati agar tidak da satu butir pun dari undang-undang yang bertentangan dengan kaidah Islam. Ada yang secara tegas tersurat sesuai dengan kaidah Islam seperti butir yang mengaakan "Agama Resmi Negara adalah Islam". Adapula yang tersirat dan terbuka untuk ditafsirkan, namun dijamin tidak bertentangan dengan kaidah Islam, seperti butir Undang-undang (dasar) yang berbunyi "Kebebasan berkeyakinan itu dijamin undang-undang"."

Di bagian lain dari risalah nizhamul hukam ini al-Banna memberikan kritikannya terhadap

UUD Mesir, yang isinya mengenai kontradiksi-kontradiksi isi pasal dengan pasal lain, maupun isi

pasal tertentu dengan sistem yang dianut dalam sistem pemerintahan parlementer yang berjalan di Mesir. Terlihat bahwasannya al-Banna telah selesai dengan pembahasan benar tidaknya

sistem konstitusional dalam pandangan Islam, ia justru menyelami, dalam pembahasannya, tentang apa yang harus diperbaiki dari UUD Mesir, yang artinya ia sendiri telah menerima

penggunaan UUD.

Bila dilihat dari ilmu perundang-undangan modern maka pandangan al-Banna ini hampir sejalan dengan teori perundang-undangan modern seperti Stufentheorie dari Hans Kelsen, yang menerangkan bahwa norma hukum itu bertingkat-tingkat, dan dalam tingkatan yang paling atas

56 Ibid, hal. 84

57 Ibid, hal. 82-83

26

berhenti pada Gerund Norm. Begitu pula dengan teri dari Hans Nawiasky yang membagi jenjang norma hukum menjadi empat tingkatan vaitu":

• Staatsfundamentalnorm (Norma Fundamental Negara)

• Staatsgrundgezets (Aturan Pokok Negara)

• Formal Gesetz (Undang-undang formal)

• Verordnung & Autonomr Satzung (Aturan pelaksana dan aturan otonom)

Dimana kedua teori terse but menjadikan norma dasar / gerund norm atau norma fundamental negara / staatsfundamental norm sebagai sebuah norma tertinggi yang memang sudah ditetapkan oleh masyarakat sebagai norma yang menjadi dasar bagi norma-norma dibawahnya. Hanya saja keduanya mengasumsikan nilai ini sebagai hasil dari pemikiran masyarakat, bahkan Nawiasky mengatakan nilai-nilai ini dapat berubah karena peristiwa tertentu."

Apa bila dilihat dari kajian kemasyarakatan memang demikian adanya bahwasannya suatu norma yang berlaku di masyarakat tergantung dari pemikiran masyarakat itu sendiri. Hal ini sebenarnya tidak bertentangan dengan sunatullah yang telah Allah tetapkan, oleh karena itu manusia diberikan pilihan oleh Allah SWT dalam AI-Qur'an "Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapa yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?" (AI-Maidah: 50). Dan bagi setiap mukmin dikenai kewajiban fardhu kifayah untuk berdakwah menyebarkan konsep Islam. Dalam masyarakat Islam, apabila mereka memahami Islam dengan benar sudah jelas bahwa Gerundnorm ataupun staatsfundamental norm dalam negara Islam adalah syariat itu sendiri.

Kembali kepada pemikiran al-Banna, pada dasarnya bila dibandingkan dengan dua teori perundang-undangan modern di atas maka al-Banna menempatkan syariat Islam/ Islam sebagai norma dasar bahkan mencapai tingkat yang lebih rendah yaitu aturan pokok negara, sebagaimana kaidah-kaidah di UUD Mesir yang disinggungnya.

3) Sistem Kepartaian

Sistem kepartaian adalah sistem yang paling ditentang al-Banna dalam pemikiran-

pemikirannya hal ini karena ia beranggapan dengan adanya sistem kepartaian, terutama yang

membuka kesempatan bagi banyak partai untuk muncul, hanya akan memunculkan pertentangan dan perpecahan di masyarakat. al-Banna justru mengambil contoh dari sistem kepartaian di Amerika yang membatasi hanya dua partai di pemilu (yaitu demokrat dan republik),

ia mengatakan:

58 Maria Farida Indrawati, jilid lllmu Perundang-undangan, cet 1 tahun 2007, penerbit kanisius, hal. 41-45. 59 Ibid, hal. 41-45.

27

"Di Amerika Serikat pun demikian, hanya ada dua partai yang gaungnya tidak kita dengar

kecuali sa at musim pemilu, tidak ada fanatisme partai atau perpecahan karena partai. Sejarah

membuktikan, di negara-negara yang iklim kepartaiannya terlalu ekspansif dan selalu berambisi membentuk partai baru, selalu mengalami suasana perang dan damai yang datang berganti. Perancis (pada masanya, pen) adalah contoh yang paling tepat.,,60

al-Banna lalu mengkritik partai-partai di Mesir yang dalam pandangannya hanya berorientasi kepada kekuasaan tapi tidak memberikan platform yang jelas mengenai Mesir. Poin inilah yang dikritik al-Banna. Tampak bahwa yang dimaksud beliau adalah sistem kepartaian yang terjadi di Mesir pada sa at itu. Dalam risalah yang sama ia mengatakan:

"Pada kenyataannya partai-partai di Mesir bukanlah partai sebagaimana yang dikenal berbagai negara di dunia. la tidak lebih dari sekedar rentetan konflik yang ditimbulkan oleh perbedaan pendapat individual di tengah umat ini, yang pada suatu ketika mereka terkondisi untuk berbicara atas nama partai dan menuntut hak-haknya dengan mengatas namakan

nasionalisme." "

Miriam Budiharjo memberikan definisi yang ideal tentan partai politik yaitu "Suatu kelompok

yang terorganisisr yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang

sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kedudukan politik -(biasanya) dengan cara konstitusionil- untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan mereka". 62

Definisi di atas yang tidak tampak dalam analisa al-Banna, hal ini mungkin karena sistem

kepartaian pada sa at itu justru tidak mengakomodir aspirasi dari masyarakat Mesir, malah justru

memecah belah masyarakat untuk mengikuti kemauan partai-partai yang ada, dan menimbulkan konflik kepentingan.

4) Pemilu

Mengenai Pemilu, al-Banna menganalogikan sistem pemilu sebagai sebuah cara untuk

memilih wakil rakyat, dan merupakan salah satu bentuk dari penghargaan atas aspirasi rakyat. Dalam hal ini ia menyamakan bahwasannya kedudukan wakil rakyat ini sebagai ahlu halli wal 'aqdi, hanya saja untuk keperluan memilih ahlu halli wal 'aqdi maka harus memiliki kriteria-

kriteria tertentu. Diantaranya:

• Ahli fiqih dengan standar mujtahid di mana pendapat-pendapat mereka dalam fatwa dan istinbath hukum diperhitungkan umat

• Pemilik skill, pengalaman, pakar dan kemampuan dalam urusan publik

60 Hassan AI-Banna, Kumpulan Risalah Dakwah Hassan AI-Banna jilid 2, I'tishom Cahaya Ummat, cet 1, Bab Risalah Nizhmul Hukam, hal 92

61 Ibid, hal 93

62 Prof Abdul Bari Azed SH MH dan Makmur Amir SH MH, Pemilu dan Partai Politik di Indonesia, hal 32-33

28

• Para tokoh kharismatik yang memiliki komando dan kepemimpinan di tengah masyarakat, seperti tetua suku, tokoh masyarakat, dan pemimpin organisasi

Permasalahan ini sebenarnya permasalah yang banyak dibahas dalam permasalahan pemilu kontemporer yaitu diperlukannya kriteria-kriteria untuk calon wakil rakyat yang akan dipilih di pemilu. al-Banna pun mengkritik sistem pemilu di Mesir, mulai dari kualitas kerja KPU Mesir, hingga amandemen UU Pemilu mesir untuk membuat kriteria calon yang pantas, aturan main dan rambu-rambu kampanye yang jelas, pelaksanaan yang baik, sanksi yang berat bagi setiap pelanggaran. Hanya saja al-Banna justru menyarankan agar pemilihan calon dengan menggunakan gam bar (partai) bukan memilih orang, maksud al-Banna adalah agar ketika mereka berhadapan dengan konstituen yang mereka perjuangkan bukanlah kepentingan pribadi mereka, namun kepentingan umum yang diartikulasikan melalui program partai politik mereka ataupun kelompok mereka. Bila melihat pada maksud al-Banna ini maka mengarah pada pengertian ideal menganai partai politik yang diberikan oleh Miriam Budiharjo.

3.5. LIMA BABAK KEBANGKITAN UMAT

Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, kebangkitan dan kemajuan adalah sebuah keniscayaan yang mesti diyakini. Namun, kelemahan yang sedang mengungkung suatu bangsa seringkali memicu keputusasaan sehingga bayang-bayang ketidakpastian dan kemustahilan menjadi begitu kuat. Realitas kejiwaan masyarakat inilah yang ingin didobrak oleh Hasan al-Banna, dengan salah satu ungkapannya: "Inna haqaiqa al-yaumi hiya ahlamu al-amsi, wa ahlama al-yaumi haqaiqu al-ghadi (Sesungguhnya kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari)."

Di atas keyakinan ini, Hasan al-Banna menyodorkan perpektif baru dalam menatap kebangkitan. Bahwa, kehancuran material adalah indikasi fenomenalogis yang zhahir dari kelemahan suatu bangsa, sementara akar penyebab kelemahan yang sebenarnya ada pada kehancuran jiwa masyarakatnya. Ini yang secara kuat dicemaskan oleh Abul Hasan An-Nadwi dengan ucapannya, "Kemanusiaan sedang ada dalam sakratul maut." (Abul Hasan An-Nadwi, Madza Khasira al-Alam bi Inkhithathi al-Muslimin , 1969). Bahkan, kecemasan dunia modern yang digjaya seperti Amerika misalnya, juga terletak di sini. Laurence Gould pernah mengingatkan publik Amerika, "Saya tidak yakin bahaya terbesar yang mengancam masa depan kita adalah bom nuklir. Peradaban AS hancur ketika tekad mempertahankan kehormatan dan nilai-nilai moral dalam hati nurani warga kita telah mati." (Hamilton Howze, The Tragic Descent: America in 2020, 1992).

Dari pemahaman inilah, Hasan al-Banna menyimpulkan bahwa pilar kekuatan utama untuk bangkit adalah kesabaran (ash-shabru), keteguhan (ats-tsabat), kearifan (al-hikmah), dan ketenangan (al-anat) yang kesemuanya menggambarkan kekuatan kejiwaan (al-quwwah an-nafsiyah) suatu

29

bangsa. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi kejiwaannya"; (QS. 13:11).

Transisi politik merupakan titik-berangkat (muntholaq) untuk membangun kembali umat.

Kepada para pelaku perubahan (anashir at-taghyir), Hasan al-Banna mengingatkan dua pandangan dasar (an-nadhoriyah al-asasiyah) yang mesti dipegang teguh. Pertama, sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tetapi tidak ada pilihan lain selain ini. Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya.

Dalam proses pembangunan kembali umat, Hasan al-Banna menyimpulkan adanya lima babak yang akan dilalui. Kesimpulan ini berangkat dari analisa sejarah perjalanan bangsa-bangsa dan upaya memahami arahan-arahan Rabbani (taujihat rabbaniyah). Apa kelima babakan itu?

1) Kelemahan (adh-dho fu).

Faktor utama kelemahan adalah terjadinya kesewenang-wenangan rezim kekuasaan yang tiranik. Kekuasaan inilah yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan mem berangus potensi-potensi kebaikannya dengan dalih kepentingan kekuasaan. "Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, membunuh anak lakilaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang membuat kerusakan." (QS. 28:4) Itulah sebabnya tujuan pertama transisi politik menurut al-Banna adalah membebaskan umat dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik.

2) Kepemimpinan (az-zuaamah)

Sejarah perubahan menunjukkan bahwa upaya bangkit kembali dari kehancuran membutuhkan seorang pemimpin yang kuat. Kepemimpinan ini mesti muncul pada dua wilayah, yaitu pemimpin di tengah-tengah masyarakat (az-zuaamah ad-da wiyah) yang menyeru kepada kebaikan dan pemimpin pemerintahan (az-zuaamah as-siyasiyah) yang sejatinya muncul atau menjadi bagian dari mata rantai barisan penyeru kebaikan itu. "Allah telah berjanji kepada orangorang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumilrlquot: (QS. 24:55). Ini artinya kekuatan-kekuatan Islam mesti mempersiapkan diri secara sistematis, sehingga masa transisi politik menjadi kesempatan untuk meneguhkan kepemimpinan dakwah dan untuk meraih kepemimpinan politik. Inilah tantangan sekaligus rintangan terberat kaum muslimin pada hari ini.

3) Pertarungan (ash-shiraa u)

Ketika suatu bangsa memasuki masa transisi politik, al-Banna mengingatkan akan muncul dan maraknya berbagai kekuatan ideologis yang lengkap dengan tawaran sistem dan para 30

penyerunya. Akan terjadi kompetisi terbuka untuk menanamkan pengaruh, meraih dukungan dan memperebutkan kekuasaan.

Ada dua karakter dasar ideologi-ideologi kuffar. Pertama, secara hakiki ia berlawanan dengan ideologi Islam. Dan kedua, untuk menjamin eksistensinya di muka bumi, ideologi-ideologi kuffar itu akan berupaya menghancurkan ideologi Islam. Pertarungan terberat adalah pada upaya untuk membebaskan diri dari mentalitas, sikap, perilaku dan budaya yang sudah terkooptasi oleh ideologi materialisme-sekuler. Pertarungan ini tidak bisa dimenangkan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan bangunan keimanan baru yang memantulkan izzah (harga diri) umat di hadapan peradaban-peradaban kuffar.

4) Iman (AI-Iman)

Pertarungan ideologi di fase transisi menuju kebangkitan adalah masa-masa ujian berat bagi umat. Pertarungan akan memunculkan dua golongan manusia. Pertama, mereka yang tidak istiqamah dengan cita-cita Islam dan menggadaikan perjuangannya demi keuntungankeuntungan material. Perjuangan bagi mereka adalah bagaimana mengumpulkan sebanyakbanyaknya perhiasan dunia sesuatu yang tidak mereka miliki sebelumnya. Golongan kedua, adalah mereka yang istiqamah dan iltizam dengan garis dan cita-cita perjuangan. Besarnya kekuatan musuh justru menambah keimanan mereka dan semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah. Inilah golongan yang sedikit, tapi dijanjikan kemenangan oleh Allah. Proses kebangkitan umat tidak akan berjalan tanpa keberadaan mereka; orang-orang yang akan menorehkan garis sejarah panjang perjuangan yang diliputi berbagai keistimewaan dan keajaiban.

5) Pertolongan Allah (AI-Intishar)

Inilah hakikat kemenangan bagi umat, yaitu ketika Allah swt. telah menurunkan pertolongannya untuk mencapai kemenangan sejati. Kemenangan tidak semata diukur oleh terkalahkannya musuh. Tetapi, kemenangan adalah ketika tangan-tangan Allah ikut bersama kita menghancurkan seluruh kekuatan musuh. Inilah awal tumbuhnya kehidupan baru di mana Allah akan menerangi dengan cahayaNya dan Allah akan menaungi kehidupan umat dengan Keperkasaan dan Kasih-sayangNya. Di sinilah pembalikan keadaan (tabdil) dalam kehidupan akan terjadi. Kemakmuran, keamanan, kedamaian dan keadilan akan menjadi nikmat yang bisa dimiliki setiap makhluk yang mendiami negeri itu. "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar." (QS. AIFath: 1-3)

31

BABIV KESIMPULAN

Pemikiran Hassan al-Banna dapat digolongkan sebagai pemikiran revivalis/modernisme Islam yang merupakan respon dari kemerosotan ummat Islam dan merajalelanya imperialisme barat pada waktu itu. John L. Esposito menggolongkan modernisme Islam sebagai sebuah pemikiran yang menyatakan perlunya reformasi Islam. Pemikiran ini menyalahkan kemerosotan internal masyarakat muslim, impotensi, kemunduran mereka, serta ketidakmampuan mereka untuk menjawab tantangan kolonialisme Eropa dengan cara taklid (mengikuti sepenuhnya tanpa pemahaman) buta kepada masa lalu. Para reformis ini menekankan pada semangat, keleturan, dan keterbukaan yang menjadi ciri khas awal perkembangan Islam.

Modernisme Islam adalah suatu proses otokritik internal, suatu perjuangan untuk mendefinisikan kem bali Islam guna menunjukkan relevansinya dengan situasi-situasi baru yang melingkupi muslim ketika masyarakat mereka dimodernisasikan. Tokoh dari pemikiran ini di antaranya adalah Jamaluddin ai-Afghani dan muridnya yang tersohor yaitu Muhammad Abduh lalu diteruskan oleh Rasyid Ridla.63 Nama yang terakhir ini yang memiliki pengaruh langsung pada Hassan al-Banna, dikarenakan majelis-majelisnya yang dihadiri oleh Hassan al-Banna, dalam sejarahnya majalah AI-Manar yang dipimpin oleh Rasyid Ridha ini diserahkan pengelolaannya kepada al-Banna, setelah ia meninggal dunia.

Substansi dari pemikiran modernisasi terse but menunjukkan konsep kesempurnaan Islam, berdasarkan sumber-sumbernya, dan relevansinya dengan masyarakat yang modern, menunjukkan bahwa konsep yang terbaik bagi masyarakat modern iu sebenarnya sudah terdapat pada sumbersumber Islam, sehingga untuk memperbaiki kondisi ummat Islam adalah dengan berpedoman dengan sumber-sumber Islam yang murni.

Dari uraian makalah di atas, maka pemikiran politik Hasan al-Banna dapat disimpulkan kepada empat kerangka, yaitu: pertama, Arabisme (urubah) menurut Hasan al-Banna adalah karena faktor kesatuan bahasa. Tanpa Arab tidak ada Islam. Islam turun di dunia Arab, olehnya itu maka kaum muslimin perlu menjaga nama baik Arab. Keduo, Patriotisme (wathaniyah) dalam Islam dibolehkan selama tidak mengarah pada kesempitan pandangan jahiliyah. Kerinduan pada tanah air adalah sesuatu yang fitrawi, namun tetap dikendalikan oleh konsepsi Islam.

Ketiga, Nasionalisme (qaumiyah) terbagi tiga yaitu nasionalisme kejayaan, nasionalisme umat, dan berkata tidak pada nasionalisme jahiliyah. Keempot, Internasionalisme ('alamiyah) adalah konsep Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil'alamin).

63 John L Esposito, Islam Warna-Warni, bab 4, hal 157-158

32

DAFTAR PUSTAKA

al-Banna, Hasan. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin I (Majmu'ah ar-Rasail ai-Imam as-Syahid Hasan al-Banna-terj. Anis Matta dkk), cet.1S. Solo: Era Intermedia, 2008.

al-Banna, Hasan. Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin /I (Majmu'ah ar-Rasail ai-Imam as-Syahid Hasan al-Banna-terj. Anis Matta dkk), cet.6. Solo: Era Intermedia, 2001

Esposito, John L. Unholy War: Teror Atas Nama Islam.

Faqih, Khozin Abu. Bersama 6 Mursyid 'Am: Mengenal Perintis Kebangkitan Islam Abad 15 H. Solo:

Auliya Press, 2006

al-Ghazali, Abdul Hamid. Meretas Jolon Kebangkitan Islam: Peta Pemikiran Hasan al-Bann a (Haula Asasiyat al-Masyru' al-Islami Linahdhah al-Ummah-terj. Wahid Ahmadi & Jasiman). Solo: Era Intermedia

Hamid, Tijani Abd. Qadir. Pemikiran Politik dalam al-Qur'an (al-Ushul al-Fikri al-Siyasi fi al-Qur'an alMakki-terj. Abdul Hayyie al-Kattani). Jakarta: Gema Insani Press, 2001

Jabir, Hussain bin Muhammad bin Ali. Menuju Jama'atul Muslimin: Telaah Sistem Jama'ah dalam Gerakan Islam (al-Thariq ila Jama'at al-Muslimin-terj. Aunur Rafiq Shaleh Tahmid), cet.kedua. Jakarta: Robbani Press, 2002

Mahmud, Ali Abdul Halim. Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin (Wasail a-Tarbiyah linda Ikhwanil Muslimin (Dirasah Tahliliyah Tarikhiyah-terj. Wahid Ahmadi dkk), cet.kelima. Solo: Era Intermedia, 2000

al-Qaradhawi, Yusuf. Sistem Kaderisasi Ikhwanul Muslimin (at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Madrasah Hasan al-Banna-terj. Ghazali Mukri). Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1992

Rizq, Zabir. Hasan al-Banna: Dai, Murabbi, dan Pemimpin yang Mengabdi (ai-Imam Hasan al-Banna bil Aqlami Talamidzatihi wa Mu'ashirahi -terj. Syarif Ridwan). Bandung: Harakatuna Publishing, 2007

Zainuddin, AR. Pemikiran Politik Islam: Islam, Timur Tengah, dan Benturan Ideologi (Hermawan Sulistyo, ed.), cet.l. Jakarta: Pensil-324, 2004

INTERNET:

• http://id. wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna

• http://www.presidensby.info/index.php/pidato/200S/01/11/276.html

• http://www.eramuslim.com/manhaj-dakwah/fikih-siyasi/fikih-siyasi-dan-kredibilitas-hasanal-banna.htm

• http://robirahman.blogspot.com/

• http://santrigenggong.wordpress.com/

33

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->