P. 1
Bab 1- Bab 6, Daftar Pustaka

Bab 1- Bab 6, Daftar Pustaka

|Views: 5,499|Likes:
Published by Randy Harry

More info:

Published by: Randy Harry on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/18/2013

pdf

text

original

Dalam mempersiapkan generasi yang tangguh dan cerdas di masa depan adalah

tanggung jawab bersama semua pihak. Baik tidaknya proses tumbuh kembang fisik,

mental maupun sosial anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor gizi, sosial

budaya, pelayanan kesehatan, dan lain-lain. Impian setiap orang tua adalah

mempunyai anak yang sehat, cerdas, dan berkepribadian baik.Langkah awal untuk

dapat mewujudkan impian tersebut adalah melalui pemberian makanan pertama atau

makanan awal yang benar, dengan kualitas dan kuantitas yang optimal.Setelah itu

dilanjutkan dengan memberikan makan makanan anak yang bergizi yang seimbang

serta imunisasi yang dilakukan secara teratur.Gangguan gizi pada masa bayi dan anak

dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut dikemudian hari.

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa bayi akan tumbuh lebih sehat dan lebih cerdas

dengan diberi Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama empat-enam bulan pertama

kehidupannya (Roesli, 2000).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 450 bulan April tahun 2004

tentang pemberian ASI secara eksklusif bagi bayi di Indonesia sejak bayi lahir sampai

dengan bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak umur 2

(dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai (Roesli, 2002).

Angka Kematian Bayi di Indonesia saat ini masih yang tertinggi di antara negara-

negara di ASEAN(Association South East Asia Nation).Tingginya angka kematian

bayi di Indonesia tersebut diperkirakan ada kaitannya dengan pemberian ASI yang

akhirnya akan berkorelasi dengan terjadinya gizi buruk (Survey Demografi Kesehatan

Indonesia, 1997-2003).

2

United Nations ChildrenFund (UNICEF) menyatakan sebanyak 30.000 kematian

bayi di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam

bulan sejak kelahiran, tanpa harus memberikan makanan atau minuman tambahan

pada bayi. The World Alliance for BreastfeedingAction (WABA) memperkirakan 1

juta bayi dapat diselamatkan setiap tahunnya bila diberikan ASI pada 1 jam pertama

kelahiran, kemudian dilanjutkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan. Namun

kesadaran para ibu untuk memberikan ASI eksklusif di Indonesia baru sekitar 14%

(Survey Demografi Kesehatan Indonesia, 1997-2003).

Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya jumlah ibu yang memberikan ASI

eksklusif antara lain pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif masih rendah,

tatalaksana rumah sakit yang salah dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di

luar rumah. Beberapa rumah sakit menganjurkan susu formula pada bayi yang baru

lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI. Hal ini menyebabkan bayi tidak

terbiasa menghisap ASI dari puting susu ibunya (Suradi, 2004).

Di dalam denyut kehidupan kota besar, kita lebih sering melihat bayi diberi susu

botol daripada disusui oleh ibunya. Sementara di pedesaan, kita melihat bayi yang

baru berusiasatu bulan sudah diberi pisang atau nasi lembut sebagai tambahan ASI

(Roesli, 2000).

Berdasarkan hasil di atas, maka peneliti tertarik untuk menelitimengenai perilaku

ibu dalam pemberian ASIeksklusif pada bayi.

3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->