Potret Manusia Marjinal dalam Cerpen-Cerpen Joni Ariadinata

Maman S. Mahayana

00. Sastra adalah dunia yang serba mungkin; apapun bisa jadi mungkin (probability), termasuk di dalamnya, yang mustahil pun bisa saja menjadi mungkin. Jadi, dalam keser-bamungkinan atau kemustahilan itu, berbagai peristiwa yang mungkin dan yang mustahil, bisa saja terjadi sekalisekali, gonta-ganti atau serempak secara tumpang-tindih. Oleh karena itu, salah satu kekhasan karya sastra (fiksi) yang sering dimanfaatkan untuk mem-bedakannya dengan karya nonfiksi adalah adanya kebolehjadian (plausibility) itu. Itulah sastra! Ia bisa menampilkan dunia yang realistik dan masuk akal secara meyakinkan. Na-mun, ia juga dapat menampilkan hal yang sebaliknya. Di sana, mungkin ada dunia jung-kir-balik, irasional, dan amburadul. Semua boleh saja terjadi, dan itu sah! Tidak ada rumus yang pasti yang berlaku universal. Selalu saja ada yang khas, unik, dan nyeleneh. Selalu ada saja kekhasan individual, meskipun ciri atau sifat-sifatnya, mungkin berlaku universal yang terkait dengan konteksnya yang meruang dan mewaktu. Sumber keserbamungkinan dan kebolehjadian itu, tentu saja jatuh pada permainan imajinasi. Penjelajahannya yang tidak dapat terikat apapun, membuka peluang baginya untuk menerobos ruang dan waktu. Ia bisa saja secara leluasa mengacak-acak masa lalu, masa kini atau masa datang. Ia juga bisa saja menclak-menclok dan bertengger di tempat dan ruang mana pun. Berbagai peristiwa yang mestinya hadir dalam rangkaian waktu yang teratur, sangat mungkin mendadak jadi semrawut dan jumpalitan. Itulah sastra! Sebuah dunia yang sangat ditentukan oleh kehendak imajinasi. Akibatnya, jangat kaget, jika akal sehat dan logika formal, jadi ikut berantakan dan mubazir. Jika kemudian penjelajahan imajinatif itu terkesan terbata-bata, jumpalitan, atau ngalorngidul dan semrawut, persoalannya terletak pada sarana ekspresinya yang sangat terbatas dan tidak dapat mewakili secara sempurna kegelisahan pikiran dan perasaan se-seorang. Bahasa sebagai sarana ekspresi, ternyata tidak mampu mengungkapkan keliaran imajinasi. Inilah yang terjadi dalam dua antologi cerpen karya Joni Ariadinata:Kali Mati (Yayasan Bentang Budaya, 1999) dan Kastil Angin Menderu (Indonesia Tera, 2000), meskipun persoalan tersebut dalam antologi yang disebut terakhir tidak hadir secara sig-nifikan. Mari kita periksa! 01. Antologi Kali Mati memuat 15 cerpen dan semuanya mengungkapkan gambaran, betapa keliaran imajinasi yang coba diekspresikan lewat bahasa, nyaris membuat kita ikut jumpalitan. Memang ada logika formal yang hendak diselusupkan latar cerita dan ung-kapan para tokoh yang digambarkannya, tetapi kemudian logika formal itu menjadi mu-bazir, lantaran imajinasi memang tidak tunduk pada logika. Akibatnya, tata bahasa, urut-an sintaksis, kosa kata baku, juga benar-benar dibuat berantakan! Inilah antologi cerpen yang paling kurang ajar dalam memperlakukan bahasa. Tidak cuma itu, majas atau gaya bahasa yang selama ini kita kenal dalam buku-buku pe-lajaran, ikut dibuat kocar-kacir dan ngawur. Tetapi justru dengan cara itu pula, Joni se-sungguhnya hendak memotret problem sosial kita yang memang serba ngawur dan am-buradul. Sebuah

nempiling.potret acakadul yang banyak kita jumpai dalam kehidupan para gelan-dangan. hlm. yang kadang-kadang kaki lelaki mencolot keluar. Gedebuk batu-bata. kadang kala justru mengesankan ekspresi kreatifnya menyerupai puisi. . Jika sedang dinas. Berita menerabas seperti bledek: jedak! jedak! … lutut-lutut gemeletar. gelepok sampah. … Otak-otak meledak pohon batu tanah debu ranting sampah tumpah tembok batok mengutuk ambruk. seperti li-sus. Meskipun keduanya memperlihatkan cara bertutur yang berbeda. Atau perhatikan juga kalimatkalimat aneh berikut ini: “…Tobat. Dalam konteks itu.. Tetapi justru dengan cara itu. Dentang pagar dan suara pengemis masih mengumpat. Jam sebelas.” (Rumah Bidadari. bunyi napas…. Lalu bahasa macam apa yang diperlukan untuk mengungkapkan dunia yang seperti itu? Pentingkah logika untuk menjelaskannya? Di sinilah bahasa manusia tak mampu mewadahi lompatanlompatan pikiran. orangorang gendeng. *** Pilihan tema dan gaya yang diambil Joni. anak-anak ribut melempar jambu di halaman. tentu. yang dalam beberapa cerpennya. keberpihakan padawong cilik tampak jelas melatari sikap kepengarangan keduanya. Dengan cara itu pula sesung-guhnya. keke-rean. karena memang kehidupan gelandangan tidak mengenal tata bahasa. prak! ebrekewek mantra dukun. Juga membuka kemungkinan kebe-basan berkreasinya dapat dimanfaatkan secara maksimal. Dinding kardus bergoyanggoyang kemerosak. teriak. keciprak lumpur comberan. Muhammad Ali dalam Gerhana mengangkat kere perkotaan dalam berhadapan de-ngan keserakahan orang-orang kaya. sableng. gerbang besi gemeronjang. serangkaian kesemrawutan berbahasa dan onomatope. 135). dan gemblung. Ahmad Tohari dalam Senyum Karyamin mengangkat wong cilik pedesaan. hlm. Joni berhasil memanfaatkannya dalam bentuk baha-sa visual. hlm. Joni bukanlah orang pertama yang mengangkat kehidupan dunia kere. Itulah tema yang mendominasi antologi cerpen ini. ketar-ketir. menunjuk. pekak: …” (Anjing. Perhatikan juga beberapa kesemra-wutan kalimat atau bahasa yang digunakan Joni: “…kardus atap plastik: 1 x 2 meter cocok buat ‘kerja’ satu pasang. (Sampah Tuhan. Perhatikan kutipan berikut: Panas menggigit jendela. Jika tidak. logika gagal merumuskan realitas. melainkan dalam amuk terhadap nasib yang terus dikungkungi kesengsaraan abadi. Ali membalurinya dengan akhir yang tra-gis. Bunga matahari krowak ditendang angin. Seekor cecurut ruangan meninggalkan bau. dapat dipahami jika yang muncul kemudian adalah pembebasan sintaksis dan pembe-lotan atas kosa kata baku. 60). Kata-kata atau ungkapan seperti: gerompyang kuali.rrrhkg” adalah beberapa contoh bagaimana Joni secara kreatif begitu leluasa memanfaatan onomatope. 20). sikap kepengarangan Joni tidak wujud dalam bentuk berpihak. dan tragikal yang lengket menempel gelandangan dan dunia hitam kaum marjinal yang ternistakan. Sial. Akibat-nya. memang memberi peluang baginya un-tuk mengumbar imajinasinya secara liar dan bebas. ia dapat sekaligus membangun potret hitam dunia gelandangannya tanpa beban. Secara tematis. bledek: jedak! jedak! atau suara “ah. Ada layangan jatuh.

Namun. Cerpen “Sampah Tuhan” (hlm. Namun. Noer. ya Tuhan. hahah-heheh. tema terpaksa mesti disaranai oleh style. masuk kamar menambal sepersekian senti daki di seprei nyaris me-leleh semacam nanah buat sekarat putarputar menuntaskan mata yang mencolot-colot melotot. gregetnya akan sangat lain. 66–78) yang mengangkat sepak terjang dan per-debatan estetik seorang pelukis dengan Profesor Babir. Rambut memerah keriting Madonna. sebagaimana yang dilakukan-nya dalam cerpen-cerpen lainnya. Ayam kampung. Jika tidak demikian. Kita pun tentu saja amat menghargai pilihannya. 105–114). . logatnya sama dengan bahasa Indonesia sekarang. Betul ada eksploitasi wong kere di sana. Sengaja kusimpan buat malam-malam. Sembilan alinea pertama cerpen itu. Siasat untuk mengecoh pembaca mesti ditempatkan dalam kerangka inter-pretasi. sungguh khas. penderitaannya justru tidak begitu menonjol. Bahwa Joni telah memilih tema dunia “gila” niscaya itu merupakan pilihan yang tidak main-main. Jadi. *** Perlu diingat bahwa ekspresi apapun yang tertuang dalam teks. jika ia hendak menggambarkan masa lalu (sebelum Indonesia merdeka). Memang tidak ada hubungannya dengan soal logika. Tidak sedikit karya sastra yang jatuh pada ku-bangan. se-nyum munafik dan empat kuli pletay-pletoy. apa maknanya ejaan van Ophuijsen digunakan di sana. perlu dicurigai punya makna. Hoh-hoh-hoh. kehadiran antologi ini bolehlah dikatakan meru-pakan sumbangan penting dalam memperkaya khazanah cerpen Indonesia. jika kehidupan tokoh Siti Sapi yang diplintir dan digali secara maksimal. ditulis dalam ejaan van Ophuijsen. setiap tanda apapun. atau sebaliknya. hanya lantaran tidak memperhatikan persoalan “remeh-temeh” seperti itu. manakala persoalannya menyentuh dunia yang sesungguhnya asing bagi pengarangnya sendiri. (Nekrofagus. Meski begitu. Tanpa adanya sinyal yang memperlihatkan keterkaitan itu. Gaya bahasa (style) memang sering kali berurusan dengan tema. Boleh jadi. Oleh karena itu pula. Ia mesti menjadi bagian integral dalam keterkaitannya dengan unsur lain dalam sebuah wacana. Sarju menenggak. kosrak lap. Maka. mung-kin patutlah kita menyebutnya sekadar main-main. Inilah yang terjadi pada cerpen “Dardanela” (hlm. Arifin C. lantaran persoalannya lebih banyak menyorot pada sepak terjang pelukis dan profesor tadi. per-nah pula menggarapnya. Tetapi aneh. ia mestinya juga memantulkan potret zamannya. dengan gaya dan ragam yang agak berbeda. mesti punya kontribusi bagi bangunan teks itu sendiri. Lipstik. musibah pun terjadilah. justru terkesan nyinyir dan sok tahu.“Lima belas ribu. melenting pirus batu akik: “Kau bera-ni?” Kerocok ember “pencuci itu” di kamar sebentar saja. persoalannya lain jika lalu ia membelot pada tema yang menjadi pilihannya itu. Lala keluar. Dalam perjalanan cerpen Indonesia. kau berani Sarju?” Mata palsu lentik mengerjap. hlm. sastra juga tidak terlepas dari persoalan wawasan. 79). apabila ia tidak mendukung dan tak berkaitan dengan makna yang hendak disampaikan wacana bersangkutan. meskipun sebelum itu. misalnya. Oleh karena itu. babi-babi jontor berebut menggayut Sandra. tema dan gaya dalam antologi ini. kecuali untuk sekadar “main-main” jika tidak mau dikatakan bertingkah? Persoalannya sangat berbeda dengan pilihan tema dan gaya yang digunakannya.

berdasarkan kolofon yang terdapat dalam kedua antologi itu. prajurit atau pejabat korup. Kedua antologi ini sezaman. Keberpihakan pengarang terhadap wong cilik dalam Kastil Angin Menderu. Lompatan-lompatan pikiran para tokohnya yang modar-mandir dari masa kini ke masa lalu yang pada awalnya cukup meyakinkan –lantaran kesemrawutannya. sisanya ke-mudian dikumpulkan kembali dan lahirlah Kastil Angin Menderu. malah jadi menimbulkan pertanyaan. Satu cerpen lagi. secara keseluruhan antologi Kali Mati sungguh memberi banyak janji. Meski antologi ini diterbitkan dalam tahun yang berbeda (Kali Mati. kurang fokus lantaran tampilnya tokoh-tokoh dengan profesi yang lebih beragam. 02. Dengan gaya bahasa yang tidak jauh berbeda. Tetapi ujaran-ujarannya yang tidak berantakan dan ngawur.Kasus yang sama juga terjadi pada cerpen “Jelatang Bundar” (hlm. Adakah wong gemblung menyadari dirinya gem-blung. Iwan Simatupang (Lebih Hitam dari Hitam) atau Ahmad Tohari (Wangon Jatilawang). justru terasa ngegelambyar. Oleh karena itu. Praanggapan ini tentu saja dengan sejumlah pertimbangan. Jika Kali Mati terbit lebih awal. Joni agaknya perlu menyimak Naguib Mahfouz. pada awalnya cukup memukau. jika kolofon itu dapat kita jadikan sebagai pegangan untuk mencermati perkembangan kepengarangannya. maka Kastil Angin Menderu bukan merupakan karya yang dihasilkan pasca-Kali Mati. *** Terlepas dari persoalan-persoalan itu. Ia hadir dengan kekhasannya tentang gembel dan orang-orang tergusur di perkotaan. ”Indonesia” hadir dengan beberapa hingar dan tentu saja itu agak mengganggu. Sebuah potret gelap orang-orang marjinal jadi terasa lebih gelap. 88–97). Lu Xun (Catatan Harian Seorang Gila). maka keberpihakan pengarang terhadap to-koh-tokohnya dapat lebih fokus. Akibatnya. Dan ini didukung oleh kemarahan dan kesumatnya pada nasib busuk orang-orang marjinal yang terusmenerus dililit kubangan “comberan”. seolah-olah jadi mubazir manakala ada latar kehidupan mewah menimpalinya. Dengan tokoh-tokoh yang sebagian besar juga berasal dari masyarakat golongan itu. antologi Kastil Angin Menderu menampilkan 17 cerpen. secara kualitatif cerpen-cerpen dalam Kali Mati terasa lebih kompak de-ngan pusat perhatian manusia gelandangan. jadi terasa hambar. seperti sopir. sebagaimana kesemrawutan kehidupan mereka yang serba amburadul. ketika tokoh Lasi harus memasuki kehidupan yang serba mewah. . Tokoh Karti yang gemblung dengan latar kehidupan jalanan. meski mereka ditampilkan dengan segala kenistaannya. penataan peristiwa yang dialami para tokohnya. Pertama. dapat kita simpulkan bahwa kedua antologi cerpen itu ditulis Joni dalam kurun waktu yang sama: 1994– 1998. yaitu ditulis antara tahun 1994–1998. Kedua kasus inilah yang juga terjadi pada diri Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah. Tema ini menjadi begitu menojol lantaran gaya bahasa dan kosa kata yang digunakannya terkesan begitu semrawut. 1999 dan Kastil Angin Menderu. maka praanggapan yang dapat kita kemukakan adalah bahwa Kali Mati sangat mungkin merupakan cerpen-cerpen pilihan. sehingga ujarannya harus digemblunggemblungkan? Dalam konteks ini. 2000). atlet. Maka sempurnalah penderitaan mereka.

seperti Serial Komik. masih memperlihatkan pembelaannya kepada kaum papa itu. Montase. terkesan sebagai lompatan-lompatan pikiran yang tak jelas ke arah mana sesungguhnya lompatan pikiran itu hendak menclok. dalam beberapa hal. terkesan patah-patah. masih memperlihatkan potensi pengarangnya dalam hal gaya bahasa (style). Kelima. meski ada sejumlah perbedaan itu. dalam Kastil Angin Menderu. Ketiga. Demikian juga. persoalan yang dihadapi dalam dunia sastra macam yang diangkat Joni adalah sejauh mana semua unsur. tetapi berurusan dengan estetika. Dengan demi-kian. sastra tidak berurusan dengan sopan santun. benar-benar dibuat berantakan. Keempat. memaksa pengarang –dalam beberapa cerpen– memasuki dunia yang sesungguhnya kurang begitu dipahaminya benar. justru untuk mengangkat potret dunia kaum marjinal yang lebih gelap dari gelap. meski dalam potret yang lebih gelap. tampilnya tokoh-tokoh dengan berbagai profesi ini juga. usaha pengarang untuk lebih menghitamkan kehidupan kaum marjinal. mendukung nilai estetik. Tetapi justru dengan begitu. pembaca boleh melengkapinya sendiri. Kasus yang juga terjadi dalam Sampah Tuhan dalam antologi Kali Mati. termasuk di dalamnya rangkaian kalimat yang patah-patah itu. meskipun secara tematis Kastil Angin Menderu. Dengan begitu. tampilnya berbagai tokoh dengan profesi yang beragam itu juga dalam Kastil Angin Menderu. karena barangkali juga itu sesuatu yang sebenarnya memang asing. empat cerpen di antaranya (Hikayat Lembing Mujur. selain rangkaian kalimat dalam setiap deskripsi latar. nafas mistik ini justru sama sekali tidak kelihatan. sangat mungkin ia sama sekali tidak berhubungan satu dengan yang lainnya. Akibatnya. Dalam hal ini. serudukan. lebih beragam. Justru dalam hal itulah. Meskipun demikian. Ia telah memiliki kekuatan yang katakanlah menjadi trademark-nya sendiri. Lalu apa yang menjadi kekuatannya itu? *** Ciri yang menonjol dari dua antologi karya Joni Ariadinata ini adalah ‘hancurnya’ tatabahasa baku bahasa Indonesia! Tata kalimat dan urutan sintaksis. Potret yang dibangun Joni adalah sebuah kolase yang di dalamnya. sebagaimana yang tampak dalam antologi Kali Mati. potret yang diangkat Joni bukanlah dalam bentuk yang semacam dengan realisme yang bertumpu pada detail. . Joni sudah punya kekhasannya sendiri yang berbeda dengan cerpenis seangkatannya. Joni agaknya sengaja tak mengindahkan tata krama. seolah-olah dibuat mubazir. Dalam Kali Mati. atau Republik Antonio. terbatabata. juga majas ia gunakan sekenanya. pengarang masih konsisten memihak golongan kere. pada gilirannya membawa konsekuensi pada tema cerita yang juga beragam. kekacauan kalimat itu. maupun Kastil Angin Menderu. kosa kata yang baku. Jadi. etika atau tata krama. baik Kali Mati. betapa realitas yang sesungguhnya berada dalam lempengan-lempengan peristiwa yang dalam satu saat tertentu. Delapan Terdakwa. dan terkesan menyimpan kesumat yang luar biasa pada kehidupan kaum comberan. Jing. Beberapa peristiwa dalam sejumlah cerpen dalam Kastil Angin Menderu. dan Delapan Terdakwa) lebih dekat pada tema-tema mistik. Malah. imajinasi Joni tampak begitu liar.Kedua. dan acak-acakan. Keluarga Mudrika. Sememangnya. justru untuk memperlihatkan.

ia jadi onggokan-onggokan kata. warung pinggir jalan. kios kelon-tong melompong. sopir mini bus memaki berat: “Brengsek! Ngapain lu? Minggir!” Sial. apa yang dilakukan Joni sesungguhnya bukanlah hal yang baru. 50) Kelupasan daging. hlm. Sopir Oding tak tega. Budi Darma –khasnya dalam Rafilus– dan Putu Wijaya – dalam Telegram dan Pol– telah memperlihatkan kepiawaiannya dalam peman-faatan pola sebagaimana yang kini digunakan Joni. bluk! Rapat pintu dibanting. Oleh karena itu. rangkaian kalimat yang seolah-olah patah-patah. mungkinkah bisa ja-di begitu? Bibir cantik istrinya mengeriut. –Marni. asing. Ge-muruh. sepertinya memang bego dan dungu. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini: Sopir Oding. Tentu saja masing-masingnya dengan kekhasannya sendiri. Teks yang patah-patah itu. justru menjadi lahan yang mesti diisi sendiri sesuai dengan permainan imajinasi pembacanya.Dalam satu peristiwa. sangat mungkin pula kita berada di dalamnya atau di luar itu yang memiliki realitasnya sendiri. di saat dan waktu tertentu. Kota-kota keparat. dan meledak: “Kenapa? Kenapa?” menge-luh. Pembaca diajak terlibat dalam pertemuan imajinasi yang tersurat dalam teks dan imajinasi pembaca yang entah sedang berada di mana ketika ia berhadapan dengan teks bersangkuan. Langit pucat. Apalagi membantu… Lalu lintas kembali jadi macet. 13–14) Perhatikan juga kutipan berikut ini: “Ya!” keras semakin pasti. Kemudian tepuk tangan. persoalannya terletak pada bagaimana kita menempatkan karya-karya sejenis itu pada kotaknya sendiri. Masuk mobil kaki ditekuk. Gusti Markus di rumah nyekakar berniat zina dengan sepuluh pelacur bermain homo. Jelas bukan jagoan apalagi pahlawan. Berjingkrak. Glk! Glk! Glk! (Serial Komik. pengemudi Genio metalik bagus. Tobat dan sungguh. … (Kastil Angin Menderu. hlm. Klakson-klakson menjerit bising. Umum. Mengangguk-angguk. bernanah. Kepalang tanggung tubuh korban akhirnya diseret. Tatapan mereka itu: kaki-kaki meleng-gang. tetapi juga mengajaknya ikut terlibat memainkan imajinasinya. dipaksa. pemakan soto lahap cukup melongok bengong. Langit lapang terang awan biru laut putih paha perawan kota. Dalam konteks ini. 89). Lega. Betapa sesak. teks jadi tidak sekadar alat untuk memotret penggalan-penggalan realitas dalam dunia yang hendak digambarkan tokoh-tokohnya. Kepul asap. jika karya Joni ini dianggap amburadul. suara knalpot. Realitas jadinya laksana tempelan-tempelan peristiwa. Jadi. Dalam konteks perjalanan khazanah sastra Indonesia. Beres. melainkan juga sebagai salah satu sarana untuk mengganggu pembaca agar ia juga memainkan imajinasinya. Busuk dan mengerang. dan ketika ia dirumuskan dalam ekspresi bahasa. mencoba mencari rangkaian kalimat lewat . kenapa. Barda me-nyimpan amarah mata lewat kaca ruang operasi. (Gergajul. hlm. Dinding-dinding menyempit hempasan jatuh kekosongan dada mengumpat. tak ada otak berhak bergerak. mengutuk. Lalu apa maknanya bagi pembaca jika pembaca dibuat bingung? Di sinilah Joni tidak sekadar hendak menyiasati pembaca. ketika kita mencoba memahami karya Joni lewat logika formal. Akhir-akhir fikiran jadi melotot buntu: betul-betul yakin. Suntuk semalam lagi dan lagi. Pengacauan pola-pola kalimat seperti itulah yang agaknya menjadi kekhasan Joni.

dan jika sekadar mengandalkan bakal alam. tidak berlaku di sana. maka ia akan terjerumus pada kenyinyiran yang hasilnya cen-derung artifisial atau bahkan mentah. ekspresinya lewat bahasa sering kali terbata-bata. sopan-santun. misalnya. justru telah menempatkan kedua karya itu sebagai trademark-nya. *** 03. dan mengkaitkannya dengan sopan santun dan etika. Mencermati kesungguhan Joni dalam menggarap tema-tema kehidupan kaum marjinal dan usahanya untuk membelot dari konvensi. menilainya lewat ejaan dan kosa kata yang baku. mereka sangat mungkin tidak mengenal aturan tata bahasa dan kosa kata baku. dalam kehidupan kaum marjinal yang sebenarnya. berhak pula memanfaatkan keboleh-jadian dan keserbamungkinan. Jadi. Akibatnya. sung-guh telah memperlihatkan kecerdasannya sebagai sebuah monumen! Sebaliknya. tersiksa. Dan Joni telah berhasil mengumumkan trademark-nya sendiri. tidak dapat lain. Soalnya sederhana saja. maka ia tinggal menunggu hari kema-tiannya saja. sebab itu hanya ada di dalam laci anak-anak sekolahan. yang terjadi pada salah satu cerpennya yang berjudul Republik Antonio. semrawut. Joni mesti setia pada pengalamannya sendiri. tidak ada seorang pun sastrawan besar yang hanya mengandalkan bakat alam.aturan tata bahasa. menggiringnya pada dunia yang jungkir-balik. apapun yang ada di dalam kedua antologi itupun. jangan pula dilupakan. pada kegelisahannya dalam mengangkat dunia kaum marjinal yang memang diakrabinya. dibolehkan dan sah-sah saja. Nah. sah-sah saja adanya. kedua antologi karya Joni ini akan benar-benar teraniaya. tanpa harus dibebani oleh aturan sintaksis atau apa pun. bahwa kecerdasan seorang sastra-wan sangat bergantung pula pada wawasan. Termasuk di dalamnya per-soalan yang menyangkut tata krama. ketertiban urutan peristiwa dan logika formal. kebolehjadian dan keserbamungkinan. kedua antologi karya Joni Ariadinata pun. sebagaimana. dan tumpang tindih. kita tinggal menunggu lahirnya karya yang lebih cerdas yang mengungkap kemiskin-an gembel Indonesia yang tidak ada duanya. Tambahan pula. Mereka sekadar dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. Cara berpikir mereka memang kadang kala mengungkapkan apa yang terlihat yang lalu diwujudkan secara spontan. Kali Mati dan Kastil Angin Menderu. Yang membesarkan seorang sastrawan tidak lain adalah wawasan pengetahuannya dalam menggali dan me-maknai berbagai masalah manusia dan kemanusiaan. dan tercampakkan! Yang akan kita jumpai adalah pencampuradukan antara bahasa tulis dan bahasa lisan yang coba mengangkat realitas sosial kaum marjinal. Dalam sejarah sastra di negara manapun. tanpa sentuhan intelek-tualitas. Demi esteti-ka pula. Bersamaan dengan itu. derasnya lompatan-lompatan pikiran yang tak terikat oleh ruang dan waktu. Itu-lah sebabnya. Jika tema dan gaya ini konsisten digarap terus secara serius. Dan demi kepentingan estetika. kiranya begitu! msm/27/7/2000 . Oleh karena itu. dan etika. niscaya dari tangan-nya. jika Joni mencoba melebarkan tema pada dunia yang sesungguhnya tidak digaulinya dan asing. Tanpa pengetahuan. Demikian juga.

Mahayana. Staf Pengajar FSUI. **) Maman S. Pukul 14..COM . M.00. 28 Juli 2000.* Makalah Diskusi “Pembahasan Cerpen-Cerpen Joni Ariadinata” Jakarta. Taman Ismail Marzuki.Hum. Depok. Sumber: MAHAYANA-MAHADEWA.