You are on page 1of 1

Ketika sedang bekerja dari rumah sore ini, mendadak saya pengen makan yang segar-segar.

Maklum, Bogor kalau sedang nggak hujan malah panaaas banget..
Nggak tahunya, seorang tetangga sedang membeli rujak bebek. Suaranya yang khas (ulekan kayu panjang beradu dengan jublek) membuat saya ngiler sama si
rujak segar.

“Bebek” di sini artinya tumbuk, bukan hewan berparuh itu. Huruf “e” dibaca seperti dalam “ketan”, bukan “ember”. Sepertinya dari bahasa Sunda, please
CMIIW. Rujak bebek ini salah satu jajanan favorit saudara-saudara saya, seperti banyak perempuan Sunda lainnya yang juga menyukai rujak.

Buah-buahan untuk rujak bebek selalu buah-buahan lokal, dengan kualitas yang tidak selalu baik. Buahnya biasanya masih agak mentah, terkadang malah
nggak dikupas dulu. Jambu air, nanas, ubi merah, pisang batu, jambu kelutuk, kedondong dan bengkoang adalah buah-buahan lazim digunakan. Selain itu, ada
juga buah huni dan lobi-lobi yang musiman dan semakin jarang ditemukan. Ah, jadi sedih mengingat banyaknya buah-buahan lokal yang semakin hilang saja
dari pasaran.... :(

Bumbunya sederhana: garam bata, terasi yang merah, gula merah, garam dan cabe rawit. Walaupun anda memesan tidak pedas, biasanya rujaknya tetap terasa
pedas. Sisa cabe yang tertinggal di ulekan dari pemesan sebelumnya. :D

• •
• •

Rujak bebek

Setelah dibebek dengan berisik, rujak biasanya dituang ke daun pisang yang dibentuk seperti pincuk. Tapi banyak tukang rujak bebek yang sekarang malah
menggunakan gelas dan sendok plastik. Rujak seharga empat ribu yang saya beli tadi juga menggunakan sendok plastik yang sepertinya tidak dicuci dulu. Rasa
asam pedasnya memang sungguh menyegarkan. Bila sakit perut kemudian, mungkin nasib sial untuk sampeyan.. hehehe!